Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Penerapan Model

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Model Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM)
2.1.1.1 Hakekat Pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat
Menurut Depdiknas (2007:227) model STM merupakan “inovasi
pembelajaran sains yang berorientasi bahwa sains sebagai bidang ilmu tidak
terpisahkan dari realitas kehidupan masyarakat sehari-hari dan melibatkan siswa
secara aktif dalam mempelajari konsep-konsep sains yang terkait”. Sedangkan
menurut Hidayati (2008:39) “STM merupakan pendekatan terpadu antara sains,
teknologi dan masyarakat dengan tujuan agar siswa mampu memecahkan masalah
dengan memanfaatkan sains dan teknologi serta kondisi masyarakat yang ada di
lingkungannya”. Putra (2013:140) juga mengemukakan bahwa “STM merupakan
salah satu model pembelajaran kontekstual yang dapat membantu siswa untuk
membuat pembelajaran menjadi lebih berarti, sebab model STM berkaitan dengan
kehidupan nyata”. The Nations Science Teachers Association (dalam Putra
2013:140) mendefinikan STM sebagai “model belajar dan mengajar sains dalam
konteks pengalaman manusia”. Poedjiadi, Anna (2010:47) mengemukakan hal
yang serupa, bahwa pembelajaran STM berarti “menggunakan teknologi sebagai
penghubung antara sains dan masyarakat”.
Melalui model STM siswa diajak untuk lebih paham tentang hubungan
antara sains, teknologi dan masyarakat yang diharapkan akan menimbulkan
kepedulian dalam diri siswa terhadap masalah-masalah sosial yang berhubungan
dengan ketiga aspek di atas. Menurut Poedjiadi, Anna (2010:134) “model STM
dalam ilmu sosial pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara
sains, teknologi dan masyarakat serta merupakan wahana untuk melatih kepekaan
penilaian siswa terhadap dampak lingkungan sebagai akibat perkembangan sains
dan teknologi”.
Berdasarkan beberapa definisi dari para ahli tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa model STM merupakan suatu model pembelajaran yang
6
7
memadukan pemahaman dan pemanfaatan sains, teknologi dan masyarakat
dengan tujuan agar konsep sains dapat diaplikasikan melalui keterampilan yang
bermanfaat bagi siswa dan masyarakat. Selain itu model STM juga mengaitkan
antara sains, teknologi dan masyarakat dalam pembelajaran yang bertujuan untuk
meningkatkan pemahaman siswa akan hubungan ketiganya dalam kehidupan
nyata, serta dapat memberikan gambaran yang utuh tentang kegunaan STM dalam
aspek kehidupan manusia. Selain itu model STM tidak hanya dapat
mengembangkan aspek kognitif saja, tetapi STM juga dapat mengembangkan
keterampilan emosional dan spiritual.
2.1.1.2 Teori belajar yang melandasi model STM
Terdapat tiga macam teori pembelajaran yang melandasi model STM,
yaitu teori konstruktivisme, pragmatisme dan teori belajar sosial. Konstruktivisme
merupakan suatu aliran dalam filsafat yang dikemukan oleh Gianbatista Vico.
Menurut Vico dalam Poedjiadi, Anna (2005:70), “manusia dikaruniai kemampuan
untuk membangun atau mengkonstruk pengetahuan setelah ia berinteraksi dengan
lingkungannya, yaitu alam”. Dalam lingkungan yang sama, manusia akan
mengkonstruk pengetahuannya secara berbeda-beda yang tergantung dari
pengalaman masing-masing sebelumnya. Namun demikian manusia harus
berusaha sebaik mungkin untuk meningkatkan pendidikannya dan mengelola
alam. Vico menekankan perlunya dikembangkan disiplin-disiplin ilmu karena
dengan filsafat saja tidak mungkin ilmu-ilmu dapat berkembang. Teori ini sesuai
dengan pembelajaran STM, proses belajar mengajar dikaitkan dengan kebutuhan
siswa sebagai anggota masyarakat. Interaksi dengan lingkungan yang dialami
siswa merupakan stimulus untuk mengkonstruk atau membangun pengetahuan.
Pengetahuan yang dikontruksi siswa berbeda-beda tergantung dari konsep awal
yang dimiliki siswa sebelumnya.
Selain konstruktivisme, teori belajar pragmatisme juga dianggap sesuai
dengan model STM. Pragmatisme berpandangan bahwa pengetahuan yang
diperoleh hendaknya dimanfaatkan untuk mengerti permasalahan yang ada di
masyarakat. Selanjutnya tindakan apa yang dapat dilakukan untuk kebaikan,
8
peningkatan dan kemajuan masyarakat dan dunia. Dalam menilai gagasan, ide-ide
dan teori, yang dipentingkan adalah dapat atau tidaknya gagasan itu dilaksanakan
hingga membuahkan hasil yang positif. Kaum pragmatis memandang bahwa teoriteori itu diperlukan untuk membimbing tingkah laku manusia dan perencanaan
untuk melakukan tindakan hingga berdampak positif, menghasilkan kemajuan dan
bermanfaat bagi kehidupan.
