(Extended Family) dengan Mobilisasi Dini Ibu Pasca Operasi Seksio

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Mobilisasi Dini
1. Pengertian Mobilisasi Dini
Mobilisasi atau ambulasi dini diartikan sebagai suatu
keadaan dimana setelah pasien operasi seyogyanya dapat
turun sebentar dari tempat tidur dengan bantuan, paling
sedikit dua kali (Cunningham.,dkk, 2006). Mobilisasi dini (early
ambulation) juga diartikan sebagai suatu kebijaksanaan untuk
membimbing ibu post partum agar bangun dari tempat
tidurnya dan membimbing untuk secepat mungkin untuk
kembali berjalan (Saleha, 2009).
Dalam 6-8 jam tenaga medis yang merawat ibu pasca
melahirkan akan menolong untuk duduk ditempat tidur, duduk
disamping tempat tidur dan mulai berjalan jarak pendek
(Gallagher, 2005). Saat ini ibu pasca operesi seksio sesarea
tidak perlu terlentang di tempat tidur terlalu selama 7-14 hari
setelah melahirkan. Mobilisasi dini tentu tidak dibenarkan
pada ibu pasca melahirkan dengan penyulit, seperti anemia,
penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam dan sebagainya.
Penambahan kegiatan dengan mobilisasi dini harus bertahap
jadi bukan maksudnya ibu setelah bangun dibenarkan
12 mencuci, memasak, dan lain sebagainya (Saleha, 2009).
Menurut Gallagher (2005), latihannya barangkali tidak mirip
dengan yang normalnya dilakukan, tetapi pergerakan kecil
sekalipun akan perlahan-lahan memperkuat tubuh dan
meningkatkan sirkulasi darah. Tetapi perlu diingat bahwa ibu
dalam kondisi baru melahirkan tidak perlu menggerakkan
tubuh berlebihan dan harus menjaga kondisi tubuh ibu agar
tidak kelelahan.
Dari
berbagai
pengertian
diatas
maka
dapat
disimpulkan bahwa mobilisasi dini merupakan tindakan yang
dilakukan pada klien pasca persalinan untuk melakukan
gerakan-gerakan tubuh yang sederhana demi melatih klien ke
kondisi normalnya, dilakukan secara bertahap dan tidak perlu
berlebihan.
2. Prosedur Tindakan Mobilisasi Dini
Menurut Gallegher (2005), langkah-langkah dalam
prosedur tindakan mobilisasi dini yaitu sebagai berikut.
1. Hari 1 – 4
a. Membentuk Lingkaran dan Meregangkan Telapak Kaki
Ibu
dianjurkan
untuk
membentuk
meregangkan telapak kaki saat
lingkaran
dan
berbaring di tempat
tidur, sehingga mampu membentuk gerakan melingkar
13 dengan telapak kaki satu demi satu. Gerakan itu
diharapkan
mampu
dilakukan
ibu
seperti
sedang
menggambar sebuah lingkaran dengan menggunakan
jari kaki dari satu arah ke arah lainnya. Ibu dianjurkan
pula untuk meregangkan masing – masing telapak
kakinya dengan cara menarik jari – jari kaki ke arah
betis, lalu membalikkan ujung telapak kaki ke arah
sebaliknya sehingga ibu merasakan otot betisnya
berkontraksi. Ibu dapat melakukan gerakan ini sebanyak
dua sampai tiga kali dalam sehari.
b. Bernafas dalam – dalam
1.
Ibu yang sedang dalam posisi berbaring dianjurkan
untuk menekukkan kakinya sedikit. Kedua tangan
ibu diletakkan di bagian dada atas, lalu menarik
nafas. Saat
menarik nafas, ibu dianjurkan untuk
mengarahkan nafas dengan tangan, lalu menekan
dada saat menghembuskan nafas.
2.
Ibu dianjurkan menarik nafas sedikit lebih dalam
dan menempatkan kedua tangannya diatas tulang
rusuk.
Ibu
dapat
merasakan
paru–parunya
mengembang, lalu menghembuskan nafas seperti
sebelumnya.
14 3. Ibu dapat mengulangi cara bernafas yang lebih dalam
sehingga mencapai perut. Hal ini mampu merangsang
jaringan – jaringan di sekitar bekas luka ibu. Menyangga
daerah insisi ibu dengan cara menempatkan kedua
tangan secara lembut di atas daerah tersebut. Kemudian
ibu dapat menarik dan hembuskan nafas yang lebih
dalam lagi selama beberapa kali. Ibu dapat mengulangi
tindakan tersebut sebanyak tiga sampai empat kali.
c. Duduk tegak
1.
Ibu dianjurkan untuk menekuk lutut dan memiring
tubuhnya ke samping.
2.
Membantu ibu memutar kapala dan menggunakan tangan
– tangannya untuk membantu dirinya ke posisi duduk.
Saat ibu melakukan gerakan yang pertama, maka luka
akan tertarik dan ibu merasa sangat tidak nyaman, lalu
ibu dapat berhasil duduk dengan bantuan lengan dan
mempertahankan posisi selama beberapa saat.
3.
