BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
1.
Permasalahan
Fluktuasi dinamika politik dan pemerintahan yang bersinggungan
dengan berbagai lingkup kehidupan menjadi salah satu faktor yang
menjadikan disiplin ilmu politik dan pemerintahan melahirkan beragam
konsentrasi bidang ilmu diantaranya; kajian demokrasi baik dalam tataran
pusat maupun lokal dimana terdapat konsentrasi ilmu politik dan
pemerintahan yang membahas tentang politik lokal dan pemerintahan
daerah, kajian Hak Azasi Manusia (HAM), dan kebijakan dalam lingkup
nasional dan daerah.
Meluasnya
cakupan
kajian
ilmu
politik
dan
pemerintahan
memunculkan beberapa pertanyaan diantaranya mampukah disiplin ilmu
dan penelitian dalam kajian politik dan pemerintahan yang berkembang
saat ini dalam memetakan dan memberikan kontribusi bagi solusi konkret
bagi persoalan persoalan politik dan pemerintahan dewasa ini.
Secara khusus persoalan yang dihadapi antara lain tumpang tindihnya
kebijakan dalam hal keberlakuan aturan. Hal ini melingkupi persoalan
sejauh mana pemerintah pusat dalam menyelenggarakan programdan
mengadakan pengawasan bagi pelaksanaan program tersebut serta sejauh
mana keluwesan pemerintah daerah dalam melakukan manuver guna
2
menciptakan terobosan program. Selain itu persoalan yang berkenaan
dengan korupsi dan patologi politik lainnya dalam penyelenggaraan
pemerintahan semisal antara keterbukaan dalam pemerintahan yang
memberikan kesetaraan bagi semua warga negara dalam politik dan
pemerintahan dengan dinasti politik dalam pemerintahan.
Pada akhirnya persoalan terpenting yang mesti dijawab adalah
mampukah kajian dan penelitian dalam ilmu politik dan pemerintahan
sejauh ini untuk memetakan realitas perkembangan masyarakat dan
meramalkan kondisi politik dan pemerintahan baik secara segmentatif
mupun secara holistik demi kelangsungan pembangunan manusia.
Berkenaan dengan persoalan persoalan yang dihadapi dalam
hubungan pemerintahan tersebut, penting mengedepankan ilmu filsafat
sebagai objek formal mengingat paradigma ilmu filsafat dalam
memandang persoalan ilmu ilmu yang bersifat reflektif dan komprehensif.
Pentingnya
ilmu
filsafat
dalam
memetakan
persoalan
persoalan
pemerintahan juga didasarkan atas pemahaman bahwa suatu struktur
pemerintahan pada dasarnya merupakan hasil dari proses dialektika yang
panjang dan melibatkan berbagai komponen kebangsaan yang terus
menerus berjalan.
Dialektika perkembangan suatu struktur pemerintahan ditunjukkan
berbeda-beda dalam setiap fase perkembangan pemikiran manusia. Suatu
struktur pemerintahan yang mapan sesungguhnya merupakan hasil dari
pergulatan panjang dan antitesa dari struktur-struktur pemerintahan
3
sebelumnya yang arah perkembangannya sesuai dengan kecenderungan
berpikir manusia setiap masa.
Pada awalnya, pengalaman manusia yang mengamati gejala alam dan
melihat terdapat kekuatan besar di luar dirinya membawanya percaya akan
adanya suatu kekuatan di luar dirinya yang mampu mengendalikan alam
semesta atau setidaknya memengaruhi kehidupan alam dan manusia.
Pengakuan inilah yang secara terus menerus menjadi dasar bagi
terletaknya otoritas pada alam. Pada masa masa ini, manusia dalam
kehidupannya berorientasi pada aspek kosmologis. Alam sebagai otoritas
tertinggi adalah acuan manusia dalam setiap aspek kehidupan.
Pada tahap selanjutnya, kemampuan manusia mulai berkembang
untuk
memanfaatkan
alam
bagi
kehidupannya.
Manusia
mulai
membangun relasi antar manusia serta manusia dengan kelompok manusia
guna memanfaatkan potensi alam. Dalam hal ini, manusia yang unggul
adalah manusia yang mampu mengoptimalkan potensi dari dirinya untuk
mengeksplorasi alam semesta. Kecenderungan untuk mengutamakan
pengoptimalan potensi manusia dalam pemanfaatan alam ini merupakan
langkah besar bagi perubahan sentrum kehidupan manusia; dari
kecenderungan hidup kosmosentris, manusia mulai beralih pada kehidupan
yang bertumpu pada kemampuan manusia sendiri.
Fase antroposentris demikian berlangsung hingga pada saat dimana
subjektivitas
manusia
dalam
mengoptimalkan
potensinya
terus
dipertanyakan nilai kebaikannya. Manusia kemudian mulai merumuskan
4
beragam standar kebaikan dan moral yang menjadi acuan ideal. Manusia
kembali kepada penelaahan mendalam terhadap ilmu pengetahuan yang
mengandalkan penalaran dan kebijaksanaan dalam memandang kehidupan.
Kecenderungan ini mengarahkan manusia melihat dengan perspektif
logosentrisme.
