dan luas pengungkapan sukarela (voluntary disclosure)

advertisement
PENGARUH TINGKAT KETAATAN PENGUNGKAPAN WAJIB
(MANDATORY DISCLOSURE) DAN LUAS PENGUNGKAPAN SUKARELA
(VOLUNTARY DISCLOSURE) TERHADAP KUALITAS LABA PADA
PERUSAHAAN YANG TERGABUNG DALAM LQ 45
DI BURSA EFEK INDONESIA
Oleh
Mardiana*) dan Qorina Laili Hidayat**)
Abstract
The purpose of this study was to determine the effect of mandatory disclosure
and widespread observance of voluntary disclosure on the quality of earnings is proxied
by Earnings Response Coefficients (ERC).
This study uses data leading shares incorporated in LQ 45 in 2007-2009. This
study uses multiple regression analysis to examine the effect of the dependent variable
with the independent variable.
Based on the test results it can be concluded that 1) voluntary disclosure and
mandatory have significant effect on Earnings Response Coefficients; 2) Mandatory
Disclosure statistically positive and significant effect on Earnings Response
Coefficients; 3) Voluntary Disclosure statistically significant positive effect on Earnings
Response alpha coefficients at 5%.
Keywords: Mandatory Disclosure, Voluntary Disclosure, Earnings Quality,
Earnings Response Coefficient..
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dikelompokkan menjadi
dua yaitu: pengungkapan wajib (mandatary disclosure) dan pengungkapan sukarela
(voluntary disclosure). Pengungkapan wajib (mandatary diclosure) merupakan
pengungkapan informasi yang diharuskan oleh peraturan BAPEPAM. Pengungkapan
sukarela (voluntary disclosure) merupakan pengungkapan yang melebihi dari yang
diwajibkan.
Dari pihak manajemen sendiri, walaupun untuk menyampaikan kewajiban
informasi atau pengungkapan telah diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
dan juga aturan-aturan yang dikeluarkan oleh BAPEPAM, kenyataanya pihak
manajemen masih menolak untuk menyampaikan pengungkapan (disclosure) tersebut
secara layak.
Indonesia masih berada pada urutan yang rendah dalam persepsian standar
akuntabilitas, pelaksanaan auditing dan ketaatanya, serta pengungkapan dan
transparansi (Khomsiah, 2005). Marwata (2000) mengikhtisarkan beberapa hasil
penelitian yang berhasil mengidentifikasi berbagai unsur kualitas laporan. Konsepsi ini
mencakup kecukupan (adequacy) (Buzzby, 1975), kelengkapan (comprehensiveness)
(Barret, 1976), informatif (informativeness) (Alford, et al., 1993), tepat waktu
(timeliness) (Courtis, 1976; Whittred, 1980), akurasi (accuracy) dan keandalan
(reliability) (Shinghvi & Desai, 1971). Beragamnya unsur penilaian terhadap kualitas
laporan tahunan tersebut menunjukkan bahwa penilaian dan persepsi pemakai terhadap
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
|
29
kualitas ungkapan juga masih beragam. Hal ini dapat dimaklumi, sebab kelompok
pemakai (users) pelaporan keuangan sangat banyak dan mereka mempunyai kebutuhan
dan kepentingan yang berbeda, sehingga membutuhkan tekanan informasi yang berbeda
pula.
Bagi investor, laporan laba dianggap mempunyai informasi untuk menganalisis
saham yang diterbitkan oleh emiten. Kualitas laba penting bagi mereka yang
menggunakan laporan keuangan untuk tujuan kontrak dan pengambilan keputusan
investasi (Schipper dan Vincent, 2003). Laba akuntansi yang berkualitas adalah laba
akuntansi yang mempunyai sedikit atau tidak mengandung gangguan persepsi
(perception noise) didalamnya dan dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan
yang sesungguhnya. Perubahan harga saham akibat perubahan laba seharusnya
dipengaruhi pula oleh informasi yang dimiliki investor. Dalam praktek, kualitas laba
akuntansi tersebut sulit diukur. Oleh karena itu, masing-masing peneliti menggunakan
pendekatan yang berbeda untuk mengukur kualitas laba akuntansi. Beberapa peneliti
kemudian menggabungkan penelitian tentang pengungkapan (disclosure) dengan
Earnings Response Coefficient (ERC).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan dalam penelitian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut: ―Bagaimana pengaruh tingkat ketaatan
pengungkapan wajib dan luas pengungkapan sukarela terhadap kualitas laba pada
perusahaan yang tergabung dalam LQ 45 di Bursa Efek Indonesia?‖
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini
adalah: Untuk mengetahui pengaruh tingkat ketaatan pengungkapan wajib dan luas
pengungkapan sukarela terhadap kualitas laba.
1.4 Kontribusi Penelitian
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar masukan dan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi, serta dalam menilai
kualitas laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
b. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dan pedoman bagi peneliti di masa yang
akan datang yang juga tertarik membahas permasalahan yang diangkat dalam
penelitian ini.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
Meek et al. (1995) berhasil menemukan beberapa faktor yang mempengaruhi luas
pengungkapan sukarela yaitu besar perusahaan, negara asal perusahaan, tipe industri,
rasio ungkitan, derajat multinasionalitas, profitabilitas, dan status pendaftaran. Tipe
ungkapan sukarela dibagi menjadi 3 informasi, yaitu informasi strategik, informasi non
keuangan, dan informasi keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh
variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan sukarela.
