14 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kebermaknaan Hidup 1. Pengertian

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kebermaknaan Hidup
1. Pengertian Kebermaknaan Hidup
Schultz (1991) mengartikan makna hidup sebagai pemberian
kualitas kehidupan pada diri pribadi dalam rangka pemenuhan diri.
Pendapat tersebut menunjukkan bahwa kebermaknaan hidup akan
melahirkan nilai-nilai dalam diri individu, sehingga dirinya akan
merasakan keberhargaan diri yang selanjutnya akan menampilkan
aktivitas yang seiring dengan tujuan hidupnya.
Bastaman (1996) menyatakan bahwa kebermaknaan hidup adalah
penghayatan individu terhadap hal-hal yang dianggap penting, dirasakan
berharga, diyakini kebenarannya, dan memberi nilai khusus bagi
seseorang, sehingga dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in
life). Bila kebermaknaan hidup tersebut berhasil dipenuhi akan
menyebabkan individu merasakan kehidupan yang berarti dan pada
akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia.
Yalom (dalam Rambe, 2009), berpendapat bahwa makna hidup
(meaning of life) adalah suatu pemeriksaan mengenai makna alam dunia,
mengenai hidup atau hidup manusia yang sesuai dengan pola-pola yang
koheren.
Ditambahkan
bahwa
pengertian
tentang
makna
hidup
mengandung tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi.
14
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
15
Adler (2004), mengatakan bahwa makna hidup merupakan suatu
„gaya hidup‟ yang melekat, mendiami, dan menjadi ciri khas individu
dalam melakukan interpretasi terhadap hidupnya. Adapun „gaya hidup‟
itu bersifat unik yang mana disebabkan karena perbedaan pola asuh setiap
individu pada masa kanak-kanak.
Ponty (Brower, 1984) makna hidup adalah sebagai hal yang
membuka suatu arah. Implikasinya di analogikan seperti warna yang tidak
bisa membuka arah bagi yang buta, yang tertutup dalam penjara
kegelapan.
Maslow (Debats, 1993) menjelaskan makna hidup merupakan
sesuatu yang muncul secara intrinsik dari diri manusia sendiri. Manusia
harus memenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu untuk memenuhi
nilai-nilai diri dalam hidupnya. Bila kebutuhan-kebutuhan dasar telah
terpenuhi, maka nilai-nilai itu akan menjadi energi motivasional bagi
individu untuk mendedikasikan diri pada usaha memenuhi nilai-nilai
tersebut. Apabila individu memilih melakukan aktivitas-aktivitas yang
sesuai dengan nilai-nilai intrinsik dalam dirinya, maka ia akan
mendapatkan makna hidup yang bernilai positif dan menyehatkan bagi
perkembangan kepribadian.
Kebermaknaan hidup menurut Frankl (Bastaman, 2007) dapat
diwujudkan dalam sebuah keinginan menjadi orang yang berguna bagi
orang lain, apakah itu bagi keluarga, teman dekat, komunitas negara
bahkan umat manusia. Orang yang memiliki makna akan beranggapan
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
16
bahwa hidup ini bukan untuk mengejar kesenangan atau menghindari
penderitaan, melainkan untuk menemukan makna dibalik kehidupan itu
sendiri.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa kebermaknaan hidup adalah penghayatan individu terhadap hal-hal
yang dianggap penting, dirasakan berharga, diyakini kebenarannya, dan
memberi nilai khusus bagi seseorang, pemberian kualitas kehidupan pada
diri pribadi, yang dapat diwujudkan dalam sebuah keinginan menjadi
orang yang berguna bagi orang lain.
2. Aspek-aspek Kebermaknaan Hidup
Battista dan Almond (Gumilar, 2008) menjelaskan bahwa
kebermaknaan hidup terdiri dari dua aspek yaitu
a. Framework (kerangka atau tujuan hidup)
Mengukur rentang individu dapat merasakan kehidupannya dalam
perspektif
yang
bermakna
dan
dengan
perspektif
tersebut
mengembangkan tujuan dalam hidupnya
b. Fulfillment (pemenuhan terhadap tujuan atau kerangka hidup)
Mengukur tingkat kemampuan individu dalam melihat apakah ia
telah menyelesaikan atau memenuhi tujuan tersebut atau sedang
dalam proses untuk memenuhi tujuan tersebut.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
17
Bastaman (2007) menyederhanakan dan memodifikasi metode
Logoanalysis sebagai berikut:
a. Pemahaman Pribadi
Individu diharapkan mengenali keunggulan-keunggulan dan
kelemahan-kelemahan pribadi, sehingga mampu mengembangkan
segi-segi positif dan mengurangi segi-segi negatif masing-masing
pribadi, baik potensial maupun yang aktual, serta merumuskan lebih
jelas apa yang ingin dicapai untuk masa-masa mendatang.
b. Bertindak Positif
Mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan
tindakan-tindakan nyata sehari-hari yang dianggap baik dan
bermanfaat. Bertindak positif merupakan kelanjutan dari berfikir
positif.
c. Pengakraban Hubungan
Hubungan sesama manusia sangat asasi, oleh sebab itu
hubungan akrab merupakan salah satu makna bagi manusia itu sendiri.
Hubungan akrab yang dimaksud adalah hubungan yang baik dengan
pribadi-pribadi tertentu (seperti anggota keluarga, teman, rekan kerja,
tetangga), sehingga masing-masing merasa saling menyayangi, saling
membutuhkan dan bersedia bantu-membantu.
d. Pengalaman Tri-Nilai
Berupaya untuk memahami dan memenuhi tiga ragam nilai yang
dianggap sebagai sumber makna hidup yaitu nilai-nilai kreatif (kerja,
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
18
karya), nilai-nilai penghayatan (kebebasan, keindahan, kasih, iman),
dan nilai-nilai bersikap (menerima dan mengambil sikap yang tepat
atas derita yang tidak dapat dihindari lagi).
e. Ibadah
Secara umum, ibadah adalah segala kegiatan melaksanakan apa
yang diperintahkan Tuhan dan mencegah dari hal-hal yang
dilarangnya menurut ketentuan agama. Menjalani hidup sesuai dengan
tuntutan agama memberikan penghayatan bahagia dan bermakna bagi
seseorang. Salah satu bentuk ibadah adalah do‟a. Dalam do‟a individu
akan melakukan hubungan yang khusus dengan Tuhan.
Maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kebermaknaan hidup
adalah pemahaman pribadi, bertindak positif, pengakraban hubungan
pendalaman tri-nilai (nilai berkarya, nilai penghayatan, nilai sikap) dan
ibadah, dari kelima aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain.
