Pengaruh Penggunaan Elektrolit Gel Terhadap Arus

advertisement
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 3, No. 1, (2013) 1-6
1
Pengaruh Penggunaan Elektrolit Gel Terhadap Arus dan Tegangan DSSC
Prototipe DSSC Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia Mangostana L.) Sebagai Dye
Sensitizer
Iftihatur Rofi’ah, Gontjang Prajitno
Jurusan Fisika, Fakultas IPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail:[email protected]
Abstrak—Telah
dilakukan
fabrikasi
DSSC
dengan
menggunakan dye kulit buah mannggis (Garcinia Mangostana L)
dengan variasi elektrolit gel teknik pelapisan spin coating.
Variasi elektrolit gel yang digunakan terdiri dari elektrolit A dan
B. Elektrolit A dibuat dengan mencampurkan Kalium Iodide 3
gr dan 3 ml Iodine sebagai elektrolit cair, kemudian
ditambahkan senyawa pembuat gel menggunakan 3 gr PEG 1000
yang dilarutkan kedalam 5 ml klorofom dan distirrer. Dibuat
elektrolit B dengan komposisi berbeda dengan mencampurkan 3
gr KI kedalam 5 ml Iodine, kemudian dicampurkan senyawa
pembuat gel menggunakan 6 ml PEG 1000 yang dilarutkan
dalam 6 ml klorofom. Berdasarkan hasil pengujian
menggunakan sumber cahaya lampu halogen. Diperoleh bahwa
arus dan tegangan yang dihasilkan elektrolit gel cukup stabil.
Arus tertinggi yang dihasilkan DSSC dengan elektrolit A sebesar
12,8 μA sedangkan pada DSSC dengan elektrolit B sebesar 21,4
μA. Pada penelitian ini jika semakin banyak Iodine yang
digunakan maka arus yang dihasilkan semakin tinggi.
Kata Kunci—DSSC, TiO 2 , Dye Ekstrak Kulit Manggis, Elektrolit
Gel, Spin Coating.
I. PENDAHULUAN
el surya dalam perkembangannya telah banyak inovasi.
Berdasarkan perkembangan teknologi saat ini dan bahan
pembuatannya sel surya dibedakan menjadi dua yaitu
pertama, sel surya konvensional yang berbasis silikon. Kedua,
advance sel surya yang terbagi atas tiga macam yaitu Thin
Film material, Multi junction (Tanden), Dye sensitized Solar
Cell (DSSC). Diantara beberapa jenis sel surya tersebut yang
mudah untuk difabrikasi dan membutuhkan biaya yang murah
adala sel surya jenis DSSC. DSSC sebagai sel surya dengan
dye sensitizer dari bahan organik dapat dikembangkan
berbiaya murah serta fabrikasi mudah.
Pada penelitian sebelumnya oleh Zamroni[1], fabrikasi
DSSC masih menggunakan bahan semikonduktor TiO 2 yang
berukuran mikro sebagai fotokatalisnya, dan menggunakan
dye sensitizer kulit manggis dengan metode pelapisan TiO 2
pada kaca ITO yaitu metode Doctor Blade sehingga diperoleh
nilai tegangan DSSC yang besar namun kestabilannya kurang.
Penelitian Hidayat[2], mengunakan dye kulit manggis, bahan
TiO 2 mikro dengan metode pelapisan Spin Coating dan
membandingkan sel yang diberi spacer dan tidak diberi
spacer. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa DSSC
dengan spacer tegangan dan arus yang dihasilkan lebih stabil.
Penelitian Romli[3], menggunakan dye yang sama dan metode
yang sama dengan penelitian hidayat namun dibuat variasi
kecepatan putar Spin Coating, hasilnya menunjukkan efisiensi
yang lebih bagus.
S
Berdasarkan referensi di atas, masih perlu inovasi untuk
mendapatkan optimalisasi dari fabrikasi DSSC. Maka dari itu
diperlukan adanya penelitian yang lebih lanjut agar diperoleh
efisiensi DSSC yang tinggi dan menghasilkan daya yang lebih
besar. Pada penelitian ini akan digunakan metode Spin
Coating untuk pelapisan TiO 2 . Bahan TiO 2 yang digunakan
masih berukuran mikro dan berfasa anatase, bahan dye yang
digunakan yaitu ekstrak kulit terluar buah manggis. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh elektrolit
gel terhadap tegangan dan arus yang dihasilkan.
