MAKALAH KEJAHATAN PERANG DI SUDAN Latar Belakang

advertisement
MAKALAH KEJAHATAN PERANG DI SUDAN
1. Latar Belakang
Perkembangan peradilan dan pengadilan HAM tidak terlepas dari
pemahaman terhadap hukum pidana internasional (international criminal law),
yang merupakan hukum yang banyak berkaitan dengan pengaturan tentang
kejahatan internasional (international crimes). Dengan demikian sebenarnya
dapat dikatakan bahwa hukum pidana internasional mencakup dua dimensi
pemahaman yaitu "the penal aspects of international law" di satu pihak termasuk
hukum yang melindungi korban konflik bersenjata (international humanitarian
law) dan di lain pihak merupakan "the international aspects of national criminal
law". (Kittichaisaree, 2001).
Pemikiran untuk mengadili individu yang telah melakukan kejahatan HAM
berat dan kekejaman dalam konflik bersenjata sebenarnya sudah dikenal sejak
lama bahkan sejak zaman Yunani kuno. Semula hal ini dilandasi oleh pelbagai
pemikiran yang bersumber pada standar nilai dan norma kemanusiaan yang
berakar pada filsafat dan agama. Pada tahun 1474 hukuman mati dan
pencoretan sebagai pangeran bahkan oleh suatu tribunal yang terdiri atas 28
hakim, telah dijatuhkan pada Sir Peter von Hagenbach di Breisach, Austria, yang
diadili atas dasar kekejaman (pembunuhan, perkosaan, memberi keterangan
palsu, dan kejahatan lain terhadap 'laws of God and man') yang dilakukan
terhadap penduduk sipil dalam rangka mencoba memaksa mereka agar tunduk
pada kekuasaan Duke Charles di Burgundy. Begitu pula yang terjadi di Amerika
pada saat perang saudara, Abraham Lincoln telah melarang perilaku tidak
manusiawi dan mengancam dengan sanksi berat, termasuk pidana mati terhadap
pelakunya. (Schabas, 2001).
Pada akhir abad 19 di Crete, dua pengadilan militer menuntut dan
mengadili
individuindividu
terhadap
kejahatan
terhadap
kemanusiaan
sehubungan dengan 'Candia massacre' pada September 1898. Setelah
perjanjian perdamaian Wesphalia pada tahun 1648, secara bertahap desakan
untuk melakukan proses penuntutan internasional terhadap para pelaku
pelanggaran hukum humaniter mulai berkembang. Kodifikasi penting dalam
bentuk perjanjian internasional yang mengatur hukum perang dirumuskan pada
tahun 1889 dan 1907, yaitu Konvensi Den Haag yang menegaskan betapa
pentingnya perlindungan terhadap penduduk sipil, kehidupan manusia, hak milik
1
pribadi, hak dan kehormatan keluarga serta keyakinan agama. Baik penduduk
maupun pihak yang berperang tetap harus mendapatkan perlindungan atas
dasar asas-asas hukum internasional yang berlaku sebagai kebiasaan di
masyarakat beradab, hukum kemanusian dan hati nurani. Konvensi tersebut
tidak terarah pada kewajiban dan tugas-tugas Negara, dan tidak dimaksudkan
untuk mengatur pertanggungjawaban pidana secara individual.
Perkembangan
untuk
merumuskan
kejahatan
perang
yang
memungkinkan para pelakunya untuk dituntut semakin melembaga setelah
Perang Dunia I, atas dasar Traktat Versailles dan juga dipelopori oleh Liga
Bangsa-Bangsa, sekalipun pada akhirnya mengalami kegagalan karena 'lack of a
firm of legal basis'. Penentangan berkisar antara lain terhadap berlakunya 'ex
post facto justice' yang dianggap antara lain oleh delegasi Amerika Serikat
sebagai , ‘a question of morality, not law’ (Jorgensen, 2000). Peradilan terhadap
tentara Jerman yang dituduh melakukan 'war crimes', yang kemudian diserahkan
kepada Pengadilan Jerman cenderung lebih bersifat peradilan administrative dari
angkatan darat Jerman. Yang menyedihkan adalah ketika Belanda menolak
untuk mengekstradisi Emperor Jerman Kaiser Wilhelm II dengan alasan bahwa
kejahatan yang dianggap sebagai kejahatan utama terhadap moralitas
internasional yang didakwakan bersifat politis dan tidak dipidana menurut hukum
Belanda.
Sekalipun harus diakui bahwa usaha permulaan untuk membentuk
pengadilan pidana internasional sebagai 'supranational court' gagal, namun hal
ini menumbuhkan dedikasi yang kuat dari para sarjana hukum internasional
untuk menindak lanjuti cita-cita tersebut melalui pelbagai pertemuan dan
perjanjian internasional. Penuntutan secara aktual atas dasar Konvensi Den
Haag baru terjadi pada saat digelarnya Mahkamah Militer Internasional di
Nuremberg dan Tokyo setelah Perang Dunia II . Hal ini terus berlanjut sampai
dengan terbentuknya beberapa Tribunal Ad Hoc Internasional (ICTY dan ICTR),
kemudian berkembangnya ‘mixed national-international courts’ seperti di Sierra
Leonne, Cambodia dan Timor Timur dan terakhir yaitu terbentuknya ‘the
International Criminal Court’ di Rome pada tahun 1998 melalui suatu proses yang
sangat dramatis. Belum lagi usaha dari beberapa untuk menerapkan ‘universal
jurisdiction’ yang bisa mengadili siapa
saja yang didakwa melakukan
pelanggaran hukum humaniter dan pelanggaran HAM berat seperti Belgia.
Usaha lain adalah yang dilakukan oleh Indonesia, yang demi kehormatan bangsa
2
menggelar sendiri Pengadilan HAM, yang didasarkan atas ‘partial harmonization’
terhadap standar internasional (ICC).
Pengertian ICC (International Criminal Court) merupakan pengadilan
permanen dan independen internasional yang dibentuk oleh masyarakat negaranegara di dunia untuk menjatuhkan hukuman kepada pelaku kejahatan menurut
hukum internasional yang meliputi genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan
dan kejahatan perang.
Pada bulan Juli 1998 sebuah Konferensi Diplomatik di Roma Italia
mengesahkan sebuah Statuta tentang ICC (Statuta Roma) dengan suara
sebanyak 120 setuju dan hanya 7 yang tidak setuju (21abstein). Statuta yang
kemudian dikenal dengan Statuta Roma ini menjelaskan apa yang dimaksud
dengan kejahatan, cara kerja pengadilan dan negara-negara mana saja yang
dapat bekerja sama dengan ICC. Statuta Roma tentang ICC ini telah berlaku aktif
sejak 1 Juli 2002 setelah memenuhi syarat ratifikasi oleh negara.
Berdasarkan prinsip saling melengkapi, ICC hanya akan bertindak ketika
pengadilan nasional tidak mampu (unable) atau tidak mau (unwilling) mengambil
tindakan. Contohnya adalah ketika pemerintah tidak mau menghukum warga
negaranya terlebih ketika orang tersebut adalah orang yang berpengaruh
(unwilling) atau ketika sistem pengadilan pidana telah runtuh sebagai akibat dari
konflik internal sehingga tidak ada pengadilan yang mampu mengatasi kasuskasus tipe kejahatan tersebut (unable).
Sebuah kasus bisa ditangani oleh ICC dengan cara 3 cara. Pertama,
Jaksa Penuntut dengan inisiatifnya sendiri melakukan investigasi ketika satu atau
lebih kejahatan telah terjadi berdasarkan informasi dari berbagai sumber,
termasuk para korban dan keluarga. Kedua, Negara yang telah meratifikasi
Statuta Roma dapat meminta Jaksa Penuntut untuk menginvestigasi sebuah
situasi dimana satu atau lebih kejahatan telah terjadi. Ketiga, Dewan Keamanan
PBB dapat meminta Pengadilan untuk menginvestigasi situasi dimana satu atau
lebih kejahatan telah dilakukan.
