akuntabilitas kinerja

advertisement
Kata Pengantar
LAPORAN
AKUNTABILITAS KINERJA
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
2013
ACCOUNTABILITY
PENCAPAIAN
PEMBANGUNAN PERDAGANGAN
TAHUN 2013
Kementerian Perdagangan
Republik Indonesia
Kata Pengantar
Kata Pengantar
LAPORAN
AKUNTABILITAS KINERJA
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
TAHUN 2013
ACCOUNTABILITY
Kementerian Perdagangan
Republik Indonesia
2
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
3
Kata Pengantar
Kata Pengantar
“
Tahun 2014 merupakan titik puncak dari pencapaian
pembangunan perdagangan selama lima tahun terakhir
seperti yang telah dicita-citakan dalam RPJMN dan
Renstra.
“
Tahun 2014 merupakan tahun krusial bagi seluruh instansi pemerintah
di Indonesia, tak terkecuali Kementerian Perdagangan. Selain ramai
didengungkan sebagai tahun politik, tahun 2014 merupakan titik puncak
dari pencapaian pembangunan nasional selama lima tahun terakhir
seperti yang telah dicita-citakan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menegah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. Sejalan dengan RPJMN,
Kementerian Perdagangan telah menyusun Rencana Strategis (Renstra)
Pembangunan Perdagangan Tahun 2010-2014 sebagai acuan utama bagi
Kementerian Perdagangan untuk pencapaian sasaran dan pelaksanaan
program pembangunan di sektor perdagangan dalam upaya mendukung
pembangunan daya saing ekonomi bangsa. Sebagai penjabaran dari sasaran
dan program dalam Renstra, Kementerian Perdagangan secara periodik telah
menyusun Rencana Kerja (Renja) Tahunan yang selaras dengan Rencana
Kerja Pemerintah (RKP).
Selama empat tahun terakhir (2010-2013), seluruh jajaran pegawai
Kementerian Perdagangan bekerjasama dengan para pemangku kepentingan
(stakeholders) di sektor perdagangan telah mengerahkan segenap upaya dan
pemikiran untuk melaksanakan amanat pembangunan dalam pencapaian
sasaran strategis perdagangan, yang tergambar dari indikator kinerja dan
keuangan yang telah dicapai oleh Kementerian Perdagangan. Pelaporan
mengenai capaian indikator kinerja dan keuangan tersebut terangkum
dengan ringkas dan lugas dalam dokumen Laporan Akuntabilitas dan Kinerja
(LAK) Kementerian Perdagangan Tahun 2013.
Sebagai penutup, segala hal yang termuat dalam laporan ini kiranya dapat
memberi manfaat dalam pertimbangan dan keberlanjutan kebijakan
pembangunan perdagangan, bagi generasi kini dan generasi ke depan,
menuju bangsa yang semakin berdaya saing dan sejahtera.
Jakarta, Maret 2014
MENTERI PERDAGANGAN R.I.
Muhammad Luthfi
4
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
5
Ringkasan Eksekutif
Ringkasan Eksekutif
Tabel 1
Matriks Pencapaian Sasaran Pembangunan Perdagangan Tahun 2013
Matriks Pencapaian Sasaran Pembangunan Perdagangan Tahun 2013
N
O
SASARAN STRATEGIS
CAPAIAN KINERJA
INDIKATOR KINERJA
TARGET
REALISASI
%
MISI 1: MENINGKATKAN KINERJA EKSPOR NONMIGAS NASIONAL SECARA BERKUALITAS
1
2
2,7
-2,0
-74,1%
b. Total ekspor (USD, Miliar)
179
182,6
102%
a. Rasio konsentrasi penguasaan
pangsa pasar di 5 negara tujuan
ekspor terbesar/CR5 (Persen)
47
50,35
92,9%
b. Pertumbuhan ekspor non-migas ke
negara non-tradisional (Persen)
15
1,79
11,9%
c. Kontribusi ekspor di luar 10 produk
utama (Persen)
53
54
101,9%
3
Perbaikan citra produk
ekspor Indonesia
Skor dimensi ekspor dalam Simon
Anholt’s Nation Brand Index (Skor)
47
45,6
97,0%
4
Peningkatan peran dan
kemampuan Kementerian
Perdagangan dalam
diplomasi perdagangan
internasional
a. Jumlah hasil perundingan
perdagangan internasional(Hasil
Perundingan)
248
323
130,2%
b. Peningkatan nilai perdagangan
Indonesia dengan negara mitra FTA
ASEAN (Persen)
10
47,5
475%
a. Pelayanan perizinan sub sektor
PDN yang dapat dilayani secara
online (Jenis)
11
12
109,1%
b. Rata-rata waktu penyelesaian
perizinan sub sektor PDN (Hari)
4
2
150%
c. Perizinan Ekspor dan Impor yang
dapat dilayani secara online (Jenis)
75
83
110,7%
d. Rata-rata waktu penyelesaian
perizinan ekspor dan impor (Hari)
2
2
100%
a. Pertumbuhan PDB sektor
perdagangan besar dan eceran
(Persen)
6,5
6,4
98,5%
b. Rasio penggunaan produk dalam
negeri terhadap pengeluaran
konsumsi rumah tangga (Persen)
95
97,3
102,4%
c. Jumlah transaksi multilateral di
bidang PBK (Lot)
1.500.00
0
1.257.829
83,9%
d. Nilai resi gudang yang diterbitkan
(Rp, miliar)
100
108,95
108,9%
Akumulasi jumlah BPSK yang terbentuk
setiap tahun (Unit)
65
111
170,8%
5
Dari 23 indikator kinerja, sebanyak 19 diantaranya dapat
tercapai sesuai target dalam Kontrak Kinerja Kementerian
Perdagangan 2013.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan Tahun
2013, yang selanjutnya disebut LAK Kemendag 2013, adalah
dokumen perencanaan pembangunan yang berisi perwujudan
kewajiban Kementerian untuk mempertanggungjawabkan
keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan visi dan misi
organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran strategis
yang telah ditetapkan selama tahun berjalan. Pengukuran
pencapaian sasaran strategis dan indikator kinerja (IK) dalam
LAK Kemendag 2013 mengacu kepada dokumen-dokumen
Renstra Kementerian Perdagangan 2010-2014, Rencana
Kinerja 2013, dan Kontrak Kinerja Kementerian Perdagangan
2013, dimana secara keseluruhan terdapat 23 indikator kinerja
dari 12 sasaran strategis yang ingin dicapai.
6
Peningkatan diversifikasi
pasar tujuan ekspor dan
diversifikasiproduk
ekspor non-migas
a. Pertumbuhan ekspor non-migas
(Persen)
MISI 2: MENGUATKAN PASAR DALAM NEGERI
“
“
Peningkatan
pertumbuhan ekspor
non-migas
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
6
Dari keseluruhan 23 indikator kinerja, sebanyak 19 diantaranya
dapat tercapai atau melampaui target yang ditetapkan dalam
Kontrak Kinerja Kementerian Perdagangan Tahun 2013,
sedangkan 4 indikator kinerja lainnya tidak mencapai target
dan realisasinya masih dibawah 50%, atau sangat sulit/tidak
mungkin untuk dicapai.Target yang sangat sulit dicapai pada
tahun 2013 adalah pertumbuhan ekspor non-migas, yang
justru melambat atau mencatat pertumbuhan negatif.
7
Penyederhanaan
perizinan perdagangan
dalam negari dan luar
negeri
Peningkatan output
sektor perdagangan
Peningkatan
Perlindungan Konsumen
iv| LAK Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
7
Ringkasan Eksekutif
N
O
SASARAN STRATEGIS
Ringkasan Eksekutif
CAPAIAN KINERJA
INDIKATOR KINERJA
TARGET
REALISASI
%
MISI 3: MENJAGA KETERSEDIAAN BAHAN POKOK DAN PENGUATAN JARINGAN DISTRIBUSI NASIONAL
8
Pengembangan Sarana
Distribusi Perdagangan
dalam mendukung
kinerja logistik nasional
Persentase realisasi revitalisasi pasar
tradisional (Persen)
100
100
100%
9
Stabilisasi Harga Bahan
Pokok
Rata-rata koefisien variasi harga bahan
pokok utama (Persen)
6,5
3,8
171,0%
10
Penurunan Disparitas
Harga Bahan Pokok Antar
Propinsi
Rasio variasi harga provinsi
dibandingkan variasi harga nasional
(Rasio)
2,2
1,7
129,4%
WTP
WTP
100%
MISI 4: OPTIMALISASI REFORMASI BIROKRASI
11
12
Peningkatan kualitas
laporan keuangan dan
akuntabilitas
Kementerian
a. Opini BPK atas Laporan Keuangan
Kementerian (Opini)
b. Peringkat penilaian Program
Inisiatif Anti Korupsi (Ranking)
≤3
-
0%
Peningkatan kualitas
kinerja organisasi
Penilaian terhadap Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah (Nilai)
B
B
100%
Berikut ini beberapa capaian kinerja sektor perdagangan
tahun 2013 yang dapat mewakili pencapaian sasaran
defisit neraca perdagangan non-migas. Surplus neraca
Berikut ini beberapa capaian kinerja sektor perdagangan
Kementerian
Perdagangan.
perdagangan non-migas di tahun 2013 meningkat 118,2%
tahun 2013 yang dapat mewakili
pencapaian
sasaran
dibanding tahun lalu yang hanya mencapai USD 3,9 miliar.
Kementerian Perdagangan.
Perdagangan Luar Negeri Kinerja ekspor nasional juga menunjukkan perbaikan ke arah
positif sejak awal semester II tahun 2013. Realisasi nilai total
Perdagangan Luar Negeri
Belum membaiknya kinerja ekspor
pertumbuhan
ekspor non-migas
periode Januari-Desember
2013 mencapai USD 182,6
Belum membaiknya kinerja pertumbuhan ekspor non-migas
miliar, melampaui target awal tahun sebesar USD 179 miliar.
dirasakannya
krisis keuangan
disebabkan masih dirasakannyadisebabkan
dampak krisismasih
keuangan
Namun dampak
apabila dibandingkan
dengan kinerja ekspor tahun
global pada semester pertama tahun
2013.
Penurunan
daya
lalu
(USD
190
miliar),
nilai
total
global pada semester pertama tahun 2013. Penurunanekspor
daya tahun ini mengalami
beli di negara tujuan ekspor utama, seperti: Amerika Serikat
penurunan 4,1% (Year-on-Year). Sementara itu, pertumbuhan
beli terhadap
di negara
tujuan ekspor
dan Uni Eropa, berpengaruh signifikan
menurunnya
ekspor utama,
non-migas seperti:
tahun 2013 Amerika
juga turun 2,0% (YoY), dari USD
permintaan ekspor Indonesia. Selain itu, krisis keuangan
153,0 miliar (2012) menjadi USD 149,1 miliar (2013). Capaian
Serikat dan Uni Eropa, berpengaruh signifikan terhadap
global juga berdampak pada stagnasi harga komoditi dunia.
indikator kinerja ini masih dibawah target pertumbuhan
Sehingga, meskipun volume ekspor
secara riil permintaan
meningkat,
eksporIndonesia.
non-migas sebesar
tahun 2013.
menurunnya
ekspor
Selain2,7%
itu,pada
krisis
namun nominalnya justru menurun. Hal ini sangat berdampak
Kinerja ekspor
non migas
selamaharga
tahun 2013 ditopang oleh
global
juga berdampak
pada
stagnasi
pada kinerja ekspor Indonesia keuangan
dimana mayoritas
(hampir
diversifikasi pasar ekspor nonmigas terutama ke negara mitra
60%) ekspor non-migas masih berbasis
pada ekspor
komoditi.
komoditi
dunia.
Sehingga, meskipun
volume
ekspor
secara
FTA dan emerging
market
lainnya
serta diversifikasi produk.
Kinerja perdagangan menampakan titik cerah memasuki akhir
Nilai ekspor nonmigas ke beberapa negara yang selama
riil meningkat, namun nominalnya justru menurun. Hal ini
tahun 2013. Pada bulan Desember 2013 neraca perdagangan
2013 mengalami kenaikan signifikan antara lain Turki dengan
Indonesia mencetak rekor terbesar
sepanjang
dua tahun
kenaikanekspor
mencapai
USD 172,8 juta.
Kemudian disusul urutan
sangat
berdampak
pada kinerja
Indonesia
dimana
terakhir, yaitu mengalami surplus USD 1,5 miliar, terdiri dari
berikutnya yaitu Myanmar, Nigeria, Vietnam, Ukraina, dan
mayoritas
(hampir
60%) ekspor
non-migas
masih
berbasis
surplus non-migas sebesar USD 2,3
miliar, sedangkan
neraca
Mesir yang
mengalami
kenaikan
antara USD 88 juta sampai
migas masih mengalami defisit sebesar
USD
0,8
miliar.
Secara
USD 154,8 juta. Demikian pula dengan ekspor nonmigas ke
pada ekspor komoditi
kumulatif, neraca perdagangan pada tahun 2013 defisit USD
beberapa negara mitra dagang utama yang juga mengalami
4,1 miliar, terdiri dari surplus neraca non-migas sebesar USD
kenaikan signifikan, yaitu India (USD 563,4 juta), Amerika
8,6 miliar dan defisit neraca migas USD 12,6 miliar. Tingginya
Serikat (USD 491 juta), dan China (USD 418,1 juta).
konsumsi BBM dalam negeri merupakan penyebab utama
LAK Kementerian Perdagangan 2013 | v
8
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Secara umum, pangsa pasar ekspor non-migas masih
terkonsentrasi pada lima negara tujuan utama, yakni: RRT,
Jepang, Amerika Serikat, India dan Singapura, sebesar 50,6%.
Namun, kinerja diversifikasi produk ekspor yang ditunjukkan
oleh kontribusi ekspor diluar 10 produk utama menunjukkan
perbaikan di tahun 2013, dari 53% pada tahun 2012 menjadi
54% pada tahun 2013, sesuai dengan target yang ditetapkan
pada RENSTRA 2010-2014 sebesar 53–60%.
Kinerja Diplomasi Perdagangan
Capaian kinerja Kementerian Perdagangan pada tahun 2013 di
bidang diplomasi perdagangan didukung dengan kesuksesan
penyelenggaraan dua sidang besar internasional yaitu: (1)
Rangkaian Pertemuan Forum Kerja Sama Ekonomi Asia
Pasifik (APEC) sektor perdagangan; dan (2) penyelenggaraan
Konferensi Tingkat Menteri World Trade Organization (WTO)
IX.
Rangkaian pertemuan APEC pada sektor perdagangan pada
tahun 2013 dilaksanakan sebanyak 5 (lima) kali di Indonesia
selaku tuan rumah, yaitu: (i) APEC Senior Official Meeting
(SOM) ke-1 and Related Meeting, pada tanggal 24 Januari-8
Februari 2013, di Jakarta; (ii) Pertemuan Menteri Perdagangan
(Ministers Responsible for Trade/MRT) APEC yang didahului
dengan (iii) pertemuan ke-2 pejabat senior (SOM2) pada
tanggal 17-21 April 2013, di Surabaya; (iv) APEC Senior Official
Meeting (SOM)-3 and Related Meeting, pada tanggal 26
Juni - 6 Juli 2013, di Medan; dan (v) APEC Economic Leaders
Weeks, pada tanggal 1-8 Oktober 2013, di Bali. Secara umum,
keketuaan Indonesia pada APEC 2013 telah berjalan dengan
sukses dan berhasil menyepakati tujuh butir kesepakatan
strategis.
Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO IX
yang dilaksanakan pada tanggal 2-7 Desember 2013 di Bali,
telah berhasil menyepakati “Paket Bali”, secara garis besar
terdiri atas 3 (tiga) isu utama, yaitu: Isu Fasilitasi Perdagangan;
Isu Pertanian; dan Isu Pembangunan. Di sektor Pertanian,
capaian terpenting dalam Paket Bali adalah disepakatinya
solusi sementara bagi aspirasi negara berkembang, yakni
untuk meningkatkan subsidi di sektor pertanian melampau
batas maksimum yang diatur dalam Persetujuan Pertanian
(yaitu 10% dari output pertanian), sementara solusi permanen
dirundingkan dalam waktu empat tahun.
Promosi Perdagangan
Untuk mengembangkan pasar internasional dan sekaligus
sebagai upaya promosi produk dan jasa Indonesia, dilakukan
promosi ekspor, misi dagang, dan instore promotion secara
lebih profesional dan berkualitas.
Periode 2010-2014 merupakan masa penguatan Trade Expo
Indonesia (TEI) sebagai pameran dagang produk Indonesia di
dalam negeri yang berskala internasional agar lebih kredibel
dan berstandar internasional dengan bertumpu pada B-to-B
priority sebagai salah satu upaya Nation Branding.
Trade Expo Indonesia (TEI) ke-28 yang berakhir pada 20
Oktober 2013 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, berhasil
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
9
Ringkasan Eksekutif
Ringkasan Eksekutif
Perlindungan Konsumen
Reformasi Birokrasi
Dalam hal perlindungan konsumen, Kementerian
Perdagangan berperan untuk mendorong pertumbuhan
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) di daerah
Kabupaten/Kota melalui fasilitasi pembentukan BPSK
melalui keputusan Presiden. Dengan terbentuknya BPSK di
daerah tingkat II (Kabupaten/ Kota), akses konsumen untuk
mendapatkan perlindungan menjadi semakin mudah dan
merata, juga lebih terjangkau dengan tidak dipungutnya
biaya dalam penyelesaiaan sengketa. Pada Tahun 2013,
Kementerian Perdagangan memfasilitasi terbentuknya 27 unit
BPSK. Akumulasi BPSK yang terbentuk sampai dengan Bulan
Desember 2013 adalah 111 unit sehingga capaian kinerjanya
sebesar 170,76% atau 171% dari target 65 unit.
Sebagai tindak lanjut dari penerapan sistem remunerasi pada
tahun 2013, Kementerian Perdagangan memperoleh besaran
tunjangan kinerja sebesar 47%. Pemberian tunjangan kinerja
didasarkan pada penilaian dokumen usulan road map
Reformasi Birokrasi Kementerian Perdagangan, penilaian
hasil verifikasi lapangan oleh tim nasional Reformasi Birokrasi
(Kementerian Perdagangan memperoleh nilai 67) dan telah
dilakukannya penjaminan pelaksanaan Reformasi Birokrasi
oleh BP2KP (15 April – 23 Mei 2013).
Penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif
mencapai total transaksi sebesar USD 1,82 miliar yang terdiri
dari transaksi produk sebesar USD 692,2 juta; transaksi jasa
USD 65,9 juta; dan investasi USD 1,068 miliar. Jumlah ini
meningkat 82% dibandingkan hasil transaksi pada TEI 2012,
yang hanya tercatat sebesar USD 1,001 miliar.
Stabilisasi Harga Bahan Pangan Pokok
Realisasi target indikator kinerja “Koefisien Variasi Harga
(KVH) Bahan Pokok Utama” secara nasional pada tahun 2013
adalah sebesar 3,8% atau telah mencapai 142% dari target
pada kontrak kinerja yang sebesar 6,5%.
Namun, apabila dilihat dari data historisnya, terdapat
penurunan capaian sebesar 11% bila dibandingkan dengan
capaian angka koefisien variasi tahun 2011 sebesar 3,5%
dari target kontrak kinerja sebesar 7% maka Persentase
pencapaian target pada tahun 2013 sebesar 143% sedikit
lebih rendah dibandingkan persentase pencapaian tahun
2011 yang sebesar 150%. Namun demikian, apabila diukur
dari pencapaian realisasinya, Kementerian Perdagangan
sudah cukup baik dalam menggapai target yang harus
dicapai pada tahun 2013 dengan mengacu pada kondisi
historis perkembangan harga baik di dalam negeri maupun
luar negeri. Kemudian, secara keseluruhan, dengan rata-rata
koefisien variasi harga bahan pokok pada tahun 2012 sebesar
3,7%, yang bahkan melampaui target yang ditetapkan dalam
Rencana Strategis Kementerian, yaitu kisaran 5-9%.
10
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Pengembangan Sarana Distribusi Perdagangan
Selama tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 Kementerian
Perdagangan telah merevitalisasi sebanyak 517 pasar
tradisional. Pada tahun 2013 jumlah pasar yang dibangun
adalah sebanyak 112 pasar dengan rincian pembangunan pasar
non-percontohan sebanyak 89 pasar dan pasar percontohan
sebanyak 23 pasar.
Berdasarkan pemantauan 30 pasar percontohan yang telah
direvitalisasi pada periode 2011 sampai dengan 2012 dapat
dicapai beberapa kemajuan diantaranya peningkatan omzet
pasar, peningkatan jumlah pedagang dan peningkatan
aktifitas perdagangan pasar. Dari 20 pasar percontohan yang
direvitalisasi tahun 2012 telah mengalami peningkatan omzet
antara 22,39 % - 253,37 % dengan rata-rata 54,77 %, berbeda
dengan 10 pasar percontohan yang dibangun tahun 2011 telah
mengalami peningkatan rata-rata sebesar 21,27 % selama dua
tahun berjalan.
Kementerian Perdagangan, sesuai dengan tugas dan fungsinya
memiliki kewenangan untuk menerbitkan perijinan kepada
masyarakat. Perijinan tersebut dibagi ke dalam beberapa
sektor, di antaranya perdagangan dalam negeri. perdagangan
luar negeri, dan perdagangan berjangka komoditi. Secara
umum, sebagian besar perijinan sudah dilaksanakan secara
terintegrasi oleh Unit Pelayanan Perdagangan (UPP). Unit ini
secara khusus mengelola perijinan Kementerian Perdagangan
agar lebih efisien melalui penerbitan perijinan secara online,
dan upaya lainnya untuk mengurangi waktu proses penerbitan
ijin.
Saat ini terdapat 12 jenis perizinan perdagangan dalam negeri
dan 83 jenis perizinan ekspor-impor yang sudah dapat dilayani
secara online oleh Kementerian Perdagangan. Dari seluruh
jenis perizinan yang dilayani oleh Kementerian Perdagangan,
baik di bidang perdagangan dalam negeri maupun perizinan
ekspor-impor, secara rata-rata proses penyelesaiannya hanya
memerlukan waktu 2 hari.
Untuk mewujudkan lembaga yang berbasis kinerja,
Kementerian Perdagangan telah menerapkan Standar
Prosedur Operasi/ Standard Operating Procedures (SOP)
yang merupakan pedoman atau acuan untuk melaksanakan
tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian
kinerja instasi pemerintah berdasarkan indikator-indikator
teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata
kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang
bersangkutan. Pada tahun 2012, Kementerian Perdagangan
telah melakukan penyusunan dan pengesahan Standard
Operational Procedures (SOP) Makro Kementerian yang
berjumlah 122 SOP Makro Kementerian. Standard Operational
Procedures (SOP) Makro Kementerian merupakan prosedur
umum yang dibangun berdasarkan rangkaian kerja lintas
unit/fungsi yang saling berhubungan dan membentuk suatu
proses kerja. Tahun 2013, kegiatan penyusunan Standard
Operational Procedures (SOP) di Kementerian Perdagangan
dilanjutkan dengan penyusunan SOP Mikro di setiap unit
Eselon II. Standard Operating Procedures (SOP) Mikro
merupakan prosedur yang digunakan untuk menjelaskan
aktivitas/tugas yang lebih spesifik yang ada di dalam suatu
unit tertentu. Saat ini, telah disusun sejumlah 1758 draft SOP
Mikro.
Dalam rangka lebih meningkatkan efektivitas pembinaan dan
pengawasan terhadap program Revitalisasi Pasar Tradisional
di tahun-tahun mendatang, Kementerian Perdagangan
telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor
48/M-DAG/PER/8/2013 tentang Pedoman Pembangunan dan
Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
11
Daftar Isi
Daftar Isi
KATA PENGANTAR
5
RINGKASAN EKSEKUTIF
DAFTAR TABEL
6
12
14
15
BAB 1 PENDAHULUAN
16
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
A.
Latar Belakang17
B. Peran Strategis Perdagangan
18
C. Struktur Organisasi
18
D. Perkembangan Isu Strategis
19
BAB 2 PERENCANAAN DAN KONTRAK KINERJA
22
A. Sektor Perdagangan dalam RPJMN 2010 – 2014
23
B. Rencana Strategis 2010-2014
23
C. Rencana Kinerja Tahun 2013
26
D. Kontrak Kinerja Tahun 2013
26
BAB 3 AKUNTABILITAS KINERJA
30
A. Evaluasi Capaian RPJMN Sektor Perdagangan
32
Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi dan Iklim Usaha
32
Prioritas Lainnya: Bidang Ekonomi
34
98
BAB 4 PENUTUP
103
LAMPIRAN
1. Struktur Organisasi Kementerian Perdagangan
2. Kontrak Kinerja dan Rencana Aksi Kementerian Perdagangan Tahun 2013
3. Capaian Indikator Kinerja RPJMN 2010-2014 ‘Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi & Iklim Usaha’
4. Capaian Indikator Kinerja RPJMN 2010-2014 ‘Prioritas Lainnya: Bidang Ekonomi’
5. Daftar Realisasi Penyelesaian Perizinan Ekspor dan Impor Secara Online Pada Tahun 2013
6. Formulir Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) Kementerian Perdagangan Tahun Anggaran 2013
7. Hasil Evaluasi Aspek Implementasi atas Pelaksanaan Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013
8. Hasil Evaluasi atas Pelaksanaan Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013 per Program
B.
Evaluasi Capaian Indikator Kinerja Utama Tahun 201336
Sasaran Strategis 1 : “Peningkatan Pertumbuhan Ekspor Non-Migas”
39
Sasaran Strategis 2: “Peningkatan Diversifikasi Pasar Tujuan Ekspor dan Produk Ekspor”
43
Sasaran Strategis 3: “Perbaikan Citra Produk Ekspor Indonesia”
50
Sasaran Strategis 4 : “Peningkatan Peran dan Kemampuan Diplomasi Perdagangan Internasional
53
Sasaran Strategis 5: “Penyederhanaan Perizinan Perdagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri”
57
Sasaran Strategis 6: “Peningkatan Output Sektor Perdagangan”
63
Sasaran Strategis 7:“Peningkatan Perlindungan Konsumen”
71
Sasaran Strategis 8: “Pengembangan Sarana Distribusi Perdagangan dalam mendukung Kinerja Logistik Nasional”
75
Sasaran Strategis 9: “Stabilisasi Harga Bahan Pokok”
79
Sasaran Strategis 10: “Penurunan Disparitas Harga Bahan Pokok Antar Provinsi”
84
Sasaran Strategis 11: “Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan dan Akuntabilitas Kementerian”
86
Sasaran Strategis 12: “Peningkatan Kinerja Organisasi”
90
C. Akuntabilitas Kinerja Pelaksanaan Anggaran
93
12
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
13
Daftar Isi
Daftar Isi
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
Gambar 1. Matriks Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Kementerian Perdagangan, 2010-2014
25
Tabel 1. Matriks Pencapaian Sasaran Pembangunan Perdagangan Tahun 2013
7
Gambar 2. Pangsa Pasar Ekspor Non-Migas ke 5 Negara Utama (Jepang, RRT, AS, Singapura, India)
44
Tabel 2. Alokasi Anggaran Menurut Program Kementerian Perdagangan TA 2013
26
Gambar 3. Konsentrasi Ekspor Indonesia pada Lima Negara Tujuan Utama, 2012-2013 (Jan-Nov)
44
Tabel 3. Capaian Peningkatan Kinerja Logistik Nasional Dalam RPJMN 2010-2013
32
Gambar 4. Nilai Ekspor Non Migas Indonesia pada Beberapa Negara Emerging Market (USD miliar)
45
Tabel 4. Capaian Kinerja Peningkatan Perdagangan Luar Negeri dalam RPJMN 2010-2014
34
Gambar 5. Trend Ekspor Non-Migas Indonesia ke Negara-Negara Tradisional 2008 – 2013 (Jan-Nov)
46
Tabel 5. Capaian Kinerja Peningkatan Peran Dan Kemampuan Diplomasi Perdagangan Internasional
35
Gambar 6. Trend Ekspor Non-Migas Indonesia Ke Negara-Negara Non-Tradisional 2008 – 2013 (Jan-Nov)
47
Tabel 6. Matriks Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Perdagangan Tahun 2013
36
Gambar 7. Kontribusi Ekspor 10 Komoditi Utama terhadap Ekspor Non Migas
49
Tabel 7. Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Indonesia, Tahun 2013
41
Gambar 8. Pertumbuhan Ekspor Komoditas Potensial (2012-2013)
49
Tabel 8. Perkembangan NIlai Ekspor Indonesia Menurut Golongan Barang (HS 2), Januari-Desember 2013
42
Gambar 9. Nilai Dimensi Ekspor Indonesia, 2010 – 2013
51
Tabel 9. Realisasi Penerbitan SKA Berdasarkan Jenis Form SKA Periode Tahun 2012 s.d. 4 Desember 2013
56
Gambar 10. Persentase Penggunaan Produk Dalam Negeri, Tahun 2013
65
Tabel 10. Jenis Perizinan Ekspor Dan Impor Yang Dapat Dilayani Secara Online Pada Tahun 2013
59
Gambar 11. Volume Transaksi Multilateral Perdagangan Berjangka Komoditi Tahun 2010-2013
67
Tabel 11. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000
(Dalam Miliar Rupiah)
64
Gambar 12. Perkembangan Nilai Sistem Resi Gudang Tahun 2010-2013
69
Tabel 12. Rincian Jumlah Dan Nilai Komoditi Yang Disimpan Di Dalam Gudang SRG, Tahun 2013
70
Gambar 13. Perkembangan Pembentukan BPSK Di Daerah, Tahun 2010-2013
72
Tabel 13. Target Dan Realisasi Indikator Kinerja “Akumulasi Jumlah BPSK Yang Terbentuk,” 2011-2014
74
Gambar 14. Perkembangan Jumlah Revitalisasi Pasar Tradisional Oleh Kemendag, 2011-2013
76
Tabel 14. Kemajuan Outcome Revitalisasi Pasar Tradisional Periode 2011-2012
77
Gambar 15. Perkembangan Dana Tugas Pembantuan Kementerian Perdagangan, 2010-2013
78
Tabel 15. Capaian Angka Koefisien Variasi Bahan Kebutuhan Pokok Tahun 2009-2013
80
Gambar 16. Perbandingan Ranking PIAK Kementerian Perdagangan Tahun 2012 dan 2011
88
Tabel 16. Capaian Rasio Variasi Harga Provinsi Dengan Nasional, Tahun 2009-2013
85
Gambar 17. Perbandingan Jumlah Peserta PIAK Tahun 2011 Dan 2012
89
Tabel 17. Opini BPK Untuk Laporan Keuangan Kementerian Perdagangan, Tahun 2008-2013
87
Gambar 18. Perkembangan Hasil Evaluasi Akip Dan Opini Laporan Keuangan Kementerian Perdagangan,
Tahun 2005-2012
91
Tabel 18. Rincian Hasil Evaluasi AKIP Kementerian Perdagangan Tahun 2010 – 2013
92
Gambar 19. Realisasi Anggaran Kementerian Perdagangan Dan Postur Belanja Kementerian Perdagangan,
Tahun 2011-2013.
Tabel 19. Realisasi Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013, Menurut Jenis Belanja
94
93
Tabel 20. Realisasi Anggaran Kementerian Perdagangan Menurut Program
94
Gambar 20. Isu Strategis Kementerian Perdagangan Tahun 2014
100
Tabel 21. Realisasi Kinerja Anggaran Kementerian Perdagangan Menurut Sasaran Strategis
95
Tabel 22. Sasaran Dan Target Indikator Kinerja Kementerian Perdagangan Tahun 2014
101
14
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
15
01
Pendahuluan
Pendahuluan
01
Mewujudkan tata
pemerintahan yang
baik dan bersih
A.Latar Belakang
“
Reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian
Perdagangan, dilakukan melalui perubahan pola pikir
(mind set) dan budaya kerja (culture set) serta sistem
manajemen pemerintahan sebagai upaya perwujudan tata
pemerintahan yang baik dan bersih, terbebas dari Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme/KKN (good governance and clean
government).
“
16
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II Periode 2009-2014 yang
dibentuk berdasarkan Keppres No. 84/P Tahun 2009,
menegaskan bahwa Kementerian Perdagangan sebagai salah
satu organisasi yang berperan penting dalam pencapaian
target-target nasional. Langkah kemajuan yang dicapai sektor
perdagangan dalam periode Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 mengukuhkan
Kementerian Perdagangan sebagai salah satu ujung tombak
perekonomian nasional, dan sangat mempengaruhi dinamika
perekonomian nasional.
Sejalan dengan Peraturan Presiden RI Nomor 47 Tahun
2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian
Negara, serta berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan
Nomor:
31/M-DAG/PER/7/2010
tentang
Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Perdagangan, maka tugas
Kementerian Perdagangan adalah membantu Presiden dalam
menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan negara di
bidang perdagangan.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kementerian
Perdagangan secara umum menjalankan fungsi untuk
menetapkan kebijakan nasional di bidang perdagangan,
melaksanakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan,
mengawasi pelaksanaannya, serta mewakili pemerintah
dalam berbagai bentuk ikatan/kerjasama perdagangan
dengan negara dan lembaga internasional.
Selanjutnya, sebagaimana tertuang dalam UU No. 17 tahun
2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional 2005-2025, bahwa tugas utama Kementerian
Perdagangan adalah terkait dengan misi mewujudkan bangsa
yang berdaya saing. Dalam UU tersebut, termuat postur
strategis perdagangan nasional yang diharapkan terbangun
pada tahun 2025, yaitu: terwujudnya bangsa yang berdaya
saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan
sejahtera.
Arah kebijakan pembangunan perdagangan nasional ke depan
secara konsisten akan mengacu kepada arah pembangunan
dalam RPJPN 2005-2025 dan RPJMN 20102014. Arah ini
merupakan pedoman dalam menyusun langkah-langkah
strategis ke depan untuk mencapai sasaran yang diinginkan.
Tugas strategis Kementerian Perdagangan merujuk pada
postur strategis perdagangan nasional yang tertulis dalam
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
17
01
Pendahuluan
RPJPN 2005−2025 dan telah dijabarkan dalam RPJMN
2010−2014, yaitu: peningkatan ekspor non-migas nasional
dan peningkatan daya beli masyarakat.
Mengacu pada RPJMN 2010-2014, dalam upaya peningkatan
ekspor non-migas nasionalterdapat tiga fokus prioritas,
yaitu: (i) Fokus Prioritas Peningkatan Diversifikasi Pasar
Tujuan Ekspor; (ii) Fokus Prioritas Peningkatan Kualitas
dan Keberagaman Produk Ekspor; dan (iii) Fokus Prioritas
Peningkatan Fasilitasi Ekspor. Sementara itu, dalam rangka
peningkatan daya beli masyarakat juga terdapat tiga fokus
prioritas, yaitu: (i) Fokus Prioritas Peningkatan Jaringan
Distribusi Untuk Menunjang Pengembangan Logistik
Nasional; (ii) Fokus Prioritas Penguatan Pasar Domestik dan
Efisiensi Pasar Komoditi; dan (iii) Fokus Prioritas Peningkatan
Efektivitas Pengawasan dan Iklim Usaha Perdagangan.
Pendahuluan
perekonomian nasional juga cukup tinggi, yaitu 15,96 persen
dari PDB Non-Migas Indonesia di tahun 2012.
Secara kualitas, semakin pentingnya sektor perdagangan
terlihat dari kegiatan-kegiatan yang lebih mengedepankan
kualitas jasa perdagangan untuk mendukung sektor industri,
pertanian, kehutanan, perikanan, turisme, pertambangan,
dan lain-lain. Dukungan kegiatan tersebut memberikan
pengaruh yang positif terhadap meningkatnya kontribusi
sektor perdagangan. Kegiatan-kegiatan ini antara lain meliputi
perbaikan pelayanan publik, iklim usaha, infrastruktur
terkait ekspor–impor seperti Jakarta International Container
Terminal (JICT) berkapasitas 2,5 juta peti kemas twenty-foot
equivalent unit per tahun, pembangunan sekaligus revitalisasi
dan harmonisasi pasar tradisional-pasar percontohan-pasar
modern, penyediaan kebutuhan pokok, dan stabilisasi harga
“
“
Peran strategis Kementerian Perdagangan dalam
pembangunan perdagangan adalah membangun daya saing
yang berkelanjutan di pasar domestik dan global.
B. Peran Strategis Perdagangan
Peran strategis Kementerian Perdagangan dilandasi
oleh semangat untuk meningkatkan peran perdagangan
dalam tataran perekonomian nasional. Tugas, fungsi, dan
kewenangan Kementerian Perdagangan disusun untuk
senantiasa mengantisipasi perubahan perekonomian nasional
dan global yang sedemikian cepat.
Sesuai dengan tugas dan fungsinya, peran strategis
Kementerian Perdagangan dalam pembangunan perdagangan
adalah membangun daya saing yang berkelanjutan di
pasar domestik dan global. Membangun daya saing yang
berkelanjutan diperlukan optimalisasi pemanfaatan seluruh
potensi sumber daya dan kemampuan yang dimiliki untuk
memanfaatkan peluang yang ada.
Dalam perekonomian nasional, peran sektor perdagangan
sangat penting, baik secara kuantitas maupun kualitas. Secara
kuantitas, pentingnya peran sektor perdagangan terlihat
dari peningkatan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB)
sektor perdagangan (besar dan eceran) dalam Pendapatan
Nasional. Nilai PDB Riil (Berdasarkan Perhitungan PDB Atas
Dasar Harga Konstan 2000 oleh BPS) sektor perdagangan
terhadap perekonomian nasional selama periode 2010−2012
terus menunjukkan peningkatan positif dari tahun ke tahun,
yaitu Rp331,3 triliun pada tahun 2010, menjadi Rp395,8
triliun pada tahun 2012. Kontribusi sektor perdagangan dalam
18
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
serta sinergi pengembangan UKM dan petani di bidang
perdagangan.
Pentingnya peran sektor perdagangan juga terlihat dari
jumlah tenaga kerja yang diserap kedalam sektor ini. Jumlah
tenaga kerja sektor perdagangan, hotel dan restoran pada
tahun 2013 (Februari) tercatat sebanyak 24,8 juta jiwa,
yang tertinggi setelah sektor pertanian. Jumlah tersebut
meningkat drastis hingga 11,67 persen dibanding tahun 2010.
Hal ini menunjukan bahwa upaya Kementerian Perdagangan
dalam pengembangan perdagangan dalam negeri dan luar
negeri dinilai cukup efektif dalam menciptakan lapangan
pekerjaan bagi masyarakat. Mayoritas tenaga kerja di
bidang perdagangan berasal dari sektorusaha mikro, kecil
dan menengah, seperti: pedagang eceran di pertokoan,
warung, dan ritel tradisional. Melalui peningkatan sinergi dan
koordinasi dengan sektor ekonomi kreatif, maka 70 persen
tenaga kerja sektor perdagangan yang masih diisi oleh usaha
informal tersebut dapat ditingkatkan statusnya dan membuka
peluang kesempatan kerja yang signifikan.
C. Struktur Organisasi
alam rangka menjalankan peran strategis di atas, Kementerian
Perdagangan membutuhkan susunan organisasi dan tata
kerja yang mampu mengakomodasi dan menunjang berbagai
tugas dan fungsinya.
01
24,8 juta
tenaga kerja
Jumlah tenaga kerja
sektor perdagangan, hotel
dan restoran pada tahun
2013 (Februari) tercatat
sebanyak 24,8 juta jiwa,
yang tertinggi setelah
sektor pertanian.
Pada tahun 2012, langkah Reformasi Birokrasi secara
internal telah dilakukan Kementerian Perdagangan melalui
penataan struktur organisasi untuk meningkatkan kinerja
Kementerian dalam mewujudkan pelayanan prima kepada
masyarakat. Kebijakan ini ditetapkan melalui Peraturan
Menteri Perdagangan 57/M-DAG/PER/8/2012 tentang
Perubahan Atas Permendag Nomor 31/M-DAG/PER/7/2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perdagangan.
Adapun desain struktur organisasi Kementerian Perdagangan
hasil penajaman fungsi birokrasi tersebut dapat dilihat pada
Lampiran 1.
Reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Perdagangan,
dilakukan melalui perubahan pola pikir (mind set) dan budaya
kerja (culture set) serta sistem manajemen pemerintahan
sebagai upaya perwujudan tata pemerintahan yang baik dan
bersih, terbebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme/KKN
(good governance and clean government). Langkah tersebut
dilakukan melalui sembilan program untuk meningkatkan
kinerja Kementerian Perdagangan, yaitu: (1) Manajemen
Perubahan; (2) Penataan Peraturan Perundang-undangan;
(3) Penataan dan Penguatan Organisasi; (4) Penataan
Tatalaksana; (5) Penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur;
(6) Penguatan Pengawasan; (7) Penguatan Akuntabilitas
Kinerja; (8) Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik; dan (9)
Monitoring dan Evaluasi.
D.Perkembangan Isu Strategis
alam rangka pencapaian peningkatan daya saing bangsa,
sektor perdagangan senantiasa dihadapkan pada tantangan
eksternal dan internal. Tantangan dan hambatan tersebut
mempengaruhi kinerja Kementerian Perdagangan baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Meningkatnya keterkaitan perekonomian secara global
memberikan peluang sekaligus ancaman bagi pembangunan
sektor perdagangan.Pada awal tahun 2013, perekonomian
Indonesia masih dinaungi awan gelap krisis ekonomi
global. Pemulihan dampak krisis tidak serta merta diikuti
peningkatan daya beli masyarakat di negara-negara tujuan
ekspor utama, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Masih
lesunya aktivitas perekonomian dunia tersebut menyebabkan
kinerja ekspor non-migas Indonesia mencatat pertumbuhan
negatif dibandingkan tahun sebelumnya.
Perbaikan kinerja perdagangan menampakan titik cerah
pada akhir tahun 2013. Pada bulan Desember 2013 neraca
perdagangan Indonesia mencetak rekor terbesar sepanjang
dua tahun terakhir, yaitu mengalami surplus mencapai USD
1,5 miliar, terdiri dari surplus nonmigas sebesar USD 2,3 miliar,
sedangkan neraca migas masih mengalami defisit sebesar
USD 0,8 miliar.Secara kumulatif, neraca perdagangan pada
tahun 2013 defisit USD 4,1 miliar, terdiri dari surplus neraca
non-migas sebesar USD 8,6 miliardan defisit neraca migas
USD 12,6 miliar. Surplus neraca perdagangan non-migas di
tahun 2013 meningkat 118,2% dibanding tahun lalu yang
hanya mencapai USD 3,9 miliar.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
19
01
Pendahuluan
Pendahuluan
01
USD 1,5 miliar
Surplus
Bulan Desember 2013
neraca perdagangan
Indonesia mencetak
rekor terbesar sepanjang
dua tahun terakhir,
yaitu mengalami surplus
mencapai USD 1,5 miliar.
Dari sisi internal, Kementerian Perdagangan juga terus
melakukan peningkatan kualitas pelayanan publik dan
perbaikan kinerja manajemen dalam kerangka Reformasi
Birokrasi. Dalam rangka penciptaan iklim usaha yang kondusif
Kementerian Perdagangan telah melakukan berbagai upaya
peningkatan pelayanan perizinan diantaranya melalui
peningkatan jumlah izin yang tertangani secara online dan
mempercepat waktu penyelesaian perizinan. Hal ini terkait
dengan efektifitas dan efisiensi dunia usaha yang diharapkan
mampu meningkatkan performa perdagangan dan investasi
di dalam negeri.
20
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Esensi daya saing yang berkelanjutan terletak pada bagaimana
menggerakkan dan mengelola seluruh potensi sumber
daya yang dimiliki. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
serta peran serta Kementerian Perdagangan, dalam rangka
membangun daya saing tersebut, perlu adanya suatu sistem
manajemen yang efektif dan efisien yang berbasis kinerja
harus sejalan dan sinergi dengan perkembangan dinamika
pembangunan perdagangan.
“
Esensi daya saing yang
berkelanjutan terletak pada
bagaimana menggerakkan dan
mengelola seluruh potensi
sumber daya yang
dimiliki.
“
Tantangan lain yang dihadapi Kementerian Perdagangan dalam
peningkatan kinerja ekspor di tahun 2013 adalah menurunnya
harga-harga komoditi dunia. Stagnasi harga komoditi dunia
sangat mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia yang masih
sangat didominasi oleh ekspor produk berbasis komoditi.
Oleh karena itu, meningkatkan kinerja ekspor non-komoditi
menjadi prioritas Kementerian Perdagangan pada tahun
2013 dengan mendorong hilirisasi sektor perdagangang.
Hilirisasi menjadi salah satu isu strategis di tahun 2013 melalui
pembatasan ekspor bahan mentah/baku, seperti rotan dan
minerba (mineral dan batubara), sehingga memberi insentif
pertumbuhan industri di dalam negeri.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
21
02
Perencanaan dan Kontrak Kerja
Kementerian Perdagangan
fokus kepada penguatan
tiga pilar utama
perdagangan:
(1) stabilisasi dan
penguatan pasar dalam
negeri; (2) ekspor dan
kerjasama internasional;
dan (3) reformasi
birokrasi dan good
governance, dengan
ditunjang Semangat
Hilirisasi, Substitusi
Impor, dan Perlindungan
Konsumen.
Perencanaan dan Kontrak Kerja
Semangat
Hilirisasi, Substitusi Impor, dan
Perlindungan Konsumen
A. Sektor Perdagangan dalam RPJMN 2010 – 2014
B. Rencana Strategis 2010-2014
RPJPN 2005−2025 menetapkan bahwa RPJMN 2010−2014,
yang merupakan RPJMN Tahap II, bertujuan untuk lebih
memantapkan penataan Indonesia di segala bidang dengan
menekankan upaya peningkatan kualitas sumberdaya
manusia termasuk pengembangan ilmu dan teknologi
serta penguatan daya saing perekonomian. Kementerian
Perdagangan merupakan organisasi yang berperan penting
dalam pencapaian target-target pembangunan tersebut,
terutama dalam mewujudkan daya saing ekonomi nasional.
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)
terdiri dari komponen-komponen satu kesatuan yang
terintegrasi antara satu dengan yang lain, yakni Perencanaan
Strategis (menghasilkan Rencana Strategis), Perencanaan
Kinerja (menghasilkan Rencana Kinerja Tahunan), Kontrak
Kinerja, Pengukuran dan Evaluasi Kinerja, serta Pelaporan
Kinerja.
