social issues studented by students based on

advertisement
1
SOCIAL ISSUES STUDENTED BY STUDENTS BASED ON
ECONOMIC LEVEL OF PARENTS VIII
IN SMPN 4 PEKANBARU
Gusthia Fischarini1, Raja Arlizon2, Tri Umari3
Email: [email protected], [email protected], [email protected],
No. Hp: 081261359871, 08127653325, 08126858328.
Study Program Guidance and Counseling
Faculty of Teacher Training and Counseling
University of Riau
Abstract: The purpose of this study is to find out the general picture of the social
problems of students, the picture of social problems of students with very high economic
background, the picture of social problems of students with high economic background,
the picture of social problems of students with a medium economic background , And to
know the description of social problems of students with low economic background, in
SMP Negeri 4 Pekanbaru. Technique of data retrieval in this research using
questionnaire method, to collect data of social problem that experienced by student
based on economic level of parent. Research subjects are all students of class VIII SMP
Negeri 4 Pekanbaru which amounted to 361 people. Determination of sample by using
Saturation Sampling technique. Data analysis was done by using qualitative method
with descriptive approach. Where researchers chose class VIII students because of the
results of the phenomenon in the field. The results showed that the social problems
experienced by students in general are in the category no problem that is equal to
48.75%, social problems with very high economic background is in the category enough
problematic 60.00%, social problems with economic background High is in the
category of no problem at 50.00%, social problems with economic background are in
the category of quite problematic 55.00%, and on social problems with low economic
background is in the category no problem of 48.79%.
Key Words: Social problems, economic
2
MASALAH-MASALAH SOSIAL YANG DIALAMI SISWA
BERDASARKAN TINGKAT EKONOMI ORANGTUA
KELAS VIII DI SMPN 4 PEKANBARU
Gusthia Fischarini1, Raja Arlizon2, Tri Umari3
Email: [email protected], [email protected], [email protected],
No. Hp: 081261359871, 08127653325, 08126858328
Program Studi Bimbingan dan Konseling
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau
Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran secara umum
masalah-masalah sosial siswa, gambaran masalah-masalah sosial siswa dengan latar
belakang ekonomi sangat tinggi, gambaran masalah-masalah sosial siswa dengan latar
belakang ekonomi tinggi, gambaran masalah-masalah sosial siswa dengan latar
belakang ekonomi sedang, dan untuk mengetahui gambaran masalah-masalah sosial
siswa dengan latar belakang ekonomi rendah, di SMP Negeri 4 Pekanbaru. Teknik
pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan metode kuesioner, untuk
mengumpulkan data masalah-masalah sosial yang dialami siswa berdasarkan tingkat
ekonomi orangtua. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 4
Pekanbaru yang berjumlah 361 orang. Penentuan sampel dengan menggunakan teknik
Sampling Jenuh. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan deskriptif. Dimana peneliti memilih siswa kelas VIII dikarenakan
dari hasil fenomena dilapangan. Hasil penelitian menunujukkan bahwa masalahmasalah sosial yang dialami siswa secara umum berada pada kategori tidak bermasalah
yaitu sebesar 48.75%, masalah-masalah sosial dengan latar belakang ekonomi sangat
tinggi berada pada kategori cukup bermasalah sebesar 60.00%, masalah-masalah sosial
dengan latar belakang ekonomi tinggi berada pada kategori tidak bermasalah sebesar
50.00%, masalah-masalah sosial dengan latar belakang ekonomi sedang berada pada
kategori cukup bermasalah sebesar 55.00%, dan pada masalah-masalah sosial dengan
latar belakang ekonomi rendah berada pada kategori tidak bermasalah sebesar 48.79%.
Kata Kunci: Masalah Sosial, Ekonomi
3
PENDAHULUAN
Sekolah suatu lembaga pendidikan, sebagaimana telah diketahui bertujuan untuk
mempersiapkan dan menghasilkan tenaga untuk mengisi formasi-formasi yang
dibutuhkan oleh masyarakat atau pemerintah. Hal ini berarti bahwa suatu sekolah atau
lembaga pendidikan tertentu diharapkan adalah manusia Indonesia yang memiliki
kualifakasi ahli baik secara akademis maupun profesional. Ditinjau dari segi tujuan
pendidikan nasional yang telah digariskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia
No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dikemukakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Siswa sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses
berkembang yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian mereka selalu
melakukan interaksi sosial. Proses perkembangan siswa tidak selalu berlangsung secara
mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu
berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai
yang dianut.
