9 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Keseimbangan

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Keseimbangan
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan equilibrium
baik statis maupun
dinamis tubuh ketika di tempatkan pada berbagai posisi
(Delitto, 2003). Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat
gravitasi atas dasar dukungan, biasanya ketika dalam posisi tegak. Keseimbangan
terbagi menjadi 2 yaitu statis dan dinamis (Abrahamova & Hlavacka, 2008).
Keseimbangan statis adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi
tubuh dimana Center of Gravity (COG) tidak berubah. Contoh keseimbangan
statis saat berdiri dengan satu kaki, menggunakan papan keseimbangan.
Keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh
dimana (COG) selalu berubah, contoh saat berjalan.
Keseimbangan
merupakan
integrasi
yang
kompleks
dari
system
somatosensorik (visual, vestibular, proprioceptive) dan motorik (musculoskeletal,
otot, sendi jaringan lunak) yang keseluruhan kerjanya diatur oleh otak terhadap
respon atau pengaruh internal dan eksternal tubuh. Bagian otak yang mengatur
meliputi, basal ganglia, Cerebellum, area assosiasi (Batson, 2009).
Equilibrium adalah sebuah bagian penting dari pergerakan tubuh dalam
menjaga tubuh tetap stabil sehingga manusia tidak jatuh walaupun tubuh berubah
posisi. Statis Equlibrium yaitu kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan
pada posisi diam seperti pada waktu berdiri dengan satu kaki, berdiri diatas
balance board. Dinamik Equilibrium adalah kemampuan tubuh untuk
9
10
mempertahankan posis pada waktu bergerak. keseimbangan bukanlah kualitas
yang terisolasi, namun mendasari kapasitas kita untuk melakukan berbagai
kegiatan yang merupakan kehidupan kegiatan normal sehari-hari (Huxham et al.,
2001).
2.2 Fisiologi Keseimbangan
Banyak komponen fisiologis dari tubuh manusia memungkinkan kita
untuk
melakukan
reaksi
keseimbangan.
Bagian
paling
penting
adalah
proprioception yang menjaga keseimbangan. Kemampuan untuk merasakan posisi
bagian sendi atau tubuh dalam gerak (Brown et al., 2006). Beberapa jenis reseptor
sensorik di seluruh kulit, otot, kapsul sendi, dan ligamen memberikan tubuh
kemampuan untuk mengenali perubahan lingkungan baik internal maupun
eksternal pada setiap sendi dan akhirnya berpengaruh pada peningkatan
keseimbangan. Konsep ini penting dalam pengaturan ortopedi klinis karena fakta
bahwa meningkatkan kemampuan keseimbangan pada atlet membantu mereka
untuk mencapai kinerja atletik yang unggul (Riemann et al., 2002a).
Proprioception dihasilkan melalui respon secara simultan, visual, vestibular, dan
sistem sensorimotor, yang masing-masing memainkan peran penting dalam
menjaga
stabilitas
postural.
Paling
diperhatikan
dalam
meningkatkan
proprioception adalah fungsi dari sistem sensorimotor. Meliputi integrasi
sensorik,
motorik,
mempertahankan
dan
komponen
homeostasis
bersama
pengolahan
selama
yang
tubuh
terlibat
dalam
bergerak,
sistem
sensorimotor mencakup informasi yang diterima melalui reseptor saraf yang
terletak di ligamen, kapsul sendi, tulang rawan, dan geometri tulang yang terlibat
11
dalam struktur setiap sendi. Mechanoreceptors sensorik khusus bertanggung
jawab secara kuantitatif terhadap peristiwa hantaran mekanis yang terjadi dalam
jaringan menjadi impuls saraf (Riemann et al., 2002b). Mereka yang bertanggung
jawab untuk proprioception umumnya terletak di sendi, tendon, ligamen, dan
kapsul sendi sementara tekanan reseptor sensitif terletak di fasia dan kulit
(Riemann et al., 2002a).
Empat jenis utama dari mechanoreceptors yang membantu dalam
proprioception yaitu, termasuk reseptor Ruffini, reseptor Pacinian, Golgi-tendonorgan (GTO), dan muscle spindle. Ruffini dan Pacinian reseptor berhubungan
dengan sensasi sentuhan dan tekanan pada umumnya terletak di kulit (Shier et al.,
2004). Reseptor Ruffini dianggap sebagai reseptor statis dan dinamis berdasarkan
ambang rendahnya, reseptor ini lambat-mengadaptasi karakteristik. Melalui
perubahan impuls tekanan terjadi perubahan tarik statis dan dinamis pada kulit
dan sangat sensitif terhadap peregangan (Rieman et al., 2002a). Reseptor
Pacinian, agak cepat beradaptasi, namun reseptor dengan ambang batas rendah
yang dianggap reseptor lebih dinamis (Rieman et al., 2002a). Sementara juga
sensor tekanan, reseptor Pacinian mendeteksi tekanan berat dan mengenali
perubahan percepatan dan perlambatan gerak (Shier et al., 2004). Golgi tendon
Organ dan muscle spindle mempunyai yang lebih besar untuk mengetahui posisi
sendi selama gerak. Pertama GTOs berada di persimpangan musculotendinous
dan bertanggung jawab untuk memantau kekuatan kontraksi otot untuk mencegah
otot dari kelebihan beban (Brown et al., 2006). Terhubung ke satu set serat otot
12
dan diinervasi oleh neuron sensorik, GTOs memiliki ambang batas yang tinggi
dan dirangsang oleh ketegangan otot yang meningkat.
Keseimbangan tubuh dipengaruhi oleh system indera yang terdapat di
tubuh manusia bekerja secara bersamaan jika salah satu system mengalami
gangguan maka akan terjadi gangguan keseimbangan pada tubuh (imbalance),
system indera yang mengatur/mengontrol keseimbangan seperti visual, vestibular,
dan somatosensoris (tactile & proprioceptive).
Gambar 2.1 Proses Fisiologi Terjadinya Keseimbangan
(Sumber : Vestibular disorders association, www.vestibular.org page 2 of 5)
2.2.1 Sistem Vestibular
Sistem vestibular berperan penting dalam keseimbangan, gerakan kepala,
dan gerak bola mata. Sistem vestibular meliputi organ-organ di dalam telinga
bagian dalam. Berhubungan dengan sistem visual dan pendengaran untuk
merasakan arah dan kecepatan gerakan kepala. Sebuah cairan yang disebut
endolymph mengalir melalui tiga kanal telinga bagian dalam sebagai reseptor saat
kepala bergerak miring dan bergeser. Gangguan fungsi vestibular dapat
13
menyebabkan vertigo atau gangguan keseimbangan. Alergi makanan, Dehidrasi,
dan trauma kepala / leher dapat menyebabkan disfungsi vestibular. Melalui
refleks vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat
obyek yang bergerak. kemudian pesan diteruskan melalui saraf kranialis VIII ke
nukleus vestibular yang berlokasi di batang otak (brain stem). Beberapa stimulus
tidak menuju langsung ke nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio
retikularis, thalamus dan korteks serebri.
