tb141328 penilaian intangible asset hak paten - Repository

advertisement
SKRIPSI − TB141328
PENILAIAN INTANGIBLE ASSET HAK PATEN PADA
KOMERSIALISASI PRODUK PENELITIAN PERGURUAN
TINGGI X
DINA TANDIANA HALIM
NRP. 2813 100 045
DOSEN PEMBIMBING
Dr. Ir. I KETUT GUNARTA, M.T.
DOSEN KO-PEMBIMBING
GEODITA WORO BRAMANTI S.T., MEngSc.
DEPARTEMEN MANAJEMEN BISNIS
FAKULTAS BISNIS DAN MANAJEMEN TEKNOLOGI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017
HALAMAN JUDUL
SKRIPSI TB − TB141328
PENILAIAN INTANGIBLE ASSET HAK PATEN PADA
KOMERSIALISASI PRODUK PENELITIAN PERGURUAN TINGGI X
DINA TANDIANA HALIM
NRP. 2813 100 045
DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Ir. I KETUT GUNARTA, M.T.
DOSEN KO-PEMBIMBING :
GEODITA WORO BRAMANTI, S.T., M.Eng.Sc.
DEPARTEMEN MANAJEMEN BISNIS
FAKULTAS BISNIS DAN MANAJEMEN TEKNOLOGI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017
HALAMAN JUDUL
UNDERGRADUATE THESIS − TB141328
INTANGIBLE ASSET VALUATION OF PATENT ON X UNIVERSITY
RESEARCH PRODUCT COMMERCIALIZATION
DINA TANDIANA HALIM
NRP. 2813 100 045
SUPERVISOR :
Dr. Ir. I KETUT GUNARTA, M.T.
CO-SUPERVISOR :
GEODITA WORO BRAMANTI, S.T., M.Eng.Sc.
DEPARTMENT OF BUSINESS MANAGEMENT
FACULTY OF BUSINESS AND TECHNOLOGY MANAGEMENT
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017
PENILAIAN INTANGIBLE ASSET HAK PATEN PADA
KOMERSIALISASI PRODUK PENELITIAN PERGURUAN TINGGI X
Nama Mahasiswa
: Dina Tandiana Halim
NRP
: 2813100045
Departemen
: Manajemen Bisnis
Dosen Pembimbing
: Dr. Ir. I Ketut Gunarta, M.T.
Dosen Ko-Pembimbing
: Geodita Woro Bramanti, S.T., M.Eng.Sc.
ABSTRAK
Penggunaan intangible asset mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir
serta intangible asset menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses inovasi
perusahaan. Hal tersebut disebabkan oleh persaingan bisnis yang semakin ketat di
dunia yang semakin mengglobal ini. Penciptaan keunggulan kompetitif yang
berasal dari aset berwujud sudah sangat marak dan ketat persaingannya. Oleh
karena itu, perusahaan-perusahaan mulai memasuki era baru yaitu penciptaan
keunggulan kompetitif yang berasal dari intangible asset. Di negara-negara maju,
investasi dan penggunaan intangible asset sebagai modal intelektual sudah sangat
berkembang, bahkan investasi intangible asset dalam GDP di beberapa negara
maju telah melebihi investasi aset berwujud. Perguruan Tinggi X melihat peluang
tersebut untuk memanfaatkan paten yang dimilikinya yaitu paten suatu produk
hasil penelitian Perguruan Tinggi X. Pemanfaatan tersebut diimplementasikan
dengan melakukan license agreement dengan PT Y. Perguruan Tinggi X
merupakan pihak pemberi lisensi dan PT Y pihak pembeli lisensi. License
agreement yang dilakukan bertujuan untuk mengkomersialisasikan salah satu
produk hasil penelitian Perguruan Tinggi X tersebut. Dengan melakukan license
agreement, Perguruan Tinggi X akan memberikan sebagian hak patennya kepada
PT Y untuk dapat memproduksi dan memasarkan produk penelitian. PT Y tertarik
untuk melakukan license agreement tersebut karena melihat adanya potensi dan
keunggulan-keunggulan yang dimiliki produk hasil penelitian Perguruan Tinggi
X. Penelitian ini bertujuan untuk menilai intangible asset berupa hak paten produk
penelitian yang dimiliki Perguruan Tinggi X hingga menghasilkan nilai tunggal
dari hak paten dan menghitung tarif royalti yang dapat ditatapkan atas license
agreement yang dilakukan dengan PT Y. Pedekatan dan metode yang digunakan
dalam melakukan penilaian paten produk penelitian ini adalah Pendekatan
Pendapatan dan Metode Discounted Cash Flow. Penelitian ini menghasilkan nilai
dari intangible asset hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X yaitu
sebesar Rp 306.314.276.500 dan tarif royalti sebesar 4,89% dari total penjualan
bersih per tahun.
Kata kunci : Penilaian Aset tak Berwujud, Penilaian Paten, Aset tak Berwujud,
Pendekatan Pendapatan, Metode Discounted Cash Flow
i
(halaman ini sengaja dikosongkan)
ii
INTANGIBLE ASSET VALUATION OF PATENT ON X UNIVERSITY
RESEARCH PRODUCT COMMERCIALIZATION
Name
: Dina Tandiana Halim
Student Number
: 2813100045
Department
: Manajemen Bisnis
Supervisor
: Dr. Ir. I Ketut Gunarta, M.T.
Co-supervisor
: Geodita Woro Bramanti, S.T., M.Eng.Sc.
ABSTRACT
In the last few years, the use of intangible assets has increased as intangible
assets become critical for the success of the innovation process within firms. This
was caused by the increasing competition in business environtment as world
become more and more globalized. The creation of ompetitive advantage derived
from tangible assets is already widespread and tight. Therefore, companies start
to enter a new era, namely the creation of competitive advantage that derived by
intangible assets. In developed countries, investment in intangible asset and use of
intangible assets as intellectual capital has been highly developed,. In some of
those country, the intangible assets investment has exceeded the tangible asset
investments in their GDP. X University, see this condition as an opportunity to
exploit their one of their research product patent. The utilization carried out by
executing license agreement with PT Y. X University is the licensor while PT Y is
the licensee party. The purpose of this license agreement is to commercialize one
of the research product patent owned by X University. By undertaking the license
agreement, X University gives part of their patent rights to PT Y which make PT Y
able to produce and market the research product. PT X intend to do this license
agreement because they foresee the potential and the competitive advantages own
by the research product. This study aims to appraise the research product patent
owned by X University to generate a single value of patents and to determine the
royalty rates of patent. The approach and method used in assessing this intangible
asset is Income Approach and Discounted Cash Flow Method.. The result of this
research shows that the value of X University research product patent equals to
Rp 306.314.276.500 and the royalty rate of patent equals to 4,89% from annual
total net sales.
Kata kunci : Intangible Asset, Intangible Asset Valuation, Patent Valuation,
Income Approach, Discounted Cash Flow Method
iii
(halaman ini sengaja dikosongkan)
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas
rahmat dan kasih sayang-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan skripsi yang
berjudul “Penilaian Intangible Asset Hak Paten Pada Komersialisasi Produk
Penelitian Perguruan Tinggi X” dengan baik.
Laporan skripsi ini disusun guna memenuhi persyaratan untuk
menyelesaikan studi Strata-1 dan memperoleh gelar Sarjana Manajemen, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Laporan skripsi ini tidak akan
terselesaikan tanpa bantuan dari banyak pihak. Dalam kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu penulis selama menyelesaikan tugas akhir ini, yaitu:
1.
Bapak Imam Baihaqi, S.T., M.Sc., Ph.D selaku Ketua Jurusan Manajemen
Bisnis ITS.
2.
Bapak Nugroho Priyo Negoro S.T., S.E., M.T. selaku Sekretaris Jurusan
Manajemen Bisnis ITS dan dosen wali penulis yang telah mendampingi serta
membimbing penulis selama masa perkuliahan.
3.
Bapak Dr. Ir. I Ketut Gunarta, M.T. selaku dosen pembimbing yang selalu
sabar dalam membimbing, memberi arahan, dan masukan yang bermanfaat
kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
4.
Ibu Geodita Woro Bramanti, S.T., M.Eng.Sc. selaku dosen Ko-Pembimbing
yang telah memberikan kritik, saran, serta bantuan yang bermanfaat bagi
penulis sehingga membuat penyelesaian skripsi ini menjadi lebih baik.
5.
Bapak Muhammad Saiful Hakim, S.E., M.M. selaku Koordinator Skripsi
Jurusan Manajemen Bisnis ITS yang telah memberikan motivasi, dukungan,
dan fasilitas dalam penyelesaian skripsi.
6.
Bapak dan Ibu Dosen tim pengajar Jurusan Manajemen Bisnis ITS yang telah
banyak memberikan pembelajaran bagi penulis selama kuliah juga selama
penyelesaian skripsi ini.
7.
Ayah, Mama, dan adik-adik dari penulis yang selalu memberikan semangat dan
kekuatan kepada penulis. Terima kasih yang tak terhingga atas segala doa yang
dipanjatkan kedua orang tua penulis, juga atas dukungan mental dan materi
v
yang telah diberikan.
8.
Sahabat-sahabat penulis sejak di bangku SMP yang selalu ada dan senantiasa
menemani penulis selama kurang lebih sembilan tahun ini, Mariska Fitriani
dan Salsabila Khairunnisa. Terima kasih atas semua do’a, motivasi, semangat,
hiburan, dan bantuan yang telah diberikan.
9.
Sahabat-sahabat seperjuangan penulis di kampus yang selalu menemani dan
memberikan semangat serta keceriaan selama empat tahun penulis berkuiah di
Jurusan Manajemen Bisnis ITS, Bella Harum Ashari, Anindita Amalia Putri,
Azalia Putri Cahyaning Rahmani, dan Ayu Citra Islami. Terima kasih karena
telah banyak membantu penulis selama merantau di Surabaya.
10. Sahabat-sahabat kosan Mulyosari BPD No. 42 yang selalu menemani hari-hari
penulis dan malam-malam begadang untuk mengerjakan skripsi, Ni Made
Bella Sintya Devi, Silviana Jehan, Avynda Andriani, Ratri Kartika Sari, dan
Nadia Aulia.
11. Teman-teman mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis ITS angkatan 2013
dengan nama angkatan Forselory yang bersama-sama penulis melewati likaliku dunia perkuliahan. Terima kasih atas empat tahun kebersamaan, bantuan,
dan keceriaan yang telah diberikan.
12. Keluarga Mahasiswa Manajemen Bisnis ITS dan BMSA, atas doa dan
dukungan yang diberikan.
13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu atas segala bantuannya
kepada penulis dalam pengerjaan skripsi.
Surabaya, Juli 2017
Penulis
vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ............................................................................................................... i
ABSTRACT ............................................................................................................. iii
KATA PENGANTAR ............................................................................................ v
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1.
Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2.
Rumusan Masalah .................................................................................... 7
1.3.
Tujuan Penelitian ...................................................................................... 7
1.4.
Manfaat Penelitian .................................................................................... 7
1.5.
Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................ 8
1.5.1.
Batasan .............................................................................................. 8
1.5.2.
Asumsi .............................................................................................. 8
1.6.
Sistematika Penulisan ............................................................................... 8
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 11
2.1.
Definisi Aset ........................................................................................... 11
2.2.
Klasifikasi Aset ...................................................................................... 12
2.2.1.
Aset Lancar ..................................................................................... 12
2.2.2.
Aset tidak lancar .............................................................................. 13
2.3.
Aset Tak Berwujud (Intangible Asset) ................................................... 15
2.3.1.
Karakteristik Intangible Asset ......................................................... 16
2.3.2.
Kepentingan Intangible Asset ......................................................... 17
2.4.
Struktur Modal ....................................................................................... 18
vii
2.4.1.
Trade-off dalam Desain Struktur Modal.......................................... 18
2.4.2.
Biaya Modal .................................................................................... 18
2.4.3.
Cost of Debt ..................................................................................... 19
2.4.4.
Cost of Equity .................................................................................. 20
2.5.
Penilaian Intangible Asset ...................................................................... 20
2.5.1.
Objektif dari Penilaian ..................................................................... 21
2.5.2.
Tujuan dari Penilaian ....................................................................... 21
2.5.3.
Proses Penilaian Intangible Asset .................................................... 22
2.5.4.
Sumber data dan informasi .............................................................. 23
2.6.
Pendekatan Penilaian Intangible Asset ................................................... 24
2.6.1.
Pendekatan Biaya (Cost Approach) ................................................. 26
2.6.2.
Pendekatan Pasar (Approach Method) ............................................ 28
2.6.3.
Pendekatan Pendapatan (Income Approach) ................................... 29
2.7.
Paten........................................................................................................ 30
2.7.1.
Penilaian Hak Paten ......................................................................... 30
2.7.2.
Informasi Umum Mengenai Paten yang Diperlukan ....................... 31
2.8.
Kajian Penelitian Terdahu ...................................................................... 33
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 35
3.1.
Flowchart Penelitian ............................................................................... 35
3.2.
Penjelasan Flowchart Penelitian ............................................................. 37
3.2.1.
Tahap Identifikasi Unit Analisis ...................................................... 37
3.2.2.
Tahap Pengumpulan Data ................................................................ 37
3.2.3.
Tahap Analisis Penilaian Intangible Aset ........................................ 38
3.2.4.
Penarikan Kesimpulan ..................................................................... 40
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA ................................ 41
4.1.
Pengunpulan Data ................................................................................... 41
viii
4.1.1.
Investasi Bebas Risiko .................................................................... 41
4.1.2.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ......................................... 42
4.1.3.
Proyeksi Penjualan Produk ............................................................. 43
4.1.4.
Harga Jual Produk ........................................................................... 44
4.1.5.
Investasi Aset Tetap ........................................................................ 44
4.1.6.
Sumber Pendanaan .......................................................................... 45
4.1.7.
Proyeksi Biaya-biaya ...................................................................... 46
4.1.8.
Perusahaan Pembanding.................................................................. 46
4.2.
Pengolahan Data ..................................................................................... 48
4.2.1.
Periode Proyeksi Pendapatan Ekonomi .......................................... 48
4.2.2.
Proyeksi Penjualan Bersih Produk .................................................. 48
4.2.3.
Proyeksi Harga Pokok Penjualan .................................................... 49
4.2.4.
Proyeksi Biaya Pemasaran .............................................................. 50
4.2.5.
Proyeksi Biaya Tenaga Kerja .......................................................... 51
4.2.6.
Proyeksi Biaya Kompensasi ............................................................ 52
4.2.7.
Proyeksi Biaya Perolehan Properti.................................................. 52
4.2.8.
Proyeksi Biaya Jasa Pihak Luar ...................................................... 53
4.2.9.
Proyeksi Biaya Tetap Pemasaran .................................................... 54
4.2.10.
Proyeksi Biaya Tetap Lainnya..................................................... 55
4.2.11.
Proyeksi Biaya Umum dan Administrasi .................................... 56
4.2.12.
Proyeksi Piutang Usaha ............................................................... 56
4.2.13.
Proyeksi Hutang Usaha ............................................................... 57
4.2.14.
Proyeksi Perubahan Modal Kerja ................................................ 58
4.2.15.
Proyeksi Pendanaan ..................................................................... 59
4.2.16.
Proyeksi Harga Perolehan Aset Tetap ......................................... 60
4.2.17.
Proyeksi Akumulasi Harga Perolehan Aset Tetap ...................... 61
ix
4.2.18.
Proyeksi Biaya Depresiasi ........................................................... 62
4.2.19.
Proyeksi Akumulasi Biaya Depresiasi ......................................... 63
4.2.20.
Proyeksi Nilai Buku ..................................................................... 63
4.2.21.
Proyeksi Laporan Laba Rugai Tahun .......................................... 64
4.2.22.
Proyeksi Laporan Arus Kas ......................................................... 65
4.2.23.
Proyeksi Neraca Keuangan .......................................................... 68
4.2.24.
Proyeksi Intangible Asset Post Tax Profit ................................... 69
4.2.25.
Penghitungan Weighted Average Cost of Capital (WACC) ........ 71
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN ......................................................... 75
5.1.
Identifikasi masalah penilaian intangible asset ...................................... 75
5.1.1.
Objektif Penilaian ............................................................................ 75
5.1.2.
Tujuan Penilaian .............................................................................. 76
5.1.3.
Waktu Berlakunya Penilaian ........................................................... 76
5.2.
Asumsi Penilaian .................................................................................... 77
5.2.1.
Asumsi Makro ................................................................................. 77
5.2.2.
Asumsi Mikro .................................................................................. 78
5.3.
Analisis Penilaian Intangible Asset......................................................... 79
5.3.1.
Nilai Intangible Asset Hak Paten Produk Penelitian ....................... 80
5.3.2.
Tarif Royalti Hak Paten Produk Penelitian ..................................... 82
5.4.
Implikasi Manajerial ............................................................................... 84
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 89
6.1.
Kesimpulan ............................................................................................. 89
6.2.
Saran ....................................................................................................... 90
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 91
BIODATA PENULIS ............................................................................................ 97
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Klasifikasi Intanible Asset Menurut Holzmann (2001) ....................... 15
Tabel 2. 2 Kajian Penelitian Terdahulu................................................................. 33
Tabel 4. 1 Obligasi Pemerintah Tahun 2017 ......................................................... 41
Tabel 4. 2 Investasi Aset Tetap ............................................................................. 44
Tabel 4. 3 Umur Ekonomis Aset Tetap ................................................................. 45
Tabel 4. 4 Proyeksi biaya-biaya Tahun 2017-2018 .............................................. 46
Tabel 4. 5 Perusahaan Pembanding ...................................................................... 47
Tabel 4. 6 Proyeksi Piutang Usaha ....................................................................... 57
Tabel 4. 7 Proyeksi Hutang Usaha Tahun 2017-2019 .......................................... 58
Tabel 4. 8 Proyeksi Perubahan Modal Kerja Tahun 2017-2019 ........................... 58
Tabel 4. 9 Proyeksi Pendanaan Tahun 2017-2019 ................................................ 59
Tabel 4. 10 Proyeksi Harga Perolehan Aset Tetap Tahun 2017-2018 .................. 61
Tabel 4. 11 Proyeksi Akumulasi Harga Perolehan Aset Tetap Tahun 2017-2018 61
Tabel 4. 12 Proyeksi Biaya Depresiasi Tahun 2017-2018 .................................... 62
Tabel 4. 13 Proyeksi Akumulasi Biaya Depresiasi Tahun 2017-2018 ................. 63
Tabel 4. 14 Proyeksi Nilai Buku Tahun 2017-2018 ............................................. 63
Tabel 4. 15 Proyeksi Laporan Laba Rugi Tahun 2017-2018 ................................ 65
Tabel 4. 16 Proyeksi Laporan Arus Kas Tahun 2017-2018 .................................. 66
Tabel 4. 17 Proyeksi neraca Keuangan Tahun 2017-2018 ................................... 69
Tabel 4. 18 Proyeksi Post Tax Profit yang Dihasilkan Intangible Asset Tahun
2017 - 2019 ...................................................................................... 70
Tabel 4. 19 Penghitungan WACC......................................................................... 72
Tabel 5. 1 Proyeksi Free Cash Flow dari Intangible Asset Tahun 2017-2018 ..... 81
Tabel 5. 2 Analisis NPV Pendapatan Royalti ....................................................... 83
Tabel 5. 3 Proyeksi Pendapatan Royalti Tahun 2017-2019 .................................. 84
Tabel 5. 4 Implikasi Manajerial ............................................................................ 87
xi
(halaman ini sengaja dikosongkan)
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Investasi Berbentuk Tangible dan Intangible Asset dalam GDP Tahun
2006 ................................................................................................... 4
Gambar 4. 1 IHSG Tahun 2007-2017 ................................................................... 42
Gambar 4. 2 Proyeksi Penjualan Produk A Tahun 2018-2021 ............................. 43
Gambar 4. 3 Sumber Pendanaan ........................................................................... 45
Gambar 4. 4 Proyeksi Penjualan Bersih Produk A 2017-2021 ............................ 49
Gambar 4. 5 Proyeksi Harga Pokok Penjualan Tahun 2017-2021........................ 50
Gambar 4. 6 Proyeksi Biaya Pemasaran Tahun 2017-2021 .................................. 50
Gambar 4. 7 Proyeksi Biaya Tenaga Kerja Tahun 2017-2021 ............................. 51
Gambar 4. 8 Proyeksi Biaya Kompensasi Tahun 2017-2021 ............................... 52
Gambar 4. 9 Proyeksi Biaya Perolehan Properti Tahun 2017-2021 ..................... 53
Gambar 4. 10 Proyeksi Biaya Jasa Pihak Luar Tahun 2017-2021 ........................ 54
Gambar 4. 11 Proyeksi Biaya Tetap Pemasaran Tahun 2017-2021...................... 54
Gambar 4. 12 Proyeksi Biaya Tetap Lainnya Tahun 2017-2021 .......................... 55
Gambar 4. 13 Proyeksi Biaya Umum & Administrasi Tahun 2017-2021 ............ 56
xiii
(halaman ini sengaja dikosongkan)
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pendahuluan dilakukannya penelitian
yang terdiri dari latar belakang dilakukannya penelitian, rumusan masalah yang
diangkat, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, dan
sistematika penulisan.
1.1. Latar Belakang
Jumlah perusahaan yang sebagian besar nilainya terletak pada modal
intelekual telah meningkat secara drastis sejak tahun 1990 (Sullivan Jr & Sullivan
Sr, 2000). Oleh karena itu, penggunaan intangible asset juga semakin meningkat
(Russell, 2016). Dengan kata lain, semakin banyak pula perusahaan yang nilainya
sebagian besar berasal dari intangible asset dan memiliki nilai tangible asset yang
relatif kecil atau tidak ada. Aset, dalam konteks bisnis, adalah sesuatu yang dibeli
oleh perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan nilai dan pendapatan atau
untuk membantu dalam mendapatkan keuntungan operasi perusahaan secara
keseluruhan
(Smith,
2015).
Berdasarkan
keberadaan
fisiknya,
asset
diklasifikasikan kedalam dua kelompok yaitu tangible asset dan intangible asset.
Tangible asset atau aset berwujud merupakan aset yang memiliki bentuk fisik.
Contohnya adalah seperti bangunan, peralatan, dan alat transportasi perusahaan.
Tangible asset biasanya dapat ditemukan tercatat sebagai pabrik, aset tetap, dan
peralatan pada neraca keuangan perusahaan di sisi kiri yaitu di sisi aset. Intangible
asset didefinisikan sebagai sumber daya yang tidak memiliki perwujudan fisik dan
secara ekonomi dinyatakan akan menghasilkan keuntungan di masa mendatang
(Bouteiller, 2000). Contoh dari intangible asset adalah seperti nama merek, nama
domain, dan database yang terkomputerisasi. Intangible asset tercantum secara
terpisah di neraca. Bila diidentifikasi dan dikelola dengan baik oleh perusahaan,
intangible asset dapat menghasilkan keuntungan di masa depan.
Peningkatan perusahaan yang aset utamanya merupakan intangible asset
dapat dipicu oleh beberapa hal (Sullivan Jr & Sullivan Sr, 2000). Yang pertama
adalah munculnya dan berkembangnya perusahaan-perusahaan pada sektor jasa
1
dan campuran manufaktur-jasa dengan pesat, dibandingkan perusahaan pada
sektor manufaktur tradisional. Yang kedua adalah nilai properti intelektual seperti
paten, yang mengalami peningkatan nilai dan pengakuan. Yang ketiga adalah
kemajuan yang pesat dari teknologi, khususnya teknologi informasi seperti
internet. Pertumbuhan internet yang pesat diiringi dengan pertumbuhan teknologi
informasi lainnya seperti alat komunikasi smart phone, perangkat komputer serta
aplikasi-aplikasi
di
dalamnya
dan
lain-lain.
Contoh
perusahaan
yang
memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta menjadikan
intangible asset sebagai aset utamanya adalah Perusahaan Go-jek dan Perusahaan
pengembang media sosial Facebook yang juga mengenbangkan Instagram.
Dalam praktiknya, penilaian tangible asset cenderung lebih dapat
menghasilkan nilai yang akurat karena memiliki bentuk fisik. Sementara
intangible asset tidak memiliki bentuk fisik sehingga lebih sulit untuk dapat
melakukan penilaian secara akurat. Diperlukan metode yang khusus untuk menilai
intangible asset. Metode-metode penilaian tradisional yang berdasarkan prinsip
akuntansi, kurang memadai untuk menilai perusahaan yang asetnya sebagian
besar intangible. Hal tersebut karena metode-metode penilaian tradisional
cenderung memperkecil nilai dari intangible asset (Sullivan Jr & Sullivan Sr,
2000). Bila terdapat intangible asset yang tidak dinilai atau undervalued pada
suatu bisnis atau perusahaan, maka bisnis atau perushaan tersebut dapat memiliki
nilai ekuitas yang undervalued di pasar. Terlebih lagi bila bisnis atau perusahaan
tersebut memiliki intangible asset sebagai aset utama, maka nilai ekuitasnya akan
lebih jatuh lagi di pasar. Untuk itu, pada perusahaan yang memiliki intangible
asset terlebih lagi intangible asset merupakan aset utama, diperlukan kemampuan
untuk dapat memilih metode penilaian intangible asset yang tepat agar hasil nilai
intangible asset yang diestimasi mendekati nilai sebenarnya dari subjek-subjek
aset tersebut.
