BAB II LANDASAN TEORI A. Kompetensi Sosial 1. Definisi

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kompetensi Sosial
1. Definisi Kompetensi Sosial
Berikut ini beberapa definisi kompetensi sosial yang dikemukakan oleh
para ahli, antara lain :
“The capability to feel positively about oneself and to fit in well within a
network of positive relationships with family and peers” Raven & Ziegler
(dalam Lillvist et al., 2009)
“developmentally based phenomena rather than a set of specific behaviors
and involves the evolving understanding of self and others and the ability
to form a meaningfull relationship with peers” Arthur, Bochner &
Butterfield (dalam Lillvist et al., 2009)
Menurut Rubia dan Rose-Krasnor (dalam Kemple, 2004) kompetensi
sosial didefinisikan sebagai kemampuan untuk mencapai tujuan pribadi di dalam
interaksi sosial dan memelihara hubungan positif dengan orang lain dari waktu ke
waktu di dalam semua situasi.
Dari beberapa definisi kompetensi sosial yang telah disebutkan di atas,
peneliti menyimpulkan bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan untuk
mencapai tujuan dan menjalin hubungan yang positif dalam proses interaksi
dengan orang lain di dalam semua situasi secara efektif. Sehingga dapat dikatakan
bahwa individu yang memiliki kompetensi sosial yang tinggi akan mampu
menunjukkan perhatian terhdap lingkungan sosial lebih banyak, lebih simpatik
dan lebih dapat menolong dan mencintai.
16
http://digilib.mercubuana.ac.id/
17
2. Aspek-aspek Kompetensi Sosial
Kompetensi yang merupakan bagian dari kecerdasan emosi (Goleman,
2015), dibagi dalam 2 (dua) kelompok besar, yaitu :
a. Kompetensi Personal (Personal Competence) dan
b. Kompetensi Sosial (Social Competence).
Kompetensi personal mencakup sadar diri dan manajemen diri. Sedangkan,
kompetensi sosial mencakup sadar sosial dan manajemen relasi (Hutapea &
Thoha, 2008).
Lebih lanjut dijelaskan tentang aspek-aspek kompetensi sosial adalah
sebagai berikut (Hutapea & Thoha, 2008) :
a. Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Indikator yang menunjukkan kesadaran sosial seseorang, yaitu :
1) Empati, yaitu kemampuan merasakan emosi orang lain, mengerti
perspektif mereka dan tertarik terhadap kepentingan mereka.
2) Kesadaran organisasi, yaitu kemampuan membaca arus, jaringan
keputusan dan politik pada tingkat organisasi.
3) Pelayanan, yaitu kemampuan mengenali dan memenuhi kebutuhan
orang lain.
b. Manajemen Relasi (Relationship Management)
1) Kepemimpinan inspirasional, yaitu kemampuan mengarahkan dan
memotivasi dengan tujuan yang tegas.
2) Pengaruh, yaitu menggunakan sejumlah taktik untuk membujuk.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
18
3) Mengembangkan orang lain, yaitu mengembangkan kemampuan
orang lain melalui umpan balik dan petunjuk.
4) Katalisator perubahan, yaitu berinisiatif, mengatur dan memimpin
dengan arah yang baru.
5) Manajemen konflik, yaitu memecahkan perselisihan.
6) Membangun hubungan, yaitu menciptakan dan memelihara
sejumlah hubungan.
7) Kerjasama kelompok dan kolaborasi, yaitu membangun kelompok
dan kerjasama.
Menurut Gresham dan Elliot (dalam Santoso, 2013), kompetensi sosial
terdiri atas dua aspek yaitu keterampilan sosial dan perilaku adaptif. Kedua aspek
dijelaskan sebagai berikut :
a. Keterampilan Sosial
merupakan perilaku yang diterima secara sosial yang memungkinkan
seseorang untuk dapat berinteraksi secara efektif dengan orang lain
dan menghindari respon yang tdiak dapat diterima dalam interaksi
sosial. Gresham dan Elliot (dalam Santoso, 2013) kembali menjelaskan
bahwa keterampilan sosial terdiri dari lima subdomain, yaitu :
1) Kerjasama (Cooperation)
Mengacu pada perilaku yang dilakukan dalam situasi di mana
seseorang (atau dalam kelompok) memberikan bantuan pada orang
lain (kelompok lain) yang membutuhkan, namun di waktu lain
http://digilib.mercubuana.ac.id/
19
orang-orang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan yang
memberikan keuntungan bagi semua orang
2) Asertif (Assertion)
Mengacu pada perilaku yang merupakan reaksi yang tepat dan
menggambarkan seberapa besar intense seseorang untuk berbicara,
mempertahankan pendapat dan mengejar cita-citanya dalam
hubungan interpersonal.
3) Tanggung jawab (responsibility)
Sebagaimana disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
tanggung jawab merupakan kewajiban untuk menanggung segala
sesuatunya yang berhubungan dengan resiko yang dihasilkan dari
perbuatan seseorang.
