HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN KEPATUHAN

advertisement
HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN KEPATUHAN
AKSEPTOR KB SUNTIK PROGESTIN MELAKUKAN SUNTIK
ULANG DI BPM Ny. SUPIYAH, Amd.Keb DESA MUNTUNG
KECAMATAN CANDIROTO KABUPATEN TEMANGGUNG
Sri Nilawati 1, Heni Hirawati P, S.SiT, M.KeS 2
[email protected], [email protected]
Program Studi D III Kebidanan, STIKES Ngudi Waluyo
ABSTRAK
Peningkatan jumlah penduduk merupakan salah satu permasalahan global yang muncul di seluruh
dunia. Program Keluarga Berencana (KB) dilaksanakan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.
Menurut data BKKBN saat ini jenis kontrasepsi yang paling banyak dipilih adalah KB suntik.
Kontrasepsi suntik memiliki efektifitas yang tinggi bila penyuntikannya dilakukan secara teratur dan
sesuai jadwal yang telah ditentukan. Dukungan dari keluarga terutama suami akan mempengaruhi
seseorang dalam hal kepatuhan. Dukungan suami dalam KB merupakan bentuk nyata dari peran dan
tanggung jawab para pria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan suami dengan
kepatuhan akseptor KB suntik melakukan suntik ulang.
Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional.
Populasi sejumlah 52 akseptor. Besar sampel sejumlah 33 responden, dengan teknik pengambilan sampel
menggunakan Accidental sampling. Analisis data penelitian ini menggunakan uji Chi Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mendapat dukungan dari suami
dalam melakukan kunjungan suntik ulang sebanyak 21 responden (63,6%) dan sebagian kecil patuh
dalam melakukan suntik ulang sebanyak 15 responden (45,5%). Hasil Uji Chi Square didapatkan hasil pvalue 0,027 < α = 0,05 disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan
kepatuhan akseptor KB suntik dalam melakukan suntik ulang di BPM Ny.Supiyah Desa Muntung
Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung.
Ada hubungan dukungan suami dengan kepatuhan akseptor KB suntik dalam melakukan suntik
ulang
Kata kunci : Dukungan Suami, Kepatuhan
Referensi : 58 (2004-2013)
98
Jurnal Keperawatan Maternitas . Volume 2, No. 2, November 2014; 98-105
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan nasional dibidang sosial
ekonomi telah memberikan dampak positif
terhadap pemecahan masalah-masalah
kependudukan. Masih cukup tingginya laju
pertumbuhan penduduk disebabkan masih
tingginya tingkat kelahiran dibanding
tingkat kematian (Anggraeni, 2011).
Peningkatan
jumlah
penduduk
merupakan salah satu permasalahan global
yang muncul di seluruh dunia, di samping
isu tentang global warming, keterpurukan
ekonomi,
masalah
pangan
serta
menurunnya tingkat kesehatan penduduk.
Jumlah penduduk yang besar tanpa disertai
dengan kualitas yang memadai, justru
menjadi
beban
pembangunan
dan
menyulitkan
pemerintah
dalam
meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan nasional (BKKBN, 2008).
Menurut publikasi Badan Pusat
Statistik (BPS) pada bulan agustus 2010,
jumlah penduduk Indonesia berdasarkan
hasil sensus ini adalah sebanyak
237.556.363 orang, yang terdiri dari
119.507.58 laki-laki dan 118.048.783
perempuan. Oleh karena itu upaya langsung
untuk menurunkan tingkat kelahiran masih
perlu ditingkatkan. Upaya langsung untuk
menurunkan tingkat kelahiran dilaksanakan
melalui program keluarga berencana
(Anggraeni, 2011). Program pelayanan
keluarga berencana (KB) mempunyai arti
penting dalam mewujudkan manusia
Indonesia yang sejahtera, disamping
program pendidikan dan kesehatan.
Kesadaran
mengenai
pentingnya
kontrasepsi di Indonesia masih perlu
ditingkatkan untuk mencegah terjadinya
peningkatan jumlah penduduk di Indonesia
pada tahun 2015 (BKKBN, 2008).
Keluarga berencana adalah upaya
peningkatan kepedulian masyarakat dalam
mewujudkan keluarga kecil yang bahagia
sejahtera (Undang-undang No.10/1992).
