tinjauan pustaka - Universitas Sumatera Utara

advertisement
TINJAUAN PUSTAKA
Pengetahuan mengenai kutu putih, meliputi sifat biologi, morfologi, gejala
serangannya dan jenis insektisida nabati yang dapat dipergunakan untuk
pengendalian kutu putih akan diuraikan di bawah ini.
I. Kutu Putih (Hemiptera:Pseudococcidae)
a. Bioekologi
Kutu putih (Famili: Pseudococcidae) termasuk dalam Superfamili
Coccoidea. Kutu ini mempunyai tipe alat mulut menusuk menghisap. Serangga ini
disebut kutu putih karena seluruh tubuhnya ditutupi oleh lilin yang dikeluarkan
oleh trilocular pore pada kutikula melalui proses sekresi. Lilin-lilin ini merupakan
salah satu ciri morfologi untuk mengidentifikasi spesies imago betina. Imago
betina tidak aktif bergerak dan berkembang setelah melalui proses ganti kulit
(moulting) (Kalshoven 1981; Williams 2004).
Beberapa spesies anggota famili Pseudococcidae merupakan hama penting
baik pada tanaman pangan, tanaman hias maupun buah-buahan. Serangga hama
ini menyerang dengan cara menusukkan stiletnya ke jaringan tanaman, khususnya
bagian phloem dan menghisap cairan dalam pembuluh tersebut. Dapat pula
bersembunyi di bagian pangkal daun, di kaliks, diantara pelepah daun dan batang
atau di mahkota bunga (Sartiami, 2011)
Universitas Sumatera Utara
Tubuhnya berukuran sangat kecil dan mampu bersembunyi di lekukan-lekukan
bagian tanaman yang diserangnya (Gambar 1).
Gambar 1 : Kutu Putih (Dysmicoccus brevipes)
Sumber: www.Dysmicoccus brevipes habitus.sel.barc.usda.gov.
Dysmicoccus mempunyai dua ras yaitu D. brevipes (Cockerell) mealybug
nanas yang diproduksi dengan cara non seksual dan D. neobrevipes Beardsley
yang berwarna abu-abu dan merupakan biseksual. Sistem reproduksi non seksual
serangga D. brevipes melalui proses partenogenesis yaitu larva betina terjadi
tanpa adanya fertilisasi dari serangga jantan. Spesies ini tidak bertelur, sebaliknya
ovovivipar yang berarti hidup muda sebagai larva (Ronald & Jayma, 2007)
Dysmicocus brevipes menurut Ito (1938), berwarna merah muda dan lebih
dikenal dengan sebutan mealybug nanas. Serangga ini melewati tiga tahap larva
sebelum menjadi dewasa. Larva yang lebih dikenal dengan sebutan “crawler”
adalah tahap utama penyebaran spesies kutu putih. Larva mempunyai rambut
panjang yang membantu penyebarannya melalui angin. Larva tetap berlindung di
bawah tubuh imago dewasa sebelum diselubungi oleh lapisan lilin. Tahap larva
berlangsung selama 10-26 hari untuk instar pertama, 6-22 hari untuk instar kedua
dan 7-24 hari untuk instar ketiga. Periode larva total bervariasi dari 26-55 hari,
dan rata-rata sekitar 34 hari (Ronald & Jayma, 2007).
Universitas Sumatera Utara
Menurut Williams (2004), terdapat 124 spesies Dysmicoccus. Kutu putih
Dysmicoccus cepat berkembang di daerah sub tropis sampai ke daerah tropis.
Betina dewasa dapat menghasilkan keturunan sekitar 234-1000 crawler. Siklus
hidup betina dewasa bervariasi dari 31-80 hari, rata-rata sekitar 56 hari (Ronald &
Jayma, 2007).