Dalam RPJMN 2010-2014 telah ditetapkan 11 (sebelas) prioritas
nasional dan prioritas lainnya berdasarkan tiga bidang utama:
polhukam, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Sesuai amanat
RPJMN 2010-2014, Kementerian Perdagangan mendukung
dan berperan aktif dalam pelaksanaan ‘Prioritas Nasional 7:
Iklim Investasi dan Iklim Usaha’ dan ‘Prioritas Lainnya: Bidang
Ekonomi’. Tabel target RPJMN 2010-2014 Sektor Perdagangan
secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran.
Terkait dengan Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi dan
Iklim Usaha, Kementerian Perdagangan bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan tiga program dan empat kegiatan
prioritas, yaitu: (1) Pengembangan Logistik Nasional,
meliputi kegiatan: Peningkatan Kelancaran Distribusi Bahan
Pokok dan Pengembangan Sarana Distribusi Perdagangan;
(2) Pengembangan Sistem Informasi meliputi Pengelolaan
Fasilitasi Ekspor dan Impor; dan (3) Pengembangan Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK). Sementara itu, terkait dengan
pelaksanaan Prioritas Lainnya Bidang Perekonomian,
substansi inti Kementerian Perdagangan adalah ‘Peningkatan
Peran dan Kemampuan dalam Diplomasi Perdagangan
Internasional’, melalui peningkatan partisipasi pada
perundingan perdagangan internasional, penyusunan dan
peningkatan posisi runding Indonesia dalam perundingan
internasional, serta penyelenggaraan sidang-sidang di dalam
negeri.
22
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
02
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perdagangan 20102014 merupakan penjabaran dari RPJMN 2010-2014 yang
disusun sebagai implementasi pelaksanaan kebijakan dan
program bagi pembangunan perdagangan selama periode
2010-2014 dan dengan mempertimbangkan perkembangan
lingkungan strategis baik internal maupun eksternal yang
saling berpengaruh dalam penyelenggaraan pembangunan
perdagangan.
Berkenaan dengan restrukturisasi organisasi Kementerian
Perdagangan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24
Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian
Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi
Eselon I Kementerian Negara, maka Renstra Kementerian
Perdagangan Tahun 2010-2014 perlu dilakukan beberapa
perubahan, khususnya terkait dengan Program dan Kegiatan.
Perubahan tersebut dilakukan mengingat nomenklatur
Program dan Kegiatan mengacu pada unit kerja yang menjadi
penanggungjawabnya. Disamping itu, perubahan Renstra ini
juga dilakukan terhadap sasaran dan indikator serta targettarget yang harus dicapai sampai dengan tahun 2014.
Dengan mempertimbangkan perkembangan, masalah, dan
berbagai kecenderungan pembangunan perekonomian yang
berkembang, maka Visi Kementerian Perdagangan adalah:
Perdagangan Sebagai Sektor Penggerak
Pertumbuhan dan Daya Saing Ekonomi
serta Pencipta Kemakmuran Rakyat yang
Berkeadilan.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
23
02
02
02Perencanaan dan Kontrak Kinerja
Perencanaan dan Kontrak Kerja
Dalam proses mewujudkan Visi tersebut, Kementerian
Perdagangan mengemban 4 (empat) Misi penting, yaitu:
1. Meningkatkan
berkualitas;
kinerja
ekspor
non-migas
secara
Perbaikan citra produk ekspor Indonesia di pasar global, yang
pada akhirnya akan mendukung kontinuitas dan pertumbuhan
ekspor. Target tahun 2013: Skor Dimensi Ekspor dalam Simon
Anholt Nation Brand Index berkisar 47.
Perencanaan dan Kontrak Kerja
perdagangan internasional yang dihasilkan
perizinan, dengan rata-rata waktu pelayanan
sebanyak 248 hasil per
4 hari.
Gambar 1
Gambar
1. Matriks
Keterkaitan
Misi, Tujuan,
dan Sasaran
Kementerian
Perdagangan
Matriks
Keterkaitan
Misi, Tujuan,
dan Sasaran
Kementerian
Perdagangan
Tahun
Tahun2010-2014
2010-2014
Gambar 2. Matriks Keterkaitan Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Kementerian Perdagangan 2010-2014
2. Menguatkan pasar dalam negeri;
3.Menjaga ketersediaan bahan pokok dan penguatan
jaringan distribusi nasional.
4. Optimalisasi Reformasi Birokrasi
Kementerian Perdagangan.
di
lingkungan
Secara rinci, tujuan dan sasaran strategis yang ingin dicapai
Kementerian Perdagangan pada periode 2010-2014 adalah:
TUJUAN 1:
PENINGKATAN AKSES PASAR EKSPOR DAN FASILITASI EKSPOR
Sasaran yang ingin dicapai:
1. Meningkatnya pertumbuhan ekspor non-migas, sebagai
salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Target tahun 2013: Pertumbuhan ekspor non migas
mencapai 2,7%.
2. Diversifikasi pasar tujuan ekspor yang semakin baik,
sebagai indikasi berkurangnya ketergantungan ekspor
pada suatu negara tertentu, sehingga keberlanjutan
pertumbuhan ekonomi semakin baik. Target tahun 2013:
Pangsa 5 negara tujuan ekspor utama berada pada kisaran
47%.
3. Diversifikasi produk ekspor non-migas yang semakin baik,
sehingga ketergantungan pada produk ekspor tertentu
menjadi berkurang. Target tahun 2013: Kontribusi ekspor
di luar 10 produk utama berada pada kisaran 53%.
TUJUAN 2:
PENINGKATAN PENGAWASAN DAN PERBAIKAN IKLIM
USAHA PERDAGANGAN LUAR NEGERI
Sasaran yang ingin dicapai:
Membaiknya layanan perizinan dan non-perizinan sektor
perdagangan luar negeri, baik dalam hal jumlah perizinan
online maupun dalam hal minimasi waktu layanan.Target
tahun 2013: Jumlah perizinan yang dapat dilayani secara
online sebanyak 75 jenis perizinan, dengan rata-rata waktu
pelayanan 2 hari.
TUJUAN 4:
PENINGKATAN PERAN DAN KEMAMPUAN DIPLOMASI
PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Sasaran yang ingin dicapai:
Meningkatnya intensitas dan kualitas keikutsertaan Indonesia
di berbagai forum internasional dan meningkatnya hasil
perundingan yang dihasilkan di berbagai forum internasional,
yang mampu memberi nilai tambah bagi kepentingan nasional.
Target tahun 2013: Jumlah hasil perundingan perdagangan
internasional yang dihasilkan sebanyak 248 hasil perundingan
dan peningkatan nilai perdagangan Indonesia dengan negara
mitra FTA sebesar 10%.
TUJUAN 5:
PERBAIKAN IKLIM USAHA PERDAGANGAN DALAM NEGERI
Sasaran yang ingin dicapai:
Membaiknya layanan perizinan dan non-perizinan sektor
perdagangan dalam negeri, baik dalam hal jumlah perizinan
online maupun dalam hal minimasi waktu layanan. Target
tahun 2013: Jumlah perizinan yang dilayani secara online
sebanyak 11 jenis perizinan, dengan rata-rata waktu pelayanan
4 hari.
TUJUAN 6:
PENINGKATAN KINERJA SEKTOR PERDAGANGAN BESAR DAN
ECERAN, SERTA EKONOMI KREATIF
PENINGKATAN DAYA SAING EKSPOR
Sasaran yang ingin dicapai:
TUJUAN 6:
Indonesia dengan negara mitra FTA sebesar
PENINGKATAN
10%.
PERDAGANGAN
BESAR DAN ECERAN, SERTA
TUJUAN 9:
menciptakan perlindungan konsumen. Target tahun 2013:
Akumulasi jumlah BPSK yang terbentuk tahun 2013 sebanyak
TUJUAN 5:
65 unit BPSK.
PERBAIKAN IKLIM USAHA PERDAGANGAN
Sasaran yang ingin dicapai:
TUJUAN 8:
Meningkatnya output sektor perdagangan yang senantiasa
tumbuh semakin positif setiap tahunnya. Target tahun 2013:
Pertumbuhan PDB Sektor Perdagangan Besar dan Eceran
sebesar 6,5%.
STABILISASI DAN PENURUNAN DISPARITAS HARGA BAHAN
POKOK Sasaran yang ingin dicapai:
TUJUAN 7:
PENINGKATAN
KONSUMEN
PENGAWASAN
DAN
PERLINDUNGAN
Sasaran yang ingin dicapai:
TUJUAN 3:
Sumber: Renstra Kementerian Perdagangan Tahun 2010 - 2014.
undingan dan peningkatan nilai perdagangan
Meningkatkan kesadaran konsumen akan hak dan
kewajibannya, menumbuhkan kesadaran pelaku usaha
akan pentingnya perlindungan konsumen, meningkatkan
kualitas barang dan/atau jasa di pasar dalam negeri, serta
DALAM NEGERI
Sasaran Membaiknya
yang ingin dicapai:layanan
perizinan dan non-
1. Stabilitas harga bahan pokok yang terkendali, sehingga
perizinan sektor perdagangan dalam negeri,
harga tetap terjangkau sesuai kondisi daya beli masyarakat.
Target
tahundalam
2013: Rata-rata
Koefisien variasi
harga bahan
baik
hal jumlah
perizinan
online
pokok utama mencapai 6,5%.
maupun
dalamharga
hal bahan
minimasi
layanan.
2. Penurunan
disparitas
pokokwaktu
antar-provinsi
dibandingkan dengan harga bahan pokok nasional,
Target tahun 2013: Jumlah perizinan yang
sehingga kelangkaan dan penimbunan bahan pokok dapat
diminimasi.
tahun online
2013: Rasio
koefisien 11variasi
dilayaniTarget
secara
sebanyak
jenis
harga provinsi dibandingkan dengan variasi harga nasional
berada diantara 2,2.
KINERJA
SEKTOR
PENCIPTAANKREATIF
JARINGAN DISTRIBUSI PERDAGANGAN YANG
EKONOMI
EFISIEN
Sasaran
yang
ingin
dicapai:
Sasaran yang
ingin
dicapai:
Pengembangan Sarana
Meningkatnya
output Distribusi
sektor Perdagangan
perdagangandalam
mendukung kinerja logistik nasional. Target tahun 2013:
yang
senantiasa
tumbuh pasar
semakin
positif
Persentase
realisasi revitalisasi
tradisional
mencapai
100%.
setiap
tahunnya.
Target
tahun
2013:
Pertumbuhan
PDB Sektor Perdagangan Besar
TUJUAN 10:
dan
Eceran sebesar
6,5%.
PENINGKATAN
KUALITAS
KINERJA ORGANISASI
Sasaran yang ingin dicapai:
TUJUAN 7:
Peningkatan kinerja keuangan dan performance organisasi.
Target tahun 2012: Opini
BPK atas Laporan DAN
Keuangan
PENINGKATAN
PENGAWASAN
Kementerian dengan status ‘Wajar Tanpa Pengecualian’ dan
PERLINDUNGAN
Peringkat penilaian KONSUMEN
PIAK (Program Inisiatif Anti Korupsi) Top
3.
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |11
24
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
25
02
02Perencanaan dan Kontrak Kinerja
Perencanaan dan Kontrak Kerja
TUJUAN 11:
Perencanaan kinerja tahunan merupakan
PENGUATAN DAN PENINGKATAN KUALITAS ORGANISASI
proses penyusunan rencana kegiatan
DAN SDM
Sasaransebagai
yang inginpenjabaran
dicapai:
dari tujuan, sasaran dan
Sasaran utama penguatan dan peningkatan kualitas organisasi
program yang telah ditetapkan dalam
adalah terwujudnya organisasi yang berbasis kinerja
(berorientasi
outcome).
Target 2013:
Kementerian
Rencana
Strategis,
yangPenilaian
akan dilaksanakan
PAN & RB terhadap Dokumen SAKIP mencapai level B.
selama satu tahun anggaran. Di dalam
perencanaan
kinerja
C. Rencana
Kinerja Tahun
2013ditetapkan rencana
Perencanaan
kinerjakinerja
tahunan merupakan
penyusunan
capaian
tahunan proses
untuk
seluruh
rencana kegiatan sebagai penjabaran dari tujuan, sasaran
dan program
yang telah
dalam
Rencana
Strategis,
indikator
yangditetapkan
ada pada
setiap
sasaran
yang
yang akan dilaksanakan selama satu tahun anggaran. Di
dari perencanaan
kinerja
dalam ditetapkan.
perencanaan Produk
kinerja ditetapkan
rencana capaian
kinerja tahunan untuk seluruh indikator yang ada pada setiap
dokumen
Rencana
Kerjakinerja
yang
sasaranberbentuk
yang ditetapkan.
Produk dari
perencanaan
berbentuk dokumen Rencana Kerja yang dilampirkan Formulir
dilampirkan
Rencana
Rencana
Kinerja EselonFormulir
I/II dan hasil
aplikasiKinerja
RencanaEselon
Kerja
sebagaimana ditetapkan oleh Bappenas.
I/II
dan
hasil
aplikasi
Rencana
Kerja
Untuk mengimplementasikan arah kebijakan dan strategi
sebagaimana
ditetapkan
oleh
Bappenas.
pembangunan
perdagangan
2010-2014,
maka
Kementerian
Perdagangan akan melaksanakan sepuluh program utama
pada tahun 2013 yang didukung oleh 72 kegiatan. Dari 72
mengimplementasikan
arah22kebijakan
kegiatanUntuk
yang akan
diimplementasikan terdapat
kegiatan
prioritas bidang dengan 5 kegiatan diantaranya merupakan
dan strategi pembangunan perdagangan
prioritas nasional.
pada tahun 2013 yang didukung oleh 72
“
kegiatan.
72 visi,
kegiatan
yangsasaran
akan
Dalam rangkaDari
pencapaian
misi, tujuan,
strategis
Kontrak Kinerja merupakan acuan dalam
implemetasi program dan kegiatan Kementerian
Perdagangan pada tahun 2013. Dari 10 program
Kementerian Perdagangan, 8 diantaranya muncul dalam
Kontrak Kinerja Tahun 2013.
Kementerian Perdagangan, dengan mempertimbangkan
diimplementasikan
terdapat 22 kegiatan
arah kebijakan dan strategi nasional serta arah kebijakan
dan strategi bidang
Kementeriandengan
Perdagangan,
pada tahun
prioritas
5 maka
kegiatan
2013 telah dilaksanakan sepuluh program Kementerian
Perdagangan merupakan
dengan pagu prioritas
anggaran nasional.
(setelah revisi APBNdiantaranya
Perubahan) sebesar Rp 2.963.458.632.000,Dalam
kerangka
penyelenggaraan
pemerintahan
dan
Dalam
rangka pencapaian visi, misi, tujuan,
pembangunan sektor perdagangan, Rencana Kerja
Kementerian
Perdagangan
tahun 2013
tetap fokus kepada
sasaran
strategis
Kementerian
Perdagangan,
penguatan tiga pilar utama perdagangan, yaitu: (1) stabilisasi
dan penguatan
pasar dalam negeri; arah
(2) ekspor
dan kerjasama
dengan
mempertimbangkan
kebijakan
internasional; dan (3) reformasi birokrasi dan good
governance,
ditunjang
Semangat
Substitusi
dan
strategidengan
nasional
serta
arah Hilirisasi,
kebijakan
Impor, dan Perlindungan Konsumen.
dan strategi Kementerian Perdagangan,
maka
padaKinerja
tahunTahun
20132013
telah dilaksanakan
D. Kontrak
sepuluh
program
Perdagangan
Kontrak Kinerja
atauKementerian
Penetapan Kinerja
adalah komponen
dokumen SAKIP yang merupakan perwujudan kesepakatan
dengan
pagudan
anggaran
(setelah
revisi APBNantara atasan
bawahan dalam
menetapkan
kinerja sesuai
tujuan dan sasaran pada Rencana Strategis dan mengacu
Perubahan)
sebesar
Rp 2.963.458.632.000,pencapaian tujuan
dan sasaran
Rencana Strategis atasannya.
. Kontrak Kinerja ini disusun setelah diterimanya DIPA dan
Kinerja Tahunan 2013 Nomor: 611/M-DAG/KK/3/2013 yang
mencakup sejumlah sasaran strategis, indikator kinerja
utama (IKU), target, program, serta anggaran (selengkapnya
dapat dilihat pada Lampiran 2). Kontrak Kinerja merupakan
acuan dalam implemetasi program dan kegiatan Kementerian
Perdagangan pada tahun 2013. Dari 10 program Kementerian
Perdagangan, 8 diantaranya muncul dalam Kontrak Kinerja
Tahun 2013, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Peningkatan Perdagangan Luar Negeri
4. Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri
Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang
Dalam
kerangka
penyelenggaraan
efektif, transparan
dan akuntabel
serta berorientasi pada
hasil, Menteri Perdagangan RI telah menandatangani Kontrak
pemerintahan
dan
pembangunan
sektor
perdagangan, Rencana Kerja Kementerian
TabelPerdagangan
2
akan melaksanakan sepuluh program utama
tahun 2013 tetap fokus kepada
Alokasi Anggaran Menurut Program Kementerian Perdagangan TA 2013
PROGRAM
Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya
2.
Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
3.
Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri
4.
Peningkatan Perdagangan Luar Negeri
5.
Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internasional
471.525.310
6.
Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur
7.
Pengembangan Ekspor Nasional
8.
Peningkatan Efisiensi Pasar Komoditi
83.944.851
9.
Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan
63.727.957
10.
Peningkatan Perlindungan Konsumen
71.188.588
1.209.450.709
178.800.00
261.602.414
34.489.726
353.327.726
235.401.351
2.963.458.632
Pada tahun 2013, Kementerian Perdagangan menargetkan
pertumbuhan ekspor nonmigas mencapai 2,7% dengan
nominal total ekspor sebesar US$ 194,7 Milyar, jumlah
perizinan ekspor dan impor yang dapat dilayani online
sebanyak 75 jenis, dan rata-rata waktu penyelesaian
perizinan ekspor dan impor selama 2 (dua) hari.
2. Pengembangan Ekspor Nasional
PAGU REVISI (Rp .000)
1.
JUMLAH
dihasilkan diberbagai forum internasional yang mampu
memberi nilai tambah bagi kepentingan nasional. Pada
tahun 2013 ini, Kementerian Perdagangan menargetkan
Jumlah hasil Perundingan Perdagangan Internasional
(Agreement, Kerjasama Komoditi, MRA, MOU, Agreed
Minutes, Declaration, Chair Report) mencapai 221
perundingan dan peningkatan nilai perdagangan Indonesia
dengan negara mitra FTA sebesar 10%.
harus ditandatangani oleh pihak-pihak yang menyepakati.
2010-2014, maka Kementerian Perdagangan
No.
02
“
C. Rencana Kinerja Tahun 2013
Perencanaan dan Kontrak Kerja
Program ini memiliki sasaran strategis yaitu untuk
perbaikan citra produk ekspor Indonesia di pasar global,
yang pada akhirnya akan mendukung kontinuitas dan
pertumbuhan ekspor. Pada tahun 2013 ini, Kementerian
Perdagangan menargetkan Concentration Ratio pada lima
negara tujuan besar (CR-5) mencapai 47%, pertumbuhan
total ekspor ke negara-negara tujuan non-tradisional
mencapai 15%, dan kontribusi ekspor di luar 10 (sepuluh)
produk utama sebesar 53%.
Selain itu, program ini juga memiliki dukungan dalam
meningkatkan citra produk ekspor Indonesia di pasar
global. Untuk mencapai sasaran program ini, Kementerian
Perdagangan menargetkan pada tahun 2013 skor dimensi
dalam Simon Anholt’s Nation Brand Index (NBI) mencapai
angka 46.
3. Peningkatan Kerjasama Perdagangan Internasional
Sasaran strategis program ini yaitu untuk meningkatnya
intensitas keikutsertaan Indonesia di berbagai forum
internasional dan meningkatnya hasil perundingan yang
Sasaran strategis program ini yaitu stabilisasi dan
penurunan disparitas harga bahan pokok serta penciptaan
iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif yang
akhirnya dapat menguatkan pasar domestik. Pada tahun
2013 ini, Kementerian Perdagangan menargetkan jumlah
perizinan perdagangan dalam negeri secara online yang
dapat dilayani sebanyak 11 jenis, waktu penyelesaian
pelayanan perizinan selama 4 (empat) hari, realisasi
revitalisasi pasar tradisional mencapai 100%, rata-rata
koefisien variasi harga pokok utama mencapai 6,5%,ratarata rasio variasi harga provinsi dibandingkan variasi harga
nasional mencapai 2,2, tingkat pertumbuhan PDB sektor
perdagangan besar dan eceran mencapai 6,5%, dan95%
konsumsi rumah tangga nasional dipasok dari produksi
dalam negeri dengan indikator Rasio Penggunaan Produk
Dalam Negeri Terhadap Pengeluaran Konsumsi Rumah
Tangga.
5. Peningkatan Perlindungan Kosumen
Program ini memiliki sasaran strategis terbentuknya
lembaga yang dapat melindungi konsumen dari praktek
perdagangan yang merugikan konsumen. Dengan program
ini, Kementerian Perdagangan menargetkan pada tahun
2013 ini, akumulasi jumlah Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen (BPSK) yang difasilitasi pembentukannya di
daerah mencapai 65 unit.
Sumber: Sekretariat Jenderal, Kementerian Perdagangan
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |13
26
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
27
02
Perencanaan dan Kontrak Kerja
6. Peningkatan Efisiensi Pasar Komoditi
Program ini diarahkan demi meningkatanya pembinaan,
pengaturan, dan pengawasan bidang perdagangan
berjangka komoditi, sistem resi gudang, dan pasar lelang.
Dengan beberapa indikator kinerja yang ditargetkan
pada tahun 2013 diantaranya transaksi multilateral di
bidang Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK)mencapai
1.500.000 lot, nilai resi gudang mencapai Rp 950 Milyar,
dan setidaknya satu referensi harga komoditi sudah dapat
digunakan.
7. Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis
Lainnya
Program ini dilaksanakan untuk mendukung kelancaran
pelaksanaan tugas dan fungsi yang diemban Kementerian
Perdagangan. Dengan adanya penajaman sasaran melalui
misi Optimalisasi Reformasi Birokrasi diharapkan pada
tahun 2013 Laporan Keuangan Kementerian Perdagangan
memperoleh Opini Wajar Tanpa Pengecualian dari BPK dan
Sistem Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan
mendapat nilai B dari Kementerian PAN dan Reformasi
Birokrasi.
“
02
8. Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur
Negara
Program ini diarahkan demi terwujudnya Kementerian
Perdagangan yang bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan
nepotisme, serta pengawasan yang memberi nilai tambah
terhadap peningkatan kinerja unit dan tertib administrasi
dilingkungan Kementerian Perdagangan. Pada tahun 2013,
Kementerian Perdagangan menargetkan ranking Indeks
Persepsi Korupsi (Program Inisiatif Anti Korupsi dan Survei
Integritas) minimal 3 besar.
Selanjutnya kinerja Kementerian Perdagangan yang maksimal
tidak lain merupakan perwujudan poros Renstra-Kontrak
Kinerja-Tupoksi kementerian yang ketiganya (harus) saling
berkesesuaian.
Kinerja Kementerian Perdagangan yang maksimal
tidak lain merupakan perwujudan poros RenstraKontrak Kinerja-Tupoksi kementerian yang ketiganya
(harus) saling berkesesuaian.
28
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
“
Perencanaan dan Kontrak Kerja
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
29
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
03
Pencapaian
Pembangunan Perdagangan
Tahun 2013
30
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
“
Dari keseluruhan 23 indikator kinerja, sebanyak 19
di antaranya dapat tercapai atau melampaui target
yang ditetapkan dalam Kontrak Kinerja Kementerian
Perdagangan Tahun 2013.
“
Seluruh jajaran pegawai Kementerian Perdagangan bekerjasama dengan para pemangku
kepentingan (stakeholders) di sektor perdagangan telah mengerahkan segenap upaya dan
pemikiran untuk melaksanakan amanat pembangunan dalam pencapaian sasaran strategis
perdagangan, yang tergambar dari indikator kinerja dan keuangan yang telah dicapai oleh
Kementerian Perdagangan. Pelaporan mengenai capaian indikator kinerja dan keuangan
tersebut terangkum dengan ringkas dan lugas dalam dokumen Laporan Akuntabilitas dan
Kinerja (LAK) Kementerian Perdagangan Tahun 2013.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
31
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
A.Evaluasi Capaian RPJMN Sektor Perdagangan
Sesuai amanat RPJMN 2010-2014, Kementerian Perdagangan
mendukung dan berperan aktif dalam pelaksanaan ‘Prioritas
Nasional 7: Iklim Investasi dan Iklim Usaha’ dan ‘Prioritas
Lainnya: Bidang Ekonomi’. Tabel yang berisi capaian RPJMN
2010-2014 Sektor Perdagangan secara lengkap dapat dilihat
pada Lampiran.
Prioritas Nasional 7:
Pada tahun 2013, berbagai langkah telah dilakukan
Kementerian Perdagangan dalam rangka peningkatan investasi
dan penciptaan iklim usaha yang kondusif, terutama melalui
peningkatan kinerja logistik nasional (meliputi peningkatan
kelancaran distribusi bahan pokok dan pengembangan sarana
distribusi perdagangan), pengelolaan sistem informasi ekspor
dan impor, dan pengembangan KEK.
1. Peningkatan Kinerja Logistik Nasional
Iklim Investasi dan Iklim Usaha
Maksud dari perbaikan iklim investasi dan iklim usaha
adalah menciptakan kondisi agar seluruh rakyat Indonesia
memperoleh kesempatan yang sama dan dukungan berusaha
di dalam negeri yang seluas-luasnya, terutama bagi usaha
kecil, sehingga berkembang menjadi tangguh dan mandiri.
Melalui perbaikan iklim usaha juga diharapkan dapat
menstimulus peningkatan ekspor produk dalam negeri.
Melalui fokus kebijakan peningkatan kinerja logistik nasional,
Kementerian Perdagangan ingin menciptakan kondisi berupa
stabilitas harga bahan pokok dan penurunan disparitas harga
antar-provinsi, sehingga harga bahan pokok tetap terjangkau
sesuai dengan daya beli masyarakatdi seluruh provinsi di
Indonesia, dan juga meminimalisasi kelangkaan, penimbunan,
serta penyimpangan penyaluran bahan pokok.
1
2
32
Program/Kegiatan
Peningkatan Kelancaran
Distribusi Bahan Pokok
Pengembangan Sarana
Distribusi Perdagangan
Indikator Kinerja
2010
2011
2012
2013
4
6
6
6
4
5–9%
4,5%
3,5%
3,7%
3,8%
1,5 – 2,5
1,8
1,9
1,7
1,7
<1
0,22
0,3
0,3
0,4
Jumlah Perizinan di bidang distribusi
bahan pokok dan barang strategis yang
dilayani secara online (Jenis)
11
12
15
12
12
Waktu penyelesaian perizinan dan non
perizinan di bidang distribusi bahan
pokok dan barang strategis (Hari)
4
6
5
3
2
Jumlah Pasar Percontohan yang
dibangun (unit)
23
12
15
20
22
Jumlah Pusat Distribusi yang dibangun
(unit)
3
2
1
1
3
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
100%
Dalam kegiatan Pengembangan
Sarana Distribusi Perdagangan
terdapat beberapa capaian
indikator penting yaitu
jumlah “Pengembangan Pasar
Percontohan” (unit) yang
mencapai 95,65%, dan Jumlah
pembangunan pusat distribusi
yang mencapai capaian 100%.
Realisasi
Target
2013
Jumlah rumusan kebijakan dan norma,
standar, prosedur dan kriteria bidang
distribusi bahan pokok dan barang
strategis (Jenis)
Rata-rata koefisien variasi harga bahan
pokok utama (Persen)
Rasio variasi harga provinsi
dibandingkan variasi harga nasional
yang semakin kecil
Rasio variasi harga komoditi tertentu di
dalam dan di luar negeri yang semakin
kecil
Dalam kegiatan Pengembangan Sarana Distribusi Perdagangan
terdapat beberapa capaian indikator penting yaitu jumlah
“Pengembangan Pasar Percontohan” (unit) yang mencapai
95,65%, dan Jumlah pembangunan pusat distribusi yang
mencapai capaian 100%.
Rincian Indikator Kinerja Peningkatan Logistik Nasional pada
tahun 2013 yang telah berhasil dicapai oleh Kementerian
Perdagangan pada tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3
Capaian Peningkatan Kinerja Logistik Nasional dalam RPJMN 2010-2014
No.
Secara kuantitatif, capaian output jumlah rumusan kebijakan
dan standar, norma, kriteria dan prosedur di bidang distribusi
bahan pokok dan barang strategis mencapai hasil 100%, Ratarata koefisien variasi harga bahan pokok utama juga mencapai
capaian 124%, Rasio variasi harga komoditi tertentu di dalam
dan di luar negeri yang semakin kecil yang mencapai capaian
140%, Rasio variasi harga provinsi dibandingkan variasi harga
nasional yang semakin kecil mencapai 100%, Jumlah perizinan
di bidang distribusi bahan pokok dan barang strategis yang
dilayani secara online mencapai capaian 100%, dan sub
kegiatan waktu penyelesaian perijinan dan non perijinan
distribusi bahan pokok dan barang strategis mencapai hasil
113%.
03
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
33
03
Akuntabilitas Kinerja
2.Pengelolaan Sistem
Pengembangan KEK
Informasi
Akuntabilitas Kinerja
Ekspor-Impor
dan
Program Peningkatan Perdagangan Luar Negeri merupakan
Program Prioritas yang didukung oleh 2 (dua) Kegiatan
Prioritas Nasional yaitu: Kegiatan Pengelolaan Fasilitasi Ekspor
dan Impor; dan Kegiatan Dukungan Sektor Perdagangan
Terhadap Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Capaian Indikator Kinerja dalam rangka Pengelolaan Fasilitasi
Ekspor dan Impor dan Dukungan Sektor Perdagangan
Terhadap Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
yang telah dicapaiEkonomi
oleh Kementerian
pada tahun
Khusus Perdagangan
(KEK) yang telah
dicapai
2013 adalah sebagai berikut:
Prioritas Lainnya:
Bidang Ekonomi
Terkait dengan pelaksanaan Prioritas Lainnya Bidang
Perekonomian, substansi inti Kementerian Perdagangan
melalui pelaksanaan kegiatan ‘Peningkatan Peran dan
Kemampuan dalam Diplomasi Perdagangan Internasional’,
Akuntabilitas Kinerja
dengan indikator kinerja sebagai berikut:
03
1) Jumlah hasil perundingan perdagangan internasional;
2) Jumlah partisipasi aktif pada perundungan internasional;
Hal posisi
ini disebabkan
Kawasan
3) Jumlah
runding yang
disusun;Ekonomi
oleh Kementerian Perdagangan pada tahun
1. Kegiatan Fasilitasi Ekspor Impor memiliki capaian 92,99 %;
2013 adalah sebagai berikut:
dan
Khusus
(KEK) yang sidang
saat ini
belum
4) Jumlah
penyelenggaraan
internasional
di Dalam
Negeri;
diimplementasikan
(dikarenakan
2. Kegiatan Dukungan
Sektor Fasilitasi
Perdagangan
Terhadap
1. Kegiatan
Ekspor
Impor
Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) memiliki
capaian
92,99
%; danKhusus
capaian 80 %. Hal inimemiliki
disebabkan
Kawasan
Ekonomi
(KEK) yang saat ini belum diimplementasikan (dikarenakan
belum ditetapkannya
kelembagaan Dukungan
pada KEK Sei Mangkei
2. Kegiatan
Sektor
dan KEK Tanjung Lesung).
pada publikasi
KEK Sei hasil
Mangkei
KEK perdagangan
6) Jumlah
kerja dan
sama
internasional
yang diterbitkan.
Tanjung Lesung).
Perdagangan
Pengembangan
5) Jumlah sosialisasi hasil kerja sama perdagangan
belum ditetapkannya kelembagaan
internasional;
Terhadap
Kawasan
Ekonomi
Tabel 4
Capaian Kinerja Peningkatan Perdagangan Luar Negeri dalam RPJMN 2010-2014
Tabel 2. Capaian Kinerja Peningkatan Perdagangan Luar Negeri dalam RPJMN 2010-2014
No.
1
Program/Kegiatan
Pengelolaan Fasilitasi
Ekspor dan Impor
Indikator Kinerja
Dukungan Sektor
Perdagangan terhadap
Pengembangan Kawasan
Ekonomi Khusus
2010
2011
2012
2013
Jumlah penerbitan kebijakan
fasilitasi ekspor dan impor
(Peraturan)
2
4
2
3
2
Jumlah pengembangan sistem
elektronik bidang fasilitasi
pelayanan publik (Kegiatan)
2
2
2
2
2
4.000
1.536
2.064
2.618
5.874
Jumlah bimbingan teknis bidang
fasilitasi perdagangan (Kegiatan)
5
5
23
5
5
Jumlah koordinasi bidang
fasilitasi perdagangan (Kegiatan)
60
60
87
24
60
Jumlah partisipasi sidang-sidang
fasilitasi perdagangan didalam
dan luar negeri (Kegiatan)
17
-
12
13
17
Jumlah laporan evaluasi
pelaksanaan monitoring fasilitasi
perdagangan (Laporan)
5
-
32
5
6
103,79%
Secara umum seluruh target indikator kinerja untuk kegiatan
prioritas “Peningkatan Peran dan Kemampuan Diplomasi
Perdagangan Internasional” tercapai dengan baik, dengan
jumlah rata-rata capaian sebesar 103,79%.
“Hasil–hasil perundingan perdagangan Internasional”
adalah hasil perundingan yang disampaikan kepada Unit
Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian
Pembangunan (UKP4). Capaian indikator ini pada tahun
2013 adalah sebesar 100% atau 37 (tiga puluh tujuh) hasil
perundingan yang dilaksanakan di forum Bilateral, Regional,
dan Multilateral sebagaimana terlihat pada tabel.
Secara umum seluruh target
indikator kinerja untuk kegiatan
prioritas “Peningkatan Peran
dan Kemampuan Diplomasi
Perdagangan Internasional”
tercapai dengan baik, dengan
jumlah rata-rata capaian sebesar
103,79%.
Untuk indikator “Partisipasi aktif pada perundingan
perdagangan internasional” dan “Jumlah posisi runding yang di
susun” memiliki keterkaitan dalam capaiannya, karena dalam
setiap partisipasi aktif Menteri/Wakil Menteri atau Pejabat
Setingkat eselon I selalu didukung dengan posisi runding. Hal
ini agar Indonesia dalam setiap perundingan memiliki posisi
yang kuat untuk memperjuangkan kepentingan nasional.
Capaian kedua indikator ini tahun 2013 adalah sebesar
110% atau 66 partisipasi aktif dengan 66 posisi runding yang
tersusun.
Capaian indikator “Jumlah penyelenggaraan sidang
internasional di dalam negeri” pada tahun 2013adalah
sebesar 108% atau sebesar 27 sidang, termasuk KTT APEC
dan KTM WTO. Capaian yang diatas target ini dikarenakan
banyaknya pelaksanaan sidang-sidang paralel di luar rencana
atau di sela-sela pelaksanaan sidang lainnya.
setiap Hasil–hasil perundingan perdagangan Internasional.
Daerah pelaksanaan sosialisasi ini adalah: Medan, Jakarta,
Gorontalo, Bandung, Palangka Raya, Kendari, Palembang,
Banten, dan Mataram.
Capaian indikator “Jumlah sosialisasi hasil kerja sama
perdagangan internasional”tahun 2013 adalah sebesar
88,88% atau 8 kali kegiatan. Adapun pelaksanaan sosialisasi
ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman para
stakeholder, instansi terkait, dan masyarakat di daerah terkait
Capaian Indikator “Jumlah publikasi kerja sama perdagangan
internasional yang diterbitkan” pada tahun 2013 adalah
sebesar 105,88% atau 18 publikasi, baik dalam bentuk Leaflet,
Buletin, dan Buku Hasil Kesepakatan/Perjanjian Kerja Sama
Perdagangan Internasional Tahun 2013.
03Akuntabilitas Kinerja
Tabel 5
Capaian Kinerja Peningkatan Peran dan Kemampuan Diplomasi Perdagangan Internasional
Tabel 5. Capaian Kinerja Peningkatan Peran dan Kemampuan Diplomasi Perdagangan Internasional
dalam
2010-2014
dalamRPJMN
RPJMN 2010-2014
No.
1
Program/Kegiatan
Peningkatan peran dan
kemampuan diplomasi
perdagangan internasional
Target
Indikator Kinerja
Realisasi
2013
2010
2011
2012
2013
37
34
37
36
37
60
41
55
55
66
Jumlah posisi runding yang disusun
60
41
55
55
66
Jumlah penyelenggaraan sidang
internasional di dalam negeri
25
17
29
31
27
Hasil-hasil perundingan
perdagangan internasional
Jumlah partisipasi aktif dalam
perundingan perdagangan
internasional
Jumlah Penerbitan Surat
Keterangan Asal melalui sistem
otomasi (SKA)
850.000
-
866.582
821.400
897.300
Jumlah peraturan terkait dengan
KEK (Peraturan)
1
1
0
0
0
Jumlah sosialisasi hasil kerja sama
perdagangan internasional
9
-
-
9
8
Jumlah fasilitasi dan koordinasi
penyusunan PP tentang KEK
(Laporan)
1
1
1
1
1
Jumlah publikasi kerja sama
perdagangan internasional yang
diterbitkan
17
-
-
16
18
Khusus (KEK) memiliki capaian 80 %.
34
Realisasi
2013
Jumlah pengguna perizinan
ekspor/impor online yang
dilayani melalui INATRADE
(Perusahaan)
2
Target
03
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Capaian indikator “Jumlah sosialisasi hasil
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
B. Evaluasi Capaian Indikator
35
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas
Kinerja
03
Akuntabilitas Kinerja
B.Evaluasi Capaian Indikator Kinerja Utama
Tahun 2013
Penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) pada LAK Kementerian
Perdagangan tahun 2013 mengacu kepada Kontrak Kinerja
2013, Rencana Kinerja 2013, dan Rencana Strategis 2010-2014.
Secara keseluruhan terdapat 23 IK dari 12 sasaran strategis
yang diukur pada LAK Kementerian Perdagangan Tahun
2013. Dimana dari keseluruhan 23 indikator kinerja tersebut,
sebanyak 19 diantaranya dapat tercapai atau melampaui
target yang ditetapkan dalam Renstra, Renkin, dan Kontrak
Kinerja Kementerian Perdagangan Tahun 2013.
Adapun rincian target dan capaian indikator kinerja dalam
Kontrak Kinerja Kementerian Perdagangan tahun 2013 dapat
dilihat pada tabel dibawah ini.
03Akuntabilitas Kinerja
Tabel 6
Matriks Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Perdagangan Tahun 2013
Tabel 7. Matriks Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Perdagangan Tahun 2013
NO
SASARAN STRATEGIS
TARGET
REALISASI
Peningkatan
pertumbuhan ekspor
non-migas
a. Pertumbuhan ekspor non-migas
(Persen)
-74,1
179 miliar
182,6
miliar
102
Peningkatan diversifikasi
pasar tujuan ekspor dan
diversifikasiproduk
ekspor non-migas
d. Rasio konsentrasi penguasaan
pangsa pasar di 5 negara tujuan
ekspor terbesar/CR5 (Persen)
47
50,35
92,9
e. Pertumbuhan ekspor non-migas ke
negara non-tradisional (persen)
15
1,79
11,9
f. Kontribusi ekspor di luar 10 produk
utama (Persen)
53
54
101,9
3
Perbaikan citra produk
ekspor Indonesia
Skor dimensi ekspor dalam Simon
Anholt’s Nation Brand Index (Skor)
47
45,6
97,0
4
Peningkatan peran dan
kemampuan Kementerian
Perdagangan dalam
diplomasi perdagangan
internasional
c. Jumlah hasil perundingan
perdagangan internasional(Hasil
Perundingan)
248
323
130,2
d. Persentas peningkatan nilai
perdagangan Indonesia dengan
negara mitra FTA (Persen)
10
-4,72
-47,2
5
6
7
36
Penyederhanaan
perizinan perdagangan
dalam negari dan luar
negeri
Peningkatan output
sektor perdagangan
Peningkatan
Perlindungan Konsumen
e. Pelayanan perizinan sub sektor
PDN yang dapat dilayani secara
online (Jenis)
11
12
109,1
f. Rata-rata waktu penyelesaian
perizinan sub sektor PDN (Hari)
4
2
150
g. Perizinan Ekspor dan Impor yang
dapat dilayani secara online (Jenis)
75
83
110,7
h. Rata-rata waktu penyelesaian
perizinan ekspor dan impor (Hari)
2
2
100
e. Pertumbuhan PDB sektor
perdagangan besar dan eceran
(Persen)
6,5
6,4
98,5
f. Rasio penggunaan produk dalam
negeri terhadap pengeluaran
konsumsi rumah tangga (Persen)
95
97,3
102,4
g. Jumlah transaksi multilateral di
bidang PBK (Lot)
1.500.000
1.257.829
83,9
h. Nilai resi gudang yang diterbitkan
(Rupiah)
100 miliar
108,95
miliar
108,9
65
111
170,8
Akumulasi jumlah BPSK yang terbentuk
setiap tahun (Unit)
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |23
TARGET
REALISASI
%
Persentase realisasi revitalisasi pasar
tradisional (Persen)
100
100
100
9
Stabilisasi Harga Bahan
Pokok
Rata-rata koefisien variasi harga bahan
pokok utama (Persen)
6,5
3,8
171,0
10
Penurunan Disparitas
Harga Bahan Pokok Antar
Propinsi
Rata-rata rasio variasi harga provinsi
dibandingkan variasi harga nasional
(Rasio)
2,2
1,7
129,4
WTP
WTP
100%
MISI 4: OPTIMALISASI REFORMASI BIROKRASI
11
Peningkatan kualitas
laporan keuangan dan
akuntabilitas
Kementerian
c. Opini BPK atas Laporan Keuangan
Kementerian (Opini)
d. Peringkat penilaian Program
Inisiatif Anti Korupsi (Rangking)
≤3
-
0
Peningkatan kualitas
kinerja organisasi
Penilaian terhadap Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah (Nilai)
B
B
100
berbagai
kebijakan
Dari capaian indikator kinerja utama tersebut,
bahwa
kinerja
Kementerian
Dari capaian indikator tampak
kinerja utama
tersebut,
tampak
bahwa
kinerja Kementerian Perdagangan
tahun
Perdagangan dalam
dalam waktu
waktusatu
satu
tahun
menunjukkan peningkatan cukup baik hampir diseluruh
menunjukkan peningkatan cukup baik hampir
indikator yang menjadi sasaran pembangunan perdagangan
diseluruh
indikatorKinerja
yang dan
menjadi
sasaran
sebagaimana tercantum
pada Kontrak
Rencana
Kerja Kementerian Perdagangan
tahunperdagangan
2013.
pembangunan
sebagaimana
Meningkatnya keterkaitan
perekonomian
secaradanglobal
tercantum
pada Kontrak Kinerja
Rencana
memberikan peluang sekaligus ancaman bagi pembangunan
Kerja Kementerian Perdagangan tahun 2013.
sektor perdagangan.
Dalam perumusan kebijakan,
Kementerian Perdagangan
telah berusaha
mengantisipasi
Meningkatnya
keterkaitan
perekonomian
dinamika perekonomian dunia yang tak stabil dan tak bisa
secara global memberikan
peluang sekaligus
diprediksi dengan mengeluarkan
berbagai kebijakan
yang
mendorong peningkatan
nilai tambah
perdagangan
ancaman
bagi produk
pembangunan
sektor
melalui hilirisasi industri dan mendukung iklim usaha yang
perdagangan. Dalam perumusan kebijakan,
MISI 2: MENGUATKAN PASAR DALAM NEGERI
CAPAIAN KINERJA
INDIKATOR KINERJA
Pengembangan Sarana
Distribusi Perdagangan
dalam mendukung
kinerja logistik nasional
12
-2,0
b. Total ekspor (US$)
2
8
%
2,7
SASARAN STRATEGIS
MISI 3: MENJAGA KETERSEDIAAN BAHAN POKOK DAN PENGUATAN JARINGAN DISTRIBUSI NASIONAL
CAPAIAN KINERJA
INDIKATOR KINERJA
MISI 1: MENINGKATKAN KINERJA EKSPOR NONMIGAS NASIONAL SECARA BERKUALITAS
1
NO
03
mengeluarkan
yang
mendorong
nilai tambah
produk
kondusif. peningkatan
Upaya penciptaan
iklim
usaha yang kondusif
utamanya didukung
melalui
penyederhanaan
prosedur
perdagangan
melalui hilirisasi
industri
dan
perizinan sektor perdagangan.
mendukung iklim usaha yang kondusif. Upaya
Dari sisi internal, Kementerian Perdagangan juga terus
iklim usaha yang kondusif
melakukan peningkatan kualitas pelayanan publik dan
utamanya
penyederhanaan
perbaikandidukung
kinerjamelalui
manajemen
dalam kerangka Reformasi
Birokrasi.
Dalam
rangka
penciptaan
prosedur perizinan sektor perdagangan. iklim usaha yang kondusif
Kementerian Perdagangan telah melakukan berbagai upaya
Dari
sisi internal,pelayanan
Kementerianperizinan
Perdagangan
peningkatan
diantaranya melalui
peningkatan
jumlah
izin
yang
tertangani
juga terus melakukan peningkatan kualitas secara online dan
mempercepat waktu penyelesaian perizinan. Hal ini terkait
pelayanan
publik dan
perbaikan
kinerja
dengan efektifitas
dan efisiensi
dunia
usaha yang diharapkan
mampu meningkatkan
performaReformasi
perdagangan dan investasi
manajemen
dalam kerangka
di dalam negeri.
penciptaan
Birokrasi. Dalam rangka penciptaan iklim
Kementerian Perdagangan telah berusaha
usaha
yang
kondusif
Kementerian
mengantisipasi dinamika perekonomian dunia
Perdagangan telah melakukan berbagai upaya
yang tak stabil dan tak bisa diprediksi dengan
peningkatan pelayanan perizinan diantaranya
24|LAK Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
37
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
03
Kinerja Kementerian
Perdagangan dalam waktu
satu tahun menunjukkan
peningkatan cukup baik hampir
diseluruh indikator yang
menjadi sasaran pembangunan
perdagangan sebagaimana
tercantum pada Kontrak Kinerja
dan Rencana Kerja Kementerian
Perdagangan tahun 2013.
