10 BAB II KAJIAN PUSTAKA Kriteria kesuksesan suatu pengelolaan

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Kriteria kesuksesan suatu pengelolaan proyek adalah apabila sasaran proyek dapat
terpenuhi, yaitu penyelesaian proyek tidak melebihi waktu yang ditentukan, tidak
melebihi biaya yang ditentukan, mencapai kinerja dan teknologi yang diinginkan,
serta menggunakan sumber daya yang telah ditentukan secara efektif dan efisien
(Kerzner 1984). Sejalan dengan perkembangan zaman, sasaran suatu proyek
konstruksi menjadi lebih luas, yaitu dengan menambahkan faktor kualitas,
keamanan dan lingkungan sebagai sasaran utama yang harus dicapai dalam
pengelolaan suatu proyek.
Pada sistem pengelolaan proyek yang terpadu, paling tidak harus mencakup aspek
biaya dan waktu sebagai sasaran utama. Dasar-dasar sistem pengelolaan proyek
yang mencakup aspek biaya dan waktu tersebut terdiri dari sembilan komponen
utama, yang diadopsi dari konsep yang diterbitkan oleh Project Management
Institute (PMBOK, 2000). Kesembilan komponen aspek waktu dan biaya ini
dapat dijelaskan sebagai berikut:
II.1. Manajemen Waktu Proyek (Project Time Management)
Manajemen waktu proyek memasukkan semua proses yang dibutuhkan dalam
upaya untuk memastikan waktu penyelesaian proyek (PMI 2000). Ada lima
proses utama dalam manajemen waktu proyek. Kelima proses tersebut adalah
(Gambar 2.1) :
a. Pendefinisian Aktivitas
Merupakan proses identifikasi semua aktivitas spesifik yang harus
dilakukan dalam rangka mencapai seluruh tujuan dan sasaran proyek
(project deliveriables). Dalam proses ini dihasilkan pengelompokkan
semua aktivitas yang menjadi ruang lingkup proyek dari level tertinggi
hingga level yang terkecil atau disebut Work Breakdown Structure (WBS).
10
11
Project Time Management
1.
2.
3.
-
Activity Definition
Inputs
WBS
Scope statement
Historical statement
Constraints
Assumptions
Expert judgment
Tools & Techniques
Decomposition
Templates
Outputs
Activity list
Supporting detail
WBS updates
1.
2.
3.
Schedule Development
Inputs
Project network
diagram
Activity duration
estimates
Resource requirements
Resource pool
description
Calendars
Constraints
Assumption
Leads and lags
Risk management plan
Activity attributes
2.
Tools & Techniques
Mathematical analysis
Simulation
Resource leveling
heuristics
PM software
3.
Outputs
Project schedule
Supporting details
Schedule management
plans
Resource requirements
updates
1.
Activity Sequencing
Inputs
Activity list
Product description
Mandatory
dependencies
Discretionary
dependencies
External dependencies
Milestones
Tools & Techniques
PDM
ADM
Conditional
diagramming methods
Network templates
Outputs
Project network
diagram
Activity list updates
1.
2.
3.
-
Activity Duration Estimating
1. Inputs
Activity list
Constraints
Assumptions
Resource requirements
Resource capabilities
Historical information
Identified risks
2.
Tools & Techniques
Expert judgment
Analogous estimating
Quantitatively based
durations
Reserve time
(contingency)
3.
Outputs
Activity duration
estimates
Basis of estimates
Activity list updates
Schedule Control
Inputs
Project schedule
Performance reports
Change request
Schedule management
plan
Tools & Techniques
Schedule change
control system
Performance
measurements
Additional planning
Project management
software
Variance analysis
Outputs
Schedule updates
Corrective action
Lessons learned
Gambar 2.1. Tinjauan Manajemen Waktu Proyek (PMI, 2000)
12
b. Urutan Aktivitas
Proses pengurutan aktivitas melibatkan identifikasi dan dokumentasi dari
hubungan logis yang interaktif. Masing-masing aktivitas harus diurutkan
secara akurat untuk mendukung pengembangan jadwal sehingga diperoleh
jadwal yang realisitis. Dalam proses ini dapat digunakan alat bantu
komputer untuk mempermudah pelaksanaan atau dilakukan secara manual.
Teknik secara manual masih efektif untuk proyek yang berskala kecil atau
di awal tahap proyek yang berskala besar, yaitu bila tidak diperlukan
pendetailan yang rinci.
c. Estimasi Durasi Aktivitas
Estimasi durasi aktivitas adalah proses pengambilan informasi yang
berkaitan dengan lingkup proyek dan sumber daya yang diperlukan yang
kemudian dilanjutkan dengan perhitungan estimasi durasi atas semua
aktivitas yang dibutuhkan dalam proyek yang digunakan sebagai input
dalam pengembangan jadwal. Tingkat akurasi estimasi durasi sangat
tergantung dari banyaknya informasi yang tersedia.
d. Pengembangan Jadwal
Pengembangan jadwal berarti menentukan kapan suatu aktivitas dalam
proyek akan dimulai dan kapan harus selesai. Pembuatan jadwal proyek
merupakan proses iterasi dari proses input yang melibatkan estimasi durasi
dan biaya hingga penentuan jadwal proyek.
e. Pengendalian Jadwal
Pengendalian jadwal merupakan proses untuk memastikan apakah kinerja
yang dilakukan sudah sesuai dengan alokasi waktu yang sudah
direncanakan. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian jadwal
adalah pengaruh dari faktor-faktor yang menyebabkan perubahan jadwal,
menentukan perubahan dari jadwal serat melakukan tindakan bila
pelaksanaan proyek berbeda dari perencanaan awal proyek.
13
II.2. Manajemen Biaya Proyek (Project Cost Management)
Manajemen biaya proyek melibatkan semua proses yang diperlukan dalam
pengelolaan proyek untuk memastikan penyelesaian proyek sesuai dengan
anggaran biaya yang telah disetujui. Hal utama yang sangat diperhatikan dalam
manajemen biaya proyek adalah biaya dari sumber daya yang diperlukan untuk
menyelesaikan proyek. Proses utama dan tinjuannya dalam manajemen biaya
proyek adalah (Gambar 2.2) :
a. Perencanaan Sumber Daya
Perencanaan sumber daya merupakan proses untuk menentukan sumber
daya dalam bentuk fisik (manusia, peralatan, material) dan jumlahnya
yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas proyek. Proses ini sangat
berkaitan erat dengan proses estimasi biaya.
b. Estimasi Biaya
Estimasi biaya adalah proses untuk memperkirakan biaya dari sumber
daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Bila proyek
dilaksanakan melalui sebuah kontrak, perlu dibedakan antara perkiraan
biaya dengan nilai kontrak. Estimasi biaya melibatkan perhitungan
kuantitatif dari biaya-biaya yang muncul untuk menyelesaikan proyek.
Sedangkan nilai kontrak merupakan keputusan dari segi bisnis dimana
perkiraan biaya yang didapat dari proses estimasi merupakan salah satu
pertimbangan dari keputusan yang diambil.
c. Penganggaran Biaya
Penganggaran biaya adalah proses membuat alokasi biaya untuk masingmasing aktivitas dari keseluruhan biaya yang muncul pada proses estimasi.
Dari proses ini didapatkan cost baseline yang digunakan untuk menilai
kinerja proyek.
d. Pengendalian Biaya
Pengendalian biaya dilakukan untuk mendeteksi apakah biaya aktual
pelaksanaan proyek menyimpang dari rencana atau tidak. Semua penyebab
penyimpangan biaya harus terdokumentasi dengan baik sehingga langkahlangkah perbaikan dapat dilakukan.
14
Project Cost Management
1.
2.
3.
-
Resource Planning
Inputs
WBS
Historical information
Scope statement
Resource pool description
Organizational policies
Activity duration estimates
Tools & Techniques
Expert judgment
Alternatives identification
Project management software
Outputs
Resource requirements
1.
2.
3.
-
1.
2.
3.
-
Cost Budgeting
Inputs
Cost estimates
WBS
Project schedule
Risk management plan
Tools & Techniques
Cost estimating tools &
techniques
Outputs
Cost base line
1.
2.
3.
