DAMPAK PERNIKAHAN PEREMPUAN HAMIL TERHADAP

advertisement
DAMPAK PERNIKAHAN PEREMPUAN HAMIL
TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA
(Studi Kasus di Desa Ngabul Tahunan Jepara)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata Satu (S-I)
Dalam Ilmu Syari’ah dan Hukum Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah
Disusun Oleh:
ANISATUL MAR’AH
NIM: 1211012
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM UNIVERSITAS
ISLAM NAHDLATUL ULAMA’ (UNISNU)
JEPARA
2015
PERNYATAAN KEASLIAN
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, saya Anisatul Mar’ah Nim:
1211012, menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini:
1. Seluruhnya merupakan karya saya sendiri dan belum pernah diterbitkan
dalam bentuk dan untuk keperluan apapun
2. Tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain kecuai informasi
yang terdapat dalam refrensi yang dijadikan rujukan dalam penulisan skripsi
ini,
Saya bersedia menerima saksi dari fakultas apabila di kemudian hari ditemukan
ketidak benaran dari pernyataan ini.
Jepara,18 September 2015
Penulis
ANISATUL MAR’AH
NIM: 1211012
iii
MOTTO
ُّ ‫الد نْ يَا َمتَاعٌ َو َخ ْي ر َمتَ ِاع‬
ُّ
‫الصالِ َحة‬
َّ ‫الدنْ يَا ال َْم ْرأَة‬
Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah
istri sholehah. (HR.Muslim).1
1
M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Muslim, (Jakarta, Gema Insani, 2005), hal.
375.
iv
PERSEMBAHAN
Sekripsi ini saya persembahkan :
 Kepada kedua orang tua saya Bapak Suwono, dan ibu
Siti Masni, Mertua saya Bp Sukardi (alm) dan ibu
Mastiyah.
 Suami saya Ahmad Fauzi.
 Keluarga Besar saya yang selalu mendukung, kakak,
Nenek, Saudara-Saudara, dan tetangga yang saya sayangi
dan cintai.
 Temen-teman: Agnia yuniska, Angraini ishidayati,
Laelatul khasanah, Titiana, Dafit Hidayah, Fadhilatus
sa’idah. Ela Rofiana. Yang selalu bersama sama dalam
membut tugas, dan mensuport satu sama lain teman deket
saya Ema Lutfiana dan Selfi nufita N.
 Tidak lupa dengan teman satu kelas fakultas syari’ah dan
ilmu hukum 2011.
v
ABSTRAK
Anisatul Mar’ah, Nim : 1211012. Mahasiswa jurusan Ahwal Al-Syakhsiyyah
Fakultas Syari’ah Universitas Islam Nadhdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, judul
skripsi : “ Dampak Pernikahan Perempuan Hamil Terhadap Keharmonisan
Keluarga”
Tujuan dari peneliti ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis
keharmonisan keluarga menurut Permpuan hamil. Permasalahan peneliti ini adalah,
faktor terjadinya perempuan hamil, dan dampak pernikahan perempuan hamil
terhadap keharmonisan keluarga. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field
research). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menggunakan
wawancara, dokumentasi dan observasi.
Berdasarkan pembahasan yang telah penyusun kemukakan di atas, dapat
ditarik kesimpulan bahwa keharmonisan keluarga menurut Perempuan hamil
adalah bahagia bersama, berhias kasih sayang sesama suami dan anak-anaknya.
Mereka senang dan bahagia ketika kedatangan seorang anak yang dilahirkan,
mereka sangat menyayagi anak dan istrinya dengan sepenuh hati. Tentang masalah
ekonomi mereka menerima apa adanya jerih payah suami yang dihasilkannya.
faktor terjadinya perempuan hamil adalah dengan berpacaran, berpacaran adalah
tindakan yang jelas-jelas membuka lahan subur untuk melakukan kemaksiatan,
apalagi dengan adanya saling pandang memandang, merba dan saling berpelukan,
maka perbuatan itu sungguh dekat dengan perzinaan.
vi
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Sholawat beserta salam kami haturkan kepada Nabi
Muhammad SAW, semoga kita mendapat syafaatnya, amin.
Skripsi ini disusun untuk melengkapi sebagai persyaratan mencapai gelar
Sarjana Strata Satu (S1)
pada program studi ahwal al-Syakhsiyah, Fakultas
Syaria’ah dan Hukum. Maka dengan selesainya skripsi ini penulis telah melakukan
usaha secara maksimal, sehingga usaha ini tidak akan berarti tanpa adanya bantuan
dari berbagai pihak, baik berupa bantuan moral maupun spiritual. Oleh karena itu
penulis mengucapkan trima kasih atas bantuan. Bimbingan dan saran serta kebaikan
yang tidak ternilai harganya. Untuk itu, iringan dengan do’a dan ucapan trimakasih
penulis sampaikan kepada”
1. Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan karunia-Nya.
2. Nabi Muhammad SAW yang telah membawa islam untuk kemaalahatan
hidup manusi, dan penulis nantikan syafa’atnya.
3. Bapak Prof. Dr. KH. Muhtarom HM. Selaku rektorat UNISNU Jepara.
4. Dekan Fakultas UNISNU Jepara Bapak Drs. HA. Barowi TM., M.Ag.
5. Ibu Mayadina Rahmi Musfiroh, S.HI, MA selaku Dosen pembimbing yang
dengan sabar dan ketelitannya telah memberikan pengarahan dan perbaikan
yang berguna bagi terwujudnya skripsi ini.
6. Segenap para bapak/ ibu dosen Fakultas Syari’ah dan segenap karyawan
Universitas Islam Nahdlotul Ulama (UNISNU) Jepara.
7. Segenap para bapak/ ibu pegawai Balaidesa Ngabul yang sudah
memberikan izin dan membantu memberikan arahan arahan sehingga
penulis skripsi berjalan lancer.
8. Kedua orang tua yang selau mendo’akan dan memberi dukungan sehingga
penulis skripsi berjalan lancer.
vii
9. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung yang telah
membantu peneliti dalam menyusun dan menyelesaikan penulisan skripsi.
Kepada semua pihak yang telah peneliti sebutkan diatas, peneliti merasa
berhutang budi, namun peneliti tidak dapat membalas apa-apa, hanya mengucapkan
trima kasih dan berrdo’a semoga ama baik dapat di trima sebagai amal sholih disisi
Allah SWT.
Akhirnya kepada semua pihak. Peneliti mengharapakan saran dan kritik
yang membangun guna mengarah kepada kesempurnaan skripsi ini.
Jepara,18 September 2015
Penulis
Anisatul Mar’ah
Nim . 1211012
viii
DAFRAT ISI
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………i
HALAMAN NOT PEMBIMBING ………………………………………. ……ii
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………..…………………...iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN……………………………………iv
HALAMAN MOTTO ………………………………………………........... …....v
HALAMAN PERSEMBAHA …………………………..……………………...vi
HALAMAN ABSTRAK ………………………………………………….. …...vii
KATA PENGANTAR …………………………………………….. …………..viii
BAB I
: PENDAHULUAAN
A. Latar belakang masalah …………………………………………….1
B. Penegasan Judul ……………………………………………............6
C. Rumusan Masalah ……………………………………………........7
D. Tujuan Penelitian …………………………………………………..7
E. Manfaat Penelitian ……………………………………………........7
F. Telaah Pustaka …………………………………………………......8
G. Metode Penelitian ……………………………………………........14
H. Sistematika Penulisan Skripsi …………………………………….16
BAB II : LANDASAN TEORI
A. Pengertian keluarga sakinah……………………………………….19
B. Tujuan keluarga dalam islam ……………………………………...23
C. Dasar umum perkawinan
1. Pengertian Pernikahan ………………………………………..28
ix
2. Hukum Pernikahan …………………………………………...34
3. Tujuan pernikahan ………………………………………........38
4. Syarat-Syarat Dan Rukun Pernikahan ………………………..42
5. Hukum Pernikahan Wanita Hamil ……………………………47
BAB III : KAJIAN OBYEK PENELITI
A. Data Umum
1. Letak Geografis Desa Ngabul ………………………………….50
2. Sejarah Desa Ngabul……………………………………………53
3. Keadaan Sarana Prasarana Desa Ngabul ………………………57
4. Misi dan Visi Desa Ngabul …………………………………….58
B. Data Khusus
1. Pandangan
Perempuan
Hamil
Terhadap
Keharmonisan
Keluarga………………………………………………………...60
2. Faktor
Penyebap
Pernikahan
Perempuan
Hamil
………………………………………………………………….62
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Analisis
Faktor
Penyebap
Pernikahan
Perempuan
Hamil
……………………………………………………………………...64
B. Analisis
Dampak
Pernikahan
Perempuan
Hamil
Terhadap
Keharmonisan Keluarga …………………………………………...68
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………….75
B. Saran ………………………………………………………………76
C. Penutup ……………………………………………………………76
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Perkawinan merupakan salah satu sunnatullah yang berlaku pada
semua makhluk Tuhan, baik pada manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.
Perkawinan merupakan cara yang dipilih Allah sebagai jalan bagi manusia
untuk beranak pinak, berkembang biak, dan melestarikan hidupnya, setelah
masing-masing pasangan siap melakukan peranan yang positif dalam
mewujudkan manusia seperti makhluk lainnya yang hidup bebas mengikuti
naluri dan berhubungan secara anarkhi tanpa aturannya. Demi menjaga aturan
allah mengadakan hukum sesuai dengan martabatnya, sehingga hubungan
antara laki-laki dan perempuan diatur secara terhormat dan saling
menghormati.1
Al–Quran menjelaskan bahwa hidup berpasang-pasangan, hidup
berjodoh-jodohan adalah naluri segala makhluk Allah, termasuk manusia,
sebagimana firman Nya dalam surat Az-Zariyat ayat 49 :
ِ ْ ‫وِم ْن ُك ِّل َشي ٍء َخلَ ْقنَا َزْو َج‬
‫ْي لَ َعلَّ ُك ْم تَ َذ َّك ُرو َن‬
َ
ْ
“ Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya
kamu mengingat akan kebesaran Allah SWT”.2
1
2
Abdul Rohman Ghozali, Fikih Munakahat, ( Jakarta: Kencana, 2010), hal. 11.
Mentri Agama, Al-Quran dan Terjemah, (Jakarta: Umum Al-Mujamma’, 1971), hal.
49.
1
2
Dari makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT berpasang-pasangan.
Allah SWT menciptakan manusia menjadi berkembang biak dan berlangsung
dari generasi ke generasi berikutnya, sebagaimana tercantum dalam surat AnNisa’ ayat 1:
ِ َّ
ِ‫سو‬
َّ َ‫اح َدةٍ َو َحلَ َق ِمْن َها َزْو َج َها َوب‬
ً‫ث ِمْن ُه َما ِر َجاال‬
َ ِ ‫اس اتَّ ُقوا َربَّ ُك ُم الذى َخلَ َق ُكم ِّم ْن نَّ ْف‬
ُ َ‫يَاأَيُّ َها الن‬
‫ َواأل َْر َح َام اِ َّن اهللَ َكا َن ََلَْْ ُك ْم َر قِْْبًا‬،‫ َواتَّ ُقوا اهللَ الَّ ِذى تَ َساءَ لُو َن بِِه‬,ً‫كثِ ًريا َّونِ َسآء‬
“wahai manusia! Bertakwalah kepada tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dari diri satu (Adam), dan (Allah) menciptakan
pasanganya (Hawa) dari (diri) nya; dan dari keduanya allah
memperkembangbiakkan lali-laki dan perempuan yang banyak.
Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling
meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargan keharmonian.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasinyawahai
manusia!, bertakwalah kepada tuhanmu Tuhanmu yang telah menci”.
(Qs An-Nisa’:1).3
Islam mengatur manusia dalam hidup berjodoh-jodohan itu melalui
jenjang perkawinan yang ketentuannya di rumuskan dalam wujud aturan-aturan
yang disebut hukum perkawinan. Hukum islam juga diterapkan untuk
kesejahteraan umat, baik secara perorangan maupun secara bermasyarakat,
baik untuk hidup didunia maupun akhirat.
Kesepakatan imam mazhab bahwa nikah adalah suatu ikatan yang
dianjurkan syari’at.Untuk menghindari perbuatan zina maka bagi yang sudah
3
An Nisa’, (1).
3
berkeinginan untuk nikah sangat dianjurkan untuk melaksanakan nikah. Yang
demikian adalah lebih utama dari pada haji, sholat, jihad dan puasa sunnah.4
Tujuan pernikahan dalam islam tidak hanya sekedar pada pemenuhan
nafsu biologis atau pelampiasan nafsu seksual, tetapi memiliki tujuan-tujuan
penting yang berkaitan dengan sosial, psikologi, dan agama.5
Dalam buku
fikih
Munakahat
menurut
Zakiyah Drajat dkk.
Mengemukakan lima tujuan dalam perkawinan:6
1. Mendapatkan dan melangsungkan perkawinan.
2. Memenuhi
hajat
manusia
menyalurkan
syahwatnya
dan
menumpahkan kasih sayangnya.
3. Memenuhi panggilan agama, memelihara diri dari kejahatan dan
kerusakan.
4. Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima
hak serta kewajiban, juga bersungguh-sungguh untuk memperoleh
harta kekayaan yang halal.
5. Membangun rumah tangga untuk membentuk masyarakat yang
tentramatas dasar cinta dan kasih sayang.
Perkembangan zaman yang semakin canggih, semakin mendukung
untuk terjadinya kehamilan diluar nikah bukan lagi hal aneh untuk didengar.
Pergaulan bebas tersebut sebagai pengaruh dari kemajuan zaman dimana dua
Syaikh Al-allamah Muhammad bin ‘abdurrahman Ad-Dimasqi, fiqih empat mazhab,
(Bandung: Hasim, 2012), hal. 318.
5
Azam Abdul Azis Muhammad, Hawwas abdul Wahhab Syyed, fiqih munakahat
Khitbah,Nikah, Talak, (jakartam: Amzah, 2014), hal. 39.
6
Tihami, Saharani Sohari, Fikih Munkahat (Kajian Fikih Nikah Lengkap). (Jakrta: PT
Rajagrafindo Persado. 2010), hal. 15.
4
4
orang berlawanan jenis tidak malu duduk berduaan, gandengan tangan dan
sebagainya. Pergaulan tersebut kadang berjuang pada persetubuhan di luar
nikah yang mengakibatkan kehamilan. Padahal kehamilan di luar nikah adalah
sebuah aib yang harus ditutupi, maka salah satunya adalah dengan menikahkan
wanita yang hamil tersebut.
Yang dimaksud dengan kawin hamil disini ialah kawin dengan
seorang wanita yang hamil diluar nikah, baik dikawini oleh laki-laki yang
menghamilinya maupun laki-laki yang bukun menghamilinya.7
Dalam hal mengawini perempuan hamil karena zina ulama berbeda
pendapatdalam menetapkan hukumnya. Ulama Hanafiyah, Syafi’iyah dan
Zahiriyah mengatakan bahwa, perempuan hamil karena zina boleh dikawini
tanpa menunggu kelahiran sibayi yang dikandungnya, sedangkan menurut
ulama Malikiyah dan Hambali mengatakan perempuan hamil karena zina tidak
boleh dikawini setelah ia melahirkan anaknya.8
Tidak pantas seorang pria yang beriman kawin dengan seorang wanita
yang berzina. Demikian sebaliknya Hadis Nabi berkata:
ٍ ‫ال يَا َر ُس ْو َل اللّ ِه اَ َّن ْامَراَتِى الَ تَْنَ ُ يَ َد الَ ِم‬
ِِّّ ِ‫ال فَا‬
َ َ‫ال لَلِّ ْق َها ق‬
َ َ‫س ق‬
َ ‫َِّب صلعم فَ َق‬
َّ ِ‫اَ َّن َر ٌجالً اَتَى الن‬
َِ ‫اُ ِحب ها و ِهى‬
‫ال اِ ْستَ ْمتِ ْع ِِبَا‬
َ َ‫َجْْ لَةٌ ق‬
َ َ َُ
“Sesungguhnya
seorang
laki-laki
mengawini
seorang
wanita,
ketika
ia
mencampurinya
ia
mendapatkanya
dalam keadaan hamil, lalu dia laporkan kepada Nabi
SAW.
