ANALISIS STUDI KOMPARATIF TENTANG

advertisement
ANALISIS STUDI KOMPARATIF TENTANG PENERAPAN
TRADITIONAL COSTING CONCEPT DENGAN
ACTIVITY BASED COSTING
(Studi Kasus Pada Rumah Sakit Prikasih)
SKRIPSI
Oleh:
Putri Trisyana Septiningtyas
NIM: 106082002547
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010
ANALISIS STUDI KOMPARATIF TENTANG PENERAPAN
TRADITIONAL COSTING CONCEPT DENGAN
ACTIVITY BASED COSTING
(Studi Kasus Pada Rumah Sakit Prikasih)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh
Putri Trisyana Septiningtyas
106082002547
Di bawah bimbingan:
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Amilin,SE.,M.Si.,Ak
Yessi Fitri,SE.,Ak.,M.Si
NIP. 19730615 200501 1 009
NIP. 19760924 200604 2 002
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010
Hari ini Selasa Tanggal Dua Puluh Lima bulan Mei Tahun Dua Ribu Sepuluh
telah dilakukan Ujian Komprehensif atas nama Putri Trisyana Septiningtyas NIM
106082002547 dengan judul skripsi “Analisis Studi Komparatif Tentang
Penerapan Traditional Costing Concept dengan Activity Based Costing (Studi
Kasus Pada Rumah Sakit Prikasih)”. Dengan memperhatikan penampilan
mahasiswa tersebut selama ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat
diterima sebagai salah satu syarat untu memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 25 Mei 2010
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Rini,SE.,Ak.,M.si
Zuwesty Eka Putri
Penguji I
Penguji III
Prof.Dr.Azam Yassin.,MBA
Penguji I
Hari ini, Senin Tanggal 6 September Tahun 2010 telah dilakukan Ujian Skripsi
atas nama Putri Trisyana Septiningtyas, NIM: 106082002547 dengan judul skripsi
“Analisis Studi Komparatif Tentang Penerapan Traditional Costing Concept
dengan Activity Based Costing (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Prikasih)”.
Dengan
memperhatikan
penampilan
mahasiswa
tersebut
selama
ujian
berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat untu
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 6 September 2010
Tim Penguji Ujian Skripsi
Dr. Amilin, SE., Ak., M.Si
Yessi Fitri. SE., Ak., M.Si
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr. Azam Jassin, MBA
Penguji Ahli
Afif Sulfa, SE., Ak., M.Si
Penguji Ahli II
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. Identitas Pribadi
Nama
: Putri Trisyana Septiningtyas
Jenis Kelamin
: Perempuan
Tempat Tanggal Lahir
: Jakarta, 19 September 1988
Agama
: Islam
Kewarganegaraan
: Indonesia
Alamat
: Jl. Jati Raya Utara No. 52 B RT.
05/06 Komplek TNI-AL Pondok
Labu Jakarta Selatan 12450
Telepon
: 021-7548859 / 08567215561
II. Pendidikan
1. 1994-2000
: SDN 07 Pagi Pondok Labu
2. 2000-2003
: SMPN 85 Jakarta
3. 2003-2006
: SMAN 66 Jakarta
4. 2006-2010
: Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta
II. Latar Belakang Keluarga
Ayah
: Sutrisno
Ibu
: Puji Yuliati
Adik
: M. Riskian Pradityo
Alamat
: Jl. Jati Raya Utara No. 52 B RT.
05/06 Komplek TNI-AL Pondok
Labu Jakarta Selatan 12450
Anak ke dari
: Pertama dari dua bersaudara
COMPARATIVE STUDY ANALYSIS IN DETERMINING THE HOSPITAL
ROOM RATES BY TRADITIONAL COSTING METHOD AND
ACTIVITY BASED COSTING
(Case Study In Prikasih Hospital Jakarta)
By: Putri Trisyana Septiningtyas
Abstract
This research compared the traditional method of cost calculation with
activity based costing (ABC) in determining the inpatient room rate at Prikasih
Hospital. This research uses descriptive analytical method. Data obtained by
analyzing documents, participant observation, interviews with chief accounting
company then compared with the existing literature.
Implementation of activity based costing (ABC) provides an excellent
effect in improving efficiency and resource activities. Calculation of costs with
ABC is able to produce cheaper and more accurate when compared with
traditional approaches. In the end Prikasih Hospital is able to provide affordable
rates for patients.
Keywords: Accounting cost, traditional costing methods, activity based costing.
ANALISIS STUDI KOMPARATIF DALAM MENENTUKAN TARIF
KAMAR RAWAT INAP RUMAH SAKIT MELALUI TRADITIONAL
COSTING METHOD DAN ACTIVITY BASED COSTING
(Studi Kasus Pada Rumah Sakit Prikasih Jakarta)
Oleh: Putri Trisyana Septiningtyas
Abstrak
Penelitian ini membandingkan perhitungan biaya metode tradisional
dengan perhitungan biaya berdasar aktivitas (ABC) dalam menentukan tarif kamar
rawat inap pada Rumah Sakit Prikasih. Penelitian ini menggunakan metode
analisis deskriptif. Data diperoleh dengan menganalisa dokumen, observasi
partisipan, serta wawancara dengan kepala akuntansi perusahaan kemudian
dibandingkan dengan literature yang ada.
Penerapan metode biaya berdasar aktivitas (ABC) memberikan dampak
yang sangat baik dalam meningkatkan efisiensi dan aktivitas sumber daya.
Perhitungan biaya dengan ABC mampu menghasilkan biaya yang lebih murah
dan lebih akurat bila dibandingkan dengan pendekatan tradisional. Pada akhirnya
Rumah Sakit Prikasih mampu menyediakan tarif yang terjangkau bagi pasien.
Kata Kunci: Akuntansi biaya, perhitungan biaya metode tradisional, perhitungan
biaya berdasar aktivitas.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini dengan judul
“Analisis Studi Komparatif Dalam Menentukan Tarif Kamar rawat Inap Rumah
Sakit Melalui Metode Traditional Costing dan Activity Based Costing (Studi
Kasus Pada Rumah Sakit Prikasih Jakarta ) ini ditulis sebagai salah satu syarat
guna meraih gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam penulisan skripsi ini mulai dari pengajuan proposal, pengumpulan data,
perhitungan data, hingga persetujuan akhir, penulis tidak dapat berbuat banyak
tanpa adanya bantuan, dorongan serta dukungan yang baik berupa materiil dan
spiritual dari orang-orang yang berada di sekeliling penulis. Dalam kesempatan
ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Kedua orang tua, tiada kata yang pantas dan sepadan untuk mengucapkan
terima kasih atas kasih sayang, doa, pengorbanan, kesabaran, perhatian, serta
dukungan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis sangat ingin
membahagiakan kalian dan membuat kalian selalu tersenyum. Terima kasih
untuk Ibu dan Bapak.
2.
Adik-adikku, Mochammad Riskian Pradityo, Khansa Dya Ghassani,
Dya’Gung Tirafi, Gading Unggul Hadikasoem, Feliannisa Fertriandari, dan
M. Bintang Ferio yang selalu mendoakan dan memberi semangat kepada
penulis.
3.
Kepada keluargaku, Agus Miyanto beserta istri Sri Sukendyah, Tri Waluyo
beserta istri Feri Itoenk, Mochammad Soleh, SH beserta istri Retno
Widiastuti, Heri Teguh Santoso, M.Si beserta istri Yekti Rahayu, S.Sos, serta
Nenek dan Kakek terima kasih yang tak terhingga atas dukungannya baik
moril maupun materi.
4.
Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
5.
Bapak Dr. Amilin, SE., Ak., M.Si selaku Dosen Pembimbing I terima kasih
atas arahan, saran, dan motivasi dalam pembuatan skripsi ini serta telah
meluangkan waktu dan kesabarannya untuk membimbing penulis.
6.
Ibu Yessi Fitri, SE., Ak., M.Si selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi dan
Dosen Pembimbing II terima kasih atas arahan, saran, dan motivasi dalam
pembuatan skripsi ini serta telah meluangkan waktu dan kesabarannya untuk
membimbing penulis.
7.
Bapak Afif sulfa, SE., Ak., M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
8.
Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
9.
Bapak Arie Sudirman selaku Kepala Akuntansi Rumah sakit Prikasih terima
kasih atas waktu, arahan, dan kesediaannya dalam memberi segala informasi
yang dibutuhkan terkait dengan skripsi ini.
10. Sahabatku, Rosliana Mustika Dewi dan Novitasari terima kasih atas
perhatian, bantuan, serta motivasi kalian. Kalian adalah sahabat terbaikku
sekarang dan selamanya.
11. Teman terbaikku, Eka Putri Pertiwi, Dila Fadhilatun Nisa, Rosliana Mustika
Dewi dan Novitasari yang tergabung dalam Belle Community. Terima kasih
atas doa dan semangat teman-teman. Sukses terus untuk Kita.
12. Seluruh teman-teman Akuntansi A Angkatan 2006 dan teman-teman
Akuntansi Manajemen E Angkatan 2006 terima kasih atas kerjasamanya.
13. Dan seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima
ksaih atas segala bantuan dan dukungannya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Di penghujung kata pengantar ini, penulis meminta kontribusi posistif atas
masukan konstruktif dari berbagai kekurangan skripsi ini. Semoga skripsi ini
dapat memberikan manfaat bagi semua yang terkait.
Penulis
Putri Trisyana Septiningtyas
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
……………………………………… i
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
…………………. ii
…………………………….. iii
……………………………………………... iv
ABSTRACT
………………………………………………………………….. v
ABSTRAK
……………………………………………………………………vi
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
………………………………………………………………… ix
DAFTAR TABEL
…………………………………………………………... xi
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
……………………………………………………….vii
………………………………………………………..xiii
……………………………………………………..xiv
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
B. Perumusan Masalah
…………………..……………...1
……………………………..………....9
C. Tujuan Penelitian ………………………….….……………10
D. Manfaat Penelitian
BAB II
………………………….………..…...11
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Akuntansi Biaya
……………………………..12
1. Klasifikasi Umum Biaya
………………………….…14
2. Jenis-Jenis Metode Dalam Akuntansi Biaya
B. Pengertian Traditional Costing Method
………...20
…………………23
C. Kelebihan dan Kelemahan Traditional Costing Method …29
D. Pengertian Activity Based Costing
………………………32
E. Kelebihan dan Kelemahan Activity Based Costing
F. Perbedaan Traditional Costing Method
Activity Based Costing
……...43
dengan
…………………………………..49
G. Prosedur Pembebanan Biaya Dua Tahap
..........................51
H. Kerangka Pemikiran
………………………………...…..53
I. Penelitian Terdahulu
…………………………………….55
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
………………………………...58
B. Metode Pengumpulan Data
…………………………...…..58
C. Metode Analisis Data
……………………………………..59
D. Definisi Operasional Variabel Penelitian dan Pengukurannya60
1. Activity Based costing
……………………………...…60
2. Traditional Costing Method …………………………...61
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Company Profile Rumah Sakit Prikasih …………………62
B. Perhitungan Konsep Biaya Tradisional Menurut Rumah
Sakit…………………………………………………………69
1. Ruang Rawat Inap Flamboyan …………….…………75
2. Ruang Rawat Inap Mawar ……………………………79
3. Ruang Rawat Inap Teratai ……………………………82
4. Ruang Rawat Inap Melati ……………………………86
C. Penerapan Activity Based Costing …………………….…91
1. Mengidentifikasi, Mendefinisikan Aktivitas
dan Pul Aktivitas ……………………………............. 91
2. Menelusuri Biaya Overhead Secara Langsung
Ke Aktivitas dan Objek Biaya ……………………..92
3. Membebankan Biaya Ke Pul Biaya Aktivitas ………93
4. Menghitung Tarif Aktivitas ……………………….101
5. Membebankan biaya Ke Objek Biaya dengan
Menggunakan Tarif Aktivitas …………………….105
6. Menyiapkan Laporan Manajemen …………………108
D. Perbandingan Tarif Kamar Rawat Inap Antara Pendekatan
Saat Ini (Traditional Costing Method), dan Activity
Based Costing ………………………………….………110
E. Pembahasan …………………………………………….111
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
………………………….…………………113
………………………………….……………114
……………………………………..………………114
………………………………………………..…….116
DAFTAR TABEL
Nomor
1.1
Keterangan
Halaman
Fenomena yang Menggambarkan Tentang
Beberapa Perusahaan yang Menerapkan Sistem
Activity Based Costing
2.1
……………………………...
4
Perbedaan antara Perhitungan Biaya Berdasarkan
Pesanan dan Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses ...
26
2.2
Penelitian Terdahulu …………………………………
55
4.1
Gaji dan Tunjangan yang Diterima Tiap Orang Perawat
Kamar Flamboyan Per Jam Kerja
……………………
76
4.2
Jam Kerja (Shift) Perawat Kamar Flamboyan ………..
76
4.3
Gaji dan Tunjangan yang Diterima Tiap Orang Perawat
Kamar Mawar Per Jam Kerja …………………………
79
4.4
Jam Kerja (Shift) Perawat Kamar Mawar ……………
80
4.5
Gaji dan Tunjangan yang Diterima Tiap Orang Perawat
Kamar Teratai Per Jam Kerja
………………………..
4.6
Jam Kerja (Shift) Perawat Kamar Teratai
4.7
Gaji dan Tunjangan yang Diterima Tiap Orang Perawat
Kamar Melati Per Jam Kerja
…………....
………………………
83
83
86
4.8
Jam Kerja (Shift) Perawat Kamar Melati
………….
87
4.9
Biaya Overhead Per Ruang Perawatan
……………
89
4.10
Keputusan tariff Kamar Rawat Inap untuk Tahun 2010
90
4.11
Pul Biaya Aktivitas Kamar Rawat Inap
……………..
92
4.12
Biaya Overhead Per Ruang Perawatan
………………
93
4.13
Hasil Wawancara Distribusi Aktivitas Konsumsi Sumber
Daya Lintas Pul Biaya Aktivitas-Flamboyan …………
4.14
94
Alokasi Tahap Pertama (First Stage Allocation) Ke Pul
Biaya Aktivitas-Flamboyan
………………………….
95
4.15
Hasil Wawancara Distribusi Aktivitas Konsumsi Sumber
Daya Lintas Pul Biaya Aktivitas-Mawar ……………..
4.16
Alokasi Tahap Pertama (First Stage Allocation) Ke Pul
Biaya Aktivitas-Mawar
4.17
……………………………..
…………...
……………………………..
99
Hasil Wawancara Distribusi Aktivitas Konsumsi Sumber
Daya Lintas Pul Biaya Aktivitas-Melati …………….
4.20
98
Alokasi Tahap Pertama (First Stage Allocation) Ke Pul
Biaya Aktivitas-Teratai
4.19
97
Hasil Wawancara Distribusi Aktivitas Konsumsi Sumber
Daya Lintas Pul Biaya Aktivitas-Teratai
4.18
96
100
Alokasi Tahap Pertama (First Stage Allocation) Ke Pul
Biaya Aktivitas-Melati ………………………………
101
4.21
Data yang Berkaitan dengan Kamar Flamboyan …….
102
4.22
Data yang Berkaitan dengan Kamar Mawar …………
102
4.23
Data yang Berkaitan dengan Kamar Teratai …………
102
4.24
Data yang Berkaitan dengan Kamar Melati …………
103
4.25
Perhitungan Tarif Aktivitas – Flamboyan ………….
103
4.26
Perhitungan Tarif Aktivitas – Mawar ………………
104
4.27
Perhitungan Tarif Aktivitas – Teratai ………………
104
4.28
Perhitungan Tarif Aktivitas – Melati ………………
104
4.29
Perhitungan Biaya Overhead – Flamboyan ………...
105
4.30
Perhitungan Biaya Overhead – Mawar …………….
106
4.31
Perhitungan Biaya Overhead – Teratai
……………
107
4.32
Perhitungan Biaya Overhead – Melati …………….
108
4.33
Perhitungan Tarif Kamar Rawat Inap Menggunakan
Activity Based Costing …………………………….
4.34
Direct Cost, Direct Labor, dan Overhead Per Hari Per
Ruang Perawatan dengan Traditional Costing Method
4.35
108
109
Perbandingan Tarif Kamar Rawat Inap Antara
Pendekatan Saat Ini, (Traditional Costing Method),
dan Activity Based Costing ………………………..
111
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Keterangan
Halaman
2.1
Ringkasan Terminologi Biaya
........................
17
2.2
The Volume-Based Two-Stage Procedure ......
52
2.3
The Activity-Based Two-Stage Procedure .....
53
2.4
Model Kerangka Pemikiran .........................
54
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Keterangan
Halaman
1
Laporan Laba Rugi Tahun 2009-Flamboyan
……..
122
2
Laporan Laba Rugi Tahun 2009-Mawar
…………
123
3
Laporan Laba Rugi Tahun 2009-Teratai
…………
124
4
Laporan Laba Rugi Tahun 2009-Melati
………….
125
5
Daftar Tarif Kamar Rawat Inap RS. Prikasih …….
126
6
Fasilitas Kamar Rawat Inap RS. Prikasih
………..
129
7
Biaya Overhead Per Ruang Perawatan
………….
130
8
Data Karyawan Per 31 Desember
………………..
131
9
Direct Cost, Direct labor, Overhead Per Hari
Per Ruang Perawatan …………………………….
132
10
Berita Acara Wawancara …………………………
133
11
Laporan Sensus Rawat Inap RS. Prikasih ………..
135
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Regionalisasi ekonomi di Asia Tenggara dan kemunculan Asia Free
Trade Area (AFTA) sejak tahun 1980-an, telah terjadi serangkaian perubahan
fundamental di dunia, antara lain:
1. Munculnya lingkungan ekonomi dunia yang kompetitif dan terjadinya
perubahan cepat menuju ekonomi berorientasi pasar khususnya di Eropa
eks-sosialis dan juga di Asia yang ditandai dengan adanya reformasi
ekonomi melalui privatisasi, deregulasi dan liberalisasi.
2. Terjadinya revolusi teknologi informasi yang memungkinkan peningkatan
secara luar biasa transaksi perdagangan dan saling ketergantungan antar
negara di dunia.
3. Meningkatnya regionalisasi yang ditandai dengan munculnya pengaturan
perdagangan dan investasi dalam lingkup regional di berbagai belahan
dunia.
Berbagai kecenderungan tersebut kemudian mendorong para pemimpin
negara Asia, khususnya negara-negara anggota ASEAN, untuk mendirikan
suatu organisasi ekonomi regional di Asia Tenggara. Setelah melalui
serangkaian negosiasi dan perdebatan yang panjang, pada Millenium Summit
ke-4 ASEAN di Singapura tahun 1992, ASEAN yang saat itu masih
beranggotakan 6 negara (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura,
dan Thailand) sepakat membentuk kawasan perdagangan bebas ASEAN
(AFTA) dalam rentang waktu 15 tahun dimulai sejak 1 Januari 1993 dan
dengan adanya kawasan perdagangan bebas tersebut maka seluruh negara
anggota ASEAN akan mengurangi hambatan arus perdagangan dan investasi
antar mereka secara bertahap hingga tahun 2008 yang diletakkan dalam skema
Common Effective Preferential Tariff (CEPT). Inti dari CEPT dalam
persetujuan AFTA adalah pengurangan berbagai tarif impor dan penghapusan
hambatan non-tarif atas perdagangan dalam lingkup ASEAN. Hal ini
membawa implikasi bagi Indonesia berupa perubahan harga relatif produkproduk Indonesia yang diekspor ke negara-negara ASEAN di samping akan
menjadi insentif bagi masuknya investasi asing yang selama ini menjadi salah
satu pilar untuk memutar roda perekonomian nasional. Oleh karena itu, dalam
hal ini profil perdagangan dan investasi Indonesia, dengan perbandingan profil
negara-negara anggota lainnya, sangat penting diketahui guna melihat sejauh
mana AFTA akan membawa dampak positif bagi Indonesia. Pertama dan yang
paling penting dalam sistem ekonomi pasar adalah perdagangan (Dodik
Ariyanto, 2010:3).
Sebagai konsekuensi logis sistem perdagangan bebas, Indonesia sudah
barang tentu akan dihadapkan pada negara-negara partner ekonomi di dalam
organisasi AFTA yang menjanjikan berbagai peluang keuntungan. Namun
pada saat yang sama, Indonesia juga akan mempunyai pesaing-pesaing baru
karena prinsip perdagangan bebas (yang menjadi landasan AFTA) akan
mendorong tiap-tiap anggota untuk memperbesar keunggulan komparatif
masing-masing, di
mana pada
akhirnya
hanya
negara
yang
punya
keunggulan komparatif terbesarlah yang cenderung meraih keuntungan
optimal.
Keadaan persaingan global dewasa ini pada akhirnya menuntut para
pengusaha agar lebih efisien dan efektif dalam kegiatan operasionalnya seharihari, di mana pasar menginginkan produk (barang atau jasa) dengan harga
yang murah dan berkualitas baik. Tinggi atau rendahnya harga suatu produk
tentu akan berpengaruh terhadap posisi produk di pasar. Faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan untuk menentukan harga suatu produk dapat
diperoleh dari informasi keuangan atau produksi yang baik (tidak terdistorsi).
Dalam menentukan biaya ada beberapa metode yang digunakan antara lain
sistem tradisional dan sistem Activity Based Costing (ABC). Sistem tradisional
memfokuskan pengendaliannya terhadap biaya dengan cara menghubungkan
biaya dengan manajer yang mempunyai wewenang atas terjadinya biaya. Pada
kenyataanya sekarang ini banyak biaya overhead pabrik yang tidak
berhubungan dengan volume produk yang diproduksi akibatnya sistem
akuntansi biaya tradisional dapat menghasilkan perhitungan biaya yang
terdistorsi. Memakai cara pendekatan sistem biaya tradisional, harga pokok
produksi suatu produk dapat menjadi lebih tinggi atau terlalu rendah karena
semua biaya yang terjadi dialokasikan berdasarkan volume. Informasi harga
pokok tersebut dapat menyesatkan manajemen dalam menentukan harga jual
yang dapat diterima pasar dengan baik. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut maka terdapat suatu pendekatan yang mengatasi kekurangan-
kekurangan dari sistem biaya tradisional yaitu sistem biaya berdasarkan
aktivitas. Activity Based Costing (ABC) mengalokasikan seluruh biaya yang
terjadi dalam proses produksi berdasarkan aktivitas sehingga informasi
tersebut dapat lebih tepat dalam penentuan harga jualnya. Sistem ABC dapat
menyediakan informasi perhitungan biaya yang lebih baik dan dapat
membantu manajemen mengelola perusahaan secara efisien serta memperoleh
pemahaman yang lebih baik atas keunggulan kompetitif, kekuatan, dan
kelemahan perusahaan (Blocher, 2006:225-226). Dalam lingkungan yang
memiliki keanekaragaman produk, sistem ABC menjanjikan keakuratan yang
lebih baik, dan keputusan dibuat berdasarkan fakta yang benar (Hansen
Mowen, 2006:153).
Tabel 1.1 di bawah ini adalah fenomena yang menggambarkan tentang
beberapa perusahaan yang menerapkan sistem activity based costing.
Tabel 1.1
Fenomena yang Menggambarkan Tentang Beberapa Perusahaan
yang Menerapkan Sistem Activity Based Costing
Nama
Penerapan Activity Based
Perusahaan Costing (ABC)
Euclid
• Sebagai hasil dari
Engineering
penelitian ABC, manajer
Euclid menemukan
bahwa perusahaan
membelanjakan lebih
banyak uang untuk
memperkenalkan produk
baru dibanding untuk
beban tenaga kerja
langsung dalam
memproduksi barang
Bersambung ke halaman berikutnya
Sumber
Robert.S Kaplan dan Robin
Cooper,Cost and Effect:Using
Integrated Cost Systems to
Drive Profitability and
Performance
(Boston:Harvard Business
School Press,1998),hal.219222.
Tabel 1.1 (Lanjutan)
Nama
Penerapan Activity Based
Perusahaan Costing (ABC)
• Penelitian ABC juga
membantu Euclid dalam
hubungannya dengan
pelanggan. Perincian biaya
dari biaya untuk
merancang dan merekayasa
aktivitas membantu
pelanggan dalam
menentukan pilihan.
Diamond
• Analisis ABC tentang
Transportation
overhead perusahaan
Group,Inc.
mengindikasikan bahwa
Lokasi:
terjadi distorsi biaya. Biaya
Philadelphia
rata-rata dari pengiriman
sepeda lebih kecil 4.64%
dari yang seharusnya.
• Setelah menggunakan
ABC dalam analisis biaya,
kini perusahaan mampu
menciptakan solusi-solusi
inovatif sesuai dengan
tujuan pelanggan da lebih
menghasilkan laba, dengan
praktik bisnis yang lebih
baik di tiap harinya.
Hospice Of • Manajemen melakukan
Central
negosiasi untuk rencana
Kentucky
kenaikan pembayaran dan
(HCK)
menggunakan sistem ABC
untuk mendapatkan
informasi yang lebih baik
tentang biayanya.
• Sistem ABC kemudian
digunakan untuk
memperkirakan biaya rata rata per hari rawat inap
pasien dalam tingkatan
penyakit yang berbeda.
Sumber: Diolah dari berbagai sumber
Sumber
Susan Greco,”Are We
Making Money Yet?”
INC.Juli 1996,hal.52-61, dan
Cheryl A.Hodolitz,Diamond
Transportastion
Group,private
communication.
Sidney J.Baxendale dan
Victoria Dornbusch,”Activity
Based Costing For A
Hospice,”Strategic
Finance,Maret 2000,hal 6570.
Activity Based Costing (ABC) digunakan baik itu untuk industri jasa
maupun industri manufaktur. Industri yang akan diteliti pada penelitian ini
adalah rumah sakit. Perlu kita ketahui bahwa rumah sakit sebagai organisasi
yang berhubungan langsung dengan masyarakat memerlukan sebuah sistem
yang tepat dan akurat dalam menetapkan biaya pengobatan bagi masyarakat
yang sedang terganggu kesehatannya.
