BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KESALAHAN, TINDAK PIDANA

advertisement
22
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG KESALAHAN, TINDAK PIDANA, DAN
LINGKUNGAN HIDUP
2.1.
Tinjauan Umum Tentang Kesalahan
2.1.1. Pengertian Kesalahan
Kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya, dapat disamakan dengan
pengertian pertanggungjawaban pidana dimana di dalamnya terkandung makna dapat
dicelanya si pembuat atas perbuatannya.
Tentang kesalahan ini Bambang Poernomo menyebutkan bahwa :
Kesalahan itu mengandung segi psikologis dan segi yuridis. Segi psikologis
merupakan dasar untuk mengadakan pencelaan yang harus ada terlebih, baru
kemudian segi yang kedua untuk dipertanggungjawabkan dalam hukum
pidana. Dasar kesalahan yang harus dicari dalam psikis orang yang melakukan
perbuatan itu sendiri dengan menyelidiki bagaimana hubungan batinnya itu
dengan apa yang telah diperbuat.1
Berdasarkan pendapat Bambang Poernomo tersebut dapat diketahui untuk
adanya suatu kesalahan harus ada keadaan psikis atau batin tertentu, dan harus ada
hubungan yang tertentu antara keadaan batin tersebut dengan perbuatan yang
dilakukan sehingga menimbulkan suatu celaan, yang pada nantinya akan menentukan
dapat atau tidaknya seseorang di pertanggungjawabkan secara pidana.
1
Bambang Poernomo, 1985, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, h.145.
23
Menurut Moeljatno, syarat-syarat kesalahan yaitu
1.
2.
3.
4.
Melakukan perbuatan pidana
22(sifat melawan hukum);
Diatas umur tertentu mampu bertanggungjawab;
Mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan atau
kealpaan;
Tidak ada alasan pemaaf.2
Kesalahan sebagai faktor penentu dalam menentukan dapat tidaknya
seseorang di pertanggungjawabkan secara pidana dapat dibedakan dalam dua bentuk,
yaitu kesalahan dalam bentuk kesengajaan (dolus atau opzet) dan kesalahan dalam
bentuk kealpaan (culpa).
Tentang apa arti dari kesengajaan, tidak ada keterangan sama sekali dalam
KUHP Indonesia, lain halnya dengan Swiss di mana dalam Pasal 18 KUHP Swiss
dengan tugas memberikan pengertian tentang kesengajaan yaitu, “barang siapa
melakukan perbuatan dengan mengetahui dan menghendakinya, maka dia melakukan
perbuatan itu dengan sengaja”.3
Ilmu hukum pidana membedakan tiga macam bentuk kesengajaan, yaitu :
1.
Kesengajaan sebagai maksud / tujuan (opzet als oogmerk)
Bentuk kesengajaan sebagai maksud sama artinya dengan menghendaki
(willens) untuk mewujudkan suatu perbuatan (tindak pidana aktif),
menghendaki untuk tidak berbuat / melalaikan kewajiban hukum (tindak
2
3
Moeljatno, op.cit, h.164.
Moeljatno, op.cit, h.171.
24
pidana pasif) dan tahu juga menghendaki timbulnya akibat dari perbuatan
itu (tindak pidana materiil).4
2.
Kesengajaan sebagai kepastian (opzet bij zekerheidsbewustzijn)
Kesadaran seseorang terhadap suatu akibat yang menurut akal orang pada
umumnya pasti terjadi oleh dilakukannya suatu perbuatan tertentu.
Apabila perbuatan tertentu yang disadarinya pasti menimbulkan akibat
yang tidak dituju itu dilakukan juga maka disini terdapat kesengajaan
sebagai kepastian.5
3.
Kesengajaan sebagai kemungkinan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn)
disebut juga dengan dolus eventualis
Kesengajaan sebagai kemungkinan adalah kesengajaan untuk melakukan
perbuatan yang diketahuinya bahwa ada akibat lain yang mungkin dapat
timbul yang ia tidak inginkan dari perbuatan, namun begitu besarnya
kehendak untuk mewujudkan perbuatan, ia tidak mundur dan siap
mengambil resiko untuk melakukan perbuatan.6
Salah satu bentuk dari kesalahan adalah culpa, menurut Wirjono Prodjodikoro
arti kata dari culpa adalah :
4
Adami Chazawi, 2002, Pelajaran Hukum Pidana I, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta,
(selanjutnya disingkat Adami Chazawi I), h.96.