Kemudian
Nabi
menceraikan
keduanya
dan
wanita itu diberi maskawin, kemudian wanita itu didera
(dicambuk) sebanyak 100 kali.”.9
7
Abdul Rohman Ghozali, op. cit, hal. 124.
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: kencana, 2011),hal.
8
132.
9
Ibid., hal. 126.
5
Dalam Kompilasi Hukum Islam, masalah kawin hamil dijelaskan dalam
pasal 53 yang berbunyi:10
a). Seorang wanita hamil diluar nikah dapat dikawinkan dengan pria
yang menghamilinya.
b). Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat
dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
c). Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak
diperlukannya perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Perkawinan adalah makna dan jiwa dari kehidupan berkeluarga
dengan membina cinta kasih sayang yang penuh romantika dan kedamaian,
berdasarkan firman Allah swt:
ِ
َّ ‫ ُه َّن لِبَا‬...
..........‫س ََّّلُ َّن‬
ُ ‫س ل ُكم َوأَ نتُم لبَا‬
ُ
“Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi
mereka………..” (QS Al- Baqarah (2):187.11
Sementara itu sesuai dengan perkembangan zaman dalam kehidupan
manusia itu sendiri, muncul permasalahan yang terjadi pada masyarakat yaitu
sering terjadinya pernikahan perempuan hamil.
Hal ini dapat dilihat dari masyarakat Ngabul yang bernuansa islam,
dengan adanya pernikahan perempuanHamil. Bertolak dari keterangan tersebut
peneliti mengangkat tema dengan judul “Dampak Pernikahan Perempuan
10
11
Kompilasi Hukum Islam, cetakan 3,(Bandung: Nuansa Aulia 2011), hal. 16.
Al-Baqarah (2): 187.
6
Hamil Terhadap Keharmonisan Keluarga (Studi Kasus Di Desa Ngabul
Tahunan Jepara)”.
B. Penegasan Judul
Untuk
menyeragamkan
dan
menghilangkan
kesalah
pahaman
penafsiran judul yang penulis menguraikan masing-masing istilah yang penulis
pakai dalam skripsi ini:
Dampak
: yaitu pengaruh kuat yang mendatangkan akibat (baik
positif maupun negatif).12
Pernikahan
: membentuk keluarga dengan lawan jenis, bersuami atau
istri.13
Perempuan
: orang atau manusia, menstruasi, hamil, melahirkan anak,
dan menyusui.14
Hamil
:yaitu mengandung janin dari Rahim karena sel telur
dibuahi oleh spermatozoa.15
Keharmonisan
: keadaan selaras, serasi16
Keluarga
: ibu dan bapak beserta anak-anaknya.17
Studi
: yaitu Studi kajian, telaah, penelitian atau penyelidikan
ilmiah.18
12
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indoneia,(Jakatra: Balai
Pustaka, ed 3,Cet 4, 2007), hal. 234.
13
Ibid., hal. 518.
14
Ibid., hal. 856.
15
Ibid,. hal. 385.
16
Ibid., hal. 534.
17
Ibid,. hal. 536.
18
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Indonesia,( Jakarta: Balai
Putaka, Cet.4,1993), hal. 860.
7
Kasus
: yaitu keadaan atau kondisi khusus yang berhubungan
dengan seseorang atau suatu hal.19
C. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian yang yang telah dikemukakan dalam uraian latar
belakang masalah diatas, maka kami sangat tertarik untuk membahas persoalan
di atas dengan permasalahan sebagai berikut.
1. Apa faktor penyebab pernikahan perempuan hamil di Desa Ngabul
Tahunan Jepara?
2. Bagaimana dampak dari pernikahan perempuan hamil terhadap
keharmonisan keluarga di Desa Ngabul Tahunan Jepara?
D. Tujuan penelitian
1. Untuk mengetahui faktor terjadinya pernikahan perempuan hamil di
Desa Ngabul Tahunan Jepara.
2. Untuk mengetahui dampak pernikahan perempuan hamil terhadap
keharmonisan keluarga di Desa Ngabul Tahunan Jepara.
E. Manfaat peneliti
Sebuah peneliti dikatakan berhasil dan bernilai tinggi apabila dapat
memberikan sumbangan yang cukup besar kepada masyarakat, bangsa dan
Negara.
Adapun manfaat dari hasil peneliti ini adalah:
1. Kegunaan teotitis
19
Deprtemen Pendidikan Nasional, op.cit, hal. 513.
8
a. Sebagai syarat memberoleh gelar sarjana strata satu (SI) pada
fakultas Syari’ah dan Hukum Unisnu Jepara
b. Memberikan
sumbangan
pemikiran
bagi
ilmu
pengetahuan
khususnya ilmu tentang pernikahan dan keharmonisan yang
termasuk dalam masalah keluarga.
c. Untuk dijadikan bahan dalam suatu penelitian yang lebih luas.
2. Kegunan Praktis
a. Guna mengembangkan penalaran dan membentuk pola pikir yang
dinamis serta untuk mengetahui kemampuan penulis dalam
menerapkan ilmu yang diperoleh.
b. Sebagai bahan informasi ilmiah dalam hukum dan menjadikan
pedoman bagi masyarakat yang memerlukan dalam pelaksanaan
pernikahan perempuan hamil.
F. Telaah pustaka
Berkenaan dengan pernikahan perempuan hamil mengatur literature
yang secara khusus membahas tentang dampak perkawinan perempuan hamil
terhadap keharmoisan keluarga, wanita hamil masih bersifat umum yang
tertulis dalam sub-sub bab, sebuah buku, atau kitab.
Dalam buku Fikih Islam (pedoman berkeluarga dalam islam) karangan
Dr. Ali Yusuf As-Subki menerangkan Islam mengajak manusia untuk hidup
dalam naungan keluarga, karena keluarga seperti gambaran kecil dalam
9
kehidupan stabil yang menjadi pemenuhan keinginan manusia, tanpa
menghilangkan kebutuhanya.20
Dalam buku Fiqih Islam karangan H. Sulaiman Rasjid, menerangkan
faidah dalam pernikahan ialah untuk menjaga dan memelihara perempuan yang
bersifat lemah dari kebinasaan.21
Kumpulan jurnal dan penelitian
Tabel 2.1
No
1
2
Nama
Ainul
Fadlilah
Judul
Status
Anak
Hasil
Dari
Perkawinan
Wanita Hamil
(Studi Hukum
Islam
Dan
Hukum Positif
di Indonesia)
Bentuk
Skripsi
mahasiswa
fakultas
syari’ah
UNISNU
Jepara
Acmad
Shoef
Studi Analisis
Anak Di Luar
Nikah
Di
Tinjau
Dari
Perspektif
Hukum Positif
Dan
Fiqih
Madzab
Skripsi
mahasiswa
fakultas
syari’ah
UNISNUJepa
ra
Tahun
Pembahasan
2013
Pada
skripsi
inimenjelaskan
tentang status
hukum
anak
dari
wanita
hamil di tinjau
dari
hukum
islam
dan
hukum positif
di Indonesia.
2008
Skripsi
ini
membahas
kedudukan
anak
diluar
nikah dan anak
yang
dikandung
sebelum akad
nikah ditinjau
dari
hukum
positif
dan
hukum islam
20
Ali Yusuf As-Subki, Fiqh Keluarga (Pedoman Berkeluarga Dalam Islam), (Jakarta:
Rineke cipta, 20009), hal, 356.
21
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru Gensindo,Cet 27,1994), hal. 375.
10
3
Arif
Hidayah
Iddah
Perempuan
Hamil Karena
Zina
Skripsi
mahasiswa
fakultas
syariah
UNISNUJepa
ra
2010
4
Umi Atik Pandangan
Rudziah
Masyarakat Di
Desa
Plajan
Terhadap
Pernikahan
Akibat Hamil
Pra_nikah
Skripsi
mahasiswa
Fakulsas
Syari’ah
UNISNUJepa
ra
2014
5
Dian
Eka Pernikahan
Kusuma
Laki-Laki
Wardani
Dengan
Wanita Hamil
di Luar Nikah
(
Studi
Deskriptif
Mengenai
Stigma
dan
Tindakan
Sosial
LakiLaki
yang
Menikahi
Jurnal
(Program
Studi
Sosiologi)
menurut fiqih
madzab.
Dalam skrispsi
ini
menjelaskan
dan
menganalisis
hukum
perempuan
hamil Karenna
zina
dan
kompilasi
hukum islam
Skripsi
ini
menjelaskan
tentang
praktek
pernikahan
akibat hamil
Pra
Nikah
yang terjadi di
Desa
Plajan
dan pandangan
masyarakat
mengenai
kepaksaan
akibat zina
Stigma yang di
berikan suami
kepada
istri
hamil di luar
nikah dengan
laki-laki dan
kemudian
dilanjutkan
dengan
tindakan sosial
yang dilakukan
suami kepada
istri
11
Wanita Hamil
Di Kawasan
Kota
Surabaya,
Jawa Timur)
Jurnal Hukum Jurnal
No. 1
6
Warastra
Karebet A
7
Eni Isnaini
8
Ishak
Tri Perkawinan
Skripsi
Nugraha
Wanita Hamil mahasiswa
Kedudukan
Hukum Bagi
Anak
Yang
Lahir Karena
Kawin Hamil
(MARRIED
BY
ACCIDENT)
Di Tinjau Dari
Hukum Islam
Dan Hukum
Perdata
2010
Jurnal
independent
dosen
fakultas
hukum
universitas
islam
lamongan
2014
Jurnal
ini
membahas
pandangan
hukum islam
tentang kawin
hamil,
mengenai
status anak dan
akibat hukum
yang
terjadi
terhadap anak
hasil zina yang
dilakukan
untuk
memberikan
perlindungan
hukum kepada
anak.
Skripsi
ini
menjelaskan
kedududukan
hukum
anak
yang
lahir
karena
perkawinan
dalam keadaan
hamil menurut
hukum islam
dan
KUH
Perdata
dan
akibat hukum
bagi anak yang
lahir.
Skripsi
ini
menjelaskan
12
Dalam Pasal Universitas
53 KHI
Islam Sunan
Kalijaga
Yogyakarta
9
Jalaludin
Studi
Perbandingan
Pendapat
Imam Maliki
Dan
Syafi’I
Tentang
Pernikahan
Wanita Hamil
Akibat
Zina
Dan
Relevansinya
di Indonesi
Skripsi
2010
mahasiswa
Universitas
Islam Negri
Sunan
Kalijaga
Yogyakarta
10
Margareth
Ingrid
Sonata
Pernikahan
Jurnal ilmiah 2014
Dini
Akibat Universitas
Kehamilan di Surabaya
Luar Nikah
tentang kawin
hamil dalam
KHI
dan
tinjauan
maqashid
syari’ah
terhadap
aturan hukum
kawin hamil
dalam pasal 53
khi.
Skripsi
ini
menjelaskan
sebab
terjadinya
perbedaan
pendapat
Madzhab
Maliki
dan
Syafi’I
terhadap
pernikahan
wanita hamil
karena
zina
dan
sejauh
mana relevansi
mereka tentang
pernikahan
wanita hamil
dalam konteks
masyarakat
islam
Isi dari jurnal
tersebut adalah
terjadinya seks
Pranikah
karena
kurangnya
afeksi yang di
dapatkan
13
11
12
Muhammad
Bahrul
Ma’ruf
Khoirina
Ulfa
Perkawinan
Wanita Hamil
(Studi
Komprasi
Menurut
Pendapat
Imam Syaf’i
Dengan Imam
Khanafi),
Studi Analisis
Tentang
Konsep
Keluarga
Sakinah
Menurut
Jama’ah
Tablig
Perspktif
Hukum Islam
Skripsi
mahasiswa
fakultas
syari’ah
Unisnu
Jepara
2013
Skripsi
mahasiswa
fakultas
syari’ah
Unisnu
Jepara
2011
remaja
dari
keluarga
akibatnya
individu akan
berusaha untuk
memenuhi
kebutuhanya.
skripsinya
menjelaskan
tentang hukum
pernikahan
menurut imam
Syafi’i
dan
Imam Hambali
disitu
menerangkan
tentang proses
terbentuknya
keluarga
sakinah
dan
ciri-ciri
keluarga
sakinah.
Sedangkan dalam skripsi ini penulis ingin menyampaikan tentang
dampak pernikahan perempuan hamil terhadap keharmonisan keluarga studi
kasus di desa Ngabul.
14
G. Metodelogi penelitian
Dalam menelusuri dan memahami objek kajian ini penyusun
menggunakan penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Dalam hal ini penulis menggunakan penelitian lapangan field
Research, yaitu terjun langsung kelapangan guna mendapatkan hasil
penelitian
pada
obyek
yang
dibahas.22Yang
dimaksud
yaitu
mempelajari secara intensif tentang latar belakang masalah sekarang,
dan interaksi suatu sosial, individu, kelompok, lembaga dan
masyarakat.
2. Sumber Data
Sumber data dari penelitian ini adalah sumber data primer dan
skunder. Sumber data primer yang dimaksud adalah sumber data
langsung yang ada dilapangan, sumber penelitian dilakukan dengan
cara melihat kondisi sosial dan struktur masyarakat.23
Sumber data skunder adalah data yang tak langsung yaitu dari hasil
penelitian, buku-buku, majalah, karya ilmiah, artikel, serta data yang
sudah ada dalam karya-karya skripsi.
3. Teknik pengumpulan data
Dalam
penelitian
ini
teknik
yang
diggunakan
dalam
pengumpulan data adalah:
22
Sutrisno Hadi, Metode Penelitian Research 1,(Yogyakarta: Yayasan Penelitian
Fakultas Psikologi UGM, 1981), hal. 4.
23
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, ( Yogyakarta: UI Press, 1986), hal.
12.
15
a) Wawancara ( interview)
Wawancara adalah merupakan studi tentang interaksi antara
manusia, sehingga merupakan alat sekaligus obyek yang mampu
mensosialisasikan kedua belah pihak yang mempunyai status yang
sama.24Sedangkan
wawancara
yang
penulis
gunakan
adalah
wawancara terarah dan terstuktur merujuk pada pertanyaan yang
sudah ditetapkan sebelumnya dengan katagori jawaban terbatas pada
setiap responden.25Wawancara dilakukan kepada perempuan Hamil.
b) Observasi
Merupakan kegiatan pemutusan perhatian terhadap suatu
obyek dengan menggunakan seluruh alat indra.26Observasi yang
penulisan lakukan adalah jenis observasi sistematis.Artinya penulis
mengamati
obyek
penelitan
dengan
menggunakan
instrumen.Dilakukan dengan mengamati atau mencermati perilaku
perempuan hamildesa Ngabul Tahunan Jepara.
c) Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu metode dengan cara menggali
kumpulan data variabel yang berupa catatan perkawinan di desa
Ngabul, baik yang berbentuk tulisan artifac foto, tape recorder dan
monument.27
24
Sedarmayanti, dkk, Metodelogi Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 2002), hal.