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi seluruh manusia,
karena kesehatan inti dalam kehidupan. Kesehatan harus mendapatkan
perhatian yang serius karena kesehatan itu mahal harganya. Jika kesehatan
menjadi masalah bagi masyarakat itu akan menurun dan akan berdampak pada
produktivitasnya. Oleh karena itu, kesehatan harus dijaga agar segala aktivitas
dalam kehidupan dapat diselesaikan sebaik-baiknya. Dalam pertumbuhan
kehidupan masyarakat yang terus berkembang telah meningkatkan kesadaran
terhadap pentingnya kesehatan. Hal ini ditambah dengan makin beragamnya
jenis penyakit yang muncul di masyarakat.
Penelitian mengenai peranan dan kendala penerapan activity based
costing (ABC) dalam industri jasa pernah dilakukan oleh Aristanti
Widyaningsih (2009). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ABC mampu
menciptakan keanekaragaman dari konsumsi sumber daya dan menunjukkan
bahwa sistem ABC sangat berguna untuk diterapkan pada perusahaan jasa.
Penelitian mengenai penerapan ABC dilakukan oleh Charoline Cheisviyanny
(2007). Hasil penelitian menunjukkan ABC juga dapat digunakan untuk
menganalisa profitabilitas pelanggan. Berikutnya penelitian yang dilakukan
oleh Nunik L (2007), meneliti ABC sebagai metode untuk mengatasi
kekurangan sistem biaya tradisional. Hasilnya menunjukkan bahwa ABC
membantu sistem biaya tradisional dalam menentukan biaya overhead agar
lebih tepat dan akurat. Analisis penerapan ABC dalam produksi program acara
televisi pernah dilakukan oleh Silky Ionian (2008) dan hasilnya menunjukan
bahwa metode biaya berdasarkan aktivitas memberikan dampak yang sangat
baik dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya
internal dalam kaitannya dengan proses produksi.
Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
terletak pada:
1. Penambahan variabel
Pada penelitian ini peneliti menambahkan traditional costing method
dalam perhitungan biaya.
2. Perbedaan industri yang diteliti
Jenis industri yang dipilih dalam penelitian ini adalah industri jasa,
yaitu Rumah Sakit Prikasih yang berada di Jalan Fatmawati No.74 Jakarta
Selatan, dikarenakan tempatnya yang strategis dekat dengan pusat aktivitas
di antaranya yaitu Pasar Pondok Labu, Sekolah SMPN 85 dan SMAN 34
Jakarta serta dekat dengan Perumahan Komplek Angkatan Laut. Pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit Prikasih di antaranya seperti kegiatan
rawat jalan, pelayanan rawat inap, rawat gawat darurat,
poliklinik spesialis, kamar bedah dan kamar operasi, ICU, laboratorium,
radiologi, instalansi, farmasi, fisioterapi yang mencakup pelayanan
penunjang medik.
Industri jasa dan industri manufaktur sebagai sebuah organisasi tentu
saja dituntut untuk mengotimalkan sumber daya dan dana yang dimiliki
dengan lebih efisien dan efektif. Rumah sakit sebagai organisasi pelayanan
kesehatan tentu saja dituntut dapat memberikan pelayanan yang terbaik yang
harus mengedepankan fungsi sosialnya untuk menjalankan kegiatannya untuk
menjamin kelangsungan hidup. Pada tarif pelayanan kesehatan yang
dibebankan oleh setiap rumah sakit kepada konsumen berbeda satu sama
lainnya. Berbicara tentang masalah kualitas, maka hal ini berkaitan langsung
dengan biaya yang dibutuhkan serta harga atau tarif yang ditetapkan untuk
produk dan jasa tersebut. Biasanya suatu produk atau jasa yang berkualitas
sangatlah mahal harganya. Biaya rumah sakit bagi masyarakat sangat mahal,
seperti biaya resep obat-obatan yang harus mereka beli di apotek yang
harganya juga tidak murah karena produsen obat masih mengimpor bahan
baku obat dari luar negeri. Banyak dari masyarakat ketika sakit harus
menjalani rawat inap di rumah sakit merasa sangat berat beban mereka karena
biaya yang dikeluarkan cukup besar. Bagi masyarakat kelas menengah ke
bawah hanya dapat menikmati ruang rawat inap kelas II atau kelas III dengan
pelayanan yang minim dan harus membuang jauh-jauh harapan mereka untuk
bisa dirawat di kelas VIP. Hal ini mungkin dikarenakan penetapan harga
kamar di beberapa rumah sakit masih menerapkan sistem tradisional yang
mengakibatkan penentuan biaya masih cukup besar. Sama halnya dengan
industri manufaktur yang memproduksi barang kemudian menjualnya kepada
konsumen, perusahaan dituntut untuk meningkatkan produktivitas dan
menghasilkan produk yang lebih fungsional, dan meningkatkan efisiensi.
Menurut Lilis Yulifah (2004:43), harga jual suatu produk sering sudah
terbentuk
di
pasar,
akan
tetapi
dalam
penerapannya
tetap
harus
memperhatikan biaya produk tersebut. Hal ini karena perusahaan harus
mengetahui apakah harga yang Ia tetapkan memberi keuntungan atau tidak.
Biaya produk ini merupakan informasi internal yang dihasilkan oleh suatu
sistem akuntansi yaitu akuntansi biaya.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian studi komparatif di Rs. Prikasih yang berlokasi di Jl.
Fatmawati No. 74 Jakarta Selatan dalam penentuan tarif kamar rawat inap
dengan Judul “Analisis Studi Komparatif Dalam Menentukan Tarif
Kamar Rawat Inap Rumah Sakit Melalui Traditional Costing Method Dan
Activity Based Costing (Studi Kasus Pada Rumah Sakit Prikasih
Jakarta)”.
B. Perumusan Masalah
Mengingat keterbatasan pengetahuan dan data yang diperoleh serta
terlalu luasnya pembahasan, maka dalam penelitian ini hanya membahas
tentang analisis penentuan tarif kamar rawat inap rumah sakit melalui
traditional costing method dan activity based costing. Sesuai dengan latar
belakang masalah yang peneliti uraikan di atas, maka pokok masalah yang ada
dalam skripsi ini adalah:
1. Bagaimana perhitungan biaya metode traditional costing method jika
diterapkan pada industri jasa?
2. Bagaimana perhitungan biaya metode activity based costing jika
diterapkan pada industri jasa?
3. Apakah metode activity based costing dapat menghasilkan perhitungan
biaya yang lebih menguntungkan dibandingkan metode traditional costing
method?
4. Keputusan apa yang akan dipilih oleh manajemen dari hasil perhitungan
dua metode tersebut?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Perhitungan biaya metode traditional costing method jika diterapkan pada
industri jasa.
2. Perhitungan biaya metode activity based costing jika diterapkan pada
industri jasa.
3. Metode activity based costing dapat menghasilkan perhitungan biaya yang
lebih menguntungkan dibandingkan metode traditional costing method.
4. Keputusan yang akan dipilih oleh manajemen dari hasil perhitungan dua
metode tersebut.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka penelitian ini diharapkan
dapat memberikan manfaat bagi:
1. Manajemen rumah sakit, diharapkan skripsi ini dapat menjadi bahan
masukan, saran, ataupun bahan informasi untuk menentukan sistem yang
tepat dalam perhitungan biaya pada industri jasa.
2. Pegawai rumah sakit, diharapkan skripsi ini dapat meningkatkan kualitas
pegawai.
3. Pasien, diharapkan skripsi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dakam
menggunakan jasa rumah sakit.
4. Masyarakat, diharapkan skripsi ini dapat membantu pemerintah dalam
mengawasi mutu pelayanan rumah sakit.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Akuntansi Biaya
Pengertian akuntansi biaya menurut Mulyadi (2005:7) adalah “akuntansi
biaya sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian
biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara tertentu
serta penafsiran-penafsiran terhadapnya”. Carter and Usry (2006:11)
menyebutkan bahwa “akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan alat
yang diperlukan untuk aktivitas-aktivitas perencanaan dan pengendalian,
memperbaiki kualitas dan efisiensi, serta membuat keputusan-keputusan yang
bersifat rutin maupun strategis”.
Menurut Armanto Witjaksono (2006:45) dalam Siti Nurhasanah (2008:8)
“akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkat akuntansi untuk
meningkatkan perencanaan dan pengendalian”. Perencanaan di sini berarti
memilih objek yang hendak dicapai dan cara-cara untuk mencapainya.
Perencanaan dalam akuntansi biaya membantu manajemen dalam menetapkan
anggaran (budget), dan biaya yang ditentukan di muka (predetermined cost).
Sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan pihak manajemen
perusahaan akan informasi keuangan, maka keberadaan akuntansi biaya dalam
memperoleh data yang relevan sangat dibutuhkan. Hal ini mendorong semakin
berkembangnya akuntansi biaya agar dapat memberikan sumbangan yang
lebih berarti bagi yang membutuhkan.
Pengendalian berarti mengarahkan kegiatan-kegiatan sehingga hasil yang
dicapai sesuai dengan yang direncanakan. Pengendalian berhubungan dengan
masa sekarang, dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan budget
yang telah ditetapkan sebelumnya dan bila terjadi penyimpangan dilakukan
tindakan perbaikan atas penyimpangan tersebut. Selain itu, akuntansi biaya
menyediakan informasi mengenai pendapatan dan biaya yang berbeda yang
dapat berasal dari tindakan-tindakan alternatif. Berdasarkan informasi ini,
manajemen membuat keputusan-keputusan jangka pendek dan jangka panjang
mengenai memasuki pasar baru, mengembangkan produk baru, menghentikan
produk individual atau seluruh lini produk, membeli atau membuat sendiri
suatu komponen yang diperlukan oleh suatu produk, serta membeli atau
melakukan sewa guna usaha (leasing) (Carter and Usry, 2006:15).
Dari ketiga definisi di atas, dapat disimpulkan yang dimaksud dengan
akuntansi biaya adalah proses mengidentifikasi, mendefinisikan, mengukur,
melaporkan, dan menganalisis berbagai unsur biaya untuk menyajikan biaya
produksi barang atau jasa dengan cara tertentu disertai penafsirannya untuk
meningkatkan perencanaan dan pengendalian, untuk memperbaiki kualitas dan
efisiensi, serta membuat keputusan-keputusan yang bersifat rutin maupun
strategis. Tujuan akuntansi biaya menurut Bastian dan Nurlela (2009:11)
adalah menyajikan informasi biaya yang akurat dan tepat bagi manajemen
dalam mengelola perusahaan atau defisi secara efektif. Oleh karena itu, perlu
dikelompokkan sesuai dengan tujuan apa informasi biaya tersebut digunakan,
sehingga dalam pengelompokkan biaya dapat digunakan suatu konsep
”different cost different purpose” artinya berbeda biaya berbeda tujuan. Di
bawah ini adalah klasifikasi umum biaya dan jenis-jenis metode dalam
akuntansi biaya menurut Garrison and Noreen (2006) dan Carter and Usry
(2006).
1. Klasifikasi Umum Biaya
Klasifikasi biaya sangat penting guna membuat ikhtisar atas data biaya
untuk tujuan penyusunan laporan keuangan, untuk memprediksi perilaku
biaya, untuk pembebanan biaya ke objek biaya, serta untuk pembuatan
keputusan. Garrison and Noreen (2006:50), mengklasifikasikan biaya
sebagai berikut:
a. Biaya Produksi (Manufacturing Cost)
1)
Bahan Langsung (Direct Material)
2)
Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
3)
Overhead
b. Biaya Non Produksi (Non-manufacturing)
c. Biaya Variabel (Variable Cost)
d. Biaya Tetap (Fixed Cost)
e. Biaya Langsung (Direct Cost)
f. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
g. Biaya Diferensial (Differential Cost)
h. Biaya Tertanam (Sunk Cost)
i. Biaya Kesempatan (Opportunity Cost)
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Biaya Produksi (Manufacturing Cost)
Yaitu semua biaya untuk merubah bahan mentah menjadi produk
jadi. Biaya ini diklasifikasikan menjadi:
1) Bahan Langsung
Bahan
langsung
adalah
bahan
yang
digunakan
untuk
menghasilkan produk jadi disebut bahan baku atan bahan metah
(raw material). Bahan baku berkaitan dengan semua jenis bahan
yang digunakan dalam pembuatan produk jadi; dan produk jadi
suatu perusahaan dapat menjadi bahan baku perusahaan lainnya.
Bahan langsung (direct material) adalah bahan yang menjadi
bagian tak terpisahkan dari produk jadi, dan dapat ditelusuri
secara fisik dan mudah ke produk tersebut.
2) Tenaga Kerja Langsung
Istilah tenaga kerja langsung (direct labor) digunakan untuk biaya
tenaga kerja yang dapat ditelusuri dengan mudah ke produk jadi.
Tenaga kerja langsung biasanya disebut juga tenaga kerja manual
(touch labor) karena tenaga kerja langsung melakukan kerja
tangan atas produk pada saat produksi. Biaya tenaga kerja yang
tidak dapat ditelusuri secara fisik dalam pembuatan produk
disebut tenaga kerja tidak langsung (indirect labor).
3) Overhead Pabrik
Overhead pabrik (manufacturing overhead) mencakup seluruh
biaya produksi yang tidak termasuk dalam bahan langsung dan
tenaga kerja langsung. Biaya overhead pabrik termasuk bahan
tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung, pemeliharaan dan
perbaikan peralatan produksi, listrik dan penerangan, pajak
properti, depresiasi, dan asuransi fasilitas-fasilitas produksi.
Menurut Bastian dan Nurlela (2009:219), overhead pabrik adalah
bahan baku tidak langsung dan tenaga kerja tidak langsung
lainnya yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke produk
selesai atau tujuan akhir biaya. Istilah lain yang digunakan untuk
overhead pabrik adalah biaya produksi tidak langsung.
b. Biaya Non Produksi (Non-manufacturing)
Umumnya, dibagi menjadi dua yaitu biaya pemasaran dan biaya
administrasi. Biaya pemasaran meliputi semua biaya yang diperlukan
untuk menangani pesanan konsumen dan memperoleh produk atau
jasa untuk disampaikan kepada konsumen. Contoh biaya pemasaran
adalah pengiklanan, pengiriman, komisi penjualan, dan lainnya.
Biaya administrasi meliputi pengeluaran eksekutif, organisasional,
dan klirekal yang berkaitan dengan manajemen umum organisasi.
Contoh dari biaya administrasi adalah gaji eksekutif, akuntansi
umum, kesekretariatan, humas dan lainnya. Secara singkat ringkasan
terminologi biaya dapat dilihat pada gambar 2.1
Biaya Produksi
Bahan Langsung
Tenaga Kerja Langsung
Biaya Utama
Overhead
Biaya Konversi
Biaya Non Produksi
Biaya Pemasaran
atau Penjualan
Biaya Administrasi
Sumber: Garrison dan Noreen (2006:52)
Gambar 2.1
Ringkasan Terminologi Biaya
a. Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara proporsional
dengan perubahan aktivitas. Aktivitas tersebut dapat diwujudkan
dengan berbagai bentuk seperti unit yang diproduksi, yang dijual,
jarak kilometer yang dituju, jumlah tempat tidur yang digunakan,
jam
kerja,
dan
sebagainya.
Contoh
yang
bagus
untuk
menggambarkan biaya variabel adalah biaya bahan langsung.
Biaya bahan langsung yang digunakan selama satu periode akan
bervariasi sesuai dengan tingkat unit yang dihasilkan. Salah satu
aspek yang menarik dalam biaya variabel adalah bahwa biaya
variabel selalu konstan apabila dinyatakan dalam harga per unit.
Menurut Bastian dan Nurlela (2009:23), biaya variabel adalah
biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi
dalam rentang relevan tetapi secara per unit tetap.
b. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang selalu tetap secara keseluruhan tanpa
terpengaruh oleh tingkat aktivitas. Menurut Bastian dan Nurlela
(2009:25), biaya tetap adalah biaya yang secara totalitas bersifat
tetap dalam rentang relevan tertentu, tetapi secara per unit berubah.
Contoh biaya tetap adalah beban penyusutan, asuransi, pajak
properti, sewa, gaji supervisor dan sebagainya.
c. Biaya Langsung
Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang dapat dengan
mudah ditelusuri ke objek biaya yang bersangkutan.
d. Biaya Tidak Langsung
Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang tidak dapat
ditelusuri dengan mudah ke objek biaya yang bersangkutan. Untuk
dapat ditelusuri ke objek biaya seperti produk tertentu, biaya
tersebut pasti disebabkan oleh objek biaya. Common cost adalah
biaya yang bersama-sama dinikmati oleh sejumlah objek biaya.
e. Biaya Diferensiasi
Biaya diferensiasi (differential cost) adalah keputusan melibatkan
proses pemilihan dari berbagai alternatif yang ada. Dalam
keputusan bisnis, setiap alternatif memiliki konsekuensi biaya dan
manfaat yang harus dibandingkan dengan biaya dan manfaat akan
diperoleh dari alternatif lain yang tersedia. Biaya diferensial
disebut juga biaya marginal atau biaya inkremental.
f. Opportunity Cost
Biaya kesempatan atau biaya peluang (opportunity cost) adalah
manfaat potensial yang akan hilang bila salah satu alternatif telah
dipilih dari sejumlah alternatif yang tersedia. Biaya kesemapatan
tidak selalu dicatat dalam akuntansi organisasi, tetapi merupakan
biaya yang harus selalu dipertimbangkan dalam setiap pengambilan
keputusan.
g. Sunk Cost
Biaya tertanam (sunk cost) adalah biaya yang telah terjadi dan
tidak dapat diubah oleh keputusan apapun yang dibuat saat ini atau
pun masa yang akan datang. Karena biaya tertanam tidak dapat
diubah oleh keputusan apapun, biaya tertanam bukanlah biaya
diferensial. Oleh karenanya biaya diferensial dapat diabaikan
dalam pengambilan keputusan.
2. Jenis-jenis Metode Dalam Akuntansi Biaya
Metode dalam akuntansi biaya menurut Carter and Usry (2006:127-495)
terbagi menjadi enam jenis, yaitu perhitungan biaya berdasarkan pesanan
(job order costing); perhitungan biaya berdasarkan proses (process
costing); perhitungan biaya untuk produk sampingan (by product) dan
produk gabungan (joint product); biaya mutu (the cost of quality); just in
time dan backflushing; perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity
based costing) dan manajemen berdasarkan aktivitas (activity based
management)
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Perhitungan Biaya Berdasarkan Pesanan (Job Order Costing)
Sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan adalah sistem
perhitungan biaya produk yang mengakumulasikan biaya-biaya dan
membebankannya pada pesanan tertentu. Suatu pesanan adalah output
yang diidentifikasikan untuk memenuhi pesanan pelanggan tertentu
atau untuk mengisi kembali suatu item dari persediaan. Untuk
menghitung biaya berdasarkan pesanan secara efektif, pesanan harus
dapat diidentifikasikan secara terpisah. Rincian mengenai suatu
pesanan dicatat dalam kartu biaya pesanan yang dapat berbentuk kertas
atau elektronik (Carter and Usry, 2006:139). Sistem perhitungan biaya
berdasarkan pesanan sering kali digunakan oleh perusahaan menengah
hingga kecil yang memproduksi pesanan tersendiri dari pelanggan
(Blocher, 2006:152).
b. Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses (Process Costing)
Sistem perhitungan biaya berdasarkan proses biasanya digunakan
untuk industri yang memproduksi produk yang homogen secara terus
menerus. Semua produk yang diproduksi dalam suatu pusat biaya
selama suatu periode harus sama dalam hal sumber daya yang
dikonsumsi. Bila tidak, perhitungan biaya berdasarkan proses dapat
terdistorsi (Carter and Usry, 2006:155).
c. Perhitungan Biaya untuk Produk Sampingan (By Product) dan Produk
Gabungan (Joint Product)
Sistem perhitungan biaya untuk produk sampingan dan produk
gabungan sulit dihitung biayanya karena biaya gabungan yang
sesungguhnya tidak dapat dibagi sehingga metode alokasi yang
digunakan untuk menetukan biaya per unit dari produk gabungan
bersifat sedikit arbitrer. Perhitungan biaya produk sampingan dan
produk gabungan menyoroti masalah pembebanan biaya ke produk
yang asal, penggunaan peralatan, bahan baku, tenaga kerja, dan
fasilitas lainnya tidak dapat benar-benar ditentukan (Carter and Usry,
2006:247).
d. Biaya Mutu (The Cost Of Quality)
Manajemen mutu total (Total Quality Management-TQM) adalah
pendekatan tingkat perusahaan atas perbaikan mutu yang mencari cara
untuk memperbaiki mutu di semua proses dan akitivitas. Biaya mutu
terbagi menjadi 3 yaitu; biaya pencegahan, biaya penilaian, dan biaya
kegagalan. Pendekatan yang paling baik untuk perbaikan mutu adalah
untuk berkonsentrasi pada pencegahan yaitu mencari penyebabpenyebab dari pemborosan dan inefisiensi, kemudian mengembangkan
rencana sistematis untuk menghilangkan penyebab-penyebab tersebut
(Carter and Usry, 2006:199-201).
e. Just In Time dan Backflushing
Just in time (JIT) adalah perhitungan biaya yang dipusatkan pada
pengurangan biaya melalui eliminasi persediaan. Prinsip-prinsip JIT
dapat diterapkan dalam memperbaiki pemeliharaan rutin, seperti lokasi
dan pengaturan alat-alat, barang cetakan, dan perlengkapan yang
digunakan bersama-sama dengan mesin produksi. Aspek yang paling
terlihat dari JIT adalah untuk mengurangi persediaan barang dalam
proses (work in process) (Carter and Usry, 2006:321).
f. Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas (Activity Based Costing) dan
Manajemen Berdasarkan Aktivitas (Activity Based Management)
Menurut
Carter
and
William
(2009:528)
perhitungan
biaya
berdasarkan aktivitas didefinisikan sebagai suatu sistem perhitungan
biaya di mana tempat penampungan biaya overhead yang jumlahnya
lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang mencakup satu
atau lebih faktor yang berkaitan dengan volume. Dibandingkan dengan
akuntansi
biaya
tradisional,
Activity
Based
Costing
(ABC)
mencerminkan penerapan penelusuran biaya yang lebih menyeluruh.
Activity Based Manajemen (ABM) adalah penggunaan infoormasi
yang diperoleh dari ABC untuk membuat perbaikan dalam suatu
perusahaan. ABM menarik ABC sebagai sumber utama, informasinya
berfokus pada efisiensi, efektifitas, proses, dan aktivitas bisnis utama.
Manajemen dapat menentukan wilayah untuk melakukan perbaikan,
operasi, mengurangi biaya, atau meningkatkan nilai bagi pelanggan
dengan menggunakan ABM. Serta ABM dapat memperbaiki fokus
manajemen atas faktor-faktor kunci keberhasilan (critical success
factors-CSF) dengan mengidentifikasi sumber daya yang dipakai
pelanggan, produk, dan aktivitas (Blocher, 2006:239).
Berdasarkan keenam jenis metode dalam akuntansi biaya di atas dapat
disimpulkan bahwa secara keseluruhan akuntansi biaya itu pada dasarnya
sama yaitu menganalisis berbagai unsur biaya, serta melakukan
perencanaan dan pengendalian terhadap kualitas produk guna mencapai
keunggulan kompetitif.
B. Pengertian Traditional Costing Method
Semua perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur maupun jasa
memerlukan suatu sistem akuntansi biaya yang tepat dan sesuai dengan
kondisi perusahaan. Sistem tersebut dirancang untuk memberikan informasi
biaya kepada manajemen yang berguna bagi pembuatan perencanaan,
keputusan, dan pengendalian biaya serta perhitungan biaya produksi.
Sistem biaya tradisional menurut Bastian dan Nurlela (2009:23) adalah di
mana biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead
pabrik baik yang bersifat variabel maupun tetap, menjadi biaya produk. Sistem
biaya tradisional mengasumsikan produk-produk dan volume produksi yang
terkait merupakan penyebab timbulnya biaya, dengan kata lain sistem biaya
tradisional membuat produk individual menjadi fokus dari sistem biaya.
Sistem akuntansi biaya tradisional mengklasifikasikan biaya atas biaya
langsung dan biaya tidak langsung, untuk pembebanan biaya menggunakan
ukuran volume produksi, jam kerja langsung atau jam mesin. Sedangkan
pengalokasian biaya overhead pabrik ke produk, dilakukan sistem
pembebanan dua tahap. Dengan sistem pembebanan biaya yang selama ini
dilakukan pada akuntansi biaya tradisional menimbulkan adanya distorsi
biaya, ini terlihat pada penggunaan unit related, padahal pada kenyataannya
ada aktivitas yang dikendalikan oleh batch related dan products sustaining
related. Penyebab distrorsi lainnya adalah adanya perbedaan rasio konsumsi
atau jasa yang diberikan oleh departemen jasa untuk setiap macam produk
yang dihasilkan. Akibatnya akan timbul produk-produk yang pengalokasian
biaya overheadnya undercosted atau overcosted. Distorsi semacam ini dapat
dihilangkan dengan mendesain ulang sistem biaya menggunakan pemicu biaya
aktual untuk masing-masing aktivitas, sehingga dapat menentukan biaya
dengan tepat ke produk. Inilah logika yang mendasari perubahan
pengembangan dari metode tradisional ke metode activity based costing.
Menurut Carter and Usry (2006:109) sistem perhitungan harga pokok
dalam sistem akuntansi biaya tradisional dibagi menjadi dua yaitu, sistem
perhitungan berdasarkan pesanan (job order cost system) sistem perhitungan
berdasarkan proses (process cost system).
1. Sistem perhitungan berdasarkan pesanan
Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan, biaya ditelusuri dan
dialokasikan ke pekerjaan dan biaya untuk menyelesaikan pekerjaan
tersebut dibagi dengan jumlah unit yang dihasilkan untuk menghasilkan
harga rata-rata per unit. Sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan
juga digunakan secara luas dalam perusahaan jasa seperti rumah sakit,
kantor konsultan hukum, studio film, kantor akuntan, agen iklan, toko
reparasi. Menggunakan sistem pengumpulan biaya dengan perhitungan
biaya berdasarkan pesanan untuk keperluan akuntansi dan tagihan.
2. Sistem perhitungan biaya berdasarkan proses
Sistem perhitungan biaya berdasarkan proses biasanya digunakan untuk
industri yang memproduksi produk yang homogen secara terus-menerus
seperti batu bata, keping jagung (corn flake), atau kertas.