Sudan, atau yang memiliki nama resmi Republik Sudan, adalah salah
satu negara yang terletak di Afrika Utara (Afrika Timur Laut) sekaligus
merupakan negara terbesar di Afrika . Tahun 1956 setelah merdeka dari Mesir
dan Inggris, Sudan tidak pernah menikmati stabilitas politik dan terus diguncang
perang saudara selama empat dekade terakhir. Jutaan orang tewas karena
perang dan kelaparan dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal mereka.
3
Awalnya, konflik disebabkan oleh faktor agama karena Islam fundamentalis yang
diterapkan oleh pemerintah pusat ditentang oleh penduduk selatan yang
mayoritas Kristen dan animis yang lebih menginginkan pemerintahan sekuler.
Selain itu, kesenjangan ekonomi dan sosial juga merupakan pemicu perang
saudara itu. Pembahasan berikutnya akan dibagi ke dalam lima bagian, yaitu
latar belakang krisis, dampak krisis terhadap keamanan regional dan
internasional, peranan organisasi regional, reaksi internasional serta analisis
geopolitik.
Perang Sipil yang sebenarnya dipicu oleh pembatalan Perjanjian Addis
Ababa pada 1983 yang dibentuk pada tahun 1973 untuk mengakhiri fase awal
perang sipil di selatan . Pihak sipil dan militer utara menolak otonomi dan
kesetaraan wilayah selatan dan menganggap mereka sebagai second-class
citizens. Kelompok selatan yang memberontak kemudian menamakan dirinya
Sudan People’s Liberation Movement/Army (SPLM/A) dan terus-terusan
menyerang pemerintah pusat. Ketegangan yang muncul antara pemberontak
selatan dan pemerintah semakin lama lebih didasari oleh permasalahan
ekonomi, yaitu karena perbedaan persepsi tentang siapa sesungguhnya pemilik
minyak dan mineral lain di wilayah itu. Berdasarkan Undang-Undang Tanah (The
Land Act) tahun 1970, pemerintah menganggap semua lahan di mana minyak
diproduksi dan dieksplorasi sebagai milik pemerintah,oleh karena itu minyak
menjadi milik pemerintah pusat. Sebaliknya, SPLM tidak mengakui undangundang itu karena dibuat pada periode awal perang sipil dengan tidak
mengikutsertakan mereka. SPLM tetap menganggap bahwa tanah yang dihuni,
baik permukaan maupun kandungan di dalamnya, adalah milik penduduk lokal.
Pada 5 Juni 2004, pemerintah Sudan dan SPLM menandatangani
kesepakatan damai di Naivasha, Kenya, untuk mengakhiri perang sipil 21 tahun
yang telah menewaskan 2 juta jiwa . Kesepakatan ini merupakan buah dari 2
tahun usaha AS, Kenya, Norwegia, Inggris dan PBB dan menyediakan
pembagian kekuasaan politik dan hasil minyak antara pemerintah dan
pemberontak selatan serta referendum pelepasan bagian selatan setelah 6 tahun
pemerintahan sementara. Pembicaraan selanjutnya ternyata tidak membuahkan
hasil dan pemerintahan sementara tidak pernah terwujud hingga tercapainya
kesepakatan
gencatan
senjata.
Konflik
yang
berkembang
tidak
hanya
berlangsung antara pemerintah dan SPLM tetapi juga melibatkan konflik antar
penduduk muslim di Darfur. Krisis Darfur dimulai pada Februari 2003, ketika dua
4
kelompok pemberontak muncul dan menyerang pemerintahan the National
Islamic Front (NIF) akibat diskriminasi Arab-Non Arab . The Sudan Liberation
Army (SLA) dan the Justice and Equality Movement (JEM) mengklaim bahwa
pemerintah Sudan mendiskriminasi muslim Afrika di Darfur dan sebaliknya,
pemerintah Sudan menganggap SLA and JEM sebagai teroris. Konflik yang
dulunya merupakan konflik agama kini berubah menjadi konflik ras antara
kelompok etnis Fur, Zaghawa, dan Massaleit yang banyak didukung kekuatan
lokal dan luar negeri serta Teluk Persia, melawan etnis Arab. Gesekan makin
terjadi ketika etnis mayoritas nomaden Arab memasuki wilayah pemukiman
Darfur untuk mendapatkan air bersih dan rumput untuk menggembalakan ternak.
Apalagi pemerintahan Sudan melakukan teror pada penduduk sipil untuk
menumpas pemberontak dan pendukungnya.
2. Rumusan Masalah
Adapun pokok masalah yang bisa ditarik dari latarabelakang yang telah
dijelaskan yaitu :
1. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan 300.000 orang terbantai
dan 2,5 juta warga mengungsi dalam konflik antara pemberontak lokal dengan
tentara dan milisi dukungan pemerintah di Darfur sejak 2004.
2. Sudan tidak mengikuti aturan ICC karena kemungkinan besar al-Bashir
memberanikan diri hadir di KTT Liga Arab tersebut karena Qatar tidak
menandatangani Piagam ICC.
3. Kekayaan sumber minyak di sudan yang diperebutkan oleh pihak asing.
4. Mencegah bangkitnya kekuatan Islam.
3. Landasan Teori
Landasan teori yang digunakan pada ICC masih mengggunakan statuta
Roma dan Pasal-Pasal yang ada didalamnya antara lain :
A. Kejahatan yang Termasuk dalam Jurisdiksi Mahkamah (Pasal 5)
1.
Jurisdiksi
Mahkamah
terbatas
pada
kejahatan
paling
serius
yang
menyangkut masyarakat internasional secara keseluruhan. Mahkamah
mempunyai jurisdiksi sesuai dengan Statuta Roma berkenaan dengan
kejahatan-kejahatan berikut:
(a) Kejahatan genosida;
(b) Kejahatan terhadap kemanusiaan;
5
(c) Kejahatan perang;
(d) Kejahatan agresi.
2. Mahkamah melaksanakan jurisdiksi atas kejahatan agresi setelah suatu
ketentuan disahkan sesuai dengan pasal 121 dan 123 yang mendefinisikan
kejahatan dan menetapkan kondisi-kondisi di mana Mahkamah menjalankan
jurisdiksi berkenaan dengan kejahatan ini. Ketentuan semacam itu haruslah
sesuai dengan ketentuanketentuan terkait dari Piagam Perserikatan BangsaBangsa.
Pasal 6
Genosida
Untuk keperluan Statuta ini, “genosida” berarti setiap perbuatan berikut ini yang
dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya atau untuk sebagian,
suatu kelompok nasional, etnis, ras atau keagamaan, seperti misalnya:
(a) Membunuh anggota kelompok tersebut;
(b) Menimbulkan luka fisik atau mental yang serius terhadap para anggota
kelompok tersebut;
(c) Secara sengaja menimbulkan kondisi kehidupan atas kelompok tersebut yang
diperhitungkan akan menyebabkan kehancuran fisik secara keseluruhan atau
untuk sebagian;
(d) Memaksakan tindakan-tindakan yang dimaksud untuk mencegah kelahiran
dalam kelompok tersebut;
(e) Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok itu kepada kelompok
lain.
Berkaitan dengan unsur terakhir yang terdaftar untuk tiap-tiap kejahatan:
- Istilah “dalam konteks” (in the context of) akan mencakupi tindakan awal dalam
pola yang mendesak;
- Istilah “manifes” adalah suatu istilah menyangkut kualifikasi objektif;
- Tanpa dipengaruhi oleh persyaratan normal untuk unsur mental yang
dinyatakan dalam pasal 30, dan dengan mengakui bahwa kesadaran atau
pengetahuan terhadap keadaaan-keadaan tersebut biasanya akan ditekankan
dalam membuktikan niat dalam kejahatan genosida, persyaratan yang tepat, jika
ada, untuk suatau unsur mental menyangkut keadaan-keadaan tersebut perlu
diputuskan oleh Mahkamah berdasarkan
pertimbangan kasus per kasus.
