10 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori Penelitian ini

advertisement
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Landasan Teori
Penelitian ini menggunakan grand theory teori agensi dan teori sinyal
yang didukung pula dengan beberapa supporting theory. Teori-teori tersebut akan
dipaparkan sebagai berikut:
2.1.1 Teori Agensi (Agency Theory)
Teori agensi muncul didorong oleh beberapa hasil penelitian yang
dilakukan Wilson (1968), Arrow (1971), Ross (1973), serta Jensen dan Meckling
(1975). Kemudian Jensen dan Meckling (1976) melanjutkan penelitian mereka
yang membahas mengenai hubungan agensi dengan menggunakan analisis sebuah
kontrak antara prinsipal dan agen, sehingga mereka terkenal menjadi pencetus
teori agensi. Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa hubungan keagenan
muncul ketika satu atau lebih individu yang disebut sebagai prinsipal
mempekerjakan satu atau lebih individu lain yang disebut sebagai agen. Pihak
prinsipal memberikan suatu jasa dan mendelegasikan kekuasaan kepada agen
untuk membuat suatu keputusan atas nama prinsipal. Teori agensi dapat dijadikan
sebagai dasar praktek pengungkapan informasi akuntansi dan non akuntansi oleh
manajemen kepada prinsipal, para pemegang saham, kreditor, para calon investor
dan para pihak lainnya. Hubungan antara prinsipal dengan agen sering terjadi
konflik kepentingan sehingga terjadi asimetri informasi.
10
11
Asimetri informasi terjadi karena manajemen lebih superior dalam menguasai
informasi dibandingkan pihak para pemilik dan pemegang saham. Teori agensi
menggunakan asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan
kepentingan diri sendiri. lnformasi asimetri yang dimiliki agen maka akan
mendorong untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui
pihak prinsipal. Sehingga dalam keadaan semacam ini pihak prinsipal seringkali
berada pada posisi yang tidak diuntungkan (Nasirwan, 2012).
Eisenhardt (1989) menjelaskan tujuan teori agensi adalah untuk
menyelesaikan masalah konflik antara agen (yang menjalankan amanah) dengan
prinsipal (pemilik). Sementara itu prinsipal sulit memverifikasi bahwa agen
bekerja secara layak dan masalah pembagian risiko antara prinsipal dan agen.
Eisenhardt (1989) menegaskan bahwa unit analisis yang dipergunakan dalam
teori agensi adalah kontrak yang terkait dengan hubungan antara prinsipal dan
agen, sehingga fokus dari teori agensi adalah untuk membentuk kontrak yang
efisien.
Menurut Nasirwan (2012) teori agensi juga dapat menjelaskan pada
tatanan praktik bisnis yang lebih luas yaitu terhadap perusahaan-perusahaan yang
akan dan sudah melakukan IPO. Banyak pihak yang terkait dengan perusahaan
yang melakukan IPO. Pertama, pemilik perusahaan, para pemegang saham, dan
para calon investor sebagai prinsipal. Kedua, pihak menajemen perusahaan
sebagai agen. Ketiga, auditor independen, penjamin emisi, komisaris independen,
dan komite audit sebagai sebagai pihak penengah untuk mengurangi terjadinya
asimetri informasi antara prinsipal dan agen.
12
Menurut Beatty (1989) asimetri informasi dapat terjadi antara perusahaan
emiten dengan underwriter (Model Baron) atau antara informed investor dengan
uninformed investor (Model Rock). Pada model Baron (1982) penjamin emisi
(underwriter) dianggap memiliki informasi tentang pasar yang lebih lengkap
daripada emiten sedangkan terhadap calon investor, penjamin emisi memiliki
informasi yang lebih lengkap tentang kondisi emiten. Semakin besar asimetri
informasi yang terjadi maka semakin besar risiko yang dihadapi oleh investor, dan
semakin tinggi initial return yang di harapkan dari harga saham. Model Rock
(1986) menyatakan bahwa asimetri informasi terjadi pada kelompok informed
investor dengan uninformed investor. Informed investor yang memiliki informasi
lebih banyak mengenai perusahaan emiten akan membeli saham-saham IPO jika
harga pasar yang diharapkan melebihi harga perdana. Sementara kelompok
uninformed karena kurang memiliki informasi mengenai perusahaan emiten,
cenderung melakukan penawaran secara sembarangan baik pada saham-saham
IPO yang underpriced maupun overpriced. Akibatnya kelompok uninformed
memperoleh proporsi yang lebih besar dalam saham IPO yang overpriced.