Persamaan antara perhitungan biaya berdasarkan pesanan dan perhitungan
biaya berdasarkan proses menurut Garrison and Noreen (2006:204) adalah
sebagai berikut:
1. Kedua sistem memiliki tujuan utama yang sama, yaitu membebankan
biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead ke produk dan memberikan
mekanisme perhitungan biaya per unit.
2. Kedua sistem menggunakan manufaktur yang sama termasuk overhead
pabrik, bahan baku, bahan dalam proses, dan barang jadi.
3. Aliran biaya melalui akun-akun manufaktur pada dasarnya sama untuk
kedua sistem itu.
Adapun perbedaan antara perhitungan biaya berdasarkan pesanan dan
perhitungan biaya berdasarkan proses menurut Garisson and Noreen
(2006:205) dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1
Perbedaan Antara Perhitungan Biaya Berdasarkan Pesanan dan
Perhitungan Biaya Berdasarkan Proses
Perhitungan biaya berdasarkan Perhitungan biaya berdasarkan
pesanan
proses
1. Pekerjaan yang berbeda dikerjakan 1.Seluruh unit produk identik dan
pada periode yang berbeda, dan
diproduksi secara kontinyu.
memiliki pesanan produksi yang
berbeda pula.
2. Biaya dihitung secara individual 2.Biaya dihitung per departemen.
untuk masing-masing pekerjaan.
3. Kartu biaya merupakan dokumen 3.Laporan departemen produksi
pengendali biaya berdasarkan
merupakan dokumen penting
pekerjaan.
yang menunjukkan akumulasi
4. Biaya
per
unit
dihitung
biaya per departemen.
berdasarkan pekerjaan.
4.Biaya per unit dihitung per
departemen.
Sumber: Garrison dan Noreen, 2006:205
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntansi
biaya tradisional adalah pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan
penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa dengan cara-cara
tertentu serta penafsiran-penafsiran terhadapnya atas nilai persediaan yang
dilaporkan dalam laporan laba rugi. Dalam perhitungan sistem tradisional
memfokuskan pengendaliannya terhadap biaya dengan manajer yang
mempunyai wewenang atas terjadinya biaya yang menyebabkan banyak biaya
overhead pabrik yang tidak berhubungan dengan volume produk yang
diproduksi. Akibatnya, sistem akuntansi biaya tradisional dapat menghasilkan
perhitungan yang terdistorsi.
Sistem akuntansi biaya tradisional merupakan struktur dasar di dalam
sistem akuntansi biaya yang menunjukkan kebutuhan untuk menentukan biaya
per unit produk pada sebuah laporan eksternal yang syarat-syaratnya
diterapkan oleh perusahaan atau peraturan pajak pemerintah. Semua biaya
yang dikonsumsikan oleh produk sangat berhubungan di dalam menentukan
laporan keuangan sebagai dasar penetapan pendapatan perusahaan. Penekanan
biaya pada masing-masing produk dalam sistem tradisional ini didasarkan
pada ukuran jam tenaga kerja langsung, jam kerja mesin, jumlah unit produk
yang diproduksi dan pengukuran yang berhubungan dengan unit produksi.
Sistem perhitungan tradisional memfokuskan pengendaliannya terhadap
biaya dengan cara menghubung biaya dengan manajer yang memnpunyai
wewenang atas terjadinya biaya. Pada kenyataanya sekarang banyak biaya
overhead pabrik yang tidak berhubungan dengan volume produk yang
diproduksi akibatnya sistem akuntansi biaya tradisional menghasilkan biaya
yang terdistorsi.
Alokasi biaya overhead dapat dilakukan dengan memilih basis alokasi
yang umumnya digunakan untuk perusahaan manufaktur maupun jasa. Basis
alokasi (allocation base) adalah suatu ukuran seperti jam tenaga kerja
langsung
atau jam mesin yang digunakan untuk membebankan biaya
overhead ke produk atau jasa. Basis alokasi yang umumnya digunakan adalah
jam kerja langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Selain itu jam mesin
ataupun unit produk (untuk perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis
produk) biasanya juga dapat digunakan untuk mengalokasikan biaya
overhead.
Menurut Mulyadi (2005:200), ada beberapa dasar yang digunakan untuk
membebankan biaya overhead pabrik, yaitu unit produksi; biaya bahan
langsung; biaya pekerja langsung; jam kerja langsung; dan jam pemakaian
mesin.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Unit Produksi
Tarif overhead pabrik berdasarkan unit produksi dihitung sebagai berikut:
Estimasi overhead pabrik
= Overhead pabrik per unit
Estimasi unit produksi
2. Biaya Bahan Langsung
Tarif overhead pabrik berdasarkan biaya bahan langsung dihitung sebagai
berikut:
Estimasi overhead pabrik
Estimasi biaya bahan langsung
= Persentase dari overhead per biaya
bahan langsung
3. Biaya pekerja langsung
Tarif overhead pabrik berdasarkan biaya pekerja langsung dihitung
sebagai berikut:
Estimasi overhead pabrik
= Persentase biaya pekerja langsung
Estimasi biaya pekerja langsung
4. Jam kerja langsung
Tarif overhead pabrik berdasarkan biaya jam kerja langsung dihitung
sebagai berikut:
Estimasi overhead pabrik
= Tarif per jam langsung
Estimasi jam kerja langsung
5. Jam pemakaian mesin
Tarif overhead pabrik berdasarkan biaya jam pemakaian mesin dihitung
sebagai berikut:
Estimasi overhead pabrik
= Tarif per jam pemakaian mesin
Estimasi jam pemakaian mesin
Apabila dianalsisa dari konsep yang dijelaskan oleh Mulyadi di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa overhead pabrik harus dimasukkan bersama-sama
dengan biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung karena overhead
juga termasuk biaya produk.
C. Kelebihan dan Kelemahan Traditional Costing Method
Kelebihan perhitungan biaya tradisional menurut Horngern (2005:42)
adalah:
1. Sistem perhitungan biaya tradisional mudah diterapkan karena sistem ini
lebih sederhana maka lebih mudah dimengerti oleh pekerja sehingga
mudah diterapkan.
2. Memberikan laporan manajemen dengan menunjukan biaya yang
dikeluarkan.
3. Sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Kelemahan sistem biaya tradisional menurut Carter dan Usry (2006:513515) adalah sebagai berikut:
1. Oleh karena sistem akuntansi biaya tradisional didesain untuk perusahaan
manufaktur, perusahaan jasa dan dagang tidak dapat memanfaatkan
akuntansi biaya untuk merencanakan dan mengimplementasikan program
pengurangan biaya dan perhitungan object cost secara akurat.
2. Oleh karena fokus biaya tradisional adalah hanya pada biaya produksi,
biaya-biaya di luar produksi (seperti biaya pemasaran, biaya administrasi
dan umum) yang mulai signifikan jumlahnya tidak mendapatkan perhatian
yang memadai dari manajemen.
3. Oleh karena akuntansi biaya tardisional pada penyediaan informasi biaya
bagi pihak luar perusahaan, manajemen tidak memperoleh informasi biaya
untuk pengelolaan perusahaan dan informasi tentang biaya produk yang
akurat.
4. Oleh karena pengendalian biaya melalui sistem biaya standar hanya
difokuskan terhadap biaya produksi, lebih spesifik lagi terhadap biaya
bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung, sistem pengendalian biaya
seperti tidak baik untuk perusahaan yang memiliki biaya bahan baku dan
biaya tenaga kerja langsung yang proporsinya tidak signifikan
dibandingkan dengan total biaya pembuatan produk.
5. Pengaitan biaya dengan responsive manager dan pembandingan biaya
sesungguhnya dengan biaya yang dianggarkan per pusat pertanggung
jawaban, serta analisis terhadap penyimpangan biaya yang terjadi tidak
dapat menunjukkan penyebab terjadinya penyimpangan biaya yang terjadi.
6. Akuntansi biaya tradisional menggunakan allocation intensive dalam
memperlakukan overhead pabrik sehingga cost produk yang dihasilkan
tidak akurat, karena alokasi menggunakan dasar yang sembarang.
7. Dalam lingkungan bisnis di dalamnya customer dominan, biaya-biaya
yang menjadi pilihan customer menjadi meningkat, seperti biaya set up
mesin karena semakin pemilihnya sifat customer.
Kelemahan traditional costing method menurut Garrison and Noreen
(2006:442-443):
1. Untuk
biaya
nonproduksi,
akuntansi
biaya
tradisional
hanya
membebankan ke produk. Beban penjualan, umum dan administrasi
diperlakukan sebagai beban periodik dan tidak dibebankan ke produk.
2. Untuk biaya produksi dan perhitungan biaya berdasarkan proses, akuntansi
tradisional membebankan semua biaya produksi ke produk, bahkan biaya
produksi yang tidak disebabkan oleh produk. Sebagai contoh, sebagian
upah untuk keamanan pabrik akan dialokasikan ke produk meskipun upah
penjaga keamanan tersebut sama sekali tidak terpengaruh apakah
perusahaan berproduksi atau tidak.
3. Untuk biaya kapasitas tak terpakai, akuntansi biaya tradisional menghitung
tarif overhead yang ditentukan di muka dihitung dengan membagi
anggaran biaya overhead dengan ukuran aktivitas yang dianggarkan
seperti jam kerja langsung.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
tradisional costing method memang lebih mudah diterapkan dan sesuai
dengan pronsip akuntansi yang berlaku umum, namun akuntansi tradisional
membebankan semua biaya produksi ke produk, bahkan biaya produksi yang
tidak disebabkan oleh produk yang pada akhirnya menyebabkan terdistorsinya
biaya.
D. Pengertian Sistem Activity Based Costing
Istilah activity costing bukanlah istilah yang baru. Staubus di tahun 1971
telah menulis buku berjudul ”Activity Cost and Input Output Accounting”.
Dalam bukunya tersebut Ia menyatakan bahwa ”activity accounting is
essential to cost control” (Staubus, 1971:11) dalam Basuki (2001:180).
Bahkan Vater (1954) yang juga dikutip oleh Staubus (1971:11) dalam Basuki
(2001:180), menyatakan ”cost must be related to things being done, and this
largely a matter of setting against decisions” (huruf tebal dari penulis,
Basuki). Berdasarkan situasi tersebut sebetulnya jauh di tahun 1954, Vater
sudah berusaha mengkaitkan antara biaya dengan sesuatu aktivitas yang
dilakukan. Kemudian pada tahun 1987, penetapan biaya berdasarkan aktivitas
didefinisikan dengan jelas pertama kali oleh Robert S. Kaplan dan W. Burns
dalam buku mereka akuntansi dan manajemen ”A field Study Perspective”
dalam Basuki (2001:180). Fokus mereka adalah pada lingkungan manufaktur
di mana peningkatan teknologi dan perbaikan produktivitas relatif telah
mengurangi proporsi biaya tenaga kerja langsung dan bahan, tetapi relatif
meningkatkan proporsi biaya tidak langsung. Sebagai contoh, peningkatan
otomasi telah mengurangi penggunaan tenaga kerja yang merupakan biaya
langsung, namun juga meningkatkan depresiasi yang merupakan biaya tidak
langsung.
Dalam sejarah perkembangan pemikiran akuntansi, sistem ABC
merupakan sistem tercepat yang diterapkan oleh para praktisi sejak ide sistem
tersebut dikemukakan pada akhir tahun 1989 oleh Robert S. Kaplan dan Robin
Cooper. Survey terhadap 179 perusahaan di Inggris oleh Nicholls yang
dilakukan pada Mei 1990-Januari 1991 menunjukan bahwa 10% telah
menerapkan ABC secara utuh, 18% telah menerapkan sebagai pilot project,
62% mempelajari ABC dalam rangka penerapannya, 5% sedang menerapkan,
dan 5% sisanya tidak berminat menerapkannya (Nicholls, 1992:22) dalam
Basuki (2001:180). Survey ini memperkuat penelitian oleh Bailey (1991) yang
menyatakan bahwa sejak November 1988-Juli 1990 sudah 10 perusahaan
besar di Inggris menerapkan sistem ABC, walaupun beberapa di antaranya
adalah perusahaan Amerika Serikat, seperti IBM dan Hewlett-Packard
(Basuki, 2001:180).
Kondisi saat dan tempat lahirnya sistem activity based costing
mengakibatkan sistem tersebut hanya akan memberikan manfaat optimum bila
diterapkan pada kondisinya. Kondisi ini disebut dengan ”conventional
wisdom” yaitu keadaan yang menyebabkan lahirnya ABC dan merupakan
keadaan yang paling cocok untuk ABC diterapkan (Basuki, 2001:182). The
conventional wisdom tersebut adalah sebagai berikut:
1. Operasi perusahaan mempunyai upah langsung antara 5-10% dari total
biaya produksi.
2. Tenaga kerja langsung rendah, variasi dan kompleksitas produk tinggi.
3. Diversitas volume produksi tinggi, dan terdapat diversitas ukuran bahan
dan set up.
4. Biaya overhead sangat tinggi karena adanya otomatisasi dan proses
produksi yang dipandu komputer (computer-aided production).
Berbeda dengan kondisi conventional wisdom, perusahaan di Indonesia
mempunyai kondisi yang berbeda dengan yang disyaratkan ABC. Kondisi
yang akan sering ditemukan di banyak perusahaan di Indonesia adalah tenaga
kerja langsung tinggi, overhead rendah sampai menengah, dan penggunaan
komputer teknologi dalam proses belum banyak digunakan. Walaupun
terdapat perbedaan situasi antara kondisi perusahaan di Indonesia dengan
conventional wisdom, penerapan sistem ABC di Indonesia diharapkan mampu
memberikan informasi biaya yang lebih akurat, dapat dipercaya, dan lebih
relevan sehingga mampu memberikan informasi biaya bagi manajemen untuk
pengambilan keputusan. Perlu diingat, bahwa sistem ABC bukan hanya
sekedar sistem biaya, melainkan juga sistem manajemen. Indonesia adalah
negara yang mempunyai banyak sumber daya manusia dan industrinya sedang
bergerak ke arah teknologi tinggi. Oleh karena itu, akan sangat beruntung bagi
Indonesia bila dapat menikmati keunggulan sistem ABC yang sudah dinikmati
negara-negara maju, sehingga Indonesia akan dapat bersaing dengan mereka,
atau paling tidak untuk survive dalam pasar global. Inilah alasan mengapa
peneliti memilih sistem activity based costing untuk penelitiannya.
Menurut Bastian dan Nurlela (2009:24) activity based costing adalah
metode
membebankan
biaya
aktivitas-aktivitas
berdasarkan
besarnya
pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada objek biaya, seperti
produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya pemakaian aktivitas, serta untuk
mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas yang terkait dengan proses dan
objek biaya.
Menurut Carter dan William (2009:528) perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas didefinisikan sebagai suatu sistem perhitungan biaya di mana tempat
penampungan biaya overhead yang jumlahnya lebih dari satu dialokasikan
menggunakan dasar yang mencakup satu atau lebih faktor yang berkaitan
dengan volume. Dibandingkan dengan akuntansi biaya tradisional, activity
based costing mencerminkan penerapan penelusuran biaya yang lebih
menyeluruh.
Menurut Amin Widjaja (2009:80) perhitungan biaya berdasar aktivitas
adalah pendekatan perhitungan biaya yang membebankan biaya sumber daya
ke objek biaya seperti produk, jasa, atau pelanggan berdasarkan aktivitas yang
dilakukan untuk objek biaya tersebut. Dasar pemikiran pendekatan
perhitungan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa perusahaan merupakan
hasil dari aktivitas dan aktivitas tersebut menggunakan sumber daya yang
menyebabkan timbulnya biaya. Biaya dari sumber daya dibebankan ke
aktivitas berdasarkan aktivitas yang menggunakan sumber daya (penggerak
konsumsi sumber daya) dan biaya dari aktivitas dibebankan ke objek biaya
berdasarkan aktivitas yang dilakukan untuk objek biaya (penggerak konsumsi
aktivitas). Activity based costing membebankan biaya overhead pabrik ke
objek biaya seperti produk atau jasa dengan mengidentifikasi sumber daya dan
aktivitas juga biayanya serta jumlah yang dibutuhkan untuk memproduksi
output. Penggunaan penggerak biaya konsumsi sumber daya dapat membantu
perusahaan menentukan biaya sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas
dan menghitung biaya dari suatu unit aktivitas. Kemudian perusahaan
membebankan biaya dari suatu aktivitas ke produk atau jasa dengan
mengalikan biaya dari setiap aktivitas dengan junlah aktivitas yang
dikonsumsi oleh setiap objek biaya.
Menurut Garrison and Noreen (2006:440) perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas (activity based costing) adalah metode perhitungan biaya (costing)
yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk
keputusan strategis dan keputusan lainnya yang mungkin akan mempengaruhi
kapasitas dan juga biaya tetap. Dari keempat definisi di atas, dapat
disimpulkan yang dimaksud dengan activity based costing adalah suatu sistem
perhitungan biaya dengan penjumlahan seluruh biaya yang dari hasil
memproduksi barang dan jasa yang jumlahnya lebih dari satu biaya overhead
untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer dalam pengambilan
keputusan. Tujuan dari sistem perhitungan biaya tradisional adalah untuk
menilai secara tepat persediaan dan harga pokok penjualan untuk pelaporan
eksternal, sedangkan tujuan dari perhitungan biaya berdasarkan aktivitas
adalah untuk memahami overhead dan profitabilitas produk dan konsumen.
Menurut Bastian dan Nurlela (2009:25) komponen utama yang
membentuk activity based costing adalah sumber daya (resources); pemicu
konsumsi sumber daya (resources driver); aktivitas (activity); pemicu aktivitas
(activity driver); objek biaya (cost objects).
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Sumber daya (resources), adalah segala unit ekonomi yang digunakan
perusahaan untuk mengadakan aktivitas, seperti: bahan baku, tenaga kerja,
perlengkapan yang digunakan dan faktor produksi lainnya.
2. Pemicu konsumsi sumber daya (resources driver), dasar yang digunakan
untuk melacak sumber daya yang digunakan di dalam setiap aktivitas.
Atau ukuran kuantitas dari sumber daya yang dikonsumsi oleh suatu
aktivitas, contoh luas ruangan yang disewa untuk setiap aktivitas, jumlah
jam kerja yang dihabiskan untuk setiap aktivitas.
3. Aktivitas (activity), suatu unit dasar pekerjaan yang dilakukan oleh
perusahaan dengan tujuan membantu perencanaan, pengendalian, dan
pengambilan keputusan bagi manajemen. Jumlah biaya aktivitas
ditentukan dengan melacak sumber daya yang dipakai oleh aktivitas
dengan pemicu konsumsi sumber daya. Aktivitas sangat dibutuhkan untuk
membebankan biaya ke objek biaya, dikenal dengan aktivitas biaya yang
dihubungkan dengan faktor pemicu biaya (cost driver).
4. Pemicu aktivitas (activity driver), suatu ukuran frekuensi dan intensitas
dari permintaan akan suatu aktivitas oleh suatu produk atau jasa layanan.
Pemicu aktivitas ini sama seperti pemicu sumber daya guna melacak biaya
aktivitas ke objek biaya, yang dipakai untuk membebankan biaya ke
produk atau jasa layanan.
5. Objek biaya (cost objects), adalah tempat biaya di mana biaya atau
aktivitas diakumulasikan atau diukur. Objek biaya dapat berupa
pelanggan, produk, jasa layanan, kontrak, proyek, atau unit kerja lain yang
memerlukan pengukuran biaya tersendiri.
Ada beberapa tahapan penerapan activity based costing menurut Bastian
dan Nurlela (2009:26), yaitu:
1. Mengidentifikasi, mendefinisikan aktivitas dan pool aktivitas.
a. Aktivitas tingkat unit.
b. Aktivitas tingkat batch.
c. Aktivitas tingkat produk.
d. Aktivitas tingkat pelanggan.
e. Aktivitas pemeliharaan organisasi.
2. Menelusuri biaya overhead secara langsung ke aktivitas dan objek biaya.
3. Membebankan biaya ke pool biaya aktivitas.
4. Menghitung tarif aktivitas.
5. Membebankan biaya ke objek biaya dengan menggunakan tarif aktivitas
dan ukuran aktivitas.
6. Menyiapkan laporan untuk manajemen.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi, mendefinisikan aktivitas dan pool aktivitas.
Tahapan utama dan pertama dalam menerapkan activity based costing
(ABC) adalah mengidentifikasi aktivitas yang menjadi dasar sistem
tersebut. Tahapan ini mungkin sulit dilakukan, karena memakan waktu dan
membutuhkan pertimbangan yang cukup rumit. Prosedur umum yang
dilakukan pada tahap ini, dengan melakukan wawancara terhadap semua
orang yang terlibat atau semua tingkat supervisi atau semua manajer yang
menimbulkan overhead dan meminta mereka untuk menggambarkan
aktivitas utama yang mereka lakukan, biasanya akan diperoleh catatan
aktivitas yang cukup beragam dan rumit. Adapun aktivitas yang cukup
beragam tersebut, dapat digabungkan menjadi lima tingkat aktivitas, yaitu
aktivitas tingkat unit; batch; produk; pelanggan; dan pemeliharaan
organisasi. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Aktivitas tingkat unit.
Dilakukan oleh setiap unit produksi. Biaya aktivitas unit bersifat
proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi. Contoh: biaya
pekerja untuk operator peralatan produksi, ini menjadi aktivitas tingkat
unit,
karena
pekerja
tersebut
cenderung
dikonsumsi
secara
proporsional dengan jumlah unit produksi.
b. Aktivitas tingkat batch.
Dilakukan setiap batch yang diproses, tanpa memperhatikan berapa
unit yang terdapat dalam batch tersebut. Contoh: membuat pesanan
pelanggan, penataan peralatan, pengaturan pengiriman pesanan
pelanggan, ini merupakan aktivitas tingkat batch. Biaya tingkat batch
lebih tergantung pada jumlah batch yang dihasilkan, bukan jumlah unit
yang diproduksi, jumlah unit yang dijual atau ukuran lainnya.
c. Aktivitas tingkat produk.
Aktivitas ini berkaitan dengan produk yang spesifik dan umumnya
dikerjakan tanpa memperhatikan berapapun unit yang diproduksi atau
berapapun batch yang dihasilkan atau dijual. Contoh: biaya
perancangan produk, biaya untuk mengiklan produk, biaya gaji staf
dan manajer produksi.
d. Aktivitas tingkat pelanggan.
Aktivitas ini berkaitan dengan pelanggan yang spesifik meliputi
aktivitas menelepon pelanggan dalam rangka penjualan, pengiriman
katalog, dukungan teknis purna jual yang untuk semua produk
e. Aktivitas pemeliharaan organisasi.
Aktivitas ini dilakukan tanpa memperhatikan produk apa yang
diproduksi, berapa unit yang dibuat, berapa batch yang dihasilkan dan
pelanggan mana yang dilayani. Contoh: aktivitas kebersihan kantor,
pengadaan jaringan komputer, pengaturan pinjaman dan penyusunan
laporan keuangan untuk internal maupun eksternal.
Penggabungan aktivitas dalam sistem ABC, setiap aktivitas harus
dikelompokkan dalam tingkatan yang sesuai, dengan memperhatikan
aktivitas-aktivitas yang mempunyai korelasi yang tinggi dalam satu
tingkat. Contoh: jumlah pesanan pelanggan yang diterima akan memiliki
korelasi yang tinggi dengan jumlah pengiriman berdasarkan pesanan
pelanggan, sehingga kedua aktivitas tingkat batch ini dapat digabung,
tanpa mengurangi keakuratannya. Gabungan dari biaya overhead yang
berhubungan dengan aktivitas yang sama dikenal dengan cost pool, yang
akan digunakan untuk menghitung tarif pembebanan ke setiap aktivitas.
2. Menelusuri biaya overhead secara langsung ke aktivitas dan objek biaya.
Tahap kedua dalam menerapkan sistem ABC adalah sejauh mungkin
menelusuri biaya overhead secara langsung ke objek biaya, yang
menyebabkan timbulnya biaya, kemudian menentukan pemicu biayanya,
seperti produk, pesanan pelanggan, dan pelanggan.
3. Membebankan biaya ke pool biaya aktivitas.
Pada umumnya biaya overhead diklasifikasikan dalam sistem akuntansi
perusahaan berdasarkan departemen atau divisi, di mana biaya tersebut
terjadi. Tetapi pada beberapa kasus ada beberapa atau semua biaya bisa
ditelusuri langsung ke pool biaya aktivitas, seperti: pemrosesan pesanan,
di mana semua departemen pembelian dapat ditelusuri ke aktivitas ini.
Dalam sistem ABC sangat umum overhead terkait dengan beberapa
aktivitas. Untuk kondisi seperti tersebut, biaya departemen dapat dibagi ke
beberapa kelompok atau pool aktivitas dengan menggunakan proses
alokasi tahap pertama, yaitu membebankan overhead ke pool biaya
aktivitas.
4. Menghitung tarif aktivitas.
Tarif aktivitas yang akan digunakan untuk pembebanan biaya overhead ke
produk dihitung, dengan menentukan total aktivitas sesungguhnya yang
diperlukan untuk mmeproduksi bauran produk dan untuk melayani
pelanggan yang saat ini. Kemudian menentukan tarif aktivitas dengan
membagi total biaya pool aktivitas masing-masing aktivitas dengan total
pemicu aktivitas.
Tarif pembebanan / pool rate = total biaya pool aktivitas
Total pemicu aktivitas
5. Membebankan biaya ke objek biaya dengan menggunakan tarif aktivitas
dan ukuran aktivitas.
Langkah berikut dalam penerapan sistem ABC disebut alokasi tahap
kedua, di mana tarif aktivitas digunakan untuk membebankan biaya ke
produk atau pelanggan dengan cara mengalikan tarif pool aktivitas dengan
ukuran aktivitas yang dikonsumsi masing-masing produk atau jasa
layanan.
Pembebanan = pool rate x jumlah aktivitas yang dikonsumsi
6. Menyiapkan laporan untuk manajemen.
Tahap ini adalah tahap laporan yang disusun, dengan menggabungkan
bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan overhead yang ke produk
atau jasa layanan berdasarkan aktivitas.
