modernisasi hukum nasional dalam rangka pembaharuan

advertisement
568
MODERNISASI HUKUM NASIONAL
DALAM RANGKA PEMBAHARUAN
HUBUNGAN HUKUM TRANSNASIONAL *)
1.--_ _ _ _ _ _
Oleh: Teuku Mohammad Radhie, S.H. _ _ _ _ _ __
Pengantar
Judul ceramah menyangkut dua
masalah yang perlu mendapat penyorotan dalam penyajian, yakni (1) masalah modernisasi hukum Nasional dan
(2) masalah pembaharuan hubungan
hukum Transnasional. Masalah pert arna merupakan hal yang berkaitan dengan usaha pembangunan hukum di
n egara kita dewasa ini, sedangkan masalah kedua menyangkut pembaharuan
yang terjadi dalam lalu-lintas hukum
antar bangsa. Antara kedua masalah
ini tampaknya pihak penyelenggara
" bulan ceram ah " melihat hubungan
an tara usaha mod ernisasi nasional merupakan akibat da ri usaha pembaharuan hubungan h ukum transnasional.
Kami tidak menolak pandangan ini,
yakni adanya ex ternal fo rce ya ng
menggerakkan usaha modernisasi hukum nasional , namun kami berpendapat bahwa modernisasi hukum nasional tidak semata-mata hanya digerakkan oleh pengaruh pembaharuan hubungan hukum transnasional, tetapi
terutama disebabkan oleh desakan kebutuhan dari dalam sendiri. Proses
pembaharuan hubungan hukum transnasional yang terjadi
di
dunia
dewasa
•
ini hanya lebih m ~nekankan ten tang
*
•
Ceramah pada Fakultas Hukum Uni·
versitas Indonesia dalam rangka program "Bulan Ceramah" Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, hari Sabtu tanggal 13 Oktober 1984.
perlunya kita melakukan us aha ke arah
modernisasi hukum nasional.
Sehubungan dengan tafsiran kami
mengenai judul tersebut , maka dalam
ceramah ini pertama-tama akan dibicarakan usaha modernisasi hukum nasional dalam kaitannya dengan pelaksana an pem bangunan nasional. Pembicaraan tentang usaha pembangunan di
bidang hukum ini selanjutnya disusul
dengan tinjauan mengenai proses pembaharuan hubungan hukum transnasional dan inter-aksi antara keduanya.
•
Modernisasi Hukum Nasional
Pem bicaraan tentang modernisasi
Hukum Nasional di negara kita sangat
. erat kaitannya dengan idee pembaharuan hukum yang sebenarnya sudah
mulai terdengar pada tahun-tahun per•
tama kita mencapai kemerdekaan. Dalam pidato Dies Universitas Gadjah
Mada pada tahun 1947 Professor R.
SUPOMO mengemukakan bahwa "perubahan-perubahan yang akan terjadi di
negara kita sebagai akibat perwujudan
penyusunan tata ekonomi baru, citacita industrialisasi, ekspansi hubungan
dagang dengan luar negeri akan mengharuskan kita melakukan pembahal
ruan hUkum. ) Sejak pagi-pagi SUPOMO telah memperingatkan kita bahwa
pemhaharuan hukum merupakan salah
I)
Lihat: Bab-bab ten tang Hukum Adat,
R. Supomo, 1963; hal. 20.
569
Modemisasi Hukum Nasional
satu tugas penting yang harus dijalankan oleh bangsa Indonesia setelah kemerdekaan. Pembaharuan hukum ini
dilihat oleh beliau se bagai suatu tuntutan kebutuhan yang ditimbulkan
oleh perubahan-perubahan yang terjadi
dalam kehidupan masyarakat Indonesia dari masyarakat kolonial menjadi
masyarakat suatu bangsa yang merdeka. Dari sudut perubahan ketatanegaraan; pembaharuan hukum adalah
suatu keharusan. Sebagaimana dikemukakan oleh Mr. SOEWANDI, Indonesia tidak dapat mengelakkan kewajiban untuk juga menciptakan sendiri hukum nasionalnya, tidak hanya meneruskan warisan dari zaman lampau saja
yang dasar-dasarnya sudah sarna sekali
berubah dari zaman di mana kita hi2
dup sekarang . )
Usaha pembaharuan hukum secara
sadar mulai terlihat ketika pada tahun
1958 Pemerintah inembentuk Lembaga Pembinaan Hukum Nasional
(LPHN). Lembaga ini kemudian pada
tahun 1974 dirombak menjadi Badan
Pembinaan Hukum Nasional dengan
tugas . melaksanakan usaha pem baharuan hukum dan pem binaan hukum
3
N asional. )
Apabila kita menelu suri petunjukpetunjuk yang diberik an dalam G arisgaris Besar Haluan Negara sej ak t ahun 1973 hingga yang terbaru, ternyata bahwa usaha pembaharuan hukum di negarakita sebagai bagian dari
usaha pembangunan nasion al jelas di-
\
2)
Pandangan ini dikemukakan oleh Mr.