Sejalan dengan pembelajaran STM, isu-isu yang berkembang di
masyarakat diangkat untuk dijadikan topik dalam pembelajaran apabila sesuai
dengan SK dan KD dalam silabus. Aliran pragmatisme berpandangan bahwa
pengetahuan
yang
diperoleh
hendaknya
dimanfaatkan
untuk
mengerti
permasalahan yang ada di masyarakat. Permasalahan yang ada di masyarakat
untuk dilaksanakan dalam pembelajaran hingga membuahkan hasil yang positif.
Aliran pragmatisme menitikberatkan pada hasil belajar yang dapat meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat, sedangkan pada pembelajaran STM mengangkat
isu-isu yang berkembang di masyarakat untuk dijadikan topik pembelajaran dan
isu-isu yang berkembang di masyarakat dicarikan solusinya dalam model
pembelajran untuk dipecahkan bersama. Isu-isu yang berkembang dimasyarakat
bisa diperoleh dari berita di TV, radio, media cetak dan bahkan dari internet.
Teori lain yang sesuai dengan model STM yaitu teori belajar sosial. Teori
ini dikembangkan oleh Albert Bandura dalam Ratna Wilis Dahar (1989: 27-28).
Teori ini sebagian besar prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi
memberikan lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada
perilaku proses-proses mental internal. Teori belajar sosial menekankan, bahwa
lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang, tidak random,
lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui
perilakunya. Suatu perspektif belajar sosial menganalisis hubungan kontinyu
antara variabel-variabel lingkungan, ciri-ciri pribadi, dan perilaku terbuka dan
tertutup seseorang. Perspektif ini menyediakan interpretasi-interpretasi tentang
bagaimana terjadi belajar sosial, dan bagaimana kita mengatur perilaku kita
sendiri.
9
2.1.1.3 Karakteristik Model STM
Proses pembelajaran dengan model STM memiliki beberapa karakteristik.
Menurut Fajar (2003:106) karakteristik model STM diantaranya yaitu:
1) Identifikasi masalah-masalah setempat yang memiliki
kepentingan dan dampak; 2) penggunaan sumber daya setempat
(manusia, benda, dan lingkungan) untuk mencari informasi yang
dapat digunakan dalam memecakan masalah; 3) keikutsertaan yang
aktif dari siswa dalam mencari informasi yang bisa diterapkan
untuk memecahkan masalah-malasah dalam kehidupan sseharihari; 4) perpanjangan belajar di luar kelas dan sekolah; 5) fokus
pada damak sains dan teknologi terhadap siswa; 6) suatu
pandangan bahwa isi sains bukan hany konsep yang harus dikuasai
siswa dalam tes; 7) penekanan pada ketrampilan proses; 8)
identifikasi sejauh mana sains dan teknologi berdampak di masa
depan; 9) kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
Sedangkan menurut Putra (2013:145), model STM memiliki karakteristik
sebagai berikut:
1) Pembelajaran dilaksanakan menghubungkan antara sains dan
teknologi yang terkait dengan kegunaannya di masyarakat; 2)
Penggunaan sumber daya setempat (manusia, benda dan
lingkungan) untuk mencari informasi yang dapat digunakan dalam
memecahkan masalah; 3) Konsep sains yang akan disampaikan
dikaitkan dengan kepentingan masyarakat; 4) Konsep pembelajaran
dimulai dengan mengungkapkan isu yang mengharuskan siswa
berpikir untuk menganalisis isu tersebut, sehingga siswa menjadi
lebih kritis dan kreatif; 5) Pembelajarannya kolaboratif,
komunikatif, dan kooperatif. Siswa bekerja dalam kelompok,
berinteraksi, saling mengajarkan dan melakukan presentasi; 6)
Penekanan pada keterampilan proses, sehingga siswa dapat
menggunakannya untuk memecahkan masalah; 7) Identifikasi
sejauh mana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
2.1.1.4 Kelebihan dan Kekurangan Model STM
Sebagai salah satu model pembelajaran, STM juga memiliki beberapa
kelebihan dan kekurangan. Poedjiadi, Anna (2010:84) menjelaskan beberapa
kelebihan dari model STM yaitu:
1) Pada pendahuluan dikemukakan isu-isu atau masalah yang
terdapat di masyarakat sehingga membuat siswa aktif sejak awal
pembelajaran; 2) Dapat dikolaborasikan dengan berbagai metode
misalnya demonstrasi, diskusi, eksperimen, serta berbagai
pendekatan misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan
10
sejarah, dan pendekatan kecakapan hidup; 3) Dapat
mengembangkan keterampilan kognitif, afektif dan psikomotorik;
4) Model STM dalam ilmu sosial memberikan pemahaman tentang
kaitan antara sains, teknologi dan masyarakat serta merupakan
wahana untuk melatih kepekaan penilaian siswa terhadap dampak
lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi.
Putra (2013:175) juga mengemukakan beberapa kelebihan model STM
ditinjau dari segi tujuan, pembelajaran, evaluasi dan guru.
Dari segi tujuan model STM memiliki kelebihan, yaitu:
1) meningkatkan keterampilan inkuiri dan pemecahan masalah,
selain keterampilan proses; 2) menekankan cara belajar yang baik,
yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik; 3)
menekankan sains dalam keterpaduan antarbidang studi.