Menyadari bahwa mereka menerima saham-saham IPO yang tidak proporsional,
maka kelompok uninformed akan meninggalkan pasar perdana. Agar kelompok
ini berpartisipasi dalam pasar perdana dan memungkinkan mereka memperoleh
return saham yang wajar serta dapat menutup kerugian dari pembelian saham
yang overpriced, maka saham-saham IPO harus cukup underpriced.
Welch dan Ritter (2002) menjelaskan asimetri informasi dengan membagi
dua situasi yang mengasumsikan perbedaan informasi antara issuer dan investor.
13
Pertama, jika issuer memiliki informasi yang lebih baik daripada investor maka
investor yang rasional akan menghadapi lemon problem: hanya issuer yang
berkualitas di bawah rata-ratalah yang bersedia menjual sahamnya dengan harga
rata-rata. Sementara issuer yang berkualitas tinggi untuk membedakan dengan
issuer yang berkualitas di bawah rata-rata maju dengan menawarkan harga saham
yang lebih rendah untuk menunjukkan nilai yang perusahaan miliki. Kemudian
pasar percaya bahwa saham tersebut layak dibeli dan hal tersebut juga untuk
menghalangi issuer berkualitas di bawah rata-rata menirunya. Kedua, jika investor
memiliki informasi yang lebih baik daripada issuer, maka issuer akan menghadapi
allocation problem. Dalam kondisi ini, issuer tidak mengetahui seberapa besar
permintaan pasar terhadap sahamnya dan berapa harga yang diinginkan oleh
pasar. Jika investor memiliki informasi yang lebih baik, maka ia akan membeli
saham jika harga yang ditawarkan lebih rendah daripada nilai yang dipersepsikan
oleh investor tersebut.
Menurut Scott (2009:12) dalam Nasirwan (2012) ada dua macam asimetri
informasi. Pertama, adverse selection, adalah para manajer serta orang-orang
dalam lainnya biasanya mengetahui lebih banyak keadaan dan prospek perusahaan
dibandingkan para investor pihak luar, sehingga fakta yang dapat mempengaruhi
keputusan yang diambil oleh pemegang saham tidak disampaikan. Kedua, moral
hazard, adalah setiap kegiatan yang dilakukan · oleh manajer yang tidak
seluruhnya diketahui oleh pemegang saham maupun pemberi pinjaman. Manajer
dapat melakukan tindakan melanggar kontrak, etika dan norma di luar
pengetahuan pemegang saham. Untuk mengurangi asimetri informasi yang
14
dilakukan manajemen saat dan setelah IPO diperlukan pihak ketiga yaitu auditor
dan penjamin emisi yang bereputasi baik, membentuk komisaris independen dan
komite audit dalam lata kelola perusahaan yang baik.
2.1.2 Teori Sinyal (Signalling Theory)
Menurut Wolk, et al. (2001:375) teori sinyal menjelaskan alasan
perusahaan menyajikan informasi untuk pasar modal. Teori sinyal menunjukkan
adanya asimetri informasi antara manajemen perusahaan dan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan informasi tersebut. Teori sinyal mengemukakan tentang
bagaimana seharusnya perusahaan memberikan sinyal-sinyal pada pihak-pihak
yang berkepentingan. Jogiyanto (2000: 392) mengungkapkan bahwa informasi
yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan sinyal bagi
investor dalam pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut
mengandung nilai positif, maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu
pengumuman tersebut diterima oleh pasar.
Informasi mengenai perusahaan merupakan sinyal bagi investor, dalam
keputusan berinvestasi. Informasi tersebut memberikan gambaran mengenai
prospek perusahaan di masa depan. Informasi tersebut dapat bersifat financial
maupun non-financial. Apabila kondisi financial atau non-financial perusahaan
dinilai baik oleh investor maka, investor akan meresponnya dengan menawarakan
harga yang tinggi atas saham perdana di atas harganya pada pasar perdana,
sehingga ketika dijualperbelikan di pasar sekunder harganya akan meningkat dan
terjadi underpricing (Allen dan Faulhaber, 1989 dalam Martani, 2003).
15
Welch dan Ritter (2002) juga mengungkapkan konsep teori sinyal dalam
fenomena underpricing. Underpricing dinyatakan sebagai suatu mekanisme untuk
memberi sinyal atas kualitas dari suatu perusahaan. Jadi, perusahaan-perusahaan
yang memiliki kualitas yang baik melakukan underpricing atas saham-sahamnya
dengan tujuan agar memperoleh keberhasilan penjualan saat melakukan
penawaran saham di masa yang akan datang.