4) Kontrol diri (self control)
Merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi,
perilaku dan keinginannya.
5) Empati
Merupakan
perilaku
yang
menunjukkan
kepedulian
serta
penghargaan terhadap perasaan dan pandangan orang lain
b. Perilaku Adaptif
Perilaku adaptif dipandang sebagai tingkat efektivitas dan derajat
keberhasilan seseorang dalam mencapai standar sosial atau budaya
sehingga seseorang dapat dikatakan mandiri dan memenuhi tanggung
http://digilib.mercubuana.ac.id/
20
jawab sosial (Gresham & Elliot, dalam Lestari, 2013). Memiliki
perilaku adaptif diartikan pula tidak adanya perilaku maladaptif.
Menurut Gresham dan Elliot (dalam Lestari, 2013), perilaku
maladaptif terdiri dari dua subdimensi, yaitu :
1) Masalah internal,
adalah perilaku yang menunjukkan reaksi emosi yang berlebih
yang ditujukan pada diri sendiri, seperti : perilaku menarik diri,
depresi dan cemas;
2) Masalah eksternal,
adalah perilaku yang ditandai dengan rendahnya kontrol emosi
dalam menjalin hubungan interpersonal, seperti : perilaku agresif
yang ditujukan pada orang lain.
Dengan melihat aspek-aspek tersebut, maka peneliti akan menggunakan
aspek kompetensi sosial menurut Gresham dan Elliot yaitu, keterampilan sosial
dan perilaku adaptif untuk mengukur kompetensi sosial dalam penelitian ini.
3. Faktor-faktor Kompetensi Sosial
Smart dan Sanson (Lestari, 2013) menyebutkan bahwa ada tiga faktor
yang mempengaruhi kompetensi sosial, yaitu :
a. Karakteristik Individu
Pola pikir, perasaan dan sikap seseorang dapat mempengaruhi perilaku
sosialnya. Seseorang yang memiliki penilaian yang impulsif dan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
21
menunjukkan sikap yang tidak baik dalam situasi sosial, akan ditolak
oleh limgkungan.
b. Lingkungan
Lingkungan memiliki peran yang penting dalam pengembangan
kompetensi seseorang. Kehadiran orang lain, budaya dan norma yang
berlaku dan berkembang dalam lingkungan tempat tinggal akan
menentukan apakah seseorang kompeten secara sosial dan dapat
diterima oleh lingkungannya.
c. Hubungan dengan Peer
Hubungan dengan teman sebaya juga berpengaruh pada perkembangan
sosial seseorang. Hubungan dengan teman sebaya membantu
pembentukan identitas diri seseorang. Bersama dengan itu seseorang
juga belajar tentang hubungan timbal balik dan kedekatan personal
dengan orang lain. Adanya penolakan dari teman merupakan indikator
rendahnya kompetensi sosial seseorang.
Selain dari ketiga faktor tersebut, faktor lain yang juga mempengaruhi
kompetensi sosial seseorang adalah usia, jenis kelamin dan pendidikan orang tua
(Kumari, 2009).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
22
4. Karakteristik Mahasiswa yang Memiliki Kompetensi Sosial
Berdasarkan penjelasan Gresham dan Elliot (dalam Santoso, 2013) tentang
kompetensi sosial dan aspek-aspeknya, secara umum individu yang memiliki
kompetensi sosial memiliki perbedaan dengan mereka yang tidak memilikinya.
Begitu pula mahasiswa yang memiliki kompetensi sosial yang tinggi,
menunjukkan karakteristik yang berbeda dengan mahasiswa yang tidak memiliki
kompetensi sosial.
Karakteristik
yang
membedakannya
antara
lain
sikap
mandiri,
bertanggung jawab mampu bekerja sama dengan orang lain, memiliki orientasi
hidup yang jelas, lebih simpatik, suka menolong, mempunyai kontrol diri yang
baik dan lebih disukai oleh orang tua, pembimbing akademis dan teman sebaya
(Wardani & Apollo, 2010). Selain itu, mahasiswa yang memiliki kompetensi
sosial yang tinggi juga menunjukkan prestasi akademis yang lebih baik.
Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki kompetensi sosial yang tinggi
menunjukkan ciri-ciri suka membolos, memberontak dan tidak mampu
mempertahankan hubungan sosial dengan teman sebaya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik mahasiswa
yang memiliki kompetensi sosial yang tinggi menunjukkan kemampuan seseorang
untuk berinteraksi secara efektif dalam setiap situasi. Namun, beberapa penelitian
menyatakan bahwa ada perbedaan penyesuaian sosial antara laki-laki dan
perempuan. Dimana penyesuaian sosial sebagai salah satu indikator perilaku
adaptif yang merupakan aspek dari kompetensi sosial.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
23
B. Kecerdasan Emosional
1.