Pada dasarnya prinsip kerja DSSC mengkonversi energi
cahaya ke listrik dalam skala molekular dalam bentuk reaksi
dari transfer elektron. Proses pertama dimulai dengan
terjadinya eksitasi elektron pada dye akibat absorbsi foton.
Dimana ini merupakan salah satu peran dari sifat TiO 2 .
Ketika foton dari sinar matahari menimpa elektroda kerja pada
DSSC, energi foton tersebut diserap oleh dye yang melekat
pada permukaan TiO 2 . Sehingga dye mendapatkan energi
untuk tereksitasi. Dye tereksitasi membawa energi dan
diinjeksikan ke pita konduksi pada TiO 2 . TiO 2 berperan
sebagai akseptor atau kolektor elektron. Molekul dye yang
ditinggalkan kemudian dalam keadaan teroksidasi.
Selanjutkan elektron akan ditransfer melewati rangkaian luar
menuju elektroda pembanding ( elektroda yang mengandung
lapisan karbon). Elektrolit (pasangan iodide dan triodide) yang
bertindak sebagai mediator elektron sehingga dapat
menghasilkan proses siklus dalam sel. Ion Triodide
menangkap elektron yang berasal dari rangakaian luar dengan
bantuan molekul karbon sebagai katalis. Elektron yang
tereksitasi masuk kembali ke dalam sel dan dibantu oleh
karbon sehingga dapat bereaksi dengan elektrolit yang
menyebabkan penambahan ion iodide pada elektron.
Kemudian satu ion iodide pada elektrolit mengantarkan
elektron yang membawa energi menuju dye teroksidasi.
Elektrolit menyediakan elektron pengganti untuk molekul dye
teroksidasi. Sehingga dye kembali ke keadaan awal[2].
Secara umum, Gambar 1 menunjukan DSSC terdiri dari
dye-sensitized yang terbuat dari bahan organik, lapisan TiO 2
nanokristal, larutan elektrolit yang mengandung pasangan
redoks I-/I3- dan substrat kaca ITO sebagai elektoda kerja.
Faktor luar area dan ketebalan lapisan semikonduktor yang
mengatur peningkatan beban dye, kemudian kerapatan optis
yang menghasilkan efisiensi penyerapan cahaya. Kerapatan
optis menyatakan ukuran transmisi suatu elemen optik dengan
panjang gelombang tertentu. Jika dihubungkan dengan
pemberian radiasi pada suatu objek, maka kerapatan optisnya
merupakan perbandingan antara intensitas awal dan intensitas
transmisi.
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 3, No. 1, (2013) 1-6
2
II. METODOLOGI
Gambar 1 Skema DSSC
DSSC berbentuk struktur sandwich, dimana dua elektroda
yaitu elektroda TiO 2 dengan dye dan elektroda pembanding
yang terbuat dari kaca ITO dilapisi karbon yang mengapit
elektrolit membentuk sistem sel fotoelektrokimia. Elektroda
pembanding terbuat dari kaca ITO yang dilapisi dengan
karbon karena memiliki konduktivitas yang cukup dan
resistansi panas dan aktivitas elektrokatalitik dari reduksi
triiodide.
TiO 2 adalah material fotokatalis yang memiliki daya
oksidasi yang kuat, photostabilitas yang tinggi dan selektivitas
redoks. Syarat penting untuk meningkatkan aktivitas katalis
dari TiO 2 adalah meningkatkan luas permukaan dari TiO 2
yang bergantung pada ukuran kristalnya.
Sifat fisis dan kimia dari TiO 2 bergantung pada ukuran,
morfologi dan struktur kristalnya. TiO 2 memiliki tiga bentuk
kristal yaitu anatase, rutile, dan brookite. Kristal TiO 2 fase
anatase memiliki kemampuan yang lebih aktif daripada rutile.
Anatase dianggap sebagai fase yang paling menguntungkan
untuk fotokatalisis dan konversi solar energi. TiO 2 hanya
mampu menyerap sinar ultraviolet (350-380 nm). Untuk
meningkatkan serapan spektra TiO 2 di daerah tampak,
dibutuhkan lapisan zat warna yang akan menyerap cahaya
tampak. Zat warna tersebut berfungsi sebagai sensitizer.