Esensi
perubahan
paradigma
manusia
dalam
kehidupan
dilatarbelakangi oleh hakikat manusia untuk menyesuaikan kondisi dengan
sekitarnya. Pada hakikatnya, umat manusia adalah makhluk yang memiliki
kesadaran untuk beradaptasi dengan lingkungannya dan melakukan
perbaikan terus menerus bagi dirinya. Inilah hakikat manusia yang
mengidentifikasikan dirinya dalam kehidupan. Sejak keberadaannya di
bumi hingga saat ini umat manusia di berbagai belahan dunia
memperlihatkan kemampuannya dalam melakukan perbaikan terus
menerus dan berdaptasi terhadap lingkungannya dengan menghasilkan
karya karya baik berupa pemikiran maupun benda material.
Proses adaptasi ini memberikan dampak signifikan pada setiap aspek
kehidupan manusia. Suatu basis perilaku yang memiliki pola menyeluruh
sehingga tampak sebagai sistem moral dan religi yang kemudian dikenal
dengan kebudayaan. Proses kerja manusia, baik yang dikerjakan oleh
perorangan maupun secara massive yang dikerjakan banyak manusia
secara terus menerus akan mewujud pada kebudayaan. Wujud kebudayaan
sendiri paling sedikit terdiri atas tiga hal, yakni ide/gagasan, aktivitas
kelakuan berpola manusia dalam masyarakat, dan benda-benda hasil karya
5
manusia (Koentjaraningrat, 1985:2-8). Ketiganya tidak lain adalah kerja
budi manusia. Tesis ini merunut pada pernyataan bahwa eksistensi
manusia dapat diukur melalui apa yang manusia kerjakan.
Karl Marx merumuskan penjelasan tentang pekerjaan sebagai
objektivikasi manusia. Terkait manusia dan kerja ini, Frans Magnis
Suseno (1999:89-96) memaparkan bahwa penjabaran Marx dalam
Economic-Philosophical Manuscripts ini sesungguhnya untuk menjawab
pertanyaan “dalam arti apa, manusia merupakan hasil pekerjaannya
sendiri? Dan dalam arti apa manusia menyatakan diri dalam pekerjaan?”
Menurut Marx, eksistensi manusia terhadap sesuatu dibuktikan oleh kerjanya; manusia menyatakan diri melalui pekerjaan.
Sudut panjang pekerjaan sebagai objektivasi manusia dapat dipahami
dalam dua hal berikut. Pertama, kehendaknya untuk menghadirkan
sesuatu dalam wujud kenyataan objektif, yang kemudian bisa dilihat,
dimaknai, dan direspon oleh siapa saja. Kedua, kemampuannya dalam
mempersembahkan karya tersebut, dimana dapat mengukur sejauh mana
kesadarannya terhadap suatu hal tersebut, sekaligus melihat sejauh mana
bentuk baru tersebut mewakili maksudnya. Namun, hasil karya yang
dibuat manusia melalui kerja tersebut tidak serta merta dapat
mengobjektifikasikan dirinya, kita tidak dapat memberikan klaim atas
kehendak dan kemampuan diri manusia apabila tidak terjadi perulangan,
melainkan jika dilakukan secara berulang ulang dan terus menerus dalam
hidupnya meski dalam bentuk yang tidak sama. Sang pelukis harus
6
melukis lagi, si petani menyemai, menanam dan memanen lagi, dan sang
guru terus mentransformasikan ilmu kepada murid-muridnya, setidaknya
manusia tersebut memperlihatkan hasil kerja lagi. Pada akhirnya kita
mengenal manusia dengan mengenal caranya bekerja.
Pemikiran Marx tersebut digambarkan dalam suatu dimensi
historisitas pekerjaan yang telah dilakukan manusia. Kerja yang
mewujudkan kebudayaan manusia; manusia hidup dalam dunia yang
merupakan hasil pekerjaan ratusan generasi manusia sebelumnya. Dunia
yang kita warisi sekarang menunjukkan jejak pekerjaan generasi generasi
sebelumnya, apakah itu teras teras sawah atau puing puing bangunan kuno
(Frans Magnis Suseno, 1999:93).
Pentingnya dimensi historisitas dalam menelusuri manusia terkhusus
ilmu pengetahuan, sistem kehidupan dan alat alat kerjanya, sebab
keberlangsungan kerja dapat menunjukkan suatu pola. Ketiga unsur ini
sesungguhnya merupakan hasil kerja manusia dalam kesadaran dan
upayanya untuk melakukan perbaikan terus menerus yang berwujud
material, bukan dalam arti filosofis sebagai kepercayaan bahwa hakikat
seluruh realitas adalah materi, melainkan merupakan suatu kesatuan
realitas yang hadir sebagai hasil kerja manusia dan –yang terpentingadalah terus menerus berubah.
Berkenaan hal ini relevan memahami komentar Isaiah Berlin
(2000:200) bahwa sejarah merupakan interaksi antara kehidupan aktoraktor, orang orang yang terlibat di dalam perjuangan untuk meraih tujuan
7
diri-sendiri, dan konsekuensi dari aktivitas-aktivitas mereka. Konsekuensikonsekuensi semacam itu mungkin diharapkan atau tidak diharapkan;
pengaruhnya terhadap manusia atau terhadap lingkungan alam mereka
barangkali teramalkan atau tidak; konsekuensi konsekuensi tersebut
mungkin muncul dalam ruang lingkup material, atau dalam ruang
pemikiran dan perasaan, atau pada level kehidupan manusia yang tidak
disadari; konsekuensi konsekuensi tersebut mungkin memengaruhi
individu atau berbentuk institusi institusi atau gerakan-gerakan sosial; yang terpenting adalah- jaringan kompleks tersebut hanya bisa dipahami
dan dikendalikan jika faktor dinamis sentral yang bertanggung jawab atas
arah dari proses tersebut bisa digenggam.