5
Ibid, h.97.
6
Ibid, h.96.
25
“Kesalahan pada umumnya, tetapi dalam ilmu pengetahuan hukum
mempunyai arti teknis, yaitu suatu macam kesalahan si pelaku tindak pidana
yang tidak seperti kesengajaan, yaitu kurang berhati-hati, sehingga akibat
yang tidak di sengaja terjadi”.7
Mengenal kealpaan itu, Moeljatno menguntip dari Scmidt yang merupakan
keterangan resmi dari pihak pembentu WvS sebagai berikut :
Pada umumnya bagi kejahatan-kejahatan wet mengharuskan bahwa kehendak
terdakwa ditujukan pada perbuatan dilarang dan diancam pidana. Kecuali itu
keadaan yang dilarang itu mungkin sebagian besar berbahaya terhadap
keamanan umum mengenai orang atau barang dan jika terjadi menimbulkan
banyak kerugian, sehingga wet harus bertindak pula terhadap mereka yang
tidak berhati-hati, yang teledor. Dengan pendek, yang menimbulkan keadaan
yang dilarang itu bukanlah menentang larangan tersebut, dia tidak
menghendaki atau menyetujui timbulnya hal yang dilarang, tetapi
kesalahannya, kekeliruannya dalam batin sewaktu ia berbuat sehingga
menimbulkan hal yang dilarang, ialah bahwa ia kurang mengindahkan
larangan itu.8
Terkait dengan pendapat yang diutarakan tersebut, Moeljatno berkesimpulan
bahwa kesengajaan berlainan jenis dari kealpaan. Akan tetapi, dasarnya sama, yaitu
adanya perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana, adanya kemampuan
bertanggungjawab, dan tidak adanya alasan pemaaf, akan tetapi bentuk dari
kesengajaan berbeda dengan kealpaan. Kesengajaan adalam mengenai sikap batin
orang menentang larangan. Sedangkan kealpaan adalah sikap kurang mengindahkan
7
Wirjono Prodjodikoro, 1981, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, PT. Eresco Jakarta,
Bandung (selanjutnya disingkat Wirjono Prodjodikoro I), h.61.
8
Moeljatno, op.cit, h.198.
26
larangan sehingga tidak berhati-hati dalam melakukan sesuatu yang objektif sehingga
menimbulkan keadaan yang dilarang.9
Selanjutnya, dengan menguntip pendapat Van Hamel, Moeljatno mengatakan
kealpaan itu mengandung dua syarat, yaitu tidak mengadakan penduga-penduga
sebagaimana diharuskan oleh hukum dan tidak mengadakan penghati-hati
sebagaimana diharuskan oleh hukum.10
2.1.2. Unsur-unsur Kesalahan
Dipidananya seseorang tidaklah cukup orang itu telah melakukan perbuatan
yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun
perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan,
hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Untuk itu pemidanaan
masih perlu adanya syarat, yaitu bahwa orang yang melakukan perbuatan itu
mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt).
Disini berlaku apa yang disebut asas “tiada pidana tanpa kesalahan” (geen
straf zonder schuld). Kesalahan terdiri atas beberapa unsur :
9
Moeljatno, op.cit, h.199.
Moeljatno, op.cit, h.201.
10
27
1.
Adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pelaku (schuldfahigkeit atau
zurechtnungsfahigkeit)
Kemampuan bertanggungjawab merupakan unsur pertama dari kesalahan
yang harus terpenuhi untuk memastikan bahwa pelaku tindak pidana dapat
mempertanggungjawabkan
perbuatannya
atau
dapat
dipidana.
Kemampuan
bertanggungjawab biasanya dikaitkan dengan keadaan jiwa pelaku tindak pidana,
yaitu bahwa pelaku dalam keadaan sehat jiwanya atau tidak pada saat melakukan
tindak pidana. Untuk adanya kemampuan bertanggungjawab harus ada :
a.
Kemampuan untuk membeda-bedakan perbuatan yang baik dan yang
buruk, yang sesuai dengan hukum dan yang melawan hukum.
b.
Kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang
baik dan buruknya perbuatan.11
Penjelasan
pertama
mengenai
kemampuan
dalam
membeda-bedakan
mempunyai pengertian bahwa faktor akal (intellectual factor) yaitu dapat membedabedakan antara perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak. Yang kedua adalah
faktor perasaan atau kehendak (volitional factor), yaitu dapat menyesuaikan tingkah
lakunya dengan keinsyafan atas mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak.12
Pasal yang mengatur mengenai kemampuan bertanggungjawab ini adalah
Pasal 44 ayat 1 KUHP. Selain itu berdasarkan Undang-Undang ada beberapa hal yang
menyebabkan pelaku tindak pidana tidak mampu bertanggungjawab, misalnya masih
11
12
Moeljatno, op.cit, h.165.
Moeljatno, op.cit, h.74.
28
dibawah umur, ingatannya terganggu oleh penyakit, daya paksa, pembebanan
terpaksa yang melampaui batas. Apabila keadaan-keadaan tersebut melekat pada
pelaku tindak pidana, maka Undang-Undang memaafkan pelaku sehingga terbebas
atau lepas dari segala tuntutan hukum.
2.
Hubungan batin antara pelaku dengan perbuatannya, yang berupa kesengajaan
(dolus) atau kealpaan (culpa), ini disebut bentuk-bentuk kesalahan.
Kesengajaan (Dolus/Opzet) dan kealpaan (Culpa/Alpa) merupakan unsur
kedua dari kesalahan dimana keduanya merupakan hubungan batin antara pelaku
tindak
pidana
dengan
perbuatan
yang
dilakukan.
Mengenai
kesengajaan
(dolus/opzet), KUHP tidak memberikan pengertian. Namun pengertian kesengajaan
dapat di ketahui dari MvT (Memorie van Toelichting), yang memberikan arti
kesengajaan sebagai “menghendaki dan mengetahui”.
Hukum pidana mengenal beberapa teori yang berkaitan dengan kesengajaan
(dolus/opzet) yaitu :
a) Teori kehendak (wilstheorie)
Inti dari kesengajaan ini adalah kehendak untuk mewujudkan unsur-unsur
delik dalam rumusan Undang-Undang.
b) Teori pengetahuan atau membayangkan (voorstellingtheorie)
29
Sengaja berarti membayangkan akan timbulnya suatu perbuatan, orang
tidak
bisa
menghendaki
akibat
melainkan
hanya
dapat
membayangkannya.13
3.
Tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf
dan pembenar.
Menurut Teguh Prasetyo berdasarkan doktrin hukum pidana, penyebab tidak
dipidananya si pembuat tersebut dibedakan dan dikelompokkan menjadi dua dasar,
yakni :
a.
b.
Dasar pemaaf (schulduits luitings gronden), yang bersifat subjektif dan
melekat pada diri orangnya, khususnya mengenai sikap batin sebelum
atau pada saat akan berbuat.
Dasar pembenar (rechts vaarding ings gronden), yang bersifat objektif
dan melekat pada perbuatannya atau hal-hal lain diluar batin si pembuat.14
Alasan pemaaf adalah alasan yang menghapuskan kesalahan si pembuat.
Perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum, jadi tetap
merupakan perbuatan pidana, tetapi ia tidak dipidana, karena tidak ada kesalahan.15
Alasan
pemaaf
atau
schulduitsluttingsgrond
ini
menyangkut
pertanggungjawaban seseorang terhadap perbuatan pidana yang telah dilakukannnya
atau criminal responsibility. Alasan pemaaf ini menghapuskan kesalahan orang yang
melakukan delik atas dasar beberapa hal.
13
Tri Andrisman, 2009, Asas-Asas dan Dasar Aturan Hukum Pidana Indonesia, Universitas
Lampung, h.102-103.
14
Teguh Prastyo, 2011, Hukum Pidana, Rajawali Pers, Jakarta, h.106-107.
15
Adami Chazawi, 2007, Pelajaran Hukum Pidana II, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
(selanjutnya disingkat Adami Chazawi II), h.18.
30
2.2.
Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana
2.2.1. Pengertian Tindak Pidana
Pemahaman tentang tindak pidana tidak terlepas dari pemahaman tentang
pidana itu sendiri. Istilah pidana tidak terlepas dari masalah pemidanaan. Secara
umum pemidanaan merupakan bidang dari pembentukan Undang-Undang karena
adanya asas legalitas. Asas ini tercantum dalam Pasal 1 KUHP yang berbunyi
“nullum delictum nulla poena sine praevia poenali” yang artinya “tiada ada suatu
perbuatan tindak pidana, tiada pula dipidana, tanpa adanya Undang-Undang hukum
pidana terlebih dahulu”. Ketentuan Pasal 1 KUHP menunjukkan hubungan yang erat
antara suatu tindak pidana, pidana dan Undang-Undang (hukum pidana) terlebih
dahulu.
