MAKALAH KEJAHATAN PERANG DI SUDAN 1. Latar Belakang Perkembangan peradilan dan pengadilan HAM tidak terlepas dari pemahaman terhadap hukum pidana internasional (international criminal law), yang merupakan hukum yang banyak berkaitan dengan pengaturan tentang kejahatan internasional (international crimes). Dengan demikian sebenarnya dapat dikatakan bahwa hukum pidana internasional mencakup dua dimensi pemahaman yaitu "the penal aspects of international law" di satu pihak termasuk hukum yang melindungi korban konflik bersenjata (international humanitarian law) dan di lain pihak merupakan "the international aspects of national criminal law". (Kittichaisaree, 2001). Pemikiran untuk mengadili individu yang telah melakukan kejahatan HAM berat dan kekejaman dalam konflik bersenjata sebenarnya sudah dikenal sejak lama bahkan sejak zaman Yunani kuno. Semula hal ini dilandasi oleh pelbagai pemikiran yang bersumber pada standar nilai dan norma kemanusiaan yang berakar pada filsafat dan agama. Pada tahun 1474 hukuman mati dan pencoretan sebagai pangeran bahkan oleh suatu tribunal yang terdiri atas 28 hakim, telah dijatuhkan pada Sir Peter von Hagenbach di Breisach, Austria, yang diadili atas dasar kekejaman (pembunuhan, perkosaan, memberi keterangan palsu, dan kejahatan lain terhadap 'laws of God and man') yang dilakukan terhadap penduduk sipil dalam rangka mencoba memaksa mereka agar tunduk pada kekuasaan Duke Charles di Burgundy. Begitu pula yang terjadi di Amerika pada saat perang saudara, Abraham Lincoln telah melarang perilaku tidak manusiawi dan mengancam dengan sanksi berat, termasuk pidana mati terhadap pelakunya. (Schabas, 2001). Pada akhir abad 19 di Crete, dua pengadilan militer menuntut dan mengadili individuindividu terhadap kejahatan terhadap kemanusiaan sehubungan dengan 'Candia massacre' pada September 1898. Setelah perjanjian perdamaian Wesphalia pada tahun 1648, secara bertahap desakan untuk melakukan proses penuntutan internasional terhadap para pelaku pelanggaran hukum humaniter mulai berkembang. Kodifikasi penting dalam bentuk perjanjian internasional yang mengatur hukum perang dirumuskan pada tahun 1889 dan 1907, yaitu Konvensi Den Haag yang menegaskan betapa pentingnya perlindungan terhadap penduduk sipil, kehidupan manusia, hak milik 1 pribadi, hak dan kehormatan keluarga serta keyakinan agama. Baik penduduk maupun pihak yang berperang tetap harus mendapatkan perlindungan atas dasar asas-asas hukum internasional yang berlaku sebagai kebiasaan di masyarakat beradab, hukum kemanusian dan hati nurani. Konvensi tersebut tidak terarah pada kewajiban dan tugas-tugas Negara, dan tidak dimaksudkan untuk mengatur pertanggungjawaban pidana secara individual. Perkembangan untuk merumuskan kejahatan perang yang memungkinkan para pelakunya untuk dituntut semakin melembaga setelah Perang Dunia I, atas dasar Traktat Versailles dan juga dipelopori oleh Liga Bangsa-Bangsa, sekalipun pada akhirnya mengalami kegagalan karena 'lack of a firm of legal basis'. Penentangan berkisar antara lain terhadap berlakunya 'ex post facto justice' yang dianggap antara lain oleh delegasi Amerika Serikat sebagai , ‘a question of morality, not law’ (Jorgensen, 2000). Peradilan terhadap tentara Jerman yang dituduh melakukan 'war crimes', yang kemudian diserahkan kepada Pengadilan Jerman cenderung lebih bersifat peradilan administrative dari angkatan darat Jerman. Yang menyedihkan adalah ketika Belanda menolak untuk mengekstradisi Emperor Jerman Kaiser Wilhelm II dengan alasan bahwa kejahatan yang dianggap sebagai kejahatan utama terhadap moralitas internasional yang didakwakan bersifat politis dan tidak dipidana menurut hukum Belanda. Sekalipun harus diakui bahwa usaha permulaan untuk membentuk pengadilan pidana internasional sebagai 'supranational court' gagal, namun hal ini menumbuhkan dedikasi yang kuat dari para sarjana hukum internasional untuk menindak lanjuti cita-cita tersebut melalui pelbagai pertemuan dan perjanjian internasional. Penuntutan secara aktual atas dasar Konvensi Den Haag baru terjadi pada saat digelarnya Mahkamah Militer Internasional di Nuremberg dan Tokyo setelah Perang Dunia II . Hal ini terus berlanjut sampai dengan terbentuknya beberapa Tribunal Ad Hoc Internasional (ICTY dan ICTR), kemudian berkembangnya ‘mixed national-international courts’ seperti di Sierra Leonne, Cambodia dan Timor Timur dan terakhir yaitu terbentuknya ‘the International Criminal Court’ di Rome pada tahun 1998 melalui suatu proses yang sangat dramatis. Belum lagi usaha dari beberapa untuk menerapkan ‘universal jurisdiction’ yang bisa mengadili siapa saja yang didakwa melakukan pelanggaran hukum humaniter dan pelanggaran HAM berat seperti Belgia. Usaha lain adalah yang dilakukan oleh Indonesia, yang demi kehormatan bangsa 2 menggelar sendiri Pengadilan HAM, yang didasarkan atas ‘partial harmonization’ terhadap standar internasional (ICC). Pengertian ICC (International Criminal Court) merupakan pengadilan permanen dan independen internasional yang dibentuk oleh masyarakat negaranegara di dunia untuk menjatuhkan hukuman kepada pelaku kejahatan menurut hukum internasional yang meliputi genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang. Pada bulan Juli 1998 sebuah Konferensi Diplomatik di Roma Italia mengesahkan sebuah Statuta tentang ICC (Statuta Roma) dengan suara sebanyak 120 setuju dan hanya 7 yang tidak setuju (21abstein). Statuta yang kemudian dikenal dengan Statuta Roma ini menjelaskan apa yang dimaksud dengan kejahatan, cara kerja pengadilan dan negara-negara mana saja yang dapat bekerja sama dengan ICC. Statuta Roma tentang ICC ini telah berlaku aktif sejak 1 Juli 2002 setelah memenuhi syarat ratifikasi oleh negara. Berdasarkan prinsip saling melengkapi, ICC hanya akan bertindak ketika pengadilan nasional tidak mampu (unable) atau tidak mau (unwilling) mengambil tindakan. Contohnya adalah ketika pemerintah tidak mau menghukum warga negaranya terlebih ketika orang tersebut adalah orang yang berpengaruh (unwilling) atau ketika sistem pengadilan pidana telah runtuh sebagai akibat dari konflik internal sehingga tidak ada pengadilan yang mampu mengatasi kasuskasus tipe kejahatan tersebut (unable). Sebuah kasus bisa ditangani oleh ICC dengan cara 3 cara. Pertama, Jaksa Penuntut dengan inisiatifnya sendiri melakukan investigasi ketika satu atau lebih kejahatan telah terjadi berdasarkan informasi dari berbagai sumber, termasuk para korban dan keluarga. Kedua, Negara yang telah meratifikasi Statuta Roma dapat meminta Jaksa Penuntut untuk menginvestigasi sebuah situasi dimana satu atau lebih kejahatan telah terjadi. Ketiga, Dewan Keamanan PBB dapat meminta Pengadilan untuk menginvestigasi situasi dimana satu atau lebih kejahatan telah dilakukan. Sudan, atau yang memiliki nama resmi Republik Sudan, adalah salah satu negara yang terletak di Afrika Utara (Afrika Timur Laut) sekaligus merupakan negara terbesar di Afrika . Tahun 1956 setelah merdeka dari Mesir dan Inggris, Sudan tidak pernah menikmati stabilitas politik dan terus diguncang perang saudara selama empat dekade terakhir. Jutaan orang tewas karena perang dan kelaparan dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal mereka. 