Activity based costing merupakan suatu sistem perhitungan biaya dengan
penjumlahan seluruh biaya akuntansi yang memproduksi barang dan jasa yang
jumlahnya lebih dari satu biaya overhead untuk menyediakan informasi biaya
bagi manajer dalam pengambilam keputusan. ABC dapat dijadikan salah satu
alternatif referensi oleh pengelola perusahaan untuk dapat mengidentifikasi
berbagai biaya yang terserap pada produk. Sistem ABC berusaha menelusuri
seluruh biaya yang terserap dalam pelaksanaan produksi sampai produk dapat
dipasarkan. Pada intinya sistem ABC menguraikan berbagai biaya yang belum
jelas pengalokasiannya yang dalam hal ini penekanannya pada biaya overhead
yang
biasanya
sangat
sulit
mengidentifikasikannya
dan
dengan
teridentifikasinya seluruh biaya maka diharapkan biaya per produk telah dapat
mencerminkan seluruh biaya yang terserap pada produk tersebut.
E. Kelebihan dan Kelemahan Activity Based Costing
Walaupun activity based costing (ABC) terlihat lebih unggul dari sistem
biaya tradisional, ABC tetap memiliki kelebihan dan kelemahan. Adapun
kelebihan ABC menurut Bastian dan Nurlela (2009:29), yaitu para manajemen
puncak akan setuju menerapkan suatu sistem yang baru di lingkungan
organisasi mereka, jika mereka percaya bahwa mereka akan memproleh
manfaat yang lebih, jika dibandingkan dengan sistem yang lama. Manfaat
yang diperoleh dalam penerapan activity based costing menurut Bastian dan
Nurlela (2009:29) adalah ABC menyajikan pengukuran yang lebih akurat,
dapat memperbaiki pengambilan keputusan, dan memungkinkan manajemen
melakukan perbaikan secara terus menerus. Penjelasannya adalah sebagai
berikut:
1. Activity based costing (ABC) menyajikan pengukuran yang lebih akurat
tentang biaya yang timbul karena dipicu oleh aktivitas, membantu
manajemen untuk menigkatkan nilai produk dan nilai proses dengan
membuat keputusan yang lebi baik tentang desain produk, mengendalikan
biaya secara lebih akurat dan membantu perkembangan proyek-proyek
yang meningkatkan nilai.
2. Memperbaiki kualitas pengambilan keputusan.
Para manajemen puncak yang telah menerapkan activity based costing,
percaya bahwa semakin akurat perhitungan biaya atau jasa layanan yang
digunakan activity based costing, akan mengurangi kemungkinan
kesalahan dalam pengambilan keputusan.
3. Memungkinkan manajemen melakukan perbaikan secara terus menerus.
Banyak perushaan berusaha untuk mengurangi biaya, guna menawarkan
produk atau jasa layanan beraneka akan meningkatkan biaya. Dengan
menggunakan activity based costing, biaya yang dikeluarkan akan terlihat
dengan jelas pada setiap aktivitas di mana biaya yang tidak mempunyai
nilai tambah bagi pelanggan dapat dieliminasi lebih cepat.
Kelebihan activity based costing menurut William dan Carter (2009:545)
adalah sebagai berikut:
1. Activity based costing (ABC) mengharuskan manajer melakukan
perubahan radikal dalam cara berfikir mereka mengenai biaya
2. ABC mengharuskan manajer melakukan perubahan radikal dalam cara
berfikir mereka mengenai biaya. Misal, pada awalnya sulit bagi manajer
untuk memahami bagaimana ABC dapat menunjukan bahwa produk
bervolume tinggi ternyata merugi padahal analisis margin kontribusi
menunjukkan bahwa harga jual melebihi biaya produksi variabel.
3. ABC berusaha untuk menunjukkan konsumsi sumber daya jangka panjang
dari setiap produk, namun tidak memprediksikan berapa banyak
pengeluaran yang akan dipengaruhi oleh keputusan tertentu.
4. ABC menunjukkan seberapa banyak aktivitas tingkat batch dan tingkat
produk yang didedikasikan untuk setiap produk dan bukan seberapa
banyak penghematan yang akan terjadi jika lebih sedikit produk atau batch
diproduksi.
Kelebihan sistem ABC menurut Blocher (2006:232) adalah sebagai
berikut:
1. Pengukuran profitabilitas yang lebih baik.
Activity based costing menyajikan biaya produk yang lebih akurat dan
informatif, mengarahkan pada pengukuran profitabilitas produk yang lebih
akurat dan keputusan strategis yang diinformasikan dengan lebih baik
tentang penetapan harga jual, lini produk, dan segmen pasar.
2. Keputusan dan kendali yang lebih baik.
Activity based costing menyajikan pengukuran yang lebih akurat tentang
biaya yang timbul karena dipicu oleh aktivitas.
3. Informasi yang lebih baik untuk mengendalikan biaya kapasitas.
Activity
based
costing
membantu
manajer
mengendalikan biaya kapasitas yang tidak terpakai.
mengidentifikasi
dan
Berdasarkan beberapa pendapat ahli mengenai kelebihan activity based
costing (ABC), maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang menerapkan
ABC
akan
mampu
memperbaiki
mutu
pengambilan
keputusan,
memungkinkan manajemen melakukan perbaikan terus menerus terhadap
aktivitas untuk mengurangi biaya overhead, serta memberikan kemudahan
dalam penentuan biaya relevan. Pada akhirnya ABC mampu menyediakan
informasi biaya berdasarkan aktivitas untuk memungkinkan manajemen dan
karyawan
melakukan
manajemen
berbasis
aktivitas
(activity
based
management-ABM).
Kelemahan activity based costing (ABC) menurut Bastian dan Nurlela
(2009:30), adalah penerapan ABC yang lebih mahal; sulitnya merubah pola
kebiasaan manajer; mudahnya data ABC disalah artikan; dan bentuk laporan
yang kurang sesuai.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Dibandingkan sistem biaya tradisional yang hanya membebankan biaya
cukup satu pemicu biaya seperti jam kerja langsung, ABC membutuhkan
berbagai ukuran aktivitas yang harus dikumpulkan, diperiksa, dan
dimasukkan dalam sistem, mungkin kurang sebanding dengan tingkat
keakuratan yang didapat yang pada akhirnya mengakibatkan biaya yang
tinggi.
2. Sulitnya merubah pola kebiasaan manajer.
Merubah pola kebiasaan manajer membutuhkan waktu penyesuaian,
karena para manajer sudah terbiasa menggunakan sistem biaya tradisional
dalam operasinya dan juga digunakan sebagai evaluasi kinerja, maka
dengan perubahan pola ini kadangkala mendapat perlawanan dari para
karyawan. Jika hal ini terjadi maka penerapan sistem ABC akan
mengalami kegagalan.
3. Mudahnya data activity based costing disalah artikan.
Dalam praktek, data ABC dengan mudah disalah artikan dan harus
digunakan secara hati-hati, ketika pengambilan keputusan. Biaya yang
dibebankan ke produk, pelanggan dan objek biaya lainnya hanya
dilakukan bilamana secara potensial relevan. Sebelum mengambil
keputusan yang signifikan dengan menggunakan data ABC, para
pengambil keputusan harus dapat mengidentifikasi biaya mana yang betulbetul relevan dengan keputusan saat itu.
4. Bentuk laporan kurang sesuai.
Umumnya laporan yang disusun dengan menggunakan ABC tidak sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum. Konsekuensi
perusahaan yang menerapkan ABC harus menyusun laporan biaya yang
berlainan satu untuk internal dan satu lagi untuk pelaporan eksternal, hal
ini membutuhkan waktu biaya tambahan.
Kelemahan activity based costing menurut Blocher (2006:233), adalah
alokasi; mengabaikan biaya; mahal dan menghabiskan waktu.
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Tidak semua biaya memiliki penggerak biaya konsumsi sumber daya atu
aktivitas yang tepat atau tidak ganda. Beberapa biaya mungkin
membutuhkan alokasi ke departemen atau produk berdasarkan ukuran
volume yang arbitrer sebab secara praktis tidak dapat ditemukan aktivitas
yang dapat menyebabkan biaya tersebut. Contohnya adalah biaya
pendukung fasilitas seperti biaya sistem informasi, gaji manajer pabrik,
asuransi pabrik, dan pajak bumi dan bangunan untuk pabrik.
2. Mengabaikan biaya.
Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi sistem ABC cenderung tidak
mencakup seluruh biaya yang berhubungan dengan produk atau jasa
tersebut. Biaya produk atau jasa biasanya tidak termasuk biaya untuk
aktivitas seperti pemasaran, pengiklanan, penelitian, dan pengembangan,
dan rekayasa produk, meski sebagian dari biaya-biaya ini dapat ditelusuri
ke suatu produk atau jasa. Biaya produk tidak termasuk biaya-biaya ini
karena prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk pelaporan keuangan
mengharuskan biaya-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik.
3. Mahal dan menghabiskan waktu.
Perhitungan biaya berdasar aktivitas tidak murah dan membutuhkan waktu
yang banyak untuk dikembangkan dan dilaksanakan. Untuk perusahaan
dan organisasi yang telah menggunakan system perhitungan biaya
tradisional berdasarkan volume, pelaksanaan suatu sistem baru cenderung
sangat mahal. Lagipula, seperti sebagian besar sistem akuntansi dan
manajemen yang inovatif, biasanya diperlukan waktu setahun atau lebih
untuk mengembangkan dan melaksanakan activity based costing dengan
sukses.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa dalam menerapkan sistem ABC memerlukan biaya yang mahal, oleh
karena
itu
perusahaan
yang
akan
menerapkan
sistem
ini
perlu
mempertimbangkan biaya dan manfaatnya (cost and benefit). Di samping itu
seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa ABC diperlukan oleh perusahaan
yang memiliki diversifikasi produk yang tinggi. Jadi jika menghasilkan
produk tunggal penggunaan ABC ini tidak efisien, karena semua biaya dalam
hubungannya dengan produk merupakan biaya langsung.
F. Perbedaan Traditional Costing Method dengan Activity Based Costing
Terdapat perbedaan mendasar antara traditional costing method dengan
activity based costing menurut Carter & Usry (2006:499) antara lain:
1. Activity based costing (ABC) menggunakan cost driver lebih banyak
dibandingkan traditional costing method yang hanya menggunakan satu
atau dua cost driver berdasarkan unit, sehingga ABC mempunyai tingkat
ketelitian lebih tinggi dalam penentuan harga pokok produk bila
dibandingkan dengan sistem tradisional.
2. ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu untuk menentukan
berapa besar overhead pabrik yang akan dialokasikan pada suatu produk
tertentu. Traditional costing method mengalokasikan biaya overhead
berdasarkan satu atau dua basis alokasi saja.
3. Fokus ABC adalah pada biaya, mutu, dan faktor waktu, sedangkan
traditional costing concept lebih mengutamakan pada kinerja keuangan
jangka pendek, seperti laba. Sistem tradisional dapat mengukurnya dengan
cukup akurat. Tetapi apabila traditional costing method digunakan untuk
penetapan harga pokok dan untuk mengidentifikasikan produk yang
menguntungkan, angka-angkanya tidak dapat dipercaya dan diandalkan.
4. ABC membagi konsumsi overhead dalam 4 (empat) kategori yaitu: unit,
batch, produk, dan fasilitas. Traditional costing method membagi biaya
overhead dalam unit yang lain.
Perbedaan antara perhitungan traditional costing method dengan activity
based costing menurut Amin Widjaja (2009:100) antara lain:
1. Activity based costing mengunakan penggerak biaya berdasarkan aktivitas
(termasuk yang berdasarkan volume maupun yang tidak berdasarkan
volume), sedangkan traditional costing method menggunakan penggerak
biaya berdasarkan volume.
2. ABC membebankan biaya overhead pertama ke pusat biaya aktivitas dan
kedua ke sebelum produk atau jasa, sedangkan traditional costing method
membebankan biaya overhead pertama ke departemen dan kedua ke
produk atau jasa.
3. ABC fokus pada pengelolaan proses dan aktivitas serta pemecahan
masalah lintas fungsional, sedangkan traditional costing method fokus
pada
pengelolaan
biaya
departemen
fungsional
atau
pusat
pertanggungjawaban.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli mengenai perbedaan sistem activity
based costing dengan traditional costing method maka dapat disimpulkan
bahwa ABC memiliki beberapa keunggulan yaitu ABC membagi konsumsi
overhead ke dalam empat kategori yaitu unit, batch, produk, dan fasilitas.
Fokus ABC adalah pada biaya, mutu, dan faktor waktu, sedangkan traditional
costing method lebih mengutamakan pada kinerja keuangan jangka pendek,
seperti laba.
G. Prosedur Pembebanan Biaya Dua Tahap
Pembebanan biaya dua tahap (two stage cost assigment) membebankan
biaya sumber daya seperti biaya overhead pabrik ke pusat biaya aktivitas atau
tempat penampungan biaya dan kemudian ke objek biaya untuk menentukan
jumlah biaya sumber daya bagi setiap objek biaya. Sistem perhitungan biaya
berdasarkan tradisional membebankan biaya overhead pabrik pertama, ke
tempat penampungan biaya departemen atau pabrik, dan kedua ke produk atau
jasa.
Meskipun
demikian,
prosedur
pembebanan
biaya
tradisional
kemungkinan mendistorsi biaya produk atau jasa. Distorsi akan semakin serius
khususnya ketika bagian yang penting dari biaya overhead pabrik tidak terkait
dengan volume output dan
perusahaan memproduksi produk dengan
kombinasi yang beragam dengan perbedaan pada volume, ukuran, atau
kompleksitas. Prosedur dua tahap traditional costing method dapat di lihat
dalam gambar 2.2 berikut ini:
Resources
Direct Materials and
Direct Labor
Fisrt Stage: Direct
materials and labor
assigned to cost object;
overhead costs assigned
to department directly
or aggregated to plant
Indirect Cost
(Overhead)
Costs Pools: The
plant or the
deparment in the
plant
Second Stage: Plant
level or department
costs assigned to costs
objects using volumebased costs drivers.
Cost Object
Sumber: Blocher (2008:123)
Gambar 2.2
The Volume-Based Two-Stage Procedure
Sistem activity based costing (ABC) berbeda dari sistem perhitungan
biaya tradisional dalam hal menelusuri penggunaan sumber daya pada
aktivitas dan mengaitkan biaya aktivitas pada produk, jasa, atau pelanggan
(Blocher, 2006:224). Tahap pertama membebankan biaya overhead pabrik ke
aktivitas atau pusat biaya aktivitas. Tahap kedua membebankan biaya dari
aktivitas atau tempat penampungan biaya aktivitas ke objek biaya dengan
menggunakan penggerak biaya konsumsi aktivitas yang tepat yang mengukur
permintaan objek biaya yang ditempatkan pada aktivitas atau tempat
penampungan
aktivitas.
Prosedur
alokasi
dua
tahap
dalam
ABC
mengidentifikasi dengan jelas biaya-biaya dari aktivitas suatu perusahaan.
Pembebanan biaya aktivitas ke objek biaya menggunakan suatu ukuran atau
ukuran-ukran yang mencerminkan permintaan objek biaya atas aktivitas
perusahaan. Dengan demikian, ABC melaporkan biaya produk atau jasa
dengan lebih akurat dibandingkan dengan sistem biaya tradisional. Prosedur
dua tahap ABC dapat di lihat dalam gambar 2.3 di bawah ini:
Resources
Direct Materials and
Direct Labor
Fisrt Stage: Direct
materials and labor
assigned to cost objects;
overhead costs assigned
to activities using
resources consumption
cost drivers
Second Stage:Activity
cost pools assigned to
cost objects using
activity consumption
cost drivers
Indirect Cost
(Overhead)
Costs Pools: The
activities in the plant
Costs Object
Sumber: Blocher, 2008:123
Gambar 2.3
The Activity-Based Two-Stage Procedure
H. Kerangka Pemikiran
Industri yang akan diteliti pada penelitian ini adalah industri jasa.
Industri jasa adalah suatu jenis usaha yang outputnya berupa pelayanan
kepada pelanggan. Objek yang akan diteliti untuk industri jasa adalah tarif
kamar rawat inap pada sebuah rumah sakit. Oleh karena itu peneliti
bermaksud untuk mengadakan penelitian tentang penerapan activity based
costing apakah dapat lebih akurat dalam menghitung biaya produksi dibanding
dengan tradisional costing concept. Berdasarkan penjelasan di atas, maka
dapat ditarik kerangka pemikiran sebagai berikut:
Metode Perhitungan Biaya
Activity Based Costing
Traditional costing concept
Perbandingan
Keunggulan
Kelemahan
Keputusan Manajemen
Gambar 2.4
Model Kerangka Pemikiran
I.
Penelitian Terdahulu
Perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel 2.2 di bawah ini.
Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
No Peneliti dan
Tahun
1
Mehmet C.
Kocakulah,
Ph.D. (2007)
Judul
Persamaan
Perbedaan
Hasil Penelitian
Using Activity-Based
Costing (ABC) to
Measure Profibility on
a Commercial Loan
Portofolio
Persamaan
penelitian yang
dilakukan oleh
Mehmet C.
Kocakulah
dengan
penelitian
sekarang
adalah samasama
menggunakan
activity based
costing dalam
sistem
perhitungan
biaya.
Penelitian
yang
dilakukan oleh
Mehmet C.
Kocakulah
dilakukan
pada industri
perbankan
sedangkan
penelitian
sekarang
dilakukan
pada industri
jasa.
ABC mampu memberikan informasi yang
akurat mengenai biaya dan profitabilitas,
sehingga manajemen dapat mengambil
keputusan untuk meningkatkan keuntungannya.
Tabel 2.2 (Lanjutan)
2
Nunik L. D
(2007)
ABC Sistem: Sistem
Biaya dalam Mengatasi
Kelemahan/Kekurangan
Sistem Biaya
Tradisional.
3
Charoline
Cheisviyany
(2007)
Penerapan Activity
Based Costing untuk
Analisis Profitabilitas
Pelanggan.
Persamaan
penelitian yang
dilakukan oleh
Nunik L. D
dengan
penelitian
sekarang adalah
sama-sama
menggunakan
variabel activity
based costing
dan traditional
costing
concept.
Persamaan
penelitian yang
dilakukan oleh
Charoline
dengan
penelitian
sekarang adalah
sama-sama
menggunakan
activity based
costing untuk
membebankan
biaya aktivitas
Penelitian
Nunik adalah
penelitian
kepustakaan
sedangkan
penelitian
sekarang
adalah
penelitian
lapangan pada
dua jenis
industri yang
berbeda.
ABC sistem membantu sistem biaya
tradisional dalam menentukan biaya overhead
agar lebih tepat dan akurat yaitu dengan cara
penentuan biaya atas dasar aktivitas yang
dilakukan untuk menghasilkan produk dan
jasa.
Penelitian
Charoline
membahas
tentang
penerapan
ABC
pengaplikasian
konsep
customer
relationship
management
(CRM) dalam
menganalisa
Secara jangka panjang analisis ini dapat
memberikan future growth bagi perusahaan
dengan pencapaian visi dan misi.
Tabel 2.2 (Lanjutan)
4
Aristanti
Widyaningsih
(2009)
Peranan dan Kendala
Penerapan Activity
Based Costing (ABC)
dalam industri jasa
pada produk.
Persamaan
lainnya dengan
penelitian
sekarang adalah
sama-sama
menggunakan
metode field
research.
Persamaan
penelitian
Aristanti
dengan
penelitian
sekarang adalah
sama-sama
meneliti
peranan ABC
pada industri
jasa.
profitabilitas.
Penelitian
Aristanti
menggunakan
activity based
management,
total quality
of
management,
serta strategi
kualitas untuk
mendukung
penelitian
ABC nya.
Pada intinya dapat disimpulkan bahwa ABC
tidak hanya dapat diterapkan pada perusahaan
manufaktur tetapi juga dapat diterapkan pada
industri jasa.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis penelitian pada penelitian ini adalah studi komparatif tentang
penerapan traditional costing concept dengan activity based costing (ABC)
pada jenis industri jasa. Industri jasa yang akan diteliti adalah RS. Prikasih
yang beralamat di Jl. Fatmawati No. 74 Jakarta Selatan dengan objek
penelitian penentuan tarif kamar rawat inap. Data yang dibutuhkan untuk
penelitian ABC ini adalah laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir 31
Desember 2009, direct cost, direct labor, dan biaya overhead yang terkait
dengan kamar rawat.
B. Metode Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data-data pada penelitian ini, peneliti menggunakan
penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan (field research)
adalah metode pengumpulan data utama untuk penelitian kualitatif yang
terdiri dari interview, observasi, dan analisis dokumen (Sujoko Efferin,
2004:137).
1. Interview/wawancara
Interview dapat diartikan sebagai percakapan dengan tujuan tertentu
(Burgess, 1984 dikutip oleh Mason, 1996 dalam Sujoko Efferin,
2004:138). Interview dapat pula dilakukan untuk mendapatkan data
tentang suatu aktivitas yang telah usai.
2. Observasi
Obervasi adalah kegiatan, di mana peneliti melibatkan dirinya secara
langsung pada situasi yang diteliti secara sistematis mengamati berbagai
dimensi yang ada termasuk interaksi, hubungan, tindakan, kejadian, dsb
(Mason, 1996:60 dalam Sujoko Efferin, 2004:144). Dalam penelitian kali
ini peneliti adalah pelaku sekaligus pengamat pada keterlibatan aktif.
3. Analisis Dokumen
Analisis dokumen merupakan salah satu metode terpenting pada penelitian
kualitatif untuk mendapatkan data yang berasal dari catatan-catatan
tertulis. Dokumen juga dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan
verifikasi maupun pembanding untuk data-data lainnya yang telah
diperoleh melalui interview dan observasi.
C. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
analisis deskriptif. Peneliti menganalisa seluruh data yang relevan dengan
objek penelitian, baik itu berupa catatan hasil interview, dokumen, serta
laporan-laporan yang diberikan oleh perusahaan. Saat melakukan interview,
observasi, dan analisis dokumen, peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang mengarahkannya untuk mengambil data yang dibutuhkan. Setelah data
didapat kemudian dibandingkan dengan teori (theoritical comparison) yang
digunakan dan ditariklah suatu kesimpulan sebagai hasil dari penelitian.
Data dianalisis dengan menggunakan teori perhitungan activity based
costing menurut Garrison dan Noreen (2006:438-487), meliputi:
1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan aktivitas dan pool aktivitas.
2. Menelusuri biaya overhead secara langsung ke aktivitas dan objek biaya.
3. Membebankan biaya ke pool biaya aktivitas.
4. Menghitung tarif aktivitas.
5. Membebankan biaya ke objek biaya dengan menggunakan tarif aktivitas
dan ukuran aktivitas.
6. Hubungan manfaat penerapan activity based costing dengan pengambilan
keputusan manajemen yaitu keputusan operasional mengenai perbaikan
biaya produksi.
D. Definisi Operasional Variabel Penelitian dan Pengukurannya
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah activity based
costing dan traditional costing concept untuk menentukan harga pokok
produk. Dalam bagian ini, peneliti menguraikan definisi operasional variabel
dan pengukuran masing-masing variabel sebagai berikut:
1.
Activity Based Costing
Berdasarkan tinjauan literatur pada pembahasan sebelumnya, dapat ditarik
kesimpulan bahwa activity based costing adalah adalah suatu sistem
perhitungan biaya dengan penjumlahan seluruh biaya yang dari hasil
memproduksi barang dan jasa yang jumlahnya lebih dari satu biaya
overhead untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer dalam
pengambilan keputusan. Dalam perhitungan sistem activity based costing
biaya hanya dibebankan kepada produk apabila ada alasan yang mendasar
bahwa biaya tersebut mempengaruhi produk yang dibuat. Pengukuran
dilakukan dengan menghitung ulang harga pokok produk berdasarkan teori
activity based costing dalam buku Garrison dan Noreen (2006).
2.
Traditional Costing Concept
Berdasarkan tinjauan literatur pada pembahasan sebelumnya, dapat ditarik
kesimpulan bahwa akuntansi biaya tradisional adalah pencatatan,
penggolongan, peringkasan, dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan
produk atau jasa denagn cara-cara tertentu serta penafsiran-penafsiran
terhadapnya atas nilai persediaan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi.
Dalam perhitungan sistem tradisional memfokuskan pengendaliannya
terhadap biaya dengan manajer yang mempunyai wewenang atas
terjadinya biaya yang menyebabkan banyak biaya overhead pabrik yang
tidak berhubungan denagn volume produk yang diproduksi. Akibatnya
sistem akuntansi biaya tradisional dapat menghasilkan perhitungan yang
terdistorsi. Pengukuran yang digunakan untuk mengukur variabel ini
adalah sistem perhitungan biaya yang digunakan oleh perusahaan selama
ini.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Company Profile Rumah Sakit Prikasih
1. Sejarah Perkembangan Rumah Sakit Prikasih
Yayasan Putra Prikasih bertujuan membantu program pemerintah
dibidang pelayanan kesehatan melalui usaha mengelola rumah sakit umum
dan rumah sakit bersalin, mengelola apotek, poliklinik umum dan
poliklinik spesialis serta usaha-usaha lain yang sah. Usaha tersebut dimulai
dengan membuka Kelompok Praktek Bersama yang dibina mulai tahun
1984 dengan gedung dua tingkat di atas tanah seluas 3000 m yang
beralamat di Jalan RS. Fatmawati No.74 Pondok Labu Cilandak Jakarta
Selatan 12450. Izin prinsip diperoleh dari Kanwil Depkes DKI Jakarta
dengan SK Nomor: 536/Kanwil/YKR-2.1/1984 tanggal 30 Januari 1985.
Gedung tersebut diberi nama “Prikasih” untuk mengenang almarhumah
Ibu Aminah Prikasih yaitu ibu dari keluarga para pendiri dengan harapan
dapat mengembangkan usaha tersebut sehingga nama “Prikasih” tetap
melekat abadi.
