BAB IV - UMY Repository

advertisement
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilaksanakan di RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro pada bulan April
- Mei 2016. Pemaparan hasil akan diawali dengan gambaran umum rumah sakit dr
Soeradji Tirtonegoro kemudian dari aspek teknis dan dilanjutkan dengan aspek
lainnya. Selanjutnya akan dilakukan pembahasan mengenai berbagai hasil dari
aspek-aspek yang diteliti.
A. Hasil Penelitian
1.
Gambaran umum.
RSUP dr.Soeradji Tirtonegoro ditetapkan sebagai rumah sakit dengan
Pola Pengelolaan Keuangan BLU berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 273/KMK.05/2007 tanggal 21 Juni 2007 dan Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 756/Menkes/SK/VI/2007 tanggal 26 Juni
2007. Tahapan sejarah perkembangan kelembagaan RSUP dr. Soeradji
Tirtonegoro Klaten secara garis besar adalah sebagai berikut :
a. Tahun 1978
: sebagai rumah sakit kelas C.
b. Tahun 1992
: sebagai rumah sakit unit swadana dengan syarat.
c. Tahun 1993
: sebagai rumah sakit kelas B non pendidikan.
d. Tahun 1994
: sebagai rumah sakit unit swadana tanpa syarat.
e. Tahun 1997
: sebagai rumah sakit penerimaan negara bukan
pajak.
44
45
f. Tahun 1998
: terakreditasi penuh dari Departemen Kesehatan
Republik Indonesia untuk akreditasi tingkat dasar
(5 standar pelayanan).
g. Tahun 2001
: terakreditasi penuh dari Departemen Kesehatan
Republik Indonesia untuk akreditasi tingkat lanjut
(12 standar pelayanan)
h. Tahun 2003
: ditetapkan sebagai rumah sakit kelas B Pendidikan.
i. Tahun 2007
: terakreditasi penuh dari Departemen Kesehatan
Republik Indonesia untuk akreditasi tingkat lanjut
(16 standar pelayanan).
j. Tahun 2007
: sebagai rumah sakit badan layanan umum.
k. Tahun 2015
: terakreditasi paripurna dari Komite Akreditasi
Rumah Sakit versi 2012.
Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan nomor 934/Menkes/IX/2001 tanggal
5 September 2001, menetapkan RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro menjadi
Rumah Sakit Pendidikan untuk FK-UGM dan menjadi sebagai Laboratorium
Pusat Pengembangan Pelayanan Medik Dasar Essensial. Tahun 2003
Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1594/Menkes/SK/XII/2002 tanggal 27
Desember 2002 menetapkan RSUP. Dr. Soeradji Tirtonegoro sebagai Rumah
Sakit Kelas B Pendidikan. RSST sebagai bagian dari cikal bakal berdirinya
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Fakultas Kedokteran Gigi, dan
beberapa Fakultas lainnya. Peran Rumah Sakit sebagai lahan Pendidikan telah
melekat seiring berjalannya waktu. Dan akhirnya, RSUP Dr. Soeradji
46
Tirtonegoro Klaten ditetapkan sebagai Rumah Sakit Umum Pendidikan
berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
1594/Menkes/SK/XII/2002 tanggal 27 Desember 2002. Namun di dalam
perkembangannya, sejak tahun 2005 di lingkungan Kementerian Kesehatan
terdapat paradigma baru, yang menyatakan bahwa untuk penetapan RS
Pendidikan disahkan melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan setelah
melalui proses penilaian dan memenuhi kriteria Standar RS Pendidikan
(terakreditasi sesuai dengan klasifikasi Rumah Sakit) yang diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan pada bulan Mei
2005. Pada tanggal 18 April 2013, setelah melalui visitasi maka ditetapkanlah
kembali RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten sebagai Rumah Sakit
Pendidikan Satelit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, sesuai
dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : HK.02.03/I/0700/2013 dan
sertifikat tersebut diberikan sebagai pengakuan bahwa RSUP dr. Soeradji
Tirtonegoro Klaten telah memenuhi Standar Rumah Sakit Pendidikan
berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1069/Menkes/SK/XI/2008 tentang Pedoman, Klasifikasi dan Standar Rumah
Sakit Pendidikan.
2. Hasil penelitian.
a. Analisis aspek teknis
Berdasarkan wawancara dalam sesi presentasi alat dengan PT. Inmed
Teknotama
Cemerlang
sebagai
salah
satu
penyedia
alat
PACS:
1) Pemilihan jenis alat PACS
a) Ada 2 jenis alat yang ditawarkan kepada rumah sakit dr Soeradji
Tirtonegoro, yaitu local PACS dan cloud PACS. Diantara 2 jenis alat
tersebut, cloud PACS mempunyai banyak kelebihan dibanding local
PACS serta sesuai dengan yang dibutuhkan oleh rumah sakit dr
Soeradji Tirtonegoro.
Tabel 4.1 Perbandingan local PACS dan Cloud PACS
Local PACS
Cloud PACS
Membutuhkan Server lokal dan biaya
hardware serta pengelolaan sistem
Informasi dan Teknologi
Tidak membutuhkan Server lokal dan
biaya hardware serta pengelolaan
sistem Informasi dan Teknologi
Membutuhkan pengelolaan software
lokal. Upgrade dan update secara
manual
Tidak
membutuhkan
pengelolaan
software lokal. upgrade dan update
secara otomatis
Pengaturan user dalam pembacaan
hasil terjadi tumpang tindih
Tidak terjadi karena tiap user punya
kode pribadi
Resiko data dicuri, terkena virus atau
hilang
Tidak terjadi
Pembacaan hasil terbatas di rumah
sakit , hanya di komputer pribadi
Pembacaan hasil bisa dimana saja,
kapan saja, di perangkat apa saja
Harga : USD 132.500
Harga : USD 220.700
b) Adapun standar fasilitas minimal yang dibutuhkan, yaitu :
1) Spesifikasi Perangkat Komputer
a) Fasyankes perujuk (diampu)
Perangkat Keras :
1) Pentium ®Dual core Processor –Equivalent or Higher
2) 2 GB RAM
3) Resolusi Monitor 1024*768, 32 bit true Color
47
48
4) UPS
Perangkat lunak :
1) Windows 7™ Professional / Ultimate 32 bit / Windows 8
2) Internet Explorer 9.0 or Higher, Chrome v22
3) Software teleradiologi (Upload)
4) Anti virus firewall, Antivirus & Anti-spy ware Internet
Network :
1) Network speed 2 Mbps
2) 100/1000 Mbps Ethernet card
Modalitas :
Standard DICOM
Printer :
Dot matrix/laser printer
b) Server RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (pengampu)
Perangkat Keras :
1) Intel Quad core Xeon Processor, 800 MHz2)
2) 4 GB RAM (Higher RAM recommended if number of user
exceed 25)
3) 500 MB ruang hardisk kosong untuk aplikasi
4) 1 TB ruang hardisk kosong untuk data/citra
5) Resolusi Monitor 1024*768, 32 bit true Color
6) UPS
49
Perangkat lunak
1) Windows 2008 server (enterprise atau web server atau data
center edition Internet Explorer 9.0 or Higher, Chrome v22
2) Internet Information Server 7.0
3) PACS server
Network :
Network speed 4 Mbps
c) Workstation RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (pengampu)
Perangkat Keras :
1) Pentium ®Dual core Processor –Equivalent or Higher.