6
Pasal 6 (a)
Genosida dengan pembunuhan
Unsur-Unsurnya
1. Pelakunya membunuh (kill)2 satu atau lebih orang.
2. Orang atau orang-orang tersebut [yang dibunuh itu] berasal dari suatu bangsa
tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu.
3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun
sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut.
4. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan
serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut
merupakan tindakan yang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran
terhadap kelompok-kelompok tersebut.
Pasal 6 (b)
Genosida dengan menimbulkan luka fisik atau mental yang serius
Unsur-Unsurnya
1. Pelakunya menyebabkan luka fisik atau mental yang serius terhadap satu atau
lebih orang.
2. Orang atau orang-orang tersebut [yang dilukai itu] berasal dari suatu bangsa
tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu.
2 Kata atau terminologi “membunuh” (kill) dapat digunakan secara bergantian
dengan terminologi “menyebabkan kematian” (cause death).
3 Tindakan ini bisa mencakupi, tetapi tidak perlu dibatasi pada, tindakan
penyiksaan, pemerkosaan, kekerasan seksual atau perlakuan tidak manusiawi
atau merendahkan martabat.
3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun
sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut.
4. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan
serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut
merupakan tindakan yang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran
terhadap kelompok-kelompok tersebut.
Pasal 6 (c)
Genosida dengan secara sengaja menimbulkan kondisi kehidupan yang
diperhitungkan akan menyebabkan kehancuran fisik
Unsur-Unsurnya :
7
1. Pelaku tersebut dengan sengaja menimbulkan kondisi-kondisi kehidupan
tertentu yang akan mendatangkan kehancuran fisik] terhadap satu atau lebih
orang.
2. Orang atau orang-orang tersebut [korban perbuatan pelaku pada unsur nomor
1 diatas berasal dari suatu bangsa tertentu, kelompok etnis, ras atau agama
tertentu.
3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun
sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut.
4. Kondisi kehidupan diperhitungkan akan mendatangkan kehancuran fisik dari
kelompok tersebut, baik seluruhnya maupun sebagian.4
5. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan
serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut
merupakan tindakanyang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran
terhadap kelompok-kelompok tersebut.
Pasal 6 (d)
Genosida dengan memaksakan tindakan-tindakan yang dimaksud untuk
mencegah kelahiran
Unsur-Unsurnya
1. Pelaku memaksakan tindakan-tindakan tertentu itu terhadap satu atau lebih
orang
2. Orang atau orang-orang tersebut [yang dipaksa itu] berasal dari suatu bangsa
tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu.
3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun
sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut.
4. Tindakan-tindakan yang dipaksakan itu dimaksudkan untuk mencegah
kelahiran di dalam kelompok tersebut.
5. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan
serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut
4 Terminologi “kondisi kehidupan” (condition of life) bisa mencakupi, tetapi tidak
perlu dibatasi pada, pencaplokan secara sengaja sumber-sumber yang tak bisa
digantikan dengan apa pun untuk mempertahankan kehidupan, semisal
makanan atau pelayanan kesehatan, atau pengusiran secara sistematis dari
rumah atau tempat tinggal mereka yang merupakan tindakan yang tidak bisa
tidak pasti akan berakibat pada kehancuran terhadap kelompok-kelompok
tersebut.
8
Pasal 6 (e)
Genosida dengan memindahkan anak-anak secara paksa
Unsur-Unsurnya
1. Pelaku memindahkan secara paksa satu atau lebih orang.5
2. Orang atau orang-orang tersebut [yang dipaksa itu] berasal dari suatu bangsa
tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu.
3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun
sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut.
4. Pemindahan tersebut adalah dari kelompok [yang dipaksa itu] ke kelompok
lain
5. Orang-orang yang dipaksa pindah itu adalah yang berumur di bawah 18 tahun
6. Pelakunya mengetahui, atau seharusnya sudah mengetahui, bahwa orang
atau orang-orang tersebut memang berusia di bawah 18 tahun.
7. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan
serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut
merupakan tindakan yang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran
terhadap kelompok-kelompok tersebut.
5 Terminologi “secara paksa” (forcibly) tidak dibatasi pada paksaan secara fisik,
melainkan juga mencakupi ancaman paksaan atau tekanan, semisal yang
disebabkan oleh rasa takut akan tindakan kekerasan,penyekapan, penahanan,
serangan psikologis atau penyalahgunaan wewenang.
Pasal 7
Kejahatan terhadap Kemanusiaan
1. Untuk keperluan Statuta ini, “kejahatan terhadap kemanusiaan” berarti salah
satu dari perbuatan berikut ini apabila dilakukan sebagai bagian dari serangan
meluas atau sistematik yang ditujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil,
dan kelompok penduduk sipil tersebut mengetahui akan terjadinya serangan itu:
(a) Pembunuhan;
(b) Pemusnahan;
(c) Perbudakan;
(d) Deportasi atau pemindahan paksa penduduk;
(e) Pemenjaraan atau perampasan berat atas kebebasan fisik dengan melanggar
aturan-aturan dasar hukum internasional;
(f) Penyiksaan;
9
(g) Perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi, penghamilan paksa,
pemaksaan sterilisasi, atau suatu bentuk kekerasan seksual lain yang cukup
berat;
(h) Penganiayaan terhadap suatu kelompok yang dapat diidentifikasi atau
kolektivitas atas dasar politik, ras, nasional, etnis, budaya, agama, gender
sebagai didefinisikan dalam ayat 3, atau atas dasar lain yang secara universal
diakui
sebagai
tidak
diizinkan
berdasarkan
hukum
internasional,
yang
berhubungan dengan setiap perbuatan yang dimaksud dalam ayat ini atau setiap
kejahatan yang berada dalam jurisdiksi Mahkamah;
(i) Penghilangan paksa;
(j) Kejahatan apartheid;
(k) Perbuatan tak manusiawi lain dengan sifat sama yang secara sengaja
menyebabkan penderitaan berat, atau luka serius terhadap badan atau mental
atau kesehatan fisik.
2. Untuk keperluan ayat 1:
(a) “Serangan yang ditujukan terhadap suatu kelompok penduduk sipil” berarti
serangkaian perbuatan yang mencakup pelaksanaan berganda dari perbuatan
yang dimaksud dalam ayat 1 terhadap kelompok penduduk sipil, sesuai dengan
atau sebagai kelanjutan dari kebijakan Negara atau organisasi untuk melakukan
serangan tersebut;
(b) “Pemusnahan” mencakup ditimbulkannya secara sengaja pada kondisi
kehidupan, antara lain dihilangkannya akses kepada pangan dan obat-obatan,
yang diperhitungkan akan membawa kehancuran terhadap sebagian penduduk.
(c) “Perbudakan” berarti pelaksanaan dari setiap atau semua kekuasaan yang
melekat pada hak kepemilikan atas seseorang dan termasuk dilaksanakannya
kekuasaan tersebut dalam perdagangan manusia, khususnya orang perempuan
dan anak-anak;
(d) “Deportasi atau pemindahan penduduk secara paksa” berarti perpindahan
orang-orang yang bersangkutan secara paksa dengan pengusiran atau
perbuatan pemaksaan lainnya dari daerah di mana mereka hidup secara sah,
tanpa alasan yang diperbolehkan berdasarkan hukum internasional;
(e) “Penyiksaan” berarti ditimbulkannya secara sengaja rasa sakit atau
penderitaan yang hebat, baik fisik atupun mental, terhadap seseorang yang
ditahan atau dibawah penguasaan tertuduh; kecuali kalau siksaan itu tidak
10
termasuk rasa sakit atau penderitaan yang timbul hanya dari, yang melekat pada
atau sebagai akibat dari, sanksi yang sah;
(f) “Penghamilan paksa” berarti penahanan tidak sah, terhadap seorang
perempuan yang secara paksa dibuat hamil, dengan maksud mempengaruhi
komposisi etnis dari suatu kelompok penduduk atau melaksanakan suatu
pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Definisi ini betapapun juga
tidak dapat ditafsirkan sebagai mempengaruhi hukum nasional yang berkaitan
dengan kehamilan;
(g) “Penganiayaan” berarti perampasan secara sengaja dan kejam terhadap hakhak dasar yang bertentangan dengan hukum internasional dengan alasan
identitas kelompok atau kolektivitas tersebut;
(h) “Kejahatan apartheid” berarti perbuatan tidak manusiawi dengan sifat yang
sama dengan sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat 1, yang dilakukan dalam
konteks suatu rezim kelembagaan berupa penindasan dan dominasi sistematik
oleh satu kelompok rasial atas suatu kelompok atau kelompok-kelompok ras lain
dan dilakukan dengan maksud untuk mempertahankan rezim itu.