Buah manggis merupakan buah yang mempunyai banyak
keunggulan dibandingkan buah lainnya. Bagian kulit buah
manggis dapat dimanfaatkan sebagai penghasil zat warna
alami yang dapat digunakan sebagai pewarna makanan, juga
dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan, antidiare dan
antikanker. Pemanfaatan kulit buah manggis belum maksimal.
Penampilan kulit buah manggis yang berwarna ungu
menunjukkan ada pewarna alami yang terkandung
didalamnya. Salah satu senyawa flavonoid yang terkandung
dalam kulit buah manggis adalah antosianin[3]. Antosianin
merupakan zat warna yang paling penting dan tersebar luas,
pigmen memberikan warna pada tumbuhan tinggi dan mudah
larut dalam air[4]. Pigmen ini berperan terhadap timbulnya
warna pada bunga, daun, dan buah. Antosianin bersifat polar
sehingga dapat dilarutkan pada pelarut polar seperti etanol,
aseton, dan air. Berdasarkan tingkat polaritasnya antara
antosiansin sebagai zat terlarut dan air sebagai pelarut tidak
seimbang.
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang
dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut
dalam pelarut cair. Diketahuianya senyawa aktif yang
dikandung oleh suatu bahan (simplisia) akan mempermudah
pemilihan pelarut dan metode ekstraksi yang tepat[5].
A. Preparasi Elektroda Kerja
Elektroda kerja terbuat dari kaca konduktif jenis FTO
yang dilapisi dengan pasta TiO 2 . Cara membuat pasta TiO 2
yaitu dengan mencampurkan serbuk TiO 2 mikro sebanyak 4
gr dilarutkan dalam 15 ml Asam asetat, distirrer selama 30
menit. Kemudian ditambahkan 10 tetes Triton X-100 dan
distirrer kembali selama 1 jam. Pasta TiO 2 yang sudah jadi
dideposisikan pada kaca konduktif FTO dengan metode Spin
Coating. Kecepatan putar Spin Coating 1000, 1500 dan 2000
masing-masing selama 40 menit. Agar didapatkan hasil
deposisi yang baik maka hasil spin coating dikalsinasi pada
temperatur 450ºC selama 30 menit dan didinginkan pada suhu
70 ºC agar pada pencelupan dye dapat menempel pada TiO 2. .
B. Preparasi Dye Kulit Manggis sebagai fotosensitizer
Pewarna yang digunakan dalam penelitian ini adalah
ekstrak kulit manggis. Kulit manggis diekstrak dengan
membuat bubuk dari kulit manggis yang telah dikeringkan,
kemudian bubuk tersebut dilarutkan dengan menggunakan air.
Dibuat 5 gr kulit manggis dan dilarutkan dalam 100 ml air.
Untuk menguji daya serap dari ekstrak Jahe Merah yaitu
dengan menggunakan UV-VIS spektrofotometer.
C. Preparasi Larutan Elektrolit
Larutan elektrolit yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah pasangan redoks iodin dan Iodide (I-/I3-) dan akan ibuat
gel dengan penambahan beberapa senyawa. Senyawa dalam
pembuatan larutan elektrolit ini adalah Kalium Iodida (KI),
Iodine, PEG 1000 dan Klorofom. Dibuat dua macam elektrolit
gel dengan komposisi yang berbeda untuk melihat
karakteristik dari masing-masing elektrolit. Prosedur awal
pembuatan larutan elektrolit ini adalah untuk elektrolit A
dibuat dengan mencampurkan 3gram Kalium Iodide ke dalam
3 ml Iodine dan distrirrer selama 15 menit. Kemudian
disiapkan senyawa pembuat gelnya yaitu PEG 1000 sebanyak
3 gr dilarutkan dalam 5 ml klorofom, larutan tersebut
kemudian dicampurkan apada elektrolit cair dan distirrer
selama satu jam. Kemudian disimpan dalam wadah tertutup
untuk menghindari penguapan.