Dysmicoccus brevipes merupakan hama penting pada pertanaman buah
dengan sebaran inang yang luas mencapai 100 jenis spesies. Menyerang tanaman
nanas dan bromelidae lainnya, annona, pisang, seledri, jeruk, kopi, katun,
euphorbia, gliricidia, hibiscus, rumput hilo, murbei, nutgrass, anggrek (Ronald &
Jayma, 2007), manggis (Chamaiporn, 2011), apel, tebu, pear, akasia, bunga
matahari, jahe dan lain-lain (John, 1959). Menyebar mulai dari Afrika, Australia,
Amerika Tengah dan Selatan, India dan seluruh Pasifik (Ronald & Jayma, 2007),
serta Asia Tenggara (William, 2004).
Dysmicoccus lepelleyi
lebih dikenal dengan annona mealybug dan
mempunyai kemiripan dengan D. brevipes. Umumnya menyerang tanaman buah
tropis seperti Annona, Artocarpus, Mangifera, Garcinia, Psidium dan Citrus.
Spesies ini tersebar luas di Asia Selatan yang meliputi negara Kamboja,
Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam (Williams, 2004).
Exallomochlus hispidus
mempunyai kisaran inang yang sangat luas
dikenal dengan cocoa mealybug, sering ditemukan pada buah Annona muricata,
Theobroma cacao, Cocos nucifera, Licula spinosa, Durio zibethinus, Garcinia
mangostana, Lansium domesticum, dan Nephelium lappaceum (Williams, 2004),
di negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam
(Williams & Watson, 1998).
Universitas Sumatera Utara
b. Morfologi
Menurut Williams (2004) imago betina kutu putih memiliki morfologi
tubuh yang khas (Gambar 2).
Gambar 2: Sketsa tubuh imago betina kutu putih secara umum
Sumber : Williams & Watson, (1998)
Bagian-bagian tubuh tersebut dapat dijadikan pembeda untuk setiap
spesies (Williams & de Willink 1992; Williams & Watson 1998; Williams 2004),
diantaranya :
Universitas Sumatera Utara
Tubuh. Kutu putih memiliki bentuk tubuh memanjang, oval atau bulat.
Ukuran panjang sekitar 0,5-8,0 mm. Pada abdomen bagian ventral terdapat vulva
yang terletak di antara segmen VII dan VIII, yang segmen pertamanya dimulai di
samping tungkai belakang.
Antena. Umumnya antena terdiri dari 6-9 segmen, namun kadang 2-5
segmen. Segmen terakhir lebih lebar dan lebih panjang daripada segmen kedua
dari belakang.
Ostiol. Famili ini memiliki ostiol 2 pasang, pada protoraks dan segmen VI.
Kadang tidak ada, atau ada tetapi hanya sepasang pada bagian posterior.
Contohnya pada genus Planococcus dan Pseudococcus.
Tungkai. Famili Pseudococcidae memiliki tungkai yang berkembang
normal. Genus Planococcus tidak memiliki dentikel pada kuku tarsus dan
memiliki translucent pore di permukaan koksa, femur dan tibia tungkai belakang
dan jarang pada trokanter.
Cincin Anal. Organ ini terletak pada ujung abdomen bagian ventral,
berfungsi untuk mengeluarkan embun madu yang merupakan limbah dari
pencernaan kutu.
Porus. Famili ini umumnya memiliki 4 jenis porus (pore) yaitu :
a.
Trilocular pore (porus trilokular), terdapat pada tubuh
bagian
ventral dan dorsal, berbentuk segitiga, dan berfungsi menghasilkan lilin yang
menutupi tubuhnya.
b.
Multilocular disc pore (lempeng porus multilokular), terdapat
disekitar vulva atau terkadang dibagian dorsal, berfungsi membuat kantung telur
Universitas Sumatera Utara
atau melindungi telur-telur yang diletakkan oleh imago betina. Spesies yang
memiliki pori ini biasanya bersifat vivipar.
c.
Quinquelocular pore (porus quinquelocular), terdapat pada
permukaan ventral dan sangat jarang pada bagian dorsal, berbentuk segi lima,
berfungsi sama dengan trilocular pore, dan hanya dimiliki oleh genus
Planococcus dan Rastrococcus.
d.