3 Awalnya, konflik disebabkan oleh faktor agama karena Islam fundamentalis yang diterapkan oleh pemerintah pusat ditentang oleh penduduk selatan yang mayoritas Kristen dan animis yang lebih menginginkan pemerintahan sekuler. Selain itu, kesenjangan ekonomi dan sosial juga merupakan pemicu perang saudara itu. Pembahasan berikutnya akan dibagi ke dalam lima bagian, yaitu latar belakang krisis, dampak krisis terhadap keamanan regional dan internasional, peranan organisasi regional, reaksi internasional serta analisis geopolitik. Perang Sipil yang sebenarnya dipicu oleh pembatalan Perjanjian Addis Ababa pada 1983 yang dibentuk pada tahun 1973 untuk mengakhiri fase awal perang sipil di selatan . Pihak sipil dan militer utara menolak otonomi dan kesetaraan wilayah selatan dan menganggap mereka sebagai second-class citizens. Kelompok selatan yang memberontak kemudian menamakan dirinya Sudan People’s Liberation Movement/Army (SPLM/A) dan terus-terusan menyerang pemerintah pusat. Ketegangan yang muncul antara pemberontak selatan dan pemerintah semakin lama lebih didasari oleh permasalahan ekonomi, yaitu karena perbedaan persepsi tentang siapa sesungguhnya pemilik minyak dan mineral lain di wilayah itu. Berdasarkan Undang-Undang Tanah (The Land Act) tahun 1970, pemerintah menganggap semua lahan di mana minyak diproduksi dan dieksplorasi sebagai milik pemerintah,oleh karena itu minyak menjadi milik pemerintah pusat. Sebaliknya, SPLM tidak mengakui undangundang itu karena dibuat pada periode awal perang sipil dengan tidak mengikutsertakan mereka. SPLM tetap menganggap bahwa tanah yang dihuni, baik permukaan maupun kandungan di dalamnya, adalah milik penduduk lokal. Pada 5 Juni 2004, pemerintah Sudan dan SPLM menandatangani kesepakatan damai di Naivasha, Kenya, untuk mengakhiri perang sipil 21 tahun yang telah menewaskan 2 juta jiwa . Kesepakatan ini merupakan buah dari 2 tahun usaha AS, Kenya, Norwegia, Inggris dan PBB dan menyediakan pembagian kekuasaan politik dan hasil minyak antara pemerintah dan pemberontak selatan serta referendum pelepasan bagian selatan setelah 6 tahun pemerintahan sementara. Pembicaraan selanjutnya ternyata tidak membuahkan hasil dan pemerintahan sementara tidak pernah terwujud hingga tercapainya kesepakatan gencatan senjata. Konflik yang berkembang tidak hanya berlangsung antara pemerintah dan SPLM tetapi juga melibatkan konflik antar penduduk muslim di Darfur. Krisis Darfur dimulai pada Februari 2003, ketika dua 4 kelompok pemberontak muncul dan menyerang pemerintahan the National Islamic Front (NIF) akibat diskriminasi Arab-Non Arab . The Sudan Liberation Army (SLA) dan the Justice and Equality Movement (JEM) mengklaim bahwa pemerintah Sudan mendiskriminasi muslim Afrika di Darfur dan sebaliknya, pemerintah Sudan menganggap SLA and JEM sebagai teroris. Konflik yang dulunya merupakan konflik agama kini berubah menjadi konflik ras antara kelompok etnis Fur, Zaghawa, dan Massaleit yang banyak didukung kekuatan lokal dan luar negeri serta Teluk Persia, melawan etnis Arab. Gesekan makin terjadi ketika etnis mayoritas nomaden Arab memasuki wilayah pemukiman Darfur untuk mendapatkan air bersih dan rumput untuk menggembalakan ternak. Apalagi pemerintahan Sudan melakukan teror pada penduduk sipil untuk menumpas pemberontak dan pendukungnya. 2. Rumusan Masalah Adapun pokok masalah yang bisa ditarik dari latarabelakang yang telah dijelaskan yaitu : 1. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan 300.000 orang terbantai dan 2,5 juta warga mengungsi dalam konflik antara pemberontak lokal dengan tentara dan milisi dukungan pemerintah di Darfur sejak 2004. 2. Sudan tidak mengikuti aturan ICC karena kemungkinan besar al-Bashir memberanikan diri hadir di KTT Liga Arab tersebut karena Qatar tidak menandatangani Piagam ICC. 3. Kekayaan sumber minyak di sudan yang diperebutkan oleh pihak asing. 4. Mencegah bangkitnya kekuatan Islam. 3. Landasan Teori Landasan teori yang digunakan pada ICC masih mengggunakan statuta Roma dan Pasal-Pasal yang ada didalamnya antara lain : A. Kejahatan yang Termasuk dalam Jurisdiksi Mahkamah (Pasal 5) 1. Jurisdiksi Mahkamah terbatas pada kejahatan paling serius yang menyangkut masyarakat internasional secara keseluruhan. Mahkamah mempunyai jurisdiksi sesuai dengan Statuta Roma berkenaan dengan kejahatan-kejahatan berikut: (a) Kejahatan genosida; (b) Kejahatan terhadap kemanusiaan; 5 (c) Kejahatan perang; (d) Kejahatan agresi. 2. Mahkamah melaksanakan jurisdiksi atas kejahatan agresi setelah suatu ketentuan disahkan sesuai dengan pasal 121 dan 123 yang mendefinisikan kejahatan dan menetapkan kondisi-kondisi di mana Mahkamah menjalankan jurisdiksi berkenaan dengan kejahatan ini. Ketentuan semacam itu haruslah sesuai dengan ketentuanketentuan terkait dari Piagam Perserikatan BangsaBangsa. Pasal 6 Genosida Untuk keperluan Statuta ini, “genosida” berarti setiap perbuatan berikut ini yang dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya atau untuk sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras atau keagamaan, seperti misalnya: (a) Membunuh anggota kelompok tersebut; (b) Menimbulkan luka fisik atau mental yang serius terhadap para anggota kelompok tersebut; (c) Secara sengaja menimbulkan kondisi kehidupan atas kelompok tersebut yang diperhitungkan akan menyebabkan kehancuran fisik secara keseluruhan atau untuk sebagian; (d) Memaksakan tindakan-tindakan yang dimaksud untuk mencegah kelahiran dalam kelompok tersebut; (e) Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok itu kepada kelompok lain. Berkaitan dengan unsur terakhir yang terdaftar untuk tiap-tiap kejahatan: - Istilah “dalam konteks” (in the context of) akan mencakupi tindakan awal dalam pola yang mendesak; - Istilah “manifes” adalah suatu istilah menyangkut kualifikasi objektif; - Tanpa dipengaruhi oleh persyaratan normal untuk unsur mental yang dinyatakan dalam pasal 30, dan dengan mengakui bahwa kesadaran atau pengetahuan terhadap keadaaan-keadaan tersebut biasanya akan ditekankan dalam membuktikan niat dalam kejahatan genosida, persyaratan yang tepat, jika ada, untuk suatau unsur mental menyangkut keadaan-keadaan tersebut perlu diputuskan oleh Mahkamah berdasarkan pertimbangan kasus per kasus. 6 Pasal 6 (a) Genosida dengan pembunuhan Unsur-Unsurnya 1. Pelakunya membunuh (kill)2 satu atau lebih orang. 