bab ii landasan teori

advertisement
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II
DASAR TEORI
2.1
Destilasi
Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia
berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan
atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia berdasarkan perbedaan titik didih.
Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini
kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik
didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini termasuk unit operasi
kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa
pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya.
Gambar 2.1. Alat Destilasi Sederhana.
(sumber http://chemistry35.blogspot.com/2011/08/pengertian-destilasi.html)
Gambar 2.1 di atas merupakan alat destilasi atau yang disebut destilator,
terdiri dari termometer, labu didih, steel head, pemanas, kondensor, dan labu
penampung distilat.
LAPORAN TUGAS AKHIR
4
BAB II LANDASAN TEORI
Termometer biasanya digunakan untuk mengukur suhu uap zat cair yang
didestilasi selama proses destilasi berlangsung. Labu didih berfungsi sebagai
tempat suatu campuran zat cair yang akan didestilasi. Steel head berfungsi sebagai
penyalur
uap atau gas yang akan masuk ke alat pendingin (kondensor) dan
biasanya
labu destilasi dengan leher yang berfungsi sebagai steel head. Kondensor
memiliki dua celah, yaitu celah masuk dan celah keluar yang berfungsi untuk
aliran uap hasil reaksi dan untuk aliran air keran. Pendingin yang digunakan
biasanya adalah air yang dialirkan dari dasar pipa, tujuannya adalah agar bagian
dari dalam pipa lebih lama mengalami kontak dengan air, sehingga pendinginan
lebih
sempurna dan hasil yang diperoleh lebih sempurna. Penampung distilat bisa
berupa erlenmeyer, labu, ataupun tabung reaksi tergantung pemakaiannya.
Pemanasnya juga dapat menggunakan penangas, ataupun mantel listrik yang
biasanya sudah terpasang pada destilator.
Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki
titik didih lebih rendah akan menguap. Uap tersebut bergerak menuju condenser
yaitu pendingin (perhatikan Gambar 2.1), proses pendinginan terjadi karena
dialirkan air ke dalam dinding (bagian luar condenser), sehingga uap yang
dihasilkan akan kembali cair. Cairan tersebut akan menuju penampung distilat
karena pengaruh gravitasi yang disebabkan antara saluran celah masuk dan keluar
condenser (kondensor) dibuat miring. Proses ini berjalan terus menerus dan
akhirnya dapat memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam campuran
homogen tersebut.
2.1.1
Pengertian Destilasi Air Laut
Prinsip destilasi air laut yaitu mendapatkan air bersih melalui proses
penyulingan air laut (perpindahan kalor, penguapan, dan pengembunan). Air laut
jika dipanaskan terus menerus akan menguap menjadi uap jenuh. Uap jenuh hasil
penguapan jika bersentuhan dengan permukaan benda dengan temperatur yang
lebih rendah, maka akan terjadi proses kondensasi pada permukaan tersebut. Pada
proses kondensasi uap jenuh akan berubah fasa dari uap ke cair. Karena pengaruh
LAPORAN TUGAS AKHIR
5
BAB II LANDASAN TEORI
gravitasi, zat cair atau air akan mengalir ke bawah dan tertampung dalam wadah.
Zat cair yang tertampung dalam wadah inilah yang dinamakan air tawar.
Destilasi merupakan cara yang efektif digunakan untuk menghasilkan air
bersih
yang bebas dari kuman, bakteri, dan kotoran yang berupa padatan kecil.
Pada
proses destilasi, yang diambil hanya air kondensatnya, kuman dan bakteri
akan mati oleh proses pemanasan, dan kotoran akan mengendap di dasar basin.
Yang mendasar pada proses destilasi yaitu proses evaporasi dan
kondensasi. Kedua proses ini dipengaruhi oleh pemanasan air baku. Proses
pemanasan
air baku dipengaruhi oleh massa dari air baku yang dipanaskan.
Berdasarkan
teori kalau proses penguapan itu membutuhkan kalor yang banyak,
jadi massa air baku yang banyak akan menyebabkan proses penyerapan kalor
menjadi sedikit artinya banyak air yang tidak menguap, begitu pula sebaliknya
massa air baku yang sedikit akan mempercepat proses penyerapan kalor oleh air
laut itu sendiri. Proses penyerapan kalor oleh air laut dapat mempengaruhi
performansi alat destilasi.
