pola komunikasi majelis taklim muslimat nu dan al

advertisement
POLA KOMUNIKASI MAJELIS TAKLIM
MUSLIMAT NU DAN AL-BARKAH DALAM
KEGIATAN PEMBINAAN IBADAH KAUM IBU DI
KECAMATAN PANCORAN MAS DEPOK
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam ( S.Kom.I )
Oleh:
Hilyatul Aulia
NIM: 1110051000162
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H / 2014 M
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahim.
Alhamdulillahirabbil’aalamin, dengan penuh rasa syukur kehadirat Allah
swt tiada kalimat yang lebih pantas terucap selain rasa syukur yang maha dahsyat.
Segala nikmat masih terus mengalir di alam semesta. Terima kasih atas segala
nikmat Mu, atas segala kesempatan untuk mengecap bangku perkuliahan sehingga
sampai terselesaikannya perkuliahan ini
Tak lupa terima kasih yang tiada taranya untuk Tercinta Siti Marniah
(ibunda) dan yang tersayang Asep Muniruddin S.Pd (ayahanda) selalu
mencurahkan seluruh jiwa raganya untuk ku, baik material maupun doa di setiap
malamnya terima kasih telah menjadikan ku manusia yang lebih baik. Serta ketiga
adik kecil ku Hilwatul Uzmah, Hafidz Kamil, dan Faqih Zaufan kalian yang selalu
menjadi penyemangat dalam kehidupan, selalu menjadi penghibur kala gundah
menerpa. Semoga tugas kita membanggakan orang tua menjadi nyata.
Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada kekasihku,
kekasih orang-orang beriman dan penerang alam semesta. Nabi Muhammad saw
beserta keluarganya para sahabat dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Semoga kami yang tiada berhenti bershalawat hingga mendarah daging dan terus
mengalir dalam darah dan denyut nadi kami mendapat syafaat di Yaumul
Qiyamah. Amiin.
Lembar akhir di kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta saya sampaikan terima kasih yang se besar-besarnya kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) Dr. Arief
Subhan, MA. Wakil Dekan Bid. Akademik, Wakil
Dekan Bid.
Adminstrasi Umum, dan Wakil Dekan Bid. Kemahasiswaan dan kerja
sama.
2. Rachmat Baihaky, MA selaku ketua Jurusan dan Fita Fathurokmah MSi
selaku Sekertaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam,
3. Bapak Drs. S. Hamdani MA selaku dosen pembimbing yang telah banyak
meluangkan waktunya di tengah kesibukan dan tidak bosan memberi
masukan, bimbingan, dan motivasi sehingga skripsi ini dapat terselesaikan
dengan baik.
4. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, yang telah
memberikan ilmu yang tak ternilai, sehingga penulis dapat menyelesaikan
studi di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Segenap Staf Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
6. Segenap Staf Akademik dan Staf Perpustakaan Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
7. Ibu Hj. Dewi Syarifah MSi, selaku ketua majelis taklim Muslimat NU.
Yang telah banyak meluangkan waktunya di tengah jadwal kesibukannya
yang sangat padat. Terimaksih atas semua data lengkap yang diberikan
kepada penulis sehingga dapat mempermudah penulis menyelesaikan
skripsi ini
8. Ibu Su’inah, selaku ketua Majelis taklim Al-Barkah yang banyak
meluangkan waktu nya untuk memberikan informasi-informasi yang
penulis butuhkan dalam bentuk wawancara sehingga dapat teselesaikan
skripsi ini.
9. Ustadzah Hj. Umi Qomariah dan Ustdz Dede Wahyudin selaku Ustadz
dan Ustadzah di Majelis Taklim Al Barkah
10. KH. Burhanudin Marzuki dan Ustadzah Yuliyana selaku Ustadz dan
Ustadzah di Majelis taklim Muslimat NU.
11. Kekasih tercinta Nadzirul Fata Maftuh, yang tiada bosannya memberikan
semangat dan motivasi kepada penulis, yang setia menemani selama 2
tahun sampai pada waktu yang indah untuk kita melangkah bersama dalam
Ridho Allah Swt.
12. Seluruh teman-teman seperjuangan KPI E angkatan 2010, yang tidak bisa
penulis sebutkan satu per satu. Khusus nya kepada Astuti, Naziah, Siti
Sudusiah, Firda Apriyani, ZahraTunisa, Zaidatul Khoironi, Namun tidak
mengurangi rasa terima kasih dan cinta untuk kalian semua, persahabatan
kita sangatlah indah akan menjadi sebuah album kehidupan yang tidak
akan pernah usang termakan zaman, terima kasih atas kerjasamanya,
terimakasih atas segala kebahagiaan yang tertanam subur di ladang
kecintaan. Penulis akan sangat merindukan masa-masa terindah bersama
kalian.
13. Tineke Saras Wati, Fera Fariha, Putri Ramadhanti dan Lusiana Arifin
selaku sahabat terbaik yang setia menemani di saat senang maupun susah.
Janji ku akan menulis nama mu di skripsi ku telah tercapai. Terimakasih
telah siaga selalu membantu sampai terpontang panting melawan hujan
untuk menemani penulis menyelesaikan skripsi ini. Tiada yang dapat
kuberikan hanya sebuah doa agar kita bisa sukses bersama. Amiin
Harapan penulis semoga kebaikan yang diberikan dilipat gandakan
oleh Allah SWT serta diberikan kemudahan dalam setiap urusan dan
senantiasa semakin berkembang dalam meniti kehidupan untuk menjadi
manusia yang seutuhnya.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa
karya tulis ini masih jauh dari sempurna mengingat keterbatasan
pengetahuan, referensi dan biaya serta pengalaman dan kemampuan
penulis dalam menyusun skripsi ini.
Penulis berharap agar karya tulis ini dapat bermanfaat sebagai
bekal menambah ilmu pengetahuan, serta kontribusi pada kemajuan
perkembangan mata kuliah pada Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
khususnya.
Jakarta, September 2014
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...........................................................................................................i
KATA PENGANTAR .........................................................................................ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................iv
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
A.
1.
2.
3.
4.
5.
B.
1.
a.
b.
C.
1.
2.
3.
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................
Latar Belakang Masalah ........................................................................................1
Pembatasan dan Perumusan Masalah....................................................................6
Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................................................7
Metodologi penelitian ...........................................................................................9
Tinjauan Pustaka
.......13
Kerangka Teori......................................................................................................15
Sistematika Penulisan............................................................................................16
...............................................................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORITIS
Pola Komunikasi ...................................................................................................17
Pengertian Pola Komunikasi .................................................................................17
Macam-Macam Pola Komunikasi .........................................................................21
Komunikasi Antarpribadi ......................................................................................24
Komunikasi Kelompok .........................................................................................27
Bentuk-Bentuk Komunikasi........... ................. .....................................................34
Pembinaan Ibadah Dan Ruang Lingkupnya ..........................................................37
Pengertian Pembinaan Ibadah ...............................................................................37
Ruang Lingkup Ibadah ..........................................................................................39
Macam-Macam Ibadah..........................................................................................40
Majelis Taklim ......................................................................................................41
Pengertian, Fungsi dan Tujuan Majelis Taklim ...................................................41
Macam-Macam majelis taklim ..............................................................................46
Sejarah Majelis Taklim .........................................................................................47
BAB III: GAMBARAN UMUM MAJELIS TAKLIM MUSLIMAT NU DAN ALBARKAH
A.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Majelis Taklim Muslimat NU
Sejarah Berdirinya Majelis Taklim Muslimat NU ................................................52
Visi dan Misi Majelis Taklim Muslimat NU ........................................................56
Profil Majelis Taklim Muslimat NU .....................................................................56
Jadwal Pengajian Majelis Taklim Muslimat NU ..................................................60
Struktur Organisasi Majelis Taklim Muslimat NU ...............................................60
Program Pembinaan Ibadah Majelis Taklim Muslimat NU..................................61
B. Majelis Taklim Al-Barkah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Sejarah Berdirinya Majelis Taklim Al-Barkah .....................................................62
Visi dan Misi Majelis Taklim Al- Barkah.............................................................63
Profil Majelis Taklim Al-Barkah .........................................................................64
Jadwal Pengajian Majelis Taklim Al-Barkah .......................................................65
Struktur Organisasi Majelis Taklim Al-Barkah ....................................................65
Program Pembinaan Ibadah Majelis Taklim Al-Barkah .......................................66
BAB IV: TEMUAN dan ANALISIS DATA
A.
1.
2.
B.
1.
2.
Komunikasi Antarpribadi dalam Pembinaan Ibadah ............................................68
Majelis Taklim NU.................................................................................... ...........68
Majelis Taklim Al-Barkah......................................................................... ...........71
komunikasi Kelompok dalam Pembinaan Ibadah............................................ .....73
Majelis Taklim Muslimat NU.................................................................... ...........73
Majelis Taklim Al-Barkah…...................................................................... ..........76
BAB V: PENUTUP .............................................................................................
A. Kesimpulan ...........................................................................................................84
B. Saran-Saran ...........................................................................................................86
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Majelis taklim merupakan lembaga pengajaran yang bergerak dalam
bidang pengajian dan ilmu agama, tidak dapat dipungkiri bahwa di dalamnya
terdapat unsur-unsur komunikasi dan pasti melakukan kegiatan atau proses
komunikasi secara kelompok atau antarpribadi.
Adapun Majelis Taklim Muslimat NU yang berada di Jl. Margonda
kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas kota Depok No 54. Terkenal
sebagai majelis taklim ibu-ibu, terbesar di kota Depok memiliki 500 jamaah. Di
dalam Majelis Taklim Muslimat NU ini menjadi pengajian kaum ibu dari berbagai
kecamatan yang mayoritas termasuk dalam organisasi NU.
Kegiatan pengajian yang ada di majelis taklim Muslimat NU ini
mengajarkan banyak materi-materi agama, baik ilmu fikih, tasawuf, akhlak,
membaca Al-Qur’an, salah satunya istigasah dan pembinaan ibadah seperti
membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an bersama seperti surah yasin, tahlil dan ratib
Al-Athos setelah itu dilanjutkan ceramah agama oleh KH. Burhanudin Marzuki
dan jika KH. Burhanudin Marzuki berhalangan hadir yang menggantikannya
ustazah Yuliyana selaku ketua penerangan dan Dakwah. Pengajian Majelis
Taklim Muslimat NU dilaksanakan satu bulan sekali di masjid Baitul Kamal
tepatnya di Balai kota Depok.
Dari data yang didapat dari kantor kecamatan yang diberikan oleh ibu
ketua PKK kecamatan Pancoran Mas Majelis Taklim Al Barkahlah yang terkecil
atau paling sedikit jamaahnya, memiliki 15 jamaah bertempat di Jl. Cagar Alam
Kampung Rawa Geni No.23 Kelurahan Pancoran Mas Kecamatan Pancoran Mas
Depok yang diketuai oleh ibu Suinah. Kegiatan di dalam majelis taklim Al Barkah
ini tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang ada di Majelis Taklim Al-Barkah
membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an seperti yasin, tahlil dan Ratib Al-Athos dan
Aqidah Mujmalah setelah itu dilanjutkan ceramah agama oleh ustdazah Hj. Umi
Qomariah,
dan
jika
ustazah
Hj.
Umi
Qomariah
berhalangan
yang
menggantikannya ustaz Dede Wahyudin, kegiatan pengajian dilakukan seminggu
sekali di hari Minggu pagi.
Proses komunikasi Dai (ustazah) dengan
Mad’u (para jamaah)
berlangsung efektif dan intensitas komunikasinya ketika kegiatan pembinaan
ibadah dilakukan bersama atau berjamaah, sehingga terjalin komunikasi yang baik
di antara keduanya.
Pola komunikasi ikut menentukan berlangsungnya keberhasilan dalam
kegiatan pembinaan ibadah yang mana karena di dalam kegiatan pembinaan
ibadah terdapat pola komunikasi, maksudnya jika pola komunikasi terkemas
dengan baik maka pesan yang akan didapat oleh jamaah akan baik juga, dan
sebaliknya jika pola komunikasi kurang terkemas dengan baik, maka komunikan
yaitu jamaah akan menerima pesan dengan kurang baik.
Dai (ustazah) juga merupakan salah satu unsur penting dalam proses
dakwah. Sebagai pelaku dan penggerak kegiatan berdakwah1 Di sebuah Majelis
Taklim. Dan dai (ustazah) menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan atau
1
A. Ilyas Ismail, Paradigma Dakwah Sayyid Quthub, (Jakarta: PT.
Penamadani, 2008), cet ke-2,hal.311
kegagalan dakwah. Dai (ustadzah) dituntut untuk menjadi teladan dan panutan
yang baik di tengah-tengah masyarakat terlebih kepada para jamaahnya selaku
pendengar atau penerima pesan (komunikan).
Sebagai penyeru ke Jalan Allah, pengibar panji-panji Islam dan perjuangan
(Mujahid) yang mengupayakan terwujudnya sistem Islam dalam realitas
kehidupan umat manusia. Dai (ustazah) harus memiliki pemahaman yang luas
mengenai Islam sehingga ia dapat menjelaskan ajaran Islam kepada Mad’u
(jamaah) selain itu Dai (ustazah) harus memiliki retorika bahasa dan tata cara
berkomunikasi yang baik, agar para jamaah dapat menerima pesan dengan baik,
dan tidak ada kesalahpahaman terhadap apa yang disampaikan dari dai (ustazah)
kepada mad’u (jamaah)
Adapun kelebihan dari akibat adanya proses komunikasi yang berlangsung
di Majelis Taklim Muslimat NU yang terbesar dan Majelis Taklim Al-Barkah
yang terkecil dalam kegiatan pembinaan ibadah, dai (ustazah) dapat membentuk
mad’u (jamaah) yaitu kaum ibu, menjadi insan yang taat dan fasih membaca ayatayat suci Al-Qur’an dan mendapat ilmu agama dari ceramah dai tersebut, dan
memang sudah seyogyanya hakikat ibadah sesungguhnya adalah kewajiban bagi
setiap individu yang harus dilakukan sebagai umat Islam.
Dengan menyadari bahwa ibadah pada hakikatnya merupakan bentuk dari
wujud penghambaan seorang hamba yang lemah dan di Al-Qur’an sendiri telah
menjadi kajian para jamaah yaitu kaum ibu dan memang sesungguhnya kita
diciptakan oleh Allah di muka bumi ini semata mata adalah hanya untuk
beribadah kepada-Nya.
Komunikasi pada dasarnya adalah proses penyampaian pesan yang berupa
pikiran atau perasaan oleh seorang komunikator untuk memberitahu merubah
sikap pendapat dan prilaku baik secara langsung maupun tidak langsung.
Adapun pola komunikasi yang berarti bentuk, rancangan atau gambaran
suatu komunikasi yang dapat dilihat dari jumlah komunikannya. Pada
pembahasan ini, makna pola dapat diartikan sebagai bentuk, karena memiliki
keterkaitan dengan kata yang disandingnya (komunikasi). Berhasil atau tidaknya
komunikasi ditentukan dari bentuk, atau cara seseorang berkomunikasi pada saat
menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan.
Kegiatan pembinaan ibadah juga sangatlah memiliki keterkaitan yang erat,
di dalam kegiatan pembinaan ibadah dibutuhkan komunikator, atau dai (ustazah)
yang memiliki pola atau bentuk komunikasi yang baik, dengan tujuan agar
komunikan atau mad’u (jamaah) dapat memahami dan mengerti pesan yang
disampaikan.
Dipandang dalam perspektif agama, bahwa komunikasi memiliki peran
yang sangat penting di dalam kehidupan yaitu sebagai hubungan antara manusia
dengan yang lain. Manusia dilahirkan ke dunia sebagai khalifah di bumi ini. Jadi
dengan manusia pandai berkomunikasi maka manusia dapat menyampaikan
amanah melalui berdakwah dengan tujuan untuk merubah atau mempengaruhi
seseorang menuju jalan yang benar sesuai dengan aturan agama.
Di dalam proses pengajaran itulah terjadi komunikasi, baik dalam sekolah,
majelis taklim atau tempat-tempat belajar lainnya. Pengajian termasuk ke dalam
proses berkomunikasi karena seorang ustazah yang menyampaikan pesan yang
berupa materi-materi agama kepada para jamaah agar pesan yang disampaikan
ustazah dapat diterima dengan baik oleh para jamaah maka seorang ustazah
dituntut untuk melakukan komunikasi dengan baik.
Pengajaran yang diajarkan dan diteladani oleh para dai (ustazah) dalam
kegiatan
pembinaan
ibadah
melalui
penyampaian
pesan
dengan
cara
berkomunikasi yang baik yaitu dengan komunikasi antarpribadi intensitasnya
terealisasikan dan saling melengkapi dan dapat berjalan secara efektif dalam
pelaksanaanya sehingga kegiatan pembinaan ibadah berhasil.
Sudah dapat diketahui bahwa fungsi umum komunikasi adalah informatif,
edukatif, persuasif, dan rekreatif. Komunikasi memiliki fungsi pertukaran
informasi, pesan dan sebagai kegiatan individu dan antarpribadi, kelompok
mengenai tukar menukar data, fakta dan ide2.
Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian
dasar dari kehidupan itu sendiri, karena kita sebagai makhluk sosial melakukan
komunikasi di setiap kehidupan. Di manapun, kapanpun, komunikasi sangat urgen
dalam kehidupan bermasyarakat hal ini dapat dibuktikan dari sebuah penelitian
bahwa mulai dari waktu bangun tidur 70% digunakan untuk berkomunikasi.
Dengan demikian sama halnya di majelis taklim juga kerap terjadi
sehingga menimbulkan pertanyaan kembali bahwa pola komunikasi yang seperti
apa yang dibangun oleh komunikator yaitu ustazah dan komunikannya adalah
para jamaah majelis taklim yang dapat sama makna dalam hal ini adalah kegiatan
2
h.23.
Onong Uchjana Effendi, Dinamika komunikasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000),
pembinaan ibadah sehingga dapat berhasil dilihat dari intensitasnya dan afektifnya
komunikasi oleh dai (ustazah) dan mad’u (jamaah)
Ditinjau dari segi komunikasi, pengajaran pengajian juga termasuk
didalamnya terdapat komunikasi yaitu komunikator (dai/ustazah), pesan, (materi
pengajian yang disampaikan) dan komunikan (mad’u/jamaah majelis taklim).
Karena di sana terdapat pengiriman pesan yaitu ilmu pengetahuan khususnya
agama, informasi atau lainnya. Dan memang tujuan dari lembaga majelis taklim
adalah membina para mad’u (jamaah) agar mengetahui dan mempraktekkan
ibadah secara kafah atau menyeluruh.
Oleh karena itu, maka muncullah konsep berupa pola komunikasi yang
dibangun dalam kegiatan pembinaan ibadah melalui komunikasi antarpribadi dan
kelompok pada majelis taklim terbesar dan majelis taklim terkecil di Kecamatan
Pancoran Mas Depok
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis tertarik
melakukan penelitian dengan judul” Pola Komunikasi Majelis Taklim Muslimat
NU dan Al-Barkah Dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah Kaum Ibu di Kecamatan
Pancoran Mas Depok.”
B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah
Berdasarkan judul di atas, maka pola komunikasi yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah bentuk komunikasi. Bentuk komunikasinya berkaitan dengan
komunikasi Antarpribadi dan komunikasi kelompok. Adapun ibadah dalam
penelitian ini meliputi: a). Membaca Yasiin, Tahlil, Ratib Al-Athos, istigasah,
Aqidah Mujmalah dan Ceramah agama. b). kedua bentuk komunikasi tersebut
berkaitan antara ustaz dan ustazah dengan jamaah.
Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka dapat dirumuskan
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana komunikasi antarpribadi ustaz dan ustazah dengan jamaah dalam
pembinaan ibadah di Majelis Taklim Muslimat NU dan Majelis Taklim AlBarkah di Kecamatan Pancoran Mas Depok?
2. Bagaimana komunikasi kelompok ustaz dan ustazah dengan jamaah dalam
pembinaan ibadah di Majelis Taklim Muslimat NU dan Majelis Taklim AlBarkah di kecamatan Pancoran Mas Depok?
Dengan terjawabnya pertanyaan dari perumusan masalah maka akan
mempermudah untuk mengetahui pola komunikasi Majelis Taklim Muslimat NU
dan Majelis Taklim Al-Barkah dalam kegiatan pembinaan ibadah kaum ibu.
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian ini meliputi
Tujuan penelitian ini secara umum sebagai berikut:
a. Ingin mengetahui bagaimana komunikasi Antarpribadi Ustaz dan
Ustazah dengan Jamaah di Majelis Taklim Muslimat NU dan Majelis
Taklim Al-Barkah dalam kegiatan pembinaan ibadah di Kecamatan
Pancoran Mas Depok
b. Ingin mengetahui bagaimana komunikasi kelompok ustaz dan ustazah
dengan jamaah di Majelis Taklim Muslimat NU dan Majelis Taklim Al
Barkah dalam kegiatan pembinaan ibadah di Kecamatan Pancoran Mas
Depok
2. Manfaat penelitian ini meliputi:
a. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber informasi,
literatur, referensi dan dokumentasi ilmiah atau perbandingan bagi
studi dalam usaha untuk mengembangkan khazanah keilmuan yang
sesuai.
Pengajaran ini diharapkan dapat menambah pengetahuan baru
tentang intensitas dan afektifitas dai dalam menjalani hubungan
antarpribadi dan kelompok terhadap mad’u (jamaah) yaitu kaum ibu
dalam kegiatan pembinaan ibadah. Adapun mengenai manfaat dari
penelitian ini, secara teoritis yaitu untuk memperkaya khazanah
keilmuan dakwah dan komunikasi khususnya di lingkungan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta maupun lingkungan akademisi lain dan
masyarakat pada umumnya.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengembangan
dan sumbangsi keilmuan komunikasi dan dakwah bagi para praktisi
pengajar, komunikasi dan dakwah yakni sebagai salah satu upaya
membentuk komunikasi yang efektif dan secara intensitas. Secara
praktis penelitian ini manfaatnya adalah sebagai kontribusi pemikiran
dalam kegiatan pembinaan ibadah di majelis taklim khususnya di
Majelis Taklim Muslimat NU dan Majelis Taklim Al-Barkah di
Kecamatan Pancoran Mas Depok, dan masyarakat pada umumnya.
D. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan
menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti berusaha mendeskripsikan
atau menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat atas fenomena
yang diteliti kemudian dianalisa, diinterpretasikan dan ditafsirkan dengan
data-data lainnya untuk mendapatkan hasil berdasarkan tujuan penelitian
yaitu pola komunikasi pembinaan ibadah kaum ibu pada Majelis Taklim
Muslimat NU dan Majelis Taklim Al-Barkah di Kecamatan Pancoran Mas
Depok
Penelitian deskriptif juga dapat dikatakan sebagai penelitian yang
diarahkan pada pengukuran yang cermat terhadap suatu fenomena sosial
tertentu. Penelitian harus menggunakan diri sebagai instrument maksudnya
mengikuti asumsi kultural sekaligus mengikuti data3.
Adapun data yang dikumpulkan dari metode deskriptif ini adalah
berupa kata kata, gambar dan bukan angka-angka 4. Hal ini dikarenakan
pola komunikasi pembinaan ibadah kaum ibu menggunakan metode
kualitatif yang menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat atas
3
Julia Brannen, Memandu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2002), cet. Ke-4, h. 11.
4
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif.(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2007), cet ke-23, hal.9
fenomena yang diteliti kemudian dianalisa, diinterpretasikan dan
ditafsirkan dengan data-data lainnya untuk mendapatkan hasil berdasarkan
tujuan penelitian.
Adapun “deskriptif analisis adalah penelitian yang dikerjakan
untuk mengetahui nilai variable mandiri, baik satu variable atau lebih
tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variable
variable lainnya”5.
Dalam penelitian ini digambarkan bentuk atau pola komunikasi
pembinaan ibadah yang ada di Majelis Taklim Muslimat NU dan Majelis
Taklim Al-Barkah
2. Subjek dan Objek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah guru (penceramah) yaitu, KH.
Burhanudin Marzuki dan Ustazah Yuliyana selaku guru atau penceramah
di Majelis Taklim Muslimat NU. Dan Ustazah Umi Qomariah dan Ustaz
Dede Wahyudin selaku penceramah di Majelis Taklim Al-Barkah.
Sedangkan objek penelitian ini adalah proses komunikasi antarpribadi dan
komunikasi kelompok yang dilakukan oleh Majelis Taklim Muslimat NU
dan Majelis Taklim Al-Barkah
3. Tempat dan waktu penelitian
Adapun tempat yang dijadikan sebagai objek penelitian adalah
Majelis Taklim Muslimat NU di Kecamatan Pancoran Mas Depok yang
bertempat di Jl. Margonda Raya Pancoranmas No 54 Depok. Dan Majelis
5
h. 11
Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, ( Bandung: CV Afabeta, 2005), Cet. Ke- 12,
Taklim Al Barkah di Jl. Raya Cagar Alam kelurahan Pancoranmas Depok
sedangkan waktu penelitian dilakukan mulai tanggal 01 April sampai 08
juni 2014
4. Teknik Pengumpulan Data
Yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah:
a. Observasi
Observasi yaitu pengamatan secara sistematis dan analisa yang
memegang peranan penting untuk memperkirakan tingkah laku sosial,
sehingga hubungan antara satu peristiwa dengan yang lainnya menjadi
lebih jelas6.
Observasi atau pengamatan yang dilakukan adalah dengan
melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Dalam hal
ini yang diamati adalah bagaimana proses pola komunikasi dalam
pembinaan ibadah yang dilakukan oleh Majelis Taklim Muslimat NU
dan Majelis Taklim Al-Barkah?
b. Wawancara
Wawancara ini dilakukan dalam rangka untuk memperoleh
data dari sumber masalah yang akan diteliti dengan mengajukan
pertanyaan secara langsung dicatat dengan menggunakan wawancara
bebas terpimpin7.
Adapun yang diwawancarai dalam skripsi ini adalah ustaz dan
ustazah di Majelis Taklim Muslimat NU yaitu KH. Burhanudin
6
Syamsir salam. Metodelogi penelitian social, (Jakarta: UIN Perss, 2006), h. 31
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif.(Bandung: PT. Remaja ROsdakanya,
2007), cet ke-26, hal. 186
7
Marzuki dan ustazah Yuliyana dan jamaahnya sebanyak 4 orang.
ustaz dan ustazah di Majelis Taklim Al-Barkah yaitu ustaz Dede
Wahyudin dan ustazah Hj. Umi Qomariah adapun jamaah yang
diwawancarai sebanyak 3 orang.
c. Dokumentasi
Pengambilan data berupa catatan-catatan, buku, dokumentasi
foto, arsip-arsip dan literatur lainnya yang berkaitan dengan penelitian.
5. Pengolahan Data
Setelah memperoleh data dari hasil observasi dan wawancara yang
ditunjukan kepada Ustazah dan jamaah tersebut dikumpulkan, kemudian
disusun melalui proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang mudah
dibaca. Berdasarkan rumusan yang telah disusun.
6. Analisa Data.
Setelah mengumpulkan data-data penelitian yang dianalisis dengan
cara diinterpretasikan dengan menggunakan sumber data sudah terkumpul
dan data-data kemudian dijabarkan dengan memberikan analisa-analisa
dan penafsiran untuk kemudian menghasilkan kesimpulan akhir 8 , agar
mengetahui
komunikasi
antarpribadi
dan
komunikasi
kelompok
pembinaan ibadah yang dilakukan oleh kedua Majelis Taklim terbesar dan
terkecil yang ada di kecamatan Pancoran Mas kota Depok
8
Rachmat Kriyantono, Tekhnik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: PT. Kencana Prenada
Media Group 2010) cet ke.5 hal. 86
7. Pedoman Penulisan
Penulisan Skripsi ini mengacu pada buku Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang di terbitkan oleh CeQDA
(Center for Quality Development and Assurance) Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagaimana dimuat pada buku
Akademik Program Strata I Tahun 2010/2011 .
E. Tinjauan Pustaka
Sebelum
melakukan skripsi ini, telah dilakukan tinjaun pustaka
terlebih dahulu yakni kelapangan dalam rangka memperoleh studi
pendahuluan terhadap karya ilmiah terdahulu atau sebelumnya yang
mempunyai kaitan judul atau objek dan subjek penelitian yang sejenis ataupun
yang sama dengan yang diteliti. Tinjauan pustaka ini bermaksud agar terlihat
dan dapat diketahui perbedaannya bahwa penelitian ini tidak sama dengan
penelitian dari skripsi-skripsi terdahulu.
Adapun buku yang digunakan untuk menjadi penelitian ini di
antaranya yang berjudul ilmu komunikasi teori dan praktek oleh Onong
Uchjana Effendi,
pengantar ilmu komunikasi oleh Hafied Cangara, ilmu
komunikasi sebuah pengantar ringkas oleh Prof. Dr. H. Anwar Arifin,
Psikologi komunikasi oleh Jalaludin Rahmat, Komunikasi kelompok: ProsesProses Diskusi dan Penerapannya oleh Alvin A. Goldberg, carl E. Larson.
Komunikasi Antarpribadi oleh Liliweri, Alo. Pembinaan Arti dan Metodenya
oleh Hardjana Mangun.
Setelah dilakukannya tinjauan kepustakaan baik di Fakultas Ilmu
Dakwah Dan Ilmu Komunikasi dan Perpustakaan Utama UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Ditemukan judul yang sejenis:
1. “Pola Komunikasi KH. Mahmudin dalam pembinaan santri di pondok di
pondok pesantren Al-Mubarok Serang Banten” karya Muhammad Fathullah
tahun 2008. Ia menggunakan metode penelitiannya yaitu kualitatif deskriptif.
Skripsinya
cenderung
menggabungkan
dua
menggunakan
komunikasi
komunikasi
yaitu
pola
komunikasi
roda
serta
persuasif
dan
instrukstif/koersif, yang di terapkan di pondok Al-Mubarok terhadap santri
2. “ Pola Komunikasi dalam pembinaan akhlak siswa MAN 4 Model Pondok
Pinang Jakarta Selatan” tahun 2008. Karya Agus Ratina dengan menggunakan
metodelogi penelitian pendekatan kualitatif deskriptif. Skripsi ini membahas
pola komunikasi dan metode guru dalam proses belajar mengajar khususnya
pada mata pelajaran akhlak di MAN 4 Model.
3. “Pola Komunikasi Guru Agama Terhadap Siswa Dalam Pembinaan Ibadah di
SMP Islam Alsyukro Ciputat”karya Eka Irmawati tahun 2011. Ia
menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Skripsinya cenderung
kepada pola komunikasi pribadi dan pola komunikasi kelompok , antara
sekelompok guru agama dengan para siswa dalam pembinaan ibadah di SMP
Islam Alsyukro ciputat.
Adapun perbedaan skripsi yang diteliti ini pertama penelitian ini
menggunakan komunikasi antarpribadi dan kelompok yang lebih kepada pola
komunikasi pembinaan ibadah yang dilakukan oleh kedua Majelis Taklim
terbesar dan terkecil yang meliputi:
a). Membaca ayat-ayat Al-Qur’an berjamaah (Surah Yasin, Tahlil dan
Ratib Al Athos dan Ceramah agama
b).kedua bentuk komunikasi Antarpribadi dan komunikasi Kelompok
berkaitan antara ustaz dan ustazah dengan jamaah di Majelis
Taklim Muslimat NU dan Al-Barkah.
F. Kerangka Teori
Teori pola komunikasi menurut Joseph A. Devito mengelompokan
pola komunikasi menjadi empat macam yaitu meliputi komunikasi
antarpribadi, komunikasi kelompok kecil, komunikasi publik dan komunikasi
massa9. Dan teori Steward L.Tubbs dan Silvia yaitu ciri-ciri komunikasi yang
efektif ada lima: Pengertian, kesenangan, mempengaruhi sikap, hubungan
sosial yang baik, dan tindakan.10
Teori yang digunakan adalah teori pola komunikasi kelompok.
Menurut Robert F. Bales mengenai analisis proses interaksi yang dikutip oleh
Raudhonah, bahwa kelompok kecil adalah
Sejumlah orang yang terlibat antara satu dengan yang lain dalam
suatu pertemuan yang bersifat tatap muka, di mana setiap peserta
mendapat kesan atau penglihatan antara satu dengan yang lainnya yang
cukup kentara, sehingga ia baik pada saat timbul pertanyaan maupun
sesudahnya dapat memberikan tanggapan kepada masing-masing sesuai
perorangan11.
9
Nurudin, sistem komunikasi Indonesia (Jakarta : Raja Grafindo Persada 2007), h. 26.
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta Press. 2007) cet. I, h. 60.
11
Ibid., h. 128.
10
Dan teori komunikasi antarpribadi menurut Joseph A. Devito dalam
bukunya ”The Interpersonal Communication Book”. yang mengemukakan
bahwa, komunikasi antarpribadi adalah “pengiriman pesan-pesan dari
seseorang dan diterima oleh orang lain atau sekelompok kecil orang dengan
efek dan umpan balik yang langsung” 12
G. Sitematika Penulisan
BAB I
: PENDAHULUAN
Bab pertama membahas: Latar belakang masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan dan manfaat, metodologi penelitian,
tinjuan Pustaka, kerangka teori, sistematika penulisan.
BAB II
: TINJAUAN TEORITIS
Bab kedua membahas: pengertian pola komunikasi, unsur-unsur
komunikasi,
macam-macam
pola
komunikasi,
pengertian
komunikasi antarpribadi, pengertian komunikasi kelompok,
pengertian
pembinaan,
pengertian
ibadah,
dan
pengertian
pembinaan ibadah, pengertian, fungsi dan tujuan majelis taklim,
macam-macam majelis taklim dan sejarah majelis taklim
BAB III : GAMBARAN UMUM MAJELIS TAKLIM MUSLIMAT NU
DAN MAJELIS AL-BARKAH
Bab ketiga membahas Majelis Taklim Muslimat NU dan Majelis
Taklim Al-Barkah di Kecamatan Pancoran Mas Depok: sejarah
berdirinya, Visi Misi dan profil kedua Majelis Taklim, Program
12
Ibid., h. 107.
atau Jadwal Pengajian di kedua Majelis Taklim tersebut. Program
Pembinaan ibadah (pembiasaan).
BAB IV
: TEMUAN DAN ANALISIS DATA
Bab ke empat membahas: Pola komunikasi pembinaan ibadah
yang dilakukan oleh Majelis Taklim Muslimat NU dan Majelis
Taklim Al-Barkah; komunikasi antarpribadi dan kelompok dalam
kegiatan pembinaan ibadah.
BAB V
: PENUTUP
Bab kelima ini berisi: Kesimpulan dan Saran-Saran
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pola Komunikasi
1. Pengertian Pola Komunikasi
Sebelum membahas mengenai pola komunikasi perlu diketahui
yang dimaksud dengan pola. Kata “pola” dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia memiliki arti bentuk atau sistem, cara atau struktur yang
tetap, dimana pola dapat dikatakan contoh atau cetakan13.
Pola dapat dikatakan juga sebagai model, yaitu cara untuk
menunjukan sebuah objek yang mengandung kompleksitas proses di
dalamnya dan hubungan antara unsur-unsur pendukungnya14.
Pola dalam komunikasi ini dapat dimaknai atau diartikan
sebagai bentuk, gambaran, rancangan suatu komunikasi yang dapat
dilihat dari jumlah komunikannya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia komunikasi secara
etimologi memiliki arti ”sebagai pengiriman dan penerimaan pesan
atau berita”15.
Makna komunikasi dapat dilihat dari dua sudut pandang, dari
sudut bahasa (etimologi) yaitu kata komunikasi berasal dari bahasa
latin communication dengan kata dasar komunis yang berarti sama.
Maksud “sama” di sini adalah orang yang menyampaikan dan orang
13
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1996). h. 778
14
Di kutip dari Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Gramedia Widiasavina:
2004). h. 9
15
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, h. 454
yang menerima mempunyai persepsi yang sama tentang apa yang
disampaikan16.
Adapun sudut pandang yang kedua yaitu secara istilah atau
terminologi. Menurut Onong Uchjana Effendy, “komunikasi berasal
dari bahasa inggris yaitu communication yang bersumber dari bahasa
latin communication yang berarti pemberitahuan atau pertukaran
pikiran”17.
Terdapat banyak pendapat tentang pengertian komunikasi dari
para ahli komunikasi, di antaranya:
1. Menurut Roger dan D. Lawrence Kincaid yang dikutip Hafied
cangara dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi bahwa
komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih
saling melakukan pertukaran informasi dengan satu sama
lainnya, yang pada nantinya akan menimbulkan sikap saling
mengerti18.
2. Nurudin
dalam
buku
Sistem
Komunikasi
Indonesia
menjelaskan bahwa pada dasarnya komunikasi adalah sebuah
pemprosesan ide, gagasan, dan lambang tersebut, sehingga
terdapat pola-pola tertentu sebagai wujud prilaku manusia
dalam berkomunikasi19.
16
Irham, Kamus Ilmiah Populer, Jakarta: Pustaka Kausar, 2001. Cet Ke-3, h. 605
Onong Uchajana Effendy, Spektrum Komunikasi, (Bandung: Bina Cipta, 1998)
18
Cangara hafied, pengantar komunikasi, PT Raja Grafindo Persada, 2008, hal 20
19
Nurudin, system komunikasi Indonesia (Jakarta : Raja Grafindo Persada 2007), h. 26.
17
3. Menurut James, komunikasi adalah perbuatan, penyampaian
suatu gagasan atau informasi dari seseorang kepada orang
lain20.
4. Adapun menurut Widjaja komunikasi adalah
“hubungan kontak antar antara manusia baik individu
maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari hari disadari atau
tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu
sendiri. manusia sejak dilahirkan sudah berkomunikasi dengan
lingkungannya. Selain itu komunikasi diartikan sebagai
hubungan atau dapat diartikan bahwa komunikasi adalah saling
tukar menukar pikiran atau pendapat”21.
5. Steward L. Tubbs dan Silvia Mess, yang dikutip oleh Jalaludin
Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi ia menguraikan
ciri-ciri komunikasi yang baik dan efektif paling tidak dapat
menimbulkan lima hal:
a. Pengertian: komunikator dapat memahami, mengenai
pesan-pesan yang disampaikan kepada komunikan.
b. Kesenangan: menjadikan hubungan yang hangat dan akrab
serta menyenangkan.
c. Mempengaruhi sikap: dapat mengubah sikap orang lain
sehingga bertindak sesuai dengan kehendak komunikator
tanpa merasa terpaksa.
d. Hubungan sosial yang baik: menumbuhkan dan
mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang
lain dalam hal interaksi.
e. Tindakan: membuat komunikan melakukan suatu tindakan
yang sesuai dengan pesan yang diinginkan22.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa komunikasi menjadi
penting untuk pertumbuhan hidup manusia melalui komunikasi
20
James G. Robbins, Komunikasi yang Efektif, (Jakarta: Pedoman Imu Jaya, 1995). Cet.
Ke-4, h. 1.
21
Widjaja, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000). h. 26.
Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000).
Cet ke -15, h. 13-16
22
seseorang akan dapat dengan mudah memahami maksud dari lawan
bicara atau komunikan.
Berdasarkan pengertian pola dan komunikasi di atas maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa pola dan komunikasi memiliki
keterkaitan satu sama lain, serangkaian dua kata yang memiliki
keterkaitan makna yang mana dari keduanya saling mendukung.
Pola komunikasi yaitu bentuk, rancangan atau gambaran dari
proses komunikasi antara satu orang dengan orang lainnya agar dapat
berjalan lancar dan efektif dengan tujuan mengubah sikap, pendapat
dan prilaku komunikan atau seseorang yang diajak berkomunikasi.
Baik secara langsung (face to face) atau melalui media, atau antar
individu maupun kelompok.
2. Macam-Macam Pola Komunikasi
Pada dasarnya ada beberapa macam pola komunikasi, yaitu di
antaranya komunikasi intrapersonal (komunikasi dengan diri sendiri),
komunikasi interpersonal (komunikasi antarpribadi) dan komunikasi
kelompok.
Adapun komunikasi intrapersonal ini adalah komunikasi yang
dilakukan dalam diri sendiri, maksudnya proses komunikasi yang
terjadi dalam diri seseorang berupa proses pengolahan informasi
melalui panca indera dan sistem saraf23.
23
39
Sasa Djuarsa Sendjaja, pengantar komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1998),h.
Komunikasi ini akan berhasil jika pikiran yang disampaikan
dengan menggunakan perasaan yang disadari, sebaliknya komunikasi
akan gagal ketika sewaktu menyampaikan pikiran tidak terkontrol.
Yang kedua komunikasi interpersonal, yaitu proses paduan
penyampaian pikiran dan perasaan oleh seseorang kepada orang lain
agar mengetahui, mengerti, dan melakukan kegiatan tertentu24.
Komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam hal
mengubah sikap, prilaku, pendapat atau prilaku seseorang. Adapun
hubungan interpersonal ini adalah hubungan yang berlangsung.
Keuntungan dari padanya ialah bahwa reaksi atau arus baliknya dapat
diperoleh secara langsung. Dalam hubungan interpersonal, proses
komunikasi semakin jelas dan terarah pada satu tujuan.
Yang ketiga, pola komunikasi kelompok, yaitu komunikasi
antara
seseorang komunikator
berkomunikasi
dan
berkumpul
dengan
sejumlah
bersama-sama
orang
dalam
yang
bentuk
kelompok25.
Komunikasi kelompok ini dibagi atas dua bagian yaitu
kelompok kecil dan kelompok besar, kelompok kecil menurut Bales
adalah
“sejumlah orang yang terlibat antara satu dengan yang lainnya
alam satu pertemuan yang bersifat tatap muka, di mana setiap
peserta mendapat kesan atau penglihatan dengan yang lainnya
sehingga ia baik pada saat timbul pertanyaan maupun sesudah
24
Onong Uchjana effendi, ilmu komunikasi teori dan praktek, ( bandung: Mandar Maju,
1992). Cet. Ke-1, h. 4
25
Onong Uchjana Effendi, Dimensi Dimensi Komunikasi, (Bandung: Alumni, 1986), cet.
Ke2 h.5
memberikan tanggapan kepada masing masing individu
komunikan”26.
Dalam
komunikasi
kelompok
kecil
ini
komunikator
menunjukan pesannya kepada benak atau pikiran komunikan, contoh.
Diskusi, ceramah, seminar, rapat, dan lain lain. Dan komunikan dapat
bertanya jika pesan yang disampaikan komunikator kurang jelas
dipahami oleh komunikannya.
Terdapat lima pola aliran komunikasi yang dapat dijumpai
pada pola komunikasi kelompok dan organisasi yaitu sebagai berikut :
1.
Pola lingkaran, tidak memiliki pemimpin. semua anggota
posisinya sama. Mereka memiliki wewenang atau kekuatan
yang sama untuk mempengaruhi kelompok. Setiap anggota
bisa berkomunikasi dengan dua anggota lain disisinya.
2.
Pola Roda, pola roda memiliki pemimpin yang jelas yaitu
yang posisinya di pusat. Orang ini merupakan satu satunya
yang dapat mengirim dan menerima pesan dari semua
anggota. Oleh karena itu jika seorang anggota ingin
berkomunikasi dengan anggota lain, maka pesannya harus
disampaikan melalui pemimpinnya
3.
Pola Y
Pola Y relatif kurang tersentralisasikan dibanding dengan
pola roda, tetapi lebih tersentralisasi dibanding dengan pola
26
Shochibul Hujjah, Pola Komunikasi Guru Agama Dalam Pembinaan Akhlak Siswa
SMK Negeri 1 Pasuruan, (Skripsi S1 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarifhidayatullah Jakarta, 2011), h.27
yang lain. Pola Y juga terdapat pemimpin yang jelas
anggota ini dapat mengirimkan dan menerima pesan dari
dua orang lainnya. Ketiga anggota lainnya komunikasi
terbatas hanya dengan satu orang lainnya.
4.