Ibu mulai dapat memindahkan berat tubuhnya ke tangan,
lalu menggoyangkan pinggulnya ke arah belakang. Ibu
juga dapat duduk setegak mungkin dan menarik nafas
dalam – dalam beberapa kali hingga mampu meluruskan
tulang punggung dengan cara mengangkat tulang –
15 tulang rusuk. Menggunakan tangan ibu untuk menyangga
insisi lalu ibu disarankan untuk batuk 2 atau 3 kali.
d. Bangkit dari tempat tidur
1. Ibu diharapkan mampu menggerakkan tubuh hingga
ke posisi duduk. Dimulai dengan menggerakkan kaki
pelan – pelan ke sisi tempat tidur, lalu menggunakan
tangan ibu untuk mendorong ke depan. Kemudian,
secara perlahan-lahan ibu dapat menurunkan telapak
– telapak kakinya ke lantai.
2. Ibu dapat menekan sebuah bantal dengan ketat di
atas bekas luka ibu untuk menyangga. Setelah bagian
atas tubuh ibu disangga dengan bantal. Ibu dapat
meluruskan seluruh tubuh dan meluruskan kaki –
kaki.
e. Berjalan
Saat ibu menggunakan bantal untuk menekan
di atas bekas luka dan berjalanlah ke depan, diusahakan
agar kepala ibu tetap tegak dan bernafas lewat mulut.
Ibu juga dapat terus berjalan selama beberapa menit
sebelum kembali ke tempat tidur.
16 f.
Berdiri dan meraih
Ibu dapat memposisikan diri untuk duduk di
bagian
tepi
mengangkat
tempat
tidur,
tubuh
hingga
lalu
usahakan
berdiri.
Ibu
untuk
perlu
mempertimbangkan untuk mengkontraksikan otot – otot
punggung agar dada mengembang dan meregang.
Kemudian, ibu dapat mencoba untuk mengangkat tubuh,
mulai dari pinggang secara perlahan – lahan melawan
dorongan alamiah untuk membungkuk, lalu melemaskan
tubuh ke depan selama satu menit.
g. Menarik perut
Ibu dianjurkan untuk berbaring di tempat tidur
dan mengkontraksikan otot – otot dasar pelvis untuk
menarik perut. Untuk melakukan tindakan tersebut dapat
dilakukan secara perlahan – lahan dengan meletakkan
kedua tangan di atas bekas luka dan berkontraksi untuk
menarik perut menjauhi tangan ibu. Ibu dapat melakukan
sebanyak 5 kali tarikan dan dapat melakukannya selama
2 kali sehari.
17 h. Saat menyusui
Ibu dapat menarik perut semabari menyusui.
Mengkontraksikan otot – otot perut selama beberapa
detik lalu dilemaskan. Teknik tersebut dapat dilakukan
sebanyak 5 sampai 10 kali setiap kali ibu menyusui.
2. Hari 4 – 7
a. Menekuk pelvis
Ibu dapat melakukan kontraksi terhadap abdomen
dan menekan punggung bagian bawah ke tempat tidur. Jika
ibu
melakukannya
dengan
benar
maka
pelvis
akan
menekuk. Ibu dapat melakukan tersebut sebanyak 4 sampai
8 tekukan selama 2 detik.
b. Meluncurkan kaki
Ibu
disarankan
untuk
berbaring
dengan
lutut
tertekuk dan bernafas secara normal, lalu ibu dapat
meluncurkan kaki di atas tempat tidur sehingga menjauhi
tubuh. Seraya mendorong tumit ibu dapat mengulurkan kaki
sehingga ibu akan merasakan sedikit denyutan di sekitar
insisi. Ibu dapat melakukan 4 kali dorongan untuk satu kaki.
18 c. Sentakan pinggul
1. Ibu dianjurkan untuk berbaring di atas tempat tidur, lalu
menekukkan kaki ke atas dan merentangkan kaki yang
satu
lagi.
Gerakan
tersebut
dilanjutkan
dengan
menunjuk ke arah jari – jari kaki.
2. Ibu dapat mendorong pinggulnya agar pada sisi yang
sama dengan kaki yang tertekuk ke arah bahu,
kemudian dilemaskan. Ibu dianjurkan untuk mendorong
kakinya agar menjauhi tubuh dengan lurus. Melakukan
gerakan yang sama secara berulang sebanyak 6 hingga
8 kali untuk masing – masing bagian tubuh.
d. Menggulingkan lutut
1.
Ibu
dianjurkan
untuk
berbaring
di
tempat
tidur,
kemudian meletakkan tangannya di samping tubuh
untuk menjaga keseimbangan.
2.
Secara perlahan – lahan ibu dapat menggerakkan
kedua lutut ke satu sisi. Gerakkan lutut hingga bisa
merasakan tubuh ikut berputar. Ibu dapat melakukan
3 kali ayunan lutut ke masing – masing sisi. Kemudian,
diakhiri dengan meluruskan kaki.
19 e.
