Pengertian Sosiologi Pendidikan

advertisement
1
Pengertian Sosiologi Pendidikan
2
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Didalam kegiatan manusia sebagai mahluk sosial menimbulkan berbagai ilmu
pengetahuan sendiri. Termasuk disini ialah kegiatan manusia untuk mendidik generasigenerasi mudanya, ialah dengan memberikan, menundakan mewariskan kebudayaannya
kepada anak cucunya. Didalam karya mendidik inilah manusia berusaha untuk mengetahui
bagaimanakah proses pendidikan itu dilihat dari segi sosialnya, ditinjau dari konstelasi sosial,
dimana terjalin karya mendidik itu. Maka disini timbullah suatu cabang ilmu pengetahuan
ialah sosiologi pendidikan. Dewasa ini ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, terutama
dalam bidang teknologi modern, Ilmu sosiologipun tidak mau ketinggalan. Salah satu
diantaranya adalah Sosiologi Pendidikan. Ilmu ini masih sangat muda dan masih memerlukan
pembinaan, terutama dilingkungan akademis.
A. Pengertian Sosiologi Pendidikan
Ditinjau dari segi etimologisnya istilah sosiologi pendidikan terdiri atas dua
perkataan yaitu sosiologi dan pendidikan. Maka sepintas saja telah jelas bahwa didalam
sosiologi pendidikan itu yang menjadi masalah sentralnya ialah aspek-aspek sosiologi dalam
pendidikan.
Secara harfiah atau etimologis (defenisi nominal), Sosiologi berasal dari kata bahasa
Latin: Socius = teman, kawan, sahabat, dan Logos = ilmu pengetahuan.1
Jadi sosiologi adalah ilmu tentang cara berteman/berkawan/bersahabat yang baik,
atau cara bergaul yang baik dalam masyarakat. Sedangkan secara operasional (defenisis real),
beberapa pakar sosiologi mendefenisikan sebagai berikut:2
1. Sosiologi adalah studi tentang hubungan antara manusia (human relationship). (Alvin
Bertrand)
2. Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai
keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan
kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun
dinamis. (Mayor Polak.)
3. Sosiologi adalah ilmu masyarakat umum. (P.J. Bouwman.)
1 Ary H.Gunawan Sosiologi Pendidikan.PT Rhineka Cipta 2000.Hal:3.
2 Ibid.
3
4. Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosialdan proses
social. (Selo Soemardjan dan soelaiman Soemardi.)
Istilah Pendidikan adalah terjemahan dari bahasa Yunani yaitu paedagogie.
Paedagogie asal katanya PAIS yang artinya” Anak” dan AGAIN adalah “membimbing”. Jadi
paedagogie berati bimbingan yang diberikan kepada anak. Orang yang memberikan
bimbingan
kepada
anak
disebut
PAEDAOG.
Dalam
perkembangan
istilah
pendidikan/paedagodie berarti Bimbingan atau pertolongan yang diberikann dengan sengaja
oleh orang dewasa agar dia menjadi dewasa.3
Kemudian selanjutnya dari beberapa pengertian dan istilah-istilah tentang sosiologi
dan pendidikan yang telah diuraikan di atas. Berikut ini beberapa pengertian dari sosiologi
pendidikan menurut beberapa ilmuan seperti:4
1. Menurut H.P Fairchild dalam bukunya “Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa :
Sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalahmasalah pedidikan yang fundamental.
2. Menurut Prof. DR.S.Nasution, M.A.,Sosiologi pendidikan ialah ilmu yang berusaha
untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan
kepribadian individu agar lebih baik.
3. Menurut F.G. Robbins dan Brown, Sosiologi pendidikan ialah ilmu yang membicarakan
dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk
mendapatkan dan mengorganisasikan pengalaman. Sosiologi pendidikan mempelajari
kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
4. Menurut E.G. Payne, Sosiologi pendidikan ialah studi yang komprehensip tentang segala
aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan.
B. Tujuan Sosiologi Pendidikan
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan dapat disebutkan beberapa konsep
tentang tujuan sosiologi pendidikan, yaitu sebagai berikut:5
1. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis proses sosialisasi anak, baik dalam keluarga,
sekolah, maupun masyarakat.
2. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial.
3. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis status pendidikan dalam masyarakat.
3Thohari. Diktat Ilmu Pendidikan.STAIR.2009/2010.Hal:2
4Ary H.Gunawan Sosiologi Pendidikan.PT Rhineka Cipta 2000.Hal:45.
5Ibid Hal 50-52.
4
4. Sosiologi
pendidikan
bertujuan
menganalisis
partisipasi
orang-orang
terdidik/berpendidikan dalam kegiatan sosial.
5. Sosiologi pendidikan bertujuan membantu menentukan tujuan pendidikan.
6. Menurut E.G. Payne, sosiologi pendidikan bertujuan utama memberikan kepada guruguru (termasuk kepada peneliti dan siapapun yang terkait dalam pendidikan) latihanlatihan yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangannya
secara cepat dan tepat kepada masalah pendidikan.
7. Adapun tujuan daripada sosiologi pendidikan di Indonesia ialah :6
8. Berusaha memahami peranan sosiologi daripada kegiatan sekolah terhadap masyarakat,
terutama apabila sekolah ditinjau dari segi kegiatan intelektual.
9. Untuk memahami seberapaka jauhkah guru dapat membina kegiatan sosial anak didiknya
untuk mengembangkan kepribadian anak.
10. Untuk mengetahui pembinaan ideologi Pancasila dan Kebudayaan nasional Indonesia
dilingkungan pendidikan dan pegajaran.
11. Untuk mengadakan integrasi kurikulum pendidikan dengan masyarakat sekitarnya agar
supaya pendidikan mempunyai kegunaan praktis dalam masyarakat, dan Negara
seluruhnya.
12. Untuk menyelidiki fator-faktor kekuatan masyarakat, yang bisa menstimulir pertumbuhan
dan perkkembangan kepribadian anak.
13. Memberi sumumbangan yang positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
14. Memberi pegangan terhadap penggunaan
sebagaiprinsif-prinsif sosiologi untuk
mengadakan sosiologi sikap dan kepribadian anak didik.
C. Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Masyarakat sebagai ruang lingkup pembahasan sosialogi :
Sosiologi disebut juga sebagai ilmu masyarakat atau ilmu yang membicarakan
masyarakat, maka diperlukan pengertian tentang masyarakat. Berikut adalah pengertian yang
diberikan oleh beberapa sosiologi.7
1. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial, dan selalu berubah. (Mac Iver dan Page.)
2. Masyarakat adalah kesatuan hidup mahluk-mahluk manusia yang terikat oleh suatu
system adat istiadat tertentu. (Koendjadiningrat).
6Abu Ahmadi Sosiologi Pendidikan.PT Adi Mahasatya.2007.hal:10-11.
7Ary H.Gunawan Sosiologi Pendidikan.PT Rhineka Cipta 2000.Hal:4.
5
3. Masyarakat adalah tempat orang-orang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
(Selosoemardjan dan Soelaiman Soemardi)
Menurut Soerjono Soekanto, ada 4 (Empat) unsur yang terdapat dalam masyarakat,
yaitu :
1. Adanya manusia yang hidup bersama, (Dua atau lebih).
2. Mereka bercampur untuk waktu yang cukup lama, yang menimbulkan sistem dan tata
cara pergaulan lainnya.
3. Memiliki kesadaran sebagai satu kesatuan.
4. Merupakan sistem kehidupan bersama yang menimbulkan kebudayaan.
D. Pokok-Pokok Penelitian Sosiologi Pendidikan
Menurut S. Nasution ada beberapa pokok penelitian sosiologi pendidikan yaitu:8
a. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dengan masyarakat, meliputi:
1) Fungsi pendidikan dalam kebudayaan.
2) Hubungan antara sistem pendidikan dengan proses
kontrol sosial dan sistem
kekuasaan.
3) Fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural, atau usaha
mempertahankan status.
4) Hubungan pendidikan dengan sistem tingkat/status sosial.
5) Fungsi system pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural, dan
sebagainya.
b. Hubungan antar manusia dalam sekolah antara lai yaitu :
1) Hakikat kebudayaan sekolah,sejauh ada perbedaannya dengan kebudayaan diluar
sekolah.
2) Pola interaksi sosial atau stuktur masyarakat sekolah.
3) Pengaruh sekolah terhadap kelakuan dan kepribadian semua pihak disekolah.
d. Sekolah dalam masyarakat.
Menganalisis pola-pola interaksi antara sekolah dengan kelompok-kelompok sosial
lainnya dalam masyarakat disekitar.
8Ibid hal:3
6
E. Kegunaan (Faedah) Sosiologi
Kegunaan atau faedah sosiologi untuk kehidupan sehari-hari yaitu :9
1. Untuk pekerjaan sosial, sosialogi gambaran/pengertian tentang berbagai problem sosial,
asal-usul atau sumber terjadinya, prosesnya, dan sebagainya. Dengan gambaran seperti in
imaka dapat dicari cara-cara pendekatan untuk mengatasi problem sosial secara cepat.
2. Untuk pembangunan pada umumnya, sosiologi memberikan penertian tentang
”masyarakat” secara luas, sehingga dengan gambaran tersebut para perencana dan
pelaksana pembangunan dapat mencari pola pembangunan yang paling sesuai agar
berhasil. Hal-hal yang dapat diketahui dari sosiologi untuk pelaksanaan pembangunan
antara lain:
a. Kebutuhan/tuntutan masyarakat setempat, sehingga pembangunan dapat sesual
dengan keadan nyata.
b. Startifikasi (pelapisan) sosial, dengan memahaminya dapat menentukan bagi lapisan
mana pembangunan akan dilakukan. Atau mau diapakan lapisan-lapisan sosial itu
dalam pembangunan.
c. Letak pusat-pusat kekuasan, dengan mengetahui di tangan siapa kekuasan berada,
maka usaha pembangunan akan mudah di gerakkan.
d. Sistem dan saluran-saluran komunikasi, dengan memahami hal ini maka ide-ide
pembangunan dapat sampaikepada anggota masyarakat, dan di terima dengan baik
oleh mereka, karena saluran lewat system dan saluran komunikasi yang tepat.
e. Perubahan-perubahan sosial, dengan mengetahui hal ini para perencana dan pelaksana
pembangunan dapat menentukan arah atau penendalian proses perubahan yang sedang
atau akan terjadi. Atau, akibat proses sosial yang telah terjadi, perubahan diharapkan
berkembang menjadi lebih positif.
9 Ibid hal:15
7
Pendidikan dan Lingkungan Sosial
8
PENDIDIKAN DAN LINGKUNGAN SOSIAL
Perlu diketahui 2 istilah yang hampir sama bentuknya dan sering dipergunakan
dalam dunia pendidikan, yaitu : pedagogik, dan pedagonik. Pedagogi berarti “pendidikan”
sedangkan pedagonik artinya “ilmu pendidikan”. Pedagonik atau ilmu pendidikan ialah yang
menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Istilah ini berasal dari
kata “pedagogia” (yunani) yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan yang sering
digunakan istilah pedagogos adalah seorang nelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno yang
pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Paedagogos berasal
dari paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin).
Lingkungan sosial adalah sejumlah manusia yang hidup berkelompok dan saling
berinteraksi secara teratur guna memenuhi kepentingan bersama. Manusia manusia adalah
makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna karena dibekali oleh penciptanya dengan
budaya agar manusia dan budayanya itu dapat berkembang dengan sempurna, dia harus hidup
bersama dengan manusia lain, yang disebut hidup bermasyarakat (makhluk sosial).
Berkembangnya
ilmu
pengetahuan
akan
memberi
dampak
yang besar
terhadap
perkembangan lingkungan masyarakat tertentu ini didasari benar bahwa pada masyarakat
perubahan sosial itu banyak dipengaruhi oleh perubahan sosial yang sedang dihadapi.
Kebudayaan berasal dari kata “budaya”. Budaya diserap dari kata bahasa sanskerta
„‟buddhayah‟‟, yaitu bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan
dapat diartikan “segala hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Pengaruh kebudayaan
terhadap pendidikan dapat dibedakan menjadi 2 hal yaitu: kebudayaan ditinjau dari sudut
individu dan kebudayaan ditinjau dari sudut masyarakat. Kebudayaan ditinjau dari sudut
masyarakat
dapat
mengambil
bentuk
hasil
pikiran(logika),
norma(etika),
dan
perasaan(estetika). Masyarakat perlu mempelajari hasil pikiran yang dikembangkan generasi
terdahulu.
Ada para pendidikan yang menaruh kepercayaan yang besar sekali akan kekuasan
pendidikan dalam membentuk masyarakat baru. Karena itu setiap anak diharapkan memasuki
sekolah dan ide-ide baru tentang masyarakat yang lebih indah dari pada yang sudah-sudah.
Sekolah dapat menskontruksi atau mengubah dan membentuk kembali masyarakat baru.
Dalam dunia yang dinamis ini setiap masyarakat mengalami perubahan. Tidak turut berubah
dan mengikuti pertukaran zaman akan membahayakan ekstensi masyarakat itu. Perubahan
sosial dapat diartikan sebagai segala perubahan pada lembaga-lembaga sosial dalam suatu
masyarakat. Perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial itu selanjutnya mempunyai
9
pengaruhnya pada sistem-sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, pola perilaku
ataupun dikap-sikap dalm masyarakat itu yang terdiri dari kelompok sosial.
A. Pengertian Pendidikan
Perlu diketahui 2 istilah yang hampir sama bentuknya dan sering dipergunakan
dalam dunia pendidikan, yaitu : pedagogi, dan pedagonik. Pedagogi berarti “pendidikan”
sedangkan pedagonik artinya “ilmu pendidikan”. Pedagonik atau ilmu pendidikan ialah yang
menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Istilah ini berasal dari
kata “pedagogia” (yunani) yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan yang sering
digunakan istilah pedagogos adalah seorang nelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno yang
pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Paedagogos berasal
dari paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin).
Dalam pengertian sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia
untuk menumbuhkan mengembangkan potensi-potensi pembawa baik jasmani maupun rohani
sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam masyarakat dan kebudayaan.10
B. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah sejumlah manusia yang hidup berkelompok dan saling
berinteraksi secara teratur guna memenuhi kepentingan bersama. Manusia manusia adalah
makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna karena dibekali oleh penciptanya dengan
budaya agar manusia dan budayanya itu dapat berkembang dengan sempurna, dia harus hidup
bersama dengan manusia lain, yang disebut hidup bermasyarakat (makhluk sosial). Hidup
bermasyarakat merupakan cara teratur antara sesamanya, sehingga kepentingan bersama
dapat terpenuhi secara wajar dan sempurna. Keteraturan itu tercipta karena masing-masing
dari mereka mempunyai persepsi penilaian yang sama terhadap diri dan ketuhanan yang
mereka kehendaki. Dengan demikian, mereka mempunyai nilai kemanusian yang sama dan
saling menghargai.11
Dengan demikian berkembangnya ilmu pengetahuan akan memberi dampak yang
besar terhadap perkembangan lingkungan masyarakat tertentu ini didasari benar bahwa pada
masyarakat perubahan sosial itu banyak dipengaruhi oleh perubahan sosial yang sedang
dihadapi. Ditinjau dari sudut pandang sosiologi, pendidikan dalah penyesuaian diri yang
10 Fuad Ihsan.Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2011.
11 Abdulkadir Muhammad, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Bandung: Citra Aditia Bakti, 2011.
10
tertinggi dari seorang manusia yang sadar telah berkembang secara jasmani terhadap
lingkungan intelektual, emosional, dan cita-cita sosialnya.12
C. Pendidikan dan Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata “budaya”. Budaya diserap dari kata bahasa sanskerta
“buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan
dapat diartikan “segala hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Koentjaraningrat
mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan perkembangan dari bentuk jamak “budi
daya‟”. Artinya daya dari budi, kekuatan dari akal. Kemudian, beliau merumuskan definisi
kebudayaan itu sebagai “keseluruhan ggasan dan karya manusia yang harus dibiasakannya
dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu”. Atau kebudayaan
adalah keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan oleh manusia kerena pemikiran dan
karyanya. Jadi, apabila disimpulkan kebudayaan itu meliputi pemikiran manusia dan karya
atas dasar pemikirannya.13
Pengaruh kebudayaan terhadap pendidikan dapat dibedakan menjadi 2 hal yaitu
kebudayaan ditinjau dari sudut individu dan kebudayaan ditinjau dari sudut masyarakat.
Kebudayaan ditinjau dari sudut individu maka individu berperan :
1. Mempelajari hasil-hasil yang telah diperoleh generasi terdahulu, agar individu dapat
menyadari posisi kedudukannya dan mengetahui perjuangan yang dilakukan generasi
terdahulu.
2. Mengembangkan hasil yang diperoleh generasi terdahulu, apa-apa yang telah diperoleh
dianggapnya sebagai asumsi untuk lebih menyempurnakan perkembangannya yang telah
dihasilkan itu.
Menghubungkan nilai yang telah dipelajari dan dikembangkan kepada generasi
mendatang mengandung tantangan. Yakni pihak yang terkait harus giat mempelajari dan
mengembangkan hasil yang telah diperoleh generasi sebelumnya dan menghubungkannya
pada generasi yang sedang tumbuh.
Kebudayaan ditinjau dari sudut masyarakat dapat mengambil bentuk hasil
pikiran(logika), norma(etika), dan perasaan(estetika). Masyarakat perlu mempelajari hasil
pikiran yang dikembangkan generasi terdahulu. Dan hasil pikiran itu menggambarkan
bagaimana cara kerja yang dilakukan untuk menuju kearah hasil pkiran yang sempurna.
Norma menggambarkan tujuan yang ingin dituju atau gambaran yang dicita-citakan serta
12 http:e-books(Ilmu dan Aplikasi Pendidikan)google.co.id
13 Abdulkadir Muhammad, Lo. Cit.
11
peraturan-peraturan untuk mencapainya. Sedangkan stetika membantu dalam menyelami dan
menyadari kedudukan generasi dalam hubungannya dengan hasil yang telah diprjuangkan
dan dengan nilai-nilai yang dicita-citakan. Dengan menyadari ini, maka perkembangan
kepribadian dan intervisi manusia akan harmonis, baik dengan manusia, alam maupun
dengan penciptanya.
Karena itu, sistem pendidikan dengan sistem yang lainnya dalam masyarakat
mempunyai hubungan erat. Pendidikan mempengaruhi dan dipengaruhi sistem sosial,
ekonomi, kebudayaan, agama, politik, dll. Hubungan pendidikan dengan sistem sosial
berkaitan erat, pendidikan terlibat dalam semua jenis dan jenjang proses perkembangan
sosial, baik dalam mobilitas sosial, mobilitas goegrafis, penduduk, partisipasi politik dan
sistem sosial lainnya.14
D. Pendidikan Sebagai Daya Pengubah
Pendidikan berfungsi menyampaikan, meneruskan atau menstrasmisi kebudayaan
dan diantaranya nila-nilai nenek moyang, kepada generasi muda. Dalam fungsi ini sekolah itu
konservasi dan berusaha mempertahankan status quo demi kestabilan politik, kesatuan dan
persatuan bangsa. Disamping itu sekolah juga turut mendidik generasi muda agar hidup dan
menyesuaikan diri dengan perubahan yabg cepat akibat pekembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dalam kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sekolah memegang peranan
penting sebagai “agen of change” untuk membawa perubahan-perubahan sosial. Akan tetapi
norma-norma sosial seperti struktur keluarga, agama, filsafat bangsa, sekolah cenderung
untuk mempertahankan yang lama dan dengan demikian mencegah terjadinya perubahan
yang dapat mengancam keutuhan bangsa.
Ada para pendidikan yang menaruh kepercayaan yang besar sekali akan kekuasan
pendidikan dalam membentuk masyarakat baru. Karena itu setiap anak diharapkan memasuki
sekolah dan ide-ide baru tentang masyarakat yang lebih indah dari pada yang sudah-sudah.
Sekolah dapat menskontruksi atau mengubah dan membentuk kembali masyarakat baru.
Dalam dunia yang dinamis ini setiap masyarakat mengalami perubahan. Tidak turut berubah
dan mengikuti pertukaran zaman akan membahayakan ekstensi masyarakat itu. Tiap
pemerintah akan mengadakan perubahan yang diinginkan demi kesejahteraan rakyatnya dan
keselamatan bangsa dan negaranya. Dari pada itu diusahakan adanya keseimbangan antara
dinamika dan stabilitas. Hidup dalam masyarakat, karena terdapat tata aturan yang beraneka
14 http:e-books(Ilmu dan Aplikasi Pendidikan)google.co.id
12
ragam sehingga seseorang harus pandai-pandai menyesuaikan diri dengan aturan yang
berkembang didalam masyarakat. Selain itu kepentingan individu setiap anggota masyarakat
itu sendiri selalu mengalami perkembangan-perkembangan dan perubahan.
Menurut teori sosiologi pendidikan yang dikemukakan Wilbur B. Brookover, bahwa
perubahan masuarakat yang disebut social order terjadi 4 fase yaitu:
1. Masyarakat tidak mau mengalami perubahan yang datang, baik dipaksakan atau datang
mempengruhinya. Semua perubahan yang datang akan ditolak, karena masyarakat
berpegang teguh kepada norma yang dianggap baik dan melindungi mereka dari bencana.
Bagi masyarakat ini perubahan merupakan faktor yang merusak tatanan kehidupan sosial.
Bila terjadi perubahan justru akan menimbulkan kegoncangan dan konflik dalam
masyarakat, sehingga akan terjadi ketidakstabilan sosial dan ekonomi. Pada kelompok ini
pendidikan tidak bisa berkembang dan bersifat status quo, dimana masyarakat berusaha
mengekalkan tradisi dan keadaan yang sudah ada.
2. Masyarakat mengalami kebimbingan dalam menerima perubahan. Masyarakat ini hanya
menerima bila tidak bertentangan dengan kebudaayn mereka. Bahkan jika perubahan
yang datang dapat mengokohkan budaya mereka, maka budaya dan perubahan itu akan
mereka adopsi.
3. Masyarakat sudah mulai menerima perubahan sosial, sehingga mereka mempersiapkan
generasi penerus mereka melalui pendidikan. Dengan demikian perubahan yang akan
dilakukan telah direncanakan terlebih dahulu, bahkan dapat dipercepat melalui proses
pendidikan. Bagi masyarakat yang berada pada face social order ketiga ini peranan
pendidikan sangat penting bagi mereka karena “education as an agency of change”. Maka
lembaga-lembaga pendidikan akan memberikan berbagi pengalaman kepada peserta didik
masyarakatnya, baik ilmu teknologi maupun keterampilan untuk menghadapi masyarakat.
4. Masyarakat telah mengalami kemajuan yang sangat tinggi, sehingga dikelompokkan ke
dalam masyarakat yang sudah established, yaitu kelompok masyarakat yang sudah mapan
dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya pertahanan dan keamanan.
Sehingga tidak disibukkan oleh masalah-masalah kecil, seperti kesehatan, penyakin
menular, kemiskinan, atau perumahan. Dari gambaran diatas, tampak bahwa masyarakat
cepat atau lambat pasti mengalami perubahan walaupun perubaha yang dilalui masyarakat
itu. Didalam menghadapi perubahan generasi penerus atau peserta didik harus
dipersiapkan agar mereka dapat beradaptasi dengan baik, sehingga tidak menjadi generasi
yang telat menyikapi perubahan dan kemajuan. Disinilah tugas pendidikan untuk
mempersiapkan mereka menjadi orang-orang peka terhadap perubahan.
13
Anggota masyarakat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Bersikap statis yaitu yang selalu ingin mempertahankan yang sudah lama. Orang-orang
yang seperti ini tidak mau melihat perubahan didalam masyarakat tempat hidupnya.
2. Yang menghendaki adanya hal-hal baru dan maju. Mereka ini termasuk orang yang
kreatif dan dinamis. Yang ingin memajukan cara hidup ingin kemakmuran dan
kesejahtearaan
Kelompok kedua inilah yang akan menjadi agen pembangunan masyarakat untuk
maju. Oleh karena itu, tugas pendidikanlah untuk mencetak individu masyarakat yang
memiliki kecenderungan untuk maju berpikir kreatif, dinamis , dan inivatif. Sehingga mereka
dapat menjadi agen pembangunan masyarakat bangsanya.15
E. Pendidikan dan Perubahan Masyarakat
Perubahan sosial dapat diartikan sebagai segala perubahan pada lembaga-lembaga
sosial dalam suatu masyarakat. Perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga sosial itu
selanjutnya mempunyai pengaruhnya pada sistem-sistem sosialnya, termasuk didalamnya
nilai-nilai, pola perilaku ataupun dikap-sikap dalm masyarakat itu yang terdiri dari kelompok
sosial. Masih baknyak faktor penyebab perubahan sosial yang dapat disebutkan, ataupun
mempengaruhi proses suatu perubahan sosial. Kontak-kontak dengan kebudayaan lain yang
kemudian memberikan pengaruhnya, perubahan pendidikan, ketidakpuasan masyarakat
terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, penduduk yang heterogen, toleransi terhadap
perbuatan-perbuatan yang semula dianggap menyimpang dan melanggar tetapi lambat laun
menjadi norma-norma bahkan peraturan atau hukum yang bersifat forml. Perubahan itu dapat
mengenai lingkungan hidup dalam arti luas lagi mengenai nilai sosial, norma sosial, pola
keperilakuan, struktur, organisasi, lembaga, dan sebagiannya. Ada pandangan menyatakan
bahwa perubahan sosial itu merupakan suatu respons ataupun jawaban yang dialami terhadap
perubahan-perubahan tiga unsur utama yaitu :
1. Faktor alam
2. Faktor teknologi
3. Faktor kebudayaan
Perubahan sosial dalam masyarakat dapat dibedakan dalam perubahan cepat dan
lambat, perubahan kecil dan besar serta perubahan direncanakan dan tidak direncanakan.
Tidak ada satu perubahan yang tidak meninggalkan dampak pada masyarakat yang sedang
15 Brookover,Wilbur B. Sociological Education.New York:American Book Company.1995.
14
mengalami perubahan tersebut. Bahkan suatu penemuan teknologi baru dapat mempengaruhi
unsur-unsur budaya lainnya.
Telah dipahami oleh para pendidik hubungan pendidikan dengan perubahan sosial
masyarakat. Bahwa misi pendidikan adalah
mewariskan ilmu dari generasi ke generasi
selanjutnya. Ilmu yang dimaksud antara lain; pengetahuan tradisi, dan nilai-nilai
budaya[keberadaban]. Secara umum penularan ilmu tersebut telah diemban oleh orang-orang
yang terbeban terhadap generasi selanjutnya. Mereka diwakili oleh orang-orang yang punya
visi kedepan, yaitu menjadikan serta mencetak generasi yang lebih baik dan beradab.
Perubahan sosial budaya masyarakat bisa kita hindari sehingga akan menuntut lembaga
pendidikan sebagai agen perubahan untuk menjawab segala permasalahan yang ada. Dalam
permasalahan ini lembaga pendidikan haruslah memiliki konsep dan prinsip yang jelas, baik
dari lembaga formal ataupun yang lainnya, demi terwujudnya cita-cita tersebut, kiranya maka
perlulah diadakannya pembentukan kurikulum yang telah disesuaikan. Diharapkan lembagalembaga pendidikan akan mampu mencetak kader-kader perubahan ke arah perbaikan
dimasyarakat. Selanjutnya mengenai pengembangan kurikulum ada beberapa hal yang harus
diperhatikan oleh lembaga pendidikan yaitu:
1. Relevansi dengan pendidikan lingkungan hidup masyarakat
2. Sesuai dengan perkembangan kehidupan masa sekarang dan akan datang
3. Efektifitas waktu pengajar dan peserta didik
4. Efisien dengan usaha dan hasilnya sesuai
5. Kesinambungan antara jenis, program, dan tingkat kependidikan
6. Fleksibelitas atau adanya kebebasan bertindak dalam memiih program, pengembangan
program, dan kurikulum pendidikan.
Dengan memahami beberapa pembagian dan penjelasan tentang masalah-masalah
yang meingkupi lembaga pendidikan masing-masing diharapkannya agen yang mampu
merubah kondisi negeri ini dari keterpurukan nasional, tentunya hal ini juga diperlukan
adanya langkah nyata serta bantuan dari moril ataupun materil dari pemerintahan maupun
masyarakat terhadap semua undang-undang yang telah direncanakan agar bisa terlaksana
dengan sempurna. Walaupundari beberapa undang-undang yang telah ditetapkan olh
pemerintah tidak luput dari kritik dari beberapa tokoh liberal karena negara telah
memasukkan pembahasan-pembahasan agama kedalam undang-undang yang berpotensi
menumbuhkan gesekan antar agama. Tentunya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi
15
agama haruslah menganggap bahwa hal itu hanya sebagi salah satu koreksi kearah yang lebih
baik atas peran lembaga pendidikan dimasyarakat.16
Sosiologi merupakan studi mengenai masyarakat dalam suatu sistem sosial. Di
dalam sistem sosial tersebut, masyarakat selalu mengalami perubahan. Tidak ada masyarakat
yang tidak mengalami perubahan walaupun dalam taraf yang paling kecil sekalipun,
masyarakat [yang didalamnya terdiri atas banyak individu] yang selalu berubah. Perubahan
tersebut dapat berupa perubahan yang kecil sampai ke taraf perubahan yang sangat besar
yang mampu memberikan pengaruh yang besar pula bagi aktivitas atau perilaku manusia.
Perubahan dapat mencakup aspek yang sempit maupun luas. Aspek yang sempit.17
Perubahan yang ada dalam masyarakat akan sangat berbeda karena perbedaan
tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Perubahan
akan terus terjadi dalam masyarakat selama masyarakat tersebut berkeinginan untuk merubah
sistem yang ada, misalnya masyarakat tersebut ingin merubah status sosialnya, untuk
menunjang perubahan tersebut masyarakat memerlukan pendidikan sebagai sarana untuk
mewujudkannya. Lingkungan pendidikan yaitu keluarda dan dlingkungan masyarakat akan
mempengaruhi perkembangan sosial yang terjadi, sistem pendidikan formal disekolah dan
lembaga pendidikan juga akan mempengaruhi pendidikan.18
16 Mikailahaninda.blogspot.com
17 http:e-books (Konsep Dasar Perubahan Sosial) google.co.id.
18 http:e-books(Ilmu dan Aplikasi Pendidikan) google.co.id.
16
Penggolangan Sosial
17
PENGGOLONGAN SOSIAL
A. Penggolongan Sosial
Ahli sosiologi berpendapat bahwa dalam semua masyarakan memiliki ketiksamaan
diberbagai bidang. Misalnya dalam bidang ekonomi, sebagian anggota masyararakat
memiliki kekayaan yang berlimpah dan kesejahteraan hidup yang terjamin, sedangkan
sebagaian lainnya dalam keadaan miskin dan tidak sejahtera. Pada bidang politik sebagian
orang memiliki kekuasaan dan sebagain lainnya dikuasai. Pada bidang politik sebagian orang
ada yang mengenyam pendidikan sampai ketingkat yang paling tinggi dan sebagian lainnya
ada yang sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan. Inilah realitas social dalam
masyarakat, yang dapat ditangkap oleh pemerintah dan daya fikir manusia. Perbedaan
anggota masyarakat ini, seperti telah dikatakan terdahulu, dinamakan stratifikasi social
(social stratification). Pendidikan dalam hal ini memiliki peranan strategis dalam membentuk
stratifikasi sosial19.
Dalam setiap masyarakat, orang menggolongkan
masing-masing dalam berbagai
katagori, dari lapisan yang paling atas sampai pada lapisan yang paling bawah. Dengan
demikian terjadilah stratifikasi social. Ada masyarakat yang mempunyai stratifikasi sangat
ketat,seseorang lahir dalam golongan tertentu dan ia tidak mungkin meningkat kegolongan
yang lebih tinggi. Keanggotaannya dalam suatu katagori merupakan factor utama yang
menentukan tinggi pendidikan yang dapat ditempuhnya, jabatan yang dapat didudukinya,
orang yang dapat dinikahinya, dan sebagainya. Golongan yang ketat ini biasa disebut kasta.
Namun biasanya penggolongan social tidak seketat seperti apa yang disebutkan diatas,
akan tetapi fleksibel dengan batas-batas yang agak kabur dan senantiasa dapat mengalami
perubahan . Dalam masyarakat yang demikian anak seorang jenderal dan bekerja sebagai
penyanyi di Night Club dan menikah dengan putrid keturunan bangsawan zaman dulu20.
Sifat system pelapisan di masyarakat, menurut Sarjono Soekanto, dapat bersifat
tertutup (closed social certification) dan terbuka (open social Stratification), hal ini dapat
dijelaskan bahwa :
Pertama, system tertutup, dimana membatasi kemungkinan berpindah seorang dari
suatu lapisan kelapisan lain, baik berupa gerak keatas maupun gerak kebawah. Didalam
system yang demikian, satu-satunya jalan menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat
adalah kelahiran. Contoh masyarakat dengan system stratifikasi social tertutup ini adalah
19
20
Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2013, hlm 177.
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : Bumi Aksara , 2011 , hlm 26.
18
masyarakat berkasta, sebagian masyarakat feodal atau masyarakat yang dasar stratifikasinya
tergantung pada perbedaan rasial.
Kedua, system terbuka yang mana masyarakat didalamnya memiliki kesempatan
untuk berusaha degan kecakapan sendiri untuk naik lapisan. Atau bagi mereka yang tidak
beruntung, untuk jatuh dari lapisan atas kelapisan bawah, kemungkinan terjadinya mobilitas
social sangat besar.
Jadi, suatu masyarakat dinamakan tertutup mana kala setiap anggota masyarakat tetap
pada status yang sama dengan orang tuanya. Sedangkan dinamakan terbuka, karena setiap
anggota masyarakat menduduki status berbeda dengan orang tuanya, dimana bias lebih tinggi
atau lebih rendah. Mobilitas social yang disebut tadi, berarti berpindah status dalam
stratiifikasi social. Berbagai factor yang menyebabkan perpindahan status, antara lain
B.
