pengaruh perputaran modal kerja dan rasio

advertisement
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
Desember
Vol. I, No. 2, Desember 2010, 135 - 146
Sri Yuli Waryati
135
PENGARUH PERPUTARAN MODAL KERJA DAN RASIO HUTANG
TERHADAP RETURN ON INVESTMENT
PADA INDUSTRI MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA
Sri Yuli Waryati
Fakultas Ekonomi Universitas Janabadra Yogyakarta
ABSTRAKSI
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh perputaran modal
kerja dan rasio hutang terhadap return on investment(ROI) pada industri manufaktur di Bursa
Efek Indonesia baik secara parsial maupun simultan.
Dalam penelitian ini diambil sampel sebanyak 30 perusahaan serta data selama 5 tahun.
Regresi berganda merupakan metode analisis yang digunakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial perputaran modal kerja berpengaruh
signifikan negatif terhadap ROI, Rasio hutang berpengaruh positif signifikan terhasap ROI,dan
secara simultan perputaran modal kerja dan rasio hutang berpengaruh signifikan terhadap
ROI.
Kata kunci: Perputaran modal kerja,Rasio hutang,Return On Investment.
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang Masalah
Secara umum tujuan dari suatu
perusahaan adalah meningkatkan kekayaan
atau kesejahteraan pemilik, mempertahankan
kelangsungan hidup dan mengupayakan
untuk dapat berkem­bang. Pencapaian tujuan
tersebut, baik untuk meningkatkan kekayaan
pemilik, untuk melangsungkan usaha dan untuk
mengembangkan perusahaan merupakan
aktivitas-aktivitas yang memerlukan dana
atau kas. Oleh karena itu, agar tujuan tersebut
dapat dicapai secara efektif dan efisien,
maka salah satu keadaan yang harus dapat
dicapai adalah perusahaan harus memiliki
laba; atau dengan kata lain perusahaan harus
memiliki profitabilitas yang tinggi dari
kegiatan operasinya. Profitabilitas di sini
diar­tikan sebagai kemampuan perusahaan
untuk memperoleh laba dari kegiatan
operasi pokoknya. Oleh karena profitabilitas
berkaitan dengan masalah operasi perusa­
haan, maka faktor-faktor yang mempengaruhi
tinggi rendahnya profitabilitas terse­but relatif
banyak dan kompleks; karena melibatkan
faktor-faktor eksternal yaitu faktor-faktor
yang berasal dari luar perusahaan, dan
faktor-faktor internal yaitu faktor-faktor yang
berasal dari dalam perusahaan.
Faktor-faktor internal yang memiliki
pengaruh terhadap profitabilitas perusa­haan
tersebut pada dasarnya berkaitan dengan
kualitas keputusan yang dibuat oleh manajer
yang meliputi: keputusan investasi, keputusan
operasi, dan keputusan pembiayaan (Helfert,
1996: 104).
Keputusan investasi berkaitan dengan
keputusan untuk menginvestasikan dana
perusahaan pada aktiva-aktiva yang
diharapkan dapat menghasilkan kas baik pada
periode berjalan maupun pada periode yang
akan datang. Keputusan investasi tersebut
secara garis besar mencakup hal-hal yang
berkaitan dengan investasi dana perusahaan
ke dalam modal kerja, aktiva tetap, penelitian
dan
pengembangan,
pengembangan
produk atau jasa, dan lain-lain. Keputusan
investasi ini merupakan keputusan yang
136
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
sangat penting, karena investasi merupakan
kekuatan penggerak utama dari setiap sistem
usaha (Helfert, 1996: 8). Keputusan operasi
merupakan keputusan yang berhubungan
dengan penggunaan sumber daya yang
dimiliki, pemilihan pasar, penetapan harga
produk, efisiensi biaya, dan lain-lain.
Keputusan pembiayaan berkaitan dengan
keputusan manajemen untuk membiayai
investasi dan operasi usaha dalam jangka
panjang termasuk di dalamnya antara lain
keputusan pembagian laba, keputusan
penggunaan hutang atau struktur modal.
Modal kerja menurut konsep kuantitatif
adalah keseluruhan dana yang ter­tanam dalam
aktiva lancar, atau sering disebut dengan modal
kerja bruto (gross working capital). Menurut
konsep kualitatif, modal kerja adalah sebagian
dari aktiva lancar yang benar-benar dapat
digunakan untuk membiayai operasi perusa­
haan tanpa mengganggu likuiditasnya, yaitu
kelebihan aktiva lancar di atas utang lancar
(Bambang, 2001: 58). Sedangkan menurut
konsep fungsional, modal kerja adalah dana
yang digunakan selama periode accounting
yang dimaksudkan untuk menghasilkan
current income yang sesuai dengan maksud
didirikannya perusahaan tersebut (Bambang,
2001: 58). Pada kondisi perusahaan yang
telah beroperasi, modal kerja terdistribusi
dalam persediaan, piutang dan kas (Awat,
1999: 408).
Modal kerja memiliki peran yang
sangat strategis dalam mendukung pen­
capaian tujuan perusahaan; oleh karena
manajemen harus mampu mengelola modal
kerja tersebut. Perusahaan dengan modal
kerja yang cukup memungkinkan untuk ber­
operasi secara ekonomis, serta perusahaan
tidak akan mengalami kesulitan keuangan.
