(FET) BERBASIS ZINC OXIDE (ZnO)

advertisement
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI FIELD EFFECT
TRANSISTOR (FET) BERBASIS ZINC OXIDE (ZnO) UNTUK
SENSOR ULTRA VIOLET (UV)
ZAINAL MUTAQIM
DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
ABSTRAK
ZAINAL MUTAQIM. Pembuatan dan Karakterisasi Field Effect Transistor
(FET) Berbasis Zinc Oxide (ZnO) untuk Sensor Ultra Violet (UV). Dibimbing oleh
Dr. AKHIRUDDIN MADDU dan Dr. IRMANSYAH.
Sensor Field Effect Transistor (FET) dibuat dari oksida logam, logam,
polimer konduktif organik, dan semikonduktor. Sensor FET terdiri atas tiga
lapisan, yaitu lapisan zinc oxide sebagai lapisan aktif, lapisan SiO2 sebagai insulator
dan lapisan silikon tipe-p. Sensor FET berbasis ZnO sensitif terhadap cahaya UV,
yang dapat dilihat dari hasil karakterisasi arus-tegangan dan karakterisasi respons
dinamik yang menunjukkan respons terhadap adanya cahaya UV. Respon sensor
FET terhadap cahaya UV memperlihatkan terjadinya peningkatan arus drainsource, dikarenakan terjadinya penurunan resistansi pada daerah lapisan zinc oxide.
Respon sensor FET terhadap cahaya UV memperlihatkan bahwa apabila sensor
diberikan cahaya UV maka terjadi peningkatan arus drain-sourceakibat adanya
penurunan resistansi lapisan ZnO. Respon dinamik sensor FET memperlihatkan
adanya perubahan tegangan output saat diberikan cahaya. Terjadi penurunan
tegangan output saat diberikan cahaya UV pada setiap peningkatan intensitas.
Sensor FET memiliki waktu respon sekitar 2.6 detik dan waktu pemulihan sekitar
2.8 detik. Hasil ini menunjukkan bahwa sensor FET memiliki waktu respons yang
lebih cepat dari pada waktu pemulihannya.
Kata kunci: Field Effect Transistor, zinc oxide, karakteristik arus-tegangan, sensor
Sensor Ultra Violet (UV).
PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI FIELD EFFECT
TRANSISTOR (FET) BERBASIS ZINC OXIDE (ZnO) UNTUK
SENSOR ULTRA VIOLET (UV)
ZAINAL MUTAQIM
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Departemen Fisika
DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
iii
Judul
Nama
NIM
: Pembuatan dan Karakterisasi FET Berbasis Zinc Oxide (ZnO)
untuk Sensor Sensor Ultra Violet (UV)
: ZAINAL MUTAQIM
: G74080072
Menyetujui ,
Pembimbing I
Pembimbing II
Dr. Akhiruddin Maddu M. Si
NIP. 196609071988021006
Dr. Irmansyah M. Si
NIP. 196809161994031001
Mengetahui,
Ketua Departemen Fisika
Dr. Akhiruddin Maddu M. Si
NIP. 196609071988021006
Tanggal Pengesahan :
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji syukur hanyalah bagi Allah SWT, karena atas limpahan
rahmat, taufik dan hidayahnya-Nya hingga penulis mampu menyelesaikan karya
ilmiah ini. Tema dari penelitian ini adalah Pembuatan dan Karakterisasi Field
Effect Transistor (FET) Berbasis Zinc Oxide (ZnO) untuk Sensor Ultra Violet (UV)
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Kedua orang tua penulis Bapak M. Yusuf Rasyim (di surga) dan Ibu
Muhibah yang selalu mendoakan, membimbing, menasehati dan banyak
hal lainnya.
2. Kakak (Ade Mukhsin, Mastupa, Syukahar, Abdul Syukur, M. Soleh,
Zoelfikar Ali Buto, Kustamto, Eva Diana dan Agus Salim) atas curahan
kasih sayang, yang senantiasa memberikan semangat, doa, perhatian, dan
pengorbanannya yang tak terhingga kepada penulis sehingga penulis
mampu menyelesaikan studi.
3. Bapak Dr. Akhiruddin Maddu selaku pembimbing I yang telah memberi
bimbingan, motivasi, kritik, dan saran.
4. Bapak Dr. Irmansyah selaku pembimbing II yang telah memberi
bimbingan, motivasi, kritik, dan saran.
5. Bapak Drs. M. Nur Indro M.Sc selaku dosen penguji atas masukkan dan
sarannya.
6. Bapak Heriyanto Syafutra M.Si selaku dosen penguji atas masukkan dan
sarannya.
7. Bapak Ir. Hanedi Darmasetiawan M.S selaku dosen editor yang telah
memberikan masukkan dan saran dalam penulisan skripsi.
8. Seluruh Dosen Pengajar, staf dan karyawan di Departemen Fisika FMIPA
IPB.
9. Seluruh Staf dan Pegawai IPB di lingkungan kampus.
10. Teman-temanku angkatan 45 terimakasih atas kebersamaan kalian.
11. Semua pihak yang telah membantu yang tidak bisa penulis ucapkan satu
persatu, terimakasih banyak atas dukungannya.
Akhir kata, dengan adanya tulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat
yang besar. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan unutk
kemajuan penelitian ini. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya untuk kita semua. Amin.
Bogor, April 2013
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 4 April 1989 di Pulau
Panggang, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu,
Jakarta. dari pasangan Muhammad Yusuf Rasyim dan
Muhibah. Penulis merupakan anak kedelapan dari delapan
bersaudara.
Penulis menyelesaikan masa studi di SD Negeri 03
Pagi Pulau Panggang, SLTP Negeri 133 Jakarta dan SMA
Negeri 69 Jakarta. Pada tahun 2008 penulis melanjutkan
pendidikan sarjana strata satu di Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur
SNMPTN. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam organisasi ROHIS
FISIKA 45, Himpunan Mahasiswa Fisika 45 (HIMAFI 45) bagian teknologi dan
keilmuan, dan Networking Academy Cisco. Selain itu penulis juga aktif dalam
beberapa kepanitiaan Departemen, Fakultas maupun tingkat IPB.
DAFTAR ISI
Halaman
DFTAR TABEL ...............................................................................................
vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
vii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................
vii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................
1.1 Latar Belakang ..................................................................................
1.2 Tujuan Penelitian ..............................................................................
1.3 Rumusan Masalah .............................................................................
1.3 Hipotesis ............................................................................................
1
1
1
1
1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................
2.1 Semikonduktor ..................................................................................
2.2 Silikon Tipe-p ...................................................................................
2.3 Transistor ...........................................................................................
2.4 Semikonduktor Zinc Oxide (ZnO) ....................................................
1
4
4
4
4
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ...........................................................