Dari segi pembelajaran, model STM memiliki beberapa
kelebihan, diantaranya: 1) menenkankan keberhasilan siswa; 2)
menggunakan berbagai strategi; 3) menyadarkan guru bahwa guru
tidak selalu harus menjadi sumber informasi.
Dari segi evaluasi, kelebihan yang dimiliki model STM,
yaitu: 1) mempunyai hubungan antara tujuan, proses, dan hasil
belajar; 2) perbedaan antara kecakapan, kematangan, serta latar
belakang siswa harus diperhatikan; 3) kualitas efisiensi dan
keefektifan serta fungsi program juga dievaluasi.
Sedangkan dari segi guru, kelebihan model STM, yaitu: 1)
guru memiliki pandangan yang luas mengenai sains; 2) mengajar
dengan berbagai strategi baru di dalam kelas, sehingga memahami
tentang kecakapan, kematangan, serta latar belakang siswa; 3)
menyadarkan guru bahwa terkadang guru tidak selalu berfungsi
sebagai sumber informasi.
Selain kelebihan, model STM juga memiliki beberapa kekurangan.
Poedjiadi, Anna (2010:85) mengungkapkan beberapa kekurangan dari model
STM, yaitu:
1) Pengajuan isu pada awal pembelajaran harus tepat dan terkait
dengan topik yang akan dibahas, jika tidak maka akan
menimbulkan kesulitan pada peserta didik untuk mengaitkan materi
dengan pengetahuan yang mereka miliki; 2) Pelaksanaan tahaptahap pembelajaran terkadang memerlukan waktu yang panjang,
sehingga memerlukan analisis yang baik untuk memilih dan
mengalokasikan waktu saat pembelajaran; 3) Siswa memerlukan
waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data dari narasumber
secara mendetail; 4) Siswa belum terbiasa berpikir kritis dan
belajar mengambil pengalaman di lapangan, sehingga dibutuhkan
kesabaran dan ketekunan guru untuk mengarahkan dan
11
membimbing siswa dalam pembelajaran;
paradigma guru dalam menginterpretasikan
kurikulum masih berbasis konten, sehingga
untuk menyampaikan materi tepat pada
berinovasi dalam pembelajaran.
5) Pada umumnya
dan mengembangkan
guru merasa dituntut
waktunya dan lupa
2.1.1.5 Langkah-langkah Pembelajaran Model STM
Ada lima tahapan dalam model STM menurut Poedjiadi, Anna (2010: 126)
yaitu:
1) Tahap pendahuluan (inisiasi, invitasi, apersepsi dan eksplorasi
terhadap siswa), yaitu tahap mengemukakan isu atau masalah yang
ada di masyarakat yang dapat digali dari siswa atau dikemukakan
oleh guru sendiri; 2) Tahap pembentukan/ pengembangan konsep,
yaitu tahap di mana siswa mengkonstruksi konsep pengetahuan
dalam pikirannya melalui diskusi antar siswa atau bersama guru; 3)
Tahap aplikasi konsep, yaitu tahap di mana guru memotivasi siswa
untuk mengemukakan pendapat siswa tentang masalah yang
dikemukakan yang dihubungkan dengan pengalaman siswa; 4)
Tahap pemantapan konsep, yaitu tahap guru memberikan
bimbingan dalam kegiatan diskusi melalui beberapa pertanyaan
yang diajukan oleh guru yang berhubungan dengan masalah; 5)
Tahap penilaian, yaitu tahap melakukan penilaian untuk
mengetahui keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan.
Menurut Robert E. Yager dalam Depdiknas (2007:230) sintaks model
STM yaitu:
1) Tahap invitasi, yaitu menggali isu atau masalah terlebih dahulu
dari siswa, menghubungkan pembelajaran baru dengan
pembelajaran yang sebelumnya, dan mengidentifikasi isu atau
masalah dalam masyarakat yang berkaitan dengan materi yang
diajarkan; 2) Tahap eksplorasi, yaitu merancang dan melakukan
kegiatan eksperimen atau percobaan untuk mengumpulkan data,
berlatih keterampilan proses sains, mengasah kerja dan sikap
ilmiah, serta diskusi kelompok untuk mengambil kesimpulan; 3)
Tahap pengajuan eksplanasi dan solusi, yaitu siswa membangun
sendiri konsep, siswa melakukan diskusi dan mencari solusi dari
masalah yang dihadapi masyarakat terkait materi yang diperoleh
siswa semata-mata berdasarkan informasi dari kegiatan eksplorasi;
4) Tahap tindak lanjut, yaitu menjelaskan fenomena alam
berdasarkan konsep yang disusun, menjelaskan berbagai aplikasi
untuk memberi makna, dan refleksi pemahaman konsep.