Cara-Cara Menentukan Golongan Sosial
Konsep tentang penggolongan social bergantung pada cara seorang menentukan
golongan social itu. Adanya golongan social timbul karena adanya perbedaan status
dikalangan anggota masyarakat. Untuk menentukan stratifikasi social dapat diikuti tiga
metode,yaitu :
1. Metode obyetif, yaitu stratifikasi yang ditentukan berdasarkan criteria obyektif antara
lain : jumlah pendapatan, lama atau tinggi pendidikan, jenis pekerjaan21 . menurut suatu
penelitian di amerika Serikat pada tahun 1954, bahwa dokter menempati kedudukan yang
sangat tinggi sama dengan gubernur Negara bagian. Juga professor tinggi kedudukannya
sama dengan ilmuwan, anggota kongres, Dewan Perwakilan Rakyat. Guru sekolah
menduduki tempat yang lebih rendah dari kapten tentara, pemain orkes atau kontraktor,
akan tetapi lebih tinggi dari penyiar radio, masinis, polisi. Yang paling rendah
kedudukannya adalah tukang semir sepatu.22
2. Metode Subyektif, yaitu dimana dengan menggunakan metode ini kelompok/golongan
social dirumuskan berdasarkan pandangan menurut anggota masyarakat menilai dirinya
dalam hirarki kedudukan dalama masyarakat itu. Kepada mereka diajukan pertanyaan:
“menurut pendapat saudara termasuk golongan manakah saudara dinegara ini, golongan
atas, golongan menengah, atau golongan rendah?23
21
Abdullah Idi, loc.cit, hlm 184.
S. Nasution,op.cit, hlm 27.
23
Ibid, hlm 27.
22
19
3. Metode reputasi, metode ini dikembagkan oleh W. Lloyd Warner cs. Dalam metode ini
golongan social dirumuskan menurut bagaimana anggota masyarakat menempatkan
masing-masing stratifikasi masyarakat itu. Kesulitan penggolongan objektif dan subyektif
ialah bahwa penggolongan itu sering tidak sesuai dengan tanggapan orang dalam
lingkungan sehari-hari yang nyata tentang golongan social masing-masing. Oleh sebab itu
W.L Warner mengikuti suatu cara yang realistis yakni memberikan kesempatan kepada
orang dalam masyarakat itu sendiri menentukan
golongan – golongan mana yang
terdapat pada masyarakat itu lalu mengidentifikasi anggota masing-masing golongan
itu24.
C. Golongan Sosial Sebagai Lingkungan Sosial
Golongan social sangat menentukan lingkungan social seseorang. Pengetahuan,
kebutuhan dan tujuan, sikap, watak sesorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
Sistem golongan social menimbulkan batas-batas dan rintangan ekonomi, cultural dan social
yang
mencega
pergaulan
dengan
golongan-golongan
lain.
Manusia
mempelajari
kebudayaannya dari orang lain dalam golongan itu yang telah memiliki kebudayaan itu.
Maka orang dalam golngan social tertentu akan menjadi orang yang sesuai dengan
kebudayaan dalam golongan itu dan dengan sendiri mengalami kesulitan untuk memasuki
lingkungan social lain. Golongan social membatasi dan menentukan lingkungan belajar anak.
Bila kita menghadapi orang yang belum kita kenal kita berusaha mengetahui
golongan sosialnya agar dapat menentukan hingga berapa jauh kita dapat bersikap akrab
kepadanya. Orang yang termasuk golongan social yang sama cenderung untuk bertempat
tinggal didaerah tertentu. Orang golongan atas akan tinggal ditempat yang elite karena
anggota golongan rendah tidak mampu untuk tinggal disana. Orang akan mencari pergaulan
dikalangan yang dianggap sama goolongan sosialnya. Namun demikian ada kemungkinan
terjadi perpindahan golongan social.
D. Golongan Sosial dan Jenis Pendidikan
Menurut S. Nasution (1994), orangtua yang mengetahui batas kemampuan
keuangannya cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya. Sebaliknya anak-anak
orang kaya tidak tertarik oleh sekolah kejuruan. Oleh karena itu dapat diduga bahwa sekolah
kejuruan akan lebih banyak memiliki murid dari golongan rendah daripada yang berasal dari
24
Ibid, hlm 27-28.
20
golongan atas. Walaupun sekolah kejuruan memberi jaminan yang lebih baik untuk langsung
bekerja daripada yang lulus sekolah menengah umum tetap saja murid-murid cenderung
memilih sekolah menengah umum.25
Demikian mata pelajaran atau bidang studi yang berkaitan dengan perguruan tinggi
mempunyai status yang lebih tinggi. Misalnya matematika dan fisika dipandang lebih tinggi
daripada PKK atau tata buku. Menurut S. Nasution sikap ini muncul bukan hanya pada siswa
tapi juga di kalangan guru dan orangtua yang dengan sengaja atau tak sengaja menyampaikan
sikap itu kepada anak-anaknya.
E. Bakat dan golongan sosial
Penelitian tentang angka dan murid menunjukkan bahwa angka-angka yang tinggi
lebh babyak di peroleh murid-murid dari golongan sosial yang tinggi.
Kegagalan dalam pelajaran lebih banyak terdapat dikalangan murid dari golongan sosial
rendah. Walaupun dalam tes intelegensi ternyata kelebihan IQ anak-anak golongan atas,
namun tak seluruh kegagalan dan angka-angka rendah yang kebanyakan terdapat dikalangan
anak-anak dari golongan sosial rendah, dapat di jelaskan berdasarkan IQ itu.
F. Sosiometri
Untuk mengetahui hubungan sosial antara murid-murid dalam kelas kita dapat
menggunakan metode sosiometri. Biasanya metode ini dilakukan dengan cara anak-anak
diminta menulis nama satu orang dengan siapa ia suka. Dapat juga kita minta nama dua
orang menurut perioritas anak itu bahkan ditambah dengan nama anak yang paling tidak
disukainya. Selain dari pada teman sebangku dapat juga di ganti dengan teman menonton,
tman belajar, dan sebagainya. Anak yang paling banyak dipiih adalah anak yang paling
populer, yang diberi julukan “ Bintang”. Sebaiknya anak yang tidak dipilh oleh siapapun
disebut “isolate” karena ia terpencil dari masyarakat kelas.
G. Mobilitas sosial
Gerakan sosial atau sosial mobility adalah suatu gerakan dalam struktur sosial (spcial
structure) yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur
sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara
indivudu dengan kelompoknya.
25
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, Edisi 2 , cetakan 1 Jakarta : Bumi Aksara , 1994 , hlm hal. 31-32.
21
Tipe-tipe gerakan sosial yang prinsipil ada dua macam yaitu : gerakan sosial yang
horizontal dan vertikal. Gerakan sosial horizontal merupakan gerakan peralihan individu atau
objek-objek lainnya dari suatu kelompok sosial kekelompok sosial lainya yang sederajat.
Dengan adanya gerakan sosial yang horizontal tidak terjadi perubahan dalam derajat
kedudukan seseorang atau suatu objek sosial. Gerakan sosial vertikal dimaksudkan sebagai
perpindahan individu atau objek sosial dari suat kedudukan sosial kedudukan lainnya, yang
tidak sedarajat.
Menurut Pitirim A Sorokin gerakan sosial vertikal mempunyai saluran-saluran dalam
masyarakat. Proses gerakan sosial vertikal melalui saluran disebut social sirculation 35.
Saluran yang terpenting adalah angkatan bersenjata, lembaga keagamaan, sekolah, organisasi
politik, ekonomi dan keahlian.
H. Pendidikan dan Mobilitas Sosial
Pada zaman dahulu menurut S. Nasution, orang yang menyelesaikan pelajarannya
pada HIS, yaitu SD pada zaman Belanda mempunyai harapan menjadi pegawai dan mendapat
kedudukan sosial yang terhormat. Apalagi kalau ia lulus MULO, AMS atau Perguruan Tinggi
maka makin besarlah kesempatannya untuk mendapat kedudukan yang baik dan dengan
demikian masuk golongan sosial menengah atas. Kini pendidikan SD bahkan SMA
menurutnya hampir tidak ada pengaruhnya dalam mobilitas sosial. S. Nasution bependapat
ijazah SMA ini tidak ada asrtinya mencari kedudukan yang tinggi justru sekarang ini
perguruan tinggi dianggap suatu syarat mobilitas sosial bahkan bagi lulusan perguruan tinggi
pun kini sudah bertambah sukar untuk memperoleh kedudukan yang empuk.26
Pendidikan telah menjadi sector strategis dalam system program pembangunan suatu
bangsa. Banyak Negara telah menjadikan sector pendidikan sebagai leading sector, sector
utama atau unggulan dalam program pembangunan. Ternyata yang menjadikan pendidikan
sebagai leading sector, telah menjadi Negara maju dan telah menguasai pasar dunia. Jepang
menjadi Negara maju karena pendidikan menjadi perhatian utama dalam kebijakan
pembangunan di Negara tersebut.27
Mobilitas social adalah sebuah gerakan masyarakat dalam kegiatan menuju perubahan
yang lebih baik. Henry Clay Smith mengatakan mobilitas social adalah gerakan dalam
struktur social (gerakan antar individu dengan kelompoknya)28. Haditono mengatakan bahwa
8 S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, hal 39
27
Abd.Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT Ciputat Press, 2004, hlm 5.
28
Ary H Gunawan, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2000, hlm 36.
22
mobilitas social adalah perpindahan seseorang atau kelompok dari kedudukan yang satu ke
kedudukan yang lain, tetapi sejajar. Pauul B Horton dan Chester L Hunt mengatakan
mobilitas social adalah suatau gerak perpindahan dari satu kelas social ke kelas social
lainnya.29 Jadi yang dikatakan mobilitas social adalah perubahan, pergeseran, peningkatan,
ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Proses keberhasilan ataupun kegagalan
setiap orang dalam melakukan gerak social seperti inilah yang dikatakan mobilitas social
(social mobility)30.
Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk mencapai kedudukan yang lebih baik
didalam masyarakat. Makin tinggi pendidikan yang ldiperoleh makin besar harapan untuk
mencapai tujuan itu. Dengan demikian terbuka kesempatan untuk meningkat kegolongan
yang lebih tinggi. Dikatakan bahwa penndidikan merupakan suatu jalan untuk menuju
mobilitas social31.
I. Mobilitas Sosial Melalui Pendidikan
Pada zaman dahulu menurut S. Nasution, orang yang menyelesaikan pelajarannya
pada HIS, yaitu SD pada zaman Belanda mempunyai harapan menjadi pegawai dan mendapat
kedudukan sosial yang terhormat. Apalagi kalau ia lulus MULO, AMS atau Perguruan Tinggi
maka makin besarlah kesempatannya untuk mendapat kedudukan yang baik dan dengan
demikian masuk golongan sosial menengah atas. Kini pendidikan SD bahkan SMA
menurutnya hampir tidak ada pengaruhnya dalam mobilitas sosial. S. Nasution bependapat
ijazah SMA ini tidak ada asrtinya mencari kedudukan yang tinggi justru sekarang ini
perguruan tinggi dianggap suatu syarat mobilitas sosial bahkan bagi lulusan perguruan tinggi
pun kini sudah bertambah sukar untuk memperoleh kedudukan yang empuk.32
J. Tingkat Sekolah Dan Mobilitas Sosial
Asumsi bahwa tingginya tingkat pendidikan makin besar peluang bagi golongan
rendah dan menengah untuk mobilitas sosial. Asumsi ini menurut S. Nasution tidak selalu
benar pendidikan tidak akan menjadi alat mobilitas sosial bagi golongan rendah dan
menengah apabila tingkat pendidikannya hampai sampai taraf menengah. Jadi walaupun
29
Abdullah Idi, loc it, hlm 195.
Tim Dosen Unimed, Dasar-Dasar Antropologi/Sosiologi, Medan , 2011, hlm 118.
31
S.Nasution. Loc it, hlm 38.
32
Prof. Dr. S. Nasution. M.A. “Sosiologi Pendidikan,” hal. 39.
30
23
kewajiban belajar ditingkatkan sampai SLTA masih menjadi pertanyaan apakah mobilitas
sosial dengan sendirinya akan meningkat.33
K. Pendidikan Menurut Perbedaan Sosial
Di negara demokrasi adalah haram apabila ada pembedaan-pembedaan berdasarkan
golongan. Namun dalam kenyataannya menurut S. Nasution, adanya pembedaan sosial itu
tidak dapat disangkal. Ini dapat dilihat dari sikap rakyat terhadap pembesar atau dari simbolsimbol status seperti mobil mewah dan sebagainya.34
Seperti yang telah diketahui bahwasannya pendidikan tidak terlepas dari masyarakat
maka dari itu sekolah sendiri menurut S. Nasution tidak mampu meniadakan batas-batas
tingkatan sosial itu. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah sekolah harus
mempertimbangkan perbedaan itu dalam kurikulumnya maksudnya memberikan pendidikan
sesuai golongan-golongannya?35
33 Ibid, hal. 40-41
34
Ibid, hal 41
35
Ibid,hal. 42.
24
Hubungan Antar Kelompok
25
HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK
A. Prasangka Dalam Hubungan Antar-kelompok
Penjelasan yang paling dahulu ialah memandang prasangkah sesabai suatu yang wajar
yang dengan sendirinya timbul bila terjadi hubungan antar dua kelompok yang berlain.
Manusia sadar akan kesamaan dalam kalangannya sendiri dan merasa solider dengan
kelompok itu. Sebaliknya timbul rasa tak suka terhadap orang yang berbeda jadi ada “dislike
of the unlike”. Perasaan itulah menimbulkan “etnosentrisme” yaitu perasaan loyalitas
terhadap kelompok sendiri dan rasa bermusuhan terhadap semua yang mengancam rasa
kekompakan itu.
Apa dimaksud dengan “kesamaan” dalam kelompok tidak selalu jelas. Sering yang
dijadikan ciri kesamaan atau ketidaksamaan hal-hal yang secar visual sangat menonjol, antar
alain warna kulit misalnya orang yang berwanah kulit putih dan yang berwarna kulit hitam
atau Negro.Atas dasar warna kulit misalnya diadakan penggolongan bangsa-bangsa.Namun
perbedaaan warna kult tidak selalu menjadi dasar prasangka.
Pengamatan pada anak-anak menunjukkan bahwa mereka tidak merasa perbedaan
warna atau bangsa. Anak-anak kulit putih dan negro dibagian selatan U.S.A. bermain
bersama sekalipun dilarang oleh orang tuanya. Karena itu disangsikan apakah prasangka
rasial memang dibawa lahir.Lebih keras dugaan bahwa prasangka rasial ini dipelari dari
lingkungan sosial.Perbedaan kebudayaaan juga tidak memberi penjelasan yang memuaskan
tentang prasangka.Orang yahudi di Jerman bahkan turut mengembangkannya. Manusia tidak
selalu menginginkan kesamaan .akan tetapi justru senantiasa mencari yang baru yang lain.
Teori lain yang mencoba menjelaskan sebagai hakkat manusia, yakni sebagai instink
ialah antara lain Dollard. Ia mengemukakan adanya insrtink agresi pada manusia. Ferud
menggunakan
istilah
“instink
mati”
yaitu
rasa
benci
yang
universal
terhadap
seseorang.Menurut Dollard setiap anak dalam kebudayaan mengalami frutasi karena tidak
diizinkan melakukan sesuka hatinya.Frutrasi ini menimbulkan kecendrungan agresi dalam
hidup selanjutnya. Maka karena itu terhadap lingkungannya, yang biasanya laten atau
terpendam akan tetapi dapat bangkit setiap waktu bila mendapat objek tertentu. Orang Negro
yang menonjol perbedaannya mudah menjadi sasaran agresi itu.Prasangka ini meningkat
pada masa kemunduran ekonomi yang menimbulkan frustrasi pada kulit orang putih. Namun
agresi yang diitunjukkan oleh orang kulit putih di Amerika Serikat misalnya “ lynching”
tidak dapat di Amerika Selatan. Karena itu teori agresi ini tidak dapat diterima secara
universal.
26
1. Prasangka sebagai suatu yang dipelajari
Teori ini memandang prasangka sebagai hasil prose belajar seperti halnya dengan
sikap-sikap lain yang terdapat pada manusia. Sikap senang atau tidak senang terhadap
golongan lain adalah hasil pengalaman pribadi yang berlangsung lama atu berdasarkan
pengalaman yang traumatis. Seorang dapat dikondisikan oleh sikap-sikap yang telah
adalah dalam masyarakatnya. Ada kemungkinan prasangka tidak didasarkan atas
pengalaman pribadi, misalnya adanya prasangka seseorang terhadap orang Yahudi,
walaupun ia belum pernah lihat orang Yahudi selama hidupnya. Dalam hal ini ia mungkin
memperolehnya dari lingkungannya, sering tanpa bukti-bukti yang nyata tenang alasan
prasangka itu, karena sering dikenakan sifat-sifat yang buruk kepada golongan tertentu
yang sebenarnya tidak mereka miliki. Lagi pula sifat-sifat buruk itu tidak hanya terdapat
dalam kelompok itu, mungkin juga dalam kelompok kita sendiri.Mungkin pula prasangka
terhadap sesuatu golongan melahirkan sifat-sifat tertentu pada kelompokitu, misalnya
sifat agresif, usaha keras mencari kekayaan dan kekuasaan, dan sebagainya, justru karena
tekanan dan diskriminasi sosial-ekonomi terhadap mereka.
Jadi prasangka tidak selalu timbul berkat pengalaman pribadi akan tetapi sering atas
pengaruh sikap yang pada umumnya terdapat dalam lingkungan,khususnya di rumah dan
sekolah. Guru dan orang tua sangat besar pengaruhnya, karena mudah mempengaruhi
anak pada usia muda yang memandang orang dewasa sebagai orang serba tahu. Juga mass
media seperti surat kabar,radio,film,televisi besar pengaruhnya. Bila bangsa tertentu
sering di lukiskan sebagai inferior,licik,kejam,dan sebagainya maka stereotif itu akan
diterima oleh para pembaca,pendengar,atau penonton,termasuk anak-anak.
2. Prasangka sebagai alat mencapai tujuan praktis
Alasan ini mudah dipahami. Golongan yang dominan ingin menyingkirkan
golongan minoritas dari dunia persaingan.Nazi Jerman membunuh orang Yahudi untuk
mendapatkan kedudukan dan kekayaan mereka.Atau seperti hal nya dengan Negro pada
masa yang lalu di Amerika Serikat mereka di pandang dan di perlakukan sebagai inferior
yang tidak layak menepati kedudukan tinggi.Sikap iru terdapat di kalangan penjajah
terhadap bangsa yang di jajah agar dapat dieksploitasinya.Untuk membenarkan diri
mereka mencari alasan penindasan itu dengan jalan rasionalisasi.
Sewaktu orang Spanyol mula-mula menjajah orang Indian dan merebut tanah
mereka,orang Spanyol membenarkannya dengan mengemukakan teori bahwa orang
Indian bukan manusia yang sama seperti orang Spanyol dan karena itu tidak layak
diperlakukan sebagai manusia. Orang Inggris membenarkan penjajahannya,bahkan
27
memandangnya sebagai tugas suci,atau seperti dikataka oleh Rudyard Kipling sebagai
“White Man‟s Burden”, beban orang kulit putih untuk membawa kebudayaan kepada
bangsa-bangsa lain dalam kegelapan. Seluruh kebudayaan Timur dianggap tak ada
nilainya sedikit pun disbanding kebudayaan Barat.
Pada zaman “Gold Rush” di California (±1850) orang China sangat dihargai
sebagai warga negara yang rajin,tertib,hemat,patuh akan peraturan,dapat menyesuaikan
diri dengan keadaan dan pujian-pujian lainnya karena mereka melalukan pekerjaan yang
membantu pencari emas dengan usaha membuat sepatu,menjahit pakaian,membuat
restoran, dan sebagainya. Setelah ternyata pekerjaan mencari emas tidak menguntungkan
bagi kebanyakan orang,mereka mencari nafka nya dengan pekerjaan yang telah dipegang
oleh orang China. Maka orang China sekarang menjadi saingan dalam bidang ekonomi.
Dengan perubahan ekonomi ini berubah pula pendapat tentang orang China yang
kemudian mereka cap sebagai orang yang membentuk kelompok tersendiri,memisahkan
diri dari masyarakat umumnya, licik, suka mendirikan perkumpulan-perkumpulan rahasia
yang membahayakan,yang mengirim emas ke Negara leluhurnya, menyelundupkan
candu, menyebarkan prostitusi dan penjudian. Karena itu California harus di amankan
terhadap bahaya Mongol.
Atasinya harus melalui berbagai pendekatan.Teknik yang digunakan sedapat
mungkin harus bertalian dengan pengertian kita tentang sebab-sebabnya. Dan karena
sebab-sebab itu saling berhubungan harus berbagai teknik digunakan serempak.
B. Pendidikan Umum Dan Hubungan Antar-kelompok
Menurut penelitian, makin tinggi pendidikan seseorang makin kurang prasangkanya
terhadap golongan lain,makin toleransi sikapnya terhadap golongan minoritas. Mereka yang
berpendidikan universitas ternyata menunjukkan sikap yang paling toleran.Jika hasil
penelitian itu bener maka pendidikan harus ditingkatkan sampai taraf yang setingginya untuk
menghilangkan prasangka itu. Namun ada beberapa alasan cita-cita itu tidak akan tercapai.
Tak dapat kita harapkan bahwa setiap orang akan dapat memperoleh pendidikan tinggi.Ada
tidaknya prasangka tidak semata-mata ditentukan oleh pendidikan. Dua orang,sama-sama
sarjana mungkin sekali mempunyai prasangka yang berbeda-beda. Yang seorang misalnya
dibesarkan dalam keluarga yang berada,yang bahagia tanpa banyak mengalami frustasi dan
bersifat toleran terhadap golongan-golongan lain. Sebaliknya yang seorang lagi hidup dalam
keluarga yang harus berjuang dan bersaing keras dengan golongan-golongan lain. Selain itu
ia dipengaruhi oleh prasangka terhadap golongan lain dalam keluarga dan lingkungan.Orang
28
yang pertama telah terdidik sejak kecil dalam suasana toleran. Pendidikan formal tidak akan
mengubah sikapnya. Orang yang kedua telah dididik dalam suasana prasangka terhadap
golongan lain dan sikap yang telah tertanam sejak kecil dalam hati sanubarinya juga tidak
akan banyak dapat diubah oleh pendidikan formal. Kedua orang itu memperoleh pengalaman
yang berlainan.banyak prasangka diperoleh dari sikap dan pendapat orang tua dan dari
pengalaman dalam lingkungan.
Ini tidak berarti bahwa pendidikan disekolah sama sekali tak ada pengaruhnya.
Pendidikan dapat merupakan faktor yang menentukan kedudukan,rasa harga diri,rasa
ketenteraman hidup yang turut menentukan prasangka. Ada kemungkinan mengurangi,tetapi
dapat pula memperkuat prasangka. Pendidikan Nazi yang di berikan selama zaman Hitler
yang mendewakan bangsa sendiri dan merendakan bangsa-bangsa lain dengan sengaja
menanamkan prasangka itu.Akan tetapi meningkatkan taraf pendidikan itu sendiri tidak
memecahkan masalah prasangka ini.
C. Struktur Hubungan Antara-kelompok Di Sekolah
Sekolah biasanya terlampau memusatkan perhatian kepada pendidikan akademis. Salah
satu aspek yang perlu perhatian ialah memupuk hubungan sosial di kalangan murid-murid.
Program pendidikan antar-murid,antar golongan ini bergantung pada struktur sosial muridmurid. Ada tidaknya golongan minoritas di kalangan mereka mempengaruhi hubungan antarkelompok itu. Kebanyakan Negara mempunyai penduduk yang sulit multi-rasial,menganut
agama yang berbeda-beda,dan mengikuti adat kebiasaan yang berlainan. Perbedaan golongan
dapat juga disebabkan oleh perbedaan kedudukan sosial dan ekonomi.
Murid-murid di sekolah kita juga sering menunjukkan perbedaan tentang asal
kebangsaan, kesukaan, agama, adat istiadat, kedudukan sosial. Berdasarkan perbedaanperbedaan itu mungkin timbul golongan minoritas murid-murid, yang tersembunyi ataupun
yang nyata-nyata.
Pada zaman kolonial Belanda mendirikan sekolah-sekolah yang tersendiri untuk anakanak Belanda,anak-anak China,dan Indonesia. Yang terakhir ini sekolah bagi golongan
rendah dan anak desa. Bagi anak-anak golongan pegawai dan ningrat terbuka kesempatan
bersekolah di
sekolah Belanda atau berbahasa Belanda. Di Amerika Serikat diadakan
diskriminasi antara anak kulit putih dan Negro dengan mengadakan pemisahan atau segregasi
dalam pendidikan kedua golongan itu walaupun diakui kesamaan hak setiap warga
Negara.Diskriminasi ini lambat laun berkurang.
29
Kita di Indonesia ini tidak mengenal diskriminasi serupa itu karena sejak mulanya telah
dijamin kesamaan hak setiap warga Negara oleh Undang-Undang Dasar 1945. Hingga
manakah jiwa undang-undang itu telah menjadi kenyataan sepenuhnya dapat dijadikan bahan
penelitian.
Guru-guru hendaknya memperhatikan struktur golongan-golongan di kalangan muridmuridnya. Apakah anak-anak yang berasal dari daerah tertentu yang berasal dari keterunan
asing, atau yang berlainan agama diperlakukan dengan tidak wajar diancam,diperas oleh
teman-temannya atau disingkirkan dari kegiatan-kegiatan tertentu,dengan perlakuan yang
demikian anak-anakyang didiskriminasikan itu akan mersa dirinya asing dan tak diterima
sebagai anggota penuh dari masyarakat sekolahnya. Sikap ini akan mempengaruhinya
sepanjang hidupnya . tiap sekolah mempunyai pola hubungan tertentu antar-guru, antarmurid, antara guru dengan murid, yaitu suatu struktur sosial yang mempengaruhi sikap dan
kelakuan murid. Masyarakat sekolah mempengaruhianak dalam pergaulannya dengan
anggota-anggota lain dalam masyarakat itu.
D. Usaha-Usaha Memperbaiki Hubungan Antar-kelompok di Sekolah
Tiap sekolah perlu memperhatikan hubungan antar-murid dan antar-kelompok, terlebihlebih jika terdapat didalamnya apa yang dinggap golongan minoritas. Berbagai usaha dapat
dijalankan untuk memperbaiki hubungan antar-kelompok, walaupun kekuasaan sekolah
sering sangat berbatas. Sikap yang berprasangka yang telah tertanam dalam hati masyarakat
sangat menghalangi usaha sekolah, namun ada yang dapat diusahakan oleh sekolah.
Oleh sebab sekolah terbatas kemampuannya untuk mengubah situasi sosial, sekolah
dapat menggugah nilai-nilai dan sikap anak-anak secara individual, rasa keadilan, rasa
keagamaan yang mengemukakan kesamaan manusia di hadapan tuhan, lalu melihat nilainilai itu dalam hubungannya dengan orang-orang yang dianggapnya renah, asing, licik, dan
sebagainya.
Cara ini dapat dilakukan melalui pemberitahauan informasi, diskusi kelompok,
hubungan pribadi, dan sebagainya.Kebanyakan usaha dalam memperbaiki hubungan antarkelompok mengandung unsur”penggugahan nilai dan sikap” individu, oleh sebab sekolah
tidak mampu mengubah keadaan sosial dan prasangka yang telah ada dalam masyarakat.
Mungkin cara yang paling delakukan ialah memberikan informasi dapay diberikakan
misalnya
tentangan hakikat
perbedaan rasial dan kultural dengan menekankan bahwa
perbedaan-perbedaan dikalangan manusia bukanlah disebabkan oleh pembawaan biologis,
melainkan karena dipelajari dari lingkungan kebidayaan masing-masing. Diusahakan agar
30
anak-anak dapat memperhatikan kesamaan antara manusia yang berada asal kebudayaannya
sehingga dapat melihat orang lain sebagai sesama manusia yang dapat dijadikann teman
sepergaulan, disamping itu anak dapat pula melihat adanya perbedaan diantara orang-orang
dalam kelompoknya sendiri tak ubahnya dengan orang-orang di luar kelompoknya. Sikap
terhadap perbedaan kelompok dapat mengalami perbedaan dalam hidup seseorang
selanjutnya berkat berbagai situasi yang dialaminya. Informasi mengenai kesamaan dan
perbedaan manusia juga diperoleh murid dalam pelajaran biologis dan ilmu-ilmu sosial.
Teknik lain yang banyak digunakan ialah memberikan informasi tentang sumbangan
minoritas kepada masyarakat. Orang cina, india,arab yahudi dan bangsa-bangsa lain banyak
memberikan sumbanganyang berharga kepada umat manusia dan keturunan mereka yang
tersebar di berbagai pelosok dunia ini patut dihargai atas jasa-jasa itu, demikian pula tiap
suku bangsa ditanah air kita ini turut berjuang untuk merebut kemerdekaan kita dan karena
itu tiap warga negara berhak mendapat perlakuan yang hormat.
Agama dapat dijadikan pegangan untuk memandang semua manusia sama karena
mereka semua sama dihadapan tuhan. Juga uud 1945 mengakui semua hak setiap warga
negara tanpa memandang agama, kesukuan, kebangsaan atau warna kulit. Namun orang yang
mempunyai kepribadian yang berprangka sering bermuka dua, pada satu pihak berpegang
pada norma-norma agama dan undang-undang, di lain pihak tetap mempertahankan
prangkanya orang tertentu. tak dapat tiada orang serupa itu akan akan mengakami kanflik
dalam batinnya.
Guru dapat juga mengemukakan contoh-contohtokoh-tokoh besar yang menunjukkan
tolerasnsi besar terhadap sesamamanusia seperti ibu theresa di india, albert schweitzer di
aprika. Atau mengemukakan tokoh-tokoh olah raga, musik dan lain-lain yang bersal dari
golongan minoritas yang membawa keharuman bagi negara berkat prestasi yang gemilang.
Guru dapat pula mengidentifikasi pemimpin-pemimpin di kalangan murid-murid. Bila
mereka ini mempunnyai sikap yang toleran, atau diusahakan agar mempunyai sikap yang
toleran maka mereka dapat mempengaruhi sikap murid-murid lain kearah toleransi yang lebih
besar.guru dapat memobilisasi tenaga-tenaga ini untuk memupuk sikap yang sehat di
kalangan murid-murid.
Teknik lain untuk mengubah sikap ialah membuka kesempatan yang seluas-luasnya
untuk mengadakan hubungan atau pergaulan diantara murid-murid dari berbagai golongan,
jika mereka dapat saling berkunjung dan menghadiri kegiatan atau upacara dalam keluarga
asing-masing, maka diharapkan saling pengertian yang lebih mendalam dan tolerasansi yang
lebih besar.
31
Metode lain yang makin banyak digunakan ialah sosiodrama atau teknik bermain
peranan. Peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dapat dimainkan dalam kelas dalam bentuk
sosiodrama dengan menyuruh golongan mayoritas mamainkan peranan golongan minoritas.
Tujuan
ialah
agar
dapat
dipahami
perasaan
golongan
minoritas
dan
dapat
mengidentifikasikan diri dengan keadaan mereka.
E. Efektivitas Pendidikan Antar-golongan
Usaha-usaha perbaiakan hubungan antar-kelompok
seperti dikemukakan di atas
didasarkan atas anggapan atau asumsi tertentu. Pertama : dianggap bahwa prasangka
disebabnya kurangannya pengetahuan. Oleh sebab itu seorang dapat dibebaskan dari
prasangka dengan memberikan informasi yang cukup kepadanya. Tak dapt disangkal peranan
informasi dalam prasangka. Informasi yang keliru dapat menimbulkan atau memperdalam
prasangka. Namun memberikan informasi saja belum menjamin berubahnya sikap seseorang
terhadap golongan lain. Orang dapat mempunyai pengetahuan yang banyak tentang golongan
lain., namun tetap menaruh prasangka. Atau mereka secara verbal dapat menunjukkan
toleransi, akan tetapi tidak menampakannya dalam kelakuan yang nyata.
Asumsi kedua ialah bahwa pengalaman disekolah dapat mengubah kelakuannya diluar
sekolah dan situasi-situasi lain. Anak-anak dapat bersifat toleran dalam ucapannya akan tetapi
apakah mereka akan tetap toleran diluar sekolah dan kelak sebagi orang dewasa masih
merupakan pertanyaan. Prasangka kuat kaitannya dengan struktur kepribadian seseorang, jadi
menunjukkan bentuk kelakuan yang mempunyai corak yang sama. Untuk menghilangkan
prasangka harus diubah struktur kepribadiannya. Sebaliknya, bila kita pandang prasangka
sebagai fungsi situasional, artinya timbul dalam situasi sosial tertentu, maka pendididkan
sekolah dapat disangsikan. Karena anak tetao menghadapi situasi sosial yang sama dalam
masyarakat yang tidak dapt dikuasai oleh sekolah. Karena itu sukar diharapkan terjadinya
transfer kelakuan anak disekolah ke situasi-situasi lain di luar sekolah.
Asumsi ketiga ialah bahwa hubungan pribadi dengan anggota kelompok lain
mengurangi prangka. Apakah ini akan terjadi antara lain bergantung pada keadaan hubungan
ini teerjadi. Bila hubungan itu menberi pengalaman yang menyenangkan ada kemungkinan
menghasilkan sikap persahabatan. Adanya hubungan itu sendiri tidak menjamin sikap yang
baik. Misalnya anak-anak yang mempunyai sekolah yang dikunjungi berbagai golongan
belum tentu semuanya akan mendapat sikap yang lebih toleran terhadap golongan itu. Oleh
sebab, bila bila hubungan itutidak disertai oleh pengalman yang menyenangkan maka
prasangka yang adatidak akan berkurang.
32
Hubungan yang terjadi dalam kondisi khusus, misalnya tentara amerika yang terdiri
atas kulit putih dan negro selama perang II melahirkan hubungan persahabatan yang erat
yang bersifat pribadi, akan tetapi tidak meluas kepada golongan itu dalam keseluruhannya.
