PEMBERIAN TERAPI MUROTTAL AL - Perpustakaan Digital STIKes

advertisement
PEMBERIAN TERAPI MUROTTAL AL- QUR` AN
TERHADAP WAKTU PULIH SADAR PADA ASUHAN
KEPERAWATAN Ny EDENGAN TUMOR MAMMAE
DEXTRADENGAN ANESTESI GENERAL DI RUANG
MAWAR A12 RSUD dr SOEDIRAN MANGUN
SOEMARSO WONOGIRI
DI SUSUN OLEH:
NURLIANA KHOIRIYAH
NIM. P.13 104
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2016
PEMBERIAN TERAPI MUROTTAL AL- QUR` AN
TERHADAP WAKTU PULIH SADAR PADA ASUHAN
KEPERAWATAN Ny E DENGAN TUMOR MAMMAE
DEXTRA DENGAN ANESTESI GENERAL DI RUANG
MAWAR A12 RSUD dr SOEDIRAN MANGUN
SOEMARSO WONOGIRI
KaryaTulisIlmiah
UntukMemenuhi Salah SatuPersyaratan
DalamMenyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
DI SUSUN OLEH:
NURLIANA KHOIRIYAH
NIM. P.13 104
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2016
i
ii
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirant Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat, rahman dan karunia- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah dengan judul “Pemberian Terapi Murottal Al- Qur` an Terhadap Waktu
Pulih Sadar Pada Asuhan Keperawatan Ny E dengan Tumor Mammae Dextra dengan
Anestesi General di Ruang Mawar A 12 di RSUD dr Soediran Mangun Somarso
Wonogiri”.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan
dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada yang
terhormat:
1. Ns. Wahyu Rima Agustin M. Kep, selaku Ketua STIKes Kusuma Husada
Surakarta yang telah memberikan kesempatan untuk membina ilmu di
STIKes Kusuma Husada Surakarta.
2. Ns. Meri Oktariani M.Kep, selaku Ketua Program Studi D III Keperawatan dan
selaku penguji 1 yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu
di STIKes Kusuma Husada Surakarta dan telah membimbing dengan cermat,
memberikan masukan- masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan
serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
3. Ns. Alfyana Nadya R. M.Kep, selaku Sekertaris Program Studi D III
Keperawatan yang telah memberikan kesempatan dan arahan untuk dapat
menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
4. Ns. S. Dwi Sulisetyawati, M.Kep, selaku dosen pembimbing sekaligus
sebagai penguji 2 yang telah membimbing dengan cermat, memberikan
masukan- masukan, inspirasi, perasaan nyamaan dalam bimbingan serta
memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
5. Semua dosen Program Studi D III Keperawatan STIKes Kusuma Husada
Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasanya serta
ilmu yang bermanfaat.
iv
6. Kedua orangtuaku, (Bapak Jaelani S.Pd dan Ibu Sri Sunarni, MP.dI) yang selaku
menjadi inspirasi dan memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.
7. Saudara- saudaraku Luthfi dan Richard yang telah memberikan semangat dan
dukungan untuk menyelesaikan Tugas Akhir Karya Tulis Ilmiah ini.
8. Teman- teman lima Icond Nurhalimah, Pipit Siti Nurlely, Ratih Eka Sryanti dan
Septia Handayani yang telah memberikan semangat dan dukungan moril dan
spiritual untuk menyelesaikan Tugas Akhir Karya Tulis Ilmiah ini.
9. Teman- teman Khususnya Usi Nurmualimah, Rustam Efendi Mahasiswa
Program Studi D III Keperawatan Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak
yang tidak dapat disebutkan satu- persatu, yang telah memberikan dukungan
moril dan spiritual.
Semoga laporan studi kasus ini bermanfaat untuk perkembangan ilmu
keperawatan dan kesehatan. Amin
Surakarta, 10 Mei 2016
Nurliana
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
i
PERNYATAAN TIDAK PLAGIATISME ....................................................
ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................
iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
x
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................
xi
BAB I
PENDAHULUAN ....................................................................
1
A. Latar Belakang .................................................................
1
B. Tujuan Penulisan ..............................................................
7
C. Manfaat Penulisan ............................................................
8
TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................
10
A. Tinjauan Teori ...................................................................
10
1. Kanker Payudara ..........................................................
10
2. Asuhan Keperawatan ..................................................
26
3. Ansietas ......................................................................
34
4. Waktu Pulih Sadar .......................................................
39
5. Murottal Al- Qur` an ...................................................
41
B. Kerangka Teori ..................................................................
46
METODE PENULISAN APLIKASI RISET ...........................
47
A. Subyek Aplikasi Riset ......................................................
47
B. Tempat dan Waktu ...........................................................
47
C. Media dan Alat yang digunakan .......................................
47
D. Prosedur Tindakan ............................................................
48
E. Alat Ukur ..........................................................................
49
BAB II
BAB III
vi
BAB IV
BAB V
BAB VI
LAPORAN KASUS .................................................................
53
A. Identitas ...........................................................................
53
B. Pengkajian .........................................................................
53
C. Daftar Perumusan Masalah ..............................................
61
D. Perencanaan ......................................................................
63
E. Implementasi ....................................................................
66
F. Evaluasi ............................................................................
73
PEMBAHASAN .......................................................................
78
A. Pengkajian .........................................................................
78
B. Perumusan Masalah Keperawatan ......................................
80
C. Perencanaan .......................................................................
84
D. Implementasi .....................................................................
88
E. Evaluasi .............................................................................
95
KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................
98
A. Kesimpulan ........................................................................
98
B. Saran ..................................................................................
100
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
vii
DAFTAR TABEL
1. Tabel
Halaman
3.1 Alderete Score ............................................................. 49
2. Tabel
3.2 HRS- A .......................................................................
viii
50
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Gambar 2.1 Kerangka Teori ........................................................ 46
2. Gambar 4.1 Genogram .................................................................
ix
55
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Keterangan
1
Lembar Konsul
2
Jurnal Utama
3
Jurnal Pendamping
4
Usulan Judul
5
Daftar Riwayat Hidup
6
Asuhan Keperawatan
7
Logbook
8
Format Pendelegasian Pasien
9
Lembar Penilaian Alderete Score
10
Lembar Observasi
11
Lembar Skala Nyeri
12
Lembar Koesioner Kecemasan
13
Surat Pernyataan
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker menyerang siapa saja baik pria maupun wanita, anak-anak
ataupun dewasa. Banyak sekali jenis kanker yang menyerang manusia,
namun ada beberapa jenis kanker sering menyerang pada jenis kelamin,
atau umur tertentu contohnya pria yaitu kanker paru, kanker kolorektal,
kanker prostat, kanker hati dan nasopharing. Jenis kanker yang sering
dialami oleh wanita adalah kanker payudara, kanker leher rahim, kanker
kolorektal, kanker ovarium, kanker paru. Sedangkan kanker yang sering
terjadi pada anak-anak adalah kanker retinoblastoma, kanker darah
(Mansjoer, 2007)
Kanker termasuk salah satu penyakit tidak menular yang
cenderung terus meningkat setiap tahunnya, sehingga dapat dikatakan
bahwa beban yang harus ditanggung dunia akibat penyakit tersebut juga
semakin meningkat (Depkes, 2009). Kanker adalah kondisi dimana sel
telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga
mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali.
Kanker bisa terjadi dari berbagai sel dalam tubuh seperti kulit, hati, darah,
otak, payudara dan berbagai macam lainnya. Sejalan dengan pertumbuhan
dan perkmbanganbiakanya, sel- sel kanker membentuk suatu masa dari
jaringan ganas yang menyusup ke jaringan di dekatnya (invasif) dan
1
2
bisamenyebar (metastasi) ke seluruh tubuh (Sarjadi, 2000) dikutip pada
Kanita, Ina..2012. Gambaran Pengetahuan tentang kanker Payudara dan
Pola konsumsi Isoflavon. Program Pasca Sarjana. Jakarta.
Kanker Payudara merupakan penyebab kematian kedua akibat
kanker pada wanita setelah kanker mulut rahim dan merupakan kanker
yang paling banyak terjadi pada wanita. Kanker payudara adalah suatu
penyakit dimana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak
terkontrol dari sel sel jaringan payudara. Satu dari tiga orang di dunia akan
terkena sejenis kanker selama hidup mereka dan pada wanita
kemungkinan besarnya adalah kanker payudara. Lebih dari 25% wanita
yang didiagnosis kanker (satu diantara empat) adalah kanker payudara
(Olfah dkk, 2013).
Menurut data WHO tahun 2013, insidens kanker meningkat dari
12,7 juta kasus tahun 2008 menjadi 14,1 juta kasus tahun 2012. Sedangkan
jumlah kematian meningkat dari 7,6 juta orang tahun 2008 menjadi 8,2
juta pada tahun 2012. Kanker menjadi penyebab kematian nomor 2 di
dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskular. Diperkirakan pada
2030 insidens kanker dapat mencapai 26 juta orang dan 17 juta di
antaranya meninggal akibat kanker, terlebih untuk negara miskin dan
berkembang kejadiannya akan lebih cepat (Riskesdas, 2013).
Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker juga cukup tinggi.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013,
prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk, atau
3
sekitar 330.000 orang. Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan
adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Sedangkan pada laki-laki
adalah kanker paru dan kanker kolorektal. Berdasarkan estimasi Globocan,
International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012, insidens
kanker payudara sebesar 40 per 100.000 perempuan, kanker leher rahim
17 per 100.000 perempuan, kanker paru 26 per 100.000 laki-laki, kanker
kolorektal 16 per 100.000 laki-laki. Berdasarkan datra Sistem Informasi
Rumah Sakit 2010, kasus rawat inap kanker payudara 12.014 kasus
(28,7%), kanker leher rahim 5.349 kasus (12,8%) (Riskesdas, 2013).
Faktor faktor resiko yang diduga berhubungan dengan kejadian
kanker payudara dan sudah diterima secara luas oleh kalangan pakar
kanker (oncologist)di dunia yaitu usia, tidak kawin, umur pertama
melahirkan, usia menarche, usia menopause, riwayat penyakit, riwayat
keluarga, kontrasepsi oral.Insiden Kanker di Indonesia masih belum
diketahui secara pasti karena belum ada registrasi kanker berbasis populasi
yang dilaksanakan (Rasjidi, 2009).
Sejumlah studi memperlihatkan bahwa deteksi kanker payudara
dan terapi dini dapat meningkatkan harapan hidup dan memberikan pilihan
terapi lebih banyak pada pasien. Deteksi dini kanker payudara dapat
dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang bisa dilakukan sendiri
yaitu Periksa Payudara Sendiri (SADARI) sampai yang dilakukan bantuan
tenaga medis yaitu Mamografi, Thermografi dan USG (Ultasonography)
(Suryaningsih & Sukaca, 2009).
4
Penatalaksanaan pada pasien Kanker Payudara bisa dilakukan
secara Farmakologis dan Nonfarmakologis. Tindakan Farmakologis yaitu
dilakukan dengan pembedahan, kemoterapi, terapi hormone, terapi radiasi,
dan terapi imunologi. Tumor primer pada umumnya disembuhkan dengan
pembedahan. Pembedahan ini terdiri dari mengangkat tumor (lumpectomy)
dan mengangkat sebagian atau seluruh payudara yang mengandung sel
kanker (mastectomy) (Olfah dkk, 2013).
Didalam ilmu keperawatan ada berbagai macam bentuk terapi
nonfarmakologis adalah dengan pemberian terapi Musik dan Murottal AlQur` an, yang dapat menurunkan nyeri fisiologis, dengan mengalihkan
perhatian seseorang dari nyeri. Perawat dapat menggunakan musik dengan
kreatif diberbagai situasi klinik (Potter & Perry, 2006). Terapi religi dapat
mempercepat penyembuhan, hal ini telah dibukikan oleh berbagai ahli
seperti yang telah dilakukan Ahmad al Khadi, Direktur Utama Islamic
Medicine Institute for Education and Research di Florida, Amerika
Serikat. Dalam konferensi tahunan ke XVII Ikatan Dokter Amerika,
wilayah Missuori AS, Ahmad Al Kadhi melakukan presentasi tentang
hasil penelitianya dengan tema pengaruh Al- Qur` an pada manusia dalam
perspektif fisiologi dan psikologi. Hasil penelitian tersebut menunjukan
hasil positif bahwa mendengarkan ayat suci Al- Qur‘ an memiliki
pengaruh yang signifikan dalam menurunkan ketegangan urat saraf
reflektif dan hasil ini tercatat dan terukur secara kuantitatif dan kualitatif
oleh sebuah alat berbasis komputer.
5
Terapi murottal merupakan terapi yang dapat memberikan dampak
psikologis kearah positif ketika murottal diperdengarkan.Terapi murottal
merupakanterapi yang dapat memberikandampak psikologis kearah
positifketika murottal diperdengarkan.Persepsi akan ditentukan olehsemua
yang terakumulasi, keinginan hasrat, kebutuhan, dan praanggapan
(Gusmirah, 2005). Dalam terapi Murottal ini menggunakan surah Arrahman memiliki arti yang pendek sehingga akan sangat mudah diterima
oleh indra pendengaran. Dengan terapiMurottal Al- Qur’an makakualitas
kesadaran dankeyakinannya akan Tuhan akanmeningkat, baik orang
tersebutmemahami makna Al- Qur’an atau tidak (MacGregor, 2001)
dipublikasikan pada jurnal Pengaruh Pemberian Terapi Murottal Al- Qur`
an terhadap Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara dengan Anestesi
General oleh Moh. Al Khoif Billah.
Pada Pasien Kanker Payudara dilakukan tindakan Farmakologis.
Salah satu tindakan Farmakologis yaitu Pembedahan atau operasi, pada
saat
proses
Pembedahan
dilakukan
tindakan
Anestesi.
Anestesi
diklasifikasikan kedalam anestesi umum dan anestesi lokal. Anestesi
umum menekan pada sistem saraf pusat, mengurangi nyeri dan
menyebabkan hilangnya kesadaran.Anestesi yang pertama Nitrous
Oksida(gas gelak) dipakai untuk pembedahan sekitar pada tahun 1800.
Anestesi umum ialah salah satu carapenghilang rasa sakit saat
akanmenjalani operasi diikuti denganhilangnya kesadaran (Keat., et
al,2013) dipublikasikan pada jurnal Pengaruh Pemberian Terapi Murottal
6
Al- Qur`an terhadap Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara dengan
Anestesi General oleh Moh. Al Khoif Billah.
Salah satu komplikasi pada Pasien Kanker Payudara yang
diberikan Anestesi mempunyai Efek fisiologis yang ditimbulkan tubuh
seseorang dalam menjalani operasi berbeda-beda, tergantung dari kondisi
fisik pasien, Jenis anestesi yang dipakai, Jenis obat yang diberikan, dan
juga banyaknya dosis yang diberikan. Semua hal itu dapat berpengaruh
terhadap waktu pulih sadar pasien post operasi, Berdasarkan Penalitian
yang dilakukan oleh Azhar, 2015 yang berjudul Pemberian Terapi Musik
Klasik: Mozart Terhadap Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara
dengan Anestesi General
Pulih Sadar adalah bangun dari efek obat anestesi setelah proses
pembedahan dilakukan (Jurnal Barone, 2004). Waktu Pulih sadar
merupakan Waktu yang dibutuhkan seseorang untuk sadar dari anestesi itu
menghilang. Berdasarkan Penalitian yang dilakukan oleh Azhar, 2015
yang berjudul Pemberian Terapi Musik Klasik: Mozart Terhadap Waktu
Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara dengan Anestesi General.
Dalam Jurnal Pengaruh pemberian Terapi Murottal Al- Qur` an
surah Ar- rahman selama 15 menit setelah itu diukur waktu pulih sadarnya
menggunakan aldrete score. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan
independent sample test. Hasil yang diperoleh nilai yang signifikan (pValue) 0,036 (p-0,05) sehingga terdapat pengaruh terapi murottal Al- Qur`
an terhadap waktu pulih sadar pasien kanker payudara dengan anestesi
7
general. Kesimpuannya adalah ada pengaruh terapi murottal Al- Qur` an
terhadap waktu pulih sadar pasien kanker payudara dengan anestesi
general. Berdasarkan Latar Belakang tersebut penulis tertarik untuk
melakukan Implementasi hasil penelitian tentang Pemberian Terapi
Murottal Al- Qur` an dalam penulisann Karya Tulis Ilmiah dengan judul
“Pemberian Terapi Murottal Al- Qur` an Terhadap Waktu Pulih Sadar
Pasien Kanker Payudara dengan Anestesi General”.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan tindakan Terapi Murottal Al- Qur` an: terhadap waktu
pulih sadar pasien kanker payudara dengan Anestesi General.
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan Pengkajian pada Pasien dengan Kanker
Payudara.
b. Penulis mampu merumuskan Diagnosa Keperawatan pada Pasien
dengan Kanker Payudara.
c. Penulis mampu menyusun Intervensi pada Pasien dengan Kanker
Payudara.
d. Penulis mampu melakukan Implementasi pada Pasien dengan
Kanker Payudara.
e. Penulis mampu melakukan Evaluasi pada Pasien dengan Kanker
Payudara.
8
f. Penulis mampu Menganalisa hasil pemberian Terapi Murottal AlQur` an terhadap waktu pulih sadar pasien Kanker Payudara.
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Rumah Sakit
Manfaat
karya
tulis
ilmiahini
dapat
digunakan
sebagaiasuhankeperawatan bagi pasien khususnya dengan Pasien
Kanker payudara . Selain itu dapat jugamelakukanpencegahan dengan
memberikan penyuluhan kesehatan atau pendidikankesehatankepada
pasien Pasien Kanker payudara.
2. Bagi Profesi Keperawatan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan, sumber pengetahuan
dan acuan bagi perawat dalam memberikan informasi dan asuhan
keperawatan yang komperhensif terhadap penderita dan masyarakat
dalam upaya deteksi dini atau pengendalian kanker payudara.
3. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan
motivasi kepada penderita kanker payudara tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi
keterlambatan
diagnosa
kanker
payudara
yang
dialaminya agar penderita mampu hidup lebih baik serta dapat
berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat baik sosial
maupun ekonomi.
9
4. Bagi Penulis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan diagnosa pada
penderita kanker payudara yang ditinjau dari aspek pengetahuan, pola
hidup sehat sakit, dan fasilitas pelayanan kesehatan pada penderita
kanker payudara.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Kanker Payudara
a. Definisi
Pada zaman purbakala, kanker sudah dikenal oleh orangorangyang
mahir
melaksanakan
observasi
dan
mereka
menyebutnyacancerdalam bahasa latincancri (crab), artinya kepiting.
Diartikan
demikiankarena
dapat
mengadakan
penyebaranseperti
kepiting yang punya banyakkaki. (Mary 2008).Tumor ganas atau
kanker dianggap sebagai pertumbuhan sel yangtidak terkendali, karena
itu secara patologik tumor ganas disebut sebagaipenyakit sel. Tetapi
kita juga menyadari bahwa pertumbuhan sel secaratidak terkendali
menyebabkann sel-sel tersebut membentuk massa yangkemudian
menginfiltrasi organ dan mengganggu fungsinya, karena itukanker juga
dapat disebut penyakit organ (Kresno 2007).
