ANALISIS KARAKTERISTIK PERUSAHAAN, INDUSTRI, DAN

advertisement
ANALISIS KARAKTERISTIK PERUSAHAAN, INDUSTRI,
DAN EKONOMI MAKRO TERHADAP RETURN DAN BETA
SAHAM SYARIAH
(Studi Empiris Pada Kelompok Saham JII di Bursa Efek Indonesia)
Oleh :
Miftahul Ulum
NIM. 104081002508
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H / 2008 M
i
ANALISIS KARAKTERISTIK PERUSAHAAN, INDUSTRI,
DAN EKONOMI MAKRO TERHADAP RETURN DAN BETA
SAHAM SYARIAH
(Studi Empiris Pada Kelompok Saham JII di Bursa Efek Indonesia)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk Memenuhi Syarat-syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh :
Miftahul Ulum
NIM. 104081002508
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr. Ahmad Rodoni
NIP. 150 317 955
Arif Mufraini Lc.
NIP. 150 368 746
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H / 2008 M
ii
ANALISIS KARAKTERISTIK PERUSAHAAN, INDUSTRI,
DAN EKONOMI MAKRO TERHADAP RETURN DAN BETA
SAHAM SYARIAH
(Studi Empiris Pada Kelompok Saham JII di Bursa Efek Indonesia)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk Memenuhi Syarat-syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh :
Miftahul Ulum
NIM. 104081002508
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr. Ahmad Rodoni
NIP. 150 317 955
Arif Mufraini Lc.
NIP. 150 368 746
Penguji Ahli
Prof. Dr. Abdul Hamid, MS
NIP. 131 474 891
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H / 2008 M
iii
Hari ini Selasa Tanggal Sepuluh Juni Tahun Dua Ribu Delapan telah dilakukan
Ujian Komprehensif atas nama Miftahul Ulum NIM. 104081002508 dengan Judul
Skripsi
“ANALISIS
KARAKTERISTIK
PERUSAHAAN,
INDUSTRI, DAN EKONOMI MAKRO TERHADAP RETURN
DAN BETA SAHAM SYARIAH (Studi Empiris Pada Kelompok
Saham JII di Bursa Efek Indonesia)”. Memperhatikan kemampuan mahasiswa
tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan
Manajemen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 10 Juni 2008
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Prof. Dr. Ahmad Rodoni
Ketua
Indoyama Nasarudin, SE., MAB
Sekretaris
Prof. Dr. Abdul Hamid, MS
Penguji Ahli
iv
Moto
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya.”
(QS. Al Baqarah: 286)
“Bersungguh-sunggulah hari ini dan jangan gelisah atas apa yang akan terjadi
besok.”
“Tanamkan dalam setiap detik satu pujian, setiap menit satu gagasan, dan
setiap jam satu pekerjaan.”
“Sebuah sukses lahir bukan karena kebetulan atau keberuntungan semata.
Sebuah sukses terwujud karena diikhtiarkan melalui perencanaan yang matang,
keyakinan, kerja keras, keuletan dan niat baik.”
v
PERSEMBAHAN
Tak terlukis syukur hamba, Ya Allah,,,
Atas segala nikmat yang Engkau Anugerahkan
Disepanjang hidup hamba ini
Tercurah selalu shalawat dan salamku, Ya Nabiyallah,,,
Nabi Muhammad Shalallahu ’Alaihi Wassalam
Atas suri tauladanmu yang agung
Kumohon syafaatmu di yaumil akhir nanti
Dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat
Ku persembahkan sebuah karya kecil ini untuk
Bapak dan Almarhumah Ibunda tercinta
Terima kasih atas segala doa dan naungan kasih
Yang selama ini tercurah tanpa mengharap balas
Kakak dan adikku
Yang selama ini memberikan semangat dan kasih sayang
Hingga aku mampu menjalani semua ini
Bidadariku yang masih tersirat namanya
Yang akan menemani perjalanan hidupku kelak
Yang akan membawa kedamaian bagai semilir angin
Yang menyinari hidupku dengan cinta dan sayang karena Allah
Bagai bintang yang bersinar di malam hari
vi
MIFTAHUL ULUM
Telp./Hp. : 0856-8814331
Email : [email protected]
Identitas Diri
Alamat
Jenis Kelamin
TTL
Agama
: Jl. Kuningan No. 02 RT 004 RW 01 Cempaka Putih
Ciputat - Tangerang 15412
: Laki-laki
: Tangerang, 19 Desember 1986
: Islam
Pendidikan Formal
2004 – 2008
UIN Jakarta Fakultas Ekonomi Konsentrasi Manajemen
Keuangan
2001 – 2004
SMAN 47 Jakarta Selatan (Kelas III bidang studi IPA)
Pendidikan Informal
2007
Komputer Akuntansi Berbasis PSAK 27 IKOPIN
2006
Dikmen Koperasi Mahasiswa UIN Jakarta
2006
Diksar Koperasi Mahasiswa UIN Jakarta
2002 – 2003
Komputer Akuntansi di SMAN 47 Jakarta
Pengalaman Organisasi
2007 – 2008
Kepala Bidang Usaha Koperasi Mahasiswa UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
2007 – 2008
Divisi Litbang Komisariat Fakultas Ekonomi dan Saintek
Himpunan Mahasiswa Islam
2006 – 2008
Ketua Ikatan Remaja Masjid Ar-Rahmah Rempoa
2004 – 2006
Karang Taruna IRESA, sebagai wakil ketua
2002 – 2003
Divisi Kaderisasi ROHIS SMAN 47 Jakarta
Pengalaman Kerja
September – Oktober 2007, Magang pada unit Commercial Research
di PT. Garuda Indonesia
September 2007 – sekarang, Pengajar Privat Personal Al-Quran dan
Matematika SD & SLTP
Juni – Agustus 2008, Magang/Kerja pada unit Sosial di PT Asuransi
Kesehatan (Persero)
vii
ABSTRACT
The purpose of this study are to know the effect of variables of firm’s
characteristics, industry and macro economic on return and beta of syariah stock.
The sample of the study are firms listed in Jakarta Islamic Index in 2003– 2007.
Total sample is 40 firm sample.
According to regression test showed that firm’s characteristics, industry, and
macro economic variables have a significant effect to syariah stock return as a
debt to equity ratio; while earning per share, firm classification, rupiah exchange
value, and gross domestic bruto have a significant effect to syariah stock beta.
The most dominant variable to syariah stock return is debt to equity ratio
and the most dominant variable to syariah stock beta is gross domestic bruto.
The adjusted R squared syariah stock return is 11,3 percent. It’s indicate that
syariah stock return can be explained by firm’s characteristics, industry, and
macro economic at 11,3 percent, and 88,7 percent is explained by another
variables.
The adjusted R squared syariah stock beta at 21,4 percent. It’s indicate that
syariah stock beta can be explained by firm’s characteristics, industry, and macro
economic at 21,4 percent, and 78,6 percent is explained by another variables.
Keyword: firm characteristic, industry, macro economy, return and beta of
syariah stock
viii
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel
karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro terhadap return dan beta
saham syariah. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaanperusahaan yang tergolong dalam Jakarta Islamic Index pada tahun 2003 – 2007.
Total sampel adalah 40 perusahaan.
Berdasarkan hasil uji regresi ditemukan bahwa variabel karakteristik
perusahaan, industri, dan ekonomi makro yang berpengaruh secara signifikan
terhadap return saham syariah yaitu debt to equity ratio, sedangkan yang
mempunyai pengaruh signifikan terhadap beta saham syariah adalah earning per
share, jenis perusahaan, kurs rupiah terhadap dollar dan produk domestik bruto
(PDB).
Variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap return saham syariah
adalah debt to equity ratio dan terhadap beta saham syariah adalah produk
domestik bruto (PDB).
Nilai adjusted R squared (R2) atau tingkat koefisien determinasi variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro terhadap return
saham syariah adalah sebesar 11,3%. Hal ini menunjukkan bahwa variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro hanya dapat
menjelaskan sebesar 11,3% pada return saham syariah, sedangkan 88,7%
dijelaskan oleh variabel lain.
Nilai adjusted R squared (R2) atau tingkat koefisien determinasi variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro terhadap beta
saham syariah adalah sebesar 21,4%. Hal ini menunjukkan bahwa variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro hanya dapat
menjelaskan sebesar 21,4% pada beta saham syariah, sedangkan 78,6% dijelaskan
oleh variabel lain.
Kata kunci: Karakteristik Perusahaan, Industri, Ekonomi Makro, Return dan Beta
Saham Syariah.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
menganugerahkan karunia, rahmat, dan hidayah-Nya serta kesempatan sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “ANALISIS
KARAKTERISTIK PERUSAHAAN, INDUSTRI, DAN EKONOMI MAKRO
TERHADAP RETURN DAN BETA SAHAM SYARIAH : Studi Empiris Pada
Kelompok Saham JII di Bursa Efek Indonesia.” Shalawat serta salam semoga
senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya,
dan insya Allah kepada kita umatnya – semoga kita mendapat syafaat beliau di
hari kiamat nanti.
Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana
Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Jurusan Manajemen Peminatan
Keuangan dan Pasar Modal Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses
penyusunan skripsi ini, antara lain:
1. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni selaku Ketua Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial dan selaku dosen pembimbing I yang
telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis dan selalu
memotivasi penulis untuk selalu berjuang.
2. Bapak Arif Mufraini, Lc selaku pembimbing II terima kasih atas kesabaran
dan ketulusannya memberikan bimbingan, saran-saran dan dorongan agar
penulis dapat segera menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Drs. M. Faisal Badroen, MBA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Ilmu Sosial.
4. Seluruh dosen yang telah mendidik dan mengajarkan pernulis serta
memberikan ilmu yang bermanfaat selama masa perkuliahan. Karyawan
dan segenap civitas akademika Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
5. Orang Tua-ku tercinta atas doa yang tak pernah henti dan motivasi dalam
setiap aktivitas lewat dukungan moril maupun materil agar penulis
menjadi pribadi yang lebih baik.
x
6. Keluarga Besarku atas segala bentuk bantuan dan partisipasinya. Semoga
yang telah menikah menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah
dan mendapatkan keturunan yang sholeh washolehah. Bagi yang belum
menikah, semoga mendapatkan jodoh yang baik yaa!! Amiiin.
7. Keluarga Besar KOPMA UIN Syahid Jakarta, khususnya rekan-rekan
angkatan 2005 – 2008, semangat yaaa!!! Semoga ilmu yang kita dapat di
organisasi ini bermanfaat bagi kehidupan kita di masa mendatang.
8. Keluarga Besar Ikatan Remaja Masjid Ar-Rahmah, khususnya teman
seperjuangan angkatan 2006 – 2008. Semoga kita dapat selalu
memakmurkan ”rumah Allah” yaitu Masjid yang kita cintai. Insya Allah
perjuangan kita selalu memperoleh ridho dan rahmat-Nya. Amiin........
9. Sahabatku: Apri, Hendro, Lia, Cece, dan Titi. Semoga persahabatan ini
tidak mengenal kata akhir hingga malaikat maut menjemput kita.
10. Rekan-rekan Manajemen C dan Keuangan B, khususnya Sugih, Vivi, Arif
Robi, Iik, Oka, Santi, Rahman, Dodo, Dede dan rekan-rekan semua yang
tidak dapat disebutkan satu persatu di sini. Atas segala bentuk motivasi
dan doanya yang tiada kenal jemu. Semoga tali silaturahim yang telah
terjalin kian erat dan takkan pernah terputus.
11. Semua pihak yang telah terlibat dan tidak terukir namanya dalam karya
kecil ini, semoga tidak mengurangi rasa hormat penulis kepada kalian
semua.
Dengan kemampuan dan keterbatasan yang ada pada diri ini, penulis telah
berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan skripsi ini dengan sebaikbaiknya. Atas segala kerendahan hati penulis menerima saran dan kritik yang
dapat menjadikan skripsi ini lebih baik.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat
bagi semua pihak. Semoga Allah SWT melimpahkan berkah dan rahmat-Nya
kepada kita semua. Amin.
Jakarta,
Oktober 2008
Miftahul Ulum
xi
DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan ..............................................................................
ii
Halaman Motto .......................................................................................
v
Halaman Persembahan............................................................................
vi
Daftar Riwayat Hidup .............................................................................
vii
Abstract ..................................................................................................
viii
Abstrak ...................................................................................................
ix
Kata Pengantar........................................................................................
x
Daftar Isi.................................................................................................
xii
Daftar Tabel............................................................................................
xiv
Daftar Gambar ........................................................................................
xv
Daftar Lampiran......................................................................................
xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................
1
B. Perumusan Masalah...............................................................
8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..............................................
8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Investasi ................................................................................
10
B. Risiko Dalam Investasi ..........................................................
17
C. Investasi Dalam Perspektif Syariah........................................
22
D. Risiko Dalam Perspektif Syariah ...........................................
26
E. Pasar Modal Syariah..............................................................
28
1. Pengertian........................................................................
28
2. Instrumen Pasar Modal Syariah........................................
30
3. Saham Syariah .................................................................
31
F. Analisis Perusahaan...............................................................
32
G. Analisis Industri ....................................................................
34
H. Ekonomi Makro.....................................................................
37
1. Inflasi ..............................................................................
37
2. Kurs Rupiah Terhadap Dollar..........................................
40
xii
3. Produk Domestik Bruto ...................................................
42
I. Penelitian Terdahulu..............................................................
44
J. Kerangka Pemikiran ..............................................................
47
K. Hipotesis ...............................................................................
49
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian......................................................
50
B. Metode Penentuan Sampel.....................................................
50
C. Metode Pengumpulan Data....................................................
51
D. Metode Analisis.....................................................................
52
1. Model Analisis.................................................................
52
2. Uji Asumsi Klasik............................................................
53
3. Regresi ............................................................................
54
4. Pengujian Hipotesis .........................................................
56
E. Operasional Variabel .............................................................
58
1. Dependen Variabel ..........................................................
58
2. Independen Variabel ........................................................
59
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian........................................
61
1. Sejarah Bursa Efek Indonesia...........................................
61
2. Visi dan Misi Bursa Efek Indonesia .................................
68
B. Hasil dan Pembahasan ...........................................................
69
1. Pengujian Asumsi Klasik .................................................
69
2. Hasil Penelitian................................................................
82
BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
A. Kesimpulan ...........................................................................
99
B. Implikasi ............................................................................... 100
Daftar Pustaka ........................................................................................ 102
Lampiran ................................................................................................ 105
xiii
DAFTAR TABEL
Nomor
Keterangan
Halaman
4.1
Hasil Uji Multikolinieritas (Return Saham) ......................
72
4.2
Hasil Autokorelasi (Return Saham)..................................
73
4.3
Hasil Uji Multikolinieritas (Beta Saham) .........................
78
4.4
Hasil Uji Autokorelasi Pada Saat Masih Ada
Outlier (Beta Saham) .......................................................
4.5
79
Hasil Uji Autokorelasi Setelah Tidak Ada Outlier
(Beta Saham) ...................................................................
80
4.6
Hasil Analisis Deskriptif ..................................................
83
4.7
Hasil Uji Frequency Jenis dan Ukuran Industri ................
85
4.8
Hasil Uji Regresi Linier Berganda (Return Saham) ..........
87
4.9
Hasil Uji Regresi Linier Berganda (Beta Saham) .............
87
4.10
Hasil Pengujian Regresi Parsial........................................
94
4.11
Hasil Pengujian Regresi Simultan ....................................
96
xiv
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Keterangan
Halaman
2.1
Kerangka Pemikiran .......................................................
4.1
Hasil Uji Normalitas Pada Saat Masih Ada Outlier
(Return Saham)................................................................
4.2
71
Hasil Uji Heteroskedastisitas Pada Saat Masih Ada
Outlier (Return Saham)....................................................
4.4
70
Hasil Uji Normalitas Setelah Tidak Ada Outlier
(Return Saham)................................................................
4.3
48
74
Hasil Uji Heteroskedastisitas Setelah Tidak Ada
Outlier (Returm Saham) ...................................................
75
4.5
Hasil Uji Normalitas (Beta Saham) ..................................
77
4.6
Hasil Uji Heteroskedastisitas Pada Saat Masih Ada
Ouutlier (Beta Saham) .....................................................
4.7
81
Hasil Uji Heteroskedastisitas Setelah Tidak Ada
Outlier (Beta Saham) .......................................................
xv
82
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Keterangan
Halaman
1
Hasil Pengujian Regresi ................................................... 105
2
Data Return Saham JII ..................................................... 110
3
Data Beta Saham JII ........................................................ 112
4
Data Nilai Earning Per Share .......................................... 114
5
Data Nilai Debt To Equity Ratio ...................................... 116
6
Data Nilai Return On Equity ............................................ 118
7
Data Jenis Perusahaan JII................................................. 120
8
Data Ukuran Perusahaan JII ............................................. 122
9
Data Inflasi ...................................................................... 124
10
Data Kurs Rupiah Terhadao Dollar.................................. 126
11
Data Produk Domestik Bruto ........................................... 128
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah suatu dien yang menyeluruh dan universal. Menyeluruh
artinya syariah Islam telah merangkum seluruh aspek kehidupan manusia, baik
masalah ritual (ibadah) dan sosial (muamalah). Manusia memerlukan ibadah
untuk menjaga hubungannya dengan sang Khalik, menjaga kondisi
ruhaniahnya agar selalu ingat mengenai tugas sebagai khalifah fil ardh.
Sementara itu, Islam juga tidak melupakan fitrah manusia sebagai makhluk
sosial yang membutuhkan bermasyarakat dalam kehidupannya. Sementara
makna universal, artinya Islam merupakan dien yang akan selalu dapat
diterapkan untuk segala waktu dan di semua tempat sampai hari akhir nanti.
Karena itu, Islam seharusnya dijadikan sebagai suatu way of life yang
membimbing manusia agar dapat selamat di dunia dan akhirat.
Universalitas Islam tampak jelas dalam bidang muamalah. Dalam hal ini,
Islam menganut kaidah fiqih yang menyatakan bahwa “hukum asal sesuatu
adalah diperbolehkan, kecuali ada dalil yang melarangnya”. Di bidang
muamalah, syariah hanya memberikan petunjuk dan prinsip yang sifatnya
umum dan mendasar. Hal-hal yang rinci, lebih detail, dan bersifat teknis, tidak
diatur melainkan diserahkan kepada manusia melalui praktek ijtihad.
Rasulullah telah bersabda, “Antum a’lamu bi umuuri dunyakum” kalian lebih
xvii
mengetahui urusan dunia kalian. Sehingga maumalah merupakan hal yang
fleksibel, berkembang sesuai dengan perubahan waktu dan perbedaan tempat.
Salah satu hal yang sangat penting dalam perekonomian adalah
bagaimana cara mekanisme aliran dana, agar dana di masyarakat dapat
berputar dan tidak hanya terkonsentrasi pada sekelompok orang saja sehingga
dapat menyentuh sektor-sektor ekonomi yamg produktif. Untuk itu,
diperlukan sebuah lembaga yang dapat menjadi perantara antara financial
surplus dengan financial deficit. Salah satu institusi yang dapat menjalankan
fungsi ini adalah pasar modal. Yang dimaksud dengan financial surplus
adalah pihak yang memiliki kelebihan dana yang dapat diinvestasikan guna
memperoleh keuntungan. Sementara yang dimaksud dengan financial deficit
adalah pihak yang membutuhkan tambahan modal untuk meningkatkan
kapasitas produksinya. Sehingga dalam suatu perekonomian modern,
keberadaan pasar modal adalah mutlak diperlukan. Oleh karena itu, sejalan
dengan semakin majunya dan berkembangnya ekonomi syariah, maka
pengembangan pasar modal syariah perlu mendapat perhatian yang lebih
besar.
Perkembangan pasar modal syariah menunjukkan kemajuan seiring
dengan meningkatnya indeks yang ditunjukkan dalam Jakarta Islamic Index.
(JII). Peningkatan indeks pada JII walaupun nilainya tidak sebesar pada Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) tetapi kenaikan secara prosentase indeks pada
JII lebih besar dari IHSG. Hal ini dikarenakan adanya konsep halal, berkah
dan bertambah pada pasar modal syariah yang memperdagangkan saham
xviii
syariah. Pasar modal syariah menggunakan prinsip, prosedur, asumsi,
instrumentasi, dan aplikasi bersumber dari nilai epistemologi Islam.
Perdagangan beberapa jenis sekuritas, baik pada pasar modal
konvensional maupun pasar modal syariah mempunyai tingkat return dan
risiko yang berbeda. Saham merupakan salah satu sekuritas diantara sekuritassekuritas lainnya yang mempunyai tingkat risiko yang tinggi. Risiko tinggi
tercermin dari ketidakpastian return yang akan diterima oleh investor di masa
datang. Hal ini sejalan dengan definisi investasi menurut Sharpe (1995) bahwa
investasi merupakan komitmen dana dengan jumlah yang pasti untuk
mendapatkan return yang tidak pasti di masa depan. Dengan demikian, ada
dua aspek yang melekat dalam suatu investasi, yaitu return yang diharapkan
dan risiko tidak tercapainya return yang diharapkan. Return dan risiko secara
teoritis pada berbagai sekuritas mempunyai hubungan yang positif. Semakin
besar return yang diharapkan diterima, maka semakin besar risiko yang akan
diperoleh, begitu pula sebaliknya. Return dan risiko yang tinggi pada saham
berhubungan dengan kondisi karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi
makro.
Return dari sekuritas merupakan tingkat pengembalian yang diharapkan
oleh investor dalam bentuk kenaikan atau penurunan nilai saham dan dividen.
Risiko dari sekuritas berupa risiko spesifik dan risiko sistematik. Risiko
spesifik dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang baik. Risiko
sistematik tidak dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio yang baik,
dikarenakan risiko tersebut terjadi di luar perusahaan. Risiko sistematik juga
xix
disebut dengan beta karena beta merupakan pengukur dari risiko sistematik.
Untuk mengukur risiko digunakan koefisien beta. Beta suatu sekuritas
merupakan hal yang penting untuk menganalisis sekuritas atau portofolio.
Beta suatu sekuritas menunjukkan kepekaan tingkat keuntungan suatu
sekuritas terhadap perubahan-perubahan pasar.
Penelitian-penelitian dengan obyek pasar modal syariah atau pasar
modal yang berpegang pada konsep syariah di Indonesia tidak banyak
dilakukan. Begitu pula, penelitian-penelitian yang menggunakan variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro juga jarang
dilakukan oleh beberapa peneliti dengan obyek pasar modal syariah.
Penelitian dengan obyek pasar modal syariah dilakukan oleh Aruzzi dan Bandi
(2003) dalam Hamzah (2005). Tujuan penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana variabel tingkat suku bunga, rasio profitabilitas dan
beta akuntansi dapat mempengaruhi risiko sistematik atau beta saham syariah
yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
secara bersama-sama ataupun secara parsial pada periode pengamatan yang
diambil dalam penelitian tersebut. Adapun obyek yang diteliti adalah saham
perusahaan yang termasuk ke dalam JII dalam periode Januari 2001 –
Desember 2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama
maupun parsial variabel-variabel tingkat suku bunga, rasio profitabilitas dan
beta akuntansi tidak mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap beta
saham syariah. Koefisien determinasi adalah sebesar 7,1% ini berarti variabelvariabel tingkat suku bunga, rasio profitabilitas dan beta akuntansi hanya
xx
dapat menjelaskan beta saham syariah sebesar 7,1%, sedangkan 92,9%
dijelaskan oleh variabel-variabel lain.
