Imron Religiusitas adalah penghayatan agama seseorang yang

advertisement
PENTINGNYA RELIGIUSITAS BAGI REMAJA
Oleh : Imron
ABSTRAK
Religiusitas adalah penghayatan agama seseorang yang
menyangkut simbol, keyakinan, nilai dan perilaku yang didorong oleh
kekuatan spiritual. Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan
anugerah yang dibawa sejak lahir. Oleh karena itu fitrah beragama bersifat
ghorizi bagi setiap manusia. Fitrah inilah yang menggerakkan hatinya untuk
melakukan perbuatan “suci” yang diilhami oleh Alloh Subhanahu WaTa’ala.
(Al Qur’an Surat Ar Rum ayat 30). Namun, perpaduan dengan jasad telah
membuat berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan
dan berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain telah membuat
pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang- kadang terlengahkan,
bahkan ada yang berbalik mengabaikan.
Dalam konteks perkembangan manusia, masa remaja merupakan
masa yang sangat penting diperhatikan. Pada masa ini merupakan masa
peralihan dari anak anak menuju dewasa yang tentunya akan terjadi
perubahan – perubahan dalam perilaku, dan lain lain yang jika tidak
diperhatikan dengan baik akan terjadi hal hal yang merugikan dirinya.
Banyak penelitian telah dilakukan bahwa salah satu penanganan remaja
ialah dengan cara meningkatkan religiusitasnya.
Kata Kunci, Religiusitas, Remaja
A. PENDAHULUAN
Banyak
pakar
mendefinisikan
tentang
keberagamaan
atau
religiusitas, yang dirumuskan dengan bahasa berbeda. Salah satunya
memberikan pengertian bahwa keberagamaan atau Religiusitas adalah
penghayatan agama seseorang yang menyangkut simbol, keyakinan, nilai
dan perilaku yang didorong oleh kekuatan spiritual.
Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan anugerah yang
dibawa sejak lahir. Oleh karena itu fitrah beragama bersifat ghorizi bagi
setiap manusia. Fitrah inilah yang menggerakkan hatinya untuk melakukan
perbuatan “suci” yang diilhami oleh Alloh Subhanahu WaTa’ala. (Al Qur’an
Surat Ar Rum ayat 30). Namun, perpaduan dengan jasad telah membuat
berbagai kesibukan manusia untuk memenuhi berbagai tuntutan dan
berbagai godaan serta tipu daya duniawi yang lain telah membuat
pengetahuan dan pengakuan tersebut kadang- kadang terlengahkan,
bahkan ada yang berbalik mengabaikan.
Dalam konteks perkembangan manusia, masa remaja merupakan
masa yang sangat penting diperhatikan. Pada masa ini merupakan masa
peralihan dari anak anak menuju dewasa. Disamping itu juga pada masa ini
akan terjadi perubahan – perubahan dalam perilaku, yang jika tidak
ditangani dengan baik sangat memungkinkan akan timbul masalah masalah
dalam kehidupannya. Disinilah pentingnya memperhatikan kehidupan
remaja yang merupakan masa mencari identitas.
Remaja sekarang seringkali dihadapkan pada permasalahan hidup
yang kompleks dan membingungkan mereka.Remaja yang memiliki agama,
diharapkan pula memiliki religiusitas baik dalam ritual keagamaan maupun
perwujudan dalam kehidupan sehari – hari. Masa remaja merupakan masa
untuk mencari identitas diri dan untuk memenuhi tugas – tugas
perkembangan yang ada, diharapkan religiusitas memiliki peranan dalam
memenuhi tugas – tugas perkembangan tersebut.
Keyakinan dan penghayatan akan ajaran agama yang sering
disebut sebagai religiusitas adalah hal yang penting bagi manusia sehingga
dipakai sebagai pedoman hidup, khususnya bagi remaja.
