this PDF file

advertisement
Aspek Hukum Korporasi dalam Perjanjian
Keagenan dan Distributor
Suradiyanto
Universitas MulawannanKalimantan Timur
Abstract: Business transaction in a company or corporation could happened in a few form on each form
having its own arrangementmodel. Arrangementof distributorand agentonly one of the businesstransac­
tion model. Company agent practicallyoften compared to distributorfrequently,though between both
differentfrom law terms facet. Company agent usually interpreted as a law terms where someone ghiing
power to agent for and on behalf of principalfull power do business transactionwith third party (con­
sumer). Principal full power will be in control of actions done by agent, as long as passed to authority
boundary to it. While distributor action for and on behalf of alone. All law action related to business is
distributor responsibility itself.
Keywords: Law Corporation, Agent, Distributor
Suatu perusahaan atau badan bukum yang biasa
disebut korporasi tentunya akan selaJu berusaha dan
berupaya untuk mengembangkan usahanya. Salah satu
cara yang sering ditempuh adalah melakukan perda­
gangan atau perniagaan. Perdagangan atau perniaga­
an adalah pekerjaan mernbeli barang dari suatu
tempat atau pada suatu wak:tu dan menjuaJ barang
itu di tempat Jain atau pada waktu yang berikut dengan
maksud memperoleh keuntungan.
Dalam jaman yang modern ini perdagangan
adalah pemberian perantaraan kepada produsen dan
konsumen untuk membelikan dan menjualkaan
barang­barang yang memudahkan dan rnemajukan­
pembelian dan penjualan itu. Adapun pemberiaan
perantaraan kepada produsen dan konsumen itu
meliputi aneka macam pekerjaan seperti misalnya:
a) pekerjaan orang perantaraan sebagai makelar, ko­
misioner, pedagang­pedagang keliling dan sebagainya;
b) pembentukan badan­badan usaha (asosiasi­
asosiasi), seperti: perseroan terbatas (PT), perseroan
firma (VOF = Fa), perseroan kornanditer, dan
Alamat Korespondensi;
Suradiyanto, Universitas Mulawarman Kalimantan
Timur, HP. 08123575333
..
­ ­~·­
'•'.
.'•
.•
:.~.
,~ ..... ~·­i. . ­·
••
•!'!.
sebagainya guna memajukan perdagangan, c) pe­
ngangkutan untuk kepentingan lalu lintas niaga, baik
di darat di laut maupun di udara; d) pertanggungan
(asuransi) yang berhubungan dengan pengangkutan,
supaya si pedagang dapat menutup risiko pengang­
kulan dengan asuransi; e) peramaraan bankir unruk
mcmbelanjai perdagangan; f) mempergunakan surar
perniagaan (wesel..cek daan aksep) untukmelakukan
pembayaran dengan cara yang mudah dan untuk
memperoleb kredit.
PERUSAHAAN ATAU KORPORASI DAN
PEKERJAANTETAP
Perusahaan (bedrijj) atau sering disebut korpo­
rasi adalah suatu pengertian ekonomis yang banyak
dipakai dalam KUHD. Seseorang yang mempunyai
sebuah perusahaan disebut "pengusaha".
Walaupun dalam KUHD dipergunakan istilah
"perusahaan" namun KURD sendiri tidaklah mem­
berikan penafsiran resmi (penafsiran autentik) tentang
perusahaan. Pihak pembentuk undang­undang dalarn
hal ini berkehendak menyerabkan penetapan
pengertian tentang "perusahaan" kepada doktrin
(dunia keilmuan danyurisprudensi).
Berdasarkan definisi yang diberikan Molengraaff
dalam Kansil (2002) dapat disimpulkan bahwa suatu
Aspck llukum Korporasi
1l:1la1•1 Perjunjian
"'.t•:ig~nan dan Distributur
perusahaan/korporasi harus mempunya.i unsur­unsur:
a) terus menerus atau tidak putus­putus; br.secara
terang­terangan (karena berhubungan.dengargpihak
ketiga) c) dalam kualitas tertentu (katena­dalam
lapangan perniagaan; d) menyerahkan barang­barang,
e) mengadakan perjanjian­perjanjian perdagangan;
harus bermaksud memperoleh laba,
Jadi,jelaslah bahwa seseorang baru dapat clikata­
kan menjalankan suatu perusahaan apabila iadengan
teratur dan terang­terangan bertindak keluar dalam
pekerjaan tertentu untuk memperoleh keuntungan
dengan suatu cara, dimana ia menurut imbalan lebib
banyakmempergunakan modal daripada mernpergu­
nakan tenaganya sendirL
Perkataan perusahaan atau korporasi atau badan
hukum digunakan sebagai lawan dari perkataan
pekerjaan tetap (beroep). Seseorang mempunyai
suatu beroep apabila ia untuk mencari penghidupan­
nya sehari­hari bekerja terutama dengan tenaganya
sendiri.