(i) “Penghilangan paksa” berarti penangkapan, penahanan atau penyekapan
orangorang
oleh, atau dengan kewenangan, dukungan atau persetujuan diam-diam dari,
suatu Negara atau suatu organisasi politik, yang diikuti oleh penolakan untuk
mengakui perampasan kebebasan itu atau untuk memberi informasi tentang
nasib
atau
keberadaan
orang-orang
tersebut,
dengan
maksud
untuk
memindahkan mereka dari perlindungan hukum untuk suatu kurun waktu yang
lama.
3. Untuk keperluan Statuta ini, dimengerti bahwa istilah “gender” mengacu
kepada dua jenis kelamin, lelaki dan perempuan, dalam konteks masyarakat.
Istilah “gender” tidak memperlihatkan suatu arti yang berbeda dengan yang di
atas.
Pasal 8
Kejahatan Perang
1.
Mahkamah mempunyai jurisdiksi berkenaan dengan kejahatan perang pada
khususnya apabila dilakukan sebagai bagian dari suatu rencana atau
kebijakan atau sebagai bagian dari suatu pelaksanaan secara besar-besaran
dari kejahatan tersebut.
2.
Untuk keperluan Statuta ini, “kejahatan perang” berarti:
11
(a) Pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa tertanggal 12 Agustus 1949,
yaitu masing-masing dari perbuatan berikut ini terhadap orang-orang atau hakmilik
yang
dilindungi
berdasarkan
ketentuan
Konvensi
Jenewa
yang
bersangkutan:
(i) Pembunuhan yang dilakukan dengan sadar;
(ii) Penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi, termasuk percobaan biologis;
(iii) Secara sadar menyebabkan penderitaan berat, atau luka serius terhadap
badan atau kesehatan;
(iv) Perusakan meluas dan perampasan hak-milik, yang tidak dibenarkan oleh
kebutuhan militer dan dilakukan secara tidak sah dan tanpa alasan;
(v) Memaksa seorang tawanan perang atau orang lain yang dilindungi untuk
berdinas dalam pasukan dari suatu Angkatan Perang lawan;
(vi) Secara sadar merampas hak-hak seorang tawanan perang atau orang lain
yang dilindungi atas pengadilan yang jujur dan adil;
(vii) Deportasi tidak sah atau pemindahan atau penahanan tidak sah;
(viii) Menahan sandera.
(b) Pelanggaran serius lain terhadap hukum dan kebiasaan yang dapat
diterapkan dalam sengketa bersenjata internasional, dalam rangka hukum
internasional yang ditetapkan, yaitu salah satu perbuatan-perbuatan berikut ini:
(i) Secara sengaja melancarkan serangan terhadap sekelompok penduduk sipil
atau terhadap setiap orang sipil yang tidak ikut serta secara langsung dalam
pertikaian itu;
(ii) Secara sengaja melakukan serangan terhadap objek-objek sipil, yaitu,
objek yang bukan merupakan sasaran militer;
(iii) Secara sengaja melakukan serangan terhadap personil, instalasi, material,
satuan atau kendaraan yang terlibat dalam suatu bantuan kemanusiaan atau
misi penjaga perdamaian sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,
sejauh bahwa mereka berhak atas perlindungan yang diberikan kepada objekobjek sipil berdasarkan hukum internasional mengenai sengketa bersenjata;
(iv)
Secara
sengaja melancarkan
suatu
serangan
dengan mengetahui
bahwaserangan tersebut akan menyebabkan kerugian insidentil terhadap
kehidupan atau kerugian terhadap orang-orang sipil atau kerusakan terhadap
objek-objek sipil atau kerusakan yang meluas, berjangka-panjang dan berat
terhadap lingkungan alam yang jelas-jelas terlalu besar dalam kaitan dengan
keunggulan militer keseluruhan secara konkret dan
12
langsung dan yang dapat diantisipasi;
(v) Menyerang atau membom, dengan sarana apa pun, kota-kota, desa,
perumahan atau gedung yang tidak dipertahankan atau bukan objek militer;
(vi) Membunuh atau melukai seorang lawan yang, setelah meletakkan senjata
atau tidak mempunyai sarana pertahanan lagi, telah menyerahkan diri atas
kemauannya sendiri;
(vii) Memanfaatkan secara tidak benar bendera gencatan senjata, atau bendera
atau lencana dan seragam militer dari pihak lawan atau milik Perserikatan
Bangsa-Bangsa, maupun tanda-tanda khusus dari Konvensi Jenewa, yang
menyebabkan kematian atau luka-luka serius pada individu-individu tertentu;
(viii) Pemindahan, secara langsung atau tidak langsung, oleh Pasukan
Pendudukan terhadap sebagian dari penduduk sipilnya sendiri ke wilayah
yang didudukinya, atau deportasi atau pemindahan semua atau sebagian
dari wilayah yang diduduki itu baik di dalam wilayah itu sendiri maupun ke luar
wilayah tersebut;
(ix) Secara sengaja melakukan serangan terhadap gedung-gedung yang
digunakan untuk tujuan-tujuan keagamaan, pendidikan, kesenian, keilmuan atau
sosial, monumen bersejarah, rumah sakit dan tempat-tempat di mana orangorang sakit dan terluka dikumpulkan, sejauh bahwa tempat tersebut bukan objek
militer;
(x) Membuat orang-orang yang berada dalam kekuasaan suatu pihak yang
bermusuhan menjadi sasaran perusakan fisik atau percobaan medis atau ilmiah
dari berbagai jenis yang tidak dapat dibenarkan oleh perawatan medis, gigi atau
rumah sakit dari orang yang bersangkutan ataupun yang dilakukan tidak demi
kepentingannya, dan yang menyebabkan kematian atau sangat membahayakan
kesehatan orang atau orang-orang tersebut;
(xi) Membunuh atau melukai secara curang orang-orang yang termasuk pada
bangsa atau angkatan perang lawan;
(xii) Menyatakan bahwa tidak akan diberikan tempat tinggal bagi para tawanan;
(xiii)
Menghancurkan
atau
merampas
hak-milik
lawan
kecuali
kalau
penghancuran atau perampasan tersebut dituntut oleh kebutuhan perang yang
tak dapat dihindarkan;
(xiv) Menyatakan penghapusan, penangguhan atau tidak dapat diterimanya
dalam suatu pengadilan hak-hak dan tindakan warga negara dari pihak lawan;
13
(xv) Memaksa warga negara dari pihak yang bemusuhan untuk ambil bagian
dalam operasi perang yang ditujukan terhadap negaranya sendiri, bahkan kalau
mereka berada dalam dinas lawan sebelum dimulainya perang;
(xvi) Menjarah kota atau tempat, bahkan apabila tempat tersebut dikuasai lewat
serangan;
(xvii) Menggunakan racun atau senjata yang dibubuhi racun;
(xviii) Menggunakan gas yang menyesakkan napas, beracun atau lain-lain dan
semua cairan, bahan atau peralatan yang serupa;
(xix) Menggunakan peluru yang melebar atau menjadi rata dengan mudah
didalam badan seseorang, seperti misalnya peluru dengan selongsong keras
yang tidak seluruhnya menutupi intinya atau yang ditusuk dengan torehan;
(xx) Menggunakan senjata, proyektil dan material serta metode peperangan yang
merupakan suatu sifat yang dapat menimbulkan kerugian yang luar biasa besar
atau penderitaan yang tidak perlu atau yang secara hakiki tidak pandang bulu
dengan melanggar hukum internasional mengenai sengketa bersenjata dengan
syarat bahwa senjata, proyektil dan material serta metode peperangan tersebut
merupakan masalah pokok dari suatularangan menyeluruh dan dimasukkan
dalam lampiran kepada Statuta ini,dan dengan amendemen yang sesuai dengan
ketentuan-ketentuan relevan yang diatur dalam pasal 121 dan 123;
(xxi) Melakukan kebiadaban terhadap martabat pribadi, terutama perlakuan yang
mempermalukan dan merendahkan martabat manusia;
(xxii) Melakukan perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi,
kehamilan paksa, sebagaimana didefinisikan dalam pasal 7, ayat 2(f), sterilisasi
yang dipaksakan, atau suatu bentuk kekerasan seksual lain yang juga
merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa;
(xxiii) Menggunakan kehadiran seorang sipil dan orang lain yang dilindungi untuk
menjadikan beberapa tempat, daerah atau pasukan militer tertentu kebal
terhadap operasi militer;
(xxiv) Secara sengaja menujukan serangan terhadap gedung, material, satuan
dan angkutan serta personil medis yang menggunakan lencana yang jelas dari
Konvensi Jenewa sesuai dengan hukum internasional;
(xxv) Secara sengaja menggunakan kelaparan orang-orang sipil sebagai suatu
metode peperangan dengan memisahkan mereka dari objek-objek yang sangat
penting bagi kelangsungan hidup mereka, termasuk secara sadar menghambat
pengiriman bantuan sebagaimana ditetapkan berdasarkan Konvensi Jenewa;
14
(xxvi) Menetapkan wajib militer atau mendaftar anak-anak di bawah umur lima
belas tahun ke dalam angkatan bersenjata nasional atau menggunakan mereka
untuk berpartisipasi secara aktif dalam pertikaian.
