pengaruh tingkat suku bunga sbi, kurs mata uang

advertisement
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA SBI, KURS MATA UANG
RUPIAH ATAS DOLLAR AS, DAN INDEKS DOW JONES TERHADAP
INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) PADA BURSA EFEK
INDONESIA (BEI) PERIODE 2010-2014
¹Kadek Tias Raka Putri,
¹I Nyoman Ari Surya Darmawan, ²I Ni Luh Gede Erni Sulindawati
Jurusan Akuntansi Program S1
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail:{[email protected], [email protected],
[email protected]} @undiksha.ac.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis adanya pengaruh Tingkat Suku
Bunga SBI, Kurs Mata Uang Rupiah Atas Dollar, indeks dow jones terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan Pada Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2010-2014.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Jenis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data kuantitatif time series (runtut waktu) yang bersumber
dari data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui
informasi yang didapatkan dari buku, dokumen, maupun situs lembaga tertentu.
sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah nilai IHSG pada setiap akhir bulan
pengamatan periode 2010-2014 pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah data ada
setiap bulan selama 5 tahun sehingga ada 60 data tingkat suku bunga SBI, kurs mata
uang Rupiah atas Dollar AS, Indeks Saham Dow Jones dan perkembangan IHSG.
Teknik analisis data yang digunakan yaitu uji validitas dan reliabilitas, uji normalitas, uji
multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji hipotesis menggunakan analisis regresi
linear berganda
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) berpengaruh negatif dan siginifikan
antara tingkat suku bunga SBI dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), 2) Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengaruh yang positif dan signifikan antara kurs mata
uang Rupiah atas Dollar AS terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), 3) Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengaruh yang positif dan signifikan antara Indeks Dow
Jones terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kata Kunci: Suku Bunga SBI, Nilai Kurs Mata Uang Rupiah Terhadap Dollar AS), Indeks
Dow Jones (DJIA), Dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Abstract
This study was aimed at analyzing the effect of the effect of SBI interest rate, rate
of exchange of rupiah into dollar, and Dow Jones index on Composite Share Price Index
(IHSG) rate in Indonesia stock exchange (BEI) in the 2010-2014 period.
This was a quantitative research. The type of data used was time series
quantitative data obtained from secondary data, namely data obtained indirectly or
through information accessed from books, documents, and the website of a certain
organization. The sample was in the form of IHSG value at the end of the 2010-2014
month of observation period in Indonesia Stock Exchange (BEI). The number of data in
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
each month within five years that resulted in 60 data of SBI interest rate, rate of
exchange of rupiah into dollar , and Dow Jones index on development of IHSG. The
study used validity testing and reliability testing, normality testing, multicolinearity testing,
heteroscedasticity test, and hypothesis testing using multiple linear regression analysis.
The results showed that 1) there is a negative and significant effect of SBI
interest rate on Composite Share Price Index (IHSG) rate , 2) there is a positive and
significant effect of rate of exchange of rupiah into dollar on IHSG, 3) there is a positive
and significant effect of Dow Jones index on IHSG.
Keywords: rate of exchange of rupiah into dollar, and Dow Jones index on IHSG rate
PENDAHULUAN
Salah
satu
penggerak
perekonomian di Indonesia adalah pasar
modal,
suatu
perusahaan
dapat
memperoleh dana untuk melakukan
kegiatan pereknomiannya adalah melalui
pasar modal. Menurut Husnan (2003)pasar
modal adalah pasar untuk berbagai
instrument keuangan berjangka. Pasar
modal
merupakan
kegiatan
yang
berhubungan dengan penawaran umum
dan
perdagangan
efek,
di
mana
perusahaan publik yang berkaitan dengan
efek akan dapat menerbitkan perdagangan,
serta lembaga, dan profesi yang berkaitan
dengan efek. Pasar modal juga merupakan
salah satu penggerak perekonomian suatu
negara dimana pasar modal dapat dijadikan
tolak ukur dari perekonomian negara
tersebut. Karena pasar modal merupakan
sarana pembentuk modal dan akumulasi
dana jangka panjang yang di arahkan untuk
meningkatakan
pergerakan
partisipasi
masyarakat dalam pergerakkan dana guna
menunjang pembiayaan pembangunan
nasional.
Pasar modal memegang peranan
sangat penting dalam perekonomian
Indonesia, dimana nilai Indeks Harga
Saham Gabungan dapat menjadi leading
indicator economic pada suatu negara.
Pergerakan indeks sangat dipengaruhi oleh
ekspektasi
investor
atas
kondisi
fundamental negara maupun global.
Adanya informasi baru akan berpengaruh
pada ekspektasi investor yang akhirnya
akan berpengaruh pada IHSG.
Indeks harga saham adalah ukuran
yang didasarkan pada perhitungan statistik
untuk mengetahui perubahan-perubahan
harga saham setiap saat terhadap tahun
dasar. Indeks harga saham individual
sering digunakan untuk investor untuk
menentukan
perkembangan
suatu
perusahaan yang terefleksi dari indeks
harga sahamnya. Sedangkan indeks harga
saham gabungan sering sekali dipakai
sebagai indikator untuk mengukur situasi
umum perdagangan efek (Lubis, 2006:157).
Banyak
teori
dan
penelitian
mengungkapkan bahwa indeks harga
saham
gabungan
dipengaruhi
oleh
beberapa faktor. Salah satunya adalah
penelitian yang dilakukan oleh Moradoglu,
et al. (2000), dikemukakan bahwa
penelitian tentang perilaku harga saham
telah banyak dilakukan, terutama dalam
kaitannya dengan variabel makro ekonomi,
diantaranya Chen et al. (1986), dan Fama
(1981).