Selain itu, dengan adanya modal kerja yang
cukup perusahaan memiliki keuntungan
seperti: (1) melindungi perusahaan terhadap
krisis modal kerja karena turunnya nilai dari
aktiva lancar, (2) memungkinkan untuk dapat
membayar semua kewajiban-kewajiban tepat
pada waktunya, (3) menjamin dimilikinya
kredit standing yang semakin besar dan
memungkinkan bagi perusahaan untuk
dapat menghadapi bahaya-bahaya atau
Desember
kesulitan keuangan yang mungkin terjadi, (4)
memungkinkan untuk memiliki persediaan
dalam jumlah yang cukup untuk melayani
para konsumennya, (5) memungkinkan
bagi perusahaan untuk memberi­kan syarat
kredit yang lebih menguntungkan kepada
para langganannya, (6) memungkinkan bagi
perusahaan untuk dapat beroperasi dengan
lebih efisien karena tidak ada kesulitan
untuk memperoleh barang ataupun jasa yang
dibutuhkan (Munawir, 2001: 147). Namun
demikian, dengan adanya modal kerja yang
berle­bihan juga dapat menimbulkan kerugian
bagi perusahaan, karena adanya dana yang
menganggur atau tidak digunakan.
Agar penggunaan modal kerja dapat
dilakukan secara efisien dan efektif dalam
arti mampu memaksimalkan laba, maka
manajemen perlu melakukan kebi­jakan
untuk mengelola modal kerjanya, atau
sering disebut dengan istilah mana­jemen
modal kerja (working capital management).
Dalam manajemen modal kerja, variabel
penting yang menjadi indikator keberhasilan
manajemen modal kerja yang dilakukan
manajer adalah perputaran modal kerja atau
cash conversion cycle (siklus konversi kas).
Melalui perencanaan cash conversion cycle
(siklus konversi kas) yang baik manajer
dapat menjamin bahwa modal kerja dapat
ditentukan secara akurat besar dan waktunya
(Richards dan Laughlin, 1980: 36).
Siklus konversi kas (cash conversion
cycle) secara definitif adalah interval waktu
antara pengeluaran kas untuk pembelian bahan
baku sampai dengan waktu terkumpulnya kas
dari hasil penjualan produk (Shin dan Shoenen,
1998: 38). Siklus konversi kas terdiri atas
tiga komponen yaitu utang jangka pendek,
persediaan dan piutang (Lazaridis, 2006: 27).
Siklus konversi kas (cash conversion cycle)
diukur sebagai penjumlahan dari waktu
lamanya kas terikat dalam persediaan dengan
waktu lamanya kas terikat dalam piutang
dikurangi dengan waktu lamanya penundaan
pembayaran utang ke pemasok (Shin dan
Shoenen, 1998: 38).
Secara teoritis siklus konversi kas
tersebut memiliki pengaruh terhadap
Desember
Sri Yuli Waryati
137
2.
Perumusan Masalah
a. Apakah perputaran modal kerja
berpengaruh terhadap ROI?
kemampuan perusahaan dalam memperoleh
laba (profitabilitas). Jika siklus kon­versi kas
lama, maka kas yang diterima oleh perusahaan
menjadi lambat sehingga ketersediaan
kas rendah. Pada kondisi ketersediaan kas
rendah, maka perusahaan dapat mengalami
kesulitas dalam membeli bahan baku,
membayar gaji pegawai dan sebagainya;
yang pada akhirnya dapat menurunkan
kapasitas produksi sehingga menurunkan
laba. Dengan demikian siklus konversi kas
tersebut secara teoritis berpengaruh negatif
terhadap profitabilitas perusahaan. Beberapa
penelitian empiris yang pernah dilakukan,
ternyata membuktikan bahwa siklus konversi
kas berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap profitabilitas perusahaan (Jose et
al., 1996; Shin dan Soenen, 1998; Deloof,
2003 dan Teruel dan Solano, 2005). Selain
itu periode pengumpulan piutang dan periode
konversi kas yang merupakan kom­ponen dari
siklus konversi kas juga memiliki pengaruh
yang bersifat negatif dan signifikan terhadap
profitabilitas; sedangkan periode penundaan
utang berpengaruh positif dan signifikan
terhadap profitabilitas.
Selain
perputaran
modal
kerja,
variabel lain yang dapat mempengaruhi
tinggi rendahnya profitabilitas perusahaan
adalah rasio hutang. Hal sebagaimana telah
dibuktikan secara empiris oleh Teurel dan
Solano (2005), Shin dan Soenen (1998),
dan Deloof (2003) dimana rasio hutang
berpengaruh secara signifikan terhadap
profitabilitas perusahaan.
Mengingat kebijakan modal kerja dan
kebijakan hutang merupakan kebijakan yang
penting dan strategis bagi perusahaan, karena
memiliki pengaruh terhadap profitabilitas
perusahaan; maka penelitian terhadap
kebijakan modal kerja dan rasio hutang
baik secara teoritis maupun praktis menarik
untuk dilakukan. Oleh karena itu penulis
tertarik untuk melakukan penelitian empiris
mengenai pengaruh kebijakan modal kerja
dan rasio hutang terhadap profitabilitas pada
perusahaan manufaktur. Dalam penelitian
ini, profitabilitas diukur dengan return on
investment (ROI).
b. Apakah rasio hutang berpengaruh
terhadap ROI?
c. Apakah perputaran modal kerja dan
rasio hutang secara bersama-sama
berpengaruh terhadap ROI?
3.
