Keistimewaan Syariat Islam Oleh

advertisement
Keistimewaan Syariat Islam
Oleh: Nurul Ichsan
Dosen DPK Arrahmaniyah Depok
Abstrak
Hukum Allah mempunyai keistimewaan yang tidak terdapat dalam undang-undang,
hukum dan peraturan lain yang dibuat oleh manusia di muka bumi sehingga syariat
Islam ini diberikan derajat yang tinggi oleh Allah SWT sebagai hukum dan peraturan
yang satu-satunya dapat menyelamatkan hidup manusia, jalan mendapatkan
kemaslahatan hidup dan keridahaan Allah SWT, serta perlindungan dari azab di
akherat kelak. Sifatnya yang Rabbani mempunyai kekuatan untuk mengawasi dan
mengontrol diri manusia, mendidik jiwa serta melatih pikiran dan membentuk pribadi
yang mulia, hukum yang kesemuanya amat berbeda dengan hukum wad'iyah, hukum
dunia buatan manusia .
A. Pendahuluan
Syariat yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad SAW sejak 15 abad yang
silam memang telah mengalami berbagai ujian dan tantangan yang sampai saat ini
dapat dilihat bahwa syariat Islam adalah hukum dan peraturan yang sesuai dan selaras
bagi kehidupan manusia di muka bumi ini. Hal ini tidak terlepas dari adanya
keistimewaan dari syariat Islam itu sendiri.
Pelaksanaan syariat pada zaman Rasulullah SAW jelas membawa kesan bagi
kita umat akhir zaman (muta'akhiri), walaupun dapat dilihat bahwa pada masa
sekarang ini akibat penjajahan dan penindasan bangsa lain ke atas negara-negara yang
mayoritas penduduknya beragama Islam hukum bikinan manusia (wadh'iyah) lebih
banyak diterapkan daripada syariat Islam. Namun demikian terlihat adanya keinginan
masyarakat untuk tetap menegakkan syariat Islam terutama setelah banyak negaranegara mayoritas penduduk muslimnya yang merdeka seperti Mauritania, Iran,
Pakistan, Malaysia, Indonesia dan lain-lain.
Adapun penelitian dan pembahasan mengenai keistimewaan syariat Islam
telah dilaksanakan oleh para ahli hukum baik di Timur maupun Barat untuk mencari
unsur positif yang dimiliki oleh syariat Islam dan menjawab tantangan zaman apakah
hukum ini dapat dibedakan dengan hukum-hukum lainnya, sehingga pantas syariat itu
diakui sebagai hukumperaturan untuk manusia kapankun dan dimanapun berada.
B. Pembahasan
Syariat Islam berasal dari dua kata yaitu Syariat dan Islam. Dari segi bahasa,
syariat dan Islam berasal dari kata, syari' yang berarti tempat berjalan, jalan yang
lurus, aliran air, mata air tempat orang-rang datang dan mengambil airnya untuk
diminum. Sedangkan kata Islam berarti tunduk, patuh, keselamatan, kedamaian,
kesejahteraan.
Menurut Istilah, Syariat Islam adalah apa-apa yang Allah SWT tetapkan bagi
hamba-hambaNya baik agama maupun ketetapan hukum yang bermacam-macam.