Selain ketidak hadiran substansi fisik yang membuat penilaian intangible
asset cenderung rumit, tantangan lainnya adalah karena terbatasnya penulisan
mengenai pengaplikasian metode penilaian intangible asset terutama metode yang
menggunkanan diskonto arus kas dalam menentukan nilai suatu intangible asset
spesifik (Lev & Schwartz, 1971). Salah satu alasan dari terbatasnya penelitian
2
pada bidang tersebut adalah, karena sulitnya memperkirakan arus kas masa depan
dari intangible asset dengan akurat (Lagrost, et al., 2010). Masing-masing
intangible asset yang dimiliki perusahaan cenderung menghasilkan arus kas masa
depan yang khas karena suatu intangible asset yang sama dapat memiliki
kegunaan dan manfaat yang berbeda-beda bagi setiap perusahaan. Selain itu,
sekalipun intangible asset merupakan unit ekonomi independen, intangible asset
dapat menjadi bagian dari suatu produk atau sistem. Contohnya adalah microchip
yang merupakan komponen dari beberapa produk seperti komputer dan smart
phone. Bila intangible asset merupakan bagian dari produk atau sistem, maka pelu
untuk memisahkan nilai yang dihasilkan oleh intangible asset dari total nilai
produk atau sistem secara keseluruhan. Dalam dunia akuntasi sendiri, pengakuan
dan pengukuran intangible asset merupakan topik yang kontroversial dan
menghadirkan tantangan untuk para pembuat standar akuntasi (Wines &
Ferguson, 1993). Salah satu permasalahan utama untuk para pembuat standar
akuntansi adalah apakah intangible asset yang dibuat secara internal harus diakui
dan dihargai layaknya aset yang dapat dibeli atau diciptakan kembali (Dahmash,
et al., 2009). Selain bagi perusahaan pemilik intangible asset, akan sulit untuk
dapat menciptakan atau membeli intangible asset yang sama bagi perusahaanperusahaan pesaing. Intangible asset dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi
perusahaan pemilik.
Kesulitan-kesulitan dalam pengukuran dan penilaian intangible asseet
mengakibatkan kurangnya persetujuan diantara para ahli mengenai modal
intelektual apa saja yang perlu dilaporkan (Russell, 2016). Hal tersebut
mempengaruhi terbatasnya pelaporan keuangan modal intelektual (Petty &
Guthrie, 2000). Dampaknya adalah pelaporan keuangan modal intelektual pada
perusahaan-perusahaan menghadapi nilai yang lebih rendah dari nilai yang
seharusnya
(Schaper,
2016).
Tidak
jarang
perusahaan
yang
kurang
memperhatikan intangible asset-nya bahkan tidak menyadari dan tidak melakukan
penilaian terhadap intangible asset-nya. Banyak pula perusahaan yang tidak
menyelidiki cara untuk memaksimalkan pendapatan yang dapat dihasilkan oleh
intangible asset. Menurut Green (2007), umumnya Intangible asset tidak masuk
ke dalam pengeloaan manajemen yang aktif di perusahaan. Padahal, intangible
3
asset dapat dijadikan modal utama untuk menjalankan sebuah bisnis atau
perusahaan. Beberapa penciptaan atau pembuatan intangible asset justru tidak
membutuhkan biaya sebesar menciptakan tangible asset. Kemudian intangible
asset tersebut dapat memiliki nilai yang melebihi biaya produksi atau biaya
penggantinya karena dapat menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan di masa
mendatang.
Investasi Berbentuk Tangible dan Intangible Asset dalam GDP
30
25
20
15
10
5
0
Ekuitas merek, Human capital perusahaan, Organisational Capital
R&D dan Produk kekayaan intelektual lainnya
Software & Databases
Mesin & Peralatan
Gambar 1.1 Investasi Berbentuk Tangible dan Intangible Asset dalam GDP Tahun 2006
Sumber: Organisation for Economic Co-operation and Development
Di beberapa negara, proporsi investasi dalam bentuk intangible asset sudah
menyaingi bahkan melebihi investasi dalam bentuk tangible asset seperti yang
dapat dilihat pad Gambar 1.1. Investasi btangible asset tersubut berupa investasi
Dalam bentuk software, database, ekuitas merek, human capital perusahaan,
organisational capital, research & development, serta produk kekayaan
intelektual lainnya. Di negara-negara maju seperti Swedia, Finlandia, Amerika,
dan Inggris, proporsi investasi dalam bentuk intangible asset telah melebihi
proporsi investasi dalam bentuk tangible asset pada negara-negara tersebut. Pada
awal tahun 1880, nilai aset berwujud masih dua kali lipat lebih banyak
dibandingkan nilai intangible asset. Sedangkan sejak awal tahun 2000, nilai
intangible asset telah mencapai enam hingga tujuh kali lipat dari nilai aset
berwujud (Lev, 2001).
4
Melihat menurunnya investasi pada aset berwujud dan lebih banyaknya
peluang pada investasi intangible asset, kini para peneliti di Indonesia mulai
melirik potensi-potensi yang dapat dihasilkan dari intangible asset dan mulai
mengambil tindakkan untuk melindungi intangible asset mereka. Berbagai inovasi
di bidang kesehatan dan medis telah dipatenkan oleh Universitas Gajah Mada
(UGM). Salah satu inovasi di bidang kesehatan yang dipatenkan oleh UGM
adalah kateter alat penyedot cairan otak untuk penderita hedrosefalus yang diberi
nama INA Shunt. INA Shunt dipatenkan oleh UGM pada bulan September tahun
2009 (Agung, 2016). INA Shunt memiliki berbagai keunggulan dibandingkan
kateter alat penyedot cairan otak lainnya. Keunggulan-keunggulan dari kateter
tersebut dapat mengurangi tingkat risiko perawatan pasien hidrosefalus.
Sebelumnya Indonesia perlu mengimpor kateter alat penyedot cairan otak untuk
dapat menangani penderita hidrosefalus (Sudjatmiko, 2016). Saat ini, salah satu
perusahaan milik UGM yaitu PT Gama Multi Usaha Mandiri telah memproduksi
INA Shunt, yang dalam pemasarannya bekerja sama dengan PT Phapros Tbk
(Kurniati, 2016). INA Shunt memiliki harga yang jauh lebih terjangkau
dibandingkan kateter alat penyedot cairan otak yang sebelumnya didapatkan dari
hasil impor (Sudjatmiko, 2016). Pada tahun 2016, INA Shut telah dipakai oleh
kurang lebih 10.000 pasien penderita hidrosefalus (Agung, 2016). Inovasi INA
Shunt adalah salah satu bukti bahwa penemuan riset akademisi yang berupa
intangible asset dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas dan
memberikan keuntungan kepada pemilik intangible asset.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada pihak
lembaga pengelola hak paten pada Perguruan Tinggi X, Perguruan Tinggi X juga
mulai memanfaatkan intangible asset yang dimilikinya. Perguruan Tinggi X
berencana untuk melakukan komersialisasi terhadap hak paten sebuah produk
yang merupakan hasil dari penelitian dan penemuan riset. Perguruan Tinggi X
akan melakukan kerjasama dengan PT Y untuk melakukan komersialisasi
terhadap produk hasil penelitian tersebut. PT Y tertarik untuk memproduksi
produk hasil penelitian Perguruan Tinggi X dikarenakan oleh potensi pangsa pasar
dan keunggulan-keunggulan yang dimiliki produk penelitian.
5
Penelitian ini dilaksanakan sebelum dilakukannya license agreement dan saat
proses perencanaan komersialisasi produk penelitian berlangsung. Pada tahap
proses perencanaan komersialisasi produk penelitian Perguruan Tinggi X ini,
diadakan non-disclosure agreement atau perjanjian resmi bahwa pihak-pihak yang
terlibat dalam komersialisasi tidak dapat memberi tahukan data terkait
komersialisasi kepada pihak luar dan akan ada sanksi bagi yang melanggar. Untuk
itu data terkait komersialisasi produk penelitian Perguruan Tinggi ini terikat
kerahasiaan. Nama, jenis, serta mayoritas deskripsi dari produk yang akan
dihasilkan dari komersialisasi produk penelitian Perguruan Tinggi X pun perlu
dirahasiakan. Dalam penelitian ini, produk hasil komersialisasi hak paten
Perguruan Tinggi X akan diberi nama sebagai Produk A.
Produk A ditargetkan akan diproduksi dan dipasarkan oleh PT Y pada awal
tahun 2018. Perguruan Tinggi X perlu menetapkan tarif royalti atas hak paten
yang dimiliki dan license agreement (perjanjian lisensi) yang akan dilakukan
dengan PT Y. Tarif royalti tersebut perlu dibayarkan oleh PT Y kepada Perguruan
Tinggi X selama jangka waktu yang ditetapkan yaitu selama periode license
agreement dilakukan. Dalam jangka waktu itu pula PT Y diberikan hak dan dapat
memproduksi serta memasarkan produk penelitian. Untuk dapat menghitung tarif
royalti, pertama-tama perlu diketahui nilai dari hak paten produk penelitian yang
dimiliki Perguruan Tinggi X. Nilai intangible asset hak paten produk penelitian
yang dimiliki Pergutuan Tinggi X akan dihitung menggunakan pendekatan
pendapatan dan metode discounted cash flow dengan memproyeksikan
pendapatan ekonomi yang akan dihasilkan dari komersialisasi produk penelitian.
Selain kontribusi dari intangible asset hak paten, pendapatan ekonomi dari
komersialisasi produk penelitian yang dihasilkan tidak terlepas dari kontribusi
aset-aset berwujud yang digunakan. Dari total pendapatan ekonomi tersebut, perlu
dialokasikan sebagian pendapatan ekonomi yang dihasilkan aset-aset berwujud,
dan sebagian lagi yang dihasilkan intangible asset. Pendapatan ekonomi yang
dihasilkan intangible asset akan didiskontokan ke nilai sekarang (present value)
dan menjadi nilai dari intangible asset. Selanjutnya akan dihitung tarif royalti dari
hak paten produk penelitian agar Perguruan Tinggi X mendapatkan pendapatan
ekonomi sebesar nilai intangible asset yang dimilikinya.
6
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, rumusan maslaah yang
diangkat penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Berapa nilai dari intangible asset hak paten produk penelitian yang
dimiliki Perguruan Tinggi X?
2. Berapa tarif royalti yang dapat ditetapkan oleh Perguruan Tinggi X kepada
PT Y atas license agreement yang dilakukan?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dengan melakukan penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Melakukan penilaian terhadap intangible asset hak paten produk penelitian
Perguruan Tinggi X yang akan dikomersialisasikan.
2. Melakukan perhitungan tarif royalti dari hak paten produk penelitian
Perguruan Tinggi X untuk pelaksanaan license agreement yang akan
dilakukan dengan PT Y.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan
penulis dalam melakukan penilaian intangible asset terutama intangible
asset berupa hak paten beserta penentuan tarif royaltinya.
2. Bagi Perguruan Tinggi X, penelitian ini diharapkan dapat membantu
memberikan informasi kepada Perguruan Tinggi X mengenai berapa nilai
dari intangible asset-nya yaitu berupa hak paten produk penelitian, serta
berapa tarif royalti yang dapat ditetapkan kepada PT X atas license
agreement yang dilakukan.
3. Bagi pembaca, diharapkan penelitian ini dapat memberikan pengetahuan
mengenai intangible asset yang semakin diakui, serta nilai dan keuntungan
7
yang dapat dihasilkan dari intangible asset berupa hak paten produk hasil
penelitian suatu perguruan tinggi.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup yang digunakan selama proses penelitian ini terdiri
dari batasan dan asumsi.
1.5.1. Batasan
Batasan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi sebagai berikut.
1. Objek penelitian yang diteliti oleh penulis adalah intangible asset
berupa hak paten produk hasil penelitian yang dimiliki oleh Perguruan
Tinggi X.
2. Penelitian ini berlangsung selama ± 2 (dua) bulan selama periode Mei
2017 – Juli 2017.
3. Hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X merupakan satusatunya intangible asset yang digunakan dalam komersialisasi Produk
A.
1.5.2. Asumsi
Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi sebagai berikut.
1. Data keuangan dari komersialisasi yang diproyeksikan PT X
merupakan merupakan data proforma dikarenakan adanya nondisclosure agreement yang dilakukan terhadap data sehingga terikat
kerahaasiaan informasi.
2. Tidak ada perubahan signifikan pada kondisi makro ekonomi Indonesia
selama penelitian.
1.6. Sistematika Penulisan
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai sistematika penulisan berupa
susunan penulisan penelitian dan penjelasan singkat mengenai enam bab yang ada
dalam penulisan skripsi ini. Adapun sistematika penulisan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut.
8
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai pendahuluan dilakukannya penelitian yang
terdiri dari latar belakang dilakukannya penelitian, rumusan masalah yang
diangkat, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, dan
sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori dan studi literatur yang dikaji
sebagai landasan teori untuk memperkuat pemahaman dan membantu penulis
dalam menentukan metode penelitian yang sesuai dengan masalah yang akan
diselesaikan. Teori-teori dan studi literatur yang dibahas pada penelitian ini adalah
konsep mengenai aset dan jenisnya, intangible asset¸ penilaian intangible asset,
dan pendekatan-pendekatan penilaian intangible asset.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tahapan-tahapan proses penelitian yang
harus dilakukan penulis dalam menjalankan penelitian agar penelitian ini dapat
berjalan secara sistematis, terukur, dan terarah, serta dapat menjawab
permasalahan dan mencapai tujuan yang ditetapkan.
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Pada bab ini dijelaskan data yang dibutuhkan dalam proses penelitian. Setelah itu
dijelaskan juga mengenai tahap pengolahan data yang telah didapatkan. Metode
pengolahan data dilakukan sesuai dengan penjelasan pada bab sebelumnya
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukan pengolahan data, pada bab ini akan dilakukan analisis mengenai
hasil yang didapatkan dari pengolahan data. Analisis dan pembahasan dilakukan
dengan menggunakan landasan teori yang berkaitan permasalahan yang dibahas.
9
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan dipaparkan mengenai kesilpulan yang dapat diambil dari
penelitian ini. Kesimpulan akan berisi hasil dari penelitian yang terdiri dari
jawaban atas rumusan masalah dan tujuan penelitian. Selain itu, peda bagian
terakhir ini juga akan disertakan pemberian saran untuk penelitian selanjutnya.
10
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori dan studi literatur yang
dikaji sebagai landasan teori untuk memperkuat pemahaman dan membantu
penulis dalam menentukan metode penelitian yang sesuai dengan masalah yang
akan diselesaikan. Teori-teori dan studi literatur yang dibahas pada penelitian ini
adalah aset dan klasifikasinya, penilaian intangible asset, serta pendekatanpendekatan penilaian intangible asset.
2.1. Definisi Aset
Terdapat berbagai pengertian mengenai aset dari berbagai sumber dan pakar,
diantaranya akan dijelaskan sebagai berikut. Berdasarkan Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 tahun 2001 yang dibuat oleh Ikatan Akuntan
Indonesia, aset adalah semua kekayaan yang dimilki oleh seseorang atau
perusahaan baik berwujud (tangible) maupun tak berwujud yang berharga atau
bernilai serta akan mendatangkan manfaat atau bagi seseorang atau perusahaan.
Pengertian aset menurut PSAK tersebut selaras dengan pengertian aset menurut
IFRS. Berdasarkan International Reporting Standards (IFRS) tahun 2008, aset
adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa
masa lalu dan diharapkan akan menghasilkan manfaat ekonomis di masa depan
bagi perusahaan. Aset adalah sumber penghasilan atas usaha sendiri, dimana
karakteristik umum yang dimilikinya yaitu memberikan jasa atau manfaat dimasa
yang akan datang (Weygandt, et al., 2007). Berikut beberapa karakteristik dari
aset (Kieso, et al., 2011):
1. Aset merupakan hasil dari transaksi ekonomi entitas yang dilakukan di
masa lalu.
2. Aset merupakan sumber daya yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan
kendali manajemen entitas.
3. Aset digunakan oleh entitas untuk melaksanakan kegiatan operasional
bisnis entitas untuk bisa menghasilkan pendapatan atau manfaat bagi
entitas di masa mendatang.
11
Dari pengertian dan penjelasan yang telah dsebutkan di atas, dapat disimpulkan
bahwa aset merupakan kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan akibat dari
peristiwa di masa lalu yang diharapkan akan menghasilkan manfaat ekonomi di
masa mendatang. Perusahaan. Maanfaat ekonomi yang dimaksud dapat berupa
penghasilan arus kas tambahan, penghematan biaya, kemudahan operasional
bisnis, dan lain-lain.
2.2. Klasifikasi Aset
Dalam PSAK No. 1 tahun 2009 dijelaskan bahwa, secara garis besar aset
diklasifikasikan sebagai aset lancar (current asset) dan aset tidak lancar (noncurrent asset). Pada nerca laporan keuangan juga dapat dilihat bahwa aset
perusahaan dibedakan kedalam dua kelompok yaitu aset lancar dan aset tidak
lancar. Aset diurutkan berdasarkan likuiditasnya dalam neraca laporan keuangan
perusahaan. Aset diurutkan mulai dari aset yang paling likuid atau mudah
diuangkan, hingga aset yang paling tidak likuid.
2.2.1. Aset Lancar
Aset lancar (current asset) termasuk kas dan aktiva lainnya merupakan
aset yang diperkirakan dapat direalisasi menjadi kas atau dijual atau digunakan
selama satu siklus operasi normal perusahaan atau satu tahun sejak tanggal pada
neraca (Dyckman, et al., 1999). Beberapa contoh aset lancar diantaranya adalah
kas (cash), investasi jangka pendek (temporary investment), wasel tagih (notes
receivable), pendapatan yang masih akan diterima (accruals receivable),
persediaan (inventory), beban yang dibayar dimuka (prepaid expense). Sedangkan
menurut Kasmir (2008), komponen dari aktiva lancar adalah kas, surat berharga,
piutang, persediaan, dan lain-lain. Pada PSAK No. 1 tahun 2009 dinyatakan
bahwa entitas akan mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar bila memenuhi
salah satu kriteria sebagai berikut:
1. Entitas mengharapkan dapat merealisasikan aset, atau bermaksud untuk
menjual atau memakainya, dalam siklus operasi normal
2. Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan
12
3. Entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan
setelah periode pelaporam; atau
4. Kas atau setara kas, kecuali aset tersebut dibatasi pertukarannya atau
penggunaannya untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya 12
bulan setelah periode pelaporan.
2.2.2. Aset tidak lancar
Aset tidak lancar (non-current asset) terdiri dari aset tetap, aset tidak
berwujud, investasi jangka panjang, dan aset keuangan yang bersifat jangka
panjang lainnya.
1. Investasi jangka panjang (long term investment).
Aset tidak lancar ini merupakan beragam bentuk investasi entitas yang
tidak dapat diklasifikasikan sebagai investasi jangka pendek atau dengan
pengembalian lebih dari 12 bulan. Investasi jangka panjang dapat berupa saham
dan obligasi dari dan pinjaman kepada perusahaan lain, harta kekayaan yang tidak
digunakan dalam operasi rutin perusahaan misalnya gedung yang disewakan
kepada pihak lain, mesin yang digunakan di waktu yang akan datang, dana yang
peruntukkan bagi tujuan khusus, selain pembayaran utang jangka pendek,
pinjaman kepada anak perusahaan atau afiliasi.
2. Aset tetap (fixed asset)
Berdasarkan PSAK no. 16 tahun 2001 aset tetap didefinisikan sebagai aset
yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa,
untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif dan
diharapkan dapat digunakan selama lebih dari satu periode. Arens (2008)
mengemukakan bahwa aset tetap seperti properti, pabrik, dan peralatan adalah
aktiva yang diharapkan memiliki umur lebih dari satu tahun, digunakan dalam
bisnis, dan diperoleh tidak untuk dijual kembali. Pengertian tersebut sejalan
dengan pengertian aset menurut Rudianto (2012), aset tetap merupakan barang
berwujud milik perusahaan yang sifatnya relatif permanen dan digunakan dalam
kegiatan normal perusahaan, bukan untuk diperjualbelikan. Aset tetap juga
didefinisikan sebagai aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen seperti
peralatan, mesin, gedung, dan tanah, serta diperoleh dengan tujuan bukan untuk
13
dijual kembali (Reeve, et al., 2009). Pada umumnya perusahaan memiliki aset
tetap untuk menunjang proses bisnis dan berjalannya kegiatan operasional
perusahaan. Aset tetap dimiliki oleh perusahaan dengan harapan akan
menghasilkan pendapatan sehingga menghasilkan keuntungan di masa yang akan
datang. Berikut tiga karakteristik utama dari aset tetap:
A.
Aset memiliki bentuk fisik atau berwujud
B.
Dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dengan tujuan untuk
kegiatan operasi normal perusahaan
C.
Tidak untuk diperjual belikan dalam operasi normal perusahaan.
Aset yang termasuk kedalam aset tetap adalah tanah, bangunan atau
gedung, tanah, mesin-mesin, peralatan kantor, peralatan pabrik, peralatan toko,
alat transportasi, dan sumber-sumber alam. Hal tersebut didukung oleh Kasmir
(2008) yang menyatakan aset tetap beberapa diantaranya adalah tanah, kendaraan,
mesin, peralatan, dan lain-lain. Berdasarkan penyusutannya, aset tetap
dikelompokkan kedalam dua jenis yaitu:
A.
Depreciated Plant Asets
Depreciated Plant Asets merupakan aset tetap yang akan mengalami
penurunan manfaat seiring berjalannya waktu yang direalisasikan melalui
penyusutan yang dilakukan oleh perusahaan. Contoh dari Depreciated
Plant Asets atau aset yang bisa disusutkan adalah bangunan, peralatan,
mesin, inventaris.
B.
Non-depreciated Plant Asets
Non-depreciated Plant Asets adalah aset yang relatif memiliki manfaat
tetap selama masa penggunaannya sehigga tidak perlu dilakukan
penyusutan. Aset yang termasuk jenis ini adalah tanah.
3. Aset Tak Berwujud (Intangible Asset)
Aset tak berwujud (intangible asset) adalah aset entitas yang tidak memiliki
substansi atau bentuk fisik dan umur ekonomisnya lebih dari satu tahun. Aset tak
berwujud merupakan hak-hak perusahaan (Djarwanto, 2004). Hak tersebut
hakikatnya akan diberikan kepada penemunya, penciptanya, atau penerimanya.
Hak-hak atas aset tak berwujud ini dilindungi oleh undang-undang baik di negaranegara maupun di dunia. Perlindungan aset tak berwujud kepada penemu,
14
pencipta, atau penerimanya sangat lah penting karena aset tak berwujud dapat
diakui pihak lain bila tidak diambil tindakan perlindungan terhadap aset tak
berwujud tersebut. Aset tak berwujud diantaranya adalah hak cipta (copyrights),
hak sewa/kontrak (leaseholds), hak monopoli (franchises), hak paten, merek
(brands), merek dagang (trademarks), biaya organisasi (organizational costs),
goodwill dan lain sebagainya.
2.3. Aset Tak Berwujud (Intangible Asset)
Intangible merupakan adalah aktiva yang tidak memiliki perwujudan fisik
atau keuangan, serta diperkirakan dapat menghasilkan manfaat ekonomi di masa
depan. Sedangkan menurut Lev (2001), intangible asssetnya pada umumnya
memiliki masa guna yang panjang atau lebih dari satu tahun. Intangible asset
adalah klaim atas manfaat di masa depan yang akan diterima yang tidak memiliki
perwujudan fisik atau keuangan (saham atau obligasi) yang dapat menghasilkan
penghematan biaya (Lev, 2001) Dalam literatur yang berhubungan dengan ilmu
manajemen istilah modal intelektual sering digunakan sebagai istilah yang setara
dengan intangible asset. Contoh dari intangible asset berdasarkan definisi-definisi
di atas adalah tingkat pendidikan, keterampilan, dan pengalaman dari karjawan
yang bekerja pada sebuah organisasi atau entitas (Grasenick & Low, 2004).
Contoh lainnya adalah hak cipta, merek dagang (trade marks), perangkat lunak
komputer, database, daftar pelanggan, teknik pemasaran, sistem manajemen
mutu, perjanjian dengan karyawan, dan lain-lain (Reilly & Schweihs, 1998).