Definisi Kecerdasan Emosional
Sebelum kita melangkah pada pengertian tentang kecerdasan emosi, maka
perlu dipahami terlebih dahulu, apakah emosi itu? Menurut Goleman sendiri,
emosi mengacu pada,
“a feeling and thoughts of his trademark, a state and a series of biological
and psychological tendency to act”.
Terlepas dari pengertian itu, pengelompokan emosi masih dalam
perdebatan para ahli, hingga akhirnya dari hasil penemuan Paul Ekman dari
University of California di San Fransisco (Goleman, 2015) dinyatakan bahwa ada
empat ekspresi wajah yang menunjukkan emosi seseorang yaitu, takut, marah,
sedih dan senang yang bersifat universal, karena empat ekspresi itu dikenali di
semua budaya di dunia.
Dari berbagai pemikiran tentang emosi, kini diketahui bahwa betapa
banyak hal yang dilakukan oleh manusia dikarenakan dorongan emosi. Tampak
jelas ketika ada saat dimana kita menjadi begitu rasional dan menjadi begitu tidak
rasional di saat yang lain. Goleman (2015) mengungkapkan bahwa seseorang
dapat langsung bertindak tanpa mempertimbangkan apa yang dilakukannya
disebabkan dorongan dari pikiran emosional. Hal itu menunjukkan bahwa pikiran
emosional bereaksi lebih cepat dari pikiran rasional. Kecepatan pikiran emosional
ini cenderung menelan mentah-mentah dan langsung (sekaligus), tanpa ada
analisa yang matang terhadap infornasi yang diterimanya. Dengan begitu tentu
saja hal-hal detail lainnya menjadi terabaikan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
24
Meskipun demikian, pikiran emosional memberikan keuntungan karena
dapat membaca realitas emosi dalam waktu singkat atau sekejap saja. Dan
kekurangannya tentu saja, karena penilaian dari pikiran emosional diberikan
secara langsung atau spontan, maka akan menimbulkan penilaian yang salah
(Goleman, 2015).
Dalam dunia kerja, mereka yang sukses adalah individu yang lebih
berempati, komunikatif, mempunyai rasa humor dan memiliki kepekaan terhadap
kebutuhan orang lain. Selain itu, dapat pula menyeimbangkan antara emosi dan
rasio, mampu memisahkan opini dan fakta sehingga tidak mudah terpengaruh
dengan gosip. Biasanya mereka dianggap selalu obyektif dan tahu caranya
mengurangi stres. Kemampuan seperti yang telah disebutkan, berdasar pada
kecerdasan emosional yang tinggi, yang dimiliki oleh individu.
Salovey dan Mayer (dalam Davis, 2008), mendefinisikan kecerdasan
emosi sebagai kecerdasan yang mencakup kemampuan memonitor perasaan dan
emosi diri sendiri dan orang lain, untuk menuntun pikiran dan tindakan seseorang.
Goleman (2015) menjelaskan bahwa kecerdasan emosi merupakan
kemampuan individu dalam bidang yang lebih luas yaitu, kesadaran diri,
kesadaran sosial, manajemen diri dan manajemen hubungan.
Dari beberapa definisi yang telah disebutkan di atas,
peneliti
menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional dapat didefinisikan sebagai
kemampuan individu untuk mengenali dan mengendalikan emosi dirinya sendiri
dan orang lain.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
25
2. Aspek-Aspek Kecerdasan Emosional
Salovey (dalam Goleman, 2015) menjelaskan lima aspek yang tercakup
dalam pengertian dasar tentang kecerdasan emosi, meliputi :
a. Mengenali emosi diri
Kemampuan individu untuk mengenali perasaannya sendiri, ketika
perasaan itu terjadi. Individu yang memiliki kepekaan yang tinggi akan
perasaannya sendiri adalah orang yang mampu memegang kendali atas
kehidupannya sendiri.
b. Mengelola emosi
Kemampuan individu untuk menangani perasaan yang muncul.
Mereka yang buruk dalam kemampuan ini akan gagal terus-menerus
berada dalam kondisi “perang batin”, melawan perasaan murung,
sedangkan mereka yang pintar dalam kemampuan ini akan lebih cepat
bangkit dari keterpurukan.
c. Memotivasi diri sendiri
Kemampuan individu untuk berkreasi, memotivasi dan menguasai diri
sendiri. Individu yang memiliki kemampuan ini cenderung akan jauh
lebih produktif dan efektif dalam mengerjakan apa pun.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
26
d. Mengenali emosi orang lain
Kemampuan individu untuk berempati. Artinya, mereka dapat
mengenali sinyal-sinyal yang tersembunyi dari orang lain.
e. Membina hubungan
Kemampuan mengelola emosi orang lain. Dengan begitu, individu
yang memiliki kemampuan ini akan sukses dalam pergaulan.