80.
25
Ibid., hal. 81.
Ibid., hal. 146.
27
Koenjtoroningrar, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: Gramedia, 1991),
26
hal. 46.
16
H. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai judul ini
adalah pokok isi dari penulis. Sistematika ini terdiri dari:
Bagian awal proposal berisi
1. Bagian muka, terdiri dari:
Halaman judul, halaman not pembimbing, halaman not pengesahan,
halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, halaman
daftar isi, halaman daftar lampiran.
2. Bagian isi
Pada bagian ini disusun beberapa bab, yaitu:
a. BAB I : pendahuluan terdiri dari
A. Latar Belakang Masalah
B. Penegasan Judul
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Metode Penelitian
F. Sistematika Penulisan Skripsi.
b. BAB II: LANDASAN TEORI
A. Pengertian Keluarga Sakinah.
B. Tujuan Keluarga Dalam Islam.
C. Dasar Umum Perkawinan.
1. Pengertian Pernikahan
2. Hukum Pernikahan
17
3. Tujuan pernikahan
4. Syarat-Syarat Dan Rukun Pernikahan
5. Hukum Pernikahan Wanita Hamil
c. BAB III : KAJIAN OBYEK PENELITI
A. Data Umum
1. Letak Geografis Desa Ngabul
2. Sejarah Desa Ngabul
3. Keadaan Sarana Prasarana Desa Ngabul
4. Misi dan Visi Desa Ngabul
B. Data khusus
1. Pandangan Perempuan Hamil Terhadap keharmonisan
Keluarga
2. Faktor Penyebap Pernikahan Perempuan Hamil di Desa
Ngabul.
d. BAB IV :ANALISIS DAMPAK PERNIKAHAN PEREMPUAN
HAMIL TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA DI DESA
NGABUL TAHUNAN JEPARA.
A. Analisis Faktor Terjadinnya Pernikahan Perempuan Hamil Di
desa Ngabul
B. Analisis Dampak Pernikahan Perempuan Hamil Terhadap
Keharmonisan Keluarga
e. BAB V: KESIMPULAN
A. Kesimpulan
18
B. Saran-saran
C. Sata penutup
3. Bagian Akhir terdiri dari:
Daftar Kepustakaan, lain-lain, Daftar riwayat pendidikan penulis.
BAB II
KONSEP KELUARGA SAKINAH DAN KETENTUAN UMUM TENTANG
PERNIKAHAN
A. Dasar Umum Keluarga Sakinah
1. Pengertian dan Dasar Hukum Keluarga Sakinah
Dalam literature Al-Quran keluarga di istilahkan dengan al-ahli (
‫ )االهل‬jamaknya Ahluna dan ahlal (‫ اهال‬،‫)أهلون‬, yang memiliki arti family,
keluarga dan kerabat, seperti terdapat dalam ayat dibawah ini :1
ِ َّ ِ‫و أْمر أَهلَك ب‬
‫اصطَِ ِْب َعلَْي َها‬
َ ْ ُْ َ
ْ ‫الصالَة َو‬
“Dan perintahkanlah kepada ahli (keluargamu) supaya
mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya
( QS Thaha (20):132.”
ِ َّ
‫ين َآمنُوا قُوا أَنْ ُف َس ُك ْم َوأ َْهلِي ُك ْم نَ ًارا‬
َ ‫يَا أَيُّ َها الذ‬
“Hai orang-orang yang beriman, “peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka.. (QS Al- Tahrim (66):6).”2
1
Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Isalm, ( Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2005), Hal. 15.
2
Mentri Agama, Al-Quran dan Terjemah, (Jakarta: Umum Al-Mujamma’, 1971), hal.
951.
19
20
Keluarga islam terbentuk dalam keterpaduan antara ketrentaman
(sakinah), penuh rasa cinta (mawadah) dan kasih sayang (rahmah). Ia
terdiri dari istri yang patuh dan setia, suami yang jujur dan tulus, ayah
yang penuh kasih sayang dan ramah, ibu yang lembut dan berperasaan
halus, putra putri yang patuh dan taat serta kerabat yang saling membina
silaturrahmi dan tolong menolong.3
Rumah tangga sakinah ialah suatu
rumah tangga
yang
penghuninya merasa di dalamnya seperti ikan dalam air untuk
mewujudkan rumah tangga sakinah diperlukan 9 tata hubungan yaitu: 4
1). Tata hubungan seks
2). Tata anak
3). Tata ekonomi rumah tangga
4). Tata rias
5). Tata ruang
6). Tata pekarangan
7). Tata busana
8). Tata masakan
3
Ibid., hal. 18.
M Leter, Tuntunan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencan, (Padang: Angkasa
Raya:1985), hal.11.
4
21
9). Tata ibadah
Rumah tangga mawaddah berarti hal-hal yang membangkitkan
kemauan, menimbulkan kehendak untuk memadu kasih sayang untuk
bercambu rayu akhirnya memadu hati dan jiwa. Sedangkan rumah tangga
rahmah berarti rasa saling menyatu antara suami istri dijalin oleh kasih
sayang yang bertolak dari batin dan tanggung jawab.
Keluarga sakinah merupakan keluarga yang selalu didamba oleh
setiap muslim, yakni keluarga yang bahagia berhias kasih sayang serta
mendapatkan limpahan rahmat dari sisi Allah Ar-Rahim sebagai mana
dijelaskan dalam surat Ar-Rum: 21:
ِ
ِ
ِِ ِ
‫اجا لِتَ ْس ُكنُوا إِلَْي َها َو َج ََ َل بَْي نَ ُك ْم َم َوَّ ًة‬
ً ‫َوم ْن آيَاته أَ ْن َخلَ َق لَ ُك ْم م ْن أَنْ ُفس ُك ْم أ َْزَو‬
ً‫َوَر ْْحَة‬
“ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya
kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang”.5
Ayat di atas menjelaskan bahwa di ciptakannya seorang istri bagi
suami adalah agar suami bisa hidup tentram bersama membina sebuah
keluarga.6
5
Al-Quran dan Terjemah, op. cit, hal. 644.
Nipan Abdul Halim, Membahagiakan Istri Sejak Malam Pertama, (Yogyakarta: Mitra
Pustaka,1999), hal. 12.
6
22
Kebahagiaan dan keharmoisan adalah nikmat luar biasa dalam
kehidupan rumah tangga. Setiap keluarga pasti mendambakannya dengan
di selimuti kebahagiaan dan keharmonisan akan terasa tentram dan damai.
Membangun rumah tangga harmonis harus dimulai sejak dini,
salah satunya adalah kecermatan dalam memilih pasangan. Tajamkan
mata, telinga, perasaan, pemahaman dan ilmu sebelum memilih pasangan.
Camkan baik-baik kriteria calon orang yang akan bersama-sama dengan
kita mengarungi bahtera keluarga.
Dalam menjalankan kehidupan keluarga, orang-orang shalih
sebelum kita memiliki catatan yang patut dijadikan contoh perjalanan
mereka
dipenuhi dengan
nilai-nilai
luhur
yang berujung pada
keharmonisan dan kebahagiaan. Seperti yang di katakana Ibnu Uyainah
ِ ِ ِ ِ ‫الذ ِّل ومن ذَ َه‬
َّ ِ ِ ِ ِ ‫َم ْن ذَ َه‬
‫ب إِ ََل‬
َ ‫ب إ ََل املَال اُبْتُل َي بال َفْ ِر َوَم ْن ذَ َه‬
َ ْ َ َ ‫ب إ ََل الَِّز اُبْتُل َي ب‬
َ
‫الدِّيْ ِن ََْي َم ُع اللّه لَهُ الََِّز َوامل َال َم َع الدِّيْ ِن‬
َ
“Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan, maka ia
akan hina. Siapa yang menikah karena mencari harta, maka ia
akan menjadi miskin. Namun, siapa yang menikah karena
agamanya, maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan
kehormatan disamping agama”.7
7
Abu Hudzaifah Ath-Thalibi, Kisah-kisah Keluarga Paling Romantis, (Nabawi: Solo,
2013), hal. 33.
23
2. Tujuan Keluarga Dalam Islam
Islam mendorong untuk membentuk keluarga. Islam mengajak
untuk hidup di naungan keluarga, karena keluarga seperti gambaran kecil
dalam kehidupan stabil yang menjadi pemenuhan keinginan manusia,
tanpa menghilngkan kebutuhannya.
Keluarga merupakan tempat fitrah yang sesuai dengan keinginan
Allah bagi kehidupan manusia sejak keberadaan klaifah, Allah berfirman:
ِ
ً‫اجا َوذُِّريَّة‬
َ ‫َولََْ ْد أ َْر َس ْلنَا ُر ُس ًال ِم ْن قَ ْبل‬
ً ‫ك َو َج ََ ْلنَا ََلُ ْم أ َْزَو‬
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul
sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri
dan keturunan”.(QS. Ar-Ra’d (13): 38).
Seseorang yang berfikir atas dorongan islam dalam mewujudkan
dan menginginkan berkeluarga, ia akan memperhatikan dengan penuh
kejelasan dan mendapatkannya tanpa letih terhadap berbagai tugas
terpenting, tujuan keluarga menurut islam diantaranya: 8
a) Kemuliaan keturunan
Berketurunan merupakan hal pokok. Oleh karena itu
yang di maksudkan ialah menjaga keturunan dan melestarikan
jenis manusia di dunia. Sesungguhnya syahwat diciptakan
sebagai alat pendorong, seperti yang disamakan pada binatang
8
Ali Yusuf As-Subki, Fikih Keluarga (Pedoman Keluarga
Amzah, 2010), hal. 24.
Dalam Islam), (Jakarta:
24
jantan dengan mengeluarkan benih. Sedangkan pada betina
menjadi tempat penyimpanan hasil olahan keduanya secara
lembut dan sebagai perantara mendapatkan anak dengan sebab
bersenggama.
Kekuatan yang kekal bukan ketidak mampuan dari
penemuan individu-individu yang bermula dengan tanpa
pengolahan dan berpasangan. Akan tetapi, hikmah terpenuhinya
penyebab atas sebab kebersamaan dan kemampuannya yaitu
dengan memperlihatkan kekuatan, menyempurnakan keajaiban
pembentukan, mencapai keinginan terlebih dahulu, tercapai
dengan kata-kata yang benar.
b). Menjaga diri dari setan
Kemampuan seksual yang diciptakan pada manusia,
laki-laki dan perempuan untuk mencapai tujuan yang mulia yaitu
berketurunan, beranak, memperbanyak anak dengan melanjutkan
keturunan jenis manusia.
Disyariatkan pernikahan dan berkeluarga, pernikahan
menjadi sarana, keluarga menjadi wadh syar’i yang bersih,
langgeng, dan tetap untuk menghadapi kemampuan dan
melaksanakan pada tempat yang benar dan mengarahka pada
jalan yang benar.
25
Hubungan seksual yang diperintahkan antara suami dan
istri dapat menjaga dirinya dari tipu daya setan, melemahkan
keberingasan,
mencegah
keburukan-keburukan
syahwat,
memelihara pandangan, dan menjaga kelamin. Nabi bersabda:
ِ ِ َّ ِ‫ َعلَْي ُكم بِالْباءةِ فَ ْليتَ َزَّو ْج ومن ََلْ يستَ ِط ْع فَ ََلَْي ِه ب‬...
ْ َ ْ ََ َ َ َ ْ
ُ‫الص ْوِ فَ نَهُ لَهُ ِو َجاء‬
“Bagai kalian yang memiliki kemampuan untuk
menikah maka menikahlah, barang siapa yang tidak
mampu menikah maka berpuasalah, karena puasa itu
sebagai penawar”.
c). Bekerja sama dalam menghadapi kesulitan hidup.
Ikatan pernikahan adalah ikatan selamanya. Oleh karena
itu, pernikahan tidak terbatas karena suatu hal yang terhenti
karenanya, pernikahan membentuk keluarga selamanya. Tujuan
keluarga
adalah
keteguhan
dan
ketenangan,
meskipun
ketenangan menjadi tujuan pada satu sisi, ia juga menjadi
perantara pada sisi lain. Karena tujuan berketurunan tidak
tercapai tanpa kelanggengan dan kasih sayang antar suami istri.
Kehidupan esok tidak mungkin tercapai tanpa keteguhan.
Seorang laki-laki yang bekerja keras, bersungguhsungguh berperang dan berdamai. Ia tidak mungkin mengerjakan
hal-hal tersebut menurut pandangan yang benar tanpa seorang
istri
shalehah
bersamanya,
mengiringinya,
membantunya,
26
bekerja sama dengannya, mengembirakannya meringankan
kesedihannya, memperhatikan rumah istri dan anak-anaknya.
Nabi bersabda:
ِ
َّ ‫َع ْن َعْب ِد اهلل بْ ِن َع ْم ٍر َر ِضي اهلل َعْن ُه َما أ‬
‫صلَّى اهللُ َعلَْي ِه َو َسلَّ َم‬
َ ‫َن َر ُس ْو ُل اهلل‬
َ
ِ ‫الص‬
‫اِلَة‬
َّ ُ‫ الدُّنْيَا َمتَاعُ َو َخْي ُر َمتَ ِاع الدُّنْيَا الْ َم ْرأَة‬: ‫قَ َال‬
“ Abdullah bin Amru r.a. meriwayatkan bahwa
Rasulullullah bersabda, dunia adalah tempat
kesenangan dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah
istri yang salehah”9
Oleh karena itu, bekerja sama dalam menanggung
berbagai beban hidup antara suami istri termasuk salah satu
tujuan keluarga dalam islam.
d). Menghibur jiwa dan menenangkan dengan bersama-sama
Sesungguhnya keamanaan jiwa dan ketenangan dengan
bersama-sama, memandang dan bermain-main, menyegarkan
hati, dan menguatkannya untuk beribadah sebagai sesuatu yang
diperintahkan.
Jiwa yang gelisah menjadi enggan pada kebenaran
karena kebenaran berseberangan dengan tabiat nafsu. Jika nafsu
9
hal.375.
M Nasution Al-Albani, Ringkasan Shahih Muslim, ( Jakarta, Gema Insani,2005),
27
dibebani secara terus menerus
dengan paksaan pada sesuatu
yang berseberangan maka ia menjadi keras kepala dan kokoh.
e). Melaksanakan hak-hak keluarga
Melawan nafsu, melatihnya dengan tanggung jawab,
kekuasaan, melaksanakan hak-hak keluarga, sabar atas akhlak
mereka, bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan yang
halal. Melaksanak pendidikan baginya dan bagi anak-anaknya.
Semua itu adalah amal perbuatan yang mulia dan utama, ini
termasuk dalam perlindungan dan perwalian. Keluarga dan anak
adalah yang di lindungi.