2. Orang atau orang-orang tersebut [yang dibunuh itu] berasal dari suatu bangsa tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu. 3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut. 4. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran terhadap kelompok-kelompok tersebut. Pasal 6 (b) Genosida dengan menimbulkan luka fisik atau mental yang serius Unsur-Unsurnya 1. Pelakunya menyebabkan luka fisik atau mental yang serius terhadap satu atau lebih orang. 2. Orang atau orang-orang tersebut [yang dilukai itu] berasal dari suatu bangsa tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu. 2 Kata atau terminologi “membunuh” (kill) dapat digunakan secara bergantian dengan terminologi “menyebabkan kematian” (cause death). 3 Tindakan ini bisa mencakupi, tetapi tidak perlu dibatasi pada, tindakan penyiksaan, pemerkosaan, kekerasan seksual atau perlakuan tidak manusiawi atau merendahkan martabat. 3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut. 4. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran terhadap kelompok-kelompok tersebut. Pasal 6 (c) Genosida dengan secara sengaja menimbulkan kondisi kehidupan yang diperhitungkan akan menyebabkan kehancuran fisik Unsur-Unsurnya : 7 1. Pelaku tersebut dengan sengaja menimbulkan kondisi-kondisi kehidupan tertentu yang akan mendatangkan kehancuran fisik] terhadap satu atau lebih orang. 2. Orang atau orang-orang tersebut [korban perbuatan pelaku pada unsur nomor 1 diatas berasal dari suatu bangsa tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu. 3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut. 4. Kondisi kehidupan diperhitungkan akan mendatangkan kehancuran fisik dari kelompok tersebut, baik seluruhnya maupun sebagian.4 5. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut merupakan tindakanyang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran terhadap kelompok-kelompok tersebut. Pasal 6 (d) Genosida dengan memaksakan tindakan-tindakan yang dimaksud untuk mencegah kelahiran Unsur-Unsurnya 1. Pelaku memaksakan tindakan-tindakan tertentu itu terhadap satu atau lebih orang 2. Orang atau orang-orang tersebut [yang dipaksa itu] berasal dari suatu bangsa tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu. 3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut. 4. Tindakan-tindakan yang dipaksakan itu dimaksudkan untuk mencegah kelahiran di dalam kelompok tersebut. 5. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut 4 Terminologi “kondisi kehidupan” (condition of life) bisa mencakupi, tetapi tidak perlu dibatasi pada, pencaplokan secara sengaja sumber-sumber yang tak bisa digantikan dengan apa pun untuk mempertahankan kehidupan, semisal makanan atau pelayanan kesehatan, atau pengusiran secara sistematis dari rumah atau tempat tinggal mereka yang merupakan tindakan yang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran terhadap kelompok-kelompok tersebut. 8 Pasal 6 (e) Genosida dengan memindahkan anak-anak secara paksa Unsur-Unsurnya 1. Pelaku memindahkan secara paksa satu atau lebih orang.5 2. Orang atau orang-orang tersebut [yang dipaksa itu] berasal dari suatu bangsa tertentu, kelompok etnis, ras atau agama tertentu. 3. Pelaku tersebut memang berniat untuk menghancurkan, baik seluruh maupun sebagian, bangsa tersebut, kelompok etnis, ras atau agama tertentu tersebut. 4. Pemindahan tersebut adalah dari kelompok [yang dipaksa itu] ke kelompok lain 5. Orang-orang yang dipaksa pindah itu adalah yang berumur di bawah 18 tahun 6. Pelakunya mengetahui, atau seharusnya sudah mengetahui, bahwa orang atau orang-orang tersebut memang berusia di bawah 18 tahun. 7. Tindakan tersebut terjadi dalam konteks suatu pola yang manifes dari tindakan serupa yang diarahkan kepada kelompok tersebut atau tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak bisa tidak pasti akan berakibat pada kehancuran terhadap kelompok-kelompok tersebut. 5 Terminologi “secara paksa” (forcibly) tidak dibatasi pada paksaan secara fisik, melainkan juga mencakupi ancaman paksaan atau tekanan, semisal yang disebabkan oleh rasa takut akan tindakan kekerasan,penyekapan, penahanan, serangan psikologis atau penyalahgunaan wewenang. Pasal 7 Kejahatan terhadap Kemanusiaan 1. Untuk keperluan Statuta ini, “kejahatan terhadap kemanusiaan” berarti salah satu dari perbuatan berikut ini apabila dilakukan sebagai bagian dari serangan meluas atau sistematik yang ditujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil, dan kelompok penduduk sipil tersebut mengetahui akan terjadinya serangan itu: (a) Pembunuhan; (b) Pemusnahan; (c) Perbudakan; (d) Deportasi atau pemindahan paksa penduduk; (e) Pemenjaraan atau perampasan berat atas kebebasan fisik dengan melanggar aturan-aturan dasar hukum internasional; (f) Penyiksaan; 9 (g) Perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi, penghamilan paksa, pemaksaan sterilisasi, atau suatu bentuk kekerasan seksual lain yang cukup berat; (h) Penganiayaan terhadap suatu kelompok yang dapat diidentifikasi atau kolektivitas atas dasar politik, ras, nasional, etnis, budaya, agama, gender sebagai didefinisikan dalam ayat 3, atau atas dasar lain yang secara universal diakui sebagai tidak diizinkan berdasarkan hukum internasional, yang berhubungan dengan setiap perbuatan yang dimaksud dalam ayat ini atau setiap kejahatan yang berada dalam jurisdiksi Mahkamah; (i) Penghilangan paksa; (j) Kejahatan apartheid; (k) Perbuatan tak manusiawi lain dengan sifat sama yang secara sengaja menyebabkan penderitaan berat, atau luka serius terhadap badan atau mental atau kesehatan fisik. 2. Untuk keperluan ayat 1: (a) “Serangan yang ditujukan terhadap suatu kelompok penduduk sipil” berarti serangkaian perbuatan yang mencakup pelaksanaan berganda dari perbuatan yang dimaksud dalam ayat 1 terhadap kelompok penduduk sipil, sesuai dengan atau sebagai kelanjutan dari kebijakan Negara atau organisasi untuk melakukan serangan tersebut; (b) “Pemusnahan” mencakup ditimbulkannya secara sengaja pada kondisi kehidupan, antara lain dihilangkannya akses kepada pangan dan obat-obatan, yang diperhitungkan akan membawa kehancuran terhadap sebagian penduduk. (c) “Perbudakan” berarti pelaksanaan dari setiap atau semua kekuasaan yang melekat pada hak kepemilikan atas seseorang dan termasuk dilaksanakannya kekuasaan tersebut dalam perdagangan manusia, khususnya orang perempuan dan anak-anak; (d) “Deportasi atau pemindahan penduduk secara paksa” berarti perpindahan orang-orang yang bersangkutan secara paksa dengan pengusiran atau perbuatan pemaksaan lainnya dari daerah di mana mereka hidup secara sah, tanpa alasan yang diperbolehkan berdasarkan hukum internasional; (e) “Penyiksaan” berarti ditimbulkannya secara sengaja rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik fisik atupun mental, terhadap seseorang yang ditahan atau dibawah penguasaan tertuduh; kecuali kalau siksaan itu tidak 10 termasuk rasa sakit atau penderitaan