Marx dalam konsep materialisme historisitasnya mengarahkan pada
pemahaman bahwa alam sadar manusia dipengaruhi oleh interaksinya,
yakni dunia materi yang ada di sekelilingnya. Realitas pertama adalah
fakta itu sendiri yang kemudian memberikan pengaruh pada manusia
untuk beradaptasi dan melakukan kerja. Eksistensi manusia pun terlihat
ketika ia memiliki kemampuan untuk menghasilkan suatu karya melalui
pekerjaan. Pandangan materialisme ini merupakan point of view Marx
dalam menjelaskan eksistensi manusia.
Marx sendiri telah mengklaim bahwa dirinya telah menemukan
hukum gerak perkembangan masyarakat, bahwa telaah terhadap kerja
manusia yang berlangsung terus menerus selama periodisasi waktu
tertentu dapat memahamkan kita tentang sejarah dan arah perubahannya.
8
Hal ini sebagaimana yang dirumuskan dalam konsep Materialisme Historis
Karl Marx. Teori ini menyatakan bahwa metode dialektis dalam aspek
material
kehidupan
memperlihatkan
hukum
gerak
perkembangan
masyarakat.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana perspektif
historis ini dalam menjelaskan gerak perkembangan masyarakat khususnya
untuk mengungkap realitas dibalik arsitektural pemerintahan sebagaimana
yang dikemukakan pada bagian awal? Terlebih dahulu untuk menelusuri
gerak perkembangan masyarakat maka objek telaah kita akan mengacu
kepada struktur dalam masyarakat itu sendiri sebagai hasil kerja kolektif
masyarakat. Sejarah manusia mencatat bahwa peradaban manusia salah
satunya dicirikan oleh struktur atau institusi sosialnya. “Sejarah manusia
adalah sejarah peradaban itu sendiri..” Demikian sebagaimana yang
dikemukakan Samuel P. Huntington (2005:37-45). Peradaban dan
kebudayaan sama-sama menunjuk pada seluruh pandangan hidup manusia,
suatu peradaban adalah bentuk yang lebih luas dari kebudayaan, keduanya
mencakup nilai-nilai, norma-norma, institusi-institusi dan pola pikir yang
menjadi bagian terpenting dari suatu masyarakat yang diwariskan dari
generasi ke generasi.
Peradaban merupakan entitas kultural bukan entitas politis sehingga
suatu peradaban dapat saja mencakup satu atau beberapa kesatuan politis
yang pada akhirnya dapat dikenali melalui bentuk-bentuk pemerintahan
masyarakatnya; dan oleh karena institusi institusi sosial merupakan aspek
9
dari kebudayaan itu sendiri, maka relevan bagi pandangan historisisme
untuk mengkaji struktur sosial masyarakat. Hal ini sebagaimana ditulis Pip
Jones (2010:78) bahwa menurut Marx, pemahaman cara suatu masyarakat
mengorganisasi
produksi
mereka
adalah
kunci
bagi
memahami
keseluruhan struktur sosial. Pandangan Marxis adalah bahwa “..produksi
sarana subsistensi.. membentuk landasan yang di atasnya institusi negara,
konsepsi hukum, seni dan bahkan gagasan tentang agama, dari orang
orang yang bersangkutan berevolusi” (pidato Engels di pemakaman Karl
Marx, 17 Maret 1883).
Paparan latar belakang tersebut mengacu kepada maksud tulisan ini
yakni sebagai kajian reflektif komprehensif filsafat sejarah Karl Marx
dalam mengurai arsitektural pemerintahan mengingat evolusi arsitektural
pemerintahan yang merupakan dialektika hakikat manusia; karya manusia
yang mengidentifikasikan dirinya yang mencakup dialektika sistem,
bentuk dan ideologi dalam pemerintahan.
2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka pokok masalah penelitian ini
dapat dirumuskan dalam tiga pertanyaan, yaitu:
a.
Apa substansi pemerintahan menurut Karl Marx?
b.
Bagaimana perspektif Karl Marx dalam merumuskan arsitektural
pemerintahan?
10
c.
Bagaimana perkembangan arsitektural pemerintahan menurut pemikiran
Karl Marx ditinjau dari perspektif Filsafat Sejarah?
3. Keaslian Penelitian
Penelitian ini bermaksud untuk memaparkan terkait arsitektural
pemerintahan yang ditinjau dari perspektif filsafat pemerintahan dalam hal
ini teori materialisme historis Karl Marx. Sejauh penelusuran penulis,
penelitian maupun kajian terkait arsitektur pemerintahan pun penelitian
terkait negara yang ditinjau dari perspektif filsafat sejarah Karl Marx
adalah sebagai berikut:
a. Buku dengan judul Jaring Jaring Pemerintahan I, judul asli The Web of
Government ditulis oleh Mc Iver terj. Laila Hasyim yang terbit pada tahun
1985. Buku ini memberikan pemaparan mendasar terkait tiga komponen
utama yang memperlihatkan perkembangan pemerintahan secara stuktural
maupun nonstruktural. Buku ini terbagi dalam tiga bagian: (1)Bagian
pertama dipaparkan terkait munculnya pemerintahan, (2)Pada bagian
kedua Mc Iver mengungkap dasar-dasar kewenangan yang mengacu
kepada hukum dan kekuasaan sosial. (3)Pada bagian ketiga Mc Iver
mengemukakan ikhtisar bentuk bentuk pemerintahan hingga tentang
dinamika
Demokrasi.