Dinamakan hukum ini dengan syariah karena kelurusan dan kesamaannya dengan
mata air, yang mana syariat itu menghidupkan jiwa dan akal seperti air yang
menghidupkan jasmani. Shari'at Islam juga bermakna hukum-hukum yang ditetapkan
Allah SWT baik itu dengan Al-Quran maupun sunnah Nabi-Nya Muhammad SAW.1
Keistimewaan dan keutamaan syariat Islam yang membedakannya dengan hukum dan
peraturan dunia lainnya antara lain yaitu:
1. Al-Rabbaniyah
2. Al-Alamiyah
3. Syumul
4. Al-Ishalah Wal Khulud
5. At-Taisir Wa Raf'ul Kharaj
6. Ri'ayatul Masholih Al-Basyariyah
7. At-Tawazun Bainal Madah War Ruh
8. At-T alazum Baina Aqidah Wal Hayah
9. Al-Akhlaqiyah
Adapun penjelasan kesembilan keistimewaan dan keutamaan syariat Islam ini
pembahasannya sebagai berikut:
1. Al-Rabbaniyah
Yang dimaksud dengan al-rabbaniyah ialah hukum-hukum atau peraturanperaturan Islam adalah buatan Sang Pencipta, dia bukanlah buatan manusia yang
memiliki kelemahan dan dapat berubah karena tempat, waktu, budaya, adat istiadat,
nafsu, serta berbagai macam campuran hasil cipta manusia, akan tetapi hukum dan
peraturan Islam dibuat oleh Allah yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas segala
apa yang ada di alam raya.2
Oleh karena hukum Islam bersumber dari Allah SWT maka ia tidak terbatas
pada sesuatu masa tertentu sahaja, tetapi ia sesuai untuk sepanjang zaman. Zaman,
waktu, ruang dan musim tidak mempunyai pengaruh dan kuasa untuk merubah prinsip
dan dasar syariat Islam.
Syariat Islam mengatur hidup manusia supaya benar-benar menepati kehendak
Allah SWT. Berdasarkan untuk memberikan ajaran dan arahan yang sesuai dengan
fitrah manusia maka Allah SWT mengangkat Nabi dan Rasul untuk mengajarkannya.
Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya:
Tiap-tiap ummat mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka
diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka sedikitpun tidak
dianiaya.3
Allah SWT juga menegaskan bahwa setiap umat akan diturunkan utusan yang
akan memberikan mereka peringatan, arahan dan petunjuk bagaimana untuk
menjalankan hukum Islam sesuai dengan apa yang diridhai oleh Nya. Dalam Alquran
disebutkan:
Tidak ada satupun umat melainkan telah ada seorang pemberi peringatan.4
Dengan demikian sumber hukum dan peraturan Islam ialah Allah, yaitu
wahyuNya kepada Nabi Muhammad SAW dengan lafaz dan makna yaitu alquran,
ataupun dengan makna tanpa lafaz yaitu sunnah RasulNya yang memberikan
penjelasan tentang wahyu Allah SWT. Dari kedua sumber ini maka lahirlah sumbersumber hukum dan peraturan lainnya seperti ijma', qias, masalih mursalah dan
istihsan. Sumber-sumber lain ini juga diikuti dengan lahirnya kaedah dan prinsip fiqh
lainnya.
Abdul Qadir Audah menjelaskan tiga perbedaan antara hukum buatan manusia
(wad'iyah), dengan hukum Allah, yaitu antara lain:
a. Hukum wad'iyah adalah buatan manusia sedangkan syariah Islam berasal dari
Allah
dan
keduanya
memberikan
gambaran
sebagaimana
sifat-sifat
pembuatnya
b. Hukum wad'iyah terbatas ruang dan waktu sedangkan syariah Islam tetap
kekal hingga akhir zaman dan tidak menerima perubahan dan pergantian
c. Masyarakat yang membuat hukum itu menyesuaikannya dengan adat dan
panutan mereka, sedangkan syariah Islam tidaklah dibuat oleh masyarakat
umum sehingga dapat membangun suatu masyarakat manapun dan dimanapun
dengan tujuan membentuk pribadi yang soleh, masyarakat yang baik negeri
yang menjadi contoh bagi negeri-negeri lainnya.5
Hukum Islam mengatur hidup manusia agar betul-betul sesuai dengan
kehendak Allah SWT, dan sesuai dengan kehendak fitrah manusia karena Allah
Maha mengetahui dan lebih bijaksana tentang kehendak, kebutuhan dan fitrah
manusia daripada manusia itu sendiri. Oleh karena itu maka manusia yang ingin
memperoleh kebaikan kebahagiaan di dunia dan di akherat kelak wajiblah ia
melaksanakan hukum Allah ini.