Kontak antara dua golongan tidak akan membawa perubahan bila dipertemukan dua
orang yang sesuaidengan stereotip tiap golongan, misalnya pemilik perkebunan bangsa kulit
putih dengan negro buruh perkebunan itu. Perubahan lebih cenderung terjadi bila diadakan
kontak antara dua orang atau kelompok yang mempunyai status, tujuan, dan masalah yang
sama, misalnya sama-sama sarjana artis, pengarang atau usahawan yang memberi gambaran
yang berbeda sekali dengan tanggapan umum atau stereotip tentang anggota suatu kelompok.
Maka adanya hubungan itu saja belum menjamin timbulnya persahabatan atau toleransi
yang lebih besar. Anak yang belajar disekolah yang bermrid-muridkan
anak-anak dari
macam-macam golongantidak dengan sendirinya lebih toleran dari pada anak yang belajar
dari sekolah yang muridnya homogen asal kebangsaannya. Karena itu sukar diadakan
generalisai tentang pengaruh hubungan suatu in-group dengan out-group.
F. Efektivitas Pendidikan
Bagaimana pengaruh pendidikan terhadap anak-anak yang mempunyai asal kebangsaan
yang sama? Bahwa sekolah merupakan lembaga yang efektip untuk mengurangi prasangka
tidak dapat didukung dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Menurut penelitian, orang
dewasa yang lebih tinggi pendidikannya menunjukan sikap yang lebih toleranterhadap
golongan minoritas. Hasil penelitian ini setidaknya membuktikan bahwa pendidikan tidak
menambah prasangka. Bahkan ada bikti-bukti yang memperlihatkan timbulnya sikap yang
memberikan program yang khusus tentang hubungan antar-golongan. Ini pula menunjukan
bahwa seolah tidak selalu mengikuti sepenuhnya sikap yang terdapat dalam masyarakat di
lingkungan sekolah.
Efektivitas program khusus tentang hubungan antar-kelompok tidak mudah dinilai.
Kebanyak program itu bercorak memberikan informasi yang kemujian diuji dengan tes
tertulis. Dalam pertanyaan verbal ini dapat dilihat adanya perubahan. Akankan pertanyaan
verbal akan diterapkan dalam kelakuannya terhadap golongan minoritas dalam segala mcam
situasi sukar diketahui. Perubahan ini sekalipun bersifat verbal, tentu cukup berarti, karena
ada kemungkinan akan dapat mempengaruhi kelakuan anak. Ini menunjukan bahwa
pendidikan skolah tidak merubah sikap anak-anak ke arah yang negatif karena ada rasa
kekhwatiran seakan-akan masalah hubungan antar golongan sebaiknya jangan disinggung
saja karena dianggap sensitif.
33
Perlu kita sadari bahwa sekolah hanya salah satu dari sejumlah daya-daya sosial yang
mempengaruhi hubungan antargolongan. Pendidikan dan pengaruh yang diperoleh anak
dalam rumah tangga, pergaulan dengan teman-teman sepermainan dan lapangan interaksi
sosial lainnya sering lebih kuat dan membuat sekolah hampir takberdaya. Sekolah tak mampu
mengubah masyarakat. Untuk menghilangkan prasangka terhadap golongan lain, seluruh
masyarakat harus turut serta, termasuk pemerintah yang harus berusaha meniadakan segala
macam bentuk diskriminisasi, kalaupun masih ada. Juga guru-guru harus menjadimodel
pribadi yang lebih toleran dalam dalam ucapan maupun perbuatannya.
G. Dasar-Dasar Bagi Pendidikan Antar-golongan
Program-program tentang hubungan antar-golongan dapat dilakukan menurut pelajaran
lainnya, yakni dengan menyampaikan informasi seperti pelajaran sejarah, geografi, dan lainlain. Namun kita dapat bertanya apakah pendidikan itu tidak sebaiknya dikaitkan dengan
berbagai teori tentang prasangka.
Bila kita anggap prasangka disebabkan oleh rasa frustasiagresi, seperti yang terdapat
dalam pribadi otoriter, maka perlu diperhatikan pendidikan anak dalam rumah tangga sejak
kecil. Bila kepribadian yang serupa itu dibiarkan terus berkembang, ada kemungkinan ia
hanya mendapat kesembuhan dengan ahli psikiatri.
Bila kita anggap bahwa prasangka disebabkan oleh persangian dalam mencari
keuntungan, status, kekuasaan, yang terdapat dalam sistem politik ekonomi, maka disekolah
dapat diajarkan bahwa prestasi seseorang ditentukan oleh usaha dan kemampuannya, yang
bagi setiap orang mempunyai batas-batas tertentu. Sejauh kesanggupannya sebaiknya setiap
orang harus berusaha sekeras mungkin dan jangan mempersalahkan orang lain atau merasa
cemburu atas keberhasilan orang lain. Harus diakui bahwa prasangka yang ditimbulkan oleh
persaingan ekonomi didalam masyarakat dapat melumpuhkan usaha sekolah.
Prasangka dapat pula menjadi aspek kebudayaan yang diperoleh melalui proses
sosialisai, melalui situasi-situasi yang dihadapi anak dalam hidupnya. Bila lingkungan itu
menunjukkan rasa prasangka terhadap golongan lain, maka dapat diharapkan anak itupun
akan berbuat sesuai dengan lingkungannya. Sekolah dapat memberikan pelajaran agar anak
tidak berprasangka, namun apakah akan terjadi transfer kedalam situasi-situasi lain diluar
sekolah menjadi pertanyaan, karena kelakuannya bertentangan dengan yang lazim.
34
Masyarakat
35
MASYARAKAT
A. Pengertian Masyarakat
Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama,masyarakat menurut Peter L.
Berger,adalah suatu kesluruhan kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya. Keseluruhan
itu terdiri dari bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan. Misalnya,hubungan orang tua
dengan anak ,hubungan antara murid,guru,dan kepala sekolah,dan hubungan antara atasan
dan bawahan,yang secara keseluruhan hubungan yang luas itu disebut masyarakat.Hubunganhubungan tersebut terjalin dan terjadi bukanlah sembarangan terjadi dan terjalin,melainkan
memiliki aturan. Di dalam adat istiadatnya di Indonesia,anak itu menghormati
orangtua,bawahan itu menghormati atasan.Singkatnya semua berjalan menurut sistem.Oleh
kaena itu,Berger juga mendefinisikan masyarakat yang menunjukkan pada suatu sistem
interaksi atau tindakan yang terjadi minimal
dua orang yang saling mempengaruhi
prilakunya. Di sana terdapat sistem interaksi,di sana konsep masyarakat diterapkan. Dalam
sistem interaksi, dapat dilihat bentuk peraturan,kebiasan,dan adat istiadat yang diciptakan
oleh manusia dan juga mengatur manusia.Artinya,antara individu dan masyarakat ada
hubungan timbal balik.36 Terdapat beberapa pengertian masyarakat dalam pandangan ahli.
Masyarakat mempunyai arti yaitu sekumpulan orang yang terdiri dari berbagai kalangan dan
tinggal didalam satu wilayah,kalangan itu bisa terdiri dari kalangan orang mampu hingga
orang yang tidak mampu. Masyarakat yang sesungguh nya adalah sekumpulan orang yang
telahmemiliki hukum adat,norma-norma dan berbagai peraturan yang siap untuk ditaati.37
Manusia dari lahir sampai mati hdup sebagai anggota masyarakat. Hidup dalam
masyarakat berarti adanya interaksi sosial dengan orang-orang disekitar dan dengan demikian
mengalami pengaruh dan mempengaruhi orang lain.Interaksi sosial sangat utama dalam
masyarakat.
Masyarakat sangat luas dan dapat meliputi seluruh umat manusia. Masyarakat terdiri
atas berbagai kelompok,yang besar maupun kecil bergantung pada jumlah anggotanya. Dua
orang atau lebih dapat merupakan kelompok. Tiap orang menjadi anggota keluarga yang
terdiri atas ayahibu,dan anak,atau keluarga besar yang juga mencakup paman, kakek,
cucu,dan sebagainya.38 Ciri-ciri masyarakat:
36 Muhammad Rifa‟i,sosiologi pendidikan,Jogjakarta:Ar-Ruzz Media,2011,hlm.34-35.
37 http:e-jurnal(pengertian masyarakat dalam pandangan ahli)blogger.com
38 Prof.Dr.S.Nasution.MA,sosiologi pendidikan,Jakarta:Bumi Aksara,2011,hlm 60.
36
1. Interaksi antar warga
2. Adat istiadat,norma hukum dan aturan khas yang mengatur seluruh penduduk warga kota
atau desa
3. Satuan komunitas dalam wilayah
4. Satuan rasa identiitas kuat yang mengikat semua warga
Istilah community dapat diterjemahkan sebagai ”masyarakat setempat” yang
menunjuk pada warga sebuah desa,kota,suku,dan bangsa. Apabila anggota-anggota suatu
kelompok,baik kelompok itu besar maupun kelompok kecil,hidup bersama sedemikian rupa
sehingga merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan-kepentingan
hidup
yang
utama,kelompok
tadi
disebut
masyarakat
setempat.
Sebagai
suatu
perumpamaan,kebutuhan,seseorang tidak mungkin secara keseluruhan terpenuhi apabila dia
hidup bersama-sama rekan lainnya yang sesuku.Dengan demikian, kriteria yang utama bagi
adanya suatu masyarakat setempat adalah adanya social relationships antara anggota suatu
kelompok .Dengan mengambil pokok-pokok uraian di atas,dapat dikatakan bahwa
masyarakat setempat menunjuk padabagian masyarakat yang bertempat tinggal di suatu
wilayah dengan batasan-batasan tertentu.dapat disimpulkan secara singkat bahwa masyarakat
setempat adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang dilandasi oleh suatu derajat hubungan
sosial yang tertentu.39
Dalam masyarakat yang modern,sering dibedakan antara masyarakat pedesaan dan
masyarakat perkotaan rular community,dan urban community.Warga
pedesaan,suatu
masyarakat mempunyai hubungan yang lebih erat dan lebih mendalam ketimbang hubungan
mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sistem kehidupan biasa nya
berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan Penduduk masyarakat pedesaan pada umum nya
hidup dari pertanian.Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya
memegang peranan penting. Orang selalu meminta nasehat kepada mereka apabila ada
kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Masyarakat perkotaan atau urban community adalah masyarakat yang tidak tertentu
jumlah penduduknya. Tekanan pengertian ”kota” terletak pada sifat serta ciri kehidupan
yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.
Antara warga masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan terdapat perbedaan
dalam perhatian, khususnya terhadap keperluan hidup. Di desa yang di utamakan adalah
perhatian
khusus
terhadap
keperluan
utama
kehidupan,hubungan-hubungan
39 Prof.Dr.soerjono soekanto,sosiologi suatu pengantar,Jakarta:Rajawali Pers,2012,hlm 132-133
untuk
37
memerlukan fungsi pakaian, makanan, rumah,dan sebagainya. Hal ini berbeda lain dengan
orang kota yang mempunyai pandangan berbeda. Ada beberapa ciri lagi yang menonjol pada
masyarakat kota,yaitu sebagai berikut:
1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan agama di desa.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada
orang lain.
3. Pembagian kerja diantara warga kota juga lebih tegas dan punya batas-batas nyata.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan.
5. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan.
6. Jalan kehidupan yang cepat dikota mengakibatkan pentingnya faktor waktu.40
Dalam pengelompokkan sering dibedakan kelompok primer dan
kolompok
sekunder. Kelompok primer adalah kelompok pertama di mana ia mula-mula berinteraksi
dengan orang lain,yakni keluarga,kelompok sepermainan,dan lingkungan tetangga. Dalam
kelompok primer terdapat hubungan temu-muka langsung dalam suasana akrab. Dalam
kelompok ini ia mempelajari kebiasaan yang fundamental seperti bahasa,soal baik
buruk,kemampuan untuk mengurus diri sendiri,kerja sama dan bersaing,displin,dan
sebagainya. Kelompok primer ini disabut juga gemeinschaft.
Kelompok skunder dibentuk dengan sengaja atas pertimbangan tertentu berdasarkan
kebutuhan tertentu seperti perkumpulan profesi,organisasi agama,partai politik. Anggotanya
mungkin tak pernah saling bertemu. Kelompok skunder ini dapat hidup lama melampaui
suatu genarasi. Kelompok sekunder ini sering disebut gesellschaft.
Pengolongan lain terutama berdasarkan fungsinya ialah kelompok “orang dalam” (ingroup) dan kelompok ”orang luar” (out-group). Kelompok orang dalam yang terdapat dalam
kelompok primer maupun sekunder,adalah kelompok terhadap siapa kita merasa
solider,setia,akrab,bersahabat. Kita merasa bersatu, seperasaan, sepikiran, seperbuatan
dengan mereka. Kita rela mempertahankan,melindungi dan berkorban untuk mereka. Dengan
mereka kita merasa senang,saling memahami,pnuh cinta dan simpati.
Terhadap kelompok orang luar kita dapat merasa tidak senang,bahkan benci,
menganggapnya sebagai saingan, lawan, ancaman. Prasangka biasanya ditunjukkan terhadap
kelompok ini. Kita merasa kelompok kita lebih baik daripada kelompok orang lain. Bangsa
kita, agama kita, sekolah kita dirasa melebihi yang lain.
40 Soerjono soekanto
38
B. Pengertian Kebudayaan
Untuk mempelajari kebudayaan suatu masyarakat kita perrlu minta bantuan ahli
antropologi seperti kita meminta bantuan ahli sosiologi dalam menganalisis masyarakat.
Berkat kebudayaan kita berbahasa indonesia bukan bahasa inggris, menghormati sang saka
merah putih,kita makan nasi dengan tangan atau sendok-garpu dn bukan dengan sumpit,kita
menyukai durian yang dianggap jijik oleh orrang barat. Demikian pula seorang berbahasa
sunda,batak,minahasa,menghargai gamela,tortor atas pengaruh interaksi individu dengan
kebudayaan masyarakat.
Kebudayaan mempengaruhi individu dengan berbagai cara akan tetapi individu juga
mempengaruhi kebudayaan sehingga tejadi perubahan sosial. Kebudayaan dapat dipandang
sebagai cara-cara mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Ada masalah yang universal
seperti memenuhi kebutuhan biologis. Namun tiap masyarakat memilih cara yang dianggap
paling sesuai sehingga tidak ada dua masyarakat yang sama kebudayaannya.
Kebudayaan dipengaruhi oleh lingkungan fisik seprti iklim, topograpi, kekayaan
alam,dan sebagainya. Kebudayaan daerah tropis berbeda dengan kebudayaan didaerah
dingin,kebudayaan didaerah gurun brbeda dengan kebudayaan yang berhutan. Kebudayaan
juga dipengaruhi oleh kontak dengan kebudayaan lain yang dircept oleh perkembangan
komunikasi dan transport. Yang dipnjam biasa nya hal-hal yang berguna untuk memecahkan
masala-masalah atau sebagai alat untuk mencapai tujuan masyarakat. Yang dipinjam
biasanya hal-al yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah atau sebagai alat untuk
mencapai tujuan masyarakat.
Dalam kebudayaan dapat dibedakan, kebudayaan eksplisit yang dapat diamati secara
langsung dalam kelakuan verbal maupun non verbal pada anggota-anggota masyarakat.
Kelakuan eksplisit misalnya dapat kita lihat pada kelakuan dua orang atau lebih dalam
situasi-situasi normal meurut peranan masing-maasing misalnya dalam interaksi antara
suami-isteri,orang tua-anak, guru-murid, atasan-bawahan,dan sebagainya. Kebudayaan
implisit terdiri atas kepercayaan,nilai-nilai dan norma-norma yang dapat ditafsirkan ahli
antropologi untuk menjelaskan berbagai kelakuan anggota masyarakat.
Kepercayaan suatu masyarakat yang meliputi buah pikiran, pengetahuan, takhayul,
mitos dan dongeng-dongeng yang tersebar pada semua anggota masyarakat sangat penting
bagi keutuhan masyarakat itu. Mitos bukan sekedar cerita melainkan suatu kenyataan hidup
bagi orang yang mempercayainya. Dengan nilai-nilai kebudayaan anggota masyarakat
mengetahui apakah yang layak, pantas, baik atau seharusnya. Nilai-nilai dapat bersifat positif
yakni apa yang diinginkan dan negatif yakni apa yang tidak diinginkan,misalnya soal
39
kebersihan dan kesopanan,atau soal penipuan dan kekerasaan. Dengan norma-norma
dimaksud aturan-aturan kelakuan yang diterima oleh masyarakat. Di antaranya ada
kebiasaan-kebiasaan seperti soal pakaian (menerima tamu jangan pakai piama, ke pesta
hendaknya pakai dasi, waktu kuliah gadis-gadis jangan pakai celana jeans, dan sebagainya)
yang dianggap sopan atau tidak sopan. Melanggar aturan serupa ini tidak selalu mendapat
hukuman akan tetapi
dipandang tidak tahu aturan atau tidak sopan, karena tidak
membahayakan masyarakat. Akan tetapi ada pula yang dianggap serius bila melakukan
perkawinan yang tidak sah,dan karena itu dapat ditindak berdasarkan adat atau hukum.
Tiap manusia merupakan individu yang unik,namun banyak kelakuannya dipngaruhi
oleh kebudayaan seperti pikiran, bahasa, cara memberi hormat, cara makan, apa dimakan,
dan seribu satu hal lainnya. Perbedaan individual terdapat dalam bentuk variasi-variasi dalam
kerangka kebudayaan itu. Tidak seluruh kebudayaan dapat dituruti oleh setiap anggota
masyarakat. Ada diantaranya yang boleh dikatakan diikuti oleh semua, yang disebut
univeersalseperti bahasa, moral perkawinan. Dalam tiap masyarakat besar terdapat
kelompok-kelompok yang mempunyai sub-kebudayaan atau subculture yang tersendiri.
Mereka mengggunakan bahasa tersendiri yakni kata-kata yang mempunyai makna yang khas
bagi mereka, mereka mempunyai norma-norma tersendiri dan mempunyai buah pikiran yang
tidak
dimiliki oleh masyarakat umumnya. subculture
ini terdapat dikalangan
pemuda,pemudi, (golongan menurut usia dan jenis kelamin), juga dikalangan mereka yang
mempunyai pekerjaan tertentu (nelayan, calo, pencopet), atau termasuk golongan etnik, atau
suku bangsa tertentu.
C. Kebudayaan Sekolah
Sistem pendidikan mengembangkan sistem pola kelakuan tertentu sesuai dengan apa
yang diharapkan oleh masyarakat dari murid-murid. Kehidupan disekola serta norma-norma
yang berlaku di sebut kebudayaan sekolah. Walaupun kebudayaan sekolah merupakan bagian
dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas sebagai suatu
“Subculture”. Sekolah bertugas untuk menyampaikan kepada generasi baru dan karena itu
harus selalu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan umum. Akan tetapi disekolah itu
sendiri timbul pola-pola kelakuan tertentu. Ini mungkin karena sekolah mempunyai
kedudukan yang agak terpisah dari arus umum kebudayaan.
Timbulnya sub-kebudayaan sekolah juga ter jadi oleh sebab sebagian yang cukup
besar dari waktu murid terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam situasi serupa ini dapat
berkembang pola kelakuan yang khas bagi anak muda yang tampak dari pakaian ,bahasa,
40
kebiasaan kegiatan-kegiatan serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah
ialah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak dengan menyampaikan sejumlah
pengetahuan, sikap, keterampilan yang sesuai dengan kurikulum,metode, dan teknik kontrol
tertentu yang berlaku di sekolah itu. Dalam melaksanaan kurikulum dan ekstra-kurikulum
berkembang sejumlah pola kelakuan yang khas bagi sekolah yang berbeda dengan yang
terdapat pada kelompok-kelompok lain dalam masyarakat. Tiap kebudayaan mengandung
bentuk kelakuan yang diharapkan dari anggotanya. Di sekolah diharapkan bentuk kelakuan
tertentu dari semua murid dan guru. Itulah yang menjadi norma bagi setiap murid dan guru.
Norma ini nyata dalam kelakuan anak dan guru, dalam peraturan-peraturan sekolah, dalam
tindakan dan hukuman terhadap pelanggaran , juga dalam berbagai kegiatan upacara-upacara.
1. Kenaikan kelas
Belajar dengan rajin agar naik kelas merupakan patokan yang mempengaruhi
kehidupan anak selama bersekolah.untuk itu ia harus menguasai bahan pelajaran yang
ditentukan oleh kurikulum yang sering diolah dalam bentuk buku pelajaran. Dengan
ulangan atau tes guru menilai kemampuan anak. Angka dari guru sangat penting bagi
murid. Hak guru memberi angka memberinya kekuasaan yang disegani oleh murid.
Angka rapor menjadi dasar bagi
kenaikan kelas, pemberian rapor dan penentuan
kenaikan kelas sering dilakukan dengan upacara tertentu sekalipun sederhan. Mereka
yang naik kelas memasuki fase baru dalam hidupnya dan makin tinggi tingkat
kelas,makin banyak diharapkan daripadanya mmisalnya kelakuan yang lebih menantang.
Tinggal kelas merupakan masalah yang berat bagi murid. Bagi anak yang tinggal
kelas ini berarti ia akan ditinggalkan oleh teman-temanya selama setidak-tidaknya satu
tahun dan ia harus masuk kelompok anak-anak yang lebih muda daripadanya yang selama
ini lebih rendah keduduknnya. Tinggal kelas bagi murid merupakan pukulan berat,
sekalipun sebelumnya ia tahu bahwa angka-angkanya selalu rendah dalam ulangan.
2. Upacara-upacara
Peristiwa yang biasanya dilakukan dengan upacara ialah penerimaan murid baru.
Dalam adat suku bangsa tertentu diadakan upacara bila seseeorang memasuki fase baru
dalam hidupnya. Upacara yang selalu menggembirakan ialah upacara wisuda yang
melepas para siswa yang telah lulus, yang kemudian akan melanjutkan pelajaran pada
lembaga pendidikan yang lebih tinggi atau mengadu nasibnya dalam dunia pekerjaan.
Upacara
ini melambangkan beberapa hal,pertama yaitu untuk menyatakan
besarnya nilai pendidikan bagi pembinaan generasi muda dan kepercayaan bahwa
41
pendidikan membawa kemajuan bagi setiap siswa. Dalam upacara itu sering turut serta
orang tua dan tokoh-tokoh lain dari masyarakat yaang mrndukung sekolah sebagai
lembaga pendidikan yang besar manfaatnya bagi bangsa dan negara. Kedua,bagi mereka
yang lulus, wisuda itu merupakan pengakuan atas taraf pendidikan yang telah mereka
capai. Selain itu wisuda merupakan tabnda penghargaan atas keberhasilan siswa dalam
pelajaran yang diperoleh dengan jrih payah. Hari wisuda juga melambangkan perpisahan
dari teman-teman selama beberapa tahun belajar brsama disekolah sambbil mengalami
suka-dukanya,maka hari wisuda merupakan hari kegembiraaan dan keharuan.
3. Upacara bendera
Ada sekolah yang memulai sekolah dengan lebih dahulu mengumpulkan semua
muriduntuk melakukan upacara tertentu dengan acara yang mungkin berbeda-beda
menurut sekolahnya . sekolah swasta beragama mungkin mula
dengan do‟a serta
pengumuman dan petunjuk dari kepala sekolah. Ada pula dengan senam pagi atau dengan
kegiatan lain.
Upacara ini selain mempunyai fungsi kontrol, juga menanamkan rasa identifikasi
anak dengan sekolahnya dan semangat persatuan serta rasa turut bertanggung jawab atas
nama baik sekolah. Suatu upacara yang diwajibkan bgi tiap ssekolah dinegara kita ialah
upacara bendera pada hari senin tiap minggu dan pada tanggal 17 agustus. Upacara ini
bertujuan untuk menanamkan rasa kebangsaan dengan meresapkan dasar pikran, dan citacita serta norma-norma yang terkandungg dalam UUD 1945.
D. Norma-Norma Sosial Dalam Situasi Belajar
Kegiatan belajar yang berpusat dalam ruang kelas hanya dapat berjalan lancar karena
adanya pola-pola kebudayaan sekolah yang menentukan kelakuan yang diharapkan dari
murid-murid dalam proses belajar-mengajar.
Interaksi yang terus menerus antara guru dengan murid mengharuskan masing-masing
memahami norma-norma kelakuan serta isyarat-isyarat yang melambangkan norma-norma
tertentu. Di sekolah-sekolah kita murid-murid tidak diperbolehkan bercakap-cakap dalam
kelas atau berjalan mondar-mandir karena menggangu jalannya pelajaran. Dengan isyaratisyarat tertentu guru dapat menuntut ketentraman kelas dan meminta perhatian penuh akan
pelajaran. Di sekolah-sekolah modern menjalankan disiplin yang “permissive” dan
memberikan lebih banyak kebebasan pun terdapat norma-norma yang harus dipahami dan
ditaati oleh semua. Tanpa disiplin kegiatan tak dapat berjalan baik. Pelanggaran akan terjadi
42
bila isyarat-isyarat itu tidak dipahami atau tidak diterima baik oleh sebab komunikasi antara
kedua belah pihak tidak serasi.
Norma-norma di sekolah juga harus memperhatikan apa yang diharapkan oleh
masyarakat. Guru harus memanfaatkan harapan-harapan orang tua dan menerapkannya dalam
kelasnya dalam bentuk norma-norma. Sedapat mungkin norma-norma yang dijalankan di
sekolah jangan bertentangan dengan norma yang berlaku dalam keluarga anak didik. Bila ini
terjadi maka kesulitan dan salah paham akan timbul antara sekolah dengan orang tua. Dalam
hal ini pribadi guru dan latar belakangnya turut menentukan cara menginterprestasikan
norma-norma masyarakat ke dalam situasi kelas. 41
E. Latar Belakang Guru
1. Latar Belakang Guru
Menurut penelitian di Amerrika Serikat sebagian besar dari guru-guru berasal dari
golongan menegah-rendah seperti petani, pengusaha kecil, buruh harian dan hanya sebagian
kecil saja yang ayahnya dari golongan profesional atau golongan tinggi. Guru-guru
kebanyakan berasal dari daerah pedesaan atau kota kecil. Latar belakang guru yakni berasal
dari golongan petani dan kaum buruh perlu dipertimbangkan dalam pola kebudayaan di
sekolah yang banyak dipengaruhi oleh guru itu.
Guru akan membawa noorma-norma dan kebudayaan yang diperolehnya melalui
pendidikan dari orang tuanya ke dalam kelas yang diajarnya. Walaupun guru itu sendiri
berkat pendidikannya dapat mempertinggi tingkat kulturnya, namun ia akan tetap terikat oleh
latar belakangnya, yakni nilai-nilai pedesaan golongan menegah-rendah yang mugkin sekali
berbeda dengan norma murid-murid, khususnya di kota-kota. Banyak orang tua murid, antara
lain di sekolah menengah yang golongan sosialnya lebih tinggi dari guru sendiri.
Dalam kelas gurulah merupakan daya utama yang menentukan norma-norma di dalam
kelasnya dan otoritas guru sukar dibantah. Dialah menentukan aoa yang harus dilakukan oleh
murid agar ia belajar. Ia menuntut agar anak-anak menghadiri setiap pelajaran agar mereka
berlaku jujur dalam ulangan, datang pada waktunya ke sekolah, melakukan tugasnya dengan
penuh tanggung jawab.
Juga dalam kelakuan anak sehari-hari, tentang berpakaian, cara bergaul, cara
mengatasi konflik dalam hal-hal moral, pergaulan antar sesama, soala kejujuran sikap
terhadap agama, terhadap atasan orang tua, dan pemerintah guru itu akan dipengaruhi norma-
41 Dr. Hj. Binti Maunah, M.Pd.I sosiologi pendidikan ,hlm 68
43
norma golongan darimana ia berasal. Tentang peraturan-peraturan sekolah telah ada yang
ditentukan oleh pemerintah ada pula oleh kepala sekolah, larangan merokok, pembayaran
iuran seolah, dan sebagainya yang harus dipatuhi oleh semua anak, lepas dari status sosial
orang tua anak.42
2. Pribadi Guru
Tiap orang yang pernah sekolah dan karena itu berhubungan dengan guru mempunyai
gambaran tertentu tentang kepribadian guru. Ternyata banyak kesamaan mengenai gambaran
orang pada umumnya tentang guru tampak dalam cerita-cerita, film, sandiwara, karikatur
dalam pemainan peranan oleh anak-anak yang belum bersekolah.43
Guru merupakan sumber pengetahuan utama bagi murod-muridnya, namun pada
umumnya orang tidak memanadang guru sebagai orang yang pandai yang mempunyai
inteligensi yang tinggi. Orang-orang yang ber-IQ tinggi akan menjadi dokter atau insinyur
dan tidak menjadi guru, walaupun dalam kenyataan tetbukti bahwa guru yang beralih
jabtanyya dapat melakukan tugasnya dengan baik sebagai jenderal, gubernur, menteri, duta
besar, bupati atau camat, juga sebagai usahawan, seniman, pengarang, dan sebagainya.
Walaupun demikian oang tetap berpeng pada stereotip guru.
Guru memang ada lainnya dengan pekerjaan lain. Guru wanita, bila dibandingkan
dengan gadis atau wanita lain yang bekerja di kantor, bersifat lebih serius, berpakaian lebih
konservatif, karena enggan mengikuti mode terbaru, bahkan tak malu menggunakan pakaian
yang sama berulang-ulang. Guru lebih kritis terhadap kelakuan orang lain, mungkin karena
telah terbiasa mengecam kelakuan murid. Guru wanita tidak mudah bergaul dengan
sembarangan orang. Dalam hiburan seperti menonton bioskop ia membatasi diri dan tak suka
berjumpa dengan murid di tempat serupa itu.
Dalam suatu percobaan diperlihatkan 10 foto, di antaranya tiga foto guru yang khas.
Ternyata bahwa murid-murid yang digunakan sebagai sampel kebanyakan tepat menerka foto
guru, sedangkan untuk jabatan lain tebakan mereka meleset. Dari percobaan itu tampak
bahwa orang memiliki gambaran tentang stereotip guru, orang yang serius, sadar akan harga
diri, bersikap menjaga jarak sosial dengan orang lain.44
42 Ibid hal. 69
43 Dr. Hj. Binti Maunah, M.Pd.I sosiologi pendidikan ,hlm 102
44 Ibid hal. 103
44
Struktur Sosial
45
STUKTUR SOSIAL
A. Struktur Sosial
Sekolah dan Struktur Sosial 1. Pengertian Struktur Sosial Di Sekolah Bila seorang
insinyur bicara tentang "struktur" bangunan maka yang dimaksud adalah (1) materialnya, (2)
hubungan antara bagian-bagian bangunan, dan (3) bangunan itu dalam keseluruhannya
sebagai gedung sekolah, kantor, dan sebagainya. Demikian pula dengan struktur sosial di
sekolah adalah materialnya, kedudukan dan peranannya, struktur sosial orang dewasa di
sekolah, kedudukan guru/murid.45
Struktur adalah aturan-aturan dalam masyarakat yang merupakan unsur utama
paradigm fakta sosisal.46
Material bagi sekolah adalah kepala sekolah, guru, pegawai, pesuruh, murid-murid pria
maupun wanita yang masing-masing mempunyai kedudukan dan peranan.
Dalam struktur sosial terdapat sistem kedudukan dan peranan anggotaanggota
kelompok yang kebanyakan bersifat hierarkis, yakni dari kedudukan yang tinggi yang
memegang kekuasaan yang paling banyak sampai kedudukan yang paling rendah. Dalam
struktur sosial sekolah kepala sekolah menduduki posisi yang paling tinggi dan pesuruh
kedudukan yang paling rendah. Dalam kelas guru mempunyai kedudukan yang lebih tinggi
daripada murid. Biasanya muridmurid kelas rendah merasa mempunyai kedudukan yang
lebih rendah daripada murid-murid kelas yang lebih tinggi. Struktur itu memungkinkan
sekolah menjalankan fungsinya sebagai lembaga edukatif dengan baik. Masing-masing
mempunyai kedudukan tertentu dan menjalankan peranan seperti yang diharapkan menurut
kedudukan itu. Dengan demikian dapat dicegah berbagai konflik dan dapat dijamin
kelancaran segala usaha pendidikan.47
B. Kedudukan dan Peranan
Kedudukan atau status menentukan posisi seseorang dalam struktur sosial, yakni
menentukan hubungannya dengan orang lain, misalnya apa yang dapat diharapkan, oleh
suami dari istrinya, apa yang diharapkan majikan dari pekerjaan pegawainya, bagaimana
orang tua. atau guru memperlakukan anak dan sebaliknya.
Status atau kedudukan
menentukan kelakuan orang tertentu. Dalam kedudukannya sebagai guru is mengharapkan
45Nasution, Sosiologi Pendidikan,Jakarta, PT. Bumi Akasar,2010,hlm.73
46 Anselmus, JE Toenlioe, Sosiologi Pendidikan, Bandung, PT. Refika Aditama, 2016,hlm.,25
47 Nasution, Loc.Cit,hlm.73
46
kelakuan tertentu dari murid, lepas dari pribadinya sebagai individu, apakah is peramah,
keras, pandai, rajin atau pemalas. Setiap guru dalam kedudukannya sebagai guru dapat
mengharapkan kelakuan tertentu dari murid, siapa pun guru itu dan siapa pun murid itu.