perkembangan
Secara
garis
komponen-komponen
besar
buku
pemerintahan
pembahasan dengan pendekatan antropologi struktural.
ini
menelusuri
sebagai
inti
11
Adapun penelitian ini berbeda dari segi metode penelitian dan objek
formal yang digunakan. Penelitian ini menjadikan gerak perkembangan
masyarakat yang mewujudkan arstitektur pemerintahan sebagai objek
material dengan filsafat materialisme historis Karl Marx sebagai objek
formal.
b. Buku berjudul Kybernologi, Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan
ditulis oleh Prof. Dr. Taliziduhu Ndraha, terbit tahun 2005. Buku ini
mengulas tentang metodologi Ilmu Pemerintahan yang dipandang dari
aspek praktikal. Buku ini pada dasarnya diperuntukkan sebagai pedoman
bagi pejabat publik hingga pendekatan yang dilakukan bertolak pada aspek
aksiologis pemerintahan. Adapun penelitian ini berbeda sebab memandang
pemerintahan dari aspek filosofis dengan mengungkap hakikat realitas
(ontologis) pemerintahan.
c. Tesis berjudul Teori Evolusi Sosial Jurgen Habermas yang dilakukan oleh
Supartiningsih,
Fakultas
Ilmu Filsafat
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta, tahun 1998. Tesis ini mengulas konsep Materialisme Historis
Karl Marx sebagai titik tolak konsep Evolusi Sosial Jurgen Habermas.
Dalam tesis tersebut, dipaparkan pentingnya konsep Materialisme Historis
Karl Marx dalam wacana evolusi sosial. Adapun penelitian ini berbeda
dari segi objek material yang secara khusus membahas arsitektural
pemerintahan. Penelitian ini juga dapat dikatakan sebagai penelitian
lanjutan yang mengedepankan arsitektur pemerintahan sebagai hasil dari
salah satu evolusi sosial yang terjadi dalam hidup manusia.
12
4.
Manfaat Penelitian
Penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
filsafatdan tindakan praksis.
Pertama, bagi perkembangan ilmu filsafat. Melalui penelitian
inidiharapkan dapat memperdalam kajian filsafat sejarah khususnya dalam
menyoal arsitektural pemerintahan dalam negara. Secara khusus
memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu filsafat yang membahas
hakikat pemerintahan.
Kedua, bagi tindakan praktis, dewasa ini bangsa dihadapkan oleh
beragam persoalan dalam lingkup pemerintahan baik nasional maupun
lokal yang membutuhkan kajian murni lingkup pemerintahan dalam hal ini
lepas dari tendensi persoalan politik praktis juga lepas dari persoalan
administratif negara. Oleh karenanya diharapkan penelitian ini dapat
memberikan sumbangsih bagi pelaku pemerintahan dalam memaknai
persoalan persoalan dalam pemerintahan secara jernih.
B. Tujuan Penelitian
Searah dengan rumusan masalah, penelitian ini dimaksudkan
untukmencapai tiga tujuan berikut:
1.
Mengidentifikasi aspek filosofis dari substansi pemerintahan menurut
pemikiran Karl Marx.
2.
Menjelaskan arsitektural pemerintahan menurut pemikiran Karl Marx.
13
3.
Mengelaborasi
secara
menyeluruh
perkembangan
arsitektural
pemerintahan menurut Karl Marx dalam perspektif filsafat sejarah
untuk membangun konsepsi filosofis yang utuh.
C. Tinjauan Pustaka
Penelitian ini menggunakan istilah Arsitektural Pemerintahan
sebagai objek material. Penggunaan kata arsitektural didasarkan atas
pemahaman makna kata tersebut sebagai rancangan dan strategi.
Adapun pemahaman mengenai istilah tersebut mengacu kepada
beberapa pengertian arsitektur sebagai berikut.
Pertama, sebagaimana dikutip oleh J. Butko (2011:82) menurut Le
Corbusier “Architecture is the learned game, correct and magnificent,
of forms assembled in the light. How those forms are assembled can
define unique lighting and acoustic qualities simultaniously.”
Kedua, pengertian arsitektur menurut Rapoport dan Snyder oleh
Dian Perwita Sari (2014:1) dalam tesis berjudul Arsitektur Metabolisme
Jepang sebagai sebuah konstruksi yang dengan sengaja mengubah suatu
lingkungan fisik dalam suatu bagan peraturan.
Ketiga, dalam Expiriencing Architecture yang ditulis Rasmussen
mengemukakan bahwa arsitektur bukan hanya yang dapat dilihat dan
diraba saja, yang didengar dan dirasa pun merupakan bagian dari
arsitektur (Indah W. Lusi, 2007:27).
14
Definisi
tersebut
senada dengan
yang dikemukakan oleh
Wiggleswoth dan Till (1998:7) bahwa:
“issue of arschitecture design attempts to capture the fragility of
that distorted reflection, where image and reality are blur, we
explicity acknowladge the everyday as a productive context for the
making, occupation, and criticism of architecture”.