Elektrolit B dibuat dengan komposisi yang berbeda dari
elektrolit A. elektrolit B dibuat dengan mencampurkan 3 gr KI
kedalam 5 ml Iodine dan distirrer selama 15 menit dan
merupakan elektrolit cair. Sedangkan senyawa pembuat
gelnya dibuat dengan melarutkan 6 gr PEG 1000 kedalam 6
ml kloroform. Setelah itu dicampurkan pada larutan elektrolit
cair dan distirrer selam 1 jam.
D. Pembuatan Elektroda Pembanding
Elektroda pembanding dibuat dengan kaca FTO yang
dilapisi karbon. Pelapisan karbon pada kaca FTO yaitu dengan
menggores-goreskan Pensil 8B pada bagian konduktif kaca
FTO kemudian dipanaskan di atas nyali api lilin hingga
terbentuk lapisan berwarna hitam seperti gambar 3.
E. Pembuatan Sandwich DSSC
Setelah masing-masing komponen DSSC tersebut siap
langkah berikutnya adalah menyusun sandwich DSSC,berikut
adalah prosesnya:
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 3, No. 1, (2013) 1-6
1. Elektroda kerja yang telah disiapkan, direndam dalam
larutan dye selama 1 hari agar dye dapat emenempel pada
lapisan TiO 2 .
2. Disiapkan spacer dari selotip plastik dengan ukuran 2
mm dan disesuaikan dengan luasan elektroda TiO 2 yang
tidak dilapisi pasta.
3. Kemudian larutan elektrolit dioleskan tepat di atas
lapisan TiO 2 . Setelah itu diletakkan elektroda
pembanding diatas substrat TiO 2 yang telah diberi spacer
tadi, elektroda pembanding dipasang tidak sejajar untuk
memudahkan pada saat pengujian. Setelah itu klip kertas
dipasang untuk menguatkan kedua elektroda tersebut.
3
gelombang 330, 390, 460 dan 510 nm. Sinar matahari
menghasilkan 5% spektra di daerah ultraviolet dan 45% di
daerah cahaya tampak(380-780 nm). Dengan kemampuan
absorbansi pada rentang panjang gelombang 280-520 maka
kulit manggis memungkinkan untuk menyerap energi sinar
matahari sehingga memaksimalakan daya kerja DSSC.
F. Pengujian DSSC
Pengujian DSSC meliputi tegangan dan arus, dilakukan di
dalam ruangan dengan menggunakan cahaya lampu Halogen.
Dan diguunakan voltmeter untuk menguukur arus dan
tegangan serta rangkaian sebagai beban.
Gambar 2 Absorbansi Kulit Manggis
Gambar 1 Rangkaian Pengujian arus dan tegangan untuk
DSSC
III.HASIL DAN PEMBAHASAN
G. Hasil Uji Spektrofotometer UV Vis pada Dye Kulit
Manggis
Semikonduktor TiO 2 hanya mampu menyerap sinar
ultraviolet dengan panjang gelombang (350-380 nm). Untuk
meningkatkan serapan spektra TiO 2 didaerah tampak,
dibutuhkan zat warna yang akan menyerap cahaya tampak,
Manggis adalah salah satu buah yang memiliki kandungan zat
warna (antosianin). Dalam 100 gram kulit buah manggis
terdapat 59,3 mg antosianin. Jika daya serapan dye kulit
manggis tinggi maka kemampuan mengabsorb foton yang
dipancarkan oleh sinar matahari juga besar sehingga mampu
mengeksitasi elektron-elektron yang terdapat pada bahan
semikonduktor yaitu TiO 2 dari pita konduksi dan arus yang
dihasilkan cukup besar. Untuk mengetahui daya serap dye
kulit manggis maka dilakukan uji UV-Vis.
Alat yang digunakan untuk uji UV-Vis adalah
spektrofotometrer UV-Vis. Prinsip kerja spektrofotometri UVVis yaitu interaksi yang terjadi antara energi yang berupa sinar
monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa
molekul. Besar energi yang diserap tertentu dan menyebabkan
elektron tereksitasi dari keadaan dasar ke keadaaan tereksitasi
yang memiliki energi lebih tinggi dari energi gap TiO 2 .
Cahaya tampak berada pada panjang gelombang antara
380-780 nm, panjang gelombang tersebut divisualisasikan
dengan beberapa macam spektrum warna.