Hasil
penelitian
mereka
mengatakan
bahwa
harga
saham
dipengaruhi oleh fluktuasi makro ekonomi.
Beberapa variabel makro ekonomi yang
digunakan antara lain; tingkat inflasi, tingkat
suku bunga . Fenomena kenaikan maupun
penurunan IHSG tentunya disebabkan oleh
banyak faktor atau variabel yang dapat
mempengaruhi perubahan IHSG tersebut,
diantaranya tingkat suku bunga SBI, kurs
mata uang rupiah atas dollar AS, dan
indeks dow jones .
SBI (Sertifikat Bank Indonesia)
adalah surat berharga yang dikeluarkan
oleh Bank Indonesia sebagai pengakuan
utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan)
dengan sistem diskonto atau bunga.
Tingkat suku bunga yang berlaku pada
setiap penjualan SBI ditentukan oleh
mekanisme pasar berdasarkan sistem
lelang. Sejak awal Juli 2005, BI
menggunakan mekanisme "BI rate" (suku
bunga BI), yaitu BI mengumumkan target
suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk
pelelangan pada masa periode tertentu.
“Jika suku bunga ini lebih tinggi daripada
return yang dihrapkan maka investor akan
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
memilih
deposito
sebagai
pilihan
investasinya. Dalam penelitiannya, Lee
(1992) dan Gan et al (2006) telah
ditemukan bahwa perubahan tingkat bunga
(interest rate) mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap indeks harga saham.
Tingkat suku bunga SBI juga merupakan
salah
satu
variabel
yang
dapat
mempengaruhi harga saham. Secara
umum, mekanismenya adalah bahwa
suku bunga SBI bisa mempengaruhi suku
bunga deposito yang merupakan salah satu
alternatif bagi investor untuk mengambil
keputusan
dalam
menanamkan
modalnya. Jika suku bunga SBI yang
ditetapkan meningkat, investor akan
mendapat hasil yang lebih besar atas
suku bunga deposito yang ditanamkan
sehingga investor akan cenderung untuk
mendepositokan modalnya dibandingkan
menginvestasikan dalam saham. Hal ini
mengakibatkan investasi di pasar modal
akan semakin turun dan pada akhirnya
berakibat pada melemahnya Indeks Harga
Saham Gabungan.
Nilai tukar mata uang (exchange
rate) atau sering disebut kurs merupakan
harga mata uang terhadap mata uang
lainnya. Kurs merupakan salah satu harga
yang terpenting dalam perekonomian
terbuka mengingat pengaruh yang demikian
besar bagi neraca transaksi berjalan
maupun variabel-variabel makro ekonomi
yang lainnya. Kurs ataupun nilai tukar inilah
yang juga menjadi salah satu indikator yang
mempengaruhi perdagangan di pasar uang
dan saham, karena melemahnya kurs
rupiah terhadap mata uang asing
khususnya dollar AS, akan memiliki
pengaruh negatif terhadap perekonomian
dan pasar modal (Sitinjak dan Kurniasari,
2003).
Sebagai salah satu kekuatan
ekonomi terbesar, pengaruh Amerika
(AS) sangat besar bagi negara-negara
lain. Hal ini juga termasuk pengaruh
dari
perusahaan-perusahaan
dan
investornya sehingga pergerakan DJIA
yang merupakan salah satu index dalam
NYSE (New York Stock Exchange) akan
berpengaruh
pada
pergerakan index
harga saham negara-negara lain. Salah
satu indeks harga saham yang kerap
menjadi
acuan
dalam
proses
pengambilan keputusan investor di Bursa
Efek Indonesia adalah Dow Jones
Industrial Average. Dow Jones Industrial
Average merupakan indeks pengukur
kinerja pasar tertua di Amerika Serikat
yang masih berjalan hingga saat ini.
Indeks ini juga merupakan indeks yang
paling sering digunakan sebagai acuan
keadaan pasar saham di Amerika
Serikat atau New York Stock Exchange
(NYSE).
Indeks
ini
dianggap
dapat
merepresentasikan pengaruh bursa saham
Amerika Serikat yang besar terhadap
bursa saham global, termasuk Indonesia.
Eun dan Shim (1989) dalam Fajar
(2009:13) juga menyatakan bahwa pasar
Amerika Serikat adalah pasar modal yang
paling berpengaruh, sehingga perubahan
pasar Amerika Serikat akan dapat
mempengaruhi pergerakan pasar modal
lainnya. Berdasarkan pada latar belakang
diatas, maka penulis dalam penulisan ini
mengambil judul : Pengaruh Tingkat Suku
Bunga SBI, Kurs Mata Uang Rupiah Atas
Dollar AS dan indeks dow jones Terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Pada Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode
2010-2014”
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif. Jenis data yang digunakan
dalam penelitian adalah data kuantitatif time
series (runtut waktu)yang bersumber dari
data skunder, yaitu data yang diperoleh
secara tidak langsung atau melalui
informasi yang yang didapatkan dari buku,
dokumen, maupun situs lembaga tertentu.
Data untuk penelitian ini bersumber dari
situs www.yahoo.finance.com berupa data
Indeks Harga Saham Gabungan dan Dow
Jones (DJIA), kemudian dari www.bi.go.id
berupa suku bunga SBI, dan nilai kurs
dollar AS. Jumlah data ada setiap bulan
selama 5 tahun sehingga ada 60 data
tingkat suku bunga SBI, kurs mata uang
Rupiah atas Dollar AS, Indeks Saham Dow
Jones dan perkembangan IHSG .