Pengertian hukuman lebih luas dari pengertian pidana, jadi pidana termasuk
salah satu jenis hukuman. Demikian dapat dikatakan pula bahwa pidana adalah
perasaan tidak enak yakni penderitaan dan perasaan sengsara yang dijatuhkan oleh
hakim dengan vonis kepada orang yang melanggar Undang-Undang hukum pidana.
Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana
Belanda yaitu strafbaar feit. Walaupun istilah ini terdapat dalam WvS Belanda,
namun berdasarkan asas konkordasi istilah tersebut juga berlaku pada WvS Hindia
Belanda (KUHP). Tetapi tidak ada penjelasan resmi tentang apa yang dimaksud
dengan strafbaar feit itu. Oleh karena itu para ahli hukum berusaha untuk
31
memberikan arti dan istilah itu, namun hingga saat ini belum ada keseragaman
pendapat tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit.16
Istilah-istilah yang pernah digunakan, baik dalam perundang-undangan yang
ada maupun dalam berbagai literatur hukum sebagai terjemahan dari istilah strafbaar
feit setidaknya ada tujuh istilah, antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Tindak pidana dapat dikatakan sebagai istilah resmi dalam perundangundangan pidana Indonesia. Hampir seluruh peraturan perundangundangan menggunakan istilah tidak pidana. Ahli hukum yang
menggunakan istilah ini salah satunya adalah Prof. Dr. Wirjono
Prodjodikoro, S.H;
Peristiwa pidana digunakan beberapa ahli hukum, misalnya Mr. R. Tresna
dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana, Prof. A. Zainal Abidin, S.H.
dalam buku beliau yang berjudul Hukum Pidana Pembentuk UndangUndang juga pernah menggunakan istilah peristiwa pidana, yaitu dalam
Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) tahun 1950 pada Pasal 14
Ayat (1);
Delik, yang sebenarnya berasal dari bahasa latin delictum juga digunakan
untuk menggambarkan tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit;
Pelanggaran pidana, dapat dijumpai dalam buku Pokok-Pokok Hukum
Pidana yang ditulis oleh Mr. M. H. Tirtaamidjjaja;
Perbuatan yang boleh dihukum, istilah ini digunakan Mr. Karni dalam
buku beliau Ringkasan Tentang Hukum Pidana. Begitu juga Schravendijk
dalam bukunya buku Pelajaran Tentang Hukum Pidana Indonesia;
Perbuatan yang dapat dihukum digunakan oleh pembentuk UndangUndang dalam Undang-Undang No. 12/Drt/1951 tentang Senjata Api dan
Bahan Peledak;
Perbuatan pidana, digunakan oleh Prof. Moeljatno dalam berbagai tulisan
beliau, misalnya buku Asas-asas Hukum Pidana.17
Arti tindak pidana tersebut pada dasarnya adalah sama sedangkan perbedaan
istilah itu tergantung dari perspektif para pakar hukum memandangnya.
2.2.2. Unsur-Unsur Tindak Pidana
16
17
Ibid, h.67.
Ibid, h.67-68.
32
Terhadap unsur-unsur tindak pidana, ada ahli yang berpendapat bahwa antara
unsur subjektif (pelaku / pembuat pidana) dengan unsur objektif (perbuatan) tidak
perlu dilakukan pemisahan dan ada pula yang merasa perlu untuk dipisahkan.
Golongan yang merasa perlu dilakukan pemisahan disebut aliran monisme,
sedangkan yang merasa perlu untuk dipisahkan disebut aliran dualisme. Berikut
uraian singkat mengenai kedua aliran ini :
1.