Dari hasil uji UV-Vis pada gambar 2 dye kulit manggis
mengabsorb pada panjang gelombang cahaya dengan rentang
antara 280-520 nm. Nilai absorbansi maksimum kulit manggis
5, sedangkan puncak absorbansi terjadi pada panjang
H. Analisis Elektrolit Gel
Pada penelitian-penelitian sebelumnya digunakan
elektrolit cair sebagai media transfer elektron. Ketahanan arus
dan tegangan yang diperoleh hanya bertahan dalam jangka
waktu tertentu dan harus dilakukan penetesan ulang jika akan
dilakukan pengujian lagi. Oleh karena itu penelitian kali ini
elektrolit yang digunakan dibuat gel agar dalam
penggunaannya DSSC mampu bertahan dalam jangka waktu
yang lama tanpa fabrikasi ulang.
Larutan elektrolit yang akan digunakan dalam penelitian
ini adalah pasangan redoks iodin dan Iodide (I-/I3-) dibuat
dengan dua macam variasi. Elektrolit A dibuat dengan
mencampurkan 3 gram Kalium Iodide (KI) ke dalam 3 ml
iodine dan distirrer selama 1 jam. Larutan yang sudah dibuat
selanjutnya disimpan pada wadah/botol yang tertutup rapat
(menghindari penguapan larutan). Disiapkan PEG 1000
sebanyak 3 gr dilarutkan kedalam 5 ml kloroform kemudian
dicampurkan kedalam larutan elektrolit yang sebelumnya
sudah dibuat dan distrirrer selama 1 jam dengan temperatur
pemanasan 60ºC agar PEG 1000 cepat larut kedalam larutan
tersebut.
Untuk elektrolit B dibuat dengan komposisi berbeda dari
elektrolit A, pada elektrolit B ini dibuat dengan
mencampurkan 3 gr KI kedalam 5 ml Iodine, sebagai pembuat
gelnya dicampurkan 6 gr PEG 1000 kedalam 6 ml kloroform
dan dicampurkan kedalam larutan elektrolit yang sudah dibuat
sebelumnya, distrirrer dengan waktu dan temperatur yang
sama seperti elektrolit A.
Digunakan polimer PEG sebagai senyawa pembuat gel.
PEG disini dianalogikan hanya sebagai template dari elektrolit
agar tidak mudah menguap sehingga arus dan tegangang yang
dihasilkan stabil, jadi PEG tidak megikat senyawa-senyawa
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 3, No. 1, (2013) 1-6
lain dari komposisi elektrolit. Dalam penggunaannya, PEG
sering digunakan untuk sebagai campuran kosmetik maupun
obat-obatan. Jenis PEG sendiri bervariasi sesuai dengan berat
molekulnya. Untuk penelitian kali ini digunakan PEG 1000
yang berbentuk kristalin putih dan berminyak, dengan bentuk
tersebut PEG perlu dilarutkan ke dalam senyawa lain agar
mudah untuk dicampurkan pada pasangan larutan KI dan I.
Pelarut yang digunakan adalah senyawa kloroform, dipilih
senyawa tersebut karena sifat dari kloroform biasanya sangat
baik digunakan sebagai pelarut organik, dan juga non polar,
sebagai pelarut minyak dan lemak. Dari sifat-sifat tersebut
maka dipilhlah kloroform sebagai pelarut PEG.
Dari sintesis elektrolit yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa pada penelitian kali ini berat molekul PEG yang
digunakan untuk membuat gel mempunyai berat molekul
minimal sebesar 1000 agar elektrolit dapat berubah menjadi
gel dengan struktur yang lebih kental. Semakin banyak Iodine
yang digunakan maka senyawa pembuat gelnya juga semakin
banyak agar elektrolit dapat terbentuk gel.
I. Pengujian DSSC
Pengujian DSSC dilakukan di laboratorium optoelektronika
fisika ITS Surabaya. Pengujian DSSC dilakukan dibawah
sinar lampu halogen dengan jarak 3 cm dan intensitasnya
86400 lumen/m2. Permukaan sisi elektroda kerja TiO 2 berada
dibagian yang disinari oleh halogen, data yang akan diambil
adalah arus dan tegangan pada hambatan minimum sekitar 18
Ω dan hambatan maksimum 413 KΩ.