Keempat, Wright dalam Subroto (2008:75) dikutip dari tulisan
berjudul
Filsafat
Sains
dalam
Perspektif
Ilmu
Arsitektur
mengemukakan bahwa:
“Architechture is that great living creative spirit which from
generation to generation, from age to age, proceeds, persist,
creates according to the nature of man, and as the circumstances
as they change, that is really architechture.”
Beberapa definisi tersebut mengarahkan pemahaman bahwa istilah
arsitektur tidak hanya mencakup hal-hal yang berhubungan dengan
bangunan fisik saja melainkan cakupannya lebih luas hingga konstruksi
metafisik. Penggambaran keterkaitan antara arsitektur dengan pola pikir
manusia secara khusus dan kebudayaan secara umum dipaparkan
Sumalyo dan Jenks (Dian Perwita Sari, 2014:1) bahwa perkembangan
arsitektur sejalan dengan kebudayaan manusia, yaitu pola pikir dan pola
hidupnya sementara pola pikir manusia dipengaruhi oleh cara
pandangnya terhadap dunia, realitas yang tampak dan tak tampak.
Wujud
arsitektur dipengaruhi oleh
world
view
manusia dan
masyarakatnya dengan prinsip “form follow worl view”.
Subroto (2008:75-77) memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa
unsur filosofis dalam arsitektur dalam dipetakan melalui sudut pandang
15
arsitektur sendiri, bahwa fenomena masalah kultural masyarakat dapat
dilihat baik dalam konteks fisik maupun keruangan (spasial) yang
memuat
konsep
(signified/petanda),
teori
(ontologi),
metode
(epistemologi), dan aplikasi (aksiologi) yang muncul dalam wujud
penanda (signifier) berupa objek bangunan.
Beberapa
definisi
yang
menjabarkan
pengertian
arsitektur
menunjukkan bahwa terdapat beberapa komponen yang penting bagi
penelitian ini, diantaranya: Pertama, wujud dan konsep. Rapoport dan
Snyder (Dian Perwita Sari, 2014:1) mengemukakan arsitektur dibagi
menjadi dua tahap, yaitu wujud dan konsep. Wujud arsitektur adalah
tatanan yang diekspresikan melalui proses pemilihan, citra yang
terkandung dan bentuk yang diberikan dari suatu pandangan dari
lingkungan yang ideal, sedangkan konsep arsitektur adalah pemikiran
mengenai cara beberapa unsur atau karakteristik yang dapat
digabungkan menjadi satu hal saja.
Kedua, world view bahwa wujud dan konsep arsitektur berasal dari
cara pandang manusia dari lingkungannya. Ketiga, simoultaniously
bahwa keberlanjutan merupakan suatu kondisi yang selalu ada seharihari sehingga terwujud suatu tatanan wujud dan konsep arsitektur.
Berkenaan dengan pemerintahan, David E. Apter dalam Ndraha
(2005:2) mengemukakan bahwa sekelompok orang yang bertanggung
jawab dalam hal penggunaan kekuasaan (exercising power) disebut
pemerintah atau government. Lebih lanjut bahwa pemerintahan umum
16
didefinisikan sebagai keseluruhan struktur dan proses di dalam mana
diambil keputusan-keputusan yang mengikat; ilmu pemerintahan
menelaah, (memeriksa, menganalisis, dan menjelaskan) bagaimana
pemerintahan umum sesungguhnya diorganisasikan, difungsikan, dan
memberikan
pengarahan
bagaimana
aturan
serta
cara
kerja
pemerintahan umum sepatutnya diperbaiki, diubah dan dilaksanakan.
Pemerintahan menyangkut tugas dan kewenangan dalam artian
segala kegiatan yang dilakuakan untuk mencapai tujuan, demikian
menurut Ramlan Surbakti dalam Dwijayanti (2012:50-51), pengertian
pemerintahan dapat ditinjau dari tiga aspek, yaitu: (a)Segi Kegiatan
(dinamika) dimana pemerintahan dalam artian ini adalah segala usaha
yang terorganisir, bersumber pada kedaulatan dan berlandaskan pada
dasar negara, mengenai rakyat dan wilayah negara itu demi tercapainya
tujuan negara; (b)Struktural Fungsional dimana pemerintahan berarti
seperangkat fungsi negara yang satu sama lain saling berhubungan
secara fungsional, dan melaksanakan fungsinya atas dasar–dasar
tertentu
demi
tercapainya
tujuan
negara;
(c)Segi
Tugas
dan
Kewenangan (fungsi) dimana segala kegiatan yang berkaitan dengan
tugas dan kewenangan negara (fungsi negara).
Ndraha
(2005:30)
menambahkan
bahwa
adapun
sasaran
pengembangan pemikiran dan penelitian Ilmu Pemerintahan antara lain:
1) Yang Diperintah sebagai suatu fakta sosial
2) Kebutuhan (tuntutan) yang Diperintah berupa jasa publik dan
layanan sipil
17
3) Pemenuhan kebutuhan yang Diperintah: Pemerintahan
sebagai proses perubahan
4) Pemerintah sebagai suatu lembaga sosietal
5) Hubungan antara Pemerintah dengan yang Diperintah:
Hubungan Pemerintahan
6) Wewenang, kewajiban, dan Tanggung Jawab Pemerintah
7) Bagaimana Membangun Pemerintah yang dianggap mampu
menggunakan Wewenang, memenuhi Kewajiban, dan memikul
Tanggung Jawab
8) Bagaimana menjalankan Roda Pemerintahan
9) Bagaimana supaya Kinerja Pemerintahan sesuai dengan
Aspirasi dan Harapan Masyarakat.