yang timbul hanya dari, yang melekat pada atau sebagai akibat dari, sanksi yang sah; (f) “Penghamilan paksa” berarti penahanan tidak sah, terhadap seorang perempuan yang secara paksa dibuat hamil, dengan maksud mempengaruhi komposisi etnis dari suatu kelompok penduduk atau melaksanakan suatu pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Definisi ini betapapun juga tidak dapat ditafsirkan sebagai mempengaruhi hukum nasional yang berkaitan dengan kehamilan; (g) “Penganiayaan” berarti perampasan secara sengaja dan kejam terhadap hakhak dasar yang bertentangan dengan hukum internasional dengan alasan identitas kelompok atau kolektivitas tersebut; (h) “Kejahatan apartheid” berarti perbuatan tidak manusiawi dengan sifat yang sama dengan sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat 1, yang dilakukan dalam konteks suatu rezim kelembagaan berupa penindasan dan dominasi sistematik oleh satu kelompok rasial atas suatu kelompok atau kelompok-kelompok ras lain dan dilakukan dengan maksud untuk mempertahankan rezim itu. (i) “Penghilangan paksa” berarti penangkapan, penahanan atau penyekapan orangorang oleh, atau dengan kewenangan, dukungan atau persetujuan diam-diam dari, suatu Negara atau suatu organisasi politik, yang diikuti oleh penolakan untuk mengakui perampasan kebebasan itu atau untuk memberi informasi tentang nasib atau keberadaan orang-orang tersebut, dengan maksud untuk memindahkan mereka dari perlindungan hukum untuk suatu kurun waktu yang lama. 3. Untuk keperluan Statuta ini, dimengerti bahwa istilah “gender” mengacu kepada dua jenis kelamin, lelaki dan perempuan, dalam konteks masyarakat. Istilah “gender” tidak memperlihatkan suatu arti yang berbeda dengan yang di atas. Pasal 8 Kejahatan Perang 1. Mahkamah mempunyai jurisdiksi berkenaan dengan kejahatan perang pada khususnya apabila dilakukan sebagai bagian dari suatu rencana atau kebijakan atau sebagai bagian dari suatu pelaksanaan secara besar-besaran dari kejahatan tersebut. 2. Untuk keperluan Statuta ini, “kejahatan perang” berarti: 11 (a) Pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa tertanggal 12 Agustus 1949, yaitu masing-masing dari perbuatan berikut ini terhadap orang-orang atau hakmilik yang dilindungi berdasarkan ketentuan Konvensi Jenewa yang bersangkutan: (i) Pembunuhan yang dilakukan dengan sadar; (ii) Penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi, termasuk percobaan biologis; (iii) Secara sadar menyebabkan penderitaan berat, atau luka serius terhadap badan atau kesehatan; (iv) Perusakan meluas dan perampasan hak-milik, yang tidak dibenarkan oleh kebutuhan militer dan dilakukan secara tidak sah dan tanpa alasan; (v) Memaksa seorang tawanan perang atau orang lain yang dilindungi untuk berdinas dalam pasukan dari suatu Angkatan Perang lawan; (vi) Secara sadar merampas hak-hak seorang tawanan perang atau orang lain yang dilindungi atas pengadilan yang jujur dan adil; (vii) Deportasi tidak sah atau pemindahan atau penahanan tidak sah; (viii) Menahan sandera. (b) Pelanggaran serius lain terhadap hukum dan kebiasaan yang dapat diterapkan dalam sengketa bersenjata internasional, dalam rangka hukum internasional yang ditetapkan, yaitu salah satu perbuatan-perbuatan berikut ini: (i) Secara sengaja melancarkan serangan terhadap sekelompok penduduk sipil atau terhadap setiap orang sipil yang tidak ikut serta secara langsung dalam pertikaian itu; (ii) Secara sengaja melakukan serangan terhadap objek-objek sipil, yaitu, objek yang bukan merupakan sasaran militer; (iii) Secara sengaja melakukan serangan terhadap personil, instalasi, material, satuan atau kendaraan yang terlibat dalam suatu bantuan kemanusiaan atau misi penjaga perdamaian sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, sejauh bahwa mereka berhak atas perlindungan yang diberikan kepada objekobjek sipil berdasarkan hukum internasional mengenai sengketa bersenjata; (iv) Secara sengaja melancarkan suatu serangan dengan mengetahui bahwaserangan tersebut akan menyebabkan kerugian insidentil terhadap kehidupan atau kerugian terhadap orang-orang sipil atau kerusakan terhadap objek-objek sipil atau kerusakan yang meluas, berjangka-panjang dan berat terhadap lingkungan alam yang jelas-jelas terlalu besar dalam kaitan dengan keunggulan militer keseluruhan secara konkret dan 12 langsung dan yang dapat diantisipasi; (v) Menyerang atau membom, dengan sarana apa pun, kota-kota, desa, perumahan atau gedung yang tidak dipertahankan atau bukan objek militer; (vi) Membunuh atau melukai seorang lawan yang, setelah meletakkan senjata atau tidak mempunyai sarana pertahanan lagi, telah menyerahkan diri atas kemauannya sendiri; (vii) Memanfaatkan secara tidak benar bendera gencatan senjata, atau bendera atau lencana dan seragam militer dari pihak lawan atau milik Perserikatan Bangsa-Bangsa, maupun tanda-tanda khusus dari Konvensi Jenewa, yang menyebabkan kematian atau luka-luka serius pada individu-individu tertentu; (viii) Pemindahan, secara langsung atau tidak langsung, oleh Pasukan Pendudukan terhadap sebagian dari penduduk sipilnya sendiri ke wilayah yang didudukinya, atau deportasi atau pemindahan semua atau sebagian dari wilayah yang diduduki itu baik di dalam wilayah itu sendiri maupun ke luar wilayah tersebut; (ix) Secara sengaja melakukan serangan terhadap gedung-gedung yang digunakan untuk tujuan-tujuan keagamaan, pendidikan, kesenian, keilmuan atau sosial, monumen bersejarah, rumah sakit dan tempat-tempat di mana orangorang sakit dan terluka dikumpulkan, sejauh bahwa tempat tersebut bukan objek militer; (x) Membuat orang-orang yang berada dalam kekuasaan suatu pihak yang bermusuhan menjadi sasaran perusakan fisik atau percobaan medis atau ilmiah dari berbagai jenis yang tidak dapat dibenarkan oleh perawatan medis, gigi atau rumah sakit dari orang yang bersangkutan ataupun yang dilakukan tidak demi kepentingannya, dan yang menyebabkan kematian atau sangat membahayakan kesehatan orang atau orang-orang tersebut; (xi) Membunuh atau melukai secara curang orang-orang yang termasuk pada bangsa atau angkatan perang lawan; (xii) Menyatakan bahwa tidak akan diberikan tempat tinggal bagi para tawanan; (xiii) Menghancurkan atau merampas hak-milik lawan kecuali kalau penghancuran atau perampasan tersebut dituntut oleh kebutuhan perang yang tak dapat dihindarkan; (xiv) Menyatakan penghapusan, penangguhan atau tidak dapat diterimanya dalam suatu pengadilan hak-hak dan tindakan warga negara dari pihak lawan; 13 (xv) Memaksa warga negara dari pihak yang bemusuhan untuk ambil bagian dalam operasi perang yang ditujukan terhadap negaranya sendiri, bahkan kalau mereka berada dalam dinas lawan sebelum dimulainya perang; (xvi) Menjarah kota atau tempat, bahkan apabila tempat tersebut dikuasai lewat serangan; (xvii) Menggunakan racun atau senjata yang dibubuhi