2) 2 GB RAM.
3) Resolusi Monitor 1024*768,32 bit true Color (general
radiologi).
4) Resolusi Monitor 5 MP FDA approved, 32 bit true Color
(mammografi)
5) UPS
Perangkat lunak :
1) Windows 7™ Professional / Ultimate 32 bit / Windows 8
2) Internet Explorer 9.0 or Higher, Chrome v22
3) Software teleradiologi (Upload)
4) Anti virus firewall, Antivirus & Anti spy ware Internet
Network :
1) Network speed 2 Mbps
50
2) 100/1000 Mbps Ethernet card
d) Mobile Viewer (browser) RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro
(pengampu)
1) Tablet dengan Resolusi Monitor 1024*768
2) Network speed 2 Mbps
2) Spesifikasi PACS
a) Mampu mengupload format DICOM, bmp, png, tiff, gif, jpeg,
txt, pdf, doc, xls, avi, mpeg, mp4, flv, wmv, mov.
b) Pada daftar pasien tersedia opsi pemilihan yang fleksibel baik
menurut tanggal upload, status expertis, yankes yang diampu,
modalitas maupun dokter pengirim.
c) Dapat mengupload riwayat pasien atau dokumen pendukung lain
seperti hasil laboratorium.
d) Dapat dilihat melalui WEB.
e) Dapat dilihat dengan dicom viewer dengan menu MPR,
multiframe, mampu untuk membandingkan foto.
f) Tersedia fitur Turn Around Time (TAT).
g) Dapat dihubungkan dengan DICOM viewer dari merek lain,
dapat digunakan untuk pengembangan teknologi radiologi.
h) Citra dapat diarahkan ke dokter tertentu untuk dilakukan
ekspertis sehingga dapat dilakukan penjadwalan untuk dokter
spesialis radiologi.
51
i) Ada menu untuk menandai prioritas citra sehingga pada pasien
emergensi akan cepat di ekspertis.
j) Tersedia template yang dapat di atur sedemikian rupa
k) Ada laporan melalui email setelah citra di lakukan ekspertis
l) Ada menu untuk melihat statistik citra yang diupload,
diekspertis, jumlah citra yang diekspertis dokter tertentu.
m) Adanya tingkatan kewenangan akses untuk melihat citra,
mengekspertis,
mengupload
dokumen
pendukung
dan
melakukan administrasi.
n) Dapat memodifikasi kewenangan user baik dokter spesialis
radiologi, radiografer, tenaga Informasi dan Teknologi maupun
dokter pengirim.
Gambar 4.1 Skema Rujukan Teleradiologi
52
c) Pelayanan purna jual
1) Pelatihan untuk operator akan diberikan oleh penyedia alat sampai
benar-benar mahir.
2) Apabila terjadi kerusakan alat, penyedia alat memberikan jaminan /
respon time dengan cepat melalui sistem remote service. Apabila
terjadi masalah di hardware sehingga tidak bisa ditangani melalui
sistem remote service, kedatangan teknisi secara onsite maksimal
selama 3 x 24 jam.
3) Garansi suku cadang dan jasa pemeliharaan selama 1 tahun.
4) Apabila kerusakannya terjadi di software karena virus, akan
dilakukan perbaikan atau seting ulang. Akan tetapi apabila
kerusakannya di hardware (kecuali harddisk sistem), akan diberikan
backup alat.
2) Lokasi
Sesuai keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1014/Menkes/SK/XI/2008 tentang standar pelayanan radiologi diagnostik
di sarana pelayanan kesehatan, standar ruang PACS adalah:
a)
Ukuran :
minimal 3 m (p) x 3 m (l) x 2,8 m (t)
b)
Dapat menampung tempat printer, processing dan rekam medik
elektronik.
c)
Dilengkapi dengan AC. Suhu dan kelembaban disesuaikan
kebutuhan alat.
Alat penunjang yang dibutuhkan adalah jaringan Local Area Network,
53
koneksi internet, meja dan kursi untuk operator. Sedangkan bagi rumah
sakit yang diampu cukup menyediakan perangkat komputer dan alat
penunjang yang dibutuhkan adalah jaringan Local Area Network, koneksi
internet,
meja dan kursi untuk operator. Secara teknis, pemasangan
peralatan berada dibawah tanggung jawab pemasok peralatan.
Rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro sebagai rumah sakit pengampu,
sudah mempersiapkan ruang di instalasi radiologi seluas 22,4 m2
untuk memenuhi
kebutuhan
ruangan
(workstation) bagi perangkat
keras maupun perangkat lunak alat PACS. Direncanakan menggunakan
ruang yang saat ini digunakan untuk ruang pembacaan radiologi dengan
mengalihkan beberapa mebelair yaitu 2 almari dan 1 meja ke ruang lain.
Denah / layout ruang yang dipersiapkan untuk alat PACS adalah sebagai
berikut :
Gambar 4.2 Denah ruang saat ini
54
Gambar 4.3 Denah ruang untuk penempatan alat PACS
3) Ketenagaan
Jenis dan jumlah tenaga yang dibutuhkan dalam instalasi radiologi
diagnostik berdasarkan jenis sarana pelayanan kesehatannya yaitu rumah
sakit kelas A atau setara, adalah sesuai tabel dibawah.
Tabel 4.2
Persyaratan jenis dan jumlah tenaga medis dan radiografer
rumah sakit kelas A atau setara
Jenis Tenaga
Persyaratan
Jumlah
RS kelas A
1. Spesialis radiologi
Memiliki SIP
6 orang
2. Radiografer
D3 Teknik Radiologi
2 orang/alat
Memiliki SIKR
Sumber: Keputusan Menteri Kesehata Republik Indonesia nomor 1014 tahun 2008
tentang standar pelayanan radiologi diagnostik di sarana pelayanan kesehatan
55
Menurut
Surat
Keputusan
Menteri
Kesehatan
RI
No.1014/MENKES/SK/XI/2008 tentang Standar Pelayanan Radiologi
Diagnostik di Sarana Pelayanan Kesehatan, setiap tenaga yang ada
dalam instalasi atau unit pelayanan radiologi diagnostik mempunyai
tugas
dan
bertanggung jawab
terhadap
semua
kegiatan
yang
berhubungan dengan mutu teknis dan proteksi atau keamanan pelayanan
pencitraan radiodiagnostik atau intervensional.
Tugas pokok dokter spesialis radiologi dan radiografer adalah :
1. Dokter Spesialis Radiologi
a. Menyusun dan mengevaluasi secara berkala SOP (Standar
Operasional Prosedur) tindak medik radiodiagnostik, pencitraan
diagnostik dan radiologi intervensional serta melakukan revisi
bila perlu.
b. Melaksanakan
dan
mengevaluasi
tindak
radiodiagnostik,
pencitraan diagnostik dan radiologi intervensional sesuai yang
telah ditetapkan dalam SOP.
c. Melaksanakan pemeriksaan dengan kontras dan fluroskopi
bersama
dengan
radiografer.