Batasan Masalah
Profitabilitas perusahaan dalam hal ini
ROI secara teoritis dipengaruhi oleh banyak
faktor seperti : kebijakan perusahaan, kondisi
perusahaan, kondisi pasar atau konsumen,
dan kondisi perekonomian. Dalam penelitian
ini faktor yang akan diteliti dibatasi pada
faktor kebijakan perusahaan, khususnya
kebijakan yang berkaitan dengan modal kerja
dan hutang.
4.
Tujuan Penelitian
Untuk menganalisis dan mengetahui
pengaruh parsial dari perputaran
modal kerja terhadap ROI.
Untuk menganalisis dan mengetahui
pengaruh parsial dari rasio hutang
terhadap ROI.
Untuk menganalisis dan mengetahui
pengaruh simultan dari perputaran
modal kerja dan rasio hutang
terhadap ROI.
TINJAUAN TEORI DAN HIPOTESIS
1.
Modal Kerja
Pengertian Modal Kerja
Modal kerja dapat diartikan sebagai
modal kerja neto (net wor­king capital)
atau modal kerja bruto (gross working
capital). Jika diarti­kan sebagai net
working capital maka modal kerja
adalah kelebihan aktiva lancar terhadap
utang lancar, tetapi jika diartikan sebagai
gross working capital maka modal kerja
berarti jumlah aktiva lancar (Munawir,
2002: 146).
138
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
Berkaitan dengan pengertian modal
kerja tersebut pada dasarnya terdapat
tiga konsep, yaitu: konsep kuantitatif,
konsep kualitatif dan kon­sep fungsional
(Riyanto, 2001: 57). Adapun penjelasan
pengertian modal kerja menurut masingmasing konsep tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Pengertian modal kerja menurut
konsep kuantitatif
Menurut konsep kuantitatif, modal
kerja adalah sebesar dana yang
tertanam dalam aktiva lancar. Karena
itu, modal kerja menurut konsep
kuantitatif sering disebut sebagai
modal kerja bruto (gross working
capital). Dikatakan demikian karena
keseluruhan dana yang tertanam
dalam aktiva lancar itu akan sekali
berputar dan kembali dalam bentuk
kas dalam jangka waktu pendek.
2) Pengertian modal kerja menurut
konsep kualitatif
Menurut konsep kualitatif, modal
kerja adalah kelebihan aktiva lancar
(current assets) di atas utang lancar
(current liabili­ties). Karenanya,
menurut konsep ini, modal kerja
sering disebut sebagai modal
kerja netto (net working capital).
Dikatakan demikian, sebab hanya
bagian dari kelebihan aktiva lancar
di atas utang lancar sajalah yang
dapat digunakan sebagai modal
kerja. Sedangkan bagian aktiva
lancar sebesar utang lancar itu tidak
boleh diganggu gugat, sebab bagian
itu hanya untuk menjaga likuiditas
perusahaan, yakni untuk membayar
utang-utang yang segera harus
dibayar.
3) Pengertian modal kerja menurut
konsep fungsional
Menurut konsep fungsional, yang
dianggap sebagai modal kerja adalah
bagian dari aktiva lancar yang dapat
menghasilkan pen­dapatan operasi
(operating income) dan pendapatan
sekarang (current income). Artinya
Desember
bagian dari aktiva lancar yang tidak
mampu menghasilkan pendapatan
operasi hanya dianggap sebagai
modal kerja potensiil (potential
working capital)
b. Sumber Modal Kerja
Pada dasarnya modal kerja itu terdiri
dari dua bagian pokok.: (1) Bagian
tetap atau bagian yang permanen yaitu
jumlah minimum yang harus tersedia
agar perusahaan dapat berjalan dengan
lancar tanpa kesu­litan keuangan, dan
(2) Jumlah modal kerja variabel yang
jumlahnya ter­gantung pada aktivitas
musiman dan kebutuhan-kebutuhan
di luar aktivitas yang biasa (Munawir,
2001: 148).
Pada umumnya sumber modal kerja
suatu perusahaan dapat berasal dari:
1) Hasil operasi perusahaan
2) Keuntungan dari penjualan suratsurat berharga (investasi jangka
pendek)
3) Penjualan aktiva tidak lancar
c. Perputaran Modal Kerja
Dalam kegiatan operasionalnya
pada umumnya perusahaan memulai
aktivitas dengan membeli bahan baku,
kemudian diproses menjadi bahan jadi.
Pada saat membeli bahan baku, jika
pembayarannya dilakukan secara tunai
maka perusahaan mengeluarkan kas dari
perusahaan. Tetapi jika dibayar secara
kredit, maka perusahaan memiliki utang
dagang. Utang dagang tersebut dapat
menunda pembayaran. Selanjutnya
barang jadi tersebut dijual dengan
kredit, yang berarti perusahaan akan
mempunyai piutang dagang. Pada saat
piutang dagang dilunasi perusahaan
akan menerima kas. Aktivitas semacam
ini menggambarkan bagaimana siklus
kas terjadi, yaitu sejak kas dikeluarkan
untuk pembelian bahan baku sampai
dengan kas diterima kembali dari
piutang.
Desember
Sri Yuli Waryati
Bila pemasukan kas dipercepat dan
pengeluaran kas diperlambat maka
ketersediaan kas akan meningkat,
sehingga perusahaan akan mempunyai
kesempatan menggunakan kas yang lebih
besar. Siklus kas ini merupakan indikator
atau ukuran dari manajemen modal kerja
yang dilakukan manajemen. Semakin
pendek siklus kas berarti kas berputar
lebih cepat sehingga ketersediaan kas
lebih besar, yang berarti manajemen
modal kerjanya semakin baik.
