BAB II - repo unpas

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN
2.1.
Kajian Pustaka
Dalam bab ini akan dibahas kajian pustaka dan kerangka pemikiran yang
akan dilaksanakan oleh penulis, serta dilengkapi dengan beberapa teori sebagai
bahan pertimbangan dalam sistem secara umum (Grand Teory) yang membahas
manajemen secara umum, teori-teori pembantu (Middle Teory) tentang
manajemen pemasaran serta konsep-konsep mengenai sistem informasi yang
berhubungan dengan E-commerce dalam upaya peningkatan hasil penjualan di
butik Radestri.
2.1.1 Pengertian Manajemen
Menurut Stoner manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan
sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan. Dari defenisi tersebut sudah terlihat bahwa Stoner telah menggunakan
kata proses, bukan seni. Mengartikan manajemen sebagai seni mengandung arti
bahwa hal itu adalah kemampuan atau keterampilan pribadi. Suatu proses adalah
cara sistematis untuk melakukan pekerjaan. Definisi lain mengenai manajemen
menurut Luther Gulick ( 2012 : 9 ), Manajemen adalah sebagai suatu bidang ilmu
pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami
mengapadan bagaimana manusia bekerja sama untuk mencapai tujuan
11
12
dan membuat sistem kerjasma ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan. Menurut
Gulick manajemen telah memenuhi persyaratan untuk disebut bidang ilmu
pengetahuan, karena telah dipelajari untuk waktu yang lama dan telah diorganisasi
menjadi suatu rangkaian teori.
2.1.2
Fungsi-Fungsi Manajemen
Manajemen dapat berarti pencapaian tujuan melalui pelaksanaan fungsi-
fungsi tertentu, salah satu klasifikasi paling awal dari fungsi-fungsi manajerial
dibuat
oleh
Hendri
Fayol,
yang
menyatakan
bahwa
perencanaan,
pengorganisasisan, pemberian perintah dan pengawasan adalah fungsi-fungsi
utama. Berikut ini penjelasan mengenai lima fungsi-fungsi manajemen tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Perencanaan (Planning) adalah sebagai berikut :
a) Pemilihan dan perencanaan tujuan organisasi.
b) Penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metoda,
sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
2. Pengorganisasian (Organizing) adalah sebagai berikut :
a) Penentuan sumber daya dan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk
mencapai organisasi
b) Perancangan dan pengembangan suatu organisasi atau kelompok kerja yang
akan membawa ke arah tujuan
c) Pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu-individu untuk
melaksanakan tugas-tugasnya.
13
3. Penyusunan Personalia (Staffing) adalah penarikan (recruitment), latihan dan
pengembangan serta penempatan dan pemberian orientasi para karyawan
dalam lingkungan kerja yang menguntungkan dan produktif. Dalam
pelaksanaan fungsi ini manajemen menentukan persyaratan-persyaratan
mental, phisik dan emosional untuk posisi-posisi jabatan yang ada melalui
analisa jabatan,deskripsi jabatan dan spesifikasi jabatan.
4. Pengarahan (Directing) adalah untuk membuat atau mendapatkan para
karyawan melakukan apa yang diinginkandan harus mereka lakukan. Fungsi ini
melibatkan kualitas, gaya dan kekuasaan pemimpin serta kegiatan-kegiatan
kepemimpinan seperti komunikasi, motivasi dan disiplin.
5. Pengawasan (Controlling) adalah penemuan, penerapan cara dan peralatan
untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan ditetapkan.
Hal ini dapat positif maupun negatif. Pengawasan positif mencoba untuk
mengetahui apakah tujuan organisasi dicapai dengan efisien dan efektif.
Pengawasan negatif mencoba untuk menjamin bahwa kegiatan yang tidak
diinginkan atau dibutuhkan tidak terjadi atau terjadi kembali.
2.1.3 Tingkatan Manajemen
Menurut Robert N.Antony (2012 : 8), menyatakan ada tiga tingkat atau level
manajemen, yaitu :
1.
Manajemen Lini Puncak
Kegiatan manajemen lini puncak adalah memformulasikan perencanaan dan
strategi. Tingkat manajemen ini berorientasi pada masa depan organisasi dan
meninjau hasil kerja dan pencapaian tujuan organisasi secara umum dan
14
menyeluruh.
Tugas-tugas
pada
tingkat
ini
terutama
mengkoordinasikan
keseluruhan upaya organisasi dan hubungan dengan lain-lain organisasi dan
masyarakat.
2.
Manajer Lini Tengah
Manajemen lini tengah (manajemen taktis) ini bertugas meninjau hasil dalam
organisasi dan dengan kegiatan-kegiatan pengawasan yang menggerakan
organisasi mencapai sasaran. Manajemen pada lini ini lebih berorientasi pada
masalah-masalah pelatihan personal, pertimbangan terhadap personal, pengadaan
peralatan dan bahan yang berhubungan dengan masalah-masalah kritis dalam
mencapai keberhasilan kinerja.
3.
Manajemen Lini Bawah
Manajemen lini bawah juga disebut manajemen operasional. Tugas
pentingnya adalah mengawasi dan mengatur personal berketrampilan teknis atau
karyawan biasa. Para manajer pada tingkat ini mengusahakan agar pekerjaan
dilaksanakan sesuai prosedur dan metode yang sudah ditentukan sehingga
pekerjaan dapat diselesaikan sesuai rencana, sesuai jadwal waktu, hubungan
manusia, pembiayaan dan pengawasan kualitas.
2.1.4
Sistem Informasi Manajemen
Sistem informasi Manajemen (SIM) adalah serangkaian sub sistem
informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang
mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara
15
guna meningkatkan produktifitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas
dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.
Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang
menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang sama.
Para pemakai biasanyamembentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan
atau sub unit dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu
sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi
sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi
tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari
model matematika. Output informasidigunakan oleh manajer maupun non
manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan
masalah.
Perancangan, penerapan dan pengoperasian SIM adalah mahal dan sulit.
Upaya ini dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang. Ada beberapa
faktor yang membuat SIM menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa
pimpinan harus berhadapan dengan lingkungan bisnis yang semakin rumit.Salah
satu alasan dari kerumitan ini adalah semakin meningkat dan
munculnya
peraturan dari pemerintah. Lingkungan bisnis bukan hanya rumit tetapi juga
dinamis. Oleh sebab itu manajer harus membuat keputusan dengan cepat terutama
dengan munculnya masalah manajemen dengan pemecahan yang memadai.
Pengembangan SIM canggih berbasis komputer memerlukan sejumlah
orang yang berketerampilan tinggi dan berpengalaman serta memerlukan
partisipasi dari para pimpinan organisasi. Banyak organisasi yang gagal
16
membangun SIM karena kurangnya perencanaan yang memadai, kurang personil
yang handal, kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para
pimpinan dalam merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem
dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.
Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam
keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai
keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan
diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan
membantu dalam pelaksanaan tugas.Tujuan sistem informasi manajemen adalah
memenuhi kebutuhan informasi umum pimpian dalam organisasi atau dalam
subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi pemakai
dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika.
2.1.5
Kemampuan Sebuah Sistem Informasi Manajemen
Pengetahuan tentang potensi kemampuan sistem informasi yang
dikomputerisasi akan memungkinkan seorang pimpinan secara sistematis