Manusia yang melaksanakan hukum ini disebut mukmin yang mana mereka
melaksanakan syariat dengat tulus ikhlas serta patuh karena alasan:
a) Karena mengetahui dengan sebenarnya bahwa Allah SWT adalah Maha kuasa
dan Ia berkuasa untuk mengubah ciptaanNYa sesuai dengan apa yang ia
inginkan dan yang Ia kehendaki, sedangkan manusia adalah makhluk yang
lemah dan terbatas kemampuannya.
b) Karena mengetahui dengan sebenarnya bahwa Allah SWT adalah yang paling
tahu kebaikan buat hambanya.
c) Karena mengetahui dengan sebenarnya bahwa Allah SWT adalah Maha
Bijaksana sehingga apapun akan tampak sesuai dan serasi, menimbulkan
kemaslahatan bukan kemudaratan.
d) Karena mengetahui dengan sebenarnya bahwa manusia adalah mahkluk yang
tidak mungkin mencapai tingkat yang sempurna walaupun telah tinggi ilmu,
peradaban dan teknologi.
e) Karena mengetahui dengan sebenarnya bahwa manusia adalah mahkluk yang
dapat berubah karena lingkungan, perasaan, hawa nafsu, warisan adat istiadat
dan kepercayaan yang dipercayainya.
2. Al-Alamiyah
Al-alamiyah berarti universal, bahwa segala hukum dan asas syariat Islam
memiliki sifat universal, insaniyah yaitu rahmat bagi seluruh alam, hidayah untuk
seluruh manusia di muka bumi ini dan yang pasti diturunkan untuk segenap umat
manusia.
Syariat Islam bukanlah terbatas untuk satu jenis manusia saja atau untuk satu
daerah di bumi tertentu saja, atau untuk satu golongan ras manusia tertentu saja, akan
tetapi ia untuk "sekalian manusia" tanpa melihat bangsa, warna kulit, jenis, bahasa
dan daerah. Tidak ada kaum dan suku, pangkat, serta drajat di dalam syariat Islam ini,
semua manusia sama kedudukannya dan tidak ada kelebihan antara satu sama lainnya
kecuali dengan takwa.
Keistimewaan yang kedua ini adalah akibat dari hukum Allah tidak dibuat
oleh manusia yang pasti lebih mementingkan dirinya, keluarganya atau golongannya
sendiri, bahkan rasa kesukuan, ras dan berbagai kepentingan dapat mempengaruhi
sadar maupun tidak di dalam membuat peraturan.
Syariat Islam juga tidak terbatas pada suatu keadaan dan tempat di manapun
manusia berada, Timur atau Barat, jarak jauh dan perbedaaan alam sekitar tidak
menjadi halangan menjalankan syariat Islam. Seluruh syariat Islam ditegakkan di atas
dasar persamaan, maka hendaklah dijalankan hukum itu ke atas tiap-tiap orang dan
golongan tanpa memandang perbedaan kedudukan masing-masing. Tidak ada kaya
dan miskin, semua wajib tunduk patuh kepada Hukum Allah.
Dalam syariat Islam seluruh manusia kedudukannya disamaratakan dalam
bidang taklif, hukum dan pengadilan. Segala ketentuan hukum dan apa yang
ditentukan untuk manusia dibangun atas prinsip persamaan dan dibebani dengan
hukum dan sangsi yang sama. Segala ketentuan
hukum dan sangsi tetap harus
dijalankan tanpa memandang kasta dan semuanya juga akan sama dalam memperoleh
hak dan dalam menunaikan kewajiban.
3. Syumul
Syumul berarti menyeluruh atau sifatnya melingkupi keseluruhan, yaitu bahwa
syariat Islam melingkupi semua hukum dan peraturan di segala sudut dari berbagai
sudut pembentukan, pembinaan serta perbaikan hukum tersebut. Hukumnya
menyeluruh dan melingkupi segala unsur kehidupan, baik berkenaan tentang
keyakinan (aqidah), peribadatan ataupun akhlak perilaku, mengatur kehidupan pribadi
maupun masyarakat luas, lahir maupun batin, ataupun mengatur masalah individu
maupun berkenaan dengan masalah-masalah umum seperti perdata, pidana, peradilan,
kenegaraan, ekonomi, keuangan, dll.
