Dokumentasi dan Informasi Hukum

advertisement
Dokumentasi dan Informasi Hukum
Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden,
Peraturan Menteri Tentang Kelautan dan
Pengelolaan Pertambangan
DAFTAR ISI
UU Nomor 21 Tahun 2009 .................................................................... 1
Penjelasan UU Nomor 21 Tahun 2009 ....................................................... 5
PP Nomor 21 Tahun 2010 .................................................................. 105
Penjelasan PP Nomor 21 Tahun 2010 .................................................... 127
PP Nomor 20 Tahun 2010 ................................................................... 139
Penjelasan PP Nomor 20 Tahun 2010 ..................................................... 233
PP Nomor 30 Tahun 2010 .................................................................. 267
Keputusan Menteri Nomor 68 Tahun 2009 ............................................... 281
Keputusan Menteri Nomor 64 Tahun 2009 .............................................. 289
UU Nomor 4 Tahun 2009 .................................................................... 297
Penjelasan UU Nomor 4 Tahun 2009 ...................................................... 351
UU Nomor 30 Tahun 2007 .................................................................. 381
PP Nomor 70 Tahun 2010 ................................................................... 399
Penjelasan PP Nomor 70 Tahun 2010 ..................................................... 403
PP Nomor 55 Tahun 2010 ................................................................... 405
Penjelasan PP Nomor 55 Tahun 2010 ..................................................... 421
PP Nomor 23 Tahun 2010 ................................................................... 429
Penjelasan PP Nomor 23 Tahun 2010 ..................................................... 481
PP Nomor 22 Tahun 2010 .................................................................. 499
Penjelasan PP Nomor 22 Tahun 2010 ..................................................... 519
PP Nomor 70 Tahun 2009 ................................................................... 527
Penjelasan PP Nomor 70 Tahun 2009 ..................................................... 543
PP Nomor 55 Tahun 2009 ................................................................... 549
iii
iv
Penjelasan PP Nomor 55 Tahun 2009 ..................................................... 555
PP Nomor 30 Tahun 2009 ................................................................... 559
Penjelasan PP Nomor 30 Tahun 2009 ..................................................... 563
PP Nomor 59 Tahun 2007 ................................................................... 565
Penjelasan PP Nomor 59 Tahun 2007 ..................................................... 603
Peraturan Menteri Nomor 06 Tahun 2010 ................................................ 621
Peraturan Menteri Nomor 03 tahun 2010 ................................................ 633
Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2009 ................................................ 639
Peraturan Menteri Nomor 11 Tahun 2009 ................................................ 655
Peraturan Menteri Nomor 08 Tahun 2007 ................................................ 683
SALINAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 21 TAHUN 2009
TENTANG
PENGESAHAN AGREEMENT FOR THE IMPLEMENTATION
OF THE PROVISIONS OF THE UNITED NATIONS CONVENTION
ON THE LAW OF THE SEA OF 10 DECEMBER 1982
RELATING TO THE CONSERVATION AND
MANAGEMENT OF STRADDLING FISH STOCKS AND
HIGHLY MIGRATORY FISH STOCKS
(PERSETUJUAN PELAKSANAAN KETENTUAN-KETENTUAN KONVENSI
PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG HUKUM LAUT TANGGAL
10 DESEMBER 1982 YANG BERKAITAN DENGAN KONSERVASI DAN
PENGELOLAAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA TERBATAS
DAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA JAUH)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa tujuan nasional Negara Republik Indonesia sebagaimana
ditentukan dalam Pembukaan Undang-­Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 adalah melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial;
b.
bahwa untuk melindungi keanekaragaman hayati dan memelihara
keutuhan ekosistem laut di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia
dan Laut Lepas perlu dilakukan konservasi dan pengelolaan
1
2
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang
beruaya jauh;
c.
bahwa dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa
pada tanggal 24 Juli sampai dengan 4 Agustus 1995, telah diterima
Agreement for the Implementation of the Provisions of the
United Nations Convention on the Law of the Sea of 10 December
1982 relating to the Conservation and Management of Straddling
Fish Stocks and Highly Migratory Fish Stocks (Persetujuan Pe/
aksanaan Ketentuan-Ketentuan Konvensi Perserikatan BangsaBangsa tentang Hukum Laut tanggal 10 Desember 1982 yang
berkaitan dengan Konservasi dan Pengelolaan Sediaan Ikan yang
Beruaya Terbatas dan Sediaan Ikan yang Beruaya Jauh);
d.
bahwa Indonesia telah mengesahkan United Nations Convention
on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang Hukum Laut) dengan Undang­Undang Nomor 17 Tahun
1985 yang mengamanatkan pengaturan lebih lanjut mengenai
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang
beruaya jauh;
e.
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud da/
am huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu mengesahkan
Agreement for the Implementation of the Provisions of the
United Nations Convention on the Law of the Sea of 10 December
1982 relating to the Conservation and Management of Straddling
Fish Stocks and Highly Migratory Fish Stocks (Persetujuan
Pelaksanaan Ketentuan-Ketentuan Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut tanggal 10 Desember 1982
yang berkaitan dengan Konservasi dan Pengelolaan Sediaan Ikan
yang Beruaya Terbatas dan Sediaan Ikan yang Beruaya Jauh)
dengan Undang-Undang;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 11, dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan
United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut) (Lembaran
3
Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 76, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3319);
3.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar
Negeri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor
156, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3882);
4. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian
Internasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000
Nomor 185, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4012);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN AGREEMENT FOR THE
IMPLEMENTATION OF THE PROVISIONS OF THE UNITED NATIONS
CONVENTION ON THE LAW OF THE SEA OF 10 DECEMBER 1982
RELATING TO THE CONSERVATION AND MANAGEMENT OF STRADDLING
FISH STOCKS AND HIGHLY MIGRATORY FISH STOCKS (PERSETUJUAN
PELAKSANAAN KETENTUAN-KETENTUAN KONVENSI PERSERIKATAN
BANGSA-BANGSA TENTANG HUKUM LAUT TANGGAL 10 DESEMBER 1982
YANG BERKAITAN DENGAN KONSERVASI DAN PENGELOLAAN SEDIAAN
IKAN YANG BERUAYA TERBATAS DAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA
JAUH).
Pasal 1
Mengesahkan
: Agreement for the Implementation of the Provisions of the United
Nations Convention on the Law of the Sea of 10 December 1982
relating to the Conservation and Management of Straddling Fish
Stocks and Highly Migratory Fish Stocks (Persetujuan Pelaksanaan
4
Ketentuan-Ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang Hukum Laut tanggal 10 Desember 1982 yang berkaitan
dengan Konservasi dan Pengelolaan Sediaan Ikan yang Beruaya
Terbatas dan Sediaan Ikan yang Beruaya Jauh) yang salinan
naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam
bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.
Pasal 2
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 18 Juni 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 18 Juni 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 95
Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Hukum dan Administrasi Peraturan Perundang-undangan,
Bigman T. Simanjuntak
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 21 TAHUN 2009
TENTANG
PENGESAHAN AGREEMENT FOR THE IMPLEMENTATION OF
THE PROVISIONS OF THE UNITED NATIONS CONVENTION ON THE LAW
OF THE SEA OF 10 DECEMBER 1982
RELATING TO THE CONSERVATION AND
MANAGEMENT OF STRADDLING FISH STOCKS AND
HIGHLY MIGRATORY FISH STOCKS
(PERSETUJUAN PELAKSANAAN KETENTUAN-KETENTUAN KONVENSI
PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG HUKUM LAUT
TANGGAL 10 DESEMBER 1982 YANG BERKAITAN DENGAN KONSERVASI
DAN PENGELOLAAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA TERBATAS
DAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA JAUH)
I. UMUM
Dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini terjadi penurunan yang tajam
sediaan sumber daya ikan sehingga perikanan berada dalam kondisi kritis. Pada tahun
1994 penurunan sediaan jenis ikan yang memiliki nilai komersial tinggi, khususnya
sediaan jenis ikan yang beruaya terbatas (straddling fish stocks) dan jenis ikan yang
beruaya jauh (highly migratory fish stocks), telah menimbulkan keprihatian dunia.
Jenis ikan yang beruaya terbatas merupakan jenis ikan yang beruaya antara Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE) suatu negara dan ZEE negara lain sehingga pengelolaannya
melintasi batas yurisdiksi beberapa negara.
Jenis ikan yang beruaya jauh merupakan jenis ikan yang beruaya dari ZEE ke
Laut Lepas dan sebaliknya yang jangkauannya dapat melintasi perairan beberapa
5
6
samudera sehingga memiliki kemungkinan timbulnya konflik kepentingan antara
negara pantai dan negara penangkap ikan jarak jauh khususnya dalam pemanfaatan
dan konservasi ikan baik di ZEE maupun di Laut Lepas yang berbatasan dengan ZEE.
Oleh karena itu, kerja sama internasional dianggap sebagai solusi untuk mengatasi
masalah yang timbul.
Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (United Nations
Convention on the Law of the Sea/UNCLOS) 1982 mengatur secara garis besar mengenai
beberapa spesies ikan yang mempunyai sifat khusus, termasuk jenis ikan yang beruaya
terbatas (straddling fish), serta jenis ikan yang beruaya jauh (highly migratory fish).
Pada tahun 1995 Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyusun suatu persetujuan baru
untuk mengimplementasikan ketentuan tersebut dalam bentuk Agreement for the
Implementation of the Provisions of the UNCLOS of 10 December 1982 relating to
the Conservation and Management of Straddling Fish Stocks and Highly Migratory
Fish Stocks (United Nations Implementing Agreement /UNIA 1995).
UNIA 1995 merupakan persetujuan multilateral yang mengikat para pihak dalam
masalah konservasi dan pengelolaan jenis ikan yang beruaya terbatas dan jenis ikan
yang beruaya jauh, sebagai pelaksanaan Pasal 63 dan Pasal 64 UNCLOS 1982.
Mengingat UNIA 1995 mulai berlaku tanggal 11 Desember 2001 dan tujuan
pembentukan Persetujuan ini untuk menciptakan standar konservasi dan pengelolaan
jenis ikan yang persediaannya sudah menurun, maka pengesahan UNIA 1995 merupakan
hal yang mendesak bagi Indonesia.
1. LATAR BELAKANG DAN TUJUAN
Konservasi dan pengelolaan perikanan di Laut Lepas telah menjadi bahan
perdebatan panjang masyarakat internasional sejak Konferensi Hukum Laut I
hingga Konferensi Hukum Laut III. Namun, hingga disahkan Konvensi Hukum Laut
1982, Konferensi belum berhasil merumuskan pengaturan yang komprehensif
mengenai masalah konservasi dan pengelolaan perikanan di Laut Lepas. Konferensi
telah menyerahkan pengaturan tersebut pada negara yang berkepentingan dengan
perikanan di Laut Lepas di wilayahnya masing-masing.
Dalam perkembangannya, sediaan sumber daya ikan di Laut Lepas, khususnya
jenis ikan yang beruaya terbatas dan jenis ikan yang beruaya jauh, terus mengalami
penurunan secara drastis. Hal ini telah mendorong masyarakat internasional untuk
mencari solusi guna mengatasi persoalan tersebut.
Pada Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Hidup dan
Pembangunan yang diselenggarakan di Rio de Janeiro pada tanggal 3 sampai dengan
7
14 Juni 1992, telah dihasilkan sebuah agenda (Agenda 21) yang mengharuskan negaranegara mengambil langkah yang efektif melalui kerja sama bilateral dan multilateral,
baik pada tingkat regional maupun global, untuk menjamin bahwa perikanan di Laut
Lepas dapat dikelola sesuai dengan ketentuan Hukum Laut 1982.
Amanat Agenda 21 tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan dikeluarkannya
Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 47/192 tanggal 22
Desember 1992, yang menghendaki dilaksanakannya Konferensi tentang Jenis Ikan
yang Beruaya Terbatas dan Jenis Ikan yang Beruaya Jauh. Dalam Resolusi tersebut
ditekankan agar Konferensi dapat mengidentifikasi persoalan yang berkaitan dengan
konservasi dan pengelolaan jenis ikan yang beruaya terbatas dan jenis ikan yang
beruaya jauh, mempertimbangkan pentingnya peningkatan kerja sama antarnegara,
serta menyusun rekomendasi yang tepat.
Setelah melalui enam kali persidangan yang berlangsung sejak April 1993
sampai Agustus 1995, bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di
New York, ditandatangani draft final persetujuan dalam bentuk Agreement for the
Implementation of the Provisions of the UNCLOS of 10 December 1982 relating to
the Conservation and Management of Straddling Fish Stocks and Highly Migratory
Fish Stocks (United Nations Implementing Agreement/ UNIA 1995).
Tujuan Persetujuan ini adalah untuk menjamin konservasi jangka panjang dan
pemanfaatan secara berkelanjutan atas sediaan ikan yang beruaya terbatas dan
sediaan ikan yang beruaya jauh melalui pelaksanaan yang efektif atas ketentuan
yang terkait dari UNCLOS 1982.
2. MANFAAT PENGESAHAN UNIA 1995
Dengan mengesahkan UNIA 1995, Indonesia mengadopsi Persetujuan tersebut
sebagai hukum nasional untuk lebih lanjut dijabarkan da/am peraturan perundangundangan nasional.
Adapun manfaat pengesahan UNIA 1995 bagi Indonesia adalah:
a. memantapkan kebijakan Pemerintah Indonesia dalam memberantas pe­
nangkapan ikan secara melanggar hukum di Wilayah Pengelolaan Perikanan
Republik Indonesia oleh kapal perikanan asing dan membuka kesempatan
bagi kapal Indonesia untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan di Laut
Lepas;
b. mendapatkan data dan informasi perikanan yang akurat secara mudah dan
tepat waktu melalui mekanisme pertukaran data dan informasi di antara
negara pihak;
8
c. mendapatkan alokasi sumber daya ikan untuk jenis ikan yang beruaya ter­batas
dan jenis ikan yang beruaya jauh melalui penetapan kuota internasional;
d. mendapatkan hak akses dan kesempatan untuk turut memanfaatkan potensi
perikanan di Laut Lepas;
e. memperoleh perlakuan khusus sebagai negara berkembang, antara lain
untuk mendapatkan bantuan keuangan, bantuan teknis, bantuan alih
teknologi, bantuan penelitian ilmiah, bantuan pengawasan, dan bantuan
penegakan hukum;
f. memperoleh bantuan dana untuk penerapan Persetujuan ini, termasuk
bantuan dana untuk penyelesaian sengketa yang mungkin terjadi antara
negara yang bersangkutan dan negara pihak lain;
g. memperkuat posisi
internasional;
Indonesia
dalam
forum
organisasi
perikanan
h. mempertegas hak berdaulat Indonesia berkaitan dengan pengelolaan sumber
daya ikan di ZEE Indonesia;
i. memperkuat penerapan persetujuan regional di bidang pengelolaan sumber
daya ikan.
3. MATERI POKOK UNIA 1995
UNIA 1995 disusun berdasarkan prinsip menjamin kelestarian jangka panjang
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh dan
memajukan tujuan penggunaan optimal sediaan ikan tersebut serta menerapkan
pendekatan kehati-hatian dalam pengelolaan sumber daya ikan.
UNIA 1995 terdiri atas 50 pasal dan 2 lampiran:
Lampiran I : Persyaratan Standar untuk Pengumpulan dan Pertukaran Data;
Lampiran II : Pedoman bagi Pelaksanaan Titik-Titik Rujuk Pencegahan dalam
Konservasi dan Pengelolaan Sediaan Ikan yang Beruaya Terbatas
(Straddling Fish Stocks) dan Sediaan Ikan yang Beruaya Jauh (Highly
Migratory Fish Stocks).
Materi pokok dimuat UNIA 1995 antara lain sebagai berikut:
a. uraian prinsip umum mengenai konservasi dan pengelolaan sediaan ikan yang
beruaya terbatas (straddling fish stocks) dan sediaan ikan yang beruayajauh
(highly migratory fish stocks);
b. penerapan pendekatan kehati-hatian dalam konservasi dan pengelolaan
9
sediaan ikan yang beruaya terbatas (straddling fish stocks) dan sediaan ikan
yang beruaya jauh (highly migratory fish stocks);
c. uraian mengenai kewajiban negara anggota berkaitan dengan kapal perikanan
yang mengibarkan benderanya yang melakukan kegiatan penangkapan ikan
di Laut Lepas;
d. memperkenalkan ketentuan penaatan dan penegakan hukum di Laut
Lepas;
e. memperkenalkan ketentuan yang berkaitan dengan persyaratan bagi negaranegara berkembang;
f. pengumpulan dan penyediaan informasi dan kerja sama penelitian ilmiah;
g. sistem pemantauan, pengawasan, dan pengendalian;
h. persyaratan standar pengumpulan dan pertukaran data.
4. PRINSIP-PRINSIP UMUM UNIA 1995 adalah sebagai berikut:
a. mengambil tindakan untuk menjamin kelestarian jangka panjang sediaan
ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh dan
memajukan tujuan penggunaan optimal sediaan ikan tersebut;
b. menjamin bahwa tindakan tersebut didasarkan pada bukti ilmiah terbaik
yang ada dan dirancang untuk memelihara atau memulihkan sediaan ikan
pada tingkat yang dapat menjamin hasil maksimum yang lestari;
c. menerapkan pendekatan kehati-hatian;
d. mengukur dampak dari penangkapan ikan, kegiatan manusia lainnya, dan
faktor-faktor lingkungan terhadap sediaan target dan spesies yang termasuk
dalam ekosistem yang sama atau menyatu/berhubungan dengan atau
bergantung pada sediaan target tersebut;
e. mengambil tindakan konservasi dan pengelolaan untuk spesies dalam
ekosistem yang sama atau menyatu/berhubungan dengan atau bergantung
pada sediaan target tersebut;
f. meminimalkan pencemaran, sampah barang-barang buangan, tangkapan
yang tidak berguna, alat tangkap yang ditinggalkan, tangkapan spesies non
target, baik ikan maupun bukan spesies ikan, dan dampak terhadap spesies,
melalui tindakan pengembangan dan penggunaan alat tangkap yang selektif
serta teknik yang ramah lingkungan dan murah;
g. melindungi keanekaragaman hayati pada lingkungan laut;
10
h. mengambil tindakan untuk mencegah dan/atau mengurangi kegiatan
penangkapan ikan yang berlebihan dan penangkapan ikan yang melebihi
kapasitas dan untuk menjamin bahwa tingkat usaha penangkapan ikan tidak
melebihi tingkat yang sepadan dengan penggunaan lestari sumber daya
ikan;
i. memperhatikan kepentingan nelayan pantai dan subsistensi;
j. mengumpulkan dan memberikan pada saat yang tepat, data yang lengkap dan
akurat mengenai kegiatan perikanan, antara lain, posisi kapal, tangkapan
spesies target dan nontarget dan usaha penangkapan ikan, serta informasi
dari program riset nasional dan internasional;
k. memajukan dan melaksanakan riset ilmiah dan mengembangkan teknologi
yang tepat dalam mendukung konservasi dan pengelolaan ikan; dan
l. melaksanakan dan menerapkan tindakan konservasi dan pengelolaan melalui
pemantauan, pengawasan, dan pengendalian.
5. KEWAJIBAN NEGARA YANG TELAH MELAKUKAN PENGESAHAN UNIA 1995,
adalah sebagai berikut :
a. melakukan tindakan konservasi dan pengelolaan yang kompatibel;
Negara pantai dan negara penangkap ikan jarak jauh (distant water fishing
nations) wajib bekerjasama untuk mencapai tindakan yang sebanding antara
yang dilaksanakan di perairan yang berada di bawah yurisdiksi nasionalnya
(perairan pedalaman, perairan kepulauan, dan laut teritorial) dengan di
Laut Lepas.
b. menerapkan pendekatan kehati-hatian (precautionary approach);
Negara wajib menerapkan pendekatan kehati-hatian (precautionary
approach) ketika menetapkan tindakan konservasi dan penge/o/aan sediaan
ikan.
c. mengelola perikanan dengan pendekatan ekosistem;
Negara wajib mengurangi hasil tangkapan samping (by catch) bagi jenis
sumber daya hayati lain, seperti ikan, mamalia laut, penyu laut, dan burung
laut di luar spesies yang akan ditangkap (non target species), melalui skema
konservasi dan pengelolaannya secara terpadu, yang nontarget species
dijadikan subjek konservasi dan pengelolaan;
Persetujuan implementasi ini juga mewajibkan negara untuk mengumpulkan
dan menginformasikan data penangkapan spesies target dan spesies
11
nontarget, berdasarkan Lampiran I Persetujuan ini, yang memuat ketentuan
rinci tentang syarat­-syarat pengumpulan dan penginformasian data
tersebut.
d. menetapkan larangan pembenderaan semu;
Negara juga wajib mengatur secara ketat larangan pembenderaan semu
(reflagging), antara lain dengan menetapkan kewajiban bagi kapal-kapal
yang mengibarkan bendera negaranya untuk memiliki izin penangkapan
ikan di Laut Lepas, dan menjamin bahwa kapal-kapal yang sama juga tidak
melakukan kegiatan perikanan tanpa izin di Zona Ekonomi Eksklusif negara
lain;
e. memperkuat peranan dari organisasi pengelolaan perikanan regional;
Negara yang melakukan kegiatan perikanan di Laut Lepas dan negara pantai
terkait wajib menjadi anggota organisasi regional yang ada atau mendirikan
organisasi regional;
Negara wajib meningkatkan penerapan kewajiban untuk melakukan
konservasi dan pengelolaan sediaan ikan oleh organisasi regional yang ada.
Sebagai insentif, negara tersebut akan diberi hak akses dalam bentuk alokasi
kuota terhadap sumber-sumber perikanan tersebut.
f. menetapkan mekanisme penaatan dan penegakan hukum;
Persetujuan implementasi ini menetapkan bahwa penegakan hukum dapat
diterapkan oleh negara anggota organisasi perikanan tersebut. Negara dapat
menaiki dan memeriksa kapal ikan negara anggota lain yang diduga telah
melakukan pelanggaran terhadap peraturan konservasi dan pengelolaan
yang dikeluarkan oleh organisasi regional tersebut;
Negara berkewajiban untuk memperkuat skema pemeriksaan dengan
menetapkan kewajiban untuk melapor. Baik organisasi antarnegara maupun
bukan organisasi antarnegara diperkenankan untuk berpartisipasi sebagai
peninjau (observer) dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh
organisasi regional dimaksud. Untuk itu, negara wajib untuk memperkuat
sistem pengawasan (MCS) dan program pengamat.
g. mengintegrasikan kebijakan pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas
dan sediaan ikan yang beruaya jauh di ZEE dengan prinsip pengelolaan
sumber-sumber perikanan di Laut Lepas berdasarkan pengaturan dalam
UNIA 1995, ke dalam hukum nasional;
12
h. negara wajib menjamin penaatan oleh kapal-kapal yang mengibarkan bendera
negaranya terhadap tindakan konservasi dan pengelolaan subregional dan
regional untuk sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang
beruaya jauh;
i. menerapkan pendekatan kehati-hatian secara luas untuk konservasi,
pengelolaan, dan eksploitasi sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan
ikan yang beruaya jauh dalam rangka melindungi sumber daya kelautan dan
konservasi lingkungan laut;
j. menerapkan standar umum minimum internasional yang direkomendasikan
untuk tata laksana perikanan yang bertanggung jawab untuk operasi
penangkapan ikan;
k. kapal perikanan Indonesia, termasuk para awaknya, harus memenuhi
standar internasional untuk beroperasi di Laut Lepas.
6.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERKAITAN DENGAN UNIA 1995
a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 44,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3260);
b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations
Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan bangsa-bangsa
tentang Hukum Laut) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985
Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3319);
c. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990
Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
d. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 73, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3647);
e. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699);
f. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 185, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4012);
13
g. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4433);
h. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4849);
7. KONVENSI INTERNASIONAL YANG BERKAITAN DENGAN UNIA 1995
a. Convention on Migratory Species (Konvensi tentang Spesies Migrasi) 1979;
b. United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut) 1982;
c. United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Keanekaragaman Hayati) 1992;
d. Agreement to Promote Compliance with International Conservation and
Management Measures by Fishing Vessels on the High Seas (Persetujuan
untuk Memajukan Penaatan terhadap Tindakan Pengelolaan dan Konservasi
Secara Internasional oleh Kapal Penangkap Ikan di Laut Lepas) 1993;
e. Code of Conduct for Responsible Fisheries (Tata Laksana Perikanan yang
Bertanggung Jawab) 1995.
8. Persetujuan ini telah ditindaklanjuti dengan dibentuknya beberapa organisasi
pengelolaan perikanan regional (Regional Fisheries Management Organization/
RFMO), antara lain Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC)
berdasarkan Convention on the Conservation and Management of Highly
Migratory Fish Stocks in the Western and Central Pacific Ocean, Honolulu 4
September 2000 yang merupakan implementasi masalah teknis perikanan.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa
Indonesia, maka digunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris.
Pasal 2
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5024
AGREEMENT FOR THE IMPLEMENTATION OF
THE PROVISIONS OF THE UNITED NATIONS CONVENTION ON
THE LAW OF THE SEA OF 10 DECEMBER 1982
RELATING TO THE CONSERVATION AND
MANAGEMENT OF STRADDLING FISH STOCKS AND
HIGHLY MIGRATORY FISH STOCKS
The States Parties to this Agreement,
Recalling the relevant provisions of the United Nations Convention on the Law of the
Sea of 10 December 1982,
Determined to ensure the long-term conservation and sustainable use of straddling
fish stocks and highly migratory fish stocks,
Resolved to improve cooperation between States to that end,
Calling for more effective enforcement by flag States, port States and coastal States
of the conservation and management measures adopted for such stocks,
Seeking to address in particular the problems identified in chapter 17, programme
area C, of Agenda 21 adopted by the United Nations Conference on Environment
and Development, namely, that the management of high seas fisheries is
inadequate in many areas and that some resources are overutilized; noting
that there are prob/ems of unregulated fishing, over-capita/ization, excessive
fleet size, vessel reflagging to escape controls, insufficiently selective gear,
unreliable databases and lack of sufficient cooperation between States,
Committing themselves to responsible fisheries,
Conscious of the need to avoid adverse impacts on the marine environment, preserve
biodiversity, maintain the integrity of marine ecosystems and minimize the risk
of long-term or irreversible effects of fishing operations,
Recognizing the need for specific assistance, including financial, scientific and
technological assistance, in order that developing States can participate
effectively in the conservation, management and sustainabe use of straddling
fish stocks and highly migratory fish stocks,
15
16
Convinced that an agreement for the implementation of the relevant provisions of the
Convention would best serve these purposes and contribute to the maintenance
of international peace and security,
Affirming that matters not regulated by the Convention or by this Agreement continue
to be governed by the rules and principles of general international law, Have
agreed as follows:
PART I
GENERAL PROVISIONS
Article 1
Use of terms and scope
1. For the purposes of this Agreement:
(a) “Convention” means the United Nations Convention on the Law of the Sea of
10 December 1982;
(b) “conservation and management measures” means measures to conserve and
manage one or more species of living marine resources that are adopted and
applied consistent with the relevant rules of international law as reflected
in the Convention and this Agreement;
(c) “fish” includes molluscs and crustaceans except those belonging to sedentary
species as defined in article 77 of the Convention; and
(d) “arrangement” means a cooperative mechanism established in accordance
with the Convention and this Agreement by two or more States for the
purpose, inter alia, of establishing conservation and management measures
in a subregion or region for one or more straddling fish stocks or highly
migratory fish stocks.
2. (a) “States Parties” means States which have consented to be bound by this
Agreement and for which the Agreement is in force.
(b) This Agreement applies mutatis mutandis:
(i) to any entity referred to in article 305, paragraph 1 (c), (d) and (e), of
the Convention and
(ii) subject to article 47, to any entity referred to as an “international
organization” in Annex IX, article 1, of the Convention which becomes
a Party to this Agreement, and to that extent “States Parties” refers to
those entities.
17
3. This Agreement applies mutatis mutandis to other fishing entities whose vessels
fish on the high seas.
Article 2
Objective
The objective of this Agreement is to ensure the long-term conservation and
sustainable use of straddling fish stocks and highly migratory fish stocks through
effective implementation of the relevant provisions of the Convention.
Article 3
Application
1.
Unless otherwise provided, this Agreement applies to the conservation and
management of straddling fish stocks and highly migratory fish stocks beyond
areas under national jurisdiction, except that articles 6 and 7 apply also to
the conservation and management of such stocks within areas under national
jurisdiction, subject to the different legal regimes that apply within areas under
national jurisdiction and in areas beyond national jurisdiction as provided for in
the Convention.
2.
In the exercise of its sovereign rights for the purpose of exploring and exploiting,
conserving and managing straddling fish stocks and highly migratory fish stocks
within areas under national jurisdiction, the coastal State shall apply mutatis
mutandis the general principles enumerated in article 5.
3. States shall give due consideration to the respective capacities of developing
States to apply articles 5, 6 and 7 within areas under national jurisdiction and
their need for assistance as provided for in this Agreement. To this end, Part VII
aplies mutatis mutandis in respect of areas under national jurisdiction.
Article 4
Relationship between this Agreement and the Convention
Nothing in this Agreement shall prejudice the rights, jurisdiction and duties of
States under the Convention. This Agreement shall be interpreted and applied in the
context of and in a manner consistent with the Convention.
18
PART II
CONSERVATION AND MANAGEMENT OF STRADDLING FISH STOCKS AND
HIGHLY MIGRATORY FISH STOCKS
Article 5
General principles In order to conserve and manage straddling fish stocks and
highly migratory fish stocks, coastal States and States fishing on the high seas shall,
in giving effect to their duty to cooperate in accordance with the Convention:
(a) adopt measures to ensure long-term sustainability of straddling fish stocks
and highly migratory fish stocks and promote the objective of their optimum
utilization;
(b) ensure that such measures are based on the best scientific evidence available
and are designed to maintain or restore stocks at levels capable of producing
maximum sustainable yield, as qualified by relevant environmental and economic
factors, including the special requirements of developing States, and taking
into account fishing patterns, the interdependence of stocks and any generally
recommended international minimum standards, whether sub­regional, regional
or global;
(c) apply the precautionary approach in accordance with article 6;
(d) assess the impacts of fishing, other human activities and environmental factors
on target stocks and species belonging to the same ecosystem or associated
with or dependent upon the target stocks;
(e) adopt, where necessary, conservation and management measures for species
belonging to the same ecosystem or associated with or dependent upon the
target stocks, with a view to maintaining or restoring populations of such species
above levels at which their reproduction may become seriously threatened;
(f) minimize pollution, waste, discards, catch by lost or abandoned gear, catch
of non-target species, both fish and non-fish species, (hereinafter referred
to as non-target species) and impacts on associated or dependent species,
in particular endangered species, through measures inc/uding, to the extent
practicable, the development and use of selective, environmentally safe and
cost-effective fishing gear and techniques;
(g) protect biodiversity in the marine environment;
(h) take measures to prevent or eliminate overfishing and excess fishing capacity
and to ensure that levels of fishing effort do not exceed those commensurate
with the sustainable use of fishery resources;
19
(i)
take into account the interests of artisanal and subsistence fishers;
(j) collect and share, in a timely manner, complete and accurate data concerning
fishing activities on, inter alia, vessel position, catch of target and non-target
species and fishing effort, as set out in Annex I, as well as information from
national and international research programmes;
(k) promote and conduct scientific research and develop appropriate technologies
in support of fishery conservation and management; and
(l) implement and enforce conservation and management measures through
effective monitoring, control and management measures through effective
monitoring, control and surveillance
Article 6
Application of the precautionary approach
1.
States shall apply the precautionary approach widely to conservation,
management and exploitation of straddling fish stocks and highly migratory fish
stocks in order to protect the living marine resources and preserve the marine
environment.
2.
States shall be more cautious when information is uncertain, unreliable or
inadequate. The absence of adequate scientific information shall not be used
as a reason for postponing or failing to take conservation and management
measures.
3. In implementing the precautionary approach, States shall:
(a) improve decision-making for fishery resource conservation and management
by obtaining and sharing the best scientific information available and
implementing improved techniques for dealing with risk and uncertainty;
(b) app/y the guidelines set out in Annex II and determine, on the basis of the
best scientific information available, stock-specific reference points and
the action to be taken if they are exceeded;
(c) take into account, inter alia, uncertainties relating to the size and
productivity of the stocks, reference points, stock condition in relation
to such reference points, levels and distribution of fishing mortality and
the impact of fishing activities on non-target and associated or dependent
species, as wel as existing and predicted oceanic, environmental and socio­
economic conditions; and
20
(d) develop data collection and research programmes to assess the impact
of fishing on non-target and associated or dependent species and their
environment, and adopt plans which are necessary to ensure the conservation
of such species and to protect habitats of special concern.
4.
States shall take measures to ensure that, when reference points are approached,
they will not be exceeded. In the event that they are exceeded, States shall,
without delay, take the action determined under paragraph 3 (b) to restore the
stocks.
5.
Where the status of target stocks or non-target or associated or dependent
species is of concern, States shall subject such stocks and species to enhanced
monitoring in order to review their status and the efficacy of conservation and
management measures. They shall revise those measures regularly in the light
of new information.
6.
For new or exploratory fisheries, States shall adopt as soon as possible cautious
conservation and management measures, including, inter a/ia, catch limits and
effort limits. Such measures shall remain in force until there are sufficient data
to allow assessment of the impact of the fisheries on the long-term sustainability
of the stocks, whereupon conservation and management measures based on that
assessment shall be implemented. The latter measures shall, if appropriate,
allow for the gradual development of the fisheries.
7.
If a natural phenomenon has a significant adverse impact on the status of straddling
fish stocks or highly migratory fish stocks, States shall adopt conservation and
management measures on an emergency basis to ensure that fishing activity
does not exacerbate such adverse impact. States shall also adopt such measures
on an emergency basis where fishing activity presents a serious threat to the
sustainability of such stocks. Measures taken on an emergency basis shall be
temporary and shall be based on the best scientific evidence available.
Article 7
Compatibility of conservation and management measures
1. Without prejudice to the sovereign rights of coastal States for the purpose of
exploring and exploiting, conserving and managing the living marine resources
within areas under national jurisdiction as provided for in the Convention, and
the right of all States for their nationals to engage in fishing on the high seas in
accordance with the Convention:
21
(a) with respect to straddling fish stocks, the relevant coastal States and the
States whose nationals fish for such stocks in the adjacent high seas area
shall seek, either directly or through the appropriate mechanisms for
cooperation provided for in Part III, to agree upon the measures necessary
for the conservation of these stocks in the adjacent high seas area;
(b) with respect to highly migratory fish stocks, the re/evant coastal States
and other States whose nationals fish for such stocks in the region shall
cooperate, either directly or through the appropriate mechanisms for
cooperation provided for in Part III, with a view to ensuring conservation and
promoting the objective of optimum utilization of such stocks throughout
the region, both within and beyond the areas under national jurisdiction.
2. Conservation and management measures established for the high seas and those
adopted for areas under national jurisdiction shall be compatible in order to
ensure conservation and management of the straddling fish stocks and high/y
migratory fish stocks in their entirety. To this end, coastal States and States
fishing on the high seas have a duty to cooperate for the purpose of achieving
compatible measures in respect of such stocks. In determining compatible
conservation and management measures, States shall:
(a) take into account the conservation and management measures adopted and
applied in accordance with article 61 of the Convention in respect of the
same stocks by coastal States within areas under national jurisdiction and
ensure that measures established in respect of such stocks for the high seas
do not undermine the effectiveness of such measures;
(b) take into account previously agreed measures established and applied for
the high seas in accordance with the Convention in respect of the same
stocks by relevant coastal States and States fishing on the high seas;
(c) take into account previously agreed measures established and applied in
accordance with the Convention in respect of the same stocks by a sub­
regional or regional fisheries management organization or arrangement;
(d) take into account the biological unity and other biological characteristics
of the stocks and the relationships between the distribution of the stocks,
the fisheries and the geographical particularities of the region concerned,
including the extent to which the stocks occur and are fished in areas under
national jurisdiction;
(e) take into account the respective dependence of the coastal States and the
States fishing on the high seas on the stocks concerned; and
22
(f) ensure that such measures do not resu/t in harmful impact on the living
marine resources as a whole.
3. In giving effect to their duty to cooperate, States shall make every effort to agree
on compatible conservation and management measures within a reasonable
period of time.
4. If no agreement can be reached within a reasonable period of time, any of the
States concerned may invoke the procedures for the settlement of disputes
provided for in Part VIII.
5.
Pending agreement on compatible conservation and management measures,
the States concerned, in a spirit of understanding and cooperation, shall make
every effort to enter into provisional arrangements of a practical nature. In the
event that they are unable to agree on such arrangements, any of the States
concerned may, for the purpose of obtaining provisional measures, submit
the dispute to a court or tribunal in accordance with the procedures for the
settlement of disputes provided for in Part VIII.
6.
Provisional arrangements or measures entered into or prescribed pursuant to
paragraph 5 shall take into account the provisions of this Part, shall have due
regard to the rights and obligations of all States concerned, shall not jeopardize
or hamper the reaching of final agreement on compatible conservation and
management measures and shall be without prejudice to the final outcome of
any dispute settlement procedure.
7.
Coastal States shall regularly inform States fishing on the high seas in the
subregion or region, either directly or through appropriate sub-regional or
regional fisheries management organizations or arrangements, or through other
appropriate means, of the measures they have adopted for straddling fish stocks
and highly migratory fish stocks within areas under their national jurisdiction.
8.
States fishing on the high seas shall regularly inform other interested States, either
directly or through appropriate sub-regional or regional fisheries management
organizations or arrangements, or through other appropriate means, of the
measures they have adopted for regulating the activities of vessels flying their
flag which fish for such stocks on the high seas.
23
PART III
MECHANISMS FOR INTERNATIONAL COOPERATION CONCERNING
STRADDLING FISH STOCKS AND HIGHLY MIGRATORY
FISH STOCKS
Article 8
Cooperation for conservation and management
1.
Coastal States and States fishing on the high seas shall, in accordance with
the Convention, pursue cooperation in relation to straddling fish stocks and
highly migratory fish stocks either directly or through appropriate sub-regional
or regional fisheries management organizations or arrangements, taking into
account the specific characteristics of the sub-region or region, to ensure
effective conservation and management of such stocks.
2.
States shall enter into consultations in good faith and without delay, particularly
where there is evidence that the straddling fish stocks and highly migratory fish
stocks concerned may be under threat of over-exploitation or where a new
fishery is being developed for such stocks. To this end, consultations may be
initiated at the request of any interested State with a view to establishing
appropriate arrangements to ensure conservation and management of the
stocks. Pending agreement on such arrangements, States shall observe the
provisions of this Agreement and shall act in good faith and with due regard to
the rights, interests and duties of other States.
3.
Where a sub-regional or regional fisheries management organization or
arrangement has the competence to establish conservation and management
measures for particular straddling fish stocks or highly migratory fish stocks,
States fishing for the stocks on the high seas and relevant coastal States shall give
effect to their duty to cooperate by becoming members of such organization or
participants in such arrangement, or by agreeing to apply the conservation and
management measures established by such organization or arrangement. States
having a real interest in the fisheries concerned may become members of such
organization or participants in such arrangement. The terms of participation
in such organization or arrangement shall not preclude such States from
membership or participation; nor shall they be applied in a manner which
discriminates against any State or group of States having a real interest in the
fisheries concerned.
24
4.
Only those States which are members of such an organization or participants in
such an arrangement, or which agree to apply the conservation and management
measures established by such organization or arrangement, shall have access to
the fishery resources to which those measures apply.
5.
Where there is no sub-regional or regional fisheries management organization
or arrangement to establish conservation and management measures for a
particular straddling fish stock or highly migratory fish stock, relevant coastal
States and States fishing on the high seas for such stock in the subregion or
region shall cooperate to establish such an organization or enter into other
appropriate arrangements to ensure conservation and management of such
stock and shall participate in the work of the organization or arrangement.
6.
Any State intending to propose that action be taken by an intergovernmental
organization having competence with respect to living resources should, where
such action would have a significant effect on conservation and management
measures already established by a competent sub-regional or regional fisheries
management organization or arrangement, consult through that organization or
arrangement with its members or participants. To the extent practicable, such
consultation should take place prior to the submission of the proposal to the
intergovernmental organization.
Article 9
Sub-regional and regional fisheries management organizations
and arrangements
1. In establishing sub-regional or regional fisheries management organizations or
in entering into sub-regional or regional fisheries management arrangements
for straddling fish stocks and highly migratory fish stocks, States shall agree,
inter alia, on:
(a) the stocks to which conservation and management measures apply, taking
into account the biological characteristics of the stocks concerned and the
nature of the fisheries involved;
(b) the area of application, taking into account article 7, paragraph 1, and
the characteristics of the sub-region or region, including socio-economic,
geographical and environmental factors;
(c) the relationship between the work of the new organization or arrangement
and the ro/e, objectives and operations of any relevant existing fisheries
management organizations or arrangements; and
25
(d) the mechanisms by which the organization or arrangement will obtain
scientific advice and review the status of the stocks, inc/uding, where
appropriate, the establishment of a scientific advisory body.
2. States cooperating in the formation of a sub-regional or regional fisheries
management organization or arrangement shall inform other States which they
are aware have a real interest in the work of the proposed organization or
arrangement of such cooperation.
Article 10
Functions of sub-regional and regional fisheries management
organizations and arrangements
In fulfilling their obligation to cooperate through sub-regional or regional
fisheries management organizations or arrangements, States shall:
(a) agree on and comply with conservation and management measures to ensure
the long-term sustainability of straddling fish stocks and highly migratory fish
stocks;
(b) agree, as appropriate, on participatory rights such as allocations of allowable
catch or levels of fishing effort;
(c) adopt and apply any generally recommended international minimum standards
for the responsible conduct of fishing operations;
(d) obtain and evaluate scientific advice, review the status of the stocks and assess
the impact of fishing on non-target and associated or dependent species;
(e) agree on standards for collection, reporting, verification and exchange of data
on fisheries for the stocks;
(f) compile and disseminate accurate and complete statistical data, as described
in Annex I, to ensure that the best scientific evidence is available, while
maintaining confidentiality where appropriate;
(g) promote and conduct scientific assessments of the stocks and relevant research
and disseminate the results thereof;
(h) establish appropriate cooperative mechanisms for effective monitoring, control,
surveillance and enforcement;
(i) agree on means by which the fishing interests of new members of the organization
or new participants in the arrangement will be accommodated;
(j) agree on decision-making procedures which facilitate the adoption of
conservation and management measures in a timely and effective manner;
26
(k) promote the peaceful settlement of disputes in accordance with Part VIII;
(l) ensure the full cooperation of their relevant national agencies and industries
in implementing the recommendations and decisions of the organization or
arrangement; and
(m) give due publicity to the conservation and management measures established
by the organization or arrangement.
Article 11
New members or participants
In determining the nature and extent of participatory rights for new members of
a sub-regional or regional fisheries management organization, or for new participants
in a sub-regional or regional fisheries management arrangement, States shall take
into account, inter alia:
(a) the status of the straddling fish stocks and high/y migratory fish stocks and the
existing level of fishing effort in the fishery;
(b) the respective interests, fishing patterns and fishing practices of new and
existing members or participants;
(c) the respective contributions of new and existing members or participants to
conservation and management of the stocks, to the collection and provision of
accurate data and to the conduct of scientific research on the stocks;
(d) the needs of coastal fishing communities which are dependent mainly o fishing
for the stocks;
(e) the needs of coastal States whose economies are overwhelmingly dependent o
the exp/oitation of living marine resources; and
(f) the interests of developing States from the sub-region or region in whose areas
of national jurisdiction the stocks also occur.
Article 12
Transparency in activities of sub-regional and regional fisheries
management organizations and arrangements
1.
States shall provide for transparency in the decision- making process and other
activities of sub-regional and regional fisheries management organizations and
arrangements.
2.
Representatives from other intergovernmental organizations and representatives
from non-governmental organizations concerned with straddling fish stocks and
27
highly migratory fish stocks shall be afforded the opportunity to take part in
meetings of sub-regional and regional fisheries management organizations and
arrangements as observers or otherwise, as appropriate, in accordance with the
procedures of the organization or arrangement concerned. Such procedures shall
not be unduly restrictive in this respect. Such intergovernmental organizations
and non-governmental organizations shall have timely access to the records and
reports of such organizations and arrangements, subject to the procedural rules
on access to them.
Article 13
Strengthening of existing organizations and arrangements
States shallcooperate to strengthen existing sub-regional and regional fisheries
management organizations and arrangements in order to improve their effectiveness
in establishing and implementing conservation and management measures for
straddling fish stocks and highly migratory fish stocks.
Article 14
Collection and provision of information and cooperation
in scientific research
1. States shall ensure that fishing vessels flying their flag provide such information
as may be necessary in order to fulfill their obligations under this Agreement.
To this end, States shall in accordance with Annex I:
(a) collect and exchange scientific, technical and statistical data with respect
to fisheries for straddling fish stocks and highly migratory fish stocks;
(b) ensure that data are collected in sufficient detail to facilitate effective
stock assessment and are provided in a timely manner to fulfill the
requirements of sub-regional or regional fisheries management organizations
or arrangements; and
(c) take appropriate measures to verify the accuracy of such data.
2. States shall cooperate, either directly or through sub-regional or regional
fisheries management organizations or arrangements:
(a) to agree on the specification of data and the format in which they are to
be provided to such organizations or arrangements, taking into account the
nature of the stocks and the fisheries for those stocks; and
28
(b) to develop and share analytical techniques and stock assessment
methodologies to improve measures for the conservation and management
of straddling fish stocks and highly migratory fish stocks.
3. Consistent with Part XIII of the Convention, States shall cooperate, either directly
or through competent international organizations, to strengthen scientific
research capacity in the field of fisheries and promote scientific research
related to the conservation and management of straddling fish stocks and highly
migratory fish stocks for the benefit of all. To this end, a State or the competent
international organization conducting such research beyond areas under national
jurisdiction shall actively promote the publication and dissemination to any
interested States of the results of that research and information relating to
its objectives and methods and, to the extent practicable, shall facilitate the
participation of scientists from those States in such research.
Article 15
Enclosed and semi-enclosed seas
In implementing this Agreement in an enclosed or semi-enclosed sea, States
shall take into account the natural characteristics of that sea and shall also act in
a manner consistent with Part IX of the Convention and other relevant provisions
thereof.
Article 16
Areas of high seas surrounded entirely by an area under
the national jurisdiction of a single State
1.
States fishing for straddling fish stocks and highly migratory fish stocks in an area
of the high seas surrounded entirely by an area under the national jurisdiction
of a single State and the/atter State shall cooperate to establish conservation
and management measures in respect of those stocks in the high seas area.
Having regard to the natural characteristics of the area, States shall pay special
attention to the establishment of compatible conservation and management
measures for such stocks pursuant to article 7. Measures taken in respect of the
high seas shall take into account the rights, duties and interests of the coastal
State under the Convention, shall be based on the best scientific evidence
available and shall also take into account any conservation and management
measures adopted and applied in respect of the same stocks in accordance with
article 61 of the Convention by the coastal State in the area under national
29
jurisdiction. States shall also agree on measures for monitoring, control,
surveillance and enforcement to ensure compliance with the conservation and
management measures in respect of the high seas.
2.
Pursuant to article 8, States shall act in good faith and make every effort to
agree without delay on conservation and management measures to be applied
in the carrying out of fishing operations in the area referred to in paragraph
1. If, within a reasonable period of time, the fishing States concerned and the
coastal State are unab/e to agree on such measures, they shall, having regard
to paragraph 1, apply article 7, paragraphs 4, 5 and 6, relating to provisional
arrangements or measures. Pending the establishment of such provisional
arrangements or measures, the States concerned shall take measures in respect
of vessels flying their flag in order that they not engage in fisheries which could
undermine the stocks concerned.
PART IV
NON-MEMBERS AND NON-PARTICIPANTS
Article 17
Non-members of organizations and non-participants
in arrangements
1.
A State which is not a member of a sub-regional or regional fisheries management
organization or is not a participant in a sub-regional or regional fisheries
management arrangement, and which does not otherwise agree to apply the
conservation and management measures established by such organization or
arrangement, is not discharged from the obligation to cooperate, in accordance
with the Convention and this Agreement, in the conservation and management
of the relevant stradd/ing fish stocks and highly migratory fish stocks.
2.
Such State shall not authorize vessels flying its flag to engage in fishing operations
for the straddling fish stocks or highly migratory fish stocks which are subject to
the conservation and management measures established by such organization
or arrangement.
3.
States which are members of a sub-regional or regional fisheries management
organization or participants in a sub-regional or regional fisheries management
arrangement shall, individually or jointly, request the fishing entities referred
to in article 1, paragraph 3, which have fishing vessels in the relevant area
to cooperate fully with such organization or arrangement in implementing
30
the conservation and management measures it has established, with a view
to having such measures applied de facto as extensively as possible to fishing
activities in the relevant area. Such fishing entities shall enjoy benefits from
participation in the fishery commensurate with their commitment to comply
with conservation and management measures in respect of the stocks.
4.
States which are members of such organization or participants in such
arrangement shall exchange information with respect to the activities of fishing
vessels flying the flags of States which are neither members of the organization
nor participants in the arrangement and which are engaged in fishing operations
for the relevant stocks. They shall take measures consistent with this Agreement
and international law to deter activities of such vessels which undermine
the effectiveness of sub-regional or regional conservation and management
measures.
PART V
DUTIES OF THE FLAG STATE
Article 18
Duties of the flag State
1. A State whose vessels fish on the high seas shall take such measures as may be
necessary to ensure that vessels flying its flag comply with sub-regional and
regional conservation and management measures and that such vessels do not
engage in any activity which undermines the effectiveness of such measures.
2.
A State shall authorize the use of vessels flying its flag for fishing on the high
seas only where it is able to exercise effectively its responsibilities in respect
of such vessels under the Convention and this Agreement.
3.
Measures to be taken by a State in respect of vessels flying its flag shall
include:
(a) control of such vessels on the high seas by means of fishing licenses,
authorizations or permits, in accordance with any applicable procedures
agreed at the sub-regional, regional or global level;
(b) establishment of regulations:
(ii) to apply terms and conditions to the license, authorization or permit
sufficient to fulfill any sub-regional, regional or global obligations of
the flag State;
31
(iii)to prohibit fishing on the high seas by vessels which are not duly licensed
or authorized to fish, or fishing on the high seas by vessels otherwise than
in accordance with the terms and conditions of a license, authorization
or permit;
(iv) to require vessels fishing on the high seas to carry the license,
authorization or permit on board at all times and to produce it on
demand for inspection by a duly authorized person; and
(v) to ensure that vessels flying its flag do not conduct unauthorized fishing
within areas under the national jurisdiction of other States;
(c) establishment of a national record of fishing vessels authorized to fish on
the high seas and provision of access to the information contained in that
record on request by directly interested States, taking into account any
national laws of the flag State regarding the release of such information;
(d) requirements for marking of fishing vessels and fishing gear for identification
in accordance with uniform and internationally recognizable vessel and
gear marking systems, such as the Food and Agriculture Organization of the
United Nations Standard Specifications for the Marking and Identification of
Fishing Vessels;
(e) requirements for recording and timely reporting of vessel position, catch
of target and non-target species, fishing effort and other relevant fisheries
data in accordance with sub-regional, regional and global standards for
collection of such data;
(f) requirements for verifying the catch of target and non-target species
through such means as observer programmes, inspection schemes, unloading
reports, supervision of transshipment and monitoring of landed catches and
market statistics;
(g) monitoring, control and surveillance of such vessels, their fishing operations
and related activities by, inter alia:
(i) the implementation of national inspection schemes and sub-regional
and regional schemes for cooperation in enforcement pursuant to
articles 21 and 22, including requirements for such vessels to permit
access by duly authorized inspectors from other States;
(ii) the implementation of national observer programmes and subregional and regional observer programmes in which the flag State is a
participant, including requirements for such vessels to permit access
32
by observers from other States to carry out the functions agreed under
the programmes; and
(iii) the development and implementation of vessel monitoring systems,
including, as appropriate, satellite transmitter systems, in accordance
with any national programmes and those which have been sub­regionally,
regionally or globally agreed among the States concerned;
(h)regulation of transshipment on the high seas to ensure that the effectiveness
of conservation and management measures is not undermined; and
(i) regulation of fishing activities to ensure compliance with sub-regional,
regional or global measures, including those aimed at minimizing catches
of non-target species.
4. Where there is a sub-regionally, regionally or globally agreed system of
monitoring, control and surveillance in effect, States shall ensure that the
measures they impose on vessels flying their flag are compatible with that
system.
PART VI
COMPLIANCE AND ENFORCEMENT
Article 19
Compliance and enforcement by the flag State
1. A State shall ensure compliance by vessels flying its flag with sub-regional and
regional conservation and management measures for straddling fish stocks and
highly migratory fish stocks. To this end, that State shall:
(a) enforce such measures irrespective of where violations occur;
(b) investigate immediately and fully any alleged violation of sub-regional or
regional conservation and management measures, which may include the
physical inspection of the vessels concerned, and report promptly to the State
alleging the violation and the relevant sub-regional or regional organization
or arrangement on the progress and outcome of the investigation;
(c) require any vessel flying its flag to give information to the investigating
authority regarding vessel position, catches, fishing gear, fishing operations
and related activities in the area of an alleged violation;
(d) if satisfied that sufficient evidence is available in respect of an alleged
violation, refer the case to its authorities with a view to instituting
33
proceedings without delay in accordance with its laws and, where
appropriate, detain the vessel concerned; and
(e) ensure that, where it has been established, in accordance with its laws, a
vessel has been involved in the commission of a serious violation of such
measures, the vessel does not engage in fishing operations on the high seas
until such time as all outstanding sanctions imposed by the flag State in
respect of the vio/ation have been complied with.
2. All investigations and judicial proceedings shall be carried out expeditiously.
Sanctions applicable in respect of violations shall be adequate in severity to
be effective in securing compliance and to discourage violations wherever they
occur and shall deprive offenders of the benefits accruing from their illegal
activities. Measures applicable in respect of masters and other officers of
fishing vessels shall include provisions which may permit, inter alia, refusal,
withdrawal or suspension of authorizations to serve as masters or officers on
such vessels.
Article 20
International cooperation in enforcement
1.
States shall cooperate, either directly or through sub-regional or regional
fisheries management organizations or arrangements, to ensure compliance with
and enforcement of sub-regional and regiona/ conservation and management
measures for straddling fish stocks and highly migratory fish stocks.
1.
A flag State conducting an investigation of an alleged violation of conservation
and management measures for straddling fish stocks or highly migratory fish
stocks may request the assistance of any other State whose cooperation
may be useful in the conduct of that investigation. All States shall endeavor
to meet reasonable requests made by a flag State in connection with such
investigations.
3. A flag State may undertake such investigations directly, in cooperation with
other interested States or through the relevant sub-regional or regional fisheries
management organization or arrangement. Information on the progress and
outcome of the investigations shall be provided to all States having an interest
in, or affected by, the alleged violation.
4.
States shall assist each other in identifying vessels reported to have engaged
in activities undermining the effectiveness of sub-regional, regional or global
conservation and management measures.
34
5.
States shall, to the extent permitted by national laws and regulations, establish
arrangements for making available to prosecuting authorities in other States
evidence relating to alleged violations of such measures.
6. Where there are reasonable grounds for believing that a vessel on the high seas
has been engaged in unauthorized fishing within an area under the jurisdiction
of a coastal State, the flag State of that vessel, at the request of the coastal
State concerned, shall immediately and fully investigate the matter. The flag
State shall cooperate with the coastal State in taking appropriate enforcement
action in such cases and may authorize the relevant authorities of the coastal
State to board and inspect the vessel on the high seas. This paragraph is without
prejudice to article 111 of the Convention.
7. States Parties which are members of a sub-regional or regional fisheries
management organization or participants in a sub-regional or regional fisheries
management arrangement may take action in accordance with international law,
including through recourse to sub-regional or regional procedures established for
this purpose, to deter vessels which have engaged in activities which undermine
the effectiveness of or otherwise violate the conservation and management
measures established by that organization or arrangement from fishing on the
high seas in the sub-region or region until such time as appropriate action is
taken by the flag State.
Article 21
Sub-regional and regional cooperation in enforcement
1.
In any high seas area covered by a sub-regional or regional fisheries management
organization or arrangement, a State Party which is a member of such organization
or a participant in such arrangement may, through its duly authorized inspectors,
board and inspect, in accordance with paragraph 2, fishing vessels flying the
flag of another State Party to this Agreement, whether or not such State Party is
also a member of the organization or a participant in the arrangement, for the
purpose of ensuring compliance with conservation and management measures
for straddling fish stocks and highly migratory fish stocks established by that
organization or arrangement.
2.
States shall establish, through sub-regional or regional fisheries management
organizations or arrangements, procedures for boarding and inspection pursuant
to paragraph 1, as well as procedures to implement other provisions of this
article. Such procedures shall be consistent with this article and the basic
35
procedures set out in article 22 and shall not discriminate against non­members
of the organization or non-participants in the arrangement. Boarding and
inspection as well as any subsequent enforcement action shall be conducted in
accordance with such procedures. States shall give due publicity to procedures
established pursuant to this paragraph.
3.
If, within two years of the adoption of this Agreement, any organization or
arrangement has not established such procedures, boarding and inspection
pursuant to paragraph 1, as well as any subsequent enforcement action, shall,
pending the establishment of such procedures, be conducted in accordance
with this article and the basic procedures set out in article 22.
4.
Prior to taking action under this article, inspecting States shall, either directly or
through the relevant sub-regional or regional fisheries management organization
or arrangement, inform all States whose vessels fish on the high seas in the subregion or region of the form of identification issued to their duly authorized
inspectors. The vessels used for boarding and inspection shall be clearly marked
and identifiable as being on government service. At the time of becoming a
Party to this Agreement, a State shall designate an appropriate authority to
receive notifications pursuant to this article and shall give due publicity of such
designation through the relevant sub-regional or regional fisheries management
organization or arrangement.
5.
Where, following a boarding and inspection, there are clear grounds for
believing that a vessel has engaged in any activity contrary to the conservation
and management measures referred to in paragraph 1, the inspecting State
shall, where appropriate, secure evidence and shall promptly notify the flag
State of the alleged violation.
6.
The flag State shall respond to the notification referred to in paragraph 5 within
three working days of its receipt, or such other period as may be prescribed in
procedures estab/ished in accordance with paragraph 2, and shall either:
(a) fulfill, without delay, its obligations under article 19 to investigate and, if
evidence so warrants, take enforcement action with respect to the vessel,
in which case it shall promptly inform the inspecting State of the results of
the investigation and of any enforcement action taken; or
(b) authorize the inspecting State to investigate.
7.
Where the flag State authorizes the inspecting State to investigate an alleged
violation, the inspecting State shall, without delay, communicate the results
of that investigation to the flag State. The flag State shall, if evidence so
36
warrants, fulfill its obligations to take enforcement action with respect to
the vessel. Alternatively, the flag State may authorize the inspecting State to
take such enforcement action as the flag State may specify with respect to the
vessel, consistent with the rights and obligations of the flag State under this
Agreement.
8.
Where, following boarding and inspection, there are clear grounds for believing
that a vessel has committed a serious violation, and the flag State has either
failed to respond or failed to take action as required under paragraphs 6 or
7, the inspectors may remain on board and secure evidence and may require
the master to assist in further investigation inc/uding, where appropriate, by
bringing the vessel without delay to the nearest appropriate port, or to such
other port as may be specified in procedures established in accordance with
paragraph 2. The inspecting State shall immediately inform the flag State of the
name of the port to which the vessel is to proceed. The inspecting State and
the flag State and, as appropriate, the port State shall take all necessary steps
to ensure the well-being of the crew regardless of their nationality.
9.
The inspecting State shall inform the flag State and the relevant organization
or the participants in the relevant arrangement of the results of any further
investigation.
10. The inspecting State shall require its inspectors to observe generally accepted
international regulations, procedures and practices relating to the safety of
the vessel and the crew, minimize interference with fishing operations and, to
the extent practicable, avoid action which wou/d adversely affect the quality
of the catch on board. The inspecting State shall ensure that boarding and
inspection is not conducted in a manner that would constitute harassment of
any fishing vessel.
11. For the purposes of this article, a serious violation means:
(a) fishing without a valid license, authorization or permit issued by the flag
State in accordance with article 18, paragraph 3 (a);
(b) failing to maintain accurate records of catch and catch-related data, as
required by the relevant sub-regional or regional fisheries management
organization or arrangement, or serious misreporting of catch, contrary to
the catch reporting requirements of such organization or arrangement;
(c) fishing in a closed area, fishing during a closed season or fishing without,
or after attainment of, a quota established by the relevant sub-regional or
regional fisheries management organization or arrangement;
37
(d) directed fishing for a stock which is subject to a moratorium or for which
fishing is prohibited;
(e) using prohibited fishing gear;
(f) falsifying or concealing the markings, identity or registration of a fishing
vessel;
(g) concealing, tampering with or disposing of evidence relating to an
investigation;
(h) multiple violations which together constitute a serious disregard of
conservation and management measures; or
(i) such other violations as may be specified in procedures established by the
re/evant sub-regional or regional fisheries management organization or
arrangement.
12. Notwithstanding the other provisions of this article, the flag State may, at any
time, take action to fulfill its obligations under article 19 with respect to an
alleged violation. Where the vessel is under the direction of the inspecting
State, the inspecting State shall, at the request of the flag State, release the
vessel to the flag State along with full information on the progress and outcome
of its investigation.
13. This article is without prejudice to the right of the flag State to take any
measures, including proceedings to impose penalties, according to its laws.
13. This article applies mutatis mutandis to boarding and inspection by a State
Party which is a member of a sub-regional or regional fisheries management
organization or a participant in a sub-regional or regional fisheries management
arrangement and which has clear grounds for believing that a fishing vessel
flying the flag of another State Party has engaged in any activity contrary to
relevant conservation and management measures referred to in paragraph 1 in
the high seas area covered by such organization or arrangement, and such vessel
has subsequently, during the same fishing trip, entered into an area under the
national jurisdiction of the inspecting State.
15. Where a sub-regional or regional fisheries management organization or
arrangement has established an alternative mechanism which effectively
discharges the obligation under this Agreement of its members or participants to
ensure compliance with the conservation and management measures established
by the organization or arrangement, members of such organization or participants
in such arrangement may agree to limit the application of paragraph 1 as
38
between themselves in respect of the conservation and management measures
which have been established in the relevant high seas area.
16. Action taken by States other than the flag State in respect of vessels having
engaged in activities contrary to sub-regional or regional conservation and
management measures shall be proportionate to the seriousness of the
violation.
16. Where there are reasonable grounds for suspecting that a fishing vessel on the
high seas is without nationa/ity, a State may board and inspect the vessel. Where
evidence so warrants, the State may take such action as may be appropriate in
accordance with international law.
18. States shall be liable for damage or loss attributable to them arising from action
taken pursuant to this article when such action is unlawful or exceeds that
reasonably required in the light of available information to implement the
provisions of this article.
Article 22
Basic procedures for boarding and inspection pursuant
to article 21
1. The inspecting State shall ensure that its duly authorized inspectors:
(a) present credentials to the master of the vessel and produce a copy of the
text of the relevant conservation and management measures or rules and
regulations in force in the high seas area in question pursuant to those
measures;
(b) initiate notice to the flag State at the time of the boarding and
inspection;
(c) do not interfere with the master’s ability to communicate with the authorities
of the flag State during the boarding and inspection;
(d) provide a copy of a report on the boarding and inspection to the master
and to the authorities of the flag State, noting therein any objection or
statement which the master wishes to have inc/uded in the report;
(e) promptly leave the vessel following comp/etion of the inspection if they
find no evidence of a serious vio/ation; and
(f) avoid the use of force except when and to the degree necessary to ensure
the safety of the inspectors and where the inspectors are obstructed in the
execution of their duties. The degree of force used shall not exceed that
reasonably required in the circumstances.
39
2.
The duly authorized inspectors of an inspecting State shall have the authority
to inspect the vessel, its license, gear, equipment, records, facilities, fish and
fish products and any relevant documents necessary to verify compliance with
the relevant conservation and management measures.
3.
The flag State shall ensure that vessel masters:
(a) accept and facilitate prompt and safe boarding by the inspectors;
(b) cooperate with and assist in the inspection of the vessel conducted pursuant
to these procedures;
(c) do not obstruct, intimidate or interfere with the inspectors in the
performance of their duties;
(d) allow the inspectors to communicate with the authorities of the flag State
and the inspecting State during the boarding and inspection;
(e) provide reasonable facilities, including, where appropriate, food and
accommodation, to the inspectors; and
(f) facilitate safe disembarkation by the inspectors.
4.
In the event that the master of a vessel refuses to accept boarding and inspection
in accordance with this article and article 21, the flag State shall, except in
circumstances where, in accordance with generaly accepted international
regulations, procedures and practices relating to safety at sea, it is necessary
to delay the boarding and inspection, direct the master of the vessel to submit
immediately to boarding and inspection and, if the master does not comply with
such direction, shall suspend the vessel’s authorization to fish and order the
vessel to return immediately to port. The flag State shall advise the inspecting
State of the action it has taken when the circumstances referred to in this
paragraph arise.
Article 23
Measures taken by a port State
1.
A port State has the right and the duty to take measures, in accordance with
international law, to promote the effectiveness of sub-regional, regional and
global conservation and management measures. When taking such measures a
port State shall not discriminate in form or in fact against the vessels of any
State.
2.
A port State may, inter alia, inspect documents, fishing gear and catch on board
fishing vessels, when such vessels are voluntarily in its ports or at its offshore
terminals.
40
3. States may adopt regulations empowering the relevant national authorities to
prohibit landings and transshipments where it has been established that the
catch has been taken in a manner which undermines the effectiveness of sub­
regional, regional or global conservation and management measures on the high
seas.
4.
Nothing in this article affects the exercise by States of their sovereignty over
ports in their territory in accordance with international law.
PART VII
REQUIREMENTS OF DEVELOPING STATES
Article 24
Recognition of the special requirements of developing States
1.
States shall give full recognition to the special requirements of developing
States in relation to conservation and management of straddling fish stocks and
highly migratory fish stocks and development of fisheries for such stocks. To this
end, States shall, either directly or through the United Nations Development
Programme, the Food and Agriculture Organization of the United Nations and
other specialized agencies, the Global Environment Facility, the Commission
on Sustainable Development and other appropriate international and regional
organizations and bodies, provide assistance to developing States.
2.
In giving effect to the duty to cooperate in the establishment of conservation
and management measures for straddling fish stocks and highly migratory fish
stocks, States shall take into account the special requirements of developing
States, in particular:
(a) the vulnerability of developing States which are dependent on the
exploitation of living marine resources, including for meeting the nutritional
requirements of their populations or parts thereof;
(b) the need to avoid adverse impacts on, and ensure access to fisheries by,
subsistence, small-scale and artisanal fishers and women fish-workers, as
well as indigenous people in deve/oping States, particularly small island
developing States; and
(c) the need to ensure that such measures do not result in transferring,
directly or indirectly, a disproportionate burden of conservation action onto
developing States.
41
Article 25
Forms of cooperation with developing States
1. States shall cooperate, either directly or through sub-regional, regional or
global organizations:
(a) to enhance the ability of developing States, in particular the least­developed
among them and smal island developing States, to conserve and manage
straddling fish stocks and highly migratory fish stocks and to develop their
own fisheries for such stocks;
(b) to assist developing States, in particular the least-developed among them
and small island developing States, to enable them to participate in high
seas fisheries for such stocks, including facilitating access to such fisheries
subject to articles 5 and 11; and
(c) to facilitate the participation of developing States in sub-regional and
regional fisheries management organizations and arrangements.
2.
Cooperation with developing States for the purposes set out in this article
shall include the provision of financial assistance, assistance relating to human
resources development, technical assistance, transfer of technology, including
through joint venture arrangements, and advisory and consultative services.
3.
Such assistance shal, inter alia, be directed specifically towards:
(a) improved conservation and management of straddling fish stocks and highly
migratory fish stocks through collection, reporting, verification, exchange
and analysis of fisheries data and related information;
(b) stock assessment and scientific research; and
(c) monitoring, control, surveillance, compliance and enforcement, including
training and capacity-building at the local level, development and funding
of national and regional observer programmes and access to technology and
equipment.
Article 26
Special assistance in the implementation of this Agreement
1. States shall cooperate to establish special funds to assist developing States in
the implementation of this Agreement, including assisting developing States to
meet the costs involved in any proceedings for the settlement of disputes to
which they may be parties.
42
2. States and international organizations should assist developing States in
establishing new sub-regional or regional fisheries management organizations or
arrangements, or in strengthening existing organizations or arrangements, for
the conservation and management of straddling fish stocks and highly migratory
fish stocks.
PART VIII
PEACEFUL SETTLEMENT OF DISPUTES
Article 27
Obligation to settle disputes by peaceful means
States have the obligation to settle their disputes by negotiation, inquiry,
mediation, conciliation, arbitration, judicial settlement, resort to regional agencies
or arrangements, or other peaceful means of their own choice.
Article 28
Prevention of disputes
States shall cooperate in order to prevent disputes. To this end, States shall
agree on efficient and expeditious decision-making procedures within sub-regional and
regional fisheries management organizations and arrangements and shall strengthen
existing decision-making procedures as necessary.
Article 29
Disputes of a technical nature
Where a dispute concerns a matter of a technical nature, the States concerned
may refer the dispute to an ad hoc expert panel established by them. The panel
shall confer with the States concerned and shall endeavor to resolve the dispute
expeditious/y without recourse to binding procedures for the settlement of
disputes.
Article 30
Procedures for the settlement of disputes
1.
The provisions relating to the settlement of disputes set out in Part XV of the
Convention apply mutatis mutandis to any dispute between States Parties to
this Agreement concerning the interpretation or application of this Agreement,
whether or not they are also Parties to the Convention.
43
1.
The provisions relating to the settlement of disputes set out in Part XV of the
Convention apply mutatis mutandis to any dispute between States Parties to
this Agreement concerning the interpretation or app/ication of a sub-regional,
regional or global fisheries agreement relating to straddling fish stocks or highly
migratory fish stocks to which they are parties, including any dispute concerning
the conservation and management of such stocks, whether or not they are also
Parties to the Convention.
2.
Any procedure accepted by a State Party to this Agreement and the Convention
pursuant to article 287 of the Convention shall apply to the settlement of
disputes under this Part, unless that State Party, when signing, ratifying or
acceding to this Agreement, or at any time thereafter, has accepted another
procedure pursuant to article 287 for the settlement of disputes under this
Part.
3.
A State Party to this Agreement which is not a Party to the Convention, when
signing, ratifying or acceding to this Agreement, or at any time thereafter,
shall be free to choose, by means of a written declaration, one or more of the
means set out in article 287, paragraph 1, of the Convention for the settlement
of disputes under this Part. Article 287 shall apply to such a declaration, as
well as to any dispute to which such State is a party which is not covered
by a declaration in force. For the purposes of conciliation and arbitration in
accordance with Annexes V, VII and VIII to the Convention, such State shall be
entitled to nominate conciliators, arbitrators and experts to be included in the
lists referred to in Annex V, article 2, Annex VII, article 2, and Annex VIII, article
2, for the settlement of disputes under this Part.
5. Anylcourt or tribunal to which a dispute has been submitted under this Part
shall apply the relevant provisions of the Convention, of this Agreement and
of any relevant sub-regional, regional or global fisheries agreement, as well as
generally accepted standards for the conservation and management of living
marine resources and other rules of international law not incompatible with
the Convention, with a view to ensuring the conservation of the straddling fish
stocks and highly migratory fish stocks concerned.
Article 31
Provisional measures
1.
Pending the settlement of a dispute in accordance with this Part, the parties to
the dispute shall make every effort to enter into provisional arrangements of a
practical nature.
44
2.
Without prejudice to article 290 of the Convention, the court or tribunal to which
the dispute has been submitted under this Part may prescribe any provisional
measures which it considers appropriate under the circumstances to preserve
the respective rights of the parties to the dispute or to prevent damage to the
stocks in question, as well as in the circumstances referred to in artic/e 7,
paragraph 5, and article 16, paragraph 2.
3. A State Party to this Agreement which is not a Party to the Convention may
declare that, notwithstanding article 290, paragraph 5, of the Convention, the
International Tribunal for the Law of the Sea shall not be entitled to prescribe,
modify or revoke provisional measures without the agreement of such State.
Article 32
Limitations on applicability of procedures for the
settlement of disputes
Article 297, paragraph 3, of the Convention applies also to this Agreement.
PART IX
NON-PARTIES TO THIS AGREEMENT
Article 33
Non-parties to this Agreement
1.
States Parties shall encourage non-parties to this Agreement to become parties
thereto and to adopt laws and regulations consistent with its provisions.
2.
States Parties shall take measures consistent with this Agreement and
international law to deter the activities of vessels flying the flag of non-parties
which undermine the effective implementation of this Agreement.
PART X
GOOD FAITH AND ABUSE OF RIGHTS
Article 34
Good faith and abuse of rights
States Parties shall fulfill in good faith the obligations assumed under this
Agreement and shall exercise the rights recognized in this Agreement in a manner
which would not constitute an abuse of right.
45
Part XI
RESPONSIBILITY AND LIABILITY
Article 35
Responsibility and liability
States Parties are liable in accordance with international law for damage or loss
attributable to them in regard to this Agreement.
PART XII
REVIEW CONFERENCE
Article 36
Review conference
1.
Four years after the date of entry into force of this Agreement, the SecretaryGeneral of the United Nations shall convene a conference with a view to
assessing the effectiveness of this Agreement in securing the conservation and
management of straddling fish stocks and highly migratory fish stocks. The
Secretary-General shall invite to the conference all States Parties and those
States and entities which are entitled to become parties to this Agreement as
well as those intergovernmental and non-governmental organizations entit/ed
to participate as observers.
2.
The conference shall review and assess the adequacy of the provisions of this
Agreement and, if necessary, propose means of strengthening the substance
and methods of implementation of those provisions in order better to address
any continuing problems in the conservation and management of stradd/ing fish
stocks and highly migratory fish stocks.
PART XIII
FINAL PROVISIONS
Article 37
Signature
This Agreement shall be open for signature by all States and the other entities
referred to in article 1, paragraph 2(b), and shall remain open for signature at United
Nations Headquarters for twelve months from the fourth of December 1995.
46
Article 38
Ratification
This Agreement is subject to ratification by States and the other entities referred to
in article 1, paragraph 2(b). The instruments of ratification shall be deposited with
the Secretary-General of the United Nations.
Article 39
Accession
This Agreement shall remain open for accession by States and the other entities
referred to in article 1, paragraph 2(b). The instruments of accession shall be
deposited with the Secretary-General of the United Nations.
Article 40
Entry into force
1.
This Agreement shall enter into force 30 days after the date of deposit of the
thirtieth instrument of ratification or accession.
2.
For each State or entity which ratifies the Agreement or accedes thereto
after the deposit of the thirtieth instrument of ratification or accession, this
Agreement shall enter into force on the thirtieth day following the deposit of
its instrument of ratification or accession.
Article 41
Provisional application
1.
This Agreement shall be applied provisionally by a State or entity which consents
to its provisional application by so notifying the depositary in writing. Such
provisional app/ication shall become effective from the date of receipt of the
notification.
1.
Provisional application by a State or entity shall terminate upon the entry into
force of this Agreement for that State or entity or upon notification by that State
or entity to the depositary in writing of its intention to terminate provisional
application.
Article 42
Reservations and exceptions
No reservations or exceptions may be made to this Agreement.
47
Article 43
Declarations and statements
Article 42 does not preclude a State or entity, when signing, ratifying or acceding
to this Agreement, from making declarations or statements, however phrased or
named, with a view, inter alia, to the harmonization of its laws and regulations
with the provisions of this Agreement, provided that such declarations or statements
do not purport to exclude or to modify the legal effect of the provisions of this
Agreement in their application to that State or entity.
Article 44
Relation to other agreements
1.
This Agreement shall not alter the rights and obligations of States Parties which
arise from other agreements compatible with this Agreement and which do not
affect the enjoyment by other States Parties of their rights or the performance
of their ob/igations under this Agreement.
2.
Two or more States Parties may conclude agreements modifying or suspending
the operation of provisions of this Agreement, applicable solely to the relations
between them, provided that such agreements do not relate to a provision
derogation from which is incompatible with the effective execution of the object
and purpose of this Agreement, and provided further that such agreements
shall not affect the application of the basic principles embodied herein, and
that the provisions of such agreements do not affect the enjoyment by other
States Parties of their rights or the performance of their obligations under this
Agreement.
3. States Parties intending to conc/ude an agreement referred to in paragraph 2
shall notify the other States Parties through the depositary of this Agreement of
their intention to conclude the agreement and of the modification or suspension
for which it provides.
Article 45
Amendment
1.
A State Party may, by written communication addressed to the SecretaryGeneral of the United Nations, propose amendments to this Agreement and
request the convening of a conference to consider such proposed amendments.
The Secretary-General shall circulate such communication to all States Parties.
48
If, within six months from the date of the circulation of the communication,
not less than one half of the States Parties reply favorably to the request, the
Secretary-General shall convene the conference.
2.
The decision-making procedure applicable at the amendment conference
convened pursuant to paragraph 1 shall be the same as that applicable at the
United Nations Conference on Straddling Fish Stocks and Highly Migratory Fish
Stocks, unless otherwise decided by the conference. The conference should
make every effort to reach agreement on any amendments by way of consensus
and there should be no voting on them until all efforts at consensus have been
exhausted.
3.
Once adopted, amendments to this Agreement shall be open for signature at
United Nations Headquarters by States Parties for twelve months from the date
of adoption, un/ess otherwise provided in the amendment itself.
4.
Articles 38, 39, 47 and 50 apply to all amendments to this Agreement.
5. Amendments to this Agreement shall enter into force for the States Parties
ratifying or acceding to them on the thirtieth day following the deposit of
instruments of ratification or accession by two thirds of the States Parties.
Thereafter, for each State Party ratifying or acceding to an amendment after
the deposit of the required number of such instruments, the amendment shall
enter into force on the thirtieth day following the deposit of its instrument of
ratification or accession.
6.
An amendment may provide that a smaller or a larger number of ratifications
or accessions shall be required for its entry into force than are required by this
article.
7.
A state which becomes a Party to this Agreement after the entry into force of
amendments in accordance with paragraph 5 shall, failing an expression of a
different intention by that State:
(a) be considered as a Party to this Agreement as so amended; and
(b) be considered as a Party to the unamended Agreement in relation to any
State Party not bound by the amendment.
Article 46
Denunciation
1.
A State Party may, by written notification addressed to the Secretary-General
of the United Nations, denounce this Agreement and may indicate its reasons.
49
Fai/ure to indicate reasons shall not affect the validity of the denunciation.
The denunciation shall take effect one year after the date of receipt of the
notification, unless the notification specifies a later date.
2.
The denunciation shall not in any way affect the duty of any State Party to fulfill
any obligation embodied in this Agreement to which it would be subject under
international law independently of this Agreement.
Article 47
Participation by international organizations
1. In cases where an international organization referred to in Annex IX, article 1,
of the Convention does not have competence over all the matters governed by
this Agreement, Annex IX to the Convention shall apply mutatis mutandis to
participation by such international organization in this Agreement, except that
the following provisions of that Annex shall not apply:
(a) article 2, first sentence; and
(b) article 3, paragraph 1.
2. In cases where an international organization referred to in Annex IX, article
1, of the Convention has competence over all the matters governed by this
Agreement, the following provisions shall apply to participation by such
international organization in this Agreement:
(a) at the time of signature or accession, such international organization shall
make a declaration stating:
(i) that it has competence over all the matters governed by this
Agreement;
(ii) that, for this reason, its member States shall not become States Parties,
except in respect of their territories for which the international
organization has no responsibllity; and
(iii) that it accepts the rights and obligations of States under this
Agreement;
(b) participation of such an international organization shall in no case confer
any rights under this Agreement on member States of the international
organization;
(c) in the event of a conflict between the obligations of an international
organization under this Agreement and its obligations under the agreement
estab/ishing the international organization or any acts relating to it, the
obligations under this Agreement shall prevail.
50
Article 48
Annexes
1.
The Annexes form an integral part of this Agreement and, unless expressly
provided otherwise, a reference to this Agreement or to one of its Parts includes
a reference to the Annexes relating thereto.
1. The Annexes may be revised from time to time by States Parties. Such revisions
shall be based on scientific and technical considerations. Notwithstanding the
provisions of article 45, if a revision to an Annex is adopted by consensus at a
meeting of States Parties, it shall be incorporated in this Agreement and shall
take effect from the date of its adoption or from such other date as may be
specified in the revision. If a revision to an Annex is not adopted by consensus at
such a meeting, the amendment procedures set out in article 45 shall apply.
Article 49
Depositary
The Secretary-General of the United Nations shall be the depositary of this
Agreement and any amendments or revisions thereto.
Article 50
Authentic texts
The Arabic, Chinese, English, French, Russian and Spanish texts of this Agreement
are equally authentic.
IN WITNESS WHEREOF, the undersigned Plenipotentiaries, being duly authorized
thereto, have signed this Agreement.
OPENED FOR SIGNATURE at New York, this fourth day of December, one thousand
nine hundred and ninety-five, in a single original, in the Arabic, Chinese, English,
French, Russian and Spanish languages.
ANNEX I
STANDARD REQUIREMENTS FOR THE COLLECTION
AND SHARING OF DATA
Article 1
General principles
1.
The timely collection, compilation and analysis of data are fundamental to
the effective conservation and management of straddling fish stocks and highly
51
migratory fish stocks. To this end, data from fisheries for these stocks on the
high seas and those in areas under national jurisdiction are required and should
be collected and compiled in such a way as to enable statistically meaningful
analysis for the purposes of fishery resource conservation and management.
These data include catch and fishing effort statistics and other fishery-related
information, such as vessel-related and other data for standardizing fishing
effort. Data collected should also include information on non-target and
associated or dependent species. All data should be verified to ensure accuracy.
Confidentiality of non-aggregated data shall be maintained. The dissemination
of such data shall be subject to the terms on which they have been provided.
2.
Assistance, including training as well as financial and technical assistance,
shall be provided to developing States in order to build capacity in the field
of conservation and management of living marine resources. Assistance should
focus on enhancing capacity to implement data collection and verification,
observer programmes, data analysis and research projects supporting stock
assessments. The fullest possible involvement of deve/oping State scientists
and managers in conservation and management of straddling fish stocks and
highly migratory fish stocks should be promoted.
Article 2
Principles of data collection, compilation and exchange
The following general principles should be considered in defining the parameters
for collection, compilation and exchange of data from fishing operations for straddling
fish stocks and highly migratory fish stocks:
(a) States should ensure that data are collected from vessels flying their flag on
fishing activities according to the operational characteristics of each fishing
method (e.g., each individual tow for trawl, each set for long-line and purseseine, each school fished for pole-and-line and each day fished for troll) and in
sufficient detail to facilitate effective stock assessment;
(b) States should ensure that fishery data are verified through an appropriate
system;
(c) States should compile fishery-related and other supporting scientific data and
provide them in an agreed format and in a timely manner to the relevant sub­
regional or regional fisheries management organization or arrangement where
one exists. Otherwise, States shou/d cooperate to exchange data either directly
or through such other cooperative mechanisms as may be agreed among them;
52
(d) States should agree, within the framework of sub-regional or regional fisheries
management organizations or arrangements, or otherwise, on the specification
of data and the format in which they are to be provided, in accordance with
this Annex and taking into account the nature of the stocks and the fisheries for
those stocks in the region. Such organizations or arrangements should request
non-members or non-participants to provide data concerning relevant fishing
activities by vessels flying their flag;
(e) such organizations or arrangements shall compile data and make them available
in a timely manner and in an agreed format to all interested States under the
terms and conditions established by the organization or arrangement; and
(f) scientists of the flag State and from the relevant sub-regional or regional fisheries
management organization or arrangement should analyse the data separately
or jointly, as appropriate.
Article 3
Basic fishery data
1. States shall collect and make available to the relevant sub-regional or regional
fisheries management organization or arrangement the following types of data
in sufficient detail to facilitate effective stock assessment in accordance with
agreed procedures:
(a) time series of catch and effort statistics by fishery and fleet;
(b) total catch in number, nominal weight, or both, by species (both target and
non-target) as is appropriate to each fishery. [Nominal weight is defined by
the Food and Agriculture Organization of the United Nations as the liveweight equivalent of the landings];
(c) discard statistics, including estimates where necessary, reported as number
or nominal weight by species, as is appropriate to each fishery;
(d) effort statistics appropriate to each fishing method; and
(e) fishing location, date and time fished and other statistics on fishing operations
as appropriate.
2. States shall also collect where appropriate and provide to the relevant sub­
regional or regional fisheries management organization or arrangement
information to support stock assessment, including:
(a) composition of the catch according to length, weight and sex;
53
(b) other biological information supporting stock assessments, such as
information on age, growth, recruitment, distribution and stock identity;
and
(c) other relevant research, including surveys of abundance, biomass surveys,
hydro-acoustic surveys, research on environmental factors affecting stock
abundance, and oceanographic and ecological studies.
Article 4
Vessel data and information
1. States should collect the following types of vessel-related data for standardizing
fleet composition and vessel fishing power and for converting between different
measures of effort in the analysis of catch and effort data:
(a) vessel identification, flag and port of registry;
(b) vessel type;
(c) vessel specifications (e.g., material of construction, date built, registered
length, gross registered tonnage, power of main engines, hold capacity and
catch storage methods); and
(d) fishing gear description (e.g., types, gear specifications and quantity).
2.
The flag State will collect the following information:
(a) navigation and position fixing aids;
(b) communication equipment and international radio call sign; and
(c) crew size.
Article 5
Reporting
A State shall ensure that vessels flying its flag send to its national fisheries
administration and, where agreed, to the relevant sub-regional or regional fisheries
management organization or arrangement, logbook data on catch and effort, including
data on fishing operations on the high seas, at sufficiently frequent intervals to meet
national requirements and regional and international ob/igations. Such data shall be
transmitted, where necessary, by radio, telex, facsimile or satellite transmission or
by other means.
54
Article 6
Data verification
States or, as appropriate, sub-regional or regional fisheries management
organizations or arrangements should establish mechanisms for verifying fishery
data, such as:
(a) position verification through vessel monitoring systems;
(b) scientific observer programmes to monitor catch, effort, catch compositio
(target and non-target) and other details of fishing operations;
(c) vessel trip, landing and transshipment reports; and
(d) port sampling.
Article 7
Data exchange
1.
Data collected by flag States must be shared with other flag States and relevant
coastal States through appropriate sub-regional or regional fisheries management
organizations or arrangements. Such organizations or arrangements shall
compile data and make them available in a timely manner and in an agreed
format to all interested States under the terms and conditions established by
the organization or arrangement, while maintaining confidentiality of nonaggregated data, and should, to the extent feasible, develop database systems
which provide efficient access to data.
2.
At the global level, collection and dissemination of data should be effected
through the Food and Agriculture Organization of the United Nations. Where
a sub-regional or regional fisheries management organization or arrangement
does not exist, that organization may also do the same at the sub-regional or
regional level by arrangement with the States concerned.
ANNEX II
GUIDELINES FOR THE APPLICATION OF PRECAUTIONARY REFERENCE
POINTS IN CONSERVATION AND MANAGEMENT OF STRADDLING FISH
STOCKS AND HIGHLY MIGRATORY FISH STOCKS
1.
A precautionary reference point is an estimated value derived through an agreed
scientific procedure, which corresponds to the state of the resource and of the
fishery, and which can be used as a guide for fisheries management.
55
2.
Two types of precautionary reference points should be used: conservation, or
limit, reference points and management, or target, reference points. Limit
reference points set boundaries which are intended to constrain harvesting
within safe biological limits within which the stocks can produce maximum
sustainable yield. Target reference points are intended to meet management
objectives.
2.
Precautionary reference points should be stock-specific to account, inter alia, for
the reproductive capacity, the resilience of each stock and the characteristics
of fisheries exploiting the stock, as well as other sources of mortality and major
sources of uncertainty.
3.
Management strategies shall seek to maintain or restore populations of harvested
stocks, and where necessary associated or dependent species, at levels consistent
with previously agreed precautionary reference points. Such reference points
shall be used to trigger pre-agreed conservation and management action.
Management strategies shall include measures which can be implemented when
precautionary reference points are approached.
4.
Fishery management strategies shall ensure that the risk of exceeding limit
reference points is very low. If a stock falls below a limit reference point or is at
risk of falling below such a reference point, conservation and management action
should be initiated to facilitate stock recovery. Fishery management strategies
shall ensure that target reference points are not exceeded on average.
5.
When information for determining reference points for a fishery is poor or absent,
provisional reference points shall be set. Provisional reference points may be
established by analogy to similar and better-known stocks. In such situations,
the fishery shall be subject to enhanced monitoring so as to enable revision of
provisional reference points as improved information becomes available.
6. The fishing mortality rate which generates maximum sustainable yield should
be regarded as a minimum standard for limit reference points. For stocks which
are not overfished, fishery management strategies shall ensure that fishing
mortality does not exceed that which corresponds to maximum sustainable
yield, and that the biomass does not fall below a predefined threshold. For
overfished stocks, the biomass which would produce maximum sustainable yield
can serve as a rebuilding target.
PERSETUJUAN PELAKSANAAN
KETENTUAN-KETENTUAN KONVENSI
PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
TENTANG HUKUM LAUT TANGGAL 10 DESEMBER 1982
YANG BERKAITAN DENGAN KONSERVASI DAN
PENGELOLAAN SEDIAAN IKAN
YANG BERUAYA TERBATAS DAN SEDIAAN
IKAN YANG BERUAYA JAUH
Negara-negara Pihak pada Persetujuan ini,
Mengingat ketentuan-ketentuan yang relevan dari Konvensi Perserikatan Bangsa­Bangsa tentang Hukum Laut tanggal 10 Desember 1982,
Menetapkan untuk menjamin konservasi jangka panjang dan penggunaan
berkelanjutan dari sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya
jauh,
Memutuskan untuk meningkatkan kerja sama di antara Negara-negara untuk
tujuan tersebut,
Mengajak untuk penegakan hukum yang lebih efektif oleh Negara Bendera,
Negara Pelabuhan dan Negara Pantai untuk tindakan konservasi dan pengelolaan
yang disetujui untuk sediaan tersebut,
Mengupayakan untuk menangani secara khusus permasalahan-permasalahan
yang diidentifikasi dalam Bab 17, bagian program C, dari Agenda 21 yang diterima oleh
Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Lingkungan dan Pembangunan, yaitu,
bahwa pengelolaan perikanan di Laut Lepas tidak memadai pada beberapa wilayah
dan bahwa beberapa sumber daya digunakan secara berlebihan; memperhatikan
bahwa terdapat beberapa masalah mengenai penangkapan ikan yang tidak diatur,
kapitalisasi berlebihan, ukuran armada yang terlalu besar, pembenderaan semu kapal
untuk menghindari pengawasan, pemilihan alat tangkap yang tidak sesuai, database
yang tidak dapat dipercaya dan tiadanya kerja sama yang memadai diantara Negaranegara,
Menyetujui diantara mereka perikanan yang bertanggungjawab,
Menyadari kebutuhan untuk menghindari dampak yang merugikan lingkungan
laut, melindungi keanekaragaman hayati, memelihara keutuhan ekosistem laut,
57
58
dan mengurangi risiko jangka panjang atau dampak tidak terpulihkan dari kegiatan
penangkapan ikan.
Mengakui perlunya bantuan khusus, termasuk keuangan, bantuan ilmiah dan
teknologi, sehingga Negara-negara berkembang dapat berpartisipasi secara efektif
dalam konservasi, pengelolaan dan pemanfaatan yang berkelanjutan atas sediaan
ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh,
Meyakini bahwa suatu Persetujuan bagi pelaksanaan ketentuan-ketentuan
dari Konvensi akan sangat membantu tujuan-tujuan tersebut dan mendukung bagi
pemeliharaan perdamaian dan keamanan dunia,
Menegaskan bahwa berbagai hal yang tidak diatur oleh Konvensi atau oleh
Persetujuan i ni tetap diatur dengan ketentuan dan prinsip-prinsip umum hukum
internasional,
Menyetujui hal-ha/l sebagai berikut:
BAGIAN I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Penggunaan terminologi dan ruang lingkup
1. Untuk tujuan Persetujuan ini:
(a)“Konvensi” berarti Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum
Laut Tanggal 10 Desember 1982;
(a)“Tindakan konservasi dan pengelolaan” berarti tindakan untuk melindungi
dan mengelola satu atau beberapa spesies sumber daya hayati yang disetujui
dan diterapkan konsisten dengan ketentuan yang terkait dari hukum
internasional sebagaimana tercantum di dalam Konvensi dan Persetujuan
ini;
(b)“Ikan” termasuk Moluska dan Crustacea kecuali yang termasuk da/am jenis
Sedenter sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 77 Konvensi; dan
(c)“Pengaturan” berarti mekanisme kerja sama yang ditetapkan oleh dua
negara atau lebih berdasarkan Konvensi dan Persetujuan ini untuk tujuan,
antara lain, menetapkan tindakan konservasi dan pengelolaan pada suatu
sub regional atau wilayah untuk satu atau beberapa sediaan ikan beruaya
terbatas atau sediaan ikan beruaya jauh.
59
2. (a) “Negara Pihak” berarti negara yang telah menyetujui untuk tunduk pada
Persetujuan ini dan untuk mana Persetujuan ini berlaku.
(b) Persetujuan ini berlaku, mutatis mutandis:
(i) untuk setiap lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 303 ayat (1)
poin (c), poin (d), dan poin (e) dari Konvensi; dan
(ii) tunduk pada pasal 47, untuk setiap lembaga yang dinamakan “organisasi
internasional” pada Lampiran IX, pasal 1 dari Konvensi, yang menjadi
Pihak dari Persetujuan ini, dan lebih lanjut “Negara Pihak” menunjuk
kepada lembaga-lembaga tersebut.
3. Persetujuan ini berlaku mutatis mutandis bagi lembaga-lembaga perikanan
lainnya yang kapal-kapalnya melakukan kegiatan penangkapan ikan di Laut
Lepas.
Pasal 2
Tujuan
Tujuan dari Persetujuan ini adalah untuk menjamin konservasi jangka panjang
dan penggunaan berkelanjutan atas sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan
ikan yang beruaya jauh melalui pelaksanaan yang efektif atas ketentuan-­ketentuan
yang terkait dari Konvensi.
Pasal 3
Penerapan
1.
Kecuali ditentukan lain, Persetujuan ini berlaku untuk konservasi dan pengelolaan
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh di luar
wilayah yurisdiksi nasional, kecuali Pasal 6 dan 7 berlaku juga untuk konservasi
dan pengelolaan sediaan tersebut di dalam wilayah di bawah yurisdiksi nasional,
tunduk pada rejim hukum yang berbeda yang berlaku di dalam wilayah di
bawah yurisdiksi nasional dan di wilayah di luar yurisdiksi nasional sebagaimana
ditentukan di dalam Konvensi.
2.
Dalam pelaksanaan hak berdaulatnya untuk tujuan eksplorasi dan eksploitasi
konservasi dan pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan
yang beruaya jauh di dalam wilayah di bawah yurisdiksi nasional, Negara pantai
harus menerapkan mutatis mutandis prinsip-prinsip umum yang disebutkan
dalam Pasal 5.
60
3. Negara-negara harus mempertimbangkan kapasitas masing-masing negara
berkembang untuk menerapkan Pasal 5, 6 dan 7 di dalam wilayah di bawah
yurisdiksi nasional dan kebutuhan mereka untuk bantuan sebagaimana ditentukan
di dalam Persetujuan ini. Untuk tujuan ini, Bagian VII berlaku mutatis mutandis
terhadap willayah di bawah yurisdiksi nasional.
Pasal 4
Hubungan antara Persetujuan ini dan Konvensi
Hal-hal yang diatur dalam Persetujuan ini tidak mempengaruhi hak, yurisdiksi
atau kewajiban-kewajiban Negara da/am Konvensi. Persetujuan ini harus diartikan
dan diterapkan dalam konteks dan cara yang konsisten dengan Konvensi.
BAGIAN II
KONSERVASI DAN PENGELOLAAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA
TERBATAS DAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA JAUH
Pasal 5
Prinsip-prinsip umum
Dalam rangka konservasi dan pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas
dan sediaan ikan yang beruaya jauh, negara pantai dan negara yang melakukan
penangkapan ikan di Laut Lepas harus, dalam melaksanakan kewajiban mereka untuk
bekerjasama sesuai dengan Konvensi:
(a) Mengambil tindakan-tindakan untuk menjamin kelestarian jangka panjang
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh dan
memajukan tujuan penggunaan optimum mereka;
(b) Menjamin bahwa tindakan-tindakan tersebut didasarkan pada bukti ilmiah
terbaik yang ada dan dirancang untuk memelihara atau memulihkan sediaan ikan
pada tingkat yang dapat menjamin hasil maksimum yang lestari, sebagaimana
ditentukan oleh faktor ekonomi dan lingkungan yang terkait termasuk kebutuhan
khusus negara berkembang dan dengan memperhatikan pola penangkapan ikan,
saling ketergantungan sediaan jenis ikan dan standar minimum internasionll
yang dianjurkan secara umum, baik di tingkat sub regional, regional, maupun
global;
(c) Menerapkan pendekatan kehati-hatian sesuai dengan Pasal 6;
(d) Mengukur dampak dari penangkapan ikan, kegiatan manusia lainnya dan faktorfaktor lingkungan terhadap sediaan target dan spesies yang termasuk dalam
61
ekosistem yang sama atau berhubungan dengan atau tergantung pada sediaan
target tersebut;
(e) Mengambil, apabila diperlukan, tindakan konservasi dan pengelolaan untuk
spesies dalam ekosistem yang sama atau berhubungan dengan atau tergantung
pada sediaan target tersebut, dengan tujuan untuk memelihara atau memulihkan
populasi dari spesies tersebut di atas tingkat dimana reproduksinya dapat sangat
terancam;
(f) Meminimalkan pencemaran, sampah barang-barang buangan serta tangkapan
yang tidak berguna atau alat tangkap yang ditinggalkan, tangkapan spesies
yang bukan target, baik ikan maupun bukan spesies ikan, (selanjutnya disebut
sebagai spesies non target) dan dampak terhadap spesies berhubungan atau
tergantung, khususnya spesies yang terancam, melalui tindakan termasuk, yang
lazim, pengembangan dan penggunaan yang selektif, alat tangkap dan teknik
yang aman secara lingkungan dan murah;
(g) Melindungi keanekaragaman hayati pada lingkungan laut;
(h) Mengambil tindakan untuk mencegah atau mengurangi kegiatan penangkapan
ikan yang berlebihan dan penangkapan ikan yang melebihi kapasitas dan untuk
menjamin bahwa tingkat usaha penangkapan tidak melebihi tingkat yang
sepadan dengan penggunaan lestari sumber daya ikan;
(i)
Memperhatikan kepentingan nelayan artisanal dan subsisten;
(j) Mengumpulkan dan memberikan, pada saat yang tepat, data yang lengkap
dan akurat mengenai kegiatan-kegiatan perikanan, antara lain, posisi kapal,
tangkapan spesies target dan non target dan usaha penangkapan ikan,
sebagaimana tercantum di dalam Lampiran I, juga informasi dari program riset
nasional dan internasional;
(k) Memajukan dan melaksanakan riset ilmiah dan mengembangkan teknologi yang
tepat dalam mendukung konservasi dan pengelolaan ikan; dan
(l) Melaksanakan dan menerapkan tindakan konservasi dan pengelolaan melalui
pemantauan, pengawasan dan pengamatan.
Pasal 6
Penerapan pendekatan kehati-hatian
1.
Negara-negara harus menerapkan pendekatan kehati-hatian secara luas untuk
konservasi, pengelolaan, dan eksploitasi sediaan ikan yang beruaya terbatas dan
sediaan ikan yang beruaya jauh dalam rangka melindungi sumber daya kelautan
dan konservasi lingkungan laut.
62
2.
Negara-negara harus lebih berhati-hati pada saat informasi tidak menentu,
tidak dapat dipercaya atau tidak mencukupi. Tidak tersedianya informasi
ilmiah yang memadai tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk menunda
atau menggagalkan tindakan konservasi dan pengelolaan.
3. Dalam melaksanakan pendekatan kehati-hatian, Negara-negara harus:
(a)Meningkatkan pengambilan keputusan untuk konservasi d pengelolaan
sumber daya ikan dengan mendapatkan dan membagik informasi ilmiah
terbaik yang tersedia dan menerapkan teknik lanjut untuk menangani risiko
dan ketidakpastian;
(b)Menerapkan petunjuk pelaksanaan sebagaimana ditentukan di dalam
Lampiran II dan menetapkan, atas dasar informasi ilmiah terbaik yang
tersedia, titik-titik referensi khusus sediaan dan tindakan yang dilakukan
apabila mereka terlampaui;
(c)Mempertimbangkan, antara lain, ketidakpastian yang berkaitan dengan
ukuran dan produktivitas dari sediaan, titik referensi, kondisi sediaan
dalam kaitan dengan titik referensi tersebut, tingkat-tingkat dan distribusi
pertumbuhan perikanan dan dampak dari kegiatan perikanan pada spesies
non target dan berhubungan atau tergantung, serta kondisi saat ini dan
prakiraan lautan, lingkungan, dan sosial ekonomi; dan
(d)Mengembangkan pengumpulan data dan program riset untuk menilai dampak
atas penangkapan pada spesies non target, berhubungan atau tergantung,
dan lingkungan mereka, dan menyetujui perencanaan yang diperlukan untuk
menjamin konservasi spesies tersebut dan untuk melindungi habitat yang
mendapatkan perhatian khusus.
4. Negara-negara harus mengambil tindakan untuk menjamin bahwa, pada saat
mendekati titik-titik referensi, mereka tidak akan terlampaui. Dalam hal
mereka terlampaui, Negara-negara harus, tanpa menunda, mengambil tindakan
sebagaimana ditentukan di bawah ayat (3) poin (b) untuk memulihkan sediaan
tersebut.
5.
Dalam hal status spesies sediaan target atau non target atau berhubungan
atau tergantung diperlukan, Negara-negara harus membicarakan sediaan dan
spesies tersebut untuk meningkatkan pemantauan dalam rangka mengubah
status mereka dan efektivitas tindakan konservasi dan pengelolaan. Mereka
harus menyempurnakan tindakan-tindakan tersebut secara teratur berdasarkan
informasi baru.
63
6.
Untuk penangkapan ikan baru atau eksploratori, Negara-negara harus mengambil
dengan sangat berhati-hati tindakan konservasi pengelolaan termasuk, antara
lain, batas penangkapan dan batas-batas upaya. Tindakan­tindakan tersebut
harus tetap berlaku sampai tersedianya data yang memadai untuk memungkinkan
penilaian terhadap dampak dari penangkapan ikan untuk kelestarian jangka
panjang sediaan tersebut, dimana tindakan konservasi dan pengelolaan yang
didasarkan pada penilaian tersebut harus dilaksanakan. Tindakan terakhir
tersebut harus, apabila memungkinkan, mengizinkan untuk pengembangan
secara bertahap dari penangkapan ikan.
7. Apabila suatu fenomena alamiah memiliki dampak merugikan yang besar
terhadap status dari sediaan ikan yang beruaya terbatas atau sediaan ikan
yang beruaya jauh, Negara-negara harus mengambil tindakan konservasi dan
pengelolaan pada suatu keadaan darurat untuk menjamin bahwa kegiatan
perikanan tidak memperburuk dampak merugikan tersebut. Negara-negara
juga harus mengambil tindakan-tindakan dengan basis darurat apabila kegiatan
perikanan mengakibatkan ancaman yang serius bagi kelestarian sediaan tersebut.
Tindakan-tindakan yang diambil pada basis keadaan darurat harus bersifat
sementara dan harus didasarkan pada bukti ilmiah terbaik yang tersedia.