Kanker Payudara merupakan Tumor ganas pada Payudara atau
salah satu Payudara,Kanker Payudara juga merupakan benjolan atau
massa tunggal yang sering terdapat di daerah kuadrant atas bagian luar,
benjolan ini keras dan bentuknya tidak berantakan dan dapat digerakan
(Olfah dkk, 2013).
10
11
Kanker Payudara (Carcinoma Mammae) adalah suatu Penyakit
Neoplasma ganas yang berasal dari Parenchyma (Masjoer dkk, 2003).
Jaringan Payudara terdiri dari Kelenjar susu(kelenjar Pembuat air susu),
salurn kelenjar (saluran air susu),dan Jaringan Penunjang Payudara
(Olfah dkk, 2013).
b. Penyebab Kanker Payudara
Penyebab Kanker Payudara menurut Olfah, Dra Ni Ketut dan Atik
(2013) yaitu:
1) Usia
Wanita
yang
berumur
lebih
dari
30
tahun
mempunyai
kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat kanker Payudara
dan Resiko ini akan bertambah sampai umur 50 tahun dan setelah
Menopause.
2) Lokasi geografis dan Ras
Eropa Barat dan Amerika Utara lebih dari 6-10 kali keturunan
amerika utara perempuan Afrika-Amerika sebelum usia 40 tahun.
3) Riwayat keluarga atau genetik
Wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker
Payudara beresiko 2-3 kali lebih besar,sedangkan apabila yang
terkena bukan saudara perempuan maka resiko menjadi 6 kali lebih
tinggi.Pada masyarakat umum yang tidak dapat memeriksa gen dan
faktor proliferasinya, maka riwayat kanker pada keluarga
12
merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kanker payudara,
adalah: (Rasjidi, 2009)
a) Tiga atau lebih keluarga dari sisi keluarga yang sama terkena
kanker payudara atau ovarium.
b) Dua atau lebih keluarga dari sisi yang sama terkena kanker
payudara atau ovarium usia dibawah 40 tahun.
c) Adanya keluarga dari sisi yang sama terkena kanker payudara
dan ovarium.
d) Adanya riwayat kanker payudara bilateral pada keluarga.
e) Adanya riwayat kanker payudara pada pria dalam keluarga.
4) Faktor Reproduksi
a) Status Perkawinan
Perempuan tidak menikah 50% lebih sering terkena kanker
Payudara.
b) Paritas
Wanita yang melahirkan anak pertama setelah usia 30 tahun
atau yang belum pernah melahirkan memilikiresiko lebih besar
dari pada yang melahirkan anak pertama di usia belasan tahun.
c) Riwayat Menstruasi
Wanita yang mengalami menstruasi pertama (menarche) pada
usia kurang dari 12 tahun memiliki resiko 1,7 hingga 3,4 kali
lebih besar dari pada wanita dengan menarche yang datang
pada usia lebih dari 12 tahun. Wanita dengan menopause
13
terlambat yaitu pada usia lebih dari 50 tahun memiliki resiko
2,5 hingga 5 kali lipat lebih tinggi (Olafah dkk, 2013).
5) Obesitas
Obesitas atau setiap penambahan 10 kg maka 80% lebih
besar terkena kanker Payudara (Olfah dkk, 2013). Peningkatan
berat badan wanita pasca menopausemeningkatkan resiko terkena
kanker payudara. Setelahmenopause, ketika ovarium berhenti
memproduksi hormonesterogen, jaringan lemak merupakan tempat
utama dalammemproduksi esterogen endogen. Oleh karena itu,
wanitadengan berat badan berlebih dan BMI yang tinggi
mempunyai level esterogen yang tinggi(Rasjidi, 2009).
6) Faktor psikologis
Stresor atau perubahan dalam hidup seseorang seperti perkawinan,
perceraian, menjadi orang tua, kematian seseorang yang berarti
dalam hidupnya dan seterusnya dapat menjadi faktor dalam
perkembangan kanker. Efek status emosi atau status psikologis
seseorang pada sistem imun atau sistem hormon belum dapat
dipastikan dengan jelas. Mungkin penelitian yang lebih lanjut
mengenai psikoneuroimunologi dapat memberikan kejelasan
mengenai interaksi tersebut. Dikatakan bahwa seseorang yang
memiliki
kebutuhan
dukungan
sosial
tinggi,
tetapi
tidak
memperolehnya adalah orang yang lebih beresiko kanker dari pada
orang yang kebutuhannya minimal atau rendah (Mary, 2008).
14
7) Intake alkohol
Hubungan antara peningkatan resiko kanker payudara
dengan intake alkohol lebih kuat didapat pada wanita post
menopause, hal ini dikarenakan alkohol dapat menyebabkan
hiperinsulinemia yang akan merangsang faktor pertumbuhan pada
jaringan payudara (insuline-ike growth factor) (Rasjidi, 2009).
Faktor berdasarkan tingkat resiko terkait dengan kanker Payudara
yang terdiri dari: (Olfah dkk, 2013).
1) Resiko Tinggi
a) Usia lanjut
b) Anak pertama lahir sesudah berumur 30 tahun.
c) Ikatan keluarga dekat (Ibu, Kanker, Bibi dari Ibu)
Menderita kanker Payudara.
d) Riwayat tumor Payudara.
e) Diagnosa sebelumnya Kanker Payudara.
2) Resiko Sedang
a) Menstruasi dini (sebelum umur 12 tahun).
b) Menopause lambat (sesudah umur 50 tahun).
c) Penggunaan hormon pada gejala Menopause.
d) Terkena Radiasi berlebihan di bawah umur 35 tahun.
e) Mempunyai riwayat Kanker uterus, Ovarium, atau kolon.
3) Kemungkinan Beresiko
a) Penggunaan reserpin prolaktin dalam waktu lama.
15
b) Kegemukan,konsumsi lemak berlebihan.
c) Stress Psikologi kronik.
c. Patofisiologi
Sel abnormal membentuk klon dan mulai berproliferasi secara
abnormal,
mengabaikan
sinyal
yang
mengatur
pertumbuhan
dalamlingkungan sel tersebut. Kemudian dicapai suatu tahap dimana
selmendapatkan ciri- ciri invasif, dan terjadi perubahan pada
jaringansekitarnya. Sel- sel tersebut menginfiltrasi jaringan sekitar
dan memperoleh akses ke limfe dan pembuluh- pembuluh darah,
melalui pembuluh darahtersebut sel- sel dapat terbawake area lain
dalam tubuh untuk membentuk metastase (penyebaran kanker) pada
bagian tubuh yang lain.Neoplasiaadalah suatu proses pertumbuhan
sel yang tidak terkontrol yang tidakmengikuti tuntutan fisiologik,
yang dapat disebut benigna atau maligna.Pertumbuhan sel yang tidak
terkontrol dapat disebabkan oleh berbagaifaktor, faktor- faktor yang
dapat menyebabkan kanker biasanya disebutdengankarsinogenesis.
Transformasi maligna diduga mempunyai sedikitnya tiga
tahapanproses seluler, diantaranya yaituinsiasidimana insiator atau
karsinogenmelepaskan
menyebabkan
mekanisme
perubahan
dalam
enzimatik
struktur
normal
genetik
dan
asam
deoksiribonukleat seluler (DNA),promosidimana terjadi pemejanan
berulang terhadap agens yang mempromosikandan menyebabkan
ekspresi informasi abnormal atau genetik mutan bahkansetelah
16
periode laten yang lama,progresidimana sel- sel yang telahmengalami
perubahan bentuk selama insiasi dan promosi mulaimenginvasi
jaringan yang berdekatan dan bermetastase menunjukkanperilaku
maligna (Brunner & Suddarth, 2002).
Metastase adalah transplantasi sel- sel ganas dari organ yang
satuke organ yang lain. Proses metastasis tidak terjadi secara acakacakan atausembarang, tetapi merupakan susunan kejadian yang
rumit. Sekitar 30%tumor padat (malignan) telah bermetastasis ketika
kanker terdiagnosis.Sel- sel mempunyai kemampuan yang lebih unik
daripada sel- sel yangnormal, yakni sel- sel kanker dapat bergerak ke
jaringan lain tanpaterkendali. Penyebaran ke jaringan sekitar dapat
menimbulkan
perdarahan,nekrosis,
pembentukan
ulkus,
dan
penggantian dengan jaringan fibrotik.Hal ini dapat menimbulkan
gumpalan yang besar, berakar di tempat (tidakdapat digerakkan
dengan palpasi), kadang- kadang timbul ulkus denganperdarahan,
serta menyebabkan distorsi pada struktur dan penarikan kulitsekitar
seperti yang tampak pada kanker payudara. Infiltrasi setempatdapat
disertai dengan infeksi (Mary, 2008).
d. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala umum yang menjadi keluhan terdiri dari keluhan
yang menjadi keluhan terdiri dari keluhan benjolan atau massa di
payudara, rasa sakit, keluar cairan dari punting susu, timbulnya
kelainan kulit, (dimpling, kemerahan, ulserasi, peau d’orange),
17
pembesaran kelenjar getah bening atau tanda metastasis jauh (Olfah
dkk, 2013).
Sedangkan jika berdasarkan fasenya tanda dan gejala kanker
payudara terdiri dari: (Olfah dkk, 2013).
1) Fase awal Kanker Payudara asimptomatik (tanpa tanda gejala ).
Tanda dan gejala yang paling umum adalah benjolan dan
penebalan pada payudara. Kebanyakan sekitar 90% ditemukan
olehpenderita sendiri. Pada stadium dini, kanker payudara tidak
menimbulkan keluhan.
2) Fase Lanjut
a) Bentuk dan Ukuran Payudara berubah, berbeda dari yang
sebelumnya.
b) Luka pada Payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah
diobati.
c) Eksim pada putting Payudara dan sekitarnya sudah lama tidak
sembuh walau diobati.
d) Puting susu sakit, keluar darah, nanah, atau cairan encer dari
puting atau keluar cairan air susu pada wanita yang sedang
hamil atau tidak menyusui.
e) Putting susu tertarik kedalam.
f) Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk (peud d’orange)
18
3) Metastase luas, berupa:
a) Pembesaran kelenjar getah bening supraklavikula dan servikal.
b) Hasil rontgen thorax abnormal dengan atau tanpa efusi pleura.
c) Peningkatan Alkali fosfastaseatau nyeri tulang berkaitan
dengan penyebaran ke tulang.
d) Fungsi hati abnormal.
Sedangkan jika berdasarkan berat dan ringannya terdiri dari
berbagai Stadium yaitu:
1) Stadium I
Tumor terbatas pada Payudara dengan ukuran < 2m, tidak
terfikasi pada kulit atau otot pektoralis, tanpa dugaan
metastasis aksila.
2) Stadium II
Tumor dengan diameter < 2cm dengan metastasis aksila atau
tumor dengan diameter 2-5 cm dengan tanpa metastasis aksila.
3) Stadium III a
Tumor dengan diameter >5 cm tapi msasih bebas dari jaringan
sekitarnya dengan atau tanpa metastasis aksila yang masih
bebas satu sama lainnya atau tumor dengan metastasis aksila
yang melekat.
4) Stadium III b
Tumor dengan metastasis infra atau supra klavikula atau tumor
yang telah menginfiltrasi kulit atau dinding toraks.
19
5) Stadium IV
Tumor yang telah mengadakan metastasis jauh (Olfah dkk,
2013).
e. Penatalaksanaaan
1) Pencegahan
a) Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah pencegahan yang paling utama.
Caranya adalah dengan upaya menghindarkan diri dari
keterpaparan pada berbagai faktor risiko dan melaksanakan
pola hidup sehat (Suryaningsih dkk, 2009).
Hal-1hal yang dapat dilakukan dengan pencegahan primer,
yaitu :
(1) Pahami keadaan diri anda.
(2) Mengatur usia reproduksi.
(3) Berikan ASI pada anak anda.
(4) Menjaga berat badan.
(5) Hindari alkohol dan rokok.
(6) Diet makanan sehat / kurangi lemak Menghindari
stress.
(7) Olahraga.
(8) Makanan lebih banyak buah dan sayuran.
(9) Cukupi kebutuhan vitamin D (Nurcahyo dkk, 2010)
20
b) Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang
memiliki risiko untuk terkena kanker payudara.Pencegahan
sekunder dilakukan dengan melakukan deteksi dini melalui
beberapa metode seperti mammografi atau SADARI (periksa
payudara sendiri) (Olfah dkk, 2013).
(1) Pengertian
Sadari adalah Pemeriksaan Payudara sendiri yang
bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kanker dalam
payudara wanita. Pemeriksaan ini dilakukan dengan
menggunakan cermin dan dilakukan oleh wanita yang
berumur 20 tahun ke atas (Olfah dkk, 2013).
(2) Tujuan
Tujuan SADARI yaitu untuk mendeteksi dini sedini
mungkin ada tidaknya kanker dalam 33 payudara wanita
(Olfah dkk, 2013).
(3) Waktu SADARI
(a) Waktu terbaik untuk melakukan SADARI minimal
satu kali dalam sebulan, dilakukan pada hari ke 7
sampai ke 10 dari awal mula haid, atau 3 hari setelah
haid berhenti (Olfah dkk, 2013).
(b)Waktu ±10 menit, setiap bulan periksa payudara.
21
c) Pencegahan Tertier
Pencegahan ini ditujukan pada individu yang telah positif
menderita kanker payudara dan penting untuk meningkatkan
kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit
dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan yang
dapat dilakukan adalah dengan :
(a) Operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap
ketahanan hidup penderita.
(b) Tindakan kemoterapi dengan sitostatika.
(c) Pada stadium tertentu, pengobatan diberikan hanya
berupa simptomatik.
(d) Dianjurkan
untuk
mencari
pengobatan
alternatif.
(Suryaningsih dkk, 2009)
2) Pengobatan
Terapi primermenyatakan tujuan dariterapi primer atau
pembedahan adalah untuk mengangkat seluruhtumor atau sebanyak
mungkin yang dapat diangkat dan semuajaringan sekitarnya yang
terkena. Jenis pembedahan yang dapat dilakukan adalah: Bruner &
Suddarth,
2002Berdasarkan
Skripsi
Frida
(2012)
yang
berjudul”Hubungan Pengetahuan Deteksi dini (SADARI) dengan
Keterlambatan
Pemerikaan”.
Penderita
Kanker
payudara
Melakukan
22
(1) Bedah diagnostik
Bedah diagnostik dilakukan untuk mendapatkan
biopsi(eksisi jaringan yang di curigai) untuk menganalisa
jaringandan sel- sel yang di duga ganas. Metode biopsi
yang umumdigunakan adalah metode eksisi (digunakan
untukmendapatkan
biopsi
jaringan
yang
mudah
dijangkau), insisi(digunakan untuk massa tumor yang
terlalu besar untuk diangkat), dan biopsi jarum (digunakan
untuk mendapatkansampel massa yang dicurigai yang
dengan mudah dapat dijangkau).
(2) Bedah profolaktik
Bedah
jaringanatau
profilaktik
organ
melibatkan
nonvital
yang
pengangkatan
mungkin
untuk
terjadinya kanker.Prosedur bedah yang digunakan adalah
kolektomi danmastektomi.
(3) Bedah paliatif
Bedah
paliatif
untukmenghilangkan
dilakukan
komplikasi
sebagai
dari
kanker.
usaha
Tipe
pembedahan inidirancang untuk meredakan nyeri yang
berat, menghilangkanobstruksi, dan mastektomi sederhana
untuk penyakit payudaraulseratif.
23
(4) Bedah rekonstruktif
Bedah
rekonstruktif
dilakukan
dalam
upaya
untukmemperbaiki fungsi atau memperoleh suatu efek
kosmetikyang di kehendaki.
a) Terapi radiasi
Dalam terapi radiasi, radiasi ionisasi digunakan
untukmengganggu pertumbuhan seluler. Terapi radiasi juga
dapatdigunakan untuk mengontrol penyakit malignasi bila
tumor tidakdapat di angkat secara pembedahan atau bila ada
metastasis padanodus lokal.Tumor radiosensitifadalah tumor
yang dapatdihancurkan oleh dosis radiasi yang masih
memungkinkan selnormal untuk beregenerasi dalam jaringan
normal. Radiasi dapat diberikan pada letak tumor baik dengan
mekanisme eksternal atauinternal, dimana implantasi radiasi
internal
ataubrachytherapydigunakan
untuk
memberikan
radiasi dosis tinggi ke area yangterlokalisir.
b) Terapi sistemik
Terapi sistemikatau yang sering disebut dengan
kemoterapiadalah
diberikan
pengobatan
secara
menggunakan
oralmaupun
disuntikkan.
obat
yang
Kemoterapi
umumnya menggunakan obatdosis tinggi yang bekerja
didalam
sel.
Kemoterapi
bertujuanmenghambat
atau
24
melemahkan sel kanker bahkan dapat mematikansel kanker
(Nurcahyo 2010, h. 112).
c) Terapi fotomedik
Terapi fotomedik atau fototerapi adalah pengobatan
kankeryang
menggunakan
senyawa
fotosintesis
seperti
photofrin.Senyawafotosintesis diberikan secara intravena
yang akan tertahan dalamkonsentrasi yang lebih tinggi dalam
jaringan
maligna
dibandingjaringan
normal,
kemudian
senyawa tersebut diaktifkan denganpenyinaran menggunakan
sinar laser yang akan mennimbulkanmolekul oksigen singlet
yang aktif dan bersifat sitotoksik. Karenasenyawa tersebut
banyak tertahan pada jaringan maligna makasitotoksik yang
lebih selektif dapat dicapai dengan kerusakanminimal
terhadap jaringan normal.
d) Terapi gen
Terapi
gen
adalah
terhadappengobatan
kanker.
pendekatan
Tujuan
terapi
revolusioner
ini
adalah
didasarkan padapengetahuan bahwa banyak kanker mungkin
diakibatkan oleh perubahan dalam gen yang spesifik.
e) Terapi hormon
Beberapa sel kanker menunjukan reaksi
positif
terhadaphormon tertentu. Ada yang progesteron receptor, ada
pula esterogenreseptor. Sel kanker semacam itu tumbuh cepat
25
apabila mendapatasupan hormon tersebut. Jika terjadi kasus
seperti ini makadiperlukan terapi hormon (Nurcahyo, 2010).
f) Targeted theraphy
Targeted theraphy adalah pemberian obat yang secara
khusus ditargetkan untuk menghambat pertumbuhan protein
tertentu. Adabeberapa jenis sel kanker yang merupakan
sekumpulan senyawaprotein yang terus tumbuh membesar
dan menjalar (Nurcahyo, 2010).
Tindakan Operatif tergantung pada stadium kanker yaitu: (Olfah
dkk, 2013).
1) Stadium I dan II dilakukan mastektomi radikal, kemudian apriksa
KGB, bila ada metastasis dilanjutkan dengan radiasi regional
kemoterapi ajuvan. Dapat pula dilakukan mestektomi simplek
yang harus diikuti radiasi tumor bed dan daerah KGB regional.
2) Pada Stadium III a dilakukan mestektomi radikal ditambah
kemoterapi
ajuvan,
atau
mastektomi
simpleks
ditambah
radioterapi pada tumor bed dan KGB regional.
3) Pada Stadium III b dilakukan biopsi, insisi dilanjutkan radiasi.
4) Pada Stadium IV
1) Pada pasien premenopause dilakukan ooforektomi bilateral,
bila respons positif diberi aminoglutetimid/tamofen. bIla
respons negatif berikan kemoterapi CMP/CAF.
