manajemen pelaksanaan pendidikan madrasah aliyah salafiyah mu

advertisement
MANAJEMEN PELAKSANAAN PENDIDIKAN MADRASAH
ALIYAH SALAFIYAH MU’ADALAH DI PONDOK TREMAS
PACITAN
NAILISSA’ADAH
NIM: 12.403.1.036
Tesis Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam
Mendapatkan Gelar Magister Pendidikan Islam
PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2016
i
MANAJEMEN PELAKSANAAN PENDIDIKAN MADRASAH ALIYAH
SALAFIYAH MU’ADALAH DI PONDOK TREMAS PACITAN
NAILISSA’ADAH
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Manajemen pelaksanaan
pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas. 2. Hambatan
manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah
Pondok Tremas. 3. Cara mengatasi hambatan manajemen pelaksanaan pendidikan
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneltian ini dilakukan
di Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan pada tahun
2014. Subjek penelitian ini adalah ketua majlis ma’arif dan kepala Madrasah
Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok tremas Pacitan. Informan panelitian ini
adalah wakil kepala madrasah bidang kurikulum, kesiswaan, personalia, keuangan
dan sarana prasarana. Teknik pengumpulan data menggunakan metode
Wawancara, Dokumentasi dan Observasi. Teknik keabsahan data menggunakan
trianggulasi (metode dan sumber). Teknik analisa data menggunakan model
interaktif terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan
verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Manajemen pelaksanaan
pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan
terdiri dari 5 komponen, yaitu a. Manajemen Kurikulum, b. Manajemen
Kesiswaan, c. Manajemen personalia, d. Manajemen Keuangan, dan e.
Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan Prasarana Sekolah. Manajemen
pelaksanaan pendidikan di 5 komponen tersebut telah berjalan dengan baik. 2.
Hambatan manajemen pelaksanaan pendidikan di antaranya: proses regenerasi
pengajar yang terlalu cepat, seringkali ada permintaan perubahan jadwal, sumber
daya pelaksana manajemen kesiswaan secara kualitas dan kuantitas masih kurang,
tidak tepat waktu antara permohonan dengan pencairan dana, kekurangan ruang
kelas. 3. Cara mengatasi hambatan manajemen pelaksanaan pendidikan yaitu:
Lebih banyak mengangkat guru lokal (sekitar pacitan), membuat jadwal
sementara, memberi pelatihan dan peningkatan pendidikan, menganjurkan guru
untuk masuk ma’had aly, mengoptimalkan keuangan Yayasan dan mempermudah
prosedur proposal, mengembangkan usaha mandiri dan usaha pondok pesantren.
Kata Kunci: Manajemen Pelaksanaan Pendidikan, MA Salafiyah Mu’adalah
ii
CLASS MANAGEMENT OF MUADALAH SALAFIYAH ISLAMIC
SENIOR HIGH SCHOOL IN TREMAS BOARDING COLLEGE PACITAN
NAILISSA’ADAH
ABSTRACT
This research aims at studying: 1. Class management of Salafiyah Islamic
Senior High School in Tremas College. 2. The obstacles of applying class
management in Salafiyah Islamic Senior High School in Tremas College. 3. The
ways how to solve the problems and obstacles faced by Tremas Islamic college in
applying class management.
This research used qualitative method and was conducted in Muadalah
Salafiyah Islamic Senior High School in Tremas Boarding College during 2014.
The subjects for this research were chairman of majlis ma’arif and headmaster of
Salafiyah Mu’adalah Islamic Senior High School in Tremas College. While the
informants of this study were vice headmaster in curriculum, student affairs,
treasurer, personnel and equipment. The data were collected through depth
interview, observation and documentation. The validities of the data were checked
through triangulation (method and source). The analysis of the data used an
interactive model consisted of data sampling, data reduction, data presentation,
and verification.
The results show that: 1. Class managements of Salafiyah Muadalah
Islamic Senior High School in Tremas consist of 5 components namely: (a).
Curriculum management, (b). Student management, (c). employee management,
(d). management of budgeting, and (e). equipment preservation management. All
of the components work in harmony. 2. The obstacles faced in educational
management operation are: the teacher regeneration process is too fast, sudden
change of schedule , human resources involved in the management of student in
the quality and quantity still lacking, financial budgeting and applying are not
synchronous yet, and Lack of classroom. 3. The solutions from problems
described above are: more to lift the local teacher (about Pacitan), making a
temporary schedule, improving the quantity and quality of human resource,
suggesting the teacher to continue at Ma’had Aly, optimizing the financial
resource from organization and making easier the procedure to apply for funding,
and building a profit oriented enterprise.
Keywords: Management of educational implementation,MA Salafiyah Mu’adalah
iii
‫ادلَِة مبعهدالتماس باشيتان‬
‫ادارة تطبيق تربية ادلدرسة العا لية العالية السلفية الْ ُم َع َ‬
‫السعادة‬
‫نيل ّ‬
‫ملخص البحث‬
‫ّ‬
‫هتدف ىذه الدراسة إىل حتديد ما يلي‪ )ٔ( :‬معرفة إدارة تنفيذ التعليم للمدرسة‬
‫ادلَِة مبعهدالتماس باشيتان (ٕ) َم ْع ِرفَة العوائق لتنفيذ اِ َد َارة التعليم ىف ىذه‬
‫العالية السلفية الْ ُم َع َ‬
‫ادلدرسة (ٖ) معرفة كيفية التغلب على تلك العوائق‪.‬‬
‫استخدمت ىذه الدراسة على منهاج ‪ .‬و قد أجريت ىذه الدراسة يف ىذه ادلدرسة‬
‫سنة ٕٗٔٓ مــ‪ .‬موضوع ىذه الدراسة ىو رئيس مؤسسة ادلعارف و مدير ادلدرسة‪ .‬ادلخربون‬
‫ذلذه الدراسة ىي نائب ادلدرسة‪ ،‬وأمني الصندوق‪ ،‬وشؤون الطالب و ادلوظفني‪ ،‬والبنية‬
‫التحتية‪ .‬و يف مجع البيانات استخدم ادلالحضات و ادلقابالت والوثائق‪ .‬و استخدمت طريقة‬
‫التثليث (الطرق و ادلصادر) لتفتيش صحة البيانات‪ .‬و يف حتليل البيانات استخدم منوذجا‬
‫تفاعليا الذي يتكون من مجع البيانات‪ ،‬واحلد من البيانات‪ ،‬وعرض البيانات والتحقق منها‪.‬‬
‫ِِ‬
‫األول‪ ،‬أ َّ‬
‫َن تنفيذ إدارة التعليم يف‬
‫اس ِة كما يلي‪َّ :‬‬
‫ِّر َ‬
‫َو قَ ْد أظهرت النتائج ِيف ىذه الد َ‬
‫ىذه ادلدرسة تتكون من مخسة عناصر‪،‬منها ‪ :‬أ‪ .‬إدارة ادلناىج الدراسية‪ ،‬ب‪ .‬إدارة شؤون‬
‫الطلبة‪ ،‬ج‪ .‬إدارة شؤون ادلوظفني‪ ،‬د‪ .‬إدارة ادلالية‪ ،‬ه‪ .‬إدارة صيانة البنية التحتية ادل ْدرسية‪ .‬وقد‬
‫َ‬
‫اظهرت ان تنفيذ إدارة التعليم يف ىذه العناصر اخلمسة تعمل جيدا‪ .‬والثاين‪ ،‬ىناك عوائق يف‬
‫تنفيذ إدارة التعليم ىف ىذه ادلدرسة منها عملية جتديد اليت اسرع من العادة‪ ،‬مث عدم وجود‬
‫نوعية وكمية ادلوارد البشرية‪ ،‬مث وغالبا وجود طلب تغيري اجلدول الزمين يف وسط الدراسية‪ ،‬و‬
‫ايضا عدم وقت ادلناسب بني طلب ادلال و تصرف االموال‪ ،‬و نقصان الفصل لطالب و‬
‫طالبات‪ .‬الثالث‪ ،‬أما كيفية التغلب على ىذه العوائق ومنها ‪ :‬إضافة ادلوارد البشرية ‪ ،‬توفري‬
‫التدريبات يف حتسني التعليم‪ ،‬إنشاء جدول مؤقت‪ ،‬تشجيع ادلدرسني لدخول ادلعهد العايل‪،‬‬
‫حتسني سوؤن ادلالية للمؤسسة و تسهيل اجراء االقتحات‪ ،‬تطوير األعمال ادلستقلة والشركات‬
‫ادلعهدية‪.‬‬
‫ادلَِة‬
‫الكلمات الرئيسية ‪ :‬ادارة تطبيق التعليم ‪ ,‬ادلدرسة العا لية العالية السلفية الْ ُم َع َ‬
‫‪iv‬‬
v
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun
sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Pascasarjana
Institut Agama Islam Negeri Surakarta merupakan hasil karya sendiri.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari
karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,
kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan seluruhnya atau sebagian tesis ini
bukan asli karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu,
saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan
sanksi-sanksi lainya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Surakarta, 20 November 2015
Yang Menyatakan,
Nailissa’adah, S.Pd.I
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufik, hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulisan tesis ini dapat
terselesaikan dengan baik. Sholawat dan Salam yang selalu tercurahkan kepada
Nabi Besar Muhammad SAW yang selalu kita nantikan syafaatnya dari dunia
sampai akhirat nanti.
Selama studi program Pasca sarjana hingga menyelesaikan tugas akhir ini,
banyak pihak yang telah membantu kepada penulis. Oleh karena itu dengan
kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis ingin meyampaikan ucapan
terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Mudlofir Abdullah, MPd. Selaku Rektor IAIN Surakarta yang
telah memberikan masukan dan semangat mulai dari awal perkuliahan.
2. Bapak Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd., Ph.D, selaku Direktur Pascasarjana IAIN
Surakarta
yang
telah memberikan kemudahan dalam semua proses
penyelesaian tesis ini.
3. Bapak Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd., Ph.D, dan Bapak Dr. Toto Suharto,M.Ag.
selaku dosen pembimbing tesis yang telah bersedia meluangkan waktu,
tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam
penyusunan tesis ini.
4. Bapak/Ibu Dosen dan Staf pengajar Pascasarjana IAIN Surakarta yang telah
membekali berbagai ilmu dan pengetahuan, sehingga penulis mampu
menyelesaikan tesis ini.
vii
5. Seluruh civitas akademik di Pascasarjana IAIN Surakarta yang telah
memberikan informasi dalam penyusunan tesis ini.
6. Gus Luqman Harist Dimyathi selaku ketua Majlis Ma’arif, H. Abdillah
Nawawi, Lc. Selaku kepala Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok
Tremas, Bapak dan Ibu guru yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu,
serta seluruh Staf administrasi Madrasah Aliyah Mu’adalah Pondok Tremas,
terimakasih atas kerjasamanya yang telah memberikan izin dan layanan data
yang diperlukan dalam penyusunan tesis ini.
7. Kepada ayahanda Hamid dan ibunda Zuhroh, orang tua yang luar biasa yang
dari kalianlah pertama kali aku mengenal siapa Tuhanku, apa agama dan
pedoman hidupku
8. Kepada suamiku M.Saiq Abrori yang sangat setia mendampingiku.
9. Kepada mbk Muktiana yang ikhlas mentransfer ilmu serta sabar dalam
membimbingku.
10. Kepada seluruh keluargaku yang sangat aku sayangi, yang mendukung dan
memberikan semangat untuk segera menyelesaikan tesis ini.
11. Teman-teman senasib seperjuangan di Pascasarjana yang bersedia membantu
dan menjadi teman sharing dalam penulisan tesis ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan tesis ini masih jauh dari
kesempurnaan dalam arti sebenarnya, namun penulis berharap semoga tesis ini
dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan para pembaca pada umumnya.
Surakarta, 20 November 2015
Penulis
viii
MOTTO
‫احلق بال نظام يغلبو الباطل بنظام‬
ّ
“ Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang
terorganisir “ ( Ali bin Abi Tholib, ra. )
ix
PERSEMBAHAN
Tesis ini kupersembahkan untuk :
 Ayahanda Abdul Hamid dan ibunda Zuhroh tercinta yang telah berjuang
demi kesuksesan buah hatinya.
 Bapak H.Ridwan dan Ibu Hj.Istinaroh mertua yang tak pernah lelah
memberi restu.
 Suamiku M. Saiq Abrori yang teguh merelakan hati mencari surga
bersamaku.
 Ketujuh saudaraku yang senantiasa mendukungku dalam mencari ilmu.

Kakak Muhammad Farouq

Kakak Ahmad Aufa

Adik Ahmad Umar

Adik Muhammad Taufiqurrohman

Adik Muhammad Akhlis Hidayatullah

Adik Hannah Al Hannaanah

Adik Noor Faizah
 Sahabat-sahabat seperjuangan yang selalu memberikan dorongan demi
terselesaikannya tesis ini.
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ....................................................................
i
ABSTRAK ………………………………………………………
ii
LEMBAR PENGESAHAN .......................................…………..
v
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ……………….
vi
KATA PENGANTAR ……………………………………………
vii
MOTTO .................……………………………………………….
ix
PERSEMBAHAN……………………………………………….
x
DAFTAR ISI ................................................................................
xi
DAFTAR GAMBAR ....................................................................
xv
DAFTAR TABEL ........................................................................
xvi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................
xvii
BAB I ...........................................................................................
1
A. Latar Belakang Masalah ......................................................
1
B. Rumusan Masalah ...............................................................
7
C. Tujuan Penelitian ................................................................
7
D. Manfaat Penelitian ..............................................................
8
BAB II KAJIAN TEORI ..............................................................
9
A. Teori yang Relevan .............................................................
9
1. Manajemen............................................................ ……...
9
a. Pengertian Manajemen…………….. ..................
9
b. Fungsi Manajemen………….……………………
14
xi
2. Manajemen Pendidikan
a. Pengertian Manajemen Pendidikan ………………..
25
b. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan ..................
26
c. Tujuan dan Manfaat Manajemen Pendidikan............
27
d. Komponen-komponen Manajemen Pendidikan ……
27
1) Manajemen Kurikulum ………………………...
29
2) Manajemen Kesiswaan ……………………….
36
3) Manajemen Personalia ……………………….
41
4) Manajemen Keuangan………………………...
42
5) Manajemen Perawatan Prefentif Sarana dan
Prasarana Sekolah…………………………….
44
3. Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah ……………..
46
a. Pengertian Madrasah Aliyah Salafiyah….............
46
b. Mu’adalah ..............................................................
52
B. Penelitian yang Relevan ....................................................
54
BAB III METODE PENELITIAN ..............................................
60
A. Jenis Penelitian ..................................................................
60
B. Latar Setting Penelitian .....................................................
61
C. Subjek dan Informan Penelitian ................................. …...
61
D. Metode Pengumpulan Data ................................................
62
E. Pemeriksaan Keabsahan Data ............................................
65
F. Teknik Analisis Data .........................................................
66
xii
BAB IV HASIL PENELITIAN...................................................
70
A. Gambaran Umum Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah
Pondok Tremas Pacitan.......................................................
70
1. Letak Geografi MASMPTP… .......................................
70
2. Sejarah Berdirinya MASMPTP......................................
72
3. Struktur Organisasi ……………………………………
74
4. Visi, Misi dan Motto ………………………………….
76
5. Manajemen Pelaksanaan Pendidikan ………………...
76
a. Manajemen Kurikulum……………………………
77
b. Manajemen Kesiswaan …………………………..
88
c. Manajemen Personalia …………………………..
92
d. Manajemen Keuangan …………………………..
97
e. Manajemen Perawatan …………………………..
99
B. Penafsiran Manajemen Pelaksanaan Pendidikan MASMPTP
Di Pondok Tremas Pacitan …………………………………
103
1. Integrasi Kurikulum….…………………………………
103
2. Sistem Penerimaan Siswa baru ………………………….
103
3. Sistem reward and punishment …………………………
104
4. Struktur bagian keuangan ………………………………
104
5. Sistem pengadaan sarana dan prasarana…………………
105
C. Pembahasan ………………………………………………..
105
BAB V ..................................................................................................
116
xiii
A. Kesimpulan .................................................................................
116
B. Implikasi .....................................................................................
117
C. Saran ...........................................................................................
119
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................
122
LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................
125
RIWAYAT HIDUP …………………………………………………..
173
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar3.1 Model Analisis Interaktif………………………………… .
69
Gambar 4.1 Peta Pacitan.......................................………….. ................
70
Gambar 4.2 Peta Desa Tremas.......................................…………..…….
72
Gambar 4.3 Profil Sekolah MASMPT..............................………………
73
xv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 Mata Pelajaran MASMPT..............................................
80
Tabel 4.2 Kategori Mata Pelajaran Tahriri dan Syafahi…………
82
Tabel 4.3 Format Daftar Kemajuan Kelas..................…………..
83
Tabel 4.4 Rincian Jumlah Siswa MASMPT Tahun 2014-2015….
88
Tabel 4.5 Daftar Guru MASMPT…………………………………
95
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.1 Pedoman Wawancara.................................................
125
Lampiran 1.2 Pedoman Analisis Dokumen .………………………
132
Lampiran 1.3 Pedoman Observasi..................................…………..
133
Lampiran 1.4 Catatan Lapangan ………………………………….
135
Lampiran 1.5 Dokumentasi Saran Prasarana ……………………...
168
Lampitan 1.6 Dokumentasi Kegiatan Siswa……………………….
170
Lampiran 1.7 Dokumentasi Wawancara …………………………..
171
xvii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manajemen pendidikan merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang
intinya mempelajari tentang perilaku manusia yang kegiatannya sebagai subjek
dan objek. Menurut Husaini Usman (2013: 13) manajemen pendidikan
merupakan seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan untuk mewujudkan
proses dan hasil belajar peserta didik secara aktif, kreatif, inovatif, dan
menyenangkan dalam mengembangkan potensi dirinya. Senada dengan pendapat
tersebut, Made Pidarta dalam Manajemen Pendidikan Islam (1988: 4)
menjelaskan
bahwa
manajemen
pendidikan
diartikan
sebagai
aktivitas
memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai
tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.
Manajemen pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk
penerapan manajemen atau administrasi dalam mengelola, mengatur dan
mengalokasikan sumber daya yang terdapat dalam dunia pendidikan, fungsi
administrasi pendidikan merupakan alat untuk mengintegrasikan peranan seluruh
sumberdaya guna tercapainya tujuan pendidikan dalam suatu konteks sosial
tertentu, ini berarti bahwa bidang-bidang yang dikelola mempunyai kekhususan
yang berbeda dari manajemen dalam bidang lain.
1
2
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2007 tentang
Standar Pengelolaan Sekolah atau Madrasah dinyatakan bahwa manajemen
sekolah atau madrasah meliputi: Perencanaan program sekolah atau madrasah
yang mana kepala sekolah bersama dengan stake holder sekolah atau madrasah
bersama-sama membuat visi dan misi, tujuan, serta rencana kerja sekolah atau
madrasah (Usman, 2012: 638).
Dalam Pelaksanaan Rencana Kerja, kepala sekolah bersama-sama dengan
stake holder sekolah atau madrasah membuat pedoman sekolah; struktur
organisasi sekolah; pelaksanaan kegiatan sekolah; bidang kesiswaan; bidang
kurikulum dan kegiatan pembelajaran; bidang pendidik dan tenaga kependidikan;
bidang sarana dan prasarana; bidang keuangan dan pembiayaan; bidang budaya
dan lingkungan sekolah; bidang peran serta masyarakat dan kemitraan sekolah
atau madrasah (Usman, 2012: 641).
Manajemen berbasis sekolah di lingkungan madrasah merupakan bentuk
pengelolaan pendidikan yang ditandai dengan otonomi yang luas pada tingkat
madrasah
yang disertai
semakin
meningkatnya
partisipasi
masyarakat.
Kebijaksanaan pendidikan pada level madrasah yang ditetapkan secara
sentralistik dikhawatirkan dapat memadamkan akuntabilitas madrasah terhadap
masyarakatnya (Abdul Rahman Shaleh, 2004: 11). Dengan manajemen berbasis
sekolah, sistem pembinaan madrasah yang semula bersifat sentralistik bergeser
ke daerah dan bersifat otonom, setidaknya pada kelembagaan madrasah. Dengan
3
demikian, madrasah akan ditempatkan sebagai institusi pendidikan yang
memiliki kewibawaan dalam pengelolaan pendidikannya.
Menurut Shaleh (2004: 12) kondisi perkembangan madrasah secara
umum ada empat hal di antaranya madrasah swasta lebih banyak dari madrasah
negeri dan kebanyakan berada di daerah pedesaan dengan latar belakang
pendidikan sosial ekonomi orang tua yang rata-rata rendah; kemampuan
pengelolaan atau administrasi manajemen belum seperti yang diharapkan dan
tingkat pembiayaan masih tinggi; tingkat pendidikan guru kebanyakan belum
sepadan dengan persyaratan yang ditetapkan dan apabila dilihat dari kemampuan
metodologi masih rendah ditambah masih kurangnya tenaga kependidikan yang
diperlukan;
kemampuan
mengajar
guru
madrasah
kebanyakan
masih
menekankan pada pengenalan konsep yang bersifat kognitif dan belum
menekankan pada perilaku beragama, etika sosial, dan akhlak mulia. Upaya
peningkatan kualitas pendidikan pada madrasah, baik mengenai pengembangan
kurikulum, peningkatan profesionalitas guru, pemenuhan kebutuhan sarana
prasarana dan pemberdayaan pendidikan telah, sedang dan akan dilaksanakan
secara terus menerus. Pendidikan di pondok pesantren yang tidak mengikuti
standar kurikulum Depag RI maupun Departemen Pendidikan Nasional di
kalangan pondok pesantren disebut dengan pendidikan pondok pesantren
Mu’adalah (pendidikan pondok pesantren yang disetarakan dengan Madrasah
Aliyah/SMA). Choirul Fuad Yusuf (2009: 1) dalam Pedoman Penyelenggaraan
Pondok Pesantren Mu’adalah menyatakan bahwa pendidikan pondok pesantren
4
tersebut disetarakan dengan Madrasah Aliyah melalui SK Dirjen Pendidikan
Islam Depag RI dan oleh SK Nomor: Dj. I/885/2010 Dirjen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional untuk yang disetarakan dengan
SMA. Proses penyetaraan (Mu’adalah) ini telah berlangsung lama sejak tahun
1998 hingga sekarang sebagai langkah pengakuan (recognition) pemerintah
terhadap eksistensi pendidikan di kalangan pondok pesantren yang pada saat itu
belum terakomodir di dalam sistem pendidikan nasional (Yusuf, 2009: 1).
Secara terminologi, pengertian mu’adalah merupakan suatu proses
penyetaraan antara institusi pendidikan baik pendidikan di pondok pesantren
maupun di luar pondok pesantren dengan menggunakan kriteria baku dan mutu
atau kualitas yang telah ditetapkan secara adil dan terbuka. Selanjutnya hasil dari
mu’adalah tersebut, dapat dijadikan dasar dalam meningkatkan pelayanan dan
penyelenggaraan pendidikan di pondok pesantren (Yusuf, 2009: 8).
Yusuf dalam Pedoman Buku Mu’adalah (2009: 8) menjelaskan bahwa
pondok pesantren mu’adalah yang terdapat di Indonesia terbagi menjadi dua
bagian;
Pertama,
pondok
pesantren
yang
lembaga
pendidikannya
dimu’adalahkan dengan lembaga-lembaga pendidikan di luar negeri seperti
Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, Universitas Umm Al-Qurra Arab Saudi
maupun dengan lembaga-lembaga non formal keagamaan lainnya yang ada di
Timur Tengah, India, Yaman, Pakistan atau di Iran. Pondok pesantren-pondok
pesantren yang mu’adalah dengan luar tersebut hingga saat ini belum terdata
dengan baik karena pada umumnya mereka langsung berhubungan dengan
5
lembaga-lembaga pendidikan luar negeri tanpa ada koordinasi dengan Depag RI
maupun Departemen Pendidikan Nasional. Kedua, pondok pesantren mu’adalah
yang disetarakan dengan Madrasah Aliyah dalam pengelolaan Depag RI dan
yang disetarakan dengan SMA dalam pengelolaan Diknas. Keduanya
mendapatkan SK dari Dirjen terkait.
Tujuan mu’adalah pendidikan pondok pesantren dengan Madrasah Aliyah
dan SMA yang pertama untuk memberikan pengakuan terhadap sistem
pendidikan yang ada di pondok pesantren sebagaimana tuntutan perundangundangan yang berlaku, kedua untuk memperoleh gambaran kinerja pondok
pesantren yang akan di mu’adalahkan atau disetarakan dan selanjutnya
dipergunakan dalam pembinaan, pengembangan dan peningkatan mutu serta tata
kelola pendidikan pondok pesantren,
ketiga untuk menentukan pemberian
fasilitasi terhadap suatu pondok pesantren dalam menyelenggarakan pelayanan
pendidikan yang setara/mu’adalah dengan Madrasah Aliyah atau SMA (Yusuf,
2009: 8).
Menurut Yusuf (2009: 9) kriteria pendidikan pondok pesantren yang
dimu’adalah di antaranya penyelenggara pendidikan pondok pesantren harus
berbentuk yayasan atau organisasi sosial yang berbadan hukum. Selanjutnya
pendidikan pondok pesantren yang akan dimu’adalahkan atau disetarakan ialah
pendidikan pada pondok pesantren yang telah memiliki piagam terdaftar sebagai
lembaga pendidikan pondok pesantren pada Departemen Agama dan tidak
menggunakan kurikulum Depag maupun Diknas. Kemudian tersedianya
6
komponen penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran pada satuan pendidikan
seperti adanya tenaga kependidikan, santri, kurikulum, ruang belajar, buku
pelajaran dan sarana pendukung pendidikan lainnya. Terakhir Jenjang pendidikan
yang diselenggarakan oleh pondok pesantren sederajat dengan Madrasah Aliyah
atau SMA dengan lama pendidikan 3 (tiga) tahun setelah tamat Madrasah
Tsanawiyah dan 6 (enam) tahun setelah tamat Madrasah Ibtidaiyah.
Diantara lembaga pendidikan pondok pesantren yang mendapatkan status
mu’adalah terdapat nama Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas
di bawah naungan Yayasan Perguruan Islam Pondok Tremas yang beralamat di
jalan Patrem nomor 21 Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan,
Provinsi Jawa Timur. Pondok pesantren penyandang status mu’adalah, Madrasah
Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas menyandang predikat akreditasi A
dikarenakan prestasi dan manajemennya yang baik. Akreditasi A tersebut
diantaranya meliputi manajemen kurikulum, sarana prasarana, dan kesiswaan.
Terkait dengan program mu’adalah, pemerintah khususnya Kementerian Agama
menunjuk kepada Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas sebagai
rujukan.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merasa tertarik untuk
mengetahui secara lebih mendalam tentang masalah tersebut. Oleh karena itu
penulis mengambil judul dalam penelitiannya dengan judul: “Manajemen
Pelaksanaan Pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok
Tremas Pacitan”.
7
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah yang akan dikaji
melalui penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah Aliyah
Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas?
2. Apa hambatan manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah Aliyah
Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas?
3. Bagaimana
mengatasi
hambatan
manajemen
pelaksanaan
pendidikan
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas?
C. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas.
2. Mengetahui hambatan manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah Aliyah
Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas.
3. Mengetahui cara mengatasi hambatan manajemen pelaksanaan pendidikan
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas.
8
D. Manfaat Penelitian
1. Segi Teoritis
a. Menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan mutu pendidikan di
Indonesia.
b. Menambah pengetahuan, wawasan, sumbangan, dan pemikiran bagi
lembaga pendidikan Islam.
c. Menjadi rujukan bagi peneliti yang akan mengadakan penelitian pada
masalah yang berkaitan dengan penelitian ini.
2. Segi Praktis
a. Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan di bidang
pendidikan, terutama berhubungan dengan manajemen pelaksanaan
pendidikan di Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah.
b. Sebagai bahan masukan bagi Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah
Pondok
Tremas
dalam
mengembangkan
manajemen
pelaksanaan
pendidikan.
c. Sebagai bahan koreksi dan evaluasi bagi Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas dalam meningkatkan mutu manajemen
pelaksanaan pendidikan.
9
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Teori Yang Relevan
1. Manajemen
a. Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan
terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan,
ketatalaksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris
Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Sandhily (2008: 372)
management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus,
mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan. Senada
dengan pendapat tersebut Hasibuan dalam Hikmat (2011: 11),
menjelaskan bahwa manajemen berasal dari kata to manage, yang
berarti mengatur dan mengelola.
Manajemen berperan penting dalam sebuah organisasi agar
dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Manajemen juga dibutuhkan
organisasi untuk mencapai efisiensi dan efektivitas, serta untuk menjaga
keseimbangan antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan dari pihakpihak yang berkepentingan dalam organisasi.
George R. Terry dalam Sudjana (2004: 50) mendefinisikan
pengertian manajemen sebagai berikut:
9
10
Management is a distinct process consisting of activities of
planning, organizing, actuating, and controlling, performed to
determine and accomplish stated objectives with the use of human
beings and other resources.
Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri
dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan,
dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber
daya manusia serta sumber-sumber lainnya. Sedangkan Fattah (2001: 1)
mengemukakan bahwa manajemen (pengelolaan) adalah proses
merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan
upaya organisasi dengan segala aspek agar tujuan organisasi tercapai
secara efektif dan efisien.