3. Nilai-nilai Kebermaknaan Hidup
Frankl (dalam Bastaman, 2007) mengatakan bahwa sumber dari
kebermaknaan hidup adalah pendalaman Tri Nilai, yaitu:
a. Pendalaman nilai-nilai kreatif
Inti dari nilai ini adalah memberikan sesuatu yang berharga
dan berguna pada kehidupan. Kegiatan berkarya, bekerja, mencipta
serta melakukan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh
tanggung jawab. Menekuni suatu pekerjaan dan meningkatkan
keterlibatan pribadi terhadap tugas serta berusaha mengerjakannya
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
19
dengan sebaik-baiknya merupakan salah satu contoh dari kegiatan
berkarya. Melalui karya dan kerja individu dapat menemukan arti
hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna.
b. Pendalaman nilai-nilai penghayatan
Mendalami
nilai-nilai
penghayatan
berarti
mencoba
memahami, meyakini dan menghayati berbagai nilai yang ada dalam
kehidupan
seperti
keindahan,
kebenaran,
kebijakan
keadilan,
keimanan dan cinta kasih. Menghayati dan meyakini suatu nilai dapat
menjadikan seseorang berarti dalam hidupnya.
c. Pendalaman nilai-nilai sikap
Mendalami nilai-nilai sikap berarti individu dapat menerima
dengan
ketabahan,
kesabaran
dan
keberanian
segala
bentuk
penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi. Seperti sakit yang tak
dapat disembuhkan, kematian dan menjelang kematian, setelah segala
daya dan upaya yang telah dilakukan secara maksimal. Sikap
menerima dengan penuh ikhlas dan tabah dari hal-hal tragis yang tidak
mungkin dielakkan lagi dapat mengubah pandangan individu dari
yang semula diwarnai penderitaan semata-mata menjadi pandangan
yang mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan itu.
Penderitaan dapat memberikan makna dan guna apabila individu dapat
mengubah sikap terhadap penderitaan itu menjadi lebih baik lagi.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
20
Bastaman (2007) menyatakan ada tiga landasan penting dalam
menemukan kebermaknaan hidup, yaitu:
a. The freedom of will (Kebebasan berkehendak)
Kebebasan berkendak sifatnya bukan tak terbatas karena
manusia adalah makhluk serba terbatas. Manusia juga memiliki
potensi yang luar biasa, tetapi sekaligus memiliki keterbatasan dalam
aspek ragawi, aspek kejiwaan, aspek sosial budaya dan aspek
kerohanian.
b. The will to meaning (Hasrat untuk hidup bermakna)
Hasrat untuk hidup bermakna berkaitan dengan setiap orang
menginginkan dirinya menjadi orang yang bermartabat dan berguna
bagi dirinya, keluarga, lingkungan kerja, masyarakat sekitar dan
berharga dimata Tuhan.
c. The meaning of life (Makna hidup)
Makna hidup berkaitan dengan hal-hal yang dianggap sangat
penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang
sehingga layak dijadikan tujuan hidup dalam kehidupan. Bila hal itu
bisa dipenuhi akan menyebabkan seseorang merasakan kehidupan
yang berarti dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bahagia.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
nilai-nilai kebermaknaan hidup dibagi menjadi tiga, yaitu pendalaman
nilai-nilai kratif, pendalaman nilai-nilai penghayatan, dan pendalaman
nilai-nilai sikap.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
21
4. Faktor-Faktor Kebermaknaan Hidup
Agustiansari (2014) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa
ada beberapa teori baru faktor-faktor kebermaknaan hidup, antara lain:
a. Teori loneliness
Keadaan emosi dan kognitif yang tidak bahagia yang
diakibatkan oleh hasrat akan hubungan akrab tetapi tidak dapat
mencapainya (Karaoglu, 2009).
b. Kebutuhan
Konstruk mengenai kekuatan di bagian otak yang mengorganisir
berbagai proses seperti persepsi, berfikir, dan berbuat untuk mengubah
kondisi yang ada dan tidak memuaskan (Alwisol, 2007).
c. Agresivitas
Merupakan suatu cara untuk melawan dengan sangat kuat,
berkelahi, melukai, menyerang, membunuh, atau menghukum orang
lain (Byrne, 2004)
d. Pemahaman diri
Merupakan gambaran kognitif individu mengenai dirinya, dasar,
dan isi dari konsep diri individu (Santrock, 2007).
e. Ketahanan diri
Mampu menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan
menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi-kondisi
yang tidak menyenangkan atau bahkan merubah kondisi tersebut
menjadi dapat diatasi (Desmita, 2006).
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
22
f. Self commitment
Munculnya suatu komitmen seseorang yang ditandai dengan
semakin terikat dengan makna hidup yang ditemukan dalam tujuan
hidup yang telah ditetapkan (Bastaman, 1996).
g. Pengambilan keputusan
Pengambilan
keputusan
merupakan
pemilihan
beberapa
tindakan alternatif tindakan yang ada untuk mencapai satu atau
beberapa tujuan yang telah diterapkan (Turban, 2005).
h. Empati
Respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres
emosional orang lain, termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan
emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan
masalah dan mengambil perspektif orang lain (Byrne, 2004).
i. Interaksi sosial
Merupakan hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu
proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap
dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial
(Murdiyatmoko, 2004).
j. Sikap positif
Azwar (2005) menjelaskan sikap sebagai bentuk evaluasi atau
reaksi terhadap suatu objek, memihak atau tidak memihak yang
merupakan keteraturan tertentu dalam hal perasaan, pemikiran dan
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
23
predisposisi tindakan. Sikap positif berarti memberikan reaksi-reaksi
positif terhadap suatu aspek di lingkungan.
k. Well being
Suatu konsep yang terbentuk dari berbagai pengalaman dan
fungsi-fungsi individu sebagai manusia yang utuh (Ryff, 2006).
l. Kebersyukuran
Kebersyukuran adalah sebuah bentuk ciri pribadi yang berfikir
positif, mempresentasikan hidup menjadi lebih positif (Wood, 2009).
Frankl (2004) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kebermaknaan hidup yaitu:
a. Frustasi eksistensi
Kata eksistensi memiliki tiga makna yaitu:
1) Keberadaan manusia itu sendiri atau cara khusus manusia dalam
menjalani hidupnya.
2) Makna Hidup
3) Perjuangan manusia untuk menemukan makna konkrit di dalam
hidupnya atau mencari makna hidup
b. Neurosis Noogenik
Neurosis diakibatkan oleh dimensi keberadaan manusia yaitu secara
khusus terkait dengan dimensi humanis atau manusiawi seorang
manusia yang muncul karena masalah-masalah kehidupan.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
24
Berdasarkan keterangan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup adalah loneliness,
kebutuhan, agresivitas, pemahaman diri, ketahanan diri, self commitment,
pengambilan keputusan, empati, interaksi sosial, sikap positif, well-beling,
kebersyukuran, frustasi eksistensi dan neurosis noogenik.
5. Karakteristik Makna Hidup
Karakteristik makna hidup menuruit Bastaman (2007) antara lain:
a. Makna hidup sifatnya unik, pribadi, dan temporer.