-
Cost Estimating
Inputs
WBS
Resource requirements
Resource rates
Activity duration estimates
Historical information
Chart of accounts
Risks
Tools & Techniques
Analogous estimating
Parametric modeling
Bottom up estimating
Computerized tools
Other cost estimating
methods
Outputs
Cost estimates
Supporting details
Cost management plan
Cost Control
Inputs
Cost baseline
Performance reports
Change request
Cost management plan
Tools & Techniques
Cost change control system
Performance measurement
Earned value management
(EVM)
Additional planning
Computerized tools
Outputs
Revised cost estimates
Budget updates
Corrective action
Estimate completion
Project closeout
Lessons learned
Gambar 2.2. Tinjauan Manajemen Biaya Proyek (PMI 2000)
15
II.3. Konsep Earned Value
Konsep earned value merupakan salah satu alat ukur kinerja suatu proyek yang
mengintegrasikan antara biaya dan waktu. Perkembangan tingkat kompleksitas
proyek semakin besar, sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan dan
pembengkakan penyelesaian proyek dari rencana awal. Suatu proyek mempunyai
sistem akuntansi dan biaya yang menghasilkan laporan kinerja dan memprediksi
biaya proyek. Selain itu terdapat sistem jadwal yang melaporkan status
penyelesaian proyek. Namun kedua sistem tersebut dapat menghasilkan laporan
yang berbeda mengenai status proyek. Dengan dasar ini dibutuhkan suatu sistem
yang mampu mengintegrasikan antara informasi waktu dan biaya (Crean dan
Adamczyk, 1982).
Penggunaan konsep earned value dimulai pada akhir abad 20 di industri
manufaktur. Pada tahun 1960an, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (The
US Department of Defence) mulai mengembangkan konsep ini (Abba 2000).
Pengembangan ini didasari oleh kebutuhan yang mendesak akan sebuah sistem
yang mampu mengatasi tingkat kerumitan dari pengadaan senjata. Konsep
awalnya disebut PERT/COST, namun aplikasinya sangat memberatkan bagi
kontraktor dan juga variasinya semakin membesar dalam berbagai program
pengadaan. Pada tahun 1967 dibuat kriteria pendekatan untuk penerapan konsep
earned value. Ada 35 kriteria yang disebut Cost/Schedule System Criteria
(C/SCSC). Pada tahun 1970an dan awal 1980an turunan analisa dari C/SCSC
semakin berkembang, namun banyak ditentang dan diabaikan oleh manajer
proyek. C/SCSC lebih dipertimbangkan sebagai alat pengendalian finansial
dimana dibutuhkan seorang yang mempunyai keahlian analitis. Di akhir 1980an
dan awal 1900an konsep earned value ini muncul sebagai metodologi manajemen
proyek yang harus dipahami dan digunakan oleh manajer. Pada tahun 1995 hingga
1998 Earned Value Management (EVM) ditransfer untuk kepentingan industri
menjadi suatu standar pengelolaan proyek (ANSI/EIA 748-A). Semenjak itu EVM
tidak hanya digunakan oleh Department of Defence (DoD), namun juga digunakan
oleh kalangan industri lainnya seperti NASA dan United States Depatment of
16
Energy. Tinjaun EVM juga dimasukkan dalam PMBOK Guide® First Edition
pada tahun 1987 dan edisi-edisi berikutnya. Usaha untuk menyederhanakan EVM
mencapai titik momentumnya pada tahun 2000, dimana pemerintah Amerika
mengharuskan penggunaan EVM untuk semua perwakilan pemerintah (Gambar
2.3).
Gambar 2.3. Sejarah Earned Value Management (www.acq.osd.mil)
Untuk menggambarkan konsep earned value, Flemming dan Koppelman (1994)
menjelaskannya dengan cara membandingkan antara konsep earned value dengan
manajemen biaya tradisional yang banyak digunakan oleh berbagai perusahaan
dan manajer proyek. Manajemen biaya tradisional hanya menyajikan dua dimensi
saja yaitu hubungan yang sederhana antara biaya aktual dengan biaya rencana.
Dengan manajemen biaya tradisional, status kinerja tidak dapat diketahui. Pada
Gambar 2.4.a dapat diketahui bahwa biaya aktual memang lebih rendah, namun
kenyataan bahwa biaya aktual yang lebih rendah dari rencana ini tidak dapat
menunjukkan bahwa kinerja yang telah dilakukan telah sesuai dengan target
rencana. Sebaliknya, konsep earned value memberikan dimensi yang ketiga selain
biaya aktual dan biaya rencana. Dimensi yang ketiga ini adalah besarnya biaya
rencana yang telah diselesaikan atau disebut earned value/percent complete.
Dengan adanya dimensi ketiga ini, seorang manajer proyek akan dapat lebih
memahami seberapa besar kinerja yang dihasilkan dari sejumlah biaya yang telah
dikeluarkan (Gambar 2.4.b).
17
Juta Rupiah
Juta Rupiah
100
100
80
80
Rencana
Rencana
60
60
40
40
Earned Value
Aktual
Aktual
20
20
0
0
0
2
4
6
8
10
0
2
4
6
8
WAKTU
a. Manajemen Biaya Tradisional
10
WAKTU
b. Konsep Earned Value
Gambar 2.4. Perbandingan Manajemen Biaya Tradisional dengan Konsep Earned
Value
Earned value adalah nilai yang diperoleh dari pelaksanaan proyek. Nilai
keseluruhan proyek adalah besarnya biaya rencana penyelesaian proyek dan
earned value merupakan biaya rencana yang telah dilaksananakan. Penyelesaian
biaya rencana diukur berdasarkan metode pengukuran kemajuan proyek yang
disesuaikan dengan karakteristik dari proyek. Earned value yang diperlihatkan
dalam Gambar 2.4 mempunyai pengertian yang berbeda antara kontraktor dengan
pemilik proyek walaupun mempunyai besaran yang sama. Untuk kontraktor nilai
earned value merupakan nilai pelaksanaan proyek yang diperoleh dari pemilik
proyek dimana di dalamnya termasuk profit dari pelaksanaan proyek. Sedangkan
bagi pemilik proyek adalah nilai dari proyek yang telah dilaksanakan yang akan
menjadi milik pemiliki proyek bila sudah dilakukan pembayaran kepada
kontraktor.
Ada tiga elemen dasar yang menjadi acuan dalam menganalisa kinerja dari proyek
berdasarkan konsep earned value. Ketiga elemen tersebut adalah :
a. Budgeted Cost for Work Scheduled (BCWS)
BCWS merupakan anggaran biaya yang dialokasikan berdasarkan rencana
kerja yang telah disusun terhadap waktu. BCWS dihitung dari akumulasi
anggaran biaya yang direncanakan untuk pekerjaan dalam periode waktu
18
tertentu. BCWS pada akhir poyek (penyelesaian 100 %) disebut Budget at
Completion (BAC). BCWS juga menjadi tolak ukur performa waktu dari
pelaksanaan proyek. BCWS merefleksikan penyerapan biaya rencana
secara kumulatif untuk setiap paket-paket pekerjaan berdasarkan
urutannya sesuai jadwal yang direncanakan.
b. Actual Cost for Work Performed (ACWP)
ACWP adalah representasi dari keseluruhan pengeluaran yang dikeluarkan
untuk menyelesaikan pekerjaan dalam periode tertentu. ACWP dapat
berupa kumulatif hingga periode perhitungan performa atau jumlah biaya
pengeluaran dalam periode waktu tertentu.
c. Budgeted Cost for Work Performed (BCWP)
BCWP adalah biaya rencana pekerjaan yang telah dilaksanakan selama
periode waktu tertentu. BCWP inilah yang disebut earned value. BCWP
ini dihitung berdasarkan BCWP dinilai berdasarkan prosentase pekerjaan
yang telah dilaksanakan yang dinilai dengan suatu ukuran kemajuan
pekerjaan yang telah ditetapkan dan merupakan akumulasi dari pekerjaanpekerjaan yang telah diselesaikan.
Untuk mendapatkan BCWP diperlukan metode pengukuran kemajuan pekerjaan.