Sedangkan
menurut
WHO
(Expert
Committe,1970) keluarga berencana adalah
tindakan yang membantu individu/pasutri
untuk
mendapatkan
objektif-objektif
tertentu, menghindari kelahiran yang tidak
diinginkan, mengatur interval diantara
kehamilan dan menentukan jumlah anak
dan keluarga.
Pelayanan program KB senantiasa
terintegrasi dengan kegiatan kelangsungan
hidup ibu, bayi dan anak serta
penanggulangan masalah kesehatan dan
kesetaraan gender sebagai salah satu upaya
pemecahan hak-hak reproduksi kepada
masyarakat.
Memperhatikan
hal-hal
tersebut, maka operasional pelaksanaan
program KB perlu dikelola secara lebih
serius, profesional dan berkesinambungan
sehingga upaya-upaya tersebut dapat
memberikan kepuasan bagi semua pihak
baik klien maupun pemberi pelayanan.
Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan
kesertaan masyarakat dalam ber KB,
terhindar
dari
masalah
kesehatan
reproduksi, meningkatkan kesejahteraan
keluarga (Manuaba, 2010).
Sasaran Strategis (2010-2014) untuk
mencapai penurunan laju pertumbuhan
penduduk menjadi 1,1 persen, Total
Fertility Rate (TFR) menjadi 2,1 dan
NRR = 1, maka sasaran yang harus
dicapai
pada
tahun 2014
adalah
Meningkatnya
CPR
(Contraceptive
Prevalence Rate) dari 57,4 persen (SDKI,
2007)
menjadi 65%, menurunnya
kebutuhan ber-KB tidak terlayani (unmet
need) dari 9,1% (SDKI, 2007) menjadi
sekitar 5% dari jumlah pasangan usia
subur, meningkatnya usia kawin pertama
perempuan dari 19,8 tahun (SDKI, 2007)
menjadi sekitar 21 tahun, menurunnya
kehamilan yang tidak diinginkan dari 19,7
persen (SDKI 2007) menjadi sekita 15%,
meningkatnya peserta KB baru pria dari 3,6
persen menjadi sekitar 5% (BKKBN,
2012).
Kontrasepsi adalah upaya untuk
mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu
dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat
permanen.
Penggunaan
kontrasepsi
merupakan salah satu variabel yang
mempengaruhi fertilisasi (Sarwono, 2007).
Macam metode kontrasepsi yaitu Metode
Kontrasepsi
Sederhana,
Metode
Kontrasepsi Hormonal, Metode Kontrasepsi
dengan Alat, Kontrasepsi Dalam Rahim
(AKDR), Metode Kontrasepi Mantap, dan
Metode Kontrasepsi Darurat (Handayani,
2010).
Hubungan Dukungan Suami Dengan Kepatuhan Akseptor KB Suntik Progestin Melakukan Suntik Ulang
Di BPM Ny. Supiyah, Amd.Keb Desa Muntung Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung
Sri Nilawati, Heni Hirawati P
99
Kontrasepsi suntik adalah cara untuk
mencegah terjadinya kehamilan dengan
melalui suntikan hormonal. Kontrasepsi
hormonal jenis KB suntikan ini di
Indonesia semakin banyak dipakai karena
kerjanya yang efektif, pemakaiannya yang
praktis, harganya relatif murah dan aman
(Anggraeni, 2011). Kontrasepsi suntik
memiliki resiko kesehatan yang sangat
kecil, tidak berpengaruh pada hubungan
suami-istri (Anggraeni, 2011). Keuntungan
atau
manfaat
kontrasepsi
suntik
diantaranya tidak memerlukan pemeriksaan
dalam, klien tidak perlu menyimpan obat,
jangka panjang dan efek sampingnya sangat
kecil (Handayani, 2010).
Berdasarkan hasil Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada
tahun
2012
menunjukkan,
tingkat
prevelensi pemakaian alat kontrasepsi atau
Contraceptive Prevalance Rate (CPR) yang
menunjukkan tingkat kesertaan ber-KB di
antara pasangan usia subur mencapai
61,9%. Sebanyak 57,9% menggunakan cara
KB modern yang hanya meningkat 0,5%
dari 57,4% dalam lima tahun terakhir. Dari
data tersebut dihasilkan bahwa penggunaan
kontrasepsi terbanyak adalah kontrasepsi
suntik, yaitu sebanyak 22,14%.