Dalam pengumpulan data penulis
menggunakan
metode
dengan
dua
pendekatan yaitu : 1) Teknik Dokumentasi
Teknik
dokumentasi
yaitu
melalui
pencatatan ataupun softcopy atas data-data
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
yang
diperlukan.
2)
Pendekatan
Pendekatan kepustakaan adalah
pengumpulan data secara tidak langsung
yaitu
dengan
cara
membaca
dan
mempelajari buku-buku ataupun litelatur
yang disusun oleh para ahli dan diterbikan
oleh lembaga-lembaga tertentu serta
penelitian terdahulu yang berkaitan dengan
penelitian ini, kemudian akan ditarik
Analisis
Deskriptif
membahas
mengenai
cara
pengumpulan
data,
penyederhanaan angka-angka pengamatan
yang diperoleh (meringkas dan menyajikan)
serta melakukan pengukuran pemusatan
dan
penyebaran
untuk
memperoleh
informasi yang lebih menarik, berguna dan
lebih mudah dipahami. Tujuan penggunaan
analisis deskriftif ini adalah mengetahui
adanya pengaruh tingkat suku bunga SBI
dan kurs rupiah per dollar AS dan indeks
dow jones terhadap IHSG pada Bursa Efek
Indonesia sehingga dapat dinilai dan di
bandingkan dengan penelitian sebelumnya
dan disesuaikan dengan teori yang telah
ada.
Analisis statistik pada penelitian ini
antara lain : 1) Uji Asumsi Klasik Uji asumsi
klasik digunakan untuk menguji apakah
model regresi yang digunakan benar-benar
menunjukan hubungan yang signifikan dan
representatif. Jenis uji asumsi klasik yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut : 1)
Uji Normalita, Uji normalitas bertujuan untuk
menguji apakah dalam model regresi
variabel terikat dan variabel bebas
keduanya mempunyai distribusi normal
atau tidak. 2)Uji Multikolinearitas, Uji
multikolinearitas bertujuan untuk melihat
apakah model regresi yang digunakan atas
korelasi antara variabel bebas. Model
regresi yang baik seharusnya bebas
multikolinearitas atau tidak terjadi kolerasi
antara
variabel
independen.
Uji
multikolinearitas dapat dilihat dari (1) nilai
tolerance dan lawannya (2) Variance
Inflation Factor (VIF). Jika nilai tolerance
lebih besar dari 0,1 atau nilai VIF lebih kecil
dari 10, maka dapat disimpulkan tidak
terjadi multikolinearitas pada data yang
akan di olah. 3) Uji Autokorelasi, Uji
autokorelasi bertujuan untuk mendeteksi
ada atau tidaknya autokorelasi pada model
ini akan digunakan uji Durbin-Watson (DWTest). Jika nilai DW-Test lebih lebih besar
Kepustakaan
(Library
Research)
menjadi suatu kesimpulan. Teknik analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini
untuk menganalisis permasalahan yang
telah dirumuskan di perumusan masalah
adalah
sebagai
Analisis
Deskriptif
membahas mengenai cara pengumpulan
data, penyederhanaan angka-angka dan
pengamatan.
dari batas atas (du), maka tidak terjadi
autokorelasi. Untuk menguji autokorelasi
dalam penelitian ini digunakan statistik d
dari Durbin-Watson (DW test) dimana
angka-angka yang diperlukan dalam
metode tersebut adalah dL (angka yang
diperoleh dari tabel DW batas bawah), dU
(angaka yang diperoleh dari tabel DW batas
atas), 4-dL dan dU. Jika nilainya mendekati
2 maka tidak terjadi autokorelasi,
sebaliknnya jika mendekati 0 atau 4 terjadi
autokorelasi (+/-). 4) Uji Heteroskedatisitas,
Uji heteroskedatisitas bertujuan untuk
menguji apakah model regresi terjadi
kesamaan variance atau residual satu
pengamatan yang lain. Jika variance dari
residual satu pengamatan kepengamatan
lain tetap, maka disebut heteoskedatisitas,
sebaliknya
jika
tetap
disebut
Homokesdatisitas. Dasar analisis yang
digunakan
untuk
mendeteksi
heteroskedatisitas adalah sebagai berikiut:
a) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik
yang ada membentuk pola tertentu yang
teratur (bergelombang, melebar kemudian
menyempit) maka mengidentifikasikan telah
terjadi heterokesdatisitas. b) Jika tidak ada
pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di
atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y,
maka tidak terjadi heteroskerdatisitas.