Terdapat 6 metode yang umum digunakan dalam mengukur kemajuan pekerjaan
(AACE, 1992) :
a. Unit yang terselesaikan
Metode ini dapat digunakan untuk pekerjaan yang melibatkan produksi
berulang dan mudah dalam mengukur hasil pekerjaan. Sebagai contoh
adalah untuk pekerjaan jalan, unit yang digunakan sebagai ukuran dalam
kemajuan pekerjaan adalah meter panjang.
b. Penambahan Milestone
Metode ini dapat digunakan bila melibatkan beberapa sub pekerjaan yang
berurutan. Setiap penyelesaian segmen pekerjaan merepresentasikan
prosentase penyelesaian pekerjaan dari total keseluruhan penyelesaian
pekerjaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Prosentase penyelesaian
pekerjaan yang ditetapkan untuk setiap segmen pekerjaan umumnya
19
ditetapkan berdasarkan prosentase jam kerja rencana dari setiap segmen
terhadap jam kerja rencana keseluruhan pekerjaan.
c. Start/Finish
Metode ini dapat digunakan untuk pekerjaan yang sulit ditentukan
milestone dari setiap segmen pekerjaan. Penetapan prosentase pekerjaan
saat dimulai dan penyelesaian pekerjaan dapat berupa 0%/100%, 50%/0%,
30%/70% tergantung dari durasi rencana total pekerjaan. Sebagai contoh
adalah untuk pekerjaan perencanaan dimana penyelesaian setiap segmen
dari perencanaan sulit ditentukan sehingga ketika dimulainya pekerjaan
perencanaan dinilai 0% dan penyelesiaannya dinilai 100%.
d. Opini dari Supervisor
Dengan metode ini, supervisor dengan mudah menilai dari prosentase
penyelesaian pekerjaan. Masalah utama dari metode ini adalah pendekatan
yang berbeda dimana terdapat supervisor yang optimis dan pesimis
sehingga dalam sauatu pekerjaan yang sama memiliki penilaian yang
berbeda. Metode ini hanya dapat digunakan untuk pekerjaan minor dan
kemajuan pekerjaan tidak dapat terlihat. Sebagai contoh pekerjaan yang
dapat adalah untuk pekerjaan dewatering dimana volume air yang harus
dibuang sulit ditetapkan.
e. Cost Ratio
Metode ini dapat digunakkan untuk pekerjaan berdurasi panjang atau terus
menerus selama pelaksanaan proyek. Dengan metode ini prosenstase
penyelesaian pekerjaan diperoleh dari perbandingan jam kerja atau biaya
aktual terhadap prediksi jumlah jam kerja atau biaya penyelesaian. Contoh
untuk pekerjaan yang menggunakan metode cost ratio dalam mengkur
kemajuan pekerjaan adalah manajemen proyek, administrasi kontrak dan
pengawasan proyek.
f. Equivalent Unit
Metode ini dapat digunakan untuk pekerjaan yang berdurasi panjang dan
terdiri dari beberapa sub pekerjaan yang bersamaan dan setiap sub
pekerjaan memiliki unit pengukuran yang berbeda. Setiap sub pekerjaan
harus ditetapkan bobotnya yang biasanya diperhitungkan berdasarkan jam
20
kerja. Contoh penggunaan metode ini untuk pekerjaan struktur baja yang
diperlihatkan dalam Tabel 2.1 di bawah ini dimana total pekerjaan struktur
baja adalah 500 ton.
Tebl 2.1. Contoh Penggunaan Metode Equivalent Unit
Bobot
0,2
0,2
0,4
0,2
1
Sub
Pekerjaan
Fondasi
Kolom
Beam
Bracing
Struktur Baja
Unit
Buah
Buah
Buah
Buah
Ton
Total
Kuantitas
10
10
20
10
500
Kuantitas
Aktual
10
5
10
5
Ton yang
diperoleh
100
50
100
50
300
Ton yang diperoleh pekerjaan kolom = 0,2 x 5/10 x 500 = 50 ton
Prosentase penyelesaian pekerjaan
= 300/500 = 60%
II.4. Penilaian Kinerja Proyek dengan Konsep Earned Value
Penggunaan konsep earned value dalam penilaian kinerja proyek dapat dijelaskan
melalui Gambar 2.5. Beberapa istilah yang terkait dengan penilaian ini adalah
Cost Variance, Schedule Variance, Cost Performance Index, Schedule
Performance Index, Estimate at Completion, dan Variance at Completion. Makna
dari istilah-istilah ini dijelaskan sebagai berikut.
Gambar 2.5. Grafik Kurva S Earned Value
21
1. Cost Variance (CV)
Cost variance merupakan selisih antara nilai yang diperoleh setelah
menyelesaikan paket-paket pekerjaan dengan biaya aktual yang terjadi selama
pelaksanaan proyek. Cost variance positif menunjukkan bahwa nilai paketpaket pekerjaan yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang
dikeluarkan untuk mengerjakan paket-paket pekerjaan tersebut. Sedangkan
nilai negatif menunjukkan bahwa nilai paket-paket pekerjaan yang
diselesaikan lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang sudah dikeluarkan.
CV = BCWP - ACWP ....................................................
(2.1)
2. Schedule Variance (SV)
Schedule variance digunakan untuk menghitung penyimpangan antara BCWS
dengan BCWP. Nilai positif menunjukkan bahwa paket-paket pekerjaan
proyek yang terlaksana lebih banyak dibanding rencana. Sebaliknya nilai
negatif menunjukkan performa pekerjaan yang buruk karena paket-paket
pekerjaan yang terlaksana lebih sedikit dari jadwal yang direncanakan.
SV = BCWP - BCWS ....................................................
(2.2)
3. Cost Performance Index (CPI)
Faktor efisiensi biaya yang telah dikeluarkan dapat diperlihatkan dengan
membandingkan nilai pekerjaan yang secara fisik telah diselesaikan (BCWP)
dengan biaya yang telah dikeluarkan dalam periode yang sama (ACWP).
CPI =
BCWP
.................................................................
ACWP
(2.3)
Nilai CPI ini menunjukkan bobot nilai yang diperoleh (relatif terhadap nilai
proyek keseluruhan) terhadap biaya yang dikeluarkan. CPI berada dibawah 1
menunjukkan performa biaya yang buruk, karena biaya yang dikeluarkan
(ACWP) lebih besar dibandingkan dengan nilai yang didapat (BCWP) atau
dengan kata lain terjadi pemborosan.
22
4. Schedule Performance Index (SPI)
Faktor efisiensi kinerja dalam menyelesaikan pekerjaan dapat diperlihatkan
oleh perbandingan antara nilai pekerjaan yang secara fisik telah diselesaikan
(BCWP) dengan rencana pengeluaran biaya yang dikeluarkan berdasar
rencana pekerjaan (BCWS).
SPI =
BCWP
..................................................................... (2.4)
BCWS
Nilai SPI menunjukkan seberapa besar pekerjaan yang mampu diselesaikan
(relatif terhadap proyek keseluruhan) terhadap satuan pekerjaan yang
direncanakan. Nilai SPI kurang dari 1 menunjukkan bahwa kinerja pekerjaan
tidak sesuai dengan yang diharapkan karena tidak mampu mencapai target
pekerjaan yang sudah direncanakan.
5. Prediksi Biaya Penyelesaian Akhir Proyek / Estimate at Completion
(EAC)
Pentingnya menghitung CPI dan SPI adalah untuk memprediksi secara
statistik biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Ada banyak
metode dalam memprediksi biaya penyelesaian proyek (EAC). Namun
perhitungan EAC dengan SPI dan CPI lebih mudah dan cepat penggunaannya.
Ada beberapa rumus perhitungan EAC, salah satunya adalah sebagai berikut :
EAC = ACWP +
(BAC - BCWP)
...........................................
CPI x SPI
(2.5)
Rumus di atas adalah salah satu metoda untuk memprediksi biaya
penyelesaian proyek berdasarkan kinerja pelaksanaan secara deterministik.
Metoda deterministic lain yang dapat digunakan adalah hanya menggunakan
nilai CPI dalam perhitungan EAC. Perhitungan EAC dapat juga dilakukan
dengan memasukkan probabilias dari ACWP sehingga didapat nilai CPI
sesuai dengan probabilitas dari ACWP.
23
Perhitungan EAC merupakan penjumlahan biaya aktual yang sudah
dikeluarkan dan sisa biaya yang akan dibutuhkan untuk menyelesaikan
proyek. Sisa biaya yang akan dibutuhkan diprediksi secara statistik dengan
memperhitungkan efektifitas penggunaan biaya (CPI) dan performa pekerjaan
terhadap rencana (SPI). Dari nilai EAC dapat diperoleh perkiraan selisih
antara biaya rencana penyelesaian proyek (BAC) dengan biaya penyelesaian
proyek berdasarkan performa pekerjaan yang telah dicapai (EAC) atau yang
disebut variance at completion (VAC).
VAC = BAC - EAC .................................................................
(2.6)
Tabel 2.2. Penilaian dari Indikator Konsep Earned Value
No
Indikator
1.
Cost variance
(CV)
2.
Schedule variance
(SV)
Nilai
positif
nol
negatif
positif
nol
negatif
3.
Cost performance index
(CPI)
4.