Posisi jembatan
Ibu berbaring di atas tempat tidur dengan kedua
lutut tertekuk. Membentangkan kedua tangan ibu ke
bagian samping untuk keseimbangan. Lalu menekan
telapak kaki ibu ke bawah secara perlahan – lahan dan
pinggul kemudian diangkat dari tempat tidur maka ibu
akan merasakan tulang tungging terangkat. Gerakangerakan ini dapat dilakukan sebanyak 5 kali dalam sehari.
f. Posisi merangkak
1. Secara perlahan – lahan ibu mengangkat tubuh dengan
menopang kedua tangan dan kakinya di atas tempat
tidur. Ibu dapat mempertahankan posisi merangkak
tanpa merasa tak nyaman sedikitpun, ibu dapat
menambah beberapa gerakan dalam rangkaian ini.
2. Ibu dapat menekan tangan dan kaki di tempat tidur, dan
mencoba untuk melakukan gerakan yang sama dengan
sentakan pinggul, sehingga pinggul terdorong ke arah
bahu. Jika melakukan gerakan ini dengan benar, ibu
akan merasa seolah – olah menggoyang- goyangkan
ekor. Gerakan ini dapat dilakukan sebanyak 5 kali dalam
sehari.
20 3. Ibu dapat menekan bagian tengah punggung ke arah
bawah, saat melengkung tubuh ke bawah, ibu bisa
merasakan perut meregang. Kemudian, saat meluruskan
punggung ibu harus berkonsentrasi untuk menarik
abdomen.
3. Manfaat Mobilisasi Dini
Menurut Gallagher (2005), operasi dan anastesi
dapat
menyebabkan
akumulasi
cairan
yang
dapat
menyebabkan pneumonia sehingga sangat penting bagi ibu
post
melahirkan
untuk
bergerak.
Mobilitas
dapat
meningkatkan fungsi paru-paru, semakin dalam napas yang
dapat ditarik, semakin meningkat sirkulasi darah. Hal tersebut
memperkecil
resiko
pembentukan
gumpalan
darah,
meningkatkan fungsi pencernaan, dan menolong saluran
pencernaan agar mulai bekerja lagi.
Menurut Smeltzer & Bare (2001) mobilisasi dini
mampu menurunkan insiden komplikasi pasca operasi.
Dengan melakukan mobilisasi dini juga maka thrombosis vena
dan
emboli
paru
jarang
terjadi,
selain
itu
mampu
memperlancar sirkulasi darah serta mengeluarkan cairan
(lochea) (Cunningham.,dkk, 2006; Purwanti & Kristanti, 2011,
http://static.schoolrack.com/files/100398/295422/volume2_no
21 mor_1.pdf#page=59 diunduh 27 September 2011). Bahkan
penelitian juga menunjukan nyeri berkurang jika dilakukan
mobilisasi dini diperbolehkan.
Selain itu, manfaat mobilisasi dini menurut Saleha
(2009), yaitu :
a. Ibu merasa sehat dan kuat dengan mobilisasi dini
b. Faal usus dan kandung kemih lebih baik.
c. Mobilisasi dini memungkinkan kita mengajarkan ibu cara
merawat anaknya selama ibu masih di rumah sakit,
misalnya memandikan, mengganti pakaian, dan memberi
makan.
d. Lebih
sesuai
ekonomis).
dengan
Menurut
keadaan
Indonesia
peneliti-peneliti
yang
(sosial
seksama,
mobilisasi dini tidak mempunyai pengaruh yang buruk,
tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal, tidak
mempengaruhi penyembuhan luka episiotomi atau luka di
perut,
serta
tidak
memperbesar
kemungkinan
prolapsus/retrotexto uteri.
22 4. Kerugian Bila Tidak Melakukan Mobilisasi Dini
Dalam sebuah bukunya, Fauzi (2007) yang dikutip
oleh Novitasari (2011) menyebutkan bahwa ada beberapa
macam kerugian yang ditimbulkan akibat tidak melakukan
mobilisasi dini, yaitu sebagai berikut.
a. Meningkatnya suhu tubuh karena adanya involusi uterus
yang tidak baik sehingga sisa darah tidak dapat
dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah satu dari
tanda infeksi adalah peningkatan suhu tubuh.
b. Menimbulkan perdarahan yang abnormal. Namun, bila
melakukan mobilisasi dini maka kontraksi uterus akan baik
sehingga fundus uteri keras, maka resiko perdarahan yang
abnormal dapat dihindarkan, karena kontraksi membentuk
penyempitan pembuluh darah yang terbuka.
c. Jika tidak dilakukannya mobilisasi dini maka involusi
uterus yang tidak baik, dapat menghambat pengeluaran
darah
dan
sisa
plasenta
sehingga
menyebabkan
terganggunya kontraksi uterus.
23 5. Faktor-faktor Dalam Melakukan Mobilisasi Dini
Beberapa bentuk faktor yang mempengaruhi mobilisasi
dini ialah sebagai berikut.
a. Nyeri
Menurut Duffett & Smith (1992), besar-kecilnya nyeri
yang dirasakan berbeda dari orang yang satu dengan
yang lainnya dan juga dari persalinan yang satu dengan
yang lainnya. Jika klien baru saja menjalani bedah perut
major diperkirakan klien merasa nyeri. Selama 24 jam
sampai 48 jam pertama akan diberikan pengobatan yang
amat efektif, mungkin dalam bentuk injeksi. Selain itu,
klien tidak perlu menahan rasa nyeri karena tidak
mendatangkan kebaikan bagi klien itu sendiri dan bayi.