Pola rantai
Pola rantai sama dengan pola lingkaran kecuali bahwa para
anggota yang paling ujung hanya dapat berkomunikasi
dengan satu orang saja. Keadaan terpusat juga terdapat di
sini. Orang yang berada di posisi tengah lebih berperan
sebagai pemimpin dari pada mereka yang berada di posisi
lain.
5.
Pola semua saluran atau bintang
Pola semua saluran atau bintang hampir sama dengan pola
lingkaran dalam arti semua anggota adalah sama dan
semuanya juga memiliki kekuatan yang sama untuk
mempengaruhi anggota lainnya. Akan tetapi, dalam struktur
semua
saluran,
memungkinkan
setiap
anggota
lainnya.
adanya
partisipasi
antarpribadi
adalah
Pola
anggota
ini
secara
optimum27.
3. Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi
komunikasi
antara
komunikator dengan komunikan yang berlangsung secara private.
27
Abdullah Masmuh, komunikasi organisasi dalam perspektif teori dan praktek, h. 57-58
Atau dapat pula diartikan komunikasi yang berlangsung antara dua
orang, dimana terjadi kontak langsung dalam bentuk percakapan,
bisa juga melalui medium/telpon28. “Komunikasi antarpribadi dapat
berlangsung secara berhadapan muka (face to face) dengan harapan
umpan balik yang secara langsung” 29.
Menurut Effendy, yang dikutip oleh Alo Liliweri, bahwa
komunikasi antarpribadi hakikatnya yaitu komunikasi antara seorang
komunikator dengan seorang komunikan jenis komunikasi tersebut
dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat, atau
prilaku manusia berhubungan prosesnya yang dialogis 30.
Komunikasi
antarpribadi
menurut
Devito
adalah
“pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain
atau sekelompok kecil orang dengan efek dan umpan balik secara
langsung”31.
Komunikasi antarpribadi melibatkan komunikasi yang
bebas. Artinya setiap tingkah laku komunikasi mengandung sebab
dan akibat tertentu yang langsung diterima pada saat itu juga, dengan
demikian setiap pesan sebagai aksi selalu mendapat reaksi dari yang
menerimanya. Peristiwa berlangsungnya komunikasi antarpribadi
28
Sasa Djuarsa Sendjaja, Teori Komunikasi, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2005).Cet
Ke-9. h. 125
29
Alo Liliweri, Komunikasi Antarpribadi, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1997).
Cet.Ke-2, h. 72
30
Ibid., h. 12
31
Onong Uchana Effendy, ILmu Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 62-63
terjadi tidak berstruktur, bersifat tidak formal, tidak kaku, dan sangat
luwes32.
Sedangkan Sasa Djuarsa menerangkan definisi komunikasi
antarpribadi ini dalam tiga perspektif, yaitu:
1. Perspektif
komponensial,
yaitu
melihat
komunikasi
antarpribadi dari komponen-komponennya. Maksudnya di
mana proses pengiriman dan penerimaan pesan diantara dua
orang dengan berbagai efek dan umpan balik.
2. Prespektif
pengembangan
yaitu
melihat
komunikasi
antarpribadi dari proses pengembangannya. Dari yang bersifat
impersonal meningkat menjadi interpersonal atau intim.
3. Prespektif relasional, yaitu melihat komunikasi antarpribadi
dari hubungannya. Maksudnya komunikasi yang terjadi di
antara dua orang yang mempunyai hubungan yang terlihat jelas
diantara mereka33.
Onong menjelaskan bahwa karakteristik komunikasi
antarpribadi adalah dua arah atau timbal balik, masing-masing bisa
saling menggantikan posisi, suatu ketika komunikator bisa menjadi
komunikan dan sebaliknya 34 . Menurut Judy C. Pierson yang telah
dikutip oleh Sasa Djuarsa terdapat enam karakteristik komunikasi
antarpribadi yaitu:
a. komunikasi antarpribadi dimulai dengan diri sendiri
32
Weri, Perspektif Teoritis Komunikasi Antarpribadi, h. 122-123
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, (Jakarta:UIN Press, cet. Ke-1, h. 107-109
34
Weri, Perspektif Teoritis Komunikasi Antarpribadi, h. 48
33
b. bersifat transaksional
c. mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi
d. mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang
berkomunikasi.
e. melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu sama lain
dalam
proses komunikasi
f. komunikasi antarpribadi tidak dapat diulang atau diubah35.
dari beberapa definisi dan karakteristik komunikasi
antarpribadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarpribadi
adalah komunikasi antara individu dan efek yang dihasilkan sangat
efektif untuk memberi pengaruh lawan bicara, karena tanggapan
yang disampaikan bersifat langsung hingga komunikator dapat
secara langsung mengembangkan pesan selanjutnya untuk semakin
memperlancar
tujuan
dan
harapan
yang
diinginkan
oleh
komunikan.
4. Komunikasi Kelompok
Sebelum membahas komunikasi kelompok, perlu dipahami
terlebih
dahulu
definisi
dari
kelompok.
sekumpulan orang yang mempunyai
Kelompok
adalah
tujuan bersama, yang
berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama,
35
Devito Komunikasi Antar Manusia, h.232
mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian
dari kelompok tersebut.
Komunikasi kelompok biasanya merujuk pada komunikasi
yang dilakukan kelompok kecil (small group communication)”36
Menurut Homans kelompok adalah “sejumlah orang yang
berkomunikasi satu sama lainnya, seringkali melewati jangka waktu
dan dengan jumlah orang yang cukup kecil sehingga setiap orang
dapat berkomunikasi tanpa melewati orang ketiga, melainkan secara
tatap muka”37.
Bales berteori bahwa pembagian kerja, perbedaan peranan
dan perbedaan wewenang yang ada jika suatu kelompok berorientasi
pada tugas menciptakan banyak kesulitan antarpribadi yang dapat
mempengaruhi
solidaritas
kelompok.
Kesulitan-kesulitan
ini
menimbulkan tekanan untuk memuaskan kebutuhan antarpribadi
para anggota kelompok38.
Menurut Shaw (1976) komunikasi kelompok adalah
sekumpulan individu yang dapat mempengaruhi satu sama lain,
memperoleh beberapa kepuasan satu sama lain, berinteraksi untuk
36
Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2007), Cet Ke-10, h. 82
37
Stewart L. Tubbs-Sylvia Moss, Human Communication Konteks-Konteks Komunikasi,
Editor Penerjemah Dedy Mulyana, (Bandung: Rosdakarya, 2001), Cet ke-3, h.69
38
Alvin A. Goldberg, carl E. Larson, Komunikasi Kelompok: proses-proses diskusi dan
penerapannya (Jakarta:UI-PRESS, 1985), cet. Ke -1, h.57-59
beberapa tujuan, mengambil peranan, terikat satu sama lain dan
berkomunikasi tatap muka39.
Menurut Alvin A. Goldberg-Carl E.Larson komunikasi
kelompok adalah suatu studi tentang segala sesuatu yang terjadi pada
saat individu-individu berinteraksi dalam kelompok kecil dan bukan
deskripsi mengenai bagaimana seharusnya komunikasi terjadi, serta
bukan pula sejumlah nasehat tentang cara-cara bagaimana yang
harus ditempuh40.
Sedang menurut Michel Burgon dan Michael Ruffiner
seperti yang dikutip oleh Sasa Djuarsa, komunikasi kelompok adalah
interaksi tatap muka dari tiga individu atau lebih, guna memperoleh
maksud atau tujuan yang diinginkan seperti berbagai informasi,
pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota
dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya dengan
akurat41. Komunikasi Kelompok dapat diklasifikasikan kedalam dua
macam, yaitu :
1. Kelompok Kecil, yang kadang-kadang disebut micro group
.Kelompok kecil ( micro group ) adalah kelompok komunikasi
yang dalam situasi terdapat kesempatan untuk memberi
tanggapan secara verbal atau dalam komunikasi kelompok
komunikator dapat melakukan komunikasi antarpribadi dengan
39
Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), h. 182
Alvin A. Goldberg-Carl E.Larson, Komunikasi Kelompok Proses Diskusi dan
Penerapannya, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2006), h. 8
41
Sasa Djuarsa Sendjaja, et al, Modul Teori Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka,
2004), Cet Ke-8, h.3.3
40
salah seorang anggota kelompok,
seperti yang terjadi pada
acara diskusi, kelompok belajar, seminar dan lain-lain.
Umpan balik yang diterima dalam komunikasi
kelompok kecil ini biasanya bersifat rasional, serta diantara
anggota yang terkait dapat menjaga perasaan masing-masing
dan norma- norma yang ada.
Dengan perkataan lain, antara komunikator dengan
setiap komunikan dapat terjadi dialog atau Tanya jawab.
Komunikan dapat menanggapi uraian komunikator, bisa
bertanya jika tidak mengerti dan dapat menyanggal jika tidak
setuju dan lain sebagainya. Menurut Robert F. Bales, bahwa
kelompok kecil adalah sejumlah orang yang terlibat antara satu
dengan yang lain dalam suatu pertemuan yang bersifat tatap
muka, di mana setiap peserta mendapat kesan atau penglihatan
antara satu dengan yang lainnya yang cukup kentara, sehingga
ia baik pada saat timbul pertanyaan maupun sesudahnya dapat
memberikan
tanggapan
kepada
masing-masing
sesuai
perorangan.
2. Komunikasi kelompok besar ( macro group ) yaitu yang terjadi
dengan sekumpulan orang yang sangat banyak dan komunikasi
antarpribadi ( kontak pribadi) jauh lebih kurang atau susah
untuk dilaksanakan, karena terlalu banyaknya orang yang
berkumpul seperti halnya terjadi pada acara tabligh akbar,
kampanye dan lain-lain.
Anggota kelompok besar apabila memberitakan
tanggapan kepada komunikator, biasanya bersifat emosional,
yang tidak dapat mengontrol emosinya. Lebih-lebih jika
komunikan heterogen, beragam dalam usia, pekerjaan, tingkat
pendidikan, agama, pengalaman, dan sebagainya. 42
Seperti halnya jika di antara kerumunan itu seorang
yang tidak suka pada komunikator, maka dia berusaha mencari
kesempatan untuk melempar dengan sandal dan yang lainnya
tanpa tahu permasalahan akan mengikuti tindakan tersebut.
Adapun Karakteristik komunikasi kelompok.
Beberapa karakteristik komunikasi kelompok yaitu:
Komunikasi
Kelompok
bersifat
formal,
dalam
arti
pelaksanaannya direncanakan terlebih dahulu, sesuai dengan
komponen-komponennya.
Komunikasi kelompok terorganisir, yaitu orang-orang
yang tergabung dalam kelompok mempunyai peranan dan
tanggung jawab masing-masing dalam mencapai tujuan .
Komunikator kelompok terlembagakan, dalam arti
ada aturan mainnya. Komunikator dalam kelompok ini harus
mencoba mengisolir beberapa proses yang sederhana dan
42
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, h. 128.
mudah dimengerti dari sekian banyak proses-proses yang
timbul secara simultan.
Menggunakan
beberapa
istilah
yang
akan
memudahkan untuk mengorganisir pengamatan43.
Menurut Sasa Djuarsa Sendjaja, karakteristik yang
melekat pada suatu kelompok yaitu: norma dan peran. Norma
adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orangorang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan yang
lainnya. Kadang-kadang norma oleh para sosiolog disebut juga
dengan hukum (Law) ataupun aturan (rule), yaitu perilaku–
perilaku apa saja yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan
dalam suatu kelompok.
Ada tiga kategori norma kelompok yaitu pertama,
norma sosial, yang mengatur hubungan di antara para anggota
kelompok. Kedua norma prosedural, yaitu yang menguraikan
dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus beroperasi,
seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan
apakah melalui suara mayoritas ataukah pembicaraan sampai
tercapai kesepakatan.
Jika diberi batasan sebagai ukuran kelompok yang
akan dapat diterima, maka peran (role) merupakan pola-pola
perilaku yang diharapkan dari setiap anggota kelompok. Ada
43
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, h.125
dua fungsi peran dalam suatu kelompok, yaitu fungsi tugas dan
fungsi pemeliharaan.
Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat
dicerminkan
oleh
adanya
fungsi-fungsi
yang
akan
dilaksanakannya.
Fungsi komunikasi kelompok sebagai berikut :
a. Fungsi hubungan sosial, yaitu bagaimana suatu kelompok
mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial
diantara para anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok
secara rutin memberi kesempatan kepada anggotanya untuk
melakukan aktivitas yang informal, santai dan menghibur.
b. Fungsi pendidikan, dalam arti bagaimana sebuah kelompok
secara formal maupun informal bekerja untuk mencapai dan
mempertukarkan pengetahuan.
c. Fungsi persuasi, yaitu seorang anggota kelompok berupaya
mempersuasi anggota lainnya supaya melakukan atau tidak
melakuakan sesuatu.
d. Fungsi pemecahan masalah dan pembuatan keputusan, yaitu
berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak
diketahui sebelumnya, sedangkan pembuatan keputusan;
berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi.
Jadi pemecahan masalah menghasilkan materi atau bahan
untuk pembuatan keputusan.
e. Fungsi terapi, yaitu membantu setiap individu mencapai
perubahan personalnya, Tentu individu tersebut berinteraksi
dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat,
namun usaha utamanya adalah membantu dirinya sendiri,
bukan membantu kelompok mencapai konsensus. Contoh dari
kelompok terapi ini adalah: kelompok konsultasi perkawinan,
kelompok penderita narkoba dan lain lain44.
5. Bentuk-Bentuk Komunikasi
Bentuk bentuk komunikasi terdapat tiga macam yakni
komunikasi interpersonal antar pribadi, komunikasi kelompok dan
komunikasi massa. Adapun proses komunikasi yang melibatkan
ustaz atau ustazah selaku komunikator dan jamaah sebagai
komunikan penyampaian pesannya pun berlangsung secara lisan dan
melalui tatap muka, maka dalam proses komunikasi tatap muka ini
dapat dibagi dua bentuk komunikasi, yakni bentuk komunikasi
kelompok kecil dan bentuk komunikasi antarpribadi. Dengan uraian
sebagai berikut:
a. komunikasi kelompok kecil Menurut Robert F. Bales mengenai
analisis proses interaksi yang dikutip oleh Raudhonah, bahwa
kelompok kecil adalah
44
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, h. 130
Sejumlah orang yang terlibat antara satu dengan yang lain
dalam suatu pertemuan yang bersifat tatap muka, di mana setiap
peserta mendapat kesan atau penglihatan antara satu dengan yang
lainnya yang cukup kentara, sehingga ia baik pada saat timbul
pertanyaan maupun sesudahnya dapat memberikan tanggapan
kepada masing-masing sesuai perorangan45.
Jamaah yang berada di dalam majelis taklim dikatakan
sebagai kelompok kecil berbeda dengan kelompok besar,
individu-individu dalam kelompok kecil ini bersifat rasional
sehingga setiap pesan yang sampai kepadanya akan ditanggapi
secara kritis. Dalam situasi kelompok kecil ini seorang ustaz atau
ustazaah bisa mengubahnya menjadi komunikasi secara pribadi.
Dalam situasi kelompok kecil ini seorang ustaz sebagai
komunikator haruslah memperhatikan umpan balik komunikan
sehingga ia dapat segera mengubah gaya komunikasinya di kala
ia mengetahui bahwa umpan balik dari komunikan bersifat negatif
karena situasi kelompok kecuali berlangsung secara tatap muka
maka tanggapan komunikan dapat segera diketahui, sehingga
dinamakan umpan balik seketika.
Umpan balik yang diperlukan ustaz bersifat verbal karena
komunikasinya ditunjukan kepada kognisi jamaah.
45
Ibid., h. 128.
Keuntungan bagi seorang komunikator atau ustaz dalam
kelompok kecil ini terdapatnya komunikasi antapribadi, umpan
balik secara langsung, suasana lingkungan komunikasi dapat
diketahui. Sehingga ia dapat mengetahui tanggapan dan reaksi
komunikan pada saat menyampaiakan pesan sehingga, bila
komunikasinya tidak berhasil saat itu juga ia dapat merespon atau
merubah sikapnya secara langsung.
b. Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi
antarpribadi
menurut
Devito
adalah
“pengiriman pesan pesan dari seseorang dan diterima oleh orang
lain atau sekelompok kecil orang dengan efek dan umpan balik
secara langsung”46.
Komunikasi antarpribadi melibatkan komunikasi yang
bebas. Artinya setiap tingkah laku komunikasi mengandung sebab
dan akibat tertentu yang langsung diterima pada saat itu juga,
dengan demikian setiap pesan sebagai aksi selalu mendapat reaksi
dari yang menerimanya. Peristiwa berlangsungnya komunikasi
antarpribadi terjadi tidak berstruktur, bersifat tidak formal, tidak
kaku, dan sangat luwes47.
Menurut Judy C. Pierson yang telah dikutip oleh Sasa
Djuarsa terdapat enam karakteristik komunikasi antarpribadi
yaitu:
46
47
Onong Uchana Effendy, ILmu Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 62-63
Weri, Perspektif Teoritis Komunikasi Antarpribadi, h. 122-123
a.komunikasi antarpribadi dimulai dengan diri sendiri
b. bersifat transaksional
c. mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi
d. mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak-pihak yang
berkomunikasi.
e. melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu sama lain
dalam
proses komunikasi
g. komunikasi antarpribadi tidak dapat diulang atau diubah48.
dengan karakteristik tersebut komunikasi antarpribadi
dinilai ampuh untuk mengubah sikap opini atau prilaku
komunikan dan hubungan ini juga menggunakan teknik
komunikasi persuasif yang mempunyai pengaruh dan pengikut
banyak. Sehingga dapat merubah prilaku opini atau tingkah
komunikan
kedua jenis bentuk komunikasi tersebut memiliki situasi
yang sama yakni tatap muka dan umpan balik yang berlangsung
seketika. Adapun komunikasi antarpribadi lebih efekitif dalam
mengubah sikap opini dan prilaku komunikan , karena diri
komunikan tidak mungkin dikuasai seperti halnya pada
komunikasi antapribadi.
48
Devito Komunikasi Antar Manusia, h.232
B. Pembinaan Ibadah Dan Ruang Lingkupnya
1. Pengertian Pembinaan Ibadah
Pembinaan asal kata dari “bina” yang memiliki arti
membangun, mendirikan. kata “pembinaan” yaitu kata “bina” yang
mendapat awalan – pem dan akhiran–an yang memiliki arti proses,
cara, pembuatan membina, pembaharuan, penyempurnaan. Dalam
kamus besar bahasa Indonesia kata “pembinaan” memiliki arti usaha,
tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk
memperoleh hasil yang lebih baik49.
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia kata “Pembinaan”
mengandung arti penyempurnaan, pembaharuan usaha, tindakan yang
dilakukan secara berdayaguna untuk memperoleh hasil yang baik 50.
Adapun arti kata pembinaan dari segi terminologi yaitu upaya,
usaha
kegiatan
yang
terus
menerus
untuk
memperbaiki,
meningkatkan, mengarahkan dan mengembangkan kemampuan untuk
mencapai tujuan sasaran pembinaan sehari-hari baik dalam kehidupan
pribadi maupun kehidupan sosial dalam masyarakat51.
Dari beberapa definisi mengenai pembinaan maka dapat
disimpulkan bahwa pembinaan adalah sebuah bentuk usaha dalam
mengembangkan kemampuan diri yang dilakukan oleh seseorang
49
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2003). h. 152
50
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang,
1979). h. 23
51
Proyek Penerangan Bimbingan Dakwah Agama, Pembinaan Rohani Islam Pada
Dharmawati, (Jakarta:Penerbit Depag, 1984). h. 126
kepada orang lain agar apa yang diinginkan atau yang menjadi tujuan
dari keduanya dapat tercapai.
Pembinaan ibadah adalah sebuah bentuk usaha dalam
mengembangkan kemampuan diri yang dilakukan oleh seseorang
kepada orang lain yaitu seorang dai kepada mad’u dalam beribadah
atau mengerjakan apa-apa yang diperintahkan Allah Swt, baik dalam
ibadah yang wajib atau yang sunnah agar menjadi hamba yang lebih
baik dan mendapat keridhoan Allah SWT.
a. Ruang Lingkup Ibadah
“Secara Etimologi “kata ibadah” diambil dari bahasa arab
abada-yaidu-ibad-ibadatun
yang
artinya
beribadah
atau
menyembah”52.
Menurut Abu Al-A’ la Al-Maududi, kata abada secara
bahasa pada mulanya memiliki pengertian kedudukan seseorang
kepada orang lain dan orang tersebut menguasainya oleh karena
itu, ketika disebut kata alabidi dan alabidatu yang cepat tertangkap
dalam pikiran orang yaitu ketundukan dia, kehinaan budak di
hadapan majikan dan mengikuti segala macam perintahnya 53.
Yusuf Al-Qardhawi juga menjelaskan bahwa: kata ibadah
diambil dari bahasa Arab yang secara etimologi berasal dari kata
52
Atabik Ali dan Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Indonesia Arab, (Yogyakarta:
Multi Karya Grafika, Cet. 5 h. 1268
53
Yusuf Al-Qardhawi, Ibadah dalam Islam Terj. Umar Fanami, (Surabaya: PT Biru Ilmu,
1988). h. 37
abada, yaidu, yang berarti tunduk, taat, patuh, merendahkan diri.
Adapun sesorang yang tunduk, patuh dan merendahkan diri
dihadapan yang disembah disebut Abid ( yang beribadah)54.
Pengertian ibadah secara termologi adalah nama yang
mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridhoi oleh Allah,
baik berupa perkataan maupun perbuatan. Secara sembunyisembunyi atau terang-terangan dalam rangka mengagungkan Allah
dan mengharap ridho dan pahalanya.
Dari beberapa pengertian ibadah di atas maka dapat
disimpulkan bahwa ibadah yaitu segala sesuatu yang dilakukan
seseorang
dengan
tujuan
mengharap
ridho
Allah
dan
melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah atas dirinya agar
mendapat pahala dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
b. Macam-Macam Ibadah
Ibadah ditinjau dari ruang lingkupnya terbagi atas dua macam:
a. Ibadah Khashah, adalah dimana ibadah yang ketentuan dan
cara pelaksanaannya secara khusus ditetapkan oleh Nash,
seperti sholat, zakat, puasa, haji, dan lain sebagainya.
b. Ibadah Ammah, adalah semua perbuatan baik yang dilakukan
dengan niat yang baik dan semata-mata karena Allah SWT
(ikhlas), seperti makan, minum, bekerja, amar makruf nahi
54
Yusuf Al-Qardhawi, Ibadah dalam Islam Terj. Umar Fanami, (Surabaya: PT Biru Ilmu,
1988). h. 40
munkar, berlaku adil berbuat baik kepada orang lain dan
sebagainya55.