Huda (2004) dalam Huda dan Nasution (2007:70), dalam penelitiannya
mengkaji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi beta saham pada
kelompok JII dan LQ-45, hasil penelitian antara lain menyatakan bahwa ratarata beta saham kelompok JII berada pada nilai di bawah satu yang berarti
mempunyai risiko di bawah risiko pasar, sebaliknya terjadi pada saham
kelompok LQ-45.
Hamzah (2005) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui
pengaruh variabel-variabel makro ekonomi, industri dan karakteristik
perusahaan terhadap beta saham syariah. Obyek yang diteliti adalah saham
perusahaan yang termasuk dalam JII periode Januari 2001 sampai Desember
2004 dengan jumlah sampel adalah sebanyak 120 perusahaan. Hasil pengujian
dengan F-test menunjukkan bahwa variabel-variabel makro ekonomi, industri
dan karakteristik perusahaan mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap
beta saham syariah. Nilai koefisien determinasi sebesar 51,8%. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut dalam menjelaskan perubahan
beta saham syariah mempunyai hubungan dan pengaruh yang kuat. Hasil
pengujian dengan t-test menunjukkan pada variabel-variabel makro ekonomi
seperti kurs rupiah terhadap dollar dan Produk Domestik Bruto mempunyai
pengaruh signifikan pada level 5% terhadap beta saham syariah, sedangkan
pada variabel-variabel industri tidak mempunyai pengaruh signfikan terhadap
beta saham syariah dan pada variabel-variabel karakteristik perusahaan hanya
xxi
leverage dan profitabilitas yang mempunyai pengaruh signifikan pada level
10% terhadap beta saham syariah.
Sedangkan Auliyah dan Hamzah (2006) meneliti kembali penelitian
yang dilakukan oleh Hamzah (2005) dengan menambah variabel terikatnya
yaitu return saham. Selain itu, periode yang digunakan adalah Januari 2001
sampai Desember 2005 dengan jumlah sampel sebanyak 150 perusahaan.
Pengujian regresi secara linier berganda pada return saham syariah
menghasilkan F hitung sebesar 1,589 dengan tingkat signifikansi 11,6% dan
pada beta saham syariah menghasilkan F hitung sebesar 6,229 dengan tingkat
signifikansi 0%. Hal ini berarti variabel-variabel karakteristik perusahaan,
industri dan ekonomi makro tidak berpengaruh secara signifikan pada tingkat
5% terhadap return saham syariah tetapi berpengaruh secara signifikan pada
tingkat 5% terhadap beta saham syariah. Pengujian regresi secara parsial
dengan t test menunjukkan bahwa tidak ada satu pun variabel-variabel
karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro berpengaruh secara
signifikan
pada
return
saham
syariah,
sedangkan
variabel-variabel
karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro terhadap beta saham
yang mempunyai pengaruh signifikan pada tingkat 5% adalah cyclicality, kurs
rupiah terhadap dollar dan Produk Domestik Bruto (PDB).
Penelitian dengan obyek pasar modal syariah mengenai return dan beta
yang dipengaruhi oleh variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan
ekonomi makro merupakan hal yang menarik untuk dilakukan karena sifat
dari return dan risiko ini yang akan selalu melekat pada setiap investasi
xxii
terutama investasi dalam setiap saham, baik saham biasa maupun saham yang
sesuai dengan kaidah syariah. Penelitian-penelitian sebelumnya hanya melihat
pengaruh variabel-variabel makro dan karakteristik perusahaan pada return
atau beta saham biasa serta obyeknya pada pasar modal secara umum seperti
yang dilakukan oleh Beaver, Kettler dan Scholes (1970), Rober G (1979),
Chung (1989), Elger (1980), Gudono dan Nurhayati (2001), Hamada (1972),
Husnan (1994), Kapoor (1997), Lantara (2004), Mahadwartha (2001),
Miswanto dan Husnan (1999), Natarsyah (2000), Setiawan (2004), Suciwati
dan Mas’ud (2002), Supriyadi (2001), Sufiyati dan Na’im (1998) serta
Tandelilin (1997).
Oleh karena itu, penulis mengidentifikasi beberapa masalah berdasarkan
hal tersebut di atas, yaitu terdapat perbedaan karakteristik saham perusahaan
yang tergolong ke dalam Jakarta Islamic Indeks dengan saham perusahaan
yang listing di Bursa Efek Indonesia; return dan risk atau beta saham syariah
dipengaruhi oleh beberapa variabel diantaranya karakteristik perusahaan,
industri, dan ekonomi makro; mengidentifikasi variabel-variabel karakteristik
perusahaan, industri, dan ekonomi makro yang paling dominan dalam
mempengaruhi tingkat return dan beta saham syariah di Bursa Efek Indonesia.
Dalam penulisan ini, batasan-batasan yang perlu diambil agar
pembahasan penelitian ini lebih terfokus yaitu hanya menganalisis variabelvariabel karakteristik saham perusahaan yang tergolong ke dalam Jakarta
Islamic Indeks selama periode penelitian, menganalisis pengaruh variabelvariabel karakteristik perusahaan berdasarkan earning per share, debt to
xxiii
equity ratio, dan return on equity; industri berdasarkan jenis industri dan
ukuran industri; ekonomi makro berdasarkan tingkat inflasi, kurs rupiah
terhadap dollar dan Produk Domestik Bruto terhadap Return dan Beta Saham
Syariah, dan menghitung tingkat pengaruh variabel-variabel karakteristik
perusahaan, industri, dan ekonomi makro tersebut dengan menggunakan
metode regresi linier berganda terhadap return dan beta saham syariah yang
listing di Jakarta Islamic Index.
Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro dengan
menggunakan return dan beta saham syariah yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Oleh karena itu, penelitian ini mengenai “ANALISIS
KARAKTERISTIK
PERUSAHAAN,
INDUSTRI,
DAN
EKONOMI
MAKRO TERHADAP RETURN DAN BETA SAHAM SYARIAH”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang seperti yang telah dijelaskan diatas, maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah variabel-variabel karakteristik perusahaan industri dan makro
ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap return saham syariah
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Apakah variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan makro
ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap beta saham syariah yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
xxiv
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Memberikan
bukti
empiris
apakah
variabel-variabel
karakteristik
perusahaan, industri dan makro ekonomi berpengaruh secara signifikan
terhadap return saham syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
2. Memberikan
bukti
empiris
apakah
variabel-variabel
karakteristik
perusahaan, industri dan makro ekonomi berpengaruh secara signifikan
terhadap beta saham syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk berbagai kepentingan,
diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Bagi Akademisi, dapat digunakan sebagai bahan masukan ilmu
pengetahuan dalam bidang keuangan dan sebagai tambahan informasi
mengenai variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri, dan makro
ekonomi yang digunakan dalam mempengaruhi return dan beta saham
syariah.
2.
Memberikan informasi bagi pihak internal dan eksternal perusahaan
mengenai variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri, dan makro
ekonomi yang sangat dominan dalam mempengaruhi return dan beta
saham syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3.
Bagi penulis, untuk menerapkan ilmu yang telah peneliti dapatkan selama
menempuh perkuliahan serta untuk menambah wawasan peneliti
mengenai variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri, dan makro
xxv
ekonomi yang mempengaruhi terhadap return dan beta saham syariah
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
xxvi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Investasi
Dalam manajemen keuangan terdapat tiga keputusan, yaitu (1)
keputusan investasi, (2) keputusan pembiayaan, dan (3) keputusan dividen.
Dari ketiga keputusan tersebut, keputusan investasi dianggap paling penting.
Seseorang akan mengalokasikan dananya untuk investasi dengan harapan akan
menerima keuntungan di masa yang akan datang (Kewon, 2004).
Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya
yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan
di masa datang (Tandelin, 2001 dalam Suharli, 2004). Dalam kamus istilah
pasar modal dan keuangan kata investasi diartikan sebagai penanaman uang
atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh
keuntungan (Arifin, 1999 dalam Huda dan Nasution, 2007:70). Dan dalam
Kamus Lengkap Ekonomi, investasi didefiniskan sebagai penukaran uang
dengan bentuk-bentuk kekayaan lain seperti saham atau harta tidak bergerak
yang diharapkan dapat ditahan selama periode waktu tertentu supaya
menghasilkan pendapatan (Wirasasmita, 1999 dalam Huda dan Nasution,
2007:70).
Istilah investasi bisa berkaitan dengan berbagai macam aktivitas yaitu
dapat menginvestasikan sejumlah dana pada aset riil seperti tanah, emas,
mesin atau bangunan ataupun investasi pada aset finansial seperti deposito,
saham maupun obligasi. Aset finansial adalah klaim berbentuk surat berharga
10
xxvii
atas sejumlah asset-aset pihak penerbit serat berharga tersebut. Aset finansial
atau disebut dengan sekuritas yang mudah diperdagangkan (marketable
securities) adalah aset-aset finansial yang bisa diperdagangkan dengan mudah
dan dengan biaya transaksi yang murah pada pasar yang terorganisir (Husnan,
2001).
Menurut Tandelilin (2001) dalam Suharli (2004) tujuan seseorang
berinventasi adalah :
(1) Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang.
Seseorang yang bijaksana akan berfikir bagaimana meningkatkan taraf
hidupnya dari waktu ke waktu atau setidaknya berusaha bagaimana
mempertahankan tingkat pendapatannya yang ada sekarang agar tidak
berkurang di masa yang akan datang,
(2) Mengurangi tekanan inflasi.
Dengan melakukan investasi dalam pemilikan perusahaan atau objek
lain, seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko penurunan nilai kekayaan
atau hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi, dan
(3) Dorongan untuk menghemat pajak.
Beberapa negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang bersifat
mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat melalui pemberian fasilitas
perpajakan kepada masyarakat yang melakukan investasi pada bidang-bidang
usaha tertentu. Pada dasarnya tujuan orang melakukan investasi adalah untuk
menghasilkan sejumlah uang, selain itu tujuan investasi yang lebih luas adalah
untuk meningkatkan kesejahteraan investor. Kesejahteraan dalam hal ini
xxviii
adalah kesejahteraan moneter, yang bisa diukur dengan penjumlahan
pendapatan saat ini ditambah nilai pendapatan masa datang.
Untuk mencapai tujuan tersebut, investasi membutuhkan suatu proses
dalam
pengambilan
keputusan,
sehingga
keputusan
tersebut
sudah
mempertimbangkan ekspektasi return yang didapatkan dan juga risiko yang
akan dihadapi.
Menurut Sharpe (1995) dalam Husnan (2001), pada dasarnya ada
beberapa tahapan dalam pengambilan keputusan investasi antara lain:
1. Menentukan kebijakan investasi
Pada
tahapan
ini,
kemampuan/kekayaannya
investor
yang
menentukan
dapat
tujuan
diinvestasikan.
investasi
dan
Dikarenakan
ada
hubungan positif anatara risiko dan return, maka hal yang tepat bagi para
investor untuk menyatakan tujuan investasinya tidak hanya untuk memperoleh
banyak keuntungan saja, tetapi juga memahami bahwa ada kemungkinan
risiko yang berpotensi menyebabkan kerugian. Jadi, tujuan investasi harus
dinyatakan baik dalam keuntungan maupun risiko.
2. Analisis sekuritas
Pada tahapan ini berarti melakukan analisis sekuritas yang meliputi
penilaian terhadap sekuritas secara individu atau beberapa kelompok sekuritas.
Salah satu tujuan melakukan penilaian tersebut adalah untuk mengidentifikasi
sekuritas yang salah harga (mispriced). Adapun pendapat lainnya mereka yang
berpendapat bahwa harga sekuritas adalah wajar karena mereka berasumsi
bahwa pasar modal efisien (Husnan, 2001). Dengan demikian, pemilihan
xxix
sekuritas bukan didasarkan atas kesalahan harga tetapi didasarkan atas
preferensi risiko para investor, pola kebutuhan kas, dan sebagainya.
3. Pembentukan portofolio
Pada tahapan ketiga ini adalah membentuk portofolio yang melibatkan
identifikasi asset khusus mana yang akan diinvestasikan dan juga menentukan
seberapa besar investasi pada tiap asset tersebut. Di sini masalah selektivitas,
penentuan waktu, dan diversifikasi perlu menjadi perhatian investor.
Dalam investasi, investor sering melakukan diversifikasi dengan
mengombinasikan berbagai sekuritas dalam investasi mereka dengan kata lain
investor
membentuk
portofolio.
Selektivitas
juga
disebut
sebagai
microforecasting yang memfokuskan pada ramalan pergerakan harga setiap
sekuritas. Penentuan waktu disebut juga sebagai microforecasting yang
memfokuskan pada peramalan pergerakan harga saham biasa relative terhadap
sekuritas pendapatan tetap, misal obligasi perusahaan. Sedangkan diversifikasi
meliputi konstruksi portofolio sedemikian rupa sehingga meminimalkan risiko
dengan memerhatikan batasan tertentu.
4. Melakukan revisi portofolio
Pada tahapan ini, berkenan dengan pengulangan secara periodik dari tiga
langkah sebelumnya. Sejalan dengan waktu, investor mungkin mengubah
tujuan investasinya yaitu membentuk portofolio baru yang lebih optimal.
Motivasi lainnya disesuaikan dengan preferensi investor tentang risiko dan
return itu sendiri.
xxx
5. Evaluasi kinerja portofolio
Pada tahapan terakhir ini, investor melakukan penilaian terhadap kinerja
portofolio secara periodik dalam arti tidak hanya return yang diperhatikan
tetapi juga risiko yang dihadapi. Jadi, diperlukan ukuran yang tepat tentang
return dan risiko juga standar yang relevan.
Karena investasi itu mempunyai risiko, maka ini berarti bahwa investasi
tidak akan memberikan keuntungan yang pasti. Dengan kata lain tingkat
keuntungan yang diperoleh bersifat tidak pasti. Pada keadaan seperti ini
investor hanya akan mengharapkan untuk memperoleh tingkat keuntungan
tertentu.
Menurut Komariah (2005), sumber-sumber return investasi terdiri dari
dua komponen utama yaitu yield dan capital gain (loss). Yield merupakan
komponen return yang mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang
diperoleh secara periodik dari suatu investasi. Jika kita berinvestasi pada
sebuah obligasi misalnya, maka besarnya yield ditunjukan oleh besarnya
cupon yang diberikan. Demikian pula halnya jika kita membeli saham, yield
ditunjukan oleh besarnya dividen yang kita peroleh. Sedangkan capital gain
(loss) sebagai komponen kedua dari return merupakan kenaikan atau
penurunan harga suatu surat berharga yang dapat memberikan keuntungan
atau kerugian kepada investor.
Dari kedua sumber return di atas, maka kita dapat menghitung return
total suatu investasi dengan menjumlahkan yield dan capital gain yang
diperoleh dari suatu investasi. Yield hanya akan berupa angka 0 (nol) dan +
xxxi
(positif), sedangkan untuk capital gain (loss) dapat berupa angka minus (-),
nol (0), dan positif (+). Secara matematis return investasi dapat dituliskan
sebagai berikut (Tandelilin, 2001 dalam Komariah, 2005):
Return total : Yield + Capital Gain (loss)
Mengetahui secara pasti berapa return yang akan diperokeh dari suatu
investasi massa yang akan dating adalah hal yang mustahil. Return investasi
hanya dapat diperkirakan melalui pengestimasian yang hasilnya sangat
mungkin berlainan dengan yang aktual terjadi. Maka dalam hal ini disamping
mengestimasi return yang diharapkan, kita juga perlu menghitung berapa
besarnya risiko yang terkait dengan investasi pada sekuritas bersangkutan.
Untuk mengestimasi return sekuritas sebagai asset tunggal investor
harus memperkirakan kemungkinan terwujudnya tingkat return tertentu atau
lebih dikenal dengan sebutan probabilitas. Menghitung return yang
diharapkan E(R) dapat dinyatakan secara umum dengan rumus sebagai berikut
(Tandelilin, 2001 dalam Komariah, 2005):
n
E(R) = Σ Ri pri
i=1
dimana:
E(R)
: return yang diharapkan dari suatu sekuritas
Ri
: return ke-i yang mngkin terjadi
pri
: probabilitas kejadian return ke-i
n
: banyaknya return yang mungkin terjadi
xxxii
Tingkat return saham dari data historis dapat diukur dari prosentase
perubahan harga saham. Menurut Husnan (2001), mengukur tingkat return
dari saham dapat dilakukan dengan dua cara yaitu yang pertama dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:
Ri = (P – P ) / P
t
t-1
t-1
dimana:
Ri
: return sekuritas ke-i
P
: harga saham pada t-1
P
t-1
t
: harga saham pada t
Tetapi untuk maksud agar dalam analisis statistic perhitungan return
tersebut tidak bias karena pengaruh oleh magnitude pembaginya, perhitungan
return dilakukan dengan menggunakan perhitungan kedua yaitu sebagai
berikut :
Ri= L (P /P )
n
t
t-1
dimana:
Ri
: return sekuritas ke-i
P
: harga saham pada t-1
P
t-1
t
: harga saham pada t
Selain return saham terdapat juga return pasar (Rm) yang dapat dihitung
dengan rumus: (Jogiyanto, 2003 dalam Suharli, 2005)
Rm = IHSGt – IHSGt-1 / IHSGt-1
dimana:
xxxiii
Rm
: Return pasar
IHSGt
: Indeks harga saham gabungan pada periode t
IHSGt-1
: Indeks harga saham gabungan pada periode t-1
Keuntungan yang diharapkan dari portofolio merupakan rata-rata
tertimbang dari tingkat keuntungan yang diharapkan dari masing-masing aset
individual yang membentuk portofolio tersebut. Presentasi nilai portofolio
yang diinvestasikan dalam setiap asset-aset individual dalam portofolio
disebut sebagai bobot portofolio. Jika seluruh bobot portofolio dijumlahkan,
akan berjumlah total 100% atau 1,0 artinya seluruh dana telah diinvestasikan
dalam portofolio.
Rumus untuk menghitung return yang diharapkan dari portofolio adalah
sebagai berikut (Tandelilin, 2001 dalam Komariah, 2005):
n
E(Rp) = Σ Wi E(Ri)
i=1
dimana:
E(Rp)
: return yang diharapkan dari portofolio
Wi
: bobot portofolio sekuritas ke-i
E(Ri)
: return yang diharapkan dari sekuritas ke-i
n
: jumlah sekuritas-sekuritas yang ada dalam portofolio
B. Risiko Dalam Investasi
Setiap keputusan investasi selalu menyangkut dua hal, yaitu risiko dan
return. Risiko mempunyai hubungan positif dan linier dengan return yang
diharapkan dari suatu investasi, sehingga semakin besar return yang
xxxiv
diharapkan semakin besar pula risiko yang harus ditanggung oleh seorang
investor. Dalam melakukan keputusan investasi, khususnya pada sekuritas
saham, return yang diperoleh berasal dari dua sumber, yaitu dividend dan
capital gain, sedangkan risiko investasi saham tercermin pada variabilitas
pendapatan (return saham) yang diperoleh.
Jorion (2000) dalam Komariah (2005), menyatakan risiko sebagai
volatility dari suatu hasil yang tidak diekspektasi, secara general nilai dari
asset atau kewajiban dari bunga. Gup (1998) dalam Komariah (2005),
mengemukakan bahwa risiko adalah penyimpangan dari return yang
diharapkan (expected return), sedangkan menurut Jones (1996) risiko adalah
kemungkinan pendapatan yang diterima (actual return) dalam suatu investasi
akan berbeda dengan pendapatan yang diharapkan (expected return). Brigham
dan Gapenski (1999) dalam Komariah (2005), berpendapat bahwa risiko
merupakan kemungkinan keuntungan yang diterima lebih kecil dari
keuntungan yang diharapkan. Dalam teori portofolio, risiko dinyatakan
sebagai kemungkinan keuntungan menyimpang dari yang diharapkan.
Karenanya risiko mempunyai dua dimensi, yaitu menyimpang lebih besar atau
lebih kecil dari return yang diharapkan. Dari sini muncul konsep ukuran
penyebaran yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh kemungkinan
nilai yang akan kita peroleh menyimpang dari nilai yang diharapkan. Ukuran
ini dinyatakan dalam standar deviasi atau variance (bentuk kuadrat dari
standar deviasi) yang merupakan ukuran untuk risiko total.
xxxv
Menurut Tandelilin (2001) dalam Huda dan Nasution (2007), dalam
analisis tradisional, risiko total dari berbagai asset keuangan bersumber dari:
a. Interest rate risk. Risiko yang berasal dari variabilitas return akibat
perubahan tingkat suku bunga. Perubahan tingkat suku bunga ini
berpengaruh negatif terhadap harga sekuritas.
b. Market risk. Risiko yang berasal dari variabilitas return karena fluktuasi
dalam keseluruhan pasar sehingga berpengaruh terhadap semua sekuritas.
c. Inflation risk. Suatu factor yang mempengaruhi semua sekuritas adalah
purchasing power risk. Jika suku bungan naik, maka inflasi juga
meningkat, karena lenders membutuhkan tambahan premium inflasi untuk
mengganti kerugian purchasing power.
d. Business risk. Risiko yang ada karena melakukan bisnis pada industri
tertentu.
e. Financial risk. Risiko yang timbul karena penggunaan leverage financial
oleh perusahaan.
f. Liquidity risk. Risiko yang berhubungan dengan pasar sekunder tertentu di
mana sekuritas diperdagangkan. Suatu investasi jika dapat dibeli dan dijual
dengan cepat tanpa perubahan harga yang signifikan, maka investasi
tersebut dikatakan liquid, demikian sebaliknya.
g. Exchange rate risk. Risiko yang berasal dari variabilitas return sekuritas
karena fluktuasi kurs currency.
h. Country risk. Risiko ini menyangkut politik suatu Negara sehingga
mengarah kepada political risk.
xxxvi
Berbeda dengan analisis tradisional, analisis investasi modern membagi
risiko total menjadi dua bagian, yaitu risiko sistematis dan risiko tidak
sistematis (Husnan, 2001). Risiko tidak sistematis adalah risiko yang
disebabkan oleh faktor-faktor unik pada suatu sekuritas, dan dapat dihilangkan
dengan melakukan diversifikasi. Sedangkan risiko sistematis adalah risiko
yang disebabkan oleh factor-faktor makro yang mempengaruhi semua
sekuritas sehingga tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. Karena
sebagian risiko dapat dihilangkan dengan diversifikasi, yaitu risiko tidak
sistematis (unique risk), maka ukuran risiko dari suatu portofolio bukan lagi
standar deviasi (risiko total), tetapi hanya risiko sistematis saja, yaitu risiko
yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. Risiko tidak sistematis
adalah risiko yang timbul karena factor-faktor mikro yang ada pada
perusahaan industri tertentu, sehingga pengaruhnya hanya terbatas pada
perusahaan atau industri tertentu. Faktor-faktor tersebut antara lain: struktur
modal, struktur aktiva, tingkat likuiditas, ukuran perusahaan, serta kondisi dan
lingkungan kerja. Sedangkan risiko sistematis, yang tercermin dalam beta
saham, merupakan risiko yang mempengaruhi semua perusahaan, karena
disebabkan
oleh
factor-faktor
yang
bersifat
makro,
seperti kondisi
perekonomian, perubahan tingkat suku bunga, inflasi, kebijakan pajak dan
lain-lain. Faktor-faktor ini menyebabkan adanya kecenderungan semua saham
untuk bergerak bersama, sehingga selalu ada dalam setiap tahun.