12
Tahap-tahap implementasi model STM menurut Hidayati (2008:34) yaitu
sebagai berikut:
1) Tahap apersepsi (inisiasi, invitasi dan eksplorasi), yang
mengemukakan isu/ masalah aktual yang ada di masyarakat; 2)
Tahap pembentukan konsep, yaitu siswa membangun atau
mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui observasi, eksperimen
dan diskusi; 3) Tahap aplikasi konsep atau penyelesaian masalah,
yaitu menganalisis isu atau masalah yang telah dikemukakan pada
awal pembelajaran berdasarkan konsep yang telah dipahami oleh
siswa; 4) Tahap pemantapan konsep, yaitu tahap di mana guru
memberikan pemahaman konsep agar tidak terjadi kesalahan
pemahaman konsep pada siswa; 5) Tahap evaluasi, dapat berupa
evaluasi proses maupun evaluasi hasil.
Dari beberapa uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam
pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model STM, harus melalui
tahap-tahap antara lain: tahap pendahuluan (inisiasi, invitasi, apersepsi dan
eksplorasi terhadap siswa), tahap pembentukan/ pengembangan konsep, tahap
aplikasi konsep tahap pemantapan konsep, dan tahap penilaian. Dalam penelitian
ini langkah-langkah pembelajaran model STM yang akan digunakan merupakan
modifikasi dari pendapat Anna Poedjiadi dan Robert E. Yager. Tahap-tahap yang
akan digunakan dalam penelitian ini meliputi lima tahap pembelajaran, yaitu
tahap apersepsi/pengajuan masalah untuk memancing sejauh mana pengetahuan
yang telah dimiliki siswa terkait isu yang dikemukakan, tahap eksplorasi yaitu
tahap dimana siswa saling berdiskusi untuk menemukan pengetahuan sendiri,
tahap aplikasi konsep yaitu menganalisa masalah berdasarkan konsep yang telah
diterima oleh siswa sebelumnya, tahap pemantapan konsep dimana guru
meluruskan konsep dan memantapkan agar tidak terjadi kesalahan pemahaman
pada siswa, yang terakhir yaitu tahap evaluasi dimana guru menguji sejauh mana
pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.
13
2.1.2 Media Video
2.1.2.1 Hakekat Media Video
Hamdani (2011:254) mengemukakan bahwa “video adalah suatu media
yang berfungsi untuk memaparkan keadaan riil dari suatu proses, fenomena atau
kejadian sehingga dapat memperkaya pemaparan”. Media video akan menjadikan
penyajian bahan ajar kepada siswa menjadi semakin lengkap dan optimal. Selain
itu media video dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Penyajian materi
dapat diganti oleh media, dan guru dapat beralih menjadi fasilitator belajar, yaitu
memberikan kemudahan bagi siswa untuk belajar. Media video memiliki peran
untuk meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, sehingga dapat
mengurangi kesan verbalisme. Selain itu,dapat juga berperan untuk mempercepat
proses belajar. Melalui tayangan, siswa dapat menangkap tujuan dan bahan ajar
secara lebih mudah dan lebih cepat. Media video sangat cocok untuk mengajarkan
materi dalam ranah perilaku atau psikomotor. Akan tetapi media video mungkin
saja kehilangan detail dalam pemaparan materi, karena siswa harus mampu
mengingat detai dari setiap tayangan. Umumnya, siswa mengangggap bahwa
belajar melalui video lebih mudah dibandingkan melalui teks, sehingga mereka
kurang terdorong untuk lebih aktif dalam berinteraksi dengan materi. Berdasarkan
penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa media video memaparkan
keadaan riil suatu proses, fenomena atau kejadian sehingga dapat memperkaya
pemaparan.
2.1.2.2 Karakteristik Media Video
Menurut
Hamdani
(2011:188)
media
video
memiliki
beberapa
karakteristik, yaitu:
1) Video mampu memperbesar objek yang keci, terlalu kecil
bahkan yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Misalnya
mikroorganisme dalam tubuh dapat dengan jelas terambil oleh
kamera dan dapat disaksikan melalui tayangan video; 2) Dengan
teknik editing objek yang dihasilkan dengan pengambilan gambar
oleh kamera dapat diperbanyak; 3) Video mampu memanipulasikan
tampilan gambar, sesuai dengan tuntutan pesan yang ingin
disampaikan; 4) Video mampu menyimpan objek dengan durasi
tertentu dalam keadaan diam; 5) Video mampu mempertahankan
14
perhatian siswa yang menonton video tersebut; 6) Mampu
menampilkan gambar dan informasi yang paling baru, hangat dan
aktual; 7) Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya
menggabungkan unsur audio dan visual; 8) Bersifat interaktif,
dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi
respons pengguna; 9) Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi
kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga
pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.
2.1.2.3 Kelebihan dan Kekurangan
Sebagai suatu alat bantu, media video tentunya memiliki beberapa
kelebihan dan kekurangan. Hamdani (2011:254) mengemukakan beberapa
kelebihan media video yaitu:
1)Dapat memanipulasi efek gerak; 2) dapat diberi suara maupun
warna; 3) tidak memerlukan keahlian khusus dalam penyajiannya;
4) tidak memerlukan ruangan gelap dalam penyajiannya; 5) sistem
pembelajaran lebih inovatif dan interaktif; 6) guru akan selalu
dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari terobosan
pembelajaran; 7) mampu menggabungkan antara teks, gambar,
audio, musik, animasi gambar, atau video dalam satu kesatuan yang
saling mendukung guna tercapainya tujuan pembelajaran; 8)
mampu menimbulkan rasa senang selama proses pembelajaran
berlangsung sehingga akan menambah motivasi belajar siswa; 9)
mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk
diterangkan hanya dengan penjelasan atau alat peraga
konvensional; serta 10) media penyimpanan yang relatif gampang
dan fleksibel.