Penelitian Suripto (1998) menguji pengaruh karakteristik perusahaan terhadap
luas ungkapan sukarela dalam laporan tahunan. Luas ungkapan sukarela dalam laporan
tahunan diukur dengan daftar ungkapan sukarela yang terdiri dari 33 item informasi
yang dimuat dalam laporan tahunan. Hasil penelitiannya bahwa luas pengungkapan
sukarela dalam laporan keuangan masih rendah yang ditunjukkan dengan koefisien
30
|
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
determinasinya. Sementara itu hanya variabel besar perusahaan dan rasio ungkitan yang
berpengaruh signifikan statis terhadap luas pengungkapan sukarela.
Marwata (2000) meneliti hubungan antara karakteristik perusahaan di Indonesia.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan berhubungan positif secara
signifikan dengan kualitas ungkapan sukarela dalam laporan tahunan. Fitriani (2001)
meneliti tentang perbedaan tingkat kelengkapan pengungkapan wajib dan sukarela pada
laporan keuangan perusahaan publik yang terdaftar di BEJ. Hasil menyimpulkan bahwa
ternyata terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat kelengkapan pengungkapan
wajib dengan pengungkapan sukarela. Mardiyah (2002) meneliti tentang pengaruh
informasi asimetri dan disclosure terhadap Cost of Capital. Penelitian ini menyimpulkan
bahwa (1) terdapat pengaruh positif antara informasi asimetri dengan Cost of
Capitalnya, (2) terdapat hubungan positif antara size perusahaan dengan disclosure, dan
(3) informasi asimetri rendah, maka dibutuhkan disclosure yang semakin andal agar
dapat menurunkan cost of capital.
Harjanti (2002) menguji pengaruh luas pengungkapan sukarela dalam laporan
tahunan terhadap current ERC. Dalam penelitiannya Harjanti mengajukan hipotesis
bahwa luas pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan berpengaruh negatif
terhadap current ERC, dan hasil penelitiannya berpengaruh positif terhadap current
ERC. Desi (2004) melakukan penelitian tingkat keluasan pengungkapan sukarela dalam
laporan tahunan dan hubungannya dengan current ERC. Hasil penelitiannya
menyimpulkan bahwa skor pengungkapan dengan pembobotan dengan tanpa
pembobotan ditemukan berbeda secara signifikan, dan tingkat keluasan pengungkapan
sukarela dalam laporan tahunan berhubungan positif dengan current ERC.
Sovi (2008) melakukan penelitian tentang tingkat ketaatan pengungkapan wajib
dan luas pengungkapan sukarela terhadap kualitas laba yang diukur dengan Earnings
Response Coefficients (ERC). Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa pengungkapan
wajib dan luas pengungkapan sukarela secara simultan berpengaruh signifikan terhadap
kualitas laba yang diukur dengan Earnings Response Coefficients (ERC). Dimana
variabel pengungkapan wajib secara parsial berpengaruh signifikan negatif terhadap
kualitas laba dan variabel pengungkapan sukarela secara parsial berpengaruh signifikan
negatif terhadap kualitas laba.
2.2 Tinjauan Teori
2.2.1 Pengungkapan Informasi (disclosure)
Ungkapan (disclosure) didefinisikan sebagai penyediaan sejumlah informasi
untuk membantu investor dalam memprediksi kinerja perusahaan dimasa mendatang
(Scott, 2003). Ungkapan mencakup penyediaan informasi yang diwajibkan oleh badan
berwenang maupun secara sukarela yang berupa laporan keuangan, informasi tentang
kejadian setelah tanggal laporan, analisis manajemen atas operasi yang akan datang,
prakiraan keuangan dan operasi pada tahun mendatang, dan laporan keuangan tambahan
yang mencakup ungkapan menurut segmen dan informasi lainnya diluar harga
perolehan (Wolk, et al., 2001).
Pengungkapan dalam laporan keuangan merupakan penyajian informasi yang
diperlukan untuk operasi optimal pasar modal yang efisien. Berapa banyak informasi
tersebut harus diungkapkan tidak hanya bergantung pada keahlian pembaca, akan tetapi
juga pada standar yang dibutuhkan (Hendriksen, 1997:203). Pengungkapan wajar (fair
disclosure) dan pengungkapan penuh (Full disclosure) merupakan konsep yang lebih
positif.
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
|
31
Darrough (1993) dalam Simanjuntak (2004) mengemukakan ada dua jenis
pengungkapan dalam hubungannya dengan persyaratan yang ditetapkan standar dan
regulasi, yaitu:
a. Pengungkapan Wajib (mandatory disclosure)
Merupakan pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh standar akuntansi
yang berlaku. Peraturan tentang standar pengungkapan informasi bagi perusahaan
yang telah melakukan penawaran umum dan perusahaan publik yaitu, peraturan No.
VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan Keuangan dan Peraturan No. VIII.G.2
tentang Laporan Tahunan. Peraturan tersebut diperkuat dengan Keputusan Ketua
Bapepam No. Kep-17/PM/1995, yang selanjutnya diubah melalui Keputusan Ketua
Bapepam No. Kep-38/PM/1996 yang berlaku bagi semua perusahaan yang telah
melakukan penawaran umum dan perusahaan publik. Peraturan tersebut
diperbaharui dengan Surat Edaran Ketua Bapepem No. SE-02/PM/2002 yang
mengatur tentang penyajian dan pengungkapan laporan keuangan emiten atau
persahaan publik untuk setiap jenis industri.
b. Pengungkapan Sukarela (voluntary disclosure)
Merupakan pengungkapan butir-butir yang dilakukan oleh perusahaan tanpa
diharuskan oleh peraturan yang berlaku. Healy dan Palepu (1993) dalam
Simanjuntak (2004) mengemukakan meskipun semua perusahaan publik diwajibkan
untuk memenuhi pengungkapan minimum, mereka berbeda secara substansial dalam
jumlah tambahan informasi yang diungkapkan ke pasar modal. Salah satu cara
meningkatkan kredibilitas perusahaan adalah melalui pengungkapan sukarela secara
lebih luas dan membantu investor dalam memahami strategi bisnis manajemen.
