Page 1 MASA IDDAH WANITA HAMIL YANG DITINGGAL WAFAT

advertisement
MASA IDDAH WANITA HAMIL YANG DITINGGAL WAFAT
SUAMINYA MENURUT FATWA ALI BIN ABI THOLIB
DAN ABDULLAH BIN MAS’UD
(KAJIAN KOMPARATIF)
Oleh
M. Toha Ali, S. Ag.
(Penghulu pada KUA Way Kenanga Kab Tulang Bawang)
C. Latar Belakang
Perkawinan dalam agama Islam dipandang sebagai sesuatu yang suci dan
mulia. Manusia seharusnya menjalankan perintah perkawinan yang suci dan mulia itu
dengan baik dan benar. Suatu perkawinan dalam Islam dipandang sempurna apabila
suami istri mampu membentuk kehidupan rumah tangga yang harmonis, bahagia dan
sejahtera baik lahir maupun batin atau dengan kata lain dapat mewujudkan rumah
tangga yang sakinah, mawaddah warahmah sebagaimana tersirat dalam al Quran
dalam surat ar Ruum ayat 21, yaitu :
           
         
Artinya : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih
dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir".1
Ayat tersebut di atas sangat relevan dengan tujuan perkawinan yang
menyebutkan bahwa tujuan sebuah perkawinan adalah untuk mewujudkan keluarga
sakinah, mawaddah warahmah. 2 Selain itu perkawinan merupakan suatu cara untuk
memperoleh suatu keturunan, karena orang tua memandang anak sebagai penerus
generasi dan sebagai perlindungan dirinya pada saat usia mulai tua.
Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan, menjadikan manusia
laki-laki dan perempuan, menjadikan hewan jantan dan betina, begitu pula tumbuhantumbuhan. Hal ini dimaksudkan agar semua makhluk hidup berpasang-pasangan,
rukun dan damai, sehingga akan tercipta suatu kehidupan yang tenteram, teratur dan
sejahtera. Agar makhluk hidup dan kehidupan di dunia ini tetap lestari, maka harus
ada keturunan yang akan menjadi generasi penerus yang akan melangsungkan dan
melanjutkan jalannya roda kehidupan di bumi ini. Untuk itu harus ada
pengembangbiakan yaitu dengan mengawinkan pasangan dari makhluk yang
berlainan jenis yaitu laki-laki dan perempuan.3
1
Departemen Agama RL, Al Quran dan Terjemahnya, Toha Putra, Semarang, 1989,
hlm. 644.
2
Departemen Agama RI., Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Gunung Pesagi,
Bandar Lampung, 1996, hlm. 3.
3
Sayid Sabiq, Fiqih Sunnah, Penerjemah, Syaiful Islam, Jilid 6, Al Maarif, Bandung,
1996, hlm. 53.
Allah tidak mau menjadikan manusia itu seperti makhluk lainnya yang hidup
bebas mengikuti naluri dan berhubungan antara laki-laki dan perempuan secara
anarkhis dan tidak ada satu aturan. Tetapi demi menjaga kehormatan dan
martabatnya, sehingga hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara
terhormat dan berdasarkan saling ridho meridhoi, dengan upacara ijab qabul sebagai
lambang dari adanya sebuah pernikahan dan dengan dihadiri oleh para saksi kedua
belah pihak.4
Perkawinan merupakan salah satu sunnatullah yang berlaku pada semua
makhluk Tuhan, baik pada manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan dan
merupakan cara yang dipilih oleh Allah sebagai jalan bagi manusia untuk
berkembang biak dan melestarikan hidupnya setelah masing-masing pasangan siap
melakukan perannya yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan yaitu suatu
keluarga yang penuh dengan ketenangan, ketenteraman dan kedamaian sebagaimana
dimaksud dengan kata mawadah warahmat. 5
Dalam perkawinan apabila sangat terpaksa boleh melakukan talak atau cerai
dengan berbagai latar belakang alasan, walaupun Allah SWT sangat membenci
perbuatan talak
tetapi tetap memberikan peluang bagi keluarga yang tidak dapat
mempertahankan keutuhannya. Sedangkan bagi wanita yang sudah dijatuhi talak
oleh suaminya tersebut memiliki masa iddah.
4
Ibid., hlm. 10.
5
Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, Jilid 17, Penerjemah Bahrun Abu Bakar, Karya
Toha Putra, Semarang, Cet Kedua, 1993, hlm. 45.
Iddah secara harfiah berasal dari kata "adda" yang berarti menghitung atau
sejumlah. 6 Adapun secara syara' adalah masa tunggu bagi wanita yang ditinggal mati
atau bercerai dari suaminya. Hal ini dimaksudkan untuk membuktikan kekosongan
rahim dari janin, sehingga tidak tercampur nasab keturunan serta untuk memberi
kesempatan rujuk kepada suami yang mentalak istrinya dengan talak raj’i (bukan
talak
bain/tiga) setelah tenang jiwanya dan hilang rasa marahnya demi menjaga
keutuhan tali perkawinan. 7
Adapun hukum iddah bagi wanita yang ditalak atau ditinggal mati oleh
suaminya adalah wajib. Adapun macam-macam iddah bagi wanita adalah sebagai
berikut :
1. Iddah tiga bulan bagi wanita yang ditalak
oleh suaminya dalam keadaan hidup
dan istri sudah berhenti dari haid (memasuki masa menapouse). Hal ini sesuai
dengan firman Allah dalam surat at Talak ayat 4, yaitu :
            
  
Artinya : "Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara
perempuan-perempuanmu
jika
6
kamu
ragu-ragu
(tentang
masa
A. Zainudin dan Muhamad Jamhari, Al Islam 2 : Muamalah dan Akhlaq, Pustaka
Setia, Bandung, 1999, hlm. 47.
7
Ahmad Azhar Basyir, Op. Cit., hlm. 94.
iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan dan begitu
(pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.... ".
2. Iddah sampai melahirkan bagi wanita yang ditalak
oleh suaminya atau ditinggal
mati oleh suami tetapi ia dalam keadaan hamil, hal ini sesuai dengan firman Allah
dalam surat at Talak ayat 4 :
              ...
 
Artinya : "Waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya
dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah
menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya ".