Soewandi dalam suatu ceramah di hadapan Perhimpunan Ahli Hukum Indonesia dan Ikatan Sariana Hukum
Indonesia · pada tahun 1955 di J akarta.
Keputusan Presiden -Republik
Indonesia No.15 Tahun 1984 jo.
Keputusan Menteri Kehakiman Repu·
blik Indonesia No. M-05 PR.07.10
Tahun 1984.
•
•
arahkan kepada pem bentukan suatu
4
tata hukum nasional baru. ) Politik
hukum yang ditetapkan dalam pembentukan tat a hukum nasional ialah
bahwa hukum nasional kita yang baru
berbentuk kodifikasi serta sedapat dan
sejauh mungkin diusahakan agar hukum nasional kita diunifikasikan.
Berdasarkan petunjuk mengenai politik hukum tersebut, jelaslah bagi kita
bahwa Tata Hukum Nasional kita pada
dasarnya berbentuk hukum tertulis.
Hal ini tidak lain berkaitan dengan keinginan akan adanya kepastian hukum
semdksimal mungkin.
Dengan menganut politik kodifikasi
hukum dan sedapat serta sejauh mungkin unifikasi hukum, sesungguhnya
Garis-garis Besar Haluan Negara mengisyaratkan bahwa tata hukum N asional yang diinginkan ialah suatu tat a
hukum modern, bukan tata hukum
yang didasarkan pada perangkat-perangkat hukum tidak tertulis. Oleh
karena itu perintah pembentukan Tata
H ukum N asio nal yang terdiri dari kodifikasi-kodifikasi hukum dan bersifat
unifikasi terse but haruslah diartikan
pula sebagai perintah untuk memodernisasikan Hukum Indonesia.
Modernisasi Hukum Nasional merupakan tuntutan mutiak d·ari pembangunan di bidang hukum di negara-negara berkem bang. Perkembangan tata
ekonomi dunia serta perdagangan internasional , kemajuan di bidang teknik
dan tekno logi yang telah mengubah
cara-cara hid up dan komunikasi antar
bangsa menuntut agar hukum nssional
bangsa-bangsa di dunia menyelaraskan
diri dengan kebutuhan-kebutuhan hukum dunia modern. Dengan memodernisasikan Hukum Nasional maka ne4)
Lihat: TAP MPR RI No. IV/MPR/
1973 jo. TAP MPR RI No. IV/1978
jo. TAP MPR RI No. II/MPR/1983
ten tang Garis-garis Besar Haluan Negara .
Nopember 1984
•
570
•
Hukum dan Pembangunan
gara-negara berkem bang termasuk negara kita yang sedang mentransformasi diri menjadi negara modern, akan
dapat memanfaatkan berbagai kemudahan serta sumber dalam hubungannya dengan negara-negara maju , dan di
samping itu turut memperlancar lalulintas hukum internasional.
Apabila kita berbicara ten tang modernisasi hukum nasion ai, kita harus
berhati-hati agar tidak mengartikannya
sebagai westernisasi hukum nasional
kita. Modernisasi hukum nasional kita
artikan sebagai usaha membina hukum
nasional kita sesuai dengan tuntutan
kebutuhan kehidupan duniamodern.
Dalam pengertilin ini, hukum nasional
kita di segala bidang harus dapat responsif terhadap perkembangan kehidupan masyarakat yang dipengaruhi
oleh kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan , teknik dan teknologi modern.
Dengan modernisasi hukum maka Hukum N asional kita tidak terbelakang
dari perkembangan serta kemajuan
yang terjadi di dunia.