B. PROBLEMATIKA REMAJA DALAM PERKEMBANGAN
KEPRIBADIANNYA
Dalam dunia perkembangan, remaja mempunyai arti yang khusus,
yaitu masa ini merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan
masa dewasa. Pada masa ini juga sebagai periode perubahan. Pada masa
ini juga dikatakan sebagai masa bermasalah dan menimbulkan ketakukan
(Hurlock). Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau
peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi
memiliki status anak., yang pada saat ini akan terjadi perubahan
perubahan pada diri remaja. Perubahan pada masa remaja mencakup
perubahan fisik, kognitif, dan sosial. Perubahan secara kognitif pada remaja
meliputi peningkatan idealisme dan penalaran logis. Secara sosial, jika
dikaitkan dengan arah perkembangan dapat dilihat adanya dua macam
gerak yaitu berkurangnya ketergantungan remaja dengan orang tua,
sehingga remaja biasanya akan semakin mengenal komunitas luar melalui
interaksi sosial yang dilakukannya di sekolah, pergaulan dengan teman
sebaya maupun masyarakat luas. Perubahan fisik yang terjadi pada masa
remaja yaitu semakin matangnya organ-organ tubuh termasuk organ
reproduksi dan seksualnya yang menyebabkan munculnya minat seksual
dan keingintahuan remaja tentang seksual. Seiring dengan perubahan
perubahan dalam arti perkembangan di atas, maka akan muncul beberapa
problem yang terjadi pada remaja. Sebagian problem tersebut adalah :
Problema
berkaitan
dengan
perkembangan
perilaku
sosial,
moralitas dan keagamaan.
Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan
sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima
di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer
group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated
dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima
oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa
bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial
remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat
terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di
sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal
akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya
keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan
pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua,
terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi,
hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula
dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain
jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan
perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai
dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan
norma yang ada, jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang
menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.
Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan
emosional.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri
(self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan
menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika
remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis
identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk
sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang
sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan
belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan
pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan
bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif.
Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan
emosinya.
Selain yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak
problema keremajaan lainnya. Timbulnya problema remaja dipengaruhi
oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Agar remaja dapat
terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan
dari semua pihak. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja
menjadi amat penting. Dalam hal ini, peranan orang tua, sekolah, serta
masyarakat sangat diharapkan.
Dengan adanya perubahan yang terjadi dalam fisik, psikologis dan
sosial pada
remaja yang sangat cepat dan drastis menuntut remaja tersebut untuk bisa
menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut dan tuntutan-tuntutan
lingkungan baru yang menyertainya. Pada kenyataannya tidak semua
remaja dapat menyesuaikan dengan perubahan tersebut. Berikut adalah
beberapa tanda-tanda penyesuaian diri yang salah pada remaja :
1.
Tidak bertanggung jawab, misalnya mengabaikan sekolah.
2.
Agresif secara berlebihan dan sikap yang tertalu yakin atas dirinya.
3.
Perasaan
tidak
aman,
yang
menyebabkan
remaja
harus
menyesuaikan dengan standar kelompok.
4.
Homesickness
5.
Menghayal secara berlebihan sebagai upaya untuk mengkompensir
ketidakpuasan dari kehidupan sehari-hari.
6.
Regresi perilaku ke tingkat perkembangan yang lebih awal, misalnya
ngompol, ngamuk pada saat marah dan lain-lain.
7.
Menggunakan
defense
mechanism
secara
berlebihan,
seperti
rasionalisasi, proyeksi, fantasi, dan displacement.
C. PENTINGNYA RELIGIUSITAS BAGI REMAJA
Menurut R. Stark dan C.Y. Glock seperti dikutip pada Djamaluddin
Ancok, religiusitas ( religiosity) meliputi lima dimensi yaitu :
Pertama , Dimensi Ritual; yaitu aspek yang mengukur sejauh
mana seseorang melakukan kewajiban ritualnya dalam agama yang dianut.
Misalnya; pergi ke tempat ibadah, berdoa pribadi, berpuasa, dan lain-lain.
Dimensi ritual ini merupakan peirlaku keberagamaan yang berupa
peribadatan
yang
berbentuk
upacara
keagamaan.
Pengertian
lain
mengemukakan bahwa ritual merupakan sentimen secara tetap dan
merupakan pengulangan sikap yang benar dan pasti. Perilaku seperti ini
dalam Islam dikenal dengan istilah mahdaah yaitu meliputi salat, puasa,
haji dan kegiatan lain yang bersifat ritual, merendahan diri kepada Allah
dan mengagungkannya.