2) Pada pasien sudah 1-5 menopause periksa efek esterogen.
26
3) Pada Pasien pasca menapause berikan obat-obatan hormonal
seperti tamoksifen, esterogen, progeterone/kortikosteroid.
2. Asuhan Keperawatan Kanker Payudara
a. Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan kanker payudara diperoleh data sebagai
berikut:
1) Aktifitas/istirahat:
Gejala:
Kerja,
aktifitas
yang
melibatkan
banyak
gerakan
tangan/pengulangan, pola tidur (contoh, tidur tengkurap).
2) Sirkulasi
Tanda:
Kongestif unilateral pada lengan yang terkena (sistem limfe).
3) Makanan/cairan
Gejala:
Kehilangan nafsu makan, adanya penurunan berat badan.
4) Integritas Ego
Gejala:
Stresor konstan dalam pekerjaan/pola di rumah. Stres/takut tentang
diagnosa, prognosis, harapan yang akan datang.
27
5) Nyeri/kenyamanan
Gejala:
Nyeri pada penyakit yang luas/metastatik (Nyeri lokal jarang
terjadi
pada
keganasan
dini).
Beberapa
pengalaman
ketidaknyamanan atau perasaan lucu pada jaringan payudara.
Payudara
berat,
nyeri
sebelum
menstruasi
biasanya
mengindikasikan penyakit fibrokistik.
6) Keamanan
Tanda:
Massa nodul aksila. Edema, eritema pada kulit sekitar.
7) Seksualitas
Gejala:
Adanya
benjolan
payudara,
perubahan
pada
ukuran
dan
kesimetrisan payudara. Perubahan pada warna kulit payudara atau
suhu, rabas puting yang tak biasanya, gatal, rasa terbakar atau
puting meregang. Riwayat menarke dini (lebih muda dari usia 12
tahun), menopause lambat (setelah 50 tahun), kehamilan pertama
lambat
(setelah
usia
35
tahun).
Masalah
tentang
seksualitas/keintiman.
Tanda:
Perubahan pada kontur/massa payudara, asimetris. Kulit cekung,
berkerut, perubahan pada warna/tekstur kulit, pembengkakan,
kemerahan atau panas pada payudara. Puting retraksi, rabas dari
28
puting (serosa, serosangiosa, sangiosa, rabas berair meningkatkan
kemungkinan kanker, khususnya bila disertai benjolan).
8) Penyuluhan atau pembelajaran
Gejala:
Riwayat kanker dalam keluarga (ibu, saudara wanita, bibi dari ibu
atau nenek). Kanker unilateral sebelumnya kanker endometrial atau
ovarium.Pertimbangan Rencana Pemulangan: DRG menunjukkan
rata-rata lama dirawat 4 hari. Membutuhkan bantuan dalam
pengobatan/rehabilitasi,
keputusan,
aktivitas
perawatan
diri,
pemeliharaan rumah.
b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor.
2) Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.
3) Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.
4) Defisiensi pengetahuan tentang kondisi,
pengobatan
penyakitnya
berhubungan
prognosis, dan serta
dengan
kurangnya
informasi.
5) Kerusakan Integritas Jaringan
6) Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
c. Intervensi Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor
ditandai dengan:
Tujuan: Nyeri teratasi
29
Kriteria:
a) Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang.
b) Nyeri tekan tidak ada.
c) Ekspresi wajah tenang.
d) Luka sembuh dengan baik.
Intervensi:
a) Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan
penyebaran.
Rasional:
Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang
dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan
untuk intervensi selanjutnya.
b) Beri posisi yang menyenangkan.
Rasional:
Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat
secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
c) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
Rasional:
Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan
memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
d) Ukur tanda-tanda vital.
Rasional:
30
Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya
peningkatan nyeri.
e) Penatalaksanaan pemberian analgetik.
Rasional:
Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat
nyeri tidak dipersepsikan.
2) Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh
Ditandai dengan:
Tujuan: Kecemasan dapat berkurang
Kriteria:
a) Klien tampak tenang.
b) Mau berpartisipasi dalam program terapi.
Intervensi:
a) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya.
Rasional:
Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan,
sehingga pasien dapat membuat rencana untuk masa depannya.
b) Diskusikan tanda dan gejala depresi.
Rasional:
Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan dapat
dikenali dan diukur.
31
c) Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau
pemakaian prostetik.
Rasional:
Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang lengkap,
mendekati normal.
3) Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi Ditandai dengan:
Tujuan: Tidak terjadi infeksi.
Kriteria:
a) Tidak ada tanda- tanda infeksi.
b) Luka dapat sembuh dengan sempurna.
Intervensi:
a) Kaji adanya tanda- tanda infeksi.
Rasional:
Untuk mengetahui secara dini adanya tanda- tanda infeksi
sehingga dapat segera diberikan tindakan yang tepat.
b) Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur
tindakan.
Rasional:
Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi.
c) Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik.
Rasional:
Untuk menghindari kontaminasi dengan kuman penyebab
infeksi.
32
d) Penatalaksanaan pemberian antibiotik.
Rasional:
Menghambat perkembangan kuman sehingga tidak terjadi
proses infeks.
4) Kerusakan Integritas jaringan
Kriteria hasil:
a) Mengidentifikasi penyebab kerusakan jaringan mekanik.
b) Berpartisipasi dalam perencanaan untuk meningkatkan
penyembuhan luka.
c) Memperlihatkan kemajuan penyembuhan lukajaringan.
Intervensi:
a) Kaji balutan luka; karakteristik drainase (jumlah) adanya
kemerahan dan nyeri pada insisi
b) Anjurkan pada pasien untuk tidak menggaruk pada kulit yang
kering
c) Ubah posisi dengan sering
d) Anjurkan pasien untuk melakukan perawatan kulit dengan krim
yang di izinkan dokter
e) Lakukan perawatan luka operasi secara steril
f) Anjurkan pasien untuk tidak menggunakan pakaian yang
sempit/ketat
33
g) kolaborasi untuk pemberian terapi antibiotik.
5) Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan: Penambahan berat badan progresif kearah tujuan dengan
Normalisasi nilai laboratorium dan bebas tanda malnutrisi
Intervensi
a) Pantau masukan makanan setiap hari
b) Ukur tinggi, berat badan dan kelipatan kulit Trisep.Pastikan
jumlah penurunan berat badan saat ini.Timbang berat badan
setiap hari atau sesuai indikasi.
c) Dorong klien untuk dapat makan tinggi kalori kaya nutrient,
dengan masukan cairan adekwat
d) Kontrol factor-faktor lingkungan (mis; bau tidak sedap atau
kebisingan). Hindari terlalu manis, berlemak atau makan
pedas.
e) Ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Dorong pasien
untuk berbagi makanan dengan keluarga
f)
Dorong penggunaan teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan
imajinasi.
g) Berikan obat-obat sesuai indikasi
3. Anestesi
a. Definisi
Anestesiologi ialah ilmu kedokteran yang pada awalnya
berprofesi menghilangkan nyeri dan rumatan pasien sebelum, selama
34
dan
sesudah
pembedahan
(Latief
dkk,
2002).Anestesi
atau
pembiuasan merupakan pembantu operasi yang sangat penting karena
tanpa anestesi tidaklah mungkin dilakukan pembedahan. Tujuan dan
teknik dari anestesi umum yaitu menginduksi hilangnya kesadaran
dengan menggunakan obat hipnotik yang dapat diberikan secara
intravena (misalnya profol) atau inhalasi (misalnya sevofluran) (Grace
Pierce A., 2008) Berdasarkan Penilitian yang dilakukan oleh Azhar
(2015) yang berjudul “Pengaruh Pemberian Terapi Musik Klasik:
Mozart terhadap waktu pulih sadar pasien anestesi general”.
Secara umum, anestesi berarti suatu tindakan menghilangkan
rasa sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya
yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Sebagai contoh operasi akan
menimbulkan luka insisi, saat pasien sadar dari pengaruh anestesi
maka akan merasakan perasaan nyeri. Anestesi juga dapat mengiritasi
jalan nafas, menimbulkan hipersekresi kelenjar ludah, menyebabkan
mual
muntah,
Ansietas
sendiri
merupakan
suatu
tindakan
menghilangkan rasa sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai
prosedur lainnyayang menimbulkan rasa sakit pada tubuh (Gwinutt,
2012).
b. Macam Anestesi
1) Anestesi Lokal atau Setempat
35
Anestesi Lokal dibedakan lagi menurut tempat yang diberikan obat
anestesi, yaitu anestesi spinal, epidural, paravertebral, blok cabang
saraf, infiltrasi, dan permukaan kulit (topikal).
2) Anestesi General atau Umum
Obat untuk anestesi umum ada yang berupa gas dan ada pula yang
berupa cairan. Anestesi umum menyebabkan mati rasa kerena obat
masuk kejaringan otak dengan tekanan setempat yang tinggi
(Latief dkk, 2002).
c. Penilaian Anestesi
Sebelum melakukan tindakan Anestesi dilakukan Indentitas setiap
pasien harus lengkap dan harus dicocokan dengan gelang identitas
yang dikenakan pasien. Pasien ditaya lagi mengenai hari dan jenis
bagian tubuh yang akan dioperasi. Dibawah ini termasuk Penilaian
Pembedahan yaitu: (Latief dkk, 2002).
1) Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesia
sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada halhal yang perlu mendapat perhatian khusus, misalnya alergi, mualmuntah, nyeri otot, gatal-gatal, sesak nafas pasca bedah ,sehingga
kita dapat merancang anestesi berikutnya dengan lebih baik.
Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari sebelumnya
untuk
eliminasi
nikotin
yeng
mempengaruhi
sistem
36
kardiovaskulasi, dihentikan beberapa hari untuk mengaktifkankerja
silia jalan pernafasan dan 1-2 minggu untuk mengurangi jumlah
produksi sputum.Kebiasaan minum alkohol dicurigai akan adanya
penyakit hepar.
2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan keadaan gigi-geligi, tindakan buka mulut,lidah relatif
besar sangat penting diketahui apakah ada penyulitan tindakan
laringoskopiintubasi.
Leher
pendek
dan
kaku
juga
akan
menyulitkan laringoskopiintubasi.
3) Pemeriksaan Labolatarium
Uji Labolatarium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan
dugaan penyakit yang sedang dicurigai, misalnya pemeriksaan
darah (Hb, Leokosit, Masa pendarahan dan masa pembukuan) dan
Urinalis. Pada Usia diatas 50 tahun dianjurkan EKG dan foto
thoraks.
4) Kebugaran untuk Anestesi
Pembedahan efektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk
menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada
operasi sito penundaan yang tidak perlu harus dihindari.
5) Klasifikasi Status Fisik
Kasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik
seseorang ialah yang berasal dari The Amarican Society of
Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat prakiran
37
resiko anestesia, karena dampak samping anestesia tidak dapat
dipisahkan dari dampak samping pembedahan.
Kelas I
: Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.
Kelas II
: Pasien dengan penyakit siskemik ringan atau sedang.
Kelas III
: Pasien dengan penyakit siskemik berat sehingga
aktivitas rutin terbatas.
Kelas IV
: Pasien dengan siskemik berat tak dapat melakukan
aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman
kehidupan setiap saat.
Kelas V
: Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa
pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.
6) Masukan Oral
Pada Pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, Makanan tak
berlemak dipernolehkan 5 jam sebelum induksi anestesia.
Minuman bening, air putih, teh manis sampai 3 jam dan untuk
keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1 jam
sebelum induksi anestesia.
7) Premedikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi
anestesia dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan
bangun dari anestesia diantaranya:
a) Meredakan kecemasan dan ketakutan
b) Memperlancar induksi anestesia
38
c) Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
d) Meminimalkan jumlah obat anestetik
e) Mengurangi mual-muntah pasca bedah
f) Menciptakan amnesia
g) Mengurangi isi cairan lambung
h) Mengurangi refleks yang membahayakan (Latief dkk, 2002)
d. Pemberian Anestesi
Apapun cara pemberiaannya , semua obat anestesi masuk ke dalam
aliran darah, dan diangkut ke otak, tempat obat tersebut menembus
sawar otak melalui darah, dan memasuki sel khusus pada sistem saraf
pusat (SSP). Obat tersebut menimbulkan pengaruh reversible yang
khas.
Keadaan
teranestesi
disebabkan
oleh
suatu
perubahan
permeabilitas membrane sel otak, dan mungkin adanya penyusupan
pada oksigenasi, kadar ion hydrogen intraseluler, dan atau pertukaran
ion (Latief dkk, 2002).
e. Dampak Anestesi
Beberapa dampak yang terjadi pada pasien Anestesi General yaitu:
(Latief dkk, 2002).
1) Respirasi
Anestesi umum sering menyebabkan jalan napas mengalami
obstruksi setelah hilangnya tonus otot-otot lidah dan faring, apnea,
terdapat derajat hipotensi. Hipoksemia merupakan komplikasi yang
sering terjadi pasca anestesi dan pembedahan.
39
2) Kardiovaskuler
Menyebabkan depresi jantung pada tingkat tertentu yang
melemahkan kontraktilitas jantung. Beberapa juga menurunkan
stimulasi simpatetis dari sistem sistemik yang menyebabkan
vasodilatasi dan efek kombinasi menyebabkan penurunan tekanan
darah (hipotensi) sehingga potensial menganggu perusi ke organ
mayor,terutama saat induksi.
3) Pencernaan
Regurgitasi dan aspirasi lambung kadang-kadang terjadi walaupun
sudah menerapkan kewaspadaan.
4) Saraf Perifer
Sebagian besar obat anestesi inhalasi bersifat vasilidator. Anestesi
inhalasi ini mempengaruhi otot polos pembuluh darah otak
sehingga
menimbulkan
vasodilatasi
yang
menyebabkan
peningkatan tekanan intrakarnial.
4. Waktu Pulih Sadar
Pulih sadar adalah bangun dari efek obat anestesi setelah proses
pembedahan dilakukan (Barone, 2004)Jurnal “Pengaruh Pemberian Terapi
Murottal Al- Qur` an terhadap Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara
dengan Anestesi General di RSUD DR. Moewardi Surakarta” tahun
2015..“Recovery Room” (RR) adalah suatu ruang Pemulihan pasien pasca
operasi, yang terletak di dekat kamar bedah, dekat dengan perawat bedah,
ahli anesthesia dan ahli bedah sendiri, sehingga apabila timbul keadaan
40
gawat pasca-bedah, klien dapat segera diberi pertolongan.Setelah selesai
tindakan pembedahan, paseien harus dirawat sementara di ruang pulih
sadar (recovery room : RR) sampai kondisi pasien stabil, tidak mengalami
komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang
perawatan (bangsal perawatan).
Setelah dilakukan pembedahan pasien dirawat diruang pulih sadar.
Pasien yang dikelola adalah pasien pasca anestesi umum ataupun anestesi
regional. Di ruang pulih sadar dimonitor jalan nafasnya apakah bebas atau
tidak, ventilasinya cukup atau tidak dan sirkulasinya sudah baik atau tidak.
Pasien dengan gangguan jalan nafas dan ventilasi harus ditangani secara
dini. Selain obstruksi jalan nafas karena lidah yang jatuh ke belakang atau
spasme laring, pasca bedah dini kemungkinan terjadi mual-muntah yang
dapat berakibat aspirasi. Anestesi yang masih dalam, dan sisa pengaruh
obat pelumpuh otot akan berakibat penurunan ventilasi.Pasien yang belum
sadar diberikan oksigen dengan kanul nasal atau masker sampai pasien
sadar betul. Pasien yang sudah keluar dari pengaruh obat anestesi akan
sadar kembali. Kartu observasi selama di ruang pulih sadar harus ditulis
dengan jelas, sehingga dapat dibaca bila pasien sudah kembali ke bangsal.
Bila keadaan umum dan tanda-tanda vital pasien normal dan stabil, maka
pasien dapat dipindahkan ke ruangan dengan pemberian instruksi pasca
operasi.
Tingkat perawatan pasca anestesi pada setiap pasien tidak selalu
sama, bergantung pada kondisi fisik pasien, teknik anestesi, dan jenis
41
operasi, monitoring lebih ketat dilakukan pada pasien dengan risiko tinggi
seperti:
a. Kelainan organ
b. Syok yang lama
c. Dehidrasi berat
d. Sepsis
e. Trauma multiple
f. Trauma kapitis
g. Gangguan organ penting, misalnya : otak
5. Murottal Al- Qur`an
a. Pengertian
Terapi Murottal adalah terapi bacaan Al- Qur` an yang merupakan
terapi realigi dimana seseorang akan dibacakan ayat- ayat Al- Qur` an
selama beberapa menit atau bahkan selama beberapa jam, sehingga
membeerikan dampak positif bagi tubuh seseorang (Gusmiran, 2005).
Murottal adalah suara ayat- ayat Al- Qur` an yang dilagukan oleh
seseorang qori`. Terapi murottal adalah rekaman suara Al- Qur’ an yang
dilagukan oleh seorang qori’ (pembaca Al- Qur’an), lantunan AlQur’an secara fisik mengandung unsur suara manusia (Heru, 2008).
Berdasarkan Penilitian yang dilakukan oleh Moh. Al Khafi billah
(2015) yang berjudul “Pengaruh Pemberian Terapi Murottal Al Quran
terhadap waktu pulih sadar pasien anestesi general”.
42
Al- Qur` an ialah Kalam Allah SWT yang merupakan mu` jizat
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Al- Qur` an adalah
Kitab suci yang diyakini kebenarannya, dan dijadikan salah satu syarat
keimanan bagi setiap muslim. Dalam sejarah turunya Al- Qur` an ayat
suci Al- Qur` an diturunkan dikota Makkah dan kota Madinnah
Munawarah. Al- Qur` an adalah obat yang mujarab, baik penyakit hati
maupun penyakit fisik, baik penyakit dunia ataupun penyakit akhirat
(Heru, 2008).
b. Gambaran Surah Ar- Rahman
Ar- Rahman yang berarti Yang Maha Pemurah merupakan surah
ke 55 diantara surah- surah dalam al-Qur` an, surah ini terdiri atas 78
ayat. Termasuk surah-surah makkiyyah. Nama ar- Rahman diambil dari
perkataan Ar- Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini. ArRahman adalah salah satu dari nama- nama Allah SWT(Jalalaudin,
2008).M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa penamaannya dengan
surah Ar- Rahman pelimpah kasih telah dikenal sejak zaman Nabi saw.
Nama tersebut diambil dari kata awal surat ini. Ini adalah satu- satunya
surat yang dimulai, sesudah basmalah, dengan nama atau sifat Allah
swt, yakni ar- Rahman Surat ini dikenal juga dengan nama Arus alQur` an (pengantin al- Qur` an). Nabi saw. bersabda: “segala sesuatu
mempunyai pengantinya dan pengantinya al- Qur` an adalah surah ar
Rahman” (HR. Al- Baihaqi). Penamaan itu karena indahnya surah ini
dan karena di dalamnya terulang tiga puluh satu kali ayat “fa biayyi
43
Ala-i Rabbikuma Tukadzdziban/ nikmat yang manakah, di antara
nikmat- nikmat Tuhan pemelihara kamu berdua, yang kamu berdua
dustakan?”Kalimat berulang- ulang ini diibaratkan dengan aneka hiasan
yang dipakai oleh pengantin.Sebagian besar surah ini menerangkan
sifat- sifat pemurah Allah swt. kepada hamba- hamba Nya(Gusmirah,
2005).
c. Manfaat
Berikut ini merupakan beberapa manfaat dari murottal
(mendengarkan bacaan ayat- ayat Al- Qur` an antara lain: (Heru,
2009) Berdasarkan Penilitian yang dilakukan oleh Moh. Al Khafi
billah (2015) yang berjudul “Pengaruh Pemberian Terapi Murottal Al
Quran terhadap waktu pulih sadar pasien anestesi general”.