03Akuntabilitas Kinerja
waktu penyelesaian perizinan. Hal ini terkait
performa perdagangan dan investasi di dalam
dengan efektifitas dan efisiensi dunia usaha
negeri.
yang
diharapkan
mampu
meningkatkan
Sasaran Strategis 1 :
Sasaran Strategis 1 :
“Peningkatan
Pertumbuhan
Ekspor Non-Migas”
“Peningkatan
Pertumbuhan
Ekspor Non-Migas”
Indikator Kinerja
1) Tingkat Pertumbuhan
Ekspor Non-Migas (%)
2) Total Ekspor Nasional
(US$ Milyar)
Target
2013
Realisasi
%
-5,5%
2,7%
-2,0
-74,1
190
179
182,6
102
2010
2011
2012
33,02%
24,80%
157,7
203,6
Indikator Kinerja 1 & 2:
Indikator
1 & 2:
TingkatKinerja
Pertumbuhan
Ekspor Non-Migas
Tingkat
Pertumbuhan
Non-Migas dan
dan Total
EksporEkspor
Nasional
Total Ekspor Nasional
Pada awal tahun 2013, perekonomian
Kinerja perdagangan menampakan titik
non-migas
Indonesia
mencatat
pertumbuhan
negatif
dibandingkanakhir
tahuntahun
sebelumnya.
sisi lain,
stagnasi hargacerah memasuki
2013. Di
Pada
bulan
harga komoditi dunia turut mempengaruhi rendahnya nilai
total ekspor
nasional.
Desember
2013
neraca
perdagangan
Kinerja perdagangan menampakan titik cerah memasuki akhir
Pada awal tahun 2013, perekonomian Indonesia masihIndonesia mencetak rekor terbesar sepanjang
tahun 2013. Pada bulan Desember 2013 neraca perdagangan
dinaungi
awan
gelapdinaungi
krisis ekonomi
Indonesia
masih
awan global.
gelap Pemulihan
krisis
Indonesia mencetak rekor terbesar sepanjang dua tahun
dampak krisis tidak serta merta diikuti peningkatan dayadua tahun terakhir, yaitu mengalami surplus
terakhir, yaitu mengalami surplus USD 1,5 miliar, terdiri dari
ekonomi
global.
Pemulihan tujuan
dampak
krisis
beli
masyarakat
di negara-negara
ekspor
utama,
surplus
non-migas
USD 2,3non-migas
miliar, sedangkan neraca
USD
1,5
miliar,
terdiri sebesar
dari surplus
seperti Amerika Serikat dan Eropa. Masih lesunya aktivitas
migas
masih
mengalami
defisit
sebesar
USD 0,8 miliar. Secara
tidak serta merta
perekonomian
dunia diikuti
tersebutpeningkatan
menyebabkan daya
kinerjabeli
ekspor
masyarakat di negara-negara tujuan ekspor
38
utama, seperti Amerika Serikat dan Eropa.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Masih lesunya aktivitas perekonomian dunia
sebesar USD 2,3 miliar, sedangkan neraca
migas masih mengalami defisit sebesar USD
0,8
miliar.
Secara
kumulatif,
neraca
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
perdagangan pada tahun 2013 defisit USD 4,1
39
03
Akuntabilitas Kinerja
kumulatif, neraca perdagangan pada tahun 2013 defisit USD
4,1 miliar, terdiri dari surplus neraca non-migas sebesar USD
8,6 miliar dan defisit neraca migas USD 12,6 miliar. Tingginya
konsumsi BBM dalam negeri merupakan penyebab utama
defisit neraca perdagangan non-migas. Surplus neraca
perdagangan non-migas di tahun 2013 meningkat 118,2%
disbanding tahun lalu yang hanya mencapai USD 3,9 miliar.
Pertumbuhan ekspor sejak awal semester II tahun 2013 terus
bergerak ke arah positif. Nilai ekspor di akhir tahun 2013
mencatat kinerja yang menggembirakan, yaitu sebesar USD
16,9 miliar. Kinerja ekspor tersebut mengalami pertumbuhan
dibanding tahun lalu, mencapai 10,3% (YoY).
Nilai ekspor nonmigas ke beberapa negara yang selama
2013 mengalami kenaikan signifikan antara lain Turki dengan
kenaikan mencapai USD 172,8 juta. Kemudian disusul urutan
berikutnya yaitu Myanmar, Nigeria, Vietnam, Ukraina, dan
Mesir yang mengalami kenaikan antara USD 88 juta sampai
USD 154,8 juta. Demikian pula dengan ekspor nonmigas ke
beberapa negara mitra dagang utama yang juga mengalami
kenaikan signifikan, yaitu India (USD 563,4 juta), Amerika
Serikat (USD 491 juta), dan China (USD 418,1 juta).
Produk ekspor yang mendorong peningkatan ekspor bulan
Desember 2013 antara lain bijih, kerak, dan abu logam (naik
40,2%), serta timah (155,1%). Sementara itu, beberapa produk
manufaktur memberikan kontribusi peningkatan ekspor yang
signifikan sampai Desember 2013, antara lain pakaian jadi
bukan rajutan meningkat USD 81,4 juta (naik 29,9% MoM)
serta kendaran dan bagiannya meningkat USD 49 juta (naik
13,4% MoM).
Ekspor tahun 2013 ditargetkan sebesar USD 179 miliar.
Sementara itu, realisasi ekspor tahun 2013 (periode Januari Desember) mencapai USD 182,6 miliar atau melampaui target
102%. Namun apabila dibandingkan dengan kinerja ekspor
tahun lalu sebesar USD 190 miliar, nilai total ekspor tahun
2013 mengalami penurunan 4,1% (Year-on-Year).
Nilai ekspor migas pada tahun 2013 sebesar USD 32,6 miliar,
turun 11,8% (YoY) dari ekspor tahun lalu yang mencapai USD
40,0 miliar. Sementara itu, pertumbuhan ekspor non-migas
tahun 2013 juga turun 2,0% (YoY), dari USD 153,0 miliar (2012)
menjadi USD 149,1 miliar (2013). Capaian indikator kinerja
ini masih dibawah target pertumbuhan ekspor non-migas
sebesar 2,7% pada tahun 2013.
Selama 2013, struktur impor didominasi oleh impor bahan
baku/penolong yang mencapai 76,1% dan barang modal
sebesar 16,9%. Impor barang modal dan barang konsumsi
mengalami penurunan masing-masing sebesar 17,4% dan
2% (YoY), atau menjadi sebesar USD 31,5 miliar dan USD 13,1
miliar. Sedangkan impor bahan baku/penolong mengalami
kenaikan 1,3% menjadi sebesar USD 142 miliar.
Total impor selama 2013 mencapai USD 186,6 miliar (turun
2,6% YoY), terdiri dari impor nonmigas sebesar USD 141,4
40
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
102%
Ekspor tahun 2013 ditargetkan
sebesar USD 179 miliar. Sementara
itu, realisasi ekspor tahun 2013
(periode Januari - Desember)
mencapai USD 182,6 miliar atau
melampaui target 102%.
miliar (turun 5,2% YoY) dan impor migas USD 45,3 miliar (naik
6,4%). Peningkatan impor migas selama 2013 disebabkan oleh
naiknya permintaan minyak mentah yang meningkat sebesar
25,8%. Sementara itu, impor nonmigas yang mengalami
penurunan antara lain kendaraan dan bagiannya turun 18,9%
YoY; karet dan barang dari karet (turun 15,7% YoY); serta
bahan kimia anorganik (turun 14,8% YoY).
Tantangan lain yang dihadapi Kementerian Perdagangan dalam
peningkatan kinerja ekspor di tahun 2013 adalah menurunnya
harga-harga komoditi dunia. Stagnasi harga komoditi dunia
sangat mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia yang masih
sangat didominasi oleh ekspor produk berbasis komoditi.
Sehingga, meskipun volume ekspor meningkat, nilai nominalnya justru menurun signifikan. Hal ini terlihat dari sisi volume
ekspor Indonesia yang mengalami peningkatan 16,6%
sedangkan nilainya mengalami penurunan 4,1%. Beberapa
komoditi yang pertumbuhan volume ekspornya mengalami
peningkatan sedangkan nilainya mengalami penurunan
Impor Nonmigas
Turun
Total impor selama 2013 mencapai
USD 186,6 miliar (turun 2,6%
YoY).
Tantangan lain yang dihadapi Kementerian
peningkatan
Perdagangan
mengalami
dalam
peningkatan
kinerja
16,6%
sedangkan
penurunan
yang
4,1%.
pertumbuhan
nilainya
03
Beberapa
ekspor di tahun 2013 adalah menurunnya
komoditi
volume
harga-harga komoditi dunia. Stagnasi harga
ekspornya mengalami peningkatan sedangkan
Akuntabilitas Kinerja
komoditi dunia sangat mempengaruhi kinerja nilainya mengalami penurunan antara lain:
Tabel 7
Perkembangan
Nilai
dandan
Volume
Ekspor
Indonesia,
Tabel
7. Perkembangan
Nilai
Volume
Ekspor
Indonesia,Tahun
Tahun2013
2013
JANUARI-DESEMBER 2013
HS
27
15
85
40
26
84
87
62
64
38
48
44
61
03
29
URAIAN
USD JUTA
% GROWTH
NILAI YOY
RIBU TON
% GROWTH
VOLUME YOY
TOTAL EKSPOR
182,567.6
(3.93)
699,626.4
16.58
TOTAL NON MIGAS
Bahan bakar mineral
Lemak & minyak hewan/nabati
Mesin/peralatan listrik
Karet dan Barang dari Karet
Bijih, Kerak, dan Abu logam
Mesin-mesin/Pesawat Mekanik
Kendaraan dan Bagiannya
Pakaian jadi bukan rajutan
Alas kaki
Berbagai produk kimia
Kertas/Karton
Kayu, Barang dari Kayu
Barang-barang rajutan
Ikan dan Udang
Bahan kimia organik
SUBTOTAL 15 KOMODITI UTAMA
NON MIGAS LAINNYA
TOTAL NON MIGAS
TOTAL MIGAS
Minyak Mentah
Hasil Minyak
Gas
149,934.6
24,782.0
1 9,224.9
1 0,444.3
9,394.1
6,542.8
5,969.4
4,571 .0
3,902.9
3,859.9
3,81 6.5
3,755.6
3,634.9
3,476.0
2,868.8
2,760.2
109,003.3
40,931.3
149,934.6
32,633.0
1 0,204.7
4,299.1
1 8,1 29.2
(2.04)
(6.1 6)
(9.74)
(2.98)
(1 0.32)
28.73
(2.1 9)
(5.89)
4.23
9.51
(0.78)
(4.61 )
5.40
1 .06
4.20
(1 .82)
(3.10)
0.9
-2.0
-11.7
-50.3
3.3
47.5
655,582.5
424,947.6
24,948.0
573.0
3,371 .5
1 46,007.8
661 .6
523.5
1 97.2
21 2.9
4,445.6
4,256.1
5,1 1 2.6
268.2
885.1
2,574.1
618,984.8
36,597.6
655,582.5
44,044.0
1 3,01 6.9
5,91 4.7
25,1 1 2.3
18.83
1 0.34
1 1 .1 0
(7.37)
9.53
60.00
2.68
(1 .1 0)
0.42
6.91
21 .22
1 .05
1 4.47
6.48
0.38
2.27
19.01
15.8
18.8
-9.1
-53.2
5.1
67.7
Sumber: BPS (diolah Kementerian Perdagangan).
Sumber: BPS (diolah Kementerian Perdagangan).
ekspor
Indonesia yang masih
sangat
bahan bakar mineral volumenya naik 10,3%
didominasi oleh ekspor produk berbasis
(YoY) sedangkan nilainya turun 6,2%; lemak
komoditi.
dan minyak hewan/nabati volumenya naik
antara lain: bahan bakar mineral volumenya naik 10,3%
(YoY) sedangkan nilainya turun 6,2%; lemak dan minyak
hewan/nabati volumenya naik 11,1% sementara nilainya turun
9,7%; dan karet dan barang dari karet volumenya naik 9,5%
28|LAK Kementerian Perdagangan 2013
sementara nilainya turun 10,3%.
Oleh karena itu, meningkatkan kinerja ekspor non-komoditi
menjadi salah satu prioritas Kementerian Perdagangan pada
tahun 2013 dengan mendorong hilirisasi sektor perdagangan.
Berbagai regulasi telah dikeluarkan oleh Kementerian
Perdagangan untuk mendukung hilirisasi melalui pembatasan
ekspor bahan mentah/baku, seperti rotan dan minerba
(mineral dan batubara) dan pembatasan impor produk
pertanian dan hortikultura, sehingga memberi insentif bagi
tumbuhnya pengembangan produk dan industri pengolahan
(manufaktur) di dalam negeri.
11,1% sementara nilainya turun 9,7%; dan
Meningkatkan kinerja ekspor
non-komoditi menjadi salah
satu prioritas Kementerian
Perdagangan pada tahun 2013
dengan mendorong hilirisasi sektor
perdagangan.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
41
Oleh karena itu, meningkatkan kinerja ekspor
03
non-komoditi menjadi salah satu prioritas
Kementerian Perdagangan pada tahun 2013
dengan
Akuntabilitas Kinerja
mendorong
perdagangan.
Berbagai
hilirisasi
sektor
regulasi
telah
seperti rotan dan minerba (mineral dan
batubara) dan pembatasan impor produk
pertanian dan hortikultura, sehingga memberi
insentif
bagi
tumbuhnya
pengembangan
produk dan industri pengolahan (manufaktur)
di dalam negeri.
dikeluarkan oleh Kementerian PerdaganganTabel 8
Perkembangan NIlai Ekspor Indonesia Menurut Golongan Barang (HS 2),
Gambar 4. Perkembangan NIlai Ekspor Indonesia Menurut Golongan Barang (HS 2),
Januari-Desember 2013
URAIAN BARANG
DES'13 * JAN - DES'13 *
PERUB. (%)
DES'13 *
thd
NOV'13
JAN-DES'13 *
thd
JAN-DES'12
03Akuntabilitas Kinerja
“Peningkatan Diversifikasi Pasar Tujuan Ekspor
Sasaran Strategis 2:
dan Produk Ekspor”
PERAN THD TOTAL
IMPOR NON MIGAS
JAN - DES'13 *
(%)
“Peningkatan Diversifikasi Pasar Tujuan Ekspor dan Produk Ekspor”
2013
Indikator Kinerja
2010
1 . Mesin dan peralatan mekanik (84)
2,348.1
27,292.0
-4.1 7
-4.00
1 9.31
2. Mesin dan peralatan listrik (85)
1 ,325.9
1 8,202.0
-7.85
-3.72
1 2.87
3. Besi dan baja (72)
693.4
9,553.6
1 4.90
-5.77
6.76
4. Kendaraan bermotor dan bagiannya (87)
604.6
7,91 4.6
1 3.39
-1 8.88
5.60
5. Plastik dan Barang dari Plastik (39)
572.6
7,642.7
-6.27
9.32
5.40
6. Bahan kimia organik (29)
566.6
7,01 1 .5
2.92
1 .87
4.96
7. Barang dari besi dan baja (73)
372.2
4,747.4
1 2.48
-2.91
3.36
8. Serealia (1 0)
290.3
3,621 .4
-1 2.69
-2.50
2.56
9. Sisa Industri Makanan (23)
263.5
3,042.1
43.05
8.72
2.1 5
Indikator Kinerja 3: Rasio Konsentrasi 5
Negara Tujuan Ekspor Terbesar (CR-5)
1 0. Kapas (52)
204.0
2,554.9
-5.69
1 .63
1 .81
Indikator Kinerja 3:
Total 10 Golongan Barang Utama
7,241.2
91,582.2
-0.14
-3.62
64.78
Barang Lainnya
3,995.3
49,782.3
0.91
-7.99
35.22
11,236.5
141,364.5
0.23
-5.20
100.00
Total Impor Nonmigas
03
Sasaran Strategis 2:
Januari-Desember 2013
NILAI CIF (JUTA US$)
Akuntabilitas Kinerja
Sumber:
BPSBPS
(diolah
Kementerian
Perdagangan).Perdagangan).
Sumber:
(diolah
Kementerian
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |29
3) Rasio konsentrasi 5 negara
tujuan ekspor non-migas
terbesar (CR5)
2012
Target
Realisasi
%
47,2%
49,4%
49,4%
47%
50,35%
92,9%
-
-
27,6%
15%
1,79%
11,9%
52,5%
54,2%
53,0%
53%
54,0%
101,9%
4) Pertumbuhan ekspor ke negara
non-tradisional
5) Kontribusi ekspor di luar 10
produk utama
2011
internasional
akan
menciptakan
tingkat
pertumbuhan ekspor yang berkesinambungan
sebesar 50,35%. Realisasi ini menunjukkan bahwa sebagian
Rasio Konsentrasi
5 Negara Tujuan
Ekspor Terbesar
(CR-5)
Rasio Konsentrasi
penguasaan
pangsa
(sustainability
export).
kawasan
besar ekspor
non migasSejumlah
Indonesia masih
terkonsentrasi pada
5 (lima) negara yang disebutkan di atas.
seperti Amerika Latin dan Afrika dijadikan
pasar 5 negara tujuan ekspor non-migas
Pada tahun 2013, RRT menjadi negara tujuan ekspor non
Rasio Konsentrasi penguasaan pangsa pasar 5 negara tujuansebagaimigas
terbesar
Indonesia
dengan
nilai ekspor
target
pasar
tujuan
ekspor
non- sebesar USD
terbesar
(CR-5)
mengindikasikan
capaian
ekspor
non-migas
terbesar
(CR-5) mengindikasikan
capaian
18,92 milyar atau sebesar 13,88% dari total ekspor non migas
sasaran strategis diversifikasi pasar tujuan ekspor. Semakintradisional.
Indonesia. Mengikuti RRT, berturut-turut Jepang dengan nilai
sasaran
rendah
nilaistrategis
CR-5, makadiversifikasi
semakin tinggipasar
tingkat tujuan
diversifikasi
ekspor sebesar USD 14,68 milyar (10,77%), Amerika Serikat
pasar tujuan ekspor nonmigas suatu negara, sehingga semakin
dengan nilai
eksporkesebesar
USDdi13,79
Pangsa
ekspor
negara
luarmilyar
CR-5(10,12%), India
ekspor. Semakin rendah nilai CR-5, maka
baik mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
dengan nilai ekspor sebesar USD 11,87 milyar (8,71%) dan
Ditengah
keuangan
yang melanda
negara-negara
Singapura
sebesar USD 9,37
milyar (6,88%).yang
mengalami
peningkatan
semakinkrisis
tinggi
tingkat
diversifikasi
pasarmitradiharapkan
dagang utama, Indonesia dituntut untuk mencari pasar ekspor
Dibandingkan dengan tahun 2012, konsentrasi ekspor non
baru
(non-tradisional).
Sehingga dengan
semakinnegara,
tersebarnyaberarti pasar ekspor mengalami diversifikasi.
tujuan
ekspor nonmigas
suatu
migas Indonesia ke 5 (lima) negara tujuan ekspor utama
ekspor Indonesia di pasar internasional akan menciptakan
peningkatan sebesar
Pada
pada kenyataannya,
pangsa0,91%.
ekspor
ke tahun 2012,
tingkat
pertumbuhan
yang berkesinambungan
sehingga
semakineksporbaik
mendukung Namunmengalami
angka Concentration Ratio pada 5 (lima) negara tujuan
(sustainability export). Sejumlah kawasan seperti Amerika
ekspor terbesar Indonesia tercatat sebesar 49,44%. Jika
keberlanjutan
pertumbuhan
ekonomi.
Latin
dan Afrika dijadikan
sebagai target pasar
tujuan eksporCR-5 justru mengalami peningkatan selama
dilihat selama periode 2010-2013, nilai konsentrasi ekspor
non-tradisional.
2008-2013
dariIndonesia
47,5%di 5menjadi
non migas
(lima) pasar50,35%.
tujuan ekspor utama
Ditengah krisis keuangan yang melanda
Pangsa ekspor ke negara di luar CR-5 diharapkan mengalami
berfluktuatif dengan tren bertambah 1,97% setiap tahunnya.
persentase bahwa
capaian
Rasio
peningkatan
yangmitra
berarti
pasar
ekspor
mengalamiSehingga
negara-negara
dagang
utama,
Indonesia
Hal ini menunjukkan
setiap tahun,
selama periode
diversifikasi. Namun pada kenyataannya, pangsa ekspor ke
2010-2013, Indonesia semakin bergantung kepada 5 (lima)
negara
tujuan
ekspor non-migas
dituntut
untuk mencari
pasar
ekspor
baru darikonsentrasi
CR-5
justru mengalami
peningkatan
selama
2008-2013
negara5tujuan
ekspor
utama.
47,5% menjadi 50,35%. Sehingga persentase capaian Rasio
terbesar (CR5) hanya tercapai 92,9%.
(non-tradisional).
Sehingga
dengan semakin
konsentrasi
5 negara tujuan
ekspor non-migas
terbesar (CR5)
hanya tercapai 92,9%.
tersebarnya
ekspor
Indonesia
di
pasar
Pada periode Januari – Desember 2013, konsentrasi ekspor
non migas Indonesia di lima negara tujuan utama yakni
RRT, Jepang, Amerika Serikat, India dan Singapura, tercatat
42
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |29
43
03
03Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
03
03Akuntabilitas Kinerja
Gambar 2
Gambar
5. Pasar
PangsaEkspor
Pasar Ekspor
Non-Migas
ke 5 Negara
Utama
(Jepang,
AS, Singapura,
India)
Pangsa
Non-Migas
ke 5 Negara
Utama
(Jepang,
RRT, RRT,
AS, Singapura,
India)
Share Ekspor Non Migas ke 5 Negara Utama (Jepang, China, AS, Singapura, India)
%
60.0
52.47
52.13
51.20
50.62
50.0
50.55
49.4
40.0
30.0
20.0
47.5
49.4
48.8
47.9
49.4
50.6
10.0
2008
2009
2010
2011
5 Negara Utama
2012
2013*
Sumber: BPS (diolah Kementerian Perdagangan).
03
Akuntabilitas
Kinerja
milyar (8,71%) dan Singapura
sebesar
USD
konsentrasi ekspor non migas IndonesiaGambar
di 9,37
3 milyar (6,88%).
Konsentrasi Ekspor Indonesia pada Lima Negara Tujuan Utama, 2012-2013 (Jan-Nov)
lima negara tujuan utama yakni RRT, Jepang, Dibandingkan dengan tahun 2012, konsentrasi
Gambar
6. Konsentrasi
Ekspor
Indonesia
pada Lima Negara Tujuan Utama, 2012-2013 (Jan-Nov)
Amerika
Serikat,
India dan
Singapura,
tercatat
ekspor non migas Indonesia ke 5 (lima) negara
sebesar 50,6%. Realisasi ini menunjukkan
tujuan ekspor utama mengalami peningkatan
bahwa sebagian besar ekspor non migas
sebesar 0,91%. Pada tahun 2012, angka
Indonesia masih terkonsentrasi pada 5 (lima)
Concentration Ratio pada 5 (lima) negara
negara yang disebutkan di atas.
tujuan ekspor terbesar Indonesia tercatat
Pada tahun 2013, RRT menjadi negara tujuan
sebesar 49,44%. Jika dilihat selama periode
ekspor non migas terbesar Indonesia dengan
2010-2013, nilai konsentrasi ekspor non migas
nilai ekspor sebesar USD 18,92 milyar atau
Indonesia di 5 (lima) pasar tujuan ekspor
sebesar 13,88% dari total ekspor non migas
utama berfluktuatif dengan tren bertambah
Indonesia. Mengikuti RRT, berturut-turut
1,97% setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan
Jepang dengan nilai ekspor sebesar USD 14,68
bahwa setiap tahun, selama periode 2010-
Sumber:
Kementerian
Perdagangan
Sumber:
Kementerian
Perdagangan (diolah).
(diolah).
milyar (10,77%), Amerika
dengan nilai Di
2013,
semakin
bergantung kepada
sisiIndonesia
lain, kondisi
perekonomian
negara-5
Kecenderungan
semakin Serikat
terkonsentrasinya
(lima) negara
ekspor
utama.
ekspor non
sebesar
13,79dimilyar
ekspor
migas USD
Indonesia
5 (lima)(10,12%),
negara negara
tujuantujuan
ekspor
utama
(negara CR5)
India dengan
nilai utama
ekspor sebesar
11,87 sudah mulai pulih dari pengaruh krisis
tujuan
ekspor
sedikit USD
banyak
44
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
dipengaruhi oleh belum stabilnya kondisi
Di sisi lain, kondisi perekonomian negara-negara tujuan
yang tercatat sebesar USD 140,61 milyar. Nilai
ekspor utama (negara CR5) sudah mulai pulih dari pengaruh
krisis keuangan
Secara negara
tidak langsung,
tersebut
eksporglobal.
ke 5 (lima)
tujuan hal
ekspor
utama
juga berdampak kepada meningkatnya permintaan barang
dari negara-negara
Selain kondisi
perekonomian,
Indonesiatersebut.
(RRT, Jepang,
Amerika
Serikat, India
hal lain yang mengakibatkan penurunan nilai konsentrasi
dan
pada periode
Januariekspor non
migasSingapura)
adalah belum membaiknya
harga komoditi
ekspor di pasar dunia. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan
November
secara
kumulatif
volume ekspor
non migas2013
Indonesia
pada tahun
2013 sebesarjuga
28,01% dibandingkan tahun sebelumnya, namun nilai yang
penurunan
sebesar 0,77%
dihasilkanmengalami
lebih kecil dari nilai
ekspor tahun 2012.
dibandingkan
denganJanuari-November
periode yang2013
sama
Secara keseluruhan,
pada periode
nilai ekspor non migas Indonesia tercatat sebesar USD
Negara Lainnya
Sumber: BPS (diolah Kementerian Perdagangan).
Pada periode Januari – Desember 2013,
Secara semakin
keseluruhan,
pada periode
Kecenderungan
terkonsen-trasinya
ekspor Januarinon
migas Indonesia di 5 (lima) negara tujuan ekspor utama
November
2013oleh
nilai
ekspor
non
migas
sedikit banyak
dipengaruhi
belum
stabilnya
kondisi
politik di negara-negara emerging market, sebagai contoh,
Indonesia
sebesar
USD
136,35
milyar
pasar Timur
Tengah tercatat
yang dalam
beberapa
tahun
terakhir
menjadi emerging market ekspor non -migas Indonesia
atau mengalami penurunan sebesar 3,03%
belum sepenuhnya pulih dari permasalahan politik dan
keamanan,
sehingga secara
tidak langsung
mempengaruhi
dibandingkan
dengan
nilai ekspor
non migas
perekonomian negara-negara tersebut yang berdampak pada
nilai impor
mereka
dari Indonesia.
pada
periode
yang sama tahun sebelumnya
keuangan global. Secara tidak langsung, hal
permintaan
akanmengalami
produk-produk
ekspor
non
136,35
milyar atau
penurunan
sebesar
3,03%
dibandingkan dengan nilai ekspor non migas pada periode
migas
market.
yang
samaIndonesia/negara
tahun sebelumnya yangemerging
tercatat sebesar
USD 140,61
milyar. Nilai ekspor ke 5 (lima) negara tujuan ekspor utama
Selama (RRT,
periode
Januari-November
Indonesia
Jepang, Amerika
Serikat, India dan 2013,
Singapura)
pada periode Januari-November 2013 secara kumulatif juga
negara-negara yang mengalami kenaikan
mengalami penurunan sebesar 0,77% dibandingkan dengan
periode
yang samayang
tahun 2012.
permintaan
cukup signifikan akan
Sejalan dengan penurunan nilai ekspor non migas Indonesia
produk
ekspor
antara
ke
sejumlah
negara non
mitra migas
dagang Indonesia
utama, beberapa
negara
tujuan ekspor Indonesia mengalami kenaikan permintaan
lain Turki, Ukraina, Myanmar, Nigeria,
akan produk-produk ekspor non migas Indonesia/negara
emerging
periodePortugal,
Januari-November
Selandiamarket.
Baru,Selama
Ghana,
Brunei2013,
negara-negara yang mengalami kenaikan permintaan yang
cukup
signifikan akan
produk ekspor
non migas Indonesia
Darussalam,
Mozambik,
Mauritania,
dan
antara lain Turki, Ukraina, Myanmar, Nigeria, Selandia Baru,
Hungaria.
Ekspor
migasMozambik,
Indonesia
ke
Ghana,
Portugal,
Brunei non
Darussalam,
Mauritania,
dan Hungaria. Ekspor non migas Indonesia ke negara-negara
negara-negara
tersebut
tersebut
memiliki peluang
yang memiliki
sangat besarpeluang
untuk dapat
ditingkatkan mengingat terjadinya masalah perekonomian
sangat
besaryang
untuk
dapatpasar
ditingkatkan
diyang
kawasan
Uni Eropa
merupakan
tradisional dari
produk ekspor non migas Indonesia dalam beberapa tahun
mengingat terjadinya masalah perekonomian
terakhir.
tahun 2012. Sejalan dengan penurunan nilai
di kawasan Uni Eropa yang merupakan pasar
ekspor non migas Indonesia ke sejumlah
tradisional dari produk ekspor non migas
negara mitra dagang utama, beberapa negara Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Gambar 4
tujuan
ekspor
Indonesia
mengalami
kenaikan
Nilai Ekspor Non Migas Indonesia pada Beberapa Negara Emerging Market (USD miliar)
Gambar 7. Nilai Ekspor Non Migas Indonesia pada Beberapa Negara Emerging Market (USD miliar)
SRI LANGKA
SELANDIA BARU
NIGERIA
MYANMAR
MEKSIKO
UKRAINE
FEDERASI RUSIA
MESIR
TURKI
VIETNAM
0,35
0,32
0,40
0,31
0,49
0,38
0,52
0,34
0,58
0,55
0,60
0,49
JAN-NOV 2013
JAN-NOV 2012
0,86
0,79
0,99
0,96
1,23
1,41
2,16
2,06
Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah).
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |33
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
45
03
03Akuntabilitas Kinerja
Indikator Kinerja 4:
Pertumbuhan
Ekspor Non-Migas
Akuntabilitas
Kinerja ke
Negara Tujuan Non-Tradisional
berdampak pada Neraca Perdagangan RI.
Sebagai upaya pengembangan dan promosi
Indikator Kinerja 4:
ekspor, Ekspor
Kementerian
Pertumbuhan
Non-Migas Perdagangan
ke Negara Tujuanterus
NonTradisional
mengupayakan penajaman strategi penetrasi
dan
diversifikasi
pasar
tujuan
ekspor.
Sebagai upaya pengembangan dan promosi ekspor,
Kementerian
Perdagangan
terus mengupayakan
penajaman
Kementerian
Perdagangan
telah menetapkan
strategi penetrasi dan diversifikasi pasar tujuan ekspor.
Kementerian
Perdagangan
telah menetapkan
komitmen
komitmen
untuk mendorong
pertumbuhan
untuk mendorong pertumbuhan ekspor ke negara-negara
ekspor
ke negara-negara
baru yang
tujuan
baru yang
merupakan pasar tujuan
ekspor non-tradisional
Indonesia, dengan tentunya tidak meninggalkan dan tetap
merupakanekspor
pasar
ekspor non-tradisional
mengembangkan
di negara-negara
tujuan tradisional.
Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan
Indonesia,
dengan
tentunya
tidak
ekspor Indonesia terhadap negara/kawasan tertentu,
sehingga
dapat mengantisipasi
kondisi-kondisi
dimana terjadi
meninggalkan
dan tetap
mengembangkan
penurunan permintaan yang dapat berdampak pada Neraca
Perdagangan
RI. negara-negara tujuan tradisional.Hal
ekspor di
Saat ini ditetapkan sebanyak 24 negara yang merupakan
mengurangi
pasarinitujuandimaksudkan
ekspor tradisionaluntuk
bagi Indonesia.
Negaranegara tersebut adalah RRT, Jepang, Amerika Serikat, India,
ketergantungan ekspor Indonesia terhadap
Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Belanda,
merupakan pasar tujuan ekspor tradisional
Filipina, Australia,
Jerman, Hongkong,
Italia, Spanyol,
bagiTaiwan,
Indonesia.
Negara-negara
tersebut
Inggris Raya, Belgia, Perancis, Kanada, Denmark, Finlandia,
adalah
RRT,
Swedia,
danJepang,
Austria. Amerika Serikat, India,
Penurunan
kinerja ekspor
total
pada tahun
2013 tercermin
Singapura,
Malaysia,
Korea
Selatan,
Thailand,
pada kinerja ekspor ke negara tujuannya, baik negara tujuan
tradisional
maupunFilipina,
non-tradisional.
Berdasarkan
data Januari
Belanda,
Taiwan,
Australia,
Jerman,
– November 2013, ekspor non migas Indonesia ke negaraHongkong,
Italia, Spanyol,
Raya,
negara tradisional
mencapaiInggris
USD 112,52
miliarBelgia,
atau mengalami
penurunan sebesar 3,99% dibandingkan dengan periode yang
Perancis,
Kanada,
Finlandia,
Swedia,
sama pada
tahunDenmark,
2012. Apabila
dilihat dari
volume ekspor
non migas, pada periode Januari-November 2013 volume
danekspor
Austria.
tercatat sebanyak 566,5 juta ton mengalami kenaikan
sebesar 19,37% dibandingkan dengan periode yang sama pada
Penurunan
kinerja Hal
ekspor
total pada
tahun
tahun sebelumnya.
ini menunjukkan
bahwa
faktor harga
komoditi ekspor mengalami penurunan yang mengakibatkan
2013menurunnya
tercerminnilai
pada
ekspor
negara
totalkinerja
ekspor non
migaske
Indonesia.
Sementara baik
itu, nilai
ekspor non-migas
Indonesia ke negaratujuannya,
negara
tujuan tradisional
negara non-tradisional pada periode Januari-November 2013
maupun
non-tradisional.
tercatat
sebesar USD 23,82 milyar, mengalami peningkatan
sebesar 1,79% dibandingkan dengan periode yang sama tahun
2012 (USD 23,4
Peningkatan
nilai ekspor
Berdasarkan
datamilyar).
Januari
– November
2013,non migas
juga terjadi pada volume ekspor non migas ke negara non
negara/kawasan tertentu, sehingga dapat
ekspor non migas Indonesia ke negara-negara
mengantisipasi kondisi-kondisi dimana terjadi
tradisional mencapai USD 112,52 miliar atau
mengalami penurunan sebesar 3,99%
dapat
Gambar 5
Trend Ekspor Non-Migas Indonesia ke Negara-Negara Tradisional 2008 – 2013 (Jan-Nov)
penurunan
permintaan
yang
Gambar 8. Trend Ekspor Non-Migas Indonesia ke Negara-Negara Tradisional
2008 – 2013 (Jan-Nov)
Sumber:
Kementerian
Sumber: Kementerian Perdagangan
(diolah).
Akuntabilitas Kinerja
Saat ini ditetapkan sebanyak 24 negara yang
03
dibandingkan dengan periode yang sama pada
dengan periode yang sama tahun 2012 (USD
tahun 2012 (lihat Gambar 3-5). Apabila dilihat
23,4
milyar). Peningkatan nilai ekspor non
Mesir, Rusia, Ukraina, Meksiko, Myanmar, Nigeria, Selandia
tradisional. Pada periode Januari-November 2013, volume
ekspor
ke negara
nonekspor
tradisional
sebesar
juta
dari
volume
nontercatat
migas,
pada24,87
periode
ton atau naik sebesar 16,98% dibandingkan dengan volume
ekspor
periode yang sama tahun
2012 yang
tercatat ekspor
sebesar
Januari-November
2013
volume
21,26 juta ton.
tercatat sebanyak 566,5 juta ton mengalami
Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan, yakni
sebesar
15%, maka
capaian pertumbuhan
ekspor non
kenaikan
sebesar
19,37% dibandingkan
migas Indonesia ke negara non tradisional tidak mencapai
targetdengan
yang ditetapkan.
ini beralasan
secara
periodeHal yang
samamengingat
pada tahun
keseluruhan ekspor Indonesia di tahun 2013 menunjukkan
penurunan
sebesar 2 persen.
ekspor non-migas
sebelumnya.
Hal iniPenurunan
menunjukkan
bahwa
Indonesia di tahun 2013, terutama dipengaruhi oleh stagnasi
komoditi
ekspor mengalami
hargafaktor
komoditiharga
dunia dan
kondisi perekonomian
global yang
belum sepenuhnya pulih, sehingga memberikan tekanan
yang mengakibatkan
pada penurunan
kinerja perdagangan
di beberapa negara.menurunnya
Kabarnilai
baiknya,
kinerja
Indonesia tidak
totalpenurunan
ekspor non
migasekspor
Indonesia.
terjadi di seluruh negara mitra dagang non-tradisional.
Kinerja
ekspor Indonesia
negara
mitra non-tradisional,
Sementara
itu,di 108
nilai
ekspor
non-migas
pada periode Januari – November 2013, menunjukkan tingkat
pertumbuhan
positif
14,5%, jika dibandingkan
dengan
Indonesia
kesebesar
negara-negara
non-tradisional
nilai ekspor pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Adapun
negara-negara
tersebut antara lain 2013
Vietnam,
Turki,
pada
periode Januari-November
tercatat
Baru,juga
dan Srilanka.
migas
terjadi pada volume ekspor non
Untuk mengantisipasi keberlanjutan kondisi penurunan
migas
ke negara
nonIndonesia,
tradisional.
Pada periode
ekspor
non-migas
Kementerian
Perdagangan
terus menggalakkan kegiatan promosi ke pasar-pasar non
Januari-November
2013, volume ekspor ke
tradisional, baik melalui partisipasi pada berbagai kegiatan
pameran
internasional
di sebesar
negara-negara
negara
nondagang
tradisional
tercatat
24,87tersebut,
pengiriman misi dagang, maupun mengundang sejumlah
internasional
negara-negara
tradisional untuk
jutabuyerston
atau dari
naik
sebesarnon 16,98%
melakukan sourcing ke Indonesia (misi pembelian, kunjungan
pada penyelenggaraan
Expoekspor
Indonesia,
dan lain-lain)
dibandingkan
dengan Trade
volume
periode
serta terus berpartisipasi aktif dalam fora internasional dan
yang
sama tahun
2012 ekspor.
yang tercatat sebesar
memperluas
akses pasar
21,26 juta ton.
Jika
dibandingkan
dengan
target
yang
ditetapkan, yakni sebesar 15%, maka capaian
pertumbuhan ekspor non migas Indonesia ke
negara non tradisional tidak mencapai target
mengalami
yang ditetapkan. Hal ini beralasan mengingat
peningkatan sebesar 1,79% dibandingkan
secara keseluruhan ekspor Indonesia di tahun
sebesar
USD
23,82
milyar,
Gambar 6
Gambar
9. Trend Ekspor
Non ke
Migas
Indonesia ke Non-Tradisional
Negara-Negara Non
Tradisional
Trend Ekspor
Non-Migas
Indonesia
Negara-Negara
2008
– 2013 (Jan-Nov)
2008 – 2013 (Jan-Nov)
Perdagangan (diolah).
34|LAK Kementerian Perdagangan 2013
Sumber: Kementerian
Perdagangan
(diolah).
Sumber:
Kementerian
Perdagangan (diolah).
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |35
46
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
47
03
Akuntabilitas Kinerja
Indikator Kinerja 5:
Kontribusi Ekspor Diluar 10 Produk Utama
Selain diversifikasi negara tujuan ekspor, Indonesia juga
melakukan diversifikasi produk ekspor. Diversifikasi produk
ekspor ditujukan untuk mengurangi ketergantungan ekspor
Indonesia pada produk tertentu. Semakin banyak pilihan
produk Indonesia yang diekspor, maka akan semakin
menguatkan posisi Indonesia di kancah perdagangan
internasional. Adapun saat ini, Kementerian Perdagangan
telah menetapkan 10 jenis produk yang disebut sebagai 10
produk utama, dengan nilai ekspor tertinggi dibandingkan
produk-produk lainnya. Produk-produk tersebut adalah tekstil
dan produk tekstil, produk elektronik, karet dan produk karet,
sawit, produk hasil hutan, alas kaki, otomotif, udang, kakao,
dan kopi.
Pada tahun 2013, Kementerian Perdagangan menargetkan
kontribusi ekspor di luar 10 produk utama sebesar 53%.
Adapun capaian pada tahun 2013 (periode Januari-November)
menunjukkan bahwa kontribusi ekspor non-migas di luar 10
produk utama telah mencapai 54% dengan nilai sebesar USD
73,63 milyar. Hal ini menunjukkan bahwa capaian indikator
kinerja ini telah melampaui target yang telah ditetapkan di
Akuntabilitas Kinerja
mencatatkan nilai sebesar USD 74,56 miliar dengan kontribusi
sebesar 53,03%.
Di sisi lain, total ekspor 10 produk utama Indonesia pada
periode Januari-November 2013 mencapai USD 62,72 milyar,
dengan kontribusi 46% dari keseluruhan ekspor. Nilai ini
mengalami penurunan sebesar 5,04% jika dibandingkan
dengan periode yang sama tahun 2012. Produk-produk utama
yang mengalami penurunan nilai ekspor antara lain adalah
produk elektronik (turun 10,94%), karet dan produk karet
(turun 11,11%), Sawit (turun 10,89%), produk otomotif (turun
7,77%) dan kopi (turun 4,53%). Sedangkan produk utama
lainnya mengalami peningkatan. Adapun produk utama yang
mengalami peningkatan signifikan adalah produk udang yang
mengalami peningkatan sebesar 20,75% dan produk kakao
dengan peningkatan sebesar 15,31%.
Selain 10 produk utama, Kementerian Perdagangan juga
telah menetapkan 10 produk ekspor potensial, yakni produkproduk yang nilai ekspornya berpotensi untuk dikembangkan
menjadi lebih besar dan berkontribusi terhadap ekspor
nasional. Produk-produk tersebut adalah kulit dan produk
kulit, peralatan medis, tanaman obat, makanan olahan,
minyak atsiri, ikan dan produk perikanan, produk kerajinan,
perhiasan, rempah-rempah, dan peralatan kantor.
peningkatan sebesar 176,15%. Selanjutnya adalah produk
alat kesehatan dengan peningkatan sebesar 19,92%, kulit &
produk kulit dan produk makanan olahan dengan peningkatan
sebesar 6,59%.
Dalam rangka mendorong terwujudnya diversifikasi produk
ekspor sebagai upaya mengurangi ketergantungan kepada
produk ekspor tertentu, sekaligus sebagai upaya meningkatkan
kinerja ekspor non migas Indonesia, Kementerian
03
Perdagangan telah melakukan sejumlah kegiatan di tahun
2013 antara lain kegiatan seminar, workshop dan pelatihan
mengenai pengembangan produk, adaptasi produk, serta
sejumlah kegiatan untuk mempromosikan produk ekspor
Indonesia di luar 10 produk utama dengan mengikutsertakan
dalam kegiatan pameran (di dalam maupun di luar negeri),
misi dagang, maupun dengan melalui instore promotion.
03Akuntabilitas Kinerja
Gambar 7
Gambar
10. Kontribusi
Ekspor
10 Komoditi
Utama
terhadap
Ekspor
Non
Migas
Kontribusi
Ekspor
10 Komoditi
Utama
terhadap
Ekspor
Non
Migas
03Akuntabilitas Kinerja
melakukan sejumlah kegiatan di tahun 2013
Indonesia di luar 10 produk utama dengan
antara lain kegiatan seminar, workshop dan
mengikutsertakan dalam kegiatan pameran
pelatihan mengenai pengembangan produk,
(di dalam maupun di luar negeri), misi dagang,
Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah).
Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah).
adaptasi produk, serta sejumlah kegiatan
maupun dengan melalui instore promotion.
untuk 10 mempromosikan
ekspor
memiliki
potensi yang cukup besar untuk
Selain
produk utama, produk
Kementerian
Gambar
8
Pertumbuhan
Ekspor
Komoditas
Potensial
(2012-2013)
Pertumbuhan Ekspor
Komoditas Potensial
Perdagangan jugaGambar
telah 11.menetapkan
10 dikembangkan
pada (2012-2013)
tahun-tahun mendatang.
awal tahun 2013, yaitu sebesar 101,9%. Jika kondisi ini mampu
untuk terus dipertahankan, maka pada tahun-tahun yang
akan datang, ekspor Indonesia tidak lagi tergantung pada
sejumlah produk tertentu, sehingga penurunan harga suatu
produk atau komoditi di pasar dunia tidak akan berpengaruh
besar terhadap nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun
sebelumnya, capaian ini menunjukkan peningkatan sebesar
0,97%, dimana pada periode Januari s.d. November 2012,
kontribusi ekspor produk-produk di luar 10 produk utama
48
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Periode Januari-November 2013, komoditas potensial
mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 9,89 miliar, atau
menunjukkan penurunan sebesar 4,88% jika dibandingkan
dengan nilai ekspor periode yang sama pada tahun
sebelumnya. Meskipun mengalami penurunan, produkproduk tersebut masih memiliki potensi yang cukup besar
untuk dikembangkan pada tahun-tahun mendatang. Pada
periode Januari-November 2013, kontribusi komoditi ekspor
potensial mencatatkan persentase sebesar 7,04%. Secara
detail, produk potensial yang mengalami peningkatan yang
sangat signifikan adalah produk tanaman obat dengan
produk ekspor potensial, yakni produk-produk
Pada
yang
kontribusi
nilai
ekspornya
berpotensi
untuk
periode
komoditi
dikembangkan menjadi lebih besar dan
mencatatkan
berkontribusi
Secara
terhadap
ekspor
nasional.
Januari-November
ekspor
persentase
detail,
2013,
potensial
sebesar
produk
7.04%.
potensial
Produk-produk tersebut adalah kulit dan
mengalami
produk kulit, peralatan medis, tanaman obat,
signifikan adalah produk tanaman obat
makanan olahan, minyak atsiri, ikan dan
dengan
produk
kerajinan,
Selanjutnya adalah produk alat kesehatan
perhiasan, rempah-rempah, dan peralatan
dengan peningkatan sebesar 19,92%, kulit &
kantor.
produk kulit dan produk makanan olahan
perikanan,
produk
peningkatan
peningkatan
yang
yang
sebesar
sangat
176,15%.