menganalisis masing-masing tugas organisasi dan menyesuaikannya dengan
kemampuan komputer.
SIM secara khusus memiliki beberapa kemampuan teknis sesuai yang
direncanakan baginya. Secara kolektif kemampuan ini menyangkal pernyataan
bahwa komputer hanyalah mesin penjumlah atau kalkulator yang berkapasitas
tinggi, sebenarnya komputer tidak dapat mengerjakan sesuatu ia hanya
mengerjakan lebih cepat. Sistem informasi komputer dapat memiliki sejumlah
17
kemampuan jauh diatas sistem non komputer,dan kemampuan ini telah
merevolusikan proses manajemen yang menggunakan informasi yang dihasilkan
oleh sistem yang telah ada. Beberapa kemampuan teknis terpenting dalam sistem
komputer yaitu pemrosesan data base, pemrosesan data tunggal, pemrosesan
on-line atau real time, komunikasi data, pemasukan data jarak jauh dan up date
file, pencarian records dan analisis, pencarian file dan algoritme dan model
keputusan serta otomatisasi kantor.
2.1.6 Tujuan Sistem Informasi Manajemen
a. Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok
jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
b. Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian,
pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
c. Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer dan pengguna lainnya
perlu memiliki akses ke informasi manajemen dan mengetahui bagaimana cara
menggunakannya.
Informasi
manajemen
dapat
membantu
mereka
mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi
kinerja (informasi yang dibutuhkan dan dipergunakan dalam semua tahap
manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).
SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan
manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan
pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat.
18
Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan
mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan
serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh,
maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang.
Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun
dalam praktek SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan
pemprosesan komputer. Prinsip utama perancangan SIM, harus dijalin secara teliti
agar mampu melayani tugas utama. Tujuan sistem informasi manajemen adalah
memenuhi kebutuhan informasi umum semua pimpinan dalam perusahaan atau
dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi
pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model
matematika.
2.1.7
Jenis-jenis Sistem Informasi
1. Transaction Processing System (TPS)
Transaction Processing System adalah aplikasi sistem informasi yang
mengambil atau mengumpulkan dan mengolah data tentang transaksi suatu proses
bisnis. Salah satu dimensi TPS adalah data maintenance yang dapat meng-update
data yang diperlukan. TPS dapat terus berkembang karena perkembangan dunia
bisnis akan terus berkembang. Perkembangan bisnis akan memerlukan sistem
yang terus berkembang pula. Perkembangan bisnis ini disebut Bisnis process
redesign yaitu sebuah studi, analisis, dan redesign proses bisnis yang mendasar
untuk mengurangi ongkos atau meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan.
19
Contoh TPS adalah:
a. Airline reservation
b. Bank deposit
c. Customer returns
d. Inventory procurement
e. Order processing
2. Management Information System (MIS)
MIS adalah suatu aplikasi sistem informasi yang menyediakan laporan
informasi terpadu bagi pihak manajemen. MIS dihasilkan dari beberapa database
yang menyimpan data dari banyak sumber, termasuk didalamnya Transaction
Processing System. MIS menyajikan informasi yang detail, rangkuman informasi
dan informasi terpilih. MIS merupakan salah satu elemen manajemen yang dirasa
penting oleh banyak perusahaan oleh karena itu pengembangan MIS akan terus
dapat berlanjut. Contoh Management Information System adalah:
a. Budget forecasting and analysis
b. Financial reporting
c. Inventory reporting
d. Material requirement planning
e. Salary analysis
3. Decision Support System (DSS)
Decision Support System adalah salah satu aplikasi sistem informasi yang
menyediakan informasi yang mendukung pengambilan keputusan kepada
penggunanya. Jika pengguna DSS adalah seorang manajemen, maka program ini
20
disebut Executive Information System (EIS). DSS fokus pada penyediaan
informasi yang berguna untuk mendukung pengambilan keputusan. DSS
menyediakanalat bagi pengguna untuk mengakses data dan menganalisisnya
untuk pengambilan keputusannya. Beberapa pertimbangan yang diberikan oleh
DSS adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi masalah.
b. Identifikasi beberapa alternatif solusi.
c. Akses informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah atau
pengambilan keputusan.
d. Analisis beberapa keputusan atau variabel yang akan mempengaruhi
keputusan, yang biasa disebut ”what if-analysis”.
e. Simulasi dari keputusan dan hasil yang akan diberikan.
4. Expert Systems
Expert system merupakan perluasan dari decision support system. Expert
system adalah suatu sistem informasi pengambilan keputusan yang mengambil
dan meniru pengetahuan serta keahlian dari seorang expert problem solving atau
decision maker dan kemudian berpikir dan bereaksi sesuai dengan seorang expert
tadi. Expert system ditujukan untuk menduplikasi keahliandari seorang problem
solver, manajer, profesional dan para teknisi. Para tenaga ahli ini sering
menguasai pengetahuan dan keahlian yang tidak bisa dengan mudah diikuti dan
digantikan oleh sembarang orang dalam sebuah organisasi. Expert system meniru
logika dan pemikiran dari seorang ahli dalam bidang mereka masing-masing. Hal
itu dibutuhkan agar orang lain yang bukan seorang ahli dapat mengetahui
21
pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh seorang ahli. Berikut adalah contoh
dari penggunaan expert system yaitu Industri makanan menggunakan expert
system untuk menyimpan keahlian dari seorang ahli yang sudah mendekati masa
pension.
5. Office Automation and Work Group System
Office Automation (OA) System mendukung pekerjaan pada suatu
perusahaan secara luas, biasanya digunakan untuk meningkatkan aliran pekerjaan
dan komunikasi antar sesama pekerja, tidak peduli apakah pekerja tadi berada di
satu lokasi yang sama ataupun tidak. Office automation system digunakan untuk
mendapatkan semua informasi bagi yang membutuhkannya. Office automation
berfungsi dalam word processing, elctronic message, work group computing,
work group scheduling, facsimile processing, imaging and electronic documents,
and work flow management. Office automation system dirancang baik untuk
individu maupun kelompok.
Personal information system dirancang untuk memenuhi kebutuhan dari
single user. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas individu.
Contoh dari personal information system adalah Microsoft’s Office Professional,
IBM’s Lotus SmartSuite, Corel’s PerfectOffice, dan lain-lain. Work group
information systems dirancang untuk memenuhi kebutuhan dari sebuah kelompok
kerja. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas dari suatu
kelompok kerja.
22
2.1.8 Sistem Informasi Penjualan
Sistem Informasi Penjualan adalah sub sistem informasi bisnis yang
mencakup kumpulan prosedur yang melaksanakan, mencatat, mengkalkulasi,
membuat dokumen dan informasi penjualan untuk keperluan manajemen dan
bagian lain yang berkepentingan, mulai dari diterimanya order penjualan sampai
mencatat timbulnya tagihan/piutang dagang.
Terdapat beberapa cara dalam menjual. Untuk itu sistem yang diaplikasikan
disesuaikan dengan operasi dilapangan. Dalam pembahahan ini akan membahas
pada sebuah perusahaan dagang yang teridentifikasi beberapa jenis penjualan di
perusahaan ini yaitu ;

