laporan hasil penelitian yayasan a-letheia kupang 2015

advertisement
TINGKAT MELEK POLITIK WARGA (PEMILIH) DI KABUPATEN
SIKKA PADA PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014 DI KABUPATEN
SIKKA
LAPORAN HASIL PENELITIAN
dalam Kerja Sama dengan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sikka
OLEH
PETRUS YULIUS
YAYASAN A-LETHEIA
KUPANG
2015
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian................................................................................4
1.4 Manfaat Penelitian..............................................................................4
1.4.1. Manfaat Teoritis. ......................................................................4
1.4.2. Manfaat Praktis.........................................................................4
BAB II KERANGKA PENELITIAN
2.1 Kerangka Teori ....................................................................................5
2.2 Alur Pikir..............................................................................................8
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Fokus Penelitian .......................................................25
3.2 Jenis Penelitian ...................................................................................25
3.3 Metode Penelitian ...............................................................................25
3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................................26
3.5 Teknik Pengujian Keabsahan Data.....................................................28
3.6 Lingkup dan Lokasi Penelitian’..........................................................28
3.7 Teknik Analisis Data ..........................................................................28
BAB IV PEMBAHASAN
4. 1.
4. 2.
4. 3.
BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5. 1. SIMPULAN
5. 2. REKOMENDASI
Daftar Pustaka
Lampiran (Soft Copy)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Melek politik (political literacy) merupakan sebuah conditio sine qua
non dalam demokrasi modern. Tanpa adanya melek politik, demokrasi
modern akan mengalami kerapuhan dalam berproses. Melek politik
merupakan salah satu pilar utama dalam membangun peradaban manusia di
dalam demokrasi. Logika ini tidak terbantahkan. Fenomena politik mutakhir
membuktikan bahwa hal ini telah menjadi sebuah tesis besar dalam ilmu
politik kontemporer.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa melek
politik berarti mengetahui arti dan fungsi politik. Logikanya jelas, melek
pemilihan umum berarti mengetahui arti dan fungsi pemilihan umum. Pada
titik ini, fenomena pemilihan umum sebuah sebuah aktus besar dalam
kehidupan politik harus dijalankan dalam beberapa aspek sekaligus.
Dikatakan demikian sebab terminologi “mengetahui” terjadi dalam
aspek kognitif. Aspek ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan aspek
psikomotorik yang dalam konteks ini dapat disebut sebagai sebuah
keterampilan dalam berpolitik. Selanjutnya, kedua aspek tersebut tentu saja
tidak dapat terlepaspisahkan dari aspek berikutnya yaitu afeksi yang pada
tingkatan tertentu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Aspek terakhir ini
kadang dan bahkan sering menjadi pijakan utma bagi seseorang di dalam
1
bertindak, termasuk di dalamnya adalah dalam melakukan tindakan politik,
seperti dalam ajang pemilihan umum.
Urgensi melek politik sebagaimana dieaborasi secara singkat tersebut
menjadi landasan akademis bagi Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sikka
untuk bekerja sama dengan peneliti dari Yayasan A-letheia (The A-Letheia
Foundation) Kupang untuk melakukan penelitian tentang Tingkat Melek
Politik Warga (Pemilih) di Kabupaten Sikka Pada Pemilihan Umum
Tahun 2014 di Kabupaten Sikka.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan elaborasi pada latar belakang di atas, maka rumusan
masalah penelitian adalah bagaimana Tingkat Melek Politik Warga
(Pemilih) di Kabupaten Sikka Pada Pemilihan Umum Tahun 2014 di
Kabupaten Sikka?
Dari rumusan masalah yang bersifat umum tersebut, diturunkan tiga
rumusan masalah yang bersifat khusus yaitu:
a.
Bagaimana
pengetahuan
pemilih
di
Kabupaten
Sikka
tentang
politik/pemilu?
b.
Bagaimana keterampilan pemilih di Kabupaten Sikka dalam mengelola
isu yang ada pada pemilihan umum tahun 2014 di Kabupaten Sikka
dalam pengambilan keputusan politk?
2
c.
Bagaimana pemilih di Kabupaten Sikka mempertahankan nilai-nilai
yang ada pada dirinya, termasuk mempertahankan kesetaraan dan
keadilan yang diyakini pemilih dalam menentukan pilihannya?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian perumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini
terdiri atas dua bagian yaitu tujuan umum dan tujuan khsusus.