Pasal 7
Kesesuaian tindakan konservasi dan pengelolaan
1. Tanpa mengabaikan hak berdaulat Negara-negara pantai untuk tujuan eksplorasi
dan eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati kelautan di
dalam wilayah di bawah yurisdiksi nasional, sebagaimana ditentukan di dalam
Konvensi, dan hak semua Negara bagi warga negaranya untuk melakukan
kegiatan penangkapan ikan di Laut Lepas sesuai dengan Konvensi:
(a) berkaitan dengan sediaan ikan yang beruaya terbatas, Negara-negara pantai
tersebut dan Negara-negara yang warga negaranya melakukan penangkapan
sediaan tersebut pada wilayah yang berdampingan dengan Laut Lepas harus
meminta, apakah secara langsung atau melalui mekanisme yang sesuai untuk
kerja sama sebagaimana ditentukan di dalam Bagian III, untuk menyetujui
terhadap tindakan-tindakan yang diperlukan untuk konservasi sediaansediaan tersebut pada wilayah yang berdampingan dengan Laut Lepas;
(b) berkaitan dengan sediaan ikan yang beruaya jauh, Negara-negara pantai
yang terkait dan Negara-negara lain yang warga negaranya melakukan
penangkapan ikan pada suatu regional tertentu harus bekerjasama, baik
64
langsung atau melalui mekanisme yang sesuai untuk kerja sama sebagaimana
ditentukan di dalam Bagian III, dengan tujuan untuk menjamin konservasi
dan meningkatkan tujuan penggunaan optimum dari sediaan tersebut pada
seluruh regional tersebut, baik di da/am maupun di luar wilayah di bawah
yurisdiksi nasional.
2. Tindakan konservasi dan pengelolaan yang ditetapkan untuk Laut Lepas dan
yang disetujui untuk wilayah-wilayah di bawah yurisdiksi nasional haruslah
berkesesuaian da/am rangka untuk menjamin konservasi dan pengelolaan
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh bagi
keseluruhan mereka. Untuk tujuan tersebut, Negara-negara pantai dan Negaranegara yang melakukan penangkapan ikan di Laut Lepas mempunyai suatu tugas
untuk bekerjasama untuk tujuan mencapai tindakan-tindakan yang berkesesuaian
berkaitan dengan sediaan tersebut. Dalam menentukan kesesuaian tindakan
konservasi dan pengelolaan, Negara-negara harus:
(a) memperhatikan tindakan konservasi dan pengelolaan yang diambil dan
diterapkan sesuai dengan Pasal 61 dari Konvensi yang berkaitan dengan
sediaan yang sama oleh Negara-negara pantai di dalam wilayah di bawah
yurisdiksi nasional dan menjamin bahwa tindakan-tindakan tersebut
dirumuskan berkaitan dengan sediaan tersebut untuk Laut Lepas tidak
merusak efektivitas tindakan-tindakan tersebut;
(b) memperhatikan tindakan yang telah disetujui sebelumnya dirumuskan dan
dilakukan untuk Laut Lepas sesuai dengan Konvensi yang berkaita dengan
sediaan yang sama oleh Negara-negara pantai yang terkait da Negara-negara
yang melakukan penangkapan ikan di Laut Lepas;
(c) memperhatikan tindakan yang telah disetujui sebelumnya dirumuskan dan
diterapkan sesuai dengan Konvensi yang berkaitan dengan sediaan yang
sama oleh organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub regional
atau regional;
(d) memperhatikan kesatuan biologis dan karakteristik biologis lainnya dari
sediaan dan hubungan diantara distribusi sediaan, perikanan dan kekhususan
geografi dari regional dimaksud, termasuk perluasan sediaan yang terjadi
dan ditangkap di wilayah-wilayah di bawah yurisdiksi nasional;
(e) memperhatikan ketergantungan masing-masing Negara-negara pantai dan
Negara-negara yang melakukan penangkapan ikan di Laut Lepas terhadap
sediaan dimaksud; dan
(f) menjamin bahwa tindakan-tindakan tersebut tidak mengakibatkan
65
dampak yang membahayakan terhadap sumber daya hayati laut secara
keseluruhan.
3. Dalam melaksanakan kewajiban mereka untuk bekerjasama, Negara-negara
harus membuat setiap usaha untuk menyetujui kesesuaian tindakan konservasi
dan pengelolaan di dalam suatu jangka waktu yang layak;
4.
Jika tidak ada persetujuan dapat dicapai dalam suatu periode waktu yang layak,
setiap Negara-negara tersebut dapat memohon prosedur untuk penyelesaian
sengketa yang ditentukan dalam Bagian VIII;
5.
Sementara menunggu persetujuan untuk persesuaian tindakan konservasi dan
pengelolaan, Negara-negara yang bersangkutan, dalam suatu semangat saling
pengertian dan kerja sama, harus membuat setiap usaha untuk membuat
pengaturan-pengaturan tambahan yang bersifat praktis. Dalam hal mereka
tidak dapat menyetujui pengaturan tersebut, setiap Negara-negara yang terkait
dapat, untuk tujuan mendapatkan tindakan-tindakan tambahan, mengajukan
sengketa kepada suatu pengadilan atau tribunal sesuai dengan prosedur untuk
penyelesaian sengketa yang ditetapkan dalam Bagian VIII;
6.
Pengaturan atau tindakan tambahan yang dibuat atau ditentukan berdasarkan
ayat (5) harus mempertimbangkan ketentuan-ketentuan dalam Bagian ini,
harus mempertimbangkan kepada hak dan kewajiban bagi seluruh Negaranegara terkait, tidak akan mengancam atau merintangi pencapaian persetujuan
akhir untuk kesesuaian tindakan konservasi dan pengelolaan dan harus tidak
mengganggu hasil akhir atas setiap prosedur penyelesaian sengketa.
7.
Negara-negara pantai harus secara teratur menginformasikan Negara-negara
yang melakukan penangkapan ikan di Laut Lepas dalam sub regional atau
regional, baik langsung atau melalui organisasi atau pengaturan pengelolaan
perikanan sub regional atau regional yang sesuai, atau melalui sarana lain yang
sesuai, terhadap tindakan-tindakan yang telah mereka setujui untuk sediaan
ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh di dalam wilayah
di bawah yurisdiksi nasional mereka.
8. Negara-negara yang melakukan penangkapan ikan di Laut Lepas harus secara
teratur menginformasikan Negara-negara lain yang berkepentingan, baik
langsung atau melalui organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan
sub regional atau regional yang sesuai, atau melalui sarana lain yang sesuai,
terhadap tindakan-tindakan yang telah mereka setujui untuk pengaturan
kegiatan-kegiatan kapal yang mengibarkan bendera mereka yang melakukan
penangkapan ikan untuk sediaan tersebut di Laut Lepas.
66
BAGIAN III
MEKANISME UNTUK KERJA SAMA INTERNASIONAL
MENGENAI SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA TERBATAS DAN SEDIAAN
IKAN YANG BERUAYA JAUH
Pasal 8
Kerja sama untuk konservasi dan pengelolaan
1. Negara-negara pantai dan Negara-negara yang melakukan penangkapan ikan di
Laut Lepas harus, sesuai dengan Konvensi, mengikuti kerja sama yang berkaitan
dengan sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh
atau melalui organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub regional
atau regional yang sesuai, dengan memperhatikan karakteristik khusus dari sub
regional dan regional, untuk menjamin konservasi dan pengelolaan yang efektif
terhadap sediaan tersebut.
2.
Negara-negara harus melakukan konsultasi dengan iktikad baik dan tanpa
penundaan, khususnya ketika terdapat bukti bahwa sediaan ikan yang beruaya
terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh terkait mungkin dalam ancaman
eksploitasi yang berlebihan atau ketika penangkapan ikan baru sedang
dikembangkan untuk sediaan tersebut. Untuk tujuan tersebut, konsultasi dapat
dimulai atas permintaan dari setiap negara yang berkepentingan dengan tujuan
untuk merumuskan pengaturan yang memadai untuk menjamin konservasi dan
pengelolaan sediaan tersebut. Sementara menunggu persetujuan terhadap
pengaturan tersebut, Negara­negara harus meninjau ketentuan dari Persetujuan
ini dan dengan iktikad baik dan memperhatikan kepada hak, kepentingan dan
kewajiban dari Negara-negara lain.
2.
Apabila suatu organisasi atau pengaturan sub regional atau regional mempunyai
kewenangan untuk merumuskan tindakan konservasi dan pengelolaan untuk
sediaan ikan yang beruaya terbatas atau sediaan ikan yang beruaya jauh tertentu,
Negara-negara yang melakukan penangkapan sediaan tersebut pada Laut Lepas
dan Negara-negara pantai terkait harus melaksanakan kewajiban mereka untuk
bekerjasama dengan menjadi anggota pada organisasi tersebut atau menjadi
peserta pada pengaturan tersebut, atau dengan menyetujui untuk melaksanakan
tindakan konservasi dan pengelolaan yang dirumuskan oleh organisasi atau
pengaturan tersebut. Negara-negara yang secara nyata memiliki kepentingan
pada penangkapan dimaksud dapat menjadi anggota dari organisasi tersebut
atau menjadi peserta pada pengaturan tersebut. Persyaratan keikutsertaan di
67
dalam organisasi atau pengaturan tersebut harus tidak menghalangi Negaranegara tersebut dari keanggotaan atau keikutsertaan; dan tidak diterapkan
kepada mereka suatu cara yang membedakan terhadap setiap negara atau
kelompok Negara-negara yang mempunyai kepentingan nyata dalam perikanan
terkait.
3.
Hanya Negara-negara yang menjadi anggota dari suatu organisasi tersebut atau
peserta pada pengaturan tersebut, atau yang menyetujui untuk menerapkan
tindakan konservasi dan pengelolaan yang ditetapkan oleh organisasi atau
pengaturan tersebut, harus mempunyai akses kepada sumber daya ikan terhadap
mana tindakan-tindakan tersebut diterapkan.
4.
Apabila tidak ada organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub
regional atau regional untuk merumuskan tindakan konservasi dan pengelolaan
untuk sediaan ikan yang beruaya terbatas atau sediaan ikan yang beruaya jauh
tertentu, Negara-negara pantai yang terkait dan Negara­negara yang melakukan
penangkapan ikan di Laut Lepas untuk sediaan tersebut di dalam sub regional
atau regional harus bekerjasama untuk membentuk organisasi tersebut atau
membuat pengaturan lain yang sesuai guna menjamin konservasi dan pengelolaan
sediaan tersebut dan harus berpartisipasi di dalam bekerjanya organisasi atau
pengaturan tersebut.
6. Setiap Negara yang bermaksud untuk mengusulkan tindakan tersebut
dilaksanakan oleh suatu organisasi antarpemerintah yang memiliki kewenangan
berhubungan dengan sumber daya hayati harus, apabila tindakan tersebut akan
mempunyai efek yang besar pada tindakan konservasi dan pengelolaan yang
telah ditetapkan oleh organisasi atau pengaturan sub regional atau regional
yang berkompeten, berkonsultasi melalui organisasi atau pengaturan tersebut
dengan anggota atau pesertanya. Untuk tujuan praktis, konsultasi tersebut harus
dilaksanakan sebelum pengajuan proposal kepada organisasi antarpemerintah.
Pasal 9
Organisasi pengelolaan perikanan sub regional dan
regional dan pengaturan
1. Dalam pembentukan organisasi perikanan sub regional atau regional atau dalam
membuat pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional untuk
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh, Negaranegara harus menyetujui, antara lain:
68
(a) sediaan terhadap mana tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan
diterapkan, dengan memperhatikan karakteristik biologis dari sediaa
dimaksud dan sifat dari perikanan yang terkait;
(a) wilayah penerapan, dengan memperhatikan Pasal 7 ayat (1), dan karakteristik
dari sub regional atau regional termasuk faktor-faktor sosial ekonomi,
geografis dan lingkungan;
(b) hubungan antara bekerjanya organisasi atau pengaturan baru tersebut
dan peranan, tujuan dan operasi dari setiap organisasi atau pengaturan
pengelolaan perikanan terkait yang telah ada; dan
(c) mekanisme dengan mana organisasi atau pengaturan akan mendapatkan
pengarahan ilmiah dan perubahan status dari sediaan tersebut, termasuk,
apabila dimungkinkan, pendirian suatu badan penasehat ilmiah.
2. Negara-negara yang bekerjasama dalam pembentukan organisasi atau
pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional harus memberikan
informasi Negara-negara lain yang mereka ketahui memiliki kepentingan nyata
da/lam bekerjanya organisasi atau pengaturan yang diusulkan untuk kerja sama
tersebut.
Pasal 10
Fungsi-fungsi organisasi pengelolaan perikanan sub regional
dan regional dan pengaturan
Dalam memenuhi kewajiban mereka untuk kerja sama melalui organisasi atau
pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional, Negara-negara harus:
(a) menyetujui dan mengikuti tindakan konservasi dan pengelolaan untuk menjamin
kelestarian jangka panjang dari sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan
ikan yang beruaya jauh;
(b) menyetujui, jika sesuai, pada hak keikutsertaan antara lain alokasi tangkapan
yang diperbolehkan atau tingkat usaha penangkapan perikanan;
(c) menyetujui dan menerapkan setiap standar umum minimum internasional yang
direkomendasikan untuk tata laksana yang bertanggung jawab untuk operasi
penangkapan ikan;
(d) menghasilkan dan mengevaluasi saran ilmiah, perubahan status sediaa tersebut
dan menilai dampak penangkapan ikan pada spesies non target d berhubungan
atau bergantung;
(e) menyetujui standar untuk pengumpulan, pelaporan, verifikasi dan pertukar
data perikanan untuk sediaan tersebut;
69
(f) mengumpulkan dan menyebarluaskan data statistik yang akurat dan lengkap,
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I, untuk menjamin bahwa bukti ilmiah
terbaik tersedia, serta memellihara keterbatasan apabi/a diper/ukan;
(g) memajukan dan melaksanakan penilaian ilmiah dari sediaan tersebut d riset
yang relavan dan penyebarluasan hasil-hasilnya;
(h) merumuskan mekanisme kerja sama yang memadai untuk pemantauan,
pengawasan, pengamatan dan penegakan hukum yang efektif;
(i)
menyetujui sarana dengan mana kepentingan-kepentingan penangkapan dari
anggota-anggota baru dari organisasi atau peserta baru dalam pengaturan akan
diakomodasikan;
(j) menyetujui prosedur pengambilan keputusan yang memfasilitasi persetuju
tindakan konservasi dan pengelolaan secara cepat dan efektif;
(k) memajukan penyelesaian sengketa secara damai sesuai dengan Bagian VIII;
(l) menjamin kerja sama penuh dari badan-badan dan industri nasional yang terkait
dalam pelaksanaan rekomendasi dan keputusan dari organisasi atau pengaturan;
dan
(m) melakukan publikasi tindakan konservasi dan pengelolaan yang telah dirumuskan
oleh organisasi atau pengaturan.
Pasal 11
Anggota baru atau peserta
Dalam menentukan sifat dan tingkat hak keikutsertaan untuk anggota-anggota
dari suatu organisasi pengelolaan perikanan sub regional atau regional, atau untuk
peserta-peserta baru dalam suatu pengaturan pengelolaan perikanan sub regional
atau regional, Negara-negara, harus memperhatikan, antara lain:
(a) status dari sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya
jauh dan tingkat usaha penangkapan saat ini dalam perikanan;
(b) kepentingan masing-masing, pola penangkapan ikan dan praktek penangkapan
ikan bagi anggota atau peserta baru atau yang telah ada saat ini;
(c) kontribusi masing-masing anggota atau peserta baru atau yang telah ada saat
ini untuk konservasi dan pengelolaan dari sediaan tersebut, untuk pengumpulan
dan pengadaan data yang akurat dan untuk melaksanakan riset ilmiah mengenai
sediaan tersebut;
(d) kebutuhan dari masyarakat perikanan pantai yang sangat tergantung utamanya
pada penangkapan sediaan tersebut;
70
(e) kebutuhan Negara-negara pantai yang perekonomiannya sangat bergantung
pada eksploitasi sumber daya hayati laut; dan
(f) kepentingan Negara-negara berkembang dari sub regional atau regional yang
pada wilayah yurisdiksi nasionalnyajuga terdapat sediaan tersebut.
Pasal 12
Transparansi kegiatan organisasi pengelolaan perikanan
sub regional dan regional dan pengaturan
1.
Negara-negara harus mempersiapkan untuk transparansi dalam proses
pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan lain dari organisasi dan
pengaturan pengelolaan perikanan sub regional dan regional.
2.
Perwakilan-perwakilan dari organisasi antarpemerintah lain dan perwakilan­perwakilan dari organisasi non pemerintah terkait dengan sediaan ikan yang
beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh harus diperbolehkan
berpartisipasi dalam pertemuan organisasi dan pengaturan pengelolaan
perikanan sub regional dan regional sebagai peninjau atau yang lain, yang
memungkinkan, sesuai dengan prosedur organisasi atau pengaturan terkait.
Prosedur tersebut harus tidak boleh membatasi kegiatan tersebut. Organisasi
antarpemerintah dan organisasi non pemerintah harus memiliki akses yang tepat
terhadap catatan-catatan dan laporan-laporan dari organisasi dan pengaturan
tersebut, tunduk pada ketentuan prosedur da/am mengakses mereka.
Pasal 13
Memperkuat organisasi dan pengaturan yang ada
Negara-negara harus bekerjasama untuk memperkuat organisasi dan pengaturan
pengelolaan perikanan sub regional dan regional yang telah ada dalam rangka
meningkatkan efektivitas mereka dalam merumuskan dan melaksanakan tindakan
konservasi dan pengelolaan untuk sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan
ikan yang beruaya jauh.
Pasal 14
Pengumpulan dan penyediaan informasi dan
kerja sama penelitian ilmiah
1. Negara-negara harus menjamin bahwa kapal-kapal penangkap ikan yang
mengibarkan bendera mereka menyediakan informasi yang mungkin diperlukan
71
dalam rangka memenuhi kewajiban mereka di bawah Persetujuan i ni. Untuk
tujuan tersebut, Negara-negara harus sesuai dengan Lampiran I:
(a) mengumpulkan dan tukar menukar data ilmiah, teknis dan statistik berkaitan
dengan perikanan untuk sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan
ikan yang beruaya jauh;
(b) menjamin bahwa data dikumpulkan secara rinci cukup untuk penilaian
sediaan yang efektif dan disediakan dengan cara yang tepat untuk memenuhi
persyaratan organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub regional
atau regional; dan
(c) mengambil tindakan-tindakan yang memadai untuk menguji keakurat data
tersebut.
2. Negara-negara harus bekerjasama, baik secara langsung atau melalui organisasi
atau pengaturan pengelolaan perikanan sub regional dan regional:
(a) menyetujui spesifikasi data dan format yang disediakan untuk organisasi atau
pengaturan tersebut, dengan memperhatikan sifat sediaan dan perikanan
untuk sediaan tersebut; dan
(b) mengembangkan dan mempertukarkan teknik analisis dan metodologi
penilaian sediaan untuk meningkatkan tindakan bagi konservasi dan
pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang
beruaya jauh.
3. Konsisten dengan Bagian XIII dari Konvensi, Negara-negara harus bekerjasama,
baik secara langsung atau melalui organisasi internasional yang berkompeten,
untuk memperkuat kapasitas penelitian ilmiah dalam bidang perikanan dan
memajukan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan konservasi dan pengelolaan
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh untuk
kepentingan semua. Untuk tujuan tersebut, suatu Negara atau suatu organisasi
internasional yang berkompeten, yang melakukan penelitian tersebut di luar
wilayah di bawah yurisdiksi nasional harus secara aktif memajukan publikasi
dan penyebarluasan kepada seluruh negara yang berkepentingan terhadap hasil
penelitian tersebut dan informasi yang berkaitan dengan tujuan dan metodenya
dan, sesuai praktek yang ada, harus memfasilitasi keikutsertaan ilmuwan dari
Negara-negara tersebut dalam penelitian tersebut.
72
Pasal 15
Laut tertutup dan setengah tertutup
Dalam pelaksanaan Persetujuan ini pada laut tertutup dan setengah tertutup,
Negara-negara harus memperhatikan karakteristik aamiah dari laut tersebut dan
harus juga bertindak dengan cara yang konsisten dengan Bagian IX dari Konvensi dan
ketentuan-ketentuan terkait lainnya dari Konvensi tersebut.
Pasal 16
Wilayah Laut Lepas yang seluruhnya dikelilingi oleh wilayah
yurisdiksi nasional satu Negara
1. Negara-negara yang melakukan penangkapan sediaan ikan yang beruaya
terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh dalam satu wilayah Laut Lepas
yang seluruhnya dikelilingi oleh suatu wilayah dibawah yurisdiksi nasional
dari satu Negara dan Negara tersebut harus bekerjasama untuk merumuskan
tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan yang berkaitan dengan sediaan
tersebut di wilayah Laut Lepas. Dengan memperhatikan karakteristik alamiah
dari wilayah tersebut, Negara-negara harus memperhatikan secara khusus
untuk menetapkan tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan yang cocok
untuk sediaan tersebut berdasarkan Pasal 7. Langkah-langkah yang diambil
dalam hal Laut Lepas harus mempertimbangkan hak-hak, kewajiban-kewajiban
dan kepentingan-kepentingan dari Negara pantai sesuai dengan Konvensi,
harus didasarkan pada bukti ilmiah terbaik yang tersedia dan juga harus
memperhatikan tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan yang diambil
dan dilaksanakan da/am kaitannya dengan sediaan yang sama sesuai dengan
Pasal 61 dari Konvensi oleh Negara pantai di dalam wilayah di bawah yurisdiksi
nasional. Negara-negara harus juga menyetujui tindakan-tindakan pemantauan,
pengawasan, pengamatan dan penegakan hukum untuk menjamin kesesuaian
dengan tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan dalam kaitannya dengan
Laut Lepas.
2. Berdasarkan Pasal 8, Negara-negara harus bertindak dengan iktikad baik dan
membuat setiap usaha menyetujui tanpa penundaan tindakan konservasi dan
pengelolaan untuk diterapkan dalam operasi penangkapan ikan dalam wilayah
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Apabila, dalam jangka waktu yang
layak, Negara-negara penangkap ikan terkait dan Negara pantai tidak dapat
menyetujui tindakan tersebut, mereka harus, dengan memperhatikan ayat (1),
menerapkan Pasal 7 ayat (4), ayat (5), dan ayat (6), berkaitan dengan pengaturan-
73
pengaturan atau tindakan-tindakan sementara. Sementara menunggu penetapan
pengaturan-pengaturan atau tindakan-tindakan sementara, Negara-negara
terkait harus mengambil tindakan-tindakan berkaitan dengan kapal-kapal yang
mengibarkan bendera mereka sehingga mereka tidak melakukan penangkapan
ikan yang dapat merusak sediaan terkait.
BAGIAN IV
BUKAN ANGGOTA DAN BUKAN PESERTA
Pasal 17
Bukan anggota pada organisasi dan bukan peserta
pada pengaturan
1.
Suatu negara yang bukan merupakan anggota pada suatu organisasi pengelolaan
perikanan sub regional dan regional atau tidak menjadi peserta pada suatu
pengaturan pengelolaan perikanan sub regional dan regional, dan yang tidak
menyetujui untuk menerapkan tindakan konservasi dan pengelolaan yang
ditetapkan oleh organisasi atau pengaturan tersebut, tidak dibebaskan dari
kewajiban untuk bekerjasama, sesuai dengan Konvensi dan Persetujuan ini,
dalam konservasi dan pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas dan
sediaan ikan yang beruaya jauh yang terkait.
2.
Negara tersebut tidak harus memberikan izin kepada kapal-kapal yang
mengibarkan benderanya untuk melakukan operasi penangkapan ikan untuk
sediaan ikan yang beruaya terbatas atau sediaan ikan yang beruaya jauh yang
tunduk pada tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan yang ditetapkan
oleh organisasi atau pengaturan tersebut.
3. Negara-negara yang menjadi anggota pada suatu organisasi pengelolaan
perikanan sub regional atau regional atau peserta pada suatu pengaturan
pengelolaan perikanan sub regional dan regional harus, secara sendiri-sendiri
atau bersama-sama, meminta lembaga perikanan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 ayat (3), yang memiliki kapal-kapal perikanan pada wilayah terkait
untuk bekerjasama secara penuh dengan organisasi atau pengaturan tersebut
yang telah ditetapkan dalam melaksanakan tindakan-tindakan konservasi dan
pengelolaan yang telah ditentukan, dengan maksud untuk menerapkan tindakantindakan tersebut secara faktual seluas mungkin untuk kegiatan penangkapan
pada wilayah terkait. Lembaga-lembaga penangkapan tersebut harus menikmati
manfaat dari keikutsertaan da/am perikanan sepadan dengan komitmen mereka
74
untuk menerapkan tindakan konservasi dan pengelolaan berkaitan dengan
sediaan tersebut.
4. Negara-negara yang menjadi anggota pada suatu organisasi atau peserta pada
pengaturan tersebut harus melakukan tukar menukar informasi berkaitan
dengan kegiatan-kegiatan kapal-kapal perikanan yang mengibarkan bendera dari
Negara-negara yang tidak menjadi anggota pada organisasi tersebut atau tidak
juga menjadi peserta pada pengaturan tersebut dan yang melakukan operasi
penangkapan ikan untuk sediaan terkait. Mereka harus mengambil tindakantindakan yang konsisten dengan Persetujuan ini dan hukum internasional
untuk mengha/angi kegiatan kapal-kapal tersebut yang mengurangi efektivitas
tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan sub regional dan regional.
BAGIAN V
KEWAJIBAN-KEWAJIBAN NEGARA BENDERA
Pasal 18
Kewajiban-kewajiban Negara Bendera
1.
Suatu Negara yang kapal-kapalnya meakukan penangkapan iklan di Laut Lepas
harus mengambil tindakan-tindakan yang mungkin diperlukan untuk menjamin
bahwa kapal-kapal yang mengibarkan benderanya menerapkan tindakantindakan konservasi dan pengelolaan sub regional dan regional dan kapalkapal tersebut tidak melakukan kegiatan apapun yang mengurangi efektivitas
tindakan-tindakan tersebut.
2.
Suatu Negara harus mengizinkan penggunaan kapal-kapal yang mengibarkan
benderanya untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan di Laut Lepas hanya
apabila dapat melakukan pengawasan secara efektif tanggung jawabnya
berkaitan dengan kapal-kapal tersebut di bawah Konvensi dan Persetujuan ini.
3. Tindakan-tindakan yang diambil oleh suatu Negara berkaitan dengan kapalkapal yang mengibarkan benderanya harus termasuk:
(a) pengawasan kapal-kapal tersebut di Laut Lepas melalui lisensi penangkapan
ikan, otorisasi atau izin, sesuai dengan prosedur yang berlaku yang disetujui
pada tingkat sub regional, regional atau global;
(b) menetapkan peraturan-peraturan:
(i) untuk menerapkan persyaratan-persyaratan dan kondisi-kondisi bagi
lisensi, otorisasi atau izin yang memadai untuk memenuhi setiap
kewajiban sub regional, regional atau global dari Negara Bendera;
75
(ii) melarang penangkapan ikan di Laut Lepas oleh kapal-kapal yang tidak
sepatutnya diberi lisensi atau otorisasi untuk melakukan penangkapan
ikan, atau melakukan penangkapan ikan di Laut Lepas dengan
menggunakan kapal-kapal kecuali yang sesuai dengan persyaratanpersyaratan dan kondisi-kondisi suatu lisensi, otorisasi atau izin;
(iii)mengharuskan kapal-kapal yang melakukan penangkapan ikan di Laut
Lepas untuk membawa di atas kapal lisensi, otorisasi atau izin setiap
saat dan menunjukkannya atas permintaan untuk pemeriksaan oleh
petugas yang berwenang; dan
(iv)menjamin bahwa kapal-kapal yang mengibarkan benderanya tidak
melakukan penangkapan ikan yang tidak sah da/am wilayah di bawah
yurisdiksi nasional Negara-negara lain;
(c) pembentukan suatu pencatatan nasional terhadap kapal-kapal perikanan
yang diberikan otorisasi untuk melakukan penangkapan ikan di Laut Lepas
dan pemberian akses kepada informasi yang terdapat di dalam pencatatan
atas permintaan secara langsung dari Negara-negara yang berkepentingan,
dengan memperhatikan setiap hukum nasional dari negara bendera mengenai
pemberian informasi tersebut;
(d) persyaratan-persyaratan untuk penandaan kapal ikan dan alat penangkap
ikan untuk identifikasi sesuai dengan keseragaman dan sistem pendanaan
kapal dan alat tangkap yang diterima secara internasional, seperti Standar
Penandaan Food and Agriculture Organization of the United Nations untuk
Penandaan dan Pengenalan Kapal-kapal penangkap ikan;
(e) persyaratan untuk pencatatan dan pelaporan yang tepat dari posisi kapal,
penangkapan spesies target dan non target, usaha penangkapan ikan dan
data perikanan terkait lainnya sesuai dengan standar sub regional, regional
dan global untuk pengumpulan data tersebut;
(f) persyaratan-persyaratan pengujian penangkapan untuk spesies target dan
non target melalui sarana seperti program peninjauan, skema pemeriksaan,
laporan pemuatan, supervisi pengalihan muatan dan pengawasan pendaratan
tangkapan dan statistik pasar;
(g) pemantauan, pengawasan, dan pengamatan dari kapal-kapal tersebut,
operasi penangkapan mereka dan kegiatan terkait dengan, antara lain:
(i) pelaksanaan skema pemeriksaan nasional dan skema sub regional dan
regional untuk kerja sama dalam penegakan hukum berdasarkan Pasal
21 dan Pasal 22, termasuk persyaratan­persyaratan bagi kapal-kapal
76
tersebut untuk izin akses oleh inspektur yang berwenang dari Negaranegara lain;
(ii) pelaksanaan program pengamat nasional dan program pengamat sub
regional dan regional dimana Negara Bendera menjadi peserta termasuk
persyaratan-persyaratan untuk kapal tersebut untuk mengijinkan
pemberian akses oleh pengamat-pengamat dari Negara‑ negara lain
untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang disetujui di bawah programprogram tersebut; dan
(iii) pengembangan dan pelaksanaan sistem pengawasan kapal, termasuk,
jika dimungkinkan, sistem transmisi satelit, sesuai dengan programprogram nasional dan mereka yang telah disetujui secara sub regional,
regional atau global diantara Negara-negara terkait;
(h) pengaturan pengalihan muatan di Laut Lepas untuk menjamin bahwa
efektivitas dari konservasi dan pengelolaan tidak dirusak; dan
(i) pengaturan kegiatan penangkapan ikan untuk menjamin kesesuaian dengan
tindakan-tindakan sub regional, regional atau global, termasuk yang
ditujukan untuk mengurangi penangkapan terhadap spesies non-target;
4. Apabila terdapat suatu sistem pemantauan, pengawasan, dan pengamatan yang
secara sub regional, regional, atau global disetujui berlaku, Negara­negara harus
menjamin bahwa tindakan-tindakan yang diberlakukan kepada kapal-kapal yang
mengibarkan bendera mereka sesuai dengan sistem tersebut.
BAGIAN VI
PENAATAN DAN PENEGAKAN HUKUM
Pasal 19
Penaatan dan penegakan hukum oleh Negara Bendera
1. Suatu negara harus menjamin penaatan oleh kapal-kapal yang mengibarkan
benderanya dengan tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan sub regional
dan regional untuk sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang
beruaya jauh. Untuk tujuan i ni, negara tersebut harus:
(a) memberlakukan tindakan-tindakan tersebut tanpa memperhatikan dimana
pelanggaran-pelanggaran terjadi;
(b) menyelidiki secara cepat dan menyeluruh setiap pelanggaran yang diduga
terhadap tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan sub regional atau
77
regional, yang juga dapat mencakup pemeriksaan fisik terhadap kapalkapal tersebut, dan melaporkan dengan cepat kepada negara yang diduga
melakukan pelanggaran dan organisasi atau pengaturan sub regional atau
regional yang terkait atas pelaksanaan dan hasil penyelidikan tersebut;
(c) mengharuskan setiap kapal yang mengibarkan benderanya untuk memberikan
informasi kepada otoritas penyelidik mengenai posisi kapal, tangkapan,
alat tangkap, operasi penangkapan ikan dan kegiatan-­kegiatan terkait di
wilayah dimana pelanggaran terjadi;
(d) apabila memenuhi bahwa bukti yang cukup telah tersedia berkaitan dengan
pelanggaran tersebut, meneruskan kasus tersebut kepada otoritasnya
dengan tujuan untuk melakukan penuntutan tanpa penundaan seusai dengan
hukumnya dan, apabila memungkinkan, menahan kapal tersebut; dan
(e) menjamin bahwa, apabila telah ditetapkan, berdasarkan hukumnya, suatu
kapal telah terlibat di dalam perbuatan pelanggaran serius mengenai
tindakan-tindakan tersebut, kapal tersebut tidak melakukan operasi
penangkapan ikan di Laut Lepas hingga suatu waktu dimana seluruh sanksi
telah dijatuhkan oleh Negara Bendera terhadap pelanggaran yang telah
dilakukan.
2. Seluruh penyelidikan dan penuntutan hukum harus dilaksanakan secara cepat.
Sanksi-sanksi yang diterapkan terhadap pelanggaran-pelanggaran harus
cukup keras sehingga efektif dalam menjamin penaatan dan untuk mencegah
pelanggaran-pelanggaran dimanapun terjadi dan harus menghilangkan
keuntungan pelanggar-pelanggar dari manfaat yang bertambah dari kegiatan
tidak sah mereka. Tindakan-tindakan yang diterapkan terhadap nakhodanakhoda dan perwira-perwira lainnya dari kapal penangkap ikan harus meliputi
ketentuan-ketentuan yang dapat mengizinkan, antara lain, penolakan,
pengunduran atau penangguhan otorisasi untuk bertindak sebagai nakhodanakhoda atau perwira-perwira pada kapal tersebut.
Pasal 20
Kerja sama internasional dalam penegakan hukum
1.
Negara-negara harus bekerjasama, baik secara langsung atau melalui organisasiorganisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional,
untuk menjamin penaatan dan penegakan hukum bagi tindakan-tindakan
konservasi dan pengelolaan sub regional dan regional untuk sediaan ikan yang
beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh.
78
2.
Suatu Negara Bendera yang melaksanakan penyelidikan atas pelanggaran yang
diduga dilakukan terhadap tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan
untuk sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh
dapat meminta bantuan kepada setiap negara lain yang kerjasamanya berguna
di dalam melakukan penyelidikan. Semua negara harus berusaha memenuhi
permintaan yang diajukan oleh Negara Bendera berkaitan dengan penyelidikanpenyelidikan tersebut.
3. Suatu Negara Bendera dapat melakukan penyelidikan tersebut secara langsung,
bekerjasama dengan Negara-negara lain yang berkepentingan atau melalui
organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional
yang terkait. Informasi mengenai pelaksanaan dan hasil penyelidikan harus
disediakan untuk semua negara yang mempunyai kepentingan, atau terpengaruh
oleh, pelanggaran yang diduga.
4.
Negara-negara harus saling membantu satu dengan yang lainnya dalam
mengenali kapal-kapal yang dilaporkan telah melakukan kegiatan yang merusak
efektivitas tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan sub regional, regional
atau global.
5.
Negara-negara harus, dalam hal diperbolehkan oleh peraturan perundang­
undangan nasional, menetapkan pengaturan-pengaturan untuk menyediakan
bagi otoritas penuntutan di negara lain bukti yang berkaitan dengan pelanggaran
yang diduga atas tindakan-tindakan tersebut.
6.
Apabila terdapat alasan yang layak untuk mempercayai bahwa suatu kapal di
Laut Lepas telah melakukan penangkapan ikan tanpa izin di dalam suatu wilayah
di bawah yurisdiksi suatu Negara Pantai, negara bendera dari kapal tersebut,
atas permintaan dari Negara Pantai terkait, harus secepatnya dan sepenuhnya
menyelidiki hal tersebut. Negara Bendera harus bekerjasama dengan Negara
Pantai dalam mengambil tindakan penegakan hukum yang memadai dalam
kasus tersebut dan dapat memberikan wewenang kepada otoritas yang terkait
dari Negara Pantai untuk naik ke atas kapal dan memeriksa kapal di Laut Lepas.
Ayat ini tidak mengurangi ketentuan Pasal 111 dari Konvensi.
6.
Negara-negara Pihak yang menjadi anggota dari suatu organisasi pengelolaan
perikanan sub regional atau regional atau menjadi peserta di dalam suatu
pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional dapat melakukan
tindakan sesuai dengan hukum internasional, termasuk melalui jalan lain
kepada prosedur sub regional atau regional yang ditetapkan untuk tujuan ini,
untuk menghalangi kapal-kapal yang telah melakukan kegiatan­kegiatan yang
79
mengurangi efektivitas atau pelanggaran lain dari tindakan­tindakan konservasi
dan pengelolaan yang ditetapkan oleh organisasi atau pengaturan tersebut dari
perikanan di Laut Lepas pada sub regional atau regional sampai suatu waktu
yang memungkinkan tindakan dilakukan oleh Negara Bendera.
Pasal 21
Kerja sama sub regional dan regional dalam penegakan hukum
1.
Pada setiap wilayah Laut Lepas yang dilindungi dengan suatu organisasi atau
pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional, suatu Negara
Pihak yang menjadi anggota dari organisasi tersebut atau menjadi peserta
pada pengaturan tersebut dapat, melalui inspektur yang berwenang, naik
ke atas kapal dan memeriksa, sesuai dengan ayat (2), kapal-kapal perikanan
yang mengibarkan bendera dari Negara Pihak yang lain pada Persetujuan i
ni, apakah Negara Pihak tersebut juga menjadi anggota dari organisasi atau
menjadi peserta pada pengaturan tersebut, untuk tujuan menjamin penaatan
tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan untuk sediaan ikan yang beruaya
terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh yang ditetapkan oleh organisasi
atau pengaturan tersebut.
2.
Negara-negara harus menetapkan, melalui organisasi atau pengaturan
pengelolaan perikanan sub regional atau regional, prosedur-prosedur untuk naik
ke atas kapal dan pemeriksaan sesuai ayat (1), demikian juga prosedur untuk
melaksanakan ketentuan lain dari Pasal ini. Prosedur tersebut harus konsisten
dengan Pasal ini dan prosedur-prosedur dasar sebagaimana ditetapkan di dalam
Pasal 22 dan tidak membedakan bukan anggota dari organisasi atau bukan
peserta dari pengaturan tersebut. Tindakan menaiki kapal dan pemeriksaan
serta tindakan penegakan hukum selanjutnya harus dilaksanakan sesuai dengan
prosedur-prosedur tersebut. Negara-negara harus mengumumkan prosedurprosedur yang disusun berdasarkan ayat ini.
3. Apabila, dalam dua tahun sejak Persetujuan ini disetujui, setiap organisasi
atau pengaturan belum menetapkan prosedur tersebut, menaiki kapal dan
pemeriksaan sesuai ayat (1), dan juga setiap tindakan penegakan hukum, harus,
sementara menunggu penetapan prosedur-prosedur tersebut, dilaksanakan
sesuai dengan Pasal ini dan prosedur-prosedur dasar yang ditetapkan dalam
Pasal 22.
4.
Sebelum mengambil tindakan berdasarkan Pasal ini, Negara-negara yang
melakukan pemeriksaan harus, baik langsung atau melalui organisasi atau
80
pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional, menginformasikan
semua negara yang kapal-kapalnya me/akukan penangkapan ikan di Laut Lepas
pada sub regional atau regional dalam bentuk identifikasi masalah kepada
inspektur yang berwenang mereka. Kapal yang digunakan untuk menaiki dan
memeriksa harus secara jelas diberi tanda dan dapat diidentifikasi sebagai
kapal pemerintah. Pada saat menjadi Pihak dari Persetujuan ini, suatu negara
harus menetapkan otoritas yang memadai untuk menerima pemberitahuanpemberitahuan sesuai dengan Pasal ini dan harus melakukan publikasi atas
penetapan tersebut melalui organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan
sub regional atau regional yang terkait.
5.
Apabila, setelah menaiki kapal dan pemeriksaan, terdapat alasan yang jelas
untuk mempercayai bahwa suatu kapal telah melakukan kegiatan yang
bertentangan dengan tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), Negara yang melakukan pemeriksaan harus, apabila
memungkinkan, melindungi bukti dan secepatnya memberitahukan negara
bendera terhadap pelanggaran yang diduga tersebut.
6. Negara Bendera harus menanggapi pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (5) dalam tiga hari kerja setelah diterimanya pemberitahuan, atau jangka
waktu yang lain yang mungkin diuraikan di dalam prosedur-prosedur yang telah
ditetapkan sesuai ayat (2), dan harus:
(a) memenuhi, tanpa penundaan, kewajiban-kewajibannya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 untuk melakukan penyelidikan dan, apabila buktibukti meyakinkan, mengambil tindakan penegakan hukum berkaitan dengan
kapal tersebut, dalam hal ini dia harus secara cepat memberitahukan
negara yang melakukan pemeriksaan hasil-hasil penyelidikan dan tindakan
penegakan hukum yang dilakukan; atau
(b) memberikan wewenang kepada negara yang melakukan pemeriksaa untuk
melakukan penyelidikan.
7. Apabila Negara Bendera memberikan wewenang kepada negara yang melakukan
pemeriksaan untuk melakukan penyelidikan suatu pelanggaran yang diduga,
negara yang me/akukan pemeriksaan harus, tanpa penundaan, memberitahukan
hasil-hasil penye/idikan tersebut kepada Negara Bendera. Negara Bendera harus,
jika bukti meyakinkan, memenuhi kewajiban-­kewajibannya untuk mengambil
tindakan penegakan hukum berkaitan dengan kapal tersebut. Sebagai alternatif,
Negara Bendera dapat memberikan wewenang kepada negara pemeriksa untuk
mengambil tindakan penegakan hukum tersebut yang ditentukan oleh Negara
81
Bendera terhadap kapal tersebut, konsisten dengan hak dan kewajiban Negara
Bendera menurut Persetujuan ini.
8.
Apabila, setelah menaiki kapal dan pemeriksaan, terdapat alasan yang jelas
untuk mempercayai bahwa suatu kapal telah melakukan pelanggaran yang
serius, dan Negara Bendera baik telah gagal untuk menanggapi atau gagal untuk
mengambil tindakan sebagaimana dipersyaratkan dalam ayat (6) atau ayat (7),
inspektur dapat tetap berada di atas kapal dan mengamankan bukti dan dapat
meminta Nahkoda kapal untuk membantu penyelidikan lanjutan termasuk,
apabila memungkinkan, dengan membawa kapal tersebut tanpa penundaan ke
pelabuhan yang terdekat yang memungkinkan, atau ke pelabuhan yang lain
yang mungkin ditetapkan di dalam prosedur yang ditentukan sesuai ayat (2).
Negara Pemeriksa harus secepatnya menginformasikan kepada Negara Bendera
nama pe/abuhan dimana kapal dibawa. Negara Pemeriksa dan Negara Bendera,
dan apabila mungkin, Negara Pelabuhan harus mengambil langkah-langkah yang
diperlukan untuk menjamin kesejahteraan anak buah kapal tanpa memandang
kewarganegaraan mereka.
9.
Negara Pemeriksa harus menginformasikan Negara Bendera dan organisasi yang
terkait atau peserta pada pengaturan yang terkait hasil-hasil penyelidikan lebih
lanjut.
10. Negara Pemeriksa harus meminta inspektur mereka untuk mengamati peraturanperaturan internasional yang diterima umum, prosedur dan praktek yang
berkaitan dengan keselamatan kapal dan anak buah kapal, mengurangi campur
tangan dengan operasi penangkapan dan, apabi/a dimungkinkan, menghindari
tindakan yang akan merugikan kualitas tangkapan di atas kapal. Negara
Pemeriksa harus menjamin bahwa menaiki kapal dan pemeriksaan tidak di/
aksanakan apabila menyebabkan gangguan terhadap setiap kapal perikanan.
11. Untuk tujuan Pasal ini, pelanggaran yang serius berarti:
(a) melakukan penangkapan ikan tanpa lisensi, otorisasi atau izin yang masih
berlaku yang dikeluarkan oleh Negara Bendera sesuai dengan Pasal 18 ayat
(3) poin (a);
(b) gagal untuk memelihara catatan-catatan yang akurat mengenai tangkapan
dan data yang berkaitan dengan tangkapan, sebagaimana diminta atau
dipersyaratkan oleh organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub
regional atau regional yang terkait, atau salah pelaporan yang serius terhadap
tangkapan, bertentangan dengan persyaratan­persyaratan pelaporan dari
organisasi atau pengaturan tersebut;
82
(c) melakukan penangkapan ikan pada suatu wilayah yang tertutup, melakukan
penangkapan ikan selama musim yang tertutup atau melakukan penangkapan
ikan tanpa, atau setelah pencapaian dari, suatu kuota yang ditetapkan
oleh organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau
regional yang terkait;
(d) mengarahkan penangkapan ikan untuk suatu sediaan yang tunduk pada
moratorium atau untuk mana kegiatan penangkapan ikan dilarang;
(e) menggunakan alat tangkap yang dilarang;
(f) memalsukan atau menyembunyikan tanda-tanda, identitas, atau pendaftaran
dari kapal perikanan;
(g) menyembunyikan, merusak atau membuang bukti-bukti yang berkait dengan
suatu penyelidikan;
(h) melakukan pelanggaran yang berulang-ulang yang bersama-sama
membentuk suatu pelanggaran yang serius terhadap tindakan konservasi
dan pengelolaan; atau
(i) pelanggaran-pelanggaran lainnya yang mungkin ditetapkan dalam prosedur
yang ditentukan oleh organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub
regional atau regional yang terkait.
12. Tanpa mengecualikan ketentuan-ketentuan lain dalam Pasal ini, Negara
Bendera dapat, setiap saat, mengambil tindakan untuk memenuhi kewajiban­
kewajibannya berdasarkan Pasal 19 berkenaan dengan suatu pelanggaran yang
diduga. Apabila kapal tersebut sedang dalam pengarahan oleh Negara Pemeriksa,
Negara Pemeriksa harus, atas permintaan dari Negara Bendera, menyerahkan
kapal tersebut kepada Negara Bendera bersama-sama dengan seluruh informasi
yang sedang berjalan dan hasil penyelidikannya.
12. Pasal ini tidak mengurangi hak dari Negara Bendera untuk melakukan setiap
tindakan, termasuk cara bekerja untuk memberikan hukuman, berdasarkan
hukumnya.
13. Pasal ini berlaku mutatis mutandis bagi kegiatan naik ke atas kapal dan
pemeriksaan oleh suatu Negara Pihak yang merupakan anggota dari suatu
organisasi pengelolaan perikanan sub regional atau regional atau peserta dari
suatu pengaturan pengelolaan perikanan sub regional atau regional dan yang
memiliki alasan yang jelas untuk mempercayai bahwa suatu kapal penangkap
ikan yang mengibarkan bendera dari suatu Negara Pihak yang lain telah
melakukan kegiatan yang bertentangan dengan tindakan-tindakan konservasi
dan pengelolaan yang terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) di wilayah
83
Laut Lepas yang dinaungi oleh organisasi atau pengaturan tersebut, dan kapal
tersebut setelah itu, selama perjalanan penangkapan yang sama, masuk ke da/
am suatu wilayah di bawah yurisdiksi nasional dari Negara Pemeriksa.
13. Apabila suatu organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub regional
atau regional telah menetapkan suatu mekanisme alternatif yang secara efektif
membebaskan kewajiban menurut Persetujuan ini bagi anggota-­anggotanya
atau peserta untuk menjamin penaatan tindakan-tindakan konservasi dan
pengelolaan yang ditetapkan oleh organisasi atau pengaturan, anggota-anggota
dari organisasi atau peserta dari pengaturan tersebut dapat menyetujui untuk
membatasi penerapan ayat (1) untuk diantara mereka sendiri berkaitan dengan
tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan yang telah ditetapkan di wilayah
Laut Lepas yang terkait.
16. Tindakan yang diambil oleh Negara-negara selain Negara Bendera berkaitan
dengan kapal-kapal yang melakukan kegiatan yang bertentangan dengan
tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan perikanan sub regional atau
regional harus sebanding dengan keseriusan pelanggaran tersebut.
17. Apabila terdapat a/asan yang memungkinkan untuk mencurigai bahwa suatu
kapal ikan di Laut Lepas tanpa kebangsaan, suatu negara dapat menaiki kapal
dan memeriksa kapal tersebut. Apabila bukti-bukti meyakinkan, negara tersebut
dapat mengambil tindakan yang mungkin diperlukan sesuai dengan hukum
internasional.
18. Negara-negara harus bertanggung jawab terhadap kerusakan atau kerugian yang
diderita oleh mereka yang disebabkan oleh tindakan yang diambil berdasarkan
pada Pasal ini apabila tindakan tersebut melawan hukum atau melampaui yang
diminta mengingat informasi yang tersedia dalam melaksanakan ketentuanketentuan Pasal ini.
Pasal 22
Prosedur dasar untuk menaiki kapal dan pemeriksaan
berdasarkan Pasal 21
1.
Negara Pemeriksa harus menjamin inspektur-inspektur berwenang mereka:
(a) menunjukkan surat kuasa kepada nakhoda kapal dan memberikan sali nan
dari naskah tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan yang terkait atau
ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang berlaku di Laut Lepas
pada wilayah tersebut berdasarkan tindakan-tindakan tersebut;
84
(b) memberikan pemberitahuan kepada Negara Bendera pada waktu menaiki
kapal dan pemeriksaan;
(c) tidak melakukan campur tangan terhadap kecakapan nakhoda untuk
berkomunikasi dengan otoritas-otoritas dari Negara Bendera selama menaiki
kapal dan melakukan pemeriksaan;
(d) menyediakan sali nan dari laporan mengenai kegiatan menaiki kapal dan
pemeriksan kepada nakhoda dan kepada otoritas-otoritas dari Negara
Bendera, mencatat setiap penolakan atau pernyataan yang diinginkan oleh
nakhoda kapal untuk dimasukkan ke dalam laporan tersebut;
(a) secepatnya meninggalkan kapal tersebut setelah selesai melakukan
pemeriksaan apabila mereka tidak menemukan bukti-bukti adanya
pelanggaran yang serius; dan
(e) menghindarkan penggunaan kekerasan kecuali apabila dan pada tingkatan
yang diperlukan untuk menjamin keselamatan inspektur dan apabila
inspektur-inspektur dihalangi dalam melaksanakan tugas mereka. Tingkat
penggunaan kekerasan tidak melebihi yang disyaratkan pada situasi-situasi
tersebut.
2. Inspektur-inspektur yang berwenang dari suatu Negara Pemeriksa harus
memiliki kewenangan untuk memeriksa kapal, lisensi mereka, alat tangkap,
perlengkapan, catatan-catatan, fasilitas-fasilitas, ikan dan produk ikan dan
dokumen-dokumen lain yang terkait yang diperlukan untuk menguji kesesuaian
dengan tindakan konservasi dan pengelo/lan yang terkait.
3.
Negara Bendera harus menjamin bahwa nakhoda-nakhoda kapal:
(a) menerima dan memfasilitasi kegiatan menaiki kapal secara cepat d aman
oleh inspektur-inspektur;
(b) bekerjasama dengan dan memberikan bantuan dalam pemeriksaan kapal
yang dilakukan sesuai dengan prosedur-prosedur tersebut;
(c) tidak menghalangi, mengancam atau campur tangan dengan inspektur­inspektur dalam melaksanakan kewajiban mereka;
(d) mengijinkan inspektur-inspektur untuk berkomunikasi dengan otoritas­
otoritas dari Negara Bendera dan Negara Pemeriksa selama berada di atas
kapal dan pemeriksaan kapal;
(e) menyediakan fasilitas yang layak, termasuk, apabila memungkinkan, makan,
dan akomodasi, bagi inspektur-inspektur; dan
(f) memfasilitasi kegiatan ke luar kapal oleh inspektur.
85
4. Dalam hal nakhoda kapal menolak untuk menerima tindakan naik ke atas kapal
dan pemeriksaan sesuai dengan Pasal i ni dan Pasal 21, Negara Bendera harus,
kecuali dalam hal-hal, sesuai dengan ketentuan-ketentuan internasional yang
diterima umum, prosedur-prosedur dan praktek-praktek berkaitan dengan
keselamatan di laut, hal ini diperlukan untuk menunda tindakan naik ke atas kapal
dan melakukan pemeriksaan, mengarahkan nahkoda kapal untuk menyampaikan
secepatnya untuk naik ke atas kapal dan melakukan pemeriksaan dan, apabila
nakhoda kapal tidak mengikuti petunjuk tersebut, harus menunda otorisasi
kapal untuk melakukan penangkapan dan memerintahkan kapal tersebut untuk
kembali secepatnya ke pelabuhan. Negara Bendera harus memberikan petunjuk
kepada Negara Pemeriksa terhadap tindakan yang telah diambilnya apabila
situasi sebagaimana dimaksud da/am ayat ini timbul.
Pasal 23
Tindakan-tindakan yang diambil oleh suatu Negara Pelabuhan
1.
Suatu Negara Pelabuhan memiliki hak dan kewajiban untuk mengambil tindakantindakan, sesuai dengan hukum internasional, untuk memajukan efektivitas
tindakan-tindakan konservasi dan pengelolaan sub regional, regional dan global.
Pada saat mengambil tindakan-tindakan tersebut suatu Negara Pelabuhan tidak
diperbolehkan melakukan diskriminasi dalam bentuk atau dalam fakta terhadap
kapal-kapal dari setiap negara.
2.
Negara Pelabuhan dapat, antara lain, memeriksa dokumen-dokumen, alat tangkap
dan tangkapan diatas kapal ikan, apabila kapal-kapal tersebut secara sukarela
berada di pelabuhannya atau pada terminal-terminal lepas pantainya.
3. Negara-negara dapat membuat peraturan-peraturan yang memberikan
kewenangan kepada otoritas nasional yang terkait untuk melarang pendaratan
dan transhipment apabila telah ditentukan bahwa tangkapan telah diambil
dengan cara yang mengurangi efektivitas tindakan-tindak konservasi dan
pengelolaan sub regional, regional atau global di Laut Lepas.
4. Ketentuan Pasal ini tidak mempengaruhi pelaksanaan kedaulatan Negara-­negara
terhadap pelabuhan-pelabuhan di dalam wilayah mereka sesuai dengan hukum
internasional.
86
BAGIAN VII
PERSYARATAN NEGARA-NEGARA BERKEMBANG
Pasal 24
Pengakuan persyaratan-persyaratan khusus
untuk Negara-negara berkembang
1.
Negara-negara harus sepenuhnya mengakui persyaratan-persyaratan khusus
dari Negara-negara berkembang berkaitan dengan konservasi dan pengelolaan
sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan beruaya jauh dan
pengembangan perikanan untuk sediaan tersebut. Untuk tujuan ini, Negara­
negara harus, baik secara langsung atau melalui United Nations Development
Programme, United Nations Food and Agriculture Organization dan lembaga­lembaga khusus lainnya, Global Environment Facility, Komisi Pembangunan
Berkelanjutan dan organisasi dan badan-badan internasional dan regiona/
lpenting lainnya, menyediakan bantuan bagi Negara-negara berkembang.
2.
Dalam melaksanakan kewajiban untuk bekerjasama dalam penetapan tindakantindakan konservasi dan pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas dan
sediaan ikan beruaya jauh, Negara-negara harus memperhatikan persyaratanpersyaratan khusus dari Negara-negara berkembang, secara khusus:
(a) kelemahan Negara-negara berkembang yang tergantung pada ekploitasi
sumber daya hayati laut, termasuk untuk memenuhi persyaratan­persyaratan
gizi bagi penduduk mereka atau bagian-bagiannya;
(b) kebutuhan untuk menghindarkan dampak yang merugikan pada, dan
menjamin akses pada perikanan oleh, nelayan subsisten, skala kecil dan
artisanal dan pekerja perikanan wanita, dan juga penduduk asli di Negaranegara berkembang, khususnya Negara-negara pulau kecil yang berkembang;
dan
(c) kebutuhan untuk menjamin bahwa tindakan-tindakan tersebut tidak
berakibat dalam pemindahan, secara langsung atau tidak langsung, bukti
yang tidak sebanding dari tindakan konservasi terhadap Negara-negara
berkembang.
Pasal 25
Bentuk-bentuk kerja sama dengan Negara-negara berkembang
1. Negara-negara harus bekerjasama, baik langsung atau melalui organisasi sub
regional, regional atau global:
87
(a) meningkatkan kemampuan Negara-negara berkembang, khususnya yang
kurang berkembang diantara mereka dan Negara-negara pulau kecil
yang sedang berkembang, untuk melindungi dan mengelola sediaan ikan
yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh dan untuk
mengembangkan perikanan mereka sendiri untuk sediaan tersebut;
(b) membantu Negara-negara berkembang, khususnya yang kurang berkembang
diantara mereka dan Negara-negara pulau kecil yang sedang berkembang,
untuk memungkinkan mereka berpartisipasi dalam perikanan di Laut Lepas
untuk sediaan tersebut, termasuk memfasilitasi akses kepada perikanan
tersebut tunduk pada ketentuan Pasal 5 dan Pasal 11; dan
(c) untuk memfasilitasi keikutsertaan Negara-negara berkembang pada
organisasi dan pengaturan pengelolaan perikanan sub regional dan
regional.
2.
Kerja sama dengan Negara-negara berkembang untuk tujuan-tujuan sebagaimana
ditetapkan dalam Pasal ini harus termasuk pengadaan bantuan keuangan,
bantuan yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia, bantuan
teknis, transfer teknologi, termasuk melalui pengaturan join venture, dan
pemberian nasehat dan jasa-jasa konsultansi.
3.
Bantuan tersebut harus, antara lain, diarahkan secara khusus kepada:
(a) peningkatan konservasi dan pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas
dan sediaan ikan yang beruaya jauh melalui pengumpulan, pelaporan,
pengujian, tukar menukar dan analisa data perikanan dan informasi
terkait;
(b) penilaian sediaan dan penelitian ilmiah; d
(c) pemantauan, pengawasan, pengamatan, penaatan dan penegakan hukum,
termasuk pelatihan dan pengembangan kelembagaan pada tingkat daerah,
pembangunan dan pembiayaan program pengamat nasional dan regional
dan akses kepada teknologi dan perlengkapan.
Pasal 26
Bantuan khusus dalam pelaksanaan Persetujuan ini.
1.
Negara-negara harus bekerjasama untuk membentuk dana khusus untuk
membantu Negara-negara berkembang dalam pelaksanaan Persetujuan ini,
termasuk membantu Negara-negara berkembang untuk menyediakan anggaran
yang diperlukan dalam setiap proses hukum untuk penyelesaian sengketa dimana
mereka menjadi para pihak.
88
2.
Negara-negara dan organisasi-organisasi internasional harus membantu Negaranegara berkembang dalam mendirikan organisasi atau pengaturan pengelolaan
perikanan sub regional atau regional baru, atau dalam memperkuat organisasiorganisasi atau pengaturan-pengaturan yang telah ada, untuk konservasi dan
pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya
jauh.
BAGIAN VIII
PENYEIESAIAN SENGKETA SECARA DAMAI
Pasal 27
Kewajiban untuk menyelesaikan sengketa
melalui cara-cara damai
Negara-negara memiliki kewajiban untuk menyelesaikan sengketa mereka
melalui negosiasi, inquiry, mediasi, konsiliasi, arbitrasi, penyelesaian hukum, melalui
lembaga-lembaga atau pengaturan-pengaturan regional, atau cara-cara damai lainnya
menurut pilihan mereka sendiri.
Pasal 28
Pencegahan sengketa
Negara-negara harus bekerjasama dalam rangka untuk mencegah terjadinya
sengketa. Untuk tujuan ini, Negara-negara harus menyetujui prosedur-prosedur
pengambilan keputusan yang efisien dan cepat dalam organisasi-organisasi dan
pengaturan-pengaturan pengelolaan perikanan sub regional dan regional dan
harus memperkuat prosedur-prosedur pengambilan keputusan yang ada apabila
diperlukan.
Pasal 29
Sengketa yang bersifat teknis
Apabila suatu sengketa berkaitan dengan masalah yang bersifat teknis, Negara­
negara terkait dapat menyelesaikan sengketa tersebut pada panel tenaga ahli ad hoc
yang ditetapkan oleh mereka. Panel tersebut harus berunding dengan Negara­negara
terkait dan harus berusaha untuk menyelesaikan sengketa secara cepat tanpa jalan
lain pada prosedur-prosedur yang mengikat untuk penyelesaian sengketa.
89
Pasal 30
Prosedur-prosedur untuk penyelesaian sengketa
1.
Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa yang
ditetapkan da/am Bagian XV dari Konvensi berlaku mutatis mutandis bagi setiap
sengketa diantara Negara-negara Pihak Persetujuan ini mengenai interpretasi
atau penerapan Persetujuan ini, apakah mereka menjadi Pihak­-pihak atau tidak
dalam Konvensi.
2.
Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa yang
ditetapkan dalam Bagian XV dari Konvensi berlaku mutatis mutandis bagi setiap
sengketa diantara Negara-negara pihak Persetujuan ini mengenai interpretasi
atau penerapan Persetujuan, dari Persetujuan perikanan sub regional, regional
atau global berkaitan dengan sediaan ikan yang beruaya terbatas atau sediaan
ikan yang beruaya jauh dimana mereka menjadi pihak­pihak, termasuk setiap
sengketa mengenai konservasi dan pengelolaan sediaan tersebut baik mereka
menjadi pihak-pihak atau tidak dari Konvensi.
3.
Setiap prosedur yang diterima oleh suatu negara pihak untuk Persetujuan ini
dan Konvensi berdasarkan Pasal 287 dari Konvensi harus menerapkan pada
penyelesaian sengketa di bawah Bagian ini, kecuali Negara Pihak, pada saat
menandatangani, meratifikasi atau aksesi pada Persetujuan ini, atau waktu
selanjutnya, telah menerima prosedur lain berdasarkan Pasal 287 untuk
penyelesaian sengketa di bawah Bagian ini.
4.
Suatu Negara Pihak pada Persetujuan ini yang tidak menjadi pihak dari Konvensi,
pada saat menandatangani, meratifikasi atau aksesi terhadap Persetujuan
ini, atau waktu lain sesudahnya, harus bebas untuk memilih, melalui suatu
pernyataan tertulis, satu atau beberapa cara sebagaimana ditetapkan dalam
Pasal 287 ayat (1), dari Konvensi untuk penyelesaian sengketa di bawah Bagian
ini. Pasal 287 harus diterapkan pada pernyataan tersebut, demikian juga untuk
setiap sengketa dimana negara tersebut menjadi pihak yang tidak dilindungi
oleh pernyataan yang berlaku. Untuk tujuan konsiliasi dan arbitrasi sesuai
Lampiran V, VII dan VIII, dari Konvensi, negara tersebut harus berhak untuk
mengusulkan konsiliator, arbiter dan tenaga ahli untuk dimasukkan keda/lam
daftar sebagaimana dimaksud dalam Lampiran V, Pasal 2, Lampiran VII, Pasal 2,
dan Lampiran VIII, Pasal 2, untuk penyelesaian sengketa di bawah Bagian i i.
5. Setiap pengadilan atau tribunal dimana sengketa telah diajukan dibawah
Bagian ini harus menerapkan ketentuan-ketentuan yang terkait dari Konvensi,
90
Persetujuan ini dan persetujuan perikanan sub regional, regional atau global
yang terkait, dan juga standar-standar yang diterima umum untuk konservasi
dan pengelolaan sumber daya hayati laut dan ketentuan internasional lainnya
yang tidak sesuai dengan Konvensi, dengan maksud untuk menjamin konservasi
terhadap sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya
jauh terkait.
Pasal 31
Tindakan-tindakan tambahan
1.
Sementara menunggu penyelesaian sengketa sesuai dengan Bagian ini, pihak­pihak dalam sengketa tersebut harus membuat setiap usaha untuk menuju pada
pengaturan-pengaturan tambahan yang sifatnya praktis.
2.
Dengan tidak mengurangi berlakunya Pasal 287 Konvensi, pengadilan atau
tribunal dimana sengketa telah diajukan dibawah Bagian ini dapat menentukan
tindakan-tindakan tambahan yang dipertimbangkan dibawah situasi untuk
melindungi masing-masing hak dari para pihak yang bersengketa atau untuk
mencegah rusaknya sediaan yang menjadi sengketa, dan juga situasi sebagaimana
dimaksud da/am Pasal 7 ayat (5), dan Pasal 16 ayat (2).
3. Suatu Negara Pihak pada Persetujuan i ni yang tidak menjadi Pihak pada Konvensi
dapat menyatakan bahwa, walaupun ada Pasal 290 ayat (5) dari Konvensi, tribunal
internasional untuk hukum laut tidak berhak untuk menentukan, merubah atau
menarik kembali tindakan-tindakan tambahan tanpa persetujuan dari negara
tersebut.
Pasal 32
Batas penerapan prosedur bagi penyelesaian sengketa
Pasal 297 ayat (3), dari Konvensi berlaku juga untuk Persetujuan ini.
BAGIAN IX
BUKAN PIHAK PADA PERSETUJUAN INI
Pasal 33
Bukan pihak pada Persetujuan mnl
1.
Negara-negara pihak harus mendorong bukan pihak pada Persetujuan ini untuk
menjadi pihak dan menyetujui hukum dan peraturan perundang­undangan sesuai
dengan ketentuan-ketentuannya.
91
2.
Negara-negara pihak harus mengambil tindakan sesuai dengan Persetujuan ini
dan hukum internasional untuk mencegah kegiatan-kegiatan kapal-kapal yang
mengibarkan bendera dari bukan pihak yang mengurangi pelaksanaan yang
efektif dari Persetujuan ini.
BAGIAN X
IKTIKAD BAIK DAN PENYALAHGUNAAN HAK
Pasal 34
Iktikad balk dan penyalahgunaan hak
Negara-negara Pihak harus memenuhi dengan iktikad baik kewajiban-kewajiban
yang dibebankan di bawah Persetujuan ini dan harus melaksanakan hak-hak yang
diakui dalam Persetujuan ini dengan cara yang tidak akan menyebabkan terjadinya
penyalahgunaan hak.
BAGIAN XI
KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB
Pasal 35
Kewajlban dan tanggung jawab
Negara-negara Pihak bertanggung jawab sesuai dengan hukum internasional
terhadap kerusakan atau kerugian yang dibebankan pada mereka berdasarkan
Persetujuan ini.
BAGIAN XII
KONFERENSI PENINJAUAN
Pasal 36
Konferensl penlnjauan
1. Empat tahun setelah tanggal berlakunya Persetujuan ini, Sekretaris Jenderal
Perserikatan Bangsa-Bangsa harus mengadakan suatu Konferensi dengan maksud
untuk menilai efektifitas dari Persetujuan ini dalam menjamin konservasi dan
pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya
jauh. Sekretaris Jenderal harus mengundang pada Konferensi tersebut seluruh
negara pihak dan Negara-negara dan lembaga­-lembaga yang berhak menjadi
92
pihak pada Persetujuan ini dan juga organisasi antarpemerintah dan organisasiorganisasi non pemerintah yang berhak untuk berpartisipasi sebagai peninjau.
2. Konferensi harus memperbaiki dan menilai ketercukupan dari ketentuan­
ketentuan Persetujuan ini dan, jika perlu, mengusulkan cara-cara memperkuat
substansi dan metode pelaksanaan ketentuan-ketentuan tersebut dengan
maksud baik untuk membicarakan setiap permasalahan yang berlanjut dalam
konservasi dan pengelolaan sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan
ikan yang beruaya jauh.
BAGIAN XIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 37
Penandatanganan
Persetujuan ini terbuka untuk penandatanganan oleh semua negara dan
lembaga­-lembaga lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) poin (b), dan
akan tetap terbuka untuk penandatanganan pada Markas Besar Perserikatan Bangsa­
Bangsa selama 12 (dua belas) bulan dari tanggal 14 Desember 1995.
Pasal 38
Ratifikasi
Persetujuan ini memerlukan ratifikasi oleh Negara-negara dan lembaga-lembaga
lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) poin (b). Piagam ratifikasi harus
didepositkan pada Sekretariat Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pasal 39
Aksesi
Persetujuan ini tetap terbuka untuk aksesi oleh Negara-negara dan lembaga­lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2) poin (b). Piagam aksesi harus
didepositkan pada Sekretariat Jenderal Bangsa-Bangsa.
Pasal 40
Saat mulai berlaku
1.
Perjanjian ini berlaku 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal pendeposit piagam
ratifikasi atau aksesi yang ke 30.
93
2.
Bagi setiap negara atau lembaga yang meratifikasi atau aksesi pada Persetujuan
ini setelah pendepositan piagam ratifikasi atau aksesi, Persetujuan ini mulai
berlaku pada hari ke 30 (tiga puluh) setelah saat pendepositan piagam ratifikasi
atau aksesinya.
Pasal 41
Penerapan tambahan
1.
Persetujuan ini harus diterapkan dengan tambahan oleh suatu negara atau
lembaga yang menyetujui penerapan tambahannya melalui pemberitahuan
pendepositan tertulis. Penerapan tambahan tersebut berlaku pada hari
diterimanya pemberitahuan tersebut.
2.
Penerapan tambahan oleh suatu negara atau lembaga mengakhiri berlakunya
Persetujuan ini untuk negara atau lembaga tersebut atau melalui pemberitahuan
oleh negara atau lembaga tersebut kepada depositari secara tertulis atas
maksudnya untuk mengakhiri penerapan tambahan.
Pasal 42
Pensyaratan dan pengecualian
Tidak ada pensyaratan atau pengecualian yang diajukan terhadap Persetujuan
ini.
Pasal 43
Deklarasi dan Pernyataan
Pasal 42 tidak menghalangi suatu negara atau lembaga, ketika menandatangani,
meratifikasi atau aksesi pada Persetujuan ini, membuat deklarasi-deklarasi atau
pernyataan-pernyataan, bagaimanapun dirumuskan atau dinamakan dengan maksud,
antara lain untuk menyelaraskan hukum dan perundang-undangannya dengan
ketentuan-ketentuan Persetujuan ini, asalkan deklarasi atau pernyataan demikian
tidak dimaksudkan untuk mengenyampingkan atau mengubah akibat hukum daripada
ketentuan-ketentuan Persetujuan ini dalam penerapannya terhadap negara atau
lembaga tersebut.
Pasal 44
Hubungan dengan persetujuan-persetujuan lain
1.
Persetujuan ini tidak mengubah hak-hak dan kewajiban-kewajiban Negara­
negara pihak yang timbul dari persetujuan-persetujuan lain yang sejalan dengan
94
Persetujuan ini dan tidak mempengaruhi dinikmatinya hak-hak atau pelaksanaan
kewajiban-kewajiban oleh Negara-negara pihak lain berdasarkan Persetujuan
ini.
2.
Dua atau lebih Negara Pihak dapat membuat persetujuan-persetujuan yang
merubah atau menunda berlakunya ketentuan-ketentuan Persetujuan ini, yang
dapat diterapkan hanya terhadap hubungan antara mereka, asalkan persetujuan
demikian tidak berkenaan dengan suatu ketentuan yang penyimpangan
daripadanya tidak sejalan dengan pelaksanaan yang efektif dan maksud serta
tujuan Persetujuan ini, dan asalkan selanjutnya persetujuan-persetujuan
demikian tidak mempengaruhi penerapan prinsip­prinsip dasar yang terkandung
di dalam Persetujuan ini, dan bahwa ketentuan-ketentuan persetujuan demikian
tidak mempengaruhi dinikmatinya hak-hak atau pelaksanaan atau kewajibankewajiban berdasarkan Persetujuan ini oleh Negara Pihak lain.
3.
Negara-negara pihak yang bermaksud membuat suatu persetujuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) harus memberitahu Negara-negara pihak lain melalui
depositori Persetujuan ini mengenai maksud mereka untuk membuat persetujuan
tersebut dan mengenai perubahan atau penundaan yang dimuat didalamnya.
Pasal 45
Amandemen
1.
Suatu Negara Pihak dapat, mengusulkan secara tertulis kepada Sekretaris
Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, usulan amandemen-amandemen
tertentu terhadap Persetujuan ini dan meminta untuk diselenggarakannya
suatu konferensi untuk membahas amandemen-amandemen yang diusulkan itu.
Sekretaris Jenderal harus mengedarkan usul tersebut kepada semua Negara
Pihak. Jika, dalam waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal diedarkannya usul
tersebut, tidak kurang dari setengah Negara-Negara Pihak memberi jawaban
yang mendukung permintaan itu, Sekretaris Jenderal harus menyelenggarakan
konferensi tersebut.
2.
Prosedur pengambilan keputusan yang diterapkan kepada konferensi yang
membahas amandemen sesuai dengan ayat (1) harus sama dengan yang
diterapkan pada konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang sediaan
ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh, kecuali
jika diputuskan lain oleh konferensi. Konferensi harus berusaha mencapai
kesepakatan terhadap amandemen dengan cara konsensus dan tidak boleh ada
pemungutan suara terhadap amandemen-amandemen tersebut sampai segala
95
usaha untuk mencapai konsensus telah habis ditempuh.
3.
Sekali diterima, amandemen-amandemen terhadap Persetujuan ini harus
terbuka bagi penandatanganan di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa
oleh Negara-negara Pihak selama 12 (dua belas) bulan sejak diterima, kecuali
ditentukan lain dalam amandemen itu sendiri.
4.
Pasal 38, Pasal 39, Pasal 47, dan Pasal 50 berlaku untuk semua amandemen
terhadap Persetujuan ini.
5.
Amandemen-amandemen terhadap Persetujuan ini harus mulai berlaku bagi
Negara-negara Pihak yang meratifikasi atau mengaksesinya pada hari ke 30
(tiga puluh) setelah pendepositan piagam ratifikasi atau aksesi oleh dua pertiga
Negara-negara pihak. Selanjutnya, bagi setiap negara pihak yang meratifikasi
atau mengaksesi suatu amandemen setelah pendepositan sejumlah piagam yang
dipersyaratkan, amandemen tersebut mulai berlaku pada hari ke 30 setelah
pendepositan piagam ratifikasi atau aksesinya.
6.
Suatu amandemen dapat menentukan bahwa untuk berlakunya amandemen itu
diperlukan jumlah ratifikasi atau aksesi yang lebih kecil atau aksesi yang lebih
besar daripada yang disyaratkan oleh Pasal ini.
7. Suatu negara yang menjadi pihak pada Persetujuan ini setelah mulai berlakunya
suatu amandemen sesuai dengan ayat 5 harus, jika tidak ada suatu pernyataan
niat yang berbeda oleh negara tersebut:
(a) Dianggap
sebagai
pihak
pada
Persetujuan
ini
sebagaimana
telah
diamandemen; dan
(b) Dianggap sebagai pihak pada Persetujuan yang belum diamandemenkan
dalam hubungan dengan suatu Negara Pihak yang tidak terikat pada
amandemen itu.
Pasal 46
Penyangkalan
1.
Suatu Negara Pihak dapat, dengan pemberitahuan secara tertulis yang
dialamatkan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa,
menyangkal Persetujuan ini dan dapat mengemukakan alasannya. Tidak adanya
alasan yang dikemukakan tidak mempengaruhi keabsahan penyangkalan itu.
Penyangkalan tersebut mulai berlaku 1 (satu) tahun setelah tanggal diterimanya
pemberitahuan itu, kecuali jika pemberitahuan itu menyebutkan tanggal yang
kemudian.
96
2.
Penyangkalan itu dengan cara apapun tidak mempengaruhi tugas Negara
Pihak manapun untuk memenuhi kewajiban apapun yang terkandung dalam
Persetujuan ini untuk mana negara tersebut tunduk pada hukum internasional
terlepas dari Persetujuan ini.
Pasal 47
Partisipasi organisasi internasional
1. Dalam hal suatu organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Lampiran
IX, Pasal 1, dari Konvensi tidak mempunyai kewenangan terhadap seluruh hal
yang diatur oleh Persetujuan ini, Lampiran IX dari Konvensi berlaku mutatis
mutandis bagi keikutsertaan oleh organisasi internasional tersebut dalam
Persetujuan ini, kecuali ketentuan-ketentuan di bawah ini dalam Lampiran
tersebut tidak berlaku:
(a) Pasal 2, kalimat pertama; dan
(b) Pasal 3 ayat (1).
2. Dalam hal suatu organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Lampiran
IX, Pasal 1, dari Konvensi mempunyai kewenangan terhadap seluruh hal yang
diatur oleh Persetujuan ini, ketentuan-ketentuan berikut berlaku untuk
keikutsertaan oleh organisasi internasional tersebut dalam Persetujuan ini:
(a) pada saat penandatanganan atau aksesi, organisasi internasional tersebut
harus membuat suatu pernyataan yang berisi:
(i) bahwa dia memiliki kewenangan terhadap seluruh masalah yang diatur
dalam Persetujuan ini;
(ii) bahwa, untuk alasan ini, negara anggotanya tidak menjadi negara
pihak, kecuali yang berkaitan dengan wilayah mereka dimana organisasi
internasional tidak mempunyai tanggungjawab; dan
(iii) bahwa dia menerima hak dan kewajiban dari Negara-negara dibawah
Persetujuan ini;
(b) Keikutsertaan dari organisasi internasional tersebut tidak membuat setiap
hak dibawah Persetujuan ini bagi negara anggota dari organisasi internasional
tersebut;
(c) Dalam hal terdapat pertentangan diantara kewajiban-kewajiban dari suatu
organisasi internasional di bawah Persetujuan ini, dan kewajiban­kewajibannya di
bawah Persetujuan pendirian organisasi internasional atau setiap tindakan yang
berkaitan dengannya, kewajiban di bawah Persetujuan ini harus diberlakukan.
97
Pasal 48
Lampiran-lampiran
1.
Lampiran-lampiran merupakan bagian integral dari Persetujuan ini dan, kecuali
dengan tegas ditentukan lain, suatu penunjukan kepada Persetujuan ini atau
kepada salah satu Bagiannya termasuk penunjukan kepada Lampiran-lampiran
yang bertalian dengannya.
2.
Lampiran-lampiran tersebut dapat diubah dari waktu ke waktu oleh Negara­negara
Pihak. Perubahan tersebut harus didasarkan pada pertimbangan­pertimbangan
ilmiah dan teknis. Walaupun ada ketentuan Pasal 45, jika suatu perubahan
terhadap suatu Lampiran disetujui melalui konsensus pada suatu pertemuan
Negara-negara Pihak, perubahan tersebut harus disatukan dengan Persetujuan
ini dan berlaku sejak tanggal persetujuannya atau pada tanggal lain yang
ditetapkan dalam perubahan tersebut. Apabila suatu perubahan terhadap suatu
lampiran tidak dapat disetujui melalui konsensus pada pertemuan tersebut,
prosedur-prosedur amandemen sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 45 harus
diberlakukan.
Pasal 49
Depositari
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah depositori Persetujuan
ini dan amandemen-amandemen serta perubahan-perubahan terhadapnya.
Pasal 50
Naskah Autentik
Teks Bahasa Arab, Cina, Inggris, Perancis, Rusia dan Spanyol dari Persetujuan ini
adalah sama-sama otentik.
SEBAGAI TANDA BUKTI, yang Berkuasa Penuh yang bertanda tangan di bawah ini,
yang dikuasakan sebagaimana mestinya untuk itu, telah menandatangani Persetujuan
ini.
TERBUKA UNTUK PENANDATANGANAN di New York, pada tanggal Empat Desember
tahun Seribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Lima, dalam satu naskah asli, dalam
Bahasa Arab, Cina, Inggris, Perancis, Rusia dan Spanyol.
98
LAMPIRAN I
PERSYARATAN STANDAR UNTUK PENGUMPUIAN DAN
PERTUKARAN DATA
Pasal 1
Prinsip-prinsip umum
1.
Pengumpulan, penghimpunan dan analisa data merupakan hal yang mendasar
bagi konservasi dan pengelolaan yang efektif atas sediaan ikan yang beruaya
terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh. Untuk tujuan ini, data dari
perikanan untuk sediaan tersebut di Laut Lepas dan yang terdapat di bawah
yurisdiksi nasional dipersyaratkan dan harus dikumpulkan dan dihimpun
sedemikian rupa sehingga memungkinkan ana/isa statistik yang berarti untuk
tujuan konservasi dan pengelolaan sumber daya ikan. Data-data tersebut
termasuk statistik hasil tangkapan dan usaha perikanan dan informasi perikanan
terkait lainnya, seperti data kapal dan data lain untuk standardisasi usaha
perikanan. Data yang dikumpulkan juga harus termasuk informasi mengenai
spesies non target dan berhubungan atau tergantung. Seluruh data harus diuji
untuk menjamin keakuratan. Kerahasiaan dari data yang tidak dikumpulkan
harus dijaga. Penyebarluasan data tersebut mengikuti persyaratan yang telah
ditetapkan.
2.
Bantuan, termasuk bantuan pelatihan dan keuangan serta teknis, harus disiapkan
bagi Negara-negara berkembang dalam rangka untuk pengembangan kapasitas
dalam bidang konservasi dan pengelolaan sumber daya hayati laut. Bantuan
harus difokuskan pada peningkatan kapasitas untuk pengumpu/an dan penguj
ian data, program pengamat analisis data dan proyek penelitian yang mendukung
penilaian sediaan. Kemungkinan keterlibatan ilmuwan dari negara berkembang
dan manajer-manajer konservasi dan pengelolaan sediaan ikan yang beruaya
terbatas dan sediaan ikan yang beruaya jauh harus dikembangkan.
Pasal 2
Prinsip-prinsip pengumpulan data, kompilasi dan pertukaran
Prinsip-prinsip umum berikut ini harus dipertimbangkan dalam menetapkan
parameter-parameter pengumpulan, kompilasi dan pertukaran data tentang operasi
penangkapan ikan terhadap sediaan ikan yang beruaya terbatas dan sediaan ikan
yang beruaya jauh:
99
(a) Negara-negara harus memastikan bahwa data telah dikumpulkan dari kapalkapal memegang benderanya pada kegiatan penangkapan ikan sesuai dengan
sifat operasional yang khas setiap metoda penangkapan (misalnya, setiap
individu mengendalikan pukat harimau (trawl), masing-masing memasang
rawai (long line) dan pukat kantong (purse seine), masing-masing kelompok ne/
ayan dengan pole and line dan setiap kali menangkap ikan dengan pancing tali
(trawl), dan dengan rincian yang mencakupi untuk memungkinkan pendugaan
sediaan secara efektif.
(b) Negara-negara hendaknya memastikan bahwa data perikanan dinilai melalui
sistem yang memadai;
(c) Negara-negara hendaknya mengompilasi data ilmiah yang terkait dengan
perikanan atau data lainnya yang mendukung dan menyediakan data-data
termaksud dalam format yang telah disepakati dan menurut waktu masa, bagi
organisasi atau pengaturan konservasi dan pengelolaan perikanan regional dan
sub-regional yang terkait yang ada;
(d) Negara-negara hendaknya setuju, di dalam kerangka organisasi atau pengaturan
pengelolaan perikanan sub-regional atau regional, atau menurut spesifikasi
data dan format dimana mereka itu disediakan, sesuai Lampiran ini dan
mempertimbangkan sifat alami daripada sediaan dan perikanan bagi sediaan
tersebut di wilayah itu. Organisasi atau pengaturan termaksud hendaknya
meminta Negara-negara yang bukan anggota dan yang bukan Pihak agar
menyediakan data tentang kegiatan penangkapan ikan yang terkait oleh kapalkapal penangkap ikan pemegang bendera mereka;
(e) Organisasi atau pengaturan dimaksud harus mengompilasi data dan membuatnya
tersedia dalam rujuk waktu dan dalam format yang te/ah disetujui bagi semua
negara yang berminat menurut terminologi dan kondisi yang dibentuk oleh
organisasi-organisasi atau pengaturan-pengaturan; dan
(f)
Para ilmuwan dari negara bendera dan dari organisasi atau pengaturan
pengelolaan perikanan yang terkait regional atau sub-regional, hendaknya
menganalisis data-data secara terpisah atau bersama-sama, sebagaimana
layaknya.
Pasal 3
Data dasar perikanan
1. Negara-negara harus mengumpulkan dan menyediakan bagi organisasi­organisasi
atau pengaturan-pengaturan pengelolaan perikanan yang terkait regional atau
100
sub-regional;, tipe-tipe data di bawah ini dalam rincian yang memadai untuk
memungkinkan pendugaan sediaan yang efektif sesuai dengan prosedur yang
telah disepakati;
(a) Statistik menurut urutan waktu dari hasil dan upaya penangkapan, d menurut
perikanan dan armada;
(b) Hasil penangkapan dalam angka, berat nominal atau kedua-duanya menurut
spesies (target maupun non-target) sebagaimana layaknya bagi perikanan.
(Berat nominal ditentukan oleh Food and Agriculture Organization of the
United Nations sebagai bobot hidup menurut spesies ekuiva/en ketika
didaratkan);
(c) Statistik hasil yang terbuang, tercakup perkiraan dimana perlu, dilaporkan
sebagai jumlah atau nominal berat menurut spesies, sebagaimana layaknya
da/am setiap perikanan;
(d) Statistik upaya yang memadai bagi setiap metoda penangkapan;
(e) Lokasi penangkapan ikan, tanggal dan waktu penangkapan dan lain-lain
statistik tentang operasi penangkapan sebagaimana layaknya.
2. Negara-negara harus juga mengumpulkan informasi untuk mendukung pendugaan
sediaan, apabila memadai untuk keperluan organisasi atau pengaturan
pengelolaan perikanan yang terkait regional atau sub-regional, mencakup:
(a) komposisi hasil tangkap menurut panjang, berat dan jenis kelamin;
(b) informasi biologis lainnya yang mendukung pendugaan sediaan, seperti
informasi tentang umur, pertumbuhan, rekrut, penyebaran dan kepadatan
sediaan; dan
(c) penelitian lain yang terkait, termasuk survei tentang kepadatan, survei
biomassa, survei hidro-akustik, penelitian tentang faktor-faktor lingkungan
yang mempengaruhi kepadatan sediaan, dan studi tentang oseanografi dan
ekologi.
Pasal 4
Data tentang kapal dan informasi
1. Negara-negara hendaknya mengumpulkan data yang berkaitan dengan tipe kapal
untuk standardisasi komposisi armada dan kekuatan/daya kapal penangkap ikan
dan untuk mengubah berbagai ukuran upaya yang berbeda dalam analisis data
hasil tangkapan dan upayanya:
(a) identifikasi kapal, bendera dan pelabuhan tempat registrasi;
101
(b) tipe kapal;
(a) spesifikasi kapal (misalnya, bahan konstruksi, tanggal pembuatan, panjang,
yang tercatat, gros tonase yang tercatat, daya mesin utama, kapasitas muat
dan metoda penyimpanan hasil tangkapan); dan
(b) deskripsi alat tangkap (misalnya, tipe, spesifikasi alat tangkap d
kuantitasnya).
2.
Negara bendera akan mengumpulkan informasi berikut:
(a) navigasi dan posisi tambahan yang tetap;
(b) alat-alat komunikasi dan tanda panggilan radio internasional; d
(c) ukuran banyaknya anak buah kapal (crew size).
Pasal 5
Pelaporan
Negara harus memastikan bahwa kapal-kapal yang berbendera negara mereka,
mengirimkan kepada kantor perikanan nasionalnya, dan bila disetujui, (juga) kepada
organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan yang terkait regional atau subregional, logbook data tentang penangkapan dan upaya penangkapan termasuk data
tentang operasi-operasi penangkapan di lautan bebas, pada jarak waktu yang cukup
sering, untuk memenuhi persyaratan nasional dan regional, dan sebagai kewajiban
internasional. Data termasuk harus dikirimkan, dimana perlu, melalui radio, teleks,
faksimile atau satelit atau dengan cara-cara lain.
Pasal 6
Data verifikasi
Negara-negara atau sebagaimana layaknya, organisasi-organisasi atau
pengaturan-pengaturan pengelolaan perikanan regional atau sub-regional harus
membentuk mekanisme untuk verifikasi data perikanan, seperti misalnya:
(a) verifikasi posisi melalui sistem pemantauan kapal;
(b) program-program pengamatan ilmiah untuk memantau penangkapan, upaya,
komposisi penangkapan ikan (target dan non target) dan detail lain dari operasi
penangkapan;
(c) laporan-laporan tentang trip kapal, berlabuh dan pindah muatan; dan
(a) sampling pelabuhan.
102
Pasal 7
Pertukaran data
1.
Data yang dikumpulkan oleh Negara-negara Bendera harus dibagikan kepada
Negara-negara Bendera lainnya dan Negara Pantai yang terkait melalui
pengaturan-pengaturan atau organisasi-organisasi pengelolaan perikanan
regional atau sub regional yang layak. Organisasi-organisasi atau pengaturan­
pengaturan tersebut harus mengompilasi data dan membuat data tersebut
tersedia menurut urutan waktu dan dalam format yang telah disepakati kepada
semua Negara-negara yang berminat di bawah terminologi dan kondisi yang
dibentuk oleh pengaturan-pengaturan atau organisasi-organisasi, sementara itu
juga memelihara kerahasiaan dari data non-agregat, dan hendaknya, sepanjang
cukup layak (feasible), membuat sistem database yang memungkinkan akses
yang efisien terhadap data itu.
2.
Pada tataran global, pengumpulan dan penyiaran data hendaknya diefektifkan
melalui Food and Agriculture Organization of the United Nations. Dimana
organisasi atau pengaturan pengelolaan perikanan sub-regional atau regional
tidak ada, organisasi itu dapat juga melakukan hal yang sama pada tataran
regional atau sub-regional oleh pengaturan dengan Negara-negara yang
berkepentingan.
103
LAMPIRAN II
PEDOMAN BAGI PELAKSANAAN TITIK-TITIK RUJUK
PENCEGAHAN DALAM KONSERVASI DAN
PENGELOLAAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA
TERBATAS DAN SEDIAAN IKAN YANG BERUAYA JAUH
1.
Titik-titik rujuk pencegahan (precautionary reference points) adalah nilai yang
diperkirakan diperoleh dengan cara prosedur ilmiah yang disepakati, yang sesuai
dengan negara sumber dan perikanannya, dan yang dapat dipergunakan sebagai
petunjuk bagi pengelolaan perikanan.
2.
Dua tipe titik-titik rujuk pencegahan yang hendaknya dipergunakan: konservasi,
atau batas, titik rujukan dan pengelolaan, atau target, titik-titik rujukan. Titik
rujuk batas membentuk perbatasan yang dimaksudkan untuk memaksakan
agar pemanenan da/lam batas biologis yang aman, dalam mana sediaan itu
dapat menghasilkan hasil maksimum yang lestari. Titik rujuk target adalah
dimaksudkan untuk mencapai pengelolaan yang obyektif.
3.
Titik rujuk pencegahan hendaknya memikirkan kepada kekhususan sediaan,
antara lain, bagi kapasitas reproduksinya, kekenyalan masing-masing sediaan
dan karakteristik dari perikanan yang mengeksploitasi sediaan itu, bahkan juga
lain-lain sumber mortalitas dan sumber-sumber utama dari ketidakpastiannya.
4.
Strategi pengelolaan harus mencari cara untuk melestarikan atau mengembalikan
populasi dari pada sediaan yang dipanen tersebut, dan dimana perlu spesies yang
berdiri sendiri maupun yang berhubungan, pada tingkat yang konsisten dengan
titik rujuk pencegahan yang telah disetujui sebelumnya. Titik rujukan termaksud
harus dipergunakan untuk merangsang aksi pengelolaan dan konservasi yang
sebelumnya telah disepakati. Strategi pengelolaan harus mencakup tindakantindakan yangdapat diimplementasikan bila pendekatan dengan titik rujukan
pencegahan dilakukan.
5.
Strategi pengelolaan perikanan harus memastikan bahwa risiko batas titik rujuk
yang dilampaui amat rendah. Apabila suatu sediaan jatuh di bawah batas titik
rujuk atau berada pada resiko jatuh di bawah titik rujuk termaksud, tindakan
pengelolaan dan konservasi hendaknya dimulai untuk memungkinkan pemulihan
sediaan itu. Strategi pengelolaan perikanan harus memastikan bahwa titik rujuk
target secara rata-rata tidak di/ampaui.
104
6.
Apabila informasi untuk menentukan titik-titik rujukan untuk suatu perikanan
amat sedikit atau tidak ada, titik-titik rujuk pengaturan harus dibentuk. Titik
rujuk pengaturan dapat dibentuk secara ana/og terhadap sediaan yang sama
atau sediaan yang sudah lebih diketahui.
7. Derajat mortalitas perikanan yang membentuk hasil maksimum yang lestari
hendaknya dianggap sebagai standar minimum untuk limit titik-titik rujuk. Bagi
sediaan yang tidak ditangkap berlebih, strategi pengelolaan perikanan harus
memastikan bahwa mortalitas penangkapan tidak melampaui hal yang setara
dengan hasil maksimum lestari, dan bahwa biomassa tidak jatuh di bawah
ambang yang telah ditetapkan. Terhadap sediaan yang ditangkap berlebih,
biomassa yang menghasilkan hasil maksimum yang lestari dapat menjadi
pembentuk kembali target.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 21 TAHUN 2010
TENTANG
PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 232, Pasal 238, Pasal
240, dan Pasal 243 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008
tentang Pelayaran, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Perlindungan Lingkungan Maritim;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4849);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERLINDUNGAN LINGKUNGAN
MARITIM.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
105
106
1.
Perlindungan Lingkungan Maritim adalah setiap upaya untuk mencegah dan
menanggulangi pencemaran lingkungan perairan yang bersumber dari kegiatan
yang terkait dengan pelayaran.
2.
Pencegahan Pencemaran dari Kapal adalah upaya yang harus dilakukan Nakhoda
dan/atau awak kapal sedini mungkin untuk menghindari atau mengurangi
pencemaran tumpahan minyak, bahan cair beracun, muatan berbahaya dalam
kemasan, limbah kotoran (sewage), sampah (garbage), dan gas buang dari kapal
ke perairan dan udara.
3.
Penanggulangan Pencemaran dari Pengoperasian Kapal adalah segala tindakan
yang dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu serta terkoordinasi untuk
mengendalikan, mengurangi, dan membersihkan tumpahan minyak atau bahan
cair beracun dari kapal ke perairan untuk meminimalisasi kerugian masyarakat
dan kerusakan lingkungan laut.
4.
Penanggulangan Pencemaran dari Kegiatan Kepelabuhanan adalah segala
tindakan yang dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu serta terkoordinasi
untuk mengendalikan, mengurangi, dan membersihkan tumpahan minyak atau
bahan cair beracun dari pelabuhan ke perairan untuk meminimalisasi kerugian
masyarakat dan kerusakan lingkungan laut.
5.
Minyak adalah minyak bumi dalam bentuk apapun termasuk minyak mentah,
minyak bahan bakar, minyak kotor, kotoran minyak, dan hasil olahan pemurnian
seperti berbagai jenis aspal, bahan bakar diesel, minyak pelumas, minyak tanah,
bensin, minyak suling, naptha, dan sejenisnya.
6.
Pengendalian Anti Teritip (Anti-Fouling Systems) adalah sejenis lapisan
pelindung, cat, lapisan perawatan permukaan, atau peralatan yang digunakan
di atas kapal untuk mengendalikan atau mencegah menempelnya organisme
yang tidak diinginkan.
7.
Pembuangan Limbah di Perairan adalah setiap pembuangan limbah atau benda
lain ke perairan, baik berasal dari kapal maupun berupa kerangka kapal itu
sendiri, kecuali pembuangan yang berasal dari operasi normal kapal.
8.
Pelayaran adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas angkutan di perairan,
kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan, serta perlindungan lingkungan
maritim.
9.
Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu, yang digerakkan
dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda,
termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah
107
permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindahpindah.
10. Awak Kapal adalah orang yang bekerja atau dipekerjakan di atas kapal oleh
pemilik atau operator kapal untuk melakukan tugas di atas kapal sesuai dengan
jabatannya yang tercantum dalam buku sijil.
11. Nakhoda adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pemimpin tertinggi
di kapal dan mempunyai wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
12. Pemilik Kapal adalah orang perseorangan atau perusahaan yang terdaftar
sebagai pemilik kapal atau yang bertanggung jawab atas nama pemilik kapal
termasuk operator.
13. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.
14. Tangki Kapal adalah ruangan tertutup yang merupakan bagian dari konstruksi
tetap kapal yang dipergunakan untuk menempatkan atau mengangkut cairan
dalam bentuk curah temasuk tangki samping (wing tank), tangki bahan bakar
(fuel tank), tangki tengah (centre tank), tangki air balas (water ballast tank)
atau tangki dasar ganda (double bottom tank), tangki endap (slop tank), tangki
minyak kotor (sludge tank), tangki dalam (deep tank), tangki bilga (bilge tank),
dan tangki yang dipergunakan untuk memuat bahan cair beracun secara curah.
15. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan
batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan
pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun
penumpang, dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat
berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan
pelayaran, dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan
intra-dan antarmoda transportasi.
16. Kepelabuhanan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan
fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan, dan ketertiban arus
lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang, keselamatan dan keamanan
berlayar, tempat perpindahan intra-dan/atau antarmoda, serta mendorong
perekonomian nasional dan daerah dengan tetap memperhatikan tata ruang
wilayah.
17. Unit Kegiatan Lain adalah pengelola unit pengeboran minyak dan fasilitas
penampungan minyak di perairan.
18. Syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh
Menteri dan memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalankan dan melakukan
108
pengawasan terhadap dipenuhinya ketentuan peraturan perundang-undangan
untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran.
19. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pelayaran.
Pasal 2
(1) Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim dilakukan oleh Menteri.
(2) Penyelenggaraan perlindungan lingkungan maritim sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui:
a. pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal;
dan
b. pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan ke­
pelabuhanan.
(3) Selain pencegahan dan penanggulangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
perlindungan lingkungan maritim juga dilakukan terhadap:
a. pembuangan limbah di perairan; dan
b. penutuhan kapal.
BAB II
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENCEMARAN
DARI PENGOPERASIAN KAPAL
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 3
(1) Setiap awak kapal wajib mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran
lingkungan yang bersumber dari kapalnya.
(2) Pencemaran lingkungan yang bersumber dari kapalnya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat berupa:
a. minyak;
b. bahan cair beracun;
c. muatan bahan berbahaya dalam bentuk kemasan;
d. kotoran;
e. sampah;
f. udara;
109
g. air balas; dan/atau
h. barang dan bahan berbahaya bagi lingkungan yang ada di kapal.
Pasal 4
(1) Dalam melakukan pencegahan pencemaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 ayat (1), awak kapal sesuai dengan jabatannya yang tercantum dalam buku
sijil pada kapal dengan jenis dan ukuran tertentu harus memastikan:
a. tersedianya buku catatan minyak untuk ruang mesin dan buku catatan
minyak untuk ruang muat bagi kapal tangki minyak;
b. tersedianya tangki penampung minyak kotor dengan baik;
c. tersedianya manajemen pembuangan sampah dan bak penampung
sampah;
d. jenis bahan bakar yang digunakan tidak merusak lapisan ozon;
e. terpasangnya peralatan pencegahan pencemaran yang berfungsi dengan
baik untuk kapal dengan ukuran tertentu;
f. tersedianya tangki penampungan atau alat penghancur kotoran untuk kapal
dengan pelayar 15 (lima belas) orang atau lebih;
g. tersedianya sistem pengemasan, penandaan (pelabelan), pendokumentasian
yang baik, dan penempatan muatan sesuai dengan tata cara dan prosedur
untuk kapal pengangkut bahan berbahaya dalam bentuk kemasan;
h. tersedianya prosedur tetap penanggulangan pencemaran; dan
i. tersedianya bahan kimia pengurai dan alat pelokalisir minyak.
(2) Dalam melakukan penanggulangan pencemaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (1), awak kapal sesuai dengan jabatannya yang tercantum dalam
buku sijil wajib:
a. melokalisir minyak dengan menggunakan alat pelokalisir minyak;
b. menghisap minyak dengan alat penghisap minyak;
c. menyerap minyak dengan bahan penyerap;
d. menguraikan minyak dengan menyiramkan bahan kimia pengurai yang
ramah lingkungan; dan
e. melaporkan kepada Syahbandar terdekat dan/atau unsur pemerintah
lainnya yang terdekat.
Pasal 5
(1) Setiap kapal dilarang melakukan pembuangan limbah dan bahan lain dari
pengoperasian kapal ke perairan.
110
(2) Limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. sisa minyak kotor;
b. sampah; dan
c. kotoran manusia.
(3) Bahan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. air balas;
b. bahan kimia berbahaya dan beracun; dan
c. bahan yang mengandung zat perusak ozon.
(4) Limbah dan bahan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditampung
di kapal dan dipindahkan ke fasilitas penampungan yang ada di pelabuhan atau
terminal khusus.
Pasal 6
(1) Limbah dan bahan lain yang ada di kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat (1) hanya dapat dibuang ke perairan setelah memenuhi persyaratan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. jarak pembuangan;
b. volume pembuangan; dan
c. kualitas buangan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuangan limbah dan bahan lain
yang ada di kapal diatur dengan Peraturan Menteri setelah berkoordinasi dengan
menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan
hidup.
Bagian Kedua
Peralatan Pencegahan dan Bahan Penanggulangan
Pencemaran di Kapal
Pasal 7
(1) Kapal dengan jenis dan ukuran tertentu wajib dilengkapi peralatan pencegahan
dan bahan penanggulangan pencemaran di kapal.
(2) Peralatan pencegahan pencemaran untuk kapal dengan jenis dan ukuran tertentu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. untuk kapal dengan ukuran GT 100 (seratus Gross Tonnage) atau lebih dan/
atau ukuran mesin penggerak utama 200 HP (dua ratus horse power) atau
111
lebih paling sedikit harus memiliki peralatan pencegahan pencemaran oleh
minyak yang meliputi:
1. peralatan pemisah air dan minyak (oily water separator);
2. tangki penampungan minyak kotor (sludge tank); dan
3. standar sambungan pembuangan (standard discharge connection);
b. untuk kapal yang memuat bahan cair beracun paling sedikit harus memiliki
peralatan pencegahan pencemaran oleh bahan cair beracun yang meliputi:
1. pompa stripping; dan
2. tangki endap (slop tank);
c. untuk kapal dengan pelayar 15 (lima belas) orang atau lebih harus memiliki
peralatan pencegahan pencemaran oleh kotoran yang meliputi:
1. alat pengolah kotoran;
2. alat penghancur kotoran; dan/atau
3. tangki penampung kotoran dan sambungan pembuangan standar;
d. untuk setiap kapal paling sedikit harus memiliki peralatan pencegahan
pencemaran oleh sampah yang meliputi:
1. bak penampungan sampah; dan
2. penandaan;
e. untuk kapal dengan ukuran GT 400 (empat ratus Gross Tonnage) atau lebih
paling sedikit harus memiliki peralatan pencegahan pencemaran udara yang
meliputi:
1. penyaring gas buang; dan
2. peralatan sistem pendingin dan pemadam kebakaran yang tidak
menggunakan bahan perusak lapisan ozon.
(3) Peralatan pencegahan dan bahan penanggulangan pencemaran untuk kapal
dengan jenis dan ukuran tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a.
b.
c.
d.
alat pelokalisir minyak;
alat penghisap minyak;
bahan penyerap minyak; dan
bahan pengurai minyak.
(4) Peralatan pencegahan dan bahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memenuhi standar teknis peralatan pencegahan dan bahan penanggulangan
pencemaran yang ditetapkan oleh Menteri.
112
Bagian Ketiga
Pengesahan Peralatan dan Bahan Pencegahan
dan Penanggulangan Pencemaran
Pasal 8
(1) Untuk mengetahui kelengkapan dan terpenuhinya standar teknis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 dilakukan pemeriksaan dan pengujian oleh Menteri.