Sedangkan di Temanggung pada tahun
2013 yang menggunakan kontrasepsi IUD
sebesar 13,64% , menggunakan MOP
sebesar 0,25% , menggunakan MOW
sebesar 2,97% , menggunakan implant
sebesar 45,39% , menggunakan suntik
sebesar 31,47% , menggunakan pil sebesar
4,03% , dan yang menggunakan kondom
sebesar 2,24% (BKKBN, 2013).
Masalah yang sering terjadi dalam
kontrasepsi suntik adalah terlambatnya
akseptor kb mendapatkan suntikan. Jika
terlambat lebih dari 12 minggu sejak
suntikan terakhir dengan coitus tanpa
perlindungan maka kemungkinan besar
terjadi kehamilan (Everett, 2008). Hal
tersebut bisa dipengaruhi akseptor KB yang
lupa jadwal suntik ulangnya dan bisa
dipengaruhi kepatuhan akseptor dalam
melakukan suntik ulang.
Kepatuhan adalah tingkat ketepatan
perilaku seorang individu dengan nasehat
medis atau kesehataan dan menggambarkan
penggunaan obat sesuai dengan petunjuk
100
pada resep serta mencakup penggunaannya
pada waktu yang benar (Siregar, 2006).
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
kepatuhan yaitu pengetahuan, sikap dan
dukungan
keluarga
(Niven,
2003).
Dukungan merupakan bantuan atau
dukungan yang diterima individu dari
orang-orang tertentu dalam kehidupannya
yang dapat membuat penerima merasa
diperhatikan,
dihargai dan dicintai.
Sedangkan dukungan keluarga merupakan
salah satu jenis dari dukungan sosial,
interaksi timbal balik antara individu atau
anggota keluarga dapat menimbulkan
hubungan ketergantungan satu sama lain.
Dukungan keluarga dapat berupa informasi
atau nasehat verbal dan non verbal, bantuan
nyata, tindakan yang diberikan oleh
keakraban sosial atau adanya perasaan
bahwa kehadiran orang lain mempunyai
manfaat emosional atau mempunyai peran
terhadap perilaku bagi pihak penerima
dukungan sosial (Setiadi, 2008).
Data yang peneliti dapatkan di BPM
Ny.Supiyah bulan desember 2013, terdapat
91 akseptor kb suntik aktif. Dari 91
akseptor kb suntik aktif , didapatkan 48
akseptor tidak patuh dalam suntik ulang
yang ditunjukkan dengan melakukan suntik
ulang melebihi waktu yang sudah
ditentukan. Wawancara sederhana yang
peneliti lakukan kepada 10 akseptor kb
suntik yang tidak patuh dalam suntik ulang
didapatkan hasil bahwa 6 akseptor kb tidak
mendapat dukungan penuh dari keluarga
dalam melakukan suntik ulang. Dukungan
dari keluarga misalnya mengingatkan
jadwal suntik ulang , mengantar akseptor
untuk melakukan suntik ulang, dan
dukungan dari keluarga untuk mengikuti
program keluarga berencana. Dampak dari
ketidak patuhan akseptor kb melakukan
suntik ulang akan meningkatkan kejadian
kehamilan yang tidak direncanakan. Pada
bulan desember 2012 ditemukan 3 kejadian
kehamilan yang tidak direncakan akibat
tidak patuhnya akseptor dalam melakukan
suntik ulang.
Berdasarkan uraian diatas maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Hubungan Dukungan Suami
dengan Kepatuhan Akseptor KB Suntik
Melakukan Suntik Ulang di BPM
Jurnal Keperawatan Maternitas . Volume 2, No. 2, November 2014; 98-105
Ny.Supiyah Desa Muntung Kecamatan
Candiroto Kabupaten Temanggung”
ulang tepat waktu sesuai dengan
jadwal yang sudah diberikan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan
masalah penelitian sebagai berikut:
“Adakah Hubungan Dukungan Suami
dengan Kepatuhan Akseptor KB Suntik
Melakukan Suntik Ulang di BPM
Ny.Supiyah Desa Muntung Kecamatan
Candiroto Kabupaten Temanggung?”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
penelitian
analitik
korelasi
dengan
pendekatan cross sectional, dilakukan di
BPM Ny.Supiyah,Amd.Keb Desa Muntung
Kecamatan
Candiroto
Kabupaten
Temanggung. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh akseptor KB suntik
Progestin sebanyak 52 ibu, sedangkan
besar sampel sejumlah 33 responden.