racun; (xviii) Menggunakan gas yang menyesakkan napas, beracun atau lain-lain dan semua cairan, bahan atau peralatan yang serupa; (xix) Menggunakan peluru yang melebar atau menjadi rata dengan mudah didalam badan seseorang, seperti misalnya peluru dengan selongsong keras yang tidak seluruhnya menutupi intinya atau yang ditusuk dengan torehan; (xx) Menggunakan senjata, proyektil dan material serta metode peperangan yang merupakan suatu sifat yang dapat menimbulkan kerugian yang luar biasa besar atau penderitaan yang tidak perlu atau yang secara hakiki tidak pandang bulu dengan melanggar hukum internasional mengenai sengketa bersenjata dengan syarat bahwa senjata, proyektil dan material serta metode peperangan tersebut merupakan masalah pokok dari suatularangan menyeluruh dan dimasukkan dalam lampiran kepada Statuta ini,dan dengan amendemen yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan relevan yang diatur dalam pasal 121 dan 123; (xxi) Melakukan kebiadaban terhadap martabat pribadi, terutama perlakuan yang mempermalukan dan merendahkan martabat manusia; (xxii) Melakukan perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi, kehamilan paksa, sebagaimana didefinisikan dalam pasal 7, ayat 2(f), sterilisasi yang dipaksakan, atau suatu bentuk kekerasan seksual lain yang juga merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa; (xxiii) Menggunakan kehadiran seorang sipil dan orang lain yang dilindungi untuk menjadikan beberapa tempat, daerah atau pasukan militer tertentu kebal terhadap operasi militer; (xxiv) Secara sengaja menujukan serangan terhadap gedung, material, satuan dan angkutan serta personil medis yang menggunakan lencana yang jelas dari Konvensi Jenewa sesuai dengan hukum internasional; (xxv) Secara sengaja menggunakan kelaparan orang-orang sipil sebagai suatu metode peperangan dengan memisahkan mereka dari objek-objek yang sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka, termasuk secara sadar menghambat pengiriman bantuan sebagaimana ditetapkan berdasarkan Konvensi Jenewa; 14 (xxvi) Menetapkan wajib militer atau mendaftar anak-anak di bawah umur lima belas tahun ke dalam angkatan bersenjata nasional atau menggunakan mereka untuk berpartisipasi secara aktif dalam pertikaian. (c) Dalam hal suatu sengketa bersenjata yang bukan merupakan suatu persoalan internasional, pelanggaran serius terhadap pasal 3 yang umum bagi empat Konvensi Jenewa tertanggal 12 Agustus 1949, yaitu, salah satu dari perbuatan berikut ini yang dilakukan terhadap orang-orang yang tidak ambil bagian aktif dalam pertikaian, termasuk para anggota angkatan bersenjata yang telah meletakkan senjata mereka dan orang-orang yang ditempatkan di luar pertempuran karena menderita sakit, luka, ditahan atau suatu sebab lain: (i) Kekerasan terhadap kehidupan dan orang, khususnya pembunuhan dari segala jenis, pemotongan anggota tubuh (mutilasi), perlakuan kejam dan penyiksaan; (ii) Melakukan kebiadaban terhadap martabat orang, khususnya perlakuan yang mempermalukan dan merendahkan martabat; (iii) Menahan sandera; (iv) Dijatuhkannya hukuman dan dilaksanakannya hukuman mati tanpa keputusan yang dijatuhkan oleh suatu pengadilan yang ditetapkan secara reguler, yang menanggung semua jaminan hukum yang pada umumnya diakui sebagai tak terelakkan. (d) Ayat 2 (c) berlaku bagi sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional dan dengan demikian tidak berlaku bagi keadaan-keadaan kekacauan dan ketegangan dalam negeri, seperti misalnya huru-hara, tindakan kekerasan secara terpisah dan sporadis atau perbuatan-perbuatan lain yang sama sifatnya. (e) Pelanggaran serius lain terhadap hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional, dalam rangka hukum internasional yang ditetapkan, yaitu salah satu dari perbuatan-perbuatan berikut ini: (i) Secara sengaja melakukan serangan terhadap penduduk sipil atau terhadap masing-masing penduduk sipil yang tidak ikut serta secara langsung dalam pertikaian; (ii) Secara sengaja melakukan serangan terhadap gedung, material, satuan dan angkutan serta personil medis yang menggunakan lencana Konvensi Jenewa sesuai dengan hukum internasional; 15 (iii) Secara sengaja melakukan serangan terhadap personil, instalasi, material, satuan atau kendaraan yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan atau misi penjaga perdamaian sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa sepanjang mereka berhak atas perlindungan yang diberikan kepada orang-orang dan objek-objek sipil berdasarkan hukum perang; (iv) Secara sengaja melakukan serangan terhadap gedung-gedung yang digunakan untuk keperluan keagamaan, pendidikan, kesenian, keilmuan atau sosial, monumen bersejarah, rumah sakit dan tempat-tempat di mana orang-orang yang sakit dikumpulkan, dengan syarat bahwa hal-hal tersebut bukan sasaran militer; (v) Menjarah suatu kota atau tempat, sekalipun tempat itu dikuasai lewat serangan; (vi) Melakukan perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi, kehamilan paksa, sebagaimana ditetapkan dalam pasal 7, ayat 2(f), sterilisasi yang dipaksakan, dan suatu bentuk lain kekerasan seksual yang juga merupakan pelanggaran serius terhadap pasal 3 yang umum bagi empat Konvensi Jenewa; (vii) Memberlakukan wajib militer atau mendaftar anak-anak di bawah umur lima belas tahun ke dalam angkatan bersenjata atau menggunakannya untuk ikut serta secara aktif dalam pertikaian; (viii) Mengatur perpindahan penduduk sipil dengan alasan yang berkaitan dengan sengketa, kecuali kalau keamanan orang-orang sipil tersebut terancam atau alasan militer yang amat penting menuntutnya; (ix) Membunuh atau melukai secara curang seorang lawan tempur; (x) Menyatakan bahwa tidak akan diberikan tempat tinggal kepada tawanan; (xi) Menempatkan orang-orang yang berkuasa dari pihak lain dalam sengketa itu sebagai sasaran mutilasi atau pemotongan anggota tubuh secara fisik atau percobaan medis atau suatu jenis percobaan ilmiah yang tidak dapat dibenarkan oleh perlakuan medis, perawatan gigi atau rumah sakit dari orang yang bersangkutan ataupun tidak melaksanakan demi kepentingannya, dan yang menyebabkan kematian atau menimbulkan bahaya serius terhadap kesehatan dari orang atau orang-orang tersebut; (xii) Menghancurkan atau merampas hak milik dari seorang lawan kecuali kalau penghancuran atau perampasan tersebut sangat dituntut oleh kebutuhan dari sengketa tersebut; 16 (f) Ayat 2(e) berlaku untuk sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional dan dengan demikian tidak berlaku bagi situasi-situasi kekacauan dan ketegangan dalam negeri, seperti misalnya huru-hara, tindakan kekerasan secara terpisah dan sporadis atau perbuatan-perbuatan lain dengan sifat yang sama. Ayat ini berlaku terhadap sengketa bersenjata yang berlangung dalam wilayah suatu Negara apabila terjadi sengketa bersenjata yang