Sistem pemerintahan negara adalah mekanisme kerja dan
koordinasi atau hubungan antara ketiga cabang kekuasaan yaitu
legislatif, yudikatif, dan eksekutif demikian menurut Moh. Mahfud
MD., berdasarkan definisi ini dapat disimpulkan bahwa sistem
pemerintahan merupakan suatu sistem hubungan dan tata kerja antar
lembaga-lembaga negara dalam rangka penyelenggaran negara.
Terdapat beberapa model sistem pemerintahan yang diterapkan oleh
negara-negara di dunia, yakni: (1)Sistem Pemerintahan Presidensial;
dalam sistem pemerintahan ini Presiden memiliki kekuasaan yang kuat
sebab selain berperan sebagai kepala negara, Presiden juga berperan
sebagai Kepala pemerintahan yang mengetuai kabinet; (2)Sistem
Pemerintahan Parlementer; Sistem pemerintahan ini menyiratkan
kekuatan pemerintahan yang lebih besar pada parlemen atau lembaga
legislatif. Hal ini diatur dalam konstitusi dimana keberlangsungan
kekuasaan eksekutif dan yudikatif berada di bawah pengawasan
lembaga legislatif yang sewaktu-waktu dapat digugat melalui mosi
tidak percaya; (3)Sistem Pemerintahan Campuran; sistem ini terbentuk
18
dari sejarah perjalanan pemerintahan suatu negara yang diusahakan halhal yang terbaik dari sistem palementer dan sistem presidensial
(Dwijayanti, 2012:51-52).
Mc Iver (1980:163-175) merunut ikhtisar bentuk pemerintahan
berdasarkan beberapa kriteria sebagai berikut.
1) Berdasarkan Undang-Undang Dasar, bentuk pemerintahan
terdiri atas bentuk pemerintahan Monarki, Kediktatoran,
Teokrasi, Kepemimpinan Banyak, Demokrasi Langsung,
Monarki Terbatas, dan Republik.
2) Berdasarkan Ekonomi, bentuk pemerintahan terdiri atas
Ekonomi Rakyar, Sistem Feodal, Pemerintahan Kapitaslis,
Pemerintahan Sosial, dan Pemerintahan Kapitalis-Sosial
3) Berdasarkan Komunal, terdiri atas Suku Bangsa, Polis, Negeri
(Country), Kebangsaan, Berkebangsaan Banyak, dan
Pemerintahan Dunia
4) Berdasarkan Struktur Kedaulatan, terdiri atas Negara Kesatuan,
Empire, dan Federasi.
D. Landasan Teori
Filsafat sejarah Marx merupakan campuran antara pemikiran Hegel
dan ekonomi Britania (Russell, 1946:1021). Pendapat Marx tentang
rumusan dialektis yang menjadi kekuatan penggerak perkembangan tidak
sepaham dengan Hegel pada pengandaian dasarnya. Hegel meyakini
bahwa entitas mistis yang disebut “Ruh” (Spirit) yang menyebabkan
sejarah manusia berkembang menurut tahap-tahap dialektik, sedangkan
menurut Marx, kekuatan penggerak yang sebenarnya adalah materi, bukan
ruh dalam artian hubungan manusia dengan materi yang berwujud cara
produksi dan hasil kerjanya. Berkenaan dengan hal ini Russell memberi
komentar bahwa Marx tidak akan berpendapat bahwa konsepsi materialis
19
historis ini berlaku untuk semua rincian kebudayaannya, tetapi untuk garis
besarnya.
“Historical materialism perceives a general hierarchy among the
realm of social life, not for society in general but also for each spesific
type of socio-economic organizations. It is the law for Marx that the
suprastucture is derived from the base, but this is law about laws; in
each social formation more spesific laws govern the precise nature of
this general derivation” (Tom Bottomore, 1983: 237).
Prinsip dasar materialisme historis sesungguhnya adalah keadaan dan
kesadaran manusia; bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan
mereka melainkan keadaan sosial merekalah yang menenetukan kesadaran
mereka. Marx menggunakan kata materialisme bukan untuk menyatakan
bahwa hakikat seluruh realitas adalah materi melainkan menunjuk pada
faktor yang menentukan sejarah (Frans Magnis-Suseno, 1999:138-139).
Unsur kesadaran yang ditentukan oleh aktivitas sosial tersebut juga
disepakati Isaiah Berlin (2000:198) bahwa manusia meraih penaklukan
dunianya bukan karena peningkatan dalam pengetahuan yang diperoleh
melalui kontemplasi (seperti yang diperkirakan oleh Aristoteles) –tetapi
oleh aktivitas –oleh pekerjaan- pembentukan yang sadar oleh orang-orang
yang berada di sekitar mereka dan oleh satu sama lain –bentuk utama dan
paling hakiki dari persatuan kehendak, pemikiran, dan perbuatan, teori dan
praktik.
Relevansi konsep materialisme historis sebagai objek formal untuk
memetakan persoalan perkembangan masyarakat khususnya dalam
kerangka struktural ditunjang oleh kemampuan konsep ini dalam
20
mengidentifikasi
pola
perubahan-perkembangan
masyarakat
pada
karakteristik kesadaran, pada gagasan dan pada struktur sosial –baik
persamaan-persamaannya
pun
perbedaannya
dalam
kerangka
produksi/pekerjaan.