Pengungkapan informasi akuntansi yang disajikan secara sukarela oleh
manajemen perusahaan (voluntary disclosure), merupakan pengungkapan diluar
pengungkapan yang diwajibkan. Item-item dalam pengungkapan sukarela adalah
tidak merupakan item mandatory dalam prinsip-prinsip akuntansi dan undangundang akuntansi, serta item tersebut memiliki relevansi dengan perusahaan dan
hanya akan diungkapkan apabila dikehendaki oleh perusahaan
2.2.2 Kualitas Laba
Menurut Boediono (2005) kualitas laba adalah hubungan (regresi) antara laba
yang dilaporkan dengan return saham. Bagi perusahaan yang menerbitkan saham di
pasar modal harga saham yang ditransaksikan di bursa merupakan indikator nilai
perusahaan. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya tentang kinerja
manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Jika laba seperti ini digunakan
oleh investor untuk membentuk nilai pasar perusahaan, maka laba tidak dapat
menjelaskan nilai pasar perusahaan yang sebenarnya. Bagi investor, laporan laba
dianggap mempunyai informasi untuk menganalisis saham yang diterbitkan oleh
emiten.
Perlunya dilakukan pengukuran atas kualitas laba timbul dari kebutuhan
perbandingan laba antar perusahaan dan untuk memahami perbedaan kualitas yang
didasarkan penilaian-penilaian yang berdasarkan pada laba. Kualitas laba sangat
dipengaruhi oleh perilaku manajemen dalam menyiapkan angka-angka dalam laporan
keuangan. Laba dapat dikatakan berkualitas bila tidak terdapat penyimpangan dari fakta
sesungguhnya dalam proses pemerolehannya, meskipun secara teori tidak bertentangan
dengan prinsip-prinsip yang berlaku hingga keputusan yang diambil oleh penggunaan
tidak menimbulkan bias (Abdullah, 1999).
32
|
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
Laba akuntansi yang berkualitas adalah laba akuntansi yang mempunyai sedikit
atau tidak mengandung gangguan persepsi (perceived noise) didalamnya dan dapat
mencerminkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya (Chandarin, 2003) dalam Sekar
(2004), sedangkan Ayres (1994) menyatakan bahwa laba akuntansi dikatakan
berkualitas apabila elemen-elemen yang membentuk laba tersebut dapat
diinterpretasikan dan dipahami secara memuaskan oleh pihak yang berkepentingan.
Conservatism index (C-score) sebagai proksi konservatisme neraca, earnings
quality indicator (Q-score) untuk menghitung tingkat konservatisme laporan rugi laba,
dan earnings response coefficient (ERC) merupakan ukuran atau proksi yang digunakan
untuk mengukur kualitas laba. Pada penelitian ini kualitas laba diukur dengan
menggunakan ERC, karena pada penelitian-penelitian di pasar modal, untuk mengukur
besarnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang digunakan adalah ERC.
Beberapa peneliti telah mengukur kualitas laba dengan ERC antara lain Balsam et
al (2003), Fan dan Wong (2002), Bandypadhyay (1994), Sekar (2004), menyatakan
bahwa besaran ERC menunjukkan kualitas earnigs perusahaan. Kuatnya reaksi pasar
terhadap informasi laba yang tercermin dari tingginya ERC, menunjukkan laba yang
dilaporkan berkualitas. Sebaliknya, lemahnya reaksi pasar terhadap informasi laba yan
gtercermin dari rendahnya ERC, menunjukkan laba yang dilaporkan kurang atau tidak
berkualitas.
2.2.3 Pengukuran Earnings Response Coefficient (ERC)
Menurut Scott (2003) menyatakan bahwa ERC mengukur besarnya abnormal
return saham (CAR) dalam merespon komponen kejutan dari earnigs yang dilaporkan
perusahaan (UE).
CAR adalah total penjumlahan dari abnormal returns untuk periode tertentu disekitar
pengumuman suatu informasi.
ARit = Rit - E(Rit)
ARit = Abnormal Return saham i pada periode t
Rit
= Return sesungguhnya terjadi saham i pada bulan periode t
E(Rit) = Expected Return (Return yang diharapkan) saham i pada
periode t
Rit = (Pit - Pit-1)/Pit
Rit
= Return sesungguhnya
Pit
= Harga penutupan (closing price) saham i pada waktu t
Pit-1 = Harga saham sebelumnya
Sedang return ekspektasi merupakan return yang harus diestimasi. Brown dan Warner
(1985) dalam Jogiyanto (2003:126), mengestimasi return ekspektasi menggunakan
model estimasi mean-adjusted model, market model dan market adjusted model. Dalam
penelitian ini, untuk mengestimasi return ekspektasi digunakan market adjusted model,
karena menganggap bahwa penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu
sekuritas adalah return indeks pasar pada saat tersebut.
