PENGARUH AKUISISI TERHADAP - e

advertisement
PENGARUH AKUISISI TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN
PENGAKUISISI
(Studi Kasus Perusahaan Go Publik pada Bursa Efek Indonesia)
Iftia Putri Utami
Universitas Negeri Padang
Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk manganalisis perbedaan profitabilitas sebelum dan
sesudah akuisisi. Kinerja profitabilitas perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini
diproksikan dengan rasio ROE, ROI, GPM, OPM, dan NPM. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh perusahaan go public yang melakukan akuisisi selama tahun 2008-2009.
Sampel penelitian ini ditentukan dengan purposive sampling sehingga diperoleh sampel
sebanyak 14 perusahaan. Metode analisis menggunakan uji statistik non parametrik yaitu
uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan
dari profitabilitas perusahaan yang diukur dengan ROE, ROI, GPM, OPM, dan NPM
untuk periode satu tahun sebelum dan satu tahun setelah akuisisi begitu juga untuk periode
satu tahun sebelum dan dua tahun sesudah akuisisi. Hasil penelitian mengindikasikan
tujuan ekonomis dilakukan akuisisi yaitu untuk mendapatkan sinergi tidak tercapai.
Kata kunci : Akuisisi, Profitabilitas
ABSTRACT
The research aims to analyze differences profitability before and after acquisition.
The profitability performance that used in this research proxied with ROE, ROI, GPM,
OPM, and NPM ratio. The populations in this research is all go public companies which
did acquisition about 2008-2009. The sample in this research determined purposive
sampling. So that, got 14 sample of companies. The analysis method used non parametric
statistic test that is wilcoxon test. The result show that no significant differences from
company profitability that measuring with ROE, ROI, GPM, OPM, and NPM before dan
after one year period of acquisition and before one year and after two year period of
acquisition. The result of research indicates economical purpose that acquisition did is to
get synergy does not reached.
Keyword : Acquisition, Profitability
1
LATAR BELAKANG
Dalam memasuki era pasar bebas dan
globalisasi persaingan dunia usaha di Indonesia
semakin ketat. Setiap perusahaan ditantang untuk
dapat
merancang
strategi
yang
akan
digunakannya agar dapat mempertahankan
eksistensinya dalam jangka panjang. Salah satu
strategi yang dilakukan oleh perusahaan adalah
dengan memperbaiki kinerja perusahaannya dan
memperkuat kondisi finansial atau kondisi
permodalan yang dimiliki oleh perusahaan.
Salah satu cara untuk meningkatkan
kinerja keuangan perusahaan seperti kinerja
likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas agar
menjadi perusahaan yang kuat dapat dilakukan
melalui ekspansi. Menurut Suad dan Enny (2012 :
395) Ekspansi terbagi menjadi dua macam yaitu
ekspansi internal dan ekspansi eksternal.
Ekspansi internal terjadi pada saat divisi – divisi
yang ada dalam perusahaan tumbuh secara
normal melalui capital budgeting misalnya
melalui penambahan kapasitas pabrik, menambah
unit produksi dan divisi baru. Sedangkan
ekspansi eksternal dapat dilakukan dengan
penggabungan usaha atau pengambilalihan usaha.
Penggabungan usaha adalah penyatuan
dua atau lebih perusahaan yang terpisah menjadi
satu, dimana satu perusahaan menyatu dengan
perusahaan lain atau memperoleh kendali atas
aktiva sekaligus operasi perusahaan. Menurut
Suad (1998: 648) terdapat tiga prosedur dasar
yang dapat dilakukan perusahaan untuk
mengambil alih perusahaan lain yaitu merger atau
konsolidasi, akuisisi saham, dan akuisisi aset.
Istilah merger sering dipergunakan untuk
menunjukkan penggabungan dua perusahaan atau
lebih dan kemudian tinggal nama salah satu
perusahaan yang bergabung. Konsolidasi
menunjukkan penggabungan dari dua perusahaan
atau lebih dan nama dari perusahaan – perusahaan
yang bergabung tersebut hilang, kemudian
muncul nama baru dari perusahaan gabungan.
Akuisisi saham dengan membeli saham
perusahaan tersebut, baik dibeli secara tunai
ataupun menggantinya dengan sekuritas lain
(saham atau obligasi). Sedangkan akuisisi aset
perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain
dengan jalan membeli aktiva perusahaan tersebut.
Menurut Suad dan Enny (2012 : 396)
dengan akuisisi perusahaan bisa memperoleh
2
keuntungan yaitu sinergi. Selain itu akuisisi juga
memperoleh efisiensi dan dapat memperluas
pasar. Melalui akuisisi dengan cara horizontal,
vertikal, maupun konglomerasi diharapkan dapat
meningkatkan efesiensi, maka diharapkan
profitabilitas perusahaan meningkat.