Discoidal pore (porus diskoidal), berupa lingkaran sederhana dan
menyebar diseluruh permukaan tubuh, kadang sebesar trilocular pore dan
berbentuk cembung pada bagian posterior, dorsal dan mata. Salah satu spesies
yang memiliki discoidal pore di sekitar mata yaitu Dysmicoccus brevipes.
Seta. Bentuk seta pada famili ini biasanya berbentuk kerucut, lanseolat
atau truncate. Biasanya bentuk dan jumlah seta digunakan untuk mengidentifikasi
spesies.
Tubular duct. Organ ini terdiri dari 2 bentuk yaitu: oral collar tubular
duct dan oral rim tubular duct. Oral collar tubular duct menghasilkan lilin untuk
membentuk kantung telur dan terdapat pada bagian ventral. Oral rim tubular duct
umumnya sering ditemukan pada serangga yang bersifat ovipar (bertelur),
umumnya berbentuk lebih besar daripada oral collar tubular duct.
Vulva. Organ ini hanya dimiliki oleh kutu putih yang telah mencapai fase
imago, terletak pada bagian ventral antara segmen VII dan VIII.
Serari. Organ ini hanya dimiliki oleh famili Pseudococcidae dan biasanya
berjumlah 1-18 pasang serari, dan terletak di bagian sisi tubuhnya yang berfungsi
sebagai penghasil tonjolan lilin lateral. Pada bagian posterior terdapat 2 pasang
Universitas Sumatera Utara
serari, yaitu serari lobus anal dan serari penultimate. Pada bagian anterior terdapat
3 pasang serari yang disebut dengan frontal, preokular dan okular.
Lobus Anal. Organ ini berbentuk bulat dan agak menonjol, terletak di sisi
cincin anal dan masing-masing lobus anal memiliki seta apikal (Williams, 2004;
Williams & Watson, 1998).
c. Gejala Serangan
Penyebaran kutu Dysmicoccus dapat disebabkan oleh angin, bibit,
manusia, serangga lain dan burung. Keberadaan kutu yang cukup tinggi dan
bersifat polipag mempunyai potensi menyebar yang sangat cepat. Sifat
biologisnya merusak tanaman dengan cara menusuk menghisap cairan tanaman
serta mengeluarkan racun, mengakibatkan terjadinya khlorosis, kerdil, malformasi
daun, daun muda dan buah rontok, banyak menghasilkan eksudat berupa embun
madu sampai menimbulkan kematian tanaman. Kutu putih ini memiliki potensi
merugikan secara ekonomis yang cukup tinggi (Direktorat Jenderal Hortikultura,
2011).
Kutu putih merusak penampilan buah manggis. Kutu muda hidup dan
menghisap cairan kelopak bunga, tunas atau buah muda. Kutu dewasa
mengeluarkan cairan madu berupa tepung putih yang menyelimuti seluruh
tubuhnya (Kuntarsih, 2005). yang selanjutnya dapat menarik semut hitam dan
menyebabkan timbulnya jelaga pada buah. Walaupun rasa buah kurang
terpengaruh, kulit buah yang kotor menyebabkan kualitas buah menurun (Balai
Penelitian Tanaman Buah, 2006).
.
Universitas Sumatera Utara
Kuncup bunga dan buah muda yang diserang menjadi kering karena kehabisan
cairan. Buah yang diserang menimbulkan penurunan kualitas (Gambar 3),
sehingga kutu putih memiliki potensi merugikan secara ekonomis yang cukup
tinggi.
.
(a)
(b)
Gambar 3 : (a) Buah terserang kutu putih, (b) Buah manggis sehat
Sumber: http:/www.gambargratis.com (diunduh 27 Juli 2012)
d. Pengendalian Kutu Putih
1. Cara kultur teknis
-
Mengurangi kepadatan tajuk agar tidak terlalu rapat dan saling menutupi;
-
Mengurangi kepadatan buah.