Gambar 2.2 Sistem Vestibular
(Sumber : Ensiklopedia Britannica, 1997)
Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth,
formasi (gabungan reticular), dan cerebelum. Hasil dari nukleus vestibular menuju
ke motor neuron melalui medula spinalis, terutama ke motor neuron yang
menginervasi otot-otot proksimal, kumparan otot pada leher dan otot-otot
punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga
membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot
postural (Watson et al., 2008).
14
2.2.2 Sistem Visual
Sistem visual (penglihatan) yaitu mata mempunyai tugas penting bagi
kehidupan manusia yaitu memberi informasi kepada otak tentang posisi tubuh
terhadap lingkungan berdasarkan sudut dan jarak dengan obyek sekitarnya.
Dengan input visual, maka tubuh manusia dapat beradaptasi terhadap perubahan
yang terjadi dilingkungan sehingga system visual langsung memberikan informasi
ke otak, kemudian otak memerikan informasi agar system musculoskeletal (otot &
tulang) dapat bekerja secara sinergis untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.
Pada gambar dibawah ini kita dapat melihat system visualisasi pada tubuh
manusia (Prasad et al., 2011).
Gambar 2.3 Sistem Visual
(Sumber : Prasad And Galleta, 2011)
15
2.2.3 Sistem Somatosensori (Tactile & Proprioceptive).
Sistem Somatosensori mempunyai beberapa neuron yang panjang dan
saling berhubungan satu sama lainnya yang mana Sistem Somatosensori memiliki
tiga neuron yang panjang yaitu : primer, sekunder dan tersier (Pertama, Kedua,
dan Ketiga).
a. Primer Neuron (Pertama) memiliki badan sel pada dorsal root ganglion
didalam saraf spinal (area sensasi berada pada daerah kepala dan leher),
dimana bagian ini akan menjadi suatu terminal dari ganglia saraf trigeminal
atau ganglia dari saraf sensorik kranial lainnya).
b. Second Neuron (kedua) dimana neuron ini berada di medulla spinalis dan
brain stem dan meiliki sel tubuh yang baik. Akson neuron ini naik ke sisi
berlawan di medulla spinalis dan brain stem, (Akson dari banyak neuron
berhenti pada bagian thalamus (Ventral Posterior nucleus, VPN), dan yang
lainnya pada system retikuler dan cerebellum.
c. Third neuron (ketiga) Dalam hal sentuhan dan rangsangan nyeri, neuron
ketiga memiliki tubuh sel dalam VPN dari thalamus dan berakhir di gyrus
postcentralis dari lobus parietal.
Sistem somatosensori tersebar melalui semua bagian utama tubuh mamalia
(dan vertebrata lainnya). Terdiri dari reseptor sensori dan motorik (aferen) neuron
di pinggiran (kulit, otot dan organ-organ misalnya), ke neuron yang lebih dalam
dari sistem saraf pusat.
Sistem somatosensori adalah sistem sensorik yang beragam yang terdiri
dari reseptor dan pusat pengolahan untuk menghasilkan modalitas sensorik seperti
16
sentuhan, temperatur, proprioception (posisi tubuh), dan nociception (nyeri).
Reseptor sensorik menutupi kulit dan epitel, otot rangka, tulang dan sendi, organ,
dan sistem kardiovaskular. Informasi propriosepsi disalurkan ke otak melalui
kolumna dorsalis medula spinalis. Sebagian besar masukan (input) proprioseptif
menuju serebelum, tetapi ada pula yang menuju ke korteks serebri melalui
lemniskus medialis dan talamus (Willis Jr, 2007).
Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam ruang sebagian
bergantung pada impuls yang datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat
indra tersebut adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovia dan
ligamentum. Impuls dari alat indra ini dari reseptor raba di kulit dan jaringan lain ,
serta otot di proses di korteks menjadi kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang.
Gambar 2.4 Sistem Somatosensori
(Sumber :http://www.pc.rhul.ac.uk)
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keseimbangan
Keseimbangan dipengaruhi oleh banyak factor dibawah ini adalah factor
yang mempengaruhi keseimbangan pada tubuh manusia yaitu:
17
2.3.1 Pusat gravitasi (Center of Gravity-COG)
Center of gravity merupakan titik gravitasi yang terdapat pada semua
benda baik benda hidup maupun mati, titik pusat gravitasi terdapat pada titik
tengah
benda
tersebut,
fungsi
dari
Center
of
gravity
adalah
untuk
mendistribusikan massa benda secara merata, pada manusia beban tubuh selalu
ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbang. Tetapi jika terjadi
perubahan postur tubuh maka titik pusat gravitasi pun berubah, maka akan
menyebabkan gangguan keseimbangan (Unstable). Titik pusat gravitasi selalu
berpindah secara otomatis sesuai dengan arah atau perubahan berat, jika center of
gravity terletak di dalam dan tepat ditengah maka tubuh akan seimbang, jika
berada diluar tubuh maka akan terjadi keadaan unstable. Pada manusia pusat
gravitasi saat berdiri tegak terdapat pada 1 inchi di depan vertebrae Sacrum 2.
(Bishop & Hay, 2009).
2.3.2 Garis gravitasi (Line of Gravity-LOG)
Garis gravitasi (Line Of Gravity) adalah garis imajiner yang berada
vertikal melalui pusat gravitasi. Derajat stabilitas tubuh ditentukan oleh hubungan
antara garis gravitasi, pusat gravitasi dengan base of support (bidang tumpu).
18
Gambar 2.5 : Line Of Gravity
(Sumber : http://sielearning.tafensw.edu.au)
2.3.3 Bidang tumpu (Base of Support-BOS)
Base of Support (BOS) merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan
dengan permukaan tumpuan. Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu,
tubuh dalam keadaan seimbang. Stabilitas yang baik terbentuk dari luasnya area
bidang tumpu. Semakin besar bidang tumpu, semakin tinggi stabilitas. Misalnya
berdiri dengan kedua kaki akan lebih stabil dibanding berdiri dengan satu kaki.
Semakin dekat bidang tumpu dengan pusat gravitasi, maka stabilitas tubuh makin
tinggi (Wen Chang Yi et al., 2009).