Tujuan umum :
-
mentradisikan kebijakan berbasis riset atas persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan pemilihan umum;
-
Sebagai bahan untuk penyusunan kebijakan guna meningkatkan dan
memperkuat partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemilihan
umum.
Tujuan khusus :
-
menemukan akar masalah atas persoalan-persoalan yang terkait dengan
Tingkat Melek Politik Warga (Pemilih) di Kabupaten Sikka;
-
Terumuskannya rekomendasi kebijakan atas permasalahan yang dihadapi
dalam kaitannya dengan Tingkat Melek Politik Warga (Pemilih) di
Kabupaten Sikka.
3
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1.
Secara teoritis, diharapkan hasil kajian dalam penelitian ini dapat
menjadi sumber informasi yang mengarah pada pengembangan ilmu
pengetahuan terutama dalam bidang ilmu politik, psikologi dan
psikologi politik.
1.4.2.
Secara praktis, diharapkan agar hasil kajian penelitian ini dapat
memberikan gambaran mengenai Tingkat Melek Politik Warga
(Pemilih) di Kabupaten Sikka Pada Pemilihan Umum Tahun 2014 di
Kabupaten Sikka.
4
BAB II
KERANGKA PENELITIAN
2.1. Landasan Teori
Teori politik adalah pembahasan dan generalisasi dari fenomena
yang bersifat politik mengenai :
a. tujuan kegiatan politik
b. cara-cara mencapai tujuan tersebut
c. kemungkinan dan kebutuhan yang ditimbulkan oleh situasi politik
tertentu
d. kewajiban-kewajiban yang diakibatkan oleh tujuan politik itu.
Merujuk pada Thomas P. Jenkin (1967) teori yang dipakai dalam
penelitian ini termasuk dalam teori-teori yang memiliki dasar moral atau
bersifat akhlak dan menentukan norma-norma untuk perilaku politik (norms
for political behavior). Dengan adanya unsur norma dan nilai-nilai (values)
ini, maka teori ini boleh disebutkan sebagai yang mengandung nilai.
Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah Teori Relasi Perilaku
Politik Sehat LPTK (The LPTK’s Healthy Political Behaviour Relation
Theory), (Petrus Yulius, 2015). Teori ini menggagas tentang cara
membangun perilaku politik sehat individu dengan cara memperhatikan
pemilihan jenis makanan/minuman, belajar mendengarkan suara hati dan
pesan-pesan tubuh, berjuang membangun relasi dengan Allah, sesama dan
alam semesta dalam membentuk pola pikir, emosi, dan akhirnya dapat
5
terbentuk perilaku politik yang baik. Teori Relasi Perilaku Politik Sehat
LPTK dibangun dari asumsi teoretis bahwa sehat tidaknya perilaku politik
seseorang bergantung pada keseimbangan relasional seseorang dalam
hubungannya dengan Allah, diri sendiri, sesama, dan alam semesta.
Keseimbagan relasional tersebut pada gilirannya akan menghadirkan sebuah
pemenuhan tuntutan eksistensial seseorang yang seimbang dengan keutuhan
jiwa dan tubuhnya.
2.2. Alur Pikir
Melek politik dalam penelitian berhubugan dengan pengetahuan (kognisi),
keterampilan (psikomotorik) dan nilai-nilai (afeksi). Pengetahuan yang
dimaksudkan adalah pengetahuan pada tingkatan yang paling mendasar
tentang politik dan pemilihan umum. Keterampilan adalah tindakan konkret
yang dilakukan oleh seseorang dalam menjatuhkan keputusan politik,
termasuk memengaruhi orang lain untuk menjatuhkan keputusan politik
tertentu. Keterampilan dalam konteks ini berhubungan erat dengan basis
pengetahuan dan nilai-nilai yang dimilikinya. Nilai-nilai adalah basis
kepercayaan seseorang yang diyakini, yang sangat kontributif baginya dalam
menjatuhkan sebuah keputusan politik tertentu.
Dengan elaborasi tersebut, alur pikir dalam penelitian ini dapat digambarkan
dalam skema sebagai berikut:
6
-
Nilai Pengetahuan
Sikap/Keterampilan
/ Tingkah laku
Pemilihan Umum
MELEK POLITIK
Bagan 1 Skema Alur Pikir
7
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Pendekatan dan Fokus Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam rangka menjawab permasalahan
dalam penelitian ini bersifat kualitatif, dengan memberikan fokus
penelitian pada Tingkat Melek Politik Warga (Pemilih) di Kabupaten
Sikka Pada Pemilihan Umum Tahun 2014 di Kabupaten Sikka.