Lembaga pendidikan diharapkan dapat memberikan konstribusi dalam membina
hubungan sosial siswa. Hasil hubungan sosial siswa di sekolah mencakup kemampuan
siswa dalam berinteraksi atau berhubungan dalam lingkungan sekolah. Melalui hasil
interaksi tersebut diharapkan terjadi sebuah perubahan pada diri siswa dalam
kecenderungan bertingkah laku. Interaksi siswa diharapkan memiliki sebuah bentuk
hubungan yang baik antara individu dengan lingkungannya. Oleh karena itu
kemampuan hubungan sosial siswa diharapkan dapat berkembang secara wajar sesuai
dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada pada lingkungan. Namun pada
kenyataanya tidak sedikit siswa yang mengalami kegalalan dalam menjalin hubungan
sosial, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari hubungan antara satu dengan
yang lainnya. Sebagai makhluk sosial kita tidak dapat hidup sendiri, kita membutuhkan
individu dan kelompok untuk bertukar pikiran. Kita sebagai individu yang hidup
bersosial diwajibkan untuk memiliki kesadaran dan kewajiban sebagai anggota
kelompok dalam masyarakat. Jika tidak ada kesadaran atas pribadi masing-masing,
maka peran sosial tidak dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Jika proses
sosial tidak berjalan dengan baik maka akan timbul masalah sosial. Masalah sosial
dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai suatu kondisi yang tidak
diharapkan. Masalah sosial dapat berupa kebutuhan-kebutuhan sosial maupun biologis.
Masalah sosial dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan pergaulan dalam masyarakat,
sedangkan kebutuhan biologis disebabkan kebutuhan-kebutuhantersebut sulit atau tidak
lagi terpenuhi.
Masalah sosial tidak hanya terjadi di kalangan atau dilingkungan masyarakat
saja. Di lembaga pendidikan sering kita jumpai berbagai permasalahan, salah satunya
adalah masalah sosial. Masalah-masalah sosial yang dialami siswa di sekolah tentunya
akan menghambat perkembangannya di sekolah tersebut. Sehingga perkembangan
sosialnya menjadi tidak wajar. Kemampuan interaksi siswa yang memiliki masalah
hubungan sosial semakin rendah, misalnya siswa hanyamementingkan diri sendiri, tidak
4
ada tata karma, tidak saling menegur, serta tidak saling peduli satu sama lain. Di
samping itu juga terdapat kecenderungan siswa untuk membuat kelompok teman sebaya
yang sesuai dengan latar belakang ekonomi, dalam hal ini siswa membentuk kelompok
sejenis seperti siswa yang berasal dari golongan orang kaya yang tidak mau berteman
dengan orang yang tidak mampu. Menurut Nurihsan (2006) mengemukakan masalah
sosial yang di sekolah adalah kurang menyenangi kritikan orang lain, kurang
memahami tata karma (etika) pergaulan, kurang berminat berpartisipasi dalam kegiatan
sosial, dan merasa malu untuk berteman dengan lawan jenis.
Status ekonomi keluarga juga dapat mempengaruhi sosial peserta didik di
sekolah. Tingkat ekonomi seseorang menentukan kelas sosialnya di dalam pembentukan
kelompok sebayanya. Biasanya mereka yang kurang mampu akan sulit diterima dalam
kelompok orang kaya, begitu juga sebaliknya orang kaya sulit untuk masuk ke dalam
kelompok orang kurang mampu (miskin). Selain. Anak yang tidak mampu
mengendalikan diri yang tergolong ke dalam ekonomi rendah cenderung akan merasa
malu untuk bergabung dengan teman-teman yang memeiliki ekonomi menengah ke
atas, menarik diri, lebih suka menyendiri. Permaslahan ekonomi dalam keluarga akan
mengganggu kelancaran pendidikan dakn sosial anak di sekolah.
Tingkat pendidikan orang tua, tingkat ekonomi, sikap keluarga terhadap
masalah-masalah sosial dan realita kehidupan merupakan faktor yang akan memberi
pengalaman kepada anak dan menimbulkan perbedaan dalam minat, apresiasi sikap dan
pemahaman ekonomis, pembendaharaan bahasa, cara berkomunikasi dengan orang lain,
motif berfikir, kebiasaan berbicara dan pola hubungan kerjasama dengan orang lain.
Perbedaan-perbedaan ini akan sangat berpengaruh dalam tingkah laku dan perbuatan
dalam bersosial siswa di sekolah.