2.3.4 Kekuatan otot (Muscle Strength)
Kekuatan otot adalah kemampuan otot atau group otot menghasilkan
tegangan dan tenaga selama usaha maksimal baik secara dinamis maupun secaca
statis. Kekuatan otot dihasilkan oleh kontraksi otot yang maksimal. Otot yang
kuat merupakan otot yang dapat berkontraksi dan rileksasi dengan baik, jika otot
kuat maka keseimbangan dan aktivitas sehari-hari dapat berjalan dengan baik
seperti berjalan, lari, bekerja ke kantor, dan lain sebagainya.
19
2.3.4.1 Proses terjadinya kontraksi otot.
Gambar 2.6 Kontraksi dan Relaksasi Otot
(Sumber : Kuntarti, 2006).
Mekanisme kerja otot saat berkontraksi :
1. Muscular junction melepas asetilkolin ke motoric dan plate sehingga
terjadi potensial aksi pada membrane plasma sel otot. Asetilkoline
membuat ion Na+ dapat masuk ke membrane plasma sel otot sehingga
terjadi perubahan muatan yaitu depolarisasi.
2. Impuls elektrik disebarkan pada membrane plasma sel otot dan pada
serabbut sel otot melalui tubulus transverses.ion Na bersifat impermeable
terhadap membrane plasma sel otot sedangkan ion K bersifat permeable
terhadap membrane plasma sel otot. Sehingga dalam hal ini asetilkolin
diperlukan.
3. Ion Ca++ dilepaskan oleh reticulum sarkoplasma melalui terminal sisterna,
Ion Ca++ berikatan dengan troponnin (tnc). Tropomiosin bergeser binding
site bergeser membuka kepala myosin dan aktin.
20
4. cross bridge terjadi.
5. energi yang digunakan dari hidrolisis ATP – ADP, digunakan untuk
menggerakkan aktin ke pusat sarkomer, sehingga timbul kontraksi.
2.3.4.2 Mekanisme Otot ketika relaksasi
Relaksasi terjadi jika ion-ion Ca++ dipompa lagi masuk kedalam
reticulum sarkoplasma secara transport aktif dengan bantuan ATP , sehingga
binding site aktin kembali tertutupi oleh tropomiosin , cross bridge tidak dapat
terjadi.relaksasi terjadi.
Kekuatan otot yang lemah dapat menyebabkan terjadinya, contoh otot
punggung karena otot punggung adalah salah satu otot penyangga tubuh yang
berada di pusat tubuh manusia. Bersamaan dengan otot-otot yang menyelimuti
perut, otot punggung termasuk dalam kategori core muscle atau otot pusat tubuh.
Kekuatan otot dari kaki, lutut serta pinggul harus adekuat untuk
mempertahankan keseimbangan tubuh saat adanya gaya dari luar. Kekuatan otot
tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan otot untuk melawan gaya
gravitasi serta beban eksternal lainnya yang secara terus menerus mempengaruhi
posisi tubuh.
2.4 Stabilitas Postural, Dan Keseimbangan Berdiri.
2.4.1 Stabilitas Postural
Informasi
yang diperoleh
didapat
dari
visual,
vestibular,
tactile
dan
proprioceptive. Di dalam stabilitas postural terdapat yang namanya sistem untuk
mengontrol posture yaitu (Postural Kontrol) dimana penting dalam mempengaruhi
21
keseimbangan, beberapa komponen yang mempengaruhi postural control yaitu
dijelaskan pada gambar dibawah ini:
Gambar 2.7 Sistem Model Kontrol Postural
Sumber : (Cheng, 2010)
Sistem control postural manusia sangat kompleks dengan interaksi rumit
antara sistem sensorik, saraf dan motorik. Analisis terbaru mengenai kontrol
postural saat berdiri (Cheng, 2010). Ada dua teori utama dari kontrol postural:
2.4.1.1 Teori Reflex / Hirarkis
Menurut teori ini postur dan keseimbangan dihasilkan dari respon refleks
hirarki terorganisir yang dipicu oleh input sensorik. Sherrington adalah yang
pertama untuk menunjukkan teori ini pada tahun 1910. Dia mengamati bahwa
bahkan setelah memotong sumsum tulang belakang di daerah leher - yang
mencegah sumsum tulang belakang untuk menerima sinyal dari otak, hewan
laboratorium masih bisa berjalan ketika mereka ditempatkan pada treadmill.
Observasi ini dijelaskan oleh adanya hipotetis saraf terstruktur disebut generator
22
pola sentral dalam sumsum tulang belakang yang menghasilkan kegiatan otot
ritmik berdasarkan sinyal aferen dari proprioceptors (Cheng, 2010).
2.4.1.2 Teori Sistem
Berdasarkan Teori ini stabilitas postural tidak hanya dipengaruhi oleh
sistem Indra saja, tetapi juga dipengaruhi oleh banyak sistem antara lain, sistem
musculosceletal,
sistem neuromuscular, sistem sensory, dan sistem adaptive
(Cheng, 2010).
2.4.2 Keseimbangan Berdiri
Pada posisi berdiri seimbang, susunan saraf pusat berfungsi untuk menjaga
pusat massa tubuh (center of body mass) dalam keadaan stabil dengan batas
bidang tumpu tidak berubah kecuali tubuh membentuk batas bidang tumpu lain
(misalnya : melangkah). Pengontrol keseimbangan pada tubuh manusia terdiri dari
tiga komponen penting, yaitu sistem informasi sensorik (visual, vestibular dan
somatosensoris), central processing dan efektor.
Pada sistem informasi, visual berperan dalam contras sensitivity
(membedakan pola dan bayangan) dan
membedakan jarak. Selain itu
masukan (input) visual berfungsi sebagai kontrol keseimbangan, pemberi
informasi, serta memprediksi datangnya gangguan. Bagian vestibular berfungsi
sebagai pemberi informasi gerakan dan posisi kepala ke susunan saraf pusat untuk
respon sikap dan memberi keputusan tentang perbedaan gambaran visual dan
gerak yang sebenarnya. Masukan (input) proprioseptor pada sendi, tendon dan
otot dari kulit di telapak kaki juga merupakan hal penting untuk mengatur
keseimbangan saat berdiri static maupun dinamik
23
Central processing berfungsi untuk memetakan lokasi titik gravitasi,
menata respon sikap, serta mengorganisasikan respon dengan sensorimotor.
Selain itu, efektor berfungsi sebagai perangkat biomekanik untuk merealisasikan
renspon yang telah terprogram si pusat, yang terdiri dari unsur lingkup gerak
sendi, kekuatan otot, alignment sikap, serta stamina.
Postur adalah posisi atau sikap tubuh. Tubuh dapat membentuk banyak
postur yang memungkinkan tubuh dalam posisi yang nyaman selama mungkin.