Walaupun ada seseorang yang terus-menerus
dan untuk keuntungan sendiri bertindak kelnar dengan
berbuat jasa terhadap masyarakat, rnaka belumlah
selalu akan terdapat suatu perusahaan.
Apabila jasa­jasa seseorang terutama ditinjau
dari segi kedudukannya atau sifat pekerjaan­nya
sebagai pegawai atau apabilajasa­jasa itu diberikan
tidak untuk mencapa.i tujuanfinanciel, maka tak dapat
kita berbicara tentang ia menjalankan suatu perusa­
haan. DaJam hubungan ini mungkin juga seseorang
memakai sekedar modal tetapi yang penting ialah
tenaganya.
Dengan demikian, maka dapatlah dikatakan, bah­
wa seorang dokter pengacara, dosen, akuntan, arsitek
daan scbagainyaa mereka itu menjalankan suatu
pekerjaan tetap. Akan tetapi seorang pemilik toko,
pemilik hotel, pemilik pabrik, pengangkutan dan
apoteker mereka itu menjalankan suatu perusahaan.
Tirtaamidjaja, SH dalam Kansil (2002) berpendapat
bahwa beroep itu lebih Juas dari pengertian perusa­
haan.
Pengertian pekerjaan tetap lebih luas daripada
pengertian perusahaan, karena itu perusahaan adalah
suatu pekerjaan tetap, sedangkan tidak setiap
pekerjaan tetap adalah perusahaan dalam arti menge­
jar keuntungan pribadi.
lERAh'.RF.DIT\SI
s1,
um.II:.::'\
r>IK fl
xo,
KEAGENAN DAN DISTRIBUTOR
Menurut pasal l angka l RUU Keperantaraan
adalah perjanjian anrara seorang perantara, penerima
tugas yang mengikatkan diri kepada prinsipal, pemberi
tugas untuk melakukan pekerjaan atau jasa untuk
kepentingan prinsipal.
Penyebutan istilah memberikan tugas kepada
orang lain untuk melakukan suatu pekerjaan akan
memberikan kesan akan adanya hubungan kerja
dalam perjanjian kerja. Selain itu keperantaraan yang
dimaksud dala RUU ini adalah keperataraan dalam
bidang pemiagaan, sehingga istilah pekerjaan akan
berkaiatan dengan menjalankan pekerjaan padahal
yang dimaksud adalah menjalankan perusahaan.
Sehubungan dengan istilah tersebut RUU tidak
konsisten dalam menggunakan suatu istilah. Terka­
dang pasal­pasal RUU menyebutkan kewajiban pihak
perantara adalah untuk melakukan atau mengadakan
perikatan dengan pihak ketiga. Namun terkadang
digunakanjugajuga istilah melaksanakan tugas dan
pekerjaan. Kewajiban pihak perantara itu Jebih tepat
dirumuskan untukmelakukan perjanjian dengan pihak
ketiga bukan melakukan perikatan (Khairandy.
1999).
DISTRIBUTOR DALAM PERDAGANGAN
Seorang pedagang terutama seorang yang menja­
lankan perusahaan yang besar biasanya tidak dapat
bekerja sendiri. Dalam melaksanakan perusahaannya
ia mernerlukan bantuan orang­orang yang bekerja
padanya sebaga.i orang bawahan, ataupun orang yang
berdiri sendiri dan mempunya.i perusahaan sendiri clan
yang mempunyai perhubungan tetap ataupun tidak
tetap dengan dia.
Sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan
yang demikian pesat dewasa ini pengusaha­pengusaha
kebanyakan tidak lagi berusahaseorang diri, melain­
kan bersatu dalam persekutuan­persekutuan atau
perseroan­perseroan yang menempati gedung­gedung
untuk kantornya dengan sedikit atau banyak pegawai.
