BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tingkat

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu negara diukur dari
perkembangan pendapatan nasional riil yang dicapai suatu negara/daerah ini
terkandung dalam analisis makro. Teori Pertumbuhan Ekonomi Neo Klasik
menyatakan pertumbuhan ekonomi di daerah diukur dengan pertumbuhan Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) bergantung pada perkembangan faktor-faktor
produksi yaitu ; modal, tenaga kerja dan teknologi (Sukirno, 1994:456). Sehingga
dengan pertumbuhan ekonomi yang maksimal, akan dapat mengurangi angka
ketimpangan pada setiap daerah. Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi setiap
daerah dapat juga dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Tujuan
dari itu ialah untuk melihat sejauh mana perkembangan pertumbuhan ekonomi
daerah dengan di tingkat nasional.
Periode laju pertumbuhan ekonomi dari tahun 2000 hingga 2013, maka
badan pusat statistik menggunakan acuan Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 untuk mendapatkan nilai prosentase
laju pertumbuhan ekonomi. Tentu jika dilihat perbandingan signifikan antara
tingkat provinsi dan nasional cukup terlihat. Dimana dari tahun ketahun laju
pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali diatas laju pertumbuhan ekonomi tingkat
Nasional. Provinsi Bali sendiri telah mampu meningkatkan pertumbuhan
ekonominya secara mandiri, walaupun diketahui di tahun 2008 terjadi krisis
1
global (Badan Pusat Statistik, 2013). Kondisi pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali
masih lebih baik daripada nasional dan dapat pula diasumsikan ketimpangan yang
terjadi kecil. Hasil yang didapat di tingkat nasional belum tentu sama dengan yang
ada di daerah Provinsi Bali antara kabupaten satu dengan yang lain.
Gambar 1.1
Pertumbuhan Ekonomi Menurut PDRB atas dasar harga
konstan 2000
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2013
Setiap daerah kabupaten/kota mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang
berbeda dengan daerah lain. Hal ini terlihat dengan adanya perbedaan
pertumbuhan ekonomi antara wilayah yang maju dengan wilayah yang
terbelakang atau kurang maju (Gebbert et al., 2005). Perbedaan kondisi
pertumbuhan ekonomi tersebut juga terjadi pada setiap Kabupaten/Kota di
Provinsi Bali. Provinsi Bali masih memiliki ketimpangan dalam hal pertumbuhan
ekonomi di setiap daerah.
Sebagai contoh dapat diambil kondisi pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar
dan Kabupaten Buleleng. Kondisi pertumbuhan ekonomi di Kota Denpasar
2
cenderung lebih baik dari pada Kabupaten Buleleng. Hal tersebut di buktikan
dengan meningkatnya infrastruktur yang ada di Kota Denpasar dari pada di
Buleleng. Dengan meningkatnya
infrastruktur telah menunjukkan bahwa
memang pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat menjadi faktor pemicu
ketersediaan infrastruktur. (BPS, 2013).
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan
pembangunan ekonomi. Kenaikan dalam pertumbuhan ekonomi berarti terjadi
kenaikan didalam aktivitas ekonomi di daerah tersebut, jika terjadi penurunan
maka kegiatan ekonomi di daerah tersebut sedang mengalami penurunan. Dengan
memingkatnya ketersediaan infrastruktur di daerah maka turut serta meningkatkan
kesejahteraan masyarakatnya dari segi pemenuhan kebutuhan sekunder.
Masyarakat tidak perlu keluar daerah hanya untuk memenuhi kebutuhannya dan
kembali lagi ke daerahnya, sehingga tidak terjadi kepadatan penduduk di suatu
daerah.
Hal tersebut perlu dihindari mengingat jumlah penduduk pun dapat di
gunakan untuk terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga tidak terjadi
ketimpangan. Sebagai contoh Kota Denpasar menjadi daerah di Provinsi Bali
dengan kepadatan jumlah penduduk yang tinggi, itu artinya di Provinsi Bali
memang telah terjadi ketimpangan. Namun, uniknya adalah dengan jumlah
penduduk yang padat, Kota Denpasar mampu mempertahankan kondisi
pertumbuhan ekonomi dengan terus melakukan pembangunan infrastruktur secara
berkelanjutan. Seperti, Rumah Sakit Bali Mandara yang terletak di Sanur,
fasilitas-fasiltas pendidikan, fasilitas umum, dll. Hal tersebut sangat berbeda
3
kondisinya di daerah luar denpasar kecuali badung, dimana daerah-daerah lainnya
cenderung minim fasilitas penunjangnya. Fenomena seperti itu menunjukkan
bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh dalam penyediaan infrastruktur
dan lain-lain untuk kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan ekonomi adalah usaha untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat perkapita. Tujuan pembangunan ekonomi disamping untuk menaikkan
pendapatan nasional juga untuk meningkatkan produktivitas (Suparmoko, 2002).