Karena manajemen (pengelolaan) sebagai penggerak dalam
organisasi, maka berkembang definisi manajemen (pengelolaan)
sebagai berikut: manajemen adalah proses pencapaian tujuan melalui
kegiatan-kegiatan dan kerjasama bersama orang lain. Pendapat senada
juga dikemukakan oleh Sudjana (2004: 16), manajemen adalah
kemampuan dan ketrampilan khusus untuk melakukan suatu kegiatan,
baik bersama orang lain atau melalui orang lain dalam mencapai tujuan
organisasi. Sedangkan menurut Rohmat (2014: 27) manajemen
bermakna melakukan suatu proses kegiatan kelembagaan dan organisasi
dari umum sampai dengan spesifik yang kompleks bersifat unik dan
11
terpadu
dilakukan
secara
terencana,
terlaksana,
termonitoring,
terevaluasi, dan terkontrol dalam mencapai tujuan tertentu.
Jadi manajemen merupakan proses untuk mewujudkan tujuan
yang telah ditentukan sebelumnya. Karena manajemen berarti mengatur
atau mengelola maka setiap urusan harus dilakukan dengan baik, rapi
dan kokoh sebagaimana firman Allah Ta‟ala:
         
 
Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu
bangunan yang tersusun kokoh (QS. As-Shaff, 61: 4).
Berdasarkan ayat di atas, maka manusia harus mau bekerja keras
atau berjuang dengan sungguh-sungguh. Agar perjuangan keras dapat
berjalan dengan baik, maka harus ada penataan atau pengaturan sebaikbaiknya. Harus ada aturan yang jelas, pendelegasian yang jelas, tujuan
yang jelas dan masing-masing menjalankan tugasnya dengan penuh
tanggung jawab, sekaligus membangun kekompakan atau kerjasama
yang kuat, yaitu antara yang satu dengan yang lain saling menguatkan,
seperti batu bata yang berhubungan menyusun bangunan yang kokoh
(Samino, 2010: 29).
Adapun dalam perspektif Islam istilah manajemen disebut juga
dengan kata “yudabbiru”, yang berasal dari bahasa Arab.
sebagaimana firman Allah Ta‟ala:
Hal ini
12
          
          
        
Artinya: Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana)
yang kamu lihat, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arasy, dan
menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga
waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya),
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini
pertemuan (mu) dengan Tuhanmu (QS. ar-Ra‟d, 13: 2).
Ayat di atas menegaskan, bahwasannya Allah mengatur segala
urusan, yakni Dia lah yang tidak ada Tuhan selain Dia, dan bahwa Dia
dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya, bila Dia menghendakiNya, seperti Dia memulai penciptaannya. Dengan demikian, jika tanpa
adanya manajemen atau yang mengatur dari Allah, maka semua
persoalan yang dihadapi oleh makhluk hidup tersebut baik di dalam
kehidupan maupun hingga kematiannya kelak akan sengsara (Tafsir
Ibnu Katsir, 2000: 110-111). Dan juga firman Allah Ta‟ala dalam surat
yang lain:
          
            
         
Artinya: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas
'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan
13
memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian
Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu
tidak mengambil pelajaran? (QS. Yunus, 10: 3).
Ayat di atas menunjukkan, bahwasannya Allah Ta‟ala mengatur
segala urusan, yakni mengatur semua makhluk-Nya. Dan tiada
sesuatupun yang menyibukkan-Nya. Serta tidak pernah bosan dengan
banyaknya orang yang meminta dengan mendesak. Perhatian-Nya
kepada yang besar tidak melupakan-Nya untuk memperhatikan yang
kecil. Hal ini berarti, bahwasannya Allah Ta‟ala yang mengatur semua
persoalan semua hamba-Nya. Tanpa adanya pengaturan, pengelolaan,
dan manajemen dari-Nya, tentu akan terjadi kekacauan dalam
kehidupan ini (Tafsir Ibnu Katsir, 2000: 138-140).
Dengan
penjelasan
tersebut
secara
umum,
pengertian
manajemen ialah kegiatan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang
telah ditentukan terlebih dahulu dengan memanfaatkan orang lain
(getting things done throgh the effort of other people). Dari pengertian
tersebut, tersirat adanya lima unsur manajemen , yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
Pimpinan
Orang-orang (pelaksana) yang dipimpin
Tujuan yang akan dicapai
Kerjasama dalam mencapai tujuan tersebut
Sarana atau peralatan manajemen (tools of management) yang
terdiri atas enam macam ( dikenal dengan 6 M), yaitu:
a) Man (manusia/orang)
b) Money (uang)
c) Materials (bahan-bahan)
d) Machine (mesin)
e) Method (metode)
f) Market (pasar) (Saefullah, 2012: 4-5).
14
b. Fungsi Manajemen
George
Terry
bukunya Principles
of
mendefinisikan
Management yaitu
manajemen
Suatu
proses
dalam
yang
membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan
pengawasan dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni demi
mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Dari definisi George Terry itulah kita bisa melihat fungsi
manajemen. Berikut ini adalah fungsi manajemen menurut George
Terry:
1. Perencanaan (planning) yaitu sebagai dasar pemikiran dari tujuan
dan penyusunan langkah-langkah yang akan dipakai untuk mencapai
tujuan. Merencanakan berarti mempersiapkan segala kebutuhan,
memperhitungkan matang-matang apa saja yang menjadi kendala,
dan merumuskan bentuk pelaksanaan kegiatan yang bermaksuud
untuk mencapai tujuan.
2. Pengorganisasian
(organization)
yaitu
sebagai
cara
untuk
mengumpulkan orang-orang dan menempatkan mereka menurut
kemampuan dan keahliannya dalam pekerjaan
yang sudah
direncanakan.
3. Penggerakan (actuating) yaitu untuk menggerakan organisasi agar
berjalan sesuai dengan pembagian kerja masing-masing serta
menggerakan seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi agar
15
pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan bisa berjalan sesuai rencana
dan bisa memcapai tujuan.
4. Pengawasan (controlling) yaitu untuk mengawasi apakah gerakan
dari organisasi ini sudah sesuai dengan rencana atau belum. Serta
mengawasi penggunaan sumber daya dalam organisasi agar bisa
terpakai secara efektif dan efisien tanpa ada yang melenceng dari
rencana.
Hakikat dari fungsi manajemen dari George Terry adalah apa
yang direncakan, itu yang akan dicapai. Maka itu fungsi perencanaan
harus dilakukan sebaik mungkin agar dalam proses pelaksanaanya bisa
berjalan dengan baik serta segala kekurangan bisa diatasi. Sebelum kita
melakukan perencanaan, ada baiknya rumuskan dulu tujuan yang akan
dicapai.
Sedangkan menurut Harold Koentz dalam (Siagian, 2003: 86)
fungsi manajemen, terdiri dari:
1. Planning
Penetapan sejumlah pekerjaan yang akan dilaksanakan
kemudian. Perencanaan merupakan aktivitas untuk memilih dan
menghubungkan fakta serta aktivitas membuat rencana mengenai
kegiatan-kegitan apa yang akan dilakukan di masa depan. Maka
seorang manajer dituntut untuk dapat membuat rencana terlebih
dahulu tentang kegiatan yang akan dilakukan. Proses perencanaan
sangat penting dilaksanakan sebagai pedoman atau pegangan dalam
16
pengerjaan aktivitas
selanjutnya.
perencanaan
peramalan,
adalah
pengembangan
penganggaran
strategi-strategi,
dana
operasional,
Adapun beberapa
aktivitas
pengembangan
tujuan-tujuan,
pemprograman,
penjadwalan,
pengembangan
kebijakan-
kebijakan, dan pengembangan prosedur-prosedur dalam organisasi.
2. Organizing
Pengorganisasian adalah usaha yang dilakukan untuk
menciptakan hubungan kerja antar personal dalam organisasi dengan
cara mengelompokan orang-orang beserta penetapan tugas-tugas,
fungsi-fungsi, wewenang, dan tanggung jawab masing-masing agar
tercapainya tujuan bersama melalui aktivitas-aktivitas yang berdaya
dan berhasil guna karena dilakukan secara efektif dan efisien.
3. Staffing
Penyusunan kepegawaian pada suatu organisasi dari awal
masa penerimaan, seleksi, orientasi, pelatihan dan pengembangan
karir hingga menggerakan pegawai agar setiap tenaga kerja yang ada
memberikan dan melaksanakan suatu kegiatan yang menguntungkan
organisasi.
4. Directing
Fungsi directing atau sering dikenal dengan leading adalah
satu kegitan yang berhubungan dengan pemberian perintah dan saran
agar para bawahan dapat mengerjakan tugas yang dikehendaki
manajer. Kegiatannya meliputi mengambil keputusan, mengadakan
17
komunikasi antara manajer dan bawahan agar ada rasa saling
pengertian, memberikan semangat, motivasi ataupun dorongan
kepada bawahan dalam melaksanakan tugasnya, memilih orangoramg yang mempunyai kemampuan untuk bergabung dalam
kelompoknya, dan memperbaiki pengetahuan serta sikap bawahan
agar terampil dalam mengerjakan pekerjaan.
5. Controlling
Melalui aktivitas pengendalian, manajer harus mengevaluasi
dan menilai pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan bawahannya untuk
mengetahui apakah pekerjaan dilakukan sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan atau tidak. Pengendalian tidaklah bermaksud untuk
mencari kesalahan bawahan. Namun pengendalian dilakukan
bertujuan untuk mencari penyimpangan yang terjadi sehingga dapat
dilakukan perbaikan kearah yang lebih baik.
Selain kedua tokoh di atas Lyndall F. Urwick (1974: 45)
berpendapat fungsi-fungsi manajemen, terdiri dari :
1. Staffing
Staffing adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian
perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan
mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi
kepada pejabat yang lebih tinggi.
18
2. Planning
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat
sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang
sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan
serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan.
3. Organizing
Organizing atau pengororganisasian adalah kumpulan dua
orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur
untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.
4. Controlling
Controlling
atau
pengawasan,
sering
juga
disebut
pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa
mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa
yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan
maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula.
5. Directing/Commanding
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang
berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintahperintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas
masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan
benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.
19
6. Coordinating
Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu
fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak
terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan
menghubungkan,
menyatukan
dan
menyelaraskan
pekerjaan
bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarah dalam upaya
mencapai tujuan organisasi.
Berkaitan dengan pendapat para ahli tentang fungsi manajemen
pendidikan di atas terdapat banyak perbedaan, ada yang menyebut 4
fungsi, ada yang menyebutkan 5 fungsi, ada yang menyebutkan 6
fungsi. Akan tetapi untuk memudahkan pembahasan lebih lanjut dalam
pembahasan fungsi manajemen pendidikan dititikberatkan pada 4
fungsi,
yaitu: 1. perencanaan (Planning), 2. pengorganisasian
(organizing),
3.
pengarahan
atau
penggerakan
(actuating),
4.
pengawasan (controlling). Keempat fungsi tersebut disingkat POAC.
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan menurut Usman (2011: 66) merupakan proses
pengambilan keputusan atas sejumlah alternatif mengenai sasaran
dan cara-cara yang akan dilaksanakan dimasa yang akan datang guna
mencapai
tujuan
yang
dikehendaki
serta
pemantauan
dan
penilaiannya atas hasil pelaksanaannya, yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan.
20
Aktivitas dalam planning diuraikan Louis A. Allen dalam
Siswanto (2009: 45), antara lain:
a) Forecasting (prakiraan) sebagai usaha yang sistematis untuk
meramalkan waktu yang akan datang dengan penarikan
kesimpulan atas fakta yang telah diketahui.
b) Establishing objective (penetapan tujuan) merupakan aktivitas
untuk menetapkan sesuatu yang ingin dicapai melalui pelaksanaan
pekerjaan.
c) Programming (pemprograman) yaitu aktivitas yang dilakukan
dengan maksud menetapkan langkah-langkah mencapai tujuan,
unit dan anggota yang bertanggung jawab serta urutan pengaturan
waktu setiap langkah.
d) Scheduling (penjadwalan) merupakan penetapan atau penunjukan
waktu menurut kronologi tertentu guna melaksanakan berbagai
macam pekerjaan.
e) Budgeting (penganggaran) yaitu aktivitas membuat pernyataan
tentang sumber daya keuangan yang disediakan untuk kegiatan
dan waktu tertentu.
f) Developing procedure (pengembangan prosedur) prosedur yaitu
aktivitas menormalisasikan cara, teknik, dan metode pelaksanaan
suatu pekerjaan.
21
g) Establising and interpreting policies (penetapan dan interpretasi
kebijakan) yaitu aktivitas yang dilakukan dalam menetapkan
syarat berdasarkan kondisi pekerjaan manajer dan bawahannya.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Siswanto (2009: 75) mendeskripsikan organizing seabagai
pembagian kerja yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota
kesatuan pekerjaan, penetapan hubungan antar pekerjaan yang
efektif di antara mereka, dan pemberian lingkungan dan fasilitas
pekerjaan yang wajar sehingga mereka bekerja secara efisien.
Sedangkan Hany T. Handoko (2003: 168) mendefinisikan
pengorganisasian sebagai (1) penentuan sumber daya dan kegiatan
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi; (2) proses
perancangan dan pengembangan suatu organisasi yang akan dapat
membawa hal-hal tersebut ke arah tujuan; (3) penugasan tanggung
jawab tertentu; (4) pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada
individu-individu untuk melaksanakan tugasnya. Ditambahkan pula
oleh Handoko pengorganisasian berkaitan dengan pengaturan kerja
bersama sumber daya keuangan, fisik, dan manusia dalam
organisasi.
Usman
(2013:
172-237)
kemudian
membagi
organisasi ke dalam tujuh pengertian, yaitu:
a)
b)
c)
d)
Organisasi sebagai proses kerja sama
Organisasi sebagai sistem sosial
Organisasi sebagai struktur (struktur organisasi)
Organisasi sebagai kultur (kultur organisasi)
definisi
22
e) Organisasi sebagai suatu wadah
f) Organisasi sebagai iklim
g) Organisasi sebagai pembelajaran
3. Pengarahan atau Penggerakan (Actuating)
Penggerakan (actuating) yaitu untuk menggerakan organisasi
agar berjalan sesuai dengan pembagian kerja masing-masing serta
menggerakan seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi agar
pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan bisa berjalan sesuai rencana
dan bisa memcapai tujuan.
Menurut Samino (2010: 116) fungsi pengarahan atau
penggerakan ada 4, yaitu:
a) Motivasi
Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatankegiatan tertentu guna mencapai tujuan.
b) Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi
individu-individu dan kelompok-kelompok untuk mencapai
tujuan yang diinginkan. Berdasarkan definisi tersebut maka
kepemimpinan terdiri dari beberapa unsur: pemimpin, bawahan,
organisasi, tujuan dan lingkungan. Menurut Irvin Kety dalam
Rohmat (2013: 52) menyatakan bahwa tinjauan kepemimpinan
di fokuskan pada tiga komponen untuk sukses, yaitu:
(1) Membangun staff yang kompeten.
23
(2) Menyediakan jaringan antara individu dan kelompokkelompok individu untuk membangun aliansi untuk tujuan
pertemuan.
(3) Integritas professional.
c) Komunikasi
Komunikasi merupakan penyampaian pesan atau informasi dari
pengirim atau komunikator kepada penerima pesan atau
komunikan
melalui
media
dengan
tujuan
mendapatkan
perubahan atau dampak tertentu. Secara sederhana komunikasi
terdari dari 5 unsur, yaitu
(1) Komunikator: orang yang menyampaikan pesan.
(2) Pesan: pernyataan yang didukung oleh lambing.
(3) Komunikan: orang yang menerima pesan.
(4) Media: sarana atau saluran yang mendukung pesan bila
komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya.
(5) Efek: dampak sebagai pengaruh dari pesan.
d) Manajemen Konflik
Manajemen konflik merupakan seni mengelola pertentangan dan
ketidaksesuaian kepentingan, tujuan, dan kebutuhan dalam
situasi formal, sosial dan psikologis dengan mengusahakan
kesepakatan melalui pemecahan masalah secara kreatif.
24
4. Pengendalian (Controlling)
Dalam hal ini pengendalian (controlling) didefinisikan
sebagai pengendalian. Pengendalian adalah suatu usaha sistematik
untuk menetapkan standar kinerja dengan sasaran perencanaan,
mendesain sistem umpan balik informasi, membandingkan kinerja
aktual dengan standar yang telah ditetapkan, menetukan apakah
terdapat penyimpangan dan mengukur signifikansi penyimpangan
tersebut serta mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk
menjamin bahwa semua sumber daya organisasi yang sedang
digunakan sedapat mungkin secara lebih efisien dan efektif guna
mencapai sasaran perusahaan (Siswanto, 2009: 140).
Penjelasan
lain
diberikan
Usman
(2011:503)
yang
mengemukan pengendalian sebagai proses pemantauan, penilaian
dan pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang telah dutetapkan
untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut. Dimana
fungsi pengendalian mengendalikan perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengendalian itu sendiri.
Dalam setiap sistem pengendalian terdapat empat elemen
pokok antara lain:
a) Kondisi atau karakteristik yang dikendalikan
b) Instrumen atau metode sensor
c) Unit atau instrumen pengendalian
d) Kelompok atau mekanisme penggerak.
25
Sedangkan karakteristik pengendalian yang efektif meliputi
akurat, tepat waktu, objektif dan komprehensif, dipusatkan pada
tempat pengendalian strategis, secara ekonomi realistik, secara
organisasi
realistis,
dikoordinasikan
dengan
arus
pekerjaan
organisasi, fleksibel, preskriptif dan operasional, dan diterima para
anggota organisasi (Siswanto, 2009: 151-152).
2. Manajemen Pendidikan
a. Pengertian Manajemen Pendidikan
Manajemen Pendidikan menurut (Suryosubroto, 2010: 27) ada
empat pengertian:
1) Manajemen pendidikan merupakan bentuk kerjasama personel
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan itu.
2) Manajemen pendidikan merupakan suatu proses yang merupakan
siklus penyelenggaraan pendidikan dimulai dari perencanaan,
diikuti
oleh
pengorganisasian,
pengarahan,
pelaksanaan,
pemantauan, dan penilaian tentang usaha sekolah untuk mencapai
tujuannya.
3) Manajemen pendidikan merupakan usaha untuk melakukan
pengelolaan sistem pendidikan.
4) Manajemen
pendidikan
merupakan
kegiatan
memimpin,
mengambil keputusan, serta berkomunikasi dalam organisasi
sekolah sebagai tempat usaha untuk mencapai tujuan pendidikan.
26
Selanjutnya Hikmat (2009: 21) mendefinisikan manajemen
pendidikan adalah keseluruhan proses penyelenggaraan dalam usaha
kerja sama dua orang atau lebih dan atau usaha bersama untuk
mendayagunakan semua sumber (personal maupun material) secara
efektif, efisien, dan rasional untuk menunjang tercapainya tujuan
pendidikan. Sedangkan Daryanto et. al, (2013: 1) mendefinisikan
manajemen pendidikan sebagai seni dan ilmu mengelola sumber daya
pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
manajemen pendidikan adalah suatu proses yang melibatkan orang lain
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara
sistematis.
Adapun
kerangka
kerjanya
meliputi
perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan atau penggerakan, dan pengendalian
sumber daya pendidikan.
b. Ruang Lingkup Manajemen Pendidikan
Substansi yang menjadi garapan manajemen pendidikan sebagai
proses atau disebut juga sebagai fungsi manajemen adalah:
1. Perencanaan
2. Pengorganisasian
27
3. Pengarahan (Motivasi, kepemimpinan, kekuasaan, pengambilan
keputusan, komunikasi, koordinasi, negosiasi, manajemen
konflik, perubahan organisasi, keterampilan interpersonal,
membangun kepercayaan, peilaian kinerja, dan kepuasan kerja
4. Pengendalian meliputi pemantauan (monitoring), penilaian, dan
pelaporan, monitoring dan evaluasi sering disingkat ME dan
Monev (Usman, 2013: 19).
c. Tujuan dan Manfaat Manajemen Pendidikan
Menurut Usman (2013: 17) tujuan dan manfaat manajemen
pendidikan antara lain:
1) Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang
Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, dan Bermakna
(PAKEMB).
2) Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan
Negara.
3) Terpenuhinya salah satu dari lima kompetensi tenaga
kependidikan (tertunjangnya kompetensi manajerial tenaga
kependidikan sebagai manajer).
4) Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
5) Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses
dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi
sebagai manajer atau konsultan manajemen pendidikan).
6) Teratasinya masalah mutu pendidikan karena 80% masalah
mutu disebabkan oleh manajemennya.
7) Terciptanya perencanaan pendidikan yang merata, bermutu,
relevan dan akuntabel.
8) Meningkatnya ciri positif pendidikan.
d. Komponen-Komponen Manajemen pendidikan
Dalam operasionalnya di sekolah, manajemen pendidikan dapat
dilihat sebagai gugusan-gugusan tertentu. Gugusan-gugusan ini
selanjutnya boleh disebut dengan komponen manajemen pendidikan.
Tentang komponen-komponen manajemen pendidikan para ahli
berbeda pendapat.
28
Menurut Suryosubroto (2010: 30) komponen manajemen
pendidikan ada 8, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Manajemen Kurikulum
Manajemen Kesiswaan
Manajemen Personalia
Manajemen Sarana Pendidikan
Manajemen Tatalaksana Sekolah
Manajemen Keuangan
Pengorganisasian Sekolah
Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (Humas).
Sedangkan menurut Rohiat (2010: 21) komponen manajemen
pendidikan ada 7, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Manajemen Kurikulum
Manajemen Kesiswaan
Manajemen Personal/Anggota
Manajemen Sarana dan Prasarana
Manajemen Keuangan
Hubungan Sekolah dengan Masyarakat (Humas)
Manajemen Layanan Khusus
Merujuk pada kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah
Umum Depdiknas dalam buku Panduan Manajemen Sekolah
komponen manajemen pendidikan ada 5, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
Manajemen Kurikulum
Manajemen Kesiswaan
Manajemen personalia
Manajemen Keuangan
Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan Prasarana Sekolah
(Daryanto et. al, 2013: 169).
Tanpa merendahkan pendapat pertama dan kedua pembahasan
dalam penelitian ini akan merujuk pada pendapat yang ketiga karena
komponen manajemen pendidikannya merupakan kebijakan dari
Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas, selain itu lebih
29
mudah dipahami, lebih ringkas dan sudah mewakili pendapat pertama
dan kedua.
1. Manajemen Kurikulum
Syaiful Sagala (2011: 230) menyatakan bahwa untuk
mewujudkan pembangunan Nasional di bidang pendidikan tersebut
diperlukan suatu peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan
pendidikan nasional yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, perkembangan masyarakat, tantangan
global, serta kebutuhan pembangunan. Untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional tersebut, maka disusunlah suatu kurikulum,
dalam
perjalanannya
kurikulum
ini
senantiasa
mengalami
perkembangan dan penyesuaian sesuai dengan kemajuan jaman.
Seperti kita ketahui bahwa pendidikan sebagai suatu sistem adalah
keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu
untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (UUSPN No. 20 tahun
2003 pasal 1 ayat 3).
Saleh (2006: 197) menyatakan bahwa kurikulum merupakan
salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan nasional.
kurikulum berfungsi sebagai seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai kemampuan dan hasil belajar serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
30
a) Pengertian Kurikulum
Ahmad Tafsir (2001: 53) dalam bukunya Ilmu Pendidikan
dalam Perspektif Islam menyatakan kata kurikulum mulai dikenal
sebagai istilah dalam dunia pendidikan sejak kurang lebih satu
abad yang lalu. Istilah kurikulum muncul untuk pertama kalinya
dalam kamus Webster tahun 1856. Pada tahun itu kata kurikulum
digunakan dalam bidang olahraga, yakni suatu alat yang
membawa orang dari start sampai finish. Barulah pada tahun
1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan
arti sejumlah mata pelajaran di suatu perguruan. Dalam kamus
tersebut kurikulum diartikan dua macam, yaitu:
(1) Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari
siswa di sekolah atau pergruan tinggi untuk memperoleh
ijazah tertentu.
(2) Sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga
pendidikan atau jurusan.
Menurut Sagala (2011: 233) kata kurikulum berasal dari
bahasa latin “curriculum” semula berarti “a running course, or
race corse, especially a chariot race course” yang berarti jalur
pacu dan secara tradisional kurikulum disajikan seperti itu (ibarat
jalan) bagi kebanyakan orang, terdapat pula dalam bahasa prancis
“courier” artinya “to run” atau berlari. Sedangkan Rusman
(2009: 3) menjelaskan bahwa Kurikulum adalah seperangkat
31
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran
serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu.
Pendapat Harold B. Alberty yang dikutip Rusman dalam
bukunya Manajemen kurikulum (2009: 3) memandang kurikulum
sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah
tanggung jawab sekolah (all of the activities that are provided for
the students by the school).
Secara popular kurikulum didefinisikan sebagai all the
experience that pupils have under the guidenc of the school.
Menurut Hilda Taba, kurikulum adalah a plan for learning.
Bahwa kegiatan dan pengalaman peserta didik di sekolah harus
direncanakan agar menjadi kurikulum. Adapula yang berpendirian
bahwa
kurikulum
sebenarnya
meliputi
pengalaman
yang
direncanakan tetapi ada yang tidak direncanakan, disebut hidden
kurikulum atau kurikulum tersembunyi. Namun demikian, pada
sebuah kurikulum terdapat empat komponen baku: tujuan, bahan
pelajaran, proses belajar-mengajar, dan penilaian Usman Abu
Bakar (2013: 188).
Walaupun
terdapat
perbedaan
definisi
mengenai
kurikulum ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kurikulum ini
32
merupakan suatu rencana pembelajaran untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam rencana tersebut juga
mencakup media dan strategi yang akan digunakan dalam
pembelajaran.
Pengertian kurikulum memang tidak pernah stagnan.
Definisi kurikulum menurut para ahli bisa jadi mengalami
perbedaan makna yang cukup besar dari waktu ke waktu.
Hamalik (2008: 17) menjelaskan bahwa pengertian kurikulum
dapat dibedakan menjadi pandangan lama dan pandangan baru.
Menurut
pandangan
lama,
kurikulum
merupakan
sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk
mendapatkan ijazah. Pandangan ini memberi implikasi, bahwa
semua murid harus mengikuti mata pelajaran yang sama. Selain
itu, peran aktif dipegang oleh guru untuk menyampaiakan materi
pembelajaran. Pada perkembangannya, definisi kurikulum
meluas misalnya pengertian yang diberikan oleh Romine (1954)
seperti yang dikutip oleh Hamalik (2008: 17) “curriculum is
interpreted to mean all of the organized courses, activities, and
experiences which pupils have under direction of the school,
wether in the classroom or not.
Tafsiran di atas tentu lebih luas. Bukan hanya mata
pelajaran, kurikulum mencakup semua kegiatan dan pengalaman
33
siswa, selama masih menjadi tanggung jawab sekolah. Selain
itu, kegiatan pembelajaran dpat dilakukan di dalam atau di luar
kelas, sehingga kegiatan ekstra kulikuler pun sebenarnya
termasuk dalam kurikulum. Dalam pengertian yang lebih luas
ini, menjadi kewajiban guru untuk mengajar dengan cara yang
lebih bervariasi, sehingga siswa menjadi lebih aktif.
b) Fungsi-Fungsi Manajemen Kurikulum
Rusman (2009: 17) dalam Manajemen Kurikulum
menyatakan bahwa secara garis besar beberapa kegiatan
berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen kurikulum dapat
dikemukakan sebagai berikut:
(1) Mengelola Perencanaan Kurikulum
(2) Mengelola Implementasi Kurikulum
(3) Mengelola Pelaksanaan Evaluasi Kurikulum
(4) Mengelola Perumusan Penetapan Kriteria dan Pelaksanaan
Kenaikan Kelas/Kelulusan
(5) Mengelola
Pengembangan
Bahan
Ajar,
Media
Pembelajaran, dan Sumber Belajar
(6) Mengelola
Pengembangan
Ekstrakurikuler
dan
Kokulikuler
(7) Kegiatan Manajemen Kurikulum.
Setelah mengetahui pengertian manajemen dan kurikulum,
dapat kita simpulkan bahwa manajemen kurikulum adalah suatu
34
proses dan kerangka kerja yang untuk mencapai keberhasilan
kurikulum. Kegiatan manajemen kurikulum dapat dikaitkan
dengan dua hal, yaitu: yang berkaitan dengan tugas guru, dan
yang berrkaitan dengan proses pembelajaran:
(1) Kegiatan yang berkaitan dengan tugas guru
(a) Pembagian
tugas
pembelajaran.
Pembagian
tugas
biasanya dilakukan dalam rapat guru pada awal
tahunpelajaran atau menjelang awal semester baru.
(b) Pembagian tugas membina kegiatan ekstrakurikuler.
Kegiatan ekstrakulikuler atau kegiatan tambahan di luar
kurikulum yang berlaku ini seperti kegiatan pramuka,
koperasi, unit kesehatan sekolah, olahraga, kesenian dan
lain-lain.
(2) Kegiatan
yang
berkaitan
dengan
jadwal
pelajaran.
proses
pelaksanaan
pembelajaran
(a) Penyusunan
merupakan
penjabaran
dari
Jadwal
pelajaran
seluruh
program
pembelajaran di sekolah. Jadwal pelajaran merupakan
pedoman bagi guru bahwa dia akan membelajarkan di
kelas mana dan hari apa saja, serta jam berapa saja.