Pada saat berdiri tegak, hanya terdapat gerakan kecil yang muncul dari tubuh,
yang biasa di sebut dengan ayunan tubuh. Luas dan arah ayunan diukur dari
permukaan tumpuan dengan menghitung gerakan yang menekan di bawah
telapak kaki, yang di sebut pusat tekanan (center of pressure-COP). Jumlah
ayunan tubuh ketika berdiri tegak di pengaruhi oleh faktor posisi kaki dan lebar
dari bidang tumpu.
Posisi tubuh ketika berdiri dapat dilihat kesimetrisannya dengan : kaki
selebar sendi pinggul, lengan di sisi tubuh, dan mata menatap ke depan. Walaupun
posisi ini dapat dikatakan sebagai posisi yang paling nyaman, tetapi tidak dapat
bertahan lama, karena seseorang akan segera berganti posisi untuk mencegah
kelelahan.
2.4.3 Gangguan keseimbangan
Sebuah gangguan yang menyebabkan seseorang merasa pusing, goyang,
dan seperti berpindah tempat, dan seakan akan dunia serasa berputar. Sebuah
organ telinga bagian dalam yaitu labyrinth merupakan organ yang berperan dalam
mengatur keseimbangan dan ini merupakan sistem yang bekerja didalam tubuh
24
yaitu (sistem vestibular) kita. Sistem vestibular berinteraksi dengan sistem tubuh
seperti visual, dan skeletal sistem, untuk menjaga keseimbangan posisi tubuh yang
mana sistem ini berhubungan dengan otak dan sistem saraf, dapat menjadi
masalah keseimbangan (Boese, 2011).
2.4.4 Penyebab Gangguan Keseimbangan
Penyebab gangguan keseimbangan adalah disebabkan oleh infeksi virus,
bakteri, kegemukan, trauma kepala (Head Injury), gangguan sirkulasi darah yang
mempengaruhi telinga bagian dalam atau otak, factor usia, dan gangguan
vestibular pada bagian tepi yaitu gangguan pada labyrinth, gangguan vestibular
pada bagian tengah yaitu sebuah problem pada otak dan saraf yang
menghubungkannya.
2.4.5 Tanda Dan Gejala
1. Sensasi pusing (dizziness).
2. Vertigo (spinning) Mata berputar-putar.
3. Penglihatan kabur.
4. Disorientasi beberapa penderita mengalami mual, muntah, diare,
perubahan denyut jantung (HR) dan tekanan darah (BP). Beberepa reaksi
terhadap symptom ini yaitu kelelahan, depresi, dan penurunan konsentrasi.
2.5 Aktivitas Fisik
Inaktivitas fisik merupakan faktor resiko penting pada banyak penyebab
kematian, morbiditas kronis, dan kecacatan (BRFS, 2001). Aktivitas fisik yang
kurang juga merupakan masalah kesehatan dunia yang umum, dan merupakan
sebagai prioritas dunia kesehatan internasional. Fakta disertai bukti yang jelas
25
mengenai adanya hubungan inaktivitas terhadap banyak peningkatan resiko
penyakit-penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, stroke dan juga penyakit
kanker (Roux et al., 2008). Diantara hal tersebut ada faktor resiko yang
mempengaruhi yaitu seperti obesitas, dyslipidemia, diabetes tipe 2 dan leukemia
(Sakuta & Suzuki, 2005).
Seseorang yang menghabiskan sedikit waktunya untuk melakukan
aktivitas fisik dalam sehari dibanding dengan orang yang aktif memiliki tingkat
METs yang rendah dan memiliki lebih banyak lemak tubuh (Laurien et al., 2008).
Aktivitas fisik didefinisikan sebagai setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh
otot-otot skeletal dan menghasilkan peningkatan resting energy expenditure yang
bermakna. Aktivitas fisik juga dapat didefinisikan sebagai suatu gerakan fisik
yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot (Utari, 2007).
Aktivitas fisik juga merupakan parameter tingkat kesehatan seseorang.
Pemeliharaan dan peningkatan kondisi kesehatan mutlak diperlukan agar
terlindungi dari dampak negatif penyakit-penyakit non-infeksi di atas. Aktivitas
fisik ini dapat dilihat pengaruhnya terhadap faktor-faktor seperti kondisi
metabolik, dan tingkat berat badan dan gangguan metabolisme (Vouri, 2004).
Menurut Pusat Promosi Kesehatan Indonesia (Promkes, 2009) Aktivitas
fisik adalah pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran tenaga
yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik dan mental, serta
mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari.
Aktivitas fisik dan latihan dapat mempengaruhi keseimbangan, postural
stability dan lain-lain hal ini ditunjukkan oleh gambar dibawah ini :
26
Gambar 2.8 Pengaruh Aktivitas Fisik Dan Exercise
Sumber : (Skelton, 2001)
2.5.1 Kriteria Dan Pengukuran Tingkat Aktivitas Fisik.
Ada 3 macam kriteria, dan pengukuran tingkat aktivitas fisik yang dapat
kita lakukan untuk mempertahankan kesehatan tubuh yaitu :
2.5.1.1 Aktivitas Fisik Rendah
Aktivitas fisik yang bersifat untuk ketahanan, dapat membantu jantung,
paru-paru, otot, dan sistem sirkulasi darah tetap sehat dan membuat tubuh lebih
bertenaga, contohnya :
a. Berjalan kaki
b. Lari ringan
c. Berenang dan senam
d. Berkebun dan kerja di taman.
27
2.5.1.2 Aktivitas Fisik Sedang
Aktivitas fisik yang bersifat untuk kelenturan dapat membantu pergerakan
lebih mudah, mempertahankan otot tubuh tetap lentur dan sendi berfungsi dengan
baik. Contohnya:
a. Peregangan, mulai dengan perlahan-lahan tanpa kekuatan atau sentakan,
lakukan secara teratur untuk 10-30 detik, bisa mulai dari tangan dan kaki.
b. Senam taichi atau yoga
c. Mencuci pakaian dan mobil
d. Mengepel lantai.
2.5.1.3 Aktivitas Fisik Berat
Aktivitas fisik yang bersifat untuk kekuatan dapat membantu kerja otot
tubuh dalam menahan sesuatu beban yang diterima, tulang tetap kuat, dan
mempertahankan bentuk tubuh serta membantu meningkatkan pencegahan
terhadap penyakit seperti osteoporosis, contohnya :
a. Push-up, pelajari teknik yang benar untuk mencegah otot dan sendi dari
kecelakaan
b. Naik turun tangga
c. Angkat berat/beban
d. Membawa belanjaan
e. Mengikuti kelas senam terstruktur dan terukur (fitness)
2.5.1.4 Pengukuran Tingkat Aktivitas Fisik
Tingkat aktivitas fisik diukur oleh 2 variabel: frekuensi (berapa kali atau
berapa jam seseorang bekerja dalam seminggu), dan durasi (berapa lama
28
seseorang melakukan pekerjaan tiap minggunya). Berdasarkan penelitian yang
dilakukan kriteria aktivitas fisik dibagi menjadi 3 bagian yaitu (IPAQ).
a.