Khusus
pemeriksaan
yang
memerlukan penyuntikan intravena, dikerjakan oleh dokter
spesialis radiologi atau dokter lain atau tenaga kesehatan
(perawat) yang mendapat pendelegasian.
d. Menjelaskan dan menandatangani informed consent atau izin
tindakan medik kepada pasien atau keluarga pasien.
56
e.
Melakukan
pembacaan
terhadap
hasil
diagnostik,
pencitraan
diagnostik
dan
pemeriksaan
tindakan
radio
radiologi
intervensional.
f. Melaksanakan teleradiologi dan konsultasi radiodiagnostik,
pencitraan
diagnostik
dan
radiologi
intervensional
sesuai
kebutuhan.
g. Memberikan layanan konsultasi terhadap pemeriksaan yang akan
dilaksanakan.
h. Menjamin pelaksanaan seluruh aspek proteksi radiasi terhadap
pasien.
i.
Menjamin bahwa paparan pasien serendah mungkin untuk
mendapatkan citra radiografi yang seoptimal mungkin dengan
mempertimbangkan tingkat panduan paparan medik.
j. Memberikan rujukan dan justifikasi pelaksanaan diagnosis atau
intervensional dengan mempertimbangkan informasi pemeriksaan
sebelumnya.
k. Mengevaluasi kecelakaan radiasi dari sudut pandang klinis.
l.
Meningkatkan kemampuan diri sesuai perkembangan IPTEK
radiologi.
2. Radiografer
a. Mempersiapkan pasien, obat – obatan dan peralatan untuk
pemeriksaan dan pembuatan foto radiologi.
b. Memposisikan pasien sesuai dengan teknik pemeriksaan.
57
c. Mengoperasionalkan peralatan radiologi sesuai SOP. Khusus untuk
pemeriksaan
dengan
kontras
dan
fluoroskopi
pemeriksaan
dikerjakan bersama dengan dokter spesialis radiologi.
d. Melakukan kegiatan processing film (kamar gelap dan work
station) atau pencetakan hasil pemeriksaan secara digital.
e. Melakukan penjaminan dan kendali mutu.
f. Memberikan proteksi terhadap pasien, dirinya sendiri dan
masyarakat di sekitar ruang pesawat sinar-X.
g. Menerapkan teknik dan prosedur yang tepat untuk meminimalkan
paparan yang diterima pasien sesuai kebutuhan.
h.
Merawat dan memelihara alat pemeriksaan radiologi secara rutin.
Instalasi radiologi rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro memiliki sumber
daya manusia menurut jenis dan jumlahnya sebagai berikut :
Tabel 4.3 Jenis dan jumlah tenaga medis dan radiografer di rumah sakit
dr. Soeradji Tirtonegoro saat ini
Jenis Tenaga
Persyaratan
Jumlah
1. Spesialis radiologi
Memiliki SIP
4 orang
2. Radiografer
D3 Teknik Radiologi
13 orang
Memiliki SIKR
Sumber : Data pedoman pengorganisasian instalasi radiologi tahun 2015
b. Analisis aspek pasar
Analisis aspek pasar dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran
kelayakan terhadap permintaan potensial atau pengguna produk yang
dihasilkan, kemungkinan adanya persaingan, serta perkiraan penjualan yang
58
dapat dicapai (Sri Muryani, 1995). Menurut Nur Hidayati (2004) aspek
pasar meliputi perkiraan permintaan, unit cost dan tarif. Investasi dari aspek
pasar layak jika kecenderungan permintaan terus meningkat, tarif dibawah
harga pesaing dan spesifikasi produk sebanding dengan pesaing.
1) Gambaran kelayakan terhadap permintaan potensial menggunakan alat
PACS bisa diasumsikan dengan kinerja instalasi radiologi rumah sakit
dr. Soeradji Tirtonegoro, yang tergambar dalam tabel di bawah ini.
Tabel 4.4 Rekapitulasi tindakan di Instalasi Radiologi 3 tahun terakhir
No
Tindakan
Jumlah
Tahun
2013
Jumlah
Tahun
2014
Jumlah
Tahun
2015
Keterangan
1
DENTAL
117
170
10
Sederhana I
2
THORAK
12.672
10.948
11.005
Sederhana III
3
PELVIS
642
706
724
4
BNO
439
748
459
5
EXTRIMITAS
7.473
7.389
6.838
6
OPG/Panoramic
940
793
1.034
7
CHEPALOMETRY
4
7
3
8
KPL 2P
323
267
193
9
V CERV 2 PSS
519
616
402
10
V LUMBAL 2 PSS
1.676
1.423
1.176
11
V THX-LUMBAL
309
224
18
12
THX AP/LAT
494
375
315
13
KPL3P
9
18
51
14
V CER 3P
248
48
47
15
V THX-LUM 3P
24
57
44
16
V.LUMBAL.3.P
60
36
68
17
ABD 3P
335
347
367
18
OESOPAGUS
0
1
19
PELVIS SONDE
14
21
18
20
C.ARM
42
90
106
Sedang I
Sedang III
Canggih I
59
Tabel 4.4 Rekapitulasi Tindakan di Instalasi Radiologi 3 Tahun Terakhir
(lanjutan)
No
Tindakan
Jumlah
Tahun
2013
Jumlah
Tahun
2014
Jumlah
Tahun
2015
21
HSG
49
50
45
22
URETHRO CYSTO
15
13
16
23
URETHRO
45
20
17
24
CYSTO
4
11
19
25
RPG
10
10
7
26
APG
2
2
0
27
FISTULOGRAFI
23
16
16
28
OMD
30
13
22
29
COLON
83
73
67
30
IVP
238
83
140
31
BONES SURVEI
2
4
1
32
APP
57
31
14
33
CHOLANGIOGRAF
34
LOPOGRAFI
35
Keterangan
3
0
0
2
CT SCAN
2.195
1.115
1.662
JUMLAH
29.093
25.725
25.078
Canggih II
Sumber : data laporan instalasi radiologi rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro
2) Perkiraan umur ekonomis dan tarif yang layak.
Untuk
mengoperasionalkan
alat
tersebut,
dibutuhkan
tarif.
Komponen penyusunan tarif selain harga PACS itu sendiri, diperlukan
biaya-biaya berupa jasa Internet Service Provider, jasa instalasi
perangkat keras dan lunak, back up data, listrik, AC ruang server, jasa
dokter spesialis radiologi dan jasa tenaga radiografer.
60
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan nomor 59 tahun 2013
tentang tabel masa manfaat dalam rangka penyusutan barang milik
negara berupa aset tetap pada entitas pemerintah pusat, rumah sakit dr
Soeradji Tirtonegoro memperkirakankan alat PACS memiliki masa
manfaat / masa ekonomis 5 tahun dan pada akhir tahun ke 5 memiliki
nilai sisa / residu sebesar 0.