1) Mendengarkan bacaan ayat- ayat Al- Qur` an dengan tartil akan
mendengarkan ketenangan jiwa.
2) Latihan Al- Qur` an secara fisik mengandung unsur suara manusia,
suara manusia atau
seseorang adalah instrumen atau alat
penyembuhan yang sangat menakjubkan dan alat yang mudah
dijangkau. Suara dapat menurunkan hormon- hormon stres,
mengaktifkan hormon endoprin alami, meningkatkan perasaan
rileks, dan mengalihkan perhatian dari rasa takut, tegang,
memperbaiki sistem kimia tubuh sehingga menurunkan tekanan
darah serta memperlambat pernafasan, detak jantung, denyut nadi,
dan aktifitas gelombang otak (Heru, 2008).
44
d. Efek Terapi Murottal Al- qur` an
Murottal mempunyai efek yang positif pada rasa sakit dan
kecemasan dan juga meningkatkan kualitas hidup individu (Anwar,
2010) Berdasarkan Penilitian yang dilakukan oleh Moh. Al Khafi billah
(2015) yang berjudul “Pengaruh Pemberian Terapi Murottal Al Quran
terhadap waktu pulih sadar pasien anestesi general”.
e. Cara Kerja Terapi Murottal Al- Qur` an
Terapi murottal memberikan dampak positif bagi psikologis.
Pasien yang akan menjalani operasi pasien merasakan ketakutan dan
stres. Peneliti menggunakan audio murottal surat Ar- rahman sebagai
penghilang rasa takut, terapi diperdengarkan kepada pasien, efek suara
dari audio berkaitan dengan proses impuls suara yang ditransmisikan
kedalam tubuh dan mempengaruhi sel- sel tubuh. Suara yang di terima
oleh telinga kemudian di terima oleh saraf pusat kemudian di
transmisikan keseluruh bagian tubuh. Selanjutnya saraf vagus dan
sistem limbik membantu kecepatan denyut jantung, respirasi
mengontrol emosi. Terapi audio murottal dapat memunculkan
gelombang delta di daerah frontal dan sentral di sebelah kanan dan
kiri otak. Daerah frontal yaitu sebagai pusat intelektual umumdan
pengatur emosi ( Abdurrahman, 2008 ) Berdasarkan Penilitian yang
dilakukan oleh Moh. Al Khafi billah (2015) yang berjudul “Pengaruh
45
Pemberian Terapi Murottal Al Quran terhadap waktu pulih sadar
pasien anestesi general”.
Ketika
pasien
di
sarafmengkomunikasikan
ataumeningkatkan
hormon
dengarkanterapi
audio
hipotalamusuntuk
endofrin
system
mensekresi
dikelenjar
piutary
dan
menekanhormon stres, epineprin dan nonepineprin di kelenjar
adrenalsehingga
terapi
darah,menurunkan
audio
mampumenurunkan
denyut
tekanan
nadi,memperlambat
pernafasan,memperlambat aliran darah ke otak akan mempercepat
waktu pulih sadar. Karakteristik terapi audio murottal surah Ar- rahman
dalampenelitian ini mempunyai tempo 79,8 beatz atau minute. Tempo
ini termasukdalam tempo lambat yaitu 120 bpm, tempo lambat
merupakan
seiringdetak
jantung
sehingga
jantung
mensingkronkan detaknya sesuaidengan suara (Gusmirah, 2005).
akan
46
B. Kerangka Teori
Etiologi Nyeri
1. Usia
2. Lokasi Geografis dan
Ras
Kanker Payudara
3. Genetik atau Riwayat
Keluarga
4. Faktor Predisposisi
5. Riwayat Menstruasi
Terjadinya benjolan atau
massa tunggal yang sering
terdapat di daerah kuadrat
atas bagian luar
6. Obesitas
Luka Pembedahan
Nyeri
Terapi Non Farmakologis
seperti Terapi Murottal AlQur` an Surah Ar- rahman
Intensitas Nyeri
Menurun
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Pembedahan
47
(Olfah, dkk 2013)
BAB III
METODE PENYUSUNAN KTI APLIKASI RISET
A. Subjek Aplikasi Riset
Subjek aplikasi ini adalah Tumor Mammae Dextra pada payudara dengan
Anestesi General di RSUD dr Soediran Mangun Soemarso Wonogiri.
B. Tempat dan waktu
1. Waktu
Aplikasi tindakan Pemberian terapi Murottal Al Quran6 sampai 8 Januari
2016.
2. Tempat
Tindakan Pemberian terapi Murottal Al Quran ini dilakukan di di ruang di
RSUD dr Soediran Mangun Soemarso Wonogiri Recovery Room.
C. Media dan alat yang digunakan
Dalam aplikasi riset ini media dan alat yang digunakan yaitu
1. Lembar Observasi Aldrete Score untuk mengukur Waktu Pulih Sadar
Pasien
2. Tipe Recorder dengan Murottal Al Quran Surah Ar- Rahman (frekuensi
440 cps hertz)
3. Headphone
4. Stopwacth
47
48
D. Prosedur tindakan berdasarkan aplikasi riset
Prosedur tindakan yang akan dilakukan pada aplikasi riset tentang Pemberian
terapi Murottal Al Quran terhadap waktu pulih sadar pasien kanker payudara
dengan Anestesi General dengan menggunakan Surah Ar- Rahman selama 60
menit setelah itu diukur waktu pulih sadarnya menggunakan alderete score
selanjutnya dilakukan penilaian setiap saat dan dicatat setiap 15 menit sampai
tercapai nilai 10.
E. Alat ukur
Alat ukur yang digunakan penulis dalam pengaplikasian hasil riset Pengaruh
Terapi Murottal Al Quran terhadap waktu pulih sadar pasien kanker payudara
dengan Anestesi General di di RSUD dr Soediran Mangun Soemarso
Wonogiri di ruang Recovery Room menggunakan Alderete Score (dewasa)
(Barone, 2004).
49
Tabel 3.1 Alderete Score
No
1.
2.
3.
Kriteria
Nilai Warna
Merah Muda
Pucat
Sianosis
Pernafasan
Dapat Bernafas dalam Batuk.
Dangkal Namun Pertukaran
udara adekuat.
Apnoe atau Obstruksi
Sirkulasi
Nilai
Normal
2
1
0
2
1
0
2
Tekanan darah menyimpang
<20% dari normal
Tekanan darah menyimpang 2050 % dari normal
4.
5.
1
0
Tekanan darah menyimpang
>50% dari normal.
Kesadaran
2
Sadar, siaga dan orientasi
1
Bangun namun cepat kembali
tertidur
0
Tidak berespon
Aktivitas
4 Anggota Gerak
2 Anggota Gerak
0 Anggota Gerak
Tabel 3.2 HRS A
2
1
0
50
No
Gejala Kecemasan
nilai angka (skor)
0
1
2
1. Perasaan Kecemasan
a. Cemas
b. Firasat Buruk
c. Takut akan pikiran sendiri
d. Mudah tersinggung
2.
3.
Ketegangan
a.
merasa tegang
b.
Lesu
c.
Tidak bisa istirahat tenang
d.
Mudah terkejut
e.
Mudah menangis
f.
Gemetar
g.
Gelisah
Ketakutan
a. Pada gelap
b. Pada orang lain
c. Ditinggal sendiri
4. Gangguan tidur
a. Sukar tidur
b. Terbangun malam hari
c. Tidur tidak nyenyak
d. Bangun dengan lesu
e. Banyak mimpi-mimpi (mimpi buruk)
5. Gangguan kesadaran
a. Sukar kosentrasi
b. Daya ingat menurun
c. Daya ingat buruk
6. Perasaan depresi (murung)
3
4
51
a. Hilangnya minat
b. Sedih
c. Bangun dini hari
d. Perasaan berubah-ubah
7. Gejala somatik/fisik (otot)
a. Sakit dan nyeri otot
b. Kaku
c. Kedutan otot
d. Gigi gemerutuk
e. Suara tidak stabil
8. Gejala somatik/fisik (sensorik)
a. Tinitus (telinga berdenging)
b. Penglihatan kabur
c. Muka merah atau pucat
d. Merasa lemas
9. Gejala kardiovaskuler (jantung dan
pembuluh darah)
a. Takikardi (denyut jantung cepat)
b. Berdebar-debar
c. Nyeri di dada
d. Denyut nadi mengeras
e. Rasa lesu/lemas seperti mau pinsan
10. Gejala respiratory (pernafasan)
a. Rasa tertekan atau sempit dada
b. Rasa tercekik
c. Sering menarik nafas
d. Nafas pendek/sesak
11. Gejala gastrointestinal
a. Sulit menelan
b. Perut melilit
c. Gangguan pencernaan
52
d. Nyeri sebelum atau sesudah makan
e. Rasa penuh dan kembung
f. Buang air lembek atau konstipasi
12.
Gejala urogenital (perkemihan)
a. Sering buang air seni
b. Tidak dapat menahan air seni
13. Gejala autonomy
a. Mulut kering
b. Muka merah
c. Mudah berkeringat
d. Kepala teras berat
14.
Tingkah laku
a. Gelisah
b. Tidak tenang
c. Jari gemetar
d. Muka tegang
e. Otot tegang/pengeras
Masing-masing nilai angka (skor) dari 14 kelompok gejala dijumlahkan
dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan
seseorang, yaitu :
Total nilai (score) =
1.
Kurang dari 14
: tidak ada kecemasan
2.
14-20
: kecemasan ringan
3.
21-27
: kecemasan sedang
4.
28-41
: kecemasan berat
5. 42- 56
: Kecemasan berat sekali
BAB IV
LAPORAN KASUS
Bab IV ini merupakan laporan Asuhan Keperawatan pada Ny. E dengan
Kanker Payudara di ruang Mawar RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
Asuhan Keperawatan ini dimulai dari Pengkajian, Analisa data, Perumusan
Diagnosa Keperawatan, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi.
A. Identitas
Klien bernama Ny. E, tinggal di Tegalharjo Eromoko, Umur 24 tahun,
jenis kelamin perempuan, Pendidikan SMP, Pekerjaan sebagai Ibu Rumah
Tangga, No RM 528658, Sumber informasi diperoleh dengan cara
Alloanamnesa dan Autoanamnesa,Tanggal masuk Rumah Sakit 5 Januari
2016, dirawat diruang rawat inap Mawar dengan Kanker Payudara. Identitas
Penanggung jawab Tn. S, Umur 30 tahun, Pendidikan SMA, Pekerjaan
sebagai Wiraswasta, Alamat di Tegalharjo Eromoko, Hubungan dengan Klien
sebagai Suami.
B. Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan keluhan utama Nyeri pada Payudara
Kanan,
pada
riwayat
Penyakit
sekarang
klien
dibawa
ke
dokter
penyakitdalam kemudian pada tanggal 5 Januari 2016 pasien dirujuk ke poli
53
54
penyakit bedahRSUD Wonogiri saat diperiksa dokter terdapat benjolan di
payudara kanan dengan keluhan sejak 2 bulan lalu, benjolan semakin
membesar, pasien merasa nyeri di puting payudara dan teraba massa. Di Poli
Bedah dilakukan pemeriksaan dengan hasil tekanan darah 110/80 mmHg,
nadi 125×/menit, Respirasi 20×/menit, suhu 36º C dan didapatkan Diagnosa
Medis Tumor Mammae Dextra, dokter poli bedah menyarankan untuk
dioperasi dan pasien dirawat dibangsal Mawar nomer A 12 pada jam 15.30
WIB. Pada saat dikaji di ruang Mawar nomer A 12 tanggal 6 Januari 2016
pasien mengatakan Nyeri pada Payudara kanan dan Nyeri setiap saat, nyeri
seperti tertusuk tusuk dengan skala nyeri 6 dan nyeri terasa sewaktu waktu,
wajah pasien tampak merintih menahan nyeri.Di ekstremitas atas kiri
terpasang infus NaCl 0,9 % 20 tetes per menit. Faktor yang memperberat dulu
saat pasien melahirkan anak pertama puting payudara kanan masuk ke dalam
pasien tidak bisa menyusui menggunakan payudara kanan hanya bisa
menyusui dengan payudara kiri. Saat pasien mengetahui Penyakitnya untuk
mengatasi dengan minum daun sersak yang di rebus sehari sekali.
Riwayat Penyakit dahulu Pasien mengatakan sebelumnya pernah
mengalami penyakit Tumor payudara Kanan yang sama sekitar 7 bulan yang
lalu kemudian pasien di operasi abses. Dan Pada saat usia 7 tahun pasien
pernah menderita penyakit typus dan dirawat di Rumah Sakit. Pasien tidak
pernah mengalami kecelakaan. Pasien mengatakan tidak mempunyai alergi
obat- obatan maupun alergi berbagai makanan dan pasien tidak ingat kapan
terakhir kali mendapatkan imunisasi dan imunisasi apa. Pasien berkata
55
melakukan aktivitas sehari- hari dengan menjadi Ibu Rumah Tangga bagi
anak dan suaminya.
Pada Riwayat Kesehatan keluarga, dalam keluarga pasien tidak
memiliki riwayat penyakit keturunan seperti Diabetes Mellitus, Hipertensi
dan Asma. Pada Riwayat Kesehatan Lingkungan, Lingkungan disekitar
rumahnya bersih jauh dari polusi udara, terdapat ventilasi udara cukup serta
rumahnya terawat bersih dan nyaman.
Ny.E 24 thn
(Tumor Mammae dextra)
56
Keterangan
: Laki-Laki
: Hubungan
: Pasien Perempuan
: Keturunan
: Perempuan
: Menikah
:: Tinggal satu rumah
Gambar 4.1 Genogram
Pengkajian Pola Kesehatan Fungsional menurut Gordon, Pola Persepsi
dan Pemeliharan Kesehatan, Pasien mengatakan bahwa sehat itu mahal
harganya, karena saat sakit tidak bisa melakukan aktivitas secara mandiri.
Apabila ada Keluarga yang sakit selalu dibawa kepusat Pelayanan Kesehatan
terdekat supaya kembali sembuh.
Pola Nutrisi dan Metabolisme, sebelum sakit Pasien mengatakan 3
kali sehari dengan nasi putih, sayur dan lauk, pasien mengatakan satu porsi
habis dan Minum ±7- 8 gelas perhari dengan Air putih, susu dan Teh serta
tidak ada keluhan. Selama sakit pasien mengatakan makan 3 kali sehari
dengan nasi, sayur, lauk dan buah, pasien mengatakan ¼ porsi habis dan
minum ±3-4 gelas perhari dengan air putih, teh dan porsi ±700 cc serta tidak
ada keluhan.
Pola Eliminasi, sebelum sakit pasien mengatakan Buang air besar 1x
sehari dengan konsistensi lunak, berbau khas, warna kuning dan Buang air
kecil 6-7 kali sehari berwarna kuning jernih, berbau kahs serta tidak
57
mempunyai keluhan. Selama sakit Pasien mengatakn Buang air besar sekali
dengan konsistensi lunak, berbau khas dan berwarna kuning dan Buang air
kecil 5-6 kali sehari berwarna kuning jernih berbau khas dengan jumlah
±1300 serta tidak ada keluhan.
Pola Aktivitas dan Latihan, Sebelum sakit Pasien mengatakan dapat
melakukan aktivitasnya secara mandiri dan Selama sakit pasien mengatakan
aktivitasnya dibantu orang lain atau keluarga.
Pola Aktivitas Tidur, Sebelum sakit pasien mengatakan tidur selama
±8 jam serta pasien tidur dengan nyaman dan nyenyak. Selama sakit pasien
mengatakan tidur malam selama ± 7 jam dan seiang 2 jam dan tidak ada
masalah dalam kebutuhan tidurnya.
Pola Kognitif dan Perseptual, Pasien mengatakan Sebelum sakit tidak
ada gangguan pada penglihatan, pendengaran, Penciuman. Selama sakit
Pasien mengatakan dapat berbicara, menjawab pertanyaan dari perawat, tidak
ada gangguan pendengaran, penglihatan, penciman dalam Pengkajian Nyeri
setelah pasien melakukan Operasi pada tanggal 6 Januari 2016 P (Provoking):
Pasien mengatakan Nyeri terasa saat bergerak, Q (Quality) : Pasien
mengatakan Nyeri seperti tertusuk tusuk, R (Region) : Pasien mengatakan
Nyeri terasa dibagian Payudara kanan post operasi, S (Scale) : Pasien
mengatakan Nyeri dengan skala 6, T (Time) : Pasien mengatakan Nyeri sering
muncul. Wajah pasien tampak merintih nyeri.
Pola Persepsi Konsep Diri, Pasien mengatakan menerima keadaanya
saat ini, Pasien ingin cepat sembuh dan berkumpul dengan keluarganya,
58
Pasien mengatakan dirinya sebagai seorang Istri dari suaminya dan Ibu dari
seorang anaknya, Pasien dihargai oleh orang lain ditunjukan pasien dijenguk
oleh tetangga dan kelurganya.
Pola Hubungan Peran, Sebelum sakit pasien mengatakan selama ini
pasien melaksanakan perannya sebagai Istri dan Ibu yang baik. Hubungan
dengan tetangga dan Kelurganya baik. Selama sakit pasien mengatakan
selama ini tidak bisa melaksanakan peranya sebagai Istri dan Ibu dan
Hubungan dengan Tetangga dan kelurganya baik.
Pola Seksual dan Reproduksi, Sebelum sakit pasien mengatakan sudah
menikah mempunyai satu anak laki- laki dan tidak mengalami gangguan
reproduksi. Selama sakit pasien mengatakan sudah menikah mempunyai satu
anak laki- laki dan tidak mengalami gangguan reproduksi.
Pola Mekanisme Koping, Sebelum sakit pasien mengatakan tidak
mempunyai masalah dan apabila ada masalah selalu menceritakan dengan
suami dan keluarganya. Selama sakit Pasien mengatakan merasa kwatir
dengan penyakit yang dideritanya dan merasa cemas karena pasien akan di
operasi. Sebelum Operasi pada tanggal 6 Januari 2016 Jam 08. 20 WIB
dilakukan Quesioner pada pasien dan di dapatkan nilai 46 (Nilai Kecemasan
Berat Sekali).
Pola Nilai dan Keyakinan, Sebelum sakit pasien mengatakan
beragama Islam dan menjalankan sholat lima waktu dengan tepat waktu.
Selama sakit Pasien mengatakan beragama Islam, menjalankan sholat lima
waktu dan berdoa kepada Allah SWT untuk kesembuhannya.