3.2 Alat dan Bahan Penelitian .................................................................
3.3 Prosedur Penelitian ...........................................................................
3.3.1 Penumbuhan lapisan SiO2 .......................................................
3.3.2 Penumbuhan dan karakterisasi lapisan ZnO ............................
3.3.3 Pembuatan kontak perak ..........................................................
3.3.4 Karakterisasi I-V ..................... .................................................
3.3.5 Pengujian respon dinamik sensor FET .....................................
5
5
5
5
5
5
6
6
6
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .........................................................
4.1 Lapisan SiO2.......................................................................................
4.2 Karakteristik Optik Lapisan ZnO .......................................................
4.3 Karakteristik I-V pada Sensor FET ....................................................
4.4 Respon Sensor FET Berbasis ZnO Terhadap Cahaya UV..................
4.5 Respon Dinamik Sensor FET Terhadap Cahaya UV..........................
4.6 Stabilitas dan Waktu Respon Sensor FET...........................................
6
6
7
7
7
8
9
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................
5.1 Kesimpulan .......................................................................................
5.2 Saran ..................................................................................................
10
10
10
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................
10
vi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Celah energi jenis-jenis semikonduktor .............................................
3
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Pita energi bahan (a) isolator, (b) semikonduktor dan
(c) konduktor ..........................................................................…..
Gambar 2 Pada pita valensi, elektron menyerap foton (hv) dan ke pita
konduksi meninggalkan hole ......................……………………..
Gambar 3 a) Struktur kristal silikon dengan sebuah atom pengotor
valensi lima menggantikan posisi salah satu atom silikon
dan b) struktur pita energi semikonduktor tipe-n .........................
Gambar 4 a) Struktur kristal silikon dengan sebuah atom pengotor
valensi tiga menggantikan posisi salah satu atom silikon
dan b) struktur pita energi semikonduktor tipe-p .........................
Gambar 5 Konfigurasi FET ...........................................................................
Gambar 6 Penumbuhan lapisan SiO2 ........................................................... .
Gambar 7 Konfigurasi field effect transistor (FET) berbasis ZnO ................
Gambar 8 Rangkaian karakteristik I-V FET .................................................
Gambar 9 Rangkaian pengujian respon dinamik sensor FET .......................
Gambar 10 Lapisan SiO2 di permukaan atas substrat silikon .........................
Gambar 11 Spektrum EDX substrat silikon yang telah dioksidasi ..................
Gambar 12 Absorbansi ZnO ............................................................................
Gambar 13 Karakteristik I-V FET ...................................................................
Gambar 14 Karakteristik I-V terhadap UV dengan Vg = 0V ..........................
Gambar 15 Karakteristik I-V terhadap UV dengan Vg = 5V ..........................
Gambar 16 Respon dinamik sensor FET terhadap intensitas cahaya UV .......
Gambar 17 Kurva hubungan antara intensitas cahaya terhadap tegangan .....
Gambar 18 Respon dinamik pada kondisi gelap dan terang dengan
variasi Vg ......................................................................................
Gambar 19 Stabilitas sensor FET ....................................................................
Gambar 20 Waktu respon sensor FET .............................................................
Gambar 21 Waktu pemulihan sensor FET .......................................................
2
2
3
3
4
5
6
6
6
7
7
7
8
8
8
8
8
9
9
9
9
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Diagram alur kerja penelitian ...................................................... 13
vii
1
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi dalam beberapa
dekade terakhir ini sangat pesat, terutama
piranti fotonik. Hal ini dikarenakan oleh
perkembangan teknologi optoelektronik yang
semakin meningkat. Teknologi optoelektronik
saat ini telah dimanfaatkan dalam berbagai
bidang, antara lain dalam bidang komunikasi
optik, pengukuran optik, dan sebagainya.
Piranti optoelektronik terdiri atas sumber
cahaya seperti LED, LASER, detektor dan
komponen-komponen optik lainnya. Detektor
optik merupakan salah satu bagian vital dalam
teknologi optoelektronik. Detektor pada piranti
optoelektronik ini pada umumnya merupakan
bahan semikonduktor yang memiliki efek
optoelektronik. Contoh penerapan teknologi
optoelektronik terdapat pada video compact
disc (VCD), karena pada VCD dapat
ditemukan sumber cahaya dan juga detektor
yang terbuat dari bahan semikonduktor.
Sifat listrik-optik bahan semikonduktor
meliputi fotoresistif atau fotokonduktif, yaitu
sifat listriknya (resistansi atau konduktansi)
bervariasi terhadap respon cahaya. Detektor
optik juga dapat dibuat dalam bentuk piranti
dioda dan transistor, yang sifat listrik-optiknya
disebut
fotodioda
dan
fototransistor.
Fototransistor merupakan salah satu komponen
yang berfungsi sebagai detektor cahaya yang
dapat mengubah efek cahaya menjadi sinyal
listrik, karena itu fototransistor termasuk
dalam detektor optik. Fototransistor dapat
diterapkan sebagai sensor yang baik, karena
memiliki kelebihan dibandingkan dengan
komponen lain yaitu mampu untuk mendeteksi
sekaligus menguatkannya dengan satu
komponen tunggal. Fototransistor memiliki
sambungan kolektor-basis yang besar dengan
cahaya, karena cahaya dapat membangkitkan
pasangan lubang elektron dengan diberi
prasikap maju, cahaya yang masuk
menimbulkan arus pada kolektor.
Bahan utama fototransistor adalah silikon
atau germanium (Ge) sama seperti pada
transistor jenis lainnya. Fototransistor
sebenarnya tidak berbeda dengan transistor
biasa, hanya saja fototransistor ditempatkan
dalam suatu material yang transparan sehingga
memungkinkan cahaya mengenainya (daerah
basis), sedangkan transistor biasa ditempatkan
pada bahan logam dan tertutup.
Dalam penelitian ini akan dikembangkan
field effect transistor (FET) dengan bahan
aktif
yaitu
ZnO.
ZnO
merupakan
semikonduktor direct-gap yang mempunyai
bandgap sekitar 3.37 eV pada temperatur
kamar, sehingga ZnO merupakan kandidat
yang baik untuk dikembangkan sebagai piranti
optik.9
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuat
piranti field effect transistor (FET) berbasis
zinc oxide (ZnO) sebagai lapisan aktif untuk
sensor UV.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apakah zinc oxide (ZnO) dapat digunakan
sebagai lapisan aktif pada FET untuk
mendeteksi UV?
2. Bagaimana karakteristik field effect
transistor (FET) berbasis ZnO sebagai
sensor UV?