3. Iddah 4 bulan 10 hari bagi wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dalam
keadaan tidak hamil, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al Baqarah
ayat 234 :
…           
Artinya : "Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu
dengan
meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan
dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari".
4. Bagi istri yang belum pernah dicampuri oleh suaminya, maka baginya tidak ada
iddah jika ditalak, tetapi jika belum dicampuri dan suaminya meninggal, maka
tetap berlaku iddah, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al Ahzab ayat
49 yaitu :
           
…       
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuanperempuan yang beriman, Kemudian kamu ceraikan mereka sebelum
kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib alas mereka
'iddah bagimu yang kamu minta menyempumakannya.
5.
Iddah tiga kali suci (quru') bagi wanita yang ditalak
oleh suami yang masih
hidup dan istri dalam keadaan masih haid, hal ini sesuai dengan firman Allah
dalam surat al Baqarah ayat 228 yaitu :
…      
Artinya : "Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan din (menunggu) tiga
kali quru... ".
Dari kelima jenis macam iddah tersebut di atas, semuanya menimbulkan
perbedaan pendapat dikalangan ulama, salah satunya adalah mengenai masa iddah
bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya .
Penetapan masa iddah bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya
bertujuan
untuk memberi kesempatan berkabung padanya terhadap suami yang
meninggalkannya untuk selama-lamanya, lagi pula tidak pantas bagi seorang istri
yang baru ditinggal wafat oleh suaminya untuk menikah dengan pria lain
Diantara tokoh yang memiliki pandangan yang berbeda tentang masa iddah
bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya adalah Ali bin Abi Tholib dan
Abdullah bin Mas’ud. Ali bin Abi Tholib berfatwa bahwa masa iddah bagi wanita
hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya adalah menunggu sampai kandungannya
melahirkan (at Talak
ayat 4) juga menunggu selama empat bulan sepuluh hari (al
Baqarah ayat 234).8 Ali bin Abi Thalib melanjutkan pendapatnya jika seorang istri
hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya dan melahirkan kandungannya sebelum
jatuh tempo yaitu empat bulan sepuluh hari, maka diharuskan baginya untuk
menangguhkan lagi dirinya untuk menikah dengan pria lain sampai habis masa
iddahnya, tetapi jika telah melewatinya sebelum melahirkan kandungannya maka
diwajibkan baginya untuk menangguhkan diri sampai saat kelahiran.9
Sedangkan Abdullah bin Mas’ud berfatwa bahwa masa iddah bagi wanita
hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya adalah sampai ia melahirkan
kandungannya walaupun kelahiran itu terjadi sebelum jatuh tempo empat bulan
sepuluh hari. Abdullah bin Mas’ud menandaskan pendapatnya dengan firman Allah
dalam surat at Talak ayat 4 di atas.10
8
Abdur Rahim Muhammad, Pengantar ke Fiqih Imam Ali RA., Penerjemah Suaidi,
Arista, Jakarta, 1988, hlm. 46.
9
Ibid.
10
Ibid., hlm. 45.
Apabila dicermati secara mendalam, pendapat Ali bin Abi Thalib dengan
Abdullah bin Mas’ud tersebut di atas di satu sisi memiliki persamaan di sisi yang lain
juga memiliki perbedaan. Kondisi inilah yang memotivasi penulis untuk mengungkap
berbagai latar belakang pemikiran keduanya dan menuangkannya dalam sebuah
penelitian ilmiah.
B. Ali bin Abi Thalib
1. Biografi Ali bin Abi Thalib
Alī bin Abī Thālib adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga
keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah
Khalifah
terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi'ah berpendapat bahwa ia adalah
Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju
memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga Ali menjadi satu-satunya
Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan
setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.11
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13
Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian
Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600 (perkiraan). Muslim Syi'ah
percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka'bah. Usia Ali terhadap Nabi
11
Al Ustdaz Farid Wajdy, Mukaddamah Al Mushafful Mufassar, Al Maktabah, Cairo,
t.th., hlm. 95.
Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut
berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32
tahun.
Beliau bernama asli Abdul Hasan Haydar Ali bin Abi Thalib ibn Abdul
Muthalib Al Hasyim Al Quraisy. Haydar yang berarti Singa adalah harapan
keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh
pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Mekkah. 12
Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi
SAW terkesan tidak suka, karena itu mulai memanggil dengan Ali yang berarti
Tinggi(derajat di sisi Allah).
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad
merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan
Hasyim dari sisi bapak dan ibu.13
Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW
karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqirnya keluarga Abu Thalib
memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk
mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk
membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil
hingga dewasa.
12
Muhammad Hasby Ash Shidiqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Quran dan Tafsir,
Pustaka Riski Putra, Semarang, 1997, hlm. 246.
13
Http://www. Islamensipatoris. Com.
Dalam biografi asing (Barat), hubungan Ali kepada Nabi Muhammad
SAW dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) dan Yesus (Nabi Isa).
Dalam riwayat-riwayat Syi'ah dan sebagian riwayat Sunni, hubungan tersebut
dilukiskan seperti Nabi Harun dan Nabi Musa. 14
Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama
seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai
wahyu tersebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri.
Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.
Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari
Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi
hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang
menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu
masalah ruhani (spirituality dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka
menyebut istilah 'Ihsan') atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf
yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada murid-murid atau
sahabat-sahabat yang lain.
Karena apabila ilmu Syari'ah atau hukum-hukum agama Islam baik yang
mengatur ibadah maupun kemasyarakatan semua yang diterima Nabi harus
disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara masalah ruhani hanya bisa
diberikan kepada orang-orang tertentu dengan kapasitas masing-masing.
14
Al Ustdaz Farid Wajdy, Op. Cit., hlm. 104.
Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam
baik aspek zhahir (exterior) atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf
menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan
bijak.
Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy
yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi
yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang
tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan
diri ke Madinah bersama Abu Bakar.
Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan
putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi
menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang
se-rumpun (Bani Hasyim),
yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an
Muhammad (setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan banyak hal
lain.
Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama
dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping
Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali
masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan
dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.15
15
Http://www. Islamensipatoris. Com.
Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib
ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang
bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara
kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian
tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng
Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para
sahabat tidak mampu membuka benteng Khabar.
Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan
tersebut. Namun, ternyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta
mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang
prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali
pukul hingga terbelah menjadi dua bagian. Hampir semua peperangan beliau ikuti
kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kota
Madinah.
Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi
Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi'ah
berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus
menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga
pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy
bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga
Nabi Ahlul Bait dan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu
pembai'atan Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti
Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang
beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali membai'at Abu
Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya
Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat.
Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang
jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan
bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.
Peristiwa
pembunuhan
terhadap
Khalifah
Utsman
bin
Affan
mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah
membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu
menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib
sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan
Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai'at
mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai'at secara massal,
karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.
Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa
pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah
sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara
umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan
pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin
Ubaidillah, dan Ummul mu'minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah.
Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.
Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai
kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur
meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika
beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang
ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum
muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ,
konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin
yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.
Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang
militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara
karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Beliau
meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam,
seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami
shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali
menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah.
Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang
menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.
Ali memiliki delapan istri setelah meninggalnya Fatimah az-Zahra dan
memiliki keseluruhan 36 orang anak. Dua anak laki-lakinya yang terkenal, lahir
dari anak Nabi Muhammad, Fatimah, adalah Hasan dan Husain.
Keturunan Ali melalui Fatimah dikenal dengan Syarif atau Sayyid, yang
merupakan gelar kehormatan dalam Bahasa Arab, Syarif berarti bangsawan dan
Sayyed berarti tuan. Sebagai keturunan langsung dari Muhammad, mereka
dihormati oleh Sunni dan Syi'ah. 16
Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib memiliki 36 orang anak yang terdiri
dari 18 anak laki-laki dan 18 anak perempuan. Sampai saat ini keturunan itu
masih tersebar, dan dikenal dengan Alawiyin atau Alawiyah. Sampai saat ini
keturunan Ali bin Abi Thalib kerap digelari Sayyid.17
Anak laki-laki
Anak perempuan
Hasan al-Mujtaba
Zainab al-Kubra
Husain asy-Syahid
Zainab al-Sughra
Muhammad bin al-Hanafiah
Ummu al-Hasan
Abbas al-Akbar (dijuluki Abu Fadl)
Ramlah al-Kubra
Abdullah al-Akbar
Ramlah al-Sughra
Ja'far al-Akbar
Nafisah
Utsman al-Akbar
Ruqaiyah al-Sughra
16
Http://www. Islamensipatoris. Com.
17
Http://www. Islamensipatoris. Com.
Muhammad al-Ashghar
Ruqaiyah al-Kubra
Abdullah al-Ashghar
Maimunah
Abdullah (yang dijuluki Abu Ali)
Zainab al-Sughra
‘Aun
Ummu Hani
Yahya
Fathimah al-Sughra
Muhammad al-Ausath
Umamah
Utsman al-Ashghar
Khadijah al-Sughra
Abbas al-Ashghar
Ummu Kaltsum
Ja'far al-Ashghar
Ummu Salamah
Umar al-Ashghar
Hamamah
Umar al-Akbar
Ummu Kiram
2. Wawasan Keilmuan Ali bin Abi Thalib
Para ilmuwan dan sejarawan telah sepakat bahwa Imam Ali adalah salah
seorang mujtahid dan tokoh dalam bidang syariah, oleh sebab itu banyak di antara
para pengarang yang mendahulukannya dalam pembahasan hukum Islam era
shahabat. Diantara bukti yang menunjukkan bahwa Ali adalah orang yang telah
mencapai derajat mujtahid dan mufti, adalah ketika usianya masih muda belia
Rasulullah SAW. telah mengutusnya ke negeri Yaman untuk menjadi Qadhi,
Guru agama dan Juru da'wah.18
18
As Syirazi, Thabaqat Fuqaha, Dar al Ilmi, Mesir, t. th hlm. 41-43.
Ali bin ABi Thalib juga seorang Qadhi dan Mufti yang tidak diragukan
lagi kemampuannya, sampai-sampai Rasulullah SAW sendiri mengizinkannya
untuk memutuskan suatu perkara di hadapan beliau. Contoh yang paling jelas
dalam hal ini adalah ketika Rasulullah SAW duduk bersama para shahabat
datanglah dua orang yang bersengketa mengadukan persoalan masing-masing.
Berkatalah salah seorang dari mereka: "Wahai Rasulullah, saya memiliki seekor
keledai, sedangkan orang ini memiliki seekor sapi dan sapi orang ini telah
membunuh keledai saya". Seketika itu berkata salah seorang shahabat 'Tidak ada
tuntutan hukum bagi binatang temak".
Kemudian Rasulullah menyuruh Ali dengan mengatakan "putuskanlah
antara keduanya Wahai Ali". Selanjutnya Ali pun melaksanakan perintah yang
merupakan suatu penghormatan baginya itu, ia bertanya pada keduanya ; apakah
kedua hewan itu dilepas, atau diikat, ataukah salah satunya terlepas dan yang lain
terikat ? mereka menjawab: "Keledai terikat sedangkan sapi dilepas dan
pemiliknya ada bersamanya". Kemudian Ali memutuskan: "Pemilik sapi
mengganti kepada pemilik keledai". Rasulullah SAW membenarkan keputusan
tersebut serta memerintahkan kepada pemilik sapi untuk mengganti keledai
kepada pemiliknya”.
Keutamaan Iman Ali mendapat pengakuan dari Nabi Muhammad SAW
dan para sahabat. Kiranya cukuplah sebagai bukti yang menunjukkan bahwa
Imam Ali adalah benar-benar telah memenuhi syarat untuk menjadi seorang
mujtahid dan mufti yaitu kesaksian Rasulullah SAW akan hal itu.
Kesaksian para sahabat terhadap Imam Ali dalam bidang ilmu dan syariah
Islam sebagaimana dikemukakan oleh Umar bin Khattab r.a. dia mempunyai
kata-kata masyhur yang diucapkannya berulang-ulang dalam mengungkapkan
keinginannya untuk mencapai ilmu seperti yang dicapai oleh Ali, di antaranya:
"Kalau tidak karena Ali celakalah Umar"' dan "Allah SWT tidak menetapkanku
di bumi manapun yang di sana tidak ada Abu Hasan (Ali bin Abi Thalib).19
Umar dan para shahabat lainnya selalu mengajaknya bermusyawarah dan
mengambil pendapatnya dalam menghadapi persoalan-persoalan besar yang sulit
mereka pecahkan. Hal ini dapat dimengerti karena luasnya wawasan Ali,
derasnya ilmu-ilmu fiqih maupun hadits yang ada padanya, sena dalamnya
pemahaman beliau terhadap run syariah Islam maupun tujuan-tujuannya.