Menurut Duffett & Smith (1992), klien juga tidak perlu
mengkhawatirkan besar atau kecilnya obat yang diterima
bayi lewat ASI pertama (kolestrum). Yang jauh lebih
penting klien harus dapat beristirahat dan rileks, lalu
perlahan-lahan membangun kekuatan. Nyeri juga bisa
menjadi indikator akan apa yang tengah berlangsung di
diri klien. Mungkin ada infeksi luka atau memar yang
memerlukan perawatan khusus.
24 b. Efek Samping Anastesi
Anastesi adalah obat untuk menghilangkan nyeri
(Duffett & Smith, 1992). Menurut Gallegher (2005), ada 2
jenis anastesi yang umum digunakan yaitu anastesi lokal
(epidural atau spinal block) dan anastesi total. Efek
samping anastesi spinal atau epidural adalah turunnya
tekanan darah. Beberapa klien akan merasakan sakit
kepala yang parah setelah melakukan operasi sesarea
dengan anastesi lokal, sementara ada yang ada pula yang
merasakan sakit pada daerah punggung.
Gallegher (2005), juga mengungkapkan bahwa
anastesi total mungkin membuat klien merasa pening,
kerongkongan terasa kering dan sakit. Selain itu, klien
mungkin merasa mual yang hebat dan muntah. Jika obat
bius diberikan mengandung morfin maka klien juga
mungkin merasa gatal disekujur tubuh. Efek-efek samping
itu dapat dihilangkan dalam jangka waktu 24 sampai 48
jam setelah persalinan.
c. Kontraksi Uterus
Menurut Duffett & Smith (1992), kontraksi uterus
dapat menimbulkan nyeri susulan yang amat kuat dan bisa
terasa seperti nyeri persalinan. Mungkin klien akan
25 merasakan nyeri paling kuat di saat menyusui karena
pada saat itu klien melepaskan oksitosin yaitu hormon
yang membuat rahim berkontraksi.
d. Kateterisasi dan Selang Infus
Menurut Gallegher (2005), kateter yang disisipkan
sebelum operasi sesarea biasanya akan dilepaskan begitu
klien dapat berjalan ke kamar mandi. Selain itu, selang
infus yang dipasangkan akan dibiarkan tetap terpasang
sampai saluran pencernaan mulai bekerja kembali.
Pemberian cairan perinfus dihentikan setelah penderita
flatus, lalu mulai diberikan makanan dan cairan peroral
(Mochtar, 1998).
e. Suasana Hati dan Depresi
Menurut
mengalami
Gallegher
baby
blues
(2005),
dan
banyak
klien
kecenderungan
yang
untuk
meluapkan emosi dengan perasaan yang tidak sanggup,
panik dan ketakutan. Pada tahapan ini, sebagian klien
didiagnosis mengalami depresi pasca persalinan.
1. Baby Blues
Sebagian ibu melahirkan untuk pertama kalinya
mengalami baby blues. Baby blues yaitu merasa ingin
26 menangis tanpa alasan, merasakan kesedihan yang
tidak jelas, kekecewaan dan ketidakpuasan emosional.
Perasaan-perasaan ini akan hilang secara alamiah
karena beberapa hal salah satunya dukungan yang baik
dari keluarga.
2. Depresi Pasca Persalinan
Sekitar satu dari sepuluh wanita yang bersalin
menunjukkan gejala-gejala depresi yang tidak hilang
bahkan semakin memburuk. Terkadang, gejala itu mulai
tampak dalam waktu beberapa minggu atau bahkan
bulan setelah persalinan. Depresi pasca persalinan bisa
sangat parah dan memiliki pengaruh-pengaruh yang
meluas sehingga itu harus ditangani secepat mungkin.
3. Trauma Operasi Sesarea
Menjalani operasi Sesarea bukanlah sekedar
intervensi operasi besar, tetapi juga pengalaman
emosional yang memiliki pengaruh-pengaruh psikologis
kuat
pada
kemampuan
seorang
wanita
untuk
beradaptasi dengan kehidupan sebagai ibu. Persepsi
seorang klien mengenai pengalaman persalinannya
setelah operasi sesarea dapat dipengaruhi banyak
27 faktor yaitu nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut,
harapan-harapannya, alasan menjalani operasi sesarea
dan kesehatannya pada masa pasca persalinan.
Sejumlah penelitian telah menunjukan bahwa
wanita-wanita yang mengalami operasi sesarea darurat,
yang tidak mempertimbangkan keinginan sang ibu
dapat menimbulkan rasa rendah diri, kecewa dan gagal.
Bagi mereka yang merasa operasi Sesarea yang begitu
berat, mereka dapat menderita kelainan stres pasca
trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).
Adapula gangguan mental parah yang dikenal sebagai
psikosis puerperal. Klien tersebut dapat kehilangan
hubungan dengan realitas dan merasa manik, depresif,
atau keduanya sekaligus.