1.4 Hipotesis
Semakin besar tegangan gate yang
diberikan pada FET maka semakin besar pula
arus yang dihasilkan dan semakin besar
intensitas cahaya UV yang diberikan pada FET
maka semakin besar penurunan tegangan yang
dihasilkan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Semikonduktor
Material zat padat dapat diklasifikasikan ke
dalam tiga bagian utama yaitu isolator,
semikonduktor dan konduktor. Isolator
memiliki konduktivitas yang rendah yang
berkisar antara 10-18 sampai 10-8 S/cm sedang
konduktor seperti aluminium dan perak
memiliki konduktivitas yang tinggi yang
berkisar antara 104 sampai 106 S/cm. Bahan
semikonduktor memiliki konduktivitas antara
isolator dan konduktor. Konduktivitas bahan
semikonduktor secara umum peka terhadap
temperatur, iluminasi, medan magnet, dan
jumlah partikel
pengotor (impuritas).
Kepekaan
bahan
semikonduktor
ini
menyebabkan bahan ini banyak digunakan
dalam aplikasi fisika. Studi tentang
semikonduktor dimulai pada abad ke-19.
Setiap atom memiliki elektron. Elektron
mengorbit di dalam atom dengan tingkatan
energi tertentu. Kulit-kulit yang ada pada atom
menunjukkan tingkatan energi elektron.
Elektron pada atom tunggal menempati orbital
atom. Orbital atom elektron akan membelah
ketika
atom-atom
mengumpul
saling
2
berdekatan.
Mengumpulnya
atom-atom
tersebut menyebabkan jumlah orbital atom
menjadi besar dan perbedaan energi di antara
orbital atom tersebut mengecil sehingga akan
terbentuk pita energi.
Konsep pita energi sangat penting dalam
mengelompokkan material sebagai konduktor,
semikonduktor dan isolator. Besarnya lebar
celah energi dapat menentukan apakah suatu
material termasuk konduktor, semikonduktor
atau isolator. Celah energi memisahkan pita
valensi dengan pita konduksi. Elektron pada
pita valensi dapat loncat menuju pita konduksi
dengan cara menyerap sejumlah energi yang
melebihi celah energi. Celah energi masingmasing material ditunjukkan pada Gambar 1.1
Semikonduktor adalah bahan yang
memiliki konduktivitas listrik di antara
konduktor
dan
isolator.
Resistivitas
semikonduktor berkisar di antara 10-6 sampai
104 ohm-m. Pada semikonduktor, terdapat pita
energi yang memperbolehkan keberadaan
elektron, yaitu pita valensi berenergi rendah
yang berisi penuh oleh elektron dan pita
konduksi yang berenergi tinggi yang kosong.
Celah energi yang memisahkan kedua pita
tersebut yaitu pita terlarang atau disebut juga
sebagai bandgap (Eg). Salah satu karakteristik
penting semikonduktor adalah memiliki celah
energi yang relatif kecil yaitu berkisar antara
0.2-2.5 eV. Celah pita energi yang kecil ini
memungkinkan suatu elektron memasuki
tingkat energi yang lebih tinggi. Perpindahan
elektron ini dapat terjadi karena pengaruh
temperatur dan penyinaran (Gambar 2).2
Ketika semikonduktor diiradiasi dengan
cahaya yang energinya lebih besar dari energi
gap semikonduktor (h  Eg), elektron pita
valensi dapat tereksitasi ke pita konduksi.
Elektron yang melompat dari pita valensi ke
pita konduksi disebut pembawa muatan
negatif, sedangkan lubang (hole) yang
ditinggalkan elektron pada pita valensi
merupakan pembawa muatan positif.
Jika jalur terlarang sempit, elektron bebas
mudah dibangkitkan hanya dengan energi
kecil. Bila lebar, maka elektron bebas sedikit
dibangkitkan seperti halnya pada isolator.
Celah energi untuk beberapa semikondutor
dapat dilihat pada Tabel 1. Dari daftar ini
terbukti intan merupakan isolator yang paling
baik karena celah energinya 6 eV. InSb dan
semacamnya mempunyai kondukivitas yang
besar pada temperatur kamar karena celah
energinya kecil.
Pita kosong
Pita berisi elektron
Gambar 1. Pita energi bahan (a) isolator, (b)
semikonduktor dan (c) konduktor
Pita konduksi
Eg celah energi
hole
Pita valensi
Gambar 2. Pada pita valensi, elektron
menyerap foton (hv) dan ke pita
konduksi meninggalkan hole
Ketika semikonduktor diiradiasi dengan
cahaya yang energinya lebih besar dari energi
gap semikonduktor (h  Eg), elektron pita
valensi dapat tereksitasi ke pita konduksi.
Elektron yang melompat dari pita valensi ke
pita konduksi disebut pembawa muatan
negatif, sedangkan lubang (hole) yang
ditinggalkan elektron pada pita valensi
merupakan pembawa muatan positif.
Jika jalur terlarang sempit, elektron bebas
mudah dibangkitkan hanya dengan energi
kecil. Bila lebar, maka elektron bebas sedikit
dibangkitkan seperti halnya pada isolator.
Celah energi untuk beberapa semikondutor
dapat dilihat pada Tabel 1. Dari daftar ini
terbukti intan merupakan isolator yang paling
baik karena celah energinya 6 eV. InSb dan
semacamnya mempunyai kondukivitas yang
besar pada temperatur kamar karena celah
energinya kecil.
Hanya sedikit bahan yang disebut sebagai
semikonduktor dalam keadaan tidak murni.
Oleh karena itu, dalam pembuatannya
semikonduktor yang murni dicampurkan
dengan bahan lain. Bahan ini disebut sebagai
bahan pengotor atau dopan. Semikonduktor
yang tidak dikotori oleh bahan lain disebut
semikonduktor intrinsic, sedangkan yang
diberi pengotor disebut semikonduktor
extrinsic.4
3
Tabel 1. Celah energi jenis-jenis
semikonduktor 3
Semikonduktor
Si
Ge
GaAs
GaSb
InSb
CdTe
CdS
ZnO
Intan
Celah energi
pada
temperatur
300 K (eV)
1.11
0.67
1.39
0.67
0.17
1.45
2.45
3.20
6.00
Semikonduktor extrinsic terdiri atas dua
tipe, yaitu tipe-n dan tipe-p (Gambar 3). Atomatom yang dapat dijadikan impuritas
(pengotor) berasal dari atom golongan IIIA dan
VA dalam sistem periodik unsur. Penambahan
impuritas dari golongan VA (atom pentavalen)
ke dalam semikonduktor intrinsic akan
menghasilkan
semikonduktor
tipe-n.
Semikonduktor tipe-n dapat dibuat dengan
menambahkan sejumlah kecil atom pengotor
yaitu atom pentavalen seperti antimoni (Sb),
fosfor (P) atau arsenik (As) pada silikon murni.
Atom-atom pengotor ini memiliki lima
elektron valensi sehingga secara efektif
memiliki muatan sebesar +5q. Saat sebuah
atom pentavalen menempati posisi atom
silikon dalam kisi kristal maka hanya ada
empat elektron valensi yang dapat membentuk
ikatan kovalen lengkap dan tersisa satu
elektron yang tidak berpasangan (Gambar 3a).