Terdapat beberapa klasifikasi yang mengelompokkan intangible asset ke
dalam beberapa jenis (Anson, 2001). Holzmann (2001) mengklasifikasikan
intangible asset kedalam 6 kelompok seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2. 1 Klasifikasi Intanible Asset Menurut Holzmann (2001)
Intangible Asset
Contoh
Customer-based or market-based
Basis pelanggan, mailing list, saluran
assets
distribusi, keberadaan di pasar atau
lokasi strategis atau pada geografis
tertentu
15
Tabel 2.1 Klasifikasi Intanible Asset Menurut Holzmann (2001) (Lanjutan)
Intangible Asset
Workforce-based assets
Contoh
Keahlian teknis, perhimpunan tenaga
kerja, staf yang terlatih
Corporate organizational-based and
Hubungan yang baik/menguntungkan
financial-based assets
dengan pemerintah, catatan kredit
yang baik
Contract-based assets
Kesepakatan konsultasi, kontrak iklan,
hak atas alokasi gas, air, atau sewa
Statutory-based assets
Paten, hak cipta, merek dagang
Technology-based assets
Perangkat lunak dan program
komputer, gambar teknik, database
Sumber: Holzmann (2001)
Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.1, intangible asset mencakup berbagai
sumber daya. Sumber daya – sumber daya tersebut dapat merupakan bagian dari:
a. Kelompok terpadu dari aset lainnya: seperti staf yang terlatih, milis, daftar
pelanggan, perjanjian/kesepakatan, atau
b. Unit ekonomi independen: seperti hak paten, hak cipta, marek dagang,
pengetahuan teknologi, gambar teknik
2.3.1. Karakteristik Intangible Asset
Karakteristik dari intangible asset adalah memiliki atribut-atribut sebagai
berikut (Green, 2007):
1. Secara alamiah tidak memiliki fisik
2. Teridentifikasi dan memiliki deskripsi yang dapat dikenali secara
spesifik
3. Memiliki eksistensi hukum dan perlindungan hukum
4. Merupakan subjek dari kepemilikan pengalihan
5. Memiliki bukti nyata atau manifestasi dari keberadaan intangible asset
tersebut
6. Diciptakan atau muncul pada waktu yang teridentifikasi atau
merupakan hasil dari kejadian yang teridentifikasi
16
7. Memiliki masa hidup atau batas akhir eksistensi pada waktu yang
teridentifikasi atau merupakan hasil dari kejadian yang teridentifikasi
Reilly dan Nesi (1992) menambahkan atribut-atribut yang perlu dimiliki
intangible asset. Intangible asset perlu untuk memiliki nilai yang dapat diukur
dari perspektif ekonomi. Atribut-atribut tambahan tersebut adalah seperti:
1. Menghasilkan sejumlah manfaat ekonomi yang dapat diukur dalam bentuk
peningkatan pendapatan atau penurunan biaya, yang dapat diukur dengan
beberapa indikator termasuk, laba bersih, pendapatan operasional bersih,
atau arus kas bersih, dan lain sebagainya.
2. Meningkatkan nilai dari aset-aset lain yang berhubungan dengan
intangible asset.
Sedangkan Bouteiller (2000) menyimpulkan bahwa intangible asset yang
merupakan hasil dari peristiwa di masa lalu memiliki tiga karakteristik utama
seperti sebagai berikut:
1. Tidak memiliki bentuk fisik
2. Mampu menghasilkan manfaat ekonomi bersih di masa depan
3. Dilindungi secara hukum
2.3.2. Kepentingan Intangible Asset
Investasi dalam bentuk intangible asset berkembang secara pesat di
negara-negara di dunia (Nolan, 2011). Bahkan pada beberapa kasus, investasi
dalam bentuk intangible asset menyamai atau melebihi investas dalam bentuk
modal tradisional seperti mesin, peralatan, dan bangunan. Di negara-negara maju,
pertumbuhan investasi dalam bentuk intangible asset lebih pesat dibandingkan
aset berwujud (tangible asset). Persaingan global yang intensif, kemajuan yang
pesat pada teknologi informormasi dan komunikasi, model-model bisnis baru, dan
semakin dibutuhkannya sektor jasa telah memperkuat pentingnya intangible asset
bagi perusahaan, industri, dan ekonomi. Krisis ekonomi global juga telah memicu
timbulnya fokusan baru terhadap kebijakan-kebijakan yang dapat membantu
mengatur dan menghimpun intangible asset serta sumber-sumber pertumbuhan
baru dari intangible asset. Hal tersebut memicu pembuat kebijakan di negaranegara berkembang mencari cara untuk mengembangkan intangible aset yang
17
dibutuhkan
untuk
mencapai
kesuksesan
dalam
kegiatan-kegiatan
yang
menghasilkan nilai tambah yang tinggi bagi perushaan.
2.4. Struktur Modal
Pemilihan desain dan manajemen struktur modal yang cermat oleh
perusahaan lebih disebabkan oleh tujuan untuk mencegah hancurnya nilai dari
pada untuk meningkatkan penciptaan nilai. Ketika para manajer memutuskan
struktur modal untuk perusahaan, mereka akan lebih banyak memikirkan yang
akan hilang dari pada yang akan didapat dari segi nilai perusahaan. Perusahaan
dapat memilih berbagai macam instrumen pembiayaan mulai dari ekuitas umum
tradisional dan utang langsung, hingga ekuitas preferen, utang komoditas terkait,
dan lain-lain. Tetapi tetap hanya satu pertanyaan fundamental dalam merancang
struktuktur modal perusahaan, yaitu pilihan antara utang (yang mewakili klaim
tetap pada nilai perusahaan) dab ekuitas (klaim residual) (Koller, et al., 2010).
Pertanyaan tersebut kemudian dapat disederhanakan menjadi bagaimana
seharusnya leverage perusahaan, yaitu perbandingan antara utang dengan total
nilai perushaan secara keseluruhan.
2.4.1. Trade-off dalam Desain Struktur Modal
Walaupun berbagai penelitian akademik telah meneliti masalah ini beberapa
dekade sebelumnya, tetap tidak ditemukan model yang pasti dalam menentukan
rasio laverage perusahaan yang optimal (Barclay & Smith, 1999). Rasio laverage
perusahaan yang optimal adalah laverage yang akan paling menghasilkan nilai
bagi pemegang saham perusahaan. Laverage juga memiliki perananan penting
dalam pengurangan pajak dan pencegahan investasi yang berlebihan. Akan tetapi,
leverage juga saling berkaitan dengan dengan biaya yang timbul dari erosi bisnis
dan konflik kepentingan antara investor.
2.4.2. Biaya Modal
Biaya modal (cost of capital) adalah biaya riil yang harus ditanggung
perusahaan karena digunakannya modal yang digunakan untuk berinvestasi
(Nuzula, 2010). Karena sifatnya sebagai biaya, maka biaya modal juga diartikan
18
sebagai batas minimum tingkat hasil yang harus dicapai perusahaan (minimum
required rate of return) agar perusahaan tidak dinyatakan merugi. Perhitungan
biaya modal secara keseluruhan memiliki tujuan utama untuk menentukan biaya
modal dalam hal penganggaran modal. Konsep ini mengarah pada Weighted
Average Cost of Capital (WACC), yaitu batas untuk mengevaluasi apakah proyek
memiliki tingkat pengembalian yang lebih baik sehingga layak untuk dijalankan.
WACC merupakan biaya modal tertimbang dari berbagai sumber modal sesuai
dengan komposisi masing-masing. Dengan demikian, rumus dari WACC adalah:
π‘Šπ΄πΆπΆ = (π‘˜π‘’ × π‘Šπ‘’ ) + (π‘˜π‘‘ [1 − 𝑑] × π‘Šπ‘‘ )
(2.1)
Dimana:
WACC
= Weighted Average Cost of Capital
π‘˜π‘’
= Biaya ekuitas kapital biasa
π‘˜π‘‘
= Biaya utang kapital
π‘Šπ‘’
= persentase ekuitas kapital dalam susunan kapital
π‘Šπ‘‘
= persentase utang di dalam susunan kapital
T
= pajak pendapatan efektif
2.4.3. Cost of Debt
Dalam periode awal atau tahap perencanaan, manajer keuangan perlu
mengetahui dengan tepat tipe dan jumlah hutang jangka panjang (debt) yang akan
digunakan untuk mendanai proyek (Nuzula, 2010). Tipe hutang akan sangat
ditentukan oleh asset yang akan didanai serta kondisi pasar modal dalam satu
periode. Berikut rumus yang dapat digunakan dalam menghitung biaya modal:
π‘˜π‘‘
= 𝑖 × (1 − 𝑇)
(2.2)
Dimana:
π‘˜π‘‘
= Biaya modal utang
𝑖
= Bunga pinjaman bank jangka panjang
𝑇
= Tarif pajak yang ditetapkan kepada badan usaha tetap
19
2.4.4. Cost of Equity
Perusahaan dapat meningkatkan modal saham melalui dua cara. Yang
pertama adalah dengan menahan laba. Yang kedua, dengan menerbitkan saham
biasa baru. Jika ekspansi perusahaan berlangsung secara cepat hingga laba ditahan
sudah digunakan seluruhnya, perusahaan akan menerbitkan saham baru. Jika
demikian, saham biasa akan memiliki biaya modal yang lebih tinggi dibandingkan
laba ditahan, karena melibatkan adanya biaya emisi (flotation cost) (Nuzula,
2010). Adanya biaya emisi akan memperkecil jumlah rupiah yang dapat
digunakan dari penjualan saham biasa, dan akibatnya akan memperbesar biaya
modal. Menurut pendekatan CAPM, pendapatan yang diharapkan dari investasi
saham ditentukan oleh pendapatan investasi bebas risiko dan premi risiko pasar.
Besarnya premi risiko pada pendekatan ini ditentukan oleh besar kecilnya risiko
sistematis (β) saham. Dalam pendekatan CAPM, besarnya pendapatan saham
diukur dengan rumus:
𝑅𝑖𝑑 = 𝑅𝑓 + 𝛽𝑖 (π‘…π‘šπ‘‘ − 𝑅𝑓 )
(2.3)
Dimana:
𝑅𝑖𝑑
= Pendapatan saham i pada periode t
𝑅𝑓
= Pendapatan investasi bebas risiko
π‘…π‘šπ‘‘
= Pendapatan pasar pada periode t
𝛽𝑖
= Koefisien risiko sistematis saham i
2.5. Penilaian Intangible Asset
Penilaian intangible asset merupakan hal yang penting bagi pemegang
saham perusahaan (Chiesa, et al., 2005). Dengan mengtahui nilai dari intangible
asset dan bukan hanya nilai aset berwujud serta kewajiban saja, dapat membantu
pemegang saham mengetahui nilai yang sebenarnya dari perusahaan. Penilaian
intangible asset juga penting bagi pihak manajemen perusahaan untuk membantu
dalam proses pengambilan keputusan. Sejumlah peneliti telah menganalisis
metode-metode yang dapat diterapkan dalam melakukan penilaian intangible
asset. Metodologi-metodologi tersebut dapat diklasifikasikan kedalam dua
kelompok utama (Mun, 2002), yaitu kelompok metode tradisional dan motode
20
inovatif. Metode-metode utama yang termasuk kedalam kelompok tradisional
adalah metode-metode yang termasuk ke dalam pendekatan pendapatan,
pendekatan pasar, dan pendekatan biaya. Sedangkan yang termasuk kedalam
metode inovatif adalah real option method, monte carlo method, auction method,
conjoint method¸ dan lain sebagainya. Terdapat dua komponen yang terlibat
dalam pendefiniasian dari penilaian intangible asset. Yang pertama adalah objetif
dari penilaian dan yang kedua adalah tujuan dari penilaian.
2.5.1. Objektif dari Penilaian
Objektif dari penilaian mendeskripsikan apa maksud dari dilakukannya
penilaian (Reilly & Schweihs, 1998). Objektif dari penilaian harus secara nyata
menjelaskan, setidaknya hal-hal sebagai berikut:
1. Jenis spesifik dari intengible asset yang dinilai
2. Kepemilikan atau sekumpulan hak-hak hukum dari intangible asset yang
dinilai
3. Standar nilai atau definisi dari nilai yang diestimasikan
4. Tanggal berlakunya penilaian
Dengan kata lain, objektif menggambarkan apa yang diusahakan untuk dicapai
dari dilakukannya analisis penilaian. Contoh dari kalimat objektif penilaian
adalah: “ objektif dari penilaian ini adalah untuk mengestimasi nilai pasar wajar
dari perangkat lunak komputer XYZ, dengan kepemilikan fee simple interest,
pada tanggal 31 Desember 1997”.
2.5.2. Tujuan dari Penilaian
Tujuan dari penilaian mendeskripsikan kepada siapa penialian ditujukan
(contoh: pembaca yang ditargetkan) dan keputusan mana (jika ada) yang akan
dipengaruhi oleh hasil penilaian (Reilly & Schweihs, 1998). Tujuan dari penilaian
harus secara nyata menjelaskan, setidaknya hal-hal sebagai berikut:
1. Mengapa penilaian dilakukan.
2. Kegunaan yang diharapkan dari hasil penilaian
3. Pihak mana saja yang diperkirakan membutuhkan penilaian
21
Dengan kata lain, tujuan dari penilaian menggambarkan kegunaan dari
dilakukannya analisis penilaian. Kalimat tujuan dari penilaian akan menjelaskan
mengapa penilaian dilaksanakan. Kesimpulan dari penilaian yang dibuat untuk
suatu tujuan kemungkinan tidak dapat digunakan atau diandalkan untuk
memenuhi tujuan lain yang berbeda. Di sisi lain, jumlah dari tujuan penilaian tak
terbatas. Sebagian besar dari tujuan penilaian dapat dikelompokkan kedalam
kategori-kategori berikut:
1. Penetapan harga dan strukturisasi suatu transaksi
2. Pendanaan sekuritisasi dan penjaminan
3. Perencanaan dan pemenuhan pajak
4. Informasi manajemen dan perencanaan strategis
5. Analisis kebangkrutan dan re-organisasi
6. Bantuan dalam litigasi (proses pengadilan) dan penyelesaian sengketa
Salah satu contoh kalimat tujuan penelitian adalah: “Tujuan dari analisis
penelitian ini adalah untuk menghasilkan opini independen bagi penasihat hukum
dan firma hukum mengenai kerusakan yang diakibatkan oleh pelanggaran hak
cipta XYZ.”
2.5.3. Proses Penilaian Intangible Asset
Proses penilaian adalah sebuah pendekatan sistematis untuk menjawab
sebuah pertanyaan mengenai berapa nilai properti atau aset (Reilly & Schweihs,
1998). Proses penilaian dimulai dengan mengidentifikasi pertanyaan spesifik yang
perlu untuk dijawab, dan berakhir ketika jawaban telah dilaporkan kepada seluruh
pihak yang berkepentingan. Setiap pengerjaan penilaian intangible asset memiliki
keunikan tersendiri, dam berbagai jenis nilai yang berbeda dapat diperkirakan dari
suatu intangible asset tertentu. Walaupun dengan berbagai keunikan, proses
penilaian tetap memiliki krangka analisis untuk dapat mengestimasi nilai dari
intangible asset. Proses penilaian memiliki pola yang dapat digunakan dalam
setiap pengerjaan penilaian untuk dapat menjalankan riset padar dan analisis data,
menerapkan metode dan prosedur penilaian, serta mengintegrasikan hasil analisis
penilaian menjadi perkiraan nilai yang didefinisikan secara spesifik.
22
Proses penilaian intangible asset memberikan sebuah struktur untuk
menganalisis nilai dari intangible asset. Seperti sebagian besar properti, nilai
intangible asset adalah cerminan nilai masa kini (present value) dari manfaat
ekonomi yang akan datang yang diperkirakan dihasilkan oleh intangible asset.
Salah satu dari tujuan langsung dari dilakukannya penilaian intangible asset
adalah untuk membuat proyeksi wajar dari kejadian di masa depan. Kinerja
ekonomi yang dapat diprediksi dari suatu intangible asset akan sangat menambah
pemahamaan dan pengakuan dari estimasi penilaian intangible asset tersebut.
Proses penilaian yang dilakukan oleh para analis mengikuti empat tahap serupa,
yaitu seperti dibawah ini:
1. Identifikasi masalah penilaian intangible asset
2. Analisis dan pengumpulan data
3. Penerapan pendekatan penilaian
4. Kesimpulan estimasi nilai
2.5.4. Sumber data dan informasi
Terdapat berbagai informasi-informasi yang perlu untuk diselidiki selama
melakukan penilaian intangible asset. Data spesifik yang dibutuhkan dalam
penilaian intangible aaset dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok yaitu
kelompok data industri umum dan lingkungan ekonomi, data perusahaan yang
spesifik, data pasar intangible asset yang spesifik. Terdapat berbagai sumber
untuk dapat memperoleh informasi dan data yang diperlukan dalam melakukan
penilaian beberapa diantaranya adalah sebagai berikut (Reilly & Schweihs, 1998):
1. Data internal yang berasal dari pemilik intangible asset
Jika intangible asset beroperasi sebagai bagian dari perusahaan yang goingconcern, maka suber data dan informasi ini merupakan sumber yang tepat untuk
mulai meneliti dan mengunpulkan informasi-informasi umum yang diperlukan.
Informasi dan data yang dapat dikumpulkan dari sumber ini adalah seperti
informasi dan data mengenai perkiraan dari arus kas yang berasal dari intangible
asset, serta prospek perusahaan kedepannya. Informasi dan data lain yang dapat
dikumpulkan adalah biaya-biaya yang dibutuhkan untuk menciptakan atau
memiliki intangible asset, transaksi yang melibatkan intangible asset yang
23
menjadi subjek, aplikasi dan pemanfaatan dari intangible asset di masa depan
sebagai bagian dari operasi bisnis, serta apakah intangible asset cocok untuk
penggunaan komersial atau lisensi di pasar seperti pada umumnya. Data tersebut
merupakan data umum yang dibutuhkan penilai dalam melakukan penilaian
intangible asset dengan menggunakan metode-metode tradisional. Perkiraan
periode umur atau masa guna dari intangible asset juga merupakan data yang
bisa didapatkan dari sumber ini. Periode umur atau masa guna dari intangible
asset
merupakan komponen yang penting yang diperlukan dalam analisis
penilaian. Masa guna intangible asset dapat dipengaruhi oleh hukum yang
berlaku, kontrak, peradilan, fungsional, teknologi, ekonomi, lingkungan, atau
analisis faktor penentu lainnya.
2. Transaksi atau Penawaran terdahulu
Memeriksa penjualan atau transaksi lisensi atau penawaran terdahulu dari
intangible asset sejenis merupakan praktik analisis yang baik. Terlalu mengacu
atau menekankan pada transaksi intangible asset terdahulu merupakan
kontroversi umum dalam penilaian intangible asset. Penjualan atau penawaran
lisensi intangible asset yang belumpernah disepakati kemungkinan dapat
memberikan informasi analitis yang berharga. Informasi dan data mengenai
intangible asset yang seperti itu yang perlu untuk diajukan dan diteliti.
3. Data Eksternal
Terdapat berbagai sumber informasi eksternal yang tersedia dan dapat
gunakan sehubungan dengan penilaian intangible asset. Informasi eksternal
sangat bervariasi, dapat terdiri dari data industri, tren teknologi, data ekonomi
dan demografi, data harga transaksi empiris (terkait penjualan maupun lisensi),
serta informasi mengenai metodologi yang spesifik pada suatu industri atau
intangible asset. Sumber-suber data eksternal dapat dikelompokkan kedalam lima
kategori yaitu publikasi ilmiah dan hukum, publikasi perdagangan, berita, kasus
pengadilan, dan buku publikasi.
2.6. Pendekatan Penilaian Intangible Asset
Penilaian intangible asset dapat dilaksanakan sebagai akibat dari pemenuhan
kebutuhan,
misalnya
seperti
kebutuhan
24
untuk
menentukan
harga
jual,
penggunaan, persediaan, perizinan intangible asset, atau kebutuhan tambahan
lainnya seperti untuk merger, perlakuan pajak, atau bantuan pada proses hukum
(Reilly & Schweihs, 1998). Untuk itu analisis estimasi nilai intangible asset
dilakukan dalam kerangka waktu yang spesifik. Pendekatan penilaian intangible
asset secara luas diklasifikasikan kedalam tiga kategori (Reilly & Schweihs,
1998), yaitu cost approach, market approach, dan income approach.
1. Pendekatan biaya (Cost Approach) menentukan nilai intangible asset
teknologi dengan menghitung seluruh biaya yang diperlukan untuk
menciptakan dan mengembangkan aset. Pendekatan ini didasari oleh
salah satu prinsip ekonomi yaitu subtitusi, dimana investor yang
bijaksana tidak akan membayar suatu intangible asset teknologi dengan
harga yang lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan untuk menciptakan
atau mendapatkan aset yang sama.
2. Pendekatan pasar (Market Approach) mengukur nilai sekarang dari
manfaat masa depan yang akan diterima dari suatu intangible asset
dengan mengacu pada kesepakatan umum dari nilai intangible asset
tersebut yang ditetapkan oleh pasar. Indikasi nlai didapatkan dengan
membandingkan harga berbagai intangible asset sejenis yang telah
diperdagangkan diantara penjual dan pembeli yang menginginkannya.
Dengan kata lain, ketika menggunakan pendekatan pasar, indikasi nilai
dari suatu intangible asset yang spesifik dapat diperoleh dengan
mengacu pada harga pembayaran untuk intangible asset yang sebanding.
Pendekatan penilaian ini didasarkan pada prinsip ekonomi persaingan
dan ekuilibrium (keseimbangan), yaitu di pasar bebas dan terbuka,
hukum penawaran dan permintaan akan mendorong semua harga barang
ke titik keseimbangan.
3. Pendekatan pendapatan (Income Approach) mengukur nilai sekarang
dari intangible asset berdasarkan nilai seekarang dari arus kas masa
depan yang berasal dari manfaat keuangan yang diperoleh dari
eksploitasi intangible asset spesifik. Pendekatan ini didasari oeh prinsip
ekspektasi.
25
2.6.1. Pendekatan Biaya (Cost Approach)
Menurut Reilly & Schweihs (1998), analisis nilai intangible asset dengan
menggunakan Pendekatan Biaya didasari oleh dua prinsip ekonomi yaitu, prinsip
subtitusi dan prinsip ekuilibrium / keseimbangan harga prinsip ekonomi dasar
tersebut mengindikasikan bahwa investor tidak akan membayar untuk suatu
investasi melebihi biaya untuk mendapatkan investasi dengan utilitas yang setara.
Dengan kata lain, pembeli yang menginginkan intangible asset tidak akan
membayar intangible asset dengan harga yang lebih tinggi dari pada harga
intangible asset dengan utilitas setara. Pasar yang efisien menyesuaikan harga
semua properti termasuk intangible asset pada ekuilibrium, sehingga harga yang
akan dibayarkan oleh pasar adalah sebuah fungsi utilitas komparatif dari setiap
properti.
Biaya dalam konteks ini dipengaruhi oleh pasar. Biaya yang relevan
adalah biaya terbesar yang bersedia dibayarkan oleh pasar untuk suatu subjek
intangible asset. Dengan kata lain, nilai intangible asset tidak selalu sama dengan
biaya historis untuk menciptakan intangible asset yang diukur berdasarkan
akuntasi. Tidak pula harus sama dengan total biaya yang diinginkan penjual
sebagai bentuk kompensasi. Nilai yang dihasilkan dengan menggunakan
pendekatan ini adalah nilai yang sama dengan biaya yang diukur dalam
pandangan ekonomi. Ukuran ekonomi dari biaya biasanya adalah biaya historis
akuntansi yang disesuaikan oleh pengaruh incremental dan atau decremental yang
disebabkan oleh kondisi pasar. Tidak seperti aset berwujud yang memiliki bentuk
fisik, mayoritas intangible asset sering kali tidak memiliki subtitusi dengan dasar
yang kuat untuk dibandingkan dengan intangible asset tersebut. Oleh karena itu,
dengan keunikan kualitas yang dimiliki intangible asset, penilaian intangible asset
dengan menggunakan Pendekatan Biaya dapat memiliki berbagai keterbatasan
pengaplikasian.
Terdapat berberapa definisi dari biaya yang relevan dalam melakukan
penilaian menggunakan Pendekatan Biaya. Terdapat dua definisi dan tipe yang
paling umum dari biaya yaitu biaya reproduksi dan biaya penggantian. Biaya
reproduksi memperhitungkan biaya konstruksi atau pembelian replika yang
sebenarnya dari intangible asset. Sedangkan biaya penggantian memperhitungkan
26
biaya untuk menciptakan ulang utilitas dari intangible asset, namun dalam bentuk
atau tampilan yang mungkin sangat berbeda dari replika intangible asset yang
sebenarnya yang menjadi subjek penilaian. Utilitas adalah suatu konsep ekonomi
yang mengacu pada kemampuan inatangible asset pengganti untuk dapat
memberikan tingkat kepuasan yang setara dengan subjek intangible asset
sebenarnya.
Deinisi-definisi dari biaya hanya mewakili prosedur pertama dari analisis
pendekatan biaya yang memberikan dasar analisis penilaian. Definisi-definisi dari
biaya dapat juga merupkan subjek dari beberapa prosedur tambahan sebelum
nantinya prosedur-prosedur tersebut mewakili nilai indikasi. Pendekatan biaya
melibatkan analisis menyeluruh dari komponen-komponen biaya yang relevan.
Komponen-kmponen biaya yang dipertimbangkan pada umumnya mencakup
komponen biaya bahan baku, tenaga kerja, overhead, keuntungan bagi
pengembang intangible asset, dan insentif kewiraswastaan. Keuntungan bagi
pengembang intangible asset yaitu margin keuntungan yang memadai atas
timbulnya biaya material, tenaga kerja, dan overhead. Insentif kewiraswastaan
yaitu pengembalian yang memadai atas modal, koordinasi, dan tenaga kerja dari
pengembang intangible asset selama periode pengembangan yang mendorong
proses pengembangan intangible asset. Rumus dari penghitungan nilai intangible
asset dengan menggunakan pendekatan ini ditunjukkan dibawah ini.