Demikianlah Al-Hasan meriwayatkan bahwasanya Umar bin Khattab pemah
mengumpulkan para shahabat untuk diajak bermusyawarah dan di antara mereka
ada Ali bin Abi Thalib r.a. maka Umar pun berkata padanya "katakanlah
pendapatmu, karena engkaulah yang paling berilmu dan paling utama di antara
mereka".
Pengaruh Ali bin Abi Thalib dalam Fiqih Islam adalah salah seorang yang
mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk mengeluarkan fatwa hukum berbagai
persoalan setelah Nabi Muhammad Saw tiada, bahkan beliau adalah salah
seorang dari tujuh orang shahabat yang banyak mengeluarkan fatwa Demikianlah
kenyataannya, Ali telah banyak mengeluarkan keputusan-keputusan hukum yang
19
Muhammad Hasby Ash Shidiqiy, Op. Cit., hlm. 71.
masyhur dan terangkum dalam kitab-kitab Hadits, Fiqih, maupun Sirah. Di antara
Fatwa-fatwanya itu ada yang dikeluarkan pada zaman Nabi dan mendapat
pengakuan dari beliau, serta ada pula yang dikeluarkan pada zaman shahabat di
mana terdapat banyak fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para sahabat tetapi
bertentangan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh Imam Ali, namun mereka
segera merubah keputusannya berdasarkan kebenaran dan mengakui pendapat
Imam Ali. Terlepas dari banyaknya keputusan yang dikeluarkan oleh Ali, pada
suatu kesempatan ada yang beliau keluarkan seorang diri dan ada pula yang
disepakati oleh sahabat pada kesempatan yang lain.
Imam Ali telah memberikan pengaruh besar terhadap Syariah Islam yang
meliputi perkembangan, pembentukan, tata cara dan dasar-dasarnya, serta segisegi lain yang berhubungan. Berdasarkan kenyataan ini, maka tidaklah berlebihan
jika kita katakan bahwa Imam Ali mempunyai posisi penting di antara ahli fiqih
seluruhnya; baik dari golongan ahli Sunnah maupun Syiah, bukti yang nyata
dalam hal ini adalah adanya pendapat-pendapat Imam Ali yang dipakai dan
dianut oleh ahli fiqih dari madzhab yang berbeda-beda.20
Banyaknya fatwa-fatwa atau keputusan hukum yang dikeluarkan oleh
Imam Ali kemungkinan penyebabnya adalah kembali pada kenyataan bahwa
Imam Ali hidup selama kurang lebih tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi
Muhammad SAW, pada masa-masa itu ia banyak berfatwa, mengajar dan
memberikan pengarahan, karena Imam Ali adalah orang yang cinta ilmu dan
20
Ibid.
senang menyelami berbagai permasalahan untuk memutuskan kebenaran. Lain
daripada itu beliau telah bermukim di Kufah selama lima tahun lamanya, selama
itu sudah pasti banyak fatwa-fatwa yang ia keluarkan atau keputusan-keputusan
hukum yang ia tinggalkan karena waktu itu di Kufah hanya Ali seorang yang
menjadi juru penerang dan ahli fatwa yang diakui kedalaman serta ketajaman
ilmunya, ditambah lagi dengan keikutsertaannya dalam memecahkan berbagai
persoalan dengan ketiga Khalifah pendahulunya, khususnya persoalan-persoalan
yang rumit serta membutuhkan kejelian dan ketajaman pemikiran dalam setiap
segi untuk dapat memecahkan hukumnya.
3. Fatwa Ali bin Abi Tholib tentang Masa Iddah Wanita Hamil yang Ditinggal
Wafat Suaminya
Ali bin Abi Thalib berfatwa bahwa masa iddah wanita hamil yang
ditinggal wafat suaminya adalah masa yang terlama dari dua masa yaitu
menunggu selama empat bulan sepuluh hari dan apabila dia hamil menunggu
sampai ia melahirkan. 21 Fatwa beliau ini menggabungkan dua ayat yakni firman
Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 234 yaitu :
          
             
  
21
Abdur Rahim Muhammad, Pengantar ke Fiqih Imam Ali RA., Penerjemah Suaidi,
Arista, Jakarta, 1988, hlm. 46
Artinya : "Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan
meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan
dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah
habis iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan
mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah
mengetahui apa yang kamu perbuat". (Q.S. al Baqarah : 234).22
Ayat ini menunjukkan umum bagi istri-istri yang ditinggal wafat oleh
suaminya baik dalam keadaan hamil ataupun tidak adalah empat bulan sepuluh
hari.
Dan juga firman Allah SWT dalam surat at Thalaq ayat 4 yaitu :
            
              
  
Artinya : "Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di
antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa
iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu
(pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuanperempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka
melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada
Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam
urusannya". (Q.S. ath Thalaq: 4).23
Ayat ini juga bersifat umum yang mencakup wanita-wanita hamil yang
diceraikan oleh suaminya atau wanita hamil yang ditinggal wafat suaminya. Ali
bin Abi Thalib telah menggabungkan kedua ayat yang bersifat umum itu dengan
22
Departamen Agama RI., Al Quran dan Terjemahnya, Toha Putra, Semarang, 1989,
hlm. 198.
23
Ibid., hlm. 495.
mengkhususkan surat ath Thalaq ayat 4 terhadap wanita hamil yang diceraikan
oleh suaminya saja, karena dalam ayat ini sebelumnya ada disebutkan “qarinah
(penyertaan) bermacam-macam keadaan wanita yang diceraikan; seperti wanita
manopause dan wanita yang belum berhaidh, dengan tidak mengabaikan sifat
umum keduanya yang mencakup wanita-wanita hamil, wanita manopause dan
wanita yang belum berhaid yang ditinggal wafat oleh suami-suami mereka". 24
Jadi pendapat Ali bin Abi Thalib dalam hal ini adalah jika seorang istri
hamil yang ditinggal wafat suaminya dan melahirkan kandungannya sebelum
jatuh tempo empat bulan sepuluh hari, maka diharuskan baginya untuk
menangguhkan lagi dirinya dari nikah dengan pria lain sampai habis masa itu,
tetapi jika ia telah melewatinya sebelum melahirkan kandungannya maka
diwajibkan baginya untuk menangguhkan diri sampai saat kelahiran.