berkelanjutan antara para pejabat pemerintah dan kelompok bersenjata terorganisasi atau antara kelompok-kelompok semacam itu. 3. Tidak ada dalam ayat 2(c) dan (d) akan mempengaruhi tanggung jawab suatu Pemerintah untuk mempertahankan atau menetapkan kembali hukum dan ketertiban dalam Negara atau untuk mempertahankan kesatuan dan integritas teritorial dari Negara tersebut, dengan semua sarana yang sah. B. ICC sebagai Order Analisis mengenai order yang digunakan untuk membedah fenomena pembentukan ICC merupakan hasil pemikiran dan pengembangan dari Hedley Bull, seorang guru besar hubungan internasional pada London School Economics dan Political Science, dalam bukunya The Anarchical Society: A Study of Order in World Politics yang diterbitkan pada 1977. Kedudukan ICC dalam masyarakat internasional adalah sebagai international order. Hal ini terlihat dari tujuan dari international order, yaitu mewujudkan tujuan-tujuan dari masyarakat internasional yang bersifat mendasar, utama dan universal terdiri dari menjaga rasa aman para anggotanya dari kekerasan yang sewenang-wenang dengan membatasi kekerasan (menggambarkan jaminan penghormatan HAM dan penegakan hukum), pentaatan terhadap perjanjian (menggambarkan prinsip resiprositas), dan jaminan penghormatan terhadap hak milik (mengambarkan prinsip pengakuan terhadap kedaulatan negara). International order muncul ketika sekelompok negara memiliki tujuan bersama (common interest) membentuk masyarakat internasional. Mereka menyusun sendiri aturan-aturan (rules) yang mengikat mereka dalam berhubungan antara satu dengan yang lain. Dalam kasus ini, pembentukan ICC adalah order dalam masyarakat internasional. 17 ICC dianggap sebagai sebuah order karena dibentuk oleh masyarakat internasional. Tujuannya, sebagai sarana penegakan hukum internasional dan penghormatan terhadap HAM serta pencegahan praktek impunity terhadap pelanggaran HAM berat oleh aktor negara-bangsa. Common interest atau tujuan bersama sehingga negara-negara dunia membentuk sebuah masyarakat internasional untuk membahas permasalahan yang menjadi concern mereka, dalam hal ini adalah penegakan hukum internasional, penghormatan terhadap HAM serta pencegahan impunity terhadap pelanggaran HAM berat. Konferensi Diplomatik PBB dalam rangka membentuk ICC di Roma, Italia, yang berhasil mengadopsi Statuta ICC merupakan pengejawantahan dari common interest masyarakat internasional. Perihal rules, kepentingan bersama tidaklah lengkap bila tidak ada suatu guidance untuk mengatur perilaku negara sebagai anggota masyarakat internasional. Rules tersebut harus memiliki jangkauan luas dan menikmati status sebagai hukum internasional. Pengadopsian Rome Statute for International Criminal Court pada Konferensi Diplomatik PBB tersebut adalah rules yang mengatur perilaku negara sebagai anggota masyarakat melalui mekanisme ratifikasi sehingga negara terikat ketentuan-ketentuan dalam Statuta ICC. Sedangkan institutions, anggota masyarakat internasional adalah negaranegara berdaulat yang tentunya mereka memiliki tanggungjawab atas efektifitas aturan yang mereka buat sendiri dan untuk merealisasikan tujuan-tujuan mereka. Dengan kata lain, negara adalah institutions utama dalam masyarakat internasional. Selain memiliki fungsi untuk merealisasikan tujuan, juga memiliki fungsi perlindungan (protection) terhadap rules dengan cara berkolaborasi dengan sesama anggota masyarakat internasional. Dengan menggunakan institutions of international society--yang terdiri dari perimbangan kekuatan (balance of power), hukum internasional, mekanisme diplomatik, sistem manajerial dari kekuatan besar (great power) dan perang-tidak bermaksud mencabut peran negara dalam menjalankan fungsi politiknya. 18 Akan tetapi, merupakan seperangkat kebiasaan dan praktek yang dibentuk agar mampu merealisasikan tujuan-tujuan bersama. Dari kesemuanya itu, hukum internasional merupakan pilihan dari masyarakat internasional dalam rangka melindungi dan merealisasikan tujuantujuan mereka. C. Pengaruh ICC Sebagai International Order Kedudukan ICC sebagai international order memiliki pengaruh terhadap pelanggaran HAM berat (gross violations of human rights). Pertama, pengaruh ICC terhadap hukum nasional. Berdasarkan asas inherent (otomatis) dari ICC, negara-negara yang telah menjadi pihak dalam Statuta ICC tidak memerlukan perangkat tambahan seperti undang-undang untuk menyatakan dirinya telah terikat. Namun, beberapa negara memilih mekanisme konstitusional mereka untuk meratifikasi Statuta ICC. Berbagai cara dilakukan oleh negara-negara tersebut untuk menjadikan ketentuan dalam Statuta ICC tidak bertentangan dengan konstitusi negara mereka--baik dengan cara melakukan amandemen konstitusi hingga melakukan pengadopsian ketentuan statuta dalam bentuk undang-undang nasional-sehingga setelah proses tersebut, Statuta ICC yang merupakan ketentuan hukum internasional menjadi bagian dari hukum nasional. Kedua, sekalipun ICC tidak dapat menerapkan yurisdiksinya kepada negara nonpihak (non state parties), secara nyata juga memiliki pengaruh. Negara nonpihak dapat bekerjasama dengan ICC dalam beberapa hal yang tercantum dalam ketentuan Pasal 12 Statuta ICC, yaitu bila pelanggaran HAM berat tersebut terjadi di atas kapal laut atau pesawat terbang yang didaftarkan atas nama negara nonpihak itu. Juga apabila pelaku pelanggaran HAM berat adalah warga negaranya. Cara lain adalah melalui mekanisme yang dilakukan oleh DK PBB, di mana dapat melakukan pelimpahan wewenang kepada ICC bila satu atau lebih kejahatan yang tercantum dalam statuta telah terjadi. Karena, pelimpahan itu merupakan wewenang DK PBB yang bersifat mengikat dan dapat dipaksakan atas seluruh 19 negara dan pelaksaan yurisdiksi mahkamah menjadi bagian dari wewenang tersebut. Contoh nyata bahwa ICC memiliki pengaruh besar bagi negara nonpihak adalah ketika Amerika Serikat (AS) menolak untuk bekerjasama dalam upaya menjaga perdamaian melalui peace keeping operation jika ICC tidak memberikan kekebalan kepada pasukan perdamaian asal AS. Ini merupakan buntut dari ketidaksetujuan AS terhadap ICC. Persoalan ini diakhiri dengan kompromi melalui Resolusi DK PBB Nomor 1422 (2002). Intinya, DK PBB meminta ICC untuk menunda penyelidikan dan penuntutan selama 12 bulan dan permintaan itu dapat diperbarui. Proposal yang diajukan AS, yang mengutip ketentuan Pasal 16 Statuta ICC, mendapatkan kecaman dari negara-negara dan LSM internasional yang mendukung ICC. Pernyataan yang tegas datang dari Kanada. DK PBB tidak berhak melakukan interpretasi terhadap Statuta ICC dan ICC yang memiliki legal personalities tersendiri belum memiliki hubungan dengan PBB yang disahkan melalui perjanjian. Kompromi itu dapat menjadi preseden buruk bagi perkembangan ICC di masa yang akan datang sebagai lembaga peradilan yang bersifat independent dan impartial. Selain itu, dengan keberadaan ICC, para pemimpin atau penguasa harus berpikir panjang untuk membuat sebuah kebijakan atau melakukan tindakan yang dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat. Tujuan pembentukan ICC adalah menghentikan praktek impunity terhadap pelaku pelanggaran HAM berat yang sering kali dilakukan oleh aktor negara-bangsa. Mereka tidak dapat berlindung dibalik ketentuan nasional karena pelaku pelanggaran HAM berat musuh umat manusia. Adalah kewajiban masyarakat internasional untuk mengejar menangkap, menahan, mengadili, serta menghukum mereka. Karenanya, dapat dikatakan bahwa ICC memiliki pengaruh sebagai penangkal (deterrent) terhadap praktek pelanggaran HAM berat. 