Aktivitas fisik rendah: Tidak ada aktivitas yang dilaporkan atau beberapa
aktivitas dilaporkan tetapi tidak cukup untuk memenuhi kategori.
b.
Aktivitas Fisik Sedang.
Memenuhi salah satu dari 3 kriteria berikut :
1. 3 hari atau lebih intensitas aktivitas setidaknya 20 menit per hari.
2. 5 hari atau lebih aktivitas intensitas sedang dan / atau berjalan setidaknya
30 menit per hari.
3. 5 hari atau lebih dari kombinasi berjalan, aktivitas intensitas sedang atau
kuat intensitas mencapai minimal setidaknya 600 MET-menit/minggu.
c.
Aktivitas Fisik Berat:
Memenuhi salah satu dari 2 kriteria berikut
1. Aktivitas fisik setidaknya 3 hari intensitas kuat dan mengumpulkan
minimal 1500 MET-menit/minggu.
2. 7 hari atau lebih dari kombinasi berjalan, aktivitas sedang atau intensitas
berat mengumpulkan setidaknya 3000 MET-menit/minggu.
Pengukuran
tingkat
aktivitas
fisik
menggunakan
standart
dari
International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Dimana menggunakan
perhitungan akumulasi waktu dalam seminggu dengan kriteria data frekuensi
beraktivitas fisik dalam seminggu terakhir untuk penduduk 10 tahun ke atas.
Kegiatan aktivitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terusmenerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara
29
kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu. Selain frekuensi,
dilakukan pula pengumpulan data intensitas, yaitu jumlah hari melakukan
aktivitas ‘berat’, ‘sedang’ dan ‘berjalan’. Perhitungan jumlah menit aktivitas fisik
dalam seminggu mempertimbangkan pula jenis aktivitas yang dilakukan, di mana
aktivitas diberi pembobotan, masing-masing untuk aktivitas ‘berat’ empat kali,
aktivitas ‘sedang’ dua kali terhadap aktivitas ‘ringan’ atau jalan santai.
2.5.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas fisik
Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
tingkat kesehatan seseorang (Vouri, 2004) dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti faktor sosiodemografi, psikologi, dan pengetahuan mengenai kesehatan
(Loitz et al., 2009).
Pola aktivitas fisik dalam suatu kelompok masyarakat sangat tergantung
pada pola spesifik dari kehidupan di populasi tersebut yang dipengaruhi oleh
sosial, ekonomis, geografis dan segi hidup beragama. Pola aktivitas fisik ini akan
berbeda di berbeda daerah dan berbeda di setiap budaya (Bull et al, 2010).
Parameter dari faktor-faktor yang mempengaruhi pola aktivitas fisik dapat dilihat
dari tabel di bawah ini :
30
Tabel 2.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Aktivitas Fisik
Demografi
Kategori
Ekonomi
Sosioekonomi
Geografi
Klimatologi
Pekerjaan
Konsumsi energi/hasil emisi
Data statistic
Potensi Parameter yang Berhubungan
Populasi Negara
Populasi Daerah
Persentasi Urbanisasi
Ciri kepadatan Populasi yang dirasakan oleh
individu
Pendapatan Perkapita
Persentasi edukasi akhir
Sub region
Luas area yang dimiliki
Rata-rata temperature tahunan
Persentasi di sektor petanian
Persentasi di sektor industri
Persentasi di sektor pelayanan
Mobil per seribu populasi
Emisi karbon dioksida yang dihasilkan
Kualitas prevalensi data
(Sumber : Bull et al., 2010. www.ihppthaigov.net)
Populasi dengan prevalensi tingginya inaktivitas fisik merupakan salah
satu tanda keseluruhan kesehatan masyarakat dari gaya hidup kesehatan yang
tidak baik.
Beberapa studi memasukkan faktor umur, jenis kelamin dan merokok.
Faktor tersebut merupakan faktor resiko yang sama dengan pemeriksaan obesitas.
Hal ini menunjukkan adanya pertimbangan antara peran aktivitas fisik terhadap
berat badan. Studi kepustakaan yang ada terdiri dari studi observasi secara luas
menunjukkan bahwa tingkah laku aktivitas fisik selama hidup mengganggu
peningkatan berat badan secara normal yang sangat berhubungan dengan
peningkatan usia, dan patisipasi dari beberapa kegiatan dapat membawa kepada
pengaturan berat badan atau bahkan dapat mengurangi berat badan (Bull et al,
2010). Kelebihan berat badan ditandai dengan naiknya IMT, dimana jika IMT
meningkat akan mempengaruhi tingkat keseimbangan tubuh seseorang dan akan
menimbulkan resiko terjatuh yang tinggi (Emily et al., 2008). Dari semua
31
pembahasan yang ada ternyata aktivitas fisik dapat mempengaruhi stabilitas
postural pada orang dewasa dan orangtua (Hue, 2004).
2.6 Berat Badan Berlebih dan IMT
Terdapat beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu obesitas, overweight,
dan obesitas sentral. Obesitas adalah peningkatan lemak tubuh (body fat). Cara
pengukurannya akan diterangkan kemudian. Overweight adalah peningkatan berat
badan relatif apabila dibandingkan terhadap standar.
2.6.1 Indeks Massa Tubuh
Indeks massa tubuh merupakan alat atau cara yang sederhana untuk
memantau status gizi orang dewasa, IMT tidak bias digunakan untuk anak-anak,
bayi baru lahir, dan wanita hamil khususnya yang berkaitan dengan kekurangan
dan kelebihan berat badan.
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut
WHO 2003 :
IMT
Berat Badan (Kg)
= ------------------------------------------------------Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)
Keterbatasan IMT tidak bisa membedakan berat seseorang yang berasal
dari lemak, serta sistem musculosceletal (otot, dan tulang). IMT juga tidak dapat
melihat atau mengidentifikasi pendistribusian dari lemak tubuh. Dari beberapa
penelitian sebelumnya menyatakan bahwa standar cut off point untuk
mendefinisikan obesitas berdasarkan IMT mungkin tidak menggambarkan risiko
yang sama untuk konsekuensi kesehatan pada semua ras atau kelompok etnis
(Koski, 2001).