Aliran Monisme
Paham monisme ini tidak membedakan antara unsur tindak pidana dengan
syarat untuk dapatnya dipidana. Syarat dipidananya itu juga masuk dalam dan
menjadi unsur tindak pidana.18
Adami Chazawi berpendapat ada banyak ahli hukum yang menganut
pandangan monisme ini, dalam pendekatan terhadap tindak pidana, antara lain :
J.E. Jonkers, yang merumuskan peristiwa pidana adalah ialah “perbuatan
yang melawan hukum (wederrechttelijk) yang berhubungan dengan
kesengajaan atau kesalahan yang dilakukan oleh orang yang dapat
dipertanggungjawabkan”;
b. Wirjoni Prodjodikoro menyatakan bahwa tindak pidana itu adalah suatu
perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana;
c. H.J. van Schravendijk, merumuskan perbuatan yang boleh dihukum
adalah “kelakuan orang yang begitu bertentangan dengan keinsyafan
hukum sehingga kelakuan itu diancam dengan hukuman, asal dilakukan
oleh seorang yang karena itu dapat dipermasalahkan”;
d. Simons merumuskan strafbaar feit adalah “suatu tindakan melanggar
hukum yang dengan sengaja telah dilakukan oleh seseorang yang dapat
dipertanggungjawabkan atas tindakannya, yang dinyatakan dapat
dihukum”.19
Aliran Dualisme
a.
2.
18
19
Ibid, h.76.
Ibid, h. 75.
33
Pada aliran dualisme memisahkan antara perbuatan dengan orang yang
melakukan perbuatan tersebut. Para ahli hukum yang paham dengan aliran dualisme
ini misalnya Pompe, Vos, Tresna Roeslan Saleh, A. Zainal Abidin, Fetcher
mengatakan “perlu dibedakan antara karakteristik perbuatan yang dijadikan tindak
pidana dan karakteristik orang yang melakukannya”.20
Menurut aliran ini kemampuan bertanggungjawab melekat pada orangnya,
dan tidak pada perbuatannya, yang sebenarnya dari sudut pengertian abstrak yang
artinya memandang tindak pidana itu tanpa menghbuungkan dengan (adanya)
pembuatnya, atau dapat dipidana pembuatnya.
Kemampuan bertanggungjawab merupakan hal yang lain dari tindak pidana
dalam artian abstrak, yakni mengenai syarat untuk dapat dipidananya terhadap pelaku
yang terbukti telah melakukan tindak pidana atau melanggar larangan berbuat dalam
hukum pidana, dan sekali-kali bukan syarat ataupun unsur dari pengertian tindak
pidana. Sebagaimana diketahui bahwa orang yang perbuatannya telah terbukti
melanggar larangan berbuat (tindak pidana) tidak selalu dijatuhi pidana.21
Unsur-unsur tindak pidana dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari
sudut teoritis dan dari sudut undang-undang
1.
Unsur tindak pidana menurut beberapa teori
Unsur-unsur yang ada dalam tindak pidana adalah dengan melihat bagaimana
bunyi rumusan yang dibuat. Beberapa contoh dari batasan tindak pidana menurut
beberapa pendapat ahli menguntip dari Adam Chazawi adalah sebagai berikut :
Menurut Moeljatno, unsur tindak pidana adalah :
20
George P. Fletcher, 2000. Rethinking Criminal Law, Oxford University Press, Oxford,
21
Adami Chazawi II, op.cit. h.73-74.
h.455.
34
a.
b.
c.
Perbuatan;
Yang dilarang (oleh aturan hukum);
Ancaman Pidana (bagi yang melanggar larangan).
Menurut R. Tresna tindak pidana terdiri dari unsur-unsur, yakni;
a. Perbuatan / rangkaian perbuatan (manusia);
b. Yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;
c. Diadakan tindakan penghukuman.
Menurut Vos unsur-unsur tindak pidana adalah :
a. Kelakuan manusia;
b. Diancam dengan pidana;
c. Dalam peraturan perundang-undangan.22
2.
Unsur tindak pidana dalam undang-undang
Buku II KUHP memuat rumusan-rumusan perihal tindak pidana tertentu yang
masuk dalam kelompok kejahatan, dan Buku III memuat tentang pelanggaran.
Rumusan-rumusan tindak pidana tertentu dalam KUHP itu, dapat diketahui adanya
11 unsur tindak pidana yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
Unsur tingkah laku;
Unsur melawan hukum;
Unsur kesalahan;
Unsur akibat konstitutif;
Unsur keadaan yang menyertai;
Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana;
Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana;
Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana;
Unsur objek hukum tindak pidana;
Unsur kualitas subjek hukum tindak pidana;
Unsur syarat tambahan untuk memperingan pidana.
Dua dari sebelas unsur diatas diantaranya unsur kesalahan dan melawan
hukum yang termasuk unsur subjektif, sedangkan selebihnya berupa unsur objektif.