ARit = Rit - Rmt
ARit = Abnormal Return saham i pada periode t
Rit
= Return sesungguhnya terjadi saham i pada periode t
Rmt = Return pasar pada periode t
Rmt = Return pasar pada periode t
IHSGt = IHSG (composite index) saham pada waktu t
IHSGt-1
= IHSG (composite index) saham pada waktu t-1
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
|
33
UE atau earnings surprise merupakan selisih antara earnings harapan dengan earnings
sesungguhnya yang diumumkan oleh perusahaan. Laba ekspektasian diestimasi dengan
model langkah acak (random walk model). Model langkah acak mengestimasi laba
periode berjalan sama dengan laba periode sebelumnya. Laba kejutan dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:
UEit = (EPSit - EPSit-1)/Pit-1
UEit = Unexpected earnings perusahaan i pada tahun t
EPSit = Earnings per share perusahaan i pada tahun t
EPSit-1 = Earnings per share perusahaan i pada tahun t-1
Pit-1 = Harga saham perusahaan i pada akhir tahun t-1
Proksi harga saham yang digunakan adalah CAR, sedangkan proksi laba adalah UE.
Regresi model tersebut akan menghasilkan ERC masing-masing sampel, dan akan
digunakan untuk analisis berikutnya.
2.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu dan tinjauan teori, maka hipotesis
penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
H1 : Tingkat ketaatan pengungkan wajib dan luas pengungkapan sukarela
berpengaruh positif terhadap Earnings Response Coefficients (ERC).
H1a : Tingkat ketaatan pengungkapan wajib berpengaruh positif terhadap Earnings
Response Coefficients (ERC).
H1b : Luas pengungkapan sukarela berpengaruh positif terhadap Earnings Response
Coefficients (ERC).
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Populasi dan Sampel Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini akan mengambil sampel perusahaan yang
tergabung dalam LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2007 sampai
dengan tahun 2009. Adapun penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah menggunakan teknik pemilihan purposive sampling.
3.2 Definisi Operasional Variabel
3.2.1 Pengungkapan Wajib (X1)
Pengungkapan wajib merupakan pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh
peraturan yang berlaku. Peraturan tentang standar pengungkapan informasi bagi
perusahaan yang telah melakukan penawaran umum dan perusahaan publik. Tingkat
ketaatan pengungkapan wajib ditunjukkan dengan indeks pengungkapan wajib. Menurut
Zaki et al (2001) perhitungan indeks pengungkapan dilakukan dengan rumus sebagai
berikut:
∑ butir informasi yang diungkapkan
Indeks Pengungkapan Wajib = ——————————————————
∑ semua butir informasi − informasi NA
3.2.2 Pengungkapan Sukarela (X2)
Pengungkapan sukarela merupakan pengungkapan butir-butir yang dilakukan
secara sukarela oleh perusahaan tanpa diharuskan oleh peraturan yang berlaku. Luas
pengungkapan sukarela diukur berdasarkan instrument yang dikembangkan dan
digunakan oleh Suripto (2005) yang berjumlah 33 item. Luas pengungkapan sukarela
34
|
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
ditunjukkan dengan indeks pengungkapan sukarela dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
∑(PxB)
Indeks Pengungkapan Sukarela = ————————
∑(SxB)
P = Butir informasi yang diungkap (1 jika diungkap, 0 jika tidak diungkap)
S = Semua butir pengungkapan sukarela
B = Bobot setiap informasi pengungkapan sukarela
3.2.3 Kualitas Laba
Salah satu cara untuk mengukur kualitas laba adalah dengan menggunakan
Earnings Response Coefficients (ERC). Pada penelitian ini kualitas laba diukur dengan
menggunakan ERC, karena pada penelitian-penelitian di Pasar Modal, untuk mengukur
besarnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang digunakan adalah ERC.
Earnings Response Coefficients (ERC) merupakan efek setiap dolar unexpected
earning terhadap return saham, biasanya diukur dengan slope koefisien dalam regresi
abnormal return saham dan unexpected earning (Cho dan Jung,1991).
CAR = α + β (UE) + e
CAR = Cumulative Abnormal Return
UE
= unexpected earning
β
= Koefisien Hasil Regresi (ERC)
Estimate ERC merupakan slope koefisien yang diperoleh dengan melakukan
regresi cross-sectional antara CAR dan UE (Teets & Wasley, 1996). Dengan perumusan
sebagai berikut:
1. Menghitung CAR masing-masing perusahaan sampel.
t 1
CAR   ARit
t 1
CAR
= Cumulative Abnormal Returns
ARit
= Abnormal returns saham i pada hari ke t
t-1 =
1 hari sebelum pengumuman laporan keuangan atau laporan tahunan
t+1 =
1 hari setelah pengumuman laporan keuangan atau laporan tahunan
Dimana:
ARit
= Rit-Rmt
Rit = (Pit-Pit-1)/Pit
ARit
= Abnormal return saham perusahaan i pada tahun t
Rit = Return saham perusahaan i pada tahun t
Pit = Harga saham perusahaan i pada tahun t
Pit-1
= Harga saham perusahaan i sebelum tahun t
CAR adalah total penjumlahan dari abnormal returns untuk periode tertentu
disekitar pengumuman suatu informasi. Sedang return ekspektasi merupakan return
yang harus diestimasi. Brown dan Warner (1985) dalam Jogiyanto (2003:126),
mengestimasi return ekspektasi menggunakan model estimasi mean-adjusted model,
market model dan market adjusted model. Dalam penelitian ini, untuk mengestimasi
return ekspektasi digunakan market adjusted model, karena menganggap bahwa
penduga yang terbaik untuk mengestimasi return suatu sekuritas adalah return
indeks pasar pada saat tersebut.