Schedule performance
index
(SPI)
>1
=1
<1
>1
=1
<1
Penilaian Status Proyek
Penghematan, BCWP > ACWP
Biaya rencana = biaya aktual
Pemborosan, BCWP < ACWP
Lebih cepat dari rencana, BCWP >
BCWS
Rencana = aktual
Lebih lambat dar rencana, BCWP <
BCWS
Penghematan, BCWP > ACWP
Biaya rencana = biaya aktual
Pemborosan, BCWP < ACWP
Lebih cepat dari rencana, BCWP >
BCWS
Rencana = aktual
Lebih lambat dar rencana, BCWP <
BCWS
Indikator CPI dan SPI lebih sering digunakan untuk penilaian kinerja proyek
dibanding SV dan CV. Nilai CPI dan SPI merupakan bobot nilai yang tidak
memiliki dimensi sehingga dapat dilakukan perbandingan antara kinerja proyek
satu dengan lainnya. Selain itu nilai SPI dan CPI memberikan perbandingan relatif
terhadap BCWS atau Performance Measurement Baseline (PMB) yang menjadi
dasar penilaian status proyek dari segi biaya dan waktu.
24
II.5. Kriteria Earned Value Management System (EVMS)
Walaupun konsep earned value terlihat sederhana dan mudah, namun aplikasinya
untuk manajemen proyek tidaklah semudah yang dibayangkan. Konsep earned
value bukan saja mengenai perhitungan kinerja proyek yang mengintegrasikan
biaya dan waktu, namun harus didukung pula dengan sistem manajemen proyek
yang mampu menyediakan input data untuk perhitungan kinerja proyek
berdasarkan konsep earned value. Bila kinerja proyek buruk, sistem manajemen
proyek mampu menelusuri bagian mana yang bermasalah yang menyebabkan
pembengkakan biaya dan terjadinya keterlambatan pelaksanaan proyek. Sehingga
langkah perbaikan dapat dilakukan dan semua data dapat terdokumentasi dengan
baik yang nantinya di masa yang akan datang dapat dimanfaatkan dalam
pengelolaan proyek berikutnya.
Fleming dan Koppelman (1994) menyatakan bahwa penerapan konsep earned
value yang sesuai dengan kriteria C/SCSC sangatlah memberatkan kontraktor.
Kriteria C/SCSC yang dibuat dengan terlalu banyak formalitas dan aturan di
dalam penerapannya. Hal yang dibutuhkan dalam penerapan di dalam manajemen
proyek adalah kriteria yang sederhana yaitu kembali kepada konsep awal earned
value yang digunakan pada sektor industri. Penerapan awal konsep earned value
yang tidak menggunakan checklist berisi ratusan pertanyaan membuat
penerapannya tidak menyulitkan kontraktor.
Fleming dan Koppelman (1994) mengusulkan 10 kriteria sederhana yang
membuat pengelolaan proyek mampu menangkap inti dari konsep earned value.
10 kriteria tersebut adalah :
a. Komitmen manajemen untuk earned value.
Pada penerapan konsep earned value manajemen proyek, harus ada
kebulatan tekad dari manajer proyek untuk memanfaatkan konsep earned
value di dalam sistem manajemen pada proyek yang ditangani. Komitmen
juga harus ada pada organisasi utama perusahaan dalam mendukung
keputusan penggunaan konsep earned value pada manajemen proyek.
25
b. Menetapkan lingkup proyek dengan work breakdown structure (WBS).
Pada setiap proyek yang akan dikerjakan hal pertama yang harus dilakukan
adalah menentukan lingkup proyek agar pada saat pelaksanaannya lingkup
proyek tidak meluas yang menyebabkan kegagalan proyek. Salah satu
teknik yang dapat digunakan dan terbukti ampuh dalam membatasi
lingkup proyek adalah dengan WBS. WBS memperlihatkan hierarki
perencanaan pekerjaan yang berorientasi pada produk yang akan
dihasilkan dari proyek. WBS menjadi acuan dalam menentukan aktivitas
dan sumber daya yang akan digunakan untuk mencapai sasaran proyek.
c. Menciptakan management control cells (cost account).
Cost account merepresentasikan pertemuan antara level terendah WBS
dengan fungsi dari organisasi. Cost account harus memiliki empat elemen
yaitu memperlihatkan pekerjaan di level tugas, mempunyai kerangka
waktu pelaksanaan yang spesifik bagi masing-masing tugas, mempunyai
anggaran biaya untuk penggunaan sumber daya, mempunyai pihak yang
bertanggung jawab untuk masing-masing sel.
d. Menetapkan tanggung jawab fungsional untuk setiap bagian terkecil dari
manajemen proyek (project’s management control cells).
Dibutuhkan organisasi proyek yang dalam strukturnya terdapat pembagian
tanggung jawab yang jelas. Organisasi proyek dibagi dalam divisi dan
subdivisi. Masing-masing divisi dan subdivisi mempunyai tugas dan
tanggung jawab yang berbeda-beda. Tugas dan tanggung jawab ini sesuai
dengan kepemilikan cost account masing-masing divisi dan subdividivisi.
e. Membuat earned value baseline dari proyek.
Langkah selanjutnya adalah menetapkan baseline yang digunakan dalam
menghitung performa proyek. Basis ukuran performa proyek harus
memasukkan semua cost account dan biaya-biaya tidak langsung proyek
seperti biaya tak terduga dan profit. Untuk memperolah basis ukuran
performa proyek, digunakan proses perencanaan formal proyek mulai dari
proses estimasi, penjadwalan dan penganggaran. Untuk keperluan
pengendalian, pihak manajemen harus menentukan batasan untuk
penilaian kinerja proyek.
26
f. Penggunaan proses formal penjadwalan proyek.
Penggunaan earned value membutuhkan alat bantu pengendalian proyek
seperti master schedule, kurva s dan bar chart. Alat bantu pengendalian
proyek dibuat melalui proses penjadwalan. Alat bantu ini menunjukkan
kerangka waktu dari setiap paket pekerjaan dan anggaran biayanya.
g. Pengelolaan biaya tidak langsung (indirect cost).
Biaya tidak langsung perlu dikelompokkan tersendiri/terpisah dari biaya
langsung proyek. Terkadang biaya tidak langsung mempunyai porsi yang
lebih besar dari biaya keseluruhan proyek. Oleh karena itu biaya tidak
langsung proyek perlu diperhatikan dan ditangani secara baik.
h. Secara periodik, mengestimasi biaya penyelesaian proyek.
Salah satu manfaat dari konsep earned value adalah mampu memprediksi
biaya penyelesaian proyek (EAC). Dengan dasar performa aktual proyek
(SPI dan CPI), dapat diprediksi secara akurat berapa lagi dana yang
dibutuhkan untuk menyelesaikannya.
i. Pelaporan status proyek.
Batasan varian yang sudah ditentukan manajemen menjadi acuan kapan
manajemen akan bertindak. Bila performa proyek berada diluar batasan
yang telah ditetapkan, hal tersebut merupakan sinyal peringatan bagi pihak
manajemen untuk bertindak. Penerapan earned value dalam menajemen
proyek merupakan salah satu contoh penerapan management by exception.
j. Menyusun historical database.
Pembentukan historical database memungkinkan perbaikan proyek yang
akan dikerjakan menjadi lebih baik. Historical database digunakan
sebagai acuan dalam pengelolaan proyek di masa yang akan datang.
The American National Standard Institute (ANSI) menetapkan kriteria standar
penerapan earned value management system yaitu ANSI/EIA 748. Kriteria yang
ditetapkan ini merupakan adopsi dari penerapan konsep earned value di
Departemen Pertahanan Amerika Serikat. ANSI memberikan 32 kriteria yang
harus diterapkan dalam manajemen proyek dalam rangka penggunaan konsep
earned value. Kriteria yang ditetapkan ANSI terangkum dalam Tabel 2.3.
27
Tabel 2.3. Kriteria EVMS ANSI/EIA 748
No
Aspek
Utama
Kriteria
Penerapan EVMS
Berdasarkan
Kualifikasi
Kontraktor
K
M
B
H
H
Define authorized work
H
H
Identify Program Organization Structure
Company integration of EVMS subsystems with
D
S
1.
Organization
3
WBS and OBS
D
S
4
Identify organization/function for overhead
D
S
5
Integrate WBS & OBS, create control accounts
6
Sequential scheduling of work
H
H
Identify interim measures of progress, i.e.
7
H
H
milestones, products, etc.
8
Establish time-phased budget
H
H
Identify significant cost elements within authorized
9
H
H
budgets
10 Identify discrete work packages
H
H
Planning,
All work package budgets & planning packages
2.