Analisis regresi berganda bertujuan
untuk
meramalkan pengaruh
empat
variabel prediktor atau lebih terhadap satu
variabel kriterium atau untuk membuktikan
ada atau tidaknya hubungan fungsional
antara tiga buah variabel bebas (X) atau
lebih dari sebuah variabel terikat (Y). Dalam
penelitian ini analisis tersebut digunakan
untuk mengetahui pengaruh tingkat suku
bunga SBI, kurs rupiah dan indeks dow
jones terhadap IHSG. Seberapa besar
variabel
independen
mempengaruhi
variabel
dependen
dihitung
dengan
persamaan regresi berganda sebagai
berikut : Y = a + bX1 + bX2 + bX3 + e
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
Keterangan : Y = IHSG sektor
pertambangan (a) = Nilai Konstanta (b) =
Koefisien Regresi Berganda (X1) = Tingkat
suku bunga SBI (X2) = Kurs Rupiah (X3) =
indeks Dow Jones (e) = Standart Error. Uji
hipotesis yang digunakan dalam penelitian
ini menggunakan alat analisa statistic.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas data yang
akan dianalisis tentang pengaruh tingkat
suku bunga SBI, kurs mata uang Rupiah
atas Dollar AS, dan Indeks Dow Jones
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) pada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penarikan sampel penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan metode purposive
sampling, yaitu pemilihan sampel dengan
menggunakan pertimbangan dan kriteriakriteria tertentu sebagai berikut: (1) Data
yang diambil merupakan perkembangan
tingkat suku bunga SBI, kurs mata uang
Rupiah atas Dollar AS, Indeks Saham Dow
Jones dan perkembangan IHSG yang
terbaru (audit). (2)Data yang diambil adalah
5 tahun (2010-2014) dikarenakan terjadinya
berupa Uji t digunakan untuk mengetahui
apakah secara individu masing-masing
variabel bebas dalam penelitian mempunyai
pengaruh terhadap variabel terikat dalam
penelitian. Dasar pengambilan keputusan
adalah: Ho ditolak atau Ha diterima jika nilai
signifikan t atau p value < 5%
suatu fenomena pada empat tahun terakhir
pada setiap bulan pengamatan, yaitu dari
tahun 2010-2014. Berdasarkan uraian
diatas, yang menjadi sampel yang diambil
penulis dalam penelitian ini adalah nilai
IHSG pada setiap akhir bulan pengamatan
periode 2010-2014 pada Bursa Efek
Indonesia (BEI). Jumlah data ada setiap
bulan selama 5 tahun sehingga ada 60 data
tingkat suku bunga SBI, kurs mata uang
Rupiah atas Dollar AS, Indeks Saham Dow
Jones dan perkembangan IHSG.
Deskripsi umum hasil penelitian yang
dipaparkan pada bagian ini adalah deskripsi
skor tingkat suku bunga SBI, kurs mata
uang Rupiah atas Dollar AS, Indeks Dow
Jones, dan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) yang tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1 Deskripsi Skor Tingkat Suku Bunga SBI, Kurs Mata Uang Rupiah atas Dollar AS,
Indeks Dow Jones, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Statistik
X1
X2
X3
Y
Mean
0,0657
10414,94
13527,73
4100,75
Median
0,0650
9953,87
13058,21
4136,57
Deviasi Standar
0,0067
1219,73
2296,80
706,12
Minimum
0,0575
9032,00
9774,02
2549,03
Maksimum
0,0775
12938,29
17828,24
5226,95
(Sumber: data diolah, spss 19)
Keterangan: X1 adalah tingkat suku bunga SBI, X2 adalah kurs mata uang Rupiah atas Dollar
AS, X3 adalah Indeks Dow Jones, dan Y adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Berdasarkan Tabel 1, dapat ditarik 4
tingkat suku bunga SBI sebaran nilainya
deskripsi umum sebagai berikut. Data
semakin dekat dari nilai rata-ratanya, yang
tingkat suku bunga SBI memiliki nilai
mengindikasikan data tingkat suku bunga
minimum sebesar 0,0575 dan nilai
SBI tidak bervariasi. Data kurs mata uang
maksimum sebesar 0,0775. Nilai-nilai
Rupiah atas Dollar AS memiliki nilai
tersebut menunjukkan bahwa respon
minimum sebesar 9032,00 dan nilai
terhadap tingkat suku bunga SBI adalah
maksimum sebesar 12938,29. Nilai-nilai
antara 0,0575 sampai dengan 0,0775. Nilai
tersebut menunjukkan bahwa respon
rata-rata sebesar 0,0657 dengan nilai
terhadap kurs mata uang Rupiah atas
median sebesar 0,0650. Nilai rata-rata yang
Dollar AS adalah antara 9032,00 sampai
lebih besar dari nilai median menunjukkan
dengan 12938,29. Nilai rata-rata sebesar
bahwa nilai tingkat suku bunga SBI
10414,94 dengan nilai median sebesar
cenderung condong ke arah nilai minimum.
9953,87. Nilai rata-rata yang lebih besar
Deviasi standar sebesar 0,0067 lebih kecil
dari nilai median menunjukkan bahwa nilai
dari nilai rata-rata menunjukkan bahwa
kurs mata uang Rupiah atas Dollar AS
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
cenderung condong ke arah nilai minimum.
Deviasi standar sebesar 1219,73 lebih kecil
dari nilai rata-rata menunjukkan bahwa kurs
mata uang Rupiah atas Dollar AS sebaran
nilainya semakin dekat dari nilai rataratanya, yang mengindikasikan data kurs
mata uang Rupiah atas Dollar AS tidak
bervariasi.
Data Indeks Dow Jones memiliki
nilai minimum sebesar 9774,02 dan nilai
maksimum sebesar 17828,24. Nilai-nilai
tersebut menunjukkan bahwa respon
terhadap Indeks Dow Jones adalah antara
9774,02 sampai dengan 17828,24. Nilai
rata-rata sebesar 13527,73 dengan nilai
median sebesar 13058,21. Nilai rata-rata
yang lebih besar dari nilai median
menunjukkan bahwa nilai Indeks Dow
Jones cenderung condong ke arah nilai
minimum. Deviasi standar sebesar 2296,80
lebih kecil dari nilai rata-rata menunjukkan
bahwa Indeks Dow Jones sebaran nilainya
semakin dekat dari nilai rata-ratanya, yang
mengindikasikan data Indeks Dow Jones
tidak bervariasi. Data Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) memiliki nilai minimum
sebesar 2549,03 dan nilai maksimum
sebesar 5226,95. Nilai-nilai tersebut
menunjukkan bahwa respon terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
adalah antara 2549,03 sampai dengan
5226,95. Nilai rata-rata sebesar 4100,75
dengan nilai median sebesar 4136,57. Nilai
rata-rata yang lebih kecil dari nilai median
menunjukkan bahwa nilai Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) cenderung
condong ke arah nilai maksimum. Deviasi
standar sebesar 706,12 lebih kecil dari nilai
rata-rata menunjukkan bahwa Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) sebaran nilainya
semakin dekat dari nilai rata-ratanya, yang
mengindikasikan data Indeks Harga Saham
Gabungan
(IHSG)
tidak
bervariasi.