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
|
35
CAR untuk menguji H1 menggunakan window 3 (tiga) hari, yaitu: 1 hari
sebelum pengumuman laporan keuangan sampai 1 hari setelah pengumuman
laporan keuangan. CAR untuk menguji H2 menggunakan window 4 (empat) hari,
yaitu: hari pada saat penyampaian laporan tahunan sampai 3 hari setelah
penyampaian laporan tahunan. CAR untuk menguji H3 menggunakan window 4
(empat) hari, yaitu: hari pada saat penyampaian laporan tahunan sampai 3 hari
setelah penyampaian laporan tahunan.
2. Menghitung UE masing-masing perusahaan.
Unexpected earnings atau earnings surprise merupakan proksi laba akuntansi
yang menunjukkan kinerja intern perusahaan. UE diukur seperti penelitian Kallapur
(1994), dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
UEit = (EPSit – EPSit–1)/Pit-1
UEit = Unexpected earnings perusahaan i pada tahun 2009
EPSit = Earnings per share perusahaan i pada tahun 2009
EPSit-1 = Earnings per share perusahaan i pada tahun 2008
Pit-1 = Harga saham perusahaan i pada akhir tahun 2008
Proksi harga saham yang digunakan adalah CAR, sedangkan proksi laba
adalah UE. Regresi model tersebut akan menghasilkan ERC masing-masing sampel,
dan akan digunakan untuk analisis berikutnya.
3.3 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis regresi
linier berganda. Sedangkan persamaan regresinya adalah sebagai berikut:
ERC = αo + α1 MDISC + α2 VDISC + εi,t
Dalam hal ini (i = perusahaan)
ERC = Earnings Response Coefficients
MDISC
= Mandatory Disclosure (Pengungkapan Wajib)
VDISC
= Voluntary Disclosure (Pengungkapan Sukarela)
αo
= Intercept
ε
= error
3.3.1 Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan metode Kolmogorof Smirnov,
dengan kaidah keputusan uji normalitas, yaitu:
a. Apakah asympthod signifikan Kolmogorof Smirnov < 0,05, maka data berdistribusi
tidak normal.
b. Apakah asympthod signifikan Kolmogorof Smirnov > 0,05, maka data berdistribusi
normal.
3.3.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien regresi yang baik
dan tidak bias. Sehingga perlu dilakukan beberapa tes yang memungkinkan mendeteksi
pelanggaran tersebut. Beberapa pelanggaran asumsi biasanya adalah multikolinearitas,
heterokedastisitas, dan Autokorelasi (Purwanto dan Suhardi, 2004:528).
a. Uji Multikolinearitas
Untuk mengetahui apakah terdapat gejala multikolinearitas atau tidak maka dilihat
dari pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah sebagai
berikut:
1. Mempunyai nilai Variance Inflation Factor (VIF) sekitar angka 1 dan tidak
melebihi 10.
2. Mmempunyai angka toleransi mendekati atau > 0,05.
36
|
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
b. Uji Heteroskedastisitas
Adanya heteroskedastisitas dalam regresi dapat diketahui dengan
menggunakan beberapa cara, antara lain uji koefisien korelasi spearman, uji park,
dan uji gletser. Pengujian pada asumsi ini dilakukan dengan menggunakan metode
Gletser Test yang biasa digunakan untuk sampel besar dan sampel kecil sematamata sebagai alat kualitatif untuk mempelajari sesuatu mengenai heteroskedastisitas
(Gujarati, 1995:188).
Hipotesis dalam pengujian heteroskedastisitas adalah:
1) Ho : Kedua varians tidak signifikan terhadap residual absolute
2) H1 : Kedua varians mempengaruhi signifikansi terhadap
residual absolute
Kriteria pengujian sebagai berikut:
a. Jika profitabilitas (signifikan) > 0,05 maka Ho diterima
b. Jika profitabilitas (signifikan) < 0,05 maka Ho ditolak
c. Uji Autokorelasi
Adanya autokorelasi dalam regresi dapat diketahui dengan menggunakan beberapa
cara, antara lain metode grafik dan uji Durbin-Watson (Husein, 1999:273). Nilai
Durbin-Watson statistik dapat dihitung sebagai berikut:
a. Menghitung koefisien regresi dengan menggunakan metode regresi Ordinary
Least Squares (OLS), kemudian menentukan nilai ei
b. Merumuskan hipotesis, pendeteksian terhadap adanya autokorelasi (terjadinya
hubungan antara variabel-variabel bebas itu sendiri atau berkorelasi sendiri),
dengan hipotesis:
Ho : p = 0, tidak terjadi autokorelasi antar galat (error)
H1 : p > 0, terjadi autokorelasi antar galat (error)
Menghitung nilai d dengan rumus:
d 
t n

t 1
(et  et 1 )
t n
e
t 1
2
t
Dimana :
d
= Nilai Durbin-Watson
et
= Nilai residual pada periode t
et-1
= Nilai residual pada periode t-1
n
= Banyaknya observasi sampel
c. Adapun kriteria uji Durbin-Watson menurut Gujarati (1995:217), jika H0 adalah
dua ujung yaitu tidak ada serial autokorelasi baik positif atau pun negatif, maka
jika:
d < dL
: menolak H0
d > 4 ? dL
: menolak H0
dU < d < 4 ? dU : tidak menolak H0
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Seleksi Sampel
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling, yaitu mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan
maksud dan tujuan penelitian. Berikut hasil seleksi sampel penelitian:
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
|
37
Tabel 4.1
Seleksi Sampel
Kriteria Sampel
Jumlah
a. Perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2007-2009
402
b. Perusahaan mengalami delisting pada periode tahun 2007- 13
2009
c. Perusahaan tidak masuk dalam daftar LQ-45 secara
berturut-turut pada tahun 2007-2009
341
d. Tidak mempunyai nilai buku ekuitas positif pada tahun
2007-2009
e. Perusahaan tidak memiliki laba positif tahun 2007-2009
f. Perusahaan memenuhi sampel
11
18
19
Dari hasil seleksi sampel sebagaimana tampak pada tabel 4.1, Perusahaan yang terdaftar
pada BEJ pada tahun 2008-2009 sebanyak 402 perusahaan. Dari 402 perusahaan,
sebanyak 13 mengalami delisting pada periode tahun 2007-2009, 11 perusahaan tidak
mempunyai nilai buku ekuitas positif pada tahun 2007-2009, dan 18 perusahaan tidak
memiliki laba positif tahun 2007-2009. Jadi total perusahaan yang terpilih sebagai
anggota sampel sebanyak 19 perusahaan.