Menurut Wild dkk (2005 : 359)
penggabungan
usaha
(Akuisisi)
dapat
meningkatkan
citra
perusahaan,
potensi
pertumbuhan, kesejahteraan perusahaan, dan
untuk meningkatkan laba perusahaan. Akuisisi
akan berdampak positif jika perusahaan
pengakuisisi (akuisitor) memiliki modal dan
kinerja keuangan yang baik setelah akuisisi
dilakukan. Suksesnya akuisisi diantaranya diukur
dengan tercapainya peningkatan nilai perusahaan
pasca akuisisi, hal ini bisa dilihat dari profit atau
laba yang diperoleh oleh perusahaan yang bisa
dilihat dari kinerja keuangan yang tercantum
dalam laporan keuangan perusahaan.
Rasio profitabilitas yang digunakan dalam
penelitian ini ada 5 yaitu Return On Equity
(ROE) untuk mengetahui berapa tingkat
keuntungan yang diperoleh dari modal yang
ditanamkan. Return On Investment (ROI) untuk
mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh
dengan menggunakan seluruh dana yang
ditanamkan dalam aktiva untuk operasi
perusahaan. Net Profit Margin (NPM) untuk
memberikan gambaran tentang laba bersih
perusahaan setelah dikurangi pajak yang dicapai
pada setiap rupiah penjualan. Operating Profit
Margin (OPM) untuk mengetahui laba operasi
perusahaan yang dihasilkan setiap rupiah
penjualan. Gross Profit Margin (GPM) untuk
mengetahui laba kotor yang dicapai setiap rupiah
penjualan. Kinerja profitabilitas yang diukur
dengan ROE, ROI, GPM, NPM dan OPM
memberikan gambaran mengenai perubahan
profit dari tahun ke tahun yang diperoleh
perusahaan, sehingga dapat dilihat apakah
keputusan
akuisisi
akan
meningkatkan
profitabilitas perusahaan pengakuisisi.
TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran umum akuisisi
Menurut Lukas (2003 : 435) dalam bukunya
manajemen keuangan, akuisisi berasal dari kata
kerja “acquire” yang berarti memperoleh,
mengambil alih. Akuisisi dalam terminologi
bisnis diartikan sebagai pengambil alihan
kepemilikan atau pengendalian atas saham atau
asset suatu perusahaan oleh perusahaan lain dan
dalam peristiwa ini baik perusahaan pengambil
alih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai
badan hukum yang terpisah.
Dari pengertian diatas dapat ditarik
kesimpulan akuisisi terjadi ketika perusahaan
memperoleh aktiva produktif dari perusahaan lain
dan mengintegrasikan aktiva – aktiva tersebut
kedalam aktiva miliknya. Akuisisi juga dapat
terjadi ketika suatu perusahaan memperoleh
pengendalian operasi atau fasilitas produktif
entitas lain dengan memiliki sejumlah besar
saham. Dalam akuisisi tidak ada perusahaan yang
bubar kedua perusahaan yang terlibat dalam
akuisisi secara yuridis masih tetap berdiri dan
beroperasi secara independent tetapi terjadi
pengalihan pengendalian oleh pihak pengakuisisi.
Fenomena akuisisi sebenarnya merupakan
keputusan strategis dalam dunia bisnis.
Rasionalisasi dalam keputusan akuisisi sering
disebut – sebut sebagai upaya untuk memacu
perusahaan agar lebih sehat dan lebih efesiensi
untuk mencapai sinergi. Menurut Suad dan Enny
( 2012 : 396 ) Kondisi saling menguntungkan
tersebut akan terjadi kalau dari peristiwa akuisisi
atau merger tersebut diperoleh sinergi. Sinergi
berarti bahwa nilai gabungan dari kedua
perusahaan tersebut lebih besar dari penjumlahan
masing – masing nilai perusahaan yang
digabungkan. Sinergi adalah situasi pada saat 2 +
2 = 5.
Menurut Suad dan Enny (2012 : 396)
sinergi dapat bersumber dari bebagai sebab.
Misalnya pemanfaatan manajemen, untuk
beroperasi lebih ekonomis (operating economies
of scale), untuk pertumbuhan yang lebih cepat,
dan pemanfaatan penghematan pajak.