3) Jangkauan pelayanan / perkiraan pengguna PACS
Sesuai data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) online Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 1 Januari 2014 bahwa saat
ini ketersediaan tenaga pelayanan radiologi belum merata di fasilitas
kesehatan sekunder khususnya rumah sakit kelas C dan D, terutama di
daerah perbatasan, terpencil dan kepulauan (DPTK). Jumlah dokter
spesialis radiologi terendah berada di provinsi Sumatera Barat,
Kepulauan Riau dan Bengkulu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,
Kementerian Kesehatan mulai mengerakkan program telemedicine
sebagai solusi memberikan layanan kesehatan yang lebih baik di daerahdaerah terpencil. Saat ini, dari sekitar 2000 rumah sakit swasta dan
negeri, 740 rumah sakit sudah memiliki Sistem Informasi Manajemen
Rumah Sakit (SIMRS), dan 82% rumah sakit di Kabupaten Kota
pemerintah terhubung dengan internet. Ketersediaan tenaga pelayanan
radiologi yang belum merata di fasilitas kesehatan sekunder khususnya
rumah sakit kelas C dan D digambarkan sebagai berikut :
61
Tabel 4.5 Jumlah dokter spesialis radiologi pada rumah sakit kelas C di
Indonesia tahun 2013
Kepemilikan/
Penyelenggara
Jumlah
rumah
sakit
Jumlah
dokter
Eksisting
Jumlah
dokter sesuai
standar
Selisih
Pemerintah Pusat
Pemerintah Daerah
Tentara
Nasional
Indonesia / Kepolisian
Swasta
Badan Umum Milik
Negara
1
274
0
151
1
274
-1
-123
40
34
40
-6
257
310
257
53
22
28
22
6
Jumlah
594
523
594
-71
Tabel 4.6 Jumlah dokter spesialis radiologi pada rumah sakit kelas D di
Indonesia tahun 2013
Kepemilikan/
Penyelenggara
Jumlah
rumah
sakit
Jumlah
dokter
Eksisting
Jumlah
Selisih
dokter sesuai
standar
Pemerintah Pusat
Pemerintah Daerah
Tentara
Nasional
Indonesia / Kepolisian
Badan Umum Milik
Negara
Swasta
1
126
0
22
1
126
-1
-104
73
21
73
-52
11
6
11
-5
318
232
318
-86
Jumlah
529
281
529
-248
Sumber : Buku “Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan dalam Persiapan
Pelaksanaan JKN” oleh Badan PPSDM Kesehatan tahun 2013
a) Provinsi Sumatera Barat
Sesuai dengan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera
Barat, jumlah penduduk Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2012
62
tercatat sebesar 4.904.460 jiwa, dengan tingkat kepadatan 115 jiwa
per km2. Kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Barat tidak merata,
kepadatan penduduk tertinggi adalah di Kota Bukittinggi dengan
kepadatan penduduk 4.500 jiwa/km2. Komposisi penduduk Provinsi
Sumatera Barat menurut kelompok umur, menunjukkan bahwa
penduduk yang berusia muda (<15 tahun) sebesar 31,9 %, yang
berusia produktif (15-64 tahun) sebesar 62,4 % dan yang berusia tua
(>65 tahun) sebesar 5,6 %.
Tabel 4.7 Sebaran rumah sakit Provinsi Sumatera Barat
No
Kabupaten/kota
Jumlah rumah sakit
1.
Kepulauan Mentawai
1
2.
Pesisir Selatan
1
3.
Solok
2
4.
Sijunjung
1
5.
Tanah Datar
2
6.
Padang Pariaman
3
7.
Agam
1
8.
Lima Puluh Kota
2
9.
Pasaman
2
10.
Solok Selatan
0
11.
Dharmas Raya
0
12.
Pasaman Barat
1
13.
Kota Padang
30
14.
Kota Bukittinggi
6
15.
Kota Payakumbuh
2
16.
Kota Pariaman
1
17.
Kota Solok
2
18.
Kota Sawah Lunto
1
19.
Kota Padang Panjang
2
Sumber : Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat 2012
63
Tabel 4.8 Sebaran rumah sakit berdasarkan penyelenggara dan
kelas di Provinsi Sumatera Barat
No
Penyelenggara
A
B
C
D
Belum
ditetapkan
Total
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Kementerian Kesehatan
Kementerian Lain
Pemerintah Provinsi
Pemerintah Kabupaten
Pemerintah Kota
Kepolisian
Tentara Nasional Indonesia
Swasta non profit
Badan Umum Milik Negara
Swasta
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
2
0
0
0
2
0
0
0
0
0
0
0
1
10
4
0
0
5
1
1
0
0
0
1
0
0
1
8
0
5
0
0
0
1
0
1
2
7
0
8
2
0
2
12
6
1
3
20
1
14
11.
Jumlah
1
4
22
15
19
61
Sumber : Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat 2012
a. Provinsi Kepulauan Riau
Jumlah penduduk Kepulaun Riau tahun 2011 sebesar 1.868.011
jiwa (laki-laki 51,33% dan perempuan 48,67%), dan pada tahun 2012
menjadi 1.988.792 jiwa (laki-laki 51,41% dan perempuan 48,59%),
meningkat 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Proporsi persebaran
penduduk Kepulauan Riau tahun 2012 tertinggi adalah Kota Batam
(57,2%) dan yang terendah adalah Kabupaten Kepulauan Anambas
(2,3%). Lebih dari 50% penduduk Kepulauan Riau berdomisili di
Batam, hal ini dimungkinkan karena Kota Batam merupakan sumber
lapangan pekerjaan seperti
daerah industri, perkantoran dan
perdagangan.
Pada tahun 2012 di provinsi Kepulauan Riau terdapat 27 rumah
sakit dengan rincian 10 rumah sakit pemerintah, 3 rumah sakit Tentara
Nasional Indonesia, 12 rumah sakit swasta dan 1 rumah sakit milik
64
Badan Umum Milik Negara (Badan Pusat Statistik Provinsi
Kepulauan Riau).
b. Provinsi Bengkulu
Provinsi Bengkulu terletak disebelah Barat pegunungan Bukit Barisan.
Luas wilayah Provinsi Bengkulu mencapai lebih kurang 1.991.933
hektar atau 19.919,33 kilometer persegi. Secara administrasi
Pemerintahan Provinsi Bengkulu terbagi menjadi 9 kabupaten dan 1
kota, yang terdiri dari 124 kecamatan dan pada tahun 2013 memiliki
jumlah penduduk sebanyak 1.814.357 jiwa (Badan Pusat Statistik
Provinsi Bengkulu).
Tabel 4.9 Sebaran rumah sakit Provinsi Bengkulu
No
Kabupaten/kota
Jumlah rumah sakit
1.
Bengkulu Selatan
1
2.
Rejang Lebong
2
3.
Bengkulu Utara
3
4.
Kaur
1
5.
Seluma
1
6.
Muko Muko
1
7.
Lebong
1
8.
Kepahiang
1
9.
Bengkulu Tengah
1
10.