Periode
Januari-November
2013, komoditas
Sumber: Kementerian
Perdagangan (diolah).
dengan peningkatan sebesar 6,59%.
potensial mencatatkan nilai ekspor sebesar
Dalam
USD
menunjukkan
diversifikasi produk ekspor sebagai upaya
penurunan sebesar 4,88% jika dibandingkan
mengurangi ketergantungan kepada produk
Gambar 12. Penyelenggaraan Misi Dagang ke Beberapa Negara
9,89
miliar,
atau
rangka
mendorong
terwujudnya
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
49
03
03Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
Sasaran Strategis 3:
6) Skor Dimensi Ekspor
dalam Simon Anholt’s
Nation Brand Index (NBI)
2010
2011
2012
47,7
44,97
45,73
Indikator Kinerja 6: Skor Dimensi Ekspor
dalam Simon Anholt Nation Brand Index
Indikator Kinerja 6:
Citra suatu
di dunia
internasional
Anholt
Nation Brand
Skor Dimensi
Ekspor negara
dalam Simon
Index
03
Gambar 9
Nilai Dimensi Ekspor Indonesia, 2010 – 2013
“Perbaikan
Produk Ekspor
Indonesia”Citra Produk Ekspor Indonesia”
SasaranCitra
Strategis
3: “Perbaikan
Indikator Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
Gambar 13. Nilai Dimensi Ekspor Indonesia, 2010 – 2013
2013
Target
Realisasi
Capaian
(%)
47
45,6
97,0
demikian, Kementerian Perdagangan hanya
memfokuskan kegiatan nation branding pada
anggaran
untuk promosi Nation Branding pada tahun 2013
dimensi
ekspor.
menurun.
Walaupun
skor 2013,
dan peringkat
NBI Indonesia
turun di tahun
Pada tahun
skor dimensi
ekspor
2013, sebanyak 15 dari 20 negara memposisikan Indonesia
lebih baik mencapai
dari tahun angka
sebelumnya.
Mesir
masih menjadi
45,60.
Secara
negara menurut Nation Branding Index (NBI) NBI Indonesia
Citra suatu negara di dunia internasional biasanya diukur
negara dengan opini paling baik untuk citra Indonesia
skor dimensi
ekspor
merupakan
melalui
suatu negara
menurut Nation
Branding spesifik,
(peringkat
27). Setelah
Mesir,ininegara
yang memberikan
yang peringkat
dikeluarkan
oleh beberapa
lembaga
Index (NBI) yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga survei
opini paling baik adalah Jepang yang diikuti oleh beberapa
dari jawaban
responden
atasMexico, dan
survei independen
asing.
Dalam hal
ini, akumulasi
independen
asing. Dalam hal
ini, Kementerian
Perdagangan
negara emerging
market yaitu
India, Argentina,
mengambil hasil Nation Branding Index (NBI) yang disusun
Afrika Selatan. Sementara itu, Australia yang sebelumnya di
yang terkait
dengan
Kementerian
Perdagangan
mengambil
hasilhasil beberapa
oleh
Simon Anholt.
Indeks tersebut
merupakan
tahunatribut
2012 memberikan
penilaian
yangpersepsi
buruk terhadap citra
penggabungan dari sejumlah dimensi yang dianggap
Indonesia (peringkat 45), di tahun 2013 memberikan respon
masyarakat dunia terhadap ekspor Indonesia.
Nation Branding
Index
(NBI) yang
berpengaruh
terhadap
branding
suatudisusun
negara,oleh
yakni
dengan menaikkan peringkat Indonesia ke posisi 39. Di tahun
pariwisata, ekspor, pemerintahan, investasi dan imigrasi, Atribut
2013,
negara yang
memberikan
respon paling
buruk terhadap
tersebut
antara
lain berkaitan
dengan
Simon Anholt. Indeks tersebut merupakan
kebudayaan, dan masyarakat. Namun demikian, Kementerian
citra Indonesia adalah China dan Brazil.
Perdagangan
hanya memfokuskan
kegiatan nation
branding kontribusi Indonesia terhadap inovasi di
hasil penggabungan
dari sejumlah
dimensi
Apabila dilihat dari atribut individual, Indonesia memiliki
pada dimensi ekspor.
lebih baik pada kreativitas dan kontribusi
bidangkinerja
ilmu yang
pengetahuan,
pengaruh negara
yangtahundianggap
terhadap
Pada
2013, skor berpengaruh
dimensi ekspor NBI
Indonesia
terhadap sains. Terkait atribut dimaksud, Indonesia diapresiasi
mencapai angka 45,60. Secara spesifik, skor dimensi ekspor asal (country
secara baikof
oleh
mitra dagang
utamakeinginan
yaitu Amerika Serikat
origin)
terhadap
branding suatu negara, yakni pariwisata,
ini merupakan akumulasi dari jawaban responden atas
dan Korea Selatan dimana keduanya menilai bahwa Indonesia
beberapa
yang terkaitinvestasi
dengan persepsi
masyarakat masyarakat
memiliki kinerja
lebih baik
dibandingkan
Malaysia dan
globalyang
untuk
membeli
suatu
ekspor,atribut
pemerintahan,
dan imigrasi,
dunia terhadap ekspor Indonesia. Atribut tersebut antara lain
Thailand dengan memposisikan Indonesia di peringkat 32.
berkaitan
dengan kontribusi
Indonesia terhadapNamun
inovasi di produk, dan derajat kreativitas suatu negara.
kebudayaan,
dan masyarakat.
Pada survei yang dilakukan di tahun 2013, NBI Simon Anholt
bidang ilmu pengetahuan, pengaruh negara asal (country of
melibatkan 20 negara panel yang selanjutnya memberikan
origin) terhadap keinginan masyarakat global untuk membeli
persepsi mereka terhadap 50 negara yang disurvei. Dua puluh
suatu produk, dan derajat kreativitas suatu negara.
negara
adalahPerdagangan
Argentina, Australia,
Brazil, Canada,
LAK tersebut
Kementerian
2013 |39
Persentase capaian skor NBI dimensi ekspor pada tahun 2013
China, Mesir, Perancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Mexico,
hanya mencapai 97,02% dibandingkan dengan target yang
Polandia, Rusia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Swedia, Turki,
telah ditetapkan pada awal tahun. Jika dibandingkan dengan
Inggris Raya, dan Amerika Serikat. Di antara ke-20 negara
skor dimensi ekspor tahun 2012 sebesar 45,73, skor NBI
tersebut, Mesir merupakan negara dengan opini paling
dimensi ekspor tahun 2013 mengalami penurunan sebesar
baik untuk citra Indonesia. Jepang merupakan negara yang
0,13 poin. Penurunan juga dialami pada peringkat Indonesia,
memberikan opini baik, lebih baik dibandingkan dengan
dari peringkat 38 di tahun 2012 menjadi peringkat 40 dari 50
opini negara ini terhadap Indonesia pada tahun 2012. Selain
negara yang disurvei di tahun 2013.
Mesir dan Jepang, Indonesia juga mendapatkan peringkat
yang baik dari beberapa negara emerging market antara lain
Penurunan skor dimensi ekspor dalam Simon Anholt’s NBI
India, Argentina, Meksiko, dan Afrika Selatan. Sementara itu,
ditengarai merupakan dampak dari efisiensi/penghematan
negara yang memberikan respon paling buruk terhadap citra
anggaran Kementerian Perdagangan,
sehingga alokasi
Indonesia adalah China, Brazil dan Australia.
biasanya diukur melalui peringkat suatu
50
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah).
Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah).
Walaupun skor dan peringkat NBI Indonesia
turun dari
di tahun
2013, ekspor,
sebanyak
15 dari
20
Jika ditinjau
atribut dimensi
Indonesia
memiliki
profil dimensi ekspor yang stabil, memiliki peringkat 39 dan
negara memposisikan Indonesia lebih baik
40 pada atribut dimensi ekspornya. Namun demikian, pada
tahundari
2013,tahun
produksebelumnya.
ekspor Indonesia
mendapatkan
penilaian
Mesir
masih menjadi
yang rendah dari China, Brazil, Jerman, Italia dan Australia.
Untuknegara
atribut dengan
kreativitas
dan paling
kontribusi
ilmu
opini
baikterhadap
untuk citra
pengetahuan, secara global Indonesia mendapatkan penilaian
yang Indonesia
lebih baik. Kreatifitas
mendapatkan
baik
(peringkat
27). penilaian
Setelah yang
Mesir,
di beberapa negara antara lain adalah Argentina, India, Afrika
negara
yang Untuk
memberikan
opini terhadap
paling baik
Selatan
dan Inggris.
atribut kontribusi
ilmu
pengetahuan, Indonesia mendapatkan penilaian yang tinggi
adalah
Jepang
yang
diikuti
olehyaitu
beberapa
terutama
di partner
dagang
utama
Indonesia
Amerika
Serikat dan Korea Selatan. Indonesia menempati peringkat
negara emerging market yaitu India,
yang lebih tinggi dari Malaysia dan Thailand di kedua negara
tersebut.
Argentina, Mexico, dan Afrika Selatan.
Untuk atribut kualitas produk, Indonesia masih mendapatkan
Sementara
Australia
di
penilaian
buruk dariitu,
beberapa
negarayang
panelsebelumnya
dengan peringkat
ke-40. Perbedaan yang mencolok diantara atribut-atribut
tahun 2012 memberikan penilaian yang buruk
ekspor terjadi di beberapa negara, antara lain adalah Jerman
dan Australia.
Di Jerman,
penilaian mengenai
kualitas45),
produk
terhadap
citra Indonesia
(peringkat
di
menempati peringkat 47, sedangkan untuk atribut kreativitas
dan tahun
kontribusi2013
terhadap
ilmu pengetahuan
memberikan
responmenempati
dengan
peringkat 42 dan 40. Sedangkan di Australia, atribut kualitas
produk
ekspor Indonesia
menempati
peringkat
sementara
menaikkan
peringkat
Indonesia
ke43posisi
39.
atribut kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan kreativitas
Di tahun
2013,
negara
yangdemikian,
memberikan
menempati
peringkat
37 dan
38. Namun
kualitas
produk ekspor Indonesia memiliki penilaian yang baik di Mesir,
respon paling buruk terhadap citra Indonesia
adalah
China
dan Brazil.
Jepang,
Argentina,
Meksiko dan Turki yang menempatkan
Indonesia dengan peringkat 34 ke atas.
Jika dibandingkan
dengan atribut
negara-negara
lain di ASEAN,
Apabila
dilihat dari
individual,
untuk dimensi ekspor di tahun 2013, Indonesia masih berada
Indonesia
kinerja
yang lebih
baikThailand
di bawah memiliki
negara-negara
lain seperti
Singapura,
dan Malaysia. Pada tahun 2013, skor dimensi Singapura dan
pada
kreativitas
danpeningkatan
kontribusidibandingkan
terhadap dengan
Thailand
mengalami
tahun 2013. Seperti Indonesia, pada tahun 2013 Malaysia juga
sains.
Terkait atribut dimaksud, Indonesia
mengalami penurunan skor dimensi ekspor.
diapresiasi
secara
oleh mitra
dagang di mata
Sebagai upaya
untukbaik
membangun
citra Indonesia
dunia, pada tahun 2013 Kementerian Perdagangan c.q. Ditjen
utama
yaitu
Amerika
Serikat
dan lain
Korea
PEN telah
melakukan
sejumlah
upaya, antara
pembuatan
materi iklan televisi (television commercial/TVC) untuk
Selatan
dimanaserta
keduanya
menilai
bahwa
Nation Branding
penayangan
TVC tersebut
di 4 (empat)
media elektronik internasional, yakni CNN, BBC, CNBC, dan
Indonesia
memiliki kinerja yang lebih baik
Bloomberg. TVC Nation Branding tersebut memvisualkan
informasi-informasi
tentang
potensi yang
dibandingkan
Malaysia
dan keberagaman
Thailand dengan
dimiliki Indonesia dengan gaya bahasa yang promotif dalam
mempertahankan
citra positif
dan persepsi
yang kuat dimata
memposisikan
Indonesia
di peringkat
32.
para pelaku usaha luar negeri (buyers) bahwa Indonesia
merupakan mitra dagang yang potensial untuk melakukan
Pada
surveiperdagangan
yang dilakukan
di tahun 2013,
NBI tentang
kemitraan
serta menyebarkan
informasi
kebijakan perdagangan Indonesia yang didukung dengan
Simon
Anholtstatements,
melibatkan
20 negara
panel
testimonials,
dan success
stories dari
para buyer
yang telah berhasil memulai dan mengembangkan kemitraan
yang
selanjutnya
memberikan
persepsi
perdagangan
dengan pelaku
usaha Indonesia.
mereka terhadap 50 negara yang disurvei.
LAK Kementerian
2013 |412013
Laporan AkuntabilitasPerdagangan
Kinerja Kementerian Perdagangan
51
03
03Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
Selain itu, pada tahun 2013 Kementerian Perdagangan juga
telah melakukan kegiatan Indonesian Night di 2 (dua) event
besar sebagai upaya untuk membangun citra Indonesia di
mata dunia. Indonesian Night 2013 menampilkan rangkaian
kegiatan mulai dari sajian kuliner nusantara, pameran batik,
perhiasan dan spa, hingga pentas seni budaya Indonesia yang
dikemas secara modern. Event besar tersebut adalah pada
penyelenggaraan World Economic Forum 2013 di Davos,
Swiss dan penyelenggaraan St. Gallen Symposium Ke-43 di
University of St. Gallen, Swiss. Kegiatan Indonesian Night di
kedua event tersebut mendapatkan respon yang baik dari para
Akuntabilitas Kinerja
Sasaran Strategis 4 :
peserta kegiatan dan diharapkan akan dapat menciptakan
citra Indonesia yang baik di mata dunia yang pada akhirnya
akan mendatangkan banyak keuntungan bagi Indonesia.
Sasaran Strategis 4 :
Kementerian Perdagangan terus melakukan upaya untuk
membangun serta meningkatkan citra Indonesia dimata
dunia. Untuk lebih memaksimalkan pembangunan dan
peningkatkan citra Indonesia, perlu dipertimbangkan untuk
melakukan mapping negara-negara/kawasan yang menjadi
sasaran pembangunan citra Indonesia, sehingga kegiatan
pencitraan lebih terfokus.
Internasional
“Peningkatan
Peran
dan Kemampuan
“Peningkatan
Peran
dan Kemampuan
DiplomasiDiplomasi Perdagangan
Perdagangan Internasional
2013
Indikator Kinerja
7)
Jumlah hasil perundingan perdagangan
internasional
8)
Peningkatan nilai perdagangan
Indonesia dengan negara mitra FTA
2010
2011
2012
140
259
-
-
Indikator Kinerja 7: Jumlah Hasil
Perundingan Perdagangan Internasional
Indikator Kinerja 7:
Jumlah Hasil Perundingan Perdagangan Internasional
Dilihat dari atribut individual,
Indonesia memiliki kinerja yang
lebih baik pada kreativitas dan
kontribusi terhadap sains
Untuk lebih memaksimalkan
pembangunan dan peningkatkan
citra Indonesia, perlu
dipertimbangkan untuk melakukan
mapping negara-negara/
kawasan yang menjadi sasaran
pembangunan citra Indonesia,
sehingga kegiatan pencitraan lebih
terfokus.
03
Secara
umum,
tujuan
kebijakan
Target
Realisasi
Capaian
(%)
260
248
323
130,2%
-
10%
47,5%
475%
Indonesia khususnya Kementerian Perdagangan
peningkatan realisasi yang cukup tinggi pada tahun 2013,
menjalankan
proses-proses
negosiasi
di forum
bila dibandingkan
tahun-tahun
sebelumnya,
karena adanya
beberapa pertemuan yang dilaksanakan secara back to back
Multilateral,
Bilateral.
Dalam
selamaRegional,
pertemuanmaupun
tersebut. Berikut
ini adalah
beberapa hasil
perundingan perdagangan internasional yang penting dan
Secara umum, tujuan kebijakan perdagangan internasionalperjalanan
proses
negosiasi
tersebut
telah disepakati pada tahun 2013.
perdagangan
internasional
adalah
untuk
adalah
untuk meningkatkan
akses pasar
dan fasilitasi
ekspor
serta mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor tertentu,Kementerian Perdagangan telah menetapkan
meningkatkan
pasar dan kinerja
fasilitasi
yang
pada akhirnyaakses
akan meningkatkan
ekspor
1) MoU Promosi Perdagangan RI-Liberia
Indonesia. Untuk mencapai itu semua, Pemerintah Indonesiatarget sebesar 248 hasil perundingan (Report of
ekspor serta mengurangi ketergantungan
c.q Kementerian Perdagangan memanfaatkan seluruh
MoU ini ditandatangani pada tanggal 25 Maret 2013,
Meeting,
Summary
discussion,
potensi
sumber
daya
yang
dimiliki
melalui
peningkatan
bersamaan
denganofkunjungan
balasanMoU,
Presiden Liberia
pada pasar ekspor tertentu, yang pada
peran dan kemampuan dalam berdiplomasi di bidang
ke Indonesia. MoU ini diharapkan dapat mengembangkan
Agreed Minutes Protocol, dan Joint Report)
perdagangan
internasional
dan meningkatkan
intensitas
dan memfasilitasi peningkatan hubungan perdagangan
akhirnya akan
meningkatkan
kinerja ekspor
partisipasi Indonesia di berbagai forum internasional untukpada tahun
kedua 2013.
negara.Realisasi
Dengan pencapaian
semangat kerja
sama Selatantarget
Indonesia. Untuk
mencapai
itu semua,
memperjuangkan
kepentingan
nasional Indonesia.
Selatan diharapkan kedua negara dapat mengidentifikasi
potensi kerja sama perdagangan dan mengeksplorasi bidang
Untuk
mencapaiIndonesia
sebuah kesepakatan
perdaganganadalah sebesar 323 hasil perundingan atau
Pemerintah
c.q Kementerian
promosi perdagangan bilateral dengan berbagai kegiatan
internasional, Pemerintah Indonesia khususnya Kementerian
sebesarberupa
130,24%.
pertukaran informasi secara berkelanjutan, seminar,
Perdagangan
menjalankan
proses-proses
negosiasi
di forum
Perdagangan
memanfaatkan
seluruh
potensi
simposium, pameran dagang, misi dagang, kunjungan
Multilateral, Regional, maupun Bilateral. Dalam perjalanan
lapangan, dan studi
pemasaran.
Berdasarkan
penjelasan
di atas, dapat
sumber
daya
yang
dimilikiPerdagangan
melaluitelah
proses
negosiasi
tersebut
Kementerian
menetapkan target sebesar 248 hasil perundingan (Report
peningkatan
peranof dan
kemampuan
dalam
of
Meeting, Summary
discussion,
MoU, Agreed
Minutesdilihat bahwa target indikator Jumlah hasil
2) Protocol to Amend Certain ASEAN Economic Agreements
Protocol, dan Joint Report) pada tahun 2013. Realisasi
perundingan
perdagangan
internasional terus
Related
to Trade in Goods
berdiplomasi
di sebesar
bidang
perdagangan
pencapaian
target adalah
323 hasil
perundingan atau
Persetujuan
Protocol dari
to Amend
ASEAN Economic
sebesar 130,24%.
peningkatan
tahunCertain
2011-2013
internasional dan meningkatkan intensitas mengalami
Agreements Related to Trade in Goods (Protokol untuk
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa
Mengubah
Ekonomi ASEAN
Tertentu terkait
pulaPerjanjian
oleh peningkatan
realisasi
partisipasi
di perundingan
berbagai perdagangan
forum yang diikuti
target
indikatorIndonesia
Jumlah hasil
Perdagangan Barang) ditandatangani disela-sela The 19th
internasional terus mengalami peningkatan dari tahun
capaianASEAN target
hasil Retreat,di
perundingan
Economic Ministers’
Hanoi pada tanggal 8
internasional
untuk
memperjuangkan
2011-2013
yang diikuti
pula oleh
peningkatan realisasi
Maret 2013. Protokol ini adalah untuk mengubah perjanjian
capaian target hasil perundingan perdagangan. Capaianperdagangan. Capaian realisasi yang melebihi
kepentingan nasional Indonesia.
ekonomi ASEAN tertentu terkait perdagangan barang dengan
realisasi yang melebihi target tersebut disebabkan adanya
tujuan: (i) Membentuk suatu landasan hukum untuk kerja
beberapa pelaksanaan perundingan atau sidang yang belumtarget tersebut disebabkan adanya beberapa
sama ekonomi di bidang perdagangan barang antara negaraUntuksebelumnya.
mencapaiKesempatan
sebuah Indonesia
kesepakatan
dijadwalkan
menjadi
negara anggota ASEAN dalam skema perdagangan bebas;
tuan rumah Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC)pelaksanaan perundingan atau sidang yang
dan (ii) mengharmonisasikan perjanjian perdagangan barang
perdagangan
internasional,
Pemerintah
dan
Konferensi Tingkat
Menteri World Trade
Organization
di bawah pilar ekonomi ASEAN sesuai dengan persetujuan
(KTM-WTO) IX, juga menjadi salah satu faktor pendukung
ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA).
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |45
52
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
53
03
Akuntabilitas Kinerja
3)
Persetujuan Kerangka Kerja Perdagangan dan
Penanaman Modal Antara Kementerian Perdagangan
R.I. dan Kementerian Perencanaan dan Pembangunan
Ekonomi Nasional Republik Uni Myanmar
Perjanjian tersebut telah ditandatangani oleh kedua menteri
masing kedua negara pada tanggal 23 April 2013 dengan
tujuan untuk memperluas dan memfasilitasi perdagangan
barang dan mendorong iklim penanaman modal.
Kesepakatan ini merupakan payung kerja sama antar kedua
pemerintah yang dapat dijadikan sebagai landasan/platform
bagi kalangan pelaku usaha Indonesia dan Myanmar untuk
melakukan kerja sama bisnis baik perdagangan, produksi
ataupun investasi diberbagai sektor antara lain: rice milling,
pembangkit listrik, konstruksi, perkebunan karet dan kelapa
sawit, kedirgantaraan dan sebagainya.
Di bidang investasi, kedua pemerintah menyambut baik
peningkatan investasi Indonesia di Myanmar yang hingga
tahun 2012 telah mencapai US$ 241 juta. Kedua pemerintah
juga mendukung keinginan BUMN dan kalangan usaha
swasta Indonesia untuk berinvestasi di Myanmar di bidang
telekomunikasi, pertambangan, perbankan dan infrastruktur.
Pemerintah Myanmar secara khusus mengundang investasi
Indonesia di bidang perikanan dan peternakan, pertanian,
pariwisata, transportasi, eksplorasi migas dan pengembangan
sektor kelistrikan di Myanmar.
54
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Akuntabilitas Kinerja
4) MoU on Rice Trade Antara Indonesia dan Myanmar
MoU on Rice Trade antara Indonesia dan Myanmar
ditandatangani
bersamaan
dengan
penandatangan
Persetujuan Kerangka Kerja Perdagangan dan Penanaman
Modal Antara Kementerian Perdagangan R.I dan Kementerian
Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Nasional Republik
Uni Myanmar, pada tanggal 23 April 2013, oleh kedua menteri
masing kedua negara.
Di bidang ketahanan pangan dan energi kedua Kepala Negara
sepandangan bahwa kerja sama ketahanan pangan dan
energi di antara kedua negara bersifat saling melengkapi dan
mendorong peningkatan kerja sama ini melalui investasi,
riset dan pengembangan (R&D). Hal ini di perkuat dengan
disepakatinya kerja sama serta peningkatan kapasitas
produksi dan kualitas beras, pupuk dan serta revitalisasi MoU
on Rice Trade bidang pertanian. Penandatanganan MoU on
Rice Trade antar kedua negara dilakukan sebagai alternatif
pengadaan impor beras bilamana diperlukan Indonesia.
Capaian Kementerian Perdagangan pada Tahun 2013 juga
didukung dengan kesuksesan penyelenggaraan dua sidang
besar internasional yaitu: (i) Rangkaian Pertemuan APEC
sektor Perdagangan, dan (ii) Penyelenggaraan KTM WTO IX.
03
1) Rangkaian Pertemuan APEC sektor Perdagangan
2) Penyelenggaraan KTM IX WTO
Indonesia kembali memegang tongkat kepemimpinan forum
Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) pada tahun 2013,
rangkaian pertemuan APEC pada sektor perdagangan pada
tahun 2013 dilaksanakan sebanyak 5 (lima) kali di Indonesia
selaku tuan rumah, yaitu: (i) APEC Senior Official Meeting
(SOM) ke-1 and Related Meeting, pada tanggal 24 Januari-8
Februari 2013, di Jakarta; (ii) Pertemuan Menteri Perdagangan
(Ministers Responsible for Trade/MRT) APEC yang didahului
dengan (iii) pertemuan ke-2 pejabat senior (SOM2) pada
tanggal 17-21 April 2013, di Surabaya; (iv) APEC Senior Official
Meeting (SOM)-3 and Related Meeting, pada tanggal 26 Juni 6 Juli 2013, di Medan; dan (v) APEC Economic Leaders Weeks,
pada tanggal 1-8 Oktober 2013, di Bali.
Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO IX
yang dilaksanakan pada tanggal 2-7 Desember 2013 di Bali,
telah berhasil menyepakati “Paket Bali”, secara garis besar
terdiri atas 3 (tiga) isu utama yaitu:
Secara umum, keketuaan Indonesia pada APEC 2013 telah
berjalan dengan sukses dan berhasil menyepakati tujuh butir
kesepakatan strategis, yaitu:
1. Menyepakati untuk menggandakan upaya mencapai
Bogor Goals pada 2020;
2. Menyepakati peningkatan perdagangan intra-APEC
atau intrakawasan,
melalui fasilitasi perdagangan,
pengembangan kapasitas, dan memfungsikan sistem
perdagangan multilateral;
3. Menyepakati percepatan konektivitas fisik, institusional
dan orang;
4.
Menegaskan kembali komitmen memperjuangkan
pertumbuhan global yang kuat, seimbang, berkelanjutan
dan inklusif;
5. Dalam melihat keterbatasan sumber daya, para pemimpin
sepakat bekerja sama meningkatkan ketahanan pangan,
energi dan air di kawasan. ini selaras juga dengan tujuan
menjaga dampak perubahan iklim;
6. Menyepakati untuk memastikan sinergi APEC dan
komplementaritas dengan proses multilateral dan regional
lain, seperti East Asia Summit dan G20;
1. Isu Fasilitasi Perdagangan bukan hanya menjadi
kepentingan negara maju saja, tapi juga merupakan
kepentingan negara berkembang dan LDCs karena
semangatnya adalah menciptakan kelancaran arus ekspor
dan impor dengan mengurangi atau bahkan meniadakan
biaya ekonomi tinggi. Negara berkembang dan LDCs
memiliki hak untuk memperoleh kelonggaran dalam
menerapkan fasilitasi perdagangan bahkan mensyaratkan
“capacity building” sebelum menerapkan fasilitasi
perdagangan tersebut.
2. Di sektor Pertanian, capaian terpenting dalam Paket Bali
adalah disepakatinya solusi sementara bagi aspirasi negara
berkembang, yakni untuk meningkatkan subsidi di sektor
pertanian melampau batas maksimum yang diatur dalam
Persetujuan Pertanian (yaitu 10% dari output pertanian),
sementara solusi permanen dirundingkan dalam waktu
empat tahun.
3. Untuk isu Pembangunan, negara berkembang dan LDCs
memperoleh hak “Monitoring Mechanism” yaitu suatu
hak untuk melakukan pengawasan apakah ketentuan
“Special and Differential Treatment” diimplementasikan
secara benar atau sekedar pemanis belaka.
Secara umum kesepakatan yang dihasilkan pada KTM WTO
ke-9, yaitu Persetujuan General Services, Public Stockholding,
administrasi Tariff Rate Quota, Export Competition,
Pengaturan Kapas untuk LDCs, Preferential Rules of Origin
untuk LDCs, Duty-Free Quota-Free untuk LDCs, Services
Waiver untuk LDCs, dan Monitoring Mechanism ketentuan
Special and Differential Treatment.
7. Menyepakati bahwa kolaborasi yang erat dengan sektor
bisnis sangat penting untuk mencapai tujuan perdagangan
dan investasi yang bebas dan terbuka.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
55
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
Indikator Kinerja 8:
Peningkatan Nilai Perdagangan Indonesia dengan Negara
Mitra FTA ASEAN
Pada LAK Kementerian Perdagangan Tahun 2013 kinerja
kerjasama perdagangan internasional tidak hanya diukur
berdasarkan jumlah hasil perundingan perdagangan
internasional saja, melainkan juga diukur melalui ‘Peningkatan
Nilai Perdagangan Indonesia dengan Mitra FTA di lingkup
ASEAN’. Pemantauan dan pengukuran atas indikator kinerja
ini menjadi penting di tahun 2013-2014 untuk mengetahui
kesiapan Indonesia dalam mengahadapi implementasi
Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community)
pada tahun 2015.
Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement) adalah
perjanjian diantara dua negara atau lebih untuk membentuk
wilayah perdagangan bebas, dimana perdagangan barang
atau jasa diantara mereka dapat melewati perbatasan negara
masing-masing tanpa dikenakan hambatan tarif atau nontarif. Dalam kerangka kerja sama regional, hingga saat ini ada
beberapa kerja sama FTA yang melibatkan Indonesia baik di
lingkup internal ASEAN maupun eksternal ASEAN (ASEAN+1),
yaitu: (i) ASEAN Trade In Goods Agreement (ATIGA) yang
menggunakan SKA Form D; (ii) ASEAN - India Free Trade Area
(AI-FTA) yang menggunakan SKA Form AI; (iii) ASEAN - KOREA
Free Trade Agreement (AK-FTA) yang menggunakan Form AK;
dan (iv) ASEAN China - Free Trade Area (ACFTA) menggunakan
Form E.
Dengan melihat nilai perdagangan Indonesia dengan
Negara Mitra FTA, maka dapat terlihat bagaimana diplomasi
perdagangan yang selama ini dilakukan khususnya dalam
kerangka kerja sama regional dapat ikut meningkatkan akses
pasar bagi pasar ekspor non-migas Indonesia. Berikut adalah
matrik nilai jumlah penggunaan SKA dan nilai FOB (USD)
periode tahun 2012 hingga tahun 2013.
Dari matriks di bawah, jika dibandingakan total nilai FOB
Tahun 2012 adalah sebesar USD 50.102.427.297,12 sedangkan
tahun 2013 naik 47,5% menjadi USD 95.522.221.963,53.
Dari kenaikan nilai tersebut dapat dilihat bahwa Perjanjian
Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement) cukup membawa
dampak pada peningkatan nilai perdagangan Indonesia
dengan negara mitra FTA khususnya dalam kerangka regional.
03
Sasaran Strategis 5:
“Penyederhanaan Perizinan Perdagangan Dalam
Negeri dan Luar Negeri”
Kementerian Perdagangan, sesuai dengan tugas dan fungsinya
memiliki kewenangan untuk menerbitkan perijinan kepada
masyarakat. Perijinan tersebut dibagi ke dalam beberapa
sektor, di antaranya perdagangan dalam negeri. perdagangan
luar negeri, dan perdagangan berjangka komoditi. Secara
umum, sebagian besar perijinan sudah dilaksanakan secara
terintegrasi oleh Unit Pelayanan Perdagangan (UPP). Unit ini
secara khusus mengelola perijinan Kementerian Perdagangan
agar lebih efisien melalui penerbitan perijinan secara online,
dan upaya lainnya untuk mengurangi waktu proses penerbitan
ijin. Upaya-upaya tersebut diukur menggunakan beberapa
indikator, seperti yang tercantum pada tabel di bawah ini.
Indikator-indikator ini dapat dijelaskan secara terperinci
kinerjanya melalui penjelasan di bawah.
Kementerian Perdagangan, sesuai
dengan tugas dan fungsinya
memiliki kewenangan untuk
menerbitkan perijinan kepada
masyarakat. Perijinan tersebut
dibagi ke dalam beberapa sektor,
di antaranya perdagangan dalam
negeri. perdagangan luar negeri,
dan perdagangan berjangka
komoditi.
03Akuntabilitas Kinerja
Tabel 9
Realisasi Penerbitan SKA Berdasarkan Jenis Form SKA
Periode
Tahun
2012 s.d.
DesemberJenis
2013Form SKA
Tabel
9. Realisasi
Penerbitan
SKA4Berdasarkan
Periode Tahun 2012 s.d. 4 Desember 2013
JENIS FORM
SKA
2012
JUMLAH SKA
1 JAN-4 DES 2013
NILAI FOB (USD)
JUMLAH SKA
NILAI FOB (USD)
FORM AI
17,967
8,646,652,631.10
19,568
15,947,958,122.90
FORM AK
40,269
9,719,777,114.08
40,210
8,943,645,664.49
FORM D
130,040
16,238,890,467.47
126,939
39,492,426,989.65
FORM E
49,528
15,497,107,084.47
49,188
31,138,191,186.49
Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah).
Sasaran Strategis 5:
“Penyederhanaan Perizinan Perdagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri”
2013
Indikator Kinerja
9)
56
Jumlah Pelayanan Perizinan
2010
2011
2012
12 jenis
15 jenis
6 hari
5 hari
PDNAkuntabilitas
Secara Kinerja
Online
Laporan
Kementerian Perdagangan 2013
10) Rata-rata Waktu
Target
Realisasi
Capaian
(%)
12 jenis
11 jenis
12 jenis
109,1
3,5 hari
4 hari
2 hari
150
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
57
49,528
FORM E
03
15,497,107,084.47
49,188
31,138,191,186.49
Sumber: Kementerian Perdagangan (diolah).
Akuntabilitas
Sasaran
Strategis Kinerja
5:
Akuntabilitas Kinerja
“Penyederhanaan Perizinan Perdagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri”
tahun 2012, perizinan dibidang perdagangan dalam negeri
berkurang menjadi 12 perizinan.
2013
Indikator Kinerja
9)
Jumlah Pelayanan Perizinan
PDN Secara Online
10) Rata-rata Waktu
Penyelesaian Perizinan PDN
11) Perizinan Ekspor dan Impor
yang dapat dilayani secara
online
12) Rata-rata waktu
penyelesaian perizinan
ekspor dan impor
2010
2011
2012
12 jenis
15 jenis
6 hari
53 jenis
Realisasi
Capaian
(%)
2. Tidak adanya penambahan jenis izin baru dibidang
perdagangan dalam negeri yang dikeluarkan oleh
Kementerian Perdagangan selama tahun 2013.
12 jenis
11 jenis
12 jenis
109,1
5 hari
3,5 hari
4 hari
2 hari
150
Menilik alasan-alasan di atas, maka saat ini hanya terdapat
12 jenis perizinan bidang perdagangan dalam negeri yang
dilayani oleh Kementerian Perdagangan, dimana seluruh 12
jenis perizinan ini yang sudah dapat dilayani secara online.
55 jenis
55 jenis
75 jenis
83 jenis
110,7
2 hari
2 hari
2 hari
memiliki
Pelayanan Perdagangan (UPP). Unit ini secara
kewenangan untuk menerbitkan perijinan
khusus mengelola perijinan Kementerian
dan
kepada
Indikator
Kinerjamasyarakat.
9:
fungsinya
Perijinan tersebut dibagi
Perdagangan
agar
lebih
efisien
melalui
109%
JumlahkePelayanan
Dalam
Negeri
dalam Perizinan
beberapaPerdagangan
sektor, di
antaranya
Secara Online
penerbitan perijinan secara online, dan upaya
perdagangan dalam negeri. perdagangan luar
lainnya untuk mengurangi waktu proses
negeri,
dan periode
perdagangan
berjangka
Sama halnya
dengan
sebelumnya
di tahun komoditi.
2012, saat
ini terdapat 12 jenis perizinan perdagangan dalam negeri
Secaraoleh
umum,
sebagian
besar perijinan
sudah
yang dilayani
Kementerian
Perdagangan,
dengan semua
jenis perizinan itu sudah dapat dilayani secara online. Jumlah
perizinan ini lebih sedikit dibanding target yang tercantum
dalam Rencana Strategis sebanyak 17 perizinan. Apabila
mengacu kepada target Rencana Strategis maka pada tahun
2013 capaian yang diperoleh adalah sebesar 109%.
penerbitan ijin. Upaya-upaya tersebut diukur
Alasan mengapa capaian yang diperoleh adalah sebesar
angka tersebut di atas dikarenakan beberapa hal:
1. Sejak dua tahun lalu, Kementerian Perdagangan tidak
melakukan perubahan jumlah perizinan dibidang
perdagangan dalam negeri. Perubahan terakhir terjadi
pada tahun 2012. Pada tahun 2012 Kementerian
Perdagangan mendelegasikan 3 (tiga) perizinan ke
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), dalam
rangka efisiensi kegiatan perizinan. Ketiga perizinan
yang didelegasikan kepada BKPM yaitu: Surat Izin Usaha
Jasa Survei (SIUJS), Surat Permohonan Surat Izin Usaha
Perusahaan Perantara Perdagangan Properti (SIUP4) dan
Surat Izin Usaha Perwakilan Perusahaan Perdagangan
Asing (SIUP3A). Melalui pendelegasian itu, maka sejak
58
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Di masa yang akan datang, Kementerian Perdagangan akan
terus berupaya untuk meningkatkan performa penyelesaian
perizinan secara menyeluruh. Salah satu wacana upaya
untuk meningkatkan performa tersebut adalah membentuk
unit khusus seperti UPP dengan level setingkat Eselon II
dengan tugas khusus untuk memproses seluruh perizinan di
Kemendag di bawah satu pintu. Wacana tersebut sampai saat
ini masih terus dikonsultasikan oleh Kemendag dengan para
pemangku kepentingan terkait.
Indikator Kinerja 11:
Jumlah Perizinan Ekspor-Impor Secara Online
100
dilaksanakan secara terintegrasi oleh Unit
tugas
Perdagangan,
3 hari
sesuai
dengan
Indikator Kinerja 10:
Rata-rata Waktu Penyelesaian Perizinan Perdagangan Dalam
Negeri
4 hari
Kementerian
Target
03
menggunakan beberapa indikator, seperti
Saat ini terdapat 12 jenis perizinan
perdagangan dalam negeri
yang dilayani oleh Kementerian
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |53
Perdagangan,
dengan semua jenis
perizinan itu sudah dapat dilayani
secara online. Jumlah perizinan ini
lebih sedikit dibanding target yang
tercantum dalam Rencana Strategis
sebanyak 17 perizinan. Apabila
mengacu kepada target Rencana
Strategis maka pada tahun 2013
capaian yang diperoleh adalah
sebesar 109%.
Pada tahun 2013, realisasi indikator kinerja “Rata-rata
Waktu Penyelesaian Perizinan Perdagangan Dalam Negeri”
adalah 2 hari kerja. Artinya dari 12 jenis perizinan dibidang
perdagangan dalam negeri yang dilayani oleh Kementerian
Perdagangan, secara rata-rata seluruhnya dapat diselesaikan
proses penyelesaiannya dalam waktu 2 hari. Realisasi ini
melebihi target yang terdapat pada kontrak kinerja yang
sebesar 4 hari, atau capaiannya mencapai 150% dari target.
Semakin singkatnya waktu penyelesaian perizinan dibidang
perdagangan dalam negeri ini dapat dicapai karena andil dari
beberapa faktor. Pertama, penerapan sistem pengurusan
perizinan secara online membuat waktu pemrosesan
menjadi lebih efisien. Kedua, adanya fasilitas Unit Pelayanan
Perdagangan (UPP) di Kementerian Perdagangan membuat
birokrasi pengurusan perizinan menjadi lebih pendek,
sehingga dapat mempersingkat waktu pemrosesan
penyelesaian perizinan. Ketiga, sumber daya manusia yang
bertanggung jawab memproses perizinan juga semakin
terlatih dan tangkas.
Indikator Kinerja: “Jumlah Perizinan Ekspor-Impor Secara
Online” pada tahun 2013 menunjukkan peningkatan
dibandingkan kinerja tahun lalu. Jenis perizinan ekspor dan
impor yang dapat dilayani secara online sampai dengan
akhir tahun 2013 sebanyak 83 jenis. Sedangkan, target yang
dicanangkan pada awal tahun jumlah perijinan ekspor-impor
yang dapat dilayani secara online dapatmencapai 75 jenis.
Sehingga, capaian indikator kinerja ini mencapai 110,6%.
Daftar perizinan ekspor dan impor yang dapat dilayani secara
online pada tahun 2013 dapat dilihat pada Lampiran 5.
Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat
mengakibatkan pula pesatnya tuntutan kecepatan informasi
dan pelayanan yang tidak lagi dibatasi oleh batas-batas
infrastruktur suatu wilayah. Hal ini hanya dapat difasilitasi
dengan suatu sistem pelayanan yang berbasis teknologi
informasi yang memiliki visi “Pelayanan Global Tanpa Batas
dan Hambatan”. Dari visi penyediaan sarana layanan yang
tanpa batas inilah, Kementerian Perdagangan melakukan
pembangunan sistem perizinan secara elektronik (e-licensing)
yang disebut “INATRADE”. INATRADE adalah sistem informasi
03Akuntabilitas Kinerja
Tabel 10
. Jenis Perizinan Ekspor dan Impor yang Dapat Dilayani Secara Online Pada Tahun 2013
Tabel 10. Jenis Perizinan Ekspor dan Impor yang Dapat Dilayani Secara Online Pada Tahun 2013
No
1
2
3
Jumlah
(jenis)
Jenis Perizinan
UPP REGISTRASI
(8 Jenis Impor NPIK & 7 Jenis IT Produk Tertentu)
UPP NON REGISTRASI
BACK OFFICE
Total
15
15
63
83
Sumber: Ditjen Daglu, Kementerian Perdagangan.
Perkembangan teknologi informasi yang
Tujuan dibuatnya sistem ini adalah
sangat pesat mengakibatkan pula pesatnya
mengembangkan
sistem
pemrosesan
tuntutan kecepatan informasi dan pelayanan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
perizinan yang
memudahkan aktivitas seluruh
59
03
Akuntabilitas Kinerja
Kementerian Perdagangan sebagai sarana dalam menerbitkan
perizinan yang pengajuannya dapat dilakukan secara manual
maupun online. INATRADE diciptakan sebagai solusi nyata
pelayanan tanpa tatap muka yang dapat dilakukan dimana
saja, kapan saja dan oleh siapa saja dalam rangka menciptakan
iklim usaha perdagangan yang kondusif.
Tujuan dibuatnya sistem ini adalah mengembangkan sistem
pemrosesan perizinan yang memudahkan aktivitas seluruh
petugas terkait di Kemendag, memudahkan manajemen
pengolahan data, memudahkan pertukaran data antar
instansi dan menyediakan sistem pengajuan perizinan secara
online sesuai tuntutan masyarakat usaha / internasional.
Hal-hal diatas merupakan upaya penyerderhanaan proses
perizinan serta perbaikan fungsi pelayanan perizinan (ekspor
dan impor) agar pelayanan yang diberikan dapat dilaksanakan
dengan baik, tertib, transparan, dan terprediksi (good
governance) kepada publik secara terpadu.
Selain itu, INATRADE juga telah tersinkronisasi dengan
portal Indonesia National Single Window (INSW). Dengan
fasilitas Single Sign On (SSO) pada INATRADE, memungkinkan
pengguna hanya perlu menggunakan satu kunci akses,
namun dapat mengakses tidak hanya INATRADE, melainkan
juga portal INSW. Ketika pengguna sistem Indonesia National
Single Window (INSW) telah masuk kedalam sistem tersebut,
maka tidak perlu lagi login ke sistem aplikasi Kementerian/
Lembaga lainnya yang sudah terintegrasi pada INSW (cukup
sekali login, kemudian dapat mengakses ke sistem yang
sudah terintegrasi). Sistem Single Sign On (SSO) ini telah
diimplementasikan sejak bulan Juni 2012 di Kementerian
Perdagangan.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa visi Kementerian
Perdagangan adalah “Mewujudkan perdagangan sebagai
sektor penggerak pertumbuhan dan daya saing ekonomi
Akuntabilitas Kinerja
serta pencipta kemakmuran rakyat yang berkeadilan,”
dimana sasaran yang akan dicapai dari visi dimaksud antara
lain dengan penyederhanaan proses perizinan baik perijinan
dalam negeri maupun luar negeri dalam rangka peningkatan
pelayanan publik.
Indikator Kinerja 12:
Waktu Penyelesaian Perizinan Ekspor-Impor
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada dunia usaha
melalui Unit Pelayanan Perdagangan (UPP), telah dilakukan
pendelegasian wewenang untuk menerbitkan perijinan
di sektor perdagangan dari Menteri Perdagangan kepada
Koordinator dan Pelaksana Unit Pelayanan Perdagangan
(UPP). Hal ini dituangkan dalam Permendag Nomor
18/M-DAG/PER/3/2012 tentang Pendelegasi-an Wewenang
Penerbitan Perijinan Kepada Koordinator dan Pelaksana Unit
Pelayanan Perdagangan (UPP). Total izin yang didelegasikan
oleh Menteri Perdagangan berdasarkan Permendag ini adalah
sejumlah 45 (empat puluh lima) dimana pada tahun 2013
bertambah menjadi 51 (lima puluh satu) jenis perijinan yang
terdiri dari 28 perijinan impor, 2 perijinan ekspor (DAGLU),
12 perijinan perdagangan dalam negeri (DAGRI), 2 perijinan
perdangan berjangka komoditi (BAPPEBTI) serta penambahan
ijin untuk produk hortikultura dan hewan produk hewan.
Dalam rangka meningkatkan pelayanan perijinan di bidang
perdagangan, status UPP Kementerian Perdagangan mulai
bulan April 2012 mengalami perubahan dimana UPP
Kementerian Perdagangan yang sebelumnya hanya sebagai
loket penerimaan permohonan, penyimpanan pendistribusian
kepada pemroses dan penyerahan ijin yang sudah jadi, saat
ini berdasarkan Permendag Nomor 19/M-DAG/PER/3/2012,
Saat ini terdapat 12 jenis perizinan
perdagangan dalam negeri
yang dilayani oleh Kementerian
Perdagangan, dengan semua jenis
perizinan itu sudah dapat dilayani
secara online.
status UPP Kementerian Perdagangan juga dapat melakukan
pemrosesan perijinan. Dengan tugas dan fungsi yang baru ini
maka diharapkan pelayanan perijinan perdagangan kepada
pelaku usaha dapat lebih ditingkatkan baik dari segi kualitas
pelayanan maupun waktu penyelesaian perijinan.