Scheduling,
11
S
S
sum to control acct
Budgeting
12 Identify and control LOE budgets
D
S
Establish overhead budgets by organization
13
D
S
element
Identify management reserve and undistributed
14
D
S
budget
Reconcile program target cost goal with sum of all
15
H
H
internal budgets
16 Record direct costs from accounting system
H
H
Summarize direct costs into WBS without
17
H
H
allocation
Summarize direct costs into OBS without
18
D
S
allocation
Accounting
3.
19 Record indirect costs
H
H
Consideration
Identify unit costs, equivalent units costs or lot
20
D
S
costs
Accurate material cost accumulation by control
21 accounts; EV measurement at right time; full
H
H
accountability of material
Control account monthly summary, identification
H
H
22
of CV and SV
23 Explain significant variances
H
H
24 Identify and explain indirect cost variances
P
P
Analysis and
Summarize data elements and variances thru
P
P
4.
Management
25
WBS/OBS for management
Report
Implement management actions as result of EVM
H
H
26
analysis
Revise EAC based on performance data; calculate
H
H
27
VAC
28 Incorporate authorized changes in timely manner
D
P
29 Reconcile budgets with prior budgets
P
P
Revisions and
5.
30 Control retroactive changes
D
P
Maintenance
31 Prevent all but authorized budget changes
D
P
32 Document changes to PMB
P
P
S : Sangat dianjurkan untuk H : Harus diterapkan
Keterangan : D : Dianjurkan diterapkan
diterapkan
1
2
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
H
28
Pengembangan kriteria EVMS mempunyai konsep bahwa tidak terdapat satupun
sistem manajemen proyek yang menggunakan konsep earned value sesuai dengan
setiap kebutuhan pihak manajemen dalam melakukan penilaian kinerja proyek.
Dengan adanya variasi keunikan setiap proyek maka tidak dimungkinkan
menentukan suatu sistem untuk pengendalian biaya dan waktu yang universal.
Olehsebab itu kriteria EVMS dibuat tidak untuk menggambarkan suatu sistem.
Kriteria EVMS digunakan untuk membuat suatu kerangka yang harus dipenuhi
dalam mengintegrasikan batasan biaya dan waktu proyek. Kriteria EVMS
merupakan kriteria secara umum yang memfasilitasi dalam mengevaluasi sistem
manajemen proyek yang dimiliki kontraktor.
Soemardi et al (2006) menyatakan bahwa penerapan EVMS dalam pengelolaan
proyek konstruksi tidak sepenuhnya diterapkan bagi masing-masing kontraktor.
maisng-masing kualifikasi kontraktor memiliki kebutuhan dan kemampuan yang
berbeda dalam penerapan konsep earned value. Dalam penelitian ini dihasilkan
usulan penerapan kriteria EVMS bagi masing-masing kualifikasi kontraktor.
Prioritas penerapan dibagi dalam tiga tingkatan yaitu dianjurkan, sangat
dianjurkan dan harus diterapkan. Prioritas penerapan kriteria EVMS bagi masingmasing kualifikasi kontraktor diperlihatkan dalam Tabel 2.3.
II.6. Sistem Akuntansi
Sistem manajemen pengendalian biaya proyek ataupun pengendalian biaya
perusahaan jasa konstruksi tidak terlepas dari sistem akuntansi dimana sistem
akuntansi di bidang konstruksi memiliki 4 tujuan (Peterson 2005) :
a. Sistem akuntansi memproses semua penerimaan dan pembayaran yang
dilakukan perusahaan dengan baik.
b. Sistem akuntansi mengumpulkan dan melaporkan data yang diperlukan
untuk mempersiapkan laporan keuangan perusahaan.
c. Sistem akuntansi mengumpulkan dan melaporkan data yang dibutuhkan
untuk mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan pemerintah seperti untuk
pembayaran pajak.
29
d. Sistem akuntansi mengumpulkan dan menyediakan data yang dibutuhkan
untuk mengelola keuangan perusahaan termasuk data setiap proyek dan
setiap peralatan.
Dilihat tujuan dari sistem akuntansi di atas dapat disimpulkan bahwa sistem
akuntansi di bidang konstruksi memiliki fungsi sebagai laporan dan pengendali
dimana dapat memberikan data keuangan baik untuk pelaksanaan proyek
konstruksi maupun data keuangan berkaitan dengan operasional perusahaan.
Sistem akuntansi yang berfungsi sebagai pengendali biaya memerlukan
merupakan fungsi lebih lanjut dari fungsi laporan keuangan.
Bila sistem akuntansi dapat berfungsi tidak hanya sebagai penyedia laporan biaya
namun juga sebagai pengendali biaya harus memiliki beberapa komponen kunci
(Peterson, 2005) :
a. Sistem akuntansi harus memiliki sistem penelusuran yang kuat terhadap
biaya. Sistem akuntansi dapat memberikan laporan keuangan dari waktu
ke waktu termasuk penggunaan biaya selama pelaksanaan proyek dan
estimasi biaya penyelesaian proyek.
b. Sistem akuntansi harus menggunakan prinsip management by exception
karena itu sistem akuntansi mampu menyediakan data yang memeprmudah
dalam menganalisa permasalahan yang muncul.
c. Sistem akuntansi memerlukan prosedur yang jelas sehingga sistem dapat
berjalan dengan konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.
d. Data harus dapat disediakan dengan mudah dan cepat ketika diperlukan
pihak manajemen untuk pengendalian keuangan.
Sistem akuntansi memiliki hubungan erat dengan penerapan EVMS dalam
pengelolaan proyek konstruksi. Setiap transaksi yang terjadi dalam proyek
konstruksi harus tercatat dalam sistem akuntansi termasuk dalam penggunaan
sumberdaya. Sistem akuntansi memiliki fungsi sebagai penyedia laporan biaya
sehingga untuk penerapan konsep earned value, data ACWP dapat diperoleh dari
laporan yang dihasilkan sistem akuntansi. Fungsi sistem akuntansi sebagai
30
pengendali biaya harus dapat mengestimasi biaya penyelesaian proyek. Untuk
mengestimasi biaya penyelesaian proyek dapat digunakan
Terdapat 4 metode akuntansi yang dapat digunakan dalam perusahaan konstruksi
untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh perusahaan (Coombs dan Palmer,
1989) yaitu:
a. Metode Cash yaitu jika pendapatan dikenal sebagai uang yang diterima
dan biaya dikenal jika melakukan pembayaran.
b. Metode Accrual yaitu mengenal pendapatan adalah tagihan yang diberikan
kontraktor kepada pemilik proyek melalui kontrak yang telah disepakati
dan biaya adalah biaya yang telah dikeluarkan walaupun belum ada
pembayaran.
c. Metode Percentage of Completion yaitu kemajuan proyek diperhitungkan
dalam bentuk prosentase penyelesaian. Prosentase penyelesaian proyek
digunakan utuk mengestimasi pendapatan dan bersama-sama dengan biaya
digunakan untuk menetukan keuntungan yang diperoleh.
d. Metode Completed Contract yaitu tagihan kepada pemilik proyek dan
biaya diakumulasikan dalam balance sheet. Pendapatan, biaya dan
keuntungan dikenali (dipindahkan kedalam income statement) ketika
proyek sudah diselesaikan.
Perbandingan dari masing-masing metode akuntansi disajikan dalam Tabel 2.4
dibawah ini
Tabel 2.4. Perbandingan Metode Akuntansi
Cash Method
Pendapatan
Biaya
Penggunaan
Pembayaran dari
pemilik proyek
Pengeluaran uang
Kontraktor kecil
dengan durasi
kontrak pendek
Accrual Method
Tagihan kepada
pemilik proyek
Biaya yang
didatangkan
(dibayar ataupun
tidak)
Kontrak dengan
durasi menengah
Percentage of
Completion Method
Kemajuan pekerjaan
Biaya yang
didatangkan (dibayar
ataupun tidak)
Untuk kontrak jangka
panjang
Completed Contract
Method
Setelah proyek
selesai
Setelah proyek
selesai
Untuk kontrak yang
baru dapat diketahui
nilainya saat akhir
proyek
31
II.7. Pembukuan dalam Sistem Akuntansi
Salah satu fungsi penting dari pencatatan akuntansi adalah mengelompokkan
transaksi sehingga informasi yang tersedia menjadi sangat berguna dalam
pengelolaan bisnis dan semua informasi yang dibutuhkan harus seimbang dalam
akun pembukuan (Coombs & Palmer, 1989). Pencatatan transaksi dilakkan dalam
jurnal yang memperlihatkan kronologis kegiatan transaksi suatu perusahaan. Dari
jurnal, transaksi yang telah dicatat dipilah dan dikelompokkan dalam suatu
pembukuan. Pembukuan utama dalam sistem akuntansi disebut general ledger.