Pada umumnya seorang investor adalah risk averse. Oleh karena itu,
mereka lebih memilih melakukan diversifikasi dalam portofolio investasinya
xxxvii
guna mengurangi sebagian risiko yang harus ditanggungnya. Karena risiko
tidak sistematis dapat dihilangkan dengan diversifikasi, maka risiko sistematis
(beta) menjadi relevan bagi investor.
Pengukuran Beta menggunakan persamaan dari market model dengan
persamaan:
Ri = αi + βiRm + et,
dimana:
Ri
: return sekuritas ke-i
αi
: Nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independen
terhadap return pasar
βi
: Beta
yang merupakan koefisien yang
perubahan R akibat dari perubahan R
i
m
mengukur
(sensitifitas
perubahan return harian saham terhadap return pasar)
Rm
: Tingkat return dari indeks pasar (return yang merupakan
prosentase perubahan IHSG)
et
: Random error
Pengukuran Beta juga dapat menggunakan rumus:
ß = Cov (ri, rm) atau ß = ∑∑ ((ri - ri)x(rm - rm)) / (n-1)
∑ ( (rm - rm)2) / (n-1)
Var (rm)
Pemilihan market model karena secara teoritis model ini memiliki
potensi untuk menghasilkan tes statistik yang lebih kuat dibandingkan model
statistik yang lebih sederhana (mean adjusted atau market adjusted return).
Varians dari return akan berkurang dengan menghilangkan bagian dari return
xxxviii
saham yang terkait dengan variasi return pasar, sehingga kemampuan model
untuk mendeteksi pengaruh event akan semakin baik. Kelebihan market model
2
bergantung pada koefisien determinasi (R ) dari regresinya. Semakin tinggi
koefisien determinasinya, pengurangan nilai varians dari return akan semakin
besar dan sebaliknya (Kurniawan: 2000 dalam Daniati dan Suhairi: 2006).
C. Investasi Dalam Perspektif Syariah
Islam sebagai din yang komprehensif (syumul) dalam ajaran dan norma
mengatur seluruh aktivitas manusia di segala bidang. Investasi sebagai salah
satu bagian dari aktivitas perekonomian tidak dapat mengabaikan aspek
postulat,
konsep,
serta
diskursus yang menjadi background
dalam
pembentukan sebuah pengetahuan yang memiliki multidimensi yang
mendasar dan mendalam. Islam sangat menjunjung tinggi pengetahuan yang
memiliki gradasi (tadrij), dari tahapan diskursus (‘ilmu al yaqin),
implementasi (‘ain al yaqin), serta hakikat akan sebuah ilmu (haqq al yaqin)
(Huda dan Nasution, 2007:17).
Investasi merupakan salah satu ajaran dari konsep Islam yang memenuhi
proses tadrij. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa konsep investasi selain
sebagai pengetahuan juga bernuansa spiritual karena menggunakan norma
syariah, sekaligus merupakan hakikat dari sebuah ilmu dan amal. Oleh
karenanya investasi sangat dianjurkan bagi setiap muslim. Hal tersebut
dijelaskan dalam firman Allah yang artinya:
xxxix
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari
esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al Hasyr : 18).
Arti “hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat)” ditafsirkan dengan: “hitung dan instropeksilah diri
kalian sebelum diinstropeksi dan lihatlah apa yang telah kalian simpan
(invest) untuk diri kalian dari amal saleh (after here investment) sebagai
bekal kalian menuju hari perhitungan amal pada hari kiamat untuk
keselamatan diri di depan Allah” (Katsir, 2000 dalam Huda dan Nasution,
2007:18). Demikian Allah memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya yang
beriman untuk melakukan investasi akhirat dengan melakukan amal saleh
sejak dini sebagai bekal untuk menghadapi hari perhitungan.
Beberapa prinsip dasar transaksi menurut syariah Islam dalam investasi
keuangan yang ditawarkan menurut Pontjowinoto (2003) dalam Huda dan
Nasution (2007:23) sebagai berikut:
•
Transaksi dilakukan atas harta yang memberikan nilai manfaat dan
menghindari
setiap
transaksi
yang
zalim.
Setiap
transaksi yang
memberikan manfaat akan dilakukan bagi hasil.
•
Uang sebagai alat penukaran bukan komoditas perdagangan di mana
fungsinya adalah sebagai alat pertukaran nilai yang menggambarkan daya
beli suatu barang atau harta. Sedangkan manfaat atau keuntungan yang
xl
ditimbulkannya berdasarkan atas pemakaian barang atau harta yang dibeli
dengan uang tersebut.
•
Setiap transaksi harus transparan, tidak menimbulkan kerugian atau unsure
penipuan di salah satu pihak baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
•
Risiko yang mungkin timbul harus dikelola sehingga tidak menimbulkan
risiko yang besar atau melebihi kemampuan menanggung risiko.
•
Dalam Islam setiap transaksi yang mengharapkan hasil harus bersedia
menanggung risiko.
•
Manajemen yang diterapkan adalah manajemen islami yang tidak
mengandung unsur spekulatif dan menghormati hak asasi manusia serta
menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Agama Islam juga sangat menganjurkan usaha kerjasama dalam setiap
aktivitas yang menguntungkan. Allah SWT menganjurkan terhadap semua
bentuk aktivitas bisnis. Dengan mendukung aktivitas bisnis, Allah SWT juga
berarti mendukung upaya-upaya pencarian dan pengumpulan kekayaan.
Diantara
ayat-ayat
Al-Quran
yang
penting
dan
secara
langsung
menggambarkan dunia bisnis sebagai wilayah yang menguntungkan yaitu
yang artinya:
“padahal Allah SWT telah menghalakan jual beli dan mengharamkan riba…”
(QS Al-Baqarah 2:275)
“… kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka
diantara kamu…” (QS An-Nisa’ 4:29)
xli
Nabi Muhammad saw juga berkali-kali mengatakan bahwa bisnis adalah
aktivitas yang diberkahi. Salah satu contoh sabdanya sebagai berikut:
“Para pedagang yang jujur akan mendapat perlindungan dari Allah SWT di
hari pembalasan nanti.” (HR Dhailani).
Islam mendorong masyarakat kearah usaha nyata dan produktif yaitu
melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Lebih lanjut Islam
memberikan dorongan untuk melakukan investasi dengan jumlah yang lebih
besar dan lebih banyak dari motivasi konvensional. Bila secara konvensional
terdapat motif profit-taking dan inflasi, dalam syariah Islam disamping dua hal
tersebut ditambah dengan adanya kewajiban zakat dan larangan mendiamkan
asset. Setiap harta ada zakatnya, dimana jika harta tersebut didiamkan lambat
laun akan habis termakan zakatnya. Hal ini akan mendorong setiap muslim
untuk menginvestasikan hartanya karena harta yang diinvestasikan tidak
dikenakan zakat kecuali keuntungannya saja. Dalam Al-Quran Allah SWT
menegaskan yang artinya:
“…dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak (baik sebagai komoditi
maupun mata uang) dan tidak menyalurkannya di jalan Allah, maka
beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang
pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu
dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka, ‘inilah
harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri maka
rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu.” (QS AtTaubah ayat 34-35).
xlii
D. Risiko Dalam Perspektif Syariah
Pada dasarnya bisnis memiliki risiko yang tinggi, akan tetapi memiliki
keuntungan yang besar. Selama agama Islam mendukung ekonomi pasar
bebas dan kompetisi terbuka, maka bisnis memiliki tingkat kompetisi yang
akan meningkatkan risiko, akan tetapi juga akan menjanjikan keuntungan
yang besar bagi orang-orang yang unggul dalam lapangan yang kompetitif ini.
Hadits nabi menyatakan:
“Tidak halal memberikan pinjaman dan penjualan, tidak halal
(menetapkan) dua syarat dalam suatu jual beli, tidak halal keuntungan yang
tidak ditanggung risikonya, dan tidak halal melakukan penjualan sesuatu
yang tidak ada padamu” (HR. Alkhomsah dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya
dari kakeknya dalam Huda dan Nasution, 2007).
Secara literatur, gharar dalam bahasa Arab memiliki terjemah risiko,
kadang juga merujuk pada ketidakpastian (uncertainty). Ibnu Thaymiyah
mendeskripsikan gharar sebagai “things with unknown fate” sehingga
“selling such thing is maysir or gambling”. (Al-Suwailem,1999 dalam
Komariah, 2005).
Bisnis adalah pengambilan risiko, karena risiko selalu terdapat dalam
aktivitas ekonomi. Ditambah lagi adanya prinsip dasar, no risk no return.
Prinsip ini membawa implikasi pada penolakan terhadap bunga dan juga
sekuritas yang risk-free. Jika kemudian risiko ini secara sederhana disamakan
dengan ketidakpastian (uncertainty), dan ketidakpastian ini dianggap gharar
dan dilarang, maka hal ini akan menjadi kerancuan tentang berbisnis.
xliii
Karenanya menjadi penting untuk melakukan upaya pembedaan dan
penajaman pengertian gharar, risiko, atau ketidakpastian ini. Dalam literature
keuangan dan investasi, risiko ini didefinisikan hampir sama saja dengan
pengertian-pengertian di atas. Namun Van Deer Heidjen (1996) dalam
Komariah
(2005)
berhasil
mengidentifikasi
dengan
mengkategorikan
uncertainty di mana menurutnya hasil masa depan yang memiliki
ketidakpastian dapat digolongkan menjadi tiga yaitu risk, structural
uncertainties, dan unknownables.
Risk memiliki preseden histories dan dapat dilakukan estimasi
probabilitas untuk tiap hasil yang mungkin muncul. Structural uncertainties
adalah kemungkinan terjadinya suatu hasil bersifat unik, tidak memiliki
preseden masa lalu, tetapi tetap terjadi dalam logika kausalitas. Kemudian
yang terakhir unknownables menunjuk kejadian yang secara ekstrem
kemunculannya tidak terbayangkan sebelumnya. Dengan demikian kasus
gharar akan terjadi pada kasus terakhir yaitu unknownables (Achsin, 2000
dalam Komariah, 2005).
Sedangkan Al-Suwailem (1999) dalam Komariah (2005), membedakan
risiko menjadi dua tipe yaitu risiko pasif seperti game of chance, yang hanya
mengandalkan keberuntungan, dan tipe kedua adalah risiko responsive yang
memungkinkan adanya distribusi probabilitas hasil keluaran dengan hubungan
kausalitas yang logis. Kalau yang pertama dipersamakan dengan game of
chance, yang kedua dapat diasosiasikan dengan game of skill.
xliv
Ketidak pastian secara instrinsik terdapat dalam setiap aktivitas
ekonomi. Gharar dapat muncul pada kasus risk yang digolongkan Van Deer
Heidjen, tetapi ketidakpastian terjadi tetap mengikuti suatu kausalitas atau
sebab-sebab yang logis yang dapat mempengaruhi probabilitasnya. Ini berarti
mencari keuntungan hanya dengan keberuntungan (chance) saja, seperti
membeli lotre, menimbulkan delusi atau pengharapan yang salah dan sudah
pasti merupakan transaksi gharar.
Ada beberapa hadits Nabi yang menyatakan larangan gharar dalam
transaksi:
Abu Hurairah menjelaskan bahwa Rasulullah saw melarang jual beli
'al-Hishat' (menentukan barang yang dibeli dengan cara melempar
batu/spekulasi) dan jual beli gharar (tipuan). (Riwayat jamaah ahli hadits
kecuali Bukhari dalam Komariah, 2005).
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa transaksi yang
gharar dapat timbul karena dua sebab utama yaitu kurangnya informasi atau
pengetahuan (jahala, ignorance) pada pihak yang melakukan kontrak,
sehingga pihak yang melakukan kontrak tidak memiliki control atau skill dan
penyebab yang lain adalah karena tidak adanya (non-exist) obyek.
E. Pasar Modal Syariah
1. Pengertian
Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran
umum dan perdagangan efek, perusahaan public yang berkaitan dengan efek
xlv
yang diterbitkannya, serta lembaga dann profesi yang berkaitan dengan efek.
Pasar modal beserta seluruh mekanisme kegiatannya terutama mengenai
emiten, jenis efek yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangannya
dipandang telah sesuai dengan syariah apabila telah memenuhi prinsip-prinsip
syariah (Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI dalam Auliyah dan Hamzah,
2005).
Pasar modal syariah adalah pasar modal yang dijalankan dengan konsep
syariah, dimana setiap perdagangan surat berharga mentaati ketentuan
transaksi sesuai dengan basis syariah. Pasar modal syariah tidak hanya ada dan
berkembang di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain. Lembaga keuangan
yang pertama kali menaruh perhatian di dalam mengoperasikan portofolionya
dengan manajemen portofolio syariah di pasar modal syariah adalah Amanah
Income Fund yang didirikan bulan Juni 1986 oleh para anggota the North
American Islamic Trust yang bermarkas di Indiana, Amerika Serikat. Wacana
mengenai pasar modal syariah ini disambut dengan antusias di seluruh belahan
bumi ini mulai dari kawasan Timur Tengah, Eropa, Asia dan Amerika.
Beberapa negara yang proaktif dalam mengembangkan pasar modal yang
berprinsipkan syariah dan konsisten dalam menerapkan syariah Islam dalam
sendi kehidupannya adalah Bahrain Stock di Bahrain, Amman Financial
Market di Amman, Muscat Securities Kuwait Stock Exchange di Kuwait dan
Kuala Lumpur Stock Exchange di Malaysia.
Perkembangan pasar modal syariah di Indonesia secara tidak langsung
juga dipengaruhi pasar modal yang berpegang pada konsep syariah yang
xlvi
terlebih dahulu dijalankan oleh negara-negara lain. Pasar modal syariah di
Indonesia diperkenalkan pada bulan Juli 2000 ditandai dengan berdirinya
Jakarta Islamic Index.
2. Instrumen Pasar Modal Syariah
Investasi keuangan syariah harus disertai dengan kegiatan sektor riil atau
transaksi yang mendasari (underlying transaction). Untuk itu, penciptaan
instrumen investasi syariah dalam pasar mo
dal adalah dari sekuritasi
aset/proyek (asset securitisation) yang merupakan bukti penyertaan, sekuritasi
utang (debt securitisation) atau penerbitan surat utang yang timbul atas
transaksi jual beli (al dayn) atau merupakan sumber pendanaan bagi
perusahaan, sekuritasi modal (equity securitisation), merupakan emisi surat
berharga oleh perusahaan emiten yang telah terdaftar dalam pasar modal
syariah dalam bentuk saham.
Adapun instrumen pasar modal yang sesuai dengan syariah dalam pasar
perdana adalah muqaradah/mudharabah funds, saham biasa (common stock),
muqaradah/mudharabah Bonds. Karena instrumen pasar modal tersebut
diperdagangkan di pasar perdana, maka prinsip dasar pasar perdana adalah
semua efek harus berbasis pada harta atau transaksi riil, tidak boleh
menerbitkan efek utang untuk membayar kembali utang (bay al dayn bi al
dayn), dana atau hasil penjualan efek akan diterima oleh perusahaan, hasil
investasi akan diterima pemodal (shohibul maal), tidak boleh memberikan
xlvii
jaminan hasil yang semata-mata merupakan fungsi dari waktu (Harahap, 2001
dalam Auliyah dan Hamzah, 2005).
Sedangkan untuk pasar sekunder ada beberapa tambahan dari prinsip
dasar pasar perdana, yaitu tidak boleh membeli efek berbasis trend (indeks),
suatu efek dapat diperjualbelikan namun hasil (manfaat) yang diperoleh dari
efek tersebut berupa kupon atau deviden tidak boleh diperjual belikan, tidak
boleh melakukan suatu transaksi murabahah dengan menjadikan objek
transaksi sebagai jaminan. Adapun jenis instrument pasar modal yang jelas
diharamkan syariah adalah preferred stock (saham istimewa), forward
contract, option.
3. Saham Syariah
Saham syariah merupakan salah satu bentuk dari saham biasa yang
memiliki karakteristik khusus berupa kontrol yang ketat dalam hal kehalalan
ruang lingkup kegiatan usaha. Saham syariah dimasukkan dalam perhitungan
Jakarta Islamic Index (JII) merupakan indeks yang dikeluarkan oleh PT.
Bursa Efek Jakarta yang merupakan subset dari Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG). JII diluncurkan pada tanggal 3 Juli 2000 dan menggunakan
tahun 1 Januari 1995 sebagai base date dengan nilai 100. Bagi perusahaan
yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks paling tidak mereka dinilai telah
memenuhi penyaringan syariah dan kriteria untuk indeks.
Penyaringan secara syariah yang difatwakan oleh Dewan Syariah
Nasional No. 20 dalam Auliyah dan Hamzah (2005) tentang Pedoman
xlviii
Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah. Kriteria untuk indeks adalah
Kapitalisasi pasar (market capitalization) dari saham dimana JII menggunakan
kapitalisasi pasar harian rata-rata selama satu tahun. Dari kedua penilaian
tersebut, untuk perusahaan emiten dapat digolongkan dalam daftar JII melalui
prosedur teknis, yaitu saham dari emiten dipilih yang tidak bertentangan
dengan syariah dan telah listing minimum 3 bulan, kecuali saham-saham
tersebut termasuk 10 besar kapitalisasi pasar. Saham dipilih dengan
kapitalisasi pasar tertinggi sejumlah 60 saham. Saham dipilih dengan nilai
transaksi rata-rata tertinggi harian sejumlah 30 saham. Evaluasi terhadap
komponen indeks dilakukan setiap 6 bulan sekali.
F. Analisis Perusahaan
Palepu, Bernard dan Healy (2000) memberikan kerangka analisis dengan
menggunakan laporan keuangan sebagai berikut:
1. Evaluasi: analisis akuntansi dan analisis keuangan, yang terdiri dari
analisis berikut:
Analisis earnings quality dari perusahaan: evaluasi strategi akuntansi,
distorsi akunatnsi, tanda-tanda bahaya (red flags), kualitas penyajian
(presentation), dan pengungkapan (disclosures).
Analisis common size dan cross section analysis.
Analisis ratio keuangan
Analisis harga saham bagi perusahaan publik.
xlix
2. Prediksi: melakukan peramalan posisi keuangan perusahaan di masa
depan berdasarkan analisis akuntansi dan analisis keuangan.
3. Valuasi: menggunakan metoda-metoda untuk melakukan valuasi sehingga
dapat dilakukan pengambilan keputusan.
Berikut disajikan alat-alat analisis keuangan yang dapat dipergunakan
dalam melakukan analisis kinerja keuangan, yaitu analisis common size
(analisis horizontal dan vertical), cross section analysis, dan financial ratios
analysis.
Analsis rasio keuangan pada umumnya dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
a. Rasio Likuiditas yaitu rasio yang menunjukkan dalam mengukur
kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban finansial tepat pada saat
ditagih atau jatuh tempo.
Ada beberapa macam rasio yang digunakan seperti:
-
Current Ratio: perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang
lancar.
Rumusnya: CR = CA
CL
-
Quick Ratio: perbandingan antara aktiva lancar dikurang dengan
persediaan dibagi hutang lancar.
Rumusnya: QR = CA – Inventory
CL
b. Rasio Solvabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.
l
Berikut beberapa macam rasio yang digunakan pada rasio solvabilitas:
-
Debt to Equity Ratio: rasio yang menyatakan perbandingan antara
hutang lancar dengan modal sendiri.
Rumusnya: DER =
Total Hutang
Modal Sendiri
c. Ratio Probabilitas yaitu ukuran untuk mengetahui seberapa jauh efektivitas
manajemen dalam mengelola perusahaan. Efektivitas manajemen meliputi
kegiatan fungsional manajemen seperti keuangan, pemasaran, sumber daya
manusia, dan operasional.
Beberapa rasio yang digunakan:
-
Return on Equity: rasio yang menyatakan perbandingan antara laba
bersih dengan modal.
Rumusnya: ROE =
Laba Bersih x 100%
Modal Sendiri
G. Analisis Industri
Dalam menganalisis industri, para analis dan pemodal memerlukan cara
dalam pengklasifikasian industri. Cara yang sering dipergunakan adalah
dengan mendasarkan pada International Standard Industrial Classification
(ISIC) System. Sistem ini menggunakan kode dengan jumlah digit tertentu.
Jumlah digit yang sedikit menunjukkan klasifikasi dengan dasar yang lebih
luas dan makin banyak digitnya makin terperinci klasifikasi yang dilakukan
(Husnan, 2001:327).
li
Sebelum melakukan analisis industri, diperlukan melihat perkembangan
atau
kinerja
industri,
sehingga
dapat
memberikan
gambaran
arah
perkembangan industri tersebut. Pengamatan yang dilakukan sebaiknya untuk
periode yang cukup panjang sehingga dapat diditeksi pola perkembangannya
atau pengaruh akibat kondisi ekonomi.
Menurut Husnan (2001), ada beberapa langkah untuk melakukan analisa
industri, diantaranya:
Pertama, dengan mengidentifikasikan tahap kehidupan produknya. Tahap ini
bermaksud untuk mengenali apakah industri tempat perusahaan beroperasi
merupakan industri yang masih akan berkembang cepat, telah stabil, ataukah
sudah menurun.
Kedua, menganalisis industri dalam kaitannya dengan kondisi perekonomian.
Ketiga, analisis kualitatif terhadap industri tersebut, yang dimaksudkan untuk
membantu pemodal menilai prospek industri di masa yang akan datang.
Salah satu sektor ekonomi yang mempunyai potensi untuk terus
dikembangkan adalah industri manufaktur. Industri manufaktur merupakan
“mesin pertumbuhan” yang utama sekaligus dapat memberikan lapangan kerja
bagi banyak orang. Secara teoritis, sektor ini berfungsi sebagai katalisator
dalam perubahan struktur perekonomian, yaitu perubahan dari struktur
perekonomian yang memiliki laju pertumbuhan lambat dan bernilai rendah
menjadi struktur perekonomian yang lebih produktif dengan marjin yang lebih
besar (Firdaus dkk, 2008).
lii
Selain itu, pengembangan industri manufaktur berdampak langsung pada
daya saing bangsa. Daya saing ini diindikasikan oleh peranannya dalam
perekonomian internasional. Daya saing dapat diukur dari pangsa pasar
produk yang dihasilkan oleh suatu negara dari total keseluruhan produk yang
diperdagangkan di pasar internasional. Dengan demikian peningkatan ekspor
suatu komoditi secara langsung meningkatkan daya saing suatu bangsa. Peran
lain dari industri manufaktur adalah berkaitan dengan kemampuan sektor
tersebut sebagai penghasil devisa bagi negara melalui kegiatan ekspor.
Di samping jenis industri, besaran atau ukuran perusahaan juga amat
berperan dalam menganalisis suatu industri. Ukuran perusahaan dapat
dinyatakan dalam total aktiva, penjualan, dan kapitalisasi pasar. Semakin
besar total aktiva, penjualan, dan kapitalisasi pasar maka semakin besa pula
ukuran perusahaan itu. Ketiga variabel ini digunakan untuk menentukan
ukuran perusahaan karena dapat mewakili seberapa besar perusahaan tersebut.
Semakin besar aktiva maka semakin besar modal yang ditanam, semakin
banyak penjualan maka semakin besar perputaran uang dan semakin besar
kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat. Dari
ketiga variabel ini, nilai aktiva relatif lebih stabil debandingkan dengan
penjualan dan market capitalized dalam mengukur ukuran perusahaan
(Sudarmadji, 2007).
liii
H. Ekonomi Makro
1. Inflasi
Inflasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses kenaikan harga-harga
yang berlaku dalam sesuatu perekonomian. Tingkat inflasi (persentase
pertambahan kenaikan harga) berbeda dari satu periode ke periode lainnya,
dan berbeda pula dari satu negara ke negara lain. Tingkat inflasi yang rendah
yaitu mencapai di bawah 4-6 persen. Tinkat inflasi yang moderat mencapai
diantara 5-10 persen. Inflasi yang sangat serius dapat mencapai tingkat
beberapa ratus atau ribu persen dalam setahun (Sadono Sukirno, 2001:15).