Profitabilitas
Menurut
Kasmir (2011 : 114)
rasio
profitabilitas
untuk
menilai
kemampuan
perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba
dalam suatu periode tertentu. Rasio ini juga
memberikan
ukuran
tingkat
efektivitas
manajemen suatu perusahaan yang ditunjukkan
dari laba yang dihasilkan dari penjualan atau
pendapatan investasi. Rasio yang digunakan
adalah ROE, ROI, NPM, OPM, GPM
Hubungan akuisisi terhadap profitabilitas
perusahaan
Pertama Return On Equity (ROE), akuisisi
merupakan aktifitas perusahaan mengambilalih
perusahaan lain termasuk asset dan kewajiban
yang ditinggalkan oleh perusahaan yang
diakuisisi. Menurut Wild dkk (2005 : 359)
penggabungan
usaha
(Akuisisi)
dapat
meningkatkan
citra
perusahaan,
potensi
pertumbuhan, kesejahteraan perusahaan, dan
untuk meningkatkan laba perusahaan. Akuisisi
akan berdampak positif jika perusahaan
pengakuisisi memiliki modal dan kinerja
keuangan yang baik. Dampak positif yang jelas
terlihat pada laba yang diterima oleh perusahaan
yang disebabkan oleh karena sejumlah konsumen
potensial yang merupakan pelanggan dari
perusahaan yang diakuisisi.
Kedua, yaitu rasio Return On Invesment
(ROI), menurut Suad dan Enny (2012 : 395)
menyatakan bahwa faktor yang paling mendasari
suatu perusahaan melakukan akuisisi adalah motif
ekonomi atau akuisisi tersebut menguntungkan
bagi pemilik perusahaan pembeli atau
pengakuisisi dan perusahaan penjual atau
perusahaan target. Hal ini didasarkan dengan
bertambahnya asset – asset dan keuangan
perusahaan sehingga sangat memungkinkan
kegiatan produksi yang dilaksanakan dapat
diperbesar
untuk
memenuhi
permintaan
konsumen.
Ketiga, Gross Profit Margin (GPM), menurut
Wild dkk (2005 : 358) salah satu alasan ekonomis
penggabungan usaha (akuisisi) adalah untuk
memperoleh sumber bahan baku, fasilitas
produksi, jaringan pemasaran atau pangsa pasar
yang tidak ternilai. Dengan semakin besarnya
volume produksi yang dilaksanakan perusahaan
setelah akuisisi maka sangat memungkinkan
terjadinya peningkatan volume penjualan
perusahaan yang didorong dengan bergabungnya
pelanggan
perusahaan
yang
diambilalih,
disamping adanya pelaksanaan perluasan pangsa
pasar produk perusahaan. Sehingga dapat
diprediksi setelah dilakukannya akuisisi total
penjualan dan laba kotor yang diterima
3
perusahaan
akan
cendrung
mengalami
peningkatan berarti.
Keempat, Operating Profit Margin
(OPM), menurut Ross dkk (2009 :526)
mengatakan bahwa sebuah perusahaan dapat
mencapai efesiensi operasional yang lebih besar
dengan beberapa cara berbeda melalui merger
dan akuisisi. Walaupun perusahaan gabungan
akan jauh lebih besar karena adanya akuisisi,
biaya operasional dan biaya modal per pelanggan
akan jauh lebih rendah. Jadi dapat disimpulkan
setelah akuisisi laba operasi yang dihasilkan
setiap rupiah penjualan akan meningkat.
Kelima, Net Profit Margin (NPM),
menurut Wild dkk (2005 : 358) salah satu alasan
ekonomis penggabungan usaha (akuisisi) adalah
untuk menjamin sumber keuangan atau akses
terhadap sumber keuangan, setelah adanya
pengambilalihan suatu usaha maka diharapkan
tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan
berasal pendapatan yang diterima dari kegiatan
operasionalnya akan meningkat.
METODE PENELITIAN
Data
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
perusahaan go public yang melakukan akuisisi
selama tahun 2008-2009. Sampel dipilih dengan
menggunakan
purposive
sampling
yaitu
pemilihan anggota sampel berdasarkan kriteria
tertentu. Kriteria yang digunakan adalah
perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dan melakukan akuisisi selama
tahun 2008-2009, dan tersedianya laporan
keuangan auditan perusahaan untuk satu tahun
sebelum, satu tahun setelah dan dua tahun setelah
akuisisi. Berdasarkan kriteria tersebut, maka
perusahaan yang akan dijadikan sampel dalam
penelitian ini berjumlah 14 perusahaan. Data
yang digunakan adalah data sekunder dan
diperoleh dari Indonesian Capital Market
Directory (ICMD).