(b) Penyusunan
program
penyusunan
program
menghitung
jumlah
pembelajaran.
pembelajaan
pokok
bahasan
Kegiatan
ini
meliputi:
yang
harus
35
disampaikan dalam jangka waktu tertentu (semester atau
catur wulan), menghitung jumlah jam pelajaran yang
tersedia menurut kurikulum yang berlaku, menghitung
jumlah jam efektif pada semester atau catur wulan
berdasarkan kalender akademik yang berlaku, membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran untuk jangka waktu
tertentu (satu semester atau catur wulan)
(c) Pengisian daftar kemajuan kelas. Menggambarkan tentang
kemajuan kelas tentang penguasaan materi pelajaran.
(d) Kegiatan
mengelola
kelas.
Merupakan
upaya
yang
dilakukan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran
agar tujuan pembelajaran bisa tercapai secara efektif dan
efisien.
Hal
ini
menyangkut
strategi
pembelajaran,
pemanfaatan media, tempat duduk dan lain-lain
(e) Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar. Evaluasi hasil
belajar berguna untuk mendapatkan umpan balik bagi guru
tentang ketercapaian tujuan pembelajaran.
(f) Laporan hasil belajar. Hasil belajar yang diperoleh oleh
siswa harus dilaporkan kepada orang tua atau wali murid
ini disebut rapor
(g) Kegiatan bimbingan dan penyuluhan. Kegiatan bimbingan
dan penyuluhan tidak hanya untuk siswa yang bermasalah
saja tapi semua siswa, termasuk siswa yang berprestasi.
36
2. Manajemen Kesiswaan
Manajemen kesiswaan merupakan kegiatan-kegiatan yang
bersangkutan dengan masalah kesiswaan di sekolah. Tujuan
manajemen kesiswaan adalah menata proses kesiswaan mulai dari
perekrutan, mengikuti pembelajaran sampai dengan lulus sesuai
dengan tujuan institusional agar dapat berlangsung secara efektif dan
efisien, kegiatan kesiswaan meliputi: perencanaan penerimaan murid
baru, pembinaan siswa, dan kelulusan (Rohiat, 2010: 25).
Penerimaan
siswa
merupakan
proses
pelayanan
dan
pencatatan siswa dalam penerimaan siswa baru, setelah melalui
seleksi masuk siswa baru dengan persyaratan-persyaratan yang telah
ditentukan. Dalam penerimaan siswa baru terdapat beberapa
kegiatan seperti: penetapan daya tampung, penetapan persyaratan
siswa yang akan diterima, dan pembentukan panitia penerimaan
siswa baru.
Pembinaan siswa adalah pemberian pelayanan kepada siswa
di sekolah baik pada jam pelajaran sekolah ataupun di luar jam
pelajaran sekolah. Pembinaan yang dilakukan kepada siswa adalah
agar siswa menyadari posisi dirinya sebagai pelajar dan dapat
menyadari tugasnya secara baik. Beberapa hal yang dilakukan dalam
pembinaan siswa diantaranya: memberikan orientasi kepada siswa
baru, mencatat kehadiran siswa, mencatat prestasi dan kegiatan
37
siswa, membina disiplin siswa, dan membina siswa yang telah tamat
belajar
Suryosubroto (2010: 74) Manajemen murid menunjuk kepada
pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan pencatatan murid semenjak dari
proses penerimaan sampai saat meninggalkan sekolah karena sudah
tamat mengikuti pendidikan pada sekolah itu. Secara lebih rinci
kegiatan-kegiatan tersebut meliputi:
a) Penerimaan Murid Baru
Menurut Ismed Syarief et. al, (1976: 25-30) langkahlangkah penerimaan murid baru pada garis besarnya adalah
sebagai berikut:
(1) Membentuk Panitia Penerimaan Murid Baru
Panitia penerimaan murid baru terdiri dari kepala
sekolah
dan
beberapa
guru
yang
ditunjuk
untuk
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, yakni:
syarat-syarat pendaftaran murid baru, formulir pendaftaran,
pengumuman, buku pendaftaran, waktu pendaftaran, jumlah
calon yang diterima.
(2) Menentukan Syarat Pendaftaran Calon
Contoh syarat-syarat pendaftaran: surat keterangan
kelahiran, atau umur, surat keterangan kesehatan, surat
kelakuan baik dari kepala sekolah asal, salinan tanda
lulus/STTB yang disahkan, salinana raport kelas tertinggi,
38
membayar biaya pendaftaran, pas foto ukuran 3x4/4x6
sebanyak yang diperlukan, mengisi formulir pendaftaran.
(3) Menyediakan Formulir Pendaftaran
Formulir pendaftaran dimaksudkan untuk mengetahui
identitas calon dan untuk kepentingan pengisian buku induk
sekolah.
(4) Pengumuman Pendaftaran Calon
Pengumuman dapat melalui media massa seperti surat
kabar dan sebagainya, tetapi dapat juga hanya menggunakan
papan pengumuman di sekolah. Adapun maksud/tujuan
pengumuman
ini
ialah
agar
kesempatan
dan
syarat
pendaftaran calon murid baru di sekolah tersebut bisa
diketahui oleh masyarakat luas khususnya para orang tua
yang berkepentingan.
(5) Menyediakan Buku Pendaftaran
Buku ini digunakan untuk mencatat para calon yang
mendaftarkan ingin masuk ke sekolah itu. Berdasarkan
pencatatan ini pula calon memperoleh nomor pendaftaran
(nomor calon) yang mungkin disebut juga sebagai nomor
seleksi
(6) Waktu Pendaftaran
Penentuan waktu atau lama pendaftaran calon
tergantung pada kebutuhan. Waktu bisa diperpanjang apalagi
39
target belum terpenuhi, dan sebaliknya mungkin diperpendek
apabila target sudah terpenuhi.
(7) Penentuan Calon yang Diterima
Apabila hasil tes masuk yang hendak dijadikan
standar, maka penentuan calon yang diterima dapat
didasarkan pada urutan keberhasilan nilai tes itu (sistem
ranking) sampai sebanyak calon yang ditargetkan sesuai
dengan daya tamping kelas.
b) Pencatatan Murid dalam Buku Induk
Murid yang baru perlu dicatat segera dalam buku besar
yang biasa disebut buku induk atau buku pokok. Catatan dalam
buku induk harus lengkap meliputi data dan identitas murid dalam
hal ini sebagian datadapat diambil dari formulir pendaftaran.
Buku induk merupakan kumpulan daftar nama murid sepanjang
masa dari sekolah itu.
Di samping identitas murid, dalam buku induk juga berisi
prestasi belajar anak (daftar nilai raport) dari tahun ke tahun
selama ia belajar di sekolah tersebut. Catatan dalam buku induk
harus bersih dan jelas, dan ini merupakan tanggung jawab kepala
sekolah yang penggarapannya bisa diserahkan kepada pegawai
sekolah.
40
c) Pencatatan Murid dalam Buku Klaper
Buku ini berfungsi untuk membantu buku induk memuat
data murid yang penting-penting. Pengisiannya dapat diambil dari
buku induk tetapi tidak selengkap buku induk itu. Di sini daftar
nilai juga tercatat.
Kegunaan utama buku klaper adalah untuk memudahkan
mencari data murid, apalagi belum diketahui nomor induknya.
Hal ini mudah diketemukan dalam buku klaper karena nama
murid disusun menurut abjad
d) Tata Tertib Murid
Menurut instruksi menteri Pendidikan dan Kebudayaan
tanggal: 1 Mei 1974, No. 14/U/1974, tata tertib sekolah ialah
ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari
dan mengandung sangsi terhadap pelanggarnya.
Tata tertib murid adalah bagian dari tata tertib sekolah,
disamping itu masih ada tata tertib guru dan tata tertib tenaga
administratif. Kewajiban menaati tata tertib sekolah adalah hal
yang penting sebab merupakan bagian dari sistem persekolahan
dan bukan sekedar sebagai kelengkapan sekolah.
e) Daftar Presensi
Daftar presensi atau daftar hadir dimaksudkan untuk
mengetahui frekuensi kehadiran murid di sekolah sekaligus untuk
mengontrol kerajinan belajar mereka.
41
3. Manajemen Personalia
Manajemen personalia adalah suatu ilmu seni untuk
melaksanakan antara lain planning, organizing, controlling sehingga
efektivitas dan efisiensi personalia dapat ditingkatkan semaksimal
mungkin dalam pencapaian tujuan (Nitisemito, 1991: 10).
Menurut Suryosubroto (2010: 86) pada prinsipnya yang
dimaksud dengan personalia di sini ialah orang yang melaksanakan
suatu tugas untuk mencapai tujuan. Dalam hal ini di sekolah dibatasi
dengan sebutan pegawai.
Secara terperinci dapat disebutkan keseluruhan personel
sekolah adalah: kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha dan
pesuruh/penjaga sekolah.
Adapun kegiatan-kegiatan manajemen personalia sekolah
meliputi:
a. Daftar Personel
Daftar personal memuat identitas atau keterangan lengkap
tetang diri pegawai atau karyawan yang bersangkutan baik ia itu
guru maupun tenaga administratif.
Keterangan-keterangan ini antara lain meliputi nama
lengkap dan identitas pribadi yang lain (agama, tempat tinggal,
tahun kelahiran, dan sebagainya), pangkat, jabatan, pendidikan
terakhir, pendidikan tambahandan keadaan keluarga. Semua
keterangan perlu dibuktikan dengan sah.
42
b. Daftar Hadir Guru dan Karyawan
Kehadiran guru/karyawan di sekolah adalah suatu hal
yang mutlak demi berhasilnya tujuan pendidikan. Disamping itu
yang penting lagi ialah apakah alokasi waktu yang disediakan
selama satu semester atau satu catur wulan itu dapat dipenuhi oleh
guru atau tidak bagi sesuatu bidang studi.
c. Daftar Konduite
Yang dimaksud daftar konduite adalah daftar yang berisi
penilaian terhadap pegawai yang dibuat oleh pimpinan atau
atasannya. Dalam hal ini kepala sekolah membuat daftar konduite
itu
berdasarkan
penilaian
terhadap
guru
yang
menjadi
bawahannya.
4. Manajemen Keuangan
Setiap unit kerja selalu berhubungan dengan masalah
keuangan, demikian pula sekolah. Soal-soal yang menyangkut
keuangan sekolah pada garis besarnya berkisar pada: Uang
Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), uang kesejahteraan
personel dan gaji serta keuangan yang berhubungan langsung dengan
penyelenggaraan sekolah seperti perbaikan sarana dan sebagainya
(Suryosubroto, 2010: 131).
Pendidikan membutuhkan biaya yang banyak. Sudah menjadi
rahasia umum, pendidikan yang berkualitas itu mahal. Dengan
demikian, variasi pembiayaan pendidikan akan sangat bervariasi.
43
Oleh kartena itu, keuangan atau pembiayaan pendidikan di lembagalembaga
pendidikan
atau
sekolah
menjadi
factor
esencial.
Penanggung jawab manajemen pembiayaan pendidikan adalah
kepala sekolah dan guru yang ikut bertanggung jawab atas
pembiayaan pendidikan. Guru diharapkan dapat merencanakan
pembiayaan kegiatan belajar mengajar dengan baik. Kebutuhan
untuk pembelajaran yang baik tentunya memerlukan pembiayaan
yang memadai.
Manajemen
keuangan
meliputi
kegiatan
perencanaan,
penggunaan, pencatatan data, pelaporan, dan pertanggung jawaban
penggunaan dana sesuai dengan yang direncanakan. Tujuan
manajemen
keuangan
adalah
untuk
mewujudkan
tertibnya
administrasi keuangan sehingga penggunaan keuangan dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Manajemen keuangan memiliki aturan tersendiri, terdapat pemisahan
tugas dan fungsi antara otorisator, ordonator, dan bendaharawan.
Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil
tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran uang.
Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan
memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan
otorisator. Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan
penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang atau surat-surat
44
berharga lain yang dapat dinilai dengan uang dan diwajibkan
membuat perhitungan dan pertanggung jawaban.
Kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah dan menjabat
sebagai
otorisator
berfungsi
memerintahkan pembayaran.
sebagai
koordinator
yang
sebagai
orang
Bendaharawan
dapat
yang
dapat
sekolah bertugas
melakukan
pengujian
atas
pembayaran. Keuangan sekolah dapat diperoleh dari dana Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), bantuan dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta bantuan masyarakat.
APBN terdiri atas dana rutin dan dana pembangunan (Rohiat, 2010:
27-28).
5. Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan Prasarana Sekolah
Manajemen perawatan preventif sarana dan prasarana
sekolah merupakan tindakan yang dilakukan secara periodik dan
terencana untuk merawat fasilitas fisik, seperti gedung, mebel, dan
peralatan sekolah lainnya, dengan tujuan untuk meningkatkan
kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya perbaikan
dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan prasarana
sekolah (Daryanto et. al, 2013: 171).
Dalam manajemen ini perlu dibuat program perawatan
preventif di sekolah dengan cara pembentukan tim pelaksana,
membuat daftar sarana dan prasarana, menyiapkan jadwal kegiatan
perawatan
pada
masing-masing
bagian
dan
memberikan
45
penghargaan bagi mereka yang berhasil meningkatkan kinerja
peralatan sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran merawat
sarana dan prasarana sekolah.
Sedangkan untuk pelaksanaannya dilakukan pengarahan
kepada tim pelaksana, mengupayakan pemantauan bulanan ke lokasi
tempat sarana dan prasarana, menyebarluaskan informasi tentang
program perawatan preventif untuk seluruh warga sekolah, dan
membuat program lomba perawatan terhadap sarana dan fasilitas
sekolah untuk memotivasi warga sekolah.
Suryosubroto (2010: 114) menyatakan ditinjau dari fungsi
atau peranannya terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar,
maka sarana pendidikan (sarana material) dibedakan menjadi tiga
macam:
a. Alat Pengajaran
Alat pengajaran adalah alat yang digunakan secara
langsung dalam proses belajar mengajar. Alat ini mungkin
berwujud buku, alat peraga, alat tulis, dan alat praktek.
b. Alat Peraga
Alat
peraga ialah alat
pembantu pendidikan dan
pengajaran, dapat berupa perbuatan-perbuatan atau benda-benda
yang sudah memberi pengertian kepada anak didik berturut-turut
dari abstrak sampai kepada yang konkrit.
46
c. Media Pengajaran
Media Pengajaran ialah sarana pengajaran yang digunakan
sebagai perantara dalam proses belajar mengajar, untuk lebih
mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan
pengajaran.
Media pembelajaran menurut Rohmat (2014: 33-34)
memuat lima unsur, yaitu:
1) Segala bentuk yang digunakan untuk menyalurkan informasi
pembelajaran.
2) Salah satu komponen dari sistem penyampaian pelajaran
yang meliputi segala peralatan fisik pada komunikasi seperti:
buku, modul, computer slide, televise, radio, tape recorder,
dan semacamnya.
3) Sarana atau alat bantu bagi terselenggaranya pembelajaran.
4) Sumber belajar yang memperkaya wawasan anak didik.
5) Peragaan yang membantu memperjelas tentang sesuatu.
Menurut
Suryosubroto
(2010:
115)
garis
besarnya
manajemen sarana dan prasarana meliputi 5 hal, yakni:
1)
2)
3)
4)
5)
Penentuan kebutuhan
Proses pengadaan
Pemakaian
Pengurusan dan pencatatan
Pertanggung jawaban.
3. Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah
a. Pengertian Madrasah Aliyah Salafiyah
Madrasah merupakan sebuah kata dalam bahasa arab yang
artinya sekolah. Asal katanya yaitu darasa (baca: darosa) yang artinya
mengajar. Di Indonesia madrasah dikhususkan sebagai sekolah (umum)
yang kurikulumnya terdapat pelajaran-pelajaran tentang keIslaman.
47
Madrasah Ibtidaiyah (MI) setara dengan Sekolah Dasar (SD), Madrasah
Tsanawiyah (MTs) setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP)
dan Madrasah Aliyah (MA) setara dengan Sekolah Menengah Atas
(SMA).
Senada dengan penjelasan di atas Fajar (1998: 18-19)
menjelaskan bahwa Secara harfiah Kata madrasah berasal dari bahasa
Arab yang merupakan isim makan dari darasa-yadrisu. Secara harfiah,
kata ini berarti atau setara maknanya dengan kata Indonesia, “sekolah”.
Madrasah mengandung arti tempat, wahana anak mengenyam proses
pembelajaran. Maksudnya, di madrasah itulah anak menjalani proses
belajar secara terarah, terpimpin, dan terkendali. Dengan demikian,
secara teknis madarasah menggambarkan proses pembelajaran secara
formal yang tidak berbeda dengan sekolah. Hanya dalam lingkup
kultural, madrasah memiliki konotasi spesifik. Di lembaga ini anak
memperoleh hal-ihwal atau seluk beluk agama dan keagamaan.
Sehingga dalam pemakaiannya kata madrasah lebih dikenal sebagai
sekolah agama.
Madrasah adalah lembaga pendidikan berbasiskan kurikulum
agama Islam. Madrasah yang fokus hanya pada kurikulum keagamaan
disebut dengan madrasah diniyah sementara yang juga mengajarkan
ilmu-ilmu umum (penunjang) disebut sebagai Madrasah (Nafi‟ et. al,
2007: 165).
48
Madrasah merupakan khazanah lembaga pendidikan Islam yang
diwariskan generasi muslim terdahulu. Pada periode modern, madrasah
digunakan sebagai bentuk lembaga pendidikan yang memiliki ciri-ciri
modern. Dalam konteks Indonesia awal abad ke-20, yang sekaligus
periode kebangkitan madrasah Indonesia, kaum muslim menggunakan
“madrasah” sebagai simbol lembaga pendidikan Islam modern dengan
ciri-ciri lembaga pendidikan klasikal, kurikulum terstruktur, ujian
dirancang periodik, kenaikan kelas dan sertifikat sebagai tanda lulus.
Seperti telah disebutkan “madrasah modern” merupakan hasil
perjumpaan budaya, antara tradisi pembelajaran dalam Islam baik yang
terlembagakan dalam madrasah tradisional maupun pesantren dengan
sekolah-sekolah modern yang datang bersama kolonialisme. Madrasah
sebagai simbol modernitas segera mengalami diseminasi intensif di
kalangan kaum muslim melalui berbagai jalur gerakan-gerakan Islam,
termasuk pesantren yang kemudian menjadikan “madrasah “ sebagai
media transmisi ilmu-ilmu keislaman yang biasanya disampaikan secara
tradisional (Subhan, 2012: 316).
Subhan (2012: 318-320) menjelaskan bahwa madrasah dibagi
menjadi lima varian, yaitu :
1) Madrasah yang mengombinasikan mata pelajaran agama dengan
matapelajaran umum, untuk tingkat pendidikan dasar disebut
Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan masa belajar 6 tahun, untuk
tingkat pendidikan menengah pertama, disebut Madrasah
Tsanawiyah (MTs) dengan masa belajar tiga tahun, dan untuk
tingkat pendidikan menengah disebut Madrasah Aliyah (MA)
dengan masa belajar tiga tahun.
49
2) Kelompok madrasah yang hanya mengajarkan pengetahuan
keIslaman, termasuk bashasa Arab, yaitu Madrasah Diniyah
Awaliyah dengan masa belajar empat tahun, untuk tingkat
pendidikan menengah pertama disebut dengan madrasah
Diniyah Wustha dengan masa belajar dua tahun, dan untuk
tingkat pendidikan menengah keatas disebut Madrasah Diniyah
Ulya dengan masa belajar dua tahun.
3) Kelompok pesantren Salafiyah, ini merupakan jenis pesantren
yang tidak menawarkan pendidikan formal kepada santri.
Pesantren ini menawarkan sistem pembelajaran tradisional
dengan materi utama ilmu-ilmu keIslaman. Kitab kuning
merupakan referensi utama dalam pesantren jenis ini.
4) Kelompok lembaga pendidikan Islam yang mengombinasikan
pengetahuan agama dan pengetahuan umum, tetapi menamakan
dirinya Kulliyatul Mu‟allimin al-Islamiyah (KMI) ATAU
Mu‟allimin, keduanya merupakan lembaga pendidikan tingkat
menengah dengan masa belajar enam tahun.
5) Kelompok lembaga pendidikan islam yang menyebut dirinya
dengan istilah sekolah Islam. Ini merupakan perkembangan
lebih lanjut dari konsep “HIS met de Qur‟an”.
Madrasah negeri dan swasta terdapat beberapa perbedaan.
Pertama, dari segi sumber keuangan. Seluruh anggaran pendidikan
madrasah negeri sepenuhnya ditanggung pemerintah. Sementara
itu, madrasah swasta sepenuhnya mengandalkan sumber dana dari
masyarakat. Subsidi pemerintah jumlahnya sangat kecil, khususnya
dibandingkan dengan anggaran madrasah negeri. Disamping itu,
tidak seluruh madrasah swasta dapat menikmati fasilitas subsidi ini
karena pada umumnya madrasah yang tidak menerapkan kurikulum
Departemen Agama tidak mendapatkan subsidi. Kedua, dari segi
manajemen pengelolaan. Madrasah negeri dikelola Departemen
Agama. Kepala sekolah, guru, dan staf administrasi madrasah
adalah pegawai negeri sipil. Sementara itu, madrasah swasta
dikelola oleh organisasi madrasah itu sendiri, yayasan, atau
50
organisasi sosial keagamaan. Otoritas madrasah swasta sepenuhnya
berada di tangan pengelolanya. Ketiga dari segi ideology
keagamaan atau materi-materi keislaman yang diajarkan. Madrasah
Negeri jelas mereproduksi materi-materi keIslaman sebagaimana
dikembangkan Departemen Agama. Sementara itu materi-materi
keIslaman dilingkungan madrasah swasta sangat variatif tergantung
kepada ideology keagamaan pengelola madrasah (Subhan, 2012:
323).
Pengakuan pemerintah terhadap Madrasah tertuang pada
Undang-Undang No.4 Tahun 1950 tentang Dasar-dasar pendidikan
dan pengajaran di Sekolah dalam pasal 10 ayat (2) disebutkan
bahwa: “Belajar di sekolah agama yang telah mendapatkan
pengakuan Menteri Agama dianggap telah memenuhi kewajibah
belajar”(Saleh, 2006: 26).
Dan sementara itu dalam keputusan menteri pendidikan dan
Kebudayaan No.0489/V/1992 tentang Sekolah Menengah Umum
dalam Pasal 1 Ayat (6) disebutkan bahwa: “Madrasah Aliyah
adalah SMU yang berciri khas Agama Islam yang diselenggarakan
oleh Departemen Agama”(Saleh, 2006: 34).
Sedangkan kata salaf berarti dari bahasa Arab
‫ سلف‬secara
literal bermakna yang dulu atau yang sudah lewat. Dalam
pengertian istilah pesantren di Indonesia, salaf berkonotasi pada
51
sebuah pesantren tradisional yang menganut sistem pendidikan
kuno yaitu sistem wetonan, bandongan dan sorogan.
Pengertian ini kemudian berkembang seiring dengan
dinamika dari pesantren salaf itu sendiri. Saat ini pesantren salaf
bermakna sebuah pesantren yang murni mengajarkan ilmu agama
baik dengan sistem tradisional maupun sistem klasikal (jenjang
kelas) yang umum disebut dengan madrasah diniyah atau menganut
kedua sistem itu. Pesantren salaf dengan santri yang cukup banyak
biasanya menganut kedua sistem sorogan/wetonan dan klasikal
sekaligus. Dalam perkembangan berikutnya, sebuah pesantren
disebut salaf selagi terdapat sistem pendidikan di atas (tradisional
dan klasikal) walaupun dikombinasikan dengan pendidikan formal
(MI, MTs, dan MA) yang mengikuti kurikulum Kemendikbud atau
Kemenag.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
Madrasah Aliyah Salafiyah adalah Sekolah tingkat menengah atas
yang di dalamnya juga mempelajari kitab-kitab turost/kuning (kitab
kuno) yang dikombinasikan dengan pendidikan formal Madrasah
Aliyah (MA) yang mengikuti kurikulum Kemendikbud atau
Kemenag.
52
b. Mu’adalah
Secara bahasa mu‟adalah berasal dari kata „Aadala-Yu‟aadilumu‟aadalah yang berarti penyetaraan. Sedangkan secara terminologi,
sebagaimana yang telah dijelaskan pada BAB I pengertian mu‟adalah
adalah suatu proses penyetaraan antara institusi pendidikan baik
pendidikan di pondok pesantren maupun di luar pesantren dengan
menggunakan kriteria baku dan mutu/kualitas yang telah ditetapkan
secara adil dan terbuka. Selanjutnya hasil dari mu‟adalah tersebut, dapat
dijadikan dasar dalam meningkatkan pelayanan dan penyelenggaraan
pendidikan di pondok pesantren (Yusuf, 2009: 8).
Dalam konteks ini, pondok pesantren mu‟adalah yang terdapat
di Indonesia terbagi menjadi 2 (dua) bagian: Pertama, pondok pesantren
yang lembaga pendidikannya dimu‟adalahkan dengan lembaga-lembaga
pendidikan di luar negeri seperti Universitas Al-Azhar Cairo Mesir,
Universitas Umm Al-Qurra Arab Saudi maupun dengan lembagalembaga non formal keagamaan lainnya yang ada di Timur Tengah,
India, Yaman, Pakistan atau di Iran. Pondok pesantren-pondok
pesantren yang mu‟adalah dengan luar tersebut hingga saat ini belum
terdata dengan baik karena pada umumnya mereka langsung
berhubungan dengan lembaga-lembaga pendidikan luar negeri tanpa
ada koordinasi dengan Depag RI maupun Departemen Pendidikan
Nasional. Kedua, pondok pesantren mu‟adalah yang disetarakan dengan
Madrasah Aliyah dalam pengelolaan Depag RI dan yang disetarakan
53
dengan SMA dalam pengelolaan Diknas. Keduanya mendapatkan SK
dari Dirjen terkait.
Tujuan Mu‟adalah Pendidikan Pondok Pesantren dengan
Madrasah Aliyah dan SMA adalah:
1. Untuk memberikan pengakuan (recognition) terhadap sistem
pendidikan yang ada di pondok pesantren sebagaimana tuntutan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Untuk memperoleh gambaran kinerja pondok pesantren yang
akan di Mu‟adalahkan/disetarakan dan selanjutnya dipergunakan
dalam pembinaan, pengembangan dan peningkatan mutu serta
tata kelola pendidikan pondok pesantren.
3. Untuk menentukan pemberian fasilitasi terhadap suatu pondok
pesantren dalam menyelenggarakan pelayanan pendidikan yang
setara/Mu‟adalah dengan MA/SMA (Yusuf, 2009: 8).
Kriteria pendidikan pondok pesantren yang dimu‟adalahkan,
yaitu:
1. Penyelenggara Pendidikan Pondok pesantren harus berbentuk
yayasan atau organisasi sosial yang berbadan hukum.
2. Pendidikan Pontren yang akan dimu‟adalahkan/disetarakan ialah
pendidikan pada Pondok pesantren yang telah memiliki piagam
terdaftar sebagai lembaga pendidikan pondok pesantren pada
Departemen Agama dan tidak menggunakan kurikulum Depag
maupun Diknas.
54
3. Tersedianya
komponen
penyelenggaraan
pendidikan
dan
pengajaran pada satuan pendidikan seperti adanya tenaga
kependidikan, santri, kurikulum, ruang belajar, buku pelajaran
dan sarana pendukung pendidikan lainnya.
4. Jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh Pondok pesantren
sederajat dengan Madrasah Aliyah/SMA dengan lama pendidikan
3 (tiga) tahun setelah tamat Madrasah Tsanawiyah dan 6 (enam)
tahun setelah tamat Madrasah Ibtidaiyah (Yusuf, 2009: 8).
Sasaran dari program pondok pesantren mu‟adalah ini adalah
lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren, yang
mengajukan permohonan untuk disetarakan lulusannya setingkat
dengan madrasah aliyah/SMA diantaranya:
a. Madrasah Salafiyah “Ulya (Aly atau Aliyah), DMI (Dirasah
Mu‟allimin Islamiyah)
b. Kulliyatul Mu‟allimin Islamiyah (KMI) dan Tabiyatul Mu‟allimin
Islamiyah (TMI)
c. Madrasah Diniyah “Ulya atau setingkat Takhassus yang sudah
lulus jenjang Wustho dan Awwaliyah/Ula atau nama lainnya yang
sejenis (Yusuf, 2009: 8).
Adapun materi pengajian kitab di Pondok Pesantren meliputi kitab –
kitab yang terkait dengan mata pelajaran sebagai berikut:
a. Tafsir Qur‟an
b. Hadist
55
c. Ilmu Tafsir
d. Ilmu Hadist
e. Tauhid
f. Akhlak/Tasawuf
g. Bahasa Arab/ Ilmu Alat, Nahwu Sorof
h. Fiqh
i. Ushul fiqh. (Yusuf, 2009: 15).
B. Penelitian Yang Relevan
Penelitian mengenai pelaksanaan manajemen pendidikan sangat
penting untuk diteliti. Karna itu, tema ini banyak menarik minat peneliti
untuk melakukan penelitian. Secara umum penelitian ini akan mengacu pada
penelitian lain yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam penelitian
selanjutnya. Penelitian terdahulu dalam bidang yang diteliti, diantaranya:
1. Ninik Nur Muji Astutik. 2009. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran
Pondok Pesantren Mu‟adalah dan Ghoiru Mu‟adalah: (Studi Multi Kasus
di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan dan Madrasah
Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah Gunung Jati Pasuruan). Tesis,
Jurusan Manajemen Pendidikan. Program Pascasarjana Universitas Negeri
Malang.