Orang lalu membedakan antara perusahaan kecil
(yang rnempunyai 1­5 pekerja). Perusahaan sedang
(jumlah pekerja 5­50 orang) dan perusahaan besar
(lebih dari SO orang pekerja).
Pada tiap­tiap toko dapat dilihat aneka wama
pekerja­pekerja seperti para penjual, penerima uang,
·BIDll\ 1111,1:.:1•12ous
ISS:\: l<t'JJ­52­11
Surncli~ nnto
pengepak, pembungkus barang­barang dan sebagai­
nya. Antara mereka itu sudah kelihatan adanya pem­
bagian pekerjaan, sebab seorang saja tidak dapat
rnelakukan seluruh pekerjaan dalam toko itu.
Dalam ruangan dari sebuah toko misalnya akan
tarnpak kesibukan­kesibukan para pekerja melayani
para pembeli : ada yang hanya menulis bon saja, ada
yang mengantarkan barang­barang untuk dibungkus,
ada yang khusus membungkus barang­barang, ada
yang menerima uang kassa, ada yangmenjaga pintu
dan sepeda di luar dan lain­lain.
Di sini bekerja pemegang buku, pengetik, pengu­
rus pemesanan barang, mengurus pergudangaan,
pengurus kepegawaian, dan sebagainya. Kesemuanya
mereka itu seorang demi seorang pada tempatnya
masing­masing dapatlah dianggap sebagai pengganti
penguasa itu sendiri yang bertindak sebagai wakilnya
dalam hubungan dengan dunia luar atau dengan pihak
ketiga. Mereka itu semua adalah perantara.
Mereka itu adalab orang­orang perantara yang
termasuk dalam lingkungan perusahaan itu sendiri.
Mereka ini menurut Prof. Sukardono dalam Kansil
(2002) tergolong dalarn golongan pelayan­pelayan
perniagaan: atau pekerja­pekerja perniagaan
(Haldelsbedien­den). Termasukjuga dalarn golong­
an pekerja­pekerja perniagaan di dalam lingkungan
perusahaan ialah a) pernirnpin perusahaan (manager),
b) pemegang prokurasi tprocuratie houder atau
general agent), pedagang keliling (commercial trav­
eller). Di samping itu, terdapat pula golongan peran­
tara yang bekerja di luar lingkungan perusahaan,
seperti: a) agen perniagaan (commercial agent): b)
makelar (broker); c) komisioner (factor); d)
pengusaha bank (Kansil, dkk., 7002).
Hal senadajuga disampaikano1ehPoerwosutjipto,
(1995:43), bahwa dalam perusahaan tentu ada
pembantu­pembantu perusahaan, Dalam hal ini ia juga
rnembaginya menjadi dua jenis yaitu: I) pembantu­
pembantu dalam perusahaan, misalnya pelayan toko,
pekerja keliling, pengurus filia, pemegang prokurasi
dan pimpinan perusahaan dan 2) pembanru­pembantu
di luar perusahaan misalnya agen pcrusahaan, penga­
cara, notaris, makelar dan komisioner.
Pelayanan toko adalah setiap orang yangrnem­
berikan pelayanan membantu pengusahadi toko untuk
menjalankan perusahannya. Sedangkan pekerja
keliling adalah orang yang membantu pengusaha
ll'RNAL\PU"·\SI
:\I.\ '\.\Jl:::\ll:'\ I \'0Ll1!\IE81
dengan bekerja keliling di luar toko atau perusahaan
dengan maksud untuk mempromosikan barang
dagangan kepada pihak ketiga. Pengurus filial adalah
pemegang kuasa yang mewakili pengusaha untuk
menjalankan perusahaan dengan mengelola satu
cabang perusahaan yang meliputi suaru daerah
tertentu. Pemegangprokulasi adalah pemegang kuasa
dari pengusaha untuk mengelola suatu bagian atau
bidang tertentu dari perusahaan. dan pimpinan peru­
sahaan adalah pemegang kuasa untuk menjalankan
perusahaan dari pemilik modal. Jika pemilik modal
itu sendiri yang menjalankan perusahaan atau sebagai
pimpinan perusahaan, pimpinan perusahaan ini tidak
termasuk pembantu dalam perusahaan (Asyhadie, Z.,
2005).