Teknik sampling yang digunakan adalah
Accidental sampling (pengambilan sampel
berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja
secara kebetulan bertemu dengan peneliti
dapat digunakan sebagai sampel, bila
dipandang orang tersebut cocok sebagai
sumber data). Data yang dikumpulkan
adalah data primer dan sekunder. Data
primer diperoleh dari pengumpulan data
yang dilakukan oleh peneliti dengan
membagikan kuesioner pada ibu akseptor
KB sejumlah 33 Ibu. Sedangkan data
sekunder diperoleh dari data yang telah
dikumpulkan oleh pihak lain dan data sudah
ada yaitu data jumlah ibu akseptor KB yaitu
sejumlah
52
Ibu.
Penelitian
ini
menggunakan alat pengumpulan kuesioner.
Analisa yang digunakan adalah analisa
univariat dengan distribusi frekuensi dan
analisa bivariat dengan menggunakan uji
statistik Chi square.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui Hubungan antara Dukungan
Suami dengan Kepatuhan Akseptor KB
Suntik Melakukan Suntik Ulang di BPM
Ny.Supiyah Desa Muntung Kecamatan
Candiroto Kabupaten Temanggung.
2. Tujuan khusus
a. Untuk
mengetahui
gambaran
dukungan suami dalam suntik ulang
ulang di BPM Ny.Supiyah Desa
Muntung Kecamatan Candiroto
Kabupaten Temanggung.
b. Untuk
mengetahui
gambaran
kepatuhan dalam suntik ulang ulang
di BPM Ny.Supiyah Desa Muntung
Kecamatan Candiroto Kabupaten
Temanggung.
c. Untuk mengetahui hubungan antara
dukungan suami dengan kepatuhan
akseptor
KB
suntik
untuk
melakukan suntik ulang di BPM
Ny.Supiyah
Desa
Muntung
Kecamatan Candiroto Kabupaten
Temanggung.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi akseptor KB
Sebagai bahan informasi khususnya
pasangan usia subur yang merupakan
akseptor KB untuk
meningkatkan
kepatuhan dalam melakukan suntik
ulang.
2. Bagi tenaga kesehatan
ebagai bahan informasi bagi tenaga
kesehatan terutama bidan untuk
menambah wawasan tentang pelayanan
keluarga berencana dan meningkatkan
promosi kesehatan sehingga akseptor
kb bersedia untuk melakukan suntik
HASIL PENELITIAN
A. Karakteristik Responden
1. Umur
Berdasarkan taabel 1 dapat diketahui
bahwa dari 33 responden paling banyak
berumur 20-35 tahun yaitu sejumlah 18
responden (54,5%) dan paling sedikit
berumur <20 tahun yaitu sejumlah 2
responden (6,1%).
2. Paritas
Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui
bahwa dari 33 responden paling banyak
adalah ibu multipara yaitu sejumlah 25
responden (75,8%) dan paling sedikit
ibu grandemultipara yaitu sejumlah 1
responden (3,0%).
Hubungan Dukungan Suami Dengan Kepatuhan Akseptor KB Suntik Progestin Melakukan Suntik Ulang
Di BPM Ny. Supiyah, Amd.Keb Desa Muntung Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung
Sri Nilawati, Heni Hirawati P
101
3. Pendidikan
Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui
bahwa dari 33 responden paling banyak
adalah ibu yang berpendidikan SD yaitu
sebanyak 13 responden (39,4%) dan
paling sedikit adalah ibu yang
berpendidikan Perguruan Tinggi yaitu
sejumlah 2 responden (6,1%).
4. Pekerjaan
Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui
bahwa dari 33 responden paling banyak
adalah ibu yang bekerja sebagai ibu
rumah tangga yaitu 17 responden dan
paling sedikit adalah ibu yang bekerja
sebagai pegawai swasta yaitu sejumlah 1
responden (3,0%).