“Historical materialism has two side of it. On the one hand, it is a
general theory of the structure and dynamics of any mode of
production; on the other hand, it is the theory of historical sequence of
modes of production. The first is about what all modes of production
have in common with each other; the second, about how they differ”
(John Elster, 1986; 104).
Karl Marx menawarkan materialisme historis sebagai teori empiris
sejarah dan sebagai filsafat spekulatif yang penting sebab memiliki
seperangkat macrosociological generalization terkait stabilitas dan
perubahan dalam masyarakat. Konsep ini dapat digunakan untuk
menafsirkan semua peristiwa sejarah sehingga berkemampuan untuk
meramalkan akhirnya.
“Because historical materialism sees the productive forces as enjoying
explanatory primacy, it is able to give an answer to the question of
why in general different socio-economic formations arise when they
do” (Tom Bottomore, 1983: 236).
Pentingnya konsep materialisme historis ini juga dikomentari oleh
Frans Magnis-Suseno (1999:32) bahwa “Suatu program pendidikan dalam
ilmu-ilmu sosial yang tidak memberikan perhatian yang mendalam pada
pikiran Karl Marx menurut Frans Magnis-Suseno tidak memadai dijadikan
sebuah program formasi tingkat akademisi yang serius”.
21
E. Cara Penelitian
1. Bahan atau Materi Penelitian
Model penelitian yang digunakan adalah model penelitian historis
faktual mengenai tokoh Karl Marx, oleh karenanya penelitian ini
mengutamakan studi pustaka. Adapun pustaka yang digunakan adalah
sebagai berikut.
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer penelitian ini adalah naskah-naskah meliputi karya
original Karl Marx di bidang filsafat, khususnya filsafat sejarah yang
berkaitan dengan konsep materialisme historis, di antaranya:
1) The Poverty of Philosophy
2) The German Ideology (Include Theses On Feurbach and The
Introduction to the Critique of Political Economy)
3) Grundrisse (Outline of Critique of Political Economy)
4) Economic-philosophical Manuscript
5) The Holy Family or Critique of Critical Critique, disusun
bersama Friedrich Engels
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder penelitian ini terbagi atas dua, yakni naskahnaskah yang ditulis oleh pengarang lain mengenai pemikiran Karl
Marx dan naskah-naskah yang membahas arah perkembangan
masyarakat
diantaranya:
sehingga
mewujudkan
arsitektur
pemerintahan,
22
1) Buku berjudul The Social and Political Thought of Karl Marx
Cambridge University Press oleh Sholomo Avineri tahun 1986.
2) Reflection On Marxist Theory and History ditulis oleh Paul
Blackledge tahun 2006, Manchester: Manchester University Press
3) Buku berjudul Marxism and Philosophy tahun 2008 oleh Karl
Korsch, Monthly Riview Press
4) Buku berjudul Ontology of Social Being; Marx's Basic Ontological
Principles Volume 2, Merlin Press oleh Georg Lukács tahun 1978.
5) Ellen Meiksins Wood dengan buku berjudul Democrasy against
Capitalism; Renewing Historical Materialism tahun 1995
6) Tom Rocmore dengan buku berjudul Marx After Marxism; The
Philosophy Of Karl Marx, Wiley Blackwell tahun 2002.
7) Ellen Meiksins Wood dengan buku berjudul A Social History of
Western Political Thought from Antyquity to the Late Middle Ages
Verso tahun 2008.
8) Ellen Meiksins dngan buku berjudul A Social History of Western
Political Thought from the Renaissance to Enlightenment-Verso
tahun 2012.
9) Karl Marx‟s Theory Of Revolution Vol I (1977), II (1978), III
(1986) ditulis oleh Hal Dreper
10) Karl
Marx and The
Intellectual
Origins
Of Dialectical
Materialism, Palgrave McMillan tahun 1996 ditulis oleh James D.
White
23
11) The World Of Nation A Study Of The National Implications in The
Work Of Karl Marx, Columbia University Press, tahun 1941 yang
ditulis oleh Solomon Frank Boom.
12) The Marx Dictionary, Continuum International Publishing oleh Ian
Fraser dan Lawrence Wilde tahun 2011
13) Karl Marx: A Biography, Macmillan General Books oleh David
McLellan tahun 1973.
14) Karl
Marx and The Contemporary Philosophy, Palgrave
Macmillan, tahun 2009 ditulis oleh Andrew Chitty dan Martin
McIvor.
15) Karl Marx His Life and Environment (Biografi Karl Marx) ditulis
oleh Isaiah Berlin tahun 1963, New York: Oxford University Press
16) Karl Marx's Grundrisse; Foundations of The Critique of Political
Economy 150 Years Later, Routledge oleh Marcello Musto tahun
2008.
17) Antonio Gramsci; Beyond Marxism and Postmodernism –
Routledge (Critics of the Twentieth Century), Renate Holub tahun
1992.
18) The Open Society and its Enemies; The High Tide of Prophecy
Hegel, Marx and the Aftermath Vol. 2 oleh Karl Popper tahun
1947.
24
19) Buku berjudul The Logic Of Marx oleh Jindrich Zeleny
diterjemahkan oleh Oey Hay Djoen berjudul Logika Marx tahun
2007, Oey‟s Renaissance.
20) Buku berjudul An Intoduction to Karl Marx, ditulis oleh Jon Elster.
Terbit pada tahun 1986, Cambridge University Press.
