5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Komunikasi Radio Analog

advertisement
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Sistem Komunikasi Radio Analog
Sistem komunikasi radio analog adalah sistem komunikasi yang digunakan
untuk mentransmisikan sinyal informasi yang berupa sinyal analog. Komponen
utama sistem komunikasi radio analog adalah pemancar radio analog, media
transmisi berupa udara dan penerima radio analog. Bagan sistem komunikasi
radio analog dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Antena Pemancar
Antena Penerima
Media Transmisi
(Udara)
Input
sinyal
Pemancar Radio
Analog
Penerima Radio
Analog
Output
sinyal
Gambar 2.1 Bagan Sistem Komunikasi Radio Analog
Sumber: Sudarsana (2008)
2.2
Pengertian Modulasi
Modulasi adalah suatu proses dimana properti atau parameter dari suatu
gelombang divariasikan secara proporsional terhadap gelombang yang lain.
Parameter yang diubah tergantung pada besarnya modulasi yang diberikan. Proses
modulasi membutuhkan dua buah sinyal yaitu sinyal pemodulasi yang berupa
sinyal informasi yang dikirim, dan sinyal carrier dimana sinyal informasi tersebut
ditumpangkan. (Krauss, H.L, Raab, F.H. 1990)
Modulasi memiliki dua macam jenis, yaitu modulasi sinyal analog dan
modulasi sinyal digital. Contoh modulasi sinyal analog adalah modulasi frekuensi
(FM). Tujuan dilakukannya proses modulasi antara lain :
1.
Untuk memungkinkan multiplexing. Jika sebuah media transmisi dapat
digunakan oleh beberapa kanal, maka modulasi dapat digunakan untuk
6
menempatkan masing-masing kanal pada wilayah spektrum frekuensi yang
berbeda.
2.
Untuk mengatasi keterbatasan peralatan. Pembuatan peralatan pengolahan
sinyal (Signal Processing Devices) seperti filter dan amplifier memiliki
tingkat kesulitan yang berbeda untuk spektrum frekuensi tertentu. Untuk
itu modulasi dapat digunakan untuk menempatkan sinyal informasi ke
wilayah spektrum tertentu, dimana pembuatan peralatan pengolahan
sinyalnya menjadi paling mudah.
3.
Untuk memungkinkan pembagian frekuensi. Modulasi memungkinkan
beberapa stasiun radio dan televisi untuk melakukan siaran secara
bersamaan menggunakan frekuensi sinyal pembawa yang berbeda.
sehingga tidak akan terjadi interferensi antar stasiun. Di sisi penerima,
dengan adanya modulasi, maka dapat dilakukan pemilihan terhadap
stasiun siaran yang memang ingin didengarkan atau ditonton. Contohnya
adalah siaran radio dan televisi.
2.3
Modulasi Frekuensi
Sistem modulasi yang digunakan dalam sistem ini adalah sistem modulasi
frekuensi, dimana dalam sistem FM (frequency modulation) amplitudo sinyal
pembawa (carrier) dibuat konstan sedangkan frekuensi sinyal pembawanya
berubah-ubah berbanding dengan amplitudo dari sinyal yang memodulasinya.
Seperti terlihat pada Gambar 2.2, mulai t0 sampai dengan t1 tidak terjadi
pemodulasian sinyal sehingga tampak pada gambar frekuensi carrier adalah
konstan. Pada saat t1 sampai dengan t2 baru tampak terjadi pemodulasian.
Pemodulasian itu sendiri terjadi disebabkan oleh sinyal informasi mengayun
kearah positif, mengakibatkan perubahan frekuensi sinyal pembawa menjadi naik.
7
t0
t1
t2
Sinyal informasi
Frekuensi Carrier
Sinyal informasi
Frekuensi carrier
termodulasi
Gambar 2.2 Pemodulasian Frekuensi
Sumber: Sudarsana (2008)
Frekuensi sinyal pembawa mencapai maksimum pada saat sinyal
informasi mencapai puncak positif dan sebaliknya frekuensi sinyal pembawa akan
mencapai minimum saat sinyal informasi mencapai puncak negatif. Jadi bisa
disimpulkan semakin tinggi amplitudo sinyal informasi maka perubahan frekuensi
dari sinyal carrier juga semakin tinggi, sebaliknya saat amplitudo sinyal informasi
berada pada level negatif maka frekuensi dari sinyal carrier juga semakin rendah.