(2) Pemilik atau operator kapal harus mengajukan permohonan pemeriksaan dan
pengujian kepada Menteri dengan disertai dokumen:
a. fotokopi surat ukur dan sertifikat keselamatan; dan
b. gambar instalasi peralatan di kapal.
(3) Dalam hal hasil pemeriksaan dan pengujian memenuhi kelengkapan dan standar
teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri memberikan pengesahan
dalam bentuk sertifikat.
(4) Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku untuk waktu paling lama
5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang.
(5) Dalam hal hasil pemeriksaan dan pengujian tidak memenuhi kelengkapan dan
standar teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2), pemohon harus melengkapi
dan memenuhi standar teknis.
(6) Pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
setiap tahun dan sewaktu-waktu.
Pasal 9
Pemberian sertifikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) dikenai
tarif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penerimaan
negara bukan pajak.
Pasal 10
(1) Pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) dan
Pasal 9 dilakukan pada pelabuhan atau terminal khusus yang terdapat petugas
pemeriksa keselamatan kapal.
(2) Dalam hal kapal berada pada pelabuhan atau terminal khusus yang tidak terdapat
petugas pemeriksa keselamatan kapal, pemilik kapal dapat mendatangkan
petugas pemeriksa keselamatan kapal atas persetujuan Menteri.
113
Pasal 11
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan, pengujian, dan
pemberian sertifikat peralatan dan bahan pencegahan dan penanggulangan
pencemaran diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Pola Penanggulangan Keadaan Darurat Pencemaran di Kapal
Pasal 12
(1) Kapal dengan jenis dan ukuran tertentu yang dioperasikan wajib dilengkapi pola
penanggulangan pencemaran minyak dari kapal.
(2) Pola penanggulangan pencemaran minyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disusun oleh pemilik atau operator kapal.
(3) Pola penanggulangan pencemaran minyak dari kapal sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dapat berupa:
a. pola penanggulangan keadaan darurat pencemaran oleh minyak (Shipboard
Oil Pollution Prevention Emergency Plan/SOPEP); atau
b. pola penanggulangan keadaan darurat untuk muatan berbahaya selain
minyak (Shipboard Marine Pollution Prevention Emergency Plan/SMPEP).
(4) Pola penanggulangan keadaan darurat pencemaran di kapal sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) disahkan oleh Menteri berdasarkan permohonan dari
pemilik atau operator kapal.
BAB III
PENCEGAHAN PENCEMARAN LINGKUNGAN YANG BERSUMBER DARI
BARANG DAN BAHAN BERBAHAYA YANG ADA DI KAPAL
Bagian Kesatu
Pengendalian Anti Teritip
Pasal 13
(1) Setiap kapal yang dioperasikan dengan ukuran GT 400 (empat ratus Gross
Tonnage) atau lebih dan kapal dengan ukuran panjang 24 (dua puluh empat)
meter atau lebih wajib memenuhi standar sistem anti teritip yang ditetapkan
oleh Menteri.
114
(2) Standar sistem anti teritip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tata
cara pengecatan anti teritip dan bahan cat yang digunakan.
(3) Kapal yang telah memenuhi standar sistem anti teritip sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diberikan sertifikat oleh Menteri.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian sertifikat pemenuhan
standar sistem anti teritip diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua
Manajemen Air Balas di Kapal
Pasal 14
(1) Setiap kapal yang dioperasikan dengan ukuran GT 400 (empat ratus Gross Tonnage)
atau lebih wajib memenuhi standar manajemen air balas yang ditetapkan oleh
Menteri.
(2) Standar manajemen air balas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
tata cara pembuangan air balas dan peralatan pengolahan air balas.
(3) Kapal yang telah memenuhi standar manajemen air balas sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diberikan sertifikat oleh Menteri.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian sertifikat pemenuhan
standar manajemen air balas diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Standar Daya Tahan Pelindung Anti Karat
Pasal 15
(1) Setiap kapal yang dioperasikan dengan ukuran GT 500 (lima ratus Gross Tonnage)
atau lebih wajib memenuhi standar daya tahan pelindung anti karat pada tangki
air balas yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Standar daya tahan pelindung anti karat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi tata cara pengecatan.
(3) Kapal yang telah memenuhi standar daya tahan pelindung anti karat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diberikan sertifikat oleh Menteri.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan dan penerbitan sertifikat
standar daya tahan pelindung anti karat diatur dengan Peraturan Menteri.
115
Bagian Keempat
Pencucian Tangki Kapal
Pasal 16
(1) Pencucian tangki kapal dapat dilakukan oleh:
a. awak kapal; atau
b. badan usaha yang bergerak di bidang pencucian tangki kapal.
(2) Pencucian tangki kapal oleh awak kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a dilakukan dalam hal kapal dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan
pencucian kapal.
(3) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b wajib memiliki:
a. izin usaha; dan
b. izin kerja.
(4) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a diberikan oleh Menteri
setelah memenuhi persyaratan:
a. administrasi:
1. akte pendirian perusahaan;
2. nomor pokok wajib pajak; dan
3. surat keterangan domisili;
b. teknis:
1. memiliki tenaga pencuci tangki kapal yang berpengalaman paling sedikit
2 (dua) orang;
2. memiliki atau menguasai peralatan dan perlengkapan pencucian tangki
kapal yang terdiri atas:
a) pompa cairan;
b) blower;
c) kompresor udara;
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
detektor gas;
pakaian tahan api dan perlengkapannya;
masker gas;
lampu pengaman;
sepatu karet;
peralatan pemadam kebakaran jinjing;
alat pelokalisir minyak;
bahan penyerap;
cairan pengurai minyak;
116
m) kapal kerja; dan
n) sarana penampung limbah.
(5) Izin kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dikeluarkan oleh
Syahbandar setelah memiliki izin pengoperasian alat pengolahan limbah
bahan berbahaya dan beracun dari menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
(6) Kapal yang tangkinya telah dicuci diberikan surat keterangan oleh Syahbandar.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha dan izin kerja
pencucian tangki kapal (tank cleaning) diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IV
PENCEGAHAN PENCEMARAN DARI KEGIATAN DI PELABUHAN
Pasal 17
(1) Setiap pelabuhan yang dioperasikan wajib memenuhi persyaratan untuk
mencegah timbulnya pencemaran yang bersumber dari kegiatan di pelabuhan
termasuk di terminal khusus.
(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tersedianya
fasilitas:
a. penampungan limbah; dan
b. penampungan sampah.
(3) Kegiatan di pelabuhan termasuk di terminal khusus sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi kegiatan kepelabuhanan, pembangunan, perawatan, dan
perbaikan kapal.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis fasilitas pencegahan
pencemaran di pelabuhan termasuk di terminal khusus diatur dengan Peraturan
Menteri.
BAB V
PENANGGULANGAN PENCEMARAN
DI PERAIRAN DAN PELABUHAN
Bagian Kesatu
Umum
117
Pasal 18
(1) Setiap kapal, unit kegiatan lain, dan kegiatan kepelabuhanan wajib memenuhi
persyaratan penanggulangan pencemaran.
(2) Persyaratan penanggulangan pencemaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. prosedur;
b. personil;
c. peralatan dan bahan; dan
d. latihan.
Pasal 19
(1) Prosedur penanggulangan pencemaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18
ayat (2) huruf a terdiri atas:
-frnrmyb.
prosedur penanggulangan pencemaran tier 1;
-frnrmya.
prosedur penanggulangan pencemaran tier 2; dan
-frnrmxz.
prosedur penanggulangan pencemaran tier 3.
(2) Setiap prosedur penanggulangan pencemaran sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) paling sedikit memuat:
-frnrmyb.
struktur, tanggung jawab, tugas, fungsi, dan tata kerja organisasi
operasional;
-frnrmya.
sistem pelaporan dan komunikasi; dan
-frnrmxz.
pedoman teknis operasi.
Pasal 20
(1) Personil penanggulangan pencemaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18
ayat (2) huruf b diatur berdasarkan tingkat kompetensi yang terdiri atas:
a. operator atau pelaksana;
b. penyelia (supervisor) atau komando lapangan (on scene commander); dan
c. manajer atau administrator.
(2) Kompetensi personil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh melalui
pelatihan:
a. tingkat 1, untuk personil operator;
b. tingkat 2, untuk penyelia (supervisor) atau komando lapangan (on scene
commander); dan
c. tingkat 3, untuk manajer atau administrator.
118
Pasal 21
Peralatan dan bahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf c
paling sedikit terdiri atas:
a. alat pelokalisir (oil boom);
b. alat penghisap (skimmer);
c. alat penampung sementara (temporary storage);
d. bahan penyerap (sorbent); dan
e. bahan pengurai (dispersant).
Pasal 22
(1) Latihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf d dilakukan
untuk memastikan kesiapan dan kesiagaan personil, peralatan dan bahan
penanggulangan pencemaran, serta uji coba prosedur yang telah ditetapkan.
(2) Latihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. latihan komunikasi dan pelaporan;
b. latihan kering (table top exercise);
c. latihan penggelaran peralatan (deployment equipment exercise); dan
d. latihan gabungan dan terpadu.
Pasal 23
Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur, personil, peralatan dan bahan, serta
latihan penanggulangan pencemaran diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua
Penanggulangan Pencemaran yang Bersumber
dari Kapal, Unit Kegiatan Lain di Perairan, dan Kegiatan
di Pelabuhan
Pasal 24
(1) Setiap Nakhoda atau penanggung jawab unit kegiatan lain di perairan
bertanggung jawab menanggulangi pencemaran yang bersumber dari kapal
dan/atau kegiatannya.
(2) Otoritas Pelabuhan, Unit Penyelenggara Pelabuhan, Badan Usaha Pelabuhan, dan
Pengelola Terminal Khusus wajib menanggulangi pencemaran yang bersumber
dari kegiatannya.
119
Pasal 25
Penanggulangan pencemaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dilakukan
dengan cara:
a.
melaporkan terjadinya pencemaran kepada Syahbandar terdekat dan/atau
unsur pemerintah lain yang terdekat; dan
b.
melakukan penanggulangan dengan menggunakan peralatan dan bahan yang
dimiliki oleh kapal, unit kegiatan lain di perairan, pelabuhan termasuk terminal
khusus, atau unsur lainnya sesuai dengan prosedur penanggulangan pencemaran
yang disahkan oleh Menteri.
Pasal 26
(1) Pelaporan sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 huruf a dilakukan dengan
menggunakan alat komunikasi yang memuat informasi paling sedikit terdiri
atas:
a. tanggal dan waktu kejadian;
b. jenis pencemaran;
c. sumber dan penyebab pencemaran;
d. posisi pencemaran; dan
e. kondisi cuaca.
(2) Prosedur penanggulangan pencemaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25
huruf b terdiri atas:
b. pola penanggulangan pencemaran yang bersumber dari pengoperasian
kapal; dan
c. prosedur tanggap darurat penanggulangan pencemaran yang bersumber dari
unit kegiatan lain dan kegiatan di pelabuhan termasuk di terminal khusus.
Pasal 27
(1) Dalam hal terjadi pencemaran yang bersumber dari kapal atau unit kegiatan
lain di perairan, Nakhoda atau penanggung jawab unit kegiatan lain di perairan
wajib melakukan penanggulangan pencemaran dengan menggunakan personil,
peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran yang berada di atas kapal
atau unit kegiatan lain di perairan serta dilakukan sesuai dengan prosedur
penanggulangan pencemaran yang bersumber dari pengoperasian kapal atau
kegiatan lain di perairan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2).
(2) Dalam hal personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran di
atas kapal atau unit kegiatan lain di perairan, tidak mampu menanggulangi
120
pencemaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Nakhoda atau penanggung
jawab unit kegiatan lain di perairan segera melaporkan kepada Syahbandar
untuk mengkoordinir penanggulangan berdasarkan tingkatan tier 1 dengan
menggunakan personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran yang
tersedia di pelabuhan.
(3) Dalam hal personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran yang
tersedia di pelabuhan tidak mampu menanggulangi pencemaran, Syahbandar
melaporkan kepada Syahbandar yang ditunjuk sebagai koordinator wilayah
untuk mengkoordinir penanggulangan berdasarkan tingkatan tier 2 dengan
menggunakan personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran yang
tersedia pada wilayahnya.
Dalam hal personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran
berdasarkan tingkatan tier 2 tidak mampu menanggulangi pencemaran
atau pencemaran menyebar melintasi batas wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, Syahbandar koordinator melaporkan kepada Menteri
untuk mengkoordinir penanggulangan berdasarkan tingkatan tier 3 dengan
menggunakan personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran yang
tersedia pada tingkat nasional.
Pasal 28
(1) Dalam hal terjadi pencemaran yang bersumber dari kegiatan di pelabuhan
termasuk terminal khusus, Otoritas Pelabuhan, Unit Penyelenggara Pelabuhan,
Badan Usaha Pelabuhan, atau Pengelola Terminal Khusus wajib melakukan
penanggulangan pencemaran dengan menggunakan personil, peralatan,
dan bahan penanggulangan pencemaran yang berada di pelabuhan termasuk
terminal khusus yang dikoordinir oleh Syahbandar sesuai dengan prosedur
penanggulangan pencemaran berdasarkan tingkatan tier 1.
(2) Dalam hal personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran yang
tersedia di pelabuhan tidak mampu menanggulangi pencemaran, Syahbandar
melaporkan kepada Syahbandar yang ditunjuk sebagai koordinator wilayah
untuk mengkoordinir penanggulangan berdasarkan tingkatan tier 2 dengan
menggunakan personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran yang
tersedia pada wilayahnya.
(3) Dalam hal personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran
berdasarkan tingkatan tier 2 tidak mampu menanggulangi pencemaran
atau pencemaran menyebar melintasi batas wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, Syahbandar koordinator melaporkan kepada Menteri
121
untuk mengkoordinir penanggulangan berdasarkan tingkatan tier 3 dengan
menggunakan personil, peralatan, dan bahan penanggulangan pencemaran yang
tersedia pada tingkat nasional.
BAB VI
TANGGUNG JAWAB PEMILIK ATAU OPERATOR KAPAL
Pasal 29
(1) Pemilik, operator kapal, atau penanggung jawab unit kegiatan lain di perairan
bertanggung jawab atas biaya yang diperlukan dalam penanganan penanggulangan
dan kerugian yang ditimbulkan akibat pencemaran yang bersumber dari kapal
dan/atau kegiatan lainnya.
(2) Untuk memenuhi tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemilik,
operator kapal, atau penanggung jawab unit kegiatan lain di perairan wajib
mengasuransikan tanggung jawabnya.
Pasal 30
(1) Pemilik atau operator kapal yang mengangkut muatan minyak wajib bertanggung
jawab untuk mengganti kerugian pihak ketiga yang disebabkan oleh pencemaran
minyak yang berasal dari kapalnya.
(2) Pemilik atau operator kapal yang mengangkut muatan minyak secara curah
lebih atau sama dengan 2.000 (dua ribu) ton wajib mengasuransikan tanggung
jawabnya atas kerugian pihak ketiga yang disebabkan oleh pencemaran minyak
yang berasal dari kapalnya.
(3) Pemilik atau operator kapal dengan ukuran lebih atau sama dengan GT 1.000
(seribu Gross Tonnage) wajib mengasuransikan tanggung jawabnya untuk
mengganti kerugian pihak ketiga yang disebabkan oleh pencemaran minyak
yang berasal dari kegiatan pengisian bahan bakar (bunker) kapalnya.
(4) Asuransi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) harus dibuktikan
dengan Sertifikat Dana Jaminan Ganti Rugi Pencemaran yang diterbitkan oleh
Menteri.
Pasal 31
Pemilik atau operator kapal yang mengangkut bahan pencemar selain minyak
wajib bertanggung jawab untuk mengganti kerugian dan pemulihan lingkungan yang
disebabkan karena pencemaran di perairan yang berasal dari kapalnya.
122
Pasal 32
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penerbitan Sertifikat Dana Jaminan
Ganti Rugi Pencemaran diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB VII
LOKASI PEMBUANGAN LIMBAH DI PERAIRAN
Pasal 33
(1) Pembuangan limbah di perairan hanya dapat dilakukan pada lokasi tertentu
yang ditetapkan oleh Menteri setelah memenuhi persyaratan.
(2) Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diperbolehkan di:
a. alur-pelayaran;
b. kawasan lindung;
c. kawasan suaka alam;
d. taman nasional;
e. taman wisata alam;
f. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan;
g. sempadan pantai;
h. kawasan terumbu karang;
i. kawasan mangrove;
j. kawasan perikanan dan budidaya;
k. kawasan pemukiman; dan
l. daerah lain yang sensitif terhadap pencemaran sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Pembuangan limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaporkan
kepada institusi yang tugas dan fungsinya di bidang penjagaan laut dan pantai.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan lokasi pembuangan limbah
di perairan diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB VIII
SISTEM INFORMASI PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM
Pasal 34
(1) Menteri menyelenggarakan sistem informasi perlindungan lingkungan maritim.
(2) Sistem informasi perlindungan lingkungan maritim sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) paling sedikit memuat informasi mengenai:
123
a. keberadaan bangunan di bawah air (kabel laut dan pipa laut);
b. lokasi pembuangan limbah; dan
c. lokasi penutuhan kapal.
(3) Penyusunan sistem informasi perlindungan lingkungan maritim sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan:
a. pengumpulan;
b. pengolahan;
c. penyajian;
d. penyebaran; dan
e. penyimpanan data dan infomasi.
Pasal 35
(1) Informasi keberadaan bangunan di bawah air (kabel laut dan pipa laut)
meliputi:
a. jalur kabel laut dan pipa laut;
b. penempatan kabel laut dan pipa laut;
c. diameter kabel laut dan pipa laut;
d. jangka waktu pemanfaatan; dan
e. peruntukkan kabel laut dan pipa laut.
(2) Informasi lokasi pembuangan limbah meliputi:
a. lokasi pembuangan limbah di pelabuhan; dan
b. lokasi pembuangan limbah di perairan.
(3) Informasi lokasi penutuhan kapal meliputi:
a. lokasi penutuhan kapal di pelabuhan; dan
b. lokasi penutuhan kapal di perairan.
Pasal 36
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan sistem informasi
perlindungan lingkungan maritim diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IX
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 37
Pemilik atau operator kapal yang tidak melengkapi kapalnya dengan pola
penanggulangan pencemaran minyak dari kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal
124
12 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa:
a.
peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut, untuk jangka waktu
masing-masing 10 (sepuluh) hari;
b.
apabila sampai pada peringatan tertulis ketiga sebagaimana dimaksud pada
huruf a berakhir tidak melaksanakan kewajibannya, dikenai sanksi berupa
pembekuan izin usaha angkutan laut atau izin operasi angkutan laut khusus;
dan
c.
apabila dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak dikenai
sanksi penghentian sementara kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf b
belum memenuhi kewajibannya, dikenai sanksi berupa pencabutan izin usaha
angkutan laut atau izin operasi angkutan laut khusus.
Pasal 38
Setiap Badan Usaha Pelabuhan, badan usaha yang melakukan kegiatan di
pelabuhan, pengelola terminal khusus, atau pengelola terminal untuk kepentingan
sendiri yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17 ayat (1) atau Pasal 18 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa:
a.
peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut, untuk jangka waktu
masing-masing 10 (sepuluh) hari;
b.
apabila sampai pada peringatan tertulis ketiga sebagaimana dimaksud pada
huruf a berakhir tidak melaksanakan kewajibannya, dikenai sanksi berupa
penghentian sementara kegiatan usaha Badan Usaha Pelabuhan, badan usaha
yang melakukan kegiatan di pelabuhan, kegiatan pengoperasian terminal
khusus, atau pengelolaan terminal untuk kepentingan sendiri; dan
c.
apabila dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak dikenai sanksi
penghentian sementara kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf b belum
memenuhi kewajibannya, dikenai sanksi berupa pencabutan izin usaha Badan
Usaha Pelabuhan, izin badan usaha yang melakukan kegiatan di pelabuhan,
izin operasi terminal khusus, atau persetujuan pengelolaan terminal untuk
kepentingan sendiri.
Pasal 39
(1) Setiap Nakhoda yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 25 huruf a dikenai sanksi administratif berupa pembekuan sertifikat
keahlian pelaut selama 1 (satu) tahun.
(2) Penanggung jawab unit kegiatan lain di perairan yang tidak melaksanakan
125
kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a yang mengakibatkan
pencemaran lingkungan di perairan dikenai sanksi administratif sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Setiap orang yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 33 ayat (3) dikenai sanksi denda administratif sebesar Rp30.000.000,00
(tiga puluh juta rupiah).
BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 40
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, semua peraturan perundangundangan yang lebih rendah dari Peraturan Pemerintah ini yang mengatur mengenai
perlindungan lingkungan maritim dinyatakan tetap berlaku, sepanjang tidak
bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah
ini.
Pasal 41
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 27
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 21 TAHUN 2010
TENTANG
PERLINDUNGAN LINGKUNGAN MARITIM
I.
UMUM
Angkutan laut sebagai salah satu moda transportasi, selain memiliki peran
sebagai sarana pengangkutan yang secara nasional dapat menjangkau seluruh
wilayah melalui perairan sehingga dapat menunjang, mendorong, dan menggerakan
pertumbuhan daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar dalam upaya
meningkatkan dan memeratakan pembangunan dan hasilnya, namun juga memiliki
potensi terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup di laut, baik
yang diakibatkana oleh pengoperasian kapal maupun dari kegiatan kepelabuhanan.
Dengan semakin meningkatnya kebutuhan angkutan laut, baik nasional maupun
internasional, maka pemanfaatan laut untuk lalu lintas pelayaran semakin meningkat,
khususnya dalam kegiatan pengangkutan barang-barang yang berpotensi mencemari
dan/atau merusak lingkungan hidup di laut, yang disebabkan oleh minyak, bahan
cair berbahaya dan beracun dalam bentuk curah, maupun bentuk kemasan dengan
jumlah yang besar, dan potensi pencemaran dari pengoperasian kapal-kapal motor
yang tidak dapat dihindari, seperti minyak kotor dan gas buang dari permesinan
kapal serta limbah kotoran dan sampah serta kecelakaan kapal, seperti tubrukan,
kandas, dan kebocoran.
Untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup akibat pengoperasian kapal maupun kegiatan kepelabuhanan dan
sebagai wujud dari penyelenggaraan transportasi yang berwawasan lingkungan,
maka dipandang perlu untuk mengatur mengenai perlindungan lingkungan maritim
127
128
sebagai bagian dari kegiatan pelayaran yang merupakan satu kesatuan sistem yang
terdiri atas angkutan di perairan, kepelabuhanan, serta keselamatan dan keamanan
di perairan.
Perlindungan lingkungan maritim meliputi kegiatan:
a.
pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari pengoperasian kapal;
b. pencegahan dan penanggulangan pencemaran dari kegiatan kepelabuhanan
serta industri pembangunan dan/atau pengerjaan kapal;
c. pembuangan limbah di perairan; dan
d.
sanksi administratif.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “bahan cair beracun” adalah bahan cair yang
mengandung racun sebagaimana yang diatur dalam ketentuan konvensi
internasional MARPOL 73/78 tentang pencegahan pencemaran dari kapal
yang terbagi dalam kategori X,Y,Z, dan OS (Other Substances/substansi
lain).
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
129
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Yang dimaksud dengan “udara” antara lain gas buang, zat-zat yang
mengandung hallon, dan chloro fluoro carbon.
Huruf g
Yang dimaksud dengan “air balas” adalah air yang dibawa di atas kapal
yang digunakan sebagai pengendali trim, kemiringan, keseimbangan,
sarat, stabilitas, atau tekanan-tekanan yang diperlukan oleh kapal yang
kemungkinan mengandung organisme air yang membahayakan dan bibit
penyakit.
Huruf h
Barang dan bahan berbahaya bagi lingkungan yang ada di kapal antara lain
barang atau bahan berbahaya dalam bentuk curah.
Pasal 4
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “buku sijil” adalah buku yang berisi daftar awak kapal yang
bekerja di atas kapal sesuai dengan jabatannya setelah memenuhi persyaratan
tertentu.
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “bahan bakar yang digunakan tidak merusak lapisan
ozon” adalah bahan bakar yang mengandung sulfur tidak lebih dari 4,5 %
(empat koma lima per seratus) sesuai yang tercatat pada tanda terima
bunker.
Huruf e
Cukup jelas.
130
Huruf f
Yang dimaksud dengan “pelayar” adalah semua orang yang berada di atas
kapal.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “menyerap minyak dengan bahan penyerap” adalah
tindakan penanggulangan terhadap tumpahan minyak di atas kapal.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas.
131
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Yang dimaksud dengan ”sewaktu-waktu” adalah pemeriksaan yang dilakukan
karena adanya sesuatu hal yang dianggap perlu seperti adanya pergantian
konstruksi dan peralatan.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Pengecatan anti teritip menggunakan cat anti teritip yang tidak mengandung
tributyl tin compounds sesuai ketentuan pengendalian anti teritip (anti fouling
system).
Ayat (3)
Cukup jelas.
132
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “manajemen air balas” adalah sistem manajemen
proses mekanis, fisis, kimiawi, dan biologis yang dilakukan secara terpisah atau
bersamaan untuk menghilangkan, mengurangi tingkat bahaya, atau menghindari
pengambilan atau pembuangan organisme air yang membahayakan dan bibit
penyakit yang berasal dari air balas dan endapannya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 15
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “standar daya tahan pelindung anti karat” adalah
Performance Standard for Protective Coating yang memuat ketentuan mengenai
tata cara dan persyaratan perlindungan tangki kapal dari karat atau korosi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas.
133
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “fasilitas penampungan limbah” adalah fasilitas di
pelabuhan yang berfungsi sebagai penampungan limbah dari pengoperasian
kapal (minyak, bahan cair beracun, kotoran, sampah, dan air balas), kegiatan
kepelabuhanan, industri pembangunan, dan/atau pengerjaan kapal.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (3)
Kegiatan kepelabuhanan, pembangunan, perawatan, dan perbaikan kapal
termasuk kegiatan penutuhan kapal (ship recycling).
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Ayat (1)
Huruf a
Huruf b
Yang dimaksud dengan “tier 1” adalah kategorisasi penanggulangan
pencemaran yang terjadi di perairan dan/atau pelabuhan yang bersumber
dari kapal, unit kegiatan lain, dan kegiatan kepelabuhanan yang mampu
ditangani oleh personil, peralatan, dan bahan yang tersedia pada unit
kegiatan lain dan pelabuhan.
Yang dimaksud dengan “tier 2” adalah kategorisasi penanggulangan
pencemaran yang terjadi di perairan dan/atau pelabuhan yang bersumber
dari kapal, unit kegiatan lain, dan kegiatan kepelabuhanan yang tidak
mampu ditangani oleh personil, peralatan, dan bahan yang tersedia pada
unit kegiatan lain dan pelabuhan berdasarkan tingkatan tier 1.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “tier 3” adalah kategorisasi penanggulangan
pencemaran yang terjadi di perairan dan/atau pelabuhan yang bersumber
134
dari kapal, unit kegiatan lain, dan kegiatan kepelabuhanan yang tidak
mampu ditangani oleh personil, peralatan, dan bahan yang tersedia di
suatu wilayah berdasarkan tingkatan tier 2 atau menyebar melintasi batas
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “latihan kering (table top exercise)” adalah latihan
yang dilakukan di darat.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
135
Pasal 25
Huruf a
Yang dimaksud dengan “unsur pemerintah lain” meliputi:
1. Kementerian Lingkungan Hidup;
2. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;
3. Kementerian Dalam Negeri;
4. Kementerian Kelautan dan Perikanan;
5. Kementerian Kesehatan;
6. Kementerian Kehutanan;
7. Kementerian Keuangan;
8. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;
9. Tentara Nasional Indonesia;
10. Kepolisian Negara Republik Indonesia;
11. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi;
12. Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian BBM dan Kegiatan Usaha
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa; dan
13. gubernur atau bupati/walikota terkait.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “unsur lainnya” adalah instansi pemerintah atau badan
usaha yang memiliki peralatan dan bahan penanggulangan pencemaran.
Pasal 26
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “alat komunikasi” adalah sarana komunikasi digunakan
dalam setiap kegiatan yang terkait dengan penanggulangan pencemaran, antara
lain radio, telepon, faximile, dan email.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
136
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “mengganti kerugian” adalah penggantian kerugian
terhadap pihak ketiga (Pemerintah dan masyarakat) yang menderita kerugian
akibat pencemaran tersebut.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
137
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5109
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 20 TAHUN 2010
TENTANG
ANGKUTAN DI PERAIRAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal 12, Pasal
14, Pasal 17, Pasal 20, Pasal 23, Pasal 26, Pasal 30, Pasal 34, Pasal
37, Pasal 39, Pasal 43, Pasal 49, Pasal 58, Pasal 59 ayat (3), Pasal
268, dan Pasal 273 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008
tentang Pelayaran, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Angkutan di Perairan;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4849);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANGKUTAN DI PERAIRAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
139
140
1. Angkutan di Perairan, Angkutan Laut Khusus, Angkutan Laut Pelayaran-Rakyat,
Pelayaran-Perintis, Kapal, Kapal Asing, Trayek, Agen Umum, Usaha Jasa Terkait,
Pelabuhan, Pelabuhan Utama, Pelabuhan Pengumpul, Pelabuhan Pengumpan,
Terminal Khusus, Badan Usaha, dan Setiap Orang adalah sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4849).
2. Angkutan Laut adalah kegiatan angkutan yang menurut kegiatannya melayani
kegiatan angkutan laut.
3. Angkutan Laut Dalam Negeri adalah kegiatan angkutan laut yang dilakukan di
wilayah perairan Indonesia yang diselenggarakan oleh perusahaan angkutan laut
nasional.
4. Angkutan Laut Luar Negeri adalah kegiatan angkutan laut dari pelabuhan atau
terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar negeri ke pelabuhan luar
negeri atau dari pelabuhan luar negeri ke pelabuhan atau terminal khusus
Indonesia yang terbuka bagi perdagangan luar negeri yang diselenggarakan oleh
perusahaan angkutan laut.
5. Angkutan Sungai dan Danau adalah kegiatan angkutan dengan menggunakan
kapal yang dilakukan di sungai, danau, waduk, rawa, banjir kanal, dan terusan
untuk mengangkut penumpang dan/atau barang yang diselenggarakan oleh
perusahaan angkutan sungai dan danau.
6. Angkutan Sungai dan Danau Untuk Kepentingan Sendiri adalah kegiatan angkutan
sungai dan danau yang dilakukan untuk melayani kepentingan sendiri dalam
menunjang usaha pokoknya.
7. Angkutan Penyeberangan adalah angkutan yang berfungsi sebagai jembatan
yang menghubungkan jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta api yang
dipisahkan oleh perairan untuk mengangkut penumpang dan kendaraan beserta
muatannya.
8. Kapal Berbendera Indonesia adalah kapal yang telah didaftarkan dalam Daftar
Kapal Indonesia.
9. Jaringan Trayek adalah kumpulan dari trayek yang menjadi satu kesatuan
pelayanan angkutan penumpang dan/atau barang dari satu pelabuhan ke
pelabuhan lainnya.
10. Trayek Tetap dan Teratur (liner) adalah pelayanan angkutan yang dilakukan
secara tetap dan teratur dengan berjadwal dan menyebutkan pelabuhan
singgah.
141
11. Trayek Tidak Tetap dan Tidak Teratur (tramper) adalah pelayanan angkutan yang
dilakukan secara tidak tetap dan tidak teratur.
12. Sub Agen adalah perusahaan angkutan laut nasional atau perusahaan nasional
yang khusus didirikan untuk melakukan usaha keagenan kapal di pelabuhan atau
terminal khusus tertentu yang ditunjuk oleh agen umum.
13. Perwakilan Perusahaan Angkutan Laut Asing (owner’s representative) adalah
badan usaha atau perorangan warga negara Indonesia atau perorangan warga
Negara asing yang ditunjuk oleh perusahaan angkutan laut asing di luar negeri
untuk mewakili kepentingan administrasinya di Indonesia.
14. Usaha Bongkar Muat Barang adalah kegiatan usaha yang bergerak dalam bidang
bongkar muat barang dari dan ke kapal di pelabuhan yang meliputi kegiatan
stevedoring, cargodoring, dan receiving/delivery.
15. Stevedoring adalah pekerjaan membongkar barang dari kapal ke dermaga/
tongkang/truk atau memuat barang dari dermaga/tongkang/truk ke dalam
kapal sampai dengan tersusun dalam palka kapal dengan menggunakan derek
kapal atau derek darat.
16. Cargodoring adalah pekerjaan melepaskan barang dari tali/jala-jala (ex tackle)
di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke gudang/lapangan penumpukan
barang atau sebaliknya.
17. Receiving/delivery adalah pekerjaan memindahkan barang dari timbunan/
tempat penumpukan di gudang/lapangan penumpukan dan menyerahkan
sampai tersusun di atas kendaraan di pintu gudang/lapangan penumpukan atau
sebaliknya.
18. Usaha Jasa Pengurusan Transportasi (freight forwarding) adalah kegiatan usaha
yang ditujukan untuk semua kegiatan yang diperlukan bagi terlaksananya
pengiriman dan penerimaan barang melalui angkutan darat, kereta api, laut,
dan/atau udara.
19. Usaha Angkutan Perairan Pelabuhan adalah kegiatan usaha untuk memindahkan
penumpang dan/atau barang dari dermaga ke kapal atau sebaliknya, dan dari
kapal ke kapal di perairan pelabuhan.
20. Usaha Penyewaan Peralatan Angkutan Laut atau Peralatan Jasa Terkait dengan
Angkutan Laut adalah kegiatan usaha untuk menyediakan dan menyewakan
peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut dan/
atau alat apung untuk pelayanan kapal.
142
21. Usaha Tally Mandiri adalah kegiatan usaha jasa menghitung, mengukur,
menimbang, dan membuat catatan mengenai muatan untuk kepentingan pemilik
muatan dan/atau pengangkut.
22. Usaha Depo Peti Kemas adalah kegiatan usaha yang meliputi penyimpanan,
penumpukan, pembersihan, dan perbaikan peti kemas.
23. Usaha Pengelolaan Kapal (ship management) adalah kegiatan jasa pengelolaan
kapal di bidang teknis kapal meliputi perawatan, persiapan docking, penyediaan
suku cadang, perbekalan, pengawakan, asuransi, dan sertifikasi kelaiklautan
kapal.
24. Usaha Perantara Jual Beli dan/atau Sewa Kapal (ship broker) adalah kegiatan
usaha perantara jual beli kapal (sale and purchase) dan/atau sewa menyewa
kapal (chartering).
25. Usaha Keagenan Awak Kapal (ship manning agency)adalah usaha jasa keagenan
awak kapal yang meliputi rekruitmen dan penempatan di kapal sesuai
kualifikasi.
26. Usaha Keagenan Kapal adalah kegiatan usaha jasa untuk mengurus kepentingan
kapal perusahaan angkutan laut asing dan/atau kapal perusahaan angkutan laut
nasional selama berada di Indonesia.
27. Usaha Perawatan dan Perbaikan Kapal (ship repairing and maintenance) adalah
usaha jasa perawatan dan perbaikan kapal yang dilaksanakan di kapal dalam
kondisi mengapung.
28. Barang adalah semua jenis komoditas termasuk ternak yang dibongkar/dimuat
dari dan ke kapal.
29. Perusahaan Angkutan Laut Nasional adalah perusahaan angkutan laut berbadan
hukum Indonesia yang melakukan kegiatan angkutan laut di dalam wilayah
perairan Indonesia dan/atau dari dan ke pelabuhan di luar negeri.
30. Perusahaan Angkutan Laut Asing adalah perusahaan angkutan laut berbadan
hukum asing yang kapalnya melakukan kegiatan angkutan laut ke dan dari
pelabuhan atau terminal khusus Indonesia yang terbuka bagi perdagangan luar
negeri dari dan ke pelabuhan luar negeri.
31. Pemerintah pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
143
32. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati/walikota, dan perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
33. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pelayaran.
Pasal 2
Peraturan Pemerintah ini mengatur mengenai kegiatan angkutan laut, angkutan
sungai dan danau, angkutan penyeberangan, angkutan di perairan untuk daerah
masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil, kegiatan jasa terkait dengan angkutan
di perairan, perizinan, penarifan, kewajiban dan tanggung jawab pengangkut,
pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya, pemberdayaan industry angkutan
di perairan, sistem informasi angkutan di perairan, dan sanksi administratif.
BAB II
ANGKUTAN LAUT
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 3
Angkutan laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 terdiri atas:
a. angkutan laut dalam negeri;
b. angkutan laut luar negeri;
c. angkutan laut khusus; dan
d. angkutan laut pelayaran-rakyat.
Bagian Kedua
Angkutan Laut Dalam Negeri
Paragraf 1
Umum
Pasal 4
Angkutan laut dalam negeri meliputi kegiatan:
a. trayek angkutan laut dalam negeri;
b. pengoperasian kapal pada jaringan trayek; dan
144
c. keagenan kapal angkutan laut dalam negeri.
Pasal 5
(1) Kegiatan angkutan laut dalam negeri dilakukan oleh perusahaan angkutan laut
nasional dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia serta diawaki oleh
awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.
(2) Kegiatan angkutan laut dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan untuk mengangkut dan/atau memindahkan penumpang dan/atau
barang antarpelabuhan laut serta kegiatan lainnya yang menggunakan kapal di
wilayah perairan Indonesia.
(3) Kegiatan lainnya yang menggunakan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilarang dilakukan oleh kapal asing.
(4) Kapal asing yang melakukan kegiatan lainnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) dikenai sanksi tidak diberikan pelayanan di pelabuhan atau terminal
khusus.
Paragraf 2
Kegiatan Trayek Angkutan Laut Dalam Negeri
Pasal 6
(1) Kegiatan angkutan laut dalam negeri dilaksanakan dengan trayek tetap dan
teratur serta dapat dilengkapi dengan trayek tidak tetap dan tidak teratur.
(2) Kegiatan angkutan laut dalam negeri yang melayani trayek tetap dan teratur
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jaringan trayek.
(3) Kegiatan angkutan laut dalam negeri yang melayani trayek tetap dan teratur
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria:
a. menyinggahi beberapa pelabuhan secara tetap dan teratur dengan
berjadwal; dan
b. kapal yang dioperasikan merupakan kapal penumpang, kapal petikemas,
kapal barang umum, atau kapal Ro-Ro dengan pola trayek untuk masingmasing
jenis kapal.
(4) Jaringan trayek tetap dan teratur angkutan laut dalam negeri sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) disusun dengan memperhatikan:
a. pengembangan pusat industri, perdagangan, dan pariwisata;
b. pengembangan wilayah dan/atau daerah;
145
c. rencana umum tata ruang;
d. keterpaduan intra-dan antarmoda transportasi; dan
e. perwujudan Wawasan Nusantara.
Pasal 7
(1) Penyusunan jaringan trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (2) dilakukan bersama oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan
asosiasi perusahaan angkutan laut nasional dengan memperhatikan masukan
asosiasi pengguna jasa angkutan laut.
(2) Penyusunan jaringan trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dikoordinasikan oleh Menteri.
(3) Jaringan trayek tetap dan teratur disusun berdasarkan rencana trayek tetap
dan teratur yang disampaikan oleh perusahaan angkutan laut nasional kepada
Menteri dan usulan trayek dari Pemerintah, pemerintah daerah, dan asosiasi
perusahaan angkutan laut nasional.
(4) Jaringan trayek tetap dan teratur angkutan laut dalam negeri sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.
(5) Jaringan trayek yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
digambarkan dalam peta jaringan trayek dan diumumkan oleh Menteri pada
forum koordinasi Informasi Muatan dan Ruang Kapal (IMRK) atau media cetak
dan/atau elektronik.
Pasal 8
(1) Jaringan trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4)
dapat dilakukan perubahan berdasarkan usulan dari Pemerintah, pemerintah
daerah, dan asosiasi perusahaan angkutan laut nasional dengan menambah 1
(satu) atau lebih trayek baru.
(2) Penambahan trayek tetap dan teratur baru sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan dengan memperhatikan:
a. adanya potensi kebutuhan jasa angkutan laut dengan perkiraan faktor
muatan yang layak dan berkesinambungan; dan
b. tersedianya fasilitas pelabuhan yang memadai atau lokasi lain yang ditunjuk
untuk kegiatan bongkar muat barang dan naik/turun penumpang yang dapat
menjamin keselamatan pelayaran.
146
Pasal 9
(1) Perusahaan angkutan laut nasional yang akan mengoperasikan kapal pada
trayek yang belum ditetapkan dalam jaringan trayek sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 ayat (4) harus memberitahukan rencana trayek tetap dan teratur
kepada Menteri.
(2) Rencana trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
belum ditetapkan dalam jaringan trayek dihimpun oleh Menteri sebagai bahan
penyusunan jaringan trayek.
Pasal 10
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan jaringan trayek angkutan
laut dalam negeri diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3
Kegiatan Pengoperasian Kapal Pada Jaringan Trayek
Pasal 11
(1) Pengoperasian kapal pada jaringan trayek tetap dan teratur dilakukan oleh
perusahaan angkutan laut nasional dengan mempertimbangkan:
a. kelaiklautan kapal;
b. menggunakan kapal berbendera Indonesia dan diawaki oleh awak kapal
berkewarganegaraan Indonesia;
c. keseimbangan permintaan dan tersedianya ruangan;
d. kondisi alur dan fasilitas pelabuhan yang disinggahi; dan
e. tipe dan ukuran kapal sesuai dengan kebutuhan.
(2) Perusahaan angkutan laut nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib:
a. melaporkan pengoperasian kapalnya pada trayek tetap dan teratur kepada
Menteri;
b. mengumumkan jadwal kedatangan serta keberangkatan kapalnya kepada
masyarakat; dan
c. mengumumkan tarif, untuk kapal penumpang.
(3) Perusahaan angkutan laut nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
melayani kegiatan angkutan laut pada trayek dimaksud untuk waktu paling
sedikit 6 (enam) bulan.
147
Pasal 12
(1) Dalam keadaan tertentu, perusahaan angkutan laut nasional yang telah
mengoperasikan kapalnya pada trayek tetap dan teratur dapat melakukan
penyimpangan trayek berupa:
a. omisi; dan
b. deviasi.
(2) Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
ketentuan:
a. omisi dilakukan apabila:
1. kapal telah bermuatan penuh dari pelabuhan sebelumnya dalam suatu
trayek yang bersangkutan;
2. tidak tersedia muatan di pelabuhan berikutnya; atau
3. kondisi cuaca buruk pada pelabuhan tujuan berikutnya;
b. deviasi dilakukan apabila kapal yang dioperasikan pada trayek yang telah
ditetapkan digunakan untuk mengangkut kepentingan yang ditugaskan oleh
negara.
Pasal 13
(1) Selain melakukan penyimpangan trayek sebagaimana dimaksud dalam Pasal
12 ayat (1) perusahaan angkutan laut nasional yang telah mengoperasikan
kapalnya pada trayek tetap dan teratur dapat melakukan penggantian kapal
atau substitusi.
(2) Penggantian kapal atau substitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan apabila:
a. kapal mengalami kerusakan permanen;
b. kapal sedang dalam perbaikan atau docking; atau
c. kapal tidak sesuai dengan kondisi muatan.
Pasal 14
Penyimpangan trayek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan penggantian
kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 wajib dilaporkan kepada Menteri.
Pasal 15
Terhadap perusahaan angkutan laut nasional yang mengoperasikan kapalnya
pada trayek tetap dan teratur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3)
diberikan insentif.
148
Pasal 16
(1) Pengoperasian kapal pada trayek tidak tetap dan tidak teratur sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), dilakukan oleh perusahaan angkutan laut
nasional.
(2) Perusahaan angkutan laut nasional yang mengoperasikan kapal pada trayek tidak
tetap dan tidak teratur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melaporkan
kepada Menteri.
(3) Laporan pengoperasian kapal pada trayek tidak tetap dan tidak teratur
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan setiap 3 (tiga) bulan.
Pasal 17
(1) Perusahaan angkutan laut nasional yang mengoperasikan kapalnya pada trayek
tidak tetap dan tidak teratur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1)
hanya dapat mengangkut muatan:
a. barang curah kering dan curah cair;
b. barang yang sejenis; atau
c. barang yang tidak sejenis untuk menunjang kegiatan tertentu.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk perusahaan
pelayaran-rakyat yang mengoperasikan kapalnya pada trayek tidak tetap dan
tidak teratur.
Pasal 18
Pengangkutan barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dilakukan
berdasarkan perjanjian pengangkutan.
Pasal 19
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengoperasian kapal pada trayek
tetap dan teratur serta trayek tidak tetap dan tidak teratur angkutan laut dalam
negeri diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 4
Kegiatan Keagenan Kapal Angkutan Laut Dalam Negeri
Pasal 20
(1) Kapal angkutan laut dalam negeri yang dioperasikan oleh perusahaan angkutan
laut nasional hanya dapat diageni oleh perusahaan angkutan laut nasional atau
perusahaan nasional keagenan kapal.
149
(2) Dalam hal tidak terdapat perusahaan angkutan laut nasional atau perusahaan
nasional keagenan kapal di suatu pelabuhan, perusahaan angkutan laut nasional
dapat menunjuk perusahaan pelayaran-rakyat sebagai agen.
Pasal 21
Apabila di suatu pelabuhan atau terminal khusus tidak terdapat badan usaha
yang dapat ditunjuk sebagai agen, Nakhoda kapal dapat langsung menghubungi
instansi yang terkait untuk menyelesaikan segala urusan dan kepentingan kapalnya
selama berada di pelabuhan atau terminal khusus.
Bagian Ketiga
Angkutan Laut Luar Negeri
Paragraf 1
Umum
Pasal 22
Angkutan laut luar negeri meliputi kegiatan:
a. trayek angkutan laut luar negeri;
b. angkutan laut lintas batas;
c. keagenan umum kapal angkutan laut asing; dan
d. perwakilan perusahaan angkutan laut asing.
Pasal 23
(1) Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negeri dilakukan oleh perusahaan
angkutan laut nasional dan/atau perusahaan angkutan laut asing dengan
menggunakan kapal berbendera Indonesia dan/atau kapal asing.
(2) Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negeri sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan dari:
a. pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar negeri
ke pelabuhan luar negeri; atau
b. pelabuhan luar negeri ke pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka bagi
perdagangan luar negeri.
(3) Perusahaan angkutan laut asing hanya dapat melakukan kegiatan angkutan laut
ke dan dari pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar
negeri.
150
(4) Perusahaan angkutan laut asing sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib
menunjuk perusahaan nasional sebagai agen umum.
(5) Perusahaan angkutan laut asing dilarang melakukan kegiatan angkutan laut
antarpulau atau antarpelabuhan di wilayah perairan Indonesia.
(6) Perusahaan angkutan laut asing yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dikenai sanksi tidak diberikan pelayanan di
pelabuhan atau terminal khusus.
Pasal 24
(1) Kapal yang melakukan kegiatan angkutan laut luar negeri dapat melakukan
kegiatan di pelabuhan atau terminal khusus dalam negeri yang belum ditetapkan
sebagai pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar
negeri dengan ketentuan wajib:
a. menyinggahi pelabuhan atau terminal khusus terdekat yang terbuka bagi
perdagangan luar negeri untuk melapor (check point) kepada petugas bea
dan cukai, imigrasi, dan karantina; atau
b. mendatangkan petugas bea dan cukai, imigrasi, dan karantina dari pelabuhan
atau terminal khusus terdekat yang terbuka bagi perdagangan luar negeri.
(2) Kapal yang melakukan angkutan laut luar negeri yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi tidak diberikan pelayanan
di pelabuhan atau terminal khusus.
Pasal 25
(1) Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
23 ayat (1) dilaksanakan agar perusahaan angkutan laut nasional memperoleh
pangsa muatan yang wajar sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(2) Pengangkutan barang impor milik Pemerintah dan/atau pemerintah daerah harus
menggunakan kapal berbendera Indonesia yang dioperasikan oleh perusahaan
angkutan laut nasional.
(3) Dalam hal jumlah dan kapasitas ruang kapal berbendera Indonesia untuk
melayani kegiatan angkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak tersedia,
perusahaan angkutan laut nasional dapat menggunakan kapal asing.
151
Paragraf 2
Kegiatan Trayek Angkutan Laut Luar Negeri
Pasal 26
(1) Kegiatan angkutan laut dari dan ke luar negeri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 ayat (1) dapat dilakukan dengan trayek tetap dan teratur serta trayek
tidak tetap dan tidak teratur.
(2) Penentuan trayek angkutan laut dari dan ke luar negeri secara tetap dan
teratur serta tidak tetap dan tidak teratur sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional dan/atau perusahaan
angkutan laut asing.
(3) Perusahaan angkutan laut nasional dan/atau perusahaan angkutan laut asing
yang mengoperasikan kapalnya dari dan ke pelabuhan atau terminal khusus
yang terbuka untuk perdagangan luar negeri secara tetap dan teratur, wajib
menyampaikan pemberitahuan tertulis mengenai rencana pengoperasian kapal
dan realisasi kapal yang telah dioperasikan secara tetap dan teratur kepada
Menteri dengan melampirkan:
a. nama kapal yang melayani trayek tetap dan teratur;
b. nama pelabuhan yang akan disinggahi dengan jadwal tetap dan teratur
dalam jangka waktu paling sedikit 6 (enam) bulan sesuai jadwal pelayaran;
dan
c. realisasi pengoperasian kapal paling sedikit 6 (enam) bulan sesuai jadwal
pelayaran.
(4) Pemberitahuan tertulis oleh perusahaan angkutan laut asing yang mengoperasikan
kapalnya dari dan ke pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka untuk
perdagangan luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dilakukan
melalui agen umum di Indonesia yang ditunjuk oleh perusahaan angkutan laut
asing.
(5) Perusahaan angkutan laut nasional dan/atau perusahaan angkutan laut asing
yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
kapal yang dioperasikan dikenai sanksi tidak diberikan pelayanan di pelabuhan
atau terminal khusus.
(6) Perusahaan angkutan laut nasional dan/atau perusahaan angkutan laut asing
yang mengoperasikan kapalnya untuk kegiatan angkutan laut luar negeri dalam
trayek sebagaimana dimaksud pada ayat (3), apabila tidak dilayari pada trayek
152
dimaksud akan diperlakukan sebagai kapal dengan trayek tidak tetap dan tidak
teratur.
Pasal 27
(1) Perusahaan angkutan laut nasional dan/atau perusahaan angkutan laut asing
wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis setiap rencana kegiatan
kapal yang akan dioperasikan dan realisasi kegiatan kapal yang telah dioperasikan
untuk kegiatan angkutan laut luar negeri secara tidak tetap dan tidak teratur
kepada Menteri.
(2) Perusahaan angkutan laut nasional dan/atau perusahaan angkutan laut asing
yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
kapal yang dioperasikan dikenai sanksi tidak diberikan pelayanan di pelabuhan
atau terminal khusus.
Pasal 28
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penempatan kapal pada trayek
angkutan laut luar negeri diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3
Kegiatan Angkutan Laut Lintas Batas
Pasal 29
(1) Untuk memperlancar operasional kapal dan kepentingan perdagangan dengan
negara tetangga dapat ditetapkan trayek angkutan laut lintas batas.
(2) Trayek angkutan laut lintas batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ditetapkan oleh Menteri berdasarkan:
a. usulan kelompok kerja sama sub-regional; dan
b. jarak tempuh pelayaran tidak melebihi 150 (seratus lima puluh) mil laut.
(3) Penempatan kapal pada trayek angkutan laut lintas batas dilakukan oleh:
a. perusahaan angkutan laut nasional dengan menggunakan kapal berukuran
paling besar GT 175 (seratus tujuh puluh lima Gross Tonnage); dan
b. perusahaan pelayaran-rakyat.
153
Paragraf 4
Kegiatan Keagenan Umum Kapal Angkutan Laut Asing
Pasal 30
(1) Perusahaan angkutan laut asing hanya dapat melakukan kegiatan angkutan laut
ke dan dari pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar
negeri dan wajib menunjuk perusahaan nasional sebagai agen umum.
(2) Agen umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh:
a. perusahaan nasional keagenan kapal; atau
b. perusahaan angkutan laut nasional.
(3) Perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan angkutan laut nasional
yang ditunjuk sebagai agen umum yang tidak memiliki kantor cabang di
pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar negeri,
dapat menunjuk perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan angkutan
laut nasional yang berada di pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka bagi
perdagangan luar negeri sebagai sub agen.
(4) Sub agen sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengurus kepentingan kapal
asing yang diageni oleh perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan
angkutan laut nasional selama berada di pelabuhan atau terminal khusus yang
terbuka bagi perdagangan luar negeri.
(5) Perusahaan angkutan laut asing yang tidak melaksanakan kewajibannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kapal yang dioperasikan dikenai sanksi
tidak diberikan pelayanan di pelabuhan atau terminal khusus.
Pasal 31
Perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan angkutan laut nasional
yang ditunjuk sebagai agen umum dilarang menggunakan ruang kapal asing yang
diageninya, baik sebagian maupun keseluruhan, untuk mengangkut muatan dalam
negeri.
Pasal 32
(1) Perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan angkutan laut nasional
yang ditunjuk sebagai agen umum, wajib melaporkan secara tertulis mengenai
rencana kedatangan kapal asing yang diageninya kepada Menteri.
(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:
154
a. nama kapal;
b. nama pelabuhan yang akan disinggahi;
c. surat penunjukan keagenan umum;
d. waktu kedatangan dan keberangkatan kapal;
e. rencana dan volume bongkar muat; dan
f. daftar awak kapal (crew list).
(3) Perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan angkutan laut nasional
yang ditunjuk sebagai agen umum yang tidak melaksanakan kewajibannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kapal yang diageninya dikenai sanksi
tidak mendapatkan pelayanan di pelabuhan atau terminal khusus.
Pasal 33
Kapal asing milik negara sahabat, kapal pesiar asing milik pribadi, atau badan
internasional lain dapat menunjuk atau meminta bantuan kedutaan besar negara yang
bersangkutan atau perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan angkutan
laut nasional untuk mengurus kepentingan kapalnya selama berada di perairan
Indonesia.
Pasal 34
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaporan rencana kedatangan
kapal asing yang diageni oleh perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan
angkutan laut nasional diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 5
Perwakilan Perusahaan Angkutan Laut Asing
Pasal 35
(1) Perusahaan angkutan laut asing yang melakukan kegiatan angkutan laut ke
atau dari pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka untuk perdagangan luar
negeri secara berkesinambungan dapat menunjuk perwakilannya di Indonesia.
(2) Perwakilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk:
a. badan hukum Indonesia;
b. perorangan warga negara Indonesia; atau
c. perorangan warga negara asing.
155
(3) Penunjukan perwakilan perusahaan angkutan laut asing sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a. memiliki surat penunjukan sebagai perwakilan perusahaan angkutan laut
asing yang diketahui Kedutaan Besar Republik Indonesia atau Konsulat
Republik Indonesia di negara bersangkutan bagi warga negara asing;
b. memiliki kartu izin tinggal sementara dari instansi terkait bagi warga negara
asing;
c. memiliki izin kerja dari instansi terkait bagi warga negara asing;
d. melampirkan pas photo terbaru bagi perorangan;
e. melampirkan daftar riwayat hidup dari perorangan yang ditunjuk sebagai
perwakilan; dan
f. memiliki surat keterangan domisili dari instansi yang berwenang.
(4) Perwakilan perusahaan angkutan laut asing sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) bertugas melakukan:
a. pemantauan atas kapal perusahaannya selama beroperasi atau melakukan
kegiatan di perairan dan/atau di pelabuhan Indonesia;
b. pengawasan terhadap pelaksanaan tugas yang diberikan oleh perusahaan
angkutan laut asing terhadap agen umumnya dalam melayani kapalnya di
perairan dan/atau di pelabuhan atau terminal khusus; dan
c. memberikan saran kepada agen umumnya.
Pasal 36
(1) Perwakilan perusahaan angkutan laut asing yang telah memenuhi semua
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (3) wajib didaftarkan
oleh perusahaan nasional keagenan kapal atau perusahaan angkutan laut
nasional yang ditunjuk sebagai agen umum perusahaan angkutan laut asing
kepada Menteri.
(2) Terhadap perwakilan perusahaan angkutan laut asing yang telah memenuhi
semua persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (3), Menteri
menerbitkan Certificate of Owner’s Representative.
(3) Certificate of Owner’s Representative sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
berlaku 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang.
(4) Perwakilan perusahaan angkutan laut asing di Indonesia sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilarang melakukan kegiatan keagenan kapal, booking muatan,
dan kegiatan pencarian muatan.
156
Pasal 37
(1) Perusahaan angkutan laut nasional wajib menyampaikan pemberitahuan setiap
kegiatan kapal berbendera Indonesia yang dioperasikan di luar negeri pada
periode tertentu kepada Menteri.
(2) Pengoperasian kapal berbendera Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) merupakan bagian dari potensi armada nasional.
Pasal 38
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penunjukan perwakilan perusahaan
angkutan laut asing diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Angkutan Laut Khusus
Pasal 39
(1) Kegiatan angkutan laut khusus dilakukan oleh badan usaha untuk menunjang
usaha pokok untuk kepentingan sendiri dengan menggunakan kapal berbendera
Indonesia yang memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal dan diawaki oleh awak
kapal berkewarganegaraan Indonesia.
(2) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan badan hukum
Indonesia yang melakukan kegiatan usaha pokok di bidang:
a. industri;
b. kehutanan;
c. pariwisata;
d. pertambangan;
e. pertanian;
f. perikanan;
g. salvage dan pekerjaan bawah air;
h. pengerukan;
i. jasa konstruksi; dan
j. kegiatan penelitian, pendidikan, pelatihan, dan penyelenggaraan kegiatan
sosial lainnya.
157
Pasal 40
(1) Kegiatan angkutan laut khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1)
dilakukan sesuai dengan jenis kegiatan usaha pokoknya.
(2) Pelaksana kegiatan angkutan laut khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib melaporkan pengoperasian kapalnya kepada Menteri.
(3) Pelaksana kegiatan angkutan laut khusus yang tidak menyampaikan laporan
pengoperasian kapalnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi
tidak diberikan pelayanan di pelabuhan atau terminal khusus.
Pasal 41
(1) Pelaksana kegiatan angkutan laut khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal
39 ayat (1) dilarang mengangkut muatan atau barang milik pihak lain dan/
atau mengangkut muatan atau barang umum, kecuali dalam keadaan tertentu
berdasarkan izin dari Menteri.
(2) Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. tidak tersedianya kapal; dan
b. belum adanya perusahaan angkutan laut nasional yang mampu melayani
sebagian atau seluruh permintaan jasa angkutan laut yang ada.
(3) Izin penggunaan kapal angkutan laut khusus sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) bersifat sementara sampai dengan:
a. tersedianya kapal; dan
b. adanya perusahaan angkutan laut nasional yang mampu melayani sebagian
atau seluruh permintaan jasa angkutan laut yang ada.
Pasal 42
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaporan pengoperasian kapal oleh
pelaksana kegiatan angkutan laut khusus dan tata cara penerbitan izin penggunaan
angkutan laut khusus mengangkut muatan atau barang umum diatur dengan Peraturan
Menteri.
Pasal 43
(1) Pelaksana kegiatan angkutan laut asing yang melakukan kegiatan angkutan laut
khusus ke pelabuhan atau terminal khusus yang terbuka bagi perdagangan luar
negeri, wajib menunjuk perusahaan angkutan laut nasional atau pelaksana
kegiatan angkutan laut khusus sebagai agen umum.
158
(2) Pelaksana kegiatan angkutan laut khusus hanya dapat menjadi agen umum bagi
kapal yang melakukan kegiatan yang sejenis dengan usaha pokoknya.
(3) Kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kapal yang mengangkut
bahan baku, peralatan produksi, dan/atau hasil produksi untuk kepentingan
sendiri dalam menunjang usaha pokoknya.
(4) Dalam hal pelaksana kegiatan angkutan laut asing tidak melaksanakan
kewajibannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kapal yang dioperasikan
dikenai sanksi tidak diberikan pelayanan di pelabuhan atau terminal khusus.
Pasal 44
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penunjukan keagenan angkutan laut
khusus diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kelima
Angkutan Laut Pelayaran-Rakyat
Pasal 45
(1) Kegiatan angkutan laut pelayaran-rakyat dilakukan oleh orang perseorangan
warga negara Indonesia atau badan usaha dengan menggunakan kapal berbendera
Indonesia yang memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal serta diawaki oleh
awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.
(2) Penggunaan kapal angkutan laut pelayaran-rakyat berbendera Indonesia
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. kapal layar (KL) tradisional yang digerakkan sepenuhnya oleh tenaga
angin;
b. kapal layar motor (KLM) berukuran tertentu dengan tenaga mesin dan luas
layar sesuai ketentuan; atau
c. kapal motor (KM) dengan ukuran tertentu.
Pasal 46
Kegiatan angkutan laut pelayaran-rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
45 ayat (1) termasuk di dalamnya kegiatan bongkar muat serta kegiatan ekspedisi
muatan kapal laut, yang dapat dilakukan secara sendiri-sendiri maupun secara
bersama-sama.
159
Pasal 47
(1) Menteri melakukan pembinaan angkutan laut pelayaranrakyat agar kehidupan
usaha dan peranan penting angkutan laut pelayaran-rakyat tetap terpelihara
sebagai bagian dari potensi angkutan laut nasional yang merupakan satu
kesatuan sistem transportasi nasional.
(2) Pengembangan angkutan laut pelayaran-rakyat dilaksanakan untuk:
a. meningkatkan pelayanan ke daerah pedalaman dan/atau perairan yang
memiliki alur dengan kedalaman terbatas termasuk sungai dan danau;
b. meningkatkan kemampuannya sebagai lapangan usaha angkutan laut
nasional dan lapangan kerja; dan
c. meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan kewiraswastaan dalam
bidang usaha angkutan laut nasional.
(3) Pengembangan angkutan laut pelayaran-rakyat sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilakukan melalui:
a. peningkatan keterampilan sumber daya manusia bagi pengusaha dan
awak kapal di bidang nautis, teknis, radio, serta pengetahuan kepelautan
melalui pendidikan/ pelatihan kepelautan yang diselenggarakan termasuk
di pelabuhan sentra pelayaran-rakyat;
b. peningkatan keterampilan manajemen bagi perusahaan berupa pendidikan
di bidang ketatalaksanaan pelayaran niaga tingkat dasar di pelabuhan sentra
pelayaran-rakyat;
c. penetapan standarisasi bentuk, ukuran, konstruksi, dan tipe kapal disesuaikan
dengan daerah dan/atau rute pelayaran yang memiliki alur dengan kedalaman
terbatas termasuk sungai dan danau yang dapat dipertanggungjawabkan
baik dari segi ekonomi maupun dari segi kelaiklautan kapalnya; dan
d. kemudahan dalam hal pendirian usaha, operasional, dan penyiapan fasilitas
pelabuhan serta keringanan tarif jasa kepelabuhanan.
Pasal 48
(1) Armada angkutan laut pelayaran-rakyat dapat dioperasikan pada jaringan trayek
angkutan dalam negeri dan trayek lintas batas, baik dengan trayek tetap dan
teratur maupun trayek tidak tetap dan tidak teratur.
(2) Kegiatan angkutan laut pelayaran-rakyat yang menggunakan kapal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) huruf a dan huruf b dilakukan dengan trayek
tidak tetap dan tidak teratur.
160
(3) Kegiatan angkutan laut pelayaran-rakyat yang menggunakan kapal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2) huruf c dilakukan dengan trayek tetap dan
teratur.
Pasal 49
Perusahaan pelayaran-rakyat dalam melakukan kegiatan angkutan laut secara
tidak tetap dan tidak teratur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (2) dapat
mengangkut muatan:
a. barang umum;
b. barang curah kering dan/atau curah cair; dan/atau
c. barang yang sejenis, dalam jumlah tertentu, sesuai dengan kondisi kapal
pelayaran-rakyat.
Pasal 50
(1) Keagenan kapal perusahaan pelayaran-rakyat hanya dapat dilakukan oleh
perusahaan pelayaran-rakyat.
(2) Dalam hal tidak terdapat perusahaan pelayaran-rakyat di suatu pelabuhan,
perusahaan pelayaran-rakyat dapat menunjuk perusahaan nasional keagenan
kapal atau perusahaan angkutan laut nasional.
Pasal 51
Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan angkutan laut pelayaran-rakyat
diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB III
ANGKUTAN SUNGAI DAN DANAU
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 52
(1) Angkutan sungai dan danau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi
kegiatan:
a. angkutan sungai dan danau di dalam negeri;
161
b. angkutan sungai dan danau antara negara Republik Indonesia dengan negara
tetangga; dan
c. angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri.
(2) Kegiatan angkutan sungai dan danau dilakukan oleh orang perseorangan warga
negara Indonesia atau badan usaha dengan menggunakan kapal berbendera
Indonesia yang memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal serta diawaki oleh
awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.
(3) Kegiatan angkutan sungai dan danau sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilarang dilakukan di laut, kecuali mendapat izin dari Syahbandar dengan tetap
memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal.
Bagian Kedua
Kegiatan Angkutan Sungai dan
Danau di Dalam Negeri
Pasal 53
(1) Kegiatan angkutan sungai dan danau di dalam negeri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 52 ayat (1) huruf a diselenggarakan dengan menggunakan:
a. trayek tetap dan teratur; dan
b. trayek tidak tetap dan tidak teratur.
(2) Kegiatan angkutan sungai dan danau di dalam negeri yang melayani trayek
tetap dan teratur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan dalam
jaringan trayek.
(3) Jaringan trayek sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh:
a. Menteri, untuk trayek antarprovinsi;
b. gubernur, untuk trayek antarkabupaten/kota dalam provinsi; dan
c. bupati/walikota, untuk trayek dalam kabupaten/kota.
(4) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
menetapkan jaringan trayek sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus
mempertimbangkan:
a. pengembangan wilayah potensi angkutan; dan
b. keterpaduan intra-dan antarmoda transportasi.
(5) Penetapan jaringan trayek angkutan sungai dan danau sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) dilakukan setelah memenuhi persyaratan:
162
a. sesuai dengan rencana induk pelabuhan nasional;
b. adanya kebutuhan angkutan;
c. rencana dan/atau ketersediaan pelabuhan sungai dan danau;
d. ketersediaan kapal sungai dan danau dengan spesifikasi teknis kapal sesuai
fasilitas pelabuhan pada trayek yang akan dilayani; dan
e. potensi perekonomian daerah.
(6) Jaringan trayek angkutan sungai dan danau di dalam negeri sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), untuk seluruh wilayah Republik Indonesia, digambarkan
dalam peta jaringan dan diumumkan oleh Menteri.
Pasal 54
(1) Jaringan trayek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) berfungsi untuk
menghubungkan simpul:
a. antarpelabuhan sungai;
b. antarpelabuhan sungai dengan pelabuhan laut yang berada dalam satu alurpelayaran; atau
c. antarpelabuhan danau.
(2) Jaringan trayek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. trayek utama; dan
b. trayek cabang.
(3) Trayek utama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a menghubungkan
antarpelabuhan sungai dan antarpelabuhan danau yang berfungsi sebagai pusat
penyebaran.
(4) Trayek cabang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b menghubungkan
antarpelabuhan sungai dan antarpelabuhan danau yang berfungsi sebagai
pusat penyebaran dengan yang bukan berfungsi sebagai pusat penyebaran atau
antarpelabuhan sungai dan antarpelabuhan danau yang bukan berfungsi sebagai
pusat penyebaran.
Pasal 55
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan trayek angkutan sungai
dan danau di dalam negeri diatur dengan Peraturan Menteri.
163
Bagian Ketiga
Kegiatan Angkutan Sungai dan Danau Antara Negara
Republik Indonesia dan Negara Tetangga
Pasal 56
(1) Kegiatan angkutan sungai dan danau antara Negara Republik Indonesia dan
negara tetangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf b dilakukan
berdasarkan perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah
negara tetangga yang bersangkutan.
(2) Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan:
a. adanya kebutuhan angkutan sungai dan danau dari negara Republik Indonesia
ke negara tetangga atau sebaliknya; dan
b. tersedianya fasilitas pelabuhan sungai dan danau yang terletak berdekatan
dengan batas wilayah negara Republik Indonesia dengan negara tetangga.
(3) Angkutan sungai dan danau yang dilakukan antara 2 (dua) negara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh kapal berbendera Indonesia
dan/atau kapal berbendera negara yang bersangkutan.
Bagian Keempat
Kegiatan Angkutan Sungai dan Danau
Untuk Kepentingan Sendiri
Pasal 57
Kegiatan angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri dapat dilakukan
oleh orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha untuk menunjang
usaha pokoknya.
Pasal 58
(1) Pelaksana kegiatan angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 wajib melaporkan pengoperasian
kapalnya kepada bupati/walikota sesuai dengan lokasi usaha pokoknya.
(2) Pelaksana kegiatan angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri yang
tidak menyampaikan laporan pengoperasian kapalnya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dikenai sanksi tidak diberikan pelayanan di pelabuhan sungai dan
danau.
164
Pasal 59
(1) Pelaksana kegiatan angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (2) dilarang mengangkut muatan
atau barang milik pihak lain dan/atau mengangkut muatan atau barang umum,
kecuali dalam keadaan tertentu berdasarkan izin dari bupati/walikota.
(2) Keadaan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. tidak tersedianya kapal; dan
b. belum adanya perusahaan angkutan sungai dan danau yang mampu melayani
sebagian atau seluruh permintaan jasa angkutan sungai dan danau yang
ada.
(3) Izin penggunaan kapal angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat sementara sampai dengan:
a. tersedianya kapal; dan
b. adanya perusahaan angkutan sungai dan danau yang mampu melayani
sebagian atau seluruh permintaan jasa angkutan sungai dan danau yang
ada.
Pasal 60
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penerbitan izin kegiatan angkutan
sungai dan danau untuk kepentingan umum diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IV
ANGKUTAN PENYEBERANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 61
(1) Angkutan penyeberangan merupakan angkutan yang berfungsi sebagai jembatan
yang menghubungkan jaringan jalan atau jaringan jalur kereta api yang
dipisahkan oleh perairan untuk mengangkut penumpang dan kendaraan beserta
muatannya.
(2) Kegiatan angkutan penyeberangan dilakukan oleh badan usaha dengan
menggunakan kapal berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan
kelaiklautan kapal serta diawaki oleh awak kapal berkewarganegaraan
Indonesia.
165
(3) Setiap kapal yang melayani angkutan penyeberangan wajib:
a. memenuhi persyaratan teknis kelaiklautan dan persyaratan pelayanan
minimal angkutan penyeberangan;
b. memiliki spesifikasi teknis sesuai dengan fasilitas pelabuhan yang digunakan
untuk melayani angkutan penyeberangan atau terminal penyeberangan
pada lintas yang dilayani;
c. memiliki dan/atau mempekerjakan awak kapal yang memenuhi persyaratan
kualifikasi yang diperlukan untuk kapal penyeberangan;
d. memiliki fasilitas bagi kebutuhan awak kapal maupun penumpang dan
kendaraan beserta muatannya;
e. mencantumkan identitas perusahaan dan nama kapal yang ditempatkan
pada bagian samping kiri dan kanan kapal; dan
f. mencantumkan informasi atau petunjuk yang
menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
diperlukan
dengan
(4) Angkutan penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. angkutan penyeberangan di dalam negeri; dan
b. angkutan penyeberangan antara negara Republik Indonesia dan negara
tetangga.
Bagian Kedua
Kegiatan Angkutan Penyeberangan di Dalam Negeri
Pasal 62
(1) Kegiatan angkutan penyeberangan di dalam negeri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 61 ayat (4) huruf a dilaksanakan dengan menggunakan trayek tetap
dan teratur dalam lintas penyeberangan.
(2) Lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh:
a. Menteri, untuk lintas penyeberangan antarprovinsi;
b. gubernur, untuk lintas penyeberangan antarkabupaten/kota; dan
c. bupati/walikota, untuk lintas penyeberangan dalam kabupaten/kota.
(3) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
menetapkan lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus
mempertimbangkan:
a. pengembangan jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta api yang
dipisahkan oleh perairan;
166
b. fungsi sebagai jembatan;
c. hubungan antara dua pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan
penyeberangan, antara pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan
penyeberangan dan terminal penyeberangan, dan antara dua terminal
penyeberangan dengan jarak tertentu;
d. tidak mengangkut barang yang diturunkan dari kendaraan pengangkutnya;
e. rencana tata ruang wilayah; dan
f. jaringan trayek angkutan laut sehingga dapat mencapai optimalisasi
keterpaduan angkutan intradan antarmoda.
(4) Penetapan lintas penyeberangan selain mempertimbangkan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) harus memenuhi persyaratan:
a. sesuai dengan rencana induk pelabuhan nasional;
b. adanya kebutuhan angkutan;
c. rencana dan/atau ketersediaan terminal penyeberangan atau pelabuhan;
d. ketersediaan kapal penyeberangan dengan spesifikasi teknis kapal sesuai
fasilitas pelabuhan pada lintas yang akan dilayani; dan
e. potensi perekonomian daerah.
(5) Lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk seluruh
wilayah Republik Indonesia, digambarkan dalam peta lintas penyeberangan dan
diumumkan oleh Menteri.
Pasal 63
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan lintas penyeberangan
diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Kegiatan Angkutan Penyeberangan
Antara Negara Republik Indonesia dan Negara Tetangga
Pasal 64
(1) Kegiatan angkutan penyeberangan antara Negara Republik Indonesia dan
negara tetangga dilakukan berdasarkan perjanjian antara Pemerintah Republik
Indonesia dan pemerintah negara tetangga yang bersangkutan.
(2) Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan:
167
a. adanya kebutuhan angkutan penyeberangan dari negara Republik Indonesia
ke negara tetangga atau sebaliknya; dan
b. tersedianya fasilitas pelabuhan laut yang digunakan untuk melayani
angkutan penyeberangan yang terletak berdekatan dengan batas wilayah
Negara Republik Indonesia dengan negara tetangga.
(3) Angkutan penyeberangan yang dilakukan antara 2 (dua) negara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh kapal berbendera Indonesia
dan/atau kapal berbendera negara tetangga yang bersangkutan.
Bagian Keempat
Penempatan Kapal
Pasal 65
Penempatan kapal yang akan dioperasikan pada lintas penyeberangan dilakukan
dengan mempertimbangkan:
a. adanya kebutuhan angkutan penyeberangan; dan
b. tersedianya fasilitas pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan
penyeberangan/ terminal penyeberangan.
Pasal 66
(1) Penempatan kapal yang akan dioperasikan pada setiap lintas penyeberangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a. spesifikasi teknis lintas;
b. spesifikasi teknis kapal;
c. persyaratan pelayanan minimal angkutan penyeberangan;
d. fasilitas pelabuhan laut yang digunakan untuk melayani angkutan
penyeberangan atau terminal penyeberangan; dan
e. keseimbangan antara kebutuhan penyedia dan pengguna jasa angkutan.
(2) Spesifikasi teknis lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a meliputi:
a. kondisi lintasan;
b. perkiraan kapasitas lintas;
c. kemampuan pelayanan alur; dan
d. spesifikasi teknis terminal penyeberangan atau pelabuhan laut yang
digunakan untuk melayani angkutan penyeberangan.
168
(3) Spesifikasi teknis kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. ukuran kapal;
b. pintu rampa;
c. kecepatan kapal; dan
d. mesin bantu sandar.
(4) Persyaratan pelayanan minimal angkutan penyeberangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. persyaratan usaha; dan
b. persyaratan pelayanan.
(5) Fasilitas pelabuhan laut yang digunakan untuk melayani angkutan penyeberangan
atau terminal penyeberangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
paling sedikit meliputi:
a. jumlah dan jenis fasilitas sandar kapal;
b. kolam pelabuhan; dan
c. fasilitas naik turun penumpang dan kendaraan.
(6) Keseimbangan antara kebutuhan penyedia dan pengguna jasa angkutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan keseimbangan antara
permintaan jasa angkutan dengan sarana angkutan yang tersedia.
Pasal 67
(1) Untuk penambahan kapasitas angkut pada setiap lintas penyeberangan,
penempatan kapal dilakukan dengan mempertimbangkan:
a. faktor muat rata-rata kapal pada lintas penyeberangan mencapai paling
sedikit 65% (enam puluh lima per seratus) dalam jangka waktu 1 (satu)
tahun;
b. kapal yang ditempatkan tidak dapat memenuhi jumlah muatan yang ada;
c. jumlah kapal yang beroperasi kurang dari jumlah kapal yang diizinkan
melayani lintas yang bersangkutan;
d. kapasitas prasarana dan fasilitas pelabuhan laut yang digunakan untuk
melayani angkutan penyeberangan atau terminal penyeberangan yang
tersedia; dan/atau
e. tingkat kemampuan pelayanan alur.
(2) Penambahan kapasitas angkut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di setiap
lintas penyeberangan dilakukan dengan meningkatkan jumlah frekuensi
pelayanan kapal.
(3) Dalam hal frekuensi pelayanan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sudah
optimal, dapat dilakukan:
169
a. penambahan jumlah kapal; atau
b. penggantian kapal dengan ukuran yang lebih besar.
(4) Penambahan kapasitas angkut kapal pada setiap lintas penyeberangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus memperhatikan faktor muat
rata-rata paling sedikit 50% (lima puluh per seratus) per tahun dengan tidak
menambah waktu sandar dan waktu layar dari masingmasing kapal.
Pasal 68
(1) Setiap lintas penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1)
dilakukan evaluasi secara berkala.
(2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melalui media
cetak dan/atau elektronik.
Pasal 69
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian persetujuan penempatan
kapal pada lintas penyeberangan diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB V
ANGKUTAN DI PERAIRAN UNTUK DAERAH MASIH TERTINGGAL
DAN/ATAU WILAYAH TERPENCIL
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 70
(1) Angkutan di perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil
dilaksanakan oleh Menteri, gubernur, dan/atau bupati/walikota.
(2) Angkutan di perairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan
pelayaran-perintis dan penugasan.
(3) Kegiatan pelayaran-perintis dan penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dilaksanakan oleh pelaksana kegiatan yang bergerak di bidang:
a. angkutan laut;
b. angkutan sungai dan danau; atau
c. angkutan penyeberangan.
170
Bagian Kedua
Pelayaran-Perintis
Pasal 71
(1) Kegiatan pelayaran-perintis dilakukan untuk:
a. menghubungkan daerah yang masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil
yang belum berkembang dengan daerah yang sudah berkembang atau
maju;
b. menghubungkan daerah yang moda transportasi lainnya belum memadai;
dan
c. menghubungkan daerah yang secara komersial belum menguntungkan untuk
dilayani oleh pelaksana kegiatan angkutan laut, angkutan sungai dan danau,
atau angkutan penyeberangan.
(2) Kegiatan pelayaran-perintis yang dilakukan di daerah yang masih tertinggal dan/
atau wilayah terpencil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditentukan
berdasarkan kriteria:
a. belum dilayani oleh pelaksana kegiatan angkutan laut, angkutan sungai
dan danau atau angkutan penyeberangan yang beroperasi secara tetap dan
teratur;
b. secara komersial belum menguntungkan; atau
c. tingkat pendapatan perkapita penduduknya masih rendah.
Pasal 72
(1) Pelayaran-perintis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) dilaksanakan
oleh pelaksana kegiatan angkutan laut, angkutan sungai dan danau, atau
angkutan penyeberangan dengan biaya yang disediakan oleh Pemerintah dan/
atau pemerintah daerah.
(2) Biaya yang disediakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) merupakan subsidi sebesar selisih biaya pengoperasian
kapal pelayaran-perintis yang dikeluarkan oleh perusahaan angkutan laut
nasional, perusahaan angkutan sungai dan danau, atau perusahaan angkutan
penyeberangan dengan pendapatan dan/atau penghasilan uang tambang barang
dan penumpang pada suatu trayek tertentu.
(3) Pelayaran-perintis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan
dengan cara kontrak jangka panjang dengan perusahaan angkutan di perairan
menggunakan kapal berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan
171
kelaiklautan kapal yang diawaki oleh awak kapal berkewarganegaraan
Indonesia.
Pasal 73
Penyelenggaraan pelayaran-perintis dilaksanakan secara terpadu dengan sektor
lain berdasarkan pendekatan pembangunan wilayah.
Pasal 74
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kegiatan pelayaranperintis diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Penugasan
Pasal 75
(1) Penugasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (2) dilakukan untuk:
a. menjamin kesinambungan pelayanan angkutan di perairan;
b. membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan angkutan di perairan;
dan
c. memperlancar arus mobilisasi penumpang dan barang.
(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada perusahaan
angkutan laut nasional dengan mendapatkan kompensasi dari Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah sebesar selisih antara biaya produksi dan tarif
yang ditetapkan Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sebagai kewajiban
pelayanan publik.
(3) Tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh:
a. Menteri, untuk tarif penumpang kelas ekonomi:
1. angkutan laut;
2. angkutan sungai dan danau antarprovinsi dan antarnegara; dan
3. angkutan penyeberangan antarprovinsi dan antarnegara;
b. gubernur, untuk tarif penumpang kelas ekonomi:
1. angkutan sungai dan danau antarkabupaten/kota dalam satu provinsi;
dan
2. angkutan penyeberangan antarkabupaten/kota dalam satu provinsi;
c. bupati/walikota, untuk tarif penumpang kelas ekonomi:
1. angkutan sungai dan danau dalam kabupaten/kota; dan
172
2. angkutan penyeberangan dalam kabupaten/kota.
(4) Dalam hal penugasan untuk angkutan sungai dan danau serta angkutan
penyeberangan, pelaksanaannya diberikan kepada perusahaan angkutan di
perairan yang memiliki izin usaha di bidang angkutan sungai dan danau serta
angkutan penyeberangan.
Pasal 76
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kegiatan penugasan
angkutan di perairan diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Trayek Angkutan di Perairan Untuk Daerah Masih
Tertinggal dan/atau Wilayah Terpencil
Pasal 77
(1) Kegiatan angkutan di perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah
terpencil dengan pelayaranperintis dan penugasan dilaksanakan dengan trayek
tetap dan teratur.
(2) Trayek angkutan di perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah
terpencil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri dan
dilakukan evaluasi setiap tahun.
(3) Menteri dalam menetapkan trayek angkutan di perairan untuk daerah masih
tertinggal dan/atau wilayah terpencil sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
harus mempertimbangkan:
a. keterpaduan intramoda transportasi laut dan antarmoda transportasi darat,
laut, dan udara;
b. usul dan saran pemerintah daerah setempat;
c. kesiapan fasilitas pelabuhan atau tempat lain yang ditunjuk;
d. kesiapan fasilitas keselamatan pelayaran;
e. keterpaduan dengan program sektor lain; dan
f. keterpaduan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(4) Penempatan kapal untuk mengisi trayek angkutan di perairan untuk daerah
masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus memperhatikan tipe dan ukuran kapal.
173
(5) Perusahaan angkutan laut nasional yang menyelenggarakan angkutan di perairan
untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil dengan trayek tetap
dan teratur hanya dimungkinkan melakukan penyimpangan trayek berupa
omisi, deviasi, dan penggantian kapal atau substitusi karena alasan tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan Pasal 13 ayat (2) berdasarkan
izin dari Menteri.
Pasal 78
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan trayek angkutan di
perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah terpencil diatur dengan
Peraturan Menteri.
BAB VI
KEGIATAN JASA TERKAIT DENGAN ANGKUTAN DI PERAIRAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 79
(1) Untuk kelancaran kegiatan angkutan di perairan, dapat diselenggarakan usaha
jasa terkait dengan angkutan di perairan.
(2) Usaha jasa terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. bongkar muat barang;
b. jasa pengurusan transportasi;
c. angkutan perairan pelabuhan;
d. penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan
angkutan laut;
e. tally mandiri;
f. depo peti kemas;
g. pengelolaan kapal;
h. i. j. k. perantara jual beli dan/atau sewa kapal;
keagenan awak kapal;
keagenan kapal; dan
perawatan dan perbaikan kapal.
174
Bagian Kedua
Kegiatan Usaha Bongkar Muat Barang
Pasal 80
(1) Kegiatan usaha bongkar muat barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat
(2) huruf a merupakan kegiatan usaha yang bergerak dalam bidang bongkar dan
muat barang dari dan ke kapal di pelabuhan yang meliputi kegiatan stevedoring,
cargodoring, dan receiving/delivery.
(2) Kegiatan usaha bongkar muat barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk bongkar muat barang
di pelabuhan.
(3) Selain badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kegiatan bongkar
muat barang tertentu dapat dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional
hanya untuk kegiatan bongkar muat barang tertentu untuk kapal yang
dioperasikannya.
(4) Kegiatan bongkar muat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan oleh
perusahaan angkutan laut, izin usahanya melekat pada izin usaha pokoknya.
(5) Barang tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi barang:
a. milik penumpang;
b. curah cair yang dibongkar atau dimuat melalui pipa;
c. curah kering yang dibongkar atau dimuat melalui conveyor atau sejenisnya;
dan
d. yang diangkut di atas kendaraan melalui kapal Ro-Ro.
(6) Perusahaan angkutan laut nasional dapat melakukan bongkar muat semua jenis
barang apabila di pelabuhan tersebut tidak terdapat perusahaan bongkar muat
barang.
(7) Perusahaan angkutan laut nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (6) harus
memiliki kapal yang dilengkapi dengan peralatan bongkar muat barang dan
tenaga ahli.
Pasal 81
(1) Pelaksanaan kegiatan usaha bongkar muat barang sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 80 ayat (2) dilaksanakan dengan menggunakan peralatan bongkar muat
oleh tenaga kerja bongkar muat.
(2) Peralatan bongkar muat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan laik operasi dan menjamin keselamatan kerja.
175
(3) Tenaga kerja bongkar muat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki
kompetensi di bidang bongkar muat.
(4) Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bongkar muat di pelabuhan,
Pemerintah, pemerintah daerah, atau badan hukum Indonesia dapat
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang bongkar muat barang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketiga
Kegiatan Usaha Jasa Pengurusan Transportasi
Pasal 82
(1) Kegiatan usaha jasa pengurusan transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
79 ayat (2) huruf b, meliputi:
a. b. c. d. e. f. g. h. penerimaan;
penyimpanan;
sortasi;
pengepakan;
penandaan;
pengukuran;
penimbangan;
penerbitan dokumen angkutan;
i. j. k. l. m.
n. o. p. q. r. pengurusan penyelesaian dokumen;
pemesanan ruangan pengangkut;
pengiriman;
pengelolaan pendistribusian;
perhitungan biaya angkutan dan logistik;
klaim;
asuransi atas pengiriman barang;
penyelesaian tagihan dan biaya lainnya yang diperlukan;
penyediaan sistem informasi dan komunikasi; dan
layanan logistik.
(2) Kegiatan usaha jasa pengurusan transportasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha jasa
pengurusan transportasi.
176
Bagian Keempat
Kegiatan Usaha Angkutan Perairan Pelabuhan
Pasal 83
(1) Kegiatan usaha angkutan perairan pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
79 ayat (2) huruf c merupakan kegiatan usaha untuk memindahkan penumpang
dan/atau barang dari dermaga ke kapal atau sebaliknya, dan dari kapal ke
kapal di perairan pelabuhan.
(2) Kegiatan usaha angkutan perairan pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha angkutan
perairan pelabuhan.
(3) Selain badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kegiatan usaha
angkutan perairan pelabuhan dapat dilakukan oleh perusahaan angkutan laut
nasional.
(4) Kegiatan usaha angkutan perairan pelabuhan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) yang dilakukan oleh perusahaan angkutan laut, izin usahanya melekat pada
izin usaha pokoknya.
Bagian Kelima
Kegiatan Usaha Penyewaan Peralatan Angkutan Laut atau
Peralatan Jasa Terkait Dengan Angkutan Laut
Pasal 84
(1) Kegiatan usaha penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait
dengan angkutan laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf
d merupakan kegiatan usaha untuk menyediakan dan menyewakan peralatan
angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut dan/atau alat
apung untuk pelayanan kapal.
(2) Kegiatan usaha penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait
dengan angkutan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha penyewaan peralatan angkutan
laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut.
Bagian Keenam
Kegiatan Usaha Tally Mandiri
177
Pasal 85
(1) Kegiatan usaha tally mandiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2)
huruf e merupakan kegiatan jasa menghitung, mengukur, menimbang, dan
membuat catatan mengenai muatan untuk kepentingan pemilik muatan dan/
atau pengangkut.
(2) Kegiatan usaha tally mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha tally mandiri.
(3) Kegiatan usaha tally mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
di kapal pada kegiatan stevedoring terhadap setiap kapal nasional maupun
kapal asing yang melakukan kegiatan bongkar muat barang dari dan ke kapal di
wilayah kerja pelabuhan.
(4) Selain badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kegiatan tally dapat
dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional, perusahaan bongkar muat
atau perusahaan jasa pengurusan transportasi, terbatas hanya untuk kegiatan
cargodoring, receiving/delivery, stuffing, dan stripping peti kemas bagi
kepentingannya sendiri.
(5) Kegiatan tally sebagaimana dimaksud pada ayat (4) yang dilakukan oleh
perusahaan angkutan laut nasional, perusahaan bongkar muat, atau perusahaan
jasa pengurusan transportasi, izin usahanya melekat pada izin usaha
pokoknya.
Bagian Ketujuh
Kegiatan Usaha Depo Peti Kemas
Pasal 86
(1) Kegiatan usaha depo peti kemas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2)
huruf f meliputi:
a. penyimpanan dan/atau penumpukan peti kemas;
b. pembersihan atau pencucian, perawatan, dan perbaikan peti kemas;
c. pemuatan dan pembongkaran less than container load cargo; dan
d. kegiatan lain yang antara lain terdiri atas:
1. pemindahan;
2. pengaturan atau angsur;
3. penataan;
4. lift on lift off secara mekanik;
5. pelaksanaan survei;
178
6. pengemasan;
7. pelabelan;
8. pengikatan/pelepasan;
9. pemeriksaan fisik barang;
10. penerimaan;
11. penyampaian; dan
12. tempat penimbunan yang peruntukkannya untuk kegiatan depo peti
kemas dalam pengawasan kepabeanan.
(2) Kegiatan usaha depo peti kemas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha depo peti kemas.
(3) Kegiatan usaha depo peti kemas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan di dalam atau di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan.
Bagian Kedelapan
Kegiatan Usaha Pengelolaan Kapal
Pasal 87
(1) Kegiatan usaha pengelolaan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat
(2) huruf g merupakan kegiatan pengelolaan kapal di bidang teknis kapal
meliputi perawatan, persiapan docking, penyediaan suku cadang, perbekalan,
pengawakan, asuransi, dan sertifikasi kelaiklautan kapal.
(2) Kegiatan usaha pengelolaan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha pengelolaan kapal.
Bagian Kesembilan
Kegiatan Usaha Perantara Jual Beli dan/atau Sewa Kapal
Pasal 88
(1) Kegiatan usaha perantara jual beli dan/atau sewa kapal sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 79 ayat (2) huruf h merupakan kegiatan usaha perantara jual beli
kapal dan/atau sewa menyewa kapal.
(2) Kegiatan usaha perantara jual beli dan/atau sewa kapal sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha
perantara jual beli dan/atau sewa kapal.
179
Bagian Kesepuluh
Kegiatan Usaha Keagenan Awak Kapal
Pasal 89
(1) Kegiatan usaha keagenan awak kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat
(2) huruf i merupakan kegiatan rekruitmen awak kapal dan penempatannya di
kapal sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(2) Kegiatan usaha keagenan awak kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha keagenan awak
kapal.
Bagian Kesebelas
Kegiatan Usaha Keagenan Kapal
Pasal 90
(1) Kegiatan usaha keagenan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2)
huruf j merupakan kegiatan mengurus kepentingan kapal perusahaan angkutan
laut asing dan/atau kapal perusahaan angkutan laut nasional selama berada di
Indonesia.
(2) Kegiatan usaha keagenan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan oleh:
a. perusahaan nasional keagenan kapal; atau
b. perusahaan angkutan laut nasional.
(3) Kegiatan keagenan kapal yang dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, izin usahanya melekat pada izin
usaha pokoknya.
Bagian Keduabelas
Kegiatan Usaha Perawatan dan Perbaikan Kapal
Pasal 91
(1) Kegiatan usaha perawatan dan perbaikan kapal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 79 ayat (2) huruf k merupakan kegiatan perawatan dan perbaikan kapal
yang dilaksanakan di kapal dalam kondisi mengapung.
180
(2) Kegiatan usaha perawatan dan perbaikan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk usaha perawatan
dan perbaikan kapal.
BAB VII
PERIZINAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 92
Badan usaha atau orang perseorangan warga Negara Indonesia yang akan
melakukan kegiatan usaha angkutan di perairan wajib memiliki:
a. izin usaha angkutan di perairan;
b. izin usaha jasa terkait dengan angkutan di perairan; dan/atau
c. izin operasi angkutan di perairan.
Bagian Kedua
Izin Usaha Angkutan di Perairan
Paragraf 1
Umum
Pasal 93
Izin usaha angkutan di perairan terdiri atas:
a. izin usaha angkutan laut;
b. izin usaha angkutan laut pelayaran-rakyat;
c. izin usaha angkutan sungai dan danau; dan
d. izin usaha angkutan penyeberangan.
Paragraf 2
Izin Usaha Angkutan Laut
Pasal 94
(1) Izin usaha angkutan laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 huruf a diberikan
oleh:
181
a. Menteri bagi badan usaha yang melakukan kegiatan pada lintas pelabuhan
antarprovinsi dan internasional;
b. gubernur provinsi yang bersangkutan bagi badan usaha yang berdomisili dalam
wilayah provinsi dan beroperasi pada lintas pelabuhan antarkabupaten/
kota dalam wilayah provinsi; atau
c. bupati/walikota yang bersangkutan bagi badan usaha yang berdomisili
dalam wilayah kabupaten/kota dan beroperasi pada lintas pelabuhan dalam
wilayah kabupaten/kota.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. administrasi; dan
b. teknis.
(3) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi:
a. memiliki akta pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki penanggung jawab;
d. menempati tempat usaha, baik berupa milik sendiri maupun sewa, berdasarkan
surat keterangan domisili perusahaan dari instansi yang berwenang; dan
e. memiliki tenaga ahli di bidang ketatalaksanaan, nautis, dan/atau teknis
pelayaran niaga.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
a. memiliki kapal motor berbendera Indonesia yang laik laut dengan ukuran
paling kecil GT 175 (seratus tujuh puluh lima Gross Tonnage);
b. memiliki kapal tunda berbendera Indonesia yang laik laut dengan daya
motor penggerak paling kecil 150 (seratus lima puluh) tenaga kuda (TK)
dengan tongkang berukuran paling kecil GT 175 (seratus tujuh puluh lima
Gross Tonnage);
c. memiliki kapal tunda berbendera Indonesia yang laik laut dengan ukuran
paling kecil GT 175 (seratus tujuh puluh lima Gross Tonnage); atau
d. memiliki tongkang bermesin berbendera Indonesia yang laik laut dengan
ukuran paling kecil GT 175 (seratus tujuh puluh lima Gross Tonnage).
(5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan angkutan
laut masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua)
tahun sekali oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
182
Pasal 95
(1) Untuk memperoleh izin usaha angkutan laut, badan usaha mengajukan
permohonan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 94 ayat (3) dan ayat (4).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan penelitian atas
persyaratan permohonan izin usaha angkutan laut dalam jangka waktu paling
lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterima permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 94 ayat (3) dan ayat (4) belum terpenuhi, Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mengembalikan permohonan
secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dan ayat (4) telah terpenuhi, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya menerbitkan izin usaha angkutan laut.
Pasal 96
(1) Orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha dapat melakukan
kerja sama dengan perusahaan angkutan laut asing, badan hukum asing, atau
warga negara asing dalam bentuk usaha patungan (joint venture) dengan
membentuk perusahaan angkutan laut yang memiliki kapal berbendera Indonesia
paling sedikit 1 (satu) unit dengan ukuran paling kecil GT 5.000 (lima ribu Gross
Tonnage) dan diawaki oleh awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.
(2) Batasan kepemilikan modal asing dalam perusahaan angkutan laut patungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang penanaman modal dan wajib dipenuhi selama
perusahaan tersebut masih menjalankan usahanya.
Pasal 97
(1) Pemegang izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang tercantum dalam izin usaha angkutan laut;
183
b. melakukan kegiatan operasional secara nyata dan terus menerus paling
lama 3 (tiga) bulan sejak izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi semua ketentuan peraturan perundangundangan di bidang
pelayaran serta ketentuan peraturan perundang-undangan;
d. menyediakan fasilitas untuk angkutan pos;
e. melaporkan secara tertulis kepada pejabat pemberi izin apabila terjadi
perubahan nama direktur utama atau nama penanggungjawab dan/atau
nama pemilik, nomor pokok wajib pajak perusahaan, domisili perusahaan,
dan status kepemilikan kapal paling lama 14 (empat belas) hari setelah
terjadinya perubahan tersebut;
f. memberikan prioritas akomodasi untuk taruna atau calon perwira yang
melakukan praktek kerja laut;
g. melaporkan secara tertulis kepada pejabat pemberi izin semua data kapal
milik dan/atau kapal charter serta kapal yang dioperasikan; dan
h. melaporkan secara tertulis kepada pejabat pemberi izin setiap pembukaan
kantor cabang perusahaan angkutan laut.
(2) Pemegang izin perusahaan angkutan laut dalam melakukan kegiatan usahanya,
wajib menyampaikan laporan:
a. perkembangan komposisi kepemilikan modal perusahaan paling lama 1
(satu) kali dalam 1 (satu) tahun kepada pejabat pemberi izin;
b. kinerja keuangan perusahaan paling lama 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun
kepada pejabat pemberi izin;
c. kedatangan dan keberangkatan kapal (LK3), daftar muatan di atas kapal
(cargo manifest) kepada Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan atau Unit
Penyelenggara Pelabuhan setempat;
d. bulanan kegiatan kunjungan kapal kepada Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan
atau Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat, paling lama dalam 14 (empat
belas) hari pada bulan berikutnya yang merupakan rekapitulasi dari laporan
kedatangan dan keberangkatan kapal; dan
e. tahunan kegiatan perusahaan kepada pejabat pemberi izin, paling lama
tanggal 1 Februari pada tahun berjalan yang merupakan rekapitulasi dari
realisasi perjalanan kapal.
Pasal 98
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha angkutan laut
diatur dengan Peraturan Menteri.
184
Paragraf 3
Izin Usaha Angkutan Laut Pelayaran-Rakyat
Pasal 99
(1) Izin usaha angkutan laut pelayaran-rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
93 huruf b diberikan oleh:
a. gubernur yang bersangkutan bagi orang perseorangan warga negara Indonesia
atau badan usaha yang berdomisili dan beroperasi pada lintas pelabuhan
antarkabupaten/kota dalam wilayah provinsi, pelabuhan antarprovinsi, dan
pelabuhan internasional; atau
b. bupati/walikota yang bersangkutan bagi orang perseorangan warga negara
Indonesia atau badan usaha yang berdomisili dalam wilayah kabupaten/kota
dan beroperasi pada lintas pelabuhan dalam wilayah kabupaten/kota.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. administrasi; dan
b. eknis.
(3) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi:
a. memiliki akta pendirian perusahaan bagi pemohon berbentuk badan usaha
atau kartu tanda penduduk bagi orang perseorangan warga negara Indonesia
yang mengajukan permohonan izin usaha angkutan laut pelayaran-rakyat;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak;
c. memiliki penanggung jawab;
d. menempati tempat usaha, baik berupa milik sendiri maupun sewa,
berdasarkan surat keterangan domisili dari instansi yang berwenang; dan
e. memiliki paling sedikit 1 (satu) orang tenaga ahli di bidang ketatalaksanaan,
nautis tingkat dasar, atau teknis pelayaran niaga tingkat dasar.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
a. kapal layar (KL) berbendera Indonesia yang laik laut dan digerakkan
sepenuhnya dengan tenaga angin;
b. kapal layar motor (KLM) tradisional berbendera Indonesia yang laik laut
berukuran sampai dengan GT 500 (lima ratus Gross Tonnage) dan digerakkan
oleh tenaga angin sebagai penggerak utama dan motor sebagai tenaga
penggerak bantu; atau
185
c. kapal motor (KM) berbendera Indonesia yang laik laut berukuran paling
kecil GT 7 (tujuh Gross Tonnage) serta paling besar GT 35 (tiga puluh lima
Gross Tonnage) yang dibuktikan dengan salinan grosse akta, surat ukur, dan
sertifikat keselamatan kapal yang masih berlaku.
(5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan angkutan
laut pelayaran-rakyat masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi
setiap 2 (dua) tahun sekali oleh gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 100
(1) Untuk memperoleh izin usaha angkutan laut pelayaranrakyat, orang perseorangan
warga negara Indonesia atau badan usaha mengajukan permohonan kepada
gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya disertai dengan
dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 ayat (3) dan ayat
(4).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) gubernur atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan penelitian atas
persyaratan permohonan izin usaha angkutan laut pelayaran-rakyat dalam
jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterima permohonan
secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 99 ayat (3) dan ayat
(4) belum terpenuhi, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
mengembalikan permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi
persyaratan.
(5) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya setelah permohonan dilengkapi.
(6) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dan ayat (4) telah terpenuhi, gubernur atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya memberikan izin usaha angkutan laut pelayaranrakyat.
(7) Izin usaha angkutan laut pelayaran-rakyat yang telah diberikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) harus dilaporkan oleh gubernur atau bupati/walikota
secara berkala setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri untuk dijadikan bahan
penyusunan sistem informasi angkutan di perairan.
186
Pasal 101
(1) Pemegang izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usaha angkutan
laut pelayaran-rakyat;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 6 (enam)
bulan setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi semua ketentuan peraturan perundangundangan di bidang
pelayaran serta ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. melaporkan secara tertulis kepada pejabat pemberi izin apabila terjadi
perubahan nama direktur atau penanggung jawab atau pemilik dan domisili
perusahaan, nomor pokok wajib pajak perusahaan serta status kepemilikan
kapalnya paling lama 14 (empat belas) hari setelah terjadi perubahan;
e. melaporkan secara tertulis kepada pejabat pemberi izin semua data kapal
milik atau kapal yang dioperasikan; dan
f. melaporkan secara tertulis kepada pejabat pemberi izin setiap pembukaan
kantor cabang.
(2) Pemegang izin perusahaan angkutan laut pelayaranrakyat dalam melakukan
kegiatan usahanya wajib menyampaikan:
a. rencana kedatangan kapal paling lama 24 (dua puluh empat) jam sebelum
kapal tiba di pelabuhan dan keberangkatan kapal setelah pemuatan/
pembongkaran selesai dilakukan dan menyelesaikan kewajiban lainnya
di pelabuhan kepada Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan atau Unit
Penyelenggara Pelabuhan setempat;
b. laporan bulanan kegiatan kunjungan kapal kepada Syahbandar dan Otoritas
Pelabuhan atau Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat paling lama 14
(empat belas) hari pada bulan berikutnya yang merupakan rekapitulasi dari
laporan kedatangan dan keberangkatan kapal;
c. realisasi perjalanan kapal kepada pejabat pemberi izin bagi kapal dengan
trayek tetap dan teratur paling lama 14 (empat belas) hari sejak kapal
menyelesaikan 1 (satu) perjalanan (round voyage), sedangkan bagi kapal
dengan trayek tidak tetap dan tidak teratur pada setiap 1 (satu) bulan;
dan
d. laporan tahunan kegiatan perusahaan kepada pejabat pemberi izin dengan
tembusan kepada Menteri paling lama tanggal 1 Februari pada tahun berjalan
yang merupakan rekapitulasi dari laporan realisasi perjalanan kapal.