3.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif yaitu prosedur
pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan dan
melukiskan tentang makna dari topik yang menjadi permasalahan. Dalam
konteks penelitian ini, deskriptif yaitu menjelaskan atau menggambarkan
tentang Tingkat Melek Politik Warga (Pemilih) di Kabupaten Sikka Pada
Pemilihan Umum Tahun 2014 di Kabupaten Sikka.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa metode yang digunakan dalam pengumpulan data
yaitu :
a. Wawancara mendalam/in depth Interview adalah cara pengumpulan data
yang dilakukan melalui percakapan antara peneliti (atau orang yang
ditugasi) dengan subjek penelitian atau informan, dalam hal ini
pewawancara menggunakan percakapan sedemikian rupa sehingga yang
diwawancara bersedia terbuka mengeluarkan pendapatnya. Instrument
8
yang digunakan dalam wawancara adalah alat tulis alat perekam suara dan
kamera
b. Studi kepustakaan yaitu dengan mempelajari buku-buku, artikel-artikel
online dan majalah atau surat kabar serta bahan-bahan lain dari
lembaga/institusi yang berkaitan dengan deskripsikan tentang tingkat
melek politik warga di Kabupaten Sikka pada Pemilihan Umum 2014.
c. Observasi yaitu, pengumpulan data atau informasi dengan cara mengamati
secara langsung di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui
gambaran
umum
lokasi
penelitian
sesuai
dengan
permasalahan.
Untuk menentukan informan yang akan digunakan dalam penelitian
ini, peneliti menggunakan purposive sampling yaitu pengambilan sumber data
dengan pertimbangan. Misalnya orang yang dianggap paling tahu, mengerti
atau yang mempunyai kekuasaan di lokasi penelitian.
Teknik pengumpulan data juga menggunakan teknik snow ball
sampling. Dalam konteks ini, peneliti melakukan pendekatan terhadap orangorang tertentu yang dianggap paling mengetahui tentang obyek penelitian,
selanjutnya orang tersebut akan menunjuk beberapa orang untuk dimintai
keterangannya terkait penelitian mengenai topik ini.
3.4. Teknik Pengujian Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk mendapatkan akurasi
dan kredibilitas hasil penelitian melalui strategi yang tepat. Teknik yang
9
digunakan oleh peneliti untuk menjamin akurasi dan kredibilitas hasil
penelitian adalah teknik Triangulasi. Menurut Poerwandari (2009:241) yang
dimaksudkan dengan Teknik Triangulasi adalah sebuah proses yang
mempergunakan berbagai persepsi untuk mengklarifikasi makna, dan juga
memverifikasi proses observasi atau interpretasi. Cara mengklarifikasi adalah
dengan mengidentifikasi cara-cara yang berbeda yang dipergunakan dalam
mengamati fenomena. Dengan cara ini peneliti akan menggunakan beberapa
macam data dan beberapa teknik analisis.
3.5. Lingkup, Lokasi, Waktu dan Jumlah Informan
a.
Lingkup penelitian adalah pemilih di Kabupaten Sikka pada Pemilihan
Umum tahun 2014.
b.
Lokasi penelitian berada di 21 Desa di 21 Kecamatan yang berada dalam
wilayah Kabupaten Sikka.
c.
Waktu penelitian adalah sejak 29 Mei hingga 27 Juli 2015.
d.
Jumlah informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 187 orang.
3.6. Teknik Analisis Data
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan tujuan memberikan gambaran
mengenai situasi dengan menggunakan analisa kualitatif. Data yang telah
dikumpul, baik data primer maupun data sekunder yang diperoleh dari
lapangan akan dianalisis secara mendalam. Selanjutnya akan menghasilkan
suatu kesimpulan yang menjelaskan masalah yang diamati.
10
Di dalam penelitian ini, data yang telah dikumpulkan akan dianalisa
secara kualitatif yakni data yang diperoleh akan dianalisis dalam bentuk katakata lisan maupun tulisan. Teknik ini bertujuan untuk memperoleh gambaran
yang umum dan menyeluruh dari obyek penelitian, serta hasil-hasil penelitian
baik dari hasil studi lapangan maupun studi literatur untuk kemudian
memperjelas gambaran hasil penelitian.