π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– π‘Žπ‘ π‘’π‘‘ = π‘π‘–π‘Žπ‘¦π‘Ž π‘π‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘’ π‘π‘’π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘›π‘‘π‘–π‘Žπ‘› π‘π‘Žπ‘Ÿπ‘’ −
π‘“π‘Žπ‘˜π‘‘π‘œπ‘Ÿ π‘˜π‘’π‘’π‘ π‘Žπ‘›π‘”π‘Žπ‘›
Biaya pembuatan atau penggantian baru merupakan total dari komponenkomponen biaya yang relevan yang dikeluarkan untuk dapat mereproduksi atau
mengganti intangible asset dengan intangible asset yang baru dan memiliki
kesetaraan utilitas. Teori ekonomi dasar menyatakan bahwa biaya saja tidak
menghasilkan indikasi nilai yang wajar dari intangible asset. Untuk dapat
menghasilkan indikasi nilai yang berasal dari indikasi biaya, seluruh ukuran faktor
keusangan yang relevan harus diidentifikasi dan diukur. Semua bentuk keusangan
dari intangible asset perlu diidentifikasi, dihitung, dan dikurangi dari biaya
27
intangible asset untuk dapat mengkasilkan estimasi dari nilai intangible asset.
Bentuk keusangan
yang umumnya dipertimbangkan dalam penggunaan
pendekatan biaya adalah kemerosotan fisik, keusangan fungsional, keusangan
teknologi, dan keusangan ekonomi.
2.6.2. Pendekatan Pasar (Approach Method)
Penilaian intangible asset dengan menggunakan Pendekatan Pasar didasari
oleh prinsip ekonomi terkait yaitu persaingan dan ekuilibrium (Reilly &
Schweihs, 1998). Prinsip ekonomi subtitusi juga memberikan dukungan
konseptual dalam penerapan pendekatan ini. Pada pendekatan ini, nilai atau harga
transaksi intangible asset mewakili kondisi, penawaran, dan permintaan dari
intangible asset yang dijual atau dilisensikan. Jika kondisi intangible asset secara
signifikan tidak sama dengan intangible asset transaksional di pasar, maka harga
transaksi historis kemungkinan tidak mengindikasikan nilai atau harga dari
intangible asset tersebut.
Kondisi pasar dari intangible asset dipengaruhi oleh tingkat persaingan di
pasar. Tingkat persaingan di pasar berada pada sisi permintaan dari persamaan
prinsip ekonomi ekuilibrium. Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh ketersediaan
barang subtitusi di pasar yang berada pada sisi penawaran dari persamaan.
Dengan mengasumsikan kondisi pasar yang efisien, persimpangan dari pengaruh
penawaran dan permintaan menciptakan harga ekuilibrium dari intangible asset.
Harga ekuilibrium adalah ukuran yang digunakan untuk memperkirakan harga
intangible asset pada transaksi berikutnya, dimana harga tersebut merupakan nilai
dari intangible asset. Oleh karena itu, pengaruh pasar memiliki dampak langsung
terhadap harga atau nilai intangible asset.
Pendekatan pasar menggunakan dua kategori prosedur analitik dalam
menentukan nilai.yang pertama adalah pengumpulan dan analisis data
transaksional empiris yang diberasal dari pasar. Data yang dimaksud adalah data
mengenai penjualan atau lisensi dari subjek intangible asset serta intangible asset
komparatif lainnya. Yang kedua adalah penilaian kondisi pasar saat ini dan
perubahan kondisi pasar pada tanggal saat dilakukan analisis penilaian
dibandingkan pada tanggal dari data transaksional empiris. Kondisi ekonomi yang
28
dimaksud adalah kondisi ekonomi yang mempengaruhi harga atau nilai intangible
asset. Pada intinya, semua data yang digunakan dalam melakukan penilaian
dengan menggunakan pendekatan pasar, diharapkan merupakan data empiris yang
berasal dari pasar. Dalam penerapannya, Pendekatan Pasar memiliki proses
sistematis atau kerangka kerja umum. Berikut delapan langkah dsar dari krangka
kerja umum tersebut:
1. Pengumpulan dan seleksi data
2. Klasifikasi data yang dipilih
3. Verifikasi data yang dipilih
4. Pemilihan unit untuk perbandingan
5. Penyesuaian kelipatan harga
6. Penerapan kelipatan harga
7. Rekonsiliasi indikasi nilai
2.6.3. Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Menurut Reilly & Schweihs (1998), Pendekatan Pendapatan didasari oleh
prinsip ekonomi antisipasi atau ekspektasi. Sesuai dengan prinsipekspektasi,
dalam pendekatan ini, investor mengharapkan akan mendapatkan pendapatan
ekonomi di masa depan atas kepemilikan intangible asset. Ekspektasi pendapatan
ekonomi yang memungkinkan tersebut kemudian dibawa ke nilai sekarang.
Ekpektasi pendapatan ekonomi yang dikonversi ke nilai sekarang lah yang akan
menjadi nilai dari subjek intangible asset.
Pendekatan penilaian mengharuskan analis untuk memperkirakan tingkat
pengembalian yang dibutuhkan oleh investor atas suatu investasi sebagai penentu
apakah investasi tersebut akan menghasilkan pendapatan ekonomi. Tingkat
pengembalian yang dibutuhkan juga merupakan sebuah fungsi dari risiko atau
ketidakpastian dari perkiraan pendapatan ekonomi yang kemungkinan akan
dihasilkan oleh subjek intangible asset.
Untuk mengaplikasian pendekatan ini, diperlukan beberapa langkah
sebagai berikut. Yang pertama adalah penghitungan arus kas di masa depan yang
berkaitan dengan intangible asset yang spesifik. Yang kedua adalah penetapan
horizon waktu yang dipertimbangkan, yaitu waktu dimana arus kas dapat
29
dihasilkan dan diestimasi. Serta yang terakhir adalah tingkat aktualisasi yang
mencerminkan risiko bisnis. Tingkat aktualisasi dapat ditentukan berdasarkan
weighted average cost of capital (WACC), weighted average return on assets
(WARA), dan internal rate of return (IRR). Dengan Pendekatan Pendapatan,
khususnya Pendekatan Pendapatan dengan Metode Discounted Cash Flow, nilai
dari aset akan dihitung dengan menggunakan rumus penghitungan seperti yang
ditunjukan dibawah ini.
𝑇
π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘– 𝐴𝑠𝑒𝑑 = ∑
𝑑=1
𝑁𝐢𝐹(𝑑)
(1 + π‘˜π‘ )𝑑
(2.4)
Dimana:
𝑁𝐢𝐹(𝑑) = arus kas bersih yang diperkirakan berasal dari intangible asset
π‘˜π‘
= tingkat diskontor yang mencerminkan risiko bisnis
𝑇
= horizon waktu
Pendekatan ini dinilai sebagai pendekatan yang memiliki tingkat keakuratan
paling
tinggi
untuk
penilaian
intangible
asset
teknologi
karena
mempertimbangkan lingkungan operasi yang spesifik (ukuran pasar, harga,
struktur biaya, risiko) dimana teknologi dieksploitasi.
2.7. Paten
Paten, atau yang mulanya dikenalnya sebagai literae patentae (hibah
terbuka), adalah dokumen publik yang mengungkapkan fakta-fakta dari suatu
inovasi (Drivas & Panagopoulos, 2016). Dalam hal teritorial, paten dapat
diartikan sebagai akta properti yang menentukan batas wilayah suatu teknologi.
Batasan tersebut memungkinkan untuk melakukan transfer teknologi tanpa ada
perselisihan karena pemberi lisensi dan penerima lisensi sama-sama memiliki akta
teknologi di tangan mereka.
2.7.1. Penilaian Hak Paten
Intangible asset umumnya dinilai dengan menggunakan Pendekatan
Pendapatan (income method), pendekatan pasar (market method), atau pendekatan
30
biaya (cost method), yang meliputi arus kas yang didiskontokan (Lagrost et al.,
2010). Setudi pada bidang teknologi terdahulu seringkali mengestimasi nilai
intangible asset dengan mengacu pada biaya penelitian dan pengembangan (Lev
& Sougiannis, 1999). Namun, model penilaian dengan menggunakan informasi
biaya dari paten dinyatakan kurang memiliki dasar teori yang cukup untuk
melakukan penilaian intangible asset (Holthausen & Watts, 2001). Sebaliknya,
penilaian paten menggunakan arus kas diterima secara luas dalam teori dan
praktik penilaian intangible asset (Damodaran, 2009). Triest & Vis, (2007) juga
menyatakan bahwa dalam literatur penilaian paten dan teknologi, sebagian besar
penilaian dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang memakai arus kas
yang didiskontokan sebagai acuan penilaian, seperti income approach. Ukuran
dari arus kas adalah sperti laba, atau pendapatan royalti, atau menggunakan nilai
pasar dari aset sejenis yang akan menghasilkan nilai dari suatu intangible asset.
Untuk analisis tambahan, estimasi pendapatan paten di masa depan dengan
menggunakan estimasi nilai pasar dan biaya paten dapat dilakukan (Pitkethly,
1997). Andriessen (2004) merekomendasikan penguunaan pendapatan di masa
depan atau income method dalam melakukan penilaian intangible asset. Russell
(2016) juga menggunakan income method dalam melakukan penilaian paten
farmasi. Dalam menghitung arus kas yang diperkirakan, studi mengestimasi umur
paten untuk dapat menilai aset.
2.7.2. Informasi Umum Mengenai Paten yang Diperlukan
Informasi yang umumnya diperlukan dalam melakukan penilaian
intangible asset berupa paten adalah informasi mengenai paten sejenis yang ada
saat ini serta aplikasinya, termasuk deskripsi produk dan proses yang dipatenkan
dan diaplikasikan, tanggal berlakunya dan berakhirnya paten, tanggal setiap paten
diaplikasikan, serta aplikasi paten saat ini che. Akan tetapi, terdapat berbagai jenis
paten yang berbeda-beda, informasi yang dibutuhkan untuk dapat menilainya juga
beragam. Selain itu, jarang segala informasi yang dibutuhkan dalam melakukan
penilaian paten akan langsung tersedia. Untuk itu setelah mengumpulkan
informasi yang relevan dan tersedia, penilai perlu cukup fleksibel dalam
melakukan penilaian dengan keterbatasan informasi dan data yang dapat diberikan
31
oleh pihak yang asetnya dinilai. Penilai juga terkadang perlu untuk mendapatkan
beberapa informasi melalui wawancara dengan perusahaan yang asetnya dinilai
atau dengan pihak lain. Seiring berjalannya proses analisis penilaian, penilai dapat
meninjau kembali informasi yang tertulis dan menambahkannya bila perlu,
dengan mengumpulkan lebih banyak informasi dan data melalui wawancara
dengan manajemen dan dengan mengacu pada berbagai informasi yang diperoleh
dari luar bisnis yang saat ini menggunakan intangible asset yang serupa.
32
2.8. Kajian Penelitian Terdahu
Tabel 2. 2 Kajian Penelitian Terdahulu
No. Peneliti
1.
Latar Belakang
Tujuan
akan
akuisisi
Mempelajari
Kepentingan
(2005)
intangible asset teknologi yang
teknologi dalam proses keputusan
analisis literatur dan
dikembangkan pada penelitian ini dapat
sangat meningkat dan menjadi
jual beli perusahaan untuk dapat
studi empiris
membantu penilai melakukan analisis
bagian penting dari keberhasilan
mengidentifikasi dan menganalisis
yang
proses inovasi perusahaan.
langkah-langkah
yang
meningkatkan daya tawar penilai selama
penilaian
negoisasi dengan mitra yang potensial,
intangible asset yang lengkap dan
hingga memungkinkan dapat memahami
handal.
nilai aset dengan jelas dan lengkap.
Russell., (2016)
Peningkatan
penggunaan
Melakukan
intangible
asset
logis
proses
penilaian
terhadap
Metode
Hasil
Chiesa, et al.,
mencirikan
2.
Metode
kualitatif,
Penggunaan
dari
framework
sistematis
Metode kuantitatif,
Penilaian
paten
dan
yang
rasional,
farmasi
dengan
intangible asset tidak diiringi
paten dari perusahaan farmasi, serta
income
method,
menggunakan metode diskonto arus kas
dengan relevansi dari penilaian
membandingkan
regresi, uji Vuong
menghasilkan nilai yang relevan. Hasil
intangible asset untuk kegiatan
yang dihasilkan dari penggunaan
dan Clarke
nilai
investasi maupun pengambilan
metode diskonto arus kas dan nilai
mencerminkan nilai sebenarnya di pasar
keputusan. Penilaian intangible
yang dihasilkan dari pengukuran
yang lebih baik dibandingkan nilai
asset masih spekulatif walaupun
alternatif seperti modal intangible
intangible
jumlah asetnya meningkat.
asset dan R&D yang dilaporkan.
dilaporkan.
relevansi
33
nilai
paten
farmasi
asset
tersebut
yang
dapat
sebelumnya
Tabel 2. 2 Kajian Penelitian Terdahulu (Lanjutan)
No. Peneliti
3.
Latar Belakang
Tujuan
Metode
Hasil
Triest & Vis,
Paten proses pengurangan biaya
Menilai intangible asset berupa
Metode kuantitatif,
Nilai
(2007)
tidak
pada
paten
discounted
pengurangan biaya yang dimiliki oleh
dapat
pengurangan
seperti
umumnya.
paten
Paten
ini
membuat berkurangnya biaya
pandang
pembuatan produk.
paten.
dari
perbaikan
biaya
proses
dari
perusahaan
sudut
cash
flow approach
akhir
dari
paten
proses
perusahaan pada studi kasus. Penilaian
pemegang
paten perbaikan proses produksi tidak
dapat dilakukan tanpa pengetahuan yang
baik akan teknologi, pasar, dan para
kompetitor.
4.
Green, (2007)
Berbagai
macam
intangible
Menyajikan
penilaian,
ekonomi,
Metode
kualitatif,
asset yang hadir di lingkungan
dan aspek manajemen perusahaan
Identifikasi
bisnis saat ini menimbulkan
yang berkaitan dengan desain dan
penamaan
banyak alasan untuk melakukan
implementasi
intangible
penilaian
intangible
intangible
asset.
Memahami alasan dilakukannya
penilaian
intangible
asset
dari
dalam
bisnis umum.
penilaian
bahasa
dalam
bisnis.
asset
dan
Tujuan dari penilaian intangible asset
adalah
untuk
memahami
apa
itu
intangible asset dan bagaimana aset
asset
lingkungan
tersebut mempengaruhi bottom-line dari
bisnis.
Pemahaman
bahwa
alasan
penilaian intangible asset, seperti untuk
tujuan
perpajakan,
perencanaan
seperti untuk tujuan perpajakan,
perusahaan, atau penyelesaian sengketa,
perencanaan perusahaan, atau
merupakan hal yang terpenting ketika
penyelesaian sengketa, adalah
mempertimbangkan sifat dari intangible
yang
asset yang ingin dinilai
terpenting
dalam
penilaian.
34
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tahapan-tahapan proses penelitian
yang harus dilakukan penulis dalam menjalankan penelitian agar penelitian ini
dapat berjalan secara sistematis, terukur, dan terarah, serta dapat menjawab
permasalahan dan mencapai tujuan yang ditetapkan. Tahapan-tahapan proses
penilaiain akan ditampilkan dalam flowchart dan kemudian diberikan penjelasan.
3.1. Flowchart Penelitian
Berikut ditampilkan flowchart penelitian yang terdiri dari langkah-langkah
yang dilakukan oleh peneliti selama melakukan penelitian.
Tahap identifikasi
unit analisis
Tahap
pengumpulan data
Tahap penilaian
intangible asset
Gambar 3.1 Flowchart Penelitian
35
`
Penarikan
kesimpulan
penilaian
Gambar 3.1 Flowchart Penelitian (lanjutan)
36
3.2. Penjelasan Flowchart Penelitian
Berikut merupakan penjelasan dari setiap tahapan penelitian yang ada
dalam flowchart penelitian skripsi.
3.2.1. Tahap Identifikasi Unit Analisis
Sebuah proses penilaian dimulai dari pengidentifikasian unit analisis.
Identifikasi unit analisis meliputi identifikasi dari permasalahan yang perlu
diketahui dalam melakukan penilaian intangible asset. Permasalahan dari
penilaian intangible asset yang perlu diketahui menyangkut hal-hal sebagai
berikut:
1. Identifikasi intangible asset yang menjadi subjek
2. Identifikasi sifat atau hak-hak kepemilikan intangible asset yang akan dinilai
3. Objektitif dari penilaian intangible asset
4. Tujuan dari penilaian intangible asset
5. Tanggal berlakunya penilaian
3.2.2. Tahap Pengumpulan Data
Setelah
mengidentifikasi
unit
analisis,
tahap
selanjutnya
adalah
pengumpulan dan analisis data. Pada tahap ini, penilai mengumpulkan data yang
dibutuhkan dalam melakukan penilaian intangible asset. Data tersebut tebagi
menjadi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang berasal dari
sumber asli atau pertama. Data primer bukan merupakan data yang telah
terkompilasi ataupun dalam bentuk arsip-arsip.
Data primer didapatkan melalui narasumber atau responden, yaitu pihak
yang dijadikan sebagai objek penelitian atau yang dijadikan sebagai sarana dalam
mendapatkan informasi atau data (Narimawati, 2008). Pengumpulan data primer
yang dibutuhkan dilakukan dengan cara melakukan wawancara dengan pihak
lembaga pengelola intangible asset hak paten pada Perguruan Tinggi X. Berikut
data primer yang dibutuhkan dalam penelitian ini:
1. Proyeksi harga jual produk
2. Proyeksi volume unit penjualan produk
3. Proyeksi harga pokok penjualan produk
37
Data sekunder adalah data yang telah diperoleh atau dikumpulkan dan
disatukan oleh studi-studi sebelumnya atau yang diterbitkan oleh berbagai instansi
lain. Biasanya sumber tidak langsung berupa data dokumentasi dan arsip-arsip
resmi. PT Y merupakan pihak yang menjadi salah satu suber pengumpulan data
sekunder dalam penelitian ini. Berikut data sekunder yang dibutuhkan dalam
penelitian ini:
1. Faktor-faktor makro ekonomi berupa tingkat pengembalian investasi bebas
risiko, indeks harga saham gabungan, serta tarif pajak untuk badan usaha
tetap
2. Kondisi indutri terkait berupa ROA, beta, DER, dan tarif pajak
perusahaan-perusahaan pembanding
3. Periode license agreement
4. Investasi awal yang dibutuhkan dan sumber pendanaan
5. Bunga pinjaman bank jangka panjang
6. Periode pengembalian pinjaman bank jangka panjang
7. Proyeksi volume unit penjualan produk
8. Proyeksi biaya-biaya operasional
9. Proyeksi hutang usaha
10. Proyeksi piutang usaha
3.2.3. Tahap Analisis Penilaian Intangible Aset
Pendekatan dan metode yang digunakan dalam melakukan penilaian
intangible asset hak paten ada penelitian ini adalah pendekatan pendapatan
(income approach) dan Metode Discounted Cash Flow. Tahap pertama dalam
melakukan penilaian ini adalah menentukan asumsi-asumsi penilaian. Asumsiasumsi penilaian perlu untuk ditetapkan guna dapat melakukan penilaian dengan
menggunakan data yang terkumpul dengan keterbatasannya.
Tahap yang kedua adalah melakukan estimasi periode proyeksi
pendapatan ekonomi. Periode proyeksi pendapatan ekonomi merupakan periode
waktu di masa depan dimana unit ekonomi yang menggunakan intangible asset
diharapkan mampu menghasilkan pendapatan ekonomi yang terukur. Unit
38
ekonomi dalam komersialisasi produk penelitian Perguruan Tinggi X. Pendapatan
ekonomi dari komersialisasi produk penelitian Perguruan Tinggi X akan
diproyeksikan selama periode proyeksi yang ditentukan.
Tahap yang ketiga adalah membuat permodelan keuangan yang
merupakan alat untuk melakukan proyeksi pendapatan ekonomi. Permodelan
keuangan dan proyeksi pendapatan ekonomi yang dibuat akan menghasilkan
proyeksi-proyeksi pendapatan, biaya-biaya, laporan laba rugi, laporan arus kas,
laporan neraca, laporan free cash flow, dan lain-lain. Tahap yang ke empat adalah
perhitungan
tingkat
diskonto.
Perhitungan
tingkat
diskonto
merupakan
perhitungan biaya modal PT Y. Biaya modal yang digunakan adalah WACC
(weighted average cost of capital) atau biaya modal tertimbang dari berbagai
sumber modal sesuai dengan komposisi masing-masing.
Tahap selanjutnya adalah melakukan penilaian intangible asset dengan
menggunakan pendekatan pendapatan dan metode discounted cash flow yang
akan menghasilkan nilai dari intangibel asset hak paten produk penelitian.
Dengan menggunakan pendekatan pendapatan dan metode discounted cash flow,
pertama-tama yang perlu dilakukan adalah mengalokasikan sebagian pendapatan
ekonomi yang merupakan hasil dari kontribusi aset-aset tetap dan mengalokasikan
sebagian pendapatan ekonomi lainnya yang merupakan hasil dari kontribusi
intangible asset. Pendapatan ekonomi yang dialokasikan adalah laba bersih
sebelum pajak per tahun selama periode proyeksi. Laba bersih sebelum pajak per
tahun yang dihasilkan intangible asset kemudian dikurangi beban pajak dan
menjadi laba bersih yang dihasilkan intangible asset per tahun. Setelah
mendapatkan laba bersih per tahun yang dihasilkan intangible asset, selanjutnya
adalah memproyeksikan arus kas bersih (free cash flow) per tahun selama periode
proyeksi yang dianggap dihasilkan intangible asset. Arus kas bersih per tahun
yang dihasilkan intangible asset kemudian didiskontokan menggunakan tingkat
diskonto atau WACC sehingga dihasilkan nilai sekarang (net present value) dari
arus arus kas bersih atau DCF (discounted cash flow) selama periode proyeksi
tersebut. Jumlah nilai sekarang dari arus kas bersih atau DCF selama periode
proyeksi akan menghasilkan NPV (net present value). Nilai NPV tersebut
merupakan nilai dari intangible asset.
39
Setelah
nilai
dari
intangible
asset
dihasilkan,
perlu
dilakukan
penghitungan tarif royalti agar Perguruan Tinggi X dapat mendapatkan
pendapatan ekonomi sebesar nilai intangible asset hak paten produk penelitian
yang dimilikinya. Tarif royalti yang ditetapkan adalah tarif royalti dalam bentuk
persentase dari penjualan bersih Produk A. Tarif royalti akan dikalikan dengan
total penjualan bersih per tahun sehingga menghasilkan pendapatan royalti per
tahun. Nilai sekarang atau NPV dari total pendapatan royalti selama periode
proyeksi yang dihasilkan diharapkan memiliki nilai yang sama dengan nilai
intangible asset. Penghitungan tarif royalti dilakukan dengan menggunakan dua
fungsi dari analisis what-if pada Software Microsoft Office Excel yaitu data table
dan goal seek.
3.2.4. Penarikan Kesimpulan
Tahapan ini merupakan tahapan yang paling terakhir dalam penelitian ini.
Kesimpulan yang dibuat oleh penulis merupakan jawaban dari tujuan dan
rumusan masalah penelitian, yaitu nilai dari hak paten produk penelitian
Perguruan Tinggi X dan tarif royalti yang dapat ditetapkan Perguruan Tinggi X
atas liecense agreement yang dilakukan dengan PT Y. Selain itu penulis juga
memberikan saran bagi penelitian selanjutnya.
40
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Pada bab ini dijelaskan tahap pengumpulan data yang dibutuhkan dalam
proses penelitian. Setelah itu dijelaskan juga mengenai tahap pengolahan data
yang telah didapatkan. Metode pengolahan data dilakukan sesuai dengan
penjelasan pada bab sebelumnya.
4.1. Pengunpulan Data
Data primer dan sekunder yang berhasil dikumpulkan akan ditampilkan pada
sub bab pengumpulan data.
4.1.1. Investasi Bebas Risiko
Riesiko
merupakan
ketidakpastian
dalam
kemungkinan
distribusi
pengembalian (return) (Fischer & Jordan, 1995). Seluruh investasi pada dasarnya
memiliki risiko, tidak terdapat investasi yang benar-benar tidak memiliki risiko.
Namun tingkat risiko dari investasi berbeda-beda. Yang dimaksud dengan
investasi bebas risiko merupakan investasi dengan risiko terkecil. Tingkat
risikonya sangat rendah sehingga risikonya dapat diabaikan dan dianggap sebagai
investasi bebas risiko. Investasi bebas risiko dianggap sebagai investasi yang
secara pasti akan memberikan tingkat keuntungan kepada investor. Investasi yang
dianggap bebas risiko perlu untuk ditetapkan. Hal tersebut karena investasi bebas
risiko menjadi pembanding atau tolak ukur dalam menetapkan risiko dari
investasi-investasi lain.
Tabel 4. 1 Obligasi Pemerintah Tahun 2017
Today
TTM
(Years)
Series
5,51
10,68
15,35
20,36
FR0053
FR0056
FR0073
FR0072
Yield
(%)
8,7850
8,7369
8,9019
8,9183
Yesterday
Price (%)
97,7000
97,5000
98,7216
93,7568
Sumber: Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA)
41
Yield
(%)
8,8076
8,7360
8,8965
8,9273
Coupon
(%)
Price (%)
97,6000
97,5040
98,7663
93,6770
8,2500
8,3750
8,7500
8,2500
Dalam penelitian ini, data tingkat pengembalian dari investasi bebas risiko
diperlukan dalam penghitungan biaya ekuitas (cost of equity) perusahaan.