Hubungan antara perubahan frekuensi dari gelombang pembawa, perubahan fasa
dari gelombang pembawa, dan frekuensi sinyal modulasi dinyatakan sebagai
indeks modulasi (m) dengan :
m
perubahan frekuensi (peak to peak Hz)
……...............................(2.1)
frekuensi modulasi (Hz)
Sinyal termodulasi frekuensi dihasilkan pada tingkat daya rendah yang
kemudian diperkuat dengan beberapa deretan penguat.
8
2.4
Mikrokontroler ATMega8535
Perkembangan teknologi telah maju dengan pesat dalam perkembangan
dunia elektronika, khususnya dunia mikroelektronika. Penemuan silikon
menyebabkan bidang ini mampu memberikan sumbangan yang amat berharga
bagi perkembangan teknologi modern. Atmel sebagai salah satu vendor yang
mengembangkan dan memasarkan produk mikroelektronika telah menjadi suatu
standar teknologi bagi para desainer sistem elektronika masa kini. Dengan
perkembangan terakhir, yaitu generasi AVR (Alf and Vegard’s Risc processor),
para desainer sistem elektronika telah diberi suatu teknologi yang memiliki
kapabilitas yang amat maju, tetapi dengan biaya ekonomis yang cukup minimal.
Mikrokontroler AVR memiliki arsitektur RISC 8 bit, di mana semua
instruksi dikemas dalam kode 16-bit (16-bits word) dan sebagian besar instruksi
dieksekusi dalam 1 siklus clock, berbeda dengan instruksi MCS51 yang
membutuhkan 12 siklus clock yang menyebabkan dalam frekuensi kerja yang
sama, mikrokontroler AVR bekerja sampai 12 kali lebih cepat bila dibandingkan
dengan mikrokontroler seri MCS51. Tentu saja itu terjadi karena kedua jenis
mikrokontroler tersebut memiliki arsitektur yang berbeda. AVR berteknologi
RISC (Reduced Instruction Set Computing), sedangkan seri MCS51 berteknologi
CISC (Complex Instruction Set Computing). Secana umum, AVR dapat
dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu keluarga ATtiny, keluarga AT90Sxx,
keluarga ATMega,dan AT86RFxx. Pada dasarnya yang membedakan masingmasing kelas adalah memori, peripheral, dan fungsinya. Dari segi arsitektur dan
instruksi yang digunakan hampir sama.
Kapabilitas detail dari mikrokontroler AVR ATMega8535 ini adalah :
1.
Mikrokontroler AVR 8 bit berdaya rendah dan performa tinggi.
2.
Arsitektur RISC
a.
130 Instruksi standar, rata-rata dieksekusi dalam satu clock cycle
b.
32 x 8 Register standar
c.
Dapat bekerja sampai 16 MIPS (Mega Instruction Per Second) pada
16 MHz
9
d.
3.
Memiliki 2 buah multiplier
Memori Program dan Memori Data
a.
8 K Bytes In System Self Programmable Flash yang mampu ditulis
dan baca sampai 10,000 kali.
b.
512 Bytes EEPROM yang mampu ditulis dan baca sampai 100,000
kali.
c.
4.
512 Bytes Internal SRAM.
Periperal dan Fitur
a.
Dua Timer/Counter 8-bit dengan prescaler terpisah dan compare
mode.
b.
Satu Timer/Counter 16-bit dengan prescaler terpisah, compare mode,
dan capture mode.
c.
Real Time Counter dengan osilator terpisah.
d.
Empat channel PWM.
e.
8 Channel ADC, dengan tingkat ketelitian 10-bit.
f.
Serial USART yang dapat diprogram dengan kecepatan sampai 2,5
Mbps.
g.
Komparator analog.
h.
Memiliki 32 buah saluran I/O yaitu port A, port B, port C, port D.
Bahasa assembler pada AVR ATMega8535 :
Bahasa assembler berguna untuk mengubah penunjuk kode assembly.
Berikut adalah daftar beberapa sintaks kode assembler yang terdapat pada
ATMega8535.
1.
.cseg (code segment) kode ini berguna sebagai penunjuk bahwa kode atau
ekspresi dibawahnya diletakkan pada memori program. Kode ini biasanya
diletakkan setelah kode .deseg
2.
.db (data byte) kode ini memungkinkan kita dapat meletakkan konstanta
seperti serial number, dan lookup table di memory program pada
alamat tertentu.
3.
.dw (data word) kode ini seperti data byte, tetapi dalam ukuran word.
10
4.
.org digunakan untuk mengeset program counter pada alamat tertentu
5.