Syariat Islam juga meliputi seluruh aspek kehidupan dan kegiatan manusia.
Peraturan dan hukum yang mengatur kehidupan berkeluarga, bermasyarakat,
bernegara,
mengatur
penciptaNya,
hubungan
manusia
dengan
sesama,
manusia
dengan
manusia dengan alam, dan makhluk-makhluk lainnya.Mengatur
hubungan antara rakyat dengan pemerintah, antara muslim dengan kafir, antara negara
dengan negara dan antar dunia fana dengan akherat.
Syariat Islam dalam pelaksanaannya tidak boleh dipisah-pisahkan atau
dipecah-pecahkan karena ia bersifat kulli, menyeluruh bukan sebahagian saja karena
tujuan dan hikmahnya tidak akan tercapai jika dilaksanakan secara sebagian saja,
malah perbuatan seperti ini bertentangan dengan nas AlQuran yang berbunyi:
Apakah kamu beriman kepada sebahagian isi kitab dan kufur kepada
sebahagian yang lain.Tiada lain balsan orang-orang yang berbuat demikian
daripada kamu kecuali kehinaan dalam hidup di dunia dan hari kiamat akan dihalau
kepada siksa yang sangat pedih.6
Syariat Islam merupakan peraturan yang melingkupi seluruh bentuk kehidupan
yang menggambarkan kepada manusia jalan-jalan keimanan, menjelaskan dasar
keyakinan dan aturan yang berhubungan dengan ketuhanan, menyuruh kepada jalan
kebersihan jiwa dan badan. Untuk penjelasan syariat Islam secara menyeluruh ini
dapat dibagi kepada tiga aspek:
1. Hukum yang berkenaan dengan keimanan dan kepercayaan. Hukum-hukum ini
dinamakan I'tiqadiyah, bidang kajiannya di dalam ilmu kalam atau tauhid
2. Hukum yang berkaitan dengan akhlak seperti kewajiban bersikap jujur, amanah,
menepati janji. Ini dinamakan dengan hukum hukum akhlaqiyah dan bidang
kajiannya di dalam ilmu akhlak atau tasawwuf
3. Hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia dalam hubungannya dengan
tuhan dan sesama, ini dinamakan dengan hukum a'maliyah yang bidang kajiannya
ialah ilmu fiqh. Hukum-hukum 'amaliyah ini mencakup dua bagian:
a. Hukum ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya seperti
shalat dan puasa.
b. Hukum mu'amalah yang mengatur hubungan sesama manusia, terbagi atas:
1) Hukum-hukum yang berkenaan dengan keluarga, seperti pernikahan,
perceraian, adopsi yang pada masa sekarang di sebut hukum privat
2) Hukum-hukum yang berkenaan dengan harta benda, seperti jual beli, sewa,
gadai, tanggungan dll. Pada masa sekarang ini disebut hukum perdata dan
hukum dagang
3) Hukum-hukum yang berkenaan dengan pelanggaran, perbuatan jahat dll.
Pada masa sekarang disebut hukum pidana
4) Hukum-hukum
yang
berkenaan
dengan
kehakiman,
persidangan,
persaksian dll. Pada masa sekarang ini disebut hukum acara peradilan
5) Hukum-hukum yang berkenaan dengan keuangan dan pengurusan harta
yang pada masa sekarang disebut hukum ekonomi
6) Hukum-hukum yang berkenaan dengan perang, hubungan dengan non
muslim yang pada masa sekarang disebut ilmu politik
7) Hukum-hukum yang berkenaan dengan dasar hak-hak seseorang dalam
hidup dan bernegara, pada masa sekarang disebut Hak Asazi Manusia.
4. Al-Ishalah Wal Khulud
Artinya hukum Islam adalah hukum yang asli dan tidak berubah akibat zaman.
Ia tidak dapat ditandingi oleh seluruh hukum yang ada karena ia masih asli bukan
bikinan atau tambahan dan benar-benar berasal
dari Pencipta (wahyu ilahi).