Hasil penggabungan silikon dengan atom
pentavalen menghasilkan satu elektron yang
tidak berpasangan, maka atom pentavalen
disebut atom donor. Penambahan atom donor
ini akan mengubah keadaan energi fermi
mendekat di bawah pita konduksi (Gambar
3b). Semikonduktor jenis ini atom pengotornya
memiliki kelebihan elektron (atom donor), hal
ini menyebabkan kelebihan elektron di dalam
kristal sehingga semikonduktor bermuatan
negatif.
Penambahan impuritas dari golongan IIIA
ke dalam semikonduktor intrinsic akan
menghasilkan
semikonduktor
tipe-p.
Semikonduktor tipe-p dapat dibuat dengan
menambahkan atom trivalen (Aluminium (Al),
Boron (B), Galium (Ga) atau Indium (In)) pada
semikonduktor murni. Atom pengotor ini
mempunyai tiga elektron valensi sehingga
secara efektif hanya dapat membentuk tiga
ikatan kovalen. Saat sebuah atom trivalen
menempati posisi atom silikon dalam kisi
kristal maka hanya ada empat elektron valensi
yang dapat membentuk ikatan kovalen lengkap
dan tersisa satu elektron yang tidak
berpasangan
(Gambar
4a).
Hasil
penggabungan silikon dengan atom trivalen
menghasilkan satu elektron yang tidak
berpasangan, maka atom trivalen disebut atom
aseptor. Penambahan atom aseptor ini akan
mengubah keadaan energi fermi mendekat di
atas pita valensi (Gambar 4b). Semikonduktor
tipe-p memiliki lubang (hole) sebagai
pembawa muatan mayoritas. Semikonduktor
jenis ini atom pengotornya kekurangan
elektron, hal ini menyebabkan kekosongan di
dalam kristal sehingga semikonduktor
bermuatan positif.4
Jika bahan semikonduktor disinari cahaya,
maka akan mengalami efek fotovoltaik, yaitu
penyerapan
energi
cahaya
sehingga
membangkitkan elektron untuk tereksitasi ke
pita konduksi dan menghasilkan arus listrik.
Dari
sifatnya
tersebut
maka
bahan
semikonduktor ini banyak digunakan sebagai
bahan dasar untuk berbagai macam piranti
optoelektronik antara lain fotodioda dan sel
surya.
Gambar 3. a) Struktur kristal silikon dengan
sebuah atom pengotor valensi lima
menggantikan posisi salah satu
atom silikon dan b) struktur pita
energi semikonduktor tipe-n.5
Gambar 4. a) Struktur kristal silikon dengan
sebuah atom pengotor valensi tiga
menggantikan posisi salah satu
atom silikon dan b) struktur pita
energi semikonduktor tipe-p.5
2.2 Silikon Tipe-p
Sebuah atom silikon memiliki empat
elektron pada kulit valensinya. Ketika atomatom silikon bergabung membentuk suatu
kristal padat, setiap atom menempatkan dirinya
di antara empat silikon lainnya sehingga kulit
valensi tiap-tiap atom saling berimpitan.
Elektron-elektron ini yang akan digunakan
bersama untuk membentuk ikatan kovalen.
Dalam keadaan murni, silikon merupakan
sebuah isolator karena ikatan kovalen
mengikat dengan kuat semua elektronnya
sehingga tidak menyisakan elektron bebas
untuk mengalirkan arus.17
Silikon tipe-p dibuat dari silikon murni
yang diberikan atom pengotor dari unsur
berbeda yang memiliki tiga elektron pada kulit
valensinya. Penambahan atom pengotor
tersebut mengakibatkan timbulnya sejumlah
ruang kosong yang dapat dimuati elektron,
ruang ini disebut hole. Hole yang terbentuk
akan digunakan sebagai pembawa muatan
serta dapat digerakan di dalam susunan atomatom dengan menerapkan beda potensial pada
bahan ini.17
2.3 Transistor
Pada tahun 1951, William Schockley
menemukan transistor sambungan pertama,
komponen semikonduktor yang dapat
menguatkan sinyal elektronik seperti sinyal
radio dan televisi. Kumpulan transistor telah
banyak menghasilkan berbagai rangkaian
semikonduktor lain, seperti rangkaian terpadu
(IC), suatu komponen kecil yang mengandung
ribuan transistor miniatur.12
Ada dua jenis transistor yaitu transistor
sambungan
bipolar
(bipolar
junction
transistor, BJT) dan transistor efek medan
(field
effect
transistor,
FET),
yang
karakteristik
kerja
dan
konsrtuksinya
berbeda.16 Transistor efek medan (FET) adalah
piranti terkendali tegangan, yang berarti
karakteristik keluaran dikendalikan oleh
tegangan masukan.
Pada dasarnya terdapat dua jenis transistor
efek medan yaitu transistor efek medan tipejunction (JFET) dan transistor efek medan tipe
MOS (MOSFET). Field effect transistor (FET)
merupakan salah satu bentuk dari MOSFET.
Konfigurasi FET biasanya dibuat dengan
menggunakan teknik deposisi lapisan seperti
evaporation, sputtering, chemical vapor
deposition, dan spin-coating. FET terdiri atas
tiga terminal, yaitu pengisian konduksi antara
dua terminal, source dan drain, dikendalikan
oleh modulasi potensial listrik dari terminal
ketiga yaitu gate.16
FET berbasis zinc oxide telah banyak
dipelajari untuk berbagai aplikasi dalam
perangkat fotodetektor, biosensor, dan flat
panel display. Dalam pembuatan FET kualitas
tiap lapisan sangat penting untuk menunjukkan
kerja dari FET. FET memiliki 3 lapisan yaitu
lapisan substrat, lapisan insulator dan lapisan
aktif zinc oxide.
Lapisan subtrat menjadi kontak gate, yaitu
sebagai pengatur arus source-drain. Kontak
gate diberi tegangan (VGS) menimbulkan
peningkatan arus
source-drain
secara
eksponensial,
dimana
daerah
linier
mendefinisikan nilai tegangan ambang.
Lapisan insulator berfungsi untuk mereduksi
arus source-drain, sedangkan lapisan ZnO
menjadi sebagai bahan aktif yang sensitif.
Prinsip kerja FET yaitu dengan mengontrol
distribusi
pembawa
muatan
dalam
semikonduktor dengan menggunakan medan
listrik-dalam. Jika bahan aktif yang digunakan
tipe-n, dengan memberikan tegangan positif
pada gerbang (gate) akan menghasilkan
akumulasi muatan negatif pada lapisan aktif di
sekitar permukaan dielektrik. Ketika muatan
pembawa
sudah
cukup
terakumulasi,
konduktivitas daerah akumulasi muatan
meningkat
secara
drastis,
akibatnya
meningkatkan arus antara drain dan source.15
2.4 Semikonduktor Zinc Oxide (ZnO)
Zinc oxide (ZnO) merupakan salah satu
bahan semikonduktor yang sering dibuat
dalam bentuk lapisan untuk berbagai aplikasi.