C. Abdullah bin Mas’ud
a. Biografi Abdullah bin Mas’ud
Abdullah bin Mas’ud termasuk dalam golongan pertama yang masuk
Islam (as-sabiquna al awalun) urutan ke-6 dari para sahabat Rasulullah dan ia
termasuk pula sebagai orang yang hijrah ke Habsyah yaitu hijrah pertama kali
dalam islam.
Nama lengkapnya Abdullah bin Mas’ud bin Ghofil bin Habib al-Hadzaly.
Biasanya dipanggil Abu Abdurrahman. Beliau dikenal dengan sebutan “Habrul
24
Abdur Rahim Muhammad, Op. Cit., hlm. 47.
Ummah”(ilmuan umat Islam) seperti halnya Ibn ‘Abbas. Beliau juga termasuk
orang yang ahli fiqh.25
Cerita tentang masuknya Abdulah bin Mas’ud ke dalam Islam, beliau
berkata, ”Adalah aku menggembala kambing kepunyaan ‘Uqbah abi Mu’ith.
Tiba-tiba berlalu Rasulullah bersama Abu Bakar. Kemudian Rasulullah bertanya,
“Ya Ghulam (anak kecil), apakah ada susu di kambing ini ?
Aku menjawab,
“Ada tetapi aku hanya
diamanati (ini bukan
kepunyaanku) lantas Rasulullah bertanya lagi, “Adakah kambing betina yang
belum di dekati si jantan?” Kemudian aku datangkan kambing betina kepada
beliau, kemudian Rasulullah mengusap kantong kelenjar susunya, hingga
keluarlah susu, lantas beliau memerahnya pada sebuah wadah, kemudian beliau
meminumnya dan memberi Abu Bakar.
Beliau bersabda pada kantong susu tersebut, “menyusutlah kamu’. maka
susutlah air susu. Seusai kejadian itu aku datang kepada beliau. ” Ya Rasulullah
ajarkanlah kepadaku al Quran. Kemudian Rasulullah mengusap kepalaku sambil
mendo’akan, ”Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya kamu ini anak kecil
yang mulhama (yang diilhami Allah dengan kebaikan dan kebenaran). Dalam
riwayat yang lain, “Ajarkanlah kami al Quran”. Kemudian Nabi bersabda,
Sesungguhnya kamu adalah anak kecil yang pandai. Lantas kami mengambil 70
surat dari ucapan lisan Rasulullah.
25
Al Ustdaz Farid Wajdy, Op. Cit., hlm. 219.
Beliau adalah sahabat Rasulullah yang berbadan kurus, pendek, besar
perutnya serta kecil kedua betisnya. akan tetapi ia sangat lembut, sabar dan
cerdik. Abdullah termasuk ulama pandai, sehingga dikatakan sebagai al-imam alhibr (pemimpin yang alim, yang shalih). Faqihu al-Ummah (fakihnya ummat). Ia
termasuk bangsawan mulia, termasuk sebaik-baik manusia dalam berpakaian
putih.
Ilmunya beliau melimpah ruah. Ibnu Numair pernah mendengar
Rasulullah bersabda, “Ambillah al Quran dari empat sahabat. Beliau memulai
dengan menyebut Ibnu Ummi ‘Abd (Ibnu Mas’ud), Mu’adz bin Jabal, Ubay bin
Ka’ab dan Salim budak Abu Hudaifah”.26
Beliau adalah sahabat yang senang dengan ilmu, baik menimba ilmu atau
mengamalkannya. Sehingga dinyatakan, bahwa di awal keislamannya, yang
dinginkan adalah diajari al Quran. Sehingga dalam suatu pertemuan dengan
Rasulullah berkat kecemerlangan akalnya langsung bisa menimba ilmu dari lisan
Rasulullah sebanyak 70 ayat. Karena senangnya terhadap ilmu, bahwa orang yang
pertama kali menjahrkan al Quran di Makkah setelah Rasulullah adalah Ibnu
Mas’ud. Dan orang yang pertama kali membaca dari lubuk hatinya adalah
Abdulah bin Mas’ud.
Sesungguhnya Rasulullah pernah berjalan dengan Ibnu Mas’ud, sedang
Ibnu Mas’ud membaca ayat satu huruf satu huruf. Maka beliau bersabda, ”Barang
26
Http://www. Islamensipatoris. Com.
siapa senang membaca al Quran dengan cara yang baik (merendahkan diri)
sebagaimana diturunkan maka dengarkanlah bacaan Ibnu Mas’ud.
Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang paling dekat dengan Nabi. Ia
masuk Islam sebelum masuknya Rasulullah ke Darul Arqam. Ia ikut perang
Badar, Uhud, Khandaq dan perang lainnya.
Ibnu Mas’ud merupakan sahabat yang paling berani dalam berjihad di
jalan Allah, beliau mengikuti semua peperangan yang dilakukan kaum muslimin,
saat perang Badar ibnu Mas’ud pergi menghadap Rasulullah dan memberi kabar
gembira untuknya, beliau berkata : wahai Rasulullah, aku telah berhasil
membunuh Abu Jahal, maka Rasulullahpun gembira mendengar berita tersebut
dan menghadiahkan kepadanya pedang yang dipergunakan Abu Jahal sebagai
imbalan terhadap apa yang dilakukan.
Ayahnya adalah Abu Thalib, paman Nabi SAW, bin Abdul Muththalib,
bin Hasyim, bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah Fathimah binti Asad,
bin Hasyim, bin Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah Thalib, 'Uqail,
Ja'far dan Ummu Hani.
Sebelum wafatnya Utsman bin Affan pernah menawarkan beliau untuk
memberikan sebagian hartanya kepada putrinya. Dengan cara halus beliau
menolak tawaran itu sembari berkata, “Saya tidak takut anak perempuanku
menjadi fakir miskin”. Beliau melanjutkan ucapannya tadi, “Tiap malam saya
suruh anak perempuanku saya untuk membaca surah al-Waqiah. Sebab saya
pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa membaca surah al-Waqiah
tiap malam, dia tidak tertimpa kefakiran selamanya” (Ibn Katsir menyebutkan
dalam kitabnya).