-
Pembungkusan buah
-
Sanitasi terhadap areal pertanaman (Balai Penelitian Tanaman Buah, 2006)
2. Cara Hayati
-
Menggunakan musuh alami seperti parasitoid prepupa Aenasius cariocus dan
Anagyrus ananatis. Predator Cryptolaemus montrouzieri, Lobodiplosis
pseudococci, Nephus bilucernarius dan lainnya (Ronald & Jayma, 2007).
Universitas Sumatera Utara
3. Cara Kimiawi
-
Mencegah semut dengan memberi kapur anti semut;
-
Menyemprot dengan insektisida dan fungisida yang efektif dan terdaftar (bila
ada jelaga hitam) (Balai Penelitian Tanaman Buah, 2006).
II. Insektisida Nabati
Ada tiga jenis bahan alami yang dapat digunakan sebagai insektisida yaitu
bahan mineral, bahan nabati dan bahan hewani. Dari ketiga bahan alami tersebut,
bahan nabati merupakan cadangan yang paling besar dan bervariasi. Hingga saat
ini setidaknya terdapat lebih dari 2000 jenis tanaman dilaporkan mempunyai sifatsifat insektisidal. Kriteria tanaman yang dapat dijadikan sebagai insektisida
diantaranya adalah (a) mudah dibudidayakan, (b) tanaman tahunan, (c) tidak
menjadi gulma atau inang bagi organisme pengganggu tanaman, (d) tidak perlu
dimusnahkan apabila suatu saat bagian tanamannya diperlukan, (e) mempunyai
nilai tambah, dan (f) mudah diproses (Dessy 2006).
Pestisida botani adalah suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari
alam, misalnya tumbuhan. Jenis pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di
alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan
ternak, karena residunya akan terurai dan mudah hilang. Pestisida botani dapat
membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang
unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal
(Hendayana, 2011).
Berbeda dengan insekisida sintetis, insektisida botani umumnya tidak
dapat langsung mematikan serangga yang disemprot. Akan tetapi insektisida ini
Universitas Sumatera Utara
berfungsi sebagai : (1) repellent, yaitu senyawa penolak kehadiran serangga
disebabkan baunya yang menyengat dan mencegah serangga meletakkan telur
serta menghentikan proses penetasan telur; (2) antifeedant, yaitu senyawa yang
mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot terutama disebabkan
rasanya yang pahit; (3) racun syaraf; dan (4) attractant, yaitu senyawa yang dapat
memikat kehadiran serangga yang dapat dipakai sebagai perangkap serangga
(Ramulu, 1979).
Efektivitas tumbuhan sebagai pestisida botani sangat tergantung dari
bahan tumbuhan yang dipakai, karena satu jenis tumbuhan yang sama tetapi
berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan efek yang berbeda pula. Hal
ini disebabkan sifat bioaktif atau sifat racunnya tergantung pada kondisi tumbuh,
umur tanaman dan jenis dari tumbuhan tersebut (Balai Penelitian Tanaman Hias,
2009).
Pestisida botani bahan aktifnya dapat berasal dari bagian tumbuhan seperti
akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai bentuk,
antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang merupakan
hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau bagian
tumbuhan dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida
(Thamrin et al., 2011).
a. Nimba (Azadirachta indica A. Juss)
Tanaman Nimba (Azadirachta indica) (Meliaceae) dikenal di Asia dan
Afrika, dan hampir setiap bagian dari tanaman ini digunakan sebagai obat.
Tanaman ini biasanya dikenal dengan sebutan “Neem tree”. Banyak dari tanaman
Universitas Sumatera Utara
ini yang menarik bagi orang kimia tanaman untuk dijadikan obat dan pestisida.
Senyawa aktif yang dihasilkan yaitu tetranortriterpenoid 22,23-dihydronimocinol
dan
octanortriterpenoid
desfurano-6α-hydroxyazadiradione.