Menurut Hamdani (2011:255) kekurangan media video diantaranya yaitu:
“1) memerlukan peralatan khusus dalam penyajiannya; 2) memerlukan tenaga
listrik; dan 3) memerlukan keterampilan dan kerja tim dalam pembuatannya”.
2.1.2.4 Langkah-Langkah Pembelajaran Model STM Berbantuan Media Video
Dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan model STM berbantuan media
video memiliki langkah-langkah sebagai berikut: 1) Tahap apersepsi/ pengajuan
masalah untuk memancing sejauh mana pengetahuan yang telah dimiliki siswa
terkait isu yang dikemukakan. Dalam tahap ini guru memutarkan video
pembelajaran yang berkaitan dengan materi dan menyampaikan beberapa
pertanyaan seputar masalah sehari-hari yang berkaitan dengan materi; 2) Tahap
15
eksplorasi yaitu tahap dimana siswa saling berdiskusi untuk menemukan
pengetahuan sendiri. Dalam tahap ini pengetahuan yang telah dikumpulkan siswa
melalui tanya jawab dan pemutaran video didiskusikan kembali bersama
kelompok dengan bimbingan guru; 3) Tahap aplikasi konsep yaitu menganalisa
masalah berdasarkan konsep yang telah diterima oleh siswa sebelumnya. Pada
tahap ini guru memotivasi siswa untuk mengemukakan pendapat mereka tentang
materi yang disajikan beserta kelebihan dan kekurangan dari isi materi yang telah
disajikan melalui video; 4) Tahap pemantapan konsep dimana guru meluruskan
konsep dan memantapkan agar tidak terjadi kesalahan pemahaman pada siswa.
Dalam tahap ini guru memberikan bimbingan dalam kegiatan diskusi melalui
beberapa pertanyaan yang diajukan tentang materi. Kegiatan ini dilakukan selama
pembelajaran berlangsung untuk memantapkan konsep yang telah diterima siswa;
serta, 5) Tahap evaluasi dimana guru menguji sejauh mana pemahaman siswa
terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.
2.1.3 Hasil Belajar IPS
2.1.3.1 Hakekat Hasil Belajar
Menurut Anni (2007:5) hasil belajar merupakan “perubahan perilaku yang
diperoleh pebelajar setelah mengalami aktivitas belajar”. Oleh karena itu siswa
mempelajari pengetahuan tentang konsep. Maka perubahan yang diperoleh berupa
penguasaan konsep. Tujuan pembelajaran merupakan deskripsi tentang perubahan
perilaku yang diinginkan atau deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar
telah terjadi. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:29) “hasil belajar
merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru”.
Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih
baik bila dibandingkan pada saat belum belajar.
Gagne (Sudjana 2005:22) mengemukakan lima macam hasil belajar, tiga
di antaranya bersifat kognitif, satu bersifat afektif, dan satu lagi bersifat
psikomotorik. Penampilan-penampilan yang dapat diamati sebagai hasil belajar
disebut kemampuan. Menurut Gagne, ada lima kemampuan yang dapat dikatakan
sebagai hasil belajar, yaitu:
16
1) Keterampilan intelektual, yaitu kemampuan seeorang untuk
berhubungan dengan lingkungan dan dengan dirinya sendiri; 2)
Strategi kognitif, yaitu kemampuan yang dapat menyalurkan dan
mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri, khususnya bila sedang
belajar dan berpikir; 3) Sikap, yaitu kesiapan dan kesediaan
seseorang untuk menerima/ menolak suatu objek berdasarkan
penilaian terhadap objek tersebut; 4) Informasi verbal, yaitu tingkat
pengetahuan yang dimiliki seseorang yang dapat diungkapkan
melalui bahasa lisan maupun tertulis kepada orang lain; dan 5)
Keterampilan motorik, yaitu kemampuan untuk melakukan suatu
rangkaian gerak jasmani dalam urutan tertentu dengan koordinasi
antar berbagai gerak anggota badan secara terpadu.
Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah belajar yang diwujudkan
dalam kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.