Kedua, Dimensi Ideologis; yang mengukur tingkatan sejauh
mana
seseorang menerima
hal-hal yang bersifar
dogmatis
dalam
agamanya. Misalnya; menerima keberadaan Tuhan, ,malaikat dan setan,
surga dan neraka, dan lain-lain.
Dalam konteks ajaran Islam, dimensi ideologis ini menyangkut
kepercayaan seseorang terhadap kebenaran agama-agamanya. Semua
ajaran yang bermuara dari Al quran dan hadits harus menjadi pedoman
bagi segala bidang kehidupan. Keberagaman ditinjau dari segi ini misalnya
mendarma baktikan diri terhadap masyarakat yang menyampaikan amar
ma’ruf nahi mungkar dan amaliah lainnya dilakukan dengan ikhlas
berdasarkan keimanan yang tinggi.
Ketiga, Dimensi Intelektual; yaitu tentang seberapa jauh
seseorang mengetahui, mengerti, dan paham tentang ajaran agamanya,
dan sejauh mana seseorang itu mau melakukan aktivitas untuk semakin
menambah pemahamannya dalam hal keagamaan yang berkaitan dengan
agamanya. Misalnya; mengikuti seminar keagamaan, membaca buku
agama, dan lain-lain.
Secara lebih luas, dimensi intelektual ini memiliki indicator sebagai
berikut :
1.
Dimensi intelektual ini menunjukkan tingkat pemahaman seseorang
terhadap doktrin-doktrin agama tentang kedalaman ajaran agama
yang dipeluknya.
2.
Ilmu yang dimiliki seseorang akan menjadikannya lebih luas wawasan
berfikirnya sehingga perilaku keberagamaan akan lebih terarah.
3.
Dia akan lebih memahami antara perintah dan larangan dan bukan
sekedar taklid buta.
4.
Dengan ilmu pengetahuan seseorang bisa menyingkap beta besar dan
megah ciptaan Tuhan dan betapa lemahnya hamba-hamba-Nya.
Semakin banyak ilmu yang dimiliki maka semakin mampu manusia
memahami Al quran maka imannya semakin kuat.
5.
Melalui argumen yang kuat, seseorang memperoleh pengetahuan
agama terutama tentang wujud Tuhan, kehidupan kekal di akhirat dan
pengetahuan lainnya
Keempat, Dimensi Pengalaman; berkaitan dengan sejauh
mana orang tersebut pernah mengalami pengalaman yang merupakan
keajaiban dari Tuhan-nya. Misalnya; merasa doanya dikabulkan, merasa
diselamatkan, dan lain-lain.
Dalam konteks berdoa, Sebagai makhluk manusia pun tidak lepas
dari segala bentuk permasalahan dan setiap permasalahan yang dihadapi
oleh diri individu yang satu dengan yang lain tidak sama, yaitu sesuai
dengan tingkat keimanan masing-masing.
Dengan segala kekurangan, keterbatasan dan kelemahan yang ada
dalam diri manusia, maka manusia tak bisa melepaskan diri dari Allah
sebagai zat pencipta yaitu dengan cara berdoa.
Berdoa merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada
Allah yang pada akhirnya ketenangan, ketentraman jiwa dan keindahan
hidup akan digapai oleh semua manusia. Menurut Zakiah Darojat
pengertian doa adalah sebagai berikut : Doa itu penting untuk membuat
kesehatan mental, baik untuk penyembuhan, pencegahan maupun untuk
pembinaan
Dari
beberapa
pengertian
berdoa
diatas
maka
penulis
menyimpulkan berdoa adalah memohon, memuji, menyeru dan merupakan
aplikasi dari ketundukan umat manusia kepada Allah sebagai zat sang
pencipta.
Dalam bidang kesehatan sendiri doa juga mempunyai manfaat
yaitu bahwa dalam perawatan kesehatan ilmu pengetahuan tanpa
kerohanian tidaklah lengkap, sementara keimanan saja tanpa ilmu
pengetahuan tidak efektif
Adapun hakekat berdoa adalah sebagai berikut :
a.
Pengakuan
seorang
dengan
seluruh
kepribadiannya
akan
kemahabesaran-Nya dan juga pengakuan bahwa manusia adalah
hamba-Nya, maka dari itu Dia merupakan tempat berlindung, dari
segala bencana dan tempat meminta sesuatu, tempat mengadukan
diri dari permasalahan yang dihadapi manusia.
b.