2.1.2
Jenis-jenis Destilasi Air Laut
Dikelompokkan menjadi tiga yaitu, destilasi (suling), penukaran ion, dan
filtrasi atau reverse osmosis (RO). Di Indonesia, teknik mengolah air
menggunakan metode ketiga yang banyak dipilih. (sumber: majalah elfata edisi
09 volume 11 2011).
-
Metode Destilasi (Suling)
Air bersih yang dihasilkan dari proses destilasi didapatkan dengan
jalan melakukan penguapan terhadap air sumber/air baku. Cara ini efektif
untuk menghilangkan garam yang menyebabkan rasa asin pada air. Ada
dua cara sederhana dalam membuat alat destilasi air, yakni menggunakan
kompor atau menggunakan sinar matahari. Stove-top still merupakan
model sederhana untuk alat destilasi dengan menggunakan kompor.
Pertama-tama kompor memanaskan air yang ada sebuah belanga.
Pemanasan tersebut akan menghasilkan uap panas yang akan dipakai
untuk memanaskan belanga kedua yang berisi air sumber yang nantinya
LAPORAN TUGAS AKHIR
6
BAB II LANDASAN TEORI
akan berisi air bersih. Pemanasan pada belanga kedua juga akan memicu
munculnya uap air dari air sumber. Butiran-butiran uap air ini akan
tertahan oleh membran plastik dan akhirnya akan jatuh pada wadah air
bersih yang terletak di tengah-tengah belanga kedua. Untuk lebih jelasnya
lihat gambar 2.2 dibawah ini.
Gambar 2.2. Alat Destilasi Stove-Top Still.
(sumber http://aimyaya.com/id)
Adapun cara yang kedua adalah menggunakan sinar matahari
untuk menghasilkan uap air. Butiran uap-uap air tersebut, kemudian akan
tertahan pada kaca tembus pandang. Setelah butiran semakin banyak,
maka akan berubah menjadi tetesan air yang akan ditahan oleh
palung/talang air yang akan mengarahkan butiran air ke dalam wadah
untuk penampungan air bersih.
-
Penukaran Ion
Metode penukaran ion sejatinya adalah suatu metode yang
digunakan untuk memisahkan ion-ion yang tidak dikehendaki dalam suatu
larutan untuk dipindahkan ke dalam media padat yang disebut dengan
media penukar ion. Desalinasi menggunakan metode penukaran ion
banyak memanfaatkan proses kimiawi untuk memisahkan garam dan air.
Pada proses ini, ion garam yang memiliki kode NaCl ditukar dengan ion
LAPORAN TUGAS AKHIR
7
BAB II LANDASAN TEORI
lain seperti CA+2 dan SO4-2. Untuk menukar ion tersebut, digunakan
materi penukar ion. Materi penukar ion yang berasal dari alam biasanya
menggunakan zeolit. Zeolit adalah mineral alami berupa senyawa
alumunium silikat hidrat yang mempunyai luas permukaan besar dan
kapasitas tukar kation yang tinggi. Adapun materi penukaran ion yang
berasal dari bahan buatan adalah sintesis resin (resin kation dan resin
anion).
-
Osmosis Terbalik
Pengolahan air laut menjadi air tawar dengan metode RO untuk
wilayah Indonesia telah dilakukan di beberapa tempat, seperti di daerah
Ancol. Di wilayah ini, pihak yang mengelola air laut menjadi air tawar
adalah PT Pembangunan Jaya Ancol. Prinsip kerja dari RO adalah
mendesak air laut agar melewati membran-membran semipermeable,
sehingga garam yang terkandung dalam air laut tersebut tersaring. Proses
ini memiliki keunggulan dalam segi kuantitas air yang dihasilkan karena
air tawar yang dihasilkan bisa langsung berjumlah banyak. Sayangnya,
seringkali garam yang ada dalam air yang diolah tidak bisa sepenuhnya
hilang. Untuk benar-benar memisahkan garam dan air dibutuhkan tekanan
yang sangat tinggi.
Atas dasar itulah, pada praktik RO, air asin dipompa dengan
tekanan tinggi ke dalam suatu modul membran osmosis terbalik yang
mempunyai dua buah pipa keluaran. Pipa keluaran pertama digunakan
untuk mengeluarkan air tawar yang dihasilkan. Adapun pipa keluaran yang
kedua digunakan untuk mengeluarkan air garam yang pekat. Kemudian di
dalam membran osmosis balik tersebut terjadi proses penyaringan dengan
ukuran molekul (http://www.puspiptek.info). Sayangnya, dibalik kelebihan
untuk menghasilkan air tawar yang banyak, teknologi ini memiliki
kelemahan yaitu seringnya terjadi penyumbatan pada selaput membran
oleh bakteri dan fosfat.
