MATA KULIAH : HUKUM AGRARIA - Universitas Sumatera Utara

advertisement
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis
penelitian
yang
digunakan
adalah
deskriptif-kuantitatif,
yakni
menggambarkan pengetahuan dan sikap siswa tentang seksual remaja. Metode
penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk
membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif., yang bertujuan untuk
mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara
tentang perilaku seksual.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian di laksanakan di SMA Negeri 3 Rantau Utara. Adapun alasan
pemilihan lokasi ini adalah karena masih rendahnya pengetahuan siswa-siswi tentang
perilaku seksual serta resikonya terhadap kesehatan reproduksi.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan pelaksanaanya pada bulan April-Mei 2017
38
Universitas Sumatera Utara
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X yang berjumlah
208 siswa dan kelas XI yang berjumlah 194 siswa, jadi total populasi nya adalah 403
siswa.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil diseluruh objek yang di teliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Cara pengambilan sampel
yaitu dengan cara simple random sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan
cara acak tanpa memperhatikan strata yang ada didalam anggota populasi. Seluruh
anggota populasi menjadi anggota dari kerangka sampel. Cara ini dilakukan bila
anggota populasi dianggap homogeny (sejenis), cara pengambilan sampel bisa di
lakukan dengan pengembalian atau tanpa pengembalian. Pengambilan nya dilakukan
dengan menggunakan aplikasi Random Number Generator(RNG), yang mana RNG
ini adalah sebuah program atau alat untuk menghasilkan urutan angka atau simbol
secara tidak teratur dan tanpa pengembalian angka yang sudah keluar.
Besar sampel didapatkan dengan menggunakan rumus besar sampel menggunakan
rumus Taro Yamane (1967) sebagai berikut :
N = Jumlah sampel
N = Jumlah Populasi
d = Level signifikansi yang diinginkan
39
Universitas Sumatera Utara
Dengan menggunakan rumus diatas, maka di peroleh besar sampel sebagai
berikut :
Dari Perhitungan di atas, diperoleh sampel minimal yaitu 44 orang
3.4 Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari responden dengan menggunakan
kuisoner yang berisi daftar pertanyaan yang telah di persiapkan sebelumnya.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari sekolah berupa jumlah siswa/siswi kelas X, XI
dan XII di SMA Negeri 3 Rantau Utara
3.5 Definisi Operasional
Pedoman awal untuk pengumpulan informasi sesuai dengan fokus penelitian
digunakan defenisi operasional yang di kembangkan dalam uraian di bawah ini
1.Karakteristik Siswa
40
Universitas Sumatera Utara
- Umur yaitu lama hidup responden yang dihitung berdasarkan tahun sejak lahir
sampai saat penelitian dilaksanakan.
- Jenis kelamin yaitu perbedaan ciri fisiologis responden, yang dibagi dalam dua
kategori, yaitu : laki-laki dan perempuan.
- Tempat tinggal yaitu tempat tinggal asli responden pada saat penelitian
dilaksanakan.
2. Sumber Informasi
1. Media informasi adalah media seperti televisi, Koran, majalah ataupun berbagai
media yang bisa di akses melalui internet yang mempengaruhi secara langsung
maupun tidak langsung pengetahuan dan sikap objek penilitian terhadap perilaku
seksual.
2. Keluarga adalah lingkungan sosial terdekat objek penelitian yang mempengaruhi
pengetahuan dan sikap objek penelitian tentang perilaku seksual.
3. Teman sebaya adalah lingkungan sosial objek penelitian yang terdiri dari teman yang
umur nya tidak berbeda jauh dari objek penelitian dan aktif berkomunikasi dengan
nya.
3.6 Aspek Pengukuran
3.6.1. Sumber Informasi
1.
Media Informasi
Media informasi adalah segala sarana media dimana remaja mendapatkan
informasi tentang perilaku seksual, dan dapat diukur dengan skoring terhadap
kuesioner dengan menggunakan skala thrustone, dimana jawaban setiap item
41
Universitas Sumatera Utara
yang menggunakan skala ini mempunyai gradasi dari sangat positif sampai
negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain : Ya dan Tidak. Dengan jumlah
pertanyaan 7 dimana setiap jawaban memiliki nilai tertinggi 1 dan terendah 0.
Total skor nilai tertinggi adalah 7.
Berdasarkan Arikunto (1998), aspek pengukuran dengan kategori dari
jumlah nilai yang ada diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu :
a. Nilai baik, apabila responden mendapat nilai >75% dari nilai tertinggi seluruh
pertanyaan dengan total nilai 7 yaitu <5,25
b. Nilai sedang, apabila responden mendapat nilai 45%-75% dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan dengan total nilai 7 yaitu 3,15-5,25
c. Nilai kurang, apabila responden mendapat nilai <45% dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan dengan total nilai 7 yaitu <3,15
2.
Keluarga
Keluarga adalah orangtua, kakak, adik, anak, atau saudara yang tinggal
satu rumah dengan remaja responden dapat diukur dengan skoring terhadap
kuesioner dengan menggunakan skala thrustone, dimana jawaban setiap item
yang menggunakan skala ini mempunyai gradasi dari sangat positif sampai
negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain : Ya, Tidak. Dengan jumlah
pertanyaan 4 dimana setiap jawaban memiliki nilai tertinggi= 1 dan terendah 0.
Total skor nilai tertinggi adalah 4.