Apabila modernisasi hukum nasional kita artikan sebagai westemisasi,
hal sedemikian berarti bahwa dalam
pembentukan Hukum Nasional kita
mengikuti sepenuhnya pola fikir kebudayaan negara-negara Barat dalam bidang hukum. Hal ini tidak akan kita
Jakukan dalam usaha pembinaan hu.kum nasional, oleh karena pola fikir
kita di bidang hukum didasarkan pad a
pandangan hidup bangsa kit a PANCASILA, dan ketentuan Undang-Undang
Dasar 1945. Hukum ' Nasional kita
harus tumbuh dan berkembang·'. dari
bumi Indonesia. Namun hal ini tidak
berarti bahwa kita: menutup mata
Jerhadap kemungkinan adanya ha'l-hal
baik dalam hukum hangsa-bangsa
I,in yang 'sesuai dengan kepentingan
tita dan tidak bertentangan dengan
falsafah hidup bangsa dan Undang~Un
dang Dasar 1945. Ketentuan-keten,
tuan yang baik dalam legal Culture
bangsa lain. atau dalam konvensi-konvensi internasional dapat kita manfaatkan dalam rangka modernisasi hukum nasional , tetapi kita tidak ingin
mengam bil seluruh legal thinking dari
kebudayaan Barat sehingga menjiwai
tata hukum nasional kita. Demikian
pula kita akan mengam bil hal-hal
yang baik dari sistem-sistem hukum lain
di luar budaya hukum Barat , sepanjang hal terse but sesuai dengan kepentingan kita dan tidak bertentangan
dengan falsafah hidup bangsa dan Undang-Undang Dasar 1945. Tetapi, sekali lagi , kita juga tidak akan men<oontek atau mengoper seluruh sistem hukum dari negara-negara manapun , karena kita berm.aksud mem bangun sistern hukum Nasional yang berakar dalam kebudayaan kita sendiri yang sesuai dengan kebutuhan spesifik bangsa
Indonesia.
Sekarang marilah kita tinjau bagaimana rencana pembinaan hukum nasional di negara kita yang sedang berjalan dewasa ini. Usaha membangun
tata-hukum baru dilakukan dengan jaIan menciptakan perangkat-perangkat
hukum sektoral. Perangkat-perangkat
hukum pokok yang nantinya akan
merupakan komponen-komponen utarna. Tata Hukum Indonesia baru terdiri antara lain dari: Hukum Pidana,
Hukum Perdata, Hukum Dagang, Hukum Acara Perdata, Hukum Acara Pidana dan Hukum Perdata Internasional.
Hukum-hukum kodifikasi ini mengatur ' secara umum tertib kehidupan
dalam lapangan-lapangan bersangkutan. Perangkat-perangkat hukum sektoral akan terdiri dari hukum-hukum
yang mengatur bidang-bidang tertentu
secara khusus, seperti misalnya hukum
yang mengatur bidang industri, pertanian , kehutanan , perkebunan, perikan- '
an , kesehatan dan lain-lain.
•
57 1
Modernisasi Hukum Nasional
- Perda t a
- Pidana
Hukum-h ukum Pokok l
Kod ifikasi
_ _ __ _.:.:.:.___
•
Pembinaan Hukum _
N asional
Dagang
- Acara Perdata
- Acara Pidana
- Hukum Perdata Internasional .
-
Tata Hukum .,
Indonesia
-
Ir,..--- - - - Hukum -hukum Sek_
toral
Usaha pembentukan Tata Hukum
Bam diharapkan dapat dirampungkan
k onsep finalnya pada akhir masa PELIT A IV. Diharapkan agar setelah konsep final tersebut selesai, Dewan Perwakilan Rakyat dapat menjadikannya
undang-undang dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Berbicara dalam konteks pembangunan nasional, usaha pembinaan Huk urn N asional diharapkan dapat menciptakan Tata hukum Bam selambatlambatnya pada awal PELITA IV. Hal
ini dikaitkan dengan masa "tinggal
landas" pembangunan yang diperkirakan akan mulai terjadi pada masa
PELIT A VI. Pad a masa tinggal landas
di mana cita-cita nasional masyaraka~
adil makmur telah mulai dapat diwuj udkan secara nyata, pad a soal itulah
diharapkan perangkat-perangkat Huk um Nasional, baik yang bempa kodifikasi maupun yang bempa hukumh ukum sektoral, telah ada dalam kondisi "siap pakai" untuk mengatur tat a
tertib, mengayomi dan melindungi ma•
Hukum-hukum bidang
EKUlN
- Hukum-hukum bidang
KESRA
- Hukum-hukum bidang
POLKAM
syarakat bangsa Indonesia.