Adapun yang disunatkan dalam ibadah khususnya ibadah
sholat, seperti adzan, menjawab adzan, iqomat, sholat sunanat
rawatib dan berdzikir seperti tasbih dan doa56.
Pembinaan ibadah adalah sebuah bentuk usaha dalam
mengembangkan kemampuan diri yang dilakukan oleh seseorang
kepada orang lain yaitu seorang dai kepada mad’u dalam beribadah
atau mengerjakan apa-apa yang diperintahkan Allah Swt, baik
dalam ibadah yang wajib atau yang sunnah agar menjadi hamba
yang lebih baik dan mendapat keridhoan Allah SWT.
C. Majelis Taklim
1. Pengertian, Fungsi dan Tujuan Majelis Taklim
Pengertian majelis taklim dalam kamus Munjid yang dikutip
oleh Luis Ma’luf , kata majelis berasal dari bahasa arab yang berarti
majlis tempat duduk, berasal dari kata jalasa, majlisi, yajlisu jadi kata
majelisun merupakan isim makan (kata keterangan tempat) dari kata
jalasa yang berarti suatu
tempat duduk, yang mana di dalamnya
berkumpul orang orang.
Zukairin
berkumpulnya
55
mengomentari
sekelompok
bahwa
orang
untuk
majelis
yaitu
melakukan
tempat
kegiatan,
Rahman Ritongga dan Zainuddin, fiqh Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007),
Cet. Ke-1, h. 10
56
Fikih Sunnah dan Pendapat Empat Madzhab (Singapore: Darul Sunah, 1996), h. 223
tempatnya dapat berupa masjid, rumah atau juga tempat khusus yang
dibangun untuk suatu kegiatan. Sehingga dikenal sebagai majelis
syuro: majelis taklim dan sebagainya.
Bila diperhatikan kata majelis taklim ini berasal dari dua kata ,
yaitu majelis dan taklim.
Ada beberapa arti dari kata majelis ini di antaranya:
a. Dalam Ensiklopedia Islam dikatakan bahwa majelis adalah suatu
tempat yang di dalamnya berkumpul sekelompok orang untuk
melakukan aktivitas atau perbuatan57.
b. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia majelis adalah pertemuan dan
perkumpulan orang banyak atau bangunan tempat orang berkumpul58
Dan kata taklim berasal dari kata alama-yu’limu-ta’liman
yang artinya mengajarkan59. Dan dalam kamus besar bahasa Indonesia
pengertian taklim adalah melatih manusia60.
Dari beberapa definisi taklim di atas maka dapat ditarik garis
besarnya bahwa taklim adalah suatu bentuk aktif yang dilakukan oleh
orang yang ahli dengan memberikan atau mengajarkan ilmu kepada
orang lain. Dan bila kata majelis dan taklim dijadikan satu yaitu
57
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. (ed), Majelis, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: Ichtiar
Baru Van Hoeve, 1994). h. 121
58
Depdikbud, Kamus Indonesia- Arab, (Jakarta: Bulan Bintan, 1987), cet, ke-1, h. 2
59
Asad. M. Kalah, Kamus Indonesia-Arab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), cet, ke-2 h. 8
60
Depdikbud, h. 30
majelis taklim maka dapat diartikan dengan tempat pengajaran atau
tempat memberikan dan mengajarkan ilmu agama 61.
Adapun Fungsi majelis taklim Menurut Prof. H. M. Arifin,
M. Ed. Mejelis taklim sebagai pengokoh landasan hidup manusia
Indonesia, khususnya dalam bidang mental spiritual keagamaan Islam
dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya secara integral,
lahiriyah dan bathiniyah, duniawi atau ukhrawi, secara simultan
(kebersamaan), sesuai tuntunan agama Islam yaitu iman dan taqwa
yang
melandaskan
kehidupan
duniawi
dalam
segala
bidang
kegiatannya 62.
Menurut Nurul Huda fungsi majelis taklim sebagai lembaga
pendidikan non formal adalah:
a. Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk
masyarakat yang bertaqwa kepada Allah
b. Sebagai taman rekreasi rohaniah, karena penyelenggarannya yang
santai.
c. Sebagai tempat berlangsungnya silaturahmi, misal yang dapat
menghidup suburkan dakwah dan ukhuwah Islamiyah.
d.Sebagai media sarana dialog berkesinambungan antara ulama dan
umat.
61
Nurul Huda, Pedoman Majelis Ta’lim, (Jakarta: KODI DKI Jakarta, 1990), Cet, ke-2,
h. 5.
62
M. Arifin, Kapita selekta Pendidikan (Islam dan umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1995),
cet, ke- 3, h. 120
e. Sebagai
media
penyampaian
gagasan
yang
bermanfaat
bagi
pembangunan umat dan bangsa pada umumnya63.
f. Adapun Dra. Hj. Tutty Alawiyah AS, dalam bukunya Strategi
Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim, merumuskan tujuan dari segi
fungsinya, yaitu:
Pertama, berfungsi sebagai tempat belajar, maka tujuan majelis
taklim adalah menambah ilmu dan keyakinan agama, yang akan
mendorong pengalaman ajaran agama.
Kedua, berfungsi sebagai tempat kontak sosial, maka tujuannya
silaturahmi.
Ketiga, berfungsi mewujudkan minat sosial maka tujuannya
meningkatkan kesadaran dan kesejahteraan rumah tangga dan lingkungan
jamaahnya64.
Muhsin MK pun dalam bukunya tidak memisahkan antara tujuan
dan fungsi majelis taklim. Paparnya dalam bukunya yang berjudul
“Manajemen Majelis Takilm”. apabila dilihat dari makna dan sejarah
berdirinya
majelis
taklim
dalam
masyarakat,
bisa
diketahui
dan
dimungkinkan lembaga dakwah ini berfungsi dan bertujuan sebagai berikut:
a. Tempat Belajar-Mengajar
63
Nurul Huda, pedoman Majelis taklim, h. 9
Tuty Alawiyah AS, Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Taklim. (Bandung:
Mirzan, 1997 h.5
64
Majelis taklim dapat berfungsi sebagai tempat kegiatan
belajar mengajar umat Islam, khususnya bagi kaum perempuan
dalam rangka meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan
pengalaman ajaran Islam.
b. Lembaga Pendidikan dan Keterampilan
Majelis taklim
juga
berfungsi
sebagai
lembaga
pendidikan dan keterampilan bagi kaum perempuan dalam
masyarakat yang berhubungan, antara lain dengan masalah
pengembangan kepribadian serta pembinaan keluarga dan
rumah tangga sakinah mawaddah warohmah. Melalui Majelis
taklim inilah, diharapkan mereka menjaga kemuliaan dan
kehormatan keluarga dan rumah tangganya.
c. Wadah Berkegiatan dan Berkreativitas
Majelis
taklim
juga
berfungsi
sebagai
wadah
berkegiatan dan berkreativitas bagi kaum perempuan. Antara
lain dalam berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Negara dan bangsa kita sangat membutuhkan
kehadiran perempuan yang sholihah dengan keahlian dan
keterampilan sehingga dengan kesalehan dan kemampuan
tersebut dia dapat membimbing dan mengarahkan masyarakat
ke arah yang baik.
d. Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Majelis taklim juga berfungsi sebagai pusat pembinaan
dan pengembangan kemampuan dan kualitas sumber daya
manusia kaum perempuan dalam berbagai bidang seperti
dakwah, pendidikan sosial, dan politik yang sesuai dengan
kodratnya.
e. Jaringan Komunikasi, Ukhuwah dan Silaturahim
Majelis taklim juga diharapkan menjadi jaringan
komunikasi, ukhuwah, dan silaturahim antar sesama kaum
perempuan, antara lain dalam membangun masyarakat dan
tatanan kehidupan yang Islami65
Jika kita perhatikan dengan teliti, penjelasan Muhsin
MK di atas mengkhususkan majelis taklim yang pesertanya
adalah dari kaum wanita. Tapi tidak menutup kemungkinan
bahwa kaum lelaki pun dapat mengadakan majelis taklim.
Hanya saja di Jakarta dan sekitarnya mungkin lebih banyak
dikenal majelis taklim yang banyak dari kaum wanita
pesertanya.
2. Macam-Macam Majelis Taklim
Majelis taklim yang tumbuh dan berkembang di dalam
masyarakat Indonesia jika dikelompok-kelompokkan ada berbagai
macam, antara lain dilihat dari jamaahnya, yaitu:
65
http://uchinfamiliar.blogspot.com/2009/02/pengertian-majelis-taklim-
dasar-hukum.html
Majelis taklim kaum ibu/muslimah/perempuan, majelis taklim
kaum bapak/muslimin/laki-laki, majelis taklim kaum remaja, majelis
taklim
anak-anak,
majelis
taklim
campuran
laki-laki
dan
perempuan/kaum bapak dan ibu
a. Dilihat dari organisasinya, majelis taklim ada beberapa macam,
yaitu:
Majelis taklim biasa, dibentuk oleh masyarakat setempat tanpa
memiliki legalitas formal kecuali hanya memberi tahu kepada
lembaga pemerintahan setempat, majelis taklim berbentuk
yayasan, biasanya telah terdaftar dan memiliki akte notaris,
majelis taklim berbentuk ormas, majelis taklim di bawah ormas.
b. Dilihat dari tempatnya, majelis taklim terdiri dari:
Majelis taklim masjid atau mushola, majelis taklim perkantoran,
majelis taklim perhotelan, majelis taklim pabrik atau industri,
majelis taklim perumahan66
3. Sejarah Majelis Taklim
Dilihat dari segi historis Islami, majelis taklim dengan dimensi yang
berbeda-beda telah berkembang sejak zaman Rasululah saw. Pada zaman itu
muncul berbagai jenis kelompok pengajian sukarela, tanpa bayaran, biasa
disebut Halaqah, yaitu kelompok pengajian di Masjid Nabawi atau Masjid AlHaram. Ditandai dengan salah satu pilar masjid untuk dapat berkumpulnya
66
http://uchinfamiliar.blogspot.com/2009/02/pengertian-majelis-taklim-dasar-hukum.html
peserta kelompok masing-masing dengan seorang sahabat yaitu ulama
terpilih67.
Dari sejarah kelahirannya, majelis taklim merupakan lembaga
pendidikan tertua dalam Islam, sebab sudah dilaksanakan sejak zaman
Rasulullah saw. sekalipun tidak disebut dengan majelis taklim. Rasulullah saw
menyelenggarakan sistem taklim secara priodik di rumah sahabat Arqam di
Mekkah dimana pesertanya tidak dibatasi oleh usia dan jenis kelamin.
Di kalangan anak-anak pada zaman Nabi juga dikembangkan
kelompok pengajian khusus yang disebut Al-Kuttab, mengajarkan baca AlQuran, yang pada masa selanjutnya menjadi semacam pendidikan formal untuk
anak-anak, karena di samping baca Al-Quran juga diajarkan ilmu agama
seperti fikih, tauhid, dan sebagainya68.
Pada priode Madinah, ketika Islam telah menjadi kekuatan nyata
dalam masyarakat, penyelengaraan pengajian lebih pesat. Rasulullah saw
duduk di Masjid Nabawi memberikan pengajian kepada sahabat dan kaum
muslimin ketika itu.
Dengan cara tersebut Nabi saw telah berhasil menyiarkan Islam, dan
sekaligus berhasil membentuk karakter dan ketaatan umat. Nabi saw juga
berhasil membina para pejuang Islam yang tidak saja gagah perkasa di medan
67
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), Cet Ke-
1, h. 203.
68
Ibid., h. 206
perjuangan bersenjata membela dan menegakkan Islam, tetapi juga terampil
dalam mengatur pemerintahan dan membina kehidupan masyarakat 69.
Pengajian yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. tersebut
dilanjutkan oleh para sahabat, Tabi’ Al-tabi’in dan sampai sekarang
berkembang dengan nama majelis taklim, yaitu pengajian yang diasuh dan
dibina oleh tokoh agama/ulama.
Pada masa puncak kejayaan Islam, terutama disaat Bani Abbas
berkuasa, majelis taklim di samping dipergunakan sebagai tempat menimba
ilmu, juga menjadi tempat para ulama dan pemikir menyebarluaskan hasil
penemuan atau ijtihadnya. Barangkali tidak salah bila dikatakan bahwa para
ilmuan Islam dalam berbagai disiplin ilmu ketika itu merupakan produk dari
majelis taklim.
Sementara di Indonesia, terutama disaat-saat penyiaran Islam oleh
para Wali dahulu, juga mempergunakan majelis taklim untuk menyampaikan
dakwah.
Dengan
pendidikan
demikian,
tertua
di
majelis
Indonesia.
taklim
Barulah
juga
merupakan
kemudian
seiring
lembaga
dengan
perkembangan ilmu dan pemikiran dalam mengatur pendidikan, di samping
Majelis Taklim yang bersifat non-formal, tumbuh lembaga pendidikan yang
formal, seperti Pesantren, Madrasah, dan Sekolah.
69
1, h. 209.
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), Cet Ke-
KH. Abdullah Syafi’ie (1910-1985) adalah orang pertama yang
memperkenalkan istilah majlis ta’lim (sering ditulis ; majelis taklim). Beliau
mengembangkan pengajian di masjid Al-Barkah yang beliau sebut dengan
majelis taklim, baik untuk bapak-bapak maupun yang dikhususkan untuk ibuibu. Akhirnya istilah majelis taklim menjadi trade mark dari pengajianpengajian KH. Abdullah Syafi’ie. Sebelum itu orang jika ingin menghadiri
pengajian tidak pernah menyebutnya pergi ke majlis taklim, tetapi lebih suka
menyebutnya mau pergi ke pengajian70.
Penamaan majlis taklim akhirnya melahirkan identitas tersendiri yang
membedakan dengan pengajian umum biasa, yaitu sifatnya yang tetap dan
berkesinambungan. Akhirnya terbukti bahwa kegiatan yang bersifat majlis
taklim itu menjadi kebutuhan masyarakat Islam, baik di kota-kota yang sibuk
maupun di desa-desa yang terpencil.
Jadi, menurut pengalaman historis, sistem majelis taklim telah
berlangsung sejak awal penyebaran Islam di Saudi Arabia, kemudian menyebar
ke berbagai penjuru dunia Islam di Asia, Afrika, dan Indonesia pada khususnya
sampai sekarang.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa mejelis taklim
memiliki fungsi dan tujuan sebagai lembaga pendidikan non formal keagamaan
khususnya agama Islam, yang berupaya menjadi sarana bagi terwujudnya
70
http://bintuahmad.wordpress.com/2012/04/09/majelis-talim-seputar-
pengertian-kedudukan-fungsi-dan-tujuan/
orang -orang muslim yang ingin memperoleh pengetahuan agama atau ajaran
Islam lebih dalam, agar menjadi manusia yang memahami agama Islam secara
kaffah. Untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
BAB III
GAMBARAN UMUM MAJELIS TAKLIM
MUSLIMAT NU DAN AL- BARKAH
A. Majelis Taklim Muslimat NU
1. Sejarah Berdirinya Majelis Taklim Muslimat NU 71.
a. Internal:perkembangan
Nahdlatul
Ulama
sebagai
organisasi
kegamaan membutuhkan peran perempuan dalam mentradisikan
ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah.
b. Dari segi eksternal: sejak 1917 telah muncul oragnisasi perempuan
seperti Aisyiyah, Persistri (wanita Persis), Wanita Syarikat Islam
Indonesia (PSII) maupun wanita Al-Irsyad.
c. Dinamika perlunya membentuk organisasi perempuan NU ke-13 di
menes Banten tahun 1938 (masih menjadi perdebatan diantara
ulama)
d. Rumusan berdirinya Muslimat NU dibahas pada Muktamar ke-14
di Magelang tahun 1939. Komisi bidang perempuan dipimpin Ny
Djuaesih. Dihadiri perwakilan Muntilan, Sukoharjo, Kroya,
Wonosobo,
Surakarta,
Magelang,
Parakan,
Purworejo
dan
Bandung. Rumusan lengkap AD/ART dibahas pada muktamar ke
15 tahun 1940 di Surabaya namun belum disetujui peserta
Muktamar.
71
Sumber: Arsip Majelis Taklim Muslimat NU
e. Mukatamar NU ke-16 di Purwokerto pada 29 Maret 1946
mensahkan berdirinya organisasi Muslimat NU yang waktu itu
bernama Oelama Muslimat (NOM). Ulama yang Muslimat antara
lain KH Moh Dahlan, Saifuddin Zuhri, sebagai ketua Umum, Ibu
Nyai Chodijah Dahlan dari Pasuruan.
f. Masa Pra kemerdekaan
Bergabung dalam perjuangan revolusi dalam kegiatan seperti
menjadi kurir, mengelola dapur umum, mengumpulkan bahan
makanan, pakaian, obat-obatan bahkan mengangkat senjata dalam
barisan Hizbullah, Sabillah, Palang Merah Indonesia dll.
g. Kiprah Masa Orde Lama
Muktamar NU ke 19 di Palembang pada tahun 1952,
Muslimat NU menjadi Badan otonom. Pada Kongres Muslimat NU
tahun 1954, Muslimat NU minta kepada PBNU untuk dapat
dicalonkan sebagai anggota legislatif. Kongres juga menetapkan
pemilihan pimpinan Muslimat NU secara demokratis.
Dalam pemilu 1955, Muslimat berhasil menempatkan 5
wakilnya dalam Fraksi partai NU, Ibu Mahmudah Mawardi, dan
Ibu Maryam Kantasumpena dari Jawa Tengah, Ibu Maryam
Djunaidi dan Ibu Hadiniyah Hadi dari Jawa Timur dan Ibu Asmah
Syahruni dari Kalimantan Selatan.
Berperan serta dalam Program pemberdayaan perempuan
Nasional dengan masuknya Muslimat NU sebagai salah satu ketu
jajaran KOWANI (ny Mahmudah Mawardi 1956-1965, Ny
HAS Wahid Hasyim, 1966-1968, Ny. Asmah Syachruni, 19681973, Farida Purnama.
h. Kiprah Masa Orde Baru
Setelah G30S/PKI berlalu dan Negara kembali normal,
pemerintah sangat phobia terhadap parpol Ormas Pesantren. Dalam
kehidupan politik dilakukan pengelompokan masyarakat ke dalam:
kekaryaan, Nasoinalis dan Agama. Hanya ada parpol: Golongan
karya, PDI (Fusi PNI, Partai Katolik, Partai Kristen dsb) dan Partai
Persatuan Pembangunan (Fusi Partai NU, Masyumi dsb).
Dilingkungan Ormas, Keagamaan Pemerintah juga terlihat.
Pokoknya pembatasan-pembatasan diberlakukan Guru, PNS, Istriistri yang suaminya tergabung di BUMN, BUMD dsb dilarang ikut
Ormas apakah itu ORmas perempuan maupun Ormas umum.
Untuk menyiasati itu maka pada tahun 1963, tokoh-tokoh
Muslimat, mula-mula tanpa NU, kemudian setelah keadaan
kondusif ditambahkan kata NU.
Hubungan Muslimat NU dengan pemerintah tidak mesra
seperti sekarang namun kucing-kucingan. Kepengurusan NU dan
seluruh
Banom
mengalami
kekosongan
guru,
PNS
dsb.
Kepengurusan NU sejak 1967 hingga 1979 vakum.
Baru setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan
dapat melaksanakan kongres NU dan Kongres Muslimat serta
Fatayat NU tahun 1979 di Semarang. Terpilih sebagai ketua umum
Ibu Asmah Syahruni menggantikan Ibu Mahmudah Mawardi
i. Kiprah Era Reformasi
Dalam masa reformasi, keterbukaan menjadi keuntungan
bagi Muslimat NU. Tokoh-tokoh muslimat NU bermunculan ke
permukaan dan memainkan perannya dengan baik di pemerintah
legislatif maupun lembaga formal lainnya
Muslimat NU dapat mengambil peran secara optimal.
Hubungna dengan PBNU makin baik dan hubungan berbagai pihak
berdatangan. Keberhasilan Muslimat NU sekarang ini tidak
terlepas dari perjuangan dan keberhasilan tokoh-tokoh Muslimat
NU yang terdahulu.
Adapun Muslimat NU yang ada berdiri pada tanggal 29
Maret 1946 secara Nasional di Depok sendiri pada tahun 1998.
Pada periode 1998-2011 Muslimat NU Depok diketuai oleh: Dra
Hj Dedeh Rosyidah dan periode 2011-2016 : diketuai oleh Hj Dewi
Syarifah, MSi.
2. Visi dan Misi Majelis Taklim Muslimat NU 72
a)
Visi Muslimat NU
Terwujudnya
wanita
Indonesia
yang
sadar
beragama,
berbangsa dan bernegara serta berkualitas, mandiri dan sadar akan hak
dan kewajibannya menurut ajaran Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
b)
Misi Muslimat NU
a. Mempersatukan gerak langkah wanita Ahlu sunnah wal
jamaah.
b. Menanamkan dan melaksanakan akhlakul karimah dalam
kehidupan sehari hari
c. Meningkatkan kualitas SDM wanita muslimah, sehingga
menjadi mar’atus shalihah untuk memperkuat rasa tanggung
jawab terhadap Agama, Bangsa dan Negara 73.
3. Profil Majelis Taklim Muslimat NU 74
Majelis Taklim muslimat NU ini berdiri pada tanggal 29 Maret
1946 dan di Depok sendiri berdiri pada Tahun 1998 di dalam Majelis
Taklim ini tidak hanya bernaung pada dakwah saja, namun begitu banyak
kegiatan lain yang terdapat dalam Majelis Taklim Muslimat NU, di
antaranya Muslimat NU ini bergerak dalam bidang sosial kesehatan,
lingkungan hidup, pendidikan dan pengkaderan , penerangan dan dakwah,
ekonomi dan koperasi, tenaga kerja, hukum dan advokasi, membina kerja
sama dengan bandan-badan organisasi lain.