LAPORAN TUGAS AKHIR
8
BAB II LANDASAN TEORI
2.1.3
Cara Kerja Sistem Destilasi Kompresi Uap
Gambar 2.3. Sistem Refrigerasi Destilasi Air Laut.
Gambar 2.3 diatas merupakan konsep rancangan penulis tentang
penggunaan sistem refrigerasi kompresi uap pada sistem destilasi air laut yang
diperoleh dari inspirasi setelah membaca jenis-jenis destilasi dari sumber majalah
elfata edisi 09 volume 11 2011.
Mula-mula kompresor bekerja menghisap uap refrigeran dari evaporator
dan mendorong dengan cara kompresi agar mengalir masuk ke kondensor. Karena
kompresor mengalirkan refrigeran sementara piranti ekspansi membatasi
alirannya, maka antara kedua komponen itu berbeda tekanan, yaitu di kondensor
tekanan refrigeran menjadi tinggi, sedangkan di evaporator tekanan refrigeran
menjadi rendah.
Kondensor adalah komponen dimana terjadi proses perubahan fasa
refrigeran, dari fasa uap menjadi fasa cair. Dari proses kondensasi (pengembunan)
yang terjadi di dalamnya itulah maka komponen ini disebut kondensor. Proses
kondensasi akan berlangsung apabila refrigeran dapat melepas kalor yang
dikandungnya. Kalor tersebut dilepas dan dibuang ke lingkungan dimana pada
sistem destilasi ini lingkungannya tertutup. Agar kalor dapat lepas ke lingkungan,
maka suhu kondensasi harus lebih tinggi dari suhu lingkungan. Karena refrigeran
adalah zat yang sangat mudah menguap, maka agar dapat dikondensasikan
haruslah dibuat bertekanan tinggi. Kami memakai kondensor dari inspirasi kerja
LAPORAN TUGAS AKHIR
9
BAB II LANDASAN TEORI
evaporative cooling yang bekerja mula-mula nozzle sprayer akan menyemprotkan
air laut berbentuk butiran-butiran kecil agar dihasilkan penguapan yang cepat dan
tidak memerlukan penarikan kalor yang begitu besar untuk proses penguapan.
Butiran
air tersebut akan terjadi kontak dengan kondensor yang memiliki kalor
lebih
tinggi yang menyebabkan butiran air akan menangkap kalor dari panas
kondensor, sehingga butiran air akan menguap. Butiran air yang sempat tidak
menguap akan jatuh ke bak penampungan air laut, kemudian air laut pada bak
tersebut disirkulasikan kembali oleh pompa melalui nozzle sprayer untuk proses
penguapan
sampai suplai air laut pada bak habis. Saat bersamaan dengan jatuhnya
butiran
air laut yang tidak sempat menguap, maka akan dihasilkan produk
endapan kristalisasi garam pada penyaring endapan garam, sementara sisa butiran
air laut yang bersama garam akan jatuh ke bak penampung air laut karena tidak
tersaring oleh saringan garam.
Evaporator adalah komponen dimana cairan refrigeran yang masuk ke
dalamnya akan menguap. Proses penguapan itu terjadi karena cairan refrigeran
menyerap kalor. Pada sistem destilasi yang kami buat, evaporator akan menyerap
kalor berupa uap panas yang merupakan hasil penguapan air laut dari nozzle
sprayer yang terkena pipa kondensor, kemudian penguapan air laut tersebut
dihisap oleh kipas aksial menuju evaporator melalui saluran ducting. Di
evaporator, uap panas akan terjadi kondensasi dikarenakan uap panas berkontak
dengan refrigeran dingin atau titik embun evaporator lebih rendah dari temperatur
udara yang memiliki kandungan uap tinggi. Karena proses penarikan kalor
penguapan air laut oleh evaporator, refrigeran keluaran evaporator berubah fasa
dari cair ke gas dan air tawar pun dihasilkan dari proses kondensasi.
Hipotesa awal kami memperkirakan bahwa kristalisasi garam langsung
terbentuk saat butiran air laut yang disemprotkan oleh nozzle sprayer mengenai
kondensor, sehingga kristalisasi garam akan menempel pada pipa-pipa kondensor.