Untuk mengintrospeksi diri menyadarkan akan status, fungsi dan
kondisinya. Mengingat janji dan ancaman-Nya terhadap umat yang
mentaati-Nya
dan
yang
mengingkari-Nya
sehingga
mendorong
manusia untuk berhati-hati dalam bertindak di masa yang akan
datang.
c.
Sarana untuk menyadarkan manusia bahwa kebaikan hanyalah datang
dari Allah dan kedamaian, ketentraman akan tercapai bila mematuhi
perintah-Nya dan manjauhi larangan-Nya.
d.
Sarana untuk memohon sesuatu kepada Allah SWT dan sarana untuk
mencapai keridhoan-Nya.
Kelima, Dimensi Konsekuensi. Dalam hal ini berkaitan dengan
sejauh mana seseorang itu mau berkomitmen dengan ajaran agamanya
dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya; menolong orang lain, bersikap
jujur, mau berbagi, tidak mencuri, dan lain-lain. Aspek ini berbeda dengan
aspek ritual. Aspek ritual lebih pada perilaku keagamaan yang bersifat
penyembahan/adorasi sedangkan aspek komitmen lebih mengarah pada
hubungan manusia tersebut dengan sesamanya dalam kerangkan agama
yang dianut.
Pada hakekatnya, dimensi konsekuensi ini lebih dekat dengan
aspek social. Berkenaan dengan hal ini, Jamaludin Ancok, dimensi social ini
secara rinci memiliki indicator sebagai berikut :
1.
Dimensi sosial adalah menifestasi ajaran agama dalam kehidupan
masyarakat, meliputi semua perilaku yang didefinisikan oleh agama
2.
Ditinjau dari dimensi ini semua aktivitas yang berhubungan dengan
kemasyarakatan umum merupakan ibadah. Hal ini tidak lepas dari
ajaran Islam yang menyeluruh, menyangkut semua sendi kehidupan.
Jadi religiusitas pada dasarnya merupakan perbuatan seseorang yang
berhubungan dengan masyarakat luas dalam rangka mengembangkan
kreativitas pengabdian (ibadah) kepada Allah semata.
Dari pengertian dan dimensi religiusitas diatas,maka sesungguhnya
religiusitas bisa digambarkan adanya konsistensi antara kepercayaan
terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan agama sebagai unsur
efektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur psikomotorik. Jadi
Religiusitas
merupakan integrasi secara komplek antara pengetahuan
agama, perasaan serta tindakan keagamaan dalam diri seseorang.
Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas menjadi
sangat penting dalam mempengaruhi kehidupan remaja. Diantaranya
adalah penelitian yang dilakukan oleh Indrayani Yanuar dengan judul
Hubungan religiusitas, kematangan emosi, dan kecemasan terhadap masa
depan pada dewasa awal(2010), menggambarkan bahwa : Masa dewasa
awal merupakan masa transisi ketika seseorang dihadapkan pada tugas
baru yang berbeda dengan masa remaja. Dalam tahap perkembangan ini
pula
seringkali
ketidakpastian
terjadi
kecemasan
dalam menghadapi
pada
masa
individu
depan.
terkait
Perbedaan
dengan
tingkat
kecemasan setiap orang berbeda-beda, faktor yang mempengaruhi
diantaranya adalah tingkat religiusitas dan kematangan emosional.
Religiusitas memegang peranan yang besar dalam menghadapi masalah,
supaya kecemasan tidak berlanjut. Orang yang mempunyai kematangan
emosi dapat mengontrol gejala-gejala tersebut sebelum muncul kecemasan
pada dirinya. Dalam penelitian ini disimpulkan ada hubungan antara
religiusitas, kematangan emosi, dan kecemasan terhadap masa depan.
Dari hasil penelitian ini disarankan kepada individu dewasa awal
agar dapat meningkatkan religiusitas dan kematangan emosi dengan cara
mengikuti
kegiatan
religius,
dan
pelatihan-pelatihan
yang
dapat
meningkatkan kematangan emosi sehingga bisa mengurangi tingkat
kecemasan terhadap masa depan.
Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Idha Rachmawati
yang berjudul Hubungan antara Religiusitas dengan Kecemasan Pasien
Penderita Penyakit Kronis (2007). Penyakit kronis adalah penyakit
degeneratif yang berkembang dan berkelanjutan dalam kurun waktu yang
lama. Seseorang yang telah didiagnosa mengidap penyakit kronis pasti
akan merasakan kecemasan. Rasa cemas itu berasal dari rasa takut akan
kelanjutan dari penyakitnya itu, takut ditinggalkan dan dijauhi oleh
keluarga dan teman-temannya, rasa tidak berdaya dan yang paling
membuat cemas adalah kematian. Hal ini dikarenakan penyakit kronis itu
tidak bisa disembuhkan dan dihilangkan dari tubuh pasien. Dokter hanya
bisa memberikann terapi untuk mengurangi rasa sakit dan gejalagejalanya.
Rasa cemas yang dirasakan antara pasien satu dengan lainnya
berbeda-beda. Yang membedakannya salah satunya adalah tingkat
religiusitas individu. Individu yang memiliki religiusitas tinggi akan merasa
lebih ikhlas, tawakal dan menerima keadaannya. Selain melakukan
pengobatan secara fisik, individu yang mempunyai religiusitas tinggi akan
lebih mendekatkan diri lagi pada Tuhan, karena mereka sadar bahwa hidup
dan mati itu ada di tangan Tuhan. Sedangkan individu yang memiliki
religiusitas rendah akan selalu menyalahkan nasib, merasa rendah diri,
menutup diri, ingin marah dan takut mati. Mereka akan merasa bahwa
hidup itu tidak adil.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang sangat signifikan antara religiusitas dengan kecemasan
pasien penderita penyakit kronis, yaitu semakin tinggi religiusitas maka
kecemasan pasien penderita penyakit kronis semakin rendah. Sebaliknya
semakin rendah religiusitas pasien maka kecemasannya akan semakin
tinggi.
Hal yang sama juga dingkapkan oleh Kirana Mustikasari dalam
penelitian dengan judul Hubungan Religiusitas Dengan Kecemasan Pada
Siswa Kelas Xii Smu Negeri 5 Surakarta Yang Akan Menghadapi Ujian
Nasional (2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah
terdapat korelasi antara religiusitas dengan kecemasan siswa kelas XII SMU
Negeri 5 Suurakarta yang akan menghadapi Ujian Nasional. Simpulan
penelitian: Terdapat korelasi negatif yang bermakna antara tingkat
religiusitas dengan tingkat kecemasan siswa kelas XII SMU 5 Surakarta
yang akan menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) dengan kekuatan
korelasi
lemah.
Artinya
semakin
tinggi
religiusitas
siswa
maka
kecemasannya semakin rendah. Direkomendasikan siswa yang akan
menghadapi Ujian Nasional meningkatkan tingkat religiusitasnya untuk
mengurangi rasa kecemasan yang muncul.
D. PENGARUH RELIGIUSITAS TERHADAP KESEHATAN JIWA DAN
EMOSI
Kehidupan masyarakat modern dengan segala hiruk pikuknya,
seringkali menimbulkan gejolak dalam pribadi maupun sosial masyarakat.
Hal ini bisa berakibat pada kehidupan yang pada gilirannya orang
kehilangan pegangan, hanyut terbawa arus globalisasi dan lepas dari tali
Agama. Kondisi ini kadang berimbas pada kesehatan rohani (jiwa) ataupun
jasmani.
Berbekal dari hal di atas, maka agama menjadi sesuatu yang
sangat dibutuhkan (Q.S, Al Isra’ ayat 9).
Hal ini di sebabkan agama
dengan segala konsekuensi ajarannya akan membawa pengaruh pada
kesehatan jiwa mereka atau emosi mereka Dalam hubungan anatar agama
dan kesehatan jiwa, seperti dikutip (Hawari). Cancellaro, Larson dan Wilson
(1982) telah melakukan penelitian terhadap tiga kelompok yaitu : a. kronik
alkoholik, b. kronik drug addict dan, c. skizorfrenia. Ketiga kelompok tadi
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dari ketiga kelompok gangguan
jiwa dan kelompok kontrol yang hendak diteliti adalah riwayat keagamaan
mereka. Hasilnya sungguh mengejutkan, ternyata pada kelompok kontrol
lebih konsisten dalam keyakinan agamanya dan pengamatannya.