Kota Bengkulu
7
Sumber : Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat 2012
65
Tabel 4.10 Sebaran rumah sakit berdasarkan penyelenggara dan kelas
di Provinsi Bengkulu
No
Penyelenggara
A
B
C
D
Belum
ditetapkan
Total
1.
Kementerian Kesehatan
0
0
0
0
0
0
2.
Kementerian Lain
0
0
0
0
0
0
3.
Pemerintah Provinsi
0
2
0
0
0
2
4.
Pemerintah Kabupaten
0
0
4
6
0
10
5.
Pemerintah Kota
0
0
0
1
0
1
6.
Kepolisian
0
0
0
0
1
1
7.
Tentara Nasional Indonesia
0
0
0
0
2
2
8.
Swasta non profit
0
0
0
2
0
2
9.
Badan Umum Milik Negara
0
0
0
0
0
0
10.
Swasta
0
0
0
1
0
1
11.
Jumlah
0
2
4
10
3
19
Sumber : Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat 2012
4) Kemungkinan timbulnya persaingan
Ada beberapa rumah sakit di Indonesia yang sudah mengembangkan
pelayanan teleradiologi antara lain rumah sakit Cipto Mangunkusumo
Jakarta, Pantai Indah Kapuk Jakarta, Pertamedika Sentul City Jakarta,
Bunda Jakarta, Paru Jember, Kwaingga Papua dan Karel Satsuittubun
Maluku.
a) Rumah sakit Cipto Mangunkusumo
Kementerian
Kesehatan
Republik
Indonesia
sudah
mengembangkan telemedicine sejak tahun 2012 dalam sebuah pilot
project bidang teleradiologi yang diuji cobakan di 10 fasilitas
pelayanan kesehatan. Salah satu contohnya di RSUP Cipto
Mangunkusumo telah dilakukan teleradiologi menggunakan satu
66
pengampu dengan saluran komunikasi menggunakan internet. Sistem
teleradiologi
ini
dilakukan
melalui
pengiriman
image,
hasil
pemeriksaan di daerah yang kemudian dikirim ke server pusat di
Kementrian Kesehatan, dilanjutkan ke rumah sakit rujukan di Jakarta
untuk membaca pemeriksaan tersebut.
b) Rumah sakit Pantai Indah Kapuk Jakarta
Software yang digunakan untuk teleradiologi sudah menggunakan
PACS software application berbasis DICOM dan web yang terlisensi
dengan performance yang tinggi.
Teleradiologi yang dilaksanakan ini melalui :
1) Intranet yaitu komputer di bagian-bagian rumah sakit seperti
komputer di ruang-ruang baca radiolog, Unit Gawat Darurat,
Instalasi Rawat Intensif, kamar operasi, dengan mengakses web
server radiologi yang berbasis DICOM.
2) Internet yaitu bisa dikirim ke komputer pribadi di rumah dokter
ataupun note book maupun ke Cell Phone (HP, PDA & Palm Top),
yang disebut sebagai mobile teleradiologi. Pengiriman gambar bisa
dengan protokol JPEG via email dengan bantuan komputer
workstation dan juga bisa dengan melakukan browsing ke web
server radiologi.
Masalah yang muncul pada pelaksanaan teleradiologi adalah:
1) Intranet/LAN :
a) Waktu pengiriman lama
67
b) Gambar tidak terkirim
2) Internet
a) Setting GPRS/WAP pada Cell Phone
b) Email Account, misalnya user ID atau passwordnya salah
c) Provider problem
d) Over limit mail attachment, dimana mail dalam mailbox
melebihi kaouta yang ditetapkan oleh provider sehingga tidak
memungkinkan menerima message baru.
e) Security data
c) Rumah sakit Pertamedika Sentul City Jakarta
Teleradiologi di RS Pertamedika Sentul City ini merupakan pilot
project dari layanan E-Health milik PT Sigma Cipta Caraka
(TelkomSigma).
Telkomsigma
menggandeng
perusahaan
asal
Malaysia, Redtone International Bhd, untuk menyediakan layanan
teleradiologi di Indonesia. Telkom Group bertindak sebagai penyedia
infrastruktur network berupa fixed broadband atau seluler 3G dan 4G,
serta cloud services bagi pengguna yang terkoneksi dengan layanan
tersebut. Adapun Redtone menjadi penyedia aplikasi atau platform
teleradiologi.
d) Rumah sakit Bunda Jakarta
RSU Bunda Jakarta yang tergabung dalam jejaring Bundamedik
Healthcare System (BMHS) menjalin kerjasama teleradiologi dengan
Virtual Radiologic (vRad), perusahaan telemedicine global dari
68
Amerika Serikat yang berafiliasi dengan lebih dari 2.100 fasilitas
kesehatan di seluruh dunia.
Kemitraan dalam teleradiologi antara BMHS dan vRAd membuat
masyarakat pasien tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk
memperoleh second opinion terkait pembacaan hasil pemeriksaan
radiologi. Dengan teknologi ini nantinya pasien di rumah sakit yang
tergabung dalam BMHS bisa mendapatkan pelayanan subspesialis
langsung dari vRad tentang hasil pemeriksaan radiologi sesuai dengan
kondisi penyakitnya.
Menurut kepala RSU Bunda Jakarta, Dr. Didid Winnetouw
teleradiologi bukan merupakan hal baru di Indonesia. Beberapa negara
sudah melakukannya, termasuk Indonesia. Namun teleradiologi
dengan dokter dari multinasional merupakan inovasi. Bahkan untuk
wilayah Asia Tenggara, baru RSU Bunda yang bekerja sama dengan
vRad. “Teknik ini merupakan cara lama, beberapa rumah sakit telah
menerapkannya. Tetapi mereka sebatas internal antar-group saja. Cara
ini baru karena bisa mencakup sampai ke luar negeri. RSU Bunda
mengambil langkah ini sebagai bentuk memberikan pelayanan terbaik
kepada masyarakat dengan perkembangan
ke depan nggak perlu
„keluar‟ dalam mencari second opinion untuk radiologi. Kita sudah
punya infrastrukturnya,” ungkapnya.
e) Rumah sakit Paru Jember
Setelah pasien dilakukan expose sinar X- Ray, data langsung
69
tersimpan di sistem, diedit di work station, kemudian dikirim melalui
PACS agar dapat dibaca di station lain, antara lain di ruang Dokter
Spesialis Radiologi, Poli Umum, Poli TB, Unit Gawat Darurat, dan
Poli Spesialis. Data gambar juga bisa langsung diprint di kertas film,
untuk diberikan kepada pasien. Hasil foto dibaca dan langsung
dilakukan interpretasi/expertise oleh Dokter Spesialis Radiologi di
Ruang Baca Foto Radiologi. Pasien tidak perlu antri lama menunggu
hasil di depan loket radiologi untuk mengambil hasil. Foto beserta
hasil
expertisnya
akan
diantar
oleh
petugas
radiologi
ke
dokter/ruangan yang meminta (poli atau ruang rawat inap). Rumah
sakit kami mulai menerapkan sistem ini sejak 2013, namun baru
optimal sejak 2014. Semua hasil pemeriksaan dengan Digital
Radiologi dan Ultra Sono Grafi, hasil langsung dikirim dan tersimpan
di station ruang baca radiologi.