2.1.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Slameto (2010:54) “faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor intern dan
faktor ekstern”. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam individu yang sedang
belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. Dalam
faktor intern, terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi, yaitu:
1) Kecerdasan, yaitu kemampuan belajar disertai kecakapan untuk
menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Semakin
tinggi intelegensi seorang siswa, semakin tinggi pula peluang untuk
meraih prestasi yang tinggi; 2) Faktor kesehatan, kesehatan
seseorang sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Proses
belajar akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain
itu ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing,
mengantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada
gangguan fungsi alat indera serta tubuhnya; 3) Sikap merupakan
suatu kecenderungan untuk bereaksi terhadap suatu hal, orang, atau
benda dengan suka, tidak suka, atau acuh tak acuh. Sikap seseorang
dapat dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, kebiasaan dan
keyakinan. Siswa harus memiliki sikap yang positif terhadap
kawan atau kepada guru; 4) Minat merupakan suatu kecenderungan
untuk selalu memerhatikan dan mengingat sesuatu secara terus
menerus. Minat memiliki pengaruh yang besar terhadap
pembelajaran. Jika menyukai suatu mata pelajaran, siswa akan
belajar dengan senang hati tanpa rasa beban. Apabila seseorang
17
mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu, maka akan terus
berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan; 5) Bakat dapat
diartikan sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang
untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat
akan memengaruhi tinggi rendahnya hasil belajar dalam bidang
studi tertentu. Dalam proses belajar, terutama belajar keterampilan,
bakat memegang peranan penting dalam mencapai prestasi yang
baik; 6) Motivasi, yaitu segala sesuatu yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat menentukan baik
tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar
kesuksesan belajarnya.
Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar siswa. Slameto
(2010:55) juga mengemukakan tentang faktor ekstern yang mempegaruhi hasil
belajar. Faktor ini meliputi faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.
1)Keluarga merupakan salah faktor yang berperan dalam hasil
belajar. Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga
berupa cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga,
suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga; 2) Faktor
sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode
mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan
siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar
pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
Sekolah harus menciptakan suasana yang kondusif bagi
pembelajaran, hubungan dan komunikasi perorang di sekolah
berjalan baik, kurikulum yang sesuai, kedisiplinan sekolah, gedung
yang nyaman, metode pembelajaran aktif-interaktif, pemberian
tugas rumah, dan sarana penunjang cukup memadai seperti
perpustakaan sekolah dan sarana yang lainnya; 3) Masyarakat
merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa. Pengaruh ini karena keberadaan siswa dalam
masyarakat. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa ini
meliputi: pertama kegiatan siswa dalam masyarakat, pengaruh
multimedia, teman bergaul, dan kehidupan masyarakat.
2.1.3.3 Pengukuran Hasil Belajar
Menurut Hamdani (2010:300) “pengukuran adalah suatu upaya atau
aktivitas untuk mengetahui pembelajaran sebagaimana adanya, meliputi hasil
belajar, proses pembelajaran, dan mereka yang terlibat dalam pembelajaran”.
Pengukuran juga merupakan salah satu kegiatan yang berada dalam evaluasi,
sehingga orang yang mengevaluasi adalah orang yang melakukan aktifitas
18
pengukuran. Kegiatan pengukuran dapat dilakukan dengan jalan menguji hal yang
akan dinilai, seperti hail belajar. Pengukuran dalam bidang pendidikan erat
kaitannya dengan tes. Hal ini dikarenakan dalah satu cara yang paling sering
dipakai untuk mengukur hasil yang telah dicapai siswa adalah dengan tes. Selain
tes, dapat pula digunakan teknik non tes. Jika tes dapat memberikan informasi
dalam aspek kognitif da psikomotor, maka non tes dapat memberikan informasi
dalam aspek afektif. Tes adalah salah satu contoh instrumen atau alat pengukuran
yang paling banyak digunakan untuk mengetahui kemampuan intelektual
seseorang.
Penetapan angka kemampuan belajar siswa dapat dilakukan dengan
berbagai cara atau teknik yang sistematis, baik berhubungan dengan proses
maupun hasil belajar. Teknik penetapan angka tersebut pada prinsipnya adalah
cara penilaian kemajuan belajar siswa terhadap pencapaian SK dan KD. Secara
umum teknik penilaian dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu teknik tes dan
non tes. Tes terdiri atas tes lisan, tes tertulis, dan tes perbuatan. Masing-masing
tergantung pada bentuk jawaban yang diinginkan. Poerwanti, dkk., (2008:4) juga
mengemukakan bahwa “soal-soal tes juga disusun dalam bentuk objektif, essai
dan uraian”. Sebagai alat penilaian, penilaian non tes mencakup observasi atau
pengamatan, angket, kuesioner, wawancara, skala penilaian, sosiometri, studi
kasus, analisa sampel kerja, analisis tugas, checklist, rating scales, dan portofolio.
Ketercapaian tujuan pembelajaran akan diketahui melalui teknik atau cara
pengukuran yang sistematis melalui tes, observasi, skala sikap atau portofolio.
Dengan demikian hasil belajar yang dimaksud dari uraian di atas adalah besarnya
skor siswa yang diperoleh dari skor tes, pengamatan, diskusi dan laporan.
2.1.3.4 IPS Sekolah Dasar
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang
penting dalam pembangunan karakter anak. Melalui pembelajaran IPS, siswa juga
diajak untuk bersosialisasi dan bertanggung jawab terhadap lingkungan
sekitarnya. Dalam Permendiknas No. 22 tahun 2006 dijelaskan bahwa:
19
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang
diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS
mengkaji seperangkat fakta, peristiwa, konsep dan generalisasi
yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata
pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan
Sosiologi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan
untuk dapat menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab. Di masa yang akan datang peserta didik akan
menghadapi tantangan yang lebih berat karena kehidupan
masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh
karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman dan kemampuan analisis terhadap
kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan
bermasyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara
sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran
menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di
masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan siswa akan
memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam dalam
bidang ilmu yang berkaitan.