.byte digunakan untuk inisialisasi besar byte yang digunakan pada SRAM
untuk label tertentu.
6.
.dseg (data segment) digunakan sebagai penunjuk bahwa kode
dibawahnya berfungsi untuk melakukan seting SRAM.
7.
.def (define) kode ini memungkinkan suatu register dapat didefinisikan.
8.
.equ digunakan untuk memberi nama suatu konstanta yang tidak dapat
berubah.
9.
.set sama seperti .equ tetapi konstantanya dapat diubah.
10.
.endm (end macro) untuk mengakhiri macro.
11.
.include untuk memasukkan sebuah file kedalam program agar program
lebih cepat dimengerti atau memisahkan kode dalam dua file terpisah.
12.
.device sebagai penunjuk jenis AVR yang digunakan.
13.
.exit sebagai penunjuk agar berhenti melakukan assembly.
14.
.list berguna membangkitkan file list.
15.
.listmac berguna agar penambahan macro ditampilkan pada file list yang
dibangkitkan.
2.4.1
Konfigurasi pin pada ATMega8535
Gambar 2.3 Konfigurasi Pin Pada ATMega8535
Sumber : www.datasheetcatalog.com (2011)
11
Konfigurasi pin ATMega8535 bisa dilihat pada Gambar 2.3. Dari gambar
tersebut dapat dijelaskan secara fungsional konfigurasi pin ATMega8535 sebagai
berikut :
1.
VCC merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan catu daya.
2.
GND merupakan pin ground.
3.
Port A (PA0 sampai PA7) merupakan pin I/O dua arah dan pin masukan
ADC channel 0 sampai channel 7.
4.
Port B (PB0 sampai PB7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi
khusus yang mencangkup Timer/Counter, komparator analog, ISP (In
System Programmer) dan SPI (Serial Peripheral Interface).
5.
Port C (PC0 sampai PC7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi
khusus yang mencangkup TWI (Two Wire Interface), komparator analog,
channel PWM (Pulse Width Modulation), dan Timer Oscillator.
6.
Port D (PD0 sampai PD7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi
khusus yang mencakup komparator analog, interupsi eksternal, dan
komunikasi serial USART.
7.
RESET merupakan pin yang digunakan untuk me-reset mikrokontroler.
8.
XTAL 1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock eksternal.
9.
AVCC merupakan pin masukan tegangan catu daya untuk ADC.
10.
AREF merupakan pin masukan tegangan referensi ADC
2.4.2
Register dan instruksi pada mikrokontroler ATMega8535
Mikrokontroler ATMega8535 memiliki banyak sekali register-register
perintah yang dapat digunakan dan diprogram agar berjalan sesuai keinginan
perancang sistem. Setiap register memiliki fungsi masing-masing yang telah
spesifik. Mikrokontroler ini memiliki 32 x 8-bit register yang dapat digunakan.
Pada pemprograman berbasis assembler, mikrokontroler ATMega8535
memiliki banyak sekali instruksi yang dapat digunakan. Instruksi ini berguna
untuk menciptakan baris-baris program yang tertata sesuai dengan algoritma
perancang sistem, sehinga mikrokontroler ini dapat berjalan dan berfungsi sesuai
dengan keinginan. Pemprograman tingkat assembler memiliki 130 buah instruksi
12
baku yang dapat digunakan. Tiap instruksi akan mempengaruhi kondisi register
yang ada pada mikrokontroler.
2.5
Penerima Radio Terintegrasi
Sebuah IC penerima radio terintegrasi yang diproduksi oleh Silan
Microelectronics Joint-Stock dengan nama RX-2B merupakan sebuah chip yang
di dalamnya terdapat penguat RF, mixer, osilator lokal, penguat IF, dan
demodulator yang dapat digunakan untuk menerima sinyal AM dan FM sekaligus.
Dalam perancangan sistem penerima radio, RX-2B dipilih karena harganya yang
murah namun dengan kualitas yang cukup baik. Blok diagram RX-2B ditunjukkan
dalam Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Blok Diagram RX-2B
Sumber : http://www.ic-on-line.cn/RX-2B (2011)
IC RX-2B ini memiliki 5 fungsi kontrol yang biasa digunakan pada mobil
remote kontrol yakni maju, mundur, kiri, kanan, dan turbo. Konfigurasi Pin IC