4.1.2 Statistik Deskriptif
Berikut disajikan statistik deskriptif atas data yang digunakan dalam penelitian.
Tabel 4.2
Statistik Deskriptif
Variabel
N
Kisaran
Min
Maks Rata-Rata Std. Deviasi
IPW
19
0,200
0,800 1,000
0,958
0,084
IPS
19
0,424
0,242 0,667
0,486
0,131
ERC
19
8,812
-6,298 2,514
-0,157
1,656
Sumber : Data diolah, 2011
a. Pengungkapan Wajib
Berdasarkan tabel 4.2, Pengungkapan Wajib memiliki rata-rata sebesar
0,958 dengan nilai minimum sebesar 0,800 dan nilai maksimum sebesar 1,000.
Sedang kisaran Pengungkapan Wajib berada pada nilai 0,200 dengan standar deviasi
sebesar 0,084. Hasil ini membuktikan bahwa sebagian besar perusahaan sampel
telah menyampaikan pengungkapan wajib minimum. Bila dilihat hasil standar
deviasinya yang rendah, menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil perusahaan yang
tidak menyampaikan Pengungkapan Wajib minimum secara langkap.
b. Pengungkapan Sukarela
Berdasarkan tabel 4.2, Pengungkapan Sukarela memiliki rata-rata sebesar
0,486 dengan nilai minimum sebesar 0,242 dan nilai maksimum sebesar 0,667.
Sedang kisaran Pengungkapan Sukarela berada pada nilai 0,424 dengan standar
deviasi sebesar 0,131.
Hasil ini membuktikan bahwa item pengungkapan sukarela yang
diungkapkan oleh perusahaan sampel variatif tergantung pada jenis perusahaannya.
38
|
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
c. Earnings Response Coefficients
Berdasarkan tabel 4.2, Earnings Response Coefficients memiliki rata-rata
sebesar -0,157 dengan nilai minimum sebesar -6,298 dan nilai maksimum sebesar
2,514. Sedang kisaran Earnings Response Coefficients berada pada nilai 8,812
dengan standar deviasi sebesar 1,656. Rendahnya rata-rata ERC perusahaan sampel
menunjukkan lemahnya reaksi pasar terhadap informasi laba, dengan kata lain laba
yang dilaporkan perusahaan sampel kurang atau tidak berkualitas.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Uji Normalitas
Hasil pengujian normalitas data dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut :
Tabel 4.3
Uji Normalitas
Kolmogorov
pCritical
Variabel
Keterangan
SmirnovZ
value
Value
IPW
1,100
0,113
> 0,05
Berdistribusi Normal
IPS
1,011
0,258
> 0,05
Berdistribusi Normal
ERC
1,304
0,743
> 0,05
Berdistribusi Normal
Sumber: data diolah, 2011
Dari hasil uji normalitas dalam tabel 4.3, dapat diketahui bahwa p-value semua
variabel tidak signifikan secara statistik pada alfa 5%, yang berarti bahwa semua
variabel berdistribusi normal
4.2.2 Uji Asumsi Klasik
Hasil uji asumsi klasik dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi menggunakan Durbin-Watson statistic (DW). Sebagai pedoman,
regresi OLS tidak mengandung autokorelasi jika nilai d disekitar 2 (Gujarati, 2003).
Regresi OLS bebas autokorelasi positif atau negatif, jika nilai d terletak diantara
diantara -2 sampai +2. Berdasarkan hasil analisis regresi didapat hasil dhitung
sebesar 2,093, yang menunjukkan bahwa model penelitian bebas autokorelasi.
b. Uji Heteroskedastisitas
Hasil dari uji heteroskedastisitas bisa dilihat pada tabel 4.4
Tabel 4.4
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Variabel
t
p-value
IPW
-1,986
0,064
IPS
-0,782
0,446
Sumber : data diolah, 2011
Keterangan
Tidak ada masalah heteroskedastisitas
Tidak ada masalah heteroskedastisitas
Hasil uji heteroskedastisitas menunjukkan bahwa tidak ada satupun variabel
independen yang mengalami masalah heteroskedastisitas. Semua variabel
independen memiliki nilai p value lebih besar dari 0,05.
c. Uji Multikolinieritas
Hasil dari uji Multikolinieritas bisa dilihat pada tabel 4.5.
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
|
39
Tabel 4.5
Hasil Uji Multikolinieritas
Variabel
VIF
Nilai Kritis
Keterangan
IPW
1,003
< 10
Tidak ada masalah Multikolinieritas
IPS
1,003
< 10
Tidak ada masalah Multikolinieritas
Sumber : data diolah, 2011
Berdasarkan hasil analisis yang diuraikan tersebut, tidak ada variabel independen
dalam penelitian ini yang memiliki nilai variance inflation factor (VIF) lebih dari
sepuluh. Dengan demikian, hasil analisis menunjukkan tidak adanya masalah
multikolinier.