Definisi Operasional dan Variabel Penelitian
Akuisisi
Akuisisi merupakan pengambilalihan
seluruh atau sebagian besar saham perusahaan
yang mengakibatkan beralihnya pengendalian
4
terhadap perusahaan yang bersangkutan. Setelah
transaksi,
baik
perusahaan
pengakuisisi
(akuisitor) maupun perusahaan diakuisisi
(investee) tetap meneruskan kegiatan seperti
sebelumnya. Kedudukan investee secara hukum
tidak berubah setelah akuisisi.
Profitabilitas
Return On Equity ( ROE ), menurut Lukman
(2009 : 64) suatu pengukuran dari penghasilan
yang tersedia bagi pemilik perusahaan (pemegang
saham biasa maupun pemegang saham preferen)
atas modal yang mereka investasikan didalam
perusahaan. Semakin tinggi rasio ini akan
semakin baik, karena posisi modal pemilik
perusahaan akan semakin kuat.
=
Return On Investment ( ROI ), menurut Kasmir
(2011 : 202) rasio ini menunjukkan hasil atas
jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan.
ROI juga merupakan suatu ukuran tentang
efektivits
manajemen
dalam
mengelola
investasinya. Semakin tinggi ROI maka semakin
efektif
perusahaan
menggunakan
atau
menghasilkan laba.
=
Gross Profit Margin ( GPM ), rasio ini mengukur
berapa rupiah laba sebelum bunga dan pajak yang
dihasilkan setiap rupiah pendapatan. Menurut
Lukman (2009 : 61 ) semakin besar rasio GPM
semakin baik keadaan operasi perusahaan.
=
Net Profit Margin ( NPM ), rasio yang
menggambarkan tingkat keuntungan yang
diperoleh perusahaan dibandingkan dengan
pendapatan yang diterima dari kegiatan
operasionalnya. Menurut Lukman (2009 : 62)
semakin tinggi NPM semakin baik operasi suatu
perusahaan.
=
Operating Profit Margin ( OPM ), rasio ini
meggambarkan beban – beban operasional
perusahaan serta harga pokok penjualannya.
Menurut Lukman ( 2009 : 62) semakin tinggi
OPM akan lebih baik pula operasi suatu
perusahaan.
Teknik Analisis
=
Dalam penelitian ini metode yang
digunakan dalam menganalisis data adalah uji
statistik non parametrik yaitu uji Wilcoxon.
Pemakaian uji ini dikarenakan data yang digunakan
tidak berdistribusi normal dan sampel yang
dianalisis berjumlah 14. Menurut Santoso (2007 :
267) jika data tidak berdistribusi normal, atau
jumlah data sedikit serta level data adalah nominal
atau ordinal, maka perlu digunakan alternatif
metode – metode statistik yang tidak harus
memakai suatu parameter tertentu yang disebut
statistik non parametrik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif Profitabilitas Untuk Satu
Tahun Sebelum dan Satu Tahun Sesudah
Akuisisi
Berdasarkan pada Tabel 1 (Lampiran)
penilaian profitabilitas untuk periode satu tahun
sebelum (B1) dan satu tahun sesudah akuisisi
(A1) dengan menggunakan rasio ROE diketahui
bahwa rata – rata ROE sebelum akuisisi 17, 1943
dengan standar deviasi 19,91276. Sedangkan
setelah akuisisi menunjukan rata – rata 12,0943
dengan standar deviasi 17,33189. Hasil analisis
yang diukur dengan ROI diketahui bahwa rata –
rata ROI sebelum akuisisi 8,5957 dengan standar
deviasi 9,92808. Sedangkan setelah dilakukan
akuisisi rata- rata ROI 6,7086 dengan standar
deviasi 6,41257. Untuk rasio GPM diketahui
bahwa rata – rata GPM sebelum akuisisi 0,2564
dengan standar deviasi 0,15480. Sedangkan
setelah akuisisi menunjukkan rata – rata GPM
0,2679 dengan standar deviasi 0,15909. Untuk
rasio OPM diketahui rata – rata OPM sebelum
akuisisi -0,1750 dengan standar deviasi 1,23902.
Sedangkan setelah akuisisi menunjukkan rata –
rata OPM 0,1743 dengan standar deviasi 0,13540.
Hasil untuk rasio NPM diketahui rata – rata NPM
sebelum akuisisi -1,7050 dengan standar deviasi
6,99396. Sedangkan setelah akuisisi menunjukan
rata – rata NPM 0,0871 dengan standar deviasi
0,12443.