B. Analisis Univariat
1. Dukungan Suami
Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui
bahwa dari 33 responden sebagian besar
mendapat dukungan suami yaitu
sejumlah 21 orang (63,6%). Dan
sebagian kecil tidak mendapat dukungan
dari suami yaitu sejumlah 12 responden
(36,4%).
2. Kepatuhan
Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui
bahwa dari 33 responden sebagian besar
ibu tidak patuh dalam melakukan suntik
ulang yaitu sejumlah 18 responden
(54,5%) dan sebagian kecil patuh dalam
melakukan suntik ulang yaitu sejumlah
15 responden (45,5%).
C. Analisis Bivariat
Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui
bahwa dari 21 responden yang tidak
mendapat dukungan dari suami sebagian
besar tidak patuh dalam melakukan suntik
ulang yaitu sejumlah 15 responden (71,4%)
dan sebagian kecil patuh dalam melakukan
suntik ulang yaitu sejumlah 6 responden
(28,6%). Sedangkan dari 12 responden
yang mendapat dukungan dari suami
sebagian besar patuh dalam melakukan
suntik ulang yaitu sejumlah 9 responden
(75%) dan sebagian kecil tidak patuh dalam
melakukan suntik ulang yaitu sejumlah 3
responden (25%).
Berdasarkan uji Chi Square didapat
nilai ² hitung 4,899 dengan value 0,027.
Oleh karena p-value = 0,027 < α (0,05),
102
disimpulkan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara dukungan suami dengan
kepatuhan akseptor KB suntik melakukan
suntik ulang di BPM Ny.Supiyah Desa
Muntung Kecamatan Candiroto Kabupaten
Temanggung. Dari Odds Ratio for
Dukungan Suami ( Tidak Mendukung /
Mendukung ) didapatkan hasil value 7,5
yang artinya akseptor KB yang mendapat
dukungan suami 7,5 kali akan patuh dalam
melakukan suntik ulang dan akseptor KB
yang tidak mendapat dukungan suami 7,5
akan tidak patuh dalam melakukan suntik
ulang.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan
Umur Ibu Akseptor KB suntik di BPM
Ny.Supiyah Amd.keb di Desa Muntung
Kecamatan
Candiroto
Kabupaten
Temanggung tahun 2014.
Persentase
Umur
Frekuensi
(%)
< 20 Tahun
2
6,1
20-35 Tahun
18
54,5
> 35 Tahun
13
39,4
Jumlah
33
100,0
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan
paritas Ibu Akseptor KB suntik di BPM
Ny.Supiyah Amd.keb di Desa Muntung
Kecamatan
Candiroto
Kabupaten
Temanggung tahun 2014.
Persentase
Paritas
Frekuensi
(%)
Primipara
7
21,2
Multipara
25
75,8
Grandemultipara
1
3,0
Jumlah
33
100,0
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berdasarkan
pendidikan Ibu Akseptor BPM Ny.Supiyah
Amd.keb di Desa Muntung Kecamatan
Candiroto Kabupaten Temanggung tahun
2014.
Persentase
Pendidikan
Frekuensi
(%)
SD
13
39,4
SMP
12
30,3
SMA
6
18,2
Perguruan
2
6,1
Tinggi
Jumlah
33
100,0
Jurnal Keperawatan Maternitas . Volume 2, No. 2, November 2014; 98-105
Tabel 4.
Distribusi
Frekuensi
Berdasarkan pekerjaan Ibu Akseptor BPM
Ny.Supiyah Amd.keb di Desa Muntung
Kecamatan
Candiroto
Kabupaten
Temanggung tahun 2014.
Persentase
Pekerjaan
Frekuensi
(%)
IRT
17
51,5
Petani
10
30,3
Buruh
3
9,1
Swasta
1
3,0
Guru
2
6,1
Jumlah
33
100,0
Tabel 5.
Distribusi
Frekuensi
berdasarkan Dukungan Suami pada Ibu
Akseptor BPM Ny.Supiyah Amd.keb di
Desa Muntung Kecamatan Candiroto
Kabupaten Temanggung tahun 2014.