187
Pasal 102
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha angkutan laut
pelayaran-rakyat diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 4
Izin Usaha Angkutan Sungai dan Danau
Pasal 103
(1) Izin usaha angkutan sungai dan danau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93
huruf c diberikan oleh:
a. Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, untuk orang perseorangan
warga negara Indonesia atau badan usaha yang berdomisili di Daerah Khusus
Ibukota Jakarta; atau
b. bupati/walikota, sesuai dengan domisili orang perseorangan warga negara
Indonesia atau badan usaha.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akta pendirian perusahaan bagi pemohon yang berbentuk badan
hukum Indonesia atau kartu tanda penduduk bagi warga negara Indonesia
perorangan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak;
c. memiliki penanggungjawab;
d. menempati tempat usaha, baik berupa milik sendiri maupun sewa,
berdasarkan surat keterangan domisili dari instansi yang berwenang; dan
e. pernyataan tertulis sanggup memiliki paling sedikit 1 (satu) unit kapal yang
memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan angkutan
sungai dan danau masih menjalankan kegiatan usahanya.
Pasal 104
(1) Untuk memperoleh izin usaha angkutan sungai dan danau, setiap orang atau
badan usaha mengajukan permohonan kepada Gubernur Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya disertai
dengan dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (2).
188
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Gubernur
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha
angkutan sungai dan danau dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
hari kerja sejak diterima permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 103 ayat (2) belum terpenuhi, Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mengembalikan
permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya setelah permohonan
dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dan ayat (4) telah terpenuhi, Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menerbitkan izin
usaha angkutan sungai dan danau.
Pasal 105
(1) Selain memiliki izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (5),
kapal yang akan dioperasikan wajib memiliki izin trayek.
(2) Izin trayek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh:
a. Menteri, untuk kapal yang melayani trayek antarprovinsi dan/atau
antarnegara;
b. gubernur, untuk kapal yang melayani trayek antarkabupaten/kota dalam
wilayah provinsi yang bersangkutan; atau
c. bupati/walikota, untuk kapal yang melayani trayek dalam wilayah
kabupaten/kota yang bersangkutan.
(3) Izin trayek sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan setelah memiliki
kapal yang laik laut yang dibuktikan dengan grosse akta dan dilengkapi dengan
rencana pola trayek.
(4) Izin trayek sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku selama 5 (lima) tahun
dan dapat diperpanjang.
189
Pasal 106
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha dan izin trayek
kapal angkutan sungai dan danau diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 5
Izin Usaha Angkutan Penyeberangan
Pasal 107
(1) Izin usaha angkutan penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 huruf
d diberikan oleh:
a. Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk badan usaha yang
berdomisili di Daerah Khusus Ibukota Jakarta; atau
b. bupati/walikota sesuai dengan domisili badan usaha.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akta pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki penanggung jawab;
d. menempati tempat usaha, baik berupa milik sendiri maupun sewa
berdasarkan surat keterangan domisili dari instansi yang berwenang;
e. pernyataan tertulis sanggup memiliki kapal berbendera Indonesia yang
memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal; dan
f. memiliki tenaga ahli di bidang ketatalaksanaan, nautis, dan/atau teknis
pelayaran niaga.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan angkutan
penyeberangan masih menjalankan kegiatan usahanya.
Pasal 108
(1) Untuk memperoleh izin usaha angkutan penyeberangan, badan usaha
mengajukan permohonan kepada Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya disertai dengan
dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (2).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Gubernur
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau bupati/walikota sesuai dengan
190
kewenangannya melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha
angkutan penyeberangan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari
kerja sejak diterima permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 107 ayat (2) belum terpenuhi, Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mengembalikan
permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya setelah permohonan
dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (3) telah terpenuhi, Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menerbitkan izin
usaha angkutan penyeberangan.
Pasal 109
(1) Selain memiliki izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 ayat (5), kapal
yang akan dioperasikan wajib memiliki persetujuan pengoperasian kapal.
(2) Persetujuan pengoperasian kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
oleh:
a. Menteri, untuk kapal yang melayani penyeberangan antarprovinsi dan/atau
antarnegara;
b. gubernur, untuk kapal yang melayani penyeberangan antarkabupaten/kota
dalam provinsi; atau
c. bupati/walikota, untuk kapal yang melayani penyeberangan dalam
kabupaten/kota provinsi.
(3) Persetujuan pengoperasian kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan
setelah memiliki kapal yang laik laut yang dibuktikan dengan grosse akta.
(4) Persetujuan pengoperasian kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku
selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang.
Pasal 110
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha dan persetujuan
pengoperasian kapal angkutan penyeberangan diatur dengan Peraturan Menteri.
191
Bagian Ketiga
Izin Usaha Jasa Terkait Dengan Angkutan di Perairan
Paragraf 1
Umum
Pasal 111
Izin usaha jasa terkait dengan angkutan di perairan terdiri atas:
a. izin usaha bongkar muat barang;
b. izin usaha jasa pengurusan transportasi;
c. izin usaha angkutan perairan pelabuhan;
d. izin usaha penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait
dengan angkutan laut;
e. izin usaha tally mandiri;
f. izin usaha depo peti kemas;
g.
izin usaha pengelolaan kapal;
h. izin usaha perantara jual beli dan/atau sewa kapal;
i. izin usaha keagenan awak kapal;
j. izin usaha keagenan kapal; dan
k. izin usaha perawatan dan perbaikan kapal.
Paragraf 2
Izin Usaha Bongkar Muat Barang
Pasal 112
(1) Izin usaha bongkar muat barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 huruf a
diberikan oleh gubernur pada lokasi pelabuhan tempat kegiatan.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. administrasi; dan
b. teknis.
(3) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi:
a. memiliki akta pendirian perusahaan;
192
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. menempati tempat usaha, baik berupa milik sendiri maupun sewa,
berdasarkan surat keterangan domisili perusahaan dari instansi yang
berwenang;
f. memiliki tenaga ahli dengan kualifikasi ahli nautika atau ahli ketatalaksanaan
pelayaran niaga; dan
g. memiliki surat rekomendasi/pendapat tertulis dari Otoritas Pelabuhan atau
Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat terhadap keseimbangan penyediaan
dan permintaan kegiatan usaha bongkar muat.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b paling sedikit
memiliki peralatan bongkar muat berupa:
a. forklift;
b. pallet;
c. ship side-net;
d. rope sling;
e. rope net; dan
f. wire net.
(5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku selama perusahaan bongkar
muat masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua) tahun
sekali oleh gubernur.
(6) Izin usaha bongkar muat barang yang telah diberikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) harus dilaporkan oleh gubernur secara berkala setiap 6 (enam)
bulan kepada Menteri untuk dijadikan bahan penyusunan sistem informasi
angkutan di perairan.
Pasal 113
(1) Untuk memperoleh izin usaha bongkar muat barang, badan usaha mengajukan
permohonan kepada gubernur disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 112 ayat (3) dan ayat (4).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), gubernur
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha bongkar muat
barang dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak
diterima permohonan secara lengkap.
193
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 112 ayat (3) dan ayat (4) belum terpenuhi, gubernur mengembalikan
permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada gubernur setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 112 ayat (3) dan ayat (4) telah terpenuhi, gubernur menerbitkan
izin usaha bongkar muat barang.
Pasal 114
Perusahaan bongkar muat yang telah mendapat izin usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 113 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan bongkar muat barang kepada
Otoritas Pelabuhan atau Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat paling lama 1
(satu) hari sebelum kapal tiba di pelabuhan;
e. menyampaikan laporan bulanan kegiatan bongkar muat barang kepada pemberi
izin dan Otoritas Pelabuhan atau Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat paling
lama 14 (empat belas) hari pada bulan berikutnya;
f. melaporkan secara tertulis kegiatan usahanya setiap tahun kepada pemberi izin
dengan tembusan kepada Otoritas Pelabuhan atau Unit Penyelenggara Pelabuhan
setempat paling lambat tanggal 1 Februari pada tahun berikutnya;
g. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan data pada izin usaha
perusahaan kepada pemberi izin untuk dilakukan penyesuaian; dan
h. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 115
(1) Orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha dapat melakukan
kerja sama dengan perusahaan bongkar muat asing, badan hukum asing, atau
warga negara asing dalam bentuk usaha patungan dengan membentuk perusahaan
bongkar muat nasional.
194
(2) Batasan kepemilikan modal asing dalam perusahaan bongkar muat patungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang penanaman modal dan wajib dipenuhi selama
perusahaan tersebut masih menjalankan usahanya.
(3) Perusahaan pemegang izin usaha yang berbentuk usaha patungan dapat
melakukan kegiatan bongkar muat barang hanya pada pelabuhan utama di satu
wilayah provinsi.
Pasal 116
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha bongkar muat
barang diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 3
Izin Usaha Jasa Pengurusan Transportasi
Pasal 117
(1) Izin usaha jasa pengurusan transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111
huruf b diberikan oleh gubernur tempat perusahaan berdomisili.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki peralatan yang cukup sesuai dengan perkembangan teknologi;
f. memiliki tenaga ahli yang sesuai; dan
g. memiliki surat keterangan domisili perusahaan.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan jasa
pengurusan transportasi masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi
setiap 2 (dua) tahun sekali oleh gubernur.
(4) Izin usaha jasa pengurusan transportasi yang telah diberikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) harus dilaporkan oleh gubernur secara berkala setiap
6 (enam) bulan kepada Menteri untuk dijadikan bahan penyusunan sistem
informasi angkutan di perairan.
195
Pasal 118
(1) Untuk memperoleh izin usaha jasa pengurusan transportasi, badan usaha
mengajukan permohonan kepada gubernur disertai dengan dokumen persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (2).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), gubernur
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha jasa pengurusan
transportasi dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak
diterima permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 117 ayat (2) belum terpenuhi, gubernur mengembalikan permohonan
secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada gubernur setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 117 ayat (2) telah terpenuhi, gubernur menerbitkan izin usaha jasa
pengurusan transportasi.
Pasal 119
Perusahaan jasa pengurusan transportasi yang telah mendapat izin usaha
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggungjawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 120
(1) Orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha dapat melakukan
kerja sama dengan perusahaan jasa pengurusan transportasi asing, badan
196
hukum asing, atau warga negara asing dalam bentuk usaha patungan dengan
membentuk perusahaan jasa pengurusan transportasi nasional.
(2) Batasan kepemilikan modal asing dalam perusahaan jasa pengurusan transportasi
patungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal dan wajib dipenuhi
selama perusahaan tersebut masih menjalankan usahanya.
Pasal 121
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha jasa pengurusan
transportasi diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 4
Izin Usaha Angkutan Perairan Pelabuhan
Pasal 122
(1) Izin usaha angkutan perairan pelabuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111
huruf c diberikan oleh gubernur pada lokasi pelabuhan tempat kegiatan.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. administrasi; dan
b. teknis.
(3) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki tenaga ahli yang sesuai;
f. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
g. memiliki surat rekomendasi/pendapat tertulis dari Otoritas Pelabuhan atau
Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b harus memiliki
kapal yang memenuhi persyaratan kelaiklautan.
(5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan angkutan
perairan pelabuhan masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap
2 (dua) tahun sekali oleh gubernur.
197
(6) Izin usaha angkutan perairan pelabuhan yang telah diberikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) harus dilaporkan oleh gubernur secara berkala setiap
6 (enam) bulan kepada Menteri untuk dijadikan bahan penyusunan sistem
informasi angkutan di perairan.
Pasal 123
(1) Untuk memperoleh izin usaha angkutan perairan pelabuhan, badan usaha
mengajukan permohonan kepada gubernur disertai dengan dokumen persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 122 ayat (3) dan ayat (4).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), gubernur
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha angkutan perairan
pelabuhan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak
diterima permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 122 ayat (3) dan ayat (4) belum terpenuhi, gubernur mengembalikan
permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada gubernur setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 122 ayat (3) dan ayat (4) telah terpenuhi, gubernur menerbitkan
izin usaha angkutan perairan pelabuhan.
Pasal 124
Perusahaan usaha angkutan perairan pelabuhan yang telah mendapat izin usaha
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 123 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
198
Pasal 125
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha angkutan
perairan pelabuhan diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 5
Izin Usaha Penyewaan Peralatan Angkutan Laut atau
Peralatan Jasa Terkait Dengan Angkutan Laut
Pasal 126
(1) Izin usaha penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait
dengan angkutan laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 huruf d diberikan
oleh gubernur pada tempat perusahaan berdomisili.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki peralatan yang cukup sesuai dengan perkembangan teknologi;
f. memiliki tenaga ahli yang sesuai;
g. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
h. memiliki surat rekomendasi/pendapat tertulis dari Otoritas Pelabuhan atau
Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan penyewaan
peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut masih
menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua) tahun sekali oleh
gubernur.
(4) Izin usaha penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan
angkutan laut yang telah diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus
dilaporkan oleh gubernur secara berkala setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri
untuk dijadikan bahan penyusunan sistem informasi angkutan di perairan.
Pasal 127
(1) Untuk memperoleh izin usaha penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan
jasa terkait dengan angkutan laut, badan usaha mengajukan permohonan kepada
199
gubernur disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 126 ayat (2).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), gubernur
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha penyewaan
peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut
dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterima
permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 126 ayat (2) belum terpenuhi, gubernur mengembalikan permohonan
secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada gubernur setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 126 ayat (2) telah terpenuhi, gubernur menerbitkan izin usaha penyewaan
peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut.
Pasal 128
Perusahaan penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait
dengan angkutan laut yang telah mendapat izin usaha sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 127 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan kepada pemberi izin;
e. melaporkan apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/atau pemilik
perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin; dan
f. melaporkan setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 129
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha penyewaan
peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan angkutan laut diatur
dengan Peraturan Menteri.
200
Paragraf 6
Izin Usaha Tally Mandiri
Pasal 130
(1) Izin usaha tally mandiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 huruf e diberikan
oleh gubernur pada tempat perusahaan berdomisili.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki peralatan yang sesuai dengan perkembangan teknologi;
f. memiliki tenaga ahli yang sesuai;
g. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
h. memiliki surat rekomendasi/pendapat tertulis dari otoritas pelabuhan atau
unit penyelenggaran pelabuhan setempat.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan tally
mandiri masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua)
tahun sekali oleh gubernur.
(4) Izin usaha tally mandiri yang telah diberikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) harus dilaporkan oleh gubernur secara berkala setiap 6 (enam) bulan
kepada Menteri untuk dijadikan bahan penyusunan sistem informasi angkutan
di perairan.
Pasal 131
(1) Untuk memperoleh izin usaha tally mandiri, badan usaha mengajukan permohonan
kepada gubernur disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 130 ayat (2).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), gubernur
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha tally mandiri
dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterima
permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 130 ayat (2) belum terpenuhi, gubernur mengembalikan permohonan
secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
201
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada gubernur setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 130 ayat (2) telah terpenuhi, gubernur menerbitkan izin usaha tally
mandiri.
Pasal 132
Perusahaan tally mandiri yang telah mendapat izin usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 131 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 133
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha tally mandiri
diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 7
Izin Usaha Depo Peti Kemas
Pasal 134
(1) Izin usaha depo peti kemas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 huruf f
diberikan oleh gubernur pada tempat perusahaan berdomisili.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. administrasi; dan
b. teknis.
202
(3) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki surat keterangan domisili perusahaan;
f. memiliki persetujuan studi lingkungan dari instansi pemerintah daerah
kabupaten/kota setempat dan provinsi untuk Daerah Khusus Ibukota
Jakarta, termasuk di dalamnya kajian lalu lintas;
g. memiliki rekomendasi kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota dari bupati/walikota setempat; dan
h. memiliki izin gangguan dan perlindungan masyarakat yang diterbitkan oleh
pejabat yang berwenang.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
a. menguasai lahan yang dibuktikan:
1. hak penguasaan atau kepemilikan untuk usaha depo peti kemas yang
berada di luar daerah lingkungan kerja daratan pelabuhan; dan
2. kerja sama dengan penyelenggara pelabuhan untuk usaha depo
peti kemas yang berada di dalam daerah lingkungan kerja daratan
pelabuhan.
b. memiliki peralatan paling sedikit meliputi:
1. reach stacker;
2. top loader;
3. side loader; dan
4. forklift.
c. memiliki tenaga ahli dengan kualifikasi ahli nautika, ahli ketatalaksanaan
pelayaran niaga, atau ahli manajemen transportasi laut.
(5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan depo peti
kemas masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua)
tahun sekali oleh gubernur.
(6) Izin usaha depo peti kemas yang telah diberikan sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) harus dilaporkan oleh gubernur secara berkala setiap 6 (enam) bulan
kepada Menteri untuk dijadikan bahan penyusunan sistem informasi angkutan
di perairan.
203
Pasal 135
(1) Untuk memperoleh izin usaha depo peti kemas, badan usaha mengajukan
permohonan kepada gubernur disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 134 ayat (3) dan ayat (4).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), gubernur
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha depo peti kemas
dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterima
permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 134 ayat (3) dan ayat (4) belum terpenuhi, gubernur mengembalikan
permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada gubernur setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 134 ayat (3) dan ayat (4) telah terpenuhi gubernur menerbitkan
izin usaha depo peti kemas.
Pasal 136
Perusahaan depo peti kemas yang telah mendapat izin usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 135 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 137
(1) Orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha dapat melakukan
kerja sama dengan perusahaan depo peti kemas asing, badan hukum asing,
204
atau warga negara asing dalam bentuk usaha patungan dengan membentuk
perusahaan depo peti kemas nasional.
(2) Batasan kepemilikan modal asing dalam perusahaan depo peti kemas patungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang penanaman modal dan wajib dipenuhi selama
perusahaan tersebut masih menjalankan usahanya.
Pasal 138
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha depo peti
kemas diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 8
Izin Usaha Pengelolaan Kapal
Pasal 139
(1) Izin usaha pengelolaan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 huruf g
diberikan oleh Menteri.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
f. memiliki tenaga ahli yang menguasai bidang pengelolaan kapal yang
dibuktikan dengan sertifikat keahlian yang diperoleh melalui pendidikan
dan/atau pelatihan.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan pengelolaan
kapal masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua) tahun
sekali oleh Menteri.
Pasal 140
(1) Untuk memperoleh izin usaha pengelolaan kapal, badan usaha mengajukan
permohonan kepada Menteri disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 139 ayat (2).
205
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha pengelolaan
kapal dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterima
permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 139 ayat (2) belum terpenuhi, Menteri mengembalikan permohonan
secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada Menteri setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 139 ayat (2) telah terpenuhi, Menteri menerbitkan izin usaha
pengelolaan kapal.
Pasal 141
Badan usaha pengelolaan kapal yang telah mendapat izin usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 140 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 142
(1) Orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha dapat melakukan
kerja sama dengan perusahaan pengelolaan kapal asing, badan hukum asing,
atau warga negara asing dalam bentuk usaha patungan dengan membentuk
perusahaan pengelolaan kapal nasional.
(2) Batasan kepemilikan modal asing dalam badan usaha pengelolaan kapal patungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang penanaman modal dan wajib dipenuhi selama
perusahaan tersebut masih menjalankan usahanya.
206
Pasal 143
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha pengelolaan
kapal diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 9
Izin Usaha Perantara Jual Beli dan/atau Sewa Kapal
Pasal 144
(1) Izin usaha perantara jual beli dan/atau sewa kapal sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 111 huruf h diberikan oleh Menteri.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
f. memiliki tenaga ahli di bidang perantara jual beli dan/atau sewa kapal yang
dibuktikan dengan sertifikat keahlian yang diperoleh melalui pendidikan
dan/atau pelatihan.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan perantara
jual beli dan/atau sewa kapal masih menjalankan kegiatan usahanya dan
dievaluasi setiap 2 (dua) tahun sekali oleh Menteri.
Pasal 145
(1) Untuk memperoleh izin usaha perantara jual beli dan/atau sewa kapal, badan
usaha mengajukan permohonan kepada Menteri disertai dengan dokumen
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (2).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha perantara jual
beli dan/atau sewa kapal dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari
kerja sejak diterima permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 144 ayat (2) belum terpenuhi, Menteri mengembalikan permohonan
secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
207
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada Menteri setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 144 ayat (2) telah terpenuhi, Menteri menerbitkan izin usaha
perantara jual beli dan/atau sewa kapal.
Pasal 146
Perusahaan perantara jual beli dan/atau sewa kapal yang telah mendapat izin
usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 147
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha perantara jual
beli dan/atau sewa kapal diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 10
Izin Usaha Keagenan Awak kapal
Pasal 148
(1) Izin usaha keagenan awak kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 huruf i
diberikan oleh Menteri.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
208
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
f. memiliki tenaga ahli di bidang kepelautan, ahli nautika, dan/atau ahli
teknika.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan keagenan
awak kapal masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua)
tahun sekali oleh Menteri.
Pasal 149
(1) Untuk memperoleh izin usaha keagenan awak kapal, badan usaha mengajukan
permohonan kepada Menteri disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 148 ayat (2).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha keagenan awak
kapal dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterima
permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 148 ayat (2) belum terpenuhi, Menteri mengembalikan permohonan
secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada Menteri setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 148 ayat (2) telah terpenuhi, Menteri menerbitkan izin usaha
keagenan awak kapal.
Pasal 150
Perusahaan keagenan awak kapal yang telah mendapat izin usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 149 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/
209
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 151
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha keagenan awak
kapal diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 11
Izin Usaha Keagenan Kapal
Pasal 152
(1) Izin usaha keagenan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 111 huruf j dalam
melakukan kegiatan usahanya wajib memiliki izin usaha yang diberikan oleh
Menteri.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
f. memiliki tenaga ahli di bidang ketatalaksanaan, nautis, dan/atau teknis
pelayaran niaga.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan keagenan
kapal masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua) tahun
sekali oleh Menteri.
Pasal 153
(1) Untuk memperoleh izin usaha keagenan kapal, badan usaha mengajukan
permohonan kepada Menteri disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 152 ayat (2).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha keagenan kapal
dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterima
permohonan secara lengkap.
210
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 152 ayat (2) belum terpenuhi, Menteri mengembalikan permohonan
secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada Menteri setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 152 ayat (2) telah terpenuhi Menteri menerbitkan izin usaha
keagenan kapal.
Pasal 154
Perusahaan keagenan kapal yang telah mendapat izin usaha sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 153 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 155
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha keagenan kapal
diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 12
Izin Usaha Perawatan dan Perbaikan Kapal
Pasal 156
(1) Izin usaha perawatan dan perbaikan kapal sebagaimana dimaksud dalam Pasal
111 huruf k diberikan oleh bupati/walikota tempat perusahaan berdomisili.
(2) Izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
211
a. memiliki akte pendirian perusahaan;
b. memiliki nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. memiliki modal usaha;
d. memiliki penanggung jawab;
e. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
f. memiliki tenaga ahli di bidang perawatan dan perbaikan kapal.
(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama perusahaan perawatan
dan perbaikan kapal masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap
2 (dua) tahun sekali oleh bupati/walikota.
Pasal 157
(1) Untuk memperoleh izin usaha perawatan dan perbaikan kapal, badan usaha
mengajukan permohonan kepada bupati/walikota disertai dengan dokumen
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (2).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bupati/walikota
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha perawatan dan
perbaikan kapal dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja
sejak diterima permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 156 ayat (2) belum terpenuhi, bupati/walikota mengembalikan
permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada bupati/walikota setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 156 ayat (2) telah terpenuhi bupati/walikota menerbitkan izin
usaha perawatan dan perbaikan kapal.
Pasal 158
Perusahaan perawatan dan perbaikan kapal yang telah mendapat izin usaha
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
212
d. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggung jawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
f. melaporkan secara tertulis setiap pembukaan kantor cabang.
Pasal 159
(1) Orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha dapat melakukan
kerja sama dengan perusahaan perawatan dan perbaikan kapal asing, badan
hokum asing, atau warga negara asing dalam bentuk usaha patungan dengan
membentuk perusahaan perawatan dan perbaikan kapal nasional.
(2) Batasan kepemilikan modal asing dalam perusahaan perawatan dan perbaikan
kapal patungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal dan
wajib dipenuhi selama perusahaan tersebut masih menjalankan usahanya.
Pasal 160
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin usaha perawatan dan
perbaikan kapal diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Izin Operasi Angkutan di Perairan
Paragraf 1
Umum
Pasal 161
Izin operasi angkutan di perairan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 huruf c
terdiri atas:
a. izin operasi angkutan laut khusus; dan
b. izin operasi angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri.
Paragraf 2
Izin Operasi Angkutan Laut Khusus
213
Pasal 162
(1) Untuk dapat melakukan kegiatan angkutan laut khusus sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 161 huruf a, pelaksana kegiatan angkutan laut khusus wajib memiliki
izin operasi yang diberikan oleh Menteri.
(2) Izin operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. administrasi; dan
b. teknis.
(3) Persyaratan
meliputi:
a. memiliki
b. memiliki
c. memiliki
administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
akte pendirian perusahaan;
nomor pokok wajib pajak perusahaan;
penanggung jawab;
d. memiliki surat keterangan domisili perusahaan; dan
e. memiliki izin usaha dari instansi pembina usaha pokoknya.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
a. memiliki paling sedikit 1 (satu) unit kapal berbendera Indonesia yang laik
laut dengan ukuran dan tipe kapal disesuaikan dengan jenis usaha pokoknya
yang dibuktikan dengan salinan grosse akta, surat ukur, dan sertifikat
keselamatan kapal; dan
b. memiliki tenaga ahli di bidang ketatalaksanaan pelayaran niaga, nautika,
dan/atau teknika.
(5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama pelaksana kegiatan
angkutan laut khusus masih menjalankan kegiatan usahanya dan dievaluasi
setiap 2 (dua) tahun sekali oleh Menteri.
Pasal 163
(1) Untuk memperoleh izin operasi angkutan laut khusus, pelaksana kegiatan
angkutan laut khusus mengajukan permohonan kepada Menteri disertai dengan
dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 162 ayat (3) dan ayat
(4).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin operasi angkutan
laut khusus dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak
diterima permohonan secara lengkap.
214
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 162 ayat (3) dan ayat (4) belum terpenuhi, Menteri mengembalikan
permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada Menteri setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 162 ayat (3) dan ayat (4) telah terpenuhi, Menteri menerbitkan izin
operasi angkutan laut khusus.
Pasal 164
Pelaksana kegiatan angkutan laut khusus yang telah mendapatkan izin operasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 163 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin usahanya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 3 (tiga) bulan
setelah izin usaha diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. memberikan prioritas akomodasi untuk taruna atau siswa yang melaksanakan
praktek kerja laut;
e. menyampaikan laporan bulanan secara tertulis kepada pemberi izin;
f. melaporkan secara tertulis pengoperasian kapal milik dan atau kapal charter
setiap 3 (tiga) bulan kepada pejabat pemberi izin;
g. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan penanggungjawab dan/
atau pemilik perusahaan dan/atau domisili perusahaan kepada pemberi izin;
dan
h. melaporkan secara tertulis realisasi perjalanan kapal (voyage report) kepada
pejabat pemberi izin.
Pasal 165
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian izin operasi angkutan
laut khusus diatur dengan Peraturan Menteri.
215
Paragraf 3
Izin Operasi Angkutan Sungai dan Danau Untuk Kepentingan
Sendiri
Pasal 166
(1) Untuk dapat melakukan kegiatan angkutan sungai dan danau untuk kepentingan
sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) huruf c, pelaksana
kegiatan angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri wajib memiliki
izin operasi yang diberikan oleh bupati/walikota sesuai dengan domisili kegiatan
usaha pokoknya.
(2) Izin operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah memenuhi
persyaratan:
a. administrasi; dan
b. teknis.
(3) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi:
a. memiliki akte pendirian perusahaan bagi yang berbentuk badan usaha;
b. memiliki kartu tanda penduduk bagi orang perseorangan warga negara
Indonesia;
c. memiliki nomor pokok wajib pajak;
d. memiliki surat keterangan domisili bagi yang berbentuk badan usaha; dan
e. memiliki izin usaha dari instansi pembina usaha pokoknya.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
a. memiliki paling sedikit 1 (satu) unit kapal berbendera Indonesia yang laik
laut dengan ukuran dan tipe kapal disesuaikan dengan jenis usaha pokoknya
yang dibuktikan dengan salinan grosse akta, surat ukur, dan sertifikat
keselamatan kapal; dan
b. memiliki tenaga ahli di bidang ketatalaksanaan pelayaran niaga, nautika,
dan/atau teknika.
(5) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama pelaksana kegiatan
angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri masih menjalankan
kegiatan usahanya dan dievaluasi setiap 2 (dua) tahun sekali oleh bupati/
walikota.
216
Pasal 167
(1) Untuk memperoleh izin operasi angkutan sungai dan danau untuk kepentingan
sendiri, pelaksana kegiatan angkutan sungai dan danau mengajukan permohonan
kepada bupati/walikota disertai dengan dokumen persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 166 ayat (3) dan ayat (4).
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bupati/walikota
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin operasi angkutan
sungai dan danau untuk kepentingan sendiri dalam jangka waktu paling lama 14
(empat belas) hari kerja sejak diterima permohonan secara lengkap.
(3) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 166 ayat (3) dan ayat (4) belum terpenuhi, bupati/walikota
mengembalikan permohonan secara tertulis kepada pemohon untuk melengkapi
persyaratan.
(4) Permohonan yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat
diajukan kembali kepada bupati/walikota setelah permohonan dilengkapi.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 166 ayat (3) dan ayat (4) telah terpenuhi bupati/walikota menerbitkan
izin operasi angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri.
Pasal 168
Pelaksana kegiatan angkutan sungai dan danau untuk kepentingan sendiri yang
telah mendapat izin operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 166 ayat (5) wajib:
a. melaksanakan ketentuan yang telah ditetapkan dalam izin operasinya;
b. melakukan kegiatan operasional secara terus menerus paling lama 6 (enam)
bulan setelah izin operasi diterbitkan;
c. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pelayaran dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya;
d. melaporkan secara tertulis kegiatan operasinya setiap tahun kepada pemberi
izin; dan
e. melaporkan secara tertulis apabila terjadi perubahan nama penganggung jawab,
pemilik perusahaan, atau domisili perusahaan.
Pasal 169
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penerbitan izin operasi angkutan
sungai dan danau untuk kepentingan sendiri diatur dengan Peraturan Menteri.
217
BAB VIII
PENARIFAN
Bagian Kesatu
Tarif Angkutan Penumpang dan Tarif Angkutan Barang
Pasal 170
Tarif angkutan di perairan terdiri atas tarif angkutan penumpang dan tarif
angkutan barang.
Pasal 171
(1) Tarif angkutan penumpang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 terdiri atas
jenis tarif untuk:
a. kelas ekonomi; dan
b. kelas non-ekonomi.
(2) Tarif angkutan penumpang kelas ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a ditetapkan oleh Menteri.
(3) Tarif angkutan penumpang non-ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b ditetapkan oleh penyelenggara angkutan berdasarkan tingkat pelayanan
yang diberikan.
Pasal 172
(1) Tarif angkutan barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 ditetapkan oleh
penyedia jasa angkutan berdasarkan kesepakatan antara pengguna dan penyedia
jasa angkutan sesuai dengan jenis, struktur, dan golongan yang ditetapkan oleh
Menteri.
(2) Tarif angkutan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas jenis
tarif untuk:
a. barang yang sesuai bentuk dan sifatnya memerlukan penanganan secara
umum;
b. barang khusus yang karena sifat dan ukurannya memerlukan penanganan
khusus antara lain kayu gelondongan, barang curah, rel, dan ternak;
c. barang berbahaya yang karena sifat, ciri khas, dan keadaannya dapat
membahayakan jiwa manusia dan lingkungan yang dapat berbentuk bahan
cair, bahan padat, dan bahan gas; dan
218
d. kendaraan beserta muatannya yang diangkut kapal Ro-Ro.
(3) Struktur tarif angkutan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
kerangka tarif yang dikaitkan dengan:
a. kekhususan jenis barang;
b. bentuk kemasan;
c. volume atau berat barang; dan
d. jarak atau waktu tempuh.
Pasal 173
Golongan tarif angkutan barang di perairan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
172 ayat (1) merupakan penggolongan tarif yang ditetapkan berdasarkan:
a. jenis barang yang diangkut;
b. jenis pelayanan;
c. klasifikasi; dan
d. fasilitas angkutan.
Pasal 174
Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, struktur, dan golongan tarif angkutan
barang di perairan diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua
Tarif Usaha Jasa Terkait Dengan Angkutan di Perairan
Pasal 175
(1) Tarif usaha jasa terkait dengan angkutan di perairan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 79 ayat (2) ditetapkan oleh penyedia jasa terkait berdasarkan
kesepakatan antara pengguna jasa dan penyedia jasa terkait sesuai dengan
jenis, struktur, dan golongan yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Jenis tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. tarif bongkar muat barang;
b. tarif jasa pengurusan transportasi;
c. tarif angkutan perairan pelabuhan;
d. tarif penyewaan peralatan angkutan laut atau peralatan jasa terkait dengan
angkutan laut;
219
e. tarif tally mandiri;
f. tarif depo peti kemas;
g. tarif pengelolaan kapal;
h. tarif perantara jual beli dan/atau sewa kapal;
i. tarif keagenan awak kapal;
j. tarif keagenan kapal; dan
k. tarif perawatan dan perbaikan kapal.
(3) Struktur tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan komponen dasar
untuk pedoman perhitungan besaran tarif.
(4) Golongan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penggolongan
tarif yang ditetapkan berdasarkan jenis pelayanan jasa, klasifikasi, dan fasilitas
yang disediakan oleh penyedia jasa terkait.
Pasal 176
Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, struktur, dan golongan tarif usaha jasa
terkait dengan angkutan di perairan diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IX
KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB PENGANGKUT
Bagian Kesatu
Wajib Angkut
Pasal 177
(1) Perusahaan angkutan di perairan wajib mengangkut penumpang dan/atau barang
terutama angkutan pos yang disepakati dalam perjanjian pengangkutan.
(2) Perjanjian pengangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan
dengan karcis penumpang atau dokumen muatan.
(3) Sebelum melaksanakan pengangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
perusahaan angkutan di perairan harus memastikan:
a. sarana angkutan kapal telah memenuhi persyaratan kelaiklautan;
b. sarana angkutan kapal telah diisi bahan bakar dan air tawar yang cukup
serta dilengkapi dengan pasokan logistik;
c. ruang penumpang, ruang muatan, ruang pendingin, dan tempat penyimpanan
220
lain di kapal cukup memadai dan aman untuk ditempati penumpang dan/
atau dimuati barang; dan
d. cara pemuatan, penanganan, penyimpanan, penumpukan, dan pembongkaran
barang dan/atau naik atau turun penumpang dilakukan secara cermat dan
berhati-hati.
Pasal 178
(1) Pada saat menyerahkan barang untuk diangkut, pemilik atau pengirim barang
harus:
a. memberitahu pengangkut mengenai ciri-ciri umum barang yang akan diangkut
dan cara penanganannya apabila pengangkut menghendaki demikian; dan
b. memberi tanda atau label secara memadai terhadap barang khusus
serta barang berbahaya dan beracun sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Pemilik atau pengirim barang bertanggung jawab sepenuhnya mengenai
kebenaran pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan
perusahaan angkutan di perairan berhak menolak untuk mengangkut barang
apabila pemilik barang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
Pasal 179
(1) Dalam keadaan tertentu Pemerintah memobilisasi armada niaga nasional.
(2) Pelaksanaan mobilisasi armada niaga nasional sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Tanggung Jawab Pengangkut
Pasal 180
(1) Perusahaan angkutan di perairan bertanggung jawab terhadap keselamatan dan
keamanan penumpang dan/atau barang yang diangkutnya.
(2) Perusahaan angkutan di perairan bertanggung jawab terhadap muatan kapal
sesuai dengan jenis dan jumlah yang dinyatakan dalam dokumen muatan dan/
atau perjanjian atau kontrak pengangkutan yang telah disepakati.
221
Pasal 181
(1) Perusahaan angkutan di perairan bertanggung jawab atas akibat yang ditimbulkan
oleh pengoperasian kapalnya.
(2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap:
a. kematian atau lukanya penumpang yang diangkut;
b. musnah, hilang, atau rusaknya barang yang diangkut;
c. keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang diangkut; atau
d. kerugian pihak ketiga.
(3) Perusahaan angkutan di perairan wajib mengasuransikan tanggung jawabnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan melaksanakan asuransi perlindungan
dasar penumpang umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(4) Batas tanggung jawab untuk pengangkutan barang sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama antara pengguna
dan penyedia jasa sesuai dengan perjanjian angkutan atau sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Batas tanggung jawab keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c ditetapkan berdasarkan kesepakatan
bersama antara pengguna dan penyedia jasa sesuai dengan perjanjian angkutan
atau sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Batas tanggung jawab atas kerugian pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf d ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan.
(7) Jika dapat membuktikan bahwa kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf b, huruf c, dan huruf d bukan disebabkan oleh kesalahannya, perusahaan
angkutan di perairan dapat dibebaskan sebagian atau seluruh tanggung
jawabnya.
Pasal 182
(1) Perusahaan angkutan di perairan wajib memberikan fasilitas khusus dan
kemudahan bagi penyandang cacat, wanita hamil, anak di bawah usia 5 (lima)
tahun, orang sakit, dan orang lanjut usia.
(2) Fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa penyediaan:
a. sarana khusus bagi penyandang cacat untuk naik ke atau turun dari kapal;
222
b. sarana khusus bagi penyandang cacat selama di kapal;
c. sarana bantu bagi orang sakit yang pengangkutannya mengharuskan dalam
posisi tidur; dan
d. fasilitas khusus bagi penumpang yang mengidap penyakit menular.
(3) Kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa pemberian prioritas:
a. untuk mendapatkan tiket angkutan; dan
b. pelayanan untuk naik ke dan turun dari kapal.
(4) Pemberian fasilitas khusus dan kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak dipungut biaya tambahan.
Pasal 183
Ketentuan lebih lanjut mengenai standar fasilitas dan kemudahan bagi
penumpang penyandang cacat, wanita hamil, anak di bawah usia 5 (lima) tahun,
orang sakit, dan orang lanjut usia diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB X
PENGANGKUTAN BARANG KHUSUS
DAN BARANG BERBAHAYA
Pasal 184
(1) Pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pengangkutan barang khusus dan barang berbahaya sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus menggunakan kapal yang dirancang khusus dan memenuhi
persyaratan:
a. penanganan bongkar muat, penumpukan, dan penyimpanan selama berada
di kapal serta pengemasan, penumpukan, dan penyimpanan di pelabuhan;
b. keselamatan sesuai dengan peraturan dan standar, baik nasional maupun
internasional, bagi kapal khusus pengangkut barang berbahaya; dan
c. pemberian tanda tertentu sesuai dengan barang berbahaya yang diangkut.
Pasal 185
(1) Barang khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 ayat (1) dapat berupa:
a. kayu gelondongan;
b. barang curah;
223
c. rel; dan
d. ternak.
(2) Barang berbahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 184 ayat (1) berbentuk:
a. bahan cair;
b. bahan padat; dan
c. bahan gas.
Pasal 186
Barang berbahaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185 ayat (2) diklasifikasikan
sebagai berikut:
a. bahan atau barang peledak (explosive);
b. gas yang dimampatkan, dicairkan, atau dilarutkan dengan tekanan (compressed
gases, liquified, or dissolved under pressure);
c. cairan mudah menyala atau terbakar (flammable liquids);
d. bahan atau barang padat mudah menyala atau terbakar (flammable solids);
e. bahan atau barang pengoksidasi (oxidizing substances);
f. bahan atau barang beracun dan mudah menular (toxic and infectious
substances);
g. bahan atau barang radioaktif (radioactive material);
h. bahan atau barang perusak (corrosive substances); dan
i. berbagai bahan atau zat berbahaya lainnya (miscellaneous dangerous
substances).
Pasal 187
Penanganan pengangkutan, penumpukan, penyimpanan, dan bongkar muat
barang khusus dan barang berbahaya dari dan ke kapal sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 184 ayat (2) huruf a, dilakukan oleh tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan
dilengkapi dengan fasilitas keselamatan.
Pasal 188
Pemilik, operator, dan/atau agen perusahaan angkutan laut yang mengangkut
barang khusus dan barang berbahaya, wajib menyampaikan pemberitahuan kepada
Syahbandar sebelum kapal pengangkut barang khusus dan/atau barang berbahaya
tiba di pelabuhan.
224
Pasal 189
Badan Usaha Pelabuhan dan Unit Penyelenggara Pelabuhan harus menyediakan
tempat penyimpanan atau penumpukan barang khusus dan barang berbahaya untuk
menjamin keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas barang di pelabuhan serta
bertanggung jawab terhadap penyusunan sistem dan prosedur penanganan barang
khusus dan barang berbahaya di pelabuhan.
Pasal 190
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengangkutan dan penanganan di
pelabuhan terhadap barang khusus dan barang berbahaya diatur dengan Peraturan
Menteri.
BAB XI
PEMBERDAYAAN INDUSTRI ANGKUTAN PERAIRAN NASIONAL
Pasal 191
(1) Pengembangan dan pengadaan armada angkutan perairan nasional dilakukan
dalam rangka memberdayakan angkutan perairan nasional dan memperkuat
industri perkapalan nasional yang dilakukan secara terpadu dengan dukungan
semua sektor terkait.
(2) Pengembangan dan pengadaan armada angkutan perairan nasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditujukan agar tersedia armada nasional yang memadai
sebagai infrastruktur dalam rangka pelaksanaan asas cabotage untuk angkutan di
perairan dalam negeri dan agar perusahaan angkutan laut nasional memperoleh
pangsa muatan yang wajar untuk angkutan di perairan luar negeri.
Pasal 192
(1) Pemberdayaan industri angkutan perairan nasional sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 191 ayat (1) wajib dilakukan oleh Pemerintah dengan:
a. memberikan fasilitas pembiayaan dan perpajakan;
b. memfasilitasi kemitraan kontrak jangka panjang antara pemilik barang dan
pemilik kapal; dan
c. memberikan jaminan ketersediaan bahan bakar minyak untuk angkutan di
perairan.
(2) Pemberian fasilitas pembiayaan dan perpajakan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi:
225
a. mengembangkan lembaga keuangan non-bank khusus untuk pembiayaan
pengadaan armada niaga nasional;
b. memfasilitasi tersedianya pembiayaan bagi pengembangan armada niaga
nasional, baik yang berasal dari perbankan maupun lembaga keuangan nonbank, dengan kondisi pinjaman yang menarik; dan
c. memberikan insentif fiskal bagi pengembangan dan pengadaan armada
angkutan perairan nasional.
(3) Fasilitas Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan
Pemerintah dengan:
a. mewajibkan pengangkutan barang atau muatan impor milik Pemerintah
yang pengadaannya dilakukan oleh importir menggunakan kapal berbendera
Indonesia yang dioperasikan oleh perusahaan angkutan perairan nasional;
dan
b. memfasilitasi agar syarat perdagangan muatan ekspor untuk jenis muatan
atau barang tertentu sehingga pengangkutannya dilakukan oleh perusahaan
angkutan perairan nasional dengan menggunakan kapal berbendera
Indonesia.
(4) Pemberian jaminan ketersediaan bahan bakar minyak untuk angkutan perairan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menyediakan bahan
bakar minyak sesuai dengan trayek dan jumlah hari layar kepada perusahaan
angkutan perairan nasional yang mengoperasikan kapal berbendera Indonesia
dan melakukan kegiatan angkutan laut dalam negeri.
Pasal 193
Perkuatan industri perkapalan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191
ayat (1) wajib dilakukan Pemerintah dengan:
a. menetapkan kawasan industri perkapalan terpadu;
b. mengembangkan pusat desain, penelitian, dan pengembangan industri kapal
nasional;
c. mengembangkan standarisasi dan komponen kapal dengan menggunakan
sebanyak-banyaknya muatan local dan melakukan alih teknologi;
d. mengembangkan industri bahan baku dan komponen kapal;
e. memberikan insentif kepada perusahaan angkutan perairan nasional yang
membangun dan/atau mereparasi kapal di dalam negeri dan/atau yang
melakukan pengadaan kapal dari luar negeri;
226
f. membangun kapal pada industri galangan kapal nasional apabila biaya
pengadaannya dibebankan kepada Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah;
g. sebanyak-banyaknya muatan lokal dan pelaksanaan alih teknologi; dan
h. memelihara dan mereparasi kapal pada industry perkapalan nasional yang
biayanya dibebankan kepada Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.
Pasal 194
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan dan pengadaan armada niaga
nasional, fasilitas Pemerintah dalam pemberdayaan industri pelayaran nasional dan
perkuatan industri perkapalan nasional diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB XII
SISTEM INFORMASI ANGKUTAN DI PERAIRAN
Pasal 195
(1) Sistem informasi angkutan di perairan mencakup pengumpulan, pengelolaan,
penganalisaan, penyimpanan, penyajian, serta penyebaran data dan informasi
angkutan di perairan.
(2) Sistem informasi angkutan di perairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibentuk untuk:
a. mendukung operasional angkutan di perairan;
b. meningkatkan pelayanan kepada masyarakat atau publik; dan
c. mendukung perumusan kebijakan di bidang angkutan di perairan.
(3) Sistem informasi angkutan di perairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan oleh:
a. Menteri, untuk sistem informasi angkutan di perairan pada tingkat
nasional;
b. gubernur, untuk sistem informasi angkutan di perairan pada tingkat provinsi;
atau
c. bupati/walikota, untuk sistem informasi angkutan di perairan pada tingkat
kabupaten/kota.
(4) Penyelenggaraan sistem informasi angkutan di perairan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dilakukan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.
227
Pasal 196
Penyelenggaraan sistem informasi angkutan di perairan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 195 dilakukan dengan membangun dan mengembangkan jaringan
informasi secara efektif, efisien, dan terpadu yang melibatkan pihak terkait dengan
memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Pasal 197
(1) Menteri, gubernur, dan/atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
mengevaluasi laporan bulanan yang disampaikan oleh perusahaan angkutan di
perairan dan usaha jasa terkait dengan angkutan di perairan untuk dijadikan
sebagai bahan penyusunan system informasi angkutan di perairan.
(2) Hasil evaluasi yang dilakukan oleh gubernur dan/atau bupati/walikota
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri.
Pasal 198
Menteri berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197, mengolah
data dan informasi untuk dijadikan sebagai bahan informasi angkutan di perairan
kepada masyarakat.
Pasal 199
(1) Sistem informasi angkutan di perairan paling sedikit memuat:
a. perusahaan angkutan di perairan;
b. kegiatan operasional angkutan di perairan;
c. armada dan kapasitas ruang kapal nasional;
d. jaringan trayek angkutan di perairan;
e. volume muatan berdasarkan jenis muatan dan pangsa muatan kapal
nasional;
f. pergerakan operasional kapal berdasarkan jenis muatan;
g. usaha dan kegiatan jasa terkait dengan angkutan di perairan;
h. tarif angkutan di perairan;
i. sumber daya manusia di bidang angkutan di perairan;
j. peraturan perundang-undangan di bidang angkutan di perairan; dan
k. pelayanan publik di bidang angkutan di perairan.
(2) Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dalam sistem
informasi manajemen angkutan di perairan termasuk Informasi Muatan dan
Ruang Kapal.
228
Pasal 200
(1) Data dan informasi angkutan di perairan didokumentasikan dan dipublikasikan
serta dapat di akses dan digunakan oleh masyarakat yang membutuhkan dengan
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
(2) Pengelolaan sistem informasi angkutan di perairan oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lain.
Pasal 201
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian dan pengelolaan data
dan penyusunan sistem informasi angkutan di perairan diatur dengan Peraturan
Menteri.
BAB XIII
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 202
(1) Setiap pemegang izin yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 ayat (2) atau ayat (3), Pasal 14, Pasal 16 ayat (2), Pasal 26 ayat (4),
Pasal 36 ayat (1), Pasal 37 ayat (1), Pasal 40 ayat (2), Pasal 41 ayat (1), Pasal
58 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), Pasal 61 ayat (3), Pasal 97 ayat (1) atau ayat (2),
Pasal 101 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 105 ayat (1), Pasal 109 ayat (1), Pasal 114
ayat (2), Pasal 115, Pasal 119, Pasal 120 ayat (2), Pasal 124, Pasal 128, Pasal
132, Pasal 136, Pasal 137 ayat (2), Pasal 142, Pasal 146, Pasal 150, Pasal 154,
Pasal 158, Pasal 159 ayat (2), Pasal 164, Pasal 168, Pasal 177 ayat (1), Pasal 182
ayat (1), atau Pasal 188 dapat dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi adminitratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. peringatan tertulis;
b. pembekuan izin; dan/atau
c. pencabutan izin.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 203
(1) Sanksi administratif berupa peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 202 ayat (2) dikenai sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut untuk jangka
waktu masing-masing 30 (tiga puluh) hari kalender.
229
(2) Dalam hal pemegang izin tidak melaksanakan kewajibannya setelah berakhirnya
jangka waktu peringatan tertulis ke 3 (tiga), dikenai sanksi administratif berupa
pembekuan izin.
(3) Pembekuan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai dalam jangka
waktu 30 (tiga puluh) hari kalender.
(4) Izin dicabut apabila pemegang izin tidak melaksanakan kewajibannya setelah
jangka waktu pembekuan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir.
Pasal 204
(1) Pemegang izin yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
105 ayat (1) atau Pasal 109 ayat (1), selain dikenai sanksi pencabutan izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 202 ayat (2) huruf c, dikenai sanksi denda
administratif paling banyak Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penerimaan
negara bukan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 205
Perwakilan perusahaan angkutan laut asing yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4) dikenai sanksi administratif berupa
pembekuan Certificate of Owner’s Representative.
Pasal 206
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif
diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 207
Bagi perusahaan angkutan di perairan dan usaha jasa terkait dengan angkutan
di perairan yang telah memiliki izin sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini,
dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun, wajib menyesuaikan perizinannya
berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.
230
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 208
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, semua peraturan pelaksanaan
yang mengatur mengenai angkutan di perairan dinyatakan tetap berlaku sepanjang
tidak bertentangan atau belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 209
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 1999 tentang Angkutan di Perairan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 187, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3907), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 210
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 26
231
Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
ttd
Setio Sapto Nugroho
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 20 TAHUN 2010
TENTANG
ANGKUTAN DI PERAIRAN
I. UMUM
Angkutan di perairan, sebagai bagian dari sistem transportasi nasional, memiliki
peranan yang sangat penting dalam memperlancar roda perekonomian, memantapkan
perwujudan wawasan nusantara, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa,
meningkatkan ketahanan nasional, dan mempererat hubungan antarbangsa.
Angkutan di perairan memiliki fungsi yang strategis, yaitu menunjang
kegiatan perdagangan dan perekonomian (ship follows the trade) serta merangsang
pertumbuhan perekonomian dan wilayah (ship promotes the trade), sehingga
angkutan di perairan berfungsi sebagai infrastruktur yang srategis bagi Indonesia
sebagai negara kepulauan.
Penyelenggaraan fungsi strategis tersebut dapat mendukung perwujudan
wawasan nusantara, meningkatkan ekspor dan impor sehingga dapat meningkatkan
penerimaan devisa negara, dan membuka kesempatan kerja, sehingga angkutan di
perairan dikuasai oleh negara yang penyelenggaraannya meliputi aspek pengaturan,
pengendalian, dan pengawasan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka penyelenggaraan angkutan di perairan
dilaksanakan dengan cara:
a. memberlakukan azas cabotage secara konsekuen dan konsisten agar perusahaan
angkutan perairan nasional dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri;
b. mengembangkan angkutan di perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau
wilayah terpencil dengan pelayaran-perintis dan penugasan;
233
234
c. menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pemberdayaan dan kemandirian
industri angkutan perairan nasional;
d. mengembangkan industri jasa terkait untuk menunjang kelancaran kegiatan
angkutan di perairan; dan
e. mengembangkan sistem informasi angkutan di perairan secara terpadu yang
mengikutsertakan semua pihak terkait dengan memanfaatkan perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, maka dipandang perlu untuk
menyusun Peraturan Pemerintah tentang Angkutan di Perairan yang merupakan
pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang
mengatur mengenai kegiatan angkutan laut, angkutan sungai dan danau, angkutan
penyeberangan, angkutan di perairan untuk daerah masih tertinggal dan/atau wilayah
terpencil, kegiatan jasa terkait dengan angkutan di perairan, perizinan, penarifan,
kewajiban dan tanggung jawab pengangkut, pengangkutan barang khusus dan barang
berbahaya, pemberdayaan industri angkutan perairan, system informasi angkutan di
perairan, dan sanksi administratif.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Ayat (1)
Penggunaan kapal berbendera Indonesia oleh perusahaan angkutan laut nasional
dan diawaki oleh awak kapal berkewarganegaraan Indonesia untuk angkutan
laut dalam negeri dimaksudkan dalam rangka pelaksanaan azas cabotage guna
235
melindungi kedaulatan negara (sovereignty) dan mendukung perwujudan
wawasan nusantara serta memberikan kesempatan berusaha yang seluas-luasnya
bagi perusahaan angkutan laut nasional dalam memperoleh pangsa muatan.
Ayat (2)
Kegiatan angkutan laut dalam negeri termasuk kegiatan angkutan laut lepas
pantai dan kegiatan angkutan dari pelabuhan laut ke lokasi di perairan yang
berfungsi sebagai pelabuhan di wilayah perairan Indonesia atau sebaliknya.
Yang dimaksud dengan “kegiatan lainnya yang menggunakan kapal” antara
lain kegiatan penundaan kapal, pengerukan, untuk kegiatan salvage dan/atau
pekerjaan bawah air, dan pengangkutan penunjang kegiatan usaha hulu dan
hilir minyak dan gas bumi.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas
Pasal 7
Ayat (1)
Penyusunan jaringan trayek tetap dan teratur (liner) dimaksudkan untuk
memberikan kepastian hukum dan usaha serta pelayanan kepada pengguna jasa
dan penyedia jasa angkutan laut.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
236
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Ayat (1)
Terhadap perusahaan angkutan laut nasional yang mengoperasikan kapal atau
menempatkan kapalnya pada jaringan trayek tetap dan teratur untuk melayani
trayek yang belum ditetapkan (yang bersifat keperintisan), diberikan proteksi
berupa hak eksklusif sementara (temporary exclusive right) dimana hanya
kapal-kapal yang dioperasikan oleh perusahaan angkutan laut nasional tersebut
yang dapat melayani trayek baru dimaksud untuk periode paling lama 3 (tiga)
tahun atau telah tercapai faktor muatan (load factor) sebesar rata-rata 65%
(enam puluh lima per seratus) selama 6 (enam) bulan terakhir.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Ayat (1)
Huruf a
Huruf b
Yang dimaksud dengan “keseimbangan permintaan dan tersedianya ruangan”
adalah terwujudnya pelayanan pada suatu trayek yang dapat diukur dengan
tingkat faktor muat (load factor) tertentu.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
237
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 12
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “omisi” adalah meninggalkan atau tidak menyinggahi
pelabuhan wajib singgah yang ditetapkan dalam jaringan trayek.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “deviasi” adalah penyimpangan trayek atau tidak
menyinggahi pelabuhan wajib singgah yang ditetapkan dalam jaringan
trayek.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 13
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “substitusi” adalah penggantian kapal pada trayek tetap
dan teratur yang telah ditetapkan sebelumnya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Pemberian insentif antara lain berupa pemberian prioritas sandar, penyediaan
bunker sesuai dengan trayek dan jumlah hari layar, dan keringanan tarif jasa
kepelabuhanan. Keringanan tarif jasa kepelabuhanan meliputi tarif jasa labuh, tariff
jasa tambat, dan tarif jasa pemanduan yang besarannya akan ditentukan oleh Badan
Usaha Pelabuhan atau Unit Penyelenggara Pelabuhan.
238
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Huruf a
Huruf b
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “untuk menunjang kegiatan tertentu” antara lain
kegiatan angkutan lepas pantai atau untuk menunjang suatu proyek tertentu
lainnya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Ayat (1)
Cukup jelas.
239
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Angkutan laut antarpulau atau antarpelabuhan di wilayah perairan Indonesia
merupakan kegiatan angkutan laut dalam negeri yang hanya dapat dilakukan
oleh perusahaan angkutan laut nasional.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “trayek angkutan laut lintas batas” antara lain:
1. Pelabuhan Batam-Pelabuhan Singapura;
2. Pelabuhan Nunukan-Pelabuhan Tawau, Malaysia;
3. Pelabuhan Belawan-Pelabuhan Penang, Malaysia;
240
4. Pelabuhan Sambas-Pelabuhan Kuching, Malaysia;
5. Pelabuhan Sungai Nyamuk-Pelabuhan Tawau, Malaysia;
6. Pelabuhan Dumai-Pelabuhan Malaka, Malaysia;
7. Pelabuhan Tahuna-Pelabuhan General Santos, Filipina;
8. Pelabuhan Jayapura-Pelabuhan Vanimo, Papua Nugini; dan
9. Pelabuhan Oecussi-Pelabuhan Dilli, Timor Leste.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “kerja sama sub-regional” adalah forum kerja sama
antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah negara di dalam subregional negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 30
Ayat (1)
Kapal yang datang secara mendadak (emergency call) di suatu pelabuhan atau
terminal khusus terdekat, Nakhoda kapal dapat menunjuk agen umum dengan
membuat surat penunjukan (letter of appointment) kepada salah satu perusahaan
angkutan laut nasional atau perusahaan nasional keagenan kapal yang terdapat
di pelabuhan atau terminal khusus disertai uang muka untuk pembayaran biayabiaya kapal selama berada di pelabuhan (advanced disbursement).
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “perusahaan nasional keagenan kapal” adalah badan
usaha yang khusus didirikan untuk kegiatan keagenan kapal.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
241
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “secara berkesinambungan” adalah bahwa kegiatan
angkutan laut ke atau dari pelabuhan Indonesia yang terbuka untuk perdagangan
luar negeri yang dilakukan oleh perusahaan angkutan laut asing secara terus
menerus dan tidak terputus. Penunjukan perwakilan dimaksudkan untuk mewakili
kepentingan administrasi perusahaan angkutan laut asing di Indonesia.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
242
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Kewajiban melaporkan kepada Menteri mencakup rencana dan realisasi kegiatan
dan penggunaan kapal angkutan laut khusus.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 41
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “tidak tersedianya kapal” adalah tidak tersedianya
kapal berbendera Indonesia yang dioperasikan oleh perusahaan angkutan
laut nasional.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Ayat (1)
Pelaksana kegiatan angkutan laut asing merupakan perusahaan angkutan laut
asing yang mengangkut muatan impor bahan baku dan/atau peralatan produksi
243
untuk menunjang usaha pokok tertentu dari pelaksana kegiatan angkutan laut
khusus.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas.
Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Cukup jelas.
Pasal 52
Cukup jelas.
244
Pasal 53
Cukup jelas.
Pasal 54
Cukup jelas.
Pasal 55
Cukup jelas.
Pasal 56
Cukup jelas.
Pasal 57
a. b. c. d. e. f. Usaha pokok meliputi bidang:
pertanian dan perkebunan;
kehutanan;
peternakan dan perikanan;
perindustrian;
pertambangan dan energi; atau
pariwisata.
Pasal 58
Cukup jelas.
Pasal 59
Cukup jelas.
Pasal 60
Cukup jelas.
Pasal 61
Cukup jelas.
Pasal 62
Ayat (1)
Cukup jelas.
245
Ayat (2)
Huruf a
Huruf b
Yang dimaksud dengan “lintas penyeberangan antarprovinsi” yaitu yang
menghubungkan simpul pada jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta
api antarprovinsi.
Yang dimaksud dengan “lintas penyeberangan antarkabupaten/kota” yaitu
yang menghubungkan simpul pada jaringan jalan dan/atau jaringan jalur
kereta api antarkabupaten atau kota dalam provinsi.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “lintas penyeberangan dalam kabupaten/kota” yaitu
yang menghubungkan simpul pada jaringan jalan dan/atau jaringan jalur
kereta api dalam kabupaten atau kota.
Ayat (3)
Huruf a
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan “dengan jarak tertentu” adalah bahwa tidak
semua daratan yang dipisahkan oleh perairan dihubungkan oleh angkutan
penyeberangan, tetapi daratan yang dihubungkan merupakan pengembangan
jaringan jalan dan/atau jaringan jalur kereta api yang dipisahkan oleh
perairan, dengan tetap memenuhi karakteristik angkutan penyeberangan.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “fungsi sebagai jembatan” adalah pergerakan lalu
lintas dan pemindahan penumpang dan kendaraan beserta muatannya
dengan kapal penyeberangan.
Huruf c
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
246
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 63
Cukup jelas.
Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Cukup jelas.
Pasal 66
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Huruf a
Persyaratan usaha angkutan penyeberangan antara lain memiliki kantor dan
tenaga manajemen angkutan penyeberangan.
Huruf b
Persyaratan pelayanan angkutan penyeberangan yang ditetapkan dalam
standar pelayanan minimal angkutan penyeberangan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 67
Cukup jelas.
247
Pasal 68
Cukup jelas.
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “pelaksana kegiatan” adalah badan usaha yang memiliki
izin usaha di bidang angkutan laut, angkutan sungai dan danau, atau angkutan
penyeberangan.
Pasal 71
Cukup jelas.
Pasal 72
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “kontrak jangka panjang” adalah paling sedikit untuk
jangka waktu 5 (lima) tahun yang dimaksudkan untuk memberikan jaminan agar
perusahaan angkutan laut yang menyelenggarakan pelayaran-perintis dapat
melakukan peremajaan kapal.
Pasal 73
Yang dimaksud dengan “secara terpadu dengan sektor lain berdasarkan pendekatan
pembangunan wilayah” adalah bahwa penyusunan usulan trayek pelayaran-perintis
dikoordinasikan oleh pemerintah daerah dengan mengikutsertakan instansi terkait
248
serta memperhatikan keterpaduan dengan program sektor lain seperti antara lain
perdagangan, perkebunan, transmigrasi, perikanan, pariwisata, pendidikan, dan
pertanian dalam rangka pengembangan potensi daerah.
Pasal 74
Cukup jelas.
Pasal 75
Cukup jelas.
Pasal 76
Cukup jelas.
Pasal 77
Cukup jelas.
Pasal 78
Cukup jelas.
Pasal 79
Cukup jelas.
Pasal 80
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Huruf a
Cukup jelas.
249
Huruf b
Huruf c
Kegiatan bongkar muat barang curah cair yang dibongkar atau dimuat
melalui pipa yang dilakukan dengan menggunakan pipa milik atau dikuasai
oleh perusahaan angkutan laut nasional.
Kegiatan bongkar muat barang curah kering yang di bongkar atau di muat
melalui conveyor atau sejenisnya yang dilakukan dengan menggunakan
conveyor milik atau dikuasai oleh perusahaan angkutan laut nasional.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 81
Cukup jelas.
Pasal 82
Ayat (1)
Huruf a
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
250
Huruf h
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf q
Cukup jelas.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf o
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf j
Yang dimaksud dengan “dokumen angkutan” antara lain bill of lading,
airway bill, dokumen kepabeanan, kekarantinaan, surat jalan, dan dokumen
angkutan barang.
Cukup jelas.
Huruf r
Layanan logistik berupa kegiatan perencanaan, penanganan, dan
pengendalian terhadap pengiriman dan penyimpanan barang, termasuk
informasi, jasa pengurusan, dan administrasi terkait yang dilaksanakan
oleh penyelenggara kegiatan usaha jasa pengurusan transportasi untuk
pengiriman dan penerimaan barang.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 83
Cukup jelas.
251
Pasal 84
Cukup jelas.
Pasal 85
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan “stuffing peti kemas” adalah pekerjaan memuat barang
dari tempat yang ditentukan ke dalam peti kemas.
Yang dimaksud dengan “stripping peti kemas” adalah pekerjaan membongkar
barang dari dalam peti kemas sampai dengan menyusun di tempat yang
ditentukan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 86
Cukup jelas.
Pasal 87
Cukup jelas.
Pasal 88
Cukup jelas.
Pasal 89
Cukup jelas.
Pasal 90
Cukup jelas.
252
Pasal 91
Cukup jelas.
Pasal 92
Cukup jelas.
Pasal 93
Cukup jelas.
Pasal 94
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Huruf a
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Memiliki kapal berbendera Indonesia yang laik laut dengan ukuran paling
kecil GT 175 (seratus tujuh puluh lima Gross Tonnage), dapat dipenuhi
dengan 1 (satu) unit kapal atau lebih.
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 95
Cukup jelas.
253
Pasal 96
Cukup jelas.
Pasal 97
Cukup jelas.
Pasal 98
Cukup jelas.
Pasal 99
Cukup jelas.
Pasal 100
Cukup jelas.
Pasal 101
Cukup jelas.
Pasal 102
Cukup jelas.
Pasal 103
Cukup jelas.
Pasal 104
Cukup jelas.
Pasal 105
Cukup jelas.
Pasal 106
Cukup jelas.
Pasal 107
Cukup jelas.
254
Pasal 108
Cukup jelas.
Pasal 109
Cukup jelas.
Pasal 110
Cukup jelas.
Pasal 111
Cukup jelas.
Pasal 112
Cukup jelas.
Pasal 113
Cukup jelas.
Pasal 114
Cukup jelas.
Pasal 115
Cukup jelas.
Pasal 116
Cukup jelas.
Pasal 117
Cukup jelas.
Pasal 118
Cukup jelas.
Pasal 119
Cukup jelas.
255
Pasal 120
Cukup jelas.
Pasal 121
Cukup jelas.
Pasal 122
Cukup jelas.
Pasal 123
Cukup jelas.
Pasal 124
Cukup jelas.
Pasal 125
Cukup jelas.
Pasal 126
Cukup jelas.
Pasal 127
Cukup jelas.
Pasal 128
Cukup jelas.
Pasal 129
Cukup jelas.
Pasal 130
Cukup jelas.
Pasal 131
Cukup jelas.
256
Pasal 132
Cukup jelas.
Pasal 133
Cukup jelas.
Pasal 134
Cukup jelas.
Pasal 135
Cukup jelas.
Pasal 136
Cukup jelas.
Pasal 137
Cukup jelas.
Pasal 138
Cukup jelas.
Pasal 139
Cukup jelas.
Pasal 140
Cukup jelas.
Pasal 141
Cukup jelas.
Pasal 142
Cukup jelas.
Pasal 143
Cukup jelas.
257
Pasal 144
Cukup jelas.
Pasal 145
Cukup jelas.
Pasal 146
Cukup jelas.
Pasal 147
Cukup jelas.
Pasal 148
Cukup jelas.
Pasal 149
Cukup jelas.
Pasal 150
Cukup jelas.
Pasal 151
Cukup jelas.
Pasal 152
Cukup jelas.
Pasal 153
Cukup jelas.
Pasal 154
Cukup jelas.
Pasal 155
Cukup jelas.
258
Pasal 156
Cukup jelas.
Pasal 157
Cukup jelas.
Pasal 158
Cukup jelas.
Pasal 159
Cukup jelas.
Pasal 160
Cukup jelas.
Pasal 161
Cukup jelas.
Pasal 162
Cukup jelas.
Pasal 163
Cukup jelas.
Pasal 164
Cukup jelas.
Pasal 165
Cukup jelas.
Pasal 166
Cukup jelas.
Pasal 167
Cukup jelas.
259
Pasal 168
Cukup jelas.
Pasal 169
Cukup jelas.
Pasal 170
Cukup jelas.
Pasal 171
Ayat (1)
Huruf a
Tarif angkutan penumpang kelas ekonomi sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan ini merupakan tarif angkutan yang berorientasi kepada
kepentingan dan kemampuan (ability to pay) masyarakat luas.
Huruf b
Tarif pelayanan kelas non-ekonomi adalah tarif pelayanan angkutan yang
berorientasi kepada kelangsungan dan pengembangan usaha angkutan dalam
rangka meningkatkan mutu pelayanan serta perluasan jaringan pelayanan
angkutan laut.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 172
Cukup jelas.
Pasal 173
Cukup jelas.
Pasal 174
Cukup jelas.
260
Pasal 175
Cukup jelas.
Pasal 176
Cukup jelas.
Pasal 177
Cukup jelas.
Pasal 178
Ayat (1)
Ketentuan ini dimaksudkan agar perusahaan angkutan tidak membedakan
perlakuan terhadap pengguna jasa angkutan sepanjang yang bersangkutan telah
memenuhi perjanjian pengangkutan yang disepakati.
Perjanjian pengangkutan harus dilengkapi dengan dokumen pengangkutan
sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian internasional maupun peraturan
perundang-undangan nasional.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 179
Ayat (1)
Yang dimaksud “dalam keadaan tertentu” adalah seperti penanggulangan
bencana alam, kecelakaan di laut, kerusuhan sosial yang berdampak nasional,
dan negara dalam keadaan bahaya setelah dinyatakan resmi oleh Pemerintah
serta masa puncak angkutan lebaran, natal, dan tahun baru.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku”
antara lain Undang-Undang tentang Mobilisasi dan Demobilisasi.
Pasal 180
Cukup jelas.
Pasal 181
Ayat (1)
Cukup jelas.
261
Ayat (2)
Huruf a
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Tanggung jawab perusahaan angkutan di perairan sebagaimana dimaksud
dalam ketentuan ini adalah tanggung jawab terhadap kematian atau lukanya
penumpang yang diakibatkan oleh kecelakaan selama dalam pengangkutan
dan terjadi di dalam kapal, dan/ atau kecelakaan pada saat naik/turun
kapal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pernyataan sebab keterlambatan penyerahan barang oleh pengangkut dapat
dikukuhkan oleh pejabat pemerintah yang berwenang di pelabuhan.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 182
Cukup jelas.
Pasal 183
Cukup jelas.
Pasal 184
Cukup jelas.
262
Pasal 185
Cukup jelas.
Pasal 186
Cukup jelas.
Pasal 187
Cukup jelas.
Pasal 188
Cukup jelas.
Pasal 189
Cukup jelas.
Pasal 190
Cukup jelas.
Pasal 191
Ayat (1)
Pengembangan dan pengadaan armada angkutan perairan nasional secara
terpadu dengan dukungan semua sektor terkait termasuk sektor perdagangan,
keuangan, perindustrian, energy dan sumber daya mineral, serta pendidikan
dan pelatihan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “pangsa muatan yang wajar” adalah bahwa wajar tidak
selalu dalam arti memperoleh bagian yang sama (equal share), tetapi memperoleh
pangsa sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundangundangan, misalnya dalam perjanjian bilateral, konvensi internasional yang
diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia dan peraturan lainnya.
Khusus untuk barang milik Pemerintah perlu diupayakan agar pengangkutannya
dilaksanakan oleh perusahaan angkutan laut nasional.
Perusahaan angkutan laut nasional dapat melakukan kerja sama dengan
perusahaan angkutan laut asing untuk menetapkan perjanjian perolehan pangsa
muatan (fair share agreement).
263
Pasal 192
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “dilakukan oleh importir” adalah instansi Pemerintah/
lembaga pemerintah non kementerian, pemerintah daerah, badan usaha
milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan usaha swasta yang
melakukan kegiatan importasi barang muatan impor milik pemerintah.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “syarat perdagangan muatan ekspor untuk jenis
muatan atau barang tertentu sehingga pengangkutannya dilakukan oleh
perusahaan angkutan nasional” adalah syarat perdagangan (terms of trade)
secara C&F (Cost and Freight) atau CIF (Cost, Insurance, and Freight) untuk
komoditas ekspor yang bersifat seller’s market dimana pihak penjual/
eksportir yang menentukan kapal pengangkutnya.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 193
Huruf a
Yang dimaksud dengan “kawasan industri perkapalan terpadu” adalah pusat
industri yang meliputi antara lain fasilitas pembangunan, perawatan, perbaikan,
dan pemeliharaan yang terintegrasi dengan industri penunjangnya, seperti
material kapal, permesinan, dan perlengkapan kapal.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “bahan baku dan komponen kapal” antara lain material
kapal, suku cadang, dan perlengkapan kapal.
264
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Pasal 194
Cukup jelas.
Pasal 195
Cukup jelas.
Pasal 196
Cukup jelas.
Pasal 197
Cukup jelas.
Pasal 198
Cukup jelas.
Pasal 199
Cukup jelas.
Pasal 200
Cukup jelas.
Pasal 201
Cukup jelas.
Pasal 202
Cukup jelas.
265
Pasal 203
Cukup jelas.
Pasal 204
Cukup jelas.
Pasal 205
Cukup jelas.
Pasal 206
Cukup jelas.
Pasal 207
Cukup jelas.
Pasal 208
Cukup jelas.
Pasal 209
Cukup jelas.
Pasal 210
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5108
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI
NOMOR 30 TAHUN 2010
TENTANG
PEDOMAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA DI WILAYAH LAUT
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI DALAM NEGERI,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana
telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pengelolaan Sumber Daya
di Wilayah Laut;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi
Kemasyarakatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1985 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3298);
2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4738);
3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4916);
267
268
4. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4741);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan
Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4817);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN PENGELOLA­
AN SUMBER DAYA DI WILAYAH LAUT.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.
Pengelolaan sumber daya laut adalah segala upaya mengoptimalkan manfaat
sumber daya laut.
2.
Sumber daya laut adalah unsur hayati, non hayati yang terdapat di wilayah laut
dan dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
3.
Wilayah laut adalah ruang laut yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan/atau aspek fungsional yang diukur dari garis pantai ke arah
laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi paling jauh 12
(duabelas) mil laut dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk
kabupaten/kota termasuk wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
269
4.
Eksplorasi adalah kegiatan atau penyelidikan potensi kekayaan sumber daya
laut yang pelaksanaannya didasarkan pada kondisi lingkungannya.
5.
Eksploitasi adalah kegiatan atau usaha pemanfaatan sumber daya laut yang
pelaksanaannya harus didasarkan pada daya dukung lingkungannya.
6.
Kawasan konservasi adalah bagian tertentu wilayah laut yang mempunyai
ciri khas sebagai satu kesatuan ekosistem yang dilindungi, dilestarikan yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk mewujudkan pengelolaan
secara berkelanjutan.
7.
Penataan ruang laut adalah proses penetapan ruang/kawasan yang didasarkan
pada sumber daya yang ada di wilayah laut.
8.
Nelayan tradisional adalah masyarakat yang mata pencaharian sehari-hari
mengeksploitasi sumber daya laut yang dilakukan secara turun temurun dengan
menggunakan bahan dan peralatan tradisional.
9.
Masyarakat pesisir adalah masyarakat desa/kelurahan yang tinggal di sepanjang
daerah wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh kompleksitas, aktifitas dalam
pengelolaan sumber daya pesisir dan laut.
10. Organisasi kemasyarakatan bidang kelautan, yang selanjutnya disebut ormas
kelautan, adalah organisasi non pemerintah bervisi kebangsaaan yang dibentuk
oleh warga negara Indonesia secara sukarela yang terdaftar di pemerintah daerah
setempat serta bukan organisasi sayap partai yang kegiatannya memajukan
kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan, melestarikan potensi sumber
daya laut dan mengembangkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat
nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya laut.
11. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk mendorong, memotivasi
dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya
mengembangkan kapasitas masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dan
kemandirian masyarakat desa/kelurahan pesisir sehingga mampu menemukenali
potensi yang ada dan mendayagunakannya secara optimum, partisipatif untuk
kemakmuran serta kesejahteraan bersama yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan.
12. Pemangku kepentingan adalah para pengguna yang mempunyai kepentingan
langsung dalam pemanfaatan sumber daya laut seperti nelayan tradisional,
masyarakat pesisir, organisasi kemasyarakatan bidang kelautan, nelayan
modern, pembudidaya, pengusaha pariwisata, dan pengusaha perikanan.
13. Adaptasi adalah berbagai tindakan penyesuaian terhadap dampak perubahan
iklim.
270
14. Mitigasi adalah berbagai tindakan aktif untuk mengantisipasi dampak perubahan
iklim.
BAB II
KEWENANGAN PENGELOLAAN
Pasal 2
(1) Daerah berwenang
kewenangannya.
mengelola
sumber
daya
di
wilayah
laut
sesuai
(2) Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) paling jauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis
pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan untuk provinsi
dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota.
Pasal 3
Pengelolaan sumber daya di wilayah laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
meliputi:
a.
eksplorasi;
b.
eksploitasi;
c.
konservasi;
d.
adaptasi dan perubahan iklim;
e.
pengaturan administratif;
f.
pengaturan tata ruang;
g.
pengelolaan kekayaan laut;
h.
penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang
dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah; dan
i.
ikut serta dalam pemeliharaan keamanan dan kedaulatan negara.
BAB III
PERENCANAAN
Pasal 4
(1) Pemerintahan daerah menyusun perencanaan pengelolaan sumber daya di
wilayah laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sesuai kewenangannya yang
terdiri atas:
271
a. rencana strategis;
b. rencana zonasi;
c. rencana pengelolaan; dan
d. rencana aksi.
(2) Penyusunan perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut oleh
provinsi memperhatikan perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut
kabupaten/kota yang berada dalam wilayahnya.
(3) Penyusunan perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut oleh provinsi
dan kabupaten/kota memperhatikan perencanaan pengelolaan sumber daya di
wilayah laut provinsi dan kabupaten/kota yang berbatasan.
(4) Penyusunan perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut yang menjadi
kewenangan pemerintah untuk kepentingan nasional, mengikutsertakan
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
(5) Penyusunan perencaaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) dikoordinasikan oleh
Menteri Dalam Negeri.
Pasal 5
(1) Rencana strategis dan rencana zonasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1) huruf a dan huruf b dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah.
(2) Rencana strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat visi, misi, dan
arah pembangunan daerah di bidang pengelolaan sumber daya di wilayah laut.
(3) Rencana zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memuat kawasan:
a. pemanfaatan umum;
b. konservasi;
c. strategis nasional tertentu; dan
d. alur laut.
(4) Penyusunan rencana zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan
memperhatikan:
a. potensi yang ada di wilayah laut; dan
b. kawasan konservasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
272
Pasal 6
Rencana pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c
dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah.
Pasal 7
Rencana aksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d dituangkan
dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah.
Pasal 8
Penyusunan perencanaan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4,
Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 7 berpedoman pada peraturan perundang-undangan.
Pasal 9
(1) Penyusunan perencanaan pengelolaan sumber daya di wilayah laut sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 didasarkan atas data dan informasi.
(2) Gubernur dan bupati/walikota melakukan inventarisasi data dan informasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. potensi sumber daya yang ada;
b. potensi sumber daya yang telah dimanfaatkan dan daya dukungnya;
c. potensi sumber daya yang belum dimanfaatkan dan daya dukungnya; dan
d. badan hukum yang diberi izin atau rekomendasi pemanfaatan sumber
daya.
Pasal 10
(1) Gubernur dan Bupati/Walikota menyusun rencana penataan ruang laut di
wilayahnya dengan berpedoman pada rencana zonasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (3).
(2) Rencana penataan ruang laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan
dengan peraturan daerah.
Pasal 11
(1) Penyusunan rencana penataan ruang laut di wilayah laut oleh provinsi
memperhatikan rencana penataan ruang laut kabupaten/kota yang berada
dalam wilayahnya.
273
(2) Penyusunan rencana penataan ruang laut oleh provinsi dan kabupaten/kota
memperhatikan rencana penataan ruang laut provinsi dan kabupaten/kota yang
berbatasan.
(3) Penyusunan rencana penataan ruang laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) dikoordinasikan dengan kementerian/LPNK terkait.
BAB IV
PENGELOLAAN
Bagian Kesatu
Eksplorasi
Pasal 12
(1) Pemerintah Daerah dapat melakukan eksplorasi terhadap sumber daya di wilayah
laut sesuai dengan kewenangannya.
(2) Setiap orang dan badan hukum dapat melakukan eksplorasi setelah memperoleh
izin dari kepala daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan peraturan kepala
daerah.
Pasal 13
(1) Setiap orang dan badan hukum yang akan melakukan eskplorasi sumber daya
di wilayah laut yang menjadi kewenangan pemerintah, yang berada di wilayah
laut kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus
memperoleh izin dari pemerintah.
(2) Setiap orang dan badan hukum yang telah mendapat izin sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus melapor kepada Gubernur atau Bupati/Walikota.
(3) Gubernur dan bupati/walikota melakukan pemantauan terhadap kegiatan yang
dilakukan oleh pihak yang telah mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
274
Bagian Kedua
Eksploitasi
Pasal 14
(1) Pemerintah Daerah dapat melakukan eksploitasi terhadap sumber daya di
wilayah laut sesuai dengan kewenangannya.
(2) Setiap orang dan badan hukum dapat melakukan eksploitasi setelah memperoleh
izin dari kepala daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan peraturan kepala
daerah.
Pasal 15
(1) Setiap orang dan badan hukum yang akan melakukan eksploitasi sumber daya
di wilayah laut yang menjadi kewenangan pemerintah, yang berada di wilayah
laut kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus
memperoleh izin dari pemerintah.
(2) Setiap orang dan badan hukum yang telah mendapat izin sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus melapor kepada Gubernur atau Bupati/Walikota.
(3) Gubernur dan bupati/walikota melakukan pemantauan terhadap kegiatan yang
dilakukan oleh pihak yang telah mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
Bagian Ketiga
Konservasi
Pasal 16
(1) Gubernur dan Bupati/Walikota dapat menetapkan bagian tertentu wilayah
lautnya sebagai kawasan konservasi.
(2) Penetapan kawasan konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman
pada peraturan perundang-undangan.
Pasal 17
Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta pemangku kepentingan
berkewajiban untuk mengawasi dan melindungi kawasan konservasi yang ditetapkan
oleh pemerintah dan berada di wilayah laut sesuai dengan kewenangannya.
275
Bagian Keempat
Adaptasi Dan Mitigasi Perubahan Iklim
Pasal 18
Pemerintah Daerah dalam menyusun perencanaan pengelolaan sumber daya di
wilayah laut, wajib memasukkan materi yang memuat upaya adaptasi dan mitigasi
dampak perubahan iklim.
Pasal 19
Adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dilakukan dengan melibatkan Pemerintah,
Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
Pasal 20
Penyelenggaraan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 18 dilaksanakan dengan memperhatikan aspek:
a.
sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat;
b.
kelestarian lingungan hidup;
c.
kemanfaatan dan efektivitas; serta
d.
lingkup luas wilayah.
Bagian Kelima
Pengelolaan Kekayaan Laut
Pasal 21
(1) Pemerintah Daerah dapat melakukan pengelolaan kekayaan laut sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Pengelolaan kekayaan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dilakukan di kawasan:
a. pemanfaatan umum;
b. konservasi; dan
c. alur laut.
(3) Pengelolaan kekayaan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan
huruf c, dilakukan secara terbatas sesuai peraturan perundang-undangan.
276
Pasal 22
(1) Setiap orang dan badan hukum dapat melakukan pengelolaan kekayaan laut
setelah memperoleh izin dari kepala daerah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara memperoleh izin
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala
daerah.
Pasal 23
(1) Setiap orang dan badan hukum yang akan melakukan pengelolaan kekayaan laut
yang menjadi kewenangan pemerintah, yang berada di wilayah laut kewenangan
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus memperoleh izin
dari pemerintah.
(2) Setiap orang dan badan hukum yang telah mendapat izin sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus melapor kepada Gubernur atau Bupati/Walikota.
(3) Gubernur dan bupati/walikota melakukan pemantauan terhadap kegiatan yang
dilakukan oleh pihak yang telah mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
Pasal 24
Nelayan tradisional dikecualikan dari izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.
Pasal 25
Setiap orang dan badan hukum yang melakukan kegiatan penangkapan ikan di
wilayah laut provinsi dan kabupaten/kota dengan menggunakan kapal penangkap
ikan, ukuran kapal yang diperbolehkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Bagian Keenam
Penegakan Hukum
Pasal 26
(1) Pemerintah daerah melakukan penegakan hukum terhadap peraturan yang
diterbitkan oleh daerah dan/atau peraturan yang dilimpahkan kewenangannya
oleh pemerintah.
(2) Setiap orang yang mengetahui terjadinya pelanggaran dan/atau perbuatan
pidana terhadap kewenangan pemerintah dan pemerintah daerah yang berada
277
di wilayah laut berkewajiban melaporkan kepada aparat yang berwenang atau
pemerintah daerah.
Bagian Ketujuh
Pemeliharaan Keamanan dan Pertahanan Kedaulatan Negara
Pasal 27
(1) Gubernur dan Bupati/Walikota serta setiap warga negara ikut serta dalam
pemeliharaan keamanan dan pertahanan kedaulatan negara di wilayah laut
sesuai kewenangannya.
(2) Pelaksanaan keamanan dan pertahanan kedaulatan negara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
BAB V
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pasal 28
(1) Gubernur dan Bupati/Walikota dalam melakukan pengelolaan sumber daya di
wilayah laut harus melakukan pemberdayaan terhadap:
a. nelayan tradisional dan masyarakat pesisir;
b. organisasi masyarakat bidang kelautan; dan
c. lembaga kemasyarakatan.
(2) Pemberdayaan terhadap nelayan tradisional dan masyarakat pesisir sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan melalui kegiatan:
a. sosialisasi kebijakan pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota mengenai kebijakan pengelolaan sumber daya di wilayah
laut;
b. bimbingan, pelatihan dalam penggunaan teknologi tepat guna, penangkapan
dan pengawetan hasil tangkapan ikan serta pendampingan terhadap kegiatan
budi daya;
c. memfasilitasi pembentukan koperasi nelayan yang bergerak dalam
penyediaan sarana penangkapan ikan/budi daya, pemasaran, dan simpan
pinjam; dan
278
d. memfasilitasi dengan pihak perbankan, koperasi, dan pengusaha ikan
dalam penyediaan permodalan atau pemberian kredit, pengadaan sarana
penangkapan ikan dan budi daya serta pemasaran hasil penangkapan ikan
dan budi daya.
(3) Pemberdayaan terhadap organisasi masyarakat bidang kelautan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b, dilakukan melalui kegiatan:
a. sosialisasi kebijakan pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota mengenai pengelolaan sumber daya di wilayah laut.
b. bimbingan dan pelatihan dalam penggunaan teknologi tepat guna,
pengawetan ikan, dan budi daya serta tata cara pembentukan koperasi;
dan
c. sosialisasi kebijakan dan tata cara pemeliharaan keamanan dan pertahanan
kedaulatan negara di wilayah laut.
BAB VI
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 29
(1) Pemerintah daerah mengikutsertakan masyarakat dan pemangku kepentingan
dalam setiap kegiatan perencanaan dan pengelolaan sumber daya di wilayah
laut.
(2) Pemerintah daerah, badan hukum, dan individu yang melakukan pengelolaan
sumber daya di wilayah laut memperhatikan hukum adat dan kebiasaan yang
berlaku pada masyarakat setempat.
BAB VII
PENDANAAN
Pasal 30
Biaya penyusunan dokumen rencana dan pengelolaan sumber daya di wilayah
laut dapat bersumber dari:
a.
APBN;
b.
APBD Provinsi;
c.
APBD Kabupaten/Kota; dan
d.
sumber lainnya yang sah dan tidak mengikat.
279
BAB VIII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 31
(1) Menteri Dalam Negeri melakukan pembinaan dan pengawasan atas pengelolaan
sumber daya di wilayah laut yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kabupaten/Kota.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. percepatan penyusunan perencanaan dan pengelolaan sumber daya di
wilayah laut;
b. pemberdayaan nelayan tradisional dan masyarakat pesisir; dan
c. pemberdayaan organisasi kemasyarakatan bidang kelautan.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelaksanaan:
a. percepatan penyusunan perencanaan dan pengelolaan sumber daya di
wilayah laut;
b. pemberdayaan nelayan tradisional dan masyarakat pesisir; dan
c. pemberdayaan organisasi kemasyarakatan bidang kelautan
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 32
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 April 2010
MENTERI DALAM NEGERI,
ttd
GAMAWAN FAUZI
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 193
KEPUTUSAN
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR KEP.68/MEN/2009
TENTANG
PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN
PADAIDO DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan kelestarian sumber daya ikan
dan ekosistemnya, melindungi dan mengelola ekosistem perairan
di kawasan perairan Kepulauan Padaido beserta laut di sekitarnya
di Provinsi Papua yang memiliki keanekaragaman terumbu karang
berupa acropora sp, sarcophyton sp, sinularia sp, serta biota laut
lainnya seperti chaetodon linealatus, parupeneus bifasciatus,
dan scaus sp, perlu menetapkan Perairan Kepulauan Padaido dan
laut di sekitarnya di Provinsi Papua sebagai kawasan konservasi
perairan nasional;
b. bahwa dalam rangka penetapan kawasan konservasi perairan
nasional berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007
tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, maka diperlukan adanya
penetapan mengenai kawasan konservasi perairan nasional yang
ditetapkan oleh Menteri;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu ditetapkan dengan Keputusan
Menteri;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433);
281
282
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
1125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4437) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4844);
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
4. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4739);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang tentang
Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4779);
6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005
tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata
Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah
diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2008;
7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005
tentang Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia
sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2008;
8. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 sebagaimana telah
diubah, terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 58/M Tahun
2008;
9. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.07/
MEN/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kelautan
dan Perikanan sebagaimana diubah, terakhir dengan Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.04/MEN/2009;
283
10.Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.17/
MEN/2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil;
11. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/
MEN/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi
Perairan;
Memperhatikan: 1. Berita Acara Serah Terima Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam dari Departemen Kehutanan kepada Departemen
Kelautan dan Perikanan Nomor: BA. 01/Menhut­IV/2009 – BA.
108/MEN.KP/III/2009, tanggal 4 Maret 2009;
2. Laporan Hasil Evaluasi Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan
Padaido dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua, tanggal 6 April
2009;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG
PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN
PADAIDO DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA.
PERTAMA : Menetapkan Perairan Kepulauan Padaido dan laut di sekitarnya
di Provinsi Papua sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional
Kepulauan Padaido dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua.
KEDUA : Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Padaido dan laut
di sekitarnya di Provinsi Papua sebagaimana dimaksud dalam diktum
PERTAMA ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan Kepulauan
Padaido dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua.
KETIGA : Penetapan Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido dan laut di
sekitarnya di Provinsi Papua sebagaimana dimaksud dalam diktum
KEDUA seluas lebih kurang 183.000 (seratus delapan puluh tiga ribu)
Hektar.
KEEMPAT : Peta dan batas koordinat penetapan Taman Wisata Perairan Kepulauan
Padaido dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua sebagaimana
dimaksud dalam diktum KETIGA sebagaimana tercantum dalam
lampiran Keputusan Menteri ini.
284
KELIMA : Penetapan Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido dan laut di
sekitarnya di Provinsi Papua sebagaimana dimaksud pada diktum
KEDUA, ditindaklanjuti dengan:
1.
mengumumkan dan mensosialisasikan Taman Wisata Perairan
Kepulauan Padaido dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua
kepada masyarakat; dan
2.
menunjuk Panitia Penataan Batas Kawasan Taman Wisata
Perairan Kepulauan Padaido dan laut di sekitarnya di Provinsi
Papua yang terdiri atas unsur-unsur pejabat pemerintah dan
pemerintah daerah, untuk melakukan penataan batas.
KEENAM : Menunjuk Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil
untuk melakukan pengelolaan Taman Wisata Perairan Kepulauan
Padaido dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua.
KETUJUH : Dengan ditetapkannya Keputusan Menteri ini, maka ketentuan
peraturan perundang-undangan yang sebelumnya mengatur mengenai
Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido dan laut di sekitarnya
di Provinsi Papua disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor
60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan dan peraturan
pelaksanaannya.
KEDELAPAN : Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 3 September 2009
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
FREDDY NUMBERI
DAFTAR LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR KEP.68/MEN/2009
TENTANG
PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
KEPULAUAN PADAIDO DAN LAUT DI SEKITARNYA
DI PROVINSI PAPUA
NOMOR
LAMPIRAN
ISI LAMPIRAN
I
Batas Koordinat Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan
Padaido dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua
II
Peta Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Padaido
dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 3 September 2009
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
FREDDY NUMBERI
285
286
Lampiran I : Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor KEP.68/MEN/2009
tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan
Padaido dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua
BATAS KOORDINAT
PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN
PADAIDO DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA
ID
x
Y
Bujur Timur (BT)
Lintang Selatan (LS)
Derajat (°) Menit (‘)
Keterangan
Luas (Ha)
Detik (“) Derajat (°) Menit (‘) Detik (“)
1
136
15
01
1
14
32
2
136
29
27
1
05
10
3
136
44
32
1
05
16
4
136
44
34
1
25
21
5
136
15
03
1
25
21
183.000
Lampiran II : Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor KEP.68/MEN/2009
tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan
Padaido dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua
PETA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
KEPULAUAN PADAIDO DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA
No
Legenda
Keterangan
1.
Skala
- 1 : 250.000
2.
Proyeksi
- WGS 1984
- Peta Potensi Kabupaten/Kota Pesisir, Pusat Data
dan Informasi Geografis, Ditjen KP3K, 2008;
3.
Sumber
- Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut,
Ditjen KP3K–DKP;
- Direktorat Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K–DKP.
287
Lampiran III : Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor KEP.68/MEN/2009
tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan
Padaido dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua
PETA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
KEPULAUAN PADAIDO DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA
No
Legenda
Keterangan
1.
Skala
- 1 : 250.000
2.
Proyeksi
- WGS 1984
- Peta Potensi Kabupaten/Kota Pesisir, Pusat Data
dan Informasi Geografis, Ditjen KP3K, 2008;
3.
Sumber
- Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut,
Ditjen KP3K–DKP;
- Direktorat Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K–DKP.
Lampiran IV : Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor KEP.68/MEN/2009
tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan
Padaido dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua
PETA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
KEPULAUAN PADAIDO DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA
No
Legenda
Keterangan
1.
Skala
- 1 : 250.000
2.
Proyeksi
- WGS 1984
- Peta Potensi Kabupaten/Kota Pesisir, Pusat Data
dan Informasi Geografis, Ditjen KP3K, 2008;
3.
Sumber
- Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut,
Ditjen KP3K–DKP;
- Direktorat Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K–DKP.
KEPUTUSAN
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR KEP.64/MEN/2009
TENTANG
PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
KEPULAUAN RAJA AMPAT DAN LAUT DI SEKITARNYA
DI PROVINSI PAPUA BARAT
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan kelestarian sumber daya ikan
dan ekosistemnya, melindungi dan mengelola ekosistem perairan
di kawasan perairan Kepulauan Raja Ampat dan Laut di sekitarnya
di Provinsi Papua Barat yang memiliki potensi dan jenis biota
laut yang cukup tinggi dan dilindungi seperti nautil usperongga
(noutilus pompilus), triton terom pet (chelonia tritonis), dan
keong kepala kambing (cassis conmuta), perlu menetapkan
perairan Kepulauan Raja Ampat dan laut di sekitarnya di Provinsi
Papua Barat sebagai kawasan konservasi perairan nasional;
b. bahwa dalam rangka penetapan kawasan konservasi perairan
nasional berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007
tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, maka diperlukan adanya
penetapan mengenai kawasan konservasi perairan nasional yang
ditetapkan oleh Menteri;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan huruf b, perlu ditetapkan dengan Keputusan
Menteri;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433);
289
290
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
1125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4437) sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4844);
3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
4. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4739);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang tentang
Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4779);
6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2005
tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata
Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah
diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2008;
7. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005
tentang Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia
sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2008;
8. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 sebagaimana telah
diubah, terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 58/M Tahun
2008;
9. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.07/
MEN/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kelautan
dan Perikanan sebagaimana diubah, terakhir dengan Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.04/MEN/2009;
291
10.Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.17/
MEN/2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil;
11.Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 02/M
EN/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi
Perairan;
Memperhatikan : 1. Berita Acara Serah Terima Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam dari Departemen Kehutanan kepada
Departemen Kelautan dan Perikanan Nomor: BA. 01/Menhut­
IV/2009 – BA. 108/MEN.KP/III/2009, tanggal 4 Maret 2009;
2. Laporan Hasil Evaluasi Kawasan Konservasi Perairan Nasional
Kepulauan Raja Ampat dan laut di sekitarnya di Provinsi
Papua Barat, tanggal 4 Mei 2009;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG
PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN
RAJA AMPAT DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA BARAT.
PERTAMA
: Menetapkan Perairan Kepulauan Raja Ampat dan laut di sekitarnya di
Provinsi Papua Barat sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional
Kepulauan Raja Ampat dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua
Barat.
KEDUA
: Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Raja Ampat dan laut
di sekitarnya di Provinsi Papua Barat sebagaimana dimaksud dalam
diktum PERTAMA ditetapkan sebagai Suaka Alam Perairan Kepulauan
Raja Ampat dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua Barat.
KETIGA
: Penetapan Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja Ampat dan laut di
sekitarnya di Provinsi Papua Barat sebagaimana dimaksud dalam
diktum KEDUA seluas lebih kurang 60.000 (enam puluh ribu) Hektar.
KEEMPAT
: Peta dan batas koordinat penetapan Suaka Alam Perairan Kepulauan
Raja Ampat dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua Barat sebagaimana
dimaksud dalam diktum KETIGA sebagaimana tercantum dalam
lampiran Keputusan Menteri ini.
292
KELIMA
: Penetapan Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja Ampat dan laut di
sekitarnya di Provinsi Papua Barat sebagaimana dimaksud dalam
diktum KEDUA, ditindaklanjuti dengan:
1.
mengumumkan dan mensosialisasikan Suaka Alam Perairan
Kepulauan Raja Ampat dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua
Barat kepada masyarakat; dan
2.
menunjuk panitia penataan batas Kawasan Suaka Alam Perairan
Kepulauan Raja Ampat dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua
Barat yang terdiri atas unsur-unsur pejabat pemerintah dan
pemerintah daerah, untuk melakukan penataan batas.
KEENAM : Menunjuk Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil
untuk melakukan pengelolaan Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja
Ampat dan laut di sekitarnya di Provinsi Papua Barat.
KETUJUH : Dengan ditetapkannya Keputusan Menteri ini, maka ketentuan
peraturan perundang-undangan yang sebelumnya mengatur mengenai
Penetapan Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja Ampat dan laut di
sekitarnya di Provinsi Papua Barat disesuaikan dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya
Ikan dan peraturan pelaksanaannya.
KEDELAPAN : Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 3 September 2009
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA,
Ttd
FREDDY NUMBERI
DAFTAR LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR KEP.64/MEN/2009
TENTANG
PEN TAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
KEPULAUAN RAJA AMPAT DAN LAUT DI SEKITARNYA
DI PROVINSI PAPUA BARAT
NOMOR
LAMPIRAN
ISI LAMPIRAN
I
Batas Koordinat Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional
Kepulauan Raja Ampat dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua
Barat.
II
Peta Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan
Raja Ampat dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua Barat.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 3 September 2009
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
FREDDY NUMBERI
293
294
Lampiran I : Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor KEP.64/MEN/2009
tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan
Raja Ampat dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua Barat
BATAS KOORDINAT
PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
KEPULAUAN RAJA AMPAT DAN LAUT DI SEKITARNYA
DI PROVINSI PAPUA BARAT
ID
x
Y
Bujur Timur (BT)
Lintang Selatan (LS)
Keterangan
Luas (Ha)
Derajat (°) Menit (‘) Detik (“) Derajat (°) Menit (‘) Detik (“)
130
18
32
0
14
18
130
32
10
0
18
3
130
22
13
0
28
12
130
10
29
0
24
29
60.000
Lampiran II : Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor KEP.64/MEN/2009
tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan
Raja Ampat dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua Barat
PETA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL
KEPULAUAN RAJA AMPAT DAN LAUT DI SEKITARNYA
DI PROVINSI PAPUA BARAT
No
Legenda
Keterangan
1.
Skala
- 1 : 250.000
2.
Proyeksi
- WGS 1984
- Peta Potensi Kabupaten/Kota Pesisir, Pusat Data
dan Informasi Geografis, Ditjen KP3K, 2008;
3.
Sumber
- Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut,
Ditjen KP3K–DKP;
- Direktorat Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K–DKP.
295
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2009
TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a. bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah
hukum pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak
terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai
peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak,
karena itu pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk
memberi nilai tambah secara nyata bagi perekonomian nasional
dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat
secara berkeadilan;
b. bahwa kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara
yang merupakan kegiatan usaha pertambangan di luar panas
bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah mempunyai peranan
penting dalam memberikan nilai tambah secara nyata kepada
pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan daerah secara
berkelanjutan;
c. bahwa dengan mempertimbangkan perkembangan nasional
maupun internasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan sudah tidak
sesuai lagi sehingga dibutuhkan perubahan peraturan perundangundangan di bidang pertambangan mineral dan batubara yang
dapat mengelola dan mengusahakan potensi mineral dan batubara
secara mandiri, andal, transparan, berdaya saing, efisien, dan
297
298
berwawasan lingkungan, guna menjamin pembangunan nasional
secara berkelanjutan;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara;
Mengingat : Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 dan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
Dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : UNDANG-UNDANG
BATUBARA.
TENTANG
PERTAMBANGAN
MINERAL
DAN
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1.
Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka
penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan
pascatambang.
2.
Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat
fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang
membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu.
299
3.
Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara
alamiah dari sisa tumbuhtumbuhan.
4.
Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa
bijih atau batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah.
5.
Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di
dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.
6.
Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau
batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan
dan penjualan, serta pascatambang.
7.
Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan.
8.
IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan
kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan.
9.
IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan
IUP Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi.
10. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan
luas wilayah dan investasi terbatas.
11. Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut dengan IUPK,
adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha
pertambangan khusus.
12. IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan
kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan di wilayah izin
usaha pertambangan khusus.
13. IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai
pelaksanaan IUPK Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi
di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
14. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui
kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi.
15. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh
informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran,
kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai
lingkungan sosial dan lingkungan hidup.
300
16. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh
informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan
ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak
lingkungan serta perencanaan pascatambang.
17. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi
konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan
dan penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan
hasil studi kelayakan.
18. Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan pembangunan
seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian dampak lingkungan.
19. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi
mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya.
20. Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk
meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan
memperoleh mineral ikutan.
21. Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan
mineral dan/atau batubara dari daerah tambang dan/atau tempat pengolahan
dan pemurnian sampai tempat penyerahan.
22. Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan
pertambangan mineral atau batubara.
untuk
menjual
hasil
23. Badan Usaha adalah setiap badan hukum yang bergerak di bidang pertambangan
yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
24. Jasa Pertambangan adalah jasa penunjang yang berkaitan dengan kegiatan
usaha pertambangan.
25. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang selanjutnya disebut amdal, adalah
kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
26. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan
untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem
agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.
27. Kegiatan pascatambang, yang selanjutnya disebut pascatambang, adalah
kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau
seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan
alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.
301
28. Pemberdayaan Masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat, baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi lebih baik
tingkat kehidupannya.
29. Wilayah Pertambangan, yang selanjutnya disebut WP, adalah wilayah yang
memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan
administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.
30. Wilayah Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WUP, adalah bagian
dari WP yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi
geologi.
31. Wilayah Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WIUP, adalah
wilayah yang diberikan kepada pemegang IUP.
32. Wilayah Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut WPR, adalah bagian
dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
33. Wilayah Pencadangan Negara, yang selanjutnya disebut WPN, adalah bagian
dari WP yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional.
34. Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut WUPK, adalah
bagian dari WPN yang dapat diusahakan.
35. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus dalam WUPK, yang selanjutnya disebut
WIUPK, adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUPK.
36. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
37. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati atau walikota, dan perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah.
38. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertambangan mineral dan batubara.
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Pertambangan mineral dan/atau batubara dikelola berasaskan:
a.
manfaat, keadilan, dan keseimbangan;
b.
keberpihakan kepada kepentingan bangsa;
302
c.
partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas;
d.