Seorang yang berhati-hati dalam perlindungan adalah
orang yang berhati-hati karena khawatir tidak mampu memenuhi
hak-haknya. Jika tidak, maka dalam hal ini Nabi bersabda:
ِ َ ‫ول ََِسَت رس‬
ِ
َّ ‫أ‬
‫صلَّى اللَّهُ َعلَْي ِه َو َسلَّ َم‬
َ ‫ول اللَّه‬
ُ َ ُ ْ ُ ُْ َ‫َن َعْب َد اللَّه بْ َن عُ َمَر ي‬
......... ‫ول َع ْن َر ِعيَّتِ ِه‬
ٌ ُ‫ول ُكلُّ ُك ْم َر ٍاع َوُكلُّ ُك ْم َم ْسئ‬
ُ ُْ َ‫ي‬
“ Bahwa 'Abdullah bin 'Umar berkata, "Aku mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
Sungguh kalian semua adalah pemimpin dan kalian
semua akan diminta pertanggung jawaban ((Hr
Bukhari)”.
Bukanlah seorang yang sibuk memperbaiki dirinya dan
orang lain seperti orang yang sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
28
Tidaklah seorang yang sabar atas derita seperti orang yang
menyenangkan dan menyegarkan dirinya. Bersikap sabar pada
keluarga dan anak seperti kedudukan jihad fi sabilillah,
karenanya Bisyr berkata “ Keutamaan atas diri Ahmad bin
Hambal ada tiga, salah satunya adalah ia mencari penghidupan
yang halal bagi dirinya dan orang lain”.
f). Pemindahan kewarisan
Tidak mungkin ada konsep perpindahan kekayaan dari
generasi ke generasi dengan tanpa adanya wadah yang
memelihara nasab, kerabat dan keturunan. Al-Quran telah
menjelaskan kaidah-kaidah warisan antar kerabat. Hal tersebut
tidak akan kokoh dengan sempurna tanpa adanya hubungan
kekerabatan yang jelas dan batasan batasan tertentu. Tanpa
adanya aturan-aturan seperti menjadikan hilangnya kekayaan
dengan wafatnya pemilik kekayaaan.
B. Dasar Umum Pernikahan
1. Pengertian Pernikahan
Nikah menurut bahasa berarti penyatuan. Diartikan juga sebagai
akad atau hubungan badan.10 Sedangkan menurut syariat berarti sebuah
10
hal. 375.
Syeh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Fiqih Wanita, ( Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,1998),
29
akad
yang
mengandung
pembolehan
bersenang-senang
dengan
perempuan, dengan berhubungan intim, menyentuh, mencium, memeluk
dan sebagainya, jika perempuan tersebut bukan termasuk mahram dari
segi nasab, sesusuan, dan keluarga.11
Sedangkan secara terminologis perkawinan yaitu akad yang
membolehkan terjadinya istimta’ (persetubuhan) dengan seorang wanita,
selama seorang wanita tersebut bukan wanita yang diharamkan baik
dengan sebab keturunan atau susuan.12
Menurut pasal 1 Undang-undang perkawinan, yang dimaksud
dengan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.13 Dalam
Kompilasi Hukum Islam (KHI), pengertian perkawinan menurut pasal 2:
perkawinan merupakan hukum islam adalah pernikahan, yaitu akad yang
sangat kuat atau Mitsaqan Ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah.14
Perkawinan harus dilihat dari segi pandangan yaitu .15
11
Wahabah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, jild 9, ( Jakarta: Gema insani,2011),
hal. 48.
12
Mardani, Hukum Perkawinan Islam Di Dunia Islam Modern, ( Yogyakarta: Graha
Ilmu,2011),. Hal, l4
13
Muhamad Daud Ali, Hukum Islam dan Peradilan Agama, ( jakarta: PT Raja Grafindo
persada, 2002), hal. 26.
14
Undang-undang R.I No 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan kompilasi hukum islam,
(Bandung: citra umbara, 2013), cet. Ke-4, hal. 324.
15
Mardani, op.cit, hal. 5.
30
a. Perkawinan dilihat dari segi hukum, yaitu perkawinan merupakan
suatu perjanjian yang sangat kuat.
b. Perkawinan dilihat dari segi sosial yaitu ditemui suatu penilaian
yang umum bahwa orang yang berkeluarga mempunyai kedudukan
yang lebih dihargai dari mereka yang tidak kawin.
c. Pandangan suatu perkawinan dari segi agama yaitu perkawinan itu
dianggap suatu lembaga yang suci.
Perkawinan di dalam islam tidak mempunyai syarat apapun yang
melanggar suasana hidup abadi antara satu pasangan yang telah diikat
oleh perjanjian yang kuat. Perkawinan di dalam islam bukanlah hidup
bergaul semata, tetapi menyatukan diri di dalam segala bidang hingga
terpadu dua badan menjadi satu jiwa.
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa nikah atau
perkawinan adalah suatu akad dengan menggunakan kata menikahkan
atau mengawinkan dengan akad itu menjadi halal suatu persetubuhan dan
mengikat pihak yang di akadkan menjadi suami istri dengan membentuk
rumah tangga yang bahagi dan kekel.
Perkawinan adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk
mendapatkan keturunan. Allah memberikan jalan ini kepada manusia
untuk membuktikan bahwa selain dari pada jalan ini bukanlah jalan yang
biasa atau lumprah.
Menurut istilah hukum islam, terdapat beberapa definisi diantaranya:
31
ِِ
ِ ِ
‫استِ ْمتَ ِاع‬
َّ
َّ ‫استِ ْمتَ ِاع‬
َ ‫اج َش ْر ًعا ُه َو َعْ ٌد َوظَ ُع الشَّا ِرعُ ليُفْي َد ِم ْل‬
ْ ‫الر ُج ِل بِالْ َم ْرأَة َوِ َل‬
ْ ‫ك‬
ُ ‫الزَو‬
‫الر ُج ِل‬
َّ ِ‫الْ َم ْرأَةِ ب‬
“Perkawinan menurut syara’ yaitu akad yang di terapkan syara’
untuk membolehkan bersenang-senang antara laki-laki dengan
perempuan dan menghalalkan bersenang-senangnya perempuan
dengan laki-laki”. 16
Pengertian diatas tampaknya dibuat hanya melihat dari segi saja,
yaitu kebolehan hukum dalam hubungan antar seorang laki-laki dengan
perempuan yang semula dilarang sekarang dibolehkan. Padahal setiap
perbuatan hukum itu mempunyai tujuan dan akibat atau pengaruhnya, hal
inilah yang menjadikan perhatian manusia pada umunya dalam kehidupan
sehari-hari, seperti terjadinya perceraian, kurang adanya keseimbangan
antar suami istri, sehingga memerlukan penegasan arti perkawinan, bukan
saja dari segi kebolehan hubungan seksual tetapi juga dari segi tujuan dari
akibat hukumnya.
Perkawinan
merupakan
tuntutan
naluri
manusia
untuk
berketurunan guna kelangsungan hidupnya dan untuk memperoleh
ketenangan hidup serta menumbuhkan dan menumpuk kasih sayang.
Banyak sekali ayat yang memberikan landasan dasar perkawinan serta
mengatur tata hubungan suami istri, diantaranya surat Ar-Rum ayat 21,
An-Nisa ayat 3, 24, 34, dan Al-A’raaf ayat 189.
16
Ibid., hal. 9.
32
Perkawinan merupakan salah satu ukuran kesempurnaan agama
seseorang. Dalam sebuah hadits riwayat Al-Baihaqi, Rasulullah SAW
menyatakan. “ Apabila seorang telah melaksanakan perkawinan, berarti ia
telah menyempurnakan separuh agamanya (karena telah sanggup menjaga
kehormatannya), oleh karena itu berhati-hati kepada Allah dalam
mencapai kesempurnaan pada pihak yang masih tertinggal”. (HR. AIBaihaqi).17
Menurut para ulama Hanafiah mendefinisikan bahwa nikah adalah
sebuah akad yang memberikan hak kepemilikan untuk bersenang-senang
secara sengaja, artinya kehalalan seorang lelaki bersenang-senang dengan
seorang perempuan yang tidak dilarang utuk dinikahi secara syari’at
dengan kesengajaan.18
Golongan Hanabilah mendefinisikan nikah sebagai akad yang
menggunakan lafadz nikah atau tazwij agar diperbolehkan bersenangsenang dengan wanita. Golongan Hanafiyah mendefinisikan nikah
sebagai akad yang berfaidah untuk memiliki, bersenaang-senang dengan
sengaja. Dari pengertian diatas dapat di simpulkan bahwa para Ulama
zaman dahulu memandang nikah hanya dari sisi saja, yakni kebolehan
hukum antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk
berhubungan yang semula di larang.
17
18
hal. 39.
Rois Mahfud, Al- Islam (Pendidikan Agama Islam), (Erlangga , 2011), hal. 38.
Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, ( Jakarta: Gema Insani, 2011), jild . 9.
33
Hadits tentang anjuran menikah:
ِ
ِ ِ
‫رس ْو ُل اللّه صلى اهلل عليه وسلم‬
ُ ‫َع ْن َعْبد اللَّه بْن َم ْسَُوَّ رضي اللّه عنه قال لنَا‬
ِ ُّ ‫فَِأنَّه أَ َغ‬, ‫اب م ِن استطَاع ِمْن ُكم الْباءةَ فَ ْليت زَّوج‬
‫ص ُن‬
ْ ‫ َوأ‬،‫ص ِر‬
ُ ْ َ ََ َ َ ُ َ َ ْ َ ِ َ‫(يَا َم َْ َشَر الشَّب‬
َ َِ
َ َ‫ض ل ْلب‬
‫ فَاٍنَّهُ لهُ وجاَءٌ ) ُمتَّ َف ٌق َع ْلي ِه‬: ِِ‫لص ْو‬
َّ ‫ َوَم ْن ََلْ يَ ْستَ ِط ْع فَ ََلَْي ِه با‬،‫لِْل َف ْرِج‬
“Abullah Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah
Shallallaahu ‘alaihi wa Salam bersabda pada kami “ Wahai
generasi muda, barang siapa diantara kamu telah mampu
berkeluarga hendaknya ia dapat menundukkan pandangan dan
memelihara kemaluan. Barang siapa belum mampu hendakya
berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu. “(mutafaq
Alaihi).”19
Makna hadits diatas mengarahkan anjuran dan motivasi kepada
para seluruh umatnya, khususnya para pemuda. Beliau bersabda “ wahai
segenap para pemuda kata “‫ ” َم ْعش ََر‬berarti “segenap” menyiratkan makna
kemanusiaan dan sosial yang menjadi ciri masyarakat islam. Beliau tidak
menggunakan kata lain seperti “Ya Ayyuha Syabab” misalnya, karena
kata “ma’syar” memiliki nuansa cinta dan kasih sayang dalam
komunikasi islam.
Hadis di atas juga memberikan hikmah yang sangat penting dalam
pernikahan yaitu karena ia lebih mampu menjaga pandangan dan lebih
mampu memelihara kemaluan. Ini merupakan jaminan yang sangat
penting bagi umat manusia yang ingin memelihara pandangan dan
19
Ibnu Hajar Al-Asqolani, Terjemahan Bulughul Maram, (Jogjakarta: Hikam Pustaka,
2009), hal. 256.
34
kemauan. Kemudian hadits tersebut juga memberikan pengarahan bagi
para pemuda yang belum mampu melaksanakan pernikahan untuk
memperbanyak berpuasa, karena puasa mampu menahan gejolak
syahwat.
Demi menjaga kehormatan dan martabat kemuliaan manusia,
Allah mengadakan hukum sesuai dengan martabatnya, sehingga
hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara terhormat
berdasarkan saling meridhai, dengan upacara ijab Kabul sebagai lambing
adanya rasa saling meridhai, dengan di hadiri para saksi yang
menyaksikan bahwa pasangan antara laki-laki dan perempuan itu telah
saling terikat.20
2. Hukum Melakukan Pernikahan
Tentang hukum melakukan pernikahan segolongan fuqaha’, yakni
Jumhur (mayoritas ulama) berbeda pendapat bahwa nikah itu hukumnya
sunnah. Golongan Zahiriyah berbeda pendapat bahwa nikah itu wajib.
Para ulama Mutaakhirin berpendapat bahwa nikah itu wajib sebagian
orang, sunnah sebagian lainnya, dan mubah untuk golongan yang lain,
demikian itu menurut mereka ditinjau berdasarkan kekhawatiran
(kesusahan) dirinya.21
20
21
Abdul Rohman Ghozali, Fikih Munakahat, ( Jakarta: Kencana, 2010), hal. 11.
Ibid., hal. 10.
35
Islam sangat menganjurkan kaum muslim yang mampu untuk
melaksanakan perkawinan. Namun demikian, dilihat dari segi kondisi
orang yang melaksanakan serta melakukan tujuannya, maka perkawinan
itu dapat dikenakan hukum wajib, sunnah, haram, makruh ataupun
mubah.
a. Melakukan perkawinan yang hukumnya wajib
Bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk kawin
dan di khawatirkan akan tergelincir pada perbuatan zina
seandainya tidak kawin maka hukum melakukan perkawinan
hukumnya wajib. Hal ini didasarkan pada pemikiran hukum
bahwa setiap muslim wajib menjaga diri untuk tidak berbuat
yang terlarang. Sesuai dengan kaidah:
ِ
ِِ ِ ‫ماالَ يتِ ُّم الوا ِج‬
‫ب‬
ٌ ‫ب االَّ به فَ ُه َو َواج‬
ُ َ َ َ
“Sesuatu yang wajib tidak sempurna kecuali
dengannya, maka sesuatu itu hukumnya wajib juga”. .22
b. Melakukan perkawinan yang hukumnya sunnah.
Sunnah
apabila
seorang
dipandang
dari
segi
pertumbuhan jasmaninya wajar dan mempunyai kemauan dan
kemampuan
22
ibid., hal. 18.
untuk
melangsungkan
perkawinan.
Alasan
36
menetapkan hukum sunnah dari anjuran Al-Quran surat AnNur ayat 32 yaitu:
ِ ِ ِ ِ ِ ِ َ ِِ‫الصاِل‬
َّ ‫َوأَنْ ِك ُحوا ْاْلَيَ َامى ِمْن ُك ْم َو‬
َ‫ني م ْن عبَاَّ ُك ْم َوإ َمائ ُك ْم إ ْن يَ ُكونُوا فُ ََْراء‬
ِ ِ
ِ ِ ْ َ‫ي ْغنِ ِهم اللَّه ِمن ف‬
‫يم‬
ْ ُ ُ ُ
ٌ ‫ضله َواللَّهُ َواس ٌع َعل‬
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara
kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari
hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hambahamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin
Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.
Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui”.23
c. Melakukan perkawinan yang hukumnya haram.
Hukum nikah haram bagi seseorang yang tidak
mempunyai keinginan dan kemampuan nafkah nikah dan yakin
akan terjadi penganiayaan jika ia menikah. Sesungguhnya
keharaman nikah pada kondisi tersebut, karena nikah
disyariatkan dalam islam untuk mencapai kemaslahatan dunia
dan akhirat. Hikmah kemaslahatan ini tidak tercapai jika nikah
dijadikan
sarana
mencapai
bahaya,
kerusakan,
dan
penganiyaan. Maka nikah orang tersebut wajib ditinggalkan.24
Al-Quran Surat Al Baqarah ayat 195 melarang orang
melakukan hal yang akan mendatangkan kerusakan:
23
24
Departemen Agama RI, op. cit, hal. 549.
Abdul Aziz Muhammad Azzam, op. cit, hal. 45.
37
.......‫ َوالَ ت ْل ُْواْ بِأَ يْ ِدى ُك ْم إِ ََل الت َّْهلُ َك ِة‬...
“ Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke
dalam kebinasaan, (QS. AL Baqarah:195).25
d. Melakukan Perkawinan yang Hukumnya Makruh.