Mudah-mudahan saja itu tidak terjadi karena jika itu terjadi, maka butiran air laut
yang selanjutnya bergiliran mengalir akan menyapu bersih garam yang menempel
di pipa kondensor, sehingga kristalisasi garam akan jatuh ke bak penyaring garam.
LAPORAN TUGAS AKHIR
10
BAB II LANDASAN TEORI
Sementara butiran air yang ikut bersama garam tidak ikut tersaring, tetapi jatuh ke
bak penampungan air laut.
Air tawar yang dihasilkan melalui proses pengembunan di evaporator akan
ditampung
ke bak penampungan air tawar yang selanjutnya disaring agar
diperoleh
air tawar yang bersih dan kalau bisa dapat langsung diminum. Air hasil
distilat pada bak penampungan tersebut dapat digunakan dengan membuka keran
airnya.
2.2 Sistem Refrigerasi Kompresi Uap
Sistem refrigerasi kompresi uap merupakan salah satu sistem refrigerasi
mekanik yang saat ini merupakan sistem yang paling banyak dipakai karena
dipandang secara komersial, harganya pun sesuai dengan masyarakat menengah
dan komponen yang digunakan sederhana dibandingkan sistem refrigerasi
lainnya. Sistem refrigerasi kompresi uap merupakan sistem yang mempergunakan
kompresor sebagai alat pemompa refrigeran, yang mana uap refrigeran bertekanan
rendah yang masuk ke sisi penghisap (suction), kemudian uap refrigeran tersebut
ditekan di dalam kompresor, sehingga berubah menjadi uap bertekanan tinggi
yang dikeluarkan pada sisi keluaran (discharge), sehingga dari proses tersebut
dapat ditentukan sisi tekanan tinggi dan sisi tekanan rendah.
Pada sistem refrigerasi ini akan terjadi berbagai macam proses yang akan
mempengaruhi properti atau sifat udara, yang terjadi adalah perubahan suhu dan
tekanan. Selain itu terjadi ekspansi isentalpi, kompresi isentropi, proses-proses
adiabatis (tidak terjadi perubahan energi kalor) akibat pengisolasian sistem
tertutup.
Seluruh proses diatas dapat ditelusuri dengan menggunakan diagram
tekanan-entalpi (pressure-entalphy, p-h) yang dikenal dengan diagram Mollier
yang dapat dilihat pada gambar 2.4 di bawah ini.
LAPORAN TUGAS AKHIR
11
BAB II LANDASAN TEORI
Gambar 2.4. Diagram Mollier R22.
Sistem refrigerasi kompresi uap ideal mengacu kepada konsep dari sistem
refrigerasi Carnot. Pada kondisi semacam ini tidak ada perubahan berarti yang
mempengaruhi untuk kerja sistem. Akan tetapi siklus ideal ini dapat menghasilkan
efisiensi yang tinggi, yang tidak dapat dilampaui oleh siklus refrigerasi kompresi
uap aktual.
Proses-proses tersebut jika digambar ke dalam digram p-h (Mollier Chart)
Pressure (bar absolute)
menjadi.
Pc
Pe
3
4
h3 = h4
2
1
h1
h2
Enthalpy (kJ/kg)
Gambar 2.5. Siklus Refrigerasi Kompresi Uap Ideal.
-
Kompresi
Kompresor adalah komponen yang merupakan jantung dari sistem
refrigerasi. Kompresor bekerja menghisap uap refrigeran dari evaporator dan
mendorong dengan cara kompresi agar mengalir masuk ke kondensor. Karena
LAPORAN TUGAS AKHIR
12
BAB II LANDASAN TEORI
kompresor mengalirkan refrigeran sementara piranti ekspansi membatasi
alirannya, maka antara kedua komponen itu berbeda tekanan, yaitu di kondensor
tekanan refrigeran menjadi tinggi, sedang di evaporator tekanan refrigeran
menjadi
rendah.