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Pasal 3
Dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang berkesinambungan,
tujuan pengelolaan mineral dan batubara adalah:
a.
menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan
pertambangan secara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing;
usaha
b.
menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara berkelanjutan
dan berwawasan lingkungan hidup;
c.
menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau
sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri;
d.
mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih mampu
bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional;
e.
meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta
menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat; dan
f.
menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara.
BAB III
PENGUASAAN MINERAL DAN BATUBARA
Pasal 4
(1) Mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan
kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kesejahteraan
rakyat.
(2) Penguasaan mineral dan batubara oleh negara sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
Pasal 5
(1) Untuk kepentingan nasional, Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dapat menetapkan kebijakan pengutamaan
mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri.
(2) Kepentingan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan
dengan pengendalian produksi dan ekspor.
303
(3) Dalam melaksanakan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Pemerintah mempunyai kewenangan untuk menetapkan jumlah produksi tiaptiap komoditas per tahun setiap provinsi.
(4) Pemerintah daerah wajib mematuhi ketentuan jumlah yang ditetapkan oleh
Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengutamaan mineral dan/atau batubara
untuk kepentingan dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
pengendalian produksi dan ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan
ayat (3) diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB IV
KEWENANGAN PENGELOLAAN
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
Pasal 6
(1) Kewenangan Pemerintah dalam pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara, antara lain, adalah:
a. penetapan kebijakan nasional;
b. pembuatan peraturan perundang-undangan;
c. penetapan standar nasional, pedoman, dan kriteria;
d. penetapan sistem perizinan pertambangan mineral dan batubara nasional;
e. penetapan WP yang dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah
daerah dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia;
f. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan
pengawasan usaha pertambangan yang berada pada lintas wilayah provinsi
dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
g. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan
pengawasan usaha pertambangan yang lokasi penambangannya berada
pada lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas)
mil dari garis pantai;
h. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan
usaha pertambangan operasi produksi yang berdampak lingkungan langsung
lintas provinsi dan/atau dalam wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil
dari garis pantai;
i. pemberian IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi;
304
j. pengevaluasian IUP Operasi Produksi, yang dikeluarkan oleh pemerintah
daerah, yang telah menimbulkan kerusakan lingkungan serta yang tidak
menerapkan kaidah pertambangan yang baik;
k. penetapan kebijakan produksi, pemasaran, pemanfaatan, dan konservasi;
l. penetapan kebijakan
masyarakat;
kerja
sama,
kemitraan,
dan
pemberdayaan
m. perumusan dan penetapan penerimaan negara bukan pajak dari hasil usaha
pertambangan mineral dan batubara;
n. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah;
o. pembinaan dan pengawasan penyusunan peraturan daerah di bidang
pertambangan;
p. penginventarisasian, penyelidikan, dan penelitian serta eksplorasi dalam
rangka memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sebagai bahan
penyusunan WUP dan WPN;
q. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral dan
batubara, serta informasi pertambangan pada tingkat nasional;
r. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang;
s. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat nasional;
t. pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha pertambangan;
dan
u. peningkatan kemampuan aparatur Pemerintah, pemerintah provinsi, dan
pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan.
(2) Kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 7
(1) Kewenangan pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara, antara lain, adalah:
a. pembuatan peraturan perundang-undangan daerah;
b. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan
usaha pertambangan pada lintas wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah
laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil;
c. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan
usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada pada lintas
305
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan
12 (dua belas) mil;
pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan
usaha pertambangan yang berdampak lingkungan langsung lintas kabupaten/
kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas)
mil;
penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian serta eksplorasi dalam
rangka memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sesuai dengan
kewenangannya;
pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral dan
batubara, serta informasi pertambangan pada daerah/wilayah provinsi;
penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada daerah/wilayah
provinsi;
pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha pertambangan
di provinsi;
pengembangan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam usaha
pertambangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;
pengoordinasian perizinan dan pengawasan penggunaan bahan peledak di
wilayah tambang sesuai dengan kewenangannya;
penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum, dan
penelitian serta eksplorasi kepada Menteri dan bupati/walikota;
penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor
kepada Menteri dan bupati/walikota;
pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan
peningkatan kemampuan aparatur pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha per­
tambangan.
(2) Kewenangan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 8
(1) Kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan pertambangan
mineral dan batubara, antara lain, adalah:
a. pembuatan peraturan perundang-undangan daerah;
b. pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan
pengawasan usaha pertambangan di wilayah kabupaten/kota dan/atau
wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil;
306
c. pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan
pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada
di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat)
mil;
d. penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian, serta eksplorasi dalam
rangka memperoleh data dan informasi mineral dan batubara;
e. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi mineral dan batubara,
serta informasi pertambangan pada wilayah kabupaten/kota;
f. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada wilayah
kabupaten/kota;
g. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat dalam usaha
pertambangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;
h. pengembangan dan peningkatan nilai tambah dan manfaat kegiatan usaha
pertambangan secara optimal;
i. penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum, dan
penelitian, serta eksplorasi dan eksploitasi kepada Menteri dan gubernur;
j. penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor
kepada Menteri dan gubernur;
k. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan
l. peningkatan kemampuan aparatur pemerintah kabupaten/kota dalam
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.
(2) Kewenangan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB V
WILAYAH PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 9
(1) WP sebagai bagian dari tata ruang nasional merupakan landasan bagi penetapan
kegiatan pertambangan.
(2) WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pemerintah setelah
berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berkonsultasi dengan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
307
Pasal 10
Penetapan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dilaksanakan:
a.
secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab;
b.
secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi pemerintah
terkait, masyarakat, dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi,
dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan; dan
c.
dengan memperhatikan aspirasi daerah.
Pasal 11
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan penyelidikan dan penelitian
pertambangan dalam rangka penyiapan WP.
Pasal 12
Ketentuan lebih lanjut mengenai batas, luas, dan mekanisme penetapan WP
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11 diatur dengan peraturan
pemerintah.
Pasal 13
WP terdiri atas:
a. WUP;
b. WPR; dan
c. WPN.
Bagian Kedua
Wilayah Usaha Pertambangan
Pasal 14
(1) Penetapan WUP dilakukan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan
pemerintah daerah dan disampaikan secara tertulis kepada Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia.
(2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pemerintah
daerah yang bersangkutan berdasarkan data dan informasi yang dimiliki
Pemerintah dan pemerintah daerah.
308
Pasal 15
Pemerintah dapat melimpahkan sebagian kewenangannya dalam penetapan
WUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) kepada pemerintah provinsi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 16
Satu WUP terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUP yang berada pada lintas
wilayah provinsi, lintas wilayah kabupaten/kota, dan/atau dalam 1 (satu) wilayah
kabupaten/kota.
Pasal 17
Luas dan batas WIUP mineral logam dan batubara ditetapkan oleh Pemerintah
berkoordinasi dengan pemerintah daerah berdasarkan kriteria yang dimiliki oleh
Pemerintah.
Pasal 18
Kriteria untuk menetapkan 1 (satu) atau beberapa WIUP dalam 1 (satu) WUP
adalah sebagai berikut:
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lindungan lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk.
Pasal 19
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan batas dan luas WIUP
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 diatur dengan peraturan pemerintah.
Bagian Ketiga
Wilayah Pertambangan Rakyat
Pasal 20
Kegiatan pertambangan rakyat dilaksanakan dalam suatu WPR.
309
Pasal 21
WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ditetapkan oleh bupati/walikota
setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota.
Pasal 22
Kriteria untuk menetapkan WPR adalah sebagai berikut:
a.
mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau di
antara tepi dan tepi sungai;
b.
mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal
25 (dua puluh lima) meter;
c.
endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;
d.
luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 (dua puluh lima)
hektare;
e.
menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau
f.
merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan
sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun.
Pasal 23
Dalam menetapkan WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, bupati/walikota
berkewajiban melakukan pengumuman mengenai rencana WPR kepada masyarakat
secara terbuka.
Pasal 24
Wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan tetapi
belum ditetapkan sebagai WPR diprioritaskan untuk ditetapkan sebagai WPR.
Pasal 25
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman, prosedur, dan penetapan WPR
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 diatur dengan peraturan
pemerintah.
Pasal 26
Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan mekanisme penetapan WPR,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dan Pasal 23 diatur dengan peraturan daerah
kabupaten/kota.
310
Bagian Keempat
Wilayah Pencadangan Negara
Pasal 27
(1) Untuk kepentingan strategis nasional, Pemerintah dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan dengan memperhatikan aspirasi
daerah menetapkan WPN sebagai daerah yang dicadangkan untuk komoditas
tertentu dan daerah konservasi dalam rangka menjaga keseimbangan ekosistem
dan lingkungan.
(2) WPN yang ditetapkan untuk komoditas tertentu sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat diusahakan sebagian luas wilayahnya dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(3) WPN yang ditetapkan untuk konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditentukan batasan waktu dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia.
(4) Wilayah yang akan diusahakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat
(3) berubah statusnya menjadi WUPK.
Pasal 28
Perubahan status WPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2), ayat (3),
dan ayat (4) menjadi WUPK dapat dilakukan dengan mempertimbangkan:
a.
pemenuhan bahan baku industri dan energi dalam negeri;
b.
sumber devisa negara;
c.
kondisi wilayah didasarkan pada keterbatasan sarana dan prasarana;
d.
berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi;
e.
daya dukung lingkungan; dan/atau
f.
penggunaan teknologi tinggi dan modal investasi yang besar.
Pasal 29
(1) WUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (4) yang akan diusahakan
ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
(2) Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan di WUPK sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk IUPK.
311
Pasal 30
Satu WUPK terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUPK yang berada pada lintas
wilayah provinsi, lintas wilayah kabupaten/kota, dan/atau dalam 1 (satu) wilayah
kabupaten/kota.
Pasal 31
Luas dan batas WIUPK mineral logam dan batubara ditetapkan oleh Pemerintah
berkoordinasi dengan pemerintah daerah berdasarkan kriteria dan informasi yang
dimiliki oleh Pemerintah.
Pasal 32
Kriteria untuk menetapkan 1 (satu) atau beberapa WIUPK dalam 1 (satu) WUPK
adalah sebagai berikut:
a.
letak geografis;
b.
kaidah konservasi;
c.
daya dukung lindungan lingkungan;
d.
optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e.
tingkat kepadatan penduduk.
Pasal 33
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan luas dan batas WIUPK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dan Pasal 32 diatur dengan peraturan
pemerintah.
BAB VI
USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 34
(1) Usaha pertambangan dikelompokkan atas:
a. pertambangan mineral; dan
b. pertambangan batubara.
(2) Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan
atas:
a. pertambangan mineral radioaktif;
312
b. pertambangan mineral logam;
c. pertambangan mineral bukan logam; dan
d. pertambangan batuan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu komoditas tambang ke dalam
suatu golongan pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 35
Usaha pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dilaksanakan dalam
bentuk:
a. IUP;
b. IPR; dan
c. IUPK.
BAB VII
IZIN USAHA PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 36
(1) IUP terdiri atas dua tahap:
a. IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi
kelayakan;
b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan
dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
(2) Pemegang IUP Eksplorasi dan pemegang IUP Operasi Produksi dapat melakukan
sebagian atau seluruh kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 37
IUP diberikan oleh:
a.
bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota;
b.
gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dalam 1
(satu) provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari bupati/walikota setempat
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
313
c.
Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah provinsi setelah mendapatkan
rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 38
IUP diberikan kepada:
a. badan usaha;
b. koperasi; dan
c. perseorangan.
Pasal 39
(1) IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf a wajib
memuat ketentuan sekurangkurangnya:
a. nama perusahaan;
b. lokasi dan luas wilayah;
c. rencana umum tata ruang;
d. jaminan kesungguhan;
e. modal investasi;
f. perpanjangan waktu tahap kegiatan;
g. hak dan kewajiban pemegang IUP;
h. jangka waktu berlakunya tahap kegiatan;
i. jenis usaha yang diberikan;
j. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah
pertambangan;
k. perpajakan;
l. penyelesaian perselisihan;
m. iuran tetap dan iuran eksplorasi; dan
n. amdal.
(2) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b
wajib memuat ketentuan sekurang-kurangnya:
a. nama perusahaan;
b. luas wilayah;
c. lokasi penambangan;
314
d. lokasi pengolahan dan pemurnian;
e. pengangkutan dan penjualan;
f. modal investasi;
g. jangka waktu berlakunya IUP;
h. jangka waktu tahap kegiatan;
i. penyelesaian masalah pertanahan;
j. lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pascatambang;
k. dana jaminan reklamasi dan pascatambang;
l. perpanjangan IUP;
m. hak dan kewajiban pemegang IUP;
n. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah
pertambangan;
o. perpajakan;
p. penerimaan negara bukan pajak yang terdiri atas iuran tetap dan iuran
produksi;
q. penyelesaian perselisihan;
r. keselamatan dan kesehatan kerja;
s. konservasi mineral atau batubara;
t. pemanfaatan barang, jasa, dan teknologi dalam negeri;
u. penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik;
v. pengembangan tenaga kerja Indonesia;
w. pengelolaan data mineral atau batubara; dan
x. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan
mineral atau batubara.
Pasal 40
(1) IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) diberikan untuk 1 (satu)
jenis mineral atau batubara.
(2) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menemukan mineral
lain di dalam WIUP yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya.
(3) Pemegang IUP yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), wajib mengajukan permohonan IUP baru kepada
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
315
(4) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan tidak
berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut.
(5) Pemegang IUP yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang
ditemukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menjaga mineral lain
tersebut agar tidak dimanfaatkan pihak lain.
(6) IUP untuk mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat
diberikan kepada pihak lain oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
Pasal 41
IUP tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUP.
Bagian Kedua
IUP Eksplorasi
Pasal 42
(1) IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam jangka
waktu paling lama 8 (delapan) tahun.
(2) IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral bukan logam dapat diberikan paling
lama dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun dan mineral bukan logam jenis tertentu
dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) tahun.
(3) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batuan dapat diberikan dalam jangka waktu
paling lama 3 (tiga) tahun.
(4) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka
waktu paling lama 7 (tujuh) tahun.
Pasal 43
(1) Dalam hal kegiatan eksplorasi dan kegiatan studi kelayakan, pemegang IUP
Eksplorasi yang mendapatkan mineral atau batubara yang tergali wajib
melaporkan kepada pemberi IUP.
(2) Pemegang IUP Eksplorasi yang ingin menjual mineral atau batubara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib mengajukan izin sementara untuk melakukan
pengangkutan dan penjualan.
316
Pasal 44
Izin sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) diberikan oleh
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 45
Mineral atau batubara yang tergali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43
dikenai iuran produksi.
Bagian Ketiga
IUP Operasi Produksi
Pasal 46
(1) Setiap pemegang IUP Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUP Operasi Produksi
sebagai kelanjutan kegiatan usaha pertambangannya.
(2) IUP Operasi Produksi dapat diberikan kepada badan usaha, koperasi, atau
perseorangan atas hasil pelelangan WIUP mineral logam atau batubara yang
telah mempunyai data hasil kajian studi kelayakan.
Pasal 47
(1) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam
jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua)
kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun.
(2) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral bukan logam dapat diberikan
dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun dan dapat diperpanjang 2
(dua) kali masing-masing 5 (lima) tahun.
(3) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral bukan logam jenis tertentu
dapat diberikan dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan
dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun.
(4) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan batuan dapat diberikan dalam jangka
waktu paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masingmasing 5 (lima) tahun.
(5) IUP Operasi Produksi untuk Pertambangan batubara dapat diberikan dalam
jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua)
kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun.
317
Pasal 48
IUP Operasi Produksi diberikan oleh:
a.
bupati/walikota apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian,
serta pelabuhan berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota;
b.
gubernur apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta
pelabuhan berada di dalam wilayah kabupaten/kota yang berbeda setelah
mendapatkan rekomendasi dari bupati/walikota setempat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c.
Menteri apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta
pelabuhan berada di dalam wilayah provinsi yang berbeda setelah mendapatkan
rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 49
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUP Eksplorasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 42 dan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 46 diatur dengan peraturan pemerintah.
Bagian Keempat
Pertambangan Mineral
Paragraf 1
Pertambangan Mineral Radioaktif
Pasal 50
WUP mineral radioaktif ditetapkan oleh Pemerintah dan pengusahaannya
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 2
Pertambangan Mineral Logam
Pasal 51
WIUP mineral logam diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan
dengan cara lelang.
318
Pasal 52
(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit
5.000 (lima ribu) hektare dan paling banyak 100.000 (seratus ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral logam dapat diberikan
IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya
berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.
Pasal 53
Pemegang IUP Operasi Produksi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling
banyak 25.000 (dua puluh lima ribu) hektare.
Paragraf 3
Pertambangan Mineral Bukan Logam
Pasal 54
WIUP mineral bukan logam diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan
perseorangan dengan cara permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37.
Pasal 55
(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling
sedikit 500 (lima ratus) hektare dan paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu)
hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral bukan logam dapat
diberikan IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang
keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.
Pasal 56
Pemegang IUP Operasi Produksi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas
paling banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
319
Paragraf 4
Pertambangan Batuan
Pasal 57
WIUP batuan diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan
cara permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
37.
Pasal 58
(1) Pemegang IUP Eksplorasi batuan diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5 (lima)
hektare dan paling banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batuan dapat diberikan IUP
kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya
berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.
Pasal 59
Pemegang IUP Operasi Produksi batuan diberi WIUP dengan luas paling banyak
1.000 (seribu) hektare.
Bagian Kelima
Pertambangan Batubara
Pasal 60
WIUP batubara diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan
dengan cara lelang.
Pasal 61
(1) Pemegang IUP Eksplorasi Batubara diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5.000
(lima ribu) hektare dan paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batubara dapat diberikan IUP
kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya
berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.
320
Pasal 62
Pemegang IUP Operasi Produksi batubara diberi WIUP dengan luas paling banyak
15.000 (lima belas ribu) hektare.
Pasal 63
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh WIUP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 51, Pasal 54, Pasal 57, dan Pasal 60 diatur dengan peraturan
pemerintah.
BAB VIII
PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 64
Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban
mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUP sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 serta memberikan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 kepada masyarakat secara terbuka.
Pasal 65
(1) Badan usaha, koperasi, dan perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
51, Pasal 54, Pasal 57, dan Pasal 60 yang melakukan usaha pertambangan
wajib memenuhi persyaratan administratif, persyaratan teknis, persyaratan
lingkungan, dan persyaratan finansial.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan administratif, persyaratan teknis,
persyaratan lingkungan, dan persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB IX
IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT
Pasal 66
Kegiatan pertambangan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20
dikelompokkan sebagai berikut:
a. pertambangan mineral logam;
b. pertambangan mineral bukan logam;
321
c. pertambangan batuan; dan/atau
d. pertambangan batubara.
Pasal 67
(1) Bupati/walikota memberikan IPR terutama kepada penduduk setempat, baik
perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi.
(2) Bupati/walikota dapat melimpahkan kewenangan pelaksanaan pemberian IPR
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada camat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Untuk memperoleh IPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemohon wajib
menyampaikan surat permohonan kepada bupati/walikota.
Pasal 68
(1) Luas wilayah untuk 1 (satu) IPR yang dapat diberikan kepada:
a. perseorangan paling banyak 1 (satu) hektare;
b. kelompok masyarakat paling banyak 5 (lima) hektare; dan/atau
c. koperasi paling banyak 10 (sepuluh) hektare.
(2) IPR diberikan untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang.
Pasal 69
Pemegang IPR berhak:
a.
mendapat pembinaan dan pengawasan di bidang keselamatan dan kesehatan
kerja, lingkungan, teknis pertambangan, dan manajemen dari Pemerintah dan/
atau pemerintah daerah; dan
b.
mendapat bantuan modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 70
Pemegang IPR wajib:
a.
melakukan kegiatan penambangan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah IPR
diterbitkan;
b.
mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan
kerja pertambangan, pengelolaan lingkungan, dan memenuhi standar yang
berlaku;
322
c.
mengelola lingkungan hidup bersama pemerintah daerah;
d.
membayar iuran tetap dan iuran produksi; dan
e.
menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan rakyat secara
berkala kepada pemberi IPR.
Pasal 71
(1) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70, pemegang IPR dalam
melakukan kegiatan pertambangan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
66 wajib menaati ketentuan persyaratan teknis pertambangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 72
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IPR diatur dengan
peraturan daerah kabupaten/kota.
Pasal 73
(1) Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan pembinaan di bidang pengusahaan,
teknologi pertambangan, serta permodalan dan pemasaran dalam usaha
meningkatkan kemampuan usaha pertambangan rakyat.
(2) Pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab terhadap pengamanan teknis
pada usaha pertambangan rakyat yang meliputi:
a. keselamatan dan kesehatan kerja;
b. pengelolaan lingkungan hidup; dan
c. pascatambang.
(3) Untuk melaksanakan pengamanan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
pemerintah kabupaten/kota wajib mengangkat pejabat fungsional inspektur
tambang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Pemerintah kabupaten/kota wajib mencatat hasil produksi dari seluruh kegiatan
usaha pertambangan rakyat yang berada dalam wilayahnya dan melaporkannya
secara berkala kepada Menteri dan gubernur setempat.
BAB X
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
323
Pasal 74
(1) IUPK diberikan oleh Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral
logam atau batubara dalam 1 (satu) WIUPK.
(3) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menemukan mineral
lain di dalam WIUPK yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya.
(4) Pemegang IUPK yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), wajib mengajukan permohonan IUPK baru kepada
Menteri.
(5) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan tidak
berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut.
(6) Pemegang IUPK yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang
ditemukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menjaga mineral lain
tersebut agar tidak dimanfaatkan pihak lain.
(7) IUPK untuk mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat
diberikan kepada pihak lain oleh Menteri.
Pasal 75
(1) Pemberian IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) dilakukan
berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan kepada badan usaha
yang berbadan hukum Indonesia, baik berupa badan usaha milik negara, badan
usaha milik daerah, maupun badan usaha swasta.
(3) Badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) mendapat prioritas dalam mendapatkan IUPK.
(4) Badan usaha swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk mendapatkan
IUPK dilaksanakan dengan cara lelang WIUPK.
Pasal 76
(1) IUPK terdiri atas dua tahap:
a. IUPK Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi
kelayakan;
b. IUPK Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
324
(2) Pemegang IUPK Eksplorasi dan pemegang IUPK Operasi Produksi dapat melakukan
sebagian atau seluruh kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh IUPK sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 77
(1) Setiap pemegang IUPK Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUPK Operasi
Produksi sebagai kelanjutan kegiatan usaha pertambangannya.
(2) IUPK Operasi Produksi dapat diberikan kepada badan usaha yang berbadan
hukum Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (3) dan ayat (4)
yang telah mempunyai data hasil kajian studi kelayakan.
Pasal 78
IUPK Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf a sekurangkurangnya wajib memuat:
a.
nama perusahaan;
b.
luas dan lokasi wilayah;
c.
rencana umum tata ruang;
d.
jaminan kesungguhan;
e.
modal investasi;
f.
perpanjangan waktu tahap kegiatan;
g.
hak dan kewajiban pemegang IUPK;
h.
jangka waktu tahap kegiatan;
i.
jenis usaha yang diberikan;
j.
rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah
pertambangan;
k.
perpajakan;
l.
penyelesaian perselisihan masalah pertanahan;
m. iuran tetap dan iuran eksplorasi; dan
n.
amdal.
Pasal 79
IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf b
sekurang-kurangnya wajib memuat:
325
a.
nama perusahaan;
b.
luas wilayah;
c.
lokasi penambangan;
d.
lokasi pengolahan dan pemurnian;
e.
pengangkutan dan penjualan;
f.
modal investasi;
g.
jangka waktu tahap kegiatan;
h.
penyelesaian masalah pertanahan;
i.
lingkungan hidup, termasuk reklamasi dan pascatambang;
j.
dana jaminan reklamasi dan jaminan pascatambang;
k.
jangka waktu berlakunya IUPK;
l.
perpanjangan IUPK;
m. hak dan kewajiban;
n.
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah per­
tambangan;
o.
perpajakan;
p.
iuran tetap dan iuran produksi serta bagian pendapatan negara/daerah, yang
terdiri atas bagi hasil dari keuntungan bersih sejak berproduksi;
q.
penyelesaian perselisihan;
r.
keselamatan dan kesehatan kerja;
s.
konservasi mineral atau batubara;
t.
pemanfaatan barang, jasa, teknologi serta kemampuan rekayasa dan rancang
bangun dalam negeri;
u.
penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik;
v.
pengembangan tenaga kerja Indonesia;
w.
pengelolaan data mineral atau batubara;
x.
penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi pertambangan mineral
atau batubara; dan
y.
divestasi saham.
Pasal 80
IUPK tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUPK.
326
Pasal 81
(1) Dalam hal kegiatan eksplorasi dan kegiatan studi kelayakan, pemegang IUPK
Eksplorasi yang mendapatkan mineral logam atau batubara yang tergali wajib
melaporkan kepada Menteri.
(2) Pemegang IUPK Eksplorasi yang ingin menjual mineral logam atau batubara
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengajukan izin sementara untuk
melakukan pengangkutan dan penjualan.
(3) Izin sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri.
Pasal 82
Mineral atau batubara yang tergali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81
dikenai iuran produksi.
Pasal 83
Persyaratan luas wilayah dan jangka waktu sesuai dengan kelompok usaha
pertambangan yang berlaku bagi pemegang IUPK meliputi:
a. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan eksplorasi pertambangan mineral
logam diberikan dengan luas paling banyak 100.000 (seratus ribu) hektare.
b. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan
mineral logam diberikan dengan luas paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu)
hektare.
c. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan eksplorasi pertambangan batubara
diberikan dengan luas paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektare.
d. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan batubara
diberikan dengan luas paling banyak 15.000 (lima belas ribu) hektare.
e. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan mineral logam dapat diberikan
paling lama 8 (delapan) tahun.
f. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan batubara dapat diberikan paling
lama 7 (tujuh) tahun.
g. jangka waktu IUPK Operasi Produksi mineral logam atau batubara dapat diberikan
paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masingmasing 10 (sepuluh) tahun.
Pasal 84
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh WIUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 74 ayat (2) dan ayat (3), dan Pasal 75 ayat (3) diatur dengan
peraturan pemerintah.
327
BAB XI
PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasal 85
Pemerintah berkewajiban mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan
di WIUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 serta memberikan IUPK Eksplorasi
dan IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 kepada masyarakat
secara terbuka.
Pasal 86
(1) Badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) yang melakukan
kegiatan dalam WIUPK wajib memenuhi persyaratan administratif, persyaratan
teknis, persyaratan lingkungan dan persyaratan finansial.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan administratif, persyaratan teknis,
persyaratan lingkungan, dan persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB XII
DATA PERTAMBANGAN
Pasal 87
Untuk menunjang penyiapan WP dan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pertambangan, Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya dapat
menugasi lembaga riset negara dan/atau daerah untuk melakukan penyelidikan dan
penelitian tentang pertambangan.
Pasal 88
(1) Data yang diperoleh dari kegiatan usaha pertambangan merupakan data milik
Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
(2) Data usaha pertambangan yang dimiliki pemerintah daerah wajib disampaikan
kepada Pemerintah untuk pengelolaan data pertambangan tingkat nasional.
(3) Pengelolaan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh
Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
328
Pasal 89
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penugasan penyelidikan dan
penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 dan pengelolaan data sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 88 diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB XIII
HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Kesatu
Hak
Pasal 90
Pemegang IUP dan IUPK dapat melakukan sebagian atau seluruh tahapan usaha
pertambangan, baik kegiatan eksplorasi maupun kegiatan operasi produksi.
Pasal 91
Pemegang IUP dan IUPK dapat memanfaatkan prasarana dan sarana umum
untuk keperluan pertambangan setelah memenuhi ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 92
Pemegang IUP dan IUPK berhak memiliki mineral, termasuk mineral ikutannya,
atau batubara yang telah diproduksi apabila telah memenuhi iuran eksplorasi atau
iuran produksi, kecuali mineral ikutan radioaktif.
Pasal 93
(1) Pemegang IUP dan IUPK tidak boleh memindahkan IUP dan IUPK-nya kepada
pihak lain.
(2) Untuk pengalihan kepemilikan dan/atau saham di bursa saham Indonesia hanya
dapat dilakukan setelah melakukan kegiatan eksplorasi tahapan tertentu.
(3) Pengalihan kepemilikan dan/atau saham sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
hanya dapat dilakukan dengan syarat:
a. harus memberitahu kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya; dan
b. sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
329
Pasal 94
Pemegang IUP dan IUPK dijamin haknya untuk melakukan usaha pertambangan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Kewajiban
Pasal 95
Pemegang IUP dan IUPK wajib:
a.
menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik;
b.
mengelola keuangan sesuai dengan sistem akuntansi Indonesia;
c.
meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara;
d.
melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat; dan
e.
mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan.
Pasal 96
Dalam penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik, pemegang IUP dan
IUPK wajib melaksanakan:
a.
ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
b.
keselamatan operasi pertambangan;
c.
pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan, termasuk kegiatan
reklamasi dan pascatambang;
d.
upaya konservasi sumber daya mineral dan batubara;
e.
pengelolaan sisa tambang dari suatu kegiatan usaha pertambangan dalam
bentuk padat, cair, atau gas sampai memenuhi standar baku mutu lingkungan
sebelum dilepas ke media lingkungan.
Pasal 97
Pemegang IUP dan IUPK wajib menjamin penerapan standar dan baku mutu
lingkungan sesuai dengan karakteristik suatu daerah.
Pasal 98
Pemegang IUP dan IUPK wajib menjaga kelestarian fungsi dan daya dukung
sumber daya air yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
330
Pasal 99
(1) Setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan rencana reklamasi dan
rencana pascatambang pada saat mengajukan permohonan IUP Operasi Produksi
atau IUPK Operasi Produksi.
(2) Pelaksanaan reklamasi dan kegiatan pascatambang dilakukan sesuai dengan
peruntukan lahan pascatambang.
(3) Peruntukan lahan pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dicantumkan dalam perjanjian penggunaan tanah antara pemegang IUP atau
IUPK dan pemegang hak atas tanah.
Pasal 100
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyediakan dana jaminan reklamasi dan dana
jaminan pascatambang.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
menetapkan pihak ketiga untuk melakukan reklamasi dan pascatambang dengan
dana jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberlakukan apabila pemegang
IUP atau IUPK tidak melaksanakan reklamasi dan pascatambang sesuai dengan
rencana yang telah disetujui.
Pasal 101
Ketentuan lebih lanjut mengenai reklamasi dan pascatambang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 99 serta dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pascatambang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 102
Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral
dan/atau batubara dalam pelaksanaan penambangan, pengolahan dan pemurnian,
serta pemanfaatan mineral dan batubara.
Pasal 103
(1) Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan
pemurnian hasil penambangan di dalam negeri.
(2) Pemegang IUP dan IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengolah
dan memurnikan hasil penambangan dari pemegang IUP dan IUPK lainnya.
331
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan nilai tambah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 102 serta pengolahan dan pemurnian sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 104
(1) Untuk pengolahan dan pemurnian, pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK
Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dapat melakukan kerja
sama dengan badan usaha, koperasi, atau perseorangan yang telah mendapatkan
IUP atau IUPK.
(2) IUP yang didapat badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah IUP
Operasi Produksi Khusus untuk pengolahan dan pemurnian yang dikeluarkan
oleh Menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Pemegang IUP dan IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang melakukan
pengolahan dan pemurnian dari hasil penambangan yang tidak memiliki IUP,
IPR, atau IUPK.
Pasal 105
(1) Badan usaha yang tidak bergerak pada usaha pertambangan yang bermaksud
menjual mineral dan/atau batubara yang tergali wajib terlebih dahulu memiliki
IUP Operasi Produksi untuk penjualan.
(2) IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan untuk 1 (satu)
kali penjualan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(3) Mineral atau batubara yang tergali dan akan dijual sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dikenai iuran produksi.
(4) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib menyampaikan
laporan hasil penjualan mineral dan/atau batubara yang tergali kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 106
Pemegang IUP dan IUPK harus mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja
setempat, barang, dan jasa dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
332
Pasal 107
Dalam melakukan kegiatan operasi produksi, badan usaha pemegang IUP dan
IUPK wajib mengikutsertakan pengusaha lokal yang ada di daerah tersebut sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 108
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan pem­
berdayaan masyarakat.
(2) Penyusunan program dan rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikonsultasikan kepada Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Pasal 109
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 diatur dengan peraturan
pemerintah.
Pasal 110
Pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan seluruh data yang diperoleh dari
hasil eksplorasi dan operasi produksi kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 111
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib memberikan laporan tertulis secara berkala
atas rencana kerja dan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral
dan batubara kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk, jenis, waktu, dan tata cara
penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
peraturan pemerintah.
Pasal 112
(1) Setelah 5 (lima) tahun berproduksi, badan usaha pemegang IUP dan IUPK yang
sahamnya dimiliki oleh asing wajib melakukan divestasi saham pada Pemerintah,
pemerintah daerah, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau
badan usaha swasta nasional.
333
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai divestasi saham sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB XIV
PENGHENTIAN SEMENTARA KEGIATAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN
DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasal 113
(1) Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan dapat diberikan kepada
pemegang IUP dan IUPK apabila terjadi:
a. keadaan kahar;
b. keadaan yang menghalangi sehingga menimbulkan penghentian sebagian
atau seluruh kegiatan usaha pertambangan;
c. apabila kondisi daya dukung lingkungan wilayah tersebut tidak dapat
menanggung beban kegiatan operasi produksi sumber daya mineral dan/
atau batubara yang dilakukan di wilayahnya.
(2) Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak mengurangi masa berlaku IUP atau IUPK.
(3) Permohonan penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b disampaikan kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(4) Penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat
dilakukan oleh inspektur tambang atau dilakukan berdasarkan permohonan
masyarakat kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(5) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib
mengeluarkan keputusan tertulis diterima atau ditolak disertai alasannya atas
permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling lama 30 (tiga puluh)
hari sejak menerima permohonan tersebut.
Pasal 114
(1) Jangka waktu penghentian sementara karena keadaan kahar dan/atau keadaan
yang menghalangi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) diberikan
paling lama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang paling banyak 1 (satu) kali
untuk 1 (satu) tahun.
334
(2) Apabila dalam kurun waktu sebelum habis masa penghentian sementara berakhir
pemegang IUP dan IUPK sudah siap melakukan kegiatan operasinya, kegiatan
dimaksud wajib dilaporkan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
mencabut keputusan penghentian sementara setelah menerima laporan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Pasal 115
(1) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan
karena keadaan kahar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf
a, kewajiban pemegang IUP dan IUPK terhadap Pemerintah dan pemerintah
daerah tidak berlaku.
(2) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan karena
keadaan yang menghalangi kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 113 ayat (1) huruf b, kewajiban pemegang IUP dan IUPK terhadap
Pemerintah dan pemerintah daerah tetap berlaku.
(3) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan karena
kondisi daya dukung lingkungan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113
ayat (1) huruf c, kewajiban pemegang IUP dan IUPK terhadap Pemerintah dan
pemerintah daerah tetap berlaku.
Pasal 116
Ketentuan lebih lanjut mengenai penghentian sementara kegiatan usaha
pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113, Pasal 114, dan Pasal 115
diatur dengan peraturan pemerintah.
BAB XV
BERAKHIRNYA IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasal 117
IUP dan IUPK berakhir karena:
a.
dikembalikan;
b.
dicabut; atau
c.
habis masa berlakunya.
335
Pasal 118
(1) Pemegang IUP atau IUPK dapat menyerahkan kembali IUP atau IUPK-nya dengan
pernyataan tertulis kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya dan disertai dengan alasan yang jelas.
(2) Pengembalian IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan sah
setelah disetujui oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dan setelah memenuhi kewajibannya.
Pasal 119
IUP atau IUPK dapat dicabut oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya apabila:
a.
pemegang IUP atau IUPK tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam IUP
atau IUPK serta peraturan perundang-undangan;
b.
pemegang IUP atau IUPK melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang ini; atau
c.
pemegang IUP atau IUPK dinyatakan pailit.
Pasal 120
Dalam hal jangka waktu yang ditentukan dalam IUP dan IUPK telah habis dan
tidak diajukan permohonan peningkatan atau perpanjangan tahap kegiatan atau
pengajuan permohonan tetapi tidak memenuhi persyaratan, IUP dan IUPK tersebut
berakhir.
Pasal 121
(1) Pemegang IUP atau IUPK yang IUP-nya atau IUPK-nya berakhir karena alasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, dan Pasal 120
wajib memenuhi dan menyelesaikan kewajiban sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Kewajiban pemegang IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dianggap telah dipenuhi setelah mendapat persetujuan dari Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 122
(1) IUP atau IUPK yang telah dikembalikan, dicabut, atau habis masa berlakunya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 121 dikembalikan kepada Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
336
(2) WIUP atau WIUPK yang IUP-nya atau IUPK-nya berakhir sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditawarkan kepada badan usaha, koperasi, atau perseorangan
melalui mekanisme sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Pasal 123
Apabila IUP atau IUPK berakhir, pemegang IUP atau IUPK wajib menyerahkan
seluruh data yang diperoleh dari hasil eksplorasi dan opersi produksi kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
BAB XVI
USAHA JASA PERTAMBANGAN
Pasal 124
(1) Pemegang IUP atau IUPK wajib menggunakan perusahaan jasa pertambangan
lokal dan/atau nasional.
(2) Dalam hal tidak terdapat perusahaan jasa pertambangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), pemegang IUP atau IUPK dapat menggunakan perusahaan jasa
pertambangan lain yang berbadan hukum Indonesia.
(3) Jenis usaha jasa pertambangan meliputi:
a. konsultasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pengujian peralatan di bidang:
1) penyelidikan umum;
2) eksplorasi;
3) studi kelayakan;
4) konstruksi pertambangan;
5) pengangkutan;
6) lingkungan pertambangan;
7) pascatambang dan reklamasi; dan/atau
8) keselamatan dan kesehatan kerja.
b. konsultasi, perencanaan, dan pengujian peralatan di bidang:
1) penambangan; atau
2) pengolahan dan pemurnian.
Pasal 125
(1) Dalam hal pemegang IUP atau IUPK menggunakan jasa pertambangan, tanggung
jawab kegiatan usaha pertambangan tetap dibebankan kepada pemegang IUP
atau IUPK.
337
(2) Pelaksana usaha jasa pertambangan dapat berupa badan usaha, koperasi, atau
perseorangan sesuai dengan klasifikasi dan kualifikasi yang telah ditetapkan
oleh Menteri.
(3) Pelaku usaha jasa pertambangan wajib mengutamakan kontraktor dan tenaga
kerja lokal.
Pasal 126
(1) Pemegang IUP atau IUPK dilarang melibatkan anak perusahaan dan/atau afiliasinya
dalam bidang usaha jasa pertambangan di wilayah usaha pertambangan yang
diusahakannya, kecuali dengan izin Menteri.
(2) Pemberian izin Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
apabila:
a. tidak terdapat perusahaan jasa pertambangan sejenis di wilayah tersebut;
atau
b. tidak ada perusahaan jasa pertambangan yang berminat/mampu.
Pasal 127
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan usaha jasa pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 124, Pasal 125, dan Pasal 126 diatur dengan
peraturan menteri.
BAB XVII
PENDAPATAN NEGARA DAN DAERAH
Pasal 128
(1) Pemegang IUP atau IUPK wajib membayar pendapatan negara dan pendapatan
daerah.
(2) Pendapatan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas penerimaan
pajak dan penerimaan negara bukan pajak.
(3) Penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. pajak-pajak yang menjadi kewenangan Pemerintah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan; dan
b. bea masuk dan cukai.
(4) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri
atas:
a. iuran tetap;
338
b. iuran eksplorasi;
c. iuran produksi; dan
d. kompensasi data informasi.
(5) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. pajak daerah;
b. retribusi daerah; dan
c. pendapatan lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 129
(1) Pemegang IUPK Operasi Produksi untuk pertambangan mineral logam dan
batubara wajib membayar sebesar 4% (empat persen) kepada Pemerintah dan
6% (enam persen) kepada pemerintah daerah dari keuntungan bersih sejak
berproduksi.
(2) Bagian pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sebagai
berikut:
a. pemerintah provinsi mendapat bagian sebesar 1% (satu persen);
b. pemerintah kabupaten/kota penghasil mendapat bagian sebesar 2,5% (dua
koma lima persen); dan
c. pemerintah kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang sama mendapat
bagian sebesar 2,5% (dua koma lima persen).
Pasal 130
(1) Pemegang IUP atau IUPK tidak dikenai iuran produksi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 128 ayat (4) huruf c dan pajak daerah dan retribusi daerah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (5) atas tanah/batuan yang ikut
tergali pada saat penambangan.
(2) Pemegang IUP atau IUPK dikenai iuran produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 128 ayat (4) huruf c atas pemanfaatan tanah/batuan yang ikut tergali
pada saat penambangan.
Pasal 131
Besarnya pajak dan penerimaan negara bukan pajak yang dipungut dari
pemegang IUP, IPR, atau IUPK ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan.
339
Pasal 132
(1) Besaran tarif iuran produksi ditetapkan berdasarkan tingkat pengusahaan,
produksi, dan harga komoditas tambang.
(2) Besaran tarif iuran produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 133
(1) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat
(4) merupakan pendapatan negara dan daerah yang pembagiannya ditetapkan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Penerimaan negara bukan pajak yang merupakan bagian daerah dibayar langsung
ke kas daerah setiap 3 (tiga) bulan setelah disetor ke kas negara.
BAB XVIII
PENGGUNAAN TANAH UNTUK KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 134
(1) Hak atas WIUP, WPR, atau WIUPK tidak meliputi hak atas tanah permukaan
bumi.
(2) Kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada tempat yang
dilarang untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
dilaksanakan setelah mendapat izin dari instansi Pemerintah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 135
Pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi hanya dapat melaksanakan
kegiatannya setelah mendapat persetujuan dari pemegang hak atas tanah.
Pasal 136
(1) Pemegang IUP atau IUPK sebelum melakukan kegiatan operasi produksi wajib
menyelesaikan hak atas tanah dengan pemegang hak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
340
(2) Penyelesaian hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan atas tanah oleh pemegang
IUP atau IUPK.
Pasal 137
Pemegang IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 dan Pasal 136
yang telah melaksanakan penyelesaian terhadap bidang-bidang tanah dapat diberikan
hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 138
Hak atas IUP, IPR, atau IUPK bukan merupakan pemilikan hak atas tanah.
BAB XIX
PEMBINAAN, PENGAWASAN, DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT
Bagian Kesatu
Pembinaan dan Pengawasan
Pasal 139
(1) Menteri melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pemberian pedoman
pertambangan;
dan
standar
pelaksanaan
pengelolaan
usaha
b. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;
c. pendidikan dan pelatihan; dan
d. perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi
pelaksanaan penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang mineral dan
batubara.
(3) Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pembinaan
terhadap penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha
pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh
pemerintah kabupaten/kota.
341
(4) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
bertanggung jawab melakukan pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha
pertambangan yang dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, atau IUPK.
Pasal 140
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pengawasan
terhadap penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha
pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh
pemerintah kabupaten/kota.
(3) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang
dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, atau IUPK.
Pasal 141
(1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140, antara lain, berupa:
a. teknis pertambangan;
b. pemasaran;
c. keuangan;
d. pengolahan data mineral dan batubara;
e. konservasi sumber daya mineral dan batubara;
f. keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
g. keselamatan operasi pertambangan;
h. pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang;
i. pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa dan rancang
bangun dalam negeri;
j. pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan;
k. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat;
l. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan;
m. kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang
menyangkut kepentingan umum;
n. pengelolaan IUP atau IUPK; dan
o. jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.
342
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf e, huruf f,
huruf g, huruf h, dan huruf l dilakukan oleh inspektur tambang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang- undangan.
(3) Dalam hal pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah kabupaten/
kota belum mempunyai inspektur tambang, Menteri menugaskan inspektur
tambang yang sudah diangkat untuk melaksanaan pembinaan dan pengawasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Pasal 142
(1) Gubernur dan bupati/walikota wajib melaporkan pelaksanaan usaha
pertambangan di wilayahnya masing-masing sekurang-kurangnya sekali dalam
6 (enam) bulan kepada Menteri.
(2) Pemerintah dapat memberi teguran kepada pemerintah daerah apabila dalam
pelaksanaan kewenangannya tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini
dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Pasal 143
(1) Bupati/walikota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap usaha
pertambangan rakyat.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan pertambangan
rakyat diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota.
Pasal 144
Ketentuan lebih lanjut mengenai standar dan prosedur pembinaan serta
pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139, Pasal 140, Pasal 141, Pasal 142,
dan Pasal 143 diatur dengan peraturan pemerintah.
Bagian Kedua
Perlindungan Masyarakat
Pasal 145
(1) Masyarakat yang terkena dampak negatif langsung dari kegiatan usaha
pertambangan berhak:
a. memperoleh ganti rugi yang layak akibat kesalahan dalam pengusahaan
kegiatan pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
343
b. mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap kerugian akibat
pengusahaan pertambangan yang menyalahi ketentuan.
(2) Ketentuan mengenai perlindungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB XX
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SERTA
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Bagian Kesatu
Penelitian dan Pengembangan
Pasal 146
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mendorong, melaksanakan, dan/atau
memfasilitasi pelaksanaan penelitian dan pengembangan mineral dan batubara.
Bagian Kedua
Pendidikan dan Pelatihan
Pasal 147
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mendorong, melaksanakan, dan/atau
memfasilitasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di bidang pengusahaan mineral
dan batubara.
Pasal 148
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dapat dilakukan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat.
BAB XXI
PENYIDIKAN
Pasal 149
(1) Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia, pejabat pegawai
negeri sipil yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertambangan
diberi wewenang khusus sebagai penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
344
(2) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan
dengan tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan yang diduga melakukan
tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
c. memanggil dan/atau mendatangkan secara paksa orang untuk didengar
dan diperiksa sebagai saksi atau tersangka dalam perkara tindak pidana
kegiatan usaha pertambangan;
d. menggeledah tempat dan/atau sarana yang diduga digunakan untuk
melakukan tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
e. melakukan pemeriksaan sarana dan prasarana kegiatan usaha pertambangan
dan menghentikan penggunaan peralatan yang diduga digunakan untuk
melakukan tindak pidana;
f. menyegel dan/atau menyita alat kegiatan usaha pertambangan yang
digunakan untuk melakukan tindak pidana sebagai alat bukti;
g. mendatangkan dan/atau meminta bantuan tenaga ahli yang diperlukan
dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara tindak pidana dalam
kegiatan usaha pertambangan; dan/atau
h. menghentikan penyidikan perkara tindak pidana dalam kegiatan usaha
pertambangan.
Pasal 150
(1) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 dapat
menangkap pelaku tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan.
(2) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
memberitahukan dimulai penyidikan dan menyerahkan hasil penyidikannya
kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
menghentikan penyidikannya dalam hal tidak terdapat cukup bukti dan/atau
peristiwanya bukan merupakan tindak pidana.
(4) Pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
345
BAB XXII
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 151
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berhak
memberikan sanksi administratif kepada pemegang IUP, IPR atau IUPK atas
pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3), Pasal
40 ayat (5), Pasal 41, Pasal 43, Pasal 70, Pasal 71 ayat (1), Pasal 74 ayat (4),
Pasal 74 ayat (6), Pasal 81 ayat (1), Pasal 93 ayat (3), Pasal 95, Pasal 96, Pasal
97, Pasal 98, Pasal 99, Pasal 100, Pasal 102, Pasal 103, Pasal 105 ayat (3), Pasal
105 ayat (4), Pasal 107, Pasal 108 ayat (1), Pasal 110, Pasal 111 ayat (1), Pasal
112 ayat (1), Pasal 114 ayat (2), Pasal 115 ayat (2), Pasal 125 ayat (3), Pasal 126
ayat (1), Pasal 128 ayat (1), Pasal 129 ayat (1), atau Pasal 130 ayat (2).
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan eksplorasi atau
operasi produksi; dan/atau
c. pencabutan IUP, IPR, atau IUPK.
Pasal 152
Dalam hal pemerintah daerah tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 151 dan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Menteri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf j, Menteri dapat menghentikan sementara
dan/atau mencabut IUP atau IPR sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 153
Dalam hal pemerintah daerah berkeberatan terhadap penghentian sementara
dan/atau pencabutan IUP dan IPR oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
152, pemerintah daerah dapat mengajukan keberatan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 154
Setiap sengketa yang muncul dalam pelaksanaan IUP, IPR, atau IUPK diselesaikan
melalui pengadilan dan arbitrase dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
346
Pasal 155
Segala akibat hukum yang timbul karena penghentian sementara dan/atau
pencabutan IUP, IPR atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (2) huruf b
dan huruf c diselesaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 156
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 dan Pasal 152 diatur dengan peraturan
pemerintah.
Pasal 157
Pemerintah daerah yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (4) dikenai sanksi administratif berupa penarikan sementara
kewenangan atas hak pengelolaan usaha pertambangan mineral dan batubara.
BAB XXIII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 158
Setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat
(1), Pasal 74 ayat (1) atau ayat (5) dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah).
Pasal 159
Pemegang IUP, IPR, atau IUPK yang dengan sengaja menyampaikan laporan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1), Pasal 70 huruf e, Pasal 81 ayat
(1), Pasal 105 ayat (4), Pasal 110, atau Pasal 111 ayat (1) dengan tidak benar atau
menyampaikan keterangan palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah).
Pasal 160
(1) Setiap orang yang melakukan eksplorasi tanpa memiliki IUP atau IUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37 atau Pasal 74 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan
347
paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua
ratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang mempunyai IUP Eksplorasi tetapi melakukan kegiatan operasi
produksi dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
Pasal 161
Setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi yang
menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan,
penjualan mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP, IUPK, atau izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal
48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1), Pasal 81 ayat (2), Pasal 103 ayat (2), Pasal
104 ayat (3), atau Pasal 105 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah).
Pasal 162
Setiap orang yang merintangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan
dari pemegang IUP atau IUPK yang telah memenuhi syarat-syarat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 136 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1
(satu) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 163
(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam bab ini dilakukan oleh
suatu badan hukum, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya,
pidana yang dapat dijatuhkan terhadap badan hukum tersebut berupa pidana
denda dengan pemberatan ditambah 1/3 (satu per tiga) kali dari ketentuan
maksimum pidana denda yang dijatuhkan.
(2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum dapat
dijatuhi pidana tambahan berupa:
a. pencabutan izin usaha; dan/atau
b. pencabutan status badan hukum.
Pasal 164
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158, Pasal 159, Pasal 160,
Pasal 161, dan Pasal 162 kepada pelaku tindak pidana dapat dikenai pidana tambahan
berupa:
348
a.
perampasan barang yang digunakan dalam melakukan tindak pidana;
b.
perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; dan/atau
c.
kewajiban membayar biaya yang timbul akibat tindak pidana.
Pasal 165
Setiap orang yang mengeluarkan IUP, IPR, atau IUPK yang bertentangan dengan
Undang-Undang ini dan menyalahgunakan kewenangannya diberi sanksi pidana paling
lama 2 (dua) tahun penjara dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus
juta rupiah).
BAB XXIV
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 166
Setiap masalah yang timbul terhadap pelaksanaan IUP, IPR, atau IUPK yang
berkaitan dengan dampak lingkungan diselesaikan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 167
WP dikelola oleh Menteri dalam suatu sistem informasi WP yang terintegrasi
secara nasional untuk melakukan penyeragaman mengenai sistem koordinat dan peta
dasar dalam penerbitan WUP, WIUP, WPR, WPN, WUPK, dan WIUPK.
Pasal 168
Untuk meningkatkan investasi di bidang pertambangan, Pemerintah dapat
memberikan keringanan dan fasilitas perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan kecuali ditentukan lain dalam IUP atau IUPK.
BAB XXV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 169
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
a.
Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang
telah ada sebelum berlakunya Undang-Undang ini tetap diberlakukan sampai
jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian.
349
b.
Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara sebagaimana dimaksud pada huruf
a disesuaikan selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini
diundangkan kecuali mengenai penerimaan negara.
c.
Pengecualian terhadap penerimaan negara sebagaimana dimaksud pada huruf b
adalah upaya peningkatan penerimaan negara.
Pasal 170
Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah
berproduksi wajib melakukan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103
ayat (1) selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Pasal 171
(1) Pemegang kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang telah melakukan tahapan
kegiatan eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, atau operasi produksi paling
lambat 1 (satu) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini harus menyampaikan
rencana kegiatan pada seluruh wilayah kontrak/perjanjian sampai dengan
jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian untuk mendapatkan persetujuan
pemerintah.
(2) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, luas
wilayah pertambangan yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya
dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara disesuaikan dengan
Undang-Undang ini.
Pasal 172
Permohonan kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batubara yang telah diajukan kepada Menteri paling lambat 1 (satu) tahun sebelum
berlakunya Undang- Undang ini dan sudah mendapatkan surat persetujuan prinsip atau
surat izin penyelidikan pendahuluan tetap dihormati dan dapat diproses perizinannya
tanpa melalui lelang berdasarkan Undang-Undang ini.
BAB XXVI
KETENTUAN PENUTUP
350
Pasal 173
(1) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang Nomor 11 Tahun
1967 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 2831) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
(2) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua Peraturan Perundangundangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor
11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 2831) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang
tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.
Pasal 174
Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan dalam waktu
1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Pasal 175
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 12 Januari 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 12 Januari 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 4
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2009
TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
I. UMUM
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) menegaskan bahwa bumi, air, dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.Mengingat mineral dan batubara sebagai
kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi merupakan sumber daya alam yang tak
terbarukan, pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien, transparan,
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta berkeadilan agar memperoleh
manfaat sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat secara berkelanjutan.
Guna memenuhi ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945
tersebut, telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang KetentuanKetentuan Pokok Pertambangan. Undang-undang tersebut selama lebih kurang empat
dasawarsa sejak diberlakukannya telah dapat memberikan sumbangan yang penting
bagi pembangunan nasional.
Dalam perkembangan lebih lanjut, undang-undang tersebut yang materi
muatannya bersifat sentralistik sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi
sekarang dan tantangan di masa depan. Di samping itu, pembangunan pertambangan
harus menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan strategis, baik bersifat
nasional maupun internasional. Tantangan utama yang dihadapi oleh pertambangan
mineral dan batubara adalah pengaruh globalisasi yang mendorong demokratisasi,
otonomi daerah, hak asasi manusia, lingkungan hidup, perkembangan teknologi dan
informasi, hak atas kekayaan intelektual serta tuntutan peningkatan peran swasta
dan masyarakat.
351
352
Untuk menghadapi tantangan lingkungan strategis dan menjawab sejumlah
permasalahan tersebut, perlu disusun peraturan perundang-undangan baru di bidang
pertambangan mineral dan batubara yang dapat memberikan landasan hukum
bagi langkah-langkah pembaruan dan penataan kembali kegiatan pengelolaan dan
pengusahaan pertambangan mineral dan batubara.
Undang-Undang ini mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
1.
Mineral dan batubara sebagai sumber daya yang tak terbarukan dikuasai
oleh negara dan pengembangan serta pendayagunaannya dilaksanakan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah bersama dengan pelaku usaha.
2.
Pemerintah selanjutnya memberikan kesempatan kepada badan usaha yang
berbadan hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat
setempat untuk melakukan pengusahaan mineral dan batubara berdasarkan
izin, yang sejalan dengan otonomi daerah, diberikan oleh Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
3.
Dalam rangka penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah, pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara dilaksanakan berdasarkan prinsip
eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi yang melibatkan Pemerintah dan
pemerintah daerah.
4.
Usaha pertambangan harus memberi manfaat ekonomi dan sosial yang sebesarbesar bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.
5.
Usaha pertambangan harus dapat mempercepat pengembangan wilayah dan
mendorong kegiatan ekonomi masyarakat/pengusaha kecil dan menengah serta
mendorong tumbuhnya industri penunjang pertambangan.
6.
Dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha
pertambangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip lingkungan
hidup, transparansi, dan partisipasi masyarakat.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Huruf a
Cukup jelas.
353
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah
asas yang secara terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, dan
sosial budaya dalam keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara
untuk mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa mendatang.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Huruf a
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf e
Standar nasional di bidang pertambangan mineral dan batubara adalah
spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
354
Huruf g
Huruf h
Yang dimaksud dengan neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat
nasional adalah neraca yang menggambarkan jumlah sumber daya, cadangan,
dan produksi mineral dan batubara secara nasional.
Huruf t
Cukup jelas.
Huruf s
Cukup jelas.
Huruf r
Cukup jelas.
Huruf q
Cukup jelas.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf o
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf u
Cukup jelas.
355
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Kewenangan yang dilimpahkan adalah kewenangan dalam menetapkan WUP
untuk mineral bukan logam dan batuan dalam satu kabupaten/kota atau lintas
kabupaten/kota.
Pasal 16
Cukup jelas.
356
Pasal 17
Yang dimaksud dengan luas adalah luas maksimum dan luas minimum. Penentuan
batas dilakukan berdasarkan keahlian yang diterima oleh semua pihak.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Penetapan WPR didasarkan pada perencanaan dengan melakukan sinkronisasi
data dan informasi melalui sistem informasi WP.
Pasal 22
Huruf a
Yang dimaksud dengan tepi dan tepi sungai adalah daerah akumulasi pengayaan
mineral sekunder (pay streak) dalam suatu meander sungai.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Pasal 23
Pengumuman rencana WPR dilakukan di kantor desa/kelurahan dan kantor/
instansi terkait; dilengkapi dengan peta situasi yang menggambarkan lokasi, luas,
357
dan batas serta daftar koordinat; dan dilengkapi daftar pemegang hak atas tanah
yang berada dalam WPR.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Ayat (1)
Penetapan WPN untuk kepentingan nasional dimaksudkan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional, ketahanan energi dan industri strategis
nasional, serta meningkatkan daya saing nasional dalam menghadapi tantangan
global.
Yang dimaksud dengan komoditas tertentu antara lain tembaga, timah, emas,
besi, nikel, dan bauksit serta batubara.
Konservasi yang dimaksud juga mencakup upaya pengelolaan mineral dan/atau
batubara yang keberadaannya terbatas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan sebagian luas wilayahnya adalah untuk menentukan
persentase besaran luas wilayah yang akan diusahakan.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan batasan waktu adalah WPN yang ditetapkan untuk
konservasi dapat diusahakan setelah melewati jangka waktu tertentu.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
358
Pasal 29
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan koordinasi adalah mengakomodasi semua kepentingan
daerah yang terkait dengan WUPK sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Yang dimaksud dengan luas adalah luas maksimum dan luas minimum. Penentuan
batas dilakukan berdasarkan keahlian yang diterima oleh semua pihak.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan pertambangan mineral radioaktif adalah
pertambangan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
di bidang ketenaganukliran.
Huruf b
Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral
ikutannya.
359
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Huruf a
Badan usaha dalam ketentuan ini meliputi juga badan usaha milik negara dan
badan usaha milik daerah.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Pasal 39
Ayat (1)
Huruf a
Huruf b
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
360
Huruf d
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf f
Jaminan kesungguhan dalam ketentuan ini termasuk biaya pengelolaan
lingkungan akibat kegiatan eksplorasi.
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Ayat (1)
361
Jangka waktu 8 (delapan) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun;
eksplorasi 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing
1 (satu) tahun; serta studi kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1
(satu) kali 1 (satu) tahun.
Ayat (2)
Jangka waktu 3 (tiga) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun,
eksplorasi 1 (satu) tahun, dan studi kelayakan 1 (satu) tahun.
Yang dimaksud dengan mineral bukan logam jenis tertentu adalah antara lain
batu gamping untuk industri semen, intan, dan batu mulia.
Jangka waktu 7 (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun;
eksplorasi 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1 (satu) tahun;
serta studi kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1
(satu) tahun.
Ayat (3)
Jangka waktu 3 (tiga) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun,
eksplorasi 1 (satu) tahun, dan studi kelayakan 1 (satu) tahun.
Ayat (4)
Jangka waktu 7 (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun;
eksplorasi 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1
(satu) tahun; serta studi kelayakan 2 (dua) tahun.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
Pasal 46
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan data hasil kajian studi kelayakan merupakan sinkronisasi
data milik Pemerintah dan pemerintah daerah.
362
Pasal 47
Ayat (1)
Jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu
untuk konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Ayat (2)
Cukup Jelas
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan mineral bukan logam jenis tertentu adalah antara lain
batu gamping untuk industri semen, intan, dan batu mulia.
Jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu
untuk konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu
untuk konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya.
Pasal 52
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara
vertikal maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
363
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 53
Cukup jelas.
Pasal 54
Cukup jelas.
Pasal 55
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara
vertikal maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 56
Cukup jelas.
Pasal 57
Cukup jelas.
Pasal 58
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara
vertikal maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 59
Cukup jelas.
364
Pasal 60
Cukup jelas.
Pasal 61
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara
vertikal maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 62
Cukup jelas.
Pasal 63
Cukup jelas.
Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Cukup jelas.
Pasal 66
Cukup jelas.
Pasal 67
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini disertai dengan
365
meterai cukup dan dilampiri rekomendasi dari kepala desa/lurah/kepala adat
mengenai kebenaran riwayat pemohon untuk memperoleh prioritas dalam
mendapatkan IPR.
Pasal 68
Cukup jelas.
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup meliputi pencegahan dan penanggulangan
pencemaran serta pemulihan fungsi lingkungan hidup, termasuk reklamasi lahan
bekas tambang.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Laporan disampaikan setiap 4 (empat) bulan.
Pasal 71
Cukup jelas.
Pasal 72
Cukup jelas.
Pasal 73
Cukup jelas.
Pasal 74
Ayat (1)
366
Yang dimaksud dengan memperhatikan kepentingan daerah adalah dalam rangka
pemberdayaan daerah.
Ayat (2)
Pertambangan
ikutannya.
mineral
logam
dalam
ketentuan
ini
termasuk
mineral
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Pasal 75
Cukup jelas.
Pasal 76
Cukup jelas.
Pasal 77
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan data hasil kajian studi kelayakan merupakan sinkronisasi
data milik Pemerintah dan pemerintah daerah.
Pasal 78
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
367
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Jaminan kesungguhan termasuk di dalamnya biaya pengelolaan lingkungan
akibat kegiatan eksplorasi.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Pasal 79
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
368
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf o
Cukup jelas.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf q
Cukup jelas.
Huruf r
Cukup jelas.
Huruf s
Cukup jelas.
369
Huruf t
Cukup jelas.
Huruf u
Cukup jelas.
Huruf v
Cukup jelas.
Huruf w
Cukup jelas.
Huruf x
Cukup jelas.
Huruf y
Pencantuman divestasi saham hanya berlaku apabila sahamnya dimiliki oleh
asing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 80
Cukup jelas.
Pasal 81
Cukup jelas.
Pasal 82
Cukup jelas.
Pasal 83
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
370
Huruf e
Jangka waktu 8 (delapan) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun;
eksplorasi 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing
1 (satu) tahun; serta studi kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1
(satu) kali 1 (satu) tahun.
Huruf f
Jangka waktu 7 (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun;
eksplorasi 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1
(satu) tahun; serta studi kelayakan 2 (dua) tahun.
Huruf g
Jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu
untuk konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Pasal 84
Cukup jelas.
Pasal 85
Cukup jelas.
Pasal 86
Cukup jelas.
Pasal 87
Cukup jelas.
Pasal 88
Cukup jelas.
Pasal 89
Cukup jelas.
Pasal 90
Cukup jelas.
371
Pasal 91
Cukup jelas.
Pasal 92
Cukup jelas.
Pasal 93
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud eksplorasi tahapan tertentu dalam ketentuan ini yaitu telah
ditemukan 2 (dua) wilayah prospek dalam kegiatan eksplorasi.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 94
Cukup jelas.
Pasal 95
Cukup jelas.
Pasal 96
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan sisa tambang meliputi antara lain tailing dan limbah
batubara.
372
Pasal 97
Cukup jelas.
Pasal 98
Ketentuan ini dimaksudkan mengingat usaha pertambangan pada sumber air
dapat mengakibatkan perubahan morfologi sumber air, baik pada kawasan hulu
maupun hilir.
Pasal 99
Cukup jelas.
Pasal 100
Cukup jelas.
Pasal 101
Ketentuan mengenai dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pascatambang
berisi, antara lain, besaran, tata cara penyetoran dan pencairan, serta pelaporan
penggunaan dana jaminan.
Pasal 102
Nilai tambah dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan produk
akhir dari usaha pertambangan atau pemanfaatan terhadap mineral ikutan.
Pasal 103
Ayat (1)
Kewajiban untuk melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri
dimaksudkan, antara lain, untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai
tambang dari produk, tersedianya bahan baku industri, penyerapan tenaga
kerja, dan peningkatan penerimaan negara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
373
Pasal 104
Cukup jelas.
Pasal 105
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan terlebih dahulu memiliki IUP Operasi Produksi untuk
penjualan dalam ketentuan ini adalah pengurusan izin pengangkutan dan
penjualan atas mineral dan/atau batubara yang tergali.
Ayat (2)
Izin diberikan setelah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi atas
mineral dan/atau batubara yang tergali oleh instansi teknis terkait.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 106
Pemanfaatan tenaga kerja setempat tetap mempertimbangkan kompetensi
tenaga kerja dan keahlian tenaga kerja yang tersedia.
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mendukung dan menumbuhkembangkan
kemampuan nasional agar lebih mampu bersaing.
Pasal 107
Cukup jelas.
Pasal 108
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan masyarakat adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar
operasi pertambangan.
Pasal 109
Cukup jelas.
374
Pasal 110
Cukup jelas.
Pasal 111
Cukup jelas.
Pasal 112
Cukup jelas.
Pasal 113
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud keadaan kahar (force majeur) dalam ayat ini, antara lain,
perang, kerusuhan sipil, pemberontakan, epidemi, gempa bumi, banjir,
kebakaran, dan bencana alam di luar kemampuan manusia.
Huruf b
Yang dimaksud keadaan yang menghalangi dalam ayat ini, antara lain,
blokade, pemogokan, dan perselisihan perburuhan di luar kesalahan
pemegang IUP atau IUPK dan peraturan perundang-undangan yang diterbitkan
oleh Pemerintah yang menghambat kegiatan usaha pertambangan yang
sedang berjalan.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Permohonan menjelaskan kondisi keadaan kahar dan/atau keadaan yang
menghalangi sehingga mengakibatkan penghentian sebagian atau seluruh
kegiatan usaha pertambangan.
Ayat (4)
Permohonan masyarakat memuat penjelasan keadaan kondisi daya dukung
lingkungan wilayah yang dikaitkan dengan aktivitas kegiatan penambangan.
Ayat (5)
Cukup jelas.
375
Pasal 114
Cukup jelas.
Pasal 115
Cukup jelas.
Pasal 116
Cukup jelas.
Pasal 117
Cukup jelas.
Pasal 118
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan alasan yang jelas dalam ketentuan ini antara lain tidak
ditemukannya prospek secara teknis, ekonomis, atau lingkungan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 119
Cukup jelas.
Pasal 120
Yang dimaksud dengan peningkatan adalah peningkatan dari tahap ekplorasi ke
tahap operasi produksi.
Pasal 121
Cukup jelas.
Pasal 122
Cukup jelas.
Pasal 123
Cukup jelas.
376
Pasal 124
Ayat (1)
Perusahaan nasional dapat mendirikan perusahaan cabang di daerah.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 125
Cukup jelas.
Pasal 126
Cukup jelas.
Pasal 127
Cukup jelas.
Pasal 128
Cukup jelas.
Pasal 129
Cukup jelas.
Pasal 130
Cukup jelas.
Pasal 131
Cukup jelas.
Pasal 132
Cukup jelas.
Pasal 133
Cukup jelas.
377
Pasal 134
Cukup jelas.
Pasal 135
Persetujuan dari pemegang hak atas tanah dimaksudkan untuk menyelesaikan
lahan-lahan yang terganggu oleh kegiatan eksplorasi seperti pengeboran, parit uji,
dan pengambilan contoh.
Pasal 136
Cukup jelas.
Pasal 137
Cukup jelas.
Pasal 138
Cukup jelas.
Pasal 139
Cukup jelas.
Pasal 140
Cukup jelas.
Pasal 141
Cukup jelas.
Pasal 142
Cukup jelas.
Pasal 143
Cukup jelas.
Pasal 144
Cukup jelas.
378
Pasal 145
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan masyarakat adalah mereka yang terkena dampak negatif
langsung dari kegiatan usaha pertambangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 146
Cukup jelas.
Pasal 147
Cukup jelas.
Pasal 148
Cukup jelas.
Pasal 149
Cukup jelas.
Pasal 150
Cukup jelas.
Pasal 151
Cukup jelas.
Pasal 152
Cukup jelas.
Pasal 153
Cukup jelas.
Pasal 154
Cukup jelas.
379
Pasal 155
Cukup jelas.
Pasal 156
Cukup jelas.
Pasal 157
Cukup jelas.
Pasal 158
Cukup jelas.
Pasal 159
Cukup jelas.
Pasal 160
Cukup jelas.
Pasal 161
Cukup jelas.
Pasal 162
Cukup jelas.
Pasal 163
Cukup jelas.
Pasal 164
Cukup jelas.
Pasal 165
Yang dimaksud dengan setiap orang adalah pejabat yang menerbitkan IUP, IPR,
atau IUPK.
Pasal 166
Cukup jelas.
380
Pasal 167
Cukup jelas.
Pasal 168
Cukup jelas.
Pasal 169
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Semua pasal yang terkandung dalam kontrak karya dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara harus disesuaikan dengan UndangUndang.
Huruf c
Cukup jelas.
Pasal 170
Cukup jelas.
Pasal 171
Cukup jelas.
Pasal 172
Cukup jelas.
Pasal 173
Cukup jelas.
Pasal 174
Cukup jelas.
Pasal 175
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4959
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 30 TAHUN 2007
TENTANG
ENERGI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
a. bahwa sumber daya energi merupakan kekayaan alam
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dikuasai negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat;
b. bahwa peranan energi sangat penting artinya bagi peningkatan
kegiatan ekonomi dan ketahanan nasional, sehingga
pengelolaan energi yang meliputi penyediaan, pemanfaatan,
dan pengusahaannya harus dilaksanakan secara berkeadilan,
berkelanjutan, optimal, dan terpadu;
c. bahwa cadangan sumber daya energi tak terbarukan terbatas,
maka perlu adanya kegiatan penganekaragaman sumber daya
energi agar ketersediaan energi terjamin;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang
tentang Energi;
Mengingat : Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 33 Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
381
382
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
Dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ENERGI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja yang dapat berupa panas,
cahaya, mekanika, kimia, dan elektromagnetika.
2. Sumber energi adalah sesuatu yang dapat menghasilkan energi, baik secara
langsung maupun melalui proses konversi atau transformasi.
3. Sumber daya energi adalah sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, baik
sebagai sumber energi maupun sebagai energi.
4. Sumber energi baru adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi
baru baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi
tak terbarukan, antara lain nuklir, hidrogen, gas metana batu bara (coal bed
methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified
coal).
5. Energi baru adalah energi yang berasal dari sumber energi baru.
6. Sumber energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber
daya energi yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain panas
bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air, serta gerakan
dan perbedaan suhu lapisan laut.
7. Energi terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber energi terbarukan.
8. Sumber energi tak terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber
383
daya energi yang akan habis jika dieksploitasi secara terus-menerus, antara
lain, minyak bumi, gas bumi, batu bara, gambut, dan serpih bitumen.
9. Energi tak terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber energi tak
terbarukan.
10. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan,
dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lain.
11. Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara
kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
12. Badan usaha adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang menjalankan jenis
usaha bersifat tetap, terus-menerus, dan didirikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, serta bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
13. Bentuk usaha tetap adalah badan usaha yang didirikan dan berbadan hukum
di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melakukan kegiatan
dan berkedudukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wajib
mematuhi peraturan perundang-undangan Republik Indonesia.
14. Cadangan penyangga energi adalah jumlah ketersediaan sumber energi
dan energi yang disimpan secara nasional yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan energi nasional pada kurun waktu tertentu.
15. Penyediaan energi adalah kegiatan atau proses menyediakan energi, baik dari
dalam negeri maupun dari luar negeri.
16. Pemanfaatan energi adalah kegiatan menggunakan energi, baik langsung maupun
tidak langsung, dari sumber energi.
17. Pengelolaan energi adalah penyelenggaraan kegiatan penyediaan, pengusahaan,
dan pemanfaatan energi serta penyediaan cadangan strategis dan konservasi
sumber daya energi.
18. Pengusahaan energi adalah kegiatan menyelenggarakan usaha penyediaan dan/
atau pemanfaatan energi.
19. Pengusahaan jasa energi adalah kegiatan menyelenggarakan usaha jasa yang
secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan penyediaan dan/atau
pemanfaatan energi.
20. Cadangan energi adalah sumber daya energi yang sudah diketahui lokasi, jumlah,
dan mutunya.
384
21. Diversifikasi energi adalah penganekaragaman pemanfaatan sumber energi.
22. Cadangan strategis adalah cadangan energi untuk masa depan.
23. Konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan terpadu guna
melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi
pemanfaatannya.
24. Konservasi sumber daya energi adalah pengelolaan sumber daya energi yang
menjamin pemanfaatannya dan persediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya.
25. Kebijakan energi nasional adalah kebijakan pengelolaan energi yang berdasarkan
prinsip berkeadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan guna terciptanya
kemandirian dan ketahanan energi nasional.
26. Dewan Energi Nasional adalah suatu lembaga bersifat nasional, mandiri, dan
tetap yang bertanggung jawab atas perumusan kebijakan energi nasional.
27. Rencana umum energi adalah rencana pengelolaan energi untuk memenuhi
kebutuhan energi di suatu wilayah, antarwilayah, atau nasional.
28. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
29. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau wali kota dan perangkat
daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
30. Menteri adalah menteri yang bidang tugasnya bertanggung jawab di bidang
energi.
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Energi dikelola berdasarkan asas kemanfaatan, efisiensi berkeadilan,
peningkatan nilai tambah, keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, pelestarian
fungsi lingkungan hidup, ketahanan nasional, dan keterpaduan dengan mengutamakan
kemampuan nasional.
Pasal 3
Dalam rangka mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan dan
meningkatkan ketahanan energi nasional, tujuan pengelolaan energi adalah:
385
a.
tercapainya kemandirian pengelolaan energi;
b. terjaminnya ketersediaan energi dalam negeri, baik dari sumber di dalam negeri
maupun di luar negeri;
c. tersedianya sumber energi dari dalam negeri dan/atau luar negeri sebagaimana
dimaksud pada huruf b untuk:
1. pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri;
2. pemenuhan kebutuhan bahan baku industri dalam negeri; dan
3. peningkatan devisa negara;
d.
terjaminnya pengelolaan sumber daya energi secara optimal, terpadu, dan
berkelanjutan;
e. termanfaatkannya energi secara efisien di semua sektor;
f. tercapainya peningkatan akses masyarakat yang tidak mampu dan/atau yang
tinggal di daerah terpencil terhadap energi untuk mewujudkan kesejahteraan
dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata dengan cara:
1. menyediakan bantuan untuk meningkatkan ketersediaan energi kepada
masyarakat tidak mampu;
2. membangun infrastruktur energi untuk daerah belum berkembang sehingga
dapat mengurangi disparitas antar daerah;
g. tercapainya pengembangan kemampuan industri energi dan jasa energi dalam
negeri agar mandiri dan meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia;
h. terciptanya lapangan kerja; dan
i. terjaganya kelestarian fungsi lingkungan hidup.
BAB III
PENGATURAN ENERGI
Bagian Kesatu
Sumber Daya Energi
Pasal 4
(1) Sumber daya energi fosil, panas bumi, hidro skala besar, dan sumber energi
nuklir dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran
rakyat.
(2) Sumber daya energi baru dan sumber daya energi terbarukan diatur oleh negara
dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
386
(3) Penguasaan dan pengaturan sumber daya energi oleh negara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Cadangan Penyangga Energi
Pasal 5
(1) Untuk menjamin ketahanan energi nasional, Pemerintah wajib menyediakan
cadangan penyangga energi.
(2) Ketentuan mengenai jenis, jumlah, waktu, dan lokasi cadangan penyangga
energi, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Pemerintah dan lebih
lanjut ditetapkan oleh Dewan Energi Nasional.
Bagian Ketiga
Keadaan Krisis dan Darurat Energi
Pasal 6
(1) Krisis energi merupakan kondisi kekurangan energi.
(2) Darurat energi merupakan kondisi terganggunya pasokan energi akibat
terputusnya sarana dan prasarana energi.
(3) Dalam hal krisis energi dan darurat energi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan (2) mengakibatkan terganggunya fungsi pemerintahan, kehidupan sosial
masyarakat, dan/atau kegiatan perekonomian, Pemerintah wajib melaksanakan
tindakan penanggulangan yang diperlukan.
Bagian Keempat
Harga Energi
Pasal 7
(1) Harga energi ditetapkan berdasarkan nilai keekonomian berkeadilan.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan dana subsidi untuk kelompok
masyarakat tidak mampu.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai harga energi dan dana subsidi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan.
387
Bagian Kelima
Lingkungan dan Keselamatan
Pasal 8
(1) Setiap kegiatan pengelolaan energi wajib mengutamakan penggunaan teknologi
yang ramah lingkungan dan memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam
peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.
(2) Setiap kegiatan pengelolaan energi wajib memenuhi ketentuan yang disyaratkan
dalam peraturan perundang-undangan di bidang keselamatan yang meliputi
standardisasi, pengamanan dan keselamatan instalasi, serta keselamatan dan
kesehatan kerja.
Bagian Keenam
Tingkat Kandungan Dalam Negeri
Pasal 9
(1) Tingkat kandungan dalam negeri, baik barang maupun jasa, wajib dimaksimalkan
dalam pengusahaan energi.
(2) Pemerintah wajib mendorong kemampuan penyediaan barang dan jasa dalam
negeri guna menunjang industri energi yang mandiri, efisien, dan kompetitif.
Bagian Ketujuh
Kerja Sama Internasional
Pasal 10
(1) Kerja sama internasional di bidang energi hanya dapat dilakukan untuk:
a. menjamin ketahanan energi nasional;
b. menjamin ketersediaan energi dalam negeri; dan
c. meningkatkan perekonomian nasional.
(2) Kerja sama internasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam hal Pemerintah membuat perjanjian internasional dalam bidang energi
yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang
terkait dengan beban keuangan negara dan/atau mengharuskan perubahan atau
pembentukan undang-undang, harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat.
388
BAB IV
KEBIJAKAN ENERGI DAN DEWAN ENERGI NASIONAL
Bagian Kesatu
Kebijakan Energi Nasional
Pasal 11
(1) Kebijakan energi nasional meliputi, antara lain:
a. ketersediaan energi untuk kebutuhan nasional;
b. prioritas pengembangan energi;
c. pemanfaatan sumber daya energi nasional; dan
d. cadangan penyangga energi nasional.
(2) Kebijakan energi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
Pemerintah dengan persetujuan DPR.
Bagian Kedua
Dewan Energi Nasional
Pasal 12
(1) Presiden membentuk Dewan Energi Nasional.
(2) Dewan Energi Nasional bertugas:
a. merancang dan merumuskan kebijakan energi nasional untuk ditetapkan
oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11;
b. menetapkan rencana umum energi nasional;
c. menetapkan langkah-langkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat
energi; serta
d. mengawasi pelaksanaan kebijakan di bidang energi yang bersifat lintas
sektoral.
(3) Dewan Energi Nasional terdiri atas pimpinan dan anggota.
(4) Pimpinan Dewan Energi Nasional terdiri atas:
a. Ketua: Presiden;
b. Wakil Ketua: Wakil Presiden;
c. Ketua Harian: Menteri yang membidangi energi.
389
(5) Anggota Dewan Energi Nasional terdiri atas:
a. tujuh orang, baik Menteri maupun pejabat pemerintah lainnya yang secara
langsung bertanggung jawab atas penyediaan, transportasi, penyaluran,
dan pemanfaatan energi; dan
b. delapan orang dari pemangku kepentingan.
Pasal 13
(1) Anggota Dewan Energi Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (5)
huruf a diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
(2) Anggota Dewan Energi Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (5)
huruf b dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
(3) Anggota Dewan Energi Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (5)
huruf b, terdiri atas:
a. 2 (dua) orang dari kalangan akademisi;
b. 2 (dua) orang dari kalangan industri;
c. 1 (satu) orang dari kalangan teknologi;
d. 1 (satu) orang dari kalangan lingkungan hidup; dan
e. 2 (dua) orang dari kalangan konsumen.
(4)
Pemerintah mengusulkan calon anggota Dewan Energi Nasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) kepada Dewan Perwakilan Rakyat sebanyak dua kali dari
jumlah setiap kalangan pemangku kepentingan sebagaimana dimaksud pada
ayat (3).
(5) Penentuan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan melalui proses
penyaringan yang transparan dan akuntabel.
(6) Anggota Dewan Energi Nasional sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 ayat (5)
huruf b diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyaringan calon anggota Dewan
Energi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan
Presiden.
Pasal 14
(1) Masa jabatan Anggota Dewan Energi Nasional yang berasal dari Menteri dan
pejabat Pemerintah lainnya berakhir setelah tidak menjabat lagi dalam jabatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (5) huruf a.
390
(2) Masa jabatan Anggota Dewan Energi Nasional sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 ayat (5) huruf b adalah selama 5 (lima) tahun.
Pasal 15
Anggaran biaya Dewan Energi Nasional dibebankan pada Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara.
Pasal 16
(1) Dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Energi Nasional dibantu oleh sekretariat
jenderal yang dipimpin oleh seorang sekretaris jenderal.
(2) Sekretaris jenderal diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
(3) Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional
diatur lebih lanjut dengan Keputusan Ketua Dewan Energi Nasional.
Bagian Ketiga
Rencana Umum Energi Nasional
Pasal 17
(1) Pemerintah menyusun rancangan rencana umum energi nasional berdasarkan
kebijakan energi nasional.
(2) Dalam menyusun rencana umum energi nasional sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Pemerintah mengikutsertakan pemerintah daerah serta memperhatikan
pendapat dan masukan dari masyarakat.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusunan rencana umum energi nasional
ditetapkan dengan Peraturan Presiden.
Bagian Keempat
Rencana Umum Energi Daerah
Pasal 18
(1) Pemerintah daerah menyusun rencana umum energi daerah dengan mengacu
pada rencana umum energi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1).
(2) Rencana umum energi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan Peraturan Daerah.
391
Bagian Kelima
Hak dan Peran Masyarakat
Pasal 19
(1) Setiap orang berhak memperoleh energi.
(2) Masyarakat, baik secara perseorangan maupun kelompok, dapat berperan
dalam:
a. penyusunan rencana umum energi nasional dan rencana umum energi
daerah; dan
b. pengembangan energi untuk kepentingan umum.
BAB V
PENGELOLAAN ENERGI
Bagian Kesatu
Penyediaan dan Pemanfaatan
Pasal 20
(1) Penyediaan energi dilakukan melalui:
a. inventarisasi sumber daya energi;
b. peningkatan cadangan energi;
c. penyusunan neraca energi;
d. diversifikasi, konservasi, dan intensifikasi sumber energi dan energi; dan
e. penjaminan kelancaran penyaluran, transmisi, dan penyimpanan sumber
energi dan energi.
(2) Penyediaan energi oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah diutamakan di
daerah yang belum berkembang, daerah terpencil, dan daerah perdesaan dengan
menggunakan sumber energi setempat, khususnya sumber energi terbarukan.
(3) Daerah penghasil sumber energi mendapat prioritas untuk memperoleh energi
dari sumber energi setempat.
(4) Penyediaan energi baru dan energi terbarukan wajib ditingkatkan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
(5) Penyediaan energi dari sumber energi baru dan sumber energi terbarukan
yang dilakukan oleh badan usaha, bentuk usaha tetap, dan perseorangan
dapat memperoleh kemudahan dan/atau insentif dari Pemerintah dan/atau
392
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya untuk jangka waktu tertentu
hingga tercapai nilai keekonomiannya.
Pasal 21
(1) Pemanfaatan energi dilakukan berdasarkan asas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 dengan:
a. mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya energi;
b. mempertimbangkan aspek teknologi, sosial, ekonomi, konservasi, dan
lingkungan; dan
c. memprioritaskan pemenuhan kebutuhan masyarakat dan peningkatan
kegiatan ekonomi di daerah penghasil sumber energi.
(2) Pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan wajib ditingkatkan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
(3) Pemanfaatan energi dari sumber energi baru dan sumber energi terbarukan
yang dilakukan oleh badan usaha, bentuk usaha tetap, dan perseorangan
dapat memperoleh kemudahan dan/atau insentif dari Pemerintah dan/atau
Pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya untuk jangka waktu tertentu
hingga tercapai nilai keekonomiannya.
Pasal 22
(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian kemudahan dan/atau insentif
oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (5) dan Pasal 21 ayat (3) diatur
dengan Peraturan Pemerintah dan/atau Peraturan Daerah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan energi oleh
Pemerintah dan/atau Pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 21 diatur dengan Peraturan
Pemerintah dan/atau Peraturan Daerah.
Bagian Kedua
Pengusahaan
Pasal 23
(1) Pengusahaan energi meliputi pengusahaan sumber daya energi, sumber energi,
dan energi.
393
(2) Pengusahaan energi dapat dilakukan oleh badan usaha, bentuk usaha tetap, dan
perseorangan.
(3) Pengusahaan jasa energi hanya dapat dilakukan oleh badan usaha dan
perseorangan.
(4) Pengusahaan jasa energi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengikuti
ketentuan klasifikasi jasa energi.
(5) Klasifikasi jasa energi ditetapkan antara lain untuk melindungi dan memberikan
kesempatan pertama dalam penggunaan jasa energi dalam negeri.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi jasa energi diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
(7) Pengusahaan energi dan jasa energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat
(2), dan ayat (3) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 24
(1) Badan usaha yang melakukan kegiatan usaha energi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 berkewajiban, antara lain:
a. memberdayakan masyarakat setempat;
b. menjaga dan memelihara fungsi kelestarian lingkungan
c. memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan energi; dan
d. memfasilitasi pendidikan dan pelatihan bidang energi.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban pengusahaan energi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Ketiga
Konservasi Energi
Pasal 25
(1) Konservasi energi nasional menjadi tanggung jawab Pemerintah, pemerintah
daerah, pengusaha, dan masyarakat.
(2) Konservasi energi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup seluruh
tahap pengelolaan energi.
(3) Pengguna energi dan produsen peralatan hemat energi yang melaksanakan
konservasi energi diberi kemudahan dan/atau insentif oleh Pemerintah dan/atau
pemerintah daerah.
394
(4) Pengguna sumber energi dan pengguna energi yang tidak melaksanakan konservasi
energi diberi disinsentif oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan konservasi energi serta pemberian
kemudahan, insentif, dan disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah dan/atau
Peraturan Daerah.
BAB VI
KEWENANGAN PEMERINTAH DAN
PEMERINTAH DAERAH
Pasal 26
(1) Kewenangan Pemerintah di bidang energi, antara lain:
a. pembuatan peraturan perundang-undangan;
b. penetapan kebijakan nasional;
c. penetapan dan pemberlakuan standar; dan
d. penetapan prosedur.
(2) Kewenangan pemerintah provinsi di bidang energi, antara lain:
a. pembuatan peraturan daerah provinsi;
b. pembinaan dan pengawasan pengusahaan di lintas kabupaten/kota; dan
c. penetapan kebijakan pengelolaan di lintas kabupaten/kota.
(3) Kewenangan pemerintah kabupaten/kota di bidang energi, antara lain:
a. pembuatan peraturan daerah kabupaten/kota;
b. pembinaan dan pengawasan pengusahaan di kabupaten/kota; dan
c. penetapan kebijakan pengelolaan di kabupaten/kota.
(4) Kewenangan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dan ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Bagian Kesatu
Pembinaan
395
Pasal 27
Pembinaan kegiatan pengelolaan sumber daya energi, sumber energi, dan energi
dilakukan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
Bagian Kedua
Pengawasan
Pasal 28
Pengawasan kegiatan pengelolaan sumber daya energi, sumber energi dan
energi dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
BAB VIII
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Pasal 29
(1) Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penyediaan dan
pemanfaatan energi wajib difasilitasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah
sesuai dengan kewenangannya.
(2) Penelitian dan pengembangan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diarahkan
terutama untuk pengembangan energi baru dan energi terbarukan untuk
menunjang pengembangan industri energi nasional yang mandiri.
Pasal 30
(1) Pendanaan kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 difasilitasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai
dengan kewenangannya.
(2) Pendanaan kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain bersumber
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah, dan dana dari swasta.
(3) Pengembangan dan pemanfaatan hasil penelitian tentang energi baru dan
energi terbarukan dibiayai dari pendapatan negara yang berasal dari energi tak
terbarukan.
(4) Ketentuan mengenai pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur
lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
396
BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 31
(1) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku semua peraturan perundangundangan di bidang energi tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau
belum diganti berdasarkan Undang-Undang ini.
(2) Badan Koordinasi Energi Nasional tetap menjalankan tugas dan fungsinya sampai
dengan terbentuk Dewan Energi Nasional.
(3) Sebelum terbentuk Dewan Energi Nasional, kebijakan yang akan dikeluarkan
oleh Badan Koordinasi Energi Nasional disesuaikan dengan Undang-Undang ini.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 32
Dewan Energi Nasional harus dibentuk dalam waktu paling lambat 6 (enam)
bulan setelah Undang-Undang ini diundangkan.
Pasal 33
Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan paling lambat
1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Pasal 34
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan UndangUndang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 10 Agustus 2007
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
397
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 10 Agustus 2007
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
ANDI MATTALATTA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 70 TAHUN 2010
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 59 TAHUN 2007
TENTANG KEGIATAN USAHA PANAS BUMI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa kebutuhan penyediaan tenaga listrik cenderung meningkat
sehingga perlu meningkatkan ketersediaan tenaga listrik;
b.bahwa energi panas bumi adalah salah satu sumber energi yang
dapat digunakan untuk penyediaan tenaga listrik sehingga perlu
memberikan kesempatan yang lebih luas bagi badan usaha yang
melakukan kegiatan usaha panas bumi untuk penyediaan tenaga
listrik;
c. bahwa ketentuan mengenai jangka waktu pengembalian
wilayah kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 Peraturan
Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas
Bumi belum memberikan waktu yang cukup bagi badan usaha
yang melakukan kegiatan di bidang usaha panas bumi untuk
melakukan kegiatan eksploitasi schingga jangka waktunya perlu
diperpanjang;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada
huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan
Pcmerintah tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor
59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi;
399
400
Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 115,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4327);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan
Usaha Panas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4777);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
PEMERINTAH NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG KEGIATAN USAHA
PANAS BUMI.
Pasal I
Ketentuan Pasal 86 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Kegiatan Usaha Panas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4777), diubah sebagai
berikut:
“Pasal 86 Dalam hal pemegang kuasa, izin, dan/atau kontrak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 85 belum melakukan kegiatan eksploitasi dalam wilayah
kerjanya sampai dengan tanggal 31 Desember 2014, pemegang kuasa, izin,
dan/atau kontrak wajib rnengembalikan wilayah kerja tersebut kepada
Pemerintah.”
Pasal II
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
401
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Oktober 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 20 Oktober 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 121
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 70 TAHUN 2010
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 59 TAHUN 2007
TENTANG KEGIATAN USAHA PANAS BUMI
I. UMUM
Berdasarkan ketentuan Pasal 85 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007
tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi bahwa keberadaan kuasa, izin, dan kontrak di
bidang usaha panas bumi sebelum adanya Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun
2007 dinyatakan masih tetap berlaku sampai dengan masa kuasa, izin, dan kontrak
tersebut berakhir.
Namun berdasarkan ketentuan Pasal 86 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun
2007 jika dalam batas waktu paling lambat sampai dengan tanggal 21 Oktober 2010
badan usaha yang bersangkutan belum melakukan kegiatan eksploitasi, wilayah
kerjanya wajib dikembalikan kepada Pemerintah.
Dalam kenyataanya, belum dilaksanakan kegiatan eksploitasi oleh badan
usaha disebabkan oleh permasalahan birokrasi dalam penerbitan rekomendasi dan
perizinan di bidang pengusahaan panas bumi sehingga badan usaha tidak dapat
melaksanakan kegiatan eksploitasi sampai batas waktu yang ditentukan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 86 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007. Hal ini dapat
menganggu upaya Pemerintah menjamin ketersediaan dan terpenuhinya kebutuhan
listrik masyarakat.
Untuk memberikan kepastian hukum dan menjamin ketersediaan dan
terpenuhinya kebutuhan listrik masyarakat bagi badan usaha dipandang perlu untuk
403
404
memperpanjang jangka waktu penyerahan wilayah kerja, sehingga perlu dilakukan
perubahan terhadap ketentuan Pasal 86.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal I
Cukup jelas.
Pasal II
Cukup jelas.
BAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5163
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 55 TAHUN 2010
TENTANG
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN
USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 144 Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara,
perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan
Mineral dan Batubara;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4959);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL
DAN BATUBARA.
405
406
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Pertambangan, Mineral, Batubara, Usaha Pertambangan, Wilayah Izin Usaha
Pertambangan yang selanjutnya disebut WIUP, Wilayah Pertambangan Rakyat
yang selanjutnya disebut WPR, Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus
yang selanjutnya disebut WIUPK, Izin Usaha Pertambangan yang selanjutnya
disebut IUP, Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUP
Eksplorasi, Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi yang selanjutnya disebut
IUP Operasi Produksi, Izin Pertambangan Rakyat yang selanjutnya disebut IPR,
Izin Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut IUPK, Izin Usaha
Pertambangan Khusus Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUPK Eksplorasi, Izin
Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi yang selanjutnya disebut IUPK
Operasi Produksi, Penyelidikan Umum, Eksplorasi, Studi Kelayakan, Operasi
Produksi, Konstruksi, Penambangan, Pengolahan dan Pemurnian, Pengangkutan
dan Penjualan, Reklamasi, Kegiatan Pascatambang yang selanjutnya disebut
Pascatambang, dan Pemberdayaan Masyarakat adalah sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara.
2. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
3. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertambangan mineral dan batubara.
BAB II
PEMBINAAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 2
(1) Menteri melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
407
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang
dilaksanakan oleh pemegang IUP, IPR, atau IUPK.
Bagian Kedua
Pembinaan Terhadap Penyelenggaraan
Pengelolaan Usaha Pertambangan
Pasal 3
Pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) terdiri atas:
a. pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha per­
tambangan;
b. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;
c. pendidikan dan pelatihan; dan
d. perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan
penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang mineral dan batubara.
Pasal 4
Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pembinaan
terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh
pemerintah kabupaten/kota.
Pasal 5
(1) Pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi:
a. pedoman tata laksana; dan
b. pedoman pelaksanaan.
(2) Pedoman tata laksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling
sedikit meliputi pedoman struktur dan tata kerja penyelenggaraan pengelolaan
kegiatan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten/kota.
(3) Pedoman pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling
sedikit meliputi:
408
a. pedoman teknis pertambangan;
b. pedoman penyusunan laporan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta
pengangkutan dan penjualan;
c. pedoman penyusunan rencana kerja dan anggaran biaya;
d. pedoman impor barang modal, peralatan, bahan baku, dan/atau bahan
pendukung pertambangan;
e. pedoman penyusunan rencana kerja tahunan teknis dan lingkungan;
f. pedoman pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar tambang;
g. pedoman pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan;
h. pedoman penyusunan laporan pengelolaan dan pemantauan lingkungan,
reklamasi, dan pascatambang;
i. pedoman evaluasi terhadap laporan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta
pengangkutan dan penjualan;
j. pedoman penyusunan laporan penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha
pertambangan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota; dan
k. pedoman evaluasi laporan penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha
pertambangan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota.
Pasal 6
(1) Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 huruf b dilakukan terhadap penyelenggara pengelolaan usaha
pertambangan.
(2) Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dalam pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
Pasal 7
Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c paling
sedikit meliputi kegiatan pendidikan dan pelatihan teknis manajerial, teknis
pertambangan, dan pengawasan di bidang mineral dan batubara.
409
Pasal 8
(1) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 pelaksanaannya
dilakukan oleh lembaga pendidikan dan pelatihan pada Kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan mineral dan
batubara.
(2) Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat dilakukan bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan/atau perguruan
tinggi serta lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 9
Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dapat dilaksanakan
sendiri oleh pemerintah provinsi, perguruan tinggi, serta lembaga lainnya setelah
mendapat akreditasi dari komite akreditasi yang dibentuk oleh Menteri.
Pasal 10
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan pendidikan dan
pelatihan serta pemberian akreditasi diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 11
(1) Pembinaan terhadap perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan,
dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang
mineral dan batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf d dilakukan
oleh Menteri melalui pemberian bimbingan teknis penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertambangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian bimbingan teknis
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan diatur dengan Peraturan
Menteri.
Bagian Ketiga
Pembinaan Atas Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan
Pasal 12
(1) Pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dilakukan paling sedikit terhadap:
410
a. pengadministrasian pertambangan;
b. teknis operasional pertambangan; dan
c. penerapan standar kompetensi tenaga kerja pertambangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha
pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Menteri.
BAB III
PENGAWASAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 13
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang
dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, atau IUPK.
Bagian Kedua
Pengawasan Terhadap Penyelenggaraan
Pengelolaan Usaha Pertambangan
Pasal 14
(1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) meliputi pengawasan
terhadap:
a. penetapan WPR;
b. penetapan dan pemberian WIUP mineral bukan logam dan batuan;
c. pemberian WIUP mineral logam dan batubara;
d. penerbitan IPR;
e. penerbitan IUP; dan
f. penyelenggaraan pembinaan dan pengawasan kegiatan yang dilakukan oleh
pemegang IPR dan IUP.
411
(2) Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Menteri dapat berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pemerintahan dalam negeri.
Pasal 15
(1) Hasil pengawasan yang dilakukan oleh Menteri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 disampaikan kepada gubernur atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya dan tembusannya disampaikan kepada menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pemerintahan dalam
negeri.
(2) Gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib
menindaklanjuti hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Menteri bersama menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang pemerintahan dalam negeri melakukan pemantauan atas pelaksanaan
tindak lanjut hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketiga
Pengawasan Atas Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan
Pasal 16
Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dilakukan
terhadap:
a. teknis pertambangan;
b. pemasaran;
c. keuangan;
d. pengelolaan data mineral dan batubara;
e. konservasi sumber daya mineral dan batubara;
f. keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
g. keselamatan operasi pertambangan;
h. pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang;
i. pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa serta rancang
bangun dalam negeri;
j. pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan;
412
k. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat;
l. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan;
m. kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut
kepentingan umum;
n. pelaksanaan kegiatan sesuai dengan IUP, IPR, atau IUPK; dan
o. jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.
Pasal 17
(1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dilakukan melalui:
a. evaluasi terhadap laporan rencana dan pelaksanaan kegiatan usaha
pertambangan dari pemegang IUP, IPR, dan IUPK; dan/atau
b. inspeksi ke lokasi IUP, IPR, dan IUPK.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling sedikit 1
(satu) kali dalam setahun.
Pasal 18
(1) Hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 yang dilakukan oleh
bupati/walikota disampaikan kepada gubernur dan Menteri.
(2) Gubernur melakukan evaluasi atas hasil pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan menyampaikan hasil evaluasinya kepada Menteri.
Pasal 19
Hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 yang dilakukan oleh
gubernur disampaikan kepada Menteri.
Pasal 20
(1) Menteri melakukan evaluasi atas hasil pengawasan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 19.
(2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan kepada gubernur
atau bupati/walikota dengan tembusan kepada menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pemerintahan dalam negeri.
Pasal 21
(1) Pengawasan teknis pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf
a untuk:
413
a. IUP atau IUPK Eksplorasi dilakukan paling sedikit terhadap:
1. pelaksanaan teknik eksplorasi; dan
2. tata cara penghitungan sumber daya dan cadangan.
b. IUP atau IUPK Operasi Produksi paling sedikit terhadap:
1. perencanaan dan pelaksanaan konstruksi termasuk pengujian alat
pertambangan (commisioning);
2. perencanaan dan pelaksanaan penambangan;
3. perencanaan dan pelaksanaan pengolahan dan pemurnian; dan
4. perencanaan dan pelaksanaan pengangkutan dan penjualan.
(2) Pengawasan teknis pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh Inspektur Tambang.
Pasal 22
(1) Pengawasan pemasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b paling
sedikit meliputi:
a. realisasi produksi dan realisasi penjualan termasuk kualitas dan kuantitas
serta harga mineral dan batubara;
b. kewajiban pemenuhan kebutuhan mineral atau batubara untuk kepentingan
dalam negeri;
c. rencana dan realisasi kontrak penjualan mineral atau batubara;
d. biaya penjualan yang dikeluarkan;
e. perencanaan dan realisasi penerimaan negara bukan pajak; dan
f. biaya pengolahan dan pemurnian mineral dan/atau batubara.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 23
(1) Pengawasan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c paling
sedikit meliputi:
a. perencanaan anggaran;
b. realisasi anggaran;
c. realisasi investasi; dan
d. pemenuhan kewajiban pembayaran.
414
(2) Pemenuhan kewajiban pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
d paling sedikit meliputi:
a. iuran tetap untuk WIUP mineral logam, WIUP batubara WPR, atau WIUPK;
b. iuran produksi mineral logam, batubara, dan mineral bukan logam sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c. pembayaran sebesar 10% (sepuluh persen) dari keuntungan bersih bagi
pemegang IUPK Operasi Produksi mineral logam atau batubara.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 24
(1) Pengawasan pengelolaan data mineral dan batubara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 huruf d, paling sedikit meliputi pengawasan terhadap kegiatan
perolehan, pengadministrasian, pengolahan, penataan, penyimpanan,
pemeliharaan, dan pemusnahan data dan/atau informasi.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 25
(1) Pengawasan konservasi sumber daya mineral dan batubara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 huruf e paling sedikit meliputi:
a. recovery penambangan dan pengolahan;
b. pengelolaan dan/atau pemanfaatan cadangan marginal;
c. pengelolaan dan/atau pemanfaatan batubara kualitas rendah dan mineral
kadar rendah;
d. pengelolaan dan/atau pemanfaatan mineral ikutan;
e. pendataan sumber daya serta cadangan mineral dan batubara yang tidak
tertambang; dan
f. pendataan dan pengelolaan sisa hasil pengolahan dan pemurnian.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur
Tambang.
415
Pasal 26
(1) Pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 huruf f terdiri atas:
a. keselamatan kerja;
b. kesehatan kerja;
c. lingkungan kerja; dan
d. sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pelaksanaannya dilakukan
oleh Inspektur Tambang berkoordinasi dengan pengawas ketenagakerjaan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 27
(1) Pengawasan keselamatan operasi pertambangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 huruf g paling sedikit meliputi:
a. sistem dan pelaksanaan pemeliharaan/perawatan sarana, prasarana,
instalasi, dan peralatan pertambangan;
b. pengamanan instalasi;
c. kelayakan sarana, prasarana instalasi, dan peralatan pertambangan;
d. kompetensi tenaga teknik; dan
e. evaluasi laporan hasil kajian teknis pertambangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur
Tambang dan dapat berkoordinasi dengan pengawas ketenagakerjaan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 28
(1) Pengawasan pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf h paling sedikit meliputi:
a. pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dengan dokumen pengelolaan
lingkungan atau izin lingkungan yang dimiliki dan telah disetujui;
b. penataan, pemulihan, dan perbaikan lahan sesuai dengan peruntukannya;
c. penetapan dan pencairan jaminan reklamasi;
d. pengelolaan pascatambang;
e. penetapan dan pencairan jaminan pascatambang; dan
416
f. pemenuhan baku mutu lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur Tambang
dan berkoordinasi dengan pejabat pengawas di bidang lingkungan hidup dan di
bidang reklamasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan
Pasal 29
(1) Pengawasan pemanfaatan barang, jasa, teknologi, serta kemampuan rekayasa
dan rancang bangun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf i dilakukan
terhadap pelaksanaan pemanfaatan barang, jasa, teknologi, serta kemampuan
rekayasa dan rancang bangun.