Menurut Larson dalam penelitiannya antara kelompok kontrol dan
hipertensi dimana variabel seperti merokok, umur dan berat badan sudah
terikat
menemukan
bahwa
orang
yang
rajin
menjalankan
ibadah
keagamaan dan religiusitas tinggi ternyata tekanan darahnya lebih rendah
dibandingkan dengan yang tidak melaksanakan kegiatan keagamaan,
disamping itu komitmen agama juga menjadikan manusia lebih tahan
terhadap stres dan depresi.
Tolok ukur yang dipakai pada penelitian di atas adalah kedalaman
seseorang atas kepercayaanya seperti rutinitas melakukan ibadah seharihari doa dan membaca kitab suci atau munculnya berbagai pertanyaan
tentang hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhan (Sang Pencipta).
Selanjutnya bagaimana dengan ibadah dalam agama Islam seperti
puasa doa dan shalat dapat mempengaruhi emosi ataupun kesehatan jiwa
mereka. Berikut ini adalah beberapa bukti bahwa religiusitas seseorang
dapat mempengaruhi kesehatan ataupun emosinya. Menurut penelitian Dr
Nicolayev seperti dikutip (Ancok) pada lembaga psikiatri Moskow mencoba
menyembuhkan gangguan jiwa dengan berpuasa. Dalam usahanya itu ia
menterapi pasien sakit jiwa dengan menggunakan puasa selama tiga puluh
hari (persis puasa umat Islam dalam jumlah harinya)
Nicolayev mengadakan penelitian eksperimen dengan membagi
subyek menjadi 2 kelompok yang sama besar baik usia maupun berat
ringan penyakit yang diderita, kelompok pertama diberi ramuan obatobatan, kelompok kedua diperintahkan puasa selama 30 hari. Dua
kelompok tadi diikuti perkembangannya baik fisik maupun mental dengan
tes-tes psikologis. Dari eksperimen itu diperoleh hasil yang sangat baik
yaitu banyak pasien yang tak bisa disembuhkan dengan terapi medis
ternyata bisa disembuhkan dengan berpuasa. Selain itu kemungkinan
pasien untuk tidak kambuh lagi setelah 6 tahun kemudian lebih tinggi.
Ditinjau dari penyembuhan kecemasan seperti dilaporkan Alan
Cott bahwa penyakit seperi susah tidur, merasa rendah diri dapat
disembuhkan dengan berpuasa (Ancok). Menurut penelitian yang lain
seperti yang dikutip (Ancok) bahwa berpuasa dapat meningkatkan rasa
percaya diri kepada diri sendiri yang lebih besar, konsep diri yang optimis,
yang merupakan indikasi adanya mental sehat dan tidak rapuh menghadapi
tantangan hidup.
Doa juga akan memberikan makna kesadaran diri secara sadar
yang kemudian membentuk rasa tanggung jawab. Dalam pelatihan
pengembangan diri yang dilakukan di Pesantren Al – Maghfiroh dilakukan
penelitian secara rutin setiap satu bulan penuh terhadap 20 pasien yang
terkena ketergantungan narkoba. Disamping konseling dan program
motivasi khusus kepada mereka diminta berdoa dan berdzikir secara penuh
setelah melakukan shalat wajib. Setelah 3 bulan mereka diperbolehkan cuti
selama 1 minggu di bawah pengawasan orang tuanya. Dari penelitian ini
diperoleh hasil lima orang yang berdoa secara sungguh-sungguh dapat
mengatasi sugesti (hasrat ingin memakai obat), dua belas orang kembali
ke pesantren sebelum masa cuti habis dan 3 orang kembali ke pesantren
melampaui masa cuti dan kembali memakai obat (Toto Tasmara, 2001 :
18). Jadi jelas bahwa doa dapat membentuk sikap optimisme, kepercayaan
diri dan rasa tanggung jawab bagi dirinya.
Menurut Jamaludin Ancok (2001) bahwa ada empat aspek
terapeutik dalam shalat yaitu aspek olah raga, aspek meditasi, aspek auto
sugesti dan aspek kebersamaan.