Menteri Perdagangan secara resmi telah meluncurkan
Mandatory Online bagi pengajuan beberapa jenis perijinan di
bidang perdagangan, di Kantor Kemendag pada tanggal 3 Juli
2013. Dengan diluncurkannya Mandatory Online ini, proses
perijinan tidak lagi dilakukan secara manual.
Pengembangan sistem online ini juga akan memudahkan
pengolahan data, serta pertukaran data antar instansi. Ini juga
bagian dari komitmen untuk menerapkan good governance
dan meningkatkan daya saing dunia usaha di Indonesia.
Adapun jenis perijinan yang termasuk dalam kategori
Mandatory Online, yaitu Nomor Pengenal Importir Khusus
(NPIK) untuk produk atau komoditas beras, jagung, kedelai,
gula, tekstil dan produk tekstil, sepatu, elektronika dan
komponennya, serta mainan anak-anak; Importir Terdaftar
Produk Tertentu (IT-PT) untuk produk elektronika, pakaian jadi,
mainan anak-anak, alas kaki, produk makanan dan minuman,
obat tradisional dan herbal, serta kosmetik; Importir Terdaftar
(IT), Importir Produsen (IP) dan Persetujuan Impor (PI) untuk
produk hortikultura; serta IT, PI dan Persetujuan Ekspor (PE)
untuk hewan dan produk hewan.
Saat ini, Koordinator dan Pelaksana UPP menerbitkan perijinan
dengan rata-rata 2 (dua)hari kerja, untuk jenis perijinan yang
sifatnya registrasi (NPIK dan IT Produk Tertentu) sedangkan
perijinan lainnya (non registrasi) diterbitkan dengan rata-rata
3 (tiga) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap
dan benar. Sehingga, persentase capaian IK-6: “Waktu
Penyelesaian Perijinan Ekspor-Impor” pada tahun 2013 dapat
mencapai 100%. Sedangkan rata-rata penerbitan perijinan
yang masih dikerjakan pada unit teknis (back office) adalah 9
(sembilan) hari kerja.
Dalam rangka pelayanan satu atap antara Kementerian
Perdagangan dengan Kementerian Pertanian untuk komoditi
hortikultura telah dilakukan sejak bulan Mei tahun ini,
adapun terkait dengan pengajuan Rekomendasi Impor Produk
Hortikultura (RIPH) untuk semester I tahun 2014 telah dibuka
pengajuannya dari tanggal 4 November sampai dengan 25
November 2013 melalui website Inatrade ke Kementerian
Pertanian.
Permohonan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH)
diterbitkan oleh Kementerian Pertanian dalam waktu 7 hari
kerja setelah dokumen diterima lengkap dan benar, kemudian
RIPH yang telah disetujui akan langsung dikirim secara online
ke Kementerian Perdagangan.
Setelah mendapatkan RIPH, pelaku usaha dapat mengajukan
Persetujuan Impor (PI)
atau Importir Produsen (IP)
Hortikultura secara online ke Kementerian Perdagangan
60
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
03
100%
Waktu Penyelesaian Perijinan
Ekspor-Impor pada tahun 2013
dapat mencapai 100%. Sedangkan
rata-rata penerbitan perijinan yang
masih dikerjakan pada unit teknis
(back office) adalah 9 (sembilan)
hari kerja.
yang kemudian langsung diproses dibagian pemroses di
Kementerian Perdagangan
Permohonan Persetujuan Impor (PI) atau Importir Produsen
(IP) Hortikultura yang telah disetujui akan langsung dikirim
secara elektronik ke Indonesia National Single Window(INSW),
dan dokumen perijinan (hardcopy) berupa PI/IP serta RIPH
Hortikultura dapat diambil oleh pelaku usaha di loket UPP
Kementerian Perdagangan.
Selama proses permohonan Importir Terdaftar (IT),
Persetujuan Impor (PI) atau Importir Produsen (IP)
Hortikultura, pelaku usaha dapat melakukan document
tracking secara online dan akan dikirimkan email notifikasi ke
email pemohon apabila permohonannya telah selesai
Permohonan Importir Terdaftar (IT), Persetujuan Impor (PI)
atau Importir Produsen (IP)Hortikultura diterbitkan dalam
waktu 2 hari kerja setelah dokumen diterima lengkap,
benar dan telah dilakukan verifikasi lapangan (jangka waktu
verifikasi 3 hari)
Surat Persetujuan Impor (SPI) Hortikultura akan diterbitkan
bulan Desember 2013 dan akan berlaku per Januari 2014 s/d
Juni 2014, sedangkan untuk komoditi cabe merah dan bawang
merah hanya berlaku untuk 3 bulan.
Sesuai Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perdagangan
ditargetkan sampai dengan tahun 2014 seluruh perijinan
yang diterbitkan oleh Kementerian Perdagangan sudah
dapat dilakukan secara online dan paperless sehingga
diharapkan tidak ada lagi tatap muka antara pelaku usaha
dengan pemroses perijinan, sekaligus mengeliminasi proses
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
61
03
03Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
pelayanan tidak resmi lainnya. Sekaligus terciptanya integrasi
layanan elekronik dengan sistem IndonesiaNational Single
Window (INSW) untuk percepatan proses customs clearance
dan cargo release yang saat ini telah diimplementasikan
sekaligus pula dimulainya integrasi ASEAN Single Windows
menuju ASEAN Economic Community 2015.
Disamping itu, keberhasilan sistem INATRADE nantinya
diharapkan dapat menjadi ujung tombak sistem pelayanan
perijinan perdagangan terpadu, bersih dan transparan dari
seluruh lini yang terkait dengan perijinan perdagangan
nasional yang modern, baik itu dari dinas maupun instansi
terkait yang terlibat dalam proses penerbitan perijinan.
Secara bertahap pula akan dibuka akses online data INATRADE
bagi layanan publik disemua Instansi sesuai dengan standar
jaringan layanan Indonesia National Single Window(INSW)
yang diharapkan bersama sama dapat memberikan nilai
kompetitif bagi iklim usaha di Indonesia dalam menghadapi
persaingan global antar negara.
Akuntabilitas Kinerja
Sasaran Strategis 6:
Sasaran Strategis 6:
INATRADE nantinya diharapkan
dapat menjadi ujung tombak
sistem pelayanan perijinan
perdagangan terpadu, bersih
dan transparan dari seluruh lini
yang terkait dengan perijinan
perdagangan nasional yang
modern, baik itu dari dinas
maupun instansi terkait yang
terlibat dalam proses penerbitan
perijinan.
“Peningkatan Output Sektor Perdagangan”
“Peningkatan Output Sektor Perdagangan”
Indikator Kinerja
2010
2011
2012
13) Pertumbuhan PDB sektor
perdagangan (besar dan eceran)
8,70%
4,10%
14) Rasio penggunaan produk dalam
negeri terhadap pengeluaran
konsumsi rumah tangga
-
15) Capaian transaksi multilateral di
bidang PBK (Lot)
16) Capaian nilai resi gudang (Rp Milyar)
Indikator Kinerja
13:
Pada
Realisasi
Capaian
(%)
8,66%
6,5%
6,4%
98,5
-
97,2%
95%
97,3%
102,4
-
951.328
1.136.336
1.500.000
1.257.829
83,9
8
40
93
100
93
108,9
tahun 2013, pertumbuhan sektor
Pertumbuhan PDB sektor perdagangan (besar dan eceran)
perdagangan besar dan eceran hanya sebesar
6,33% (dihitung berdasarkan perbandingan
Pada tahun 2013, pertumbuhan sektor perdagangan besar
dan eceran
sebesar
6,33%
(dihitung2013
berdasarkan
datahanya
Triwulan
I s/d
III Tahun
terhadap
perbandingan data Triwulan I s/d III Tahun 2013 terhadap
TriwulanTriwulan
I s/d IV Tahun
dibandingkan
dengan
I 2012).Apabila
s/d IV Tahun
2012).Apabila
target yang diperjanjikan, indikator ini berada di bawah
target tahun
2013 yang sebesardengan
6,5% atau hanya
memperoleh
dibandingkan
target
yang
capaian sebesar 97% dari target.
diperjanjikan, indikator ini berada di bawah
Penurunan pertumbuhan perdagangan besar dan eceran
pada tahun
2013 berbarengan
dengan
Produk
target
tahun 2013
yangpenurunan
sebesarnilai
6,5%
atau
Domestik Bruto (PDB) secara keseluruhan di periode yang
sama. Sebagai
tahun sebesar
2012 mengalami
hanyaperbandingan,
memperolehPDB
capaian
97% dari
pertumbuhan sebesar 6,23% dibanding tahun sebelumnya,
target.
namun PDB
tahun 2013 hanya tumbuh sebesar 5,83%.
Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab turunnya
Penurunan besar
pertumbuhan
perdagangan
pertumbuhan perdagangan
dan eceran di
Indonesia
pada tahun 2013, antara lain: (1) penurunan pertumbuhan
besar dan eceran pada tahun 2013
nilai pengeluaran konsumsi dari sebelumnya tumbuh
sebesar 5,07%
pada tahun
2012, pada
tahun 2013nilai
(s.d. Produk
data
berbarengan
dengan
penurunan
triwulan ke-3) pengeluaran konsumsi hanya tumbuh sebesar
4,7%; (2)Domestik
berakhirnyaBruto
kebijakan
Quantitative
Easing (QE) di di
(PDB)
secara keseluruhan
Amerika Serikat yang menyebabkan peningkatan suku bunga
usaha dan
peningkatan
meminjam
(increasing
cost of
periode
yangbiaya
sama.
Sebagai
perbandingan,
borrowing) secara global; (3) ketatnya kebijakan di bidang
PDB tahuneceran,
2012 a.l.mengalami
pertumbuhan
usaha perdagangan
kebijakan Daftar
Negatif
Investasi (DNI) bagi minimarket, yang membuat surutnya
sebesarpemodal
6,23% asing
dibanding
rencana investasi
di bidangtahun
ini. sebelumnya,
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
2013
Target
Indikator Kinerja 13: Pertumbuhan PDB
sektor perdagangan (besar dan eceran)
62
03
namun PDB tahun 2013 hanya tumbuh
sebesar 5,83%.
Namun demikian, walaupun pada tahun 2013 mengalami
Terdapat
faktor
menjadiBesar
pertumbuhan
yangbeberapa
tidak sesuai
targer,yang
Perdagangan
dan Eceran (tidak termasuk hotel dan restoran) selama selama
penyebab
turunnya
pertumbuhan
10 tahun periode tahun 2004 - 2013 selalu memberikan
kontribusi
cukup besar
besar, antara
13,42% s.d.
terhadap
perdagangan
dan eceran
di 15,12%,
Indonesia
perekonomian Indonesia.
pada tahun
lain: (1)Perdagangan
penurunantelah
Pada
tahun 2013,
2013, antara
Kementerian
menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 70
pertumbuhan nilai pengeluaran konsumsi dari
Tahun 2013 Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar
Tradisional,
Pusattumbuh
Perbelanjaan
dan Toko
Modern.Peraturan
sebelumnya
sebesar
5,07%
pada
Mendag No. 70 Tahun 2013, bertujuan untuk meningkatkan
iklim
usaha
yang sehat
tertib
usaha,(s.d.
tertib data
perizinan,
tahun
2012,
padamelalui
tahun
2013
pengembangan kemitraan, peningkatan daya saing pasar
triwulan dan
ke-3)
pengeluaran
konsumsiproduk
hanyadalam
tradisional
peningkatan
akses pemasaran
negeri.
tumbuh
sebesar
4,7%;
(2)
berakhirnya
kebijakan Quantitative Easing (QE) di Amerika
Serikat yang menyebabkan peningkatan suku
Tahun 2013, Kementerian
bungaPerdagangan
usaha dantelah
peningkatan
menerbitkanbiaya
meminjam
(increasing
of borrowing)
Peraturan
Mentericost
Perdagangan
70 ketatnya
Tahun 2013
Tentang
secaraNomor
global; (3)
kebijakan
di bidang
Pedoman Penataan dan Pembinaan
Pasar Tradisional, Pusat
DaftarPerbelanjaan
Negatif
Investasi
(DNI) bagi
dan Toko Modern.
usaha perdagangan eceran, a.l. kebijakan
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |61
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
63
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
Indikator Kinerja 14:
Rasio Penggunaan Produk
Pengeluaran Konsumsi
Dalam
Negeri
Terhadap
Berdasarkan data terakhir yang ada dari Badan Pusat Statistik,
sampai dengan kuartal III tahun 2013, realisasi indaktor
kinerja “Rasio Penggunaan Produk Dalam Negeri Terhadap
Pengeluaran Konsumsi” 97,2%. Realiasi ini melebihi target
yang ditetapkan pada kontrak kinerja yang sebesar 95%.
Dengan demikian, pada tahun 2013, capaian yang diperoleh
Kementerian Perdagangan atas Indikator Kinerja ini adalah
sebesar 102%.
03Akuntabilitas Kinerja
03
2014 yang diharapkan yaitu pada nilai 95%. Pencapaian ini
menjadi salah satu parameter keberhasilan upaya Kampanye
Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri yang selama
ini telah dilaksanakan Kementerian Perdagangan.
Pasar domestik Indonesia mempunyai potensi yang cukup
besar dengan didukung oleh jumlah penduduk Indonesia
yang mencapai 246 juta jiwa (data BPS tahun 2012). Sekitar
50 persen dari total penduduk Indonesia tersebut berumur
di bawah 29 tahun yang merupakan angkatan muda dengan
daya beli tinggi. Potensi ini merupakan peluang yang cukup
besar bagi upaya pengembangan produk dalam negeri. Selain
itu, angkatan muda ini yang juga merupakan usia produktif
dapat didorong untuk mencintai produk dalam negeri.
Secara rinci, persentase penggunaan Produk Dalam Negeri
Sejak tahun 2009, Kementerian Perdagangan melakukan
diketahui dengan menghitung nilai kontribusi penggunaan
Kampanye Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri.
produk dalam negeri terhadap total konsumsi rumah tangga.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan rasa cinta dan
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah BP2KP
bangga terhadap Indonesia; meningkatkan “Nation Branding”;
menunjukkan bahwa pada tahun 2013 kuartal I (satu), nilai
menyadarkan persepsi keliru bahwa produk Indonesia kurang
kontribusi penggunaan produk dalam negeri terhadap total
baik yang kemudian akan meningkatkan penggunaan produk
Akuntabilitas Kinerja
konsumsi rumah tangga berada pada angka 97,6%, sedangkan
dalam negeri. Keberhasilan program ini tidak cukup hanya
pada kuartal II (dua) dan III (tiga) tahun 2013, nilai kontribusi
melakukan gerakan penggunaan produk dalam negeri, tetapi
penggunaan produk dalam negeri terhadap total konsumsi
perlu juga diiringi dengan perubahan sikap dan perilaku
rumah tangga stabil berada pada angka 97,2%. Pada kuartal IV
terhadap produk dalam negeri itu sendiri dalam memutuskan
(empat) tahun 2013, diharapkan angka dimaksud meningkat
untuk menggunakan dan membelinya sehingga tercipta rasa
produk dalam
diiringi
dalampada
memutuskan
untuk menggunakan dan
hingga negeri,
mencapaitetapi
kisaranperlu
97,3% -juga
97,5%.
Nilai yang dicapai
bangga dan cinta terhadap produk Indonesia.
kuartal III (tiga) tahun 2013 telah jauh melampaui target tahun
03
minimarket, yang membuat surutnya rencana
Menteri Perdagangan Nomor 70 Tahun 2013
investasi pemodal asing di bidang ini.
Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan
80%
Namun demikian, walaupun pada tahun
Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan
yang tidak
Toko Modern.Peraturan Mendag No. 70
sesuai targer, Perdagangan Besar dan Eceran
Tahun 2013, bertujuan untuk meningkatkan
2013 mengalami pertumbuhan
Produk
Dalam Negeri
Permendag
70 Tahun
(tidak No.
termasuk
hotel2013
dan restoran) selama
mengatur bahwa 80% produk
selama
tahun
periodeharus
tahun 2004 - 2013
yang dijual
di10
retail
modern
memberikan
produkselalu
dalam
negeri. kontribusi cukup besar,
antara
13,42%
s.d.
15,12%,
terhadap
iklim usaha yang sehat melalui tertib usaha,
dengan
perubahan
sikap
dan
perilaku
terhadap produk dalam negeri itu sendiri
membelinya sehingga tercipta rasa bangga
dan cinta terhadap produk Indonesia.
Gambar 10 Produk Dalam Negeri, Tahun 2013
Tabel 10. Persentase Penggunaan
Persentase Penggunaan Produk Dalam Negeri, Tahun 2013
tertib perizinan, pengembangan kemitraan,
peningkatan daya saing pasar tradisional dan
peningkatan akses pemasaran produk dalam
negeri.
perekonomian Indonesia.
Pada
tahun
2013,
Kementerian
Tabel 11
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Menurut Lapangan Usaha
Perdagangan telah menerbitkan Peraturan
Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Dalam Miliar Rupiah)
Tabel 11. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Sektor Perdagangan, Harga Konstan 2000 (dalam Miliar Rupiah)
Lapangan
Usaha
2012
TW I
93.604
Perdagangan
Besar dan
Eceran
Sumber: Bank Indonesia
TW II
98.477
TW III
100.499
Indikator Kinerja 14: Rasio Penggunaan
Produk
Dalam
Negeri
Terhadap
Pengeluaran Konsumsi
64
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Berdasarkan data terakhir yang ada dari
2013
TW IV
103.310
TW I
99.776
TW II
104.835
TW III
127.000
TW IV
-
Kementerian Perdagangan atas Indikator
Kinerja ini adalah sebesar 102%.
Secara rinci, persentase penggunaan
Produk Dalam Negeri diketahui dengan
Sumber: BPS (diolah Kementerian Perdagangan).
Pada tahun 2013, Kementerian Perdagangan
• Kampanye
Peningkatan
Penggunaan
berbagai promosi
Produk Dalam Negeri melalui berbagai
produk dalam negeri Kampanye Peningkatan
media baik cetak/elektronik; pemasangan
telah menyelenggarakan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
65
03
03Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
Indikator Kinerja 15:
Capaian Transaksi Multilateral di Bidang
Perdagangan Berjangka Komoditi
Dalam kurun waktu 3 tahun
terakhir (2011 - 2013) Kementerian
Perdagangan telah memfasilitasi
dan membina ±17.020 UMKM.
• Pameran Produk Dalam Negeri Regional di 4 daerah,
• Pameran Pangan Nusa di 4 daerah,
• Sosialisasi Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri
di Sektor Pendidikan di 11 daerah,
Capaian
Transaksi
Multilateral
di Bidang
Perdagangan
Dengan
telah
diterbitkannya
Undang-Undang
Berjangka Komoditi
Belum
tercapainya
targetmengenai
jumlahindustri
transaksi
sosialisasi
kepada masyarakat
Perdagangan
Selain gencar melakukan Kampanye Peningkatan Penggunaan
Produk Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan melakukan
upaya untuk memfasilitasi dan membina UMKM. Langkah –
langkah yang diambil meliputi 3 (tiga) hal:
1. Pertama, peningkatan kompetensi dan kapasitas UMKM
melalui bimbingan teknis, pelatihan dan workshop serta
pemberian bantuan sarana usaha.
2. Kedua, peningkatan kualitas dan pengembangan produk
lokal yang berdaya saing melalui sosialisasi dan edukasi
dalam penguatan dan pengembangan produk UMKM
(sosialisasi desain kemasan, HAKI dan sertifikasi Halal)
agar memiliki daya saing serta memberikan apresiasi
kepada produk UMKM (UMKM Pangan Award).
Keberhasilan
transaksi
komoditi
multilateral
Bursa
transparan
dan dapat
dijadikan
sebagaidireferensi
Berjangka itu dapat diukur dengan beberapa cara, salah
paradengan
pelaku
usaha
sertalikuiditas
dapat transaksi
dijadikan
satunyabagi
adalah
melihat
tingkat
komoditi multilateral yang terjadi di Bursa Berjangka. Pada
sebagai alternatif investasi.
tahun 2013 jumlah transaksi multilateral di bidang PBK
tercatat sebesar 1.257.829 lot atau sebesar 83,86% dari target
Keberhasilan
transaksi
di
yang telah
ditetapkan yaitu
sebesarkomoditi
1.500.000multilateral
lot.
Berjangka
itu dapat
dengan
Belum Bursa
tercapainya
target jumlah
transaksidiukur
multilateral
di
bidang PBK pada periode ini dikarenakan masyarakat masih
beberapa
cara,
salahbilateral
satunya
adalah
dengan
lebih tertarik
dengan
transaksi
(Sistem
Perdagangan
Alternatif/SPA)
ini PT BKDI
juga sudah
dapat
melihat dimana
tingkatsaatlikuiditas
transaksi
komoditi
memperdagangkan transaksi SPA yang sebelumnya hanya
multilateral
yangberjangka
terjadi dikomoditi
Bursa Berjangka.
mentransaksikan
kontrak
multilateral.Pada
tahun 2013 jumlah transaksi multilateral di bidang
Perdagangan pada tahun 2014 akan lebih menggiatkan
Berjangka dan pelatihan kepada para pelaku usaha mengenai
multilateral
bidangmultilateral
PBK pada
periode
ini dapat
manfaat dariditransaksi
sehingga
mereka
memberikan pelayanan
yang masih
baik kepada
masyarakat.
dikarenakan
masyarakat
lebih
tertarik
Selain dua hal tersebut, Kementerian Perdagangan
rencananya juga akan menerbitkan peraturan terkait
peningkatan transaksi
Alternatif/SPA)
dimanamultilateral
saat ini PT yang
BKDI sebelumnya
juga sudah sudah
diterapkan untuk komoditi Timah dan hal tersebut ternyata
dapat
memperdagangkan
dapat meningkatkan
transaksitransaksi
multilateralSPA
serta yang
mendorong
nilai ekspor Timah Indonesia yang pada akhirnya Indonesia
sebelumnya hanya mentransaksikan kontrak
mampu menjadi penentu harga (price setter) di komoditi
Timah. komoditi multilateral.
berjangka
dengan transaksi bilateral (Sistem Perdagangan
Namun demikian, jika ditinjau dari jumlah transaksi
Dengan
memperhatikan
halsampai
di atas,
multilateral
sejak tahun 2010
dengan maka
tahun 2013,
selalu menunjukkan peningkatan jumlah transaksi dari tahun
Kementerian
Perdagangan
pada
tahun 2014
akandialami
ke tahun. Peningkatan
transaksi
multilateral
tertinggi
padamenggiatkan
tahun 2011, dimana
meningkat
sebesar
308,65% dari
lebih
sosialisasi
kepada
masyarakat
tahun sebelumnya. Kemudian pada tahun 2012 transaksi
mengenai
Perdagangan
Berjangka
dan dan
multilateralindustri
juga mengalami
peningkatan
sebesar 19,45%
tahun 2013 meningkat sebesar 10,69%.
pelatihan kepada para pelaku usaha mengenai
manfaat dari transaksi multilateral sehingga
mereka dapat memberikan pelayanan yang baik
kepada masyarakat.
Selain dua hal tersebut, Kementerian Perdagangan
Gambar 11
Volume Transaksi Multilateral Perdagangan Berjangka Komoditi Tahun 2010 - 2013
• Forum Dagang Produk Dalam Negeri di 10 daerah dan,
• Kampanye Peningkatan Penggunaan Produk Dalam
Negeri melalui berbagai media baik cetak/elektronik;
pemasangan materi pada badan bus, bilboard, headrest
kereta api, dan penyebaran berbagai merchandise kepada
masyarakat.
83,86% dari target yang telah ditetapkan yaitu
sebesar
lot. hal di atas, maka Kementerian
Dengan1.500.000
memperhatikan
Komoditi sebagaimana
diubah
DenganBerjangka
telah diterbitkannya
Undang-Undangtelah
Nomor
32
Tahun dengan
1997 tentang
Perdagangan
Berjangka
Komoditi
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011,
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
maka
itu pula
Perdagangan
10 Tahun
2011,dengan
maka dengan
itu pulaindustri
industri Perdagangan
Berjangka (PBK) di Indonesia dimulai. Harapan yang muncul
Indonesia
dimulai.
Harapan
denganBerjangka
adanya PBK(PBK)
adalahdi
tersedianya
sarana
pembentukan
harga yang
dapat dijadikan
yangtransparan
muncul dandengan
adanyasebagai
PBKreferensi
adalah
bagi para pelaku usaha serta dapat dijadikan sebagai alternatif
investasi.
tersedianya sarana pembentukan harga yang
Pada tahun 2013, Kementerian Perdagangan telah
menyelenggarakan berbagai promosi produk dalam negeri
Kampanye Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri:
03
Indikator Kinerja 15:
Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan
17.020 UKM
Akuntabilitas Kinerja
PBK tercatat sebesar 1.257.829 lot atau sebesar
3. Ketiga, fasilitasi pemasaran melalui pengembangan
kemitraan usaha/temu usaha dengan ritel modern dan
fasilitasi keikutsertaan dalam berbagai pameran.
4. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir (2011 - 2013)
Kementerian Perdagangan telah memfasilitasi dan
membina ±17.020 UMKM. Dalam Temu Usaha dan Forum
Dagang difasilitasi pertemuan antar UMKM dan dengan
ritel modern sebanyak ±1.458 UMKM yang kemudian
sebanyak ±203 UMKM dapat menjadi pemasok/
melakukan kemitraan dengan ritel modern seperti
Carrefour, Hypermart, Superindo, Alfamart, ritel modern
lokal lainnya. Sedangkan Pembinaan UMKM melalui
Pendidikan dan Pelatihan serta Bimbingan Teknis diikuti
oleh ±2.580 UMKM; Fasilitasi Pameran Dalam Negeri
diberikan kepada ±679 UMKM; Fasilitasi Pameran Pangan
Nusa dan Pameran Produk Dalam Negeri Regional/
Nasional kepada ± 1005 UMKM dan pemberian Bantuan
Sarana Usaha kepada ±11.298 UMKM.
Sumber: Kementerian Perdagangan.
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |67
.
66
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
67
03
Akuntabilitas Kinerja
03Akuntabilitas Kinerja
03
Indikator
Kinerja 16: Kinerja 16:
Indikator
Dalam
Sistem
SRG dapat
Pada tahun
2013,Logistik
transaksiNasional,
SRG mencapai
sebesar Rp
Nilai Resi Gudang
CapaianCapaian
Nilai Resi Gudang
berperan penting sebagai sarana penyimpanan
Sistem Resi Gudang (SRG) sesuai dengan UU
Kementerian Perdagangan
akan menerbitkan peraturan
terkait peningkatan transaksi
multilateral yang sebelumnya
sudah diterapkan untuk komoditi
Timah dan hal tersebut ternyata
dapat meningkatkan transaksi
multilateral serta mendorong nilai
ekspor Timah Indonesia yang
pada akhirnya Indonesia mampu
menjadi penentu harga (price
setter) di komoditi Timah.
Akuntabilitas Kinerja
108.948.556.100,00 atau telah melebihi dari target yang
ditetapkan yaitu Rp 100.000.000.000,00 atau dengan tingkat
capaian sebesar
logistik
dalam 108,95%.
proses produksi, distribusi dan
Sistem Resi Gudang (SRG) sesuai dengan UU Nomor 9
Nomor
9 Tahun 2006
sebagaimana
diubah
Tahun 2006
sebagaimana
telah diubah
dengan telah
UU Nomor
9 Tahun 2011, merupakan salah satu instrumen yang dapat
denganoleh
UU para
Nomor
9 Tahun
2011, merupakan
salah
dimanfaatkan
petani,
kelompok
tani, gapoktan,
koperasisatu
tani instrumen
maupun pelaku
prosesor,
yangusaha
dapat(pedagang,
dimanfaatkan
oleh
pabrikan) sebagai suatu instrumen tunda jual dan pembiayaan
para petani,
kelompok
tani, gapoktan,
koperasi
perdagangan
karena dapat
menyediakan
akses kredit
bagi
dunia usaha dengan jaminan barang (komoditi) yang disimpan
taniSebagai
maupun
pelaku
usaha
(pedagang,
prosesor,
di gudang.
dokumen
bukti
kepemilikan
atas komoditi
yang disimpan
di sebagai
gudang,suatu
resi gudang
dapat
digunakan
pabrikan)
instrumen
tunda
jual dan
sebagai instrumen keuangan yang dapat diperjualbelikan dan
juga mendukung
Sistem Logistik
Nasional. karena
pembiayaan
perdagangan
dapat
konsumsi. SRG juga dapat menjadi salah satu
Dalam Sistem
Logistik Nasional,
dapatbagi
berperan
penting
menyediakan
akses SRG
kredit
dunia
usaha
sebagai sarana penyimpanan logistik dalam proses produksi,
dengan
jaminanSRG
barang
yang
disimpan
distribusi
dan konsumsi.
juga (komoditi)
dapat menjadi
salah
satu
instrumen pengukuran ketersediaan stok nasional, khususnya
di gudang.
dokumen
bukti dan
kepemilikan
terkait dengan
bahan Sebagai
pangan seperti
beras, gabah
jagung.
Hal ini dimungkinkan
karena
datadisimpan
ketersediaan
di setiap
atas komoditi
yang
di stok
gudang,
resi
gudang SRG terintegrasi melalui suatu Sistem Informasi Resi
Gudanggudang
(IS-WARE).dapat digunakan sebagai instrumen
Pada tahun
transaksi
SRGtarget
mencapai sebesar
telah2013,
melebihi
dari
108,95%
instrumen
pengukuran
ketersediaan
stok
nasional, khususnya terkait dengan bahan pangan
seperti beras, gabah dan jagung. Hal ini
dimungkinkan karena data ketersediaan stok di
setiap Tahun
gudang 2013,
SRG terintegrasi
transaksi melalui suatu
SRG mencapai
sebesar
Rp
Sistem Informasi
Resi Gudang
(IS-WARE).
108.948.556.100,00 atau
Rp 108.948.556.100,00
atau
telahRp
melebihi dari
yang ditetapkan
yaitu
100.000.000.000,00
dengan Rp
yang
ditetapkanatau yaitu
tingkat capaian
108,95%.
100.000.000.000,00
atau sebesar
dengan tingkat
capaian
target
sebesar 108,95%.
keuangan yang dapat diperjualbelikan dan juga
mendukung Sistem Logistik Nasional;
Gambar 12
Perkembangan Nilai SRG 2010 - 2013
Sumber: Kementerian Perdagangan.
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |69
68
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
69
03
03Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
Keberhasilan peningkatan transaksi SRG itu antara
Selain itu, sejak tahun 2010, nilai transaksi SRG
lain dikarenakan adanya peningkatan pemahaman
selalu menunjukkan peningkatan. Peningkatan
Keberhasilan
peningkatan
transaksi
SRG ituSRG
antara
Selainterjadi
itu, sejak
tahuntahun
2010, 2011
nilai transaksi
pada
dimana SRG selalu
dari masyarakat
tentang
pentingnya
yanglain tertinggi
dikarenakan adanya peningkatan pemahaman dari
menunjukkan peningkatan. Peningkatan tertinggi terjadi
peningkatan
sebesar
362% dari
tahun
berarti tujuan
kegiatan
pelatihan
teknis,dari mengalami
masyarakat
tentang dari
pentingnya
SRG yang
berarti tujuan
pada tahun
2011 dimana
mengalami
peningkatan
sebesar
kegiatan pelatihan teknis, bimbingan teknis serta sosialisasi
362% dari tahun 2010.
bimbingan teknis serta sosialisasi SRG berhasil. 2010.
SRG berhasil. Selain itu, faktor panen raya juga menjadi salah
Pada tahun 2013, komoditi yang paling banyak disimpan
satu
faktor
peningkatan
pemanfaatan
Gudang
Selain
itu,pendukung
faktor panen
raya juga
menjadi salah
dalam gudang adalah komoditi Gabah dengan jumlah resi
dalam menjalankan fungsinya sebagai media penyimpanan Pada tahun 2013, komoditi yang paling banyak
sebanyak 474 resi, volume sebanyak 17.693,44 ton dengan
satu faktor
pendukung
peningkatangudang
pemanfaatan
komoditi
disamping
faktor bertambahnya
SRG.
disimpan
gudang
adalah
komoditi Gabah dan telah
nilai dalam
komoditi
sebanyak
Rp 91.405.668.300,00
diagunkan
sebanyak
Rp56.851.332.000,00.
Gudang dalam menjalankan fungsinya sebagai
dengan jumlah resi sebanyak 474 resi, volume
media penyimpanan komoditi disamping faktor
sebanyak
Rp 91.405.668.300,00 dan telah
Tabel
12
Rincian Jumlah dan Nilai Komoditi yangdiagunkan
Disimpansebanyak
di dalamRp56.851.332.000,00.
Gudang SRG, Tahun 2013
Tabel 11. Rincian Jumlah dan Nilai Komoditi yang Disimpan di dalam Gudang SRG, Tahun 2013
Gabah
Beras
Jagung
Kopi
Rumput Laut
TOTAL
474
14
31
1
12
91.405.668.300
8.026.490.000
5.397.397.800
645.000.000
3.474.000.000
56.851.332.000
5.615.525.000
2.655.749.000
0
1.090.600.000
532
20.796,23
108.948.556.100
66.213.206.000
Nilai (Rp)
Pembiayaan (Rp)
Sumber: Kementerian Perdagangan.
Gambar 21. Peresmian Gudang SRG di Kebumen (kiri);
Beras dan Gabah yang disimpan di Gudang SRG Kab. Cianjur (kanan)
Tahun 2013, komoditi yang
paling banyak disimpan dalam
gudang adalah komoditi Gabah
dengan jumlah resi sebanyak 474
resi, volume sebanyak 17.693,44
ton dengan nilai komoditi
sebanyak Rp 91.405.668.300,00
dan telah diagunkan sebanyak
Rp56.851.332.000,00.
70|LAK Kementerian Perdagangan 2013
70
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Sasaran Strategis 7:
“Peningkatan Perlindungan Konsumen”
Sasaran
Strategis 7:“Peningkatan Perlindungan Konsumen”
Indikator Kinerja
2010
2011
2012
54
65
84
17) Akumulasi jumlah BPSK yang
difasilitasi pembentukannya (Unit)
Indikator Kinerja 17: Akumulasi Jumlah
BPSK yang Terbentuk Setiap Tahun
Indikator Kinerja 17:
Akumulasi Jumlah BPSK yang Terbentuk Setiap Tahun
Dalam rangka penguatan pasar dalam
2013
Volume
(ton)
17.693,44
1.085,20
1.582,59
15,00
420,00
Jumlah Resi
03Akuntabilitas Kinerja
03
2013
Target
Realisasi
Capaian
(%)
65
111
170,8
sebanyak 17.693,44 ton dengan nilai komoditi
bertambahnya gudang SRG.
Komoditi
Akuntabilitas Kinerja
Indikator “Akumulasi jumlah BPSK yang
menteri.
Dalam menangani
dan mengatur
terbentuk”
memang
masih berupa
output,permasalahan
konsumen, BPSK memiliki kewenangan untuk melakukan
kebenarannamun
laporan dandapat
keterangan dari para
belum pemeriksaan
berupa atas
outcome
pihak yang bersengketa, melihat atau meminta tanda bayar,
dijelaskan
dampak
darihasiloutput
tersebut.
tagihan
atau kuitansi,
tes laboratorium
atau bukti-bukti
negeri,
Kementerian
Dalam rangka penguatan
pasar dalam Perdagangan
negeri, Kementerian
lain. Keputusan BPSK bersifat mengikat dan penyelesaian
Perdagangan melaksanakan berbagai upaya yang bertujuan
Penyelesaian
Sengketa
melaksanakan berbagai upaya yang bertujuan Pembentukan
akhir bagiBadan
para pihak.
Tugas BPSK yaitu:
meningkatkan perlindungan kepada konsumen dan menjaga
kualitas barang beredar,perlindungan
antara lain melalui: kepada Konsumen
1. Melaksanakan
dan penyelesaian
sengketa
(BPSK) penanganan
merupakan
wujud
meningkatkan
konsumen melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
1. Penguatan kelembagaan Sengketa Konsumen (BPSK) dan
pelaksanaan
undang-undang sebagaimana
konsumen
dan menjaga
kualitas
Lembaga Perlindungan
Konsumen
Swadayabarang
Masyarakat
2. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
(LPKSM);
diamanatkan
di dalam
Pasalterhadap
49 ayat
(1)
3. Melakukan
pengawasan
pencantuman
klausula
beredar, antara lain melalui:
2. Peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga Penyidik
baku;
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Negeri Sipil–Perlindungan Konsumen (PPNS‐PK)
1. Pegawai
Penguatan
kelembagaan
Sengketa
4. Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi
dan tenaga Petugas Pengawas Barang Beredar dan Jasa
pelanggaran
ketentuan dalam
Undang-Undang No. 8
Perlindungan
Konsumen:
“Pemerintah
(PPBJ)
untuk mendukung
barang
Konsumen
(BPSK) kegiatan
dan pengawasan
Lembaga
tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
beredar dan jasa;
membentuk Badan Penyelesaian Sengketa
5. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis,
Perlindungan
Konsumen
Swadaya
3. Peningkatan
pengawasan
terhadap alat
Ukur Takar
konsumenditentang
terjadinya
pelanggaran
terhadap
Konsumendari(BPSK)
Daerah
Tingkat
II
Timbang dan Perlengkapannya (UTTP).
Masyarakat (LPKSM);
perlindungan konsumen;
Indikator “Akumulasi jumlah BPSK yang terbentuk” memang
(pemerintah
kabupaten/kota)
untuk
6. Melakukan
penelitian dan pemeriksaan
sengketa
masih
berupa
output,
belum
berupa
outcome
namun
dapat
2. Peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga
perlindungan konsumen;
menyelesaikan sengketa konsumen di luar
dijelaskan dampak dari output tersebut. Pembentukan Badan
7. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan
Penyelesaian
Konsumen (BPSK)
PenyidikSengketa
Pegawai
Negerimerupakan
Sipil–wujud
BPSK adalah
salah
satu lembaga
pelanggaran
terhadap
perlindungan
konsumen;
pelaksanaan undang-undang sebagaimana diamanatkan pengadilan”.
di
Perlindungan
(PPNS-PK)
dan 1999
dalam
Pasal 49 ayat (1)Konsumen
Undang-Undang
Nomor 8 Tahun
8. Memanggil
menghadirkan pada
saksi, saksi
peradilan
konsumendan
berkedudukan
tiap ahli dan/atau
tentang Perlindungan Konsumen: “Pemerintah membentuk
setiap
orang
yang
dianggap
mengetahui
pelanggaran
tenaga
Petugas
Pengawas
Barang
Beredar
Badan
Penyelesaian
Sengketa
Konsumen
(BPSK)
di Daerah
terhadapII Undang-Undang
No. 8kota
tahundi1999 tentang
daerah tingkat
kabupaten dan
Tingkat II (pemerintah kabupaten/kota) untuk menyelesaikan
Perlindungan Konsumen;
dan konsumen
Jasa (PPBJ)
untuk mendukung
sengketa
di luar pengadilan”.
BPSK adalah salah
seluruh Indonesia sebagaimana diatur
9. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku
satu lembaga peradilan konsumen berkedudukan pada tiap
kegiatan pengawasan barang beredar dan
usaha, saksi, saksi ahli,
atau setiap
atau pihak yang
daerah tingkat II kabupaten dan kota di seluruh Indonesia
menurut Undang-Undang
No.8
tahunorang
1999
tidak
bersedia
memenuhi
panggilan
badan
penyelesaian
sebagaimana
diatur
menurut
Undang-Undang
No.8
tahun
jasa;
sengketa konsumen;
tentang Perlindungan
Konsumen.
1999 tentang Perlindungan Konsumen.
10.Mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat,
BPSKdokumen,
bertugas
menyelesaikan
atau alat bukti lain
guna penyelidikan dan/atau
luar lembaga pengadilan umum, BPSK beranggotakan unsur
pemeriksaan;
Ukur Takar
Timbang
dan Perlengkapannya
perwakilan
aparatur
pemerintah,
konsumen dan pelaku
persengketaan konsumen di luar lembaga
usaha atau produsen yang diangkat atau diberhentikan oleh
BPSKPeningkatan
bertugas menyelesaikan
persengketaan
konsumen
3.
pengawasan
terhadap
alat di
(UTTP).
70|LAK Kementerian Perdagangan 2013
pengadilan umum, BPSK beranggotakan unsur
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
71
03
Akuntabilitas Kinerja
11. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya
kerugian di pihak konsumen;
12.
Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha
yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan
konsumen;
13.Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha
yang melanggar ketentuan undang-undang ini.
Berdasarkan penjelasan profil singkat BPSK di atas dapat
disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah BPSK yang
terbentuk maka diharapkan akses masyarakat dalam
mengadukan sengketa atas pembelian barang dan/atau
pemanfaatan jasa semakin mudah, sehingga hak-hak
konsumen semakin terlindungi. Selain itu diharapkan pula
dengan semakin meningkatnya upaya perlindungan konsumen
di daerah akan tercipta iklim usaha yang lebih baik dan pelaku
usaha akan lebih bertanggung jawab dalam memproduksi
maupun memperdagangkan barang dan/atau jasa.
Akuntabilitas Kinerja
03
Pada Tahun 2013, Kementerian Perdagangan memfasilitasi
terbentuknya 27 unit BPSK. Akumulasi BPSK yang terbentuk
sampai dengan Bulan Desember 2013 adalah 111 unit sehingga
capaian kinerjanya sebesar 170,76% atau 171% dari target 65
unit. Pencapaian Tahun 2013 untuk indikator ini mengalami
kenaikan dari tahun sebelumnya. Pada Tahun 2012, jumlah
BPSK yang terbentuk di berbagai kabupaten/kota di Indonesia
sebanyak 84 unit dari target 60 unit atau pencapaiannya 140%
sehingga pencapaian Tahun ini naik sekitar 30%. Hal ini dapat
terwujud karena didukung oleh sosialisasi yang dilaksanakan
Kementerian Perdagangan secara intensif mengenai peran
dan fungsi penting BPSK dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen dan berkelanjutan sehingga menumbuhkan
kesadaran pemerintah daerah untuk membentuk BPSK.
03
Berikut ini adalah rincian pembentukan BPSK yang difasilitasi
Akuntabilitas Kinerja
Kementerian Perdagangan di berbagai daerah:
Gambar 13
Perkembangan Pembentukan BPSK di Daerah, Tahun 2010-2013
a. Berdasarkan Keppres Nomor 3 Tahun 2013 telah dibentuk
BPSK pada:
1. Kabupaten Sinjai,
16.Kabupaten Sumedang,
2. Kabupaten Takalar,
17. Kabupaten Kuningan,
3. Kabupaten Kepulauan Selayar,
18.Kabupaten Wonosobo,
4. Kabupaten Barito Utara.
19.Kabupaten Ngawi,
b. Keppres Nomor 12 Tahun 2013 tentang Pembentukan
BPSK pada:
5. Kabupaten Bone Bolango,
Sumber: Kementerian Perdagangan.
6. Kabupaten Gorontalo,
7. Kabupaten Gorontalo Utara,
a. Berdasarkan Keppres Nomor 3 Tahun
2013 telah dibentuk BPSK pada:
8. Kabupaten Pohuwato,
15. Kota Salatiga
9. Kabupaten Pemalang,
10.Kabupaten Cianjur,
1.
Kabupaten Sinjai,
2.
Kabupaten Takalar,
Pembentukan BPSK pada:
3.
Kabupaten Kepulauan Selayar,
16. Kabupaten Sumedang,
13. Kota Bekasi,
17. Kabupaten Kuningan,
14.Kota Pematangsiantar, dan
4. Kabupaten Barito Utara.
b. Keppres Nomor 12 Tahun 2013 tentang
Pembentukan BPSK pada:
72
14. Kota Pematangsiantar, dan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
5.
Kabupaten Bone Bolango,
c. Keppres Nomor 22 Tahun 2013 tentang
18. Kabupaten Wonosobo,
c. Keppres Nomor 22 Tahun 2013 tentang Pembentukan
BPSK pada:
11. Kabupaten Langkat,
12. Kota Padang Panjang,
15. Kota Salatiga
20.Kabupaten Tanjung Jabung Timur,
21. Kabupaten Sarolangun,
22.Kabupaten Donggala,
23.Kabupaten Belitung Timur,
24.Kabupaten Pontianak,
25.Kabupaten Ogan Ilir,
26.Kota Palu, dan
27.Kota Kotamobagu.
Mengacu pada target jangka menengah yang terdapat dalam
dokumen Rencana Strategis Kementerian Perdagangan Tahun
2011-2014, maka realisasi kinerja sampai dengan Tahun 2013
sudah melebihi target jangka menengah yaitu 70 unit BPSK
pada Tahun 2014. Berikut adalah data target dan capaian
sasaran “Akumulasi Jumlah BPSK yang terbentuk”:
19. Kabupaten Ngawi,
20. Kabupaten Tanjung Jabung Timur,
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
73
23. Kabupaten Belitung Timur,
2011-2014, maka realisasi kinerja sampai
03
24. Kabupaten Pontianak,
dengan Tahun 2013 sudah melebihi target
25. Kabupaten Ogan Ilir,
jangka menengah yaitu 70 unit BPSK pada
26.Akuntabilitas
Kota Palu, danKinerja
Tahun 2014. Berikut adalah data target dan
27. Kota Kotamobagu.
capaian sasaran “Akumulasi Jumlah BPSK yang
terbentuk”:
Mengacu pada target jangka menengah
Tabel 13
Target
dan Realisasi
Kinerja
“Akumulasi Jumlah BPSK yang terbentuk,” 2011-2014
yang
terdapat
dalamIndikator
dokumen
Rencana
Tabel 13. Target dan Realisasi Indikator Kinerja “Akumulasi Jumlah BPSK yang terbentuk,” 2011-2014
Tahun
Target (unit)
Realisasi (unit)
2010
-
2011
55
65
2012
60
84
2013
65
111
yang
mendukung
pembentukan BPSK antara lain fasilitasi
Program-program yang mendukung pembentukan BPSK
antara pembentukan
lain fasilitasi pembentukan
dan penguatan
BPSK,
dan penguatan
BPSK, fasilitasi
fasilitasi koordinasi kelembagaan perlindungan konsumen, dan
musyawarah
nasional BPSK.