Dukungan
Persentase
Frekuensi
Suami
(%)
Tidak
21
63,6
Mendukung
Mendukung
12
36,4
Jumlah
33
100,0
Tabel 6.
Distribusi
Frekuensi
berdasarkan Dukungan Suami pada Ibu
Akseptor BPM Ny.Supiyah Amd.keb di
Desa Muntung Kecamatan Candiroto
Kabupaten Temanggung tahun 2014.
Persentase
Kepatuhan
Frekuensi
(%)
Tidak Patuh
18
54,5
Patuh
15
45,5
Jumlah
33
100,0
Tabel 7
Hubungan
Dukungan
Suami dengan Kepatuhan Akseptor KB
Suntik Melakukan Suntik Ulang di BPM
Ny.Supiyah Desa Muntung Kecamatan
Candiroto Kabupaten Temanggung 2014
Kepatuhan
Suntik Ulang
Total
Dukungan
PTidak
²
Suami
Patuh
value
Patuh
f % f % f %
Tidak
15 71,4 6 28,6 21 100 4,899 0,027
Mendukung
Mendukung 3 25,0 9 75,0 12 100
Jumlah
18 54,5 15 45,5 33 100
PEMBAHASAN
A. Analisis Univariat
1. Dukungan suami
Suami yang tidak mendukung istrinya
untuk melakukan suntik ulang sesuai jadwal
akan
mengurangi
perannya
dalam
kesehatan reproduksi. Kurangnya peran
suami sebagai salah satu pihak yang
berkepentingan
dengan
kesehatan
reproduksi, justru membuat mereka kurang
informasi, yang pada gilirannya merintangi
pemenuhan hak reproduksinya. Menurut
Kurniawan (2008), Peran adalah harapan
atau standar perilaku yang telah diterima
oleh keluarga, komunitas dan kultur.
Perilaku didasarkan pada pola yang
ditetapkan melalui sosialisasi dimulai tepat
setelah lahir. Sedangkan suami adalah
pemimpin dan pelindung bagi istrinya,
maka kewajiban suami terhadap istrinya
ialah mendidik,
mengarahkan serta
mengertikan istri kepada kebenaran,
kemudian membarinya nafkah lahir batin,
mempergauli serta menyantuni dengan baik
(Harymawan, 2007). Jadi peran suami
adalah informasi verbal dan non verbal,
saran, bantuan yang nyata yang diberikan
oleh orang-orang yang akrab dengan
subyek atau berupa kehadiran dan hal-hal
yang dapat memberikan keuntungan
emosional atau berpengaruh pada tingkah
laku penerimanya (Wijayakusuma, 2008).
Menurut BKKBN (2006), peran dan
tanggung jawab pria dalam kesehatan
reproduksi
berpengaruh
terhadap
pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan
hidup ibu dan anak, serta berperilaku
seksual yang sehat dan aman bagi dirinya,
istri, dan keluarganya. Peranan atau
pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh
orang lain yang berarti seperti anggota
keluarga , teman , saudara, dan rekan kerja
adalah bagian dari dukungan sosial.
Johnson dan Johnson berpendapat bahwa
dukungan sosial adalah pemberian bantuan
seperti materi, emosi, dan informasi yang
berpengaruh
terhadap
kesejahteraan
manusia.
Dukungan
sosial
juga
dimaksudkan
sebagai
keberadaaan
kesediaaan orang yang berarti, yang
bersedia untuk membantu, mendorong,
menerima dan menjaga individu (Suhita,
2005).
Peran
suami
juga
sangat
Hubungan Dukungan Suami Dengan Kepatuhan Akseptor KB Suntik Progestin Melakukan Suntik Ulang
Di BPM Ny. Supiyah, Amd.Keb Desa Muntung Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung
Sri Nilawati, Heni Hirawati P
103
berpengaruh bagi istri. Peran seperti ikut
pada saat konsultasi pada tenaga kesehatan
saat istri akan memakai alat kontrasepsi,
mengingatkan istri jadwal minum obat atau
jadwal untuk kontrol, mengingatkan istri
hal yang tidak boleh dilakukan saat
memakai alat kontrasepsi dan sebagainya
akan sangat berperan bagi istri saat akan
atau telah memakai alat kontrasepsi.