4.2.3 Pengujian Hipotesis
a. R Square dan F Uji
Nilai R square dan F uji dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut :
Tabel 4.6
Nilai R Square dan F Uji
Std. Error of the
R
R Square
F
Estimate
0,663
0,439
1,316
6,267
Sumber : data diolah, 2011
F Sig
0,010
Dari koefisien R Square diketahui bahwa hanya 43,9% tingkat Earnings
Response Coefficients yang dapat dijelaskan oleh kedua variabel independennya
dalam bentuk hubungan linear sedangkan 56,1% dijelaskan oleh faktor lain diluar
model. Hubungan variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen
dapat dilihat dari nilai F hitung dan signifikansinya. Dari hasil pengolahan data
diperoleh nilai F hitung 6,267 dengan nilai signifikan yang diperoleh adalah 0,010
lebih kecil dari taraf keyakinan 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
pengungkapan sukarela dan pengungkapan wajib secara bersama-sama berpengaruh
terhadap Earnings Response Coefficients. Dengan demikian H1 dalam penelitian ini
dapat diterima.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Sovi (2008) yang juga dapat
membuktikan secara statistik bahwa secara bersama-sama pengungkapan wajib dan
pengungkapan sukarela berpengaruh signifikan terhadap Earnings Response
Coefficients.
b. Koefisien Regresi
Koefisien regresi dapat dilihat pada tabel 4.7 sebagai berikut :
Tabel 4.7
Koefisien Regresi
Variabel
Koefisien
t-stat
Sig
(Constant)
-12,104
IPW
9,291
2,505
0,023
IPS
6,263
2,636
0,018
Sumber: data diolah, 2011
Berdasarkan tabel 4.8 dapat ditulis persamaan sebagai berikut :
ERC = -12,104 + 9,291 IPW + 6,263 IPS + e
40
|
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
Dari persamaan regresi diatas dapat disimpulkan bahwa pengungkapan
sukarela dan pengungkapan wajib memiliki hubungan yang searah dengan Earnings
Response Coefficients, dimana setiap kenaikan 1 satuan pengungkapan sukarela dan
pengungkapan wajib juga akan menyebabkan kenaikan pada Earnings Response
Coefficients sebesar nilai koefisiennya.
c. Uji t
Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh secara parsial ataupun individual
vairabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui
pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial antara lain :
1. Pengungkapan Wajib
Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa Pengungkapan Wajib
secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap Earnings Response
Coefficients dengan tingkat signifikansi dibawah 0,05 (t uji sebesar 2,505
dengan tingkat signifikansi sebesar 0,023), sehingga H1a yang menyatakan
tingkat ketaatan pengungkapan wajib berpengaruh positif terhadap Earnings
Response Coefficients (ERC) dapat diterima.
2. Pengungkapan Sukarela
Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa pengungkapan sukarela
secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap Earnings Response
Coefficients dengan tingkat signifikansi dibawah 0,05 (t uji sebesar 2,636
dengan tingkat signifikansi sebesar 0,018), sehingga H1b yang menyatakan luas
pengungkapan sukarela berpengaruh positif terhadap Earnings Response
Coefficients (ERC) dapat diterima.
4.2.4 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian secara parsial (uji t) didapatkan bahwa
Pengungkapan Wajib secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap Earnings
Response Coefficients, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa Pengungkapan Wajib
yang dilakukan oleh perusahaan dapat meningkatkan kualitas laba perusahaan.
Pengungkapan wajib yang berisikan informasi keuangan perusahaan merupakan
sebuah pengungkapan yang sangat diperlukan oleh investor untuk mengetahui
kemampuan perusahaan secara finansial. Dengan informasi ini investor dapat
menganalisis prospek perusahaan dimasa mendatang. Apabila penilaian investor baik
(yang tercermin pada peninkatan harga pasar saham) maka akan berdampak pada laba
bersih yang dicapai perusahaan, apabila hal ini terjadi maka kualitas laba yang diperoleh
perusahaan juga akan meningkat. Hasil ini sesuai dengan penelitian Sovi (2008) yang
menyatakan bahwa semakin tinggi luas pengungkapan wajib yang dilakukan perusahaan
maka akan mempermudah investor dalam menilai kinerja keuangan perusahaan,
sehingga meningkatkan Earnings Response Coefficients.
Hasil pengujian lainnya didapatkan bahwa pengungkapan sukarela secara statistik
berpengaruh positif signifikan terhadap Earnings Response Coefficients. Hasil ini sesuai
dengan penelitian Sovi (2008) yang menyatakan semakin luas pengungkapan sukarela
yang dilakukan oleh perusahaan, maka akan semakin memberikan pemahaman pada
investor atas strategi bisnis yang dilakukan oleh perusahaan.
Pengungkapan informasi akuntansi sukarela merupakan salah satu upaya
keterbukaan emiten terhadap publik mengenai kondisi perusahaan yang bertujuan untuk
meningkatkan kredibilitas perusahaan. Peningkatan kredibilitas perusahaan terjadi
karena adanya kepercayaan investor terhadap strategi bisnis dan prospek perusahaan
pada masa yang akan datang. Kepercayaan investor ini akan berdampak pula pada
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
|
41
peningkatan laba perusahaan, dan pada akhirnya harga saham perusahaan juga akan
semakin meningkat. Dengan demikian, maka kualitas laba perusahaan juga akan
semakin baik.
5. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis pada bab-bab sebelumnya dapat ditarik beberapa
simpulan antara lain:
1. Pengungkapan sukarela dan pengungkapan wajib secara bersama-sama berpengaruh
terhadap Earnings Response Coefficients
2. Pengungkapan Wajib secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap
Earnings Response Coefficients pada alfa 5%
3. Pengungkapan sukarela secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap
Earnings Response Coefficients pada alfa 5%.