Berdasarkan Arikunto (1998), aspek pengukuran dengan kategori dari
jumlah nilai yang ada diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu :
42
Universitas Sumatera Utara
1. Nilai baik, apabila responden mendapat nilai >75% dari nilai tertinggi seluruh
pertanyaan dengan total nilai 5 yaitu <3,75
2. Nilai sedang, apabila responden mendapat nilai 45%-75% dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan dengan total nilai 5 yaitu 2,25-3,75
3. Nilai kurang, apabila responden mendapat nilai <45% dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan dengan total nilai 5 yaitu <2,25
3. Teman Sebaya
Sumber informasi teman sebaya diukur melalui 5 pertanyaan dengan
menggunakan skala thrustone.Skala pengukuran tindakan berdasarkan jawaban
yang
diperoleh
dari
responden
terhadap
seluruh
pertanyaan
yang
diberikan.Masing-masing alternatif jawaban “Ya” dan “Tidak”, dengan ketentuan
jika responden menjawab “Ya” dikatakan benar diberi nilai 1 (satu), dan jika
responden menjawab “Tidak” maka dikatakan salah diberi nilai 0 (nol). Nilai
tertinggi dari seluruh pertanyaan adalah 1 (satu) sehingga total nilai tertinggi
adalah 4 (empat).
Berdasarkan Arikunto (1998), aspek pengukuran dengan kategori dari
jumlah nilai yang ada diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu :
a. Nilai baik, apabila responden mendapat nilai >75% dari nilai tertinggi seluruh
pertanyaan dengan total nilai 4 yaitu <3
b. Nilai sedang, apabila responden mendapat nilai 45%-75% dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan dengan total nilai 5 yaitu 1,8-3
43
Universitas Sumatera Utara
c. Nilai kurang, apabila responden mendapat nilai <45% dari nilai tertinggi
seluruh pertanyaan dengan total nilai 5 yaitu <1,8
Aspek pengukuran dalam penelitian ini didasrkan pada jawaban responden
terhadap pertanyaan dari kuesioner yang disesuaikan dengan skor.
3.6.2 Pengetahuan Siswa
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh siswa tentang perilaku seksual
diukur melalui 14 pertanyaan dari nomor 1-14 dengan skor tertinggi adalah 28
• Jika responden menjawab 3-5 item, skornya 2
•
Jika responden menjawab 1-2 item, skornya 1
Cara menentukan kategori tingkat pengetahuan responden mengacu pada
presentase berikut (Arikunto,2007) :
1. Pengetahuan baik, apabila skor jawaban >75% nilai keseluruhan >21
2. Pengetahuan sedang, apabila skor jawaban 45-75% nilai keseluruhan (12,621)
3. Pengetahuan kurang apabila skor jawaban <45% nilai keseluruhan <12,6
3.6.3 Sikap Siswa
Aspek pengukuran sikap dilakukan dengan menggunakan skala Likert yang tediri dari
4 kategori yaitu SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju), STS (Sangat Tidak
44
Universitas Sumatera Utara
Setuju) (Riduan,2003). Sikap di ukur melalui 15 pertanyaan dengan skor maksimal
50 yaitu sebagai berikut :
a. Untuk pernyataan positif (favourable) (pertanyaan no 1,2,3,4,5,6,7) diberi
skor :
Nilai 4 : Jawaban sangat setuju (SS)
Nilai 3 : Jawaban setuju (S)
Nilai 2 : Jawaban tidak setuju (TS)
Nilai 1 : Jawaban sangat tidak setuju (STS)
b. Untuk
pernyataan
negatif
(unfavourable)
(pertanyaan
no
8,9,10,11,12,13,14,15) diberi skor :
Nilai 1 : Jawaban sangat setuju (SS)
Nilai 2 : Jawaban setuju (S)
Nilai 3 : Jawaban tidak setuju (TS)
Nilai 4 : Jawaban sangat tidak setuju (STS)
Adapun skor tertinggi yang dapat tercapai responden adalah berjumlah 60.
Cara menentukan kategori tingkap sikap responden mengacu pada presentase
berikut (Arikunto,2017) :
1. Sikap baik, apabila skor jawaban >75% nilai keseluruhan >45
2. Sikap sedang, apabila skor jawaban 45-75% nilai keseluruhan (27-45)
3. Sikap kurang apabila skor jawaban <45% nilai keseluruhan <27
45
Universitas Sumatera Utara
3.7 Metode Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul kemudian diolah (editing, coding, entry , dan cleaning
data).
1. Editing, yaitu memeriksa kelengkapan, kejelasan makna jawaban, konsistensi maupun
kesalahan antar jawaban pada kuesioner. Apabila terdapat data yang kurang lengkap
dapat langsung diperbaiki di tempat pengumpulan data.
2. Coding, yaitu memberikan kode-kode (khususnya yang berbentuk angka/bilangan)
untuk memudahkan proses pengolahan data.
3. Entry, yaitu memasukkan data untuk diolah menggunakan computer apabila data sudah
benar dan telah melewati editing dan coding.
4. Cleaning, yaitu membersihkan data dari kesalahan apabila ada dengan melihat missing
data, variasi data dan konsistensi data.
3.8 Analisis Data
Analisis data bersifat deskriptif yaitu mengetahui tentang gambaran
pengetahuan dan sikap siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara tentang perilaku seksual
tahun 2017.
46
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
SMA Negeri 3 Rantau Utara terletak di Jl. WR. Supratman Rantauprapat No.
01 Rantauprapat. SMA Negeri 3 Rantau Utara memiliki beberapa fasilitas yang
berguna untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Yaitu, ruangan laboratorium
fisika, laboratorium kimia,laboratorium Bahasa,
ruang komputer, perpustakaan,
lapangan basket, lapangan bola dan ruangan kelas yang dipakai untuk belajar
mengajar. Adapun jumlah siswa yang terdaftar sebagai peserta didik pada tahun
ajaran 2016/2017 sebanayak 611 siswa, yang terdiri dari
• Kelas 12 sebanyak 207 siswa yang tediri dari 4 kelas jurusan IPA dan
2 kelas jurusan IPS
• Kelas 11 sebanyak 196 siswa yang terdiri dari 4 kelas jurusan IPA dan
2 kelas jurusan IPS
• Kelas 10 sebanyak 208 siswa yang terdiri dari 5 kelas IPA dan 2 kelas
IPS
4.2 Gambaran Karakteristik Siswa
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Jenis
Kelamin Siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara
47
Universitas Sumatera Utara
No
Jenis Kelamin
Jumlah (n)
%
1
Laki-laki
23
52
2
Perempuan
21
48
Jumlah
44
100
Berdasarkan table 4.1 di atas diketahui bahwa jenis kelamin responden paling
banyak adalah laki-laki sebanyak 23 siswa (52%), sendangkan responden perempuan
berjumlah 21 siswi (48%).