Beberapa teori yang membahas mengenai inflasi diantaranya :
•
Teori Kuantitas
Teori ini adalah teori yang tertua yang membahas tentang inflasi, tetapi
dalam perkembangannya teori ini mengalami penyempurnaan oleh para ahli
ekonomi Universitas Chicago, sehingga teori ini juga dikenal sebagai model
kaum moneteris (monetarist models). Teori ini menekankan pada peranan
jumlah uang beredar dan harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai kenaikan
harga terhadap timbulnya inflasi.
Inti dari teori ini adalah sebagai berikut :
1. Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang
beredar, baik uangkartal maupun giral.
2. Laju inflasi juga ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang
beredar dan oleh harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai
kenaikan harga di masa mendatang.
liv
•
Keynesian Model
Dasar pemikiran model inflasi dari Keynes ini, bahwa inflasi terjadi
karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya,
sehingga menyebabkan permintaan efektif masyarakat terhadap barang-barang
(permintaan
agregat)
melebihi
jumlah
barang-barang
yang
tersedia
(penawaran agregat), akibatnya akan terjadi inflationary gap. Keterbatasan
jumlah persediaan barang (penawaran agregat) ini terjadi karena dalam jangka
pendek kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk mengimbangi
kenaikan permintaan agregat. Oleh karenanya sama seperti pandangan kaum
monetarist, Keynesian models ini lebih banyak dipakai untuk menerangkan
fenomena inflasi dalam jangka pendek.
Dengan keadaan daya beli antara golongan yang ada di masyarakat tidak
sama (heretogen), maka selanjutnya akan terjadi realokasi barang-barang yang
tersedia dari golongan masyarakat yang memiliki daya beli yang relatif rendah
kepada golongan masyarakat yang memiliki daya beli yang lebih besar.
Kejadian ini akan terus terjadi di masyarakat. Sehingga, laju inflasi akan
berhenti hanya apabila salah satu golongan masyarakat tidak bisa lagi
memperoleh dana (tidak lagi memiliki daya beli) untuk membiayai pembelian
barang pada tingkat harga yang berlaku, sehingga permintaan efektif
masyarakat secara keseluruhan tidak lagi melebihi supply barang (inflationary
gap menghilang).
lv
•
Mark-up Model
Pada teori ini dasar pemikiran model inflasi ditentukan oleh dua
komponen, yaitu cost of production dan profit margin. Relasi antara
perubahan kedua komponen ini dengan perubahan harga dapat dirumuskan
sebagai berikut :
Price = Cost + Profit Margin
Karena besarnya profit margin ini biasanya telah ditentukan sebagai
suatu prosentase tertentu dari jumlah cost of production, maka rumus tersebut
dapat dijabarkan menjadi :
Price = Cost + ( a% x Cost )
Dengan demikian, apabila terjadi kenaikan harga pada komponenkomponen yang menyusun cost of production dan atau penaikan pada profit
margin akan menyebabkan terjadinya kenaikan pada harga jual komoditi di
pasar.
Maulidan (2004) mengemukakan pada saat terjadi inflasi, harga barangbarang cenderung naik, maka hal ini menyebabkan meningkatnya biaya
produksi
yang
dikeluarkan perusahaan.
Peningkatan
biaya
produksi
menyebabkan harga jual produksi meniingkat sehingga akan mengurangi
kuantitas produk yang dijual, akibatnya laba menjadi menurun.
Kenaikan harga yang terus menerus dalam suatu periode yang diukur
berdasarkan indeks harga konsumen. Indeks harga konsumen merupakan
indeks harga dari barang yang selalu digunakan para konsumen dengan
memakai indeks harga tahun sebelumnya sebagai tahun dasar.
lvi
Cara pengukuran inflasi yaitu:
Laju Inflasi = IHKt – IHKt-1
IHKt-1
2. Nilai tukar (Kurs) rupiah terhadap Dollar
Nilai tukar suatu mata uang didefinisikan sebagai harga satu unit mata
uang asing dalam mata uang domestik. Tingkat nilai tukar mata uang suatu
negara ditentukan di pasar melalui demand dan suply valuta asing (Melvin,
1985:5) dalam (Veronica, 2007). Tentunya dalam kondisi pasar internasional
yang semakin terintegrasi, faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi demand
dan suply juga akan semakin kompleks. Demikian juga dengan tingkat
volatilitasnya yang semakin meningkat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar menurut
Abdurrohman (1998) diantaranya sebagai berikut:
•
Purchasing Power Parity (PPP)
Dalam teori PPP, tingkat nilai tukar mata uang dinyatakan dalam bentuk
absolut dan relatif. Dalam bentuk absolut dinyatakan bahwa tingkat nilai
tukar suatu mata uang merupakan rasio antara harga domestik dengan
harga luar negeri. Sedangkan dalam bentuk relatif, nilai tukar mata uang
merupakan selisih antara tingkat inflasi di dalam negeri dengan tingkat
inflasi di luar negeri (Abdurrohman, 1998).
•
Interest Rate Differential (IRD)
Teori ini menyatakan bahwa perubahan tingkat nilai tukar mata uang
antara dua negara disebabkan oleh perbedaan tingkat suku bunga antara
lvii
kedua negara tersebut, namun dengan arah berlawanan yang biasa disebut
International Fisher Effect (Melvin, 1985:33). Pergerakan suku bunga di
suatu negara akan berpengaruh terhadap aliran modal masuk dan keluar
melalui mekanisme interest rate arbitrage. Selama ini tingkat suku bunga
domestik dinilai terlalu tinggi dengan suku bunga yang berlaku di luar
negeri. Akibat dari kondisi tersebut kalangan bisnis di Indonesia lebih
suka mencari dana atau pinjaman ke luar negeri karena cost of fund-nya
lebih rendah.
•
Monetary Model
Model ini didasarkan pada konsep PPP dan dikombinasikan dengan teori
kuantitas uang (quantity theory of money). Dengan menggunakan fungsi
permintaan uang (money demand), dinyatakan bahwa nilai tukar suatu
mata uang sama dengan perbedaan antara permintaan uang domestik
dengan permintaan uang luar negeri.
•
Balance of Payment (BOP)
Nilai tukar mata uang dalam model ini, mencerminkan kondisi defisit atau
surplus neraca pembayaran internasional (BOP). BOP terdiri dari saldo
neraca,
saldo
neraca
modal,
dan
saldo
cadangan
devisa
(Abdurrohman,1998). Sehingga upaya untuk mengendalikan tingkat nilai
tukar akan sangat bergantung dengan sistem nilai tukar yang dianut.
Dalam rezim mengambang terkendali, pemerintah berusaha akan
mempertahankan tingkat nilai tukar agar tetap berada pada band level yang
telah ditentukan. Bila saldo neraca berjalan dan saldo neraca modal lebih
lviii
dari nol, berarti terjadi kelebihan permintaan terhadap rupiah sehingga
terjadi penguatan terhadap nilai rupiah.
•
Speculative Attacks
Model ini merupakan fase terakhir dari kejatuhan suatu mata uang. Dalam
hal ini berperan sebagai akselarator terjadinya krisis mata uang.
Speculative Attacks didasari oleh adanya ekspektasi para pelaku pasa uang
(Abdurrahman, 1998). Paul Krugman berpendapat bahwa dalam sistem
fixed rate, kelebihan kredit domestik terhadap pertumbuhan permintaan
uang menyebabkan berkurangnya cadangan devisa yang kemudian
mengakibatkan ”speculative attacks” terhadap mata uang.
3. Produk Domestik Bruto (PDB)
Salah satu tolok ukur terpenting dalam mengukur tingkat pertumbuhan
ekonomi suatu negara adalah dengan melihat Produk Domestik Bruto (PDB).
PDB merupakan catatan tentang jumlah nilai rupiah dari barang dan jasa akhir
yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam suatu negara untuk waktu
satu tahun (Nurrochmat et al, 2007). Ada tiga pendekatan yang dapat
digunakan untuk menghitung PDB suatu negara, yaitu:
1. Pendekatan pendapatan
2. Pendekatan pengeluaran
3. Pendekatan nilai tambah
Produk Domestik Bruto merupakan nilai barang-barang dan jasa-jasa
yang diproduksikan di dalam negara tersebut dalam satu tahun tertentu
lix
(Sadono Sukirno, 2001:33). Atau dapat juga diartikan nilai barang dan jasa
dalam suatu negara yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi milik
warga negara tersebut dan negara asing.
Di Indonesia, perhitungan nilai PDB yang dilakukan oleh Badan Pusat
Statistik (BPS) adalah PDB dengan pendekatan nilai tambah. Menurut BPS
(2002) nilai PDB suatu negara tersebut sebenarnya sama dengan nilai tambah
yang diciptakan oleh semua sektor kegiatan ekonomi (lapangan usaha)
dinegara tersebut.
Untuk mempermudah perhitungan nilai tambah, BPS membagi sektor
perekonomian di Indonesia menjadi sembilan sektor usaha, yaitu:
1) Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan
2) Pertambangan dan penggalian
3) Perindustrian Pengolahan
4) Listrik, Gas, dan Air Bersih
5) Bangunan (konstruksi)
6) Perdagangan, Hotel dan Restoran
7) Angkutan dan Komunikasi
8) Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan
9) Jasa-jasa
Perhitungan nilai PDB dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan
diantaranya: pertama, untuk keperluan analisis ekonomi serta perencanaan
pembangunan nasional; kedua, sebagai salah satu tolok ukur atau instrumen
untuk menilai keberhasilan pembangunan nasional; ketiga, untuk mengetahui
lx
hasil-hasil
pembangunan;
dan
keempat,
untuk
menyusun
rencana
pembangunan nasional secara lebih rinci.
Selain beberapa manfaat tersebut, salah satu penggunaan PDB yang
sering dipergunakan secara internasional adalah pembedaan kategori negara
maju dan negara berkembang atau terbelakang dengan melihat tinggi
rendahnya tingkat pendapatan nasional per kapita di negara-negara tersebut
(Suparmoko dan Nurrochmat, 2005).
I. Tinjauan Peneliti Terdahulu
Penelitian-penelitian dengan obyek pasar modal syariah atau pasar
modal yang berpegang pada konsep syariah di Indonesia tidak banyak
dilakukan. Begitu pula, penelitian-penelitian yang menggunakan variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro juga jarang
dilakukan oleh beberapa peneliti dengan obyek pasar modal syariah.
Penelitian dengan obyek pasar modal syariah dilakukan oleh Aruzzi dan
Bandi (2003) dalam Hamzah (2005). Tujuan penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana variable tingkat suku bunga, rasio profitabilitas dan
beta akuntansi dapat mempengaruhi risiko sistematik atau beta saham syariah
yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
secara bersama-sama ataupun secara parsial pada periode pengamatan yang
diambil dalam penelitian tersebut. Adapun obyek yang diteliti adalah saham
perusahaan yang termasuk ke dalam JII dalam periode Januari 2001 –
Desember 2002. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama
lxi
maupun parsial variabel-variabel tingkat suku bunga, rasio profitabilitas dan
beta akuntansi tidak mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap beta
saham syariah. Koefisien determinasi adalah sebesar 7,1% ini berarti variabelvariabel tingkat suku bunga, rasio profitabilitas dan beta akuntansi hanya
dapat menjelaskan beta saham syariah sebesar 7,1%, sedangkan 92,9%
dijelaskan oleh variabel-variabel lain.
Huda (2004) dalam Huda dan Nasution (2007:70), dalam penelitiannya
mengkaji tentang faktor-faktor yang mempengaruhi beta saham pada
kelompok JII dan LQ-45, hasil penelitian antara lain menyatakan bahwa ratarata beta saham kelompok JII berada pada nilai di bawah satu yang berarti
mempunyai risiko di bawah risiko pasar, sebaliknya terjadi pada saham
kelompok LQ-45.
Hamzah (2005) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui
pengaruh variabel-variabel makro ekonomi, industri dan karakteristik
perusahaan terhadap beta saham syariah. Obyek yang diteliti adalah saham
perusahaan yang termasuk dalam JII periode Januari 2001 samapai Desember
2004. jumlah sampel adalah sebanyak 120 perusahaan. Hasil pengujian
dengan F-test menunjukkan bahwa variabel-variabel makro ekonomi, industri
dan karakteristik perusahaan mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap
beta saham syariah. Nilai koefisien determinasi sebesar 51,8%. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut dalam menjelaskan perubahan
beta saham syariah mempunyai hubungan dan pengaruh yang kuat. Hasil
pengujian dengan t-test menunjukkan pada variabel-variabel makro ekonomi
lxii
seperti kurs rupiah terhadap dollar dan Produk Domestik Bruto mempunyai
pengaruh signifikan pada level 5% terhadap beta saham syariah, sedangkan
pada variabel-variabel industri tidak mempunyai pengaruh signfikan terhadap
beta saham syariah dan pada variabel-variabel karakteristik perusahaan hanya
leverage dan profitabilitas yang mempunyai pengaruh signifikan pada level
10% terhadap beta saham syariah.
Sedangkan Auliyah (2006) meneliti kembali penelitian yang dilakukan
oleh Hamzah (2005) dengan menambah variabel terikatnya yaitu return
saham. Selain itu, periode yang digunakan adalah Januari
2001 sampai
Desember 2005 dengan jumlah sampel sebanyak 150 perusahaan. Pengujian
regresi secara linier berganda pada return saham syariah menghasilkan F
hitung sebesar 1,589 dengan tingkat signifikansi 11,6% dan pada beta saham
syariah menghasilkan F hitung sebesar 6,229 dengan tingkat signifikansi 0%.
Hal ini berarti variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan
ekonomi makro tidak berpengaruh secara signifikan pada tingkat 5% terhadap
return saham syariah tetapi berpengaruh secara signifikan pada tingkat 5%
terhadap beta saham syariah. Pengujian regresi secara parsial dengan t test
menunjukkan bahwa tidak ada satu pun variabel-variabel karakteristik
perusahaan, industri dan ekonomi makro berpengaruh secara signifikan pada
return saham syariah, sedangkan variabel-variabel karakteristik perusahaan,
industri dan ekonomi makro terhadap beta saham yang mempunyai pengaruh
signifikan pada tingkat 5% adalah cyclicality, kurs rupiah terhadap dollar dan
Produk Domestik Bruto (PDB).
lxiii
J. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini ingin membuktikan apakah variabel-variabel karakteristik
perusahaan (earning per share, debt to equity ratio, dan return on equity),
variabel-variabel industri (jenis industri dan ukuran industri) serta variabelvariabel ekonomi makro (tingkat inflasi, kurs rupiah terhadap dollar dan PDB)
berpengaruh secara signifikan terhadap return dan beta saham syariah.
Variabel-variabel karakteristik perusahaan
yang dikenal dengan
fundamental mikro perusahaan dan industri serta ekonomi makro yang biasa
dikenal dengan fundamental makro perusahaan memiliki pengaruh baik positif
atau negatif terhadap return dan beta saham (Husnan, 2001).
Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t yaitu mengetahui apakah ada
pengaruh atau tidak secara parsial (secara individu) variabel independent
terhadap variabel dependen dan uji F dilakukan untuk mengetahui apakah
secara bersama-sama (simultan) ada pengaruh atau tidak antara variabel
independent terhadap variabel dependen.
Uji multikolinearitas dilakukan
untuk mengetahui apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi
antara variabel independent atau tidak. Uji autokorelasi dilakukan untuk
mengetahui apakah dalam model regresi ada korelasi antara kesalahan
pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1
(sebelumnya). Uji heroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah
dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu
pengamatan ke pengamatan lain atau tidak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar 2.1 di bawah ini.
lxiv
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Jakarta Islamic Indeks (JII)
Perusahaan yang masuk 30 besar dalam JII
periode Januari 2003 – Desember 2007
Variabel Dependent
Return Saham
•
Variabel Dependent
Beta Saham
Variabel Independent
Karakteristik
Perusahaan : EPS,
•
DER, ROE
•
•
Variabel Independent
Karakteristik
Perusahaan : EPS,
DER, ROE
Industri : jenis dan
ukuran industri
Makro Ekonomi :
inflasi, kurs, dan PDB
•
•
Model Regresi
Uji Asumsi Klasik
Analisis Regresi Berganda
- Uji T-test
- Uji F-test
- Koefisien Determinasi
Interpretasi
lxv
Industri : jenis dan
ukuran industri
Makro Ekonomi :
inflasi, kurs, dan PDB
K. Hipotesis
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali variabel-variabel
karakteristik perusahaan, industri, dan makro ekonomi terhadap tingkat return
dan beta saham syariah. Berdasarkan analisis dan temuan peneliti terdahulu,
maka hipotesis penelitian dinyatakan sebagai berikut :
H : Variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan makro
A1
ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap return saham
syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
H : Variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan makro
A2
ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap beta saham
syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
lxvi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian untuk menguji hipotesis yang
diajukan mengenai pengaruh variabel-variabel karakteristik perusahaan,
industri dan makro ekonomi sebagai variabel independent terhadap return dan
beta saham syariah sebagai variabel dependen. Ruang lingkup penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Fokus penelitian merupakan saham emiten yang listing di Bursa Efek
Indonesia (BEI).
2. Obyek yang diteliti adalah saham perusahaan yang termasuk dalam
Jakarta Islamic Index (JII).
3. Periode yang diteliti dari Januari 2003 sampai Desember 2007.
4. Variabel dependen adalah return dan beta saham syariah.
5. Variabel independen adalah variabel-variabel karakteristik perusahaan,
industri dan ekonomi makro.
B. Metode Penetuan Sampel
Pengambilan
sampel
menggunakan
teknik
purposive
sampling.
Perusahaan yang dijadikan sampel merupakan perusahaan yang memenuhi
kriteria sebagai berikut:
1. Saham emiten yang halal berdasarkan ketentuan syariah, kehalalan suatu
saham disahkan oleh Dewan Pengawas Syariah.
50
lxvii
2. Saham-saham tersebut terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Perusahaan yang masuk 30 besar dalam Jakarta Islamic Indeks dari
periode Januari 2003 sampai Desember 2007.
4. Perusahaan emiten menerbitkan laporan keuangan tahunan selama periode
Januari 2003 sampai Desember 2007.
C. Metode pengumpulan data
1. Studi Pustaka
Pengumpulan data ini dilengkapi pula dengan membaca dan mempelajari
serta menganalisis literature yang bersumber dari buku-buku dan jurnaljurnal serta tesis yang berkaitan dengan penelitian ini.
2. Data sekunder
Data variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi
makro diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD),
website mengenai pasar modal, Biro Pusat Statistik, Bank Indonesia dan
Bursa Efek Indonesia.
Variabel-variabel pada karakteristik perusahaan yang dijadikan penelitian
ini adalah earning per share, debt to equity ratio, dan return on equity.
Pengukuran pada variabel-variabel ini ditentukan berdasarkan jumlah
saham beredar, laba bersih, total hutang, ekuitas, utang lancar, dan total
aset.
Variabel-variabel industri adalah jenis industri dan ukuran industri.
Variabel jenis industri dibedakan antara industri manufaktur dan non
lxviii
manufaktur. Untuk ukuran industri digunakan nilai 0 untuk industri kecil
dan 1 untuk industri besar yang dikelompokkan berdasarkan nilai dari total
aset perusahaan.
Variabel-variabel ekonomi makro adalah inflasi, kurs rupiah terhadap
dollar, dan produk domestic bruto (PDB). Pengukuran inflasi dan kurs
mata uang ditentukan oleh Bank Indonesia. Untuk pengukuran PDB
diukur dari nilai seluruh output atau produk dalam perekonomian suatu
negara. Nilai PDB dihitung oleh pemerintah.
D. Metode Analisis
1. Model Analisis
Model pengujian variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan
ekonomi makro terhadap return dan beta saham syariah dapat ditunjukkan
pada gambar 2 sebagai berikut.
Gambar 3.1
lxix
2. Uji Asumsi Klasik
Sebelum melakukan pengujian regresi linier berganda maka dilakukan
pengujian asumsi klasik berupa normalitas, autokorelasi, multikolinealiritas
dan heteroskedastisitas.
a. Uji normalitas data
Pengujian normalitas adalah pengujian tentang kenormalan distribusi
data. Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
dependen variabel dan independen variabel ataupun keduanya mempunyai
distribusi yang normal atau tidak. Menurut Singgih Santoso (2004 : 124) ada
beberapa cara untuk mendeteksi normalitas yaitu dengan penyebaran data
(titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Dasar pengambilan keputusan dalam
uji normalitas adalah :
-
Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal maka model regresi tersebut memenuhi asumsi normalitas.
-
Jika data menyebar dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis
diagonal maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
b
Uji Autokorelasi
Uji ini digunakan untuk mendeteksi adanya autokorelasi diantara
variabel yang dianalisis. Uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji
Durbin Watson. Kriteria pengujian adalah apabila nilai Durbin Watson
terletak antara 1,5 – 2,5 maka tidak ada autokorelasi diantara variabel yang
dianalisis.
lxx
c. Uji Multikolinearitas
Uji ini digunakan untuk mendeteksi adanya hubungan yang sempurna
dan pasti diantara variabel bebas yang dianalisis. Multikolonieritas dapat
dilihat dati nilai Tolerance dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF).
Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang
dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cutoff yang umum dipakai
untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai Tolerance <0,10
atau sama dengan nilai VIF>10. Kriteria pengujian adalah apabila nilai
Tolerance berada dibawah 0,01 atau nilai VIF diatas 10 maka terjadi
multikolinearitas.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini digunakan untuk mendeteksi adanya penyebaran titik data
populasi pada bidang regresi yang tidak konstan. Gejala Heteroskedastisitas
akan muncul apabila distrubance term untuk setiap observasi tidak lagi
konstan tetapi bervariasi. Apabila hal ini terjadi maka estimator OLS masih
tetap tidak bias dan masih tetap tidak konsisten tetapi tidak konsisten lagi
dalam sampel kecil. Untuk mengetahui heteroskedastisitas dalam penelitian ini
menggunakan scatterplot.
3. Regresi
Peneliti dalam menganalisis pengaruh variabel-variabel karakteristik
perusahaan, industri dan makro ekonomi sebagai variabel independent
lxxi
terhadap return dan beta saham syariah sebagai variabel dependen melalui
tahap-tahap sebagai berikut:
•
Menentukan sampel perusahaan yang diambil dalam penelitian ini sesuai
dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan selama periode Januari 2003
sampai Desember 2007. Analisis deskriptif dilakukan untuk menghitung
nilai deviasi standar, mean, maksimum dan minimum pada variabel
independen dan variabel dependen.
•
Analisis awal yaitu melakukan analisis regresi yang bertujuan untuk
mencari adanya hubungan antara variabel dependen dengan satu atau lebih
variabel independen. Dimana variabel dependen yang di uji adalah return
dan beta saham syariah serta variabel independent antara lain earning per
share, debt to equity ratio, dan return on equity; jenis industri dan ukuran
industri; inflasi, kurs rupiah terhadap dollar, dan produk domestik bruto
(PDB).
•
Analisis selanjutnya yaitu metode regresi linier berganda (multiple linear
regression method) yang digunakan untuk membuktikan hipotesa di atas.
