BMH layak dihukum denda Rp 7,9 triliun, diharapkan hukuman

advertisement
Siaran Pers
Eyes on the Forest dan Riau Corruption Trial
Untuk dirilis 29 Desember 2015
BMH layak dihukum denda Rp 7,9 triliun, diharapkan hukuman pidana
menyusul
(PALEMBANG, PEKANBARU)-- Persidangan kasus gugatan perdata terhadap
korporasi pembakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan tahun 2014, PT Bumi
Mekar Hijau, memasuki babak penentuan. Majelis hakim diminta kalangan
masyarakat sipil untuk melindungi kemanusiaan dan mencegah lebih banyaknya
kerugian terhadap bangsa ini dengan memberikan hukuman pantas kepada
terdakwa seperti yang dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum.
Koalisi NGO Eyes on the Forest (EoF) dan Riau Corruption Trial (RCT) menyatakan
betapapun signifikannya gugatan perdata berupa pembayaran kerugian akibat
kerusakan lingkungan dan biaya pemulihan lingkungan, sebesar Rp 7,9 triliun,
masih belum mencukupi ganjaran adil bagi perusahaan tergabung Asia Pulp &
Paper (APP) dan Sinar Mas ini.
“Ini baru sidang perdata, tanggung jawab perusahaan dalam persidangan pidana,
seharusnya juga menjadi agenda yang harus diburu penegak hukum, baik kasus
pembakaran tahun 2014 maupun 2015,” ujar Made Ali, dari Riau Corruption Trial
yang turun memantau persidangan di Pengadilan Negeri Palembang.
Kebakaran masif terjadi di dalam wilayah kawasan IUPHHK-HT PT.Bumi Mekar
Hijau (BMH, pemasok HTI dari grup Asia Pulp & Paper (APP/Sinar Mas) yang
terdeteksi sejak Februari 2014 hingga November 2014. Pemerintah melalui
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggugat PT BMH dalam
persidangan perdata di PN Palembang dengan gugatan Rp 7,9 triliun.
Dalam kesaksian di persidangan terungkap bahwa pembakaran dilakukan oleh
perusahaan secara sengaja melalui pembiaran, sehingga kebakaran yang terjadi
cenderung dibiarkan berlangsung. Sedangkan sarana dan prasarana pengendalian
kebakaran sangat minim, baik dari jumlah maupun fungsinya yang tidak
memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bahkan, di distrik Beyuku di konsesi PT BMH ada penyiapan lahan dilakukan
dengan pembakaran yang sengaja.
Riko Kurniawan dari WALHI Riau mengatakan: “PT BMH untuk tahun 2015 ini baru
saja mendapat sanksi pembekuan izin oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, artinya korporat ini gagal dalam menjalankan tanggungjawabnya.
Maka hukuman dan sanksi untuknya bisa menjadi efek jera bagi perusahaanperusahaan lainnya yang terlibat dalam pembakaran hutan dan lahan.”
Persidangan terhadap PT BMH akan menjadi tolok ukur apakah masih ada
korporat yang kebal hukum di negeri ini atau semua diperlakukan sama di depan
hukum. “Di Riau, beberapa perusahaan milik konglomerat masih belum disidang,
meskipun mereka sudah tersangka sejak 2013 dan 2014. Maka penegak hukum di
Sumsel, kita harapkan menunaikan tugasnya dengan nurani dan keadilan,” ujar
Nursamsu dari WWF-Indonesia.
Di Riau, empat korporat pemasok kayu HTI grup APP/Sinar Mas milik Eka Tjipta
Widjaja menjadi tersangka pembakaran hutan dan lahan tahun 2013 dan 2014.
Mereka adalah PT Bukit Batu Hutani Alam, PT Sekato Pratama Makmur, PT Ruas
Utama Jaya dan PT Suntara Gajapati. Belum satupun perusahaan ini diseret ke
pengadilan.
Vonis terhadap PT BMH rencananya akan diputuskan dalam persidangan 30
Desember di Palembang. Riau Corruption Trial akan memantau sidang dengan
agenda vonis terhadap PT BMH melalui liputan langsung yang bisa diakses di
media sosial twitter dengan akun @riaucorruption.
SEKIAN
Untuk informasi selanjutnya sila hubungi:
Made Ali
081275311009
www.eyesontheforest.or.id
www.rct.or.id
Download