Sementara itu, menurut Gumanti dan Alkaf (2011) underpricing saat
penawaran saham perdana merupakan sinyal atas kualitas perusahaan yang
bermanfaat saat melakukan penawaran saham susulan yang dikenal sebagai model
sinyal (signaling model). Perusahaan dengan kualitas baik memilih underpricing
sebagai sinyal untuk menunjukkan bahwa kualitas perusahaan mereka berbeda
dengan perusahaan yang lain. Implikasi dari sinyal ini adalah perusahaan berharap
tingkat underpricing pada saat penawaran saham susulan tidak setinggi pada saat
penawaran saham perdana.
2.1.3 Penawaran Umum Perdana
Menurut UU No. 8 Tahun 1995, Penawaran umum adalah kegiatan
penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada
masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undang-undang dan peraturan
pelaksanaannya. Perusahaan yang membutuhkan dana dapat melakukan
penerbitan surat berharga seperti saham (stock), obligasi (bond), dan sekuritas
lainnya. Surat berharga yang baru dijual dapat berupa penawaran perdana ke
publik atau tambahan surat berharga baru jika perusahaan sudah go public.
16
Sebelum perusahaan yang berbentuk PT dapat menawarkan sahamnya ke
pasar modal (ditawarkan di pasar perdana), perusahaan harus mendapat
persetujuan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(Bapepam-LK). Berbagai persyaratan akan ditanyakan oleh Bapepam-LK dan
harus dipenuhi oleh perusahaan. Bapepam-LK akan melakukan review, apabila
disetujui maka pendaftaran tersebut menjadi efektif berada di pasar perdana.
Perusahaan kemudian melakukan pendaftaran agar terdaftar di bursa. Bursa akan
melakukan review untuk persyaratan pendaftaran. Apabila disetujui perusahaan
tersebut membayar fee ke bursa dan sekuritas tersebut pun terdaftar di pasar
sekunder (Soepriyono, 2005).
Penawaran
Umum
di
BEI
mencakup
kegiatan-kegiatan
berikut
(www.idx.co.id):
1) Periode Pasar Perdana yaitu ketika efek ditawarkan kepada pemodal oleh
Penjamin Emisi melalui para Agen Penjual yang ditunjuk.
2) Penjatahan Saham yaitu pengalokasian efek pesanan para pemodal sesuai
dengan jumlah efek yang tersedia.
3) Pencatatan efek di Bursa, yaitu saat efek tersebut mulai diperdagangkan di
Bursa.
Proses Penawaran Umum saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat
dikelompokkan menjadi 4 tahapan berikut (www.idx.co.id):
1) Tahap Persiapan
Tahap ini merupakan tahap awal dalam rangka mempersiapkan segala
sesuatu yang berkaitan dengan proses Penawaran Umum. Pada tahap yang
17
paling awal perusahaan yang akan menerbitkan saham terlebih dahulu
melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk meminta
persetujuan para pemegang saham dalam rangka Penawaran Umum
saham. Setelah mendapat persetujuan, selanjutnya emiten melakukan
penunjukkan penjamin emisi serta lembaga dan profesi penunjang pasar
yaitu:
a. Penjamin Emisi (underwriter). Merupakan pihak yang paling banyak
keterlibatannya dalam membantu emiten dalam rangka penerbitan
saham. Kegiatan yang dilakukan penjamin emisi antara lain:
menyiapkan berbagai dokumen, membantu menyiapkan prospektus,
dan memberikan penjaminan atas penerbitan.
b. Akuntan Publik (Auditor Independen). Bertugas melakukan audit atau
pemeriksaan atas laporan keuangan calon emiten.
c. Penilai untuk melakukan penilaian terhadap aktiva tetap perusahaan
dan menentukan nilai wajar dari aktiva tetap tersebut.
d. Konsultan Hukum untuk memberikan pendapat dari segi hukum (legal
opinion).
e. Notaris untuk membuat akta-akta perubahan Anggaran Dasar, akta
perjanjian-perjanjian dalam rangka penawaran umum dan juga
notulen-notulen rapat.
2) Tahap Pengajuan Pernyataan Pendaftaran
18
Pada tahap ini, dilengkapi dengan dokumen-dokumen pendukung calon
emiten
menyampaikan
pendaftaran
kepada
Bapepam-LK
hingga
Bapepam-LK menyatakan Pernyataan Pendaftaran menjadi Efektif.
3) Tahap Penawaran Saham
Tahap ini merupakan tahapan utama, karena pada waktu inilah emiten
menawarkan saham kepada masyarakat atau investor. Investor dapat
membeli saham tersebut melalui agen-agen penjual yang telah ditunjuk.