Penjualan langsung yaitu penjualan dengan mengambil barang dari supplier
dan langsung dikirim ke customer.

Penjualan stock gudang yaitu penjualan barang dari stock yang telah tersedia
di gudang.

Penjualan kombinasi (langsung+stock) yaitu penjualan dengan mengambil
barang sebagian dari supplier dan sebagian dari stock yang tersedia di
gudang.
2.1.9 Data
Data adalah kenyataan yang menggambarkan kejadian-kejadian dan
kesatuan nyata. Kejadian (event) adalah sesuatu yang terjadi pada saat tertentu.
Informasi diperoleh setelah data-data mentah diproses atau diolah.
23
Penyimpan
data
Pengolah
Data
`
Informasi
Gambar 2.1 Transformasi data menjadi informasi
Sistem pengolahan informasi mengolah data menjadi informasi atau lebih
tepatnya, sistem pengolahan 1 data dari bentuk tak berguna menjadi berguna atau
informasi bagi penerimanya. Analogi bahan baku terhadap barang jadi
memperlihatkan konsep bahwa informasi bagi seseorang mungkin dipandang
sebagai data mentah oleh orang lain. Nilai informasi berhubungan dengan
keputusan. Bila tidak ada pilihan atau keputusan, informasi menjadi tidak
diperlukan keputusan dapat berkisar dari keputusan berulang sederhana sampai
keputusan strategi jangka panjang.
2.1.10. Jenis Data
Data adalah fakta-fakta kegiatan organisasi dengan unit-unitnya. Untuk
keperluan penulisan dikertas atau laporan pemasukan data komputer, maka data
dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu
(1) data statis dan
(2) data dinamis.
Data statis adalah jenis data yang umumnya tidak berubah atau jarang
berubah, misalnya identitas nama (orang, organisasi, tempat), kode-kode nomor
(Nomor : KTP, Rekening, No. Pegawai/NIP, NRP). Data dinamis adalah jenis
24
data yang selalu berubah baik dalam frekuensi waktu yang singkat (harian) atau
agak lama (semesteran). Data tersebut sering dikatakan peremajaan (updating)
data. Data tersebut misalnya data tabungan, data gaji, data kepangkatan/golongan
dan sebagainya. Pada pemasukan dan pengolahan data, kedua data tersebut
umumnya bergabung dalam satu masukan (entry) atau kelompok data yang
disimpan.
2.1.11 Sumber Data
Berdasarkan sumbernya maka data dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu
(1) data internal dan
(2) data eksternal.
Data internal adalah data yang berasal dari dalam organisasi itu sendiri,
yaitu organisasi pusat dan cabang-cabangnya. Data eksternal adalah data yang di
berasal dari bersumber yang berada diluar organisasi itu sendiri. Berdasarkan
isinyamaka baik data internal dan data eksternal dapat dibagi menjadi empat
kelompok, yaitu
(1) catatan kegiatan,
(2) hasil penelitian,
(3) data lingkungan, dan
(4) data peraturan.
25
2.1.11.1 Data Kegiatan
Setiap organisasi mempunyai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut
dilaksanakan baik oleh perorangan maupun unit-unit kerja yang terdapat dalam
organisasi yang bersangkutan. Kegiatan-kegiatan itu perlu direkam untuk
dipergunakan sebagai bahan laporan, informasi, penelitian, perencanaan,
penilaian, pengawasan dan lain-lain. Sesuai dengan kegiatan yang didukungnya
maka data kegiatan dapat dikelompokan menjadi dua golongan, yaitu (1) data
kegiatan substantif dan (2) data kegiatan fasilitatif. Kegiatan substantif adalah
kegiatan pokok yang menjadi fungsi utama kantor atau organisasi. Perbedaan
kegiatan antara berbagai macam organisasi sesungguhnya adalah pada kegiatan
substantifnya. Perbedaan kegiatan substantif ini pulalah terjadi perbedaanperbedaan kegiatan sistem informasi antara satu organisasi dengan organisasi
lainnya, antara satu subsistem informasi yang ada pada suatu organisasi dengan
subsistem informasi yang ada pada organisasi lain.
Kegiatan fasilitatif adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat mendukung
kegiatan pokok (substantif) pada organisasi.Semua organisasi pasti mempuyai
unit-unit kegiatan fasilitatif tetapi berbeda-beda pada kegiatan substantif, karena
kegiatan substantif adalah kegiatan pokok yang menjadi tujuan utama suatu
organisasi didirikan. Untuk mendukung kegiatan fasilitatif maka unit kerja yang
bersangkutan memerlukan data. Data kegiatan fasilitatif adalah data yang tercatat
atau terekam sebagai hasil dari kegiatan fasilitatif atau data yang diperlukan untuk
menyelesaikan suatu kegiatan fasilitatif atau kegiatan pendukung pada suatu
26
organisasi. Data kegiatan sangat penting bagi organisasi. Data tersebut dapat
disamakan dengan darah bagi makhluk hidup.
2.1.11.2. Data Hasil Penelitian
Hasil penelitian merupakan data yang penting bagi organisasi, baik
pemerintah, swasta maupun masyarakat. Hasil penelitian cenderung disebut data,
karena untuk dapat digunakan lebih lanjut oleh unit-unit (fungsi) organisasi secara
spesifik masih harus diubah terlebih dahulu bentuknya sesuai keperluan. Hasil
penelitian dapat digolongkan dalam data internal dan eksternal, atau untuk
mudahnya dapat disebut sebagai hasil penelitian internal dan eksternal. Hasil
penelitian internal adalah hasil dari penelitian terhadap masalah-masalah dalam
organisasi sendiri. Penelitian internal dapat dikerjakan oleh organisasi sendiri
atau organisasi penelitian luar yang ditunjuk. Hasil penelitian eksternal adalah
hasil penelitian terhadap masalah-masalah diluar organisasi sendiri. Setiap
organisasi memerlukan data dan informasi mengenai
berbagai masalah atau
kegiatan yang bersumber dari luar organisasi. Data tersebut disebut data eksternal
dan informasinya disebut informasi eksternal.
2.1.11.3. Data Lingkungan
Data lingkungan yaitu data yang berkaitan dengan kegiatan organisasi dan
yang dapat mempengaruhi kegiatan organisasi. Data tersebut banyak terdapat di
media cetak seperti buku, majalah, koran dan lain-lain. Media-media ini ada yang
memang khusus membuat data dan informasi mengenai berbagai masalah khusus
27
untuk keperluan kegiatan manajemen pada berbagai organisasi, baik organisasi
pemerintah maupun swasta. Data tersebut secara umum dapat dikatakan meliputi
bidang ekonomi, keuangan,pertanian, industri, perdagangan, politik, sosial,
budaya, iptek, kependudukan, hankam, dan lain-lain.
2.1.11.4 Data Peraturan
Data penting lainya yangsangat berguna sebagai alat bantu dalam
pekerjaan manajemen dan pekerjaan operasional adalah bahan-bahan peraturan.
Data peraturanitu ada yang internal dan eksternal. Dalam pekerjaansistem
informasi, data dalam bentuk peraturan tersebut disimpan secara sistematis dan
aman agar dapat dicari dengan cepat bila sewaktu-waktu diperlukan. Tetapi untuk
memasukan seluruh data atau seluruh isi peraturan ke dalam data komputer akan
memakan biaya terlalu banyak, walupun untuk satu bidang kegiatan sekalipun.
2.1.12 SCM (Supply Chain Management)
2.1.12.1 Definisi SCM (Supply Chain Management)
Menurut Simchi-Levi mendefinisikan Supply Chain Management (SCM)
sebagai berikut (2012:1): “Is set of approaches utilized to efficiently integrate
suppliers, manufacturers, warehouse and stores, so that merchandise is produced
and distributed at the right quantities, to the right locations and at the right time,
in order to minimize system wide cost while satisfying service level requirements.”
Menurut Hanfield dalam bukunya Supply Chain Redesign (2012:8)
mendefinisikan SCM sebagai berikut: “Is the integration and management of
28
supply chain organization and activities through cooperative organization
relationship, effective business process, and high levels of information sharing to
create high-performing value systems that provide member organizations a
sustainable competitive advantage”.
2.1.12.2 Tujuan SCM (Supply Chain Management)
Terdapat 3 hal yang perlu diperhatikan :
1. Untuk melakukan efektifitas dan efisiensi mulai dari suppliers, manufacturers,