Sejauh
yang
diketahui meliacin 7α-senecioyl-(7-deacetyl)-23-O-methylnimocinolide berasal
dari ekstrak daun dan biji nimba. Insektisida dari ekstrak ini dapat membunuh
larva nyamuk (Anopheles stephensi) pada instar ke empat (Siddiqui et al., 2002).
Hasil penelitian Sara et al. (2004) ditemukan bahwa ekstrak nimba dapat
mengendalikan penyakit malaria dalam tahap infeksi lanjut, anti kesuburan, anti
jamur, anti bakteri dan anti diabetes. Ilmu kedokteran saat ini sedang
mengembangkan penelitian terhadap nimba dan manfaatnya bagi kesehatan.
Untuk pengaruh tingkat efek samping terhadap mahluk hidup telah dicoba kepada
tikus betina. Tikus betina diberi beberapa tingkatan dosis mulai 2,0 sampai 4,6
ml/kg bb, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 2,0 ml/kg bb
berpengaruh terhadap kesuburan tikus. Standar keamanan untuk faktor efek
samping adalah 0,2 ml/kg bb. Hal ini menjadi faktor keselamatan standar
keamanan bagi mahluk hidup, intra dan antar spesies, dan diketahui untuk seorang
dewasa berat 70 kg dapat mengkonsumsi daun nimba yang belum diproses
sejumlah 18,5 mg tanpa menimbulkan efek samping (Sara et al., 2004).
Nimba merupakan tanaman pohon dengan tinggi 10-20 m dan berakar
tunggang. Batang tegak, berkayu, berbentuk bulat, permukaan kasar, percabangan
simpodial dan berwarna coklat. Daun majemuk berukuran 20-38 cm, letak
berhadapan, berbentuk lonjong, tepi bergerigi, ujung runcing, pangkal meruncing,
tulang daun menyirip, panjang 5-7 cm, lebar 3-4 cm, tangkai daun panjang dan
berwarna hijau. Bunganya majemuk, berkelamin dua, letaknya di ujung cabang,
Universitas Sumatera Utara
tangkai silindris, panjang 8-15 cm. Inisiasi bunga terjadi selama periode yang
singkat sekitar lima minggu dengan bunga yang membuka secara berturut-turut.
Waktu berbunga dan berbuah bervariasi, biasanya tanaman berbunga dan berbuah
pada bulan September sampai Desember (Chamberlain et al., 2000). Buah halus,
berbiji kadang dua atau tiga biji, berbentuk bulat telur berwarna hijau dan
kekuningan bila telah matang, berdiameter ± 1 cm (Gambar 4).
Gambar 4 : Biji Nimba
Sumber : www.tanaman-pestisida-nabati-nimba-azadirachta-indica-i.com
( Diunduh 10 Agustus 2011)
Benang sari silindris dan berwarna putih kekuningan. Putik lonjong dan
berwarna coklat muda. Tanaman akan menghasilkan buah setelah berumur 3-5
tahun dan akan produktif menghasilkan buah selama 10 tahun dan dapat
memproduksi hingga 50 kg buah pertahun perbatang tanaman.
Nimba mengandung bahan aktif azadiraktin (C 35 H44 O 16 ), meliantriol,
salanin dan nimbin (Subiyakto, 2009). Kandungan Azadiraktin dalam biji nimba
sebesar 2-4 mg azadiraktin per gram biji kering. Azadiraktin mengandung sekitar
17 komponen sehingga sulit untuk menentukan jenis komponen yang paling
berperan sebagai pestisida. Kematian hama akibat dari penggunaan nimba terjadi
pada pergantian instar-instar berikutnya atau pada proses metamorfosis.
Universitas Sumatera Utara
Azadiraktin tidak membunuh hama secara cepat, tetapi akan berpengaruh pada
berkurangnya daya makan, mengganggu pertumbuhan dan daya reproduksi hama.