59
Pengkajian pemeriksaan fisik didapatkan bahwa keadaan umum
sedang, kesadaran Composmetis dengan hasil GCS 15 (E4: Spontan, M6:
Menurut Perintah, V5: Orientasi Baik), Pemeriksaan tanda- tanda vital
didapatkan hasil pengukuran tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 ×/menit
dengan irama teratur serta kekuatan kuat, Respirasi 20 ×/menit dengan irama
teratur serta kekuatan kuat, suhu 37,3º C, Tinggi badan pasien 155 cm, Berat
badan 60 kg dan hasil IMT: 24,97 (BB Normal). Bentuk kepala mesocephal,
rambut berwarna hitam, kulit kepala bersih, tidak berbau, tidak ada ketombe
dan kutu. Pengkajian Muka, Mata simetris kanan- kiri, konjungtiva tidak
anemis, sclera tidak ikterik, pupil isoor, diameter kanan/ kiri 2/ 2 dan tidak
menggunakan alat bantu penglihatan. Hidung simetris, tidak ada polip dan
tidak ada cuping hidung. Mulut simetris atas bawah, tidak ada stomatitis, dan
mukosa bibir basah.Gigi bersih, warna kekuning- kuningan dan tidak
menggunakan kawat gigi. Telinga kanan kiri simetris, tidak ada sekret dan
tidak ada kelainan pendengaran. Leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
Pemeriksaan Dada, Paru-Paru Inspeksi perkembangan dada kanan kiri
sama, simetris dan tidak ada jejas, Palpasi tidak ada massa, Vokal Formitus
kanan kiri sama, Perkusi suara paru sonor, Auskultasi vasikuler diselurug
lapang paru. Jantung Inspeksi ictus cordis tidak tampak, Palpasi ictus cordis
teraba di ICS V, Perkusi pekak, Auskultasi bunyi jantung BJ I- II reguler.
Payudara sebelah kanan dan kiri simetris, terdapat luka bekas operasi 7 bulan
yang lalu di payudara kana atas,di bagian payudara kanan, tampak
kemerahan, kulit merintis/ kasar. Abdomen Inspeksi tidak ada jejas,
60
umbilikus normal dan tidak ada benjolan, Auskultasi bising usus 10 kali
permenit, Perkusi pada kuadran Iredup, kuadran II, III, IV timpani dan palpasi
tidak ada nyeri tekan.
Pada Pemeriksaan Genetalia tidak terpasang katater, bersih. Rektum
bersih, tidak ada hemoroid. Ekstremitas atas kiri terpasang infus NaCl 0,9 %
20 tetes per menit, kekuatan otot kiri atas dengan nilai 5, kekuatan otot kanan
atas dengan nilai 5, kekuatan otot kiri bawah dengan niali 5, kekuatan otot
kanan bawah 5. Adapun penilaiannya yaitu derajat 0 tidak dapat bergerak, 1
ada kontraksi Cuma bergerak, 2 mampu bergerak, 3 dapat bergerak melawan
gravitasi, 4 dapat bergerak dengan beban ringan, 5 dapat bergerak secara
bebas.
Hasil pemeriksaan penunjang, pada pemeriksaan Labolatarium pada
tanggal 5 januari 2016 diperoleh hasil: WBC13.1 k/ul (nilai normal 4.1- 10.9),
LYM 1.7%L (nilai normal 0.6- 4.1), MID 0.8 %M (nilai normal 0.0- 1.8),
GRAND 10.6 %G (2.0- 7.8), RBC 5.14 m/ul (nilai normal 4.20- 6.30), HGB
14.6 g/dl (12.0- 18.0), HCT 44.2 % (nilai normal 37.0- 51.0), MCV 86.0 Fl
(nilai normal 80.0- 97.0), MCH 28.4 pg (nilai normal 26.0- 32.0), MCHC
33.0 g/dL (nilai normal 31.0- 36.0), RDW 13.7 % (nilai normal 11.5- 14.5),
PLT 3.18 k/uL (nilai normal 14.0- 44.0), MPV 66 fL (nilai normal 00- 99.8),
Glokosa sewaktu 87 Mg/dL (nilai normal <170), Ureum 7 Mg/dL (nilai
normal 10- 50), Creatinine 0.56 Mg/dL (0.6- 11) dan HbsAg Non Reaktif.
Hasil USG mammae tampak massa hipoechoic batas tegas, klasifikasi interna
echo negatif, axsila dextra tidak tampak tanda tanda pembesaran Limfanodi
61
dan didapatkan kesan Massa mammae dextra dd. Malignan (y). Dan EKG di
dapatkan hasil sinus rhytm (normal).
Terapi cairan Intravena NaCl 0,9 % dengan dosis 20 tetes per menit,
golongan Elektrolot untuk indikasi mengembalikan keseimbangan elektrolit,
Propofol dengan dosis 10 mg/ ml, golongan Anestestik untuk indikasi
General anestesi untuk induksi dan pemeliharaan sedasi untuk pasien yang
menerima perawatan intensif, Cefozolin dengan dosis 1gr/ 12 jam, golongan
Antimikroba untuk indikasi infeksi yang disebabkan oleh staphyloci,
streptococci, E coli seperti infeksi pada saluran pernafasan saluran kemih
tulang dan sendi, infeksi kulit, strukturnta profilaksis operasi, Ranitidin
dengan doosis 50mg/ ml / 12 jam, golongan antasida untuk indikasi
pengobatan jangka pendek pada duodenum aktif, Ketorolac dengan dosis
30mg/ 8 jam, golongan analgesik non narkotik untuk indikasi pengobatan
jangka pendek nyeri akut sedang sampai berat paska operasi.
A. Daftar Perumusan Masalah
Data Pengkajian dan observasi diatas, penulis melakukan analisa data
dan merumuskan diagnosa keperawatan dan di dapatkan diagnosa pre operasi
dan post operasi. Pengkajian Pre Operasi Data Subjektif: Pasien mengatakan
sangat kawatir tentang penyakitnya ddan takut bila terjadi sampai yang
membahayakan. Data Objektif: Pasien tampak lemas, gelisah, bingung, saat
di berikan Quesioner memiliki nilai score 46 (kecemasan berat sekali) dan
Tekanan Darah 120/ 80 mmHg. Berdasarkan data di atas maka penulis
62
merumuskan diagnosa keperawatan yaitu Ansietas berhubungan dengan
Ancaman Kesehatan.
Pengkajian Post Operasi, Data Subjektif: Pasien mengatakan nyeri
timbul saat bergerak, Nyeri seperti tertusuk- tusuk, Nyeri terasa di Payudara
kanan (Luka Post Operasi), dengan skala nyeri 6, Nyeri terus menerus. Data
Objektif: Pasien tampak menahan nyeri dengan memegang bagian yang sakit,
tidak mampu berorientasi dengan baik, ekspresi wajah tampak menahan sakit
(kadang wajahnya meringis) dan di dapatkan hasil Vital sigh, Tekanan darah
110/ 70 mmHg, Nadi 100 ×/ menit, respirasi 20 ×/ menit. Berdasarkan data di
atas maka penulis merumuskan diagnosa keperawatan yaitu Nyeri akut
berhubungan dengan Agen Injuri Fisik (Pembedahan).
Data Subjektif: Pasien mengatakan nyri dibagian luka post operasi,
Data Objektif: terdapat luka post operasi di payudara kanan atas, terbalut
kassa dalam keadaan bersih, tidak ada rembesan dan di dapatkan hasil
Tekanan darah 110/ 70 mmHg. Berdasarkan data di atas maka penulis
merumuskan diagnosa keperawatan yaitu Kerusakan Integritas Jaringan
berhubungan dengan Faktor mekanik (Robekan).
Data Subjektif: Pasien mengatakan bagian luka terasa panas dan terasa
gatal di bagian sekitar luka. Data Objektif: Leukosit 13.1 k/ ul, Suhu 37,3 º C,
terdapat tanda infeksi seperti kemerahan, Luka terbalut kasa dan tidak ada
rembesan. Berdasarkan data di atas maka penulis merumuskan diagnosoa
63
keperawatan yaitu Resiko Infeksi berhubungan dengan Pembedahan (Tumor
Mammae).
B. Perencanaan/ Intervensi Keperawatan
Berdasarkan rumusan masalah keperawatan yang diperoleh diatas,
maka penulis menyusun rencana keperawatan dengan tujuan setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam Ansietas dapat teratasi
dengan Kriteria Hasil Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh tingkat
aktivitas menunjukan berkurang kecemasan, Pasien mampu mengidentifikasi
gejala dari cemas, Vital Sigh dalam batas normal.
Intervensi atau rencana keperawatan yang akan dilakukan Anxiety
Reduction adalah identifikasi tingkat kecemasan dengan rasional mengontrol
tingkat dari kecemasan pasien, Intruksikan pasien menggunakan tehnik
(Terapi Murottal al- Quran surah Ar Rahman) dengan rasional mengurangi
kecemasan dan membuat hati terasa tenag, Bantu pasien mengenal situasi
yang menimbulkan kecemasan dengan rasional membantu pasien mengenal
hal- hal yang menimbulkan cemas, Jelaskan semua prosedur dan apa yang
disarankan selama prosedur dengan rasional memberikan pengertian pada
pasien tentang prosedur tindakan.
Rencana Keperawatan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x 24 jam nyeri berkurang atau hilang dengan kriteria
hasil Pasien terasa nyaman, menggunakan analgesik, skala nyeri berkurang
64
menjadi 1-2 atau hilang dan mampu mengenali nyeri dengan menggunakan
tehnik non farmakologis (tarik nafas dalaam).
Intervensi atau rencana keperawatan yang akan dilakukan Pain
Managementadalah Observasi tingkat nyeri (PQRST) dengan rasional
mengobservasi seberapa menurunya nyeri yang di rasakan, Ajarkan tentang
tehnik Non Farmakologis (Relaksaksi nafas dalam) dengan rasional
menurunkan nyeri dengan tindakan tarik nafas dalam, Berikan analgesik
untuk mengurangi nyeri dengan rasional menurunkan nyeri dengan tehnik
terapi obat, Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil dengan rasional mengontrol dengan ada tidaknya keluhan.
Rencana keperawatan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x 24 jam Integritas jaringan dapat teratasi dengan
kriteria hasil tidak ada tanda- tanda infeksi, menunjukan adanya proses
penyembuhan, ketebalan dan tekstur jaringan normal, pasien paham dalam
proses prbaikan kulit.
Intervensi atau rencana keperawatan yang akan dilakukan Preassure
ulterPrevention Wound Care adalah Observasi luka: Lokasi, dimensi,
kedalaman luka, jaringan nekrotik dengan rasional mengontrol luka setelah
terjadinya tindakan pembedahan, Jaga kulit bersih dan kering dengan rasional
menurunkan resiko infeksi bekas operasi, Ajarkan keluarga tentang luka dan
perawatan luka dengan rasional memberikan edukasi pada pasien dan kelurga
cara perawatan luka yang benar, monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
65
dengan rasional mengontrol aktivitas pasien setelah operasi, Kolaborasi
dengan ahli gizi pemberian diet tinggi kalori dan protein dengan rasional
mengontrol tentang pemberian nutrien pada pasien.
Rencana keperawataan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan
keperawatan 3x 24 jam tidak terjadi resiko infeksi dengan kriteria hasil pasien
bebas dari tanda dan gejala dari infeksi, mampu mencegah timbulnya infeksi,
menunjukan perilaku hidup sehat.
Intervensi atau rencana keperawatan yang dilakukan Infection
controladalah Observasi tanda dan gejala infeksi dengan rasional untuk
mengetahui ada tidaknya tanda infeksi, Pertahankan tehnik aseptik dengan
rasional mencegah adanya infeksi, Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan dan panas dengan rasional mengetahui keadaan kulit
terhadap tingkkat infeksi, Kolaborasi dengan keluarga cara pencegahan
infeksi dengan rasional mencegah timbulnya infeksi.
C. Implementasi Keperawatan
Tindakan yang pertama dilakukan pada hari Rabu tanggal 6 Januari
2016 pukul 08. 20 WIB yaitu Mengidentifikasi tingkat kecemasan. Respon
Subjektif: Pasien mengatakan kwatir dengan penyakitnya dan bersedia
menjawab Quesioner. Data Objektif: Pasien tampak gelisah, cemas gemetar
dan di dapatkan hasil dari quesioner 46 (Nilai kecemasan berat sekali). Pukul
08. 40 WIB membantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan
kecemasan. Respon pasien: Pasien mengatakan kawatir dengan penyakit dan
66
cemas dengan tindakan operasi. Data Objektif: Pasien tampak gelisah dengan
penyakit dan tindakan operasi.
Pukul 08. 45 WIB Menjelaskan semua prosedur dan apa yang
dirasakan selama prosedur. Respon Pasien: Pasien mengatakan mengerti dan
bersedia dilakukan tindakan opeasi. Respon Objekttif: Pasien tampak gelisah,
kawatir, muka tampak terlihat pucat. Pukul 09.45 WIB mengantarkan pasien
ke ruang operasi. Respon pasien: Pasien mengatakan bersedia menjalankan
operasi. Respon Objektif: Pasien tampak kawatir dan muka cemas. Pukul 10.
25 WIB Pasien keluar dari ruang operasi dan dibawa ke ruang recovery room.
Pasien ttidak merespon, Respon Objektif: Pasien tampak belum sadar,
terdapat luka bedah yang tertutup dengn kassa.
Pukul 10.27 WIB Melakukan tehnik terapi Murottal Al Quran Surah
Ar Rahman pada pasien. Tidak ada respon dari pasien, Respon Objektif:
Pasien tampak belum sadar, dilakukan tindakan pemberian Murottal Al Quran
Surah Ar Rahman dan Melakukan Observasi menggunakan Alderete
Scorepada menit pertama di dapatkan hasil 3, Pada jam 10.40 WIB dilakuka
kembali memberikan terapi murrotal Al- Quran surah Ar- Rahman pada
menit ke 15 tidak didapatkan respon dari pasien dan terdapat respon objektif
pasien tampak belum sadar, terpasang monitor, pasien masih mendengarkan
murrota Al- Quran surah Ar Rahman, Tangan terkadang bergerak dan
didapatkan hasil tekanan darah 93/ 60 mmHg dan Melakukan observasi
menggunakan Alderete Scoredidapatkan hasil 4. Pada jam 10.55 memberikan
terapi murrotal Al- Quran surah Ar- Rahman, tidak didapatkan respon dari
67
pasien, respon Objektif pasien tampak terbangun namun tertidur lagi,
terpasang monitor, pasien masih mendengarkan murrota Al- Quran surah Ar
Rahman, Tangan terkadang bergerak dan didapatkan hasil tekanan darah 98/
62 mmHg dan Melakukan observasi menggunakan Alderete Scoredidapatkan
hasil 5, Pada jam 11.10 memberikan terapi murrotal Al- Quran surah ArRahman, didapatkan respon subjektif pasien mengatakan pusing, pasien
mengatakan mendengar murrotal Al- Quran surah Ar Rahman terasa nyaman
dan lebih dekat dengan Allah, Respon Objektif pasien tampak tersadar dan
berbicara, terpasang monitor, pasien masih mendengarkan murrotal AlQuran surah Ar Rahman, Kedua tangan dan kaki bergerak dan didapatkan
hasil tekanan darah 115/ 85 mmHg dan Melakukan observasi menggunakan
Alderete Scoredidapatkan hasil 8. Pada jam 11.25 memberikan terapi
murrotal Al- Quran surah Ar- Rahman, didapatkan respon subjektif pasien
mengatakan masih pusing, pasien berceria tentang keluarganya, Respon
Objektif pasien tampak tersadar dan berbicara, pasien tampak batuk,
terpasang monitor, pasien masih mendengarkan murrotal Al- Quran surah Ar
Rahman, Kedua tanggan dan kaki bergerak dan didapatkan hasil tekanan
darah 118/ 82 mmHg dan Melakukan observasi menggunakan Alderete
Scoredidapatkan hasil 9. Pada jam 11.30 memberikan terapi murrotal AlQuran surah Ar- Rahman, didapatkan respon subjektif pasien mengatakan
masih pusing, pasien ingin segera bertemu dengan keluarganya, Respon
Objektif pasien tersadar dan berbicara, terpasang monitor, pasien masih
mendengarkan murrotal Al- Quran surah Ar Rahman, Kedua tanggan dan
68
kaki bergerak dan didapatkan hasil tekanan darah 120/ 70 mmHg dan
Melakukan observasi menggunakan Alderete Scoredidapatkan hasil 10. Pada
pukul 11.40 Mengantarkan pasien kembali keruangan (Mawar). Respon
pasien: Pasien mengatakan masih merasa pusing, lega setelah selesai operasi.
Respon Objektif: Pasien tampak sudaah sadar, mata terbuka dpat berorientasi
dengan baik, ddilakukan pemeriksaan tekanan darah 110/ 70 mmHg. Pukul
12.20 WIB Mengidentifikasi tingkat kecemasan. Respon pasien: Pasien
mengatakan cemas sudah berkurang dan pasien bersedia menjawab
Quesioner. Respon Pasien tampak lebih tenag, lega, sedikit tersenyum dan di
dapatkan hasil quesioner 26 (kecemasan sedang).
Pukul 12.50 WIB Melakukan pengkajian nyeri (PQRST). Respon
pasien: Pasien mengatakan nyeri timbul setiap saat, nyeri seperti tertusuktusuk di bagian payudara kanan dengan skala nyeri 6 dan nyeri terasa terus
menerus. Respon Objektif: Pasien tampak menahan nyeri dengan memegang
bagia yang sakit dan di dapatkan hasil Tekanan darah 110/ 70 mmHg, Nadi
100× /menit. Pukul 13.00 WIB Mengobservasi luka, dimensi, kedalaman
luka, tanda gejala infeksi dan menginpeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan panas. Respon pasien: Pasien mengatakan luka terasa
nyeri di bagian payudara kanan bekas operasi, teras panas dan terasa gatal.
Respon Objektif: Tampak luka yang terbalut kassa bersih, tidak ada rembesan
luka di dapatkan Leukosit 13,1 k/uL dan suhu badan 37,3º C.
Pukul 13.15 WIB Menjaga kulit agar tetap bersih dan kering. Respon
Pasien: Pasien dan kelurga mengatakan akan selalu menjaga kulit lukanya.
69
Respon Objektif: Pasien tampak koperatif saat di tanya. Pukul 13.20 WIB
Mempertahankan tehnik aseptik. Respon pasien: pasien mengatakan bersedia
dan mau di lakukan observasi. Respon Objektif: Pasien tampak kooperatif,
luka di bagian payudara kanan tampak terbalut kassa. Pukul 13.25 WIB
Mengajarkan kepada kelurga tentang luka dan perawatan serta cara
pencegahan infeksi. Respon pasien: Kelurga pasien mengatakan mengerti dan
akan merawat lukanya, Respon Objektif: Pasien tampak keskitan dengan luka
post operasi.
Pukul 13.45 WIB Memonitor aktivitas mobilisasi pasien. Respon
pasien: Pasien mengatakan di buat miring kanan kiri terasa sakit. Respon
objektif: Pasien tampak menahan kesakitan saat bergerak. Pukul 13.50 WIB
Mengajarkan Tehnik non farmakologiis (Relaksasi nafas dalam). Respon
pasien: Pasien mengatakan bersedia di berikan tehnik Relaksasi nafas dalam.
Respon objektif: Pasien tampak mengikuti tehnik Relaksasi nafas dalam.
Pukul 14.00 WIB Melakukan pengkajian nyeri (PQRST). Respon pasien:
Pasien mengatakan nyeri, nyeri timbul setiap saat, nyeri terasa seperti
tertusuk- tusuk di bagian Payudara kanan, skala nyeri 5 dan nyeri terasa terus
menerus. Respon objektif: Pasien tampak memegang bagian yang sakit,
tampak meringis kesakitan menahan nyeri, di lakukan pemeriksaan Tekanan
darah: 120/ 80 mmHg dan Nadi 90×/ menit.
