peran pariwisata dalam neraca pembayaran

advertisement
PERAN PARIWISATA DALAM NERACA
PEMBAYARAN INDONESIA
OLEH :
LISNA MARIANA
ABSTRACT
Tourism holds an important role in the balance of payments, namely
as tool for creating foreign exchange earnings.
In the framework of national growth, which is intended for increasing
the welfare of the people, the expansion in tourism will be made
continuously and ever increased, by developing the existence tourism
resources to become a dependable economic factor for the increasing
of foreign currency’s earnings, especially to decrease the Indonesian
Balance of Payments deficit.
In developing the tourism the foreign culture influence will be
minimized so that Indonesia personality will be protected and also
maintain the everlasting and excellent quality of living environment of
Indonesia.
PENDAHULUAN
Pariwisata
mempunyai
peranan
penting
dalam
pembangunan nasional, yaitu
sebagai
penghasil
devisa,
meratakan dan meningkatkan
kesempatan
kerja
dan
pendapatan,
memperkokoh
persatuan dan kesatuan, serta
budaya bangsa, seperti yang
telah diamanatkan dalam Garisgaris Besar Haluan Negara
(1998) bahwa pengembangan
pariwisata,
kecuali
untuk
menghasilkan
devisa
dan
menambah
kesempatan
penanaman
modal,
juga
menambah volume penyerapan
tenaga
kerja.
Hal
ini
dimungkinkan
karena
kepariwisataan sebagai upaya
Lisna Mariana, Staf Pengajar STMT Trisakti
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
ekonomi, bukan saja padat
modal, tetapi juga padat karya.
Dengan
demikian,
sektor
pariwisata
mampu
meningkatkan
penyerapan
tenaga kerja. Penyerapan ini
terkait
dengan
peningkatan
pariwisata sebagai andalan yang
mampu menggalakkan sektor
lain yang terkait (BPS, 1998).
Keberhasilan pengembangan
kepariwisataan
termaksud,
berarti
akan
meningkatkan
perannya dalam Neraca Jasa,
dimana kepariwisataan merupakan komponen utamanya.
Dalam
kedudukannya
tersebut, secara tidak langsung
juga
menunjukkan
bahwa
pariwisata mempunyai peran
yang sangat besar dalam Neraca
Pembayaran Indonesia, dimana
sampai saat ini, selalu terdapat
defisit
dalam
Neraca
Perdagangan,
dimana
nilai
ekspor lebih rendah daripada
nilai impor.
KESEIMBANGAN NERACA
PEMBAYARAN
Neraca Pembayaran atau
Balance of Payments adalah the
record of the transactions of the
residents of a country with the
rest of the world. There are two
main accounts in the balance of
payments : the current account
Lisna Mariana, 68-80
69
and
the
capital
account
(Dornbusch & Fischer, 1994).
The current account records trade
in goods and services, as well as
tranfer payments. The capital
account records purchases and
sales of assets, such as stocks,
bonds, and land. (Dornbusch &
Fischer, 1994).
Salah satu masalah yang
dihadapi
Indonesia
adalah
defisit
dalam
neraca
pembayaran. Masalah tersebut
bersumber
dari
perbedaan
dalam sifat-sifat ekspor dan
impor.
Sebagai akibat dari sifat
ekspor dan impor yang berbeda,
perekonomian tidak selalu dapat
secara
serentak
mengatasi
masalah
neraca
pembayarannya.
Impor dan ekspor biasanya
merupakan
komponen
yang
sangat penting dalam neraca
pembayaran.
Impor
yang
melebihi
ekspor,
cenderung
menimbulkan
defisit
dalam
neraca pembayaran.
Ahli-ahli
ekonomi
Klasik
memandang perdagangan luar
negeri sebagai suatu “penggerak
pertumbuhan ekonomi” atau
engine of growth. Keyakinan
mereka ini didasarkan pada
peran yang dapat diberikan oleh
kegiatan
perdagangan
luar
ISSN 1411-1527
70
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
negeri
dalam
mempercepat
proses pertumbuhan ekonomi.
Menurut pandangan ahli-ahli
ekonomi Klasik, perdagangan
luar negeri mempunyai potensi
untuk
memberikan
tiga
sumbangan
penting
dalam
pembangunan
ekonomi.
Peranannya
dapat
diuraikan
sebagai berikut :
manajemen
yang
tidak
efisien,
tetapi
karena
kekurangan permintaan di
dalam
negeri.
Dalam
keadaan
demikian,
perdagangan
luar
negeri
memungkinkan
mereka
memperluas pasar untuk
hasil-hasil kegiatannya.
1. Meningkatkan efisiensi penggunaan
faktor-faktor
produksi.
Pandangan
ini
bersumber dari keyakinan
kaum
Klasik
mengenai
manfaat
yang
dapat
diperoleh dari melakukan
spesialisasi.
Negara-negara
yang melakukan spesialisasi
dan perdagangan luar negeri
akan (a) dapat meningkatkan
efisiensi kegiatan produksinya,
dan
(b)
dapat
menikmati
lebih
banyak
barang daripada sebelum
adanya perdagangan luar
negeri.