Artinya apa yang dianggap berarti bagi seseorang belum tentu
berarti pula bagi orang lain. Demikian pula hal-hal yang dianggap
penting dapat berubah dari waktu ke waktu.
b. Konkrit dan spesifik
Yakni makna hidup dapat ditemukan dalam pengalaman dan
kehidupan sehari-hari, serta tidak selalu dikaitkan dengan hal-hal yang
serba abstrak filosofis dan idealis atau kreativitas dan prestasi
akademis yang serba menakjubkan.
c. Memberi pedoman dan arah
Artinya makna hidup yang ditemukan oleh seseorang akan
memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang
dilakukannya
sehingga
(challenging)
dan
makna
mengundang
hidup
seakan-akan
(inviting)
menantang
seseorang
untuk
memenuhinya.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
25
Menurut Frankl (2003) ciri-ciri orang yang merasakan hidup
bermakna memiliki ciri-ciri:
a. Menjalani kehidupan sehari-hari dengan semangat dan penuh gairah
serta jauh dari perasaan hampa.
b. Tujuan hidup, baik jangka pendek dan jangka panjang jelas, sehingga
menjadi lebih terarah dan merasakan kemajuan-kemajuan yang telah
tercapai.
c. Tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari merupakan sumber kepuasan
dan kesenangan tersendiri, sehingga dalam pengerjaannya semangat
dan penuh tanggung jawab.
d. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, artinya menyadari
pembatasan-pembatasan lingkungan, tetapi dalam keterbatasan itu
tetap menentukan sendiri apa yang paling baik untuk dilakukan.
e. Menyadari makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan betapapun
buruknya kehidupan, menghadapinya dengan tabah dan menyadari
bahwa hikmah selalu ada dibalik penderitaan.
f. Kemampuan untuk menentukan tujuan-tujuan pribadi dan menentukan
makna hidup sebagai sesuatu yang sangat berharga dan sangat tinggi
nilainya.
g. Mampu mencintai dan menerima kasih sayang orang lain serta
menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu nilai hidup yang
menjadikan hidup lebih indah.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
26
Menurut Bastaman (2007) ciri-ciri orang yang merasa tidak
memiliki makna hidup, dijelaskan sebagai berikut:
a. Individu merasa hampa dan gersang
b. Individu merasa tidak memiliki tujuan hidup
c. Merasa hidup tidak berarti
d. Bosan dan apatis
Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
karakteristik makna hidup yaitu makna hidup bersifat unik, pribadi, dan
temporer, konkrit dan spesifik, serta memberi pedoman dan arah.
6. Komponen Kebermaknaan Hidup
Menurut Frankl (2003) ada tiga aspek komponen kebermaknaan
hidup, yakni:
a. Kebebasan berkehendak
Kebebasan berkehendak adalah kebebasan yang dimiliki
seseorang untuk menentukan pilihan di antara alternatif-alternatif yang
ada, oleh karenanya seseorang mengambil peranan yang besar dalam
menentukan nasibnya sendiri.
b. Kehendak hidup bermakna
Kehendak hidup bermakna adalah hasrat yang memotivasi setiap
orang untuk bekerja, berkarya dan melakukan kegiatan-kegiatan
penting lainnya dengan tujuan agar hidupnya berharga dan dihayati
secara bermakna.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
27
c. Makna hidup
Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan
didambakan serta memberi nilai khusus bagi seseorang. Bila berhasil
ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini dirasakan
demikian berarti dan berharga serta dapat dijadikan tujuan hidupnya.
Menurut Bastaman (2007) ada komponen yang menentukan
keberhasilan seseorang dalam melakukan perubahan dari penghayatan
hidup tidak bermakna menjadi hidup yang bermakna. Komponen tersebut
adalah:
a. Dimensi Sosial
1) Pemahaman Diri (Self Insight)
Yaitu meningkatnya kesadaran atas buruknya kondisi diri pada saat
ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan kearah kondisi
yang lebih baik. Individu memiliki kemampuan untuk mengambil
sikap yang tepat terhadap segala peristiwa, baik yang tragis
maupun yang sempurna.
2) Pengubahan sikap (changing attitude)
Yakni pengubahan sikap dari yang semula bersikap negatif dan
tidak tepat menjadi mampu bersikap positif dan lebih tepat dalam
menghadapi masalah, kondisi hidup dan musibah yang tak
terelakkan. Seringkali bukan peristiwanya yang membuat individu
merasa sedih dan terluka, namun karena sikap negatif dalam
menghadapi peristiwa tersebut.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
28
b. Dimensi Sosial (Social Support)
Yakni hadirnya seseorang atau sejumlah orang yang akrab, dapat
dipercaya dan selalu bersedia memberi bantuan pada saat-saat
diperlukan.
c. Dimensi Nilai
1) Makna Hidup (The meaning of Life)
Yaitu nilai-nilai penting dan sangat berarti bagi kehidupan pribadi
yang berfungsi sebagai tujuan yang harus dipenuhi dan pengarah
kegiatan-kegiatannya.
2) Keikatan diri (self commitment)
Yakni komitmen individu terhadap makna hidup yang ditemukan
dan tujuan hidup yang ditetapkan. Komitmen yang kuat akan
membawa individu pada pencapaian makna hidup yang lebih
mendalam.
3) Kegiatan terarah (directed activities)
Yaitu upaya-upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja
berupa pengembangan potensi-potensi (bakat, kemampuan dan
ketrampilan) yang positif serta pemanfaatan relasi antar pribadi
untuk menunjang tercapainya makna dan tujuan hidup.
d. Dimensi Spiritual
Merupakan kehendak, sikap, sifat dan tindakan khas insani. Yaitu
pribadi pada dasarnya mengoptimalisasi keunggulan-keunggulan dan
meminimalkan kelemahan-kelemahan pribadi.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
29
Maka
dapat
disimpulkan
bahwa
komponen
keberhasilan
kebermaknaan hidup yaitu pemahaman diri, makna hidup, perubahan
sikap, keikatan diri, kegiatan terarah, dan dukungan sosial.
B. Kebersyukuran (Gratitude)
1. Pengertian Kebersyukuran
Seligman (2004) mendefinisikan syukur sebagai a sense of
thankfulness and joy in response to receiving a gift, whether the gift be a
tangible benefit from a specific other or a moment of peaceful bliss
evoked by natural. Dengan kata lain bersyukur adalah suatu perasaan
terimakasih dan menyenangkan atas respon penerimaan hadiah, yang
mana hadiah itu memberikan manfaat dari seseorang atau suatu kejadian
yang memberikan kedamaian.
Pruyser dalam Emmons & McCullough, 2003, rasa syukur dalam
bahasa inggris disebut gratitude. Kata gratitude berasal dari bahasa latin
yaitu gratia yang berarti kelembutan, kebaikan hati atau terima kasih.
Peterson dan Seligman (2004) mendefinisikan gratitude atau syukur
sebagai suatu perasaan terima kasih dan rasa senang atas respon
penerimaan hadiah, hadiah itu memberikan manfaat bagi seseorang atau
suatu kejadian yang memberikan kedamaian.