Salanin bekerja sebagai penghambat makan serangga, proses ganti kulit,
hambatan pembentukan serangga dewasa, menghambat perkawinan, menghambat
pembentukan kitin dan komunikasi seksual. Senyawa nimbin bekerja sebagai anti
virus, sedangkan meliantriol sebagai penolak serangga (Subiyakto, 2009).
Pemanfaatan biji nimba sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu serbuk dan ekstrak. Cara pertama adalah cara sederhana dibuat
menjadi serbuk. Biji nimba dikeringkan, dibuat menjadi serbuk halus, direndam
dalam air, disaring dan siap untuk diaplikasi (Subiyakto, 2009; Dwi & Nurindah,
2009). Pemanfaatan cara pertama ini telah dipraktekkan dalam budidaya kapas di
Lamongan. Cara kedua adalah dengan mengekstrak, yaitu biji nimba yang
berbentuk serbuk dilarutkan dalam pelarut organik. Cara kedua umumnya
dilakukan untuk skala industri. Ekstrak biji nimba diformulasikan menjadi
formula cairan berwarna kuning dengan kandungan bahan aktif azadiraktin 0,81,2% (Subiyakto, 2009). Beberapa produk pestisida berbahan aktif azadiraktin
yang telah terdaftar di Indonesia yaitu Nospoil 8EC (Azadiraktin 8 g/l), Natural
9WSC (azadiraktin 9 g/l) dan Nimbo 0,6AS (azadiraktin 0,6 g/l). Namun produk
tersebut jumlahnya masih sangat terbatas dan sulit diperoleh. Di luar negeri
beberapa produk pestisida sejenis yang sudah dikomersilkan antara lain NemAzalT/S (azadiraktin 1%), Margosan-O (azadiraktin 0,3%), Azatin (azadiraktin 3%)
dan Bioneem (Khanna, 1992).
Nimba efektif membunuh lebih dari 200 jenis serangga hama dan relatif
sulit menimbulkan resistensi dibandingkan insektisida kimia. Keuntungan lainnya
Universitas Sumatera Utara
disebabkan nimba
mudah terabsorbsi oleh tanaman, bekerja secara sistemik,
sedikit racun kontak dan aman bagi mahluk hidup lainnya yang bukan menjadi
sasaran. Formula ekstrak biji nimba dalam bentuk serbuk telah dilaporkan mampu
menghambat perkembangan penggerek buah H. armigera pada tanaman kapas,
dimana hasilnya tidak berbeda dengan penggunaan insektisida sintetik berbahan
aktif asefat dan deltametrin (Dwi & Nurindah, 2009). Insektisida ini dilaporkan
aman bagi parasitoid telur Trichogramma chilonis, laba-laba, parasitisasi
Diaeretiella rapae terhadap Myzus persicae. Selain itu nimba juga tidak
mempunyai efek negatif terhadap parasitoid larva Plutella xylostella yaitu
Diadromus collaris, bahkan mempunyai efek sinergis terhadap parasitisasi
Cyrtopelthis plutellae sehingga dapat dikatakan nimba aman bagi musuh alami
dan dapat dipadukan dalam pengendalian hayati (Dwi & Nurindah, 2009).
Pemanfaatan
nimba
sebagai
larvasida
menyebabkan mortalitas ulat jarak (Achea janata)
juga
dilaporkan
mampu
79,7–100%, mengganggu
pertumbuhan larva ulat grayak (Spodoptera litura), dan ulat tembakau
(Helicoverpa armigera) hingga mati (Subiyakto, 2009), mengendalikan hama
buah kapas Bemisia spp. di India. Salah satu perusahaan eksportir buah jeruk di
Kalimantan Barat menggunakan ekstrak nimba untuk perlakuan buah yang bebas
residu pestisida, karena Singapura memberlakukan syarat yang ketat untuk residu
pestisida kimia. Juga pertanaman tembakau di Jember untuk mengurangi residu
pestisida kimia, mereka menggunakan aplikasi ekstrak nimba pada saat mendekati
panen agar dapat diterima di pasar internasional (Subiyakto, 2009).