Pada awal tahun 1987 diputuskan untuk meningkatkan Kelompok
Praktek Bersama menjadi Rumah Sakit Umum Swasta dengan Izin prinsip
dari
Kakanwil
Depkes
DKI
Jakarta
dengan
SK
Nomor:
6.660/Kanwil/YKM-2/VII/87, dan pada pertengahan tahun 1996 dilakukan
suatu “feasibility study” yang antara lain menunjukan bahwa RS. Prikasih
memiliki fasilitas dan pelayanan yang mampu memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan golongan menengah ke bawah yang saat itu masih
terbuka luas. Untuk lebih menyikapi kebutuhan tersebut, sebagai tahap
awal Rumah Sakit Prikasih melalakukan beberapa peningkatan fasilitas
unit pelayanan seperti instalasi farmasi, ruang kantor, kamar jenazah,
ruang laboratorium dan sebagainya dengan menyediakan 68 kamar tidur
yang terus meningkat hingga saat ini telah mencapai 124 tempat tidur.
Dalam hal ini rumah sakit telah pula menjadi anggota Persatuan
Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan Ikatan Rumah Sakit Jakarta
Metropolitan
(IRSJAM).
Bersamaan
dengan
itu
diproses
izin
penyelenggaraan perpanjangan I (pertama) rumah sakit dengan terbitnya
Surat Keputusan Menkes & KesSos RI Nomor: YM.02.04.2.2.268 tentang
pemberian izin tetap kepada PT. Putra Aminah Prikasih untuk
menyelenggarakan rumah sakit umum dangan nama “Rumah Sakit
Prikasih”.
Selain pembenahan kesiapan fisik rumah sakit yang berkelas C+ ini,
manajemen juga mempersiapkan sumber daya manusia dan melakukan
perubahan kinerja ke arah yang lebih baik, antara lain dengan membuat
prosedur yang lebih jelas, struktur organisasi yang lebih professional yang
mengacu pada persyaratan akreditasi rumah sakit guna menunjukan
eksistensi dalam upaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.
2. Alamat Rumah Sakit Prikasih
Jalan Rs. Fatmawati No. 74 Pondok Labu Jakarta Selatan
Telp. (021) 75901174, 7501192, 7504667 (hunting), Fax. 750148
Email: [email protected] dan [email protected]
3. Visi dan Misi Rumah Sakit Prikasih
Visi
:“Menjadikan rumah sakit yang maju, mandiri, dan berkembang.”
Misi
:“Membantu pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan yang
professional, bermutu dan terjangkau oleh masyarakat di wilayah
Jakarta Selatan khususnya golongan menengah ke bawah.”
4. Motto Rumah Sakit Prikasih
“Terbaik Bagi Anda. Terbaik Bagi Kami”, mengiringi langkah
perusahaan dalam melaksanakan visi dan misi serta sebagai landasan
kebangkitan perjuangan untuk mencapai era globalisasi.
5. Falsafah Rumah Sakit Prikasih
Pendiri
Rumah
Sakit
Prikasih
bercita-cita
mendirikan
dan
mengembangkan rumah sakit ini sebagai manifestasi kecintaan mereka
kepada Ibunda Aminah Prikasih dengan mewujudkan keikhlasan, amal
sholeh, dan dedikasi Beliau kepada masyarakat, khususnya golongan
menengah ke bawah. Dibalik cita-cita tersebut terkandung keinginan untuk
melestarikan nilai-nilai budaya tradisional masayarakat sekitar rumah sakit
prikasih serta mengangkat mereka dengan sentuhan modernisasi di bidang
kesehatan ke taraf yang sejajar dengan masyarakat yang lebih maju.
6. Tujuan Rumah Sakit Prikasih
Terselanggaranya rumah sakit umum yang memberikan pelayanan
kesehatan dasar dan spesifik yang ditunjang peralatan yang memadai dan
berkualitas yang dapat diketengahkan.
7. Fasilitas dan Pelayanan
Rumah Sakit Prikasih didukung oleh para dokter spesialis dari
berbagai disiplin ilmu kedokteran, fasilitas pemeriksaan penunjang dan
perawatan.
a. Pelayanan gawat darurat (UGD) 24 jam
b. Pelayanan rawat inap, terdiri dari kelas utama I, II, III A dan B
meliputi:
1) Rawat inap umum
2) Rawat inap anak
3) Rawat inap isolasi
4) Rawat inap bersalin
5) Rawat inap bayi
6) Rawat pasca bedah dan non infeksius
7) Rawat inap semi intensif (HCU)
c. Palayanan rawat jalan, terdiri dari pelayanan poliklinik meliputi:
1) Poliklinik anak (paeditrics)
2) Poliklinik kandungan dan kebidanan (obstetric & gynaecology)
3) Poliklinik penyakit dalam (internal medicine)
4) Poliklinik penyakit dalam ginjal & hipertensi
5) Poliklinik mata (opthalmology)
6) Poliklinik paru (pulmonology)
7) Poliklinik psikologi (psychology)
8) Poliklinik jiwa (psychiatry)
9) Poliklinik bedah umum (general surgery)
10) Poliklinik bedah plastic (plastic surgery)
11) Poliklinik bedah saluran kemih (urology)
12) Poliklinik bedah tulang (orthopaedic surgery)
13) Poliklinik bedah tumor (oncology)
14) Poliklinik bedah mulut (oral surgey)
15) Poliklinik gigi
16) Poliklinik jantung
17) Poliklinik THT
18) Poliklinik kulit dan kelamin
19) Poliklinik syaraf
20) Poliklinik konsultasi gizi
21) Poliklinik fisioterapi
22) Klinik klub hidup sehat
d. Pelayanan dan fasilitas meliputi:
1) Pelayanan operasi
2) Pelayanan bersalin
3) Pelayanan instalasi farmasi
4) Pelayanan laboratorium klinik 24 jam
5) Pelayanan radiology (rontgen) 24 jam
6) Pelayanan penunjang diagnostic
7) Pelayanan medical check up (MCU)
8) Pelayanan optik
9) Pelayanan jenazah
10) Pelayanan rekam medik
11) Pelayanan ambulance 24 jam
12) Pelayanan kafetaria
13) Pelayanan ruang ibadah (mushola)
8. Kerjasama Perusahaan Pelanggan dengan Rumah Sakit Prikasih
a. Kerjasama dengan Perusahaan Umum
1) Administrasi Medika (AdMedika), PT
2) Adira Mobilindo, PT
3) Dai Nippon Printing Indonesia (DNP), PT
4) Frisian Flag Indonesia, PT
5) Indocement Tunggal, PT
6) Megapolitan, PT
7) Metropolitan Kentjana (Unit Wisma Pondok Indah), PT
8) Mitra Keluarga Piranti Sehat, PT
9) Pertamina Tongkang, PT
10) PLN (Persero), PT
11) Purna Bina Indonesia, PT
12) Samsung Electronic Indonesia, PT
13) Samudera Indonesia, PT
14) Trakindo Utama, PT
b. Kerjasama dengan Perusahaan Asuransi:
1) Mitra Keluarga Piranti Sehat, PT
2) Asih Eka Abadi, PT (Internasional SOS)
3) AXA Asisstance Indonesia
4) Asuransi Jiwa Austindo (As.Indrapura)
5) Bina Dana Artha Tbk, Asuransi PT
6) BNI Jiwasraya, Asuransi PT
7) Asuransi Manulife Inti (ING Aetna Life)
8) Eka Life, AJ PT
9) Ganesha Danamas, Asuransi PT
10) Global Asisstance
11) Lippo General Insurance Tbk, PT
12) Medexs Visi Medika, PT
13) Mitra Kesehatan Jaya
14) Multi Artha Guna, Asuransi PT
15) JPKM – Syahida
16) Sinar Mas AJ, PT
17) Tugu Mandiri AJ
18) Yankes Bank Mandiri
19) Medex Visi Medika
20) Mitra Kesehatan Jaya
B. Perhitungan Konsep Biaya Traditional Menurut Rumah Sakit
Rumah sakit sebagai organisasi sosial ekonomi memerlukan
pembiayaan untuk menjamin kelancaran pelaksanaan kegiatannya tanpa
meninggalkan ciri sosialnya. Rumah sakit harus bersifat sosial sehingga
mampu dijangkau oleh masyarakat golongan ekonomi lemah, namun di
lain pihak harus dikelola sedemikian rupa sehingga bertahan hidup dan
mempertahankan kualitas pelayanannya.
Saat ini masih banyak rumah sakit yang menggunakan sistem
akuntansi tradisional dalam perhitungan biaya yang mana akan
menghasilkan biaya yang terdistorsi. Hal ini mendorong seluruh elemen
baik manajemen rumah sakit maupun stakeholder untuk menghitung
secara riil berapa biaya pelayanan yang dibutuhkan sehingga bisa menjadi
alat advokasi dalam pembiayaan pelayanan kesehatan.
Rumah Sakit Prikasih adalah salah satu rumah sakit swasta yang
memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, lengkap, dan
terjangkau karena RS. Prikasih tidak hanya memiliki fungsi komersial
tetapi juga mengutamakan fungsi sosialnya. Ini merupakan tantangan bagi
rumah sakit untuk dapat memberikan pelayanan yang maksimal dengan
biaya yang seminimal mungkin khususnya mengenai pelayanan rawat
inap.
Menurut Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), harga
pokok pelayanan pasien adalah beban-beban yang timbul dari semua
kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan yang diberikan kepada pasien.
Harga pokok pelayanan pasien dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis,
yaitu:
a. Biaya Langsung
b. Tenaga Kerja Langsung
c. Biaya Tidak langsung
Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Biaya langsung adalah biaya yang timbul dari penggunaan bahan-bahan
yang terkait langsung dengan pemberian pelayanan pasien dalam
rangka rawat inap, rawat jalan, penunjang medis dan pelayanan pasien
lainnya.
1) Biaya langsung rawat inap
Biaya rawat inap terdiri atas biaya bahan medis, makan dan minum
pasien, biaya pemakaian paket perawatan.
2) Biaya langsung rawat jalan
Biaya rawat jalan terdiri atas biaya bahan medis, linen, makan dan
minum tenaga medis.
3) Biaya langsung penunjang medis
Biaya penunjang medis terdiri atas biaya untuk pembelian oksigen,
pembelian N2O, linen, pemeriksaan laboratorium.
4) Biaya langsung pelayanan pasien
Biaya
pelayanan
pasien
laboratorium, material unit.
terdiri
atas
linen,
pemeriksaan
b. Tenaga kerja langsung adalah biaya yang timbul dari pembayaran
tenaga kerja yang terkait langsung dengan pemberian pelayanan pasien
dalam rangka rawat inap, rawat jalan, penunjang medis, dan pelayanan
kesehatan lainnya. Tenaga kerja langsung terdiri atas:
1) Gaji tenaga medis seperti dokter dan perawat.
2) Insentif tenaga kerja lain yang terkait dengan pelayanan pasien,
misalnya supir ambulance.
c. Biaya tidak langsung adalah biaya yang timbul dari alokasi biaya
aktiva tetap dan biaya pendukung lain dalam rangka pelayanan pasien,
yaitu:
1) Penyusutan inventaris medis.
2) Penyusutan inventaris kendaraan.
3) Beban energi (BBM ambulance)
Untuk pelayanan rawat inap Rumah Sakit Prikasih memiliki 4 jenis
ruang rawat inap, yaitu:
a. Ruang Rawat Umum, terdiri dari
1) kelas utama (Flamboyan)
2) kelas 1 (Mawar)
3) kelas II dewasa (Teratai)
4) kelas II anak (Teratai)
5) kelas III (Cempaka dan Melati)
b. Ruang Rawat Khusus
1) ruang isolasi (Cempaka)
2) ruang rawat anak kelas III (Cempaka)
3) ruang rawat anak kelas III (Teratai)
4) ruang HCU (HCU)
5) ruang perinatal
c. Ruang Rawat Bedah
1) kelas 1 (Anggrek)
2) kelas II A (Anggrek)
3) kelas II B (Anggrek)
4) kelas III (Anggrek)
d. Ruang Rawat Bersalin
1) kelas 1 (Kenanga A)
2) kelas II (Kenanga B)
3) kelas III (Kenanga C)
4) kamar bayi
Sampel pada penelitian ini adalah ruang rawat umum yang terdiri dari
ruang Flamboyan, Mawar, Teratai, dan Melati. Ada hal yang menarik
dalam pengakuan biaya yang dilakukan oleh Rumah Sakit Prikasih. Sesuai
dengan kebijakan internalnya perusahaan menggunakan cost unit dan
profit unit dalam mengakui biaya. Cost unit didasarkan pada unit
penunjang umum dan profit unit didasarkan pada unit kamar rawat inap.
Begitu pula dalam menetapkan tarif kamar rawat inap. Perusahaan tidak
memiliki perhitungan baku yang menjadi dasar dalam penyusunan tarif.
Manajemen hanya melakukan analisa terhadap faktor-faktor yang
melatarbelakangi perusahaan dalam menyusun tarif.
Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi manajemen RS. Prikasih
dalam menyusun sebuah tarif kamar rawat inap adalah sebagai berikut:
a. Tarif kamar rawat inap tahun lalu
Manajemen rumah sakit menyusun sebuah tarif, baik itu untuk rawat
jalan maupun rawat inap adalah tiga bulan sebelum akhir tahun.
Manejemen mempertimbangkan apakah pendapatan dari pembayaran
kamar rawat inap tahun lalu mampu menanggung seluruh beban
operasional yang terkait dengan kamar rawat. Dari analisa tersebut
kemudian manajemen merencanakan anggaran tarif kamar rawat inap
untuk tahun berikutnya.
b. Kenaikan/penurunan inflasi
Kenaikan/penurunan inflasi juga mempengaruhi penetapan tarif kamar
rawat inap. Manajemen memperhatikan keadaan ekonomi yang terjadi
sebelum menyusun anggaran. Jika terjadi kenaikan inflasi sebesar
10%, maka manajemen juga menyesuaikan anggaran tarif sebesar
kenaikan inflasi tersebut.
c. Hasil survey perusahaan terhadap rumah sakit pesaing
Meskipun rumah sakit adalah sebuah organisasi non profit namun
harus tetap mampu bersaing di pasaran. Perusahaan harus memiliki
keunggulan dari pesaingnya serta harus memiliki strategi bagaimana
cara supaya rumah sakit mampu menyediakan pelayanan terbaik tanpa
harus memberatkan pasien dengan tarif yang tinggi. Hal ini tentunya
agar perusahaan dapat melanjutkan life cyclenya. Kompetitor Rumah
Sakit Prikasih dari lingkungan sekitar adalah:
-
Rs. Puri Cinere
Alamat: Jl Maribaya Blok F2 No.1-10 Cinere-Limo Depok.
-
RSUD Fatmawati
Alamat: Jl. RS Fatmawati, Cilandak Jakarta Selatan. Lokasi,
Jakarta Selatan. Telpon, 021-7501524.
-
Rs. Marinir Cilandak
Alamat: Jl. Raya Cilandak KKO, Pasar Minggu Jakarta Selatan.
-
Rs. Setia Mitra
Alamat: Jl. RS Fatmawati No. 80-82, Jakarta Selatan. Lokasi,
Jakarta Selatan. Telpon, 021-7656000, 021-7510567.
d. Biaya per unit
Biaya per unit menunjukan perincian biaya yang telah dikeluarkan
perusahaan untuk setiap unitnya. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya bahwa perusahaan menggunakan cost unit dan profit unit
dalam mengakui biaya. Cost unit didasarkan pada unit penunjang
umum yang terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan
baik itu untuk biaya medis ataupun non medis dan profit unit
didasarkan pada unit kamar rawat inap yang menghasilkan pendapatan
bagi perusahaan.
Sistem biaya tradisional menurut Bastian dan Nurlela (2009:23) adalah
di mana biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, biaya
overhead pabrik baik yang bersifat variabel maupun tetap, menjadi biaya
produk. Sistem biaya tradisional mengasumsikan produk-produk dan volume
produksi yang terkait merupakan penyebab timbulnya biaya, dengan kata lain
sistem biaya tradisional membuat produk individual menjadi fokus dari sistem
biaya. Berikut ini adalah perhitungan tarif kamar dengan menggunakan
traditional costing method pada 4 jenis ruang rawat inap, yaitu ruang rawat
inap Flamboyan, Mawar, Teratai, dan Melati.
1.
Ruang Rawat Inap Flamboyan
a. Biaya bahan medis
Biaya bahan medis yang dibebankan ke pasien adalah Rp 1.828,57.
Contoh biaya bahan medis yang dibebankan kepada pasien adalah
penggunaan kapas antiseptik, perban pada area infuse, serta jarum
suntik.
b. Biaya makan dan minum pasien
- Makan pagi
- Makan siang
- Makan malam
Rp 10.531,7
Rp 10.531,7
Rp 10.531,7
Rp 31.593,1
c. Gaji perawat
Ada 16 orang perawat yang dipekerjakan dalam kamar utama
Flamboyan. gaji perbulan yang diterima tiap orang perawat adalah
Rp 1.571.083,547. Jamsostek perbulan yang diterima tiap orang
perawat adalah Rp 67.629,364. THR dan bonus yang diterima tiap
orang perawat tiap tahunnya adalah Rp 2.202.352,063. Apabila THR
dan bonus dialokasikan perbulan, maka THR dan bonus yang
diterima oleh tiap orang perawat tiap bulan adalah Rp 183.529,338.
Tabel 4.1
Gaji dan Tunjangan yang Diterima Tiap Orang Perawat
Kamar Flamboyan Per Jam Kerja
Gaji pokok
Rp 1.571.083,547 / 720 Jam
Rp 2.182,06 /Jam
Jamsostek
Rp 67.629,364 / 720 Jam
Rp 93,93 /Jam
THR dan bonus
Rp 183.529,338 / 720 Jam
Rp 254,9 /Jam
Total gaji dan tunjangan
Rp 2.530,89 /Jam
Sumber: Data di olah
Tabel 4.1 di atas adalah perhitungan gaji dan tunjangan yang diterima tiap
orang perawat kamar Flamboyan per jam kerja. Gaji pokok sebesar
Rp 2.182,06/jam; jamsostek sebesar Rp 93,93/jam; serta THR dan bonus
sebesar Rp 254,9/jam. Jadi total gaji dan tunjangan yang dikeluarkan
untuk perawat Flamboyan per jam nya adalah Rp 2.530,89.
Tabel 4.2
Jam kerja (Shift) Perawat Kamar Flamboyan
Shift
1
2
3
Jam
masuk
07.00
WIB
14.00
WIB
21.00
WIB
Jam
pulang
14.00
WIB
21.00
WIB
07.00
WIB
Total
jam
kerja
Jumlah
perawat
Gaji dan
tunjangan
Total
7 Jam
3 orang
Rp 2.530,89 / Jam
Rp 53.148,69
7 Jam
10
Jam
3 orang
Rp 2.530,89 / Jam
Rp 53.148,69
3 orang
Rp 2.530,89 / Jam
Rp 75.926,7
9 orang
Rp 182.224,08
Sumber: Data di olah
Tabel 4.2 di atas mengambarkan biaya gaji perawat yang dikeluarkan
oleh perusahaan per hari untuk kamar
Flamboyan, yaitu
Rp 182.224,08. Dalam 1 hari ada 9 orang perawat yang bertugas.
Catatan:
-
Gaji pokok perawat dibayarkan setiap bulan.
sebesar
-
Jamsosotek perawat dibayarkan setiap bulan.
-
THR dan bonus dibayarkan 1 x dalam setahun menjelang hari raya.
d. Beban penyusutan peralatan
Beban penyusutan peralatan pertahun adalah Rp 17.142.000,00, maka
penyusutan perhari adalah sebagai berikut:
Rp 17.142.000,00 = Rp 46.964,38
365 hari
Beban penyusutan peralatan sejauh ini tidak diakui sebagai beban dalam
perhitungan laba rugi kamar. Padahal seharusnya diakui dan dibebankan
ke pasien rawat inap (dapat dilihat pada lampiran 1, hal. 122).
e. Biaya linen
Biaya linen yang dibebankan kepada pasien per harinya adalah
Rp 1.988,77. Contoh linen dalam kamar rawat inap adalah sprei, gordeyn,
dan selimut.
f. Biaya pemakaian perlengkapan
Biaya
pemakaian perlengkapan yang dibebankan ke pasien adalah
Rp 7.702,38.
g. Biaya kebersihan
Biaya kebersihan terbagi menjadi dua. Kebersihan untuk gas laundry dan
bahan serta kebersihan untuk mencuci linen dan kebersihan ruangan,
sedangkan biaya kebersihan untuk pemusnahan sampah medis adalah
biaya yang dikeluarkan rumah sakit untuk memusnahkan sampah medis.
Dalam hal ini pihak rumah sakit bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu
PT. Medifest. Biaya kebersihan untuk gas laundry dan bahan yang
dibebankan ke pasien tiap harinya adalah Rp 4.778,91. Biaya kebersihan
untuk pemusnahan sampah medis yang dibebankan ke pasien tiap harinya
adalah Rp 4.268,97.
h. Biaya pemeliharaan
Biaya pemeliharaan kamar utama Flamboyan selama tahun 2009 adalah
Rp 5.760.000,00. Apabila dibebankan ke pasien rawat inap, maka setiap
hari pasien dikenakan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.142,85.
i. Biaya material unit
Pada tahun 2009, ruang rawat inap Flamboyan mengalami perbaikan dan
menghabiskan biaya Rp 228.380,00. Oleh karena itu untuk pembebanan
tarif ke pasien, dikenakan biaya Rp 45,31 per pasien per harinya.
j. Biaya listrik
Biaya listrik kamar utama Flamboyan secara keseluruhan selama tahun
2009 adalah Rp 9.461.281,00. Sehingga biaya listrik untuk tiap kamar
Flamboyan selama tahun 2009 adalah Rp 688.662,93. Apabila dibebankan
ke pasien, maka biaya listrik yang ditanggung selama 1 hari adalah
Rp 1.886,74. Beban listrik sejauh ini tidak diakui sebagai beban dalam
perhitungan laba rugi kamar. Padahal seharusnya diakui dan dibebankan
ke pasien rawat inap (dapat dilihat pada lampiran 1, hal. 122).
2.
Ruang Rawat Inap Mawar
a. Biaya bahan medis
Biaya bahan medis yang dibebankan ke pasien adalah Rp 1.799,43.
b. Biaya makan dan minum pasien
- Makan pagi
- Makan siang
- Makan malam
Rp 10.531,7
Rp 10.531,7
Rp 10.531,7
Rp 31.593,1
c. Gaji perawat
Ada 19 orang perawat yang dipekerjakan dalam kamar Mawar.
Gaji perbulan yang diterima tiap orang perawat Kamar Mawar
adalah Rp 1.221.561,991. Jamsostek perbulan yang diterima tiap
orang perawat adalah Rp 49.044,798. THR dan bonus yang diterima
tiap orang perawat tiap tahunnya adalah Rp 1.290.852,895. Apabila
THR dan bonus dialokasikan perbulan, maka THR dan bonus yang
diterima oleh tiap orang perawat tiap bulan adalah Rp 107.571,00.
Tabel 4.3
Gaji dan Tunjangan yang Diterima Tiap Orang Perawat
Kamar Mawar Per Jam Kerja
Gaji pokok
Rp 1.221.561,991 / 720 Jam Rp 1.696,613 /Jam
Jamsostek
Rp 49.044,798 / 720 Jam
Rp 68,118 /Jam
THR dan bonus Rp 107.571 / 720 Jam
Rp 149,404 / Jam
Total gaji dan tunjangan
Rp 1.914,135 /Jam
Sumber: Data di olah
Tabel 4.3 di atas adalah perhitungan gaji dan tunjangan yang diterima
tiap orang perawat kamar Mawar per jam kerja. Gaji pokok sebesar
Rp 1.696,613/jam; jamsostek sebesar Rp 68,118/jam; serta THR dan
bonus sebesar Rp 149,404/jam. Jadi total gaji dan tunjangan yang
dikeluarkan untuk perawat Flamboyan per jam nya adalah Rp
1.914,135.
Tabel 4.4
Jam Kerja (Shift) Perawat Kamar Mawar
Shift
1
2
3
Jam
masuk
07.00
WIB
14.00
WIB
21.00
WIB
Jam
pulang
14.00
WIB
21.00
WIB
07.00
WIB
Total
jam
kerja
Jumlah
perawat
7 Jam
3 orang
7 Jam
3 orang
10 Jam
3 orang
Gaji dan
tunjangan
Rp 1.914,135 /
Jam
Rp 1.914,135 /
Jam
Rp 1.914,135 /
Jam
9 orang
Total
Rp 40.196,835
Rp 40.196,835
Rp 57.424,05
Rp 137.817,72
Sumber: Data di olah
Tabel 4.4 di atas mengambarkan biaya gaji perawat yang dikeluarkan oleh
perusahaan per hari untuk kamar Mawar, yaitu sebesar Rp 137.817,72.
Dalam 1 hari ada 9 orang perawat yang bertugas dengan pembagian waktu
kerja yang terbagi menjadi 3 shift.
Catatan:
-
Gaji pokok perawat dibayarkan setiap bulan.
-
Jamsosotek perawat dibayarkan setiap bulan.
-
THR dan bonus dibayarkan 1 x dalam setahun menjelang hari raya.
d. Beban penyusutan peralatan
Beban penyusutan peralatan pertahun adalah Rp 16.167.000,00 maka
penyusutan perhari adalah
Rp 16.167.000,00 = Rp 44.293,15
365 hari
Beban penyusutan peralatan sejauh ini tidak diakui sebagai beban dalam
perhitungan laba rugi kamar. Padahal seharusnya diakui dan dibebankan
ke pasien rawat inap (dapat dilihat pada lampiran 2, hal. 123).
e. Biaya linen
Biaya linen yang dibebankan kepada pasien untuk kamar Mawar per
harinya adalah Rp 1.088,54.
f. Biaya pemakaian perlengkapan
Biaya pemakaian perlengkapan yang dibebankan ke pasien kamar Mawar
adalah Rp 7.599,43.
g. Biaya kebersihan
Biaya kebersihan untuk gas laundry dan bahan yang dibebankan ke pasien
rawat inap kamar Mawar tiap harinya adalah Rp 549,55. Biaya kebersihan
untuk pemusnahan sampah medis yang dibebankan ke pasien tiap harinya
adalah Rp 6.990,44.
h. Biaya pemeliharaan
Biaya
pemeliharaan
kamar
Mawar
selama
tahun
2009
adalah
Rp 9.750.000,00. Apabila dibebankan ke pasien rawat inap, maka setiap
hari pasien dikenakan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.934,52.
i. Biaya material unit
Pada tahun 2009, ruang rawat inap Mawar mengalami perbaikan dan
menghabiskan biaya Rp 3.800.000,00. Oleh karena itu untuk pembebanan
tarif ke pasien, dikenakan biaya Rp 753,96 per pasien per harinya.
j. Biaya listrik
Biaya listrik kamar Mawar secara keseluruhan selama tahun 2009 adalah
Rp 7.425.978. Sehingga biaya listrik untuk tiap kamar Mawar selama
tahun 2009 adalah Rp 530.427. Apabila dibebankan ke pasien, maka biaya
listrik yang ditanggung selama 1 hari adalah Rp 1.453,22. Beban listrik
sejauh ini tidak diakui sebagai beban dalam perhitungan laba rugi kamar.