Pengukuran
terhadap
efisiensi
manajemen dalam mengelola modal kerja
dapat dilakukan dengan menggunakan
perputaran modal kerja atau cash
conversion cycle. Periode perputaran
modal kerja dimulai dari saat di mana
kas diinvestasikan dalam komponenkomponen modal kerja sampai saat di
mana modal kerja kembali dalam bentuk
kas (Riyanto, 2001: 62). Hal ini selaras
dengan pengertian yang disampaikan
oleh Joses et. al. (1996), dimana cash
conversion cycle (periode perputaran
kas) atau modal kerja sejak pembelian
bahan baku hingga kas diterima kembali
dari pembayaran piutang.
Cash conversion cycle ini merupakan
ukuran manajemen likuiditas secara
berkesinambungan, oleh karena itu
ukuran likuiditas ini lebih baik dibanding
dengan ukuran likuiditas tradisional
seperti current ratio, quick ratio, net
working capital, dan rasio working
capital to current liabilities (Jose et
al., 1996). Cash conversion cycle ini
mengukur waktu yang diperlukan
antara pengeluaran kas untuk membeli
bahan-bahan pembuat produk, hingga
penerimaan kas hasil penjualan (Jose et
al., 1996).
Secara definitif cash conversion
cycle adalah jumlah hari dari perputaran
persediaan (days in inventory) ditambah
dengan jumlah hari perputaran piutang
(days in receivabel) dikurangi dengan
jumlah hari perputaran utang (days in
payable), atau dapat dituliskan sebagai
berikut (Jose et al., 1996):
139
CCC = Days in Inventory + Days in
Receivables - Days in Payables
Keterangan:
Days in Inventory = Inventory / (Costs of Goods Sold
/ 365)
Days in Receivables = Account Receivables / (Sales /
365)
Days in Payables = Account Payables / (Costs of Goods
Sold / 365)
Berdasarkan pengertian dan formula
mengenai cash conversion cycle atau
perputaran modal kerja, maka semakin
kecil atau pendek periode perputaran
modal kerja berarti semakin baik
manajemen dalam mengelola modal
kerjanya (Riyanto, 2001).
2. Hutang
a. Pengertian Hutang
Hutang adalah modal asing yaitu
modal yang berasal dari luar perusahaan
dan sifatnya hanya sementara bekerja di
dalam perusahaan, yang pada saatnya
harus dibayar kembali (Riyanto, 2001:
227). Hutang juga dapat didefinisikan
sebagai semua kewajiban keuangan
perusahaan kepada pihak lain yang
belum terpenuhi, dimana hutang ini
merupakan sumber dana atau modal
perusahaan yang berasal dari kreditur
(Munawir, 2001: 18).
b. Rasio Hutang
Rasio hutang adalah rasio atau
perbandingan antara hutang dengan
aktiva atau dengan modal sendiri
(equity). Besar kecilnya hutang yang
digunakan oleh perusahaan ditentukan
oleh manajemen dalam keputusan
pendanaan atau keputusan struktur
modal. Hal ini sebagaimana dikatakan
oleh Awat (1999; 71) bahwa struktur
modal adalah perbandingan antara total
hutang jangka panjang dengan modal
sendiri.
Struktur modal merupakan komposisi
pendanaan ekuitas (modal sendiri) dan
hutang pada suatu perusahaan (Wild
140
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
et al., 2005). Struktur modal sering
kali dihitung berdasarkan besaran
relatif berbagai sumber pendanaan.
Stabilitas keuangan perusahaan serta
risiko gagal melunasi utang tergantung
pada sumber pendanaan serta jenis dan
jumlah berbagai aktiva yang dimiliki
perusahaan.
Struktur modal dapat diartikan
sebagai panduan sumber dana jangka
panjang yang digunakan oleh perusahaan
(Keown et al., 2000). Sedangkan
menurut Awat (1999) struktur modal
adalah proporsi antara hutang jangka
panjang dan modal sendiri. Demikian
pula menurut Riyanto (2001) bahwa
struktur modal adalah perimbangan
antara utang jangka panjang dengan
modal sendiri.
Menurut Brigham dan Houston
(2001) besar kecilnya struktur modal
atau hutang suatu perusahaan ditentukan
oleh empat faktor berikut :
1) Risiko bisnis
Risiko bisnis atau tingkat risiko
yang terkandung dalam operasi
perusahaan apabila perusahaan
tersebut menggunakan hutang.
Makin besar atau makin tinggi risiko
perusahaan, maka perusahaan akan
cenderung menggunakan hutang
yang rendah.
2) Pajak perusahaan
Alasan utama penggunaan hutang
oleh perusahaan adalah karena biaya
bunga dapat dikurangkan dalam
perhitungan pajak.
3) Fleksibilitas keuangan
Fleksibilitas
keuangan
yaitu
kemampuan
perusahaan
untuk
menambah modal dengan persyaratan
yang wajar dalam keadaan yang
memburuk.
4) Agresivitas manajemen
Pada perusahaan-perusahaan dengan
manajer yang agresif pada umumnya
lebih cenderung menggunakan
hutang untuk mening­katkan laba.
Desember
3. Return On Investment (ROI)
Ukuran profitabilitas pada umumnya
diukur dengan menggunakan rasio
keuangan. Rasio keuangan yang lazim
digunakan untuk mengukur profitabilitas
atau kinerja keuangan secara menyeluruh
adalah return on investement (ROI).
Return on investment (ROI) merupakan
suatu alat yang biasa digunakan untuk
menilai keberhasilan atau prestasi
perusahaan secara keseluruhan, yang
secara umum didefinisikan sebagai net
income (setelah disesuaikan dengan
biaya bunga) dibagi dengan total
investasi (Munawir, 2001: 84).