Menurut Anderson, dkk (2006) konsep syukur merupakan
pengaruh moral yang berfungsi untuk memotivasi individu untuk terlibat
dalam perilaku prososial dan bertindak sebagai barometer moral yang
menyediakan afeksi positif.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
30
Menurut Tebba (2007), dari pandangan agama Islam istilah
bersyukur berasal dari kata “syakara” yang berarti berterima kasih,
memuji, dan semoga Allah SWT memberi pahala. Dalam ilmu tasawuf
syukur, bersyukur tersebut berarti ucapan, sikap, dan perbuatan
terimakasih kepada Allah SWT dan pengakuan yang tulus atas nikmat dan
karunia yang diberikan Allah SWT.
Setyawan (2009) mendefinisikan bersyukur sebagai menerima
dengan sadar anugerah Allah dan menggunakannya sesuai dengan
kehendakNya. Semua makhluk diberi kemampuan yang lengkap oleh
Allah SWT, tinggal bagaimana manusia menggunakannya. Syukur dapat
dilakukan dengan hati, lisan, dan badan. Syukur dengan hati adalah
dengan selalu mengingat Allah SWT (dzikir), syukur dengan lisan ialah
dengan mengucap tahmid (pujian) kepada Allah SWT, dan syukur dengan
badan adalah mentaati ajaran Allah SWT, yaitu menjalankan perintah dan
menjauhi larangannya.
Al-Munajjid
(2006)
menyatakan
bahwa
bersyukur
adalah
berterimakasih kepada pihak yang telah berbuat baik atas kebajikan yang
telah
diberikannya.
Bersyukur
menurut
terminology
artinya
memperlihatkan pengaruh nikmat Ilahi pada diri seorang hamba pada
qalbunya dengan beriman, pada lisannya dengan pujian dan sanjungan,
dan pada anggota tubuhnya mengerjakan amal ibadah dan ketaatan.
Al-Fauzan (2007) mengatakan bersyukur adalah mengakui nikmat
Allah dan mengakui Allah sebagai pemberinya, tunduk kepada-Nya, cinta
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
31
kepada-Nya, ridha terhadap-Nya, serta mempergunakan nikmat itu dalam
hal yang disukai Allah dalam rangka taat kepada-Nya.
Sementara Emmons dan McCullogh (2003) mengatakan bahwa
kebersyukuran merupakan sebuah bentuk emosi atau perasaan seseorang
yang kemudian berkembang menjadi sikap, sifat moral, kebiasan,
kepribadian yang akhirnya akan mempengaruhi seseorang menanggap
atau bereaksi terhadap sesuatu atau situasi pada kehidupan sehari-hari
yang dijalani. Orang-orang yang bersyukur tidak hanya menunjukkan
keadaan mental yang lebih positif (misalnya antusias, tekun, dan penuh
perhatian), tetapi juga lebih murah hati, peduli, dan membantu orang lain.
Wood et all (2009) menyatakan kebersyukuran adalah sebuah
bentuk ciri pribadi yang berfikir positif, mempresentasikan hidup menjadi
lebih positif.
Syaikh „Abdurrahman Al-Sa‟di (Al-Fauzan 2007) berkata bahwa
orang yang bersyukur adalah orang baik jiwanya, lapang dadanya, tajam
matanya, hatinya pun penuh dengan pujian kepada Allah dan pengakuan
atas nikmat-Nya, merasa senang dengan kemuliaannya, gembira dengan
kebaikannya, serta lisannya selalu basah pada setiap waktu dengan
bersyukur dan berzikir kepada Allah.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa kebersyukuran (gratitude) adalah suatu perasaan terima kasih dan
rasa senang atas respon penerimaan hadiah. Dimana hadiah itu
memberikan manfaat bagi seseorang atau suatu kejadian yang
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
32
memberikan kedamaian. Serta berfungsi untuk memotivasi individu
untuk terlibat dalam perilaku prososial dan bertindak sebagai barometer
moral yang menyediakan afeksi positif. Dalam Islam, bersyukur adalah
mengakui nikmat Allah dan mengakui Allah sebagai pemberinya, tunduk
kepada-Nya,
cinta
kepada-Nya,
ridha
terhadap-Nya,
serta
mempergunakan nikmat itu dalam hal yang disukai Allah dalam rangka
taat kepada-Nya.
2. Dimensi Bersyukur
Bersyukur selain dapat dikonseptualisasikan sebagai perilaku
yang sesaat atau tingkat emosi jangka pendek, dapat pula dikonsepkan
pada level sebagai sebuah disposisi afektif. Disposisi bersyukur
didefinisikan
sebagai
sebuah
kecenderungan
yang
sudah
digeneralisasikan untuk mengenali dan merespon dengan emosi
bersyukur terhadap peran kebaikan orang lain dalam peristiwa positif
(McCullough, Emmons,et.al, 2002).
Disposisi bersyukur jika dilihat dari dimensinya terbagi menjadi
4 dimensi, yaitu intensitas, frekuensi, span, dan densitas bersyukur
(Peterson & Seligman, 2004).
Dimensi pertama dari disposisi bersyukur disebut sebagai
gratitude intensity. Seseorang dengan disposisi bersyukur yang kuat yang
mana ia mengalami kejadian positif yang diperkirakan akan merasakan
bersyukur yang lebih sering dibandingkan mereka yang lebih lemah
disposisinya terhadap bersyukur dengan mengalami kejadian positif yang
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
33
sama. Dalam dimensi ini, setiap kejadian kecil apapun, dipersepsikan
sebagai kejadian postif bagi mereka yang memiliki disposisi bersyukur
yang kuat.
Dimensi kedua disebut gratitude frequency. Seseorang dengan
disposisi bersyukur yang kuat kemungkinan akan melaporkan perasaan
bersyukur beberapa kali dalam sehari, dan bersyukur dapat ditampilkan
dari hal-hal yang paling sederhana seperti bertingkah laku sopan.
Dimensi ketiga adalah gratitude span, yang mana yang
ditunjukkan pada jumlah sebuah kejadian hidup yang mana seseorang
merasa bersyukur pada saat tertentu. Seseorang dengan disposisi
bersyukur yang kuat kemungkinan akan merasa bersyukur pada keluarga,
pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan dengan variasi yang berbeda dengan
keuntungan yang lain.
Dimensi keempat adalah gratitude density, yang merujuk pada
jumlah orang yang mana orang-orang tersebut merupakan orang yang
telah memberikannya kebaikan dan keberuntungan untuk hasil yang
positif maupun kejadian hidup, seseorang dengan disposisi bersyukur
yang kuat, ketika mendapatkan kebaikan, mereka akan mengucapkan
terima kasihnya kepada lebih banyak pihak dibandingkan dengan
seseorang yang memiliki disposisi bersyukur yang lemah.
Berdasarkan keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
dimensi kebersyukuran antara lain adalah gratitude frequency, gratitude
intensity, gratitude density dan gratitude span.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
34
3. Komponen-Komponen Bersyukur
Fitzgerald (1998) mengidentifikasi tiga komponen dari bersyukur,
antara lain:
1. Rasa apresiasi yang hangat untuk seseorang atau sesuatu, meliputi
perasaan cinta dan kasih sayang.
2. Niat baik (goodwill) yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu,
meliputi keinginan untuk membantu orang lain yang kesusahan dan
keinginan untuk berbagi.