Besarnya peran suami akan sangat
membantunya dan suami akan semakin
menyadari bahwa masalah kesehatan
reproduksi bukan hanya urusan wanita
(istri) saja.
2. Kepatuhan
Tidak
patuhnya
pasien
dalam
melakukan suntik ulang juga dipengaruhi
oleh tingkat pendidikan. Responden yang
memiliki tingkat pendidikan yang rendah
tidak mudah memahami informasi yang
diberikan dari bidan. Sehingga masih
banyak yang melakukan suntik ulang tidak
sesuai jadwal. Sejalan dengan pendapat
Notoatmojo
(2007),
pendidikan
mempengaruhi proses belajar, makin tinggi
pendidikan seseorang makin mudah orang
tersebut untuk menerima suatu informasi.
Sebaliknya
jika
rendah pendidikan
seseorang maka makin sulit orang tersebut
menerima suatu informasi.
BKKBN (2005), juga menyatakan
bahwa pendidikan merupakan salah satu
faktor
yang
sangat
menentukan
pengetahuan dan persepsi seseorang
terhadap pentingnya suatu hal, termasuk
pentingnya keikutsertaan dalam KB. Ini
disebabkan seseorang yang berpendidikan
tinggi akan lebih luas pandangannya dan
lebih mudah menerima ide dan tata cara
kehidupan baru.
Selain
dipengaruhi
pendidikan,
akseptor KB suntik yang tidak patuh adalah
ibu multipara. Padahal pada ibu multipara
seharusnya mengurangi jumlah anak
dengan cara ibu patuh dalam melakukan
suntik ulang sesuai jadwal yang sudah
ditentukan oleh tenaga kesehatan. Padahal
menurut BKKBN (2004), suntik ulang yang
sesuai waktu diharapkan dapat mencegah
kehamilan yang tidak diinginkan dan
mengurangi insidens kehamilan beresiko
tinggi, kesakitan dan kematian.
104
Menurut Sugiarti Dkk (2012), jumlah
anak mulai diperhatikan setiap keluarga
karena
berkaitan
dengan
tingkat
kesejahteraan , semakin banyak anak
semakin banyak pula tanggungan kepala
keluarga dalam mencukupi kebutuhan
materil selain itu juga untuk menjaga
kesehatan sistem reproduki karena semakin
sering melahirkan semakin rentan terhadap
kesehatan ibu. Sejalan dengan pendapat
Maesaroh (2011), semakin sering wanita
tersebut melahirkan kemungkinan resiko
terkena ISK juga semakin besar.
B. Analisis Bivariat
Responden yang tidak mendapat
dukungan dari suami tetapi patuh dalam
melakukan suntik ulang. Hal ini
dikarenakan ibu takut jika terjadi kehamilan
yang
tidak
diinginkan.
Meskipun
keefektifan dari KB suntik tinggi, tetapi
tidak menutup kemungkinan terjadi
kehamilan jika suntik yang dilakukan tidak
sesuai dengan jadwal yang sudah
ditentukan. Seperti yang diungkapkan
Gunawan (2013) bahwa kegagalan bisa
terjadi karena sang wanita lupa melakukan
jadwal suntik KB setiap bulannya.
Kegagalan biasanya akibat kegagalan kerja
alat dan kesalahan jadwalnya. Jadi
kegagalan KB suntik bukan pelayanan.
Responden yang mendapat dukungan
suami tetapi tidak patuh dalam melakukan
suntik ulang. Hal ini dikarenakan
pengetahuan tentang kontrasepsi suntik
yang kurang. Ibu beranggapan bahwa KB
suntik bisa dilakukan sewaktu-waktu jika
dibutuhkan. Sejalan dengan pendapat
Irmayari (2007), bahwa setiap individu
memiliki tingkat pengetahuan yang
berbeda,
tingkat
pengetahuan
ini
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan,
keterpaparan informasi dan pengalaman.
Salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap
tingkat
pengetahuan yaitu
pendidikan
formal
yang
pernah
ditempuh. Sesuai dengan dengan pendapat
dari Irmayati (2007) yang mengatakan
bahwa pendidikan adalah sebuah proses
perubahan sikap dan perilaku seseorang
atau kelompok serta usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan,
sehingga
semakin tinggi
Jurnal Keperawatan Maternitas . Volume 2, No. 2, November 2014; 98-105
tingkat pendidikan seseorang maka semakin
banyak pengetahuan yang diperoleh.