Return on investement (ROI) dapat
dihitung sebagai perkalian antara
operating profit margin dengan profit
margin atau perkalian antara (penjualan/
operating assets) dengan (laba usaha/
penjualan).
4. Hipotesis
a. H1 : Perputaran modal kerja secara
parsial berpengaruh negatif
terhadap ROI
b. H2 : Rasio hutang secara parsial
berpengaruh negatif terhadap
ROI
c. H3 : Perputaran modal kerja dan
rasio hutang secara simultan
berpengaruh terhadap ROI
METODE PENELITIAN
1.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh perusahaan yang go public di Bursa
Efek Indonesia tahun 2009. Sampel adalah
sebagian dari perusahaan anggota populasi.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini
dilakukan secara purposive sampling, yaitu
pengambilan sampel dengan menggunakan
pertimbangan-pertimbangan atau kriteria
tertentu. Adapun pertimbangan atau kriteria
yang digunakan dalam pengambilan sampel
ini adalah: (1) perusahaan termasuk ke dalam
sektor manufaktur; hal ini dengan tujuan agar
data yang diperoleh lebih homogen karena
Desember
karakteristik bisnis perusahaan manufaktur
agak berbeda dengan perusahaan non
manufaktur; (2) memiliki laporan keuangan
tahunan auditan .
Definisi Operasional
Penelitian ini menggunakan tiga variabel
yang terdiri atas dua variabel independen dan
satu variabel dependen. Variabel dependen
yang digunakan adalah Perputaran Modal
Kerja yang disimbolkan dengan X1, Rasio
Hutang yang disimbolkan dengan X2 dan ROI
yang disimbulkan dengan Y. Adapun definisi
operasional dari masing-masing variabel
tersebut adalah sebagai berikut:
2.
a.
Perputaran Modal Kerja
Perputaran modal kerja dalam penelitian
ini diartikan sebagai periode konversi
kas (cash conversion cycle), yaitu
lama waktu kas terikat dalam modal
kerja sejak bahan baku hingga kembali
menjadi kas.
Periode konversi kas (cash conversion
cycle) merupakan penjumlahan dari
periode pengumpulan piutang dengan
periode konversi persediaan dikurangi
periode penangguhan pembayaran utang
(Jose et al., 1996: 36).
CCC = DR + DI - DP
141
Sri Yuli Waryati
(1)
DI =
(2)
Keterangan:
DP = Periode penangguhan utang
Account Payable = Utang lancar
Cost of Goods Sold = Harga Pokok Penjualan
Inventory
Cost of Goods Sold/365
(3)
Keterangan:
DI = Periode konversi persediaan
Inventory = Persediaan
Cost of Goods Sold = Harga Pokok Penjualan
Periode Penangguhan Piutang (Days
in receivables) adalah periode waktu
lamanya penundaan piutang. Formula
untuk menghitung Periode Penangguhan
piutang adalah sebagai berikut (Jose et
al., 1996: 36)
DR =
Account Receivable
Cost of Goods Sold/365
(4)
Keterangan:
DR = Periode penangguhan piutang
Account Receivable = Piutang Dagang
Cost of Goods Sold = Harga Pokok Penjualan
b.
Keterangan:
DR = Periode pengumpulan piutang
DI = Periode konversi persediaan
DP = Periode penangguhan utang
Periode Penangguhan Utang (Days
in Payables) adalah periode waktu
lamanya penundaan pembayaran utang
lancar. Formula untuk menghitung
Periode Penangguhan Utang adalah
sebagai berikut (Jose et al., 1996: 36)
Periode Konversi Persediaan (Days
in Inventory) adalah periode waktu
lamanya
produk
berada
dalam
persediaan. Formula untuk menghitung
Periode Konversi Persediaan adalah
sebagai berikut (Jose et al., 1996: 36)
Rasio Hutang
Rasio hutang yang digunakan dalam
penelitian ini adalah rasio antara hutang
jangka panjang terhadap modal sendiri
atau equity (debt to equity ratio). Adapun
formula untuk menghitung rasio hutang
tersebut adalah (Awat, 1999):
DER =
c.
Hutang jangka panjang
(5)
Modal sendiri
Return On Investment (ROI)
Return On Investment (ROI) adalah
perbandingan atau rasio antara laba
setelah pajak dengan total aktiva. Adapun
formula untuk menghitung rasio hutang
tersebut adalah (Awat, 1999):
ROI =
Laba setelah pajak
Total aktiva
(6)
142
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
3.
Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah laporan keuangan tahunan auditan.
Sebagai sumber data adalah Bursa Efek
Indonesia.
4.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan
untuk menguji hipotesis penelitian ini
adalah analisis deskriptif dan regresi linear
berganda untuk mengetahui apakah variabel
independen perputaran modal kerja dan
rasio hutang berpengaruh terhadap return on
investment.
Pemeriksaan terhadap penyimpangan
asumsi klasik model regresi dilakukan
dengan uji normalitas, uji autokorelasi, uji
heteroskedastisitas, dan uji multikolinearitas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
2.
Deskripsi Variabel Penelitian
Berdasarkan analisis data menunjukkan
besarnya nilai ROI perusahaan sampel
minimum sebesar -11,00%, ROI
maksimum sebesar 150,49%. Rata-rata
ROI perusahaan sampel sebesar 12,84%
dengan deviasi standar sebesar 17,13%.