Teknik analisis data menggunakan 3 cara yaitu :
a. Kategorisasi yaitu teknik menganalisis data dengan cara mengumpulkan
data kemudian mengategorikan data secara sistematis.
b. Interpretasi yaitu teknik menganalisis data dengan cara mengambil data
yang telah dikategorikan lalu memilih data-data mana yang penting untuk
dipakai. Selanjutnya data-data yang tidak penting tidak dipakai dalam
analisa.
c. Induksi yaitu cara berpikir dengan menarik kesimpulan dari pengamatan
atas gejala-gejala yang bersifat khusus.
11
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Pengetahuan pemilih di Kabupaten Sikka tentang politik/pemilu
Secara akademis, pengetahuan pemilih atau warga masyarakat di
Kabupaten Sikka mengenai politik dan pemilu sebagai salah satu turunan
langsung dari demokrasi modern ibarat merupakan sebuah barang yang mahal
harganya. Karena terlampau mahal, barang ini sulit dijangkau oleh
masyarakat kebanyakan. Tidak ada satupun informan yang dapat secara detail
menjelaskan tentang apa itu politik, apa itu demokrasi, dan apa itu pemilu
sebagai salah satu wujud tertinggi dari pelembagaan demokrasi modern.
Apa yang disebutkan dalam alinea sebelumnya ditemukan ketika
penelitian ini berlangsung. Dari 187 informan yang diminta informasinya,
tidak ada satu pun informan yang dapat menjelaskan secara utuh, sistematis,
dan terstruktur tentang apa itu politik dan pemilu. Padahal, secara ideal,
pengetahuan secara utuh, sistematis, dan terstruktur mengenai politik dan
pemilu sudah pasti dibutuhkan dalam pelembagaan demokrasi modern. Paling
tidak, pengetahuan tersebut dapat menjadi salah satu rujukan utama dalam
pengambilan keputusan politik. Sebuah hal mendasar dalam konteks tersebut
yang absen dari pengetahuan para pemilih yang dijadikan informan adalah
pengetahuan bahwa politik dilakukan untuk sebuah bonum commune
(kebaikan bersama), eudaimonia (kehidupan yang baik dari setiap
warganegara). Ketika pengetahuan tentang hal tersebut tidak dimiliki,
12
dampaknya bisa terjadi pada keterampilan mereka dalam mengelola semua
isu yang terdapat dalam pemilu untuk menjatuhkan keputusan politik.
Akibatnya, para pemilih hampir selalu terjebak oleh kepentingan sempit
dalam urusan politik dan bukannya memiliki kesadaran untuk kepentingan
yang lebih luas terlebih dahulu. Batas antara kepentingan privat dan
kepentingan publik menjadi sangat kabur karena kedua entitas tersebut selalu
dipertukarkan satu sama lain.
Contoh
konkret
tentang
absennya
pengetahuan
tentang
politik/pemilu adalah semua informan yang dimintai keterangannya langsung
menjawab pada dasar pijakan atau rujukan yang dipakai dalam menjatuhkan
keputusan politik ketika mengikuti pemilihan umum pada tahun 2014, tanpa
terlebih dahulu membicarakan tentang substansinya, yaitu apa pemahaman
mendasarnya tentang poltik dan pemilu. Bahkan, di beberapa tempat tertentu,
peneliti dan asisten peneliti diminta untuk meninggalkan lokasi penelitian
sebab para informan masih dihantui oleh trauma G-30-S. Sebagai misal, di
daerah Lere, Egon Gahar, Kecamatan Mapitara, para informan mengalami
ketakutan kalau saja setelah mereka memberikan informasi, mereka akan
mengalami nasib yang sama dengan orang-orang yang menjadi korban G-30S. Di desa Bola, Kecamatan Bola, persis di kantor desa, para stafnya tidak
bersedia memberikan informasi dan atau diambil gambar mereka. Menurut
ceritanya, mereka masih trauma karena pernah dikibuli oleh seorang
wartawan gadungan yang menipu mereka. Apalagi pada saat tersebut, ibu
kepala desa sedang bertugas keluar. Dalam kasus ini, peneliti akhirnya
13
terpaksa meninggalkan lokasi karena walaupun telah memberikan semua
kartu identitas, termasuk KTP dan semua dokumen pelengkap (surat tugas)
dari lembaga asal peneliti dan KPU Sikka, para staf tersebut tetap tidak
berkenan memberikan informasi.