Adalah dalam hubungan dengan
masa "tinggal landas" ini perlu diusahakan agar pembentukan Tata Hukum
Bam dapat diselesaikan pada akhir
PELIT A IV atau setidak-tidaknya pada
awal PELITA V. Apabila hal ini dapat
terlaksana maka akan ada sisa waktu
dalam masa PELIT A V yang dapat digunakan untuk mengujicoba perangkat-perangkat hukum bam terse but.
Ujicoba perangkat-perangkat hukum
bam dilakukan guna mengetahui effekrivitas dan kemungkinan adanya kelemahan-kelemahan yang dalam mas a
ujicoba masih dapat disempurnakan.
Dengan mengikuti prosedur sedemikian maka pada masa "tinggal landas"
kita telah memiliki perangkat-perangkat hukum yang telah diujicoba sehingga dapat diberlakukan sepenuhnya.
Dalam bagan penjadwalan waktu
kerja pembentukan Tata Hukum baru
tersebut terlihat sebagai berikut:
•
Nopember 1984
•
•
572
Hukum dan Pembangunan
PELITA IV
PELITA VI
Masa pembentukan
Tata Hukum Baru
(kerangka landasan
hukum)
• • ....
~
I
•
I
1989 90
PELITA VII
Tata hukum baru
dengan perangkatperangkat hukum
dalam kondisi siap
pakai
Masa ujicoba
hukum baru
•• --,.- -..,
~
. 1984
PELITA V
I
I
91
1994
Masa tinggal
landas
1999
GAMBAR 2
•
. Penjadwalan waktu pembinaan tata
hukum baru dalam gamQar di atas
menunjukkan bahwa seluruh waktu
PELITA IV (1984-1989) digunakan
untuk Tata Hukum baruyang terdiri
. dari perangkat-perangkat hukum kodifikasi dan perangkat-perangkat hukum
sektoral. Bila ternyata waktu tidak
mencukupi, -maka usaha perampungan
pembentukan tata hukum baru tersebut dilanjutkan dalam tahun pertama
PELIT A V (1990 dan 199·1). Sementara itu perangkat~perangkat hukum
yang telah dapat diselesaikan dan telah
menJadi undang-undang diujicoba dalam masa Pelita V.
Pada masa tinggal land as pembangunan dalam PELIT A.. VI (1994 1999) perangkat-perangkat Hukum
yang merupakan komponen dari Tata
Hqkum Nasional baru telah siap untuk
diberlakukan sepenuhnya.
. Suatu arti yang sang at signifikan
dari pembentukan Tat'a Hukum baru
di negara kita ialah bahwa sesungguh~
nya Tata Hukum tersebut berfungsi
_pula sebagai kerangka landasan hukum
(legal framework) daripada kehidupan
masyarakat
· bangs a Indonesia dalam
.,
berbagai bidang.
Sebagai kerangka landasan hukum,
Tata Hukum Nasional menentukan
tata kehidupan suatu arah perkembangan masyarakat dan mengatur halhal yang bersangkutan dengan kehid upan sektoral. Ia seolah-olah merupakan "a tool of social engineering"
yang menentukan serta mengarahkan
pertumbuhan masyarakat ke jurusan
yang diinginkan. Sehubungan dengan
fungsinya sebagai kerangka landasan
hukum logislah apabila Tata Hukum
baru telah dapat diwujudkan sebelum
kita memasuki masa tinggal landas.
Pembaharuan Hubungan Hokum Transnasional
Lahirnya negara-negara · baru yang
berdaulat setelah Perang Dunia ke-Il
menimbulkan perubahan dalam hubungan hukum transnasional antara
bangsa di dunia. Salah satu ciri yang
menonjol dari perubahan ini ialah
bahwa kalau tadinya hUbungan-hubungan hukum transnasional dikuasai
oleh hukum dari negara-negara yang
menjajah, kini dikuasai oleh hukum
nasional dari negara-negara baru bersangkutan. Hubungan hukum transnasional yang mengalir dari konvensi-
.
573
Modernisasi Hukum Nasional
•
konvensi
internasional
meskipun
ber,
langsung terus, namun apabila -ternyata tidak menguntungkan atau bertentangan dengan kebijaksanaan nasional dari negara-negara baru bersangkutan hubungan hukum yang berasal dari konvensi-konvensi mungkin
pula mengalami peninjauan kern bali,
yang biasanya akan menimbulkan perubahan dalam hubungan hukum tersebut.