3. Kecenderungan untuk bertindak positif berdasarkan rasa apresiasi dan
kehendak baik, meliputi intensi menolong orang lain, membalas
kebaikan orang lain dan beribadah.
Komponen–komponen diatas dikatakan oleh Fritzgerald (1998)
adalah saling berkaitan dan tidak bisa terpisahkan, karena seseorang tidak
mungkin melakukan bersyukur tanpa merasakan bersyukur didalam
hatinya.
McCullough, dkk (dalam Utami, 2013) mengungkapkan empat
komponen yang menimbulkan kebersyukuran, yaitu:
a. Intensity, the depth of the feeling, from a slight emotional tug to
overflowing tears. Dapat diartikan sebagai kedalaman perasaan, sebuah
emosi yang berasal dari yag paling dalam sehingga dapat membuat air
mata mengalir.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
35
b. Frequency, the ease with which grateful feelings are elicited. Individu
memiliki kemudahan untuki bersyukur dengan waktu yang sering.
Individu yang memiliki kecenderungan bersyukur akan merasakan
banyak
perasaan
bersyukur
setiap
harinya
dan
syukur
bisa
menimbulkan dan mendukung tindakan dan kebaikan sederhana atau
kesopanan.
c. Span, the number of different things for which a person can be grateful
for at the same time. Rentangan dimana individu mensyukuri beberapa
hal atau sesuatu yang terjadi secara bersamaan atau sekaligus dalam
satu waktu.
d. Density, the number of different people for which a person can be
grateful for a single positive outcome. Maksud yang terkandung adalah
jumlah individu-individu yang merasa bersyukur terhadap sesuatu hak
yang positif. Individu yang bersyukur mempunyai lebih banyak namanama individu yang telah membuatnya bersyukur, termasuk orang tua,
teman, keluarga, dan mentor.
Wood (2008) mengembangkan kombinasi dari pengukuran
kebersyukuran sebelumnya dalam penelitian yang mengungkapkan
komponen-komponen kebersyukuran, yaitu:
a. Penghargaan orang lain
Kebersyukuran terhadap keberadaan individu lain membuat
individu memiliki motivasi instrinsik untuk melakukan berbagai
tindakan untuk membangun hubungan yang positif. Salah satu contoh
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
36
dari tindakan tersebut yang sederhana adalah menghabiskan waktu
dengan individu lain.
b. Kepemilikan
Individu menghargai atas semua yang diterima individu tersebut,
baik berwujud maupun tidak berwujud. Individu mengakui kebaikan di
dalam kehidupan. Menghargai terhadap apa yang telah diterima
individu dapat dilakukan melalui dua cara yaitu melalui tindakan
ekspresif dan di dalam batin.
c. Momen Pemberian
Kebersyukuran dapat ditunjukkan dengan menghargai segala
sesuatu yang timbul dalam kehidupan individu dan pada momenmomen yang dianggap berharga. Individu biasanya merasakan hal
yang luar biasa yang membuat individu mengingat momen tersebut.
d. Ritual
Individu melakukan kegiatan yang dilakukan secara rutin untuk
mengekspresikan kebersyukuran atas kebaikan-kebaikan yang diterima
dalam kehidupan. Individu biasanya fokus sejenak untuk merenungkan
kebaikan yang diterimanya.
e. Perasaan akan kekaguman
Sebuah studi menunjukkan bahwa kekaguman perasaan dapat
membuat seolah-olah individu memiliki lebih banyak waktu.
Kekaguman merupakan perasaan yang didapatkan ketika individu
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
37
menemukan sesuatu yang berarti, atau kompleksitas yang membuat
individu dapat memahami kehidupan.
f. Pembandingan diri/sosial
Perasaan positif yang dimiliki individu ketika mengevaluasi
bagaimana kegagalan atau kesalahan dalam hidup dapat terjadi. Secara
internal, individu merasa bahwa menerima akan muncul kedamaian
yang dirasakan.
g. Kekhawatiran Eksistensial
Individu
seringkali
dihadapkan
pada
kekhawatiran-
kekhawatirantertentu yang dapat berupakerugian, perubahan yang
mendadak dan signifikan, dilema, serta kehidupan ambiguitas. Oleh
karena itu, individu perlu untuk memahami bahwa tidak ada yang
permanen dalam kehidupan.
h. Perilaku kebersyukuran
Mengekspresikan kebersyukuran secara penuh dan mendalam
adalah salah satu jalan yang secara positif memperngaruhi sikap dan
perilaku, baik diri sendiri maupun orang lain. Individu biasanya
melakukan perilaku tertentu untuk menunjukkan penghargaan terhadap
apa yang diterima individu tersebut.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa komponen
kebersyukuran yaitu penghargaan orang lain, kepemilikan, momen
pemberian, ritual, perasaan akan kekaguman, pembandingan diri/sosial,
kekhawatiran eksistensial, dan perilaku kebersyukuran.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
38
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebersyukuran
Mc. Cullough (2002) menjelaskan faktor yang mempengaruhi
bersyukur adalah:
a. Emotionality/Well-Being
Suatu kecenderungan atau tingkatan dimana seseorang bereaksi
emosional dan merasa menilai kepuasan hidupnya.
b. Prosociality
Kecenderungan seseorang untuk diterima oleh lingkungan
sosialnya.
c. Spirituality/Religiousness
Berkaitan dengan keagamaan, keimanan, yang menyangkut nilai
transendental.
Al-Fauzan (2008) mengatakan bahwa ada 5 faktor yang
mempengaruhi kebersyukuran:
a. Memiliki pandangan yang luas dalam hidup. Berpandangan
luas terhadap hidup adalah mengetahui bahwa segala sesuatu
yang ada pada diri berasal dari Allah dan berpandangan bahwa
semua yang terjadi atas kehendak Allah, bukan berasal dari
manusia atau benda atau mahluk lain.
b. Persepsi positif dalam hidup. Berpersepsi positif dalam hidup
adalah berfikir bahwa segala sesuatu yang datang adalah baik
bagi diri, sehingga selalu mengembalikan segala sesuatu
kepada Allah walaupun terasa berat untuk dijalani.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
39
c. Niatan baik terhadap orang lain atau oada sesuatu. Berniat baik
dalam hal ini adalah melakukan hal positif pada orang lain.
d. Kecenderungan untuk bertindak positif berdasarkan rasa
penghargaan dan kehendak baik. Sikap orang yang bersyukur
dapat dilihat dari tindakannya yang positif.
e. Rasa apresiasi yang hangat terhadap orang lain. Apresiasi yang
hangat pada orang lain sama artinya dengan menghargai dan
menginginkan sesuatu yang baik bagi orang lain.
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kebersyukuran yaitu memiliki pandangan yang luas
dalam hidup, persepsi positif dalam hidup, niatan baik terhadap orang
lain atau terhadap sesuatu, kecenderung antuntuk bertindak positif, serta
rasa apresiasi yang hangat terhadap orag lain.