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpukan bahwa: pertama,
perencanaan kurikulum dan pembelajaran merupakan kunci awal dalam
pelaksanaan manajemen kurikulum dan pembelajaran. Perencanaan
56
kurikulum dan pembelajaran madrasah aliyah pondok pesantren dengan
memperhatikan visi, misi dan tujuan dari madrasah aliyah dan pondok
pesantren. Dalam penyusunan kurikulum dan pembelajaran Madrasah
Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah membentuk tim penyusun yang terdiri
dari pengasuh, sesepuh dan guru senior. Sedangkan Madrasah Aliyah
Pondok Pesantren Darul Karomah Gunung Jati membentuk tim penyusun
yang terdiri dari kepala madrasah, dewan guru dan pengasuh. Kurikulum
lokal yang digunakan oleh kedua pondok pesantren tersebut mengantarkan
mereka pada kreatifitas pengembangan, Madrasah Aliyah Pondok
Pesantren Salafiyah telah lebih dulu mendapatkan status kesetaraan dari
Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah karena sudah dapat
mengkolaborasikan materi agama dan materi umum dalam penyusunan
kurikulum. Kedua, pengorganisasian kurikulum dan pembelajaran
madrasah aliyah pondok pesantren dimulai dari pengorganisasian elemen
pelaksananya yaitu guru dan elemen lainnya agar dapat melaksanakan
fungsi berdasarkan tugas masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan
pengorganisasian materi-materi umum dan agama agar dapat dikemas
secara rapi dalam suatu pembelajaran dan kemudian disajikan dalam
jenjang-jenjang yang sudah disiapkan. Madrasah Aliyah Pondok Pesantren
Salafiyah memiliki jenjang-jenjang Ula, Tsanawiyah, Wustho dan Aliyah.
Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah yang sudah
dilaksanakan memiliki kegiatan pendidikan non formal saja (diniyah) yang
jenjangnya terdiri dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan
57
Musyawirin.
Ketiga,
pelaksanaan
Kurikulum
dan
pembelajaran
diselenggarakan dalam bentuk klasikal/madrasah. Madrasah Aliyah
Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan telah membuat serangkaian
perangkat pembelajaran dengan beberapa metode pembelajaran, media dan
strategi pembelajaran sebagai pendukung keefektivan dan efisiensi
pelaksanaannya. Sedangkan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul
Karomah hanya mengembangkan materi agama secara spesifik yang hanya
menggunakan target hafal dan khatam dengan menggunakan 2 metode
yaitu metode sorogan dan bandongan. Keempat, penilaian yang dilakukan
oleh Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah diambil dari segi input,
proses dan output. Keberhasilan output dibuktikan dengan pemberian
ijazah mu‟adalah yang dapat digunakan untuk melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Sementara Madrasah Aliyah Pondok
Pesantren Darul Karomah hanya melakukan penilaian dari proses dan
output saja. Khusus bagi santri yang ingin melanjutkan ke jenjang yang
lebih tinggi akan diikutkan ujian kejar paket C, sehingga ijazah yang akan
diperoleh oleh lulusan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah
Gunung Jati Pasuruan ada 2 macam, yaitu ijazah lokal dan ijazah formal.
2. Ali Mufron, 2013. Manajemen Pengembangan Mutu Guru (Studi Kasus di
MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas Pacitan). Tesis. Yogyakarta:
Program Studi Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpukan bahwa: Bentuk
pelaksanaan manajemen pengembangan mutu guru di MA Pondok Tremas
58
mencakup aspek pengadaan guru baru, yang dilaksanakan melalui langkah
kebutuhan guru, rekrutmen dan seleksi, dalam hal ini dilakukan secara
hati-hati dan terorganisir dengan baik, selanjutnya yaitu melalui kegiatan
pembinaan dan pengembangan mutu guru baik bagi guru baru maupun
guru lama seperti studi lanjut, gelar pertemuan kelompok kerja guru,
penataran dan lokakarya serta studi banding dan sertifikasi guru. Dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai pelaksanaan manajemen
pengembangan mutu guru di MA Pondok Tremas telah dilaksanakan
secara optimal sehingga menghasilkan guru-guru yang bermutu.
3. Yusuf Hadiyono 2010, Manajemen Program Pendidikan Ketrampilan di
MA Syalafiyah Mu‟adalah Tremas pacitan. Tesis. Semarang: Program
Hukum Islam Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga.
Berdasarkan hasil analisis dapat disimpukan bahwa: penyelenggara
program keterampilan pada MA Salafiyah Mu‟adalah Tremas pacitan
adalah setiap manusia harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi
agar mampu berkompetisi dalam dunia usaha di era persaingan global dan
perdagangan bebas ini. Adapun konsep dasar penyelenggaraannya
dimaksudkan untuk memberi bekal kepada para peserta didik yang berasal
dari keluarga kurang mampu dalam perekonomian agar memiliki keahlian
dalam persaingan dunia kerja.
Melalui penelitian ini diketahui pula bentuk pengelolaan program
keterampilan pada MA Syalafiyah Mu‟adalah Tremas Pacitan meliputi
kegiatan-kegiatan
perencanaan,
pelaksanaan,
pengawasan,
dan
59
kepemimpinan organisasi. Adapun strategi manajemen untuk peningkatan
layanan mutu yang dilakukan melalui empat hal yaitu sosialisasi visi, misi
dan tujuan pendidikan; jabaran peningkatan mutu pendidikan; cakupannya;
dan sumber-sumber daya pendukung atau penghambatnya.
Jika dilihat dari hasil ketiga penelitian di atas dapat disimpulkan
bahwa ketiga penelitian hanya meneliti satu komponen atau sub komponen
dari manajemen pendidikan; satu komponen manajemen pendidikan
adalah penelitian Ninik Nur Muji Astutik (2009) yaitu komponen
Manajemen Kurikulum; sub komponen manajemen pendidikan penelitian
Yusuf Hadiyono (2010) yaitu sub komponen Manajemen Program
Pendidikan dan Ali Mufron (2013) sub komponen Manajemen
Pengembangan Mutu Guru. Sehingga jika dibandingkan penelitian ini jauh
lebih komprehensif karena meneliti seluruh komponen manajemen
pelaksanaan pendidikan yaitu: manajemen kurikulum, manajemen
kesiswaan, manajemen personalia, manajemen keuangan dan manajemen
perawatan preventif sarana dan prasarana sekolah.
60
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Dalam penelitian
kualitatif data yang dikumpulkan bukan angka-angka, akan tetapi berupa
kata-kata atau gambaran. Data yang dimaksud berasal dari wawancara,
catatan lapangan, foto, dokumen pribadi dan lainnya (Moleong, 2014: 11).
Oleh karena itu dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif.
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan
fenomena atau populasi tertentu yang diperoleh peneliti dari subjek yang
berupa individu, organisasional atau perspektif yang lain. Adapun tujuannya
adalah untuk menjelaskan aspek yang relevan dengan fenomena yang diamati
dan menjelaskan karakteristik fenomena atau masalah yang ada.
Bogdad dan Taylor dalam Moleong (2014: 4), mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghadirkan data
deskriptif beberapa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau pelaku
yang dapat diamati. Penelitian kualitatif digunakan untuk mengungkap data
deskriptif dari informasi tentang apa yang mereka lakukan dan yang mereka
alami terhadap fokus penelitian. Sesuai dengan tema yang peneliti bahas,
penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan (Field Research),
dimana penelitian ini dilakukan langsung di lapangan yaitu di MA Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas Pacitan untuk mendapatkan data-data yang
60
61
diperlukan. Peneliti mengadakan pengamatan tentang suatu fenomena dalam
keadaan alamiah.
B. Latar Setting Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di Perguruan Islam Pondok Tremas
Pacitan yang terletak di Jl. Patrem No 12 Tremas Arjosari Pacitan Jawa timur.
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah memiliki banyak keunikan diantara
kurikulumnya yang independen namun ijazahnya diakui untuk disetarakan
dengan Madrasah Aliyah yang lain.
C. Subyek dan Informan Penelitian
Subyek Penelitian yaitu benda, keadaan atau orang, tempat data
melekat dan permasalahan. Subyek dalam penelitian mempunyai keadaan
sentral, karena pada subyek data didapat dan diamati.
Berdasarkan pengertian tersebut maka subyek yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Ketua Majlis Ma’arif MA Salafiyah Mu’adalah Pondok
Tremas dan Kepala MA Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas.
Informan adalah seseorang yang memiliki informasi primer atau
pengetahuan yang luas tentang keadaan masyarakat di lingkungannya
(Sukardi, 2006:43).
Berdasarkan pengertian di atas maka informen dalam penelitian ini ialah
orang-orang yang faham akan lingkungan obyek penelitian, termasuk di
dalamnya: Ketua Majlis Ma’arif, Kepala Madrasah, Guru, Waka Kurikulum,
62
Waka Kesiswaan, Waka Personalia, Bendahara dan Waka Sarana dan
Prasarana.
D. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis
menggunakan beberapa metode, diantaranya :
a. Metode Observasi
Secara definitif, pengertian observasi adalah tindakan atau proses
pengambilan informasi melalui media pengamatan. Dalam melakukan
observasi ini peneliti menggunakan sarana utama indera penglihatan.
Melalui pengamatan mata dan kepala sendiri seorang peneliti diharuskan
melakukan tindakan pengamatan terhadap tindakan, dan perilaku
responden di lapangan dan kemudian mencatat atau merekamnya sebagai
material utama (Sukardi, 2006: 49).
Metode Observasi ini digunakan untuk memperoleh gambaran
menyeluruh tentang lokasi penilitian di Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas Pacitan di Tremas Arjosari Pacitan Jawa
Timur. Dalam kegiatan observasi ini peneliti mengamati langsung terkait
manajemen yang diterapkan. Hal ini penulis lakukan dalam rangka untuk
mendapatkan data dan selanjutnya ditranskripsi supaya mempermudah
peneliti dalam mengumpulkan data untuk mengetahui
Bagaimanakah
Manajemen Kurikulum MA Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas Pacitan.
63
b. Metode Interview (wawancara)
Yang dimaksud dengan metode interview adalah teksis dalam
upaya menghimpun data yang akurat untuk keperluan melaksanakan
proses pemecahan masalah tertentu sesuai dengan data-data yang
diperoleh. Teksis ini adalah dengan cara tanya jawab secara lisan dan
bertatap
muka
langsung
(pewawancara) dengan
antara
seorang/beberapa
seorang/beberapa
orang
orang
interviewer
viewer
(yang
diwawancarai) (Bachtiar, 1997: 72).
Sedangkan Sutrisno Hadi (1990:194) mengatakan interview adalah
sebagai suatu proses tanya jawab lisan, dalam mana dua orang atau lebih
berhadap-hadapan secara fisik satu dapat melihat muka yang lain dan
mendengarkan dengan telinganya sendiri suaranya.
Fungsi metode ini adalah untuk memperoleh data tentang
bagaimanakah Manajemen Pengelolaan Pendidikan MA Salafiyah
Muadalah Pondok Tremas Pacitan.
Menurut Sutrisno Hadi (1990: 204) ditinjau dari pelaksaannya,
interview (wawancara) dibedakan atas:
1) Interview bebas, dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja,
tetapi juga mengingat akan data apa saja yang akan dikumpulkan.
Dalam pelaksanaannya pewawancara tidak membawa pedoman apa
yang akan ditanyakan. Kebaikan metode ini adalah bahwa responden
tidak menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang diwawancarai. Dengan
demikian suasana akan lebih santai karena hanya omong-omong
64
biasa. Kelemahannya adalah arah pertanyaan kadang-kadang kurang
terkendali.
2) Interview
terpimpin,
yaitu
interview
yang
dilakukan
oleh
pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan
terperinci seperti yang dimaksud dalam interview terstruktur.
3) Interview bebas terpimpin yaitu kombinasi antara interview bebas
dan interview terpimpin.
Metode ini digunakan untuk menghimpun data tentang Manajemen
Pelaksanaan Pendidikan MA Salafiyah Mu’dalah Pondok Tremas Pacitan.
Sehingga pada akhirnya dapat dijadikan bahan untuk analisa data yang
bersifat kualitatif.
Adapun teknik yang digunakan adalah interview bebas terpimpin.
Karena dengan menggunakan teknik ini pelaksana penelitian akan lebih
terarah. Dalam hal ini penulis mengadakan wawancara dengan informan
yaitu Ketua Majlis Ma’arif, Kepala Madrasah Aliyah, Guru dan Siswa.
c. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari dari kata dokumen, yang artinya barangbarang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti
menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen,
peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2010:
201).
Dalam hal ini penulis mencari data tentang pelaksanaan manajemen
pendidikan , letak geografis, keadaan, struktur organisasi, dan hal-hal lain
65
yang mendukung. Selain itu, penulis melengkapi dokumen dengan
melakukan perekaman suara (hand recorder), karena dengan melakukan
perekaman suara setidaknya informasi yang diterima akan lebih jelas, dan
diharapkan dengan adanya rekaman suara ini akan mempermudah peneliti
untuk mendiskripsikan dan menganalisa data.
E. Keabsahan Data
Keabsahan data menunjuk sejauh mana suatu alat pengukur itu
mengukur apa yang ingin diukur. Dalam pengumpulan data sering terjadi
perbedaan bahkan pertentangan antara sumber data terhadap data yang
diperoleh. Oleh karena itu perlu adanya usaha untuk mencari keabsahan data.
Dalam penelitian ini untuk mencari keabsahan data menggunakan
teknik triangulasi data. Triangulasi data yaitu, membandingkan dan mengecek
balik derajat kepercayaan suatu informasi yang berbeda dalam metode
kualitatif (Moleong, 2014: 330). Untuk mencapai hal tersebut dapat ditempuh
dengan jalan:
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b. Membandingkan apa yang dikatakan ketua majlis ma’arif dengan apa
yang dikatakan kepala madrasah, staf guru maupun wali santri tentang
Manajemen Pelaksanaan Pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas Pacitan.
66
c. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang
berkaitan dengan Manajemen Pelaksanaan Pendidikan Madrasah
Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas Pacitan.
F. Teknik Analisa Data
Menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong (2014: 248), teknik
analisa data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat
dikelola, mensistesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa
yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat
diceritakan kepada orang lain.
Kegiatan analisis data ini mengacu pada rujukan teoritis yang
berhubungan dengan permasalahan penelitian, yaitu dengan mengambil
informasi yang sama dari berbagai informan yang telah dikenal mempunyai
sifat kejujuran dan terbuka.
Adapun
langkah-langkah
analisis
data
dalam
penelitian
ini
menggunakan model Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2013: 337),
yaitu:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak,
maka perlu dicatat secara teliti dan dirinci melakukan penelitian di
lapangan maka jumlah data yang akan diperoleh semakin banyak,
komplek dan rumit. Oleh karena itu perlu segera dilakukan analisis data
67
melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih halhal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan
polanya dan membuang yang tidak perlu (Sugiyono, 2013: 338).
Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama
penelitian berlangsung. Setelah pengumpulan data selesai dilakukan,
semua catatan lapangan dibaca difahami dan dibuat ringkasan yang
berisi uraian hasil penelitian terhadap catatan lapangan, pemfokusan
dan menjawab terhadap masalah yang diteliti.
2. Data Display (Penyajian Data)
Penyajian data (data display) dilakukan untuk memudahkan
bagi peneliti guna membuat gambar secara keseluruhan atau bagian
tertentu dari penelitian. Setelah data direduksi, maka langkah
selanjutnya adalah menyajikan data, yaitu menyampaikan informasi
berdasarkan data yang diperoleh dan disusun dalam naratif.
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam
bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan
sejenisnya. Dalam hal ini Miles and Huberman (1984) menyatakan “the
most frequent from of display data for qualitative research data in the
past has been narrative text”. Yang paling sering digunakan untuk
menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang
bersifat naratif (Sugiyono, 2013: 408).
68
3. Conclution Drawing/Verification (Penarikan Kesimpulan/Verifikasi)
Penarikan kesimpulan dilakukan dengan memverifikasi secara
terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung, yaitu sejak awal
memasuki penelitian dan selama proses pengumpulan data. Penarikan
kesimpulan/verifikasi merupakan kegiatan terpenting, karena sudah
memahami dan memaknai berbagai hal yang ditemui dari mulai
melakukan pencatatan peraturan-peraturan, pola-pola, pernyataan,
arahan, sebab-akibat, dan berbagai proposisi, kesimpulan yang perlu
diverifikasi yang berupa suatu pengulangan dengan gerak cepat, sebagai
pikiran kedua yang timbul melintas pada penelitian waktu menulis
dengan melihat kembali (fieldnotes) atau catatan lapangan.
Analisis data dilakukan dengan model interaktif. Proses analisis
interaktif dimulai pada waktu pengumpulan data, peneliti selalu
membuat reduksi data dan kajian data, artinya data yang berupa catatan
lapangan yang terdiri dari satu peneliti membuat ringkasan tentang
pengertian yang ada disebut dengan reduksi data. Setelah selesai,
peneliti mulai melakukan usaha menarik kesimpulan dengan verifikasi
yang berdasarkan pada reduksi data dan sajian data. Bila data yang
dalam reduksi data dan sajian data kurang lengkap, maka wajib
melakukan pengumpulan data kembali yang mendukung. Dengan
analisis interaktif dan akan diperoleh gambaran yang jelas mengenai
Manajemen Pelaksanaan Pendidikan MA Salafiyah Mu’adalah Pondok
Tremas Pacitan.
69
Pengumpulan
data
Reduksi
data
Penyajian
data
Penarikan
kesimpulan
Gambar 3.1
Model Analisis Interaktif (Sumber Sugiyono, 2013: 338)
Dalam pengambilan kesimpulan perlu diverifikasi dengan
melakukan aktivitas ulangan untuk tujuan agar lebih mantap, dengan
penelusuran data kembali, dengan mengembangkan ketelitian misalnya
mengembangkan konsensus antar subyek.
70
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran umum Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok
Tremas Pacitan
1. Letak
geografi
MA
Salafiyah
Mu’adalah
Pondok
Tremas
(MASMPTP)
MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas adalah lembaga
pendidikan yang berada di bawah naungan Perguruan Islam Pondok
Tremas yang mana PIP Tremas adalah salah satu pondok yang cukup tua
umurnya, yang berdiri pada tahun 1830 M, yang dipelopori oleh beliau
KH. Abdul Mannan. Jika ditinjau dari letak geografisnya, Pondok Tremas
berada di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan.
Sedangkan Pacitan adalah sebuah kota di tepi pantai selatan yang terletak
pada garis lintang selatan: 8'3-8'17 bujur timur 11'2-11'28. Posisi pondok
Tremas, berjarak 135 Km dari kota Solo dan 70 Km dari kota Ponorogo.
Gambar 4.1
Peta Pacitan
70
71
Desa Tremas terletak pada 11 kilometer dari kota Pacitan, ke arah
utara, dan 1 kilometer dari kecamatan Arjosari. Desa Tremas memiliki luas
wilayah sebesar 285,28 Ha. Desa Tremas dibatasi oleh beberapa desa,
yaitu:
a. Sebelah utara, dibatasi oleh Desa Gayuhan.
b. Sebelah timur, dibatasi oleh Desa Jatimalang.
c. Sebelah selatan, dibatasi oleh Desa Arjosari.
d. Sebelah barat dibatasi oleh Desa Sedayu.
Desa Tremas memiliki 6 dusun dan 4 anak dusun. Keenam dusun
itu adalah: dusun Krajan, dusun Kulak, dusun Pojok, dengan anak dusun
Gunung Lembu, dusun Karang Asem, dengan anak dusun Pageran, Dusun
Lenjoh, dengan anak dusun Ngepoh, dan dusun Tanjung dengan anak
dusun Plumpung.
Gambar 4.2
Peta Tremas
72
Desa Tremas dikelilingi oleh bukit-bukit dan di sebelah utara
sampai ke timur Desa Tremas mengalir sungai Grindulu yang selalu
membawa lumpur banjir di waktu musim penghujan. Oleh karenanya
pondasi rumah penduduk desa tersebut rata-rata sangat tinggi bila
dibandingkan dengan pondasi rumah penduduk di daerah yang bebas
banjir.
Mata pencaharian penduduknya adalah bertani, yakni bercocok
tanam padi, kacang tanah, kelapa, pisang, sayur mayur dan sebagainya.
Karena Pacitan merupakan daerah yang minus dan tandus maka tidaklah
aneh jika masyarakatnya sedikit ketinggalan jika dibandingkan dengan
masyarakat daerah lain, khususnya dalam bidang ekonomi. Dengan uraian
tersebut kita dapat menggambarkan kehidupan rakyat di daerah itu, yang
sedikit banyak dapat mempengaruhi keadaan Pondok Tremas (Muhammad
HD, 2001: 22).
2. Sejarah berdirinya MA Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas
MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas dulunya bernama MA
Salafiyah yang berdiri pada tahun 1952 di bawah kepemimpinan KH.
Kharis Dimyathi, dan sekitar tahun 1960 namanya berganti menjadi
Mu‟allimin Tingkat Atas, dan pada tahun 1996 dikembalikan lagi menjadi
MA Salafiyah dengan alasan bahwa Mu‟allimin bukanlah nama jenjang
pendidikan (Dokumen MASMPTP).
Sampai pada tahun 2006 MA Salafiyah Pondok Tremas mengikuti
program Mu‟adalah dan berubah menjadi MA Salafiyah Mu‟adalah.
73
Adapun alasan mengikuti program mu‟adalah adalah karena mu‟adalah
dinilai lebih memperkuat identitas salafiyah pondok pesantren.
Aktivitas MASMPTP sejalan dengan aktivitas PIP Tremas karena
MASMPTP berada di bawah naungan PIP Tremas, di samping itu letaknya
yang berada di lingkungan pondok, sehingga antara madrasah dan pondok
saling mengisi satu sama lain. Untuk tenaga pengajar diambilkan dari guru
yayasan yang dipilih dari guru-guru yang membidangi mata pelajaran
tertentu dan yang dianggap senior, selain itu juga mengambil guru-guru
dari luar pondok untuk bidang studi tertentu. Dengan demikianlah dari
tahun ke tahun MASMPTP mengalami banyak perkembangan dan
kemajuan serta mempunyai nilai plus karena siswanya diwajibkan di
asrama untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang mendukung prestasi
akademiknya secara wajib.
Profil MASMPTP secara lengkap dapat kita lihat dalam gambar
sebagai berikut:
Gambar 4.3
Profil Sekolah MASMPTP
NO
1
2
3
4
IDENTITAS
Nomor Statistik sekolah
NPSN
Nama Sekolah
Alamat
Jalan
Desa/ Kelurahan
Kecamatan
Kabupaten/Kota
KETERANGAN
31 205 12 06 389
31 389
Madrasah
Aliyah
Salafiyah
Mu‟adalah Pondok Tremas
Patrem No.21
Tremas
Arjosari
Pacitan
74
Provinsi
Kode Pos
Kode Area/ No. Telp. Fax
E-mail
Sekolah Dibuka Tahun
Bentuk Sekolah
Status Sekolah
Waktu Penyelenggaraan
Tempat Penyelenggaraan
Jawa Timur
63581
0357/631001
www.pondoktremas.com
1952
Formal
Terakreditasi A
Pagi
Gedung
madrasah
Pondok
Tremas
(Sumber: Dokumen MASMPTP, 2007)
5
6
7
8
9
Sejak berdiri tahun 1952 MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas
telah mengalami empat kali pergantian kepala sekolah, yang pernah
menjabat kepala sekolah ialah:
a.
b.
c.
d.
KH. Kharis Dimyathi tahun 1952-1996.
KH. Habib Dimyathi tahun 1996-1998.
KH. Luqman Haris Dimyathi tahun 1998-2007.
H. Abdillah Nawawi, Lc tahun 2007 sampai sekarang. (Rotal, 2014)
3. Struktur Organisasi
Berdasarkan dokumen MASMPTP tahun pelajaran 2014-2015,
struktur organisasi MASMPTP adalah sebagai berikut:
Kepala
:
H. Abdillah Nawawi, Lc
Wakil Kepala
:
1. H. Achid Turmudzi
2. Hj. Siti Hajaroh, BA
Sekretaris
:
1. Wakhid Hasyim, S.Pd.I
2. Agus Tri Atmojo, S.Pd.I, SA.
3. Try Septya Ningsih
1. Moh. Rofikin, S.Pd.I
Bendahara
2. Siti Azizatur Rofiqoh
Bimbingan
Penyuluhan
&
:
1. Joko Margiyono, S.Th.I
75
2. Salim DK, S.Pd.I
3. Amjad Habib Dimyathi, S.Pd.I
4. Hj. Widad, B.Sc
5. Hj. Jihan Al Hanin
Perawatan
1. Mahmudi, S.Pd.I
2. Muflihin
Wali Kelas
a.
Shobahi Putra
I ( Satu )
II ( Dua )
III ( Tiga )
A
: Mustofa
B
: Muflihin
C
: Sholehan Abdullah
D
: Agus Nur Hidayat, S.Pd.I
A
: Imam Ghozali
B
: Mahmudi, S.Pd.I
C
: Sutarto, S.Pd.I
A
: Nasrowi, S.Pd.I
B
: M. Annajih, S.Pd.I
C
: Santoso, S.Pd.I
A
: Tri Septya Ningsih
B
: Siti Azizatur Rofiqoh
C
: Yanti Nur Arifah, S.Pd.I
b. Shobahi Putri
I ( Satu )
II ( Dua )
: Nafisatin Al Fafa
III ( Tiga )
: Hj. Siti Ni‟mah
(JUKLAK & JUKNIS Perguruan Islam Pondok Tremas 2014-201.11)
76
4. Visi, Misi dan Motto
Setiap lembaga pendidikan mestinya harus mempunyai visi dan
misi masing-masing. Terutama lembaga pendidikan Islam yang menjadi
salah satu tonggak terbentuknya generasi Islami untuk masa depan umat
Islam. Visi MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas adalah Keikhlasan,
kesederhanaan, kebebasan, menolong diri sendiri dan sesama umat, serta
ukhuwah diniyah.
Misi MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas adalah membina
para santri agar berkepribadian Muslim sesuai dengan ajaran-ajaran Islam
serta
menanamkan
rasa
keagamaan
tersebut
di
berbagai
segi
kehidupannya, sehingga akhirnya menjadi orang yang berguna bagi
agama, masyarakat dan Negara.
Adapun motto MA Salafiyah Mu‟adalah adalah “Mencetak Insan
Benar Yang Pintar” (Dokumen MASMPTP Tahun 2012).
5. Manajemen Pelaksanaan Pendidikan
Fokus pada penelitian ini adalah tentang manajemen pelaksanaan
pendidikan, mengetahui hambatan manajemen pelaksanaan pendidikan,
serta cara mengatasi hambatan tersebut di MA Salafiyah Mu‟adalah
Pondok Tremas Pacitan. Manajemen pendidikan itu sendiri terdiri dari 5
komponen
yaitu:
manajemen
kurikulum,
manajemen
personalia,
manajemen keuangan, manajemen kesiswaan, dan manajemen sarana dan
prasarana.
77
a. Manajemen Kurikulum
1) Pelaksanaan Manajemen Kurikulum
Kegiatan pelaksanaan manajemen kurikulum dapat dikaitkan
dengan dua hal, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan tugas guru dan
kegiatan yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
a) Kegiatan yang berkaitan dengan pembagian tugas guru.
(1) Pembagian Tugas Pembelajaran
Berdasarkan hasil wawancara dengan wakil kepala
bidang kurikulum diketahui bahwa:
Proses pembagian tugas guru di MA Salafiyah Mu‟adalah
Pondok Tremas dilaksanakan setiap bulan romadhon
mengingat tahun ajaran barunya adalah menggunakan
kalender hijriyah yakni pada bulan ramadhan. Adapun
kriteria pembagian tugas guru lebih berdasarkan pada
keseniorannya (lamanya mengabdi), pengalaman mengajar
dan memperhatikan kemampuan mengajar.
(2) Pembagian Tugas Membina Ekstrakulikuler
Pembagian tugas membina kegiatan ekstrakulikuler
juga dilaksanakan setiap bulan Ramadhan bersamaan dengan
rapat pembagian tugas pembelajaran. Tugas membina
kegiatan ekstrakulikuler diserahkan kepada masing-masing
wali kelas. Berdasarkan hasil wawancara dengan wakil
kepala bidang kurikulum, beliau mengatakan bahwa:
Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di MASMPTP
diantaranya:
a) PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) adalah organisasi
siswa yang diberi tugas oleh majlis ma’a>ri>f untuk
mengurus dan menangani pelaksanaan peringatan hari
78
besar Islam, yang kepanitiaannya dipercayakan
kepada siswa kelas 3 MA Mu‟adalah.
b) Diba>’iyyah wa alkhit}o>biyyah yaitu kegiatan
pembacaan Al-Barzanji dan kegiatan berpidato
tujuannya untuk mengasah mental dan kemampuan
siswa dalam berpidato, yang kepanitiaannya
dipercayakan kepada siswa kelas 2 MA.
c) Tazayyu>n yaitu kegiatan keindahan dan kebersihan
pondok yang pelaksanaan dan kepanitiaannya
diserahkan kepada siswa kelas 1 MA.
d) PA (Perpustakaan Attarmasie) kegiatan jurnalistik
membuat majalah tahunan, serta menyelenggarakan
acara sarasehan, yang kepanitiaannya diserahkan
kepada siswa kelas 1 MA. Adapun pembagian tugas
guru yang bertanggung jawab terhadap kegiatan
ekstrakulikuler adalah masing-masing guru wali kelas.