Bahan ini cukup banyak memiliki aplikasi,
contohnya piranti sel surya, LED, laser dioda,
sensor dan beberapa piranti optoelektronik
lainnya.
ZnO
SiO2
Al
Gambar 5. Konfigurasi FET
ZnO merupakan semikonduktor tipe-n
yang mempunyai lebar energi celah pita
(bandgap energy) antara 3.2 eV sampai 3.3 eV,
dengan energi gap sebesar itu, ZnO dapat
menyerap spektrum UV dari gelombang
elektromagnetik. Kelebihan dari ZnO adalah
terbentuk dari unsur-unsur melimpah,
memiliki harga yang murah, tidak beracun,
memiliki stabilitas yang tinggi dalam plasma
nitrogen, dan siklus panas serta tahan terhadap
radiasi.18
BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan
Februari 2012 sampai dengan Nopember 2012
di Laboratorium Biofisika, Laboratorium
Material, Laboratorium Fisika Lanjut, dan
Laboratorium Analisis Bahan, Departemen
Fisika IPB. Pemasangan kontak perak
dilakukan di Laboratorium Fisika Material
Departemen Fisika ITB (MOCVD ITB).
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah furnace, spektroskopi UV-VIS, I-V
meter, pH meter, gunting, selotip, double tip,
hot plate, magnetic stirrer, stirrer, pipet,
tabung reaksi, gelas kimia, gelas ukur,
pengaduk, dan neraca analitik. Bahan yang
digunakan meliputi kaca preparat, zinc asetate
dihydrate, NaOH, PEG, aceton, etanol, gas
oksigen O2, H2SO4, H2O2, pasta perak dan
akuades.
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Penumbuhan Lapisan SiO2
Lapisan SiO2 ditumbuhkan dengan metode
wet thermal. Substrat yang digunakan adalah
silicon wafer tipe-p (Si-p). Silikon dimasukkan
ke dalam larutan aseton lalu dicuci dalam
ultrasonic bath selama 30 menit. Setelah itu
dibersihkan
didalam
asam
peroxymonosulphuric selama 15 menit,
kemudian silikon dicuci kembali dengan asam
HF. Substrat Si-p tersebut dioksidasi untuk
menghasilkan SiO2 di atas substrat Si-p.
Lapisan SiO2 dibuat dengan memanaskan
substrat Si-p di dalam furnace hingga
mencapai temperatur kurang lebih 1000 0C,
gas oksigen murni (O2) dialirkan ke dalam
furnace selama pemanasan berlangsung.
Variasi volume O2 yang diberikan berbedabeda. Gas O2 mulai diberikan pada temperatur
600 0C, dengan volume 2.5 mL selama 5 menit.
Pada saat temperatur furnace telah mencapai
1000 0C, maka volume O2 yang diberikan
bertambah menjadi 5 mL selama 10 menit.
Keadaan temperatur 1000 0C ini dipertahankan
selama 2 jam, sehingga terbentuk lapisan SiO2
pada permukaan atas subtrat.
3.3.2 Pembuatan dan karakterisasi lapisan
zinc oxide (ZnO)
Lapisan zinc oxide (ZnO) dapat dibuat
dengan mencampurkan zinc asetate dihydrate,
PEG, aquades, etanol, kemudian diteteskan
NaOH sampai pH=7. Setelah itu di diamkan
selama semalam, sehingga terjadi endapan.
Pembuatan lapisan ZnO di permukaan atas
SiO2 menggunakan metode dip-coating. Pada
teknik dip-coating ini substrat yang akan
dilapisi dicelupkan ke dalam tempat endapan,
kemudian substrat yang sudah terlapisi ZnO
dipanaskan menggunakan furnace pada
temperatur 300 0C selama 1 jam.
Agar ketebalan lapisan yang dihasilkan
sesuai dengan yang diinginkan untuk membuat
field effect transistor (FET), maka perlu
dilakukan optimasi dalam proses deposisi.
Optimasi yang harus dilakukan pada kondisi
deposisi, meliputi konsentrasi larutan-larutan
yang digunakan, temperatur reposisi, dan lama
waktu deposisi. Optimasi dalam hal temperatur
dapat menentukan struktur dan sifat lapisan
ZnO yang terbentuk. Sedangkan, lamanya
waktu deposisi ditujukan untuk mendapatkan
ketebalan lapisan ZnO yang dihasilkan.
Sampel lapisan ZnO yang berhasil
ditumbuhkan dengan metode dip-coating,
selanjutnya
dikarakterisasi
dengan
spektrofotometer
UV-Vis.
Karakterisasi
Spektroskopi UV-VIS ditujukan untuk
mengetahui sifat optik lapisan ZnO. Sifat optik
lapisan ZnO yang dibuat dengan metode dipcoating diukur pada temperatur ruang dengan
menggunakan Spektrofotometer UV-Vis
dengan rentang panjang gelombang 200-1000
nm.
Furnace
O2
Silikon tipe p
Gambar 1. Penumbuhan lapisan SiO2
6
3.3.3 Pembuatan kontak perak
Setelah menumbuhkan lapisan ZnO dengan
metode dip-coating pada subtrat SiO2,
kemudian dilakukan pemasangan elektroda
source dan drain di atas lapisan ZnO.
Pembuatan kontak dilakukan di Laboratorium
Fisika Material Institut Teknologi Bandung
(MOCVD ITB). Proses penumbuhan perak
dilakukan dengan metode evaporasi pada
tekanan 10-3 barr. Proses penumbuhan perak
ini
bertujuan
untuk
mempermudah
karakterisasi FET. Pemberian kontak perak
dilakukan pada lapisan ZnO dan substrat
silikon.
3.3.4 Karakterisasi I-V
Karakterisasi FET dilakukan dengan
menghubungkan kontak gate dengan tegangan
dari power supply sebesar 0 V, 2 V, 4 V, 6 V,
8 V, dan 10 V. Pada setiap tegangan gate (Vg)
yang digunakan, arus drain (Id) diukur dengan
menggunakan Keithley 2400 dengan tegangan
drain (Vd) yang diberikan bervariasi dari 0
sampai 10V.
Karakteristik I-V FET dilakukan dengan
dua kondisi, yaitu gelap (tanpa cahaya UV) dan
terang (dengan cahaya UV). Tegangan gate
yang diberikan sebesar 0 V dan 5 V pada setiap
kondisi. Hal ini dimaksudkan untuk
mengetahui dan mempelajari apakah FET ini,
berespon terhadap cahaya UV.