Pembangunan di bidang ekonomi ini sangat penting karena dengan meningkatnya
pembangunan di bidang ekonomi maka sektor-sektor yang lain akan meningkat
pula seiring dengan peningkatan pada sektor ekonomi. Pembangunan sosial
ekonomi yang mencerminkan kesejahteraan masyarakat pada suatu wilayah
diharapkan dapat terwujud oleh upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah
(Akudugu,2012).
Keberhasilan suatu daerah dalam meningkatkan kesejahteraan warganya
diukur melalui tingkat pertumbuhan ekonomi yang berhasil dicapai. Tinggi rendah
laju pertumbuhan ekonomi suatu negara menunjukkan tingkat perubahan
kesejahteraaan ekonomi warganya. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil
setiap tahunnya menunujukkan kesejahteraan ekonomi meningkat, sementara
perekonomian yang menurun atau pertumbuhan ekonomi dengan nilai negatif
berarti turunnya kesejahteraan ekonomi. Disisi lain tingkat pertumbuhan ekonomi
juga digunakan untuk mengevaluasi tepat atau tidaknya kebijakan yang telah
diambil sehubungan dengan peran pemerintah dalam perekonomian, hal tersebut
4
juga di lakukan di provinsi Bali khususnya dalam masalah ketimpangan setiap
daerah..
Adanya ketimpangan setiap daerah dalam segi pertumbuhan ekonomi
menyebabkan perbedaan dalam pengelolaan wisata yang dimiliki. Mengingat
Provinsi Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata dunia yang memiliki
potensi keindahan alam serta keunikan budaya dan kehidupan sosial
masyarakatnya, serta sektor pariwisata menjadi sektor andalan perekonomian
Provinsi Bali. Dalam hal ini, peran serta khususnya masyarakat perlu
dioptimalkan agar daerah dapat menyerap pendapatan dari destinasi wisata dan
mengurangi angka ketimpangan. Masyarakat/Penduduk dapat juga menjadi faktor
untuk meningkatkan kondisi perekonomian, dikarenakan penduduk memiliki dua
peran yakni sebagai agen pembangunan daerah atau sebagai beban daerah.
Penduduk yang bertambah dari waktu kewaktu dapat menjadi pendorong
maupun penghambat kepada perkembangan ekonomi. Penduduk yang bertambah
akan memperbesar jumlah tenaga kerja, dan penambahan tersebut memungkinkan
negara itu menambah produksi. Disamping itu perlu diingat pula, bahwa
pengusaha adalah sebagian dari penduduk. Maka luasnya kegiatan ekonomi yang
dilakukan oleh suatu negara juga bergantung kepada jumlah pengusaha dalam
ekonomi. Apabila tersedianya pengusaha dalam sejumlah penduduk tertentu lebih
banyak, maka akan lebih banyak kegiatan ekonomi yang dijalankan (Sukirno,
2006:430).
Secara teoritis pertumbuhan ekonomi yang tinggi diharapkan akan memicu
pertumbuhan output, sehingga dibutuhkanlah tenaga kerja yang tinggi pula, dari
5
sana dibutuhkan tenaga kerja yang banyak untuk memenuhi permintaan output
yang meningkat (Arsyad, 2010). Dengan permintaan output yang tinggi,
pemerintah daerah akhirnya meningkatkan pendapat asli daerah masing-masing.
Selain penduduk yang dapat menjadi agent of change, faktor lain yang dapat
mempengaruhi ketimpangan di daerah adalah pengelolaan dana di daerah yang
termuat dalam dana perimbangan.
Pengelolaan dana perimbangan di Kabupaten/Kota Provinsi Bali tidak
terlepas dari kebijakan otonomi daerah yang berlandaskan pada Undang-Undang
Otonomi Daerah No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Otonomi daerah
merupakan hak, wewenang, serta kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan (Maimunah, 2006). Dengan adanya
otonomi daerah, segala urusan yang terdapat di kabupaten/kota terbebas dari
campur tangan pemerintah pusat, juga menerima dana transfer untuk daerah dari
pusat.
Daerah Kabupaten/Kota diharapkan mampu mandiri dalam mengatur
pemerintahannya termasuk dalam menggali pendapatan daerah sebagai sumber
dana untuk membangun perekonomian yang lebih baik agar jarak ketimpangan
antar daerah dapat dikurangi. Penerimaan dana perimbangan yang dialokasikan
kepada anggaran belanja langsung tidak diperbolehkan melebihi belanja rutin,
agar pengeluaran dana dapat dijadikan investasi untuk saat-saat yang tidak
terduga. Pemerintah daerah seharusnya memperhatikan hal tersebut sehingga
belanja langsung yang mengarah pada peningkatan infrastruktur dapat menunjang
6
pertumbuhan ekonomi (Felix, 2012;1). Dana perimbangan juga tidak dapat
dipisahkan satu sama lain mengingat tujuan masing-masing jenis sumber tersebut
saling mengisi dan melengkapi, seperti pergerakan dana perimbangan Provinsi
Bali.