Hasil nilai perputaran modal kerja
perusahaan sampel minimum sebesar
-145,73 hari, perputaran modal kerja
maksimum sebesar 1.285,31 hari. Ratarata perputaran modal kerja perusahaan
sampel sebesar 69,10 hari dengan deviasi
standar sebesar 180,12 hari. Sementara
nilai DER perusahaan sampel minimum
sebesar 0,22%, DER maksimum sebesar
140,46%. Rata-rata DER perusahaan
sampel sebesar 21,78% dengan deviasi
standar sebesar 25,87%.
Uji Asumsi Klasik
a. Uji normalitas
Dalam analisis regresi nilai
residual harus terdistribusi normal.
Pengujian normalitas terhadap nilai
residual tersebut dalam penelitian
ini dilakukan dengan menggunakan
Desember
metode Kolmogorov-Smirnov (KS).
Menurut metode ini jika statistik KS
tidak signifikan (p>α=0,05), data
yang diuji memiliki distribusi normal.
Berdasarkan hasil uji normalitas
dengan bantuan program SPSS 15.0
diperoleh hasil; KS = 0,098 dan p =
0,100. Berdasarkan nilai KS tersebut
tampak bahwa besarnya nilai p=0,100
lebih besar dari α=0,05, sehingga
nilai KS tersebut tidak signifikan.
Oleh karena nilai KS tidak signifikan
maka dapat disimpulkan bahwa
nilai residual regresi penelitian ini
memiliki distribusi normal.
b. Uji multikolinearitas
Dalam
penelitian
ini
uji
multikolinearitas dilakukan dengan
metode VIF (Variance Inflation
Factor). Menurut metode ini, jika
suatu variabel independen memiliki
VIF<10 maka disimpulkan bahwa
variabel independen tersebut tidak
mengalami multikolinearitas dengan
variabel independen yang lain. Hasil
perhitungan nilai VIF untuk variabel
CCC sebesar 1,024 dan variabel
DER sebesar 1,024. Variabelvariabel tersebut memiliki nilai
VIF<10; sehingga masing-masing
variabel independen dalam regresi
tidak mengalami multikolinearitas.
c. Uji heteroskedastisitas
Dalam
penelitian
ini
uji
heterosekdastisitas dilakukan dengan
metode korelasi rank Sperman
antara variabel independen yang
diuji dengan nilai mutlak residual
(rs). Menurut metode ini, jika suatu
variabel independen memiliki rs tidak
signifkan (p>α) maka disimpulkan
bahwa variabel independen tersebut
tidak mengalami heteroskedastisitas.
Hasil perhitungan nilai koefisien
rank Spearman untuk variabel CCC
sebesar -0,180 atau p = 0,075 dan
variabel DER sebesar 0,238 atau p
= 0,070. Masing-masing variabel
independen memiliki rs yang tidak
Desember
signifikan
(p>0,05);
sehingga
masing-masing variabel independen
dalam regresi tidak mengalami
heteroskedastisitas.
d. Uji autokorelasi
Nilai
statistik
Durbin-Watson
sebesar 2,120, oleh karena nilai
tersebut sekitar 2,0 maka dapat
disimpulkan bahwa model regresi
tidak mengalami autokorelasi.
3.
143
Sri Yuli Waryati
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Hasil analisis regresi linear berganda
yang menyatakan pengaruh dari periode
siklus kas (CCC) dan rasio utang (DER)
terhadap profitabilitas perusahaan (ROI)
diringkas dalam tabel 1 berikut.
4. Pengujian Hipotesis
a.
Pengujian Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama penelitian ini menduga
bahwa perputaran modal kerja secara
parsial berpengaruh negatif terhadap
ROI. Hipotesis ini dapat dinyatakan
sebagai berikut:
Ho : b1 = 0Perputaran modal kerja secara
parsial tidak berpengaruh
terhadap ROI
Ha : b1 < 0Perputaran modal kerja
secara parsial berpengaruh
negatif terhadap ROI
Kriteria yang digunakan untuk menolak
atau menerima Ho di atas adalah: jika
koefisien regresi b1 memiliki p<α, maka Ho
ditolak.
Tabel 1.
Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Variabel
Independen
Koefisien
Regresi ( b )
Konstanta
8,482
CCC
-0,015
DER
0,249
Variabel Dependen : Profitabilitas (ROI)
N = 150
R²adjusted = 0,174
F = 16,682; p=0,000
Koefisien
Regresi Standar
(β)
-0,160
0,375
t
-2,126
4,981
p
0,035
0,000
Sumber: Data sekunder diolah.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear
berganda yang disajikan dalam tabel 1 di atas,
maka persamaan regresi yang menyatakan
pengaruh perputaran modal kerja dan rasio
utang terhadap profitabilitas dapat ditulis
sebagai berikut;
ROI = 8,482 − 0,015 CCC + 0,249 DER
dimana,
ROI = Profitabilitas (%)
CCC= Perputaran modal kerja
(hari)
DER = Rasio utang (%)
Hasil analisis regresi di atas telah
memenuhi asumsi klasik, maka secara
ekonometrika layak digunakan untuk
menguji hipotesis.
b.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear
berganda yang disajikan dalam tabel 6,
perputaran modal kerja memiliki b1 =
-0,015 dengan p = 0,035. Pada tingkat
signifikansi α = 5% atau 0,05 maka p
(0,035) < α (0,05) sehingga Ha diterima
dan Ho ditolak. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa, Perputaran
modal kerja secara parsial berpengaruh
signifikan negatif terhadap ROI.