Kontak
gate
Kontak
drain/sour
ce
ZnO
SiO2
Silikon tipe p
Gambar 7. Konfigurasi field effect transistor
(FET) berbasis ZnO
Gambar 8. Rangkaian karakteristik I-V FET
PASCO
Science Workshop 750
SENSOR
Gambar 9. Rangkaian pengujian respon
dinamik sensor FET
3.3.5 Pengujian respon dinamik sensor FET
Sensor FET disusun secara seri dengan
resistor, seperti pada Gambar 9. Rangkaian
dihubungkan dengan baterai 9V dan diberikan
variasi tegangan gate sebasar 0V, dan 5V,
kemudian sensor FET dihubungkan dengan
sensor tegangan yang berhubungan langsung
dengan komputer. Pengujian respon dinamik
dilakukan dengan dua variasi yaitu saat kondisi
terang (dengan cahaya UV) dan gelap (tanpa
cahaya UV).
Sensor FET diuji dengan memberikan
tegangan gate sebesar 0 V dan diberikan
cahaya UV dengan variasi intensitas 0.001
mW.cm-2, 0.041 mW.cm-2, dan 1.552 mW.cm2
. Setelah itu, FET diberikan variasi tegangan
gate sebesar 0 V dan 5 V dengan kondisi terang
dan gelap (tanpa cahaya UV). Hal ini bertujuan
untuk melihat pengaruh tegangan gate saat
kondisi terang (dengan cahaya UV) dan gelap
(tanpa cahaya UV). Dilakukan juga pengujian
kestabilan dari sensor FET yaitu dengan
memberikan tegangan gate 0 V saat kondisi
terang dan gelap (tanpa cahaya UV). Hal ini
dilakukan untuk melihat kemampuan sensor
apakah dapat balik (reversible) atau tidak.
BAB IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1 Lapisan SiO2
Penumbuhan lapisan silikon dioksida
(SiO2) di permukaan atas silikon dilakukan
dengan menggunakan metode thermal,
Substrat silikon (Si) dipanaskan menggunakan
furnace pada temperatur 1000 0C selama 3 jam,
kemudian gas oksigen (O2) dialirkan ke dalam
furnace selama pemanasan berlangsung,
sehingga oksigen berikatan dengan silikon
membentuk lapisan SiO2. Pada Gambar 10
dapat dilihat perbedaan warna antara substrat
silikon dan lapisan SiO2. Lapisan SiO2 yang
dihasilkan berwarna kuning keemasan,
sedangkan warna substrat silikon adalah perak.
7
Gambar 11 menunjukkan spektrum EDX
substrat silikon yang telah dioksidasi.
Karakteristik EDX dilakukan di Pusat
Penelitian Geologi Kelautan (PPGL) Bandung.
Karakterisasi EDX digunakan
untuk
mengetahui persentase unsur oksigen (O2)
yang ada dalam substrat silikon. Hasil
karakterisasi EDX menunjukkan bahwa dalam
sampel terdapat kandungan unsur O2 sekitar
35% dan unsur silikon sekitar 65%.
Berdasarkan hasil karakterisasi EDX lapisan
SiO2 telah berhasil ditumbuhkan di permukaan
atas substrat silikon.
Intensitas (cps)
Gambar 10. Lapisan SiO2 di permukaan atas
substrat silikon
Energi (keV)
Gambar 11. Spektrum EDX substrat silikon
yang telah dioksidasi
Absorbansi (a.u)
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
300
500
700
Panjang gelombang (nm)
Gambar 12. Absorbansi ZnO
4.2 Karakteristik Optik Lapisan ZnO
Lapisan zinc oxide (ZnO) dibuat dengan
menggunakan
metode
dip-coating
di
permukaan atas kaca preparat. yaitu dengan
cara mencelupkan sampel ke dalam endapan
ZnO, kemudian di panaskan menggunakan
furnace pada temperatur 300 0C selama 1 jam.
Setelah itu lapisan ZnO diukur pada temperatur
ruang dengan menggunakan spektrofotometer
UV-Vis dengan rentang panjang gelombang
200-1000 nm.
Sifat optik bahan semikonduktor ZnO
diamati berdasarkan karakteristik absorbansi
optik menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
Spektrum absorbansi optik sampel lapisan
ZnO ditunjukkan pada Gambar 12, yang
memperlihatkan lapisan ZnO menyerap cahaya
ultra violet (UV) dan melewatkan cahaya
tampak dan inframerah.
4.3 Karakteristik I-V Sensor FET
Karakteristik I-V FET dapat dilihat dari
kurva ID-S (arus drain-source) terhadap VD-S
(tegangan drain-source) dengan variasi Vg
(tegangan gate) yakni 0 V, 2 V, 4 V, 6 V, 8 V,
dan 10 V. Tegangan drain-source mulai dari 0
V sampai 10 V. Kurva I-V sensor FET
diperlihatkan pada Gambar 12.
Tegangan gate yang diberikan bernilai
positif, karena lapisan aktif ZnO merupakan
semikonduktor tipe-n. Pengaruh tegangan gate
terhadap ZnO dapat mempolarisasi muatan
pada ZnO sehingga akan menambah jumlah
pembawa muatan hole yang aktif bergerak.
Pada kurva I-V sensor FET menunjukkan
tegangan gate yang diberikan akan
mempengaruhi arus drain-source. Semakin
positif tegangan gate diberikan maka semakin
besar arus drain-source dihasilkan. Jika
tegangan gate tetap dan tegangan drain-source
terus dinaikan maka arus drain-source
mengalami saturasi. Kondisi seperti ini
menunjukkan sensor yang dibuat beroperasi
sebagai FET. Jika diberikan tegangan gate
terlalu besar maka FET kemungkinan akan
mengalami kebocoran pada lapisan SiO2,
sehingga kurva I-V yang terbaca seperti kurva
dari struktur dioda.
4.4 Respon Sensor FET Berbasis ZnO
Terhadap Cahaya UV
Karakterisasi I-V dilakukan dengan dua
perlakuan, yaitu kondisi gelap (tanpa cahaya
UV) dan kondisi terang, untuk setiap variasi
diberikan tegangan gate sebesar 0 V dan 5 V.
Pengukuran karakteristik ini bertujuan untuk
mengetahui apakah sensor yang dibuat dapat
merespon cahaya UV.
8
2,00E-04
1,80E-04
1,60E-04
1,40E-04
1,20E-04
1,00E-04
8,00E-05
6,00E-05
4,00E-05
2,00E-05
0,00E+00
gate 0 V
ID-S (A)
gate 2 V
gate 4 V
gate 6 V
gate 8 V
0
5
10
gate 10 V
VD-S (V)
Gambar 13. Karakteristik I-V sensor FET
3,5E-04
Vg = 0 V
Intensitas = 1.552 mW.cm-2
3,0E-04
ID-S (A)
2,5E-04
2,0E-04
1,5E-04
gelap
1,0E-04
terang
5,0E-05
0,0E+00
0
5
10
VD-S (V)
Gambar 14. Karakteristik I-V terhadap cahaya
dengan Vg = 0 V
Vg = 5 V
Intensitas = 1.552 mW.cm-2
3,5E-04
3,0E-04
gelap
ID-S (A)
2,5E-04
terang
2,0E-04
1,5E-04
1,0E-04
yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh
semakin mengecilnya resistansi lapisan ZnO.