Sedangkan untuk agen perusahaan dan distribu­
tor Asyhadie, Z. (2005) menyatakan bahwa agen
perusahaan dalam praktik sering kali disarnakan
dengan distributor, padahal di antara keduanya
berbeda dari segi hubungan hukum.
Agen perusahaan atau keagenen biasanya
diartikan sebagai suatu hubungan hukum dimana
seseorang (badan usaha) memberikan kuasa kepada
agen untuk dan atas nama pernbcri kuasa melakukan
transaksi bisnis dengan pihak ketiga (konsumen).
Pemberi kuasa akan bertanggungjawab atas tindakantindakan yang dilakukan oleh agen, sepanjang batas
wewenang yang diberikan kepadanya. Dengan
demikian, jika si agen melakukan tindakan di luar
batas kewenangan, hal tersebut tidak akan rnenjadi
tanggungjawab pemberi kuasa. Sedangkan distribu­
tor bertindak untuk clan atas namanya sendiri. Segala
tinda.kanhukum yang berkaitan dengan bisnis adalah
tanggungjawab distributor sendiri, sementara badan
usaha tidak bertanggung jawab karena hubungaan
hukumnyaadalahhubungan bisnis biasa.
Kansil, dkk. (2002) juga menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan agen pemiagaan ialab orang
yang mempunyai perusahaan untuk mem berikan pe­
rantara pada pembuatan persetujuan tertentu, misal­
nya persetujuanjual beli antara pihak ketiga dengan
seorang principal, dengan siapa ia mernpunyai hubung­
an tetap atau juga pekerjaan menurut persetujuan­
persetujuan seperti itu atas nama dan untuk principal­
nya itu.
NO:\lOI{ I I PE:BRl'AIU 2UIU
Aspl'I• Hukurn Korporuvi dulum Pcrjanjian
Kl':IJ!~nan dun Ulstrihutor
Perusahaan dari agen perniagaan itu disebut
ageutur sedangkan persetujuan antara agen perniaga­
an dan principal­nya dinamakan agentuur contract.
Menurut Prof Sukardono dalam Kansil (2002)
pada pokoknya apabiladitinjau dari sudut pemberian
perantaraan maka pedagang berkeliling tak berbeda
dengan seorang agen pemiagaan yangj uga menghu­
bungkan pengusaha dengan pihak ketiga, akan tetapi
pedagang keliling itu berada dalam ikatan perburuhan
dengan maj ikannya, sedangkan agen perniagaan itu
sebagai perantara berdiri sendiri (biasanya) terhadap
beberpa pengusaha dengan mana ia tak terikat karena
perjanjian perburuhan, melainkan perjanjian untuk
melakukan pekerjaan ievereenkomst tot het
verrichten van enkel e diensteni dari pasal 160 l
KUH per.
Perusahaan­perusahaan
yang besar biasanya
mempunyai banyak pedagang­pedagang berkeliling
(penjaja). Golongan perantara ini adalah orang yang
bekerja pada pengusaha dan memberikaan perantara­
nya pada pembuatan persetujuan tertentu, misalnya
mengadakan j ual beli barang­barang antara maj ikannya itu dan orang­orang lain yang biasanya berkunj ungi
atas nama dan untuk majikan itu.
Mereka itu memelihara hubungan dengan para
pembel i, menerima order­order yang segera diberita­
hukannya kepada principal­nya (komitmen = yang
memberi perintah) untuk diselenggarakan dan ber­
usaha untukmemperluas daerah penjualannya dengan
mengadakan hubungan­hubungan baru.
Mereka itu mendapat upah yang tidak tentu
besarnya (disebut provosi), tetapi kadang­kadangjuga
menerima gaji tetap, Menurut daerah bekerjanya,
pedagang keliling ini dapat dibedakan antara pedagang
berkeliiing kota, daiam negeri dan luar negeri.
Mengenai pedagang keliling timbul soal bukum
sampai dimanakah ia diberi kekuasaan bertindak
dengan pihak ketiga. Persoalan ini adalah rnengenai
boleh tidaknya ia menerima pembayaran dari pembeli,
kepada siapa si pedagang keliling telah menjual
barang­barang untuk keperluan majikannya, sedang­
kan telah ada pemegang prokurasi yang bertindak
sebagai pembantu utama dari pengusaha.