Sedangkan Goleman (2015), tidak jauh berbeda dengan Salovey,
menyebutkan lima aspek yang tercakup dalam kecerdasan emosi, yaitu :
a. Kesadaran diri emosional
Meliputi perbaikan dalam mengenali dan merasakan emosinya sendiri;
kemampuan memahami penyebab timbulnya suatu perasaan dan
kemampuan mengenali perbedaan perasaan dengan tindakan.
b. Mengelola emosi
Meliputi toleransi yang lebih tinggi terhadap frustasi dan pengelolaan
amarah; berkurangnya ejekan verbal, perkelahian dan gangguan di
ruang kelas; kemampuan mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa
berkelahi; berkurangnya perilaku agresif atau merusak diri sendiri;
perasaan yang lebih positif tentang diri sendiri dan lingkungan;
kemampuan yang lebih baik dalam menangani ketegangan jiwa; dan
berkurangnya kesepian dan kecemasan dalam pergaulan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
27
c. Memanfaatkan emosi secara produktif
Meliputi kemampuan untuk lebih bertanggung jawab; mampu
memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan dan menaruh
perhatian pada tugas tersebut; kemampuan untuk lebih menguasai diri
dan kemampuan untuk meningkatkan prestasi.
d. Empati
Meliputi kemampuan menerima sudut pandang orang lain; kepekaan
terhadap perasaan orang lain; dan kemampuan mendengarkan orang
lain.
e. Membina hubungan
Meliputi kemampuan meningkatkan analisa dan memahami hubungan;
kemampuan
menyelesaikan
pertikaian
dan
merundingkan
persengketaan; kemampuan menyelesaikan persoalan yang timbul
dalam hubungan; kemampuan untuk tegas dan terampil dalam
berkomunikasi; lebih mudah bergaul dan bersahabat dengan teman
sebaya; kemampuan untuk menjadi individu yang dibutuhkan oleh
teman sebaya; lebih menaruh perhatian dan bertenggang rasa; lebih
memikirkan kepentingan sosial da selaras dalam kelompok; lebih suka
berbagi rasa, bekerja sama dan suka menolong; serta lebih demokratis
dalam bergaul dengan orang lain.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
28
Berdasarkan aspek-aspek yang telah disebutkan di atas, maka dalam
penelitian ini, peneliti akan mengoperasionalisasikan kecerdasan emosi sesuai
dengan aspek-aspek yang telah dikemukakan oleh Salovey yaitu mengenali emosi
diri, mengelola emosi, mengenali emosi orang lain, memotivasi diri dan membina
hubungan.
3. Faktor-faktor Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh dari
proses pembelajaran. Goleman (2015) menyebutkan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kecerdasan emosional, yaitu :
a. Pengalaman
Kecerdasan emosional cenderung akan meningkat, seiring dengan
perjalanan hidupnya. Dalam perjalanan hidupnya, setiap individu
belajar untuk menangani suasana hati, menangani emosi-emosi yang
menyulitkan dan sebagainya. Pengalaman itulah yang membawa
individu semakin cerda secara emosional.
b. Usia
Terkait dengan pengalaman sejak usia kanak-kanak hingga dewasa,
semakin bertambahnya usia individu, maka individu akan semakin
cerdas secara emosional.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
29
c. Jenis kelamin
Pria dan wanita memiliki kemampuan yang sama dalam hal
meningkatkan kecerdasan emosional, namun wanita cenderung
memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi dibanding pria.
d. Jabatan
Semakin tinggi jabatan seseorang, maka tuntutan terhadap dirinya
semakin besar. Kondisi itulah yang secara tidak langsung memaksa
seseorang untuk dapat mengelola emosinya dengan baik, sehingga
dapat memiliki kecerdasan emosi yang lebih tinggi.
C. Kreativitas
1. Definisi Kreativitas
Kreativitas merupakan konsep yang sangat kompleks, sehingga tidak ada
definisi tunggal untuk menggambarkannya. Itulah sebabnya, kesulitan terbesar
dalam studi kreativitas adalah definisi (Batastini, 2001). Banyak peneliti
mendefinisikan kreativitas baik sebagai proses, produk atau individu itu sendiri
(Hennessey & Amabile dalam Batastini, 2001)
Beberapa definisi kreativitas yang dicetuskan oleh para ahli antara lain
definisi kreativitas menurut Green (2001). Ia menyebutkan bahwa kreativitas
terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu :
a. Sebagai bakat individual;
b. Sebagai proses;
http://digilib.mercubuana.ac.id/
30
c. Sebagai produk;
d. Sebagai pengakuan dari orang lain.
Kreativitas sebagai bakat individual diartikan sebagai ide-ide yang muncul
dari otak kita semata-mata. Itulah sebabnya, kreativitas dianggap sebagai bakat
alamiah seorang individu. Sedangkan, kreativitas sebagai proses artinya,
penggabungan dari sekian banyak ide-ide yang tidak begitu bagus atau penyatuan
dari berbagai gagasan yang tidak berhubungan, meskipun proses tersebut tidak
serta merta menciptakan ‘ide kreatif’.