(2) Penggunaan barang, jasa, teknologi, serta kemampuan rekayasa dan rancang
bangun dilaksanakan sesuai dengan klasifikasi dan kualifikasi pelaksana usaha
jasa pertambangan mineral dan batubara serta sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur
Tambang.
Pasal 30
(1) Pengawasan pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 huruf j paling sedikit meliputi:
a. pelaksanaan program pengembangan;
b. pelaksanaan uji kompetensi; dan
c. rencana biaya pengembangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 31
(1) Pengawasan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf k paling sedikit meliputi:
a. program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat;
b. pelaksanaan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat; dan
c. biaya pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
417
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 32
(1) Pengawasan kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang
menyangkut kepentingan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf m
paling sedikit meliputi:
a. fasilitas umum yang dibangun oleh pemegang IUP atau pemegang IUPK untuk
masyarakat sekitar tambang; dan
b. pembiayaan untuk pembangunan atau
sebagaimana dimaksud pada huruf a.
penyediaan
fasilitas
umum
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 33
(1) Pengawasan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan IUP, IPR, atau IUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 huruf n paling sedikit meliputi:
a. luas wilayah;
b. lokasi penambangan;
c. lokasi pengolahan dan pemurnian;
d. jangka waktu tahap kegiatan;
e. penyelesaian masalah pertanahan;
f. penyelesaian perselisihan; dan
g. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan
mineral atau batubara.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/ walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 34
(1) Pengawasan jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 huruf o paling sedikit meliputi:
a. jenis komoditas tambang;
418
b. kuantitas dan kualitas produksi untuk setiap lokasi penambangan;
c. kuantitas dan kualitas pencucian dan/atau pengolahan dan pemurnian;
dan
d. tempat penimbunan sementara (run of mine), tempat penimbunan (stock
pile), dan titik serah penjualan (at sale point).
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat
yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 35
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengawasan terhadap penyelenggaraan
pengelolaan usaha pertambangan mineral dan batubara serta pelaksanaan kegiatan
usaha pertambangan mineral dan batubara diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Pelaksanaan Pengawasan
Pasal 36
(1) Pengawasan oleh Inspektur Tambang dilakukan melalui:
a. evaluasi terhadap laporan berkala dan/atau sewaktuwaktu;
b. pemeriksaan berkala atau sewaktu-waktu; dan
c. penilaian atas keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan.
(2) Dalam pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Inspektur Tambang
melakukan kegiatan inspeksi, penyelidikan, dan pengujian.
(3) Dalam melakukan inspeksi, penyelidikan, dan pengujian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Inspektur Tambang berwenang:
a. memasuki tempat kegiatan usaha pertambangan setiap saat;
b. menghentikan sementara waktu sebagian atau seluruh kegiatan
pertambangan mineral dan batubara apabila kegiatan pertambangan dinilai
dapat membahayakan keselamatan pekerja/buruh tambang, keselamatan
umum, atau menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan;
dan
c. mengusulkan penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada huruf
b menjadi penghentian secara tetap kegiatan pertambangan mineral dan
batubara kepada Kepala Inspektur Tambang.
419
Pasal 37
(1) Pengawasan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya dilakukan melalui:
a. pemeriksaan berkala atau sewaktu-waktu maupun pemeriksaan terpadu;
dan/atau
b. verifikasi dan evaluasi terhadap laporan dari pemegang IUP, IPR, atau
IUPK.
(2) Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pejabat
yang ditunjuk berwenang memasuki tempat kegiatan usaha pertambangan
setiap saat.
Pasal 38
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penunjukan pejabat dan pengangkatan
Inspektur Tambang diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 39
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 5 Juli 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
420
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 5 Juli 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 85
Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
Ttd,
Setio Sapto Nugroho
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 55 TAHUN 2010
TENTANG
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN
USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
I. UMUM
Pemanfaatan kekayaan alam berupa mineral dan batubara harus dikelola secara
profesional dan transparan agar memiliki nilai tambah bagi peningkatan pendapatan
nasional guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Dalam rangka mewujudkan pengelolaan mineral dan batubara yang memenuhi
prinsip eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi, perlu dilakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan dan
pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan.
Penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan tidak hanya dilakukan
oleh Pemerintah tetapi juga dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. Oleh karena itu, penyelenggaraan
pembinaan dan pengawasan harus dilakukan berdasarkan pedoman dan standar yang
baku agar diperoleh kejelasan dan kepastian bagi pelaku usaha yang melakukan
kegiatan usaha di bidang mineral dan batubara.
Pembinaan dan pengawasan dilakukan selain terhadap kegiatan usaha
pertambangan mineral dan batubara, pertambangan rakyat juga dilakukan terhadap
pelaksanaan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar kegiatan
usaha pertambangan.
Dalam rangka pembinaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertambangan dan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan
421
422
batubara, perlu ditetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Bimbingan, supervisi, dan konsultasi dalam ketentuan ini dapat berupa
sosialisasi, penyuluhan, lokakarya, inspeksi bersama, seminar, dan pertemuan
teknis di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.
Ayat (2)
Sesuai dengan kebutuhan dalam ketentuan ini dilakukan berdasarkan penilaian
Menteri atau atas permintaan pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/
kota.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
423
Pasal 9
Lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya dalam ketentuan ini termasuk lembaga
pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh swasta atau masyarakat.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
424
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Ayat (1)
Huruf a
Keselamatan kerja dalam ketentuan ini meliputi, antara lain:
a. manajemen risiko;
b. program keselamatan kerja yang meliputi, antara lain, pencegahan
kecelakan, peledakan, kebakaran, dan kejadian lain yang berbahaya;
c. pelatihan dan pendidikan keselamatan kerja;
d. administrasi keselamatan kerja;
e. manajemen keadaan darurat;
f. inspeksi keselamatan kerja;
g. pencegahan dan penyelidikan kecelakaan.
Huruf b
Kesehatan kerja dalam ketentuan ini meliputi, antara lain:
a. program kesehatan pekerja/buruh yang meliputi, antara lain,
pemeriksaan kesehatan tenaga kerja, pelayanan kesehatan kerja,
pencegahan penyakit akibat kerja, pertolongan pertama pada
kecelakaan, serta pelatihan dan pendidikan kesehatan kerja;
b. higienis dan sanitasi;
425
c. ergonomis;
d. pengelolaan makanan, minuman, dan gizi pekerja/buruh; dan/atau
e. dianogsis dan pemeriksaan penyakit akibat kerja.
Huruf c
Lingkungan kerja dalam ketentuan ini meliputi, antara lain:
a. pengendalian debu;
b. pengendalian kebisingan;
c. pengendalian getaran;
d. pencahayaan;
e. kualitas udara kerja;
f. pengendalian radiasi;
g. pengendalian faktor kimia;
h. pengendalian faktor biologi; dan
i. kebersihan lingkungan kerja.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “ketentuan peraturan perundangundangan” adalah
peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
426
Pasal 32
Ayat (1)
Huruf a
Fasilitas umum dalam ketentuan ini misalnya jalan umum, sekolah, dan
klinik.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “Kepala Inspektur Tambang” adalah pejabat yang
secara ex officio menduduki jabatan:
1. direktur yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang keteknikan
pertambangan mineral dan batubara di Pemerintah;
427
2. kepala dinas teknis provinsi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di
bidang pertambangan mineral dan batubara di pemerintah provinsi;
3. kepala dinas teknis kabupaten/kota yang mempunyai tugas pokok dan
fungsi di bidang pertambangan mineral dan batubara di pemerintah
kabupaten/kota.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2010
TENTANG
PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN
MINERAL DAN BATUBARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (5), Pasal 34
ayat (3), Pasal 49, Pasal 63, Pasal 65 ayat (2), Pasal 71 ayat (2),
Pasal 76 ayat (3), Pasal 84, Pasal 86 ayat (2), Pasal 103 ayat (3),
Pasal 109, Pasal 111 ayat (2), Pasal 112, Pasal 116, dan Pasal 156
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4959);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA.
429
430
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Pertambangan, Mineral, Batubara, Pertambangan Mineral, Pertambangan
Batubara, Usaha Pertambangan, Izin Usaha Pertambangan yang selanjutnya
disebut IUP, Badan Usaha, Wilayah Izin Usaha Pertambangan yang selanjutnya
disebut WIUP, Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUP
Eksplorasi, Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi yang selanjutnya disebut
IUP Operasi Produksi, Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya
disebut WUPK, Izin Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut IUPK,
Izin Usaha Pertambangan Khusus Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUPK
Eksplorasi, Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi yang selanjutnya
disebut IUPK Operasi Produksi, Wilayah Pertambangan Rakyat yang selanjutnya
disebut WPR, Izin Pertambangan Rakyat yang selanjutnya disebut IPR, Eksplorasi,
dan Operasi Produksi adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
2. Afiliasi adalah badan usaha yang mempunyai kepemilikan saham langsung dengan
pemegang IUP atau IUPK.
3. Badan Usaha Swasta Nasional adalah badan usaha, baik yang berbadan hukum
maupun yang bukan berbadan hukum, yang kepemilikan sahamnya 100% (seratus
persen) dalam negeri.
4. Badan usaha milik negara yang selanjutnya disebut BUMN, adalah BUMN yang
bergerak di bidang pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
5. Badan usaha milik daerah yang selanjutnya disebut BUMD, adalah BUMD yang
bergerak di bidang pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
6. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orangseorang atau badan
hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip
Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas
kekeluargaan.
7. Masyarakat adalah
pertambangan.
masyarakat
yang
berdomisili
disekitar
operasi
431
8. Divestasi saham adalah jumlah saham asing yang harus ditawarkan untuk dijual
kepada peserta Indonesia.
9. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertambangan mineral dan batubara.
Pasal 2
(1) Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara ditujukan
untuk melaksanakan kebijakan dalam mengutamakan penggunaan mineral dan/
atau batubara untuk kepentingan dalam negeri.
(2) Pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikelompokkan ke dalam 5 (lima) golongan komoditas tambang:
a. mineral radioaktif meliputi radium, thorium, uranium, monasit, dan bahan
galian radioaktif lainnya;
b. mineral logam meliputi litium, berilium, magnesium, kalium, kalsium, emas,
tembaga, perak, timbal, seng, timah, nikel, mangaan, platina, bismuth,
molibdenum, bauksit, air raksa, wolfram, titanium, barit, vanadium, kromit,
antimoni, kobalt, tantalum, cadmium, galium, indium, yitrium, magnetit,
besi, galena, alumina, niobium, zirkonium, ilmenit, khrom, erbium,
ytterbium, dysprosium, thorium, cesium, lanthanum, niobium, neodymium,
hafnium, scandium, aluminium, palladium, rhodium, osmium, ruthenium,
iridium, selenium, telluride, stronium, germanium, dan zenotin;
c. mineral bukan logam meliputi intan, korundum, grafit, arsen, pasir kuarsa,
fluorspar, kriolit, yodium, brom, klor, belerang, fosfat, halit, asbes, talk,
mika, magnesit, yarosit, oker, fluorit, ball clay, fire clay, zeolit, kaolin,
feldspar, bentonit, gipsum, dolomit, kalsit, rijang, pirofilit, kuarsit, zirkon,
wolastonit, tawas, batu kuarsa, perlit, garam batu, clay, dan batu gamping
untuk semen;
d. batuan meliputi pumice, tras, toseki, obsidian, marmer, perlit, tanah
diatome, tanah serap (fullers earth), slate, granit, granodiorit, andesit,
gabro, peridotit, basalt, trakhit, leusit, tanah liat, tanah urug, batu apung,
opal, kalsedon, chert, kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu terkersikan,
gamet, giok, agat, diorit, topas, batu gunung quarry besar, kerikil galian dari
bukit, kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir urug,
pasir pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah),
urukan tanah setempat, tanah merah (laterit), batu gamping, onik, pasir
laut, dan pasir yang tidak mengandung unsur mineral logam atau unsure
432
mineral bukan logam dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi
pertambangan; dan
e. batubara meliputi bitumen padat, batuan aspal, batubara, dan gambut.
(3) Perubahan atas penggolongan komoditas tambang sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 3
(1) Usaha pertambangan dilakukan berdasarkan IUP, IPR, atau IUPK.
(2) IUP, IPR, atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam WIUP
untuk IUP, WPR untuk IPR, atau WIUPK untuk IUPK.
(3) WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berada dalam WUP yang ditetapkan
oleh Menteri.
(4) WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh bupati/walikota.
(5) WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berada dalam WUPK yang ditetapkan
oleh Menteri.
(6) WUP, WPR, atau WUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4) dan ayat
(5) berada dalam WP.
(7) Ketentuan mengenai WP sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dalam
Peraturan Pemerintah tersendiri.
Pasal 4
Untuk memperoleh IUP, IPR, dan IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (1), pemohon harus memenuhi persyaratan administratif, teknis, lingkungan,
dan finansial.
Pasal 5
Lingkup Peraturan Pemerintah ini meliputi pemberian IUP, IPR, dan IUPK,
kewajiban pemegang IUP, IPR, dan IUPK, serta pengutamaan penggunaan mineral
logam dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri.
BAB II
IZIN USAHA PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
433
Pasal 6
(1) IUP diberikan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya berdasarkan permohonan yang diajukan oleh:
a. badan usaha;
b. koperasi; dan
c. perseorangan.
(2) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat berupa badan
usaha swasta, BUMN, atau BUMD.
(3) Perseorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat berupa orang
perseorangan, perusahaan firma, atau perusahaan komanditer.
(4) IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah mendapatkan
WIUP.
(5) Dalam 1 (satu) WIUP dapat diberikan 1 (satu) atau beberapa IUP.
Pasal 7
IUP diberikan melalui tahapan:
a. pemberian WIUP; dan
b. pemberian IUP.
Bagian Kedua
Pemberian WIUP
Paragraf 1
Umum
Pasal 8
(1) Pemberian WIUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a terdiri atas:
a. WIUP radioaktif;
b. WIUP mineral logam;
c. WIUP batubara;
d. WIUP mineral bukan logam; dan/atau
e. WIUP batuan.
(2) WIUP radioaktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diperoleh sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
434
(3) WIUP mineral logam dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
dan huruf c diperoleh dengan cara lelang.
(4) WIUP mineral bukan logam dan batuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d dan huruf e diperoleh dengan cara mengajukan permohonan wilayah.
Pasal 9
(1) Dalam 1 (satu) WUP dapat terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUP.
(2) Setiap pemohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) hanya dapat
diberikan 1 (satu) WIUP.
(3) Dalam hal pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan badan usaha
yang telah terbuka (go public), dapat diberikan lebih dari 1 (satu) WIUP.
Paragraf 2
Tata Cara Pemberian
WIUP Mineral Logam dan Batubara
Pasal 10
(1) Sebelum dilakukan pelelangan WIUP mineral logam atau batubara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3), Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya mengumumkan secara terbuka WIUP yang akan dilelang
kepada badan usaha, koperasi, atau perseorangan dalam jangka waktu paling
lambat 3 (tiga) bulan sebelum pelaksanaan lelang.
(2) Sebelum dilakukan pelelangan WIUP mineral logam atau batubara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1):
a. Menteri harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari gubernur dan
bupati/walikota;
b. gubernur harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari bupati/
walikota.
(3) Gubernur atau bupati/walikota memberikan rekomendasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja
sejak diterimanya permintaan rekomendasi.
Pasal 11
(1) Dalam pelaksanaan pelelangan WIUP mineral logam dan/atau batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dibentuk panitia lelang oleh:
435
a. Menteri, untuk panitia pelelangan WIUP yang berada di lintas provinsi dan/
atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
b. gubernur, untuk panitia pelelangan WIUP yang berada di lintas kabupaten/
kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai
dengan 12 (dua belas) mil dari garis pantai; dan
c. bupati/walikota, untuk panitia pelelangan WIUP yang berada dalam 1 (satu)
wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat)
mil dari garis pantai.
(2) Panitia lelang WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang ditetapkan
oleh:
a. Menteri, beranggotakan gasal dan paling sedikit 7 (tujuh) orang yang
memiliki kompetensi di bidang pertambangan mineral dan/atau batubara;
b. gubernur, beranggotakan gasal dan paling sedikit 5 (lima) orang yang
memiliki kompetensi di bidang pertambangan mineral dan/atau batubara;
dan
c. bupati/walikota, beranggotakan gasal dan paling sedikit 5 (lima) orang yang
memiliki kompetensi di bidang pertambangan mineral dan/atau batubara.
(3) Dalam panitia lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat mengikutsertakan
unsur dari Pemerintah, pemerintah provinsi, dan/atau pemerintah kabupaten/
kota.
Pasal 12
Tugas dan wewenang panitia lelang WIUP mineral logam dan/atau batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 meliputi:
a. menyiapkan lelang WIUP;
b. menyiapkan dokumen lelang WIUP;
c. menyusun jadwal lelang WIUP;
d. mengumumkan waktu pelaksanaan lelang WIUP;
e. melaksanakan pengumuman ulang paling banyak 2 (dua) kali, apabila peserta
lelang WIUP hanya 1 (satu);
f. menilai kualifikasi peserta lelang WIUP;
g. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk;
h. melaksanakan lelang WIUP; dan
i. membuat berita acara hasil pelaksanaan lelang dan mengusulkan pemenang
lelang WIUP.
436
Pasal 13
(1) Untuk mengikuti lelang, peserta lelang WIUP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a. administratif;
b. teknis; dan
c. finansial.
(2) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk:
a. badan usaha, paling sedikit meliputi:
1. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
2. profil badan usaha;
3. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha pertambangan
yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang; dan
4. nomor pokok wajib pajak.
b. koperasi, paling sedikit meliputi:
1. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
2. profil koperasi;
3. akte pendirian koperasi yang bergerak di bidang usaha pertambangan
yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang; dan
4. nomor pokok wajib pajak.
c. orang perseorangan paling sedikit meliputi:
1. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
2. kartu tanda penduduk; dan
3. nomor pokok wajib pajak.
d. perusahaan firma dan perusahaan komanditer paling sedikit meliputi:
1. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
2. profil perusahaan;
3. akte pendirian perusahaan yang bergerak di bidang usaha pertambangan;
dan
4. nomor pokok wajib pajak.
(3) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling sedikit
meliputi:
a. pengalaman badan usaha, koperasi, atau perseorangan di bidang
pertambangan mineral atau batubara paling sedikit 3 (tiga) tahun, atau
bagi perusahaan baru harus mendapat dukungan dari perusahaan induk,
mitra kerja, atau afiliasinya yang bergerak di bidang pertambangan;
437
b. mempunyai paling sedikit 1 (satu) orang tenaga ahli dalam bidang
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit 3 (tiga)
tahun; dan
c. rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 4 (empat) tahun
eksplorasi.
(4) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. laporan keuangan tahun terakhir yang sudah diaudit akuntan publik;
b. menempatkan jaminan kesungguhan lelang dalam bentuk uang tunai di
bank pemerintah sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai kompensasi data
informasi atau dari total biaya pengganti investasi untuk lelang WIUP yang
telah berakhir; dan
c. pernyataan bersedia membayar nilai lelang WIUP dalam jangka waktu paling
lambat 5 (lima) hari kerja, setelah pengumuman pemenang lelang.
Pasal 14
(1) Prosedur lelang meliputi tahap:
a. pengumuman prakualifikasi;
b. pengambilan dokumen prakualifikasi;
c. pemasukan dokumen prakualifikasi;
d. evaluasi prakualifikasi;
e. klarifikasi dan konfirmasi terhadap dokumen prakualifikasi;
f. penetapan hasil prakualifikasi;
g. pengumuman hasil prakualifikasi;
h. undangan kepada peserta yang lulus prakualifikasi;
i. pengambilan dokumen lelang;
j. penjelasan lelang;
k. pemasukan penawaran harga;
l. pembukaan sampul;
m. penetapan peringkat;
n. penetapan/pengumuman pemenang lelang yang dilakukan berdasarkan
penawaran harga dan pertimbangan teknis; dan
o. memberi kesempatan adanya sanggahan atas keputusan lelang.
(2) Penjelasan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j wajib dilakukan
oleh panitia lelang WIUP kepada peserta pelelangan WIUP yang lulus prakualifikasi
untuk menjelaskan data teknis berupa:
a. lokasi;
b. koordinat;
438
c. d. e. f. jenis mineral, termasuk mineral ikutannya, dan batubara;
ringkasan hasil penelitian dan penyelidikan;
ringkasan hasil eksplorasi pendahuluan apabila ada; dan
status lahan.
Pasal 15
(1) Panitia lelang sesuai dengan kewenangannya yang diberikan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota dapat memberikan kesempatan kepada peserta
pelelangan WIUP yang lulus prakualifikasi untuk melakukan kunjungan lapangan
dalam jangka waktu yang disesuaikan dengan jarak lokasi yang akan dilelang
setelah mendapatkan penjelasan lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
ayat (1) huruf j.
(2) Dalam hal peserta pelelangan WIUP yang akan melakukan kunjungan lapangan
mengikutsertakan warga negara asing wajib memenuhi persyaratan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Biaya yang diperlukan untuk melakukan kunjungan lapangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibebankan kepada peserta pelelangan
WIUP.
Pasal 16
(1) Jangka waktu prosedur pelelangan ditetapkan dalam jangka waktu paling lama
35 (tiga puluh lima) hari kerja sejak pemasukan penawaran harga sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf k.
(2) Hasil pelaksanaan lelang WIUP dilaporkan oleh panitia lelang kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya untuk ditetapkan
pemenang lelang WIUP.
Pasal 17
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
berdasarkan usulan panitia lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat
(2) menetapkan pemenang lelang WIUP mineral logam dan/atau batubara.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
memberitahukan secara tertulis penetapan pemenang lelang WIUP mineral
logam dan/atau batubara kepada pemenang lelang.
439
Pasal 18
(1) Apabila peserta lelang yang memasukan penawaran harga sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14 ayat (1) huruf k hanya terdapat 1 (satu) peserta lelang, dilakukan
pelelangan ulang.
(2) Dalam hal peserta lelang ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap
hanya 1 (satu) peserta, ditetapkan sebagai pemenang dengan ketentuan harga
penawaran harus sama atau lebih tinggi dari harga dasar lelang yang telah
ditetapkan.
Pasal 19
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara lelang WIUP diatur dengan Peraturan
Menteri.
Paragraf 3
Tata Cara Pemberian WIUP
Mineral Bukan Logam dan Batuan
Pasal 20
(1) Untuk mendapatkan WIUP mineral bukan logam atau batuan, badan usaha,
koperasi, atau perseorangan mengajukan permohonan wilayah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) kepada:
a. Menteri, untuk permohonan WIUP yang berada lintas wilayah provinsi dan/
atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
b. gubernur, untuk permohonan WIUP yang berada lintas wilayah kabupaten/
kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai
dengan 12 (dua belas) mil; dan
c. bupati/walikota, untuk permohonan WIUP yang berada di dalam 1 (satu)
wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat)
mil.
(2) Sebelum memberikan WIUP mineral bukan logam atau batuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1):
a. Menteri harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari gubernur dan
bupati/walikota;
b. gubernur harus mendapat rekomendasi terlebih dahulu dari bupati/
walikota.
440
(3) Gubernur atau bupati/walikota memberikan rekomendasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja
sejak diterimanya permintaan rekomendasi.
Pasal 21
(1) Permohonan WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan yang terlebih dahulu
telah memenuhi persyaratan koordinat geografis lintang dan bujur sesuai
dengan ketentuan system informasi geografi yang berlaku secara nasional dan
membayar biaya pencadangan wilayah dan pencetakan peta, memperoleh
prioritas pertama untuk mendapatkan WIUP.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah diterima permohonan
wajib memberikan keputusan menerima atau menolak atas permohonan WIUP
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Keputusan menerima sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada
pemohon WIUP disertai dengan penyerahan peta WIUP berikut batas dan
koordinat WIUP.
(4) Keputusan menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (2 harus disampaikan
secara tertulis kepada pemohon WIUP disertai dengan alasan penolakan.
Bagian Ketiga
Pemberian IUP
Paragraf 1
Umum
Pasal 22
(1) IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b terdiri atas:
a. IUP Eksplorasi; dan
b. IUP Operasi Produksi.
(2) IUP Eksplorasi terdiri atas:
a. mineral logam;
b. batubara;
c. mineral bukan logam; dan/atau
d. batuan.
441
(3) IUP Operasi Produksi terdiri atas:
a. mineral logam;
b. batubara;
c. mineral bukan logam; dan/atau
d. batuan.
Paragraf 2
Persyaratan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi
Pasal 23
Persyaratan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi meliputi persyaratan:
a. administratif;
b. teknis;
c. lingkungan; dan
d. finansial.
Pasal 24
(1) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a untuk
badan usaha meliputi:
a. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral logam dan
batubara:
1. surat permohonan;
2. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
3. surat keterangan domisili.
b. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam dan
batuan:
1. surat permohonan;
2. profil badan usaha;
3. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha pertambangan
yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
6. surat keterangan domisili.
(2) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a untuk
koperasi meliputi:
442
a. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral logam dan
batubara:
1. surat permohonan;
2. susunan pengurus; dan
3. surat keterangan domisili.
b. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam dan
batuan:
1. surat permohonan;
2. profil koperasi;
3. akte pendirian koperasi yang bergerak di bidang usaha pertambangan
yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan pengurus; dan
6. surat keterangan domisili.
(3) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a untuk
orang perseorangan meliputi:
a. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral logam dan
batubara:
1. surat permohonan; dan
2. surat keterangan domisili.
b. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam dan
batuan:
1. surat permohonan;
2. kartu tanda penduduk;
3. nomor pokok wajib pajak; dan
4. surat keterangan domisili.
(4) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf a untuk
perusahaan firma dan perusahaan komanditer meliputi:
a. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral logam dan
batubara:
1. surat permohonan;
2. susunan pengurus dan daftar pemegang saham; dan
3. surat keterangan domisili.
b. Untuk IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi mineral bukan logam dan
batuan:
1. surat permohonan;
443
2. profil perusahaan;
3. akte pendirian perusahaan yang bergerak di
pertambangan;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan pengurus dan daftar pemegang saham; dan
6. surat keterangan domisili.
bidang
usaha
Pasal 25
Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf b untuk:
a. IUP Eksplorasi, meliputi:
1. daftar riwayat hidup dan surat pernyataan tenaga ahli pertambangan dan/
atau geologi yang berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun;
2. peta WIUP yang dilengkapi dengan batas koordinat geografis lintang dan
bujur sesuai dengan ketentuan sistem informasi geografi yang berlaku
secara nasional.
b. IUP Operasi Produksi, meliputi:
1. peta wilayah dilengkapi dengan batas koordinat geografis lintang dan bujur
sesuai dengan ketentuan system informasi geografi yang berlaku secara
nasional;
2. laporan lengkap eksplorasi;
3. laporan studi kelayakan;
4. rencana reklamasi dan pascatambang;
5. rencana kerja dan anggaran biaya;
6. rencana pembangunan sarana dan prasarana penunjang kegiatan operasi
produksi; dan
7. tersedianya tenaga ahli pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman
paling sedikit 3 (tiga) tahun.
Pasal 26
Persyaratan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf c meliputi:
a. untuk IUP Eksplorasi meliputi pernyataan untuk mematuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
b. untuk IUP Operasi Produksi meliputi:
1. pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan perundangundangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
444
2. persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 27
(1) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf d untuk:
a. IUP Eksplorasi, meliputi:
1. bukti penempatan
eksplorasi; dan
jaminan
kesungguhan
pelaksanaan
kegiatan
2. bukti pembayaran harga nilai kompensasi data informasi hasil lelang
WIUP mineral logam atau batubara sesuai dengan nilai penawaran
lelang atau bukti pembayaran biaya pencadangan wilayah dan
pembayaran pencetakan peta WIUP mineral bukan logam atau batuan
atas permohonan wilayah.
b. IUP Operasi Produksi, meliputi:
1. laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan
publik;
2. bukti pembayaran iuran tetap 3 (tiga) tahun terakhir; dan
3. bukti pembayaran pengganti investasi sesuai dengan nilai penawaran
lelang bagi pemenang lelang WIUP yang telah berakhir.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai jaminan kesungguhan diatur dengan Peraturan
Menteri.
Paragraf 3
IUP Eksplorasi
Pasal 28
IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a diberikan
oleh:
a. Menteri, untuk WIUP yang berada dalam lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah
laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
b. gubernur, untuk WIUP yang berada dalam lintas kabupaten/kota dalam 1 (satu)
provinsi dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil
dari garis pantai; dan
c. bupati/walikota, untuk WIUP yang berada dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/
kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil dari garis pantai.
445
Pasal 29
(1) IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 diberikan berdasarkan
permohonan dari badan usaha, koperasi, dan perseorangan yang telah
mendapatkan WIUP dan memenuhi persyaratan.
(2) IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi
kelayakan.
Pasal 30
(1) Pemenang lelang WIUP mineral logam atau batubara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17 harus menyampaikan permohonan IUP Eksplorasi kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah penetapan pengumuman
pemenang lelang WIUP.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.
(3) Apabila pemenang lelang WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam
jangka waktu 5 (lima) hari kerja tidak menyampaikan permohonan IUP,
dianggap mengundurkan diri dan uang jaminan kesungguhan lelang menjadi
milik Pemerintah atau milik pemerintah daerah.
(4) Dalam hal pemenang lelang WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah
dianggap mengundurkan diri, WIUP ditawarkan kepada peserta lelang urutan
berikutnya secara berjenjang dengan syarat nilai harga kompensasi data
informasi sama dengan harga yang ditawarkan oleh pemenang pertama.
(5) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan lelang ulang WIUP apabila peserta lelang sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) tidak ada yang berminat.
Pasal 31
(1) Menteri menyampaikan penerbitan peta WIUP mineral bukan logam dan/
atau batuan yang diajukan oleh badan usaha, koperasi, atau perseorangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3) kepada gubernur dan bupati/
walikota untuk mendapatkan rekomendasi dalam rangka penerbitan IUP
Eksplorasi mineral bukan logam dan/atau batuan.
(2) Gubernur menyampaikan penerbitan peta WIUP mineral bukan logam dan/atau
batuan yang diajukan oleh badan usaha, koperasi, atau perseorangan kepada
446
bupati/walikota untuk mendapatkan rekomendasi dalam rangka penerbitan IUP
Eksplorasi mineral bukan logam dan/atau batuan.
(3) Gubernur atau bupati/walikota memberikan rekomendasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja
sejak diterimanya tanda bukti penyampaian peta WIUP mineral bukan logam
dan/atau batuan.
Pasal 32
(1) Badan usaha, koperasi, atau perseorangan yang telah mendapatkan peta WIUP
beserta batas dan koordinat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dalam
jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah penerbitan peta WIUP
mineral bukan logam dan/atau batuan harus menyampaikan permohonan IUP
Eksplorasi kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.
(3) Apabila badan usaha, koperasi, atau perseorangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dalam jangka waktu 5 (lima) hari kerja tidak menyampaikan permohonan
IUP, dianggap mengundurkan diri dan uang pencadangan wilayah menjadi milik
Pemerintah atau milik pemerintah daerah.
(4) Dalam hal badan usaha, koperasi, atau perseorangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) telah dianggap mengundurkan diri maka WIUP menjadi wilayah
terbuka.
Pasal 33
Pemegang IUP Eksplorasi dapat mengajukan permohonan wilayah di luar WIUP
kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya untuk
menunjang usaha kegiatan pertambangannya.
Paragraf 4
IUP Operasi Produksi
Pasal 34
(1) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b
diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan sebagai peningkatan
dari kegiatan eksplorasi.
447
(2) Pemegang IUP Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUP Operasi Produksi sebagai
peningkatan dengan mengajukan permohonan dan memenuhi persyaratan
peningkatan operasi produksi.
(3) IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan
dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
(4) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada badan
usaha, koperasi, dan perseorangan yang memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23.
Pasal 35
(1) IUP Operasi Produksi diberikan oleh:
a. bupati/walikota, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan
pemurnian, serta pelabuhan berada di dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/
kota atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil dari garis pantai;
b. gubernur, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian,
serta pelabuhan berada di dalam wilayah kabupaten/kota yang berbeda
dalam 1 (satu) provinsi atau wilayah laut sampai dengan 12 (dua belas)
mil dari garis pantai setelah mendapat rekomendasi dari bupati/walikota;
atau
c. Menteri, apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian,
serta pelabuhan berada di dalam wilayah provinsi yang berbeda atau
wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai setelah mendapat
rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Dalam hal lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian serta
pelabuhan berada di dalam wilayah yang berbeda serta kepemilikannya juga
berbeda maka IUP Operasi Produksi masing-masing diberikan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 36
Dalam hal pemegang IUP Operasi Produksi tidak melakukan kegiatan pengangkutan
dan penjualan dan/atau pengolahan dan pemurnian, kegiatan pengangkutan dan
penjualan dan/atau pengolahan dan pemurnian dapat dilakukan oleh pihak lain yang
memiliki:
a. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan dan penjualan;
b. IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian; dan/atau
448
c. IUP Operasi Produksi.
Pasal 37
(1) IUP Operasi Produksi khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf a
diberikan oleh:
a. Menteri apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan lintas
provinsi dan negara;
b. gubernur apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dilakukan lintas
kabupaten/kota; atau
c. bupati/walikota apabila kegiatan pengangkutan dan penjualan dalam 1
(satu) kabupaten/kota.
(2) IUP Operasi Produksi khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf b
diberikan oleh:
a. Menteri, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal dari provinsi
lain dan/atau lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian berada pada lintas
provinsi;
b. gubernur, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal dari
beberapa kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi dan/atau lokasi kegiatan
pengolahan dan pemurnian berada pada lintas kabupaten/kota; atau
c. bupati/walikota, apabila komoditas tambang yang akan diolah berasal dari 1
(satu) kabupaten/kota dan/atau lokasi kegiatan pengolahan dan pemurnian
berada pada 1 (satu) kabupaten/kota.
(3) Dalam hal komoditas tambang yang akan diolah sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) berasal dari impor, IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan
pemurnian diberikan oleh Menteri.
Pasal 38
Dalam hal berdasarkan hasil dokumen lingkungan hidup yang telah disahkan
oleh instansi yang berwenang berdampak lingkungan pada:
a. 1 (satu) kabupaten/kota, IUP Operasi Produksi diberikan oleh bupati/walikota
berdasarkan rekomendasi dari Menteri dan gubernur;
b. lintas kabupaten/kota, IUP Operasi Produksi diberikan oleh gubernur berdasarkan
rekomendasi dari bupati/walikota; atau
c. lintas provinsi, IUP Operasi Produksi diberikan oleh Menteri berdasarkan
rekomendasi dari bupati/walikota dan gubernur.
449
Pasal 39
Badan usaha yang melakukan kegiatan jual beli mineral logam atau batubara
di Indonesia, harus memiliki IUP Operasi Produksi khusus untuk pengangkutan
dan penjualan dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 40
Pemegang IUP Operasi Produksi dapat mengajukan permohonan wilayah di luar
WIUP kepada Menteri, gubernur, atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya
untuk menunjang usaha kegiatan pertambangannya.
Pasal 41
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUP Operasi Produksi
khusus diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Pemasangan Tanda Batas
Pasal 42
(1) Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak diperolehnya IUP Operasi Produksi,
pemegang IUP Operasi Produksi wajib memberikan tanda batas wilayah dengan
memasang patok pada WIUP.
(2) Pembuatan tanda batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus selesai
sebelum dimulai kegiatan operasi produksi.
(3) Dalam hal terjadi perubahan batas wilayah pada WIUP Operasi Produksi, harus
dilakukan perubahan tanda batas wilayah dengan pemasangan patok baru pada
WIUP.
Pasal 43
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemasangan tanda batas WIUP diatur
dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kelima
Komoditas Tambang Lain Dalam WIUP
450
Pasal 44
(1) Dalam hal pada lokasi WIUP ditemukan komoditas tambang lainnya yang bukan
asosiasi mineral yang diberikan dalam IUP, pemegang IUP Eksplorasi dan IUP
Operasi Produksi memperoleh keutamaan dalam mengusahakan komoditas
tambang lainnya yang ditemukan.
(2) Dalam mengusahakan komoditas tambang lainnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus membentuk badan usaha baru.
(3) Apabila pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi tidak berminat atas
komoditas tambang lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kesempatan
pengusahaannya dapat diberikan kepada pihak lain dan diselenggarakan dengan
cara lelang atau permohonan wilayah.
(4) Pihak lain yang mendapatkan IUP berdasarkan lelang atau permohonan wilayah
harus berkoordinasi dengan pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi
pertama.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUP baru sesuai komoditas
tambang lain diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keenam
Perpanjangan IUP Operasi Produksi
Pasal 45
(1) Permohonan perpanjangan IUP Operasi Produksi diajukan kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya paling cepat
dalam jangka waktu 2 (dua) tahun dan paling lambat dalam jangka waktu 6
(enam) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu IUP.
(2) Permohonan perpanjangan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) paling sedikit harus dilengkapi:
a. peta dan batas koordinat wilayah;
b. bukti pelunasan iuran tetap dan iuran produksi 3 (tiga) tahun terakhir;
c. laporan akhir kegiatan operasi produksi;
d. laporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan;
e. rencana kerja dan anggaran biaya; dan
f. neraca sumber daya dan cadangan.
(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
menolak permohonan perpanjangan IUP Operasi Produksi apabila pemegang IUP
451
Operasi Produksi berdasarkan hasil evaluasi, pemegang IUP Operasi Produksi
tidak menunjukkan kinerja operasi produksi yang baik.
(4) Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disampaikan kepada
pemegang IUP Operasi Produksi paling lambat sebelum berakhirnya IUP Operasi
Produksi.
(5) Pemegang IUP Operasi Produksi hanya dapat diberikan perpanjangan sebanyak
2 (dua) kali.
(6) Pemegang IUP Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan IUP Operasi
Produksi sebanyak 2 (dua) kali, harus mengembalikan WIUP Operasi Produksi
kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 46
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan IUP
Operasi Produksi sebanyak 2 (dua) kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal
45 ayat (6), dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sebelum jangka waktu masa
berlakunya IUP berakhir, harus menyampaikan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mengenai keberadaan potensi
dan cadangan mineral atau batubara pada WIUP-nya.
(2) WIUP yang IUP-nya akan berakhir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sepanjang
masih berpotensi untuk diusahakan, WIUPnya dapat ditawarkan kembali melalui
mekanisme lelang atau permohonan wilayah sesuai dengan ketentuan dalam
Peraturan Pemerintah ini.
(3) Dalam pelaksanaan lelang WIUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pemegang
IUP sebelumnya mendapat hak menyamai.
BAB III
IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 47
(1) IPR diberikan oleh bupati/walikota berdasarkan permohonan yang diajukan oleh
penduduk setempat, baik orang perseorangan maupun kelompok masyarakat
dan/atau koperasi.
452
(2) IPR diberikan setelah ditetapkan WPR oleh bupati/walikota.
(3) Dalam 1 (satu) WPR dapat diberikan 1 (satu) atau beberapa IPR.
Bagian Kedua
Pemberian IPR
Pasal 48
(1) Setiap usaha pertambangan rakyat pada WPR dapat dilaksanakan apabila telah
mendapatkan IPR.
(2) Untuk mendapatkan IPR, pemohon harus memenuhi:
a. persyaratan administratif;
b. persyaratan teknis; dan
c. persyaratan finansial.
(3) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a untuk:
a. orang perseorangan, paling sedikit meliputi:
1. surat permohonan;
2. kartu tanda penduduk;
3. komoditas tambang yang dimohon; dan
4. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
b. kelompok masyarakat, paling sedikit meliputi:
1. surat permohonan;
2. komoditas tambang yang dimohon; dan
3. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
c. koperasi setempat, paling sedikit meliputi:
1. surat permohonan;
2. nomor pokok wajib pajak;
3. akte pendirian koperasi yang telah disahkan oleh pejabat yang
berwenang;
4. komoditas tambang yang dimohon; dan
5. surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
(4) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b berupa surat
pernyataan yang memuat paling sedikit mengenai:
a. sumuran pada IPR paling dalam 25 (dua puluh lima) meter;
b. menggunakan pompa mekanik, penggelundungan atau permesinan dengan
jumlah tenaga maksimal 25 (dua puluh lima) horse power untuk 1 (satu)
IPR; dan
453
c. tidak menggunakan alat berat dan bahan peledak.
(5) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berupa
laporan keuangan 1 (satu) tahun terakhir dan hanya dipersyaratkan bagi koperasi
setempat.
BAB IV
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 49
(1) IUPK diberikan oleh Menteri berdasarkan permohonan yang diajukan oleh BUMN,
BUMD, atau badan usaha swasta.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah diperoleh WIUPK
yang telah ditetapkan oleh Menteri.
(3) Dalam 1 (satu) WIUPK dapat terdiri atas 1 (satu) atau beberapa IUPK.
(4) Pemohon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan 1 (satu)
WIUPK, kecuali pemohon merupakan badan usaha yang telah terbuka dapat
diberikan lebih dari 1 (satu) WIUPK.
(5) Ketentuan mengenai penetapan WUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diatur dalam Peraturan Pemerintah tersendiri.
Pasal 50
IUPK diberikan melalui tahapan:
a. pemberian WIUPK; dan
b. pemberian IUPK.
Bagian Kedua
Pemberian WIUPK
Paragraf 1
Umum
454
Pasal 51
(1) Pemberian WIUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf a terdiri atas
WIUPK mineral logam dan/atau batubara.
(2) WIUPK diberikan kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta oleh Menteri.
(3) Menteri dalam memberikan WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus
terlebih dahulu menawarkan kepada BUMN atau BUMD dengan cara prioritas.
(4) Dalam hal peminat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya ada 1 (satu)
BUMN atau BUMD, WIUPK diberikan kepada BUMN atau BUMD dengan membayar
biaya kompensasi data informasi.
(5) Dalam hal peminat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) lebih dari 1 (satu)
BUMN atau BUMD, WIUPK diberikan dengan cara lelang.
(6) Pemenang lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikenai kewajiban
membayar biaya kompensasi data informasi sesuai dengan nilai lelang.
Pasal 52
(1) Dalam hal tidak ada BUMN atau BUMD yang berminat, WIUPK ditawarkan kepada
badan usaha swasta yang bergerak dalam bidang pertambangan mineral atau
batubara dengan cara lelang.
(2) Pemenang lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai kewajiban
membayar biaya kompensasi data informasi sesuai dengan nilai lelang.
Paragraf 2
Tata Cara Pemberian Prioritas WIUPK
Mineral Logam dan Batubara
Pasal 53
(1) BUMN dan BUMD yang telah mendapatkan WIUPK wajib mengajukan permohonan
IUPK mineral logam atau batubara kepada Menteri.
(2) Dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya
permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri memberikan IUPK
kepada BUMN atau BUMD setelah memenuhi persyaratan.
Paragraf 3
Tata Cara Lelang WIUPK Mineral Logam dan Batubara
455
Pasal 54
(1) Sebelum dilakukan pelelangan WIUPK mineral logam atau batubara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 51 dan Pasal 52, Menteri mengumumkan secara terbuka
WIUPK yang akan dilelang dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan
sebelum pelaksanaan lelang.
(2) Dalam pelaksanaan pelelangan WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Menteri membentuk panitia lelang WIUPK mineral logam atau batubara.
(3) Anggota panitia lelang WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berjumlah
gasal yang memiliki kompetensi di bidang pertambangan mineral atau
batubara.
Pasal 55
Tugas dan wewenang panitia lelang WIUPK mineral logam dan batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 meliputi:
a. penyiapan lelang WIUPK;
b. penyiapan dokumen lelang WIUPK;
c. penyusunan jadwal lelang WIUPK;
d. pengumuman waktu pelaksanaan lelang WIUPK;
e. pelaksanaan pengumuman ulang paling banyak 2 (dua) kali, apabila peserta
lelang WIUPK hanya 1 (satu);
f. penilaian kualifikasi peserta lelang WIUPK;
g. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk;
h. pelaksanaan lelang WIUPK; dan
i. pembuatan berita acara hasil pelaksanaan lelang dan mengusulkan pemenang
lelang WIUPK.
Pasal 56
(1) Untuk mengikuti lelang, peserta lelang WIUPK sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 51 ayat (5) dan Pasal 52 ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a. administratif;
b. teknis; dan
c. finansial.
(2) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
meliputi:
a. mengisi formulir yang sudah disiapkan panitia lelang;
b. profil badan usaha;
456
c. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha pertambangan
yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang; dan
d. nomor pokok wajib pajak.
(3) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. pengalaman badan usaha di bidang pertambangan mineral atau batubara
paling sedikit 3 (tiga) tahun, atau bagi perusahaan baru harus mendapat
dukungan dari perusahaan induk, mitra kerja, atau afiliasinya yang bergerak
di bidang pertambangan;
b. mempunyai paling sedikit 1 (satu) tenaga ahli dalam bidang pertambangan
dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit 3 (tiga) tahun;
c. rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 1 (satu) tahun.
(4) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. laporan keuangan tahun terakhir yang sudah diaudit akuntan publik;
b. menempatkan jaminan kesungguhan lelang dalam bentuk uang tunai di
bank pemerintah sebesar 10% (sepuluh persen) dari nilai kompensasi data
informasi atau total biaya pengganti investasi untuk lelang WIUPK yang
telah berakhir; dan
c. pernyataan bersedia membayar nilai sesuai surat penawaran lelang dalam
jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman
pemenang lelang.
Pasal 57
(1) Prosedur lelang meliputi tahap:
a. pengumuman prakualifikasi;
b. pengambilan dokumen prakualifikasi;
c. pemasukan dokumen prakualifikasi;
d. evaluasi prakualifikasi;
e. klarifikasi dan konfirmasi terhadap dokumen prakualifikasi;
f. penetapan hasil prakualifikasi;
g. pengumuman hasil prakualifikasi;
h. undangan kepada peserta yang lulus prakualifikasi;
i. pengambilan dokumen lelang;
j. penjelasan lelang;
k. pemasukan penawaran harga;
l. pembukaan sampul;
m. penetapan peringkat;
457
n. penetapan/pengumuman pemenang lelang yang dilakukan berdasarkan
penawaran harga dan pertimbangan teknis; dan
o. memberi kesempatan adanya sanggahan atas keputusan lelang.
(2) Penjelasan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf j wajib dilakukan
oleh panitia lelang WIUPK kepada peserta pelelangan WIUPK yang lulus
prakualifikasi untuk menjelaskan data teknis berupa:
a. lokasi;
b. koordinat;
c. jenis mineral, termasuk mineral ikutannya, dan batubara;
d. ringkasan hasil penelitian dan penyelidikan;
e. ringkasan hasil eksplorasi pendahuluan apabila ada; dan
f. status lahan.
Pasal 58
(1) Panitia lelang sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Menteri dapat
memberikan kesempatan kepada peserta pelelangan WIUPK yang lulus
prakualifikasi untuk melakukan kunjungan lapangan dalam jangka waktu yang
disesuaikan dengan jarak lokasi yang akan dilelang setelah mendapatkan
penjelasan lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1) huruf j.
(2) Dalam hal peserta pelelangan WIUPK yang akan melakukan kunjungan lapangan
mengikutsertakan warga negara asing wajib memenuhi persyaratan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Biaya yang diperlukan untuk melakukan kunjungan lapangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dibebankan kepada peserta pelelangan
WIUPK.
Pasal 59
(1) Jangka waktu prosedur pelelangan ditetapkan dalam jangka waktu paling lama
35 (tiga puluh lima) hari kerja sejak pemasukan penawaran harga sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1) huruf k.
(2) Hasil pelaksanaan lelang WIUPK dilaporkan oleh panitia lelang kepada Menteri
untuk ditetapkan pemenang lelang WIUPK.
458
Pasal 60
(1) Menteri berdasarkan usulan panitia lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
59 ayat (2) menetapkan pemenang lelang WIUPK mineral logam dan/atau
batubara.
(2) Menteri memberitahukan secara tertulis penetapan pemenang lelang WIUPK
mineral logam dan/atau batubara kepada pemenang lelang.
Pasal 61
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara lelang WIUPK diatur dengan Peraturan
Menteri.
Bagian Ketiga
Pemberian IUPK
Paragraf 1
Umum
Pasal 62
(1) IUPK diberikan oleh Menteri kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta
setelah mendapatkan WIUPK.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. IUPK Eksplorasi terdiri atas mineral logam atau batubara; dan
b. IUPK Operasi Produksi terdiri atas mineral logam atau batubara.
Paragraf 2
Persyaratan IUPK Eksplorasi dan
IUPK Operasi Produksi
Pasal 63
Persyaratan IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 62 harus memenuhi:
a. persyaratan administratif;
b. persyaratan teknis;
c. persyaratan lingkungan; dan
d. persyaratan finansial.
459
Pasal 64
(1) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf a
meliputi:
a. untuk IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi mineral logam dan batubara
yang diajukan BUMN atau BUMD yang diberikan berdasarkan prioritas:
1. surat permohonan;
2. profil badan usaha;
3. akte pendirian badan usaha yang bergerak di bidang usaha pertambangan
yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang;
4. nomor pokok wajib pajak;
5. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
6. surat keterangan domisili.
b. untuk IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi mineral logam dan batubara
yang diajukan oleh pemenang lelang WIUPK:
1. surat permohonan;
2. susunan direksi dan daftar pemegang saham; dan
3. surat keterangan domisili.
(2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf b meliputi:
a. pengalaman BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta di bidang pertambangan
mineral atau batubara paling sedikit 3 (tiga) tahun;
b. mempunyai paling sedikit 1 (satu) orang tenaga ahli dalam bidang
pertambangan dan/atau geologi yang berpengalaman paling sedikit 3 (tiga)
tahun; dan
c. rencana kerja dan anggaran biaya untuk kegiatan 1 (satu) tahun.
(3) Persyaratan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf c
meliputi:
a. untuk IUP Eksplorasi meliputi pernyataan untuk mematuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.
b. untuk IUP Operasi Produksi meliputi:
1. pernyataan kesanggupan untuk mematuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup; dan
2. persetujuan dokumen lingkungan hidup sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
460
(4) Persyaratan finansial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf d meliputi:
a. IUPK Eksplorasi, meliputi:
1. bukti penempatan
eksplorasi; dan
jaminan
kesungguhan
pelaksanaan
kegiatan
2. bukti pembayaran harga nilai kompensasi data informasi atau sesuai
dengan surat penawaran.
b. IUPK Operasi Produksi, meliputi:
1. laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh akuntan publik;
dan
2. bukti pembayaran iuran tetap 3 (tiga) tahun terakhir.
Paragraf 3
Tata Cara Penerbitan IUPK
Eksplorasi Mineral Logam dan Batubara
Pasal 65
(1) BUMN atau BUMD yang diberikan WIUPK berdasarkan prioritas atau pemenang
lelang WIUPK mineral logam atau batubara, harus menyampaikan permohonan
IUPK Eksplorasi kepada Menteri dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari
kerja setelah penetapan pengumuman pemenang lelang WIUPK.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63.
(3) Apabila BUMN atau BUMD yang diberikan WIUPK berdasarkan prioritas atau
pemenang lelang WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam jangka
waktu 5 (lima) hari kerja tidak menyampaikan permohonan IUPK, dianggap
mengundurkan diri.
(4) Dalam hal pemenang lelang WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah
dianggap mengundurkan diri, WIUPK ditawarkan kepada peserta lelang urutan
berikutnya secara berjenjang dengan syarat nilai harga kompensasi data
informasi sama dengan harga yang ditawarkan oleh pemenang pertama.
(5) Menteri melakukan lelang ulang WIUPK apabila peserta lelang sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) tidak ada yang berminat.
Pasal 66
Pemegang IUPK Eksplorasi atau pemegang IUPK Operasi Produksi, dapat
461
mengajukan permohonan wilayah di luar WIUPK kepada Menteri untuk menunjang
usaha kegiatan pertambangannya.
Paragraf 4
Tata Cara Penerbitan
IUPK Operasi Produksi Mineral Logam dan Batubara
Pasal 67
(1) IUPK Operasi Produksi diberikan kepada BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta
sebagai peningkatan dari kegiatan eksplorasi.
(2) Pemegang IUPK Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUPK Operasi Produksi
sebagai peningkatan dengan mengajukan permohonan dan memenuhi
persyaratan peningkatan operasi produksi.
(3) IUPK Operasi Produksi diberikan oleh Menteri.
(4) IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi kegiatan
konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan
penjualan.
(5) IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diberikan kepada
BUMN, BUMD, atau badan usaha swasta sebagai peningkatan dari IUPK Eksplorasi
yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63.
(6) WIUPK yang telah mempunyai data lengkap meliputi data eksplorasi, studi
kelayakan dan dokumen lingkungan hidup yang telah disetujui oleh instansi yang
berwenang dapat diberikan IUPK Operasi Produksi kepada BUMN atau BUMD
dengan cara prioritas atau pemenang lelang.
Pasal 68
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUPK Operasi Produksi
diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Pemasangan Tanda Batas
Pasal 69
(1) Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak diperolehnya IUPK Operasi Produksi,
pemegang IUPK Operasi Produksi wajib memberikan tanda batas wilayah dengan
memasang patok pada WIUPK.
462
(2) Pembuatan tanda batas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus selesai
sebelum dimulai kegiatan operasi produksi.
(3) Dalam hal terjadi perubahan batas wilayah pada WIUPK Operasi Produksi, harus
dilakukan perubahan tanda batas wilayah dengan pemasangan patok baru pada
WIUPK.
Pasal 70
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemasangan tanda batas WIUPK
diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kelima
Komoditas Tambang Lain Dalam WIUPK
Pasal 71
(1) Dalam hal pada lokasi WIUPK ditemukan komoditas tambang lainnya yang bukan
asosiasi mineral yang diberikan dalam IUPK, pemegang IUPK Eksplorasi dan
IUPK Operasi Produksi memperoleh keutamaan dalam mengusahakan komoditas
tambang lainnya yang ditemukan.
(2) Dalam mengusahakan komoditas tambang lainnya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus membentuk badan usaha baru.
(3) Apabila pemegang IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi tidak berminat atas
komoditas tambang lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kesempatan
pengusahaannya dapat diberikan kepada pihak lain dan diselenggarakan dengan
cara prioritas atau lelang.
(4) Pihak lain yang mendapatkan IUPK berdasarkan prioritas atau lelang sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) harus berkoordinasi dengan pemegang IUPK Eksplorasi
dan IUPK Operasi Produksi pertama.
Bagian Keenam
Perpanjangan IUPK Operasi Produksi
Pasal 72
(1) Permohonan perpanjangan IUPK Operasi Produksi diajukan kepada Menteri
paling cepat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun dan paling lambat dalam jangka
waktu 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu IUPK.
463
(2) Permohonan perpanjangan IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) paling sedikit harus dilengkapi:
a. peta dan batas koordinat wilayah;
b. bukti pelunasan iuran tetap dan iuran produksi 3 (tiga) tahun terakhir;
c. laporan akhir kegiatan operasi produksi;
d. laporan pelaksanaan pengelolaan lingkungan;
e. rencana kerja dan anggaran biaya; dan
f. neraca sumber daya dan cadangan.
(3) Menteri dapat menolak permohonan perpanjangan IUPK Operasi Produksi apabila
pemegang IUPK Operasi Produksi berdasarkan hasil evaluasi, pemegang IUPK
Operasi Produksi tidak menunjukkan kinerja operasi produksi yang baik.
(4) Penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disampaikan kepada
pemegang IUPK Operasi Produksi paling lambat sebelum berakhirnya IUPK
Operasi Produksi.
(5) Pemegang IUPK Operasi Produksi hanya dapat diberikan perpanjangan sebanyak
2 (dua) kali.
(6) Pemegang IUPK Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan IUPK Operasi
Produksi sebanyak 2 (dua) kali, wajib mengembalikan WIUPK Operasi Produksi
kepada Menteri berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 73
(1) Pemegang IUPK Operasi Produksi yang telah memperoleh perpanjangan IUP
Operasi Produksi sebanyak 2 (dua) kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal
72 ayat (6), dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sebelum jangka waktu masa
berlakunya IUPK berakhir, wajib menyampaikan kepada Menteri mengenai
keberadaan potensi dan cadangan mineral logam atau batubara pada WIUPKnya.
(2) WIUPK yang IUPK-nya akan berakhir sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sepanjang masih berpotensi untuk diusahakan, Menteri dapat menetapkan
kembali WIUPK-nya untuk ditawarkan kembali dengan cara prioritas atau
lelang.
(3) Dalam pelaksanaan lelang WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pemegang
IUPK sebelumnya mendapat hak menyamai.
464
BAB V
PENCIUTAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN
DAN WILAYAH IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
Pasal 74
(1) Pemegang IUP sewaktu-waktu dapat mengajukan permohonan kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya untuk menciutkan
sebagian atau mengembalikan seluruh WIUP.
(2) Pemegang IUPK sewaktu-waktu dapat mengajukan permohonan kepada Menteri
untuk menciutkan sebagian atau mengembalikan seluruh WIUPK.
(3) Pemegang IUP atau IUPK dalam melaksanakan penciutan atau pengembalian
WIUP atau WIUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus
menyerahkan:
a. laporan, data dan informasi penciutan atau pengembalian yang berisikan
semua penemuan teknis dan geologis yang diperoleh pada wilayah yang akan
diciutkan dan alas an penciutan atau pengembalian serta data lapangan
hasil kegiatan;
b. peta wilayah penciutan atau pengembalian beserta koordinatnya;
c. bukti pembayaran kewajiban keuangan;
d. laporan kegiatan sesuai status tahapan terakhir; dan
e. laporan pelaksanaan reklamasi pada wilayah yang diciutkan atau
dilepaskan.
Pasal 75
(1) Pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi mempunyai kewajiban untuk
melepaskan WIUP atau WIUPK dengan ketentuan:
a. untuk IUP mineral logam atau IUPK mineral logam:
1. pada tahun keempat wilayah eksplorasi yang dapat dipertahankan
paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektare; dan
2. pada tahun kedelapan atau pada akhir IUP Eksplorasi atau IUPK
Eksplorasi saat peningkatan menjadi IUP Operasi Produksi atau IUPK
Operasi Produksi wilayah yang dipertahankan paling banyak 25.000
(dua puluh lima ribu) hektare.
b. untuk IUP batubara atau IUPK batubara:
465
1. pada tahun keempat wilayah eksplorasi yang dapat dipertahankan
paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu) hektare; dan
2. pada tahun ketujuh atau pada akhir IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi
saat peningkatan menjadi IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi
Produksi wilayah yang dipertahankan paling banyak 15.000 (lima belas
ribu) hektare.
c. untuk IUP mineral bukan logam:
1. pada tahun kedua wilayah eksplorasi yang dapat dipertahankan paling
banyak 12.500 (dua belas ribu lima ratus) hektare; dan
2. pada tahun ketiga atau pada akhir IUP Eksplorasi saat peningkatan
menjadi IUP Operasi Produksi wilayah yang dipertahankan paling
banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
d. untuk IUP mineral bukan logam jenis tertentu:
1. pada tahun ketiga wilayah eksplorasi yang dapat dipertahankan paling
banyak 12.500 (dua belas ribu lima ratus) hektare; dan
2. pada tahun ketujuh atau pada akhir IUP Eksplorasi saat peningkatan
menjadi IUP Operasi Produksi wilayah yang dipertahankan paling
banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
e. untuk IUP batuan:
1. pada tahun kedua wilayah eksplorasi yang dapat dipertahankan paling
banyak 2.500 (dua ribu lima ratus) hektare; dan
2. pada tahun ketiga atau pada akhir tahap eksplorasi saat peningkatan
menjadi IUP Operasi Produksi wilayah yang dipertahankan paling banyak
1.000 (seribu) hektare.
(2) Apabila luas wilayah maksimum yang dipertahankan sudah dicapai sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi tidak
diwajibkan lagi menciutkan wilayah.
BAB VI
PENGHENTIAN SEMENTARA
KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN
Pasal 76
(1) Kegiatan usaha pertambangan dapat dilakukan penghentian sementara apabila
terjadi:
a. keadaan kahar;
466
b. keadaan yang menghalangi; dan/atau
c. kondisi daya dukung lingkungan.
(2) Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak mengurangi masa berlaku IUP dan IUPK.
(3) Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan
huruf b, penghentian sementara dilakukan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan permohonan dari pemegang
IUP atau IUPK.
(4) Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
penghentian sementara dilakukan oleh:
a. inspektur tambang;
b. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
berdasarkan permohonan dari masyarakat.
Pasal 77
(1) Penghentian sementara karena keadaan kahar sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 76 ayat (1) huruf a harus diajukan oleh pemegang IUP atau IUPK dalam
jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender sejak terjadinya
keadaan kahar kepada Menteri, gubernur, atau bupati/ walikota sesuai dengan
kewenangannya untuk memperoleh persetujuan.
(2) Penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk
jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali.
(3) Penghentian sementara karena keadaan yang menghalangi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf b diberikan 1 (satu) kali dengan jangka
waktu 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali dengan jangka waktu
1 (satu) tahun pada setiap tahapan kegiatan dengan persetujuan Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(4) Apabila jangka waktu penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) telah berakhir, dapat diberikan perpanjangan jangka waktu penghentian
sementara dalam hal terkait perizinan dari instansi lain.
Pasal 78
Permohonan perpanjangan penghentian sementara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 77 ayat (3) diajukan secara tertulis dalam jangka waktu paling lambat
30 (tiga puluh) hari kalender sebelum berakhirnya izin penghentian sementara.
467
Pasal 79
(1) Pemegang IUP dan IUPK yang telah diberikan persetujuan penghentian sementara
dikarenakan keadaan kahar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf
a, tidak mempunyai kewajiban untuk memenuhi kewajiban keuangan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(2) Pemegang IUP dan IUPK yang telah diberikan persetujuan penghentian sementara
dikarenakan keadaan yang menghalangi dan/atau kondisi daya dukung lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf b, dan huruf c wajib:
a. menyampaikan laporan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya;
b. memenuhi kewajiban keuangan; dan
c. tetap melaksanakan pengelolaan lingkungan, keselamatan dan kesehatan
kerja, serta pemantauan lingkungan.
Pasal 80
Persetujuan penghentian sementara berakhir karena:
a. habis masa berlakunya; atau
b. permohonan pencabutan dari pemegang IUP atau IUPK.
Pasal 81
Dalam hal jangka waktu yang ditentukan dalam pemberian persetujuan
penghentian sementara telah habis dan tidak diajukan permohonan perpanjangan
atau permohonan perpanjangan tidak disetujui, penghentian sementara tersebut
berakhir.
Pasal 82
(1) Apabila kurun waktu penghentian sementara belum berakhir dan pemegang
IUP atau IUPK sudah siap untuk melakukan kegiatan operasinya kembali, dapat
mengajukan permohonan pencabutan penghentian sementara kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menyatakan
pengakhiran penghentian sementara.
468
Pasal 83
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penghentian sementara kegiatan
usaha pertambangan diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB VII
PENGUTAMAAN KEPENTINGAN DALAM NEGERI,
PENGENDALIAN PRODUKSI, DAN PENGENDALIAN PENJUALAN
MINERAL DAN BATUBARA
Pasal 84
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi harus mengutamakan
kebutuhan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri.
(2) Menteri menetapkan kebutuhan mineral dan batubara di dalam negeri
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kebutuhan untuk industri
pengolahan dan pemakaian langsung di dalam negeri.
(3) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi dapat melakukan
ekspor mineral atau batubara yang diproduksi setelah terpenuhinya kebutuhan
mineral dan batubara dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengutamaan kebutuhan mineral dan
batubara untuk kepentingan dalam negeri diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 85
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi mineral dan batubara yang mengekspor mineral
dan/atau batubara yang diproduksi wajib berpedoman pada harga patokan.
(2) Harga patokan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh:
a. Menteri untuk mineral logam dan batubara;
b. gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya untuk mineral
bukan logam dan batuan.
(3) Harga patokan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan
mekanisme pasar dan/atau sesuai dengan harga yang berlaku umum di pasar
internasional.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan harga patokan mineral
logam dan batubara diatur dengan Peraturan Menteri.
469
Pasal 86
(1) Pemegang IUP dan IUPK harus mengutamakan penggunaan tenaga kerja
setempat.
(2) Dalam hal pemegang IUP dan IUPK menggunakan tenaga kerja asing, terlebih
dahulu mengajukan permohonan kepada Menteri.
(3) Menteri setelah menerima permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) melakukan evaluasi teknis dan berkoordinasi dengan menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenagakerjaan.
Pasal 87
(1) Pemegang IUP dan IUPK harus mengutamakan barang, peralatan, bahan baku,
dan/atau bahan pendukung dalam negeri serta produk impor yang dijual di
Indonesia dalam kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara dengan
ketentuan:
a. memenuhi standar kualitas dan layanan purna jual;
b. dapat menjamin kontinuitas pasokan dan ketepatan waktu pengiriman.
(2) Rencana pembelian barang modal, peralatan, bahan baku, dan bahan pendukung
lainnya serta produk impor yang dijual di Indonesia sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan barang yang akan di impor sendiri harus disampaikan kepada
Menteri.
(3) Dalam hal pemegang IUP dan IUPK melakukan impor barang, peralatan, bahan
baku dan bahan pendukung wajib memenuhi ketentuan peraturan perundangundangan di bidang perdagangan.
Pasal 88
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengadaan tenaga kerja, tata cara pembelian
barang modal, peralatan, bahan baku dan bahan pendukung lain diatur dengan
Peraturan Menteri.
Pasal 89
(1) Menteri melakukan pengendalian produksi mineral dan batubara yang dilakukan
oleh pemegang IUP Operasi Produksi mineral atau batubara dan IUPK Operasi
Produksi mineral atau batubara.
(2) Pengendalian produksi mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan untuk:
a. memenuhi ketentuan aspek lingkungan;
470
b. melakukan konservasi sumber daya mineral dan batubara;
c. mengendalikan harga mineral dan batubara.
Pasal 90
(1) Menteri melakukan penetapan besaran produksi mineral dan batubara nasional
pada tingkat provinsi.
(2) Menteri dapat melimpahkan kewenangan kepada gubernur untuk menetapkan
besaran produksi mineral dan batubara kepada masing-masing kabupaten/
kota.
Pasal 91
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengendalian produksi mineral dan
batubara diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 92
(1) Menteri melakukan pengendalian penjualan mineral dan batubara yang dilakukan
oleh pemegang IUP Operasi Produksi mineral atau batubara serta IUPK Operasi
Produksi mineral atau batubara.
(2) Pengendalian penjualan mineral atau batubara sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan untuk:
a. memenuhi pasokan kebutuhan mineral dan batubara dalam negeri; dan
b. stabilitas harga mineral dan batubara.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengendalian penjualan mineral dan
batubara diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB VIII
PENINGKATAN NILAI TAMBAH, PENGOLAHAN
DAN PEMURNIAN MINERAL DAN BATUBARA
Bagian Kesatu
Kewajiban Peningkatan Nilai Tambah,
Pengolahan dan Pemurnian
Pasal 93
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi mineral wajib
melakukan pengolahan dan pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah
471
mineral yang diproduksi, baik secara langsung maupun melalui kerja sama
dengan perusahaan, pemegang IUP dan IUPK lainnya.
(2) Perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah mendapatkan IUP Operasi
Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian.
(3) IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan pemurnian sebagaimana
dimaksudkan pada ayat (2) diberikan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 94
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi batubara wajib
melakukan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah batubara yang
diproduksi baik secara langsung maupun melalui kerja sama dengan perusahaan,
pemegang IUP dan IUPK lainnya.
(2) Perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah mendapatkan IUP Operasi
Produksi khusus untuk pengolahan.
(3) IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan batubara sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) diberikan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya.
Bagian Kedua
Peningkatan Nilai Tambah Mineral dan Batubara
Pasal 95
(1) Komoditas tambang yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya terdiri atas
pertambangan:
a. b. c. d. mineral logam;
mineral bukan logam;
batuan; atau
batubara.
(2) Peningkatan nilai tambah mineral logam sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a dilaksanakan melalui kegiatan:
a. pengolahan logam; atau
b. pemurnian logam.
(3) Peningkatan nilai tambah mineral bukan logam sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b dilaksanakan melalui kegiatan pengolahan mineral bukan logam.
472
(4) Peningkatan nilai tambah batuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
dilaksanakan melalui kegiatan pengolahan batuan.
(5) Peningkatan nilai tambah batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
d dilaksanakan melalui kegiatan pengolahan batubara.
Pasal 96
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara peningkatan nilai tambah mineral dan
batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IX
DIVESTASI SAHAM PEMEGANG IZIN USAHA PERTAMBANGAN
DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS
YANG SAHAMNYA DIMILIKI OLEH ASING
Pasal 97
(1) Modal asing pemegang IUP dan IUPK setelah 5 (lima) tahun sejak berproduksi
wajib melakukan divestasi sahamnya, sehingga sahamnya paling sedikit 20%
(dua puluh persen) dimiliki peserta Indonesia.
(2) Divestasi saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara langsung
kepada peserta Indonesia yang terdiri atas Pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota, BUMN, BUMD, atau badan
usaha swasta nasional.
(3) Dalam hal Pemerintah tidak bersedia membeli saham sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), ditawarkan kepada pemerintah daerah provinsi atau pemerintah
daerah kabupaten/kota.
(4) Apabila pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah kabupaten/kota
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak bersedia membeli saham, ditawarkan
kepada BUMN dan BUMD dilaksanakan dengan cara lelang.
(5) Apabila BUMN dan BUMD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak bersedia
membeli saham, ditawarkan kepada badan usaha swasta nasional dilaksanakan
dengan cara lelang.
(6) Penawaran saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka
waktu paling lambat 90 (Sembilan puluh) hari kalender sejak 5 (lima) tahun
dikeluarkannya izin Operasi Produksi tahap penambangan.
473
(7) Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota,
BUMN, dan BUMD harus menyatakan minatnya dalam jangka waktu paling lambat
60 (enam puluh) hari kalender setelah tanggal penawaran.
(8) Dalam hal Pemerintah dan pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah
kabupaten/kota, BUMN, dan BUMD tidak berminat untuk membeli divestasi
saham sebagaimana dimaksud pada ayat (7), saham ditawarkan kepada badan
usaha swasta nasional dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari
kalender.
(9) Badan usaha swasta nasional harus menyatakan minatnya dalam jangka waktu
paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah tanggal penawaran.
(10) Pembayaran dan penyerahan saham yang dibeli oleh peserta Indonesia
dilaksanakan dalam jangka waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari
kalender setelah tanggal pernyataan minat atau penetapan pemenang lelang.
(11) Apabila divestasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak tercapai, penawaran
saham akan dilakukan pada tahun berikutnya berdasarkan mekanisme ketentuan
pada ayat (2) sampai dengan ayat (9).
Pasal 98
Dalam hal terjadi peningkatan jumlah modal perseroan, peserta Indonesia
sahamnya tidak boleh terdilusi menjadi lebih kecil dari 20% (dua puluh persen).
Pasal 99
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara divestasi saham dan mekanisme
penetapan harga saham diatur dengan Peraturan Menteri setelah berkoordinasi
dengan instansi terkait.
BAB X
PENGGUNAAN TANAH UNTUK KEGIATAN
OPERASI PRODUKSI
Pasal 100
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi yang akan melakukan
kegiatan operasi produksi wajib menyelesaikan sebagian atau seluruh hak atas
tanah dalam WIUP atau WIUPK dengan pemegang hak atas tanah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
474
(2) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi wajib memberikan
kompensasi berdasarkan kesepakatan bersama dengan pemegang hak atas
tanah.
BAB XI
TATA CARA PENYAMPAIAN LAPORAN
Pasal 101
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan seluruh data yang diperoleh dari
hasil eksplorasi dan operasi produksi kepada Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pemegang IUP yang diterbitkan oleh bupati/walikota wajib menyampaikan
laporan tertulis secara berkala atas rencana kerja dan anggaran biaya pelaksanaan
kegiatan usaha pertambangan mineral atau batubara kepada bupati/ walikota
dengan tembusan kepada Menteri dan gubernur.
(3) Pemegang IUP yang diterbitkan oleh gubernur wajib menyampaikan laporan
tertulis secara berkala atas rencana kerja dan anggaran biaya pelaksanaan
kegiatan usaha pertambangan mineral atau batubara kepada gubernur dengan
tembusan kepada Menteri.
(4) Pemegang IUP dan IUPK yang diterbitkan oleh Menteri wajib menyampaikan
laporan tertulis secara berkala atas rencana kerja dan anggaran biaya pelaksanaan
kegiatan usaha pertambangan mineral atau batubara kepada Menteri.
Pasal 102
(1) Bupati/walikota harus menyampaikan laporan tertulis mengenai pengelolaan
kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan kewenangannya kepada gubernur
secara berkala setiap 6 (enam) bulan.
(2) Gubernur atau bupati/walikota harus menyampaikan laporan tertulis mengenai
pengelolaan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan kewenangannya
kepada Menteri secara berkala setiap 6 (enam) bulan.
Pasal 103
(1) Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 memuat laporan kemajuan
kerja dalam suatu kurun waktu dan dalam suatu tahapan kegiatan tertentu yang
disampaikan oleh pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi serta pemegang
IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi.
475
(2) Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 disampaikan dalam jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender setelah berakhirnya tiap triwulan
atau tahun takwim kecuali laporan dwi mingguan dan bulanan tahapan kegiatan
operasi produksi.
(3) Rencana kerja dan anggaran biaya tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
101 disampaikan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 45 (empat puluh lima) hari
kalender sebelum berakhirnya tiap tahun takwim.
(4) Laporan dwi mingguan dan bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
disampaikan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) hari kalender
setelah berakhirnya tiap dwi mingguan atau bulan takwim.
Pasal 104
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
memberikan tanggapan terhadap laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
103 ayat (3) dan ayat (4).
(2) Tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditindaklanjuti oleh
pemegang IUP atau IUPK dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari
kalnder sejak diterimanya tanggapan dari Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 105
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaporan diatur dengan Peraturan
Menteri.
BAB XII
PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DI SEKITAR WIUP DAN WIUPK
Pasal 106
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat di sekitar WIUP dan WIUPK.
(2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dikonsultasikan dengan
Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat
setempat.
476
(3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat mengajukan usulan
program kegiatan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat kepada
bupati/walikota setempat untuk diteruskan kepada pemegang IUP atau IUPK.
(4) Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diprioritaskan untuk masyarakat di sekitar WIUP dan WIUPK yang terkena
dampak langsung akibat aktifitas pertambangan.
(5) Prioritas masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan masyarakat
yang berada dekat kegiatan operasional penambangan dengan tidak melihat
batas administrasi wilayah kecamatan/kabupaten.
(6) Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dibiayai dari alokasi biaya program pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat pada anggaran dan biaya pemegang IUP atau IUPK
setiap tahun.
(7) Alokasi biaya program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dikelola oleh pemegang IUP atau IUPK.
Pasal 107
Pemegang IUP dan IUPK setiap tahun wajib menyampaikan rencana dan biaya
pelaksanaan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian
dari rencana kerja dan anggaran biaya tahunan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya untuk mendapat persetujuan.
Pasal 108
Setiap pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi wajib
menyampaikan laporan realisasi program pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 109
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB XIII
SANKSI ADMINISTRATIF
477
Pasal 110
(1) Pemegang IUP atau IUPK yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1), Pasal 69 ayat (1), Pasal 73 ayat
(1), Pasal 79 ayat (2), Pasal 85 ayat (1), Pasal 93 ayat (1), Pasal 94 ayat (1),
Pasal 97 ayat (1), Pasal 100 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 101 ayat (1), ayat (2),
ayat (3), atau ayat (4), Pasal 106 ayat (1), Pasal 107, atau Pasal 108 dikenai
sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
mineral atau batubara; dan/atau
c. pencabutan IUP atau IUPK.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 111
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian sanksi administratif
diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 112
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
1. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang
ditandatangani sebelum diundangkan Peraturan Pemerintah ini dinyatakan
tetap berlaku sampai jangka waktunya berakhir.
2. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara
sebagaimana dimaksud pada angka 1 yang belum memperoleh perpanjangan
pertama dan/atau kedua dapat diperpanjang menjadi IUP perpanjangan tanpa
melalui lelang dan kegiatan usahanya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
Peraturan Pemerintah ini kecuali mengenai penerimaan negara yang lebih
menguntungkan.
3. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara
sebagaimana dimaksud pada angka 1 yang telah melakukan tahap kegiatan
478
operasi produksi wajib melaksanakan pengutamaan kepentingan dalam negeri
sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
4. Kuasa pertambangan, surat izin pertambangan daerah, dan surat izin
pertambangan rakyat, yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan sebelum ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini tetap
diberlakukan sampai jangka waktu berakhir serta wajib:
a. disesuaikan menjadi IUP atau IPR sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah
ini dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya Peraturan
Pemerintah ini dan khusus BUMN dan BUMD, untuk IUP Operasi Produksi
merupakan IUP Operasi Produksi pertama;
b. menyampaikan rencana kegiatan pada seluruh wilayah kuasa pertambangan
sampai dengan jangka waktu berakhirnya kuasa pertambangan kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
c. melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri dalam jangka waktu
paling lambat 5 (lima) tahun sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
5. Permohonan Kuasa Pertambangan yang telah diterima Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sebelum terbitnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara dan telah mendapatkan Pencadangan
Wilayah dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dapat diproses perizinannya dalam bentuk IUP tanpa melalui
lelang paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Peraturan Pemerintah
ini.
6. Kuasa pertambangan, kontrak karya, dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara yang memiliki unit pengolahan tetap dapat menerima
komoditas tambang dari Kuasa pertambangan, kontrak karya dan perjanjian
karya pengusahaan pertambangan batubara, pemegang IUP, dan IPR.
7. Pemegang kuasa pertambangan yang memiliki lebih dari 1 (satu) kuasa
pertambangan dan/atau lebih dari 1 (satu) komoditas tambang sebelum
diberlakukannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tetap berlaku sampai
jangka waktu berakhir dan dapat diperpanjang menjadi IUP sesuai dengan
ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
8. Pemegang kuasa pertambangan, kontrak karya, dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara pada tahap operasi produksi yang
memiliki perjanjian jangka panjang untuk ekspor yang masih berlaku dapat
menambah jumlah produksinya guna memenuhi ketentuan pasokan dalam negeri
479
setelah mendapat persetujuan Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya sepanjang memenuhi ketentuan aspek lingkungan dan
konservasi sumber daya batubara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 113
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, semua peraturan perundangundangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor
32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1969 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2916)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 75 Tahun 2001 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 141,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4154) dinyatakan masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum dikeluarkan peraturan pelaksana
yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 114
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 60, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 2916) sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan
Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 141,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4154);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan
Galian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 47, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3174);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986 tentang Penyerahan Sebagian
Urusan Pemerintahan Di Bidang Pertambangan Kepada Pemerintah Daerah
480
Tingkat I (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 53, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3340), dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.
Pasal 115
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 29
Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri
ttd,
Setio Sapto Nugroho
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2010
TENTANG
PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA
I. UMUM
Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
menegaskan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Mengingat mineral dan batubara sebagai kekayaan alam yang terkandung di dalam
bumi merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan, pengelolaannya perlu
dilakukan seoptimal mungkin, efisien, transparan, berkelanjutan, dan berwawasan
lingkungan, serta berkeadilan agar memperoleh manfaat sebesar-besar kemakmuran
rakyat secara berkelanjutan.
Sejalan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, perlu melakukan penataan kembali pengaturan
yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara, yang
meliputi:
1. Pengusahaan pertambangan diberikan dalam bentuk Izin Usaha Pertambangan,
Izin Usaha Pertambangan Khusus, dan Izin Pertambangan Rakyat.
2.
Pengutamaan pemasokan kebutuhan mineral dan batubara untuk kepentingan
dalam negeri guna menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan
baku dan/atau sebagai sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri.
3. Pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha pertambangan secara berdaya
guna, berhasil guna, dan berdaya saing.
481
482
4. Peningkatan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta
menciptakan lapangan kerja untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.
5. Penerbitan perizinan yang transparan dalam kegiatan usaha pertambangan
mineral sehingga iklim usaha diharapkan dapat lebih sehat dan kompetitif.
6. Peningkatan nilai tambah dengan melakukan pengolahan dan pemurnian mineral
dan batubara di dalam negeri. Pengaturan-pengaturan tersebut di atas perlu
dituangkan dalam Peraturan Pemerintah ini.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan mineral radioaktif dalam ketentuan ini termasuk
bahan galian nuklir.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
483
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Perseorangan dalam ketentuan ini adalah Warga Negara Indonesia.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Ayat (1)
484
Mengumumkan WIUP secara terbuka dalam ketentuan ini dilakukan:
a. paling sedikit di 1 (satu) media cetak lokal dan/atau 1 (satu) media cetak
nasional;
b. di kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang mineral dan batubara;
c. di kantor pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/ kota.
Ayat (2)
Rekomendasi dalam ketentuan ini adalah rekomendasi dalam bentuk pemberian
pertimbangan yang berisi informasi mengenai pemanfaatan lahan di WIUP dan
karakteristik budaya masyarakat berdasarkan kearifan lokal dalam rangka
pelelangan WIUP.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan unsur dari Pemerintah dalam ketentuan ini merupakan
wakil dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
mineral dan batubara.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Huruf a
Pengumuman prakualifikasi dilakukan:
485
1. paling sedikit dimuat di 1 (satu) media cetak local dan/atau 1 (satu)
media cetak nasional;
2. di kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang mineral dan batubara; dan
3. di kantor pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf o
486
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Status lahan misalnya berada pada kawasan hutan dan kawasan
perkebunan.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Peraturan Menteri paling sedikit memuat mengenai tata cara penetapan dan
pengumuman pemenang lelang.
Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.
487
Ayat (2)
Rekomendasi dalam ketentuan ini adalah rekomendasi dalam bentuk pemberian
pertimbangan yang berisi informasi mengenai pemanfaatan lahan di WIUP dan
karakteristik budaya masyarakat berdasarkan kearifan lokal dalam rangka
pelelangan WIUP.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
488
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Yang dimaksud dengan wilayah di luar WIUP dalam ketentuan ini adalah project
area yang dilarang untuk melakukan kegiatan tahap penambangan.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Ayat (1)
Huruf a
Pelabuhan dalam ketentuan ini adalah pelabuhan khusus atau terminal
khusus yang dibangun oleh pemegang IUP Operasi Produksi.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
489
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Yang dimaksud dengan wilayah di luar WIUP dalam ketentuan ini adalah project
area yang dilarang untuk melakukan kegiatan penambangan.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “komoditas tambang lainnya” dalam ketentuan ini adalah
antara lain apabila dalam WIUP komoditas tertentu terdapat mineral lain atau
batubara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pihak lain dalam ketentuan ini adalah badan usaha, koperasi, atau perseorangan
selain pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi yang tidak berminat
atas komoditas tambang tersebut.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 45
Cukup jelas.
490
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Cukup jelas.
Pasal 48
Cukup jelas.
Pasal 49
Cukup jelas.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Cukup jelas.
Pasal 52
Cukup jelas.
Pasal 53
Cukup jelas.
Pasal 54
Ayat (1)
Mengumumkan secara terbuka dalam ketentuan ini yaitu dilakukan:
a. paling sedikit dimuat di 1 (satu) media cetak lokal dan/atau 1 (satu) media
cetak nasional; dan
b. di kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang mineral dan batubara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
491
Pasal 55
Cukup jelas.
Pasal 56
Cukup jelas.
Pasal 57
Cukup jelas.
Pasal 58
Cukup jelas.
Pasal 59
Cukup jelas.
Pasal 60
Cukup jelas.
Pasal 61
Cukup jelas.
Pasal 62
Cukup jelas.
Pasal 63
Cukup jelas.
Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Cukup jelas.
Pasal 66
Yang dimaksud dengan wilayah di luar WIUPK dalam ketentuan ini adalah project
area yang dilarang untuk melakukan kegiatan penambangan.
492
Pasal 67
Cukup jelas.
Pasal 68
Cukup jelas.
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Cukup jelas.
Pasal 71
Cukup jelas.
Pasal 72
Cukup jelas.
Pasal 73
Cukup jelas.
Pasal 74
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan bukti pembayaran kewajiban keuangan dalam
ketentuan ini adalah iuran tetap, iuran produksi, dan pajak.
493
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Pasal 75
Cukup jelas.
Pasal 76
Ayat (1)
Huruf a
Huruf b
Keadaan kahar dalam ketentuan ini antara lain meliputi perang, kerusuhan
sipil, pemberontakan, epidemi, gempa bumi, banjir, kebakaran dan lainlain bencana alam di luar kemampuan manusia.
Keadaan yang menghalangi dalam ketentuan ini antara lain meliputi blokade,
pemogokan, perselisihan perburuhan di luar kesalahan pemegang IUP atau
IUPK dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang diterbitkan oleh
menteri yang menghambat kegiatan usaha pertambangan mineral atau
batubara yang sedang berjalan.
Huruf c
Kondisi daya dukung lingkungan dalam ketentuan ini adalah apabila kondisi
daya dukung lingkungan wilayah tersebut tidak dapat menanggung beban
kegiatan operasi produksi mineral dan/atau batubara yang dilakukan
diwilayahnya.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 77
Cukup jelas.
494
Pasal 78
Cukup jelas.
Pasal 79
Cukup jelas.
Pasal 80
Cukup jelas.
Pasal 81
Cukup jelas.
Pasal 82
Cukup jelas.
Pasal 83
Cukup jelas.
Pasal 84
Cukup jelas.
Pasal 85
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Peraturan Menteri paling sedikit memuat biaya penyesuaian yang dibebankan
sebagai biaya penjualan.
Pasal 86
Cukup jelas.
495
Pasal 87
Cukup jelas.
Pasal 88
Cukup jelas.
Pasal 89
Cukup jelas.
Pasal 90
Cukup jelas.
Pasal 91
Cukup jelas.
Pasal 92
Cukup jelas.
Pasal 93
Cukup jelas.
Pasal 94
Ayat (1)
Yang dimaksud pengolahan dalam ketentuan ini antara lain meliputi:
a. penggerusan batubara (coal crushing);
b. pencucian batubara (coal washing);
c. pencampuran batubara (coal blending);
d. peningkatan mutu batubara (coal upgrading);
e. pembuatan briket batubara (coal briquetting);
f. pencairan batubara (coal liquefaction); dan
g. gasifikasi batubara (coal gasification).
h. coal water mixer.
Ayat (2)
Cukup jelas.
496
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 95
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Peningkatan nilai tambah dalam ketentuan ini dilakukan dalam rangka
meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang, tersedianya bahan baku
industri, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan penerimaan negara.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 96
Cukup jelas.
Pasal 97
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “modal asing” adalah modal yang dimiliki oleh negara
asing, perseorangan warga negara asing, badan usaha asing, badan hukum asing,
dan/atau badan hukum Indonesia yang seluruh modalnya dimiliki oleh pihak
asing.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
497
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Ayat (11)
Cukup jelas.
Pasal 98
Cukup jelas.
Pasal 99
Cukup jelas.
Pasal 100
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan kompensasi dalam ketentuan ini dapat berupa sewa
menyewa, jual beli, atau pinjam pakai.
Pasal 101
Cukup jelas.
Pasal 102
Cukup jelas.
Pasal 103
Cukup jelas.
498
Pasal 104
Cukup jelas.
Pasal 105
Cukup jelas.
Pasal 106
Cukup jelas.
Pasal 107
Cukup jelas.
Pasal 108
Cukup jelas.
Pasal 109
Cukup jelas.
Pasal 110
Cukup jelas.
Pasal 111
Cukup jelas.
Pasal 112
Cukup jelas.
Pasal 113
Cukup jelas.
Pasal 114
Cukup jelas.
Pasal 115
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 22 TAHUN 2010
TENTANG
WILAYAH PERTAMBANGAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12, Pasal 19, Pasal 25,
Pasal 33, dan Pasal 89 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, perlu menetapkan Peraturan
Pemerintah tentang Wilayah Pertambangan;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4959);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka
499
500
penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan
pascatambang.
2.
Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam yang memiliki sifat
fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang
membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu.
3.
Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara
alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan.
4.
Pertambangan mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa
bijih atau batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah.
5.
Pertambangan batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di
dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.
6.
Usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau
batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan
dan penjualan, serta pascatambang.
7.
Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh
informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran,
kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai
lingkungan sosial dan lingkungan hidup.
8.
Wilayah Pertambangan yang selanjutnya disebut WP, adalah wilayah yang
memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan
administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari rencana tata ruang
nasional.
9.
Wilayah Usaha Pertambangan yang selanjutnya disebut WUP, adalah bagian
dari WP yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi
geologi.
10. Wilayah Izin Usaha Pertambangan yang selanjutnya disebut WIUP, adalah wilayah
yang diberikan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan.
11. Wilayah Pertambangan Rakyat yang selanjutnya disebut WPR, adalah bagian
dari WP tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
12. Wilayah Pencadangan Negara yang selanjutnya disebut WPN, adalah bagian dari
WP yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional.
13. Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut WUPK, adalah
bagian dari WPN yang dapat diusahakan.
501
14. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus dalam WUPK yang selanjutnya
disebut WIUPK, adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang Izin Usaha
Pertambangan Khusus.
15. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
16. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertambangan mineral dan batubara.
Pasal 2
(1) WP merupakan kawasan yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara,
baik di permukaan tanah maupun di bawah tanah, yang berada dalam wilayah
daratan atau wilayah laut untuk kegiatan pertambangan.
(2) Wilayah yang dapat ditetapkan sebagai WP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) memiliki kriteria adanya:
a. indikasi formasi batuan pembawa mineral dan/atau pembawa batubara;
dan/atau
b. potensi sumber daya bahan tambang yang berwujud padat dan/atau cair.
(3) Penyiapan wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui
kegiatan:
a. perencanaan WP; dan
b. penetapan WP.
BAB II
PERENCANAAN WILAYAH PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 3
Perencanaan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a disusun
melalui tahapan:
a. inventarisasi potensi pertambangan; dan
b. penyusunan rencana WP.
502
Bagian Kedua
Inventarisasi Potensi Pertambangan
Pasal 4
(1) Inventarisasi potensi pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf
a ditujukan untuk mengumpulkan data dan informasi potensi pertambangan
yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan rencana penetapan WP.
(2) Potensi pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan
atas:
a. pertambangan mineral; dan
b. pertambangan batubara.
(3) Pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dikelompokkan ke dalam 5 (lima) golongan komoditas tambang:
a. mineral radioaktif;
b. mineral logam;
c. mineral bukan logam;
d. batuan; dan
e. batubara.
(4) Pengaturan mengenai komoditas tambang sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diatur dalam Peraturan Pemerintah tersendiri.
Pasal 5
(1) Inventarisasi potensi pertambangan dilakukan melalui kegiatan penyelidikan
dan penelitian pertambangan.
(2) Penyelidikan dan penelitian pertambangan dilakukan untuk memperoleh data
dan informasi.
(3) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat:
a. formasi batuan pembawa mineral logam dan/atau batubara;
b. data geologi hasil evaluasi dari kegiatan pertambangan yang sedang
berlangsung, telah berakhir, dan/atau telah dikembalikan kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
c. data perizinan hasil inventarisasi terhadap perizinan yang masih berlaku,
yang sudah berakhir, dan/atau yang sudah dikembalikan kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya; dan/atau
503
d. interpretasi penginderaan jauh baik berupa pola struktur maupun sebaran
litologi.
Pasal 6
(1) Penyelidikan dan penelitian pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 dilakukan oleh:
a. Menteri, untuk penyelidikan dan penelitian pada wilayah:
1. lintas wilayah provinsi;
2. laut dengan jarak lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai; dan/
atau
3. berbatasan langsung dengan negara lain;
b. gubernur, untuk penyelidikan dan penelitian pada wilayah:
1. lintas wilayah kabupaten/kota; dan/atau
2. laut dengan jarak 4 (empat) sampai dengan 12 (dua belas) mil dari garis
pantai;
c. bupati/walikota, untuk penyelidikan dan penelitian pada wilayah:
1. kabupaten/kota; dan/atau
2. laut sampai dengan 4 (empat) mil dari garis pantai.
(2) Dalam hal wilayah laut berada di antara 2 (dua) provinsi yang berbatasan dengan
jarak kurang dari 24 (dua puluh empat) mil, wilayah penyelidikan dan penelitian
masing-masing provinsi dibagi sama jaraknya sesuai prinsip garis tengah.
(3) Kewenangan bupati/walikota pada wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) sejauh 1/3 (sepertiga) dari garis pantai masing-masing wilayah kewenangan
gubernur.
Pasal 7
Penyelidikan dan penelitian pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 dilaksanakan secara terkoordinasi oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 8
(1) Dalam melakukan kegiatan penyelidikan dan penelitian pertambangan, Menteri
atau gubernur dapat memberikan penugasan kepada lembaga riset negara dan/
atau lembaga riset daerah.
504
(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menunjang
penyiapan WP dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
pertambangan.
(3) Dalam hal tertentu, lembaga riset negara dapat melakukan kerja sama dengan
lembaga riset asing setelah mendapat persetujuan dari Menteri sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 9
(1) Lembaga riset negara dan/atau lembaga riset daerah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (1) wajib:
a. menyimpan, mengamankan, dan merahasiakan data dan informasi potensi
pertambangan hasil penyelidikan dan penelitian sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan-undangan; dan
b. menyerahkan seluruh data dan informasi potensi pertambangan yang
diperolehnya kepada Menteri atau gubernur yang memberi penugasan.
(2) Lembaga riset asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) wajib:
a. menyimpan, mengamankan, dan merahasiakan data dan informasi potensi
pertambangan hasil penyelidikan dan penelitian sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan-undangan; dan
b. menyerahkan seluruh data dan informasi potensi pertambangan yang
diperolehnya kepada lembaga riset negara yang bekerja sama dengannya
paling lambat pada tanggal berakhirnya kerja sama.
Pasal 10
(1) Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya menetapkan wilayah
penugasan penyelidikan dan penelitian pertambangan yang akan dilaksanakan
oleh lembaga riset negara dan/atau lembaga riset daerah dan dituangkan dalam
peta.
(2) Menteri dalam menetapkan wilayah penugasan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berkoordinasi dengan gubernur dan bupati/walikota setempat.
(3) Gubernur dalam menetapkan wilayah penugasan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berkoordinasi dengan Menteri dan bupati/walikota setempat.
(4) Bupati/walikota dapat mengusulkan suatu wilayah penugasan untuk dilakukan
penyelidikan dan penelitian pertambangan kepada Menteri atau gubernur.
505
Pasal 11
Peta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) sebagai dasar dalam
memberikan penugasan penyelidikan dan penelitian pertambangan kepada lembaga
riset negara dan/atau lembaga riset daerah.
Pasal 12
(1) Data dan informasi hasil penyelidikan dan penelitian pertambangan yang
dilakukan oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota wajib diolah menjadi
peta potensi mineral dan/atau batubara.
(2) Data dan informasi hasil penyelidikan dan penelitian pertambangan yang
dilakukan oleh lembaga riset berdasarkan penugasan dari Menteri atau gubernur
wajib diolah menjadi peta potensi mineral dan/atau batubara.
(3) Peta potensi mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) paling sedikit memuat informasi mengenai formasi batuan pembawa
mineral dan/atau pembawa batubara.
(4) Gubernur dan bupati/walikota wajib menyampaikan peta potensi mineral
dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) kepada
Menteri.
(5) Berdasarkan peta potensi mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud
pada ayat (4), Menteri melakukan evaluasi.
(6) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) digunakan oleh Menteri
sebagai bahan penyusunan rencana WP.
Pasal 13
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penugasan penyelidikan dan
penelitian pertambangan diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Penyusunan Rencana Wilayah Pertambangan
Pasal 14
(1) Rencana WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (6) dituangkan dalam
lembar peta dan dalam bentuk digital.
(2) Peta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menggambarkan WP dalam
bentuk zona yang di-delineasi dalam garis putus-putus.
506
(3) Rencana WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai dasar
penetapan WP.
BAB III
PENETAPAN WILAYAH PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 15
(1) Rencana WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3) ditetapkan oleh
Menteri menjadi WP setelah berkoordinasi dengan gubernur, bupati/walikota
dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(2) WP dapat ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(3) Gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat mengusulkan
perubahan WP kepada Menteri berdasarkan hasil penyelidikan dan penelitian.
Pasal 16
(1) WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dapat terdiri atas:
a. WUP;
b. WPR; dan/atau
c. WPN.
(2) WUP dan WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf c ditetapkan
oleh Menteri.
(3) WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ditetapkan oleh bupati/
walikota.
(4) Menteri dapat melimpahkan kewenangan penetapan WUP untuk pertambangan
mineral bukan logam dan WUP untuk pertambangan batuan yang berada pada
lintas kabupaten/kota dan dalam 1 (satu) kabupaten/kota dalam 1 (satu)
provinsi kepada gubernur.
(5) Untuk menetapkan WUP, WPR, dan WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan
ayat (3), Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
dapat melakukan eksplorasi.
(6) Eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan untuk memperoleh
data dan informasi berupa:
507
a. peta, yang terdiri atas:
1. peta geologi dan peta formasi batuan pembawa; dan/atau
2. peta geokimia dan peta geofisika;
b. perkiraan sumber daya dan cadangan.
(7) Menteri dalam melakukan eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib
berkoordinasi dengan gubernur dan bupati/walikota setempat.
(8) Gubernur dalam melakukan eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
wajib berkoordinasi dengan Menteri dan bupati/ walikota setempat.
(9) Bupati/walikota dalam melakukan eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) wajib berkoordinasi dengan Menteri dan gubernur.
Pasal 17
(1) Data dan informasi hasil eksplorasi yang dilakukan oleh gubernur dan bupati/
walikota wajib diolah menjadi peta potensi/cadangan mineral dan/atau
batubara.
(2) Peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) paling sedikit memuat sebaran potensi/cadangan mineral dan/atau
batubara.
(3) Gubernur dan bupati/walikota wajib menyampaikan potensi/cadangan mineral
dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta laporan hasil
eksplorasi kepada Menteri.
(4) Peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dibuat dalam bentuk lembar peta dan digital.
Bagian Kedua
Wilayah Usaha Pertambangan
Paragraf 1
Umum
Pasal 18
a. b. c. WUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a terdiri atas:
WUP mineral radioaktif;
WUP mineral logam;
WUP batubara;
508
d. WUP mineral bukan logam; dan/atau
e. WUP batuan.
Pasal 19
(1) WUP ditetapkan oleh Menteri.
(2) Untuk WUP mineral radioaktif, penetapannya dilakukan oleh Menteri berdasarkan
usulan dari instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
ketenaganukliran.
Paragraf 2
Penyusunan Rencana Penetapan
Wilayah Usaha Pertambangan
Pasal 20
(1) Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya menyusun rencana
penetapan suatu wilayah di dalam WP menjadi WUP berdasarkan peta potensi
mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) serta
peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17 ayat (1).
(2) WUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria:
a. memiliki formasi batuan pembawa batubara, formasi batuan pembawa
mineral logam, dan/atau formasi batuan pembawa mineral radioaktif,
termasuk wilayah lepas pantai berdasarkan peta geologi;
b. memiliki singkapan geologi untuk mineral radioaktif, mineral logam,
batubara, mineral bukan logam, dan/atau batuan;
c. memiliki potensi sumber daya mineral atau batubara;
d. memiliki 1 (satu) atau lebih jenis mineral termasuk mineral ikutannya dan/
atau batubara;
e. tidak tumpang tindih dengan WPR dan/atau WPN;
f. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertambangan
secara bekelanjutan; dan
g. merupakan kawasan peruntukan pertambangan sesuai dengan rencana tata
ruang.
509
Paragraf 3
Penetapan Wilayah Usaha Pertambangan
Pasal 21
(1) Wilayah di dalam WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) yang
memenuhi kriteria ditetapkan menjadi WUP oleh Menteri setelah berkoordinasi
dengan gubernur dan bupati/walikota setempat.
(2) WUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas:
a. WIUP radioaktif;
b. WIUP mineral logam;
c. WIUP batubara;
d. WIUP mineral bukan logam; dan/atau
e. WIUP batuan.
(3) Penetapan WUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis
oleh Menteri kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan WUP diatur dengan
Peraturan Menteri.
Paragraf 4
Penetapan Wilayah Izin Usaha Pertambangan
Pasal 22
(1) Untuk menetapkan WIUP dalam suatu WUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal
21 ayat (2) harus memenuhi kriteria:
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk.
(2) Dalam hal WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan berada pada:
a. lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil
dari garis pantai, ditetapkan oleh Menteri pada WUP;
b. lintas kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil dari garis pantai
sampai dengan 12 (dua belas) mil ditetapkan oleh gubernur pada WUP;
dan/atau
510
c. kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil dari
garis pantai ditetapkan oleh bupati/walikota pada WUP.
(3) Pada wilayah laut yang berada di antara 2 (dua) provinsi yang berbatasan dengan
jarak kurang dari 24 (dua puluh empat) mil, wilayah kewenangan masing-masing
provinsi dibagi sama jaraknya sesuai prinsip garis tengah.
(4) Kewenangan bupati/walikota pada wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) sejauh 1/3 (sepertiga) dari garis pantai masing-masing wilayah kewenangan
gubernur.
(5) Penetapan WUP mineral bukan logam dan/atau batuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b dan huruf c dapat dilimpahkan oleh Menteri kepada
gubernur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
menetapkan luas dan batas WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan dalam
suatu WUP berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(7) Menteri dalam menetapkan luas dan batas WIUP mineral logam dan/atau
batubara dalam suatu WUP berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
Pasal 23
(1) WIUP mineral logam dan/atau batubara ditetapkan oleh Menteri setelah
berkoordinasi dengan gubernur dan bupati/walikota setempat.
(2) WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan ditetapkan oleh Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan permohonan
dari badan usaha, koperasi, atau perseorangan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 24
Dalam hal di WIUP mineral logam dan/atau batubara terdapat komoditas
tambang lainnya yang berbeda, untuk mengusahakan komoditas tambang lainnya
wajib ditetapkan WIUP terlebih dahulu.
Pasal 25
Ketentuan mengenai pemberian WIUP diatur dalam Peraturan Pemerintah
tersendiri.
511
Bagian Ketiga
Wilayah Pertambangan Rakyat
Pasal 26
(1) Bupati/walikota menyusun rencana penetapan suatu wilayah di dalam WP
menjadi WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b berdasarkan
peta potensi mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
ayat (1) serta peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1).
(2) WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria:
a. mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau
diantara tepi dan tepi sungai;
b. mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman
maksimal 25 (dua puluh lima) meter;
c. merupakan endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;
d. luas maksimal WPR sebesar 25 (dua puluh lima) hektare;
e. menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau
f. merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah
dikerjakan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun;
g. tidak tumpang tindih dengan WUP dan WPN; dan
h. merupakan kawasan peruntukan pertambangan sesuai dengan rencana tata
ruang.
Pasal 27
(1) Wilayah di dalam WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 yang memenuhi
kriteria ditetapkan menjadi WPR oleh bupati/walikota setempat setelah
berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan berkonsultasi dengan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota.
(2) Penetapan WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis
oleh bupati/walikota kepada Menteri dan gubernur.
(3) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk mendapatkan
pertimbangan berkaitan dengan data dan informasi yang dimiliki pemerintah
provinsi yang bersangkutan.