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis,
terlebih dahulu harus dipenuhi uji prasyarat.
Uji prasyarat meliputi uji normalitas, uji
multikolinearitas, uji heteroskedastisitas,
dan uji autokorelasi.
Uji normalitas dilakukan pada data
tingkat suku bunga SBI, kurs mata uang
Rupiah atas Dollar AS, Indeks Dow Jones,
dan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG). Rekapitulasi hasil uji normalitas
data tersaji pada Tabel 2 di bawah ini
Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Uji Normalitas Data
One-Sample Kolgomorov-Smirnov Test
N
Normal Parametersa,b
Most Extreme Differences
Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
60
0,0000000
5,52343444E2
0,076
0,076
-0,068
0,590
0,877
(sumber: data diolah, spss 19)
Berdasarkan Tabel 2, ditunjukkan
bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar
0,877. Nilai Asymp. Sig. (2-tailed) tersebut
lebih besar dari 0,05 untuk statistik OneSample Kolmogorov-Smirnov. Berdasarkan
kriteria uji normalitas, data terdistribusi
normal jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih
besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa
sebaran data berdistribusi normal. Uji
multikoliniearitas
bertujuan
untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan antara
variabel bebas yang satu dengan variabel
yang lainnya. Model yang baik seharusnya
tidak terjadi korelasi yang tinggi di antara
variabel bebas. Uji multikolinieritas dapat
diuji dengan menggunakan Variance
Inflation Factor (VIF) untuk masing-masing
variabelbebas.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
Tabel 3 Ringkasan Hasil Uji Multikolinieritas
Collinearity Statistics
Model
Tolerance
VIF
(Constant)
Tingkat Suku Bunga SBI
Kurs Mata Uang Rupiah atas Dollar AS
Indeks Dow Jones
0,846
0,784
0,921
1,183
1,276
1,086
(Sumber: data diolah spss 19)
Berdasarkan Tabel 3, maka dapat
diketahui nilai VIF untuk masing-masing
variabel penelitian sebagai berikut: (1) Nilai
VIF untuk variabel tingkat suku bunga SBI
sebesar 1,183 < 10 dan nilai tolerance
sebesar 0,846 > 0,10 sehingga variabel
tingkat suku bunga SBI dinyatakan tidak
terjadi gejala multikoliniearitas. (2) Nilai VIF
untuk variabel kurs mata uang Rupiah atas
Dollar AS sebesar 1,276 < 10 dan nilai
tolerance sebesar 0,784 > 0,10 sehingga
variabel kurs mata uang Rupiah atas Dollar
AS dinyatakan tidak terjadi gejala
multikoliniearitas. (3) Nilai VIF untuk
variabel Indeks Dow Jones sebesar 1,086 <
10 dan nilai tolerance sebesar 0,921 > 0,10
Model
1
(Constant)
X1
X2
X3
sehingga variabel Indeks Dow Jones
dinyatakan
tidak
terjadi
gejala
multikoliniearitas. Uji heteroskedastisitas
bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi terjadi ketidaksamaan varian
dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika varian dari
residual satu pengamatan ke pengamatan
yan
lain
tetap,
maka
disebut
homoskedastisitas dan jika berbeda akan
disebut heteroskedastisitas. Model regresi
yang baik adalah model yang tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Untuk
menguji
hiteroskedastisitas dapat digunakan uji
Glejser.
Ringkasan
hasil
uji
heteroskedastisitas disajikan pada Tabel 4
Tabel 4 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
t
B
Std. Error
Beta
1586,037
673,312
2,356
-11074,552
6486,522
-0,239
-1,707
-0,011
0,037
-0,044
-0,307
-0,021
0,018
-0,157
-1,175
Sig.
0,022
0,093
0,760
0,245
(Sumber: data diolah, spss 19)
Keterangan: X1 adalah tingkat suku bunga SBI, X2 adalah kurs mata uang Rupiah atas Dollar
AS, X3 adalah Indeks Dow Jones.
Berdasarkan Tabel 4, diketahui
apakah sebuah model regresi linier terdapat
bahwa nilai signifikansi antara variabel
korelasi antara kesalahan pengganggu
bebas dengan absolut residual lebih besar
pada suatu periode dengan kesalahan pada
dari 0,05. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
periode sebelumnya. Untuk menguji
tidak
ditemukannya
masalah
autokorelasi dapat digunakan Durbin
heteroskedastisitas pada model regresi. Uji
Waston (DW). Ringkasan hasil uji
autokorelasi digunakan untuk menguji
autokorelasi disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Ringkasan Hasil Uji Autokorelasi
Model
R
R Square
Adjusted R
Square
Std, Error of
the Estimate
Durbin Watson
1
0,623
0,388
0,355
566,94535
2,146
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
(Sumber: data diolah, spss 19)
Berdasarkan Tabel 5 diketahui
bahwa nilai Durbin Watson sebesar 2,146.