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Umur
Siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara
No
Umur (Tahun)
Jumlah (n)
%
1
14
6
14
2
15
17
39
3
16
12
27
4
17
9
20
Jumlah
44
100
Berdasarkan table 4.2 di atas diketahui bahwa responden paling banyak
berumur 15 tahun sebanyak 17 orang (39%), kemudian berumur 16 tahun sebanyak
12 orang (27%) , umur 17 tahun 9 orang (20%) dan paling sedikit berumur 14 tahun
yaitu sebanyak 6 orang (14%).
48
Universitas Sumatera Utara
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Media Informasi
No
Media Informasi
Jumlah (n)
%
1
Televisi
9
20
2
Koran
2
5
3
Buku
9
20
4
Internet
24
55
Jumlah
44
100
Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui bahwa media informasi yang paling banyak
memberikan informasi tentang kesehatan paling banyak yaitu dari Internet sebanyak
24 orang (55%), televisi dan buku masing masing sebanyak 9 orang (20%) dan Koran
sebanyak 2 orang (5%).
4.3 Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distibusi frekuensi
media
informasi, keluarga dan teman sebaya sebagai sumber informasi tentang perilaku
seksual pada siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara, maka variable Univariat yang di
analisis adalah sebagai berikut :
4.3.1 Media Informasi
Tabel 4.4 Distribusi Jawaban Terhadap Pertanyaan Tentang Media Informasi
Sebagai Sumber Informasi di SMA Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
49
Universitas Sumatera Utara
No Item Jawaban
Ya
f
1
2
3
4
5
6
7
Tidak
%
f
%
Pernahkah anda mendengar informasi 41
93,2
3
6,8
mengenai perilaku seksual dari media
cetak ?
Pernahkah anda mendengar informasi 43
97,7
1
2,3
mengenai perilaku seksual dari media
elektronik ?
Pernahkah
anda
mendapatkan 28
63,6
16
36,4
penyuluhan yang berhubungan dengan
perilaku seksual pada remaja ?
Pernahkah anda mengikuti seminar yang 32
72,7
12
27,3
berhubungan dengan perilaku seksual
pada remaja ?
Pernahkah anda melihat berita mengenai 41
93,2
3
6,8
bahaya dari perilaku seksual yang
menyimpang pada remaja ?
Apakah anda pernah mengakses konten- 28
63,6
16
36,4
konten pornografi baik pada media
elektronik maupun media cetak ?
Informasi tentang perilaku seksual dari 25
56,8
19
43,2
media informasi yang tersedia sudah
cukup untuk menghindarkan anda dari
perilaku seksual yang salah
Hasil penelitian pada jawaban siswa mengenai peran media informasi sebagai
sumber informasi yang disajikan pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa sebanyak 41
siswa (93,2%) pernah mendapatkan informasi mengenai perilaku seksual dari media
cetak, 43 siswa (97,7%) pernah mendengar informasi mengenai perilaku seksual dari
media elektronik, siswa yang pernah mendapatkan penyuluhan berhubungan dengan
perilaku seksual remaja sebanyak 28 orang (63,6%) dan yang mengikuti seminar
mengenai perilaku seksual pada remaja sebanyak 32 orang (72,7%). Sementara
jumlah siswa yang pernah melihat berita mengenai bahaya dari perilaku seksual yang
50
Universitas Sumatera Utara
menyimpang pada remaja sebanyak 41 orang (93,2%), yang pernah mengakses
konten pornografi baik media cetak maupun elektronik sebanyak 28 orang (63,6%),
dan siswa yang merasa informasi tentang perilaku seksual yang tersedia di mediamedia informasi sudah cukup untuk menghindarkan mereka dari perilaku seksual
yang salah berjumlah 25 orang (56,8%) dan yang merasa informasi yang tersedia
belum cukup berjumlah 19 orang (43,2%).
Tabel 4.5 Distribusi Siswa Berdasarkan Pertanyaan Tentang Media Informasi di
SMA Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
Media Informasi
f
%
Baik
35
79,5
Sedang
8
18,2
Kurang
1
2,3
Jumlah
44
100
Berdasarkan tabel 4.5 di atas dilihat bahwa mayoritas siswa mendapatkan
pengetahuan yang baik dari media informasi tentang perilaku seksual remaja, yaitu
sebesar 79,5% , sedang sebesar 18,2% dan kurang sebesar 3,2%.
4.3.2 Keluarga
Tabel 4.6 Distribusi Jawaban Terhadap Pertanyaan Tentang Keluarga Sebagai
Sumber Informasi di SMA Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
51
Universitas Sumatera Utara
No Item Jawaban
Ya
f
1
2
3
4
5
Tidak
%
f
%
Apakah
keluarga
anda
pernah 33
75
11
25
menjelaskan / memberikan informasi
tentang perilaku seksual ?
Apa anda bertanya kepada orang tua/ 11
25
33
75
keluarga anda tentang perilaku seksual ?
Apakah
keluarga
anda
memberi 41
93,2
3
6,8
pengawasan agar anda terhindar dari
perilaku seksual pranikah ?
Informasi dan pengawasan yang 17
38,6
27
61,4
didapatkan dari keluarga sudah cukup
untuk menghindarkan remaja dari
perilaku seksual pranikah
Apakah anda selalu berkomunikasi atau 34
77,3 10
22,3
berkonsultasi kepada keluarga anda saat
menghadapi masalah ?