Statistik Deskriptif Profitabilitas Untuk Satu
Tahun Sebelum dan Dua Tahun Sesudah
Akuisisi
Berdasarkan pada Tabel 2 (Lampiran)
penilaian profitabilitas untuk periode satu tahun
sebelum (B1) dan satu tahun sesudah akuisisi
(A2) dengan menggunakan rasio ROE diketahui
bahwa rata – rata ROE sebelum akuisisi 17,2186
dengan standar deviasi 19,90767. Sedangkan
sesudah akuisisi menunjukkan rata – rata 12,4000
dengan standar deviasi 28,53018. Hasil analisis
yang diukur dengan ROI diketahui bahwa rata –
rata ROI sebelum akuisisi 8,5893 dengan standar
deviasi 9,92311. Sedangkan setelah dilakukan
akuisisi menunjukkan rata – rata ROI 6,5929
dengan standar deviasi 11,97860. Untuk rasio
GPM diketahui bahwa rata – rata GPM sebelum
akuisisi 0,2564 dengan standar deviasi 0,15480.
Sedangkan sesudah akuisisi menunjukkan rata –
rata GPM 0,2479 dengan standar deviasi 0,13221.
Untuk rasio OPM diketahui rata – rata OPM
sebelum akuisisi -0,1750 dengan standar deviasi
1,23902. Sedangkan sesudah dilakukan akuisisi
menunjukkan rata – rata OPM 0,0721 dengan
standar deviasi 0,45776. Hasil untuk rasio NPM
diketahui rata – rata NPM sebelum akuisisi 1,7050 dengan standar deviasi 6,99396.
Sedangkan sesudah adanya akuisisi menunjukkan
rata – rata NPM 0,0443 dengan standar deviasi
0,19234.
Hasil Uji Wilcoxon
Uji wilcoxon dalam penelitian ini
digunakan untuk mengetahui apakah terdapat
5
perbedaan antara dua kondisi yang berkaitan,
yakni
signifikan
perubahan
profitabilitas
perusahaan sebelum dan sesudah akuisisi dengan
memperbandingkan
rasio
–
rasio
profitabilitasnya. Jika yang diperbandingkan
berbeda maka dinyatakan bahwa keputusan
akuisisi
tersebut
berpengaruh
terhadap
profitabilitas perusahaan. Berdasarkan hasil
perhitungan, diperoleh hasil seperti yang
ditunjukkan dalam Tabel 3 dan 4 (Lampiran).
ROE Perusahaan
Akuisisi
Sebelum dan
Sesudah
Berdasarkan hasil perhitungan terbukti Ho
pada hipotesis pertama diterima. Indikator ROE
yang diuji selama satu tahun sebelum dan satu
tahun sesudah juga satu tahun sebelum dan dua
tahun sesudah akuisisi tidak berbeda secara nyata,
atau rata – rata rasio profitabilitas sebelum
akuisisi tidak berbeda dengan setelah akuisisi. Ini
dibuktikan juga dengan nilai probabilitas ROE
yang dihasilkan pada Tabel 3 dan 4 (Lampiran),
masing – masing yaitu 0,470 dan 0,683 dimana
nilainya lebih besar dari taraf signifikansi sebesar
5% yang membuktikan tidak ada perbedaan
signifikan. Hasil penelitian tidak sesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh Wild dkk (2005 :
359), penggabungan usaha (akuisisi) dapat
meningkatkan
citra
perusahaan,
potensi
pertumbuhan, kesejahteran perusahaan, dan untuk
meningkatkan laba perusahaan. Akuisisi akan
berdampak positif jika perusahaan pengakuisisi
memiliki modal dan kinerja keuangan yang baik.
Maka ROE perusahaan yang tidak berbeda antara
sebelum dan sesudah akuisisi ini menunjukkan
bahwa kemampuan modal sendiri untuk
menghasilkan laba dari aktivanya mengalami
penurunan. Hal ini bisa terjadi menurut Suta
(1992) dikutip Payamta (2004) dalam proses
akuisisi membutuhkan biaya yang tidak sedikit
dan modal yang relatif banyak, sehingga
perusahaan tidak dapat memaksimalkan laba yang
diperolehnya.