RX-2B dapat dilihat pada Gambar 2.5.
13
Gambar 2.5 Konfigurasi RX-2B
Sumber : http://www.ic-on-line.cn/RX-2B (2011)
Penjelasan masing-masing pin :
1.
VO2 merupakan pin inverter 2 untuk output amplifier.
2.
GND merupakan pin ground.
3.
SI merupakan input untuk sinyal encoding.
4.
OSCI merupakan pin input osilator.
5.
OSCO merupakan pin ouput osilator.
6.
RIGHT merupakan pin output yang berfungsi untuk membelokkan kontrol
ke arah kanan.
7.
LEFT merupakan pin output yang berfungsi untuk membelokkan kontrol
ke arah kiri.
8.
ROB merupakan pin yang berfungsi untuk menonaktifkan fungsi dari pin
RIGHT. Pin ini akan aktif apabila tersambung ke ground.
9.
LDB merupakan pin yang berfungsi untuk menonaktifkan fungsi dari pin
LEFT. Pin ini akan aktif apabila tersambung ke ground.
10.
BACKWARD merupakan pin output yang berfungsi untuk menggerakkan
kontrol ke arah belakang (mundur).
11.
FORWARD merupakan pin output yang berfungsi untuk menggerakkan
kontrol ke arah depan (maju).
12.
TURBO merupakan pin output yang berfungsi untuk menambah kecepatan
kontrol.
13.
VDD merupakan pin power supply.
14
14.
VI1 merupakan pin inverter 1 untuk input amplifier.
15.
VO1 merupakan pin inverter 1 untuk output amplifier.
16.
VI2 merupakan pin inverter 2 untuk input amplifier.
Untuk pengaplikasian IC RX-2B yang dikombinasikan dengan penerima
radio FM dapat dilihat pada Gambar 2.6.
Gambar 2.6 Konfigurasi IC RX-2B yang Dikombinasikan Dengan RF Circuit
Sumber : http://www.ic-on-line.cn/RX-2B (2011)
15
2.6
Penerima Radio FM
Gambar 2.7 Blok Diagram Sistem Penerima FM
Sumber : http://www.tutorvista.com/fm-radio-receiver (2011)
Penjelasan masing-masing bagian :
1.
Antena berfungsi menangkap sinyal-sinyal bermodulasi yang berasal dari
antena pemancar.
2.
Penguat IF berfungsi menguatkan Frekuensi Intermediet (IF) sebelum
diteruskan ke blok limiter.
3.
Limiter (pembatas) berfungsi meredam amplitudo gelombang yang sudah
termodulasi (sinyal yang dikirim oleh pemancar) agar terbentuk sinyal FM
murni (beramplitudo rata).
4.
Penguat RF berfungsi menguatkan sinyal yang ditangkap oleh antena
sebelum diteruskan ke blok Mixer.
5.
Mixer (pencampur) berfungsi mencampurkan kedua frekuensi yang berasal
dari penguat RF dan Osilator Lokal.
6.
Detektor FM berfungsi mendeteksi perubahan frekuensi bermodulasi,
menjadi sinyal informasi (Audio).
7.
De-emphasis berfungsi menekan frekuensi audio yang besarnya berlebihan
yang dikirim oleh pemancar.
8.
Penguat audio berfungsi menyearahkan sinyal AF serta meningkatkan
level sinyal audio dan kemudian diteruskan penguat AF ke suatu pengeras
suara.
16
9.
OSC (Osilator Lokal) berfungsi membangkitkan getaran frekuensi yang
lebih tinggi dari frekuensi sinyal keluaran RF. Dimana hasilnya akan
diteruskan ke blok Mixer.
10.
Speaker (pengeras suara) berfungsi mengubah sinyal atau getaran listrik
berfrekuensi AF menjadi getaran suara yang dapat didengar oleh telinga
manusia.
2.6.1
Penguat RF
Penguat RF berfungsi untuk memperkuat sinyal yang diterima oleh antena,
agar memiliki nilai yang cukup kuat untuk diumpankan ke mixer. Penguat RF
digunakan untuk memberikan penguatan dan selektivitas ujung depan (front end)
pada pesawat-pesawat penerima radio untuk memisahkan sinyal-sinyal yang
masuk dari antena, sehingga didapatkan penyaringan (filtering) band pass yang
tepat yang diperlukan pada penguat-penguat frekuensi antara IF (Intermediate
Frequency) pada pesawat penerima. (Roddy, D. 1992)
2.6.2
Mixer
Mixer merupakan sirkuit elektronik yang digunakan untuk mengkalikan
(mencampur) dua buah sinyal. Keluaran mixer berupa selisih dan penjumlahan
antara kedua buah sinyal tersebut. (Roddy, D. 1992)
2.6.3
Osilator lokal
Osilator lokal memberikan sinyal yang dicampur dengan sinyal RF yang