Di samping perubah an status ketatanegaraan, faktor lain yang sangat
mendorong perubahanj pembaharuan
hubungan hukum transnasional ialah
adanya keinginan yang kuat pada negara berkembang, terutama negara-negara dunia ketiga untuk menata kembali hubungan-hubungan hukum internasional dan transnasional. Keinginan
ini timbul karena dirasakan bahwa
aturan-aturan hukum yang menguasai
hubungan-hubungan internasional dan
transnasional yang didasarkan pada
kepentingan negara-negara barat yang
menguasai atau yang berasal dari budaya hukum barat , dalam banyak hal
merugikan kepentingan negara-negara
yang sedang berkembang dan bahkan
dirasakan pula tidak mem ungkinkan
negara-negara ini menarik manfaat dari
sumber-sum be r serta kegiatan-kegiatan
ekono mi dan perdagangan internasionalnya. Gagasan pembentukan the
New Internasional E co nomic Order
yang berkaitan dengan gagasan pembentukan a new international legal
order merupakan symptom dari perasaan tidak puas dari negara-negara
Dunia III terhadap aturan-aturan hukum yang menguasai hubungan-hubungan internasional dan transnasional
pada waktu ini 5). Demikian pula pen-
!)
Tentang gerakan "the New Interna·
tional Economic Order yang mempu·
nyai implikasi atas pembinaan tata
hukum internasional baru, lihat "In·
ternational law implications in the
ciptaan Hukum Laut Internasional
baru yang berhasil mengubah ketentuan-ketentuan hukum laut lama yang
mementingkan kepentingan negara-negara penguasa ekonomi dunia menunjuk secara jelas kepada proses
pembaharuan hukum pada tingkat internasional yang mempengaruhi pula
6
hubungan
hukum transnasionaI ).
Proses
pembaharuan
hubungan
hukt.
'1
- -internasional dan transnasional ini
akan terus berjalan mengikuti perubahan-perubahan tata ekonomi dunia.
Sementara itu kecenderungan pengelompokan negara-negara secara regional di dunia mendorong pula timbulnya kebutuhan pacta negara-negara bersangkutan untuk memperb aharui h ubungan hukum transnasional di antara
7
mereka. ) Pembaharuan yang dilakukan mengarah kepada usaha menciptakan hubungan-hubungan huk um
transnasional yang khusus secara regional. Usaha pembinaan hubungan h ukum transnasional regional biasanya
dilakukan dengan pembuatan konvensi-konvensi khusus di antara negaranegara kelompok regional bersangkutan. Pembaharuan hubu ngan huk um
transnasional yang mempu nyai cak upan yang lebih l\las (mondial), dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa
dan badar -badan seperti Th e Hague
--
i
New International E conom ic Order,
Teuku Mohammad Radhie, makalah
disampaikan pada Seminar on Inte r·
national Law, AALCC, N ew Delhi,
1981 .
6)
Lihat: United Conven tion on the
Law of the Sea, ditan datangani di
Montego Bay pada tanggal10 Desember 1982 oleh 117 negara tennasu k
Indonesia.
Contoh·contoh yang menonjol: pengelompokan negara-negara Amerika
(Organization of American S tates),
Masyarakat Ekonomi Eropa (Europ~
ean Economic Community), Masyara·
kat Ekonomi negara-negara K omunis
(COMECON).
Nopem ber 1984
574
HUkum dan Pembangunan
garakan secara multilateral antara negara-negara ASEAN seluruhnya. N amun dapat tidaknya hal ini diwujudkan tergantung pada soal apakah pemerintah dari negara-negara ASEAN
menyadari ten tang arti daripada kerjasarna hukum regional bagi suatu kerjasarna regional di bidang ekonomi, sososial budaya.
Suatu hal yang menggembirakan ialah bahwa tanpa menunggu adanya
Dengan dibentuknya Association of usaha resmi di bidang kerjasama hukum
antara
negara-negara
ASEAN,
the South-East Asian Nations (ASEAN) ,
para ahli hukum dari kawasan ini telah
yang kini terdiri dari Brunei Darussamemulai
langkah
ke
arah
kerjasama
'
lam, Filip ina, Indonesia, Malaysia, Sihukum regional dengiln membentuk
ngapura dan Thailand masalah pembasuatu
perhimpunan
yang
bernama
haruan hubungan hukum transnasional
A SEAN
LAW
ASSOCIATION
regional akan meminta perhatian. s)
(ALA).