Digunakan dua macam variasi elektrolit gel dengan 2
sampel DSSC yang berbeda. Pengujian dilakukan dengan
menggunakan peralatan resistor jenis potensio Ω100 k
sebanyak 4 buah yang dirangkai paralel, kabel penjepit buaya,
PCB yang nantinya dibuat rangkaian sebagai beban pada
DSSC, seperti yang terlihat pada gambar 3, multimeter 2 buah
yang berfungsi untuk mengukur arus dan tegangan yang
dihasilkan.
Gambar 3 Proses Pengujian DSSC
Pada pengujian DSSC, jika hambatan rangkaian yang
dihasilkan potensiometer minimum maka akan timbul arus
besar yang diperoleh dari DSSC, sesuai dengan hukum ohm
yaitu tegangan diperoleh dari hasil perkalian arus dan
hambatan, dari sini dapat diketahui bahwa hubungan antara
hambatan dan tegangan adalah berbanding lurus, sedangkan
arus sendiri merupakan hasil bagi antara tegangan dan
4
hambatan oleh karena itu jika hambatan yang diberikan
minimum maka akan diperoleh arus yang besar. sedangkan
jika hambatan yang diberikan pada rangkaian maksimum
maka arus tidak terbaca, faktor tersebut dikarenakan arus yang
dihasilkan sangat kecil sehingga alat ukur yang digunakan
tidak mampu membaca besarnya arus yang dihasilkan. Untuk
pengujian pada hambatan maksimum yaitu 413 KΩ akan
terukur tegangan yang dihasilkan oleh DSSC, pada saat ini
alat ukur berada pada rangkaian paralel dengan DSSC itu
sendiri sehingga akan menghasilkan tegangan yang besar.
J. Pengujian Arus yang Dihasilkan Oleh DSSC
Ketika cahaya berupa foton yang berasal dari halogen
menumbuk elektroda kerja, terjadi eksitasi elektron yang
berasal dari dye akibat absorbsi foton. Elektron tereksitasi dari
ground state ke excited state kemudian terinjeksi menuju band
gap TiO 2 sehingga molekul dye teroksidasi. Dengan adanya
donor elektron dari elektrolit (I-) maka molekul dye kembali
ke keadaan awal dan mencegah penangkapan kembali elektron
oleh dye teroksidasi. Setelah mencapai elektroda kerja
elektron mengalir menuju elektroda karbon melalui rangkaian
eksternal. Dengan adanya katalis pada elektroda karbon yaitu
karbon itu sendiri, elektron diterima oleh elektrolit sehingga
hole yang terbentuk pada elektrolit (I 3 -), akibat donor elektron
pada proses sebelumnya berekombinasi dengan elektron
sebelumnya membentuk Iodide (I-). Iodide ini digunakan
untuk mendonor elektron kepada dye yang teroksidasi
sehingga terbentuk siklus transport elektron dan menghasilkan
arus.
Arus yang dihasilkan oleh elektrolit gel ini berupa arus
stabil, hal tersebut dapat dilihat pada gambar 4, gambar
tersebut menunjukkan grafik yang dihasilkan oleh elektrolit A
pada pengukuran dengan resistansi rangkaian sebesar 18Ω dan
resistansi kaca sebesar 50K
Ω. Pengambilan data dilakukan
tiap menit untuk mengamati perubahan arus. Diperlihatkan
bahwa kestabilan arus membutuhkan waktu sekitar 40 menit
dari waktu awal pengukuran. Arus awal didapatkan 12,8 μA,
perubahan saat menuju stabil dalam tiap menitnya mengalami
penurunan drastis, hingga pada menit ke-40 arus menunjukkan
perubahan yang stabil seiring berjalannya waktu. Pada
penelitian ini arus yang dihasilkan tidak pernah nol, terbukti
pada pengukuran setelah 2 jam arus stabil sekitar 4,2 μA
sehingga dapat dipastikan arus tidak pernah hilang karena
elektrolit yang digunakan tidak mudah menguap, sehingga
proses siklus DSSC masih tetap berjalan untuk menghasilkan
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 3, No. 1, (2013) 1-6
5
arus.