Padahal seharusnya diakui dan dibebankan ke pasien rawat inap (bisa
dilihat pada lampiran 2, hal. 123)
3.
Ruang Rawat Inap Teratai
a. Biaya bahan medis
Biaya bahan medis yang dibebankan ke pasien dalam kamar rawat
inap Teratai adalah Rp 1.463,21.
b. Biaya makan dan minum pasien
- Makan pagi
- Makan siang
- Makan malam
Rp 8.248,33
Rp 8.248,33
Rp 8.248,33
Rp 24.745,00
c. Gaji perawat
Ada 27 orang perawat yang dipekerjakan dalam kamar Teratai. Gaji
perbulan yang diterima tiap orang perawat adalah Rp 1.405.157,481.
Jamsostek perbulan yang diterima tiap orang
perawat
adalah
Rp 57.144,024. THR dan bonus yang diterima tiap orang perawat
tiap tahunnya adalah Rp 1.825.900,889. Apabila THR dan bonus
dialokasikan perbulan, maka THR dan bonus yang diterima oleh tiap
orang perawat tiap bulan adalah Rp 152.158,407.
Tabel 4.5
Gaji dan Tunjangan yang Diterima Tiap Orang Perawat
Kamar Teratai Per Jam Kerja
Gaji pokok
Rp 1.405.157,481/ 720 Jam
Rp 1.951,6 / Jam
Jamsostek
Rp 57.144,024/ 720 Jam
Rp 79,37 /Jam
THR dan
bonus
Rp 152.158,407/ 720 Jam
Rp 211,33 / Jam
Total gaji dan tunjangan
Rp 2.242,3 / Jam
Sumber: Data di olah
Tabel 4.5 di atas adalah perhitungan gaji dan tunjangan yang diterima
tiap orang perawat kamar Teratai per jam kerja. Gaji pokok sebesar
Rp 1.951,6/jam; jamsostek sebesar Rp 79,37/jam; serta THR dan
bonus sebesar Rp 211,33/jam. Jadi total gaji dan tunjangan yang
dikeluarkan untuk perawat Teratai per jam nya adalah Rp 2.242,3.
Tabel 4.6
Jam Kerja (Shift) Perawat Kamar Teratai
Shift
1
2
3
Jam
masuk
07.00
WIB
14.00
WIB
21.00
WIB
Jam
pulang
14.00
WIB
21.00
WIB
07.00
WIB
Total
jam
kerja
Jumlah
perawat
7 Jam
4 orang
7 Jam
4 orang
10 Jam
4 orang
12 orang
Gaji
dan
tunjangan
Rp 2.242,3 /
Jam
Rp 2.242,3 /
Jam
Rp 2.242,3 /
Jam
Total
Rp 62.784,4
Rp 62.784,4
Rp 89.692,00
Rp 215.260,8
Sumber: Data di olah
Tabel 4.6 di atas mengambarkan biaya gaji perawat yang dikeluarkan
oleh perusahaan per
hari untuk kamar Teratai, yaitu
sebesar
Rp 215.260,8. Dalam 1 hari ada 12 orang perawat yang bertugas
dengan pembagian waktu kerja yang terbagi menjadi 3 shift.
Catatan:
-
Gaji pokok perawat dibayarkan setiap bulan.
-
Jamsosotek perawat dibayarkan setiap bulan.
-
THR dan bonus dibayarkan 1 x dalam setahun menjelang hari raya.
d. Beban penyusutan peralatan
Beban penyusutan peralatan pertahun adalah Rp 16.167.000,00 maka
penyusutan perhari adalah
Rp 13.017.000 = Rp 35.663,01
365 hari
Beban penyusutan peralatan sejauh ini tidak diakui sebagai beban dalam
perhitungan laba rugi kamar. Padahal seharusnya diakui dan dibebankan
ke pasien rawat inap (dapat dilihat pada lampiran 3, hal. 124).
e. Biaya linen
Biaya linen yang dibebankan kepada pasien untuk kamar Teratai per
harinya adalah Rp 2.923,22.
f. Biaya pemakaian perlengkapan
Biaya pemakaian perlengkapan yang dibebankan ke pasien adalah
Rp 10.037,34.
g. Biaya kebersihan
Biaya kebersihan untuk gas laundry dan bahan yang dibebankan ke
pasien rawat inap kamar Teratai tiap harinya adalah Rp 579,29. Biaya
kebersihan untuk pemusnahan sampah medis yang dibebankan ke pasien
tiap harinya adalah Rp 1.999,73.
h. Biaya pemeliharaan
Biaya pemeliharaan kamar Teratai selama tahun 2009 adalah Rp
6.779.500,00. Apabila dibebankan ke pasien rawat inap, maka setiap hari
pasien dikenakan biaya pemeliharaan sebesar Rp 1.345,13.
i. Biaya material unit
Pada tahun 2009, ruang rawat inap Teratai mengalami perbaikan dan
menghabiskan biaya Rp 2.932.650,00. Oleh karena itu untuk pembebanan
tarif ke pasien, dikenakan biaya Rp 581,87 per pasien per harinya.
j. Biaya listrik
Biaya listrik kamar Teratai secara keseluruhan selama tahun 2009 adalah
Rp 8.332.473,00. Sehingga biaya listrik untuk tiap kamar Teratai selama
tahun 2009 adalah Rp 595.176,64. Apabila dibebankan ke pasien, maka
biaya listrik yang ditanggung selama 1 hari adalah Rp 1.630,62. Beban
listrik sejauh ini tidak diakui sebagai beban dalam perhitungan laba rugi
kamar. Padahal seharusnya diakui dan dibebankan ke pasien rawat inap
(dapat dilihat pada lampiran 3, hal. 124).
4.
Ruang Rawat Inap Melati
a. Biaya bahan medis
Biaya bahan medis yang dibebankan ke pasien dalam kamar rawat
inap Teratai adalah Rp 880,53.
b. Biaya makan dan minum pasien
- Makan pagi
- Makan siang
- Makan malam
Rp 6.768,33
Rp 6.768,33
Rp 6.768,33
Rp 20.305,00
c. Gaji perawat
Ada 19 orang perawat yang dipekerjakan dalam kamar Melati. Gaji
perbulan yang diterima tiap orang perawat adalah Rp 1.201.000,00.
Jamsostek perbulan yang diterima tiap orang perawat
adalah
Rp 45.791,00. THR dan bonus yang diterima tiap orang perawat tiap
tahunnya adalah Rp 1.290.000,00. Apabila THR dan bonus
dialokasikan perbulan, maka THR dan bonus yang diterima oleh tiap
orang perawat tiap bulan adalah Rp 107.500,00.
Tabel 4.7
Gaji dan Tunjangan yang Diterima Tiap Orang Perawat
Kamar Melati Per Jam Kerja
Gaji pokok
Rp 1.201.000,00/ 720 Jam
Rp 1.668,05 /Jam
Jamsostek
Rp 45.791,00/ 720 Jam
Rp 63,59 /Jam
THR dan bonus
Rp 107.500,00/ 720 Jam
Rp 149,3 /Jam
Total gaji dan tunjangan
Rp 1.880,94 /Jam
Sumber: Data diolah
Tabel 4.7 di atas adalah perhitungan gaji dan tunjangan yang diterima tiap
orang perawat kamar Melati per jam kerja. Gaji pokok sebesar Rp
1.668,05/jam; jamsostek sebesar Rp 63,59/jam; serta THR dan bonus
sebesar Rp 149,3/jam. Jadi total gaji dan tunjangan yang dikeluarkan
untuk perawat Melati per jam nya adalah Rp 1.880,94.
Tabel 4.8
Jam Kerja (Shift) Perawat Kamar Melati
Shift
1
2
3
Jam
masuk
07.00
WIB
14.00
WIB
21.00
WIB
Jam
pulang
14.00
WIB
21.00
WIB
07.00
WIB
Total
jam
kerja
7 Jam
7 Jam
10
Jam
Jumlah Gaji dan
perawat tunjangan
Rp 1.880,94 /
3 orang Jam
Rp 1.880,94 /
3 orang Jam
Rp 1.880,94 /
3 orang Jam
9 orang
Total
Rp 39.499,74
Rp 39.499,74
Rp 56.428,2
Rp 135.427,2
Sumber: Data diolah
Tabel 4.8 di atas mengambarkan biaya gaji perawat yang dikeluarkan oleh
perusahaan per hari untuk kamar Teratai, yaitu sebesar Rp 215.260,8.
Dalam 1 hari ada 9 orang perawat yang bertugas dengan pembagian waktu
kerja yang terbagi menjadi 3 shift.
Catatan:
-
Gaji pokok perawat dibayarkan setiap bulan.
-
Jamsosotek perawat dibayarkan setiap bulan.
-
THR dan bonus dibayarkan 1 x dalam setahun menjelang hari raya.
d. Beban penyusutan peralatan
Beban penyusutan peralatan pertahun adalah Rp 11.067.000,00 maka
penyusutan perhari adalah:
Rp 11.067.000,00 = Rp 30.320,54
365 hari
Beban penyusutan peralatan untuk kamar Melati per harinya adalah
Rp 30.320,54. Sejauh ini tidak diakui sebagai beban dalam perhitungan
laba rugi kamar. Padahal seharusnya diakui dan dibebankan ke pasien
rawat inap (dapat dilihat pada lampiran 4, hal. 125).
e. Biaya linen
Biaya linen yang dibebankan kepada pasien untuk kamar Melati per
harinya adalah Rp 626,73.
f. Biaya pemakaian perlengkapan
Biaya pemakaian perlengkapan yang dibebankan ke pasien adalah
Rp 16.363,92.
g. Biaya kebersihan
Biaya kebersihan untuk gas laundry dan bahan yang dibebankan ke
pasien rawat inap kamar Melati tiap harinya adalah Rp 506,42. Biaya
kebersihan untuk pemusnahan sampah medis yang dibebankan ke pasien
tiap harinya adalah Rp 5.873,32.
h. Biaya pemeliharaan
Biaya pemeliharaan selama tahun 2009 adalah Rp 4.320.000,00. Apabila
dibebankan ke pasien rawat inap, maka setiap hari pasien dikenakan
biaya pemeliharaan sebesar Rp 600,00.
i. Biaya material unit
Pada tahun 2009, ruang rawat inap Melati mengalami perbaikan dan
menghabiskan biaya Rp 191.900,00. Oleh karena itu untuk pembebanan
tarif ke pasien, dikenakan biaya Rp 106,61 per pasien per harinya
j. Biaya listrik
Biaya listrik selama tahun 2009 adalah Rp 6.821.648,00. Sehingga biaya
listrik untuk tiap kamar Melati selama tahun 2009 adalah Rp 341.082,4.
Apabila dibebankan ke pasien, maka biaya listrik yang ditanggung selama
1 hari adalah Rp 934,47. Beban listrik sejauh ini tidak diakui sebagai
beban dalam perhitungan laba rugi kamar. Padahal seharusnya diakui dan
dibebankan ke pasien rawat inap (dapat dilihat pada lampiran 4, hal 125).
Tabel 4.9 di bawah ini adalah biaya overhead per hari untuk tiap ruang
perawatan.
Tabel 4.9
Biaya Overhead Per Ruang Perawatan
Overhead
Beban
penyusutan
peralatan
Linen
Biaya
pemakaian
perlengkapan
Gas loundry
dan bahan
Kebersihan
Biaya
pemeliharaan
Flamboyan
Mawar
Teratai
Melati
Rp 46,964.38
Rp 44,293.15
Rp 35,663.01
Rp 30,320.54
Rp
1,988.77
Rp 108,854.00
Rp
1,331.61
Rp
Rp
7,702.38
Rp
7,599.43
Rp
6,922.07
Rp 6,359.91
Rp
4,778.91
Rp
549.55
Rp
579.29
Rp
4,268.97
Rp
6,990.44
Rp
1,999.73
Rp 5,873.32
Rp
1,142.85
Rp
1,934.52
Rp
1,345.13
Rp
Rp
626.73
506.42
600.00
Biaya
material unit
Biaya listrik
Total
Overhead
Rp
45.31
Rp
753.96
Rp
581.87
Rp
106.61
Rp
1,886.74
Rp
1,453.22
Rp
1,630.62
Rp
934.47
Rp 68,778.31
Rp 64,662.81
Rp 50,033.33
Rp 45,328.00
Sumber: Data diolah
Dalam penentuan tarif kamar, manajemen rumah sakit memperhatikan
laporan laba rugi tahun sebelumnya (dalam kasus ini sebagai pembanding
adalah Laporan Laba Rugi tahun 2009. Dapat dilihat pada lampiran 1 s.d
4 hal. 122 s.d 125). Jika laba yang dihasilkan telah sesuai dengan target,
maka tarif kamar untuk tahun depan tidak dinaikkan (tentunya tetap
memperhatikan kompetitor dan inflasi). Berdasarkan margin kontribusi
yang tiap kamarnya berbeda (margin kontribusi untuk kamar Flamboyan
adalah 30%, untuk kamar Mawar adalah 30%, untuk kamar Teratai
adalah 25%, dan untuk kamar Melati adalah 20%), maka keputusan
penentuan tarif untuk tahun berikutnya (tahun 2010) menurut perhitungan
biaya rumah sakit (traditional costing method) adalah sebagai berikut:
Tabel 4.10
Keputusan Tarif Kamar Rawat Inap untuk Tahun 2010
Data 2009
Nama
Kamar
Flamboyan
Rp 2,097,850,845
Rp
Mawar
Rp 1,973,231,026
Rp
Teratai
Melati
Pendapatan
Beban/biaya
Laba/Rugi
Tarif 2010
(821,280,58)
Rp 1,276,570,265
Rp 550,000
(784,807,404)
Rp 1,188,423,622
Rp 425,000
Rp 3,276,085,581
Rp (1,447,771,868)
Rp 1,828,313,713
Rp 300,000
Rp 1,441,860,940
Rp
Rp
Rp 100,000
(570,222,528)
871,638,412
Sumber: Data perusahaan
Bila dianalisis, pendapatan terbesar selama tahun 2009 berasal dari kamar
Teratai. Hal ini dikarenakan jumlah permintaan pasien untuk dirawat inap
pada kamar Teratai juga tinggi, yaitu sebanyak 6420 hari rawat (dapat
dilihat pada lampiran 12, hal 137) dan untuk beban terbesar juga berasal
dari kamar Teratai yang disebabkan lebih tingginya penggunaan tenaga
kerja.
C. Penerapan Activity Based Costing
Menurut Garisson and Noreen (2006) diperlukan enam tahapan dalam
penerapan activity based costing yang akan diimplementasikan terhadap
sistem perhitungan biaya Rumah Sakit Prikasih dalam hal penentuan tarif
kamar rawat inap. Perlu diperhatikan pula konsep value added dan non value
added yang tentunya sangat berpengaruh terhadap keefektifan dan keefisienan
dalam menyusun rancangan tarif kamar rawat inap.
1. Mengidentifikasikan, Mendefinisikan Aktivitas dan Pool Aktivitas.
Pengidentifikasian dan pendefinisian tentang aktivitas dan pool aktivitas
merupakan langkah penting utama dalam penerapan activity based costing
(ABC). Prosedur umum untuk melakukannya adalah melakukan
wawancara terhadap semua orang yang terlibat. Dalam hal ini, peneliti
melakukan wawancara terhadap Ka. Akuntansi RS. Prikasih. Semakin
banyak jumlah aktivitas yang dimasukkan dalam ABC maka akan semakin
akurat perlakuan terhadap biaya. Konsekuensinya catatan aktivitas yang
panjang tersebut dikurangi dengan cara menggabungkan aktivitas-aktivitas
yang sejenis yang memiliki korelasi yang tinggi. Dalam suatu level
aktivitas memiliki korelasi yang tinggi apabila aktivitas tersebut cenderung
bersamaan. Sebagai contoh jumlah pasien rawat inap akan memiliki
korelasi yang tinggi dengan lamanya pasien menginap berdasarkan order
konsumen. Tabel 4.11 di bawah ini adalah pengklasifikasian aktivitas dan
pool aktivitas kamar rawat inap.
Tabel 4.11
Pool Biaya Aktivitas Kamar Rawat Inap
Pool Biaya Aktivitas
Ukuran Aktivitas
Registrasi pasien
Jumlah pasien rawat inap
Desain layanan
Jumlah kamar
Rata-rata lama pasien menginap
SPelayanan Pasien
Sumber: Data diolah
Pool biaya aktivitas adalah sebuah “wadah” yang mengakumulasikan
semua biaya yang berkaitan dengan aktivitas tunggal dalam sistem ABC.
Pool biaya registrasi pasien akan dibebani semua biaya sumber daya yang
dikonsumsi untuk memproses order tersebut. Ukuran aktivitas adalah basis
alokasi dalam sistem ABC. Pool biaya desain layanan akan dibebani
seluruh biaya dari sumber daya yang dikonsumsi dalam rangka mendesain
produk. Ukuran aktivitas untuk pool biaya adalah jumlah kamar. Ini adalah
aktivitas produk level, karena jumlah pekerjaan desain produk baru tidak
tergantung pada jumlah unit yang dipesan atau dijalankan. Pool biaya
besarnya order akan dibebani seluruh biaya konsumsi sumber daya sebagai
konsekuensi jumlah unit yang diproduksi. Aktivitas ini adalah aktivitas
unit level karena setiap unit membutuhkan sumber daya ini. Ukuran
aktivitas untuk pool ini adalah lama pasien menginap.
2. Menelusuri Biaya Overhead Secara Langsung Ke Aktivitas dan
Objek Biaya.
Setelah pool biaya aktivitas dan ukuran aktivitas diperoleh, maka tahap
selanjutnya adalah menelusuri secara langsung berbagai biaya overhead ke
objek biaya.
Tabel 4.12
Biaya Overhead Per Ruang Perawatan
S
Overhead
e Beban
Flamboyan
Mawar
Teratai
Melati
46,964.38
Rp 44,293.15
Rp 35,663.01
Rp 30,320.54
1,988.77
Rp 1,088.54
Rp
1,311.61
Rp
626.73
7,702.38
Rp 7,599.43
Rp
6,922.07
Rp
6,359.91
4,778.91
Rp
549.55
Rp
579.29
Rp
506.42
4,268.97
Rp 6,990.44
Rp
1,999.73
Rp
5,873.32
Rp 1,934.52
Rp
1,345.13
Rp
600.00
Rp
753.96
Rp
581.87
Rp
106.61
1,886.74
Rp 1,453.22
Rp
1,630.62
Rp
934.47
Rp 68,778.31
Rp 64,662.81
Rp 50,033.33
penyusutan
t peralatan
Rp
Linen
Rp
e Biaya
pemakaian
Rp
l perlengkapan
Gas loundry dan
bahan
Rp
Kebersihan
Rp
Biaya
pemeliharaan
Rp
Biaya material
unit
Rp
Biaya listrik
Sumber:
Data diolah
Rp
Total overhead
1,142.85
45.31
Rp 45,328.00
Sumber: Data diolah
Sejauh ini rumah sakit belum memiliki perhitungan baku dalam
menetapkan tari kamar rawat inap. Oleh karena itu, perlu diperhatikan
betul apa saja yang menjadi biaya yang nantinya akan dibebankan ke
pasien rawat inap. Tabel 4.12 di atas menunjukan perhitungan biaya
overhead kamar yang sesungguhnya.
3. Membebankan Biaya Ke Pul Biaya Aktivitas
Sebagian besar baiay overhead diklasifikasikan dalam system akuntansi
dasar perusahaan berdasarkan departemen di mana biaya tersebut terjadi.
Sebagai contoh, gaji, perlengkapan sewa, dan sebagainya yang terjadi di
departemen pemasaran akan dibebankan pada departemen tersebut. Dalam
beberapa kasus, beberapa atau semua biaya ini dapat ditelusuri secara
langsung ke salah satu pul biaya aktivitas dalam sistem ABC. Langkah ini
merupakan tahap ketiga penerapan ABC. Biaya tersebut terbagi dengan
beberapa pul biaya aktivitas menggunakan proses alokasi yang disebut
alokasi tahap pertama (first stage allocation). Alokasi tahap pertama
dalam system ABC adalah proses pembebanan biaya overhead ke pul
biaya aktivitas. Inti dari activity based costing adalah untuk menentukan
sumber daya yang dikonsumsi oleh objek biaya. Untuk mendapatkan
informasi yang berkaitan dengan pengalokasian sumber daya dilakukan
wawancara terhadap kepala bagian akuntansi Rs. Prikasih. Adapun hasil
dari wawancara dapat dilihat pada tabel 4.13 di bawah ini.
Tabel 4.13
Hasil Wawancara: Distribusi Aktivitas Konsumsi Sumber Daya
Lintas Pul Biaya Aktivitas – Flamboyan
Overhead
Beban penyusutan
peralatan
Linen
Biaya pemakaian
perlengkapan
Gas loundry dan
bahan
Kebersihan
Biaya pemeliharaan
Registrasi Pasien
Desain Layanan
Pelayanan
Pasien
30%
25%
40%
40%
30%
35%
25%
35%
40%
30%
30%
30%
40%
40%
40%
30%
30%
30%
Biaya material unit
Biaya listrik
30%
30%
40%
35%
30%
35%
Sumber: Data diolah
Beban penyusutan peralatan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien,
40% untuk desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Linen
didistribusikan 25% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan,
dan 30% untuk melayani pasien. Biaya pemakaian perlengkapan
didistribusikan 25% untuk registrasi pasien, 35% untuk desain layanan,
dan 40% untuk melayani pasien. Gas loundry dan bahan didistribusikan
30% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan, dan 30% untuk
melayani pasien. Kebersihan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien,
40% untuk desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Biaya
pemeliharaan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 40% untuk
desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Biaya material unit
didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan,
dan 30% untuk melayani pasien. Biaya listrik didistribusikan 30% untuk
registrasi pasien, 35% untuk desain layanan, dan 35% untuk melayani
pasien. Bila presentase distribusi telah dibuat seperti tabel 4.13 di atas,
selanjutnya adalah menghitung alokasi tahap pertama first stage allocation
untuk kamar Flamboyan. Disajikan pada tabel 4.14 di bawah ini.
Tabel 4.14
Alokasi Tahap Pertama (First Stage Allocation) Ke Pul
Biaya Aktivitas-Flamboyan
Overhead
Beban
penyusutan
peralatan
Registrasi
Pasien
Desain
Layanan
Rp 14,089.314
Rp 18,785.752
Pelayanan Pasien
Rp
14,089.314
Total
Rp 46,964.38
Linen
Biaya
pemakaian
perlengkapan
Gas loundry
dan bahan
Rp
497.1925
Rp
795.508
Rp
696.0695
Rp
1,988.77
Rp
1,925.595
Rp
2,695.833
Rp
3,080.952
Rp
7,702.38
Rp
1,433.673
Rp
1,911.564
Rp
1,433.673
Rp
4,778.91
Kebersihan
Biaya
pemeliharaan
Biaya
material unit
Rp
1,280.691
Rp
1,707.588
Rp
1,280.691
Rp
4,268.97
Rp
342.855
Rp
457.14
Rp
342.855
Rp
1,142.85
Rp
13.593
Rp
18.124
Rp
13.593
Rp
45.31
Biaya listrik
Rp
566.022
Rp
660.359
Rp
660.359
Rp
1,886.74
Total
Rp 20,148.9355
Rp 27,031.868
Rp
21,597.5065
Rp 68,778.31
Sumber: Data diolah
Tampilan 4.14 menunjukan bahwa registrasi pasien adalah sebesar 30%
dari sumber daya yang dicerminkan oleh Rp 46.964,38 beban penyusutan
peralatan.
30% x Rp 46.964,38
Data lainnya dalam tabel dihitung dengan metode yang sama.
Tabel 4.15
Hasil Wawancara: Distribusi Aktivitas Konsumsi Sumber Daya
Lintas Pul Biaya Aktivitas – Mawar
Overhead
Beban
penyusutan
peralatan
Linen
Biaya
pemakaian
perlengkapan
Gas loundry dan
bahan
Kebersihan
Biaya
pemeliharaan
Biaya material
unit
Biaya listrik
Registrasi Pasien
Sumber: Data diolah
Desain Layanan
Pelayanan Pasien
30%
25%
40%
40%
30%
35%
25%
35%
40%
30%
30%
40%
40%
30%
30%
30%
40%
30%
30%
30%
40%
35%
30%
35%
Beban penyusutan peralatan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien,
40% untuk desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Linen
didistribusikan 25% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan,
dan 30% untuk melayani pasien. Biaya pemakaian perlengkapan
didistribusikan 25% untuk registrasi pasien, 35% untuk desain layanan,
dan 40% untuk melayani pasien. Gas loundry dan bahan didistribusikan
30% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan, dan 30% untuk
melayani pasien. Kebersihan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien,
40% untuk desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Biaya
pemeliharaan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 40% untuk
desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Biaya material unit
didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan,
dan 30% untuk melayani pasien. Biaya listrik didistribusikan 30% untuk
registrasi pasien, 35% untuk desain layanan, dan 35% untuk melayani
pasien. First stage allocation untuk kamar Mawar disajikan pada tabel
4.16 di bawah ini.