Berdasarkan hasil penelitian Sri Suwartini (2004) tentang hubungan
interpersonal siswa ditinjau dari tingkat ekonomi keluarga di man Yogyakarta III
ditemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat ekonomi keluarga
dengan hubungan interpersonal siswa. Hasil penelitian Cristedi Permana Barus (2012)
tentang sosial ekonomi keluarga dan hubungannya dengan kenakalan remaja di desa
lantasan baru kecamatan patumbak kabupaten deli serdang menunjukkan bahwa sosial
ekonomi keluarga mempunyai hubungan dangan maraknya tindak kenakalan remaja di
Desa lantasan Baru Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang. Berdasrkan
penelitian Benny Wicaksono (2013) tentang perbedaan kenakalan remaja ditinjau dari
status sosial ekonomi orang tua menunjukkan hasil ada perbedaan yang signifikan
antara kenakalan remaja ditnjau dari status ekonomi rendah dan tinggi. Penelitian Hesti
tentang perilaku agresif pada remaja putri berdasarkan status sosial ekonomi
menunjukkan hasil bahwa tidak ada perbedaan perilaku agresif antara status ekonomi
tinggi dan status ekonomi bawah.
Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti selama mengajar di SMP Negeri 4
Pekanbaru adanya fenomena-fenomena yang terjadi di sekolah. Hal ini ditandai dengan
berbagai macam siswa yang tampak:
1. Adanya siswa yang berteman hanya dengan orang-orang yang selevel atau tingkat
ekonomi yang sama (ekonomi tinggi hanya mau bergaul dengan orang yang memiliki
ekonomi tinggi pula).
2. Adanya siswa yang kurang suka dan kurang berminat dalam kegiatan sosial,
contohnya seperti osis, ekstrakurikuler bidang seni, olahraga).
3. Adanya siswa yang tidak mempunyai teman akrab atau sahabat, dikarenakan kurang
pandai bergaul.
5
4.
5.
6.
7.
Adanya siswa yang sering menggang atau diganggu temannya.
Adanya siswa yang kurang pandai dalam berkomunikasi.
Adanya siswa yang kurang memperhatikan kepentingan orang lain.
Adanya siswa yang kurang peduli terhadap lingkungan.
Berdasarkan pemaparan terhadap fenomena-fenomena di atas maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut. Peneliti mengangkat judul
“Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa Berdasarkan Tingkat Ekonomi Orangtua
Kelas Viii Di Smp Negeri 4 Pekanbaru”
Adapun rumusan masalah dalam penilitian ini yaitu (1) Bagaimanakah gambaran
secara umum masalah-masalah sosial siswa? (2) Bagaimanakah gambaran masalahmasalah sosial siswa dengan latar belakang ekonomi sangat tinggi? (3) Bagaimanakah
gambaran masalah-masalah sosial siswa dengan latar belakang ekonomi tinggi? (4)
Bagaimanakah gambaran masalah-masalah sosial dengan latar belakang ekonomi
sedang ? (5) Bagaimanakah gambaran masalah-masalah sosial dengan latar belakang
ekonomi rendah?
Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui gambaran secara umum
masalah-masalah sosial siswa. (2) Untuk mengetahui gambaran masalah-masalah sosial
siswa dengan latar belakang ekonomi sangat tinggi. (3) Untuk mengetahui gambaran
masalah-masalah sosial siswa dengan latar belakang ekonomi tinggi. (4) Untuk
mengetahui gambaran masalah-masalah sosial siswa dengan latar belakang ekonomi
sedang. (5) Untuk mengetahui gambaran masalah-masalah sosial siswa dengan latar
belakang ekonomi rendah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan
deskriptif, sasaran dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 4
Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran masalah-masalah sosial
yang dialami siswa secara umum, dan untuk mengetahui gambaran masalah-masalah
sosial yang dialami siswa berdasarkan tingkat ekonomi orangtua.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Secara Umum Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa
Tabel 1 Gambaran Umum Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa
No
1.
2.
3.
Kategori
Bermasalah
Cukup Bermasalah
Tidak Bermasalah
Jumlah
Sumber: Data Olahan Penelitian, 2017
Rentang Skor
14-20
7-13
0-6
F
%
26
159
176
361
7.20%
44.04%
48.75%
100%
6
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gambaran masalahmaslaah sosial yang dialami siswa yang dominan adalah pada kategori tidak bermasalah
yaitu 48.75%, kemudian pada kategori cukup bermasalah yaitu 44.04% dan pada
bermasalah yaitu 7.20%.
Gambaran Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa Dengan Latar Belakang
Ekonomi Sangat Tinggi
Tabel 2. Gambaran Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa Dengan Latar
Belakang Ekonomi Sangat Tinggi
No
1.