Tindakan keperawatan yang di lakukan pada hari ke dua Kamis 7
Januari 2016 pada Pukul 07.30 WIB adalah Melakukan pengkajian nyeri.
Respon pasien:Pasien mengatakan nyeri timbul saat berjalan, nyeri seperti
70
tertusuk tusuk di bagian payuadara kanan, skala nyeri 4 dan nyeri terasa terus
menerus. Respon objektif: Paasien tampak memegang bagian payudara yang
sakit, meringis kesakitan dengan Tekanan darah 120/90 mmHg dan Nadi
80×/menit. Pukul 08.00 WIB Memonitor aktivitas mobilisasi pasien. Respon
pasien: pasien mengatakan miring kanan kiri sudah tidak terasa sakit dan bisa
berjalan ke kamar mandi walaupun di buat jalan terasa sakit. Respon objektif:
Pasien tampak kesakitan ketika berjalan.
Pukul 09.00 WIB Memberikan obat analgesik melalui selang
Intravena, Cefozolin 1gr/ 12 jam, Ranitidin 50mg/ 12 jam, Ketorolac 50 mg/
8jam. Respon pasien: pasien mengatakan bersedia di berikan terapi obat.
Respon objektif: Obat masuk melalui selang intravena. Pukul 10.00 WIB
Mengobservasi luka, kedalaman luka, tanda gejala dari infeksi dan
menginpeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan dan panas.
Respon pasien: Pasien mengatakan luka terasa nyeri di bagian payudara
kanan bekas operasi hari ke satu, terasa panas dan gatal. Respon objektif:
Tampak bekas luka post operasi payudara kanan hari ke satu, terdapat
tampon/ kassa di bekas operasi dengan kedalaman luka 3cm dan diameter
2cm, nilai Leukosit 13.1 k/ uL serta suhu 37º C.
Pukul 10.10 WIB Mempertahankan tehnik asepik. Respon pasien:
Pasien mengatakan bersedia dan mau dilakukan observasi dan dibersihkan
lukanya. Respon Objektif: Pasien tampak kooperatif dan menahan nyerinya.
Pukul 10.20 WIB Menjaga kulit agar bersih dan kering. Respon pasien:
Pasien mengatakan bersedia dan akan menjaga kulit agar tetap bersih dan
71
kering. Respon objektif: Pasien tampak menahan nyeri, luka terbalut dengan
kasa. Pukul 11.45 WIB Mengkolaborasi dengan ahli gizi pemberian diet
tinggi dan protein. Respon pasien: Pasien mengatakn selalu makan dari
Rumah sakit ¼ habis. Respon objektif: Pasien tampak habis ¼ porsi makan.
Pukul 13.00 WIB Mengajarkan tentang tehnik non farmakologis
(Tarik nafas dalam). Respon pasien: Pasien mengatakan bersedia dilakukan
terapi nafas dalam. Respon objektif: Pasien tampak kooperatif dan bersedia
mengikuti tehnin non farmakologis (terapi nafas dalam). Pukul 13.45
Melakukan pengkajian nyeri (PQRST). Respon pasien: Nyeri terasa saat
berdiri, nyeri seperti di tusuk- tusuk di bagian payudara kanan dengan skala
nyeri 4 dan nyeri hilang timbul. Respon objektif: Luka post operasi Hari ke 1,
Pasien tampak menahan nyeri dengan memegang bagian yang sakit, terbalut
kassa tidak ada rembesan luka dan di dapatkan hasil dari pemeriksaan
Tekanan darah 130/90 mmHg, Nadi 80×/ menit.
Tindakan keperawatan yang di lakukan pada hari ke dua Jumat 8
Januari 2016 pada Pukul 07.45 WIB adalah Melakukan pengkajian nyeri
(PQRST). Respon pasien: nyeri timbul saat berjalan, nyeri seperti tertusuktusuk di bagian payudara kanan dengan skala nyeri 3 dan nyeri hilang timbul.
Respon objektif: Luka post operasi Hari ke 2, pasien tampak menahan nyeri
dengan memegang payudara yang sakit, terdapat balutan kassa tidak
adarembesan dan dilakukan pemeriksaan Tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi
80×/ menit. Pukul 08.30 WIB Memonitor aktivitas mobilisasi pasien. Respon
pasien: Pasien mengatakan bisa miring kanan kiri bisa bergerak dan bisa
72
berjalan ke kamar mandi. Respon objektif: Pasien tampak kesakitan saat
berjalan. Pukul 09.00 WIB Memberikan Analgesik melalui selang Intravena,
Cefozolin 1gr/ 12 jam, Ranitidin 50mg/ 12 jam, Ketorolac 50 mg/ 8jam.
Respon pasien: pasien mengatakan bersedia di berikan terapi obat. Respon
objektif: Obat masuk melalui selang intravena.
Pukul 10.00 WIB Mengobservasi luka, dimensi kedalaman luka, tanda
dan gejala infeksi dan menginpeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan dan panas. Respon pasien: Pasien mengatakan luka terasa nyeri
pos operasi Hari ke 2, terasa panas dan gatal. Respon objektif: Tampak luka
post operasi Hari ke 2 terdapat tampon/ kassa dengan kedalaman 3cm dan
diameter 2cm terdapat kemerahan disekitar luka, Nilai Leukosit 13.1 k/uL
dan Suhu 36º C. Pukul 10.05 Mempertahankan tehnik aseptik. Respon pasien:
Pasien mengatakan bersedia dibersihkan lukanya dan di observasi. Respon
objektif: Pasien tampak kooperatif dan menahan nyeri. Pukul 10.20 WIB
Menjaga kulit agar tetap bersih dan kering. Respon pasien: Pasien
mengatakan bersedia dan akan menjaga kulit tetap bersih dan kering. Respon
objektif: Luka tampak terbalut dengan kassa.
Pukul 12.00 WIB Mengkolaborasi dengan ahli gizi pemberian diet
tinggi dan protein. Respon pasien: Pasien mengatakn selalu makan dari
Rumah sakit 1 habis. Respon objektif: Pasien tampak habis 1 porsi makan.
Pukul 13.05 WIB Mengajarkan tentang tehnik non farmakologis (Tarik nafas
dalam). Respon pasien: Pasien mengatakan bersedia dilakukan terapi nafas
dalam. Respon objektif: Pasien tampak kooperatif dan bersedia mengikuti
73
tehnin non farmakologis (terapi nafas dalam). Pukul 13.40 Melakukan
pengkajian nyeri (PQRST). Respon pasien: Nyeri terasa saat berdiri, nyeri
seperti di tusuk- tusuk di bagian payudara kanan dengan skala nyeri 2 dan
nyeri hilang timbul. Respon objektif: Luka post operasi Hari ke 1, Pasien
tampak menahan nyeri dengan memegang bagian yang sakit, terbalut kassa
tidak ada rembesan luka dan di dapatkan hasil dari pemeriksaan Tekanan
darah 120/70 mmHg, Nadi 86×/ menit.
D. Evaluasi
Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis kemudian di
evaluasi pre operasi dan post operasi. Evaluasi pre operasi pada hari Rabu 06
Januari 2016 pukul 12.30 WIB dengan SOAP. Pasien mengatakan cemas
sudah berkurang dan pasien bersedia menjawab Quesioner tentang
kecemasan. Ekspresi pasien tampak lebih tenag, sedikit nyaman, dan sedikit
tersenyum serta di dapatkan hasil quesioner dari kecemasan 26 (kecemasan
sedang). Hasil analisa keperawatan ansietas dapat teratasi dengan kriteria
hasil dalam tujuan sudah tercapai. Intervenssi di hentikan.
Evaluasi post operasi pada pukul 14.10 WIB dengan SOAP. Pasien
mengatakan nyeri timbul setiap saat seperti tertusuk tusuk di payudara kanan
bekas post operasi dengan skala nyeri 6 dan terasa terus menerus. Ekspresi
pasien tampak menahan nyeri dengan memegang payudara yang sakit,
terdapat luka balutan dan tidak ada rembesan dan di dapatkan hasil tekanan
darah 110/70 mmHg, Nadi 100×/ menit. Hasil analisa keperawatan nyeri akut
74
belum teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan belum tercapai. Intervensi
dilanjutkan yaitu Mengobservasi tingkat nyeri (PQRST), Mengajarkan tehnik
non farmakologis (Tarik nafas dalam), Memberikan analgesik untuk
mengrurangi nyeri, Mengkolaborasikan dengan dokter.
Pada pukul 14.20 WIB penulis juga mengevaluasi untuk masalah
keperawatan yang ketiga, diperoleh hasil: Pasien mengatakan luka terasa
nyeri di bagian payudara kanan post operasi. Tampak luka masih terbalut
dengan kassa bersih, tidak ada rembesan pada luka. Hasil analisa keperawatan
kerusakan integritas jaringan belum teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan
belum teratasi. Intervensi dilanjutkan yaitu Mengobservasi luka, lokasi,
dimensi jaringan nekrotik, dan kedalaman luka, menjaga kulit agar tetap
bersih dan kering, Mengajarkan keluarga tentang luka dan perawatan luka,
Memonitor aktivitas mobilisasi pasien, Mengkolaborasi dengan ahli gizi.
Pada Pukul 14.25 WIB penulis juga mengevaluasi untuk masalah
keperawatan yang keempat, diperoleh hasil: Pasien mengatakan disekitar luka
terasa gatal dan panas. Tampak luka masih terbalut kassa bersih, tidak ada
rembesan, dan di dapatkan hasil Leukosit 13.1 k/uL serta suhu 37.3º C. Hasil
analisa keperawatan resiko infeksi belum teratasi karena kriteria hasil dalam
tujuan belum teratasi Intervensi dilanjutkan yaitu Mengobservasi tanda dan
gejala infeksi, Pertahankan tehnik aseptik, Menginpeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan dan panas, Mengkolaborasi dengan kelurga cara
pencegahan infeksi.
75
Pada hari kedua Kamis 7 Januari 2016 pada jam 14.00 WIB penulis
mengevaluasi untuk masalah keperawatan yang kedua, diperoleh hasil: Pasien
mengatakan nyeri terasa saat berdiri terasa seperti tertusuk- tusuk di bagian
payudara kanan dengan skala nyeri 4 dan nyeri hilang timbul. Ekspresi pasien
tampak memegang bagian yang nyeri, masih terbalut kassa dan tidak ada
rembesan serta didapatkan hasil tekanan darah 130/90 mmHg nadi 80×/
menit. Hasil analisa keperawatan nyeri akut teratasi sebagian karena kriteria
hasil dalam tujuan sebagian sudah teratasi Intervensi dilanjutkan yaitu
Melakukan pengkajian (PQRST), Mengajarkan tehnik non farmakologis
(tarik nafas dalam), Memberikan analgesik dan Mengkolaborasikan dengan
dokter.
Pada pukul 14.10 WIB penulis mengevaluasi untuk masalah
keperawatan yang ketiga, diperoleh hasil: Pasien mengatakan luka terasa
nyeri di bagian payudara kanan post operasi. Tampak luka bekas operasi
payudara kanan Hari ke satu, terdapat tampon/ kassa di bekas operasi dengan
kedalaman luka 3cm, iameter 2cm. Hasil analisa keperawatan kerusakan
integritas jaringan teratasi sebagian karena kriteria hasil dalam tujuan teratasi
sebagian. Intervensi dilanjutkan yaitu Mengobservasi luka, lokasi, dimensi
jaringan nekrotik, dan kedalaman luka, Menjaga kulit agar tetap bersih dan
kering, Memonitor aktivitas mobilisasi pasien, Mengkolaborasi dengan ahli
gizi.
Pada Pukul 14.20 WIB penulis juga mengevaluasi untuk masalah
keperawatan yang keempat, diperoleh hasil: Pasien mengatakan disekitar luka
76
terasa gatal dan panas. Tampak bekas operasi Hari ke satu dan tidak ada
rembesan serta di dapatkan hasil Leukosit 13.1 k/uL serta suhu 37º C. Hasil
analisa keperawatan resiko infeksi teratasi sebagian karena kriteria hasil
dalam tujuan teratasi sebagian Intervensi dilanjutkan yaitu Mengobservasi
tanda dan gejala infeksi, Pertahankan tehnik aseptik, Menginpeksi kulit dan
membran mukosa terhadap kemerahan dan panas.
Pada hari ketiga jumat 8 Januari 2016 pada jam 14.00 WIB penulis
mengevaluasi untuk masalah keperawatan yang kedua, diperoleh hasil: Pasien
mengatakan nyeri terasa saat berdiri terasa seperti tertusuk- tusuk di bagian
payudara kanan dengan skala nyeri 2 dan nyeri hilang timbul. Ekspresi pasien
tampak memegang bagian yang nyeri, masih terbalut kassa dan tidak ada
rembesan serta didapatkan hasil tekanan darah 120/70 mmHg nadi 86×/
menit. Hasil analisa keperawatan nyeri akut dapat teratasi dengan kriteria
hasil dalam tujuan sudah tercapai, Intervenssi di hentikan.
Pada pukul 14.10 WIB penulis mengevaluasi untuk masalah
keperawatan yang ketiga, diperoleh hasil: Pasien mengatakan luka di bagian
payudara kanan post operasi. Tampak luka bekas operasi payudara kanan
Hari ke dua terdapat tampon/ kassa di bekas operasi dengan kedalaman luka
3cm, diameter 2cm. Hasil analisa keperawatan kerusakan integritas jaringan
teratasi sebagian karena kriteria hasil dalam tujuan teratasi sebagian.
Intervensi di rumah sakit dihentikan lanjutkan Discharge planning yaitu
Makan makanan yang bergizi dan Menjaga kulit di sekitar luka bersih dan
kering.
77
Pada Pukul 14.20 WIB penulis juga mengevaluasi untuk masalah
keperawatan yang keempat, diperoleh hasil: Pasien mengatakan disekitar luka
terasa gatal dan panas. Tampak bekas operasi Hari ke dua dan tidak ada
rembesan serta di dapatkan hasil Leukosit 13.1 k/uL serta suhu 36.5º C. Hasil
analisa keperawatan resiko infeksi teratasi sebagian karena kriteria hasil
dalam tujuan teratasi sebagian Intervensi di rumah sakit dihentikan lanjutkan
Discharge planning yaitu Melanjutkan minum obat dari rumah sakit,
Membersihkan luka bekas operasi dan Mengontrol di poli bedah pada tanggal
13 januari 2016.
BAB V
PEMBAHASAN
Bab ini penulis akan membahas tentang pemberian terapi murottal AlQuran surah Ar Rahman terhadap waktu pulih sadar pasien Anestesi pada asuhan
keperawatan Ny. E dengan Kanker Payudara di ruang Mawar nomer A- 12 di
Rumah Sakit dr Soediran Mangun Sumarso kabupaten Wonogiri. Disamping itu
penulis akan membahas tentang faktor pendukung dan kesenjangan- kesenjangan
yang terjadi antar teori dengan kenyataan yang meliputi pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.
A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dalam proses keperawatan, merupakan
suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber
data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien.
Tujuan untuk mengumpulkan informasi dan membuat data dasar serta sebagai
dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan individu (Runiari, 2010).
Pengkajian dilakukan pada tanggal 6 Januari 2016 pada Ny. E
didapatkan keluhan utama nyeri pada payudara kanan berkaitan dengan
penyakit kanker payudara, didapatkan massa di payudara kanan. Keluhan
tersebut sejalan dengan teori (Olfah dkk, 2013) yang menyebutkan dimana
78
79
salah satu tanda dan gejala kanker payudara adanya benjolan atau massa di
payudara, rasa sakit, timbulnya kelainan pada kulit. Kanker payudara
merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan adanya sel/ jaringan
abnormal yang bersifat ganas, tumbuh cepat tidak terkendali dan dapat
menyebar ke tempat lain dalam tubuh pasien. Sel penyakit kanker dapat
berasal dari semua unsur yang membentuk suatu organ, dalam perjalanan
selanjutnya tumbuh dan menggandakan diri sehingga membentuk massa
tumor. Penderita kanker payudara akan mengalami pertumbuhan berlebihan
atau perkembangan tidak terkontrol dari sel sel jaringan payudara (Olfah dkk,
2013).
Pola Mekanisme koping, Ny E mengalami perasaan kawatir dengan
penyakit yang dialaminya dan pasien merasa cemas karena pasien akan
dioperasi, dari pengkajian tersebut didapatkan hasil dignosa Ansietas
berhubungan dengan ancaman kematian. Ansietas adalah suatu tindakan
menghilangkan rasa sakit ketika dilakukan pembedahan dan berbagai
prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh (Gwinutt, 2012).
Pada pola pengkajian Kognitif dan Perseptual, Ny E selama sakit
setelah melakukan operasi Ny E merasa nyeri terasa saat bergerak terasa
seperti tertusuk- tusuk dibagian payudara kanan dengan skala nyeri 6dan
nyeri sering muncul. Keadaan tersebut sesuai dengan yang ada bahwa pada
pasien kanker payudara terjadi rasa sakit, penderita kanker payudara
merasakan nyeri di payudara (Olfah dkk, 2013).
80
Pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil pada payudara sebelah kanan
terdapat luka bekas operasi, tampak kemerahan, kulit merintis/ kasar dan luka
berada dibagian payudara kanan atas dan terdapat massa pada payudara kanan
atas. Benjolan atau massa tunggal yang sering terdapat didaerah kuadrant atas
bagian luar, benjolan ini keras dan bentuknya tidak berantakan dan dapat
digerakan (Olfah, dkk 2013).
Pada pemeriksaan penunjag pada Ny E didapatkan hasil Leukosit 13.1
k/ul dengan nilai normal 4.1- 10.9 dan hasil USG mammae tampak massa
tampak massa hipoechoic batas tegas, klasifikasi interna echo negatif, axsila
dextra tidak tampak tanda tanda pembesaran Limfanodi dan didapatkan kesan
Massa mammae dextra dd. Malignan (y). Dari hasil pemeriksaan penunjang
sejalan dengan teori tanda dan gejala berdasarkan berat dan ringannya
stadium II dengan diameter 2- 5 cm dengan tanpa metastasis aksila (Olfah
dkk, 2013).
B. Perumusan Masalah Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon
individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual dan
potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman, perawat secara
akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti
untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah status
kesehatan klien (Dermawan, 2012).
Perumusan diagnosa keperawatan pre operasi yaitu Ansietas
berhubungan dengan perubahan ancaman kematian pada kasus ini didasarkan
81
pada Pola Mekanisme Koping, Ny. E mengatakan merasa kwatir dengan
penyakit yang dideritanya dan merasa cemas karena pasien akan di operasi.
Sebelum Operasi pada tanggal 6 Januari 2016 Jam 08. 20 WIB dilakukan
Quesioner pada pasien dan di dapatkan nilai 46 (Nilai Kecemasan Berat
Sekali). Batasan karakteristik kecemasan menurut (Nanda NIC NOC, 2013)
yaitu perilaku meliputi: gelisah, mengekspresikan kekhawatiran karena
perubahan dalam peristiwa hidup, affektif meliputi: gelisah distres, ketakutan,
perasaan tidak adekuat, bingung, khawatir, fisiologi meliputi: peningkatan
tekanan darah.