Kerja spesifik dilakukan kompresor
qw = h2 – h1 ........................................................................................................... (1)
dengan,
h1
= Entalpi masukan kompresor (kJ/kg)
h2 = Entalpi keluaran kompresor (kJ/kg)
Rasio kompresi, perbandingan tekanan discharge terhadap tekanan suction
rc =
Pd
Ps
-
................................................................................................................... (2)
Kondensasi
Kondensor adalah komponen dimana terjadi proses perubahan fasa
refrigeran, dari fasa uap menjadi fasa cair. Dari proses kondensasi (pengembunan)
yang terjadi didalamnya itulah maka komponen ini disebut kondensor. Proses
kondensasi akan berlangsung apabila refrigeran dapat melepas kalor yang
dikandungnya. Kalor tersebut dilepas dan dibuang ke lingkungan. Agar kalor
dapat lepas ke lingkungan, maka suhu kondensasi harus lebih tinggi dari suhu
lingkungan. Karena refrigeran adalah zat yang sangat mudah menguap, maka agar
dapat dikondensasikan haruslah dibuat bertekanan tinggi.
Kalor dilepas di kondensor per satuan massa refrigeran
qk = h2 – h3 ........................................................................................................... (3)
dengan,
h2
= Entalpi masukan kondensor (kJ/kg)
h3
= Entalpi keluaran kondensor (kJ/kg)
-
Ekspansi
Alat ekspansi berfungsi seperti gerbang yang mengatur banyaknya
refrigeran cair yang boleh mengalir dari kondensor ke evaporator. Oleh sebab itu
alat ini sering juga dimanakan refrigerant flow controller. Besarnya laju aliran
LAPORAN TUGAS AKHIR
13
BAB II LANDASAN TEORI
refrigeran merupakan salah satu faktor yang menentukan kapasitas besarnya
refrigerasi. Untuk sistem refrigerasi yang kecil, maka laju aliran refrigeran yang
besar pula.
-
Evaporasi
Evaporator adalah komponen dimana cairan refrigeran yang masuk ke
dalamnya akan menguap, proses penguapan itu terjadi karena cairan refrigeran
menyerap kalor.
Kalor
yang diserap di evaporator dapat diketahui sebagai berikut:
qe = h1 – h4 ........................................................................................................... (4)
dengan,
h1
= Entalpi keluaran evaporator (kJ/kg)
h4
= Entalpi masukan evaporator (kJ/kg)
Berdasarkan besaran-besaran di atas maka akan didapat kinerja sistem
siklus kompresi uap standar atau yang biasa disebut dengan COP (Coefficient of
Performance) sistem. COP didapat dari perbandingan antara efek refrigerasi
dengan kerja kompresi.
Menghitung besarnya COP dapat menggunakan persamaan sebagai
berikut:
1. COP aktual adalah perbandingan kalor yang diserap oleh evaporator dari
lingkungan terhadap kerja yang dilakukan oleh kompresor, sehingga
berdasarkan persamaan 4 dan 1 dapat diturunkan menjadi :
COP aktual =
qe
qw
....................................................................................... (5)
2. COP Carnot adalah koefisien kinerja teoritis yang merupakan ukuran
standar efisiensi refrigerasi bagi sistem refrigerasi yang ideal dan
tergantung pada 2 kunci sistem suhu, suhu evaporasi dan suhu kondensasi.
COP Carnot yang tinggi dicapai dengan suhu evaporasi tinggi dan suhu
kondensasi rendah. Namun COP Carnot hanyalah perbandingan suhu,
perbandingan
temperatur
evaporasi
dibandingkan
dengan
selisih
temperatur kondensasi dan evaporasi, tanpa mempedulikan jenis
LAPORAN TUGAS AKHIR
14
BAB II LANDASAN TEORI
kompresinya. Satuan temperatur yang digunakan dalam rumus COP
Carnot adalah Kelvin.
COP Carnot =
T evaporasi
T kondensasi − T evaporasi
................................................... (6)
3. Efisiensi refrigerasi yaitu perbandingan COP aktual dan COP Carnot.
Efisiensi refrigerasi =
2.3
COP aktual
COP Carnot
𝑥 100 % ............................................. (7)
Air
-
Sifat-Sifat Fisik Air
Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi
standar, yaitu pada tekanan 101,33 kPa (1 bar) dan temperatur 0 °C. Volume
mengecil jika didinginkan sampai 4 0C, namun volumenya akan membesar jika
didinginkan antara 4 0C – 0 0C. Air mendidih di suhu 100 0C dan membeku di 0
0
C pada tekanan 1 Atm. Air dapat dinaikkan tekanannya menggunakan pompa.