Nikah makruh bagi seorang mempunyai kemampuan
untuk
melakukan
perkawinan
juga
cukup
mempunyai
kemampuan untuk menahan diri sehinggatidak memungkinkan
dirinya tergelincir berbuat zina, hanya saja orang ini tidak
mempunyai keinginan yang kuat untuk dapat memenuhi
kuwajiban suamui istri dengan baik.
e. Melakukan perkawinan yang hukumnya mubah.
Nikah mubah yaitu bagi orang yang mempunyai
kemampuan untuk melakuka pernikahan, tetapi apabila ia tidak
melakukannya, tidak khawatir akan berbuat zina dan tidak akan
melantarkan istrinya. Perkawinan tersebut hanya didasarkan
untuk memenuhi kesenangan bukan dengan tujuan menjaga
kehormatan agamanya dan membina keluarga sejahtera.
Hukum mubah ini di tujukan bagi orang yang antara
pendorong dan penghambatnya untuk kawin itu sama, sehingga
menimbulkan keraguan orang yang akam melakukan kawin,
25
Departemen Agama RI, op. cit, hal. 47.
38
seperti keinginan tetapi belum mempunyai kemampuan dan
kemauan yang kuat.26
3. Tujuan Pernikahan
Manusia di ciptakan Allah SWT mempunyai naluri manusiawi
yang perlu mendapat pemenuhan dan manusia di ciptakan untuk
mengabdikan dirinya kepada kholiq pencipta dengan segala aktifitas
hidupnya.
Jika aturan perkawinan menurut islam merupakan tuntutan agama
yang perlu mendapat perhatian, sehingga tujuan melangsungkan
pernikahan pun hendaknya ditunjukan untuk memenuhi petunjuk agama,
sehingga di ringkas ada dua tujuan pernikahan ialah memenuhi nalurinya
dan memenuhi agamanya.
Mengenai naluri manusia seperti dalam Surat Ali Imron ayat 14
yang berbunyi:
ِ ‫ب الش‬
ِ َ‫ات ِمن النِّس ِاء والْبنِني وال َْن‬
ِ ‫ُزيِّ َن لِلن‬
‫االية‬........ِ‫اط ِْي الْ ُم َْْنطََرة‬
َ َّ ُِ ‫َّاس‬
َ َ ْ َ َ َ َ ‫َّه َو‬
“ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan
kepada apa-apa yang di inginkan, yaitu: wanita-wanita, anakanak harta yang banyak …..”27
Melihat dua tujuan diatas maka tujuan perkawinan itu dapat
dikembangkan menjadi lima yaitu: 28
26
27
Ibid., hal.16.
Mentri Agama, op. cit, hal. 77.
39
1) Mendapatkan dan melangsungkan keturunan
Agama memberi jalan hidup manusi agar hidup bahagia di
dunia dan akhirat. Kebahagiaan dunia dan akhirat dicapai dengan
hidup berbakti kepada Tuhan secara sendiri-sendiri, kehidupan
keluarga bahagia umumnya antara lain ditentukan oleh kelahiran
anak.
Al-Quran menganjurkan agar manusia selalu berdo’a agar
dianugrahi putra yang menjadi mutiara dari istrinya, sebagaimana
tercantum dalam Surat Al-Furqan ayat :74.
ِ
ٍ ُ ‫ب لَنَا ِم ْن أ َْزو ِاجنَا وذُِّريَّا تِنَا قَُّرَة أ َْع‬
‫ االية‬...... ‫ني‬
ْ ‫َوالَّذيْ َن يَ ُْ ْولُْو َن َربَّنَا َه‬
َ َ
“ Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami,
anugrahkanlah kepad kami istri-istri kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati….”29
Anak sebagai keturuan bukan saja menjadi buah hati,
tetapi juga sebagai pembantu-pembantu dalam hidup di dunia,
bahkan akan memberi amal kebajikan di akhirat nanti.
2) Penyaluran syahwat dan penumpahan kasih sayang berdasarkan
tanggung jawab.
Manusia di ciptakan berjodoh-jodohan dan mempunyai
keinginan untuk berhubungan antara pria dan wanita sebagaimana
28
29
Abdul Rahman Ghazali, op. cit, hal. 22.
Ibid., hal. 569.
40
surat Ali-Imron ayat 14. Al-Quran menjelaskan bahwa pria dan
wanita bagaikan pakaian, artinya yang satu memerlukan yang lain,
sebagimana pada surat Al-Baqarah: 187.
ِ
ِ
ِ ِ ِ ُ َ‫الرف‬
ِ‫أ‬
ِ َ‫ُِ َّل لَ ُكم لَي لَة‬
‫اس‬
َّ ِ‫الصيَ ِا‬
ْ ْ
ُ َ‫اس لً ُك ْم َوأَنْتُ ْم لب‬
ُ َ‫ث ا ََل ن َسآئ ُك ْم ُه َّن لب‬
‫ االية‬...‫ََلُ َّن‬
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa
bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah
pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian nagi
mereka….”30
Di samping perkawinan untuk mengatur naluri seksual juga
untuk menalurikan cinta dan kasih sayang, di kalangan pria dan
wanita secara harmonis dan bertanggung jawab.
Penyaluran cinta dan kasih sayang yang di luar perkawinan
tidak akan menghasilkan keharmonisan dan tanggung jawab yang
layak, karena di dasrkan atas kebebasan yang tidak terkait oleh
satu norma.
3) Memelihara diri dari kerusakan
Orang-orang yang tidak melakukan penyaluran dengan
perkawinan
kan
mengalami
ketidak
wajaran
dan
dapat
menimbulkan kerusakan, entah kerusakan dirinya sendiri tau orang
lain bahkan masyarakat, karena manusia mempunyai nafsu,
30
Ibid., hal. 45.
41
sedangkan nafsu itu condong untuk mengajak kepada perbuatan
yang tidak baik sebagaiman dijelaskan dalam Surat Yusuf ayat 53:
ِ
‫ االية‬....... ‫الس ْوِء‬
ُّ ِ‫س ْل ََّما َرةٌ ب‬
َ ‫ ا َّن النَّ ْف‬...
“…. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepda
kejahatan…”31
Dorongan nafsu yang utama adalah nafsu seksual,
karenanya perlu menyalurkan dengan baik, yakni perkawinan.
4) Menimbulkan kesungguhan bertanggung jawab dan mencari harta
yang halal.
Hidup sehari-hari menunjukkan bahwa orang yang
berkeluarga sering dipengaruhi oleh emosional sehingga kurang
mantap dan kurang bertanggung jawab. Seperti sopir yang sudah
berkelurga dalam cara mengendalikan kendaraannya lebih tertib
dibandingkan para pekerja yang bujangan. Demikian pula dalam
menggunakan hartanya, orang yang telah berkeluarga lebih efektif
dan hemat, karena mengingat kebutuhan keluarga di rumah.
Suami
istri
yang
perkawinannya
didasarkan
pada
pengalaman agama, jerih payah dalam usahanya dan upayanya
mencari keperluan hidupnya dan keluarganya dapat digolongkan
ibadah.
31
Ibid., hal. 315.
42
5) Membangun rumah tangga dalam rangka membentuk masyarakat
yang sejahtera berdasarkan cinta dan kasih sayang.
Manusia di dunia tidaklah berdiri sendiri melainkan
bermasyarakat yang terdiri dari unit-unit yang terkecil yaitu
keluarga yang terbentuk melainkan sebuah perkawinan.
Dalam hidupnya manusia memerlukan ketenangan dan
ketentraman hidup untuk mencapai kebahagiaan. Keluarga
merupakan bagian masyarakat menjadi faktor terpenting dalam
penentuan
ketenangan
dan
ketentraman
masyarakat.
Keharmonisan diciptakan oleh adanya kesadaran anggota keluarga
dalam menggunakan hak dan pemenuhan kewajiban.
4. Syarat dan Rukun Pernikahan.
Syarat-syarat
perkawinan
merupakan
dasar
bagi
sahnya
perkawinan. Apabila syarat terpenuhi, maka Perkawinan itu sah dan
menimbulkan adanya segala hak dan kewajiban sebagai suami istri.
Pada umumnya rukun dimaknai sebagai suatu yang mesti ada
yang menentukan sah atau tidaknya pekerjaan (ibadah), dan sesuatu itu
termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti takbiratul ihram untuk
sholat.32
Menurut Imam Maliki bahwa rukun nikah ada lima macam yaitu :
32
Abdul Rahman Ghozali, op. cit, hal,.45.
43
a. Wali nikah dari pihak permpuan
b. Mahar (maskawin)
c. Calon pengantin laki-laki
d. Calon pengantin perempuan
e. Sighat akad nikah
Imam Syaf’I mengatakan bahwa rukun nikah ada lima macam yaitu:
a. Calon pengantin laki-laki
b. Calon pengantin perempuan
c. Wali
d. Dua orang saksi
e. Sighat akad nikah
Menurut Ulama Hanafiyah, rukun nikah itu ijab qabul saja (yaitu
akad yang dilakukan oleh pihak wali perempuan dan calon pengantin
laki-laki).
Menurut Jumhur Ulama’ rukun perkawinan ada lima, masingmasing mempunyai syarat-syarat tertentu. Syarat dan rukun tersebut
adalah:33
1. Calon suami, syarat-syaratnya
a. Beragama islam.
33
2010), hal. 10.
Mardani, Hukum Perkawinan Islam Didunia Islam Modern, ( Yogyakarta, graha ilmu,
44
b. Laki-laki.
c. Dapat memberikan persetujuan.
d. Tidak mendapatkan halangan perkawinan.
2. Calon istri, syarat-syaratnya
a. Beragama islam.
b. Perempuan.
c. Jelas orangnya.
d. Dapat dimintai pesetujuannya.
e. Tidak terdapat halangan perkawinan.
3. Wali nikah, syarat-syaratnya
a. Laki-laki.
b. Dewasa.
c. Mempunyai hak perwalian.
d. Tidak terdapat halangan perwaliannya.
Wali ialah suatu suatu ketentuan hukumyang dapat di
paksakan kepada orang lain sesuai dengan hukum. Akad nikah
akan dianggap sah apabila ada seorang wali atau wakilnya yang
akan menikahinya berdasarkan sabda Nabi SAW:
ِ
‫َّب ص‬
ُّ ‫َع ْن ُسلَْي َما َن بْ ِن ُم ْو َسى َع ِن‬
َّ ِ‫الزْه ِر ِي َع ْن عُْرَوَة َع ْن َعائ َشةَ اَ َّن الن‬
ِ ‫ اَُُّّيَا امرأةٍ نِ َكحت بِغَ ِي اِ ْذ ِن ولِيِّها فَنِ َكا ِها ب‬:‫قَ َال‬
‫رواه مخسة‬... ‫اط ٌل‬
ْ ْ َ
َ َ
َ َُ
َْ
45
‫اال النسائى‬
“ Dari Sulaiman bin Musa dari Zuhri dari Urwah dari
‘Aisyah, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: Perempuan
mana saja yang menikah tanpa seizin walinya, maka
pernikahannya batal”.34
4. Saksi, syarat-syaratnya
a. Minimal dua orang laki-laki.
b. Hadir dalam ijab qabul.
c. Dapat mengerti maksud akad.
d. Islam.
e. Dewasa.
Pelaksanaan akad nikah akan sah apabila dua orang saksi
yang menyaksikan akad nikah tersebut, berdasrkan sabda Nabi
SAW:
ِ ‫الَ نِ َكاح اِالَّ بِوَِل وش‬
)‫اه َد ْى َع ْد ٍل (رواه اْحد‬
َ َ ِّ َ َ
“ tidak sah suatu akad nikah tanpa adanya wali dan dua
orang saksi yang adil “.35
5. Ijab Qabul, syarat-syaratnya
a. Adanya pernyataan dari wali.
b. Adanya pernyataan menerima dari calon mempelai.
Mu’ammal Hamidy,dkk. Terjemahan Nailul Authar himpunan Hadis-Hadis Hukum,
(Surabaya : PT. Bima Ilmu, 2001), hal. 2157.
35
Saleh Al-Fauzan, Fiqih Sehari-hari, ( Jakarta, Gema Insani:2006), hal. 652.
34
46
c. Memakai kata-kata nikah, tazwij atau terjemahan dari dua
kata tersebut.
d. Antara ijab dan qabul bersambungan.
e. Orang yang terkait ijab dan qabul tidak sedang haji atau
umrah.
f. Majlis ijab dan qabul itu harus dihadiri minimal empat
orang yaitu mempelai atau wakilnya, wali dari mempelai
wanita, dan dua orang saksi.
Lafaz yang digunakan untuk akad nikah adalah lafazh nikah
atau tajwij, yang terjemahannya adalah kawin dan nikah. Sebab
kalimat-kalimat itu terdapat di dalam Kitabullah dan Sunnah
Menurut
Asy-Syafi’I
dan
Hambali.
Sedangkan
Hanafi
membolehakan dengan kata kalimat lain yang tidak dari Al-Quran,
misalnya menggunakan kalimat hibah, sedekah, pemilikan dan
sebagainya, dengan alasan kata ini adalah majas yang bisa juga
digunakan dalam bahasa sastra atau biasa
yang artinya
perkawinan.36
Contoh kalimat akad nikah:
ِ ‫ بِْن‬.... ‫ك‬
ً‫ َِاال‬..... ‫ ِِبََه ِر‬.... ‫ت‬
َ ُ‫اَنْ َك ْحت‬
36
Abdul Rahman Ghozali, op. cit, hal 57.
47
Aku kawinkan engkau dengan…. Binti …. Dengan maskawin
Tunai.
….
Jawaban kalimat Kabul yang digunakan wajib sesuai dengan ijab.
Selain Rukun dan persyaratan nikah, ada sebuah yang dinamakan
mahar atau maskawin. Yakni pemberian sejumlah uang atau barang yang
wajib diberikan kepada mempelai putri. Ia tidak menentukan sah-tidaknya
pernikahan karena tidak termasuk rukun nikah tapi wajib dibayarkan,
meski tidak ditentukan jumlah dan waktu pembayarannya.37
5. Hukum Pernikahan Wanita Hamil
Pernikahan merupakan satu-satunya jalan yang paling mulia
dalam menyalurkan kebutuhan biologis dalam menyalurkan kebutuhan
biologis dalam menghasilkan keturunan yang sah dalam perkawinan.
Dalam memilih suami atau istri, islam mengajurkan hendaknya
didasari oleh Agama atau moral, yakni calon tersebut berakhlak mulia
berdasarkan atas kecantikan, bangsawan bahwa kepopulerannya semata.
Karena agama yang baik dan membawa keberuntungan yang gemilang di
dunia maupun di akhirat, dan mendapatkan ketenangan lahir batin.
Seorang gadis bukan perawan atau janda hamil tanpa suami
dalam kehidupan masyarakat biasanya dicarikan calon suami yang
37
Nipan Abdul Halim, op. cit, hal. 80.
48
bersedia untuk menutupi aib atau cela yang ditangungnya. Baik calon
suami itu orang yang menghamili atau bukan.
Dalam islam, juga dikenal dengan perkawinan antara seorang
laki-laki dengan seorang perempuan dalam keadaan hamil (kecelakaan),
dengan laki-laki yang berzina atau laki-laki yang bukan menzinainya.
Perbuatan zina yang dilakukan laki-laki dan perempuan itu tidak
dilihat statusnya. Apakah telah beristri atau bersuami ataupun ia masih
perawan atau perjaka, semua tetap dinamakan perzinahan.