Keasliannya dapat ditinjau dari sudut:
a. Sumbernya. Syariat Islam bersumber dari wahyu yang menggariskan usul dan
kaedah, memperjelas tujuan dan maksud, membawa manusia kepada contoh
teladan, menerangkan jalan dan menjadi petunjuk jalan yang lurus
b. Metodenya. Syariat Islam diprogram oleh Allah SWT untuk manusia dan
kemanusiaan. Secara fitrahnya menghargai, memelihara kemuliaan manusia.
Metode yang digunakan berbeda dengan penerapan hukum dunia lainnya.
c. Matlamatnya. Tujuan dari syariat Islam itu jelas yaitu peribadatan kepada Allah
SWT, untuk mengharapkan ridha Allah SWT.
Tidak berubahnya syariat Islam karena zaman itu bukan berarti tidak dapat
memenuhi kepentingan manusia di zaman tertentu akan tetapi hukumnya itu tetap an
tidak berubah-ubah, ia tidak dapat menerima penyelewengan, campur aduk dan
pemalsuan.
5. At-Taisir Wa Raf'ul Kharaj
Artinya bahwa syariat Islam berdasarkan kepada kemudahan dan membuang
hal yang membebankan. Allah SWT mengangkat kewajiban yang menyulitkan
manusia dalam pelaksanaanya. Kesulitan yang ada juga dapat ditanggung oleh
manusia. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:
Tidaklah Allah ingin menjadikan kesulitan bagi kamu7
Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidaklah mengininkan
kesukaran bagi kamu8
Allah tidak memberatkan manusia kecuali apa yang sanggup dipikulnya9
Kemudahannya dapat dilihat antara lain dari beberapa aspek:
a.
Ibadat. Contohnya shalat cukup lima waktu sehari, apabila tidak mampu ia sambil
berdiri maka bisa sambil duduk, tidur dan berkedip mata. Dalam perjalanan bisa
dijama' dan qasar. Dalam agama lain ibadah banyak yang sulit bahkan amta
menyukarkan manusia.
b. Muamalat. Contohnya Islam hanya menggariskan bahwa perkawinan cukup sah
apabila dihadiri oleh mempelai, wali dan saksi, Bukan dengan mahar yang mahal.
c. Uqubat. Contohnya hukuman qisas buat orang yang melakukan pembunuhan
dilakukan dengan adil, mereka mungkin mendapat keringanan apabila dimaafkan
oleh keluarga korban dengan membayar diyat.
6. Ri'ayatul Masholih Al-Basyariyah
Artinya syariat Islam memeperhatikan pemeliharaan terhadap kemaslahatan
manusia dan berperikemanusiaan Syariat Islam tidak membedakan manusia dari segi
kebangsaan, keturunan, warna kulit, dll. Hukum Islam menyatakan bahwa manuisa
adalah umat yang satu oleh karena itu pemeliharan terhadap kemaslahatan manusia
adalah sama. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:
Sesungguhnya inilah ummatmu (sekalian manusia) ummat yang satu dan Aku
adalah Rab kamu sekalian10
Maslahat manusia dapat ditinjau dari tiga jenis yaitu:
a. Dharuriyat, artinya kebutuhan yang mesti ada bagi manusia yaitu pemeliharaan
terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan kehormatan.
b. Hajiyat, artinya kebutuhan manusia yang apabila tidak ada ia dapat membawa
kesulitan bagi manusia seperti kebutuhan manusia kepada kesehatan maka bagii
orang Islam wajib ia berpuasa kecuali yang tidak mampu memdapat keringanan
berpuasa seperti bagi orang sakit
c. Tahsiniyat yaitu kebutuhan yang disesuaikan dengan kebiasaan dan keindahan
seperti kewajiban melakukan keindahan dalam berpakaian shalat, menutup aurat
dll.