Masa penawaran sekurang-kurangnya tiga hari kerja. Perlu diingat pula
bahwa tidak seluruh keinginan investor terpenuhi dalam tahapan ini.
Misal, saham yang dilepas ke pasar perdana sebanyak 100 juta saham
sementara yang ingin dibeli seluruh investor berjumlah 150 juta saham.
Jika investor tidak mendapatkan saham pada pasar perdana, maka investor
tersebut dapat membeli di pasar sekunder yaitu setelah saham dicatatkan di
Bursa Efek.
4) Tahap Pencatatan saham di Bursa Efek
Setelah selesai penjualan saham di pasar perdana, selanjutnya saham
tersebut dicatatkan di BEI.
2.1.4 Underpricing
Underpricing merupakan kecenderungan bahwa harga penawaran di pasar
perdana selalu lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan pada hari
pertama diperdagangkan di pasar sekunder (Hanafi, 2004). Harga saham yang
dijual di pasar perdana (saat IPO) telah ditentukan terlebih dahulu atas
kesepakatan antara emiten dan penjamin emisi, sedangkan harga di pasar sekunder
19
ditentukan oleh mekanisme pasar (permintaan dan penawaran). Di dalam dua
mekanisme penentuan harga tersebut, sering terjadi perbedaan harga saham antara
pasar perdana dan pasar sekunder. Jika harga saham saat IPO lebih rendah
dibandingkan dengan harga di pasar sekunder pada hari pertama, maka terjadilah
underpricing. Underpricing juga sering disebut sebagai tingkat initial return yang
positif (Rahmadeni, 2012).
Menurut De Lorenzo dan Fabrizio (2001) hampir semua penelitian
terdahulu menjelaskan terjadinya underpricing sebagai akibat dari adanya asimetri
dalam distribusi informasi antara pelaku IPO yaitu perusahaan, underwriter, dan
investor. Bagi perusahaan (emiten), underpricing dapat merugikan emiten karena
dana yang dikumpulkan tidak maksimal. Namun, underpricing dapat dijadikan
strategi pemasaran untuk meningkatkan minat investor berinvestasi dalam saham
IPO dengan memberikan initial return yang tinggi. Sementara itu Kim dan Shin
(2001) menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya underpricing disebabkan
karena kesengajaan underwriter untuk menetapkan harga penawaran jauh
dibawah harga pasar untuk meminimalkan kerugian yang harus ditanggung atas
saham yang tidak terjual. Filatotchev dan Bishop (2002) dalam penelitiannya
menggambarkan underpricing sebagai proses transfer kekayaan dari pemegang
saham lama ke investor. Underpricing berhubungan dengan asimetri informasi,
dimana underpricing merupakan biaya untuk mengompensasi ketidakpastian di
masa mendatang pada investor yang disebabkan adanya asimetri informasi.
20
2.1.5 Initial Return
Initial return adalah keuntungan yang didapat pemegang saham karena
selisih harga saham yang dibeli di pasar perdana lebih kecil dengan harga jual
saham yang bersangkutan di pasar sekunder. Para pemilik perusahaan
menginginkan agar meminimalisasikan situasi underpricing, karena terjadinya
underpricing akan menyebabkan transfer kemakmuran dari pemilik kepada para
investor karena para investor menikmati initial return (Beatty, 1989). Menurut
Rahmadeni (2012) initial return positif dapat diartikan sama dengan underpricing,
karena telah terjadi penilaian harga yang lebih rendah pada pasar perdana
dibandingkan dengan harga yang diperjualbelikan di pasar sekunder pada hari
pertama. Sehingga semakin tinggi nilai initial return menggambarkan semakin
tinggi nilai underpricing atas saham yang ditawarkan.
2.1.6 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dapat dijadikan sebagai proxy tingkat ketidakpastian
saham karena perusahaan yang berskala besar cenderung lebih dikenal
masyarakat, sehingga informasi mengenai prospek perusahaan berskala besar
lebih mudah diperoleh investor daripada perusahaan berskala kecil. Tingkat
ketidakpastian yang akan dihadapi oleh calon investor mengenai masa depan
perusahaan emiten dapat diperkecil apabila informasi yang diperolehnya banyak
(Ardiansyah, 2004).
Pengukuran besar kecilnya perusahaan dapat dilakukan dengan berbagai
cara misalnya jumlah omset penjualan, jumlah produk, modal perusahaan dan
total aktiva (Kristiantari, 2012). Titman dan Wessels (1988), menyatakan
21
logaritma natural dari total aktiva dan logaritma natural dari total penjualan dapat
digunakan sebagai indikator ukuran perusahaan. Total aktiva dianggap mampu
menunjukkan ukuran perusahaan karena mewakili kekayaan perusahaan baik
berupa aktiva tetap maupun aktiva lancar (Carter dan Manaster, 1990).