Investasi yang ditetapkan sebagai investasi bebas risiko adalah obligasi
pemerintah. Tabel 4.1 menampilkan data instrumen investasi bebas risiko
(obligasi pemerintah) yang diperdagangkan di pasar sekunder.
4.1.2. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Menurut Anoraga & Pakarti (2001), ISHG merupakan indeks yang
menunjukkan pergerakan harga saham secara umum yang tercatat di bursa efek
yang menjadi acuan tentang perkembangan kegiatan di pasar modal. Menurut
Sunariyah (2003), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah suatu rangkaian
informasi historis mengenai pergerakan harga saham gabungan, sampai tanggal
tertentu dan mencerminkan suatu nilai yang berfungsi sebagai pengukuran kinerja
suatu saham gabungan di bursa efek. Yang dimaksud IHSG mencerminkan
kinerja saham gabungan adalah IHSG mencerminkan kinerja seluruh saham yang
tergabung di bursa efek. Hal tersebut dikarenakan dalam perhitungan IHSG
melibatkan seluruh harga saham yang tercatat di bursa. Dengan kata lain, ISHG
dapat digunakan untuk menilai situasi pasar secara umum atau mengukur apakah
secara keseluruhan harga saham mengalami kenaikan atau penurunan. Indeks
yang dimaksud dalam IHSG adalah return index atau tingkat pengembalian atau
keuntungan pasar secara keseluruhan atas saham-saham gabungan tersebut.
IHSG
7.000,00
6.000,00
5.000,00
4.000,00
3.000,00
2.000,00
1.000,00
0,00
Jul 01, 2017
Jan 01, 2017
Jul 01, 2016
Jan 01, 2016
Jul 01, 2015
Jan 01, 2015
Jul 01, 2014
Jan 01, 2014
Jul 01, 2013
Jan 01, 2013
Jul 01, 2012
Jan 01, 2012
Jul 01, 2011
Jan 01, 2011
Jul 01, 2010
Jan 01, 2010
Jul 01, 2009
Jan 01, 2009
Jul 01, 2008
Jan 01, 2008
Jul 01, 2007
Adj Close**
Gambar 4. 1 IHSG Tahun 2007-2017
Sumber: Yahoo Finace
42
Dalam penelitian ini IHSG dapat digunakan untuk menentukan market
return yang digunakan untuk menghitung market risk dan WACC. Data IHSG
yang digunakan adalah pada rentang waktu 10 tahun yaitu antara tahun 2007
hingga 2017. Di bawah ini merupakan grafik pergerakan IHSG pada tahun 2007
hingga 2017.
4.1.3. Proyeksi Penjualan Produk
Gambar 4.2 menunjukkan proyeksi penjualan Produk A dari tahun 2018
hingga tahun 2021. Data proyeksi penjualan Produk A merupakan data hasil
wawancara dengan pihak dari salah satu lembaga pada Perguruan Tinggi X yang
merupakan lembaga pengelola hak paten produk penelitian. Estimasi proyeksi
penjualan Produk A imulai dari tahun 2018 dikarenakan PT Y merencanakan akan
melakukan produksi dan penjulan Produk A dimulai dari tahun 2018. Pihak dari
lembaga pengelola hak paten produk penelitian menyatakan bahwa PT Y
ditargetkan dapat menjual 100.000 unit per tahun dari tahun 2018 hingga tahun
2021. Komersialisasi produk penelitian yang dilakukan Perguruan Tinggi X
dengan melakukan license agreement dengan PT Y, merupakan komersialisasi
pertama kali yang dilakukan terhadap hak paten produk penelitian yang
dimilikinya, sehingga jumlah unit penjualan produk per rtahun ditargetkan
konstan terlebih dahulu tanpa pertumbuhan. Proyeksi penjualan Produk A ini
termasuk didalamnya estimasi penjualan ekspor.
Proyeksi Penjualan Produk A
120.000
100.000
80.000
60.000
40.000
20.000
2018
2019
2020
Gambar 4. 2 Proyeksi Penjualan Produk A Tahun 2018-2021
43
2021
4.1.4. Harga Jual Produk
Harga jual Produk A direncanakan konstan dari tahun 2018 hingga tahun
2021. Harga jual Produk A yang ditetapkan untuk tahun 2018 hingga tahun 2021
adalah sebesar Rp 20.000.000. Informasi mengenai perencanaan harga jual
Produk A tersebut didapatkan dari hasil wawancara dengan pihak lembaga
pengelola hak paten produk penelitian pada Perguruan Tinggi X.
4.1.5. Investasi Aset Tetap
Rincian investasi aset-aset tetap dan jumlah dana investasi yang
dibutuhkan untuk menjalankan komersialisasi produk penelitian ditunjukkan pada
Tabel 4.2. Investasi aset-aset tetap yang dibutuhkan untuk mengkomersialisasi
prduk penelitian adalah investasi aset tetap dalam bentuk gedung, mesin,
peralatan, kendaraan, komputer dan perangkat lunak. Total dana investasi yang
dibutuhkan adalah sebesar 87.485.580.000 rupiah. Seluruh dana investasi
dibutuhkan pada tahun 2017 dan investasi dilakukan pada tahun 2017.
Tabel 4. 2 Investasi Aset Tetap
Investasi
Tahun 2017
Gedung
8.099.000.000
Mesin
22.682.800.000
Komputer dan perangkat lunak
4.200.000.000
Kendaraan
4.410.000.000
Peralatan
48.093.780.000
Total Investasi
87.485.580.000
Umur ekonomis dari aset-aset tetap yang merupakan investasi tersebut
ditunjukkan pada Tabel 4.3. Umur ekonomis dari aset tetap akan digunakan untuk
melakukan penyusutan aset tetap dan memperoleh nilai dari aset tetap tersebut
dari tahun ke tahun yang dibutuhkan pada saat pengolahan data dalam penilaian
ini. Data total investasi aset tetap yang dibutuhkan berserta data umur ekonomis
dari aset-aset tetap merupakan data proforma yang mengacu pada data investasi
aset-aset tetap yang diestimasi oleh PT Y.
44
Tabel 4. 3 Umur Ekonomis Aset Tetap
Investasi
Umur Ekonomis
Gedung
19
Mesin
4
Peralatan
15
Kendaraan
10
Komputer dan Perangkat Lunak
5
4.1.6. Sumber Pendanaan
Gambar 4.3 menunjukkan sumber pendanaan yang digunakan untuk
membiayai investasi ynag dibutuhkan untuk komersialisasi produk penelitian.
Sumber dana direncanakan akan berasal dari ekuitas atau modal sendiri dan
pinjaman jangka panjang dari bank. Dari total dana investasi yang dibutuhkan,
10% sumber dana yaitu sebesar Rp 8.748.558.000 direncanakan berasal dari
ekuitas. Sedangkan sebesar 90% sumber dana yaitu sebesar Rp 78.737.022.000
direncanakan berasal dari pinjaman bank. Pendanaan yang berasal dari pinjaman
bank akan menimbulkan beban bunga pinjaman. Bunga pinjaman yang akan
dikenakan adalah sebesar 14% per tahun. Pinjaman bank akan memiliki jangka
waktu pengembalian 4 tahun. Data sumber pendanaan tersebut merupakan data
proforma yang mengacu pada data perencanaan sumber dana PT Y dan hasil
wawancara dengan pihak lembaga pengembang intangible asset hak paten produk
penelitian Perguruan Tinggi X.
Sumber Pendanaan
8.748.558.000 ;
10%
78.737.022.000 ;
90%
Pinjaman Bank
Ekuitas
Gambar 4. 3 Sumber Pendanaan
45
4.1.7. Proyeksi Biaya-biaya
Proyeksi HPP (harga pokok penjualan) dan biaya biaya operasional yang
akan timbul selama proses komersialisasi produk penelitian pada tahun 2017 dan
2018 ditunjukkan pada Tabel 4.4. Sedangkan, proyeksi HPP dan biaya-biaya
operasional selama tahun 2017 hingga tahun 2021 secara keseluruhan dapat
dilihat pada Lampiran 1. Proyeksi HPP dan biaya-biaya operasi tersebut
merupakan data proforma yang mengacu pada data proyeksi HPP dan biaya-biaya
operasi yang diestimasi oleh PT Y. Data pertumbuhan biaya-biaya komersialisasi
per tahun bersumber dari estimasi yang dilakukan oleh PT Y.
Tabel 4. 4 Proyeksi biaya-biaya Tahun 2017-2018
Tahun
2017
Deskripsi
2018
HPP
-
-1.000.000.000.000
Biaya pemasaran
-
-78.150.000.000
Biaya tenaga kerja
-5.038.288.640
-5.088.671.526
Biaya kompensasi
-
-5.450.000.000
Biaya perolehan properti
-25.515.000.000
-
Biaya jasa pihak luar
-40.031.040.000
-41.884.477.152
Biaya tetap pemasaran
-21.000.000.000
-31.500.000.000
-4.374.279.000
-5.249.134.800
-700.000.000
-1.050.000.000
Biaya tetap lainnya
Biaya umum & administratif
4.1.8. Perusahaan Pembanding
Data beta, rasio utang dengan ekuitas (debt equity ratio / DER), pajak,
serta rata-rata ROA (return on asset) selama lima tahun terakhir dari perusahaanperusahaan pembanding di pasar perlu untuk didapatkan. Data beta, DER, serta
pajak dari perusahaan-perusahaan pembanding dibutuhkan untuk menghitung beta
PT Y. Data mengenai beta perusahaan PT Y belum terdapat dan belum diketahui
data historisnya sehingga beta dari PT Y perlu untuk dihitung. Beta PT Y perlu
untuk diketahui untuk dapat menghitung weighted average cost of capital
(WACC) dari PT Y. Perusahaan-perusahaan yang dijadikan sebagai pembanding
46
adalah perusahaan-perusahaan pada industri yang ingin dimasuki oleh PT Y, yaitu
industri yang memproduksi produk sejenis dengan Produk A . Hal tersebut
dikarenakan dalam penilaian ini, WACC yang dibutuhkan adalah WACC dari PT
Y sebagai perusahaan yang memproduksi Produk A.
ROA merupakan rasio antara laba bersih dengan jumlah aset perusahaan
secara keseluruhan. ROA mencerminkan tingkat pengembalian dari total aset
yang dimiliki perusahaan. Data average ROA selama lima tahun dari perusahaanperusahaan pembanding akan digunakan untuk menghitung return atau tingkat
pengembalian dari aset-aset
berwujud yang digunakan dalam komersialisasi
produk penelitian. Jumlah rata-rata dari average ROA perusahaan-perusahaan
pembanding akan menjadi tingkat pengembalian atau ROA dari aset-aset
berwujud yang digunakan dalam komersialisasi produk penelitian. ROA dari asetaset berwujud yang dikalikan laba bersih per tahun akan menghasilkan
pendapatan ekonomi yang merupakan pengembalian dari aset-aset berwujud.
Tabel 4.5 menunjukkan 8 perusahaan-perusahaan pembanding yang memiliki
ketersediaan data beta, DER, pajak, dan average ROA selama lima tahun di pasar.
Nama delapan perusahaan tersebut disamatkan karena merupakan perusahaanperusahaan pada industri dimana PT Y akan memasuki.
Tabel 4. 5 Perusahaan Pembanding
ROA
Beta
DER
Tax
A B Ltd.
1,05
48,14
26%
5,62
A M T Inc.
1,84
89,69
30%
8,10
A Inc.
1,33
70,93
26%
8,92
E E Co.
1,19
50,81
28%
8,92
F E Co Inc.
1,61
29,87
20%
7,75
N Corp.
0,88
49,05
21%
5,65
R B Corp.
1,53
64,22
21%
3,80
R A Inc.
1,15
84,78
20%
12,80
Rata-rata
1,32
60,94
24%
7,70
Perusahaan Pembanding
47
5 Yr. Avg.
4.2. Pengolahan Data
Berdasarkan dari data pendapatan, biaya-biaya, dan data komersialisasi hak
paten produk penelitian Perguruan Tinggi X lainnya yang telah dikumpulkan,
maka akan dibuat permodelan keuangan untuk memproyeksikan penjualan, biayabiaya, modal kerja, laba rugi, arus kas, neraca, intangible asset post tax profit dan
lain sebagainya. Selain itu, akan dihitung biaya modal yang akan digunakan
sebagai tingkat diskonto yaitu WACC (weighted average cost of capital) dari PT
Y.
4.2.1. Periode Proyeksi Pendapatan Ekonomi
Estimasi periode proyeksi yang ditetapkan untuk melakukan penilaian ini
adalah selama 5 tahun, yaitu pada tahun 2017, 2018, 2019, 2020, dan 2021.
Estimasi periode proyeksi pendapatam ekonomi tersebut adalah berdasarkan
periode dari licence agreement yang akan dilaksanakan. License agreement
direncanakan akan mulai dilaksanakan dari tahun 2017 dan berakhir pada tahun
2021. Tahun 2017 adalah periode investasi. Produksi dan penjualan Produk A
dimulai dari tahun 2018 hingga tahun 2021. Teknologi yang terdapat pada hak
paten produk penelitian Perguruan Tinggi X diasumsikan akan mengalami
technology obsolete ketika license agreement berakhir. Technology obsolete atau
keusangan teknologi adalah kondisi dimana terdapat teknologi sejenis yang baru
dan telah berkembang menggantikan teknologi sebelumnya sehingga teknologi
sebelumnya ditinggalkan (Reilly & Schweihs, 1998). Dengan kata lain, ketika
license agreement berakhir di tahun 2021, intangible asset hak paten produk
penelitian Perguruan Tinggi X diasumsikan mengalami technology obsolete dan
sudah tidak mampu lagi menimbulkan pendapatan ekonomi.
4.2.2. Proyeksi Penjualan Bersih Produk
Total penjualan bersih Produk A per tahun didapatkan dari volume unit
penjualan dikalikan dengan harga jual produk peda setiap tahunnya. Tabel hasil
perhitungan penjualan bersih Produk A pada tahun 2017 hingga 2021 secara
keseluruhan ditampilkan pada Lampiran 2. Seperti yang dapat dilihat pada
Gambar 4.4, proyeksi penjualan bersih Produk A per tahun dari tahun 2018
48
hingga
tahun
2021
memiliki
jumlah
yang
sama
yaitu
sebesar
Rp
2.000.000.000.000. Hal tersebut dikarenakan volume unit penjualan dan harga
jual Produk A dari tahun 2018 hingga tahun 2021 konstan atau tidak mengalami
pertumbuhan.
Proyeksi Penjualan Bersih
2.500.000.000.000
2.000.000.000.000
1.500.000.000.000
1.000.000.000.000
500.000.000.000
0
2017
2018
2019
2020
2021
Gambar 4. 4 Proyeksi Penjualan Bersih Produk A 2017-2021
4.2.3. Proyeksi Harga Pokok Penjualan
Harga pokok penjualan (HPP) untuk setiap unit yang terjual adalah sebesar
Rp 10.000.000. Total harga pokok penjualan per tahun didapatkan dari harga
pokok penjualan per unit produk dikalikan dengan volume unit penjualan dalam
satu tahun. Penjualan Produk A dimulai pada tahun 2018, oleh karena itu harga
pokok penjualan mulai timbul pada tahun 2018 dan tidak terdapat harga pokok
penjualan pada tahun 2017. Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.5, proyeksi
harga pokok penjualan per tahun dari tahun 2018 hingga tahun 2021 tidak
mengalami pertumbuhan dikarenakan volume unit penjualan Produk A dari tahun
2018 hingga tahun 2021 juga konstan. Tabel proyeksi harga pokok penjualan dari
tahun 2017 hingga tahun 2021 dapat dilihat pada Lampiran 3. Proyeksi harga
pokok penjualan per tahun dari tahun 2017 hingga 2021 adalah sebesar Rp
1.000.000.000.000.
49
Proyeksi Harga Pokok Penjualan
1.200.000.000.000
1.000.000.000.000
800.000.000.000
600.000.000.000
400.000.000.000
200.000.000.000
2017
2018
2019
2020
2021
Gambar 4. 5 Proyeksi Harga Pokok Penjualan Tahun 2017-2021
4.2.4. Proyeksi Biaya Pemasaran
Biaya Pemasaran
90.000.000.000
80.000.000.000
70.000.000.000
60.000.000.000
50.000.000.000
40.000.000.000
30.000.000.000
20.000.000.000
10.000.000.000
0
2017
2018
2019
2020
2021
Gambar 4. 6 Proyeksi Biaya Pemasaran Tahun 2017-2021
Setiap penjualan satu unit Produk A akan menimbulkan biaya pemasaran
sebesar Rp 781.500. Penjualan Produk A akan dimulai pada tahun 2018, oleh
karena itu biaya pemasaran juga mulai muncul di tahun 2018 dan tidak terdapat
biaya pemasaran di tahun 2017. Estimasi total biaya pemasaran per tahun
didapatkan dari biaya pemasaran per unit yang terjual dikalikan dengan estimasi
50
volume unit penjualan dalam setahun. Sebagai contoh, Seperti yang dapat dilihat
pada Gambar 4.6, proyeksi biaya pemasaran dari tahun 2018 hingga tahun 2021
tidak mengalami pertumbuhan dikarenakan volume unit penjualan Produk A dari
tahun 2018 hingga tahun 2021 juga konstan. Proyeksi biaya pemasaran per tahun
dari tahun 2018 hingga 2021 adalah sebesar Rp 78.150.000.000. Tabel proyeksi
biaya pemasaran dari tahun 2017 hingga 2021 ditampilkan dalam Lampiran 4.
4.2.5. Proyeksi Biaya Tenaga Kerja
Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.7, biaya tenaga kerja
diestimasikan terus mengalami kenaikan dari tahun 2017 hingga tahun 2021.
Proyeksi biaya tenaga kerja pada tahun 2017 adalah sebesar Rp 5.038.288.640.
Biaya tenaga kerja pada tahun 2018 diestimasikan mengalami kenaikan sebesar
1% dibandingkan tahun 2017. Proyeksi biaya tenaga kerja pada tahun 2018 adalah
sebesar Rp 5.088.671.526. Sedangkan dari tahun 2019 hingga 2021, biaya tenaga
kerja secara berturut-turut diestimasikan akan mengalami kenaikan sebesar 6%
dibandingkan tahun sebelumnya. Tabel proyeksi biaya tenaga kerja dari tahun
2017 hingga tahun 2021 dapat dilihat pada Lampiran 5. Proyeksi biaya tenaga
kerja pada tahun 2019 adalah sebesar Rp 5.393.991.818, sebesar
Rp
5.717.631.327 pada tahun 2020, dan sebesar Rp 6.060.689.207 pada tahun 2021.
Proyeksi Biaya Tenaga Kerja
7.000.000.000
6.000.000.000
5.000.000.000
4.000.000.000
3.000.000.000
2.000.000.000
1.000.000.000
2017
2018
2019
2020
Gambar 4. 7 Proyeksi Biaya Tenaga Kerja Tahun 2017-2021
51
2021
4.2.6. Proyeksi Biaya Kompensasi
Setiap penjualan satu unit Produk A diasumsikan akan menimbulkan biaya
kompensasi sebesar Rp 54.500. Total biaya kompensasi dalam satu tahun
didapatkan dari biaya kompensasi per unit produk yang terjual dikalikan dengan
total volume unit penjualan dalam satu tahun. Penjualan Produk A akan dimulai
pada tahun 2018. Oleh karena itu, biaya kompensasi tidak timbul pada tahun 2017
dan mulai timbul pada tahun 2018. Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.8,
proyeksi biaya kompensasi dari tahun 2018 hingga tahun 2021 tidak mengalami
pertumbuhan dikarenakan volume unit penjualan Produk A dari tahun 2018
hingga tahun 2021 juga konstan. Tabel proyeksi biaya kompensasi dari tahun
2017 hingga tahun 2021 dapat dilihat pada Lampiran 6. Proyeksi biaya
kompensasi per tahun dari tahun 2018 hingga tahun 2021 adalah sebesar Rp
5.450.000.000.
Proyeksi Biaya Kompensasi
6.000.000.000
5.000.000.000
4.000.000.000
3.000.000.000
2.000.000.000
1.000.000.000
2017
2018
2019
2020
2021
Gambar 4. 8 Proyeksi Biaya Kompensasi Tahun 2017-2021
4.2.7. Proyeksi Biaya Perolehan Properti
Proyeksi biaya perolehan properti pada tahun 2017 adalah sebesar Rp
25.515.000.000. Biaya perolehan properti muncul dikarenakan kegiatan dari
investasi dan pembangunan gedung. Dalam komersialisasi produk penelitian ini,
hanya terdapat kegiatan investasi gedung pada periode investasi yaitu pada tahun
2017. Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.9, tidak timbul biaya perolehan
52
properti pada tahun-yahun berikutnya yaitu pada tahun 2018 hingga tahun 2021.
Contoh dari biaya perolehan properti adalah biaya penelitian tanah, biaya
merobohkan bangunan lama, biaya perataan dan pembersihan tanah, biaya
perbaikan bangunan sebelum digunakan, komisi pembelian, bea balik nama, biaya
pengurusan ijin mendirikan gedung, dan lain sebagainya. Tabel proyeksi biaya
perolehan properti dari tahun 2017 hingga tahun 2021 dapat dilihat pada
Lampiran 7.
Proyeksi Biaya Perolehan Properti
30.000.000.000
25.000.000.000
20.000.000.000
15.000.000.000
10.000.000.000
5.000.000.000
0
2017
2018
2019
2020
2021
Gambar 4. 9 Proyeksi Biaya Perolehan Properti Tahun 2017-2021
4.2.8. Proyeksi Biaya Jasa Pihak Luar
Pada tahun 2018 biaya jasa pihak luar mengalami kenaikan sikitar sebesar
5% dibandingkan tahun 2017. Pada tahun 2019 biaya jasa pihak luar mengalami
kenaikan sekitar sebesar 7% dibandingkan tahun 2018. Pada tahun 2020 biaya
jasa pihak luar kembali mengalami kenaikan skitar sebesar 5% dibandingkan
tahun sebelumnya. Pada tahun 2021 biaya jasa pihak luar kembali mengalami
kenaikan sekitar sebesar 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Biaya personel
pada tahun 2017 adalah sebesar Rp 40.031.040.000, pada tahun 2018 sebesar Rp
41.884.477.152, pada tahun 2019 sebesar Rp 44.661.417.987, pada tahun 2020
sebesar Rp 47.059.736.133, dan pada tahun 2021 sebesar Rp 50.179.796.639.
Tabel proyeksi biaya personel dari tahun 2017 hingga 2021 ditampilkan dalam
Lampiran 8.
53
Biaya Jasa Pihak Luar
60.000.000.000
50.000.000.000
40.000.000.000
30.000.000.000
20.000.000.000
10.000.000.000
2017
2018
2019
2020
2021
Gambar 4. 10 Proyeksi Biaya Jasa Pihak Luar Tahun 2017-2021
4.2.9. Proyeksi Biaya Tetap Pemasaran
Proyeksi Biaya Tetap Pemasaran
80.000.000.000
70.000.000.000
60.000.000.000
50.000.000.000
40.000.000.000
30.000.000.000
20.000.000.000
10.000.000.000
2017
2018
2019
2020
2021
Gambar 4. 11 Proyeksi Biaya Tetap Pemasaran Tahun 2017-2021
Proyeksi biaya tetap pemasaran mengalami pertumbuhan yang konstan
dari tahun 2017 hingga tahun 2021. Biaya tetap pemasaran diestimasikan
mengalami pertumbuhan sebesar 50% setiap tahunnya selama periode proyeksi.
Total biaya tetap pemasaran pada tahun 2018 mengalami akan pertumbuhan
sebesar 50% dibandingkan total biaya tetap pemasaran tahun 2017, dan
54
seterusnya. Proyeksi biaya tetap pemasaran pada tahun 2017 adalah sebesar Rp
21.000.000.000, sebesar Rp 31.500.000.000 pada tahun 2018, sebesar Rp
47.250.000.000 pada tahun 2019, sebesar Rp 70.875.000.000 pada tahun 2020,
dan sebesar Rp 106.312.500.000 pada tahun 2021. Tabel proyeksi biaya tetap
pemasaran dari tahun 2017 hingga 2021 ditampilkan dalam Lampiran 9.
4.2.10. Proyeksi Biaya Tetap Lainnya
Proyeksi biaya tetap lainnya dari tahun 2017 hingga tahun 2021 juga
diestimasikan akan mengalami pertumbuhan yang konstan. Biaya tetap lainnya
diestimasikan akan mengalami pertumbuhan sebesar 20% per tahun mulai dari
tahun 2017 hingga tahun 2021. Total biaya tetap lainnya pada tahun 2018 akan
mengalami pertumbuhan sebesar 20% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu
tahun 2017, dan seterusnya. Proyeksi biaya tetap lainnya pada tahun 2017 sebesar
Rp 4.374.279.000, sebesar Rp 5.249.134.800 pada tahun 2018, sebesar Rp
6.298.961.760 pada tahun 2019, sebesar Rp 7.558.754.112 pada tahun 2020, dan
sebesar Rp 9.070.504.934 pada tahun 2021. Tabel proyeksi biaya tetap lainnya
dari tahun 2017 hingga 2021 ditampilkan dalam Lampiran 10.