Aspek olah raga shalat adalah proses yang menuntut suatu
aktivitas fisik. Kontraksi otot, tekanan dan masage pada bagian otot
tertentu dalam pelaksanaan shalat merupakan proses relaksasi. Salah satu
teknik yang banyak dipakai dalam proses gangguan jiwa adalah pelatihan
relaksasi. Menurut Arif Wibisono seperti dikutip Jamaludin Ancok (2001)
menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara keteraturan
menjalankan shalat dengan tingkat kecemasan. Makin rajin dan teratur
melakukan shalat makin rendah kecemasannya.
Aspek meditasi shalat menuntut konsentrasi yang dalam Islam
disebut khusuk, hasil penelitian tentang pengaruh meditasi terhadap
perbedaan kecemasan jiwa telah dilaporkan Eugene Walker (1975). Kalau
dikaitkan dengan shalat yang juga berisikan meditasi maka shalatpun dapat
menghilangkan kecemasan. Shalat yang dilakukan dengan khusuk juga
bermanfaat yaitu ketenangan hati, perasaan aman, berperilaku soleh dan
terhindar dari stres (Hawari).
Aspek auto-sugesti, bacaan dalam shalat adlaah ucapan yang
dipanjatkan kepada Allah. Di samping berisi pujian pada Allah juga
berisikan doa dan permohonan kepada Allah agar selamat dunia akherat.
Ditinjau dari hipnosis pengucapan kata-kata itu berisi proses auto-sugesti.
Dengan doa tersebut akan mensugesti diri untuk selalu berbuat baik.
Aspek kebersamaan, dalam mengerjakan shalat sangat dianjurkan
oleh agama untuk shalat berjamaah (bersama orang lain). Pahalanya 27
derajat dibanding shalat sendiri. Beberapa ahli psikologi juga berpendapat
bahwa perasaan keterasingan dari orang lain yang menjadi penyebab
gangguan jiwa, dengan berjamaah perasaan terasing dapat hilang. Dengan
berjamaah juga akan meningkatkan rasa persaudaraan sesama manusia,
saling membutuhkan, saling merasakan penderitaan dan kesenangan orang
lain dan juga menumbukan tanggung jawab sosial yang akan menjaga
kemungkinan terjadinya gangguan jiwa.
DAFTAR PUSTAKA
Ancok, Jamaludin dan Fuad Anshari Suroso, Psikologi Islam : Solusi Islam
Atas Problema-Problema Sikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995.
Aulia Iskandarsyah, Remaja dan Permasalahannya, Perspektif psikologi
terhadap permasalahan remaja dalam bidang pendidikan Disajikan pada
ceramah untuk siswa, guru dan orang tua yang diselenggarakan oleh
SMUN 1 Cianjur, tanggal 15 Desember 2006 di Cibodas - Puncak.
Sudrajat, Akhmad , masalah pada masa-remaja
www.akhmadsudrajat.wordpress.com / dikutip pada tanggal 7 Mei 2012
Darajat Zakiyah, Doa Menunjang Semangat Hidup, CV. Ruhana, Jakarta,
1996.
Darajat, Zakiah, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta: Gunung
Agung, 1982
Departemen Agama Republik Indonesia, Al Qur’an dan Terjemahnya,
Semarang : CV Toha Putra 1989
Hawari, Dadang, Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis , PT.
Dhani Bhakti Primayasa, Jakarta, 1997.
Hurlock, Elizabeth B. (1980). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga
Indrayani, Yanuar. 2010. Hubungan Religiusitas, Kematangan Emosi, dan
Kecemasan terhadap Masa Depan pada Dewasa Awal . Skripsi, Program
Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu
Pendidikan, Universitas Negeri Malang. karya-ilmiah.um.ac.id
Mustikasari, Kirana , 2010 Hubungan Religiusitas Dengan Kecemasan Pada
Siswa Kelas Xii Smu Negeri 5 Surakarta Yang Akan Menghadapi Ujian
Nasional. http://digilib.uns.ac.id
Rachmawati, Idha, 2007. Hubungan antara Religiusitas dengan Kecemasan
Pasien
Penderita
Penyakit
Kronis,
Universitas
mUhammadiyah
Malanghttp://digilib.umm.ac.id/
Toto Tasmara, (2001). Kecerdasan Ruhaniah (Trancendental Intelligence).
Jakarta: Gema Insan Press
Download