Hal ini berhubungan erat dengan isi perjanjian
pemberian kuasa (perjanjian Lastgeving) antara
majikan dan ;.~megang kuasa.
PerjanjiahLastgevingtidak diatur dalam KUHD
tetapi diatur dalam Bab 16 Kitab ill KUH Per, yang
dalam peraturan mana dinyatakan, bahwa pemegang
kuasa (tasthebber) karena perbuatan-perbuatan
hukum yang dilakukannya selalu mengikat pihak pem­
beri kuasa (lastgever = majikan), asal saja pada
umurnnya pihak pemegang kuasa tak melampaui
batas kuasa yang diberikan oleh pemberi kuasa
kepadanya.
Apabila pembatasan kuasa ini dilampaui, maka
mungkin pemberi kuasa masih terikat,j ika si pemberi
kuasa dengan nyata­nyata atau dengan diam­diam
meneguhkan perbuatan si pemegang kuasa (vide
Pasal t807 KUH per).
Asas ini hanya dapat dilaksanakan dengan
bantuanjasa lainnya yakni bahwasi pemegang kuasa
tersebut dalam segala tindakan bukumnya dengan
pihak­pihak ketiga selalu bertindak atas n.ama si
pemberi kuasa. Jadi pibak pemegang kuasa secara
formal mewakili pihak pemberi kuasa terhadap pihak­
pihak ketiga itu.
Singkatnya, perjanjian pemberian kuasa yang
diatur dalam Bab 16 Kitab ill KUH Per selalu rne­
muat unsur perwakilan ( volmacht) kepada pemegang
kuasa bagi pemberi kuasa.
Menurut Pasal 1799 KVH Per ditegaskan, bah­
wa pemberi kuasa dapat langsung menggugat pihak
ketiga dengan siapa pihak pemegang kuasa meng­
adakan perhubungan hukum.
Asas perwakilan dari KUH Per tersebut dapat
dipakai untuk para pekerja perniagaan tersebut di atas
(termasuk pedagang berkeliling), karena mereka
bertindak atas nama penguasa, bahkan dapat juga
dipakai untuk agen perniagaan yang bukan orang
bawahan dari pengusaha. Asas perwakilan ini tidak
berlaku bagi seorang komosioner yang bertindak bagi
kepentingannya pemberi kuasa (komitmen), tetapi
dalam kenyataan kehidupan hukum sehari­hari ia
bertindak atas namanya sendiri.
Adapun pekerjaan perniagaan yang tersebut di
atas mempunyai hubungan dengan pihak maj ikannya
adalah dalam ikatan perjanj ian perburuhan yang diatur
dalam Bab 7 A Kitab ill KUH Per. Sifat rnutlak dari
perjanjian tersebutsudah dalam hubungan subordinasi
antara pekerja/buruh terhadap majikan. Walaupun
pekerja­pekerja perniagaan ini berada di bawah
majikannya, tetapi dalam Bab 7 A tersebut diberi
e.. '.''!··.-
TEKHd{EDtT.\SI SI~ DIR.JF.'\ IJlh.11 '\0.4JiOIKI l/h.EP/2008
l~S'\: l~<JJ.:\241
-:· •.
-
Surudiv autu
peraturan­peraruran untuk mencegah perbuatan­
perbuatan kesewenangan dari pihak majikan.
Dengan demikian bedanya agen perniagaan
dengan pedagang keliling ialah bahwa agen pemig~
itu berdiri sendiri dan tidak berkedudukan sebagai
pekerja terhadap principal­nya. Agen perniagaan
biasanya berkedudukan di suatu ternpat, dimana
sebuah perusahaan mempunyai relasi sedernikiaan
banyaknya, sehingga perlu untuk menunjuk seorang
yang setiap hari berhubungan langsung dengan
langganan­langganannya,
Agen perniagaan rnengusaha­kan kepentingan ­
kepentingaan perusahaan yang diwakilinya., sehingga
kadang­kadang ia mewakili beberapa perusahaan. Di
dalarn melakukan pelayanan itu tak boleh ia merugikan
kepentingan­kepentingan seora.ng pengusaha terhadap
pengusaha lain yang ia layani pula,
Seorang agen perniagaan di samping tugasnya
sebagai seorang perantara, juga berdagang untuk
kepentingan send iri, dalam hal ini ia dilarang bersaing
dengan pengusaha­pengusaha
(perusahaan­
perusahaan) yang diwakilinya itu. Ia bertindak atas
nama.pengusaha yang ia wakili daan tidak atas nama
sendiri (seperti balnya dengan komisioner).