Proyeksi Biaya Tetap Lainnya
7.000.000.000
6.000.000.000
5.000.000.000
4.000.000.000
3.000.000.000
2.000.000.000
1.000.000.000
2017
2018
2019
2020
Gambar 4. 12 Proyeksi Biaya Tetap Lainnya Tahun 2017-2021
55
2021
4.2.11. Proyeksi Biaya Umum dan Administrasi
Proyeksi biaya umum dan administrasi memiliki tingkat pertumbuhan
yang sama dengan proyeksi biaya event pemasaran. Biaya umum dan administrasi
diestimasikan akan mengalami pertumbuhan sebesar 50% per tahun dimulai dari
tahun 2017 hingga tahun 2021. Total biaya umum dan administrasi pada tahun
2018 akan mengalami pertumbuhan sebesar 50% dibandingkan total biaya umum
dan administrasi pada tahun 2017, dan seterusnya. Proyeksi biaya umum dan
administrasi pada
tahun 2017 adalah sebesar Rp 700.000.000, sebesar Rp
1.050.000.000 pada tahun 2018, sebesar Rp 1.575.000.000 pada tahun 2019,
sebesar Rp 2.362.500.000 pada tahun 2020, dan sebesar Rp 3.543.750.000 pada
tahun 2021. Tabel proyeksi biaya umum dan administrasi dari tahun 2017 hingga
2021 ditampilkan dalam Lampiran 11.
Proyeksi Biaya Umum dan Administrasi
Rp3.000.000.000
Rp2.500.000.000
Rp2.000.000.000
Rp1.500.000.000
Rp1.000.000.000
Rp500.000.000
Rp2017
2018
2019
2020
2021
Gambar 4. 13 Proyeksi Biaya Umum & Administrasi Tahun 2017-2021
4.2.12. Proyeksi Piutang Usaha
Hasil perhitungan piutang usaha mulai tahun 2017 hingga tahun 2019
ditampilkan pada Tabel 4.6. Piutang usaha adalah sebagian dari penjualan yang
belum dibayarkan dalam bentuk kas oleh pelanggan. Piutang usaha pada setiap
tahun akan dibayarkan oleh pelanggan pada taahun berikutnya. Oleh karena itu,
pembayaran piutang usaha tahun lalu merupakan pelunasan yang telah dibayarkan
oleh pelanggan atas piutang usaha tahun lalu. Seperti yang telah sebutkan dalam
56
asumsi peilaian, besarnya piutang usaha pada akhir periode per tahun adalah
sebesar 13% dari penjualan bersih per tahun. Total penerimaan kas dari penjualan
adalah kas yang telah dibayarkan oleh pelanggan dan diterima oleh perusahaan
atas penjualan yang telah dilakukan. Total penerimaan kas dari penjualan per
tahun didapatkan dari penjualan dikurangi piutang usaha ditambahkan
pembayaran piutang usaha per tahun. Proyeksi total penerimaan kas dari
penjualan mulai tahun 2017 hingga 2021 dapat dilihat pada Lampiran 12.
Tabel 4. 6 Proyeksi Piutang Usaha
Tahun 2017
2018
2019
Deskripsi
Penjualan
-
Piutang usaha
-
260.000.000.000
260.000.000.000
-
-
260.000.000.000
Pembayaran piutang
usaha tahun lalu
Total penerimaan kas
dari penjualan
-
2.000.000.000.000 2.000.000.000.000
1.740.000.000.000 2.000.000.000.000
4.2.13. Proyeksi Hutang Usaha
Proyeksi hutang usaha dari tahun 2017 hingga tahun 2019 ditampilkan
dalam Tabel 4.7. Seperti yang telah disebutkan dalam asumsi penilaian, Jumlah
utang usaha pada akhir periode per tahun adalah sebesar 13% dari total biaya per
tahun. Hutang usaha merupakan sebagian biaya dalam satu tahun yang belum
dibayarkan perusahaan dalam bentuk kas dan menjadi kewajiban perusahaan
untuk melunasi utang hutang usaha tersebut pada tahun berikutnya. Pembayaran
hutang usaha tahun lalu merupakan pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan
dalam bentuk kas untuk melunasi hutang usaha tahun sebelumnya. Total
pengeluaran kas untuk operasional merupakan kas yang dikeluarkan oleh
perusahaan untuk membayar sebagian biaya dan untuk melunasi hutang usaha
tahun lalu. Total pengeluaran kas untuk operasional per tahun didapatkan dari
biaya dikurangi hutang usaha ditambah pembayaran utang usaha tahun lalu pada
tahun yang sama. Proyeksi total pengeluaran kas untuk operasional mulai tahun
2017 hingga 2021 dapat dilihat pada Lampiran 13.
57
Tabel 4. 7 Proyeksi Hutang Usaha Tahun 2017-2019
Tahun
2017
Deskripsi
Biaya
2018
2019
96.658.607.640 1.168.372.283.478 1.188.779.371.565
Hutang usaha
Pembayaran hutang
usaha tahun lalu
Total pengeluaran kas
untuk operasional
-
151.888.396.852
154.541.318.303
-
-
151.888.396.852
96.658.607.640 1.016.483.886.626 1.186.126.450.114
4.2.14. Proyeksi Perubahan Modal Kerja
Hasil perhitungan perubahan modal kerja dari tahun 2017 hingga tahun
2019 ditampilkan dalam Tabel 4.8. Jumlah kebutuhan modal kerja dalam satu
tahun didapatkan dari jumlah piutang usaha dikurangi dengan jumlah hutang
usaha pada tahun tersebut. Perubahan modal kerja akan menjadi arus kas keluar
(out flow) pada proyeksi arus kas bersih karena merupakan penjualan yang
pembayarannya belum diterima dalam bentuk kas serta jumlahnya melebihi
hutang usaha atau jumlah biaya yang belum dibayarkan dalam bentuk kas oleh
perusahaan. Jumlah perubahan modal kerja dalam satu tahun didapatkan dari
kebutuhan modal kerja tahun sekarang dikurangi dengan kebutuhan modal kerja
pada tahun sebelumnya. Proyeksi perubahan modal kerja mulai tahun 2017 hingga
2021 dapat dilihat pada Lampiran 14.
Tabel 4. 8 Proyeksi Perubahan Modal Kerja Tahun 2017-2019
Tahun
2017
Deskripsi
2018
2019
Piutang usaha
-
260.000.000.000
260.000.000.000
Hutang usaha
-
151.888.396.852
154.541.318.303
Kebutuhan modal kerja
-
108.111.603.148
105.458.681.697
Perubahan modal kerja
-
108.111.603.148
-2.652.921.451
58
4.2.15. Proyeksi Pendanaan
Pendanaan dengan menggunakan pinjaman bank akan menimbulkan beban
bunga. Hasil perhitungan beban bunga dari tahun 2017 hingga tahun 2019
ditunjukkan dalam Tabel 4.9. Untuk dapat menghitung beban bunga per tahun,
perlu dilakukan perhitungan angsuran pinjaman, saldo akhir pinjaman, bunga
pinjaman, dan IDC terlebih dahulu. Selain menimbulkan beban bunga, pendanaan
yang berasal dari pinjaman bank mengharuskan perusahaan untuk melakukan
pembayaran angsuran pinjaman per tahun mulai tahun saat melakukan pinjaman
hingga tahu saat hutang lunas. Waktu pengembalian pinjaman bank adalah selama
4 tahun. Pinjaman bank dilakukan pada tahun 2017, sehingga pembayaran
angsuran pinjaman dilakukan mulai tahun 2017 hingga tahun 2021. Besarnya
angsuran pinjaman per tahunnya adalah sebesar Rp 19.684.255.500. Besarnya
angsuran pinjaman per taahun tersebut didapatkan dari jumlah pinjaman bank
yaitu sebesar Rp 87.485.580.000 dibagi 4 yaitu periode tahun pengembalian
pinjaman.
Tabel 4. 9 Proyeksi Pendanaan Tahun 2017-2019
Tahun
Deskripsi
Total Investasi
2017
2018
87.485.580.000
2019
-
-
-
19.684.255.500
19.684.255.500
Saldo Akhir Pinjaman
78.737.022.000
59.052.766.500
39.368.511.000
Bunga Pinjaman
11.023.183.080
8.267.387.310
5.511.591.540
IDC
11.023.183.080
-
-
-
8.267.387.310
5.511.591.540
Sumber Dana
Ekuitas
Pinjaman Bank
Angsuran Pinjaman
Beban Bunga
8.748.558.000
78.737.022.000
Saldo akhir pinjaman pada setiap tahun merupakan sisa pinjaman atau sisa
utang perusahaan kepada bank yang belum dibayar dan harus dilunasi. Besarnya
saldo akhir pinjaman per tahun didapat dari saldo akhir pinjaman tahun lalu
59
ditambah pertambahan pinjaman bank tahun ini dikurangi angsuran pinjaman
tahun ini. Besarnya bunga pinjaman per tahun didapat dari saldo akhir pinjaman
per tahun dikalikan dengan tarif bunga pinjaman yaitu sebesar 14%.
Bunga pinjaman yang timbul selama masa konstruksi atau periode
investasi dan perusahaan belum menjalankan operasi akan menjadi interest during
construction (IDC). IDC akan dianggap sebagai investasi awal. Jumlah beban
bunga per tahun didapatkan dari bunga pinjaman dikurangi dengan IDC pada
tahun yang sama. Tahun 2017 merupakan masa konstruksi atau periode investasi
sehingga terdapat IDC. Bunga pinjaman pada tahun 2017 akan dikurangi IDC
dengan jumlah yang sama, atau dengan kata lain bunga pinjaman tahun 2017 akan
menjadi IDC sehingga beban bunga pada tahun 2017 akan diakui sama dengan
nol. IDC tidak timbul pada tahun-tahun berikutnya karena perusahaan sudah
beroperasi sehingga jumlah beban bunga per tahun sama dengan jumlah bunga
pinjaman per tahun. Proyeksi beban bunga dari tahun 2017 hingga tahun 2021
ditampilkan dalam Lampiran 15.
4.2.16. Proyeksi Harga Perolehan Aset Tetap
Untuk dapat menghitung nilai buku dari aset-aset tetap yang diperoleh dari
kegiatan investasi, pertama-tama perlu dilakukan perhitungan harga perolehan
aset tetap, akumulasi harga perolehan aset tetap, biaya depresiasi, serta akumulasi
biaya depresiasi terlebih dahulu. Nilai buku aset tetap merupakan estimasi nilai
dari setiap aset tetap per tahun yang diakui oleh perusahaan.
Tabel 4.10 menampilkan proyeksi harga perolehan aset tetap dari tahun
2017 hingga tahun 2018. Harga perolehan per tahun merupakan investasi dalam
bentuk aset tetap yang dilakukan pada tahun tersebut. Investasi aset tetap hanya
dilakukan pada periode investasi yaitu pada tahun 2017 sebelum produksi dan
penjualan Produk A dimulai. Oleh karena itu, harga perolehan setiap aset tetap
hanya muncul pada tahun 2017. Total harga perolehan pada tahun 2017 menjadi
nilai dari investasi awal yaitu sebesar Rp 87.485.580.000. Proyeksi harga
perolehan dari tahun 2017 hingga tahun 2021 secara keseluruhan ditampilkan
pada Lampiran 16.
60
Tabel 4. 10 Proyeksi Harga Perolehan Aset Tetap Tahun 2017-2018
Tahun
2017
Deskripsi
Gedung
2018
8.099.000.000
-
22.682.800.000
-
Komputer dan perangkat lunak
4.200.000.000
-
Kendaraan
4.410.000.000
-
Peralatan
48.093.780.000
-
Total harga perolehan
87.485.580.000
Mesin
4.2.17. Proyeksi Akumulasi Harga Perolehan Aset Tetap
Hasil
perhitungan
ditampilkan dalam Tabel
akumulasi
harga
perolehan
tahun
2017-2018
4.11. Akumulasi harga perolehan setiap aset tetap
dalam satu tahun merupakan harga perolehan suatu aset tetap tahun sekarang
ditambahkan dengan jumlah seluruh harga perolehan aset tetap tersebut pada
tahun-tahun sebelumnya. Jumlah akumulasi harga perolehan seluruh aset tetap
dalam tahun yang sama menghasilkan total akumulasi harga perolehan pada tahun
tersebut. Tidak terdapat harga perolehan aset tetap pada tahun 2018 hingga tahun
2021, sehingga total akumulasi harga perolehan pada tahun 2018 hingga tahun
2021 selalu memiliki nilai yang sama dengan total akumulasi harga perolehan
pada tahun awal yaitu tahun 2017.
Tabel 4. 11 Proyeksi Akumulasi Harga Perolehan Aset Tetap Tahun 2017-2018
Tahun 2017
2018
Deskripsi
Gedung
8.099.000.000
8.099.000.000
22.682.800.000
22.682.800.000
Komputer dan perangkat lunak
4.200.000.000
4.200.000.000
Kendaraan
4.410.000.000
4.410.000.000
Peralatan
48.093.780.000
48.093.780.000
IDC
11.023.183.080
11.023.183.080
Total akumulasi harga perolehan
98.508.763.080
98.508.763.080
Mesin
61
Akumulasi harga perolehan dari IDC juga dimasukkan. IDC dianggap
sebagai investasi awal dan salah satu aset perusahaan walaupun bukan merupakan
investasi aset-aset tetap awal. Proyeksi akumulasi harga perolehan dari tahun
2017 hingga tahun 2021 secara lengkap ditampilkan dalam Lampiran 17.
4.2.18. Proyeksi Biaya Depresiasi
Hasil perhitungan biaya depresiasi dari tahun 2017 dan tahun 2018
ditampilkan dalam Tabel 4.12. Penghitungan biaya depresiasi dalam penilaian ini
menggunakan metode garis lurus. Besarnya biaya derpesiasi per tahun setiap aset
tetap didapatkan dari harga perolehan suatu aset dibagi dengan umur
ekonomisnya. Biaya depresiasi setiap aset akan mulai dibebankan ketika aset
mulai digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan dan akan terus
dibebankan hingga umur ekonomisnya habis. Selama periode umur ekonomisnya
tersebut, biaya depresiasi yang dikenakan terhadap suatu aset akan sama besarnya.
Pada tahun 2017 tidak terdapat biaya depresiasi dan biaya depresiasi seluruh aset
tetap mulai muncul pada tahun 2018 karena aset-aset tetap tersebut mulai
digunakan pada tahun 2018. Total biaya depresiasi per tahun merupakan jumlah
biaya depresiasi seluruh aset tetap dalam satu tahun. Proyeksi biaya depresiasi
dari tahun 2017 hingga tahun 2021 ditampilkan dalam Lampiran 18.
Tabel 4. 12 Proyeksi Biaya Depresiasi Tahun 2017-2018
Tahun
Deskripsi
Umur
2017
Ekonomis
2018
Gedung
19
-
426.263.158
Mesin
4
-
5.670.700.000
15
-
280.000.000
Kendaraan
10
-
441.000.000
Peralatan
5
-
9.618.756.000
IDC
4
-
2.755.795.770
-
19.192.514.928
Komputer
dan
perangkat
lunak
Total biaya depresiasi
62
4.2.19. Proyeksi Akumulasi Biaya Depresiasi
Hasil perhitungan akumulasi biaya depresiasi tahun 2017 hingga tahun
2018 ditampilkan dalam Tabel 4.13. Akumulasi biaya depresiasi setiap aset tetap
merupakan biaya depresiasi suatu aset tetap pada tahun sekarang ditambah dengan
jumlah seluruh biaya depresiasi aset tetap tersebut pada tahun-tahun sebelumnya.
Total akumulasi biaya depresiasi per tahun merupakan jumlah akumulasi biaya
depresiasi seluruh aset tetap pada tahun yang sama. Proyeksi akumulasi biaya
depresiasi dari tahun 2017 hingga tahun 2021 ditampilkan dalam Lampiran 19.
Tabel 4. 13 Proyeksi Akumulasi Biaya Depresiasi Tahun 2017-2018
Tahun
2017
Deskripsi
2018
Gedung
-
426.263.158
Mesin
-
5.670.700.000
Komputer dan perangkat lunak
-
280.000.000
Kendaraan
-
441.000.000
Peralatan
-
9.618.756.000
IDC
-
2.755.795.770
Total Akumulasi biaya depresiasi
-
19.192.514.928
4.2.20. Proyeksi Nilai Buku
Hasil perhitungan nilai buku dari aset tetap pada tahun 2017 dan tahun
2018 ditampilkan dalam Tabel 4.14. Nilai buku dari suatu aset tetap didapatkan
dari akumulasi harga perolehan aset tetap tersebut dikurangi akumulasi biaya
depresiasinya. Total nilai buku per tahun merupakan jumlah nilai buku seluruh
aset tetap dalam satu tahun yang sama. Nilai buku dari aset-aset tetap akan
digunaikan untuk menentukan nilai aset-aset tetap per tahun dalam neraca
perusahaan. Proyeksi nilai buku dari tahun 2017 hingga tahun 2021 dapat dilihat
pada Lampiran 20.
Tabel 4. 14 Proyeksi Nilai Buku Tahun 2017-2018
Tahun
2017
Deskripsi
Gedung
8.099.000.000
63
2018
7.672.736.842
Tabel 4. 14 Proyeksi Nilai Buku Tahun 2017-2018 (lanjutan)
Tahun
2017
Deskripsi
Mesin
2018
22.682.800.000
17.012.100.000
Komputer dan perangkat lunak
4.200.000.000
3.920.000.000
Kendaraan
4.410.000.000
3.969.000.000
Peralatan
48.093.780.000
38.475.024.000
IDC
11.023.183.080
8.267.387.310
Total Nilai Buku
98.508.763.080
79.316.248.152
4.2.21. Proyeksi Laporan Laba Rugai Tahun
Tabel 4.15 menampilkan laporan laba rugi pada tahun 2017 dan tahun
2018. Laba kotor per tahun didapatkan dari penjualan bersih per tahun dikurangi
HPP per tahun. Laba operasional per tahun didapatkan dari laba kotor per tahun
dikurangi dengan total biaya operasional per tahun. Total biaya operasional
merupakan jumlah dari seluruh biaya-biaya operasional dalam satu tahun. Biayabiaya operasional terdiri dari biaya pemasaran, biaya tenaga kerja, biaya
kompensasi, biaya perolehan properti, biaya jasa pihak luar, biaya tetap
pemasaran, biaya tetap lainnya, dan biaya umum & administratif.
Laba/rugi bersih sebelum pajak per tahun didapatkan dari laba operasional
per tahun dikurangi total biaya lain-lain per tahun. Total biaya lain-lain per tahun
merupakan jumlah dari seluruh biaya-biaya lain-lain dalam satu tahun. Biaya lainlain terdiri dari beban bunga dan depresiasi. Laba/rugi bersih akan didapatkan
dari laba/rugi bersih sebelum pajak dikurangi dengan beban pajak. Tarif pajak
yang dikenakan adalah sebesar 25%. Besarnya beban pajak per tahun didapatkan
dari tarif pajak dikalikan dengan jumlah laba bersih sebelum pajak per tahun. Jika
dalam satu tahun yang dihasilkan adalah rugi bersih sebelum pajak, maka tarif
pajaknya sama dengan nol. Proyeksi laporan laba rugi mulai tahun 2017 hingga
tahun 2021 ditampilkan dalam Lampiran 21.
64
Tabel 4. 15 Proyeksi Laporan Laba Rugi Tahun 2017-2018
Tahun
2017
Deskripsi
2018
Penjualan Bersih
-
2.000.000.000.000
HPP
-
-1.000.000.000.000
Laba kotor
-
1.000.000.000.000
-
-78.150.000.000
Biaya tenaga kerja
-5.038.288.640
-5.088.671.526
Biaya kompensasi
-
-5.450.000.000
Biaya perolehan properti
-25.515.000.000
-
Biaya jasa pihak luar
-40.031.040.000
-41.884.477.152
Biaya tetap pemasaran
-21.000.000.000
-31.500.000.000
-4.374.279.000
-5.249.134.800
-700.000.000
-1.050.000.000
Total biaya operasional
-96.658.607.640
-168.372.283.478
Laba operasional
-96.658.607.640
831.627.716.522
Biaya operasional
Biaya pemasaran
Biaya tetap lainnya
Biaya umum & administratif
Biaya lain-lain
Beban bunga
-
-8.267.387.310
Depresiasi
-
-19.192.514.928
Total biaya lain-lain
-
-27.459.902.238
-96.658.607.640
804.167.814.284
Baban pajak (25%)
-
-201.041.953.571
Laba/Rugi bersih
-96.658.607.640
603.125.860.713
Laba/rugi bersih sebelum pajak
4.2.22. Proyeksi Laporan Arus Kas
Hasil perhitungan arus kas tahun 2017 hingga 2018 ditampilkan dalam
Tabel 4.16. Total arus kas dari kegiatan operasional per tahun merupakan jumlah
seluruh arus kas dari kegiatan operasional dalam satu tahun. Arus kas yang
berasal dari kegiatan operasional adalah penerimaan dari pelanggan, pembayaran
ke supplier, dan pembayaran pajak. Jumlah penerimaan dari pelanggan per tahun
merupakan jumlah total penerimaan kas dari penjualan per tahun pada proyeksi
65
piutang usaha. Jumlah pembayaran ke pemasok per tahun merupakan total
pengeluaran kas untuk operasional per tahun pada proyeksi hutang usaha Jumlah
pembayaran pajak per tahun merupakan jumlah beban pajak per tahun yang dapat
dilihat pada proyeksi laporan laba rugi.
Tabel 4. 16 Proyeksi Laporan Arus Kas Tahun 2017-2018
Tahun
Deskripsi
2017
2018
Arus kas dari kegiatan operasional
Penerimaan dari pelanggan
Pembayaran ke pemasok
-
1.740.000.000.000
-96.658.607.640
-1.016.483.886.626
-
-201.041.953.571
-96.658.607.640
522.474.159.803
Pembayaran pajak
Total arus kas kegiatan operasional
Arus kas dari kegiatan investasi
Gedung
-8.099.000.000
-
-22.682.800.000
-
Komputer dan perangkat lunak
-4.200.000.000
-
Kendaraan
-4.410.000.000
-
Peralatan
-48.093.780.000
-
Total arus kas dari kegiatan investasi
-87.485.580.000
-
Mesin
Arus kas dari kegiatan pendanaan
Setoran modal
8.748.558.000
-
Pinjaman bank
78.737.022.000
-
-
-19.684.255.500
Pembayaran bunga
-11.023.183.080
-8.267.387.310
Penarikan pinjaman modal kerja
120.000.000.000
-
196.462.396.920
-27.951.642.810
12.318.209.280
494.522.516.993
-
12.318.209.280
12.318.209.280
506.840.726.273
Pembayaran angsuran pinjaman
Total arus kas dari kegiatan
pendanaan
Kenaikan/penurunan arus kas
Arus kas bersih awal tahun
Arus kas bersih akhir tahun
66
Total arus kas dari kegiatan investasi per tahun merupakan jumlah seluruh
arus kas dari kegiatan investasi dalam satu tahun. Arus kas yang berasal dari
kegiatan investasi merupakan arus kas keluar untuk melakukan investasi aset-aset
tetap berupa gedung, mesin, komputer dan perangkat lunak, kendaraan, serta
peralatan. Besarnya arus kas keluar dari investasi suatu aset tetap per tahun adalah
sebesar harga perolehan dari aset tetap tersebut per tahun pada proyeksi harga
perolehan.
Total arus kas dari kegiatan pendanaan per tahun merupakan jumlah
seluruh arus kas dari kegiatan pendanaan dalam satu tahun. Arus kas yang berasal
dari kegiatan pendanaan terdiri dari setoran modal, pinjaman bank, pembayaran
angsuran pinjaman, pembayaran bunga, dan penarikan pinjaman modal kerja.
Setoran modal adalah arus kas masuk yang merupakan hasil dari kegiatan
pendanaan yang berasal dari ekuitas. Sedangkan, pinjaman bank adalah arus kas
masuk yang merupakan hasil dari kegiatan pendanaan yang berasal dari pinjaman
bank. Besarnya jumlah setoran modal, pinjaman bank, dan angsuran pinjaman per
tahun adalah berdasarkan proyeksi pendanaan. Besarnya pembayaran bunga per
tahun adalah berdasarkan bunga pinjaman per tahun pada proyeksi pendanaan.
Penarikan pinjaman modal kerja merupakan pinjaman modal kerja yang
rencananya akan dilakukan perusahaan pada tahun pertama yaitu sebesar Rp
120.000.000.000. Penarikan pinjaman modal kerja dilakukan agar perusahaan
memiliki arus kas bersih akhir tahun yang positif pada periode investasi yaitu
pada tahun 2017 saat penjualan Produk A belum dilakukan sehingga tidak ada
arus kas positif yang berasal dari kegiatan operasional. Sementara itu biaya-biaya
operasional mulai timbul untuk mempersiapkan produksi Produk A sehingga
penarikan pinjaman modal kerja perlu dilakukan untuk menutupi biaya-biaya
operasional dan menjadikan arus kas bersih akhir tahun pada tahun 2017 positif.
Kenaikan/penurunan arus kas per tahun didapatkan dari jumlah akumulasi
total arus kas kegiatan operasional, total arus kas kegiatan investasi dan total arus
kas kegiatan pendanaan dalam satu tahun. Nilai arus kas bersih awal tahun di
dapatkan dari jumlah arus kas akhir tahun pada tahun sebelumnya. Nilai arus kas
bersih akhir tahun didapatkan dari kenaikan/penurunan arus kas ditambahkan
67
dengan arus kas bersih awal tahun pada tahun yang sama. Proyeksi laporan arus
kas dari tahun 2017 hingga tahun 2021 dapat dilihat pada Lampiran 22.