3. Meningkatkan produktivitas
kegiatan ekonomi. Dengan
melakukan perdagangan luar
negeri, sesuatu negara akan
menjalin hubungan yang erat
dengan negara-negara lain.
Ini memungkinkan negara
tersebut
(a)
mempelajari
teknik produksi yang lebih
baik, (b) mengimpor barangbarang modal yang baru,
yang
lebih
tinggi
produktivitasnya,
dan
(c)
mempelajari pandangan-pandangan baru yang akan
memperbaiki cara kerja dan
cara memimpin perusahaan
yang sedang dijalankan.
2. Memperluas pasar produksi
dalam negeri. Dalam setiap
perekonomian, selalu timbul
keadaan di mana beberapa
perusahaan atau industri
mempunyai
kapasitas
produksi
yang
tidak
sepenuhnya
digunakan.
Penggunaan alat-alat modal
yang tidak mencapai maksimum,
tidaklah
karena
Dalam kaitannya dengan
pembangunan
ekonomi
di
negara-negara
berkembang,
pandangan yang dikemukakan
oleh ahli-ahli ekonomi Klasik
tersebut
mendapat
berbagai
kritik. Kritik
yang paling
dikenal
menyatakan
bahwa
syarat
perdagangan
negaranegara berkembang cenderung
untuk
menjadi
semakin
ISSN 1411-1527
Lisna Mariana, 68-80
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
memburuk
dalam
jangka
panjang.
Ini
mengurangi
keuntungan
yang
dapat
diperoleh dari perdagangan luar
negeri,
dan
keadaan
ini
selanjutnya memperlambat pertumbuhan ekonomi. Yang lebih
penting lagi, dalam jangka
pendek,
harga-harga
ekspor
negara-negara
berkembang
mengalami keadaan naik turun
yang sangat besar. Perubahanperubahan seperti itu sangat
mengganggu kestabilan neraca
pembayaran,
kestabilan
kegiatan
ekonomi
secara
keseluruhan, dan kestabilan
harga-harga.
Dalam
analisis
Makro
Ekonomi
dianggap
bahwa
sesuatu perekonomian berusaha
untuk
mencapai
tingkat
kegiatan ekonomi yang tinggi,
dan kalau mungkin, mencapai
penggunaan tenaga kerja penuh,
tanpa
inflasi.
Dalam
perekonomian terbuka, tujuan
itu berarti bahwa usaha untuk
mencapai
tingkat
kegiatan
ekonomi yang tinggi tersebut,
harus diikuti oleh keadaan
neraca
pembayaran
yang
seimbang. Neraca pembayaran
yang mengalami defisit, dapat
mempengaruhi
kestabilan
harga-harga; dan menimbulkan
pelarian
modal
serta
mengurangi investasi, yang pada
Lisna Mariana, 68-80
71
akhirnya akan menimbulkan
kemunduran
dalam
tingkat
kegiatan
ekonomi
negara.
Dengan demikian, di sektor luar
negeri kebijakan pemerintah
haruslah ditekankan kepada
menciptakan
keseimbangan
dalam neraca pembayaran yang
pada waktu yang sama akan
mewujudkan
pula
tingkat
kegiatan ekonomi yang tinggi.
Berdasarkan kepada sifatnya
dalam
mempengaruhi
pembelanjaan agregat, langkahlangkah yang dapat dilaksanakan
pemerintah,
dapat
dibedakan dalam dua golongan.
1. Kebijakan
menekan
pengeluaran
(expenditure
dampening policy).
2. Kebijakan
memindahkan
pengeluaran
(expenditure
switching policy).
Yang
dimaksud
dengan
kebijakan menekan pengeluaran
adalah
langkah-langkah
pemerintah untuk menstabilkan
neraca pembayaran yang sedang
dalam keadaan defisit, dengan
melakukan
tindakan-tindakan
yang
akan
mengurangi
pengeluaran agregat. Dengan
tindakan
itu,
pemerintah
berharap
impor
dapat
diturunkan tanpa mengurangi
ekspor. Perubahan seperti itu
diharapkan akan memperbaiki
ISSN 1411-1527
72
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
neraca pembayaran. Kebijakan
menekan
pembelanjaan
didasarkan pada keyakinan,
bahwa ekspor tidak dipengaruhi
oleh
pendapatan
nasional,
sedangkan impor mempunyai
perkaitan yang positif dengan
pendapatan nasional,
yaitu
makin
tinggi
pendapatan
nasional, maka makin tinggi
impor.
Dengan
demikian
kebijakan
mengurangi
pengeluaran agregat, yang pada
mulanya
akan
menurunkan
tingkat pendapatan nasional,
pada akhirnya akan mengurangi
impor. Sebaliknya ekspor tidak
akan mengalami perubahan.
Kebijakan
menekan
pengeluaran
sangat
sesuai
dijalankan
pada
waktu
perekonomian
menghadapi
masalah inflasi dan tingkat
kegiatan ekonomi yang terlalu
tinggi.