Pembelajaran mata pelajaran IPS di sekolah tentunya memiliki tujuan yang
diharapkan akan berguna bagi kehidupan siswa kelak. Dalam Permendiknas No.
22 tahun 2006 dijelaskan bahwa mata pelajaran IPS bertujuan agar siswa memiliki
kemampuan sebagai berikut:
1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
masyarakat dan lingkungannya; 2) Memiliki kemampuan dasar
untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial; 3)
Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan; serta 4) Memiliki kemampuan berkomunikasi,
bekerjasama, dan berkompetisi dalam masyarakat majemuk di
tingkat lokal, nasional dan global (KTSP 2006).
Permendiknas No. 22 tahun 2006 juga menjelaskan ruang lingkup yang
terdapat dalam mata pelajaran IPS. Ruang lingkup yang terdapat dalam mata
pelajaran IPS meliputi aspek-aspek sebagai berikut: “1) Manusia, tempat,
lingkungan; 2) Waktu, keberlanjutan dan perubahan; 3) Sistem sosial dan budaya;
dan 4) Perilaku ekonomi dan kesejahteraan”.
Pencapaian tujuan IPS dapat dimiliki oleh kemampuan siswa yang standar
dinamakan Standar Kompetensi (SK) dan dirinci ke dalam Kompetensi Dasar
(KD). KD merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh
20
siswa dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap tingkat satuan
pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan siswa untuk
membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang
difasilitasi oleh guru. Secara rinci SK dan KD untuk mata pelajaran IPS yang
ditujukan bagi siswa kelas 4 SD disajikan melalui Tabel 2 berikut:
Tabel 2
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Mata Pelajaran IPS pada Sekolah Dasar Kelas 4
Semester
Semester
I
Semester
II
Standar
Kompetensi
1. Memahami
sejarah,
kenampakan
alam,
dan
keragaman suku
bangsa
di
lingkungan
kabupaten/ kota
dan provinsi.
2. Mengenal
sumber
daya
alam, kegiatan
ekonomi, dan
kemajuan
teknologi
di
lingkungan
kabupaten/kota
dan provinsi.
(Permendiknas No. 22 tahun 2006)
Kompetensi Dasar
1.1 Membaca peta lingkungan setempat
(kabupaten/kota,
provinsi)
dengan
menggunakan skala sederhana.
1.2 Mendeskripsikan kenampakan alam di
lingkungan kabupaten/ kota dan provinsi
serta hubungannya dengan keragaman
sosial dan budaya.
1.3 Menunjukkan jenis dan persebaran
sumber daya alam dan pemanfaatannya
untuk kegiatan ekonomi di lingkungan
setempat.
1.4 Menghargai keragaman suku bangsa dan
budaya setempat (kabupaten/ kota,
provinsi).
1.5 Menghargai
berbagai
peninggalan
sejarah
di
lingkungan
setempat
(kabupaten/ kota, provinsi) dan menjaga
kelestariannya.
1.6 Meneladani
kepahlawanan
dan
patriotisme
tokoh-tokoh
di
lingkungannya.
2.1 Mengenal aktivitas ekonomi yang
berkaitan dengan sumber daya alam dan
potensi lain di daerahnya.
2.2 Mengenal pentingnya koperasi dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2.3 Mengenal perkembangan teknologi
produksi, komunikasi, dan transportasi
serta pengalaman menggunakannya.
2.4 Mengenal permasalahan sosial di
daerahnya.
21
2.2 Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh Ali Mashuri (2012) dengan judul “Upaya
Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat
(STM) Siswa Kelas 4 SD Negeri Tombo I Kecamatan Bandar Kabupaten Batang
Semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012”, menyimpulkan bahwa penerapan STM
dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa Kelas 4 SD Negeri Tombo I.
Penelitian Kharisma Lestari (2009) dengan judul “Penerapan Pendekatan
STM Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas 4 SDN Umbulan
Winongan Pasuruan”, menyimpulkan bahwa penggunaan pendekatan STM dapat
meningkatkan hasil belajar IPS Siswa Kelas 4 SDN Umbulan Winongan
Pasuruan.
Penelitian yang dilakukan oleh Panji Kusumah (2010) dengan judul
“Penerapan Model STM untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada
Pembelajaran IPS Kelas 5 SDN Panggungrejo Kota Pasuruan”, menyimpulkan
bahwa penggunaan model STM dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas
5 SDN Panggungrejo Kota Pasuruan.
Berdasarkan beberapa hasil penelitian tindakan kelas di atas dapat
disimpulkan bahwa model STM dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa, sehingga menjadi acuan untuk diadakannya penelitian tindakan kelas ini
dengan menggunakan model STM berbantuan media video.