Status atau kedudukan individu, apakah is diatas atau dibawah status
orang lain
mempengaruhi peranannya. Peranan adalah konsekuensi atau akibat kedudukan atau status
seseorang. Seorang mandor diharapkan memberikan
diharapkan mematuhi instruksi kepala sekolah
perintah kepada pekerja. Guru
akan tetapi menuntut agar murid-murid
belajar. Akan tetapi cara-cara seorang membawakan peranannya dapat berbeda menurut
kepribadian seseorang. Guru dapat bersikap otokratis atau demokratis dalam menjalankan
peranannya. Tiap orang dalam masyarakat mempunyai berbagai kedudukan. Seorang murid
mempunyai kedudukan sebagai pelajar, ketua murid, anggota regu sepak bola atau sebagai
kakak terhadap murid-murid yang lebih rendah kelasnya,
sedangkan di rumah is
berkedudukan sebagai anak terhadap orangtuanya, adik terhadap kakaknya dan di luar rumah
ia menjadi teman bagi sejumlah anak-anak lainnya. Demikian pula guru itu berkedudukan
sebagai suami atau istri, bapak atau ibu bagi anaknya, anggota paduan suara atau ada kalanya
menjadi sopir kendaraan umum. Dalam tiap kedudukan ia menjalankan peranan tertentu.
Berdasarkan kedudukan daripadanya diharapkan kelakuan tertentu.48
C. Berbagai Kedudukan dalam Masyarakat Sosial
Masyarakat adalah sekelompok orang, yang menduduki suatu wilayah yang saling
berinteraksi. Ada beberapa tipe-tipe masyarakat untuk dapat mengklasifikasikannya sebagai
berikut:49
1. Jumlah penduduk.
2. Luas, kekayaan dan kepadatan penduduk daerah pedalaman.
3. Fungsi-fungsi khusu masyarakat setempat terhadap sekuruh masyarakat.
4. Organisasi masyarakat setempat yang bersangkutan.
Sekolah, seperti system sosial lainnya dapat dipelajari berdasarkan kedudukan anggota
dalam kelompok itu.
Setiap orang yang menjadi anggota suatu kelompok mempunyai bayangan tentang
kedudukna masing-masing dalam kelompok itu. Setiap anak mempunyai gambaran tentang
kedudukan ayah, ibu, dan anggota keluarga lainnya. Demikian juga di sekolah kita
mempunyai bayangan tentang kedudukan kepala sekolah, guru-guru, staf administrasi,
48 Nasution,ibid,
49 Soerjono Soekanto,Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, PT. Raja Grafondo Persada,2006,hlm.,135
47
pesuruh dan murid-murid sendiri serta hungan antara berbagai kedudukan itu. Biasanya
gambaran seseorang tentang berbagai kedudukan itu bercorak pribadi dan berkaitan dengan
tokoh tertentu. Namun yang akan kita selidiki bukanlah yang bersifat pribadi itu, melainkan
yang bersifat umum. Kita ketahui kedudukan seorangayah pada umumnya dalam keluarga
serta hubungannya dengan kedudukan ibu, anak-anak dan pembantu, walaupun setiap ayah
menjalankan peranannya denagn cara yang khas menurut pribadinya dalam keluarga.
Demikian pula dapat diselidiki kedudukan kepala sekolah pada umumnya walaupun tipa
kepala sekolah mempunyai pribadi tersendiri yang unik dan menjalankan peranannya
menurut pribadi masing-masing.
Dalam mempelajari struktur sekolah akan kita selidiki berbagai jenis anggota menurut
kedudukannya masing-masing dalam sisitem persekolahan. Dengan kedudukan atau posisi
dimaksud kategori atau tempat seseorang dalam system klasifikasi sosial .Misalnya anak
wanita ,pria dewasa,nenek menunjukan posisi atau kedudukan dalam sistem penggolongan
menurut usia jenis kelamin.Tiap individu dapat mempunyai berbagai kedudukan menurut
system klasifikasi,misalnya seperti pria dewasa,sebagai bapak dalam keluarga,sebagai
pegawai di kantor, sebagai teman dalam pergaulan atau permainan atau sebagai anggota
golongan menengah.
Dalam
tiap
kedudukan
individu
diharapkan
menunjukan
pola
kelakuan
tertentu.Perbuatannya, ucapannya, perasaannya, nilai-nilainya, dan sebagainya harus sesuai
dengan apa yang diharapkan bertalian dengan kedudukannya.Menurut kedudukan atau
posisinya ia harus menjalankan peranan tertentu.Peranan menentukan kelakuan yang
diharapkan dalam situasi sosial tertentu.
Dalam setiap kelompok orang mengenal kedudukan atau posisi masing –masing. Orang
mempunyai gambaran tentang kelakuan yang diharapkan dari masing-masing menurut
kedudukan yang ditempatinya. Jadi di masyarakat sekolah dari kepala sekolah
,guru,murid,pegawai sekolah diharapkan kelakuan tertentu.
Pada umumnya dapat kita bedakan dua tingkat dalam struktur sosial sekolah yakni yang
berkenaan dengan orang dewasa serta hubungan diantara mereka,jadi mengenai kepala
sekolah,guru-guru,pegawai
administrasi.pesuruh,pengurus
yayasan
pada
sekolah
swasta,Kanwil P dan K pada sekolah negri.Tingkat ke dua berkenaan dengan sistem
kedudukan dan hubungan antara murid-murid.Selanjutnya akan diselidiki hubungan diantara
kedua tingkat itu.50
50 Nasution,Op.Cit ,hlm, 76
48
D. Struktur Sosial Orang Dewasa di Sekolah
Kepala sekolah menduduki posisi yang paling tinggi disekolah berkatkedudukannya,
tetapi juga sering karena pengalaman, masa kerja dan pendidikannya. ialah yang berhak
mengambil keputusan yang harus dipatuhi oleh seluruh sekolah. Di samping hak itu ia
memikul tanggung jawab penuh atas kelancaran pendidikan di sekolah. Kepala sekolah
merupakan perantara, antara atasan yakni Kanwil dengan guru-guru. Keputusan-keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disampaikan oleh Kanwil melalui kepala sekolah
kepada guru-guru dan murid-murid. ia juga merupakan perantara antara guru dengan atasan,
misalnya mengenai kenaikan gaji atau tingkat. Pada sekolah swasta, kepala sekolah menjadi
perantara antara pengurus yayasan dengan guru-guru dansebaliknya.
Kepala sekolah juga berkedudukan sebagai konsultan yang memberikan petunjuk,
nasihat, saran-saran kepada guru-guru dalam usaha untuk memperbaiki mutu sekolah. Dalam
hal ini is didukung oleh kemampuan profesionalnya serta pengalamannya sebagai guru dan
kematangan pribadinya. ia dapat memaparkan filsafat sekolah, tujuan pendidikan yang hares
dicapai serta, cara-cara yang harus ditempuh untuk mewujudkan kurikulum sekolah. la
dianggap lebih bijaksana untuk mengatasi masalah-masalah antara guru dengan murid, juga
antara sesama guru. Guru yang meminta nasihatnya tentang tindakan terhadap anak
sebenarnya memindahkan tanggung jawab kepada kepala sekolah dan mengharapkan agar
kepala sekolah memberi dukungannya. Jadi guru menggunakan kepala sekolah sebagai
pelindung dan perisai terhadap reaksi dari pihak orang tua.
Kepala sekolah juga memegang kepemimpinan di sekolah dan ia diharapkan sanggup
memberi pimpinan dalam segala hal yang mengenai sekolah, dalam menghadapi masyarakat,
murid-murid maupun guruguru. Pada satu pihak guru-guru mengharapkan keputusan dan
tindakan yang tegas, di lain pihak mereka menginginkan agar keputusan diambil dengan cara
musyawarah. Kepala sekolah hares dapat bergerak di antara harapan-harapan yang
bertentangan itu. Tak semua keputusan perlu dirundingkan lebih dahulu. Banyak pula
putusan yang diterima dari atasan yang harus dilaksanakan. Tidak ada sifat-sifat universal
tertentu yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin. Kepemimpinan itu tidak umum,
artinya tak ada orang yang dapat menjadi pemimpin dalam segala macam situasi,
kepemimpinan itu spesifik bagi situasi tertentu. Kepala sekolah pemimpin di sekolah
mengenai soal-soal pendidikan, sedangkan dalam situasi informal di luar sekolah mungkin
sekali ia bukan orang yang paling sesuai untuk bertindak sebagai pemimpin, walaupun
seorang dapat menjadi pemimpin dalam berbagai macam situasi di luar sekolah.
49
Di sekolah yang kecil, khususnya yang tidak mempunyai pegawai administrasi, kepala
sekolah sering hares berfungsi sebagai petugas administrasi, mengurus korespondensi,
mengantar surat kepada berbagai instansi, membuat laporan-laporan, dan sebagainya, karena
biasanya ia mempunyai jam mengajar yang dikurangi, bahkan dapat dibebaskan dari tugas
mengajar. Dalam pekerjaan administrasi itu kepala sekolah dapat dibantu oleh guru. Akan
tetapi di Sekolah Menengah biasanya kepala sekolah dibantu oleh pegawai administrasi.51
Hadari Nawawi memberikan pengertian, "administrasi pendidikan adalah rangkaian
kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerja sama sejumlah orang untuk
mencapai tujuan pedidikan secara berencana dan sistematis yang di selenggarakan di
lingkungan tertentu, terutama berupa lembaga pendidikan formal.52
E. Kedudukan Guru dalam Struktur Sosial Sekolah
Guru adalah seorang administrator, informator, konduktor, dan sebagainya, an harus
berkelakuan menurut harapan masyarakatnya.53Kedudukan guru lebih rendah dari pada
kepala sekolah dan karena itu ia harus menghormatinya dan bersedia untuk mematuhinya
dalam hal-hal mengenai sekolah. Dalam kenaikan pangkat ia bergantung pada disposisi atau
rekomendasi yang baik dari kepala sekolah dan karena itu banyak sedikitnya masa depannya
ditentukan oleh hubungannya dengan kepala sekolah itu. Sebagai pegawai atau bawahan ia
dibawah kekuasaan kepala sekolahnya. Guru mempunyai kedudukan sebagai pegawai, dan
dalam kedudukan itu harus mematuhi segala peraturan yang ditetapkan oleh atasan
Pemerintah ataupun yayasan. Pelanggaran dapat diberi tindakan yang setimpal, bahkan
dipecat yang berarti pencabutan sumber pendapatannya. Kedudukan guru tidak sama. Pada
umumnya dianggap bahwa kedudukan guru SMP lebih tinggi daripada guru SD akan tetapi
lebih rendah daripada guru SMA. Petugas inspeksi yang mengawasi sekolah dianggap lebih
tinggi pula kedudukannya daripada guru maupun kepala sekolah.
Di dalam Sekolah
Menengah sendiri kedudukan guru juga tidak sama. Guru yang mengajarkan bidang studi
tertentu dianggap lebih tinggi daripada yang lain. Pada umumnya bidang studi akademis
seperti matematika, fisika, kimia menduduki tempat yang lebih terhormat daripada yang
memegang bidang studi agama, PKK atau Pendidikan Jasmani yang tidak termasuk mata
ujian dalam tes masuk Perguruan Tinggi.
51 Nasution,ibid,hlm,77
52 Ahmad Ruhani, Administrasi pendidikan sekolah, (Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 5
53 Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan,Jakarta, Rineka Cipta,2010,hlm, 46
50
Kedudukan guru juga turut ditentukan oleh lama masa kerja. Berkat usia dan
pengalamannya mengajar guru lama mengharapkan rasa hormat dari guru-guru barn atau
yang lebih muda. Kegagalan untuk memenuhi harapan ini akan bertentangan dengan
bayangan golongan tua tentang kedudukan golongan muda.54
F. Hubungan Guru Murid
Hubungan antara guru dan murid mempunyai sifat yang relatif stabil.
1. Ciri has dari hubungan ini adalah bahwa terdapat status yang tak sama antara guru dan
murid.
2. Dalam hubungan guru-murid biasanya hanya murid diharapkan mengalami perubahan
kelakuan sebagai hasil belajar.
3. Aspek ke tiga ini mertalian dengan aspek ke dua yakni perubahan kelakuan yang
diharapkan mengenai hal-hal tertentu yang lebih spesifik dan umum.
Guru akan lebih banyak mempengaruhi kelakuan murid apabila dalam memberi
pelajaran dalam kelas hubungan itu tidak sepihak.
G. Klik di Kalangan Guru
Dikalangan guru-guru sering terjadi pengelompokan atau pembentukan “klik” (clique)
yang bersifat informal.Ada kelompok yang dibentuk berdasarkan :
1. Jenis kelamin
2. Minat professional
3. Sosial
4. Kedudukan formal yang sama
Klik memegang peranan dalam mengambil berbagai keputusan. Maka besar faedahnya
bila kepala sekpolah mengetahui tentang adanya berbagau kelompok serta hubungan antar
kelompok itu atau pertentangan di antaranya.
H. Orang Dewasa Tak Pengajar
Yang termasuk golong.an ini antara lain pegawai administrasi dan pesuruh sekolah
secara formal kedudukan mereka lebih rendah dari kepala sekolah dan tenaga
pengajar.Hirarki itu juga diterima oleh yang bersangkutan dan oleh masyarakat. Dalam
praktik ada kemungkinan pegawai administrasi yang telah lama memegang jabatannya dan
telah mengenal seluk beluk sekolah mempunyai kedudukan yang lebih tinggi.
54 S. Nasution, Teknologi Pendidikan, Cet. I; Jakarta: Bumi Aksara, 1994). H. 13
51
I. Struktur Sosial Murid-murid di sekolah
Sekolah bagi murid-murid dapat dipandang sebagai sistem persahabatan dan hubunganhubungan sosial. Bedanya dengan orang dewasa ialah, bahwa struktur sosial ini lebih bersifat
tak formal. Struktur sosial pada orang dewasa lebih formal, karena kedudukan mereka yang
berkaitan dengan jabatannya telah ditentukan dan dapat dirumuskan serta merupakan suatu
bagian dari sistem sosial dalam masyarakat.
Pada umumnya orang dalam masyarakat mengetahui kedudukan seorang guru di suatu
sekolah. Tak demikian halnya dengan kedudukan murid sebagai misalnya anggota regu
basket atau ketua kelompok belajar. Kedudukan murid hanya dikenal dalam lingkungan
sekolah saja. Ada juga kedudukan murid yang lebih formal seperti ketua OSIS yang telah
mempunyai bentuk resmi menurut ketentuan Pemerintah. Akan tetapi kebanyakan kedudukan
murid bersifat tak formal dan hanya diketahui dalam kalangan sekolah itu saja.
Ada dua metode utama untuk mempelajari struktur informal para pelajar. Yang pertama
dan yang paling banyak digunakan ialah teknik sosiometri. Dalam garis besamya kepada
murid ditanyakan siapakah di antara murid-murid, satu orang atau lebih, yang paling
disukainya sebagai ternan belajar, menonton bioskop, diundang ke rumah atau untuk kegiatan
lainnya, atau sebaliknya yang paling tidak disukainya, yang tidak dianggapnya sebagai
teman.
Dari hasil pertanyaan itu yang diajukan kepada setiap murid dalam kelas atau kelompok
murid dapat disusun suatu diagram yang disebut sosiogram yang secara visual jelas
menunjukkan kedudukan seseorang dalam hubungan sosial dengan muridmurid lain.
Sosiogram itu dapat segera memperlihatkan pengelompokan atau klik (clique) di kalangan
murid- murid
Metode kedua ialah metode partisipasi-observasi, yakni sambil turut berpartisipasi
dalam kegiatan kelompok selama beberapa waktu mengadakan observasi tentang kelompok.
Melalui partisipasi itu pengmat menganalisis kedudukan setiap murid dalam hubungannya
dengan murid- murid lainnya di dalam kelompok itu. Seorang pengamat yang turut serta
dalam kegiatan murid yang terlatih sebagai pengamat akan dapat menemukan dan
merumuskan berbagai hubungan yang terdapat diantara anggota- anggota kelompok itu. Di
suatu sekolah dapat kita temukan macam-macam kedudukan murid dan hubungan antarmurid, antara lain:
1. Hubungan dan kedudukan berdasarkan usia dan tingkat kelas.
2. Struktur sosial berhubungan dengan kurikulum.
52
3. Klik atau kelompok persahabatan di sekolah.
4.
Hubungan antara struktur masyarakat dengan pengelompokan di sekolah.
5. Kelompok elite.
6. Kelompok siswa yang mempunyai organisasi formal.55
J. Kedudukan Menurut Usia dan Kelas
Murid-murid suatu kelas, yang pada umumnya mempunyai usia yang sama cenderung
untuk menjadi suatu kelompok yang merasa dirinya kompak dalam menghadapi kelas lain,
bahkan menghadapi guru misalnya dalam pertandingan dan peristiwaperistiwa yang
menyangkut nama dan kehormatan kelas itu. Terhadap kelas Yang lebih tinggi mereka
merasa dirinya orang bawahan sebagai adik terhadap kakak yang pantas menunjukkan rasa
hormat dan patuh. Se-baliknya terhadap kelas yang lebih rendah mereka merasa sebagai
"atasan" atau "kakak" yang patut dipatuhi dan disegani. Demikian pula murid-murid SMA
merasa dirinya lebih tinggi daripada murid SMP akan tetapi memandang mahasiswa sebagai
kakak yang lebih tinggi. Antara murid- murid yang berbeda
tingkat kelasnya terdapat
hubungan atasan- bawahan, super-ordinat- sub-ordinat atau kakak-adik. Murid-murid yang
tinggi kelasnya mempunyai kekuasaan dan kontrol terhadap murid-murid yang kelasnya lebih
rendah dan usianya lebih muda. Kedudukan atasan dan kekuasaan murid-murid kelas tinggi
diperkuat oleh berbagai tugas kehormatan yang diberikan kepada mereka, sebagai ketua
OSIS, ketua regu olah raga atau berbagai panitia, pengurus berbagai perkumpulan lainnya
atau pemimpin berbagai kegiatan siswa. Dalam berbagai kegiatan sekolah senantiasa murid
kelas tertinggi ditunjuk sebagai pemimpin. Dalam tiap kelas terdapat pula macam-macam
kumpulan, akan tetapi perkumpulan itu hanya terbatas pada murid-murid di kelas itu Baja.
Namun ada perkumpulan dan kegiatan yang melewati batas- batas kelas, misalnya regu olah
raga, band musik, dan lain-lain. Oleh sebab murid- murid yang menonjol prestasi atau
keterampilannya tersebar di semua kelas.56
K. Struktur Sosial Hubungan dengan Kurikulum
Pada umumnya tidak diadakan diferensiasi kurikulum berdasarkan perbedaan jenis
kelamin. Murid-murid di SD, SMP, SMA, wanita maupun pria mengikuti pelajaran yang
sarna. Di sana-sini terdapat perbedaan keeil, misalnya sepak bola yang hanya diikuti oleh
murid pria dan keterampilan menjahit yang lebih sesuai bagi murid wanita. Bidang studi
55 S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, op.cit., h. 81-82.
56 S. Nasution, op.cit., h. 83
53
akademis sama bagi semua anak pria maupun wanita. Belajar sebagai kegiatan utama di
sekolah ada pertaliannya dengan struktur sosial murid-murid. Berhasil gagalnya seorang
murid dalam pelajarannya turut menentukan kedudukannya dalam kelompoknya. Seorang
dikenal sebagai jago matematika, fisika, bahasa, dan lain-lain. Murid-murid yang pandai
Bering diberikan guru tugas- tugas khusus. Biasanya hanya muridmurid yang rapornya baik
diizinkan menjadi anggota pengurus perkumpulan sekolah. Dalam kelompok belajar murid
yang pandai akan dijadikan pemimpin. Ada sekolah- sekolah yang termasuk besar yang
membentuk kelas yang terdiri atas murid-murid yang berprestasi tinggi.
Di SMA setelah semester pertama diadakan pembagian dalam jurusan-jurusan, menurut
teorinya menyalurkan murid- murid menurut bakat masing-masing. Dalam kenyataannya
murid- murid yang berprestasi yang memadai akan masuk jurusan IPA yang dianggap
mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada misalnya jurusan IPS, karena jurusan itu
membuka pintu ke jabatan yang terhormat seperti insinyur atau dokter. Maka murid-murid
yang masuk IPS dapat dicap sebagai yang "kurang pandai" yang mereka rasakan sebagai
pukulan terhadap harga diri mereka. Pukulan yang lebih besar dialami oleh mereka yang
tinggal kelas yang merasa malu karena ditinggalkan oleh teman-temannya. Mereka mi sering
berusaha untuk pindah ke sekolah lain.57
L. Pengelompokan di Sekolah
Pengelompokan atau pembentukan klik mudah terjadi disekolah. Suatu klik terbentuk
bila dua orang atau lebih saling merasa persahabatan yang akrab dan Karena itu banyak
bermain bersama,saling bercakap-cakap,merencanakan dan melakukan kegitan yang sama
didalam maupun di luar sekolah bila klik ini mempunyai sikap anti sosial maka klik itu dapat
menjadi “geng”
Sttabilitas klik dapat diselidiki dengan menggunakan teknik sosiometri pada jangka
waktu tertentu, misalnya dengan jarak waktu 1,2 atau 3 tahun. Dengan membandingkan
sosiogram nya dapat kita lihat perubahan-perubahan yang terjadi.
Faktor yang paling penting dalam pembentukan klik adalah usia atau tingkat kelas.
Menurut pengamatan sehari-hari tampaknya anggota suatu klik mempunyai minat atau
kegemaran yang sama misalnya musik, olah raga dan sebagainya.
57 S. Nasution,ibid., h. 84
54
M. Pengaruh-pengaruh Luar Terhadap Sekolah
Berbagai hal diluar sekolah yang dapat mempengaruhi system sekolah antara lain:
1. Pengaruh terhadap peranan murid
Peranan murid antara lain ditentukan oleh guru akan tetapi oleh pandangan masyarakat
tentang peranan murid antara lain oleh keluarga murid, kelompok sepermainan, model-model
bagi kelakuannya termasuk tokoh-tokoh media masa. Orang tua dapat mempengaruhi sikap
anak terhadap otoritas guru,dapat mendukung atau mencela guru dalam tindakannya.
2. Pengaruh luar terhadap guru
Pearanan guru sebagian besar ditentukan oleh harapan-harapan kepala sekolah dan
pihak atasan.Murid-murid sendiri jarang menantang kedudukan guru. Akan tetapi pihak luar
dapat mempengaruhi peranannya, antara lain:
a. Orang tua murid
b. Perkumpulan guru
c. Keluarga dan teman sepergaulan guru
Walaupun orang tua jarang berhadapan muka dengan guru kecuali dalam hal-hal
khusus, namun pengaruh orang tua sangat besar atas kelakuan guru.
3. Pengaruh luar terhadap sekolah
Tiap sekolah berada dalam lingkungan sosial tertentu, yakni masyarakat sekitar, daerah,
maupun Negara. Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sekitar sekolah mau tidak
mau harus di hormati guru.
55
Kedudukan dan Peranan Guru
56
KEDUDUKAN DAN PERANAN GURU
A. Kedudukan dan Peran Guru
Kedudukan atau status adalah suatu keadaan, tingkatan seseorang yang dianggap
sebagai penentu posisi dalam suatu struktur social, demikian keududukan sering menjadi
boomerang dalam kehidupan tetapi kedudukan dapat menentukan hubungan seseorang
dengan orang lain. “Makin maju suatu masyarakat makin banyak kesempatan bagi setiap
orang untuk menduduki tempat tertentu, sekalipun sering melalui persaingan yang berat”.58
Dari seluruh aspek kehidupan manusia seseorang mempunyai kedudukan masing –
masing yang mereka miliki, mulai dari yang paling mendasar yaitu keluarga. Sejak lahirpun
seorang individual telah memiliki keduddukannya
sendiri sebagai anak dalam suatu
keluarga. Demikian pula dengan Guru yang notabene sebagai transferisme ilmu pengetahuan,
banyak posisi yang dimasuki oleh Guru dalam bidang pendidikan.
Dalam kedudukannya di kelas guru mengharapakan muridnya menjadi anak yang
berguna bagi kehidupannya di masa depan kelak, maka kedudukan Guru pada posisi ini
kedudukannya lebih tinggi daripada muridnya dan gurulah yeng berhak mengatur semua
pembelajaran yang akan membuat hasil yang diharapa-harapkan oleh dunia pendidikan.
setiap guru dalam kedudukannya sebagai guru dapat mengharapkan kelakuan tertentu dari
murid, siapa pun guru itu dan siapapun murid itu.59
Dikatakan pula dalam buku yang berbeda bahwa guru memiliki kedudukan dalam
bidang administrasi serta menejemen pendidikan yang dalam pelaksanaannya guru tercantum
di dalamnya, maka bertambah pula kedududukan guru dalam dunia pendidikan dari aspek
yang berbeda dengan kedudukan guru di dalam kelas dan di sekolah yang seyogyanya
kedududukan Guru lebih rendah daripada kedudukan kepala sekolah dan pengawas sekolah
itu sendiri.
Dalam tahap –tahap perkembangannya banyak yang berpendapaat bahwa administrasi
penidikan itu hanya seputar kegiatan sekolah. Sedangkan sekolah tidak berdiri sendiri, tetapi
ada lembaga lain yang erat kaitannya dengan sekolah seperti pemerintah kabupaten/kota,
pemerintahan provinsi, dan departement pendidikan, atau pemerintah pusat pada tinggkat
Nasional.60
58 Nasution, sosiologi pendidikan, ( Jakarta : Bumi aksara , 2010),hlm. 74.
59Ibid, hilm.73.
60 Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependididkan, ( Bandung : Alfabeta,2011), hlm.
43.
57
Peranan adalah konsekuensi atau akibat kedudukan atau
status seseorang yang
memiliki cirri khas masing –masing dari setiap individunya masig-masing, peranan
dibawakan menurut kepribadiannya masing -masing orang, seseorang dapat bersikap
demokratis lagi ototraktis dalam menjalankan peranannya. Peranan mencakup perihal hak
dan kewajiban yang berkaitan dengan kedudukan yang dimilikinya yang bersifat timbal balik
dalam suatu hubungan.
Dilihat dari uraian kedudukan di atas maka dapat dikatakan bahwa kedudukan ada
yang diperoleh dari lahir ada pula yang didapt melalui proses dahulu. Maka dalam setiap fase
perkembangannya seseorang mempunyai kedudukan serta peranan tertentu. Peranan seorang
guru dalam dunia pendidikan sangat diharapkan karena gurulah yang dijadikan sebagi ujung
tombak serta btingkat krmatangan penguasaan kompetensi kepribadian sebagai landasan
dasar dan implementasinya kea rah profesionalisme pengembangan dan perilaku guru yang
seyogyanya diindahkan keterpaduannya secara proposional.
Beberapa peran guru yang banyak di sebutkan dalam beberapa buku yang berbeda –
beda semuanya bertujuan untuk membentuk suatu kepribadian siswa yang untuh dan
berkarakter serta dengan peran guru yang disebutkan sangatlah berpengaruh dalam dunia
pendidikan dalam rangka menciptakan manusia –manusia yang paripurna bagi Negara dan
mampu membangun Negaranya dihari kemudian.
Sepanjang sejarah perkembangannya, rumusan profil tenaga pengajar ( guru) ternyata
bervariasi, tergantung kepada cara mempersepsikannya dan memandang apa yang menjadi
peran dan tugas pokonya, anatara lain: guru sebagai pengajar,guru sebagai pengajar juga
sebagai pendidik, guru sebagai pengajar,
pendidik, dan juga agen pembaharuan dan
pembangunan masyarakat, guru yang berkewenangan ganda sebagai pendidik yang
professional dengan bidang keahlian lain selain kependidikan.61
Gura juga berperan dalam proses pembelajaran peserta didik dan pengaruhnya
sangatlah kental karena, guru pula yang membantu dalam perkembangan peserta didik untuk
mewujudkan tujuan hidup secara optimal, dalam hal ini guru yang dapat menenttukan hasil
belajar peserta didik di sekolah.dengan demikian erat pula hubungannya dengan kehidupan
kita seperti ungkapan social yang mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang
tidak dapat hidup sendiri melainkan saling membutuhkan dan saling menolong satu sama
lain. Tak berbeda dengan peran guru terhadap muridnya tersebut yang mana guru lah yang
61 Udin Syaifudin saud, pengembangan Profesi Guru, ( Bandung : Alfabeta, 2012 ), hlm. 36-39.
58
menjadi pembantu murid untuk perkembangan belajarnya sebaliknya murid yang menjadikan
guru seorang yang professional dengan tanggung jawabnya.
Dengan begitu dikatakan pula dalam salah satu buku yang menyebutkan beberapa
peran guru dalam pembelajaran, setidaknya 19 peran Guru, yakni guru sebagai pendiddik,
pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu( innovator), model dan teladan,
pribadi, peneliti, pendodrong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah
kemah, pembawa ceritera, actor, emancipator, evaluator, pengawet, dan sebagai
kulminator”.62
B. Peran Guru Sehubungan dengan Murid
Peranan guru dalam hubungannya dengan murid bermacam-macam menurut situasi
interaksi social yang dihadapinya, yakni situasi formal dalam proses belajar-mengajar dalam
kelas dan dalam situasi informal.
Dalam situasi formal, yakni dalam usaha guru mendidik dan mengajar anak dalam
kelas guru harus sanggup menunjukan kewibawaan atau otoritasnya, artinya ia harus mempu
mengendalikan, mengatur, dan mengontrol kelakuan anak. Kalau perlu ia dapat
menggunakan kekuasaannya untuk memaksa anak belajar, melakukan tugasnya atau
mematuhi peraturan. Dengan kewibawaan ia menegakan disiplin demi kelancaran dan
ketertiban proses belajar-mengajar. mengajar pada dasarnya adalah menggambarkan
hubungan antara guru dengan siswa dalam satu sistem.63
Dalam pendidikan kewibawaan merupakan syarat mutlak. Mendidik ialah
membimbing anak dalam perkembangannya kea rah tujuan pendidikan. Bimbingan atau
pendidikan hanya mungkin bila ada kepatuhan dari pihak anak dan kepatuhan diperoleh bila
pendidik menpunyai kewibawaaan. Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang
komplementer untuk menjamin adanya disiplin.
Adanya kewibawaan guru dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain :
1. Anak-anak sendiri mengharapkan guru yang berwibawa, yang dapat bertindak tegas untuk
menciptakan suasana disiplin dan mereka bersedia mengakui kewibawaan itu. Bila ada
guru baru, mereka sering menguji hingga manakah kewibawaan guru itu. Mereka lebih
senang bila guru menang dalam pengujian kewibawaan guru itu.
62 Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung : remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 37.
63 Buchari alma, et.al, guru Profesional,( Bandung : Alfabeta,2009), hlm 101.
59
2. Guru dipandang sebagai pengganti orang tua lebih-lebih pada tingkat SD. Bila di rumah
anak itu mematuhi ibunya, maka lebih mudah ia menerima dan mengakui kewibawaan ibu
guru.
3. Pada umumnya tiap orang tua mendidik anaknya agar patuh kepada guru. Bila guru
digambarkan sebagai orang yang harus dihormati, sebagai orang yang berhak menghukum
pelanggaran anak, bila orang tua senagtiasa memihak guru dalam semua tindakannya,
maka guru lebih mudah menegakan kewibawaaanya.
4. Guru sendiri dapat memelihara kewibawaannya dengan menjaga adanya jarak social
antara dirinya dengan murid dan berenda-gurau dengan mereka. Sekalipun dalam situasi
informal guru harus senangtiasa menjaga kedudukannya sebagai guru dan tidak menjadi
salah seorang anggota yang sama dengan anak-anak.
5. Guru harus disebut “Ibu Guru” atau “Pak Guru” dan dengan julukan itu memperoleh
kedudukan sebagai orang yang dituakan.
Dalam kelas guru duduk atau berdiri di depan murid. Posisi yang menonjol itu
memberikannya kedudukan yang lebih tinggi daripada murid yang harus duduk tertib di
bangku tertentu. Ia senangtiasa mengawasi gerak-gerik murid untuk mengontrol kelakuannya.
Sebagai guru ia berhak menyuruh murid melakukan hal-hal menurut keinginannya.Untuk
guru sering disediakan ruang guru yang khusus yang tak boleh dimasuki murid begitu saja.
Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan
peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya
sebagai guru. 64
Guru-guru muda yang ingin bergaul dengan murid sebagai kakak dan akan dinasihati
oleh guru-guru tua yang berpengalaman agar menjaga jarak dengan murid dan jangan
terlampau rapat dengan mereka.Wibawa guru juga diperolehnya dari kekuasaannya untuk
menilai ulang atau ujian murid dan menentukan angka rapor dan dengan demikian
menentukan nasib murid, apakah ia naik atau tinggal kelas. Murid maupun mahasiswa sangat
menyegani pengajar yang memegang kekuasaan itu. Ada guru yang menyalahgunakan
kekuasaan itu dan diberi julukan “killer”.
Namum kewibawaan yang sejati diperoleh guru berdasarkan kepribadiannya sendiri.
Kepribadian itu harus dibentuk berkat pengalaman. Kepribadian diperolleh dengan
mewujudkan norma-norma yang tinggi pada diri guru seperti rasa tanggungjawab, yang nyata
64 Mulyasa, op.cit, hlm.46.
60
dalam ketaatan pada waktu, persiapan yang cermat, kerajinan memeriksa pekerjaan murid,
kesediaan membimbing dan membantu murid, kesabaran, ketekunan, kejujuran, dan
sebagainya.
Kewibawaan sejati tidak diperoleh dengan penyalahgunaan kekuasaan dengan
ancaman akan memberikan angka rendah bila guru merasa ia kurang dihormati. Sekalipun
kedudukan sebagai guru telah memberikan kewibawaan formal, namun kewibawaan itu harus
lagi didukung oleh kepribadian guru.
Dalam situasi informal guru dapat mengendorkan hubungan formal dan jarak social,
misalnya sewaktu reaksi berolah raga, berpiknik atau kegiatan lainnya. Murid-murid
menyukai guru yang pada waktu-waktu demikian dapat bergaul dengan lebih akrab dengan
mereka, sebagai manusia kepada menusia lainnya, dapat tertawa dan bermain lepas dari
kedok formal. Jadi guru hendaknya dapat menyesuaikan peranannya menurut situasi social
yang dihadapinya. Akan tetapi bergaul dengan murid secara akrab sebagai sahabat dalam
situasi belajar dalam kelas akan menimbulkan kesulitan disiplin bagi murid itu sendiri. Dalam
masyarakat kita yang sedidkit banyak masih bercorak otoriter-partikhel mungkin sikap
demokratis masih belum dapat dijalankan sepenuhnya.