Masih tentang pengetahuan mengenai politik dan partai politik, dari
semua informan, tidak ada satu pun yang memberikan jawaban bahwa
rujukan pilihannya adalah partai politik. Padahal, literarur ilmu politik
menyebutkan bahwa pemimpin formal dalam demokrasi modern harus lahir
dari partai politik. Artinya, rujukan partai politik harus menjadi rujukan yang
pertama dan terutama di dalam menjatuhkan keputusan politik. Semua
rujukan yang lain boleh dipakai sepanjang tidak menjadi rujukan pertama,
apalagi yang terutama.
Salah satu contoh yang dapat diberikan di sini adalah informasi
dari ibu Yuventa di Maumere,
“ saya memilih …karena dia adalah tetangga saya dan sudah
seperti keluarga sendiri…”
Atau seperti diungkapkan oleh bapak Henri,
“kami lebih banyak menjatuhkan keputusan karena faktor
kedekatan, bukan karena pemahaman politik…”
14
4.2. Keterampilan pemilih di Kabupaten Sikka dalam mengelola isu yang
ada pada pemilihan umum tahun 2014 di Kabupaten Sikka dalam
pengambilan keputusan politik yang tepat atas pilihannya
Dari penelitian ini, ditemukan dua buah hal yang menarik secara
akademis. Pertama, dengan pengetahuan tentang politik dan pemilu yang
rendah, masyarakat nyaris tidak memiliki sama sekali keterampilan dalam
mengelola semua isu yang terjadi selama pemilu berlangsung, termasuk di
dalamnya adalah dalam menjatuhkan keputusan politik. Urusan politik dilihat
sebagai
sebuah
urusan
privat
yang
tidak
perlu
membutuhkan
pertanggungjawaban secara publik. Hampir semua informan menyebutkan
bahwa rujukan utama yang dipakai dalam menjatuhkan keputusan/pilihan
politik dalam pemilihan umum adalah faktor kedekatan. Yang dimaksudkan
dengan kedekatan dalam konteks ini adalah kedekatan secara kekeluargaan,
kedekatan secara emosional, dan kedekatan karena hubungan pertemanan.
Seperti disebutkan oleh bapak Yoseph Joka, Kepala Desa Paga, Kecamatan
Paga,
“kami di sini masih tradisional, sehingga keterampilan kami
seperti itu juga. Kami di sini mau kalah atau menang yang
penting kami punya keluarga…”
Alasan kedekatan seperti disebutkan di atas dengan tidak adanya
distingsi di antara urusan privat dan urusan public pada akhirnya cukup
potensial bermuara pada keadaan yang berbanding terbalik dengan cita-cita
politik/pemilu itu sendiri. Contoh konkretnya adalah sebuah konflik laten
15
yang terjadi di desa Hewokloang, kecamatan Hewokloang. Di desa ini,
menurut dua orang informan berpendidikan, masih terdapat konflik di antara
dua belah pihak yang sesungguhnya berasal dari keluarga besar yang sama.
Menurut mereka, konflik ini masih dapat terjadi kembali jika tidak dapat
ditangani secara tuntas oleh semua pihak yang harus turut serta di dalamnya,
khususnya pihak eksekutif dan yudikatif. Menurut kedua informan yang asli
berasal dari Hewokloang tersebut, salah satu sebab utama terjadinya konflik
tersebut adalah perhelatan pemilukada pada periode sebelumnya yang
melebar ke berbagai urusan politik yang lain, termasuk pada pemilu yang
lalu.