2.3 Kerangka Pikir
Berdasarkan latar belakang masalah, terdapat permasalahan dalam
pelaksanaan pembelajaran pada mata pelajaran IPS. Dalam melaksanakan
pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah, sehingga pembelajaran
lebih terpusat pada guru dan interaksi yang terjalin antara guru dan siswa belum
optimal. Masih terdapat siswa yang kurang berkonsentrasi karena merasa bosan
dengan metode yang diterapkan, dan siswa menjadi kurang aktif dalam proses
pembelajaran dan mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Untuk
mengatasi hal tersebut, maka dalam penelitian ini akan digunakan model STM
berbantuan media video yang terdiri dari tahap apersepsi/pengajuan masalah
22
untuk memancing sejauh mana pengetahuan yang telah dimiliki siswa terkait isu
yang dikemukakan, tahap eksplorasi yaitu tahap dimana siswa saling berdiskusi
untuk menemukan pengetahuan sendiri, tahap aplikasi konsep yaitu menganalisa
masalah berdasarkan konsep yang telah diterima oleh siswa sebelumnya, tahap
pemantapan konsep dimana guru meluruskan konsep dan memantapkan agar tidak
terjadi kesalahan pemahaman pada siswa, yang terakhir yaitu tahap evaluasi
dimana guru menguji sejauh mana pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang
telah dilakukan.
Model STM memiliki kelebihan yaitu dapat meningkatkan keterampilan
pemecahan masalah. Isu-isu yang dikemukakan dapat membuat siswa aktif sejak
awal pembelajaran. Dalam ilmu sosial, model STM dapat memberikan
pemahaman tentang kaitan antara sains, teknologi, dan masyarakat sehingga
melatih kepekaan penilaian siswa terhadap dampak lingkungan sebagai akibat
perkembangan sains dan teknologi. Model STM menekankan sains dalam
keterpaduan antar bidang studi. Dari segi guru, model STM semakin menegaskan
bahwa guru tidak selalu harus menjadi satu-satunya sumber informasi, namun
terdapat berbagai sumber belajar lain yang dapat dimanfaatkan. Guru dapat
bertindak sebagai fasilitator dan dapat memotivasi guru untuk mengembangkan
pembelajaran dengan strategi baru. Namun disamping kelebihan-kelebihan yang
dimiliki, model STM juga mempunyai beberapa kekurangan, antara lain
pemilihan topik yang kurang tepat pada awal pembelajaran akan menimbulkan
kesulitan pada peserta didik untuk mengaitkan materi dengan pengetahuan yang
mereka miliki. Siswa juga memerlukan waktu yang cukup lama untuk
mengumpulkan data dari nara sumber secara mendetail. Bagi siswa yang belum
terbiasa berpikir kritis dan belajar mengambil pengalaman di lapangan akan
mengalami kesulitan, sehingga dibutuhkan kesabaran yang lebih dari guru untuk
membimbing.
Untuk membantu memberikan gambaran terhadap isu yang akan
dikemukakan, maka dapat dibantu dengan penggunaan media video. Media video
dapat memudahkan siswa untuk mengkonkretkan suatu topik yang masih abstrak
dan melatih siswa untuk berpikir kritis untuk menyaring informasi yang diperoleh
23
melalui video yang ditayangkan. Selain untuk memberikan pemahaman yang
lebih jelas, penggunaan media video pada awal pembelajaran dapat semakin
menarik minat siswa untuk belajar. Pembelajaran menjadi lebih bervariasi.
Namun, pemilihan media video yang kurang tepat dapat berdampak negatif.
Sebagai contoh jika media video kurang sesuai dengan materi yang akan
dipelajari, maka dapat membingungkan siswa. Selain itu efek suara dari media
video yang terlalu berlebihan dapat membuyarkan konsentrasi siswa. Oleh karena
itu diperlukan keterampilan dari guru untuk menentukan media video yang akan
digunakan.
Penerapan pembelajaran dengan model STM berbantuan media video
diharapkan akan lebih memberikan suatu model pembelajaran yang lebih menarik
bagi siswa dan mendorong siswa mampu memecahkan masalah sehingga pada
akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2.4 Hipotesis Tindakan
Dalam penelitian ini, hipotesis yang diajukan yaitu melalui penggunaan
model STM berbantuan media video diduga dapat meningkatkan hasil belajar IPS
siswa kelas 4 SDN Dukuh 03 Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga Semester II
Tahun Pelajaran 2013/2014, yang ditandai dengan keaktifan siswa dalam
pembelajaran. Dengan model STM berbantuan media video, siswa diharapkan
lebih antusias dalam belajar, semangat dalam menjawab pertanyaan, aktif dalam
diskusi kelompok dan termotivasi untuk memberikan pendapatnya selama
pembelajaran.
Proses
pembelajaran
STM
yang
terdiri
dari
tahap
apersepsi/pengajuan masalah untuk memancing sejauh mana pengetahuan yang
telah dimiliki siswa terkait isu yang dikemukakan, tahap eksplorasi yaitu tahap
dimana siswa saling berdiskusi untuk menemukan pengetahuan sendiri, tahap
aplikasi konsep yaitu menganalisa masalah berdasarkan konsep yang telah
diterima oleh siswa sebelumnya, tahap pemantapan konsep dimana guru
meluruskan konsep dan memantapkan agar tidak terjadi kesalahan pemahaman
pada siswa, dan yang terakhir yaitu tahap evaluasi dimana guru menguji sejauh
mana pemahaman siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.
Download