20 Pada dasarnya, kehadiran ICC merupakan missing link setelah terbentuknya International Court of Justice (ICJ) yang hanya memiliki kewenangan terhadap perkara dengan negara sebagai subyeknya. Tetapi yang terpenting adalah kehadiran ICC merupakan bentuk perlawanan terhadap dominasi negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat, dalam menyikapi isu pelanggaran HAM berat (gross violations of human rights). D. Raksi Internasional Amerika Serikat (AS) mempunyai kepentingan tersendiri dalam perdamaian Sudan. Jika perang tetap berlanjut, maka akses dan eksploitasi minyak yang menjanjikan di selatan akan terhambat dan dengan demikian mengancam kepentingan perusahaan AS. Untuk merespon ancaman terhadap kepentingan nasional AS pada 1990an, pemerintahan Clinton menjatuhkan sanksi berupa isolasi kepada Sudan dalam berbagai forum internasional . Selain itu AS juga mengupayakan pemberian sanksi di luar PBB seperti boikot terhadap minyak Sudan dan pembatasan akses kapal minyak Sudan di pelabuhan AS dan Eropa karena resistensi China terhadap sanksi PBB yang dimotori AS. Sanksi yang diberikan ternyata malah semakin memperpanjang perang dan gagal memperbaiki keadaan. Kegagalan ini berusaha diperbaiki melalui pemerintahan Bush dengan mengirim Senator Danforth untuk menjadi mediator di Sudan. Selain mengusahakan perdamaian antara utara-selatan, Danforth juga mencari dukungan untuk penyelesaian konflik Sudan ke negara-negara tetangga dan negara donor seperti Mesir, Kenya, Inggris, Norwegia, Belanda, Swiss, Italia dan Kanada. Namun usaha Danforth ini gagal karena resistensi oleh penduduk lokal. PBB membantu penyelesaian krisis Sudan melalui pemerian bantuan USAID serta membentuk Disaster Assistance Response Team (DART) untuk Darfur walaupun sempat ditunda oleh pemerintah Sudan. Selain itu PBB juga mengeluarkan Resolusi 1564 yang isinya tentang pemberian sanksi ekonomi pada pemerintah Khartoum jika tidak mau bekerja sama. Namun sanksi ini malah semakin memperlemah pertahanan Darfur untuk melindungi penduduk sipil. China menguasai 40 % sektor perminyakan Sudan . Selama ini China selalu menentang pemberian sanksi PBB kepada Sudan. Sanksi yang dijatuhkan AS dan PBB malah semakin memperkuat hubungan China-Sudan, terbukti dengan pengalihan ekspor Sudan menjadi 60 % ke China dan sisanya ke negara-negara 21 Asia lainnya. Selain itu, sanksi yang dijatuhkan juga hanya memperkuat gerakan anti Barat yang didengungkan oleh beberapa negara Liga Arab. Dalam pandangan China, sanksi apapun yang dijatuhkan pada Sudan dilihat sebagai perang terhadap kepentingan nasional China, mengingat arti penting minyak Sudan bagi China dan oleh karena itu memperburuk hubungan AS-China. E. Analisis Geopolitik. Dalam teorinya, The Managerial Revolution, James Burnham menjelaskan apa yang ia sebut sebagai perubahan kontrol dunia oleh negaranegara industri – dalam hal ini Jerman, Jepang dan Amerika Serikat (AS) mengantikan kontrol ideologis oleh komunisme dan liberalisme . Karena kontrol kini dipegang oleh negara-negara industri dimana negara-negara ini mempunyai kebutuhan akan sumber energi yang semakin tinggi, maka bisa dipahami bahwa minyak kemudian menjadi komoditas strategis bagi semua negara-bangsa, menggantikan rempah-rempah yang pada abad pertengahan menjadi tujuan utama penerapan strategi geopolitik negara-bangsa melalui imperialisme dan kolonialisme. Sebenarnya persediaan minyak saat ini cukup untuk memenuhi permintaan dunia, tetapi berbagai krisis di ladang minyak seperti Badai Ivan di teluk Meksiko, kekerasan antar etnis di Nigeria, instabilitas politik di Venezuela, produksi minyak yang tidak dimaksimalkan di Irak, dan perkembangan sektor energi Rusia yang lambat membuat banyak pihak merasa harus memastikan kebutuhan minyaknya tercukupi dengan cara mencari sumber lain. Dalam pemikiran geopolitik klasik, Mackinder menyebut Eurasia sebagai bagian penting pusat dunia . Siapa pun yang menguasai wilayah ini akan menguasai dunia. Oleh karena itu, AS meyakini bahwa pusat kompetisi geopolitik ada di Eurasia, meliputi kawasan Teluk Persia dan Laut Kaspia yang mengandung 70 persen cadangan minyak dunia . Teoriteori inilah yang menuntun para pembuat kebijakan AS dan China untuk ‘beramai-ramai’ mencondongkan kebijakan luar negerinya ke Sudan yang berbatasan langsung dengan Teluk Persia. Apalagi berbagai data telah menunjukkan potensi eksplorasi minyak Sudan yang luar biasa. Produksi minyak Sudan mendapat prioritas eksploitasi the Western Upper Nile (WUN), yang diprediksikan mengandung cadangan 600 juta-1 miliar barrel.Produksi tiap harinya mencapai 230.000-250.000 barrel tiap harinya . Dari 22 data US Energy Information Administration, produksi minyak Sudan mencapai 98.523 ribu barrel tiap tahunnya dan menempati peringkat 35 negara penghasil minyak terbesar dunia. Saya pribadi cenderung pesimis dengan perdamaian Sudan. Selama negara ini masih menjadi arena perebutan kekuasaan negaranegara industri, perdamaian Sudan akan sulit untuk diwujudkan. 4. Analisa Masalah; 1. Sesuai dengan kewajiban negara menurut CAT, maka perlu ditambahkan ketentuan yang memuat prinsip-prinsip : a. Non-derogable (Art. 2 (2) b. No-superior order principle (Art. 2 (3) c. Non-refoulment (Art. 2) d. Punishable under national law (Art. 4) e. Yurisdiksi universal dan extradiksi (Art. 5) f. Menahan pelaku dan menyelidiki (Art. 6) g. Mengadili pelaku jika tidak diekstradisi (Art. 7) h. Extraditable (Art. 8) i. Kerjasama antar negara dalam penegakan (Art. 9) j. Penyelidikan segera yang independen dan tidak memihak (Art. 12) k. Hak korban untuk mengadu (Art. 13) l. Hak korban atas ganti rugi dan kompensasi (Art. 14) m. Keterangan hasil penyiksaan tidak boleh digunakan di pengadilan (Art. 15) n. Pencegahan perlakuan/penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat (Art. 16). Dalam hal ini ada pendekatan HAM yang dikatakan Panel sangat dibutuhkan yaitu : 1. Participation : Sumber-sumber di pemerintahan Sudan mengatakan, negara mereka kemungkinan akan meminta bantuan China, Rusia dan Afrika di PBB untuk menolak surat penangkapan terhadap Bashir. Khartoum juga meminta Liga Arab membahas masalah ini. 23 2. Aconutabiltas:Pertanggung jawaban dari hasil tuntutan jaksa Moreno Ocampo dapat diterima oleh semua pihak baik baik korban maupun terdakwa,agar tidak terjadi diskriminasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. 