Para ulama sepakat mengenai kebolehan menikahi wanita pezina
bagi orang yang menzinahi. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang
hukum menikahinya bagi orang yang bukan menzinahinya. Terjadinya
perbedaan pendapat di kalangan ulam tersebut disebabkan oleh perbedaan
mereka dalam memahami “ larangan menikahi penzina” yang terdapat
dalam surat An Nur ayat 3 sebagai berikut :
ِ
‫ك‬
َّ ‫الزِاِن َال يَْن ِك ُح إَِّال َزانِيَةً أ َْو ُم ْش ِرَكةً َو‬
َّ
َ ‫الزانِيَةُ َال يَْن ِك ُح َها إَِّال َز ٍان أ َْو ُم ْش ِرٌو َو ُِِّرَِ َذل‬
ِِ
‫ني‬
َ ‫َعلَى الْ ُم ْؤمن‬
“ Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan
yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan
yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina
atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas
oran-orang yang mukmin”.38
38
Mentri Agama, op. cit, hal. 492.
49
Para ulama berselisih pendapat mengenai pernikahan wanita hamil
di luar nikah dengan orang yang menghamilinya. Sebagai pendapat sah
akan nikahnya dan sebagian lagi berpendapat tidak sah. Mereka
mempunyai argument berupa Al-Quran maupun hadits Nabi SAW.
Ulama mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali)
berpendapat bahwa perkawinan keduanya sah dan boleh di campuri
sebagai suami istri, dengan ketentuan bila si pria menghamilinya dan
kemudian baru ia mengawininya, sedangkan menurut Ibnu Hazam
berpendapat bahwa keduanya boleh (sah) dikawinkan dan boleh pula
bercampur, dengan ketentuan, bila telah bertaubat dan hukuman dera,
karena keduanya berzina. Pendapat ini berdasarkan hukum yang telah
pernah ditetapkan oleh sahabat Nabi.39
39
Abdul Rahman Ghazali, op. cit, hal. 125.
BAB III
KAJIAN OBYEK PENELITIAN
A. Kondisi Umum Desa Ngabul
1. Kondisi Geografis Desa Ngabul
Berdasar letak geografis wilayah desa Ngabul. berada di sebelah
selatan Ibukota Kabupaten Jepara. Desa Ngabul merupakan salah satu desa di
kecamatan Tahunan kabupaten Jepara, dengan jarak tempuh ke Ibukota
kecamatan 1 Km, dan ke ibukota kabupaten 7 Km, dapat ditempuh dengan
kendaraan ± 25 menit. Desa ini berbatasan dengan desa Langon di sebelah
barat, di sebelah utara berbatasan dengan desa Tahunan, sebelah selatan
dengan desa Troso dan di sebelah timur dengan desa Ngasem. Luas wilayah
daratan desa Ngabul adalah 604.906 Km². Luas lahan yang ada terbagi dalam
beberapa peruntukan. Dapat dikelompokan seperti untuk fasilitas umum,
pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan lain-lain.
Secara administratif wilayah desa Ngabul terdiri dari 34 RT dan 7
RW, yang masuk ke dalam 3 (tiga) wilayah pedukuhan, yaitu Dukuh Krajan,
Dukuh Jeruk Gulung dan Dukuh Jokosari.
Berdasarkan Data Administrasi Pemerintahan desa, jumlah penduduk
yang tercatat secara administrasi, berjumlah 11.918 jiwa pada tahun 2012,
meningkat menjadi 12.425 di tahun 2013, meningkat menjadi 12.905 di tahun
2014.
50
51
Table,. 3.1
Perkembangan Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Desa Ngabul Tahun 2012 -2014
No
Jenis Kelamin
Jumlah penduduk jiwa
Tahun 2012
Tahun 2013
Tahun 2014
1
Laki-laki
6.146
6.161
6.403
2
Perempuan
5.772
6.264
6.502
11.918
12.425
12.905
JUMLAH
Sumber: Profil Desa Ngabul. 2014.
Seperti terlihat dalam tabel di atas, menunjukkan adanya peningkatan
jumlah penduduk tahun 2012 naik 4.3 % tahun 2013, kemudian dari tahun 2013
naik 3.9 % tahun 2014 sehingga dapat dilihat proporsi penduduk tercatat jumlah
total penduduk Desa Ngabul, sebanyak 12.905 jiwa, terdiri dari laki-laki 6.403
jiwa atau 49,6 % dari total jumlah penduduk yang tercatat. Sedangkan
perempuan 6.502 jiwa atau 50,3 % dari total jumlah penduduk yang tercatat.
2. Pendidikan Desa Ngabul
Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat
kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan tingkat perekonomian pada
khususnya. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendongkrak
tingkat kecakapan. Tingkat kecakapan juga akan mendorong tumbuhnya
ketrampilan kewirausahaan. Pada gilirannya mendorong munculnya lapangan
52
pekerjaan baru. dengan sendirinya akan membantu program pemerintah untuk
pembukaan lapangan kerja baru guna mengatasi pengangguran. Pendidikan
biasanya akan dapat mempertajam sistimatika pikir atau pola pikir individu,
selain itu mudah menerima informasi yang lebih maju.
Untuk melihat tingkat pendidikan penduduk desa Ngabul, jumlah
angka putus sekolah serta jumlah sekolah dan siswa menurut jenjang
pendidikan, dapat dilihat di tabel di bawah ini :
Table,. 3.2
Perkembangan Penduduk Desa Ngabul Menurut Pendidikan Terakhir
Tahun 2012 – 2014
Jumlah penduduk
Uraian
No
1
Tahun
Tahun
Tahun
2012
2013
2014
1036
1074
1160
Tamatan Sekolah non formal dan
Belum Sekolah
2
Belum /Tidak tamat SD
2012
2041
2112
2
Tamat Sekolah SD
4095
4245
4379
3
Tamat Sekolah SLTP
2435
2560
2647
4
Tamat SMU
1663
1798
1875
5
Akademi/DI/DII/DIII
307
324
339
6
Strata I
365
375
382
53
7
Strata II
Jumlah
5
8
11
11.918
12.425
12.905
Sumber: Profil Desa Ngabul. 2014.
Permasalahan pendidikan secara umum masih rendahnya kualitas
pendidikan, rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan,
terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan, rendahnya kualitas tenaga
pengajar dan tingginya angka putus sekolah.
3. Agama
Dilihat dari penduduknya, desa Ngabul penduduk yang heterogen
dilihat dari agama dan keyakinan mereka. Perkembangan pembangunan di
bidang spiritual dapat dilihat dari banyaknya sarana peribadatan masing-masing
agama. Dari hasil pendataan penduduk yang beragama islam sekitar 12.834
jiwa, Kristen 68 jiwa, Katholik sekitar 8 jiwa.
4. Sejarah Desa Ngabul
Menghidupkan kembali kisah-kisah masa lalu sungguh sangat mulia.
Bukan untuk kembali ke masa lalu, namun untuk menggali nilai-nilai yang
berkembang dalam masyarakat yang mengobarkan semangat untuk melakukan
yang lebih baik di masa datang.
Sangat penting untuk menoleh ke belakang untuk mengetahui asalusul desa Ngabul, sehingga dapat dijadikan sebagai cermin bagi langkah di
masa depan. Ini merupakan manfaat utama mempelajari sejarah.
54
Hal yang penting bagi generasi sekarang dan masa depan adalah
mengambil yang baik dari masa lalu dan membuang yang buruk. Dengan
harapan agar kita mendapatkan kuantitas dan kualitas yang lebih baik
dibandingkan pada masa lalu.
Pada zaman abad 18 ada dua kubu diwilayah yang dibatasi dengan
sungai (Jokosari – Krajan), sedang berseteru dan masing – masing wilayah
mempunyai pimpinan yang sakti mandra guna/ digdoyo.1
Setiap hari orang tersebut saling mengadu kesaktian, kedua pimpinan
itu tidak pernah akur sehingga sesepuh desa ( Mbah Datuk Jokosari) mengajak
kedua pimpinan wilayah tersebut berembuk, dan mendapatkan hasil
kesepakatan keduanya dua wilayah itu menjadi satu wilayah desa, dengan
dipimpin satu kepala desa dengan sebutan lain Petinggi.
Dengan kejadian itulah maka desa ini dinamakan desa Ngabul,
karena terkabulnya upaya mendamaikan dua kubu yang bersiteru tersebut.
TEMPAT BERSEJARAH
a. Punden Jokosari
Tempat dimana sesepuh/ Danyang/ Cikal bakal desa, mengadakan
kegiatan Ritual dan tempat dimakamkan nya datuk Jokosari.disana juga
terdapat makam Petinggi desa Ngabul (TOWI KROMO PARNI), terletak
1
Dokumentasi desa Ngabul,
55
di Dukuh Jokosari kira- kira 1,5 KM dari Pusat Pemerintah desa Ngabul (
Balai Desa).
Mbah jokosari yang seorang pelarian perang konon juga punya
beberapa pusaka antara lain pedang kangkam, wesikuning, lenggo tolo dan
mungkin masih banyak lagi, dan semua pusaka itu sebagai penjagaan
Desa ( tunggon Deso) agar desa ini menjadi aman dari ancaman musuh
juga menjadikan Desa yang tentram, makmur, sejahtera dan menurut
cerita orang tua, pusaka itu bisa dipinjam jika desa Ngabul dalam kondisi
darurat (bahaya) dapat masalah atau ancaman dari desa luar. Dan yang
bisa pinjam adalah seorang bayi yang lahir yatim serta masih ada
hubungan dengan mbah Jokosari ( LAJER ).
Disitu juga terdapat pohon degenan, disebelah pohon besar, yang
konon merupakan tongkat yang ditancapkan. Pohon ini juga berkasiat
menyembuhkan pegel linu dan pohon timoho/ timoyo yang dulu dijadikan
tempat mengantungkan pedang dan pusaka yang lain termasuk sabuknya.
b. Jago Komplong
Adalah Hewan peliharaan mbah datuk Jokosari, yang didapat dari
hasil pembagian bekal hidup dengan kakaknya perempuan, setelah
kakaknya kawin dan menetap di desa Ngeling dan disimbulkan pada
Gendeng rumahnya, yang ditakuti orang kampung, bahkan diyakini kalau
orang/ Masyarakat wiwit pari/ menjelang panin padi dan berdagang/
bekerja apapun dibumi Ngabul tidak ngaweroi/ kurmati Mbah Jokosari,
56
maka hasilnya dipetol jago kamplong ( menurut keterangan satu kali
petolan/ patokan adalah sak tompo atau 1% hasil panin/dagang), ringkas
cerita keberkahan hasil usaha dan pertanian bisa jadi kurang karena tidak
khurmati cikal bakal desa. Sebagian narasumber mengatakan setiap kali
masyarakat Wiwit pari/ petik padi, maka diawali selametan, sesajinya
beras kuning.
c.
Sendang Sari
Adalah tempat bersejarah dimana dulu konon cerita, tempat ini
adalah sumber air/ sendang dimana para sesepuh/ Cikal bakal desa
Ngabul bersesuci/ mandi/ Wudlu sebelum melakukan ritual/ pertapaan
termasuk mbah Datuk Jokosari juga nyai Selowati ( ada juga yang
menyebut Wulansari ). Konon ditengah sendang itu ada pusaka berupa
keris ( keris tujung sekar dan keris tujung drajat ) dan pusaka itu menjadi
pusaka Desa (tunggon deso), dan juga menurut penglihatan indra keenam
(gaib) di tempat ini ada penunggunya sesorang perempuan yang pakai
kemben ( jarik), dengan rambutnya yang terurai.
d. Longgo pati.
Adalah tempat pertapaan Ular Naga (Nogosari) yang sangat besar,
dimana narasumber mengatakan panjangnya ular tersebut Buntut/Ekor
ular di gunung muria dan kepalanya di desa Ngabul (gaib) yang mau
jengkar, sedang membuka mulut besarnya, sehingga ada ular kecil – kecil
( ular tampar) masuk kedalamnya dan mengigiti isi perut ular Naga
57
tersebut, dan akhirnya ular tersebut mati dan membusuk, sehingga
mengeluarkan dua arah sumber mata air yang sangat besar atau tok (pusat)
air, sekarang dimanfaatkan masyarakat sebagai irigasi pertanian, dan
akibat ular yang membusuk tersebut membuat tanah/sawah disekitar tok
menjadi sangat subur dan menjadi mata pencaharian masyarakat setempat.
Yaitu tempatnya sekarang kita kenal dengan sebutan Ngetok, yang artinya
sumber mata air.
5. Keadaan Sarana Prasarana
Pembangunan
kemampuan
Infrastruktur
Pemerintah
desa
akan
untuk
dihadapkan
pada
menyediakannya.
terbatasnya
Pada
sebagian
infrastruktur, pihak desa telah berhasil menghimpun swadaya masyarakat murni
yang terkoordinir di masing-masing RT dan RW.
Table,. 3.3
Jumlah Prasarana dan Sarana Desa
Tahun 2012 - 2014
No
Jenis prasarana & sarana
Tahun
Tahun
Tahun
Desa
2012
2013
2014
1.
Jalan beraspal
27000 m2
27000 m2
33000 m2
2.
Puskesmas
1
1
1
3.
Masjid
9
9
10
4.
Gedung sekolah
11
15
15
58
Tk-sma
5.
Perternakan
625
710
640
6.
Jumlah industry
219
241
251
Sumber: Profil desa Ngabul.
6. Visi dan Misi Desa Ngabul
Visi desa Ngabul disusun dari rangkaian panjang, diskusi-diskusi formal
maupun informal dengan segenap warga Ngabul atau tokoh – tokoh masyarakat
sebagai representasi dari warga masyarakat Ngabul. Dalam kegiatan ini
semakin mendekatkan visi desa Ngabul dengan kenyataan yang ada di desa dan
masyarakat. Kenyataan yang dimaksud baik merupakan potensi, permasalahan
maupun hambatan yang ada di desa dan masyarakat yang ada pada saat ini
maupun ke depan. Ditetapkan visi desa Ngabul sebagai berikut: Meningkatkan
kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan, perekonomian sosial budaya
menuju masyarakat sejahtera.
Dalam meraih Visi desa Ngabul seperti yang sudah dijabarkan diatas,
dengan mempertimbangkan potensi dan hambatan baik internal maupun
eksternal. Maka disusunlah Misi desa Ngabul, sebagai berikut :2
1. Membangun dan mendorong majunya bidang pendidikan baik
formal maupun non formal yang mudah diakses dan dinikmati
seluruh warga masyarakat tanpa terkecuali.
2
Profil desa Ngabul, Senin 4 mei 2015
59
2. Membangun
menghasilkan
dan
insan
mendorong
intelektual,
terciptanya
insan
pendidikan
inovatif
dan
yang
insan
enterpreneur.
3. Membagun dan mendorong usaha-usaha untuk optimalisasi sektor
industri, pertanian, perkebunan dan peternakan baik tahap produksi
maupun pengolahan hasilnya.
4. Menjamin dan mendorong investor dan usaha-usaha untuk
terciptanya pembangunan di segala bidang yang berwawasan
lingkungan.
5. Peningkatan pelayanan publik yang prima, ditunjang dengan
pemberdayaan aparatur desa.
6. Menjalin komunikasi timbal balik yang harmonis dan sinergis
diantara aparatur desa dengan masyarakat.