Suyatmin dan Sujadi (2006) menyatakan perusahaan yang berskala besar
umumnya lebih dikenal oleh masyarakat sehingga informasi yang investor
dapatkan pada perusahaan yang berskala besar semakin tinggi pula dan tingkat
ketidakpastian di masa yang akan datang semakin rendah. Dengan demikian,
perusahaan yang berskala besar mempunyai underpriced yang lebih rendah
daripada perusahaan yang berskala kecil maka initial return yang akan diterima
oleh investor akan semakin rendah.
2.1.7 Return On Asset
Return on asset merupakan salah satu rasio profitabilitas, yaitu rasio yang
menunjukkan seberapa efektifnya perusahaan beroperasi sehingga menghasilkan
keuntungan atau laba bagi perusahaan. ROA digunakan untuk mengukur
efektivitas
perusahaan
dalam
menghasilkan
keuntungan
dengan
cara
memanfaatkan aktiva yang dimilikinya (Ang, 1997).
Nilai ROA yang semakin tinggi akan menunjukkan bahwa perusahaan
mampu menghasilkan laba di masa yang akan datang dan laba merupakan
informasi penting bagi investor sebagai pertimbangan dalam menanamkan
modalnya (Lutfianto, 2013). Profitabilitas yang tinggi akan mengurangi
ketidakpastian perusahaan di masa yang akan datang, dan sekaligus mengurangi
ketidakpastian pasar, sehingga akan mengurangi underpricing (Kim et al., 1993).
22
Yasa (2008) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan negatif antara
besarnya ROA dengan initial return, ini berarti bahwa perusahaan dengan ROA
semakin tinggi maka tingkat initial return-nya semakin rendah.
2.1.8 Financial Leverage
Financial leverage menunjukkan proporsi penggunaan hutang untuk
membiayai investasi. Perusahaan yang tidak mempunyai leverage berarti
menggunakan modal sendiri 100% (Sartono, 2008:120). Rasio ini juga
menggambarkan kemampuan perusahaan mengatasi risiko di jangka panjang.
Secara teoritis, financial leverage menunjukkan risiko suatu perusahaan dan
kondisi ketidakpastian (Kim et al, 1993).
Menurut Daljono (2000) Tingkat leverage berpengaruh terhadap
keputusan investasi di pasar modal Indonesia, semakin tinggi tingkat leverage
suatu perusahaan maka akan semakin tinggi pula resiko yang dihadapi perusahaan
apabila terdapat kemungkinan gagal bayar dari perusahaan untuk menutupi utangutangnya. Dalam keadaan seperti ini tentu harga saham saat IPO cenderung
rendah karena timbul ketidak percayaan diri dari penjamin emisi dalam menjual
semua saham dengan tingkat harga yang tinggi. Hal ini yang berpengaruh negatif
terhadap keputusan investasi di pasar perdana digambarkan dengan underpricing
saham yang meningkat sehingga initial return yang diterima investor apabila
membeli saham tersebut juga akan meningkat. Diduga semakin tinggi tingkat
solvabilitas perusahaan, maka tingkat initial return yang diterima investor juga
semakin tinggi
23
Financial leverage perusahaan dapat diukur dengan debt to equity ratio,
yaitu total utang dibagi ekuitas perusahaan. Semakin kecil rasio ini maka semakin
baik perusahaan dalam membiayai kewajiban jangka panjangnya. Dengan kata
lain semakin kecil ketidakpastian (uncertainty) yang dihadapi investor dimasa
depan terkait kemampuan bertahan perusahaan. Ketidakpastian yang semakin
kecil ini akan memperkecil nilai initial return (Rahmadeni, 2012).
2.1.9 Earning per Share
Earning per share merupakan keuntungan yang investor peroleh atas
setiap lembar saham yang dimilikinya. EPS yang tinggi berarti perusahaan
berkinerja baik, dan tentunya akan menarik minat para pemegang saham dan
calon pemegang saham. Semakin tinggi nilai EPS menunjukkan bahwa
perusahaan semakin sehat dan akan menjadi faktor yang memotivasi para investor
untuk menginvestasikan dananya ke perusahaan (Lutfianto, 2013).
Menurut Ang (1997) Earning Per Share (EPS) merupakan perbandingan
antara laba bersih setelah pajak pada satu tahun buku dengan jumlah saham yang
diterbitkan (Outstanding Shares). Apabila EPS perusahaan tinggi, akan semakin
banyak investor yang mau membeli saham tersebut sehingga menyebabkan harga
saham tinggi (Astuti dan Syahyunan, 2013). Sehingga hal ini akan mengakibatkan
pengaruh yang negatif terhadap initial return saham yang dimana akan sedikitnya
initial return saham yang akan diperoleh investor (Ardiansyah, 2004).