3. Non–discrimination: Mahkamah pidana Internasional (ICC) seharusnya bersikarp netral dalam menyikapi konflik di Sudan, semua elemn masyarakat yang bertikai harus dilibatkan termasuk Presiden omar Bashir,tentara, keluarga korban dan lain-lain.jangan sampai ini merupakan pembunuhan karakter (caracter assasins) bagi presiden Bashir sendiri karena rakyat Sudan sebagian besar masih mendukung beliau. Harus diingat ketika ICC sebagai lembaga independent, seharusnya tidak mendapatkan tekanan dari berbagai pihak, termasuk dari pihak yang telah meratifikasi ICC sendiri, termasuk tekanan dari Dunia Barat yang dimotori oleh Amerika. 4. Empowerment: Kami sedang mengupayakan mediasi dengan semua saluran diplomatik kami untuk mendapatkan dukungan dalam menghentikan apa yang dilakukan ICC, " kata utusan Sudan di Liga Arab, Abdul Moneim Mabrouk.Selain itu Peranan Organisasi Regional Menyikapi Konflik Sudan African Union (AU) berperan sebagai fasilitator dan pengawas dialog antara SLA/JEM dengan pemerintah. Organisasi ini juga menempatkan ribuan pasukan dari Rwanda, Gabon dan Nigeria untuk mengawasi gencatan senjata di Darfur. Mandat yang dimiliki AU ternyata sangat terbatas, baik dari segi jumlah pasukan, finansial maupun kekuatan bersenjata sehingga gencatan senjata juga tidak efektif. Hanya sebagian kecil pelanggaran yang dilaporkan kepada Joint Comission dan konflik pun semakin berkembang. Pada September 2004 setelah PBB memperluas misinya di AU dan memberikan sanksi pada pemerintah Sudan untuk menekannya, barulah pemerintah Sudan menyetujui perluasan misi AU walaupun kemudian mereka menolak proposal AU tentang perlindungan pada penduduk sipil dan upaya peacekeeping. The Inter-Governmental Authority for Development (IGAD) -organisasi regional yang mengusahakan kooperasi dan perkembangan- membentuk komisi mediasi dengan dua organ yaitu konferensi tingkat 24 tinggi yang dihadiri oleh kepala negara dari Ethiopia, Eritrea, Kenya dan Uganda, serta standing committee yang terdiri dari para mediator. Pembicaraan yang dilakukan kemudian menghasilkan Declaration of Principles (DOP) yang isinya antara lain diberikannya hak penentuan nasib sendiri dengan menjunjung tinggi kesatuan, pemerintahan sekulerisme, demokrasi multi partai dan penghargaan atas nilai HAM namun ditolak oleh NIF pemerintah pusat. 5. Linkage to Human Rights: Konflik Darfur terjadi antara kelompok etnis bersenjata yang memberontak pada pemerintahan Khartoum yang didominasi Arab. Kelompok etnis itu memberontak karena merasa diperlakukan diskriminatif oleh pemerintah. Konflik itu menyebabkan dua juta orang mengungsi dan diklaim sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Hal ini berhubungan erat dengan hak Hidup, Hak anak,Hak perempuan, hak bagi para pengungsi dan lain-lain Dampak Krisis Sudan Terhadap Keamanan Regional dan Internasional Krisis Sudan telah mempengaruhi keamanan wilayah tetangganya, baik langsung maupun tak langsung. Saat konflik berlangsung, gerakan para pemberontak juga mengancam keamanan daerah perbatasan seperti Kenya, Mesir, Ethiopia, Uganda, Chad dan Libya serta menjadikan daerah-daerah itu rawan serangan teroris dan perdagangan senjata ilegal. Seperti yang dijelaskan dalam trickle down effect, bila ada satu negara dalam regional yang bergolak maka keamanan seluruh region itu pun juga tidak stabil. Negara-negara inilah yang kemudian melakukan operasi pengawasan gencatan senjata di di wilayah selatan atas nama African Union. Selain menimbulkan masalah keamanan, pengungsi Sudan juga memunculkan masalah baru bagi negara yang menjadi kamp pengungsian sementara. Laporan PBB pada tahun 2005 menyebutkan bahwa lebih dari 2 juta orang telah menempati kamp pengungsian di wilayah Chad . Jumlah itu belum termasuk pengungsi yang tersebar di daerah lain. Bagi dunia internasional, konflik Sudan merupakan ancaman penurunan cadangan minyak dunia mengingat 25 wilayahnya yang diperkirakan mengandung 600 juta-1 miliar barrel cadangan minyak mentah 5. Kesimpulan Kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang diatur dalam Statuta Roma, karena memerlukan proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan disusunnya unsur-unsur kejahatan dan tanggung jawab komandan serta hukum acara tersendiri. Rumusan kejahatan-kejahatan perlu penyempurnaan, bahkan untuk penyiksaan ditempatkan pada bagian yang lain. Rumusan penyiksaan cukup memadai, namun harus juga diatur tentang “perbuatan atau perlakuan lain yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat”. 6. Saran Kedepannya, untuk penjahat perang seharusnya tidak harus mendapatkan impunitas dari negaranya sendiri termasuk Presiden Sudan yaitu Omar Hassan Al-Bashir,selain itu ICC sebagai lembaga independent seharusnya tidak memberikan pengecualian kepada orang yang dianggap melakukan kejahatan perang (Genosida) walaupun dalam kenyataan negara Sudan sendiri belum meratifikasi ICC. ICC sebagai lembaga independent diharapkan tidak mendapatkan tekanan dari negara Barat dalam pengambilan keputusan mengani pemidanaan. Seharusnya ada willing and leable dari dalam negeri Sudan sendiri dalam pembentukan pengadilan HAM untuk menghindari ICC masuk dan memanggil Presiden Bashir, hal ini pernah terjadi ketika indoenesia akhirnya meembentuk UU No 26 tehun 2000 tentang pengadilan HAM, untuk menghidari pemanggilan penjahat kemanusiaan seperti ;kasus tanjung Priok,Kasus Talangsari, Kasus Semanggi, dan terakhir kasus Munir. Daftar Pustaka 26 Dagne, Ted.2005.Sudan: Humanitarian Crisis, Peace Talks,Terrorism, and U.S. Policy.pdf. Congressional Research Service-The Library of Congress. Kejahatan Serius terhadap Hak Asasi Manusia (Serious Crimes against Human Rights) Morrison, Dr. J. Stephen.2002.Implementing U.S. Policy in Sudan. Washinton DC:CSIS Morrison, Dr. J. Stephen.2001.Introduction: The CSIS Task Force on U.S.-Sudan Policy.PDF. Washinton DC:CSIS Skorupski, Sarah.2004.Sudan’s Energy Sector: Implementing the Wealth- Sharing Agreement. Washington DC:CSIS Prof. Dr. Muladi. S.H; Peradilan Hak Asasi Manusia dalam konteks Nasional dan Internasional Ratifikasi Mahkamah Pidana Internasional (ICC) Dan Penegakan Keadilan Di Indonesia.Suatu Analisis Mengenai Order dalam Hubungan Intrenasional. Short, J.R,1993,An Introduction to Political Geography,London:Routledge “Sudan.” Microsoft Student 2008. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007. Swilla,Nelly.The Threat of International Sanctions on Sudan’s Oil Sector. Washinton DC:CSIS Tuathail, Gearóid and Dalby, Simon (eds),2008,Rethinking Geopolitics,London:Routledge 27