Selain faktor kedekatan, factor lainnya adalah factor figur. Akan
tetapi, hanya 10 informan yang menyebutkan rujukan ini. Yang dimaksudkan
dengan figur dalam konteks ini adalah visi dan misi serta apa yang telah
dilakukan selama ini oleh seorang kandidat (baik presiden/wakil presiden
maupun anggota legislatif). Rujukan ini seperti diungkapkan oleh bapak
Hengky di Paga,
“salah satu faktor yang kami jadikan rujukan dalam menjatuhkan
pilihan adalah figur seseorang. Alasan ini memengaruhi kami
dalam bertindak…”
Kedua, walaupun tidak di-back up oleh pengetahuan tentang politik
dan pemilu yang memadai, namun di beberapa tempat di kabupaten Sikka,
warga pemilih dapat memiliki keterampilan yang relatif bagus. Bahkan,
mereka juga pada akhirnya dapat tetap memiliki tingkat partisipasi politik
16
yang sangat tinggi, bahkan hampir mencapai 100 %. Hal ini dapat terjadi
karena para warga pemilih ini masih relatif kuat dalam memegang dan
menjalankan suara hatinya. Factor ini menjadi sangat menarik sebab rujukan
suara hati yang sebahagian besar dipakai oleh masyarakat yang berasal dari
stara sosial yang tingkat pendidikannya dari Sekolah Menengah Atas (SMA)
ke bawah ini pada akhirnya menjadikan para warga pemilih ini memiliki
kedewasaan yang tinggi dalam kehidupan politik. Para warga pemilih ini
dapat tetap menjalankan aktivitasnya dalam kehidupan politik secara sangat
aktif sambil pada saat yang bersamaan aktivitasnya tersebut tidak pernah
mengganggu interaksi mereka dalam kehidupan social sehari-harinya.
Sebagai contoh, perbedaan pilihan di antara sepasang suami isteri di dalam
menjatuhkan keputusan politik tidak pernah menjadikan mereka berdua
berada di dalam keadaan bertikai. Begitu pula dengan warga pemilih lainnya.
Sebahagian besar warga pemilih yang memandang kehidupan politik,
demokrasi dan pemilu dengan menggunakan teropong suara hatinya ini
terdapat di Kecamatan Waiblama (desa Ilin Medo) dan Kecamatan Palue (desa
Reruwairere). Pada masyarakat ini, pengetahuan politik memang penting akan
tetapi belum (bukan) menjadi sesuatu yang mendesak untuk segera dimiliki.
Ketajaman penglihatan dengan menggunakan suara hati adalah hal yang
pertama dan terutama.
Hal ini seperti diungkapkan oleh bapak Charles di desa
Reruwairere,
17
“masyarakat di sini menggunakan suara hati, mereka memiliki
partisipasi politik yang tinggi, sangat transparan, terbuka satu
sama lain dan sangat susah dibeli. …hal tersebut dapat terjadi
karena tata nilai adat, nilai-nilai gereja dan aturan-aturan dari
pihak pemerintah yang betul-betul ditaati…”
Hal yang sama juga terjadi di desa Ilin Medo, seperti diungkapkan
oleh ibu Emilia Contesa,
“benar orang di sini menggunakan suara hati. Hal ini selalu
dipakai dalam menjatuhkan keputusan, misalnya dalam pemilu.
Kadang-kadang suami isteri tidak mengetahui keputusan apa
yang diambil oleh pasangan masing-masing. Tidak ada
pemaksaan satu sama lain sebab kami menghormati kesamaan di
antara kami…hal ini terjadi karena kami sangat menghormati
tiga tungku, yang terdiri atas adat, gereja dan pemerintah…”
Secara khusus, bapak Fransiskus Xaverius dan ibu Yosefina Nona
menjelaskan bahwa hukum adat di Tana Ai sangat menghormati hubungan
dengan alam semesta, penjagaan terhadap lingkungan hidup. Hukum adat
juga menjaga makanan/minuman yang selalu dikonsumsi. Makanan/minuman
yang
diberikan
kepada
isteri
dan
anak-anak
harus
merupakan
makanan/minuman yang benar.
Apa yang terjadi pada kedua desa di dua kecamatan tersebut secara
tidak langsung mengaplikasikan Teori Relasi Perilaku Politik Sehat LPTK
(The LPTK’s Healthy Political Behaviour Relation Theory), (Petrus Yulius,
18
2015). Ditemukan bahwa masyarakat (para warga pemilih) di kedua desa
tersebut
membangun
perilaku
politik
sehat
individu
dengan
cara
memperhatikan pemilihan jenis makanan/minuman, belajar mendengarkan
suara hati dan pesan-pesan tubuh, berjuang membangun relasi dengan Allah,
sesama dan alam semesta dalam membentuk pola pikir, dan emosi. Pada
akhirnya, setelah melakukan beberapa aktivitas tersebut secara bersamaan dan
berkesinambungan, mereka dapat membentuk perilaku politik yang baik.