24
2.1.10 Umur Perusahaan
Menurut How et al., (1995) umur perusahaan menunjukkan seberapa lama
perusahaan telah menjalankan usahanya sehingga berpengaruh pada tingkat
pengalaman yang dimilikinya dalam menghadapi persaingan. Perusahaan yang
beroperasi lebih lama mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk
menyediakan informasi perusahaan yang lebih banyak dan luas daripada
perusahaan yang baru saja berdiri. Dengan demikian akan mengurangi adanya
asimetri informasi, memperkecil ketidakpastian pasar dan akhirnya akan
mempengaruhi underpricing saham. Menurut Suyatmin dan Sujadi (2006), Yasa
(2008), dan Handayani (2008) menyatakan bahwa umur perusahaan (age)
berpengaruh negatif terhadap underpricing. Semakin lama umur perusahaan,
maka informasi mengenai perusahaan tersebut semakin besar dan memperkecil
ketidakpastian pasar yang pada akhirnya akan menurunkan underpricing saham.
Jadi, dapat disimpulkan perusahaan yang memiliki umur relatif lama maka initial
return-nya akan rendah.
2.1.11 Reputasi Auditor
Auditor memiliki fungsi untuk melakukan pemeriksaan terhadap laporan
keuangan perusahaan yang akan melakukan go public. Hasil pemeriksaan auditor
sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk pengambilan
keputusan. Auditor yang mempunyai banyak klien berarti auditor tersebut
mendapat kepercayaan yang lebih dari klien untuk membawa nilai perusahaan
klien ke pasar modal (Kartini dan Payamta, 2002).
25
Holland et al., (1993) menyatakan auditor yang mempunyai reputasi yang
tinggi, akan mempertahankan reputasinya dengan memberikan kualitas yang baik
terhadap hasil auditannya. Dengan menggunakan jasa auditor yang profesional
akan mengurangi kesempatan emiten untuk berlaku curang dalam menyajikan
informasi yang kurang akurat sehingga penggunaan auditor yang profesional
dapat digunakan sebagai petunjuk kualitas perusahaan emiten. Beatty (1989)
menyatakan bahwa reputasi auditor berpengaruh secara signifikan negatif
terhadap return awal. Emiten yang menggunakan auditor yang memiliki reputasi
baik akan menunjukkan initial return yang lebih rendah dibanding emiten yang
menggunakan auditor yang reputasinya kurang baik. Dengan kata lain, reputasi
auditor yang baik mengurangi terjadinya underpricing saham.
2.1.12 Reputasi Underwriter
Menurut UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal penjamin emisi efek
atau underwriter adalah pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk
melakukan Penawaran Umum bagi kepentingan Emiten dengan atau tanpa
kewajiban untuk membeli sisa efek yang tidak terjual. Di dalam melakukan
penjaminan emisi suatu efek, biasanya underwriter membentuk suatu kelompok
yang terdiri dari lead underwriter (penjamin pelaksana emisi) dan anggota
underwriter (penjamin emisi). Underwriting suatu efek dilakukan dengan
menandatangani kontrak penjaminan emisi antara lead underwriter dengan emiten
(Kristiantari, 2012).
Menurut Ang (1997) terdapat empat jenis kontrak penjaminan emisi
berdasarkan tipe kesanggupan penjaminan yaitu:
26
1) Best Effort (Kesanggupan Terbaik)
Underwiter tidak bertanggung jawab atas sisa efek yang tidak terjual,
tetapi underwriter akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjual
efek emiten. Dengan metode ini, perusahaan sekuritas bertindak hanya
sebagai agen penjual (tidak membeli saham), pada harga penawaran
tertentu, dan memperoleh komisi untuk saham yang terjual. Jika ada
saham yang tidak terjual, saham tersebut akan ditarik oleh perusahaan.
2) Full Commitment (Kesanggupan Penuh)
Underwriter bertanggung jawab penuh terhadap penjualan efek. Dengan
metode ini, underwriter membeli semua saham yang dijual oleh emiten
dengan harga yang lebih rendah dari harga penawaran dan menanggung
semua risiko atas saham yang tidak terjual.
3) Stand-by Commitment (Kesanggupan Siaga)
Tanggung jawab underwriter disini hampir sama dengan full commitment,
hanya saja bedanya underwriter bertanggung jawab mengambil sisa saham
yang tidak terserap di masyarakat pada harga lebih murah dibawah harga
pada penawaran perdana yang telah disepakati sebelumnya.