(c) Dalam hal suatu sengketa bersenjata yang bukan merupakan suatu
persoalan internasional, pelanggaran serius terhadap pasal 3 yang umum bagi
empat Konvensi Jenewa tertanggal 12 Agustus 1949, yaitu, salah satu dari
perbuatan berikut ini yang dilakukan terhadap orang-orang yang tidak ambil
bagian aktif dalam pertikaian, termasuk para anggota angkatan bersenjata yang
telah meletakkan senjata mereka dan orang-orang yang ditempatkan di luar
pertempuran karena menderita sakit, luka, ditahan atau suatu sebab lain:
(i) Kekerasan terhadap kehidupan dan orang, khususnya pembunuhan dari
segala jenis, pemotongan anggota tubuh (mutilasi), perlakuan kejam dan
penyiksaan;
(ii) Melakukan kebiadaban terhadap martabat orang, khususnya perlakuan
yang mempermalukan dan merendahkan martabat;
(iii) Menahan sandera;
(iv) Dijatuhkannya hukuman dan dilaksanakannya hukuman mati tanpa
keputusan yang dijatuhkan oleh suatu pengadilan yang ditetapkan secara
reguler, yang menanggung semua jaminan hukum yang pada umumnya diakui
sebagai tak terelakkan.
(d) Ayat 2 (c) berlaku bagi sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional
dan dengan demikian tidak berlaku bagi keadaan-keadaan kekacauan dan
ketegangan dalam negeri, seperti misalnya huru-hara, tindakan kekerasan
secara terpisah dan sporadis atau perbuatan-perbuatan lain yang sama sifatnya.
(e) Pelanggaran serius lain terhadap hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam
sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional, dalam rangka hukum
internasional yang ditetapkan, yaitu salah satu dari perbuatan-perbuatan berikut
ini:
(i) Secara sengaja melakukan serangan terhadap penduduk sipil atau terhadap
masing-masing penduduk sipil yang tidak ikut serta secara langsung dalam
pertikaian;
(ii) Secara sengaja melakukan serangan terhadap gedung, material, satuan dan
angkutan serta personil medis yang menggunakan lencana Konvensi Jenewa
sesuai dengan hukum internasional;
15
(iii) Secara sengaja melakukan serangan terhadap personil, instalasi, material,
satuan atau kendaraan yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan atau misi
penjaga perdamaian sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa
sepanjang mereka berhak atas perlindungan yang diberikan kepada orang-orang
dan objek-objek sipil berdasarkan hukum perang;
(iv) Secara sengaja melakukan serangan terhadap gedung-gedung yang
digunakan untuk keperluan keagamaan, pendidikan, kesenian, keilmuan atau
sosial, monumen bersejarah, rumah sakit dan tempat-tempat di mana
orang-orang yang sakit dikumpulkan, dengan syarat bahwa hal-hal tersebut
bukan sasaran militer;
(v) Menjarah suatu kota atau tempat, sekalipun tempat itu dikuasai lewat
serangan;
(vi) Melakukan perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi,
kehamilan paksa, sebagaimana ditetapkan dalam pasal 7, ayat 2(f), sterilisasi
yang dipaksakan, dan suatu bentuk lain kekerasan seksual yang
juga merupakan pelanggaran serius terhadap pasal 3 yang umum bagi empat
Konvensi Jenewa;
(vii) Memberlakukan wajib militer atau mendaftar anak-anak di bawah umur lima
belas tahun ke dalam angkatan bersenjata atau menggunakannya untuk ikut
serta secara aktif dalam pertikaian;
(viii) Mengatur perpindahan penduduk sipil dengan alasan yang berkaitan
dengan sengketa, kecuali kalau keamanan orang-orang sipil tersebut terancam
atau alasan militer yang amat penting menuntutnya;
(ix) Membunuh atau melukai secara curang seorang lawan tempur;
(x) Menyatakan bahwa tidak akan diberikan tempat tinggal kepada tawanan;
(xi) Menempatkan orang-orang yang berkuasa dari pihak lain dalam sengketa itu
sebagai sasaran mutilasi atau pemotongan anggota tubuh secara fisik atau
percobaan medis atau suatu jenis percobaan ilmiah yang tidak dapat dibenarkan
oleh perlakuan medis, perawatan gigi atau rumah sakit dari orang yang
bersangkutan ataupun tidak melaksanakan demi kepentingannya, dan yang
menyebabkan kematian atau menimbulkan bahaya serius terhadap kesehatan
dari orang atau orang-orang tersebut;
(xii) Menghancurkan atau merampas hak milik dari seorang lawan kecuali
kalau penghancuran atau perampasan tersebut sangat dituntut oleh kebutuhan
dari sengketa tersebut;
16
(f) Ayat 2(e) berlaku untuk sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional
dan dengan demikian tidak berlaku bagi situasi-situasi kekacauan dan
ketegangan dalam negeri, seperti misalnya huru-hara, tindakan kekerasan
secara terpisah dan sporadis atau perbuatan-perbuatan lain dengan sifat yang
sama. Ayat ini berlaku terhadap sengketa bersenjata yang berlangung dalam
wilayah suatu Negara apabila terjadi sengketa bersenjata yang berkelanjutan
antara para pejabat pemerintah dan kelompok bersenjata terorganisasi atau
antara kelompok-kelompok semacam itu.
3. Tidak ada dalam ayat 2(c) dan (d) akan mempengaruhi tanggung jawab suatu
Pemerintah untuk mempertahankan atau menetapkan kembali hukum dan
ketertiban dalam Negara atau untuk mempertahankan kesatuan dan integritas
teritorial dari Negara tersebut, dengan semua sarana yang sah.