Yang bertanggung jawab dalam pembagian tugas ini
adalah tim kurikulum.
Berdasarkan dokumen MASMPTP tahun 2014-2015
Pembimbing Organisai MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok
Tremas adalah sebagai berikut:
(1) PHBI
(2) Diba>’iyyah
(3) PA
(4) Garnisie
(5) JQH
:
1. M.An-Najih
:
2. Hj. Lulu‟ Arifatul Chofiyah
:
1. Imam Ghozali
:
2. Tri Septiya Ningsih
:
1. Mustofa
:
2. Nafisatin Al-Fafa
:
1. Ali Rida Anuraga
:
2. Fatimatuz Zahro
:
1. Mifathuddin
:
2. Mahmudi, S.Pd.I
79
:
3. Siti Azizatur Rofiqoh
:
1. Santoso, S.Pd.I
:
2. Sutarto, S.Pd.I
:
3. Nurul Hidayah
(7) Pormas
:
1. Jahrudin, S.Pd.I
(8) Tazayyun
:
1. Sholehan Abdullah
(6) BMK
(Catatan: Dokumentasi Juklak-Juknis 2014-2015: 12)
b) Kegiatan
yang
Berkaitan
dengan
Proses
Pelaksanaan
Pembelajaran.
(1) Penyusunan Jadwal Pelajaran
Berdasarkan hasil wawancara dengan wakil kepala
bidang kurikulum beliau mengatakan bahwa:
Penyusunana jadwal pelajaran di MASMPTP berlangsung
pada bulan ramadhan, yang bertugas dalam penyusunan
ini adalah tim kurikulum yang bekerjasama dengan
sekretaris pondok, mengingat bahwa MASMPTP berada
di bawah naungan pondok pesantren sehingga segala
kegiatan yang ada berhubungan langsung dengan kegiatan
kepesantrenan. Adapun kalender pendidikan di
MASMPTP menggunakan kalender hijriyah. Penyusunan
jadwal dilaksankan oleh tim kurikulum Madrasah Aliyah
yang dilaksanakan mulai tanggal 1 ramadhan sampai
tanggal 14 Syawal, dengan cara manual dan juga memakai
aplikasi komputer agar jadwalnya tidak tumpang tindih,
pemilihan guru mengajar disesuaikan dengan keahlian
guru, untuk mata pelajaran umum mengambil dari alumni
pondok yang mempunyai dasar pendidikan umum.
(2) Penyusunan Program Pembelajaran
Berdasarkan wawancara dengan wakil kepala bidang
kurikulum beliau mengatakan bahwa:
80
Penyusunan program pembelajaran di MASMPTP
menggunakan
kurikulum
Kemenag
40%
yang
diintegrasikan dengan kurikulum Pondok Pesantren
Tremas dengan persentase 60%, yang penyusunannya
dilaksanakan pada bulan Ramadhan, progam pembelajaran
di MASMPTP menggunakan sistem Caturwulan bukan
semester dan setiap 1 jam pelajarannya waktunya 45
menit.
Adapun
mata
pelajaran
yang
diajarkan
MASMPTP dapat kita lihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 4.1
Mata Pelajaran MASMPTP
NO MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN DASAR
AGAMA
1.
Tafsi>r
2.
H{adist
3.
Fiqh
4.
Ilmu Akhlaq
5.
Tauh}id
6.
Tarikh Islam
7.
Bahasa Arab
8.
Nahwu A
9.
Nahwu B
10.
Balaghah
11.
Qira>’ah
PENDIDIKAN DASAR UMUM
1.
Bahasa Indonesia
2.
Matematika
3.
Bahasa Inggris
4.
IPA
pada
81
PENGEMBANGAN
KEILMUAN
1.
Ilmu Tafsir
2.
Ilmu Hadist
3.
Ushul Fiqh
4.
Qowa>’id alFiqhiyyah
5.
Ta>rikh Tasyri’
MUATAN LOKAL
1.
Ilmu Faroidh
2.
Ilmu Falaq
3.
Tarbiyah
4.
PKN
(Dokumen MASMPTP, 2012)
Berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di
MASMPTP mata pelajaran di MASMPTP dibagi menjadi
dua bentuk, yaitu mata pelajaran tah{riri dan mata pelajaran
syafahi.
(1) Mata pelajaran tah{riri adalah mata pelajaran yang
evaluasi pembelajarannya menggunakan tes tulis.
(2) Mata pelajaran syafahi adalah mata pelajaran yang
evaluasi
pembelajarannya
menggunakan
tes
lisan
(Pengalaman penulis tahun 2007-2011).
Kategori mata pelajaran satu dan dua di MASMPTP
tampak dalam tabel sebagai berikut:
82
Tabel 4.2
Kategori Mapelajaran Takhriri dan Syafahi
NO MAPEL
NO
MAPEL SYAFAHI
TAKHRIRI
1.
Tafsi}r
1.
H}a>di>st
2.
Ta>ri>kh isla>m
2.
Fiqh
3.
Nah}wu A
3.
Akhla>q
4.
Balaghoh
4.
Tauhid
5.
Bahasa Indonesia
5.
Bahasa Arab
6.
Matematika
6.
Nah}wu B
7.
Bahasa Inggris
7.
Qiro>ah
8.
IPA
8.
Qowa>’id al Fiqhiyah
9.
Ilmu Tafsi}r
10.
Ilmu H}adi>st
11.
Ushul fiqh
12.
Ta>ri>kh Tasyri’
13.
Ilmu Faro>idh
14.
Ilmu Falaq
15.
Tarbiyah
16.
PKN
(Pengalaman penulis tahun 2007-2011)
Dengan banyaknya mata pelajaran yang harus diampu
siswa maka MASMPTP melakukan upaya agar tujuan
pembelajaran bisa tercapai secara efektif dan efisien, diantara
upaya-upaya tersebut ialah:
(1) Takror ialah kegiatan belajar siswa untuk mengulangi
pelajaran yang telah disampaikan yang dilaksanakan
pukul 20.00-21.00 istiwak untuk siswi dan pukul 21.00-
83
22.00 di kelas masing-masing dan dikontrol oleh masingmasing guru wali kelas.
(2) Klasikal ialah jam tambahan yang dilaksanakan guru
bidang pelajaran khusus yang perlu penjabaran panjang
sehingga memerlukan waktu tambahan di luar KBM.
(3) Sorogan ialah siswa satu per satu membaca materi
pelajaran sekaligus menjelaskan di depan seorang guru
dengan tujuan untuk menguji sejauh mana pemahaman
siswa terhadap mata pelajaran tersebut sekaligus menguji
mental siswa yang biasanya dilaksanakan setiap pagi
sebelum jam sekolah pagi (Dokumen MASMPTP, 2012).
(3) Pengisian Daftar Kemajuan Kelas
Daftar kemajuan kelas berfungsi untuk memudahkan
dalam pengontrolan sejauh mana materi yang telah
disampaikan pada kelas tersebut. Adapun daftar kemajuan
kelas yang berada di MASMPTP adalah berupa buku yang
pengisiannya dilaksanakan setelah selesai mengajar, dengan
format di bawah ini:
Tabel.4.3
Format Daftar Kemajuan Kelas
NO
MATA
PELAJARAN
MATERI GURU FAK
PARAF
84
Buku kemajuan kelas di MASMPTP selain berfungsi
untuk
mengontrol
sejauh
mana
materi
yang
telah
disampaikan juga berfungsi untuk mengontrol keaktifan guru,
karena
dalam
buku
tersebut
terdapat
paraf
yang
mengindikasikan bahwa guru tersebut hadir atau tidak.
(4) Penyelenggaraan Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi hasil belajar berguna dan bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah
disampaikan oleh guru. Menurut keterangan dari Waka
Kurikulum bahwa penyelenggaraan evaluasi hasil belajar
yang ada di MASMPTP ada tiga bentuk:
(a) Imtih}a<n adalah ujian kenaikan kelas yang dilaksanakan
satu tahun tiga kali yaitu setiap bulan Muharrom,
Jumadil Awwal, dan Sya‟ban. Imtihan dilaksanakan
selama 2 minggu, satu minggu ujian tulis dan 1 minggu
ujian lisan.
(b) Munaqosah
dikhususkan
bagi
kelas
tiga
yang
dilaksanakan sebelum imtihan ke 3 sekaligus sebagai
salah satu syarat kelulusan, adapun materinya adalah AlQur‟an, Tajwid, Bahasa Arab, dan Fiqh.
(c) Praktek mengajar yang dikhususkan bagi kelas tiga
Aliyah.
85
Praktek mengajar ialah siswa kelas tiga Aliyah
mengajar siswa Madrasah Tsanawiyah dengan materi yang
telah ditentukan oleh panitia praktek mengajar. Adapun
materi yang digunakan adalah: Nahwu, Shorof, Arobiyah,
dan Fiqh (Dokumen MASMPTP, 2007).
(5) Laporan Hasil Evaluasi
Dari hasil wawancara dengan Waka Kurikulum,
bahwa laporan hasil evaluasi di MASMPTP adalah berupa
buku
raport
yang
berfungsi
sebagai
alat
untuk
menginformasikan kepada orang tua tentang keberhasilan
siswa dalam belajar. Dari data yang didapatkan penulis
bahwa di MASMPTP nilai tertinggi adalah 94 dan nilai
terendah adalah 40 (Dokumen MASMPTP, 2012).
(6) Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan
Dari hasil wawancara dengan Waka Kesiswaan beliau
mengatakan, bahwa:
Kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan di MASMPTP tidak
hanya menangani masalah di madrasah melainkan juga
masalah di asrama, karena siswa MASMPTP wajib
berdomisili di asrama, karena BP tidak ada jam pelajaran
di kelas sehingga waktunya mengambil jam istirahat
ataupun jam malam. Biasanya yang ditangani BP adalah
hal yang menyangakut moral/etika, kemudian terkait
kasus-kasus yang ada kaitannya dengan madrasah maka
diselesaikan di level BP melibatkan wali kelas dan kepala
madrasah, tapi jika berkaitan dengan masyarakat di luar
madrasah maka BP dan wali kelas bermusyawarah dengan
keamanan pondok dan aparat desa.
86
c) Kekhasan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok
Tremas Pacitan
Kekhasan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di
Pondok Tremas Pacitan adalah kurikulum Madrasah Aliyah
Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan merupakan
integrasi antara kurikulum agama dengan kurikulum Salafiyah
dengan prosentase 40% kurikulum agama dan 60% kurikulum
Salafiyah. Hal ini menunjukan kekhasan sekaligus kemandirian
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas dalam
pelaksanaan manajemen kurikulum.
Dalam menyelenggarakan evaluasi belajar, Madrasah
Aliyah Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas meggunakan tiga
model: 1) Imtihan: ujian kenaikan kelas. 2) Munaqosah: tes lisan
khusus kelas tiga, sebelum imtihan III sebagai salah satu syarat
kelulusan. 3) Praktek mengajar : khusus kelas tiga, sebagai syarat
kelulusan.
Sedangkan untuk pendalaman kitab di Madrasah Aliyah
Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas meliputi: kitab Ihya‟
Ulumuddin, Ta‟limul Muta‟alim, Kifayatul Ahyar, Al-Adzkar,
Dzurrotunnasikhin, Al-jami‟us Shoghir, tafsir Jalalain, tafsir Ibnu
Abbas, tafsir Ayatul Ahkam, Fatkhul Mu‟in, kitab Shahih
Bukhori dan Shahih Muslim.
87
2) Hambatan Pelaksanaan Manajemen kurikulum
Terkait
hambatan
pelaksanaan
manajemen
kurikulum,
menurut penuturan Waka Kurikulum adalah:
a) Proses regenerasi yang terlalu cepat, karena tiap tahunnya pasti
ada guru yang ijin pulang, sehingga harus mencari guru pengganti
yang berkompeten.
b) Seringkali adanya permintaan perubahan jadwal di tengah-tengah
berlangsungnya KBM.
3) Cara Mengatasi Hambatan Pelaksanaan Manajemen Kurikulum
Untuk mengatasi kedua hambatan pelaksanaan manajemen
kurikulum tersebut ialah:
a) Lebih banyak mengangkat guru lokal (berasal dari sekitar pondok
Tremas) sehingga lebih lama masa mengabdinya dan tidak
menutup kemungkinan untuk kemudian diangkat menjadi guru
tetap yayasan.
b) Diadakan jadwal sementara sehingga ketika ada perubahan di
tengah KBM semua komponen baik itu guru maupun siswa lebih
siap.
b. Manajemen Kesiswaan
1. Pelaksanaan Manajemen Kesiswaan
Sebelum menjelaskan pelaksanaan manajemen kesiswaan di
MASMPTP terlebih dahulu akan dijelaskan gambaran keadaan siswa
tahun pelajaran 2014-2015. Peserta didik di MASMPTP tahun
pelajaran 2014-2015 berjumlah 586 siswa yang terbagi dalam 17
88
rombongan belajar. Gambaran tersebut dapat dilihat dalam tabel di
bawah ini:
Tabel 4.4
Rincian jumlah siswa MASMPTP 2014-2015
Kelas
Jumlah Siswa
1 MA PI A
32
1 MA PI B
34
1 MA PI C
32
2 MA PI A
40
2 MA PI B
38
3 MA PI A
33
3 MA PI B
34
1 MA PA A
34
1 MA PA B
34
1 MA PA C
35
1 MA PA D
35
2 MA PA A
38
2 MA PA B
38
2 MA PA C
38
3 MA PA A
30
3 MA PA B
30
3 MA PA C
31
TOTAL
586
(Dokumen MASMPTP tahun 2014-2015)
Manajemen
pelaksanaan
kesiswaan
meliputi
kegiatan
pencatatan murid semenjak dari proses penerimaan sampai saat
meninggalkan sekolah karena sudah tamat mengikuti pendidikan
pada sekolah itu. Secara lebih rinci kegiatan-kegiatan tersebut
meliputi:
89
a) Penerimaan Siswa Baru
Berdasarkan hasil wawancara dengan Waka kesiswaan
bahwa pada dasarnya sistem penerimaan siswa baru di
MASMPTP ada tiga mekanisme:
(1) Jalur regular yaitu siswa baru dari lulusan MTs Pondok
Tremas itu sendiri.
(2) Jalur khusus (Mumtaz) yaitu bagi lulusan SMP/SMA dari
luar pondok Tremas.
(3) Jalur tes yaitu bagi siswa/siswi lulusan tingkat SMP/SMA
dari luar pondok Tremas yang tidak melewati jalur khusus.
Penerimaan siswa baru di MASMPTP dilaksanakan setiap
tanggal 15 sampai 20 Syawal yang dilaksanakan oleh panitia
penerimaan siswa baru yang dibentuk setiap tahun ajaran baru.
Penerimaan siswa baru di MASMPTP tidak menggunakan
batasan usia sebagaimana di sekolahan formal lainnya, serta tidak
dibatasi daya tampungnya, adapun syarat siswa yang diterima
adalah lulusan MTs Pondok Tremas atau lulusan Mumtaz 2 atau
lulus sistem ujian. Hal ini dibuktikan dengan adanya data Panitia
Tes Masuk Santri sebagai berikut:
Ketua
:
Mukhibuddin,S.Pd.I
Sekretaris
:
Ahmad Shohih
Bendahara
:
Mustofa
Anggota
:
1. Agus Nur Hidayat, S.Pd.I
90
2. Dwi Tantra
3. Nurul Hidayah
(Juklak & Juknis Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan 2014-2015)
Siswa-siswi di MASMPTP tidak hanya berasal dari kota
Pacitan saja, tetapi berasal berbagai daerah di seluruh Indonesia,
hal ini dibuktikan dengan adanya ikatan Organisasi yang
berfungsi sebagai sarana penghubung antara pondok dengan wali
santri dan alumni, serta sebagai pengemban misi dan syi‟ar di
daerahnya masing-masing. Diantara organisasi-organisasi daerah
tersebut ialah:
(1) IKSARI (Ikatan Santri Attarmasie Riau) Riau
(2) IKSARAJA (Ikatan Santri Attarmasie Luar Jawa)
(3) HIPRIA ( Himpunan Putra Putri Raden Intan Attarmasie )
Lampung
(4) IKSATA (Ikatan Santri Attarmasie Jakarta) Jakarta
(5) IKSAPAS (Ikatan Santri Attarmasie Pasundan) Jawa Barat
(6) RIM (Roudlotul Islam Mardhiyyah) Tegal
(7) RIM (Roudlotul Islam Mardhiyyah) Brebes
(8) HISBAN (Himpunan Santri Banyumas) Purwokerto
(9) KEDU (Kebumen, Magelang, Temanggung, Paraan)
(10) KESIP ( Keluarga Santri Indonesia Pekalongan)
(11) KESAS (Keluarga Santri Attarmasie Semarang)
(12) IKSAS (Keluarga Santri Attarmasie Salatiga)
91
(13) IKASANDA (Keluarga Santri Attarmasie Daerah Surakarta)
(14) IKSAP (Ikatan Keluarga Santri Purwodadi)
(15) IKSADARI (Ikatan Keluarga Santri Daerah Wonogiri)
(16) ROTASIYOGA (Roudhoh Tholabah Islamiyah Yogyakarta)
(17) IPPAPONMAS ( Ikatan Pelajar Pacitan Pondok Tremas)
(18) SOSAREMA (Solidaritas Santri Karesidenan Madiun)
(19) GASPAKARI ( Gabungan Santri Karesidenan Kediri)
(20) ISAKAS (Ikatan Santri Karesidenan Surabaya)
(21) IKSB (Ikatam Santri Attarmasie Banyuwangi.(Muhammad
HD,2001:73).
b) Pencatatan Siswa dalam Buku Induk
Berdasarkan hasil wawancara dengan Waka Kesiswaan
bahwa:
Tugas pencatatan murid baru dalam buku induk di MASMPTP
adalah tugas panitia penerimaan murid baru. Adapun sistem
pelaksanaannya adalah dengan cara merekap data formulir
pendaftaran siswa-siswi baru di MASMPTP.
c) Pencatatan Siswa dalam Buku Kleper
Berdasarkan hasil wawancara dengan Waka Kesiswaan
beliau mengatakan, bahwa:
Pencatatan murid baru dalam buku induk maupun buku kleper
adalah tugas panitia penerimaan murid baru.
d) Tata Tertib Siswa
Tata tertib ini terdiri dari tata tertib pesantren, tata tertib
Madrasah, tata tertib asrama putra dan tata tertib asrama putri
92
(Dokumen MASMPTP 2014-2015). Secara lengkap tentang tata
tertib pondok tremas akan penulis lampirkan.
e) Daftar Presensi
Dari hasil wawancara dengan Waka Kesiswaan beliau
mengatakan, bahwa:
Salah satu fungsi daftar presensi ialah digunakan sebagai alat
untuk mengontrol kehadiran dan kedisiplinan siswa dalam
mengikuti pelajaran. Daftar presensi siswa di MASMPTP ada
3 yakni presensi Madrasah, presensi kegiatan, dan presensi
asrama.
2. Hambatan Pelaksanaan Manajemen Kesiswaan
Terkait hambatan manajemen kesiswaan menurut penuturan
Waka Kesiswaan ialah sumber daya manusia yang melaksanakan
tugas manajemen kesiswaan secara kuantitas dan kualitas masih
banyak kekurangan.
3. Cara Mengatasi Hambatan Pelaksanaan Manajemen Kesiswaan
Adapun cara mengatasi terkait hambatan pelaksanaan
manajemen kesiswaan ialah dengan menambah sumber daya
manusia dan memberi pelatihan pelaksanaan manajemen kesiswaan
untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam melaksanakan
manajemen kesiswaan.
c. Manajemen Personalia
1. Pelaksanaan Manajemen Personalia
Pada prinsipnya yang dimaksud dengan personalia di sini
ialah orang yang melaksanakan suatu tugas untuk mencapai tujuan.
93
Dalam hal ini di sekolah dibatasi dengan sebutan pegawai. Secara
terperinci dapat disebutkan keseluruhan personel sekolah ialah:
kepala sekolah, guru, pegawai, tata usaha dan pesuruh/penjaga.
Adapun kegiatan-kegiatan manajemen personalia meliputi daftar
personal, daftar hadir guru dan karyawan, dan daftar konduite.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Waka Personalia
bahwa:
Sistem pengadaan guru baru dilaksanakan melalui dua langkah.
Langkah yang pertama ialah melalui penentuan kebutuhan guru,
yang kedua melalui rekrutmen dan seleksi. Adapun penentuan
kebutuhan guru baru berdasarkan atas jumlah guru yang ada serta
kecenderungan jumlah siswa baru, maka MASMPTP membuat
proyeksi kebutuhan guru baru. Hasil proyeksi dituangkan dalam
daftar kebutuhan dan kekurangan guru. Tim rekrutment guru
terdiri dari masyayikh dan guru senior yang pelaksanaannya setiap
bulan Sya’ban.
Adapun standard penentuan guru baru MA Salafiyah
Mu‟adalah Pondok Termas Pacitan, ialah:
a) Alumni Pondok Tremas.
b) Sudah mengajar di MTs Pondok Tremas minimal 3 tahun.
c) Memiliki kepribadian yang baik.
d) Memiliki sifat ummuah (keibuan) ubbuah (sifat kebapakan) ini
yang paling penting.
e) Secara akademik lulus.
f) Paham tentang keorganisasian.
g) Bersih dari catatan pelanggaran terutama yang bersifat syar‟i
(Sumber: Data MASMPTP, 2007).
94
Dari hasil wawancara dengan Waka Personalia bahwa:
Di MASMPTP mengenal sistem Reward and Punisment,
bagi guru MASMPTP reward itu sangat berguna sekali,
tidak hanya sebuah penghargaan tetapi sebagai penambah
semangat guru dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar, sebaliknya ada guru yang melakukan
pelanggaran maka guru langsung dipanggil dan diberi
nasihat oleh kepala madrasah, apabila guru tersebut
melakukan pelanggaran yang kedua kalinya maka kepala
madrasah melaporkan kepada pimpinan yayasan dan
kemudian dilakukan musyawarah seluruh pengurus
yayasan apakah guru tersebut masih diperbolehkan
mengajar atau dicabut SK mengajarnya sebagai bentuk
Punisment.
Hal ini dibuktikan dengan adanya Dewan Pembina Guru
yang mempunyai Tugas dan Wewenang sebagai berikut:
a) Mengawasi, mengontrol, dan mengevaluasi kinerja guru
b) Memberikan penghargaan atas kinerja guru
c) Memberikan teguran & pembinaan bagi guru
d) Menjadi maraji` bagi seluruh guru (Sumber: Data MASMPTP,
20012).
Menurut Waka Personalia Salah satu cara MASMPTP dalam
mengontrol keaktifan guru ialah:
Mengadakan absensi di setiap kelas (absensi kehadiran guru)
yang setiap minggu direkap dan kemudian dilaporkan kepada
kepala madrasah yang selanjutnya melayangkan surat teguran
bagi guru yang ghoib/tidak mengajar tanpa alasan.
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan Waka
Personalia MASMPTP mengatakan, bahwa:
Jumlah guru MASMPTP pada tahun 2013/2014 berjumlah 57,
terdiri dari guru khoriji dan guru dakhili. Guru dakhili ialah guru
yang berdomisili di asrama, selain mengajar mereka bertugas atau
95
bertanggung jawab terhadap kegiatan siswa di asrama. Sedangkan
guru khoriji adalah guru yang berdomisili di luar asrama,
umumnya mereka sudah berkeluarga dan berasal dari daerah
Pacitan.
Daftar guru MASMPTP dapat kita lihat dalam tabel sebagai
berikut:
Tabel 4.5
Daftar guru MASMPTP
1.
KH. Fuad Habib Dimyathi
Pacitan
PENDIDIKAN
TERAKHIR
MA Pondok Tremas
2.
KH. Luqman Harist Dimyathi
Pacitan
MA Pondok Tremas
3.
H. Rotal
Pacitan
MA Pondok Tremas
4.
H.Achid Turmudzi
Pacitan
MA Pondok Tremas
5.
H.Muhammad Habib, SH
Pacitan
S1
6.
H. Abdillah Nawawi, Lc.
Pacitan
S1
7.
H.Ibnu Salam, S.Pd.I
Pacitan
S1
8.
H. Multazam Surur
Pacitan
MA Pondok Tremas
9.
Busro Hawatif
Pacitan
MA Pondok Tremas
10.
Ahmad Fauzie
Pacitan
S1
11.
Drs. Agus Salim
Pacitan
S1
12.
H. Amjad Habib
Pacitan
S1
13.
Sujak Basuni
Pacitan
MA Pondok Tremas
14.
Salim DK
Pacitan
MA Pondok Tremas
15.
Jabir, S.Pd.I
Pacitan
S1
16.
Moh Mungid, S.Pd.I
Pacitan
S1
17.
Riyanto
Pacitan
MA Pondok Tremas
18.
Dasuki
Pacitan
S1
19.
Muadzin, S.Pd.i
Pacitan
S1
20.
Rifki Hamiyal Hadi
Pacitan
S1
21.
M.Mahzum
Pacitan
MA Pondok Tremas
NO
NAMA
ALAMAT
96
22.
Moh. Anhar, S.Pd.I
Pacitan
S1
23.
Tiyarso Yusuf, S.Pd.I
Pacitan
S1
24.
Ahmad Fattah Yasin, S.Th.I
Banyuwangi
S1
25.
Moh. Rofiqin, S.Pd.I
Pacitan
S1
26.
Joko Margiono, S.Th.I
Boyolali
S1
27.
Mukhibuddin, S.Pd.I
Pacitan
S1
28.
Zainal Mustaqim, S.Pd.I
Pacitan
S1
29.
Muhammad Annajih, S.Pd.I
Salatiga
S1
30.
Ali Mufron, M.Pd.I
Tegal
S1
31.
Ahmad Mahfudli, S.Th.I
Demak
S1
32.
Santoso , S.Pd.I
Pacitan
S1
33.
Ahmad Sohih
Demak
MA Pondok Tremas
34.
Nasrowi, S.Pd.I
Pacitan
S1
35.
Sutarto, S.Pd.I
Grobogan
S1
36.
Imam Ghozali
Grobogan
MA Pondok Tremas
37.
Muflihin
Pekalongan
MA Pondok Tremas
38.
Sholehan Abdullah
Pekalongan
MA Pondok Tremas
39.
Mustofa
Jambi
MA Pondok Tremas
40.
Agus Nur Hidayat
Boyolali
S1
41.
Hj.Widad, BA
Pacitan
D3
42.
Hj. Masnu‟ah
Pacitan
MA Pondok Tremas
43.
Hj. Siti Hajaroh, BA
Pacitan
D3
44.
Hj. Jihan Al Hanin
Pacitan
MA Pondok Tremas
45.
Hj. Siti Sundusin
Pacitan
MA Pondok Tremas
46.
Hj. Siti Ni‟mah
Pacitan
MA Pondok Tremas
47.
Hj. Lu‟lu‟ Arifah CH.
Pacitan
MA Pondok Tremas
48.
Nur Zaidah
Pacitan
MA Pondok Tremas
49.
Siti Romelah, S.P.d
Pacitan
S1
50.
Halimah
Pacitan
MA Pondok Tremas
51.
Dra. Hj. Suprihatin
Pacitan
S1
97
52.
Sri Nuryati, SE
Pacitan
S1
53.
Zulfa Nur Aini S.Pd.I
Pacitan
S1
54.
Yanti Nur „arifah, S.Pd.I
Pacitan
S1
55.
Nafisatin Al Fafa
Klaten
MA Pondok Tremas
56.
Tri Septya Ningsih
Pekalongan
MA Pondok Tremas
57.
Siti Azizatur Rofiqoh
Purwokerto
MA Pondok Tremas
(Sumber: Juklak & Juknis PIPTP 2014-2015 (hlm.22)
2. Hambatan Pelaksanaan Manajemen Personalia
Adapun permasalahan yang terdapat pada pelaksanaan
manajemen personalia menurut penuturan waka personalia adalah
permasalahan yang bersifat mudawamah yaitu regenerasi di setiap
tahunnya, jadi ketika guru itu sudah mulai meningkat kemampuan
mengajarnya, dia harus kembali ke masyarakat tempat tinggalnya.
3. Cara mengatasi Hambatan Pelaksanaan Manajemen Personalia
Cara mengatasi hambatan pelaksanaan manajemen personalia
sementara ini ialah dengan menganjurkan kepada guru baru masuk
Ma‟had Aly untuk menempuh pembelajarannya selama 4 tahun guna
memperoleh gelar sarjana, jadi guru baru tersebut masih bisa lebih
lama mengabdi, dan merekapun lebih siap berbaur dengan
masyarakat karena sudah bergelar sarjana.
d. Manajemen Keuangan
1. Pelaksanaan Manajemen Keuangan
Setiap unit kerja selalu berhubungan dengan masalah
keuangan, demikian pula sekolah. Keuangan MASMPTP secara
98
garis besar bersumber dari uang sumbangan pembinaan pendidikan
(SPP), uang kesejahteraan personal, dan gaji serta keuangan yang
berhubungan langsung dengan penyelenggaraan sekolah seperti
perbaikan sarana dan sebagainya.
Dari hasil wawancara dengan Bendahara MASMPTP beliau
mengatakan, bahwa:
Sumber dana penyelenggaraan pendidikan MASMPTP adalah
berasal dari uang konsidental atau uang bulanan yang sistem
pembayarannya setiap empat bulan sekali menjelang imtihan atau
ujian dan uang tersebut langsung dikelola oleh bendahara
yayasan.