Dengan sistem ini dapat dengan mudah melihat semua hasil
pemeriksaan yang dilakukan sebelumnya ke pasien yang sama, dan
melihat detail hasil pemeriksaan saat itu juga, dengan adanya fasilitas
zoom, pengaturan kontras, kehalusan gambar, yang ada di dalam
sistem.
f) Rumah sakit umum daerah Kwaingga Papua dan rumah sakit umum
daerah Karel Satsuittubun Maluku
Keduanya sudah menggunakan alat PACS akan tetapi kondisi
internet di lokasinya tidak mendukung sehingga pelayanan terhambat.
70
c. Analisis aspek keuangan
1) Metode Payback Period
Hasil analisis investasi metode Payback Period dengan asumsi jumlah
pemeriksaan
/ pasien tiap tahun naik 5%, selama masa manfaat 5 tahun.
a) Berdasar asumsi 2 rumah sakit yang diampu
Tabel 4.11 Perhitungan Payback Period dengan tarif Rp.120.000,00
(JP 40 %) dan jumlah pemeriksaan 25.078 pasien
TARIF
Rp
JML PEMERIKSAAN PER TH
Th
120.000
25.078
Ura i a n
Ni l a i Inves tas i
Ha rga Al a t
Ca s h Fl ow Inves tas i
1 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
JS + JP
Ka s Ma s uk
Ka s Kel ua r
Ka s Bers i h
PP
1.809.303.081
1.809.303.081
1.200.056.919
1.200.056.919
1.899.768.235
154.490.000
2.054.258.235
1.105.569.765
2.305.626.684
1.994.756.647
162.214.500
2.156.971.147
1.160.848.253
3.466.474.938
2.094.494.479
169.939.000
2.264.433.479
1.219.276.891
4.685.751.829
2.199.219.203
177.663.500
2.376.882.703
1.281.013.186
5.966.765.015
3.089.800.000
25.078
3.009.360.000
3.009.360.000
3.009.360.000
2 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
JS + JP
Bi a ya Pemel i ha ra a n
26.332
3.159.828.000
3 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
Sha ri ng Penda pa tan
Bi a ya Pemel i ha ra a n
27.648
3.317.819.400
4 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
JS + JP
Bi a ya Pemel i ha ra a n
29.031
3.483.710.370
5 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
JS + JP
Bi a ya Pemel i ha ra a n
30.482
3.657.895.889
3.159.828.000
5%
3.159.828.000
3.317.819.400
105%
3.317.819.400
3.483.710.370
110%
3.483.710.370
3.657.895.889
115%
3.657.895.889
Berdasarkan tabel diatas dapat kita hitung Payback Period sebagai berikut :
Total investasi
Pendapatan bersih tahun ke 1
Pendapatan bersih tahun ke 2
: Rp. 3.089.800.000,00
: Rp. 1.200.056.919,00
Rp. 1.889.743.081,00
: Rp. 1.105.569.765,00
Rp. 784.173.316,00
_
_
71
Dikarenakan pendapatan bersih untuk tahun ke 3 melampaui sisa
investasi dari tahun ke 2 maka dapat kita hitung sebagai berikut :
= Rp. 784.173.316,00 x 12 x 30 hari
Rp . 1.160.848.253,00
= 243,2 hari
Payback Period (PP) = 2 tahun 243,2 hari
c) Berdasar asumsi 1 rumah sakit yang diampu
Tabel 4.12 Perhitungan Payback Period dengan tarif Rp.120.000,00
(JP 40 %) dan jumlah pemeriksaan 12.539 pasien
TARIF
Rp
JML PEMERIKSAAN PER TH
Th
120.000
12.539
Ura i a n
Ni l a i Inves tas i
Ha rga Al a t
Ca s h Fl ow Inves tas i
1 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
JS + JP
Ka s Ma s uk
Ka s Kel ua r
Ka s Bers i h
PP
3.089.800.000
12.539
1.504.680.000
1.504.680.000
1.504.680.000
2 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
JS + JP
Bi a ya Pemel i ha ra a n
13.166
1.579.914.000
3 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
Sha ri ng Penda pa tan
Bi a ya Pemel i ha ra a n
13.824
1.658.909.700
4 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
JS + JP
Bi a ya Pemel i ha ra a n
14.515
1.741.855.185
5 Juml a h Pa s i en / tahun
Penda pa tan
JS + JP
Bi a ya Pemel i ha ra a n
15.241
1.828.947.944
1.207.435.116
1.207.435.116
297.244.884
297.244.884
1.267.806.872
154.490.000
1.422.296.872
157.617.128
454.862.012
1.331.197.216
162.214.500
1.493.411.716
165.497.984
620.359.996
1.397.757.076
169.939.000
1.567.696.076
174.159.109
794.519.105
1.467.644.930
177.663.500
1.645.308.430
183.639.514
978.158.619
1.579.914.000
5%
1.579.914.000
1.658.909.700
105%
1.658.909.700
1.741.855.185
110%
1.741.855.185
1.828.947.944
115%
1.828.947.944
Berdasarkan tabel diatas, Payback Period belum dapat dicapai sampai
dengan tahun ke 5.
2) Metode Net Present Value (NPV)
Metode ini digunakan untuk mengukur kelayakan investasi, dimana
72
seluruh proyeksi arus kas bersih di masa depan harus dinyatakan ke dalam
nilai sekarang yang dikonversikan dengan tingkat suku bunga atau discount
faktor. Perhitungan Net Present Value merupakan perkalian antara Net Cash
Value atau pendapatan bersih setelah pajak dikalikan dengan discount
faktor. Discount faktor yang dipakai peneliti disesuaikan dengan tingkat
suku bunga Bank Indonesia / BI rate saat ini yaitu 6,5 % (situs bank
Indonesia per tanggal 16 Juni 2016). Dalam penelitian ini penghitungan
analisis menggunakan bantuan software pengolah data Microsoft Excel
version 2010. Hasil analisis metode Net Present Value selama masa manfaat
5 tahun dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.13 Perhitungan Net Present Value dengan discount faktor 6,5 %
( dengan asumsi jumlah pemeriksaan 25.078 pasien)
Data
Deskripsi
0,065
Tingkat diskon tahunan. Menunjukkan
tingkat inflasi atau suku bunga dari investasi
yang bersaing.