B. ICC sebagai Order
Analisis mengenai order yang digunakan untuk membedah fenomena
pembentukan ICC merupakan hasil pemikiran dan pengembangan dari Hedley
Bull, seorang
guru besar hubungan internasional pada London School
Economics dan Political Science, dalam bukunya The Anarchical Society: A
Study of Order in World Politics yang diterbitkan pada 1977.
Kedudukan ICC dalam masyarakat internasional adalah sebagai
international order. Hal ini terlihat dari tujuan dari international order, yaitu
mewujudkan tujuan-tujuan dari masyarakat internasional yang bersifat mendasar,
utama dan universal terdiri dari menjaga rasa aman para anggotanya dari
kekerasan
yang
sewenang-wenang
dengan
membatasi
kekerasan
(menggambarkan jaminan penghormatan HAM dan penegakan hukum),
pentaatan terhadap perjanjian (menggambarkan prinsip resiprositas), dan
jaminan penghormatan terhadap hak milik (mengambarkan prinsip pengakuan
terhadap kedaulatan negara).
International order muncul ketika sekelompok negara memiliki tujuan
bersama (common interest) membentuk masyarakat internasional. Mereka
menyusun
sendiri
aturan-aturan
(rules)
yang
mengikat
mereka
dalam
berhubungan antara satu dengan yang lain. Dalam kasus ini, pembentukan ICC
adalah order dalam masyarakat internasional.
17
ICC dianggap sebagai sebuah order karena dibentuk oleh masyarakat
internasional. Tujuannya, sebagai sarana penegakan hukum internasional dan
penghormatan terhadap HAM serta pencegahan praktek impunity terhadap
pelanggaran HAM berat oleh aktor negara-bangsa.
Common interest atau tujuan bersama sehingga negara-negara dunia
membentuk sebuah masyarakat internasional untuk membahas permasalahan
yang menjadi concern mereka, dalam hal ini adalah penegakan hukum
internasional, penghormatan terhadap HAM serta pencegahan impunity terhadap
pelanggaran HAM berat.
Konferensi Diplomatik PBB dalam rangka membentuk ICC di Roma, Italia,
yang berhasil mengadopsi Statuta ICC merupakan pengejawantahan dari
common interest masyarakat internasional.
Perihal rules, kepentingan bersama tidaklah lengkap bila tidak ada suatu
guidance untuk mengatur perilaku negara sebagai anggota masyarakat
internasional. Rules tersebut harus memiliki jangkauan luas dan menikmati status
sebagai hukum internasional.
Pengadopsian Rome Statute for International Criminal Court pada
Konferensi Diplomatik PBB tersebut adalah rules yang mengatur perilaku negara
sebagai anggota masyarakat melalui mekanisme ratifikasi sehingga negara
terikat ketentuan-ketentuan dalam Statuta ICC.
Sedangkan institutions, anggota masyarakat internasional adalah negaranegara berdaulat yang tentunya mereka memiliki tanggungjawab atas efektifitas
aturan yang mereka buat sendiri dan untuk merealisasikan tujuan-tujuan mereka.
Dengan kata lain, negara adalah institutions utama dalam masyarakat
internasional. Selain memiliki fungsi untuk merealisasikan tujuan, juga memiliki
fungsi perlindungan (protection) terhadap rules dengan cara berkolaborasi
dengan sesama anggota masyarakat internasional.
Dengan menggunakan institutions of international society--yang terdiri
dari perimbangan kekuatan (balance of power), hukum internasional, mekanisme
diplomatik, sistem manajerial dari kekuatan besar (great power) dan perang-tidak bermaksud mencabut peran negara dalam menjalankan fungsi politiknya.
18
Akan tetapi, merupakan seperangkat kebiasaan dan praktek yang dibentuk agar
mampu merealisasikan tujuan-tujuan bersama.
Dari kesemuanya itu, hukum internasional merupakan pilihan dari
masyarakat internasional dalam rangka melindungi dan merealisasikan tujuantujuan mereka.
C. Pengaruh ICC Sebagai International Order
Kedudukan ICC sebagai international order memiliki pengaruh terhadap
pelanggaran HAM berat (gross violations of human rights). Pertama, pengaruh
ICC terhadap hukum nasional.
Berdasarkan asas inherent (otomatis) dari ICC, negara-negara yang telah
menjadi pihak dalam Statuta ICC tidak memerlukan perangkat tambahan seperti
undang-undang untuk menyatakan dirinya telah terikat. Namun, beberapa
negara memilih mekanisme konstitusional mereka untuk meratifikasi Statuta ICC.
Berbagai cara dilakukan oleh negara-negara tersebut untuk menjadikan
ketentuan dalam Statuta ICC tidak bertentangan dengan konstitusi negara
mereka--baik dengan cara melakukan amandemen konstitusi hingga melakukan
pengadopsian ketentuan statuta dalam bentuk undang-undang nasional-sehingga setelah proses tersebut, Statuta ICC yang merupakan ketentuan
hukum internasional menjadi bagian dari hukum nasional.
Kedua, sekalipun ICC tidak dapat menerapkan yurisdiksinya kepada
negara nonpihak (non state parties), secara nyata juga memiliki pengaruh.
Negara nonpihak dapat bekerjasama dengan ICC dalam beberapa hal yang
tercantum dalam ketentuan Pasal 12 Statuta ICC, yaitu bila pelanggaran HAM
berat tersebut terjadi di atas kapal laut atau pesawat terbang yang didaftarkan
atas nama negara nonpihak itu.
Juga apabila pelaku pelanggaran HAM berat adalah warga negaranya.
Cara lain adalah melalui mekanisme yang dilakukan oleh DK PBB, di mana dapat
melakukan pelimpahan wewenang kepada ICC bila satu atau lebih kejahatan
yang tercantum dalam statuta telah terjadi. Karena, pelimpahan itu merupakan
wewenang DK PBB yang bersifat mengikat dan dapat dipaksakan atas seluruh
19
negara dan pelaksaan yurisdiksi mahkamah menjadi bagian dari wewenang
tersebut.
Contoh nyata bahwa ICC memiliki pengaruh besar bagi negara nonpihak
adalah ketika Amerika Serikat (AS) menolak untuk bekerjasama dalam upaya
menjaga perdamaian melalui peace keeping operation jika ICC tidak memberikan
kekebalan kepada pasukan perdamaian asal AS. Ini merupakan buntut dari
ketidaksetujuan AS terhadap ICC.
Persoalan ini diakhiri dengan kompromi melalui Resolusi DK PBB Nomor
1422 (2002). Intinya, DK PBB meminta ICC untuk menunda penyelidikan dan
penuntutan selama 12 bulan dan permintaan itu dapat diperbarui. Proposal yang
diajukan AS, yang mengutip ketentuan Pasal 16 Statuta ICC, mendapatkan
kecaman dari negara-negara dan LSM internasional yang mendukung ICC.
Pernyataan yang tegas datang dari Kanada. DK PBB tidak berhak
melakukan interpretasi terhadap Statuta ICC dan ICC yang memiliki legal
personalities tersendiri belum memiliki hubungan dengan PBB yang disahkan
melalui perjanjian.
Kompromi itu dapat menjadi preseden buruk bagi perkembangan ICC di
masa yang akan datang sebagai lembaga peradilan yang bersifat independent
dan impartial. Selain itu, dengan keberadaan ICC, para pemimpin atau penguasa
harus berpikir panjang untuk membuat sebuah kebijakan atau melakukan
tindakan yang dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat.
Tujuan pembentukan ICC adalah menghentikan praktek impunity
terhadap pelaku pelanggaran HAM berat yang sering kali dilakukan oleh aktor
negara-bangsa.
Mereka tidak dapat berlindung dibalik ketentuan nasional
karena pelaku pelanggaran HAM berat musuh umat manusia.