72
Sumber: Arsip Majelis Taklim Muslimat NU
Sumber: Arsip Majelis Taklim Muslimat NU
74
Ibid.,
73
Muslimat NU memiliki banyak cabang dan di Jakarta sendiri
Muslimat NU berpusat di Masjid Istiqlal, dan di kota Depok Majelis
Taklim Muslimat NU letakknya di Balaikota Depok atau kantor Walikota
Depok.
Majelis Taklim yang memiliki lebih dari 500 jamaah ini banyak
mengadakan kegiatan-kegiatan gabungan dengan Majelis Taklim NU lain
yang ada di kota yang berbeda, seperti contoh pada tanggal 14 januari 2014
Majelis Taklim ini mengadakan pengajian bulanan yang diadakan di Masjid
Kubah Emas Depok, jamaah yang hadir lebih kurangnya 13000 orang
jamaah dari berbagai kota.
Kesimpulan dari profil majelis taklim NU ini, memiliki tujuan yang
sangat jelas yaitu menyatukan wanita Indonesia agar berpegang teguh
dalam agama dan menurut ajaran Islam yang Ahlussunnah Wal Jamaah.
Struktur profil Pimpinan Cabang Muslimat NU Kota Depok 75.
1. Nama Lembaga:
Pimpinan Cabang Muslimat NU
Kota Depok
Alamat Lembaga:
2. Pendirian:
75
JL. Nusantara Raya No. 5-7 Depok
Kelurahan:
Depok jaya
Kecamatan:
Pancoran Mas
Kota:
Depok
Provinsi:
Jawa Barat
29 Maret 1946 ( Nasional)
Sumber: Arsip Majelis Taklim Muslimat NU
Di Depok berdiri 9 mei 2011
3. Nama Pengasuh:
KH. Burhanudin Marzuki.
4. Alamat Pengasuh:
Pesantren Qotrun Nada Cipayung
Depok
5. Ketua Pengurus:
Hj. Dewi Syarifah, MSi
6. Alamat Pengurus:
Beji Rt 04 RW 16 Kota Depok
Periode 1998-2011: Dra Hj Dedeh Rosyidah
Periode 2011-2016: Hj Dewi Syarifah, MSi
7. Jumlah Ustaz/Ustazah:
10 orang
A.
KH. Burhanudin Marzuki
B.
KH. Yusuf Hidayat, MA
C.
Prof DR KH Manarul Hidayat
D.
KH. Syihabuddin
E.
Ustazah Dedeh Rosyidah
F.
Ustazah Yuyun Yuliyana
G.
Ustazah Titiek Aisyah
H.
Ustazah Rumini
I.
Ustazah Hj Suharti
J.
Ustazah Hj Siti Hasanah
8. SK Pengurus: SK ketua PP Muslimat NU, Hj KHofifah
Indra Parwansa.
9. Jumlah Struktur dan perangkat
a.
Jumlah pengurus pimpinan Cabang
b.
Jumlah pimpinan Anak Cabang Muslimat NU :
11 AC Kecamatan
c.
Jumlah Pimpinan Ranting Muslimat NU:
63
Pimpinan Ranting Kelurahan.
d.
Jumlah Perangkat:
-Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU ( YKM)
-Yayasan Pendidikan Muslimat NU ( YPMO)
-Yayasan Haji Muslimat NU (YHM)
-Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat NU
-Koperasi Annisa
10. Jumlah kegiatan:
- Majelis taklim PC MNU 1 Buah
- Majelis taklim binaan PAC dan PR 500 buah
- PAUD binaan 5
- Posyandu binaan 33
- Posbindu binaan 33
- BKB binaan 1 buah
11. Kegiatan:
- Berdasarkan hasil Kongres Muslimat NU
- Berdasarkan AD/ ART
- Berdasarkan kebutuhan dan kemampuan PC
- Berdasarkan rekomendasi
12. Rekening organisasi dan NPWP organisasi
- Rekening Bank Jabar Banten cabang Depok
nomor: 0026681091100
- Rekening Bank Rakyat Indonesia cabang
Nusantara nomor: 091101038567534
- NPWP Nomor: 01. 935.266.5-412.001
4. Jadwal Pengajian Majelis Taklim Muslimat NU
ï‚· Mingguan dilaksanakan tiap hari Jum-at di gedung MUI Jalan
Nusantara 5-7 Depok
ï‚· Bulanan dilaksanakan tiap Kamis Minggu pertama di Masjid Baitul
Kamal Pemkot Depok Jalan Margonda Raya No 54 Depok.
ï‚· Tiap hari besar Islam bertempat di masjid Kubah Mas Kecamatan
Limo Kota Depok.
5. Struktur Organisasi Majelis Taklim Muslimat NU 76
76
Ketua Umum:
Ustazah. Dra. H. Dewi hulaena
Ketua 1:
ustazah. Hj. Yulianah ZA
Ketua 2:
Ustazah. Hj. Enung Sumiati
Sekretaris Jenderal:
Ustazah. Ine Hardiyati, S.Pd. I
Sekretaris Umum:
Ustazah. Aliyah, S.Ag
Sekretaris 1:
Rini lestiawati, BSC
Sekretaris 2:
Hj. Yuni Diah
Sumber: Arsip Majelis Taklim Muslimat NU
Bendahara Umum:
Ustazah. Hj. Elia Masykur
Bendahara 1:
Ustazah. Hj. Maemunah
Bendahara 2:
Hj. Trie Sudarwati
6. Program Pembinaan Majelis Taklim Muslimat NU
Seperti kebanyakan majelis taklim yang ada di kota Depok,
Program pembinaan yang ada di Majelis Taklim Muslimat NU sama saja
dengan majelis Taklim biasanya Seperti:
1. Membaca Surah Yasin dan Tahlil
Yang di lakukan oleh seluruh ibu-ibu jamaah pengajian
yang dipimpin oleh bergiliran oran. Di dalam pembacaan surah
yasin dan tahlil ini sebagai pembuka pengajian, yaitu mengirim
hadiah fatihah untuk orang orang yang sudah wafat.
2. Membaca Istigosah
Istigosah ini adalah pembacaan sholawat dan puji
pujian kepada nabi Muhammad, istigosah ini dilakukan ketika
seseorang memiliki keinginan yang besar dan memohon
kepada Allah agar cepat diterima doanya, singkatnya istigosah
ini adalah tawasul kepada orang orang sholeh sebelum kita.
3. Membaca Ratib Al-Athos.
Setelah membaca yasin dan tahlil dilanjutkan membaca
ratib Al-Athos, Ratib Al-Athos ini adalah kumpulan bacaan
bacaan dzikir yang di karang oleh Al Habib Umar bin
Abdurahman Al Athos, Ratib Al Athos ini dibaca bersama sama
ibu-ibu pengajian.
4. Ceramah Agama
Ceramah agama disampaikan oleh KH. Burhanudin
Marzuki atau ustazah Yuliayana, dalam pembiasaan ini atau
pembinaan ini dengan maksud agar setiap jamaah yang
mendengarkan dapat menerima ilmu-ilmu agama yang baru
dan memahami hakikat ibadah Ahlussunah Wal Jamaah77.
Adapun materi pembelajaran di dalam majelis
taklim Muslimat NU di antaranya: kajian kitab, syariat,
Aqidah, Ubudiyah, Tarikh, Tafsir, Seni Islam78.
B. Majelis Taklim Al-Barkah
1. Sejarah Berdirinya Majelis Taklim Al-Barkah
Sebagai majelis taklim terkecil yang ada di kecamatan
Pancoran Mas depok. Sejarah Majelis Taklim Al-Barkah ini sudah
berdiri sejak tahun 1977 Majelis Taklim yang berada di perkampungan
kecil sangat jauh dari perkotaan.
Majelis Taklim Al-Barkah pertama kali berdiri dan dimulai
tidak langsung di Masjid Al-Barkah, sebelum berdirinya masjid yang
diwakafkan oleh bapak Kasirun selaku kaka dari ibu Suinah ketua
majelis taklim Al-Barkah, majelis taklim ini diadakan di rumah ibu
77
Wawancara Pribadi dengan Ustdazah Yuliyana Selaku Ustadzah Atau Guru di Majelis
Taklim Muslimat Nu Depok, 20 April 2014
78
Sumber: Arsip Majelis Taklim Muslimat NU
Suinah, jamaahnya masih terbilang sangat banyak yaitu 50 jamaah.
“karena saking kelamaannya jadi pada bubar deh ujar bu Suinah.
Majelis taklim Al-Barkah pada tahun 80an masih begitu
banyak, namun dengan perkembangan zaman yang semakin banyak
pendatang, akhirnya Majelis Taklim Al-Barkah terpecah pecah menjadi
10 majelis taklim di perkampungan Rawa Geni.
Sekarang si yang ikut ngaji Cuma ibu-ibu sini aja ga ada yang
jauh jauh kaya dulu” ujar bu Suinah. Majelis taklim Al Barkah sekarang
ini hanya tidak lebih dari 15 orang79.
2. Visi dan Misi Majelis Taklim Al-Barkah
a. Visi Majelis Taklim Al-Barkah
Menjadikan para ibu-ibu agar dapat membaca ayat ayat suci
Al-Qur’an dan mengamalkannya sekaligus mengerti hak dan
kewajiban sebagai seorang wanita dan istri yang sholehah, dan
dapat menghidupkan agama bagi lingkungan sekitarnya.”
b. Misi Majelis Taklim Al-Barkah
ï‚·
Menjadikan para ibu ibu yang memahami agama secara
menyeluruh
ï‚·
Menanamkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memahami
maknanya
79
mei 2014
Wawancara Pribadi Dengan Ibu Suinah Selaku Ketua Majelis Taklim Al-Barkah, 01
ï‚·
Meningkatkan semangat untuk terus mengingat Allah SWT
dalam setiap dzikir dan sholawat atas Nabi Muhammad saw
ï‚·
Memperkokoh akhlak kepada Allah dan kepada manusia80
3. Profile Majelis Taklim Al-Barkah
Majelis Taklim Al-Barkah sebagai majelis taklim Terkecil di
Kecamatan Pancoran Mas Depok adalah Majelis Taklim ibu-ibu. Di
dalamnya mengadakan pembinaan ibadah seperti membaca ayat-ayat
suci Al-Qur’an dan mendengarkan ceramah agama yang disampaikan
oleh ustazah Hj. Umi Qomariah dan jika ustazah Hj Umi Qomariah
berhalangan hadir digantikan oleh ustaz Dede Wahyudin. Majelis
Taklim ini diadakan di masjid yang bernama Masjid Al-Barkah, di
pojok perkampungan yang jauh dari suasana perkotaan.
Majelis taklim Al-Barkah tidak hanya dimiliki ibu-ibu saja,
di dalam majelis taklim Al Barkah terdapat pula majelis taklim bapakbapak yang di laksanakan pada malam Minggu jumlah jamaahnya lebih
banyak dibanding dengan ibu-ibu berjumlah 28 orang. Dan Majelis
Taklim remaja yang dilaksanakan pada malam Sabtu jumlah jamaahnya
12 orang.
80
Wawancara Pribadi Dengan Ustadzah Umi Qomariah Selaku Ketua Majelis Taklim AlBarkah, 03 mei 2014
Di dalam Masjid ini dalam satu minggu memiliki tiga
kegiatan yaitu Majelis Taklim ibu-ibu, Majelis Taklim bapak-bapak dan
Majelis Taklim remaja81
4. Jadwal Pengajian Majelis Taklim Al Barkah
Sebagai Majelis Taklim terkecil. Majelis Taklim Al-Barkah memiliki
jadwal pengajian kaum ibu pada hari Minggu jam 09:00-11.30 satu Minggu
sekali dan Majelis Taklim ini mengadakan pengajian bulanan yaitu satu bulan
sekali di akhir bulan pada hari Minggu. Pengajian bulanan ini menjadi
pengajian gabungan satu Rw 19 adapun tempat dilaksanakannya bergiliran
dari satu majelis ke majelis lain
5. Struktur Organisasi Majelis Taklim Al Barkah
Karena Majelis Taklim ini Majelis Taklim terkecil dan berada di
perkampungan maka struktur organisasi dalam Majelis ini tidak begitu jelas
seperti Majelis Taklim muslimat NU sebagai Majelis Taklim terbesar.
Ketua
:
Ibu Suinah
Sekertaris :
ibu Sri
Bendahara :
ibu Sri 82
81
Wawancara Pribadi Dengan Ibu Suinah Selaku Ketua Majelis Taklim Al-Barkah, 01
mei 2014
82
Ibid.,
6. Program Pembinaan Ibadah Majelis Taklim Al-Barkah83
1. Membaca surah yasin dan tahlil
Yang dilakukan oleh seluruh ibu ibu jamaah pengajian yang dipimpin oleh
ibu Suinah selaku ketua majelis taklim, di dalam pembacaan surah yasin
dan tahlil ini sebagai pembuka pengajian, yaitu mengirim hadiah fatihah
untuk orang orang yang sudah wafat.
2. Membaca Ratib Al Athos.
Setelah membaca yasin dan tahlil dilanjutkan membaca Ratib Al-Athos,
Ratib Al-Athos ini adalah kumpulan bacaan bacaan dzikir yang dikarang
oleh Al Habib Umar bin Abdurahman Al Athos, Ratib Al-Athos ini dibaca
bersama sama ibu-ibu pengajian.
3. Membaca Aqidah Mujmalah
Setelah membaca Ratib Al-Athos lalu terakhir membaca Aqidah
Mujmalah, bacaan ini sebagai bacaan penutup, setelah selesai membaca
Aqidah Mujmalah lalu ditutup dengan doa.
4. Ceramah Agama
Ceramah agama disampaikan oleh ustazah Hj Umi Qomariah.
Adapun tujuan dari pembacaan-pembacaan ayat suci Al-Qur’an
dan dzikir ini dalam pembinaan ibadah para ibu-ibu jamaah adalah agar
para ibu-ibu dapat terlatih dalam melafadzkan dan fasih dalam membaca
83
Ibid.,
Al-Qur an dan dzikir, selain itu, dari kegiatan pembinaan ibadah ini akan
lebih memudah kan para jamaah menghafal karena dibaca bersama sama 84.
Adapun tujuan dari ceramah agama ini yang dilakukan oleh
ustazah agar para ibu-ibu jamaah dapat mengetahui dan memahami
tentang syariat Islam, baik dalam masalah Fikih, Akhlak maupun Akidah.
Selain itu ustazah ini selalu menerangkan tentang kewajiban kewajiban
seorang istri kepada suaminya agar menjadi istri yang sholehah dan
menjadi muslimah yang dapat membentuk karakter pribadi yang beriman
dan bertaqwa kepada Allah SWT85.
84
Wawancara Pribadi Dengan Ibu Suinah Selaku Ketua Majelis Taklim Al-Barkah, 01
Mei 2014
85
Ibid.,
BAB IV
TEMUAN dan ANALISIS DATA
A. Komunikasi Antarpribadi dalam Pembinaan Ibadah
1. Mejelis Taklim Muslimat NU
Komunikasi antarpribadi dalam Majelis Taklim Muslimat ini
antara ustazah dengan jamaah dalam kegiatan pembinaan ibadah
kurang terlihat, hanya ada beberapa jamaah yang melakukan
komunikasi antarpribadi kepada ustzah dalam kegiatan pembinaan
ibadah, itu pun dilakukan di luar Majelis Taklim, seperti seorang
jamaah yang datang sendiri setelah ditutup doa untuk menanyakan
perihal pembinaan ibadah, atau masalah-masalah yang berkaitan
dengan agama dan yang lainnya.
Berdasarkan observasi yang dilakukan terlihat ibu (Maemunah)
mendatangi ustadzah untuk menanyakan materi wasiat yang tadi di
sampaikan oleh ustadzah. “saya bingung ustadzah waktu bapak saya
meninggal dia berwasiat sama saya kalau meninggal ga mau diadakan
di rumah 7 hari dan tahlil, tapi keluarga besarnya ga percaya sama
saya, akhirnya wasiat itu ga dijalanin dan saya malah jadi dimusuhin
keluarga dari bapak saya, kira-kira saya dosa ga ya ustazah karna tidak
menunaikan wasiat dari bapak saya?” ujar ibu maemunah.
Lalu ustazah Yuliyana menjawab “ yang namanya wasiat harus
pake saksi, begini dah kalau wasiat hanya di sampaikan kepada satu
orang. Jawabannya ga dosa bu karena ibu sudah menyampaikan,
memang apa alasannya orang tua ibu bertanya seperti itu? Tanya
ustzah Yuliyana “ kata bapak saya ga usah buang-buang duit untuk
mengadakan tahlilan , lebih baik duitnya di kasih anak yatim”.
Dari percakapan singkat yang dijabarkan, ibu Maemunah ini
mendapatkan jawaban yang sangat luas dan ada timbal balik secara
langsung sampai sangat jelas jawabannya.
Ini adalah salah satu contoh komunikasi antarpribadi yang
dijelaskan oleh Devito yaitu pengiriman pesan-pesan dari seseorang
dan diterima oleh orang lain atau sekelompok kecil orang dengan efek
dan umpan balik secara langsung” 86
Ini seperti teori dari Devito yang mengatakan bahwa
pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain
atau sekelompok kecil orang dengan efek dan umpan balik secara
langsung 87 . Terbukti bahwa komunikasi antarpribadi yang terjadi
antara jamaah dengan ustazah pada Majelis Taklim Muslimat NU yang
adanya setelah selesai ditutup doa dan seorang jamaah yang datang
sendiri-sendiri untuk menanyakan perihal masalah-masalah agama
maka akan mendapatkan efek atau tanggapan dan umpan balik dari
seorang ustazah secara langsung.
Onong juga menjelaskan bahwa karakteristik komunikasi
antarpribadi adalah dua arah atau timbal balik, masing-masing bisa
86
87
Onong Uchana Effendy, ILmu Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 62-63
Onong UChana Effendy, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 62-63
saling menggantikan posisi, suatu ketika komunikator bisa menjadi
komunikan dan sebaliknya 88 , ini juga terlihat saat seorang ustazah
sedang menjawab pertanyaan jamaah dan tiba-tiba ustazah juga
bertanya balik sampai ditemukan jawaban yang cukup jelas dari
keduanya atau maksud dari keduanya tercapai.
Di bawah naungan Majelis Taklim Muslimat NU ada Majelis
Taklim Jaamiatul Ummahat, di dalam Majelis Taklim ini salah satu
yang diadakannya pelatihan pembacaan Al-Qur’an. Yang dikaji seperti
makhorijul huruf, ragam bacaan dan tajwid ini ada di minggu pertama
hari Jum-at. Ini salah satu contoh komunikasi antarpribadi yang ada di
bawah Majelis Taklim Muslimat NU, karena dalam pelatihan ini maju
satu per satu untuk membaca ayat-Ayat Al-Qur’an.
Sebagaimana teori dari Devito yang mengatakan bahwa
pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain
atau sekelompok kecil orang dengan efek dan umpan balik secara
langsung89. Ini berkaitan dengan penjelasan bahwa di bawah naungan
majelis taklim Muslimat NU ada majelis taklim Jamiatul Ummahat
yang menyediakan komunikasi antarpribadi seperti pelatihan maju satu
per satu untuk membaca ayat suci al-Quran yang mengkaji tentang
makhroj huruf ragam bacaan dan tajwid, dapat dilihat bahwa adanya
feed back langsung antara satu jamaah dengan ustazah yang
mengajarkan.
88
89
Weri, Perpektif Teoritis Komunikasi, (Jakarta: UIN Press, Cet. Ke-1, h. 107-109
Onong UChana Effendy, Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 62-63
Di dalam Majelis taklim Muslimat NU. Pola komunikasi antara
Ustaz/Ustazah dengan jamaah di dalam majelis taklim lebih cenderung
pada pola komunikasi kelompok tetapi, di luar dari Majelis Taklim
pola komunikasi antara ustazah dengan jamaah melakukan komunikasi
antarpribadi yang sangat dekat. Komunikasi antara ustaz/ustazah tidak
hanya terjadi di saat pembinaan ibadah berlangsung saja melainkan
juga di luar majelis taklim “Seperti ziarah bareng, kondangan bareng
dan hadir undangan- undangan yang lain”90.
2. Majelis Taklim Al-Barkah
Dalam komunikasi antarpribadi seorang ustazah dengan
jamaahnya dalam Majelis Taklim Al-Barkah dapat ditemukan dalam
teori yang digunakan yakni komunikasi yang efektif itu menimbulkan:
“pengertian yang lebih, karena hanya antara ustazah dan satu jamaah
dan ini dilaksanakan di rumah Ustazah Hj.Umi Qomariah dengan
demikian ustdazah ini bisa menjelaskan apa yang tidak dipahami dari
jamaahnya secara jelas, lebih mendalam, dan mempengaruhi sikap,
maksudnya mempengaruhi sikap atau kedekatan yang terjadi antara
ustadzah dan jamaah serta Hubungan sosial yang baik dan tindakan” 91
yang baik dari permasalahan yang ditanya oleh jamaah kepada ustazah.
90
Wawancara Pribadi dengan Ustdazah Yuliyana Selaku Ustadzah Atau Guru di Majelis
Taklim Muslimat Nu Depok, 15.Mei.2014
91
Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000).
Cet.15, h. 13-16
Sebagaimana penjelasan diatas bahwa komunikasi antarpribadi,
yaitu “komunikasi yang terjadi antara seorang komunikator (ustazah)
dengan seorang komunikan (jamaah) karena dianggap paling efektif
untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku manusia berhubung
prosesnya yang dialogis”92.
Maka komunikasi antarpribadi ustazah dan jamaah dapat
berjalan efektif bilamana terdapat komunikasi atau penyampaian pesan
secara intens yang dilakukan antarpersonal yang dapat menambah
pemahaman, merubah sikap, dan bertambah giat ibadah dalam
kehidupan sehari hari.