ROI Perusahaan
Akuisisi
Sebelum
dan
Sesudah
Berdasarkan hasil perhitungan terbukti Ho
pada hipotesis kedua diterima. Indikator ROI
6
yang diuji selama satu tahun sebelum dan satu
tahun sesudah juga satu tahun sebelum dan dua
tahun sesudah akuisisi tidak berbeda secara nyata,
atau rata – rata rasio profitabilitas sebelum
akuisisi tidak berbeda dengan setelah akuisisi. Ini
dibuktikan juga dengan nilai probabilitas ROI
yang dihasilkan selama pada Tabel 3 dan 4
(Lampiran), masing – masing yaitu 0,363 dan
0,683 dimana nilainya lebih besar dari taraf
signifikansi sebesar 5% yang membuktikan tidak
ada perbedaan signifikan. Hasil penelitian ini
bertentangan dengan teori yang dikemukakan
oleh Suad dan Enny (2012 : 395) yang
menyatakan bahwa faktor yang paling mendasari
suatu perusahaan melakukan akuisisi adalah motif
ekonomi atau akuisisi tersebut menguntungkan
bagi pemilik perusahaan pembeli atau
pengakuisisi dan juga perusahaan penjual atau
perusahaan target. Hal ini didasarkan dengan
bertambahnya asset – asset dan keuangan
perusahaan. Jika dibandingkan dengan penelitian
ini maka ROI perusahaan tidak berbeda antara
sebelum dan sesudah akuisisi karena perusahaan
dalam menggunakan dan memaksimalkan
penggunaan investasi kurang efektif sehingga
laba bersih yang dihasilkan juga kurang
maksimal, hal ini disebabkan juga karena akuisisi
baru dua tahun terlaksana sehingga perusahaan
pengakuisisi belum menunjukkan adanya
peningkatan ROI.
GPM Perusahaan Sebelum dan Sesudah
Akuisisi
Berdasarkan hasil perhitungan terbukti Ho
pada hipotesis ketiga diterima. Indikator GPM
yang diuji selama satu tahun sebelum dan satu
tahun sesudah juga satu tahun sebelum dan dua
tahun sesudah akuisisi tidak berbeda secara nyata,
atau rata – rata rasio profitabilitas sebelum
akuisisi tidak berbeda dengan setelah akuisisi. Ini
dibuktikan juga dengan nilai probabilitas GPM
yang dihasilkan pada Tabel 3 dan 4 (Lampiran),
masing – masing yaitu 0,186 dan 0,801 dimana
nilainya lebih besar dari taraf signifikansi sebesar
5% yang membuktikan tidak ada perbedaan
signifikan. Hasil penelitian ini bertentangan
dengan teori yang dikemukakan oleh Wild dkk
(2005 : 358) yang menyatakan salah satu alasan
ekonomis penggabungan usaha (akuisisi) adalah
untuk memperoleh sumber bahan baku, fasilitas
produksi, jaringan pemasaran atau pangsa pasar
yang tidak ternilai. Dengan semakin besarnya
volume produksi yang dilaksanakan perusahaan
setelah akuisisi maka sangat memungkinkan
terjadinya peningkatan volume penjualan,
sehingga diprediksi setelah dilakukan akuisisi
total penjualan dan laba kotor meningkat. Maka
hasil penelitian yang menyatakan bahwa GPM
perusahaan sebelum dan sesudah akuisisi tidak
berbeda secara nyata disebabkan karena
tambahan keuntungan yang diterima perusahaan
setelah akuisisi otomatis akan menjadi milik
perusahaan pengakuisisi, sehingga setelah
dilakukan akuisisi GPM menjadi meningkat.
Akan tetapi karena adanya faktor seperti yang
diakuisisi bukan sumber bahan baku sehingga
laba kotor yang dihasilkan kurang maksimal
diterima oleh perusahaan pengakuisisi.
OPM Perusahaan Sebelum dan Sesudah
Akuisisi
Berdasarkan hasil perhitungan terbukti Ho
pada hipotesis keempat diterima. Indikator OPM
yang diuji selama satu tahun sebelum dan satu
tahun sesudah juga satu tahun sebelum dan dua
tahun sesudah akuisisi tidak berbeda secara nyata,
atau rata – rata rasio profitabilitas sebelum
akuisisi tidak berbeda dengan setelah akuisisi. Ini
dibuktikan juga dengan nilai probabilitas OPM
yang dihasilkan pada Tabel 3 dan 4 (Lampiran),
masing – masing yaitu 0,172 dan 0,220 dimana
nilainya lebih besar dari taraf signifikansi sebesar
5% yang membuktikan tidak ada perbedaan
signifikan. Hasil penelitian ini bertentangan
dengan teori yang dikemukakan oleh Ross dkk
(2009 :526) mengatakan bahwa sebuah
perusahaan dapat mencapai efesiensi operasional
yang lebih besar dengan beberapa cara berbeda
melalui merger dan akuisisi. Walaupun
perusahaan gabungan akan jauh lebih besar
karena adanya akuisisi, biaya operasional dan
biaya modal per pelanggan akan jauh lebih
rendah. Jadi dapat disimpulkan setelah akuisisi
laba operasi yang dihasilkan setiap rupiah
penjualan akan meningkat. Ditemukannya OPM
yang dihasilkan perusahaan setelah akuisisi tidak
berbeda dengan OPM sebelum akuisisi yang
berarti terdapat kenaikan biaya usaha atau biaya
operasional untuk menghasilkan laba. Hal ini
disebabkan dampak dari proses akuisisi
mengakibatkan bertambahnya biaya operasional
yang dikeluarkan perusahaan, sehingga laba yang
dihasilkan perusahaan tidak begitu maksimal
karena banyaknya biaya yang dikeluarkan
perusahaan menghasilkan laba.