Adalah kewajiban masyarakat internasional untuk mengejar menangkap,
menahan, mengadili, serta menghukum mereka. Karenanya, dapat dikatakan
bahwa ICC memiliki pengaruh sebagai penangkal (deterrent) terhadap praktek
pelanggaran HAM berat.
20
Pada dasarnya, kehadiran ICC merupakan missing link setelah
terbentuknya International Court of Justice (ICJ) yang hanya memiliki
kewenangan terhadap perkara dengan negara sebagai subyeknya. Tetapi yang
terpenting adalah kehadiran ICC merupakan bentuk perlawanan terhadap
dominasi negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat, dalam menyikapi isu
pelanggaran HAM berat (gross violations of human rights).
D. Raksi Internasional
Amerika
Serikat
(AS)
mempunyai
kepentingan
tersendiri
dalam
perdamaian Sudan. Jika perang tetap berlanjut, maka akses dan eksploitasi
minyak yang menjanjikan di selatan akan terhambat dan dengan demikian
mengancam kepentingan perusahaan AS. Untuk merespon ancaman terhadap
kepentingan nasional AS pada 1990an, pemerintahan Clinton menjatuhkan
sanksi berupa isolasi kepada Sudan dalam berbagai forum internasional . Selain
itu AS juga mengupayakan pemberian sanksi di luar PBB seperti boikot terhadap
minyak Sudan dan pembatasan akses kapal minyak Sudan di pelabuhan AS dan
Eropa karena resistensi China terhadap sanksi PBB yang dimotori AS. Sanksi
yang diberikan ternyata malah semakin memperpanjang perang dan gagal
memperbaiki keadaan. Kegagalan ini berusaha diperbaiki melalui pemerintahan
Bush dengan mengirim Senator Danforth untuk menjadi mediator di Sudan.
Selain mengusahakan perdamaian antara utara-selatan, Danforth juga mencari
dukungan untuk penyelesaian konflik Sudan ke negara-negara tetangga dan
negara donor seperti Mesir, Kenya, Inggris, Norwegia, Belanda, Swiss, Italia dan
Kanada. Namun usaha Danforth ini gagal karena resistensi oleh penduduk lokal.
PBB membantu penyelesaian krisis Sudan melalui pemerian bantuan USAID
serta membentuk Disaster Assistance Response Team (DART) untuk Darfur
walaupun sempat ditunda oleh pemerintah Sudan. Selain itu PBB juga
mengeluarkan Resolusi 1564 yang isinya tentang pemberian sanksi ekonomi
pada pemerintah Khartoum jika tidak mau bekerja sama. Namun sanksi ini malah
semakin memperlemah pertahanan Darfur untuk melindungi penduduk sipil.
China menguasai 40 % sektor perminyakan Sudan . Selama ini China selalu
menentang pemberian sanksi PBB kepada Sudan. Sanksi yang dijatuhkan AS
dan PBB malah semakin memperkuat hubungan China-Sudan, terbukti dengan
pengalihan ekspor Sudan menjadi 60 % ke China dan sisanya ke negara-negara
21
Asia lainnya. Selain itu, sanksi yang dijatuhkan juga hanya memperkuat gerakan
anti Barat yang didengungkan oleh beberapa negara Liga Arab. Dalam
pandangan China, sanksi apapun yang dijatuhkan pada Sudan dilihat sebagai
perang terhadap kepentingan nasional China, mengingat arti penting minyak
Sudan bagi China dan oleh karena itu memperburuk hubungan AS-China.
E. Analisis Geopolitik.
Dalam
teorinya,
The
Managerial
Revolution,
James
Burnham
menjelaskan apa yang ia sebut sebagai perubahan kontrol dunia oleh negaranegara industri – dalam hal ini Jerman, Jepang dan Amerika Serikat (AS)
mengantikan kontrol ideologis oleh komunisme dan liberalisme . Karena kontrol
kini dipegang oleh negara-negara industri dimana negara-negara ini mempunyai
kebutuhan akan sumber energi yang semakin tinggi, maka bisa dipahami bahwa
minyak kemudian menjadi komoditas strategis bagi semua negara-bangsa,
menggantikan rempah-rempah yang pada abad pertengahan menjadi tujuan
utama penerapan strategi geopolitik negara-bangsa melalui imperialisme dan
kolonialisme.
Sebenarnya persediaan minyak saat ini cukup untuk memenuhi permintaan
dunia, tetapi berbagai krisis di ladang minyak seperti Badai Ivan di teluk Meksiko,
kekerasan antar etnis di Nigeria, instabilitas politik di Venezuela, produksi minyak
yang tidak dimaksimalkan di Irak, dan perkembangan sektor energi Rusia yang
lambat membuat banyak pihak merasa harus memastikan kebutuhan minyaknya
tercukupi dengan cara mencari sumber lain. Dalam pemikiran geopolitik klasik,
Mackinder menyebut Eurasia sebagai bagian penting pusat dunia . Siapa pun
yang menguasai wilayah ini akan menguasai dunia. Oleh karena itu, AS meyakini
bahwa pusat kompetisi geopolitik ada di Eurasia, meliputi kawasan Teluk Persia
dan Laut Kaspia yang mengandung 70 persen cadangan minyak dunia . Teoriteori inilah yang menuntun para pembuat kebijakan AS dan China untuk
‘beramai-ramai’ mencondongkan kebijakan luar negerinya ke Sudan yang
berbatasan
langsung
dengan
Teluk
Persia.
Apalagi berbagai data telah menunjukkan potensi eksplorasi minyak Sudan yang
luar biasa. Produksi minyak Sudan mendapat prioritas eksploitasi the Western
Upper Nile (WUN), yang diprediksikan mengandung cadangan 600 juta-1 miliar
barrel.Produksi tiap harinya mencapai 230.000-250.000 barrel tiap harinya . Dari
22
data US Energy Information Administration, produksi minyak Sudan mencapai
98.523 ribu barrel tiap tahunnya dan menempati peringkat 35 negara penghasil
minyak terbesar dunia. Saya pribadi cenderung pesimis dengan perdamaian
Sudan. Selama negara ini masih menjadi arena perebutan kekuasaan negaranegara industri, perdamaian Sudan akan sulit untuk diwujudkan.
4. Analisa Masalah;
1. Sesuai dengan kewajiban negara menurut CAT, maka perlu ditambahkan
ketentuan yang memuat prinsip-prinsip :
a. Non-derogable (Art. 2 (2)
b. No-superior order principle (Art. 2 (3)
c. Non-refoulment (Art. 2)
d. Punishable under national law (Art. 4)
e. Yurisdiksi universal dan extradiksi (Art. 5)
f.
Menahan pelaku dan menyelidiki (Art. 6)
g. Mengadili pelaku jika tidak diekstradisi (Art. 7)
h. Extraditable (Art. 8)
i.
Kerjasama antar negara dalam penegakan (Art. 9)
j.
Penyelidikan segera yang independen dan tidak memihak (Art. 12)
k. Hak korban untuk mengadu (Art. 13)
l.
Hak korban atas ganti rugi dan kompensasi (Art. 14)
m. Keterangan hasil penyiksaan tidak boleh digunakan di pengadilan
(Art. 15)
n. Pencegahan
perlakuan/penghukuman
lain
yang
kejam,
tidak
manusiawi dan merendahkan martabat (Art. 16).
Dalam hal ini ada pendekatan HAM yang dikatakan Panel sangat
dibutuhkan yaitu :
1. Participation : Sumber-sumber di pemerintahan Sudan mengatakan,
negara mereka kemungkinan akan meminta bantuan China, Rusia
dan Afrika di PBB untuk menolak surat penangkapan terhadap Bashir.
Khartoum juga meminta Liga Arab membahas masalah ini.
23
2. Aconutabiltas:Pertanggung jawaban dari hasil tuntutan jaksa Moreno
Ocampo dapat diterima oleh semua pihak baik baik korban maupun
terdakwa,agar tidak terjadi diskriminasi dalam penyelenggaraan
pemerintahan.