Universitas Sumatera Utara
b. Mahoni (Swietenia mahogani JACQ.)
Kayu dari pohon
Swietenia mahogani JACQ (Meliaceae) banyak
dibutuhkan penduduk asli India bagian barat dan ditanam di negara tropis. Biji
dari tanaman ini digunakan untuk mengobati hipertensi, diabetes dan malaria di
Indonesia. Dilaporkan isolasi dari biji ini ada 2 tetranortriterpenoids, methyl
angolensate (16) dan methyl 6-hydroxyangolensate. Biji mengandung swietenin
A, swietenin B, swietenin C, swietenin D, swietenin E, swietenin F, 3-Oacetylswietenolide, 6-O-acetylswietenolide, 3-O-tigloyl-6-O-acetylswietenolide,
swietenine, swietenine acetate, swietenolide, 3-6-O,O-diacetylswietenolide, 3-Otigloylswiwtenolide, khayasin T, proceranolide, methyl angolensate, 7-deacetoxy7-oxogedunin, 6α-acetoxygedunin (Kadota et al., 1990). Biji mahoni berwarna
coklat (Gambar 5), mengandung senyawa swietenin yang bersifat sebagai
Gambar 5: Biji Mahoni
Sumber: www.mahoni.blogspot.com ( Diunduh 10 Agustus 2011)
anti feedant dan penghambat pertumbuhan pada serangga (Rosyidah, 2007;
Prijono, 2003), yang bekerja sebagai
racun perut dan penghambat makan
(Rachmawati & Eli, 2009).
Universitas Sumatera Utara
Ekstrak biji mahoni dapat menurunkan populasi hama tanaman caisin.
Ekstrak biji mahoni pada konsentrasi 5% dapat memberi penghambatan makan
100% larva P. xylostella. Sedangkan pada konsentrasi 2% ekstrak biji mahoni
dapat menyebabkan penghambatan makan 92,9% larva P. xylostella. Menurut
Prijono (2003) ekstrak biji mahoni pada konsentrasi 0,25% dapat menyebabkan
kematian larva C. pavonana 10,4% pada instar 2 dan 43,7% pada instar 2-3
dengan residu pada daun brokoli yang terkena paparan selama dua hari (Bayo et
al., 2006).
c. Srikaya (Anona squamosa L.)
Srikaya merupakan perdu tahunan atau berupa pohon kecil dengan tinggi
2-7 m. Tanaman ini tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis di tanah berbatu,
kering dan terkena cahaya matahari langsung. Srikaya dapat tumbuh pada
ketinggian 1-800 m dpl. Daun kaku, bertangkai, letak berselingan, bentuk elips
memanjang, ujung tumpul, tepi rata, panjang 6-17 cm, lebar 2,5-7,5 cm dan
berwarna hijau. Buah majemuk berbentuk bola dengan garis tengah 5-10 cm,
permukaannya tidak rata, berwarna hijau dan daging buahnya berwarna putih.
Diantara daging buahnya terdapat biji berwarna hitam mengkilat jika sudah masak
(Gambar 6).
Gambar 6: Biji Srikaya
Sumber: www.lienaaifen.coms (Diunduh 10 Agustus 2011)
Universitas Sumatera Utara
Tanaman srikaya berakar tunggang dan perbanyakan tanaman ini
umumnya dilakukan dengan biji. Tanaman ini juga dilaporkan mengandung
senyawa bioaktif yang bekerja sebagai insektisida yang bersifat menekan nafsu
makan (antifeedant). Terdapat sepuluh spesies tanaman anggota Annonaceae
yang mengandung bahan insektisida termasuk A. squamosa yang mengandung
senyawa golongan gliserida dan beracun bagi kutu manusia dan hewan
(Wiryadiputra, 1998).