5. Jenis-Jenis Bersyukur
Seligman dan Peterson (2004) membagi perwujudan bersyukur
menjadi dua yaitu:
a. Bersyukur secara personal
Ditujukan kepada orang yang telah memberikan keuntungan kepada si
penerima atau kepada diri sendiri.
b. Bersyukur secara transpersonal
Maksudnya adalah bersyukur yang ditujukan kepada Tuhan, kekuatan
yang lebih besar, atau alam semesta. Bentuk dasarnya dapat berupa
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
40
pengalaman puncak atau peak experience, yaitu sebuah moment
pengalaman kekhusyukan yang melimpah.
Al-Fauzan (2007) mengungkapkan bahwa syukur dapat dilakukan
dengan tiga hal:
a. Syukur dengan hati
Pengakuan hati bahwa semua nikmat datangnya dari Allah, sebagai
kebaikan dan karunia. Syukur dengan hati akan membuat seseorang
merasakan keberdaan nikmat itu pada dirinya, hingga tidak lupa
kepada Allah pemberinya.
b. Syukur dengan lidah
Menyanjung dan memuji Allah atas nikmat-Nya dengan penuh
kecintaan. Seseorang yang mengucap syukur maka ia teringat kepda
pemberi-Nya dan mengakui kelemahan dirinya.
c. Syukur dengan anggota tubuh
Anggota tubuh digunakan untuk ibadah kepada Tuhan. Salah satu yang
dapat dilakukan adalah dengan sujud syukur.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa perwujudan rasa
syukur yaitu syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan
anggota tubuh.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
41
6. Nilai-nilai Kebersyukuran
Emmons (2003) membangun metode kebersyukuran dan mengukur
secara reliabel perbedaan orang-orang dalam sifat kebersyukuran.
Kemudian menyimpulkan beberapa hal:
a. Orang yang bersyukur dan berolahraga secara rutin, menunjukkan
keluhan fisik yang lebih sedikit. Merasa hidupnya lebih baik dan
lebih optimis.
b. Orang yang bersyukur lebih fokus terhadap target dan tujuan yang
ingin dicapai dalam hidup.
c. Dengan bersyukur seseorang akan memiliki level kewaspadaan,
antusiasme, determinasi, kepedulian, dan energi yang lebih tinggi.
d. Orang yang bersyukur lebih mudah menolong orang lain yang
sedang memiliki masalah dan senang menawarkan dukungan
emosional.
Menurut Lyubomirskry (2007), bersyukur dapat membuat
seseorang merasa hidup lebih bahagia, dan terdapat delapan hal yang
disarankan oleh Lyubomirsky dalam bersyukur agar dapat membuat
hidup individu bahagia, yaitu:
a. Dengan memiliki pola pikir bersyukur, maka hal tersebut dapat
membantu seseorang menikmati pengalaman hidup yang positif,
seperti menikmati sebuah berkah dalam kehidupan, mampu
mendapatkan kemungkinan terbesar dari kepuasan dan kegembiraan
dari situasi tertentu.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
42
b. Bersyukur dapat menunjang rasa penghargaan diri (Self Esteem) dan
kebergunaan diri (Self Worth). Yaitu ketika individu menyadari
bahwa berapa banyak orang lain memberikan kebaikan. Rasa syukur
dapat membantu individu untuk tidak fokus pada kegagalan dan
kekecewaan. Bersyukur membuat individu merasakan terima kasih
atas kehidupan yang dijalani.
c. Bersyukur membantu individu dalam mengatasi stres dan trauma.
Yaitu dengan kemampuan dalam menghargai kondisi kehidupan diri
berupa metode coping dimana individu dapat meninterpetasi ulang
secara positif terhadap rasa stres dan pengalaman hidup negatif.
Kemudian kenangan traumatik menjadi jarang muncul pada individu
yang bersyukur. Bersyukur sendiri dapat membantu individu untuk
dapat menyesuaikan diri, melanjutkan kehidupan, dan memulai
kehidupan baru ketika mengalami kesulitan pribadi seperti
kehilangan dan menghadapi penyakit kronis.
d. Bersyukur dapat mendorong perilaku moral. Contohnya adalah,
orang yang bersyukur akan lebih sering menolong orang lain dan
tidak materialistis.
e. Bersyukur dapat membangun ikatan sosial, memperkuat hubungan
yang telah ada, dan memelihara yang baru. Selain itu dengan
bersyukur akan menimbulkan perasaan terkoneksi yang lebih besar
dengan orang lain. Seseorang yang sering bersyukur adalah orang
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
43
yang positif, dan orang yang positif lebih disukai orang lain dan
mudah mendapatkan teman.
f. Bersyukur dapat menghindari perbandingan yang menyakitkan dari
orang lain jika individu secara tulus berterima kasih dan apresiatif
terhadap apa yang dipunya, dan tidak iri pada apa yang orang lain
miliki.
g. Praktek bersyukur bertentangan dengan emosi negatif dan bahkan
mengurangi munculnya perasaan amarah, kepahitan dan serakah.
h. Bersyukur
membantu
individu
untuk
menghindari
adaptasi
hedonisme. Merupakan kondisi apabila seseorang secara cepat
mudah merasa puas dan bahagia ketika berhadapan dengan kondisi
atau kejadian baru. Namun dorongan kebahagiaan tersebut bersifat
sementara.
Berdasarkan keterangan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
orang yang bersyukur dan berolahraga secara rutin, menunjukkan
keluhan fisik yang lebih sedikit, merasa hidupnya lebih baik, fokus
terhadap target dan tujuan, serta lebih mudah menolong orang lain yang
sedang memiliki masalah dan senang menawarkan dukungan bantuan.
C. Jantung Koroner
1. Pengertian Penyakit Jantung Koroner
Penyakit arteri koroner atau yang dikenal juga sebagai penyakit
jantung arteriosklerosis. Penyakit jantung koroner, atau penyakit
jantung iskemik adalah suatu penyakit yang terjadi ketika ada
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
44
penyumbatan parsial aliran darah
berdampak
pada
penumpukan
ke jantung. Masalah ini dapat
plak
di
arteri.
Ini
disebut
arteriosklerosis yang merupakan pengerasan pembuluh darah. Hal ini
dapat mengakibatkan penggumpalan darah yang dapat menyebabkan
serangan jantung atau stroke. Pengerasan pembuluh darah dan
penyumbatan arteri utama adalah salah satu penyebab utama kematian.
Bahkan pada penyakit jantung sendiri membunuh lebih banyak orang
setiap tahunnya (wikipedia.org).
Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit jantung dan
pembuluh darah yang disebabkan karena penyempitan arteri koroner.
Penyempitan pembuluh darah terjadi karena proses aterosklerosis atau
spasme atau kombinasi keduanya. Aterosklerosis yang terjadi karena
timbunan kolesterol dan jaringan ikat pada dinding pembuluh darah
secara perlahan-lahan, hal ini sering ditandai dengan keluhan nyeri
pada dada. Pada waktu jantung harus bekerja lebih keras terjadi
ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan oksigen, hal inilah
yang menyebabkan nyeri dada. Kalau pembuluh darah tersumbat sama
sekali, pemasokan darah ke jantung akan terhenti dan kejadian inilah
yang disebut dengan serangan jantung (Andarmoyo, 2012).
Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang ditimbulkan
adanya plak pada jantung yang mengakibatkan tersumbatnya aliran
darah dan oksigen menuju jantung (Pratiwi, 2009).
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
45
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa
jantung koroner adalah penyakit yang terjadi ketika ada penyumbatan
parsial aliran darah ke jantung.
2. Penyebab Jantung Koroner
Supriyono (2008) menjelaskan bahwa penyakit jantung dan
pembuluh darah disebabkan karena penyempitan arteri koroner.
Penyempitan pembuluh darah terjadi karena proses aterosklerosis atau
spasme atau kombinasi keduanya. Aterosklerosis yang terjadi karena
timbunan kolesterol dan jaringan ikat pada dinding pembuluh darah
secara perlahan-lahan, hal ini sering ditandai dengan keluhan nyeri
pada dada.
Proses aterosklerosis sebenarnya sudah dimulai sejak masa
kanak-kanak, tetapi baru termanifes pada usia dewasa, usia
pertengahan atau usia lanjut. Selain proses ateriosklerosis ada juga
proses lain, yakni spasme (penyempitan) pembuluh darah koroner
tanpa adanya kelainan anatomis, yang secara tersendiri atau bersamasama memberikan gejala iskemia.
Perkembangan arteriosklerosis berawal dari sel-sel darah putih
yang secara normal terdapat dalam sistim peredaran darah. Sel-sel
darah putih ini menembus lapisan dalam pembuluh darah dan mulai
menyerap tetes-tetes lemak, terutama kolesterol. Ketika mati, sel-sel
darah putih meninggalkan kolesterol di bagian dasar dinding arteri,
karena tidak mampu “mencerna” kolesterol yang diserapnya itu.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
46
Akibatnya lapisan di bawah garis pelindung arteri berangsur-angsur
mulai menebal dan jumlah sel otot meningkat, kemudian jaringan parut
yang menutupi bagian tersebut terpengaruh oleh sklerosis. Apabila
jaringan parut itu pecah, sel-sel darah yang beredar mulai melekat ke
bagian dalam yang terpengaruh. terpengaruh.
Tahap berikutnya gumpalan darah dengan cepat terbentuk pada
permukaan lapisan arteri yang robek. Kondisi ini dengan cepat
mengakibatkan penyempitan dan penyumbatan arteri secara total,
apabila darah mengandung kolesterol secara berlebihan, ada
kemungkinan kolesterol tersebut mengendap dalam arteri yang
memasok darah ke dalam jantung (arteri koroner). Akibat yang dapat
terjadi ada bagian otot jantung (myocardium) yang mati dan
selanjutnya akan diganti dengan jaringan parut. Jaringan parut ini tidak
dapat berkontraksi seperti otot jantung. Hilangnya daya pompa jantung
tergantung pada banyaknya otot jantung yang rusak.
Sementara itu Soeharto (2004) menjelasakan bahwa jantung
koroner disebabkan terjadinya hambatan aliran darah pada arteri
koroner yang menyuplai darah ke otot jantung. Salah satu hambatan
berupa plak, dan pada prosesnya memakan waktu yang amat panjang,
bahkan dapat bertahun-tahun, bisa jadi dimulai sejak usia muda yang
seringkali memuncak menjadi serangan jantung. Secara sederhana
jantung koroner disebabkan oleh pola makan dan pola hidup yang
tidak benar, serta faktor genetika.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
47
Jantung berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh. Otot
jantung memerlukan oksigen dan nutrisi yang cukup. Oksigen dan
nutrisi diangkut oleh darah melalui pembuluh darah yang disebut arteri
koroner. Persoalan akan timbul bila oleh sesuatu sebab terdapat
halangan atau kelainan di arteri koroner, sehingga tidak cukup suplai
darah, yang berarti juga kurangnya suplai oksigen dan nutrisi untuk
menggerakkan jantung secara normal. Keadaan tersebut menyebabkan
jantung koroner.
Berdasarkan keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
penyebab terjadinya jantung koroner adalah adanya plak pada jantung
yang mengakibatkan tersumbatnya aliran darah dan oksigen menuju
jantung dan seluruh tubuh. Dimana proses terjadinya pembentukan
plak tersebut memakan waktu yang amat panjang, bahkan dapat
bertahun-tahun dan bisa jadi dimulai sejak usia muda. Hal tersebut
disebabkan oleh pola hidup dan pola makan yang salah.
3. Faktor Resiko Penyakit jantung Koroner
Supriyono (2008) menjelaskan faktor resiko penyakit jantung
koroner diantaranya adalah tekanan darah, merokok, lipid, diabetes
mellitus, obesitas, dan riwayat kelurga dengan penyakit jantung.
a. Lipid
Peningkatan kadar lipoprotein yang diiringi dengan
peningkatan kolesterol merupakan faktor resiko utama penyakit
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
48
jantung koroner. Lipoprotein ditemukan pada plak yang terbentuk
di dalam pembuluh darah.
b. Merokok
Merokok merupakan faktor risiko mayor untuk terjadinya
penyakit jantung, termasuk serangan jantung dan stroke, dan juga
memiliki hubungan kuat untuk terjadinya penyakit jantung
koroner sehingga dengan berhenti merokok akan mengurangi
risiko terjadinya serangan jantung.
c. Obesitas
Terdapat saling keterkaitan antara obesitas dengan risiko
peningkatan penyakit jantung koroner, hipertensi, angina, stroke,
diabetes. Data dari Framingham menunjukkan bahwa apabila
setiap individu mempunyai berat badan optimal, akan terjadi
penurunan insiden jantung koroner sebanyak 25%.
d. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus berhubungan dengan perubahan fisik
pada sistem kardiovaskuler. Diantaranya dapat berupa gangguan
pembuluh darah yang pada akhirnya meningkatkan risiko
terjadinya jantung koroner.
e. Riwayat Keluarga
Faktor genetika mempunyai peranan penting dalam
munculnya jantung koroner. Hal tersebut dipakai juga sebagai
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
49
pertimbangan penting dalam diagnosis, penatalaksanaan dan juga
pencegahan penyakit jantung koroner.
f. Hipertensi Sistemik
Peningkatan
tekanan
darah
meningkatkan
resistensi
terhadap pemompaan darah dari jantung, sebagai akibatnya terjadi
peningkatan kekuatan kontraksi. Hal ini mengakibat peningkatan
beban kerja jantung yang pada akhirnya menyebabkan nyeri.