14
25
12
20
10
I(μA)
Elktrolit
A
Arus (μA)
Arus (μA)
15
8
I(μA)
Elektrolit
B
10
6
4
5
2
0
0
0
20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
Waktu (menit)
Gambar 4 Grafik hubungan Arus terhadap Waktu DSSC
dengan elektrolit gel A pada hambatan 18
Ω dan resistansi
kaca 50KΩ dengan waktu pengujian 2 jam
Sampel berikutnya adalah sel DSSC dengan menggunakan
elektrolit B. Pada pengujiannya dilakukan sama seperti sampel
pada elektrolit A namun resistansi kaca konduktif pada sampel
B ini lebih besar dari sampel A yaitu sekitar 380K
Ω. Terlihat
dari gambar 5 bahwa arus yang dihasilkan pun masih kecil.
Arus ini mencapai keadaan stabil dalam waktu sekitar 50
menit. Berbeda dengan sampel A, pada sampel B didapatkan
arus tertinggi 21,4 μA. Akan tetapi tegangan yang dihasilkan
lebih kecil dari sampel DSSC elektrolit A.
25
20
Arus (μA)
15
10
5
0
0
50
100
150
Waktu (menit)
Gambar 4.5 Grafik hubungan Arus terhadap Waktu DSSC
dengan elektrolit B pada hambatan 18Ω dan resistansi kaca
380 KΩ dengan waktu pengukuran 2 jam
0
20
40
60 80 100 120 140
Waktu (menit)
Gambar 6 Grafik perbandingan Arus pada DSSC elektrolit A
dan B terhadap waktu pada hambatan 18Ω
Dari sini dapat kita bandingkan kedua sampel tersebut. Dari
grafik 6 diperlihatkan bahwa arus yang dihasilkan oleh
elekrolit B lebih besar dari elektrolit A. Penggunaan Iodine
sangat berpengaruh terhadap arus yang dihasilkan, pada
penelitian ini semakin banyak Iodine yang digunakan maka
arus yang dihasilkan semakin tinggi akan tetapi dalam kasus
lain penggunaan Iodine yang terlalu banyak dapat mengurangi
daya yang dihasilkan oleh DSSC. Selain itu kestabilan yang
dihasilkan pun berbeda, semakin banyak kandungan Iodine
maka waktu yang dibutuhkan menuju stabil pun semakin
lama, karena pada penelitian ini stabil pada arus kecil. Jadi
jika arus yang dihasilkan tinggi maka proses menuju stabil pun
lama. Pada DSSC dengan elektrolit A pada menit ke-40 arus
sudah mulai stabil. sedangkan pada DSSC dengan elektrolit B
arus mulai stabil pada menit ke-60.
K. Pengujian Tegangan yang dihasilkan DSSC
Pengukuran tegangan dilakukan pada hambatan maksimum
yang dihasilkan oleh potensiometer yaitu sekitar 413
Ω, K
pada hambatan ini arus tidak terbaca dikarenakan alat ukur
yang digunakan tidak mampu membaca arus yang sangat
kecil. Berbeda dengan tegangan, hambatan berbanding lurus
dengan tegangan sehingga jika hambatannya besar maka
tegangan yang dihasilkan pun cukup besar. Tegangan yang
dihasilkan DSSC berasal dari beda potensial antar energi fermi
TiO 2 dengan potensial reduksi elektrolit. Jika ukuran partikel
TiO 2 lebih kecil maka energi ferminya lebih besar sehingga
tegangan yang dihasilkan juga lebih besar.
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 3, No. 1, (2013) 1-6
300
6
tegangan dan arus tanpa fabrikasi lagi.
Tegangan (mV)
250
DAFTAR PUSTAKA
[1]
200
150
100
50
0
0
20
40
60
80
100 120 140 160
Waktu (menit)
Gambar 4.7 Grafik hubungan Tegangan terhadap waktu
DSSC dengan elektrolit A pada hambatan 413ΩK rsistansi
kaca 50K Ω dengan waktu pengujian 2 jam
Tegangan (mV)
Pengukuran tegangan pada sampel B menunjukkan
tegangan yang stabil pula. Pada sampel ini tegangan tidak
lebih besar dari sampel A, hanya berkisar 102,1-147,9 mV.
Perbedaan ini disebabkan oleh resistansi kaca yang digunakan.