7. At-Tawazun Bainal Madah War Ruh
Artinya syariat Islam selalu memperhatikan keseimbangan antara materialisme
dan spiritualisme. Keseimbangan (tawazun) secara umum dikatakan bahwa syariat
Islam bersifat moderat dan seimbang. Seimbang antara duniawi dan ukhrawi, antara
individualisme dan kolektivisme, antara tanggungjawab dan kebebasan, antara
kewajiban dan hak serta lain-lain.11
Islam memandang manusia itu mahkluk yang memiliki berbagai tabiat dan
perangai tersendiri. Ia bukan malaikat dan bukan juga binatang. Sekalipun pada waktu
tertentu ia dapat menjadi lebih buruk daripada hewan dan lebih tinggi daripada
malaikat. Dengan demikian Manusia butuh kepada makan minum, kawin, dan
kenikmatan dunia lainnya bahkan Islam mejadikan kebutuhan itu sebagai bentuk
ibadah juga. Dalam Islam perkawinan adalah ibadah begitu juga mencari nafkah
adalah jihad. Konsep pertengahan ini sesuai dengan firman Allah SWT:
Dan mereka membuat kepasturan (Sembelit), kami tidak memerintahkan
demikian kepada mereka.12
Dan demikian kami telah menjadikan kamu ummat yang pertengahan agar
kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia.13
Dengan demikian maka Allah SWT yang Maha Mengatahui sudah pasti
menurunkan hukum yang sesuai dengan kondisi manusia. Syariat Islam bukan hanya
ajaran dan peraturan yang memberikan perhatian kepada masalah ruhaniyah sahja,
tetapi juga memperhatikan masalah kebendaaan, materi dan keduniaan yang secara
fitrahnya manusia mempunyai kecendrerungan untuk kesana.14
8. At-T alazum Baina Aqidah Wal Hayah
Artinya syariat Islam saling berkaitan antara aqidah dan kehidupan nyata. Ini sesuai
dengan konsep Islam yaitu hidup adalah ibadah oleh karenanya segala aktifitas akan
dinilai ibadah apabila selalu diniati untuk mencari keridahaan Allah SWT. Ini sesuai
denganNya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembahku15
Aqidah yang di dalam hati haruslah diwujudkan di dalam perbuatan. Islam
tidak hanya mengenai hal-hal yang ruhaniyah tetapi juga harus ada implementasinya
dalam perbuatan. Sehingga dalam hukum Islam antara perbuatan tidak boleh lepas
dari unsur aqidah yaitu keesaan Allah SWT. Seperti perbuatan sholat adalah sebuah
perbuatan penyembahan (aqidah) tetapi berdampak dalam kehidupan:
Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar16
Yusuf qardhawi menjelaskan bahwa syariat Islam itu mempunyai ciri
rabbaniyatul wijhah artinya dalam hukumnya selalu terdapat
keterkaitan antara
manusia dengan penciptaNya sehingga tujuan syariat Islam adalah agar manusia
selalu mengingat dan terikat patuh kepada Allah SWT dalam segala aspek
kehidupannya.17
Selain itu hukuman atau balasan yang ada dalam sayariat Islam bukan saja
hubungannya dengan masalah dunia nyata saja akan tetapi juga terkait dengan
keimanan akan akherat, yaitu bahwa seorang yang melakukan kebajikan atau
kejahatan akan mendapat balasan yang setimpal nanti di akherat kelak, sehingga
perhatian utmanya adalah balasan hukuma yang berat dan takut kepada Allah SWT
sebagi penciptanya yang Maha Mengetahui.18
9. Al-Akhlaqiyah
Artinya syariat Islam selalu memandang perbuatan baiklah yang menjadi tolak
ukur dan penilaian segala aktifitas manusia. Suatu hukum itu dianggap baik apabila
hukum itu menambah baik perilaku manusia, sebaliknya jika hukum peraturan itu
menjadikan manusia lebih buruk bahkan menjadikan manusia tidak mempunyai
kesopanan dan tata krama maka hukum itu jelas
bukan hukum yang baik bagi
manusia.