Beberapa akun dalam general ledger mempunyai beberada cabang pembukuan
yang disebut subsidiary ledger. Subsidiary ledger mendetailkan beberapa akun
sesuai dengan kebutuhan dalam pengelolaan bisnis. Struktur pembukuan dalam
sistem akuntansi secara umum diperlihatkan dalam Gambar 2.6 di bawah ini.
Laporan keuangan: balance sheet, income statement
General ledger
Subsidiary
ledger
Subsidiary
ledger
Subsidiary
ledger
Jurnal
Transaksi
Transaksi
Transaksi
Transaksi
Transaksi
Gambar 2.6. Struktur Pembukuan dalam Sistem Akuntansi
32
Dalam sistem akuntansi diperlukan suatu pengkodean agar memudahkan dalam
memilah dan mengelompokkan transaksi yang dimasukkan dalam pembukuan.
Moscove dan Simpkin (1987) menytakan tujuan dari pengkodean dalam sistem
akuntansi adalah:
a. Mengidentifikasi data akuntansi secara unik.
Sistem akuntansi membutuhkan kode yang menunjukkan data secara
spesifik dan unik. Unik maksudnya tidak ada persamaan satu dengan
lainnya. Misalnya untuk pembayaran gaji berdasarkan kode karyawan
dimana setiap karyawan memiliki kode tersendiri dan tidak ada yang sama
walaupun mungkin mempunyai nama yang sama.
b. Meringkas data.
Dengan pengkodean dapat dapat meringkas dalam penulisan data.
Misalnya adalah dalam pengkodean biaya proyek, dengan kode huruf M
menunjukkan biaya material, L untuk labor (tenaga kerja) dan E untuk
equipment (peralatan).
c. Mengklasifikasikan transaksi.
Dalam sistem akuntansi, kode digunakan untuk mengklasifikasikan setiap
transaksi. Misalnya adalah kode untuk dalam pencatatan transaksi untuk
membedakan debet atau kredit sehingga pencatatan transaksi dapat
dilakukan secara automatis.
d. Mengidentifikasi item untuk dimunculkan dalam laporan.
Dalam sistem akuntansi membutuhkan kode untuk mengenal akun yang
akan ditampilkan dalam laporan. Misalnya adalah kode 100 hingga 499
merupakan kode akun yang dimasukkan dalam balance sheet, sedangakan
500 hingga 950 merupakan kode akun yang dimasukkan dalam income
statement.
e. Menunjukkan arti khusus.
Seringkali kode diperlukan untuk memperlihatkan arti yang khusus.
Misalnya suatu dalam mengidentifikasi proyek berdasarkan kode yang
menunjukkan area masing-masing proyek.
33
Ada beberapa tipe kode yang digunakan dalam sistem akuntansi beberapa
diantaranya adalah kode mnemonic, kode berurutan, kode blok dan kode
kelompok (Moscove dan Simpkin, 1987).
a. Kode Mnemonic
Kode mnemonic digunakan untuk memudahkan pengguna dalam
mengingat arti suatu kode. Tipikal dari kode mnemonic berupa alfabet
karena digunakan sebagai akronim dari data dan mudah untuk mengingat.
Misalnya adalah kode L untuk jenis kelamin laki-laki dan P untuk
perempuan. Seringkali kode alphabet digunakan secara bersamaan dengan
kode numerik untuk membedakan singkatan yang sama.
b. Kode Berurutan
Kode berurutan digunakan seperti dalam tiket penjualan dibuat kode yang
berurutan. Dengan urutan ini juga mempermudah dalam penelusuran.
Misalnya seperti kode tiket dapat diketahui jumlah tiket yang sudah
terjual.
c. Kode Blok
Kode blok merupakan kode yang beurutan dalam. Satu atau dua digit awal
dari kode merupakan kode petunjuk dan digit di belakangnya
menunjukkan urutan.
d. Kode Kelompok
Kode kelompok merupakan gabungan dari beberapa sistem kode yang
digunakan. Misalnya adalah dalam membuat kode akun terdiri dari
beberapa kelompok kode yaitu kode jenis akun, kode pemunculan dalam
laporan dan kode untuk debet atau kredit.
Sistem akuntansi untuk sebagian besar perusahaan jasa konstruksi terdiri atas 3
buku besar yang berbeda yaitu general ledger, job cost ledger dan equipment
ledger (Peterson, 2005). General ledger menelusuri data keuangan perusahaan
secara keseluruhan dan digunakan untuk mempersiapkan laporan keuangan
perusahaan. Job cost ledger digunakan untuk menelusuri data keuangan untuk
masing-masing proyek yang ditangani perusahaan. Equipment ledger digunakan
untuk menelusuri data keuangan untuk kendaraan dan peralatan berat.
34
II.7.1. General Ledger
General ledger terdiri atas semua transaksi yang terjadi dalam perusahaan dan
penting untuk menelusuri data keuangan yang dibutuhkan dalam memepersiapkan
laporan keuangan seperti laporan neraca (balance sheet), laporan rugi/laba
(income statement) dan laporan pajak pendapatan (income taxes). Dalam general
ledger semua transaksi dikelompokkan dalam bagan akun (chart of account).
Contoh chart of account untuk kontraktor kecil diperlihatkan dalam Tabel 2.5.
Perlakuan terhadap masing-masing transaksi dalam general ledger tergantung dari
metode akuntansi yang digunakan oleh perusahaan.
Tabel 2.5. Contoh Chart of Account
No Akun
110
120
121
130
140
150
160
199
Nama Akun
Cash
Account receivable-trade
Account receivable-retention
Inventory
Costs & profits in excess of billings
Notes receivable
Prepaid expenses
Other current assets
210
220
230
240
250
260
299
Building & land
Construction equipment
Trucks & autos
Office equipment
Less acc. depreciation
Capital leases
Other assets
310
311
320
330
340
341
342
343
344
360
379
379
380
Account payable-trade
Account payable-retention
Billing in excess of costs & profit
Notes payable
Accrued payroll
Accrued payables
Accrued taxes
Accrued insurance
Accrued vacation
Capital leases payable
Warranty reserves
Other current liabilities
Long term liabilities
410
420
430
Capital stock
Retained earnings
Current period net income
No Akun
730
740
750
798
799
805
806
810
811
812
819
820
921
822
823
824
825
830
835
840
841
842
843
844
845
846
850
855
860
865
870
875
880
Nama Akun
Repairs & maintenance
Fuel & lubrication
Taxes, licenses & insurance
Equipment costs charged to employees
Equipment costs charged to job
Advertising
Promotion
Car & truck expenses
Computer & office furniture
Repairs & maintenance
Depreciation
Employee wages & salaries
Employee benefits
Employee retirement
Employee recruiting
Employee training
Employee taxes
Insurance
Taxes & license
Office supplies
Office purchase
Office rent
Office utilities
Postage delivery
Janitorial & cleaning
Telephone
Charitable & contributions
Dues & memberships
Publication & subscriptions
Legal & professional services
Meals & entertainment
Travel
Bank fees
35
Tabel 2.5. Contoh Chart of Account (lanjutan 1)
No Akun
Nama Akun
500
Revenue
610
620
630
640
650
Materials
Labor
Subcontract
Equipment
Other
710
Rent & lease payments
Depreciation
No Akun
881
885
891
892
893
898
899
910
920
950
Nama Akun
Interest expense
Bad debts
Unallocated labor
Unallocated materials
Warranty expense
Miscellaneous
Overhead charged to jobs
Other income
Other expense
income
Sumber: Peterson, 2005
Untuk akun yang digunakan dalam akuntansi perusahaan tidak semuanya muncul
dalam akuntansi proyek. Akun yang muncul dalam akuntansi proyek adalah akun
yang terkait dengan transaksi-transaksi yang terjadi dalam pelaksanaan proyek
yaitu transaksi berkaitan dengan sumber daya proyek (tenaga kerja, material,
peralatan, subkontraktor dan biaya tidak langsung proyek).
II.7.2. Job Cost Ledger
Fungsi dari job cost ledger adalah untuk mengawasi dan mengendalikan biaya
untuk setiap proyek yang sedang dilaksanakan agar sesuai dengan anggaran yang
telah direncanakan. Selain itu pihak manajemen juga memerlukan catatan biaya
pelaksanaan proyek untuk digunakan sebagai acuan dalam mempersiapkan tender.
Walaupun biaya pelaksanaan proyek juga tercatat dalam general ledger, namun
dalam general ledger tidak dapat mendetailkan pencatatan biaya. Dalam job cost
ledger, biaya pelaksanaan proyek dicatat lebih detail disbanding general ledger.