7. Menjaga kelestarian dan kekayaan nilai-nilai desa guna menunjang
pembangunan dibidang kepariwisataan.
8. Menjamin dan mendorong terciptanya stabilitas politik, ekonomi
sosial budaya serta keamanan dan ketertiban dalam kehidupan
bermasyarakat.
9. Peningkatan kualitas keluarga melalui pemberdayaan perempuan
menuju konsepsi masyarakat yang berwawasan sosial religious.
10. Peningkatan peran serta pemuda dalam mendorong prestasi disegala
bidang khususnya di bidang kepemudaan dan olahraga.
60
B. Data Khusus
1. Pandangan Perempuan Hamil terhadap keharmonisan keluarga
Pengaruh globalisasi di Indonesia tidak dapat dilihat dari satu sudut
pandang saja, karena globalisasi dapat memunculkan dampak positif dan
dampak negatif. Era globalisasi saat ini lebih di dominasi oleh perkembangan
informasi, komunikasi, dan teknologi. Keadaan ini telah membawa
perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat. Perubahan itu mengusung
kemajuan yang luar biasa, sekaligus menimbulkan kegelisahan di kalangan
orang banyak.
Adanya fenomena hamil di luar nikah, membuat perempuan
merasakan beban yang berat karena kehamilan tersebut terjadi tanpa adanya
ikatan pernikahan.
Seorang
laki – laki harus bertanggung jawab atas
perbuatan yang dia lakukan yaitu dengan menikah dan menafkahi istrinya
(perempuan) meskipun belum siap mental.
Membentuk keluarga merupakan idaman setiap rumah tangga.
Keluarga juga sebagai wujud yang diamanatkan oleh Allah dan menjadikan
dambaan setiap pasangan suami istri. Setiap keluarga mempunyai hubungan
atau komunikasi yang hangat antara sesama anggota keluarga.
Dari data yang sudah di dapat kurang lebihnya ada 5 pernikahan
perempuan hamil di desa Ngabul. Tetapi peneliti mewawancarai 2
perempuan hamil yang berinisial
Nk dan Rb, mereka mengemukaan
pendapat tentang keharmonisan keluarga:
61
Nk : kekarmonisan keluarga yo isa kumpul karo bojo, seneng seneng,
ono seng ngancani turu anger begi, tapi yo pas bojo roso-roso bogawe
rak dwe duwet isane mok nyawang rak iso nyandang. (keharmonisan
kluarga yaitu bisa kumpul sama suami, suka sama suka, ada yang
menemani tidur tiap malem, tapi disaat suami tidak kerja malasmalasan tidak punya uang bisanya melihat tidak bisa membeli
sesuatu).3
wawancara dengan Rb:
Rb : keharmonisan keluarga yoiku seneng seneng karo bojo, ngemong
anak, jalan-jalan, yo pokoe seneng ono seng ngrumati, meneh opo wes
ono anak malah tambah seneng. (keharmonisan keluarga yaitu
bersenang senang sama suami, mengasuh anak, jalan-jalan, apa lagi
sekarang sudah punya anak tambah bahagia ).4
Dari hasil peneliti ini dapat diambil kesimpulan bahwa perempuan
hamil di desa Ngabul mengangap keharmonian keluarga adalah bahagia
bersama, berhias kasih sayang sesama suami dan anak-anaknya. Dari hasil
wawancara dengan Nr dan Rb ia mengatakan bahwa didalam keluarga
kecilnya ia merasa bahagia dengan anak dan suami. sekarang suami bisa
mengerti dengan kondisi keluarga kecilnya. Sudah giat bekerja demi anak dan
istrinya.
3
4
Wawancara dengan Nk Pada Hari Kamis Tanggal 21 Mei 2015.
Wawancara dengan Rb Pada Hari Minggu Tanggal 19 Juli 2015.
62
Masalah ekonomi keluarga itu sangat penting, para istri tidak
mengeluh mereka mengatakan hasil jerih payah suami banyak ataupun sedikit
yang penting cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
2. Faktor Penyebab Pernikahan Perempuan Hamil.
Proses khithbah (peminangan) biasanya diawali dengan adanya
pacaran. Pacaran diartikan denagn lawan jenis yang tetap dan mempunyai
hubungan batin, biasanya untuk menjadi tunangan dan kekasih. Muda-mudi
yang pacaran, kalau ada kesesuaian lahir batin, dilanjutkan dengan tunangan.
Sebaliknya mereka yang bertunangan biasanya diikuti dengan pacaran.
Perbutan berpacaran biasanya tidak luput dari perbuatan saling
berkirim surat, saling berkunjung ke rumah, Saling bertemu di tempat-temat
tertentu, saling melepas rindu, pergi bersama dan seterusnya. Lebih dari itu,
ada pula yang sudah tidak malu-malu lagi pergi berdu, bergandengan tangan,
bermesraan di tempat- tempat sepi, nonton berdua, dll. Atau bahkan lebih
jahilnya lagi, ada yang saling berciuman, saling berpelukan, berdansa-ria.
Akibatnya pergeseran sosial, kebiasaan pacaran masyarakat kita
menjadi terbuka. Terlebih saat mereka merasa belum ada ikatan resmi,
akibatnya bisa melampaui batas kepatutan. Kedangkalan seorang remaja
menggangap perlu pacaran untuk tidak hanya mengenai pribadi pasangannya,
melainkan sebagai pengalaman, uji coba, maupun bersenag-senang belaka.
63
Anehnya, perbuatan yang seperti itu tetap mendapat restu dari orang
tua termasuk orang tua muslim. Mereka rela putra-putrinya pergi entah ke
mana dengan lawan jenisnya yang jelas-jelas belum menjadi suami_istri
yang sah. Betapa suburnya lahan kemaksiatan yang di sediakan oleh tindak
pacaran.
Kita tidak mungkin menutup mata akan aneka kejadian yang amat
memalukan di lingkungan kita. Tidak sedikit para gadis usia muda yang
gagal menjaga kehormatannya dengan segala dampak yang muncul seperti
kehamilan diluar nikah, aborsi, penyakit menular, depresi pada wanita.
Tindakan yang tak terkendali, sehingga lahirlah bayi-bayi penuh derita yang
kelak menjadi anak-anak.
BAB IV
ANALISIS DAMPAK PERNIKAHAN PEREMPUAN HAMIL TERHADAP
KEHARMONISAN KELUARGA
A. Analisis Faktor Terjadinya Pernikahan Perempuan Hamil Di Desa
Ngabul
Semakin tingginya frekuensi globalisasi di era-modernisasi sangat
berpengaruh besar terhadap pergaulan bebas, baik diperkotaan maupun di
pedesaan. Kondisi semacam ini juga sangat mempengaruhi terhadap ideologi
masyarakat, sehingga sebagian mereka beranggapan kalau tidak bergaul
dengan lain jenis maka dinilai ketinggalan zaman. Inilah salah satu dampak
arus globalisasi. Oleh karena itu dalam kondisi semacam ini manusia di tuntut
untuk lebih berhati-hati dalam bertindak.
Pada dasarnya masyarakat merupakan sekumpulan kelompok orang
yang membentuk sebuah sistem yang berinteraksi antar individu satu dengan
yang lain. Dalam setiap tatanan masyarakat akan selalu membutuhkan aturan
yang berbeda dalam penerapannya. Dengan aturan yang telah ada masyarakat
seharusnya bisa menjadi lebih baik untuk hidup yang baik dengan
berpedoman pada aturan yang berlaku di kalangan masyarakat. Namun tidak
semua masyarakat dapat memahami dan mematuhi semua aturan yang telah
64
65
ada sehingga banyak orang yang terjerumus pada hal – hal yang merugikan
dirinya sendiri.
Tindakan pacaran adalah tindakan yang jelas-jelas membuka lahan
subur untuk melakukan kemaksiatan. Dengan berpacaran, berarti menyegaja
untuk menceburkan dirinya kedalam perzinaan.
Sebagai insan muslim yang bijak, seharusnya kita waspadai aneka
bahaya yang dapat timbul akibat tindakan pacaran. Islam mengajarkan kaum
wanita adalah kaum yang harus dimuliakan kehormatannya, bukan dijadikan
ajang kemaksiatan.
Sekarang banyak remaja yang terjerumus kedalam perzinaan, muda
mudi yang tak bisa nengontrol diri dengan baik, Mereka tidak mungkin
menutup mata akan terjadinya kejadian yang memalukan. Dengan berpacaran,
berarti dua insan lawan jenis yang bukan pasangan sahnya sering bertemu dan
berduaan. Keduanya saling berjalan mendekati perzinaan, apalagi jika disertai
dengan saling meraba dan saling berpeluk-cium. Bahaya yang paling besar
akibat ulah berpacaran adalah terjerumusnya pelaku ke dalam perzinaan.
Remaja yang melakukan hubungan seksual dapat menimbulkan
beberapa akibat, seperti kehamilan diluar nikah yang tidak dikehendaki,
penyakit menular, depresi, kecemasan terhadap nasib yang dialaminya. Itu
semua disebabkan karena rendahnya pengetahuan, norma yang dianutnya,
status hubungan, dan harga diri yang rendah.
66
Sebagai mana yang di ungkapkan Nk, Rb (inisal perempuan hamil) di
desa Ngabul, ketika peneliti menanyakan faktor terjadinya pernikahan
perempuan hamil:
Ungkapan Nk: 1
Aku nek emben meteng disek perkarane aku pacaran ambek pacrku
seng saiki dadi bojoku, seneng-seneng karo caiku, opo-opo tak turuti,
lugo dolan bareng, aku ketemu nek umahe kancane dirayu rayu teros
dijak ngo kamar, ambung-ambungan, nglakoni ngonow-ngonw lah,
teros rak sadar rak eleng opo opo iso-iso tekan nglakoni iku mbek
pacarku, teros aku rak prei prei 2 sasi, tak tukokno taspek tak tes
teros aku meteng.
(Saya ketika hamil dulu, saya pacaran dengan pacar saya yang
sekarang sudah menjadi suami, senang senang sama pacar saya, apa
apa saya kasih sama dia, pergi jalan bareng, saya ketemu sama dia saat
dirumah temenya, di rayu-rayu pacar saya terus diajak kedalam kamar,
cium-ciuman, melakukan hubungan intim dengan pacar saya, terus
saya tidak haid haid selama 2 bulan, saya beli taspek lalu positif
hamil).
Ungkapan Rb2:
Aku meteng disek perkarane aku dijak uleman pacarku nek semarag,
teros aku rak muleh perkarane wes bengi, aku nginep nek umahe
kancaku turu umahe wong 2, disusol kelonan ambk pacarku teros
nglakoni iku.
(Saya hamil duluan ketika saya diajak pergi kondangan ke rumah
temennya di semarang, saya tidak pulang kerumah dikarenakan sudah
larut malam, lalu saya menginap dirumah temen berdua dengan pacar
saya, disusul tidur berdua dengan pacar saya lalu melakukan hubungan
dengan dia)
1
2
Wawancara Dengan Nk Pada Hari Kamis 21 Mei 2015
Wawancara Dengan Rb pada Hari Minggu 19 Juli 2015
67
Kehamilan yang diakibatkan oleh hubungan seks di luar nikah
membuat perempuan belum siap untuk hamil, maka dari itu mereka berusaha
untuk mencari solusi dari permasalahan. Hasilnya, solusi yang seringkali
dilakukan oleh perempuan hamil di luar nikah adalah dengan keterpaksaan
untuk menikah atau dengan aborsi.
Perempuan manapun yang meminta aborsi pada dasarnya dalam
keadaan terpaksa. Apalagi tak sedikit pria yang melakukan seks sebelum
nikah menyuruh wanitanya untuk melakukan aborsi. Tapi dipihak perempuan
takut pada dampak terhadap aborsi. Dampak dari adanya aborsi salah satunya
tidak baik untuk kesehatan ibu. Maka perempuan yang hamil di luar nikah,
lebih melakukan pernikahan daripada harus menggugurkan kandungan
(aborsi).
Seperti yang dilakukan Nk3 ia pernah meminum sebuah pil (obat buat
menggugurkan kandungan) dan ciu (minuman keras) agar janin yang
dikandungnya hilang (mengugurkan kandungan), tetapi itu semua tidak bisa
mengugurkan kandungannya. Sehingga ia terpaksa menikah dengan laki-laki
yang menghamilinya.
Hampir semua orang tua kaget dan tidak percaya ketika mendengar
anaknya sedang hamil, mereka harus gimana lagi itu adalah aib keluarga, jalan
satu-satunya yaitu menikahkan anaknya dalam kondisi hamil.
3
Wawancara Dengan Nk Pada Hari Kamis 21 Mei 2015
68
Seperti yang di ungkapkan orang tua dari Nk4
“ Aku kudu piye meneh aku krungu anakku meteng disek aku rak iso
ngopo-ngopo, wes ngisin ngisini keluarga, cahe tak takoni meteng bek
sopo, lanage takon moro takon tanggung jawab, langsong tak kaweno.
( Saya harus gimana lagi, mendengar anak hamil duluan saya tidak
bisa ngapa-ngapain lagi, sudah memaukan keluarga, lalu saya
menanyakan kepada dia siapa yag menghamili, dan laki-laki yang
menghamilinya disuruh datang kerumah, untuk bertanggung jawab
dan menikahkannya).
B. Analisis
Dampak
Pernikahan
Perempuan
Hamil
Terhadap
Keharmonisan Keluarga
Adanya fenomena hamil di luar nikah, membuat perempuan
merasakan beban yang berat karena kehamilan tersebut terjadi tanpa adanya
ikatan pernikahan. Seorang laki–laki harus bertanggung jawab atas perbuatan
yang dia lakukan yaitu dengan menikahi perempuan yang dihamili meskipun
belum siap mental, jasmani dan rohani maupun ekonomi.
Keluarga yang harmonis dan penuh dengan kebahagiaan merupakan
dambaan setiap keluarga. Suami yang bertanggung jawab, istri yang penuh
dengan kasih sayang dan anak-anak yang patuh terhadap orang tua adalah
harapan setiap insan. Sebagai mana yang diungkapkan oleh Nk:5
“Setelah sekian lama aku wes berkeluarga ambek bojoku, aku seneng
susah yo wong lor, wong wes berkewajiban tapi aku ijeh mrono mrene
gane wong tuwo, wong hurong duwe omah dwe, bojoku bar kawen iku
4
5
Wawancara Pada Hari Selasa Tanggal 26 Mei 2015.
Wawancara Dengan Nk Pada Hari Kamis, 21 Mei 2015.
69
malah roso-roso bogawe, tapi pas anakku lahir malah sregep bogawe,
paleng bojoku miker anake mengko dipakani opo, tuku susu ambek
opo, aku yo seneg bojoku sregep bogawe sayang anakku sek emboh”.
(Setelah sekian lama berkeluarga sama suami, saya senang maupun
susah ber_dua, itu sudah kuwajiban tetapi saya masih kesana kesini
kerumah orang tua, karena belum mempunyai rumah sendiri, dulunya
suami saya males-malesan sesudah menikah, tetapi setelah kelahiran
anak suami saya giat bekerja, mungkin suami sudah berfikir kepada
keluargannya, mereka makan dengan apa, beli susu dengan apa, saya
suka suami sekarang giat bekerja, sayang anak dan istri).
