BAB IV-reproduksi

advertisement
REPRODUKSI
Pertumbuhan manusia tidak lepas dari pengaruh hormon yang dihasilkan
kelenjar endokrin. Salah satu kelenjar endokrin yang penting adalah gonad. Kelenjar ini
pada wanita terdapat di ovarium, sedangkan pada pria terdapat di testis. Bagaimana
pengaruh hormon tersebut pada masing-masing kelamin, tampak pada ilustrasi kasus
berikut ini
“Kasus seorang laki-laki yang kehilangan dan mendapatkan kembali
kelelakiannya”.
Seorang veteran Perang Dunia I yang malang terkastrasi pada tahun 1918
saat usianya 19 tahun. Pecahan granat membuat testisnya harus diambil,
tetapi penisnya tidak mengalami kerusakan. Tubuhnya lembut, seakanakan tidak berotot sama sekali, pinggulnya tumbuh lebih lebar dan
pundaknya tampak lebih sempit dibanding ketika ia masih menjadi tentara.
Ia hanya memiliki sedikit sekali dorongan…..
Veteran ini menikah pada tahun 1924, dan Anda pasti bertanya-tanya,
mengapa? karena para dokter pernah memberi tahu bahwa ia pasti akan
impoten (tidak mampu ereksi)….ia melakukan beberapa usaha untuk
berhubungan seksual “demi memuaskan istrinya”, namun ia mengakui
bahwa ia sama sekali tidak mampu memuaskan istrinya.
Dr Foss mulai menyuntikkannya (testosteron) ke dalam otot laki-laki
terkastrasi yang lemah itu…. Setelah suntikan ke 5, ereksinya menjadi
cepat dan lama…. Itu belum semuanya, selama 12 minggu penanganan,
berat badannya bertambah 18 pon dan semua bajunya menjadi kekecilan.
Dulu ia mengenakan baju berukuran 14 ½, sekarang 15 ½ saja terlalu
sempit. Testosteron telah membangkitkan kembali seorang laki-laki yang
pernah hancur menjadi seorang lelaki benar-benar selamanya, meski
pernah kehilangan kelelakiannya (de Kruff dalam Pinel 2009)
Sistem reproduksi pria
Satu hal yang sangat membedakan sistem reproduksi pria dari wanita adalah
beberapa organ reproduksi pria terletak di luar tubuh. Organ tersebut adalah penis dan
skortum yang di dalamnya mengandung testis sebagai penghasil sperma. Kedua
organ tersebut terletak sedemikian rupa sehingga sperma yang dihasilkan dapat
dimasukkan ke dalam tubuh wanita. Selain itu skortum yang terletak di luar tubuh
menyebabkan testis sedikit lebih dingin suhunya daripada suhu tubuh. Hal ini sangat
penting untuk memroduksi sperma yang sehat.
Sperma dihasilkan di dalam testis; 2 kelenjar yang terdapat di dalam skortum.
Setiap testis mengandung banyak pipa yang disebut saluran semen, tempat sperma
dibentuk. Di antara pipa tersebut terdapat sel-sel yang memroduksi hormon testosteron.
Hormon ini mengatur sistem reproduksi pria dan perkembangan karakteristik seksual
yang membedakannya dari wanita. Hal ini berarti bahwa testis mempunyai 2 fungsi,
yaitu sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan androgen jenis testosteron dan
sebagai penghasil sperma yang berperan sebagai sel gamet pria. Sistem reproduksi
pria dapat dilihat pada Gambar 7 berikut ini
Sperma yang dihasilkan testis akan ditampung dalam epididimis. Suatu saat
sperma ini akan dikeluarkan dari tubuh melalui saluran vas deferens yang berhubungan
dengan uretra di dekat kelenjar prostat. Sebelum memasuki uretra, sperma yang
melalui saluran vas deferens akan bercampur dengan cairan seminal yang dihasilkan
oleh kelenjar prostat. Campuran antara sperma dan cairan seminal membentuk semen.
Dalam 1 cm3 semen biasanya terdapat 100-200 juta sperma.
Uretra adalah saluran yang menuju ke luar tubuh melalui penis. Gunanya untuk
mengeluarkan semen dan urin dari kandung kemih, namun tidak dalam waktu yang
sama. Bila cairan semen akan dikeluarkan, penis menegang dan saluran kandung
kemih secara otomatis tertutup.
Organ reproduksi pria dibedakan atas organ eksternal dan organ internal. Organ
eksternal sistem reproduksi pria meliputi: (1) penis; (2) skortum. Organ internal
sistem reproduksi pria meliputi: (1) testis; (2) saluran vas deferens; (3) kantung
seminal; (4) kelenjar prostat.
Proses terbentuknya sperma dapat dijelaskan sebagai berikut. Sperma atau sel
kelamin pria adalah satu sel terkecil dan hanya bias dilihat dengan menggunakan
mikroskop. Kepala sperma mengandung nucleus dengan 23 kromosom pembawa sifat.