Sebagai produk, kreativitas menunjukkan nilai tambah dari produk yang
dihasilkan. Dapat pula dikatakan sebagai karya seni atau pencapaian yang hebat.
Sedangkan, sebagai pengakuan dari orang lain, kreativitas merupakan sebuah
proses yang menghasilkan kebaruan dan keunikan yang dipandang bermanfaat,
masuk akal atau memuaskan oleh sekelompok orang pada suatu waktu tertentu.
Kreativitas juga sering didefinisikan sebagai pengembangan ide-ide
original yang berguna atau berpengaruh (Runco, 2004). Dalam pandangan ini,
kreativitas tidak hanya sebuah reaksi tetapi juga sebuah kontribusi yang dapat
mengubah dan melakukan evolusi. Kreativitas tidak hanya menjadi concern dan
target individu saja, tetapi juga untuk masyarakat dan budaya. Kreativitas juga
berperan penting dalam dunia teknologi, behavioral sciences, seni dan psikologi.
Oleh karena itu kreativitas menjadi salah satu kunci dalam pengembangan
organisasi dan bisnis (Runco, 2004). Selain itu, kreativitas juga menjadi bagian
dalam kehidupan sehari-hari.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
31
Sedangkan menurut Solso, Maclin, dan Maclin (2008),
“Kreativitas adalah suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan suatu
pandangan yang baru mengenai suatu bentuk permasalahan dan tidak
dibatasi pada hasil yang pragmatis (selalu dipandang menurut
kegunaannya)” (pg. 444).
Berdasarkan definisi di atas, jelas bahwa kreativitas bukan hanya bicara
soal “menghasilkan sesuatu yang bermanfaat” saja, tetapi juga merupakan suatu
proses. Wallas (dalam Solso et al., 2008) menjelaskan proses kreatif yang terdiri
atas 4 (empat) tahap, yaitu :
Tahap 1. Persiapan, yaitu tahapan yang berlangsung dari masa kanak-kanak.
Sejak kanak-kanak, seseorang memperoleh pengetahuan dan ide-ide yang selalu
berkembang, serta pemikiran-pemikiran yang didapat dari pengalaman. Ide-ide
awal inilah yang akan menentukan masa depan orang yang kreatif.
Tahap 2. Inkubasi, yaitu tahap dimana suatu ide kreatif (untuk pemecahan
masalah) justru muncul tanpa kita sadari. Melupakan sejenak masalah yang berat
untuk sementara waktu itu perlu, karena akan membantu kita menemukan ide-ide
yang sesuai dengan permasalahan kita yang berat tersebut.
Tahap 3. Iluminasi/Pencerahan, yaitu tahapan di mana suatu permasalahan
menemukan titik terang. Hal ini terjadi karena pemahaman meningkat dan ide-ide
muncul, saling melengkapi satu sama lain, sehingga menemukan penyelesaian
masalah
Tahap 4. Verifikasi, yaitu tahapan dimana ide yang muncul diuji, untuk melihat
apakah penemuan atau ide tersebut berhasil dan berguna.
Definisi kreativitas yang lain datang dari EP Torrance (dalam Batastini,
2001) yang menyebutkan bahwa kreativitas adalah berhasil mengetahui,
http://digilib.mercubuana.ac.id/
32
mengalami dan menemukan hubungan yang baru. Konsep kreativitas yang
diungkapkan oleh Guilford dan Torrance, yang mencakup kefasihan, fleksibilitas,
elaborasi dan orisinalitas sebagai indikatornya, telah diterima secara luas dalam
penelitian kreativitas.
Akhirnya, dari beberapa definisi kreativitas yang telah disebutkan di atas,
dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan suatu proses pemecahan masalah
dengan memunculkan gagasan-gagasan baru yang mencakup aspek-aspek
kefasihan, fleksibilitas, elaborasi dan orisinalitas, sebagaimana disebutkan oleh
Torrance dan Guilford.
2. Aspek-aspek Kreativitas
Dengan keluasan konsep kreativitas, maka muncul pula berbagai pendapat
dari para ahli tentang atribut-atribut yang tercakup dalam konstruk kreativitas.
Sternberg dan Lubart (dalam Solso et al., 2008), menyebutkan bahwa kreativitas
terdiri dari 6 (enam) atribut, yaitu :
a. Proses inteligensi;
b. Gaya intelektual;
c. Pengetahuan;
d. Kepribadian;
e. Motivasi;
f. Lingkungan.
Sedangkan hasil studi analisa mengenai ciri-ciri utama dari kreativitas,
Guilford (dalam Munandar, 2012) menyebutkan bahwa kreativitas terdiri dari
http://digilib.mercubuana.ac.id/
33
aspek aptitude dan non-aptitude traits. Ciri aptitude dari kreativitas diartikan
sebagai kemampuan berpikir kreatif. Sedangkan non-aptitude diartikan sebagai
sikap kreatif.