Tabel 4.16
Alokasi Tahap Pertama (First Stage Allocation) Ke Pul
Biaya Aktivitas - Mawar
Overhead
Beban
penyusutan
peralatan
Linen
Biaya
pemakaian
perlengkapan
Gas loundry
dan bahan
Kebersihan
Biaya
Registrasi
Pasien
Desain
Layanan
Pelayanan
Pasien
Total
Rp 13,287.945
Rp 272.135
Rp 17,717.26
Rp 435.416
Rp 13,287.945
Rp
380.989
Rp 44,293.15
Rp 1,088.54
Rp 1,899.8575
Rp2,659.8005
Rp 3,039.772
Rp 7,599.43
Rp 164.865
Rp 2,097.132
Rp 580.356
Rp 219.820
Rp 2,796.176
Rp 773.808
Rp
164.865
Rp 2,097.132
Rp
580.356
Rp
549.55
Rp 6,990.44
Rp 1,934.52
pemeliharaan
Biaya
material unit
Biaya listrik
Rp
Rp
Total
Rp18,964.4445
226.188
435.966
Rp
Rp
301.584
508.627
Rp25,412.4915
Rp
Rp
226.188
508.627
Rp
753.96
Rp 1,453.22
Rp 20,285.874
Rp 64,662.81
Sumber: Data diolah
Tampilan 4.16 menunjukan bahwa registrasi pasien adalah sebesar 30%
dari sumber daya yang dicerminkan oleh Rp 44.293,15 beban penyusutan
peralatan
30% x Rp 44.293,15
Data lainnya dalam tabel dihitung dengan metode yang sama.
Tabel 4.17
Hasil Wawancara: Distribusi Aktivitas Konsumsi Sumber Daya
Lintas Pul Biaya Aktivitas – Teratai
Overhead
Beban penyusutan
peralatan
Linen
Biaya pemakaian
perlengkapan
Gas loundry dan
bahan
Kebersihan
Biaya
pemeliharaan
Biaya material unit
Biaya listrik
Registrasi Pasien
Desain Layanan
Pelayanan
Pasien
30%
30%
40%
35%
30%
35%
25%
40%
35%
30%
30%
40%
40%
30%
30%
30%
30%
30%
40%
40%
35%
30%
30%
35%
Sumber: Data diolah
Beban penyusutan peralatan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien,
40% untuk desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Linen
didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 35% untuk desain layanan,
dan 35% untuk melayani pasien. Biaya pemakaian perlengkapan
didistribusikan 25% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan,
dan 35% untuk melayani pasien. Gas loundry dan bahan didistribusikan
30% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan, dan 30% untuk
melayani pasien. Kebersihan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien,
40% untuk desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Biaya
pemeliharaan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 40% untuk
desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Biaya material unit
didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan,
dan 30% untuk melayani pasien. Biaya listrik didistribusikan 30% untuk
registrasi pasien, 35% untuk desain layanan, dan 35% untuk melayani
pasien. Bila presentase distribusi telah dibuat seperti tabel 4.17 di atas,
maka sangat mudah untuk mengalokasikan biaya ke pul biaya aktivitas.
First stage allocation untuk kamar Teratai disajikan pada tabel 4.18 di
bawah ini.
Tabel 4.18
Alokasi Tahap Pertama (First Stage Allocation) Ke Pul Biaya
Aktivitas – Teratai
Overhead
Beban
penyusutan
peralatan
Registrasi
Pasien
Desain
Layanan
Pelayanan
Pasien
Total
Rp 10,698.903
Rp 14,265.204
Rp 10,698.908
Rp 35,663.01
Linen
Biaya
pemakaian
perlengkapan
Gas loundry
dan bahan
Rp
393.483
Rp
459.0635
Rp
459.0635
Rp
1,311.61
Rp 1,730.5175
Rp
2,768.828
Rp 2,422.7245
Rp
6,922.07
Rp
173.787
Rp
231.716
Rp
173.787
Rp
579.29
Kebersihan
Biaya
pemeliharaan
Biaya
material unit
Rp
599.919
Rp
799.892
Rp
599.919
Rp
1,999.73
Rp
403.539
Rp
538.052
Rp
403.539
Rp
1,345.13
Rp
174.561
Rp
232.748
Rp
174.561
Rp
581.87
Biaya listrik
Rp
489.186
Total
Rp14,663.8955
Rp
570.717
Rp 19,866.2205
Rp
570.717
Rp
Rp 15,503.219
1,630.62
Rp 50,033.33
Sumber: Data diolah
Tampilan 4.18 menunjukan bahwa registrasi pasien adalah sebesar 30% dari
sumber daya yang dicerminkan oleh Rp 35.663,01 beban penyusutan
peralatan.
30% x Rp 35.663,01
Data lainnya dalam tabel dihitung dengan metode yang sama.
Tabel 4.19
Hasil Wawancara: Distribusi Aktivitas Konsumsi Sumber Daya
Lintas Pul Biaya Aktivitas – Melati
Overhead
Beban penyusutan
peralatan
Linen
Biaya pemakaian
perlengkapan
Gas loundry dan
bahan
Kebersihan
Biaya pemeliharaan
Biaya material unit
Biaya listrik
Registrasi Pasien
Desain Layanan
Pelayanan
Pasien
30%
30%
40%
35%
30%
35%
25%
40%
35%
30%
30%
30%
30%
30%
40%
40%
40%
40%
35%
30%
30%
30%
30%
35%
Sumber: Data diolah
Beban penyusutan peralatan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien,
40% untuk desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Linen
didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 35% untuk desain layanan,
dan 35% untuk melayani pasien. Biaya pemakaian perlengkapan
didistribusikan 25% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan,
dan 35% untuk melayani pasien. Gas loundry dan bahan didistribusikan
30% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan, dan 30% untuk
melayani pasien. Kebersihan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien,
40% untuk desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Biaya
pemeliharaan didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 40% untuk
desain layanan, dan 30% untuk melayani pasien. Biaya material unit
didistribusikan 30% untuk registrasi pasien, 40% untuk desain layanan,
dan 30% untuk melayani pasien. Biaya listrik didistribusikan 30% untuk
registrasi pasien, 35% untuk desain layanan, dan 35% untuk melayani
pasien. Bila presentase distribusi telah dibuat seperti tabel 4.19 di atas,
maka sangat mudah untuk mengalokasikan biaya ke pul biaya aktivitas.
First stage allocation untuk kamar Melati disajikan pada tabel 4.20 di
bawah ini.
Tabel 4.20
Alokasi Tahap Pertama (First Stage Allocation) Ke Pul
Biaya Aktivitas - Melati
Registrasi
Pasien
Desain
Layanan
Pelayanan
Pasien
Total
Rp 9,096.162
Rp 12,128.216
Rp 9,096.162
Rp 30,320.54
Linen
Biaya pemakaian
perlengkapan
Gas loundry dan
bahan
Rp
Rp
Rp
Rp
Kebersihan
Biaya
pemeliharaan
Biaya material
unit
Rp 1,761.996
Rp 2,349.328
Rp 1,761.996
Rp 5,873.32
Rp
180.00
Rp
240.00
Rp
180.00
Rp
600.00
Rp
31.983
Rp
42.6440
Rp
31.9830
Rp
106.61
Biaya listrik
Rp
280.341
Rp
327.0645
Rp
327.0645
Rp
934.47
Overhead
Beban
penyusutan
peralatan
Total
188.019
219.3555
219.3555
626.73
Rp1,589.9775
Rp 2,543.9640
Rp 2,225.9685
Rp 6,359.91
Rp
Rp
Rp
Rp
151.926
Rp13,280.4045
Sumber: Data diolah
202.568
Rp 18,053.14
151.926
Rp13,994.4555
506.42
Rp 45,328.00
Tampilan 4.20 menunjukan bahwa registrasi pasien adalah sebesar 30%
dari sumber daya yang dicerminkan oleh Rp 30.320,54 beban penyusutan
peralatan.
30% x Rp 30.320,54
Data lainnya dalam tabel dihitung dengan metode yang sama.
4. Menghitung tarif aktivitas
Setelah membuat tabel distribusi, langkah keempat dalam penerapan
activity based costing adalah menghitung tarif aktivitas. Tarif aktivitas
dihitung
dengan
membagi
total
masing-masing
aktivitas
Tarif
pembebanan
/ pool
ratebiaya
= totaluntuk
biaya pool
aktivitas
Total
pemicudata
aktivitas
dengan total aktivitasnya. Tabel di bawah
ini adalah
berkaitan dengan
kamar rawat inap yang dibutuhkan untuk menghitung tarif aktivitas.
Tabel 4.21
Data yang Berkaitan dengan Kamar Flamboyan
Jumlah kunjungan rawat inap
Keterangan
Jumlah pasien yang dirawat inap
7 Pasien/hari
Jenis kamar
14 Kamar
Jumlah hari
3 Hari/pasien
Sumber: Data perusahaan
Rata-rata jumlah pasien yang dirawat inap dalam kamar Flamboyan adalah
7 pasien per hari; lama rawat masing-masing pasien adalah 3 hari per
pasien; dan kamar Flamboyan memiliki 14 kamar rawat (dapat dilihat pada
lampiran 12, hal. 135).
Tabel 4.22
Data yang Berkaitan dengan Kamar Mawar
Jumlah kunjungan rawat inap
Keterangan
jumlah pasien yang dirawat inap
8 Pasien/hari
jenis kamar
14 Kamar
jumlah hari
3 Hari/pasien
Sumber: Data perusahaan
Rata-rata jumlah pasien yang dirawat inap dalam kamar Mawar adalah 8
pasien per hari; lama rawat masing-masing pasien adalah 3 hari per pasien;
dan kamar Mawar memiliki 14 kamar rawat (dapat dilihat pada lampiran
12, hal. 135).
Tabel 4.23
Data yang Berkaitan dengan Kamar Teratai
Jumlah kunjungan rawat inap
Keterangan
jumlah pasien yang dirawat inap
17 Pasien/hari
jenis kamar
13 Kamar
jumlah hari
3 Hari/pasien
Sumber: Data perusahaan
Rata-rata jumlah pasien yang dirawat inap dalam kamar Teratai adalah 17
pasien per hari; lama rawat masing-masing pasien adalah 3 hari per pasien;
dan kamar Teratai memiliki 13 kamar rawat (dapat dilihat pada lampiran
12, hal. 135).
Tabel 4.24
Data yang Berkaitan dengan Kamar Melati
Jumlah kunjungan rawat inap
Keterangan
jumlah pasien yang dirawat inap
13 Pasien/hari
jenis kamar
5 Kamar
jumlah hari
3 Hari/pasien
Sumber: Data perusahaan
Rata-rata jumlah pasien yang dirawat inap dalam kamar Melati adalah 13
pasien per hari; lama rawat masing-masing pasien adalah 3 hari per pasien;
dan kamar Melati memiliki 5 kamar rawat (dapat dilihat pada lampiran 12,
hal. 135). Tabel 4.25 di bawah ini adalah perhitungan tarif aktivitas untuk
kamar rawat inap Flamboyan.
Tabel 4.25
Perhitungan Tarif Aktivitas – Flamboyan
Pul Biaya
Aktivitas
Total Biaya
(a)
Total Aktivitas
(b)
Tarif Aktivitas
(a)x(b)
Registrasi pasien
Rp
20,148.9355
7 Pasien/hari
Rp 2,878.419357
Desain layanan
Rp
27,031.8680
14 Kamar
Rp 1,930.847714
Pelayanan pasien
Rp
21,597.5065
3 Hari/pasien
Rp 7,199.168833
Sumber: Data diolah
Angka dalam tampilan 4.25 mengindikasikan bahwa secara rata-rata
registrasi pasien untuk kamar Flamboyan membutuhkan sumber daya
sebesar Rp 2.878,419357; desain layanan membutuhkan sumber
daya
Rp 1,930.847714; pelayanan pasien membutuhkan sumber daya sebesar
Rp 7,199.168833.
Tabel 4.26
Perhitungan Tarif Aktivitas – Mawar
Pul Biaya
Aktivitas
Registrasi pasien
Desain layanan
Pelayanan pasien
Total Biaya
(a)
Rp 18,964.4445
Rp 25,412.4915
Rp 20,285.874
Total Aktivitas
(b)
8 Pasien/hari
14 Kamar
3 Hari/pasien
Tarif Aktivitas
(a)x(b)
Rp 2,370.555563
Rp 1,815.177964
Rp
6,761.958
Sumber: Data Perusahaan
Angka dalam tampilan 4.26 mengindikasikan bahwa secara rata-rata
registrasi pasien untuk kamar Mawar membutuhkan sumber daya sebesar
Rp
2,370.555563;
Rp 1,815.177964;
desain
layanan
pelayanan
pasien
membutuhkan
sumber
daya
membutuhkan sumber daya
sebesar Rp 6,761.958.
Tabel 4.27
Perhitungan Tarif Aktivitas – Teratai
Pul Biaya
Aktivitas
Total Biaya
(a)
Total Aktivitas
(b)
Registrasi pasien
Rp 14,663.8955
17 Pasien/hari
Desain layanan
Rp 19,866.2205
13 Kamar
Tarif
Aktivitas(a)x(b)
Rp
862.582088
Rp 1,528.170808
Pelayanan
pasien
Rp
15,503.219
3 Hari/pasien
Rp 5,167.739667
Sumber: Data Perusahaan
Angka dalam tampilan 4.27 mengindikasikan bahwa secara rata-rata
registrasi pasien untuk kamar Teratai membutuhkan sumber daya sebesar
Rp
862.582088;
desain
layanan
membutuhkan sumber
daya
Rp 1,528.170808; pelayanan pasien membutuhkan sumber daya sebesar
Rp 5,167.739667.
Tabel 4.28
Perhitungan Tarif Aktivitas – Melati
Pul Biaya
Aktivitas
registrasi pasien
desain layanan
Pul Biaya
Aktivitas
pelayanan
pasien
Total Biaya
(a)
Rp 13,280.4045
Rp
18,053.14
Total Biaya
(a)
Rp 13,994.4555
Total Aktivitas
Tarif
(b)
Aktivitas(a)x(b)
13 Pasien/hari Rp
1,021.5696
5 Kamar Rp
3,610.628
Total Aktivitas
Tarif
(b)
Aktivitas(a)x(b)
3 Hari/pasien
Rp
4,664.8185
Sumber: Data Perusahaan
Angka dalam tampilan 4.28 mengindikasikan bahwa secara rata-rata
registrasi pasien untuk kamar Melati membutuhkan sumber daya sebesar
Rp 1,021.5696; desain layanan membutuhkan sumber daya Rp 3,610.628;
pelayanan pasien membutuhkan sumber daya sebesar Rp 4,664.8185.
5. Membebankan Biaya Ke Objek Biaya dengan Menggunakan Tarif
Aktivitas dan Ukuran Aktivitas.
Langkah berikutnya dalam penerapan activity based costing di sebut
second stage allocation (alokasi tahap kedua), di mana tarif aktivitas
digunakan untuk membebankan biaya ke produk atau pelanggan dengan
cara mengalihkan tarif pool aktivitas dengan ukuran aktivitas yang
dikonsumsi masing-masing produk atau jasa layanan.
Pembebanan = Pul Rate x Jumlah aktivitas yang dikonsumsi
Tabel 4.29 di bawah ini adalah perhitungan biaya overhead untuk kamar
Flamboyan.
Tabel 4.29
Perhitungan Biaya Overhead - Flamboyan
Pul Biaya
Aktivitas
Tarif Aktivitas(a)
Registrasi pasien
Desain layanan
Pelayanan pasien
Rp 2,878.419357
Rp 1,930.847714
Rp 7,199.168833
Aktivitas(b) Biaya ABC (a)x(b)
1
1
1
Total
Rp 2,878.419357
Rp 1,930.847714
Rp 7,199.168833
Rp 12,008.435904
Sumber: Data diolah
Angka dalam tampilan 4.29 menggambarkan biaya overhead kamar
Flamboyan. Untuk setiap pul aktivitas biaya, jumlah aktivitas dikalikan
dengan tingkat aktivitas untuk mendapatkan biaya overhead yang
dibebankan terhadap produk. Sebagai contoh, kamar Flamboyan
melibatkan 1 kali aktivitas registrasi pasien, maka total biaya yang
dibebankan untuk kamar Famboyan adalah Rp 2,878.419357 oleh aktivitas
registrasi pasien;
Rp 1,930.847714
oleh aktivitas desan layanan; dan
Rp 7,199.168833 atas aktivitas pelayanan pasien.
Tabel 4.30
Perhitungan Biaya Overhead - Mawar
Pul Biaya
Aktivitas
Tarif Aktivitas(a)
Registrasi pasien
Rp 2,370.555563
1
Rp 2,370.555563
Desain layanan
Pelayanan pasien
Total
Rp 1,815.177964
Rp
6,761.958
1
1
Rp 1,815.177964
Rp
6,761.958
Rp 10,947.691527
Sumber: Data diolah
Aktivitas(b) Biaya ABC (a)x(b)
Angka dalam tampilan 4.30 menggambarkan biaya overhead kamar
Mawar. Untuk setiap pul aktivitas biaya, jumlah aktivitas dikalikan dengan
tingkat aktivitas untuk mendapatkan biaya overhead yang dibebankan
terhadap produk. Sebagai contoh, kamar Mawar melibatkan 1 kali
aktivitas registrasi pasien, maka total biaya yang dibebankan untuk kamar
Mawar
adalah Rp 2,370.555563
oleh
aktivitas
registrasi
pasien;
Rp 1,815.177964 oleh aktivitas desan layanan; dan Rp 6,761.958 atas
aktivitas pelayanan pasien.
Tabel 4.31
Perhitungan Biaya Overhead - Teratai
Pul Biaya
Aktivitas
Tarif Aktivitas(a)
Registrasi pasien
Rp
862.582088
1
Rp
862.582088
Desain layanan
Rp 1,528.170808
1
Rp
1,528.170808
Pelayanan pasien
Rp 5,167.739667
1
Rp
5,167.739667
Rp
7,558.492563
Aktivitas(b) Biaya ABC (a)x(b)
Total
Sumber: Data diolah
Angka dalam tampilan 4.31 menggambarkan biaya overhead kamar
Teratai. Untuk setiap pul aktivitas biaya, jumlah aktivitas dikalikan dengan
tingkat aktivitas untuk mendapatkan biaya overhead yang dibebankan
terhadap produk. Sebagai contoh, kamar Teratai melibatkan 1 kali
aktivitas registrasi pasien, maka total biaya yang dibebankan untuk kamar
Teratai
adalah Rp 862.582088 oleh
aktivitas
registrasi
pasien;
Rp 1,528.170808 oleh aktivitas desan layanan; dan Rp 5,167.739667 atas
aktivitas pelayanan pasien.
Tabel 4.32
Perhitungan Biaya Overhead - Melati
Pul Biaya
Tarif Aktivitas(a)
Aktivitas(b) Biaya ABC (a)x(b)
Aktivitas
Registrasi pasien
Desain layanan
Pelayanan pasien
Total
Rp
Rp
Rp
1,021.5696
3,610.628
4,664.8185
1
1
1
Rp
Rp
Rp
Rp
1,021.5696
3,610.628
4,664.8185
9,297.016077
Sumber: Data diolah
Angka dalam tampilan 4.32 menggambarkan biaya overhead kamar
Melati. Untuk setiap pul aktivitas biaya, jumlah aktivitas dikalikan dengan
tingkat aktivitas untuk mendapatkan biaya overhead yang dibebankan
terhadap produk. Sebagai contoh, kamar Melati melibatkan 1 kali aktivitas
registrasi pasien, maka total biaya yang dibebankan untuk kamar Melati
adalah Rp 1,021.5696 oleh aktivitas registrasi pasien; Rp 3,610.628 oleh
aktivitas desan layanan; dan Rp 4,664.8185 atas aktivitas pelayanan
pasien.
6. Menyiapkan Laporan Manajemen
Biaya overhead yang telah dihitung digabungkan dengan biaya bahan
langsung, dan tenaga kerja langsung. Tabel di bawah ini adalah
perhitungan tarif untuk kamar rawat inap Flamboyan, Mawar, Teratai, dan
Melati. Perhitungan ini sudah termasuk alokasi untuk inflasi dan margin
kontribusi yang diharapkan. Margin kontribusi untuk tiap kamar berbeda.
Margin kontribusi untuk kamar Flamboyan adalah 30%, untuk kamar
Mawar adalah 30%, untuk kamar Teratai adalah 25%, dan untuk kamar
Melati adalah 20%.
Tabel 4.33
Perhitungan Tarif Kamar Rawat Inap
Menggunakan Activity Based Costing
Keterangan
Flamboyan
Mawar
Teratai
Melati
DIRECT
COST
Bahan medis
Makan dan
minum pasien
Total direct
cost
Rp
1,828.57
Rp
31,593.00
Rp 31,593.00
Rp 24,745.00
Rp 20,305.00
Rp
33,421.57
Rp 33,392.43
Rp 26,208.21
Rp 66,513.53
Rp 182,224.08
Rp 137,817.72
Rp 215,260.80
Rp 135,427.20
Rp 182,224.08
Rp 137,817.72
Rp 215,260.80
Rp 135,427.20
OVERHEAD
Registrasi
pasien
Rp
Rp
Rp
Rp
Keterangan
Flamboyan
Mawar
Teratai
Melati
Desain layanan
Pelayanan
pasien
Rp
1,930.85
Rp
1,815.18
Rp
1,528.17
Rp
3,610.63
Rp
7,199.17
Rp
6,761.96
Rp
5,167.74
Rp
4,664.82
Total Overhead
Rp
12,008.44
Rp 10,947.69
Rp
7,558.49
Rp
9,297.02
COGS
Rp227,654.0859
Rp182,157.8415
Rp 249,027.5026
Rp 165,909.5461
Inflasi 10%
Margin
kontribusi
Rp
Rp
18,215.78
Rp
24,902.75
Rp
Rp 68,296.224
Rp 54,647.352
Rp
62,256.875
Tarif
Rp318,715.7099
Rp 255,020.9735
Rp 336,187.1276
DIRECT
LABOR
Gaji dan
tunjangan
perawat
Total direct
labor
2,878.42
Rp
1,799.43
2,370.56
Rp
1,463.21
862.58
Rp
880.53
1,021.57
OVERHEAD
22,765.40
16,590.95
Rp 33,181.908
Rp 215,682.1041
Sumber: Data diolah
Setelah dihitung dan dianalisa dengan menggunakan metode activity based
costing, maka perhitungan tarif kamar rawat inap yang diperoleh adalah
seperti tampilan 4.33 di atas. Tarif yang sesungguhnya dibebankan kepada
pasien rawat inap kamar Flamboyan adalah Rp 318.715,7099/hari; tarif
untuk kamar Mawar adalah Rp 255.020,9735 /hari; tarif untuk kamar
Teratai adalah Rp 336.187,1276/hari; tarif untuk kamar
Melati adalah
Rp 215.682,1041/hari. Di bawah ini adalah perhitungan biaya direct cost,
direct labor, dan overhead kamar rawat berdasarkan traditional costing
method.
Tabel 4.34
Direct Cost, Direct Labor, Overhead Per Hari Per Ruang Perawatan
Dengan Menggunakan Traditional Costing Method
Keterangan
Flamboyan
Mawar
Teratai
Melati
bahan medis
makan dan
minum pasien
Rp
1,828.57
Rp
1,799.43
Rp
1,463.21
Rp
880.53
Rp
31,593.00
Rp
31,593.00
Rp
24,745.00
Rp
20,305.00
total direct cost
Rp
33,421.57
Rp
33,392.43
Rp
26,208.21
Rp
21,185.53
DIRECT LABOR
Gaji dan
tunjangan perawat
Rp 182,224.08
Rp
137,817.72
Rp
215,260.80
Rp
135,427.20
total direct labor
Rp 182,224.08
Rp
137,817.72
Rp
215,260.80
Rp
135,427.20
OVERHEAD
Beban penyusutan
peralatan
Rp
46,964.38
Rp
44,293.15
Rp
35,663.01
Rp
30,320.54
linen
biaya pemakaian
perlengkapan
Gas loundry dan
bahan
Rp
1,988.77
Rp
108,854.00
Rp
1,331.61
Rp
626.73
Rp
7,702.38
Rp
7,599.43
Rp
6,922.07
Rp
6,359.91
Rp
4,778.91
Rp
549.55
Rp
579.29
Rp
506.42
Kebersihan
Biaya
pemeliharaan
Biaya material
unit
Rp
4,268.97
Rp
6,990.44
Rp
1,999.73
Rp
5,873.32
Rp
1,142.85
Rp
1,934.52
Rp
1,345.13
Rp
600.00
Rp
45.31
Rp
753.96
Rp
581.87
Rp
106.61
Biaya listrik
Rp
1,886.74
Rp
1,453.22
Rp
1,630.62
Rp
934.47
total overhead
Rp
68,778.31
Rp
64,662.81
Rp
50,033.33
Rp
45,328.00
COGS
Rp 284,423.96
Rp
235,872.96
Rp
291,502.34
Rp
201,940.73
DIRECT COST
Sumber: Data di olah
Tabel 4.34 di atas adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan bila
menggunakan metode tradisional. Bila dibandingkan dengan perhitungan
biaya berdasar aktivitas, angka dalam tabel 4.34 di atas lebih besar dari
yang seharusnya dibebankan ke pasien.
D. Perbandingan Tarif Kamar Rawat Inap Antara Pendekatan Saat Ini
(Traditional Costing Method), dan Activity Based Costing
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa RS. Prikasih belum
memiliki perhitungan baku dalam menetapkan sebuah tarif kamar rawat.
Di bawah ini adalah perhitungan tarif berdasarkan tradisional costing
method. Perusahaan hanya melakukan estimasi apakah pendapatan dari
sewa kamar mampu menanggung seluruh beban yang dikeluarkan.
Berdasarkan perhitungan dan analisa yang telah dilakukan dengan metode
tradisional dan ABC maka hasil akhir dari penelitian ini adalah ABC
terbukti mampu memberikan perhitungan tarif yang lebih murah
dibandingkan dengan metode tradisional. Di bawah ini adalah tabel yang
menunjukan perbandingan antara kedua pendekatan, yaitu pendekatan saat
ini dan pendekatan ABC.