Berdasarkan hasil pengukuran I-V pada
kondisi gelap (tanpa cahaya UV) dan terang,
terjadi perubahan arus yang menunjukkan
sensor FET dapat dimanfaatkan sebagai sensor
UV. Berdasarkan hasil Gambar 14 dan Gambar
15 dapat di simpulkan bahwa FET ini baik
digunakan saat tegangan gate nya 0 volt.
4.5 Respon Dinamik Sensor FET Terhadap
Cahaya UV
Pengujian respon dinamik dilakukan
dengan menghubungkan sensor FET secara
seri dengan resistor yang berfungsi sebagai
pembagi tegangan, kemudian
diberikan
cahaya UV dengan variasi intensitas sebesar
0.001 mW.cm-2, 0.041 mW.cm-2, dan 1.552
mW.cm-2, pada saat tegangan gate sebesar 0 V.
Berdasarkan Gambar 16, dapat diketahui
bahwa ketika intensitas cahaya 0.001 mW.cm2
diberikan, sensor FET menghasilkan
tegangan sebesar 3.9 V. Ketika intensitas
cahaya dinaikkan menjadi 0.041 mW.cm-2 dan
1.552 mW.cm-2, terjadi penurunan tegangan
sebesar 3.7 V dan 3.4 V. Hal ini disebabkan
adanya interaksi lapisan ZnO dengan cahaya
yang diberikan, sehingga pasangan elektronhole pada lapisan ZnO meningkat. Pasangan
elektron-hole akan terpisah oleh medan listrik,
dan mengakibatkan terjadinya penurunan
resistansi dari ZnO.
3,9
0
5
VD-S (V)
10
Gambar 15. Karakteristik I-V terhadap cahaya
dengan Vg = 5 V
Kurva karakteristik I-V untuk tegangan 0 V
dan 5 V ditunjukkan pada Gambar 14 dan
Gambar 15. Pengukuran I-V dilakukan dengan
menghubungkan elektroda negatif pada kontak
source, elektroda positif pada drain dan gate.
Pada pengukuran dengan dua variasi
tegangan gate, ketika FET diberikan tegangan
maju mengakibatkan kenaikan arus, karena
resistansi pada ZnO semakin mengecil dengan
meningkatnya tegangan bias maju. Pasangan
elektron-hole pada lapisan ZnO meningkat.
Pasangan elektron-hole terpisah oleh medan
listrik
yang
mengakibatkan
terjadi
peningkatan arus. Berdasarkan Gambar 14 dan
Gambar 15, dapat dilihat adanya peningkatan
arus ketika lapisan ZnO disinari cahaya UV
dibandingkan saat kondisi gelap (tanpa cahaya
UV). Peningkatan arus selain dipengaruhi oleh
cahaya, juga dipengaruhi oleh tegangan gate
0.001 mW.cm-2
3,8
0.045 mW.cm-2
3,7
3,6
3,5
1.552 mW.cm-2
3,4
0
20
40
60
Waktu (s)
Gambar 16. Respon dinamik sensor FET
terhadap intensitas cahaya UV
3,9
tegangan (V)
0,0E+00
Tegangan (V)
5,0E-05
0,001; 3,85
3,8
0,045; 3,70
3,7
3,6
1,552; 3,50
3,5
3,4
0
1
Intensitas (mW.cm-2)
2
Gambar 17. Kurva hubungan antara intensitas
cahaya terhadap tegangan
Intensitas = 1.552 mW.cm-2
terang
vg=5 volt
vg=0 volt
0
10
20
30
Waktu (s)
Gambar 18. Respon dinamik pada kondisi
gelap dan terang dengan variasi
Vg
Untuk melihat pengaruh intensitas cahaya,
maka dibuat kurva hubungan antara intensitas
terhadap tegangan output yang diperoleh dari
kurva pada Gambar 16. Gambar 17
memperlihatkan kurva hubungan antara
intensitas terhadap tegangan output, semakin
besar intensitas cahaya yang diberikan maka
semakin kecil tegangan output yang
dihasilkan. Hal ini disebabkan, adanya
interaksi antara cahaya yang diberikan dengan
lapisan ZnO, sehingga menyebabkan akan
meningkatkan pasangan elektron-hole daerah
lapisan ZnO. Pasangan elektron-hole akan
terpisah oleh medan listrik yang kemudian
akan berkontribusi terhadap penurunan
resistansi dari ZnO.
Pengujian sensor FET dilakukan pada
kondisi gelap (tanpa cahaya UV) dan terang
atau diberikan cahaya UV dengan intensitas
1.552 mW.cm-2 serta diberikan variasi
tegangan gate sebesar 0 V dan 5 V yang
ditunjukkan pada Gambar 18. Berdasarkan
Gambar 18, pada saat Vg = 0 V dapat dilihat
respon sensor FET terhadap cahaya yang
diberikan lebih besar jika dibandingkan saat
Vg = 5 V. Pada Vg = 0 V terjadi penurunan
tegangan sebesar 0.5 V dari kondisi gelap
(tanpa cahaya UV) ke kondisi terang (dengan
cahaya UV), sedangkan saat Vg = 5 V terjadi
penurunan tegangan dari kondisi gelap ke
kondisi terang sebesar 0.4 V. Berdasarkan
Gambar 18, dapat dilihat semakin besar
tegangan gate yang diberikan, maka semakin
besar pula tegangan yang dihasilkan.
Berdasarkan hasil Gambar 18 dapat di
simpulkan bahwa FET ini baik digunakan saat
tegangan gate nya 0 volt.
4.6 Stabilitas dan Waktu Respon Sensor
FET
Stabilitas sensor FET dilakukan dengan
memvariasikan perlakuan, yaitu tanpa cahaya
(gelap) dan dengan cahaya UV (terang) secara
berulang. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan sensor apakah dapat kembali ke
keadaan semula setelah digunakan. Gambar 19
memperlihatkan perlakuan sensor saat tanpa
cahaya (gelap) menghasilkan tegangan output
sebesar 3.1 V, sedangkan saat diberi cahaya,
tegangan output menurun hingga 2.7 V.
Namun setelah dikembalikan ke kondisi
semula (gelap), maka tegangan output kembali
menjadi 3.1 V. Hal ini terlihat bahwa sensor
memiliki resistansi yang dapat balik
(reversible) sehingga sensor FET dapat
digunakan secara berulang.