Dalam teori devito juga menerangkan bahwa “pengiriman
pesan pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain atau
sekelompok kecil orang dengan efek dan umpan balik secara
langsung” 93 . Jelas digunakan pada Majelis Taklim Al-Barkah yang
mana jamaah ibu-ibu Majelis Taklim Al-Barkah berkomunikasi secara
langsung dengan ustazah dan jamaah secara langsung atau face to face
namun disini bedanya komunikasi antarpribadi dalam kegiatan
pembinaan ibadah berlangsung di rumah Ustazah Hj.Umi Qomariah
tidak di dalam Majelis Taklim ketika materi sedang berlangsung.
Kedekatan jamaah dengan ustaz/ustazah pada majelis taklim
Al-Barkah secara antarpribadi tidak sedekat Majelis Taklim Muslimat
92
Alo Liliwer, Komunikasi AntarPribadi, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997). Cet. Ke-2, h.
12
93
Onong Uchana Effendy, ILmu Teori dan Filsafat Komunikasi, h. 62-63
NU yang banyak menggunakan komunikasi antarpribadi yang tidak
hanya di dalam majelis taklim tapi juga di luar majelis taklim.
Komunikasi antarpribadi seorang jamaah dengan ustazah hanya
terjadi sewaktu-waktu saja, dan tidak semua jamaah yang ada di
majelis taklim Al-Barkah melakukan komunikasi antarpribadi. Hanya
memang ustazah Umi Qomariah memberikan satu waktu untuk
pembinaan ibadah secara antarpribadi itu pun hanya dalam pembinaan
ibadah seperti membaca Ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mengajarkan
tajwid dan makhroj hurufnya, bukan pada penanganan masalah agama
atau menanggapi masalah atau pertanyaan dari jamaah di saat majelis
taklim sedang berlangsung
B. Komunikasi Kelompok dalam Pembinaan Ibadah
1. Majelis Taklim Muslimat NU
Dalam pembacaan Yasin Tahlil, Ratib Al-Athos, dan Istigosah
tidak menggunakan komunikasi antarpribadi, berdasarkan observasi
lapangan bahwa pembinaan ibadah seperti yang disebutkan di atas
tidak menggunakan komunikasi antarpribadi, melainkan metode
pembinaan ibadahnya dibaca bersama sama atau secara kelompok dan
dipimpin oleh satu orang.
Seperti teori pola komunikasi kelompok kecil yang di
kemukakan oleh Robert F. Bales yaitu sejumlah orang yang terlibat
antara satu dengan yang lain dalam suatu pertemuan yang bersifat tatap
muka, dimana setiap peserta mendapat kesan atau penglihatan antara
satu dengan yang lainnya yang cukup kentara, sehingga ia baik pada
saat timbul pertanyaan maupun sesudahnya dapat memberi tanggapan
kepada masing-masing sesuai perorangan94.
Inilah yang dilakukan dalam kegiatan pembinaan ibadah yaitu
dibaca bersama-sama dan dipimpin oleh satu orang begitu juga dengan
ceramah agama yang disampaikan oleh Ustaz/ustazah yaitu KH.
Burhanudin Marzuki atau ustazah Yuliyana.
Adapun ceramah agama
yang disampaikan oleh KH.
Burhanudin Marzuki terjadi satu arah jika ada pertanyaan dari jamaah
beliau tampung dahulu baru bulan depan akan dijawab. Seperti dari
hasil wawancara bahwa beliau mengatakan “biasanya kalau ada yang
bertanya saya akan tampung dulu pertanyaannya baru bulan depan
saya akan jawab, ini dikarenakan untuk menghindari kesalahan
jawaban”95. Dan ceramah agama yang disampaikan ustazah Yuliyana
juga terjadi satu arah tidak ada tanya jawab.
Dari seluruh penjabaran di atas maka ditemukan juga teori dari
Steward L. Tubbs dan Silvia Mees yang dikutip oleh Jalaludin Rahmat
dalam bukunya Psikologi komunikasi yakni komunikasi yang efektif
itu menimbulkan: “pengertian yang lebih, karena hanya antara ustazah
dan satu jamaah. ustazah ini bisa menjelaskan apa yang tidak dipahami
dari jamaahnya secara jelas dan lebih mendalam, dan mempengaruhi
sikap, maksudnya mempengaruhi sikap atau kedekatan yang terjadi
94
H.A. W Widjaya, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, h. 127
Wawancara Pribadi dengan KH.H.Burhanuddin Marzuki Selaku Ustadz Atau Guru di
Majelis Taklim Muslimat Nu Depok, 05. Juni.2014
95
antara ustazah dan jamaah. Hubungan sosial yang baik dan tindakan” 96
yang baik dari permasalahan yang ditanya oleh jamaah kepada ustazah.
Jadi, pola komunikasi kelompok yang ada di Majelis Taklim
Muslimat NU sebagai Majelis taklim terbesar hanya menggunakan
pola komunikasi kelompok satu arah di dalamnya. Tidak ada Tanya
jawab setelah pembinaan ibadah. Tanya jawab tidak dilakukan di
dalam kelompok jamaah majelis taklim, namun Tanya jawab antara
ustazah dan jamaah berlangsung setelah selesai dari pengajian yang
ada di Majelis Taklim Muslimat NU setelah ditutup dengan doa.
Berdasarkan penjelasan di atas terkait dengan pola komunikasi
kelompok sesuai dengan teori yang ada. Menurut Robert F. Bales yang
dikutip oleh Widjaja, Bahwa kelompok kecil adalah sejumlah orang
yang terlibat antara satu dengan yang lain dalam suatu pertemuan yang
bersifat tatap muka, dimana setiap peserta mendapat kesan atau
penglihatan antara satu dengan yang lainnya yang cukup kentara,
sehingga ia baik pada saat timbul pertanyaan maupun sesudahnya
dapat
memberikan
tanggapan
kepada
masing-masing
sesuai
perorangan97.
Maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi kelompok yang
tejadi dalam kegiatan pembinaan ibadah di Majelis Taklim Muslimat
96
Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000).
Cet.15, h. 13-16
97
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, h. 128.
NU sebagai majelis taklim terbesar berlangsung secara Intens yang
melahirkan efesiensi dalam pembinaan ibadah.
2. Majelis Taklim Al-Barkah
Adapun komunikasi kelompok dalam pembinaan ibadah kaum
ibu di Majelis Taklim Al-Barkah sebagai majelis Taklim terkecil tidak
jauh berbeda dengan Majelis Taklim Muslimat NU sebagai majelis
taklim terbesar. Majelis Taklim Al-Barkah dalam kegiatan pembinaan
ibadahnya seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasin Tahlil,
Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah dibaca secara kelompok atau
bersama-sama dan dipimpin oleh satu orang dan bergiliran
memimpinya
Seperti teori pola komunikasi kelompok yang dikemukakan
oleh Robert F. Bales yaitu “komunikasi kelompok dalam teori analisis
proses interaksi
bahwa semua unsur-unsur berada dalam keadaan
seimbang. Terdapat jumlah yang sama kategori tugas dan kategori
sosio-emosional, dan kedua kategori tersebut dibagi sama dalam unsur
positif dan unsur negatifnya, Bales berteori bahwa pembagian kerja,
perbedaan peranan dan perbedaan wewenang yang ada jika suatu
kelompok berorientasi pada tugas menciptakan banyak kesulitan
antarpribadi yang dapat mempengaruhi solidaritas kelompok.
Kesulitan-kesulitan
ini
menimbulkan
tekanan
untuk
memuaskan kebutuhan antarpribadi para anggota kelompok.98”.
Dari teori di atas dijelaskan terdapat jumlah yang sama
kategori tugas dan kategori sosio-emosional dan keduanya dibagi
sama dalam unsur positif dan negatif ini terjadi di Majelis Taklim AlBarkah yang mana semua dari jamaahnya mendapatkan tugas yang
sama. Tidak ada perbedaan baik wewenang maupun peranan di
dalamnya Bales juga mengatakan pembagian kerja perbedaan peranan
dan perbedaan dan wewenang yang ada pada tugas menciptakan
banyak kesulitan antarpribadi yang dapat mempengaruhi solidaritas
kelompok. Begitu juga
dengan Majelis Taklim Al-Barkah, oleh
karena itu di dalam Majelis Taklim Al- Barkah tidak ada perbedaan
tugas untuk menghindari ketidakadilan agar semua jamaah yang bisa
memimpin boleh memimpin dan bergantian siapa saja yang mau
memimpin pembacaan dalam pembinaan ibadah yang berlangsung.
Pembinaan ibadah di Majelis Taklim Al-Barkah yang
menggunakan pola komunikasi kelompok kecil dalam pembacaan
Ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasin Tahlil, Ratib Al-Athos, dan Aqidah
Mujmalah saling mendukung satu sama lain antara satu orang jamaah
dengan kelompok Jamaah kaum ibu lainnya, dengan membaca
bersama-sama ini mempermudah para jamaah untuk menghafal dan
membiasakan dalam membacanya.
98
Alvin A. Goldberg, carl E. Larson, Komunikasi Kelompok: proses-proses diskusi dan
penerapannya (Jakarta:UI-PRESS, 1985), cet. Ke -1, h.57-59
Perbedaan dari Majelis Taklim Muslimat NU sebagai majelis
Taklim terbesar , Majelis Taklim Muslimat NU dalam kegiatan
Pembinaan ibadah seperti membaca Yasin Tahlil, Ratib dan Aqidah
ustazah atau guru ikut dalam pembacaannya. Tetapi di Majelis Taklim
Al-Barkah ini dalam kegiatan pembinaan ibadahnya Ustazah belum
hadir.
Di dalam Majelis Taklim Al-Barkah Ustazah Hadir setelah
pembacaan Yasin tahlil, Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah selesai
yang mengatur acara pengajian di Majelis Taklim Al-Barkah sebagai
majelis taklim terkecil ini selain pembawa Acara yaitu ketua dari
Majelis Taklim Al-Barkah (Ibu Suinah). Dalam arti ustadzah di
Majelis Taklim Al-Barkah hanya menyampaikan tausih atau ilmu
Agama.
Ini seperti teori pola aliran komunikasi yang dijumpai dalam
pola komunikasi kelompok dan organisasi yaitu pola lingkaran yaitu
tidak memiliki pemimpin semua anggota posisinya sama dalam
kegiatan pembinaan ibadah.
Adapun ceramah agama yang disampaikan oleh ustazah Hj.
Umi Qomariah, pola komunikasinya sama dengan Majelis Taklim
Muslimat NU berlangsung satu arah yang mengikuti model Pola roda,
pola roda memiliki pemimpin yang jelas yaitu yang posisinya di pusat.
Orang ini merupakan satu satunya yang dapat mengirim dan
menerima pesan dari semua anggota.
berbeda dengan ceramah Agama yang disampaikan oleh Ustaz
Dede Wahyudin. Ustaz Dede Wahyudin ini adalah Ustaz pengganti di
Majelis Taklim Al-Barkah jika Ustazah Umi Qomariah berhalangan
untuk hadir.
Ustaz Dede Wahyudin dalam menyampaikan ceramah atau
ilmu agama menggunakan pola komunikasi kelompok kecil seperti
yang di kemukakan oleh Robert F. Bales yang dikutip oleh Widjaja,
Bahwa kelompok kecil adalah sejumlah orang yang terlibat antara satu
dengan yang lain dalam suatu pertemuan yang bersifat tatap muka,
dimana setiap peserta mendapat kesan atau penglihatan antara satu
dengan yang lainnya yang cukup kentara, sehingga ia baik pada saat
timbul pertanyaan maupun sesudahnya dapat memberikan tanggapan
kepada masing-masing sesuai perorangan99.
Ini jelas terlihat oleh pola komunikasi kelompok yang
dilakukan oleh Ustaz Dede Wahyudin yang mana ustaz Dede ini
menyampaikan materi atau ceramah yang bersifat tatap muka dimana
setiap jamaah mendapat tanggapan langsung dari pesan-pesan yang
disampaikan. Dan menggunakan komunikasi dua arah atau Tanya
jawab, ketika selesai dari ceramah nya ustaz Dede Wahyudin
membuka sesi pertanyaan untuk para jamaah kaum ibu yang kurang
paham dari apa yang disampaikan.
99
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, h. 128.
Adapun ceramah agama yang disampaikan oleh ustazah
Hj.Umi Qomariah terjadi satu sarah tidak ada Tanya jawab.
komunikasi kelompok dalam kegiatan pembinaan ibadah di
Al-Barkah Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa kegiatan
pembinaan ibadah seperti membaca ayat suci Al-Qur’an Yasin, Tahlil
Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah dibaca bersama-sama dan
dipimpin oleh satu orang. Hal ini berdasarkan hasil observasi, seluruh
jamaah ibu-ibu yang ada di Majelis Taklim Al-Barkah membaca
bersama-sama ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasiin tahlil, Ratib Al-Athos
dan Aqidah Mujmalah, lalu dilanjutkan ceramah agama oleh Ustazah
Hj. Umi Qomariah dan diakhiri dengan doa.
Alasan membaca ayat suci Al-Quran, Yasin, Tahlil Ratib dan
Aqidah Mujmalah secara bersama-sama atau kelompok ini tidak jauh
berbeda dengan Majelis Taklim Muslimat NU yaitu untuk
mempermudah para jamaah, bedanya dalam Majelis Taklim AlBarkah ini lebih banyak ibu-ibu lansia yang matanya sudah kurang
melihat huruf-huruf Arab atau bacaan dari surah tersebut, oleh karena
itu surah-surah ini dibaca bersama sama agar semua jamaah dapat
mengikuti kegiatan pembinaan ibadah dalam pembacaan ayat-ayat
suci Al-Qur’an, Yasin tahlil, Ratib Al Athos dan Aqidah Mujmalah.
“kebanyakan juga di sini ibu-ibu nya kurang fasih, ga tau tajwid dan
makhroj yang bener.makanya dibaca bareng-bareng aja, jadi lama-
lama juga pada hafal” ujar ibu Sri salah satu jamaah Majelis Taklim
Al-Barkah.
Di dalam majelis taklim Al-Barkah sebagai majelis Taklim
terkecil juga menggunakan pola komunikasi kelompok yang mana
dalam kegiatan pembinaan ibadahnya dilakukan bersama-sama dan
ceramah agama yang disampaikan oleh ustazah Hj.Umi Qomariah
melakukan pola komunikasi kelompok satu arah. Bentuknya hanya
penyampaian materi selesai dari itu tidak ada Tanya jawab langsung
ditutup doa.
Jadi, pola komunikasi kelompok yang ada di Majelis Taklim
Al-Barkah sebagai majelis taklim terkecil. Menggunakan pola
komunikasi kelompok satu arah jika Pengajarnya Ustazah Hj. Umi
Qomariah Tidak ada tanya jawab setelah pembinaan ibadah.
Tetapi, jika yang menyampaikan ceramah agama ustaz Dede
Wahyudin melakukan komunikasi dua arah ada tanya jawab setelah
selesai materi sebelum ditutup dengan doa.
Dalam observasi yang dilakukan di Majelis Taklim Al-Barkah
ketika penyampaian ceramah oleh ustazah Hj. Umi Qomariah, di
tengah ceramahnya, ada seorang yang bertanya satu masalah yang
masih membingungkan bagi jamaah yang bertanya, dan ustazah
menjawab dengan singkat lalu meneruskan kembali ceramahnya, dan
tidak lama dari itu ada yang bertanya lagi lalu di jawab lagi oleh
jamaah.
Jadi dari observasi yang didapat komunikasi yang terjadi
ketika penyampaian ceramah oleh ustadzah banyak terhambat oleh
pertanyaan pertanyaan singkat. Dan membuat ustazah ini tidak fokus
dalam penyampaian isi ceramah.
Terkait dengan pola komunikasi kelompok sesuai dengan teori
yang ada teori Menurut Robert F. Bales yang dikutip oleh Widjaja,
Bahwa kelompok kecil adalah “sejumlah orang yang terlibat antara
satu dengan yang lain dalam suatu pertemuan yang bersifat tatap
muka, dimana setiap peserta mendapat kesan atau penglihatan antara
satu dengan yang lainnya yang cukup kentara, sehingga ia baik pada
saat timbul pertanyaan maupun sesudahnya dapat memberikan
tanggapan kepada masing-masing sesuai perorangan”100.
Tidak berbeda dengan Majelis Taklim Muslimat NU sebagai
majelis taklim terbesar. Majelis Taklim Al-Barkah sebagai majelis
taklim terkecil juga menggunakan pola komunikasi kelompok kecil
yang mana sifat penyampaian pesan dan penerimaan pesannya bersifat
tatap muka dan setiap jamaah mendapat kesan atau penglihatan antara
satu dengan yang lainnya yang cukup dekat sehingga pada saat timbul
pertanyaan maupun sesudahnya dapat memberikan tanggapan kepada
masing-masing sesuai perorangan.
Di sini hanya bedanya di Majelis Taklim Muslimat NU
pertanyaan dan tanggapan terjadi setelah ditutup doa dan jika ada yang
100
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, h. 128.
bertanya
kepada
KH.
Burhanudin
Marzuki
akan
ditampung
pertanyaannya lalu dijawab bulan depan, jika jamaah bertanya kepada
ustazah Yuliyana itu terjadi setelah ditutup doa.
Dan di Majelis
Taklim Al-Barkah sebagai majelis taklim terkecil pertanyaan dan
tanggapan terjadi di tengah-tengah proses komunikasi jika yang
mengajar atau ceramah ustazah Hj. Umi Qomariah dan jika yang
mengajar Ustaz Dede Wahyudin ada sesi pertanyaan tidak satu arah,
setelah selesai ceramah sebelum ditutup doa ustaz Dede membuka sesi
pertanyaan.
Maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi kelompok yang
tejadi dalam kegiatan pembinaan ibadah yang ada di majelis taklim
Muslimat NU sebagai majelis taklim terbesar dan di Majelis Taklim
Al-Barkah sebagai majelis taklim terkecil berlangsung intens yang
melahirkan efesiensi dalam pembinaan ibadah.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian yang terdapat dalam skripsi ini dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Komunikasi antarpribadi dalam pembinaan ibadah di Majelis Taklim
Muslimat NU sebagai Majelis Taklim terbesar berjalan dengan efektif
dan intensif. Komunikasi antarpribadi di dalam Majelis Taklim
Muslimat NU ini dilaksanakan setelah ceramah agama disampaikan
oleh ustazah Yuliyana dan ditutup dengan doa. Jamaah yang ingin
bertanya tentang materi yang kurang paham dapat menghampiri
ustazah Yuliyana untuk bertanya.
Komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh ustazah Yuliyana
(komunikator) dengan salah seorang jamaah (komunikan) secara
individu dan dari selesainya pengajian. Akan menghasilkan feedback
langsung. Agar terwujud kesamaan makna dari sebuah tujuan yang
diharapkan. Sehingga menghasilkan pemahaman mendalam dan
ketidakraguan dalam kegiatan pembinaan ibadah.
Adapun pola komunikasi antarpribadi di dalam Majelis Taklim
Al-Barkah dilaksanakan di rumah Ustazah Hj. Umi Qomariah dan
komunikasi antarpribadi ini tidak langsung terjadi di majelis taklim,
setelah ceramah selesai ustazah Umi Qomariah langsung pulang.
Namun demikian jika salah seorang jamaah tidak paham dengan
materi atau ingin bertanya yang lain, itu harus datang ke rumah
ustadzah Umi Qomariah. Jadi komunikasi antarpribadi di majelis
taklim Al-Barkah tidak secara langsung pada waktu itu juga.
Komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh ustazah Hj.Umi
Qomariah (komunikator) dengan salah seorang jamaah (komunikan)
secara individu yang dilakukan di rumah Ustazah Umi Qomariah
Akan menghasilkan feedback langsung. Agar terwujud kesamaan
makna dari sebuah tujuan yang diharapkan. Sehingga menghasilkan
pemahaman mendalam dan ketidakraguan dalam kegiatan pembinaan
ibadah.
2.
Adapun komunikasi kelompok yang terjadi di kedua majelis taklim
yaitu Majelis Taklim Muslimat NU sebagai majelis taklim terbesar
dan Majelis Taklim Al-Barkah sebagai majelis taklim terkecil
kegiatan pembinaan ibadah berlangsung pada saat pembacaan Yasin,
Tahlil, Ratib Al-Athos, Istigosah dan Aqidah mujmalah.
Majelis
Taklim
Muslimat
NU
dan
Al-Barkah
juga
menggunakan pola komunikasi kelompok kecil yang mana sifat
penyampaian pesan dan penerimaan pesannya bersifat tatap muka dan
setiap jamaah mendapat kesan atau penglihatan antara satu dengan
yang lainnya yang cukup dekat sehingga pada saat timbul pertanyaan
maupun sesudahnya dapat memberikan tanggapan kepada masingmasing sesuai perorangan.
Di sini hanya bedanya di Majelis Taklim Muslimat NU
pertanyaan dan tanggapan terjadi setelah ditutup doa dan jika ada yang
bertanya
kepada
KH.
Burhanudin
Marzuki
akan
ditampung
pertanyaannya lalu dijawab bulan depan, jika jamaah bertanya kepada
ustazah Yuliyana itu terjadi setelah ditutup doa.
Dan di Majelis
Taklim Al-Barkah sebagai majelis taklim terkecil pertanyaan dan
tanggapan terjadi di tengah-tengah proses komunikasi jika yang
mengajar atau ceramah ustazah Hj. Umi Qomariah dan jika yang
mengajar Ustaz Dede Wahyudin ada sesi pertanyaan tidak satu arah,
setelah selesai ceramah sebelum ditutup doa ustaz Dede membuka sesi
pertanyaan.
B. Saran-Saran
Dari hasil penelitian ini disarankan kepada Pengurus dan Pembina agar ke
depan pembinaan ibadah yang ada di Majelis Taklim Muslimat NU dan
Majelis Taklim Al Barkah dapat lebih baik lagi.
1. Kepada Ustazah yang ada di majelis taklim Muslimat NU dan Majelis
Taklim Al-Barkah Mengenai komunikasi antarpribadi jamaah dengan
ustazah di Majelis taklim Muslimat NU dan Majelis taklim Al-Barkah
sepertinya jamaah memerlukan waktu diskusi tentang perihal pembinaan
ibadah dan materi materi agama kiranya ustazah ini dapat meluangkan
waktu untuk para jamaah secara antarpribadi lebih lama di waktu yang
berbeda.