warehouse dan stores. Tidak adanya koordinasi yang baik antara pihak-pihak
yang terkait akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Salah satu
dampak yang kerapkali terjadi adalah “Bullwhip effect”. Hal ini terjadi karena
kurangnya koordinasi dalam pertukaran informasi antara toko retail,
distributor dan perusahaan. Disatu sisi ketika manajer toko retail melihat
peningkatan permintaaan dari konsumen sejumlah 100 unit maka peningkatan
100 unit ini akan ditangkap distributor sejumlah 500 unit dan perusahaan akan
menangkap perningkatan permintaan tersebut sebesar 2500 unit. Kalau kita
memperhatikan, informasi jumlah 100 itu dapat sampai ke pihak perusahaan
bagaikan bola salju yang menggelundung dari atas kebawah yang semakin
lama semakin besar. Dan hal ini akan menjadi lebih kacau lagi kalau
pemenuhan kebutuhan itu ditangkap pada waktu yang sudah berjalan cukup
lama.
2. SCM mempunyai dampak terhadap pengendalian biaya.
29
3. SCM mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan
perusahaan kepada customer. Dalam kurun waktu dewasa ini keinginan
customer lebih cepat mengalami perubahan, hal ini dapat kita lihat dari ragam
produk yang ada dalam pasaran. Hal ini membuat perusahaan harus dapat
mengatur secara baik persediaan yang dimiliki perusahaan, karena dengan
perubahan jumlah permintaan terhadap produk tertentu akan membuat
perubahan terhadap kebijakan perusahaan untuk persediaan, dalam hal ini
salah satunya adalah menentukan tingkat pemesanan kembali.
Supply Chain Management berbicara mengenai bagaimana mengatur
pemasokan barang terhadap perusahaan. Namun SCM bukan hanya berbicara
mengenai pemasokan barang secara sederhana. SCM berbicara mengenai cara
untuk mengintegrasikan rantai pasokan barang sampai pendistribusian barang
ketangan pelanggan akhir. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat kompleks,
karena begitu banyak pihak yang terlibat dalam perjalanan dari supplier,
perusahaan, distributor sampai ke pengguna akhir .
Menurut Ramalhinho (October, 2012) dalam artikelnya : “Supply Chain
Mangement: an opportunity for Metaheuristic” mengatakan sehubungan
dengan dunia industri: “The increasing need of industry to compete with its
product in global market, across cost, quality and service dimension, has
driven the need to develop logistic systems more efficient than those
traditionally employed”. Jadi dapat disimpukan bahwa sistem persediaan
yang baik semakin dibutuhkan dalam persaingan global.
30
Pemain utama dalam Supply Chain Management (SCM) Supply Chain
menunjukkan adanya rantai yang panjang yang dimulai dari supplier sampai
pelanggan, dimana adanya keterlibatan entitas atau disebut pemain dalam
konteks ini dalam jaringan supply chain yang sangat kompleks tersebut.
Berikut ini merupakan pemain utama yang yang terlibat dalam supply chain:
1. Supplier (chain 1)
Rantai pada supply chain dimulai dari sini, yang merupakan sumber yang
menyediakan bahan pertama, dimana mata rantai penyaluran barang akan
mulai. Bahan pertama disini bisa dalam bentuk bahan baku, bahan mentah,
bahan penolong, suku cadang atau barang dagang.
2. Supplier-Manufacturer (chain 1-2)
Rantai pertama tadi dilanjutkan dengan rantai kedua, yaitu manufacturer yang
merupakan tempat mengkonversi ataupun menyelesaikan barang (finishing).
Hubungan kedua mata rantai tersebut sudah mempunyai potensi untuk
melakukan penghematan. Misalnya, penghematan inventory carrying cost
dengan mengembangkan konsep supplier partnering.
3.
Supplier-Manufacturer-Distribution (chain 1-2-3)
Dalam tahap ini barang jadi yang dihasilkan disalurkan kepada pelanggan,
dimana biasanya menggunakan jasa distributor atau wholesaler yang
merupakan pedagang besar dalam jumlah besar.
4. Supplier-Manufacturer-Distribution-Retail Outlets (chain 1-2-3-4)
Dari pedagang besar tadi barang disalurkan ke toko pengecer (retail outlets).
Walaupun ada beberapa pabrik yang langsung menjual barang hasil
31
produksinya kepada customer, namun secara relatif jumlahnya tidak banyak
dan kebanyakan menggunakan pola seperti di atas.
5. Supplier-Manufacturer-Distribution-Retail Outlets-Customer (chain 1-2-3-45). Customer merupakan rantai terakhir yang dilalui dalam supply chain dalam
konteks ini sebagai end-user.
2.1.12.3. Hambatan pada SCM (Supply Chain Management)
SCM merupakan sesuatu yang sangat kompleks sekali, dimana banyak
hambatan
yang
dihadapi
dalam
implementasinya,
sehingga
dalam
implementasinya memang membutuhkan tahapan mulai tahap perancangan
sampai tahap evaluasi dan continuous improvement. Selain itu implementasi SCM
membutuhkan dukungan dari berbagai pihak mulai dari internal dalam hal ini
seluruh manajemen puncak dan eksternal, dalam hal ini seluruh partner yang ada.
Berikut
ini
merupakan
hambatan-hambatan
yang
akan
dialami
dalam
implementasi SCM yang semakin menguatkan argument bahwa implementasi
SCM memang membutuhkan dukungan berbagai pihak :
1. Incerasing Variety of Products. Sekarang konsumen seakan dimanjakan oleh
produsen, hal ini kita lihat semakin beragamnya jenis produk yang ada di
pasaran. Hal ini juga kita lihat strategi perusahan yang selalu berfokus pada
customer (customer oriented). Jika dahulu produsen melakukan strategi
dengan melakukan pembagian segment pada customer, maka sekarang
konsumen lebih dimanjakan lagi dengan pelemparan produk menurut
keinginan setiap individu bukan menurut keinginan segment tertentu.
32
Banyaknya jenis produk dan jumlah dari yang tidak menentu dari masingmasing produk membuat produsen semakin kewalahan dalam memuaskan
keinginan dari konsumen.
2. Decreasing Product Life Cycles. Menurunnya daur hidup sebuah produk
membuat perusahan semakin kerepotan dalam mengatur strategi pasokan
barang, karena untuk mengatur pasokan barang tertentu maka perusahaan
membutuhkan waktu yang tertentu juga. Daur hidup produk diartikan sebagai
umur produk tersebut dipasaran.
3. Increasingly Demand Customer. Supply chain management berusaha
mengatur (manage) peningkatan permintaan secara cepat, karena sekarang
customer semakin menuntut pemenuhan permintaan yang secara cepat
walaupun permintaan itu sangat mendadak dan bukan produk yang standart
(customize).
4. Fragmentation of Supply Chain Ownership. Hal ini menggambarkan supply
chain itu melibatkan banyak pihak yang mempunyai masing-masing
kepentingan, sehingga hal ini mebuat Supply chain mangement semakin rumit
dan kompleks.
5. Globalization. Globalisasi membuat supply chain semakin rumit dan
kompleks karena pihak-pihak yang terlibat dalam supply chain tersebut
mencakup pihak-pihak di berbagai negara yang mungkin mempunyai lokasi
diberbagai pelosok dunia.
33
2.1.13. Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran dalam buku "Manajemen Pemasaran: Analisis
Perilaku Konsumen (Kotle:2012)" adalah salah satu kegiatan-kegiatan pokok yang
dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaannya,
untuk berkembang, dan untuk mendapatkan laba. Proses pemasaran itu dimulai
jauh sejak sebelum barang-barang diproduksi, dan tidak berakhir dengan
penjualan. Kegiatan pemasaran perusahaan harus juga memberikan kepuasan
kepada konsumen jika menginginkan usahanya berjalan terus, atau konsumen
mempunyai pandangan yang lebih baik terhadap perusahaan.
2.1.14 Human Resource Management (HRM)
2.1.14.1 Definisi HRM
HRM disini terdiri dari 3 yaitu :
1.
Sumber Daya Manusia
2.
Keuangan
3.
Sistem
Menurut Wayne dan Awad, 1981:29 dalam kaitannya dengan penyerahan
kewenangan sumber daya manusia, aspek pengembangan sumber daya manusia
menjadi bagian penting dalam upaya mengelola sumber daya manusia secara
keseluruhan. Pada hakekatnya pengembangan sumber daya manusia mempunyai