Secara lebih terperinci, Utami Munandar (2012) menyebutkan aspek-aspek
dalam kreativitas yaitu :
a. Aptitude atau berpikir kreatif yang meliputi :
1) Kefasihan (Fluency)
adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan dengan
cepat. Penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak ide yang
dihasilkan, akan semakin besar pula kemungkinan munculnya
suatu pemecahan masalah yang baru dan tidak biasa (Batastini,
2001).
2) Keluwesan (Flexibility)
adalah kemampuan untuk menggunakan berbagai macam cara
untuk menyelesaikan masalah, menghasilkan sejumlah ide,
memandang suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda,
mencari alternatif yang berbeda, dan mampu menggunakan
berbagai macam pendekatan dan tidak terpaku pada pola pemikiran
lama tetapi mampu menggantinya dengan pola pikir baru.
3) Elaborasi (Elaboration)
adalah kemampuan menambahkan detail untuk sebuah ide.
4) Keaslian (Originality)
adalah kemampuan untuk mencetuskan ide-ide unik, tidak biasa.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
34
b. Non-aptitude atau sikap kreatif yang meliputi :
1) Keterbukaan terhadap pengalaman baru;
2) Kebebasan dalam ungkapan diri;
3) Menghargai fantasi;
4) Minat terhadap kegiatan kreatif;
5) Kepercayaan diri terhadap ide-ide sendiri;
6) Kemandirian dalam memberi pertimbangan.
Dari aspek-aspek kreativitas yang telah disebutkan, maka peneliti akan
menggunakan aspek aptitude (berpikir kreatif) dan non-aptitude (sikap kreatif)
dalam penelitian ini.
3. Faktor-faktor Kreativitas
Menurut
Rogers (dalam Munandar
(2012), kreativitas seseorang
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a. Dorongan dari dalam diri sendiri (motivasi intrisik)
Setiap individu memiliki kecenderungan untuk berkreasi, mewujudkan
potensi dan mengungkapkan kapasitas yang dimilikinya. Rogers
(dalam Munandar, 2012) mengungkapkan bahwa kondisi internal yang
dapat mendorong individu untuk berkreasi antara lain :
1) Keterbukaan terhadap pengalaman
Mau menerima segala informasi dari pengalaman hidupnya sendiri
tanpa ada usaha pertahanan (defense), sehingga dapat dikatakan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
35
bahwa individu yang kreatif adalah individu yang mampu
menerima perbedaan.
2) Kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi
seseorang
Pada dasarnya penilaian terhadap hasil karya seseorang adalah dari
diri orang itu sendiri, meskipun tidak tertutup kemungkinan adanya
masukan dan kritikan dari orang lain.
3) Kemampuan untuk mencari tahu atau mencoba sesuatu
Merupakan kemampuan untuk membentuk kombinasi dari hal-hal
yang sudah ada sebelumnya. Hal ini juga terkait dengan inteligensi
seseorang.
b. Dorongan dari lingkungan
Lingkungan yang dapat mempengaruhi kreativitas antara lain
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Namun, kreativitas
tidak dapat berkembang pada kondisi lingkungan tertentu. Dan kondisi
lingkungan yang dapat mengembangkan kreativitas itu ditandai dengan
adanya :
1) Keamanan psikologis
Keamanan psikologis dapat terbentuk dengan adanya proses-proses
yang saling berhubungan. Proses tersebut antara lain menerima
individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan
kekurangannya, mengusahakan suasana yang didalamnya tidak
http://digilib.mercubuana.ac.id/
36
terdapat efek mengancam dan memberikan pengertian secara
empatis.
2) Kebebasan psikologis
Lingkungan
yang
bebas
secara
psikologis,
memberikan
kesempatan kepada individu untuk bebas berekspresi dengan
pikiran dan perasaannya.
Dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kreativitas seperti telah
dijelaskan di atas, Hayes (dalam Solso, et al., 2008), mengungkapkan bahwa
kreativitas seseorang dapat ditingkatkan dengan beberapa cara, yaitu :
a. Mengembangkan pengetahuan dasar.
Semakin
kaya
latar
belakang
pengetahuan
seseorang,
dapat
memberikan informasi yang lebih banyak untuk memunculkan ide-ide
kreatifnya. Orang yang kreatif akan selalu mengumpulkan informasi
dan menyempurnakan kemampuan dasar mereka.
b. Menciptakan atmosfer yang tepat untuk kreativitas
Seperti brainstorming yang dilakukan dalam sekelompok orang,
dimana masing-masing bebas menyebutkan ide-idenya sebanyak
mungkin tanpa memberikan kritik satu sama lain. Cara ini dapat
digunakan untuk menemukan solusi dan memfasilitasi peningkatan
kreativitas seseorang.
c. Mencari analogi
Beberapa studi menunjukkan bahwa orang sering tidak mengenali
permasalahan
baru
yang
sebenarnya
http://digilib.mercubuana.ac.id/
hampir
mirip
dengan
37
permasalahan yang sudah pernah mereka alami dan ketahui bagaimana
penyelesaiannya. Dengan menghadapkan seseorang pada sebuah tekateki, mungkin ia akan melakukan sebuah analogi dengan mengingat
kembali permasalahan yang hampir mirip dengan teka-teki tersebut.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kreativitas dapat
dipengaruhi oleh faktor pengalaman, kepribadian, kemampuan berpikir dan
lingkungan.