Beliau Wafat di Madinah pada tahun 32 H ketika terbunuhnya Ustman bin
Affan, dalam usia 60 tahun lebih. Yang menshalati beliau adalah Zubair bin
awwam, ada yang mengatakan Ammar bin Yasir. Pada malam wafatnya, ia
langsung dimakamkan di Baqi’ sebuah pekuburan di Madinah Munawarah.
Semoga Allah meridhainya dan menempatkan di surga-Nya
b. Wawasan Keilmuan Abdullah bin Mas’ud
Abdulah bin Mas’ud merupakan sahabat yang paling cerdas dalam hafalan
Qiraah al Quran, dan memiliki suara yang merdu. Karena itulah Rasulullah SAW
pernah bersabda “Mintalah kalian akan bacaan al Quran pada empat sahabat :
Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin
Jabal”. (HR. Al-Bukhari). Beliau juga bersabda “bagi siapa yang suka membaca
Al-Quran dengan benar sesuai dengan yang diturunkan, maka hendaknya
mengikuti bacaan Ibnu Ummi Abd”. 27
Abdulah bin Mas’ud adalah seorang ahli ibadah, juga seorang ulama fikih,
pemimpin keagamaan masyarakat Irak, dan peletak mazhab fikih di Kufah.
Beliau juga termasuk dalam golongan para sahabat yang pertama masuk Islam.
Kedekatan beliau dengan Rasulullah SAW memberikan banyak andil
dalam wawasan ilmiah beliau hingga akhirnya beliau menjadi salah seorang
27
Mohammad Ali Ash Shobuni, Pengantar Ilmu-ilmu Al Quran, Penerjemah Saiful
Islam Jamaludin, Al Ikhlas, Surabaya, 1993, hlm. 143.
pelopor dalam perkembangan fikih Islam. Warisan keilmuannya menyebar di
seantero dunia Islam. Selain itu, beliau juga menjadi tempat bertanya para sahabat
besar.
Sangat jenius, begitu juga Rasulullah SAW menyifatinya. Beliau
mendapat kesempatan emas turut dalam perang Badar Kubra. Sebelum hijrah,
beliau dipersaudarakan dengan Zubeir bin Awwam. Kemudian sesampai di
Madinah al Munawwarah, beliau dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Mu’az. Pada
masa khalifah Umar bin Khattab, beliau diutus ke Qadisiyyah menjadi guru dan
pengajar bagi muslimin di daerah itu.
Dalam soal harta, ia tak punya apa-apa, tentang perawakan ia kecil dan
kurus, apalagi dalam soal pengaruh, maka derajatnyapun di bawah… tapi sebagai
ganti dari kemiskinnaya itu, Islam telah memberinya bagian yang melimpah dan
perolehan yang cukup dari perbendaharaan Kisra dan simpanan Kaisar. Dan
sebagai imbalan dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, di anugerahi-Nya
kemauan baja yang dapat menundukan para adikara dan ikut mengambil bagian
dalam merubah jalan sejarah. Dan untuk mengimbangi nasibnya yang tersia
terlunta-lunta, Islam telah melimpahnya ilmu pengetahuan, kemuliaan, serta
ketetapan yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam
sejarah kemanusiaan.
c. Fatwa Abdullah bin Mas’ud tentang Masa Iddah Wanita Hamil yang
Ditinggal Wafat Suaminya
Adapun Ibnu Mas'ud berfatwa bahwa iddah wanita hamil yang ditinggal
wafat suaminya adalah sampai ia melahirkan kandungannya walaupun kelahiran
itu terjadi sebelum jatuh tempo empat bulan sepuluh hari. 28 Pendapatnya ini
berdasarkan firman Allah SWT dalam surat at Thalaq ayat 4 yaitu :
            
              
  
Artinya : "Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di
antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa
iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu
(pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuanperempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka
melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada
Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam
urusannya". (Q.S. ath Thalaq: 4).
Ayat ini menurut Abdulah bin Mas’ud diturunkan setelah turunnya ayat
pada surat al Baqarah ayat 234. Abdulah bin Mas’ud menjelaskan bahwa "apakah
kalian akan membuat kesulitan pada wanita tersebut dan tidak memberikan
keringanan padanya”?, Sesungguhnya ayat yang pendek ini diturunkan sesudah
ayat yang panjang".
Abdulah bin Mas’ud juga memperkuat pendapatnya ini dengan keputusan
hukum yang dikeluarkan oleh Rasulullah SAW pada peristiwa Subai'ah AlAslamiah, demikian Ummu Salamah meriwayatkan
28
Al Ustdaz Farid Wajdy, Op. Cit., hlm. 220.
"bahwasanya seorang
perempuan dari Qabilah Bani Aslam yang bernama Subai'ah Al Aslamiah
ditinggal wafat oleh suaminya dalam keadaan mengandung, datanglah Abu
Sanabil bin Ba'aka melamarnya, tetapi ia menolaknya. Kemudian dikatakan
padanya "Demi Allah engkau tidak pantas menikah lagi sehingga engkau
beriddah sampai akhir dua masa". Maka kemudian perempuan itu menangguhkan
dirinya selama kurang lebih sepuluh malam hingga ia melahirkan kandungannya.
Setelah itu ia menghadap Rasulullah SAW., beliapun bersabda "Menikahlah
engkau".
D. Analisis
Dalam analisis ini, penulis mengacu dalam pembahasannya kepada rumusan
masalah yang telah dirumuskan yaitu bagaimana fatwa Ali bin Abi Thalib dan
Abdullah bin Mas’ud tentang masa Iddah bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh
suaminya serta apa yang melatarbelakangi perbedaan fatwa antara Ali bin Abi Thalib
dan Abdullah bin Mas’ud tentang masa Iddah bagi wanita hamil yang ditinggal wafat
oleh suaminya.
Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya bahwa Ali bin Abi Thalib
berfatwa berkenaan dengan masa iddah bagi wanita hamil yang ditinggal wafat
suaminya adalah masa yang terlama dari dua masa, dengan dasar menggabungkan
kedua ayat kemudian mengamalkan hukum keduanya bersama-sama yakni firman
Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 234 "Orang-orang yang meninggal dunia di
antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan
dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis
'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap
diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat". (Q.S. al
Baqarah : 234).