Akhimya seorang agen pemiagaan itu meneri:ma
nrovisi untuk perantaraan yang diadakannya bagi prin­
cipal­nya itu yaangterdiri dari persentase tertentu dari
iumlah transaksi­transaksi yangdibuatoleh agen itu.
Baik pedagang berkeliling maupun agen perniagaan
tidak diatur dalam KillID, tetapi banyak terdapat
dalam praktek perniagaan sehari­hari, Sedangkan
distributor bertindak untuk dan atas namanya sendiri.
Segala tindakan hukum yang berkaitan dengan bisnis
adaJah tanggungjawab distributor.sendiri, sementara
badan usaha tidak bertanggungjawab karena
hubungan hukumnya adalah hubungan bisnis biasa.
Perusahaan yang bekerjasama dengannya tidak ber­
hak dan bertanggungjawab atas segala keuntungan
dan kerugian yang ditimbul. Karena segala keuntung­
an seratus persen milik distributor dan segala kerugian
yang timbul adalah merupakan risiko dari suatu usaha.
.II Hi\ \l :\PLIK\SI ,, \'\ \.IE\IE'.'IO I\ OU \IE
KESIMPULAN
Agen perusahaan atau keagenen biasanya diartikan sebagai suatu hubungan hukum di mana
seseorang (badan usaha) memberikan kuasa kepada
agen untuk dan atas nama pemberi kuasa melakukan
transaksi bisnis dengan pihak ketiga (konsumen).
Pemberi kuasa akan bertanggungjawab atas tindakan­
tindakan yang dilakukan oleh agen, sepanjang batas
wewenang yang diberikan kepadanya. Dengan
dernikian, jika si agen melakukan tindakan di luar
batas kewenangan, hal tersebut tidak akan menjadi
tanggungjawab pernberi kuasa. Sedangkan distribu­
tor bertindak untuk dan atas namanya sendiri. Segala
tindakan bukum yang berkaitan dengan bisnis adaJah
taaggungjawab distributor sendiri, sementara badan
usaha tidak bertanggung jawab karena hubungan
hukurnnya adaiah hubungan bisnis biasa.
DAFrARRUJUKAN
Asyhadie, Z. 2005. Hukum Bisnis, Prinsip dan Pelaksa­
naannyadi Indonesia. Jakarta: Penerbit Raja Grafindo
Perseda,
Kansil, C.S.T. 1991. Hukum Perusahaan Negara Indone­
sia J dan /I (Aspek Hukum Bisnis). Jakarta: Penerbit
Pradya Paramita.
Kansil, C.S.T., dan Christine, S.T.K. 2002. Pokok­pokok
Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia. Jakarta:
Penerbit Sinar Gratika.
Khairandy, R., dan Tabroni, M .• Arifuddin, E., Santosc, D.
1999. Pengantar Hukum Dagang Indonesia I,
Penerbit Kerjasama Pusat Studi Hukum Fakultas
Hukum Universitas Islam Indonesia (Ull) dengan
Gamamedia. Yogyakana.
Margene, S. 2000. Alternative Dispute Resolution dan
Arbitrasi: Proses Pelembagaan dan Aspek IIukum.
Jakarta: Ghalialndonesia.
Poerwosutj ipto. 199 5. Pengertian Pokok Hu/cum Dagang.
Pengetahuan Dasar Hukum Dagang. Jakarta:
Djambatan,
Rahayu, H. 2003. Aspek Hukum Bisnis, Cetakan Keempat.
Malang: UMM Press.
Riady, M. 1998. "Peranan Hu/cum dalam Era Ekonomi
Global', DalamJumalHukumBisnis, Volume4, Tahun
1998.
Sukardono, R. 2000. Hulum Dagcmg Indonesia] dan ll.
Tirtaamidjaja, M.H .. Pokok­Pokok Hukum Perniagaan
s I \O\IOI{
11 l'ERRl. \RI !OIU
Download