(3.089.800.000)
Biaya awal investasi
1.200.056.919
Laba dari tahun pertama
1.105.569.765
Laba dari tahun kedua
1.160.848.253
Laba dari tahun ketiga
1.219.276.891
Laba dari tahun keempat
1.281.013,186
Laba dari tahun kelima
Hasil
1.855.516.083,84
Deskripsi
Nilai bersih saat ini untuk investasi ini
3) Metode Internal Rate of Return (IRR)
Metode ini digunakan untuk mengukur berapa tingkat pengembalian
73
intern yang diperoleh dari suatu investasi. Dalam penelitian ini
penghitungan analisis menggunakan bantuan software pengolah data
Microsoft Excel version 2010. Hasil analisis metode Internal Rate of Return
selama masa manfaat 5 tahun dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.14
Perhitungan Internal Rate of Return
(dengan asumsi jumlah pemeriksaan 25.078 pasien)
Data
Deskripsi
(3.089.800.000,00)
1.200.056.919
1.105.569.765
1.160.848.253
1.219.276.891
1.281.013.186
Hasil
26 %
Biaya awal bisnis
Pendapatan bersih untuk tahun pertama
Pendapatan bersih untuk tahun kedua
Pendapatan bersih untuk tahun ketiga
Pendapatan bersih untuk tahun keempat
Pendapatan bersih untuk tahun kelima
Deskripsi
Tingkat internal pengembalian investasi
setelah lima tahun
B. Pembahasan
1. Dari aspek teknis diperoleh gambaran kelayakan teknis sebagai berikut :
a. Ditinjau dari sub aspek pemilihan jenis alat PACS
Sesuai
program
pengembangan
pelayanan
teleradiologi
yang
dicanangkan oleh rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro, yaitu sebagai
pengampu rumah sakit di Indonesia yang tidak mempunyai / masih
kekurangan tenaga dokter spesialis radiologi maka memerlukan alat
PACS dengan spesifikasi cloud, harga Rp.3.089.800.000,00. Alat PACS
dengan harga tersebut sudah masuk dalam perencanaan / e planning
anggaran Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2017.
74
b. Ditinjau dari sub aspek lokasi
Rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro sebagai rumah sakit pengampu,
sudah mempersiapkan ruang di instalasi radiologi seluas 22,4 m2
untuk memenuhi
kebutuhan
ruangan
(workstation) bagi perangkat
keras maupun perangkat lunak alat PACS. Direncanakan menggunakan
ruang yang saat ini digunakan untuk ruang pembacaan radiologi dengan
mengalihkan beberapa mebelair yaitu 2 almari dan 1 meja ke ruang lain.
Dengan melihat denah ruang yang dipersiapkan, sudah sesuai dengan
keputusan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
nomor
1014/Menkes/SK/XI/2008 tentang standar pelayanan radiologi diagnostik
di sarana pelayanan kesehatan untuk alat PACS.
c. Ditinjau dari sub aspek tenaga, berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia nomor 1014/Menkes/SK/XI/2008 tentang standar
pelayanan radiologi diagnostik di sarana pelayanan kesehatan, dimana
disebutkan bahwa salah satu tugas pokok seorang spesialis radiologi
adalah melaksanakan teleradiologi dan konsultasi radiodiagnostik,
imejing diagnostik dan radiologi intervensional sesuai kebutuhan.
Sedangkan salah satu tugas pokok seorang radiografer adalah melakukan
penjaminan dan kendali mutu.
Untuk menyelenggarakan pelayanan teleradiologi dengan alat PACS
diperlukan seorang spesialis radiologi untuk menerjemahkan hasil
pembacaan expertise, sedangkan radiografer diperlukan sebagai pengirim
gambar yang akan melakukan pengecekan apakah hasil pembacaan /
75
report sudah terkirim atau belum (quality control), serta membantu
menerjemahkan apabila hasil pembacaan / report sulit dibaca oleh
penerima.
Berdasarkan tabel 4.3, rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro memiliki 4
orang dokter spesialis radiologi, menurut Permenkes 56 tahun 2014
sudah memenuhi persyaratan minimal untuk jumlah ketenagaan di rumah
sakit klas A, akan tetapi menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.1014 tahun 2008 sesuai tabel 4.2, belum memenuhi persyaratan
minimal sehingga perlu penambahan 2 orang dokter spesialis radiologi.
Untuk tenaga radiografer, rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro memiliki
13 orang radiografer dengan alat x ray sejumlah 11 buah. Menurut
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1014 tahun 2008, standarnya adalah
1 alat oleh 2 orang radiografer sehingga dengan adanya penambahan alat
PACS seharusnya ada tambahan tenaga radiografer sebanyak 11 orang.
Saat ini masih dianggap cukup sesuai hasil perhitungan analisis beban
kerja oleh sub bagian sumber daya manusia dan instalasi radiologi.
Selain itu perlu dipikirkan juga beberapa kendala, antara lain :
1) Belum ada kejelasan regulasi. Indonesia baru sebatas mengaturnya
dalam
Keputusan
Direktur
Jenderal
Bina
Upaya
Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan
Direktur Nomor: HK.02.03/V/0209/2013 Tanggal 31 Januari 2013
Tentang Pelaksanaan Pilot Project Telemedicine dan Penunjukan
76
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Telemedicine Bidang Teleradiologi dan
Telekardiologi (Luthfi, 2014).
2) Ijin praktek dokter di Indonesia masih berdasarkan wilayah, padahal
dengan pelayanan teleradiologi dokter akan otomatis berpraktek lintas
wilayah, sehingga di Indonesia baru dimanfaatkan untuk internal /
intranet (Johan Harlan, 2012).
Sebagai kesimpulan, untuk menuju rumah sakit kelas A belum mampu
memenuhi akan tetapi sesuai kondisi sekarang sebagai rumah sakit kelas
B sudah mampu memenuhi dari sisi tenaga medis.
Rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro telah mempertimbangkan dari sub
aspek pemilihan jenis alat, lokasi dan tenaga. Dengan demikian berdasarkan
gambaran kelayakan tersebut dapat disimpulkan, ditinjau dari aspek teknis
pengadaan alat PACS layak diadakan oleh rumah sakit dr Soeradji
Tirtonegoro. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap aspek pasar.
2. Dari aspek pasar diperoleh gambaran kelayakan pasar sebagai berikut :
a. Terjadi penurunan kunjungan / tindakan di instalasi radiologi dalam 3
tahun terakhir, diperkirakan karena:
1) Adanya kebijakan dari Badan Pelaksana Jaminan Sosial kesehatan
sejak tanggal 1 Januari 2014, terjadi perubahan sistem paket klaim
rawat jalan sehingga pemeriksaan penunjang sering tidak dilakukan.
2) Terjadi kerusakan alat CT Scan pada bulan September 2014 dan
kembali rusak mulai pertengahan bulan Oktober 2015 sampai
77
dengan akhir Desember 2015 sehingga tidak melayani dan dirujuk
keluar rumah sakit.
3) Mulai tanggal 1 Januari 2015 tidak melayani pembacaan x-ray dental.
4) Tarif yang lebih mahal dibanding klinik dan rumah sakit lain.
b. Dalam buku yang disusun oleh Badan PPSDM Kesehatan pada tahun
2013 berjudul “Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan
dalam Persiapan Pelaksanaan JKN”, disampaikan bahwa masalah
kurangnya tenaga kesehatan, baik jumlah, jenis dan distribusinya
menimbulkan dampak terhadap rendahnya akses masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan berkualitas, di samping itu juga menimbulkan
permasalahan pada rujukan dan penanganan pasien untuk kasus tertentu.