Nilai tabel Durbin Watson pada α = 5%, n =
60, k = 3 adalah dL = 1,480 dan dU = 1,688.
Nilai Durbin Watson berada di antara dU
dan (4 – dU) atau 1,688 < 2,146 < 2,312.
Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa dalam regresi linier tidak terdapat
autokorelasi atau tidak terjadi korelasi di
antara kesalahan pengganggu. Uji ini
1
digunakan untuk menentukkan analisis
pengaruh tingkat suku bunga SBI, kurs
mata uang Rupiah atas Dollar AS, Indeks
Dow Jones terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) secara parsial, di mana
dapat dilihat dari besarnya nilai probabilitas
pada uji t. Hasil uji t dari variabel tingkat
suku bunga SBI, kurs mata uang Rupiah
atas Dollar AS, Indeks Dow Jones secara
parsial disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Rekapitulasi Hasil Analisis Persamaan Regresi Linier Ganda
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
Model
T
Sig.
B
Std. Error
Beta
(Constant) 3748,578
1243,646
3,014
0,004
X1
11980,977
-0,345
-3,038
0,004
36400,367
X2
0,141
0,068
0,244
2,070
0,043
X3
0,094
0,033
0,305
2,802
0,007
(Sumber:data diolah, spss 19)
Keterangan: X1 adalah tingkat suku bunga SBI, X2 adalah kurs mata uang Rupiah atas Dollar
AS, X3 adalah Indeks Dow Jones
Berdasarkan perhitungan, maka didapat: :
Yˆ  3748,578 - 36400,367 X1  0,141X 2  0,094 X 3 .
Berdasarkan model regresi yang terbentuk,
dapat diinterpretasikan hasil sebagai
berikut: (1) Konstanta sebesar 3748,578
menunjukan jika variabel tingkat suku
bunga SBI (X1), kurs mata uang Rupiah
atas Dollar AS (X2), Indeks Dow Jones (X3)
bernilai konstan, maka variabel Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) (Y)
memiliki nilai positif sebesar 3748,578
satuan. (2) Variabel tingkat suku bunga SBI
(X1) memiliki koefisien negatif sebesar 36400,367 dan nilai signifikan 0,004. Nilai
probabilitas signifikan untuk tingkat suku
bunga SBI (X1) adalah 0,004. Nilai ini lebih
kecil dari nilai probabilitas α = 5%, maka
dapat dinyatakan bahwa tingkat suku bunga
SBI (X1) berpengaruh terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) (Y).
Sedangkan, nilai koefisien regresi yang
negatif menunjukkan bahwa tingkat suku
bunga SBI (X1) terhadap Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) (Y) berpengaruh
negative.Hal ini menggambarkan bahwa
jika terjadi kenaikan tingkat suku bunga SBI
(X1) sebesar 1 satuan, maka Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) (Y) akan
mengalami penurunan sebesar 36400,367
satuan dengan asumsi variabel independen
yang lain kurs mata uang Rupiah atas
Dollar AS (X2) dan Indeks Dow Jones (X3)
dianggap konstan. (3) Variabel kurs mata
uang Rupiah atas Dollar AS (X2) memiliki
koefisien positif sebesar 0,141 dan nilai
signifikan 0,043. Nilai probabilitas signifikan
untuk kurs mata uang Rupiah atas Dollar
AS (X2) adalah 0,043. Nilai ini lebih kecil
dari nilai probabilitas α = 5%, maka dapat
dinyatakan bahwa kurs mata uang Rupiah
atas Dollar AS (X2) berpengaruh terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
(Y). Sedangkan, nilai koefisien regresi yang
positif menunjukkan bahwa kurs mata uang
Rupiah atas Dollar AS (X2) terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) (Y)
berpengaruh positif. Berpengaruh positif
dan signifikan, jadi kurs mata uang rupiah
berpengaruh positif terhadap indeks harga
saham
gabungan
(IHSG).
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
Model
1
Tabel 8 Rekapitulasi Hasil Analisis Koefisien Determinasi
Adjusted R
R
R Square
Std. Error of the Estimate
Square
0,623
0,388
0,355
566,94535
(Sumber: diolah, spss19)
Berdasarkan Tabel 8, diketahui
bahwa
hasil
perhitungan
koefisien
determinasi sebesar 0,355. Hal ini
menunjukkan bahwa 35,5% variabel Indeks
Harga
Saham
Gabungan
(IHSG)
dipengaruhi oleh variabel tingkat suku
bunga SBI, kurs mata uang Rupiah atas
Dollar AS, dan Indeks Dow Jones,
sedangkan 65,5% dipengaruhi oleh faktor
lain.
Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI
terhadap
Indeks
Harga
Saham
Gabungan (IHSG)
Hipotesis pertama yang menyatakan
bahwa tingkat suku bunga SBI berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) diterima.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
berpengaruh negatif dan siginifikan antara
tingkat suku bunga SBI dengan Indeks
Harga
Saham
Gabungan
(IHSG).
Persamaan regresi punya arah koefisien
negatif. Pengaruh negatif menunjukkan
bahwa hubungan tingkat suku bunga SBI
dan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) adalah berbanding terbalik. Jika
tingkat suku bunga SBI semakin tinggi,
maka Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG)
semakin
rendah.