2.
3.
Kategori
Rentang Skor
Bermasalah
Cukup Bermasalah
Tidak Bermasalah
Jumlah
Sumber: Data Olahan Penelitian 2017
10-13
5-9
0-4
F
%
4
18
8
30
13.33%
60.00%
26.66%
100%
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gambaran masalahmaslaah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang ekonomi sangat tinggi yang
dominan adalah pada kategori cukup bermasalah yaitu 60.00%, kemudian pada kategori
tidak bermasalah 26.66%, dan pada kategori bermasalah 13.33%.
Gambaran Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa Dengan Latar Belakang
Ekonomi Tinggi.
Tabel 3. Gambaran Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa Dengan Latar
Belakang Ekonomi Tinggi
No
1.
2.
3.
Kategori
Rentang Skor
Bermasalah
14-19
Cukup Bermasalah
7-13
Tidak Bermasalah
0-6
Jumlah
Sumber: Data Olahan Penelitian, 2017
F
%
10
42
52
104
9.61%
40.38%
50.00%
100%
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gambaran masalahmaslaah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang ekonomi tinggi yang dominan
adalah pada kategori tidak bermasalah yaitu 50.00%, kemudian pada kategori cukup
bermasalah 40.38%, dan pada kategori bermasalah 9.61%.
7
Gambaran Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa Dengan Latar Belakang
Ekonomi Sedang.
Tabel 4. Gambaran Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa
Dengan Latar Belakang Ekonomi Sedang
Kategori
No
1.
2.
3.
Rentang Skor
Bermasalah
12-17
Cukup Bermasalah
6-11
Tidak Bermasalah
0-5
Jumlah
Sumber: Data Olahan Penelitian 2017
F
%
5
11
4
20
25.00%
55.00%
20.00%
100%
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gambaran masalahmaslaah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang ekonomi sedang yang
dominan adalah pada kategori cukup bermasalah yaitu 55%, kemudian pada kategori
tidak bermasalah 20%, dan pada kategori bermasalah 25%.
Gambaran Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa Berdasarkan Tingkat
Ekonomi Rendah.
Tabel 5. Gambaran Masalah-Masalah Sosial Yang Dialami Siswa
Dengan Latar Belakang Ekonomi Rendah.
No
1.
2.
3.
Kategori
Rentang Skor
Bermasalah
14-20
Cukup Bermasalah
7-13
Tidak Bermasalah
0-6
Jumlah
Sumber: Data Olahan Penelitian 2017
F
%
14
92
101
207
6.76%
44.44%
48.79%
100%
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gambaran masalahmaslaah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang ekonomi rendah yang dominan
adalah pada kategori tidak bermasalah yaitu 48.79%, kemudian pada kategori cukup
bermasalah 44.44%, dan pada kategori bermasalah 6.76%.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang masalah-masalah sosial yang dialami siswa
berdasarkan tingkat ekonomi orangtua berada pada tingkat tidak bermasalah atau dapat
dikatakan bahwa sebagian besar siswa tidak memiliki masalah sosial. Dari 361
responden176 responden yang berada pada kategori tidak bermasalah. Pada masalah-
8
masalah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang ekonomi sangat tinggi berada
pada tingkat sedang atau cukup bermasalah. Responden yang tergolong ke dalam
ekonomi sangat tinggi sebanyak 30 dan 18 responden yang cukup bermasalah.
Selanjutnya pada masalah-masalah sosial yang dialami siswa berdasarkan ekonomi
tinggi berada pada tingkat rendah atau tidak bermasalah. Responden yang tergolong ke
dalam ekonomi tinggi sebanyak 104 dan 52 responden yang tidak bermasalah.
Kemudian pada masalah-masalah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang
ekonomi sedang berada pada tingkat sedang atau cukup bermasalah. Responden yang
tergolong ke dalam ekonomi sedang sebanyak 20 dan 11 responden yang cukup
bermasalah. Dan pada masalah-masalah sosial yang dialami siswa dengan latar
belakang ekonomi rendah berada pada tingkat rendah atau tidak bermasalah. Responden
yang tergolong ke dalam ekonomi rendah sebanyak 207 dan 101 responden yang tidak
bermasalah.