Pada Tahun 2012 diselenggarakan
koordinasi
kelembagaan
perlindungan
penilaian terhadap BPSK berkinerja terbaik. Dimana pemenang
konsumen,
dan musyawarah
BPSK.
berkesempatan
melakukan
kunjungan ke nasional
Korea Selatan,
India dan Malaysia pada Tahun 2013 untuk mengetahui
Tahun
2012 perlindungan
diselenggarakan
penilaian
sejauh Pada
mana peran
lembaga
konsumen
dalam
penyelesaian sengketa konsumen. Beberapa hal yang bisa
terhadap
BPSK
berkinerja
terbaik.Consumer
Dimana
dijadikan
pembanding
yaitu Korea
Selatan memiliki
Dispute Settlement Commission (CDSC) - Korean Consumer
pemenang
berkesempatan
melakukan
Agency. CDSC merupakan badan independen yang terdiri
dari 48kunjungan
komisi dibawahke
Korean
Consumer
Agency India
(KCA) yang
Korea
Selatan,
dan
bertugas untuk menyelesaikan keluhan konsumen terkait
kerugian
dengan cara
mediasi.
tidak
Malaysia
pada
TahunApabila
2013 dalam
untukmediasi
mengetahui
mencapai kata sepakat maka dilimpahkan kepada pengadilan.
sejauh
mana
peranuntuk
lembaga
perlindungan
CDSC juga
memiliki
kewenangan
mengambil
keputusan
apabila pihak pelaku usaha tidak hadir pada saat mediasi.
dalam
penyelesaian
sengketa
Dalam konsumen
satu minggu CDSC
mengadakan
sidang 1 atau
2 kali,
masing-masing menangani sekitar 20 kasus.
konsumen. Beberapa hal yang bisa dijadikan
Di India, melalui Undang-undang Perlindungan Konsumen
pembanding
yaitu
Korea Badan
Selatan
memiliki
yang telah
ada sejak tahun
1986 dibentuk
Penyelesaian
Sengketa (Consumer Dispute Redressal Agencies) atau
Settlement
Commission
dikenalConsumer
dengan nama Dispute
Consumer Courts)
di 671 distrik
dengan
nama “Distric Forum”, 28 negara bagian dengan nama
- Korean
Agency.dengan
CDSC
“State (CDSC)
Commission”
dan satuConsumer
di tingkat nasional
nama “National Consumer Disputes Redressal Commission”.
merupakan badan independen yang terdiri
Penyelesaian sengketa tidak dikenakan biaya bagi masyarakat
yang kurang mampu, sedangkan bagi yang mampu dikenakan
biaya antara 100 rupee (sekitar Rp20.000) hingga 5.000
rupee (sekitar
tergantung
besarnya
nilai kasus.
74|LAKRp1.000.000)
Kementerian
Perdagangan
2013
Pemerintah India juga membentuk lembaga penyelesaian
sengketa konsumen melalui mediasi, konsiliasi dan arbitrase
yang berada di tingkat distrik dan negara bagian, misalnya
di New Delhi terdapat “Delhi Mediation Centre” dan “Delhi
Dispute Setlement Society” yang menyelesaikan sengketa
melalui mediasi, “Delhi Local Dialog” melalui konsiliasi/adat
dan “Permanent Local Dialog” untuk pelayanan publik seperti
listrik melalui konsiliasi dan arbitrase.
74
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
“Pengembangan Sarana Distribusi Perdagangan
dalam
mendukung
Kinerja
Logistik Nasional”
dalam
mendukung
Kinerja
Logistik Nasional”
Indikator Kinerja
Sumber: Kementerian Perdagangan.
03
Sasaran
Strategis
8:
Sasaran
Strategis
8: “Pengembangan Sarana Distribusi Perdagangan
2014
70
N/A
18) Realisasi Revitalisasi Pasar
Tradisional
Sumber: Kementerian Perdagangan.
Program-program
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
2010
2011
2012
-
-
-
2013
Target
Realisasi
Capaian
(%)
100%
100%
100%
dari 48 komisi dibawah Korean Consumer
Agency
(KCA)
yang
bertugas
untuk
Malaysia mempunyai redress mechanism yang terdiri dari The
menyelesaikan
keluhan
konsumen
terkait
Court System, The Tribunal
for Consumer
Claims,
The Tribunal
for Homebuyer Claims, dan Alternative Dispute Resolution
kerugian
dengan
cara
mediasi.
dalam
(ADR’s). Pada
intinya
setiap
negara Apabila
mempunyai
cara yang
berbeda-beda dalam penyelenggaraan perlindungan
mediasi tidak mencapai kata sepakat maka
konsumen namun memiliki satu tujuan yang sama yakni
melindungi konsumen
dampak negatif
atas perdagangan
dilimpahkan
kepadadaripengadilan.
CDSC
juga
barang maupun jasa. Kunci keberhasilan penanganan
sengketa konsumen
adalah kemampuan
lembaga tersebut
memiliki
kewenangan
untuk mengambil
dalam menyelesaikan pengaduan yang diterima. Karena
keputusan
pihakkepercayaan
pelaku usaha
tidak untuk
hal itu akanapabila
meningkatkan
masyarakat
memanfaatkan fasilitas tersebut.
hadir pada saat mediasi. Dalam satu minggu
CDSC mengadakan sidang 1 atau 2 kali,
masing-masing menangani sekitar 20 kasus.
Di
India,
melalui
Undang-undang
Perlindungan Konsumen yang telah ada sejak
Program-program yang
tahun mendukung
1986 dibentuk
Badan Penyelesaian
pembentukan
BPSK
antara
lain fasilitasi
pembentukan
Sengketa
(Consumer
Dispute
Redressal
dan penguatan BPSK, fasilitasi
Agencies) atau dikenal dengan nama
koordinasi kelembagaan
Consumer
Courts) di 671
distrik dengan
perlindungan
konsumen,
dannama
musyawarah nasional BPSK.
Indikator Kinerja 18:
Realisasi Revitalisasi Pasar Tradisional
Indikator Kinerja 18:
masalah infrastruktur. Saat ini, mayoritas
kondisi fisik pasar tradisional di Indonesia
mayoritas kondisi fisik pasar tradisional di Indonesia masih
diperbaiki
dan ditingkatkan.
Untuk DKI Jakarta saja,
masih perlu
perlu
diperbaiki
dan ditingkatkan.
RealisasiPada
revitalisasi
pasar2013,
tradisional
tahun
realisasi indikator
berdasarkan catatan PD Pasar Jaya, sampai dengan tahun
Untuk 2013
DKI dari
Jakarta
berdasarkan
catatan
total saja,
151 pasar,
hanya 27 pasar
yang aspek fisik
kinerja “Realisasi revitalisasi pasar tradisional”
bangunannya masih baik. Sisanya, hanya 13 pasar yang rusak
Pada tahun 2013, realisasi indikator kinerja “Realisasi revitalisasiPD Pasar Jaya, sampai dengan tahun 2013 dari
ringan selebihnya kondisi fisik bangunannya sudah rusak
pasar
tradisional”
sebesar
100%. Capaian
atas realisasi
adalah
sebesaradalah
100%.
Capaian
atas realisasi
sedang atau berat.
indikator kinerja ini adalah 100% dari target. Indikator kinerjatotal 151 pasar, hanya 27 pasar yang aspek fisik
indikator
kinerja
inibaru
adalah
100% dari pada
target.
ini
merupakan
indikator
yang diperjanjikan
kontrak
Meski demikian, terdapat fakta yang menunjukkan bahwa
kinerja Kemendag. Oleh karena itu, indikator kinerja ini tidakbangunannya
pasar-pasar
tradisional
Indonesiahanya
masih memiliki
unsurmasih
baik. diSisanya,
13
Indikator
kinerja ini perkembang-annya
merupakan indikator
dapat
diperbandingkan
denganbaru
realisasi
unsur khas yang tidak dimiliki oleh pasar modern dan
pasar membuatnya
yang rusaktetap
ringan
selebihnya
pada tahun-tahun sebelumnya.
memiliki
daya tawarkondisi
atau daya tarik bagi
yang diperjanjikan pada kontrak kinerja
para konsumen. Beberapa unsur itu antara lain interaksi
Harus diakui bahwa pandangan umum tentang pasarfisik bangunannya sudah rusak sedang atau
sosial berupa proses tawar-menawar barang antar penjual
Kemendag.
Oleh seragam:
karena itu,
tradisional
hampir
pasarindikator
tradisionalkinerja
acap kali
dan pembeli yang lebih intens sehingga menumbuhkan
dipersepsikan dengan sifat kumuh, becek di musim hujan,berat.
suasana akrab, kekeluargaan dan tidak terkesan “resmi”.
ini
tidak
dapat
diperbandingkan
perkembangsemerawut, gerah dan tidak aman. Sedangkan disisi lain,
Suasana tersebut memberi nuansa khas yaitu berbelanja
pasar modern nyaris selalu dipersepsikan sebagi tempat
Meski
terdapat
fakta
yangseperti inilah
sekaligusdemikian,
bersosialisasi
dan rekreasi.
Nuansa
annya
dengan
realisasi
pada
tahun-tahun
belanja yang lebih bersih, rapi, aman dan nyaman.
yang sampai saat ini menjadi masih daya tarik, terutama bagi
bahwa pasar-pasar tradisional
sebelumnya.
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan persepsi itumenunjukkan
para wisatawan.
timbul, diantaranya adalah masalah infrastruktur. Saat ini,
Harus diakui bahwa pandangan umum
tentang pasar tradisional hampir seragam:
pasar tradisional acap kali dipersepsikan
dengan sifat kumuh, becek di musim hujan,
semerawut, gerah dan tidak aman. Sedangkan
disisi
lain, pasar modern nyaris selalu
dipersepsikan sebagi tempat belanja yang
lebih bersih, rapi, aman dan nyaman.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan
persepsi itu timbul, diantaranya adalah
76|LAK Kementerian Perdagangan 2013
di Indonesia masih memiliki unsur-unsur khas
yang tidak dimiliki oleh pasar modern dan
membuatnya tetap memiliki daya tawar atau
daya tarik bagi para konsumen. Beberapa
100%
unsur itu antara lain interaksi sosial berupa
proses tawar-menawar barang antar penjual
dan pembeli yang lebih intens sehingga
menumbuhkan
suasana
kekeluargaan
Tahun
2013,akrab,
realisasi
indikator
kinerja“resmi”.
“Realisasi
revitalisasi
dan tidak terkesan
Suasana
tersebutpasar
memberi
tradisional” adalah sebesar 100%.
nuansa
khas
yaitu
berbelanja
sekaligus bersosialisasi dan rekreasi. Nuansa
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
75
03
Akuntabilitas Kinerja
Di beberapa daerah ada sejumlah pasar tradisional yang
mampu bertahan, bahkan mengungguli pasar modern dengan
memanfaatkan potensi suasana belanja sambil wisata. Sebut
saja Pasar Pagi dan Pasar Tanah Abang di Jakarta, Pasar
Bringhardjo di Yogya, Pasar Klewer di Solo, Pasar Tunjungan
di Surabaya, Pasar Sukowati di Bali, Pasar Bukit Tinggi, Pasar
Apung di Sungai Mahakam Kalimantan Selatan dan Pasar Ular
di Jakarta Utara.
di tahun-tahun mendatang, Kementerian Perdagangan
telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor
48/M-DAG/PER/8/2013 tentang Pedoman Pembangunan
dan Pengelolaan Sarana Distribusi Perdagangan. Melalui
kebijakan tersebut diatur tentang standar pembangunan
dan pengeloaan pasar tradisional yang diharapkan dapat
meningkatkan mutunya baik dari sisi infrastruktur maupun
pengelolaannya.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan daya saing pasar
tradisional, pemerintah telah melakukan beberapa inistiatif,
salah satunya adalah melalukan revitalisasi pasar tradisional
di berbagai pasar di seluruh Indonesia. Kementerian
Perdagangan berkeyakinan bahwa melalui revitalisasi pasar
tradisional sangat penting untuk menghilangkan dikotomi
pasar modern dengan tradisional. Revitalisasi pasar
Akuntabilitas Kinerja
tradisional merupakan upaya serius dari Kemendag untuk
mentransformasi citra pasar tradisional dari kesan yang
identik dengan kotor, becek, semrawut, bau, gersang dan
kumuh menjadi pasar tradisional yang bersih, tertib, nyaman
dan tepat ukur sehingga daya saing pasar tradisional bisa
perdagangan berupa tenda, gerobak dan
ditingkatkan.
Melalui penerbitan Permendag 48/2013, Kemendag juga
menetapkan beberapa hal pokok yang wajib diperhatikan
dalam revitalisasi Pasar Tradisional antara lain:
03
Dalamcoolbox
rangka lebih
meningkatkan
dan
yang
diberikanefektivitas
kepadapembinaan
usaha kecil
pengawasan terhadap program Revitalisasi Pasar Tradisional
menengah
pada
pemerintah
03
Akuntabilitas Kinerja
03Akuntabilitas Kinerja
Peraturan
Menteri
Perdagangan
f. Penyediaan area parkir dan area bongkar
muat barang.
a. Drainase yang harus ditutup dengan grill, yaitu untuk
menjamin kelancaran pembuangan air kotor dari area
pasar.
48/M-DAG/PER/8/2013
Sarana
g. Papan
b. Pengaturan zonase kelompok jenis komoditi perdagangan.
Distribusi Perdagangan. Melalui kebijakan
harian
c. Tempat pengelolaan dan atau penampungan sampah
sementara
Tahun 2013 diatur
jumlah pasar
yang
tersebut
tentang
d. Memaksimalkan pencahayaan dan sirkulasi udara secara
sebanyak
alami. 5.445 unit tenda, gerobak sebanyak
e. unit
Penghijauan
berupa penanaman
rindang di
162
dan coolbox
sebanyakpohon
5.700yang
unit.
sekitar pasar.
daerah
Pada tahun 2013 telah disampaikan kepada 57
kabupaten dan kota. Periode tahun 2009
pemerintah kabupaten/kota sebanyak 1.000
sampai dengan tahun 2012 telah disampaikan unit tenda, gerobak sebanyak 400 unit dan
Gambar
14
coolbox
sebanyak 1.650 unit.
kepada 89 pemerintah kabupaten/kota
Perkembangan Jumlah Revitalisasi Pasar Tradisional oleh Kemendag, 2011-2013
Gambar 24. Perkembangan Jumlah Revitalisasi Pasar Tradisional oleh Kemendag, 2011-2013
Pembangunan
dan
tentang
Nomor
Pedoman
Pengelolaan
standar
dibangun adalah sebanyak
pembangunan
dan
pengeloaan
pasar
112 pasar dengan rincian
tradisional
yang
diharapkan
dapat
pembangunan
pasar non
percontohan sebanyak
pasar dari sisi
meningkatkan
mutunya 89baik
dan pasar percontohan sebanyak
infrastruktur maupun pengelolaannya.
23 pasar.
Melalui penerbitan Permendag 48/2013,
Kemendag juga menetapkan beberapa hal
f. Penyediaan area parkir dan area bongkar muat barang.
pokok
yang
wajib
diperhatikan
g. Papan pengumuman informasi harga harian
dalam
revitalisasi
Pasar air
Tradisional
antara lain:
h. Toilet/WC
dan instalasi
bersih
Selain revitalisasi
pasaryang
tradisional
aspek fisik,
Kemendag
a. Drainase
harusdariditutup
dengan
grill,
juga tidak lupa untuk memperhatikan peningkatan beberapa
aspek nonfisik
lainya,untuk
diataranya melalui
berbagai kelancaran
pembinaan
yaitu
menjamin
berupa:
pembuangan air kotor dari area pasar.
b. Pengaturan
zonase
kelompok
jenis
pengumuman
informasi
harga
h. Toilet/WC dan instalasi air bersih
Selain revitalisasi pasar tradisional dari
aspek fisik, Kemendag juga tidak lupa untuk
memperhatikan peningkatan beberapa aspek
nonfisik lainya, diataranya melalui berbagai
pembinaan berupa:
a. Pendampingan
dan
bimbingan
bagi
a. Pendampingan dan bimbingan bagi pedagang tentang
pedagang
pengetahuan
pengetahuantentang
etika melayani
konsumen, etika
pembukuan
sederhana, penataan (display) barang dagangan,
melayani
konsumen,
pembukuan
penyediaan stock
barang dagangan
dan memelihara
kebersihan lingkungan.
sederhana,
penataan
(display)
barang
b. Membentuk forum Komunikasi Pasar yang dapat berfungsi
dagangan,
penyediaan
barang
menyalurkan inspirasi
pedagangstock
baik terhadap
Pengelola
Pasar, Pemerintah/Pemda dan Pemasok.
dagangan dan memelihara kebersihan
c. Memberikan pelatihan bagi Pengelola Pasar untuk
Manajemen Pengelolaan Pasar.
lingkungan.
b. Membentuk forum Komunikasi Pasar yang
Tabel 14
dapat berfungsi menyalurkan inspirasi
pengelolaan
dan
atau
Kemajuan Outcome Revitalisasi Pasar Tradisional Periode 2011-2012
komoditi perdagangan.
c. Tempat
Peningkatan Omset
Pasar Tradisional dibanding
Omset Pra-Revitalisasi
Sumber: Kementerian Perdagangan.
Gambar 25. Perkembangan Dana Tugas Pembantuan Kementerian Perdagangan, 2010-2013
30 Pasar
Percontohan
Tahun ke-1
Tahun ke-2
53%
75.32%
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
15.3%
Pra-Revitalisasi
Pasca Revitalisasi
2-3 Hari per Mingu
Setiap Hari
Sumber:
Kementerian
Perdagangan.
Sumber:
Kementerian
Perdagangan.
penampungan sampah sementara
76
Peningkatan Aktifitas
Perdagangan
Rata-rata Peningkatan
Jumlah
Pedagang
d. Memaksimalkan pencahayaan dan sirkulasi
udara secara alami.
pedagang baik terhadap Pengelola Pasar,
Laporan Akuntabilitasdan
Kinerja
Kementerian Perdagangan 2013
Pemerintah/Pemda
Pemasok.
c. Memberikan
pelatihan bagi
Pengelola
77
03
03Akuntabilitas
Kinerja
Akuntabilitas
Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
03Akuntabilitas Kinerja
Sebagai hasil dari revitalisasi dan kegiatan peningkatan
Sejak tahun 2011 s/d 2013, melalui anggaran Tugas
5.445 unit tenda, gerobak sebanyak
perdagangan berupa tenda, gerobak dan sebanyak
mutu aspek non-fisik pasar tradisional, diperoleh hasil yang
Pembantuan, Kementerian Perdagangan telah merevitalisasi
cukupcoolbox
positif. Dari
hasil evaluasi
terhadap
pasardan
tradisional
dansebanyak
pada tahun5.700
2014 diunit.
rencanakan
coolbox
yangdata
diberikan
kepada
usahakinerja
kecil 162461unit
Pasar Percontohan yang direvitalisasi pada tahun 2011kembali untuk merevitalisasi 79 pasar tradisional.
2012, menengah
pasar tradisional pada
tersebut telah
menunjukan berbagai
pemerintah
daerah Pada
disampaikan
57 adalah
Padatahun
tahun2013
2013telah
jumlah
pasar yangkepada
dibangun
perkembangan positif dibanding sebelum revitalisasi, yaitu:
sebanyak 112 pasar dengan rincian pembangunan pasar non
kabupaten/kota sebanyak 1.000
kabupaten
dan
kota.
tahun berupa
2009 pemerintah
(1) kenaikan
rata-rata
omzet
yangPeriode
cukup signifikan
percontohan sebanyak 89 pasar dan pasar percontohan
peningkatan omset pasar sebesar 53% pada tahun pertama
sebanyak
pasar. Dana
pembangunan
berasal dari
unit
tenda,23gerobak
sebanyak
400 pasar
unit dan
sampai dengan
2012
telah
dan peningkatan
sebesartahun
75% per
tahun
padadisampaikan
tahun kedua
Dana Alokasi Khusus dan Anggaran Pendapatan Belanja
pasca revitalisasi; (2) peningkatan jumlah pedagang rataNegara-Tugas
Pembantuan
coolbox
sebanyak
1.650 unit.dan Anggaran Pendapatan
kepada 15,3%
89 perpemerintah
kabupaten/kota
rata sebesar
pasar; (3) peningkatan
aktifitas
Belanja Negara Perubahan. Total dana yang dialokasikan pada
perdagangan
di tiap 24.
pasar
dari sebelumnya
rata-rata
hanya Pasar Tradisional oleh Kemendag, 2011-2013
Gambar
Perkembangan
Jumlah
Revitalisasi
tahun 2013 adalah sebesar Rp.1.323.700.000.000 terdiri dari
2-3 hari per minggu menjadi setiap hari (data diolah dari
DAK sebesar Rp.573.700.000.000,- dan APBN-TP sebesar Rp.
Hasil Pemantauan Tahun 2013 atas Pasar yang Direvitalisasi
750.000.000.000,-.
Kementerian Perdagangan).
Disamping pembangunan pasar tradisional dan pusat
Selama tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 Kementerian
distribusi regional, Kementerian Perdagangan juga
Perdagangan telah merevitalisasi sebanyak 517 pasar
menyediakan sarana perdagangan berupa tenda, gerobak
tradisional. Dari 20 pasar percontohan yang direvitalisasi
dan coolbox yang diberikan kepada usaha kecil menengah
tahun 2012 telah mengalami peningkatan omzet antara 22,39
pada pemerintah daerah kabupaten dan kota. Periode tahun
% - 253,37 % dengan rata-rata 54,77 %, berbeda dengan
2009 sampai dengan tahun 2012 telah disampaikan kepada
10 pasar percontohan yang dibangun tahun 2011 telah
89 pemerintah kabupaten/kota sebanyak 5.445 unit tenda,
mengalami peningkatan rata-rata sebesar 21,27 % selama dua
gerobak sebanyak 162 unit dan coolbox sebanyak 5.700 unit.
tahun berjalan.
Pada tahun 2013 telah disampaikan kepada 57 pemerintah
Berdasarkan pemantauan 30 pasar percontohan yang telah
kabupaten/kota sebanyak 1.000 unit tenda, gerobak sebanyak
direvitalisasi pada periode 2011 sampai dengan 2012 dapat
400 unit dan coolbox sebanyak 1.650 unit.
dicapai beberapa kemajuan diantaranya peningkatan omzet
pasar, peningkatan jumlah pedagang dan peningkatan
aktifitas perdagangan pasar.
Gambar 15
Perkembangan Dana Tugas Pembantuan Kementerian Perdagangan, 2010-2013
Gambar 25. Perkembangan Dana Tugas Pembantuan Kementerian Perdagangan, 2010-2013
Sasaran Strategis 9:
“Stabilisasi Harga Bahan Pokok”
Sasaran Strategis 9: “Stabilisasi Harga Bahan Pokok”
2013
Indikator Kinerja
2010
2011
2012
4,3%
3,5%
3,9%
19) Koefisien Variasi Harga Bahan
Pokok Utama
Indikator Kinerja 19: Koefisien Variasi
Indikator
Kinerja 19:
Harga Bahan
Pokok Utama
Koefisien Variasi Harga Bahan Pokok Utama
Realisasi
target
indikator
Target
Realisasi
Capaian
(%)
6,5%
3,8%
171%
koefisien variasi harga bahan pokok pada
dicapai pada tahun 2013 dengan mengacu pada kondisi
tahun historis
2012 perkembangan
sebesar 3,7%,
yangdi dalam
bahkan
harga baik
negeri maupun
kinerja
luar negeri. Kemudian, secara keseluruhan, dengan rata-rata
melampaui
yangbahan
ditetapkan
koefisientarget
variasi harga
pokok padadalam
tahun 2012 sebesar
3,7%, yang bahkan melampaui target yang ditetapkan dalam
Realisasi
target
indikator
kinerja
“Koefisien
Strategis Kementerian, yaitu kisaran
“Koefisien
Variasi
Harga
(KVH)
BahanVariasi
PokokHargaRencana
Rencana Strategis Kementerian, yaitu kisaran 5-9%.
(KVH) Bahan Pokok Utama” secara nasional pada tahun 2013
adalah
sebesar
3,8% nasional
atau telah mencapai
142% dari
Utama”
secara
pada tahun
2013target5-9%. Hal ini didukung stabilitas harga beberapa komoditi seperti
pada kontrak kinerja yang sebesar 6,5%.
beras, tepung bterigu, jagung, susu dan kedelai. Selain juga
adalah sebesar 3,8% atau telah mencapai
didukung
perekonomian
dan pemerintahan
yang
Hal ini kondisi
didukung
stabilitas
harga
Namun, apabila dilihat dari data historisnya, terdapat
kondusif mendukung terjaganya stabilitas harga bahan pokok
penurunan
bila dibandingkan
dengan
142% daricapaian
targetsebesar
pada 11%
kontrak
kinerja yang
beberapa
komoditi
seperti beras,
tepungvariasi harga
di dalam
negeri. Pencapaian
angka koefisien
capaian angka koefisien variasi tahun 2011 sebesar 3,5%
bahan kebutuhan pokok selama kurun waktu 2008 s/d 2012
dari
target6,5%.
kontrak kinerja sebesar 7% maka Persentasebterigu, jagung, susu dan kedelai. Selain juga
sebesar
masih sesuai target yaitu berada pada kisaran 5 – 9%.
pencapaian target pada tahun 2013 sebesar 143% sedikit
lebih rendah
dibandingkan
Namun,kondisi
beberapa komoditi
bahan pokok mengalami
perekonomian
dan kenaikan
Namun,
apabilapersentase
dilihat pencapaian
dari datatahundidukung
2011 yang sebesar 150%. Namun demikian, apabila diukur
harga yang cukup tinggi pada tahun 2013, seperti: daging
dari
pencapaian terdapat
realisasinya,penurunan
Kementerian capaian
Perdaganganpemerintahan
yang
ayam dan telur
ayam,kondusif
dan kedelai mendukung
yang rasio koefisien variasihistorisnya,
sudah cukup baik dalam menggapai target yang harus
nya (KV) mencapai 9,6%, 5,1%, dan 7,6%.
sebesar 11% bila dibandingkan dengan capaian
terjaganya stabilitas harga bahan pokok di
angka koefisien variasi tahun 2011 sebesar
dalam negeri. Pencapaian angka koefisien
3,5% dari target kontrak kinerja sebesar 7%
variasi harga bahan kebutuhan pokok selama
maka Persentase pencapaian target pada
kurun waktu 2008 s/d 2012 masih sesuai
tahun 2013 sebesar 143% sedikit lebih rendah
target yaitu berada pada kisaran 5 – 9%.
142%
dibandingkan persentase pencapaian tahun
Namun, beberapa komoditi bahan
2011 yang sebesar 150%. Namun demikian,
pokok mengalami kenaikan harga yang cukup
apabila diukur dari pencapaian realisasinya,
tinggi pada tahun
2013, Variasi
seperti: daging
“Koefisien
Harga ayam
(KVH)
Kementerian Perdagangan sudah cukup baik
dalam menggapai target yang harus dicapai
pada tahun 2013 dengan mengacu pada
kondisi historis perkembangan harga baik di
Sumber: Kementerian Perdagangan.
03
Realisasi target indikator kinerja
Bahan dan
Pokok
Utama”
secara
dan telur ayam,
kedelai
yang
rasio
nasional pada tahun 2013 adalah
sebesar 3,8% atau telah mencapai
5,1%, dan 7,6%.
142% dari target pada kontrak
kinerja yang sebesar 6,5%.
koefisien variasi-nya (KV) mencapai 9,6%,
dalam negeri maupun luar negeri. Kemudian,
secara
78
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |81
keseluruhan,
dengan
rata-rata
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |81
79
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
03Akuntabilitas Kinerja
Tabel 15
Capaian Angka Koefisien Variasi Bahan Kebutuhan Pokok Tahun 2009-2013
Untuk komoditi seperti Beras, Gula Pasir, Tepung Terigu,
Minyak Goreng merupakan komoditi yang relatif stabil
perkembangan harga-nya sepanjang tahun 2013 karena
didukung oleh kondisi kecukupan pasokan di pasar dalam
negeri.
Tabel 15. Capaian Angka Koefisien Variasi Bahan Kebutuhan Pokok Tahun 2009-2013
Koefisien Variasi Bahan PokokNasional
No
Komoditi
2009
2010
2011
2012
2013
TW. I
TW. II
TW. III
TW. IV
Khusus untuk daging sapi walaupun KV-nya hanya sebesar
2,5%, namun harga daging sapi masih relatif tinggi dimana
harga rata-rata tahun 2013 mencapai Rp.92.749/kg naik
20,94% dibanding harga tahun 2012 sebesar Rp.76.692/kg.
Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain:
1
Beras
1,0
6,6
6,2
1,0
0,4
0,9
1,0
1,1
2
Gula Pasir
12,1
3,7
1,7
6,6
0,4
0,4
0,4
2,2
3
Jagung
2,3
4,6
3,3
2,8
1,7
1,5
2,2
2,2
4
Kedelai
1,3
0,5
1,6
3,3
0,2
0,2
3,3
5,1
i. Terbatasnya ketersediaan sapi lokal siap potong;
5
Tepung Terigu
0,4
0,8
0,3
0,2
0,0
0,1
0,9
4,7
6
Minyak Goreng
5,5
7,1
5,6
5,1
0,0
0,7
2,3
4,7
ii. Lambatnya proses importasi dan pemotongan sapi siap
potong;
7
Susu Kental Manis
0,5
1,1
0,9
1,2
3,4
0,3
0,9
1,5
8
Daging Ayam
2,6
11,4
6,9
5,6
0,9
3,6
10,5
9,6
9
Daging Sapi
1,6
4,4
3,4
8,4
8,4
7,7
2,7
2,5
10
Telur
2,9
7,6
5,5
5,4
5,4
1,6
7,4
7,6
5,9
3,0
4,5
3,5
3,9
1,6
3,2
3,8
Rata-rata
iii. Kenaikan harga sapi berat hidup di negara eksportir karena
dampak kekeringan, peningkatan permintaan sapi siap
potong dari Indonesia dan penguatan kurs dollar terhadap
rupiah;
iv. Keterbatasan pasokan sapi mengingat kondisi cuaca di
Australia saat ini memasuki musim hujan sehingga pihak
eksportir kurang berminat menjual sapinya.
Sumber: Kementerian Perdagangan.
Sumber: Kementerian Perdagangan.
Kenaikan daging ayam dan telur ayam
Kenaikan daging ayam dan telur ayam terutama terjadi
selamaterutama
bulan Juli 2013
(menjelang
puasabulan
dan Idul Juli
Fitri 2013),
terjadi
selama
2013
dimana harga sempat mencapai Rp.33.892/kg dan Rp. 19.746/
(menjelang
puasa
Idul dan
Fitri6,86%
2013),dibanding
dimana
kg atau
masing-masing
naikdan
15,74%
harga di awal tahun 2013 (daging ayam Rp. 29.283/kg dan
hargaRp.19.746/kg).
sempat mencapai
dandan
Rp.
telur ayam
KenaikanRp.33.892/kg
harga daging ayam
telur ayam disebabkan oleh tingginya permintaan pada
19.746/kg atau masing-masing naik 15,74%
periode puasa dan Idul Fitri, disamping itu secara tradisi para
peternak
harga pada momen
dan lebaran
danmenaikkan
6,86% dibanding
harga puasa
di awal
tahun
untuk menutup BEP dimana 5 bulan sebelumnya mengalami
kerugian.
Di (daging
lingkunganayam
peternak
istilah 5dan
: 7 telur
yang
2013
Rp.dikenal
29.283/kg
artinya 5 bulan merugi dan 7 bulan untung. Momen puasa
dan lebaran
bulan-bulan
dimana
mereka
bisa
ayam merupakan
Rp.19.746/kg).
Kenaikan
harga
daging
memperoleh keuntungan yang memadai.
ayam dan telur ayam disebabkan oleh
tingginya permintaan pada periode puasa dan
Idul Fitri, disamping itu secara tradisi para
Sedangkan untuk kedelai, lonjakan
Sedangkan untuk kedelai, lonjakan harga cukup signifikan
terjadicukup
pada bulan
September
2013 naik
sebesar
9,18% dari
harga
signifikan
terjadi
pada
bulan
Rp.9.631/kg menjadi Rp.10.515/kg. Relatif tingginya harga
September
naik sebesar 9,18% dari
kedelai antara2013
lain disebabkan:
i. Produksi Kedelai
lokal Rp.10.515/kg.
masih belum dapat
mencukupi
Rp.9.631/kg
menjadi
Relatif
kebutuhan industri tahu dan tempe;
tingginya
harga terhadap
kedelai
lain
ii. Ketergantungan
kedelai antara
Impor sangat
tinggi;
disebabkan:
iii. Harga Kedelai Impor sangat dipengaruhi oleh kondisi
panen/pasokan di negara asal;
i. Produksi Kedelai lokal masih belum dapat
iv. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dolar, yang
mengakibatkan
kenaikan harga
kedelai
impor.
mencukupi
kebutuhan
industri
tahu
dan
puasa dan lebaran untuk menutup BEP
oleh kondisi panen/pasokan di negara
dimana 5 bulan sebelumnya mengalami
asal;
kerugian. Di lingkungan peternak dikenal
iv. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap
istilah 5 : 7 yang artinya 5 bulan merugi dan 7
US dolar, yang mengakibatkan kenaikan
bulan untung. Momen puasa dan lebaran
harga kedelai impor.
82|LAK Kementerian Perdagangan 2013
Dalam rangka menjaga stabilitas harga bahan pangan pokok
di dalam negeri, sepanjang tahun 2013 telah diterbitkan
beberapa kebijakan antara lain :
Selain itu, untuk menjaga stabilitas harga beras di wilayah
DKI Jakarta sebagaimana Surat Gubernur Provinsi DKI Jakarta
kepada Menteri Perdagangan Nomor 864/-1.824.23 tanggal
8 Juli 2013 mengenai Rencana OP Beras Menggunakan
Cadangan Beras Pemerintah yang akan disalurkan kepada
PIBC, maka telah ditindaklanjuti melalui Surat Menteri
Perdagangan kepada Dirut Perum BULOG No. 1580 /M-DAG/
SD/7/2013 untuk mendukung OP Beras ke PIBC dengan tetap
mengacu pada ketentuan OP Beras.
(ii) Kebijakan Stabilisasi Harga Kedelai:
Dalam rangka memberikan insentif harga kepada petani
untuk menanam kedelai, serta jaminan pasokan dan harga
kepada pengrajin tahu tempe guna tercapainya stabilisasi
harga di tingkat petani dan di tingkat pengrajin tahu tempe,
telah diterbitkan Permendag No 23/M-DAG/PER/5/2013
tentang Program Stabilisasi Harga Kedelai dan peraturan
pelaksanaanya. Namun dalam perkembangannya, dipicu
kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar yang mengakibatkan
kenaikan harga kedelai impor dan pengrajin kedelai merasa
kesulitan untuk membeli kedelai karena harganya tinggi dan
Importir juga mulai mengalami keterbatasan stok kedelai,
maka Permendag No 23/M-DAG/PER/5/2013 dan peraturan
pelaksanaannya dicabut melalui Permendag No. 51/M-DAG/
PER/9/2013 namun terdapat kebijakan Penetapan Harga
sangat tinggi;
iii. Harga Kedelai Impor sangat dipengaruhi
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
vii.Terbatasnya pilihan negara pasokan sapi karena UU No.18
Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan
yang masih menganut country based;
Untuk menjaga stabilitas harga beras di pasar, maka
Kementerian Perdagangan telah berkoordinasi dengan
Perum BULOG untuk terus melakukan Operasi Pasar Beras
pada saat memasuki musim panen paceklik di awal tahun
2013 dan menjelang Puasa & Idul Fitri 2013 berdasarkan
Surat Menteri Perdagangan kepada Dirut Perum BULOG No.
2130/M-DAG/SD/12/2012 dan No. 1504/M-DAG/SD/7/2013
perihal pelaksanaan OP beras di seluruh Indonesia dengan
harga penjualan max Rp. 600,- diatas harga af gudang Bulog
(P.Jawa Rp 6.800/kg dan luar P. Jawa Rp 6.900/kg).
ii. Ketergantungan terhadap kedelai Impor
merupakan bulan-bulan dimana mereka bisa
80
vi. Terbatasnya sarana angkutan dan kapasitas pemotongan
sapi di RPH dalam negeri;
(i) Kebijakan Stabilisasi Harga Beras:
tempe;
peternak menaikkan harga pada momen
memperoleh keuntungan yang memadai.
v. Keterbatasan penyediaan angkutan/kapal dari Australia
mengingat penambahan negara tujuan ekspor sapi dari
Australia (antara lain China, Vietnam dan Malaysia);
03
Untuk komoditi seperti Beras, Gula
Pasir,
Tepung
Terigu,
Minyak
Goreng
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
81
03
Akuntabilitas Kinerja
Pembelian Kedelai Petani Dalam Rangka Pengamanan Harga
Kedelai Di Tingkat Petani untuk bulan Okt – Des 2013 sebesar
Rp.7.400/kg melalui Permendag No: 59/M-DAG/PER/9/2013.
Selain itu, untuk tetap menjaga stabilisasi harga dan kepastian
pasokan kedelai khususnya di wilayah DKI Jakarta, telah
dilakukan upaya:
a. Program Bantuan Kedelai dari PT. FKS Multi Agro sebanyak
1.227 ton kepada 5 Puskopti (Jabar, Jakarta Barat, Jakarta
Selatan, Serang dan Brebes) dengan harga Rp. 8.000,-/kg.
b. Program Operasi Pasar Kedelai 5 Puskopti di Wilayah DKI
Jakarta sebanyak 1.128 ton dengan harga Rp. 8.200,-/
kg. Program Khusus Kedelai sesuai nota kesepahaman
Gakoptindo dengan 5 importir (FKS Multi Agro, Gerbang
Cahaya Utama, Setyacipta Ekatama, Sukabumi Serasi
Indah, Jakson Nagatama) sebanyak 11.500 ton dengan
harga Rp. 8.465 - 8.475/kg.
(iii)Kebijakan Stabilisasi Harga Hortikultura (Cabe & Bawang)
Dalam rangka mendukung paket kebijakan ekonomi
khususnya yang berkaitan dengan tata niaga daging sapi dan
hortikultura, dengan merubah mekanisme impor dari kuota
Akuntabilitas Kinerja
menjadi mekanisme impor berbasis harga telah ditetapkan
Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1014/M-DAG/
Kep/9/2013 tentang Tim Pemantau Harga Produk Hortikultura
tanggal 30 September 2013, Tim tersebut akan menetapkan
Harga Referensi Produk Hortikultura khususnya untuk cabe
merah besar/keriting, cabe rawit merah dan bawang merah
segar untuk konsumsi.
Adapun Harga Referensi adalah harga acuan penjualan di
tingkat pengecer yang ditetapkan melalui Keputusan Dirjen
Perdagangan Dalam Negeri selaku Ketua Tim Teknis Pemantau
Harga Produk Hortikultura Nomor 118/PDN/KEP/10/2013
tanggal 3 Oktober 2013. Harga referensi berlaku per tanggal 1
Oktober 2013, ditetapkan sebagai berikut:
Bawang Merah
: Rp.25.700/kg
Cabe Merah/Keriting : Rp.26.300/kg
Cabe Rawit
: Rp.28.000/kg
(iv)Kebijakan Stabilisasi Harga Daging Sapi
Sebagaimana halnya kebijakan Harga Referensi Produk
Hortikultura, maka melalui Permendag No. 46 tahun 2013
tentang Ketentuan Impor Hewan dan Produk Hewan telah
ditetapkan Harga Referensi Daging Sapi sebesar Rp.76.000/
kg untuk jenis secondary cuts.
Untuk menambah pasokan daging sapi dilakukan impor
dalam bentuk sapi siap potong, sapi bakalan dan daging sapi,
selain itu, telah dilakukan pemantauan terhadap pemasukan,
pemotongan sapi di RPH dan pendistribusiannya ke pasarpasar tradisional, sebagai berikut:
a. Sapi Siap Potong, realisasi impor sapi siap potong sd. 30
Des 2013, sejumlah 76.989 ekor (79,78% dari total SPI).
Sudah dipotong sebesar 38.337 ekor (49,80%) di 44 RPH.
b. Daging Sapi, realisasi impor daging sapi s/d 30 Desember
2013 sejumlah 16.351,69 ton (32,49% dari total SPI), dan
telah didistribusikan sebanyak 9.524,56 ton (58,25% dari
realisasi) ke Industri dan Horeka.
c. Sapi Bakalan, sampai dengan 30 Desember 2013, impor
sapi bakalan telah terealisasi sebanyak 45.943 ekor
(51,08% dari total SPI).
Disamping penetapan kebijakan terkait dengan pengaturan
tata niaga bahan pangan pokok tersebut, secara konkret
langkah lain dalam upaya untuk terus menjaga stabilitas harga
bahan pangan pokok dilakukan langkah-langkah:
i. Melakukan pemantauan pemasukan dan pemotongan
sapi siap potong di RPH serta penyaluran daging sapi dari
RPH ke pasar tradisional di Jabodetabek secara harian.
82
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
03
ii. Melakukan pemantauan harga harian dan ketersediaan
bahan pangan pokok secara kontinyu di tingkat eceran/
pasar tradisional melalui Dinas Indag di 33 Propinsi;
iii. Melakukan peninjauan langsung ke Pasar Induk Sayur
Mayur Kramat Jati dan Pasar Induk Beras Cipinang serta
beberapa pasar tradisional di Jakarta dan luar kota
Jakarta untuk memantau ketersediaan stok, kelancaran
distribusi, dan perkembangan harga bahan pangan pokok
masyarakat;
iv. Melakukan koordinasi dengan para importir sapi dan
daging sapi, RPH jaringan importir sapi, pedagang daging
sapi pasar tradisional, serta stakeholder perunggasan dan
produk hortikultura.
v. Melakukan pengawasan terhadap adanya kemungkinan
penimbunan melalui peninjauan langsung ke beberapa
pasar tradisional di Jakarta dan daerah;
vi. Memperkuat koordinasi pusat-daerah dan antar daerah
dalam rangka menjamin ketersediaan pasokan dan
distribusi bahan pangan pokok.
Secara keseluruhan upaya yang dilakukan dalam rangka
stabilisasi harga bahan pokok sudah sesuai dengan target
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perdagangan
periode 2010 s/d 2014 adalah antara 5% s/d 9%.
Secara keseluruhan upaya yang
dilakukan dalam rangka stabilisasi
harga bahan pokok sudah
sesuai dengan target Rencana
Strategis (Renstra) Kementerian
Perdagangan periode 2010 s/d
2014 adalah antara 5% s/d 9%.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
83
03
fluktuatif. Kemudian, untuk menjaga supaya
Kedelai
tidak terjadi disparitas harga pemerintah juga
b. Kepmendag
melakukan
Akuntabilitas Kinerja
03Akuntabilitas Kinerja
“Penurunan Disparitas Harga Bahan Pokok Antar
2011
1,74
tentang Stabilisasi Harga Daging Sapi
Akuntabilitas Kinerja
03
c. Permendag
27/M-DAG/PER/6/2013
Tabel 15. Capaian Rasio Variasi Harga Provinsi dengan Nasional, Tahun 2009-2013
“Penurunan Disparitas Harga Bahan Pokok Antar Provinsi”
20) Rasio Variasi Harga Provinsi dibanding
dengan Variasi Harga Nasional
seluruh
tentang Penetapan Harga Patokan Petani
Tabel 16
Gula Nasional,
Kristal Putih
Tahun
2013.
Capaian Rasio Variasi Harga Provinsi dengan
Tahun
2009-2013
Sasaran
Provinsi” Strategis 10:
2010
bersama
instansi terkait.
Sasaran Strategis 10:
Indikator Kinerja
koordinasi
699/M-DAG/KEP/7/2013
1,9
2012
1,7
Koefisien Variasi Harga Provinsi/Nasional
No
Komoditi
2013
Target
Realisasi
Capaian
(%)
2,2
1,7
129,4
Indikator Kinerja 20: Rasio Variasi Harga gangguan cuaca yang mengganggu proses
Provinsi
dibanding
dengan Variasi Harga distribusi
barang.
Indikator Kinerja
20:
Faktor
yang mempengaruhi disparitas harga bahan pokok
antar provinsi antara lain karena lancarnya distribusi pangan
Nasional
Rasio Variasi Harga Provinsi Dibandingkan Dengan Variasi
pokok Rasio
dibandingkan
tahun Variasi
sebelumnya
yang terganggu
Angka
Koefisien
Harga
Harga Nasional
cuaca ekstrim sepanjang tahun. Tahun 2013 ini Pemerintah
Pada tahun 2013, rasio koefisien variasi Provinsitelah
mengantisipasi
berbagaiVariasi
gejolak Harga
cuaca dunia dengan
dibandingkan
Koefisien
kebijakan-kebijakan yang bertujuan supaya harga di tanah air
Pada tahun
2013, rasio
koefisien variasi
variasi harga
provinsi
harga
provinsi
dibanding
harga
Nasionaltidakini
merupakan
indikatoruntuk
yang
terlampu
fluktuatif. Kemudian,
menjaga supaya
dibanding variasi harga nasional yang menujukkan disparitas
tidak terjadi disparitas harga pemerintah juga melakukan
nasional
yang
menujukkan
disparitas
harga
harga antar provinsi masih dalam tingkat yang wajar (1,7) atau
menggambarkan
disparitas
harga terkait.
bahan
koordinasi bersama
seluruh instansi
telah mencapai
daridalam
target tingkat
sebesar 2,2.
Angka
capaian
antar
provinsi123%
masih
yang
wajar
pada tahun 2012 ini lebih tinggi 11% dibandingkan capaian
beberapa sehingga
kebijakan selanjutnya
terkini (2012-2013) yang
pokok Terdapat
antar provinsi,
(1,7)
telah 1,9
mencapai
123%yang
darisama
target
tahun atau
2011 sebesar
dengan target
yaitu 2,3.
diterbitkan pemerintah dalam rangka stabilisasi dan
Sehingga 2,2.
persentase
target tahun
pada tahun
dapat dianalisa
disparitas
penurunan sebab-sebab
disparitas hargadari
bahan
pokok antar propinsi,
sebesar
Angkapencapaian
capaian pada
2012 2012
sebesar 123% masih lebih baik dibandingkan persentase
diantaranya:
harga tersebut, dengan mengacu pada
ini
lebih taget
tinggi
capaian
pencapaian
pada11%
tahundibandingkan
2011 sebesar 114%.