Wawancara dengan Rb:6
“Kehidupanku saiki wes ayem bojoku sregep bogawe, tiap libor yo
ngojalan-jalan ambek anak bojoku, opo-opo dituruti, tapi kadang yo
no cekcoke, wong masalah ekonomi, setiap keluarga ak ngonow, ono
senge ono susahe barang, tek seneng yo ngeniku guyon ambek anak
bojone, susahe yo pas gawean sepi kebuthane akeh, tapi aku dadi
bojone rak tau ngeloh wng iku ancen wes onw seng ngator”.
(kehidupan keluarga saya baik-baik saja, suami giat bekerja, tiap libur
kerja bisa jalan-jalan dengan suami dan anak, apa-apa dibelikan suami,
di dalam setiap keluarga pastinya susah maupun senang itu bersama,
terkadang ada percekcokan didalam setiap keluargaku, tentang
6
Wawancara Dengan Rb Pada Hari Minggu, 19 Juli 2015.
70
ekonomi, tapi disaat pekerjaan sepi kebutuhan banyak, saya tidak
mengeluh dengan semua itu karena itu semua sudah ada yang ngatur).
Sebagaimana penjelasan yang saya terima dari narasumber. Seorang
suami akan merasa tentram dalam mengemban tugas sebagai kepala rumah
tangga dan istri akan merasa nyaman dalam mengatur urusan rumah tangga,
anak merasa lebih teduh menerima didikan dari orang tua. Itulah gambaran
keluarga yang dipenuhi dengan nuansa kebahagiaan dan keharmonisan.
Untuk membentuk dan menjadikan sebuah keluarga yang harmonis
diperlukan upaya-upaya yang harus di usahakan oleh seorang yang akan ingin
membina rumah tangga, seperti pada saat memilih jodoh yang baik untuk
dijadikan pasangan hidup, bagaimana saat melakukan peminangan, sampai
saat menikah. Kemudian apabila dicoba menelusuri kembali bagaimana
bentuk ideal dari individu yang baik untuk dijadikan pasangan ternyata harus
selaras dengan ajaran agama islam yang dinyatakan dalam Al-Quran dan
Sunnah Rasul SAW.
Memahami karakter pasangan hidup mutlak dibutuhkan oleh pasangan
suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena, disadari atau
tidak, sepasang suami istri baru mengetahui karakter yang sebenarnya setelah
bersama-sama menjalani kehidupan keluarga. Sedangkan karakter yang
dikenali dari pasangan sebelum menikah adalah karakter semu, yang boleh
jadi hanya hiasan luar semata. Kadang, mereka sadar bahwa pasangan mereka
71
seorang pemarah setelah sekian waktu hidup bersama, yang sebelumnya ia
bukan tipe pemarah, sebaliknya ia merasa bahwa pasangannya seorang
penyabar setelah menjalani kehidupan rumah tangga.
Keluarga sakinah adalah keluarga yang tercukupi secara material
maupun spiritual (lahir maupun batin), seorang suami harus berusaha menjadi
imam yang baik bagi istri dan anaknya, memberi nafkah dan bertanggung
jawab dengan semua urusan keluarga. Begitu pula dengan istri, harus selalu
setia, penuh kasih sayang, menjaga kehormatan, menghargai kerja keras
suami, serta menjaga dan merawat anak-anak dengan baik. Ketika sepasang
suami istri masih menuruti kemauannya sendiri sendiri tanpa mau memahami
pasangannya maka hal ini hanya bisa merusak rumah tangga yang telah
dijalani.
Membentuk keluarga yang harmonis itu tidak mudah, bahkan bisa
dikatakan sangat sulit. Karena dalam keluarga yang harmonis segala
sesuatunya berjalan dengan ajaran agama, dan tidak ada yang dilandasi
dengan keegoisan, atau nafsu semata. Padahal kalau kita amati, hal-hal
tersebut sering terjadi dalam rumah tangga. Kebanyakan suami telah
memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya harus tunduk dan patuh
atas segala perintahnya. Padahal mereka tahu sendiri materi tidak cukup
sebagai landasan seorang suami untuk menuntut haknya secara keseluruhan.
Sebuah keluarga harus selalu menjaga keseimbangan hak dan
kewajiban diantara mereka. Sebagai suami yang sholih, harus menghormati
72
hak dan memenuhi kewajiban kepada istri. Itu merupakan kebahagiaan
tersendiri, karena dengan demikian dia akan memperoleh perlakuan yang
sama dari istrinya. Namun disisi lain, permasalahan yang ditimbulkan karena
tidak adanya saling percaya satu sama lain, kurang menjaga kehormatan diri,
saling cemburu. Itu semuanya bisa mengakibatkan perselisihan antara suami
istri.
Seperti yang pernah dilakukan NK7 ketika seorang mantan pacar
bertemu langsung menayakan keadaan kepada Nk, dan ia tidak ngansih tau
kepada suami, seketika itu suami langsung menegur kepada NK dan
mengalami kecemburuan. Itu semua bisa mengalami perselisihan antara
suami istri. Yang tidak saling terbuka dan percaya satu sama lain.
Adapun hak dan kewajiban sepasang suami istri yaitu saling menjaga,
menghormati, menghargai dan memelihara kehormatan satu dengan yang lain,
memupuk rasa cinta dan kasih sayang, matang dalam berbuat dan berfikir
serta tidak bersikap emosional dalam persoalan yang dihadapi. Setiap
keluarga pastinya ingin mendapatkan kebahagiaan, namun disisi lain ada juga
keluarga yang pastinya tidak luput dari permasalahan dalam rumah tangga.
Di sisi lain, mengenal hal-hal yang disukai dan di benci pasangan
hidup sejak awal perjalanan rumah tangga akan membantu dalam bertindak
dan berucap, sebab sebuah fitrah manusia bila menyukai sesuatu dan
membenci sesuatu yang lain. Dengan mengenal dan memahami selera
7
Wawancara Dengan Nk Pada hari Kamis, 21Mei 2015.
73
pasangan, baik bersifat lahiriyah maupun batiniyah, akan memudahkan kita
untuk mengapai keridhaan dan cintanya.
Selain itu ada unsur lain yang sangat mendukung akan adanya
hubungan sosial, karena manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia
di ciptakan di dunia sebagai makhluk sosial yang secara nalurinya
membutuhkan orang lain. Ia butuh saling mengenal satu sama lain sehingga
tercipta rasa saling tolong menolong diantara mereka. Dengan adanya rasa
saling memahami dan mengerti antara satu dengan yang lain sangatlah
berpengaruh dalam perkembangan seorang anak.
Anak adalah anugrah yang diberikan Allah untuk kita. Asuhlah dan
bimbinglah mereka dengan baik. Ketika anak dibesarkan dan di asuh dalam
keluarga yang penuh dengan cinta dan kasih sayang maka anak akan tumbuh
menjadi anak yang baik dan penuh dengan kasih sayang dan rasa aman, dalam
keluarga yang harmonis juga terbentuk suatu bentuk komunikasi yang baik
antar ayah-ibu, ayah-anak, dan ibu-anak. Namun, ketika seorang anak di asuh
dalam keluarga yang penuh dengan permasalahan dan di abaikan oleh orang
tuanya, tidak dirawat dengan baik, maka anak akan tumbuh dengan
kepribadian yang buruk bahkan bisa menjadikan anak tersebut trauma dengan
kejadian yang tidak sewajarnya dan pertengkaran yang selalu dilihat langsung
oleh anaknya.
74
Seperti yang di alami keluarga Rb dan Nk keluarga mereka menjadi
harmonis senang dan bahagia ketia anak mereka lahir, mereka selalalu
menyayangi, menjaga dan mengasihi dengan sepenuh hatinya.
Tentang alasan apakah mereka mengeluh atau tidak terhadap
pernikahan hamil mereka cukup diam tidak mau berbicara. Keluarga Rb dan
Nk menyikapi terhadap keharmonisan keluarga mereka mendatangi majlis
taklim di lingkungan mereka, untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak,
mereka dulunya tidak tau sekarang menjadi tau dan mereka semua menata
keluarga mereka menjadi baik dan ingin mendapatkan Ridho dari Allah.
BAB V
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah di susun di atas dapat di tarik kesimpulan yaitu:
1) Faktor penyebab pernikahan perempuan hamil di desa Ngabul antara lain adalah
kebiasaan pacaran yang berlebihan. Kadangkala seorang remaja menggangap
pacaran tidak hanya mengenal pribadi pasangannya, melainkan sebagai
pengalaman, uji coba, maupun bersenang-senang belaka. Bahaya yang paling
besar akibat ulah pacaran adalah terjerumusnya
pelaku kedalam perzinaan,
remaja yang melakukan hubungan seks sebelum pernikahan, menimbulkan
beberapa akibat seperti kehamilan diluar nikah, penyakit menular, depresi, dan
kecemasan terhadap nasip yang dialaminya.
2) Berdasarkan wawancara dan analisis dari pernikahan perempuan hamil di desa
Ngabul pernikahan mereka tidak begitu berdampak pada keharmonisan keluarga,
tetapi keadaan keluarga mereka cukup baik dan harmonis, apalagi setelah
hadirnya seorang anak mereka sangat senang dan bahagia, selalu menyayangi
anak dan istrinya. Tentang persoalan ekonomi tidak menjadi permasalahan,
mereka semua menerima jerih payah suami dengan apa adanya. Keluarga yang
harmonis dan penuh dengan kebahagiaan merupakan dambaan setiap keluarga.
Suami yang bertanggung jawab, istri yang penuh dengan kasih sayang dan anakanak yang patuh terhadap orang tua adalah harapan setiap insan.
75
76
2. Saran
Semua manusia pada hakikatnya adalah sama, yaitu mahluk ciptaan Tuhan yang
mempunyai akal dan nafsu. Namun dibalik kesamaan itu, setiap manusia juga
mempunyai perbedaan dengan manusia lainya, diantaranya perbedaan pola pikir,
perbedaan kemampuan dan bakat, perbedaan kualitas akal, dan lain sebagainya.
Kita sebagai remaja harus berhati dalm menjalin hubungan antara teman dan
kekasih, semakin tinggi era globalisasi semkin tinggi tingkat kemajuan. Kita sebagai
perempuan harus menjaga kehormatan diri kita, bagi orang tua harus menjaga, mendidik
anak-anaknya agar tidak terjerumus kedalam kemaksiatan sampai terjadi kehamilan di
luar nikah. Berkeluarga sebaiknya harus siap mental, istri harus bisa mengurus suami,
mengurus anak, suami harus giat mencari nafkah untuk keluarganya.
3. Penutup
Alhamdulillah, atas karunia_nya kami bisa menyelesaikan skripsi ini dengan baik,
meskipun banyak kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Dan pastinya terdapat banyak
kekurangan atau bahkan terdapat kesalahan.
Tidak lupa penulis minta ma’af , apabila dalam penyusunan kaimat maupun
bahasa yang mungkin masih banyak kekeliruan. Penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang konstruktif guna perbaikan dimasa mendatang
Semoga dengan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bermanfaat bagi
masyarakat pada umumnya. Amin ya rabbal alamin.
DAFTAR PUSTAKA
‘Uwaidah Syeh Kamil Muhammad.1998. Fiqih Wanita. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Abdull Aziz Muhammad Azam, Abdul Wahab Sayyed Hawwas.2014.
fikih
munakahat: khitbah,nikah,dan talak. Jakarta: Amzah.
Abu Abdullah Bin Abd al-Salm Allusy, Syekh. 2010. Ibanatul Al-Ahkam Syarhu
Bulughu Al-maram. Jeddah : Dar Al-Haramain.
Al-Asqolani Ibnu Hajar.2009. Terjemahan Bulughul Maram. Jogjakarta: Hikam
Pustaka.
Al-Fauzan Saleh. 2006. Fiqih Sehari-hari. Jakarta, Gema Insani.
Ali Mohamad Daud.2002. Hukum Islam dan Peradilan Agama. Jakarta: PT
RajaGrafindo persada.
Ath-Thalibi Abu Hudzaifah. 2013. Kisah-kisah Keluarga Paling Romantis. Nabawi:
Solo.
As-Subki Ali Yusuf.2010. fikih keluaga (pedoman keluaga dalam islam. Jakarta:
Amzah.
Az-Zuhaili Wahabah. 2011. Jild 9. Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jakarta: Gema insani.
Badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan. Buku Panduan Keluarga
Muslim, semarang
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993.Cet.4. Kamus Besar Indonesia.
Jakarta: Balai Putaka.
Departemen Pendidikan Nasional.2007. kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai pustaka.
Gozali Abdul Rahman. 2010. fikih munakahat. Jakarta : Kencana.
Hadi Sutresno.1981. metode penelitian research 1. Yogyakarta:Yayasan Peneliti
fakultas psikolog UGM.
Halim M.Nipan Abdul.1999. membahagiakan istri sejak malam pertama.
Yogyakarta:Mitra Pustaka.
Koenjtoroningrar.1991. metode-metode penelitian masyarakat. Jakarta: Gramedia.
Kompilasi Hukum Islam. 2011.Cet. ke-3. Bandung: Nuansa Aulia
Leter M.1985. Tuntunan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencan. Padang:
Angkasa Raya.
Mahfud Rois. 2011. Al- Islam (Pendidikan Agama Islam). Erlangga
Mardani.2011. Hukum Perkawinan Islam Di Dunia Islam Modern, Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Mentri Agama. 1997. Al-Quran dan Terjemah. Jakarta: Umum Al-Mujamma’.
Rasjid Sulaiman.1994. fiqih islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Rofik, Ahmad.1997. hukum islam di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sedarmayanti, Dkk.2002. metodelogi penelitian. Bandung: CV.Mandar maju
Soekanto Soerjono,1986. pengantar penelitian hukum. Yogyakrta:UI Pressi.
Summa Muhammad Amin. 2005. Hukum Keluarga Islam Di Dunia Islm,
Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Syaifudin Amir.2011.hukum perkawinan islam di Indonesia. Jakarta: kencana.
Tihami, Sohari Saharani.2010.fikih munakahat: kajian fikih nikah lengkap. Jakarta:
PT. Raja. Persada Grafindo.
Undang-undang R.I No 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan kompilasi hukum
islam. Bandung: Citra Umbara.
Bacaan lain:
A Wararasta Karebet,. 2010. Jurnal hukum No,1.
Fadililah Ainu.2013. status anak hasil dari perkawinan wanita hamil (studi hukum
islam dan hukum positif di Indonesia). jepara: Perpustakaan UNISNU.
Hidayah Arif, 2010. Iddah perempuan hamil karena zina. jepara: Perpustakaan
UNISNU.
Rudzlah Atik Umi, 2014. Pandangan masyarakat Desa Plajan terhadap pernikahan
akibat hamil PRra Nikah. jepara: Perpustakaan UNISNU.
Ulfa Khoirina,2011. studi analisis tentang konsep keluarga sakinah menurut jamaah
tablig perspektif hukum islam. Jepara: Perpustakaan UNISNU.
Ma’ruf Muhammad Bahrul, 2013. Perkawinan wanita hamil (studi komprasi menurut
pendapat Imam Syafi’I dengan Imam Khanafi). Jepara: Perpustakaan
UNISNU
Shoef Ahmad,. 2008. Studi analisis anak di luar nikah di tinjau dari perspektif hukum
positif dan diqih madzhab. Jepara: Perpustakaan UNISNU
Wardani Dian Eka,. Pernikahan laki-laki dan perempuan hamil di luar nikah ( studi
deskriptif mengenai stigma dan tindakan sosial laki-laki yang menikahi
wanita hamil di kawasan Surabaya). Jurnal.
Download