Pengujian Hipotesis Kedua
Hipotesis kedua penelitian ini menduga
bahwa rasio hutang secara parsial
berpengaruh negatip terhadap ROI.
Hipotesis ini dapat dinyatakan sebagai
berikut:
144
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
Ho : b2 = 0Rasio hutang secara parsial
tidak berpengaruh terhadap
ROI
Ha : b2 < 0Rasio hutang secara parsial
berpengaruh negatif terhadap
ROI
Kriteria yang digunakan untuk menolak
atau menerima Ho di atas adalah: jika
koefisien regresi b1 memiliki p < α, maka
Ho ditolak.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear
berganda yang disajikan dalam tabel 1,
rasio utang memiliki b1 = 0,249 dengan
p = 0,000. Pada tingkat signifikansi α =
5% atau 0,05 maka p (0,000) < α (0,05)
sehingga Ha diterima dan Ho ditolak.
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa, rasio utang secara parsial
berpengaruh signifikan terhadap ROI.
Namun demikian, pengaruh rasio utang
tersebut adalah positif bukan negatif
sebagaimana dinyatakan dalam hipotesis
di atas.
c. Pengujian Hipotesis Ketiga
Hipotesis ketiga penelitian ini menduga
bahwa, perputaran modal kerja dan rasio
hutang secara simultan berpengaruh
terhadap ROI. Formulasi hipotesis ini
adalah sebagai berikut:
Ho R=0 : Perputaran modal kerja
dan rasio hutang secara
simultan tidak berpengaruh
terhadap ROI
Ha R<0 : Perputaran modal kerja
dan rasio hutang secara
simultan
berpengaruh
terhadap ROI
Kriteria yang digunakan untuk menolak
atau menerima Ho di atas adalah jika
statistik F memiliki p < α, maka Ho
ditolak.
Berdasarkan hasil analisis regresi
yang disajikan dalam tabel 1 besarnya
statistik F = 16,682 dengan p = 0,000.
Pada tingkat signifikansi α = 5% atau
0,05 maka p (0,035) < α (0,05) sehingga
Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa,
perputaran modal kerja dan rasio hutang
Desember
secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap ROI.
5.
Pembahasan
Hasil pengujian terhadap hipotesis
penelitian ini menunjukkan bahwa
perputaran modal kerja berpengaruh
signifikan dan negatif terhadap
profitabilitas.
Hal
ini
memiliki
implikasi manajerial yang penting bagi
manajer yaitu, jika manajemen mampu
mengendalikan modal kerjanya secara
efisien dan efektif sedemikian rupa
perputaran modal kerja menjadi lebih
singkat, maka profitabilitas yang dapat
dicapai oleh perusahaan cenderung
meningkat. Hasil penelitian ini ternyata
selaras dengan hasil penelitian yang
pernah dilakukan oleh Deloof (2003),
Shin and Soenen (1998), dan Teurel and
Solano (2005) yang menunjukkan bukti
empiris di mana perputaran modal kerja
(cash conversion cycle) berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap
profitabilitas.
Analisis di atas menunjukkan bahwa
rasio utang perusahaan terbukti secara
empiris memiliki pengaruh positif
dan signifikan. Implikasinya, semakin
banyak atau tinggi utang yang digunakan
oleh perusahaan, maka profitabilitas
yang dicapai perusahaan juga cenderung
tinggi. Kondisi demikian ini jika ditinjau
dari teori keuangan sangat masuk
akal, hal ini disebabkan dana luar atau
utang yang digunakan oleh perusahaan
dapat digunakan secara efektif dan
efisien guna mendukung kegiatan
operasional perusahaan, yang mana
hal ini selanjutnya dapat meningkatkan
profitabilitas. Jadi jika ditinjau dari teori
struktur modal, maka kondisi rasio utang
perusahaan sampel penelitian ini belum
mencapai struktur modal yang optimum,
dimana hubungan rasio utang dengan
profitabilitas bersifat positif. Di sisi
lain, jika rasio utang telah melampaui
struktur modal yang optimal maka
penggunaan tambahan utang tidak akan
dapat meningkatkan profitabilitas, tetapi
Desember
Sri Yuli Waryati
justru akan menurunkan profitabilitas.
Jika dibandingkan dengan hasil
penelitian yang pernah dilakukan oleh
Deloof (2003), Shin and Soenen (1998),
dan Teurel and Solano (2005), ternyata
hasilnya bertentangan atau tidak searah.
Jika ditinjau dari besarnya koefisien
regresi baku/standar, ternyata rasio
utang memiliki koefisien regresi baku
(β2 = 0,375) yang relatif lebih besar dari
koefisien regresi baku perputaran modal
kerja (β1 = -0,160). Hal ini memiliki
implikasi bahwa, pengaruh rasio utang
terhadap profitabilitas lebih dominan
dibanding pengaruh perputaran modal
kerja. Berdasarkan hasil pengujian
hipotesis ketiga penelitian ini tampak
bahwa, perputaran modal kerja dan rasio
hutang secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap ROI. Nilai koefisien
determinasi adjusted sebesar 0,174
atau 17,4%. Hal ini menunjukkan
bahwa tinggi rendahnya profitabilitas
perusahaan sampel (ROI) 17,4% faktor
penyebabnya adalah perputaran modal
kerja dan rasio utang,
sedangkan
besarnya pengaruh variabel lain
adalah sebesar 100% - 17,4% = 82,6%.
Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa, masih banyak variabel-variabel
lain (selain perputaran modal kerja dan
rasio utang) yang dapat mempengaruhi
tinggi rendahnya ROI perusahaan
sampel.
sebesar 0,174 atau 17,4%. Hal ini
menunjukkan bahwa tinggi rendahnya
profitabilitas perusahaan sampel (ROI)
17,4% faktor penyebabnya adalah
perputaran modal kerja dan rasio
utang; sedangkan besarnya pengaruh
variabel lain adalah sebesar 100%17,4%=82,6%.
2.
a.
SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
a.
b.
c.
Perputaran modal kerja secara parsial
berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap ROI (b1 = -0,015; p = 0,035).
Rasio utang secara parsial berpengaruh
positif dan signifikan terhadap ROI (b1 =
0,249 dengan p = 0,000).
Perputaran modal kerja dan rasio hutang
secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap ROI (F = 16,682; p = 0,000).
Nilai koefisien determinasi adjusted
145
b.
Saran
Bagi manajer perusahaan manufaktur
go public. Dalam rangka meningkatkan
profitabilitas perusahaan, maka langkah
yang dapat ditempuh adalah: (1)
menurunkan atau mengecil perputaran
modal kerja, (2) meningkatkan rasio
utang, dan (3) gabungan dari (1) dan
(2). Penurunan perputaran modal kerja
dapat dilakukan misalnya dengan cara:
(1) mengefektifan penagihan piutang
kepada pelanggan sehingga kas cepat
terkumpul, (2) meningkatkan efisiensi
produksi sehingga barang dalam
persediaan memiliki waktu tinggal yang
singkat sehingga produk dapat lekas
terjual dan kas lebih cepat terkumpul,
(3) jika memungkinkan meningkatkan
waktu penangguhan pembayaran utang;
karena utang yang ditangguhkan untuk
waktu tertentu dapat digunakan sebagai
tambahan modal kerja.
Peningkatan rasio utang dapat dilakukan
dengan menambah utang, sehingga
kebutuhan operasional perusahaan
dapat lebih terjamin pemenuhannya.
Namun demikian, jika langkah ini
diambil maka manajer harus hatihati karena penambahan utang berarti
menambah biaya utang, selain itu
juga harus memahami apakah dengan
tambahan utang tersebut kondisi
struktur modal masih belum optimal;
karena jika telah melampui kondisi yang
optimal penambahan utang tidak akan
meningkatkan profitabilitas tetapi justru
akan menurunkan profitabilitas.
Penelitian ini dapat sebagai kajian
ulangan atau replikasi untuk penelitian
lebih lanjut, atau untuk pengembangan
model. Hal ini disebabkan masih banyak
146
Efektif Jurnal Bisnis dan Ekonomi
variabel yang belum tercakup dalam
penelitian ini yang secara teoritis dapat
mempengaruhi profitabilitas perusahaan.
Dengan demikian pengembangan model
dapat dilakukan dengan menambahkan
beberapa variabel bebas atau independen
lagi ke dalam model regresi.
DAFTAR PUSTAKA
Awat, N. J. 1999. Manajemen Keuangan:
Pendekatan
Matematis.
Gramedia
Pustaka
Utama,
Jakarta.
Bambang
Riyanto. 2001. Dasar-dasar
Pembelanjaan Perusahaan. Edisi
Keempat, BPFE Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Brigham,E.F and Houston J.F., 2001.
“Fundamentals Of Financial
Management
“Eighth
Edition,Harcourt,Inc.Florida.
Deloof, M. 2003. “Dose Working Capital
Management Affect Profitability
of Belgian Firms?, Journal of
Business Finance & Accounting,
Vol. 30 No. 3, pp. 573-587.
ECFIN.2009.”Indonesian Capital Market
Directory
2009”,Insitute
for Economic and Financial
Research, Indonesia.
Gujarati, D. N. 2003. Basic Econometric.
Fourth Edition, McGraw-Hill,
New York.
Helfert,
E. A. 1996. Teknik Analisis
Keuangan: Petunjuk Praktis
untuk Mengelola dan Mengukur
Kinerja Perusahaan. Edisi
Kedelapan, Erlangga, Jakarta.
Jose, M. L, Lancaster, C., and Stevanus,
J. L. 1996. “Corporate Retuns
and Cash Conversion Cycles”,
Journal of Economics and
Finance, Vol. 20 No. 1, pp. 3346.
Keown,A.J
Desember
et,all.2000.”Basic Financial
Management”Seven
Edition,Prentice Hall,Inc.,New
York
Lazaridis, I. and Tryfonidis, D. 2006.
“Relationship
between
Working Capital Management
and Profitability of Listed
Companies in the Athens Stock
Exchange”, Journal of Financial
Management and Analysis, Vol.
19 No. 1, pp. 26-36.
Mamduh
Hanafi.
2004.
Manajemen
Keuangan. BPFE Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.
Munawir
S. 2001. Analisis Laporan
Keuangan, Liberty, Yogyakarta.
Munawir
S. 2002. Analisis Informasi
Keuangan, Liberty, Yogyakarta.
Richards, V. D., Laughlin, E. 1980. “A
Cash Conversion Cycle Approach
to Liquidity Analysis”, Financial
Management, Spring, pp. 32-38.
Shin, H. H., and Shoenen, L. 1998.
“Efficiency of Working Capital
Management and Corporate
Profitability”, Financial Practice
and Education, Fall/Winter, pp.
37-45.
Teurel, P. J. G, and Solano, P. M.
2005. “Effects of Working
Capital Management on SME
Profitability”, Working Paper,
Universidad de Murcia, Spain.
Download