4) All or None Commitment (Kesanggupan Semua atau Tidak Sama Sekali)
Apabila minat di masyarakat terhadap saham yang ditawarkan tidak
memenuhi target yang telah ditetapkan, maka underwriter tidak akan
melanjutkan proses emisi.
Peranan underwriter diduga berpengaruh terhadap tinggi rendahnya
underpricing karena tinggi rendahnya harga perdana saham yang akan dibeli
27
investor tergantung kesepakatan antara penjamin emisi dengan emiten (Astuti dan
Syahyunan, 2013). Underwriter dengan reputasi tinggi lebih mempunyai
kepercayaan diri terhadap kesuksesan penawaran saham yang diserap oleh pasar.
Dengan demikian ada kecenderungan underwriter yang bereputasi tinggi lebih
berani memberikan harga yang tinggi sebagai konsekuensi dari kualitas
penjaminannya, sehingga tingkat underpricing pun rendah. Reputasi underwriter
diyakini menjadi pertimbangan penting bagi investor untuk membeli saham suatu
perusahaan. Semakin tinggi reputasi underwriter, initial return akan semakin
rendah atau reputasi underwriter mempunyai pengaruh negatif pada underpricing
(Kristiantari, 2012). Penyataan ini didukung oleh penelitian Beatty (1989), Carter
dan Manaster (1990), Kim et al. (1993), Amin (2001), Kim et al. (2002), Yasa
(2008), Astuti dan Syahyunan (2013), serta Hapsari dan Mahfud (2012) yang hasil
penelitiannya membuktikan reputasi underwriter berpengaruh negatif terhadap
initial return.
2.1.13 Sektor Industri
Menurut Yolana dan Martani (2005) jenis industri digunakan sebagai
variabel independen dapat digunakan untuk melihat apakah underpricing terjadi
pada hampir semua jenis industri yang IPO atau hanya pada jenis industri tertentu
saja. Variabel jenis industri mungkin saja mempengaruhi underpricing karena tiap
industri memiliki risiko dan tingkat ketidakpastian berbeda sehingga dapat
mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan berinvestasi. Risiko untuk
setiap sektor industri berbeda karena adanya perbedaan karakteristik. Perbedaan
risiko ini menyebabkan tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor untuk
28
setiap sektor juga berbeda. Sehingga tingkat underpricing saham perdana untuk
tiap sektor industri mungkin akan berbeda. Jenis industri yang berisiko tinggi
biasanya akan memberi kompensasi yang besar atas keberanian dan ekspektasi
investor untuk berinvestasi.
2.2
Pembahasan Hasil Penelitian Sebelumnya
Beberapa penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi initial
return saham telah banyak dilakukan baik di luar negeri maupun di Indonesia
dengan pendekatan yang berbeda, dengan hasil temuan yang juga berbeda.
Perbedaan ini menunjukkan hasil penelitian di bidang ini belum memiliki
kekonsistenan, hal ini mungkin saja terjadi karena adanya perbedaan kondisi
setiap pasar modal serta lingkungannya, perbedaan persepsi peneliti, serta data
yang digunakan. Beatty (1989) melakukan penelitian dengan menggunakan data
perusahaan yang melakukan IPO tahun 1975-1984 di NASDAQ Amerika dengan
sampel sebanyak 2215 perusahaan yang menguji variabel reputasi auditor,
reputasi penjamin emisi, umur perusahaan, prosentase penawaran saham, tipe
kontrak penjamin emisi, dan indikator perusahaan minyak dan gas. Hasil
penelitiannya memperoleh temuan bahwa terdapat hubungan signifikan (negatif)
antara reputasi auditor, reputasi underwriter, tipe kontrak underwriter, dan umur
perusahaan dengan initial return. Hubungan signifikan (positif) juga ditemukan
antara persentase penawaran saham dan indikator perusahaan minyak dan gas
pada initial return.
Penelitian Carter dan Manaster (1990) meneliti 501 perusahaan yang
melakukan IPO Januari 1979 sampai dengan Agustus 1983, menguji variabel
29
reputasi penjamin emisi, prosentase saham yang ditawarkan, nilai penawaran
saham, dan umur perusahaan terhadap initial return. Hasil penelitian menyatakan
bahwa semua variabel yang diuji berpengaruh negatif pada initial return.