D. Jenis Kelamin
1. Definisi Jenis Kelamin
Hungu (2007) mendefinisikan jenis kelamin (seks) sebagai perbedaan
antara perempuan dan laki-laki secara biologis yang dapat diketahui individu itu
lahir. Jenis kelamin merupakan unsur dasar dari konsep diri. Penghayatan
terhadap jenis kelamin diperoleh pada saat awal-awal kehidupan, yaitu pada usia 2
(dua) atau 3 (tiga) tahun (Taylor, Peplau, & Sears, 2009). Jenis kelamin
dikategorikan secara otomatis dengan melihat ciri-ciri fisik seperti rambut, wajah,
payudara dan bentuk pakaian yang dikenakan (Taylor et al., 2009).
Perbedaan laki-laki dan perempuan pada prinsipnya bersifat universal di
semua masyarakat manusia (Taylor et al., 2009). Contohnya saja sebagai anak
laki-laki dan perempuan sejak kecil sudah diajarkan keterampilan-keterampilan
yang berbeda dan mengembangkan kepribadian yang berbeda.
Perbedaan jenis kelamin menyebabkan perbedaan peran antara laki-laki
dan perempuan. Dalam lingkungan sosial, pada umumnya laki-laki lebih
http://digilib.mercubuana.ac.id/
38
berkuasa, lebih bebas dan lebih berani menantang segala peraturan yang berlaku
dalam keluarga maupun masyarakat. Sebaliknya, perempuan lebih patuh pada
peraturan, lebih mudah menghayati perasaan orang lain dan lebih suka
menciptakan hubungan yang erat dengan teman sebayanya (Wardani & Apollo,
2010).
Lips (2008) menguraikan tentang perbedaan antara laki-laki dan
perempuan, di mana perempuan memiliki kemampuan dalam menjalin hubungan
dengan orang lain secara lebih baik dibandingkan dengan laki-laki. Secara lebih
rinci, perbedaan laki-laki dan perempuan menurut Lips (2008) dipaparkan pada
Tabel 1 berikut ini :
Tabel 1. Perbedaan Laki-laki dan Perempuan
Faktor-faktor
Intelijensi umum
Sensasi, persepsi dan atensi
Orientasi
Perbedaan
 Secara umum, tidak ada perbedaan
intelijensi antara laki-laki dan
perempuan, baik anak-anak maupun
dewasa.
 Perempuan memiliki kemampuan
mendengarkan yang lebih baik
daripada laki-laki;
 Laki-laki memiliki kesulitan dalam
memberikan gambaran visual dari
sebuah kata, saat mendengarkan.
 Laki-laki berorientasi pada obyek
sedangkan perempuan memiliki
orientasi sosial;
 Laki-laki
tumbuh
menjadi
systematizers, yang menyukai dunia
mekanik,
sistem abstrak dan
bagaimana sebuah sistem bekerja;
 Perempuan
tumbuh
menjadi
empathizers, yang sangat baik dalam
merespon perasaan orang lain.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
39
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang telah disebutkan di atas
menunjukkan bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan dalam
menjalin hubungan sosial.
Dalam penelitian Deaux dan LaFrance (dalam Taylor et al., 2009)
disebutkan bahwa laki-laki pada umumnya dinilai lebih tinggi dalam hal-hal yang
berhubungan dengan kompetensi dan keahlian seperti kepemimpinan, objektivitas
dan kemandirian. Sedangkan pada perempuan, nilai tinggi diberikan pada sifatsifat yang berhubungan dengan kehangatan dan kemampuan mengungkapkan
perasaan, seperti kelembutan, dan kepekaan terhadap perasaan orang lain.
2. Aspek-aspek Jenis Kelamin
Menurut para ahli (Taylor et al., 2009), aspek-aspek yang membedakan
jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut :
a. Biologi
yaitu fisik (perkembangan otot, tinggi badan, bentuk tubuh), hormon
seks dan evolusi genetik;
b. Sosialisasi
yaitu menekankan pada cara-cara masyarakat membentuk perilaku dan
melalui proses penguatan serta peniruan (modeling) individu untuk
memperoleh ciri-ciri yang menetap yang berkaitan dengan jenis
kelamin;
http://digilib.mercubuana.ac.id/
40
c. Peran Sosial
Kehidupan orang dewasa diatur berdasarkan berbagai peran seperti
anggota keluarga, pekerja dan anggota komunitas atau masyarakat.