4. Sebab-sebab Lain
Belum ada penyebab tunggal yang berhasil
didefinisikan
dari
bermacam-macam
jenis
depresi
pasca persalinan. Ada berbagai teori dan faktor yang
diajukan sebagai penyebab depresi tersebut, antara
lain:
28 a. Adanya masalah fisik yang sulit dipulihkan atau
kembalinya ingatan-ingatan tentang pengalaman
buruk di masa kecil.
b. Perubahan hormonal di pengujung masa kehamilan
yang mempengaruhi kondisi kimiawi otak.
c. Bayi yang rewel dan susah tidur
d. Kurangnya dukungan dari pasangan dan keluarga
e. Penderita merupakan seseorang yang perfeksionis
atau memiliki rasa percaya diri yang rendah.
f.
Perasaan tak bahagia berkenaan dengan proses
persalinan
g. Depresi pasca persalinan sebelumnya.
Selain
dari
faktor-faktor
di
atas,
pengambilan
keputusan untuk melakukan mobilisasi dini juga tidak
terlepas dari penilaian dan koping seseorang dalam
meningkatkan kesehatan. Menurut Smeltzer & Bare (2001),
koping sendiri dipengaruhi oleh karakter internal dan
eksternal seseorang, yaitu :
a. Karakter Internal
Karakter internal tersebut terdiri dari kesehatan,
energi, sistem kepercayaan (iman dan kepercayaan
agama),
komitmen
atau
tujuan
hidup
(properti
motivasional), dan perasaan seseorang seperti harga
29 diri, kontrol dan kemahiran. Meliputi juga pengetahuan,
keterampilan pemecahan masalah, dan keterampilan
sosial (kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi
dengan orang lain).
b. Karakter Eksternal
Karakter eksternalnya ialah dengan adanya
dukungan sosial. Dukungan sosial adalah sumber daya
eksternal utama. Di dalam dukungan sosial menurut
Cobb (1976) terdapat 3 kategori yaitu dukungan
emosional, dukungan harga diri dan jaringan komunikasi
dan saling ketergantungan, serta bentuk dukungan
sosial lainnya yaitu sumber material.
B. Seksio Sesarea
1. Definisi Seksio Sesarea
Menurut
Cunningham
(2006),
kata
caesarean
berasal dari kata kerja Latin sekitar Abad Pertengahan,
caedere, “Memotong”. Turunan kata yang jelas adalah kata
caesura, suatu potongan atau jeda dalam bait sajak.
Sedangkan menurut legenda, Julius Caesar dilahirkan
dengan cara ini, karena itu prosedur itu dikenal dengan
nama operasi Sesarea. Sedangkan ada anggapan yang
30 telah meluas bahwa nama operasi ini berasal dari sebuah
hukum Romawi, diperkirakan dibuat oleh Numa Pompilius
(abad ke-8 SM) memerintahkkan bahwa wanita yang
sekarat dapat diselamatkan. Kemudian hukum ini disebut
dengan lex caesaria dan operasinya disebut dengan operasi
caesarean. Ketiga penjelasan asal kata caesarean itu masih
belum jelas, namun penjelasan pertama tampaknya paling
logis, karena “seksio” berasal dari verba Latin seco, yang
berarti memotong tanpa menambah kejelasan kata lainnya.
Cunningham (2006), juga menjelaskan bahwa
Seksio Sesarea didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui
insisi dinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus
(histerektomi). Definisi ini tidak mencakup pengeluaran janin
dari rongga abdomen pada kasus ruptur uteri atau pada
kasus kehamilan abdomen. Seksio Sesarea dapat pula
didefinisikan sebagai suatu tindakan untuk melahirkan
dengan berat diatas 500 gr, melalui sayatan pada dinding
uterus yang masih utuh (Intact) (Saifuddin.,dkk 2002).
Sedangkan, menurut Bobak (2004) Seksio Sesarea adalah
kelahiran janin melalui insisi transabdomen pada uterus.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Seksio Sesarea merupakan
suatu tindakan operatif untuk membantu persalinan yang
31 beresiko dengan berat bayi diatas 500 gr dan dilakukan
dengan insisi dinding perut dan uterus sebagai jalan lahir.
2. Definisi Mobilisasi Dini Pada Ibu Pasca Operasi Seksio
Sesarea
Mobilisasi dini pada ibu pasca operasi Seksio
Sesarea adalah tindakan yang dilakukan oleh ibu post
partus Seksio Sesarea agar segera menormalkan kembali
fungsi organ tubuh dengan cara menggerakan jari-jari kaki,
bernapas dalam, duduk tegak, bangkit dari tempat tidur,
berjalan, berdiri dan meraih, menarik perut, menarik perut
saat menyusui, menarik pelvis, meluncurkan kaki, sentakan
pinggul, menggulingkan lutut, posisi merangkak dan posisi
jembatan (Gallagher, 2005).
Mobilisasi
dini
umumnya
dilakukan
untuk
memulihkan mobilitas dengan dibebani balutan, bebat, dan
drainase karena pasien sering kali tidak mampu mengubah
posisi (Smeltzer & Bare, 2001). Menurut Gallagher (2005),
wanita dengan mobilitas terbatas pasca melahirkan Seksio
Sesarea dapat melakukan mobilisasi dini setiap 2 jam sekali.