dimensi luas yang bertujuan meningkatkan potensi yang dimiliki oleh sumber
daya manusia, sebagai upaya meningkatkan profesionalisme dalam organisasi.
Pengembangan sumber daya manusia yang terarah dan terencana disertai
pengelolaan yang baik akan dapat menghemat sumber daya lainnya atau setidak-
34
tidaknya pengolahan dan pemakaian sumber daya organisasi dapat secara berdaya
guna dan berhasil guna.
Menurut Siagian, 2012:182 Pengembangan sumber daya manusia
merupakan keharusan mutlak bagi suatu organisasi dalam menghadapi tuntutan
tugas sekarang maupun dan terutama untuk menjawab tantangan masa depan .
Kondisi “conditio sine quanon” ini dapat dikategorikan sebagai bentuk investasi
yaitu human investasi.
Menurut Handoko, 2013: 103 Meskipun program orientasi pengembangan
ini memakan waktu dan dana, semua organisasi mempunyai keharusan untuk
melaksanakannya, dan menyebut biaya-biaya untuk berbagai program tersebut
sebagai investasi dalam sumber daya manusia. Ada dua tujuan utama dalam hal
ini, pertama, pengembangan dilakukan untuk menutup “gap” antara kecakapan
atau kemampuan karyawan dengan permintaan jabatan. Kedua, program tersebut
diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja karyawan dalam
mencapai sasaran-sasaran kerja yang ditetapkan.
Menurut Notoatmodjo, 1998:2-3 Pencapaian keselarasan tujuan tersebut
tentunya harus ditempuh melalui suatu proses tahapan panjang yang dimulai dari
perencanaan sampai dengan pengelolaan dan pemeliharaan potensi sumber daya
manusia. Karena secara makro Pengembangan sumber daya manusia (human
resourses development) merupakan suatu proses peningkatan kualitas atau
kemampuan manusia, yaitu mencakup perencanaan, pengembangan dan
pengelolaan sumber daya manusia.
35
Dalam hal ini pengembangan sumber daya manusia mempunyai ruang
lingkup lebih luas dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan,
kemampuan, sikap dan sifat-sifat kepribadian, sehingga dapat memegang
tanggungjawab dimasa yang akan datang.
Pada sisi lain pengembangan sumber daya manusia tidak hanya sebatas
menyangkut internal sumber daya manusia sendiri (yaitu antara lain pengetahuan,
kemampuan, sikap, tanggung jawab) namun juga terkait dengan kondisi eksternal,
seperti lingkungan organisasi dan masyarakat.
Hal ini tercermin dari tuntutan pengembangan sumber daya manusia
sendiri yang pada dasarnya timbul karena pertimbangan:
1. Pengetahuan karyawan yang perlu pemutakhiran,
2. Masyarakat selalu berkembang dinamis dengan mengalami pergeseran nilainilai tertentu,
3. Persamaan hak memperoleh pekerjaan,
4. Kemungkinan perpindahan pegawai yang merupakan kenyataan dalam
kehidupan organisasional.
Berbagai
tuntutan tersebut
secara bersamaan saling mempengaruhi
pelaksanaan dan arah pengembangan sumber daya manusia, baik menyangkut
internal manusianya maupun lingkungan eksternal.
Pada bagian lain dalam skup organisasi, faktor yang mempengaruhi
pengembangan sumber daya manusia ini dapat dibagi kedalam faktor internal
yaitu mencakup keseluruhan kehidupan yang dapat dikendalikan organisasi,
meliputi :
36
1.
misi dan tujuan organisasi,
2.
strategi pencapaian tujuan,
3.
sifat dan jenis pekerjaan dan
4.
jenis teknologi yang digunakan.
Serta faktor eksternal, yang meliputi :
1.
kebijaksanaan pemerintah,
2.
sosio budaya masyarakat,
3.
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Secara khusus dalam pengembangan sumber daya manusia yang menyangkut
peningkatan segala potensi internal kemampuan diri manusia ini adalah
didasarkan fakta bahwa seseorang karyawan akan membutuhkan serangkaian
pengetahuan, keahlian dan kemampuan yang berkembang untuk bekerja dengan
baik dalam suksesi posisi yang ditemui selama karier.
Dalam hal ini merupakan persiapan karier jangka panjang seseorang.
Sehingga cakupan pengembangan sumber daya manusia selanjutnya adalah terkait
dengan sistem karier yang diterapkan oleh organisasi dan bagaimana sumber daya
manusia yang ada dapat mengakses sistem yang ada dalam rangka mendukung
harapan-harapan kerjanya.
2.1.14.2 Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan
untuk memperoleh sumber modal yang semurah-murahnya dan menggunakannya
se-efektif, se-efisien, seproduktif mungkin untuk menghasilkan laba, atau dapat
37
juga dikatakan bahwa manajemen keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan,
penganggaran,
pemeriksaan,
pengelolaan,
pengendalian,
pencarian
dan
penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan.
2.1.14.3 Tujuan Manajemen Keuangan
Tujuan dengan adanya manajer keuangan untuk mengelola dana
perusahaan pada suatu perusahaan secara umum adalah untuk memaksimalisasi
nilai perusahaan. Dengan demikian apabila suatu saat perusahaan dijual maka
harganya dapat ditetapkan setinggi mungkin.
2.1.14.4 Fungsi Manajemen Keuangan
1.
Perencanaan Keuangan
Membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan
lainnya untuk periode tertentu.
2.
Penganggaran Keuangan
Tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran
dan pemasukan.
3.
Pengelolaan Keuangan
Menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan
berbagai cara.
4.
Pencarian Keuangan
Mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional
kegiatan perusahaan.
38
5.
Penyimpanan Keuangan
Mengumpulkan dana perusahaan serta menyimpan dana tersebut dengan aman.
6.
Pengendalian Keuangan
Melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada
paerusahaan.
7.
Pemeriksaan Keuangan
Melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar tidak
terjadi penyimpangan.
2.1.15 Pengertian Manajemen Pemasaran
1. Manajemen Pemasaran menurut American Marketing Association adalah
sebagai berikut: Manajemen Pemasaran adalah perencanaan, pelaksanaan dan
pengendalian operasi pemasaran total, termasuk tujuan perumusan tujuan
pemasaran, kebijakan pemasaran, program pemasaran dan strategi pemasaran,
yang ditujukan untuk menciptakan pertukaran yang dapat memenuhi tujuan
individu maupun organisasi.
2. Manajemen
Pemasaran
menurut
Philip
Kotler/Armstrong (2012:14),
terjemahan Wilhelmus W. Bakowatun menyebutkan bahwa : “Manajemen
pemasaran adalah analisis, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian atas
program
yang
dirancang
untuk
menciptakan,
membangun,
dan
mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran
dengan maksud untuk mencapai sasaran organisasi”.
39
3. Manajemen Pemasaran
menurut Buchari Alma (2013 : 130), yaitu:
“Manajemen Pemasaran adalah merencanakan, pengarahan, dan pengawasan
seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian dipemasaran”.
4. Manajemen Pemasaran menurut Lupiyo Adi (2012:6) dikatakan bahwa :
“Manajemen pemasaran adalah suatu analisis, perencana, pelaksanaan serta
kontrol program-program yang telah direncanakan dalam hubungannya dengan
pertukaran-pertukaran yang diinginkan terhadap konsumen yang dituju untuk
memperoleh keuntungan pribadi maupun bersama”.
5. Manajemen Pemasaran menurut Philip William J. Shultz (dalam buku Prof. Dr.
H. Buchari Alma, “Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa”, (2013),
Manajemen pemasaran adalah merencanakan, pengarahan, dan pengawasan
seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian dari perusahaan.
2.1.15.1 Pengertian Pemasaran
1. Menurut Phillip Kotler, Pengertian Pemasaran adalah suatu proses sosial dan
manajerial di mana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan
keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu
yang bernilai satu sama lain.
2. Pendapat William J Stanton mengenai Pengertian Pemasaran adalah suatu
sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk
merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan
barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada
maupun pembeli potensial.
40
3. Muhammad Firdaus mengemukakan pengertian pemasaran, Pemasaranialah
salah satu dari kegiatan pokok yang harus dilakukan oleh para pengusaha
termasuk
pengusaha
tani
(agribusinessman)
dalam
usahanya
untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya (survival), untuk mendapatkan laba
dan untuk berkembang. Berhasilnya suatu usaha yang dijalankan tergantung
pada keahliannya di bidang produksi, pemasaran, keuangan dan sumber daya
manusia.
4. Pengertian Pemasaran dalam The American Marketing Association,
Pemasaran adalah pelaksanaan kegiatan dunia usaha yang mengakibatkan
aliran barang dan jasa dari para produsen ke para konsumen.
Dari pengertian pemasaran yang diungkapkan di atas, maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa pemasaran terdiri dari tindakan-tindakan yang
menyebabkan berpindahnya hak milik atas barang serta jasa dan yang
menimbulkan distribusi fisik mereka. Proses pemasaran ini meliputi aspek fisik
dan nonfisik. Yang menyangkut perpindahan barang-barang ke tempat di mana
mereka dibutuhkan merupakan aspek fisik, sedangkan aspek nonfisiknya yaitu
para penjual harus mengetahui apa yang diinginkan oleh para pembeli dan
pembeli harus pula mengetahui apa yang dijual.
2.1.15.2 Perencanaan Pemasaran
a. Pengertian Perencanaan Pemasaran
Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz
(2013) bahwa: planning may be defined as the proses by which manager set
objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish
41
these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (2012) mengemukakan bahwa :
“Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan
penentuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metode, sistem,
anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan
keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.”
Definisi dari perencanaan pemasaran menurut Mc Donald adalah proses
manajemen yang mengarah pada perencanaan pemasaran. Perencanaan ini
merupakan urutan logis dan serangkaian aktivitas ke arah penetapan tujuan
pemasaran dan perumusan rencana untuk mencapai tujuannya. Perencanaan
pemasaran adalah penerapan yang sudah direncanakan dari sumber daya
pemasaran untuk mencapai tujuan pemasaran. Dengan demikian perencanaan
pemasaran merupakan sebuah proses sistematis dalam merancang dan
mengkoordinasi keputusan pemasaran. Rencana pemasaran ini memberikan fokus
bagi pengumpulan informasi, format bagi penyebarluasan informasi, dan struktur
bagi pengembangan dan pengkoordinasian respon strategik dan taktikal
perusahaan.
b. Manfaat Perencanaan Pemasaran
1.
Mencapai koordinasi aktivitas yang lebih baik
2.
Mengidentifikasi perkembangan yang diharapkan
3.
Meningkatkan kesiapan organisasi untuk berubah
4.
Meminimalkan respon tak rasional samapi respon yang tak diharapkan
5.
Mengurangi konflik tentang ke mana seharusnya organisasi bergerak
6.
Meningkatkan komunikasi
42
7.
Mendesak manajemen untuk berpikir ke depan secara sistematis
8.
Memperluas penyesuaian sumber daya yang tersedia untuk mendapatkan
peluang pilihan
c. Masalah-masalah yang muncul akibat kurangnya perencanaan pemasaran
1. Peluang-peluang yang hilang untuk mendapatkan laba
2. Angka-angka yang tak berarti dalam rencana jangka panjang
3. Tujuan yang tidak realistis
4. Kurangnya informasi pasar yang dapat dilakukan
5. Perselisihan antar fungsional
6. Frustasi manajemen
7. Perkembangbiakan produk dan pasar
8. Pengeluaran promosi yang sia-sia
9. Penentuan harga yang terlalu membingungkan
10. Semakin melemah terhadap perkembangan bisnis
11. Hilangnya kendali terhadap bisnis
2.1.15.3 Konsep Dasar Manajemen Pemasaran
Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan
organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta
memberikan kepuasaan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien
dibandingkan para pesaing.
Konsep pemasaran yang telah diungkapkan dengan berbagai cara:
1. Temukan keinginan pasar dan penuhilah.
43
2. Buatlah apa yang dapat dijual dan jangan berusaha menjual apa yang dapat
dibuat.
3. Cintailah pelanggan, bukan produk anda.
4. Lakukanlah menurut cara anda.
5. Andalah yang menentukan.
6. Melakukan segalanya dalam batas kemampuan untuk menghargai uang
pelanggan yang sarat dengan nilai, mutu dan kepuasan.
Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar pelaksanaan
kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu : konsep produksi, konsep produk,
konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran sosial, dan konsep
pemasaran global.
1. Konsep produksi
Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk
yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini berorientasi pada
produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk mencapai efesiensi produk
tinggi dan distribusi yang luas. Disini tugas manajemen adalah memproduksi
barang sebanyak mungkin, karena konsumen dianggap akan menerima produk
yang tersedia secara luas dengan daya beli mereka.
2. Konsep produk
Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang
menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik. Tugas manajemen
disini adalah membuat produk berkualitas, karena konsumen dianggap menyukai
produk berkualitas tinggi dalam penampilan dengan ciri-ciri terbaik
44
3. Konsep penjualan
Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan begitu
saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan promosi yang agresif.
4. Konsep pemasaran
Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan
organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta
memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien
dibandingkan para pesaing.
5. Konsep pemasaran sosial
Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah
menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran serta
memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih efektif dan efisien
daripada para pesaing dengan tetap melestarikan atau meningkatkan kesejahteraan
konsumen dan masyarakat.
6. Konsep Pemasaran Global
Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya memahami
semua faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran melalui
manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya adalah berupaya untuk
memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan.
45
2.1.15.4 Proses Manajemen Pemasaran
1.
Segmentasi Pasar
Tiap pasar terdiri dari bermacam-macam pembeli yang mempunyai
kebutuhan dan kebiasaan yang berbeda. Perusahaan tidak mungkin dapat
memenuhi
kebutuhan
semua
pembeli.
Karena
itu,
perusahaan
harus
mengelompokkan pasar yang bersifat heterogen tersebut kedalam satuan-satuan
pasar yang bersifat homogen.
2. Market Positioning
Perusahaan tidak mungkin dapat menguasai pasar secara keseluruhan,
maka prinsip strategi pemasaran yang kedua adalah memilih pola spesifik pasar
perusahaan yang akan memberikan kesempatan maksimum kepada perusahaan
untuk mendapatkan kedudukan yang kuat. Dengan kata lain perusahaan harus
memilih segmen pasar yang akan menghasilkan penjualan dan laba paling besar.
Segmen pasar semacam ini memiliki 4 (empat) karakteristik, yaitu :
1. Berukuran cukup besar
2. Mempunyai potensi untuk berkembang terus
3. Tidak memiliki atau dipenuhi oleh perusahaan saingan
4. Mempunyai kebutuhan yang belum terpenuhi, yang mana kebutuhan tersebut
dapat dipuaskan oleh perusahaan yang memilih segmen pasar tersebut.
3.
Market Entry Strategy
Market Entry Strategy adalah strategi perusahaan untuk memasuki segmen
pasar yang dijadikan pasar sasaran penjualan.
46
Strategi memasuki suatu segmen pasar dapat dilakukan dengan cara :