Nilai rasio ini
a. Permendag 49/M-DAG/PER/9/2013 tentang Penetapan
lebih baik dibandingkan dua tahun lalu.
Tingkat Pengrajin
tahun 2011 sebesar 1,9 dengan target yang variabel Harga
lain Penjualan
seperti Kedelai
stok Didaerah
yang Tahu/Tempe
Makna dari tercapainya realisasi yang melebihi target adalah
Dalam Rangka Program Stabilisasi Harga Kedelai
sama
yaitu bahwa
2,3. telah
Sehingga
persentase
menggambarkan
terjadi peningkatan
integrasi
mengalami
shortage atau masalah distribusi
b. Kepmendag 699/M-DAG/KEP/7/2013 tentang Stabilisasi
pasar pangan di
seluruhpada
wilayah
Indonesia.
pencapaian
target
tahun
2012Beberapa
sebesarfaktor
Harga
Daging
Sapi
bahan pokok
yang
tidak
optimal.
yang berkontribusi dalam hal tersebut adalah terjaganya
123%
masih
lebih
baik
dibandingkan
pasokan pangan di sentra-sentra produksi dan tidak terjadi
c. Permendag 27/M-DAG/PER/6/2013 tentang Penetapan
gangguan cuaca yang mengganggu proses distribusi barang.
Harga Patokan
Gula Kristal Putih
Tahun 2013.
Indikator
ini Petani
dihitung
melalui
2009
2010
2011
2012
2013
TW. I
TW. II
TW. III
TW. IV
1
Beras
2,5
1,5
1,4
1,8
6,3
3,5
2,3
2,0
2
Gula Pasir
1,0
1,2
1,3
1,1
1,4
2,1
2,7
2,1
3
Jagung
3,3
1,8
2,0
1,9
4,1
3,5
2,3
2,4
4
Kedelai
4,7
2,9
2,3
1,8
2,4
2,1
1,7
1,7
5
Tepung Terigu
5,4
2,4
4,4
2,6
2,0
2,8
1,8
1,8
6
Minyak Goreng
1,2
1,3
1,7
1,3
4,1
3,4
2,8
1,7
7
Susu Bubuk
1,1
2,1
1,8
2,3
2,5
2,0
1,4
1,3
8
Daging Ayam
1,4
1,3
1,8
1,7
1,7
1,7
1,3
1,5
9
Daging Sapi
1,1
1,6
1,4
1,1
1,8
2,5
1,2
1,3
10
Telur
1,2
1,3
1,2
1,7
2,1
1,6
1,3
1,4
1.7
1,7
1,9
1,7
2,8
2,5
1,9
1,7
Rata-rata
Sumber: Data harga Disperindag Prop. Seluruh Indonesia (diolah Kementerian Perdagangan)
90|LAK Kementerian Perdagangan 2013
persentase pencapaian taget pada tahun 2011
Angka Rasio Koefisien Variasi Harga Provinsi dibandingkan
sebesar
114%. Nilai rasio ini lebih baik perbandingan antara Koefisien Variasi Harga
Koefisien Variasi Harga Nasional ini merupakan indikator yang
menggambarkandua
disparitas
dibandingkan
tahunharga
lalu.bahan pokok antar provinsi,
Provinsi dibandingkan dengan Koefisen Variasi
sehingga selanjutnya dapat dianalisa sebab-sebab dari
Tahun 2013, rasio koefisien variasi
disparitas
harga
tersebut,
dengan
mengacu
pada
variabel
lain
untuk
komoditi
bahan pokok
Makna dari tercapainya realisasi yang Harga Nasional
harga
provinsi
dibanding
variasi
seperti stok daerah yang mengalami shortage atau masalah
yang
menujukkan
distribusi bahan
pokok yang
tidak optimal.
telahnasional
disebutkan
sebelumnya,
melebihi
target
adalah
menggambarkan utama sepertiharga
disparitas harga antar provinsi
Indikator ini dihitung melalui perbandingan antara Koefisien
bahwa
telah terjadi peningkatan integrasi di mana disparitas harga antar provinsi yang
Variasi Harga Provinsi dibandingkan dengan Koefisen Variasi
masih dalam tingkat yang wajar
Harga Nasional
komoditi wilayah
bahan pokok
utama seperti
dianggap wajar
adalah
1,5 – 123%
2,5
pasar
panganuntuk
di seluruh
Indonesia.
(1,7)
ataupada
telahkisaran
mencapai
telah disebutkan sebelumnya, di mana disparitas harga antar
dari target
sebesarKementerian
2,2.
provinsi yang
dianggap
adalah pada dalam
kisaran hal
1,5 – 2,5
sesuai
target
Renstra
Beberapa
faktor
yangwajar
berkontribusi
sesuai target Renstra Kementerian Perdagangan 2010-2014,
tersebut
adalahkecil
terjaganya
pasokan
pangan
di Perdagangan 2010-2014, di mana semakin
di mana semakin
angka rasio
maka dapat
disimpulkan
disparitas harga antar provinsi lebih rendah.
sentra-sentra produksi dan tidak terjadi
kecil angka rasio maka dapat disimpulkan
disparitas harga antar provinsi lebih rendah.
84
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
88|LAK Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
85
03
sudah lebih baik dari opini BPK untuk Laporan
Kegiatan-kegiatan yang dapat menun-
03Akuntabilitas Kinerja
Sasaran Strategis 11:
03
maupun tindak lanjut temuan pemeriksaan
Keuangan Pemerintah Pusat.
Akuntabilitas Kinerja
pengelolaan keuangan, penyusunan laporan
jang keberhasilan pencapaian kinerja adalah
telah dilaksanakannya beberapa upaya sesuai
dengan lingkup fungsi pembinaan, yakni
BPK-RI.
Sedangkan
pedoman
upaya
penyediaan
meliputi
penyediaan
Akuntabilitas
Kinerja pedoman
pelaksanaan anggaran, Penerimaan Negara
Bukan
Pajak,
Perbendaharaan,
TP/TGR,
Pelaporan Keuangan, SIMAK-BMN, Persediaan
peningkatan kemampuan SDM, peningkatan
Tabel 17dan Pemanfaatan Aset dan lain-lain.
koordinasi
unit Keuangan
Kementerian
Opini BPKantar
Untuk Laporan
Kementerian Perdagangan, Tahun 2008-2013
“Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan dan
Akuntabilitas
Kementerian”
Sasaran Strategis
11: “Peningkatan Kualitas Laporan Keuangan dan
Akuntabilitas Kementerian”
Tabel 17. Opini BPK Untuk Laporan Keuangan Kementerian Perdagangan, Tahun 2008-2013
2013
Indikator Kinerja
21) Opini BPK atas Laporan Keuangan
22) Ranking Penilaian Inisiatif Anti Korupsi
(PIAK)
Keterangan: (*) WTP dengan paragraf penjelasan.
2010
2011
2012
WTP*
WTP
-
11
Indikator Kinerja 21: Opini BPK atas
Laporan
Keuangan
Kementerian
Indikator
Kinerja
21:
yaitu
1)
No.
Tahun Anggaran
Hasil Opini dari
BPK
Keterangan
100
1.
2009
WTP
-
-
2.
2010
WTP
WTP Dengan paragraf penjelasan
3.
2011
WTP
-
4.
2012
WTP
-
Target
Realisasi
Capaian
(%)
WTP
WTP
WTP
2
Top 3
-
Disclaimer;
Wajar
Dengan
Dari tahun2)2009
– 2012,
Kementerian
Pengecualianlaporan
(WDP); keuangan
dan 3) Wajar
Tanpa
mendapat opini WTP
Sesuai amanah Undang-Undang Nomor
dari Badan Pemeriksa Keuangan.
tahun pelaksanaan
2013 adalah
Sejak Target
tahun pada
pertama
17 Tahun
2003 Undang-Undang
tentang Keuangan
Negara
yang2003
Sesuai
amanah
Nomor
17 Tahun
mempertahankan opini WTP dari
tentang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa Menteri/
Renstra
Kemendag
2010-2014, perkembangan
menyatakan
bahwa
Menteri/pimpinan
pimpinan lembaga sebagai Pengguna Anggaran/Pengguna
BPK, sampai dengan tahun 2014.
Sumber:
Badan
Pemeriksa
Keuangan.
Sumber:
Badan
Pemeriksa
Keuangan (BPK)
Perdagangan
Opini BPK atas laporan keuangan Kementerian Perdagangan
Pengecualian (WTP).
Barang Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya
lembaga
sebagai
Pengguna Opini BPK atas laporan keuangan Kementerian
mempunyai tugas yang diantaranya adalah menyusun dan
menyampaikan
laporan keuangan
Negara/
Perdagangan
senantiasa
menunjukkan
Anggaran/Pengguna
Barang Kementerian
Kementerian
Lembaga yang dipimpinnya. Dalam pengelolaan keuangannya
Sedangkan jika capaian di atas dibandingkan dengan
Kementerian
Perdagangan yang
berupaya melaksanakan
perbaikan
yangkinerja
signifikan.
dariuntuk Laporan
Negara/Lembaga
dipimpinnyasecara
realisasi
tingkat Berturut-turut
nasional (opini BPK
tertib, efisien, efektif, transparan, bertanggung jawab dan
hasilnya adalah Wajar Dengan
tahun Keuangan
2009 –Pemerintah
2012, Pusat)
laporan
keuangan
tepat
waktu sesuai
dengan
ketentuan
peraturanadalah
perundangmempunyai
tugas
yang
diantaranya
Pengecualian (WDP), ini menggambarkan bahwa opini BPK
undangan yang berlaku.
untuk laporan keuangan Kementerian Perdagangan sudah
menyusun
dan
laporan
Kementerian Perdagangan mendapat opini
Perdagangan
mempertahankan opini WTP dari BPK, sampai
menyampaikan
lebih baik dari opini BPK untuk Laporan Keuangan Pemerintah
Kualitas kinerja keuangan dapat dilihat dari opini yang
Pusat.
diberikan
oleh
Badan
Pemerikasa
Keuangan
(BPK),
yaitu
WTP
dari
Badan Pemeriksa Keuangan. Adapun
keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang
secara berurutan dari penilaian yang paling rendah, yaitu
Kegiatan-kegiatan yang dapat menun-jang keberhasilan
target pencapaian
pada kinerja
tahun
2013
adalah
1)
Disclaimer; 2) Wajar Dengan
(WDP); dan 3)
dipimpinnya.
DalamPengecualian
pengelolaan
adalah telah dilaksanakannya beberapa
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
upaya sesuai dengan lingkup fungsi pembinaan, yakni
keuangannya
Kementerian
peningkatan kemampuan SDM, peningkatan koordinasi
Sejak tahun pertama pelaksanaan Renstra Kemendag 2010unit2014.
Kementerian Perdagangan serta penyediaan buku
2014,
perkembangan
Opini secara
BPK atas
laporan
keuangan
denganantar
tahun
berupaya
melaksanakan
tertib,
efisien,
pedoman.
Dalam upaya peningkatan kemampuan SDM telah
Kementerian Perdagangan senantiasa menunjukkan
dilaksanakan
Pemantapan Sistem Akuntansi Instansi (SAI)
perbaikan
yang signifikan.bertanggung
Berturut-turut dari
tahun
2009 –
efektif, transparan,
jawab
dan
Pada
tahun bagi
2013,
berdasarkan
serta
Pembekalan
bendahara dan calon bendahara.
2012, laporan keuangan Kementerian Perdagangan mendapat
UntukBPK-RI
upaya atas
peningkatan
kordinasi
telah dilaksanakan
tepatWTPwaktu
sesuai
dengan
ketentuan
opini
dari Badan
Pemeriksa
Keuangan.
Adapun target
Keputusan
pemeriksaan
Laporan
beberapa
forum
koordinasi,
konsinyering,
maupun
pada tahun 2013 adalah mempertahankan opini WTP dari
peraturan
perundang-undangan
yang
berlaku.
pendampingan/bimbingan
teknis
baik
untuk
pengelolaan
BPK, sampai dengan tahun 2014.
Keuangan Kementerian Perdagangan dalam
keuangan, penyusunan laporan maupun tindak lanjut
Pada tahun 2013, berdasarkan Keputusan BPK-RI atas
surat
Anggota
BPK-RI BPK-RI.
Nomor
58/S/IVtemuan
pemeriksaan
Sedangkan
upaya penyediaan
Kualitas
kinerja
keuangan
dapat Perdagangan
dilihat
pemeriksaan
Laporan
Keuangan
Kementerian
pedoman meliputi penyediaan pedoman pelaksanaan
dalam surat Anggota BPK-RI Nomor 58/S/IV-XV/06/2013
tanggal Negara
26 Bukan
Juni Pajak,
2013,
anggaran, Penerimaan
Perbendaharaan,
dari opini yang diberikan oleh Badan XV/06/2013
tanggal 26 Juni 2013, Kementerian Perdagangan kembali
TP/TGR, Pelaporan Keuangan, SIMAK-BMN, Persediaan dan
berhasil
mempertahankan
Wajaryaitu
Tanpa Pengecualian
Perdagangan
kembali berhasil
Pemerikasa
KeuanganOpini
(BPK),
secara Kementerian
Pemanfaatan
Aset dan lain-lain.
(WTP) atas Laporan Keuangan TA 2012.
berurutan dari penilaian yang paling rendah,
86
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
90|LAK Kementerian Perdagangan 2013
mempertahankan
Opini
Wajar
Diluar upaya spesifik yang telah dilaksanakan TA 2013
tersebut, masih akan dilaksanakan upaya yang melibatkan
BPK RI melalui pemeriksaan interim 2013 dimana diharapkan
dapat dilakukan perbaikan menjelang pelaporan tahunan
2013, serta dengan pihak Inspektorat Jenderal Kemendag
yakni pelaksanaan Reviu Laporan Keuangan TA 2013 serta
penyelesaian seluruh temuan dalam LHP BPK RI TA 2012.
Penilaian menurut Opini BPK merupakan cerminan
kinerja keuangan Kementerian/Lembaga yang dinilai
secara sistematis, akuntabel, dan berkelanjutan, dengan
demikian Kementerian Perdagangan diharapkan dapat
terus membenahi sistem pengelolaan keuangan. Hal ini
berguna dalam mempertahankan prestasi dan terutama bagi
pertanggungjawaban terhadap publik.
Indikator Kinerja 22:
Ranking Penilaian Inisiatif Anti Korupsi
Dalam rangka optimalisasi pencegahan korupsi, Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong Kementerian/
Lembaga/Pemerin-tah
Daerah
membangun
sistem
antikorupsi di instansinya dengan melakukan Penilaian Inisiatif
Anti Korupsi (PIAK) sejak tahun 2009. PIAK merupakan upaya
KPK untuk membangun system antikorupsi di instansi dengan
lebih sistematis melalui penilaian terhadap inisiatif yang
dilakukan oleh pimpinan instansi dalam menerapkan programprogram antikorupsi. Dalam hal ini, PIAK dipergunakan
sebagai alat ukur untuk menilai kemajuan instansi publik
dalam mengembangkan upaya pemberantasan korupsi di
Kementerian
Perdagangan
2013indikator
|91
InstansinyaLAK
dengan
menggabungkan
penilaian
kuantitatif dan kualitatif. PIAK mengukur apakah suatu instansi
telah menerapkan system dan mekanisme yang efektif untuk
mencegah dan mengurangi korupsi dilingkungannya.
PIAK merupakan modifikasi /pengembangan dari AntiCorruption Initiative Assessment (AIA) yang dibuat oleh
lembaga antikorupsi Korea, Anti-Corruption and the Civil
Rights Commission (ACRC) sejak tahun 2002. PIAK menilai
inisiatif dari lembaga tersebut untuk memperbaiki dirinya.
Inisiatif Antikorupsi instansi yang akan dinilai oleh KPK
terdiri dari indikator utama dan indikator inovasi. Indikator
Utama terdiri dari 8 indikator, yaitu indikator kode etik
khusus, transparansi dalam manajemen SDM, transparansi
penyelenggara Negara, transparansi dalam pengadaan barang
dan jasa, mekanisme pengaduan masyarakat, akses public
dalam memperoleh informasi, pelaksanaan saran perbaikan
yang diberikan oleh BPK/APIP/KPK serta kegiatan promosi
antikrupsi. Sedangkan indikator inovasi terdiri dari kecukupan
dan efektivitas dari inisiatif Anti Korupsi lainnya. Setiap
indikator memiliki bobot yang berbeda dimana indikator
utama sebesar 85,10% dan indikator inovasi sebesar 14,90%.
Tanpa
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
87
03
Pada PIAK tahun 2012 melibatkan 36 instansi,
yakni 23 instansi pusat dan 13 pemerintah
daerah. Pada instansi pusat, peserta PIAK
Akuntabilitas Kinerja
diwakili oleh 18 Kementerian, 3 Badan,
mahkamah Agung, dan Sekretariat Jenderal
03Akuntabilitas Kinerja
Inspektorat , kecuali kepolisian yang diikuti 6
(enam)
unit
utama
dan
03
Kementerian
Pekerjaan Umum yang diikuti 5 (lima) unit
utama. DenganAkuntabilitas
demikian, peserta
PIAK 2011 di
Kinerja
tingkat Kementerian/Lembaga berjumlah 59
unit utama dari 18 Kementerian/Lembaga.
Gambar 17
DPR. Sementara pemerintah daerah diwakili
Perbandingan Jumlah Peserta PIAK Tahun 2011 dan 2012
Gambar 16
Perbandingan
ranking PIAK
Kementerian
Perdagangan
Tahun 2012
dan
2011
Gambar
28. Perbandingan
ranking
PIAK Kementerian
Perdagangan
Tahun
2012
dan 2011
Gambar 29. Perbandingan Jumlah Peserta PIAK Tahun 2011 dan 2012
25
20
Pusat
15
Daerah
10
5
Untuk
menindaklanjuti
pencapaian
target Top 3 pada tahun 2013, 3 (tiga) Unit
Sumber:
Inspektorat Jenderal,
bulan
Agustus
2013Kementerian
dan Perdagangan
kemudian akan
diujicobakan pada tahun 2014. Sehubungan
Pada tahun 2013, berdasarkan pengarahan Menteri
Eselon
I Kementerian
Perdagangan
Perdagangan
ditetapkan
target Penilaian Inisiatif
Anti Korupsiyaitu
(PIAK) Kementerian Perdagangan Tahun 2013 minimal harus
Jenderal,
Ditjen
Perdagangan
mencapai 3Sekretariat
besar (top 3) dan
hal ini telah
dituangkan
dalam
Kontrak Kinerja tahun 2013.
dengan tidak adanya PIAK pada tahun 2013,
Untuk menindaklanjuti pencapaian target Top 3 pada tahun
Perlindungan
Konsumen Perdagangan
telah menyatakan
2013, 3 (tiga)
Unit Eselon I Kementerian
yaitu
Sekretariat Jenderal, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri
siapStandardisasi
mendukung
target Konsumen
Kementerian
dan Ditjen
dan Perlindungan
telah menyatakan siap mendukung target Kementerian
Perdagangan agar mendapatkan peringkat 3
Perdagangan agar mendapatkan peringkat 3 besar dan telah
melakukanbesar
penilaian
Inspektorat
Jenderal
dansecara
telahmandiri.
melakukan
penilaian
secara
sebagai Unit Kerja di Kementerian Perdagangan yang bertugas
untuk melakukan
verifikasi
hasil penilaian
mandirisebagai
dari Unit- Unit
mandiri.
Inspektorat
Jenderal
unit yang ikut serta dalam PIAK telah berkoordinasi dengan
KPK.
Kerja di Kementerian Perdagangan yang
dengan capaian indikator kinerja tersebut
Namun, target
indikator
kinerjamelakukan
mengenai ranking
PIAK 3hasil
bertugas
untuk
verifikasi
besar pada tahun 2013 tidak dapat dipenuhi dikarenakan
adanya evaluasi
terhadap
metode dari
penilaian
yang digunakan
penilaian
mandiri
Unit-unit
yang ikut
dalam pelaksanaan PIAK oleh KPK yang direncanakan baru
akan selesai
padadalam
bulan Agustus
2013 berkoordinasi
dan kemudian akan
serta
PIAK telah
dengan
diujicobakan pada tahun 2014. Sehubungan dengan tidak
KPK.
adanya PIAK
pada tahun 2013, maka capaian indikator kinerja
mengenai ranking PIAK tidak dapat dibandingkan dengan
capaian indikator kinerja
tersebuttarget
pada tahun
2012.
Namun,
indikator
kinerja
15/02/2012 tanggal 2 Februari 2012 perihal
Pada tahun 2012, Kementerian Perdagangan diundang oleh
mengenai ranking PIAK 3 besar pada tahun
KPK untuk mengikuti kegiatan PIAK Tahun 2012 melalui
surat undangan
nomor dapat
UND-06/10-15/02/2012
tanggal
2013 tidak
dipenuhi dikarenakan
2 Februari 2012 perihal Undangan Penjelasan Penilaian
Inisiatif Anti
Korupsi evaluasi
Tahun 2012terhadap
(PIAK 2012)metode
yang ditujukan
adanya
penilaian
pemaparan hasil PIAK tahun 2012 pada
Dalam Negeri dan Ditjen Standardisasi dan
yang digunakan dalam pelaksanaan PIAK oleh
88
KPK yang direncanakan baru akan selesai pada
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
maka capaian indikator kinerja mengenai
ranking
PIAK
tidak
dapat
0
2011
2012
Sumber: Inspektorat Jenderal, Kementerian Perdagangan
96|LAK Kementerian Perdagangan 2013
dibandingkan
pada tahun 2012.
Pada
tahun
Perdagangan
2012,
diundang
oleh
Kementerian
KPK
untuk
mengikuti kegiatan PIAK Tahun 2012 melalui
surat
undangan
nomor
UND-06/10-
Undangan Penjelasan Penilaian Inisiatif Anti
Korupsi
Tahun
ditujukan
2012
kepada
(PIAK
2012)
Inspektorat
yang
Jenderal
Kementerian Perdagangan dan berdasarkan
tanggal
4
Oktober
2012,
Kementerian
Perdagangan memperoleh peringkat 2 (dua)
dengan nilai 7,49. Dalam pemaparan tersebut
disampaikan
bahwa
Sekretariat
Jenderal
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
89
03
Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja
di lingkungan Kementerian Perdagangan dalam rangka
terwujudnya pemerintahan yang berorientasi kepada hasil
(result oriented government).
Perkembangan hasil penilaian Kementerian PAN dan RB atas
Akuntabiitas Kinerja Kementerian Perdagangan sejak tahun
2007 – 2012 selalu mengalami peningkatan.
Pada penilaian yang dilakukan tahun 2009, Kementerian
Perdagangan memperoleh peringkat 14 yang setara
dengan “C” atas penyelenggaraan sistem AKIP Tahun
2008, selanjutnya pada tahun 2010, hasil penilaian atas
penyelenggaraan sistem AKIP tahun 2009 meningkat menjadi
“CC”. Pada tahun 2011 penilaian atas penyelenggaraan sistem
AKIP tahun 2010 berhasil ditingkatkan, yaitu dari predikat
“CC” menjadi “B”, sedangkan pada tahun 2012 Kementerian
Perdagangan berhasil mempertahankan predikat “B” dengan
nilai 69,26.
Sementara itu, hasil evaluasi Akuntabiitas Kinerja Kementerian
Perdagangan pada tahun 2013 menunjukkan peningkatan
nilai menjadi 72,06 atau dengan predikat penilaian “B”.
Hasil capaian ini sesuai dengan target pada Kontrak Kinerja
Kementerian Perdagangan Tahun 2013. Nilai tersebut
merupakan akumulasi hasil evaluasi terhadap seluruh
komponen manajemen kinerja di lingkungan Kementerian
Perdagangan, dengan rincian sebagai berikut:
03Akuntabilitas Kinerja
Sasaran Strategis 12:
Sasaran Strategis 12: “Peningkatan Kinerja Organisasi”
23) Penilaian terhadap Akuntabilitas Kinerja
Kementerian Perdagangan
2010
2011
2012
CC
B
B
Indikator
Kinerja
Indikator
Kinerja
23: 23: Penilaian terhadap
Akuntabilitas Kinerja Kementerian
Penilaian terhadap akuntabilitas kinerja Kementerian
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi
2. Komponen Pengukuran Kinerja memperoleh nilai 13,98.
Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Perdagangan
sebagai alat ukur keberhasilan entitas organisasi sudah
ditetapkan secara formal. Kementerian Perdagangan
juga sudah mulai mengembangkan pengukuran kinerja
individu.
3.Komponen Pelaporan Kinerja memperoleh nilai 11,23.
Nilai ini diperoleh karena Kementerian Perdagangan
telah menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP) Tahun 2012 dan menyampaikan
secara tepat waktu kepada Presiden melalui Kementerian
PAN dan RB.
4. Nilai komponen Evaluasi Kinerja sebesar 6,68. Kementerian
Perdagangan sudah melakukan pemantauan mengenai
kemajuan pencapaian kinerja beserta hambatannya serta
melakukan evaluasi program. Evaluasi atas LAKIP unit
kerja serta penilaian atas kinerja unit kerja juga sudah
dilaksanakan.
5. Terakhir, komponen Capaian Kinerja memperoleh nilai
14,76. Pencapaian kinerja dinilai dari aspek pencapaian
target, dan keandalan data kinerja, serta keselarasan
antara kinerja output dengan kinerja outcome. Selain
itu capaian kinerja juga mencakup kinerja pencatatan
keuangan, transparansi, penilaian dari para pemangku
kepentingan (stakeholders), termasuk penghargaan yang
diperoleh oleh Organisasi.
03Akuntabilitas Kinerja
Gambar 30. Perkembangan Hasil Evaluasi AKIP dan Opini Laporan Keuangan Kementerian
Gambar
Perdagangan,
Tahun18
2005-2012
“Peningkatan Kinerja Organisasi”
Indikator Kinerja
1. Komponen Perencanaan Kinerja memperoleh nilai 25,41.
Kementerian Perdagangan sudah menyusun dokumen
Renstra, Rencana Kinerja Tahunan, dan Penetapan Kinerja.
Tujuan dan Sasaran dalam dokumen Renstra sebagian
besar sudah berorientasi hasil.
03
2013
Target
Realisasi
Capaian
(%)
B
B
100%
Perkembangan Hasil Evaluasi AKIP dan Opini Laporan Keuangan Kementerian Perdagangan,
Tahun 2005-2012
Menteri Perdagangan
Nomor 1011 TahunKinerja
2012 yang memandu
Setiap
tahun, Akuntabiitas
dan menyeragamkan proses penyusunan perencanaan
Kementerian
Perdagangan
di-evaluasi
sampai dengan
pelaporan selalu
di seluruh
unit kerja di lingkungan
Kementerian Perdagangan.
oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)
Setiap tahun, Akuntabiitas Kinerja Kementerian Perdagangan
Pemerintah
(SAKIP)
merupakan suatu
sistempadaNegaraselalu
merupakan
suatu
sistem penyelenggaraan
yang berfokus
oleh
Kementerian
Pendayagunaan
Aparatur
dan di-evaluasi
Reformasi
Birokrasi
(PAN
& RB),
peningkatan akuntabilitas dan kinerja di instansi pemerintah,
Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN & RB), sesuai dengan
penyelenggaraan
yang pengkuran
berfokus
sesuai amanat
dengandalam
amanat
dalam
Peraturan
meliputi:
perencanaan kinerja,
kinerja, pada
pelaporan
Peraturan
Pemerintah
Nomor 8 Tahun
kinerja, dan evaluasi kinerja. Untuk mendukung implementasi
2006 tentang Pelaporan Dalam Negeri dan Kinerja Instansi
peningkatan akuntabilitas dan kinerja di Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang
SAKIP, Kementerian Perdagangan telah merevisi pedoman
Pemerintah. Tujuan dari evaluasi AKIP di Kementerian
penyusunan
dokumen
SAKIP
yang
tertuang
dalam
Keputusan
Perdagangan adalah untuk menilai akuntabilitas kinerja
instansi pemerintah, meliputi: perencanaan
Pelaporan Dalam Negeri dan Kinerja Instansi
kinerja, pengkuran kinerja, pelaporan kinerja,
Pemerintah. Tujuan dari evaluasi AKIP di
dan Laporan
evaluasi
kinerja. Untuk mendukung
Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Kementerian
implementasi
menilai akuntabilitas kinerja di lingkungan
90
SAKIP,
Kementerian
Perdagangan
adalah
untuk
Sumber: Sekretariat Jenderal, Kementerian Perdagangan
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
91
03
Akuntabilitas Kinerja
03Akuntabilitas Kinerja
Tabel 18
Rincian Hasil Evaluasi AKIP Kementerian Perdagangan Tahun 2010 – 2013
C. Akuntabilitas Kinerja Pelaksanaan Anggaran
Tabel 17. Rincian Hasil Evaluasi AKIP Kementerian Perdagangan Tahun 2010 – 2013
No.
Komponen yang Dinilai
Bobot
2010
2011
2012
2013
1
Perencanaan Kinerja
35
18,7
23,11
24,61
25,41
2
Pengukuran Kinerja
20
12,67
13,47
13,49
13,98
3
Pelaporan Kinerja
15
11,25
11,13
11,16
11,23
4
Evaluasi Kinerja
10
5,58
6,44
5,81
6,68
5
Capaian Kinerja
20
14,25
11,78
14,18
14,76
100
62,45
66,72
69,26
72,06
CC
B
B
B
Nilai Hasil Evaluasi
Predikat Penilaian
Sumber: Kementerian PAN & RB
2. Komponen
Pengukuran
Kinerja
Hasil evaluasi Akuntabiitas
memperoleh nilai 13,98. Indikator Kinerja
Kinerja Kementerian
Perdagangan
tahun
2013Kementerian Perdagangan
Utama
(IKU)
menunjukkan
peningkatan
sebagai alat ukur keberhasilan entitas
nilai menjadi 72,06 atau
organisasi
sudah ditetapkan secara formal.
dengan predikat
penilaian
Kementerian
Perdagangan juga sudah
“B”. Hasil capaian
ini sesuai
dengan target
Kontrak
mulai
mengembangkan
pengukuran
Kinerja Kementerian
kinerja individu.
Perdagangan
Tahun 2013.
3. Komponen Pelaporan Kinerja memperoleh
nilai 11,23. Nilai ini diperoleh karena
Kementerian
Perdagangan
telah
menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2012
serta penilaian atas kinerja unit kerja juga
sudah dilaksanakan.
5. Terakhir,
komponen
memperoleh
nilai
Capaian
14,76.
Kinerja
Pencapaian
kinerja dinilai dari aspek pencapaian
target, dan keandalan data kinerja, serta
juga
mencakup
kinerja
a) Kinerja
Pelaksanaan Anggaran
Menurut Jenis Belanja
Pelaksanaan
Anggaran
Berdasarkan jenis belanja, anggaran Kementerian
Pada awal tahun 2013 Kementerian
Pada2013
awal
tahun
2013 Pegawai
Kementerian
Perdagangan tahun
terbagi
atas Belanja
sebesar
Rp.Perdagangan
299,1 miliar; Belanjamendapat
Modal sebesar Rp.
883,3
miliar;
dan
pagu anggaran
anggaran
Perdagangan
pagu
Belanja
Barang sebesar mendapat
Rp. 1.780,9 miliar.
Sepanjang tahun
anggaran
2013, realisasi
anggaran Kementerian Perdagangan
sebesar
Rp3.105.723.944.000,kemudian
sebesar
Rp3.105.723.944.000,menurut
jenis belanja
dapat dilihat pada tabel 18.kemudian
90,68%
03Akuntabilitas Kinerja
03Akuntabilitas Kinerja
kinerja realisasi anggaran
Kementerian
Perdagangan
Kementerian
Perdagangan
Tahun 2013 turun 5
persen pada
atautahun
Rp 142.265.312.000
daripada
2013 mencapai Rp
persen atau Rp 142.265.312.000 daripada
atau sebesar
90,68%. Rp
pagu 2.687.143.273.395,anggaran tahun 2012
Kementerian Perdagangan Tahun 2013 turun 5
pagu anggaran tahun 2012 sebesar Rp
3.105.723.944.000.Sementara
Sementaraitu, itu,
kinerja
3.105.723.944.000.
kinerja
realisasianggaran
anggaran
Kementerian
Perdagangan
realisasi
Kementerian
Perdagangan
pada tahun
tahun 2013
2013 mencapai
mencapai Rp Rp
setelah
APBN-P menjadi
menjadi pada
setelah direvisi
direvisi melalui
melalui APBN-P
2.687.143.273.395,atau
90,68%.
2.687.143.273.395,atau
90,68%.
Gambar 19
Rp2.963.458.632.000,-.
Pagu Anggaran
Anggaran
Rp2.963.458.632.000,-.
Pagu
Realisasi Anggaran Kementerian Perdagangan (kiri) dan
Gambar31.
31.Realisasi
Realisasi Anggaran
Anggaran Kementerian
(kiri)
dan
Postur
Belanja
Kementerian
Gambar
KementerianPerdagangan
Perdagangan
(kiri)
dan
Postur
Belanja
Kementerian
Postur Belanja Kementerian Perdagangan (kanan), Tahun 2011-2013
Perdagangan
2011-2013.
Perdagangan(kanan),
(kanan),Tahun
Tahun
2011-2013.
Belanja
Belanja
Modal
Modal
29%
pencatatan
29%
2013
Belanja
2013 Belanja
Pegawai
Pegawai
8% 8%
keuangan, transparansi, penilaian dari
para
pemangku
(stakeholders),
termasuk
kepentingan
penghargaan
Belanja
Belanja
Barang
Barang
63%
yang diperoleh oleh Organisasi.
Sumber: Kementerian
Perdagangan
Sumber:
Kementerian
Perdagangan.
63%
Sumber: Kementerian Perdagangan.
a) Kinerja
Pelaksanaan
Anggaran
b) Kinerja
Pelaksanaan
Anggaran Menurut
Program
dan RB.
a) Kinerja
Pelaksanaan
Anggaran
Menurut
Jenis Belanja
Sementara
itu jika diklasifikasikan
menurut
program, maka
terdapat Menurut
sepuluh program
utama
yang
diemban oleh
Jenis Belanja
Kementerian Berdasarkan
Perdagangan pada
tahun
2013.
Efektivitas
jenis belanja, anggaran
program mencapai sasaran sangat terkait dari cerminan
Berdasarkan
jenis tahun
belanja,
anggaran
serapan
anggaran
yang
digunakan
sebagai
sumber
daya
Kementerian
Perdagangan
2013
terbagi
keuangan. Dari sepuluh program tersebut, penyerapan
Kementerian
Perdagangan
2013
terbagi
atas Belanja
Rp. 299,1
miliar;
anggaran
tertinggi Pegawai
terdapat sebesar
pada tahun
program
Peningkatan
Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian Perdagangan
atas
Belanja
Pegawai
sebesar
Rp.
299,1
miliar;
Belanja
Modal
sebesar
Rp. 883,3
miliar;
dan
(96,7%).
Sedangkan
penyerapan
anggaran
terendah
terdapat
pada program Peningkatan Efisiansi Pasar Komoditi (84,6%).
4. Nilai komponen Evaluasi Kinerja sebesar
6,68. Kementerian Perdagangan sudah
mengenai
kemajuan pencapaian kinerja beserta
hambatannya serta melakukan evaluasi
Belanja Modal sebesar Rp. 883,3 miliar; dan
program. Evaluasi atas LAKIP unit kerja
92
C. Akuntabilitas Kinerja
C. Akuntabilitas Kinerja
Pelaksanaan Anggaran
kinerja outcome. Selain itu capaian kinerja
kepada Presiden melalui Kementerian PAN
pemantauan
Pada awal tahun 2013 Kementerian Perdagangan mendapat
pagu anggaran sebesar Rp3.105.723.944.000,- kemudian
setelah direvisi melalui APBN-P menjadi Rp2.963.458.632.000,. Pagu Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013 turun
5 persen atau Rp 142.265.312.000 daripada pagu anggaran
tahun 2012 sebesar Rp 3.105.723.944.000. Sementara itu,
kinerja realisasi anggaran Kementerian Perdagangan pada
tahun 2013 mencapai Rp 2.687.143.273.395,- atau 90,68%.
keselarasan antara kinerja output dengan
dan menyampaikan secara tepat waktu
melakukan
03
Akuntabilitas Kinerja
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Belanja
Barang
sebesar
Rp. 1.780,9
miliar.Strategis
c) Kinerja
Pelaksanaan
Anggaran
Menurut Sasaran
Belanja Barang sebesar Rp. 1.780,9 miliar.
Berdasarkan
penggunaan
anggaran
pencapaian
Sepanjang
tahun
anggaran
2013,menurut
realisasi
Misi, Kementerian Perdagangan mengalokasikan sebagian
Sepanjang
tahun
anggaran
2013,
realisasi
anggarannya
untuk ke-3
misi yang
diemban.
Untuk
anggaran
Kementerian
Perdagangan
menurut
Misi Peningkatan Kinerja Ekspor Non-Migas Berkualitas
anggaran
Perdagangan
menurutMisi
jenis
belanjaKementerian
dapat
dilihat
pada
berikut
mempunyai
anggaran
sebesar
Rp.tabel
467.187.217.000,-;
Penguatan Pasar Dalam Negeri mempunyai anggaran sebesar
jenis
belanja dapat dilihat pada tabel berikut
ini.
Rp. 195.651.468.000,-; Misi Penyediaan Bahan Pokok dan
Penguatan Jaringan Distribusi Nasional mempunyai anggaran
ini.
sebesar Rp. 808.180.145.000,-; serta Misi Optimalisasi
Reformasi Birokrasi mempunyai anggaran sebesar Rp.
28.932.366.000,-.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |99
93
03
Berdasarkan
Tabel 18. Realisasi Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013, Menurut Jenis Belanja
AKUN (2 DIGIT)
Akuntabilitas Kinerja
PAGU REVISI
52 BELANJA BARANG
87,64
1.780.929.256.000
1.592.813.636.257
89,44
Tabel 19
832.160.024.219
94,20
Realisasi Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013, Menurut Jenis Belanja
2.687.143.273.395
90,68
JUMLAH
2.963.458.632.000
Tabel 18. Realisasi Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013, Menurut Jenis Belanja
AKUN (2 DIGIT)
51 BELANJA
PEGAWAI
b)
Kinerja
Pelaksanaan
PAGU REVISI
% REALISASI
262.169.612.919
digunakan sebagai
sumber daya 87,64
keuangan.
Anggaran 299.149.029.000
Menurut
Program
52 BELANJA
BARANG
53 BELANJA
MODAL
Sementara
REALISASI DIPA
Dari sepuluh1.592.813.636.257
program tersebut, penyerapan
1.780.929.256.000
89,44
anggaran tertinggi
terdapat pada94,20
program
883.380.347.000
832.160.024.219
itu jika diklasifikasikan
Migas
diemban
oleh
Kementerian
Perdagangan
PROGRAM
yang diemban
oleh
PAGU
Kementerian
REALISASI
Perdagangan
CAPAIAN
(96,7%).
(%)
1 Dukungan Manajemen
dan Pelaksanaan
Kementerian
Perdagangan
pada tahunTugas
2013.
Sedangkan
penyerapan402.760.347.415
anggaran terendah
471.525.310.000
85,42
Efektivitas
program
sasaran
sangat
2 Peningkatan
Saranamencapai
dan Prasarana
Aparatur
terdapat pada program Peningkatan Efisiansi
terkait dari cerminan serapan anggaran yang
Pasar Komoditi (84,6%).
Teknis Lainnya Kementerian Perdagangan
Kementerian Perdagangan
71.188.588.000
68.853.495.916
96,72
1.209.450.709.000
3
Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri
1.130.139.974.177
93,44
4
Tabel
19. Realisasi
Kementerian Perdagangan
Program
Peningkatan
Perdagangan
LuarAnggaran
Negeri
178.800.000.000Menurut
168.618.460.723
94,31
5 Peningkatan Kerja Sama Perdagangan
NO Internasional
PROGRAM
61
72
8
3
9
4
Pengawasan
dan Peningkatan
Akuntabilitas
Dukungan Manajemen
dan Pelaksanaan
Tugas
Aparatur
Kementerian
Perdagangan
Teknis Lainnya Kementerian Perdagangan
Pengembangan
Ekspor
Peningkatan Sarana
danNasional
Prasarana Aparatur
Kementerian
Perdagangan
Program Peningkatan Efisiensi Pasar Komoditi
Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri
Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan
Peningkatan Perdagangan Luar Negeri
Perdagangan
10
5
Peningkatan Perlindungan
Konsumen
Kerja Sama Perdagangan
Internasional
TOTAL
6 Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas
Sumber:Aparatur
Kementerian
Perdagangan.
Kementerian
Perdagangan
7
Pengembangan Ekspor Nasional
8
Program Peningkatan Efisiensi Pasar Komoditi
9
Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan
Perdagangan
10
Peningkatan Perlindungan Konsumen
TOTAL
261.602.414.000
PAGU
236.568.031.113
REALISASI
CAPAIAN
90,43
(%)
34.489.726.000
471.525.310.000
29.489.780.544
402.760.347.415
85,50
85,42
353.327.726.000
71.188.588.000
83.944.851.000
1.209.450.709.000
63.727.957.000
178.800.000.000
321.989.278.366
68.853.495.916
71.007.075.768
1.130.139.974.177
57.174.881.689
168.618.460.723
91,13
96,72
84,59
93,44
89,72
94,31
235.401.351.000
261.602.414.000
2.963.458.632.000
200.541.947.684
236.568.031.113
2.687.143.273.395
85,19
90,43
90,68
34.489.726.000
29.489.780.544
85,50
353.327.726.000
321.989.278.366
91,13
83.944.851.000
71.007.075.768
84,59
LAK Kementerian
63.727.957.000
serta Misi Optimalisasi Reformasi Birokrasi
Perdagangan
|101
57.174.881.689 201389,72
235.401.351.000
200.541.947.684
85,19
2.963.458.632.000
2.687.143.273.395
90,68
mempunyai
mempunyai
anggaran
sebesar
Rp.
Akuntabilitas Kinerja
28.932.366.000,-.
anggaran
03
Secara rinci, penggunaan anggaran
(dalam ribuan rupiah)
[dalam ribuan rupiah]
PAGU
REALISASI
ANGGARAN
MISI 1: MENINGKATKAN KINERJA EKSPOR NONMIGAS NASIONAL SECARA BERKUALITAS
Peningkatan
Total ekspor
Pertumbuhan Ekspor
71,881,585
Pertumbuhan ekspor non-migas
Non-Migas
Diversifikasi Pasar
Rasio konsentrasi penguasaan
Tujuan Ekspor &
pangsa pasar di 5 negara tujuan
Diversifikasi Produk
ekspor terbesar (CR5)
66,024,287
51,897,888
Ekspor
Pertumbuhan ekspor non-migas
ke negara non-tradisional
NO
SASARAN STRATEGIS
1
2
INDIKATOR KINERJA
Kontribusi ekspor di luar 10
produk utama
3
Perbaikan citra
produk ekspor
Indonesia
Peningkatan peran
dan kemampuan
diplomasi
perdagangan
internasional
4
Tabel 19. Realisasi Anggaran Kementerian
Perdagangan
Menurut
Peningkatan
Sarana
danProgram
Prasarana Aparatur
utama
sebagian
Tabel 20. Realisasi Kinerja Anggaran Kementerian Perdagangan Menurut Sasaran Strategis
menurut program, maka terdapat sepuluh
NO
program
mempunyai
menurut Misi dan Sasaran ini dapat dilihat
Tabel 21
Pasar Dalam Negeri mempunyai anggaran pada tabel di bawah ini.
Realisasi
Kinerja Anggaran Kementerian Perdagangan Menurut Sasaran Strategis
(96,7%).
penyerapan
anggaran
terendah
Kementerian
Perdagangan pada
tahun 2013. Sedangkan
digunakan sebagai
sumber
daya keuangan.
b) Kinerja Pelaksanaan
Anggaran
pada program Peningkatan Efisiansi
Menurut
Program
Efektivitas
program
mencapai sasaran sangat terdapat
TabelDari
20 sepuluh program tersebut, penyerapan
Komoditi
(84,6%).
Realisasi
Anggaran Kementerian
Perdagangan
Menurut
Programpada program
terkait dari
cerminan
yang Pasar
anggaran
tertinggi
terdapat
Sementara
ituserapan
jika anggaran
diklasifikasikan
Nasional
sebesar Rp. 467.187.217.000,-, Misi Penguatan
JUMLAH maka terdapat sepuluh
2.963.458.632.000
Peningkatan2.687.143.273.395
Sarana dan Prasarana90,68
Aparatur
menurut program,
Sumber: Kementerian Perdagangan.
program
utama yang
Distribusi
anggaran sebesar Rp. 808.180.145.000,-,
mengalokasikan
Berkualitas
Jaringan
Kementerian
Untuk Misi Peningkatan Kinerja Ekspor Non-
883.380.347.000
Sumber: Kementerian Perdagangan.
Perdagangan
Misi,
anggarannya untuk ke-3 misi yang diemban.