(4) Konsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) untuk memperoleh pertimbangan.
512
Bagian Keempat
Wilayah Pencadangan Negara
Paragraf 1
Umum
Pasal 28
Untuk kepentingan strategis nasional, Menteri menetapkan WPN sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf c setelah mendapatkan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Paragraf 2
Penyusunan Rencana Penetapan
Wilayah Pencadangan Negara
Pasal 29
(1) Menteri menyusun rencana penetapan suatu wilayah di dalam WP menjadi WPN
berdasarkan peta potensi mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (1) serta peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1).
(2) WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria:
a. memiliki formasi batuan pembawa mineral radioaktif, mineral logam, dan/
atau batubara berdasarkan peta/data geologi;
b. memiliki singkapan geologi untuk mineral radioaktif, logam, dan/atau
batubara berdasarkan peta/data geologi;
c. memiliki potensi/cadangan mineral dan/atau batubara; dan
d. untuk keperluan konservasi komoditas tambang;
e. berada pada wilayah dan/atau pulau yang berbatasan dengan negara lain;
f. merupakan wilayah yang dilindungi; dan/atau
g. berada pada pulau kecil dengan luas maksimal 2.000 (dua ribu) kilometer
persegi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Paragraf 3
Penetapan Wilayah Pencadangan Negara dan
Wilayah Usaha Pertambangan Khusus
513
Pasal 30
(1) Wilayah di dalam WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) yang
memenuhi kriteria ditetapkan menjadi WPN oleh Menteri setelah memperhatikan
aspirasi daerah dan mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia.
(2) WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau
beberapa WUPK.
Pasal 31
(1) WPN yang ditetapkan untuk komoditas tertentu dapat diusahakan sebagian luas
wilayahnya setelah berubah statusnya menjadi WUPK dengan persetujuan dari
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(2) Perubahan status sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh Menteri
dengan mempertimbangkan:
a. pemenuhan bahan baku industri dan energi dalam negeri;
b. sumber devisa negara;
c. kondisi wilayah didasarkan pada keterbatasan sarana dan prasarana;
d. berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi;
e. daya dukung lingkungan; dan/atau
f. penggunaan teknologi tinggi dan modal inventasi yang besar.
Paragraf 4
Penetapan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus
Pasal 32
(1) Untuk menetapkan WIUPK dalam suatu WUPK sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 30 ayat (2) harus memenuhi kriteria:
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk;
(2) WUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. WIUPK mineral logam; dan/atau
514
b. WIUPK batubara.
(3) Menteri dalam menetapkan luas dan batas WIUPK mineral logam dan/atau
batubara dalam suatu WUPK berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada
ayat (1).
Pasal 33
Dalam hal di WIUPK mineral logam dan/atau batubara terdapat komoditas
tambang lainnya yang berbeda, untuk mengusahakan komoditas tambang lainnya
wajib ditetapkan WIUPK terlebih dahulu.
Pasal 34
Ketentuan mengenai pemberian WIUPK diatur dalam Peraturan Pemerintah
tersendiri.
Bagian Kelima
Delineasi Zonasi Untuk WIUP atau WIUPK Operasi
Produksi Dalam Kawasan Lindung
Pasal 35
(1) Peta zonasi untuk WIUP Eksplorasi dan WIUPK Eksplorasi pada kawasan lindung
dapat di-delineasi menjadi peta zonasi WIUP Operasi Produksi atau WIUPK
Operasi Produksi.
(2) Delineasi zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan
hasil kajian kelayakan dan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan
manfaat serta antara resiko dan manfaat dalam konversi kawasan lindung.
(3) Keseimbangan antara biaya dan manfaat dan antara resiko dan manfaat
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan memperhitungkan paling
sedikit mengenai reklamasi, pascatambang, teknologi, program pengembangan
masyarakat yang berkelanjutan, dan pengelolaan lingkungan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara melakukan delineasi diatur dengan
Peraturan Menteri.
BAB IV
DATA DAN INFORMASI
515
Bagian Kesatu
Pengelolaan Data dan Informasi
Pasal 36
(1) Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota wajib
mengelola data dan/atau informasi kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Pengelolaan data dan/atau informasi meliputi kegiatan perolehan,
pengadministrasian, pengolahan, penataan, penyimpanan, pemeliharaan, dan
pemusnahan data dan/atau informasi.
(3) Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota wajib menyampaikan
data dan/atau informasi usaha pertambangan kepada Pemerintah.
(4) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan
milik negara dan dikelola oleh Menteri.
(5) Hasil pengelolaan data dan/atau informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
digunakan untuk:
a. penetapan klasifikasi potensi dan WP;
b. penentuan neraca sumber daya dan cadangan mineral dan batubara nasional;
atau
c. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mineral dan batubara.
Pasal 37
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengelolaan data dan/atau informasi
diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua
Sistem Informasi Geografis
Pasal 38
(1) WP dikelola oleh Menteri dalam suatu sistem informasi WP yang terintegrasi
secara nasional untuk melakukan penyeragaman mengenai sistem koordinat
dan peta dasar dalam penerbitan WUP, WIUP, WPR, WPN, WUPK, dan WIUPK.
(2) Sistem koordinat pemetaan WUP, WIUP, WPR, WPN, WUPK, dan WIUPK
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan Datum Geodesi Nasional
yang ditetapkan oleh instansi Pemerintah yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang survei dan pemetaan nasional.
516
(3) Sistem informasi WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat diakses
oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi WP diatur dengan Peraturan
Menteri.
BAB V
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 39
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
1.
Instansi Pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota
yang belum menggunakan sistem koordinat peta berdasarkan Datum Geodesi
Nasional yang ditetapkan oleh instansi Pemerintah yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang survei dan pemetaan nasional wajib menyesuaikan
dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan.
2.
Wilayah surat izin pertambangan daerah dan wilayah kuasa pertambangan yang
telah diberikan kepada pemegang Surat Izin Pertambangan Daerah atau Kuasa
Pertambangan yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan sebelum diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini, dalam jangka
waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini,
harus ditetapkan menjadi WIUP dalam WUP sesuai dengan ketentuan dalam
Peraturan Pemerintah ini.
3.
Wilayah kontrak karya dan wilayah perjanjian karya pengusahaan pertambangan
batubara yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya dan pemegang
perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang diberikan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum diterbitkannya
Peraturan Pemerintah ini, dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan
sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini, harus ditetapkan dalam WUP sesuai
dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 40
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku semua peraturan pelaksanaan
yang mengatur mengenai wilayah pertambangan dinyatakan masih tetap berlaku
sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini.
517
Pasal 41
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR.H.SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 28
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 22 TAHUN 2010
TENTANG
WILAYAH PERTAMBANGAN
I. UMUM
Kegiatan pertambangan di Indonesia secara nyata telah membuka dan
mengembangkan wilayah terpencil. Dengan berkembangnya pusat pertumbuhan baru
di beberapa wilayah, telah memberikan manfaat dalam pembangunan infrastruktur
dasar, peningkatan penerimaan negara, dan penyediaan lapangan kerja.
Kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara diharapkan menjadi
penggerak pembangunan, terutama di kawasan Timur Indonesia. Pengembangan
sektor pertambangan mineral dan batubara harus berdasarkan praktek pertambangan
yang baik dan benar dengan memperhatikan elemen dasar praktek pembangunan
berkelanjutan, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan hidup.
Kegiatan pertambangan mineral dan batubara memiliki potensi strategis untuk
pemenuhan kebutuhan umat manusia, baik langsung maupun tidak langsung.
Mineral dan batubara yang terkandung dalam Wilayah Pertambangan Mineral dan
Batubara Indonesia, keterdapatannya memiliki sifat yang tidak terbarukan, tersebar
tidak merata, terbentuk jutaan tahun yang lalu, keberadaannya tidak kasat mata,
keterdapatannya alamiah dan tidak bias dipindahkan. Selain mempunyai peranan
penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, pertambangan mineral dan
batubara juga dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan, memiliki resiko dan
biaya tinggi dalam eksplorasi dan operasi produksinya, nilai keekonomiannya dapat
berubah dengan berubahnya waktu dan teknologi, karena itu dalam menetapkan
Wilayah Pertambangan harus mempertimbangkan keterpaduan, pemanfaatan ruang
519
520
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berkesinambungan
berdasarkan daya dukung lingkungan.
Pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara memiliki kedudukan yang
sama dengan pemanfaatan sumber daya alam lainnya secara berkelanjutan dalam
tata ruang, sehingga harus dikelola secara bijaksana untuk memberi nilai tambah
bagi perekonomian nasional dan harus dapat dimanfaatkan secara optimal bagi
peningkatan kesejahteraan rakyat.
Dalam rangka memberikan kesempatan kepada masyarakat yang berada pada
sekitar wilayah pertambangan mineral dan batubara, baik orang perseorangan,
kelompok masyarakat, maupun koperasi untuk melakukan kegiatan usaha
pertambangan, ditetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perlu menetapkan Peraturan
Pemerintah tentang Wilayah Pertambangan yang mengatur penyelidikan dan
penelitian pertambangan, perencanaan dan penetapan WP, WUP, WIUP, WPN, WUPK,
WIUPK, WPR, data dan informasi, serta system informasi geografis.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
521
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “dalam hal tertentu” antara lain berupa kerja sama
teknik antara Pemerintah dan pemerintah asing, baik dalam bentuk bilateral,
regional, maupun multilateral.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Ayat (1)
Data dan informasi diolah dan dituangkan menjadi peta potensi mineral
menggunakan standar nasional pengolahan data geologi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
522
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Ayat (1)
Berkoordinasi dimaksudkan untuk menetapkan batas dan luas WIUP mineral
logam dan/atau batubara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
523
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “tepi dan tepi sungai” adalah daerah akumulasi
pengayaan mineral sekunder (pay streak) dalam suatu meander sungai.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
524
Huruf h
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Ayat (1)
Komoditas tertentu antara lain tembaga, timah, emas, besi, nikel, bauksit, dan
batubara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
525
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5110
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 70 TAHUN 2009
TENTANG
KONSERVASI ENERGI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 25 ayat (5) UndangUndang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah tentang Konservasi Energi;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KONSERVASI ENERGI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan terpadu guna
melestarikan sumber daya energy dalam negeri serta meningkatkan efisiensi
pemanfaatannya.
527
528
2. Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja yang dapat berupa panas,
cahaya, mekanika, kimia, dan elektromagnetika.
3. Sumber energi adalah sesuatu yang dapat menghasilkan energi, baik secara
langsung maupun melalui proses konversi atau transformasi.
4. Sumber daya energi adalah sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, baik
sebagai sumber energy maupun sebagai energi.
5. Badan usaha adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang menjalankan jenis
usaha bersifat tetap, terus-menerus, dan didirikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, serta bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
6. Bentuk usaha tetap adalah badan usaha yang didirikan dan berbadan hukum
di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melakukan kegiatan
dan berkedudukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wajib
mematuhi peraturan perundangundangan yang berlaku di Republik Indonesia.
7. Pengusaha adalah perseorangan, badan usaha, bentuk usaha tetap yang
melakukan pengusahaan energy termasuk produsen peralatan pemanfaat
energi.
8. Pemanfaatan energi adalah kegiatan menggunakan energi, baik langsung maupun
tidak langsung, dari sumber energi.
9. Produsen peralatan hemat energi adalah perseorangan natau badan usaha yang
mempunyai kegiatan usaha yang memproduksi dan/atau melakukan pengadaan
peralatan yang hemat energi.
10. Pengguna energi adalah perseorangan, badan usaha, bentuk usaha tetap,
lembaga pemerintah, dan lembaga non pemerintah, yang memanfaatkan energi
untuk menghasilkan produk dan/atau jasa.
11. Pengguna sumber energi adalah perseorangan, badan usaha, bentuk usaha
tetap, lembaga pemerintah, dan lembaga non pemerintah, yang menggunakan
sumber energi.
12. Peralatan hemat energi adalah piranti atau perangkat atau fasilitas yang dalam
pengoperasiannya memanfaatkan energi secara hemat sesuai dengan benchmark
hemat energi yang ditetapkan.
13. Peralatan pemanfaat energi adalah piranti atau perangkat atau fasilitas yang
dalam pengoperasiannya memanfaatkan sumber energi atau energi.
14. Audit energi adalah proses evaluasi pemanfaatan energy dan identifikasi peluang
penghematan energi serta rekomendasi peningkatan efisiensi pada pengguna
energi dan pengguna sumber energi dalam rangka konservasi energi.
529
15. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
16. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota dan perangkat daerah
sebagai unsure penyelenggara pemerintahan daerah.
17. Menteri adalah menteri yang membidangi urusan energi.
BAB II
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH, PEMERINTAH DAERAH,
PENGUSAHA DAN MASYARAKAT
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 2
(1) Konservasi energi nasional menjadi tanggung jawab Pemerintah, pemerintah
daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, pengusaha dan
masyarakat.
(2) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan
rencana induk konservasi energi nasional.
Pasal 3
(1) Rencana induk konservasi energi nasional disusun dan ditetapkan oleh Menteri.
(2) Rencana induk konservasi energi nasional paling sedikit memuat sasaran, pokokpokok kebijakan, program, dan langkah-langkah konservasi energi.
(3) Penyusunan rencana induk konservasi energi nasional dilakukan dengan:
a. mengacu pada rencana umum energi nasional; dan
b. memperhatikan masukan dari instansi terkait, pemerintah daerah,
pengusaha, dan masyarakat.
(4) Rencana induk konservasi energi nasional dibuat untuk jangka waktu 5 (lima)
tahun dan dapat ditinjau setiap tahun sesuai keperluan.
Bagian Kedua
Tanggung Jawab Pemerintah
530
Pasal 4
Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bertanggung jawab secara
nasional untuk:
a. merumuskan dan menetapkan kebijakan, strategi, dan program konservasi
energi;
b. mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang konservasi
energi;
c. melakukan sosialisasi secara menyeluruh dan komprehensif untuk penggunaan
teknologi yang menerapkan konservasi energi;
d. mengkaji, menyusun, dan menetapkan kebijakan, serta mengalokasikan dana
dalam rangka pelaksanaan program konservasi energi;
e. memberikan kemudahan dan/atau insentif dalam rangka pelaksanaan program
konservasi energi;
f. melakukan bimbingan teknis konservasi energi kepada pengusaha, pengguna
sumber energi, dan pengguna energi;
g. melaksanakan program dan kegiatan konservasi energy yang telah ditetapkan;
dan
h. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program
konservasi energi.
Bagian Ketiga
Tanggung Jawab Pemerintah Daerah
Pasal 5
Pemerintah daerah provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bertanggung
jawab sesuai dengan kewenangannya di wilayah provinsi yang bersangkutan untuk:
a. merumuskan dan menetapkan kebijakan, strategi, dan program konservasi
energi;
b. mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang konservasi
energi;
c. melakukan sosialisasi secara menyeluruh dan komprehensif untuk penggunaan
teknologi yang menerapkan konservasi energi;
d. mengalokasikan dana dalam rangka pelaksanaan program konservasi energi;
e. memberikan kemudahan dan/atau insentif dalam rangka pelaksanaan program
konservasi energi;
531
f. melakukan bimbingan teknis konservasi energi kepada pengusaha, pengguna
sumber energi, dan pengguna energi;
g. melaksanakan program dan kegiatan konservasi energi; dan
h. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program
konservasi energi.
Pasal 6
Pemerintah daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
bertanggung jawab sesuai dengan kewenangannya di wilayah kabupaten/kota yang
bersangkutan untuk:
a. merumuskan dan menetapkan kebijakan, strategi dan program konservasi
energi;
b. mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang konservasi
energi;
c. melakukan sosialisasi secara menyeluruh dan komprehensif untuk penggunaan
teknologi yang menerapkan konservasi energi;
d. mengalokasikan dana dalam rangka pelaksanaan program konservasi energi;
e. memberikan kemudahan dan/atau insentif dalam rangka pelaksanaan program
konservasi energi;
f. melakukan bimbingan teknis konservasi energi kepada pengusaha, pengguna
sumber energi, dan pengguna energi;
g. melaksanakan program dan kegiatan konservasi energi; dan
h. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program
konservasi energi.
Bagian Keempat
Tanggung Jawab Pengusaha
Pasal 7
(1) Pengusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bertanggung jawab:
a. melaksanakan konservasi energi dalam setiap tahap pelaksanaan usaha;
dan
b. menggunakan teknologi yang efisien energi; dan/atau
c. menghasilkan produk dan/atau jasa yang hemat energi.
532
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai teknologi yang efisien energi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kelima
Tanggung Jawab Masyarakat
Pasal 8
Masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bertanggung jawab mendukung
dan melaksanakan program konservasi energi.
BAB III
PELAKSANAAN KONSERVASI ENERGI
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 9
(1) Pelaksanaan konservasi energi mencakup seluruh tahap pengelolaan energi.
(2) Pengelolaan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan:
a. penyediaan energi;
b. pengusahaan energi;
c. pemanfaatan energi; dan
d. konservasi sumber daya energi.
Bagian Kedua
Konservasi Dalam Penyediaan Energi
Pasal 10
(1) Perseorangan, badan usaha, dan bentuk usaha tetap dalam kegiatan penyediaan
energi wajib melaksanakan konservasi energi.
(2) Pelaksanaan konservasi energi dalam kegiatan penyediaan energi meliputi:
a. perencanaan yang berorientasi pada penggunaan teknologi yang efisien
energi;
b. pemilihan prasarana, sarana, peralatan, bahan, dan proses yang secara
langsung ataupun tidak langsung menggunakan energi yang efisien; dan
c. pengoperasian sistem yang efisien energi.
533
Bagian Ketiga
Konservasi Dalam Pengusahaan Energi
Pasal 11
(1) Perseorangan, badan usaha, dan bentuk usaha tetap dalam melakukan
pengusahaan energi wajib melakukan konservasi energi.
(2) Pengusahaan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengusahaan
sumber daya energi, sumber energi, dan energi.
(3) Pelaksanaan konservasi energi dalam pengusahaan energi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan melalui penerapan teknologi yang efisien energi yang
memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Keempat
Konservasi Dalam Pemanfaatan Energi
Pasal 12
(1) Pemanfaatan energi oleh pengguna sumber energi dan pengguna energi wajib
dilakukan secara hemat dan efisien.
(2) Pengguna sumber energi dan pengguna energi yang menggunakan sumber
energi dan/atau energi lebih besar atau sama dengan 6.000 (enam ribu) setara
ton minyak per tahun wajib melakukan konservasi energy melalui manajemen
energi.
(3) Manajemen energi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan:
a. menunjuk manajer energi;
b. menyusun program konservasi energi;
c. melaksanakan audit energi secara berkala;
d. melaksanakan rekomendasi hasil audit energi; dan
e. melaporkan pelaksanaan konservasi energi setiap tahun kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya masingmasing.
Pasal 13
(1) Audit energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) huruf c dilakukan
oleh auditor energi internal dan/atau lembaga yang telah terakreditasi.
534
(2) Manajer energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) huruf a dan
auditor energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib memiliki sertifikat
kompetensi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Program konservasi energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) huruf
b disusun oleh pengguna sumber energi dan pengguna energi, paling sedikit
memuat informasi mengenai:
a. rencana yang akan dilakukan;
b. jenis dan konsumsi energi;
c. penggunaan peralatan hemat energi;
d. langkah-langkah konservasi energi; dan
e. jumlah produk yang dihasilkan atau jasa yang diberikan.
(4) Laporan pelaksanaan konservasi energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
ayat (3) huruf e disusun berdasarkan program konservasi energi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3).
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan program dan pelaporan
hasil pelaksanaan konservasi energi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan
ayat (4) diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kelima
Konservasi Sumber Daya Energi
Pasal 14
(1) Menteri menetapkan kebijakan konservasi sumber daya energi.
(2) Kebijakan konservasi sumber daya energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi tetapi tidak terbatas pada:
a. sumber daya energi yang diprioritaskan untuk diusahakan dan/atau
disediakan;
b. jumlah sumber daya energi yang dapat diproduksi; dan
c. pembatasan sumber daya energi yang dalam batas waktu tertentu tidak
dapat diusahakan.
BAB IV
STANDAR DAN LABEL
535
Pasal 15
(1) Penerapan teknologi yang efisien energi dilakukan melalui penetapan dan
pemberlakuan standar kinerja energi pada peralatan pemanfaat energi.
(2) Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 16
(1) Penerapan standar kinerja energi pada peralatan pemanfaat energi sebagaimana
dimaksud pada Pasal 15 ayat (1) dilakukan dengan pencantuman label tingkat
efisiensi energi.
(2) Pencantuman label tingkat efisiensi energi dilakukan oleh produsen dan importir
peralatan pemanfaat energy pada peralatan pemanfaat energi secara bertahap
sesuai tata cara labelisasi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pentahapan, tata cara labelisasi, dan jenisjenis peralatan pemanfaat energy sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
dengan Peraturan Menteri.
BAB V
KEMUDAHAN, INSENTIF, DAN DISINSENTIF
Bagian Kesatu
Kemudahan dan Insentif
Pasal 17
Pemerintah dan/atau pemerintah daerah member kemudahan kepada pengguna
energi dan produsen peralatan hemat energi di dalam negeri yang melaksanakan
konservasi energi untuk memperoleh:
a. akses informasi mengenai teknologi hemat energi dan spesifikasinya, dan cara/
langkah penghematan energi; dan
b. layanan konsultansi mengenai cara/langkah penghematan energi.
Pasal 18
Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberi insentif kepada:
a. pengguna energi yang menggunakan energi lebih besar atau sama dengan 6.000
(enam ribu) setara ton minyak per tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12
ayat (2); dan
536
b. produsen peralatan hemat energi di dalam negeri, yang berhasil melaksanakan
konservasi energi pada periode tertentu.
Pasal 19
(1) Kriteria keberhasilan pelaksanaan konservasi energy bagi pengguna energi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf a apabila dalam periode tertentu
terjadi penurunan:
a. konsumsi energi spesifik; dan/atau
b. elastisitas konsumsi energi.
(2) Kriteria keberhasilan pelaksanaan konservasi energy bagi produsen peralatan
hemat energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf b apabila dalam
periode tertentu dapat:
a. memproduksi peralatan hemat energi yang efisiensi energinya lebih tinggi
dari benchmark yang ditentukan; dan
b. mencantumkan label tingkat efisiensi energi sesuai dengan standar yang
berlaku.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria keberhasilan pelaksanaan konservasi
energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan
Menteri.
Pasal 20
(1) Insentif yang diberikan kepada pengguna energy sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 huruf a dapat berupa:
a. fasilitas perpajakan untuk peralatan hemat energi;
b. pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan pajak daerah untuk
peralatan hemat energi;
c. fasilitas bea masuk untuk peralatan hemat energi;
d. dana suku bunga rendah untuk investasi konservasi energi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan/atau
e. audit energi dalam pola kemitraan yang dibiayai oleh Pemerintah.
(2) Insentif yang diberikan kepada produsen peralatan hemat energi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 huruf b dapat berupa:
a. fasilitas perpajakan untuk komponen/suku cadang dan bahan baku yang
digunakan untuk memproduksi peralatan hemat energi;
537
b. pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan pajak daerah untuk
komponen/suku cadang dan bahan baku yang digunakan untuk memproduksi
peralatan hemat energi;
c. fasilitas bea masuk untuk komponen/suku cadang dan bahan baku yang
akan digunakan untuk memproduksi peralatan hemat energi; dan/atau
d. dana suku bunga rendah untuk investasi dalam rangka memproduksi peralatan
hemat energi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Permohonan insentif dapat diajukan oleh pengguna energi dalam hal hasil
evaluasi atas laporan pelaksanaan konservasi energi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (3) huruf e sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (1), menunjukkan keberhasilan pelaksanaan konservasi
energi.
(4) Permohonan insentif dapat diajukan oleh produsen peralatan hemat energi di
dalam negeri dalam hal verifikasi terhadap kriteria keberhasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) menunjukkan keberhasilan pelaksanaan
konservasi energi.
(5) Fasilitas perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan ayat (2)
huruf a, diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang perpajakan.
(6) Pemberian pengurangan, keringanan, dan pembebasan pajak daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b dan ayat (2) huruf b diberikan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pajak daerah.
(7) Fasilitas bea masuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan ayat (2)
huruf c, diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang kepabeanan.
Pasal 21
(1) Insentif berupa audit energi dalam pola kemitraan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 20 ayat (1) huruf e selain diberikan kepada pengguna energi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 huruf a, dapat juga diberikan kepada pengguna energi
yang menggunakan energy kurang dari 6.000 (enam ribu) setara ton minyak per
tahun yang berhasil melaksanakan konservasi energi.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kriteria pengguna energi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
538
Bagian Kedua
Disinsentif
Pasal 22
(1) Pengguna sumber energi dan pengguna energy sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 ayat (2) yang tidak melaksanakan konservasi energi melalui manajemen
energi dikenakan disinsentif oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangan masing-masing.
(2) Disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. peringatan tertulis;
b. pengumuman di media massa;
c. denda; dan/atau
d. pengurangan pasokan energi.
Pasal 23
Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) huruf a
diberikan paling banyak 3 (tiga) kali dalam tenggat waktu masing-masing 1 (satu)
bulan.
Pasal 24
Dalam hal pengguna sumber energi dan pengguna energy yang telah diberi
peringatan sebanyak 3 (tiga) kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tidak
melaksanakan konservasi energi, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya mengumumkan nama pengguna sumber energi dan pengguna
energi yang bersangkutan di media massa.
Pasal 25
(1) Dalam hal 1 (satu) bulan setelah nama pengguna sumber energi dan pengguna
energi diumumkan di media massa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 tetap
tidak melaksanakan konservasi energi, yang bersangkutan dikenai denda.
(2) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sebanyak 2 (dua) kali
dari nilai pemborosan energi yang ditimbulkan.
(3) Hasil denda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disetorkan ke kas negara/kas
daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
539
Pasal 26
(1) Dalam hal 1 (satu) bulan setelah pengenaan denda pengguna sumber energi
dan pengguna energi tidak membayar denda, Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya menetapkan pengurangan pasokan
energi kepada yang bersangkutan.
(2) Gubernur atau bupati/walikota dalam menetapkan pengurangan pasokan energi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan persetujuan Menteri.
(3) Pengurangan pasokan energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
menghilangkan kewajiban pembayaran denda oleh pengguna sumber energi dan
pengguna energi.
Pasal 27
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan disinsentif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 sampai dengan Pasal 26 diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 28
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap pelaksanaan konservasi energi sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan melalui:
a. pendidikan dan pelatihan;
b. bimbingan teknis;
c. penyuluhan;
d. penyebarluasan informasi baik melalui media cetak, media elektronik,
forum, atau pameran-pameran; dan
e. dorongan dan/atau fasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan
teknologi konservasi energi.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan terhadap:
a. penunjukan manajer energi;
b. penyusunan program konservasi energi;
c. pelaksanaan audit energi secara berkala; dan
d. pelaksanaan rekomendasi hasil audit energi.
540
(4) Pendanaan yang diperlukan untuk pembinaan dan pengawasan yang dilakukan
oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara.
(5) Pendanaan yang diperlukan untuk pembinaan dan pengawasan yang dilakukan
oleh pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebankan pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 29
Dalam hal rencana umum energi nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (3) huruf a belum ditetapkan, rencana induk konservasi energi nasional dapat
disusun dengan memperhatikan masukan dari instansi terkait, pemerintah daerah,
pengusaha, dan masyarakat.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 30
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Keputusan Presiden Nomor
43 Tahun 1991 tentang Konservasi Energi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 31
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 November 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
541
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 16 November 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 171
Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perkonomian dan Industri
ttd
Setio Sapto Nugroho
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 70 TAHUN 2009
TENTANG
KONSERVASI ENERGI
I. UMUM
Energi mempunyai peranan yang sangat penting dan menjadi kebutuhan dasar
dalam pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Oleh karena itu, energi
harus digunakan secara hemat, rasional, dan bijaksana agar kebutuhan energi pada
masa sekarang dan masa yang akan dating dapat terpenuhi. Mengingat pentingnya
penggunaan energi secara hemat, rasional, dan bijaksana, Pemerintah perlu
menyusun Peraturan Pemerintah dalam rangka pengaturan pemanfaatan sumber
daya energi, sumber energy dan energi, melalui penerapan teknologi yang efisien
energi, pemanfaatan energi secara efisien dan rasional, dan penerapan budaya hemat
energy guna menjamin ketersediaan energi nasional yang berwawasan lingkungan.
Peraturan Pemerintah ini mengatur:
1. tanggung jawab Pemerintah, pemerintah daerah, pengusaha dan masyarakat;
2. pelaksanaan konservasi energi yang mencakup seluruh tahap pengelolaan energi
yang meliputi kegiatan penyediaan energi, pengusahaan energi, pemanfaatan
energi, dan konservasi sumber daya energi;
3. standar dan label;
4. kemudahan, insentif dan disinsentif; dan
5. pembinaan dan pengawasan.
543
544
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Peraturan Menteri dalam ketentuan ini antara lain mengatur penggunaan
teknologi yang efisien energi, mulai dari hulu sampai hilir, yaitu mulai dari
proses penyediaan, transmisi, distribusi sampai dengan pemanfaatan.
Pasal 8
Tanggung jawab masyarakat dalam ketentuan ini dimaksudkan agar tercipta
budaya hemat energi.
Pasal 9
Cukup jelas.
545
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan ”hemat” dalam ketentuan ini berkaitan dengan perilaku
penggunaan energi secara efektif dan efisien.
Yang dimaksud dengan ”efisien” dalam ketentuan ini adalah nilai maksimal
yang dihasilkan dari perbandingan antara keluaran dan masukan energi pada
peralatan pemanfaat energi.
Ayat (2)
Penetapan batasan angka 6.000 (enam ribu) dilakukan berdasarkan pertimbangan
bahwa pengguna energi dengan konsumsi lebih besar atau sama dengan 6.000
(enam ribu) setara ton minyak per tahun tidak terlalu banyak, tetapi total
konsumsi energinya mencapai sekitar 60% (enam puluh persen) dari penggunaan
energi nasional.
Dengan kata lain, apabila langkah-langkah konservasi energi berhasil dilakukan
pada kelompok tersebut, maka dampak penghematan secara nasional akan
signifikan.
Setara 1 (satu) ton minyak sama dengan:
· 41,9 giga joule (GJ);
· 1,15 kilo liter minyak bumi (kl minyak bumi);
· 39,68 million British Thermal Unit (MMBTU); atau
· 11,63 mega watt hour (MWh).
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “manajemen energi” adalah kegiatan terpadu untuk
mengendalikan konsumsi energi agar tercapai pemanfaatan energi yang efektif
dan efisien untuk menghasilkan keluaran yang maksimal melalui tindakan teknis
secara terstruktur dan ekonomis untuk meminimalisasi pemanfaatan energi
termasuk energi untuk proses produksi dan meminimalisasi konsumsi bahan
baku dan bahan pendukung.
546
Pasal 13
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “auditor energi internal” adalah auditor yang bekerja
pada pengguna sumber energi dan pengguna energi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Pembatasan sumber daya energi dalam ketentuan ini dilakukan terhadap
sumber daya energi yang tidak terbarukan.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Ayat (1)
Label tingkat efisiensi energi berisi informasi mengenai tingkat penggunaan
energi suatu peralatan pemanfaat energi. Dengan adanya label tersebut,
masyarakat mendapat informasi mengenai tingkat penggunaan energi dari suatu
peralatan pemanfaat energi tersebut.
547
Ayat (2)
Peralatan pemanfaat energi yang dimaksud terutama yang menggunakan energi
listrik seperti kulkas, lampu, setrika, air conditioner, rice cooker, motor listrik
dan lain lain.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “konsumsi energi spesifik” adalah jumlah energi
yang digunakan untuk menghasilkan 1 (satu) satuan produk atau keluaran.
Penurunan konsumsi energi spesifik ini harus dibandingkan dalam tingkat
keluaran yang sama, seperti kWh/ton, kWh/m2, liter/kWh.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “elastisitas konsumsi energi” adalah perbandingan
pertumbuhan konsumsi energy terhadap pertumbuhan produk atau keluaran
(Δ konsumsi energi terhadap Δ produk atau keluaran).
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pengaturan keberhasilan pelaksanaan konservasi energi meliputi antara lain:
a. kriteria keberhasilan (benchmark hemat energi, persentase penurunan
intensitas, elastisitas, periode, dan kecenderungan penurunan); dan
b. prosedur penilaian keberhasilan.
Pasal 20
Cukup jelas.
548
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Pengumuman di media massa dalam ketentuan ini dilakukan paling sedikit
dalam 1 (satu) media cetak atau elektronik.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5083
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 55 TAHUN 2009
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 35 TAHUN
2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
perkara 002/PUU-I/2003 tentang Permohonan Uji Formil dan
Materiil terhadap Pasal 12 ayat (3) dan Pasal 22 ayat (1) UndangUndang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi,
perlu melakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah
Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan
Gas Bumi yang merupakan peraturan pelaksanaan dari UndangUndang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a dan dalam rangka penataan kembali kewajiban
Kontraktor untuk memenuhi kebutuhan minyak bumi dan/atau
gas bumi dalam negeri, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah
tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 35
Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor
136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4152);
549
550
3. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4435) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2005 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 81, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4530);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 35 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN
USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4435) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2005
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 81, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4530), diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan Pasal 1 angka 6 diubah sehingga Pasal 1 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Minyak Bumi, Gas Bumi, Minyak dan Gas Bumi, Kuasa Pertambangan, Survey
Umum, Kegiatan Usaha Hulu, Eksplorasi, Eksploitasi, Wilayah Hukum
Pertambangan Indonesia, Wilayah Kerja, Badan Usaha, Bentuk Usaha Tetap,
Kontrak Kerja Sama, Pemerintah Pusat selanjutnya disebut Pemerintah,
Pemerintah Daerah, Badan Pelaksana, Menteri adalah sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi.
2. Gas Metana Batubara (Coalbed Methane) adalah gas bumi (hidrokarbon)
dimana gas metana merupakan komponen utamanya yang terjadi secara
alamiah dalam proses pembentukan batubara (coalification) dalam kondisi
551
terperangkap dan terserap (terabsorbsi) di dalam batubara dan/atau lapisan
batubara.
3. Wilayah Terbuka adalah bagian dari Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia
yang belum ditetapkan sebagai Wilayah Kerja.
4. Kontrak Bagi Hasil adalah suatu bentuk Kontrak Kerja Sama dalam Kegiatan
Usaha Hulu berdasarkan prinsip pembagian hasil produksi.
5. Kontrak Jasa adalah suatu bentuk Kontrak Kerja Sama untuk pelaksanaan
Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi berdasarkan prinsip pemberian imbalan
jasa atas produksi yang dihasilkan.
6. Kontraktor adalah Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang ditetapkan
untuk melakukan Eksplorasi dan Eksploitasi pada suatu Wilayah Kerja
berdasarkan Kontrak Kerja Sama dengan Badan Pelaksana.
7. Data adalah semua fakta, petunjuk, indikasi, dan informasi baik dalam
bentuk tulisan (karakter), angka (digital), gambar (analog), media magnetik,
dokumen, perconto batuan, fluida, dan bentuk lain yang didapat dari hasil
Survey Umum, Eksplorasi dan Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi.
8. Departemen adalah departemen yang tugas dan kewenangannya meliputi
kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
9. Pertamina adalah perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara
yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang
Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara juncto UndangUndang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
10. PT Pertamina (Persero) adalah Perusahaan perseroan (Persero) yang
dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2003 tentang
Pengalihan Bentuk Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara
(PERTAMINA) menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).
2. Ketentuan Pasal 6 ayat (1) diubah, sehingga Pasal 6 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 6
(1) Menteri menetapkan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap sebagai
Kontraktor untuk melakukan Eksplorasi dan Eksploitasi pada Wilayah Kerja
tertentu.
(2) Dalam pelaksanaan penetapan Badan Usaha atauBentuk Usaha Tetap
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Menteri melakukan koordinasi
dengan Badan Pelaksana.
552
(3) Untuk setiap Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), hanya diberikan satu Wilayah Kerja.
3.
Ketentuan Pasal 46 ayat (1) dan ayat (3) diubah serta ayat (2) dan ayat (4)
dihapus, sehingga Pasal 46 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 46
(1) Kontraktor wajib ikut memenuhi kebutuhan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi
dalam negeri.
(2) Dihapus.
(3) Kewajiban Kontraktor untuk ikut memenuhi kebutuhan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menyerahkan sebesar 25% (dua
puluh lima perseratus) dari hasil produksi Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi
bagian Kontraktor.
(4) Dihapus.
4. Ketentuan Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3) diubah serta ditambahkan 2 (dua) ayat
baru yaitu ayat (4) dan ayat (5), sehingga Pasal 48 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 48
(1) Terhadap cadangan Gas Bumi yang baru ditemukan, Kontraktor wajib
menyampaikan laporan terlebih dahulu kepada Menteri untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46.
(2) Dalam hal cadangan Gas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan
diproduksikan, Menteri terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada
konsumen di dalam negeri untuk menyampaikan kebutuhan Gas Buminya
secara tertulis dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun sejak cadangan
Gas Bumi yang baru ditemukan.
(3) Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak berakhirnya batas
waktu 1 (satu) tahun pemberian kesempatan kepada konsumen di dalam
negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Menteri harus menyampaikan
pemberitahuan kepada Kontraktor mengenai kondisi kebutuhan di dalam
negeri.
(4) Dalam hal Menteri menyampaikan adanya kebutuhan Gas Bumi dalam
negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Kontraktor wajib mulai
melakukan negosiasi dengan konsumen dalam negeri dengan memperhatikan
keekonomian pengembangan lapangan Gas Bumi.
553
(5) Dalam hal Menteri menyampaikan tidak adanya kebutuhan Gas Bumi dalam
negeri dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau antara
Kontraktor dan konsumen dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) tidak mencapai kesepakatan, maka Kontraktor dapat menjual Gas Bumi
kepada pasar internasional setelah mendapat persetujuan Menteri.
Pasal II
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 September 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 1 September 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 128
Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
ttd.
Setio Sapto Nugroho
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 55 TAHUN 2009
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 35 TAHUN
2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI
I. UMUM
Sejalan dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor perkara 002/PUUI /2003
tanggal 21 Desember 2004 atas permohonan pengujian formil dan materiil terhadap
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, mengakibatkan
beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 khususnya frasa
“diberi wewenang” dalam Pasal 12 ayat (3) dan frasa “paling banyak” dalam Pasal
22 ayat (1) dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, dan dalam
rangka penataan kembali kewajiban Kontraktor untuk memenuhi kebutuhan Minyak
Bumi dan/atau Gas Bumi dalam negeri, harus dilakukan perubahan atas ketentuan
Pasal 1, Pasal 6, Pasal 46, dan Pasal 48 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004
tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2005.
Berdasarkan hal tersebut, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal I
555
556
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Penetapan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap sebagai Kontraktor oleh Menteri
didasarkan hasil evaluasi tim yang dibentuk oleh Menteri atas pelaksanaan lelang
wilayah kerja atau penawaran langsung wilayah kerja.
Ayat (2)
Badan Pelaksana dapat memberikan masukan kepada Menteri mengenai kinerja
Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang bersangkutan berdasarkan catatan
operasi yang pernah dilakukan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 46
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “kebutuhan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi dalam
negeri” adalah keseluruhan kebutuhan nasional atas Minyak Bumi dan/atau Gas
Bumi. Ketentuan mengenai kewajiban penyerahan Gas Bumi ini berlaku untuk
Kontrak Kerja Sama yang mempunyai tanggal berlaku (effectivedate) setelah
berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi.
Ayat (2)
Dihapus.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Dihapus.
Pasal 48
Cukup jelas.
557
Pasal II
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5047
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 30 TAHUN 2009
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 36 TAHUN 2004
TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa ketentuan Pasal 28 ayat (2) dan ayat (3) Undang­Undang
Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sesuai dengan
putusan Mahkamah Konstitusi Nomor Perkara 002/PUU- 1/2003
tentang Permohonan Uji Formil Materiil terhadap Undang-Undang
Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi dinyatakan
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, sehingga perlu
mengubah Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang
Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi sebagai pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004
tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor
136, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4152);
559
560
3. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan
Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4436);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
PEMERINTAH NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR
MINYAK DAN GAS BUMI.
Pasal I
Ketentuan Pasal 72 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan
Hiir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4436) diubah sehingga
Pasal 72 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 72
Harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi diatur dan/atau ditetapkan oleh
Pemerintah.
Pasal II
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 24 Maret 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
561
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 24 Maret 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
Ttd
ANDI MATTALATTA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 59
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 30 TAHUN 2009
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 36 TAHUN 2004
TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI
I.
UMUM
Sejalan dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor perkara 002/PUU­I/2003
tanggal 21 Desember 2004 atas permohonan pengujian formil dan materiil terhadap
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, mengakibatkan
beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001, khususnya Pasal
28 ayat (2) dan ayat (3) dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,
sehingga harus dilakukan perubahan atas ketentuan Pasal 72 Peraturan Pemerintah
Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas bumi.
Berdasarkan hal tersebut, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha
Hilir Minyak dan Gas Bumi.
II.
PASAL DEMI PASAL
Pasal I
Pasal 72
Cukup Jelas
Pasal II
Cukup Jelas
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4996
563
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 59 TAHUN 2007
TENTANG
KEGIATAN USAHA PANAS BUMI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 ayat (3), Pasal 13 ayat
(3), dan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas
Bumi, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Kegiatan
Usaha Panas Bumi;
Mengingat :
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 115,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4327);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KEGIATAN USAHA PANAS BUMI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas,
uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik
565
566
semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk
pemanfaatannya diperlukan proses penambangan.
2.
Kegiatan Usaha Panas Bumi adalah suatu kegiatan untuk menemukan sumber
daya Panas Bumi sampai dengan pemanfaatannya baik secara langsung maupun
tidak langsung.
2.
Survei Pendahuluan adalah kegiatan yang meliputi pengumpulan, analisis dan
penyajian data yang berhubungan dengan informasi kondisi geologi, geofisika,
dan geokimia untuk memperkirakan letak dan adanya sumber daya Panas Bumi
serta wilayah kerja.
3.
Eksplorasi adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penyelidikan geologi,
geofisika, geokimia, pengeboran uji, dan pengeboran sumur eksplorasi yang
bertujuan untuk memperoleh dan menambah informasi kondisi geologi bawah
permukaan guna menemukan dan mendapatkan perkiraan potensi Panas Bumi.
4.
Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan Panas Bumi
untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk
menentukan kelayakan usaha pertambangan Panas Bumi, termasuk pemboran
sumur deliniasi atau studi jumlah cadangan yang dapat dieksploitasi.
3.
Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan pada suatu wilayah kerja tertentu yang
meliputi pengeboran sumur pengembangan dan sumur reinjeksi, pembangunan
fasilitas lapangan dan operasi produksi sumber daya Panas Bumi.
4.
Pemanfaatan Langsung adalah kegiatan usaha pemafaatan energi dan/atau
fluida Panas Bumi untuk keperluan nonlistrik, baik untuk kepentingan umum
maupun untuk kepentingan sendiri.
8. Pemanfaatan Tidak Langsung untuk tenaga listrik adalah kegiatan usaha
pemanfaatan energi Panas Bumi untuk pembangkit tenaga listrik, baik untuk
kepentingan umum maupun untuk kepentingan sendiri.
9.
Badan Usaha adalah setiap badan hukum yang dapat berbentuk badan usaha milik
negara, badan usaha milik daerah, koperasi, atau swasta yang didirikan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, menjalankan
jenis usaha tetap dan terus­menerus, bekerja dan berkedudukan dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
9.
Izin Usaha Pertambangan Panas Bumi, selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk
melaksanakan Usaha Pertambangan Panas Bumi.
10. Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi, selanjutnya disebut Wilayah Kerja,
adalah wilayah yang ditetapkan dalam IUP.
567
11. Wilayah Hukum Pertambangan Panas Bumi Indonesia adalah seluruh wilayah
daratan, perairan, dan landas kontinen Indonesia.
12. Dokumen Lelang adalah dokumen yang disiapkan oleh panitia pelelangan Wilayah
Kerja sebagai pedoman dalam proses pembuatan dan penyampaian penawaran
Wilayah Kerja oleh Badan Usaha serta sebagai pedoman evaluasi penawaran
oleh panitia pelelangan Wilayah Kerja.
10. Pelelangan Wilayah Kerja adalah penawaran Wilayah Kerja tertentu kepada
Badan Usaha sebagai rangkaian kegiatan untuk mendapatkan IUP.
13. Pihak Lain adalah Badan Usaha yang mempunyai keahlian dan kemampuan untuk
melaksanakan penugasan Survei Pendahuluan pada suatu wilayah tertentu.
11. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
17. Meriteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
Panas Bumi.
BAB II
TAHAPAN KEGIATAN USAHA PANAS BUMI
Pasal 2
Tahapan kegiatan usaha Panas Bumi meliputi:
a. Survei Pendahuluan;
b. Penetapan Wilayah Kerja dan Pelelangan Wilayah Kerja;
c. Eksplorasi;
d. Studi Kelayakan;
e. Eksploitasi; dan
f. Pemanfaatan.
Bagian Kesatu
Survei Pendahuluan
Pasal 3
(1) Menteri, gubernur, dan/atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan Survei Pendahuluan.
568
(2) Pelaksanaan Survei Pendahuluan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
secara terkoordinasi oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenanganya.
Pasal 4
(1) Pengumpulan data hasil Survei Pendahuluan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 dicatat dan disusun untuk setiap wilayah yang dilengkapi dengan batas,
koordinat, dan luas wilayah melalui pengaturan sebagai berikut:
a. gubernur menyusun data hasil Survei Pendahuluan untuk wilayah provinsi
yang bersangkutan melalui koordinasi dengan Pemerintah dan dinas serta
instansi lain yang terkait di pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/
kota yang bersangkutan.
b. bupati/walikota menyusun data hasil Survei Pendahuluan dalam wilayah
kabupaten/kota yang bersangkutan melalui koordinasi dengan dinas
dan instansi lain yang terkait di pemerintah kabupaten/kota yang
bersangkutan.
(2) Gubernur dan bupati/walikota wajib menyampaikan data hasil Survei
Pendahuluan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada
Menteri.
Pasal 5
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara, dan syarat-syarat pelaksanaan
Survei Pendahuluan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 4 diatur dalam
Peraturan Menteri.
Pasal 6
(1) Menteri dapat menugaskan kepada Pihak Lain untuk melakukan Survei
Pendahuluan.
(2) Gubernur, bupati/walikota atau Pihak Lain dapat mengusulkan
kepada
Menteri suatu wilayah untuk dilakukan penugasan Survei Pendahuluan.
(3) Penugasan Survei Pendahuluan oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan Penugasan Survei Pendahuluan yang diusulkan oleh gubernur, atau
bupati/walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan melalui
penawaran.
(4) Pelaksanaan penawaran penugasan Survei Pendahuluan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3), dilakukan oleh Menteri dengan cara;
569
a. pengumuman melalui media cetak, media elektronik, dan media lainnya;
dan/atau
b. promosi melalui berbagai forum, baik nasional maupun internasional.
(5) Penugasan Survei Pendahuluan oleh Pihak Lain sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3) dilaksanakan atas biaya Pihak Lain.
(6) Dalam rangka penugasan Survei Pendahuluan, Menteri dapat menetapkan harga
patokan uap atau harga patokan tenaga listrik dari pembangkit listrik tenaga
Panas Bumi.
Pasal 7
(1) Penugasan Survei Pendahuluan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 diajukan
kepada Menteri dengan tembusan kepada gubernur, bupati/walikota setempat
dengan melampirkan peta wilayah yang dimohon.
(2) Penugasan Survei Pendahuluan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan cara penerapan sistem permohonan pertama yang telah memenuhi
persyaratan, mendapat prioritas pertama untuk mendapatkan Penugasan Survei
Pendahuluan (First come first served).
Pasal 8
Pihak Lain yang melakukan penugasan Survei Pendahuluan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 wajib :
a. menyimpan dan mengamankan data hasil Survei Pendahuluan sampai dengan
berakhirnya penugasan; dan
a. merahasiakan data yang diperoleh dan menyerahkan seluruh data kepada
Menteri setelah berakhirnya penugasan.
Pasal 9
Pihak Lain yang melakukan penugasan Survei Pendahuluan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 dan Pasal 7 tidak secara langsung mendapatkan Wilayah Kerja.
Pasal 10
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penugasan Survei Pendahuluan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9 diatur dalam
Peraturan Menteri.
570
Bagian Kedua
Penetapan Wilayah Kerja
Pasal 11
(1) Kegiatan pengusahaan sumber daya Panas Bumi dilaksanakan pada suatu Wilayah
Kerja.
(2) Menteri merencanakan, menyiapkan dan menetapkan Wilayah Kerja berdasarkan
pengkajian dan pengolahan data Survei Pendahuluan dan/atau Eksplorasi.
(3) Perencanaan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan:
a. secara transparan, partisipatif, dan bertanggungjawab;
b. secara terpadu dengan memperhatikan kepentingan nasional, sektor terkait
dan masyarakat serta mempertimbangkan aspek ekonomi, ekologi, sosial
budaya, dan berwawasan lingkungan; dan
c. memperhatikan kekhasan dan aspirasi daerah.
(4) Dalam penyiapan dan penetapan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (2), Menteri berkonsultasi dengan instansi terkait, pemerintah provinsi,
dan pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan Wilayah Kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri.
Pasal 12
(1) Pemerintah menetapkan harga dasar data pada Wilayah Kerja hasil Survei
Pendahuluan dan/atau Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat
(2) yang dilakukan oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota
(2) Menteri menetapkan besaran kompensasi data hasil pelaksanaan penugasan
Survei Pendahuluan (awarded compensation) berdasarkan laporan pelaksanaan
dan laporan keuangan dari Pihak Lain.
(3) Harga data Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan besaran
kompensasi data sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai acuan
bagi panitia Pelelangan Wilayah Kerja.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan kompensasi data
hasil pelaksanaan penugasan Survei Pendahuluan (awarded compensation)
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri.
571
Bagian Ketiga
Eksplorasi
Pasal 13
(1) Menteri dapat melakukan Eksplorasi dalam wilayah hukum pertambangan Panas
Bumi Indonesia.
(2) Pelaksanaan Eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara
terkoordinasi dengan gubernur atau bupati/walikota yang bersangkutan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri.
Pasal 14
(1) Badan Usaha melakukan eksplorasi dalam suatu Wilayah Kerja setelah
mendapatkan IUP.
(2) Badan Usaha wajib melakukan Eksplorasi sesuai dengan kaidah teknik
pertambangan yang baik dan benar serta standar Eksplorasi Panas Bumi, sampai
diketahui potensi cadangan terbukti Panas Bumi sebagai dasar dikeluarkannya
komitmen pengembangan.
Bagian Keempat
Studi Kelayakan
Pasal 15
(1)
Pemegang IUP dapat melakukan Studi Kelayakan setelah menyelesaikan
Eksplorasi dan menyampaikan laporan Eksplorasi rinci kepada Menteri, gubernur
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2)
Dalam hal Eksplorasi dilakukan oleh Menteri, Badan Usaha dapat langsung
melakukan studi kelayakan setelah mendapatkan IUP.
(3) Badan Usaha wajib melakukan Studi Kelayakan sesuai dengan kaidah teknik
pertambangan yang baik dan benar serta standar Studi Kelayakan Panas Bumi.
(4) Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi studi:
c. penentuan cadangan layak tambang di seluruh Wilayah Kerja;
d. penerapan teknologi yang tepat untuk Eksploitasi dan penangkapan uap
dari sumur produksi;
e. lokasi sumur produksi;
572
f. rancangan sumur produksi dan injeksi;
g. rancangan pemipaan sumur produksi;
h. perencanaan kapasitas produksi jangka pendek dan jangka panjang;
i. sistim pembangkit tenaga listrik dan/atau sistim pemanfaatan langsung;
j. upaya konservasi dan kesinambungan sumber daya Panas Bumi; 23593216.
rencana keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan lingkungan dan
teknis pertambangan Panas Bumi; dan 23593217. rencana pasca tambang
sementara.
Bagian Kelima
Eksploitasi
Pasal 16
(1) Pemegang IUP dapat melakukan Eksploitasi setelah menyelesaikan Studi
Kelayakan serta telah mendapat keputusan kelayakan lingkungan berdasarkan
hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan atau persetujuan upaya
pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.
(2) Badan Usaha wajib melakukan Eksploitasi sesuai dengan kaidah teknik
pertambangan yang baik dan benar serta standar Eksploitasi Panas Bumi dan
memperhatikan aspek lingkungan serta konservasi sumber daya Panas Bumi.
Bagian Keenam
Pemanfaatan
Pasal 17
Pemegang IUP dapat melakukan kegiatan:
a.
pemanfaatan tidak langsung untuk tenaga listrik setelah mendapat izin usaha
ketenagalistrikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang ketenagalistrikan; dan/atau
b.
pemanfaatan langsung yang pelaksanaannya diatur dalam peraturan pemerintah
tersendiri.
Pasal 18
Pedoman penetapan harga uap Panas Bumi untuk pembangkit tenaga listrik
diatur dalam Peraturan Menteri.
573
Pasal 19
Untuk menjamin ketersediaan listrik bagi kepentingan umum, Pemerintah
dapat menugaskan Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan untuk membeli uap atau
listrik yang berasal dari Panas Bumi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
BAB III
LELANG WILAYAH KERJA
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 20
(1) Dalam rangka penawaran Wilayah Kerja, Menteri dapat menetapkan harga
patokan uap dan/atau tenaga listrik dari pembangkit listrik tenaga Panas
Bumi Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
mengumumkan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 secara
terbuka untuk ditawarkan kepada Badan Usaha.
(2) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan penawaran Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
kepada Badan Usaha dengan cara lelang.
(3) Dalam melaksanakan penawaran Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
mempunyai tugas:
a. membentuk panitia Pelelangan Wilayah Kerja yang keanggotaannya
berjumlah gasal dan paling sedikit 5 (lima) orang, yang memahami tata
cara Pelelangan Wilayah Kerja, substansi pengusahaan Panas Bumi termasuk
pemanfaatannya, hukum dan bidang lain yang diperlukan baik dari unsurunsur di dalam maupun di luar instansi yang bersangkutan; dan
a. menetapkan dan mengesahkan hasil Pelelangan Wilayah Kerja.
(4) Tugas, wewenang dan tanggung jawab panitia Pelelangan Wilayah Kerja
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a meliputi :
a. menyusun jadwal dan menetapkan lokasi Pelelangan Wilayah Kerja;
b. menyiapkan Dokumen Lelang;
c. mengumumkan Pelelangan Wilayah Kerja;
574
d. menilai kualifikasi Badan Usaha melalui prakualifikasi;
e. melakukan evaluasi terhadap penawaran yang masuk;
d. mengusulkan calon pemenang; dan
e. membuat berita acara Pelelangan Wilayah Kerja.
(5) Panitia Pelelangan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a
masing-masing terdiri dari:
a. panitia Pelelangan Wilayah Kerja lintas provinsi dibentuk oleh Menteri
yang beranggotakan wakil dari instansi yang bertanggung jawab di bidang
energi dan sumber daya mineral, instansi terkait, pemerintah provinsi, dan
pemerintah kabupaten/ kota setempat;
b. panitia Pelelangan Wilayah Kerja lintas kabupaten/kota dibentuk oleh
gubernur yang bersangkutan yang beranggotakan wakil dari instansi yang
bertanggung jawab di bidang energi dan sumber daya mineral, instansi
terkait, pemerintah provinsi, dan instansi pemerintah daerah terkait; dan
c. panitia Pelelangan Wilayah Kerja yang berada pada wilayah kewenangan
pemerintah kabupaten/kota dibentuk oleh bupati/walikota yang bersangkutan
yang beranggotakan wakil dari instansi yang bertanggung jawab di bidang
energi dan sumber daya mineral, instansi terkait, pemerintah provinsi,
pemerintah kabupaten/kota dan instansi pemerintah daerah terkait.
Bagian Kedua
Persyaratan dan Tata Cara Pelelangan
Pasal 21
Panitia Pelelangan Wilayah Kerja menyiapkan Dokumen Lelang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 ayat (5) huruf b meliputi:
a.
syarat administratif, teknis, dan keuangan;
b.
metode penyampaian dokumen penawaran;
c. metode evaluasi penawaran; dan
d. prosedur penentuan pemenang lelang.
Pasal 22
(1) Badan Usaha yang dapat mengikuti Pelelangan Wilayah Kerja harus memenuhi
persyaratan administratif, teknis, dan keuangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 21 huruf a.
575
(2) Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
meliputi:
a. surat permohonan IUP kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya;
b. identitas pemohon/akta pendirian perusahaan;
c. profil perusahaan;
d. Nomor Pokok Wajib Pajak; dan
e. surat pernyataan kesanggupan membayar kompensasi data kecuali untuk
Pihak Lain yang mendapat penugasan Survei Pendahuluan.
(3) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
meliputi:
a. rencana teknis Eksplorasi atau Studi Kelayakan; dan
b. rencana jadwal Eksplorasi atau Studi Kelayakan.
(4) Persyaratan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit
meliputi:
a. kemampuan pendanaan; dan
b. bukti penempatan jaminan lelang minimal 2,5 % dari rencana biaya Eksplorasi
tahun pertama dari bank setempat atas nama panitia Pelelangan Wilayah
Kerja.
(5) Jaminan lelang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b akan dikembalikan
kepada Badan Usaha yang kalah lelang.
Pasal 23
(1) Metode penyampaian dokumen penawaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal
21 huruf b dilakukan dengan metode dua tahap, yaitu :
a. tahap kesatu, meliputi:
1. Badan Usaha menyampaikan persyaratan administratif, teknis dan
keuangan dalam satu sampul;
2. pada sampul dicantumkan alamat Panitia Pelelangan Wilayah Kerja
yang mengadakan Pelelangan Wilayah Kerja dengan frasa “Dokumen
Penawaran Wilayah Kerja Tahap Kesatu”; dan
3. pada sampul luar dokumen penawaran yang diterima oleh Panitia
Pelelangan Wilayah Kerja diberi catatan tanggal dan jam penerimaan.
Dokumen penawaran yang disampaikan setelah batas akhir pemasukan,
tidak diterima.
576
b. tahap kedua, meliputi:
1. Badan Usaha peserta Pelelangan Wilayah Kerja, yang telah dinyatakan
lulus oleh Panitia Pelelangan Wilayah Kerja pada evaluasi tahap kesatu,
hams memasukan harga uap atau tenaga listrik dalam sampul;
2. nilai penawaran harga uap atau tenaga listrik dicantumkan dengan jelas
dalam angka dan huruf;
3. dokumen penawaran bersifat rahasia dan hanya ditujukan kepada
alamat yang telah ditetapkan; dan
4. dokumen penawaran yang diterima, pada sampul luarnya diberi catatan
tanggal dan jam penerimaan oleh Panitia Pelelangan Wilayah Kerja.
(2) Metode evaluasi penawaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c
dilakukan berdasarkan evaluasi kualitas teknis, keuangan dan harga uap atau
tenaga listrik yang paling rendah diantara penawaran harga.
(3) Prosedur penentuan pemenang Pelelangan Wilayah Kerja dengan metode
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf d meliputi:
a. tahap kesatu
1. pengumuman prakualifikasi;
2. pengambilan dokumen prakualifikasi;
3. pemasukan dokumen prakualifikasi;
4. evaluasi prakualifikasi;
5. klarifikasi dan konfirmasi terhadap dokumen prakualifikasi;
6. penetapan hasil prakualifikasi;
7. pengumuman hasil prakualifikasi;
8. masa sanggah prakualifikasi.
b. tahap kedua
1. undangan kepada peserta yang lulus prakualifikasi;
2. pengambilan Dokumen Lelang;
3. penjelasan;
4. penyusunan berita acara penjelasan Dokumen Lelang
perubahannya;
5. tahap pemasukan penawaran harga uap atau tenaga listrik;
6. pembukaan sampul penawaran;
7. penetapan peringkat;
8. pemberitahuan/pengumuman pemenang;
9. masa sanggah;
dan
577
10. penjelasan sanggahan; dan
11. penunjukan pemenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan evaluasi penawaran sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Pelelangan Wilayah Kerja
Hasil Penugasan Survei Pendahuluan
Pasal 24
(1) Menteri berdasarkan data penugasan Survei Pendahuluan yang dilakukan oleh
Pihak lain menetapkan Wilayah Kerja.
(2) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
mengumumkan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara
terbuka untuk ditawarkan kepada Badan Usaha.
(3) Persyaratan dan tatacara pelelangan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan dengan tata cara pelelangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 21, Pasal 22, dan Pasal 23 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) huruf a
kecuali bagi Pihak Lain yang mendapat penugasan Survei Pendahuluan langsung
dinyatakan lulus tahap kesatu.
Pasal 25
Prosedur penentuan pemenang Pelelangan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 ayat (3) untuk Wilayah Kerja hasil penugasan Survei Pendahuluan
dilakukan sebagai berikut:
a.
Panitia Pelelangan Wilayah Kerja pada tahap kedua memberikan kesempatan
kepada Badan Usaha peserta lelang yang lulus prakualifikasi dan Pihak Lain yang
mendapat penugasan Survei Pendahuluan untuk menyampaikan penawaran
harga uap atau tenaga listrik.
b.
Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
menetapkan pemenang lelang Wilayah Kerja berdasarkan penawaran harga uap
atau tenaga listrik terendah dengan cara:
1. penetapan peringkat peserta lelang dilakukan berdasarkan evaluasi kualitas
teknis, keuangan dan harga uap atau tenaga listrik yang paling rendah
diantara penawaran harga.
578
2. dalam hal penawaran harga uap atau tenaga listrik yang diajukan oleh
Pihak Lain lebih tinggi dari peserta lelang lainnya, maka kepada Pihak Lain
diberikan hak untuk melakukan perubahan penawaran sekurang-kurangnya
menyamai penawaran terendah harga uap atau tenaga listrik yang diajukan
oleh peserta lelang yang lain.
3. dalam hal Pihak Lain bersedia untuk melakukan perubahan Penawaran
sebagaimana dimaksud pada angka 2, maka Pihak Lain yang bersangkutan
ditetapkan sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja oleh Menteri, gubernur
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
4. dalam hal Pihak Lain tidak bersedia untuk melakukan perubahan penawaran
sebagaimana dimaksud pada angka 2, maka Menteri, gubernur atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menetapkan Badan Usaha
yang memberi penawaran harga uap atau tenaga listrik terendah sebagai
pemenang lelang Wilayah Kerja;
5. Badan Usaha pemenang lelang Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada
angka 4 wajib membayar kompensasi data (awarded compensation) kepada
Pihak Lain.
Bagian keempat
Sanggahan
Pasal 26
(1) Peserta Pelelangan Wilayah Kerja yang merasa dirugikan, baik secara sendiri
maupun bersama-sama dengan peserta lainnya, dapat mengajukan sanggahan
apabila ditemukan:
a. penyimpangan terhadap ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan
dalam Dokumen Lelang;
b. rekayasa tertentu sehingga terjadinya persaingan yang tidak sehat; dan/
atau
c. penyalahgunaan wewenang oleh Panitia Pelelangan Wilayah Kerja dan/atau
pejabat yang berwenang lainnya.
(2) Sanggahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara tertulis kepada
Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya paling
lama 5 (lima) hari kerja setelah pemberitahuan/ pengumuman pemenang
Pelelangan Wilayah Kerja.
579
(3) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib
memberikan jawaban paling lama 5 (lima) hari kerja sejak surat sanggahan
diterima.
(4) Apabila sanggahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ternyata benar, maka
proses Pelelangan Wilayah Kerja harus diulang.
Bagian Kelima
Pelelangan Ulang
Pasal 27
(1) Pelelangan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, Pasal 22, dan
Pasal 23, diulang apabila jumlah Badan Usaha yang memasukan penawaran
kurang dari 2 (dua) peserta.
(2) Apabila telah dilakukan Pelelangan Wilayah Kerja ulang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ternyata hanya diikuti kurang dari 2 (dua) peserta maka peserta
Pelelangan Wilayah Kerja yang memenuhi persyaratan administratif, teknis dan
keuangan dapat ditunjuk langsung.
(3) Pelelangan Wilayah hasil penugasan Survei Pendahuluan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 24 dan 25, apabila tidak ada Badan Usaha lain yang memasukan
penawaran, maka Pihak Lain yang mendapat penugasan Survei Pendahuluan
sepanjang memenuhi persyaratan administratif, teknis dan keuangan dapat
ditunjuk langsung.
BAB IV
IUP
Bagian Kesatu
Pemberian IUP
Pasal 28
(1) Pengusahaan sumber daya Panas Bumi meliputi:
a. Eksplorasi;
b. Studi Kelayakan; dan c. Eksploitasi.
(2) Pengusahaan sumber daya Panas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya dapat dilaksanakan oleh Baden. Usaha eetelah mendapat IUP.
580
(3) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
memberikan IUP kepada Badan Usaha pemenang Pelelangan Wilayah Kerja.
(4) Setiap Badan Usaha hanya dapat mengusahakan diberikan 1 (satu) Wilayah
Kerja.
(5) Dalam hal Badan Usaha akan mengusahakan lebih dari 1 (satu) beberapa Wilayah
Kerja, harus dibentuk badan hukum terpisah untuk setiap Wilayah Kerja.
(6) Dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah IUP ditetapkan, Pemegang
IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib memulai kegiatannya.
Pasal 29
(1) Jangka waktu untuk melakukan Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
28 ayat (1) huruf a berlaku paling lama 3 (tiga) tahun sejak IUP diterbitkan dan
dapat diperpanjang paling banyak 2 (dua) kali masing-masing selama 1 (satu)
tahun.
(2) Permohonan perpanjangan diajukan secara tertulis kepada Menteri, gubernur
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya paling lambat 3 (tiga) bulan
sebelum berakhirnya jangka waktu Eksplorasi.
(3) Perpanjangan Eksplorasi sebagaimana di maksud pada ayat (1) dapat diberikan
apabila memenuhi persyaratan teknis dan keuangan.
Pasal 30
(1) Apabila telah selesai melaksanakan Eksplorasi, pemegang IUP wajib
mengajukan rencana Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
ayat (1) huruf b kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Jangka waktu untuk melakukan Studi Kelayakan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 28 ayat (1) huruf b berlaku paling lama 2 (dua) tahun sejak jangka waktu
Eksplorasi berakhir.
Pasal 31
(1) Pemegang IUP wajib memberikan laporan hasil Studi Kelayakan secara tertulis
kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
sebelum melakukan Eksploitasi dengan dilampirkan:
a. rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang Eksploitasi yang
mencakup rencana kerja dan rencana anggaran; dan
581
b. keputusan kelayakan lingkungan berdasarkan hasil kajian Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan atau persetujuan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan
Upaya Pemantauan Lingkungan.
(2) Rencana jangka panjang Eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a meliputi:
a. lokasi titik bor pengembangan;
b. kegiatan pengembangan sumur produksi;
c. pembiayaan;
d. penyiapan saluran pemipaan produksi; dan e. rencana pemanfaatan Panas
Bumi.
Pasal 32
(1) Jangka waktu untuk melakukan Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
28 ayat (1) huruf c berlaku paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak jangka waktu
Eksplorasi berakhir.
(2) Jangka waktu untuk melakukan Ekspoitasi dapat diperpanjang paling lama 20
(dua puluh) tahun untuk setiap kali perpanjangan.
(3) Dalam memberikan persetujuan perpanjangan untuk melakukan Eksploitasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri, gubernur atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya mempertimbangkan faktor-faktor potensi
cadangan Panas Bumi dari Wilayah Kerja yang bersangkutan, potensi, atau
kepastian pasar/kebutuhan, kelayakan teknis, ekonomis, dan lingkungan.
Pasal 33
Pemegang IUP yang telah melakukan Eksploitasi dapat melakukan kegiatan
pemanfaatan Panas Bumi secara langsung maupun tidak langsung sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 34
Pemegang IUP berhak untuk mendapatkan penangguhan berlakunya jangka waktu
Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dari Menteri, gubernur
atau bupati/walikota sesuai kewenangannya sampai dengan mendapatkan izin
pemanfaatan Panas Bumi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
582
Bagian Kedua
Penghentian Sementara
Pasal 35
(1) Penghentian sementara pengusahaan sumber daya Panas Bumi dapat diberikan
kepada pemegang IUP apabila terjadi keadaan kahar (force majeure) dan/atau
keadaan yang menghalangi sehingga menimbulkan penghentian sebagian atau
seluruh kegiatan Usaha Pertambangan Panas Bumi.
(2) Pemberian penghentian sementara pengusahaan sumber daya Panas Bumi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi masa berlaku IUP.
(3) Permohonan penghentian sementara pengusahaan sumber daya Panas
Bumi disampaikan. kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai
kewenangannya paling lama 14 (empat belas) hari sejak terjadinya keadaan
kahar dan/atau keadaan yang menghalangi sehingga mengakibatkan penghentian
sebagian atau seluruh pengusahaan sumber daya Panas Bumi.
(4) Mentefi, gubernur atau bupati/walikota sesuai kewenangannya wajib
mengeluarkan keputusan tertulis diterima atau ditolak disertai alasannya atas
permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling lama 30 (tiga puluh)
hari sejak menerima permohonan tersebut.
(5) Jangka waktu penghentian sementara karena keadaan kahar dan/atau keadaan
yang menghalangi diberikan paling lama 1 (satu) tahun sejak tanggal permohonan
diterima oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai kewenangannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan dapat diperpanjang paling banyak 1
(satu) kali untuk 1 (satu) tahun.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai penghentian sementara pengusahaan sumber
daya Panas Bumi karena keadaan kahar dan/atau keadaan yang menghalangi
diatur dalam Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Pengembalian Wilayah Kerja
Pasal 36
Luas Wilayah Kerja untuk Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat
(1) huruf a yang dapat diberikan kepada Badan Usaha yang telah mendapat IUP tidak
boleh melebihi 200.000 (dua ratus ribu) hektar.
583
Pasal 37
(1) Luas Wilayah Kerja untuk Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat
(1) huruf c yang dapat diberikan kepada pemegang IUP tidak boleh melebihi
10.000 (sepuluh ribu) hektar.
(2) Untuk mendapat Wilayah Kerja Eksploitasi yang luasnya melebihi ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemegang IUP harus terlebih dahulu
mendapat persetujuan dari Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya dengan dilampiri laporan kapasitas terpasang
pengembangan lapangan Panas Bumi.
Pasal 38
(1) Pemegang IUP dapat mengembalikan sebagian Wilayah Kerjanya kepada Menteri,
gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya sebelum jangka
waktu, IUP berakhir.
(2) Dalam hal Pemegang IUP mengembalikan seluruh Wilayah Kerjanya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), terlebih dahulu wajib menyampaikan data dan kewajiban
lain yang tercantum dalam IUP.
Pasal 39
(1) Apabila dalam jangka waktu Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
29 tidak ditemukan cadangan energi Panas Bumi yang dapat diproduksikan
secara komersial, maka pemegang IUP wajib mengembalikan seluruh Wilayah
Kerjanya kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Pemegang IUP wajib mengembalikan seluruh Wilayah Kerja kepada Menteri,
gubernur atau bupati/walikota sesuai kewenangannya setelah jangka waktu IUP
berakhir.
Pasal 40
(1) Pada saat atau sebelum berakhirnya jangka waktu Studi Kelayakan, pemegang
IUP wajib mengembalikan secara bertahap sebagian Wilayah Kerja yang tidak
dimanfaatkan lagi kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun setelah pemegang IUP
menyelesaikan kegiatan Studi Kelayakan wajib mengembalikan Wilayah Kerja
584
Eksplorasi sehingga Wilayah Kerja yang dipertahankan untuk Eksploitasi tidak
boleh melebihi 10.000 (sepuluh ribu) hektar.
(3) Dalam hal luas Wilayah Kerja untuk Eksplorasi semula kurang dari 200.000 (dua
ratus ribu) hektar, pemegang IUP tetap dapat mempertahankan Wilayah Kerja
untuk Eksploitasi seluas 10.000 (sepuluh ribu) hektar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 37 ayat (1).
Pasal 41
(1) Pemegang IUP sebelum mengembalikan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 38, Pasal 39 dan Pasal 40 wajib melakukan kegiatan reklamasi dan
pelestarian fungsi lingkungan.
(2) Pengembalian Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, Pasal 39,
dan Pasal 40 dinyatakan sah setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri,
gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan pengembalian
sebagian atau seluruhnya dari Wilayah Kerja Eksplorasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Berakhirnya IUP
Pasal 42
IUP berakhir karena:
a. habis masa berlakunya;
b. dikembalikan;
c. dibatalkan; atau
d. dicabut.
Pasal 43
Dalam hal jangka waktu yang ditentukan dalam IUP telah berakhir dan
permohonan perpanjangan IUP tidak diajukan atau permohonan perpanjangan IUP
tidak memenuhi persyaratan, IUP tersebut berakhir.
Pasal 44
(1) Pemegang IUP dapat menyerahkan kembali IUP dengan pernyataan tertulis
kepada Menteri, gubernur atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya
585
apabila hasil Eksplorasi tidak memberikan nilai keekonomian yang diharapkan.
(2) Pengembalian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan sah
setelah disetujui oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 45
Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
mencabut IUP apabila pemegang IUP:
a.
tidak menyelesaikan hak-hak atas bidang-bidang tanah, tanam tumbuh, dan/
atau bangunan yang rusak akibat pengusahaan sumber daya Panas Bumi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b.
tidak melakukan Eksplorasi dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak pemberian
IUP;
c.
tidak melakukan Studi Kelayakan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak
pemberian IUP dalam hal Eksplorasi dilakukan oleh Menteri;
d.
tidak melakukan Eksploitasi dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak jangka
waktu Eksplorasi berakhir;
e.
dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak pemegang IUP telah mendapatkan izin
usaha pemanfaatan Panas Bumi tidak melakukan kegiatan pemanfaatan;
f.
tidak membayar penerimaan negara berupa pajak dan penerimaan negara bukan
pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
g. tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangundangan; atau tidak memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja,
perlindungan lingkungan, dan teknis pertambangan Panas Bumi.
Pasal 46
Dalam hal IUP berakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43, Pasal 44 dan
Pasal 45 maka segala hak pemegang IUP berakhir.
Pasal 47
(1) Dalam hal IUP berakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43, Pasal 44, dan
Pasal 45, pemegang IUP wajib:
a. melunasi seluruh kewajiban finansial serta memenuhi dan menyelesaikan
segala kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
586
b. melaksanakan semua ketentuan-ketentuan yang ditetapkan berkaitan
dengan berakhirnya IUP;
c. melakukan usaha-usaha pengamanan terhadap benda-benda maupun
bangunan-bangunan dan keadaan tanah di sekitarnya yang dapat
membahayakan keamanan umum;
c. dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak IUP berakhir
mengangkat benda-benda, bangunan dan peralatan yang menjadi miliknya
yang masih terdapat dalam bekas Wilayah Kerjanya, kecuali bangunan yang
dapat digunakan untuk kepentingan umum; dan
e. mengembalikan seluruh Wilayah Kerja dan wajib menyerahkan semua data,
baik dalam bentuk analog maupun digital yang ada hubungannya dengan
pelaksanaan pengusahaan sumber daya Panas Bumi kepada Menteri,
gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Dalam hal benda-benda, bangunan, dan peralatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf d tidak dapat diangkat keluar dari bekas Wilayah Kerja
yang bersangkutan, maka oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai
kewenangannya dapat diberikan izin untuk memindahkannya kepada pihak
ketiga.
(3) Pengembalian Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e
dinyatakan sah setelah pemegang IUP memenuhi seluruh kewajibannya dan
mendapat persetujuan tertulis dari Menteri, gubernur atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengamanan dan pemindahan hak milik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf d diatur dalam Peraturan
Menteri.
BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN PEMEGANG IUP
Bagian Kesatu Hak Pemegang IUP
Pasal 48
(1) Pemegang IUP berhak:
a. melakukan Kegiatan Usaha Pertambangan Panas Bumi berupa Eksplorasi,
Studi Kelayakan, dan Eksploitasi di Wilayah Kerjanya setelah memenuhi
ketentuan peraturan perundang-undangan;
587
b. menggunakan data dan informasi selama jangka waktu berlakunya IUP di
Wilayah Kerjanya;
c. dapat memperoleh fasilitas perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Dalam melakukan Kegiatan Usaha Pertambangan Panas Bumi berupa Eksplorasi,
Studi Kelayakan, dan Eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
Pemegang IUP berhak :
a. memasuki dan melakukan kegiatan di Wilayah Kerja yang bersangkutan;
b. menggunakan sarana dan prasarana umum;
c. memanfaatkan sumber daya Panas Bumi untuk pemanfaatan langsung;
d. menjual uap Panas Bumi yang dihasilkan; dan/atau
e. mendapatkan perpanjangan jangka waktu IUP.
Pasal 49
Pemegang IUP berhak melakukan seluruh kegiatan usaha pertambangan Panas
Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 secara berkesinambungan setelah
memenuhi persyaratan :
a.
keselamatan dan kesehatan kerja;
a.
perlindungan lingkungan; dan
b.
teknis pertambangan Panas Bumi.
Pasal 50
Pada tahap Eksplorasi, pemegang IUP berhak melakukan Eksplorasi dengan
mempergunakan metode dan peralatan yang baik dan benar, mencakup:
a.
penyelidikan geologi;
b.
penyelidikan geofisika;
c.
penyelidikan geokimia;
d.
pengeboran landaian suhu; dan
e. pengeboran sumur Eksplorasi dan uji produksi.
Pasal 51
Pada tahap Studi Kelayakan, pemegang IUP berhak melakukan evaluasi cadangan
dan kelayakan teknis, ekonomi, dan lingkungan berdasarkan standar yang lazim.
588
Pasal 52
Pada tahap Eksploitasi, pemegang IUP berhak melakukan segala kegiatan sesuai
dengan hasil Studi Kelayakan, termasuk:
a.
pengeboran sumur pengembangan dan sumur reinjeksi;
b.
pembangunan fasilitas lapangan dan operasi produksi sumber daya Panas
Bumi;
c.
pembangunan sumur produksi;
d.
pembangunan infrastruktur untuk mendukung Eksploitasi Panas Bumi dan
penangkapan uap Panas Bumi.
Bagian Kedua
Kewajiban Pemegang IUP
Pasal 53
(1) Pemegang IUP wajib :
a. memahami dan mematuhi peraturan perundang­undangan di bidang
keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan lingkungan, serta memenuhi
standar yang berlaku yang mencakup:
1. menjalankan usaha sesuai dengan izin yang dimiliki;
2. mengembangkan lapangan dan memanfaatkan hasil Eksploitasi dari
setiap potensi yang telah ditemukan;
3. memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan
lingkungan dan teknis pertambangan Panas Bumi;
4. menyampaikan rencana jangka panjang Eksplorasi dan/atau studi
kelayakan yang mencakup rencana kegiatan dan rencana anggaran;
5. menyampaikan rencana jangka pendek dan jangka panjang Eksploitasi
yang mencakup rencana kegiatan dan rencana anggaran, dan
6. menyusun dokumen rencana pascatambang.
b. mengelola lingkungan hidup mencakup kegiatan pencegahan dan
penanggulangan pencemaran serta pemulihan fungsi lingkungan hidup dan
melakukan reklamasi;
c. membayar penerimaan negara berupa pajak dan penerimaan negara bukan
pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
589
d. mengutamakan pemanfaatan barang, jasa, teknologi serta kemampuan
rekayasa dan rancang bangun dalam negeri secara transparan dan
bersaing;
e. memberikan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan penelitian
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Panas Bumi;
dan
f. memberikan dukungan terhadap kegiatan penciptaan, pengembangan
kompetensi, dan pembinaan sumber daya manusia di bidang Panas Bumi;
g. melaksanakan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
setempat;
h. memberikan laporan tertulis .secara berkala atas rencana kerja dan
pelaksanaan kegiatan Usaha Pertambangan Panas Bumi kepada Menteri,
gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Laporan tertulis secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h
dilaksanakan sesuai ketentuan sebagai berikut:
a. untuk kegiatan Eksplorasi dan Studi Kelayakan laporan yang disampaikan
berupa laporan triwulan, laporan tahunan, dan rencana kerja tahunan;
atau
b. untuk kegiatan Eksploitasi laporan yang disampaikan berupa laporan
bulanan, laporan triwulan, laporan tahunan, dan rencana kerja tahunan.
Paragraf 1
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pasal 54
Pemegang IUP wajib memenuhi kinerja keselamatan dan kesehatan kerja
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 (1) huruf a angka 3 meliputi:
a.
tersedianya organisasi dan personil keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
termasuk kepala teknik tambang;
b.
terselenggaranya administrasi pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja
(K3);
c.
terpenuhinya jaminan keselamatan peralatan, lingkungan kerja, metode dan
proses kerja; dan
d.
tersedianya prosedur penanganan dan analisa kecelakaan dan kesehatan
kerja.
590
Paragraf 2
Perlindungan Lingkungan
Pasal 55
Pemegang I1JF wajib memenuhi kinerja perlindungan lingkungan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf a angka 3, dinilai dari beberapa aspek:
a.
keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil kajian analisis mengenai
dampak lingkungan atau persetujuan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya
pemantauan lingkungan;
a.
pemenuhan terhadap semua baku mutu lingkungan dan kriteria baku kerusakan
lingkungan;
b.
laporan hasil pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana
pemantauan lingkungan atau upaya pengelolaan lingkungan dan upaya
pemantauan lingkungan; dan
c.
pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
Paragraf 3
Teknis Pertambangan Panas Bumi
Pasal 56
Pemegang IUP wajib memenuhi kinerja teknis pertambangan Panas Bumi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf a angka 3 meliputi:
a.
pelaksanaan kaidah teknik pertambangan yang baik dan benar serta standar
Eksplorasi atau Eksploitasi Panas Bumi;
b.
kemampuan melaksanakan Eksplorasi atas seluruh Wilayah Kerja;
c.
besarnya dana/investasi untuk keperluan Eksplorasi dan Eksploitasi Panas
Bumi;
d.
tata cara menghitung sumber daya dan cadangan;
e.
perencanaan dan konstruksi pengembangan Panas Bumi; dan
f.
efisiensi dalam memproduksi sumber Panas Bumi.
Pasal 57
Ketentuan lebih lanjut mengenai kinerja keselamatan dan kesehatan kerja (K3),
perlindungan lingkungan, dan teknis pertarnbangan, diatur sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
591
Paragraf 4
Rencana Jangka Panjang Eksplorasi
dan Eksploitasi
Pasal 58
(1) Pemegang IUP sebelum dimulainya tahun takwim, wajib menyampaikan rencana
jangka panjang kegiatan Eksplorasi dan/atau Studi Kelayakan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf a angka 4, kepada Menteri, gubernur
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya paling lambat 3 (tiga) bulan
sejak tahap Eksplorasi atau Studi Kelayakan dimulai.
(2) Rencana jangka panjang Eksplorasi sebagaimana dirnaksud pada ayat (1)
mencakup rencana kegiatan dan rencana anggaran.
Pasal 59
(1) Pemegang IUP sebelum dimulainya tahun takwim, wajib menyampaikan rencana
jangka pendek dan rencana jangka panjang Eksploitasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 53 ayat (1) huruf a angka 5, kepada Menteri, gubernur atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya paling lambat 1 (satu) tahun sejak
kegiatan Studi Kelayakan berakhir.
(2) Rencana jangka panjang Eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mencakup rencana kegiatan dan rencana anggaran termasuk besarnya
cadangan.
Pasal 60
(1) Penyesuaian terhadap rencana jangka panjang Eksplorasi dan Eksploitasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dan Pasal 59 dapat dilakukan setiap
tahun sesuai dengan kondisi yang dihadapi melalui rencana kerja dan anggaran
belanja tahunan.
(2) Rencana kerja dan anggaran belanja tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diajukan kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya paling lambat 2 (dua) bulan sebelum rencana kerja dan anggaran
belanja tahunan berjalan.
Paragraf 5
Rencana Pascatambang
592
Pasal 61
(1) Pemegang IUP dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) tahun sebelum Kegiatan
Usaha Panas Bumi berakhir wajib menyusun dan menyampaikan dokumen rencana
pascatambang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf a angka 6
kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
untuk mendapat persetujuan.
(2) Dokumen rencana pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
antara lain:
a. pembongkaran instalasi dan rencana reklamasi;
b. penanganan lingkungan hidup meliputi rencana reklamasi lahan pasca­
tambang disesuaikan dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) pada saat
analisis mengenai dampak lingkungan disetujui; dan
b. penanganan program sosial masyarakat pada masa transisi dan program
pembangunan berkelanjutan.
Pasal 62
(1) Pemegang IUP wajib mengalokasikan dana jaminan untuk kegiatan pascatambang
pengusahaan sumber daya Panas Bumi pada bank.
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan sejak dimulainya
masa Eksploitasi dan dilaksanakan melalui rencana kerja dan anggaran.
(3) Penempatan alokasi dana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2),
disepakati Pemegang IUP, Menteri, gubernur, dan bupati/walikota yang berfungsi
sebagai cadangan khusus kegiatan reklamasi dan pascatambang di Wilayah Kerja
yang bersangkutan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyetoran, besaran dan pencairan
dana jaminan pascatambang diatur dalam Peraturan Menteri.
Paragraf 6
Penerimaan Negara
Pasal 63
(1) Pemegang IUP wajib membayar penerimaan negara berupa pajak dan penerimaan
negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf c
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang‑undangan.
(2) Penerimaan negara berupa pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
593
a. pajak;
b. bea masuk dan pungutan lain atas cukai dan impor; dan
c. pajak daerah dan retribusi daerah.
(3) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
a. pungutan negara berupa Iuran Tetap dan Iuran Produksi serta pungutan
negara lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
dan
b. bonus.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai iuran dan tarif penerimaan negara bukan
pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah
tersendiri.
Paragraf 7
Pemanfaatan Barang, Jasa, Teknologi serta
Kemampuan Rekayasa dan Rancang Bangun Dalam Negeri
Pasal 64
(1) Pemegang IUP wajib mengutamakan pemanfaatan barang, jasa, teknologi serta
kemampuan rekayasa dan rancang bangun dalam negeri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 53 ayat (1) huruf d berdasarkan standar yang berlaku sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(1) Dalam hal pemegang IUP menggunakan perusahaan jasa baik peru.sahaan
jasa asing maupun perusahaan jasa dalam negeri wajib memenuhi ketentuan
klasifikasi dan kualifikasi usaha jasa pertambangan Panas Bumi.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan usaha jasa pertambangan
Panas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam F’eraturan
Menteri.
Pasal 65
(1) Dalam hal barang dan peralatan, jasa, teknologi serta kemampuan rekayasa
dan rancang bangun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (1) belum
diproduksi di dalam negeri, pemegang IUP dapat memperoleh fasilitas untuk
mengimpor barang dan jasa.
594
(2) Barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan standar/mutu, efisiensi biaya operasi, jaminan waktu penyerahan
dan dapat memberikan jaminan pelayanan puma jual.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara pemberian fasilitas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan.
Paragraf 8
Program Pengembangan dan
Pemberdayaan Masyarakat
Pasal 66
(1) Pemegang IUP pada tahap Eksploitasi wajib melaksanakan program pengem­
bangan dan pemberdayaan masyarakat setempat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 53 ayat (1) huruf g.
(2) Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi keikutsertaan dalam mengembangkan dan
memanfaatkan potensi kemampuan masyarakat dengan cara:
a. Menggunakan tenaga kerja, jasa dan produk lokal sesuai dengan kompetensi/
spesifikasi yang dibutuhkan;
b. membantu pelayanan sosial masyarakat;
c. membantu peningkatan kesehatan, pendidikan dan pelatihan masyarakat;
dan/atau
d. membantu pengembangan sarana dan prasarana.
Pasal 67
Dalam melakukan kegiatan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66, Pemegang IUP berkoordinasi dengan
pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota setempat.
BAB V
DATA PANAS BUMI
Pasal 68
(1) Semua data dan informasi yang diperoleh sesuai dengan ketentuan dalam IUP
merupakan data milik negara dan pengaturan pemanfaatannya dilakukan oleh
Menteri.
595
(2) Menteri menetapkan pengaturan pengelolaan dan pemanfaatan data dan informasi
yang diperoleh dari :
a. Survei Pendahuluan yang dilakukan oleh Menteri, gubernur, dan/atau bupati/
walikota serta Pihak Lain;
b. Eksplorasi yang dilakukan oleh Menteri dan Pemegang IUP; dan
c. Eskploitasi yang dilakukan Pemegang IUP.
Pasal 69
(1) Pengelolaan data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (2) meliputi
perolehan, pengadministrasian, pengolahan, penataan, penyimpanan, pe­
meliharaan, dan pemusnahan data.
(2) Pemanfaatan data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (2) digunakan
untuk:
a. penetapan klasifikasi potensi dan Wilayah Kerja;
b. penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional dan Rencana Usaha
Penyediaan Tenaga Listrik;
c. perencanaan pemanfaatan Panas Bumi untuk pemanfaatan langsung;
d. penentuan potensi sumber daya dan cadangan Panas Bumi nasional; dan
e. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Panas Bumi.
Pasal 70
(1) Pengiriman, penyerahan, dan/atau pemindahtanganan data yang diperoleh dari
Survei Pendahuluan, Eksplorasi, dan Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 68 ayat (2) wajib mendapatkan izin Menteri.
(2) Menteri menetapkan jenis data yang wajib mendapatkan izin sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
Pasal 71
(1) Pemegang IUP dapat mengelola data hasil kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi di
Wilayah Kerjanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) selama jangka
waktu berlakunya IUP, kecuali pemusnahan data.
(2) Pemegang IUP wajib menyimpan data yang dipergunakan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) di Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia.
596
Pasal 72
(1) Apabila IUP berakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44
dan Pasal 45, Pemegang IUP wajib menyerahkan seluruh data yang diperoleh
dari hasil Eksplorasi dan Eksploitasi kepada Menteri, gubernur atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pemegang IUP wajib menyerahkan kepada Menteri, gubernur atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya seluruh data yang diperoleh dari hasil
Eksplorasi dan Eksploitasi di Wilayah Kerjanya apabila Wilayah Kerja tersebut
dikembalikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 , Pasal 39, dan Pasal 40.
(3) Gubernur dan bupati/walikota wajib menyampaikan data yang diperoleh
dari pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) kepada
Menteri.
Pasal 73
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan dan pemanfaatan data
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69, Pasal 70, Pasal 71 dan Pasal 72 diatur dalam
Peraturan Menteri.
Pasal 74
Data diklasifikasikan sebagai berikut :
a.
data umum, yaitu merupakan data mengenai identifikasi dan letak geografis
potensi, cadangan Panas Bumi, serta Eksploitasi Panas Bumi;
a.
data dasar, yaitu merupakan deskripsi atau besaran dari hasil rekaman atau
pencatatan dari penyelidikan geologi, geofisika, geokimia, landaian suhu,
kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi;
b.
data olahan, yaitu merupakan data yang diperoleh dari hasil analisis dan evaluasi
data dasar; dan
c.
data interpretasi, yaitu merupakan data yang diperoleh dari hasil interpretasi
data dasar dan/atau data olahan.
Pasal 75
(1) Data dasar, data olahan, dan data interpretasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 74 bersifat rahasia untuk jangka waktu tertentu.
(2) Masa kerahasiaan data seba.gaimana dimaksud pada ayat (1) masing-masing
adalah sebagai berikut:
597
(1) data dasar, ditetapkan 4 (empat) tahun;
(2) data olahan, ditetapkan 6 (enam) tahun; dan c. data interpretasi, ditetapkan
8 (delapan) tahun.
(3) Apabila suatu Wilayah Kerja dikembalikan kepada Menteri, gubernur atau bupati/
walikota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, Pasal 39 dan Pasal 40, makes
seluruh data dari Wilayah Kerja yang bersangkutan tidak lagi diklasifikasikan
sebagai data yang bersifat rahasia.
BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 76
(1) Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan
usaha pertambangan Panas Bumi yang dilakukan oleh gubernur, bupati dan
walikota.
(2) Pembinaan dan Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
penetapan pelaksanaan kebijakan, pedoman, bimbingan, fasilitasi, arahan,
supervisi, pemantauan dan pelatihan dalam hal:
a. pelaksanaan Survei Pendahuluan;
b. penawaran Wilayah Kerja;
c. perizinan;
d. pembinaan dan pengawasan terhadap Pemegang IUP; dan
e. pengelolaan data dan informasi Panas Bumi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri.
Pasal 77
Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan
pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan Panas
Bumi yang dilakukan oleh pemegang IUP.
Pasal 78
Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 meliputi:
a. Eksplorasi yang terdiri atas:
1. kaidah teknik;
598
2.
3.
4.
5.
6.
7. standar;
perencanaan;
anggaran biaya;
pelaksanaan kegiatan (ketepatan waktu);
pelaporan; dan
perkiraan surnberdaya dan cadangan.
b. Eksploitasi yang terdiri atas:
1. kaidah teknik;
2. standar;
3. perencanaan;
4. cadangan;
5. produksi;
6. laporan pelaksanaan; dan
7. optimalisasi pemanfaatan energi Panas Bumi;
c.
Keuangan yang terdiri atas:
1. perencanaan. anggaran;
2. realisasi pengeluaran;
3. investasi; dan
4. pemenuhan kewajiban pembayaran.
d. Pengolahan data Panas Bumi yang terdiri atas:
1. sumberdaya dan cadangan;
2. daerah resapan dan keluaran;
3. sumur injeksi;
4. sumur produksi/pengembangan;
5. karakteristik reservoir, dan
6. produksi.
e. Konservasi bahan galian yang terdiri atas:
1. optimalisasi pemanfaatan potensi sumber daya Panas Bumi; dan
2. pemanfaatan mineral ikutan.
f. Keselamatan dan kesehatan kerja yang terdiri atas:
1. organisasi dan personil keselamatan dan kesehatan kerja (K3) termasuk
kepala teknik tambang;
2. administrasi pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3);
3. keselamatan peralatan, lingkungan kerja, metode dan proses kerja; dan
4. penanganan dan analisa kecelakaan kerja.
599
g. Pengelolaan lingkungan hidup dan reldamasi yang terdiri atas:
1. penyusunan dan pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan atau
upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan; dan
2. pelaksanaan reklamasi.
h.
Pemanfaatan barang, jasa, teknologi, serta kemampuan rekayasa dan rancang
bangun dalam negeri.
i. Pengembangan tenaga kerja Indonesia yang terdiri atas:
1. kemampuan kerja dan alih teknologi; dan
2. pemberdayaan dan penggunaan tenaga kerja setempat.
j. Pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat yang terdiri atas:
1. integrasi program pengembangan masyarakat;
2. kemitraan antara Pemegang IUP dengan masyarakat; dan
3. realisasi penggunaan dana pengembangan masyarakat.
k. Penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan Panas
Bumi yang terdiri atas:
1. teknologi Eksplorasi dan Eksploitasi;
2. penerapan kaidah teknik dan standar;
3. penghitungan cadangan dan kapasitas sumber Panas Bumi; dan
4. teknologi mengatasi kendala Eksploitasi.
l. Kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan Panas Bumi sepanjang
menyangkut kepentingan umum yang terdiri atas:
1. pelaksanaan ketentuan tentang jarak lokasi bor produksi terhadap fasilitas
umum;
2. penyelesaian ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan Panas
Bumi; dan
3. pengamanan fasilitas umum dan tempat suci serta cagar budaya.
m. Pengelolaan Panas Bumi; dan
n.
Penerapan kaidah keekonomian dan kaidah teknik yang terdiri atas:
1. prosedur analisa kelayakan;
2. pemanfaatan teknologi baru;
3. efisiensi, kewajaran kegiatan, dan biaya operasi;
4. analisa sensitivitas/kepekaan perubahan; dan
5. studi kelayakan meliputi perencanaan; analisis mengenai dampak ling­kungan
atau upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan;
keekonomian; evaluasi cadangan; dan pelaksanaan.
600
Pasal 79
Pengawasan terhadap pelaksanaan keselamatan, dan kesehatan kerja,
perlindungan lingkungan dan teknis pertambangan Panas Bumi dilaksanakan oleh
Inspektur Tambang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang­undangan.
Pasal 80
Gubernur, bupati, dan walikota sesuai dengan kewenangan masing-masing wajib
melaporkan hasil pelaksanaan penyelenggaran usaha pertambangan Panas Bumi di
wilayahnya masing-masing setiap 6 (enam) bulan sekali kepada Menteri.
BAB VII
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 81
(1) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
mengenakan sanksi administratif kepada pemegang IUP atas pelanggaran
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (6), Pasal 30 ayat (1),
Pasal 31 ayat (1), Pasal 38 ayat (2), Pasal 39 ayat (1), ayat (2), Pasal 40 ayat (1),
ayat (2), Pasal 41 ayat (1), Pasal 53 ayat (1), Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal
58 ayat (1), Pasal 59 ayat (1), Pasal 61 ayat (1), Pasal 62 ayat (1), ayat (2), Pasal
63 ayat (1), Pasal 64 ayat (1), ayat (2), Pasal 66 ayat (1), Pasal 70 ayat (1), Pasal
71 ayat (1), ayat (2) , Pasal 72 ayat (1) atau ayat (2).
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara seluruh kegiatan Eksplorasi atau Eksploitasi; atau
c. pencabutan izin.
Pasal 82
(1) Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (2) huruf a
dikenakan kepada pemegang IUP apabila melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 81 ayat (1).
(2) Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling banyak
3 (tiga) kali dalam jangka waktu peringatan masing-masing 1 (satu) bulan.
601
Pasal 83
(1) Dalam hal pemegang IUP yang mendapat sanksi peringatan tertulis setelah
berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis ketiga sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 82 ayat (2) belum melaksanakan kewajibannya, Menteri, gubernur
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mengenakan sanksi
administratif berupa penghentian sementara seluruh kegiatan eksplorasi atau
eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (2) huruf b.
(2) Sanksi administratif berupa penghentian sementara seluruh kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan untuk jangka waktu paling lama
3 (tiga) bulan.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sewaktu-waktu
dapat dicabut apabila pemegang IUP dalam masa pengenaan sanksi memenuhi
kewajibannya.
Pasal 84
Sanksi administratif berupa pencabutan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
81 ayat (2) huruf c dikenakan kepada pemegang IUP yang terkena sanksi administratif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 ayat (2) tidak melaksanakan kewajibannya
sampai dengan berakhirnya jangka waktu pengenaan sanksi penghentian sementara
seluruh kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.
BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 85
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Kuasa, Izin Pengusahaan Panas
Bumi untuk Pembangkitan Tenaga Listrik atau Kontrak Pengusahaan Sumber Daya
Panas Bumi dan/atau Kontrak Beli Uap atau tenaga Listrik dalam Wilayah Kerja yang
telah ada sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini, dinyatakan tetap berlaku
sampai berakhirnya Kuasa, Izin atau Kontrak dimaksud dan dapat diperpanjang
dengan mengikuti ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 86
Apabila dalam Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 belum
dilakukan kegiatan Eskploitasi paling lambat sampai dengan tanggal 21 Oktober 2010
maka Pemegang Kuasa dan Izin serta kontrak dimaksud wajib mengembalikan Wilayah
602
Kerjanya kepada Pemerintah dengan mengikuti ketentuan Peraturan Pemerintah
ini.
Pasal 87
Penyelenggaraan kewenangan pengelolaan pertambangan Panas Bumi baik dalam
bentuk Kuasa, Izin atau Kontrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 dilaksanakan
oleh Menteri.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 88
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 5 November 2007
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 5 November 2007
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
ANDI MATTALATTA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 132
Salinan sesuai dengan aslinya
DEPUTI MENTERI SEKRETARIS NEGARA
BIDANG PERUUNDANGAN
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 59 TAHUN 2007
TENTANG
KEGIATAN USAHA PANAS BUMI
I. UMUM
Sumber daya Panas Bumi merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang
mernberikan manfaat untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan,
memberikan nilai tambah secara keseluruhan, meningkatkan pendapatan negara, dan
masyarakat untuk mendorong pertumbuhan perekonomian nasional demi peningkatan
kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Negara Indonesia bertepatan dengan jalur vulkanik terpanjang di dunia.
Sebagai negara yang dilalui oleh jalur vulkanik, potensi sumber daya Panas Bumi
menyebar mulai dari Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Bali, Pulau Nusa Tenggara,
Pulau Maluku sampai ke Pulau Sulawesi. Mengingat potensi sumber daya Panas Bumi
Indonesia yang besar, peranan pemanfaatan Panas Bumi dapat lebih ditingkatkan,
sejalan dengan kebijakan energi nasional, khususnya dalam aspek konservasi dan
diversifikasi energi serta dapat dimanfaatkan secara langsung untuk pengeringan
hasil pertanian, pemanasan rumah/rumah sakit di daerah dingin, sebagai daerah
rekreasi dan pengobatan, sehingga sangat beralasan kiranya pengusahaan Panas
Bumi dijadikan sebagai salah satu alert pemacu peningkatan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat Indonesia.
Pengusahaan Panas Bumi di sisi hulu sifatnya padat modal dan padat teknologi
dengan berisiko tinggi. Oleh karena itu, untuk menanggulangi risiko kegagalan dalam
pemboran Eksplorasi Panas Bumi maka Pemerintah dan Pemerintah Daerah perlu
melakukan Survei Pendahuluan dan/atau meningkatkan kegiatan Eksplorasi untuk
603
604
mendata potensi Panas Bumi sebagai bahan pertimbangan dalam penyiapan dan
penetapan Wilayah Kerja Panas Bumi.
Bahwa tahapan Kegiatan Usaha Panas Bumi meliputi kegiatan Survei
Pendahuluan, Penetapan Wilayah Kerja dan Pelelangan Wilayah Kerja, Eksplorasi,
Studi Kelayakan, Eksploitasi, dan Pemanfaatan. Kegiatan­kegiatan tersebut dapat
dilakukan secara terpisah dan/atau secara terpadu. Namun, semua kegiatan ini
harus dapat memberikan kepastian dalam pengembangan Panas Bumi yang selama
ini pemanfaatan paling utama dari Panas Bumi adalah untuk keperluan tenaga listrik,
walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa Panas Bumi masih dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan lain secara langsung.
Karena keunikannya yang berbeda dengan minyak dan gas bumi dan bahan
tambang lainnya, yang pengembangannya sangat fleksibel, Panas Bumi baru memiliki
nilai ekonomis apabila hasil Eksploitasi sisi hulu dapat dimanfaatkan. Oleh karena
itu, pengaturan kegiatan sisi hulu pengusahaan Panas Bumi harus sejalan dengan
kegiatan pada sisi hilir yang berkaitan dengan pemanfaatannya diatur tersendiri atau
mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peraturan Pemerintah ini mengatur kegiatan usaha hulu Panas Bumi, yang
antara lain meliputi pengaturan mengenai penyelenggaraan kegiatan pengusahaan
pertambangan Panas Bumi yaitu kegiatan Survei Pendahuluan, Eksplorasi dan
Eksploitasi uap, termasuk pembinaan dan pengawasan, mekanisme penyiapan Wilayah
Kerja, Pelelangan Wilayah Kerja Panas Bumi, Izin Usaha Pertambangan Panas Bumi
(IUP), hak dan kewajiban pemegang IUP, serta data dan informasi.
Untuk menjamin pelaksanaan pengusahaan Panas Bumi guna mencapai tujuan
dan sasaran yang diinginkan, Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melakukan
pembinaan dan pengawasan.
Guna memberikan landasan hukum bagi penyelenggaraan kegiatan pengusahaan
Panas Bumi yang menganut as,a.s manfaat, efisiensi, keadilan, kebersamaan,
optimasi ekonomis dalam pemanfaatan sumber daya, keterjangkauan, berkelanjutan,
percaya dan mengandalkan pada kemampuan sendiri, keamanan dan keselamatan,
kelestarian fungsi lingkungan hidup, serta kepastian hukum maka perlu ditetapkan
dengan Peraturan Pemerintah.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
605
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Ayat (1)
Yang dimaksud “dinas” adalah dinas yang menangani masalah pertambangan
Panas bumi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Ayat (1)
Cukup jelas.