Job cost ledger menelusuri biaya menggunakan sistem kode biaya berdasarkan
work breakdown structure (WBS) dari perusahaan. Sebagian besar sistem
akuntansi menyediakan empat level untuk penelusuran yaitu: proyek, area atau
fase, kode biaya dan jenis biaya (Peterson, 2005). Gambar 2.7. memperlihatkan
contoh struktur pengelompokkan dari job cost ledger.
36
Material
Kode Biaya #
Tenaga Kerja
Peralatan
Fase #
Material
Kode Biaya #
Tenaga Kerja
Peralatan
Proyek #
Material
Kode Biaya #
Tenaga Kerja
Peralatan
Fase #
Material
Job Cost Ledger
Kode Biaya #
Tenaga Kerja
Peralatan
Proyek #
Gambar 2.7. Contoh Struktur Job Cost Ledger (Sumber: Peterson, 2005)
Hubungan utama yang harus dipelihara antara general ledger dengan job cost
ledger. Pertama adalah total pendapatan dari job cost ledger harus sama dengan
pendapatan dari bisnis utama perusahaan yang muncul dalam general ledger.
Yang kedua adalah total biaya dalam job cost ledger harus sama dengan biaya
konstruksi yang muncul dalam general ledger.
II.7.3. Equipment Ledger
Banyak perusahaan jasa konstruksi yang memiliki investasi yang besar untuk
perlatan dimana peralatan digunakan untuk berbagai proyek dan berpindah-pindah
dari satu proyek ke proyek lain dalam sehari. Equipment ledger terbagi dalam 2
atau tiga level. Gambar 2.8 memperlihatkan struktur dari equipment ledger. Level
pertama dari struktur adalah jenis peralatan. Level kedua adalah akun dari income
statement yang muncul dalam perlatan. Level yang ketiga adalah bila akun dalam
income statementdipecah lagi manjadi akun yang lebih kecil, misalnya dalam
Gambar 2.8 untuk perbaikan dan perawatan dipecah lagi menjadi perbaikan,
perawatan dan pernggantian ban.
37
Pembayaran penyewaan peralatan
Depresiasi
Perbaikan
Perbaikan dan perawatan
Perawatan
Bahan bakar dan pelumas
Ban
Perlatan #
Pajak, surat ijin dan asuransi
Alokasi penggunaan dalam proyek
Job Cost Ledger
Pembayaran penyewaan peralatan
Depresiasi
Perbaikan
Perbaikan dan perawatan
Perawatan
Bahan bakar dan pelumas
Ban
Peralatan #
Pajak, surat ijin dan asuransi
Alokasi penggunaan dalam proyek
Gambar 2.8. Contoh Struktur Equipment Ledger (Sumber: Peterson, 2005)
Dua keterkaitan yang harus dijaga antara general ledger dengan equipment ledger.
Yang pertama adalah total biaya alokasi penggunaan perlatan dalam proyek harus
sama dengan biaya peralatan konstruksi dalam income statement untuk periode
yang sama. Yang kedua adalah biaya peralatan dalam equipment ledger harus
sama dengan total biaya perlatan dalam income statement untuk periode yang
sama.
II.8. Laporan Keuangan
Penyajian dari laporan keuangan dan laporan biaya dibuat pengelompokan dari
data yang signifikan. Penyajian seperti ini dengan tujuan agar pihak yang
membaca laporan dapat menilai secara akurat dari kondisi keuangan perusahaan
dan menetapkan keputusan dengan tepat. Ada dua jenis laporan keuangan yang
dibuat dalam sistem akuntansi yaitu balance sheet dan income statement. Dalam
perusahaan konstruksi, Untuk level proyek hanya dibuat income statement dan
untuk level perusahaan dibuat balance sheet dan income statement dimana di
dalamnya mencakup income statement dari semua proyek yang dijalankan.
38
Perbedaan terbesar laporan keuangan perusahaan manufaktur dengan perusahaan
jasa konstruksi ditemukan dalam income statement (Coombs & Palmer, 1989).
Dalam manufaktur, sebuah item lengkap dikatakan terjual bila diketahui harga dan
waktu penjualannya. Dalam perusahaan jasa konstruksi dengan kontrak jangka
panjang dan metode akuntasi yang digunakan prosentase penyelesaian, komponen
utama dalam income statement berdasarkan estimasi untuk pekerjaan yang sedang
dilaksanakan. Rasio yang digunakan dalam laporan keuangan kurang digunakan
untuk mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan jasa konstruksi. Indikator
kondisi keuangan yang paling penting untuk perusahaan jasa kontruksi adalah
nilai dari pekerjaan yang belum terselesaikan dan estimasi keuntungan yang
diperoleh. Indikator ini kurang penting untuk perusahaan manufaktur.
II.8.1. Balance Sheet
Balance sheet adalah gambaran dari kondisi keuangan suatu perusahaan. Balance
sheet biasanya dibuat di akhir bulan ataupun tutup akhir tahun. Balance sheet
terbagi atas tiga bagian yaitu assets, liabilities dan owner’s equity / net worth.
Balance sheet melaporkan nilai tiap transaksi yang dikelompokkan dalam chart of
account hingga saat balance sheet dicetak. Hubungan antar komponen balance
sheet adalah sebagai berikut:
Asset = Liabilities + Equity ………………………………… (2.7)
Asset adalah sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan yang dimungkinkan
menjadi pemasukan di masa depan. Asset terbagi atas asset tetap dan asset lancar.
Asset tetap adalah asset yang memiliki umur penggunaan lebih dari satu tahun.
Asset lancar adalah asset dengan mudah dan cepat dapat berubah menjadi uang
tunai atau penggunaannya kurang dari satu tahun. Liabilities adalah kewajiban
perusahaan untuk memindahkan asset yang dimiliki untuk memenuhi komitmen
perusahaan dengan pihak lain. Liabilities terbagi atas dua jenis yaitu kewajiban
jangka pendek yaitu kewajiban yang akan dibayarkan kurang dari satu tahun dan
kewajiban jangka panjang yaitu kewajiban yang pelunasannya melebihi satu
39
tahun. Owner’s equity adalah kepemilikan seseorang atau sekelompok orang
terhadap asset yang dimiliki perusahaan setelah kewajiban perusahaan sudah
dilunasi. Dalam Tabel 2.6 adalah contoh balance sheet dan disajikan akun yang
muncul dalam balance sheet.
Tabel 2.6. Contoh Balance Sheet
BIG W CONSTRUCTION BALANCE SHEET
Current year
ASSETS
CURRENT ASSETS
Cash
Account receivable-trade
Account receivable-retention
Costs & profits in excess of billings
Notes receivable
Prepaid expenses
Other current assets
Total current assets
FIXED & OTHER ASSETS
Building & land
Construction equipment
Trucks & autos
Total fixed assets
Less accumulation depreciation
Net fixed assets
Other assets
Total assets
LIABILITIES
CURRENT LIABILITIES
Account payable-trade
Account payable-retention
Billings in excess of costs & profits
Notes payable
Accrued payables
Accrued vacation
Other current liabilities
Total current liabilities
LONG TERM LIABILITIES
Total liabilities
OWNER’S EQUITY
Capital stock
Retained earnings
Current period net income
Total equity
Total liabilities & equity
Last year
200,492
402,854
25,365
32,586
12,548
5,621
11,254
690,720
144,254
308,253
21,885
15,234
0
4,825
7,225
501,676
175,862
95,284
51,245
56,896
379,287
154,775
178,544
1,024,039
175,862
95,284
31,556
42,546
345,248
182,990
162,258
171,256
325,458
22,546
5,218
15,514
15,648
10,521
3,564
25,438
228,585
18,254
11,562
45,250
16,658
8,254
3,002
35,648
153,215
577,122
99,073
466,286
10,000
436,917
0
446,917
1,024,039
10,0000
358,904
0
368,904
835,190
(Sumber: Peterson, 2005)
40
II.8.2. Income Statement
Income statement memperlihatkan pendapatan, pengeluaran dan hasil keuntungan
atau kerugian yang diperoleh perusahaan untuk suatu periode tertentu yang
menjangkau periode waktu antara dua balance sheet. Income statement untuk
perusahaan konstruksi meliputi item pendapatan, biaya peralatan, overhead,
pendapatan lain, pengeluaran lain dan pajak pendapatan. Penjelasan untuk
masing-masing item ditunjukkan dalam Tabel 2.7 dan contoh income statement
dalam Tabel 2.8 di bawah ini.