Bagian kepala juga akrosom yang berperan dalam membantu sperma menembus
dinding ovum selama proses fertilisasi. Bagian tengah menghubungkan kepala dengan
ekor yang panjang. Bagian ini mengandung mitokondria yang menyediakan energy
untuk bergerak dengan melecutkan ekornya.
Anak laki-laki mulai menghasilkan sperma setelah memasuki masa puber.
Sperma dihasilkan dalam testis yang terletak di luar tubuh. Di dalam testis, sel-sel
dengan 46 kromosom membelah melalui proses meiosis untuk membentuk 2 sel
kelamin baru yang masing=masing memiliki 23 kromosom. Sel ini kemudian
berkembang menjadi sperma. Nucleus terletak di bagian kepala, sedangkan bagian
ekor yang panjang berfungsi untuk bergerak.
Saat terjadi hubungan seksual, kira-kira 400 juta sperma terpancar ke liang
vagina wanita. Cairan semen melindungi sperma dari asam vagina, kemudian sperma
berenang dengan ekornya dan berusaha menembus ke dalam oviduk melalui uterus.
Selama 40 menit perjalanannya, sebagian besar sperma mati. Jika ada 1 sperma yang
bertemu dengan ovum, maka terjadilah pembuahan. Sisa sperma akan mati 3 hari
kemudian.
Sistem reproduksi wanita
Organ reproduksi wanita ada di dalam abdomen, di ruang antara tulang pinggul
yang disebut pelvis. Ovum merupakan sebuah sel yang dikelilingi oleh sel folikel yang
membantunya bergerak. Ovum dilapisi oleh 2 membran keras yang berfungsi
melindungi sitoplasma di dalamnya. Nucleus yang terdapat di dalam ovum berfungsi
sebagai pusat kendali sel. Ovum atau telur terbentuk di dalam ovarium, yang bentuk
dan ukurannya serupa buah almond. Secara anatomis, ovarium sebagian tertutup oleh
ujung tuba falopi yang berbentuk menyerupai terompet.
Dalam setiap ovarium terdapat ribuan sel telur kecil yang belum masak. Seorang
anak wanita lahir dengan kandungan sel telur yang lebih dari cukup dalam ovariumnya.
Setiap bulan, sejak masa pubertas (usia 11-14 tahun) sampai menopaus (usia 45-55
tahun), sebuah sel telur atau lebih akan masak menjadi ovum. Proses ini diatur oleh
hormon estrogen yang dihasilkan ovarium. Hormon ini juga mengatur karakteristik seks
yang membedakan wanita dari pria.
Setiap bulan sebuah ovum yang telah masak meninggalkan ovarium menuju
tuba falopi atau oviduk yang menghubungkan ovarium dengan uterus. Ovum yang
telah dibuahi akan mulai berkembang di saluran ini untuk kemudian menempel pada
dinding uterus dan tumbuh di sana, menyerap sari makanan dari ibunya. Ujung bawah
uterus berhubungan dengan vagina, yang merupakan saluran sepanjang kurang lebih
7-9 cm, menghubungkan uterus dengan bagian luar tubuh.
Organ reproduksi wanita dibedakan atas organ eksternal dan organ internal.
Organ eksternal sistem reproduksi wanita meliputi: (1) klitoris; (2) labia mayor; (3)
labia minor. Organ internal sistem reproduksi wanita meliputi: (1) ovarium; (2) tuba
falopi; (3) uterus; (4) vagina. Ujud selengkapnya sistem reproduksi wanita dapat
disaksikan pada Gambar 8 berikut
Proses terbentuknya ovum dapat dijelaskan sebagai berikut. Sel telur wanita
berkembang di dalam ovarium. Walaupun kecil, setiap ovum merupakan sel spesifik
yang mengandung 23 kromosom, setengah dari jumlah kromosom sel manusia normal.
Setengah yang lain ada di dalam sperma. Gabungan sel kelamin pria dan wanita
membentuk satu sel tunggal atau zigot dengan kromosom berjumlah 46, kromosom
mengandung gen yang membawa sifat orangtua. Sebuah ovum hanya bertahan hidup
antara 12-24 jam, tetapi bisa bertahan hidup lebih lama jika dibuahi sperma.
Ketika bayi wanita dilahirkan, ia memiliki ratusan ribu sel telur yang belum masak
di dalam ovariumnya. Sebagian besar sel telur ini tidak akan berkembang, kira-kira
hanya 200 sel dalam setiap ovarium yang bisa menjadi ovum.
Di dalam ovarium, setiap sel yang belum masak dikelilingi oleh kelompok sel
yang disebut folikel. Hormon merangsang agar folikel masak. Setiap 28 hari antara
masa pubertas sampai menopaus, folikel yang telah masak akan pecah dan
melepaskan ovum ke dalam oviduk. Ovum biasanya dihasilkan dari salah satu ovarium
secara bergantian. Proses ini disebut ovulasi. Folikel yang pecah lalu membentuk
korpus luteum atau badan kuning untuk menghasilkan hormon progesteron. Jika ovum
tidak dibuahi, dalam waktu 2 minggu korpus luteum menyusut dan berhenti memroduksi
progesteron. Peristiwa ini menyebabkan menstruasi.
Download