Hasil penelitian pada jawaban siswa mengenai peran keluarga sebagai sumber
informasi yang disajikan pada tabel 4.6 dapat dilihat bahwa 33 siswa (75%)
menyatakan bahwa pernah mendapkan informasi tentang perilaku seksual dari
keluarga nya, sementara 33 orang (75%) menyatakan tidak pernah bertanya pada
keluarga atau orang tua tentang perilaku seksual, sebanyak 41 orang (93,2%)
menyatakan bahwa keluarga mereka memberikan pengawasan kepada mereka agar
terhindar dari perilaku seksual pranikah, menurut 27 siswa (61,4%) yang menjadi
responden bahwasanya informasi dari keluarga mengenai perilaku seksual pranikah
belum cukup, dan sebanyak 34 siswa (77,3%) menyatakan berkomunikasi atau
berkonsultasi kepada keluarga saat menghadapi masalah.
Tabel 4.7 Distribusi Siswa Berdasarkan Pertanyaan Tentang Keluarga di SMA
Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
52
Universitas Sumatera Utara
Keluarga
f
%
Baik
17
38,6
Sedang
21
47,7
Kurang
6
13,6
Jumlah
44
100
Berdasarkan tabel 4.7 di atas dilihat bahwa mayoritas siswa
mendapatkan pengetahuan yang sedang dari keluarga tentang perilaku seksual
remaja, yaitu sebesar 47,7% , baik sebesar 38,6% dan kurang sebesar 13,6%.
4.3.3 Teman Sebaya
Tabel 4.8 Distribusi Jawaban Terhadap Pertanyaan Tentang Teman Sebatya
Sebagai Sumber Informasi di SMA Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
No Item Jawaban
Ya
f
1
2
3
4
Apakah teman-teman anda sering 38
membicarakan masalah-masalah seksual
pada saat berkumpul ?
Apakah teman-teman anda pernah 19
menawarkan anda untuk meng copy atau
mengakses konten-konten yang bersifat
seksual/pornografi ?
Apakah teman anda pernah memberitahu 36
anda informasi tentang perilaku seksual
?
Apakah teman-teman anda menyarankan 30
anda untuk pacaran ?
Hasil penelitian pada jawaban siswa mengenai
Tidak
%
f
%
86,4
6
13,6
43,2
25
56,8
81,8
8
18,2
68,2
14
31,8
peran teman sebaya sebagai
sumber informasi yang disajikan pada tabel 4.8 dapat dilihat bahwa 38 siswa (86,4%)
53
Universitas Sumatera Utara
menyatakan pernah membicarakan masalah-masalah yang berkaitan tentang perilaku
seksual pada saat berkumpul bersama teman sebayanya, dan sebanyak 25 siswa
(56,8%) menyatakan bahwa teman sebaya nya tidak pernah menawarkan untuk meng
copy atau mengakses konten-konten pornografi, sementara 19 siswa (43,2%)
menyatakan bahwa pernah di tawarkan, sebanyak 36 siswa (81,8%) menyatakan
bahwa teman sebaya nya pernah memberikan informasi tentang perilaku seksual dan
sebanyak 30 siswa (68,2%) menyatakan bahwa teman sebaya mereka pernah
menyarankan untuk pacaran.
Tabel 4.9 Distribusi Siswa Berdasarkan Pertanyaan Tentang Keluarga di SMA
Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
Teman Sebaya
f
%
Baik
30
68,2
Sedang
14
31,8
Jumlah
44
100
Berdasarkan tabel 4.9 di atas dilihat bahwa mayoritas siswa mendapatkan
pengetahuan yang baik dari teman sebaya tentang perilaku seksual remaja, yaitu
sebesar 68,2% dan sedang sebesar 31,8%.
4.3.4 Pengetahuan
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Jawaban Berdasarkan Pengetahuan Siswa
Tentang Perilaku Seksual Di SMA Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
54
Universitas Sumatera Utara
No
Pertanyaan
Jumlah
1
Apakah yang dimaksud dengan perilaku seksual ?
%
Responden yang menjawab 3-5
28
63,6
Responden yang menjawab 1-2
16
36,4
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
2
Faktor Apakah Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual
Responden yang menjawab 3-5
28
63,6
Responden yang menjawab 1-2
16
36,4
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
3
Dari perilaku di bawah ini, mana yang termasuk perilaku seksual
Responden yang menjawab 3-5
25
56,8
Responden yang menjawab 1-2
19
43,2
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
4
Sebutkan beberapa faktor yang anda ketahui menjadi penyebab remaja jatuh
kedalam berbagai persoalan seksual !
Responden yang menjawab 3-5
40
90,9
Responden yang menjawab 1-2
4
9,1
55
Universitas Sumatera Utara
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
5
Permasalahan yang di hadapi remaja dari segi perilaku seksualnya sebagian
besar diakibatkan oleh ?
Responden yang menjawab 3-5
36
81,8
Responden yang menjawab 1-2
8
18,2
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
6
Apa saja alasan remaja melakukan perilaku seksual pranikah ?
Responden yang menjawab 3-5
15
34,1
Responden yang menjawab 1-2
29
65,9
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
7
Apa saja hal yang bisa mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks
untuk pertama kalinya ?
Responden yang menjawab 3-5
26
59,1
Responden yang menjawab 1-2
18
40,9
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
8
Apa saja yang menjadi resiko dari perilaku seksual pranikah pada remaja ?
56
Universitas Sumatera Utara
Responden yang menjawab 3-5
36
81,8
Responden yang menjawab 1-2
8
18,2
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
9
Apa yang menjadi dampak psikologis dari perilaku seks pranikah pada remaja
?
Responden yang menjawab 3-5
27
61,4
Responden yang menjawab 1-2
17
38,6
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
10
Apa yang akan menjadi dampak sosial dari perilaku seks pranikah pada remaja
perempuan ?
Responden yang menjawab 3-5
31
70,5
Responden yang menjawab 1-2
13
39,5
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
11
Apa saja cara-cara menghindari perilaku seksual pranikah pada remaja ?
Responden yang menjawab 3-5
42
95,5
Responden yang menjawab 1-2
2
4,5
Jumlah
44
100
57
Universitas Sumatera Utara
No
Pertanyaan
Jumlah
12
Sebutkan faktor-faktor yang menyebabkan
seksual ?