Menurut Ali bin Abi Thalib ayat ini menunjukkan umum bagi istri-istri yang
ditinggal wafat oleh suaminya baik dalam keadaan hamil ataupun tidak adalah empat
bulan sepuluh hari. Dan juga firman Allah SWT dalam surat at Thalaq ayat 4 "Dan
perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuanperempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah
mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.
dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka
melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya
Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya". (Q.S. ath Thalaq: 4).
Ayat ini juga bersifat umum yang mencakup wanita-wanita hamil yang
diceraikan oleh suaminya atau wanita hamil yang ditinggal wafat suaminya. Ali bin
Abi Thalib telah menggabungkan kedua ayat yang bersifat umum itu dengan
mengkhususkan surat ath Thalaq ayat 4 terhadap wanita hamil yang diceraikan oleh
suaminya saja, karena dalam ayat ini sebelumnya ada disebutkan 'qarinah'
(penyertaan) bermacam-macam keadaan wanita yang diceraikan; seperti wanita
manopause dan wanita yang belum berhaidh, dengan tidak mengabaikan sifat umum
keduanya yang mencakup wanita-wanita hamil, wanita manopause dan wanita yang
belum berhaidh yang ditinggal wafat oleh suami-suami mereka".
Jadi pendapat Ali bin Abi Thalib dalam hal ini adalah jika seorang istri hamil
yang ditinggal wafat suaminya dan melahirkan kandungannya sebelum jatuh tempo
empat bulan sepuluh hari, maka diharuskan baginya untuk menangguhkan lagi
dirinya dari nikah dengan pria lain sampai habis masa itu, tetapi jika ia telah
melewatinya sebelum melahirkan kandungannya maka diwajibkan baginya untuk
menangguhkan diri sampai saat kelahiran.
Adapun Ibnu Mas'ud memandang bahwa iddah wanita hamil yang ditinggal
wafat suaminya adalah sampai ia melahirkan kandungannya walaupun kelahiran itu
terjadi sebelum jatuh tempo empat bulan sepuluh hari. Pendapatnya ini berdasarkan
lil firman Allah SWT dalam surat at Thalaq ayat 4 "Dan perempuan-perempuan yang
hamil waktu iddah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan kandungannya".
(Q.S. Ath-Thalaq: 4).
Ayat ini menurut Abdulah bin Mas’ud diturunkan setelah turunnya ayat pada
surat al Baqarah ayat 234. Abdulah bin Mas’ud menjelaskan bahwa "apakah kalian
akan membuat kesulitan pada wanita tersebut dan tidak memberikan keringanan
padanya”?, sesungguhnya ayat yang pendek ini diturunkan sesudah ayat yang
panjang".
Abdulah bin Mas’ud juga memperkuat pendapatnya ini dengan keputusan
hukum yang dikeluarkan oleh Rasulullah SAW pada peristiwa Subai'ah Al-Aslamiah,
demikian Ummu Salamah meriwayatkan
"bahwasanya seorang perempuan dari
Qabilah Bani Aslam yang bernama Subai'ah Al Aslamiah ditinggal wafat oleh
suaminya dalam keadaan mengandung, datanglah Abu Sanabil bin Ba'aka
melamarnya, tetapi ia menolaknya. Kemudian dikatakan padanya "Demi Allah
engkau tidak pantas menikah lagi sehingga engkau beriddah sampai akhir dua masa".
Maka kemudian perempuan itu menangguhkan dirinya selama kurang lebih sepuluh
malam hingga ia melahirkan kandungannya. Setelah itu ia menghadap Rasulullah
SAW, beliapun bersabda "menikahlah dengan siapa saja yang engkau kehendaki".
Apabila kita menganalisa lebih dalam terhadap fatwa Ali bin Abi Thalib
tentang masa iddah bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya,
dilatarbelakangi bukan hanya didasari pada kekosongan rahim perempuan dari janin
sebagai satu-satunya pertimbangan bagi berakhirnya masa iddah perempuan hamil
yang ditinggal mati suaminya, tetapi dipertimbangkan pula masa berkabung yang
empat bulan sepuluh hari meskipun dengan melahirkan saja sudah cukup sebagai
bukti kuat bagi kosongnya rahim wanita, namun hal ini tidak ia jadikan sebagai
standar bagi masa iddahnya kecuali jika telah melewati tempo yang telah ditentukan.
Ali bin Abi Thalib selain memperhatikan segi kekosongan rahim juga
menambahkan pentingnya seorang istri yang baru ditinggal mati suaminya untuk
berkabung atas kematiannya, maka menurut fatwa Ali tidak dihalalkan baginya untuk
menikah lagi kecuali setelah melewati masa berkabung yang telah ditentukan
lamanya oleh al Quran meskipun ia telah melahirkan kandungannya sebelum masa
itu.
Ada kemungkinan perempuan yang ditinggal mati suaminya dalam keadaan
hamil itu melahirkan kandungannya sebelum melewati masa empat bulan sepuluh
hari, maka masa yang terima di antara dua masa baginya adalah dengan menunggu
sampai akhir masa berkabung tersebut, yakni setelah perempuan itu melahirkan
kandungannya ia masih harus menunggu dan dalam hal ini masa iddahnya adalah
empat bulan sepuluh hari.
Atau boleh jadi pula ia melahirkan kandungannya setelah melewati masa
berkabung, maka masa yang terima di antara dua masa baginya adalah dengan
melahirkan kandungannya. Dengan demikian masa iddahnya adalah sampai ia
melahirkan kandungannya, karena masa yang empat bulan sepuluh hari sudah
termasuk dalam masa hamil.
Menurut hemat penulis fatwa Imam Ali bin Abi Thalib terhadap adanya masa
berkabung bagi perempuan hamil yang ditinggal wafat suaminya adalah sesuatu yang
mengandung makna yang dalam, karena secara adat manapun tidak layak bagi
seorang perempuan yang baru saja ditinggal mati suaminya untuk langsung menikah
lagi dengan laki-laki lain atau setelah beberapa hari saja dari kematian sang suami.