Contohnya Islam menyuruh pemeluknya untuk bersih, sehat dan memakan
makanan yang bersih lagi baik. Ini menunjukan bahwa syariat Islam memandang
manusia haruslah memiliki tata kesopanan dalam kehidupan. Manusia dilarang makan
najis, bangkai, darah, Binatang bertaring dan lain sebagainya karena ini dapat
merusak kepribadian manusia. Manusia yang selalu mengkonsumsi miras dan barang
haram lainnya cenderung akan bersikap tidak baik dan kasar. Bahkan manusia yang
mabuk biasanya lebih ganas dari pada binatang buas sekalipun.
Secara fitrahnya manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yaitu makhluk
yang tidak dapat hidup sendiri, tetapi memerlukan sekelompok manusia lainnya untuk
saling berinteraksi, bantu membantu dan mengisi kekurangan yang ada pada sebagian
dari mereka.19 Oleh karena itu Islam mengatur agar segala sikap dan pandangan hidup
seserang itu untuk dapat diterima oleh manusia lainnya. Inilah kenapa perlu adanya
hukum yang mengatur persoalan hukum dan interaksi sosial yang lebih baik.
1
Abdul Karim Zaidan, Al-Madkhal Lidirasah As-Syariah Al-Islamiyah, (Beirut, Muasasah Al-Risalah,
1990), h. 34.
2
Abdullah Nasih Ulwan, Al-Islam, Syari'atuz Zaman wal Makan, (Kairo, Darus Salam, 1993), h. 10
3
Yunus: 47
4
Fatir: 23
5
Abdul Qadir Audah, At-Tasyri' al-Juna'i fil Islam, (Kairo, Darut Turats, t.th), h. 17-22
6
Al Baqarah: 85
7
Al Maidah: 6
8
Al Baqarah: 185
9
Al Baqarah: 286
10
Al Anbiya: 92
11
Muh. Salam Mazkur, At Ta'rif bis Syariah Al Islamiyah, (Kairo: Maktabah Islamiyah, 1964) h, 19
12
Al Hadid: 27
13
Al Baqarah: 143
14
Muhammad Qutub, Al Insan Baina al Madiyah wal Islam, (Kairo, Dar al Syarq, 1982), h. 69
15
Al Dzariyat: 56
16
Al Ankabut: 45
17
Yusuf Qardhawi, Syariatul Islam, (Beirut: Al Maktabah Al Arabiyah, 1946) h,18
18
Ali Mansur, Al Madkhal Lilulum Al Qonuniyah wal Fiqhi Islam, (Beirut: Darul fath, 1971), h. 50
19
Subhi mahmashoni, Al Da'aim Al Khuluqiyah Li Al Qowanin Al Syar'iyah, (Beirut: Dar Ilmi, 1979),
h. 94
DAFTAR PUSTAKA
Abul a'la Almaududi, Hukum dan Konstitusi Islam, terj. Asep Himat, Bandung:
Mizan,1993.
Abdul Qadir Audah, At-Tasyri' al-Juna'i fil Islam, Kairo, Darut Turats, t.th
Abdul Qadir Audah, Islam dan Perundang-undangan, terj. H. Fiurdaus AN, Jakarta:
C.V. Mulia, 1966.
Abdul Karim Zaidan, Al-Madkhal Lidirasah As-Syariah Al-Islamiyah, Beirut,
Muassasah Al-Risalah, 1990.
Abdullah Nasih Ulwan, Al-Islam Syari'atuz Zaman wal Makan, Kairo, Darus Salam,
1993
Ali Mansur, Al Madkhal Lilulum Al Qonuniyah wal Fiqhi Islam, Beirut: Darul fath,
1971.
Muh. Salam Mazkur, At Ta'rif bis Syariah Al Islamiyah, Kairo: Maktabah Islamiyah,
1964
Muhammad Qutub, Al Insan Baina al Madiyah wal Islam, Kairo: Dar al Syarq, 1982
Muhammad Hamidullah, Pengantar Studi Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1974
Subhi mahmashoni, Al Da'aim Al Khuluqiyah Li Al Qowanin Al Syar'iyah, Beirut:
Dar Ilmi, 1979
T.M. Hasbi Ashiddiqi, Falsafah Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
Yusuf Qardhawi, Syariatul Islam, Beirut: Al Maktabah Al Arabiyah, 1946.
Download
Study collections