Berdasarkan Gambar 1.2, dana perimbangan yang diperoleh tiap
Kabupaten/Kota
selama
periode
2009-2013
berfluktuasi
di
beberapa
Kabupaten/Kota, namun cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi tingkat ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah
pusat, karena dana transfer daerah yang meliputi dana perimbangan ini
menunjukkan alokasi yang cenderung meningkat ditiap tahunnya, meskipun
terdapat dana perimbangan di beberapa kabupaten/kota pada beberapa tahun
menurun. Untuk itu dengan adanya desentralisasi fiskal, pemerintah daerah bebas
mengelola hal yang menyangkut daerahnya khususnya keuangan daerah.
Gambar 1.2 Realisasi Dana Perimbangan Kabupaten/Kota di Provinsi Bali
tahun 2009-2013 (dalam juta rupiah)
Sumber: BPS Provinsi Bali 2013
Sesuai penjelasan, dapat diambil suatu pemahaman bahwa kondisi
ketimpangan di daerah tidak hanya dalam pertumbuhan ekonomi setiap daerah,
7
melainkan juga penerimaan dana perimbangan. Untuk itu kesiapan daerah dalam
menerapkan otonomi daerah belum sepenuhnya berjalan dengan baik, begitupun
juga pengeluaran yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten/Kota juga terjadi
ketimpangan pula. Pengeluaran pemerintah juga merupakan komponen penting
bagi pembangunan ekonomi. Di daerah manapun pemerintah mempunyai peranan
tidak
hanya
sekedar
membuat
undang-undang
melainkan
memperbaiki
perekonomian yang sedang lesu. Jika dalam suatu perekonomian peran sektor
swasta menurun dalam meningkatkan pembangunan ekonomi maka pemerintah
dapat memacu pembangunan ekonomi dengan cara meningkatkan jumlah
pengeluaran pemerintah. Kenaikan pengeluaran pemerintah daerah ini dapat
merangsang perkembangan dari sektor-sektor yang lain.
Pengeluaran yang dilakukan pemerintah daerah khususnya di Provinsi Bali
akan mempengaruhi berbagai sektor dalam perekonomian sehingga akan
mengurangi ketimpangan yang terjadi. Adanya pengeluaran pemerintah secara
langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap sektor produksi barang dan
jasa. Pengeluaran pemerintah untuk pengadaan barang dan jasa akan berpengaruh
secara langsung terhadap produksi barang dan jasa yang dibutuhkan pemerintah.
Pengeluaran pemerintah untuk sektor pendidikan akan berpengaruh secara tidak
langsung terhadap perekonomian, karena pendidikan akan menghasilkan sumber
daya manusia (SDM) yang lebih berkualitas dan pada akhirnya akan
meningkatkan produksi. Pengeluaran pemerintah ini biasa diwujudkan kedalam
belanja daerah.
8
Belanja daerah merupakan semua pengeluaran pemerintah daerah pada satu
periode anggaran yang dikeluarkan guna melaksanakan kewajiban, wewenang,
dan tanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah pusat. Belanja daerah
cenderung memiliki kekurangan dalam pembiayaannya karena Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) yang akan diterima daerah. Belanja daerah terdiri dari berbagai
macam karena keperluan daerah dan pengeluaran daerah sangat banyak guna
meningkatkan potensi daerah, terutama sumber daya manusia yang dimiliki.
Seluruh pembelanjaan yang dilakukan pemerintah akan dipertanggungjawabkan
melalui laporan pertanggungjawaban keuangan daerah.
Adanya pembelanjaan pemerintah ini dapat mendorong kesejahteraan yang
telah ditetapkan didalam anggaran pendapatan belanja daerah (APBD). Menurut
PP 58/2005 dan PERMENDAGRI 59/2007 alokasi pembelanjaan yang terdapat
dalam APBD terdapat dua pengeluaran yaitu belanja tidak langsung dan belanja
langsung. Belanja langsung kemudian diklasifikasikan lagi menjadi belanja
pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan keuangan,
belanja bantuan sosial, belanja tidak terduga. Sementara belanja langsung terdiri
dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal (Mahmudi,
2010:97).
Guna mendukung kelancaran pelaksanaan pemerintahan secara optimal dan
memperbesar tabungan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan
nasional, maka belanja langsung harus diterapkan dengan benar dan tepat. Belanja
tidak langsung diarahkan kepada pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan
9
dan ketersediaan pelayanan umum untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan meningkatnya pembiayaan nasional dengan belanja langsung maka dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dikarenakan dengan penggunaan belanja
langsung yang tepat sasaran seluruh permasalahn infrastruktur dan juga
ketimpangan di daerah akan berkurang.