Responden yang menjawab 3-5
38
remaja
%
melakukan
hubungan
86,4
Responden yang menjawab 1-2
6
13,6
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
13
Menurut anda apa yang menjadi alasan remaja melakukan hubungan seks
pranikah ?
Responden yang menjawab 3-5
24
54,5
Responden yang menjawab 1-2
20
45,5
Jumlah
44
100
No
Pertanyaan
Jumlah
%
14
Menurut anda apa yang tergolong aktifitas seksual ?
Responden yang menjawab 3-5
35
79,5
Responden yang menjawab 1-2
9
20,5
Jumlah
44
100
Pada tabel 4.10 di atas di ketahui untuk pertanyaan defenisi perilaku seksual
paling banyak menjawab 3-5 pilihan sebanyak 28 siswa (63,4%), untuk pertanyaan
factor yang mempengaruhi perilaku seksual paling banyak menjawab 3-5 pilihan
sebanyak 28 siswa (63,4%), untuk pertanyaan perilaku yang termasuk perilaku
seksual paling banyak menjawab 3-5 pilihan yaitu sebanyak 25 siswa (56,8%), untuk
58
Universitas Sumatera Utara
pertanyaan faktor penyebab remaja jatuh ke berbagai permasalahan seksual paling
banyak menjawab 3-5 pilihan sebanyak 40 siswa (90,9%), pada pertanyaan
permasalahan remaja dari segi perilaku seksual paling banyak mejawab 3-5 pilihan
yaitu sebanyak 36 siswa (81,8%), untuk pertanyaan asalan remaja melakukan
perilaku seksual pranikah paling banyak menjawab 1-2 pilihan yaitu sebanyak 29
siswa (65,9%), untuk pertanyaan hal yang mempengaruhi remaja untuk melakukan
seks pertama kali paling banyak mejawab 3-5 pilihan yaitu 26 siswa (59,1%).
Untuk pertanyaan yang menjadi resiko perilaku seksual remaja paling banyak
menjawab 3-5 pilihan yaitu sebanyak 36 siswa (81,8%), pada pertanyaan dampak
psikologis perilaku seks pranikah remaja paling banyak menjawab 3-5 pilihan yaitu
27 siswa (61,4%),
pada pertanyaan dampak sosial perilaku seks pranikah pada
remaja perempuan paling banyak menjawab 3-5 pilihan yaitu 31 siswa (70,5%),
untuk pertanyaan cara menghindari perilaku seksual pranikah remaja mayoritas
menjawab 3-5 pilihan yaitu sebanyak 42 siswa (95,5), pada pertanyaan factor
menyebabkan remaja melakukan hubungan seksual mayoritas menjawab 3-5 pilihan,
yaitu sebanyak 38 siswa (84,6%), pada pertanyaan alasan remaja melakukan
hubungan seksual pranikah mayoritas menjawab 3-5 pilihan, yaitu sebanyak 24 siswa
(54,5%), pada pertanyaan apa yang tergolong aktifitas seksual, mayoritas menjawab
3-5 pertanyaan, yaitu sebanyak 35 siswa (79,5%).
59
Universitas Sumatera Utara
Tabel
4.11
Distribusi
Frekuensi
Mahasiswa
Berdasarkan
Tingkatan
Pengetahuan Tentang Perilaku Seksual Pada Siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara
Tahun 2017
Teman Sebaya
f
%
Baik
15
34,1
Sedang
29
65,9
Jumlah
44
100
Berdasarkan tabel 4.11 di atas dilihat bahwa mayoritas siswa mempunyai
tingkat pengetahuan yang sedang yaitu sebanyak 65,9% dan tingkat pengetahuan baik
sebanyak 34,1%
4.3.5 Sikap
Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Jawaban Berdasarkan Sikap Siswa Tentang
Perilaku Seksual Di SMA Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
No
Pernyataan
Jumlah
%
1
Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual
Sangat Setuju
20
45,5
Setuju
24
54,5
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
2
Rasa penasaran dan keingintahuan yang besar bisa mendorong remaja untuk
melakukan perilaku seksual.
60
Universitas Sumatera Utara
Sangat Setuju
28
63,6
Setuju
16
36,4
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
3
Semakin banyak pengalaman maka semakin kuat rangsangan yang mendorong
munculnya perilaku seksual..
Sangat Setuju
20
45,5
Setuju
12
27,3
Tidak Setuju
12
27,3
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
4
Pergaulan bebas merupakan salah satu perilaku seksual yang menyimpang.
Sangat Setuju
38
84,6
Setuju
6
13,4
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
5
Menonton film porno, membaca buku seks dan bercerita tentang hubungan
seksual dapat meningkatkan perilaku seksual yang kurang baik.
Sangat Setuju
35
79,5
Setuju
9
20,5
61
Universitas Sumatera Utara
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
6
Berpegangan tangan, berpelukan antar lawan jenis adalah perilaku seksual
Sangat Setuju
22
50
Setuju
12
27,3
Tidak Setuju
10
22,7
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
7
Onani pada remaja pria termasuk perilaku seksual.
Sangat Setuju
18
40,9
Setuju
26
59,1
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
8
Perilaku seksual itu adalah seperti keluar bersama, berpegangan tangan,
berpelukan
Sangat Setuju
24
54,5
Setuju
10
22,7
Tidak Setuju
10
22,7
Jumlah
44
100
62
Universitas Sumatera Utara
No
Pernyataan
Jumlah
%
9
Untuk menunjukan identitas diri seorang remaja, maka ia harus berani
melakukan perilaku seksual.
Sangat Tidak Setuju
26
59,1
Tidak Setuju
14
31,8
Setuju
4
9,1
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
10
Remaja yang tidak melakukan hubungan seksual dianggap tidak modern oleh
teman sebayanya
Sangat Tidak Setuju
28
63,6
Tidak Setuju
16
36,4
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
11
Perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja tidak berdampak negatif pada
kehidupanya kelak.