3,2
gelap
3,1
Teganngan (v)
gelap
3
2,9
2,8
terang
2,7
2,6
0
10
20
30
Waktu (s)
Gambar 19. Stabilitas sensor FET
tegangan (v)
3,6
3,4
3,2
3
2,8
2,6
2,4
2,2
3,15
3,1
3,05
3
2,95
2,9
2,85
2,8
2,75
2,7
2,65
6,3
8,3
10,3
waktu (s)
Gambar 20. Waktu respon sensor FET
3,2
3,1
tegangan (v)
Tegangan (V)
9
3
2,9
2,8
2,7
2,6
13,6
14,6
15,6
16,6
waktu (s)
Gambar 21. Waktu pemulihan sensor FET
10
Waktu respon merupakan waktu yang
dibutuhkan sensor FET untuk berubah dari
keadaan awal ke keadaan stasioner. Sedangkan
waktu pemulihan yaitu waktu yang diperlukan
oleh sensor untuk menghasilkan suatu output
yang dapat kembali ke keadaan semula.
Gambar 20 menunjukkan bahwa sensor FET
memiliki waktu respon sekitar 2.6 detik
merupakan waktu yang dibutuhkan sensor
berubah dari 3.1V (tanpa cahaya) menjadi 2.7
V (keadaan stasioner saat diberi cahaya UV).
Sedangkan Gambar 21 memperlihatkan waktu
pemulihan (recovery) pada sensor FET. Hasil
menunjukkan
sensor
memiliki
waktu
pemulihan selama 2.8 detik merupakan waktu
yang dibutuhkan sensor berubah dari 2.7 V
(keadaan stasioner saat diberi cahaya) menjadi
kembali kekeadaan semula yaitu 3.1 V (tanpa
cahaya UV). Hasil ini menunjukkan bahwa
sensor FET memiliki waktu respons yang lebih
cepat dari pada waktu pemulihannya.
banyaknya gas oksigen yang diberikan saat
pembentukan lapisan SiO2, yang bertujuan
untuk mendapatkan lapisan SiO2 yang
maksimal.
BAB VI. DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
BAB V. KESIMPULAN DAN
SARAN
5.1 Kesimpulan
Penumbuhan lapisan silikon dioksida
(SiO2) di permukaan atas silikon terbentuk dari
hasil pemanasan menggunakan furnace dengan
temperatur 1000 0C dan diberikan gas oksigen.
Hal ini dapat dilihat dari kasat mata bahwa
terdapat perbedaan warna antara warna silikon
dan warna SiO2, yaitu warna abu-abu dan
kuning keemasan pada subtrat.
Sensor FET dibuat dengan metode dipcoating, yaitu dengan mencelupkan substrat
SiO2 ke dalam endapan zinc oxide.
Karakterisasi arus-tegangan sensor FET, arus
drain-source dipengaruhi oleh perubahan
tegangan gate yang diberikan. Semakin positif
tegangan gate diberikan, maka semakin besar
arus drain-source yang dihasilkan.
Respon sensor FET terhadap cahaya
memperlihatkan terjadi peningkatan arus
drain-source, dikarenakan terjadi penurunan
resistansi pada daerah lapisan ZnO. Pada
respon dinamik memperlihatkan adanya
perubahan sensitivitas ketika diberikan
tegangan gate yang berbeda. Semakin besar
intensitas cahaya UV yang diberikan maka
akan terjadi penurunan tegangan output.
5.2 Saran
Penelitian ini dapat dilakukan kembali
dengan melakukan variasi waktu dan variasi
6.
7.
8.
9.
10.
12.
Goetzberger, A., Knobloch, J.,
Bernhard. 1998. Crystalline silicon
solar cells. Inggris. John Wiley & Sons
Ltd.
Wijaya, S.K. 2007. Diktat Kuliah
Elektronika I. Jakarta: Fisika FMIPA
UI.
Rio, S.R., Ida, M. 1999. Fisika dan
Teknologi Semikonduktor Cetakan
Ketiga. Jakarta: Pradnya Paramita.
Soga, T. 2006. Nanostructred Materials
For Solar Energy Conversion.
Amsterdam: Elsevier BV.
Sze, S.M., Kwok, K.N. 2007. Physics of
Semiconductor Devices. New Jersey:
John Willey & Sons, Inc.
Wong, E., Bonevich, J., Searson. 1998.
Growth kinetics of nanocrystolline ZnO
particle from colloidal suspensions. J
Materials Chemistry. Vol. 102. hlm
7770-7775.
Ohya, Y,. Saiki, H., Takashi. 1994.
Preparation of transparent electrically
conducting ZnO lapisan from zinc
asetate and alkoxide. J Materials
Science. Vol. 29. hlm 4099-4103.
Mizuguchi, J., Sumi, K., Muchi, T.
1981. A Highly stable sonaqueous
suspension for the electrophoretic
deposition of powdered substances. J
Electrochemistry Society. Vol. 130. hlm
1811-1825.
Osada, M., Sakemi, T., Yamamoto, T.
2006. The effect of oxygen partial
pressure on local structures properties
for Ga-doped ZnO thin lapisans. Thin
solid film, 494,38-41.
Annisa, A., Herman, B., Rahmat, H.
2010. Preparasi lapisan tipis ZnO
transparan menggunakan metode solgel beserta karakterisasi sifat optiknya.
Bandung: Program Studi Fisika FMIPA
Institut Teknologi Bandung.
Malvino, A.P. 2003. Prinsip-Prinsip
Elektronika. Jakarta: Salemba Teknika.
hlm 193.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
Toole, Mike. 2003. Rangkaian
Elektronik Prisip dan Aplikasi. Jakarta:
Erlangga.
Widodo, T.S. 2002. Elektronika Dasar.
Jakarta: Salemba Teknika.
Chang, J.B. 2006. Functionalized
polytiophene thin-lapisan transistor for
low-cast gas sensor array [desertasi].
Electrical Engineering and Computer
Sciences, University of California at
Berkley.
Khairurrijal, Dariskin, Budiman, M.
2004. Kapasitor MOS dengan dielektrik
ceria amorf. Matematika dan Sains, 9,
269-272.
[Anonim]. Silikon tipe-p. 2012.
http://teknik-elektro.net/silikon-tipe-p.
[12 Januari 2012].
Shinde, Gujar, Lokhande. 2007. Studies
on growth of ZnO thin films by a novel
chemical method. Solar Energy
Material & Solar Cells, 91, 1055-1061.
LAMPIRAN
13
Lampiran 1. Diagram alir penelitian
Mulai
Persiapan alat dan bahan
Pembuatan lapisan SiO2
Penumbuhan lapisan ZnO
Uji spektroskopi UV-VIS
Metalisasi
Karakteristik I-V
Pengujian FET terhadap cahaya UV
Pengolahan dan analisis data
Penyusunan laporan
Selesai
Download