22
Adami Chazawi II, op.cit, h.79-80.
35
2.3.
Tinjauan Umum Tentang Lingkungan Hidup
2.3.1. Pengertian Lingkungan Hidup
Secara umum lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi,
keadaan, dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempati, dan
mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. Batas ruang lingkungan
menurut pengertian ini sangat luas, namun untuk praktisnya dibatasi ruang
lingkungan dengan faktor-faktor yang dapat dijangkau oleh manusia sebagai faktor
alam, faktor politik, faktor ekonomi, faktor sosial, dan lain-lain.
Lingkungan sebagai sumber daya merupakan asset yang dapat diperlukan
untuk mensejahterakan masyarakat. Hal ini sesuai dengan perintah Pasal 33 ayat (3)
UUDNRI tahun 1945 yang menyatakan bahwa, bumi, air dan kekayaan alam
terkandung di dalamnya di pergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Mengenai lingkungan hidup Leden Merpaung mengatakan :
Lingkungan hidup adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam
ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita. Secara teoritis
ruang tersebut tidak terbatas jumlahnya, namun secara praktis ruang itu selalu
diberi batas menurut kebutuhan yang dapat ditentukan, misalnya jurang,
sungai, atau laut, faktor politik atau faktor lainnya. Jadi lingkungan hidup
harus diartikan luas, yaitu tidak hanya lingkungan fisik dan biologi, tetapi juga
lingkungan ekonomi, sosial, dan budaya.23
Undang-Undang No. 23 Tahun 1977 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 1 butir 1 yang berlaku sebelumnya merumuskan pengertian lingkungan hidup
adalah “kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan
dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain”.
23
Leden Merpaung, 1997, Tindak Pidana Lingkungan Hidup dan Masalah Prevensinya,
Sinar Grafika, Jakarta, h.5.
36
Perkembangan selanjutnya setelah berlakunya UUPPLH, tidak terdapat
perbedaan yang mendasar, karena dalam Pasal 1 butir 1 UUPPLH disebutkan bahwa :
“lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu
sendiri, kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lainnya”.
Manusia memerlukan lingkungan sosial yang serasi demi kelangsungan hidup.
Lingkungan sosial yang serasi itu bukan hanya di butuhkan oleh orang seorang,
melainkan juga oleh seluruh orang dalam kelompoknya.24
Adapun komponen pokok lingkungan sosial dalam rangka pengelolaan
lingkungan, antara lain :
a.
Pengelompokan sosial
Berbagai
macam
cara
orang
membentuk
persekutuan
atau
pengelompokan sosial. Adapun yang paling sederhana adalah yang di
landasi hubungan kekerabatan, seperti keluarga inti atau batih, marga,
suku bangsa dan lain-lain. Akan tetapi karena mobilitas manusia yang
tinggi, banyak orang yang berasal dari satu kelompok keturunan tersebar
luas dan mendirikan pemukiman secara terpisah dan berjauhan.
Terjadinya pembentukan kesatuan sosial yang berdasarkan hubungan
kerabat sekaligus atas dasar kebersamaan lingkungan pemukiman.
24
Supriadi, 2010, Hukum Lingkungan Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, h.4.
37
b.
Penataan sosial
Penataan sosial sangat diperlukan untuk mengatur ketertiban hidup dalam
bermasyarakat yang mempersatukan lebih dari satu orang. Setiap orang
harus jelas kedudukannya dan peran-peran yang harus dilakukan, dan
mengetahui apa yang harus diberikan dan apa yang dapat diharapkan dari
pihak lainnya. Dengan demikian setiap anggota dapat memperkirakan
sikap dan tindakan anggota lain serta cara menanggapinya secara efektif,
sehingga mewujudkan hubungan sosial yang selaras, serasi, dan
seimbang.
c.
Media sosial
Untuk menggalang kerja sama mempersatukan sejumlah orang,
diperlukan media baik yang berupa simbol-simbol maupun kepentingankepentingan yang tidak mungkin di kerjakan sendiri-sendiri secara
terpisah. Kepentingan bersama itu pada umumnya berkisar pada upaya
memenuhi kebutuhan hidup biologis, sosiologis, maupun kejiwaan.
d.