NPM Perusahaan Sebelum dan Sesudah
Akuisisi
Berdasarkan hasil perhitungan terbukti Ho
pada hipotesis kelima diterima. Indikator NPM
yang diuji selama satu tahun sebelum dan satu
tahun sesudah juga satu tahun sebelum dan dua
tahun sesudah akuisisi tidak berbeda secara nyata,
atau rata – rata rasio profitabilitas sebelum
akuisisi tidak berbeda dengan setelah akuisisi. Ini
dibuktikan juga dengan nilai probabilitas NPM
yang dihasilkan pada Tabel 3 dan 4 (Lampiran),
masing – masing yaitu 0,528 dan 0,346 dimana
nilainya lebih besar dari taraf signifikansi sebesar
5% yang membuktikan tidak ada perbedaan
signifikan. Hasil penelitian ini bertentangan
dengan teori yang dikemukakan oleh Wild dkk
(2009 : 358). Kenaikan NPM setelah akuisisi
tidak menyebabkan perbedaan profitabilitas
disebabkan karena perusahaan tidak dapat
mempertahankan pendapatan yang diterima dari
kegiatan operasionalnya setelah dilakukan
akuisisi, selain itu juga disebabkan karena
banyaknya biaya yang dikeluarkan perusahaan
untuk melakukan proses akuisisi suatu
perusahaan
sehingga
apabila
perusahaan
pengakuisisi tidak mempunyai perencanaan yang
matang, maka akan berdampak buruk bagi
kondisi perusahaan karena laba bersih yang
dihasilkan dari setiap rupiah penjualan menurun.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan dari pengujian hipotesis
tentang perbedaan profitabilitas sebelum dan
sesudah akuisisi maka dapat disimpulkan bahwa :
1) Untuk periode pengamatan satu tahun sebelum
dan satu tahun sesudah akuisisi, seluruh hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini ditolak. Hasil
penelitian ini memberikan indikasi bahwa tujuan
ekonomis dilakukannya akuisisi yaitu untuk
mendapatkan sinergi tidak tercapai. 2) periode
pengamatan satu tahun sebelum dan dua tahun
sesudah akuisisi, seluruh hipotesis yang diajukan
7
dalam penelitian ini ditolak. Hasil penelitian ini
memberikan indikasi bahwa tujuan ekonomis
dilakukannya akuisisi yaitu untuk mendapatkan
sinergi tidak tercapai.
Saran
Berdasarkan
hasil
penelitian
yang
disimpulkan diatas, maka penulis mencoba
memberikan saran kepada pihak yang
berhubungan dengan penelitian ini. Adapun saran
– saran yang diajukan oleh penulis adalah sebagai
berikut : 1) bagi perusahaan, hendaknya
perusahaan yang akan melakukan akuisisi
melakukan analisis yang mendalam sebelum
melakukan akuisisi. Hal ini perlu dilakukan agar
dapat mencapai sinergi dan meminimalisasi
resiko yang akan dihadapi perusahaan pada masa
yang akan datang. 2) bagi peneliti selanjutnya,
untuk peneliti selanjutnya yang tertarik untuk
melakukan penelitian yang sama maka penulis
menyarankan agar pengukuran kinerja tidak
hanya menggunakan rasio keuangan saja tetapi
juga mempertimbangkan aspek non ekonomis dan
sebaiknya peneliti selanjutnya memperpanjang
periode pengamatan, sehingga sinergi dari
perusahaan yang melakukan akuisisi dapat
terlihat.
Lukas
Setia Atmaja. 2003. Manajemen
Keuangan. Edisi Revisi. Yogyakarta :
Andi
Lukman
Syamsuddin.
2009.
Manajemen
Keuangan Perusahaan. Edisi Baru.
Jakarta : Rajawali Pers
Mafizhatun Nurhayati. http:// www.google.com.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar-UMB
Manajemen Keuangan II
Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. 2002.
Metodelogi Penelitian Bisnis. Edisi 1.
Yogyakarta : BPFE, Yogyakarta
Payamta dan Doddy Setiawan. 2004. Analisis
Pengaruh Merger dan Akuisisi terhadap
Kinerja Perusahaan Publik di Indonesia.