Walaupun guru bertindak otoriter dengan menggunakan kewibawaannya, namun ia
tidak akan dicap sebagai kejam. Guru dapat bertindak tegas bahkan keras namun dapat
menjaga jangan sampai menyinggung perasaan dan harga diri murid. Ini mungkin selama ia
mengecam kesalahan yang dibuat murid agar diperbaiki tanpa menyentuh pribadi anak itu
sendiri. Kebanyakan murud-murid akan tetap menyukainya dan memandangnya sebagai guru
yang baik asal ia selalu berusaha memahami murid dan bersedia untuk membantunya. Guru
harus ingat bahwa setiap peserta didik membutuhkan rasa aman dan berusaha agar dirinya
menjadi sumber keamanan, atau sumber penyelamatan dan bukan sebaliknya menjadi sumber
terjadinya rasa tidak aman.65
Pada satu pihak guru harus bersikap otoriter, dapat mengontrol kelakuan murid, dapat
menjalankan kekuasaannya untuk menciptakan suasana disiplin demi tercapainya hasil
belajar yang baik dan untuk itu ia menjaga adanya jarak social dengan murid. Di lain pihak ia
harus dapat menunjukan sikap bersahabat dan dapat bergaul dengan murid dalam suasana
yang akrab. Guru yang berpengalaman dapatmenjalankan peranannya menurut situasi social
65 Ibid, hlm.63.
61
yang dihadapinya. Kegagaln dalam hal ini akan merusak kedudukannya dalam pandangan
murid, kepala sekolah, rekan-rekan guru maupun orang tua murid.
Hubungan guru dan murid mempunyai sifat yang stabil, yaitu sebagai berikut66:
1. Ciri khas hubungan ini ialah bahwa terdapat status yang tak sama antara guru dan murid.
Guru itu secara umum diakui mempunyai status yang lebih tinggi dan karena itu dapat
menuntut murid untuk menunjukkan kelakuan yang sesuai dengan sifat hubungan itu.
Bila anak itu meningkat sekolahnya, ada kemungkinan ia mendapat kedudukan yang lebih
tinggi dan sebagai siswa pasca sarjana ia dapat diperlakukan sebagai manusia yang
matang dan dewasa, jadi banyak sedikit status yang mendekat status dosen.
2. Dalam hubungan guru murid biasanya hanya murid yang diharapkan mengalami
perubahan kelakuan sebagai hasil belajar. Setiap orang yang mengajar akan mengalami
perubahan kelakuan. Sedangkan, murid harus memperlihatkan dan membuktikan bahwa
ia mengalami perubahan kelakuan.
3. Aspek ketiga ini bertalian dengan aspek kedua, yakni bahwa perubahan kelakuan yang
diharapkan mengenai hal-hal tertentu yang lebih spesific, misalnya agar anak menguasai
bahan pelajaran tertentu.
4. Guru akan lebih banyak mempengaruhi kelakuan murid bila dapat memberi pelajaran
dalam kelas hubungan itu tidak sepihak, seperti terdapat dalam metode ceramah. Akan
tetapi, hubungan interaktif dengan partisipasi yang sebanyak-banyaknya dari pihak murid.
Hubungan itu akan lebih efektif dalam kelas yang kecil daripada di kelas yang besar.67
Ada klasifikasi lain tentang peranan guru, yakni dengan membedakan tipe guru yang
dominatif mendominasi atau menguasai murid, menentukan dan mengatur kelakuan murid,
serta menginginkan konformitas dalam kelakuan mereka. Guru tidak banyak mencampuri,
mengatur, atau menegur pekerjaan anak, tetapi membiarkannya bekerja menurut kemampuan
dan cara masing-masing. Dengan demikian, terjadi integritas atau keharmonisan guru dan
anak tanpa menimbulkan pertentangan. Guru yang bersikap integratif ini cocok bagi
pengajaran atau kurikulum yang student-centered. Sikap serupa ini lebih mengembangkan
kepribadian anak menjadi orang yang dapat berdiri sendiri, dapat memilih sendiri dengan
penuh tanggung jawab .68
66 http://omenromansa.co.id./2012/01/-sosiologi pendidikan6.html?m=1
67 Nasution, Iop.cit, hlm.78-79.
68 Ibid, hlm. 116-117.
62
C. Peran Guru dalam Masyarakat
Peranan guru dalam masyarakat tergantung pada gambaran masyarakat tentang
kedudukan dan status sosialnya di masyarakat. Kedudukan sosial guru berbeda di Negara satu
denagan Negara yag lain dan zaman ke zaman lain pula. Di Negara–negara maju biasanya
guru di tempatkan pada posisi sosial yang tinggi atas peranan-peranan yang penting dalam
proses mencerdaskan bangsa. Namun keadaan ini akan jarang kita temui di negara-negara
berkembang seperti Indonesia. Sebenarnya peranan itu juga tidak terlepas dari kualitas
pribadi guru yang bersangkutan serta kompetensi mereka dalam bekerja. Secara sosiologi
pendidikan bertujuan untuk memampukan manusia dalam bersosialisasi secara efektif dan
efisien.69
Pekerjaan guru selalu dipandang dalam hubungannya dengan ideal pembangun
bangsa. Dari guru diharapkan agar ia menjadi manusia yang idealistis, namun guru sendiri tak
dapat tiada harus menggunakan pekerjaannya
sebagai alat untuk mencari nafkah bagi
keluarganya. Walau demikian, masyarakat tak dapat menerima pekerjaan guru semata-mata
sebagai mata pencaharian belaka, sejajar dengan pekerjaan tukang kayu. Pekerjaan guru
menyangkut pendidikan anak, pembangunan negara dan masa depan bangsa.
Karena, kedudukan yang istimewa itu masyarakat mempunyai harapan-harapan yang
tinggi tentang peranan guru. Harapan-harapan itu tidak dapat diabaikan oleh guru, bahkan
dapat menjadi norma yang turut menentukan kelakuan guru.”kemajuan pendidikan amat
tergantung pada sejumlah factor social”.70
Guru-guru menerima harapan agar mereka menjadi suri teladan bagi anak-anak
didiknya. Untuk itu, guru harus mempunyai moral yang tinggi. Walaupun demikian, ada
kesan bahwa kedudukan guru makin merosot dibandingkan dengan beberapa puluh tahun
yang lalu. Pada zaman kolonial itu, jumlah guru masih sangat terbatas. Lagipula guru sebagai
pegawai menduduki tempat yang tinggi di kalangan orang Indonesia. Kedudukan yang tinggi
umumnya dipegang oleh orang Belanda.
Guru hendaknya mengenal masyarakat agar dapat berusaha menyesuaikan pelajaran
dengan keadaan mesyarakat sehingga relevan. Ini penting sekali agar dalam proses
pembelajaran dan sosialisasi terhadap anak didik tidak terjadi pertarungan nilai dan
69 Anselmus JE Toenlioe, sosiologi pendidikan,( Bandung : Refika Aditama,2016 ), hlm.28.
70 Ibid, hlm.33.
63
pengetahuan antara sekolah dan masyarakat. Kalaupun terjadi perbedaan, bisa didialogkan
secara humanis dan memberi pencerahan yang bermanfaat untuk masyarakat agar lebih maju.
D. Guru Bukan Buruh Belaka
Walaupun buruh di negara-negara tertentu berhak mogok, namun pemogokan oleh
guru-guru tidak diterima dan karena itu selalu dikecam oleh masyarakat. Bahkan di kalangan
guru sendiri pemogokan dianggap tidak sesuai dengan tugas dan martabat guru. Pekerjaan
guru tidak boleh dikaitkan dengan penghargaan material belaka.
Dengan pemogokan guru menonjolkan aspek materialistis yang dianggap kurang
sesuai dengan cita-cita pendidikan yang bersifat idealistis. Dengan pemogokan guru akan
merenahkan martabat guru dan karena itu akan mendapat tantangan dari kalangan guru-guru
sendiri. Dirasa kurang layak bila guru bicara tentang pembayaran. Upah gaji terletak pada
keberhasilan anak didiknya dan rasa terimakasih dari anak-anak didik sekalipun tak
diucapkan.
Guru-guru
pada umumnya dan guru SD khususnya tidak termasuk orang yang
berada. Mereka yang ingin kaya jangan memasuki jabatan guru.Walaupun dalam
penggolongan kepegawaian guru menduduki tempat yang menguntungkan, namun dalam hal
pendapatan guru ketinggalan dibandingkan dengan jabatan-jabatan lain. Dalam penelitian
oleh pusat penelitian dan studi pendidikan (PPSK) universitas gajah mada di kampong
“Diraprajan” Yogyakarta lebih dari dua pertiga kelompok pegawai negeri, tenaga
professional, administrasi dan guru, berpenghasilan tinggi yakni diatas Rp 15.000,- seminggu
atau Rp 60.000,- per bulan (kompas 29 oktober 1982). Namun diakui bahwa status sosial
guru tidak semata-mata ditentukan oleh pendapatannya.71
E. Peran Guru dalam Hubungan dengan Guru Lain dan Kepala Sekolah
Interaksi atau hubungan dalam klik informal sering memegang peranan dalam
mengambil berbagai keputusan. Maka, besar faedahnya bila kepala sekolah mengetahui
adanya berbagai macam kelompok serta hubungan antar-kelompok itu, atau pertentangan
diantaranya.
Pengetahuan itu dapat membantu kepala sekolah untuk menggerakkan seluruh staf
guru untuk tujuan tertentu. Ia dapat bekerja dan mencapai tujuannya melalui kelompok
71 N^asution, op.cit,hlm.98.
64
informal ini. Gur-guru lebih mudah menerima sesuatu melalui guru-guru yang dipandangnya
sebagai sahabat. Mungkin juga terdapat persaingan antar-kelompok yang dapat dimanfaatkan
kepala sekolah untuk berlomba-lomba mencapai prestasi yang lebih baik. Akan tetapi,
persaingan antar kelompok mempunyai pengaruh yang merugikan.72
Sebagai pegawai negeri dan anggota KORPRI tiap guru harus mentaati segala
peraturan kepegawaian dalam melakukan tugasnya. Bagi guru ini berarti bahwa ia harus hadir
pada tiap pelajaran agar jangan merugikan murid. Soerang pegawai administrasi masih dapat
mengejar ketinggalannya dengan mengerjakannya dirumah diluar jam kantor.
Guru-guru cenderung bergaul dengan sesama guru. Guru terikat oleh norma-norma
menurut harapan masyarakat yang dapat menjadi hambatan untuk mencari pergaulan yang
tidak dibebani oleh tuntutan-tuntutan tentang kelakuan tertentu.
Perkumpulan guru juga juga menggambarkan peranan guru. PGRI misalnya bersifat
profesional yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan sekalipun juga disebut
perbaiakn nasib guru, namun guru-guru pada umumnya kurang dapat menerima perkumpulan
guru sebagai serikat buruh.
Mengajar dan mendidik sejak dulu dipandang sebagai profesi kehormatan yang tidak
semata-mata ditujukan kepada keuntungan material. Memperjuangkan nasib melalui
perkumpulan guru dengan menonjolkan soal upah bertentangan dengan hati sanubari guru,
sekalipun ia turut merasa kesulitan hidup sehari-hari.
72 Ibid,hlm. 79-80.
65
Pribadi Guru
66
PRIBADI GURU
A. PRIBADI GURU
Di dalam pergaulan dan percakapan sehari-hari tidak jarang kita mendengar dan
bahkan kita menggunakan kata pribadi atau kepribadian itu, tanpa memikirkan lebih lanjut
apa arti yang sebenarnya dari kata-kata itu. Ucapan-ucapan seperti: Itu adalah pendapat
“pribadi” saya. Si A memang orang yang “berkepribadian” teguh. Si B orang yang
“pribadinya” lemah dan sebagainya, menunjukkan kepada kita bermacam-macam
penggunaan kata “pribadi” dan “kepribadian” itu, sehingga makna atau arti tersebut di atas, di
samping untuk menunjukkan terhadap individu seseorang yang berdiri sendiri terlepas dari
individu yang lain, biasanya selalu dikaitkan dengan pola-pola tingkah laku manusia yang
berhubungan dengan norma-norma tentang baik dan buruk. Atau dengan kata lain, kata
pribadi atau kepribadian itu dipakai untuk menunjukkan adanya ciri-ciri khas pada
seseorang.73
Arti kepribadian menurut asal katanya, kepribadian atau personality berasal dari
bahasa Latin personare, yang berarti mengeluarkan suara (to sound through). Istilah ini
digunakan untuk menunjukkan suara dari percakapan seorang pemain sandiwara melalui
topeng (masker) yang dipakainya. Pada mulanya istilah persona berarti topeng yang dipakai
oleh pemain sandiwara, dimana suara pemain sandiwara diproyeksikan. Kemudian kata
persona itu berarti pemain sandiwara itu sendiri.74 Kepribadian mewujudkan perilaku
manusia. Perilaku manusia dapat dibedakan dengan kepribadiaanya karena kepribadian
merupakan latar belakang perilaku yang ada dalam diri seorang individu. Kekuatan
kepribadian bukanlah terletak pada jawaban atau tanggapan manusia terhadap suatu keadaan,
akan tetapi justru pada kesiapannya di dalam memberi jawab dan tanggapan.75
Ada beberapa pengertian kepribadian menurut ahli sosiologi, di antaranya:
a) Menurut Horton (1982)
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan tempramen seseorang.
Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di
hadapan pada situasi tertentu.
b) Menurut Schever Dan Lamm (1998)
73 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 140
74 Ibid., hlm. 154
75 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 162
67
Kepribadian adalah sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan
prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalau
di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten
dalam menghadapai situasi yang di hadapi.
Kepribadian akan turut menentukan apakah para guru dapat disebut sebagai pendidik
yang baik atau sebaliknya, justru menjadi perusak anak didiknya. Guru sebagai teladan bagi
murid-muridnya harus memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan tokoh
panutan idola dalam seluruh segi kehidupannya. Karenanya guru harus selalu berusaha
memilih dan melakukan perbuatan yang positif agar dapat mengangkat kewibawaannya,
terutama di depan murid-muridnya. Disamping itu guru juga harus mengimplementasikan
nilai-nilai tinggi terutama yang diambilkan dari ajaran agama, misalnya jujur dalam
perbuatan dan perkataan.
Kepribadian yang mantap dan stabil indikatornya adalah bangga sebagai guru dan
selalu bertindak sesuai dengan norma hukum serta norma sosial yang berlaku. Kepribadian
yang dewasa ditandai dengan kemandirian dalam bertindak dan memiliki etos kerja sebagai
guru. Kepribadian yang arif terlihat dalam tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan untuk
peserta didik, sekolah, masyarakat, dan selalu menunjukkan keterbukaan dalam berfikir
ataupun bertindak. Sedangkan kepribadian yang berwibawa indikatornya adalah memiliki
perilaku yang sangat disegani dan berpengaruh positif terhadap peserta didik. Berakhlak
mulia dan dapat menjadi teladan terlihat dalam bentuk perilaku yang sesuai dengan norma
agama (iman, taqwa, ikhlas, dan jujur), dapat melakukan apa yang diajarkan serta memiliki
perilaku yang dapat diteladani peserta didik.76
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada
anak didik di sekolah. Guru adalah orang berpengalaman dalam bidang profesinya. Dengan
keilmuan yang dimilikinya, dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.
Guru sebagai orang yang melaksanakan tugas mendidik atau orang yang memberikan
pendidikan pengajaran, baik formal maupun nonformal. Guru adalah orang yang memberikan
pengetahuan kepda anak didik. Guru adalah tenaga professional yang dapat menjadikan
murid-muridnya
merencanakan,
menganalisa
dan
menyimpulkan
masalah
dihadapinya.77
76 Ahmad Madani, Kompetensi Guru (Menurut Peraturan dan Pandangan Islam), An-nahdhah, Jurnal
Pendidikan dan Hukum, Vol. 8, No. 1, hlm. 33
77 Ibid., hlm. 27
yang
68
Sehingga, dari uraian diatas bahwa kepribadian guru adalah tingkah laku yang
melekat dalam diri pendidik secara mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa menjadi
teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
Kepribadian itu bisa membangkitkan semangat, tekun dalam menjalankan tugas,
senang memberi manfaat kepada murid menghormati peraturan sekolah sehingga membuat
murid bersifat lemah lembut memberanikan mereka, mendorong pada cinta pekerjaan,
memajukan berfikir secara bebas tetapi terbatas yang bisa membantu membentuk pribadi
menguatkan kepribadian menguatkan kehendak membiasakan percaya pada diri sendiri.
Suksesnya seorang guru tergantung dari kepribadian, luasnya ilmu tentang materi
pelajaran serta banyaknya pengalaman. Tugas seorang guru itu sangat berat, tidak mampu
dilaksanakan kecuali apabila kuat kepribadiannya, cinta dengan tugas, ikhlas dalam
mengerjakan, memelihara waktu murid, cinta kebenaran, adil dalam pergaulan. Ada yang
mengatakan bahwa masa depan anak-anak di tangan guru dan di tangan gurulah terbentuknya
umat.
Kemuliaan hati seorang guru diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Guru secara
nyata dapat berbagi dengan anak didiknya. Guru tidak akan merasa lelah dan tidak mungkin
mengembangkan sifat iri hati, munafik, suka menggunjing, menyuap, malas, marah-marah
dan berlaku kasar terhadap orang lain, apalagi terhadap anak didiknya.
Guru sebagai pendidik dan murid sebagai anak didik dapat saja dipisahkan
kedudukannya, akan tetapi mereka tidak dapat dipisahkan dalam mengembangkan diri murid
dalam mencapai cita-citanya. Disinilah kemanfaatan guru bagi orang lain atau murid benarbenar dituntut, seperti hadits Nabi: ”Khoirunnaasi anfa‟uhum linnaas,” artinya sebaikbaiknya manusia adalah yang paling besar memberikan manfaat bagi orang lain (Al Hadits).
B. PERKEMBANGAN PRIBADI GURU
Kepribadian guru terbentuk atas pengaruh kode kelakuan seperti yang di harapkan
oleh masyarakat dan sifat pekerjaanya. Guru harus menjalankan peranannya menurut
kedudukannya dalam berbagai situasi sosial. Kelakuan yang tidak sesuai dengan peranan itu
akan mendapat kecaman dan harus dielakkannya. Sebaliknya kelakuan yang sesuai akan
dimantapkan dan norma-norma kelakuan akan diinternalisasikan dan menjadi suatu aspek
dari kepribadiannya.
Dalam situasi kelas guru menghadapi sejumlah murid yang harus dipandangnya
sebagai “anaknya”. Sebaliknya murid-murid akan memperlakukannya sebagai bapak guru
69
dan ibu guru. Berkat kedudukannya maka guru didewasakan, di- “tua” –kan sekalipun
menurut usia yang sebenarnya belum pantas menjadi “orang tua”.
Orang tua murid akan mamandang guru sebagai “partner” yang setaraf kedudukannya
dan mempercayakan anak mereka untuk diasuh oleh guru. Dalam menjalankan peranannya
sebagai guru ia lambat laun membentuk kepribadiannya. Ia diperlakukan oleh lingkungan
sosialnya sebgai guru dan ia akan bereaksi sebgai guru pula. Ia menjadi guru karena
diperlakukan dan berlaku sebagai guru.
Apa yang terjadi dengan guru terdapat pada orang lain yang mempunyai kedudukan
dan peranan tertentu. Seorang bupati, gubernur atau menteri akan dipelakukan oleh
lingkungan sosialnya dengan kehormatan yang layak diberikan kepada orang berpangkat
tinggi. Berkat perlakuan itu bupati atau pejabat tinggi itu akan membentuk pribadinya yang
serasi dengan jabatannya. Caranya berbicara, senyum, berjalan, duduk, berpakaian, akan
disesuaikannya dengan perananya yang lambat laun menjadi ciri kepribadiannya yang
mungkin akan melekat pada dirinya sepanjang hidupnya walaupun ia telah meninggalkan
jabatannya.
Namun ada pula orang yang hanya berkelakuan menurut jabatannnya selama ia
menjalankan peranan itu, seperti pegawai kantor, saudagar, supir, dan lain-lain. Di luar
pekerjaannya ia bebas berkelakuan menurut kehendaknya tanpa terikat oleh jabatnnya. Akan
tetapi guru diharapkan senantiasa berkelakuan sebagai guru 24 jam sehari. Apa saja
dilakukannnya, kapan saja, apakah ia makan di restoran, menonton bioskop, menerima tamu
di rumah ia harus senantiasa sadar akan kedudukannya sebagai guru. Ia harus
mempertimbangkan film apa ditontonnya, di restoran mana ia makan, bagaimana ia harus
berpakaian sewaktu menerima tamu.
Kedudukannya sebagai guru akan membatasi kebebasannya dan dapat pula
membatasi pergaulannya. Ia tidak akan diajak melakukan kegiatan yang rasanya kurang layak
bagi guru. Ia akan mencari pergaulannya terutama dari kalangan guru yang sependirian
dengan dia.78
Ada 3 faktor yang menentukan dalam perkembangan kepribadian :
1) Faktor bawaan
Unsur ini terdiri dari bawaan genetik yang menetukan diri fisik primer (warna mata,
kulit) selain itu juga kecenderungan-kecenderungan dasar misalnya kepekaan, penyesuaian
diri.
78 Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm. 103 - 104
70
2) Faktor lingkungan
Faktor lingkungan seperti sekolah, atau lingkungan sosial/budaya seperti teman, guru,
dan lain-lain. Dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian.
3) Interaksi bawaan dan lingkungan
Interaksi yang terus menerus antara bawaan dan lingkungan menyebabkan timbulnya
perasaan aku/diriku dalam diri seseorang.
Kepribadian guru terbentuk atas pengaruh kode kelakuan seperti yang diharapkan
oleh masyarakat dan sifat pekerjaannya. Guru harus menjalankan peranannya menurut
kedudukannya dalam berbagai situasi sosial.
Tingkah laku atau moral guru pada umumnya, merupakan penampilan lain dari
kepribadian. Bagi anak didik yang masih kecil guru adalah contoh teladan yang sangat
penting dalam pertumbuhannya, guru adalah orang pertama sesudah orang tua, yang
mempengaruhi pembinaan kepribadian anak didik. Jika tingkah laku atau akhlak guru tidak
baik, maka umunya akhak-akhlak anak didik akan rusak, karena anak mudah terpengaruh
oleh orang-orang yang dikaguminya. Atau dapat juga menyebabkan anak didik
gelisah, cemas atau terganggu jiwa karena ia menemukan contoh yang berbeda atau
berlawanan dengan contoh yang selama ini didapatnya di rumah dari orang tuanya.
Menurut Athiyah Al-Abrosy bahwasannya sifat-sifat yang seyogyanya dimiliki
seorang guru:
1. Hubungan guru dengan murid harus baik.
2. Guru harus selalu memperhatikan murid serta pelajaran mereka.
3. Guru harus peka terhadap lingkungan sekitar murid.
4. Guru wajib menjadi contoh/teladan di dalam keadilan dan keindahan serta kemuliaan.
5. Guru wajib ikhlas di dalam pekerjaannya.
6. Guru wajib menghubungkan masalah yang berhubungan dengan kehidupan.
7. Guru harus selalu membaca dan mengadakan penyelidikan.
8. Guru harus mampu mengajar bagus penyiapannya dan bijaksana dalam menjalankan
tugasnya.
9. Guru harus punya niat yang tetap.
10. Guru harus sehat jasmaninya.
11. Guru harus punya pribadi yang mantap.
Dalam situasi kelas, guru menghadapi sejumlah murid yang harus dipandangnya
sebagai anaknya. Sebaliknya murid-murid akan memperlakukannya sebagai bapak guru dan
71
ibu guru. Berkat kedudukannya, maka guru di dewasakan atau di tuakan, sekalipun menurut
usia yang sebenarnya belum pantas menjadi orang tua.
Dalam menjalankan peranannya sebagai guru, ia lambat laun membentuk
kepribadiannya. Ia diperlakukan oleh lingkungan sosialnya sebagai guru dan ia bereaksi
sebagai guru pula. Jadi ia menjadi guru karena diperlakukan dan belaku sebagai
guru.Kedudukannya sebagai guru, akan membatasi kebebasannya serta dapat membatasi
pergaulannya. Seorang guru tidak akan diajak melakukan kegiatan yang rasanya kurang layak
bagi guru, tetapi seorang guru akan mencari pergaulannya terutama dari kalangan guru yang
sependirian dengannya.
C. CIRI-CIRI STEREOTIP GURU
Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka
miliki. Stereotip guru adalah hal-hal yang sering dilakukan oleh para guru. Stereotip juga bisa
diartikan sebagai sifat kepribadian. Yang berkembang dimasyarakat adalah adanya suatu
anggapan bahwa yang stereotip selalu dianggap benar, sedangkan yang diluar stereotip
dianggap salah.
Menurut suatu penelitian pada umumnya terdapat cirri-ciri yang berikut pada guru
1. Guru tidak memperlihatkan kepribadian yang fleksibel. Ia cenderung mempunyai
pendirian yang tegas dan mempertahankannya. Ia kurang terbuka bagi pendidrian lain
yang berbeda. Karena sifat ini ia sulit melihat kebenaran pendapat orang lain atau cara
orang lain memecahkan suatu masalah. Guru tidak suka diberi pertanyaan oleh murid,
apalagi menerima jawaban yang berbeda dengan guru.
2. Guru pandai menahan diri. Ia hati-hati dan tidak segera menceburkan diri dalam
pergaulan dengan orang lain. Karena ia tidak dapat memberikan partisipasi penuh dalam
kegiatan sosial.
3. Guru cenderung untuk menjauhkan diri karena hambatan batin untuk bergaul secara intim
dengan orang lain. Orang lain juga sukar untuk mengadakan hubungan akrab dengan
guru.
4. Guru berusaha menjaga harga diri dan merasa keterikatan kelakuannya pada normanorma yang berkenaan dengan kedudukannya. Baginya guru itu orang terhormat dan
karena itu ia harus berkelakuan sesuai dengan kedudukan itu.
5. Guru cenderung untuk bersikap otoriter dan ingin “menggurui” dalam diskusi. Sebagai
orang yang serba tau dalam kelas ia akan memperlihatkan sikap yang sama di luar kelas.
72
6. Guru cenderung bersifat konservatif baik dalam pendiriannya maupun dalam hal-hal
lahiriah seperti mengenai pakaian. Sebagai guru ia bertugas untuk menyampaikan
kebudayaan
nenek moyang kepada generasi muda dan dengan demikian turut
mempertahankan dan mengawetkan kebudayaan.
7. Guru pada umumnya tidak didorong oleh motivasi yang kuat untuk menjadi guru.
Seorang memasuki lembaga pendidikan guru, sering karena pilihan lain tertutup.
8. Guru pada umumnya tidak mempunyai ambisi yang kuat untuk mencapai kemajuan.
9. Guru lebih cenderung untuk mengikuti pimpinan dari pada member pimpinan
10. Guru dipandang kurang agresif dalam menghadapi berbagai masalah.
11. Guru cenderung untuk memandang guru-guru sebagai kelompok yang berbeda dari
golongan pekerja lainnya. Kecenderungan ini turut menimbulkan stereotip guru.
12. Guru menunjukan kesediaan untuk berbakti dan berjasa.79
D. MEMILIH JABATAN GURU
Siapakah yang memilih jabatan guru? Pekerjaan guru memiliki cirri-ciri tertentu.
Apakah orang yang menjadi guru mempunyai kepribadian yang sesuai dengan pekerjaan itu?
Sebelum kita menetapkan apakah mengajar merupakan tugas guru yang termasuk
profesi atau tidak atau bahkan sekedar tergolong pekerjaan biasa, kiranya perlu kita ketahui
persyaratan yang dibutuhkan dalam sebuah aktivitas termasuk profesi. Belakangan telah
sedemikian meluas istilah profesi atau professional dikenal dalam masyarakat. Namun sering
kali pemahamannya kurang tepat.Kini sangat banyak yang menganggap bahwa setiap orang
dapat mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik, rapi, dan dapat memuaskan orang lain
disebut telah melakukan pekerjaan secara professional. Sehingga dengan mudah masyarakat
memberikan gelar professional hampir kepada siapa saja, asal dapat melakukan pekerjaannya
dengan baik. Tak jarang kita dengar sebutan koruptor professional, pembantu professional,
tukang batu professional, sopir professional dan seterusnya. Benarkah sebutan-sebutan
tersebut.
Memilih jabatan sering tidak dilakukan secara rasional. Lulusan SMA tidak bebas
memilih dan memperoleh jurusan atau fakultas menurut keinginan masing-masing. Karena
keterbatasan tempat dan banyaknya calon maka seseorang menerima apa saja yang diperoleh
dan merasa beruntung walaupun tempat itu tidak sesuai dengan keinginan atau bakatnya.
79 Ibid., hlm. 104 - 105
73
Studi khusus yang mendalam perlu dilakukan untuk meneliti riwayat hidup dan motivasi
individu yang bersangkutan.
Dalam penelitian tentang latar belakang sosial yang memilih profesi guru ternyata
bahwa kebanyakan berasal dari golongan rendah atau menengah-rendah seperti anak petani,
pegawai rendah, saudagar kecil, walaupun ini tidak berarti bahwa semua anak-anak golongan
ini akan memilih jabatan sebagai guru.80
Kalau dulu menjadi guru adalah pilihan terakhir ketika pilihan-pilihan utama tidak
dapat tercapai, maka dengan diperhatikannya kesejahteraan guru oleh pemerintah, menjadi
guru adalah sebuah pilihan yang utama. Jabatan guru merupakan jabatan terhormat
dimasyarakat disatu sisi juga menjanjikan masa depan yang lebih terjamin dibanding profesiprofesi lainnya.
Tak dapat disangkal kebanyakan guru bekerja dengan penuh dedikasi yang
menunjukkan kesediaan tinggi untuk berbakti kepada pendidikan anak dan masyarakat.
Sekalipun guru tidak menonjolkan upah financial ia juga manusia biasa yang harus
menghidupi keluarganya. Maka sudah selayaknya nasib guru mendapat perhatian pemerintah
dan masyarakat.
Guru merupakan sebuah profesi yang sangat mulia. Tanpa guru mustahil ada
dokter,insinyur,pilot,polisi, tentara, perawat, bidan pegawai, anggota dewan, bahkan
presiden. Peran guru sangat vital bagi kemajuan sebuah bangsa. Tapi terkadang kita tidak
bangga memiliki profesi sebegai guru bahkan minder dan kalau anda punya pandangan
seperti itu rubahlah dari sekarang. Seharusnya kita bangga jadi seorang guru, selain guru
merupakan profesi yang sangat mulia dan memiliki peran yang sangat vital bagi kemajuan
bangsa ada beberapa alasan kenapa memilih guru sebagai profesi. Berikut 7 alasan mengapa
guru jadi profesi
1. Sebagai ladang amal dan dakwah. Dengan mengamalkannya juga kita tidak akan lupa
ilmu yang kita dapat selama sekolah dan kuliah bahkan menjadi guru akan menambah
ilmu dan wawasan kita.
2. Belajar lebih banyak tentang arti keikhlasan dan kesabaran. Ketika kita mengajar dikelas
kita mengahadapi murid yang memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga kita dituntut
untuk selalu ikhlas dan sabar dalam menghadapi siswa.
3. Bisa menjadi inspirator bagi generasi penerus (siswa). Sebaik-baiknya guru adalah yang
bisa menjadi inspirasi bagi siswa.
80 Ibid., hlm. 106
74
4. Sebuah kontribusi positif demi kemajuan bangsa dibidang pendidikan. Dengan menjadi
guru kita turut ikut mencerdaskan bangsa.
5. Banyak kesan yang menarik ketika mengajar siswa yang memiliki berbagai karakter.
Sehingga dapat menghilangkan rasa jenuh dan stres ketika berbaur dengan siswa.
6. Dapat mengasah kemampuan kita dalam hal IQ, EQ, dan SQ. Dengan menjadi guru kita
dituntut untuk terus belajar dan belajar. Karena dalam mengajar siswa kita harus menjadi
pribadi yang cerdas serta menjadi teladan bagi siswa.
7. Wadah bagi kita untuk menjadi pribadi yang senantiasa berkarya, berkreasi dan
berinovasi.
E. KETEGANGAN DALAM PROFESI KEGURUAN
Pendidikan diyakini sebagai variabel terpenting, strategis, dan determinatif bagi
perubahan masyarakat. Maju mundurnya kualitas peradaban suatu masyarakat sangat
bergantung pada bagaimana kualitas pendidikan diselenggarakan oleh masyarakat. Sejarah
membuktikan bahwa hanya bangsa- bangsa yang menyadari dan memahami makna
strategisnya pendidikanlah yang mampu meraih kemajuan dan menguasai dunia. Pendidikan
merupakan alat terefektif bagi perubahan masyarakat dan pencapaian kemajuan dalam
berbagai dimensi kehidupan.
Tantangan profesi guru saat ini tentunya sangat berbeda dengan tantangan di era-era
sebelumnya. Persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sangat kompleks,
sekaligus sulit diprediksi. Menurut laporan UNESCO 1996 sebagaimana dikutip oleh Sutoyo
Imam Utoyo (2009: 479) bahwa ada tujuh ketegangan yang dihadapi abad 21 ini yang secara
langsung atau tidak langsung berpengaruh pada dunia pendidikan khususnya, dan kehidupan
manusia pada umumnya.
Ketujuh ketegangan itu ialah:
1. Ketegangan antara global dan lokal, yaitu di satu pihak kecenderungan manusia akan
menjadi satu warga dunia secara global akan tetapi tidak ingin tercerabut akarnya dari
budaya lokal;
2. Ketegangan antara universal dan individual;
3. Ketegangan antara tradisional dan modernitas;
4. Ketegangan antara pertimbangan jangka panjang dan jangka pendek;
5. Ketegangan antara kebutuhan untuk kompetisi dan kepedulian pada keseimbangan
kesempatan;
75
6. Ketegangan antara kecepatan perkembangan pengetahuan dan kemampuan manusia untuk
mengikutinya;
7. Ketegangan antara spiritual dan materi.
Menurut Nasution, profesi guru memiliki ketegangan yang disebabkan oleh beberapa
hal berikut.