Terdapat
pengaruh yang signifikan tingkat suku
bunga SBI terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG), yang ditunjukkan
dengan nilai probabilitas signifikan untuk
tingkat suku bunga SBI adalah 0,004 lebih
kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil analisis
regresi linier ganda, maka dapat diambil
suatu justifikasi bahwa terdapat pengaruh
yang signifikan antara tingkat suku bunga
SBI terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG). Justifikasi diambil
dengan mempertimbangkan kajian teori dan
emperis. Berdasarkan teori, hukum besi
pasar modal merumuskan bahwa jika
tingkat suku bunga umum naik, maka IHSG
akan turun dan begitu pula sebaliknya jika
tingkat suku bunga umum turun, maka
IHSG akan naik (Soedigno dan Nasution,
1997:6). Hal ini sejalan dengan pendapat
yang diungkapkan oleh Maryana (1997:35),
di mana penguatan IHSG dikarenakan
adanya suku bunga yang turun dan rupiah
yang menguat. Teori ini diperkuat oleh
Bank Indonesia dalam buletinnya bahwa
penurunan suku bunga SBI diharapkan
dapat mendorong investasi dan penyediaan
modal kerja yang sangat diperlukan dalam
proses pemulihan ekonomi nasional
(Bank Indonesia, 1999:9).
Jadi, rasionalnya adalah tingkat
suku bunga SBI mempunyai peranan yang
besar terhadap harga saham. Kenaikan
tingkat suku bunga dapat meningkatkan
beban perusahaan yang lebih lanjut dapat
menurunkan harga saham. Kenaikan ini
juga potensial mendorong investor menjual
saham dan mentransfer dana ke bentuk
Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Apabila
suku bunga SBI naik, maka investor akan
mendapat hasil besar, sehingga akan
menjual sahamnya dan ditukarkan dengan
SBI. Dengan demikian naiknya suku bunga
SBI akan mengakibatkan tur harga saham
dan IHSG pun akan turun. Secara empiris
hasil penelitian ini konsisten dengan
penelitian yang dilakukan oleh Wulandari
(2013), yang menyatakan bahwa tingkat
suku bunga SBI berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG).
Pengaruh Kurs Mata Uang Rupiah atas
Dollar AS terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG)
Hipotesis kedua yang menyatakan
bahwa kurs mata uang Rupiah atas Dollar
AS berpengaruh positif dan signifikan
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) diterima.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengaruh yang positif dan signifikan antara
kurs mata uang Rupiah atas Dollar AS
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG). Persamaan regresi punya arah
koefisien
positif.
Pengaruh
positif
menunjukkan bahwa hubungan kurs mata
uang Rupiah atas Dollar AS dan Indeks
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah
searah. Jika kurs mata uang Rupiah atas
Dollar AS semakin tinggi, maka Indeks
harga saham gabungan (IHSG) juga
semakin tinggi. Terdapat pengaruh yang
signifikan kurs mata uang Rupiah atas
Dollar AS terhadap kualitas laporan
keuangan, yang ditunjukkan dengan nilai
probabilitas signifikan untuk kurs mata uang
Rupiah atas Dollar AS adalah 0,000 lebih
kecil dari 0,05.Berdasarkan hasil analisis
regresi linier ganda, maka dapat diambil
suatu justifikasi bahwa terdapat pengaruh
yang signifikan kurs mata uang Rupiah atas
Dollar AS terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG). Justifikasi diambil
dengan mempertimbangkan kajian teori dan
emperis. Secara teori, penguatan IHSG
dikarenakan adanya suku bunga yang turun
dan rupiah yang menguat (Maryana,
1997:35). Teori ini menunjukkan bahwa
IHSG akan melemah karena rupiah yang
melemah. Sebab melemahnya rupiah dapat
terjadi
apabila
faktor
fundamental
perekonomian Indonesia tidaklah kuat,
sehingga dolar Amerika akan menguat dan
akan menurunkan Indeks Harga Saham
Gabungan di BEI (Sunariyah, 2006). Hal ini
tentunya menambah resiko bagi investor
apabila hendak berinvestasi di bursa saham
Indonesia (Robert Ang, 1997). Investor
tentunya
akan
menghindari
resiko,
sehingga
investor
akan
cenderung
melakukan aksi jual dan menunggu hingga
situasi perekonomian dirasakan membaik.
Aksi jual yang dilakukan investor ini akan
mendorong penurunan indeks harga saham
di BEI dan mengalihkan investasinya ke
dolar Amerika (Jose Rizal, 2007). Jadi,
rasionalnya adalah melemahnya kurs mata
uang Rupiah atas Dollar AS akan
melemahkan nilai IHSG. Ketika rupiah
melemah dan dolar AS menguat, hal ini
mengakibatkan naiknya biaya bahan baku
terhadap sebagian besar perusahaan yang
mengimpor dari luar negeri. Kenaikan ini
mengurangi
tingkat
keuntungan
perusahaan. Hal ini akan mendorong
investor untuk melakukan aksi jual terhadap
harga saham-saham yang dimilikinya.
Apabila banyak investor yang melakukan
hal tersebut tentunya akan mendorong
penurunan IHSG. Secara empiris hasil
penelitian ini konsisten dengan hasil
penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Novianto (2011), yang menunjukkan bahwa
kurs mata uang Dollar AS atas Rupiah
berpengaruh
negatif
dan
signifikan
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG). Dengan demikian, kurs mata uang.
Rupiah atas Dollar AS berpengaruh positif
dan signifikan terhadap (IHSG).
Pengaruh Indeks Dow Jones terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Hipotesis ketiga yang menyatakan
bahwa Indeks Dow Jones berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) diterima. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengaruh
yang positif dan signifikan antara Indeks
Dow Jones terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG). Persamaan regresi
punya arah koefisien positif. Pengaruh
positif menunjukkan bahwa hubungan
Indeks Dow Jones dan Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) adalah searah.