Saat ibu belajar untuk berdiri maka dapat menggunakan
tangan, bantal, atau handuk yang digulung dan tempatkan
pada abdomen untuk menyangga. Hal tersebut dapat
32 digunakan untuk membantu ibu pasca Seksio Sesarea agar
mudah melakukan mobilisasi dini.
3. Indikasi Dilakukannya Seksio Sesarea
Menurut
Bobak
(2004)
ada
empat
kategori
diagnostik yang merupakan alasan terhadap 75% sampai
90% kelahiran Seksio Sesarea, yakni : distorsia, sesaria
ulang, presentasi bokong dan gawat janin. Sedangkan
indikasi lain prosedur tersebut mencakup inveksi virus
herpes, prolaps tali pusat (prolapsed umbilical cord),
komplikasi medis, seperti hipertensi akibat kehamilan
(pregnancy-induced hypertention), kelainan plasenta, seperti
plasenta
previa
dan
solusio
misalnya : presentasi bahu
plasenta,
malpresentasi,
dan anomali janin, misalnya
hidrosefalus.
a. Indikasi Ibu
Menurut
Mitayani
(2009),
indikasi
ibu
dilakukannya Seksio Sesarea, yaitu: panggul sempit
absolute, tumor-tumor jalan lahir menimbulkan obstruksi,
stenosis
vagina,
plasenta
previa,
disproporsi
sefalopelvis, ruptur uterus, diabetes (kadang-kadang),
riwayat obstruksi buruk, riwayat Seksio Sesarea klasik,
serta infeksi hipervirus tipe II (genetik).
33 Namun menurut Wiknjosastro (2005), indikasi
Seksio Sesarea pada ibu, yaitu : panggul sempit
absolute, tumor-tumor jalan lahir yang menimbulkan
obstruksi, stenosis serviks atau vagina, plasenta previa,
disproporsi sefalopelvik, dan ruptura uteri membakat.
b. Indikasi Janin
Menurut
Mitayani
(2009)
indikasi
janin
dilakukannya Seksio Sesarea, yaitu: letak janin tidak
stabil tidak bisa dikoreksi, presentasi bokong (kadangkadang), penyakit dan kelainan berat pada janin seperti
eritoblastosis atau retardasi pertumbuhan yang nyata,
serta gawat janin. Sedangkan indikasi janin pada Seksio
Sesarea menurut Wiknjosastro (2005), yaitu : kelainan
letak, gawat janin. Namun, umumnya Seksio Sesarea
tidak dilakukan pada janin mati, syok dan anemia berat
(sebelum diatasi), serta kelainan kongenital berat
(monster).
4. Jenis-Jenis Seksio Sesarea
Menurut Wiknjosastro (2005), ada beberapa jenis
tindakan Seksio Sesarea yang membedakan teknik-teknik
pada Seksio Sesarea, yaitu :
34 a. Seksio saseria Klasik : Pembedahan secara Sanger.
b. Seksio saseria transperitoneal profunda (supra cervikalis
= lower segmen caesarean section).
c. Seksio saserea diikuti dengan histerektomi (caesarean
hysterectomy = seksio histerektomi).
d. Seksio sesarea ekstraperitoneal
e. Seksio sesarea vaginal
C. Dukungan Sosial
1. Definisi Dukungan Sosial
Menurut Smeltzer & Bare (2001), dukungan sosial
adalah sumber daya eksternal utama. Dukungan sosial
dipelihara melalui kebiasaan keterikatan maternal dan
paternal dan berkembang dalam keluarga, teman, dan
hubungan komunitas bersama pertumbuhan seseorang.
Orang bisa memiliki hubungan yang mendalam dan sering
berinteraksi, namun dukungan yang diperlukan hanya
benar-benar bisa dirasakan bila ada keterlibatan dan
perhatian yang mendalam. Kualitas kritis dalam jaringan
akan saling bertukar dalam komunikasi yang intim dan
adanya solidaritas dan kepercayaan.
Dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasihat
verbal maupun nonverbal, bantuan nyata, atau bantuan
35 yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena
kehadiran orang yang mendukung serta hal ini mempunyai
manfaat emosional atau efek perilaku penerima (Gottlieb,
1983 dikutip Smet, 1994). Dukungan sosial juga mengacu
pada kesenangan yang dirasakan, penghargaan atau
kepedulian, atau membantu orang menerima dari orangorang atau kelompok-kelompok lain (Sarafano, 1990 dikutip
Smet, 1994). Sedangkan, menurut Cobb (1976) yang dikutip
oleh Smeltzer & Bare (2001), dukungan sosial lebih
menekankan meningkatnya kepribadian mandiri; sebaliknya
tidak meningkatkan ketergantungan.
Dukungan sosial mengacu pada kesenangan yang
dirasakan, penghargaan akan kepedulian atau membantu
orang menerima dari orang-orang atau kelompok-kelompok
lain (Smet ,1994). Menurut Winnubst (1988) yang dikutip
oleh Smet (1994) mengemukakan bahwa beberapa penulis
meletakkan dukungan sosial terutama dalam konteks
hubungan yang akrab atau kualitas hubungan. Ikatan-ikatan
sosial menggambarkan tingkat dan kualitas umum dari
hubungan interpersonal. Selain itu, dukungan sosial harus
dianggap sebagai konsep yang berbeda; dukungan sosial
hanya
menunjuk
pada
hubungan
interpersonal
yang
36 melindungi orang-orang terhadap konsekuensi negatif dari
stress (Smet, 1994).
Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa
dukungan sosial merupakan suatu hubungan interpersonal
dalam
bentuk
beberapa
kepedulian
bentuk
penghargaan,
yang
perhatian
informatif
baik
ataupun
diungkapkan
secara
melalui
emosional,
instrumental
guna
mencapai kualitas hubungan sosial yang baik.
2. Jenis-Jenis Dukungan Sosial
Cobb (1976) yang dikutip oleh Smeltzer & Bare
(2001) mendefinisikan dukungan sosial sebagai rasa
memiliki informasi terhadap seseorang atau lebih dengan 3
kategori, yaitu :
a.
Dukungan Emosional
Dukungan emosional adalah kategori informasi
pertama
membuat
orang
percaya
bahwa
dirinya
diperhatikan atau dicintai. Hal ini sering muncul dalam
hubungan antara dua orang dimana kepercayaan
mutual dan keterikatan diekspresikan dengan cara
saling menolong untuk memenuhi kebutuhan bersama.
Contoh : Dalam hubungan perkawinan.
37 b.
Dukungan Harga Diri
Dukungan
harga
diri
merupakan
kategori
informasi kedua menyebabkan seseorang merasa
bahwa dirinya dianggap atau dihargai. Paling efektif
ialah saat publik mengatakan bahwa kedudukannya di
dalam kelompok masih cukup dipandang (dihargai).
c.
Jaringan Komunikasi dan Saling Ketergantungan
Informasi disebarkan oleh anggota jaringan,
mereka memahami semua faktor tersebut dan mereka
semua menyadari bahwa informasi tersebut telah
disebarkan diantara mereka. Informasi tersebut terbagi
menjadi 2 tipe, yaitu :
1. Komunikasi yang merupakan “inti dari cerita”, apa
yang
terjadi,
siapa
yang
terpengaruh
dan
seterusnya.
2. Komunikasi yang lain adalah pengetahuan bahwa
barang-barang dan pelayanan selalu tersedia bagi
semua
anggota
sesuai
permintaan.
Contoh:
seseorang dapat memanggil teman dekat dalam
keadaan darurat.
Lalu ada bentuk sumber dukungan eksternal lain
yang masuk di dalam dukungan sosial menurut Smeltzer &
Bare (2001) yaitu :
38 a.
Sumber Material
Sumber
material adalah sumber dukungan
eksternal lain dan meliputi barang dan jasa yang
dapat
dibeli.
Mengatasi
keterbatasan
masalah
lingkungan akan lebih mudah bagi individu yang
mempunyai sumber finansial yang memadai karena
perasaan
ketidakberdayaan
terhadap
ancaman
menjadi berkurang.
Sedangkan, menurut House ada empat jenis atau
dimensi dukungan sosial (Winnububst dkk.,1988; Sarafino,
1990) yang dikutip oleh Smet (1994), yaitu :
1. Dukungan Emosional
Mencakup ungkapan empati, kepedulian dan
perhatian
terhadap
orang
yang
bersangkutan
(misalnya: umpan balik, penegasan).
2. Dukungan Penghargaan
Terjadi
lewat
ungkapan
hormat
(penghargaan) positif untuk orang itu, dorong maju
atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan
individu, dan perbandingan positif orang itu dengan
orang-orang lain, seperti misalnya orang yang kurang
mampu atau lebih buruk keadaannya (menambah
penghargaan diri).
39 3. Dukungan Instrumental
Mencakup bantuan langsung, seperti kalau
orang-orang memberi pinjaman uang kepada orang itu
atau
menolong
dengan
pekerjaan
pada
waktu
mengalami stres.
4. Dukungan Informatif
Mencakup
pemberian
nasihat,
petunjuk-
petunjuk, saran-saran, atau umpan balik.
D. Keluarga Besar
1. Definisi Keluarga Besar
Menurut Friedman (1992) keluarga besar adalah
keluarga inti dan individu lain yang mempunyai hubungan
darah. Individu ini memiliki hubungan darah. Individu ini
dikenal sebagai “sanak saudara” dan mencakup kakeknenek, bibi, paman, dan sepupu (Bobak.,dkk, 2005). Definisi
lain keluarga besar (Extended family) ialah keluarga inti
ditambah dengan keluarga yang lain (karena hubungan
darah), misalnya kakek, nenek, bibi, paman, sepupu
termasuk keluarga modern, seperti orangtua tunggal,
keluarga tanpa anak, serta keluarga pasangan sejenis
(Sudiharto, 2007).
40 Kemudian
Wong
2009),
menyebutkan
bahwa
keluarga besar (Extended family) adalah suatu keluarga
atau rumah tangga besar paling tidak terdiri atas satu orang
tua, dan satu anak atau lebih anggota keluarga (berasal dari
keluarga dekat atau bukan kerabat), bukan hanya terdiri
atas orangtua atau anak saja. Hubungan orangtua-anak dan
saudara kandung mungkin bersifat biologik, tiri, adopsi atau
asuh
Definisi lainnya keluarga besar (Extended family)
ialah keluarga inti ditambah sanak saudara misalnya nenek,
kakek, keponakan, sepupu, paman, bibi, dan sebagainya
(Mubarak.,dkk, 2006). Dapat disimpulkan bahwa keluarga
besar adalah sekumpulan orang yang memiliki ikatan darah
dan kasih yang saling berhubungan antara satu individu
dengan individu lainnya.