1. Tiap pekerjaan mengandung aspek-aspek yang dapat menimbulkan ketegangan, apakah
pekerjaan sebagai diplomat, penerbang, sopir, dokter, ataupun guru. Ketegangan itu tidak
hanya ditentukan oleh sifat pekerjaan itu, tetapi juga bergantung pada orang yang
melakukannya. Orang ingin mencari kepuasan dalm pekerjaannya, tetapi tak selalu
kepuasan itu diperolehnya karena ada yang menghalanginya. Ketegangan timbul sebagai
akibat hambatan untuk mencapai kepuasan yang dicari individu dari kedudukannya. Sifat
ketegangan itu bergantung kepada apa yang ingin dicapai seseorang dalam pekerjaannya
atau keterlibatan dalam pekerjaannya itu. Kepuasan yang dicari oleh berbagain individu
berbeda-beda. Pekerjaan yang dapat memberikan kepuasan kepada seseorang belum tentu
akan memberikan kepuasan kepada seseorang belum tentu akan member kepuasan kepada
orang lain. Apa yang menimbulkan ketegangan bagi seseorang mungkin tidak
mempunyai pengaruh terhadap orang lain.
2. Gaji pekerja atau pegawai pada umumnya tidak tinggi dibandingkan dengan gaji orang di
Negara-negara yang maju, atau dibandingkan dengan guru di Malaysia atau Singapura.
Walaupun gaji guru tidak lebih rendah dari gaji resmi pegawai-pegawai lainnya,
pendapatan guru pada umumnya lebih rendah. Secara financial, jabatan guru tidak akan
membuat seorang jadi kaya. Bukan hanya di negara kita, juga di Negara-negara lain, guru
banyak mengeluh tentang gajinya. Di Amerika Serikat, misalnya, gaji buruh kasar sering
melebihi gaji guru.
3. Guru-guru pada umumnya tidak begitu melibatkan diri dalam usaha mencapai uang,
namun menginginkan adanya jaminan ekonomis agar dapat menutupi biaya kehidupan
sehari-hari menurut keperluannya. Untuk mencari jaminan ini, guru atau anggota
keluarganya sering terpaksa mencari sumber-sumber financial lain. Ini kemudian
menimbulkan ketegangan dikalangan guru.
4. Mengenai status guru di dalam masyarakat, dapat kita selidiki pendapat orang banyak.
Guru bnyak berasal dari golongan rendah atau menengah rendah dan memandang jabatan
sebagai guru sebagai jalan untuk mendapatkan status yang lebih tinggi. Status guru yang
tidak begitu tinggi dalam mata masyarakat dan status yang tidak jelas bagi guru mungkin
akan mengecewakannya dan dapat mengganggu kestabilan kepribadiaanya. Status guru
76
yang tak jelas ini dapat menjadi sumber ketegangan bagi orang yang mencari kenaikan
statusnya melalui jabatannya.
5. Sumber ketegangan lain bagi guru ialah otoritas guru untuk menghukum atau member
penghargaan kepada murid. Tidak selalu sama pendapat masyarakat apa yang harus
dihargai atau dihukum sehingga dapat menimbulkan ketegangan. Semua orang tua
menginginkan adanya disiplin, tetapi jika anaknya diberi hukuman karena terlambat
sedikit, atau terdapat merokok, ada orang tua yang menganggap hukuman itu terlampau
keras atau tidak pada tempatnya. Sebaliknya, ada orang tua yang mengingatkan agar
anaknya diberi hukuman yang keras, bahkan diberi hukuman jasmani yang tidak dapat
diterima oleh guru. Demikianlah guru berada pada titik silang berbagai harapan dan
tuntutan, yakni dari pihak orang tua dan masyarakat, dari pihak sekolah dan atasan, serta
dari tuntutan profesi keguruan yang dipengaruhi oleh berbagi aliran.
6. Ketegangan juga dapat ditimbulkan oleh persoalan apakah pekerjaan guru dapat diakui
sebagai profesi. Tanpa melalui pendidikan keguruan, seseorang dapat mengajar. Hal yang
tidak mungkin terjadi dalam profesi dokter dan hukum. Diadakannya akta IV/V dapat
dipandang sebagai pengakuan atas perlunya pendidikan khusus keguruan dapat mengajar
dengan tanggung jawab.
7. Sumber ketegangan juga terletak dalam pekerjaan guru di dalam kelas. Di situ diuji
kemampuannya dalam profesinya, kesanggupannya untuk mengatur proses belajar
mengajar agar berhasil baik sehingga memuaskan bagi setiap murid. Gangguan disiplin,
kenakalan, kemalasan, ketidakmampuan, atau kebodohan anak dapat menjadi sumber
ketegangan dan frustasi bagi guru yang benar-benar melibatkan diri dalam prose situ.81
Guru jaman sekarang berada di posisi tersandung, terjebak dan terbebani. Hal ini
dikaitkan dengan jabatan guru dan selalu dikaitkandengan rujukan nilai-nilai yang bersifat
normatif sehingga selaludipandang sebagai jabatan mulia.
Masyarakat tidak mau tahu, yang penting guru harus berprilaku sesuai sengan norma
itu. Di masa lalu, dalam kondisi kehidupan sosial budaya yang masih homogen, mungkin hal
itu dapat diwujudkan oleh guru. Namun, jaman telah berubah karena pesatnya
perkemmbangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Telah terjadi pergeseran nilai yang
menjurus ke hal-hal yang bersifat materialis dan lahiriyah.
81 Muhammad Rifa‟i, Sosiologi Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 109 - 111
77
F. GANGGUAN FISIK DAN MENTAL GURU
Apakah guru mengalami gangguan fisik dan mental akibat pekerjaannya tidak mudah
diselidiki. Dapat diperoleh data tentang absensi guru serta sebab-sebabnya. Jika guru batukbatuk apakah itu suatu gejala umum ataukah karena debu kapur yang dihirupnya? Apakah
semua guru yang menggunakan papan tulis dan kapur pada suatu saat akan memeperoleh
penyakit batuk? Menentukan hubungan kausal antara penyakit guru dengan pekerjaanya tidak
mudah. Penyakit yang diderita oeleh guru seperti batuk-batuk, bukan penyakit yang terdapat
pada guru saja, atau lebih banyak terdapat di kalangan guru. Setidaknya harus diadakan
perbandingan antara penyakit yang diderita guru dengan sektor penduduk lainnya.
Berdasarkan penelitian guru sangat rentan terhadap penyakit yang berhubungan
dengan radang tenggorok sampai sariawan. Hal ini dikarenakan intensitas mengajar yang
tinggi tanpa ditopang dengan asupan vitamin yang memadai, akhirnya yang terjadi system
immune ( kekebalan ) menurun dan ia menjadi gampang terserang berbagai macam penyakit,
terutama dua penyakit di atas.
Demikian juga halnya dengan gangguan mental pada guru apakah penyakit mental
lebih banyak terdapat di kalangan guru? Menurut suatu laporan di suatu rumah sakit di U.S.A
persentase tertinggi yang dirawat adalah guru. Mungkin memang guru yang paling banyak
mengalami gangguan mental, atau guru paling banyak pergii ke ahli jiwa bila ada sedikit
gangguan mental yang dialaminya. Menurut penelitian Hicks 17, 5 persen dari sampel guru
yakni 20 persen guru wanita dan 8 persen guru pria cepat “nervous” atau gugup diukur
dengan kuesioner yang menunjukkan kondisi neurotik. Peneliti lain Philips menemukan
bahwa 20 persen dari sampelnya sangat neurotik berdasarkan Bernreuter Inventory seang
menurut penyelidikan Peck 33 persen dari kelompok wanita mempunyai gangguan mental
dan 12 persen memerlukan bantuan psikiatris berdasarkan Thurstone Inventory.
Ada kemungkinan, menurut pendapat sejumlah peneliti, bahwa tidak adanya hidup
kekeluargaan yang normal dan frustasi dalam hubungan seks yang normal turut menambah
gangguan mental guru-guru wanita yang tidak menikah. Guru pria dianggap mempunyai
menta yang lebih stabil bila mereka mempunyai keluarga yang normal.
Berdasarkan penelitian itu dapat dibuktikan adanya guru yang mengalami gangguan
mental, bahwa ada di antarntya yang memerlukan perawatan psikiater. Akan tetapi penelitian
itu tidak menunjukkan apakah gangguan mental itu lebih banyak terdapat di kalangan guru
dibandingkan dengan profesi lain. Juga tidak di ketahui apakah gangguan-gangguan mental
itu ada pada calon guru, nyata atau laten, sebelum ia melakukan profesinya ataukah gangguan
mental itu timbul sebagai akibat pekerjaanya sebagai guru.
78
Selanjutnya tidak diketahui hingga manakah gangguan mental itu merugikan murid
dan proses beljar-mengjar. Andaikan ternyata bahwa memang lebih banyak terdapat
gangguan mental pada guru dibandingkan dengan profesi lain, maka ada dua kemungkinan:
1. Mereka yang terganggu jiwanya atau cenderung mempunyai gangguan jiwa lebih banyak
memasuki profesi guru daropada memilih pekerjaan lain.
2. Guru yang berasal dari populasi pormal memeproleh gangguan mental dalam persentase
yang lebih tinggi dibdandingkan dengan profesi lain.
Ada pula kemungkinan kedua faktor itu terjadi serentak, Philips melaporkan bahwa
calon-calon guru menunjukkan stabilitas emosional yang lebih tinggi daripada guru, jadi
tampaknya gangguan mental disebabkan oleh pekerjaannya. Akan tetapi di sini pun tak kita
ketahui apakah pekerjaan guru lebih banyak menimbulkan gangguan mental daripada
pekerjaan lain.
Andaikan profesi keguruan lebih banyak mengakibatkan gangguan mental maka para
pemuda-pemudi tidak akan tertarik oleh pekerjaan ini. Akan tetapi dibanding dengan profesi
lain seperi dokter, insinyur, ahli ekonomi, dan lain-lain guru tidak mempunyai daya tarik
yang begitu besar. Lulusan SMA pada umumnya akan menempatkan lembaga pendidikan
guru telah gagal memasuki Perguruan inggi yang mereka idam-idamkan. Kegagalan dan
frustasi itu akan dapat menimbulkan frustasi yang pada suatu saat mengakibatkan gangguan
mental pada orang yang normal. Banyak tuntutan-tuntutan terhadap guru, di antarnya ada
yang saling bertentangan, usahanya mendiddik anak sering menemui kegagalan,
hubungannya dengan anak-anak penuh ketegangan, dan banyak lagi gaktor lain yang dapat
mengguncangkan kestabilan pribadi seseorang. Akan tetapi profesi lain seperti dokter,
insinyur, ahli hukum, dan sebagainya, juga tidak ada yang bebas dari ketegangan.
Ketegangan itu sendiri tidak terlalu mempunyai pengaruh negatif akan tetapi dapat
justru meningkatkan keamuan, kegiatan, dan usaha untuk menghadapi kesulitan-kesulitan
dengan semangat yang lebih tinggi, yang akan memberi kepuasan yang lebih besar bila
berhasil.
Guru yang terganggu mentalnya, apalagi yang sakit jiwa, tentu dapat merusak anakdidik. Akan tetapi taraf yang demikian merusak, jarang terdapat dan sebelumnya sudah dapat
disinyalir dan dicegah. Pada umumnya, sekalipun ada terdapat gangguan mental pada guru
tidak ada bukti-bukti yang nyata tentang adanya keruasakan yang di timbulkan pada anak.
Bahkan ada kemungkinan adanya gangguan keseimbangan dapat menambah efektivitas guru.
Orang tidak senang megalami keadaan terganggu dan akan berusaha untuk melenyapkannnya
antara lain dengan usaha yang lebih giat untuk mencapai kepuasan.
79
Dengan kemungkinan mengalami frustasi, gangguan, ketidakseimbangan guru masih
dapat mengembangkan kepribadian yang “normal”, sehat, gembira, penuh kepercayaan akan
diri sendiri, dan mengadapi masa-depan dengan optimisme serta penuh harapan. Pekerjaan
guru banyak mengandung keindahan, tantangan yang sehat dan kebahagiaan bagi mereka
melakukannya dengan penuh cinta dan dedikasi.82
82 Nasution, Op. Cit., hlm. 110 - 113
80
Hubungan Guru-Peserta Didik
81
HUBUNGAN GURU-PESERTA DIDIK
A. Peranan Guru atau Pendidik dalam Pembelajaran
Peran adalah suatu yang memiliki kedudukan. Mayor Polak berpendapat peran
memiliki dia arti yaitu sebagai berikut:83
1. Dari sudut individu berarti sejumlah peranan yang timbul dari berbagai pola yang di
dalamnya individu tersebut ikut aktif.
2. Peranan secara umum menunjuk pada keseluruhan peranan itu dan menentukan apa yang
dikerjakan seseorang untuk masyarakatnya, serta apa yang dapat diharapkan dari
masyarakat itu.
Dengan memperhatikan kajian Pullias dan Young (1988), Manan (1990), serta Yelon
and Weinstein (1997), dapat diidentifikasikan sedikitnya 19 peran guru, yakni guru sebagai
pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu (innovator), model dan
teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin,
pemindah kemah, pembawa ceritera, aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai
kulminator.Dan dari 19 peran di atas, dibawah ini hanya akan dijelaskan 6 peran saja, yang
menurut penulis memiliki relevansi langsung dengan proses pembelajaran.
1. Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta
didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi
tertentu, yang mencakup tanggung jawah, wibawa, mandiri, dan disiplin.
Berkaitan dengan tanggung jawab; guru harus mengetahui, serta memahami nilai,
norma moral, dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan
norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap segala tindakannya dalam
pembelajaran di sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat.
Berkenaan dengan wibawa; guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai
spiritual, emosional, moral, sosial, dan intelektual dalam pribadinya, serta memiliki kelebihan dalam
pemahaman ilmu.pengetahuan, teknologi, dan seni sesuai dengan bidang yang dikembangkan.
83Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan,Jakarta, Rineka Cipta,2010,hlm, 41
82
2. Guru Sebagai Pengajar
Sejak adanya kehidupan, sejak itu pula guru telah melaksanakan pembelajaran, dan
memang hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawabnya yang pertama dan utama.
Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang
belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari.
Pertentangan tentang mengajar berdasar pada suatu unsur kebenaran yang berangkat
dari pendapat kuno yang menekankan bahwa mengajar berarti memberitahu atau
menyampaikan materi pembelajaran.Dalam hal ini, konsep lama yang cenderung membuat
kegiatan pembelajaran menjadi monoton wajar jika mendapat tantangan, tetapi tidak dapat
didiskreditkan untuk semua pembelajaran.
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti motivasi,
kematangan, hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan,
rasa aman, dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi,
maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik.Sehubungan dengan itu,
sebagai orang yang bertugas menjelaskan sesuatu, guru harus berusaha membuat sesuatu
menjadi jelas bagi peserta didik, dan berusaha lebih terampil dalam memecahkan masalah.
3. Guru Sebagai Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan (Guide), yang berdasarkan
pengetahuan dan pengalamannya bcrtanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam
hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental,
emosional, kreatifitas, moral, dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.Sebagai
pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan,
menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan, serta menilai
kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.Semua itu dilakukan
berdasarkan kerjasama yang baik dengan peserta didik, tetapi guru memberikan pengaruh
utama dalam setiap aspek perjalanan.Sebagai pembimbing, guru memiliki berbagai hak dan
tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakannya.
4. Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik
intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih.
Hal ini lebih ditekankan lagin karena tanpa latihan seorang peserta didik tidak akan
mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar, dan tida akan mahir dalam berbagai
83
keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi standar. Oleh karena itu, guru harus
berperan sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan
kompetensi dasar, sesuai dengan potensi masing-masing.
5. Guru Sebagai Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun
mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat
berharap untuk menasehati orang. Banyak guru cenderung menganggap bahwa konseling
terlalu banyak membicarakan klien, seakan-akan berusaha mengatur kehidupan orang, dan
oleh karenanya mereka tidak senang melaksanakan fungsi ini.Padahal menjadi guru pada
tingkatmanapun berarti menjadi penasehat dan menjadi orang kepercayaan, kegiatan
pembelajaranpun meletakannya pada posisi tersebut.
6. Guru Sebagai Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang
menganggap dia sebagai guru.
Secara teoretis, menjadi teladan merupakan bagian integral dari seorang guru, sehingga
menjadi guru berarti menerima tanggung jawab untuk menjadi teladan.Memang setiap profesi
mempunyai tuntutan-tuntutan khusus, dan karenanya bila menolak berarti menolak profesi
itu.Pertanyaan yang timbul adalah apakah guru harus menjadi teladan baik di dalam
melaksanakan tugasnya maupun dalam seluruh kehidupannya? Dalam beberapa hal memang
benar bahwa guru harus bisa menjadi teladan di kedua posisi itu, tetapi jangan sampai hal
tersebut menjadikan guru tidak memiliki kebebasan sama sekali. Dalam batas-batas tertentu,
sebagai manusia biasa tentu saja guru memiliki berbagai kelemahan, dan kekurangan.84
B. Jenis-Jenis Hubungan Guru-Murid
Hubungan guru murid banyak ragamnya bergantung pada guru, murid serta situasi
yang dihadapi.Tiap guru mempunyai hubungan yang berbeda menurut pribadi dan situasi
yang dihadapi.Untuk mempelajarinya, kita dapat berpegang pada tipe-tipe guru, misalnya
guru yang otoriter yang menjaga jarak dengan murid dan guru yang ramah, yang dekat serta
akrab dengan muridnya.Guru yang otoriter tak mengizinkan anak melewati batas atau jarak
social tertentu. Guru itu tak ingin murid menjadi akrab dengan dia. Juga dalam situasi
84 JURNAL FALASIFA. Vol. 1 No.1 Maret 2010,hlm., 116-119
84
rekreasi ia mempertahankan jarak itu. Guru tetap merasa berkuasa dan berhak untuk
memberikan perintah. Diharapkannya agar perintah itu juga ditaati. Guru yang otoriter ini
yang mungkin dianggap kurang ramah tidak akan diajak oleh murid-muridnya dalam
kegiatan santai yang gembira. Murid juga tidak akan mudah membicarakan soal-soal pribadi
dengan dia. Jadi antara guru dan murid tidak terdapat hubungan yang akrab. Guru seperti ini
disegani, ditakuti, mungkin juga kurang disukai atau justru dikagumi bila ia juga memiliki
sifat-sifat baik.85
Sebaiknya guru yang ramah akan dekat kepada muridnya. Murid-murid suka meminta
dia turut serta dalam kegiatan rekreasi dan membicarakan soal-soal pribadi, namun mungkin
dianggap kurang berwibawa.
Tipe guru yang murni, yang sepenuhnya otoriter atau sepenuhnya ramah tentu tidak
ada. Tiap guru akan mempunyai kedua sifat itu dalam taraf tertentu. Akan tetapi kedua tipe
itu dapat dijadikan pegangan yang berguna untuk menganalisis hubungan antara guru dan
murid. Peranan yang dijalankan oleh guru dalam hubungannya dengan murid-muridnya akan
mendekati salah satu tipe itu dalam taraf yang berbeda-beda. Respons murid terhadap
peranan guru itu merupakan faktor utama yang menentukan efektivitas guru. Tipe kelakuan
guru tertentu mungkin lebih efektif terhadap murid tertentu, misalnya bagi sejumlah murid
tipe guru yang otoriter yang efektif, sedangkan bagi murid lain tipe guru yang ramah lebih
sesuai.
Adapun hubungan guru–murid dikatakan baik apabila hubungan itu memilki sifatsifat sebagai berikut:
1. Keterbukaan, sehingga baik guru maupun murid saling bersikap jujur dan membuka diri
satu sama lain;
2. Tanggap bilaman seseorang tahu bahwa dia dinilai oleh orang lain;
3.
Saling ketergantungan antara satu dengan yang lain;
4.
Kebebasan yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan mengembangkan
keunikannya, kreatifitasnya dan kepribadiannya;
5.
Saling memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada kebutuhan satu orang pun yang tidak
terpenuhi.
Hubungan guru dan murid menurut Ibnu „Athaillah dalam tinjauan kapitalisme
Pendidikan. Perspektif kapitalisme pendidikan berbeda dengan pandangan Ibn Atahillah
tentang pendidikan. Menurut Ibnu „Athaillah belajarbertujuan untuk memperoleh makrifat
85 Nasution, Sosiologi Pendidikan,Jakarta, PT. Bumi Akasar,2010,hlm.115
85
dan tidak ada kaitannyasama sekali dengan pemenuhan kebutuhan pasar dan untuk
mencaripekerjaan. Setiap hamba telah dijamin rezekinya oleh Allah.Bahkanseorang murid
harus uzlah, yakni menjauhkan diri dari hiruk-pikuknyakehidupan dan berkonsentrasi pada
diri sendiri untuk mendekatkandiri kepada Allah.Seorang murid yang menjalani keidupan
sepertiuntuk memperoleh makrifat disebut suluk.Kapitalisme pendidikan menggeser arah
pendidikan sedemikianrupa sehingga pendidikan menjadi pabrik tenaga kerja yang
cocokuntuk tujuan ekonomi kapitalis. Kurikulum juga diisi dengan pengetahuan dan keahlian
untuk industrialisasi, baik manufakturmaupun agroindustri.
Dengan demikian, maka murid dalam kapitalisme harus memilikidaya jual dan daya
juang demi mencapai tujuan para kapital. Ketikamurid tidak menyadari bahwa di luar sana
terjadi persaingan yang ketat untuk hidup, hal tersebut menurut pendidikan kapitalis adalah
sangat mengkawatirkan. Kapitalisme pendidikan bertentangan dengan tradisi manusia yang
memiliki visi pendidikan sebagai strategi untuk eksistensi manusia dan juga sarana untuk
menciptakan keadilan sosial, wahana untuk memanusiakan manusia serta wahana untuk
pembebasan manusia.Kapitalisme pendidikan, sebaliknya, memandang pendidikan sebagai
komoditas.Demikian pula halnya, terkait dengan pandangan Ibnu „Athaillah tentang murid,
tentu kapitalisme akan memvonisnya sebagai model pendidikan yang degeneratif dan musuh
dari produktifitas. Bagaimana mungkin mendidik murid yang tidak memiliki lifeskill dan
keinginan survive akan memberikan profit pada stakeholder. Menurut kapitalisme
pendidikan, pengasingan murid dari konteks kehidupan nyata, berupa kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan atau nafsu duniawinya, adalah sebentuk pembodohan dan kemunduran
dari peradaban (ekonomi) yang berkembang dengan massif.86
C. Reaksi Murid Terhadap Peranan Guru
Pendidik dan peserta didik merupakan dua jenis status yang dimiliki oleh manusiamanusia yang memainkan peran fungsional dalam wilayah aktivitas yang terbingkai sebagai
dunia pendidikan.
Pendidik dan peserta didik merupakan dua jenis status yang dimiliki oleh manusiamanusia yang memainkan peran fungsional dalam wilayah aktivitas yang terbingkai sebagai
dunia pendidikan.
86Kodifi kasia, Volume, 9 No. 1 Tahun 2015
86
Reaksi murid yang berlainan terhadap tuntutan guru yang kurang dikehendaki antara
lain : mengganggu jalannya pelajaran dalam kelas dan mengancam adanya perbedaan antara
status guru dan murid.
Proses pendidikan banyak terjadi dalam interaksi sosial antara guru dan murid. Sifat
interaksi ini banyak tergantung pada tindakan guru yang ditentukan antara lain oleh tipe
peranan guru. Bagaimana reaksi murid terhadap peranan guru dapat diketahui dari ucapan
murid tentang guru itu.Tentang hal ini telah dilakukan sejumlah penelitian.87
Frank Hart pada tahun 1934 menanyakan kepada sejumlah 10.000 siswa Sekolah
Menengah Atas guru yang bagaimana yang paling mereka sukai dan apa sebabnya mereka
menyukainya. Alasan yang paling banyak dikemukakan ialah bahwa guru disukai bila ia
“berperi kemanusiaan, bersikap ramah, bersahabat”. Juga sering disebut alasan seperti ”suka
membantu dalam pelajaran, riang, gembira, mempunyai rasa humor, menghargai lelucon”.
Sifat-sifat yang dihargai murid-murid itu sesuai dengan gambaran guru yang demokratis.88
Dalam penelitian lain diperoleh hasil yang sama dengan metode yang agak berbeda.
Murid-murid diminta menilai guru-guru mengenai kesanggupannya mengajar dan kelakuan
guru terhadap murid. Yang paling disenangi oleh para siswa ialah guru yang ramah, yang
paling sering turut serta dalam kegiatan rekreasi mereka, yang dapat dipercayakan soalsoal pribadi, dan yang suka membantu dalam pelajaran. Yang kurang disukai ialah guru-guru
yang sering mencela, marah, menggunakan sindiran atau kata-kata yang tajam.
Pada umumnya guru yang disenangi ialah guru yang sering dimintai nasihatnya, yang
mau
diajak
bercakap-cakap
dalam
suasana
yang
menggembirakan,
tidak
menunjukkan superiotasnyadalam pergaulan sehari-hari dengan murid, selalu ramah, selalu
berusaha memahami anak didiknya.
Sebaliknya guru tidak disukai bila ia sering marah, tak pernah ketawa, suka
menyindir, tak mau membantu anak dalam kesulitan belajar, dan menjauhkan diri dari murid
di luar kelas.
D. Hubungan Antara Hasil Belajar Murid Dengan Kelakuan Guru
Hilgard dan Bower mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah
laku seseorang pada situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang
dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar
kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat seseorang. Menurut
87 Nasution,Op.Cit.hlm., 117
88 Nasution,ibid
87
Witheritong belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian, dimanifestasikan sebagai
pola-pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan
kecakapan.
Dari berbagai definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa: Belajar merupakan
suatu perubahan tingkah laku baik ke arah yang lebih baik maupun perubahan ke arah yang
lebih buruk. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi dengan adanya latihan atau
karena adanya pengalaman.Agar dapat disebut belajar maka perubahan itu harus bersifat
mantap dan tidak hanya sesaat.Tingkah laku yang mengalami perubahan dalam belajar
menyangkut berbagai aspek baik fisik maupun psikis.
Setiap orang yang belajar pasti menginginkan prestasi belajar yang tinggi.Hal tersebut
menjadi keinginan guru, orang tua, dan siswa itu sendiri karena prestasi belajar merupakan
tolok ukur keberhasilan pendidikan. Prestasi belajar adalah apa yang telah diciptakan, hasil
pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja
(Dimyati, 2009:76).89
Prestasi
belajar
adalah
penguasaan
pengetahuan
atau
keterampilan
yang
dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai
yang diberikan oleh guru (Depdikbud, 2004:747). Dengan demikian, prestasi belajar adalah
pernyataan atau bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh siswa selama proses belajar yang
biasanya pernyataan atau keberhasilan ini berupa nilai baik itu dalam bentuk angka atau
huruf.90
Untuk menilai efektifitas guru dalam mengajar dapat diminta pendapat penilik
sekolah, Kepala sekolah dan juga murid. Dalam suatu penelitian ternyata bahwa pertambahan
pengetahuan murid dalam pelajaran rendah korelasinya dengan taraf disukainya guru itu oleh
murid.Jadi guru yang disukai, yang ramah, yang suka bergaul dengan murid dalam kegiatan
rekreasi, yang sering dimintai pendapatnya mengenai soal-soal pribadi, ternyata bukan guru
yang efektif dalam menyampaikan ilmu.Walaupun penelitian ini belum dapat dipercayai
sepenuhnya, namun dapat memberi petunjuk bahwa guru yang disenangi dan diangap guru
yang baik tidak sebaik guru yang otoriter dalam menambah pengetahuan murid dan
menyelesaikan bahan yang ditentukkan kurikulum.91
89 Jurnal Pendidikan Madrasah, Volume 1, Nomor 1, Mei 2016 P-ISSN: 2527-4287 - E-ISSN: 2527-6794
90 Jurnal Pendidikan Madrasah,ibid
91 Nasution,Op.Cit.hlm., 118
88
Kurikulum memiliki komponen tujuan atau kompetensi, isi, strategi, dan evaluasi.92
Murid cenderung terlalu santai dan tidak semuanya harus dari diri murid sendiri, terkadang
dalam beberapa segi murid perlu dipaksa dan di sikapi dengan tegas.Karena sifat murid
cenderung malas-malasan dan belum mengetahui pentingnya belajar, mereka cenderung suka
bermain dan bersenang-senang.Guru yang ramah, tidak ingin memaksa. Guru tersebut lebih
ingin murid belajar berdasarkan keinginan sendiri, tapi guru yang otoriter cenderung
memaksa sehingga mau tidak mau murid akan belajar.
E. Perilaku Murid Berhubungan Dengan Perilaku Guru
Jika kita berbicara tentang hubungan guru dan murid, sebenarnya itu lebih
mempunyai sifat yang relatif stabil. Dimana ciri khas dari hubungan ini adalah bahwa
terdapat status yang tak sama antara guru dan murid. Guru itu secara umum diakui
mempunyai status yang lebih tinggi dan karena itu dapat menuntut murid untuk menunjukkan
kelakuan yang sesuai dengan sifat hubungan itu. Bila anak itu meningkat didalam kelas ada
kemungkinan ia mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari yang lainnya.
Dalam hubungan guru dan murid biasanya hanya muridlah yang diharapkan
mengalami sebuah perubahan kelakuan sebagai hasil belajar. Setiap orang yang mengajar
akan mengalami perubahan dan menambah pengalamannya, akan tetapi ia tidak diharuskan
menunjukkan perubahan kelakuan, sedangkan murid harus membuktikan bahwa ia telah
mengalami perubahan kelakuan.
Perubahan kelakukan yang diharapkan mengenai hal-hal tertentu yang lebih spesifik,
misalnya agar anak menguasai bahan pelajaran tertentu. Mengenai hal-hal yang umum, yang
kabur, tidak mudah tercapai kesamaan pendapat, misalnya guru harus menunjukkan cinta
kasih kepada murid, apakah ia harus bertindak sebagai sebagai orang tua, atau sebagi sahabat.
Karena sifat tak sama dalam kedudukan guru dan murid, maka sukar bagi guru untuk
mengadakan hubungan yang akrab, kasih sayang maupun sebagai teman dengan murid. Demi
hasil belajar yang diharapkan diduga guru itu harus dihormati dan dapat memelihara jarak
dengan murid agar dapat berperan sebagai model bagi muridnya
Kita dapat mengamati perilaku anak dalam kelas dan mencoba melihat hubungannya
dengan tindakan guru.Tak semua perbuatan anak diakibatkan perbuatan guru.Juga tidak
92Anselmus, JE Toenlioe, Sosiologi Pendidikan, Bandung, PT. Refika Aditama, 2016,hlm.,55
89
selalu mudah dipastikan bahwa perilaku anak ada hubungannya dengan perilaku guru.
Perilaku guru yang sama mungkin berbeda pengaruhnya terhadap murid di SD dan di SM.93
Perilaku anak dalam kelas yang kita amati dapat berupa (1) perbuatan yang
menunjukkan ketegangan, rasa cemas yang tampak pada anak SD dengan mengicap jari,
menarik-narik rambut, (2) perbuatan yang tak bertalian dengan pelajaran sepeti melihat-lihat
ke depan, kiri-kanan, (3) bercakap-cakap atau berbisik-birik dengan anak lain, (4) main-main
dengan sesuatu, (5) mematuhi apa yang disuruh lakukan oleh guru, (6) tidak mematuhi
perintah guru, melakukan sesuatu yang mengganggu pelajaran.94
Pada umumnya perbuatan anak sebagai reaksi terhadap perilaku guru dapat bersifat
menurut atau tidak menurut, menyesuaikan diri dengan perintah guru atau menentangnya.
Anak yang menurut akan menunjukkan kerjasama, turut memberi sumbangan pikiran,
mengajukan pertanyaan, memberi bantuan dan dengan demikian memperlancar pelajaran.
Dalam penelitian pada murid-murid SD ternyata bahwa bila guru itu dominatif maka
lebih banyak murid yang bercakap-cakap, berbisik-bisik atau mengadakan kontak satu sama
lain secara tersembunyi, bermain-main dengan sesuatu secara diam-diam. Jadi sebenarnya
tidak mengindahkan guru. Mereka kurang atau jarang mengemukakan saran-saran atau buah
pikirannya secara sukarela, kurang terdorong untuk menjawab pertanyaan guru atau
mengajukan pertanyaan atau menyatakan sesuatu secara spontan / pada guru yang integratif
anak-anak lebih berani dan bersedia untuk mengemukakan pendapatanya, lebih spontan
dalam ucapannya dan suka bekerjasama.
Dominasi guru tak selalu berhasil untuk mencapai kepatuhan sepenuhnya, bahkan
dapat menimbulkan konflik atau tantangan sekalipun dalam bentuk yang tersembunyi. Selain
itu dominasi guru terhadap murid dapat menimbulkan dominasi murid terhadap murid-murid
yang lain yang lebih lemah. Khususnya anak yang paling banyak didominasi oleh guru
cenderung untuk menunjukkan kekuasaannya terhadap anak-anak lain sebagai kompensasi.
Berdasarkan studi ini dapat dikemukakan hipotesis yang berikut: (1) guru yang
dominatif dalam kelas akan menghadapi murid-murid yang tidak menunjukkan sikap
kerjasama, (2) murid-murid di bawah pimpinan guru-guru dominatif juga akan bersikap
dominatif terhadap murid-murid lain, (3) guru-guru yang integratif atau koperatif dalam
hubungannya dengan murid akan menimbulkan sikap kerjasama pada muridnya, baik
terhadap guru mapun terhadap murid lainnya. Tampaknya dalam interaksi sosial, anak-anak
meniru gurunya dan melakukannya dalam hubungan mereka dengan anak-anak lain.