1 0)
Kegiatan-kegiatan
ALA
Peningkatan keIjasama negara-negara
berwujud usaha penelaahan-penelaahASEAN di bidang ekonomi, politik,
an
serta
studi-studi
mengenai
harmososial, kebudayaan di masa depan akan
nisasi hukum negara-negara ASEAN
mendesak diadakannya kerjasama di
dan usaha penciptaan perangkat-pe. bidang hukum. Hal ini disebabkan karangkat
hukum
regional
dalam
rangka
rena sistem hukum dari negara-negara
pembinaan hubungan hukum transnaASEAN yangoerbeda-beda akan memsional
antar
negara
ASEAN.
punyai implikasi yang berbeda-beda
Den~an berlangsungnya proses pemdalam hubungan hukum transnasional
baharuan hubungan hukum transnasioASEAN. Hal sedemikian akan tidak
pada
tingkat
internasional
dan
re.nal
mendukung pengembangan kerjasama
gional
di
dunia
pad
a
dewasa
ini,
usaha
ASEAN di berbagai bidang, bahkan
Hukum
Nasional
mutlak
modernisasi
akan dapat merupakan hambatan.
harus memperhatikan perkembangan
Negara kita telah merintis
usaha
,
yang terjadi dalam pembaharuan hukerjasama hukum terse but dengan
bungan hukum tersebut. Dalam memmengadakan Persetujuan kerjasama di
bangun tata hukum nasional yang
bidang peradilan dengan Thailand pad a
mutakhir kita hams memonito r per9
tahun 1978. ) Adalah ideal apabila
kembangan hukum baik pada tingkat
kerjasama peradilan dan kerjasama di
internasional maupun pada tingkat rebidang hukum lainnya dapat diselenggional agar hukum nasionaL kita tidak
misplaced dalam sistem jaringan huASEAN dibentuk di Bangkok pada
tanggal 8 Agustus 1967 oleh pemerin·
kum-hukum di dunia. Untuk memung.tah negara-negara Indonesia, Filipina,
kinkan usaha pembinaan Hukum NaMalaysia, Singapura dan Thailand. Lisional kita menyerap perkembanganhat: ASEAN Declaration. Sejak taperkembangan baru di bidang hukum
hun 1984 keanggotaan ASEAN berConference on Private International
Law, The Rome Institute for the Unification of Private Law dan lain-lain.
Salah satu hasil usaha pembaharuan
hubungan hukum transnasional di bidang perdagangan ialah Convention on
Contracts for the International sale of
goods dari 11 April 1980 yang merupakan usaha dari United Nations Commission on International Trade Law
(UNCITRAL).
tam bah dengan Brunei.
Lihat: SUDARGO GAUTAMA, Indonesia dan konvensi-konvensi Hukum
Perdatalnternasiona~ ALUMNI; 1983.
1<h.
J
ALA dibentuk di Jakarta pada bulan
Pebruari 1979 atas prakarsa Badan
Pembinaan Hukum Nasional Departemen .Kehakiman.
•
575
Modemisasi Hukum Nasional
yang berasal dari luar "kultur hukum"
sendiri maka perlu diadakan studi, penelaahan serta bagi perbandingan hukum internasional dan hukum-hukum
asing baik oleh lembaga yang langsung
bergerak dalam usaha pembaharuan
'hukum maupun oleh fakultas-fakultas
_
_
H "
hukum. Dalam hubungan ini kiranya
ucapan GEORGE SANTAYANA yang
menyatakan: "A man's feet must be
planted at home but his eyes should
survey the world". Perlu mendapat
perhatian dalam pembaharuan tata hu. kum kita,
,
•
.
•
,
•
--.
•
•
.
.
'. '
,
.
,
•
.
.
,
,
•
•
REP, SINAR HARAPAN
_ _
-
, _ __ ,
"
' N "
_
, _ _"
.
_
• •_ _
•
Manusia dikatakan lengkap dan mampu berdiri di atas
kakinya sendiri jika ia senantiasa berkeinginan melebihi
orang-orang lain.
(Onamono)
Tak ada burung yang mampu membubung terlalu tinggi,
selama ia melakukannya dengan sayapnya sendiri,
(Blake)
•
.
Nopember 1984
,
Download