Penting untuk diketahui juga bahwa jika belanja langsung yang diterapkan
oleh pemerintah salah sasaran maka cita-cita pertumbuhan ekonomi yang tinggi
dan bebas dari ketimpangan daerah tidak akan tercapai. Tentunya untuk mencapai
hal tersebut beberapa indikator pendukung harus bebas dari masalah, seperti
kemiskinan, infrastruktur, dll. Jumlah penduduk yang cukup diatas rata-rata
seharusnya dapat dioptimalkan menjadi sumber daya manusia yang produktif.
Serta ketersediaan
dana yang melimpah harus dialokasikan untuk kegiatan
penunjang peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan dialokasikan terhadap
belanja langsung.
Pada saat ini banyak masyarakat yang menganggap bahwa dana
perimbangan dan jumlah penduduk tidak dapat mempengaruhi belanja langsung.
Itu dikarenakan cara berpikir masyarakat yang ketika mereka meminta kepada
pemerintah, maka pemerintah akan membelanjakan langsung sesuai kebutuhan
yang diinginkan. Jumlah anggaran belanja langsung dapat ditentukan melalui
jumlah penduduk dan dana perimbangan. Dimana, dengan jumlah penduduk yang
besar maka pemerintah daerah akan menggunakan anggaran yang besar pula
terhadap
belanja
langsung.
Selain
jumlah
penduduk,
banyaknya
dana
perimbangan yang digunakan juga dapat mencerminkan anggaran belanja
10
langsung. Semakin besar dana perimbangan yang dikeluarkan, maka anggaran
belanja langsung akan naik atau besar pula. Dengan demikian, dalam penelitian
ini penulis berusaha membuktikan hal tersebut menggunakan data-data yang ada.
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi
permasalahan adalah :
1) Bagaimana pengaruh Jumlah Penduduk dan Dana Perimbangan terhadap
Belanja Langsung Kabupaten/Kota di Provinsi Bali tahun 2009-2013?
2) Bagaimana pengaruh Jumlah Penduduk, Dana Perimbangan dan Belanja
Langsung terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi
Bali tahun 2009-2013?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah
yang telah ditetapkan, maka tujuan
penelitian yang hendak dicapai, antara lain :
1) Untuk menganalisis pengaruh Jumlah Penduduk dan Dana Perimbangan
terhadap Belanja Langsung Kabupaten/Kota di Provinsi Bali tahun 20092013
2) Untuk menganalisis pengaruh Jumlah Penduduk, Dana Perimbangan dan
Belanja Langsung terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di
Provinsi Bali tahun 2009-2013
1.2 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kegunaan sebagai berikut:
11
1) Kegunaan Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi media untuk menerapkan
konsep – konsep teori yang selama ini diperoleh dalam perkuliahan
tentang jumlah penduduk, dana perimbangan, pertumbuhan ekonomi dan
belanja langsung serta meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan melalui
berbagai temuan pada penelitian.
2) Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran kepada
pemerintah yang berkaitan utamanya yang berkaitan Jumlah Penduduk,
Dana Perimbangan, Belanja Langsung
serta pengaruhnya terhadap
Pertumbuhan Ekonomi.
1.4 Sistematika Penulisan
Skripsi ini terdiri dari lima bab yang saling berhubungan antara bab yang
satu dengan yang lainnya dan disusun secara sistematis secara terperinci untuk
memberikan gambaran dan mempermudah pembahasan. Sistematika dari masingmasing bab dapat diperinci sebagai berikut:
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah
penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika
penulisan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
Bab ini menguraikan teori yang mendukung pokok permasalahan yang
dibahas dalam penelitian ini yaitu mengenai beberapa konsep yang
12
meliputi Jumlah Penduduk, Dana Perimbangan, Pertumbuhan Ekonomi
dan
Belanja
Langsung
serta
pembahasan
penelitian-penelitian
sebelumnya yang digunakan sebagai acuan dalam merumuskan
hipotesis atau dugaan sementara.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan mengenai desain penelitian, lokasi dan ruang
lingkup wilayah penelitian, obyek penelitian, identifikasi variabel,
definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, populasi, sampel
dan metode pengumpulan data serta teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini.
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Bab ini menguraikan gambaran umum daerah penelitian, deskripsi data
hasil penelitian, dan pembahasan mengenai permasalahan yang ada
dalam penelitian.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Bab ini menguraikan mengenai simpulan yang diperoleh dari hasil
pembahasan sesuai dengan tujuan penelitian dan saran yang dapat
diberikan sehubungan dengan simpulan yang diperoleh agar nantinya
dapat berguna bagi penelitian selanjutnya.
13
Download