Perumusan metode tersebut sebagai berikut :
Y1 = a + β X + β X + β X + β X + β X + β X + β X + β X + e
1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
Y2 = a + β X + β X + β X + β X + β X + β X + β X + β X + e
1
1
2
2
3
3
4
4
dimana:
Y1 = Return saham syariah
Y2 = Beta saham syariah
a = Konstanta
lxxii
5
5
6
6
7
7
8
8
β = Koefisien regresi dari variabel independen ke i.
i
X = earning per share, X = debt to equity ratio, X = return on equity
1
2
3
X = jenis industri, X = ukuran industri, X = inflasi
4
5
6
X = kurs rupiah terhadap dollar, X = PDB, e = Estimasi Error
7
8
4. Pengujian Hipotesis
a. Uji t
Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari
variabel bebasnya. Hipotesis yang digunakan adalah
Ho : b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b8 = 0, artinya secara parsial tidak ada pengaruh
signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
H1 : b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b8 ≠ 0, artinya secara parsial ada pengaruh
signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
Nilai t statistik dapat dicari dengan rumus (Gujarati, 1995 dalam Ulupui,
2005):
t-hit = Koefisien regresi bi
Standar deviasi bi
Untuk menentukan nilai t-statistik tabel ditentukan tingkat signifikansi
5% dengan derajat kebebasan df = (n-k-1) di mana n adalah jumlah observasi
dan k adalah jumlah variabel termasuk intersep dengan kriteria uji adalah:
•
Jika t hit > t tabel (α, n-k-1), maka Ho ditolak
•
Jika t hit < t tabel (α, n-k-1), maka Ho diterima
lxxiii
b. Uji F-test
Uji statistik F digunakan untuk menguji keberartian pengaruh dari
seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat.
Hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
Ho : b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b8 = 0, berarti secara bersama-sama tidak ada
pengaruh signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
H1 : b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b8 ≠ 0, berarti secara bersama-sama ada pengaruh
signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.
Nilai F hitung dapat dicari dengan menggunakan rumus (Gujarati,
1995 dalam Ulupui 2005):
F hitung
= R2 / (k – 1)
(1-R2) / (n-k)
Untuk menentukan nilai F-tabel, tingkat signifikansi yang digunakan
sebesar 5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df = (n-k) dan (k-1)
di mana n adalah jumlah observasi, k adalah jumlah variabel termasuk intersep
dengan kriteria uji yang digunakan adalah:
Jika F hit > F tabel (a;k-1;n-k), maka H0 ditolak
Jika F hit < F tabel (a; k-a; n-k), maka H0 diterima
c. Koefisien Determinan
Untuk melihat kontribusi kemampuan menjelaskan variabel bebas secara
bersama-sama terhadap variansi variabel terikat dapat dilihat dari koefiesien
determinasi (R2) berganda di mana nilai koefisiennya antara 0 ≤ 1. Hal ini
berarti bahwa nilai R2 yang semakin besar mendekati 1 merupakan indikator
lxxiv
yang menunjukkan semakin kuatnya kemampuan menjelaskan perubahan
variabel independen terhadap variabel dependen .
E. Operasional Variabel Penelitian
1. Dependen Variabel
Variabel dependen pada penelitian ini adalah Return dan Beta saham
yang tercermin dalam Jakarta Islamic Indeks.
•
Return saham syariah merupakan tingkat pengembalian dari suatu skuritas
yang terdaftar di Jakarta Islamic Indeks.
Pengukuran tingkat return dari saham dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu yang pertama dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Ri = (P – P ) / P
t
t-1
t-1
Selain return saham terdapat juga return pasar (Rm) yang dapat dihitung
dengan rumus: Jogiyanto (2003 : 232) dalam Suharli (2005 : 101)
Rm = IHSGt – IHSGt-1 / IHSGt-1
•
Beta saham syariah merupakan risiko yang terdapat pada sekuritas yang
terdaftar di Jakarta Islamic Indeks.
Pengukuran Beta menggunakan persamaan dari market model dengan
persamaan:
Ri = αi + βiRm + et,
Pengukuran Beta juga dapat menggunakan rumus:
ß = Cov (ri, rm) atau ß = ∑∑ ((ri - ri)x(rm - rm)) / (n-1)
∑ ( (rm - rm)2) / (n-1)
Var (rm)
lxxv
2. Independen Variabel
Pada penelitian ini digunakan sebelas variabel independen, yaitu:
a. Earning Per Share (EPS)
Earning Per Share merupakan jumlah pendapatan yang diperoleh
dalam satu periode untuk tiap lembar saham yang beredar.
EPS
=
Laba Bersih – Dividen Saham Prioritas
Rata-rata Tertimbang dari Saham yang Beredar
b. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio merupakan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh berapa bagian
dari modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang.
(Bambang Riyanto, 1995:333).
DER
=
Total Hutang
Total Modal Sendiri
c. Return On Equity (ROE)
Return On Equity merupakan rasio yang menunjukkan hasil
pengembalian investasi atas pemilik atau pemegang saham dan
dinyatakan dalam (%) dengan rumus sebagai berikut :
ROE
=
EAT x 100%
Ekuitas
Nilai ketiga variabel di atas diperoleh dari financial data & ratios
Jakarta Stock Exchange di Bursa Efek Indonesia.
d. Jenis industri dibedakan antara industri manufaktur dan non
manufaktur. Digunakan nilai 0 untuk industri non manufaktur dan nilai
1 untuk industri manufaktur. Data pengelompokan jenis industri ini
lxxvi
didapat dari financial data & ratios Jakarta Stock Exchange di Bursa
Efek Indonesia.
e. Ukuran industri digunakan nilai 0 untuk industri kecil dan 1 untuk
industri besar berdasarkan nilai dari total aset perusahaan. Industri
kecil memiliki total aset <400M, industri menengah total asetnya
<8000M, dan industri besar jumlah asetnya >8000M (Wahyudi,
2006:92)
f. Inflasi
Inflasi merupakan suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku
dalam sesuatu perekonomian (Sadono Sukirno, 2001:15).
Tingkat inflasi dalam penelitian ini diperoleh melalui situs
www.bi.go.id
g. Kurs rupiah terhadap Dollar ditentukan oleh Bank Indonesia dan
tercantumkan di dalam situsnya..
h. Produk Domestik Bruto (PDB)
Produk Domestik Bruto merupakan nilai barang-barang dan jasa-jasa
yang diproduksikan di dalam negara tersebut dalam satu tahun tertentu.
(Sadono Sukirno, 2001:33)
Nilai PDB diperoleh dari situs www.bi.go.id
lxxvii
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Sejarah Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Jakarta (BEJ) atau Jakarta Stock Exchange (JSX) adalah
sebuah bursa saham di Jakarta, Indonesia. Bursa Efek Jakarta merupakan salah
satu bursa tempat dimana orang memperjualbelikan efek di Indonesia. Pada 1
Desember 2007 Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya melakukan
pengabungan usaha yang secara efektif mulai beroperasi pada 1 Desember
2007 dengan nama baru Bursa Efek Indonesia.
PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) pertama kali berdiri pada zaman
pemerintahan Hindia Belanda, yang kemudian dibentuk ulang melalui
Undang-Undang Darurat No. 13 tahun 1951, dan selanjutnya dipertegas oleh
Undang-Undang Republik Indonesia No. 15 tahun 1952. selama dua
dasawarsa kemudian BEJ mengalami pasang surut yang ditandai pula oleh
pemberhentian kegiatan sepanjang decade 60-an dan awal 70-an. Pada tahun
1977, pemerintah Indonesia menghidupkan kembali BEJ dengan mencatatkan
saham 13 perusahaan PMA. Namun demikian, baru sekitar decade 80-an dan
awal 90-an, BEJ benar-benar berkembang menjadi bursa efek seperti yang kita
kenal sekarang sebagai Bursa Efek Indonesia.
Bursa Efek Indonesia (disingkat BEI, dalam Bahasa Inggris Indonesia
Stock Exchange (ISX) adalah sebuah pasar saham yang merupakan hasil
penggabungan Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES),
61
lxxviii
di mana Bursa Efek Surabaya melebur ke dalam Bursa Efek Jakarta.
Perusahaan hasil penggabungan usaha ini memulai operasinya pada 1
Desember 2007. Bursa Efek Indonesia dipimpin oleh Direktur Utama Erry
Firmansyah, mantan direktur utama BEJ. Mantan Direktur Utama BES Guntur
Pasaribu menjabat sebagai Direktur Perdagangan Fixed Income dan Derivatif,
Keanggotaan dan Partisipan.
BEI menggunakan sistem perdagangan bernama Jakarta Automated
Trading System (JATS) sejak 22 Mei 1995, menggantikan sistem manual
yang digunakan sebelumnya. Sistem JATS ini sendiri direncanakan akan
digantikan sistem baru yang akan disediakan OMX.
Menurut Jogianto (2003:37) dalam Windy (2006) era pasar modal di
Indonesia dibagi menjadi enam periode:
1. Periode Pertama (1912-1942): Periode Zaman Belanda
Pada tanggal 14 Desember 1912, suatu asosiasi 13 broker dibentuk di
Jakarta. Asosiasi ini diberi nama Belandanya sebagai “Vereniging voor
Effectenhandel” yang merupakan cikal bakal pasar modal pertama di
Indonesia. Setelah perang dunia I, pasar modal di Surabaya mendapat giliran
dibuka pada tanggal 1 Januari 1925 dan disusul di Semarang pada tanggal 1
Agustus 1925. karena masih dalam zaman penjajahan Belanda dan pasar-pasar
modal ini juga didirikan oleh Belanda, mayoritas saham-saham yang
diperdagangkan di sana juga merupakan saham-saham perusahaan Belanda
dan afiliasinya yang tergabung dalam Dutch East Indies Trading Agencies.
lxxix
2. Periode Kedua (1952-1960): Periode Orde Lama
Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, pada tanggal 1 September
1951 dikeluarkan Undang-Undang Darurat no. 12 yang kemudian dijadikan
Undang-Undang No. 15 tahun 1952 tentang Pasar Modal.Melalui keputusan
Menteri Keuangan No. 289737/UU tanggal 1 Nopember 1951, Bursa Efek
Indonesia (BEI) akhirnya dibuka kembali pada tanggal 3 Juni 1952.
Tujuan dibuka kembali bursa efek ini untuk menampung obligasi
pemerintah yang sudah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuan
lainnya adalah untuk mencegah saham-saham perusahaan Belanda yang
dulunya diperdagangkan di pasar modal di Jakarta pergi ke luar negeri.
Kepengurusan bursa efek ini kemudian diserahkan kepada Perserikatan
Perdagangan Uang dan Efek-efek (PPUE) yang terdiri dari 3 bank dengan
Bank Indonesia sebagai anggota kehormatan.
3
Periode Ketiga (1977-1988): Periode Orde Baru
Bursa Efek Indonesia dikatakan lahir kembali pada tahun 1977 dalam
periode orde baru sebagai hasil Keputusan Presiden No. 52 tahun 1976.
Keputusan ini menetapkan pendirian Pasar Modal, pembentukan Badan
Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dan PT. Danareksa. Presiden Soeharto
meresmikan kembali Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 10 Agustus 1977.
PT. Semen Cibinong merupakan perusahaan pertama yang tercatat di BEJ.
4
Periode Keempat (1988-1995): Periode Bangun dari Tidur yang Panjang
Setelah tahun 1988, selama tiga tahun yaitu sampai tahun 1990, jumlah
perusahaan yang terdaftar di BEJ meningkat sampai dengan 127 perusahaan.
lxxx
Kemudian pada tahun 1996 jumlah perusahaan yang terdaftar meningkat
menjadi 238 perusahaan. Pada periode ini, Initial Public Offering (IPO)
menjadi peristiwa nasional.
5. Periode Kelima (mulai 1995): Periode Otomatisasi
Peningkatan kegiatan transaksi yang dirasakan sudah melebihi
kapasitas manual, maka BEJ memutuskan untuk mengotomatisasikan kegiatan
transaksi di bursa. System otomatisasi yang diterapkan di Bursa Efek Jakarta
(BEJ) di beri nama Jakarta Automated Trading System (JATS) dan mulai
beroperasi pada hari senin tanggal 22 Mei 1995.
Selain itu, untuk mengantisipasi jumlah anggota bursa dan transaksi
yang meningkat, maka pada tanggal 19 September 1996 BES menerapkan
system otomatisasi yang disebut Surabaya Market Information and Automated
Trading System (S-MART).
6. Periode Keenam (mulai Agustus 1997): Kritis Moneter
Pada bulan Agustus 1997, krisis moneter melanda Negara-negara di
Asia, termasuk Indonesia. Krisis moneter yang terjadi ini dimulai dari
penurunan nilai-nilai mata uang Negara-negara Asia tersebut relative terhadap
Dolar Amerika. Untuk mencegah permintaan dolar Amerika yang berlebihan
yang mengakibatkan nilainya meningkat dan menurunnya nilai Rupiah, Bank
Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Tingginya
suku bunga deposito berakibat negatif terhadap pasar modal. Investor tidak
tertarik lagi untuk menanamkan dananya di pasar modal, karena total return
yang diterima lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan dari bunga
lxxxi
deposito. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun, begitupun
halnya dengan harga saham-saham di pasar modal.
Untuk mengurangi kelesuan permintaan sekuritas di pasar modal
Indonesia, pemerintah berusaha meningkatkan aktivitas perdagangannya
melalui transaksi investor asing. Pada tanggal 3 September 1997 pemerintah
tidak lagi memberlakukan pembatasan 49% pemilikan asing. Ini berarti
investor asing boleh memiliki saham-saham yang jumlahnya tidak terbatas.
Selain itu, untuk memperbaiki perekonomian yang bergejolak, pemerintah
pada tanggal 1 Nopember 1997 mengumumkan likuidasi 16 bank swasta
nasional. Pengumuman yang mengejutkan ini tidak banyak membantu
memperbaiki lesunya pasar saham. Bahkan IHSG untuk bulan Nopember
merosot tajam.
BEJ proaktif memantau pergerakan harga saham dan melakukan
tindakan-tindakan yang diperlukan terhadap transaksi-transaksi saham yang
mengalami fluktuasi harga yang signifikan tanpa didukung informasi yang
jelas. Perbaikan dalam hal tingkat respon BEJ mencerminkan komitmen BEJ
dalam menjalankan mekanisme kepengawasan maupun pengendalian, untuk
senantiasa menjaga integritas dan kredibilitas Bursa.
Sedangkan menurut Yudhi (2008) tonggak perkembangan pasar modal
di Indonesia secara singkat dapat dilihat sebagai berikut:
a. Pada tanggal 14 Desember 1912 Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk
di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda.
lxxxii
b. Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I pada tahun 1914 1918
c. Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di
Semarang dan Surabaya da tahun 1925 - 1942
d. Awal tahun 1939 dikarenakan adanya isu politik (Perang Dunia II) Bursa
Efek di Semarang dan Surabaya ditutup kembali.
e. Pada tahun 1942 - 1952 Bursa Efek di Jakarta ditutup selama Perang
Dunia II
f. Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar Modal
1952, yang dikeluarkan oleh Menteri kehakiman (Lukman Wiradinata) dan
Menteri keuangan (Prof.DR. Sumitro Djojohadikusumo). Instrumen yang
diperdagangkan: Obligasi Pemerintah RI (1950) pada tahun 1952.
g. Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin tidak aktif
Perdagangan di Bursa Efek vakum pada tahun 1956 – 1977.
h. Pada tanggal 10 Agustus 1977 Bursa Efek diresmikan kembali oleh
Presiden Soeharto. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana
Pasar Modal). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar Modal.
Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT
Semen Cibinong sebagai emiten pertama.
i.
Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru
mencapai
24.
Masyarakat
lebih
memilih
instrumen
perbankan
dibandingkan instrumen Pasar Modal. Hal ini terjadi antara tahaun 1977 –
1987.
lxxxiii
j.
Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang
memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran
Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia pada tahun
1987.
k. Selang tahun 1988 – 1990 paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar
Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat
meningkat.
l.
Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh
Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya
terdiri dari broker dan dealer pada tanggal 2 Juni 1988 :
m. Di bulan Desember 1988 Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88
(PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public
dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal.
n. Pada tanggal 16 Juni 1989 Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi
dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek
Surabaya.
o. Kemudian pada tanggal 13 Juli 1992 swastanisasi BEJ. BAPEPAM
berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati
sebagai HUT BEJ.
p. Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem
computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems) pada 22 Mei 1995.
lxxxiv
q. Tanggal 10 November 1995 Pemerintah mengeluarkan Undang -Undang
No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai
diberlakukan mulai Januari 1996.
r. Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya tahun 1995.
s. Pada tahun 2000 dan 2002 Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless
trading) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia dan BEJ mulai
mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading).
t. Pada tahun 2007 terjadi penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke
Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia
(BEI).
2. Visi dan Misi Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia yang menjadi penyelengara pasar modal di
Indonesia memiliki visi dan misi sebagai berikut:
Visi: Menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas dunia.
Misi:
a. Menjadikan bursa efek sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi
nasional serta menjadi gerbang investasi bagi Investor lokal maupun asing.
b. Sebagai institusi yang dinamis dan tanggap terhadap perubahan pasar dan
teknologi dengan tetap memperhatikan perlindungan investor.
c. Organisasi
yang
independen
dengan
fokus
pada
unsure
transformasi struktural maupun kultural menuju tren global.
lxxxv
bisnis,
d. Lembaga bursa yang berwibawa, transparan, memiliki integritas tinggi
sebagai Centre of Competence and Exellence di pasar modal.
e. Meningkatkan kualitas produk dan layanan jasa terbaik melalui
pemberdayaan SDM.
B. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pengujian Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik diperlukan agar model regresi yang diperoleh
memenuhi kriteria BLUE (best linier unbiased estimator). Adapun uji asumsi
klasik meliputi normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan
autokorelasi.
1.1 Uji Asumsi Klasik Model Regresi Linear Persamaan 1
•
Variabel Dependen: Return Saham
Variabel Independen: Karakteristik Perusahaan, Industri dan Ekonomi
Makro
a. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model
regresi, variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai
distribusi normal ataukah tidak. Untuk mendeteksi normalitas data suatu
model regresi dapat diidentifikasikan dari grafik scatter plot. Model regresi
yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal.
lxxxvi
Hasil pengujian penelitian ini, berdasarkan pengaruh karakteristik perusahaan,
industri, dan ekonomi makro terhadap return saham syariah adalah sebagai
berikut:
Gambar 4.1
Hasil Uji Normalitas Pada Saat Masih Ada Outlier
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Return
Expected Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Observed Cum Prob
Sumber : Output SPSS
Dari hasil scatter plot di atas dapat diketahui bahwa data tersebut tidak
terdistribusi normal karena titik-titik yang menyebar tidak berada di sekitar
garis diagonal.
Agar dapat memenuhi asumsi normalitas data, dimana nilai-nilai outlier
telah dikeluarkan sehingga mendapatkan observasi sebanyak 138. Outlier
adalah nilai yang terpisah dari kumpulan observasi yang dapat bernilai sangat
lxxxvii
besar atau sangat kecil. Tujuannya adalah untuk menentukan atau
mengevaluasi kesahihan suatu model, baik untuk melihat pelanggaran
terhdapa asumsi maupun untuk melihat penyimpangan nilai prediksi terhadap
nilai sesungguhnya (Nachrawi dan Usman, 2006:135).
Hasil dari uji normalitas data setelah dilakukan pembuangan terhadap
outlier dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Gambar 4.2
Hasil Uji Normalitas Setelah Tidak Ada Outlier
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Return
Expected Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Observed Cum Prob
Sumber : Output SPSS
Dari hasil scatter plot di atas dapat diketahui bahwa data tersebut telah
terdistribusi normal karena titik-titik yang menyebar berada di sekitar garis
lxxxviii
diagonal. Sehingga penelitian ini dapat dikatakan telah memenuh asumsi
normalitas data.
b. Uji Multikolinieritas
Pengujian terhadap gejala multikolenieritas berguna untuk mengetahui
apakah ada hubungan linear sempurna antara beberapa atau semua variabel
independen yang dipergunakan dalam model regresi penelitian ini. Untuk
mengetahui apakah antara variabel independent mempunyai kolinieritas yang
kuat atau tidak, digunakan Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance
(TOL). Jika tolerance value di bawah 0,10 dan nilai VIF di atas 10 maka
terjadi multikolenieritas.
Tabel 4.1
Hasil Uji Multikolinieritas
Tolerance
VIF
EPS
0,849
1,178
DER
0,673
1,487
ROE
0,598
1,673
Jenis Industri
0,909
1,100
Ukuran Industri
0,926
1,080
Inflasi
0,721
1,387
Kurs
0,607
1,648
PDB
0,750
1,333
Independen
a Dependent Variable: Return
Sumber : Output SPSS
lxxxix
Keterangan
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tabel di atas memperlihatkan hasil pengujian multikolinieritas. Hasil
pengujian tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi
multikolinieritas. Hal ini ditunjukkan dengan tolerance value masing-masing
variabel berada di atas 0,10 dan nilai VIF berada di bawah 10. Dengan
demikian model regresi dalam penelitian ini terbebas dari gelaja
multikolinieritas.
c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada korelasi
antara anggota seperangkat data observasi yang diurutkan waktu (time series).
Untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi digunakan metode Durbin
Watson Test (D-W Test). Kriteria pengujian adalah apabila nilai D-W terletak
antara 1,5 – 2,5 maka tidak terjadi gejala autokorelasi.
Tabel 4.2
Hasil Autokorelasi
Model Summary(b)
Std. Error of the
DurbinR
R Square Adjusted R Square
Estimate
Watson
,405(a)
,164
,113
,10769
1,895
a Predictors: (Constant), EPS, DER, ROE, Jenis Industri, Ukuran Industri, Inflasi, Kurs, PDB
b Dependent Variable: Return
Model
1
Sumber : Output SPSS
Dengan melihat tabel 4.2 diperoleh perhitungan D-W adalah 1,895
sedangkan dari kriteia uji, nilai D-W yang terletak antara 1,5 – 2,5 maka
terbebas dari gejala autokorelasi. Oleh karena hasil perhitungan D-W sebesar
xc
1,895 maka model tersebut tidak mengandung autokorelasi baik positif
maupun negatif.
d. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah variabel pengganggu (e1) memiliki varian
yang berbeda dari observasi lainnya. Padahal diharapkan variabel penjelas
mempunyai variabel yang konstan untuk mendeteksi ada beberapa metode
seperti metode grafik, glejser, rank spearman, dan Barlett. Program SPSS 15
menyediakan metode grafik menu scatterplot pada menu analyze.
Gambar 4.3
Hasil Uji Heteroskedastisitas Pada Saat Masih Ada Outlier
Scatterplot
Dependent Variable: Return
Regression Studentized Residual
8
6
4
2
0
-2
-2.5
0.0
2.5
5.0
Regression Standardized Predicted Value
Sumber : Output SPSS
xci
7.5
Pada gambar tersebut, terlihat titik-titik menyebar tidak secara acak dan
membentuk suatu pola tertentu, serta tidak tersebar baik diatas maupun di
bawah angka nol pada sumby Y. Hal ini mengindikasikan bahwa model
regresi diatas terdapat gejala hetoskedastisitas. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut, sama halnya dengan pengujian sebelumnya, penulis mengeluarkan
atau tidak mengikutsertakan observasi yang outlier ke dalam model yang akan
dibentuk. Sehingga didapatkan hasil sebagai berikut :
Gambar 4.4
Hasil Uji Heteroskedastisitas Setelah Tidak Ada Outlier
Scatterplot
Dependent Variable: Return
Regression Studentized Residual
4
2
0
-2
-2
0
2
4
Regression Standardized Predicted Value
Sumber : Output SPSS
xcii
6
8
Pada gambar di atas terlihat titik-titik sudah menyebar secara acak dan
tidak membentuk pola tertentu. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat
gejala heteroskedastisitas pada model regresi tersebut.