32
Kriteria IMT digunakan standart dari WPRO yaitu bagi orang Asia,
dengan nilai normal yaitu 18,5-22,9. Untuk kepentingan di Indonesia, maka
karena wilayah indonesia termasuk dalam kategori wilayah ASIA maka
digunakan kriteria untuk orang asia adalah sebagai berikut :
Table 2.2 Kriteria Indeks Massa Tubuh
WPRO 2000 IMT UNTUK REGIONAL ASIA
Klasifikasi
Berat Tubuh (Kg/m2)
Kurus
<18.5
Normal
18.5 – 22.9
Kelebihan berat
23 – 24.9
Obesitas I
25 – 29.9
Obesitas II
>30
Sumber : (Annuurad Erdembileg et al., 2003)
Berdasarkan hasil penelitian ternyata IMT yang tinggi pada kriteria
overweight 23-24.9 Kg/m2 mempengaruhi tingkat keseimbangan seseorang. Dan
berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Greve et al., 2007) didapatkan
korelasi yang tinggi antara IMT dengan keseimbangan pada usia 20-40 tahun.
2.7 Standing Stork Test (SST).
Standing Stork Test atau yang biasa disebut one leg stand (berdiri dengan
satu kaki) adalah alat ukur untuk mentest kemampuan keseimbangan static atlet
saat berdiri satu kaki dengan mata tertutup. Untuk tes keseimbangan fungsional
Standing Stork Test umumnya dipakai sebagai gold standart dibandingkan test
keseimbangan lainnya pada usia 15-30 tahun seseorang mampu berdiri dengan
satu kaki dengan rata-rata tertinggi 26-39 detik (Cambridge university fitness test
card, 2012).
33
Tabel 2.3 Standing Stork Test
Fitness Level Pria & Wanita
Excellent
>50 detik
Good
40-49 detik
High Average
26-39 detik
Low Average
11-25 detik
Poor
<10 detik
(Sumber : Evaluating Health Related Fitness Workbook (Cambridge University) Hal : 9
Berdasarkan hasil penelitian (Hessari et al., 2012) ternyata core stability
dapat meningkatkan keseimbangan pada lansia, dan juga atlet
meningkatkan performa,
untuk
berdasarkan penelitian (Mc Guine & Keene, 2006)
latihan balance board ternyata juga dapat membantu mencegah terjadinya cidera
dan mencegah resiko jatuh pada lansia, dan mencegah injury serta meningkatkan
performa athlete.
2.8 Balance board
Pada awalnya balance board diproduksi untuk pemain ski dan peselancar
untuk melatih kemampuan mereka di off season dan pada malam hari, balance
board adalah sebuah perangkat papan keseimbangan yang digunakan untuk
pelatihan olahraga dan seni bela diri, untuk kebugaran fisik dan non-atletik
(Aaltonen et al., 2007).
Balance board Exercise adalah alat yang digunakan untuk rekreasi, latihan
keseimbangan, pelatihan athletic, perkembangan otak, terapi, dan fungsi lain
untuk pengembangan diri. Alat ini sama halnya seperti tuas (pengungkit) dimana
kaki kiri dan kanan pengguna berada disamping papan, dan tubuh pengguna harus
berdiri tegak dan hindarkan papan atau kaki kita jatuh menyentuh lantai.
34
Balance board digunakan untuk melatih keseimbangan tidak hanya pada
usia muda tetapi pada usia tua agar terhindar dari terjatuh, untuk koordinasi
keterampilan motorik, weight distribution, core strength, mencegah cedera
olahraga, terutama pergelangan kaki dan lutut, rehabilitasi setelah cedera pada
beberapa bagian tubuh (Reynolds, 2010).
Penggunaan papan keseimbangan yang jauh dari tujuan atletik awalnya
perlahan lahan digunakan secara umum, untuk memperluas jaringan saraf yang
memungkinkan belahan otak kiri dan kanan saling berkomunikasi satu sama lain,
sehingga meningkatkan efisiensi, untuk mengembangkan sensori integrasi dan
keterampilan kognitif pada anak-anak dengan gangguan perkembangan, untuk
membuat penari lebih lincah pada kaki mereka saat menari, pada penyanyi postur
yang optimal untuk mengontrol aliran udara, Musisi cara memegang instrumen
mereka, sebagai aksesori untuk yoga dan sebagai bentuk yoga, kesehatan holistik,
kesadaran dan ketenangan diri (Mc Guine & Keene, 2006).
2.8.1 Tipe Balance board
Ada lebih dari seratus model balance board di pasar Amerika Serikat.
Masing-masing adalah versi dari salah satu dari sekitar lima belas jenis balance
board. Masing-masing model dan jenis dapat diklasifikasikan sebagai salah satu
dari empat jenis dasar balance board menurut dua parameter biner yaitu apakah
titik tumpu melekat pada papan dan apakah papan miring hanya dalam dua arah
yang berlawanan (kiri dan kanan atau ke depan dan belakang ) atau di setiap arah
360 derajat (Maisel, 2008).
35
Tabel 2.4 Tipe Balance board
Terpasang
Tidak
terpasang
Bipolar
Rocker
360 derajat
Wobble
Rocker-roller Sphere dan Ring
(Sumber : Maisel, 2008)
Fungsi
Static Balance
Dynamic Balance
2.8.1.1 Rocker Board
Rocker board merupakan papan keseimbangan yang paling dasar, dimana
titik tumpu (fulcrum) melekat pada bagian bawah papan. Dalam beberapa model
titik tumpu tegak lurus terhadap panjang papan dan model-model lain titik tumpu
adalah dua rocker yang sejajar satu sama lain dan sejajar dengan panjang papan,
satu di depan orang yang berdiri di papan dan satu di belakang. Rocker board
hanya menawarkan satu derajat gerakan: rotasi bagian sumbu longitudinal yaitu
(miring kiri dan kanan). Papan rocker kebanyakan dibuat oleh produsen mainan
atau peralatan olahraga.
2.8.1.2 Rocker Roller Board
Rocker roller board sama dengan rocker board hanya saja titik tumpu
tidak melekat dengan papan, dan titik tumpu berupa roda yang dapat berputar kiri
dan kanan papan, rocker roller board lebih sulit digunakan dan lebih menantang
keseimbangan seseorang dibandingkan dengan rocker board (Reynolds, 2010).
Gambar 2.9 : Rocker Roller Board
(Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Balanceboard)
36
2.8.1.3 Sphere and Ring Board
Sphere and ring board merupakan balance board dimana titik tumpu
(fulcrum) menggunakan bola, dan dibagian bawah papan terdapat ring agar bola
tidak keluar jauh dari papan. Sphere and Ring board memberikan kebebasan
terbesar dari setiap jenis papan keseimbangan, dan jenis ini merupakan yang
paling sulit digunakan.