Sangat Tidak Setuju
22
50
Tidak Setuju
13
29,5
Setuju
1
2,3
Sangat Setuju
8
18,2
Jumlah
44
100
63
Universitas Sumatera Utara
No
Pernyataan
Jumlah
%
12
Kebebasan untuk bereksplorasi dengan perilaku seksual pada remaja tidak
perlu dipermasalahkan.
Sangat Tidak Setuju
30
68,2
Tidak Setuju
14
31,8
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
13
Perilaku seksual pada remaja adalah hal yang wajar untuk menyalurkan hasrat
seksualnya.
Sangat Tidak Setuju
17
38,6
Tidak Setuju
20
45,5
Setuju
7
15,9
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
14
Melakukan hubungan seksual adalah hal yang wajar dilakukan dalam
berpacaran.
Sangat Tidak Setuju
22
50
Tidak Setuju
22
50
Jumlah
44
100
No
Pernyataan
Jumlah
%
15
Perilaku seksual seperti necking (bercium sampai daerah dada ) adalah hal
yang wajar.
64
Universitas Sumatera Utara
Sangat Tidak Setuju
30
68,2
Tidak Setuju
14
31,8
Jumlah
44
100
Pada Tabel 4.12 dapat diketahui bahwa sikap responden tentang prilaku
seksual sebagian besar responden setuju dengan pernyataan perilaku seksual adalah
perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual sebanyak 24 orang (54,5%)
dan sebagian besar sangat setuju dengan pernyataan bahwa rasa penasaran dan
keingintahuan yang besar bisa mendorong remaja untuk melakukan perilaku seksual
sebanyak 28 orang (53,6%). Diketahui bahwa sebagian besar responden sangat setuju
dengan pernyataan bahwa semakin banyak pengalaman maka semakin kuat
rangsangan yang mendorong munculnya perilaku seksual sebanyak 20 orang (45,5%)
dan sebagian besar responden sangat setuju dengan pernyataan bahwa pergaulan
bebas merupakan salah satu dari perilaku seksual yang menyimpang sebanyak 38
orang (84,6%).
Sebagian besar responden sangat setuju dengan pernyataan bahwa menonton
film porno, membaca buku seks dan bercerita tentang hubungan seksual dapat
meningkatkan perilaku seksual yang tidak baik sebanyak 35 orang (79,5%), dapat
diketahui sikap sebagian responden sangat setuju dengan pernyataan bahwa
berpegangan tangan, berpelukan antar lawan jenis adalah perilaku seksual sebanyak
22 orang (50%). Dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden setuju
dengan pernyataan bahwa onani pada remaja pria termasuk perilaku seksual sebanyak
65
Universitas Sumatera Utara
26 orang
(59,1%) dan
sebagian besar responden sangat setuju dengan
pernyataan bahwa Perilaku seksual itu adalah seperti keluar bersama, berpegangan
tangan, berpelukan sebanyak 24orang (54,5%).
Sikap responden tentang prilaku seksual sebagian besar responden sangat
tidak setuju dengan pernyataan untuk menunjukan identitas diri seorang remaja, maka
ia harus berani melakukan perilaku seksual. sebanyak 26 orang (59,1%) dan sebagian
besar sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa remaja yang tidak melakukan
hubungan seksual dianggap tidak modern oleh teman sebayanya sebanyak 28 orang
(63,6%). Diketahui bahwa sebagian besar responden sangat tidak setuju dengan
pernyataan bahwa perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja tidak berdampak
negatif pada kehidupanya kelak.sebanyak 22 orang (50%) dan sebagian besar
responden sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa kebebasan untuk
bereksplorasi
dengan
perilaku
seksual
pada
remaja
tidak
perlu
dipermasalahkan.sebanyak 30 orang (68,2%).
Sikap responden tentang prilaku seksual sebagian besar responden tidak
setuju dengan pernyataan perilaku seksual pada remaja adalah hal yang wajar untuk
menyalurkan hasrat seksualnya. sebanyak 20orang (45,5%) dan responden
menyatakan sama banyak nya tidak setuju dan sangat tidak setuju dengan pernyataan
bahwa melakukan hubungan seksual adalah hal yang wajar dilakukan dalam
berpacaran sebanyak masing-masing 22 orang (50%). Diketahui bahwa sebagian
besar responden sangat tidak setuju dengan pernyataan bahwa perilaku seksual yang
dilakukan oleh remaja tidak berdampak negatif pada kehidupanya kelak.sebanyak 22
66
Universitas Sumatera Utara
orang (50%) dan sebagian besar responden sangat tidak setuju dengan pernyataan
Perilaku seksual seperti necking (bercium sampai daerah dada ) adalah hal yang wajar
sebanyak 30 orang (68,2%).
Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Mahasiswa Berdasarkan Tingkatan Sikap
Tentang Perilaku Seksual Pada Siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara Tahun 2017
Teman Sebaya
f
%
Baik
43
97,7
Sedang
1
2,3
Jumlah
44
100
Berdasarkan tabel 4.13 di atas dilihat bahwa mayoritas siswa mempunyai
tingkat pernyataan sikap yang baik yaitu sebanyak 97,7% dan tingkat pernyataan
sikap sedang sebanyak 34,1%.
67
Universitas Sumatera Utara
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Sumber Informasi
5.1.1 Media Informasi
Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu medius yang artinya tengah,
perantara atau pengantar. Kata media, merupakan bentuk jamak dari kata “medium”,
yang secara etimologi berarti perantara atau pengantar. Kamus Besar Ilmu
Pengetahuan (dalam Dagun, 2006: 634) media merupakan perantara/ penghubung
yang terletak antara dua pihak, atau sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio,
televisi, film, poster, dan spanduk.
Peran media informasi sebagai sumber informasi tentang perilaku seksual
pada siswa SMA Negeri 3 Rantau Utara berdasarkan penelitian yang dituangkan pada
tabel 4.5 di atas di ketahui bahwa pengaruh media informasi sebagai sumber
informasi tentang perilaku seksual di nyatakan baik oleh 35 siswa (79,5%), 8 siswa
(18,2%) menyatakan sedang dan 1 orang siswa (2,3%) menyatakan bahwa media
informasi sebagai sumber informasi perilaku seksual kurang.