1.2 Uji Asumsi Klasik Model Regresi Linear Persamaan 2
•
Variabel Dependen: Beta saham
Variabel Independent: Karakteristik Perusahaan, Industri dan Ekonomi
Makro
a. Uji Normalitas Data
Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model
regresi, variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai
distribusi normal ataukah tidak. Untuk mendeteksi normalitas data suatu
model regresi dapat diidentifikasikan dari grafik scatter plot. Model regresi
yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal.
Hasil pengujian penelitian ini, berdasarkan pengaruh karakteristik perusahaan,
industri, dan ekonomi makro terhadap beta saham syariah adalah sebagai
berikut:
xciii
Gambar 4.5
Hasil Uji Normalitas
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Beta
Expected Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Observed Cum Prob
Sumber : Output SPSS
Dari hasil scatter plot di atas dapat diketahui bahwa data tersebut telah
terdistribusi normal karena titik-titik yang menyebar berada di sekitar garis
diagonal. Sehingga penelitian ini dapat dikatakan telah memenuh asumsi
normalitas data.
b. Uji Multikolinieritas
Pengujian terhadap gejala multikolenieritas berguna untuk mengetahui
apakah ada hubungan linear sempurna antara beberapa atau semua variable
independen yang dipergunakan dalam model regresi penelitian ini. Untuk
xciv
mengetahui apakah antara variabel independent mempunyai kolinieritas yang
kuat atau tidak, digunakan Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance
(TOL). Jika tolerance value di bawah 0,10 dan nilai VIF di atas 10 maka
terjadi multikolenieritas.
Tabel 4.3
Hasil Uji Multikolinieritas
Tolerance
VIF
EPS
0,849
1,178
DER
0,673
1,487
ROE
0,598
1,673
Jenis Industri
0,909
1,100
Ukuran Industri
0,926
1,080
Inflasi
0,721
1,387
Kurs
0,607
1,648
PDB
0,750
a Dependent Variable: Beta
1,333
Independen
Keterangan
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Tidak terjadi Multikolinieritas
Sumber : Output SPSS
Tabel di atas memperlihatkan hasil pengujian multikolinieritas. Hasil
pengujian tersebut menunjukkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi
multikolinieritas. Hal ini ditunjukkan dengan tolerance value masing-masing
variabel berada di atas 0,10 dan nilai VIF berada di bawah 10. Dengan
demikian model regresi dalam penelitian ini terbebas dari gelaja
multikolinieritas.
xcv
c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada korelasi
antara anggota seperangkat data observasi yang diurutkan waktu (time series).
Untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi digunakan metode Durbin
Watson Test (D-W Test). Kriteria pengujian adalah apabila nilai D-W terletak
antara 1,5 – 2,5 maka tidak terjadi gejala autokorelasi.
Tabel 4.4
Hasil Uji Autokorelasi Pada Saat Masih Ada Outlier
Model Summary(b)
Model
1
R
,418(a)
R Square
,175
Adjusted R
Square
,140
Std. Error of
the Estimate
,3781676
Durbin-Watson
1,482
a Predictors: (Constant), PDB, Ukuran Industri, DER, EPS, Jenis Industri, Inflasi , Kurs, ROE
b Dependent Variable: Beta
Sumber : Output SPSS
Dengan melihat tabel 4.4 diperoleh perhitungan D-W adalah 1,482
sedangkan dari kriteria uji, nilai D-W yang terletak antara 1,5 – 2,5 maka telah
terjadi gejala autokorelasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sama
halnya dengan pengujian sebelumnya, penulis mengeluarkan atau tidak
mengikutsertakan observasi yang outlier ke dalam model yang akan dibentuk.
Sehingga didapatkan hasil sebagai berikut :
xcvi
Tabel 4.5
Hasil Uji Autokorelasi Setelah Tidak Ada Outlier
Model Summary(b)
Adjusted R
Std. Error of
R
R Square
Square
the Estimate Durbin-Watson
,505(a)
,255
,214
,22029
1,625
a Predictors: (Constant), PDB, Ukuran Industri, DER, EPS, Jenis Industri, Inflasi , Kurs, ROE
b Dependent Variable: Beta
Model
1
Sumber : Output SPSS
Dengan melihat tabel 4.5 diperoleh perhitungan D-W adalah 1,625
sedangkan dari kriteia uji, nilai D-W yang terletak antara 1,5 – 2,5 maka
terbebas dari gejala autokorelasi. Oleh karena hasil perhitungan D-W sebesar
1,625 maka model tersebut tidak mengandung autokorelasi baik positif
maupun negatif.
d. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah variabel pengganggu (e1) memiliki varian
yang berbeda dari observasi lainnya. Padahal diharapkan variabel penjelas
mempunyai variabel yang konstan untuk mendeteksi ada beberapa metode
seperti metode grafik, glejser, rank spearman, dan Barlett. Program SPSS 15
menyediakan metode grafik menu scatterplot pada menu analyze.
xcvii
Gambar 4.6
Hasil Uji Heteroskedastisitas Pada Saat Masih Ada Outlier
Scatterplot
Dependent Variable: Beta
Regression Studentized Residual
4
2
0
-2
-4
-6
-2
0
2
4
Regression Standardized Predicted Value
Sumber : Output SPSS
Pada gambar tersebut, terlihat titik-titik menyebar tidak secara acak dan
membentuk suatu pola tertentu, serta tidak tersebar baik diatas maupun di
bawah angka nol pada sumby Y. Hal ini mengindikasikan bahwa model
regresi diatas terdapat gejala hetoskedastisitas. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut, sama halnya dengan pengujian sebelumnya, penulis mengeluarkan
atau tidak mengikutsertakan observasi yang outlier ke dalam model yang akan
dibentuk. Sehingga didapatkan hasil sebagai berikut :
xcviii
Gambar 4.7
Hasil Uji Heteroskedastisitas Setelah Tidak Ada Outlier
Scatterplot
Regression Studentized Residual
Dependent Variable: Beta
2
0
-2
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
Regression Standardized Predicted Value
Sumber : Output SPSS
Pada gambar di atas terlihat titik-titik sudah menyebar secara acak dan
tidak membentuk pola tertentu. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat
gejala heteroskedastisitas pada model regresi tersebut.
2. Hasil Penelitian
Pengujian terhadap penelitian ini dilakukan melalui dua cara yaitu secara
deskriptif dan uji regresi linier berganda. Adapun hasil analisinya adalah sebagai
berikut:
a. Hasil Analisis Deskriptif
xcix
Penelitian ini menggunakan pooling data dengan jumlah 200 observasi
sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan selam periode tahun 2003
sampai dengan tahun 2007. Analisis deskripsi dilakukan untuk menghitung
nilai deviasi standar, mean, maksimum dan minimum pada variabel
independen dan variabel dependen. Berdasarkan perhitungan yang telah
dilakukan pada masing-masing variabel yang diteliti, maka diperoleh hasil
sebagaimana yang tercantum dalam tabel 1 berikut ini:
Tabel 4.6
Hasil Analisis Deskriptif
Descriptive Statistics
Return
Beta
EPS
DER
ROE
Jenis Industri
Ukuran Industri
Inflasi
Kurs
PDB
Valid N (listwise)
N
200
200
Minimum
-,1437
-1,6244
Maximum
,6259
1,7184
Mean
,051566
,496593
Std. Deviation
,0783047
,4079002
200
200
-631,00
-46,55
3103,00
72,27
129,9344
1,4239
332,66273
7,01309
200
-82,00
372,00
16,5460
43,21074
200
200
200
200
0
0
6,0575
9076,72570
1
1
13,3317
10208,78510
,53
,95
8,597180
9603,3974200
,501
,218
2,8426011
369,44758575
200
200
131629,9167
163664,5250
146638,466660
11363,9963530
Sumber : Output SPSS
Tabel 1 menyajikan gambaran statistik dari variabel Return, Beta,
Earning Per Share, Debt to Equity Ratio, Return on Equity, Inflasi, Kurs, dan
Produk Domestik Bruto. Secara statistik dapat diketahui bahwa pada 200
perusahaan yang dijadikan sampel, variabel Return perusahaan JII memiliki
nilai minimum -0,1437 yang terdapat pada perusahaan Limas Stockomindo
c
Tbk dan nilai terbesar 0,6259 pada perusahaan Ever Shine Textile Tbk,
dengan nilai mean 0,05156 dan standar deviasi 0,0783.
Variabel Beta memiliki nilai minimum -1,6244 yang terdapat pada
perusahaan Bakrie & Brother Tbk dan nilai maximum 1,7184 pada perusahaan
Barito Pasific Timber Tbk, dengan nilai rata-rata 0,4965 dan standar deviasi
0,4079.
Variabel Earning Per Share memiliki nilai minimum -631,00 rupiah
yang terdapat pada perusahaan Sumalindo Lestari Jaya Tbk dan nilai
maximum Rp. 3103,00 pada perusahaan Astra Internasional Tbk, dengan nilai
rata-rata Rp. 129,93 dan standar deviasi Rp. 332,66.
Variabel Debt to Equity Ratio memiliki nilai minimum -46,55 kali yang
terdapat pada perusahaan Ciputra Development Tbk dan nilai maximum 72,27
kali pada perusahaan PP London Sumatera Tbk, dengan nilai rata-rata 1,4239
kali dan standar deviasi 7,013 kali.
Variabel Return on Equity memiliki nilai minimum -82,00 persen yang
terdapat pada perusahaan Kawasan Industri Jababeka Tbk dan nilai maximum
372,00 persen pada perusahaan Ciputra Development Tbk, dengan nilai ratarata 16,546 persen dan standar deviasi 43,2107 persen.
Variabel Inflasi memiliki nilai minimum 6,0575 persen dan nilai
maximum 13,3317 persen dengan nilai rata-rata 8,597180 persen dan standar
deviasi 2,8426011 persen.
ci
Variabel Kurs atau nilai tukar memiliki nilai minimum Rp. 9076,7257
yang dan nilai maximum Rp.10208,7851 dengan nilai rata-rata Rp.9603,3974
dan standar deviasi Rp. 369,4476.
Variabel
Produk
Domestik
Bruto
memiliki
nilai
minimum
Rp.131629,9167 dan nilai maximum Rp.163664,5250 dengan nilai rata-rata
Rp.146638,4667 dan standar deviasi Rp.11363,9964.
Pada analisis deskripsi dapat dilihat bahwa rata-rata (mean) beta saham
yang tergolong dalam JII adalah sebesar 0,496 atau berada dibawah satu yang
mendukung hasil penelitian Huda (2004) yang dalam penelitiannya mengkaji
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi beta saham pada kelompok JII.
Hasil penelitian antara lain menyatakan bahwa rata-rata beta saham kelompok
JII berada pada nilai di bawah satu yang berarti mempunyai risiko di bawah
risiko pasar.
Oleh karena variabel Jenis Industri dan Ukuran Industri merupakan
variabel dummy (kategori), maka tidak perlu dilakukan statistik deskripsi
hanya perlu dibuat table frekuensi. Frekuensi variabel Jenis Industri dan
Ukuran Industri dapat dilihat pada table 2.
Tabel 4.7
Hasil Uji Frequency Jenis dan Ukuran Industri
Jenis Industri
Frequency
Valid
Industri Non Manufaktur
Industri Manufaktur
Total
95
105
200
Sumber : Output SPSS
cii
Percent
47,5
52,5
100,0
Valid
Percent
47,5
52,5
100,0
Cumulative
Percent
47,5
100,0
Ukuran Industri
Frequency
Valid
Industri Kecil
Industri Besar
Total
Sumber : Output SPSS
Percent
Valid
Percent
Cumulative
Percent
10
5,0
5,0
5,0
190
200
95,0
100,0
95,0
100,0
100,0
Tabel 2.1 menggambarkan bahwa jenis industri non manufaktur tercatat
sebanyak 95 perusahaan atau 47,5% dari total perusahaan yang dijadikan
sampel, sedangkan industri manufaktur tercatat sebanyak 105 perusahaan atau
52,5% dari total perusahaan yang dijadikan sampel.
Tabel 2.2 menggambarkan bahwa ukuran industri kecil tercatat sebanyak
10 perusahaan atau 5,0% dari total perusahaan yang dijadikan sampel,
sedangkan industri besar tercatat sebanyak 190 perusahaan atau 95,0% dari
total perusahaan yang dijadikan sampel.
b. Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Adapun hasil regresi linier berganda pengaruh Earning Per Share, Debt
to Equity Ratio, Return on Equity, Inflasi, Kurs, dan Produk Domestik Bruto
terhadap return dan beta saham perusahaan-perusahaan yang tergolong Jakarta
Islamic Index di Bursa Efek Indonesia adalah sebagai berikut:
ciii
Tabel 4.8
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Model
1
(Constant)
EPS
DER
ROE
Jenis Industri
Ukuran Industri
Inflasi
Kurs
PDB
Standardized
Coefficients
t
Sig.
B
1,041
Std. Error
,557
Beta
1,868
,064
,001
,035
,001
,015
,093
,277
,835
2,356
,406
,020
,001
-,033
,025
,006
,020
,051
,020
-,144
,041
,145
-1,681
,490
,885
,095
,625
-,014
-,012
,023
,007
-,060
-,187
-,636
-1,755
,526
,082
,001
,001
,109
1,140
,256
a Dependent Variable: Return
Sumber: Output SPSS
Tabel 4.9
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Model
1
(Constant)
EPS
DER
ROE
Jenis Industri
Ukuran Industri
Inflasi
Kurs
PDB
Standardized
Coefficients
B
-,569
Std. Error
1,060
,008
,056
,003
,029
-,014
-,107
t
Sig.
Beta
-,537
,592
,293
,197
2,939
1,953
,004
,053
,011
,037
-,153
-,216
-1,262
-2,868
,209
,005
,160
,097
,125
1,647
,102
,004
,038
,045
,013
,008
,282
,099
3,015
,922
,003
-,007
,001
-,420
-5,092
,000
a Dependent Variable: Beta
Sumber: Output SPSS
civ
Dari tabel di atas dapat dirumuskan suatu persamaan regresi untuk return
dan beta saham syariah perusahaan-perusahaan yang tergolong JII di BEI
sebagai berikut:
Persamaan 1:
Y1 = 1,041 + 0,001 X1 + 0,035 X2 + 0,001 X3 – 0,033 X4 + 0,025 X5 – 0,014
X6 – 0,012 X7 + 0,001 X8
Persamaan 2:
Y2 = -0,569 + 0,008 X1 + 0,056 X2 – 0,014 X3 – 0,107 X4 + 0,160 X5 +
0,004 X6 + 0,038 X7 – 0,007 X8
Keterangan:
Y1
= Variabel dependen Return saham syariah
Y2
= Variabel dependen Beta saham syariah
a
= Konstanta
β
= Koefisien regresi dari variabel independen ke i.
i
X
X
X
X
1
2
3
4
= Variabel Independen Earning Per Share
= Variabel Independen Debt To Equity Ratio
= Variabel Independen Return On Equity
= Variabel Independen (Variabel Dummy) Jenis Industri yang
membedakan industri non manufaktur dan manufaktur
X
5
= Variabel Independen (Variabel Dummy) Ukuran Industri yang
membedakan industri besar dan kecil
X
6
= Variabel Independen Inflasi
cv
X
X
e
7
8
= Variabel Independen Kurs Rupiah Terhadap Dollar
= Variabel Independen Produk Domestik Bruto
= Estimasi Error
Koefisien-koefisien pada persamaan 1 regresi linier berganda di atas
dapat diartikan sebagai berikut:
a. Tanda pada koefisien regresi mencerminkan hubungan antara variabel
independen (return, beta, book value, price earning ratio, debt to equity
ratio, return on equity, jenis industri, ukuran industri, inflasi, kurs, dan
produk domestik bruto) dengan variabel dependen (return saham
perusahaan-perusahaan yang tergolong JII). Tanda (+) berarti terdapat
hubungan yang positif atau searah antara variabel independen dengan
variabel dependen. Semakin meningkat nilai variabel independen (return,
beta, earning per share, debt to equity ratio, return on equity, jenis
industri, ukuran industri, inflasi, kurs, dan produk domestik bruto) maka
semakin meningkat pula nilai variabel dependen (return saham
perusahaan-perusahaan yang tergolong JII), begitu juga sebaliknya.
b. Koefisien regresi untuk variabel Earning Per Share (X1) sebesar 0,001
menunjukkan bahwa jika variabel Earning Per Share (X1) meningkat satu
satuan rupiah maka akan berpengaruh positif terhadap variabel dependen
return sebesar 0,001.
c. Koefisien regresi variabel Debt to Equity Ratio (X2) sebesar 0,035
menunjukkan bahwa jika Debt to Equity Ratio (X2) meningkat satu satuan
cvi
kali maka akan berpengaruh positif terhadap variabel dependen return
sebesar 0,035.
d. Koefisien regresi variabel Return on Equity (X3) sebesar 0,001
menunjukkan bahwa jika variabel Return on Equity (X3) meningkat satu
satuan persen maka akan berpengaruh positif terhadap variabel dependen
return sebesar 0,001.
e. Koefisien regresi variabel Jenis Industri (X4) sebesar -0,033 menunjukkan
bahwa jika perusahaan tergolong “non manufaktur” (dummy = 0) dan
variabel lain bernilai sama dengan nol, maka nilai return sebesar 1,041 +
(-0,033).(DJenis) = 1,041 + (-0,033).(0) = 1,041. Jadi return naik sebesar
1,041. Jika perusahaan tergolong “perusahaan manufaktur” (dummy = 1)
dan variabel lain bernilai sama dengan nol, maka nilai return sebesar 1,167
+ (-0,033).(DJenis) = 1,041
+ (-0,033).(1) = 1,008. Jadi return naik
sebesar 1,008.
f. Koefisien regresi variabel
Ukuran Industri (X5)
sebesar
0,025
menunjukkan bahwa jika perusahaan tergolong “perusahaan kecil”
(dummy = 0) dan variabel lain bernilai sama dengan nol, maka nilai return
sebesar 1,041 + 0,025 (DUkuran) = 1,041 + 0,025 (0) = 1,041. Jadi return
naik 1,041. Jika perusahaan tergolong “perusahaan besar” (dummy = 1)
dan variabel lain bernilai sama dengan nol, maka nilai return sebesar 1,041
+ 0,025 (DUkuran) = 1,041 + 0,025 (1) = 1,066. Jadi return naik sebesar
1,066.
cvii
g. Koefisien regresi variabel Inflasi (X6) sebesar -0,014 menunjukkan bahwa
jika variabel
Inflasi (X6) meningkat satu satuan persen maka akan
berpengaruh negatif terhadap variabel dependen return sebesar 0,014.
h. Koefisien regresi variabel Kurs/Nilai Tukar (X7) sebesar -0,012
menunjukkan bahwa jika variabel Kurs/Nilai Tukar (X7) meningkat satu
satuan rupiah maka akan berpengaruh negatif terhadap variabel dependen
return sebesar 0,012.
i.
Koefisien regresi variabel PDB (X8) sebesar 0,001 menunjukkan bahwa
jika variabel
PDB (X8) meningkat satu satuan rupiah maka akan
berpengaruh positif terhadap variabel dependen return sebesar 0,001.
Koefisien-koefisien pada persamaan 2 regresi linier berganda di atas
dapat diartikan sebagai berikut:
a. Tanda pada koefisien regresi mencerminkan hubungan antara variabel
independen (return, beta, earning per share, debt to equity ratio, return on
equity, jenis industri, ukuran industri, inflasi, kurs, dan produk domestik
bruto) dengan variabel dependen (return saham perusahaan- yang
tergolong JII). Tanda (+) berarti terdapat hubungan yang positif atau
searah antara variabel independen dengan variabel dependen. Semakin
meningkat nilai variabel independen (Return, Beta, Book Value, Price
Earning Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Equity, Jenis Industri,
Ukuran Industri, Inflasi, Kurs, dan Produk Domestik Bruto) maka semakin
cviii
meningkat pula nilai variabel dependen (return saham perusahaan- yang
tergolong JII), begitu juga sebaliknya.
b. Koefisien regresi untuk variabel Earning Per Share (X1) sebesar 0,008
menunjukkan bahwa jika variabel Earning Per Share (X1) meningkat satu
satuan rupiah maka akan berpengaruh positif terhadap variabel dependen
beta sebesar 0,008.
c. Koefisien regresi variabel Debt to Equity Ratio (X2) sebesar 0,056
menunjukkan bahwa jika Debt to Equity Ratio (X2) meningkat satu satuan
kali maka akan berpengaruh positif terhadap variabel dependen beta
sebesar 0,056.
d. Koefisien regresi variabel Return on Equity (X3) sebesar –0,014
menunjukkan bahwa jika variabel Return on Equity (X3) meningkat satu
satuan persen maka akan berpengaruh negatif terhadap variabel dependen
beta sebesar 0,014.
e. Koefisien regresi variabel Jenis Industri (X4) sebesar –0,107 menunjukkan
bahwa jika perusahaan tergolong “non manufaktur” (dummy = 0) dan
variabel lain bernilai sama dengan nol, maka nilai beta sebesar -0,569 + (0,107).(Djenis) = -0,569 + (-0,107).(0) = -0,569. Jadi beta turun sebesar
0,831. Jika perusahaan tergolong “perusahaan manufaktur” (dummy = 1)
dan variabel lain bernilai sama dengan nol, maka nilai beta sebesar -0,569
+ (-0,107).(Djenis) = -0,569 + (-0,107).(1) = -0,676. Jadi beta turun
sebesar 0,676.
cix
f. Koefisien regresi variabel
Ukuran Industri (X5)
sebesar
0,160
menunjukkan bahwa jika perusahaan tergolong “perusahaan kecil”
(dummy = 0) dan variabel lain bernilai sama dengan nol, maka nilai beta
sebesar -0,569 + 0,160 (DUkuran) = -0,569 + 0,160 (0) = -0,569. Jadi beta
turun sebesar 0,569. Jika perusahaan tergolong “perusahaan besar”
(dummy = 1) dan variabel lain bernilai sama dengan nol, maka nilai beta
sebesar -0,569 + 0,160 (Dukuran) = -0,569 + 0,160 (1) = -0,409. Jadi beta
turun sebesar 0,409.
g. Koefisien regresi variabel Inflasi (X6) sebesar 0,004 menunjukkan bahwa
jika variabel
Inflasi (X6) meningkat satu satuan persen maka akan
berpengaruh positif terhadap variabel dependen beta sebesar 0,004.
h. Koefisien regresi variabel Kurs/Nilai Tukar (X7) sebesar 0,038
menunjukkan bahwa jika variabel Kurs/Nilai Tukar (X7) meningkat satu
satuan rupiah maka akan berpengaruh positif terhadap variabel dependen
beta sebesar 0,038.
i.
Koefisien regresi variabel PDB (X8) sebesar –0,007 menunjukkan bahwa
jika variabel
PDB (X8) meningkat satu satuan rupiah maka akan
berpengaruh negatif terhadap variabel dependen beta sebesar 0,007.
4. Uji Hipotesis
a. Uji T-Test
Uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen yang
terdiri dari EPS, DER, ROE, Jenis dan Ukuran Industri, Inflasi, Kurs Rupiah
cx
terhadap Dollar, dan PDB terhadap Return dan Beta saham perusahaanperusahaan yang tergolong JII di Bursa Efek Indonesia secara parsial.