3. Non–discrimination:
Mahkamah pidana Internasional (ICC) seharusnya bersikarp netral
dalam menyikapi konflik di Sudan, semua elemn masyarakat yang
bertikai harus dilibatkan termasuk Presiden omar Bashir,tentara,
keluarga
korban
dan
lain-lain.jangan
sampai
ini
merupakan
pembunuhan karakter (caracter assasins) bagi presiden Bashir sendiri
karena rakyat Sudan sebagian besar masih mendukung beliau.
Harus diingat ketika ICC sebagai lembaga independent, seharusnya
tidak mendapatkan tekanan dari berbagai pihak, termasuk dari pihak
yang telah meratifikasi ICC sendiri, termasuk tekanan dari Dunia
Barat yang dimotori oleh Amerika.
4. Empowerment: Kami sedang mengupayakan mediasi dengan semua
saluran
diplomatik
kami
untuk
mendapatkan
dukungan
dalam
menghentikan apa yang dilakukan ICC, " kata utusan Sudan di Liga Arab,
Abdul Moneim Mabrouk.Selain itu Peranan Organisasi Regional
Menyikapi Konflik Sudan African Union (AU) berperan sebagai
fasilitator dan pengawas dialog antara SLA/JEM dengan pemerintah.
Organisasi ini juga menempatkan ribuan pasukan dari Rwanda,
Gabon dan Nigeria untuk mengawasi gencatan senjata di Darfur.
Mandat yang dimiliki AU ternyata sangat terbatas, baik dari segi
jumlah pasukan, finansial maupun kekuatan bersenjata sehingga
gencatan senjata juga tidak efektif. Hanya sebagian kecil pelanggaran
yang dilaporkan kepada Joint Comission dan konflik pun semakin
berkembang. Pada September 2004 setelah PBB memperluas
misinya di AU dan memberikan sanksi pada pemerintah Sudan untuk
menekannya, barulah pemerintah Sudan menyetujui perluasan misi
AU walaupun kemudian mereka menolak proposal AU tentang
perlindungan
pada
penduduk
sipil
dan
upaya
peacekeeping.
The Inter-Governmental Authority for Development (IGAD) -organisasi
regional
yang
mengusahakan
kooperasi
dan
perkembangan-
membentuk komisi mediasi dengan dua organ yaitu konferensi tingkat
24
tinggi yang dihadiri oleh kepala negara dari Ethiopia, Eritrea, Kenya
dan Uganda, serta standing committee yang terdiri dari para mediator.
Pembicaraan yang dilakukan kemudian menghasilkan Declaration of
Principles (DOP) yang isinya antara lain diberikannya hak penentuan
nasib sendiri dengan menjunjung tinggi kesatuan, pemerintahan
sekulerisme, demokrasi multi partai dan penghargaan atas nilai HAM
namun ditolak oleh NIF pemerintah pusat.
5. Linkage to Human Rights:
Konflik Darfur terjadi antara kelompok etnis bersenjata yang
memberontak pada pemerintahan Khartoum yang didominasi Arab.
Kelompok etnis itu memberontak karena merasa diperlakukan
diskriminatif oleh pemerintah. Konflik itu menyebabkan dua juta orang
mengungsi dan diklaim sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Hal ini berhubungan erat dengan hak Hidup, Hak anak,Hak
perempuan, hak bagi para pengungsi dan lain-lain
Dampak
Krisis
Sudan
Terhadap
Keamanan
Regional
dan
Internasional
Krisis Sudan telah mempengaruhi keamanan wilayah tetangganya,
baik langsung maupun tak langsung. Saat konflik berlangsung,
gerakan para pemberontak juga mengancam keamanan daerah
perbatasan seperti Kenya, Mesir, Ethiopia, Uganda, Chad dan Libya
serta menjadikan daerah-daerah itu rawan serangan teroris dan
perdagangan senjata ilegal. Seperti yang dijelaskan dalam trickle
down effect, bila ada satu negara dalam regional yang bergolak maka
keamanan seluruh region itu pun juga tidak stabil. Negara-negara
inilah yang kemudian melakukan operasi pengawasan gencatan
senjata di di wilayah selatan atas nama African Union. Selain
menimbulkan
masalah
keamanan,
pengungsi
Sudan
juga
memunculkan masalah baru bagi negara yang menjadi kamp
pengungsian
sementara.
Laporan
PBB
pada
tahun
2005
menyebutkan bahwa lebih dari 2 juta orang telah menempati kamp
pengungsian di wilayah Chad . Jumlah itu belum termasuk pengungsi
yang tersebar di daerah lain. Bagi dunia internasional, konflik Sudan
merupakan ancaman penurunan cadangan minyak dunia mengingat
25
wilayahnya yang diperkirakan mengandung 600 juta-1 miliar barrel
cadangan minyak mentah
5. Kesimpulan
Kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan
kejahatan perang diatur dalam Statuta Roma, karena memerlukan proses
penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan disusunnya unsur-unsur
kejahatan dan tanggung jawab komandan serta hukum acara tersendiri.
Rumusan kejahatan-kejahatan perlu penyempurnaan, bahkan
untuk penyiksaan ditempatkan pada bagian yang lain. Rumusan
penyiksaan cukup memadai, namun harus juga diatur tentang “perbuatan
atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan
martabat”.
6. Saran
Kedepannya, untuk penjahat perang seharusnya tidak harus
mendapatkan impunitas dari negaranya sendiri termasuk Presiden Sudan
yaitu Omar Hassan Al-Bashir,selain itu ICC sebagai lembaga independent
seharusnya tidak memberikan
pengecualian kepada orang yang
dianggap melakukan kejahatan perang (Genosida) walaupun dalam
kenyataan negara Sudan sendiri belum meratifikasi ICC.
ICC sebagai lembaga independent diharapkan tidak mendapatkan
tekanan dari negara Barat dalam pengambilan keputusan mengani
pemidanaan.
Seharusnya ada willing and leable dari dalam negeri Sudan
sendiri dalam pembentukan pengadilan HAM untuk menghindari ICC
masuk dan memanggil Presiden Bashir, hal ini pernah terjadi ketika
indoenesia akhirnya meembentuk UU No 26 tehun 2000 tentang
pengadilan HAM, untuk menghidari pemanggilan penjahat kemanusiaan
seperti ;kasus tanjung Priok,Kasus Talangsari, Kasus Semanggi, dan
terakhir kasus Munir.
Daftar Pustaka
26
Dagne, Ted.2005.Sudan: Humanitarian Crisis, Peace Talks,Terrorism, and U.S.
Policy.pdf. Congressional Research Service-The Library of Congress.
Kejahatan Serius terhadap Hak Asasi Manusia (Serious Crimes against Human
Rights)
Morrison, Dr. J. Stephen.2002.Implementing U.S. Policy in Sudan. Washinton
DC:CSIS
Morrison, Dr. J. Stephen.2001.Introduction: The CSIS Task Force on U.S.-Sudan
Policy.PDF. Washinton DC:CSIS Skorupski, Sarah.2004.Sudan’s Energy Sector:
Implementing the Wealth- Sharing Agreement. Washington DC:CSIS
Prof. Dr. Muladi. S.H; Peradilan Hak Asasi Manusia dalam konteks Nasional dan
Internasional
Ratifikasi Mahkamah Pidana Internasional (ICC) Dan Penegakan Keadilan Di
Indonesia.Suatu Analisis Mengenai Order dalam Hubungan Intrenasional.
Short, J.R,1993,An Introduction to Political Geography,London:Routledge
“Sudan.” Microsoft Student 2008. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.
Swilla,Nelly.The Threat of International Sanctions on Sudan’s Oil Sector.
Washinton DC:CSIS
Tuathail,
Gearóid
and
Dalby,
Simon
(eds),2008,Rethinking
Geopolitics,London:Routledge
27
Download