Dari data ketersediaan tenaga pelayanan radiologi yang belum merata di
fasilitas kesehatan sekunder khususnya rumah sakit kelas C dan D (tabel
4.5 dan tabel 4.6) menunjukkan bahwa mayoritas kekurangan tenaga
kesehatan spesialis radiologi ada di rumah sakit klas C dan D milik
pemerintah. Jumlah dokter spesialis radiologi terendah berada di provinsi
Sumatera Barat, Kepulauan Riau dan Bengkulu. Rumah sakit yang ada di
ketiga provinsi tersebut potensial menjadi rumah sakit yang diampu oleh
rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro.
c. Rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro telah mengantisipasi bahwa kecil
kemungkinan timbulnya persaingan. Ada beberapa alasan yaitu:
1) Untuk menjadi rumah sakit pengampu yang menyelenggarakan
pelayanan teleradiologi kepada rumah sakit yang diampu harus
78
didukung dengan pelayanan dokter spesialis radiologi yang cukup
jumlahnya.
2) Alat PACS merupakan syarat peralatan yang harus ada di rumah sakit
klas A, sementara di Indonesia hanya beberapa rumah sakit yang
sudah mempunyai alat tersebut.
d. Perkiraan umur ekonomis dan tarif yang layak.
Di dalam buku Pedoman Pengelolaan Peralatan Kesehatan di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan yang disusun oleh Direktorat Bina Pelayanan
Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan, Direktorat Jenderal Bina Upaya
Kesehatan (2015) menyebutkan bahwa dalam penilaian teknologi
peralatan perlu dipertimbangkan juga Life cycle cost (LCC) sebagai salah
satu instrument penilaian, selain Ijin Edar. Life cycle cost (LCC) adalah
total
biaya
keseluruhan
peralatan,
termasuk
biaya
pembelian,
pengoperasian, pemeliharaan, pengalihan dan atau penghapusan. LCC
adalah total perkiraan biaya dari awal sampai penghapusan, yang
dihitung melalui biaya per tahun serta memperhatikan nilai waktu dari
uang. Tujuan
LCC analisis adalah pendekatan memilih biaya yang
paling efektif dari serangkaian alternatif untuk menekan biaya pada
jangka waktu tertentu peralatan. LCC merupakan model ekonomi selama
masa dari peralatan tersebut dipakai, dipelihara, dihapus, biasanya
sebesar 2 - 20 kali lebih besar dari biaya pengadaan awal. Keseimbangan
antara unsur-unsur biaya dicapai ketika total LCC bisa diminimalkan.
79
Perkiraan biaya pemeliharaan selama setahun adalah sekitar 5% sampai
6% dari nilai investasi peralatan medis. Biaya pemeliharaan juga dapat
dihitung dengan cara yang lebih spesifik berdasarkan kebutuhan rutin
tahun sebelumnya serta standar kebutuhan pemeliharaan dari setiap
peralatan. Besaran biaya pemeliharaan peralatan medis masing masing
rumah sakit bisa berbeda.
Sesuai pasal 9 Peraturan Pemerintah nomor 23 tahun 2005 tentang pola
tarif Badan Layanan Umum, tarif harus mempertimbangkan :
1) Kontinuitas dan pengembangan layanan.
2) Daya beli masyarakat
3) Asas keadilan dan kepatutan.
4) Kompetisi yang sehat.
Dengan mempertimbangkan 4 hal
diatas maka perlu dilakukan
penyesuaian tarif secara cermat agar bisa berkompetisi dengan rumah
sakit pesaing. Oleh karena beberapa pertimbangan diatas serta
disetarakan dengan tarif yang berlaku di RSST untuk pemeriksaan
radiologi rawat jalan kategori sederhana, maka tarif yang diperhitungkan
dalam penelitian ini adalah sebesar Rp. 120.000,00 dengan prosentase
jasa pelayanan sebesar 40%. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan nomor 12 tahun 2013 tentang pola tarif Badan Layanan
Umum pasal 28 bahwa besaran jasa pelayanan maksimal 44% dari
jumlah tarif. Tarif tersebut bisa bersaing dengan tarif Rp. 162.000,00
80
yang berlaku di rumah sakit pesaing Narayana Netralaya Healthcare
negara India.
Rumah sakit dr Soeradji Tirtonegoro telah mempertimbangkan dari
sub aspek perkiraan permintaan, kemungkinan timbulnya persaingan,
perkiraan umur ekonomis dan tarif yang layak. Dengan demikian
berdasarkan gambaran kelayakan tersebut dapat disimpulkan, ditinjau
dari aspek pasar pengadaan alat PACS layak diadakan oleh rumah sakit
dr Soeradji Tirtonegoro. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap aspek
keuangan.
3. Dari aspek keuangan
Pengembangan alat PACS membutuhkan investasi sebesar Rp.
3.089.800.000,-. Pengembangan alat tersebut direncanakan menggunakan
100% anggaran Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari pemerintah
Republik Indonesia dan sudah masuk dalam e planning tahun 2017.
a. Nilai aset dari investasi keseluruhan untuk pengembangan alat PACS
sebesar Rp. 3.089.800.000,00.
Tabel 4.11 menunjukkan bahwa tarif Rp. 120.000,00 serta utilisasi
sesuai perkiraan permintaan yaitu 25.078 pemeriksaan dengan asumsi
tiap tahun naik 5%, diperkirakan aliran kas masuk selama tahun 2017
sampai dengan tahun 2021 sebesar Rp. 16.628.613.659,00, aliran kas
keluar sebesar Rp. 10.661.848.645,00, sehingga aliran kas bersih
selama umur investasi sebesar Rp. 5.966.765.014,00.
81
b. Berdasarkan perhitungan / analisa Payback Period
yang telah
dilakukan:
1)
Pada tabel 4.11, terlihat bahwa tarif Rp. 120.000,00 (JP 40 %)
dengan asumsi 25.078 jumlah pemeriksaan, investasi / modal
akan
kembali dalam jangka waktu 2 tahun 243,2 hari.
2) Pada tabel 4.12 menunjukkan bahwa tarif Rp. 120.000,00 (JP 40 %)
dengan asumsi 12.539 jumlah pemeriksaan, sampai dengan tahun ke
lima (5) investasi / modal belum dapat kembali.
c. Dalam perhitungan NPV diperlukan discount factor berdasarkan suku
bunga bank yang berlaku saat itu. Suku bunga Bank Indonesia / BI rate
yang berlaku pada semester 1 tahun 2016 adalah 6,5 %, sehingga
discount factor yang digunakan adalah 6,5 %. Berdasarkan perhitungan
di atas pada tabel 4.13, dengan asumsi jumlah pemeriksaan 25.078
pasien, didapatkan nilai Rp. 1.855.516.083,84. NPV bernilai positif dan
nilainya > 0, maka rencana pengembangan investasi yang akan
dilakukan layak untuk dilakukan.
d.
Berdasarkan perhitungan diatas pada tabel 4.14, nilai IRR yang
diperoleh adalah sebesar 26 % , lebih besar dari suku bunga Bank
Indonesia yang berlaku sebesar 6,5 % maka IRR diterima.
Download