C. Keterbatasan Penelitian
1. Peneliti menggunakan kuesioner
tidak spesifik tentang dukungan
suami yang
mengarah pada
kepatuhan akseptor kb dalam
melakukan suntik ulang.
2. Penelitian
melibatkan
subyek
penelitian dalam jumlah terbatas,
yakni sebanyak 33 orang, sehingga
hasilnya
belum
dapat
digeneralisasikan pada kelompok
subyek dengan jumlah yang besar.
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Gambaran Dukungan Suami dalam
melakukan suntik ulang dalam
kategori
mendukung
yaitu
sebanyak 12 responden (36,4%)
dan
dalam
kategori
tidak
mendukung sebanyak 21 responden
(63,6%).
2. Gambaran
kepatuhan
dalam
melakukan suntik ulang sebagian
besar tidak patuh dalam melakukan
suntik ulang yaitu sejumlah 18
responden (54,5%) dan sebagian
kecil patuh dalam melakukan
suntik ulang yaitu sejumlah 15
responden (45,5%).
3. Ada hubungan yang signifikan
antara dukungan suami dengan
kepatuhan akseptor KB suntik
melakukan suntik ulang dengan
nilai p-value = 0,027 < α (0,05)
B. Saran
1. Bagi peneliti selanjutnya
Bagi peneliti lain yang melakukan
penelitian serupa pada saat
penelitian
diharapkan
juga
mempertimbangkan faktor lain,
seperti dukungan keluarga, sosial
budaya, ekonomi dan petugas
kesehatan.
2. Bagi tenaga kesehatan
Hendaknya
bidan
mampu
meningkatkan cakupan kunjungan
suntik ulang sesuai jadwal, dengan
cara
memberikan
KIE
(Komunikasi,
Informasi
dan
Edukasi) lebih spesifik yaitu
memberi ibu informasi tentang efek
samping jika tidak suntik ulang
tidak tepat pada jadwal yang sudah
ditentukan bisa terjadi kehamilan
yang tidak direncanakan.
3. Bagi Akseptor KB
1. Diharapkan akseptor KB patuh
dalam melakukan suntik ulang
sesuai dengan jadwal yang
sudah ditentukan oleh tenaga
kesehatan.
2. Diharapkan
suami
lebih
mendukung dan ikut berperan
dalam kesehatan reproduksi
untuk mengurangi jumlah
ledakan penduduk di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini dan Martini. 2012. Pelayanan
Keluarga Berencana. Yogyakarta :
Rohima press.
Arikunto, S. 2006. Prosedur penelitian
suatu Pendekatan Praktik. Jakarta :
Rineka Cipta.
BKKBN.2012. Narasi arah kebijakan dan
strategi 2013. Jakarta
Handayani, S. 2010. Keluarga Berencana
dan Kontrasepsi. Yogyakarta :
Pustaka Rihana.
Notoatmodjo
S.
2010.
Metodologi
Penelitian
Kesehatan.
Jakarta:
Rineka Cipta.
Notoatmodjo. (2007). Promosi kesehatan
dan ilmu perilaku. Jakarta : PT
Rieneka Cipta
Nursalam.2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Prasetyawati,Arsita eka (2011). Ilmu
Kesehatan
Masyarakat
untuk
kebidanan holistik. Yogyakarta.
Nuha Medika.
Setiadi.(2008).
Konsep
dan
proses
keperawatan keluarga. edisi pertama.
Yogyakarta : Graha ilmu.
Sugiyono.2008. Statistika untuk penelitian.
Bandung : Alfabeta
Wikipedia.2010.id.wikipedia.org/wiki/sensu
s_penduduk_Indonesia_2010.Diakse
s tanggal 5 januari 2014
Hubungan Dukungan Suami Dengan Kepatuhan Akseptor KB Suntik Progestin Melakukan Suntik Ulang
Di BPM Ny. Supiyah, Amd.Keb Desa Muntung Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung
Sri Nilawati, Heni Hirawati P
105
Download