4.2.23. Proyeksi Neraca Keuangan
Proyeksi neraca pada tahun 2017 dantahun 2018 ditampilkan pada Tabel
4.17. Aset lancar terdiri dari kas dan setara kas serta piutang usaha. Jumlah aset
lancar didapatkan dari hasil kas dan setara kas ditambahkan dengan piutang usaha.
Jumlah kas dan setara kas per tahun berasal dari jumlah arus kas bersih akhir
tahun per tahun pada proyeksi laporan arus kas. Jumlah aset tidak lancar per tahun
merupakan nilai dari aset tetap per tahun yang dimiliki perusahaan. Nilai aset
tetap per tahun merupakan jumlah dari seluruh nilai buku aset-aset tetap pada
tahun yang sama. Jumlah dari seluruh nilai buku aset-aset tetap setiap tahun
didapatkan dari total nilai buku per tahun pada proyeksi nilai buku. Total aset per
tahun merupakan penjumlahan dari jumlah aset lancar dengan jumlah aset tidak
lancar.
Total liabilitas lancar per tahun sama dengan jumlah hutang usaha per
tahun dikarenakan hutang usaha merupakan satu-satunya liabilitas lancar.
Liabilitas tidak lancar terdiri dari hutang jangka panjang dan pinjaman modal
kerja. Total liabilitas tidak lancar didapatkan dari hasil hutang jangka panjang
ditambah dengan pinjaman modal kerja. Pinjaman modal kerja per tahun pada
neraca merupakan akumulasi pinjaman modal kerja dari tahun 2017 hingga tahun
sekarang. Jumlah hutang jangka panjang per tahun didapatkan dari jumlah saldo
akhir pinjaman per tahun pada proyeksi pendanaan. Jumlah pinjaman modal kerja
merupakan akumulasi dari pinjaman modal kerja dari tahun 2017 hingga tahun
sekarang.
Ekuitas terdiri dari modal saham, laba ditahan, dan laba tahun berjalan.
Jumlah ekuitas per tahun merupakan jumlah dari modal saham, laba ditahan, dan
laba tahun berjalan. Modal saham per tahun didapatkan dari hasil akumulasi
ekuitas pada proyeksi pendanaan dari tahun awal yaitu 2017 sampai tahun
sekarang. Laba ditahan per tahun merupakan hasil dari laba ditahan tahun lalu
ditambah dengan laba tahun berjalan tahun lalu. Laba tahun berjalan per tahun
merupakan laba/rugi bersih per tahun dari proyeksi laporan laba rugi. Jumlah
68
ekuitas dan liabilitas per tahun merupakan jumlah dari liabilitas lancar, liabilitas
tidak lancar, dan ekuitas per tahun. Proyeksi neraca mulai tahun 2017 hingga
tahun 2021 ditampilkan dalam Lampiran 23.
Tabel 4. 17 Proyeksi neraca Keuangan Tahun 2017-2018
Tahun
2017
Deskripsi
2018
Aset
Kas dan setara kas
12.318.209.280
506.840.726.273
-
260.000.000.000
Jumlah aset lancar
12.318.209.280
766.840.726.273
Aset tetap
98.508.763.080
79.316.248.152
110.826.972.360
846.156.974.425
Piutang usaha
Jumlah aset tidak lancar
Total aset
Liabilitas
Liabilitas
Hutang usaha
-
151.888.396.852
Jumlah liabilitas lancar
-
151.888.396.852
Hutang jangka panjang
78.737.022.000
59.052.766.500
Pinjaman modal kerja
120.000.000.000
120.000.000.000
Jumlah liabilitas tidak lancar
198.737.022.000
179.052.766.500
Ekuitas
Modal saham
8.748.558.000
8.748.558.000
Laba ditahan
-
-96.658.607.640
Laba tahun berjalan
-96.658.607.640
603.125.860.713
Jumlah ekuitas
-87.910.049.640
515.215.811.073
Jumlah Liabilitas & Ekuitas
110.826.972.360
846.156.974.425
4.2.24. Proyeksi Intangible Asset Post Tax Profit
Intangible asset post tax profit atau laba bersih setelah pajak yang
dihasilkan intangible asset merupakan post tax profit yang dialokasikan sebagai
pengembalian atau return dari intangible asset atas kontribusi intangible asset
dalam menghasilkan pendapatan ekonomi dari komersialisasi produk penelitian.
69
Hasil perhitungan intangible asset post tax profit dari tahun 2017 hingga tahun
2019 ditampilkan pada Tabel 4.18.
Tabel 4. 18 Proyeksi Post Tax Profit yang Dihasilkan Intangible Asset Tahun 2017 - 2019
Tahun
Deskripsi
Pre tax profit
2017
- 758.024.931.901 610.338.529.530
aset-aset tetap
-96.658.607.640
Beban pajak
Intangible asset post
tax profit
2019
-96.658.607.640 804.167.814.284 786.516.521.967
Pengembalian atas
Excess annual return
2018
46.142.882.383 176.177.992.436
-11.535.720.596
-96.658.607.640
-44.044.498.109
34.607.161.787 132.133.494.327
Tahap pertama dalam perhitungan intangible asset post tax profit adalah
menghitung pengembalian atas aset-aset tetap per tahun. Pengembalian (return)
atas aset-aset tetap merupakan pre tax profit dikalikan dengan rata-rata dari five
year average ROA perusahaan-perusahaan pembanding. Pre tax profit per tahun
merupakan laba bersih sebelum pajak per tahun yang berasal dari proyeksi laporan
laba/rugi. Hasil rata-rata dari five year average ROA perusahaan-perusahaan
pembanding adalah sebesar 7,695 yang dapat dilihat pada sub bab 4.9 perusahaan
pembanding. Pengembalian atas aset-aset tetap adalah laba bersih sebelum pajak
yang dialokasikan sebagai pengembalian atau return dari aset-aset tetap atas
kontribusi aset-aset tetap tersebut dalam menghasilkan pendapatan ekonomi dari
komersialisasi produk penelitian.
Tahap yang kedua adalah menghitung excess annual return per tahun.
Excess annual return merupakan laba bersih sebelum pajak atau pre tax profit
yang dialokasikan sebagai pendapatan ekonomi dalam bentuk pre tax profit yang
berasal dari intangible asset. Excess annual return per tahun didapatkan dari pre
tax profit dikurangi dengan pengembalian atas aset-aset tetap pada tahun yang
sama. Excess annual return atau pengembalian berlebih per tahun adalah sisa laba
bersih sebelum pajak yang bukan merupakan pengembalian atas aset-aset tetap.
70
Beban pajak per tahun merupakan tarif pajak yaitu sebesar 25% yang
dikalikan dengan excess annual return. Excess annual return per tahun yang
dikurangi beban pajak akan menghasilkan nilai dari intangible asset post tax
profit per tahun. Intangible asset post tax profit yang merupakan alokasi
pendapatan ekonomi terhadap intangible asset dalam bentuk laba bersih sebelum
pajak kemudian akan dihitung menjadi arus kas bersih yang mampu dihasilkan
oleh intangible asset. Proyeksi intangible asset post tax profit dari tahun 2017
hingga tahun 2021 ditampilkan pada Lampiran 24.
4.2.25. Penghitungan Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Tabel 4.19 menampilkan hasil perhitungan WACC PT Y. Untuk dapat
menghitung WACC perusahaan, perlu dilakukan perhitungan beta unlevered, beta
levered, Ke, dan Kd perusahaan. Berikut rumus dan penghitungan dari beta
unlevered:
𝐡𝑒
=
Average beta
[1 + (1−Average tax) × Average DER]
=
1,3225
[1 + (1−24,04%) × 60,9363]
= 0,0280
Average beta merupakan rata-rata beta 8 perusahaan pembanding. Average DER
merupakan rata-rata DER 8 perusahaan pembanding. Average tax merupakan ratarata tarif pajak yang dikenakan kepada 8 perusahaan pembanding dengan
peraturan pajak di setiap negara yang berbeda-beda. Setelah menghitung beta
unlevered, tahap selanjutnya adalah menghitung beta levered perusahaan. Berikut
rumus dan penghitungan dari beta levered perusahaan:
𝐡𝑙
=
=
Beta unlevered
[1+(1−tarif pajak)×DER]
0,0280
[1+(1−25,00%)×9,0000]
= 0,2167
71
Tabel 4. 19 Penghitungan WACC
Perusahaan Pembanding
Average Beta
1,3225
Average DER
60,9363
Average Tax
24,04%
Beta unlevered
0,0280
PT Y
Tax di Indonesia
25,00%
DER Perusahaan
9,0000
Beta levered
0,2167
Nilai Ke
Rf
8,25%
Rm
10,48%
Ke
11,20%
Nilai Kd
Interest
14,00%
Kd
10,50%
WACC
Proporsi Ke
10%
Proporsi Kd
90%
WACC
10,57%
Beta levered yang dihasilkan nilainya dibawah 1, sedangkan nilai beta
wajar dan data nilai beta perusahaan-perusahaan pada industri yang memproduksi
produk sejenis Produk A adalah diatas 1, maka hasil perhitungan beta levered
tidak wajar dan tidak dapat dipakai sebagai beta PT Y. Beta alternatif yang dapat
diasumsikan sebagai beta PT Y adalah rata-rata beta dari perusahaan-perusahaan
pembanding yaitu sebesar 1,3225.
𝑅𝑓 atau risk free merupakan tingkat pengembalian dari investasi bebas
risiko. Risk free yang digunakan adalah sebesar 8,25% yang merupakan nilai
kupon atau tingkat pengembalian dari obligasi pemerintah FR0053. π‘…π‘š adalah
72
risk market atau risiko pasar. Untuk menghitung Ke perusahaan, perlu dilakukan
perhitungan risiko pasar terlebih dahulu. Risiko pasar dihitung menggunakan
rumus CAGR. Berikut perhitungan dari risiko pasar:
1
π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘Žπ‘˜β„Žπ‘–π‘Ÿ 𝐼𝐻𝑆𝐺 𝑛
CAGR = [(
) ]
π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘Žπ‘€π‘Žπ‘™ 𝐼𝐻𝑆𝐺
= [(
5.829,71
2.152,26
−1
1
10
) ]−1
= 10,48%
Nilai IHSG (indeks harga saham gabungan) yang digunakan adalah diantara tahun
2007 hingga tahun 2017, yang berarti dengan n sama dengan 10 tahun. Untuk
menghitung Ke (cost of equity) atau biaya ekuitas, digunakan rumus CAPM.
Berikut rumus serta penghitungan dari biaya ekuitas.
𝑅𝑖𝑑
= 𝑅𝑓 + 𝛽𝑖 (π‘…π‘šπ‘‘ − 𝑅𝑓 )
= 8,25% + 1,3225 (10,48% - 8,25%)
= 10,57%
Berikut rumus yang digunakan untuk menghitung Kd (cost of debt) atau biaya
utang dan perhitungan dari biaya utang:
π‘˜π‘‘
= 𝑖 × (1 − 𝑑)
= 14% × (1-25%)
= 10,50%
Interest atau bunga pinjaman yang dikenakan adalah sebesar 14%. Tarif pajak di
Indonesia yang dikenakan kepada perusahaan adalah sebesar 25%.
We adalah proporsi pendanaan yang berasal dari ekuitas, yaitu sebesar
10%. Sementara Wd adalah proporsi pendanaan yang berasal dari pinjaman bank,
73
yaitu sebesar 90%. Seperti yang telah dijelaskan dalam Bab II dalam penelitian
ini, rumus untuk menghitung WACC suatu perusahaan adalah sebagai berikut:
WACC
= (π‘˜π‘’ × π‘Šπ‘’ ) + (π‘˜π‘‘ [1 − 𝑑] × π‘Šπ‘‘ )
= (11,20% × 10%) + (10,50% × 90%)
= 10,57%
Penjabaran penghitungan di atas menghasilkan WACC perusahaan yaitu sebesar
10,57%.
74
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai analisa dari hasil pengumpulan dan
pengolahan data.
5.1. Identifikasi masalah penilaian intangible asset
Identifikasi masalah penilaian intangible asset terdiri dari penentuan objektif
penilaian, tujuan penilaian, dan waktu berlakunya penilaian. Dibawah ini
dijelaskan objektif penilaian, tujuan penilaian, dan waktu berlakunya penilaian
dari intangible asset hak paten produk penelitian yang telah ditentukan.
5.1.1. Objektif Penilaian
Seperti yang telah dibahas pada Bab Landasan Teori dalam penulisan ini,
objektif penilaian dari intangible asset terdiri dari jenis intangible asset, sifat
kepemilikan intangible asset, dan standar nilai intangible asset,. Berikut
penjelasan dari objektif penilaian intangible asset hak paten produk penelitian
yang dimiliki Perguruan Tinggi X:
1. Jenis dari intangible asset
Jenis dari intangible asset yang dinilai dalam penelitian ini adalah hak
paten produk penelitian yang dikembangkan dan dimiliki oleh Perguruan Tinggi
X. Hak paten tersebut merupakan hak khusus yang diberikan negara untuk dapat
menciptakan sendiri hasil penemuan di bidang teknologi, atau memberikan
persetujuan kepada pihak lain untuk menciptakannya selama periode yang
ditentukan. Hak paten yang dimiliki memungkinkan pihak Perguruan Tinggi X
untuk dapat membuat, menggunakan, memberilisensi, atau menjual produk hasil
penemuann.
2. Sifat kepemilikan intangible asset
Sifat dari kepemilikan intangible asset termasuk didalamnya sekelompok
hak-hak yang dapat diperoleh dari kepemilikan intangible asset. Hak-hak dari
kepemilikan intangible asset tersebut yang dipilih dapat menjadi subjek dari
penilaian intangible asset. Kepemilikan intangible asset yang bersifat penuh, yang
75
dapat disebut sebagai “fee”, terdiri dari sekumpulan hak-hak hukum. Sifat
kepemilikan intangible asset hak paten produk penelitian yang dimiliki Perguruan
Tinggi X adalah bersifat fee simple interest. Kepemilikan yang bersifat fee simple
interest berarti pemilik memiliki hak-hak hukum yang penuh atas intangible asset
yang dimiliki (Reilly & Schweihs, 1998). Dalam fee simple interest, setiap hak
dapat dipisahkan dari sekumpulannya dan dapat diberikan kepada pihak lain oleh
pemilik intangible asset, selama periode yang ditentukan.
3. Standar nilai intangible asset
Nilai intangible asset yang diestimasi dalam penilaian ini adalah nilai
pasar wajar dari hak paten produk penelitian. Nilai pasar wajar adalah nilai
dimana pembeli bersedia membayar kepada penjual yang bersedia untuk menjual,
tanpa adanya paksaan untuk menjual atau membeli. Penjual dan pembeli
dihipotesiskan mengetahui semua fakta dan keadaan yang relevan, serta
menginginkan keuntungan ekonomi yang maksimal (Reilly & Schweihs, 1998).
Nilai pasar wajar dipilih sebagai standar nilai dalam penilaian ini karena penilaian
intangible asset hak paten produk penelitian dilaksanakan untuk menyelesaikan
suatu transaksi dimana Perguruan Tinggi X adalah sebagai pihak yang menjual
lisensi dan PT Y adalah sebagai pihak yang membeli lisensi.
5.1.2. Tujuan Penilaian
Penilaian dari intangible asset berupa hak paten produk penelitian yang
dimiliki Perguruan Tinggi X bertujuan untuk membantu penyelesaian transakasi
license agreement antara Perguruan Tinggi X dengan PT Y. Penilaian ini akan
menghasilkan estimasi nilai intangible asset hak paten produk penelitian yang
dimiliki Perguruan Tinggi X. Setelah estimasi nilai dari intangible asset hak paten
produk penelitian diketahui, maka dapat dilakukan analisis tarif royalti serta dapat
dihasilkan tarif royalti yang dapat ditetapkan oleh Perguruan Tinggi X kepada PT
Y atas hak yang diberikan untuk dapat memproduksi produk penelitian tersebut.
5.1.3. Waktu Berlakunya Penilaian
Seperti yang telah dijelaskan di pada sub bab tujuan penilaian, penilain
intangible asset hak paten produk penelitian yang dimiliki Perguruan Tinggi X
76
bertujuan untuk menyelesaikan transaksi license agreement yang akan
dilaksanakan. Perguruan Tinggi X akan melakukan licence agreement dengan PT
Y dengan tujuan untuk mengkomersialisasikan produk penelitiannya yang
direncanakan akan dilaksanakan sekitar pertengahan hingga akhir tahun 2017.
Penilaian ini berlaku sejak selesainya penilaian dan dihasilkannya nilai intangible
asset yaitu pada bulan Juli 2017 hingga kemungkinan periode akhir dari
dilaksanakannya transaksi yaitu akhir tahun pada bulan Desember 2017.
5.2. Asumsi Penilaian
Peneliti menggunakan metode pendekatan pentadapatan dalam melakukan
penilaian intangible asset ini. Dengan menggunakan metode pendekatan
pendapatan, data yang dibutuhkan relatif bervariasi dan beragam. Perlu ditentukan
asumsi-asumsi penilaian untuk bisa mendapatkan data yang dibutuhkan. Oleh
karena itu, dalam penelitian ini ditentukan asum-asumsi penilaian yang akan
dipaparkan di bawah ini.
5.2.1. Asumsi Makro
Asumsi makro yang digunakan dalam penilaian ini adalah sebagai berikut:
1. Pajak
Berdasarkan pajak penghasilan pasal 25, tarif pajak yang dikenakan
terhadap badan usaha tetap dengan peredaran bruto lebih besar dari 50
milyar per tahun adalah sebesar 25%. Berdasarkan proyeksi-proyeksi
keuangan dari komersialisasi produk penelitian ini yang akan dijelaskan
pada sub bab selanjutnya, peredaran bruto yang dihasilkan akan melebihi
50 milyar per tahun. Oleh karena itu tarif pajak yang akan dikenakan
adalah sebesar 25%.
2. Obligasi Pemerintah
Obligasi pemerintah yang digunakan sebagai investasi bebas risiko (risk
free) adalah obligasi FR0053 karena memiliki jangka jatuh tempo paling
mendekati dengan periode akhir proyeksi keuangan yang akan dibuat.
3. Proporsi Permodalan
77
Seperti yang telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya, PT Y Global
merencanakan 10% pendanaan berasal dari ekuitas atau modal sendiri, dan
90% berasal dari utang bank jangka panjang.
5.2.2. Asumsi Mikro
Asmsi mikro yang digunakan dalam penilaian ini adalah sebagai berikut:
1. Proyeksi Volume Unit Penjualan Produk
Produksi dan penjualan Produk A dilakukan mulai tahun 2018. Produk A
diproyeksikan akan terjual sebanyak 100.000 unit per tahun dari tahun
2018 hingga tahun 2021
2. Harga Jual Produk
Produk A direncanakan akan dijual dengan harga yang konstan dari tahun
2018 hingga tahun 2021, yaitu sebesar Rp 20.000.000.
3. Investasi Awal
Investasi awal yang dibutuhkan dalam melakukan komersialisasi adalah
sebesar Rp 87.485.580.000. Investasi yang dilakukan adalah investasi
dalam bentuk berbagai aset tetap. Rincian aset-aset tetap beserta nilai dan
umur ekonomisnya telah dijelaskan pada sub bab pengolahan data.
4. Sumber pendanaan
Sumber pendanaan berasal dari ekuitas dan pinjaman bank jangka panjang
dengan proporsi pendanaan yang berasal dari ekuitas sebesar 10%, dan
yang berasal dari pinjaman bank sebesar 90%. Bunga yang dikenakan
terhadap pinjaman bank adalah sebesar 14% dengan waktu pengembalian
selama 4 tahun.
5. Proyeksi Piutang Usaha
Piutang usaha yang akan timbul pada setiap akhir periode per tahun yang
berasal dari penjualan Produk A adalah sebesar 13% dari total penjualan
bersih per tahun. Data persentase piutang usaha tersebut merupakan data
proforma.
6. Pertumbuhan Hutang Usaha
78
Utang usaha yang akan timbul pada setiap akhir periode per tahun adalah
sebesar 13% dari total akumulasi HPP dan biaya-biaya. Data persentase
utang usaha tersebut merupakan data proforma.
7. Proyeksi Biaya-biaya
Data proyeksi biaya-biaya yang akan timbul dari tahun 2017 hingga tahun
2021 merupakan . Tingkat pertumbuhan biaya-biaya tersebut berbedabeda. Proyeksi biaya-biaya dan tingkat pertumbuhannya akan dijelaskan
pada subbab-subbab selanjutnya.
8. Tingkat Bunga Pinjaman
PT Y akan menggunakan pinjaman bank jangka panjang sebagai salah satu
sumber dana investasi aset-aset tetap dengan bunga pinjaman sebesar 14%.
9. Penarikan Dividen
PT Y mengasumsikan bahwa tidak ada penarikan dividen dari tahun 2017
hingga 2021.
10. Periode Proyeksi
Teknologi hasil penelitian Perguruan Tinggi X yang dipatenkan ini
diasumsikan akan mengalami technology obsolete ketika periode license
agreement berakhir.
5.3. Analisis Penilaian Intangible Asset
Setelah data pendapatan, biaya-biaya, dan data komersialisasi produk
penelitian lainnya yang dikumpulkan, serta dibuat permodelan keuangan untuk
memproyeksikan penjualan, biaya-biaya, modal kerja, laba rugi, arus kas, dan
neraca pada Bab Pengumpulan dan Pengolahan Data, maka analisis penilaian
intangible asset dengan menggunakan Pendekatan Pendapatan dan Metode
Discounted Cash Flow dapat dilakukan. Analisis penilaian intangible asset
dengan menggunakan Pendekatan Pendapatan dan Metode Discounted Cash Flow
dilakukan dengan mengalokasikan pendapatan unit ekonomi berupa laba bersih
yang berasal dari kontribusi aset-aset tetap dan yang berasal dari kontribusi
intangible asset. Begitu pula pendapatan unit ekonomi yang dihasilkan dari
komersialisasi produk penelitian, pendapatan tersebut bukan hanya hasil dari
79
kontribusi intangible asset hak paten produk penelitian, tetapi juga kontribusi dari
investasi aset-aset tetap sehingga perlu dialokasikan.
Setelah laba bersih yang dialokasikan sebagai laba bersih yang berasal dari
intangible asset didapatkan, proyeksi free cash flow atau aruskan bersih yang
berasal dari intangible asset dapat dilakukan. Kemudian proyeksi arus kas bersih
tersebut akan didiskontokan dengan dicount value factor dan menghasilkan nilai
tunggal yaitu net present value atau nilai bersih sekarang. Setelah nilai dari
intangible asset hak paten produk penelitian didapatkan, maka dapat
diperhitungkan tarif royalti yang dapat ditetapkan terhadap intangible asset
tersebut.
5.3.1. Nilai Intangible Asset Hak Paten Produk Penelitian
Seperti yang telah dipaparkan pada Bab Landasan Teori, dalam penilaian
dengan menggunakan Pendekatan Pendapatan dan Metode DCF, nilai intangible
asset adalah nilai NPV (net present value) dari arus kas bersih atau free cash flow
(FCF) yang berasal dari intangible asset. Maka untuk mendapatkan nilai
intangible asset hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X, perlu
diperhitungkan arus kas bersih dari intangible asset selama periode proyeksi.
Tabel 5.1 menampilkan perhitungan proyeksi arus kas bersih yang
dialokasikan sebagai arus kas bersih dari intangible asset atas kontribusinya
dalam menghasilkan pendapatan ekonomi dari komersialisasi hak paten produk
penelitian Perguruan Tinggi X. Proyeksi FCF dari intangible asset ditampilkan
pada Tabel 5.1 adalah proyeksi FCF dari intangible asset pada tahun 2017 dan
2018. Proyeksi arus kas bersih dari intangible asset hak paten produk penelitian
mulai tahun 2017 hingga tahun 2021 ditampilkan dalam Lampiran 25.
Net profit per tahun merupakan intangible asset post tax profit per tahun
yang berasal dari proyeksi intangible asset post tax profit pada Tabel 5.1. Bagian
bunga tidak kena pajak per tahun didapatkan dari hasil beban bunga per tahun
pada proyeksi pendanaan dikalikan dengan 75%. 75% didapatkan dari 1 dikurangi
dengan tarif pajak. Nilai depresiasi per tahun didapatkan dari total biaya
depresiasi per tahun yang berasal dari proyeksi biaya depresiasi. Total inflow per
tahun merupakan jumlah dari net profit, bagian bunga tidak kena pajak, dan
80
depresiasi dalam satu tahun. Jumlah investasi pertahun didapatkan dari total harga
perolehan per tahun pada proyeksi harga perolehan.. Perubahan kebutuhan modal
kerja per tahun berasal dari jumlah perubahan modal kerja per tahun pada
proyeksi perubahan modal kerja. Total outflow per tahun merupakan jumlah dari
investasi dengan perubahan kebutuhan modal kerja dalam satu tahun.