datang dalam mixer untuk menghasilkan sinyal frekuensi antara intermediat.
Osilator lokal harus bebas dari harmonik karena frekuensi osilator lokal
menentukan frekuensi jumlah atau frekuensi selisih yang akan dihasilkan pada
keluaran pencampuran/mixer, maka frekuensi osilator lokal harus stabil karena
penalaan penerima tidak akan mengalami pergeseran dengan adanya perubahan
temperatur, tegangan catu daya, dan sebagainya. (Roddy. 1992)
17
2.6.4
Penguat IF
Penguat IF berfungsi sebagai penguat sinyal IF yang dihasilkan mixer.
Penguat ini dilengkapi dengan filter Band Pass yang berada pada frekuensi selisih
keluaran mixer, sehingga dapat memberikan penguatan tetap pada band frekuensi
tersebut. Hal ini memberikan keuntungan dalam hal selektifitas dan mampu
mengurangi derau. (Roddy, D. 1992)
2.6.5
Demodulator
Untuk mendapatkan kembali sinyal informasi, maka pada penerima radio
diperlukan
proses
demodulasi.
Demodulasi
adalah
suatu
teknik
untuk
memisahkan sinyal informasi dari sinyal pembawa yang termodulasi. Sinyal
informasi diperoleh dengan cara mendeteksi perubahan frekuensi sinyal carrier.
Jika frekuensi carrier lebih tinggi dari frekuensi tengah, maka level
tegangan sinyal output demodulator berada pada nilai maksimalnya, jika frekuensi
carrier lebih rendah dari frekuensi tengah, maka level tegangan output
demodulator berada pada nilai minimalnya.
Alat yang digunakan dalam proses demodulasi adalah demodulator. Pada
saat sekarang dengan kemajuan teknologi semikonduktor yang sangat pesat,
kebanyakan demodulator FM yang ada dipasaran telah terintegrasi dalam IC
penerima radio FM. (Roddy, D. 1992)
2.6.6
Filter
Filter (pencampur) berfungsi untuk memisahkan sinyal yang dikehendaki
dari sinyal-sinyal lain yang dipancarkan, dan juga untuk memperkecil pengaruh
noise dan interferensi pada sinyal yang dikehendaki. (Roddy, D. 1992)
2.6.6.1 Low pass filter (LPS)
Low pass filter berfungsi untuk menyaring frekuensi tinggi dari sinyal
yang dipancarkan dan meloloskan frekuensi rendah yang dikehendaki.
Karakteristik dari low pass filter dapat ditunjukkan dalam Gambar 2.8.
18
Gambar 2.8 Karakteristik dari Low Pass Filter
Sumber : Roddy, D. (1992)
Rangkaian dasar dari low pass filter dapat ditunjukkan dalam Gambar 2.9.
Gambar 2.9 Low Pass Filter dasar
Sumber : Roddy, D. (1992)
Nilai Frekuensi yang diloloskan oleh low pass filter yang ditunjukkan
dalam Gambar 2.9, dapat dinyatakan dengan persamaan :
fc 
1
……………………………………….............…..........(2.2)
2RC
dimana :
fc
=
frekuensi cut-off (Hz)
R
=
nilai resistor (ohm)
C
=
nilai kapasitor (farad)
Nilai resistor adalah tetap dan telah terintegrasi dalam RX-2B.
19
2.6.6.2 Band pass filter (BPF)
Band pass filter berfungsi untuk meloloskan frekuensi tengah (pass band)
dari sinyal yang dipancarkan dan menyaring frekuensi yang lainnya. Karakteristik
dari band pass filter dapat ditunjukkan dalam Gambar 2.10.
Gambar 2.10 Karakteristik dari Band Pass Filter.
Sumber : Roddy, D. (1992)
Rangkaian dari band pass filter dapat ditunjukkan dalam Gambar 2.11.
Gambar 2.11 Band Pass Filter
Sumber : Roddy, D. (1992)
Nilai Frekuensi (Bandwidth) yang diloloskan oleh band pass filter yang
ditunjukkan dalam Gambar 2.11, dapat dinyatakan dengan persamaan :
BW 
fo
.………………………………..............................................(2.3)
Q
20
Q
Rp
o L
……………………………………………...........................(2.4)
o  2 f ……………………………………………...........................(2.5)
dimana :
BW
=
bandwidth (Hz)
fo
=
frekuensi tengah/carrier (Hz)
Rp
=
hambatan pararel ekuivalen induktor (ohm)
Q
=
nilai kualitas induktor
o
=
frekuensi pusat/tengah (rad/sec)
L
=
nilai induktansi (Henry)
Untuk mendapatkan nilai Q yang baik pada induktor, maka harus
digunakan kawat yang berdiamerter lebih besar dan panjang lilitan harus lebih