2.8.1.4 Wobble Board
Titik tumpu dari semua wobble board berbentuk setengah lingkaran atau
semi bola, hal ini dapat memungkinkan papan dapat bergerak ke segala arah,
maju-mundur, kiri dan kanan berputar 3600. Wobble board banyak digunakan
untuk perkembangan anak, gymnasium, latihan olahraga, mencegah terjadinya
cidera pada ankle dan knee, proses rehabilitasi setelah cidera ankle, knee, dan hip,
serta digunakan sebagai alat physiotherapy (Waddington et al., 2004).
Latihan penggunaan wobble board adalah letakkan kedua kaki diatas
papan kemudian miringkan ke kiri dan kekakan, putar, dan usahakan agar tetap
seimbang agar pinggir papan, dan kaki tidak jatuh menyentuh tanah. Wobble
board banyak digunakan oleh gym, olahraga, dan fisioterapi untuk melatih
keseimbangan pasien.
37
Gambar 2.10 : Wobble Board
(Sumber : www.technogym.com/media/immagini/1323_wobble_board.jpg)
Pada penelitian ini digunakan balance board jenis wobble board
dikarenakan balance board jenis ini lebih efektif untuk melatih keseimbangan,
dan biasanya jenis papan ini lebih banyak digunakan oleh fisioterapi, dan
instruktur olahraga untuk melatih keseimbangan atlet agar terhindar dari cidera
ankle. Latihan wobble board selama 5 minggu dapat meningkatkan keseimbangan
dan juga cidera ankle pada atlet (Waddington et al., 2004).
2.8.2 Tujuan, dan Manfaat Latihan Balance board
Balance board dapat menyebabkan patah tulang, sparin joints, merusak
tendon, ligament dan cartilage (tulang rawan sendi). Pada saat latihan resiko dapat
dicegah dan diminimalisir dengan meniapkan space yang besar, mengenakan alat
pelindung, dan mengikuti instruksi penggunaan balance board. Resiko dapat
diminimalisir dengan membersihkan dari area balance board benda-benda yang
dapat membahayakan, dan dipastikan permukaan yang digunakan lembut.
Berdiri atau latihan di atas papan keseimbangan sangat berbahaya bagi
orang yang rentan terhadap pusing atau keseimbangan yang terganggu, misalnya
sedang di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan.
38
2.8.2.1 Tujuan Latihan Balance board
Tujuan dari balance board exercise adalah untuk melatih secara bertahap
anggota gerak bawah seperti, ankle, knee, dan hip agar menjadi lebih kuat dan
reaktif. Yang pada saatnya akan meningkatkan fungsi, mengurangi nyeri lutut,
memperlambat penuaan sendi, meningkatkan keseimbangan dan membantu
mencegah cedera pada akhirnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Reynolds, 2010) Ternyata
latihan balance board juga dapat membantu menguatkan otot-otot core, bukan
hanya otot core saja tetapi dapat meningkatkan kekuatan otot ekstremitas bawah,
latihan balance board sangat membantu dalam mencegah terjadinya cidera serta
dapat meningkatkan performa atlet, dan menjaga stabilitas postural.
2.8.2.2 Meningkatkan Kemampuan Tactile & Proprioception
Tujuan dari latihan balance board adalah untuk meningkatkan
proprioception seseorang. Proprioceptive adalah persepsi sendi saat berada di
ruang bebas dan terjadi pergerakan. pada saat menutup mata, seseorang masih
dapat menyentuh ujung hidung dengan jari telunjuk. Melalui reseptor saraf di
dalam sendi tubuh manusia, manusia dapat mengetahui yang sedang dilakukan.
Contoh lain dari fungsi proprioceptive adalah kemampuan untuk beradaptasi
dengan tanah pada saat berjalan. Reseptor saraf dalam sendi pergelangan kaki
menginformasikan ke otak tentang struktur tanah, gundukan kecil dan lubang,
memungkinkan seseorang untuk berjalan dengan cara yang halus. Memiliki sistem
proprioseptif yang efisien memungkinkan tubuh untuk beradaptasi dengan cara
halus dengan lingkungannya. Kurangnya aktivitas fisik atau cedera sendi dapat
39
mempengaruhi kualitas proprioceptive kita. Untungnya, hal ini dapat dilatih
melalui latihan yang tepat (Mc Guine & Keene, 2006).
2.8.2.3 Meningkatkan kemampuan vestibular
Tidak hanya meningkatkan proprioceptive saja latihan balance board juga
melatih kemampuan vestibular dimana, saat kita berada di atas balance board
maka terjadi mekanisme bahwa didalam system vestibular terdapat reseptor
berupa cairan bernama endolymph saat kepala bergerak atau berpindah. Reseptor
ini yang akan memberikan informasi ke Cerebellum dan basal ganglia sehingga
tubuh akan melakukan gerakan kompensasi agar tetap stabil (seimbang).
Balance board memiliki tujuan untuk menantang keseimbangan dan
memaksa kita untuk melatih proprioceptive & vestibular. Hal yang menarik saat
sudah berlatih keseimbangan dengan menggunakan papan keseimbangan adalah
akan terus berlatih sampai merasa bahwa kita dapat bertahan diatas papan
keseimbangan, sehingga tanpa disadari keseimbangan dapat meningkat dan dapat
terhindar dari cidera (Verhagen et al, 2004).
2.9
Core Stability
Core stability
dinding
perut,
berhubungan dengan bagian tubuh yang dibatasi oleh
pelvis,
punggung
bagian
bawah
dan
diafragma
serta
kemampuannya untuk menstabilkan tubuh selama gerakan. Otot-otot utama yang
terlibat meliputi transversus abdominis, obliques internal dan eksternal,
Quadratus lumborum dan diafragma. Diafragma adalah otot utama untuk
menghirup napas pada manusia dan lain sebagainya, sangat penting dalam
40
memberikan kekuatan core stability saat bergerak dan mengangkat beban
(Ludmilla et al. 2003).
Core stability merupakan salah satu faktor penting dalam postural set.
Dalam kenyataanya core stability menggambarkan kemampuan untuk mengontrol
atau mengendalikan posisi dan gerakan sentral pada tubuh diantaranya: head and
neck
alignment,
alignment
of
vertebral
column
thorax
and
pelvic
stability/mobility, ankle dan strategi hip (Barr et al., 2005). Core stability
merupakan komponen penting dalam memberikan kekuatan lokal dan
keseimbangan untuk memaksimalkan aktivitas secara efisien (Ahmadi et al.,
2012).