Pranata sosial
Suatu kesatuan sosial, betapapun kecilnya, memerlukan aturan-aturan
sebagai pedoman bersama dalam mengembangkan sikap menghadapi
tantangan dalam kehidupan bersama. Kebanyakan pranata sosial di
kembangkan atas dasar kepentingan pengusaha lingkungan pemukiman
yang amat penting artinya bagi kelangsungan hidup masyarakat yang
bersangkutan. Mereka tidak mempunyai hak dan kewajiban yang atas
38
penguasaan sumber daya alam secara perorangan maupun kolektif, seperti
hak adat dan hak ulayat.
e.
Pengendalian dan pengawasan sosial
Setiap kesatuan sosial mengembangkan pola-pola dan mekanisme
pengendalian yang sampai batas tertentu sangat efektif. Akan tetapi,
dengan perluasan jaringan sosial yang semakin luas kompleks serta
melibatkan banyak orang yang mempunyai latar belakang sosial, budaya,
ekonomi, maupun kesatuan dan agama, pengendalian dan pengawasan
sosial setempat itu terasa semakin kurang memadai. Sementara itu,
berbagai pranata dan perundangan yang bersifat nasional selain kadangkadang bertentangan dengan pranata sosial setempat, sering kali diartikan
secara berbeda oleh masyarakat karena mengacu pada adat dan tradisi
masing-masing kelompok.
f.
Kebutuhan sosial
Lingkungan sosial itu terbentuk karena di dorong oleh keinginan manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan, kebutuhan yang mendasar
dan sederhana seperti makanan harus dipenuhi dengan melibatkan pihak
lain. Kebutuhan mendasar mencakup kebutuhan dasar biologis,
kebutuhan sosial dan kebutuhan kejiwaan. Kebutuhan dasar biologis
meliputi makan, minum, seks dan reproduksi, mempertahankan diri,
kesehatan, dan sebagainya. Kebutuhan sosial, antara lain mencakup
kebutuhan untuk hidup bersama secara harmonis, kelompok sosial,
39
keteraturan, ketertiban dan sebagainya. Kebutuhan kejiwaan mencakup
kebutuhan akan etika, moral, keindahan, hiburan, dan sebagainya.25
2.3.2. Tindak Pidana Lingkungan Hidup
Tindak pidana lingkungan hidup adalah suatu perbuatan yang dilakukan
dengan sengaja maupun tidak disengaja yang dapat menimbulkan kerusakan maupun
pencemaran terhadap lingkungan hidup serta melanggar ketentuan-ketentuan atau
aturan-aturan yang mengatur mengenai lingkungan hidup. Tindak pidana lingkungan
hidup yang dimaksud adalah pencemaran dan perusakan lingkungan yang diatur
dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan
Hidup (UUPPLH).
Ruang lingkup tindak pidana yang diatur dalam UUPPLH diatur dalam Bab
XV meliputi :
1) Sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu
udara ambient, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku mutu
kerusakan lingkungan hidup. Delik dolusnya diatur dalam Pasal 98 (1)
UUPPLH dengan ancaman pidana penjara minimal 3 tahun, maksimal 10
tahun, dan denda minimal Rp 3 miliar, maksimal Rp 10 miliar yang dapat
diperberat apabila mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan
manusia (ayat 3). Delik culpanya diatur dalam Pasal 99 ayat (1) UUPPLH
dengan ancaman pidana penjara minimal 1 tahun maksimal 3 tahun, dan
denda minimal Rp 1 miliar, maksimal Rp 3 miliar yang dapat diperberat
25
Ibid, h.17-20.
40
apabila mengakibatkan orang luka dan / atau bahaya kesehatan manusia (ayat
2) atau mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia (ayat
3).
2) Melanggar baku mutu air, limbah, baku mutu emis, atau baku mutu gangguan.
Diancam dengan pidana penjara maksimal 3 tahun dan denda maksimal Rp 3
miliar (PAsal 100 ayat 1 UUPPLH). Menurut ayat (2) pidana dalam ayat (1)
hanya dapat dikenakan apabila sanksi administratif yang telah dijatuhkan
tidak dipatuhi atau pelanggaran dilakukan lebih dari satu kali.
3) Melepaskan dan/atau mengedarkan produk rekayasa genetik ke media
lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
atau izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf g
UUPPLH. Ancaman pidana penjara minimal 1 tahun maksimal 3 tahun dan
denda minimal Rp 1 miliar maksimal Rp 3 miliar (Pasal 101 UUPPLH).