Biji srikaya mengandung 42-45% lemak , bersifat racun kontak dan perut
terhadap serangga (Wardhana et al., 2005), mengandung senyawa annonacin-A,
squamosten-A,
neoannonin,
squamocin-I,
squamocin-K,
squamocin-N,
squamocin-E, squamocin, annonin-III, squamocin-B, squamocin-D, squamocin-F,
squamocin-A, squamocin-D, squamocin-E (golongan asetogenin) (Polo et al.,
1995). Biji diekstrak dengan menggunakan heksan (Luis et al., 2010) dan etanol
95% setelah terlebih dahulu dibiarkan selama 24 jam pada suhu kamar. Ekstrak
minyak diperoleh melalui proses penyaringan dan terkondisi dalam vakum rotary
evaporator (Tylor et al., 2011). Pemberian ekstrak biji srikaya dengan konsentrasi
0,50% pada media pertumbuhan larva Chrysomya bezziana
dilaporkan
menyebabkan kematian dan kegagalan menjadi imago hingga 100% (Wardhana et
al., 2005). Ekstrak biji srikaya juga telah dilaporkan dapat mengendalikan
Tribolium castaneum (Khalequzzaman & Sulthana, 2006), Myzus persicae (Luis
et al., 2010), nyamuk Aedes aegypti (Luis et al., 2010; Tylor et al., 2011).
Menurut Luis et al. (2011) family Annonaceae (sekitar 128 genera)
umumnya dikenal sebagai insektisida dan sebahagian besar terdapat di Amerika
Universitas Sumatera Utara
dan Asia. Awalnya tanaman ini merupakan tanaman liar dan kini dibudidayakan
untuk buah-buahan yang dapat dimakan di Eropa. Daunnya digunakan sebagai
insektisida dan antispasmodik dan digunakan dalam pengobatan rematik dan
limpa. Tanaman ini dilaporkan memiliki zat analgesik, anti-inflamasi, anti-piretik,
anti-ulcer dan anti-septik. Secara farmakologis studi anti-bakteri dan antiovulatory telah dilakukan dengan menggunakan ekstrak biji.
d. Lidah buaya (Aloe vera)
Lidah buaya (Aloe vera) merupakan tanaman yang hidup di daerah tropis
dan subtropis. Dibanyak negara, tanaman ini banyak digunakan sebagai obatobatan dan terapi kesembuhan (Eshun & He, 2004). Ada dua sumber cairan
(liquid) pada lidah buaya, yaitu lateks yang berwarna kuning yang merupakan
eksudat tanaman dan gel yang berwarna bening. Keduanya merupakan proses
yang terjadi pada sel parenkim daun (Ni et al., 2004). Dibidang kesehatan, yang
umum digunakan adalah gel lidah buaya untuk mengatasi gangguan jantung,
menurunkan kolestrol, dan kadar trigliserida di dalam darah. Selain itu tanaman
ini juga digunakan mengobati beberapa penyakit seperti diabetes, kanker, alergi,
dan AIDS (Reynolds & Dweeck, 1999). Walaupun banyak dilaporkan gel lidah
buaya digunakan untuk kesehatan dan terapi kesembuhan, beberapa laporan
menjelaskan tentang aktivitas antifungal gel lidah buaya dalam melawan
cendawan patogenik.
Akhir-akhir ini ada peningkatan penggunaan gel lidah buaya pada industri
makanan yang mempengaruhi kualitas akhir suatu produk. Beberapa laporan
menjelaskan gel lidah buaya dapat berfungsi sebagai pengawet alami. Hal ini
Universitas Sumatera Utara
disebabkan karena adanya enzim oksidase sebagai sifat antioksidan dalam gel
lidah buaya. Pengawet ini dapat meningkatkan daya simpan buah khususnya buah
yang langsung dimakan tanpa mengupas kulitnya. Hal ini disebabkan adanya
sifat antioksidan dan gel lidah buaya dapat membuat lapisan seperti lilin ketika
dilapisi ke buah sehingga akan tetap menjaga kualitas kulit buah (Ni et al., 2004).
Universitas Sumatera Utara
Download