2. Kepada ustazah dan ustaz di Majelis Taklim Muslimat NU dan ustazah Hj.
Umi Qomariah. komunikasi kelompok yang terjadi di Majelis Taklim
Muslimat NU dan Majelis Taklim Al Barkah sepertinya lebih enak dan
nyaman seperti yang diterapkan oleh ustaz Dede Wahyudin. Ini khusus
untuk para ustazah, yang mana perlu mengosongkan waktu setelah
penyampaian ceramah. Memberikan waktu untuk para jamaah yang ingin
bertanya. Dan semua pertanyaan ditampung setelah ceramah selesai
sebelum ditutup dengan doa. Ini dengan maksud agar para jamaah kaum
ibu pulang dengan membawa penjelasan yang sejelas-jelasnya tanpa harus
ada yang diduga-duga dalam fikirannya.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, M. Hardjana. Komunikasi Intrapersonal dan Komunikasi Interpersonal,
Yogyakarta, Kanisius, 2003
Alawiyah, Tutty. Strategi Dakwah di Lingkungan Majelis Ta’lim. Bandung:
Mizan, 1997
Aw, suranto. Komunikasi Interpersonal, PT. Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011.
Bud Yatna, Muhammad. Teori Komunikasi Antar Pribadi, PT. Kencana Prenada
Group, Jakarta 2011.
Depdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka,
1996
Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2007.
----------------------------------.
Rosdakarya, 1992.
Dinamika
Komunikasi,
Bandung:
Remaja
----------------------------------. Kepemimpinan dan Komunikasi, Yogyakarta: AlAmin Press, 1996
Ismail, A. Ilyas. Paradigma Dakwah Sayyid Quthub, PT. Penamadani, Jakarta,
2008.
Liliweri, Alo, Komunikasi Antarpribadi, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1997
Mangunhardjana, Pembinaan Arti dan Metodenya, Yogyakarta, Kanisius, 1986
Mulyana, Dedy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung, Rosdakarya, 2007
Moeleong, Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakanya,
Bandung 2007
Nurudin, sistem Komunikasi Indonesia, Jakarta, Raja Garfindo Persada, 2005
Rahmat, Jalaludin, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2005
Rahim, Abdur. ”Pengaruh Pendidikan Agama Islam Dalam Pembinaan Akhlak
Siswa MTS sunan Ampel Pasuruan,” Skripsi S1 Fakultas Tarbiyah,
Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahuddin Pasuruan , 2007.
Rahman, Ritongga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, Jakarta: Gaya Media Pratama,
2007
Robbins, James G, Komunikasi yang Efektif, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995.
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, Jakarta, Pedoman Ilmu Jaya. 1996
Sendjaja, Djuarsa, Sasa, Pengantar Komunikas. Jakarta: Universitas Terbuka,
1993.
Susanto, Astrid Phil. Komunikasi Dalam Teori dan Praktek, Bandung, Mandar
Maju, 1992.
Suprapto, Tommy. Pengantar Teori Komunikasi. Yogyakarta: Media Pressindo,
2006.
Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Gramedia Widiasavina: 2004).
Al-Qardhawi,
Yusuf, Ibadah dalam Islam, Terjemah. Umar Fanani, Surabaya: PT Biru Ilmu,
1988.
Widjaja, H. A. W Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Jakarta, Bumi Aksara,
1997
Yunus, Mahmud, Kamus Arab; Indonesia, Jakarta: Yayasan Penafsiran AlQur’an, 1973.
Zaini, Syahmina, Problematika Ibadah Dalam Kehidupan Manusia, Jakarta:
Kalam Mulia, 1989.
Sumber Lain:
http://uchinfamiliar.blogspot.com/2009/02/pengertian-majelis-taklim-dasarhukum.html
http://bintuahmad.wordpress.com/2012/04/09/majelis-talim-seputarpengertian-kedudukan-fungsi-dan-tujuan/
Hasil Wawancara
Nama:
KH.H Burhanudin Marzuki
Jabatan:
Pengasuh Majelis Taklim Muslimat NU
Waktu:
05 juni 2014
Tempat:
Masjid Baitul Kamal
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
a. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan yang ada di
majelis taklim Muslimat NU, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur
an, Yasin Tahlil, Ratib Al-Athos dan Istighosah?
Dibaca bersama sama saja dan dipimpin oleh satu orang. Yang
memimpin pun bergiliran per orangnya begitu.
b. Pola komunikasi apa yang digunakan oleh Ustadz kepada para jamaah
dalam
penyampaian
materi
ceramah
agama
dan
bagaimana
pelaksanaannya?
Ya komunikasinya selama ini interaktif aja, saya ngajar ibu-ibu
mendengarkan, berkomunikasi secara kelompok, saya menyampaikan
materi dan ibu-ibu mendengarkan dan dicatat kalau memang ingin
mencatat begitu saja
c. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah? Seperti apa pelaksanaannya?
Ya ada, pada selesai pengajian. Ada aja, yang punya permasalahan
menanyakan solusi menurut agama baik nya gimana, yaa terjadi
setelah selesai pengajian saja satu persatu ada yang datang untuk
bertanya.
d. Dalam mengarahkan jamaah secara pribadi untuk taat beribadah,
metode komunikasi apa yang di gunakan dalam pembinaan ibadah?
Dan seperti apa pelaksanaannya?
Yaa paling menasehati saja, tidak lebih dari itu dan memang hanya jika
ada yang bertanya saja yah.
e. apakah ustadz suka menanggapi masalah masalah atau dalam
pembinaan ibadah yang terjadi pada jamaah ketika ada seorang jamaah
yang bertanya dan berkeluh kesah tentang kehidupannya, secara
pribadi?
Ya seperti tadi yang saya katakan, itu sudah pasti membantu solusinya
menurut agama begini begini dan begitu dan memang sudah menjadi
kewajiban seorang guru untuk memberi nasehat kepada jamaahnya
dan member penerangan tentang agama
f. Bagaimana kedekatan ustadz dengan jamaah ? apakah hanya
berkomunikasi dalam majelis taklim atau di luar majelis taklim juga di
lakukan?
Oohh gak gak.. kita gak dekat hanya di majelis taklim aja, di luar
majelis taklim juga antara saya dengan jamaah sangat dekat, semisal
saya punya hajat saya undang jamaah dan begitu sebaliknya, atau para
jamaah bisa datang ke rumah saya untuk bersilaturrahim, ya jika ada
moment-moment tertentu juga begitu, yaa kekeluargaan aja.
g. Apakah dalam menyampaikan materi ceramah agama atau tausiah
ustadz
menggunakan
komunikasi
kelompok?
Dan
bagaimana
bentuknya, Tanya jawabkah atau satu arah saja ?
O iya pasti secara kelompok bentuknya satu arah kadang-kadang ada
Tanya jawab juga, tapi tidak setiap saya ceramah, dan memang kalau
ada pertanyaan tidak saya langsung jawab secara spontan itu
dikarenakan untuk menghindari kesalahan jawaban. Saya yang
memiliki pertanyaan saya tamping dan bulan depan nya akan saya
jawab. Seperti itu.
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( KH. H. Burhanudin Marzuki )
Hasil Wawancara
Nama:
Ustadzah Yuliyana
Jabatan:
Ustadzah/ Ketua Penerangan Dakwah Muslimat NU
Waktu:
15. Mei 2014
Tempat:
Rumah Ustadzah Yuliyana
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
h. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan yang ada di
majelis taklim Muslimat NU, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur
an, Yasin Tahlil, Ratib Al-Athos dan Istighosah?
Iya baik, pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an Yasin Tahlil, Ratib AlAthos dan Istighosah
menjadi bacaan wajib yang ada di majelis
taklim Muslimat NU sebagai salah satu pembalajaran Nahdliyin
(keluarga besar Nahdlatul ulama). Cara komunikasinya dibaca bareng
bareng neng. Yang mimpin satu orang dan semua jamaahnya
mengikuti bareng-bareng. Yang mimpin juga tiap bulannya gantigantian orangnya. Jadi, ga satu per satu bacanya tapi serentak
semuanya baca.
i. Pola komunikasi apa yang digunakan oleh ustadzah kepada para
jamaah dalam penyampaian materi ceramah agama dan bagaimana
pelaksanaannya?
Komunikasi yang dipake disana (Majelis Taklim Muslimat NU)
ya..secara kelompok, umi ceramah ibu-ibu jamaah mendengarkan pada
mencatat materi yang umi terangkan selesai dari umi ceramah
langsung ditutup doa, umi ga ada Tanya jawab neng, kalau emang ada
ibu-ibu jamaah yang belum paham umi bilang”setelah di tutup doa ibuibu boleh Tanya ke saya”. Ini dengan maksud biar cepet selesai
pengajiannya karena waktu juga kan terbatas. Nah..Di majelis taklim
muslimat NU materi yang umi berikan di antaranya ya.. fikih, tasawuf,
akhlak, praktek sholat dan yang paling penting. Umi slalu ngebahas
tentang keluarga Nahdliyin, keluarga nahdliyin itu keluarga Nahdhatul
ulama, kan banyak tuh sekarang perbedaan perbedaan ya neng, ada
yang ga boleh kirim hadiah fatihah nah umi selalu mantek ibu ibu biar
ga pada kebawa.
j. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah? Seperti apa pelaksanaannya?
Kalau secara pribadi antara umi dengan jamaah si adanya setelah di
tutup doa, kalau pas pembinaan ibadah seperti baca ayat-ayat suci AlQur’an, Yasin Tahlil, Ratib Al-Athos dan istigosah itu di bacanya
bareng-bareng, jadi ga antarpribadi umi dengan jamaah dan yang kaya
tadi umi bilang dipimpin satu orang dan yang lainnya mengikuti.
Nah kalau yang antarpribadi itu juga ada tapi bukan di majelis taklim
Muslimat NU yang sebulan sekali. Nama majelis taklim nya majelis
taklim Jamiiatul Ummahat, ini majelis taklim di bawah naungan
majelis Taklim Muslimat, adanya tiap hari Jum’at nah di majelis
taklim ini baru neng ibu-ibu jamaahnya baca satu satu maju seperti
nanti kalau salah di benerin , pelajarannya ya…baca Al-Qur’an, trus
dilihat makhroj hurufnya, ragam bacanya, dan tajwidnya. Jadi ada
waktu tertentu pembinaan ibadah yang antarpribadi umi dengan
jamaah yaitu di majelis taklim Jamiatul Ummahat.
k. Dalam mengarahkan jamaah secara pribadi untuk taat beribadah,
metode komunikasi apa yang di gunakan dalam pembinaan ibadah?
Dan seperti apa pelaksanaannya?
Kalau di dalam majelis taklim seperti yang umi bilang itu ga pake
komunikasi pribadi, tapi kalau di luar majelis taklim antara umi
dengan jamaah tidak ada pembatasnya. Umi selalu sms untuk ngajak
yuu bu tahajud, yuu bu puasa , dan sebagainya, tak lupa umi juga
selalu tiap malam jum’at sms ibu ibu jamaah yang memang baru atau
masih sangat butuh bimbingan untuk ngaji ya kita ajak ngaji bersama
dirumah umi. Nah di sini komunikasi umi dengan para jamaah itu
sangat dekat. Jadi sekarang mah udah ada telpon , bisa bbm, bisa sms
jadi enak kita kan harus saling mengingatkan, tanggung jawab umi ga
Cuma di dalam majelis taklim aja tapi di luar itu umi selalu pantau.
Terutama karena bidang umi juga kan dalam penerangan dakwah
begitu neng geulis..
l. apakah ustdazah suka menanggapi masalah masalah atau dalam
pembinaan ibadah yang terjadi pada jamaah ketika ada seorang jamaah
yang bertanya dan berkeluh kesah tentang kehidupannya, secara
pribadi?
O iyaa,. Sudah pasti itu. semua jamaah umi rangkul bahkan ga Cuma
satu dua oranglah, ga Cuma di majelis taklim di rumah kadang kadang
ya banyak yang datang, kalau ada yang mau belajar ngaji ya hayuu dan
kalau mau curhat dan minta solusi umi selalu siap kalau memang
waktu umi nya juga lagi luang gitu neng.
m. Bagaimana kedekatan ustadzah dengan jamaah ? apakah hanya
berkomunikasi dalam majelis taklim atau di luar majelis taklim juga di
lakukan?
Di luar juga masih terus deket dan komunikasi, ga selesai ceramah
terus pulang dan udah ga ada hubungan lagi. Umi selalu menjaga
kedekatan dengan jamaah dengan tujuan agar ibu ibu ini merasa saling
memiliki, ya contohnya kaya jalan jalan sekalian ziarah ke guci, ada
acara kondangan, datang pelatihan pelatihan bareng, ya pokoknya umi
di sini sangat dekat dengan jamaah . hampir semuanya. Kan emang
kita harus begitu ya neng..
n. Apakah dalam menyampaikan materi ceramah agama atau tausiah
ustadzah menggunakan komunikasi kelompok. Dan bagaimana
bentuknya, Tanya jawabkah atau satu arah saja ?
Iya ceramah agama pasti secara kelompok umi ceramah dan di
dengarkan ibu ibu jamaah. Di majelis taklim Muslimat NU umi
ceramahnya satu arah, ga ada Tanya jawabnya kalau ada yang mau
nanya itu selesai doa karena kalau ada Tanya jawab waktunya terbatas
jadi mending langsung di tutup doa. Baru dah kalau sudah selesai dari
semuanya ada satu per satu ibu-ibu nyamperin umi untuk nanya, dan
emang lebih enak kaya begitu karena jadi umi bisa menjelaskan ke
akar-akarnya.
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( Ustadzah Yuliyana)
Hasil wawancara
Nama:
Ibu Asti
Jabatan:
Jamaah Majelis Taklim
Waktu:
05. juni. 2014
Tempat:
Masjid Baitul Kamal
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
a. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan ibadah yang ada
di majelis taklim ini, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasiin
Tahlil Ratib Al-Athos dan Istigosah?
Ya dibaca bareng-bareng aja kita ibu-ibu baca sama-sama dan dipimpin
sama ustadzahnya ganti-gantian juga yang mimpin kan masing-masing
pimpinan anak cabang dapat tugas giliran tiap bulannya, kayanya emang
enakan kaya gitu ya jadi semuanya bisa ngikutin, termasuk saya juga jadi
enak begitu kali ya.
b. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah?
Kalau di Muslimat NU di sini dalam pembacaan Yasin Tahlil dan
Istigosah ya kelompok aja kalau mau yang pribadi dari kemauan kita
sendiri di luar majelis taklim paling, kan kita punya ustadzah yang deket
nah di situ baru kita bisa antarpribadinya
c. Apakah ibu jamaah pernah diarahkan dalam pembinaan ibadah secara
antarpribadi oleh ustdzah?
Pernah, tapi yaa ga pas di majelis taklim, paling di luar atau setelahnya aja
d. Dalam pembinaan ibadah yang dilakukan di majelis taklim adakah yang
ibu jamaah belum paham atau hafal dari bacaan bacaannya? Pernahkah
bertanya secara antarpribadi?
Ya semuanya juga kaga hafal kalau say amah, tapi kalau ngikutin saya
bisa dan kaya hafal, kayanya semua ibu-ibu juga pada begitu ya jarang
yang hafal kalau secara sendiri
e. Bagaimana pembinaan ibadah di dalam majelis taklim secara kelompok?
Saat melaksanakan pembinaan ibadah ada yang memimpin atau dengan
cara mebacanya bersama sama?
Ya dipimpin satu orang dan ibu-ibu lain mengikuti dapat kitabnya juga
buat panduan nya
Jadi bisa dibaca di rumah
Apakah ibu jamaah berkomunikasi antarpribadi dengan ustdzah di luar
majelis taklim untuk menanyakan masalah masalah agama atau dalam
pembinaan ibadah?
Iya kadang kadang nanya juga, kalau saya lagi ada masalah atau lagi
pengen memperdalam materi agama, saya datang ke rumah Ustadzah
Yuliyana sekalian silaturrahmi.
f. Bagaimana cara penyampaian ustadzah kepada
para jamaah dalam
menyampaikan materi agama ? satu arah kah atau Tanya jawab?
Kalau ceramahnya satu arah aja, karena waktunya terbatas, paling
langsung ditutup doa tapi ada aja si yang nanya nah ga langsung dijawab
sama kiayi Burhan, paling bulan depannya baru di jawab.
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( Asti)
Hasil wawancara
Nama:
Ibu Hj. Aisyah
Jabatan:
Jamaah Majelis Taklim
Waktu:
05. Juni . 2014
Tempat:
Masjid Baitul Kamal
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
g. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan yang ada di
majelis taklim ini, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasiin
Tahlil Ratib Al-Athos dan Istigosah?
Seperti biasa dan sama dengan majelis taklim yang lain yaitu dibaca
bersama sama dan dipimpin oleh satu orang , biasanya bergiliran yang
memimpinnya dan hampir semuanya bisa merasakan untuk memimpin
pembacaan, ini dengan maksud agar ibu ibu jamaah bisa mengikutinya kan
kalau di baca bersama sama jadi terbiasa dan mudah juga untuk di ikuti
karena keseringannya
h. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah?
Kalau pembacaan seperti Yasiin tahlil dan yang lain ya ga pernah ya kalau
sendiri sendiri. bareng-bareng aja kita bacanya, mungkin kalau masalah
antara jamaah dengan ustadzah yang berdua doank ada di luar majelis
taklim tapi memang ada Cuma ga di saat di sini.
i. Apakah ibu jamaah pernah diarahkan dalam pembinaan ibadah secara
antarpribadi oleh ustdzah?
Pernah, tapi ya ga pas sebulan sekali di muslimat NU paling saya ke
rumah ustadzah atau hadir di majelis taklim yang dipimpin ustadzah di
tempat lain, kan kalau di sini waktunya juga terbatas banget, paling selesai
jam setengah 12 jadi ga bisa kalau untuk satu orang satu orang.
j. Dalam pembinaan ibadah yang dilakukan di majelis taklim adakah yang
ibu jamaah belum paham atau hafal dari bacaan bacaannya? Pernahkah
bertanya secara antarpribadi?
Ya kalau sendiri ga hafal semua, tapi kalau dibacanya bareng-bareng jadi
kaya hafal gitu, gimana ya makanya enak dibaca bersama samanya gitu
jadi semua bisa ngikutin
k. Bagaimana pembinaan ibadah di dalam majelis taklim secara kelompok?
Saat melaksanakan pembinaan ibadah ada yang memimpin atau dengan
cara mebacanya bersama sama?
Yaa dipimpin satu orang dan di ikutin semua ibu ibu, ganti-gantian juga
yang mimpinnya saya sendiri juga pernah untuk memimpin nah bulan
besoknya siapa ya jadi ganti-gantian aja dah
l. Apakah ibu jamaah berkomunikasi antarpribadi dengan ustdzah di luar
majelis taklim untuk menanyakan masalah masalah agama atau dalam
pembinaan ibadah?
O iya pasti kalau di luar, biasanya juga setelah selesai doa ada aja yang
saya tanyakan ke ustadzah, atau saya ke rumah ustadzah untuk
menanyakan masalah masalah agama kan biar lebih enak dan jelas kalau
sendiri nanyanya sekalian silaturahmi juga ke rumah guru
m. Bagaimana cara penyampaian ustadzah kepada
para jamaah dalam
menyampaikan materi agama ? satu arah kah atau Tanya jawab?
Yaa kalau abuya Burhan kadang ada Tanya jawabnyam itu juga ga
langsung di jawab, dijawabnya nanti bulan depannya, jadi kalau ada
pertanyaan di tamping dulu sama buya. Nah kalau Umi Yuyun Cuma satu
arah aja ga ada Tanya jawabnya, paling kalau mau nanya setelah ditutup
doa itu juga kita yang nyamperin jadi satu satu, jawabannya juga jadi enak
panjang lebar, kalau belum puas atau masih pengen jelas, paling kita
diajak maen ke rumahnya.
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( Hj. Aisyah )
Hasil wawancara
Nama:
Hj. Neni
Jabatan:
Jamaah Majelis Taklim/sekertaris Muslimat
NU
Waktu:
05. juni. 2014
Tempat:
Masjid Baitul Kamal
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
n. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan yang ada di
majelis taklim ini, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasiin
Tahlil Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah?
Kalau di Muslimat NU tuh menjadi contoh keteladanan jadi biasanya
ustadzah nya memimpin jamaahnya mengikuti jadi kalau terbiasa begitu
terus menerus dengan Ustadzah nya insya Allah bisa semua gitu. Biasanya
kalau di sini kami bergiliran dengan anak cabang misalnya bulan ini
pimpinan cabang kan ini yang sekarang atau keseluruhan pengurus dan
biasanya kita jadwalkan. Nah dari per ppac atau perpimpinan anak cabang
menjadwalkan lagi peranting namanya jadi misalnya beji untuk bulan ini
nah Beji ini menugaskan kepada kekelurahan Beji atau kelurahan Pondok
cina. Begitu bergilirannya. Tidak hanya dia-dia aja yang mimpin gitu.
o. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah?
Biasanya kalau mereka ingin melakukan pendalaman biasanya mereka
dengan sendiri sendiri akan ngaji ke tempat gurunya menambah semacam,
kan kita ini kan punya ini yah guru masing masing yang dekat gitu ya,
misalnya seperti saya yang pengen belajar sama Kiayi Burhan yaa saya
datang ke Qotrun Nada ke pondok pesantren beliau atau kemaein kita
datang ke Al-Awwabin menemui Abuya Abdurrahman Nawi itu antar
pribadi jadi yang kita mau mendalami agama ya kita diberi kesempatan
waktu untuk belajar juga di luar majelis taklim
p. Apakah ibu jamaah pernah diarahkan dalam pembinaan ibadah secara
antarpribadi oleh ustdzah?
Kalau di tempat ini kita kurang ya karena memang disini waktunya sangat
terbatas jadi sistemnya kelompok saja gitu ya mengikuti bersama sama nah
tapi kan disampaikan tapi dikasih semacam kitab, atau bukunya untuk
panduan kita Sulam Taufiq atau apa gitu nah nanti didalami di rumah
masing masing untuk dibaca bersama sama di majelis taklim
q. Dalam pembinaan ibadah yang dilakukan di majelis taklim adakah yang
ibu jamaah belum paham atau hafal dari bacaan bacaannya? Pernahkah
bertanya secara antarpribadi?