Jika Indeks Dow Jones semakin tinggi,
maka Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) juga semakin tinggi. Terdapat
pengaruh yang signifikan Indeks Dow
Jones terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG), yang ditunjukkan
dengan nilai probabilitas signifikan untuk
Indeks Dow Jones adalah 0,000 lebih kecil
dari 0,05. Berdasarkan hasil analisis regresi
linier ganda, maka dapat diambil suatu
justifikasi bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan Indeks Dow Jones terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Justifikasi
diambil
dengan
mempertimbangkan kajian teori dan
emperis. Secara teoretis, Dengan naiknya
Indeks
Dow
Jones
berarti
kinerja
perekonomian Amerika Serikat juga ikut
membaik. Amerika sebagai salah satu
Negara
tujuan
ekspor
Indonesia,
pertumbuhan perekonomian Amerika dapat
mendorong
pertumbuhan
ekonomi
Indonesia melalui kegiatan ekspor maupun
aliran modal masuk baik berupa investasi
atau melalui pasar modal (Sunariyah,
2006). Karim et al., (2008) mengemukakan
bahwa pasar modal Indonesia sudah
terintegrasi dengan pasar modal dunia. Hal
ini menimbulkan konsekuensi bahwa
pergerakan pasar modal Indonesia akan
dipengaruhi oleh pergerakan pasar modal
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
dunia baik (Samsul, 2008). Sebagai akibat
semakin luasnya globalisasi, maka tidak
menutup kemungkinan investor-investor
asing menanamkan modalnya pada pasar
modal Indonesia sehingga indeks di Pasar
modal Indonesia akan semakin meningkat.
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan hipotesis terhadap pengaruh
tingkat suku bunga SBI, kurs mata uang
Rupiah atas Dollar AS, dan Indeks Dow
Jones terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek
Indonesia (BEI) tahun 2010-2014 dapat
ditarik simpulan sebagai berikut: 1)Variabel
tingkat suku bunga SBI berpengaruh negatif
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG), artinya apabila tingkat suku bunga
SBI semakin tinggi, maka Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) akan semakin
rendah. 2) Variabel kurs mata uang Rupiah
atas Dollar AS berpengaruh positif terhadap
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),
artinya apabila kurs mata uang Rupiah atas
Dollar AS semakin tinggi, maka Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) juga
semakin tinggi. 3) Variabel Indeks Dow
Jones berpengaruh positif terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG), artinya
apabila Indeks Dow Jones semakin tinggi,
maka Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) juga semakin tinggi.
SARAN
Bagi
manajemen
perusahaan,
sebaiknya lebih memperhatikan aspek
tingkat suku bunga SBI, kurs mata uang
Rupiah atas Dollar AS, dan Indeks Dow
Jones, karena sesuai dengan hasil
penelitian ini keempat variabel tersebut
menjadi acuan bagi investor dalam memilih
saham yang masuk dalam daftar Bursa
Efek Indonesia (BEI). Hal ini terjadi karena
investor
cenderung
berkepentingan
terhadap
kemampuan
perusahaan
menghasilkan keuntungan di masa yang
akan datang.
Keterbatasan penelitian ini variabel
independen yang digunakan hanya tiga
variabel, yaitu tingkat suku bunga SBI, kurs
mata uang Rupiah atas Dollar AS, dan
Indeks Dow Jones sehingga bagi peneliti
selanjutnya dapat menggunakan variable
lain yang mempengaruhi Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) namun tidak
masuk dalam model yang diuji dalam
penelitian ini
DAFTAR PUSTAKA
Adiningsih, Sri dkk. 1998. Perangkat
Analisis dan Teknik Analisis Investasi
di Pasar Modal Indonesia. Jakarta:
PT Bursa Efek Jakarta.
Anto, Dajan. 1996, Pengantar Metode
Statistik jilid II, cetakan kedelapan
belas. Jakarta: PT. Pustaka LP3ES.
Bank Indonesia. 2006. Surat Ederan Bank
Indonesia No.8/15/DNP/2006 tentang
laporan berkala Bank umum
---------------------. 2004. Peraturan Bank
Indonesia No.6/23/PBI/2004 tentang
Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan
Bank Umum
Darmawi, H. 2006. Manajemen Asuransi.
Jakarta: Bumi Aksara,
Fabozzi, E.J. and Francis, J.C. 1996.Capital
Markets
and
Institution
and
Instrument. New Jersey: Upper
Saddle
River
Hamdy,
Hady.
2010.Manajemen
Keuangan
Internasional. Jakarta: Penerbit Mitra
Wacana Media.
Samsul, Muhamad. 2006. Pasar Modal dan
Manajemen
Portofolio.
Jakarta:
Erlangga
Samuelson, Paul A. dan William P.
Nordhaus. 1997. Makro ekonomi.
Edisi Keempat belas. Jakarta:
Erlangga.
Sitinjak, Elyzabeth Lucky Maretha dan
Widuri Kurniasari. 2003. IndikatorIndikator Pasar Saham Dan Pasar
Uang yang Saling Berkaitan Ditinjau
Dari Pasar Saham Sedang Bullish
dan Bearish. Jurnal Riset Ekonomi
dan Manajemen, vol.3 no.3, 35-36.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Vol 3 No. 1 Tahun 2015)
Suad,
Husnan.
2003. Manajemen
Keuangan Teori dan Penerapan
(keputusan Jangka Pendek), Edisi
keempat,Yogyakarta: BPFE.
Sunariyah, 2006, Pengantar Pengetahuan
Pasar
Modal,
Edisi
Kelima,
Yogyakarta: UPP STIM YKPN,
Download