Tabel 2.7. Item dalam Income Statement Perusahaan Konstruksi
Jenis Item
1
Pendapatan
2
Biaya konstruksi
3
Biaya peralatan
4
Overhead
5
Pendapatan dan
pengeluaran lain
6
Keuntungan
7
Pajak pendapatan
Penjelasan
Pendapatan adalah pemasukan yang diakui dari penyelesaian pekerjaan
dari proyek. Dalam income statement pendapatan dikenal tergantung dari
metode akuntansi yang digunakan.
Merupakan biaya yang diidentifikasi dalam proyek. Biaya kontruksi
terbagi dua kategori yaitu biaya langsung (material, pekerja, peralatan dan
subkontraktor) dan biaya tidak langsung (merupakan biaya yang tidak
dapat diidentifikasi untuk item pekerjaan spesifik misalnya overhead)
Ketika peralatan digunakan untuk berbagai proyek, diperlukan
pengelompokkan biaya perlatan tersendiri. Namun untuk perlatan yang
digunakan untuk satu proyek saja maka dikategorikan dalam biaya
konstruksi. Item biaya peralatan adalah sebagai berikut :
a. Sewa
Merupakan biaya sewa peralatan bila peralatan
bukan milik sendiri.
b. Depresiasi
Adalah biaya hilangnya nilai kepemilikan dari
peralatan
c. Perbaikan dan
Merupakan biaya rutin dari perbaikan dan
perawatan
perawatan peralatan termasuk pergantian ban
d. Bahan bakar dan
Merupakan biaya operasional penggunaan
pelumas
bahan bakar dan pelumas
e. Pajak, surat ijin & Merupakan biaya pajak, surat ijin dan asuransi
asuransi
kendaraan
Merupakan akun yang berlawanan dengan biaya
f.
Biaya peralatan
peralatan pada proyek (manjadi kolom kredit
yang dibebankan
dalam income statement)
proyek
g. Gross profit
Merupakan hasil pengurangan antara biaya
peralatan yang dibebankan dalam proyek
dengan total biaya peralatan
Adalah biaya yang tidak dapat dibebankan dalam proyek yang spesifik.
Biaya ini maksudnya adalah general overhead yaitu biaya yang muncul di
kantor perusahaan.
Merupakan pendapatan dan pengeluaran yang tidak berkaitan dengan
operasi konstruksi
Terdapat dua item ekuntungan dalam income statement yaitu sebelum
dikenai pajak dan sudah dikenai pajak
Merupakan kewajiban pajak yang harus dibayar oleh perusahaan.
41
Tabel 2.8. Contoh Income Statement
BIG W CONSTRUCTION INCOME STATEMENT
REVENUE
3,698,945
100.0%
CONSTRUCTION COSTS
Materials
Labor
Subcontract
Equipment
Other
Total construction costs
712,564
896,514
1,452,352
119,575
5,452
3,186,457
19.3%
24.2%
39.3%
3.2%
0.1%
86.1%
EQUIPMENT COSTS
Rent & lease payments
Depreciation
Repairs & maintenance
Fuel & lubrication
Taxes, license & insurance
Equipment costs charged to jobs
Total equipment costs
35,425
32,397
21,254
29,245
1,254
119,575
0
1.0%
0.9%
0.6%
0.8%
0.0%
3.2%
0.0%
GROSS PROFIT
512,488
13.9%
OVERHEAD
422,562
11.4%
NET PROFIT FROM OPERATIONS
89,926
2.4%
OTHER INCOME & EXPENSE
21,521
0.6%
111,447
3.0%
INCOME TAX
33,434
0.9%
PROFIT AFTER TAX
78,013
2.1%
PROFIT BEFORE TAX
(Sumber: Peterson, 2005)
II.9. Aplikasi Perangkat Lunak dalam Manajemen Proyek
Aplikasi perangkat lunak yang dapat digunakan untuk manajemen proyek sudah
banyak ditemukan seperti MS Project dan Primavera. Kedua aplikasi tersebut
dapat digunakan dalam manajemen proyek dari fase perencanaa hingga untuk
pengendalian proyek. Namun untuk pengadaan software manajemen proyek yang
banyak dijual di pasaran sangat mahal. Tentu hal ini dirasa sulit oleh kontraktor
kecil dimana memiliki keterbatasan modal.
Pengembangan aplikasi perencanaan dan pengeloaan biaya dan waktu dengan
automasi pada spreadsheet sudah dilakukan melalui Gnome PM (Abduh et al,
2007). Gnome PM ini adalah suatu automasi aplikasi spreadsheet MS-Excel dapat
digunakan oleh kontraktor kecil dalam pengelolaan proyek konstruksinya.
Diharapkan aplikasi sederhana ini dapat mempermudah pelaksanaan pengendalian
42
proyek, mempercepat proses perhitungan, serta memberikan pendidikan atau
exposure kepada kontraktor kecil bagaiman pengelolaan proyek yang sebaiknya.
Gnome PM memberikan layanan perencanaan, pemutahiran data kemajuan,
pelaporan, serta pengendalian proyek konstruksi, dari segi waktu dan biaya.
Dalam aspek pengendalian biaya dan waktu, Gnome PM belum mengakomodasi
konsep earned value. Aplikasi pengendalian dalam Gnome PM masih terbatas
pada aspek waktu saja dimana melakukan perbandingan antara kemajuan rencana
dan kemajuan aktual. Pengembangan terakhir dari Gnome PM adalah adanya
integrasi dengan aplikasi estimasi biaya dengan aplikasi yang telah ada
sebelumnya. Aplikasi pengendalian waktu dan biaya yang terintegrasi belum
dapat dilakukan karena belum adanya aplikasi pencatatan transaksi pelaksanaan
proyek. Skema dari Gnome PM disajikan dalam Gambar 2.9 di bawah ini.
Aplikasi
Penjadwalan
Aplikasi Penilaian
Kemajuan Pekerjaan
Aplikasi Estimasi
Biaya
Aplikasi Transaksi
Aplikasi
pengendalian
waktu dan biaya
terintegrasi
Gnome PM
Gambar 2.9. Skema Aplikasi Gnome PM
II.10. Ringkasan Bab
Dalam bab ini berisikan kajian pustaka yang berkaitan dengan pengelolaan proyek
terutama untuk batasan biaya dan waktu dan menyediakan latar belakang
informasi untuk penelitian ini. Dalam setiap perencanaan proyek ditetapkan
batasan biaya dan waktu yang digunakan sebagai acuan dalam pengolaan proyek.
Konsep
earned
value
memberikan
suatu
pengelolaan
proyek
yang
mengintegrasikan batasan biaya dan waktu. Kriteria penerapan Earned Value
Management System (EVMS) telah dituangkan oleh American National Standard
43
Institute (ANSI) melalui ANSI/EIA 748 dan usulan penerapan kriteria yang
berbeda untuk setiap kualifikasi kontraktor (Soemardi et al, 2006). Penerapan
EVMS untuk pengelolaan proyek konstruksi mempunyai kaitan yang sangat erat
dengan sistem akuntansi dimana data ACWP dapat diperoleh melalui sistem
akuntansi.
Peterson (2005) telah memberikan 4 kunci utama agar sistem akuntansi dapat
berfungsi sebagai pelaporan dan pengendali biaya. Keempat komponen tersebut
adalah :
a. Sistem akuntansi harus memiliki sistem penelusuran yang kuat terhadap
biaya. Sistem akuntansi dapat memberikan laporan keuangan dari waktu
ke waktu termasuk penggunaan biaya selama pelaksanaan proyek dan
estimasi biaya penyelesaian proyek.
b. Sistem akuntansi harus menggunakan prinsip management by exception
karena itu sistem akuntansi mampu menyediakan data yang memeprmudah
dalam menganalisa permasalahan yang muncul.
c. Sistem akuntansi memerlukan prosedur yang jelas sehingga sistem dapat
berjalan dengan konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.
d. Data harus dapat disediakan dengan mudah dan cepat ketika diperlukan
pihak manajemen untuk pengendalian keuangan.
Pengembangan aplikasi alat bantu perangakat lunak dalam pengelolaan proyek
yang mudah dan sederhana dapat dilakukan. Salah satu contoh pengembangannya
adalah Gnome PM. Gnome PM memberikan layanan perencanaan, pemutahiran
data kemajuan, pelaporan, serta pengendalian proyek konstruksi, dari segi waktu
dan biaya. Namun Gnome PM belum mengakomodasi konsep earned value.
Dalam bab selanjutnya akan dipaparkan mengenai sistem akuntansi proyek dan
kajian potensi pengembangan EVMS untuk pengelolaan proyek kontraktor kecil.
Download