606
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan “instansi terkait” adalah departemen dan/atau lembaga
Pemerintah non departemen.
Konsultasi dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang batas, koordinat,
dan rencana luas Wilayah Kerja tertentu yang dianggap potensial mengandung
sumber daya Panas Bumi menjadi Wilayah Kerja.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 12
Ayat (1)
Harga dasar data pada Wilayah Kerja diklasifikasikan berdasarkan kondisi potensi
wilayah, intisari data Survei Pendahuluan dan/atau Eksplorasi.
Ayat (2)
Cukup Jelas.
Ayat (3)
Cukup Jelas.
Ayat (4)
Cukup Jelas.
Pasal 13
Cukup Jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Dalam rangka pengembangan daerah tertinggal, maka eksplorasi di wilayah
tersebut dapat dilakukan sampai diperoleh data cadangan terbukti.
Ayat (2)
Cukup jelas.
607
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Yang dimaksud dengan Kuasa Usaha Ketenagalistrikan adalah kewenangan yang
diberikan oleh Pemerintah kepada badan usaha milik negara yang diserahi tugas
semata-mata untuk melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan
umum dan diberi tugas untuk melakukan pekerjaan usaha penurtjang tenaga listrik,
Yang dimaksud dengan ketentuan peraturan perundang-undangan adalah
peraturan perundangan dibidang ketenagalistrikan.
Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “instansi terkait” adalah departemen dan/ atau
lembaga Pemerintah non departemen.
608
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Huruf a
Kemampuan pendanaan antara lain berupa penyampaian laporan keuangan
tahun terakhir yang telah diaudit.
Huruf b
Penempatan jaminan lelang merupakan syarat Badan Usaha sebagai bukti
kesungguhan Badan Usaha yang bersangkutan untuk mengikuti Pelela.ngan
Wilayah Kerja.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
609
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Mengingat pengusahaan Panas Bumi mempunyai karakteristik khusus yaitu padat
modal, teknologi tinggi dan keberadaan sumber Panas Bumi di daerah terpencil,
maka Pemegang IUP diberikan jaminan untuk mendapatkan perpanjangan
waktu Eksploitasi apabila telah memenuhi persyaratan teknis, ekonomis dan
lingkungan.
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
610
Pasal 35
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “keadaan kahar” (force majeure) antara lain perang,
kerusuhan sipil, pemberontakan, epidemi, gempa bumi, banjir, kebakaran dan
lain-lain bencana alam di luar kemampuan manusia.
Yang dimaksud dengan “keadaan yang menghalangi” antara lain, blokade,
pemogokan-pemogokan, perselisihan perburuhan di luar kesalahan peme gang
IUP dan/ atau peraturan perundang­undangan yang diterbitkan oleh Pemerintah
yang menghambat kegiatan usaha pertambangan yang sedang berjalan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan tidak mengurangi masa berlaku IUP adalah bahwa
pemberian penghentian sementara tidak dihitung sebagai masa berlaku IUP.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Ayat (1)
Ketentuan ini dimaksudkan untuk memungkinkan Menteri, gubernur, dan bupati/
walikota sesuai dengan kewenangan masing-masing menunjuk Badan Usaha lain
dengan cara Pelelangan Wilayah Kerja untuk mengusahakan bagian Wilayah
Kerja yang diserahkan pemegang IUP sehingga pemanfaatan sumber daya Panas
Bumi dapat dilaksanakan secara. optimal.
611
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 39
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan produksi komersial dalam ketentuan ini adalah produksi
yang secara komersial menguntungkan baik bagi negara maupun Badan Usaha.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 40
Ayat (1)
Ketentuan ini dimaksudkan agar lapangan-lapangan Panas Bumi yang bagi
pemegang IUP dinilai tidak ekonomis (marjinal) dapat dimanfaatkan secara
optimal.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 41
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
612
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Yang dimaksud dengan “peraturan perundang-undangan” dalam Peraturan
Pemerintah ini adalah peraturan perundang-undangan mengenai Panas Bumi.
Pasal 46
Cukup jelas.
Pasal 47
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Bangunan yang dapat digunakan untuk kepentingan umum, antara lain
lapangan terbang, rumah sakit, dan j alan.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
613
Pasal 48
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Perpanjangan waktu IUP diberikan untuk menjamin kepastian berusaha dan
optimalisasi pemanfaatan cumber daya Panas Bumi setelah Badan Usaha
memenuhi kelayakan teknis, ekonomis, dan lingkungan.
Pasal 49
Yang dimaksud dengan berkesinambungan adalah kegiatan tersebut dilaksanakan
secara berurutan dimulai dari tahap Eksplorasi, Studi Kelayakan dan Eksploitasi.
Pasal 50
Cukup jelas.
Pasal 51
Yang dimaksud “standar yang lazim” adalah Standar Nasional Indonesia.
Pasal 52
Cukup jelas.
Pasal 53
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
614
Angka 1
Angka 2
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Angka 6
Cukup jelas.
Angka 5
Cukup jelas.
Angka 4
Pengembangan lapangan Panas Bumi dilakukan apabila telah dilakukan
Studi Kelayakan serta memenuhi keekonomian dan tersedianya pasar.
Angka 3
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 54
Cukup jelas.
615
Pasal 55
Cukup jelas.
Pasal 56
Cukup jelas.
Pasal 57
Cukup jelas.
Pasal 58
Ayat (1)
Penyampaian rencana jangka panjang kegiatan Eksplorasi bersifat memberikan
informasi, dimaksudkan untuk menyelaraskannya dengan pogram pembangunan
jangka panjang Pemerintah atau Pemerintah Daerah, termasuk menginventarisasi
jumlah investasi. Penyampaian rencana kegiatan bukan untuk mendapatkan
persetujuan Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 59
Cukup jelas.
Pasal 60
Cukup jelas.
Pasal 61
Cukup jelas.
Pasal 62
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
616
Ayat (3)
Penempatan alokasi dana disimpan dalam bank pemerintah atas nama pemberi
IUP cq pemegang IUP.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 63
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “pungutan lain atas cukai”, misalnya bea materai.
Yang dimaksud dengan “pungutan lain atas impor”, misalnya pajak
pertambahan nilai barang mewah.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “Iuran Tetap” adalah iuran yang dibayarkan kepada
negara sebagai imbalan atas kesempatan eksplorasi, studi kelayakan dan
eksploitasi pada suatu wilayah kerja.
Yang dimaksud dengan “Iuran Produksi” adalah iuran yang dibayarkan
kepada negara atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan panas
bumi.
Yang dimaksud dengan “pungutan negara lainnya”, misalnya jasa pendidikan
dan latihan, dan jasa penelitian dan pengembangan.
Huruf b
Yang dimaksud dengan bonus dalam ketentuan ini adalah harga data Wilayah
Kerja.
Ayat (4)
Cukup jelas.
617
Pasal 64
Cukup jelas.
Pasal 65
Ayat (1)
Dalam mengutamakan pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri tetap harus
mempertimbangkan persyaratan teknis, kualitas, ketepatan pengiriman dan
harga yang bersaing serta jaminan pelayanan puma jual.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 66
Ayat (1)
Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat dilaksanakan
oleh pemegang IUP untuk membantu program Pemerintah dalam meningkatkan
produktifitas masyarakat dan kemampuan sosial ekonomi kerakyatan dengan
mendayagunakan potensi daerah secara berkesinambungan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 67
Cukup jelas.
Pasal 68
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Pengelolaan dan Pemanfaatan data bertujuan untuk menunjang penetapan
Wilayah Kerja, perumusan kebijakan teknis, penyelenggaraan urusan pemerintah
dan pengawasan di bidang Eksplorasi dan Eksploitasi, pelaksanaan Eksplorasi
dan Eksploitasi, dan pemasyarakatan data bagi para pengguna serta pertukaran
data.
618
Pasal 69
Cukup jelas.
Pasal 70
Cukup jelas.
Pasal 71
Cukup jelas.
Pasal 72
Cukup jelas.
Pasal 73
Cukup jelas.
Pasal 74
Cukup jelas.
Pasal 75
Cukup jelas.
Pasal 76
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Kebijakan adalah pernyataan prinsip sebagai landasan pengaturan dalam
pencapaian sasaran penyelenggaraan usaha pertambangan Panas Bumi.
Pedoman adalah acuan yang bersifat umum yang harus dijabarkan lebih lanjut
dan dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan Daerah setempat
terhadap penyelenggaraan usaha pertambangan Panas Bumi.
Bimbingan dilakukan terhadap penyusunan prosedur dan tata kerja pelaksanaan
penyelenggaraan usaha pertambangan Panas Bumi.
Arahan dilakukan terhadap penyusunan rencana, program dan kegiatan/proyek
yang bersifat nasional dan regional sesuai dengan periodisasinya.
619
Supervisi dilakukan terhadap pelaksanaan penyelenggaraan usaha pertambangan
Panas Bumi.
Pelatihan dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia
dalam bentuk pendidikan dan pelatihan.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 77
Cukup jelas.
Pasal 78
Cukup jelas.
Pasal 79
Cukup jelas.
Pasal 80
Cukup jelas.
Pasal 81
Cukup jelas.
Pasal 82
Cukup jelas.
Pasal 83
Cukup jelas.
Pasal 84
Cukup jelas.
Pasal 85
Yang dimaksud dengan Kuasa dan Izin Pengusahaan Panas Bumi untuk
Pembangkitan Tenaga Listrik serta Kontrak Pengusahaan Panas Bumi dan/atau Kontrak
Beli Uap atau Tenaga Listrik dalam Wilayah Kerja adalah Kuasa, Izin, Pengusahaan
620
dan/atau Kontrak Beli Uap atau tenaga listrik di semua Wilayah Kerja yang diberikan
oleh Pemerintah kepada PT Pertamina (Persero) atau PT Pertamina (Persero) bekerja
sama dengan Kontraktor Kontrak Operasi Bersama (Joint Operation Contract), atau
Kuasa yang diberikan oleh Pemerintah kepada PT PLN (Persero) atau kepada Badan
Usaha Swasta untuk pengembangan energi/listrik atau Izin Pengembangan Panas Bumi
Skala Kecil kepada Koperasi, serta Kontrak Reli Uap atau tenaga Listrik (Energi Sales
Contract) antara Pengembang Pengusahaan Panas Bumi dengan PT PLN (Persero).
Pasal 86
Cukup jelas.
Pasal 87
Cukup jelas.
Pasal 88
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4777
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
NOMOR : 06 TAHUN 2010
TENTANG
PEDOMAN KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK DAN GAS BUMI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
Menimbang : a. bahwa Minyak dan Gas Bumi mempunyai kontribusi yang sangat
besar bagi penerimaan negara dan pemenuhan energi serta
bahan baku industri dalam negeri, dan pada saat ini produksi
Minyak dan Gas Bumi mengalami penurunan;
b. bahwa potensi Minyak dan Gas Bumi masih dapat dioptimalkan
untuk diproduksikan sehingga dalam rangka mengupayakan
peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi perlu ditetapkan
pedoman kebijakan peningkatan produksi Minyak dan Gas
Bumi dalam suatu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor
136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4152);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4435) sebagaimana telah diubah dua
kali terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2009
621
622
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 128,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5047);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2002 tentang Badan
Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 81, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4216);
4. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 tanggal 21 Oktober
2009;
5. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0030
Tahun 2005 tanggal 20 Juli 2005 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG
PEDOMAN KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK DAN GAS
BUMI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Minyak dan Gas Bumi adalah Minyak Bumi dan Gas Bumi.
2. Kontrak Kerja Sama adalah Kontrak Bagi Hasil atau bentuk kontrak kerja sama
lain dalam kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi yang lebih menguntungkan Negara
dan hasilnya dipergunakan untuk sebesar­besar kemakmuran rakyat.
3. Kontraktor adalah Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang ditetapkan untuk
melakukan Eksplorasi dan Eksploitasi pada suatu Wilayah Kerja berdasarkan
Kontrak Kerja Sama dengan Badan Pelaksana.
4. Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai
kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan Minyak
dan Gas Bumi di Wilayah Kerja yang ditentukan.
5. Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan
Minyak dan Gas Bumi dari Wilayah Kerja yang ditentukan, yang terdiri atas
623
pengeboran dan penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan,
penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian Minyak dan Gas
Bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya.
6. Menteri adalah menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi
kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
7. Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan
pengendalian Kegiatan Usaha Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi.
8. Direktorat Jenderal adalah direktorat jenderal yang bidang tugas dan
kewenangannya meliputi kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
Direktur Jenderal adalah direktur jenderal yang tugas dan tanggung jawabnya
di bidang Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 2
Setiap usaha Eksplorasi dan Eksploitasi wajib bertujuan mendukung pencapaian
sasaran program Pemerintah yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara dan kebijakan Pemerintah Iainnya yang mendukung peningkatan produksi
Minyak dan Gas Bumi.
BAB II
PELAKSANAAN KEBIJAKAN UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI
MINYAK DAN GAS BUMI
Bagian Kesatu
Kewajiban Kontraktor
Pasal 3
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2,
Kontraktor wajib melakukan :
a. penyelesaian kegiatan Eksplorasi di struktur penemuan dan mempercepat
pengajuan usulan rencana pengembangan lapangan baru dari cadangan yang
sudah ditemukan;
b. percepatan pelaksanaan kegiatan pengembangan lapangan pertama;
c.
percepatan pelaksanaan kegiatan pengembangan lapangan berikutnya;
d. pengupayaan pengembangan atau pemroduksian kembali lapangan yang
masih berpotensi balk yang pernah diproduksikan maupun yang belum pernah
diproduksikan;
624
e. pengupayaan pemroduksian kembali sumur-sumur yang masih berpotensi baik
yang pernah diproduksikan maupun yang belum pernah diproduksikan.
Pasal 4
(1) Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf a, huruf b dan huruf c, Kontraktor wajib:
a. melaporkan cadangan Minyak dan Gas Bumi baru kepada Menteri melalui
Badan Pelaksana dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat betas) hari
kalender setelah ditetapkan oleh Badan Pelaksana;
b. mengajukan usulan rencana pengembangan lapangan dalam jangka waktu
paling lambat 90 (sembilan puluh) hari kalender setelah ditetapkan cadangan
Minyak dan Gas Bumi baru sebagaimana dimaksud pada huruf a;
c. memulai kegiatan pengembangan lapangan dalam jangka waktu paling
lambat 180 (seratus delapan puluh) hari kalender setelah mendapatkan
persetujuan rencana pengembangan lapangan;
d. memulai produksi Minyak dan/atau Gas Bumi dalam jangka waktu paling
lambat 2 (dua) tahun setelah mendapatkan persetujuan pengembangan
lapangan.
(2) Pelaksanaan pengembangan lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
c, wajib dilakukan oleh Kontraktor sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran,
dan ketentuan peraturan perundang­undangan.
(3) Dalam hal dikarenakan pertimbangan teknis dan/atau ekonomis ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dilakukan oleh Kontraktor,
Menteri c.q. Direktur Jenderal dapat menetapkan kebijakan lain dalam rangka
percepatan produksi.
Pasal 5
(1) Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf d, Kontraktor wajib :
a. melakukan inventarisasi lapangan yang tidak berproduksi namun masih
berpotensi dan melaporkan hasil inventarisasi tersebut kepada Badan
Pelaksana dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender
setelah ditetapkannya Peraturan Menteri ini;
b. melaporkan kepada Menteri melalui Badan Pelaksana disertai pengajuan
rencana pemroduksian kembali dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga
625
puluh) hari kalender setelah diselesaikannya inventarisasi sebagaimana
dimaksud pada huruf a.
(2) Dalam hal rencana pemroduksian kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
akan dilakukan dengan bekerjasama pihak lain, wajib terlebih dahulu meminta
persetujuan Menteri melalui Badan Pelaksana.
Pasal 6
Dalam hal Kontraktor tidak mengajukan rencana pengusahaan terhadap lapangan
yang tidak berproduksi namun masih berpotensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 ayat (1), Kontraktor wajib mengembalikannya kepada Menteri untuk ditetapkan
kebijakan pengusahaannya.
Pasal 7
(1) Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf e, Kontraktor wajib :
a. melakukan inventarisasi sumur-sumur yang tidak berproduksi namun masih
berpotensi dalam suatu lapangan yang berproduksi dan melaporkan hasil
inventarisasi tersebut kepada Badan Pelaksana dalam jangka waktu paling
lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah ditetapkannya Peraturan
Menteri ini;
b. melaporkan kepada Menteri melalui Badan Pelaksana disertai pengajuan
rencana pemroduksian kembali dalam jangka waktu paling lambat 90
(sembilan puluh) hari kalender setelah diselesaikannya inventarisasi
sebagaimana dimaksud pada huruf a.
(2) Dalam hal rencana pemroduksian kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
akan dilakukan dengan bekerjasama pihak lain, wajib terlebih dahulu meminta
persetujuan Menteri melalui Badan Pelaksana.
Pasal 8
Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sampai dengan
Pasal 7 dengan mempertimbangkan Kontrak Kerja Sama dan mengacu pada peraturan
perundang-undangan.
Bagian Kedua
Kewajiban Badan Pelaksana
626
Pasal 9
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2,
Badan Pelaksana wajib :
a. mendukung proses percepatan penyusunan dan penerbitan peraturan perundangundangan yang diperlukan;
b. mempercepat proses pemberian perizinan dan persetujuan terkait dengan
peningkatan produksi;
c. meningkatkan upaya pengendalian dan pengawasan atas pelaksanaan Kontrak
Kerja Sama;
d. meningkatkan upaya ditaatinya Kontrak Kerja Sama oleh Kontraktor dalam
pelaksanaan hak dan kewajibannya;
e. melakukan peningkatan koordinasi internal dalam rangka penyelesaian masalahmasalah terkait kegiatan operasi perminyakan.
Pasal 10
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
huruf a, Badan Pelaksana wajib :
a. melakukan inventarisasi dan evaluasi atas pelaksanaan peraturan perundangundangan yang terkait dengan peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi
dan melaporkan hasilnya kepada Menteri dengan tembusan kepada Direktur
Jenderal dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak
ditetapkannya Peraturan Menteri ini;
b. menyampaikan masukan substansi materi dalam rangka penyusunan peraturan
perundang-undangan yang diperlukan untuk peningkatan produksi Minyak dan
Gas Bumi kepada Direktur Jenderal dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kalender setelah diselesaikannya inventarisasi sebagaimana dimaksud
pada huruf a;
c. melakukan evaluasi atas pelaksanaan Kontrak Kerja Sama dan memberikan
masukan untuk penyusunan alternatif bentuk Kontrak Kerja Sama dan/atau
ketentuan-ketentuan pokok Kontrak Kerja Sama kepada Direktur Jenderal dalam
jangka waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari kalender sejak ditetapkannya
Peraturan Menteri ini;
d. melakukan penyesuaian dan penataan kembali terhadap ketentuan dan pedoman
tata kerja dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak
ditetapkannya Peraturan Menteri ini.
627
Pasal 11
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
huruf b, Badan Pelaksana wajib:
a. menyampaikan rekomendasi disertai pertimbangan rencana pengembangan
lapangan yang pertama (POD I) kepada Menteri dalam jangka waktu paling
lambat 40 (empat puluh) hari kalender sejak diterimanya usulan dari Kontraktor
secara lengkap;
a.memberikan persetujuan pengembangan lapangan (POD) berikutnya, dalam
jangka waktu paling lambat 40 (empat puluh) hari kalender sejak diterimanya
usulan Kontraktor secara lengkap;
b.memberikan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran (Work Program and
Budget) dan/atau Otorisasi Pembelanjaan Finansial (Authorization Financial
Expenditure) dalam jangka waktu paling lambat 40 (empat puluh) hari kalender
sejak diterimanya usulan Kontraktor secara lengkap;
b. memberikan rekomendasi persetujuan pengalihan hak dan kewajiban (farm in
and farm out) dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender
setelah diterimanya usulan Kontraktor secara lengkap;
c.
memberikan persetujuan penggunaan fasilitas secara bersama (sharing
facilities) dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kaiender
setelah diterimanya usulan dari Kontraktor secara lengkap;
d. memberikan rekomendasi persetujuan kepada Menteri dalam hal terdapat
unitisasi dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender
setelah diterimanya usulan dari Kontraktor secara lengkap;
e. memberikan rekomendasi atas impor barang, peralatan operasi perminyakan
dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah
diterimanya usulan dari Kontraktor secara lengkap.
Pasal 12
Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c,
Badan Pelaksana wajib:
a. melaksanakan pengawasan dan evaluasi atas pelaksanaan POD pertama dan
berikutnya sesuai dengan persetujuan POD yang telah disetujui;
b.
melaksanakan pengawasan dan evaluasi atas pelaksanaan Rencana Kerja
dan Anggaran (Work Program and Budget) dan/atau Otorisasi Pembelanjaan
Finansial (Authorization Financial Expenditure) yang telah disetujui oleh Badan
Pelaksana;
628
c.
melakukan peningkatan pengawasan pelaksanaan atas perawatan sumur-sumur
dan fasilitas-fasilitas produksi Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 13
Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf d,
Badan Pelaksana wajib:
a.
meningkatkan intensitas monitoring dan pengawasan atas kegiatan Kontraktor;
b.
memberikan teguran/peringatan kepada Kontraktor yang tidak melaksanakan
kewajiban sesuai Kontrak Kerja Sama;
c. memberikan rekomendasi kepada Menteri untuk pemberian sanksi pemutusan
Kontrak Kerja Sama apabila terdapat pelanggaran Kontrak Kerja Sama dan/atau
peraturan perundang-undangan.
Pasal 14
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
huruf e, Badan Pelaksana wajib:
a.
memfasilitasi dan melakukan koordinasi internal untuk percepatan penyelesaian
permasalahan;
b.
melaporkan kepada Menteri atas permasalahan-permasalahan yang belum dapat
diselesaikan untuk dapat diambil kebijakannya.
Pasal 15
Selain kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 14,
Badan Pelaksana wajib:
a.
menetapkan besaran cadangan Minyak dan Gas Bumi yang baru ditemukan dalam
jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah penemuan
baru tersebut;
b.
menetapkan alokasi sasaran produksi untuk setiap Kontraktor yang disesuaikan
dengan sasaran produksi Minyak dan Gas Bumi nasional yang ditetapkan
Pemerintah;
c. melakukan pengawasan atas ditaatinya tata waktu pengajuan rencana
pengembangan lapangan terhadap cadangan Minyak dan Gas Bumi yang
ditemukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b dan melaporkan
perkembangannya secara periodik setiap bulan sekali kepada Direktur
Jenderal.
629
Bagian Ketiga
Kewajiban Direktorat Jenderal
Pasal 16
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2,
Direktorat Jenderal wajib:
a.
mempercepat proses penyusunan dan penerbitan peraturan perundang­undangan
yang diperlukan;
b.
mempercepat proses pemberian perizinan dan persetujuan terkait dengan
peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi;
c.
meningkatkan upaya pembinaan, pengendalian dan pengawasan atas pelaksanaan
kegiatan Kontraktor;
d.
meningkatkan upaya ditaatinya peraturan perundang-undangan oleh Kontraktor
dalam pelaksanaan hak dan kewajibannya;
e.
meningkatkan koordinasi internal dan lintas sektoral dalam
penyelesaian masalah-masalah dalam kegiatan operasi perminyakan.
rangka
Pasal 17
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
huruf a, Direktur Jenderal wajib:
a.
menyampaikan inventarisasi dan evaluasi peraturan perundang­undangan yang
terkait dengan peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi kepada Menteri dalam
jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak ditetapkannya
Peraturan Menteri ini;
b.
menyiapkan dan menyusun rancangan peraturan perundang­undangan yang
diperlukan untuk peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi dalam jangka
waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah diselesaikannya
inventarisasi sebagaimana dimaksud pada huruf a;
c. melakukan evaluasi terhadap bentuk dan ketentuan-ketentuan pokok Kontrak
Kerja Sama dan mengusulkan altenatif bentuk Kontrak Kerja Sama dan/atau
ketentuan-ketentuan pokok Kontrak Kerja Sama kepada Menteri dalam jangka
waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari kalender sejak ditetapkannya
Peraturan Menteri ini.
630
Pasal 18
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
huruf b, Direktur Jenderal wajib:
a.
menyampaikan pertimbangan kepada Menteri dalam rangka pemberian
persetujuan rencana pengembangan lapangan yang pertama (POD I) dalam
jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah diterimanya
usulan rencana pengembangan lapangan yang pertama (POD I);
b.
memberikan izin/rekomendasi dalam jangka waktu paling lambat 10 (sepuluh)
hari kalender sejak diterimanya permohonan secara lengkap.
Pasal 19
Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c,
Direktur Jenderal wajib :
a.
mengevaluasi dan menganalisa pelaksanaan kegiatan Kontraktor terkait dengan
peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi;
b.
memberikan informasi dini mengenai hal-hal khusus dan usulan antisipasi kepada
Menteri mengenai hal-hal yang terkait dengan peningkatan produksi Minyak dan
Gas Bumi;
c. mengambil langkah-langkah yang diperlukan sebagai tindak lanjut hasil evaluasi
atas laporan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b.
Pasal 20
Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf d,
Direktur Jenderal wajib :
a.
memberikan teguran/peringatan kepada Kontraktor yang tidak melaksanakan
kewajiban sesuai ketentuan Peraturan Menteri ini;
b.
memberikan sanksi kepada Kontraktor yang melakukan pengulangan pelanggaran
setelah diberikannya teguran/peringatan sebagaimana dimaksud pada huruf a.
Pasal 21
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
huruf e, Direktur Jenderal wajib:
a.
memfasilitasi dan melakukan koordinasi dengan instansi internal sektor energi
dan sumber daya mineral untuk percepatan penyelesaian permasalahan dalam
kegiatan operasi perminyakan;
631
b.
memfasilitasi dan melakukan koordinasi lintas sektoral untuk percepatan
penyelesaian permasalahan dalam kegiatan operasi perminyakan;
c. melaporkan kepada Menteri atas permasalahan-permasalahan yang belum dapat
diselesaikan untuk dapat diambil kebijakannya.
BAB III
KETENTUAN LAIN
Pasal 22
Dalam pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2, Kontraktor wajib memprioritaskan pemanfaatan barang, jasa, teknologi dan
kemampuan rekayasa serta rancang bangun dalam negeri.
Pasal 23
Hasil produksi dari Eksplorasi dan Eksploitasi wajib diprioritaskan untuk
pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
Pasal 24
Kebijakan, pengaturan, pembinaan dan pengawasan wajib dilakukan dalam
rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dan Pasal 23.
Pasal 25
Dalam rangka membantu pelaksanaan program peningkatan produksi Minyak
dan Gas Bumi, Menteri dapat membentuk Tim Pengawas Peningkatan Produksi Minyak
dan Gas Bumi.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 26
Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, segala ketentuan dalam Peraturan
Menteri dan peraturan pelaksanaannya yang bertentangan dengan Peraturan Menteri
ini dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 27
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
632
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 2 Februari 2010
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
ttd.
DARWIN ZAHEDY SALEH
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 2 Februari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 58
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
NOMOR 03 TAHUN 2010
TENTANG
ALOKASI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI
UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN DALAM NEGERI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
Menimbang :
a. bahwa gas bumi merupakan sumber daya alam yang tak terbarukan
sehingga perlu diatur pemanfaatannya secara berkesinambungan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan berorientasi
pada asas kemanfaatan yang implementasi kebijakannya
ditujukan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi
nasional;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a dan sesuai ketentuan Pasal 47, Pasal 48, Pasal 50, Pasal
86 dan Pasal 87 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004
sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 55 Tahun 2009, perlu menetapkan Peraturan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Alokasi dan
Pemanfaatan Gas Bumi untuk Pemenuhan Kebutuhan Dalam
Negeri;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor
136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4152);
633
634
2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4776);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4435) sebagaimana telah dua kali
diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun
2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
128, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5047);
4. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 tanggal 21 Oktober
2009;
5. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
1088 K/20/MEM/2003 tanggal 17 September 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan, Pembinaan, Pengawasan, Pengaturan,
dan Pengendalian Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dan
Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi;
6. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0030
Tahun 2005 tanggal 20 Juli 2005 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG
KEBIJAKAN PENETAPAN ALOKASI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI UNTUK
PEMENUHAN KEBUTUHAN DALAM NEGERI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1.
Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi
tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari proses
penambangan Minyak dan Gas Bumi.
635
2.
Wilayah Kerja adalah daerah tertentu di dalam Wilayah Hukum Pertambangan
Indonesia untuk pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi.
3.
Kontraktor adalah Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang ditetapkan oleh
Menteri untuk melaksanakan Eksplorasi dan eksploitasi pada suatu Wilayah
Kerja berdasarkan Kontrak Kerja Sama dengan Badan Pelaksana.
4.
Pemanfaatan Gas Bumi adalah volume Gas Bumi yang mampu dipasok untuk
memenuhi kebutuhan energi dan bahan baku pada kegiatan tertentu.
5.
Neraca Gas Bumi Indonesia adalah perkiraan kebutuhan dan pasokan Gas Bumi
dalam negeri untuk jangka waktu tertentu.
6.
Keekonomian Lapangan adalah manfaat keekonomian dari kegiatan
pengembangan lapangan pada suatu Wilayah Kerja, yang akan memberikan
penerimaan negara yang optimal dan akan memberikan pendapatan yang
memadai bagi Kontraktor.
7.
Menteri adalah menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi
kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
8.
Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan
pengendalian Kegiatan Usaha Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi.
BAB II
PENETAPAN KEBIJAKAN ALOKASI
DAN PEMANFAATAN GAS BUMI
Pasal 2
(1) Penetapan kebijakan alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi bertujuan untuk
menjamin efisiensi dan efektifitas tersedianya Gas Bumi sebagal sumber energi
maupun bahan baku untuk keperluan dalam negeri yang berorientasi pada
kemanfaatan Gas Bumi.
(2) Menteri menetapkan kebijakan alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dengan mengupayakan agar kebutuhan dalam negeri
dapat dipenuhi secara optimal.
(3) Kebijakan sebagaimana
mempertimbangkan:
dimaksud
a. kepentingan umum;
b. kepentingan negara;
d. kebijakan energi nasional;
pada
ayat
(2)
ditetapkan
dengan
636
d. cadangan dan peluang pasar Gas Bumi;
e. infrastruktur yang tersedia maupun yang dalam perencanaaan;
f. Keekonomian Lapangan dari cadangan Minyak dan Gas Bumi yang akan
dialokasikan.
(4) Dalam menetapkan kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Menteri
mempertimbangkan usulan Badan Pelaksana.
Pasal 3
(1) Menteri menentukan prioritas Pemanfaatan Gas Bumi untuk pemenuhan
kebutuhan dalam negeri yang akan digunakan sebagai sumber energi, bahan
baku, maupun keperluan lainnya dengan memperhatikan keekonomian harga
Gas Bumi yang bersangkutan.
(2) Dalam menentukan prioritas Pemanfaatan Gas Bumi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Menteri menetapkan kebijakan mengenai Neraca Gas Bumi Indonesia.
Kebijakan mengenai Neraca Gas Bumi Indonesia sebagaimana dinnaksud pada
ayat (2) diperbaharui dan ditetapkan setiap tahun.
Pasal 4
(1) Dalam rangka mendukung pemenuhan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri,
Kontraktor wajib ikut memenuhi kebutuhan Gas Bumi dalam negeri. Kewajiban
Kontraktor untuk ikut memenuhi kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan dengan menyerahkan sebesar 25% (dua puluh lima perseratus)
dari hasil produksi Gas Bumi bagian Kontraktor.
(2) Dalam hal kebutuhan Gas Bumi dalam negeri belum dapat terpenuhi, Menteri
menetapkan kebijakan alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (2) dari cadangan Gas Bumi yang dapat diproduksikan dari
setiap lapangan Gas Bumi pada suatu Wilayah Kerja.
(3) Pemenuhan kebutuhan Gas Bumi dalam negeri sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) tetap memperhatikan ketersediaan infrastruktur, teknis operasional
dan Keekonomian Lapangan.
Pasal 5
Dalam rangka mendukung pemenuhan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Menteri dapat menetapkan kebijakan Pasokan
Gas Bumi yang berasal dari impor.
637
Pasal 6
(1) Menteri menetapkan Kebijakan Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi untuk
kebutuhan dalam negeri berdasarkan Neraca Gas Bumi Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2).
(2) Dalam rangka penetapan Kebijakan Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan Pelaksana mengusulkan kepada
Menteri mengenai rencana Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi didasarkan atas
Keekonomian Lapangan dari cadangan Gas Bumi yang dapat diproduksikan pada
suatu Wilayah Kerja.
(3) Penetapan Kebijakan Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan dengan prioritas Pemanfaatan Gas Bumi untuk :
a. peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi Nasional;
b. industri pupuk;
c. penyediaan tenaga listrik;
d. industri lainnya.
(4) Prioritas Pemanfaatan Gas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan
dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan Gas Bumi di wilayah setempat.
(5) Dalam hal Menteri telah menetapkan Kebijakan Alokasi dan Pemanfaatan Gas
Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan Pelaksana wajib menyusun
rencana pengembangan lapangan cadangan Gas Bumi dari lapangan Minyak dan
Gas Bumi yang akan diproduksikan pada suatu Wilayah Kerja.
Pasal 7
Dalam hal kajian yang dilakukan berdasarkan ketersediaan infrastruktur,
teknis operasional dan Keekonomian Lapangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
ayat (4) dan dari hasil kajian rencana pengembangan lapangan cadangan Gas Bumi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (5) tidak dapat dipenuhi, Menteri dapat
menetapkan kebijakan lainnya.
Pasal 8
Dalam hal kebutuhan Gas Bumi dalam negeri telah dapat dipenuhi, Menteri
dapat menetapkan kebijakan lain atas alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi.
638
BAB III
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 9
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, pengalokasian dan Pemanfaatan
Gas Bumi yang telah dilaksanakan dan memiliki kontrak jual bell Gas Bumi, Head of
Agreement (HoA), Memorandum of Understanding (MoU) atau telah memasuki tahap
negosiasi tetap dapat dilaksanakan.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 10
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 27 Januari 2010
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
ttd.
DARWIN ZAHEDY SALEH
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 27 Januari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 42
Salinan sesuai dengan aslinya
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
Kepala Biro H dan Humas,
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
NOMOR : 19 TAHUN 2009
TENTANG
KEGIATAN USAHA GAS BUMI MELALUI PIPA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
Menimbang : bahwa dalam rangka meningkatkan pemanfaatan gas bumi untuk
kebutuhan dalam negeri dan meningkatkan pembangunan infrastruktur
gas bumi melalui pipa yang padat modal dan berisiko tinggi serta guna
menciptakan iklim investasi yang sehat serta jaminan pengembalian
investasi bagi Badan Usaha dalam pengusahaan gas bumi melalui
pipa, perlu menetapkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral tentang Kegiatan Usaha Gas Bumi Melalui Pipa;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 33, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3817);
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999
Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3821);
3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor
136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4152);
639
640
4. Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2002 tentang Badan
Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan
Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 141, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4253);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan
Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4436) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2009 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 59, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Republik Indonesia Nomor
4996);
6. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tanggal 20 Oktober
2004 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Keputusan Presiden Nomor 77/P Tahun 2007 tanggal 28 Agustus
2007;
7. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor
0007 Tahun 2005 tanggal 21 April 2005 tentang Persyaratan dan
Pedoman Pelaksanaan Izin Usaha Dalam Kegiatan Usaha Hilir
Minyak dan Gas Bumi;
8. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0030
Tahun 2005 tanggal 20 Juli 2005 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral;
9. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0048
Tahun 2005 tanggal 30 Desember 2005 tentang Standar dan
Mutu (Spesifikasi) serta Pengawasan Bahan Bakar Minyak, Bahan
Bakar Gas, Bahan Bakar Lain, LPG, LNG dan Hasil Olahan Yang
Dipasarkan di Dalam Negeri;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG
KEGIATAN USAHA GAS BUMI MELALUI PIPA.
641
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1.
Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi
tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari proses
penambangan Minyak dan Gas Bumi.
2.
Niaga Gas Bumi Melalui Pipa adalah kegiatan pembelian, penjualan, ekspor,
dan/atau impor Gas Bumi melalui pipa.
3.
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa adalah kegiatan menyalurkan Gas Bumi
melalui pipa meliputi kegiatan transmisi, dan/atau transmisi dan distribusi
melalui pipa penyalur dan peralatan yang dioperasikan dan/atau diusahakan
sebagai suatu kesatuan sistem yang terintegrasi.
4.
Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa adalah izin yang diberikan kepada Badan
Usaha untuk melaksanakan Niaga Gas Bumi melalui Pipa pada Wilayah Niaga
Tertentu dengan tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba.
5.
Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa adalah izin yang diberikan
kepada Badan Usaha untuk melaksanakan Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa
dengan tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba.
6.
Hak Khusus adalah hak yang diberikan Badan Pengatur kepada Badan Usaha
untuk mengoperasikan Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada Ruas Transmisi
dan/atau pada Wilayah Jaringan Distribusi berdasarkan Ielang.
7.
Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional adalah
dokumen mengenai rencana pengembangan dan pembangunan jaringan transmisi
dan distribusi Gas Bumi dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
dapat disesuaikan setiap tahun
8.
Ruas Transmisi adalah ruas tertentu dari Jaringan Transmisi Gas Bumi yang
merupakan bagian dari Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas
Bumi Nasional.
9.
Wilayah Jaringan Distribusi adalah wilayah tertentu dari jaringan distribusi
Gas Bumi yang merupakan bagian dari Rencana Induk Jaringan Transmisi dan
Distribusi Gas Bumi Nasional.
10. Pipa Transmisi adalah pipa untuk mengangkut Gas Bumi dari sumber pasokan Gas
Bumi atau lapangan Gas Bumi ke satu atau Iebih pusat distribusi dan/atau ke
642
satu atau lebih konsumen Gas Bumi atau yang menghubungkan sumber-sumber
pasokan Gas Bumi.
10. Pipa Distribusi adalah pipa untuk mengangkut Gas Bumi dari suatu Pipa Transmisi
atau dari Pipa Distribusi ke konsumen Gas Bumi atau ke Pipa Distribusi Iainnya
yang berbentuk jaringan.
11. Wilayah Niaga Tertentu adalah wilayah tertentu untuk melaksanakan kegiatan
pembelian, penjualan, ekspor, dan/atau impor Gas Bumi melalui pipa.
12. Pipa Dedicated Hilir adalah pipa Gas Bumi yang dibangun dan dimanfaatkan
oleh Badan Usaha untuk mengangkut Gas Bumi milik sendiri.
13. Konsumen Gas Bumi adalah konsumen atau pengguna Gas Bumi melalui pipa
yang memiliki perikatan dengan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap.
14. Badan Usaha adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang menjalankan
jenis usaha bersifat tetap, terus-menerus dan didirikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta bekerja dan berkedudukan dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
15. Menteri adalah menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi
kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
16. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang tugas dan tanggungjawabnya
meliputi kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
17. Badan Pengatur adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengaturan
dan pengawasan terhadap penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak
dan Gas Bumi serta Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada Kegiatan Usaha
Hilir.
Pasal 2
Pengaturan Kegiatan Usaha Gas Bumi Melalui Pipa dalam Peraturan Menteri
ini meliputi Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui pipa dan/atau Kegiatan Usaha
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa yang dilaksanakan secara terpadu, transparan,
akuntabel, kompetitif dan adil.
Pasal 3
Pengaturan Kegiatan Usaha Gas Bumi Melalui Pipa bertujuan :
a. meningkatkan pemanfaatan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri;
b.
meningkatkan investasi pembangunan infrastruktur Gas Bumi;
c.
menjamin efisiensi dan efektifitas pelaksanaan penyediaan Gas Bumi baik
643
sebagai sumber energi maupun sebagai bahan baku untuk kebutuhan dalam
negeri;
b.
meningkatkan partisipasi Badan Usaha dalam penyediaan Gas Bumi untuk
memenuhi kebutuhan Gas Bumi dalam negeri;
c.
memberikan kesempatan yang sama bagi semua Badan Usaha untuk melaksanakan
Kegiatan Usaha Niaga dan/atau Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa;
d.
memberikan kepastian hokum dalam berusaha bagi para pelaku usaha; dan
e.
menjamin dipenuhinya hak-hak Konsumen Gas Bumi.
BAB II
RENCANA INDUK JARINGAN TRANSMISI DAN DISTRIBUSI
GAS BUMI NASIONAL
Pasal 4
( 1 ) Dalam rangka pelaksanaan Kegiatan Usaha Gas Bumi Pipa, Direktur Jenderal
menyiapkan Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi
Nasional.
( 2 ) Penyiapan Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Ruas Transmisi dan Wilayah
Jaringan Distribusi yang dilakukan berdasarkan kajian teknis dan ekonomis yang
meliputi ketersediaan sumber Gas Bumi, potensi kebutuhan Gas Bumi, dan
jaringan Pipa Transmisi dan/atau Pipa Distribusi yang tersedia.
( 3 ) Wilayah Jaringan Distribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditentukan
batas-batasnya berdasarkan titik-titik koordinat geografis.
( 4 ) Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri dengan mempertimbangkan
masukan dari Badan Pengatur dan Badan Usaha serta memperhatikan
pengembangan pasar domestik.
( 5 ) Berdasarkan Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan Pengatur menetapkan Ruas
Transmisi tertentu dan Wilayah Jaringan Distribusi tertentu untuk dilelang.
Pasal 5
( 1 ) Badan Pengatur dapat mengusulkan kepada Menteri mengenai perubahan
Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional.
644
( 2 ) Badan Usaha dapat mengusulkan kepada Menteri melalui Direktur Jenderal
dengan tembusan kepada Badan Pengatur mengenai perubahan Rencana Induk
Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional.
( 3 ) Direktur Jenderal melakukan kajian teknis dan ekonomis yang meliputi
ketersediaan sumber Gas Bumi, potensi kebutuhan Gas Bumi, dan jaringan
Pipa Transmisi dan/atau Pipa Distribusi yang tersedia terhadap usulan Badan
Pengatur dan Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).
BAB III
KEGIATAN USAHA GAS BUMI MELALUI PIPA
Bagian Kesatu
Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa
Pasal 6
Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa dilaksanakan oleh Badan Usaha
setelah mendapatkan Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa.
Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan pada Wilayah Niaga Tertentu.
Pasal 7
( 1 ) Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa dapat
melaksanakan Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa pada lebih dari satu
Wilayah Niaga Tertentu
( 2 ) Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi melalui Pipa pada lebih dari satu Wilayah Niaga
Tertentu sebagaimana dimaksud pada satu Wilayah Niaga Tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Badan Usaha setelah mendapat
penyesuaian Izin Usaha Niaga Gas Bumi melalui Pipa.
Pasal 8
Pada Wilayah Niaga Tertentu dapat dilaksanakan Kegiatan Usaha Niaga Gas
Bumi Melalui Pipa oleh lebih dari 1 (satu) Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga
Gas Bumi Melalui Pipa.
Pasal 9
Dalam melaksanakan Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa, Badan Usaha
645
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 wajib menggunakan Pipa Transmisi dan/atau
Pipa Distribusi yang tersedia untuk dapat dimanfaatkan bersama (open access) pada
Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi tertentu.
Pasal 10
( 1 ) Dalam hal dari aspek teknis dan ekonomis Pipa Transmisi dan/atau Pipa Distribusi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 tidak dapat dimanfaatkan bersama atau
belum tersedia, maka Badan Usaha dapat membangun Pipa Dedicated Hilir.
( 2 ) Dalam membangun Pipa Dedicated Hilir sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Badan Usaha wajib terlebih dahulu mendapatkan Izin Usaha Niaga Gas Bumi
Melalui Pipa Dedicated Hilir.
Pasal 11
( 1 ) Untuk mendapatkan Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa Dedicated Hilir,
Badan Usaha mengajukan permohonan kepada Menteri melalui Direktur Jenderal
dengan tembusan kepada Badan Pengatur dengan melampirkan :
a. kesepakatan awal dengan produsen/pemasok Gas Bumi yang ditunjukkan
dengan adanya Head of Agreement (HoA) atau Memorandum of Understanding
(Moll);
b. kesepakatan awal dengan calon Konsumen Gas Bumi yang ditunjukkan dengan
adanya Head of Agreement (HoA) atau Memorandum of Understanding
(Moll);
c. hasil kajian teknis dan ekonomis yang meliputi antara lain jalur, panjang,
kapasitas dan rencana pembangunan pipa serta jumlah Konsumen Gas Bumi
dan volume penjualan Gas Bumi;
d. pernyataan tertulis di atas materai bahwa Pipa Dedicated Hilir yang dibangun
hanya digunakan untuk menyalurkan Gas Bumi milik sendiri;
e. persyaratan administrasi dan teknis sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.
(2) Dalam hal permohonan telah lengkap dan benar, Direktur Jenderal melakukan
evaluasi dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan atas permohonan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Berdasarkan evaluasi atas permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Direktur Jenderal atas nama Menteri memberikan persetujuan atau penolakan
terhadap permohonan Badan Usaha.
646
(4) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disetujui, Direktur
Jenderal atas nama Menteri memberikan Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa
Dedicated Hilir.
(5) Badan Usaha yang telah mendapatkan Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa
Dedicated Hilir wajib mendapatkan Hak Khusus dari Badan Pengatur.
(6) Terhadap Pipa Dedicated Hilir sebagaimana dimaksud pada ayat (4) selanjutnya
ditetapkan dalam Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi
Nasional.
Pasal 12
Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa Dedicated Hilir
dan Hak Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dilarang melakukan Kegiatan
Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada Pipa Dedicated Hilirnya.
Pasal 13
(1) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, dalam rangka
efisiensi dan mengoptimalkan pemanfaatan dan pemenuhan kebutuhan Gas Bumi
dalam negeri, Direktur Jenderal dapat mewajibkan Badan Usaha pemegang Izin
Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa Dedicated Hilir untuk pemanfaatan bersama
fasilitas yang dimilikinya oleh pihak lain.
(2) Pemanfaatan bersama oleh Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan setelah mendapat pertimbangan dari Badan Pengatur.
(3) Dalam hal Badan Usaha melaksanakan pemanfaatan bersama fasilitas Pipa
Dedicated Hilir sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepada Badan Usaha
wajib memiliki Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa.
Pasal 14
Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga Gas Bumi melalui Pipa sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 11 wajib :
a.
memenuhi ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Izin Usaha Niaga Gas Bumi
Melalui Pipa/Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa Dedicated Hilir;
b.
memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati di dalam perjanjian jualbeli gas;
c.
menjamin dan bertanggung jawab atas penggunaan peralatan dan keakuratan
sistem alat ukur yang digunakan;
647
d.
menjamin penerapan kaidah keteknikan yang baik, standar dan mutu Gas Bumi
yang diniagakan;
e.
menjamin keselamatan Minyak dan Gas Bumi yang terdiri dari keselamatan
pekerja, keselamatan umum, keselamatan Iingkungan dan keselamatan
instalasi;
f.
memenuhi dan mematuhi ketentuan peraturan perundang­undangan.
Bagian Kedua
Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa
Pasal 15
(1) Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dilaksanakan oleh Badan
Usaha pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi setelah
mendapatkan Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Hak Khusus.
(2) Untuk mendapatkan Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Hak
Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang­undangan.
Pasal 16
(1) Badan Usaha pemegang Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dapat
melaksanakan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi melalui Pipa pada lebih
dari satu Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi.
(2) Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada lebih dari satu Ruas
Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan oleh Badan Usaha setelah mendapat penyesuaian Izin
Usaha Pengangkutan Gas Burni Melalui Pipa.
Pasal 17
(1) Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada Ruas Transmisi
tertentu hanya dapat dilakukan oleh 1 (satu) Badan Usaha Pemegang Izin Usaha
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa yang telah mendapatkan Hak Khusus
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada Ruas Transmisi Tertentu.
(2) Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada Wilayah Jaringan
Distribusi tertentu hanya dapat dilakukan oleh 1 (satu) Badan Usaha Pemegang
Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa yang telah mendapatkan Hak
648
Khusus Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa pada Wilayah Jaringan Distribusi
Tertentu.
Pasal 18
Badan Usaha yang melakukan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui
Pipa wajib memiliki dan/atau menguasai fasilitas pengangkutan Gas Bumi melalui
pipa pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi.
Pasal 19
(1) Badan Usaha pemegang Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Hak
Khusus pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 dilarang melakukan Kegiatan Usaha Maga Gas Burni
Melalui Pipa pada fasilitas pengangkutan Gas Bumi yang dimiliki dan/atau
dikuasainya.
(2) Dalam hal Badan Usaha pemegang Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui
Pipa dan Hak Khusus pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 melakukan Kegiatan Usaha Niaga Gas
Bumi Melalui Pipa pada fasilitas pengangkutan Gas Bumi yang dimiliki dan/atau
dikuasainya, wajib membentuk Badan Usaha terpisah dan mempunyai Izin Usaha
Niaga Gas Bumi Melalui Pipa.
Pasal 20
Badan Usaha pemegang Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan
Hak Khusus pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 wajib:
a. memenuhi ketentuan-ketentuan yang terdapat pada Izin Usahanya;
b. memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati di dalam perjanjian
pengangkutan Gas Bumi;
c.
menerapkan tarif Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa yang ditetapkan oleh
Badan Pengatur;
d. memberikan kesempatan yang sama bagi Badan Usaha pemegang Izin Usaha
Niaga Gas Bumi Melalui Pipa atau pihak lain untuk pemanfaatan bersama fasilitas
pengangkutan Gas Bumi yang dimiliki dan/atau dikuasainya;
e. menyediakan fasilitas Pipa Distribusi pada Wilayah Jaringan Distribusinya;
f.
menjamin dan bertanggung jawab atas penggunaan peralatan dan keakuratan
sistem alat ukur yang digunakan;
649
g. menjamin penerapan kaidah keteknikan yang balk dalam pengangkutan Gas
Bumi Melalui Pipa;
h. menjamin keselamatan Minyak dan Gas Bumi yang terdiri dari keselamatan
pekerja, keselamatan umum, keselamatan lingkungan dan keselamatan
instalasi;
i.
memenuhi dan mematuhi ketentuan peraturan perundang­undangan.
BAB IV
HARGA JUAL GAS BUM1 DAN
TARIF PENGANGKUTAN GAS BUMI MELALUI PIPA
Pasal 21
(1) Harga jual Gas Bumi melalui pipa terdiri atas :
a. harga jual Gas Bumi melalui pipa untuk pengguna rumah tangga dan
pelanggan kecil;
b. harga jual Gas Bumi melalui pipa untuk pengguna tertentu; dan
c. harga jual Gas Bumi melalui pipa untuk pengguna umum.
(2) Harga jual Gas Bumi melalui pipa untuk pengguna rumah tangga dan pelanggan
kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diatur dan ditetapkan oleh
Badan Pengatur.
(3) Harga jual Gas Bumi melalui pipa untuk pengguna tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b ditetapkan oleh Menteri.
(4) Harga jual Gas Bumi melalui pipa untuk pengguna umum sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c ditetapkan oleh Badan Usaha dengan berpedoman pada :
a. kemampuan daya bell Konsumen Gas Bumi dalam negeri;
b. kesinambungan penyediaan dan pendistribusian Gas Bumi;
c. tingkat keekonomian dengan margin yang wajar bagi Badan Usaha Niaga Gas
Bumi Melalui Pipa.
(4) Penetapan harga jual Gas Bumi melalui pipa untuk pengguna umum sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) wajib dilaporkan kepada Menteri.
Pasal 22
(1) Tarif Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa diatur dan ditetapkan oleh Badan
Pengatur.
650
(2) Penetapan tarif Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) mempertimbangkan kepentingan pemilik Gas Bumi, Badan Usaha
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Konsumen Gas Bumi.
BAB V
PENGATURAN, PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 23
(1) Direktur Jenderal melakukan pembinaan dan pengawasan atas Kegiatan Usaha
Gas Bumi Melalui Pipa.
(2) Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
meliputi
a. pemberian lzin Usaha;
b. prioritas (alokasi) pemanfaatan Gas Bumi dalam negeri;
c. kelangsungan penyediaan dan pendistribusian Gas Bumi melalui pipa;
d. harga jual Gas Bumi melalui pipa, kecuali untuk rumah tangga dan pelanggan
kecil;
e. standar dan mutu (spesifikasi) Gas Bumi yang diniagakan;
f. kaidah keteknikan yang balk;
g. keselamatan Minyak dan Gas Bumi yang terdiri dari keselamatan pekerja,
keselamatan umum, keselamatan lingkungan dan keselamatan instalasi;
h. pemanfaatan barang, peralatan, jasa, teknologi serta kemampuan rekayasa
dan rancang bangun dalam negeri; dan
i. pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat.
Pasal 24
Badan Pengatur melakukan pengaturan, penetapan, dan pengawasan atas:
a.
tarif Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa;
b.
harga jual Gas Bumi melalui pipa untuk rumah tangga dan pelanggan kecil;
c.
Hak Khusus;
d.
pemanfaatan bersama fasilitas Pengangkutan Gas Bumi Badan Usaha;
e. volume Gas Bumi yang diangkut dan diniagakan melalui pipa.
651
Pasal 25
(1) Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa wajib
menyampaikan laporan mengenai Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa
pada Wilayah Niaga Tertentu kepada Menteri melalui Direktur Jenderal setiap
3 (tiga) bulan dan sewaktu-waktu apabila diperlukan dengan tembusan kepada
Badan Pengatur.
(2) Badan Usaha pemegang Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa wajib
menyampaikan laporan mengenai Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi
Melalui Pipa pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi tertentu
kepada Menteri melalui Direktur Jenderal setiap 1 (satu) bulan dan sewaktuwaktu apabila diperlukan dengan tembusan kepada Badan Pengatur.
Pasal 26
(1) Terhadap Badan Usaha Pemegang Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa
dan Pemegang Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa yang tidak
melaksanakan ketentuan Peraturan Menteri ini dikenakan sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa teguran tertulis,
penangguhan, pembekuan kegiatan, dan/atau pencabutan Izin Usaha dan Hak
Khusus.
Pasal 27
Segala kerugian yang timbul sebagai akibat diberikannya sanksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 26 menjadi beban Badan Usaha yang bersangkutan.
BAB VI
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 28
(1) Dalam hal diperlukan penyediaan Gas Bumi untuk pengguna rumah tangga,
pelanggan kecil dan/atau pengguna tertentu yang memerlukan pengembangan
infrastruktur Gas Bumi, Pemerintah atau berdasarkan kerja sama antara
Pemerintah dengan Badan Usaha dapat menyediakan infrastruktur Gas Bumi.
(2) Penyediaan infrastruktur Gas Bumi sebagaimana dmaksud pada ayat (1) meliputi
perencanaan, pendanaan dan pelaksanaan yang dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang­undangan.
652
(3) Penyediaan infrastruktur Gas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan dengan tetap memenuhi ketentuan keselamatan Minyak dan Gas
Burni yang meliputi keselamatan umum, keselamatan pekerja, keselamatan
lingkungan dan keselamatan instalasi.
Pasal 29
(1) lnfrastruktur Gas Bumi yang disediakan oleh Pemerintah atau berdasarkan
kerja sama antara Pemerintah dengan Badan Usaha sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28 dapat dioperasikan Badan Usaha yang ditetapkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Terhadap Badan Usaha yang mengoperasikan infrastruktur Gas Bumi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diberikan Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib bertanggung jawab
atas pengoperasian infrastruktur Gas Bumi.
Pasal 30
(1) Dalam hal tertentu dengan mempertimbangkan sumber pasokan Gas Bumi,
Direktur Jenderal atas name Menteri dapat memberikan persetujuan kepada
Konsumen Gas Bumi untuk membangun dan mengoperasikan pipa Gas Bumi
untuk kepentingan sendiri.
(2) Untuk mendapat Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Konsumen
Gas Bumi wajib terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Menteri
melalui Direktur Jenderal mengenai rencana pembangunan dan pengoperasian
pipa Gas Bumi untuk kepentingan sendiri.
(3) Direktur Jenderal melakukan evaluasi dan penelitian terhadap permohonan
yang disampaikan Konsumen Gas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya
permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Direktur Jenderal dapat
menyetujui atau menolak pemiohonan Konsumen Gas Bumi mengenai rencana
pembangunan dan pengoperasian pipa Gas Bumi untuk kepentingan sendiri.
(5) Dalam melaksanakan pembangunan dan pengoperasian Pipa Gas Bumi untuk
kepentingan sendiri, Konsumen Gas Bumi wajib memenuhi ketentuan keselamatan
Minyak dan Gas Bumi yang meliputi keselamatan umum, keselamatan pekerja,
keselamatan lingkungan dan keselamatan instalasi.
653
(6) Terhadap pengangkutan dan pengoperasian pipa Gas Bumi untuk kepentingan
sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan Hak Khusus.
(7) Pipa Gas Bumi untuk kepentingan sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
selanjutnya ditetapkan dalam Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi
Gas Bumi Nasional.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 31
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku :
a.
Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa yang telah
melaksanakan Kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa pada Wilayah Niaga
Tertentu tetap dapat menjalankan kegiatan usahanya dan dalam jangka waktu
paling lama 6 (enam) bulan wajib menyesuaikan dengan Peraturan Menteri ini.
b.
dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, Badan Usaha pemegang
Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalul Pipa yang memiliki fasilitas dan telah
melaksanakan kegiatan Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa untuk mengangkut
Gas Bumi miliknya sendiri (Dedicated Hilir), wajib menyesuaikan Izin Usahanya
menjadi Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalul Pipa Dedicated Hilir.
c.
dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun, Badan Usaha yang telah
melaksanakan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa dan Kegiatan
Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah
Jaringan Distribusi, wajib membentuk Badan Usaha terpisah dan menyesuaikan
dengan Peraturan Menteri ini.
a.
dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, Konsumen Gas Bumi yang
telah membangun pipa Gas Bumi untuk kepentingan sendiri wajib memiliki
Persetujuan dari Direktur Jenderal atas nama Menteri.
e. dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, Badan Usaha pemegang Izin
Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalul Pipa dan Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui
Pipa yang memiliki fasilitas serta telah memiliki Hak Khusus pada Ruas Transmisi
dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi wajib menyesuaikan Hak Khususnya sesuai
dengan ketentuan Peraturan Menteri ini.
654
Pasal 32
Terhadap Badan Usaha yang telah mengajukan permohonan Izin Usaha Niaga
Gas Bumi Melalui Pipa yang memiliki fasilitas jaringan distribusi yang telah memenuhi
persyaratan dan telah diproses sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri ini diberikan
Izin Usaha Niaga Gas Bumi Melalui Pipa Dedicated Hilir.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 33
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 31 Agustus 2009
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
ttd.
PURNOMO YUSGIANTORO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 31 Agustus 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 274
Salinan sesuai dengan aslinya
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
NOMOR 11 TAHUN 2009
TENTANG
PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN USAHA PANAS BUMI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 23 ayat (4), Pasal 35
ayat (6), Pasal 41 ayat (3), Pasal 47 ayat (4), dan Pasal 76 ayat (3)
Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha
Panas Bum’, perlu menetapkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral tentang Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Usaha
Panas Bumi;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317);
2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 115,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4327);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan
dan Pemanfaatan Tenaga Listrik (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1989 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3394) sebagaimana telah diubah dua
kali terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 56,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4628);
655
656
4. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3838);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan
Usaha Panas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4777);
7. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0030
Tahun 2005 tanggal 20 Juli 2005 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral;
8. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 001
Tahun 2006 tanggal 2 Januari 2006 tentang Prosedur Pembelian
Tenaga Listrik dan/atau Sewa Menyewa Jaringan Dalam Usaha
Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 004 Tahun 2007 tanggal 11 Mei 2007;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG
PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN USAHA PANAS BUMI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1.
Izin Usaha Pertambangan Panas Bumi, selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk
melaksanakan Usaha Pertambangan Panas Bumi.
657
2.
Eksplorasi adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penyelidikan geologi,
geofisika, geokimia, pengeboran uji, dan pengeboran sumur eksplorasi yang
bertujuan untuk memperoleh dan menambah informasi kondisi geologi bawah
permukaan guna menemukan dan mendapatkan perkiraan potensi panas bumi.
3.
Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan panas bumi
untuk memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk
menentukan kelayakan usaha pertambangan panas bumi, termasuk penyelidikan
atau studi jumlah cadangan yang dapat dieksploitasi.
4.
Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan pada suatu wilayah kerja tertentu yang
meliputi pengeboran sumur pengembangan dan sumur reinjeksi, pembangunan
fasilitas lapangan dan operasi produksi sumber daya panas bumi.
5.
Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi, selanjutnya disebut Wilayah Kerja,
adalah wilayah yang ditetapkan dalam IUP.
6.
Badan Usaha adalah setiap badan hukum yang dapat berbentuk badan usaha milik
negara, badan usaha milik daerah, koperasi, atau swasta yang didirikan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, menjalankan
jenis usaha tetap dan terus-menerus, bekerja dan berkedudukan dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
7.
Panitia Pelelangan Wilayah Kerja adalah panitia yang dibentuk oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam rangka
melaksanakan proses lelang Wilayah Kerja.
8.
Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang panas bumi.
9.
Gubernur adalah Kepala Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
10. Bupati/walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
11. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang bertanggung jawab di bidang
panas bumi.
12. Direktorat Jenderal adalah Direktorat yang tugas dan tanggung jawabnya
meliputi kegiatan usaha panas bumi.
13. Dinas Teknis adalah dinas teknis provinsi atau dinas teknis kabupaten/kota yang
tugas dan tanggung jawabnya meliputi kegiatan usaha panas bumi.
658
BAB II
WILAYAH KERJA
Bagian Kesatu
Penawaran Wilayah Kerja
Pasal 2
(1) Kegiatan pengusahaan sumber daya panas bumi dilaksanakan pada suatu Wilayah
Kerja yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan penawaran Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
kepada Badan Usaha dengan cara lelang melalui media cetak, media elektronik
dan media lainnya.
(3) Dalam melaksanakan penawaran Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (2), Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
wajib membentuk Panitia Pelelangan Wilayah Kerja.
Bagian Kedua
Keanggotaan Panitia
Pasal 3
(1) Panitia Pelelangan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(3) berjumlah gasal dan paling sedikit 5 (lima) orang terdiri atas wakil dari
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Instansi terkait, Pemerintah
Daerah, dan wakil dari Instansi Daerah terkait.
(2) Panitia Pelelangan Wilayah Kerja wakil dari Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas wakil dari :
a. Direktorat Jenderal Mineral, Batubara, dan Panas Bumi;
b. Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi;
c. Badan Geologi; dan/atau
d. Sekretariat Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.
Pasal 4
(1) Dalam hal diperlukan, Panitia Pelelangan Wilayah Kerja dapat menunjuk tenaga
ahli sebagai narasumber.
659
(2) Tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari kalangan
akademisi, asosiasi profesi panas bumi atau praktisi.
Bagian Ketiga
Evaluasi Penawaran
Pasal 5
(1) Panitia Pelelangan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 melakukan
evaluasi terhadap penawaran yang masuk melalui mekanisme evaluasi tahap
kesatu dan evaluasi tahap kedua.
(2) Evaluasi tahap kesatu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada
evaluasi administrasi, teknis dan keuangan.
(3) Evaluasi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit meliputi
evaluasi terhadap kelengkapan :
a. surat permohonan IUP kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya;
b. identitas pemohon/akta pendirian perusahaan;
c. profil perusahaan;
d. Nomor Pokok Wajib Pajak;
e. surat pernyataan kesanggupan membayar harga dasar data Wilayah Kerja
atau bonus; dan
f. surat pernyataan kesanggupan membayar kompensasi data kecuali untuk
Pihak Lain yang mendapat penugasan Survei Pendahuluan.
(4) Evaluasi teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi evaluasi terhadap
pengalaman perusahaan, kualifikasi tenaga ahli, struktur organisasi proyek dan
program kerja.
(5) Evaluasi program kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling sedikit
meliputi evaluasi terhadap :
a. pola pengusahaan total projek;
b. jadwal eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi dan development serta
eksploitasi dan pemanfaatan;
c. rencana teknis eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi dan development
serta eksploitasi dan pemanfaatan;
d. perhitungan harga listrik;
660
e. waktu penentuan komitmen pengembangan atau notice of intend
development;
f. rencana pengembangan lapangan uap yang meliputi perhitungan sumur
produksi, sumur injeksi dan sumur yang akan dikembangkan dan rencana
biaya;
g. kapasitas yang akan dikembangkan;
h. tahapan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi; dan
i.
faktor kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi yang akan
dikembangkan.
(6) Evaluasi kemampuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling
sedikit meliputi evaluasi terhadap :
a. kesehatan keuangan perusahaan;
b. sumber pendanaan untuk pengembangan proyek; dan
c. bukti penempatan jaminan lelang minimal 2,5% (dua koma lima persen)
dari rencana biaya eksplorasi tahun pertama dari bank setempat atas nama
Panitia Pelelangan Wilayah Kerja; dan
d. bukti penempatan dana jaminan pelaksanaan eksplorasi atau eksploitasi
sebesar US$ 10.000.000 (sepuluh juta dollar Amerika Serikat) pada Bank
Pemerintah untuk kegiatan pemboran minimal 2 (dua) sumur standar
eksplorasi atau eksploitasi dapat dalam bentuk :
1. rekening bersama antara badan usaha dengan Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan
kewenangannya (escrow account) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang keuangan;
2. pinjaman slap pakai (standby loan); atau
3. sertifikat
fasilitas
kredit
berjaminan
dari
lembaga
keuangan
(underwritten credit facility).
(7) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sampai dengan ayat (6) disusun
sesuai dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan
Menteri ini.
(8) Evaluasi tahap kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada
evaluasi harga uap atau harga tenaga listrik yang paling rendah yang dikaitkan
dengan evaluasi teknis khususnya program kerja dan keuangan tahap kesatu
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6).
661
(9) Untuk menentukan peringkat pemenang lelang Wilayah Kerja dilakukan
berdasarkan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (8).
Pasal 6
Panitia Pelelangan Wilayah Kerja dalam melakukan evaluasi penawaran Wilayah
Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 wajib dihadiri oleh sekurang-kurangnya
separuh ditambah 1 (satu) dari jumlah anggota Panitia Pelelangan Wilayah Kerja.
BAB III
IZIN USAHA PERTAMBANGAN PANAS BUMI
Bagian Kesatu
Penetapan Pemenang Wilayah Kerja
Pasal 7
(1) Panitia Pelelangan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib
mengusulkan peringkat calon pemenang pelelangan Wilayah Kerja termasuk
berita acara pelelangan Wilayah Kerja kepada Menteri, gubernur atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lama 5
(lima) hari kerja terhitung sejak tanggal proses lelang selesai, dan disusun sesuai
dengan format sebagaimana tercantum dalam Lampiran II Peraturan Menteri
ini.
(2) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
menetapkan Badan Usaha pemenang pelelangan Wilayah Kerja dalam jangka
waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak usulan peringkat calon
pemenang pelelangan Wilayah Kerja diterima dari Panitia Pelelangan Wilayah
Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Bagian Kedua
Tata Cara Pemberian IUP
Pasal 8
(1) Sebelum diberikan 1UP oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya, Badan Usaha pemenang pelelangan Wilayah Kerja
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga
puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditetapkannya sebagai pemenang
662
pelelangan Wilayah Kerja wajib menyelesaikan semua kewajiban yang
meliputi:
a. membayar harga dasar data Wilayah Kerja atau bonus sebagai Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP); dan/atau
b. membayar kompensasi data (awarded compensation) kepada Badan Usaha
yang melakukan penugasan survei pendahuluan dan tidak menjadi pemenang
pelelangan Wilayah Kerja.
(2) Badan Usaha pemenang lelang Wilayah Kerja yang tidak memenuhi kewajibannya
dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan gugur
dan Badan Usaha peringkat berikutnya langsung ditetapkan menjadi pemenang
pelelangan Wilayah Kerja oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
(3) Dalam hal Badan Usaha dinyatakan gugur sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
maka :
a. jaminan lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (6) huruf c menjadi
milik negara dan disetorkan ke kas negara oleh Panitia Pelelangan Wilayah
Kerja;
b. dana jaminan pelaksanaan eksplorasi atau eksploitasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (6) huruf d angka 1 dapat dicairkan atau ditutup oleh
Badan Usaha yang bersangkutan berikut bunganya.
(4) Badan Usaha pemenang pelelangan Wilayah Kerja peringkat berikutnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), wajib memenuhi kewajiban sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
(5) Ketentuan mengenai tata cara penempatan dan pencairan kembali dana jaminan
lelang dan jaminan pelaksanaan eksplorasi atau eksploitasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (6) huruf d diatur tersendiri dengan Peraturan
Menteri.
Pasal 9
(1) IUP diberikan untuk dalam jangka waktu paling lama 35 (tiga puluh lima) tahun
untuk kegiatan yang meliputi
a. Eksplorasi, berlaku dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun dan
dapat diperpanjang paling banyak 2 (dua) kali masing-masing selama 1
(satu) tahun;
b. Studi kelayakan, berlaku dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun;
dan
663
c. Eksploitasi, berlaku dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) tahun
sejak eskplorasi berakhir.
(2) Dalam hal eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diperpanjang,
IUP diberikan untuk dalam jangka waktu paling lama 33 (tiga puluh tiga) tahun
untuk kegiatan yang meliputi
a. Eksplorasi, berlaku dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun;
b. Studi kelayakan, berlaku dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun;
dan
c. Eksploitasi, berlaku dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) tahun
sejak eskplorasi berakhir.
(3) Jangka waktu eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dapat diperpanjang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
memberikan IUP kepada Badan Usaha dalam jangka waktu paling lama 14 (empat
belas) hari kerja terhitung sejak tanggal persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (1) dipenuhi.
(5) IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib memuat ketentuan sekurangkurangnya :
a. nama Badan Usaha;
b. jenis usaha yang diberikan;
c. jangka waktu berlakunya IUP;
d. hak dan kewajiban pemegang IUP;
e. Wilayah Kerja; dan
f. tahap pengembalian Wilayah Kerja.
(6) Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf e merupakan Wilayah
Kerja yang telah ditetapkan oleh Merited.
(7) IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan sesuai dengan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran III Peraturan Menteri ini.
BAB IV
PELAKSANAAN KEGIATAN IZIN USAHA
PERTAMBANGAN PANAS BUMI
664
Bagian Kesatu
Eksplorasi
Pasal 10
(1) Pemegang IUP sebelum dimulainya tahun takwim, wajib menyampaikan rencana
jangka panjang eksplorasi kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q.
Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota
sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan
terhitung sejak tanggal IUP diberikan.
(2) Rencana jangka panjang eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mencakup rencana kegiatan dan rencana anggaran.
(3) Pemegang IUP wajib menyampaikan rencana kerja dan anggaran belanja tahunan
eksplorasi kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis
Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan
kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan sebelum
rencana kerja dan anggaran belanja tahunan berjalan.
(4) Dalam hal terdapat penyesuaian terhadap rencana kegiatan dan rencana
anggaran jangka panjang eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat
dilakukan setiap tahun sesuai dengan kondisi yang dihadapi melalui rencana
kerja dan anggaran belanja tahunan.
(5) Rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) diajukan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q.
Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/ Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota
sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan
sebelum rencana kerja dan anggaran belanja tahunan berjalan.
(6) Rencana kegiatan dan rencana anggaran eksplorasi jangka panjang sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) disusun sesuai dengan format sebagaimana tercantum
dalam Lampiran IV A Peraturan Menteri ini.
(7) Rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dan ayat (5) disusun sesuai dengan format sebagaimana tercantum
dalam Lampiran IV B Peraturan Menteri ini.
(8) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis melakukan evaluasi rencana eksplorasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5).
(9) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis dapat menyampaikan hasil evaluasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (8) kepada pemegang IUP.
665
Pasal 11
(1) Dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan setelah IUP ditetapkan, sesuai
dengan rencana kegiatan dan rencana anggaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 pemegang IUP wajib memulai kegiatannya.
(2) Pemegang IUP yang tidak melaksanakan kegiatan dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib menyetorkan sebesar 5% (lima
persen) dari jaminan pelaksanaan eksplorasi atau eksploitasi tahun pertama
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (6) huruf d ke kas negara.
(3) Pemegang IUP wajib menyampaikan bukti setor dari jaminan pelaksanaan
eksplorasi atau eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Menteri,
gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 12
(1) Permohonan perpanjangan jangka waktu eksplorasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 9 ayat (1) dan ayat (2) diajukan secara tertulis dalam jangka waktu
paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya jangka waktu eksplorasi kepada
Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/
Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Permohonan perpanjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilengkapi
dokumen sebagai berikut :
a. tanda bukti setor iuran tetap eksplorasi selama 3 (tiga) tahun;
b. dokumen hasil kegiatan eksplorasi lengkap selama 3 (tiga) tahun; dan
c. rencana kerja dan rencana anggaran belanja selama 1 (satu) tahun
perpanjangan.
(3) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis sesuai dengan kewenangannya wajib
menerbitkan Tanda Bukti Penerimaan Permohonan Perpanjangan Eksplorasi
setelah diterimanya dokumen lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis sesuai dengan kewenangannya setelah
menerima dokumen persyaratan yang lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat
(3), wajib melakukan evaluasi dalam rangka perpanjangan eksplorasi.
(5) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib mempertimbangkan hasil
evaluasi dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) termasuk laporan
triwulan dan tahunan eksplorasi sebelumnya.
(6) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis dalam jangka waktu paling lama 14
(empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan
666
secara lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib menyampaikan
hasil evaluasi sebagai rekomendasi atas diterima atau ditolaknya perpanjangan
eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri, gubernur atau
bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya.
(7) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya
evaluasi sebagaimana dirnaksud pada ayat (6) wajib menetapkan pemberian
persetujuan atau penolakan perpanjangan eksplorasi.
Bagian Kedua
Studi Kelayakan
Pasal 13
(1) Pemegang IUP sebelum dimulainya tahun takwim, wajib menyampaikan rencana
kegiatan dan rencana anggaran studi kelayakan kepada Menteri c.q. Direktur
Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/VValikota c.q. Dinas
Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu
paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal berakhirnya kegiatan
eksplorasi, dengan melampirkan dokumen sebagai berikut :
a. tanda bukti setor iuran tetap eksplorasi yang terakhir;
b. hasil kegiatan eksplorasi rind terakhir; dan
c. rencana pengembalian atau perubahan wilayah kerja.
(2) Rencana kegiatan studi kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya meliputi :
a. jadwal studi kelayakan;
b. rencana kegiatan dan rencana anggaran studi kelayakan; dan c. rencana
studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
(3) Pemegang IUP wajib menyampaikan rencana kerja dan rencana anggaran belanja
tahunan studi kelayakan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q.
Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/VValikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota
sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan
sebelum rencana kerja dan anggaran belanja tahunan berjalan.
(4) Penyesuaian terhadap rencana kegiatan dan rencana anggaran studi kelayakan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, dapat dilakukan setiap tahun
sesuai dengan kondisi yang dihadapi melalui rencana kerja dan anggaran belanja
tahunan.
667
(5) Rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) diajukan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q.
Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/ Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota
sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan
sebelum rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahunan berjalan.
(6) Rencana kegiatan dan rencana anggaran studi kelayakan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) disusun sesuai dengan format sebagaimana tercantum
dalam Lampiran V A Peraturan Menteri ini.
(7) Rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) dan ayat (5) disusun sesuai dengan format sebagaimana tercantum
dalam Lampiran V B Peraturan Menteri ini.
(8) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis mengevaluasi semua rencana studi
kelayakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5).
(9) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis dapat menyampaikan hasil evaluasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (8) kepada pemegang IUP.
Bagian Ketiga
Eksploitasi
Pasal 14
Sebelum melakukan kegiatan eksploitasi, pemegang IUP wajib memberikan
laporan hasil studi kelayakan secara tertulis dalam jangka waktu paling lambat
1 (satu) tahun setelah berakhirnya studi kelayakan kepada Menteri c.q. Direktur
Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas Teknis
Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dengan melampirkan hasil studi
kelayakan sekurang-kurangnya meliputi :
a.
rencana pengembangan lapangan panas bumi untuk pembangkitan tenaga listrik
yang meliput :
1. penentuan cadangan Iayak tambang di seluruh Wilayah Kerja;
2. penerapan teknologi yang tepat untuk eksploitasi dan penangkapan uap
dari sumur produksi;
3. lokasi sumur produksi;
4. rancangan sumur produksi dan injeksi;
5. rancangan pemipaan sumur produksi;
6. perencanaan kapasitas produksi jangka pendek dan jangka panjang; dan
668
7. sistem pembangkit tenaga listrik.
b.
perhitungan keekonomian harga uap atau listrik;
c.
rencana jangka pendek (tahunan) dan rencana jangka panjang eksploitasi;
d.
rencana pemberdayaan dan pengembangan masyarakat;
e.
rencana keselamatan dan kesehatan kerja, perlindungan lingkungan dan teknis
pertambangan panas bumi;
f.
upaya konservasi dan kesinambungan sumber daya panas bumi;
g.
rencana pemanfaatan barang dan jasa, teknologi serta kemampuan rekayasa
dan rancang bangun dalam negeri, termasuk daftar barang (masterlist) induk;
h.
rencana perubahan Wilayah Kerja;
i.
keputusan kelayakan lingkungan berdasarkan hasil kajian Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL) atau persetujuan Upaya Pengelolaan Lingkungan
(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL);
j.
izin usaha penyediaan ketenagalistrikan untuk kepentingan umum dan/atau izin
usaha penyediaan ketenagalistrikan untuk kepentingan sendiri sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang­undangan; dan
k.
rencana rekiamasi dan rencana pascatambang.
Pasal 15
(1) Rencana jangka panjang eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf
c sekurang-kurangnya meliputi rencana kegiatan dan rencana anggaran.
(2) Rencana kegiatan dan rencana anggaran jangka panjang eksploitasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi sekurang­kurangnya :
a. lokasi titik bor pengembangan;
b. kegiatan pengembangan sumur produksi;
c. pembiayaan;
d. penyiapan saluran pemipaan produksi; dan e. rencana pemanfaatan panas
bumi.
(3) Pemegang IUP wajib menyampaikan rencana kerja dan rencana anggaran belanja
jangka pendek (tahunan) eksploitasi kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal,
Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas Teknis
Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling
lambat 2 (dua) bulan sebelum rencana kerja dan rencana anggaran belanja
tahunan berjalan.
669
(4) Dalam hal terdapat penyesuaian terhadap rencana kegiatan dan rencana
anggaran eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), dapat
dilakukan setiap tahun sesuai dengan kondisi yang dihadapi melalui rencana
jangka pendek (tahunan).
(5) Rencana jangka pendek (tahunan) eksploitasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (3) dan penyesuaian terhadap rencana kegiatan dan rencana anggaran
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) sekurang-kurangnya meliputi rencana
kerja dan rencana anggaran belanja tahunan.
(6) Rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (5) diajukan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q.
Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota
sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) bulan
sebelum rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahunan berjalan.
(7) Rencana kegiatan dan rencana anggaran jangka panjang eksploitasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) disusun sesuai dengan format sebagaimana tercantum
dalam Lampiran VI A Peraturan Menteri ini.
(8) Rencana kerja dan rencana anggaran belanja tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (6) disusun sesuai dengan format sebagaimana tercantum dalam
Lampiran VI B Peraturan. Menteri ini.
(9) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis melakukan evaluasi rencana eksploitasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (8).
(10) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis dapat menyampaikan hasil evaluasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (9) kepada pemegang IUP.
Pasal 16
(1) Dalam hal pemegang IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 menemukan
Iebih dari satu sistem panas bumi dalam suatu Wilayah Kerja, pemegang IUP
wajib melaporkan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas
Teknis Provinsi atau Bupati/ Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai
dengan kewenangannya.
(2) Pemegang IUP yang bermaksud mengembangkan sistem panas bumi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan persetujuan dari Menteri, gubernur
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Dalam hal pemegang IUP tidak berminat untuk mengembangkan sistem panas
bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka sebagian wilayah kerja yang
670
didalamnya terdapat sistem panas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
wajib dikembalikan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas
Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Wilayah Kerja yang dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan
oleh Menteri menjadi Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang­undangan.
BAB V
LUAS WILAYAH KERJA PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Luas Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi
Pasal 17
Luas Wilayah Kerja untuk eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf a yang dapat diberikan kepada Badan Usaha yang telah mendapat IUP tidak
boleh melebihi 200.000 (dua ratus ribu) hektare.
Pasal 18
(1) Luas Wilayah Kerja untuk Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat
(1) huruf c yang dapat diberikan kepada pemegang IUP tidak boleh melebihi
10.000 (sepuluh ribu) hektare.
(2) Untuk mendapat Wilayah Kerja Eksploitasi yang Iuasnya melebihi ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemegang IUP harus terlebih dahulu
mendapat persetujuan dari Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya dengan melampirkan laporan kapasitas terpasang
pengembangan lapangan panas bumi.
Pasal 19
(1) Untuk mendapatkan Wilayah Kerja Eksploitasi yang Iuasnya melebihi 10.000
(sepuluh ribu) hektare, pemegang IUP harus mengajukan permohonan secara
tertulis mengenai rencana luas Wilayah Kerja kepada Menteri c.q. Direktur
Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas
Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya sesuai dengan format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII Peraturan Menteri ini.
671
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus melampirkan dokumen
sebagai berikut :
a. tanda bukti setor iuran tetap yang terakhir;
b. hasil kegiatan eksplorasi, studi kelayakan, atau eksploitasi;
c. rencana perubahan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan;
d. laporan rencana luas wilayah kerja; dan
e. laporan kapasitas terpasang pengembangan lapangan panas bumi.
(3) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis wajib menerbitkan Tanda Bukti Penerimaan
Permohonan luas Wilayah Kerja Eksploitasi yang melebihi 10.000 (sepuluh ribu)
hektare setelah diterimanya dokumen Iengkap sebagaimana dimaksud pada
ayat (2).
(4) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis setelah menerima dokumen­dokumen
persyaratan yang Iengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan
evaluasi dalam rangka pemberian persetujuan atau penolakan Wilayah Kerja
Eksploitasi yang Iuasnya melebihi 10.000 (sepuluh ribu) hektare.
(5) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis dalam jangka waktu paling lama 14 (empat
belas) hari kerja sejak menerima permohonan pemegang IUP secara Iengkap
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib menyampaikan hasil evaluasi
sebagai rekomendasi atas diterima atau ditolaknya permohonan luas Wilayah
Kerja Eksploitasi yang melebihi 10.000 (sepuluh ribu) hektare kepada Menteri,
gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(6) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
jangka waktu paling lama 14 (empat betas) hari kerja terhitung sejak tanggal
diterimanya rekomendasi dari DirektoratJenderal atau Dinas Teknis wajib
menetapkan persetujuan atau penolakan permohonan dari Wilayah Kerja
Eksploitasi yang melebihi 10.000 (sepuluh ribu) hektare.
Bagian Kedua
Pengembalian Wilayah Kerja Pertambangan Panas Bumi
Pasal 20
(1) Pemegang IUP dapat mengembalikan sebagian Wilayah Kerjanya kepada Menteri
c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota
c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya sebelum jangka
waktu IUP berakhir.
672
(2) Dalam hal Pemegang IUP mengembalikan seluruh Wilayah Kerjanya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), terlebih dahulu wajib menyampaikan data dan kewajiban
lain yang tercantum dalam IUP.
Pasal 21
(1) Apabila dalam jangka waktu eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
9 ayat (1) huruf a tidak ditemukan cadangan energi panas bumi yang dapat
diproduksikan secara komersial, maka pemegang IUP wajib mengembalikan
seluruh Wilayah Kerjanya kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q.
Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota
sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pemegang IUP wajib mengembalikan seluruh Wilayah Kerja kepada Menteri c.q.
Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau BupatilWalikota
c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya setelah jangka
waktu IUP berakhir.
Pasal 22
(1) Pada saat atau sebelum berakhirnya jangka waktu Studi Kelayakan, pemegang
IUP wajib mengembalikan secara bertahap sebagian Wilayah Kerja yang tidak
dimanfaatkan lagi kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas
Teknis Provinsi atau Bupati/ Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai
dengan kewenangannya.
(2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun setelah Pemegang IUP
menyelesaikan kegiatan Studi Kelayakan, wajib mengembalikan Wilayah Kerja
Eksplorasi sehingga Wilayah Kerja yang dipertahankan untuk Eksploitasi tidak
boleh melebihi 10.000 (sepuluh ribu) hektare.
(3) Dalam hal luas Wilayah Kerja untuk Eksplorasi semula kurang dari 200.000 (dua
ratus ribu) hektare, pemegang IUP tetap dapat mempertahankan Wilayah Kerja
untuk Eksploitasi seluas 10.000 (sepuluh ribu) hektare sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 18.
Pasal 23
(1) Pemegang IUP sebelum mengembalikan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 22 wajib melakukan kegiatan reklamasi dan
pelestarian fungsi lingkungan.
673
(2) Pengembalian Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan
sah setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri, gubernur atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 24
(1) Pemegang IUP wajib mengajukan permohonan secara tertulis rencana
pengembalian sebagian atau seluruh Wilayah Kerja kepada Menteri c.q. Direktur
Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas
Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus melampirkan dokumen
sebagai berikut :
a. bukti setor melunasi seluruh kewajiban keuangan serta memenuhi dan
menyelesaikan segala kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
b. penyerahan semua data, baik dalam bentuk analog maupun digital yang ada
hubungannya dengan pelaksanaan pengusahaan sumber daya panas bumi;
c. bukti pelaksanaan reklamasi dan pelestarian fungsi lingkungan; dan
d. bukti pelaksanaan yang berkaitan dengan pengembalian Wilayah Kerja.
(3) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis wajib menerbitkan Tanda Bukti Penerimaan
Permohonan Pengembalian Wilayah Kerja setelah menerima dokumen Iengkap
sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis setelah menerima dokumen­dokumen
persyaratan yang lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan
evaluasi dalam rangka pengembalian Wilayah Kerja.
(5) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh)
hari kerja terhitung sejak tanggal menerima dokumen sebagaimana dimaksud
pada ayat (4) wajib menyampaikan hasil evaluasi sebagai rekomendasi atas
diterima atau ditolaknya pengembalian Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) kepada Menteri, gubernur atau bupati/ walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(6) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal
diterimanya rekomendasi dari Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis wajib
menetapkan pengesahan atau penolakan pengesahan pengembalian Wilayah
Kerja.
674
Pasal 25
Gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib menyerahkan
semua data yang dikembalikan oleh pemegang IUP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 20 sampai dengan Pasal 24 kepada Menteri.
BAB VI
PENGHENTIAN SEMENTARA
PENGUSAHAAN SUMBER DAYA PANAS BUMI
Pasal 26
(1) Penghentian sementara pengusahaan sumber daya panas bumi dapat diberikan
kepada pemegang IUP apabila terjadi keadaan kahar (force majeure) dan/atau
keadaan yang menghalangi sehingga menimbulkan penghentian sebagian atau
seluruh kegiatan usaha pertambangan panas bumi.
(2) Pemberian penghentian sementara pengusahaan sumber daya panas bumi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi masa berlaku IUP.
(3) Keadaan kahar (force majeure) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain
meliputi gempa bumi, banjir, longsor, angin puting beliung, tsunami, kebakaran
yang mengakibatkan terhentinya sebagian atau seluruh kegiatan panas bumi.
(4) Keadaan yang menghalangi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain
meliputi kebijakan pusat dan daerah, pemogokan, kerusuhan, keamanan,
penolakan oleh masyarakat setempat, yang mengakibatkan terhentinya sebagian
atau seluruh kegiatan panas bumi.
Pasal 27
(1) Permohonan penghentian sementara pengusahaan sumber daya panas bumi
disampaikan kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis
Provinsi atau Bupati/Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan
kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja
terhitung sejak tanggal terjadinya keadaan kahar (force majeure) dan/atau
keadaan yang menghalangi sehingga mengakibatkan penghentian sebagian atau
seluruh pengusahaan sumber daya panas bumi.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud padaayat (1) harus melampirkan dokumendokumen sebagai berikut :
a. alasan penghentian sementara;
675
b. bukti-bukti terjadinya kahar dan/atau keadaan yang menghalangi
sehingga menimbulkan penghentian sebagian atau seluruh kegiatan usaha
pertambangan panas bumi;
c. surat keterangan tentang terjadinya kahar dan/atau keadaan yang
menghalangi sehingga menimbulkan penghentian sebagian atau seluruh
kegiatan usaha pertambangan panas bumi dari Instansi yang berwenang.
(3) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis wajib menerbitkan Tanda Bukti Penerimaan
Permohonan Penghentian Sementara setelah menerima dokumen lengkap
sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis setelah menerima dokumen­dokumen
persyaratan yang lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan
evaluasi dalam rangka penghentian sementara.
(5) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis dalam jangka waktu paling lambat 10
(sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal menerima dokumen sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) wajib menyampaikan hasil evaluasi sebagai rekomendasi
atas diterima atau ditolaknya permohonan penghentian sementara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) kepada Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
(6) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib
mengeluarkan keputusan tertulis diterima atau ditolaknya atas permohonan
penghentian sementara pengusahaan sumber daya panas bumi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari
kerja terhitung sejak tanggal menerima permohonan tersebut.
Pasal 28
Permohonan perpanjangan jangka waktu penghentian sementara, diajukan oleh
pemegang IUP dalam jangka waktu paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sebelum
berakhirnya penghentian sementara dengan melampirkan laporan monitoring keadaan
kahar (force majeure) dan/atau keadaan yang menghalangi kegiatan.
BAB VII
PENGAMANAN DAN PEMINDAHAN HAK MILIK
Pasal 29
(1) Dalam hal IUP berakhir, pemegang IUP wajib :
676
a. melunasi seluruh kewajiban keuangan serta memenuhi dan menyelesaikan
segala kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
b. melaksanakan semua ketentuan-ketentuan yang ditetapkan berkaitan
dengan berakhirnya IUP;
c. melakukan usaha-usaha pengamanan terhadap benda-benda maupun
bangunan-bangunan dan keadaan tanah di sekitarnya yang dapat
membahayakan keamanan umum;
d. dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal IUP
berakhir mengangkat benda-benda, bangunan dan peralatan yang menjadi
miliknya yang masih terdapat dalam bekas Wilayah Kerjanya, kecuali
bangunan yang dapat digunakan untuk kepentingan umum; dan
e. mengembalikan seluruh Wilayah Kerja dan wajib menyerahkan semua data,
balk dalam bentuk analog maupun digital yang ada hubungannya dengan
pelaksanaan pengusahaan sumber daya panas bumi kepada Menteri,
gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Dalam hal benda-benda, bangunan, dan peralatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf d tidak dapat diangkat keluar dari bekas Wilayah Kerja
yang bersangkutan, maka oleh Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya dapat diberikan izin untuk memindahkannya kepada
pihak ketiga.
(3) Pengembalian Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e
dinyatakan sah setelah pemegang IUP memenuhi seluruh kewajibannya dan
mendapat persetujuan tertulis dari Menteri, gubernur atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 30
(1) Pemegang IUP dalam melakukan usaha-usaha pengamanan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) huruf c, wajib menyampaikan pemberitahuan
tertulis kepada Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis
Provinsi atau Bupati/ Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan
kewenangannya dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum
berakhirnya IUP.
(2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai data dan
informasi tentang kegiatan pemegang IUP serta rencana kerja usaha-usaha
pengamanan.
677
(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib mempertimbangkan
kelayakan rencana kerja usaha-usaha pengamanan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dengan kondisi di sekitar wilayah kerjanya
(4) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak
tanggal berakhirnya evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat
(4) wajib menetapkan persetujuan atau penolakan rencana kerja usaha-usaha
pengamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Pasal 31
(1) Pemegang IUP dalam melakukan pemindahan hak milik sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 ayat (1) huruf d, wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis
kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya IUP.
(2) Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai data
dan informasi benda-benda, bangunan dan peralatan yang menjadi miliknya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) huruf d serta fasilitas yang dapat
digunakan untuk kepentingan umum.
(3) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam
jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya
pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menginventarisasi
data dan informasi benda-benda, bangunan dan peralatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2).
(4) Inventarisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dimaksudkan untuk
mengetahui kepastian dan keberadaan benda-benda, bangunan dan peralatan
yang menjadi milik pemegang IUP serta fasilitas yang dapat digunakan untuk
kepentingan umum.
Pasal 32
(1) Dalam hal benda-benda, bangunan, dan peralatan tidak dapat diangkat ke luar
dari bekas Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2) maka
pemegang IUP wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada
Menteri c.q. Direktur Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi atau Bupati/
Walikota c.q. Dinas Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dalam
jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak IUP berakhir.
678
(2) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
setelah menerima pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat memberikan izin untuk memindahkan kepada pihak ketiga yang telah
berkoordinasi dengan pemegang IUP.
BAB VIII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 33
(1) Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan
usaha pertambangan panas bumi yang dilakukan oleh gubernur, bupati dan
walikota.
(2) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
melakukan pembinaan dan pengawasan yang berkaitan dengan kegiatan:
a. proses pelaksanaan penerbitan IUP;
b. pelaksanaan kegiatan eksplorasi, studi kelayakan dan eksploitasi;
c. peningkatan tahap kegiatan eksplorasi, studi kelayakan dan eksploitasi;
dan
d. pelaporan yang berkaitan dengan pelaksanaan IUP.
(3) Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh Direktur Jenderal.
Pasal 34
(1) Pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) huruf d wajib
disampaikan oleh pemegang IUP secara tertulis kepada Menteri c.q. Direktur
Jenderal, Gubernur c.q. Dinas Teknis Provinsi, atau Bupati/Walikota c.q. Dinas
Teknis Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. untuk kegiatan eksplorasi dan studi kelayakan laporan yang disampaikan
berupa laporan bulanan, laporan triwulan, laporan tahunan, dan rencana
kegiatan dan rencana anggaran jangka panjang serta rencana kerja dan
anggaran belanja tahunan;
b. untuk kegiatan eksploitasi laporan yang disampaikan berupa laporan
bulanan, laporan triwulan, laporan tahunan, dan rencana kegiatan dan
rencana anggaran jangka panjang serta rencana kerja dan anggaran belanja
tahunan.
679
(2) Penyampaian laporan bulanan, triwulan, dan tahunan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan sebagai berikut :
a. laporan bulanan disampaikan dalam jangka waktu paling lambat 1 (satu)
minggu setelah berakhirnya bulan kalender; laporan triwulan disampaikan
dalam jangka waktu paling lambat minggu pertama bulan April, Juli,
Oktober, dan Januari;
b. laporan tahunan disampaikan dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua)
minggu setelah berakhirnya tahun takwin.
(3) Direktorat Jenderal atau Dinas Teknis wajib melakukan evaluasi terhadap
seluruh laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib
menyampaikan laporan beserta evaluasinya kepada Menteri c.q. Direktur
Jenderal atas laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) setiap
6 (enam) bulan.
BAB IX
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 35
(1) Menteri, gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
mengenakan sanksi administratif kepada pemegang IUP yang melakukan
pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1), ayat
(3), atau ayat (5), Pasal 11 ayat (1) ayat (2) atau ayat (3), Pasal 13 ayat (1), ayat
(3), atau ayat (5), Pasal 14, Pasal 15 ayat (3) atau ayat (6), Pasal 16 ayat (1),
ayat (2), atau ayat (3), Pasal 20 ayat (2), Pasal 21 ayat (1) atau ayat (2), Pasal
22 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 23 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 24 ayat (1), Pasal
29 ayat (1) atau ayat (3), Pasal 30 ayat (1), Pasal 31 ayat (1), atau Pasal 32 ayat
(1).
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara seluruh kegiatan eksplorasi, studi kelayakan atau
eksploitasi; atau
c. pencabutan IUP.
680
Pasal 36
(1) Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) huruf a
dikenakan kepada pemegang IUP yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1).
(2) Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling banyak
3 (tiga) kali, masing-masing peringatan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu)
bulan.
Pasal 37
(1) Dalam hal pemegang IUP yang mendapat sanksi peringatan tertulis setelah
berakhirnya jangka waktu peringatan tertulis ketiga sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 36 ayat (2) belum melaksanakan kewajibannya, M e n t e r i ,
gubernur, atau bupati/ walikota sesuai dengan kewenangannya mengenakan
sanksi administratif berupa penghentian sementara seluruh kegiatan eksplorasi,
studi kelayakan atau eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2)
huruf b.
(2) Sanksi administratif berupa penghentian sementara seluruh kegiatan eksplorasi,
studi kelayakan atau eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan
dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan.
(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sewaktu­waktu dapat
dicabut apabila pemegang IUP dalam masa pengenaan sanksi telah memenuhi
kewajibannya.
Pasal 38
Sanksi administratif berupa pencabutan IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal
35 ayat (2) huruf c dikenakan kepada pemegang IUP yang terkena sanksi administratif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2) tidak melaksanakan kewajibannya
sampai dengan berakhirnya jangka waktu pengenaan sanksi penghentian sementara
seluruh kegiatan eksplorasi, studi kelayakan atau eksploitasi.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 39
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
681
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 25 Juni 2009
MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
ttd.
PURNOMO YUSGIANTORO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 25 Juni 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI
NOMOR 08 TAHUN 2007
TENTANG
PROVINSI JAWA TIMUR SEBAGAI DAERAH PENGHASIL SUMBER DAYA
ALAM SEKTOR MINYAK BUMI DAN GAS BUMI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI DALAM NEGERI,
Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 160 ayat (4)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Provinsi
Jawa Timur sebagai Daerah Penghasil Sumber Daya Alam sektor
Minyak Bumi dan Gas Bumi;
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan
Propinsi Djawa Timur sebagaimana telah diubah dengan Undang­
Undang Nomor 18 Tahun 1950 tentang Perubahan Atas Undang­
Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi
Djawa Timur;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2003 Nomor 47,
Tambahan lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2004 Nomor
125, Tambahan lembaran Negara Republik lndonesia Nomor
4437), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang­Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas
Undang­Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
683
684
Daerah Menjadi Undang-Undang (lembaran Negara Republik
lndonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan lembaran Negara
Republik lndonesia Nomor 4548);
4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
(lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4438);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun tentang Dana Perimbangan
(lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2005 Nomor 137,
Tambahan lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4575);
6. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang
Organisasi dan Tatakerja di Lingkungan Departemen Dalam
Negeri;
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2006 tentang
Pedoman Penegasan Batas Daerah;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PROVINSI JAWA
TIMUR SEBAGAI DAERAH PENGHASIL SUMBER DAYA ALAM SEKTOR
MINYAK BUMI DAN GAS BUMI.
Pasal 1
Provinsi Jawa Timur sebagai Daerah penghasil sumber daya alam sektor minyak
bumi dan gas bumi berdasarkan sumur minyak bumi dan gas bumi yang berlokasi di
wilayah Provinsi Jawa Timur.
Pasal 2
Lokasi sumber daya alam minyak bumi dan gas bumi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1 meliputi:
a. Wilayah Kerja Sampang PSC (Santos);
b. Wilayah Kerja Madura Offshore PSC (Santos);
c. Wilayah Kerja Poleng TAC (Kodeco Energy);
d. Wilayah Kerja Bawean Blok PSC (Camar Resources Canada); dan
e. Wilayah Kerja Kangean PSC (EMP Kangean).
685
Pasal 3
(1) Wilayah Kerja Sampang PSC (Santos) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf
a, meliputi:
a. Sumur Oyong 1 pada koordinat 7°17’26,35” LS dan 113°21’44,77” BT;
b. Sumur Oyong 2 pada koordinat 7°17’22,65” LS dan 113°21’44,40” BT;
c. Sumur Oyong 3 pada koordinat 7°17’21,22” LS dan 113°22’41,22” BT;
d. Sumur Oyong 4 pada koordinat 7°17’30,51” LS dan 113°21’48,35” BT;
e. Sumur Oyong 5 pada koordinat 7°17’30,57” LS dan 113°21’48,35” BT;
f. Sumur Oyong 6 pada koordinat 7°17’30,70” LS dan 113°21’48,24” BT;
g. Sumur Oyong 7 pada koordinat 7°17’30,70” LS dan 113°21’48,46” BT;
h. Sumur Oyong 8 pada koordinat 7°17’30,66” LS dan 113°21’48,39” BT;
i. Sumur Oyong 9 pada koordinat 7°17’30,64” LS dan 113°21’48,31” BT;
j. Sumur Oyong 10 pada koordinat 7°17’30,66” LS dan 113°21’48,35” BT;
k. Sumur Anggur-1 pada koordinat 7°18’16,09” LS dan 113°03’4,48” BT;
l. Sumur Anggur Utara 1 pada koordinat 7°17’33,93” LS dan 113°03’11,98”
BT;
m. Sumur Anggur-2 pada koordinat 7°18’15,61” LS dan 113°03’0,22” BT;
n. Sumur Anggur-3 pada koordinat 70 18’22,34” LS dan 113°03’37,30” BT;
o. Sumur Mangga-1 pada koordinat 7°18’45,72” LS dan 113°01’37,82” BT;
p. Sumur Jeruk-1 pada koordinat 7°21’25,53” LS dan 113°04’13,38” BT;
q. Sumur Jeruk-2-123 pada koordinat 7°21’11,69” LS dan 113°05’0,42” BT;
r. Sumur Jeruk-2-45 pada koordinat 7°21’11,69” LS dan 113°05’0,42” BT;
s. Sumur Jeruk 3 pada koordinat 7°21’14,45” LS dan 113°03’41,01” BT;
t. Sumur Herbras 1 pada koordinat 7018’21,27” LS dan 113°41’41,87” BT;
dan
u. Sumur Dukuh 1 pada koordinat 7°24’17,40” LS dan 113°05’04,10” BT.
(2) Wilayah Kerja Madura Offshore PSC (Santos) sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 huruf b, meliputi:
a. Sumur Maleo1 pada koordinat 7°18’48,73” LS dan 114°02’51,92” BT;
b. Sumur Maleo2 pada koordinat 7°17’44,13” LS dan 114°01’31,45” BT;
c. Sumur Maleo3DW1 pada koordinat 7°18’41,49” LS dan 114°02’35,89” BT;
d. Sumur Maleo4DW1 pada koordinat 7°18’41,56” LS dan 114°02’35,65” BT;
e. Sumur Maleo5DW1 pada koordinat 7°18’41,59” LS dan 114°02’35,52” BT;
f. Sumur Maleo6DW1 pada koordinat 7°18’41,69” LS dan 114°02’35,69” BT;
g. Sumur Nyari1 pada koordinat 7°24’05,08” LS dan 113°49’31,04” BT; dan
h. Sumur Madi1 pada koordinat 7°21’19,31” LS dan 114°37’30,29” BT.
686
(3) Wilayah Kerja Poleng TAC (Kodeco Energy) sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 huruf c, meliputi:
a. Sumur BW pada koordinat 6°41’09,00” LS dan 112°54’36,30” BT;
b. Sumur CW pada koordinat 6°41’50,70” LS dan 112°53’07,00” BT; dan
c. Sumur DW pada koordinat 6°42’20,30” LS dan 112°53’44,10” BT.
(4) Wilayah Kerja Bawean Blok PSC (Camar Resources Canada) sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 huruf d, meliputi:
a. Sumur JS28-1 pada koordinat 6°46’45,905” LS dan 112°12’10,95” BT; dan
b. Sumur TUBAN1 pada koordinat 6°42’24,991” LS dan 112°00’28,99” BT.
(5) Wilayah Kerja Kangean PSC (EMP Kangean) sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 huruf e, meliputi:
a. Sumur PGE-1 pada koordinat 7°03’59,04” LS dan 116°05’36,96” BT; dan
b. Sumur PGE-2 pada koordinat 7001’28,92”LS dan 116°03’44,64” BT.
Pasal 4
Posisi koordinat sumur-sumur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 tercantum
dalam peta yang merupakan lampiran dan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
Pasal 5
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 26 Pebruari 2007
MENTERI DALAM NEGERI,
ttd
H. MOH. MA’RUF, SE
Catatan : peta tidak dicantumkan
Download