4) Melakukan pengelolaan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) tanpa izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (4) UUPPLH. Dipidana dengan
pidana penjara minimal 1 tahun maksimal 3 tahun dan denda minimal Rp 1
miliar maksimal Rp 3 miliar (Pasal 102 UUPPLH).
5) Menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 UUPPLH. Dipidana dengan pidana penjara 1 tahun
maksimal 3 tahun dan denda minimal Rp 1 miliar maksimal Rp 3 miliar (Pasal
103 UUPPLH).
41
6) Melakukan dumping (pembuangan) limbah dan/atau bahan ke media
lingkungan hidup tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 UUPPLH.
Dipidana penjara maksimal 3 tahun dan denda Rp 3 miliar (Pasal 104
UUPPLH).
7) Memasukkan limbah kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud Pasal 69 ayat (1) huruf c UUPPLH. Dipidana dengan
pidana penjara minimal 4 tahun, maksimal 12 tahun, dan denda minimal Rp 4
miliar, maksimal Rp 12 miliar (Pasal 105 UUPPLH).
8) Memasukkan limbah B3 kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud Pasal 69 ayat (1) huruf d. Dipidana dengan
pidana penjara minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun, dan denda minimal Rp 5
miliar, maksimal Rp 15 miliar (Pasal 106).
9) Memasukkan limbah B3 kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud Pasal 69 ayat (1) huruf b UUPPLH.
Dipidana dengan pidana penjara minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun, dan
denda minimal Rp 5 miliar, maksimal Rp 15 miliar (Pasal 107 UUPPLH).
10) Melakukan pembakaran lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1)
huruf h UUPPLH. Dipidana dengan pidana penjara minimal 3 tahun,
maksimal 10 tahun, denda minimal Rp 3 miliar, denda maksimal Rp 10 miliar
(Pasal 108 UUPPLH).
11) Melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) UUPPLH. Dipidana
42
dengan pidana penjara minimal 1 tahun, maksimal 3 tahun, denda minimal Rp
1 miliar, dan denda maksimal Rp 3 miliar (Pasal 109 UUPPLH).
12) Menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf I UUPPLH. Dipidana
dengan pidana maksimal 3 tahun dan denda maksimal Rp 3 miliar (Pasal 110
UUPPLH).
13) Pejabat memberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan tanpa
dilengkapi dengan amdal atau UKL-UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal
37 ayat (1) UUPPLH. Dipidana dengan pidana penjara 3 tahun dan denda Rp
3 miliar (Pasal 111 UUPPLH).
14) Pejabat berwenang yang dengan sengaja tidak melakukan pengawasan
terhadap ketaatan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan terhadap
peraturan perundang-undangan dan izin lingkungan sebagaimana dimaksud
Pasal 71 dan Pasal 72 UUPPLH, yang mengakibatkan terjadinya pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan yang mengakibatkan hilangnya nyawa
manusia. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda
paling banyak Rp 500 juta (Pasal 112 UUPPLH).
15) Memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi,
merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar yang
diperlukan dalam kaitannya dengan pengawasan dan penegakan hukum yang
berkaitan
dengan
perlindungan
dan
pengelolaan
lingkungan
hidup
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf j UUPPLH. Dipidana
43
dengan pidana penjara maksimal 1 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar
(Pasal 113 UUPPLH).
16) Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak melaksanakan paksaan
pemerintah. Dipidana dengan pidana penjara maksimal 1 tahun denda
maksimal Rp 1 miliar (Pasal 114 UUPPLH).
17) Sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau menggagalkan pelaksanaan
tugas pejabat pengawas lingkungan hidup dan/atau pejabat penyidik pegawai
negeri sipil. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun dan denda
paling banyak Rp 500 juta (Pasal 115 UUPPLH).
Semua tindakan pidana tersebut, menurut Pasal 97 UUPPLH adalah
merupakan “kejahatan”. Ada dua macam delik yang diperkenalkan dalam UndangUndang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yaitu delik materiil
(generic crimes) dan delik formil (specific crimes). Delik materiil (generic crimes)
merupakan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan pencemaran atau
perusakan lingkungan hidup. Delik formil (specific crimes) diartikan sebagai
berbuatan yang melanggar aturan-aturan hukum administrasi. Oleh karena itu, delik
formil dikenal juga sebagai Administrative Dependant Crimes.
Download