93 Nasution,Op.Cit, hlm., 119
94 Nasution, ibid,
90
Guru yang dominatif dapat menimbulkan sikap menentang.Mereka ingin diakui
kepribadiannya.Khususnya
pemuda
pada
masa
pubertas
justru
ingin
membentuk
kepribadiannya sebelum memasuki masa kedewasaannya. Karena itu mereka peka akan
ucapan atau tindakan yang menyinggung perasaan dan harga dirinya. Terhadap tindakan yang
demikian mereka berontak secara terbuka atau tersembunyi.Akan tetapi dalam hal pelajaran
dan sekolah mereka ingin mendapat guru yang berwibawa, yang tegas, yang dapat
menegakkan dan memelihara disiplin. Mereka tahu, tanpa disiplin, tanpa kewibawaan,
otoritas atau dominasi guru murid-murid tidak akan belajar sungguh-sungguh. Dominasi guru
dapat dijalankan tanpa menyinggung perasaan atau harga diri murid dan secara obyektif dapat
ditujukan untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan.Untuk mencapai hasil akademis
tampaknya guru yang dominatif lebih serasi daripada guru yang integratif atau demokratis.
Guru yang demoratis-integratif akan lebih disenangi oleh murid akan tetapi dalam pelajaran
mengenai informasi atau pengetahuan mereka akan ketinggalan. Dalam pergaulan, muridmurid yang diajar oleh guru dominatif cenderung untuk mendominasi teman-temannya,
sedangkan murid-murid guru yang integratif akan cenderung untuk bersikap ramah dalam
persahabatannya.95
Adapun etika yang harus dimiliki seorang guru menurut al-Ghazali antara lain:
1. Hendaknya para pendidik itu memperlakukan murid-muridnya seperti memperlakukan
anaknya sendiri.
2. Hendaknya guru meneladani Rasulullah Saw. yang membawa peraturan agama, jadi
hendaknya ia tidak meminta upah dan balasan duniawi dalam mengajarkan ilmunya.
3. Janganlah guru itu enggan untuk menasehati dan menegur muridnya dari akhlak yang
buruk dengan sindiran dan tidak dengan terang-terangan.
4. Tidak merendahkan ilmu pengetahuan yang belum diketahuinya di hadapan para
muridnya.
5. Hendaknya guru dapat mengetahui ukuran pemahaman/kemampuan (potensi) anak
didiknya.
6. Hendaknya seorang guru mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, agar ucapannya
tidak berbeda dengan perbuatannya.
Dari sekian banyak tugas-tugas atau etika yang harus dimiliki oleh seorang guru
menurut Al-Ghazali sebagaimana yang tersebut di atas tampaknya dapat dikaitkan dengan
bentuk pola hubungan (interaksi edukatif) antara guru dan murid yang berlandaskan pada
95 Nasution,ibid,hlm.,121
91
pola keikhlasan, kekeluargaan, kemanusiaan (humanistis), kesederajatan dan pola uswatul
hasanah. Pola keikhlasan mengandung makna interaksi yang dibangun tanpa mengharap
ganjaran materi dari interaksi tersebut, dan menganggap bahwa interaksi itu berlangsung
sesuai dengan panggilan jiwa untuk mengabdikan diri kepada Allah dari amanah yang telah
Allah berikan.Rasa ikhlas yang ada pun menimbulkan rasa tanggung jawab yang besar dalam
pribadi setiap guru untuk menjalankan tugasnya dengan baik.
Dalam karyanya Ihya‟ Ulumuddin, al-Ghazali juga telah mengulas secara detail tugastugas ataupun etika bagi seorang murid dalam berinteraksi dengan gurunya, antara lain:
1. Hendaknya murid mendahulukan kesucian hati dari budi pekerti yang buruk
2. Menyedikitkan memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan duniawi, dan menjauhkan
dirinya dari pada keluarga, anak dan kampung halaman
3. tidak sombong terhadap ilmu dan ahlinya, serta bersikap patuh dan tunduk terhadap
nasehat gurunya sebagaimana orang sakit patuh terhadap nasehat dokternya
4. Bagi pelajar pemula, seyogyanya tidak memperhatikan khilafiyah yang terjadi di antara
ulama, terkecuali ia telah mempunyai dasar yang kuat, karena tanpa dasar yang kuat,
mempelajari khilafiyah dapat membingungkan dan melumpuhkan pendapatnya
5. Sepatutnya ia mempelajari ilmu yang dianggap paling baik
6. Hendaknya murid mengerti tentang kedudukan sebahagian ilmu pengetahuan itu lebih
mulia daripada sebagian yang lain, serta mengetahui macam-macam ilmu secara garis
besar.
7.
Membaguskan niatnya dalam menuntut ilmu, yaitu hendaknya diniatkan untuk akhirat
agar dapat mendekatkan diri kepada Allah swt.
Dari sekian tugas dan etika seorang murid dalam berinteraksi dengan gurunya dalam
pandangan al-Ghazali sebagaimana yang tersebut di atas, dapat digambarkan bahwa pola
hubungan yang terjadi antara murid dan guru dalam interaksi edukatif tersebut berdasarkan
pada pola ketaatan dan pola kasih sayang. Adapun ketaatan seorang murid kepada gurunya
dalam pendidikan akan membawa berkah terhadap ilmu yang dicarinya. Untuk itu, maka
murid dalam berinteraksi dengan guru hendaknya berupaya mencari ridha-Nya (kerelaan
hatinya), menjauhi amarahnya dan menjunjung tinggi perintahnya selama tidak bertentangan
dengan agama.Sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Az-Zarnuji dalam kitabnya
„„Ta‟limMuta‟allim‟‟ bahwa barangsiapa melukai hati gurunya maka keberkahan ilmu akan
tertutup dan hanya sedikit memperoleh kemanfaatannya.96
96Volume 13 No.1, Agustus 2013 ,hlm.,33
92
F. Peranan Guru Dalam Masyarakat Dan Respons Murid
Guru hendaknya mengenal masyarakat agar dapat menyesuaikan pelajaran dengan
keadan masyrakat sehingarelevan. Guru-guru kita diharapkan mengabdi kepada masyarakat
dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya dan dengan demikian turut memberi
sumbangan terhadap pembangunan Negara.
Para siswa tidak begitu menghiraukan ada tidaknya partisipasi guru dalam berbagai
kegiatan masyarakat. Guru yang baik mereka menilai berdasarkan kemampuan mengajar,
sikapnya terhadap murid akan tetapi tidak dikaitkan dengan banyaknya kesibukan guru dalam
masyarakat.97
G. Peranan Guru Lainnya Di Sekolah Dan Respons Murid
Di sekolah, guru dapat memegang berbagai peranan selain mengajar yakni sebagai
kepala sekolah, pembimbing OSIS, Koordinator bidang studi, piket dan lain-lain. Kepala
sekolah pada umumnya lebih dihormati dan disegani oleh murid-murid, mungkin karena
otoritasnya yang lebih besar, juga karena ia mempunyai wewenang, pengalaman dan usia
lebih banyak. Kecuali sebagai kepala sekolah guru-guru tidak mendapat penghargaan khusus
atas peranan dan tugas-tugas tambahan.98
97 Nasution,Op.Cit.,hlm.,122
98 Nasution,ibid
93
Sosialisasi
94
SOSIALISASI DAN PENYESUAIAN DIRI DI SEKOLAH
A. Pendahuluan
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial, disamping sebagai makhluk individu.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri di dunia ini. Walaupun manusia
dilengkapi dengan cipta, rasa, dan karsa, namun manusia tidak akan mampu memenuhi apa
yang mereka butuhkan dengan kemampuannya sendiri. Manusia harus berinteraksi dengan
manusia lainnya agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi. Selain itu, manusia memiliki rasa
ingin tahu (homo coriousity) yang tinggi. Manusia ingin mengetahui apa yang terjadi
disekitarnya, apa yang terjadi dalam dirinya, bahkan mereka ingin tahu apa yang terjadi di
alam semesta ini. Rasa ingin tahu ini berkembang karena alam pikiran manusia selalu
mengalami perkembangan. Rasa ingin tahu ini semakin mendorong manusia untuk
melakukan interaksi dengan manusia lainnya.
Dalam interaksi yang dilakukan manusia, ia tidak dapat memaksakan kehendak yang
dimilikinya. Manusia perlu menghargai pendapat yang dimiliki orang lain dan perlu
menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya. Di sinilah manusia belajar bersosialisasi.
Sosialisasi adalah proses belajar yang dilakukan individu untuk dapat berinteraksi dengan
baik di dalam masyarakat, sehingga menjadi masyarakat yang baik. Proses sosialisasi dialami
manusia mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan dalam lingkungan masyarakat. Apabila
ia tidak dapat menyesuaikan diri maka akan dikucilkan oleh anggota masyarakatnya. Pada
dasarnya proses sosialisasi dan proses penyesuaian diri merupakan reaksi terhadap tuntutan
yang bersifat ekonomis, sosial dan sebagainya. Dalam makalah ini akan dipaparkan lebih
banyak mengenai proses sosialisasi dan penyesuaian diri di lingkungan sekolah.
B. Pengertian Sosialisasi
Menurut pandangan Kimball Young, sosialisasi ialah hubungan interaktif yang
dengannya seseorang mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural, yang menjadikan
seseorang sebagai anggota masyarakat. Arti sosiologis dan psikologis dari sosilaisasi adalah:
1. Secara sosiologis, sosialisasi berarti belajar untuk menyesuaikan diri dengan mores,
flokways, tradisi, dan kecakapan-kecakapan kelompok.
2. Secara psikologis, sosialasasi berarti/mencakup kebiasaan-kebiasaan, perangai-perangai,
ide-ide, sikap, dan nilai.99
99Drs. Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 33
95
Sosialisasi adalah soal belajar. Dalam proses sosilasasi individu belajar tingkah laku,
kebiasaan serta pola-pola kebudayaan lainnya, juga ketrampilan-ketrampilan sosial seperti
berbahasa, bergaul, berpakaian, cara makan, dan sebagainya.100 Sosialisasi identik dengan
makna penyesuaian diri (adjusment).
Horton dan Hunt (1989:100) memberi batasan sosialisasi sebagai “suatu proses dengan
mana seseorang menghayati (mendarah-daging,internalize) norma-norma kelompok dimana
ia hidup sehingga timbullah “diri” yang unik.”
Zanden (1986:90) mendefinisikan sosialisasi sebagai “suatu proses interaksi sosial
dengan mana orang memperoleh pengetahuan, sikap, nilai dan perilaku esensial untuk
keikutsertaan (partisipasi) efektif dalam masyarakat.”
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua hal penting dalam suatu
proses sosialisasi, yaitu satu, tentang proses, yaitu suatu transmisi pengetahuan, sikap, nilai,
norma dan perilaku esensial. Kedua, tentang tujuan, yaitu sesuatu yang diperlukan agar
mampu berpartisipasi efektif dalam masyarakat.101
C. Proses dan Kesulitan Sosialisasi
Sosialisasi terjadi melalui “conditioning” oleh lingkungan yang menyebabkan individu
mepelajari pola kebudayaan yang fundamental seperti berbahasa, cara berjalan, duduk,
makan, apa yang dimakan, berkelakuan sopan, mengembangkan sikap yang dianut dalam
masyarakat seperti sikap terhadap agama, seks, orang yang lebih tua, pekerjaan, rekreasi, dan
segala sesuatu yang perlu bagi warga masyarakat yang baik. Belajar norma-norma
kebudayaan pada mulanya banyak terjadi di rumah dan sekitar, kemudian disekolah, bioskop,
televisi dan lingkungan lain.
Proses sosialisasi tidak selalu berjalan lancar karena adanya sejumlah kesulitan.
Pertama, ada kesulitan komunikasi, bila anak tidak mengerti apa yang diharapkan
daripadanya, atau tak tahu apa yang diinginkan oleh masyarakat atau tuntutan kebudayaan
tentang kelakuannya.
Kedua, adanya pola kelakuan yang berbeda-beda atau yang bertentangan. Masyarakat
modern terpecah-pecah dalam berbagai sektor atau kelompok yang masing-masing menuntut
pola kelakuan yang berbeda. Orang tua mengharapkan anak jujur, jangan merokok akan
tetapi kode siswa mengharuskannya turut dalam soal contek mencontek, merokok dan
sebagainya. Jika tidak maka ia akan dikucilkan dari kelompoknya.
100 S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm. 126
101 Prof. Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 65-66
96
Kesulitan lain yang dihadapi dalam proses sosialisasi ialah perubahan-perubahan yang
terjadi dalam masyarakat sebagai akibat modernisasi, industrialisasi, dan urbanisasi.102
Beberapa jenis sosialisasi yang kita fahami dari berbagai sisi, yaitu sebagai berikut :
1.
Sosialisasi berdasarkan kebutuhan
Berdasarkan kebutuhan, sosialisasi diklasifikasi atas sosialisasi primer dan Skunder.
2.
Sosialisasi berdasarkan cara yang dipakai
Kamanto Sunarto (2004:31) menerangkan sosialisasi berdasarkan cara yang digunakan
dapat berlangsung dalam dua bentuk: pertama, sosialisasi represif, yaitu sosialisasi yang
menekankan pada kepatuhan anak dan penghukuman terhadap perilaku yang keliru. Kedua
sosialisasi partispasif, yaitu sosialisasi yang menekankanpada otonami anak dan memberikan
imbalan terhadap perilaku anak yang baik.
3.
Sosialisasi berdasarkan keberadaan perencanaan
Sosialisasi ini dapat mengambil bentuk sosialisasi berdasarkan perencanaan dan tanpa
perencanaan. Sosialisasi berdasarkan perencanaan, yaitu sosialisasi dilakukan atas dasar
rencana yang berkelanjutan dan sistematis. Adapun sosialisasi tanpa perencanaan, yaitu
sosialisasi yang terjadi secara spontan dan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu.103
D. Sosialisasi dan Penyesuaian Diri di Lingkungan Sekolah
Sekolah memegang peran yang penting dalam proses sosialisasi anak, walaupun
sekolah merupakan hanya salah satu lembaga yang bertanggungjawab atas pendidikan anak.
Anak mengalami perubahan dalam kelakuan sosial setelah ia masuk ke sekolah. Di rumah ia
hanya bergaul dengan orang yang terbatas jumlahnya. Di sekolah anak mengalami suasana
yang berlainan. Ia bukan lagi anak istimewa yang diberi perhatian khusus oleh ibu guru,
melainkan hanya salah seorang diantara puluhan murid lainnya di dalam kelas. Guru tidak
mungkin memberikan perhatian banyak kepadanya karena harus mengutamakan kepentingan
kelas sebagai keseluruhan. Untuk itu anak harus mengikuti peraturan yang bersifat formal
yang tidak dialami anak dirumah, yang dengan sendirinya membatasi kebebasannya.
Untuk mengetahui hingga manakah pendidikan sosial di sekolah dilakukan, kita perlu
mempelajari hal-hal berikut:
1.
Nilai-nilai yang dianut disekolah.
2.
Pengaruh iklim sosial terhadap sosialisasi anak.
102 S. Nasution, Op.cit., hlm.127-128
103 Prof. Damsar, Op.cit., hlm. 66-69
97
3.
Persaingan dan kerjasama.104
Sekolah mensosialisasikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Sehingga ia
dipandang sebagai tempat yang menjadi transisi dari kehidupan keluarga ke dalam kehidupan
masyarakat.105
E. Nilai-nilai yang Dianut di Sekolah
Pada umumnya nilai dan norma yang berlaku di sekolah sejalan dengan nilai dan norma
yang berlaku di masyarakat. Antara masyarakat dan sekolah harus ada hubungan dan
kesesuaian mengenai norma dan nilai. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa antara satu
sekolah dengan sekolah yang lainnya memiliki nilai dan norma yang berbeda-beda. Hal ini
disesuaikan dengan keadaan sekolah masing-masing karena tiap sekolah memiliki guru,
siswa, kepala sekolah dan lingkungan yang berbeda dengan sekolah yang lain.
Siswa di sekolah terkadang memiliki norma tersendiri. Siswa di sekolah terkadang
memiliki rasa “kompak” yang berlebihan terhadap siswa sekolah lain atau kelas lain.
Perkelahian antarsekolah sering terjadi karena rasa “kompak” yang berlebihan ini. Apabila
seorang siswa merasa dihina atau diejek oleh siswa sekolah lain, maka seluruh kelas atau
sekolah mendukung siswa tersebut. Dalam kasus ini, siswa-siswa tersebut lebih dikuasi oleh
emosi subjektif daripada pikiran rasional yang objektif. Mereka selalu beranggapan bahwa
siswa dari sekolah mereka benar dan siswa dari sekolah lain sudah pasti salah.
Dalam hal ini, nilai dan norma yang berlaku di sekolah kebanyakan berpedoman pada
nilai dan norma yang berlaku bagi golonan menengah misalnya menghargai nilai kejujuran,
kerajinan, kebersihan, ketertiban, dan lain sebagainya. Perbuatan seperti penipuan, kekerasan,
pencurian pelanggaran seks dipandang sebagai perbuatan yang melanggar norma. Apabila
dalam keluarga siswa menganut nilai-nilai yang sama, maka siswa tersebut tidak akan
mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan sekolah.
F. Pengaruh Iklim Sosial terhadap Sosialisasi Anak
Ada dua macam iklim sosial yang berkembang dilihat dari kepribadian guru, yaitu
iklim sosial yang demokratis dan iklim sosial yang otokrasi atau otoriter. Dalam iklim
demokratis, siswa lebih banyak memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas sesuai
dengan minatnya, sedangkan dalam iklim otokrasi apa yang dilakukan siswa diatur dengan
ketat oleh guru.
104 S. Nasution, Op.cit., hlm. 129-138
105 Prof. Damsar, Op.cit., hlm. 74
98
Penelitian mengenai pengaruh iklim sosial terhadap siswa dilakukan oleh Kurt Lewin
dan Ronald Lippitt pada tahu 1939. Menurut Lewin, iklim sosial dalam hidup siswa
diumpamakan sebagai udara yang dihirupnya. Hubungan dengan orang lain dan statusya
dalam kelompok merupakan hal penting yang menentukan apakah dia merasa aman atau
tidak. Sehingga kelompok dan kebudayaan dimana siswa itu berada sangat menentukan
tingkah laku dan sifatnya. Dalam penelitiannya, mereka memilih dua kelompok dan dierikan
perlakuan yang berbeda. Satu kelompok diberikan perlakuan sesuai iklim demokrasi dan
yang satu diberikan perlakuan iklim otokrasi. Kesimpulan dari penelitian mereka adalah
sebagai berikut.
Tabel 01. Tabel Perbandingan Iklim Demokratis dengan Iklim Otokrasi
Iklim Demokratis
Iklim Otokrasi
Terdapat suasana kerja sama, pemberian Lebih banyak dikeluarkan kecaman tajam
saran yang bersifat konstruktif, dan yang bersifat pribadi.
adanya penghargaan terhadap orang lain.
Terdapat suasana kebersamaan.
Status
sosial
antara
pemimpin
Lebih menonjolkan diri sendiri.
dan Adanya pimpinan yang kuat menghalangi
dipimpin dan yang dipimpin sangat pihak lain untuk memegang pimpinan.
sedikit, sehingga suatu saat siapa pun bisa
menjadi pemimpin apabila dia memiliki
kelebihan.
Individualitas siswa dapat berkembang.
Individualitas
siswa
tidak
dapat
berkembang.
Kedua iklim tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Iklim demokratis
lebih sesuai untuk penyesuaian diri yang baik, pemberian kesempatan dalam hal
mengekspresikan diri, persaingan yang sehat, menumbuhkan rasa kebersamaan, an lain
sebagainya. sedangkan iklim otokrasi lebih sesuai untuk penanaman kedisiplinan di kalangan
siswa.
G. Persaingan dan Kerja sama
Ada dua jenis interaksi yang terjadi di dalam masyarakat, yaitu persaingan dan kerja
sama. Persaingan merupakan bentu interaksi yang bersifat negatif. Persaingan ini timbul
karena adanya sifat egois manusia yang ingin menonjolkan dirinya sendiri dan tidak mau
99
kalah dari orang lain. Dalam banyak hal siswa harus bersaing dengan siswa lainnya.
Persaingan paling jelas terlihat dalam hal perolehan nilai atau prestasi mereka di sekolah.
Siswa bersaing untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Tidak hanya dikalangan siswa saja,
persaingan terjadi di segala aspek kehidupan manusia. Mulai dari pendidikan, ekonomi,
sosial, dan berbagai aspek lainnya.
Bentuk interaksi yang bersifat positif adalah kerjasama. Kerjasama menunjukkan
bahwa manusia membutuhkan bantuan manusia lainnya dalam memenuhi berbagai
kebutuhan yang dimilikinya. Kerjasama atau gotong-royong merupakan nilai luhur yang telah
dimiliki bangsa Indonesia dari dahulu. Dengan kerjasama, masalah yang berat akan terasa
lebih ringan karena dikerjakan bersama-sama.
H. Model dan Peranannya
Pola kelakuan anak diperolehnya melalui proses sosialisasi yakni dalam situasi-situasi
sosial dan interaksi anak itu dengan manusia lain disekitarnya. Disamping itu juga ia
memerlukan “ model”, contoh atau teladan pola kelakuan itu. Dalam masyarakat tradisional
seperti terdapat di pedesaan yang terpencil, yang disebutGemeinschaft, peranan setiap orang
seperti bapak, ibu, pemudi, pria, wanita jelas dan dipahami oleh semua. Akan tetapi dalm
masyarakat kota, yang disebut Gesellschaft, apalagi pada zaman modern ini, setiap orang
harus menjalankan berbagai peranan menurut berbagai situasi sosial yang dihadapinya.
Guru harus berpakaian bersih rapi, ia harus selalu berpegang tepat pada waktu, ia harus
bertanggung jawab, berjiwa sosial, suka membantu orang, ramah, dapat mengendalikan diri,
dan sebagainya, dengan harapan bahwa sifat- sifat yang baik itu secara sengaja atau tidak
sengaja, juga menjadi sifat- sifat kelakuan anak.
Dalam dunia yang kian kompleks ini anak harus sanggup memainkan aneka ragam
peranan dalam bermacam- macam segmen kehidupan. Untuk itu ia memerlukan berbagai
model kelakuan diluar orang tua dan guru. Untuk situasi sosial yang baru akan
diperlakukannya model baru pula. Dengan demikian ia akan dapat menyesuaikan
kelakuannya dengan apa yang diharapkan daripadanya dalam berbagai macam posisi dan
situasi agar ia jangan mengalami kesulitan dalam hidupnya.
I. Model-model bagi Murid di Sekolah
Masyarakat modern makin lama makin berdiferensiasi sehingga terbagi dalam segmensegmen yang bertambah banyak. Mobilitas zaman modern, dari daerah pedesaan ke
100
perkotaan, dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya, bahkan ke negara- negara lain,
menuntut perlunya murid- murid memahami macam- macam kelakuan manusia.
Guru- guru tak semua sama, bahkan berbeda- beda pribadinya. Guru- guru berasal dari
golongan rendah dan sebagai guru merasa dirinya meeningkat ke golongan menengah sambil
mempelajari norma- norma golongan itu selama pendidikannya dan dalam jabatannya.
Melalui interaksi yang banyak dengan golongan menengah dan atasan, berkat pendidikan dan
pengalaman tiap guru dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan modern dalam masyarak
Gesellschaft untuk memperoleh pandangan yang luas.
Guru yang terikat pada pandangan golongan asalnya akan lebih picik pandangannya.
Kepicikan atau keterbatasan pandangan guru diperkuat oleh tuntutan masyarakat
Gemeinschaft kelakuan guru. Di sekolah di kota terdapat variasi yang lebih besar tentang
kesukuan dan daerah asal guru.
Ada kecenderungan kedudukan guru makin banyak ditempati oleh kaum wanita,
khususnya di Sekolah Dasar dan juga Sekolah Menengah. Dapat dikatakan bahwa guru- guru
menunjukkan heterogenitas, dan mereka semuanya diharapkan menjadi guru yang “baik”
dimanapun mereka mengajar dan dapat menjadi model atau teladan bagi anak didiknya. Bila
kelakuan guru berbeda sekali dengan cita- cita murid maka ia akan mencari model yang lain
di luar sekolah.
101
Sekolah dan Masyarakat
102
SEKOLAH DAN MASYARAKAT
A. Pengertian Masyarakat
Istilah “masyarakat” kerap dipadankan dengan istilah “sosial”. Istilah “masyarakat”
sendiri pada mulanya berasal dari kata syarikat dalam bahasa Arab, kemudian mengalami
proses kebahasaan sedemikian rupa sehingga dalam bahasa Indonesia menjadi kata “serikat”
yang
kurang-lebih
berarti
“kumpulan”
atau
“kelompok
yang
saling
berhubungan”.106 Sedang, istilah “sosial” berasal dari bahasa Latin, socius yang berarti
“kawan”.107 Sehingga bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia yang
berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Mereka mempunyai kesamaan budaya, wilayah,
dan identitas.
Beberapa pengertian yang diberikan oleh beberapa pakar sosiologi mengenai
masyarakat antara lain:
1.
Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial dan selalu berubah. (Mac Iver dan Page)
2.
Masyarakat adalah kesatuan hidup mahluk-mahluk manusia yang terikat oleh suatu
sistem adat-istiadat tertentu. (Koentjaraningrat)
3.
Masyarakat adalah tempat orang-orang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
(Selo Soemardjan dan Soelaiman)108
Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah suatu kesatuan hidup manusia
dalam suatu kelompok yang memiliki suatu sistem adat-istiadat, kebiasaan, norma-norma
yang dapat menghasilkan suatu kebudayaan.
B. Pengertian Pendidikan
Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu proses
pengubahan sifat dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.109
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi manusia, baik potensi fisik,
potensi cipta, rasa, dan karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam
perjalanan hidupnya.110
106 Sidi Gazalba, Masyarakat Islam: Pengantar Sosiologi & Sosiografi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 11
107 Gordon Marshall, A Dictionary of Sociology, (New York: Oxford University Press, 1998), hlm. 628.
108 S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995) hlm. 60
109 Adri Efferi. Materi dan Pembelajaran Qur‟an Hadist MTs – MA (Kudus: STAIN Kudus, 2009). hlm. 21.
110 Hamdani. Dasar-Dasar Kependidikan, (Bandung:Pustaka Setia, 2011), hlm. 41.
103
Sedangkan menurut taman siswa sebagaimana di sebutkan Ki hajar Dewantara
memandang pendidikan sebagai upaya pemeliharaan manusia guna mengembangkan benih
keturunan dari suatu bangsa agar dapat berkembang dengan sehat lahir batin. Manusia harus
dikembangkan jiwa raganya dengan mempergunakan segala alat pendidikan dengan
berdasarkan adat istiadat rakyat .111
Jadi menurut penulis pendidikan adalah usaha membimbing dan membina serta
bertanggung jawab untukmengembangkan intelektual pribadi anak didik kearah kedewasaan
dan dapat menerapkannnya dalam kehidupan sehari-hari.
C. Konsep Pendidikan dan Masyarakat
Konsep pendidikan masyarakat adalah dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk
masyarakat. Dari konsep tersebut dapat dinyatakan bahwa pendidikan masyarakat adalah
pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di
masyarakat dan menekankan pentingnya partisipasi masyarakat pada setiap kegiatan belajar
serta bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Konsep tersebut adalah untuk
mewujudkan masyarakat yang cerdas, terampil, mandiri dan memiliki daya saing dengan
melakukan program belajar yang sesuai kebutuhan masyarakat. Dalam konteks Indonesia,
Pendidikan masyarakat menurut Nielsen merujuk pada pengertian yang beragam yaitu:
1.
Peran serta masyarakat dalam pendidikan.
2.
Pengambilan keputusan yang berbasis sekolah.
3.
Pendidikan yang diberikan oleh sekolah swasta atau yayasan.
4.
Pendidikan dan pelatihan yang diberikan oleh pusat pelatihan milik swasta.
5.
Pendidikan luar sekolah yang disediakan oleh pemerintah.
6.
Pusat kegiatan belajar masyarakat.
7.
Pendidikan luar sekolah yang diberikan oleh organisasi akar rumput seperti LSM dan
pesantren.112
Pendekatan pendidikan berbasis masyarakat ini adalah salah satu pendekatan yang di
anggap oleh masyarakat sebagai agen sekaligus tujuan, dengan melihat pendidikan sebagai
proses dan menganggap masyarakat sebagai fasilitator yang dapat menyebabkan perubahan
untuk menjadi lebih baik.
111 Sulthon. Ilmu Pendidikan (Kudus: STAIN Kudus, 2011). Hlm . 57.
112 Dean Nielsen. Memetakan Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat di Indonesia. (Yogyakarta: Adicita
Karya Nusa, 2001) hlm. 175-176.
104
Pendidikan berbasis masyarakat ini memiliki kunci penting, yaitu masyarakat
dilibatkan sebagai subjek atau pelaku bukan objek yang hanya menerima sistem pendidikan
saja. Masyarakat pun diajak untuk bertanggung jawab dari awal perencanaan hingga pada
pelaksanaan pendidikan di wilayahnya masing-masing. Hal tersebut menggambarkan bahwa
masyarakat lebih tahu apa yang mereka inginkan dan potensi apa saja yang dapat
dikembangkan dengan diadakannya fasilitas pendidikan yang ada di daerahnya.
Begitu arahnya ada "penyerapan" dari dalam masyarakat bahwa mereka sangat
memerlukan pendidikan untuk bisa keluar dari permasalahan setempat. Proses dari input dan
output di dalam masyarakat dengan pola seperti ini dapat lebih terarah. Pendidikan dari
masyarakat, oleh masyakat, dan untuk masyarakat ini mencerminkan bahwa pendidikan
bukan lagi suatu hal yang sulit di jangkau oleh sistem sederhana yang di miliki oleh
masyarakat.
Masyarakat dalam kiprahnya sangat mempengaruhi pendidikan baik tujuan
pendidikan maupun prakteknya. Apa yang diajarkan dan dibudayakan tentang nilai-nilai
dalam pendidikan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu
masyarakat. Apa yang dianggap luhur dalam suatu masyarakat juga akan diajarkan dan
dibudayakan dalam pendidikan. Sebagai contoh di daerah tertentu yang selalu melakukan
kegiatan keagamaan jamiyyah yasinan, tahlilan, berzanjian, manaqiban, dan seterusnya maka
di sekolah juga akan diajarkan tentang yasinan, tahlilan, berzanjian, dan manaqiban serta
menanamkan budaya tersebut melalui kegiatan ekstra kurikuler atau dalam rangka
memperingati hari-hari besar Islam dan sebagainya.
Masyarakat
yang
peradabannya
maju,
pendidikannya
tinggi
maka
akan
mempengaruhi pendidikannya juga maju. Sebaliknya masyarakat yang pendidikannya rendah
maka pendidikan yang berkembang di masyarakat tersebut juga kurang baik.113
D. Hubungan Pendidikan Sekolah dan Masyarakat
Hubungan antara sekolah dan masyarakat masih sangat minim oleh sebab itu
pendidikan sekolah dipandang terutama sebagai persiapan kesiapan untuk kelanjutan
pelajaran. Kurikulum sekolah kita bersifat akademis dan dapat dijalankan berdasarkan buku
pelajaran tanpa menggunakan sumber-sumber masyarakat.
113 Sulthon. Op.Cit. hlm. 120
105
Padahal seharusnya hubungan sekolah dan masyarakat haruslah erat, sekolah disini
sebagai pelaksana agar masyarakat menjadi baik dan murid-murid dapat aktif dalam bagian
masyarakat baik anak-anak maupun dewasa.
Hubungan sekolah dan masyarakat merupakan jalinan interaksi yang diupayakan
oleh sekolah agar dapat diterima di tengah-tengah masyarakat untuk mendapatkan aspirasi,
simpati dari masyarakat. Mengupayakan terjadinya kerjasama yang baik antar sekolah dan
masyarakat untuk kebaikan bersama, atau secara khusus bagi sekolah penjalinan hubungan
tersebut adalah untuk mensukseskan program-program yang bersangkutan sehingga sekolah
tersebut bisa tetap eksis.
Jika dilihat dari segi maknanya, hubungan sekolah dan masyarakat memiliki
pengertian yang luas. Sehingga, masing-masing ahli memiliki persepsi yang berbeda,
seperti114 diungkapkan. Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan
Indonesia mengemukakan bahwa: ” hubungan masyarakat dan sekolah merupakan
komunikasi dua arah antar organisasi dengan publik secara timbal balik dalam rangka
mendukung fungsi dan tujuan manajemen dengan meningkatkan pembinaan kerja sama serta
pemenuhan kepentingan bersama.”
Dikatakan E. Mulyasa (2009) mengatakan bahwa salah satu faktor yang
menyebabkan kesenjangan antara sekolah dan masyarakat adalah minimnya informasi yang
bertalian dengan pendidikan di sekolah dan kurang kuatnya hubungan antara masyarakat
dengan pemerintah. Untuk memperoleh dukungan yang lebih luas dari masyarakat perlu
dilakukan upaya sosialisasi yang bertujuan memperkenalkan beragam hal tentang
implementasi kurikulum dan kondisi objektifnya. Hal ini bertujuan agar dapat menarik
berbagai perhatian dari berbagai elemen yang berhubungan dengan manajemen sekolah, agar
terdorong untuk melakukan upaya-upaya peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
Maksud hubungan sekolah dengan masyarakat, dikatakan Sutisna dalam Mulyasa
(2009) yakni untuk mengembangkan pemahaman tentang maksud-maksud dan saran-saran
dari sekolah; untuk menilai program sekolah; untuk mempersatukan orang tua murid dengan
guru dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak didik; untuk mengembangkan kesadaran
tentang pentingnya pendidikan sekolah dalam era pembangunan; untuk membangun dan
memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sekolah; untuk memberitahukan masyarakat
tentang pekerjaan sekolah; dan untuk mengerahkan dukungan dan bantuan bagi pemeliharaan
dan peningkatan program sekolah.
114 Abdullah Idi. Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan. (Raja Grafindo Persada:
Jakarta,2013) hlm. 178.