262.169.612.919
53 BELANJA MODAL
pencapaian
anggaran
% REALISASI
299.149.029.000
51 BELANJA PEGAWAI
03Akuntabilitas Kinerja
REALISASI DIPA
menurut
penggunaan
5
03
NO
6
Skor dimensi ekspor dalam Simon
Anholt Nation Brand Index (NBI)
Peningkatan output
sektor perdagangan
-
78.6%
4,145,030
2,992,071
72.2%
100,000,000
93,001,885
93.0%
205,570,431
91.3%
-
-
-
-
Jumlah hasil perundingan
225,136,315
perdagangan internasional
Persentase peningkatan nilai
perdagangan Indonesia dengan
negara mitra FTA ASEAN
MISI 2: MENGUATKAN PASAR DALAM NEGERI
Penyederhanaan
Pelayanan perizinan sub sektor
Perizinan
PDN yang dapat dilayani secara
4,440,081
Perdagangan Dalam
online
Akuntabilitas
Kinerja
Negari & Luar Negeri
Rata-rata waktu penyelesaian
perizinan
Perizinan Ekspor dan Impor yang
2,287,889
dapat dilayani secara online
SASARAN STRATEGIS
%
2,229,264
97.4%
Rata-rata waktu penyelesaian
INDIKATOR KINERJA
perizinan ekspor dan impor
Pertumbuhan PDB sektor
perdagangan (besar dan eceran)
PAGU
2,152,192
ANGGARAN
REALISASI
957,492
%
44.5%
Rasio penggunaan produk dalam
179,825,024
-
-
2,203,765
2,101,279
95.3%
negeri terhadap
2013 pengeluaran
102|LAK Kementerian Perdagangan
konsumsi rumah tangga
7
8
9
Nilai resi gudang yang
diterbitkan
Jumlah transaksi multilateral di
bidang Perdagangan Berjangka
Komoditi
Akumulasi jumlah BPSK yang
terbentuk setiap tahun
Peningkatan
Perlindungan
4,742,517
4,073,898
85.9%
Konsumen
MISI 3: MENJAGA KETERSEDIAAN BAHAN POKOK DAN PENGUATAN JARINGAN DISTRIBUSI NASIONAL
Pengembangan Sarana Persentase realisasi revitalisasi
Distribusi
pasar tradisional
Perdagangan dalam
740,000,000
mendukung kinerja
logistik nasional
Stabilisasi Harga
Rata-rata koefisien variasi harga
Bahan Pokok
bahan pokok utama
10
Penurunan Disparitas
Harga Bahan Pokok
Antar Propinsi
Rasio variasi harga provinsi
dibandingkan variasi harga
nasional
11
Peningkatan Kualitas
Laporan Keuangan
dan Akuntabilitas
Opini BPK atas Laporan
Keuangan Kementerian
-
-
2,826,352
2,712,102
95.9%
395,235
0
0.0%
25,710,779
20,706,304
80,5%
68,180,145
MISI 4: OPTIMALISASI REFORMASI BIROKRASI
12
Peningkatan Kualitas
Kinerja Organisasi
Peringkat penilaian Program
Inisiatif Anti Korupsi (PIAK)
Penilaian terhadap akuntabilitas
kinerja Kementerian
Sumber: Kementerian Perdagangan.
Dari
94
keseluruhan
Kementerian
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |101
program
Perdagangan
tersebut
memfokuskan
pelaksanaan program prioritas sesuai dengan
menurut
pencapaian
IKU
Kementerian
Perdagangan Laporan
tahunAkuntabilitas
2013 dapat
dilihat
padaPerdagangan 2013
Kinerja
Kementerian
Tabel Pengukuran Pencapaian Sasaran di
95
03
Akuntabilitas Kinerja
Kendala yang ditemui dalam mengukur realisasi anggaran
menurut sasaran strategis adalah sulitnya menelusuri realisasi
anggaran berdasarkan sasaran strategis yang telah ditetapkan
pada Kontrak Kinerja di awal tahun. Hal ini dikarenakan
selama tahun 2013 terjadi beberapa kali revisi akibat efisiensi/
penghematan anggaran. Selain itu, indikator kinerja dalam
Kontrak Kinerja tidak sinkron dengan IKU dalam RKA-K/L.
Dari
keseluruhan
program
tersebut
Kementerian
Perdagangan memfokuskan pelaksanaan program prioritas
sesuai dengan sasaran strategis dan indikator kinerja utama
(IKU) Kementerian. Berdasarkan Rencana Strategis 2010-2014
dan Kontrak Kinerja 2013, Kementerian Perdagangan telah
mengalokasi-kan anggaran untuk setiap program yang terkait
dengan pencapaian IKU tersebut. Secara rinci, penggunaan
anggaran menurut pencapaian IKU Kementerian Perdagangan
tahun 2013 dapat dilihat pada Tabel Pengukuran Pencapaian
Sasaran (PPS) pada bagian Lampiran 6.
d) Evaluasi Kinerja Pelaksanaan Anggaran
Dalam rangka pelaksanaan fungsi akuntabilitas dan
peningkatan kualitas kinerja keuangan di Kementerian
Perdagangan telah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan
anggaran berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
249 Tahun 2011 tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja
atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/
Lembaga. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 249 tahun
2011 mengatur evaluasi kinerja atas pelaksanaan anggaran
meliputi tiga aspek penilaian, yaitu: Aspek Implementasi;
Aspek Manfaat; dan Aspek Konteks. Namun pada masa transisi
(2011-2012), pengukuran dan evaluasi atas pelaksanaan RKAK/L khusus mengukur penilaian aspek implementasi saja.
Evaluasi kinerja atas aspek implementasi dilakukan
dalam rangka menghasilkan informasi kinerja mengenai
pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran (output).
Esensi dari evaluasi pelaksanaan RKA-K/L berdasarkan PMK
No. 249/2011 adalah memberian penekanan bahwa kinerja
pelaksanaan anggaran tidak semata-mata diukur melalui
realisasi penyerapan keuangannya saja.Dalam mengevaluasi
aspek implementasi ada 4(empat) indikator yang diukur
dengan bobot kinerja yang berbeda, yaitu:
1) Penyerapan Anggaran/Realisasi, untuk menilai seberapa
besaranggaran yang telah digunakan untuk membiayai
kegiatan, dengan bobot 9,7%.
2) Konsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan
kegiatan yang direpresentasikan dengan ketepatan waktu
penyerapananggaran setiap bulan, denganbobot 18,2%.
Akuntabilitas Kinerja
(anggaran) dalam
denganbobot 28,6.
menghasilkan
suatu
output,
Nilai kinerja aspek implementasi diperoleh dengan
menjumlahkan seluruh hasil perkalian antara nilai hasil
pengukuran capaian kinerja setiap indikator dengan masingmasing bobot dari indikator kinerja yang diukur tersebut.
Secara umum, kinerja pelaksanaan anggaran Kementerian
Perdagangan per program telah mencapai 89,54% dengan
kategori baik. Hasil Evaluasi Aspek Implementasi atas
Pelaksanaan Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013
secara rinci dijabarkan pada Lampiran 6.
Selain aspek implementasi, evaluasi kinerja atas aspek
manfaat juga telah dilakukan oleh Kementerian Perdagangan
dalam rangka mengukur seberapa jauh manfaat penggunaan
anggaran terhadap perubahan yang terjadi dalam masyarakat
dan/atau pemangku kepentingan sebagai penerima manfaat
atas pencapaian indikator kinerja utama. Hasil Evaluasi atas
Pelaksanaan Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013
yang meliputi Aspek Implementasi dan Aspek Manfaat dapat
dilihat pada Lampiran 7.
Evaluasi Kinerja ini di harapakan dapat menghasilkan analisis
mengenai hubungan sebab akibat atas hasil pengukuran dan
penilaian untuk setiap indikator yang di-evaluasi, analisis
mengenai keterbatasan yang di hadapi dalam menjalankan
setiap proses evaluasi kinerja, analisis perubahan hasil
pengukuran dan penilaian dibandingkan dengan hasil evaluasi
kinerja pada dan tahun sebelumnya serta mengidentifikasi
faktor pendukung dan kendala dalam pelaksanaan kegiatan,
pencapaian keluaran, dan hasil.
Dalam rangka percepatan penyerapan realisasi anggaran
berbagai langkah perbaikan perlu diambil, diantaranya:
1. Membentuk dan membangun sistem monitoring sebagai
bagian dari pengendalian internal dan instrumen
manajemen pimpinan untuk realisasi anggaran, progres
fisik dan aktivitas strategis dengan memanfaatkan
teknologi informasi;
2. Penyampaian Rencana Penarikan Dana/Rencana
Penyerapan Anggaran/Disbursement Plan sebagai bagian
dari perencanaan pelaksanaan kegiatan 2013 ke dalam
Sistem Monitoring;
Kementerian Perdagangan
memfokuskan pelaksanaan
program prioritas sesuai dengan
sasaran strategis dan indikator
kinerja utama (IKU) Kementerian.
Berdasarkan Rencana Strategis
2010-2014 dan Kontrak Kinerja
2013, Kementerian Perdagangan
telah mengalokasikan anggaran
untuk setiap program yang terkait
dengan pencapaian IKU tersebut.
3. Percepatan pembukaan blokir kegiatan terutama kegiatan
yang membutuhkan proses PBJ, dengan harapan tidak
ada keterlambatan pelaksanaan proses PBJ di awal tahun
2013;
4. Menindaklanjuti Pengumuman RUP dan Pengadaan
Barang/Jasa, agar dipastikan tanda tangan kontrak
pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan paling lambat
tanggal 15 Maret 2013.
Beberapa permasalahan yang umumnya mewarnai kinerja
pelaksanaan anggaran dan belanja Kementerian
Perdagangan di tahun 2013 adalah:
1. Perencanaan kurang matang, ditandai dengan :
a. Pendekataannya tidak bottom up sehingga ada satker
yangmendapatkan alokasi dana untuk kegiatan yang
bukan tupoksinya.
b. Tingginya frekuensi revisi anggaran, terutama di bulan
Oktober.
c. Penetapan target keuangan masih bersifat formalitas
dimana rencana per bulan masih didasarkan pada
pembagian seperduabelas alokasi anggaran kegiatan.
d. Penyerapan anggaran menumpuk di bulan Desember
2. Alokasi anggaran yang masih terkonsentrasi di Jakarta.
4) Tingkat Efisiensi dalam pemanfaatan sumber dana
4. Proses finalisasi APBN‐P yang memakan waktu, jumlah
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
5. K/L belum memiliki sistem/mekanisme pengendalian
untuk realisasi keuangan dan fisik/kegiatan dari hulu
(identifikasi paket dan tender) sampai hilir (serah terima
dengan pihak ketiga).
e) Tindak Lanjut Pelaksanaan Anggaran
3) Pencapaian Keluaran/Output, untuk mengukur produk
(barang/jasa) yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang
dilaksanakan, dengan bobot 43,5%.
96
hari kerja efektif untuk menyerap anggaran hanya 22%
sedangkan sisanya sebanyak 78% dihabiskan di DPR dan
Kementerian Keuangan
03
3. Permasalahan peraturan, sistem dan munculnya kasus
pidana dalamPengadaan Barang/Jasa.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
97
04
Penutup
Penutup
Penguatan
Perdagangan Dalam Negeri sebagai
04
Penggerak Pertumbuhan
yang Berkeadilan
“
Tahun 2014 Kementerian Perdagangan telah menetapkan
arah kebijakannya, yaitu:
“Penguatan Perdagangan Dalam Negeri sebagai Penggerak
Pertumbuhan yang Berkeadilan,”
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
“
98
Target-target kinerja perdagangan internasional dan
perdagangan dalam negeri selama tahun 2013 dapat dipenuhi
dengan cukup baik. Secara keseluruhan terdapat 23 Indikator
Kinerja dari 12 sasaran strategis kementerian yang diukur pada
LAK Kementerian Perdagangan Tahun 2013.Dari keseluruhan
23 indikator kinerja, sebanyak 19 diantaranya dapat tercapai
atau melampaui target yang ditetapkan dalam Kontrak Kinerja
Kementerian Perdagangan Tahun 2013, sedangkan 4 indikator
kinerja lainnya tidak mencapai target dan realisasinya masih
dibawah 50%, atau sangat sulit/tidak mungkin untuk dicapai.
Berbagai isu strategis yang akan dihadapi oleh Kementerian
Perdagangan pada tahun 2014 meliputi: peningkatan
kemudahan berusaha; penururnan biaya logistik nasional;
pengembangan fasilitas pendukung KEK yang telah ditetapkan
dan penetapan KEK baru; serta persiapan menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.
Untuk menghadapi berbagai tantangan, internal dan eksternal,
pada tahun 2014 Kementerian Perdagangan telah menetapkan
arah kebijakannya, yaitu: “Penguatan Perdagangan Dalam
Negeri sebagai Penggerak Pertumbuhan yang Berkeadilan,”
sejalan dengan tema Rencana Kerja Pemerintah Tahun
2014, yaitu: “Memantapkan Perekonomian Nasional bagi
Peningkatan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan.”
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
99
sedangkan 4 indikator kinerja lainnya tidak
04
mencapai target dan realisasinya masih
dibawah 50%, atau sangat sulit/tidak mungkin
Penutup
untuk dicapai.
meliputi: peningkatan kemudahan berusaha;
penururnan
biaya
logistik
pengembangan fasilitas pendukung KEK yang
telah ditetapkan dan penetapan KEK baru;
tantangan, serta persiapan menghadapi
GambarEkonomi
20
ASEAN 2015.
internal dan eksternal, pada tahun 2014
Isu Strategis Kementerian Perdagangan Tahun 2014
Untuk
nasional;
menghadapi
berbagai
Masyarakat
Penutup
04Penutup
Tabel 22
Sasaran dan Target Indikator Kinerja Kementerian Perdagangan Tahun 2014
Gambar 32. Isu Strategis Kementerian Perdagangan Tahun 2014
Tabel 21. Sasaran dan Target Indikator Kinerja Kementerian Perdagangan Tahun 2014
No
Sasaran/Indikator Kinerja
Target 2014
1
Peningkatan Akses Pasar Ekspor dan Fasilitasi Ekspor
• Pertumbuhan Ekspor Non-Migas
• Pangsa 5 (lima) Negara Ekspor Terbesar (CR5)
• Kontribusi Ekspor diluar 10 produk utama
2
Perbaikan Iklim Usaha Perdagangan Luar Negeri
• Jumlah Perizinan Online
• Waktu Pelayanan (hari)
Peningkatan daya saing ekspor
• Jumlah komoditi dengan RCA >1 selama 5 tahun berturut-turut
• Skor Dimensi Ekspor dalam Simon Anholt Nation Brand Index (NBI)
Peningkatan peran dan kemampuan diplomasi perdagangan internasional
• Jumlah hasil perundingan perdagangan internasional
3
4
108|LAK Kementerian Perdagangan 2013
13,5 % - 14,5 %
43% - 47%
53%-60%
5
Perbaikan Iklim Usaha Perdagangan Dalam Negeri
• Jumlah Perizinan Online
• Waktu Pelayanan (hari)
6
Peningkatan Kinerja Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, serta Ekonomi
Kreatif
• Pertumbuhan PDB Sektor Perdagangan Besar dan Eceran
• Kontribusi Ekspor Produk Ekonomi Kreatif
7
8
9
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
81
1
590 - 605
44 - 49
241
19
4
Peningkatan Perlindungan Konsumen
• Akumulasi jumlah BPSK yang terbentuk
Stabilisasi dan Penurunan Disparitas Harga Bahan Pokok
• Rata-rata Koefisien Variasi Harga (KVH) Bahan Pokok
• Rasio KVH Komoditi tertentu didalam negeri dibanding luar negeri
• Rasio KVH provinsi dibandingkan variasi harga nasional
Penciptaan Jaringan Distribusi Perdagangan yang Efisien
• Skor Logistic Performance Index
10 Peningkatan Kualitas Kinerja Organisasi
• Opini BPK atas Laporan Keuangan Kementerian
• Penilaian Kemen PAN & RB atas dokumen SAKIP Kementerian
11 Penguatan dan Peningkatan Kualitas Organisasi dan SDM
• Skor hasil survey kualitas organisasi
• Skor hasil survey sistem manajemen SDM
100
04
4,6% - 6,6%
8%
65
5% -9%
<1
1,5-2,5
3,26
WTP
B
2,42
1,90
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |109
101
LAMPIRAN
LAPORAN
AKUNTABILITAS KINERJA
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
TAHUN 2013
102
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
103
Lampiran
1. Struktur Organisasi Kementerian Perdagangan
Lampiran
Lampiran
2. Kontrak Kinerja dan Rencana Aksi Kementerian Perdagangan Tahun 2013
1. Struktur Organisasi Kementerian Perdagangan
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |111
104
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
105
Lampiran
2. Kontrak Kinerja dan Rencana Aksi Kementerian Perdagangan Tahun 2013
106
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Lampiran
2. Kontrak Kinerja dan Rencana Aksi Kementerian Perdagangan Tahun 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
107
Lampiran
2. Kontrak Kinerja dan Rencana Aksi Kementerian Perdagangan Tahun 2013
108
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Lampiran
2. Kontrak Kinerja dan Rencana Aksi Kementerian Perdagangan Tahun 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
109
Lampiran
2. Kontrak Kinerja dan Rencana Aksi Kementerian Perdagangan Tahun 2013
110
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Lampiran
2. Kontrak Kinerja dan Rencana Aksi Kementerian Perdagangan Tahun 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
111
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
3. Capaian Indikator Kinerja RPJMN 2010-2014 ‘Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi & Iklim Usaha
4. Capaian Indikator Kinerja RPJMN 2010-2014 ‘Prioritas Lainnya: Bidang Ekonomi’
3. Capaian Indikator Kinerja RPJMN 2010-2014 ‘Prioritas Nasional 7: Iklim Investasi & Iklim Usaha’
No.
(1)
RPJMN 2010-2014
Sasaran
Indikator
2010
2011
2012
2013
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
Terlaksananya kebijakan
dan bimbingan teknis
dalam rangka
peningkatan kelancaran
distribusi dan stabilisasi
harga bahan pokok dan
barang strategis
Jumlah rumusan kebijakan dan
norma, standar, prosedur dan
kriteria bidang distribusi bahan
pokok dan barang strategis (Jenis)
1
Peningkatan Kelancaran
Distribusi Bahan Pokok
B
No.
1
(1)
Capaian
Program/Kegiatan
LOGISTIK NASIONAL
2
Target RPJMN
2014
A
Pengembangan Sarana
Distribusi Perdagangan
SISTEM INFORMASI
Pengelolaan
Fasilitasi Ekspor
Program/Kegiatan
dan Impor
(2)
Terbangunnya sarana
distribusi dalam rangka
kelancaran distribusi
bahan pokok
4
C
KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK)
1
Dukungan Sektor
Perdagangan terhadap
Pengembangan Kawasan
Ekonomi Khusus
Meningkatnya peranan
sektor perdagangan di
kawasan ekonomi khusus
2010
2011
2012
2013
(10)
(11)
(12)
(13)
6
6
6
4
Rata-rata koefisien variasi harga
bahan pokok utama (Persen)
5-9%
4,5%
3,5%
3,7%
3,8%
Rasio variasi harga provinsi
dibandingkan variasi harga
nasional yang semakin kecil
1,5 - 2,5
1,8
1,9
1,7
1,7
<1
0,22
0,3
0,3
0,4
Rasio variasi harga komoditi
tertentu di dalam dan di luar negeri
yang semakin kecil
Jumlah Perizinan di bidang
distribusi bahan pokok dan barang
strategis yang dilayani secara
online (Jenis)
Waktu penyelesaian perizinan dan
non perizinan di bidang distribusi
bahan pokok dan barang strategis
(Hari)
Jumlah Pasar Percontohan yang
dibangun (unit)
9
9
9
11
11
12
15
12
8
6
6
5
4
2
6
5
3
3,5
13
15
20
23
26
12
15
20
22
Jumlah Pusat Distribusi yang
dibangun (unit)
-
1
1
1
1
2
1
1
3
Jumlah rekomendasi terkait
penataan sistem logistik
2
3
4
5
6
2
3
4
-
2010
4
(5)
2011
4
(6)
2012
2
(7)
2013
2
(8)
2014
2
(9)
2010
4
(10)
2011
2
(11)
2012
3
(12)
2013
2
(13)
2
2
2
2
2
2
2
2
2
RPJMN 2010-2014
Tersedianya
kebijakan,
Sasaran
koordinasi, bimbingan
(3) dan
teknis, monitoring
evaluasi di bidang
fasilitasi ekspor dan impor
4. Capaian Indikator Kinerja RPJMN 2010-2014 ‘Prioritas Lainnya: Bidang Ekonomi’
Target RPJMN
Jumlah penerbitan
kebijakan
Indikator
fasilitasi ekspor dan impor
(4)
(Peraturan)
Jumlah pengembangan sistem
elektronik bidang fasilitasi
pelayanan publik (Kegiatan)
Lampiran
(1)
A
1
RPJMN 2010-2014
Program/Kegiatan
Sasaran
Target RPJMN
Indikator
2012
2013
2014
2010
2011
2012
2013
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
34
35
35
37
38
34
37
36
37
40
55
55
60
61
41
55
55
66
40
55
55
59
61
41
55
55
66
8
15
15
20
15
17
29
31
27
6
8
-
-
-
4
8
-
-
-
-
9
9
9
-
-
9
8
-
-
15
16
17
-
-
16
18
(2)
(3)
(4)
(5)
Peningkatan peran dan kemampuan Republik Indonesia dalam diplomasi perdagangan internasional
Peningkatan peran dan
kemampuan diplomasi
perdagangan internasional
Meningkatnya peran dan
kemampuan diplomasi
perdagangan di berbagai fora
internasional dalam rangka
pembukaan, peningkatan dan
pengamanan akses pasar ekspor
Hasil-hasil perundingan
perdagangan internasional
Jumlah partisipasi aktif dalam
perundingan perdagangan
internasional
Jumlah posisi runding yang
disusun
Jumlah penyelenggaraan sidang
internasional di dalam negeri
Jumlah forum konsultasi teknis
kesepakatan perundingan
internasional
Jumlah sosialisasi hasil kerja
sama perdagangan internasional
Jumlah publikasi kerja sama
perdagangan internasional yang
diterbitkan
Capaian
2011
2010
Capaian
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |125
Jumlah pengguna perizinan
ekspor/impor online yang dilayani
melalui INATRADE (Perusahaan)
1.500
2.000
3.500
4.000
4.500
1.536
2.064
2.618
5.874
Jumlah bimbingan teknis bidang
fasilitasi perdagangan (Kegiatan)
5
5
5
5
5
5
23
5
5
Jumlah koordinasi bidang fasilitasi
perdagangan (Kegiatan)
60
60
60
60
60
60
87
24
36
Jumlah partisipasi sidang-sidang
fasilitasi perdagangan didalam dan
luar negeri (Kegiatan)
17
17
17
17
17
-
12
13
17
Jumlah laporan evaluasi
pelaksanaan monitoring fasilitasi
perdagangan (Laporan)
5
5
5
5
5
-
32
5
6
Jumlah Penerbitan Surat
Keterangan Asal melalui sistem
otomasi (SKA)
-
750.000
800.000
850.000
900.000
-
866.582
821.400
897.300
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Jumlah peraturan terkait dengan
KEK (Peraturan)
Jumlah fasilitasi dan koordinasi
penyusunan PP tentang KEK
(Laporan)
No.
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |127
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |126
112
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
113
11
12
Lampiran
13
5. Daftar Realisasi Penyelesaian Perizinan Ekspor dan Impor Secara Online Pada Tahun 2013
5. Daftar Realisasi Penyelesaian Perizinan Ekspor dan Impor Secara Online Pada Tahun 2013
5. Daftar Realisasi Penyelesaian Perizinan Ekspor dan Impor Secara Online Pada Tahun 2013
a. Perizinan UPP Registrasi
a. Perizinan UPP Registrasi
No
No
1
1
2
2
Jenis Perizinan
Jenis Perizinan
[Impor] NPIK (8 Jenis)
[Impor] NPIK (8 Jenis)
[Impor] IT Produk Tertentu (7 Jenis)
[Impor] IT Produk Tertentu (7 Jenis)
TOTAL HARI PERIZINAN 2013
TOTALDaglu,
HARI Kementerian
PERIZINAN 2013
Sumber: Ditjen
Perdagangan.
Total Perizinan
Total Perizinan
Manual
Online
Manual
Online
5991
2439
5991
2439
3413
941
3413
941
9404
3380
9404
3380
No
No
1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
No
Jenis Perizinan
Jenis Perizinan
[ekspor] PE Hewan dan Produk
[ekspor]
Hewan PE Hewan dan Produk
Hewan
[ekspor] ETPIK Produsen & Non
ProdusenETPIK Produsen & Non
[ekspor]
Produsen
[impor] IP 4-Chloro-3,5[impor]
IP 4-Chloro-3,5DimethylPhenol
(PCMX)
DimethylPhenol
(PCMX)
[impor] IT Intan Kasar
[impor] IT Intan Kasar
[impor] IT Hewan dan Produk
[impor]
Hewan IT Hewan dan Produk
Hewan
[impor] PI Sakarin dan Garamnya
[impor] PI Sakarin dan Garamnya
[impor] PI Intan Kasar
[impor] PI Jenis
IntanPerizinan
Kasar
Lampiran
Lampiran
Manual
2
Online
Manual
5,5
8
[impor] PI Siklamat
9
[impor] (API) - Barang Perbaikan
170
4,1
10
[Impor] - Barang Ekspor yang
Ditolak
[Impor] Tanpa API- Barang
Perbaikan
[impor] PI Hewan dan Produk
Hewan
[impor] PI Produk Hortikultura
73
4,7
29
3,8
11
12
1
2
13
14
15
[impor] IT Produk Hortikultura
[impor] IP Produk Hortikultura
TOTAL HARI PERIZINAN 2013 (UPP
NON REGISTRASI)
2004
357
6,49
117
37
1456
7,02
7,1
6,7
4,7
1
2
3
114
[ekspor] Eksportir Terdaftar Kopi
(ETK)/ Eksportir Kopi Sementara
(EKS)
[ekspor] ET Timah Batangan
[ekspor] ET Prekursor Non
Pharmasi
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
LAK Kementerian Perdagangan 2013
|128
Total Perizinan
Manual
Online
97
Rata-Rata Hari
Manual
Online
7,48
55
6,30
5
5,80
357
Lampiran
6,49
[ekspor] Eksportir Terdaftar Kopi
(ETK)/ Eksportir Kopi Sementara
(EKS)
[ekspor] ET Timah Batangan
Total Perizinan
Manual
Online
97
55
Rata-Rata Hari
Manual
Online
7,48
6,30
Total
5 Perizinan
Manual
Online
13
Rata-Rata Hari
5,80
Manual
Online
5,84
6
6,83
6
[ekspor] PE Minyak dan Gas Bumi
314
4,62
7
[ekspor] PE Sisa dan Skrap Logam
323
2,84
8
[ekspor] PE Perak dan Emas
52
5,15
9
[ekspor] PE Prekursor Non
Pharmasi
[ekspor] PE Pupuk Urea Non
Subsidi
[impor] IP Besi atau Baja
(impor) IP Beras
5
5,80
16
5,87
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
c. Perizinan Back Office
Jenis Perizinan
Lampiran
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |127
Sumber: Ditjen Daglu, Kementerian Perdagangan.
No
Jenis Perizinan
[ekspor] ET Prekursor Non
Jenis Perizinan
Pharmasi
4
[ekspor] PE Beras (Premium,
Medium,
Organik
LAK Kementerian Perdagangan
2013
|128 dan Ketan)
5
[ekspor] PE Kayu Ulin
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |127
7,35
7,35
Sumber: Ditjen Daglu, Kementerian Perdagangan.
No
Online
876
876
c. Perizinan Back Office
Rata-Rata Hari
Rata-Rata Online
Hari
Manual
Manual
Online
2,8
2,1
2,8
2,1
3,3
2
3,3
2
3,1
2
3,1
2
Rata-Rata Hari
Rata-Rata Online
Hari
Manual
Manual
Online
9
9
7,9
7,9
3,3
1
3,3
1
5
5
9,16
9,16
4,14
4,14
4
Rata-Rata
Hari
4
3,8
[impor] IT Produk Hortikultura
117
7,02
[impor] IP Produk Hortikultura
37
7,1
5. Daftar Realisasi
dan Impor1456
Secara Online
2013
TOTALPenyelesaian
HARI PERIZINANPerizinan
2013 (UPP Ekspor2004
4,7 Pada Tahun
6,7
NON REGISTRASI)
3
No
Total Perizinan
Total Perizinan
Manual
Online
Manual
Online
1
1
1704
1704
9
1
9
1
1
1
67
67
14
14
2
Total
2 Perizinan
29
14
15
Sumber: Ditjen Daglu, Kementerian Perdagangan.
b. Perizinan UPP Non-Registrasi
b. Perizinan UPP Non-Registrasi
Ditolak
[Impor] Tanpa API- Barang
Perbaikan
[impor] PI Hewan dan Produk
Hewan
[impor] PI Produk Hortikultura
[impor] IP Gula
[impor] IP Pelumas
[impor] IP Tekstil
[impor] IP Etilena
[impor] IP Garam
[impor] IP Bahan Baku Plastik
[impor] IP Bahan Berbahaya (B2)
[impor] IP Bahan Perusak Ozon
(BPO)
[impor] IP Limbah Non B3
[impor] IP Nitrocellulose (NC)
697
41
17
8,8
8,39
18,5
86
24
727
10
37
261
108
1
11,4
10,7
6,8
12,3
9,4
11,85
10,5
24
3
4
4
1
174
2
3
9,6
9
30
7
11
9
8,6
LAK Kementerian Perdagang
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
115
11
[Impor] Tanpa API- Barang
Perbaikan
[impor] PI Hewan dan Produk
Hewan
[impor] PI Produk Hortikultura
Lampiran
12
13
29
3,8
11
876
7,35
12
357
6,49
13
14
15
[impor] IT Produk Hortikultura
117
7,02
[impor] IP Produk Hortikultura
37
7,1
TOTAL HARI PERIZINAN 2013 (UPP
1456
4,7
5. Daftar Realisasi
Penyelesaian Perizinan Ekspor2004
dan Impor
Secara Online
Pada 6,7
Tahun 2013
NON REGISTRASI)
Jenis Perizinan
Jenis Perizinan
[ekspor] Eksportir Terdaftar Kopi
[impor] IP Prekursor Non Pharmasi
(ETK)/ Eksportir Kopi Sementara
[impor] IP Sodium
(EKS)
Tripolyphosphate (STPP)
2
[ekspor] ET Timah Batangan
25 [impor] IT Besi atau Baja
26 3 [impor]
IT Cakram
Optik Non
[ekspor]
ET Prekursor
27 [impor]
IT Mesin Multifungsi
Pharmasi
Berwarna, Mesin Fotokopi
Berwarna2013
dan Mesin
AK Kementerian Perdagangan
|128 Printer
Berwarna
28 [impor] IT Minuman Beralkohol
29 [impor] IT Garam
30 [impor] IT Nitrocellulose (NC)
31 [impor] IT Prekursor Non Pharmasi
32 [impor] IT Bahan Perusak Ozon
(BPO)
33 [impor] IT Bahan Peledak Industri
(Komersial)
34 [impor] IT Telepon Seluler,
Komputer Gengggam (Handheld)
dan Komputer Tablet
35 [impor] IT Bahan Baku Plastik
36 [impor] IT Kedelai
37 [impor] PI Barang Modal Bukan
Baru
38 [impor] PI Beras
No
Jenis Perizinan
39 [impor] PI Cakram Optik
40 [impor] PI Mesin Multifungsi
Berwarna, Mesin Fotokopi
Kementerian Perdagangan 2013 |130
Berwarna dan Mesin Printer
Berwarna
41 [impor] PI Minyak dan Gas Bumi
42 [impor] PI Minuman Beralkohol
43 [impor] PI Pupuk Bersubsidi
44 [impor] PI Garam Industri
45 [impor] PI Bahan Berbahaya (B2)
46 [impor] PI Bahan Peledak Industri
(Komersial)
47 [impor] PI Bahan Perusak Ozon
(BPO)
48 [impor] PI Nitrocellulose (NC)
23
24
116
1
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
49
50
[impor] PI Prekursor Non Pharmasi
[impor] PI Telepon Seluler,
3,8
876
7,35
357
6,49
Lampiran
[impor] IT Produk Hortikultura
117
7,02
[impor] IP Produk Hortikultura
37
7,1
TOTAL HARI PERIZINAN 2013 (UPP
4,7
6,7
5. Daftar Realisasi
Penyelesaian Perizinan Ekspor2004
dan Impor1456
Secara Online
Pada Tahun
2013
NON REGISTRASI)
Sumber: Ditjen Daglu, Kementerian Perdagangan.
c. Perizinan Back Office
No
29
14
15
Sumber: Ditjen Daglu, Kementerian Perdagangan.
No
[Impor] Tanpa API- Barang
Perbaikan
[impor] PI Hewan dan Produk
Hewan
[impor] PI Produk Hortikultura
Lampiran
Total Perizinan
Rata-Rata Hari
Total Perizinan
Rata-Rata Hari
Manual
Online
Manual
Online
Manual
Online
Manual
Online
97
7,48
53
11,3
4
15,5
55
398
60 5
50
6
7
1
7
21
20
6,30
8,53
10 5,80
10,7
63,7
110
16
7
27
3996
No No
No
9
Total
833 Perizinan
Manual
Online
84
93
14,8
16
8,7
14
9
48,7
10
6,8
9,9
8,4
48
10,5
10
7,6
61
1948
12,4
9
1
(BPO)
[impor] PI Prekursor Non Pharmasi
[impor] IT Bahan Peledak Industri
[impor] PI Telepon Seluler,
(Komersial)
Komputer Gengggam (Handheld)
34 [impor] IT Telepon Seluler,
dan Komputer Tablet
Komputer Gengggam (Handheld)
51 [impor] PI Penetapan Produsen
dan Komputer Tablet
Importir
35 [impor] IT Bahan Baku Plastik
52 [impor] PI Bahan Baku Plastik
36 [impor] IT Kedelai
53 [impor] PI Siklamat
37 [impor] PI Barang Modal Bukan
54 [impor] PI Intan Kasar
Baru
55 [impor] PI Sapi
38 [impor] PI Beras
56 [impor] PI Hewan
No
Perizinan
39 [impor] PI Jenis
Cakram
Optik
57 [impor] PI Produk Hewan Olahan
58 [impor] PI Produk Hewan Segar
LAK Kementerian Perdagangan
2013
|130 Hortikultura
59 [impor]
PI Produk
49
33
50
9,3
Rata-Rata Hari
11,2
Manual
Online
8,3
11
152
17
2
21
15
25
Perizinan
JenisJenis
Perizinan
Jenis
Perizinan
1[impor]
[ekspor]
Eksportir
Terdaftar Kopi
40
PI Prekursor
Mesin
Multifungsi
23 [impor]
IP
Non Pharmasi
(ETK)/ Eksportir
Kopi Sementara
Berwarna,
Mesin Fotokopi
24 [impor]
IP Sodium
(EKS)
Berwarna dan Mesin
Printer
Tripolyphosphate
(STPP)
2Berwarna
[ekspor] ET Timah Batangan
25 [impor] IT Besi atau Baja
41 [impor]
[impor] IT
PI Cakram
Minyak dan
Gas Bumi
26
Optik
3
[ekspor]
ET Prekursor
Non
42
[impor] IT
PI Mesin
Minuman
Beralkohol
27 [impor]
Multifungsi
Pharmasi
43 Berwarna,
[impor] PI Pupuk
Mesin Bersubsidi
Fotokopi
44 Berwarna
[impor] PI dan
Garam
Industri
Mesin
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |128 Printer
45 Berwarna
[impor] PI Bahan Berbahaya (B2)
46 [impor]
[impor] IT
PI Minuman
Bahan Peledak
Industri
28
Beralkohol
(Komersial)
29 [impor] IT Garam
47 [impor]
[impor] IT
PI Nitrocellulose
Bahan Perusak(NC)
Ozon
30
(BPO)
31 [impor] IT Prekursor Non Pharmasi
48
[impor] IT
PI Bahan
Nitrocellulose
32 [impor]
Perusak(NC)
Ozon
41,3
4
9,3
12
9,8
4
c. Perizinan Back Office
Lampiran
60
61
62
62
63
[impor] IP Produk Hortikultura
[impor] PI Kedelai
[impor] IT Hewan
[impor] IT Produk Hewan
[impor] IT Produk Hortikultura
TOTAL HARI PERIZINAN 2013 (BACK
OFFICE)
La
La
Total Perizinan
Rata-Rata Hari
Total
Rata-Rata
Total Perizinan
Perizinan
Rata-Rata Hari
Hari
Manual
Online
Manual
Online
Manual
Online
Manual
Online
Manual
Online
Manual
Online
97
93
11 7,48
53
11,3
4
55
398
152
60 5
17
50
2
21
15
25
7
15,5
6
6,30
8,53
9
10
5,80
48,7
10,7
10
6,8
9,9
8,4
41,3
1
48
7
4
10,5
9,3
21
10
20
12
7,6
9,8
61
4
1948
12,4
63,7
9
1
110
343
8
16
6
7
5
27
0
3996
9
0
10
833
Total
45 Perizinan
84
Manual
Online
427
99
308
35
33
3
37
99
12571
14
13,7
16
14,8
8,4
16
8,7
9,3
La
4,3
11,2
Rata-Rata Hari
8,6
8,3
Manual
Online
8,5
11,4
7,5
LAK Kementerian Perdagangan 2
14,4
7,4
26
16
22
55
11,7
11,8
Sumber: Ditjen Daglu, Kementerian Perdagangan.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
8
117
Lampiran
Lampiran
6. Formulir Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) Kementerian Perdagangan Tahun Anggaran 2013
6. Formulir Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) Kementerian Perdagangan Tahun Anggaran 2013
Lampiran
6. Formulir Pengukuran Pencapaian Sasaran (PPS) Kementerian Perdagangan Tahun Anggaran
2013
(dalam
ribuan rupiah)
(dalam Lampiran
ribuan rupiah)
[dalam ribuan rupiah]
CAPAIAN IKU
CAPAIAN KINERJA ANGGARAN
INDIKATOR KINERJA
UTAMA
TARGET
REALISASI
%
PROGRAM
PAGU
REALISASI
%
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
94,3
5
Peningkatan
Perlindungan
Konsumen
Akumulasi jumlah BPSK
yang terbentuk setiap
tahun (Unit)
65
111
170,8
Peningkatan
Perlindungan
Konsumen
235.401.351
200.541.947
85,2
6
Peningkatan
Output Sektor
Perdagangan
Capaian nilai resi gudang
(Rp, miliar)
100
108,95
108,9
83.944.851
71.007.075
84,6
Capaian transaksi
multilateral di bidang PBK
1.500.000
Lot
1.257.829
Lot
Peningkatan
Efisiensi Pasar
Komoditi
83,9
402.760.347
85,4
WTP
100
Dukungan
Manajemen dan
Pelaksanaan
Tugas Teknis
Lainnya
471.525.310
WTP
B
B
100
INDIKATOR KINERJA
UTAMA
TARGET
REALISASI
%
PROGRAM
PAGU
REALISASI
%
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Pertumbuhan ekspor nonmigas (Persen)
2,7
-2,0
-74,1
178.800.000
168.618.460
179
182,6
102
Peningkatan
Pertumbuhan
Ekspor Non-Migas
Penyederhanaan
Perizinan
Perdagangan Luar
Negeri
2
No
Diversifikasi Pasar
Tujuan Ekspor
Total ekspor (US$, miliar)
Perizinan ekspor dan
impor yang dapat dilayani
secara online (Jenis)
75
Rata-rata waktu
penyelesaian perizinan
ekspor dan impor (Hari)
2
Rasio konsentrasi ekspor
pada 5 negara tujuan
terbesar (Persen)
47
Pertumbuhan ekspor ke
negara-negara tujuan
non-tradisional (Persen)
15
Diversifikasi
Produk Ekspor
Kontribusi ekspor di luar
10 produk utama (Persen)
SASARAN
STRATEGIS
Perbaikan
Citra
INDIKATOR KINERJA
UTAMA
Skor dimensi
ekspor
Produk Ekspor
dalam Simon Anholt
Nation Brand Index (NBI)
2
50,35
1,79
110,7
92,9
Pengembangan
Ekspor Nasional
353.327.726
321.989.278
91,1
8
Peningkatan
Kualitas Laporan
Keuangan dan
Akuntabilitas
Kementerian
Opini BPK atas Laporan
Keuangan Kementerian
Peningkatan
Kinerja Organisasi
Penilaian terhadap
dokumen akuntabilitas
kinerja
11,9
Lampiran
54
53
101,9
CAPAIAN IKU
TARGET
REALISASI
4
5
47
CAPAIAN KINERJA ANGGARAN
%
PROGRAM
PAGU
REALISASI
%
6
7
8
9
10
261.602.414
236.568.031
90,4
45,6
97,0
2
3
Peningkatan Peran
dan Kemampuan
Diplomasi
Perdagangan
Internasional
Jumlah hasil perundingan
perdagangan internasional
248
323
130,2
Peningkatan nilai
perdagangan Indonesia
dengan negara mitra FTA
ASEAN (Persen)
10
47,5
475
Penyederhanaan
Perizinan
Perdagangan Dalam
Negeri
Pelayanan perizinan sub
sektor PDN yang dapat
dilayani secara online
(Jenis)
11
12
109,1
Rata-rata waktu
penyelesaian perizinan
(Hari)
4
2
150
Pertumbuhan PDB sektor
perdagangan besar dan
eceran (Persen)
6,5
6,4
98,5
Rasio penggunaan produk
dalam negeri terhadap
pengeluaran konsumsi
rumah tangga (Persen)
95
97,3
102,4
100%
100%
100%
Peningkatan
Output Sektor
Perdagangan
7
100
1
4
3
83
Peningkatan
Perdagangan
Luar Negeri
CAPAIAN KINERJA ANGGARAN
SASARAN
STRATEGIS
SASARAN
STRATEGIS
1
CAPAIAN IKU
No
No
Pengembangan
Sarana Distribusi
Perdagangan
Realisasi revitalisasi pasar
tradisional (Persen)
Stabilisasi Harga
Bahan Pokok
Koefisien variasi harga
bahan pokok utama
(Persen)
6,5
6,4
98,5
Penurunan
Disparitas Harga
Antar Propinsi
Rasio variasi harga
provinsi dibandingkan
variasi harga nasional
2,2
1,7
129,4
Peningkatan
Kerjasama
Perdagangan
Internasional
Pengembangan
Perdagangan
Dalam Negeri
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |133
1.209.450.709
1.130.139.974
93,4
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |130
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |129
118
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
119
Lampiran
Lampiran
Lampiran
Lampiran
7. Hasil Evaluasi Aspek Implementasi atas Pelaksanaan Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013
8. Hasil Evaluasi atas Pelaksanaan Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013 per Program
6. Hasil Evaluasi Aspek Implementasi atas Pelaksanaan Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013
NO
NAMA PROGRAM
1 PROGRAM DUKUNGAN
MANAGEMEN DAN PELAKSANAAN
TUGAS TEKNIS LAINNYA
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
2 PROGRAM PENINGKATAN SARANA
DAN PRASARANA APARATUR
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
2 PROGRAM PENGEMBANGAN
PERDAGANGAN DALAM NEGERI
3 PROGRAM PENINGKATAN
PERDAGANGAN LUAR NEGERI
4 PROGRAM PENINGKATAN
KERJASAMA PERDAGANGAN
INTERNASIONAL
5 PROGRAM PENGAWASAN DAN
PENINGKATAN APARATUR
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
6 PROGRAM PENGEMBANGAN EKSPOR
NASIONAL
7 PROGRAM PENINGKATAN EFESIENSI
PASAR KOMODITI
8 PROGRAM PENGKAJIAN DAN
PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
PERDAGANGAN
9 PROGRAM PENINGKATAN
PERLINDUNGAN KONSUMEN
JUMLAH
REAL
ISASI
85.42
KONSI
STENSI
83.82
KELU
ARAN
91 .38
7. Hasil Evaluasi atas Pelaksanaan Anggaran Kementerian Perdagangan Tahun 2013 per Program
PENILAIAN
EFESIE NILAI
NSI EFESIENSI
1 5.66
89.1 5
PENGUKURAN
NO
NAMA PROGRAM
ASPEK
IMPLEME
NTASI
96.72
1 00.00
98.42
0.89
52.23
1
2
93.44
71 .31
96.44
6.44
66.1 0
94.31
1 00.00
95.1 0
3.70
59.25
90.43
96.28
88.20
1 8.32
95.80
2
3
4
5
85.50
88.83
86.44
1 1 .43
78.58
6
7
8
91 .1 3
1 00.00
94.59
5.29
63.23
84.59
93.55
1 00.00
1 1 .02
77.55
89.72
85.05
1 00.00
1 0.02
75.05
9
ASPEK
MANF
AAT
SKALA
100
TOTAL
ASPEK
IMPLEME
NTASI
ASPEK
MANF
AAT
33,3
66,7
100,00
29.57
0.0
29.57
KETERANGAN
PROGRAM DUKUNGAN MANAGEMEN DAN
PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA
KEMENTERIAN PERDAGANGAN
PROGRAM PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA
APARATUR KEMENTERIAN PERDAGANGAN
88.79
85.33
1 05.26 1 00.00
28.42
66.7
95.1 2
SANGAT BAIK
PROGRAM PENGEMBANGAN PERDAGANGAN
DALAM NEGERI
PROGRAM PENINGKATAN PERDAGANGAN LUAR
NEGERI
PROGRAM PENINGKATAN KERJASAMA
PERDAGANGAN INTERNASIONAL
PROGRAM PENGAWASAN DAN PENINGKATAN
APARATUR KEMENTERIAN PERDAGANGAN
PROGRAM PENGEMBANGAN EKSPOR NASIONAL
82.90
1 30.1 7
1 00.00
27.61
66.7
94.31
SANGAT BAIK
85.66
1 83.64 1 00.00
28.53
66.7
95.23
SANGAT BAIK
92.06
1 05.33 1 00.00
30.66
66.7
97.36
SANGAT BAIK
28.1 5
0.0
28.1 5
28.73
0.0
28.73
PROGRAM PENINGKATAN EFESIENSI PASAR
KOMODITI
PROGRAM PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN
KEBIJAKAN PERDAGANGAN
PROGRAM PENINGKATAN PERLINDUNGAN
KONSUMEN
JUMLAH
92.08
94.05
94.05
30.66
62.7
93.40
SANGAT BAIK
89.1 5
1 46.2 1 00.00
29.69
66.7
96.39
SANGAT BAIK
92.92
1 1 6.93 1 00.00
30.94
66.7
97.64
SANGAT BAIK
87.1 8
1 25.94
29.03
56.6
85.64
84.53
86.27
84.86
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |132
85.1 9
94.1 2
1 00.00
1 3.60
84.00
90.68
87.05
95.06
9.64
74.09
LAK Kementerian Perdagangan 2013 |131
120
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
121
Lampiran
122
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
Lampiran
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Perdagangan 2013
123
Kata Pengantar
www.kemendag.go.id
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
Jl. M.I. Ridwan Rais No. 5
Jakarta 10110 INDONESIA
Telp.: CP: [62-21] 384 1961 / 62
Pusat Hubungan Masyarakat
Download