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 7,
No.3
Ross, Stephen dkk. 2009. Pengantar Keuangan
Perusahaan. Edisi 8. Jakarta : Salemba
Empat
DAFTAR PUSTAKA
Singgih Santoso. 2007. Statistik di Era Reformasi
dengan SPSS 15. Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo
Cornelius Trihendradi. 2012. Step by Step SPSS
20 Analisis Data Statistik. Edisi 1.
Yogyakarta : ANDI
Suad Husnan dan Enny Pujiasturi. 2012. Dasar –
Dasar Manajemen Keuangan. Edisi 6.
Yogyakarta : UPP-AMP YKPN
Eduardus, Tandelilin. 2001. Analisis Investasi
dan Manajemen Portopolio. Edisi 1.
Yogyakarta : BPFE, Yogyakarta
Suad
Hitt, A Michael dkk. 2001. Manajemen Strategi
Daya
Saing
dan
Globalisasi.
Edisi 1. Jakarta : Salemba Empat
I Made B, Tirthayatra. http:// www.google.com
Peraturan BAPEPAM Atas Akusisi dan
Merger
Kasmir. 2011. Analisis Laporan Keuangan. Edisi
1. Jakarta : Rajawali Pers
8
Husnan. 1998. Manajemen Teori dan
Penerrapan ( Keputusan Jangka Pendek ).
Edisi 4. Yogyakarta : BPFE Yogyakarta
Wild, John J, dkk. 2005. Analisis Laporan
Keuangan. Edisi 8. Jakarta : Salemba
Empat
-
Indonesian Capital Market Directory. 2007 –
2011. Jakarta. PT BEI
www.idx.co.id
LAMPIRAN
Tabel 1. Statistik Deskriptif Profitabilitas Untuk Satu Tahun Sebelum dan
Satu Tahun Sesudah Akuisisi
Rasio
Keterangan
N
ROE
B1
14
A1
14
ROI
B1
14
A1
14
GPM
B1
14
A1
14
OPM
B1
14
A1
14
NPM
B1
14
A1
14
Sumber : Hasil Olahan SPSS
Maximum Minimum
70,32
29,06
27,98
18,58
0,48
0,49
0,45
0,39
0,47
0,29
-18,03
-43,23
-12,29
-6,58
0,05
0,03
-4,46
-0,02
-26,00
-0,22
Mean
17,1943
12,0943
8,5957
6,7086
0,2564
0,2679
-0,1750
0,1743
-1,7050
0,0871
Standar
Deviasi
19,91276
17,33189
9,92808
6,41257
0,15480
0,15909
1,23902
0,13540
6,99396
0,12443
Tabel 2. Statistik Deskriptif Profitabilitas Untuk Satu Tahun Sebelum dan
Dua Tahun Sesudah Akuisisi
Rasio
ROE
Keterangan
N
B1
14
A2
14
ROI
B1
14
A2
14
GPM
B1
14
A2
14
OPM
B1
14
A2
14
NPM
B1
14
A2
14
Sumber : Hasil Olahan SPSS
Maximum Minimum
70,32
65,22
27,98
27,49
0,48
0,50
0,45
0,43
0,47
0,23
-18,03
-71,46
-12,29
-24,05
0,05
0,05
-4,46
-1,47
-26,00
-0,58
Mean
17,2186
12,4000
8,5893
6,5929
0,2564
0,2479
-0,1750
0,0721
-1,7050
0,0443
Standar
Deviasi
19,90767
28,53018
9,92311
11,97860
0,15480
0,13221
1,23902
0,45776
6,99396
0,19234
Tabel 3. Hasil uji Wilcoxon untuk Satu Tahun Sebelum dan Satu Tahun
Sesudah Akuisisi ( α = 5%)
Rasio
Nilai
Taraf
Keterangan
Profitabilitas
Probabilitas
Signifikansi
ROE
0,470
0,05
Ho diterima
ROI
0,363
0,05
Ho diterima
GPM
0,186
0,05
Ho diterima
OPM
0,172
0,05
Ho diterima
NPM
0,528
0,05
Ho diterima
Sumber : Hasil Olahan SPSS
9
Tabel 4 Hasil uji Wilcoxon untuk Satu Tahun Sebelum dan Dua Tahun
Sesudah Akuisisi ( α = 5%)
Rasio
Nilai
Taraf
Keterangan
Profitabilitas
Probabilitas
Signifikansi
ROE
0,683
0,05
Ho diterima
ROI
0,683
0,05
Ho diterima
GPM
0,801
0,05
Ho diterima
OPM
0,220
0,05
Ho diterima
NPM
0,346
0,05
Ho diterima
Sumber : Hasil Olahan SPSS
10
Download