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu
1. Periode penelitian yang digunakan hanya 3 tahun yaitu tahun 2007-2009.
2. Penelitian ini hanya menggunakan pengungkapan wajib dan pengungkapan sukarela
untuk mengestimasi Earnings Response Coefficients
3. Hanya menggunakan perusahaan yang terdaftar dalam LQ-45 sebagai sampel
penelitian. Oleh karena itu, hasilnya masih belum dapat digeneralisir untuk seluruh
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia bahkan perusahaan di Indonesia.
5.2 Saran
1. Pada penelitian selanjutnya, diharapkan periode penelitian dapat lebih diperpanjang
2. Pada penelitian yang akan datang dan masih relevan dengan penelitian ini,
diharapkan variabel yang digunakan dapat lebih dikembangkan lagi misalnya
Ukuran Perusahaan, Pertumbuhan dan Profitabilitas.
3. Agar hasil penelitian dapat lebih di generalisir pada seluruh perusahaan, maka pada
penelitian selanjutnya obyek penelitian dapat lebih diperbanyak yaitu dengan
memasukkan seluruh perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsini, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi
V, Jakarta: Rineka Cipta
Ayres, F.L, 1994, Perception of Earnings Quality: What Manager Need to Know,
Management Accounting, pp. 27-29.
Chariri, Anis & Imam Ghozali. 2001. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbitan
Universitas Diponegoro.
Chomsah, Asmaul. 2008. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laba dan
Nilai Perusahaan. Skripsi, Universitas Islam Malang, tidak dipublikasikan.
Desi Adhariani, 2004, Tingkat Keluasan Pengungkapan Sukarela dalam Laporan
Tahunan dan Hubungannya dengan Current Earnings Response Coefficient, Tesis
S2, Magister Manajemen, Universitas Indonesia.
Fitriani., 2001., Signifikansi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Pengungkapan Wajib dan
Sukarela pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik Yang Terdaftar di BEJ.,
Simposium Nasional Akuntansi IV., pp. 133-154.
42
|
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
Gujarati, Damodar. 1995. Ekonometrika Dasar. Terjemahan Suwarno Zain. Bandung:
FE UNPAD.
Gulo, Y., 2000., Analisis Efek Luas Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan
Terhadap Cost of Equity Capital Perusahaan., Jurnal Bisnis dan Akuntansi., Vol.
2, No.1, pp. 45-62.
Harjanti Widiastuti, 2002, Pengaruh Luas Ungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan
Terhadap Earnings Response Coefficient, Tesis S2, Universitas Gadjah Mada.
Hendriksen, S. Eldon, 1997, Teori Akuntansi. Jakarta: Erlangga.
Jogiyanto H.M., 2003, Teori Portofolio dan Analisi Investasi, Edisi 3, Yogyakarta,
Penerbit BPFE.
Khomsiah, 2005, Analisis Hubungan Struktur dan Indeks Corporate Governance
Dengan Kualitas Pengungkapan, Disertasi S3, Universitas Gadjah Mada.
Kormendi, Roger and Lipe, 1987, Earnings Innovation, Earnings Persistence and Stock
Returns, Journal of Bussiness, Vol.60, No.3, July, p. 323-345.
Mardiyah, Arda Ainul., 2002., Pengaruh Informasi Asimetri dan Disclosure Terhadap
Cost of Capital., Jurnal Riset Akuntansi Indonesia., Vol.5, No.2, pp. 229-256.
Marwata, 2000, Hubungan Antara Karakteristik Perusahaan dan Kualitas Ungkapan
Sukarela Dalam Laporan Tahunan Perusahaan Publik di Indonesia. Simposium
Nasional Akuntansi IV. pp. 155-173.
Murni, Siti Aisyah., 2004, Pengaruh Luas Ungkapan Sukarela dan Asimetri Informasi
Terhadap Cost of Equity Capital pada Perusahaan Publik di Indonesia. Simposium
Nasional Akuntansi IV. pp. 155-173.
Santoso, Singgih, 2000, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Schipper, Khaterine and Linda Vincent 2003, Earnings Quality, Accounting Horizons,
Vol.17, Supplement, p.97-110.
Scott, William R., 2003, Financial Accounting Theory, Third Edition, Prentice Hall
International.
Sekar Mayangsari, 2004, Bukti Empiris Pengaruh Spesialisasi Industri Auditor terhadap
Earnings Response Coefficient, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 7, No.2.
Simanjuntak, Binsar H & Lusy Widyastuti., 2004. Faktor-faktor Yang Memengaruhi
Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur
Yang Terdaftar di BEJ., Jurnal Riset Akuntansi Indonesia., Vol.7, No.3, pp. 351366.
Sovi, 2008, Pengaruh Tingkat Ketaatan Pengungkapan Wajib dan Luas Pengungkapan
Sukarela Terhadap Kualitas Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di
BEJ., Simposiun Nasional Akuntansi XI., pp. 1-37.
Suripto, Bambang, 1998, Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Luas Ungkapan
Sukarela Dalam Laporan Tahunan, September, 1-17.
Umar, Husein, 1999, Metodologi Penelitian, Aplikasi Dalam Pemasaran, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
*) Mardiana adalah staf pengajar di Prodi Akuntansi FE Unisma
**) Qorina Laili Hidayat adalah alumni Prodi Akuntansi FE Unisma
JEMA Vol. 10 No. 1 Oktober 2012
|
43
Download