2. Definisi Dukungan Sosial Keluarga Besar (Extended
family)
Menurut Caplan (1976) dalam buku Friedman (1998)
menerangkan bahwa keluarga memiliki delapan fungsi
suportif, termasuk:
41 a. Dukungan informasional : keluarga berfungsi sebagai
sebuah kolektor dan disseminator (penyebar) informasi
tentang dunia.
b. Dukungan penilaian : keluarga bertindak sebagai
sebuah bimbingan umpan balik, membimbing dan
menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber
dan validator identitas anggota .
c. Dukungan instrumental : keluarga merupakan sebuah
sumber pertolongan praktis dan konkrit.
d. Dukungan emosional : keluarga sebagai sebuah tempat
yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan
serta membantu penguasaan terhadap emosi.
Selain
itu
menurut
Kane
(1988)
dalam
buku
Friedman (1998), mendefinisikan dukungan sosial keluarga
sebagai suatu proses hubungan antara keluarga dengan
lingkungan sosialnya. Ketiga dimensi interaksi dukungan
sosial keluarga tersebut bersifat reprokasitas (timbal balik);
advis/umpan balik (kuantitas dan kualitas komunikasi); dan
keterlibatan
emosional
(kedalaman
intimasi
dan
dalam
buku
kepercayaan) dalam hubungan sosial.
Namun
menurut
Milardo
(1988),
Friedman (1998) menyatakan jaringan kerja sosial keluarga
merupakan keluarga yang hidup dalam sebuah system
42 interaksi yang rumit dimana mereka menciptakan ikatan
dengan berbagai individu, keluarga dan kelompok yang
lebih besar. “Keluarga-keluarga sangat dipengaruhi oleh
jaringan ikatan ini dan mereka merupakan pelaku-pelaku
aktif dalam memodifikasi dan mengadaptasi komunitas
hubungan personal untuk mencapai keadaan yang pernah
berubah”
Dari beberapa teori dan definisi para ahli mengenai
dukungan sosial dan keluarga besar (Extended family),
masing-masing dapat disimpulkan oleh penulis sebagai
berikut.
a.
Dukungan
sosial
merupakan
suatu
hubungan
interpersonal yang membentuk jaringan sosial akibat
adanya rasa kepedulian yang diungkapkan melalui
beberapa bentuk perhatian baik secara emosional,
penghargaan, informatif ataupun instrumental guna
mencapai kualitas kehidupan bersama yang maksimal.
b.
Keluarga besar adalah sekumpulan orang yang
memiliki
ikatan
darah
dan
kasih
yang
saling
berhubungan antara satu individu dengan individu
lainnya.
Maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial
keluarga
besar
(Extended
family)
adalah
suatu
43 hubungan interpersonal yang membentuk jaringan
sosial akibat adanya rasa kepedulian antara satu
individu dengan individu lainnya yang ditunjukan
secara
emosional,
penghargaan,
informatif
dan
instrumental dari sekumpulan orang yang memiliki
ikatan darah dan kasih.
44 E. Kerangka Konseptual Penelitian
Konservasi energi klien
Konservasi Struktur
Integritas
Teori Keperawatan
Lavine
Konservasi Integritas
Personal
Konservasi Integritas
Sosial
Dukungan Sosial :
1. Dukungan Emosional
2. Dukungan Penghargaan
3. Dukungan Instrumental
4. Dukungan Informatif
Keluarga Besar (Extended family):
1. Kelarga Inti : Suami dan anak
(Adopsi, tiri, atau kandung).
2. Ibu
3. Ayah
4. Kakek
5. Nenek
6. Keponakan
7. Sepupu
8. Paman
9. Bibi
INDEPENDENT VARIABLE
Mobilisasi
Dini Ibu Pasca
Operasi
Seksio Sesarea
DEPENDENT VARIABLE
45 F.
Hipotesis
Berdasarkan landasan teori diatas maka hipotesis
penelitian adalah sebagai berikut: Ada hubungan antara
dukungan sosial keluarga besar (Extended family) dengan
mobilisasi dini ibu pasca operasi Seksio Sesarea.
Bila hasil dari uji signifikan di dapatkan p < 0,05 maka H 0
ditolak, akan tetapi bila hasil uji signifikan p > 0,05 maka H 0
diterima, dimana H 0 dan H 1 ialah sebagai berikut.
H 0 : r = 0 (Tidak ada hubungan antara dukungan sosial
keluarga besar (Extended family) dengan mobilisasi
ibu pasca operasi Seksio Sesarea di empat rumah
sakit di Semarang- Jawa Tengah).
H 1 : r ≠ 0 (Ada hubungan antara dukungan sosial keluarga
besar (Extended family) dengan mobilisasi dini ibu
pasca operasi Seksio Sesarea di empat rumah sakit
di Semarang- Jawa Tengah).
46 
Download