kecil atau sama dengan diameter dari inti.
2.7
Receive Signal Level (RSL)
Salah satu parameter penting dalam sistem transmisi adalah kuat sinyal
dari sinyal yang ditransmisikan. Receive Signal Level (RSL) merupakan level
daya yang diterima oleh piranti penerima. Nilai RSL ini dipengaruhi oleh daya
pancar, jarak, penguatan antena pemancar dan penerima, serta rugi-rugi propagasi
(Roddy. 1990).
Gain, loss dan kuat sinyal biasa dinyatakan dalam desibel (dB), dengan
alasan gain dan loss dalam jalur transmisi yang berjejer (cascade) dapat dihitung
dengan penambahan dan pengurangan yang sederhana. Desibel adalah ukuran dari
selisih atau beda dua besaran daya.
……………………………….......................(2.6)
Dimana :
NdB
=
Ukuran dalam Desibel
P
=
Besar Daya
Log10 =
Logaritma basis 10
21
Ukuran absolut dari daya dalam desibel dapat juga dinyatakan dengan :
…………....……….…………..….(2.7)
atau
……….…………………..…...(2.8)
Adapun fungsi dari RSL ini adalah untuk memastikan perangkat bekerja
dengan baik misalnya pada kondisi jarak 20 meter karena standard minimal nilai
RSL ini adalah - 80 dBm, jika nilai RSL sama dengan atau lebih kecil dari - 80
dBm maka nilai RSL ini dianggap kurang bagus karena dengan nilai tersebut link
atau komunikasi antara pengirim dan penerima akan terputus (down) jika terjadi
penambahan redaman pada lintasan link seperti hujan.
2.8
Bahasa BASIC Pada BASCOM-AVR
Bahasa pemprograman BASIC dikenal di seluruh dunia sebagai bahasa
pemrograman handal, cepat, mudah dan tergolong kedalam bahasa pemprograman
tingkat tinggi. Bahasa BASIC adalah salah satu bahasa pemprograman yang
banyak
digunakan
untuk
aplikasi
mikrokontroler
karena
kemudahan
dan kompatibel terhadap mikrokontroler jenis AVR dan didukung oleh compiler
software berupa BASCOM-AVR.
Setiap bahasa pemrograman mempunyai standar penulisan program.
Konstruksi dari program bahasa BASIC harus mengikuti aturan sebagai berikut :
$regfile = “m8def.dat”
 inisialisasi
Dim x As “tipe data”
 deklarasi variabel
L = “nilai konstanta”
 deklarasi konstanta
Do
’pernyataan-pernyataan’
Loop
end
$regfile = “m8def.dat” merupakan pengarah preprosesor bahasa BASIC
yang memerintahkan untuk meyisipkan file lain, dalam hal ini adalah file
22
m8def.dat yang berisi deklarasi register dari mikrokonroler ATMega8535,
pengarah preprosesor lainnya yang sering digunakan ialah sebagai berikut :
 menggunakan kristal clock 12 MHz
 komunikasi serial dengan baud rate 9600
 menggunakan fasilitas EEPROM
$crystal = 12000000
$baud = 9600
$eeprom
Dim
x
As
“tipe
data”
merupakan
pengarah
prosesor
untuk
mendeklarasikan agar variabel “x” memiliki suatu tipe data, apakah itu integer,
word, byte, bit dan lain sebagainya. Nilai dari suatu variabel dapat diubah-ubah
sesuai dengan kebutuhan pemrogram.
L
=
“nilai
konstanta”
merupakan
pengarah
prosesor
untuk
mendeklarasikan suatu nilai konstanta. Konstanta merupakan suatu nilai yang
tidak dapat diubah selama proses program berlangsung. Konstanta dapat bernilai
integer, pecahan, karakter, dan string. (Iswanto.2008)
2.9
Osiloskop
Osiloskop merupakan serangkaian alat untuk mengamati sinyal-sinyal
yang masuk pada osiloskop, untuk kemudian diteliti hasil keluaran dari masukkan
sinyal tersebut. Amplitudo dan periode dapat dicari dengan menggunakan
osiloskop. Osiloskop dapat menunjukkan sinyal dengan isyarat sinusoida dan
persegi. Amplitudo ditunjukkan pada arah vertikal dan periode pada arah
horizontal. Lalu besar sudut fasa dan frekeunsi juga dapat diamati dari osiloskop.
Untuk mengetahui lebih detail mengenai osiloskop dapat dilihat pada
gambar berikut.
23
Gambar 2.12 Osiloskop
Sumber : www.audioplusonline.com (2011)
Penjelasan masing-masing bagian :
1.
Lingkaran 1 merupakan source atau sumber sinyal.