Berdasarkan dokumen yang diperoleh penulis bahwa Jumlah
nominal Syahriyah MASMPTP adalah RP.74.000 (tujuh puluh
empat ribu rupiah), biaya tersebut sudah termasuk biaya Ma’hadiyah
(pondok). Adapun tugas bendahara MASMPTP beliau mengatakan,
bahwa:
Pengelolaan uang BSM sekolah dari pemerintah melalui PD
Pontren dan pengurus membantu menasarupkan pelaksanaan
RAB tersebut dari yayasan. Rancangan anggaran pendidikan
MASMPTP masih mengikuti Rancangan Anggaran Pendidikan
Yayasan Pesantren. Sedangkan bantuan pemerintah adalah berupa
dana BSM yang dikelola langsung oleh bendahara MA
Mu‟adalah.
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa
struktur tertinggi bagian keuangan adalah bendahara yayasan,
bendahara umum, baru kemudian bendahara madrasah.
Sedangkan perincian dana tidak ada, hanya setiap rapat
evaluasi MA Mu‟adalah membutuhkan sarana dan prasarana
99
membuat pengajuan atau proposal kepada bendahara umum,
kemudian bendahara umum melapor kepada bendahara yayasan baru
kemudian direalisasikan langsung dalam bentuk barang sesuai
permintaan.
2. Hambatan Pelaksanaan Manajemen Keuangan
Adapun hambatan terkait pelaksanaan manajemen keuangan
adalah manajemen keuangan MA Mu‟adalah di bawah yayasan
pesantren, jadi setiap kebutuhan madrasah harus mengajukan
proposal ke bendahara yayasan, sehingga untuk setiap kebutuhan
yang diperlukan madrasah kadang-kadang tidak tepat waktu dari apa
yang dijadwalkan, meskipun akhirnya tetap terealisasi walaupun
terlambat.
3. Cara Mengatasi Hambatan Pelaksanaan Manajemen Keuangan
Cara mengatasinya
hambatan pelaksanaan
manajemen
keuangan untuk sementara ini dengan mengoptimalkan keuangan
yayasan dan mempermudah prosedur pengajuan proposal pengadaan
sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran madrasah.
e. Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan Prasarana
1. Pelaksanaan Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan
Prasarana
Berdasarkan hasil wawancara dengan Waka Sarana dan
Prasarana, bahwa:
Pada dasarnya sistem pengadaan Sarana dan Prasarana di
MASMPTP adalah swadaya dari yayasan pondok Tremas, artinya
100
pembangunan gedung dan pengadaan peralatan belajar mengajar
semua berasal dari yayasan, sedangkan bantuan dari pemerintah
yang dikhususkan bagi MASMPTP selama ini belum ada.
Dari hasil wawancara juga diketahui bahwa pendataan sarana
dan prasarana di masing-masing ruangan dan sistem inventarisasinya
juga belum ada. Sedangkan yang bertanggung jawab terhadap
pengawasan apabila ada kerusakan dan perbaikan adalah seksi
sarana dan prasarana.
Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh MASMPTP adalah
gedung sekolah, kantor, kelengkapan-kelengkapan di ruang kelas,
laboratorium bahasa, laboratorium komputer, perpustakaan, dan
aula.
2. Usaha Pengembangan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di
Pondok Tremas Pacitan
Usaha Pengembangan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah
di Pondok Tremas Pacitan di bagi menjadi 2 yaitu Fisik dan Non
Fisik. Usaha pengembangan fisik meliputi: usaha mandiri madrasah
dan usaha Pondok Pesantren Tremas Pacitan. Usaha mandiri
madrasah meliputi koperasi madrasah, kantin dan foto kopi.
Sedangkan usaha Pondok Pesantren Tremas Pacitan meliputi
konveksi, toko kitab dan buku, toko kelontong, penggilingan padi,
warnet, wartel dan percetakan. Usaha-usaha tersebut untuk
pengembangan sarana dan prasarana Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah agar dapat memenuhi kebutuhan kegiatan belajar
101
mengajar
santri.
Usaha
pengembangan
non
fisik
meliputi:
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan
mengembangkan jaringan bagi alumninya untuk melanjutkan ke
jenjang perguruan tinggi di antaranya melalui Program Beasiswa
Santri Berprestasi (PBSB). Beasiswa ini merupakan beasiswa S1 dari
Depag/Kemenag yang khusus diperuntukkan untuk santri pondok
pesantren yang akan lulus madrasah aliyah (MA) dan sederajat.
Yang lulus dalam seleksi beasiswa ini akan dapat melanjutkan ke
perguruan tinggi.
3. Jaringan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok
Tremas Pacitan
Jaringan
usaha
pengembangan
sarana
dan
prasarana
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan di
bagi menjadi 2, yaitu: Usaha Mandiri Pondok Pesantren Tremas
Pacitan dan Bantuan Pemerintah (Kemenag). Usaha mandiri Pondok
Pesantren Tremas Pacitan dibagi menjadi 2 yaitu: Pertama, usaha
mandiri madrasah meliputi koperasi madrasah, kantin dan foto kopi.
Kedua, usaha Pondok Pesantren Tremas Pacitan meliputi konveksi,
toko kitab dan buku, toko kelontong, penggilingan padi, warnet,
wartel dan percetakan. Hasil dari usaha ini digunakan untuk
pengembangan sarana dan prasarana berupa pembangunan gedung
dan lain-lain. Sedangkan bantuan dari pemerintah dalam hal ini
102
Kemenag berupa dana BOS digunakan untuk membiayai operasional
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan.
4. Hambatan
Pelaksanaan
Manajemen
Perawatan
Preventif
pelaksanaan
manajemen
perawatan
Sarana dan Prasarana
Adapun
hambatan
preventif sarana dan prasarana adalah kekurangan ruang kelas,
karena kelas yang dibutuhkan tidak sebanding dengan jumlah siswa
yang diterima pada tahun ajaran baru ini, sehingga perlu ditambah
karena tahun ini jumlah siswa melebihi jumlah ruangan kelas yang
tersedia. Untuk ruang kelas Ma Mua‟dalah Putri tahun kemarin
sudah tercukupi ruangannya karena tahun ini bertambah siswa
putrinya perlu tambahan satu ruang kelas lagi. Kelayakan ruang
kelasnya masih di bawah standar karena selain sempit ruang
kelasnya terdapat tiang-tiang yang besar di dalamnya, sehingga
mengganggu pandangan guru terhadap siswa.
5. Cara Mengatasi Hambatan Pelaksanaan Manajemen Perawatan
Preventif Sarana dan Prasarana
Pengadaan sarana dan prasarana terutama ruangan sekolah
selama ini masih bermasalah dengan pendanaan, karena pendanaan
yang selama ini digunakan adalah swadaya dari yayasan pondok
pesantren, sumber dana yayasan pondok berasal dari iuran atau
kontribusi dari siswa-siswi yang masuk di pesantren hanya satu kali
pembayaran (uang pembangunan). Adapun cara mengatasinya
103
hambatan tersebut yaitu dengan mengembangkan usaha mandiri
MASMPTP dan usaha pondok pesantren agar sumber pendanaan
untuk pengadaan sarana dan prasarana dapat tersedia dengan segera,
sehingga permasalahan kekurangan ruang kelas dapat segera teratasi.
B. Penafsiran
Manajemen
Pelaksanaan
Pendidikan
MA
Salafiyah
Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan
1. Integrasi Kurikulum Agama dengan Kurikulum Salafiyah
Pelaksanaan manajemen kurikulum Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan merupakan integrasi antara
kurikulum agama dengan kurikulum Salafiyah dengan prosentase 40%
kurikulum agama dan 60% kurikulum Salafiyah. Hal ini menunjukan
kekhasan sekaligus kemandirian Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di
Pondok Tremas dalam pelaksanaan manajemen kurikulum.
2. Sistem Penerimaan Siswa
Pada dasarnya sistem penerimaan siswa baru di MASMPTP ada
tiga mekanisme: Pertama, Jalur regular yaitu siswa baru dari lulusan MTs
Pondok Tremas itu sendiri. Kedua, Jalur khusus (Mumtaz) yaitu bagi
lulusan SMP/SMA dari luar pondok Tremas. Ketiga, Jalur tes yaitu bagi
siswa/siswi lulusan tingkat SMP/SMA dari luar pondok Tremas yang tidak
melewati jalur khusus. Penerimaan siswa baru di MASMPTP dilaksanakan
setiap tanggal 15 sampai 20 Syawal yang dilaksanakan oleh panitia
penerimaan siswa baru yang dibentuk setiap tahun ajaran baru. Penerimaan
104
siswa baru di MASMPTP tidak menggunakan batasan usia sebagaimana di
sekolahan formal lainnya, serta tidak dibatasi daya tampungnya, adapun
syarat siswa yang diterima adalah lulusan MTs Pondok Tremas atau
lulusan Mumtaz 2 atau lulus sistem ujian.
3. Sistem Reward and Punishment untuk Guru
Penerapan
sistem
reward
and
punishment
berguna untuk
meningkatkan kinerja dan profesonalitas guru. Reward itu sangat berguna
sekali bagi guru, tidak hanya sebuah penghargaan tetapi sebagai penambah
semangat guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, sebaliknya
ada guru yang melakukan pelanggaran maka guru langsung dipanggil dan
diberi nasihat oleh kepala madrasah, apabila guru tersebut melakukan
pelanggaran yang kedua kalinya maka kepala madrasah melaporkan
kepada pimpinan yayasan dan kemudian dilakukan musyawarah seluruh
pengurus yayasan apakah guru tersebut masih diperbolehkan mengajar
atau dicabut SK mengajarnya sebagai bentuk Punisment.
4. Struktur Bagian Keuangan
Struktur tertinggi bagian keuangan adalah bendahara yayasan,
bendahara umum, baru kemudian bendahara madrasah. Sedangkan
perincian dana tidak ada, hanya setiap rapat evaluasi MA Mu‟adalah
membutuhkan sarana dan prasarana membuat pengajuan atau proposal
kepada bendahara umum, kemudian bendahara umum melapor kepada
bendahara yayasan baru kemudian direalisasikan langsung dalam bentuk
barang sesuai permintaan.
105
5. Sistem Pengadaan Sarana dan Prasarana
Pada dasarnya sistem pengadaan Sarana dan Prasarana di
MASMPTP adalah swadaya dari yayasan pondok Tremas, artinya
pembangunan gedung dan pengadaan peralatan belajar mengajar semua
berasal dari yayasan, sedangkan bantuan dari pemerintah yang
dikhususkan bagi MASMPTP selama ini belum ada. Untuk kegiatan
pendataan sarana dan prasarana di masing-masing ruangan dan sistem
inventarisasinya juga belum ada. Sedangkan yang bertanggung jawab
terhadap pengawasan apabila ada kerusakan dan perbaikan adalah seksi
sarana dan prasarana.
C. Pembahasan Manajemen Pelaksanaan Pendidikan Madrasah Aliyah
Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan
1. Pelaksanaan Manajemen Kurikulum
Manajemen kurikulum merupakan suatu proses dan kerangka kerja
yang untuk mencapai keberhasilan kurikulum. Pelaksanaan manajemen
kurikulum Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas
Pacitan merupakan integrasi antara kurikulum mu‟adalah dengan
kurikulum Pondok Tremas dengan prosentase 40% kurikulum mu‟adalah
dan 60% kurikulum Pondok Tremas. Hal ini menunjukan kemandirian
kurikulum Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah di Pondok Tremas
Pacitan.
106
Selain integrasi kurikulum agama dengan kurikulum Salafiyah
pelaksanaan manajemen kurikulum dapat dikaitkan dengan dua hal, yaitu:
yang berkaitan dengan tugas guru dan yang berkaitan dengan proses
pembelajaran. Pembagian tugas guru meliputi: Pembagian Tugas
Pembelajaran dan Membina Ekstrakulikuler. Proses pembagian tugas guru
di MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas dilaksanakan setiap bulan
romadhon mengingat tahun ajaran barunya adalah menggunakan kalender
hijriyah yakni pada bulan ramadhan. Adapun kriteria pembagian tugas
guru lebih berdasarkan pada keseniorannya (lamanya mengabdi),
pengalaman
mengajar
dan
memperhatikan
kemampuan
mengajar.
Pembagian tugas membina kegiatan ekstrakulikuler juga dilaksanakan
setiap bulan Ramadhan bersamaan dengan rapat pembagian tugas
pembelajaran. Tugas membina kegiatan ekstrakulikuler diserahkan kepada
masing-masing wali kelas.
Sedangkan pembagian tugas yang berkaitan dengan proses
pembelajaran dilakukan oleh tim kurikulum, meliputi: penyusunan jadwal
pelajaran, penyusunan program pembelajaran, pengisian daftar kemajuan
kelas, penyelenggaraan evaluasi hasil belajar, laporan hasil evaluasi,
kegiatan bimbingan dan penyuluhan.
Dalam
penyusunan
jadwal
dan
program
pembelajaran
di
MASMPTP berlangsung pada bulan ramadhan, yang bertugas dalam
penyusunan ini adalah tim kurikulum yang bekerjasama dengan sekretaris
pondok. Penyusunan jadwal dilaksankan oleh tim kurikulum Madrasah
107
Aliyah yang dilaksanakan mulai tanggal 1 ramadhan sampai tanggal 14
Syawal, dengan cara manual dan juga memakai aplikasi komputer agar
jadwalnya tidak tumpang tindih, pemilihan guru mengajar disesuaikan
dengan keahlian guru, untuk mata pelajaran umum mengambil dari alumni
pondok yang mempunyai dasar pendidikan umum. Sedangkan penyusunan
program pembelajaran di MASMPTP menggunakan kurikulum Agama
yang diintegrasikan dengan kurikulum Salafiyah Pondok Pesantren
Tremas, yang penyusunannya dilaksanakan juga bulan Ramadhan, progam
pembelajaran di MASMPTP menggunakan sistem Caturwulan bukan
semester dan setiap 1 jam pelajarannya waktunya 45 menit.
Daftar kemajuan kelas berfungsi untuk memudahkan dalam
pengontrolan sejauh mana materi yang telah disampaikan pada kelas
tersebut. Adapun daftar kemajuan kelas yang berada di MASMPTP adalah
berupa buku yang pengisiannya dilaksanakan setelah selesai mengajar.
Menurut keterangan dari Waka Kurikulum buku kemajuan kelas di
MASMPTP selain berfungsi untuk mengontrol sejauh mana materi yang
telah disampaikan juga berfungsi untuk mengontrol keaktifan guru, karena
dalam buku tersebut terdapat paraf yang mengindikasikan bahwa guru
tersebut hadir atau tidak.
Evaluasi hasil belajar berguna dan bertujuan untuk mengetahui
sejauh mana siswa memahami materi yang telah disampaikan oleh guru.
Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar yang ada di MASMPTP ada tiga
bentuk: Pertama, Imtihan adalah ujian kenaikan kelas yang dilaksanakan
108
satu tahun tiga kali yaitu setiap bulan Muharrom, Jumadil Awwal, dan
Sya‟ban. Imtihan dilaksanakan selama 2 minggu, satu minggu ujian tulis
dan 1 minggu ujian lisan. Kedua, Munaqosah dikhususkan bagi kelas tiga
yang dilaksanakan sebelum imtihan ke 3 sekaligus sebagai salah satu
syarat kelulusan, adapun materinya adalah Al-Qur‟an, Tajwid, Bahasa
Arab, dan Fiqh. Ketiga, Praktek mengajar yang dikhususkan bagi kelas
tiga Aliyah.
Sedangkan laporan hasil evaluasi di MASMPTP adalah berupa
buku raport yang berfungsi sebagai alat untuk menginformasikan kepada
orang tua tentang keberhasilan siswa dalam belajar. Dari data yang
didapatkan penulis bahwa di MASMPTP nilai tertinggi adalah 94 dan nilai
terendah adalah 40.
Kegiatan bimbingan dan penyuluhan di MASMPTP tidak hanya
menangani masalah di madrasah melainkan juga masalah di asrama,
karena siswa MASMPTP wajib berdomisili di asrama, karena BP tidak ada
jam pelajaran di kelas sehingga waktunya mengambil jam istirahat ataupun
jam malam. Biasanya yang ditangani BP adalah hal yang menyangakut
moral/etika, kemudian terkait kasus-kasus yang ada kaitannya dengan
madrasah maka diselesaikan di level BP melibatkan wali kelas dan kepala
madrasah, tapi jika berkaitan dengan masyarakat di luar madrasah maka
BP dan wali kelas bermusyawarah dengan keamanan pondok dan aparat
desa.
109
Hambatan pelaksanaan manajemen kurikulum yaitu: Pertama,
proses regenerasi yang terlalu cepat, karena tiap tahunnya pasti ada guru
yang ijin pulang, sehingga harus mencari guru pengganti yang
berkompeten. Kedua, Seringkali ada permintaan perubahan jadwal di
tengah-tengah berlangsungnya KBM. Adapun cara mengatasi hambatan
pelaksanaan manajemen kurikulum yaitu: Pertama, lebih banyak
mengangkat guru lokal (berasal dari sekitar pondok Tremas), sehingga
lebih lama masa mengabdinya dan tidak menutup kemungkinan untuk
kemudian diangkat menjadi guru tetap yayasan. Kedua, pengadaan jadwal
sementara sehingga ketika ada perubahan di tengah KBM semua
komponen baik itu guru maupun siswa lebih siap.
2. Pelaksanaan Manajemen Kesiswaan
Menurut Suryosubroto (2010: 74) Manajemen siswa menunjuk
kepada pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan pencatatan siswa semenjak dari
proses penerimaan sampai saat meninggalkan sekolah karena sudah tamat
mengikuti pendidikan pada sekolah itu. Secara lebih rinci kegiatankegiatan tersebut meliputi: Penerimaan siswa baru, pencatatan siswa dalam
buku induk, pencatatan siswa dalam buku kleper, tata tertib siswa, dan
daftar presensi.
Pada dasarnya sistem penerimaan siswa baru di MASMPTP ada
tiga mekanisme: Pertama, Jalur regular yaitu siswa baru dari lulusan MTs
Pondok Tremas itu sendiri. Kedua, Jalur khusus (Mumtaz) yaitu bagi
lulusan SMP/SMA dari luar pondok Tremas. Ketiga, Jalur tes yaitu bagi
110
siswa/siswi lulusan tingkat SMP/SMA dari luar pondok Tremas yang tidak
melewati jalur khusus. Penerimaan siswa baru di MASMPTP dilaksanakan
setiap tanggal 15 sampai 20 Syawal yang dilaksanakan oleh panitia
penerimaan siswa baru yang dibentuk setiap tahun ajaran baru. Penerimaan
siswa baru di MASMPTP tidak menggunakan batasan usia sebagaimana di
sekolahan formal lainnya, serta tidak dibatasi daya tampungnya, adapun
syarat siswa yang diterima adalah lulusan MTs Pondok Tremas atau
lulusan Mumtaz 2 atau lulus sistem ujian. Pencatatan Siswa dalam Buku
Induk.
Sedangkan untuk tugas pencatatan siswa baru dalam buku induk
dan buku kleper di MASMPTP merupakan tugas panitia penerimaan siswa
baru. Adapun sistem pelaksanaannya adalah dengan cara merekap data
formulir pendaftaran siswa-siswi baru di MASMPTP.
Tata tertib siswa terdiri dari 3 tata tertib yaitu tata tertib pesantren,
tata tertib Madrasah, tata tertib asrama putra dan tata tertib asrama putri.
Secara lengkap tentang tata tertib pondok tremas akan penulis lampirkan.
Sedangkan daftar presensi juga terdiri dari 3 presensi yakni presensi
Madrasah, presensi kegiatan, dan presensi asrama. Daftar presensi
digunakan sebagai alat untuk mengontrol kehadiran dan kedisiplinan siswa
dalam mengikuti pelajaran.
Hambatan pelaksanaan manajemen kesiswaan adalah sumber daya
manusia yang melaksanakan tugas manajemen kesiswaan secara kuantitas
dan kualitas masih banyak kekurangan. Adapun cara mengatasi hambatan
111
pelaksanaan manajemen kesiswaan dengan menambah sumber daya
manusia dan memberi pelatihan pelaksanaan manajemen kesiswaan untuk
meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam melaksanakan manajemen
kesiswaan.
3. Pelaksanaan Manajemen personalia
Menurut Suryosubroto (2010: 86) pada prinsipnya yang dimaksud
dengan personalia di sini ialah orang yang melaksanakan suatu tugas untuk
mencapai tujuan. Dalam hal ini di sekolah dibatasi dengan sebutan
pegawai. Secara terperinci dapat disebutkan keseluruhan personel sekolah
adalah: kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha dan pesuruh/penjaga
sekolah.
Adapun kegiatan-kegiatan manajemen personalia sekolah meliputi:
Daftar personel, daftar hadir guru dan karyawan, dan daftar Konduite.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara daftar personel, daftar hadir
guru dan karyawan, dan daftar Konduite sudah ada, dari data berbagai
daftar tersebut dibuat sistem reward and punishment untuk guru. Secara
terperinci jumlah guru MASMPTP pada tahun 2013/2014 berjumlah 57,
terdiri dari guru khoriji dan guru dakhili. Guru dakhili ialah guru yang
berdomisili di asrama, selain mengajar mereka bertugas atau bertanggung
jawab terhadap kegiatan siswa di asrama. Sedangkan guru khoriji adalah
guru yang berdomisili di luar asrama, umumnya mereka sudah berkeluarga
dan berasal dari daerah Pacitan.
112
Reward itu sangat berguna sekali bagi guru, tidak hanya sebuah
penghargaan tetapi sebagai penambah semangat guru dalam melaksanakan
kegiatan belajar mengajar, sebaliknya ada guru yang melakukan
pelanggaran maka guru langsung dipanggil dan diberi nasihat oleh kepala
madrasah, apabila guru tersebut melakukan pelanggaran yang kedua
kalinya maka kepala madrasah melaporkan kepada pimpinan yayasan dan
kemudian dilakukan musyawarah seluruh pengurus yayasan apakah guru
tersebut masih diperbolehkan mengajar atau dicabut SK mengajarnya
sebagai bentuk Punisment.
Hambatan pelaksanaan manajemen personalia adalah permasalahan
yang bersifat mudawamah yaitu regenerasi di setiap tahunnya, jadi ketika
guru itu sudah mulai meningkat kemampuan mengajarnya, dia harus
kembali ke masyarakat tempat tinggalnya. Adapun cara mengatasi
hambatan pelaksanaan manajemen personalia dengan menganjurkan guru
baru masuk Ma‟had Aly untuk menempuh pembelajarannya selama 4
tahun guna memperoleh gelar sarjana, jadi guru baru tersebut masih bisa
lebih lama mengabdi, dan merekapun lebih siap berbaur dengan
masyarakat karena sudah bergelar sarjana.
4. Pelaksanaan Manajemen Keuangan
Menurut Suryosubroto (2010: 131) Setiap unit kerja selalu
berhubungan dengan masalah keuangan, demikian pula sekolah. Soal-soal
yang menyangkut keuangan sekolah pada garis besarnya berkisar pada:
Uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), uang kesejahteraan
113
personel dan gaji serta keuangan yang berhubungan langsung dengan
penyelenggaraan sekolah seperti perbaikan sarana dan sebagainya.
Sumber dana penyelenggaraan pendidikan MASMPTP adalah
berasal dari uang konsidental atau uang bulanan yang sistem
pembayarannya setiap empat bulan sekali menjelang ujian dan uang
tersebut langsung dikelola oleh bendahara yayasan.
Dari hasil observasi dan wawancara dapat diketahui bahwa struktur
tertinggi bagian keuangan adalah bendahara yayasan, bendahara umum,
baru kemudian bendahara madrasah. Sedangkan perincian dana tidak ada,
hanya setiap rapat evaluasi MA Mu‟adalah membutuhkan sarana dan
prasarana membuat pengajuan atau proposal kepada bendahara umum,
kemudian bendahara umum melapor kepada bendahara yayasan baru
kemudian direalisasikan langsung dalam bentuk barang sesuai permintaan.
Hambatan pelaksanaan manajemen keuangan adalah manajemen
keuangan MA Mu‟adalah di bawah yayasan pesantren, jadi setiap
kebutuhan madrasah harus mengajukan proposal ke bendahara yayasan,
sehingga
untuk setiap kebutuhan yang diperlukan madrasah kadang-
kadang tidak tepat waktu dari apa yang dijadwalkan, meskipun akhirnya
tetap terealisasi walaupun terlambat. Adapun cara mengatasinya hambatan
tersebut dengan mengoptimalkan keuangan yayasan dan mempermudah
prosedur pengajuan proposal pengadaan sarana dan prasarana untuk
menunjang pembelajaran madrasah.
114
5. Pelaksanaan Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan Prasarana
Sekolah
Menurut Daryanto et. al, (2013: 171) Manajemen perawatan
preventif sarana dan prasarana sekolah merupakan tindakan yang
dilakukan secara periodik dan terencana untuk merawat fasilitas fisik,
seperti gedung, mebel, dan peralatan sekolah lainnya, dengan tujuan untuk
meningkatkan kinerja, memperpanjang usia pakai, menurunkan biaya
perbaikan dan menetapkan biaya efektif perawatan sarana dan prasarana
sekolah.
Pada dasarnya sistem pengadaan Sarana dan Prasarana di
MASMPTP adalah swadaya dari yayasan pondok Tremas, artinya
pembangunan gedung dan pengadaan peralatan belajar mengajar semua
berasal dari yayasan, sedangkan bantuan dari pemerintah yang
dikhususkan bagi MASMPTP selama ini belum ada. Untuk kegiatan
pendataan sarana dan prasarana di masing-masing ruangan dan sistem
inventarisasinya juga belum ada. Sedangkan yang bertanggung jawab
terhadap pengawasan apabila ada kerusakan dan perbaikan adalah seksi
sarana dan prasarana.
Hambatan pelaksanaan manajemen perawatan preventif sarana dan
prasarana adalah kekurangan ruang kelas dan kelayakan ruang kelasnya
masih di bawah standar karena selain sempit ruang kelasnya terdapat
tiang-tiang yang besar di dalamnya, sehingga mengganggu pandangan
guru terhadap siswa. Adapun cara mengatasi hambatan tersebut dengan
115
mengembangkan usaha mandiri MASMPTP dan usaha pondok pesantren
agar sumber pendanaan untuk pengadaan sarana dan prasarana dapat
tersedia dengan segera, sehingga permasalahan kekurangan ruang kelas
dapat segera teratasi.
116
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan di lapangan dan analisis
yang telah dilakukan oleh peneliti maka dapat ditarik suatu kesimpulan guna
menjawab perumusan masalah yang ada. Adapun kesimpulan penelitian
tentang manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas adalah:
1. Manajemen
pelaksanaan
pendidikan
Madrasah
Aliyah
Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas
Manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah di Pondok Tremas Pacitan terdiri dari 5 komponen, yaitu 1.
Manajemen Kurikulum, 2. Manajemen Kesiswaan, 3. Manajemen
personalia, 4. Manajemen Keuangan, dan 5. Manajemen Perawatan
Preventif Sarana dan Prasarana Sekolah. Manajemen pelaksanaan
pendidikan di 5 komponen tersebut telah berjalan dengan baik, walaupun
terdapat hambatan pelaksanaan di masing-masing komponen yang diteliti,
akan tetapi hambatan tersebut dapat teratasi dengan kerjasama yang solid
stakeholder di Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas
Pacitan.
116
117
2. Hambatan manajemen Pelaksanaan Pendidikan di Madrasah
Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas diantaranya: Proses
regenerasi yang terlalu cepat, seringkali ada permintaan perubahan
jadwal, SDM pelaksana manajemen kesiswaan secara kwalitas dan
kwantitas masih kurang, tidak tepat waktu antara permohonan
dengan pencairan dana, kekurangan ruang kelas.
3. Cara mengatasi hambatan Manajemen Pelaksanaan Pendidikan di
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas adalah
lebih banyak mengangkat guru lokal (sekitar pacitan), membuat
jadwal sementara, memberi pelatihan dan peningkatan pendidikan,
menganjurkan guru untuk masuk ma’had aly, mengoptimalkan
keuangan
Yayasan
dan
mempermudah
prosedur
proposal,
mengembangkan usaha mandiri dan usaha pondok pesantren.
B. Implikasi
Manajemen pelaksanaan pendidikan di Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas Pacitan meliputi 5 komponen, yaitu: 1.
Manajemen Kurikulum, 2. Manajemen Kesiswaan, 3. Manajemen personalia,
4. Manajemen Keuangan, dan 5. Manajemen Perawatan Preventif Sarana dan
Prasarana Sekolah. Dalam pelaksanaan 5 komponen tersebut tidaklah mudah,
oleh karena itu manajemen 5 komponen tersebut dilaksanaan sebaik mungkin
untuk mendapatkan hasil yang maksimal guna meningkatkan mutu akademik
siswa.
118
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pelaksanaan
pendidikan di Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas belum
berjalan secara efektif, hal ini dapat dilihat dari proses pelaksanaan
manajemen pendidikan yang masih terdapat kendala dan hambatan. Tapi hal
ini tidak berpengaruh terhadap kualitas mutu akademik siswa. Jika
manajemen pelaksanaan pendidikan berjalan dengan baik, maka akan
semakin
membantu
peningkatan
mutu
akademik
siswanya.
Untuk
meningkatkan manajemen pelaksanaan pendidikan, maka implikasi dalam
penelitian ini:
1. Kepala Madrasah, Waka Kurikulum, Waka Kesiswaan, Waka Personalia,
Bendahara, Waka Sarana dan Prasarana Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas lebih mengadakan koordinasi dan komunikasi
dengan seluruh stakeholder agar dapat mewujudkan pelaksanaan
manajemen pendidikan yang ideal di Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas.