Dari realita tersebut, terbukti bahwa Teori Relasi Perilaku Politik Sehat LPTK
dibangun dari asumsi teoretis bahwa sehat tidaknya perilaku politik seseorang
bergantung pada keseimbangan relasional seseorang dalam hubungannya
dengan Allah, diri sendiri, sesama, dan alam semesta. Keseimbagan relasional
tersebut pada gilirannya akan menghadirkan sebuah pemenuhan tuntutan
eksistensial seseorang yang seimbang dengan keutuhan jiwa dan tubuhnya.
Selain beberapa elaborasi tersebut, dari sekian banyak warga
pemilih yang menjadi informan, tidak ada satu pun yang dapat memberikan
bukti materil bahwa terdapat oknum-oknum tertentu yang menggunakan
keterampilan yang berbanding terbalik dengan aturan formal yang telah
ditetapkan oleh Undang-undang mengenai pemilu. Sebagai misal, tidak ada
seorangpun yang sanggup memberikan bukti tentang adanya serangan fajar
dan atau money politik.
19
4.3. Cara pemilih di Kabupaten Sikka mempertahankan nilai-nilai yang ada
pada dirinya, termasuk nilai-nilai kesetaraan dan keadilan yang diyakini
pemilih dalam menentukan pilihannya
Dari semua informan, didapatkan informasi bahwa hal utama yang
dipakai oleh warga pemilih di Kabupaten Sikka untuk mempertahankan nilainilai yang diyakininya adalah dengan tetap melestarikan nilai-nilai luhur yang
telah berlangsung selama ini dalam tiga aspek.
Pertama adalah dalam hal adat. Sebagai misal, di daerah Tana Ai, ada
ungkapan Tiga Tungku untuk penyebutan terhadap nilai-nilai adat, nilai-nilai
gereja dan aturan-aturan dari pihak pemerintah. Di desa Ilin Medo,
Kecamatan Waiblama, sudah ada Peraturan Desa Tiga Tungku, yang secara
khusus mengatur tentang hal tersebut. Hal ini seperti diungkapkan oleh Bapak
Kepala Desa Ilin Medo, bapak Damianus Gobang,
“ Kami di sini memiliki perdes tiga tungku, yaitu adat, agama
dan pemerintah. Dengan perdes tersebut, kami tidak bisa dibeli
dengan duit. Hukum adat kami masih kuat, kami masih punya
“pie”, pemali (maksudnya terhadap imbalan duit). Oleh karena
itu, jangan janji yang muluk (maksudnya para politisi sebaiknya
tidak perlu memberikan janji-janji yang muluk-muluk). Kami
selalu memilih yang polos…”
Kedua, seperti telah disebutkan sebelumnya di daerah Waiblama,
warga pemilih di Kabupaten Sikka juga masih menggunakan ajaran-ajaran
dari lembaga agama dalam melestarikan nilai-nilai yang diyakninya. Peran
20
lembaga agama, khususnya lembaga agama Katolik dan Islam sebagai dua
buah lembaga agama yang memiliki umat terbanyak di kabupaten ini dalam
membantu memberikan pencerahan terhadap umatnya masih sangat urgen.
Nilai-nilai kesetaraan dan keadilan sebagai dua buah nilai yang selalu
diajarkan oleh kedua agama ini tetap dijadikan patokan oleh para pemilih
dalam menjatuhkan keputusan politiknya.
Sebagai misal, hal ini disampaikan oleh Drs. Petrus Tenda, Kepala
Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda,
“peran Gereja sangat diperlukan di sini, dalam hampir semua
aspek kehidupan. Bahkan, di sini, Gereja yang memberantas judi.
Tentara dan pemerintah juga berjudi, sehingga masyarakat tidak
mendengarkan mereka.”
Ketiga, unsur terakhir yang dijadikan rujukan oleh para pemilih
untuk dapat tetap mempertahankan nilai-nilai yang diyakininya adalah
dengan melaksanakan apa yang dianjurkan/disosialisasikan oleh pihak
pemerintah. Sebagai misal, seperti diungkapkan oleh ibu Paternus, di
Maumere, Kecamatan Alok,
“sosialisasi
dari
KPU
sungguh
sangat
penting
untuk
dilaksanakan dari waktu ke waktu. Sosialisasi tersebut sangat
berguna bagi kami dalam menjatuhkan keputusan…”
21
BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5. 1. SIMPULAN
Beberapa simpulan yang dapat dtemukan dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1.