Dalam pertanyaan tentang media informasi sebagai sumber informasi perilaku
seksual ada berbagai media informasi yang di singgung, seperti media elektronik,
cetak, penyuluhan maupun dalam bentuk seminar dan mayoritas dari responden
menyatakan pernah mengakses ataupun mendapatkan infromasi dari media informasi
tersebut.
68
Universitas Sumatera Utara
5.1.2 Keluarga
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu
untuk saling membagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta
mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Friedman, 1998)
Keluarga merupakan unit sosial terkecil dan pertama kali di hadapi oleh
seorang individu, maka secara natural keluarga menjadi sumber informasi pertama
setiap individu atas sebagian besar informasi yang dibutuhkan setiap individu di
tingkatan awal kehidupan nya, tidak terlepas masalah pengetahuan tentang perilaku
seksual remaja, sebagaimana hasil penelitian yang sudah di tuangkan pada tabel 4.7
di atas, bahwa sebagian besar siswa yaitu sebanyak 21 orang menyatakan bahwa
keluarga sebagai kategori sedang sebagai sumber pengetahuan perilaku seksual,
sebanyak 17 orang menyatakan baik dan 6 orang menyatakan kurang.
Sebanyak
33
orang
(75%)
responden
menyatakan
bahwa
mereka
mendapatkan informasi tentang perilaku seksual dari keluarga atau orang tua mereka,
tetapi hanya 11 orang (25%) responden yang menyatakan bahwa mereka menjadikan
keluarga atau orang tua sebagai tempat untuk bertanya tentang masalah perilaku
seksual, angka ini menunjukkan bahwa mayoritas orang tua atau keluarga dari
responden sudah memberikan informasi tentang perilaku seksual kepada mereka,
namun setelah peneliti melakukan sedikit wawancara kepada para responden,
kebanyakan responden masih merasa sungkan atau segan dan juga merasa hal
tersebut masih merupakan hal yang bersifat tabu untuk dibahas atau dipertanyakan
kepada orang tua atau keluarga mereka.
69
Universitas Sumatera Utara
5.1.3 Teman Sebaya
Menurut Santrock (2007) mengatakan bahwa kawan-kawan sebaya adalah
anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih
sama. Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teman sebaya adalah
hubungan individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama serta
melibatkan keakraban yang relatif besar dalam kelompoknya.
Pada tabel 4.9 dinyatakan bahwa 30 siswa (68,2%) menyatakan bahwa teman
sebaya menjadi sumber informasi tentang perilaku seksual yang baik, dan 14 siswa
(31,8%) menyatakan bahwa teman sebaya sebagai sumber informasi pada kategori
sedang. Dinyatakan juga dalam hasil penelitian bahwa 38 responden (86,4%)
menyatakan mereka membicarakan tentang perilaku seksual dengan teman sebaya
nya dan 36 responden (81,8%) juga menyatakan bahwa mereka mendapatkan
informasi tentang perilaku seksual dari teman sebayanya.
5.2 Pengetahuan
Pengetahuan siswa adalah segala sesuatu yang diketahui siswa tentang
perilaku seksual dan memahaminya. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa
pengetahuan siswa tentang seksual remaja mayoritas sedang sebanyak 29 orang
(65,9%), sedangkan minoritas ada pada kategori baik sebanyak 15 orang (34,1%). Hal
ini sejalan dengan hasil penelitian Irawati Gultom (2014) tentang pengetahuan dan
sikap tentang seksual remaja di SMK Pencawan Medan serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya, menunjukkan bahwa dari 52 responden ada 60% responden
memiliki pengetahuan sedang . Dan sejalan juga dengan penemuan Angga (2009),
70
Universitas Sumatera Utara
dalam penelitiannya terhadap 70 siswa SMU Hang Tuah Belawan, pengetahuan siswa
mengenai seks pra-nikah sebagian besar ada pada kategori sedang yaitu berjumlah 51
orang (72,9%), sedangkan sebagian kecil ada pada kategori kurang yaitu sebanyak 4
orang (5,7%).
Membahas persoalan seks pranikah tidak dapat dilepaskan dari permasalahan
pendidikan seks ataupun pengetahuan kesehatan reproduksi karena antara satu dengan
yang lain saling berkaitan. Adanya penyimpangan perilaku seksual suatu gambaran
minimnya pengetahuan mereka mengenai informasi dasar kesehatan reproduksi atau
pendidikan seks yang tidak diberikan sejak dini sehingga mendorong mereka
melakukan hubungan seks tanpa memikirkan akibatnya. Hal ini juga dipengaruhi oleh
banyak faktor antara lain kebiasaan atau kemauan mencari informasi tentang
kesehatan seksual, media informasi dipergunakan anak remaja dalam mencari
informasi tentang perilaku seksual dan kesehatan reproduksi.
Ditinjau dari sumber informasi, hasil analisis data menunjukkan bahwa
media informasi yang paling banyak dipergunakan adalah media elektronik terutama
internet. Informasi tentang dampak perilaku seks ini dapat diberikan oleh orang tua di
rumah dan juga teman sebaya, akan tetapi baik teman sebaya maupun orang tua
masih belum memberikan gambaran tentang dampak yang diakibatkan dari perilaku
seksual, bahkan ada orang tua yang menganggap bahwa berbicara masalah seks itu
adalah tabu, karena tidak pantas dibicarakan secara terbuka untuk alasan apapun,
sehingga hal ini mengakibatkan remaja tidak mengetahui dampak seksual tersebut.
Bila dilihat dari usia remaja yang masih muda, ini juga dapat mempengaruhi perilaku
71
Universitas Sumatera Utara
remaja tentang seksual menjadi kurang baik, hal ini terjadi karena di usia remaja yang
masih muda ini, mereka ingin mencoba tentang apa yang mereka ketahui seperti
halnya seks pra-nikah. Menurut Sarwono (2011) ketidaktahuan orang tua maupun
sikap yang masih mentabukan pembicaraan seks dengan anak tidak terbuka terhadap
anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak tentang masalah ini akibatnya
pengetahuan remaja tentang seksualitas sangat kurang. Peran orang tua dalam
pendidikan anak sangatlah penting, terutama pemberian pengetahuan tentang
seksualitas.