21) Buku Berjudul Pemikiran Karl Marx; dari Sosialisme Utopis
hingga ke Perselisihan Revisionisme oleh Magnis Suseno tahun
1999, PT Gramedia Pustaka Utama.
22) Buku berjudul Karl Marx, Antropologist tahun 2009 oleh Thomas
C. Patterson, Orford International Publisher, Ltd.
23) Buku
berjudul
Psikoanalisis,
Tentang
Cultural
Ideologi:
Studies
Marxisme
terbit
tahun
Strukturalis,
2008
yang
diterjemahkan oleh Olsy Vinoli Arnof dari tulisan Louis Althusser
Essay On Ideology, Verso, London: 1984.
24) Buku berjudul Jaring Jaring Pemerintahan I, judul asli The Web of
Government ditulis oleh Mc Iver terj. Laila Hasyim
25) The Constitutions of Society: The Outline of the Theory of
Structuration
(Konstitusi
Masyarakat:
Garis
Besar
Teori
Strukturasi untuk Analisis Sosial) UK: Politi Press Cambridge oleh
Antony Giddens.
26) Kybernologi, Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan ditulis oleh
Prof. Dr. Taliziduhu Ndraha, tahun 2005.
25
27) Disertasi berjudul Georg Lukács‟ Marxism Alienation, Dialectics,
Revolutio: A Study in Utopia and Ideology, Springer Netherlands
oleh Victor Zitta tahun 1964.
c. Sumber Data Penunjang
Naskah-naskah yang menunjang penelitian meliputi filsafat secara
umum, filsafat sejarah, kamus filsafat, dan refrensi lainnya yang
mendukung.
2. Jalannya Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Pengumpulan data, yakni menginventarisasi sumber data primer
dan sumber data sekunder penelitian
b. Klasifikasi data, yakni mengelompokkan karya-karya pokok Marx,
karya-karya sekunder yang membahas pemikiran Marx, dan karyakarya pokok terkait filsafat umum, metodologi serta filsafat sejarah
yang berkaitan dengan konsep materialisme historis.
c. Analisis data, yakni data yang telah dikelompokkan dianalisis
dengan menggunakan konsep materialism historis Karl Marx
d. Interpretasi data, yakni memahami secara mendalam naskah dan
buku yang memuat konsep filsafat sejarah Marx untuk menangkap
makna khasnya, juga memahami naskah dan buku terkait
arsitektural pemerintahan untuk memahaminya secara mendalam
dan komprehensif.
26
Analisis hasil dilakukan dengan metode hermeneutika filsafat
dengan unsur metodis sebagai berikut.
a. Deskripsi
yakni
menguraikan
makna
realitas
arsitektur
pemerintahan dari sudut pandang konsep materialisme historis.
b. Induksi dan Deduksi yakni mempelajari secara kritis naskah atau
buku yang berisikan konsepsi Marxisme tentang Sejarah dan
menjadikannya sebagai objek formal untuk menganalisis naskah
atau buku tentang arsitektural pemerintahan
c. Analisis-Sintesis
Analisis-sintesis terhadap unsur-unsur yang diperoleh dari kedua
unsur metodis metode sebelumnya untuk menguraikan pola
hubungan atau keterkaitan objek formal dengan objek material.
d. Heuristika, bahwa berdasarkan seluruh uraian terkait filsafat
sejarah Karl Marx, dicoba untuk merumuskan pemahaman baru
tentang pandangan konsepsi Marx dalam evolusi struktur
pemerintahan.
e. Refleksi Kritis
Refleksi kritis dilakukan dalam memaknai pemikiran Karl Marx
terhadap perkembangan arsitektural pemerintahan sehingga dapat
memahami relevansi pemikiran Karl Marx dalam arsitektural
pemerintahan Indonesia
27
F. Sistematika Penulisan
Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah
yang meliputi rumusan masalah, keaslian penelitian, manfaat penelitian.
Pendahuluan juga berisi tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori,
cara penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II berisi pemaparan objek formal yaitu filsafat materialisme
historis Karl Marx. Bab ini membahas mengenai riwayat singkat hidup
Karl Marx; pemikiran yang memengaruhi Karl Marx yakni secara khusus
genealogi konsep materialisme historis. Dalam bab ini juga dicantumkan
dan karya karya Karl Marx dalam bidang ekonomi, politik dan filsafat.
Bab III berisi tentang deskripsi objek material penelitian yakni
arsitektural pemerintahan. Bab Arsitektural Pemerintahan ini terdiri atas
Landasan Pemikiran gagasan Arsitektural Pemerintahan; Munculnya
Pemerintahan; Dasar-Dasar Kewenangan; Bentuk-Bentuk Pemerintahan;
dan Riwayat Arsitektural Pemerintahan Negara-Negara di Dunia.
Bab IV merupakan bagian yang berisi analisis kajian teori filsafat
sejarah Karl Marx dalam arsitektur pemerintahan menguraikan tentang
analisia konsep materialisme historis dalam arsitektural pemerintahan.
Pada bab ini dipaparkan Substansi Pemerintahan menurut Karl Marx;
Arsitektural
Pemerintahan
menurut
Karl
Marx,
dan
Arsitektural
Pemerintahan dalam Pandangan Marxisme yang ditinjau dari perspektif
Filsafat Sejarah.
28
Bab V merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan penelitian dan
saran bagi peneliti filsafat sejarah dan peneliti selanjutnya.
Download