Air mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah pada saluran tertutup. Air akan
menimbulkan kebisingan jika mengalami turbulensi dan ekspansi. Air
menyebarkan tekanan ke segala arah. Jika mengalir menimbulkan gesekan pada
permukaan yang dilaluinya. Pada aliran rendah / lambat cenderung laminar, pada
aliran cepat cenderung turbulen.
-
Sifat-Sifat Kimia Air
Air merupakan pelarut yang baik, hampir semua zat kimia bisa dilarutkan
dalam air, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak
macam molekul organik. Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O.
Satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terkait secara kovalen pada
satu atom oksigen. pH air dalam keadaan netral bernilai 7, bersifat asam jika pH
di bawah 7 dan bersifat basa jika pH di atas 7. Air yang mengandung kalsium,
magnesium, logam dan besi dengan kandungan yang cukup tinggi maka akan
berpotensi menimbulkan kerak. Jika terdapat oksigen dan logam lalu bereaksi
dengan air maka dapat terjadi karat.
LAPORAN TUGAS AKHIR
15
BAB II LANDASAN TEORI
2.4
Pengujian Kualitas Air
Pengujian kualitas air berdasarkan SNI 01-6241-2000 kategori air
demineral. Air demineral adalah air minum yang diperoleh melalui proses
pemurnian
seperti destilasi, deionisasi, reverse osmosis atau proses yang setara
dan aman diminum. Pada tabel 2.1 penulis sampaikan tentang pengujian kualitas
air yang dikerjakan.
Tabel 2.1. Parameter Sebagian Analisa Air SNI 01-6241-2000
No.
1
1.1
1.2
1.3
1.4
2
3
Jenis Uji
Keadaan
Penampakan
Warna
Bau
Rasa
pH
Daya hantar listrik
Pada 25 0C
Satuan
Unit Pt-Co
µS/cm
Persyaratan
Jernih
Maks. 1,5
Tidak berbau
Tidak berasa
5,0 – 7,0
Maks. 1,3
(sumber : http://sisni.bsn.go.id/)
2.4.1
Fisik
-
Keadaan berupa cara uji penampakan, bau dan rasa diuji secara visual.
-
Penampakan adalah dalamnya lapisan air yang dapat ditembus oleh sinar
matahari yang dinyatakan dalam satuan cm.
-
Suhu air adalah derajat panas air yang dinyatakan dalam satuan derajat
Celcius.
-
Warna adalah warna nyata dari air yang dapat disebabkan oleh adanya ion
metal (besi dan mangan) humus, plankton, tumbuhan air dan limbah
industri, yang dimaksud dengan warna adalah warna nyata yang
kekeruhannya telah dihilangkan, sedangkan yang dimaksud dengan warna
tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan zat-zat terlarut dalam
air akan tetapi juga zat tersuspensi, yang dinyatakan dalam satuan warna
skala Pt-Co.
-
Kekeruhan adalah sifat optik dari suatu larutan yang menyebabkan cahaya
yang melaluinya terabsorbsi dan terbias dan dihitung dalam satuan mg/L
SiO2 atau Unit Kekeruhan Nephelometri (UKN). Kekeruhan di dalam air
disebabkan oleh adanya zat tersuspensi seperti lumpur dan zat organic.
LAPORAN TUGAS AKHIR
16
BAB II LANDASAN TEORI
2.4.2
Daya Hantar Listrik (DHL) adalah kemampuan dari larutan untuk
menghantarkan
arus
listrik yang
dinyatakan
dalam
mmhos/cm,
kemampuan tersebut antara lain tergantung pada kadar zat terlarut yang
mengion di dalam air, pergerakan ion, valensi dan suhu.
-
Derajat keasaman (pH) adalah logaritma negatif dan aktifitas ion hidrogen
dalam suatu larutan. Derajat keasaman (pH) air, penting untuk
Kimia
menentukan nilai daya guna perairan baik untuk keperluan rumah tangga,
irigasi, kehidupan organisme perairan dan kepentingan lainnya. Nilai pH
suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air
dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan.
Mengingat nilai pH ditentukan oleh interaksi berbagai zat dalam air
termasuk zat-zat yang secara kimia maupun biokimia tidak stabil maka
penentuan pH harus dilakukan setelah pengambilan contoh dan tidak dapat
diawetkan. pH dapat diukur dengan metode kalorimetri dan elektrometri.
Metode elektrometri lebih banyak digunakan di laboratorium dan lapangan
karena lebih teliti dan praktis.
LAPORAN TUGAS AKHIR
17
Download