Peran sosial tradisional mempengaruhi perilaku laki-laki dan
perempuan dalam beberapa hal.
d. Situasi Sosial
yaitu, perilaku manusia yang berubah-ubah dari satu situasi ke situasi
yang lain, bergantung pada faktor-faktor seperti komposisi jenis
kelamin dalam kelompok dan harapan, serta sifat dari tugas atau
kegiatan.
E. Kerangka Berpikir
Beberapa penelitian terkait dengan kompetensi sosial telah dilakukan.
Penelitian tersebut antara lain berjudul, “Emotional Intelligence and Social
Competence in High and Low Achiever Pakistani Adolescents” (Malik, Malik, &
Anjum, 2010), yang menunjukkan bahwa emosional intelijensi merupakan
prediktor utama kesuksesan akademis dibandingkan dengan kompetensi sosial.
Penelitian tentang kreativitas juga telah dilakukan, diantaranya yang
berjudul, “Pengaruh Kreativitas Karyawan terhadap Pengembangan Inovasi Baru
bagi Perusahaan” (Aprilliyani, 2006). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa
kreativitas dapat dijadikan strategi oleh perusahaan. Gagasan-gagasan kreatif yang
berguna, dapat menunjang kelangsungan perusahaan, terutama dalam menghadapi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
41
persaingan global. Ada pula penelitian tentang, “Analysis The Relationship
Between Job Stress, Intrinsic Motivation and Employees Creativity in Islamic
Republic of Iran Railways Organization” (Kouloubandi, Jofreh, & Mahdawi,
2012), yang menjelaskan hubungan antara stres kerja, motivasi intrinsik dan
kreativitas karyawan dalam sebuah organisasi.
Selama
dekade
terakhir,
penelitian
tentang
kreativitas
semakin
berkembang dengan melihat kreativitas dari berbagai aspek. Beberapa penelitian
menunjukkan keterkaitan kreativitas dengan inteligensi, sedangkan penelitian lain
justru membuktikan bahwa tingkat inteligensi tinggi tidak diperlukan untuk
sebuah kreativitas. Dan kini, penelitian tentang kreativitas dikaitkan pula dengan
atribut-atribut kepribadian seperti kecerdasan emosi, kepemimpinan dan
sebagainya. Salah satunya adalah penelitian tentang, “The relationship among
students’ emotional intelligence, creativity and leadership”(Batastini, 2001).
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditunjukkan dalam penelitian
sebelumnya tentang atribut-atribut kompetensi sosial, kecerdasan emosional dan
kreativitas yang sangat kompleks, maka peneliti ingin mencoba mengeskplorasi
kompetensi
sosial
dari
sisi
emosional
dan
kreativitas,
yaitu
dengan
menghubungkan antara kreativitas dan kecerdasan emosional dengan kompetensi
social.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
42
Kerangka berpikir digambarkan pada Gambar 1 berikut ini :
Gambar 1. Kerangka Berpikir
Berpikir
Kreatif
Sikap
Kreatif
Kreativitas
(X1)
Keterampilan
Sosial
Mengenali Emosi
Diri
Kompetensi
Sosial
(Y)
Mengelola
Emosi
Memotivasi Diri
Sendiri
Perilaku
Adaptif
Kecerdasan
Emosi
(X2)
Mengenali Emosi
Orang Lain
Membina
Hubungan
Kerangka berpikir seperti tampak pada Gambar 1, ingin menunjukkan
kemungkinan adanya hubungan antara kreativitas dengan kompetensi sosial dan
kecerdasan emosional dengan kompetensi sosial, serta hubungan secara bersamasama antara kreativitas dan kecerdasan emosional dengan kompetensi sosial.
Banyak penelitian telah menunjukkan hubungan penting antara kreativitas,
kecerdasan emosional dan kompetensi sosial dengan bidang-bidang yang lain
secara terpisah. Namun, hubungan secara bersama-sama antara kedua konstruksi
belum dieskplorasi. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini, selain melihat hubungan
secara parsial, dimana kedua variabel dihubungkan dan variabel yang lain
http://digilib.mercubuana.ac.id/
43
dikendalikan, yaitu hubungan antara kecerdasan emosional dan kompetensi sosial,
dengan mengendalikan atau mengontrol kreativitas; dan hubungan antara
kreativitas dan kompetensi sosial, dengan mengendalikan atau mengontrol
kecerdasan emosional. Penelitian ini juga akan melihat hubungan antara
kecerdasan emosional dan kreativitas secara bersama-sama, dengan kompetensi
sosial.
F. Hipotesis
H1 : Ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan kompetensi sosial pada
mahasiswa psikologi Universitas Mercu Buana;
H2 : Ada hubungan antara kreativitas dengan kompetensi sosial pada mahasiswa
psikologi Universitas Mercu Buana;
H3 : Ada hubungan secara bersama-sama antara kecerdasan emosional dan kreativitas dengan kompetensi sosial pada mahasiswa psikologi Universitas
Mercu Buana
H4 : Ada perbedaan kompetensi sosial antara mahasiswa laki-laki dan perempuan,
Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana;
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download