Secara akademis, pengetahuan pemilih untuk sebahagian besar
masyarakat di Kabupaten Sikka tentang politik/pemilihan umum
(pemilu) masih berada dalam tingkatan yang kurang memadai.
Salah satu hal yang sangat menonjol adalah belum dapat dibuat
distingsi antara kepentingan publik dan kepentingan privat dalam
perhelatan pemilihan umum.
2.
Keadaan sebagaimana disebutkan dalam nomor pertama pada
gilirannya langsung berpengaruh terhadap keterampilan pemilih di
Kabupaten Sikka dalam mengelola isu yang ada pada pemilu tahun
2014 di Kabupaten Sikka dalam pengambilan keputusan politik
yang tepat atas pilihannya. Akibatnya, terdapat relatif banyak
keterampilan pemilih yang cukup potensial bermuara pada keadaan
yang berbanding terbalik dengan cita-cita politik/pemilu itu sendiri.
Namun, sebuah hal yang menarik secara akademis adalah
keterampilan pemilih di beberapa tempat di Kabupaten Sikka juga
banyak yang ditentukan oleh factor suara hati. Factor ini di
antaranya sangat mengedepankan nilai-nilai positif seperti nilai
22
kejujuran dan kesetaraan. Akibatnya, keterampilan pemilih menjadi
relatif bagus dalam mengelola setiap isu yang terdapat dalam
pemilu.
3.
Untuk dapat mempertahankan nilai-nilai positif seperti nilai-nilai
kesetaraan dan keadilan yang diyakini pemilih dalam menentukan
pilihannya, pemilih di Kabupaten Sikka tetap melembagakan nilainilai yang mereka dapatkan dari beberapa aspek sekaligus, yaitu
aspek adat, agama dan pemerintah.
5. 2. REKOMENDASI
Beberapa rekomendasi yang dapat diberikan adalah sebagai
berikut:
1.
Perlu
ada
sosialisasi,
bahkan
pendidikan
politik
secara
berkesinambungan dan terintegrasi mengenai politik/pemilu demi
kepentingan Negara.
2.
Sosialisasi dan pendidikan politik tersebut sebaiknya meng-cover
secara sekaligus aspek kognisi, afeksi dan psikomotorik dari
politik/pemilu. Dalam sosialisasi ini, eksistensi Yang Ilahi tidak
pernah boleh dikesampingkan.
3.
Sosialisasi dan pendidikan politik tersebut sebaiknya bukan saja
dilakukan oleh pihak pemerintah tetapi juga pihak adat setempat
dan pihak agama.
23
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Agustino, Leo. 2009. Pilkada Dalam Dinamika Politik Lokal. Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.
Budiardjo, Miriam. 2009. Dasar-dasar Ilmu Politik. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Denzin, K. Norman & Licoln, K. Yvonna. 1994. Handbook of Qualitative
Research. SAGE Publications, inc. California.
Duverger Maurice 1982, Sosiologi Politik. Rajawali Pers, Jakarta.
Horton, Paul B. 1999. Sosiologi. PT. Penerbit Erlangga Mahameru, Jakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, Departemen Pendidikan
Nasional, (2008). Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Kartono, K. 1988. Pemimpin dan Kepemimpinan. CV Rineka Cipta, Jakarta.
Maran Raga, Rafael. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. PT Rineka Cipta, Jakarta.
Nawawi, H.Handari. 2003. Metode Penelitian Bidang Sosial. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Poerwandari, Kristi. E. 2009. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku
Manusia. Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan
Psikologi Universitas Indonesia. Depok.
S.P. Siagian. 1994. Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan. Haji Masagung,
Jakarta.
Surbakti, Ramlan.1999. Memahami Ilmu Politik. Gramedia widiasarana, Jakarta.
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Varma S. P. 2001. Teori Politik Modern. Rajawali Pers, Jakarta.
Wutun, Rufus Patty (eds). 2014. Manusia Sehat dalam Modus To Have dan To
Be. Penerbit GrafikaMardiyuana Bogor.
24
Yulius, Petrus. Kekuasaan Dalam Rumah Tangga dan Kesehatan Janin, dalam
Petrus Yulius (eds). 2015. Konsepsi Ketahanan Diri: Malaria. Penerbit
GrafikaMardiyuana Bogor.
Dokumen:
http://carapedia.com/pengertian_definisi_pengaruh_info2117.html (di akses pada
tanggal 14 februari 2013 pukul 10:48 Wita)
25
Download