Tabel 4.10
Hasil Pengujian Regresi Parsial
Variabel Independen
Variabel Dependen (Return)
Koefisien
Konstanta
1,041
Earning Per Share
0,001
Debt to Equity Ratio
0,035
Return on Equity
0,001
Jenis Perusahaan
-0,033
Ukuran Perusahaan
0,025
Inflasi
-0,014
Kurs
-0,012
Produk Domestik
0,001
Bruto
t-tabel = 1,972 ; sig. = 0,05
t-tabel = 1,653 ; sig. = 0,10
t = 1,868
sig. = 0,064
t = 0,835
sig. = 0,406
t = 2,356*
sig. = 0,020
t = 0,145
sig. = 0,885
t = -1,681**
sig. = 0,095
t = 0,490
sig. = 0,625
t = -0,636
sig. = 0,526
t = -1,755**
sig. = 0,082
t = 1,140
sig. = 0,256
Variabel Dependen
(Beta)
Koefisien
-0,569
t = -0,537
sig. = 0,592
0,008
t = 2,939*
sig. = 0,004
0,056
-0,014
-0,107
0,160
0,004
0,038
-0,007
t = 1,953**
sig. = 0,053
t = -1,262
sig. = 0,209
t = -2,868*
sig. = 0,005
t = 1,647
sig. = 1,102
t = 0,099
sig. = 0,922
t = 3,015*
sig. = 0,003
t = -5,092*
sig. = 0,000
*signifikan pada α = 0,05
**signifikan pada α = 0,10
Sumber: Data diolah
Pada tabel 4.10 tersebut menunjukkan bahwa variabel debt to equity
ratio mempunyai pengaruh signifikan sebesar α = 0,05 terhadap return saham
syariah dan variabel jenis industri dan kurs rupiah terhadap dollar mempunyai
pengaruh signifikan sebesar α = 0,10 terhadap return saham sedangkan
variabel-variabel yang mempunyai pengaruh signifikan sebesar α = 0,05
terhadap beta saham syariah adalah earning per share, jenis perusahaan, kurs
cxi
rupiah terhadap dollar dan Produk Domestik bruto (PDB) dan variabel yang
mempunyai pengaruh sebesar α = 0,10 terhadap beta saham syariah adalan
debt to equity ratio.
Berdasarkan uji-t pada persamaan 1 diketahui bahwa ada variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro yang
mempunyai pengaruh signifikan pada α = 0,05 terhadap return saham syariah
di BEI. Artinya, penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang
dilakukan Auliyah dan Hamzah (2006) yang menunjukkan bahwa tidak ada
satu pun variabel-variabel tersebut yang berpengaruh signifikan terhadap
return saham syariah pada tingkat α = 0,05. hal ini dimungkinkan karena
adanya perbedaan karakteristik sampel, jumlah observasi dan periode
penelitian.
Sedangkan uji t pada persamaan 2 dapat dilihat variabel-variabel yang
mempunyai pengaruh signifikan sebesar α = 0,05 terhadap beta saham syariah
adalah variabel karakteristik perusahaan yaitu earning per share, variabelvariabel industri yaitu jenis perusahaan serta variabel-variabel ekonomi makro
yaitu kurs rupiah terhadap dollar dan Produk Domestik bruto (PDB). Hal ini
tidak konsisten terhadap variabel-variabel industri dalam
penelitian yang
dilakukan Hamzah (2005) yang menunjukkan bahwa tidak ada satu pun dari
variabel-variabel karakteristi perusahaan dan variabel-variabel industri yang
berpengaruh secara signifikan terhadap beta saham syariah. Akan tetapi hasil
ini konsisten terhadap variabel-variabel ekonomi makro yang berpengaruh
cxii
secara signifikan sebesar α = 0,05 terhadap beta saham syariah seperti kurs
rupiah terhadap dollar dan PDB.
Penelititan yang dilakukan oleh Daniati dan Suhairi (2006) yang meneliti
pengaruh size perusahaan terhadap return saham menyimpulkan bahwa size
perusahaan mempunyai pengaruh yang signifikan sebesar α = 0,05 terhadap
return saham yang diharapkan. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian
yang penulis lakukan, dimungkinkan karena perbedaan kondisi pasar modal
yang diteliti, karakteristik sampel, jumlah observasi dan periode penelitian.
b. Uji F-Test
Uji F digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen yang
terdiri dari EPS, DER, ROE, Jenis dan Ukuran Industri, Inflasi, Kurs Rupiah
terhadap Dollar, dan PDB terhadap Return dan Beta saham perusahaanperusahaan yang tergolong JII di Bursa Efek Indonesia secara simultan atau
bersama-sama.
Tabel 4.11
Hasil Pengujian Regresi Simultan
Variabel Independen
Karakteristik Perusahaan,
Industri dan Ekonomi Makro
Variabel Dependen
(Return)*
F-hitung = 3,172
Sig. = 0,003
F-tabel = 1,929
Sig. = 0,05
2
Adjusted R (return) = 0,113
2
Adjusted R (beta) = 0,214
*signifikan pada α = 0,05
Sumber: Data diolah
cxiii
Variabel Dependen
(Beta)*
F-hitung = 6,255
Sig. = 0,000
F-tabel = 1,929
Sig. = 0,05
Berdasarkan pada tabel 4.11 tersebut menunjukkan dari F-test yang telah
dilakukan untuk return saham syariah menghasilkan probabilitas signifikansi
di bawah 5% yaitu sebesar 0,3% dan nilai F-hitung sebesar 3,172 serta pada
beta saham syariah menghasilkan probabilitas signifikansi dibawah 5% yaitu
sebesar 0% dan nilai F-hitung sebesar 6,255. Dengan adanya hal itu, hasil
pengujian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan pada tingkat
5% dari variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi
makro terhadap return saham syariah dan beta saham syariah.
Hasil pengujian ini mendukung hipotesis H
A1
yang menyatakan bahwa
variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro
berpengaruh secara signifikan terhadap return saham syariah dan juga
mendukung hipotesis H
A2
yang menyatakan bahwa variabel-variabel
karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro berpengaruh secara
signifikan terhadap beta saham syariah. Hasil ini juga mengindikasikan bahwa
hubungan return dan risiko saham syariah adalah searah.
Hasil penelitian dengan obyek pasar modal syariah dilakukan oleh
Aruzzi dan Bandi (2003) menunjukkan bahwa secara bersama-sama maupun
parsial variabel-variabel rasio profitabilitas tidak mempunyai pengaruh secara
signifikan sebesar α = 0,05 terhadap beta saham syariah. Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian yang penulis lakukan bahwa variabel-variabel
karakteristik perusahaan yaitu return on equity tidak berpengaruh secara
signifikan baik menggunakan uji T maupun uji F terhadap beta saham syariah.
cxiv
5.
Koefisien Determinasi ( Adj R Square)
Melalui pengujian serentak dapat diketahui besarnya koefisien
2
2
determinasi (Adj R ). Dari koefisien determinasi (Adj R ) dapat diketahui
derajat ketepatan dari analisis regresi linier berganda menunjukkan besarnya
variasi
sumbangan
seluruh
variabel
independen
terhadap
variabel
dependennya.
2
Nilai adjusted R pada return saham syariah sebesar 11,3% dan pada
beta saham syariah sebesar 21,4%. Ini berarti variabel-variabel karakteristik
perusahaan, industri dan ekonomi makro hanya dapat menjelaskan sebesar
11,3% pada return saham syariah, sedangkan 88,7% dijelaskan oleh variabelvariabel lain. Untuk variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri dan
ekonomi makro hanya dapat menjelaskan sebesar 21,4% pada beta saham
syariah, sedangkan 78,6% dijelaskan oleh variabel-variabel lain.
cxv
BAB V
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap return dan beta saham syariah
yang tergolong dalam Jakarta Islamic Index sebagai variabel dependen,
dengan karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro sebagai variabel
independen, selama jangka waktu lima tahun dimulai dari periode 2003
sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut :
1. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa terdapat variabel karakteristik
perusahaan yang berpengaruh secara signifikan terhadap return saham
syariah yaitu debt to equity ratio, sedangkan variabel lainnya tidak
berpengaruh secara signifikan.
2. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa variabel-variabel karakteristik
perusahaan, industri dan ekonomi makro yang mempunyai pengaruh
signifikan terhadap beta saham syariah adalah earning per share, jenis
perusahaan, kurs rupiah terhadap dollar dan produk domestik bruto
(PDB), sedangkan variabel lainnya tidak berpengaruh secara signifikan.
3. Variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap return saham syariah
adalah debt to equity ratio.
4. Variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap beta saham syariah
adalah produk domestik bruto (PDB).
99
cxvi
5. Nilai adjusted R squared (R2) atau tingkat koefisien determinasi variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro terhadap
return saham syariah adalah sebesar 11,3%. Hal ini menunjukkan bahwa
variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro
hanya dapat menjelaskan sebesar 11,3% pada return saham syariah,
sedangkan 88,7% dijelaskan oleh variabel lain.
6. Nilai adjusted R squared (R2) atau tingkat koefisien determinasi variabelvariabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro terhadap
beta saham syariah adalah sebesar 21,4%. Hal ini menunjukkan bahwa
variabel-variabel karakteristik perusahaan, industri, dan ekonomi makro
hanya dapat menjelaskan sebesar 21,4% pada beta saham syariah,
sedangkan 78,6% dijelaskan oleh variabel lain.
B. Implikasi Penelitian
Tentunya banyak hal yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini
sehingga membuat hasil penelitian ini kurang sempurna. Keterbatasanketerbatasan tersebut diantaranya :
1. Variabel-variabel industri dan ekonomi makro yang digunakan pada
penelitian ini hanya beberapa saja, masih ada variabel-variabel ekonomi
makro dan industri yang lain.
2. Sampel yang digunakan hanya 40 perusahaan.
3. Periode penelitian hanya 5 tahun dengan jumlah sampel yang sedikit
karena munculnya Jakarta Islamic Index yang juga masih relatif baru.
cxvii
Akan tetapi penulis berharap hasil penelitian ini dapat berimplikasi
kepada beberapa pihak, antara lain sebagai berikut :
•
Bagi investor, diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi
tambahan yang bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk
melakukan investasi di pasar modal.
•
Bagi penelitian selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat diteruskan
dengan menambah variabel-variabel ekonomi makro dan industri atau
menganti dan menambah variabel-variabel karakteristik perusahaan yang
lain yang dimungkinkan relevan dengan return dan beta saham syariah
serta menambah periode waktu penelitian. Kemudian perlu dilakukan
pengujian variabel-variabel makro ekonomi, industri dan karakteristik
perusahaan dengan return dan beta saham non syariah serta menguji
perbedaan antara return dan beta saham syariah dengan return dan beta
saham non syariah.
•
Bagi pembaca, diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan
pengetahuan khususnya dalam bidang pasar modal yang berbasis syariah.
cxviii
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quranul Karim (QS. Al-Baqarah: 275, QS. An-Nisa: 29, QS. Al-Hasyr: 18,
QS. At-Taubah: 34-35)
Auliyah dan Hamzah, A.
“Analisis Karakteristik Perusahaan, Industri dan
Ekonomi Makro terhadap Return Saham Syariah di BEJ”, Jurnal
Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang, tahun 2005
Christianti, A. dan M. Lestari, “Analisis Pengaruh Nilai Saham yang Beredar,
Struktur Modal, Risiko Pasar, dan Suku Bunga Terhadap Return Saham
di BEJ dengan Pendekatan Model Dinamis”, Jurnal Riset dan Akuntansi
Keuangan, Vol. 1, No.1 tahun 2005
Daniati, N. dan Suhairi, “Pengaruh Kandungan Informasi Komponen Laporan
Arus Kas, Laba Kotor, Size Perusahaan terhadap Expected Return
Perusahaan (Survey pada Industri Textile dan Automotive yang
Terdaftar di BEJ)”, Jurnal Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang,
tahun 2006
Hamzah, A. “Analisis Karakteristik Perusahaan, Industri dan Ekonomi Makro
terhadap Beta Saham Syariah di BEJ”, Jurnal Simposium Nasional
Akuntansi 9 Padang, tahun 2004
Huda, N. dan M.E. Nasution, “Investasi pada Pasar Modal Syariah”, Edisi 1,
Penerbit Kencana, Jakarta, 2007
Husnan, Suad, “Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas”, Edisi 3
cxix
UPP AMP YKPN, Yogyakarta, 2001
Kewon, J. Arthur dkk, “Manajemen Keuangan: Prinsip-prinsip dan Aplikasi”,
Edisi 9, PT Indeks, Jakarta, 2004
102
Komariah, Oom, ”Analisis Pengukuran Risiko Harga Sham Syariah dengan
Pendekatan Variance Covariance dan Historical Simulation”, Tesis
Program Studi Timur Tengah dan Islam; program pasca sarjana
Universitas Indonesia, Jakarta, 2005
Maharani, Reny, Hubungan Kausalitas antara Variabel Makro dan Harga Saham
Syariah Jakarta Idlamic Indeks, Tesis Program Studi Timur Tengah dan
Islam; program pasca sarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 2005
Mulyono, Sri, “Statistika untuk Ekonomi”, Edisi 2, Lembaga Penerbit FEUI,
Jakarta, 2003
Prakarsa, W, ”Metodologi Penelitian Keuangan: Prosedur, Ide, dan Kontrol”,
Edisi 1, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta, 2006
Riyanto, Bambang, “Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan”, Penerbit UGM
Yogyakarta, 1995
Singgih, Santosa, “Buku Latihan SPSS Statistik Versi 10.6”, PT. Elek Media
Komputindo, Jakarta, 2002
Subarta, Ketut,
“Analisis Model Meminimumkan Risiko Investasi melalui
Diversifikasi sesuai Jangka Waktu Kepemilikan Saham”, Jurnal
Ekonomi dan Bisnis, Vol. 5 No.2 tahun 2005
cxx
Sudarmadji A.M. dan L. Sularto, “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profirability,
Leverage dan Tipe Kepemilikan Terhadap Luas Voluntary Disclosure
Laporan Keuangan Tahunan”, Jurnal PERSAT, Vol. 2 tahun 2007
Suharli, Michel, “Studi Empiris Terhadap Dua Faktor Yang Mempengaruhi
Return Saham Pada Industri Food & Beverages Di Bursa Efek Jakarta”,
Jurnal Ekonomi Akuntansi, Vol. 7 No. 2 tahun 2005
Sukirno, Sadono, “Pengantar Teori Ekonomi Makro”, Edisi 2, PT Rajagrafindo
Persada, Jakarta, 2001
Susilo, D. dkk, “Dampak Publikasi Laporan Keuangan Terhadap Perilaku Return
Saham Di Bursa Efek Jakarta”, Jurnal SMART : Vol. 2 No. 2 Mei 2004
ULUPUI, I G. K. A., ”Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas,
Dan Profitabilitas Terhadap Return Saham”, Jurnal Akuntansi; Fakultas
Ekonomi Universitas Udayana, 2005
Veronica, W. ”Analisis Pengaruh Hari Perdagangan, SWBI, dan Nilai Tukar
terhadap JII”, Skripsi S1 FEIS Yang Tidak Dipublikasikan, Jakarta,
2007.
cxxi
LAMPIRAN 1
HASIL PENGUJIAN REGRESI
cxxii
A. Hasil Regresi Berganda Pada Saat Masih Terdapat Data Yang Outlier
Model Summary(b)
Adjusted
105 R Std. Error of
R
R Square
Square
the Estimate Durbin-Watson
,305(a)
,093
,055
,0761281
1,680
a Predictors: (Constant), PDB, Ukuran Industri, DER, EPS, Jenis Industri, Inflasi , Kurs, ROE
b Dependent Variable: Return
Model
1
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
,296
,158
1,15E-005
,000
Model
1
(Constant)
EPS
DER
ROE
Standardized
Coefficients
Beta
t
Sig.
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
,049
1,871
,653
,063
,515
,849
1,178
,001
,000
-,004
,001
,000
,011
,092
,137
-,025
1,100
1,535
-,349
,273
,126
,727
,673
,598
,909
1,487
1,673
1,100
,040
,000
,026
,002
,111
-,018
1,546
-,218
,124
,828
,926
,721
1,080
1,387
-2,68E-005
-1,76E-007
a Dependent Variable: Return
,000
,000
-,126
-,026
-1,429
-,322
,155
,748
,607
,750
1,648
1,333
Jenis Industri
Ukuran Industri
Inflasi
Kurs
PDB
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Scatterplot
Dependent Variable: Return
Dependent Variable: Return
8
Regression Studentized Residual
Expected Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
6
4
2
0
-2
Observed Cum Prob
-2.5
0.0
2.5
5.0
Regression Standardized Predicted Value
cxxiii
7.5
Model Summary(b)
Adjusted R
Std. Error of
Model
R
R Square
Square
the Estimate Durbin-Watson
1
,418(a)
,175
,140
,3781676
1,482
a Predictors: (Constant), PDB, Ukuran Industri, DER, EPS, Jenis Industri, Inflasi , Kurs, ROE
b Dependent Variable: Beta
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-,978
,787
,000
,000
,008
,005
Model
1
(Constant)
EPS
DER
ROE
t
,175
,140
Sig.
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
-1,243
2,456
1,745
,215
,015
,083
,849
,673
1,178
1,487
2,04E-005
,001
,002
,025
,980
,598
1,673
-,103
,368
,056
,127
-,127
,197
-1,837
2,886
,068
,004
,909
,926
1,100
1,080
-,002
,000
,011
,000
-,015
,260
-,193
3,080
,847
,002
,721
,607
1,387
1,648
-1,09E-005
,000
-,303
-4,000
,000
,750
1,333
Jenis Industri
Ukuran Industri
Inflasi
Kurs
PDB
Standardized
Coefficients
Beta
a Dependent Variable: Beta
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Scatterplot
Dependent Variable: Beta
Dependent Variable: Beta
1.0
Regression Studentized Residual
Expected Cum Prob
4
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Observed Cum Prob
2
0
-2
-4
-6
-2
0
2
Regression Standardized Predicted Value
cxxiv
4
B. Hasil Regresi Berganda Setelah Tidak Ada Outlier
Model Summary(b)
Adjusted R
Std. Error of
R
R Square
Square
the Estimate Durbin-Watson
,405(a)
,164
,113
,10769
1,895
a Predictors: (Constant), PDB, Jenis Industri, EPS, DER, Inflasi, Ukuran Industri, Kurs, ROE
b Dependent Variable: Return
Model
1
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
Model
1
(Constant)
1,041
,557
EPS
,001
,035
,001
-,033
,001
,015
,006
,020
,025
,051
-,014
-,012
,023
,007
DER
ROE
Jenis Industri
Ukuran Industri
Inflasi
Kurs
PDB
,001
Standardized
Coefficients
t
Collinearity
Statistics
Sig.
Beta
Tolerance
VIF
1,868
,064
,835
2,356
,145
-1,681
,406
,020
,885
,095
,524
,469
,335
,882
1,909
2,134
2,987
1,134
,041
,490
,625
,922
1,085
-,060
-,187
-,636
-1,755
,526
,082
,727
,568
1,375
1,760
,001
,109 1,140
,256
a Dependent Variable: Return
,709
1,411
,093
,277
,020
-,144
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Scatterplot
Dependent Variable: Return
Dependent Variable: Return
4
Regression Studentized Residual
Expected Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
2
0
-2
0.0
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
-2
Observed Cum Prob
0
2
4
Regression Standardized Predicted Value
cxxv
6
8
Model Summary(b)
Model
1
R
,505(a)
R Square
,255
Adjusted R
Square
,214
Std. Error of
the Estimate
,22029
Durbin-Watson
1,625
a Predictors: (Constant), PDB, Jenis Industri, EPS, DER, Inflasi, Ukuran Industri, Kurs, ROE
b Dependent Variable: Beta
Coefficients(a)
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
-,569
1,060
Model
1
(Constant)
Sig.