Membeli perusahaan lain
Cara ini merupakan cara yang paling mudah dan cepat, cara ini ditempuh
apabila :

Perusahaan pembeli tidak mengetahui tentang seluk beluk industri dari
perusahaan yang dibeli

Sangat menguntungkan untuk secepat mungkin memasuki segmen pasar yang
dikuasai perusahaan yang dibeli.

Perusahaan menghadapi macam-macam penghalang untuk memasuki segmen
pasar yang bersangkutan melalui internal development, misalnya patent,
economies of scale, saluran distribusi yang sulit dimasuki, biaya iklan yang
mahal atau kesulitan bahan mentah.

Internal Development
Ada perusahaan-perusahaan yang lebih suka berkembang melalui usaha
sendiri yaitu melalui research and development karena berpendirian bahwa
hanya dengan cara inilah kepemimpinan dalam industri dapat dicapai.

Kerjasama dengan perusahaan lain
Keuntungan dengan cara ini ialah bahwa resiko yang dipikul bersama, dan
masing-masing perusahaan saling melengkapi skill dan resources.
3. Marketing Mix Strategy
Marketing Mix strategy adalah kumpulan variabel-variabel yang dapat
dipergunakan perusahaan untuk memepengaruhi tanggapan konsumen. Variabel-
47
variabel yang dapat mempengaruhi pembeli adalah yang disebut 7P (product,
Price, Place, Promotion, Participant, Prosess and People Physical evidence).
4. Timing Strategy
Penentuan saat yang tepat dalam memasarkan barang merupakan hal yang
perlu diperhatikan. Meskipun perusahaan melihat adanya kesempatan baik
menetapkan objektif dan menyusun strategi pemasaran, ini tidaklah berarti bahwa
perusahaan dapat segera memulai kegiatan pemasaran. Perusahaan harus lebih
dahulu melakukan persiapan-persiapan baik dibidang produksi maupun dibidang
pemasaran, kemudian perusahan juga harus menentukan saat yang tepat bagi
pelemparan barang dan jasa ke pasar.
Strategi pemasaran dapat dinyatakan sebagai dasar tindakan yang mengarah pada
kegiatan atau usaha pemasaran, dari suatu perusahaan, dalam kondisi persaingan
dan lingkungan yang selalu berubah agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Jadi dalam menetapkan strategi pemasaran yang akan dijalankan perusahaan
haruslah terlebih dahulu melihat situasi dan kondisi pasar serta menilai posisinya
di pasar. Dengan mengetahui keadaan dan situasi serta posisinya di pasar dapat
ditentukan
kegiatan
pemasaran
yang
harus
dilaksanakan.
Posisi bersaing dalam suatu industri meliputi :
1. Dominan (Dominant)
Perusahaan ini mampu menegndalikan pesaing-pesaing yang lain serta memiliki
banyak pilihan dalam menentukan strategi.
48
2. Kuat (Strong)
Perusahaan ini mampu bertindak bebas tanpa membahayakan posisi jangka
panjangnya walaupun pesaing-pesaing berbuat apa saja yang mereka kehendaki.
3. Baik
Perusahaan ini memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan dalam strategi-strategi
tertentu serta mempunyai peluang yang lebih diatas rata-rata untuk meningkatkan
posisinya.
4. Sedang (Tenable)
Prestasi perusahan cukup memuaskan untuk menjamin kelangsungan usahanya.
Tetapi perusahaan ini sering kalah karena ulah perusahaan yang dominant serta
untuk meningkatkan posisinya ia memiliki peluang yang kurang rata-rata industri.
5. Lemah (Weak)
Perusahaan ini tampil dengan tidak memuaskan. Tetapi masih memiliki peluangpeuang perbaikan. Perusahaan ini harus mengubah diri, kalau tidak maka ia akan
terpaksa keluar dari industri.
6. Tidak ada harapan (Non-Viable)
Perusahaan ini berprestasi dengan sangat tidak memuaskan serta memiliki
peluang-peluang untuk perbaikan.
49
ANALISIS
LINGKUNGAN
PEMASARAN
MARKET STRATEGY
AKTIVITAS
SEGMENTING
PEMASARAN
TARGETING
PELUANG
PASAR
Organisasi
POSITIONING
Pemasaran
ANALISIS SITUASI
PEMASARAN
Anggaran
Prosedur
PILIHAN
KAPABILITAS
SUMBER DAYA
ANALISIS
SUMBER DAYA
INTERNAL
TARGET
2.
3.
4.
5.
6.
7.
DESIGNING
PRODUCT
DESIGNING
PRICE
DESIGNING
PLACE
DESIGNING
PROMOTIONS
DESIGNING
PEOPLE
DESIGNING
PHYCICAL
EVIDENCE
DESIGNING
PROCESS
KINERJA
MARKET
MARKETING MIX
STRATEGY
1.
PENGENDALIAN
PILIHAN
PROGRAM
PEMASARAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
PRODUCT
PRICE
PLACE
PROMOTIONS
PEOPLE
PHYCICAL
EVIDENCE
PROCESS
Gambar 2.2 Model Pemasaran, (Khotler, 12)
PEMASARAN