Yang demikian itu menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap jalinan tali
perkawinan yang suci serta mengingkari kebaikan-kebaikan ataupun keutamaankeutamaan orang yang pernah mendampingi hidupnya.
Ini semua ditinjau dari satu aspek, sedangkan dari aspek yang lain adalah
sesungguhnya dengan adanya masa berkabung bagi perempuan yang baru ditinggal
suaminya akan memberikan gambaran yang baik baginya di mata masyarakat umum.
Hal itu juga dapat mencegah pembicaraan orang yang tidak baik atas dirinya dan
dapat menjaga kemuliaannya sehingga tidak ada seorangpun yang membicarakannya
atau menjelek-jelekkannya ataupun menghinanya oleh sebab perlakuannya yang tidak
layak terhadap suami yang telah meninggal. Terlebih lagi dengan adanya masa
berkabung tersebut akan mempererat hubungan kekeluargaan dengan pihak
almarhum suami, karena hal itu menunjukkan betapa seorang istri masih ingat akan
kebaikan-kebaikan yang pernah diberikan sang suami padanya dan betapa ia dapat
memenuhi hak-hak suami semasa hidup maupun sesudah ia tiada. Selain itu semua
dimaksudkan pula untuk menghormati perasaan sanak keluarga dan kaum kerabatnya,
dan juga untuk mengungkapkan kesetiaan atau kesedihan hati karena ditinggal suami
untuk selama-lamanya sebagai orang yang pernah mendampingi hidupnya, ataupun
hal-hal lain yang kesemuanya itu dapat mempererat hubungan kekeluargaan.
Lebih lanjut Ali bin Abi Thalib menjelaskan perbedaan masa berkabung
terhadap suami dan berkabung terhadap lainnya. Musibah kematian yang menimpa
seseorang sudah pasti di belakangnya meninggalkan kekalutan, kepedihan dan
kesedihan yang merupakan tabiat alamiah. Allah SWT yang Maha Bijaksana dan
Maha Waspada telah membolehkan yang wajar-wajar saja dari hal itu, yaitu selama
tiga hari untuk mengembalikan ketenangan jiwa dan menghilangkan kekalutan.
Kemudian ia menambahkan dibolehkannya bagi wanita untuk berkabung
karena wanita adalah makhluk yang lemah dan biasanya kurang sabar untuk
berkabung atas kematian sanak familinya selama tiga hari, adapun berkabung atas
kematian suami bagi mereka adalah seiring dengan masa iddah, karena sesungguhnya
setiap wanita perlu berhias, berdandan dan memakai wewangian agar lebih dicintai
oleh suami dan supaya hati suami tenteram memandangnya serta agar mendapatkan
perlakuan yang harmonis darinya. Namun setelah sang suami meninggal dunia ia
diharuskan untuk beriddah karenanya, dan selagi dalam masa iddahnya tersebut
berarti ia masih terikat kewajiban dengan suami yang telah meninggal, yaitu dengan
tidak memakai wewangian, pakaian-pakaian yang menyolok atau perhiasan-perhiasan
sebagaimana dilakukan oleh istri-istri di hadapan suami mereka. Hal itu dimaksudkan
untuk menutup kemungkinan laki-laki lain tertarik padanya atau sebaliknya ia yang
berpaling pada laki-laki lain dengan melupakan suami yang belum lama meninggal.
Setelah masa iddah atau masa berkabungnya selesai jika ia berhajat untuk menikah
lagi maka dibolehkan baginya untuk bersolek, memakai perhiasan dan lain
sebagainya sebagaimana layaknya seorang wanita yang bersuami.
Tidak ada sesuatupun yang lebih baik daripada perintah untuk berkabung bagi
istri-istri yang baru ditinggal mati suaminya dengan meninggalkan perbuatanperbuatan atau hal-hal lain yang biasa mereka lakukan selama jangka waktu tertentu
kemudian dibolehkan kembali setelah masa berkabungnya selesai.
Adapun yang melatar belakangi fatwa Abdulah bin Mas’ud tentang masa
iddah bagi wanita hamil yang ditinggal wafat oleh suaminya adalah sampai ia
melahirkan kandungannya walaupun kelahiran itu terjadi sebelum jatuh tempo empat
bulan sepuluh hari
adalah adanya hadits yang diriwayatkan oleh Subai'ah Al-
Aslamiah "bahwasanya seorang perempuan dari Qabilah Bani Aslam yang bernama
Subai'ah Al Aslamiah ditinggal wafat oleh suaminya dalam keadaan mengandung,
datanglah Abu Sanabil bin Ba'aka melamarnya, tetapi ia menolaknya. Kemudian
dikatakan padanya "Demi Allah engkau tidak pantas menikah lagi sehingga engkau
beriddah sampai akhir dua masa". Maka kemudian perempuan itu menangguhkan
dirinya selama kurang lebih sepuluh malam hingga ia melahirkan kandungannya.
Setelah itu ia menghadap Rasulullah SAW, beliapun bersabda "menikahlah dengan
siapa saja yang engkau kehendaki".
Fatwa Abdullah bin Mas’ud sangat bertentangan dengan fatwa Ali bin Abi
Thalib. Menurut Ali bin Abi Thalib fatwa yang menyebutkan tujuan masa iddah
selain untuk mengetahui kekosongan rahim juga untuk memberi kesempatan
berkabung atas kematian suaminya. Menurutnya meskipun tidak ada hadits Subai'ah
dalam menetapkan masa yang terima dari dua masa (bagi masa iddah perempuan
hamil yang ditinggal mati suaminya) tetap tidak benar.
Berdasarkan latar belakang pemikiran antara Ali bin Thalib dengan Abdullah bin
Mas’ud tersebut di atas, menurut penulis bahwa pendapat Imam Ali bin Abi Thalib
adalah yang paling mendekati kebenaran kalau saja tidak ada hadits Subai'ah AlAslamiah (hadits yang dijadikan sandaran oleh Abulah bin Mas’ud) yang
menerangkan bahwa sesungguhnya iddah perempuan hamil yang ditinggal wafat
suaminya adalah berakhir dengan melahirkan kandungannya walaupun hal itu terjadi
sesaat saja setelah kematian suaminya, karena pendapat ini dikuatkan oleh adanya
hadits shahih (hadits Subai'ah) yang wajib untuk diikuti, sesuai dengan perintah Allah
SWT.
Download