Ya kalau sendiri semua tidak hafal yah, makanya dibacanya barsama sama
dengan maksud agar semua jamaah bisa mengikutinya dan terbiasa dengan
bacaan bacaannya begitu.
r. Bagaimana pembinaan ibadah di dalam majelis taklim secara kelompok?
Saat melaksanakan pembinaan ibadah ada yang memimpin atau dengan
cara mebacanya bersama sama?
Ya dibaca bersama sama dengan para jamaah dan yang memipin satu
orangnya jadi satu orang di depan megang speaker dan ibu-ibu semua
mengikutinya sampai selesai
s. Apakah ibu jamaah berkomunikasi antarpribadi dengan ustdzah di luar
majelis taklim untuk menanyakan masalah masalah agama atau dalam
pembinaan ibadah?
Iya sudah pasti karena Muslimat NU sangat memiliki kekeluargaan yang
dekat jadi hubungan jamaah dengan guru tidak hanya terjadi setelah
pengajian, ya kalau ada undangan kita suka bersama sama datang dan
memang suka
ada
kegiatan
yang
menuntut
kita
untuk
saling
berkomunikasi yang tidak hanya di majelis taklim saja.
t. Bagaimana cara penyampaian ustadzah kepada
para jamaah dalam
menyampaikan materi agama ? satu arah kah atau Tanya jawab?
Ga si ya karna waktu kan terbatas dan KH Burhan biasanya kalau kita mau
nanya itu setelah ditutup doa, pernah si ada yang nanya tapi dijawabnya
bulan besok karena katanya untuk menghindari keslahan jawaban gitu.
Pewawancara
( Hilyatul Aulia )
Narasumber
( Hj. Neni )
Hasil Wawancara
Nama:
Ustadzah Hj. Umi Qomariah
Jabatan:
Ustadzah
Waktu:
26. Mei. 2014
Tempat:
Majelis taklim Al Barkah
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
o. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan yang ada di
majelis taklim Al-Barkah, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur an,
Yasin Tahlil, Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah?
Dibaca bareng-bareng neng serempak gitu bacanya dan ada satu orang
mimpin paling kalau doa baru dibaca sama satu orang yang lainnya
mengamini. Yang mimpin juga ganti gantian ga dia dia juga orangnya
kadang ketua majelis taklimnya. Pokoknya bergiliran aja tiap
minggunya
p. Pola komunikasi apa yang digunakan oleh ustadzah kepada para
jamaah dalam penyampaian materi ceramah agama dan bagaimana
pelaksanaannya?
Ya Umi secara kelompok aja menyampaikannya neng, umi
memberikan ceramah agama dan ibu ibu jamaah nulis apa yang umi
sampaikan emang itu yang umi anjurkan. Jangan pada ngaji kuping
harus di catet biar di rumah bisa dbaca lagi.
q. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah? Seperti apa pelaksanaannya?
Kalau pembinaan ibadah seperti membaca ayat Al-Qur’an ya pernah
satu-satu ibu-ibu jamaah pada baca umi yang bimbing dan ibu ibu satu
orang satu orang baca tapi jarang paling sebulan sekali neng kalau
sendiri-sendiri begitu.
r. Dalam mengarahkan jamaah secara pribadi untuk taat beribadah,
metode komunikasi apa yang di gunakan dalam pembinaan ibadah?
Dan seperti apa pelaksanaannya?
Ga ada si ya neng paling kalau ya ada ibu jamaah yang lg kena
masalah terus datang ke rumah umi, ya di situ dah umi kasih tambahan
nasehat biar sabar, biar nerimain paling umi suruh baca ini ini ini biar
hati tenang. Gitu neng
s. apakah ustdazah suka menanggapi masalah masalah atau dalam
pembinaan ibadah yang terjadi pada jamaah ketika ada seorang jamaah
yang bertanya dan berkeluh kesah tentang kehidupannya, secara
pribadi?
Iya itu mah pasti atuh selalu ditanggapi tapi ga di majelis taklim neng,
karena kalau di majelis taklim biar fokus ngaji dan nuntut ilmu, kalau
ada yang mau ditanyain ya paling ibu jamaahnya ada yang ke rumah
umi aja neng.
t. Bagaimana kedekatan ustadzah dengan jamaah ? apakah hanya
berkomunikasi dalam majelis taklim atau di luar majelis taklim juga di
lakukan?
Ya sangat dekat ga Cuma di majelis taklim aja tapi juga di luar umi
dan jamaah dekat para jamaah suka datang ke rumah Umi tapi ya ga
semua nya neng
u. Apakah dalam menyampaikan materi ceramah agama atau tausiah
ustadzah menggunakan komunikasi kelompok. Dan bagaimana
bentuknya, Tanya jawabkah atau satu arah saja ?
Iya secara kelompok, satu arah saja tapi yang namanya ibu-ibu ya neng
kalau umi lagi ceramah ada aja yang nanya di tengah umi ceramah tapi
umi sendiri emang abis selesai ceramah langsung umi tutup doa neng.
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( Ustadzah Hj. Umi Qomariah)
Hasil Wawancara
Nama:
Ustdz Dede Wahyudin
Jabatan:
Ustadz
Waktu:
26. Mei. 2014
Tempat:
Kediaman rumah Ustdz Dede Wahyudin
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
v. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan yang ada di
majelis taklim Al-Barkah, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur an,
Yasin Tahlil, Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah?
Bentuk komunikasi dalam kegiatan tersebut tidak jauh berbeda dengan
majelis taklim yang lainnya. ya secara bersama sama saja dibacanya
dan dipimpin oleh satu orang itupun bergiliran tidak terpaku pada satu
orang saja dengan tujuan agar ibu ibu jamaah terbiasa dan belajar
latihan agar semua bisa merasakan.
w. Pola komunikasi apa yang digunakan oleh ustadz kepada para jamaah
dalam
penyampaian
materi
ceramah
agama
dan
bagaimana
pelaksanaannya?
Bentuk komunikasinya secara kelompok, saya memberikan materi dan
semua ibu ibu mendengarkan ada juga yang mencatat materi dan ada
juga yang tidak
x. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah? Seperti apa pelaksanaannya?
Kalau saya pribadi hanya menggunakan pola komunikasi kelompok,
tidak dengan sendiri-sendiri biasanya kalau yang sendiri-sendiri itu
dilakukan oleh Ustadzah Hj Umi Qomariah. Saya tugasnya hanya
menyampaikan materi saja.
y. Dalam mengarahkan jamaah secara pribadi untuk taat beribadah,
metode komunikasi apa yang di gunakan dalam pembinaan ibadah?
Dan seperti apa pelaksanaannya?
Dalam hal ini saya juga tidak menggunakan metode komunikasi yang
secara antarpribadi.
z. apakah ustdaz suka menanggapi masalah masalah atau dalam
pembinaan ibadah yang terjadi pada jamaah ketika ada seorang jamaah
yang bertanya dan berkeluh kesah tentang kehidupannya, secara
pribadi?
Ini biasa dilakukan hanya dengan ustadzah Umi Qomariah saja, kalau
saya hanya menyampaikan materi di dalam majelis taklim Al-Barkah.
aa. Bagaimana kedekatan ustadz dengan jamaah ? apakah hanya
berkomunikasi dalam majelis taklim atau di luar majelis taklim juga di
lakukan?
Saya hanya berkomunikasi di dalam majelis taklim saja. Di luar dari
itu saya jarang ketemu dengan ibu-ibu jamaah
bb. Apakah dalam menyampaikan materi ceramah agama atau tausiah
ustadzah menggunakan komunikasi kelompok. Dan bagaimana
bentuknya, Tanya jawabkah atau satu arah saja ?
Iya saya menggunakan komunikasi kelompok bentuknya selesai saya
ceramah dan memberikan materi saya buka sesi Tanya jawab kurang
lebih sepuluh menit.
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( Ustadz Dede Wahyudin)
Hasil wawancara
Nama:
Ibu Suinah
Jabatan:
Ketua/Jamaah Majelis Taklim
Waktu:
24. Mei. 2014
Tempat:
Majelis Taklim Al-Barkah
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
u. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan yang ada di
majelis taklim ini, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasiin
Tahlil Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah?
Cara bacanya ya.. bareng bareng ada yang mimpin satu orang, jadi satu
orang yang kirim hadiah Fatihah, di teruskan yasin dibaca bareng bareng
Ratib juga dibaca bareng sampai Aqidah Mujmalah juga dibacanya bareng
bareng biar pada bisa ngikutin kan yang namanya juga nene-nene ya ,
kalau di baca sendiri sendiri ada yang belum hafal apa gimana gitu.
v. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah?
Engga dsini mah kalau pembacaannya ga ada yang sendiri sendiri dibaca
sama sama aja gitu, sampai selesai juga sama sama, kalau udah slesai
Aqidah mujmalah Umi baru datang dah.
w. Apakah ibu jamaah pernah diarahkan dalam pembinaan ibadah secara
antarpribadi oleh ustdzah?
Pernah itu mah pernah kadang Ustadzah Umi suka pembukaan Terus
ngajarin satu-satu baca ayat ayat Al-Qur’an, ayo bu baca? Kaya saya
pernah di suruh baca sendiri-sendiri, sampai bener banget pokoknya, kalau
belum bener ya masih di ulang terusm kadang juga suka ngajarin praktek
wudhu, tar praktek sholat, bener-bener umi sampai meraktekin kita
disuruh dah satu satu ngikutin.
x. Dalam pembinaan ibadah yang dilakukan di majelis taklim adakah yang
ibu jamaah belum paham atau hafal dari bacaan bacaannya? Pernahkah
bertanya secara antarpribadi?
Kalau saya sih Alhamdulillah sudah hafal, ya namanya udah lama banget
ya ngaji, kan Cuma itu itu doank yang dibaca jadi hafal, kalau nanya sama
umi berdua ya pernah datang ke rumah umi, ada masalah keluarga apa-apa
gitu? Minta solusi, paling gt kan umi udah kaya orang tua juga ya..
y. Apakah ibu jamaah berkomunikasi antarpribadi dengan ustdzah di luar
majelis taklim untuk menanyakan masalah masalah agama atau dalam
pembinaan ibadah?
Ya yang tadi saya bilang saya suka ke rumah umi untuk nanya-nanya,
minta solusi curhat apa aja dah. Kadang minta doanya, biasanya sekalian
ngundang kalau ada acara apa gitu.
z.
Bagaimana pembinaan ibadah di dalam majelis taklim secara kelompok?
Saat melaksanakan pembinaan ibadah ada yang memimpin atau dengan
cara membacanya bersama sama?
Ya secara kelompok, kalau baca Yasin Tahlil Ratib dan Aqidah Mujmalah
di baca bareng bareng ada yang mimpin satu orang dan bareng bareng dah
semua ngikutin baca nya.
aa. Bagaimana cara penyampaian ustadzah kepada
para jamaah dalam
menyampaikan materi agama ? satu arah kah atau Tanya jawab?
Kebanyakan Umi yang ngajar jadi kebanyakan satu arah paling ustd Dede
jarang-jarang datangnya. Ustad Dede si enak pake ada Tanya jawabnya,
jadi langsung boleh nanya di kasih kesempatan buat kita nanya nanya yang
ga kita tau
bb. Adakah perbedaan penyampaiaan tausiah antara ustdzah Umi Qomariah
dengan ustadz Dede Wahyudin? apa saja perbedaan komunikasinya?
Ya banyak perbedaannya dari segi penyampaiannya juga beda, ustadzah
Umi ceramahnya kan satu arah langsung di tutup doa kalau Ustdz Dede
ada di kasih kesempatan Tanya jawab, kalau Umi biasanya pada nanya di
pertengahan ceramah soalnya langsung di tutup doa gitu, ga ada
kesempatan nanya nanya..
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( Suinah )
Hasil wawancara
Nama:
Ibu Kartini
Jabatan:
Jamaah Majelis Taklim
Waktu:
24. Mei. 2014
Tempat:
Majelis Taklim Al-Barkah
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
cc. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan yang ada di
majelis taklim ini, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasiin
Tahlil Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah?
Ya caranya dibaca bareng-bareng dan ada yang mimpin satu orang, nah
kalau bacaan hadiah fatihah yang baca satu orang kita Cuma ngikutin
fatihahnya aja, pas yasiin nya baru baca bareng-bareng, Ratib Al-Athos
dan Aqidah mujmalah juga di baca bareng bareng.
dd. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah?
Engga, disini kalau pembinaan ibadah kaya baca Yasiin Tahlil Ratib dan
Aqidah baca nya bareng bareng ustadzah datangnya pas sudah selesai
pembacaan aqidah aja.
ee. Apakah ibu jamaah pernah diarahkan dalam pembinaan ibadah secara
antarpribadi oleh ustdzah?
Ya pernah kalau lagi misalnya materinya tentang tajwid, nah kit abaca ayat
ayat Al-Qur’an nah ustadzah Umi Qomar Baca duluan nanti kita disuruh
satu-satu ngikutin, ayo neng baca sendiri, ntar kalau salah di ulang lagi
sampai bener banget. Itu satu-satu disuruhnya.
ff. Dalam pembinaan ibadah yang dilakukan di majelis taklim adakah yang
ibu jamaah belum paham atau hafal dari bacaan bacaannya? Pernahkah
bertanya secara antarpribadi?
Ya kalau hafal mah ya belum, paham juga sekedar baca aja, kalau sendiri
baca yasin mah kaga hafal tapi kalau bareng bareng ngikutin bisa kaya
hafal jadi kaga keder gt neng. Kalau nanya sama umi secara langsung
berdua si kaga pernah, paling Cuma di majelis taklim aja bareng bareng
bacanya. Kalau nanya nanya sama umi yang di Tanya bukan bacaan yasin
dan lain lainnya, paling nanya nanya masalah apa bae dah gitu.ini dosa apa
ga? Ini boleh ga? Atau gimana ya yang bae? Paling Cuma begitu neng
nanya nanya nya.
gg. Apakah ibu jamaah berkomunikasi antarpribadi dengan ustdzah di luar
majelis taklim untuk menanyakan masalah masalah agama atau dalam
pembinaan ibadah?
Ya kadang kadang si pernah juga, tapi kaga sering, paling kalau yang pasti
mah kalau lebaran doank, kalau umi Sakit ya dijenguk , terus kalau mau
ngundang missal mau ada maulid apa isra mi’raj gt doank, kalau nanya
masalah masalah agama paling yang di waktu pengajian aja.
hh. Bagaimana pembinaan ibadah di dalam majelis taklim secara kelompok?
Saat melaksanakan pembinaan ibadah ada yang memimpin atau dengan
cara mebacanya bersama sama?
Ya dipimpin satu orang dan semua jamaah ngikutin pembacaannya kecuali
hadiah fatihah sebelum yassin , itu dibaca sendiri dan kita Cuma baca
fatihah aja yang bareng bareng tapi selebihnya ya semua di baca bareng
dan satu memimpin.
ii. Bagaimana cara penyampaian ustadzah kepada
para jamaah dalam
menyampaikan materi agama ? satu arah kah atau Tanya jawab?
Ustadzah Umi Qomariah satu arah langsung di tutup doa aja tapi ada juga
jamaah yang nanya di pertengahan Umi Qomar lagi ceramah, ya pasti di
jawab, Cuma jadi kadang umi ngejelasinnya dari ulang yang pertama lagi,
ustadz Dede wahyudin kalau ceramah ngasih kesempatan buat nanya jadi
dua arah sebelum di tutup doa ustdz dede bilang ada yang mau nanya ga
bu? Baru dah kalau udah selesai pada nanya baru ditutup doa, tapi yang
sering dan emang guru tetepnya Umi Qomar jadi lebih banyak satu arah
aja langsung di tutup doa.
jj. Adakah perbedaan penyampaiaan tausiah antara ustdzah Umi Qomariah
dengan ustadz Dede Wahyudin? apa saja perbedaan komunikasinya?
Ya banyak bedanya, kalau umi yang tadi saya bilang ceramahnya ga pake
Tanya jawab, kalau Ustadz Dede di kasih kesempatan untuk nanya, jadi
enak kalau ada yang ga ngerti langsung ditanyain aja gitu, tapi ya kalau
umi paling pada nyeletuk di tengah tengah Umi ceramah itu juga soalnya
umi ga ngasih kesempatan bertanya, setelah selesai ceramah langsung
tutup doa dan langsung pulang.
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( Kartini )
Hasil wawancara
Nama:
Ibu Erni
Jabatan:
Jamaah Majelis Taklim
Waktu:
24. Mei. 2014
Tempat:
Majelis Taklim Al-Barkah
Pola Komunikasi dalam Kegiatan Pembinaan Ibadah, komunikasi
antarpribadi dan komunikasi kelompok
kk. Bagaimana pola komunikasi dalam kegiatan pembinaan ibadah yang ada
di majelis taklim ini, seperti membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, Yasiin
Tahlil Ratib Al-Athos dan Aqidah Mujmalah?
Ya dibaca bareng bareng ada yang mimpin satu orang yang mimpin juga
ga dia dia juga gantian tiap minggunya. Misalnya saya hari ini baca,
minggu besok siapa lagi ya ganti gantian gitu yang mimpinnya biar adil
dan biar pada bisa semua.
ll. Apakah pola komunikasi antarpribadi diterapkan dalam pembinaan
ibadah?
Untuk pembacaan ayat ayat suci Al-Qur’an ga kayanya, ga secara pribadi
ya dibaca sama sama aja, kan ustadzahnya juga datangnya kalau udah
selesai pembacaan aqidah. Jadi ustadzah disini kalau kita udah baca semua
baru pada datang.
mm.
Apakah ibu jamaah pernah diarahkan dalam pembinaan ibadah
secara antarpribadi oleh ustdzah?
Oh iya itu mah suka, kadang pembukaan materinya baca satu satu, yaudah
Umi baca duluan baru kita satu satu disuruh baca, kalau salah ya di ulangulang sampai bener. Tergantung lagi mau ngajarin apa ni, kalau lagi baca
sendiri sendiri antara kita sama ustadzah ya suka ada juga.
nn. Dalam pembinaan ibadah yang dilakukan di majelis taklim adakah yang
ibu jamaah belum paham atau hafal dari bacaan bacaannya? Pernahkah
bertanya secara antarpribadi?
Yaa kalau yasiin mah kaga hafal, ratib juga kaga hafal, karena biasa dibaca
sama sama-sama aja jadi hafal maka dari itu enaknya baca bareng-bareng
biar semua bisa ngikutin
oo. Apakah ibu jamaah berkomunikasi antarpribadi dengan ustdzah di luar
majelis taklim untuk menanyakan masalah masalah agama atau dalam
pembinaan ibadah?
Kalau saya pribadi si belum pernah ya, paling ke rumah uminya lebaran
doank, kalau ngundang ada acara, tapi kalau masalah agama ya saya
nyeletuk aja gitu, kalau ada yang saya kurang paham kadang langsung
nanya aja
pp. Bagaimana pembinaan ibadah di dalam majelis taklim secara kelompok?
Saat melaksanakan pembinaan ibadah ada yang memimpin atau dengan
cara mebacanya bersama sama?
Ya ada yang mimpin dan baca sama sama, Cuma satu orang megang
speker dan yang ibu ibu lain pada ngikutin itu dah biar pada bisa ngikutin
bacaannya kalau yang mimpiin mah ganti-gantian siapa aja gitu yang mau.
qq. Bagaimana cara penyampaian ustadzah kepada
para jamaah dalam
menyampaikan materi agama ? satu arah kah atau Tanya jawab?
Ustadzah Umi Qomar mah ceramah nyampein Ilmu Agama doank ga ada
kesempatan Tanya jawab, jadi Cuma satu arah aja. yang kalau Ustadz
Dede pake kesempatan nanya.
rr. Adakah perbedaan penyampaiaan tausiah antara ustdzah Umi Qomariah
dengan ustadz Dede Wahyudin? apa saja perbedaan komunikasinya? Ya
kalau ustad Dede pake Tanya jawab kalau umi ga pake, umi ceramahnya
lama ustad Dede sebentar. yang kalau Ustadz Dede pake kesempatan
nanya. Masalah materi juga banyak bedanya kalau ustadz Dede kan masih
muda jadi ada becanda-becandanya kalau Umi Qomar ga pake becanda
harus serius.
Pewawancara
Narasumber
( Hilyatul Aulia )
( Erni )
(Saat Penulis mewawancari Ibu Hj. Neni Jamaah Majelis Taklim Muslimat NU)
(Saat penulis mewawancari ibu Asti dan Ibu Ela Jamaah Majelis Taklim Muslimat NU)
(Saat penulis mewawancari KH. Burhanuddin Marzuki selaku ustdz di Majelis Taklim
Muslimat NU )
(penulis bersama Ibu Hj Neni selaku Jamaah sekaligus skertaris Majelis Taklim Muslimat
NU)
(Penulis Fhto bersama Jamaah Majelis Taklim Muslimat NU)
(Penulis Fhoto Bersama Ibu Hj. Aisyah selaku jamaah Majelis taklim Muslimat NU)
(Penulis Fhoto Bersama Ibu Asti selaku Jamaah Majelis taklim Muslimat NU)
(Penulis Bersama Ibu Ela selaku Jamaah Majelis taklim Muslimat NU )
KEGIATAN PENGAJIAN MAJELIS TAKLIM MUSLIMAT NU
(Ceramah Agama yang disampaikan oleh KH. BUrhanuddin Marzuki)
KEGIATAN PENGAJIAN MAJELIS TAKLIM MUSLIMAT NU
(Penulis Fhto bersama KH. BUrhanuddin Marzuki dan Jamaah Muslimat NU)
(Penulis Fhoto Bersama Ustadzah Yuliyana)
( Ustadzah Yuliyana Saat memimpin Pengajian di Majelis taklim
Jamiatul Umahat selaku Anak cabang dari Majelis
Taklim Muslimat NU)
(Jamaah Majelis Taklim Jamiatul Umahat selaku Anak cabang dari Majelis Taklim
Muslimat NU)
Download