106
Sekolah juga banyak menggunakan masyarakat sebagai sumber pelajaran
memberikan kesempatan luas dalam mengenal kehidupan masyarakat. Diharapkan agar anak
didik dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarkat, lebih mengenal lingkunagn
sosial, dapat berinteraksi dengan orang lain dengan latar belakang keluarga berbeda, seperti :
sosial-ekonomi, agama, budaya, etnis. Apa yang dipelajari di sekolah hendaknya berguna
bagi kehidupan anak di masyarakat dan didasarkan atas masalah masyarakat. Anak
diharapkan pula lebih serasi dipersiapkan sebagai warga masyarakat.115
Hubungan timbal balik pendidikan di sekolah dan masyarakat sangat besar manfaat
dan artinya bagi kepentingan pembinaan dukungan moral, materiil, dan pemanfaatan
masyarakat sebagai sumber belajar. Bagi masyarakat, dapat mengetahuai beragam hal tentang
sekolah dan inovasi-inovasi yang dihasilkan, menyalurkan kebutuhan berpastisipasi dalam
pendidikan, melakukan tekanan, dan tuntutan terhadap sekolah. Beragam teknik dan media
dapat dilakukan dalam konteks ini, seperti melakukan rapat dan pertemuan, surat
menyurat,buku penghubung, bulletin sekolah, dan kegiatan ekstrakulikuler yang melibatkan
anak didik dan orang tua. Hubungan sekolah dan masyarakat merupakan sarana yang
berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi anak didik di sekolah.
Sekolah, dalam konteks ini, sebagai system sosial yang merupakan bagian integral dari
system yang lebih besar, yakni masyarakat. Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang
lebih erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan dengan efektif dan efisien. Sekolah
juga harus menunjang proses pencapaian tujuan atau pemenuhan kebutuhan masyarakat,
khususnya kebutuhan pendidikan. Sekolah harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan,
harapan, dan tuntutan masyarakat, terutama terhadap sekolah. Dengan singkat, antara sekolah
dan masyarakat perlu dibina dan dikembangkan suatu hubunagn yang harmonis.116
Sebagai upaya dalam mengembangkan hubungan sekolah dan masyarakat, maka
elemen-elemen sekolah, terutama kepala sekolah dan guru-guru, merupakan kunci
keberhasilan yang harus memerhatiakan kebutuhan anak didik, orang tua, dan masyarakat.
Kepala sekolah, dituntut berupaya membina dan mengembangkan hubungan kerja yang baik
antara sekolah dan masyarakat guna mewujudkan sekolah yang efektif dan efisien. Hubungan
yang konstruktif ini akan membentuk: saling pengertian antara sekolah, orang tua,
masyarakat, dan dunia kerja; saling membantu antara sekolah dan masyarakat.
115 Ibid, hlm. 69.
116 Ibid, hlm. 79.
107
Masyarakat sebagai Sumber
108
MASYARAKAT SEBAGAI SUMBER
A. Masyarakat Sebagai Sumber
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia secara manusiawi yang harus
disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta perkembangan zaman117. Dalam hal ini
masyarakat juga sangat berperan dalam pendidikan. bahkan masyarakat juga merupakan
sumber pendidikan.
Di dalam pasal 54 BAB XV tentang peran serta masyarakat dalam pendidikan
adalah sebagai berikut :
1. Peran serta masyarkat dalam pendidikan melipjuti peran serta perorangan, kelompok,
keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam
penyelenggaraan dan pengadilan mutu pelayanan pendidikan.
2. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil
pendidikan118.
3. Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana di maksud pada ayat (1) dan
ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Lalu dilanjutkan dengan pasal 55 BAB XV tentang pendidikan berbasis
masyarakat yakni :
1. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan
formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya
untuk kepentingan masyarakat.
2. Penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan
kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan
standar nasional pendidikan.
3. Dana penyelenggaraan
pendidikan berbasis
masyarakat
dapat
bersumber dari
penyelenggara, masyarakat, pemerintah, pemerintah daerah, dan/ atau sumber lainyang
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.119
117Ary H Gunawan, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hal. 54
118Anselmus, JE Toenlioe, Sosiologi Pendidikan, Rafika Aditama, hlm. 107
119Ibid, hlm 107
109
Hidup dalam masyarakat berarti adanya interaksi sosial dengan orang-orang disekitar
dan demikian mengalami pengaruh dan mempengaruhi orang lain. Masyarakat juga
merupakan suatu kesatuan hidup manusia dalam suatu kelompok yang memiliki suatu sistem
adat istiadat, kebiasaan, norma-norma yang dapat menghasilkan suatu kebudayaan
pendidikan. Dinamika yang terjadi di masyarakat dapat dijadikan sebagai sumber belajar
dalam pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan mulai dari SD, SMPS, SMA bahkan
sampai Perguruan Tinggi.
Selain itu, usaha penting yang dapat dilakukan sekolah ialah menghubungkannya
dengan masyarakat dengan menjadikan masyarakat itu sebagai sumber pelajaran. Bila kita
selidiki lingkungan sekolah dengan radius 1 Km akan kita temukan banyak hal yang dapat
dikaitkan dengan pelajaran, bahkan dijadikan maslah pokok seperti : sawah, kolam, sungai,
bukit, hutan, taman, pabrik, museum, jalan raya, pasar, mesjid, gereja, lapangan olah raga,
gedung tua, makam, kantor pos, terminal, kendaraan umum, bioskop, kantor camat. Dalam
masyarakat terdapat orang yang berasal dari berbagai daerah atau negara, orang yang
melakukan berbagai pekerjaan seperti tukang beca, dokter, petani, pemborong, hakim,
seniman, pedagang, dan sebagainya. Kalau diselidiki lebih lanjut masyarakat sungguhsungguh sangat kaya sebagai sumber pelajaran yang belum atau masih sangat kurang
digarapa disekolah.120
Untuk memperluas hubungan antara sekolah dan masyarakat, gedung sekolah dapat
digunakan oleh masyarakat misalnya untuk pendidikan orang dewasa, pemberantasan buta
huruf, yanag dikenal sebagai program “kejar” (kerja sambil belajar). Sekolah yang banyak
menggunakan masyarakat sebagai sumber pelajaran memberi kesempatan yang luas untuk
mengenal kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Anak-anak melihat hubungan pelajarn
sekolah dengan kehidupan masyarakat dan dengan demikian lebih memahami masyarakat.
Diharapkan agar anak itu lebih sanggup menyesuaikan dirinya dengan masyarakat, lebih
mengenal lingkungan sosialnya, dapat berhubungan dengan orang dari berbagai golongan
agama atau suku bangsa.
Sekolah janganlah terisolasi dari masyarakat. Apa yang dipelajari hendaknya berguna
bagi kehidupan anak dalam masyarakat dan didasarkan atas masalah masyarakat. Dengan
demikian anak lenih serasi di persiapkan sebagi warga-masyarakat.
Pembelajaran berwawasan kemasyarakatan harus didasarkan pada hal-hal berikut ini:
120S, Nasution. Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT Bumi Aksara), hlm. 154
110
1. Kebermaknaan dan Kebermanfaatan bagi peserta didik.
2. Pemanfaatn lingkangan dalam pembekajaran.
3. Materi pembelajaran terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
4. Masalah yang diangkat dalam pembelajarn ada kesesuaian dengan kebutuhan peserta
didik.
5. Menekankan pada pembelajaran partisipatif yang berpusat pada peserta didik.
6. Menumbuhkan kerja sama di antara peserta didik.
7. Menumbuhkan kemandirian.121
B. Lingkungan dan Pendidikan anak
Orang sering mengartikan lingkungan secara sempit, seolah-olah lingkungan
hanyalah alam sekitar diluar dari diri manusia/individu. Lingkungan itu sebenarnya
mencakup segala materil dan stimulu didalam dan diluar diri individu, baik yang bersifat
fisiologi, psikologis, maupun sosial-kultural. dengan demikian, lingkungan dapat diartikan
secara fisiologis, secara psikologis, dan secara sosio-kultural.
Secara fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan materil jasmaniah didalam
tubuh seprti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, sistem saraf, peredaran darah, pernapasan,
pencernaan makanan, kelenjar-kelenjar indokrin, sel-sel pertumbuhan, dan kesehatan
jasmani.
Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima oleh
individu mulai sejak dalam konseksi, kelahiran, sampai matinya. Stimulasi itu misalnya
berupa: sifst-sifat “genes”. interaksi “genes”, selera, keinginan, perasaan, tujuan-tujuan,
minat, kebutuhan, kamauan, emosi, dan kapasitas intelektual.
Secara sosio-kultural, lingkungan mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi
eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup
keluarga, pergaulan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar, pendidikan
pengajaran, bimbingan dan penyuluhan, adalah termasuk sebgai lingkungan ini.122
Lingkungan sekitar tempat tinggal anak snagat mempengaruhi perkembangan
pribadi anak. Di situlah anak itu memperoleh pengalaman bergaul dnegan temen-teman diluar
rumah dan sekolah. Kelakuan anak harus disesuaikan dengan norma-norma yang berlaku
dalam lingkungan itu. Penyimpangan akan segera mendapat teguran agar disesuaikan.
121Ihat, Hatimah. dkk. Pembelajarn Berwawasan Masyarakat, (Tangerang Selatan : Universias Terbuka), hlm.
3.19
122Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta), hlm. 84
111
Lingkungan sekitar rumah memberikan pengaruh sosial pertama kepada anak di luar
keluarga. Di sisi ia mendapat pengalaman unutk mengenal lingkungan sosial baru yang
berlainan dengan yang dikenalnya dirumah. Kata-kata yang diucapkan, tindakan yang
diambil, cara-cara memeperlakukan orang lain berbeda dengan apa yang telah dikenalnya.
Jika ia dirumah menangis atau merengek untuk memndapatkan sesuatu, diluar rumah ia
segera tahu bahwa cara-cara itu tidak berhasil bahkan mendapat ejekan.123
Di lingkungan ini ia berkenalan dengan kelompok yang lebih besar dan dengan
kelompok yang lebih besar dan dengan pola kelakuan yang berbeda. Namun ada pula yang
dipelajarinya dirumah yang dapat digunakan dalam lingkungan ini, dan ada yang perlu
mengalami perubahan dan penyesuaian. Dengan mengalami konflik di sana-sini anak itu
lambat laun mengenal kode kelakuan lingkungan itu dan turut memelihara dan
memeprtahankannya. Dengan demikian sosialisasi anak senantiasa diperluas.
Dalam lingkungan itu ia dapat mempelajari hal-hal yang baik. Akan tetapi ia dapat
juga mempelajari kelakuan yang buruk, bergantung pada sifat kelompoknya. Anak-anak
mudah mempelajari kata-kata kotor dan kasar dari temen-temannya yang sering mengejutkan
hati ibu bila diucapkan dirumah. Daerah anak-anak nakal akan menghasilkan anak-anak yang
nakal pula. Kelakuan sosial anak serta norma-norma lingkungan tempat anak itu bermain dan
bergaul tercermin pada kelakuan anak-anak. Anak adalah tanggung jawab orang tua dan para
pendidik untuk mengusahakan lingkungan yang sehat diluar rumah. Untuk itu perlu kerja
sama dan bantuan seluruh masyarakat.
Berbicara mengenai pendidikan tidak terlepas dari sudut pandang serta pendekatan
yang digunakan. Untuk melihat pendidikan secara utuh maka diperlukan suatu pendekatan
system, sehingga pendidikan dilihat secara menyeluruh dan tidak lagi parsial atau pragmatis.
Pendidikan merupakan suatu proses, dimana proses tersebut dapat berlangsung
dimana dan kapan saja, tidak hanya dalam lingkungan yang formal seperti di sekolah atau
kampus karena pendidikan tidak hanya sekolah atau kuliah. Perkembangan seseorang mulai
dari kecil, remaja sampai dewasa, di sekolah, di masyarakat dan di rumah merupakan proses
pendidikan yang menyeluruh.
Sedangkan menurut UU SPN No. 20 Tahun 2003, Pendidikan merupakan usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual,
123S, Nasution. Op.cit, hlm. 154
112
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Selain itu, menurut Drijarkara pendidikan secara prinsip adalah berlangsung dalam
keluarga. Pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dan ibu yang
merupakan figur sentral dalam pendidikan. ayah dan ibu bertanggung jawab untuk membantu
memanusiakan, membudayakan, dan menanamkan nilai-nilai terhadap anak-anaknya.
Bimbingan dan bantuan ayh dan ibu tersebut akan berakhir apabila sang anak menjadi
manusia sempurna atau manusia purnawan.124
1. Pendidikan berkenaan dengan perkembangan dan perubahan kelakuan anak didik.
Kelakuan manusia pada hakikatnya hampir seluruhnya bersifat sosial, yakni dipelajari
dalam interaksi dengan manusia lainnya. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakan
hasil hubungan kita dengan orang lain dirumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan dan
sebagainya. Bahan pelajaran atau isi pendidikan ditentukan oleh kelompok atau masyarakat.
2. Pendidikan bertalian dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan
dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda.
Masyarakat menjamin kelangsungan hidupnya melalui pendidikan. Agar masyarakat
itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka kepada anggota mudanya harus diteruskan nilainilai, pengetahuan, keterampilan dan bentuk kelakuan lainnya yang diharapkan akan dimiliki
setiap anggota. Tiap masyarakat meneruskan kebudayaan dengan beberapa perubahan kepada
generasi muda melalui pendidikan, melalui interaksi sosial.
3. Pendidikan adalah proses mengajar dan belajar pola-pola kelakuan manusia menurut apa
yang diharapkan masyarakat.
Melalui pendidikan terbentuklah kepribadian seseorang. Boleh dikatakan hampir
seluruh kelakuan individu bertalian dengan atau dipengaruhi oleh orang lain.125
C. Usaha Bersama
Anak itu sebagai makhluk suatu kebulatan dalam pendidikannya. ia dipengaruhi oleh
lingkungan secara keseluruhan, rumah, sekolah, dan lingkungan. Kondisi dirumah dikuasai
orang tua, sekolah diawasi oleh guru, akan tetapi diluar lingkungan rumah dan sekolah adalah
tanggung jawab seluruh masyarakat. Kerja sama instansi diperlukan untuk menciptakan
lingkungan yang sehat bagi anak-anak. Kurangnya perhatian akan apa disebut lingkungan
124Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung : Alfabeta), hlm. 55
125S. Nasution, Op.cit, hlm. 64
113
ketiga ini antara lain menyebabkan banyaknya anak-anak menjadi nakan atau menyimpang
kelakuannya dari norma-norma yang diinginkan masyarakat.126
Agar masyarakat dapat bertindak perlu adanya kepemimpinan. yang memegang
pimpinan tidak selalu perlu mencarinya dari golongan resmi, walaupun bantuan resmi selalu
diperlakukan. Dalam masyarakat banyak tersembunyi pemimpin yang dapat dibangkitkan
bila diberi kesempatan. Seorang pemimpin ialah orang yang dalam situasi tertentu
menunjukkan keahlian, keterampilan atau kemampuan yang menonjol sehingga orang lain
mengakui dan mematuhinya. Dalam situasi lain mungkin orang lain yang tampil sebagai
pemimpin bergantung pada masalah yang dihadapi. Jadi tidak akan dapat seseorang menjadi
pemimpin dalam segala macam situasi. Juga tidak selalu perlu seorang pejabat resmi diangkat
sebagai pemimpin segala sesuatu, sekalipun dukungan adan bantuan pejabat selalu sangat
diperlukan.
Setiap pemimpin harus mengenal seluk-beluk hubungan antara manusia, sanggup
mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual dan menggemblengnya menjadi
kekuatan yang terpadu untuk mencapai tujuan bersama.Ada sikap pemimpin yang sebagai
diktator mengatur dan menguasai segala-segalanya menurut kemauannya sendiri dan
memaksa orang lain untuk mematuhinya.
Yang diinginkan dalam usaha bersama ialah pemimpin yang dapat melibatkan setiap
peserta agar turut maemberi sumbangan pikirannya, daya dan bila perlu dana. Pemimpin
serupa itu memberi dorongan kepada setiap orang untuk mengemukakan pikiran masingmasing secara bebas. ia menrima dan menghargai segala pendapat, juga yang bertentangan
dan kemudian berusaha mencapai suatu kebulatan keputusan yang didasarkan atas segala
sumbangan pikiran yang kontruktif. Jadi seorang pemimpin demokratis tidak menguasai
pikiran orang lain akan tetapi mengundan orang melahirkan buah pikirannya. Dengan
demikian terkumpul hasil pemikiran yang sebaik-baiknya dalam kelompok. Selain itu setiap
orang dilibatkan sehingga usaha atau proyek itu dirasakan sebagai usaha bersama. Dengan
suasana kelompok yang positif ini dapat diharapakan partisipasi yang seluas-luasnya. Bila
semua peserta yakin akan manfaat dan nilai usaha perbaikan lingkungan demi pendidikan
anak maka besar harapan usaha itu akan membuahkan hasil-hasil yang positif.
126Ibid, hlm. 154
114
D. Masyarakat Yang Makin Kompleks
Sebagai pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi perubahan yang
luas serta mendasar dalam semua aspek masyarakat. Semula orang mempunyai harapan yang
optimistis bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sendirinya akan
membawa kemudahan, kemakmuran dan kebahagiaan bagi seliruh umat manusia, maka
teknologi dengan mudah dapat menghasilkan segala sesuatu yang diperlukan oleh setiap
orang bagi kebutuhan hidupnya. Sekarang telah ternyata bahawa yang menimbulkan masalah
bukan kekurangan melainkan kelebihan produksi dalam berbagai macam bidang.127
Kemajuan teknologi tidak dibarengi oleh kemajuan sosial. Dalam bidang emosi,
moral, sikap kasih terhadap sesama manusia, tidak mengalami kemajuan yang sejaajar
dengan kemajuan teknologi itu. Selain itu tiap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
menimbulkan masalah-masalah baru yang lebih kompleks dan lebih sukar untuk diatasi.
Perubahan-perubahan yang cepat dan menyeluruh makin mempersulit manusia
untuk meramalkan atau merencanakan masa depan dunia. Kekuasaan dan kekuatan yang
dilahirkan oleh teknologi moidern demikian dahsyatnya sehingga bila tidak dikontrol dapat
memusnahkan manusia yang menciptakannya.
Kemajuan teknologi juga mengubah manusia itu sendiri . Industrialisasi
mengakibatkan urbanisasi, melemahkan atau melenyapkan pengaruh tradisi dan adat-istiadat,
mengubah hubungan sosial, bahkan melenyapkan identitas manusia terutama dikota besar.
Spesialisasi yang diperlukan oleh industri menghilangkan nilai manusia sebagai kepribadian
yang bulat dalam menghadapi pekerjaanya karena ia hanya menjadi suatu bagian kecil dalam
suatu mesin raksasa. ia bukan lagi berkuasa atas dirinya, malinkan dikusai oleh daya-daya
diluar dirinya. ia diukur dengan nilai uang menurut prestasinya.
Kesadaran kelas perlu ditanamkan dalam diri setiap warga negeri ini. setiap warga
perlu disadarkan, kelas sosial merupakan sebuah realitas sosial, dan bila dikelola dengan baik
akan bermanfaat dalam memajukan kehidupan bersama. melalui pengembangan kesadaran
kelas, diharapkan tiap warga negara menyadari posisinya dalam stratifikasi sosial negeri ini,
proses dirinya menempati posisi startifikasi itu, hak dan kewajibannya dalam posisi strata
yang ditempatinya, serta peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan status sosial
baru.
127Ibid, hlm 157
115
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakibatkan munculnya
perubahan dalam masyarakat. Semakin maju perkembangan dalam masyarakat maka semakin
banyak pula keperluan yang harus dipenuhi.
Masyarakat modern dalam lingkungan kebudayan ditandai dengan perkembangan
kemajuan ilmu dan teknologi untuk menghadapi keadaan sekitarnya. Menurut R. Tilaar (1979
: 17), ada beberapa indicator masyarakat modern dan disimpulkan oleh penulis (kelompok)
sebagai berikut :
1. Saling mempengaruhi antara manusia dan lingkungan dengan tujuan menciptakan
perubahan secara timbal balik
2. Usaha untuk mengeksplorasi lingkungan dalam rangka untuk mengatasi tantangantantangan yang ditimbulkan dari lingkungan itu sendiri.
3. Dorongan rasa ingin tahu dan ingin mengatasi tantangan-tantangan menyebabkan
manusia ingin mengusasi lingkungan
4. Berpikir lebih objektif dan rasional
5. Selalu berusaha untuk memahami semua gejala yang dihadapi dan bagaimana
mengorganisasikannya sehingga kehidupannya lebih baik
Dalam masyarakat modern segala sesuatu diusahakan atau dikerjakan dengan
sungguh-sungguh serta rasional sehingga menyebabkan selalu timbul pertanyaan dalam
masyarakat apakah kegunaan sesuatu bagi usaha menguasai lingkungan sekitarnya. Akibat
dari kehidupan tersebut, maka akan timbul sikap dalam masyarakat modern, diantaranya :
1. Terlalu percaya dengan peralatan dan teknik yang berjalan secara mekanis sebagai satu
hasil pemikiran manusia (Ilmu pengetahuan). Dalam hal ini masyarakat tergolong dalam
paham positivisme
2. Berbuat dan bertindak sesuai dengan rencana yang terperinci sehingga tidak jarang
manusia dikendalikan oleh rencana yang disusunnya.
3. Simbol rasa kehilangan orientasi dan jati diri yang dapat melemahkan kehidupan bathin
dan keagamaan.
Tanpa disadari masyarakat modern semakin tergantung pada alat dan teknologi yang
diciptakan untuk menguasai dunia sekitarnya. Tidak jarang mereka kehilangan identitas
karena sudah dikuasai oleh mekanisme yang mereka ciptakan sehingga mereka hidup tanpa
jiwa dan tanpa kekuasaan.
Yang paling fundamental dalam masyarakat modern adalah kepercayaan akan
kemajuan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, masa depan bersifat terbuka. Mereka percaya
116
bahwa kondisi kemanusiaan, fisik, spiritual dapat diperbaiki dengan penggunaan sain dan
teknologi.
E. Tugas sekolah dimasa modern
Dalam dunia yang kian kompleks tak dapat tiada sekolah menghadapi tugas yang kian
sulit pula. Manusia yang bagaimanakah yang harus dihasilkan oleh sekolah agar dapat
mempertahankan diri dan memperoleh kebahagiaan hidup dalam dunia yang cepat berubah
dan bertambah kompleks?
Apakah sekolah harus mempersiapkan anak agar memiliki keterampilan teknis,
misalnya mengutamakan sekolah kejuruan dan bidang studi matematika dan ilmu
pengetahuan alam? Ataukah kita mengikuti sikap optimisme dengan menaruh kepercayaan
akan kemampuan teknologi dan ilmu pengetahuan membawa manusia kearah kebahagiaan?
Kebanyakan orang melihat banyaknya dan besarnya masalah-masalah yang
diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menyadari impliksainya
bagi pendidikan. Spesialisasi yang dituntut pada zaman modern ini dalam segala bidang
menyebabkan maka individu hanya dapat berkomunikasi dengan orang dalam spesialisasi
yang sama dan dengan demikian mengisolasikannya dari anggota masayarakat lain.
Berhubungan dengan itu perlu dipertimbangkan apakah tidak perlu lebih banyak diberi
perhatian kepada pendidikan umum.128
Kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat menyebabkan maka ilmu segera menjadi
usang. Oleh sebab itu perlu diberi lebih banyak tekanan kepada konsep-konsep dan prinsipprinsip kemampuan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah. Juga dalam menghadapi
masalah yang kompleksperlu diberi kemampuan untuk melihat esensinya dalam bentuk yang
lebih sederhana.
Masalah yang lebih sulit dihadapi ialah soal nilai-nilai dalam dunia maya yang cepat
berubah ini. Ada bahaya bahwa dengan mengutamakan berbagai aspek matematika dan ilmu
pengetahuan alam, aspek moral dan sosial diabaikan. Demikian pula penekanan pada prestasi
teknologi dan material dapat mengurangi rasa tanggung jawab atas akibatnya terhadap
kehidupan manusia. Para ilmuwan tidak selalu melihat hubungan antara pengetahuan ilmiah
dengan tujuan hidup yang fundamental. Maka karena itu disekolah sejak mulanya harus
diajarkan kaitan antara ilmu dan etika, antara pengetahuan dan moral.
128Ibid, hlm 158
117
Kepandaian, ilmu, harus senantiasa dilihat dalam hubungannya dengan kesejahteraan
manusia. Pendidikan termasuk pengajaran matematika dan eksakta harus diresapi oleh nilainilai moral sosial. Demi keselamatan dunia, manusia harus belajar untuk mengatasi
pertentangan dan perbedaan pendapat secara rasional, dalam suasanagotony-royong, penuh
disiplin pribadi, dengan mengatasi egoisme dan etnosentrisme. dalam proses belajarmengajar kiranya perlu lebih banyak diperhatikan metode kelompok dan interaktif.
Kemajuan teknologi memudahkan transportasi dan komunikasi dan dengan demikian
menciutkan dunia ini, sehingga tidak ada lagi temapt yang ajuh. Komunikasi juga
memperdekat bangsa-bangsa, bahkan menimbulkan saling kebergantungan bangsa yang satu
dengan bangsa yang lain, sehingga dunia ini menuju suatu masyarakat dunia yang
beranggotakan bangsa-bangsa atau negara-negara yang ada.129
Tidak mungkin lagi suati negara menjalankan politik isolasi. Setiap masalah suatu
bangsa banyak sedikit menjadi masalah dunia. setiap peristiwa penting di suatu negara
mengundang campur tangan negara-negara lain.
Tugas pendidikan dalam masyarakat adalah membangkitkan rasa ingin tahu
intelektual, yaitu perhatian terhadap pengetahuan yang terpisah dari aplikasi praktisnya. Hal
ini sangatlah tidah mudah, karena diperlukan sikap, disiplin dan intelektual yang tidak
bersifat pragmatis, instant dan serba cepat.
Dengan adanya perbandingan pendidikan dalam masyarakat ini dieperolah
perbandingan yang lebih seimbang kritis mengenai sisstem pendidikan kita. Jelas, bahwa
dalam pendidikan tidak bias memindahkan praktek-praktek yang komplek kedalam
kebudayaan yang lebih komplek dan besar dan mengharapkan akan hasil. Sebaliknya sukses
masyarakat
sederhana
dalam
mengurus
aspek-aspek
tertentu
dalam
mendorong
pendidikannya, akan mendorong kita untuk mengatasi masalah-masalah pendidikan kita
seperti masalah mengintegrasikan anak-anak kedalam komunitas kedalam lingkungannya dan
membangkitkan minat, motivasi serta perhatian siswa selama masa pendidikan merupakan
permasalahan-permasalahan yang perlu dicarai solusinya dengan prespektif dan optimisme
yang lebih besar.
Sekolah tidak lepas dari masyarakat. Sekolah didirikan untuk mendidikanak menjadi
warga Negara yang berguna dalam masyarakat. Tetapi disamping itu masyarakat atau
lingkungan dapat merupakan laboratorium yang penuh kemungkinan untuk memperkaya
129 Ibid, hlm 159
118
pengajaran, itu sebabnya setiap guru harus mengenal masyarakat dan lingkungannya dan
menggunakan secara fungsionil dalam pelajarannya.130
Dalam study masyarakat tentunya akan disampaikan minimal beberapa metode yang
selama ini kita jumpai dalam praktek setiap hari. Beberapa metode-metode tersebut
diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Karyawisata
Karyawisata atau Field Trip dalam pengetahuan pendidikan adalah kunjungan siswa
keluar sekolah untuk mempelajari obyek tertentu sebagai bagian integral dari kurikulum
disekolah atau dengan kata lain bahwa karya wisata adalah suatu kunjungan ke suatu tempat
diluar kelas yang dilaksanakan sebagai integral dari seluruh kegiatan akademis dan terutama
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Karyawisata pada umumnya didorong oleh motivasimenjadi keterangan tentang hal
tertentu, melatih sikap anak, membangkitkan minat anak, mengembangkan apresiasi,
menikmati serta pengalaman-pengalaman baru.
2.
Survey Masyarakat (Community Survey)
Van Dalen mengatakanbahwa survey merupakan bagian dari studi deskriptif yang
bertujuan untuk mencari kedudukan atau status fenomena dan menentukan kesamaan status
dengan cara membandingkan dengan standar yang sudah ditentukan. Yang termasukstudi
survey adalah survey sekolah, job analysis, analisis dokumen, public opinion, survey dan
komuniti.
Metode
yang
digunakanadalahmetodekunjunganpendidikanatau
source
visitor,
yaitudenganmengundangseseorangdalammasyarakatkesekolahuntukdijadikansumberpengajar
an.Sebaliknyakitadapatmenggunakanmetodelainnyaialahdenganmengunjunginyadengantekni
k interview atauteknikobservasi.Keduateknikinibiasatercakupdalammetode survey.
3.
Manusia sumber
Manusia sumber atau nara sumber yaitu mengundang tokoh masyarakat kesekolah
untuk memberikan penjelasan mengenai keahliannya didepan para siswa. Dengan kata lain
seorang narasumbe radalah orang yang berpengalaman tertentu yang membagikan
pengalamannya yang khusus itu kepada para siswa yang diaundang ke sekolah dalam rangka
program pendidikan.131
4.
Proyek pelayanan terhadap masyarakat
130http://semutuyet.blogspot.co.id/2012/03/fungsi-dan-peranan-pendidikan-dalam.html
131Sadiman,Arief S, dkk. Media Pendidikan. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 45-47.
119
Service Project berarti memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui berbagai
kegiatan sekolah, masyarakat dapat merasakan manfaat, keuntungan tertentu, masyarakat
bukan hanya memperbaiki dan membantu program sekolah, tetapi diperbaiki dan dibantu
oleh sekolah. 132
5.
Berkemah
Berkemah adalah termasuk kegiatan sekolah. Program ini dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan siswa dalam mengikuti perkembangan masyarakat yang berubah secara
cepat. Berkemah akan mengembangkan pemahaman atas benda-benda, peristiwa-peristiwa,
lingkungan sosial dan lingkungan alam yang realitis dan kongrit. Berkemah bisa dilakukan
selama 1 hari, 2 hari, 3 hari atau bahkan seminggu dan pelaksanannya biasa dilakukan pada
hari libur( diluar jam sekolah).
Dalam perkemahan ini siswa dilatih kemandirian, kreatif, kedisiplinan, kekuatan fisik,
keberanian dan lain-lain. Seperti memasak, membuat rumah dari tenda, mencari jejak,
menelusuri hutan, bakti sosial, bermain tali temali, permaianan sandi dan sebagainya, yang
kesemuanya itu melatih siswa untuk belajar senang dan semangat.
6.
Kerja pengalaman
Kerja pengalaman atau kerja lapangan ini memungkinkan siswa memperoleh
pengalaman praktis sebagai persiapan untuk hidup di dalam masyarakat kelak. Kerja
lapangan bermaksud memberikan kesempatan kepada siswa melakukan aktivitas dalam
kondisi aktual, atau dengan kata lain kerja lapangan atau praktik lapangan dilakuakan oleh
para siswa untuk memperolah pengetahuan dan kecakapan khusus.
Dalam pendapat lain kegunaan teknologi dalam pendidikan disekolah dinyatakan
sebagai berikut :
1. Meningkatkan produktivitas pendidikan
2. Memungkinkan pendidikan individual
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran
4. Lebih memantapkan pengajaran
5. Memungkinkan belajar seketika
6. Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata.133
132Syukur, Fatah. 2008. Teknologi Pendidikan. Semarang : Rasail.
133Kelvin Seifert, Manajemen Pembelaaran & Pendidikan (Manajemen Mutu Psikologi Pendidikan Para
Pendidik ),(Jogjakarta: IRCiSoD, 2007), hlm. 30-32.
120
Daftar Pustaka
Abdullah Idi. Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan. Raja Grafindo
Persada: Jakarta. 2013.
Adri Efferi. Materi dan Pembelajaran Qur‟an Hadist MTs – MA. STAIN Kudus: Kudus.
2009.
Ahmad Ruhani, Administrasi Pendidikan Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.
Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan,Jakarta, Rineka Cipta, 2010.
Buchari Alma, et.al, Guru Profesional, Bandung: Alfabeta, 2009.
Damsar. Pengantar Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Kencana. 2012.
Dean Nielsen.
Memetakan
Konsep
Pendidikan
Berbasis
Masyarakat
di
Indonesia. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. 2011.
Gordon Marshall. A Dictionary of Sociology, New York: Oxford University Press. 1998.
Gunawan, Ary H. Sosiologi Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta. 2000.
Hamdani. Dasar-dasar Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia. 2011.
Jurnal Pendidikan Madrasah, Volume 1, Nomor 1, 2016
Jurnal Pendidikan Madrasah, Volume 13 No.1, Agustus 2013.
Jurnal Sosiologi (pengertian masyarakat dalam pandangan ahli)
Madani, Ahmad, Kompetensi Guru (Menurut Peraturan dan Pandangan Islam), AnNahdhah, Jurnal Pendidikan dan Hukum. STAI Ma‟arif Jambi.
Maunah Binti. Sosiologi Pendidikan, Yogyakarta : Kalimedia. 2016.
Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2010.
Nasution, S. Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara. 2001.
Nasution, Teknologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992.
Rifa‟i Muhammad. Kebudayaan, Yogyakarta : Ar-ruzz media. 2011.
Rifa‟I, Muhammad, Sosiologi Pendidikan, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.
Sidi Gazalba. Masyarakat Islam: Pengantar Sosiologi & Sosiografi, Jakarta: Bulan Bintang.
1976.
Soekanto Soerjono. Sosiologi suatu pengantar, Jakarta:Rajawali Pers. 2012.
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2006.
Sulthon. Ilmu Pendidikan. STAIN Kudus: Kudus. 2011.
121
Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung:
Alfabeta, 2011.
Udin Syaifudin Saud, Pengembangan Profesi Guru, Bandung: Alfabeta, 2012.
Download