Tabel 4.35
Perbandingan Tarif Kamar Rawat Inap Antara Pendekatan Saat
Ini (Traditional Costing Method), dan Activity Based Costing
Kamar Rawat
Inap
Existing
ABC
Flamboyan
Rp 550,000.00
Rp
318,715.71
Kenaikan/Penurunan
Naik
Mawar
Rp 425,000.00
Rp
225,020.91
Naik
Teratai
Rp 300,000.00
Rp
336,187.13
Turun
Melati
Rp 100,000.00
Rp
215,682.40
Turun
Sumber: Data diolah
Tabel 4.35 di atas menggambarkan secara jelas bahwa sistem activity
based costing mampu menyajikan perhitungan lebih akurat dan lebih
murah dari metode tradisional. Selama ini, perusahaan menetapkan tarif
kamar rawat inap Flamboyan sebesar Rp 550.000,00 padahal dengan
perhitungan ABC, perusahaan cukup mengenakan tarif Rp 318.715,71
kepada pasien. Lain halnya dengan kamar Melati, dengan menggunakan
sistem ABC diperoleh nilai yang undercosted. Hal tersebut dikarenakan
perhitungan gaji yang diberikan untuk perawat apabila dihitung
berdasarkan metode ABC, jumlah cost nya menjadi lebih besar per hari
nya (dapat dilihat pada tabel 4.17 dan 4.18).
E. Pembahasan
Hasil akhir dari penelitian ini adalah sistem activity based costing
(ABC) terbukti mampu memberikan perhitungan tarif yang lebih murah
dibandingkan dengan metode tradisional. Berdasarkan hal tersebut,
penerapan system ABC di rumah sakit Prikasih ini masih dapat
memberikan manfaat yang dirasakan oleh manajemen, walaupun itu akan
mempengaruhi aspek budaya dan keuangan perusahaan. Ditinjau dari
aspek budaya, system ABC dengan konsep value added-nya akan
merombak budaya. Selama ini kebijakan perusahaan dalam menetapkan
tarif kamar rawat inap hanya berdasarkan analisa semata, tanpa
menghitung biaya yang memang seaharusnya dibebankan ke pasien. Oleh
karena itu, hasil tarif yang ditetapkan manajemen selama ini menjadi tidak
akurat, yang pada akhirnya menepatkan perusahaan pada posisi yang
kurang memuaskan dalam daya saing masyarakat. Dari aspek keuangan,
menyangkut cost of implementation dari ABC sendiri yang meliputi
perancangan sistem baru, pendidikan dan training tentang sistem baru.
Tentunya selain cost, benefit yang akan diterima dari penerapan ABC juga
harus dihitung. Cost mungkin dapat dihitung dengan segera, tetapi benefit
baru dirasakan 5 tahun yang akan datang,
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, sistem ABC harus
dapat memberikan respon yang cepat dalam mengatasi dinamika yang
terjadi, khususnya pasar. Manajemen harus mengambil keputusan secara
cepat untuk menarik produk, mengevaluasi dan merevaluasi harga produk,
melakukan diversifikasi maupun melakukan keputusan strategi lain. Tabel
4.35 menjelaskan bahwa perhitungan tarif kamar dengan mengunakan
ABC terbukti lebih murah bila dibandingkan dengan metode tradisional.
Hal ini tentu saja dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berobat,
dan pada akhirnya dapat meningkatkan penjualan sewa kamar. Tidak
terlepas dari perannya sebagai organisasi sosial yang tidak mengacu pada
profit oriented, rumah sakit harus tetap memperhatikan kualitas pelayanan.
Bukan berarti rumah sakit menetapkan tarif yang lebih murah dari pesaing,
kemudian memberikan service yang kurang memuaskan bagi pasien. Perlu
diingat bahwa kepuasan pelanggan adalah salah satu factor-faktor penentu
keberhasilan perusahaan (critical success factors-CSF).
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perhitungan tarif
kamar rawat inap pada Rumah Sakit Prikasih. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa penerapan sistem activity based costing (ABC)
mamberikan dampak yang sangat baik dalam meningkatkan efisiensi dan
efektivitas penggunaan sumber daya internal perusahaan dalam kaitannya
dengan proses penentuan tarif kamar. Berdasarkan data yang diperoleh dan
penelitian lebih lanjut, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Rumah Sakit Prikasih masih menggunakan sistem tradisional dalam
menetapkan tarif kamar rawat. Manajemen menyusun sebuah tarif kamar
dengan mempertimbangkan tarif kamar tahun lalu, kenaikan/penurunan
inflasi, hasil survey perusahaan terhadap rumah sakit pesaing, serta biaya
per unit. Oleh karena itu, biaya yang terjadi menjadi overcosted dan
undercosted dari yang seharusnya,
2.
Sebelum menerapkan sistem ABC, terlebih dahulu perlu dilakukan
klasifikasi ulang untuk memastikan pos-pos biaya ke dalam klasifikasi
yang sebenarnya sehingga perhitungan tarif kamar rawat inap
menggambarkan biaya yang memang seharusnya dibebankan ke pasien.
Penerapan sistem ABC menggunakan langkah-langkah berdasarkan teori
Garrison and Noreen.
3.
Perhitungan tarif kamar dengan menggunakan ABC terbukti mampu
menhasilkan biaya yang lebih murah bila dibandingkan dengan
pendekatan tradisional. Perlu diingat, bahwa rumah sakit adalah
organisasi sosial yang tidak berorientasi pada keuntungan sehingga pada
akhirnya menyediakan tarif yang mampu dijangkau oleh masyarakat
golongan ekonomi lemah.
4.
Setelah memperhatikan dan menganalisa perhitungan dari dua metode di
atas, maka manajemen Prikasih akan mencoba mempertimbangkan dan
melakukan perhitungan ulang terkait dengan biaya kamar rawat,
sehingga pada akhirnya mampu meyediakan tarif yang terjangkau dan
perusahaan menempati posisi yang tinggi dalam persaingan pasar.
B. Implikasi
Setelah melihat kesimpulan di atas, pengimplentasian hasil penelitian
menjadi penting dilakukan, melihat manfaat yang diperolah dari penerapan
sistem ABC ini. Tentunya langkah-langkah efisiensi menjadi lebih mudah
dilakukan dan pada akhirnya perusahaan memiliki perhitungan baku untuk
mempertimbangkan dan menetapkan tarif kamar rawat untuk tahun depan.
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi di atas, saran-saran yang diajukan
dalam penelitian ini adalah:
1. Diharapkan perusahaan melakukan pengklasifikasian unsur-unsur biaya
produksi sesuai dengan kaidah yang berlaku.
2. Diharapkan mengaplikasikan ABC sesegera mungkin untuk meningkatkan
daya saing perusahaan.
3. Peningkatan peluang kinerja perusahaan, dengan meningkatnya efektivitas
dan efisiensi penggunaan sumber daya yang terkait dengan tarif kamar
rawat.
4. Diharapkan penelitian ini dikembangkan dengan variabel yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul, Hamid, “Buku Panduan Penulisan Skripsi”, Juni, Fakultas Ekonomi dan
Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2007.
Amin, Widjaja Tunggal, ”Strategic Management Accounting. Analisis Strategik
Atas Informasi Manajemen Biaya”, Harvarindo, 2009.
Aristanti, Widyaningsih, ”Peranan dan Kendala Penerapan Activity Based
Costing (ABC) Dalam Industri Jasa”, Percikan, Vol 103, Edisi Agustus,
2009.
Armanto, Witjaksono, ”Akuntansi Biaya”, Jilid 1, Edisi 1, Graha Ilmu, Jakarta,
2006.
Bastian, Bustami & Nurlela, ”Akuntansi Biaya Melalui Pendekatan Manajerial”,
Mitra Wacana Media, Jakarta, 2009.
Bastian, Bustami & Nurlela, ”Akuntansi Biaya”, Mitra Wacana Media, Jakarta,
2009.
Basuki, ”Sistem ABC: Apakah Manfaatnya Relevan?”, Majalah Ekonomi, Tahun
XI, No. 3, Desember, 2001.
Blocher, Chen, Cokins, Lin, ”Cost Management. Manajemen Biaya Penekanan
Strategis”, Buku 1, Edisi 3, Salemba Empat, Jakarta, 2006.
Blocher, Stout, Cokins, Chen, ”Cost Management. A Strategic Emphasis”,
International Edition, Mc. Graw Hill Companies, Inc, New York, 2008.
Carter dan Usry, ”Akuntansi Biaya”, Edisi 13, Salemba Empat, Jakarta, 2006.
Carter, William K, ”Akuntansi Biaya”, Buku 1, Edisi 14, Salemba Empat, Jakarta,
2009.
Charoline, Cheisviyanny, ”Penerapan Activity Based Costing Untuk Analisis
Pelanggan”, Jurnal Economic, vol 7, April, Hal. 39-44, 2007.
Garrison, Noreen, Brewer, ”Managerial Accounting”, Edisi 11, Salemba Empat,
Jakarta, 2006.
Hansen, Don. R dan Mowen, Maryanne. M, ”Management Accounting (Akuntansi
Manajemen)”, Buku 1, Edisi 7, Salemba Empat, Jakarta, 2006.
Horngern, Datar M, Foster, George, ”Cost Accounting”, Diterjemahkan oleh Dewi
Adhariani, AKBI. PT. Indeks Gramedia, Jakarta, 2005.
Lilis, Yulifah, ”Penggunaan Activity Based Costing Untuk Meningkatkan
Keakuratan Perhitungan Biaya Produk”, Kinerja, Vol 2, No. 1, Maret,
2004.
Mehmet C. Kocakulah, Ph.D, ”Using Activity-Based Costing (ABC) to Measure
Profitability on a commercial Loan Portofolio”, Journal of Performance
Management, ABI/INFORM Global pg. 29, 2007
Mulyadi, ”Akuntansi Biaya”, Edisi 5, Universitas Gajah Mada.Yogyakarta, 2005.
Nunik, L, ”ABC System: Sistem Biaya Dalam Mengatasi Kelemahan/Kekurangan
Sistem Biaya Tradisional”, Jurnal Ilmiah Akuntansi, Vol 6, No. 2,
November, Hal. 88-100, 2007.
Rayburn, L, Gayle, ”Akuntansi Biaya”, Edisi 13, Erlangga, Jakarta, 1999.
Silky, Ionian, ”Analisis Penerapan Activity Based Costing Dalam Produksi
Program Acara Televisi. Studi Kasus Pada Perusahaan Televisi
Transformasi Indonesia”, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,
Jakarta, 2008.
Sugiyono, ”Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D”, Cetakan Ke-10,
Alfabeta, Bandung.
Sujoko, Efferin, ”Metode Penelitian Untuk Akuntansi. Sebuah Pendekatan
Praktis”, Cetakan Pertama, BayuMedia Publishing, Malang, 2004.
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1: LAPORAN LABA RUGI TAHUN 2009 – FLAMBOYAN
Rumah Sakit Prikasih
Laporan Laba Rugi Untuk Kamar Rawat Inap – Flamboyan
Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2009
PENDAPATAN
sewa kamar utama
konsul dan visit utama
oksigen
tindakan medis
bahan medis
adiministrasi
potongan penjualan
total pendapatan
Rp 1,430,550,000.00
Rp
366,417,660.00
Rp
9,826,420.00
Rp
77,066,242.00
Rp
4,776,394.00
Rp
221,926,425.00
Rp
(12,712,296.00)
BEBAN
bahan medis
makan pasien
gaji
jamsostek
THR dan bonus
jasa medis dokter
pendidikan dan pelatihan
linen
pemakaian perlengkapan
transportasi operasional
material unit
gas loundry dan bahan
kebersihan
total beban
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
LABA/RUGI BERSIH
Rp
2,097,850,845.00
Rp
(821,280,580.00)
Rp
1,276,570,265.00
4,756,120.00
85,963,676.00
301,648,041.00
12,984,838.00
35,237,633.00
301,427,742.00
20,046,900.00
23,797,935.00
228,380.00
24,085,715.00
11,103,600.00
LAMPIRAN 2: LAPORAN LABA RUGI TAHUN 2009 – MAWAR
Rumah Sakit Prikasih
Laporan Laba Rugi Untuk Kamar Rawat Inap – Mawar
Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2009
PENDAPATAN
sewa kamar
konsul dan visit utama
oksigen
tindakan medis
bahan medis
adiministrasi
potongan penjualan
total pendapatan
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
BEBAN
bahan medis
makan pasien
gaji
jamsostek
THR dan bonus
jasa medis dokter
pendidikan dan pelatihan
linen
pemakaian perlengkapan
transportasi operasional
material unit
gas loundry dan bahan
kebersihan
total beban
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
LABA/RUGI BERSIH
1,242,275,000.00
481,914,813.00
17,435,350.00
14,418,768.00
5,677,972.00
224,387,262.00
(12,878,139.00)
Rp 1,973,231,026.00
5,259,757.00
77,152,436.00
278,516,134.00
11,182,214.00
24,526,205.00
327,925,159.00
10,972,500.00
22,213,146.00
57,000.00
3,800,000.00
2,769,778.00
20,433,075.00
Rp
(784,807,404.00)
Rp 1,188,423,622.00
LAMPIRAN 3: LAPORAN LABA RUGI TAHUN 2009 – TERATAI
Rumah Sakit Prikasih
Laporan Laba Rugi Untuk Kamar Rawat Inap –Teratai
Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2009
PENDAPATAN
sewa kamar
konsul dan visit utama
oksigen
tindakan medis
bahan medis
adiministrasi
potongan penjualan
total pendapatan
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
BEBAN
bahan medis
makan pasien
gaji
jamsostek
THR dan bonus
jasa medis dokter
pendidikan dan pelatihan
linen
pemakaian perlengkapan
transportasi operasional
material unit
gas loundry dan bahan
kebersihan
total beban
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
LABA/RUGI BERSIH
1,926,000,000.00
788,141,168.00
43,188,520.00
175,529,913.00
17,050,627.00
361,241,753.00
(35,066,400.00)
Rp 3,276,085,581.00
9,393,842.00
185,778,020.00
455,271,024.00
18,514,664.00
49,299,324.00
634,654,499.00
1,900,000.00
29,275,200.00
44,439,732.00
555,000.00
2,932,650.00
2,919,643.00
12,838,270.00
Rp (1,447,771,868.00)
Rp 1,828,313,713.00
LAMPIRAN 4: LAPORAN LABA RUGI TAHUN 2009 – MELATI
Rumah Sakit Prikasih
Laporan Laba Rugi Untuk Kamar Rawat Inap – Melati
Untuk Tahun Yang Berakhir 31 Desember 2009
PENDAPATAN
sewa kamar
konsul dan visit utama
oksigen
tindakan medis
bahan medis
adiministrasi
potongan penjualan
total pendapatan
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
BEBAN
bahan medis
makan pasien
gaji
jamsostek
THR dan bonus
jasa medis dokter
pendidikan dan pelatihan
linen
pemakaian perlengkapan
transportasi operasional
material unit
gas loundry dan bahan
kebersihan
total beban
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
LABA/RUGI BERSIH
499,800,000.00
677,471,220.00
37,027,200.00
15,174,206.00
10,008,689.00
249,878,500.00
(47,498,875.00)
Rp 1,441,860,940.00
4,400,936.00
86,004,293.00
273,828,000.00
32,664,124.00
10,440,348.00
24,510,000.00
5,434,000.00
4,512,500.00
81,786,880.00
13,448,371.00
191,900.00
3,646,290.00
29,354,886.00
Rp (570,222,528.00)
Rp
871,638,412.00
LAMPIRAN 5: DAFTAR TARIF KAMAR RAWAT INAP RS. PRIKASIH
EDISI JANUARI 2010
NO
KELAS
RUANG
A. RUANG RAWAT UMUM
1
Kelas Utama
Flamboyan
TARIF
VISIT
KONSUL
DOKTER
UANG
MUKA
550.000
145.000
6.000.000
FASILITAS
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
2
3
4
Kelas I
Kelas II
Kelas III
Mawar
Teratai
Melati
425.000
300.000
100.000
130.000
120.000
105.000
5.000.000
•
4.000.000
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
1.000.000
•
•
•
•
•
•
•
•
B. RUANG RAWAT KHUSUS
1
Ruang Isolasi
Cempaka
2
3
4
Ruang Rawat
Anak Kelas III
Ruang Rawat
Anak Kelas III
Ruang HCU
a. Pasien
Cempaka
Teratai
HCU
190.000
115.000
115.000
450.000
130.000
120.000
120.000
130.000
2.000.000
•
1.000.000
•
•
•
•
1.000.000
•
•
•
7.000.000
•
•
•
1 kamar 1 tempat
tidur
Televisi
Kulkas
Telepon
Kamar mandi
Water heater
Air conditioner
Sofa
Meja makan
Meja + tea set
Kursi teras
Ruang tunggu +
sofa
1 kamar 1 tempat
tidur
Televisi
Kulkas
Telepon
Kamar mandi
Water heater
Air conditioner
Kursi teras
Meja + tea set
Sofa
1 kamar 2 tempat
tidur
Televisi
Kulkas
Kamar mandi
Air conditioner
1 kamar 4 tempat
tidur
Kamar mandi
Air conditioner
televisi
1 kamar 4 tempat
tidur
Kamar mandi
Air conditioner
Exhouse-fan
1 kamar 5 tempat
tidur
Kamar mandi
Air conditioner
1 kamar 5 tempat
tidur
Kamar mandi
Air conditioner
1 kamar 4 tempat
tidur
5
dengan
ventilator
b. Paien
tanpa
ventilator
Ruang
Perinatal
Perinatal
275.000
130.000
2.000.000
•
•
•
Kamar mandi
Air conditioner
Exhouse-fan
•
2 kamar 8 tempat
tidur
5 incubator
3 baby box
Air conditioner
Ruang menyusui
•
•
•
•
C. RUANG RAWAT BEDAH DAN NON INFEKSI
1
Kelas I
Anggrek
390.000
130.000
2
3
4
Kelas II A
Kelas II B
Kelas III
Anggrek
Anggrek
Anggrek
290.000
250.000
100.000
120.000
120.000
105.000
4.000.000
•
3.000.000
•
•
•
•
•
•
•
•
2.500.000
•
•
•
•
•
1.000.000
•
•
•
•
•
•
•
•
•
D. RUANG RAWAT BERSALIN
1
Kelas I
Kenanga A
2
3
Kelas II
Kelas III
Kenanga B
Kenanga C
390.000
290.000
100.000
130.000
120.000
105.000
4.000.000
•
3.000.000
•
•
•
•
•
•
•
•
•
1.000.000
•
•
•
•
•
1 kamar 1 tempat
tidur
Televisi
Kulkas
Telepon
Kamar mandi
Air conditioner
Meja + tea set
Sofa
1 kamar 2 tempat
tidur
Televisi
Kulkas
Kamar mandi
Air conditioner
1 kamar 3 tempat
tidur
Televisi
Kulkas
Telepon
Kamar mandi
Air conditioner
1 kamar 4 tempat
tidur
Televisi
Kamar mandi
Air conditioner
1 kamar 1 tempat
tidur
Televisi
Kulkas
Telepon
Kamar mandi
Water heater
Air conditioner
Meja + tea set
Sofa
1 kamar 2 tempat
tidur
Televisi
Kulkas
Kamar mandi
Air conditioner
1 kamar 6 tempat
tidur
4
Kamar Bayi
Kelas III
Kelas II
Kelas I
Bayi
110.000
100.000
105.000
110.000
1.000.000
•
•
•
•
•
Televisi
Kamar mandi
Air conditioner
Incubator
10 baby box
LAMPIRAN 6: FASILITAS KAMAR RAWAT INAP RUMAH SAKIT
PRIKASIH
Ruang Perawatan
Fasilitas
Flamboyan
• 1 kamar 1 tempat tidur
• Televisi
• Kulkas
• Telepon
• Kamar mandi
• Water heater
• Air conditioner
• Sofa
• Meja makan
• Meja + tea set
• Kursi teras
• Ruang tunggu
• sofa
Mawar
• 1 kamar 1 tempat tidur
• Televisi
• Kulkas
• Telepon
• Kamar mandi
• Water heater
• Air conditioner
• Kursi teras
• Meja + tea set
• sofa
Teratai
• 1 kamar 1 tempat tidur
• Televise
• Kulkas
• Kamar mandi
• Water heater
• Air conditioner
Melati
• 1 kamar 4 tempat tidur
• Kamar mandi
• Air conditioner
• Televisi
LAMPIRAN 7: BIAYA OVERHEAD PER RUANG PERAWATAN
Overhead
Beban penyusutan peralatan
linen
biaya pemakaian
perlengkapan
Gas loundry dan bahan
Kebersihan
Biaya pemeliharaan
Biaya material unit
Biaya listrik
Total overhead
Flamboyan
Rp
46,964.38
Rp
1,988.77
Mawar
Teratai
Rp
44,293.15 Rp
Rp
108,854.00 Rp
35,663.01
1,331.61
Melati
Rp
30,320.54
Rp
626.73
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
6,922.07
579.29
1,999.73
1,345.13
581.87
1,630.62
50,033.33
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
7,702.38
4,778.91
4,268.97
1,142.85
45.31
1,886.74
68,778.31
7,599.43
549.55
6,990.44
1,934.52
753.96
1,453.22
64,662.81
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
6,359.91
506.42
5,873.32
600.00
106.61
934.47
45,328.00
LAMPIRAN 9: DIRECT COST, DIRECT LABOR, OVERHEAD PER HARI PER RUANG PERAWATAN
Keterangan
Flamboyan
Mawar
Teratai
Melati
DIRECT COST
bahan medis
Rp
1,828.57
Rp
1,799.43 Rp
1,463.21
Rp
880.53
makan dan minum pasien
Rp
31,593.00
Rp
31,593.00 Rp
24,745.00
Rp
20,305.00
Rp
33,421.57
Rp
33,392.43 Rp
26,208.21
Rp
21,185.53
total direct cost
DIRECT LABOR
Gaji dan tunjangan perawat
total direct labor
OVERHEAD
Beban penyusutan peralatan
linen
biaya pemakaian
perlengkapan
Gas loundry dan bahan
Kebersihan
Biaya pemeliharaan
Biaya material unit
Biaya listrik
total overhead
COGS
Rp
Rp
182,224.08
182,224.08
Rp
Rp
137,817.72
137,817.72
Rp
Rp
215,260.80
215,260.80
Rp
Rp
135,427.20
135,427.20
Rp
Rp
46,964.38
1,988.77
Rp
Rp
44,293.15
108,854.00
Rp
Rp
35,663.01
1,331.61
Rp
Rp
30,320.54
626.73
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
7,702.38
4,778.91
4,268.97
1,142.85
45.31
1,886.74
68,778.31
284,423.96
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
7,599.43
549.55
6,990.44
1,934.52
753.96
1,453.22
64,662.81
235,872.96
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
6,922.07
579.29
1,999.73
1,345.13
581.87
1,630.62
50,033.33
291,502.34
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
Rp
6,359.91
506.42
5,873.32
600.00
106.61
934.47
45,328.00
201,940.73
BERITA ACARA WAWANCARA
No
PERTANYAAN
HASIL WAWANCARA
1
Terbentuknya RS. Prikasih ini sendiri
pada awalnya seperti apa, serta dalam
perkembangannya telah mengalami
perubahan apa saja?
Company Profile RS. Prikasih
2
Untuk pengakuan biaya, bagaimana cara
pihak RS melakukan perhitungan biaya
per unit kamarnya?
RS. Prikasih sendiri didasarkan
pada cost unit dan profit unit yang
terdiri dari biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh perusahaan baik
itu untuk biaya medis ataupun non
medis
3
Lalu bagaimana dengan pengakuan
labanya?
Pengakuan laba didasarkan pada
unit kamar inap yang menghasilkan
pendapatan bagi perusahaan.
4
Adakah faktor-faktor yang
melatarbelakangi manajemen RS dalam
menyusun tarif kamar rawat inap itu
sendiri?
Ada 4 (empat) poin penting yang
melatarbelakangi pihak RS dalam
halnya menyusun tarif kamar rawat
inap, yaitu:
1.Tarif kamar rawat inap tahun lalu;
2. Kenaikan/penurunan inflasi;
3. Survey RS. pesaing yang
terdekat.
4. Biaya per unit
5
Lalu bagaimanakah metode perhitungan
laporan laba-rugi seperti yang biasa
dilakukan oleh RS. Prikasih ini?
Pihak RS. melaporkan laporan labarugi per akhir tahun/periode, ada
juga laporan laba-rugi per jenis
kamar untuk melihat keuntungan
ataupun kerugian per jenis kamar
itu sendiri.
6
Dalam menentukan penyusunan tarif
rawat inap ini, tahapan-tahapan apa saja
yang terjadi di dalamnya?
Lihat Tabel 4.11
No
PERTANYAAN
HASIL WAWANCARA
7
Dalam tiap-tiap tahapan itu sendiri
tentunya ada aktivitas-aktivitas yang
terjadi di dalamnya, aktivitas-aktivitas
tiap-tiap tahapan itu apa saja?
Lihat Tabel 4.12
8
Untuk prosentase tiap-tiap aktivitas per
tahapan-tahapan penentuan tarif kamar
itu berapa saja?
Lihat Tabel 4.13; 4.15; 4.17
7
Biaya-biaya apa saja yang terdapat di
dalamnya? (Maksudnya tiap-tiap
aktivitas)
Ada 3 (tiga) jenis biaya yang
diterapkan oleh RS. Prikasih ini,
yaitu:
1. Biaya Langsung;
2. Biaya TK Langsung; dan
3. Biaya Overhead.
8
Biaya Langsung itu meliputi apa saja?
Lihat tabel (4.33)
9
Sedangkan, Biaya TK Langsung
meliputi apa saja?
Lihat tabel (4.33)
10
Lalu, Biaya Overhead meliputi apa saja?
Lihat tabel (4.33)
11
Penggunaan Biaya Langsung per hari
tiap kamarnya rate-nya (jumlah
pemakaian) berapa saja?
Penggunaan Biaya Tenaga Kerja
Langsung per hari tiap kamarnya ratenya berapa saja?
Penggunaan Biaya Overhead per hari
tiap kamarnya rate-nya berapa saja?
Lihat Lampiran 9
12
13
Pewawancara
Putri Trisyana
NIM: 106082002547
Lihat Lampiran 9
Lihat Lampiran 9
Jakarta, 20 Maret 2010
Ka. Akuntansi RS. Prikasih
Arie Sudirman
Download