Ansietas adalah respon emosional dan merupakan penilaian
intelektual terhadap suatu bahaya (Stuart, 2007). Perumusan diagnosa post
operasi yang pertama pada Ny E yang diangkat penulis yaitu nyeri akut
berhuubungan dengan agen injuri fisik (pembedahan). Nyeri akut adalah
nyeri yang terjadi setelah cidera akut, penyakit atau intervensi bedah dan
memiliki awitan yang cepat dengan intensitas yang bervariasi (ringan sampai
berat) dan berlangsung untuk waktu yang singkat dari beberapa detik hingga
enam bulan (Andarmoyo, 2013).
Keadaan tersebut sesuai dengan teori hierarki Maslow yang
menyebutkan bahwa nyeri termasuk dalam kebutuhan fisiologis. Kebutuhan
fisiologis merupakan hal yang mutlak dipenuhi dengan manusia untuk
bertahan hidup dan harus dipenuhi terlebih dahulu dari pada kebutuhan lain
(Mubarak, 2008).
82
Saat dilakukan pengkajian pada Ny E didasarkan pada keluhan utama
nyeri di payudara kanan dan beberapa karakteristik yang muncul pada pasien
setelah operasi diperoleh data subjektif pasien mengatakan nyeri timbul saat
bergerak, seperti tertusuk- tusuk di bagian payudara kanan dengan skala nyeri
6 terasa seperti tertusuk- tusuk. Didapatkan hasi dari data objektif ekspresi
pasien tampak meringis kesakitan dan menahan nyeri dengan memegang
bagian yang sakit, tidak mampu berorientasi dengan baik, gelisah serta di
dapatkan hasil vital sigh Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 100×/menit,
suhu 37,3ºC, Respirasi 20×/ menit. Batasan karakteristik nyeri yaitu:
perubahan frekuensi jantung, perubahan frekuesi pernafasan, gelisah,
meringis, perubahan posisi untuk menghindari nyeri (Wilkinson, 2009).
Respon perilaku terhadap nyeri yang ditunjukan oleh pasien sagat
beragam. Salah satunya dapat dilihat dari ekspresi wajah yaitu meringis,
menggelutkan gigi, mengerutkan dahi, menggigit bbir, menutup mata dan
mulut dengan rapat serta membuka mata dan mulut dengan lebar
(Andarmoyo, 2013).
Nyeri yang dialami oleh Ny. E merupakan nyeri akut karena waktu
yang cepat dan dirasakan kurang dari dua bulan. Keadaan tersebut sesuai
dengan teori yang mengatakan bahwa nyeri akut memiliki waktu yang cepat
dan intensitas yang bervariasi dan berlangsung dari beberapa detik sampai
enam bulan (Andarmoyo, 2013).
Penulis mengangkat diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen
cidera fisik (pembedahan) sebagai diagnosa pre operasi prioritas dan aktual
83
karena nyeri merupakan faktor utama. Secara verbal pasien mengatakan
mengalami nyeri yang dirasakannya. Hal ini sesuai dengan teori hierarki
Maslow yang menyebutkan bahwa nyeri termasuk didalam kebutuhan
fisiologis. Kebutuhan fisiologis merupakan hal yang mutlak di penuhi oleh
manusia untuk bertahan hidup dan harus terpenuhi dahulu dari pada
kebutuhan yang lain (Mubarak, 2008).
Diagnosa post operasi yang kedua diangkat oleh penulis yaitu
kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan factor mekanik (robekan).
Kerusakan jaringan adalah kerusakan jaringan membrane mukosa, kornea,
integument, atau subkutan (NANDA, 2012).
Batasan karakteristik pada kerusakan integritas jaringan yaitu
kerusakan jaringan (misalnya kornea, membrane mukosa, integument, atau
subkutan (NANDA, 2012).
Saat di lakukan pengkajian didapatkan hasil dari data subjektif yaitu
pasien berkata terasa nyeri dibagian luka post operasi dan didapatkan data
objektif yaitu terdapat luka post operasi di payudara kanan yang terbalut
dengan kassa dalam keadaan bersih. Hal ini sesuai dengan pasien dan teori
mengenai kerusakan integritas jaringan (NANDA, 2012).
Diagnosa post operasi yang ketiga diangkat oleh penulis yaitu Resiko
infeksi berhubungan dengan pembedahan (tummor mammae). Resiko infeksi
adalah keadaan dimana seorang individu beresiko terserang oleh agen
patogenik dan oportunistik (virus, jamur, bakteri, protozoa atau parasit
84
lainnya) dari sumber- sumber eksternal, sumber- sumber eksogen dan
endogen (NANDA, 2012).
Saat di lakukan pengkajian didapatkan hasil dari data subjektif yaitu
pasien hanya mengatakan terasa panas dan terasa gatal dibagian sekitar luka
di payudara kanan. Hasil data objektif yaitu Leukosit 13,1 k/ul, suhu 37,3º C,
luka pembedahan masih terbalut dengan kassa dan terdapat tanda infeksi
seperti kemerahan. Hal ini sesuai dengan pasien dan teori mengenai resiko
infeksi yaitu mengalami peningkatan risiko infeksi terserang organisme
patogenik (NANDA, 2012).
C. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan adalah suatu proses di dalam pemecahan masalah yang
merupakan awal tentang sesuatu apa yang akan dilakukan, bagaimana
dilakukan, kapan dilakukan, siapa yang melakukan dari semua tindakan
keperawatan. Merupakan tahap ketiga dari proses keperawatan dimana
peraawat meetapkan tujuan dan hasil yang diharapkan bagi pasien ditentukan
dan merencanakan intervensi keperawatan. Selama perencanaan dibuat
prioritas dengan kolaborasi klien dan keluarga, konsultasi tim medis, telaah
literatur, modifikasi asuhan keperawatan dan catat informasi yang relevan,
tentang kebutuhan perawatan kesehatan klien, penata laksanaan klinik
(Dermawan, 2012).
Intervensi atau rencana yang akan dilakukan oleh penulis disesuaikan
dengan kondisi pasien dan fasilitas yang ada. Tujuan dari tindakan
85
keperawatan menggunakan kaidah sesuai dengan sistematika SMART, yaitu
spesifk (jelas), measurable (dapat diukur), acceptance, rasional, dan
timing.Kriteria hasil merupakan gambaran tentang faktor-faktor yang dapat
memberi petunjuk bahwa telah tercapai dan digunakan dalam membuat
pertimbanagann (Hidayat, 2010).
Intervensi
pada
diagnosa
keperawatan
Pre
operasi
Ansietas
berhubungan dengan Ancaman kematian. Kriteria hasil berdasarkan NOC
(Nursing Outcomes Classification) kemudian penulis menyusun intervensi
keperawatan berdasarkan NIC (Nursing Intervetion Classification). Pada
diagnosa pertama terdapat 4 rencana tindakan keperawatan yaitu Identifikasi
tingkat kecemasan, Intruksikan pasien menggunakan tehnik (Terapi Murottal
al- Qur`an surah Ar Rahman), Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan, Jelaskan semua prosedur dan apa yang disarankan
selama
prosedur
dari
rencana
tindakan
tersebut
penulis
mengimplimentasikan 4 tindakan keperawatan.
Penulis melakukan tindakan keperawatan dengan Mengindentifikasi
tingkat kecemasan dengan mengukur menggunkan alat ukur kecemasan
(HRS- A) dan Mengajarkan tehnik murottal Al- Qur`an dengan surah
Ar- Rahman dengan Melibatkan Respon keyakinan yang dianut akan
mempercepat terjadinya rileks, dengan kata lain kombinasi respon relaksasi
melibatkan keyakinan akan gandakan manfaat yang didapat dari respon
relaksasi. Fakta lain terapi bacaan Al- Qur` an dapat mengurangi sakit adalah
penjelasan riwayat Baihaqi bahwa Tholhah bin Mussarif berkata bahwa “
86
Aku pernah mendengar bahwa ketika dibacakan Al- Qur` an kepada orang
yang sedang sakit niscaya sakitnya akan berkurang” (Al Durr Al- Manstur
dalam Elzaky, 2011). Hal ini sesuai dengan Hadist Rosulullah SAW yang
bersabda “Sebaik- baiknya obat adalah Al- Qur` an” (HR. Ibnu Majah, dalam
Izzat 7 Arif, 2011) menurut Sodikin dalam Jurnal “ Pengaruh Terapi Bacaan
Al- Qur` an melalui Media Audio terhadap Respon Nyeri Pasien Post Operasi
Hernia di RSUD Cilacap” tahun 2012.
Intervensi pada diagnosa keperawatan Post operasi yang pertama
Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (pembedahan). Kriteria hasi
berdasarkan pada NOC (Nursing Outcomes Classification) kemudian penulis
menyusun intervensi keperawatan berdasarkan NIC (Nursing Intervetion
Classification. Pada diagnosa kedua terdapat 4 rencana tindakan keperawatan
yaitu Observasi tingkat nyeri (PQRST), Ajarkan tentang tehnik Non
Farmakologis (Relaksaksi nafas dalam), Berikan analgesik untuk mengurangi
nyeri, Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil, dari rencana tindakan tersebut
tindakan keperawatan yaitu
penulis mengimplimentasikan 3
Observasi tingkat nyeri (PQRST), Ajarkan
tentang tehnik Non Farmakologis, Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri
dan penulis tidak mengimplementasikan 1 rencana tindakan keperawatan
yaitu Kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil karena respon pasien hari pertama sudah tidak menunjukan tindakan
tidak berhasil.
87
Penulis melakukan tindakan keperawatan dengan mengobservasi
tingkat nyeri (PQRST) meliputi P (Paliatif/Profocatif = yang menyebabkan
timbulnya masalah), Q (Quality = kualitas nyeri yang dirasakan), R (Regio =
lokasi nyeri), S (Severity = keparahan), T (Time = waktu, Mengajarkan
tehnik non Farmakologis (relaksaksi nafas dalam) dan Memberikan analgesik
(cefozolin, Ranitidin, Ketorolac).
Intervensi pada diagnosa keperawatan Post operasi Kerusakan
Integritas jaringan berhubungan dengan Faktor mekanik (robekan). Kriteria
hasil berdasarkan NOC (Nursing Outcomes Classification) kemudian penulis
menyusun intervensi keperawatan berdasarkan NIC (Nursing Intervetion
Classification). Pada diagnosa ketiga terdapat 5 rencana tindakan
keperawatan yaitu Observasi luka: Lokasi, dimensi, kedalaman luka, jaringan
nekrotik, Jaga kulit bersih dan kering, Ajarkan keluarga tentang luka dan
perawatan luka, monitor aktivitas dan mobilisasi pasien, Kolaborasi dengan
ahli gizi pemberian diet tinggi kalori dan protein dari rencana tindakan
tersebut
penulis mengimplimentasikan 5 tindakan keperawatan. Penulis
melakukan tindakan keperawatan dengan mengobservasi luka Lokasi,
dimensi, kedalaman luka, jaringan nekrotik pada post operasi Hari ke- 1 dan
memonitor aktivitas dan mobilisasi pasien selama 3 hari setelah operasi.
Intervensi pada diagnosa keperawatan Post operasi Resiko infeksi
berhubungan
dengan
pembedahan
(tumor
mammae).
Kriteria
hasil
berdasarkan NOC (Nursing Outcomes Classification) kemudian penulis
menyusun intervensi keperawatan berdasarkan NIC (Nursing Intervetion
88
Classification). Pada diagnosa keempat terdapat 4 rencana tindakan
keperawatan yaitu Observasi tanda dan gejala infeksi, Pertahankan tehnik
aseptik, Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan dan panas,
Kolaborasi dengan keluarga cara pencegahan infeksi dari rencana tindakan
tersebut
penulis mengimplimentasikan 4 tindakan keperawatan. Penulis
melakukan tindakan keperawatan dengan mengobservasi tanda gejala infeksi
dengan nilai Leukosit, Suhu badan dan Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan dan panas.
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah komponen dari proses keperawatan
yang merupakan kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang di
perlukan untuk mencapai tujuan dan kriteria hasil yang diperkirakan dari
asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan (Perry, 2005).
Implementasi keperawatan yang dilakukan pada tanggal 6, 7 dan 8
Januari
2016
antara
lain,
Penulis
melakukan
tindakan
dengan
mengidentifikasi kecemasan sebelum melakukan operasi setelah selesai
operasi dilakukan tehnik murottal Al- Quran Surah Ar Rahmanselama 60
menit dilakukan di ruang Recoveryroom. Bila tindakan ini tidak dilakukan
akan berdampak pada hasil penurunan kecemasan. Saat sebelum dilakukan
tindakan relaksaksimurottal Al- Quran Surah Ar Rahman terdapat durasi
waktu 85 menit saat pengukuran kecemasan dengan pasien masuk ke ruang
operasi dilakukan pengisian Quesioner HRS- A dan didapatkannilai
Quesioner dari pasien dengan hasil 46 (nilai kecemasan berat sekali) dengan
89
respon ekspresi pasien wajah pasien tampak gelisah, bingung, lemas dan
setelah dilakukan tindakan relaksaksimurottal Al- Quran Surah Ar Rahman
setelah pasien operasi dilakukan pengisian dan didapatkan nilai Quesioner
HRS- A dengan durasi waktu 20 menit pasien keluar dari ruang recovery
dengan pasien diukur kecemasan dan didapatkan hasil 26 (kecemasan sedang)
dengan respon ekspresi pasien tampak lebih tenang, nyaman dan sedikit
terlihat tersenyum.
Pada seseorang yang akan melakukan tindakan pembedahan
mempunyai respon dalam menghadapi operasi atau pembedahan sering
mengalami ketakutan atau kecemasan. Pasien diberikan terapi murottal
Al- Qur`an dapat mengurangi kecemasan serta dapat berpengaruh pada waktu
pulih sadar pasien. Terapi ini dapat membuat perasaan rileks dan tenang.
Kecemasan yang timbul menjelang tindakan anestesi akan mengganggu
jalannya proses operasi. Kecemasan dapat meningkatkan frekwensi jantung
yang dapat berpengaruh pada tekanan darah dan pernafasan pasien.
Kecemasan dapat pula mempengaruhi dosis obat anestesi, kenaikan laju basal
metabolisme pre anestesi dan meningkatkan kepekaan terhadap rasa sakit
(Leksana, 2000) Dalam Penelitian Mulyono, 2008 “Hubungan Musik Klasik
dengan Waktu Pemulihan Pasien Post Operasi Seksio Cesaria dengan Spinal
Anestesi di RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA”.
Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner berpedoman pada
Hamilton Rantting Scale for Anxiety (HRS- A) untuk melihat tingkat
keparahan terhadap gangguan kecemasan seorang klien (Hawari, 2001).
90
Terapi Murotal adalah terapi bacaan Al- Qur`an yang merupakan terapi
realigi dimana seseorang akan dibacakan ayat- ayat Al- Qur`an selama
beberapa menit atau bahkan selama beberapa jam, sehingga memberikan
dampak positif bagi tubuh seseorang (Gusmirah, 2005). Terapi Murotal
adalah
rekaman surat Al- Qur`an yang dilakukan oleh seorang qori`
(pembaca Al- Quran) lantunan Al- Qur`an secara fisik mengandung unsur
suara manusia (Heru, 2008). Al- Qur`an adalah obat yang mujarab, baik
penyakit hati maupun penyakit fisik, baik penyakit dunia ataupun penyakit
akhirat (Heru, 2008) Pada Jurnal “Pengaruh Pemberian Terapi Murottal AlQur`an terhadap Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara dengan Anestesi
General di RSUD DR. Moewardi Surakarta” tahun 2015. Ar Rahman yang
berarti yang Maha Pemurah merupakan surah ke- 55 diantara surah- surah
dalam Al- Qur`an, surat ini terdiri atas 78 ayat, termasuk daalam surat
makkiyah. Nama surat ini diambil dari perkataan Ar- Rahman yang terdapat
pada ayat pertama surat ini. Ar- Rahman adalah salah satu dari nama- nama
Allah SWT (Jalalaudin, 2008).
Saat melakukan tindakan dengan pasien yang baru saja keluar dari
ruang operasi kemudian masuk ke ruang Recoveryroom dan dilakukan
Murottal Al- Qur`an surah Ar- Rahman menggunakan tipe recorder dengan
frekuensi 440 cps hertz, Handphone dan Stopwacth untuk mengetahui berapa
detik pasien sadar. Saat pasien diperdegarkan Murottal Al- Qur`an surah ArRahman serta dilakukan tindakan penilaian Alderete Score saat masuk ruang
Recoverryroom, pada menit ke- 15, menit ke- 30, menit ke- 45, menit ke- 60
91
serta saat pasien akan keluar dari ruang recoverryroom dan dilakukan penilai
Alderete Score sampai tercapai nilai total 10. Pasien bisa dipindahkan dari
ruang pemulihan jika nilai pengkajian post anestesi adalah 8- 10 (Coyle TT,
2005) Pada Jurnal “Pengaruh Pemberian Terapi Murottal Al- Qur`an terhadap
Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara dengan Anestesi General di
RSUD DR. Moewardi Surakarta” tahun 2015.
Didapatkan hasil pada saat pasien masuk ruang Recoveryroom nilai 3,
menit ke- 15 dengan hasil 4, menit ke- 30 dengan hasil 5, menit ke- 45
dengan hasil 8, menit ke- 60 dengan hasil 9 serta paada saat- saat keluar
dengan hasil 10. Pasien dinilai dari Nilai warna, Pernafasan, Sirkulasi,
Kesadaran dan Aktifitas (Barone, 2004) Pada Jurnal “Pengaruh Pemberian
Terapi Murottal Al- Qur`an terhadap Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker
Payudara dengan Anestesi General di RSUD DR. Moewardi Surakarta” tahun
2015.
Pemberian Terapi bacaan Al- Qur`an dapat menurunkan denyut nadi
dan efek anestesi. Penggunaan obat Anestesi selama pembedahan dapat
mempengaruhi denyut nadi. Hal ini disebabkan oleh perubahan mendadak
yang disebabkan oleh reflek simpatis setelah injeksi anestesi. Menurut Jurnal
dari Sodikin “ Pengaruh Terapi Bacaan Al- Qur`an melalui Media Audio
terhadap Respon Nyeri Pasien Post Operasi Hernia di RSUD Cilacap” tahun
2012.
Hasil Implementasi yang dilakukan oleh penulis sesuai dengan hasil
penelitian dalam Jurnal yang dikutip oleh penulis dalam judul “Pengaruh
92
pemberian terapi Murottal Al- Qur`an terhadap waktu pulih sadar pasien
kanker payudara dengan anestesi general di Rumah sakit umum daerah DR.
Moewardi Surakarta”. Hasil dari penelitian Moh. Al Khoif Billah pada tahun
2015 menunjukan bahwa ada pengaruh terapi murottal Al- Qur`an dalam
pemenuhan kondisi pulih pasien dan dari aplikasi jurnal “Pengaruh
pemberian terapi Murottal Al- Qur`an terhadap waktu pulih sadar pasien
kanker payudara dengan anestesi general di Rumah sakit umum daerah DR.
Moewardi Surakarta” menunjukan hasil bahwa ada pengaruh terapi AlQur`an waktu pulih sadar pasien anestesi general dengan tumor payudara
dexstra pada menit ke- 45 dengan nilai 8.