Menurut (Hurlock, 2004; Lianna, 2007) kurangnya mendapatkan informasi
mengakibatkan kecendrungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya
penyebab informasi dan rangsangan seks melalui media massa menjadi tidak
terbendung lagi. Remaja yang sedang berada dalam periode ini ingin tahu dan ingin
mencoba segala sesuatu akan meniru apa yang dilihatnya dan didengarnya, khususnya
karena remaja belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap.
5.3 Sikap
Sikap adalah respon/penilaian tertutup siswa terhadap segala sesuatu
mengenai perilaku seksual. Sikap berfungsi menyesuaikan diri dengan keadaan
lingkungan, mengatur tingkah laku seseorang, mengatur perlakuan dan pernyataan
kepribadian seseorang. Sikap berasal dari pengalaman atau dari orang terdekat
dengan remaja itu sendiri. Sikap terbentuk karena adanya peran penting dari
pengetahuan, berfikir, keyakinan dan emosional. Bila dilihat dari jawaban remaja atas
beberapa pernyataan sikap dapat dilihat berdasarkan Tabel 5.13. diketahui bahwa
72
Universitas Sumatera Utara
sikap siswa tentang seksual remaja mayoritas baik sebanyak 43 orang (97,7%) dan
hanya ada 1 orang (2,3%) bersikap sedang (cukup). Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian Irawati Gultom (2014) tentang pengetahuan dan sikap tentang seksual
remaja di SMK Pencawan Medan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya,
menunjukkan bahwa dari 52 responden ada 62,9% responden memiliki sikap yang
baik.
Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa sikap merupakan respon yang
masih tertutup terhadap stimulus atau objek. Suatu sikap belum otomatis terwujud
dalam perilaku karena dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mendukung seperti
pengalaman, motivasi, pendidikan dan lainnya. Begitupun yang diungkapkan oleh
Paat (2007) bahwa pengalaman yang banyak mengenai informasi pendidikan seks
akan mendorong seseorang untuk dapat lebih mudah merubah sikap dan berperilaku
yang lebih baik.
Siswa memberikan penilaian mengenai pernyataan yang berkaitan dengan
perilaku seksual. Penilaian siswa tersebut terlepas benar atau salah, merupakan suatu
respon bahwasanya mereka menerima atau menolak perilaku seks. Hal ini tentu
dibekali dengan adanya faktor pengetahuan ataupun pengalaman dari siswa tersebut.
Walaupun peneliti ini telah memberikan informasi tentang pengetahuan dan
sikap yang di peroleh remaja terhadap perilaku seksual di SMA Negeri 3 Rantau
Utara, namun tidak berarti hasil penelitian yang didapat berlaku konstan untuk semua
subjek penelitian, karena ada faktor-faktor lain yang akan mempengaruhi variable
73
Universitas Sumatera Utara
yang diteliti, artinya penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian siswa SMA
Negeri 3 Rantau Utara. Belum tentu akan terdapat hasil yang sama jika dilakukan
penelitian pada tempat yang sama sekalipun dengan variable yang sama, karena
penelitian ini sifatnya deskriptif hanya memberikan gambaran tentang apa yang
diteliti.
74
Universitas Sumatera Utara
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa di SMA
Negeri 3 Rantau Utara pengetahuan siswa tentang seksual remaja di golongkan
sedang, hal ini diakibatkan, kebanyakan siswa menerima atau mencari informasi
tentang perilaku seksual bukan dari orang tua sendiri, hal ini disebabkan oleh masih
di anggap tabu nya pembahasan tentang perilaku seksual kepada orang tua . Siswa
cenderung mencari informasi melalui teman sebaya dan media informasi lain
terutama dengan menggunakan media elektronik seperti internet. Sumber informasi
yang diterima siswa sangat berpengaruh terhadap pengetahuan dan tingginya seksual
remaja pada siswa.
Dan berdasarkan penelitian ini juga dapat ditarik kesimpulan bahwa sikap
siswa di SMA Negeri 3 Rantau Utara tentang seksual remaja digolongkan baik, hal
ini dikarenakan kebanyakan siswa masih menganggap tabu tentang perilaku seks.
Sehingga
siswa
cenderung
langsung
menolak
melakukan
seksual
dalam
kesehariannya.
6.2 Saran
1. Pihak sekolah SMA Negeri 3 Rantau Utara untuk bekerjasama dengan Dinas
Kesehatan dan instansi terkait serta kegiatan ekstra kulikuler sekolah seperti
Palang Merah Remaja (PMR) dan Pramuka untuk melakukan upaya
penyuluhan kesehatan yang baik secara berkala agar pengetahuan dan sikap
75
Universitas Sumatera Utara
yang baik pada siswa mengenai perilaku seksual pada remaja, serta
penyuluhan penggunaan internet sehat tanpa mengakses konten-konten
pornografi yang ada di internet.
2. Diharapkan kepada pihak sekolah untuk bekerjasama dengan orang tua siswa
dalam memantau dan mengawasi tahap perkembangan siswa terutama dalam
hal perilaku seksual dengan memberikan pengetahuan seksual dan
pemahaman agama yang baik serta memberikan informasi yang benar agar
remaja tidak salah dalam mendapatkan informasi yang dapat mempengaruhi
perilaku seksualnya, serta mengawasi akses internet yang dilakukan oleh
remaja agar tidak mengakses konten pornografi di internet.
3. Diharapkan kepada siswa untuk mau mengikuti kegiatan positif seperti
kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, kegiatan penyuluhan kesehatan, olahraga
dan sebagainya, agar tidak memiliki waktu yang terlalu berlebihan dalam
mengakses internet yang rentan untuk terkontaminasi konten pornografi.
76
Universitas Sumatera Utara
Download