Untuk DSSC sampel resistansi kacanya sekitar 380
Ω. K
Pengujian dilakukan selama 2 jam dan diamati tegangan yang
dihasilkan setiap menitnya. Dapat dilihat dari gambar 4.8
bahwa tegangan yang dihasilkan awalnya mengalami kenaikan
kemudian penurunan pada menit 10 dan mulai stabil pada
menit ke 80.
160
140
120
100
80
60
40
20
0
0
20
40
60
80 100 120 140 160
Waktu (menit)
Gambar 4.8 Grafik hubungan Tegangan terhadap Waktu
DSSC dengan elektrolit B pada hambatan 413 ΩK resitansi
kaca 380 KΩ dengan waktu pengukuran 2 jam
IV. KESIMPULAN
Telah berhasil dibuat sel surya tipe DSSC menggunakan
variasi elektrolit gel dengan komposisi yang berbeda. Arus
maksimum yang dihasilkan elektrolit A sebesar 12,8 μA
sedangkan arus maksimum yang dihasilkan elektrolit B
sebesar 21,4 μA. Dalam penggunaannya elektrolit gel mampu
bertahan dalam jangka waktu yang lama untuk menghasilkan
Zamroni, 2013, “Pembuatan dan Karakterisasi Prototipe Dye
Sensitized Solar Cell (DSSC) Menggunakan Ekstraksi Kulit Buah
Manggis Sebagai Dye Sensitizer Dengan Metode Ddoctor Blade”,
Departemen FISIKA FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, Surabaya.
[2] Rahman, hidayat, 2013, “Pengaruh Pemberian Space (Bantalan)
Untuk Mendapatkan Kestabilan Arus Dan Tegangan Prototipe Dssc
Dengan Ekstraksi Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L.)
Sebagai Dye Sensitizer”, Departemen FISIKA FMIPA, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Surabaya.
[3] Purwanto, Romli, 2013, “Variasi Kecepatan Putar Dan Waktu
Pemutaran Spin Coating Dalam Pelapisan Tio 2 Untuk Pembuatan
Dan Karakterisasi Prototipe Dssc Dengan Ekstraksi Kulit Buah
Manggis (Garciniamangostana L.) Sebagai Dye Sensitizer”,
Departemen FISIKA FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, Surabaya.
[4] Nasori, (2012), Pengembangan dan fabrikasi Dye Sensitized Solar
Cell berbasis jahe Merah Dengan metode deposisi Spin Coating dan
Docot Blade. Thesis, Jurusn Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, ITS Surabaya.
[5] Durst, R. W., & Wrolstad, R. E., 2005. Unit F1.2: Characterization
and Measurement of Anthocyanins by UV–visible Spectroscopy. In
R. E. Wrolstad (Ed.), Handbook of analytical food chemistry (pp. 33–
45). NewYork: John Wiley & Sons.
[6] Treyball, R.E., (1981), ―Mass-Transfer Operations‖, 3rd ed, Mc GrawHill, New York, hal. 717-723
[7] O’regan dan Gratzel, M.”A low –Cost, High Efficiency Solar Cell
Based On Dye Sensitized Colloidal TiO 2 Films”. Nature Vol.353.
Issue 6346, 737.1991
[8] http://www.chem-is-try.org/artikel kimia/kimia material/fotokatalis pada
permukaan tio2/diakses 11 Januari 2013
[9] Sastrohamidjojo, H, 1991,Spektroskopi. Yogyakarta.: Liberty
[10] H. Zhang, J.F. Banfield. “Understanding Polymorphic Phase
Transformation Behavior during Growth of Nanocrystalline Aggregates:
Insights from TiO2 “, J Phys Chem B, vol. 104, pp. 3481. 2000
[11] M. Hatta, Agus, dkk., 2005, Fabrikasi Devais Fotonik Berbasis Polimer
PMMA dengan Metode Spin Coating, Jurnal Fisika dan aplikasinya, ITS
Surabaya.
[12] Spiro, M., Kandiah, M. and Price, W., (1990), ―Extraction of ginger
rhizome: kinetic studies with dichloromethane, ethanol,2-propanol and
acetone–water mixture‖, International Journal of Food Science and
Technology, 25, hal. 157–167.
Download