2. Kepala Madrasah, Waka Kurikulum, Waka Kesiswaan, Waka Personalia,
Bendahara, Waka Sarana dan Prasarana Madrasah Aliyah Salafiyah
Mu’adalah
Pondok
melaksanakan
Tremas
Manajemen
hendaknya
Kurikulum,
lebih
profesional
Manajemen
dalam
Kesiswaan,
Manajemen personalia, Manajemen Keuangan, dan Manajemen Perawatan
Preventif Sarana dan Prasarana Sekolah.
119
C. Saran-Saran
Setelah melakukan penelitian dan pembahasan yang bersifat teori
maupun dari hasil penelitian, maka penulis dapat memberikan beberapa saran
sebagai berikut:
1. Kepala Madrasah
a. Hendaknya meningkatkan kompetensi manajerial, kewirausahaan,
supervisi, dan sosial demi tercapainya manajemen pelaksanaan
pendidikan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas
yang kondusif dan memberikan motivasi pada segenap warga
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas.
b. Hendaknya membuat kebijakan-kebijakan baru yang berkaitan dengan
peningkatan manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah Aliyah
Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas.
2. Waka Kurikulum
a. Hendaknya mengadakan program penyetaraan ijazah Madrasah Aliyah
Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas dengan lebih banyak madrasahmadrasah di luar negeri. Sehingga nantinya, ijazah yang dikeluarkan
pondok pesantren diakui oleh universitas-universitas di luar negeri.
b. Hendaknya mengevaluasi pelaksanaan manajemen kurikulum yang
telah dijalankan secara kontinyu agar mempunyai daya saing global.
120
3. Waka Kesiswaan
a. Hendaknya dalam penerimaan siswa baru lebih mementingkan kualitas
siswa dibandikan dengan dengan kuantitas.
b. Hendaknya berkoordinasi dengan Waka Sarana dan Prasarana dalam
menetukan jumlah siswa yang diterima setiap tahun ajaran baru agar
tidak terjadi pembelajaran di aula karena kekurangan kelas.
4. Waka Personalia
a. Hendaknya merekrut guru dan karyawan disesuaikan dengan kebutuhan
Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas.
b. Hendaknya merekrut guru dan karyawan yang mempunyai kualitas
komprehensif agar mampu melaksanakan manajemen pendidikan
dengan baik.
5. Bendahara
a. Hendaknya meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan seluruh
stakeholder
agar
dapat
mewujudkan
pelaksanaan
manajemen
pendidikan yang ideal.
b. Hendaknya mengembangkan usaha mandiri dan koperasi Madrasah
Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas agar sumber pendanaan
untuk pengadaan sarana dan prasarana dapat tersedia dengan segera,
sehingga permasalahan kekurangan ruang kelas dapat segera teratasi.
6. Waka Sarana dan Prasarana
121
a. Hendaknya
meningkatkan
koordinasi
dengan
bendahara
dalam
pengadaan sarana dan prasaran bagi siswa agar tercipta kegiatan belajar
dan mengajar yang efektif dan efisien.
b. Hendaknya menyediakan sarana dan prasarana yang dapat mendukung
dan memperlancar manajemen pelaksanaan pendidikan Madrasah
Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas, sehingga output yang
diharapkan.
122
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar, Usman. (2013). Paradigma Dan Epistomologi Pendidikan Islam,
Yogyakarta: Medis.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur penelitian suatu pendekatan prakti.,
Jakarta: Rineka Cipta.
_________________ (2003). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Daryanto, et. al. (2013). Konsep Dasar Manajemen Pendidikan di Sekolah,
Yogyakarta: Gava Media
Dian Nafi’, et. al. (2007). Praktisi Pembelajaran Pesantren, Yogyakarta: Pelangi
Aksara.
Dimyathi, Muhammad Habib. (2001). Mengenal Pondok Tremas dan
Perkembangannya, Pacitan: Attarmasie Pers.
Engkoswara . (2001). Manajemen Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Fattah, Nanang. (2001). Manajemen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Fuad Yusuf, Choirul. (2009). Pedoman Pesantren Mu’adalah, Jakarta: Direktur
Jenderal Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.
Hadi, Sutrisno. (1990). Metodologi Research, Yogyakarta: Andi Offset.
Hamalik, Oemar. (2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Handoko, T. H. (2003). Manajemen, Yogyakarta: BPFE-UGM.
Hikmat. (2011). Manajemen Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia.
Keputusan DIRJEN Pendidikan Islam. (2006). Jakarta: 30 Nopember.
KEMENAG. (2012). Profil Pondok Pesantren Mu’adalah, Jakarta.
Majlis Ma’arif. (2014). JUKLAK dan JUKNIS Perguruan Islam Pondok Tremas
Pacitan, Pacitan: Attarmasie Pers.
Fadjar, Malik. (1998). Madrasah dan Tantangan Modernitas.Bandung: Mizan.
Miles, M.B dan Huberman, A.M. (1992). Analisis Data Kualitatif. Terjemahan
oleh Tjeptjep Rohendi Rohidi. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Moleong, Lexi J. (2014). Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
122
123
Pidarta, Made. (2004). Manajemen Pendidikan Indonesia, Cet. II Jakarta: Rineka
Cipta.
Purwanto. (2008). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Rachman Shaleh, Abdul. (2004). Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa,
Jakarta: Raja Grafindo.
Rohiat. (2010). Manajemen Sekolah Teori Dasar dan Praktik, Bandung: Rafika
Aditama.
Rohmat. (2014). Manajemen Pengembangan Media Pembelajaran Aplikasi dalam
Pelajaran Agama Islam, Yogyakarta: CV Gerbang Media Aksara.
. (2013). Manajemen Kepemimpinan Kewirausahaan, Yogyakarta: Cipta
Media Aksara.
Rotal. (2014). Manajemen Madrasah Aliyah Pondok Tremas, Wawawncara
Pribadi
Rusman. (2009). Manajemen Kurikulum, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
S. Nitisasmito, Alex. (1992). Manajemen Personalia (Manajemen Sumberdaya
Manusia), Jakarta: Ghalia Indonesia.
Saefullah. (2012). Manajemen Pendidikan Islam, Bandung: CV Pustaka Setia.
Sagala, Syaiful. (2011). Konsep dan Makna Pembelajran, Bandung: Alfabeta
Samino. (2010). Manajemen Pendidikan Spirit KeIslaman dan KeIndonesiaan,
Gumpang Kartasura: Fairuz Media
Siagian,Sondang P. (2003). Filsafah Pendidikan.Jakarta:CV.Masagung.
Setiaji, Bambang. (2006). Riset dengan Pendekatan Kuantitatif, Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Siswanto. (2009). Pengantar Manajemen, Jakarta: Bumi Aksara.
Subhan, Arif. (2012). Lembaga Pendidikan Islam Indonesia Abad ke-20, Jakarta:
Kencana.
Sudjana, Nana. (2004). Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Non
Formal Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: Falah
Productioan.
Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Bisnis, Bandung: Alfbeta.
124
(2006). Statistika Untuk Penelitian, Bandung: Alfbeta.
(2007). Metode Penelitian Administrasi, Bandung: Alfabeta.
(2013). Metode Penelitian Manajemen, Bandung: Alfabeta.
(2013). Metode Penelitian Pendidikan
Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta.
Pendekatan
Sukardi. (2006). Penelitian Kualitatif-Naturalistik
Yogyakarta: Usaha Keluarga Perum.UNY cet I.
dalam
Kuantitatif,
Pendidikan,
Suryosubroto. (2010). Manajemen Pendidikan di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta
Tafsir, Ahmad. (2001). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung:
Remaja Rosdakarya
Terry george. R&Rue, lislie.w. (2005). Dasar-Dasar Manajemen, penerjemah
Ticoalu, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Usman, Husaini. (2012). Manajemen:Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan Edisi
ke- 3, Jakarta: PT Bumi Aksara.
(2013). Manajemen:Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan
Edisi ke-4, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Bachtiar, Wardi. (1997). Metode Penelitian Ilmu Dakwah, Jakarta: Logos.
Sekretaris Pesantren. (2014). http://www.alkhoirot.net/2011/09/pondok-pesantrensalaf.html
.
125
LAMPIRAN 1.1
PEDOMAN WAWANCARA
NO
1
INFORMAN
PERTANYAAN
Kepala Sekolah 1. Bagaimana sejarah berdirinya MA Salafiyah
Mu‟adalah Pondok Tremas?
2. Apa Visi Misi MA Salafiyah Mu‟adalah
Pondok Tremas?
3. Out put Seperti apakah yang diharapkan MA
Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
4. Bagaimanakah
struktur
organisasi
MA
Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
5. Siapa sajakah yang pernah menjabat sebagai
kepala sekolah MA Salafiyah Pondok Tremas?
6. Apa alasan kenapa MA Salafiyah mengikuti
program Mu‟adalah?
7. Bagaimanakah respon masyarakat terhadap
MA Salafiyah yang telah dimu‟adalahkan?
8. Berapa
jumlah
pengajar
MA
Salafiyah
Mu‟adalah Pondok Tremas?
9. Berapa jumlah Siswa siswi MA Salafiyah
126
Mu‟adalah Pondok Tremas?
10. Sarana pra sarana apa saja yang dimiliki MA
Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
2
Ketua Majlis
Ma‟arif
1. Kapankah berdirinya MA Salafiyah Pondok
Tremas?
2. Apa alasan kenapa MA Salafiyah pondok
tremas mengikuti program Mu‟adalah?
3. Bagaimana sejarah berdirinya Mu‟adalah?
4. Bagaimana sejarah MA Salafiyah Mu‟adalah
Pondok Tremas?
5. Apa syarat pondok pesantren untuk bisa
mu‟adalah?
6. Bagaimana
prosedur
rekrutmen
tenaga
pengajarnya?
7. Apa hambatan yang ada pada MA Salafiyah
Mu‟adalah saat ini?
8. Bagaimana cara mengatasinya?
127
3
Waka
Kurikulum
1. Bagaimanakah pembagian tugas guru di MA
Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
2. Kegiatan Ekskul apa saja yang ada di MA
Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
3. Bagaimana penyusunan kalender pendidikan di
MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
4. Kapankah
penyusunan
jadwal
pelajaran
dilaksanakan?
5. Bagaimanakah
penyusunan
program
pembelajaran yang ada di MA Salafiyah
Mu‟adalah Pondok Tremas?
6. Upaya apa yang dilakukan agar tujuan
pembelajaran bisa tercapai secara efektif dan
efisien?
7. Apakah ada kegiatan evaluasi hasil belajar
yang dilakukan ? mohon dijelaskan!
8. Apakah ada laporan hasil belajar siswa yang
disampaikan kepada wali murid?
9. Apa
hambatan
yang
berkaitan
manajemen kurikulum?
10. Bagaimana cara mengatasinya?
dengan
128
4
Waka
Kesiswaan
1. Bagaimanakah sistim penerimaan murid baru
di MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
2. Apakah ada pembentukan panitia penerimaan
siswa baru di setiap tahunnya?
3. Bagaimana
persyaratan
pendaftaran
calon
siswa baru?
4. Bagaimana cara lembaga mempublikasikan
pengumuman penerimaan siswa baru?
5. Kapan waktu pendaftaran siswa baru?
6. Apakah ada batasan penetapan daya tampung
siswa?
7. Apa syarat siswa yang diterima?
8. Apakah
ada
buku
pendaftaran
dalam
penerimaan siswa baru?
9. apakah ada buku kleper untuk pencatatan
siswa?
10. Apakah ada tata tertib siswa?
11. Apakah ada daftar presensi murid di setiap
kelas?
12. Berapa jumlah siswa MA Salafiyah Mu‟adalah
Pondok Tremas?
129
13. Mohon dijelaskan bagaimana keadaan siswa
MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas !
14. Apa hambatan terkait manajemen kesiswaan?
15. bagaimana cara mengatasinya?
5
Waka
1. Bagaimanakah sistim perekrutan guru dan staf
Personalia
MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
2. Bagaimanakah tahapan – tahapan perekrutan
guru baru?
3. Terdiri dari siapakah tim rekrutment guru
baru?
4. Kapankah rekrutment guru dilaksanakan?
5. Bagaimanakah menentukan standard guru MA
Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
6. Apakah ada panisment atau reaword yang
dikenakan pada karyawan?
7. Apakah ada absensi yang diperuntukkan bagi
karyawan?
8. Apa hambatan terkait dengan manajemen
personalia?
9. Bagaimana cara mengatasinya?
6
Bendahara
1. Darimanakah sumber dana penyelenggaraan
130
MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
2. Bagaimanakah sistim pembayaran di MA
Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
3. Bagaimanakah struktur bagian keuangan?
4. Bagaimanakah
sistim
pembukuan
/
pun
pelaporan?
5. Apakah setiap tahunnya dibuat RAP?
6. Apakah ada bantuan dari pemerintah?
7. Bagaimana pertanggungjawabannya?
8. Apa hambatan terkait manajemen keuangan
MA Slafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
9. Bagaimana cara mengatasinya?
7
Waka Sarpras
1. Bagaimana sistim pengadaan SARPRAS di
MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
2. Apakah ada tim pelaksana SARPRAS?
3. Apakah ada penghargaan bagi mereka yang
rajin dalam merawat SARPRAS?
4. Apakah ada daftar SARPRAS?
5. Apakah ada jadwal kegiatan perawatan pada
masing – masing bagian?
6. Apakah
ada
bantuan
SARPRAS
dari
131
pemerintah?
7. Siapa yang berhak mengadakan SARPRAS?
8. Apakah ada data tentang SARPRAS di masing
– masing ruangan?
9. Apakah ada sistim inventarisasi alat?
10. Siapa yang bertanggung jawab memantau?
11. SARPRAS apa saja yang dimiliki oleh MA
Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas?
12. Apa hambatan terkait SARPRAS?
13. Bagaimana cara mengatasinya?
9
Guru
1. Tahun berapakah MA Salafiyah Pondok
Tremas berdiri?
2. Bagaimana sejarah MA Salafiyah Mu‟adalah
Pondok Tremas?
3. Siapa sajakah yang pernah menjadi kepala
sekolah MA Salafiyah Pondok Tremas?
132
LAMPIRAN 1.2
PEDOMAN ANALISIS DOKUMEN
1. Letak geografis MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas
2. Sejarah berdirinya MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas
3. Visi dan Misi MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas
4. Struktur organisasi MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas
5. Daftar Personel
6. Daftar mata pelajaran
7. Daftar organisasi daerah.
8. Tata tertib Madrasah
133
Lampiran 1.3
PANDUAN OBSERVASI
NO
1
AKTIVITAS / KEGIATAN
YANG DIAMATI
Aktivitas yang berkaitan dengan
1. Kegiatan ekskul
kurikulum
2. Jadwal kegiatan siswa
3. Jadwal Pelajaran
4. Mata pelajaran
3
Aktivitas yang berkaitan dengan
1. Kegiatan guru di luar jam mengajar
personalia
2. Daftar personel
3. Daftar hadir guru dan karyawan
4. Daftar konduite
4
Aktivitas yang berkaitan dengan
Kesiswaan
1. Cara
lembaga
mempublikasikan
pendaftaran
2. Buku pendaftaran, buku kleper, buku
Induk, tata tertib siswa
3. Identitas siswa
4. formulir pendaftaran
5. Absensi siswa
5
Aktivitas yang berkaitan dengan
1. Tim pelaksanan SARPRAS
Sarpras
2. Daftar SARPRAS
134
3
Aktivitas yang berkaitan dengan 1. Prosedur pembayaran
keuangan
2. Kelengkapan buku bantu
135
Lampiran 2.1
CATATAN LAPANGAN
( CL.W.01 )
Hari, tanggal : Jum‟at, 12 Desember 2014
Jam
: 07.00 WIB
Tempat
: Kediaman pribadi komplek PIP Tremas
Metode
: Wawancara
Informan
: Ustd.H.Abdillah Nawawi,Lc.
Peneliti
:
Kapankah MA Salafiya Pondok Tremas berdiri?
Informan
:
Berdiri sekitar tahun ‟57 an
Peneliti
:
Apa visi misi Madrasah Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok
Tremas Pacitan?
Informan
:
Adapun visi misi Madrasah Aliyah sama dengan visi misi pesantren.
Peneliti
:
Out Put seperti apakah yang diharapkan MASMPTP ?
Informan
:
Tentunya sesuai dengan yang tertera pada visi,,menjadi manusia
benar yang pintar.
Peneliti
:
Bagaimana struktur Organisasi MASM PTP?
Informan
:
Struktur organisasi sama dengan sekolah formal pada umumnya.
136
Peneliti
:
Siapa saja yang pernah menjadi kepala sekolah MA Salafiyah
Pondok Tremas sejak berdiri hingga sekarang?
Informan
:
Kyai
Haris
(sejak
berdiri-1996)
2.K.Habib
(1996-1998)
3.K.Luqman (1998-2007. 4.Bp.Abdillah Nawawi (2007-sekarang)
Peneliti
:
Kenapa MA Salafiyah harus dimu’adalahkan?
Informan
:
Sebelum dimu‟adalahkan MA Salafiyah Pondok Tremas mengikuti
ujian persamaan di MAN Pacitan, jadi KBMnya dobel KBM MA
pondok dan KBM MAN sehingga memberatkan siswa dan muatan
pondok menjadi terganggu dan terkurang
Peneliti
:
Bagaimana respon masyarakat dengan adanya MA Mu’adalah?
Informan
:
Alhamdulullah positif, kalaupun ada keraguan tentang keformalan
ijazah secara umum merka positif, disamping mayoritas wali santri
tidak peduli ijazah.
Peneliti
:
Apa yang dihadapi MASMPTP dari awal dimu’adalahkan
hingga sekarang?
Informan
:
Kendala eksternal ada beberapa perguruan tinggi yang menolak, tapi
setelah dijelaskan atau menunjukkan SK Dirjen mereka mau
menerima tapi kadang2 anak kurang faham karena jurusan tidak
linier maka tidak diterima.
Peneliti
:
Bagaimana /apa yg telah dilakukan untuk mengatasi hambatan
tersebut?
137
Informan
:
Setiap anak diberi SK DIRJEN , adanya tembusan ke Perguruan
tinggi.
Peneliti
:
Berapa jumlah guru MASM PTP?
Informan
:
Jumlah pengajar ada 57
Peneliti
:
Berapa jumlah siswa secara keseluruhan?
Informan
:
Jumlah siswa MA Salafiyah Mu‟adalah ada sekitar 500 siswa
Peneliti
:
Sarana Pra Sarana apa saja yang dimiliki MASM PTP?
Informan
:
ada lab bahasa, perpustakaan , lab computer, aula, ruang kelas,
kantor.
peneliti
:
Terima kasih pak
Informan
:
Ya, sama – sama semoga berhasil
peneliti
:
Amiin
138
Lampiran 2.2
CATATAN LAPANGAN
( CL.W.02 )
Hari, tanggal
:
Jum‟at, 12 Desember 2014
Jam
:
09.00 WIB
Tempat
:
Kediaman pribadi komplek PIP Tremas
Metode
:
Wawancara
Informan
:
KH.Luqman Harist Dimyathi
Peneliti
:
Kapankah berdirinya MA Salafiyah Pondok Tremas?
Informan
:
Waaaaaaaaaaah untuk itu saya tidak tahu nel, tanya yang sepuh –
pak Rotal- tapi kalau untuk sejarahnya yang saya dengar bahwa
jaman mbah Dim itu memang belum ada lembaga/ belum ada
klasikal , ketika dijaman Kyai Hamid ini karena k.Hamid ini juga
jaman itu modeern ini juga melihat lho anak usia 30 tahun kok
ngajinya sama . mungkin Salafiyah sejak kepemimpinan mbah
Hamid.
Peneliti
:
Apa alasan kenapa MA Salafiyah Pondok Tremas mengikuti
program Mu’adalah?
Informan
:
Saya minta dicatat besar – besar,
ditulis kandel, justru saya
dalam hal ini kami memutuskan ikut Mu‟adalah Pondok Tremas
139
ini dalam rangka untuk menguatkan SALAFIYAHnya Pondok
Tremas.
Peneliti
:
Bagaimana sejarah MA Salafiyah Mu’adalah Pondok
Tremas?
informan
:
waktu itu ada pertemuan di Lirboyo , bahwa Lirboyo sifatnya
Tahaduts binni‟mah Lirboyo mu‟adalah kyai – kyai se JATIM
untuk ikut mu‟adalah , nah waktu itulah saya semakin kuat …di
Gontor sudah mendapat Mu‟adalah dan saya makin semangat
untuk ikut mu‟adalah, kemudian Saya sama Pak Abdillah
mencoba sowan ke Gontor . “Apa itu Mu‟adalah? Pada 2004
sempat menjelaskan Mu‟adalah itu bla bla bla… saya sama
P.Abdillah bahwa Gontor pun juga Insyaallah akan mengajak
pesantren – pesantren yang lain untuk berprogram Mu‟adalah
ini, karena Mu‟adalah itu menjamin kemandirian dan kekhasan
pesantren.
Kemudian Pada tahun 2005 pertemuan pertama di Ciawi kami
diminta oeh KEMENAG untuk membuat draft aturan pemerintah
(PP). pesantren yang selama ini mungkin doble accounting/dobel
kelamin, saya katakan dobel kelamin seperti Tremas saja, satu
sisi KBMnya menggunakan nilai – nilai Salafiyah , ijazahnya
karena gimana supaya mendapat Ijazah formal harus melalui
140
pemerintah dan negara itu ditandatangani oleh bukan lembaga
pondok, justru yang menandatangani pihak lain,contoh dalam hal
ini Aliyah waktu itu bekerjasama dengan MAN Pacitan otomatis
yang menandatangani sana. Ini ada Mu‟adalah kenapa kita tidak
ikut Mu‟adalah biar fokus, yang menandatangani kita, lembaga
kita dan itu diakui oleh pemerintah. Saya mengundang para
masyayikh
pondok
tremas
untuk
membicarakan
ini
,
Alhamdulillah ada signal kuat mempertahankan nilai – nilai
salafiyah yang disampaikan bapak sebelum wafat itu bisa
terwujud, jadi mu‟adalah itu dalam rangka untuk memperkuat
Salafiyah bukan merubah!
Ini
yang penting.memperkuat
Salafiyah sesuai wasiat bapak (K.Harist „alaikum Dimyathi) .
jangan dianggap Mu‟adalah itu merubah segala galanya. Justru
kembali ke salafiyah .
Peneliti
:
Duluan
mana
antara
Lirboyo
dan
Tremas
dalam
memu’adalahkan pesanntren?
Informan
:
Duluan Lirboyo…jadi yang pertama itu kajen yang kedua
Gontor. Nah, Gontor dan Lirboyo ini hampir bersamaan. Baru
kemudian Tremas.
Peneliti
:
Apakah saat itu SK DIRJEN sudah keluar?
Informan
:
Walaupun sebatas SK DIRJEN tapi sudah diakui oleh
141
pemerintah, dimana - manaS walaupun saat itu masih ada
beberapa instansi yang masih meragukan karena itu tergantung
pemahaman masing – masing instansi , padahal yang namanya
Mu‟adalah itu bisa masuk ke PT Swasta maupun Negeri, baik
umum maupun agama, yang bisa menerima PT Agama dibawah
KEMENAG , karena yaaa tetap pilah pilihlah , mungkin untuk
kedokteran ini mana pelajaran IPA nya?
Peneliti
:
Lalu bagaimana dengan kurikulumnya?
Informan
:
Mu‟adalah itu terseah kita , terserah masing – masing
pesantren..karena di peraturan KEMENAG itu “dengan kekhasan
dan kemandirian, walaupun ada satu atau dua materi umum yang
harus dimasukkan. Contoh B.Indonesia, yang lain itu beberapa
item, dan tremas selama saya lahir itu sudah ada di tremas sejak
peninggalan bapak sudah ada . contoh umpamanya MTK ada,
PPKN ada, sudah ada kan begitu, bagi yang Lirboyo mungkin
kaget – kaget, agak berat memasukkan itu.
Peneliti
:
Apa syarat pondok pesantren untuk bisa mu’adalah?
Informan
:
Di PP MENAG yang baru ini syaratnya memang agak ketat
Antara lain “NILAI SEJARAH” ini masuk pertimbangan. Prinsip
semua punya hak untuk ikut mu‟adalah tapi ada syarat - syarat
tertentu.
142
Lampiran 2.3
CATATAN LAPANGAN
( CL.W.03)
Hari, tanggal : Jum‟at, 12 Desember 2014
Jam
: 15.00 WIB
Tempat
: Kediaman pribadi komplek PIP Tremas
Metode
: Wawancara
Informan
: Ustd. Drs. Agus Salim
Peneliti
: Kapankah proses pembagian tugas guru dilaksanakan?
Informan
: Untuk pembagian tugas guru ini kita laksanakan pada bulan
romadhon,karena tahun ajaran barunya Syawal.
Peneliti
: Siapa yang bertanggung jawab dalam pembagian tugas ini?
Informan
: Untuk yang bertanggung jawab dalam pembagian tugas guru
adalah masyayikh dan guru – guru senior melalui musyawarah
kurikulum pada bulan romadhon.
Peneliti
: kriteria semacam apa yang digunakan dalam pembagian tugas
ini?
Informan
: Pembagian tugas guru MA Mu‟adalah ini lebih berdasarkan pada
keseniorannya (lamanya mengabdi) atau pengalaman mengajar
tapi juga tetap memperhatikan kemampuan mengajarnya. Kalau
dianggap senior tapi kemampuan mengajarnya belum mampu
untuk mata pelajaran MA ya kita tetap memilih mereka yang
mampu mengajar.
143
Peneliti
: Kegiatan ekskul apa saja yang ada di MASM Pondok Tremas?
Informan
: Adapun kegiatan ekstrakurikuler yang ada di MA Mu‟adalah 1.
Dzibaiyyah wal khithobiyah yaitu kegiatan khitobiyah (berpidato)
tujuannya mengasah mental dan kemampuan anak dalam ber orasi,
yang kepanitiaannya dipercayakan pada kelas 1 MA. 2.
Perpustakaan Attarmasi dalam hal ini kegiatan jurnalistik membuat
majalah tahunan, dan menyelenggarakan acara sarasehan yang
kepanitiaannya dipercayakan pada kelas 2 MA. 3. PHBI (Panitia
Hari Besar Islam) bertanggung jawab dalam menyelenggarakan
perayaan hari besar Islam seperti Mauludan, Rojaban, Hari raya
Idul adha dls, yang untuk ini dipercayakan pada kelas 3 MA.
Peneliti
: Bagaimana pembagian tugas guru yang berkaitan dengan
kegiatan ekskul?
Informan
: Pembagian
tugas
guru
yang
berkaitan
dengan
kegiatan
ekstrakurikuler lebih dipercayakan atau dibawah bimbingan
masing-masing wali kelas.
Peneliti
: Siapa yang bertanggung jawab dalam pembagian tugas ini?
Informan
: Yang bertanggung jawab dalam pembagian tugas ini adalah tim
kurikulum yang terdiri dari masyayikh dan guru senior.
Peneliti
: Kapankah penyusunan kalender pendidikan berlangsung?
Informan
:
Penyusunan kalender pendidikan berlangsung pada bulan
romadhon.
Peneliti
: Siapakah bertugas dalam penyusunan ini?
Informan
: Yang bertugas dalam penyususnan ini adalah sekretariat Pondok
atas persetujuan Ketua Yayasan.
Peneliti
: Kapan penyusunan jadwal pelajaran dilaksanakan?
Informan
: Penyusunan jadwal tiap tahunnya berganti-ganti entah itu guru
pengampunya maupun jam belajarnya, adapaun waktu penyusunan
144
jadwal berlangsung pada bulan romadon
Peneliti
: Bagaimanakah proses penjadwalan ini?
Informan
: Penyusunan jadwal dilakukan oleh tim kurikulum Madrasah
Aliyah yang mana waktunya itu bulan puasa mulai tanggal 1
romadhon sampai bulan syawal tanggal 14, itu harus sudah selesai
mamakai manual dan juga memakai bantuan aplikasi komputer
agar jadwalnya tidak tumpang tindih , pemilihan guru mengajar ini
disesuaikan dng fak atau keahlian atau besik pendidikan dari yang
bersangkutan, untuk mata pelajaran umum mengambil dari guru
alumni pondok yang punya besic pendidikan umum , tanggal 15
syawal harus sudah selesai bila mana dalam perjalanan ada
masalah nanti dikembalikan pada tim kurikulum
Peneliti
: Bagaimanakah penyusunan program pembelajaran?
Informan
: penyusunan program pembelajaran MA Salafiyah Mu‟adalah
Pondok Tremas Menggunakan kurikulum ponpes mu‟adalah yang
diintegrasikan dengan kurikulum pesantren Tremas, yakni 40%
kurikulum mu‟adalah dan 60% kurikulum Tremas
Peneliti
: Menggunakan cawu/ semester?
Informan
: Untuk MASMPTP masih menggunakan cawu
Peneliti
: Kapan dilaksanakannya?
Informan
: Penyusunan program pembelajaran dilaksanakan pada bulan
romadhon..
Peneliti
: Berapa menit dalam 1 jam pelajaran?
Informan
: 1 jam pelajaran 45 menit.
Peneliti
: Bagaimana upaya agar tujuan pembelajaran bisa tercapai
secara efektif dan efisien?
Informan
: Adanya kegiatan penunjang seperti, takror: kegiatan belajar siswa
untuk mengulangi pelajaran yang biasanya dilaksanakan ba‟da
145
isaya‟ jam 08.00-09.00 untuk siswi dan 09.00-10.00 untuk siswa,
sorogan, klasikal.: pelajaran yang bersifat penting yang sekiranya
membutuhkan waktu unutk menjabarkannya spaya lebih bisa
difahami dan bisa diaplikasikan oleh masing2 siswa., contoh
materi pelajaran nahwu.
