SIFILIS KONGENITAL : Karya Tulis Ilmiah : http://karyatulisilmiah.com

advertisement
This page was exported from Karya Tulis Ilmiah [ http://karyatulisilmiah.com ]
Export date: Mon Jul 17 20:21:20 2017 / +0000 GMT
SIFILIS KONGENITAL
BATASAN
Sifilis kongenital adalah penyakit sifilis yang diderita janin karena penularan melalui plasenta dari ibu yang
menderita sifilis.
PATOFISIOLOGI
Treponema pallida yang berada di darah ibu dapat menembus plasenta masuk ke janin setelah kehamilan 16 – 18
minggu.
Bila si ibu mendapat sifilis sewaktu ia hamil, manifestasi pada janinnya tergantung pada bilamana (pada usia
kehamilan beberapa minggu) infeksi itu terjadi.
Bila infeksi pada kehamilan yang telah tua, akan terlihat ibu dan anak tidak menunjukkan gejala-gejala sifilis
sewaktu kelahiran (baik klinis maupun serologi), sampai beberapa minggu kemudian.
Sebaliknya bila infeksi pada ibu, tentunya juga pada janin terjadi pada usia kehamilan muda akan mengakibatkan
mati dalam kandungan, lahir prematur, immatur atau lahir dengan gejala sifilis dini.
Karenanya infeksi sifilis selama kehamilan akan mengakibatkan bayi mati dalam kandungan, lahir immatur,
prematur atau lahir dengan gejala sifilis.
Pada umumnya sifilis hanya infeksius pada masa 2 tahun pertama (sifilis dini), akan tetapi perkecualian pada ibu
hamil masih dapat menularkan sifilis pada janinnya walaupun ia menderita sifilis kasip.
GEJALA KLINIS
Manifestasi klinis sifilis kongenital ada 3 kemungkinan :
- Sifilis kongenital dini bila timbul gejala sejak lahir atau pada saat-saat sebelum usia bayi mencapai 2 bulan.
- Sifilis kongenita lanjut (gejala timbul setelah 2 tahun)
- Stigmata sifilis.
Sifilis Kongenital Dini
Gejala klinisnya sebagian besar seperti sifilis stadium II (sifilis sekunder) pada penderita dewasa ditambah dengan
:
a. Bula yang disebut impetigo sifilitika.
b. Fisura pada sudut mulut, kalau sembuh meninggalkan bekas berupa jaringan parut yang khas. Rhagaden.
c. Pseudoparalysis dari parrot.
d. Rhinitis.
e. Hepato-spleno megali
Sifilis Kongenital Lanjuta
Gejala kliniknya seperti sifilis stadium III (sifilis tersier) pada penderita dewasa dengan gejala-gejala :
a. perforasi palatum.
b. destruksi septum nasi (saddle nose)
c. sabre tibia.
d. gejala-gejala “neurosyphilis”
e. Trias Hutchinsin :
- keratitis interstitialis.
- gigi Hucthinson.
- Ketulian (N. VIII).
f. Clutton's joint :
hydrartrosis dari kedua lutut, tidak nyeri, tanpa kelainan X - ray.
Stigmata Sifilis
Berupa bekas dari sifilis kongenital baik yang dini maupun yang lanjut berupa jaringan parut atau deformitas,
berupa :
1. rhagaden
2. sabre tibia
3. gejala-gejala yang menetap dari sifilis lanjut.
LABORATORIUM
Pemeriksaan mikroskop lapangan gelap dari darah tali pusat sewaktu kelahiran akan menunjukkan hasil yang
positif (didapatkan Spirochaeta), juga dari lesi di kulit atau mukosa hidung.
Pemeriksaan STS dari bayi dari ibu : hasil yang negatif dari bayi tidak menyingkirkan sifilis kongenital, karena
hasil bisa negatif bila infeksi terjadai pada saat kehamilan sudah sangat tua. Begitu pula hasil positif d ari
pemeriksaan bayi tidak membuktikan adanya infeksi padanya karena pada ibu yang telah diobati, antibodi di
darahnya dapat masuk ke darah bayi melalui plasenta.
Pada bayi yang tidak menunjukkan gejala klinik namun reaksi STSnya positif harus diikuti terus STSnya dalam
beberapa kali pemeriksaan selama 6 bulan, sebab bila reaksi positif ini disebabkan oleh transfer antibodi secara
pasif, pada pemeriksaan STS 32 hari setelah kelahiran hasilnya akan turun separuhnya dan setelah 6 bulan akan
menjadi negatif (hal ini, terjadi tanpa mengobati si bayi).
Bayi yang lahir dari ibu yang menderita sifilis selama mengandung dan telah diobati secara adekuat, test
serologinya biasanya positif dan titernya sama rendah dengan titer ibunya, ulangan test serologi seminggu
kemudian akan menunjukkan hasil yang menurun, dan akan negatif 3 bulan kemudian.
Bila ternyata pada pemeriksaan pertama STS bayi menunjukkan titer yang lebih tinggi dari STS ibunya secara
bermakna dan test seminggu kemudian tidak menunjukkan penurunan, berarti bayi itu menderita sifilis kongenita
dan harus diobati. Foto sinar X tulang panjang : osteomielitis, periostiti.
PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
Sifilis Kongenital Dini :
1. Gejala-gejala klinik sifilis kongenita dini.
2. Didapatkan Spirochaeta
3. Test serologi : lihat laboratorium.
4. Foto sinar X tulang panjang : lihat laboratorium.
Sifilis Kongenital Lanjut
Didapat gejala-gejala klinik sifilis kongenita lanjut dan T.S.S – Test Serologi Sifilis yang positif.
PENATALAKSANAAN
Pengobatan dengan Penisilin prokain injeksi i.m. dengan dosis 50.000 IU/kg BB/hari, selama 10 hari.
Pengobatan di atas berlaku bagi yang dini maupun yang lanjut. Pengawasan teratur, atas gejala klinik dan STS
dalam waktu 2 tahun dengan frekuensi setiap bulan, 3 bulan pertama, setiap 3 bulan sampai 9 bulan berikutnya,
setiap 6 bulan sampai setahun berikut.
DAFTAR PUSTAKA
1. Felman YM, PHILM. Sexually Transmitted Diseases, Churchil Livingstone, 1986 : 23 – 50.
2. Holmes KK, Mardh PA, Sparling PF, Wiesner PJ. Sexually Transmitted Diseases, Mc Graw Hill, First Edition,
1989, 213 – 262.
3. King A, Nicol C, Veneral Diseases 3 rd ed. The English Language Book Society Baillere Tindak, 1980, 104 –
132.
4. Standarisasi Diagnostik dan Penatalaksanaan Beberapa Penyakit Menular Seksual (PMS), FKUI, 1990, 155 –
162.
5. Thin N. R. Lecture Notes on Sexually Transmitted Diseases Blackwell Scientivic Publications, 1982, 84 – 101.
Post date: 2011-02-04 11:05:00
Post date GMT: 2011-02-04 11:05:00
Post modified date: 2014-09-19 20:46:06
Post modified date GMT: 2014-09-19 20:46:06
Powered by [ Universal Post Manager ] plugin. MS Word saving format developed by gVectors Team www.gVectors.com
Download