Menurut W.A Garungan (2004) keadaan ekonomi keluarga dapat juga berperan
terhadap perkembangan anak. Misalnya anak yang orangtuanya berpenghasilan cukup,
maka anak tersebut lebih banyak memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan
bermacam-macam kecakapan, seperti ia mampu bergabung atau bersosialisasi dengan
teman sebayanya atau kelompok bermainnya. Begitu pula sebaliknya, orangtua yang
tingkat ekonominya menengah ke bawah atau kurang berkecukupan maka anak akan
kurang mendapat kesempatan untuk bersosialisasi. Ada sebagian orangtua yang
menyuruh anaknya untuk bekerja setelah pulang sekolah untuk menambah pendapatan
biaya hidup. Sehingga waktu anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya akan
menjadi berkurang. Hubungan sosial anak berdasarkan tingkat ekonominya cenderung
berbeda. Namun status ekonomi orangtua juga tidak dapat dikatakan sebagai faktor
mutlak yang mempengaruhi sosial anak.
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
Simpulan
Berdasarkan penelitian dan hasil pengolahan data yang telah dilakukan peneliti,
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut (1) Masalah-masalah sosial secara umum
yang dialami siswa menunjukkan proporsi pada tingkat yang rendah atau tidak
bermasalah. (2) Masalah-masalah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang
ekonomi sangat tinggi menunjukkan proporsi pada tingkat sedang atau cukup
bermasalah. (3) Masalah-masalah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang
ekonomi tinggi menunjukkan proporsi pada tingkat rendah atau tidak bermasalah. (4)
Masalah-masalah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang ekonomi sedang
menunjukkan proporsi pada tingkat sedang atau cukup bermasalah. (5) Masalahmasalah sosial yang dialami siswa dengan latar belakang ekonomi rendah menunjukkan
proporsi pada tingkat rendah atau tidak bermasalah.
9
Rekomendasi
Adapun rekomendasi dari penulis adalah (1) Kepada guru BK diharapkan dapat
memberikan bimbingan kepada siswa dalam meningkan hubungan sosial. (2) Kepada
siswa diharapkan mampu mengenali dan menangani masalah-masalah yang dihadapinya
sehingga dapat meminimalisir masalah-masalah sosial yang akan terjadi. (3) Kepada
peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini secara mendalam
dan intensif.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Ahmadi. 2003. Ilmu Sosial Dasar. PT Rineka Cipta. Jakarta
Abu Ahmadi. 1999. Psikologi Sosial. Rineka Cipta. Jakarta
Anas Sudijono. 2008. Pengantar Statistik Pendidikan. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Anwar Kurnia. 2007. Ips Terpadu. Yudhistira: Jakarta.
Bank
Dunia.
http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikelpajak/21014-penghasilan-kelas-menegah-naik-potensi-pajak.
Benny Wicaksono. 2013. Perbedaan Kenakalan Remaja Ditinjau Dari Status Sosial
Ekonomi Orang Tua. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Bimo Walgito. 2003. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Andi Offset: Jakarta.
Brian Tracy. 2005. Finansial Sukses. PT Delapratasa Publishing.
Cristedi Permana Barus. 2012. Sosial Ekonomi Keluarga Dan Hubungannya Dengan
Kenakalan Remaja Di Desa Lantasan Baru Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli
Serdang.
Fahrur Rozi. 2012. Hubungan Sosial Kaum Remaja Dalam Jamaah Salawat (Pecinta
Rasul) Di Desa Mejing Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Skripsi.
Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN Salatiga.
Friedman. 2010. Keperawatan Keluarga. EGC: Jakarta.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar Mengajar. Sinar Baru Grasindo: Bandung.
10
Hesti Septiyanti Eka Supono. Perilaku Agresif Pada Remaja Putri Yang Berbeda Status
Sosial Ekonomi. Skripsi
Laeni Novita Amin. 2016. Pengaruh Hubungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Pilihan
Melanjutkan Pendidikan Ke SMP N 5 Di Desa Bukit Gemuruh Kecamatan Way
Tuba Kabupaten Way Kanan. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung
Sarlito W. Sarwono. 2016. Psikologi Remaja. Rajawali Pres: Jakarta.
Sinolungan. 2001. Psikologi Perkembangan.Toko Gunung Agung: Manado.
Sitorus M. 2000. Sosiologi. Cahaya Budi: Bandung.
Soerjono Soekanto. 2003. Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Sri Suwartini. 2004. Hubungan Interpersonal Siswa Ditinjau Dari Tingkat Ekonomi
Keluarga Di MAN Yogyakarta III. Skripsi. Fakultas Dakwah Dan Komunikasi.
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung.
Yurdik Jahja. 2011. Psikologi Perkembangan. Kencana: Jakarta.
Download