Peneliti
: Apakah ada kegiatan evaluasi hasil belajar yang dilakukan
oleh guru?
Informan
: Ada.
Peneliti
: Kapan?Bulanan/mingguan?Mohon
dijelaskan
apa
saja
kegiatannya!
Informan
: Evaluasi hasil belajar yang ada di MA Mu‟adalah pondok Tremas
ada tiga bentuk, yang pertama ujian Munaqosah yang khusus bagi
kelas 3 Aliyah, adapun materinya Al-Qur‟an Tajwid, Bahasa Arab
dan Fiqih. kedua Imtihan atau ujian kelas yang dilaksanakan 1
tahun 3 kali (4 bulan sekali) adapun waktunya setiap bulan
Muharrom, Robi‟ul Akhir dan Rojab. Lama imtihan adalah 2
minggu , 1 minggu ujian tulis, dan 1 minggu ujian Lisan dan yang
ketiga praktek mengajar yang khusus diperuntukkan bagi kelas 3
Aliyah.
Peneliti
: Apakah ada laporan hasil belajar siswa yang disampaikan
kepada wali murid?Berapa kali dalam 1 tahun?
Informan
: ada berupa buku raport/buku laporan hasil belajar. 3x dalam 1
tahun.
Peneliti
: Apa
hambatan
yang
berkaitan
dengan
manajemen
kurikulum?
Informan
: Hambatan yang ada pada bagian kurikulum 1. Proses re generasi
yang terlalu cepat, karena tiap tahunnya pasti ada guru yang izin
pulang sehingga harus mencari pengganti yang berkompeten, yang
146
ke dua sering kali adanya poermintaan perubahan jadwal
ditengah2 KBM .
Peneliti
: Bagaimana cara mengatasinya?
Informan
: Untuk hambatan pertama sementara ini dengan lebih banyak
mengangkat guru yang dari pribumi karena pribumi sehingga lebih
lama masa mengajarnya dan tidak menutup kemungkinan untuk
bisa diangkat menjadi guru tetap yayasan. Untuk mengatasi
hambatan ke dua dengan diadakan Jadwal sementara sehingga
ketika ada perubahan di tengah KBM semua komponen baik itu
guru maupun siswa lebih siap.
147
Lampiran 2.4
CATATAN LAPANGAN
(CL.W.04)
Hari, tanggal : Sabtu, 13 Desember 2014
Jam
: 08.00 wib
Tempat
: Kantor MASMPTP
Metode
: Wawancara
Informan
: Ustd. Joko Margiono, STh.I
Peneliti
: Bagaimanakah sistim penerimaan murid baru di MASM
Pondok Tremas?
Informan
: pada dasarnya sistim penerimaan murid baru MA Salafiyah
Mu‟adalah Pondok Tremas ada tiga mekanisme 1. Jalur Reguler
yaitu Siswa baru dari lulusan MTs Pondok Tremas itu sendiri. 2.
Jalur khusus (Mumtaz) yaitu bagi lulusan SMP/SMA dari luar
pondok tremas. 3. Jalur Tes yaitu bagi siswa siwi lulusan tingkat
SMP/SMA dari luar yang tidak lewat jalur khusus.
Peneliti
: Apakah ada pembentukan panitia penerimaan siswa baru di
setiap tahunnya?
Informan
: Ada, dibuktikan dengan adanya seksi pendaftaran.
148
Peneliti
: Apakah ada batasan usia sebagai persyaratan ?
Informan
: Sementara ini tidak ada.
Peneliti
: Bagaimanakah cara lembaga mempublikasikan pengumuman
pendaftaran? Apakah melalui media massa/selebaran/cukup
menggunakan papan pengumuman?
Informan
: Melalui media internet www.pondoktremas.com , melalui surat
edaran ke wali santri lulusan MTs.
Peneliti
: Kapankah waktu pendaftaran siswa baru?
Informan
: Waktu pendaftaran pada bulan syawal tiap tahunnya, waktunya tgl
15 sampai 20. Kecuali ada udzur.
Peneliti
: Apakah ada penetapan atau batasan daya tampung siswa?
Informan
: Tidak ada batasan.
Peneliti
: Bagaimana/apa syarat siswa yang diterima?
Informan
: Syarat siswa yg diterima adalah lulusan MTs Pondok tremas atau
lulusan kelas Mumtaz 2 atau lulus sistem ujian (Tes loncat)
Peneliti
: Apakah ada buku pendaftaran dalam penerimaan siswa baru?
Informan
: Ada,
Peneliti
: Apakah setiap murid baru dicatat dalam buku induk?
Informan
: Iya
Peneliti
: Apakah ada buku kleper dalam pencatatan siswa?
Informan
: Ada
149
Peneliti
: Apakah ada TATA TERTIB SISWA?
Informan
: Ada
Peneliti
: Apakah ada daftara presensi murid di setiap kelas?
Informan
: Ada
Peneliti
: Apakah disiplin dalam pengisiannya?
Informan
: Iya
Peneliti
: Siapa yang bertanggung jawab dalam mengabsen?
Informan
: Guru fak mengabsen dalam absen pribadi, ketua kelas mengabsen
di kelas,wali kelas mengontrol.
Peneliti
: Apa hambatan dalam manajemen kesiswaan?
Informan
: SDM Pelaksana kurang sehingga masih banyak kekurangan.
Peneliti
: Bagaimana cara mengatasinya?
Informan
: Untuk sementara ini memberi pelatihan Manajemen Kesiswaan
untuk menambah kwalitas SDM.
Peneliti
: Berapakah jumlah siswa siswi Madrasah Aliyah Mu’adalah
Pondok Tremas?
Informan
: Kurang lebih 600 siswa
Peneliti
: Mohon dijelaskan bagaimana keadaan siswa MA Salafiyah
Mu’adalah Pondok Tremas!
Informan
: Siswa Madrasah Aliyah Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas
mayoritas berasal dari keluarga yang orang tuanya adalah alumni
150
Pondok Tremas.
Peneliti
: Bagaimanakh kegiatan BP MASMPTP?
Informan
: kebetulan BP MA ini wilayahnya sekarang di perluas tidak hanya
sekup madrasah tapi berlanjut juga di asrama karena kebetulan
anak – anak MA kan diwajibkan di asrama, karena waktu BP itu
tidak ada dalam pelajaran di kelas maka waktunya mengambil di
luar kelas yaitu ketika jam istirahat atau jam malam plbiasanya
yang ditangani adalah yg pertama tentang ya itu moral, etika dsb,
untuk moinggu-minggu iki focus e karo seragam berpakaian siswa
MA Mu‟adalah pondok tremas itu yg pantes gimana ? nah, itu
sedng kita benahi , kemudian
terkait kasus – kasus jika itu
kaitannya dengan madrasah ya diselesaikan di level BP melibatkan
wali kelas dan kepala madrasah , tapi
dengan
jika ada sangkutannya
masyarakat di luar madrasahyaa nanti BP, wali kelas
menggandeng keamanan pondok dn aparat desa.
Peneliti
: Terima kasih banyak pak
Informan
: Ya mbak, sama - sama.
151
Lampiran 2.5
CATATAN LAPANGAN
(CL.W.05)
Hari, tanggal
: Sabtu, 13 Desember 2014
Jam
: 10.00 WIB
Tempat
: Kediaman pribadi komplek PIP Tremas
Metode
: Wawancara
Informan
: Ustd.H.Akhid Turmudzi
Peneliti
: Bagaimanakah sistim perekrutan guru dan staf di Madrasah
Aliyah Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas Pacitan?
Informan
: Sistim pengadaan guru baru dilaksanakan melalui dua langkah,
pertama melalui penentuan kebutuhan guru dan kedua melalui
rekrutment dan seleksi. Adapun penentuan kebutuhan guru
berdasarkan atas jumlah guru yang ada serta kecenderungan
jumlah siswa baru, maka MA Salafiyah Mu‟adalah pondok Tremas
membuat
proyeksi
kebutuhan
guru
baru.
Hasil
proyeksi
dituangkan dalam daftar kebutuhan atau kekurangan guru.
Peneliti
: Siapakah tim rekrutmen guru?
Informan
: Tim rekrutmen guru terdiri dari masyayikh dan guru senior.
Peneliti
: Kapan rekrutment guru dilakukan?
Informan
: Setiap bulan Sya’ban.
152
Peneliti
: Bagaimana menentukan standar penerimaan guru baru?
Informan
: Ada tiga standard 1.sifat ummuah,ubbuah ini yang paling penting
yang ke 2. Lulus secara akademik 3. Paham Tentang
keorganisasian. 4.bersih dari catatan pelanggaran terutama yang
bersifat syar’i.
Peneliti
: Apakah ada panisment/reaword yang dikenakan pada
karyawan?
Informan
: Tentu ada, bagi MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok Tremas,
reaword
itu
sangat
berguna
sekali,
tidak
hanya
sebuah
penghargaan tetapi sebagai penambah semangat guru dalam
melaksanakan kegiatan mengajar, sebaliknya ada guru yang
melakukan pelanggaran maka guru langsung dipanggil dan diberi
nasihat oleh kepala madrasah, apabila guru tersebut melakukan
pelanggaran
yang
kedua
kalinya
maka
kepala
madrasah
melaporkan kepada pimpinan pesantren dan kemudian dilakuakan
musyawarah seluruh pengurus yayasan apakah guru tersebut masih
diperbolehkan mengajar atau dicabut SK mengajarnya.
Peneliti
: Apakah ada upaya yang dilakukan untuk peningkatan
kwalitas guru/karyawan?
Informan
: Tentu saja ada seperti penataran, lokakarya, workshop, studi
banding, pertemuan ilmiah dan studi lanjut gelar.
153
Peneliti
: Apakah ada Absensi /bagaimanakah cara memantaunya?
Informan
: Ada, disetiap kelas ada absensi kehadiran guru, yang setiap
minggu direkap dan kemudian dilaporkan kepada kepala madrasah
yang selanjutnya melayangkan surat teguran bagi guru yang
ghoib/tidak mengajar tanpa alasan.
Peneliti
: Apakah ada masalah yang berkaitan dengan
ketenagakerjaan?
Informan
: Ada, permasalahan yang sifatnya mudawamah yaitu kita selalu
mbambani atau regenerasi di setiap tahunnya. Jadi, ketika guru itu
sudah mulai mapan kemampuan mengajarnya, dia harus kembali
ke masyarakat tempat tinggalnya.
Peneliti
: Bagaimana cara mengatasinya?
Informan
: ya sebisa mungkin kita atasi itu dengan menganjurkan para guru
baru untuk masuk ma‟had „aly. Jenjang pembelajarannyakan
sekitar empat tahun, jadi mereka masih bisa lebih lama mengabdi
disini, dan merekapun lebih siap berbaur dengan masyarakat
karena sudah bergelar sarjana.
154
Lampiran 2.6
CATATAN LAPANGAN
( CL.W.06 )
Hari, tanggal : Minggu, 14 Desember 2014
Jam
: 10.00 WIB
Tempat
: Kediaman Pribadi Pacitan
Metode
: Wawancara
Informan
: Ustd. Rofiqin, SPd.I
Peneliti
: Darimanakah sumber dana penyelenggaraan pendidikan MA
Salafiyah Mu’adalah Pondok Tremas Pacitan?
Bendahara
: Uang konsidental/uang bulanan yang pembayarannya dibayar 4
bulan sekali menjelang ujian/imtihan dan uang tersebut langsung
dikelola oleh Bendahara Yayasan
Peneliti
: Bagaimanakah sistem pembayaran di MA Salafiyah Mu’adalah
Pondok Tremas Pacitan?
Bendahara
: Sistim pembayaran di MA Salafiyah Mu‟adalah dibayar 4 bulan
sekali setiap kali menjelang ujian cawu, uang tersebut oleh siswa
dibayarkan kepada bendahara umum yang kemudian diserahkan
kepada bendahara Yayasan.
Peneliti
: Jika pembayaran dan pengelolaan dikelola oleh bendahara
Yayasan, lalu apa tugas dari Bendahara madrasah?
Bendahara
: Posisi bendahara mu‟adalah hanya mengurusi uang BSM sekolah
155
dari pemerintah melalui PD Pontren dan Pengurus mu‟adalah
membantu menasarupkan pelaksanaan RAB tersebut dari Yayasan.
Peneliti
: Bagaimanakah struktur bagian keuangan?
Bendahara
: Struktur tertinggi bagian keuangan adalah Bendahara Yayasan,
bendahara umum, baru kemudian bendahara Madrasah
Peneliti
: Bagaimanakah system pembukuan/pencatatan/pelaporan?
Bendahara
: Perincian dana tidak ada , hanya tiap kumpul evaluasi MA
Membutuhkan sarpras , membuat pengajuan/proposal kepada
bendahara umum dan kemudian bendahara umum biasanya
langsung merealisasikan dalam bentuk barang sesuai permintaan.
Peneliti
: Apa hambatan terkait bagian keuangan?
Bendahara
: Karena mu‟adalah ini RAB dan keuangan masih di bawah Yayasan
pesantren, jadi setiap kebutuhan yang dibutuhkan Madrasah harus
mengajukan dulu kepada bendahara yayasan, kendalanya untuk
setiap kebutuhan yang dibutuhkan untuk KBM keseharian kadang –
kadang telat dari apa yang dijadwalkan, meskipun akhirnya tetap
terealisasi juga.
Peneliti
: Bagaimana cara mengatasinya?
Bendahara
: cara
mengatasinya
untuk
sementara
ini
dengan
tetap
mengoptimalkan apa yang sudah ada.
Peneliti
: Apakaha ada bantuan dari pemerintah?
Bendahara
: Ada, bantuan tersebut berupa BSM yang dikelola langsung oleh
bendahara MA Salafiyah Mu‟adalah.
Peneliti
: Bisa dijelaskan tentang BSM sekaligus pengelolaannya?
Bendahara
: BSM adalah Bantuan Siswa Miskin yang diperoleh dari pemerintah
melalui PD PONTREN setiap tahun jumlahnya tidak sama
156
tergantung dari kapontren itu memberikan jumlah berapa? Kalau
untuk tahun ini yang mendapatkan BSM ada 50 siswa PA/PI, yang
dananya dialokasikan untuk membantu siswa untuk membayar iuran
bulanan/syahriyah , kalau masih sisa bisa digunakan untuk
seragam/pun buku/pun peralatan tulis yang lain , kalaupun masih
sisa juga maka digunakan untuk membantu biaya operasional
sekolah dalam arti untuk biaya operasional mu‟adalah itu sendiri.
Adapun persyaratan untuk mendapatkan BSM menyerahkan kartu
SKTM dari desa yang bersangkutan , KK, KTP bagi anak yang
sudah memiliki KTP, adapun yang belum memiliki KTP cukup
dengan akta kelahiran.
157
Lampiran 2.7
CATATAN LAPANGAN
(CL.W.07)
Hari, tanggal : Senin, 15 Desember 2014
Jam
: 16.00 wib
Tempat
: Kediaman pribadi Tremas Pacitan
Metode
: Wawancara
Informan
: Ustd. Jabir SPdi
Peneliti
: Bagaimana system pengadaan sarpras di MASM Pondok
Tremas Pacitan?
Informan
: Sistim pengadaan SARPRAS MA Salafiyah Mu‟adalah Pondok
Tremas adalah swadaya dari Yayasan Pondok Tremas, artinya
pembangunan gedung dan pengadaan peralatan belajar mengajar
semua berasal dari Yayasan.
Peneliti
: Apakah ada bantuan sarpras dari pemerintah?
Informan
: Bantuan dari pemerintah untuk pengadaan gedung dan sebagainya
yang dikhususkan untuk MA Salafiyah Mu‟adalah itu belum pernah
ada.
Peneliti
: Siapa yang berhak mengadakan sarpras?
Informan
: Yang berhak mengadakan SARPRAS adalah Yayasan Pondok,
artinya pengadaan gedung dan perlengkapan yang lain semua adalah
158
kebijakan dari Yayasan.
Peneliti
: Apakah ada data tentang srapras di masing2 ruangan?
Informan
: Pendataan sarpras di masing – masing ruangan untuk sementara ini
belum ada
Peneliti
: Apakah ada system inventarisasi alat?
Informan
: Untuk sistem inventarisasi juga belum ada.
Peneliti
: Siapa yang bertanggung jawab memantau?
Informan
: Yang bertanggung jawab dalam pengawasan kalau ada kerusakan,
perbaikan adalah seksi SARPRAS. Sedangkan untuk dana
perbaikannya adalah dari Yayasan
Peneliti
: Sarpras apa saja yang dimiliki oleh MA Salafiyah Mu’adalah
Pondok Tremas?
Informan
: Sarana prasarana yang dimiliki oleh MA Salafiyah Pondok tremas
adalah gedung sekolah, kantor, kelengkapan – kelengkapan di ruang
kelas, lab bahasa, lab computer, perpustakaan, klinik kesehatan,
MCK
Peneliti
: Apakah ada hambatan terkait sarpras?
Informan
: Kekurangan ruang belajar, sehingga sebagian dari kelas yang
dibutuhkan untuk anak didik terutama karena tahun ini ada
tambahan kelas, maka diletakkan di serambi masjid. Yang Aliyah
Putri tahun kemarin sudah tercukupi ruangannya karena tambah
159
ruang 1 kelas maka diletakkan di serambi asrama tadinya ruangan
itu untuk kantor PI tapi karena kekurangan ruang kelas maka
difungsikan sebagai ruang kelas untuk sementara. Kelayakannya
masih di bawah standar karena ruangannya juga sempit kemudian
tiangnya besar, sehingga sangat mengganggu pandangan pengajar
terhadap peserta didiknya.
Peneliti
: Bagaimana cara mengatasinya?
Informan
: Pengadaan ruangan sekolah selama ini masih bermasalah dengan
pendanaan, keran pendanaan yang selama ini digunakan adalah
swadaya dari pondok pesantren, sumber dananya mengandalkan dari
iuran / kontribusi dari peserta didik yang sama masuk di pesantren
hanya satu kali bayar (uang pembangunan).
160
Lampiran 2.8
CATATAN LAPANGAN
(CL.W.08)
Hari, tanggal : Rabu, 17 Desember 2014
Jam
: 12.30. wib
Tempat
: Kediaman pribadi Tremas Pacitan
Metode
: Wawancara
Informan
: Ustd. H.Rotal
Peneliti
: Bagaimana sejarah berdirinya MA Salafiyah?
Informan
: MA Salafiyah berdiri setelah KH.Kharist Dimyati pulang dari
pesantren Krapyak, sekitar tahun 1954.Dulu pernah diganti menjadi
Mu‟allimin Tingkat Atas, sekitar tahun 1960, tapi tahun 1996
dikembalikan lagi menjadi MA Salafiyah.
Peneliti
: Apa alasannya? Kenapa dikembalikan lagi menjadi MA
Salafiyah?
Informan
: Alasannya karena Mu‟allimin bukanlah nama jenjang pendidikan.
Peneliti
: Siapa sajakah yang pernah menjabat sebagai Kepala MA
Salafiyah Pondok Tremas, sejak berdiri hingga sekarang?
Informan
: Yang pertama KH.Kharist Dimyathi, (tahun 1952-1992) setelah
161
beliau meninggal diganti KH.Habib Dimyathi (tahun 1996-1998),
lalu
Gus
Luqman
(
Nawawi.(2007-sekarang).
1998-2007),
sekarang
Ustd.Abdillah
162
Lampiran 3.1
CATATAN LAPANGAN
Hari, tanggal : Selasa, 10 Desember 2014
Tempat
: PIP Tremas Pacitan
Metode
: Observasi
Selasa, 10 Desember adalah hari kedua penulis berada di PIP Tremas Pacitan, pukul
06.00 penulis menemui Ustadzah Nafisah untuk menanyakan waktu luang karena
penulis ingin segera melakukan wawancara dengan beberapa pihak yang
bersangkutan, kemudian beliau memberi pandangan bagaimana jika hari jum‟at saja
karena hari jum‟at adalah hari libur dan ndalem beliau – beliau ini cukup berdekatan
dan masih satu lokasi dengan pondok, akhirnya saya meng iyakan. Dan beliau
menawari saya untuk berkeliling di area pesantren putri…sambil mengobrol saya
mencoba mengobservasi yang sesuai dengan bahan penelitian saya. Asrama putri
berjumlah 4 asrama yang mana asrama ini memiliki nama masing masing..ada bait
khodijah, bait „aisyah, bait mariyah dan bait khodijah. Bait Khodijah terdiri dari 1
kamar guru dan 12 kamar santri, sebelah timurnya terdapat bait mariyah 3 kamar di
bawah dan 4 kamar di lantai atas yang salah satunya adalah kamar guru. Kemudian
sebelah utaranya adlah Bait „Aiyah bangunan bertingkat lantai bawah untuk musholla
sekaligus aula sedangkan kamarnya terletak di lantai dua terdiri dari 1 kamar guru
dan 11 kamar santri setelah dari bait „Aisyah kami menuju Bait khodijah yang
terletak di sebelah barat bait „Aisyah, bait Khodijah juga bertingkat terdiri dari 1
kamar guru 3 kamar santri di bawah dan 6 kamar santri di lantai atas. Dari ke empat
asrama ini penulis melihat aktifitas para siswa yang hamper sama yaitu persiapan
sekolah ada yang bersiap-siap ke kamar mandi, makan bahkan ada yang menuju ke
ruang kelas. Ruang kelas siwi putri terletak satu komplek dengan asrama tepatnya
berada di sebelah barat secretariat…ruang kelasnya bertingkat tiga ruang di lantai atas
163
dan tiga ruang di lantai bawah..saat penulis melewati ruang kelas waktu menunjukkan
pukul 06.30, kemudian penulis tanyakan kepada ustadzah nafisah, beliau menjelaskan
bahwa ada kegiatan sorogan, setelah selesai berkeliling ustadzah nafisah meminta
ijin kepada penulis bahwa beliau akan bersiap siap untuk mengajar.
164
Lampiran 3.2
CATATAN LAPANGAN
Hari, tanggal : Kamis, 11 Desember 2014
Tempat
: PIP Tremas Pacitan
Metode
: Observasi
Kamis 11 Desember adalah hari ketiga penulis berada di tempat penelitian. Kebetulan
hari kamis malam ada acara penutupan kegiatan Dzibaiyyah wal Khithobiyyah,
kegiatan ini dipanitiai oleh kelas 1 MA PI, penulis meminta ijin untuk mengikuti
kegiatan ini, kegiatan ini adalah sebagian dari ekstrakurlikuler MASMPTP. Kegiatan
ini dimulai setelah isyak
dan dipandu oleh panitia sedangkan sebagai guru
pembimbing adalah wali kelas yang saat ini dijabat oleh Ustadzah Rofiqoh yang
berasal dari purwokerto Jawa tengah, dari beliau penulis mendapatkan informasi
bahwa kegiatan dzibak ini adlah kompetisi antar asrama yang sitiap asrama dibagi
menjadi dua regu seperti bait khodijah A, Bait Khodijah B , Bait „aisyah A , bait
„aisyah B dan seterusnya. Yang dilombakan adalah lomba berpidato dan lomba
membaca Dzibak dengan diiringi samroh/rebana. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula
Pondok Tremas, dengan panggung menghadap ke timur..dengan barisan paling depan
adalah dewan juri kemudian peserta dan penggembira. Satu per satu peserta di
panggil oleh pembawa acara untuk beraksi di atas panggung. Sampai pukul
menunjukkan jam 23.00 dengan diakhiri hiburan hadroh / tari islam, setelah itu
pengumuman pemenang lomba yang saat itu ada dua kategori yaitu pemenang umum
dipegang oleh bait khodijah A dan juara mala mini adalah bait „aisyah B.
165
Lampiran 3.3
CATATAN LAPANGAN
Hari, tanggal : Rabu, 16 Desember 2014
Tempat
: PIP Tremas Pacitan
Metode
: Observasi
Rabu, 16 Desember 2014 adalah hari kedelapan penulis di lokasi penelitian
setelah menyelesaikan wawancara dengan beberapa nara sumber, peneliti diantar
Ustadzah Nurul Maisyah melihat sarana Pra sarana MASMPTP, selain gedung
sekolah kami menuju gedung bertingkat, lantai satu dipergunakan untuk Aula,
sedangkan lantai dua ada empat ruangan, ruangan paling timur adalah laboratorium
bahasa, saat penulis berkunjung ruangan tersebut sedang digunakan untuk kegiatan
listening
siswa
kelas
tiga
Aliyah
Putra,
penulis
meminta
ijin
untuk
mendokumentasikan kegiatan tersebut. Di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa
meja lengkap dengan earphone , dan satu meja lengkap dengan earphone dan
sekaligus projector yang di gunakan oleh tutor. Kemudian kami menuju ruangan
sebelah baratnya digunakan sebagai laboratorium computer, saat penulis berkunjung
keruangan tersebut tidak ada kegiatan semua computer mati penulis minta ijin untuk
mendomentasikan dalam ruangan sekitar 6x10 m2 terdapat 6 komputer menghadap
ke barat, 4 komputer menghadap ke selatan, 6 menghadap ke timur, dan dua
menghadap ke utara untuk tutor, sambil menunjukkan ruangan Ustadzh. Nurul
Maisyah menjelaskan kepada saya tentang mekanisme penggunaannya dalam waktu
satu minggu baik lab bahasa maupun lab computer digunakan bergantian antara siswa
MASMPTP dan sisiwi MASMPTP yang diatur dengan jadwal agar tidak
berbenturan.jika yang menggunakan siswi putri maka harus didampingi wali kelas
putri. Kemudian kami menuju ke gedung berikutnya sekitar 50 meter dari aula,
166
gedung tersebut juga gedung bertingkat lantai bawah digunakan untuk kantor
MASMPTP, sedangkan lantai dua digunakan sebagai perpustakaan, saat penulis
berkunjung bertepatan dengan waktu istirahat sehingga ada banyak siswa yang
sedang berkunjung ke perpustakaan yang ruangannya sekitar 7x10, ada rak buku yang
saling berhadapan dan di tengah nya terdapat meja dan kursi yang diperuntukkan bagi
pembaca.
167
Lampiran 3.4
CATATAN LAPANGAN
Hari, tanggal : Kamis, 17 Desember 2014
Tempat
: PIP Tremas Pacitan
Metode
: Observasi
Kamis, 17 Desember 2014 adalah hari kesembilan penulis berada di lokasi penelitian,
hari ini penulis meminta ijin kepada Ustdh.Nafisatin Al Fafa untuk ikut masuk ke
kelas yang beliau ajar, beliau tidak keberatan dan memepersilahkan. Saat itu
Ustdh.Nafisah memasuki ruang kelas lantai dua paling utara, kelas tersebut adalah
kelas dua Aliyah, saat memasuki ruangan semua siswi sudah berada di dalam
ruangan, kemudian Ustdh.Nafisah memperkenalkan dan menjelaskan maksud dan
tujuan penulis serta diminta agar tidak terganggu dengan kedatangan saya, setelah
diperkenalkan beliau meminta saya untuk duduk di salah satu bangku kosong yang
kebetulan terletak paling belakang ,sebelum mulai mengajar Ustdzh mengabsen siswi
dan saat itu tidak ada yang ijin ataupun ghoib, setelah mengabsen beliau meminta
salah satu siswi untuk maju dan membaca pelajaran yang telah lalu, setelah itu baru
beliau membaca dan menjelaskan materi yang telah dipersiapkan, setelh 45 menit
berlalu beliau megisi absensi yang ternyata adalah absensi guru kemudian
mengucapkan salam dan keluar ruangan, dalam perjalanan menuju asrama saya
bertanya kepada beliau tentang absensi guru, beliau menjelaskan bahwa setiap kelas
ada absensi guru yang tiap minggu direkap kemudian dilaporkan kepada kepala
sekolah guna untuk memonitor kehadiran guru, jika ada yang tidak berangkat tanpa
alas an maka akan mendapat surat teguran.
168
Lampiran 3
DOKUMEN SARPRAS
Gedung MASMPTP
Lab Komputer MASMPTP
MCK MASMPTP
Perpustakaan MASMPTP
Lab Bahasa MASMPTP
Klink Kesehatan MASMPTP
169
Aula MASMPTP
Kantor MASMPTP
Gedung Madrasah MASMPTP
170
Lampiran 3.2
DOKUMEN KEGIATAN SISWA
kegiatan Belajar Siswi MASMPTP
Kegiatan belajar siswa MASMPTP
Siswi dan Guru MASMPTP
171
Lampiran 3.3
DOKUMEN WAWANCARA
Nawaie Lc.
Wawancara dengan kepala sekolah
Wawancara dengan Gus Luqman
Wawancara dengan WAKA Kurikulum
Wawancara denagn WAKA Personalia
Wawancara dengan Bendahara
Wawancara dengan WAKA Sarpras
172
Wawancara dengan Ustadz Senior (H.Rotal)
173
Lampiran 4
RIWAYAT HIDUP
Nama
: Nailissa’adah
Tempat dan tanggal lahir
: Boyolali, 21 Maret 1987
Agama
: Islam
Alamat rumah
: Dawar – Manggis – Mojosongo - Boyolali
Riwayat pendidikan
:
SDN Manggis I
Lulus Tahun 1999
MTs Suka Tulung
Lulus Tahun 2002
MA Pondok Tremas Pacitan
Lulus Tahun 2007
STITNU Pacitan
Lulus Tahun 2011
Download