Beta
Collinearity
Statistics
Tolerance
VIF
-,537
,592
,008
,056
,003
,029
,293
,197
2,939
1,953
,004
,053
,514
,499
1,944
2,003
ROE
-,014
-,107
,011
,037
-,153
-,216
-1,262
-2,868
,209
,005
,346
,896
2,891
1,116
,160
,004
,097
,045
,125
,008
1,647
,099
,102
,922
,893
,721
1,120
1,386
,038
-,007
,013
,001
,282
-,420
3,015
-5,092
,003
,000
,585
,750
1,709
1,334
Inflasi
Kurs
PDB
a Dependent Variable: Beta
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: Beta
1.0
Expected Cum Prob
t
EPS
DER
Jenis Industri
Ukuran Industri
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0
Standardized
Coefficients
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Observed Cum Prob
cxxvi
Scatterplot
Regression Studentized Residual
Dependent Variable: Beta
2
0
-2
-4
-3
-2
-1
0
1
Regression Standardized Predicted Value
cxxvii
2
3
LAMPIRAN 2
DATA RETURN SAHAM SYARIAH
JII
TAHUN 2003-2007
RETURN SAHAM SYARIAH
PERIODE 2003-2007
110
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
Nama Perusahaan
Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
Asahimas Flat Glass (AMFG)
Astra Agro Lestari Tbk. (AALI)
Astra Graphia Tbk (ASGR)
Astra International Tbk (ASII)
Astra Otoparts Tbk (AUTO)
Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Barito Pacific Timber Tbk. (BRPT)
Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA)
Bumi Resources Tbk. (BUMI)
Ciputra Development Tbk.(CTRA)
Citra Marga Nushapala Persada Tbk (CMNP)
Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID)
Dynaplast Tbk (DYNA)
Ever Shine Textile (ESTI)
Fortune Indonesia (FORU)
Gajah Tunggal Tbk. (GJTL)
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP)
Indofarma Tbk (INAF)
Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Indorama Syntetics Tbk (INDR)
Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
Kimia Farma Tbk (KAEF)
Limas Stokhomindo Tbk (LMAS)
Mayora Indah Tbk (MYOR)
Medco Energi International Tbk. (MEDC)
Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
Multipolar Tbk (MLPL)
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
PP London Sumatera Tbk (LSIP)
Selamat SempurnaTbk. (SMSM)
Semen Cibinong Tbk. (SMCB)
SMART Tbk (SMAR)
Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI)
2003
-0,0028
0,0726
0,0105
0,0178
0,0485
0,0165
0,3819
0,1390
0,0771
0,4018
0,1821
0,0092
0,0552
0,0503
0,0348
0,0042
0,0914
0,1391
0,1079
-0,0192
0,0436
0,0273
0,0187
0,0225
0,0234
0,1001
0,0009
-0,0094
0,0399
0,1298
0,1641
-0,0120
0,1062
0,1573
0,0429
cxxviii
2004
0,0230
0,0103
0,0581
0,0003
0,0554
0,0170
0,0227
0,0695
0,0453
0,0489
0,0266
0,0762
0,0862
0,0293
0,1609
-0,0225
0,0340
0,0662
0,0486
0,0253
0,0078
0,0257
0,1104
0,0059
-0,0384
0,0284
0,0385
-0,0068
0,0533
0,1512
0,0460
-0,0088
0,0390
0,0401
0,2362
2005
0,0411
0,0455
0,0519
-0,0068
0,0092
0,0573
0,2853
0,0935
0,0443
0,0048
-0,0077
0,0076
0,1273
0,0085
0,6259
0,0028
0,0027
0,0131
0,0203
-0,0069
0,0259
-0,0189
0,0045
-0,0104
-0,1437
-0,0166
0,0542
-0,0020
-0,0300
0,0353
0,0702
-0,0191
-0,0045
0,0022
0,0713
2006
0,0775
0,0011
0,0837
0,0071
0,0428
0,0092
0,0392
0,0252
0,0491
0,0197
0,0857
0,0807
0,0037
0,0394
0,1574
0,0630
0,0099
-0,0038
0,0444
0,0096
0,0411
0,0112
0,0457
0,0176
-0,0112
0,0601
0,0073
0,0160
-0,0010
-0,0445
0,0736
-0,0250
0,0341
0,1364
0,1129
2007
0,0172
0,0213
0,0701
-0,0070
0,0497
0,0141
0,0607
0,1867
0,0416
0,1741
0,0184
0,0373
0,2223
-0,0305
0,0379
0,1635
-0,0106
-0,0040
0,0311
0,0830
0,0555
0,0569
0,0439
0,0827
0,0703
0,0164
0,0306
0,0840
-0,0043
-0,0410
0,0492
0,0098
0,0892
0,0557
0,0332
36
37
38
39
40
Summarecon Agung Tbk. (SMRA)
Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
Timah Tbk. (TINS)
Trias Sentosa Tbk (TRST)
United Tractors Tbk. (UNTR)
0,1843
0,0575
0,2108
0,0453
0,1512
cxxix
0,0156
0,0646
-0,0143
-0,0214
0,0655
0,0270
0,0161
-0,0092
-0,0270
0,0481
0,0527
0,0643
0,1041
-0,0011
0,0460
0,0154
0,1146
0,1780
0,0302
0,0458
LAMPIRAN 3
DATA BETA SAHAM SYARIAH
JII
2003-2007
ETA SAHAM SYARIAH
PERIODE 2003-2007
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
Nama Perusahaan
112
Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
Asahimas Flat Glass (AMFG)
Astra Agro Lestari Tbk. (AALI)
Astra Graphia Tbk (ASGR)
Astra International Tbk (ASII)
Astra Otoparts Tbk (AUTO)
Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Barito Pacific Timber Tbk. (BRPT)
Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA)
Bumi Resources Tbk. (BUMI)
Ciputra Development Tbk.(CTRA)
Citra Marga Nushapala Persada Tbk (CMNP)
Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID)
Dynaplast Tbk (DYNA)
Ever Shine Textile (ESTI)
Fortune Indonesia (FORU)
Gajah Tunggal Tbk. (GJTL)
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP)
Indofarma Tbk (INAF)
Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Indorama Syntetics Tbk (INDR)
Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
Kimia Farma Tbk (KAEF)
Limas Stokhomindo Tbk (LMAS)
Mayora Indah Tbk (MYOR)
Medco Energi International Tbk. (MEDC)
Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
Multipolar Tbk (MLPL)
2003
0,4251
2,0430
0,6768
1,1492
1,8824
1,1560
4,3354
1,3948
0,5824
1,9880
1,4213
0,6243
2,3230
0,2996
3,6062
-0,6999
1,4111
2,1537
0,7330
1,0083
1,2745
1,0352
1,4446
1,3897
0,6124
1,6966
0,2314
1,2759
2,2582
cxxx
2004
0,4144
1,0973
0,1874
1,3525
0,5626
1,0690
1,3643
1,6076
1,4357
0,0650
1,6859
0,9585
-3,6698
1,3056
3,1893
-1,8389
1,5008
1,4334
2,9171
3,2824
0,6970
1,1125
2,5497
1,1248
1,8586
1,0916
0,5506
0,8290
2,3474
2005
1,3560
-0,0857
0,1918
1,3348
1,5621
0,5935
0,5216
3,0643
1,0300
0,9494
2,2232
1,6131
-3,9341
1,3372
-3,6946
3,9536
2,1320
1,9041
1,5031
2,0246
1,7450
1,5749
2,1512
1,3118
1,2473
1,8074
0,1466
1,2684
2,0811
2006
1,5554
1,4787
0,3242
0,6382
1,6464
0,5775
0,2104
1,7890
-0,1685
0,6984
1,0321
1,8404
-0,7399
2,0734
2,1154
1,3983
1,3377
0,9884
1,3130
-0,0929
1,6316
0,6448
0,9463
0,3303
1,5988
1,5745
1,1715
0,9434
1,1822
2007
0,8710
0,8229
1,7438
0,4283
1,5993
0,9326
0,9195
1,3154
1,0938
1,2476
0,7477
1,2661
-1,2222
1,3341
1,5789
1,2854
0,6994
1,0356
1,0378
-0,7786
0,1821
-0,0009
0,5582
0,2520
0,8537
0,2824
0,8986
0,2429
1,1174
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
PP London Sumatera Tbk (LSIP)
Selamat SempurnaTbk. (SMSM)
Semen Cibinong Tbk. (SMCB)
SMART Tbk (SMAR)
Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI)
Summarecon Agung Tbk. (SMRA)
Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
Timah Tbk. (TINS)
Trias Sentosa Tbk (TRST)
United Tractors Tbk. (UNTR)
1,8412
3,4020
0,5380
0,9936
-0,1372
0,7281
1,5671
0,7718
1,1397
0,6715
2,4931
1,6377
2,4961
-0,1671
1,9537
-0,3649
2,1044
1,9200
2,1950
0,5001
0,6811
1,3156
1,7965
0,1677
0,1115
1,6858
1,7232
0,6209
1,9365
-0,4831
1,0942
1,1782
1,4285
0,5279
0,1857
1,1021
1,0635
-1,0001
1,2817
1,1711
0,5902
1,5488
0,7401
0,7055
LAMPIRAN 4
DATA EARNING PER SHARE PERUSAHAAN
JII
2003-2007
EARNING PER SHARE
114
cxxxi
0,9657
1,3383
0,1584
0,6809
0,5572
2,4955
0,4225
1,7514
0,0906
0,0968
1,1982
PERUSAHAAN YANG TERGOLONG JII
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Nama Perusahaan
Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
Asahimas Flat Glass (AMFG)
Astra Agro Lestari Tbk. (AALI)
Astra Graphia Tbk (ASGR)
Astra International Tbk (ASII)
Astra Otoparts Tbk (AUTO)
Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Barito Pacific Timber Tbk. (BRPT)
Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA)
Bumi Resources Tbk. (BUMI)
Ciputra Development Tbk.(CTRA)
Citra Marga Nushapala Persada Tbk (CMNP)
Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID)
Dynaplast Tbk (DYNA)
Ever Shine Textile (ESTI)
Fortune Indonesia (FORU)
Gajah Tunggal Tbk. (GJTL)
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP)
Indofarma Tbk (INAF)
Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Indorama Syntetics Tbk (INDR)
Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
Kimia Farma Tbk (KAEF)
Limas Stokhomindo Tbk (LMAS)
Mayora Indah Tbk (MYOR)
Medco Energi International Tbk. (MEDC)
Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
Multipolar Tbk (MLPL)
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
PP London Sumatera Tbk (LSIP)
Selamat SempurnaTbk. (SMSM)
Semen Cibinong Tbk. (SMCB)
SMART Tbk (SMAR)
Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI)
Summarecon Agung Tbk. (SMRA)
Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
Timah Tbk. (TINS)
Trias Sentosa Tbk (TRST)
United Tractors Tbk. (UNTR)
cxxxii
2003
44
376
180
16
1093
273
1
88
72
6
78
61
-4
178
-15
8
267
-443
182
-42
64
62
18
8
20
110
134
0,4
6
-301
640
37
23
234
-125
79
115
152
61
218
2004
-16
476
509
28
1335
290
-34
-59
59
62
-136
43
0,1
151
-7
10
151
-479
32
2
40
70
1
14
54
111
197
6
12
-631
-226
44
-70
-363
206
78
192
353
10
386
2005
-17
490
502
27
1348
362
11
262
155
63
20
41
1
65
-5
14
109
-150
201
3
13
31
10
10
1
60
221
8,1
14
-61
325
46
-44
106
1
77
203
214
6
368
2006
145
-40
500
41
917
366
8
3
290
103
90
61
1
-21
-6,82
7
37
-306
161
5
70
28
3
8
-19
122
103
10
7
-428
277
46
23
219
-48
61
211
414
9
326
2007
103
290
867
50
1298
465
7
28
168
674
17
47
2
33
0,1
6
46
11
196
-4
78
488
7
11
-15
189
161
12
2
-45
305
50
2
355
66
56
674
3103
7
387
LAMPIRAN 5
DATA DEBT TO EQUITY RATIO PERUSAHAAN
JII
2003-2007
DEBT TO EQUITY RATIO
PERUSAHAAN YANG TERGOLONG JII
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
Nama Perusahaan
116
Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
Asahimas Flat Glass (AMFG)
Astra Agro Lestari Tbk. (AALI)
Astra Graphia Tbk (ASGR)
Astra International Tbk (ASII)
Astra Otoparts Tbk (AUTO)
Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Barito Pacific Timber Tbk. (BRPT)
Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA)
Bumi Resources Tbk. (BUMI)
Ciputra Development Tbk.(CTRA)
Citra Marga Nushapala Persada Tbk (CMNP)
Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID)
Dynaplast Tbk (DYNA)
Ever Shine Textile (ESTI)
Fortune Indonesia (FORU)
Gajah Tunggal Tbk. (GJTL)
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP)
Indofarma Tbk (INAF)
Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Indorama Syntetics Tbk (INDR)
Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
Kimia Farma Tbk (KAEF)
Limas Stokhomindo Tbk (LMAS)
Mayora Indah Tbk (MYOR)
Medco Energi International Tbk. (MEDC)
Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
Multipolar Tbk (MLPL)
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
PP London Sumatera Tbk (LSIP)
Selamat SempurnaTbk. (SMSM)
Semen Cibinong Tbk. (SMCB)
SMART Tbk (SMAR)
Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI)
2003
1,4
0,73
0,85
1,12
1,19
0,52
1,28
-8,71
1,78
13,39
72,27
1
0,84
0,94
0,6
0,74
8,22
2,32
1,24
1,41
2,58
1,33
0,72
0,81
0,08
0,56
0,93
0,91
0,62
4,15
18,43
0,59
1,88
-15,33
-5,17
cxxxiii
2004
1,28
0,52
0,6
0,72
1,18
0,62
1,64
-6,72
1,62
8,39
-19,64
0,42
8,43
1,34
0,57
0,43
2,76
1,64
1,1
1,05
2,5
1,25
0,35
0,44
0,43
0,46
1,56
1,42
3,05
2,5
2,07
0,71
2,49
-12,4
25,45
2005 2006 2007
1,05 1,09
1,2
0,3 0,42 0,34
0,19 0,24
0,3
0,82 0,98
0,9
1,11 1,41 1,36
0,71 0,57 0,56
0,57 0,71 0,86
1,17 0,64 0,54
2,94 1,62 2,76
7,48 5,95 1,66
-46,55 0,46 0,44
0,4
0,5 0,69
1,61 1,03 1,28
1,57 1,71 1,51
0,75 0,78 0,93
0,73 0,86 0,83
2,68 2,41 2,78
1,65 1,84 1,92
0,87 0,59 0,56
0,96 1,45 1,32
2,33 2,13 1,81
1,38 1,51 1,58
0,24 0,17 0,29
0,39 0,45 0,38
0,43 1,21 1,23
0,61 0,58 0,66
1,72 2,21 2,41
1,42 1,73 1,57
2,39 3,63 3,09
2,42 2,79 2,88
1,31 1,22 1,26
0,61 0,53 0,55
2,98 2,37 2,31
1,38 1,06 1,12
4,97 2,61 1,95
36
37
38
39
40
Summarecon Agung Tbk. (SMRA)
Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
Timah Tbk. (TINS)
Trias Sentosa Tbk (TRST)
United Tractors Tbk. (UNTR)
1,56
0,34
0,42
0,78
3,01
1,28
0,41
0,6
1
1,17
1,23
0,38
0,79
1,2
1,58
1,25
0,35
1,06
1,07
1,44
1,42
1,66
0,84
1,1
1,51
LAMPIRAN 6
DATA RETURN ON EQUITY PERUSAHAAN
JII
2003-2007
TURN ON EQUITY
PERUSAHAAN YANG TERGOLONG JII
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Nama Perusahaan
118
Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
Asahimas Flat Glass (AMFG)
Astra Agro Lestari Tbk. (AALI)
Astra Graphia Tbk (ASGR)
Astra International Tbk (ASII)
Astra Otoparts Tbk (AUTO)
Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Barito Pacific Timber Tbk. (BRPT)
Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA)
Bumi Resources Tbk. (BUMI)
Ciputra Development Tbk.(CTRA)
Citra Marga Nushapala Persada Tbk (CMNP)
Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID)
Dynaplast Tbk (DYNA)
Ever Shine Textile (ESTI)
Fortune Indonesia (FORU)
Gajah Tunggal Tbk. (GJTL)
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP)
Indofarma Tbk (INAF)
Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Indorama Syntetics Tbk (INDR)
Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
Kimia Farma Tbk (KAEF)
Limas Stokhomindo Tbk (LMAS)
Mayora Indah Tbk (MYOR)
Medco Energi International Tbk. (MEDC)
Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
Multipolar Tbk (MLPL)
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
cxxxiv
2003
7
19
19
6
38
17
1
-53
14
13
222
21
-3
15
-8
6
64
-17
15
-50
15
2
21
6
21
10
10
0,4
1
-12
2004
-2
20
39
11
33
16
-14
26
15
83
98
8
1
12
-4
7
28
-14
2
3
9
2
1
10
37
10
13
5
2
-15
2005
-3
18
30
13
27
17
7
65
32
66
-82
7
1
5
-3
9
17
-4
13
4
3
1
8
6
1
5
14
7
5
-1
2006
20
-1
29
19
17
15
5
1
38
62
20
9
1
-2
-4
4
6
-10
10
5
13
1
2
5
-17
10
7
8
3
-11
2007
14
10
44
24
22
18
4
7
25
163
4
7
2
3
0,1
4
7
0,4
11
-4
12
15
6
7
-14
14
11
9
1
-1
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
PP London Sumatera Tbk (LSIP)
Selamat SempurnaTbk. (SMSM)
Semen Cibinong Tbk. (SMCB)
SMART Tbk (SMAR)
Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI)
Summarecon Agung Tbk. (SMRA)
Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
Timah Tbk. (TINS)
Trias Sentosa Tbk (TRST)
United Tractors Tbk. (UNTR)
299
13
7
-28
18
28
16
5
18
23
-32
17
-25
31
372
23
25
12
3
35
32
16
-18
16
0,3
18
23
7
2
26
23
15
8
24
-13
17
21
12
3
20
LAMPIRAN 7
DATA JENIS PERUSAHAAN
JII
2003-2007
JENIS PERUSAHAAN
JAKARTA ISLAMIC INDEX
120
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Keterangan
Jenis
Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
Asahimas Flat Glass (AMFG)
Astra Agro Lestari Tbk. (AALI)
Astra Graphia Tbk (ASGR)
Astra International Tbk (ASII)
Astra Otoparts Tbk (AUTO)
Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Barito Pacific Timber Tbk. (BRPT)
Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA)
Bumi Resources Tbk. (BUMI)
Ciputra Development Tbk.(CTRA)
Citra Marga Nushapala Persada Tbk (CMNP)
Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID)
Dynaplast Tbk (DYNA)
Ever Shine Textile (ESTI)
Fortune Indonesia (FORU)
Gajah Tunggal Tbk. (GJTL)
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP)
Indofarma Tbk (INAF)
Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
cxxxv
Non Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
Non Manufaktur
Non Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
22
15
1
34
14
17
163
66
2
22
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Indorama Syntetics Tbk (INDR)
Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
Kimia Farma Tbk (KAEF)
Limas Stokhomindo Tbk (LMAS)
Mayora Indah Tbk (MYOR)
Medco Energi International Tbk. (MEDC)
Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
Multipolar Tbk (MLPL)
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
PP London Sumatera Tbk (LSIP)
Selamat SempurnaTbk. (SMSM)
Semen Cibinong Tbk. (SMCB)
SMART Tbk (SMAR)
Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI)
Summarecon Agung Tbk. (SMRA)
Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
Timah Tbk. (TINS)
Trias Sentosa Tbk (TRST)
United Tractors Tbk. (UNTR)
cxxxvi
Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
Non Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
Non Manufaktur
Non Manufaktur
Manufaktur
Non Manufaktur
LAMPIRAN 8
DATA UKURAN PERUSAHAAN
JII
2003-2007
UKURAN PERUSAHAAN
JAKARTA ISLAMIC INDEX
122
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
Keterangan
Ukuran
Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)
Asahimas Flat Glass (AMFG)
Astra Agro Lestari Tbk. (AALI)
Astra Graphia Tbk (ASGR)
Astra International Tbk (ASII)
Astra Otoparts Tbk (AUTO)
Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Barito Pacific Timber Tbk. (BRPT)
Berlian Laju Tanker Tbk. (BLTA)
Bumi Resources Tbk. (BUMI)
Ciputra Development Tbk.(CTRA)
Citra Marga Nushapala Persada Tbk (CMNP)
Delta Dunia Petroindo Tbk (DOID)
Dynaplast Tbk (DYNA)
Ever Shine Textile (ESTI)
Fortune Indonesia (FORU)
Gajah Tunggal Tbk. (GJTL)
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP)
Indofarma Tbk (INAF)
Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Indorama Syntetics Tbk (INDR)
Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
Kimia Farma Tbk (KAEF)
Limas Stokhomindo Tbk (LMAS)
Mayora Indah Tbk (MYOR)
Medco Energi International Tbk. (MEDC)
Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
Multipolar Tbk (MLPL)
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
PP London Sumatera Tbk (LSIP)
Selamat SempurnaTbk. (SMSM)
Semen Cibinong Tbk. (SMCB)
cxxxvii
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Kecil
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Kecil
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
34
35
36
37
38
39
40
SMART Tbk (SMAR)
Sumalindo Lestari Jaya Tbk (SULI)
Summarecon Agung Tbk. (SMRA)
Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA)
Timah Tbk. (TINS)
Trias Sentosa Tbk (TRST)
United Tractors Tbk. (UNTR)
cxxxviii
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
Perusahaan Besar
LAMPIRAN 9
DATA INFLASI
2003-2007
TINGKAT INFLASI
PER BULAN
124
2004
2003
2005
2006
2007
Jan-03
8,68%
Jan-04
4,82%
Jan-05
7,32%
Jan-06
17,03%
Jan-07
6,26%
Feb-03
7,60%
Feb-04
4,60%
Feb-05
7,15%
Feb-06
17,92%
Feb-07
6,30%
Mar-03
7,17%
Mar-04
5,11%
Mar-05
8,81%
Mar-06
15,74%
Mar-07
6,52%
Apr-03
7,62%
Apr-04
5,92%
Apr-05
8,12%
Apr-06
15,40%
Apr-07
6,29%
May-03
7,15%
May-04
6,47%
May-05
7,40%
May-06
15,60%
May-07
6,01%
Jun-03
6,98%
Jun-04
6,83%
Jun-05
7,42%
Jun-06
15,53%
Jun-07
5,77%
Jul-03
6,27%
Jul-04
7,20%
Jul-05
7,84%
Jul-06
15,15%
Jul-07
6,06%
Aug-03
6,51%
Aug-04
6,67%
Aug-05
8,33%
Aug-06
14,90%
Aug-07
6,51%
Sep-03
6,33%
Sep-04
6,27%
Sep-05
9,06%
Sep-06
14,55%
Sep-07
6,95%
Oct-03
6,48%
Oct-04
6,22%
Oct-05
17,89%
Oct-06
6,29%
Oct-07
6,88%
Nov-03
5,53%
Nov-04
6,18%
Nov-05
18,38%
Nov-06
5,27%
Nov-07
6,71%
Dec-03
5,16%
Dec-04
6,40%
Dec-05
17,11%
Dec-06
6,60%
Dec-07
6,59%
cxxxix
TINGKAT INFLASI
PER TAHUN
TAHUN
2003
2004
2005
2006
2007
TINGKAT INFLASI
6,79%
6,06%
10,40%
13,33%
6,40%
LAMPIRAN 10
DATA KURS RUPIAH TERHADAP DOLLAR
2003-2007
KURS RUPIAH TERHADAP DOLLAR
PER BULAN
126
2004
2003
2005
2006
2007
Jan-03
Rp 9.396,86
Jan-04
Rp 8.894,95
Jan-05
Rp
9.744,90
Jan-06
Rp 9.972,38
Jan-07
Rp 9.567,96
Feb-03
Rp 9.395,05
Feb-04
Rp 8.925,17
Feb-05
Rp
9.744,94
Feb-06
Rp 9.753,15
Feb-07
Rp 9.567,80
Mar-03
Rp 9.430,25
Mar-04
Rp 9.068,82
Mar-05
Rp
9.870,52
Mar-06
Rp 9.671,57
Mar-07
Rp 9.663,95
Apr-03
Rp 9.310,60
Apr-04
Rp 9.108,25
Apr-05
Rp
10.039,35
Apr-06
Rp 9.436,94
Apr-07
Rp 9.597,55
May-03
Rp 8.933,63
May-04
Rp 9.465,32
May-05
Rp
9.979,80
May-06
Rp 9.484,86
May-07
Rp 9.344,33
Jun-03
Rp 8.729,05
Jun-04
Rp 9.882,38
Jun-05
Rp
10.116,45
Jun-06
Rp 9.862,73
Jun-07
Rp 9.483,65
Jul-03
Rp 8.835,78
Jul-04
Rp 9.536,86
Jul-05
Rp
10.299,29
Jul-06
Rp 9.625,48
Jul-07
Rp 9.567,14
Aug-03
Rp 9.003,10
Aug-04
Rp 9.735,43
Aug-05
Rp
10.486,18
Aug-06
Rp 9.594,25
Aug-07
Rp 9.866,68
Sep-03
Rp 8.962,33
Sep-04
Rp 9.682,60
Sep-05
Rp
10.732,57
Sep-06
Rp 9.643,33
Sep-07
Rp 9.809,90
Oct-03
Rp 8.940,61
Oct-04
Rp 9.596,24
Oct-05
Rp
10.593,38
Oct-06
Rp 9.687,18
Oct-07
Rp 9.607,06
Nov-03
Rp 8.995,53
Nov-04
Rp 9.531,47
Nov-05
Rp
10.540,71
Nov-06
Rp 9.634,59
Nov-07
Rp 9.764,27
Dec-03
Rp 8.987,90
Dec-04
Rp 9.723,09
Dec-05
Rp
10.357,32
Dec-06
Rp 9.586,80
Dec-07
Rp 9.833,60
cxl
KURS RUPIAH TERHADAP DOLLAR
PER TAHUN
TAHUN
2003
2004
2005
2006
2007
NILAI KURS
9.076,72
9.429,21
10.208,79
9.662,77
9.639,49
LAMPIRAN 11
DATA PRODUK DOMESTIK BRUTO
2003-2007
PRODUK DOMESTIK BRUTO
PER KWARTAL
(MILIAR Rp.)
128
2003
2004
2005
2006
2007
Mar.
387962.1
Mar.
402591.2
Mar.
427003
Mar.
448501.1
Mar.
475824
Jun.
394244.8
Jun.
411814.9
Jun.
436110
Jun.
457776
Jun.
487102.9
Sep.
404710.6
Sep.
424393.3
Sep.
448492.5
Sep.
475049.3
Sep.
505957.6
Dec.
392641.5
Dec.
418026.3
Dec.
439050.6
Dec.
465966.5
Dec.
495089.8
PRODUK DOMESTIK BRUTO
PER TAHUN
(MILIAR Rp.)
TAHUN
2003
2004
2005
2006
2007
NILAI PDB
131.629,92
138.068,81
145.888,01
153.941,08
163.664,53
cxli
cxlii
Download