Huon (2005) menjelaskan berbagai faktor resiko tercetusnya
penyakit jantung koroner, antara lain:
a. Peningkatan Kolesterol
Terdapat hubungan langsung antara resiko penyakit jantung
koroner dan kadar kolesterol dalam darah. Kolesterol yang
berlebihan dapat berubah menjadi plak dan menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh darah.
b. Merokok
Resiko terjadinya penyakit jantung koroner akibat merokok
berkaitan dengan dosis. Dimana orng yang merokok 20 batang
atau lebih dalam sehari memiliki resiko dua hingga tiga kali lebih
tinggi terkena jantung koroner.
c. Obesitas
Resiko jantung koroner pada ornag yang mengalami
obesitas terjadi karena tingkat aktivitas yang rendah.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
50
d. Hipertensi
Orang dengan hipertensi memiliki resiko lebih besar
terkena jantung koroner. Sekitar 10% laki-laki dan 8% perempuan
yang menderita jantung koroner disebebkan oleh hipertensi.
e. Kepribadian
Orang yang mudah stress, baik fisik atau mental menjadi
pemicu jantung koroner. Orang dengan tipe kepribadian A
(bersifat agresif, kompetitif, kasar, sinis, pemarah) memiliki
resiko lebih besar terkena jantung koroner.
Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa faktor
resiko penyakit jantung koroner adalah tekanan darah, merokok, lipid,
diabetes mellitus, obesitas, dan riwayat kelurga dengan penyakit
jantung.
D. Hubungan Kebersyukuran dan Kebermaknaan Hidup pada Penderita
Jantung Koroner
Kebersyukuran (gratitude) adalah suatu perasaan terima kasih dan
rasa senang atas respon penerimaan hadiah. Dimana hadiah itu
memberikan manfaat bagi seseorang atau suatu kejadian yang memberikan
kedamaian. Serta berfungsi untuk memotivasi individu untuk terlibat
dalam perilaku prososial dan bertindak sebagai barometer moral yang
menyediakan afeksi positif. Dalam Islam, bersyukur adalah mengakui
nikmat Allah dan mengakui Allah sebagai pemberinya, tunduk kepada-
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
51
Nya, cinta kepada-Nya, ridha terhadap-Nya, serta mempergunakan nikmat
itu dalam hal yang disukai Allah dalam rangka taat kepada-Nya.
Kebermaknaan hidup adalah penghayatan individu terhadap hal-hal
yang dianggap penting, dirasakan berharga, diyakini kebenarannya, dan
memberi nilai khusus bagi seseorang, pemberian kualitas kehidupan pada
diri pribadi, yang dapat diwujudkan dalam sebuah keinginan menjadi
orang yang berguna bagi orang lain.
Makna hidup merupakan hal-hal yang dianggap sangat penting dan
berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak
dijadikan tujuan hidup. Riset-riset sendiri cenderung menyetujui bahwa
kebermaknaan sangat penting dalam kehidupan seseorang. Jika hidup
kurang bermakna maka individu cenderung mengalami psikopatologi,
kesehatan menurun, adanya ide atau keinginan untuk bunuh diri.
Kebermaknaan hidup yang rendah juga berkorelasi pada kecendrungan
neurotis, kecemasan, dan anomia ( O‟Connor and Chamberlain, 1996).
Sebaliknya,
individu
yang
kebermaknaan
hidupnya
tinggi
diketahui mempunyai korelasi positif terhadap meningkatnya harga diri
dan terbukanya pandangan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa
kebermaknaan hidup mempunyai tempat yang sangat penting sebagai
salah satu hal yang menjadikan manusia berfungsi penuh (O‟Connor and
Chamberlain, 1996).
Gumilar (2008) menjelaskan bahwa makna hidup hanya dapat di
isi selama individu menyadari bahwa sesuatu belum tentu menjadi
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
52
kenyataan, kecuali diperjuangkan dan keyakinan yang mendalam terhadap
Allah, mengantarkan manusia menjadi individu yang optimis, independen
dan tangguh untuk mengubah dirinya sendiri.
Gumilar (2008) juga menjelaskan bahwa individu yang bersyukur
mempunyai value atau nilai-nilai yang mereka tunjukkan dengan
mengakui bahwa semua hal yang didapat hanya dari Allah bukan dari
siapa-siapa sehingga tidak terjebak dalam kehidupan yang mementingkan
materi. Value inilah yang dimiliki individu yang bersyukur sebagai suatu
kerangka (framework) yang harus dipenuhi (fullfillment) agar membuat
hidup jauh lebih bermakna. Hal ini kemudian membuktikan teori Battista
dan Almond (1973) dimana konsep kebermaknaan hidup sangat erat
kaitannya dengan kerangka atau (framework) atau menjalankan tujuan
hidup yaitu mendekatkan diri pada Allah dengan cara bersyukur.
Kemudian individu menganggap pemenuhan tersebut sebagai rasa yang
sangat berarti (feeling of significance) sehingga mampu membuat hidup
lebih bermakna.
Menurut Gumilar (2008) individu yang bersyukur di indikasikan
tidak akan merasa tersesat dalam hidup dan dinyatakan mempunyai
perasaan meluap-luap. Ini berarti sudah memenuhi konsep hidup
bermakna yaitu hidup bersemangat, penuh gairah dan tidak mudah bosan
serta tidak merasa hampa. Individu yang bersyukur juga mempunyai
kecendrungan untuk menghargai kebahagiaan kecil sekalipun sehingga
jika mengalami penderitaan atau musibah, tetap bersikap tabah serta sadar
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
53
bahwa selalu ada hikmah dibalik musibah itu yang juga merupakan salah
satu indikator hidup yang bermakna.
Bedasarkan keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
hubungan kebersyukuran dan kebermaknaan hidup adalah kebermaknaan
hidup sangat erat kaitannya dengan kerangka atau (framework) atau
menjalankan tujuan hidup yaitu mendekatkan diri pada Allah dengan cara
bersyukur. Kemudian individu menganggap pemenuhan tersebut sebagai
rasa yang sangat berarti (feeling of significance) sehingga mampu
membuat hidup lebih bermakna.
E. Kerangka Pemikiran
Penderita jantung koroner mengalami berbagai kondisi psikologis
negatif seperti merasa tidak berdaya, merasakan kehampaan dan merasa
bosan. Hal tersebut berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam
memaknai hidupnya. Individu akan memperoleh kebermaknaan dalam
hidupnya ketika individu mampu mengambil hikmah dari musibah,
bersikap tabah, serta menerima keadaan diri. Selanjutnya individu akan
merasakan kebersyukuran dalam dirinya.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
54
Penderita Jantung
Koroner
Mengalami kondisi psikologis negatif:
 Merasa tidak berdaya
 Merasa kehampaan
 Merasa bosan
Kebermaknaan Hidup
Tinggi
Rendah




Menerima keadaan diri
Mampu mengambil hikmah dari musibah
Bersikap tabah
Muncul perasaan cinta dan kasih sayang terhadap
orang lain
 Keinginan untuk membantu dan berbagi
 Cenderung untuk bertindak positif
Kebersyukuran
Tinggi
Rendah
Gambar 1. Kerangka Berfikir
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
55
F. Hipotesis
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang diajukan adalah
ada hubungan antara kebersyukuran dan kebermaknaan hidup pada
penderita jantung koroner.
Hubungan Kebersyukuran Dan..., Izanatul Laily Maulidah, Fakultas Psikologi UMP, 2015
Download