Mauer
dan Senbet (1992) meneliti 1002 perusahaan pada periode tahun 1977 sampai
1984, menguji variabel beta, residual risk, offering size, company age, time of
offering. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa residual risk berpengaruh positif
terhadap initial return, dan offering size, company age, time of offering
berpengaruh negatif terdapat initial return. Kim et al. (1993) meneliti 177
perusahaan yang melakukan IPO tahun 1988-1990 di pasar modal Korea, menguji
variabel Invesment, kualitas underwriter, ROA, financial leverage, gross
proceeds, dan ownership retention. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa
kualitas underwriter, investment, ROA dan gross proceeds (size) berpengaruh
negatif pada initial return. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa financial
leverage dan ownership retention berpengaruh positif pada initial return.
Penelitian mengenai initial return di Indonesia antara lain dilakukan oleh
Trisnawati (1998) yang melakukan penelitian di BEJ dengan menggunakan
sampel 47 perusahaan yang melakukan IPO tahun 1994-1995, menguji variabel
reputasi auditor, reputasi penjamin emisi, umur perusahaan, persentase saham
yang ditawarkan, ROA, dan financial leverage terhadap initial return. Hasil
penelitiannya mengemukakan bahwa hanya umur perusahaan yang berpengaruh
positif pada initial return. Daljono (2000) meneliti 151 perusahaan periode tahun
1990-1997 menguji variabel reputasi auditor, reputasi penjamin emisi, umur
perusahaan, prosentase saham yang ditawarkan kepada publik, ROA, financial
30
leverage, solvability ratio. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa reputasi
penjamin emisi dan financial leverage berpengaruh signifikan positif terhadap
initial return.
Sandhiaji (2004) melakukan penelitian dengan sampel perusahaan
manufaktur yang melakukan IPO tahun 1996-2002 di BEJ menguji variabel
reputasi underwriter, reputasi auditor, jumlah saham yang ditahan pemilik, ROA,
umur perusahaan, dan ukuran perusahaan. Hasil penelitiannya mengemukakan
bahwa jumlah saham yang ditahan pemilik berpengaruh positif terhadap initial
return. Sedangkan variabel reputasi underwriter, ROA, umur perusahaan, dan
ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap initial return. Yolana dan
Martani (2005) perusahaan yang melakukan IPO di BEJ dari tahun 1994 – 2001
menguji variabel reputasi penjamin emisi, rata-rata kurs, ukuran perusahaan,
ROE, dan jenis industri. Hasil penelitannya mengemukakan bahwa variabel ratarata kurs dan ROE berpengaruh positif terhadap initial return serta variabel
ukuran perusahaan dan jenis industri berpengaruh negatif terhadap initial return.
Penelitian yang dilakukan Handayani (2008) meneliti
perusahaan-
perusahaan yang bergerak di sektor industri keuangan yang melakukan IPO dan
listing di BEJ periode tahun 2000-2006 menguji variabel DER, ROA, EPS, umur
perusahaan, ukuran perusahaan dan prosentase saham yang ditawarkan. Hasil
penelitiannya menyatakan bahwa ukuran perusahaan dan prosentase saham yang
ditawarkan berpengaruh positif terhadap initial return, kemudian variabel EPS
dinyatakan mempunyai pengaruh negatif terhadap initial return. Yasa (2008)
meneliti seluruh perusahaan yang melakukan IPO tahun 1990–2001 menguji
31
variabel reputasi auditor, reputasi underwriter, umur perusahaan, persentase
saham yang ditawarkan, ROA, financial leverage, solvability ratio, ukuran
perusahaan, dan kepemilikan pemerintah. Hasil penelitiannya adalah reputasi
underwriter dan profitabilitas perusahaan (ROA) berpengaruh signifikan pada
initial return.
Hapsari dan Mahfud (2012) meneliti perusahaan IPO di BEI periode tahun
2008–2010 dengan menguji variabel reputasi underwriter, reputasi auditor,
current ratio,
EPS, ROE, dan ukuran perusahaan. Hasil penelitiannya
menyatakan bahwa reputasi underwriter, reputasi auditor, ROE, dan ukuran
perusahaan berpengaruh negatif terhadap initial return. Penelitian yang dilakukan
oleh Widiyanti dan Kusuma (2013) menggunakan sampel perusahaan-perusahaan
yang melakukan IPO dan listing di BEI periode tahun 2008-2011 menguji variabel
ukuran perusahaan, EPS, PER, financial leverage, ROA, proporsi kepemilikan
pemegang saham lama, reputasi auditor, reputasi underwriter, dan umur
perusahaan. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa variabel ukuran perusahaan,
ROA, dan proporsi kepemilikan pemegang saham lama berpengaruh positif
tersadap initial return, variabel EPS dan financial leverage berpengaruh negatif
terhadap initial return.
Download