Latihan core stability akan membatu memelihara postur yang baik dalam
melakukan gerak serta menjadi dasar untuk semua gerakan pada lengan dan
tungkai. Hal tersebut menunjukkan bahwa hanya dengan stabilitas postur (aktifasi
otot core stability) yang optimal, maka mobilitas pada ektremitas dapat dilakukan
dengan efisien. Menurut (Kibler, 2006), Peningkatan pola aktivasi core stability
juga menghasilkan peningkatan level aktivasi pada ekstremitas atau anggota gerak
sehingga mengembangkan kapabilitas untuk mendukung atau menggerakkan
ekstremitas.
Core stability memerlukan gerakan thrunk control dalam 3 bidang. Dalam
mempertahankan stabilitas semua bidang gerak otot-otot teraktifasi dalam pola
yang berbeda dari fungsi utamanya. Diantaranya Otot Quadratus Lumborum
fungsi utamanya sebagai stabilisator saat aktifasi dari bidang frontal. Aktivasi
Otot Quadratus Lumborum terjadi pada gabungan dengan fleksi, ektensi dan
41
lateral fleksi untuk menopang spine dalam bidang gerak, sehingga membuatnya
lebih dari sekedar stabilisasi pada bidang frontal.Salah satu sumber dari otot-otot
core adalah diafragma, kontraksinya terjadi secara simultan dari diafragma
(Kahle, 2009).
Otot-otot pelvic floor dan abdominal diperlukan untuk meningkatkan Intra
Abdominal Pressure (IAP) dan memberikan rigiditas cylinder untuk menopang
thrunk, menurunkan beban pada otot-otot spine dan meningkatkan stabilitas
thrunk. Kontribusi diaphragma pada Intra Abdominal Pressure (IAP) penting
sebelum menginervasi gerakan-gerakan dari extermitas atau anggota gerak,
sehingga thrunk menjadi stabil. Pada akhir komponen yang terpenting pada thrunk
terhadap otot core adalah otot pelvic floor karena kesulitan untuk menilai otot ini
secara langsung sehingga sering diabaikan. Sedangkan pada otot abdominal yang
terdiri dari Otot Tranversus Abdominalis, Internal Obliques, External Obliques
dan Rectus Abdominalis. Kontraksi Tranversus Abdominalis meningkatkan Intra
Abdominal Pressure (IAP) dan tekanan fascia thorakolumbal.
Kontraksi otot abdominal menghasilkan sebuah rigid cylinder yang
meningkatkan kekakuan (stiffness) dari lumbar spine. Otot Rectus Abdominalis
dan Oblique abdominal mengaktivasi pola yang spesifik dengan berperan penting
terhadap gerakan anggota gerak bawah, sekaligus memberikan postural support
sebelum anggota gerak bawah bergerak. Oleh karena itu, kontraksi yang
meningkatkan tekanan Intra Abdominal terjadi sebelum inisiasi gerakan segmen
yang besar pada anggota gerak atas (Hopkins, 2009).
42
Dalam hal ini, spine (core of the body) terjadi stabilisasi sebelum adanya
gerakan-gerakan pada anggota gerak yang terjadi untuk membuat angggota gerak
menjadi lebih stabil dalam melakukan gerakan dan akfitas otot. Pada sebagian
kecil, short muscle seperti Otot Multifidus yang memberikan stabilisasi otot-otot
pada single joint maupun multiple joint berfungsi untuk bekerja lebih efisien
dalam mengontrol gerakan spine.
Secara klinis dapat dilihat bahwa dengan hanya sebuah peningkatan kecil
dalam mengaktifkan Otot Multifidus dan Abdominal membuat segmen spinal
menjadi stiffness (Maksimal kontraksi volunter pada aktivitas sehari-hari sekitar
5% dan 10% sebagai maksimal kontraksi volunter untuk aktivitas tertentu). Pola
aktivasi sinergis yang meliputi otot-otot abdominalis, diaphragma dan pelvic floor
memberikan base of support pada seluruh thrunk dan otot spinalis. Dalam
membentuk base of support yang baik juga dipengaruhi gabungan struktur hip dan
pelvic dari keduanya. Hip dan pelvic terdapat gabungan otot-otot besar pada
daerah crosssectional. Seperti halnya Otot Gluteus merupakan stabilisator dari
thrunk sampai kedasar kaki dan menyediakan power untuk gerakan melangkah
kedepan. Area hip atau thrunk juga mengkontribusi sekitar 50% energi kinetik dan
force sepenuhnya untuk gerakan mengayun (Fredericson et al., 2005).
Pada latihan core stability dikenal ada yang disebut dengan kinetik chain yang
bekerja pada saat:
a. Kontrol secara optimal
b. Mendistribusikan tekanan yang merata
c. Mengefisienkan semua gerakan secara optimal
d. Tanpa latihan yang berlebihan
43
e. Tanpa melakukan gerakan yang berlebihan/penekanan
f. sendi dalam keadaan stabil
g. kontrol neuromuscular
Dalam core stability ini selalu melibatkan tiga sistem antara lain:
a. Sistem Otot
b. Sistem Persendian
c. Sistem Saraf
Dan bukan hanya itu setiap melakukan gerakan selalu melibatkan 3 bidang
gerak artinya apabila melakukan gerak kesalah satu bidang gerak tubuh maka otot
yang bekerja tidak hanya pembentukan gerakan tersebut tapi dibantu oleh otot
yang berada disekitar bidang gerak tersebut misalnya:gerakan flexi trunk dibentuk
oleh rektus abdominis, obliques internus abdominis,obligus externus abdominis,
psoas mayor, psoas minor, tapi dibantu juga otot gluteus maximus. Dan bukan itu
saja dalam dalam core stabity ini pada prinsipnya menghasilkan penguatan dan
penguluran, misalnya flexi trunk otot otot agonisnya akan mengalami penguatan
sedangkan antagonis mengalami penguluran begitu juga sebaliknya pada sat
extensi trunk otot antagonisnya mengalami penguatan sedangkan agonisnya
mengalami penguluran.
2.9.1 Manfaat Latihan Core Stability
Melatih otot core juga dapat menkoreksi ketidakseimbangan postur yang
mana dapat meningkatkan penampilan saat berjalan dan mencegah terjadinya
cidera (Dasmanesh et al., 2012).
44
Core stability memiliki banyak manfaat yaitu :

Kemampuan fungsional menjadi lebih baik untuk membantu
meningkatkan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Peningkatan kinerja dalam olahraga (berenang, sepeda dan lari).

Pengurangan risiko cedera.
Latihan core stability yang teratur minimal 3 minggu sudah dapat
meningkatkan keseimbangan, dan agar lebih baik dilakukan selama 6 minggu,
berdasarkan penelitian sebanyak 15 pria dan wanita yang mengalami gangguan
keseimbangan dilatih core stability ternyata setelah 6 minggu latihan terdapat
hasil yang signifikan (Kahle, 2009).
Download