Terapi murottal Al- Qur`an juga memberikan dampak kenyamanan
yang ditandai dengan sudah dapat menggerakan ke empat ekstremitas, warna
kulit yang bersemburah kemerahan dan dapatdiajak berkomunikasi dan
berinteraksi dengan perawat menurut Jurnal “Pengaruh pemberian terapi
Murottal Al- Qur`an terhadap waktu pulih sadar pasien kanker payudara
dengan anestesi general di Rumah sakit umum daerah DR. Moewardi
Surakarta” oleh Moh. Al Khoif Billah pada tahun 2015. Implementasi lain
yang dilakukan oleh penulis pada Ny. E adalah memonitor Tanda- Tanda
Vital dan keluhan utama pasien, memantau tingkat kecemasan pasien,
mendampingi, memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga
dan memberikan terapi tarik nafas dalam.
Berdasarkan jurnal yang dikutip oleh Nurliana Khoiriyah tahun 2015
dengan judul “Pengaruh Terapi Murottal Al Quran terhadap waktu pulih
93
sadar pasien kanker payudara dengan Anestesi General di Rumah Sakit
Umum Daerah DR. Moewardi Surakarta” hal ini sesuai dengan apa yang
telah dilakukan oleh penulis yaitu Pengaruh Terapi Murottal Al Quran
terhadap waktu pulih sadar pasien kanker payudara dengan Anestesi General
pada asuhan keperawatan Ny. E dengan kanker payudara di ruang Mawar
RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Kabupatan Wonogiri. Hasil dari
tindakan tersebut juga dipengaruhi oleh observasi ansietas dan pemberian
obat medis saat operasi yaitu obat propofal 10mg/ml yang berpengaruh degan
perubahan ansietas.
Implementasi keperawatan yang dilakukan pada tanggal 6, 7 dan 8
Januari 2016, antara lain Penulis melakukan tindakan pengkajian nyeri
(PQRST) dan Melakukan relaksaksi non Farmakologis yaitu tarik nafas
dalam. Tehnik individu dapat digunakan saat individu dalam kondisi sehat
atau sakit dan merupakan upaya pencegahan untuk membantu tubuh segar
kembali dan meminimalkan nyeri secara efektif (Perry & Potter 2005).
Tehnik relaksaksi yang digunakan dalam mengatasi nyeri post operasi di
Rumah Sakit adalah dengan tarik nafas dalam. Keuntungan dari tehnik tarik
nafas dalam antara lain dapat dilakukan setiap saat dimana saja dan kapan
saja. Caranya sangat mudah dan dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien
tanpa media dapat merilekskan otot- otot yang tegang (Smeltzeer, 2001) Pada
Jurnal “Terdapat pengaruh pemberian tehnik relaksaksi nafas dalam terhadap
tingkat nyeri pada pasien post operasi dengan Anestesi Umum” oleh Satriyo
Agung, 2013.
94
Implementasi keperawatan yang dilakukan pada tanggal 6, 7 dan 8
Januari 2016, antara lain Penuis memberikan makanan tinggi kalori tinggi
protein sesuai dengan diit yang telah di buat oleh ahli gizi. Fungsi protein
bagi tubuh adalah untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh,
Sebagai sarana untuk mengatur metabolisme pada tubuh, Menyokong
berbagai aktivitas pada organ tubuh dan pula metabolisme tubuh serta fungsi
kalori antara lain Menunjang aktifitas tubuh, Sebagai sumber Energi bagi
tubuh. (Putri dkk, 2013). Pengenalan proses penyembuhan luka sangat
penting dan pengetahuan berbagai faktor yang mempengaruhi penyembuhan
luka untuk mempercepat proses penyembuhan, dianjurkan untuk segera
bangkit pasca operasi dan memperhatikan juga tentang nutrisi yang harus
dikomsumsi untuk mempercepat proses penyembuhan luka, diperlukan
asupan Protein mensuplai asam amino yang dibutuhkan untuk perbaikan
jaringan dan regenerasi, mengandung berbagai gizi yang sangat dibutuhkan
oleh tubuh untuk proses penyembuhan luka ini biasanya terkandung pada
Ikan, telur, daging (Bulan dkk, 2013).
Implementasi keperawatan yang dilakukan pada tanggal 6, 7 dan 8
Jaanuari 2016, antara lain Penulis melakukan tindakan observasi tanda- tanda
infeksi dengan rasionalnya untuk mendekteksi dini terhadap infeksi akan
mudah, bila tindakan ini tidak dilakukan akan berdampak pada hasil diagnosa
(Wilkinson, 2012). Hal tersebut dapat diartikan meningkatnya resiko
seseorang terjangkit oleh organisme patogen. Faktor resikonya meliputi
inadekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb, leukopenia dan respon
95
inflamasi), prosedur invasif dan lain-lain (NANDA, 2012). Diagnosa
keperawatan ini penulis angkat karena keadaan pasien yang beresiko
mengalami infeksi, faktor resiko tersebut adanya mikroorganisme karena
prosedur invasif yang dialami pasien yaitu insisi bedah. Hasil dari tindakan
keperawatan yang dilakukan penulis yaitu luka bersih dan ada sedikit
kemerahan.
E. Evaluasi
Evaluasi keperawatan merupakan tahapan terakhir dari proses
keperawatan untuk mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan
dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan (Potter & Perry, 2005).
Penulis mengevaluasi hasil dari tindakan keperawatan pada tanggal 6
Januari 2016 dengan diagnosa yang pertama yaitu Ansietas berhubungan
dengan Ancaman kematian dengan hasil Respon Pasien mengatakan cemas
sudah berkurang dan pasien bersedia menjawab quesioner tentang kecemasan,
Ekspresi dari pasien tampak lebih tenag, nyaman dan sedkit tersenyum
dengan hasil quesioner dari kecemasan 26 (kecemasan sedang), hasil dari
analisa Ansietas dapat teratasi dengan kriteria hasil dalam tujuan sudah
tercapai dan Intervenssi di hentikan.
Penulis mengevaluasi hasil dari tindakan keperawatan pada tanggal 6,
7 dan 8 Januari 2016 dengan diagnosa yang kedua Nyeri akut berhubungan
dengan agen injuri fisik (pembedahan) dengan hasil respon pasien nyeri
dipayudara post operasi Hari ke- 2 dengan nyeri terasa saat beerdiri seeperti
tertusuk- tusuk dibagian payudara kanan dengan skala nyeri 2 serta nyeri
96
terasa hilang timbul, Ekspresi pasien tampak menahan nyeri dengan tekanan
darah 120/ 70 mmHg dan Nadi 86×/ menit, hasil dari analisa Nyeri akut dapat
teratasi dengan kriteria hasil dalam tujuan sudah tercapai dan Intervenssi di
hentikan.
Penulis mengevaluasi hasil dari tindakan keperawatan pada tanggal 6,
7 dan 8 Januari 2016 dengan diagnosa yang ketiga yaitu kerusakan integritas
jaringan berhubungan dengan faktor mekanik dengan hasil respon pasien luka
bekas operasi pada Hari ke- 2 Hasil objektif dari pasien tampak luka bekas
operasi terbalut kassa, tidak adanya rembesan, terdapat tampon/ kassa di luka
dengan kedalaman luka 3 cm serta diameter 2 cm, hasil dari analisa kerusakan
integritas jaringan teratasi sebagian dengan kriteria hasil dalam tujuan
tercapai sebagian yaitu ketebalan dan testur jaringan normal belum teratasi
dan Intervenssi di hentikan, serta lanjutkan discrat planningyaitu Makan
makanan yang bergizi, Jaga kulit disekitar luka bersih dan kering. Dalam hal
ini penulis melakukan asuhan keperawatan untuk mengatasi diagnosa ini
selama 3x 24 jam yang belum cukup untuk mencapai kriteria hasil menurut
Nanda (NIC- NOC, 2013).
Penulis mengevaluasi hasil dari tindakan keperawatan pada tanggal 6,
7 dan 8 Januari 2016 dengan diagnosa yang keempat yaitu Resiko Infeksi
berhubungan dengan pembedahan (tumor mammae) dengan hasil respon dari
pasien luka bekas operasi terasa gatal dan panas, hasil objektif dari pasien
tampak luka bekas operasi terbalut kassa, tidak ada rembesan, disekitar luka
kemerahan, hasil Leukosit 13.1 k/ul serta Suhu badan 36,5ºC, hasil dari
97
analisa kerusakan integritas jaringan teratasi sebagian dengan kriteria hasil
dalam tujuan tercapai sebagian yaitu pasien bebas dari tanda dan gejala
infeksi belum teratasi dengan upaya perawatan luka dengan prinsip steril dan
pemberian antibiotik dan Intervensi dihentikan serta lanjutkan discrat
planningyaitu Lanjutkan minum obat dari rumah sakit, Bersihkan luka post
operasi dan Kontrol dipoli bedah pada tanggal 13 januari 2016. Dalam hal ini
penulis melakukan asuhan keperawatan untuk mengatasi diagnosa ini selama
3x 24 jam yang belum cukup untuk mencapai kriteria hasil menurut (Nanda
NIC- NOC, 2013).
Evaluasi bagi penulis adalah tidak ada hambatan saat melakukan
terapi Murottal Al Qur` an surat Ar- Rahman. Di RSUD dr. Soediran
Wonogiri di ruang Mawar penulis memperoleh data hasil wawancara dengan
salah satu perawat bahwa mayoritas klien yang akan menjalani operasi
mengalami cemas. Penerapan terapi Murottal Al- Qur` an: surat Ar- Rahman
belum pernah diterapkan oleh rumah sakit. Penaganan cemas untuk klien
biasanya dibantu oleh keluarganya sendiri.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Setelah penulis melakukan pengkajian, analisa data, penentuan diagnosa,
intervensi, implementasi, dan evaluasi tentang pemberian terapi murottal Al- Qur`
an surah Ar- Rahman untuk menurunkan tingkat kecemasan pada asuhan
keperawatan Ny. E dengan post operasi tumor payudara di ruang mawar RSUD
Soediran Mangun Sumarso Kabupaten Wonogiri secara metode studi kasus, maka
dapat ditarik kesimpulan:
A. Kesimpulan
1.
Pengkajian
Hasil dari pengkajian terhadap Ny. E dengan tumor payudara
didapatkan adanya keluhan Nyeri pada bagian payudara kanan, terdapat
di benjolan payudara kanan, pada pemeriksaan fisik didapatkan hasil
tekanan darah 110/ 80 mmHg, nadi 125x/ menit, suhu 36º C dan respirasi
20x/ menit, kemudian dokter menyarankan operasi. Dan didapatkan
keluhan Ansietas, pasien tampak kawatir dengan penyakit yang diderita
dan pasien merasa cemas karena pasien akan di operasi. Sebelum di
operasi dilakukan pengisian quesioner pada pasien dan didapatkan nilai
46 (nilai kecemasan berat sekali).
98
99
1. Rumusan Masalah
Setelah dilakukan pengkajian pada Ny. E dengan tumor
payudara,
diagnosa
pre
operasi
yang diangkat
yaitu
Ansietas
berhubungan dengan ancaman kematian, diagnosa post operasi yang
diangkat yaitu Nyeri akut berhubungan dengan agen cidire fisik
(pembedahan), Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan Faktor
mekanik (robekan), Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan
(tumor payudara).
2. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan yang dapat disusun pada kondisi pada
Ny. E dengan tumor payudara adalah Pemberian terapi murrotal Al- Qur`
an surah Ar- Rahman pada saat diruang Recoverry, pengkajian
kecemasan (HRS- A), pengkajian Nyeri, tehnik relaksaksi nafas dalam,
perawatan luka, Observasi luka dan pemberian terapi farmakologis.
3. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan pada Ny E dengan tumor payudara
adalah Pemberian terapi murrotal Al- Qur` an surah Ar- Rahman pada
saat diruang Recoverry, pengkajian kecemasan (HRS- A), pengkajian
Nyeri, tehnik relaksaksi nafas dalam, perawatan luka, Observasi luka dan
pemberian terapi farmakologis.
4. Evaluasi keperawatan
Evaluasi pada Ny E dengan tumor payudara saat Pre operasi 1x
24 jam dan setelah operasi 3x 24 jam dilakukan secara komprehensif
100
dengan acuan rencana asuhan keperawatan dengan hasil Ansietas pasien
dengan hasil 26 (kecemasan sedang), nyeri sudah berkurang dari skal 6
menjadi 2, pada diagnosa kerusakan integritas jaringan kedalaman dan
diameter masih ssama 2cm dan 3cm, tidak terdapat tanda- tanda infeksi.
5. Analisa Aplikasi Jurnal dengan Kasus
Hasil pemberian terapi murottal Al- Quran surah Ar- Rahman
terhadap waktu pulih sadar pasien lebih cepat pada menit ke- 45 dan di
ukur menggunakan alat ukur Alderetescore dengan nilai 8, serta
pemberian terapi murotta Al- Quran surah Ar- Rahman lebih efektif pada
pasien dengan kecemasan saat sebelum dilakukan operasi dan belum
dilakukan terapi di dapatkan nilai dari HRS- A dengan hasil 48
(kecemasan berat) setelah dilakukan terapi didapatkan hasil 20
(kecemasan ringan). Menunjukan bahwa aplikasi pemberian terapi
murottal Al- Quran surah Ar- Rahman dapat mempercepat waktu pulih
sadar pasien serta dapat menurunkan kecemasan.
B. Saran
1.
Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan institusi mampu meningkatkan mutu pendidikan sehingga
menghasilkan perawat yang profesional dan inovatif, terutama dalam
memberikan asuhan keperawatan pada pasien pre operasi maupun post
operasi tumor payudara.
2.
Bagi Perawat
101
Perawat mampu memberikan dan meningkatkan kualitas pelayanan
dalam memberikan asuhan keperawatan terutama pemberian tindakan
menjaga diri kepada pasien khususnya pasien pre operasi maupun post
operasi tumor payudara, serta mampu melakukan asuhan keperawatan
kepada pasien yang sesuai dengan Standart Operasional Prosedur (SOP).
3.
Bagi Rumah Sakit
Diharapkan rumah sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
baik serta menyediakan fasilitas atau sarana dan prasarana yang memadai
untuk penyembuhan pasien, khususnya pasien dengan pre operasi
maupun post operasi tumor payudara.
4.
Bagi Profesi Keperawatan
Diharapkan para perawat memiliki keterampilan dan tanggung jawab
yang baik dalam memberikan asuhan keperawatan, serta mampu
menjalin kerjasama dengan tim kesehatan lain dan keluarga pasien dalam
membantu proses penyembuhan pasien khususnya pada pasien pre
operasi maupun post operasi tumor payudara.
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Annisa dan Dewi. 2013. Terdapat Pengaruh Pemberian Tehnik Relaksaksi
Nafas Dalam Terhadap Tingkat Nyeri pada Pasien Post Operasi dengan
Anestesi Umum di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Jurnal Keperawatan
Indonesia
Andarmoyo, Sulistyo. 2013. Konsep dan proses Keperawatan Nyari. Jogjakarta:
Ar- Ruzzmedi
Billah, Moh Al Khoif. 2015. Pengaruh Pemberian Terapi Murottal Al- Qur` an
Terhadap Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara dengan
Anestesiologi General. Jurnal Keperawatan Indonesia.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC
Bulan, Ayu, Dkk. 2013. Buku Ilmu Gizi Praktis Kesehatan. Graha Ilmu
Depkes RI. 2009. Pedoman penemuan dan Penatalaksanaan Penyakit Kanker
tertentu di Komunitas. Jakarta: Depkes
Depkes RI. Profil Kesehatan RI 2013. Diakses pada tanggal 6 Desember 2015
http://www.depkes.go.id/downloads/profilKesehatan.2007.pdf.
Dermawan, Denden dan Tutik, R. 2012. Proses Keperawatan Penerapan Konsep
dan Kerangka Kerja. Yogjakarta: Gosyen Publishing.
Gusmirah, 2005. Ruqyah Terapi Realigi Sesuai Sunnah Rasulullah SWT. Jakarta:
Pustaka Marwa
Gwinutt, Carl L. 2012. Catatan Kuliah Anestesi Klinis Edisi 3. Jakarta: EGC
Hawari, Dadang. 2001. Manajemen Stres Cemas dan Depresi.Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Hidayat, A. 2010. Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnik Analisis. Edisi 3.
Jakarta: Salemba Marwa
Jalalaudin Al-Mahalli dan As-Syututi. 2008. Terjemah Tafsir Jalalain Jilid
2. Sinar Baru Algensido.
Kanita, Ina.2012. Gambaran pengetahuan tentang Kanker Payudara dan pola
konsumsi Isoflavon. Skripsi gelar Sarjana Kep.
Kresno,
Siti Boediana. 2007. IMONOLOGI: Diagnosis dan Prosedur
Labolatarium,Vol 4, edk 3.Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Latief, Said A, Kartini A Suryadi, M Ruswan Dachlan. 2002. Petunjuk Praktis
Anestesiologi.Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Mansjoer, A dkk, 2007.Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran UI
Mubarak, Wahit Iqbal. 2008. Promosi Kesehatan. Jogjakarta: Graha Ilmu
Mulyono. 2008. Dalam Penelitian “Hubungan Musik Klasik dengan Waktu
Pemulihan pasien post Operasi Seksio Cesaria dengan Spinal Anestesi di
RSUD DR. Moewardi Surakarta”.
Mary, Baradero, Mary, Wilfrid, Dayrit & Yakobus, Siswandi. 2008. Seri asuhan
Keperawatan Klien Kanker, Jakarta: EGC
NANDA. 2012. Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2013. APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC NOC Jilid 1. Mediaction
Nurcahyo, J. 2010. Awas Bahaya Kanker rahim dan Kanker Payudara (mengenal,
mencegah dan mengobati sejak dini dua kanker pembunuh paling ditakuti
wanita). Yogyakarta: Wahana Talita
Nurzallah, Azhar Putriayu. 2015. Pengaruh Pemberian Terapi Musik Klasik:
Mozart Terhadap Waktu Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara dengan
Anestesiologi Generaal. Jurnal Keperawatan Indonesia.
Olfah, Yustina, Dra. Ni Ketut, Atik Badi` ah. 2013. Kanker Payudara dan Sadari.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Potter, PA & Perry AG. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses dan Praktis, Volume 1, Edisi Keempat. Jakarta: Buku Kedokteran:
EGC
Putri, Azhar. 2015. Pengaruh Pemberian Terapi Musik Mozzart Terhadap Waktu
Pulih Sadar Pasien Kanker Payudara dengan Anestesiologi General.
Jurnal Keperawatan Indonesia.
Rasjidi, Imam. 2007. Kemoterapi Kanker Ginekologi dalam Praktik Sehari- hari.
Jakarta: CV Sagung Seto
Riskesdas. 2013. Riset kesehatan Dasar: Jakarta
Runiari, Nengah. 2010. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hiperemesis
Gravidarium. Jakarta: Salemba Medika
Sodikin. 2012. Pengaruh Terapi Bacaan Al- Qur` an melalui Media Audio
terhadap Respon Nyeri Pasien Post Operasi Hernia di RSUD Cilacap.
Jurnal Keperawatan Indonesia.
Struart, Gail. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Suryaningsih, EK & Sukaca BE. 2009, Kupastuntas Kanker Payudara,
Yogyakarta: Paragdigma Indonesia
Wilkinson, Judith. 2012- 2014. Diagnosa Kepearawatan Nanda. Jakarta: EGC
Download