Switch pada posisi CH1 artinya sumber sinyal berasal dari channel 1.

Switch pada posisi CH2 artinya sumber sinyal berasal dari channel 2.

Switch pada posisi LINE artinya sumber sinyal berasal dari Line.

Switch pada posisi EXT artinya sumber sinyal berasal dari sumber
external di luar osiloskop.
2.
Lingkaran 2 merupakan input channel 1.

Osiloskop tersebut mempunyai 2 channel input, yaitu channel 1 dan
channel 2.
3.
Lingkaran 3 menyatakan channel mana yang ditampilkan pada layar.

Switch pada posisi CH1 artinya layar akan menampilkan grafik dari
channel 1.

Switch pada posisi CH2 artinya layar akan menampilkan grafik dari
channel 2.

Switch pada posisi DUAL artinya layar akan menampilkan grafik dari
channel 1 dan channel 2 secara bersamaan.

Switch pada posisi ADD artinya layar akan menampilkan grafik dari
channel 1 disuperposisi dengan channel 2.
4.
Lingkaran 4 menyatakan jenis sinyal input.

Switch pada posisi AC artinya sinyal input berupa sinyal AC.
24

Switch pada posisi GND artinya sinyal input berupa sinyal ground.

Switch pada posisi DC artinya sinyal input berupa sinyal DC.

Keluaran head unit dan amplifier adalah sinyal AC maka untuk
menampilkan sinyalnya di osiloskop, switch harus diletakkan pada
posisi AC.
5.
Lingkaran 5 menyatakan Volts/Div (tegangan) perkotak pada layar
osiloskop.

Tombol Volts/Div diputar ke kanan artinya semakin besar volts per
kotak sehingga tampilan signal semakin kecil.

Tombol Volts/Div diputar ke kiri artinya semakin kecil volts per kotak
sehingga tampilan signal semakin besar.

Tombol kecil di tengah tombol besar yang berfungsi sama tetapi
dengan skala yang lebih kecil (fine-tuning).
6.
Lingkaran 6 menyatakan Vertical Position (posisi secara vertikal).

Apabila tombol Vertical Position diputar ke kanan maka tampilan
signal bergerak ke atas.

Apabila tombol Vertical Position diputar ke kiri maka tampilan signal
bergerak ke bawah.
7.
Lingkaran 7 menyatakan Horizontal Position (posisi secara horizontal).

Apabila tombol Horizontal Position diputar ke kanan maka tampilan
signal bergerak ke kanan.

Apabila tombol Horizontal Position diputar ke kiri maka tampilan
signal bergerak ke kiri.
8.
Lingkaran 8 menyatakan Time/Div (waktu perkotak pada layar osiloskop).

Time/Div merupakan kebalikan dari frekuensi.

Satuan Time/Div adalah second atau milisecond (ms).

Satuan frekuensi adalah Hz atau 1/second.

Contoh :
Time/div = 1 ms = 0,001 second.
Frekuensi = 1/0,001 Hz = 1.000 Hz = 1 kHz
Download