Pemantauan
Evaluasi
Kinerja Penjualan
Pangsa Pasar
Laba
Citra
Perusahaan/Citra
Merk
Satisfaction
Loyalti
50
2.1.16 Metode Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem dapat berarti menyusun sistem yang baru untuk
menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau untuk memperbaiki
sistem
yang
sudah
ada
(kami,
2013).
Pengembangan
sistem
adalah
metode/prosedur/konsep/aturan yang digunakan untuk mengembangkan suatu
sistem informasi atau pedoman bagaimana dan apa yang harus dikerjakan selama
pengembangan sistem (algorithm). Metode adalah suatu cara, teknik sistematik
untuk mengerjakan sesuatu (Dinu, 2013).
a. System Development Life Cycle (SDLC)
Menurut O’Brien dan Marakas (2006, p 402) dalam bukunya yang berjudul
management information systems menjelaskan bahwa siklus hidup pengembangan
sistem terdiri dari lima (5) tahapan yaitu :
1) Sistem Investigasi (systems investigation)
Tahap ini meliputi pertimbangan dari usulan yang dihasilkan oleh proses
perencanaan IT/bisnis. Tahap investigasi juga meliputi pembelajaran awal dari
solusi sistem informasi yang diusulkan untuk menemukan prioritas dan
kesempatan bisnis sebuah perusahaan yang diidentifikasi dalam proses
perencanaan.
2) Sistem Analisis (systems Analysis)
Sistem analisis menggambarkan apa yang harus dilakukan sistem untuk
menemukan informasi yang dibutuhkan oleh pemakai.
50
51
3) Sistem perancangan (systems design)
Menurut Mc.Leod (2001, p192) rancangan sistem adalah penentuan proses
data yang diperlukan oleh sistem baru. Jika sistem itu berbasis komputer,
rancangan dapat menyertakan spesifikasi jenis peralatan yang digunakan.”
Menurut Whitten, Bentley dan Dittman (2004, p39) “system design is the
specification or construction of a technical, computer based solution for the
business requirement identified in a system analysis.” Dapat berarti perancangan
sistem adalah spesifikasi atau perwujudan dari solusi teknis berbasiskan komputer
untuk kebutuhan bisnis yang diidentifikasikan di sistem analisis”. Sistem
perancangan menjelaskan bagaimana sistem akan menyelesaikan tujuan ini.
Sistem perancangan terdiri dari aktivitas perancangan (hardware, software,
people, network dan data resources) yang menghasilkan spesifikasi sistem yang
memenuhi kebutuhan fungsional yang dikembangkan dalam proses sistem
analisis.
4) Sistem Implementasi (systems Implementation)
Ketika sistem informasi yang baru telah selesai dirancang, maka harus
diterapkan dan dipelihara agar dapat beroperasi dengan baik. Implementasi adalah
tahap penting dalam pengembangan teknologi informasi untuk mendukung
karyawan, pelanggan dan pemegang saham perusahaan bisnis lainnya.
Implementasi merupakan proses yang sulit dan memakan waktu.
5) Sistem Pemeliharaan (systems Maintenance)
Sistem meliputi pengawasan, evaluasi dan modifikasi sistem operasional
bisnis untuk membuat peningkatan sesuai dengan yang dibutuhkan. Aktivitas
52
pemeliharaan meliputi proses peninjauan sesudah tahap implementasi untuk
memastikan bahwa sistem baru yang diimplementasikan memenuhi tujuan bisnis
yang dibangun.
2.1.17 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan tesis ini.
Penelitian tersebut penulis ambil beberapa jurnal yang mirip dengan penulisan
tesis ini, diantaranya:
No
1
Nama dan Judul
Penelitian
Hartman and Ashrafi
(2002)
Perancangan dan
Implementasi
Aplikasi ECommerce Berbasis
Web di Kaniketa
Clothing and
Printing
2
Robert
(2012)
J.Kauffman
Electronic Commerce
Research
and
Application
3
Yudie Irawan (2013)
Analisis
pengaruh
strategi pemasaran Ecommerce terhadap
volume penjualan
4
Luciana Spica Amilia
(2011)
Penerapan
Ecommerce
sebagai
upaya
peningkatan
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Hasil
Persamaan
penelitian
Perbedaan
Mengenai
perancangan dan
penerapan sebuah
aplikasi
untuk
meningkatkan
hasil
penjualan
pakaian.
Merancang
sebuah sistem Ecommerce untuk
mendapatkan
keuntungan
Yang
dilakukan
setelah
dirancang
kemudian diterapkan
Mengenai
perdagangan
melalui
commerce
Memberikan
keuntungan
memudahkan
pembeli
untuk
membeli melalui
E-commerce
Menerapkan
E-commerce
Mendapatkan
pengaruh
yang
mempengaruhi
strategi
pemasaran
Ecommerce
Menggunakan Ecommerce dalam
pemasaran produk
Metode
yang
digunakan
untuk
analisis berbeda
Membahas
tentang
penerapan
Ecommerce dalam
suatu perusahaan
Menggunakan Ecommerce dalam
penerapan bisnis
diperusahaan
E-Commerce sebagai
upaya
peningkatan
penjualan
E-
aplikasi
53
penjualan
5
Membahas
tentang
pembangunan
sistem
Ecommerce
Sarifudin (2009)
Merancang
sebuah sistem Ecommerce
Memudahkan pembeli
untuk memesan dan
membeli barang yang
ingin dibeli pada toko
komputer
2.2 Kerangka Pemikiran
Perancangan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam
membuat suatu sistem informasi. Dalam perancangan semua elemen pendukung
yang dibutuhkan dalam pengolahan data harus disiapkan terlebih dahulu.
Menurut McLeod (2007, p238) perancangan sistem adalah penentuan proses dan
data yang diperlukan oleh sistem baru, jika sistem itu berbasis komputer,
perancangan dapat dinyatakan spesifikasi peralatan yang digunakan.Menurut
Mardi Msi (2011, p124) menjelaskan bahwa pengembangan sistem idealnya
dilaksanakan
dalam
suatu
kerangka
rancangan
induk
sistem
yang
mengkoordinasikan proyek pengembangan sistem kedalam rancangan strategis
perusahaan.
Dalam perancangan ini melibatkan semua komponen yang ada dalam
suatu organisasi, baik dari dalam maupun dari luar organisasi. Komponenkomponen tersebut dapat terdiri dari fenomena, input analysis, proses analysis,
output analysis dan outcome analysis yang diperlukan dalam proses perancangan
suatu sistem informasi yang akan dibangun.
54
a.
Fenomena
Fenomena adalah masalah yang terjadi pada saat ini pada perusahaan.
b. Input
Input adalah masuknya faktor masalah yang terjadi pada butik radestri.
c.
Proses
Proses merupakan langkah-langkah yang dilakukan pada saat ingin menyelesaikan
masalah yang dihadpi.
d. Output
Output adalah Hal yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah mengacu
pada proses.
e.
Outcome
Outcome adalah efek jangka panjang dari proses.
55
FENOMENA
Belum adanya
Teori Pendukung
system yang
1.
Manajemen
Survey
1. Penghematan
menangani
Sistem
penjualan
Informasi
2. Efisiensi
Supply chain
3. Persaingan
management
4. Kebutuhan
dengan baik.
2.
Sehingga
pendapatan
3.
Human
yang
resources
dihasilkan
management
tidak terpantau
PROSES
INPUT
4.
Sales &
Marketing
Biaya
Customer
5. Kebutuhan
Supplier
E
B
U
S
S
I
N
E
S
S
C
O
M
P
A
T
A
T
I
O
N
Supply
1. Budaya
Organisasi
2. Proses
Bisini
Pada saat
ini
3. Persaingan
Manajeme
n
1. Net Present Value
 Kelayakan dari E
Commerce
2. Pay Back Period
 Lamanya
Pengembalian Modal
3. Benefit Cost Ratio
 Manfaat dari E
Commerce
4. Break Event Point
 Hasil produksi selama
1 Tahun dan
Keuntungannya.
4. Skill
Pegawai
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran
OUTPUT
E-commerce dalam
upaya peningkatan
hasil penjualan di
butik Radestri
OUTCOME
MENINGKATKAN
HASIL
PENJUALAN
 Loyalitas
Pelanggan
 Promosi
 Cost Benefit Ratio
56
Berdasarkan Gambar 2.3 diatas penjelasannya adalah :
1. FENOMENA
Fenomena adalah yang terjadi pada butik radestri adalah belum adanya sistem yang
menangani penjualan dengan baik. Sehingga pendapatan yang dihasilkan tidak terpantau.
2. INPUT
Pada tahap input adalah masuknya faktor masalah yang terjadi pada butik Radestri. Input
yang mendorong adanya E-commerce adalah :
1. Pelanggan

Keluhan Pelanggan

Harga

Fitur Online

Model Promosi
2. Sistem

Target Jumlah Pelanggan

Target Jumlah Produk
3. PROSES Front End :
a. Net Present Value ( Kelayakan E Commerce )
Pada perhitungan npv ini, nilai dari npv harus lebih dari 1 baru bisa dikatakan layak.
Apabila nilai npv ini 0, berarti npv tidak layak untuk dijalankan.
b. Pay Back Period
Pada perhitungan PBP ini, akan dilihat jangka waktu pengembalian modal. Apabila
jangka waktu pengembalian modal kurang dari yang sebelumnya, maka e commerce layak
untuk dijalankan.
57
c. Benefit Cost Ratio
Pada perhitungan BCR ini, akan dilihat seberapa besar manfaat dari proyek yang akan
dijalankan. Apabila nilainya melebihi dari 1, maka proyek tersebut wajib dijalankan.
d. Break Event Point
Pada perhitungan BEP ini, akan terlihat harga perunit baju serta keuntungan yang
didapatkan dalam jangka waktu tertentu.
4. OUTPUT
E-Commerce dalam upaya peningkatan hasil penjualan
5. OUTCOME
Meningkatkan Hasil Penjualan.
Download