Tabel 5. 1 Proyeksi Free Cash Flow dari Intangible Asset Tahun 2017-2018
Tahun
Deskripsi
Tahun ke-
2017
2018
0
1
Inflow
Net profit
-96.658.607.640
34.607.161.787
Bagian bunga tidak kena pajak
-
6.200.540.483
Depresiasi
-
19.192.514.928
-96.658.607.640
60.000.217.198
Total inflow
Outflow
Investasi
87.485.580.000
-
-
108.111.603.148
Total outflow
87.485.580.000
108.111.603.148
Net cash flow
-184.144.187.640
-48.111.385.950
Akumulasi net cash flow
-184.144.187.640
-232.255.573.590
1
0,90441
-184.144.187.640
-43.512.295.065
Perubahan kebutuhan modal kerja
Discount factor value
PV
NPV
306.314.276.500
Net cash flow per tahun merupakan hasil dari total inflow dikurangi
dengan total outflow pada tahun yang sama. Akumulasi net cash flow per tahun
merupakan jumlah net cash flow dari tahun 2017 hingga tahun sekarang. Discount
value factor adalah faktor diskon yang akan mendiskontokan atau membawa nilai
net cash flow di tahun ke 1 sampai tahun ke 4 menjadi nilai sekarang atau nilai
pada tahun ke 0 dari seluruh net cash flow pada periode-periode mendatang
tersebut. Nilai net cash flow ditahun ke 1 hingga ke 4 perlu untuk didiskontokan
81
agar nilainya bisa diakui sebagai nilai pada tahun ke 0 karena adanya hukum time
value of money. Discount factor value dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Discount factor value =
1
(1 + π‘Šπ΄πΆπΆ)𝑛
Dimana n adalah tahun ke berapa net cash flow berada. PV atau present value
adalah net cash flow per tahun yang telah dikalikan dengan discount factor valuenya. PV (present value) merupakan seluruh net cash flow pada setiap periode
proyeksi yang nilainya telah dibawa menjadi nilai di tahun ke 0. NPV (net present
value) merupakan akumulasi atau jumlah seluruh PV dari tahun ke 0 hingga tahun
ke 4. Nilai NPV pada tabel 5.15 merupakan nilai dari intangible asset hak paten
produk penelitian yang dimiliki Perguruan Tinggi X. Maka nilai intangible asset
hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X
adalah sebesar Rp
306.314.276.500.
5.3.2. Tarif Royalti Hak Paten Produk Penelitian
Tarif royalti yang akan ditetapkan adalah dalam bentuk persentase dari
total penjualan bersih. Dengan mengetahui nilai dari intangible asset hak paten
produk penelitian adalah sebesar Rp 306.314.276.500, maka Perguruan Tinggi X
dapat menentukan berapa tarif royalti agar total pendapatan royalti yang akan
diterima atas license agreement yang dilakukan tidak undervalued dibandingkan
dengan nilai yang sebenarnya dari intangible asset hak paten. Dengan mengetahui
nilai intangible asset hak paten produk penelitian, dapat pula ditetapkan tarif
royalti yang akan menghasilkan pendapatan royalti yang mendekati nilai dari
intangible asset hak paten.
Untuk menghitung tarif royalti yang akan menghasilkan pendapatan
royalti yang mendekati nilai intangible asset, peneliti menggunakan What-if
Analysis pada Software Microsoft Office Excel. Terdapat dua fungsi What-if
Analysis yang digunakan untuk menghitung tarif royalti. Dua fungsi What-if
Analysis yang digunakan yaitu fungsi Data Table dan Goal Seek.
82
Fungsi What-if Analysis pertama yang digunakan adalah Data Table.
Dengan Data Table, data pendapatan royalti selama periode proyeksi atas
persentase tarif royalti yang ditentukan akan diolah menjadi NPV dari pendapatan
royalti tersebut. Untuk menggunakan fungsi Data Table, perlu membuat
serangkaian urutan tarif royalti dan mengurutkannya dari tarif royalti yang terkecil
hingga yang terbesar dengan selisih tarif dan jumlah tarif yang dapat ditentukan.
Peneliti menentukan tarif sebesar 4,00% untuk dijadikan data tarif royalti terkecil
dan tarif sebesar 5,00% untuk dijadikan data tarif royalti terbesar untuk diolah
dengan fungsi Data Table. Selisih antar tarif royalti yang ditentukan adalah
sebesar 0,05%. Hasil perhitungan NPV pendapatan royalti dengan menggunakan
fungsi Data Table dari setiap data tarif royalti yang dimasukan peneliti
ditampilkan dalam Lampiran 27.
Tabel 5. 2 Analisis NPV Pendapatan Royalti
Tarif Royalti
NPV Pendapatan Royalti
4,85%
303.723.453.666
4,90%
306.854.623.291
4,95%
309.985.792.916
Tabel 5.2 menampilkan tiga tarif royalti yang menghasilkan NPV
pendapatan royalti yang mendekati nilai dari intangible asset hak paten produk
penelitian Perguruan Tinggi X. Berdasarkan Tabel 5.2, dapat dinyatakan bahwa
tarif royalti yang menghasilkan nilai NPV pendapatan royalti yang sama dengan
nilai intangible asset hak paten merupakan tarif royalti yang berada pada kisaran
4,85% hingga 4,90%. Fungsi Goal Seek dapat mencari persentase tarif royalti
yang mengasilkan nilai NPV pendapatan royalti yang sama dengan nilai dari
intanggible asset hak paten produk penelitian. Dengan menggunakan Fungsi Goal
Seek, ditemukan bahwa NPV dari pendapatan royalti selama periode proyeksi
akan memiliki nilai yang sama dengan nilai intangible asset bila tarif royalti yang
ditetapkan adalah sebesar 4,89%.
Tabel 5.3 menunjukkan proyeksi pendapatan royalti yang akan didapatkan
pada tahun 2017 hingga tahun 2019 dari penetapan tarif royalti sebesar 4,89%.
Proyeksi pendapatan royalti yang akan didapatkan dari tahun 2017 hingga tahun
83
2021 dari penetapan tarif royalti sebesar 4,89% ditunjukkan pada Lampiran 26.
Pendapatan royalti per tahun merupakan hasil tarif royalti yaitu sebesar 4,89%
dikalikan dengan penjualan bersih per tahun. NPV merupakan jumlah total nilai
sekarang (presen value) dari pendapatan royalti pada tahun 2018 hingga 2021.
Dari perhitungan tarif royalti dapat disimpulkan bahwa, jika tarif royalti yang
ditetapkan Perguruan Tinggi X terhadap license agreement yang dilakukan
dengan PT Y adalah sebesar 4,89%, maka Perguruan Tinggi X akan mendapatkan
pendapatan ekonomi yang sama dengan nilai intangible asset hak paten produk
penelitian yang dimiliki.
Tabel 5. 3 Proyeksi Pendapatan Royalti Tahun 2017-2019
Tahun
Deskripsi
2017
Volume Unit
2018
2019
-
100.000
100.000
Harga jual
-
20.000.000
20.000.000
Penjualan Bersih
-
2.000.000.000.000
2.000.000.000.000
-
97.827.429.729
97.827.429.729
Penjualan
Pendapatan royalti
(Tarif Royalti
4,89%)
NPV
306.314.276.500
5.4. Implikasi Manajerial
License agreement atau perjanjian lisensi yang dilakukan oleh Perguruan
Tinggi X dengan PT Y bertujuan untuk mengkomersialisasikan hak paten produk
penelitian yang dimiliki Perguruan Tinggi X. Produk A merupakan produk yang
akan menjadi produk hasil dari komersialisasi hak paten produk penelitian
Perguruan Tinggi X. Perguruan Tinggi X memiliki keinginan untuk dapat
merealisasikan komersialisasi produk hasil penelitiannya tersebut. PT Y tertarik
untuk memproduksi dan memasarkan produk hasil penelitian Perguruan Tinggi X
tersebut. Sehingga direncanakan lah liecense agreement antara Perguruan Tinggi
X dan PT Y untuk mengkomersialisasikan hak paten produk penelitian Perguruan
Tinggi X.
84
Perguruan Tinggi X sebagai licensor atau pihak yang memberi lisensi, perlu
untuk menghitung nilai intangible asset hak paten produk penelitian yang
dimilikinya, sehingga Perguruan Tinggi X dapat mengetahui berapa nilai
intangible asset yang dimilikinya yang akan dilisensikan. Semakin tinggi nilai
intangible asset yang dimiliki maka kemungkinan akan semakin besar pula
pendapatan yang akan dihasilkan intangible asset tersebut di masa depan. Selain
nilai dari hak paten produk penelitian, Perguruan Tinggi X juga perlu untuk
menghitung seberapa besar tarif royalti yang dapat ditetapkan atas penjualan
lisensi hak paten tersebut kepada PT Y. PT Y adalah pihak yang membeli lisensi
atau licensee. Akan tetapi, sebelum Perguruan Tinggi X melakukan penilaian, PT
Y telah mencoba melakukan penilaian terhadap hak paten yang dimiliki
Perguruan Tinggi X tersebut.
PT Y melakukan penilaian hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X
hanya berdasarkan perhitungan data yang didapatkan dari pemantauan dan
terdapat di media-media situs web internet. Situs-situs web internet yang
dijadikan sumber merupakan situs web berita dan hiburan. Peneliti menganggap
hasil perhitungan tersebut kurang valid dan kurang objektif dikarenakan sumber
data dan tidak menggunakan metode penilaian intangible asset yang memiliki
dasar literatur yang kuat. Nilai hak paten yang dihasilkan berdasarkan perhitungan
tersebut juga memiliki kemungkinan yang lebih tinggi bahwa nilai mengalami
undervalued atau nilai yang didapatkan lebih rendah dibandingkan nilai
aktualnya. Hal tersebut dikarenakan perhitungan nilai yang datanya hanya
berdasarkan situs-situs web dan tanpa metodologi yang jelas, sangat terbatas
ketersediaan datanya dan bukan merupakan driver atau pemicu dihasilkannya
sejumlah nilai dari intangible asset hak paten peroduk penelitian Perguruan
Tinggi X.
Selain itu, pihak licencor yaitu Perguruan Tinggi X perlu melakukan
penilaian terhadap intangible asset miliknya sendiri. Nilai intangible asset yang
dihasilkan berdasarkan
perhitungan dari pihak
licensee juga
memiliki
kemungkinan undervalued yang lebih besar. Hal tersebut karena pihak licensee
sebagai pembeli cenderung ingin mehasilkan nilai perhitungan intangible asset
85
yang lebih rendah. Penilaian intangible asset yang menghasilkan nilai yang
undervalued akan membuat pemilik intangible asset menderita kerugian.
Dengan dilakukannya penelitian ini, dapat diketahui bahwa penilaian
intangible asset hak paten dengan metode-metode dan data yang tidak ilmiah
dapat menghasilkan nilai yang jauh lebih rendah dibandingkan nilai yang
dihasilkan berdasarkan Pendekatan Pendapatan. Pendekatan Pendapatan dan
Metode DCF merupakan metode yang ilmiah dan berdasarkan dari literatur
dengan sumber yang kuat dan jelas. Penilaian intangible asset hak paten produk
penelitian Perguruan Tinggi X yang dilakukan oleh PT Y dengan hanya
berdasarkan data situs web internet menghasilkan nilai sebesar pada kisaran 10%
dari nilai intangible asset hak paten produk penelitian Perguruan Tinggian X yang
dihasilkan peneliti dengan menggunakan metode income approach.
Penulis menyarankan kepada pemilik intangible asset hak paten yaitu
Perguruan Tinggi X, untuk menggunakan Pendekatan Pendapatan dan Metode
Discounted Cash Flow dalam melakukan penilaian terhadap berbagai intangible
asset hak paten yang dimiliki. Pendekatan Pendapatan dan Metode Discounted
Cash Flow merupakan Pendekatan dan Metode yang tepat untuk menilai
intangible asset hak paten produk penelitian berdasarkan sumber-sumber ilmiah
dan memiliki dasar literatur yang kuat serta merupakan metode yang telah diuji
dan nilai yang dihasilkan menggunakan metode tersebut akan mendekati nilai
yang sebenarnya dari intangible asset.
Begitu pula dengan tingkat royalti yang ditetapkan terhadap intangible asset,
analisis dan penghitungannya perlu berdasarkan pada nilai intangible asset yang
didapatkan dengan menggunakan pendekatan dan metode yang ilmiah. Dasar
yang digunakan perlu kuat dan jelas agar tarif royalti yang ditetapkan dapat
diterima oleh pihak licensee. Sulit menghasilkan tarif royalti yang akan disepakati
oleh kedua pihak yang melakukan license agreement bila tarif royalti yang hanya
ditetapkan berdasarkan negoisasi antara kedua pihak, tanpa menggunakan analisis
dan penghitungan yang ilmiah. Selain itu, tarif royalti yang dihitung berdasarkan
nilai dari intangible asset dapat menghasilkan pendapatan royalti yang sama
dengan nilai intangilbe asset yang dimiliki. Penetapan tarif royalti tanpa
berdasarkan dasar yang jelas juga dapat mengakibatkan pendapatan royalti yang
86
didapatkan tidak mencerminkan atau mendekati nilai dari intangible aseet. Secara
keseluruhan, implikasi manajerial pada penelitian ini dirangkum dan disajikan
pada Tabel 5.4, dan dapat dijadikan sebagai masukan bagi Perguruan Tinggi X
dalam melakukan license agreement dengan PT Y.
Tabel 5. 4 Implikasi Manajerial
Temuan
Implikasi Manajerial
Penilaian intangible asset hak paten
produk penelitian Perguruan Tinggi X
dilakukan oleh pihak licensee yaitu PT
Y dan belum dilakukan oleh pihak
licencor yaitu Perguruan Tinggi X.
Penilaian yang dilakukan PT T tidak
menggunakan metode dan data yang
ilmiah dan tidak memiliki dasar
Perguruan Tinggi X melakukan
penilaian intangible asset hak paten
produk penelitian yang dimilikinya
dengan menggunakan Pendekatan
Pendapatan dan Metode Discounted
Cash Flow.
literatur.
Perguruan Tinggi X melakukan
Perguruan Tinggi X belum melakukan
analisis dan penghitungan tarif royalti
yang akan ditetapkan kepada PT Y
untuk license agreement yang akan
dilakukan oleh kedua belah pihak.
analisis dan penghitungan tarif royalti
atas hak paten produk penelitian yang
akan dilisensikan dengan berdasarkan
pada nilai intangible asset hak paten
yang dianalisis menggunakan
Pendekatan Pendapatan dan Metode
Discounted Cash Flow.
87
(halaman ini sengaja dikosongkan)
88
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan. Selain itu penulis juga memberikan saran untuk
penelitian selanjutnya.
6.1. Kesimpulan
Penulis mengambil kesimpulan yang mencakup dua hal, yaitu nilai dari
intangible asset hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X, dan tarif royalti
yang dapat ditetapkan atas hak paten tersebut.
1. Nilai dari intangible asset hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dengan
menggunakan metode pendekatan pendapatan nilai dari intangible asset hak
paten produk penelitian Perguruan Tinggi X yang didapatkan adalah sebsar Rp
306.314.276.500.
Metode
pendekatan
pendapatan
mengestimasi
nilai
intangible asset hak paten dengan mendiskontokan proyeksi arus kas bersih
dari intangible asset. Arus kas bersih dari intangible asset merupakan arus kas
bersih yang dialokasikan sebagai hasil kontribusi intangible asset dalam
menghasilkan pendapatan ekonomi dari komersialisasi hak paten produk
penelitian Perguruan Tinggi X.
2. Tarif royalti hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X
Penilaian intangible asset hak paten produk penelitian Perguruan Tinggi X
dengan menggunakan metode pendekatan pendapatan membuat Perguruan
Tinggi X dapat menetapkan tarif royalti yang akan menghasilkan nilai
pendapatan ekonomi yang sama dengan nilai intangible asset yang
dimilikinya. Tarif royalti yang akan menghasilkan nilai pendapatan ekonomi
yang sama dengan nilai intangible asset hak paten produk penelitian adalah
sebesar 4,89% dari total penjualan bersih produk per tahun.
89
6.2.Saran
Saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah saran untuk penelitian
selanjutnya. Untuk penelitian selanjutnya, jika data yang diperlukan tersedia,
diharapkan penilaian intangible asset bisa dilakukan dengan menggunakan lebih
dari satu pendekatan. Pendekatan-pendekatan penilaian intangible asset lainnya
adalah pendekatan pasar dan pendekatan biaya. Nilai-nilai yang didapatkan dari
pendekatan-pendekatan yang digunakan kemudian direkonsiliasi sehingga
menghasilkan satu nilai intangible asset.
90
DAFTAR PUSTAKA
Agung, 2016. INA Shunt Solusi bagi Penderita Hidrosefalus. [Online]
Available
at:
https://www.ugm.ac.id/id/berita/12249-
ina.shunt.solusi.bagi.penderita.hidrosefalus
[Diakses 9 April 2017].
Andriessen, B., 2004. IC valuation and measurement: classifying the state of
theart. Journal of Intellectual Capital, Volume V, pp. 230-242.
Anoraga, P. & Pakarti, P., 2001. Pengantar Pasar Modal. 3rd penyunt.
Jakarta: Rineka Cipta.
Anson, w., 2001. Traditional valuation methodologies of intellectual
Property. The Licensing Journal, pp. 30-2.
Arens, A. A. & Loebbecke, J. J., 2008. Auditing Pendekatan Terpadu.
Jakarta: Salemba Empat.
Arora, A., Fosfuri, A. & Gambardella, A., 2001. Markets for technology and
their implication for corporate strategy. Industrial and Corporate Change, pp.
416-51.
Barclay, M. & Smith, C., 1999. The Capital Structure Puzzle: Another Look
at The Evidence. Journal of Applied Corporate Finance, Issue 12, pp. 8-20.
Bouteiller, C., 2000. The evaluation of intangibles: advocating for an option
based approach. paper presented at the Alternative Perspectives on Finance and
Accounting Conference, 4-6 August.
Chatterji, D. & Manuel, . T., 1993. Benefiting from external sources of
technology. Research and Technology Management, pp. 21-6.
Chiesa, V., Gilardoni, E. & Manzini, R., 2005. The valuation of technology
in buy-cooperate-sell decisions. European Journal of Innovation Management,
pp. 5-30 .
Dahmash, F. N., Durand, R. B. & Watson, J., 2009. The value relevance and
reliability of reported goodwill and identifiable intangible assets. The British
Accounting Review, XLI(2), pp. 120-137.
Damodaran, A., 2009. Damodaran on Valuation, Security Analysis for
Investment and Corporate Finance. 2nd penyunt. Hoboken: John Wiley & Sons.
91
Daum, J., 2001. How to better exploit intangible asset to create value.
[Online]
Available at: www.juergendaum.com/news/07_06_2001.htm
Djarwanto, 2004. Pokok-pokok Analisa Laporan Keuangan. II penyunt.
Yogyakarta: BPFE.
Drivas, K. & Panagopoulos, A., 2016. Using the patent term changes in
assessing the. European Journal of Innovation Management, Volume XIX, pp.
528 - 546.
Dyckman, T. R., Dukes, R. E. & Davis, C. J., 1999. Akuntansi Intermediate.
3rd penyunt. Jakarta: Erlangga.
Fischer, D. E. & Jordan, R. J., 1995. Security Analysis & Portfolio
Management. 6th penyunt. New Jersey: Prentice Hall.
Gotro, J., 2002. Unleash your intellectual property potential: in the
‘knowledge economy'. intangible assets such as intellectual property and brand
strategies play a key role in determining company value, Volume XV, pp. 70-3.
Grasenick, K. & Low, J., 2004. Shaken, not stirred: defining and connecting
indicators for the measurement and valuation of intangibles. Journal of
Intellectual Capital, pp. 268-81.
Green, A., 2007. Intangible Assets in Plain Business Language. VINE, pp.
238-248.
Holthausen, R. W. & Watts, R. L., 2001. The relevance of the valuerelevance literature for financial accounting standard setting. Journal of
Accounting and Economics, Volume XXXI, pp. 3-75.
Holzmann, O. J., 2001. Update: Mergers and Intangible Assets, John Wiley
& Sons, New York: John Wiley & Sons.
Kasmir, 2008. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Kieso, D. E., Weygandt, J. J. & Warfield, T. D., 2011. Intermediate
Accounting Volume 1 IFRS Edition. United States of America: Wiley.
Kodama, F., 1992. Technology fusion and the new R&D. Harvard Business
Review, pp. 70-9.
92
Koller, T., Goedhart, M. & Wessels, D., 2010. Valuation: Measuring and
Managing the Value of Companies. 5th penyunt. John Wiley & Sons: New Jersey.
Kurniati, P., 2016. Alat Sedot Hidrosefalus Ciptaan Dosen UGM Diserap
Industri.
Available
[Online]
at:
http://jateng.metrotvnews.com/peristiwa/zNA8DzZK-alat-sedot-
hidrosefalus-ciptaan-dosen-ugm-diserap-industri
[Diakses 9 April 2017].
Lagrost, C., Martin, D., Dubois, C. & Quazzotti, S., 2010. Intellectual
property valuation: how to approach the selection of an appropriate valuation
method. Journal of Intellectual Capital, 11(4), pp. 481-503.
Lev, B., 2001. Intangibles, Management, Measurement and Reporting,
Washington DC: Brookings Institution Press.
Lev, B. & Schwartz, A., 1971. On the use of the economic concept of
human capital in financial statements. The Accounting Review, XLVI(1), pp. 103112.
Lev, B. & Sougiannis, T., 1999. Penetrating the book to market black box:
the R&D effect. Journal of Business Finance & Accounting, Volume 26, pp. 419449.
Mun, J., 2002. Real Options Analysis. Hoboken: John Wiley & Sons.
Narimawati, U., 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif,
Teori dan Aplikasi. 1st penyunt. Bandung: Agung Media.
Nolan, A., 2011. New sources of growth: intangible assets, Washington DC:
OECD.
Nuzula, N. F., 2010. Biaya Modal (Cost of Capital), Malang: Universitas
Brawijaya.
Petty, R. & Guthrie, J., 2000. Intellectual capital: Australian annual
reporting practices. Journal of Intellectual Capital, I(3), pp. 241-251.
Pitkethly, R., 1997. The valuation of patents, Cambridge: The Judge
Institute of Management Studies.
Reeve, J. M., Warren, C. S. & Duchac, J. E., 2009. Pengantar Akuntansi
Adaptasi Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
93
Reilly, F. & Nesi, N. A., 1992. Interstate intangible asset transfer programs.
The CPA Journal Online, pp. 34-40.
Reilly, R. F. & Schweihs, R. P., 1998. Valuing Intangible Assets. New
York: McGraw-Hill.
Rudianto, 2012. Pengantar Akuntansi Adaptasi IFRS. Jakarta: Erlangga.
Russell, M., 2016. The valuation of pharmaceutical intangibles. Journal of
Intellectual Capital, pp. 484-506.
Schaper, S., 2016. Contemplating the usefulness of intellectual capital
reporting: reasons behind the demise of IC disclosures in Denmark. Journal of
Intellectual Capital, XVII(1), pp. 52-82.
Smith, T., 2015. What is an asset and what are the different types of assets?.
[Online]
Available at: https://www.clearbooks.co.uk/blog/what-is-an-asset-and-what-arethe-different-types-of-assets/
Sudjatmiko, T., 2016. Dosen UGM Ciptakan INA Shunt. [Online]
Available
at:
http://krjogja.com/web/news/read/5335/Dosen_UGM_Ciptakan_INA_Shunt
[Diakses 9 April 2017].
Sullivan Jr, P. H. & Sullivan Sr, P. H., 2000. Valuing Intangibles
Companies – An Intellectual Capital Approach. Journal of Intellectual Capital,
pp. 328-340 .
Sunariyah, 2003. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. 3rd penyunt.
Yogyakarta: UPP-AMP YKPN.
Triest, S. V. & Vis, W., 2007. Valuing patents on cost-reducing technology:
A case Study. International Journal of Production Economics, Issue 105, pp. 282292.
Weygandt, J. J., Kieso, D. E. & Kimmel, P. D., 2007. Accounting Principles
Pengantar Akuntansi. 7th penyunt. Jakarta: Salemba Empat.
Wines, G. F. & Ferguson, C., 1993. An empirical investigation of
accounting methods for good will and identifiable intangible assets: 1985 to,1989.
Abacus, XXIX(1), pp. 90-105.
94
World Intellectual Property Organization and Technology, 1998. Valuation
and Commercialization of Inventions and Research Results. Manila, Application
and Promotion Institute.
95
(halaman ini sengaja dikosongkan)
96
BIODATA PENULIS
Dina Tandiana halim. Lahir di Jakarta, 15
February 1995. Penulis telah menempuh pendidikan
formal di SD Islam Terpadu Al-Huda Jakarta, SMP
LABSHOOL Jakarta, dan SMA Negeri 8 Jakarta.
Setelah lulus dari SMA pada tahun 2013, penulis
melanjutkan berkuliah di Departemen Manajemen
Bisnis, Fakultas Bisnis Manajemen dan Teknologi,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Penulis
mengambil
konsentrasi
mata
kuliah
manajemen keuangan. Selama masa perkuliahan,
penulis juga aktif berorganisasi di himpunan
mahasiswa yakni Business Management Student Association (BMSA) pada divisi
External Relation selama dua tahun kepengurusan.
Penulis juga turut serta
menjadi panitia di berbagai kegiatan tingkat jurusan, fakultas, maupun universitas.
Penulis pernah menjalani kerja praktik selama 40 hari kerja di PT Telkom
Indonesia pada tahun 2016 dan bergabung dalam divisi Shared Service Operation
Finance Center. Dengan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “Penilaian Intangible Asset Hak Paten pada
Komersialisasi Produk Penelitian Perguruan Tinggi X”. Penulis dapat dihubungi
melalui e-mail: [email protected].
97
Download