Dalam
keadaan
pengangguran
yang
cukup
tinggi, kebijakan tersebut akan
memperburuk masalah yang
dihadapi. Apabila perbelanjaan
agregat
dikurangi,
tingkat
kegiatan ekonomi akan semakin
menurun,
dan
masalah
pengangguran
semakin
memburuk.
Ini
merupakan
pengorbanan yang terlalu besar
untuk menyeimbangkan neraca
pembayaran.
ISSN 1411-1527
Kebijakan
menekan
pengeluaran dapat dilaksanakan
dengan mengambil salah satu
atau gabungan langkah-langkah
yang dinyatakan di bawah ini :
a)
Menaikkan
pajak
penghasilan.
Pajak
penghasilan yang bertambah
tinggi, akan mengurangi
pendapatan disposebel, dan
pengurangan
tersebut
selanjutnya
akan
menurunkan konsumsi ke
atas barang-barang buatan
dalam negeri dan barang
impor.
b)
Menaikkan tingkat bunga.
Tingkat
bunga
yang
bertambah
tinggi
menyebabkan
beberapa
kegiatan tidak memberikan
keuntungan
yang
memuaskan lagi. Ini akan
membatalkan
niat
para
pengusaha untuk menanam
modal di sektor tersebut.
Investasi akan berkurang,
dan ini selanjutnya akan
mengurangi
pengeluaran
agregat.
c)
Mengurangi
pengeluaran
pemerintah.
Tindakan
pemerintah ini tidak hanya
penting untuk mengatasi
masalah
defisit
dalam
neraca pembayaran, tetapi
juga inflasi yang sedang
dihadapi.
Pengurangan
Lisna Mariana, 68-80
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
dalam pajak penghasilan
dan kenaikan dalam tingkat
bunga tidak akan mencapai
tujuannya, apabila hargaharga
terus
meningkat.
Untuk mengekang kenaikan
harga-harga,
pengurangan
dalam
perbelanjaan
pemerintah adalah sangat
penting peranannya. Pada
waktu yang sama, tujuan
untuk
menyeimbangkan
neraca pembayaran akan
lebih mudah mencapainya.
Upaya untuk meningkatkan
ekspor,
dapat
ditempuh
kebijakan-kebijakan
sebagai
berikut :
ƒ
Menciptakan
perangsangperangsang ekspor. Tindakan
ini
dapat
dilaksanakan
dengan cara melaksanakan
langkah-langkah
yang
menyebabkan
kegiatan
ekspor lebih menguntungkan
daripada masa sebelumnya.
Menciptakan kestabilan atas
upah dan harga merupakan
salah satu usaha penting
untuk mencapai tujuan ini.
Kesuksesan kegiatan ekspor
tergantung pada kemampuan
barang-barang dalam negeri
untuk bersaing di pasaran
luar negeri. Salah satu faktor
yang menentukan daya saing
tersebut
adalah
ongkos
produksi yang rendah dan
Lisna Mariana, 68-80
73
harga penjualan yang stabil.
Keadaan ini dapat diciptakan
apabila terdapat kestabilan
harga-harga dan upah.
ƒ
Melakukan
devaluasi.
Maksud dari tindakan ini
adalah untuk menaikkan
daya
persaingan
barang
dalam
negeri.
Devaluasi
menyebabkan harga ekspor
bertambah murah dan impor
bertambah
mahal.
Oleh
sebab itu, devaluasi akan
menambah
ekspor
dan
mengurangi impor.
Disamping
upaya
meningkatkan ekspor, dapat
pula
dilakukan
dengan
mengadakan penghambat impor.
Yang diartikan dengan penghambat impor atau import
barriers adalah langkah-langkah
pemerintah dalam perpajakan
atau peraturan-peraturan impor
yang
mengurangi
kebebasan
perdagangan
luar
negeri.
Penghambat impor biasanya
dibedakan dalam dua jenis:
penghambat
tarif
dan
penghambat
bukan
tarif.
Penghambat tarif adalah usaha
mengurangi impor dengan mengenakan/memungut pajak atas
barang-barang
yang
diimpor.
Sedangkan penghambat bukan
tarif adalah peraturan-peraturan
yang
mengurangi
kebebasan
ISSN 1411-1527
74
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
memasukkan barang dari luar
negeri.
Tarif dan quota adalah dua
jenis penghambat impor yang
dapat dan lazim digunakan
untuk mengurangi pemasukan
barang-barang yang berasal dari
luar negeri. Tarif adalah pajak
atas
barang-barang
yang
diimpor.
Sedangkan
quota
adalah pembatasan atas jumlah
barang yang boleh diimpor. Tarif
merupakan jenis penghambat
impor yang paling banyak
digunakan, dan ini disebabkan
karena
tarif
bukan
saja
merupakan alat yang lebih baik
untuk memberi perlindungan
(proteksi) kepada industri di
dalam negeri, tetapi juga karena
ia dapat digunakan sebagai alat
untuk menambah pendapatan
pemerintah dari perpajakan. Di
banyak negara berkembang,
pajak impor merupakan salah
satu sumber terpenting dari
pendapatan pemerintah.
Pada umumnya, tarif yang
digunakan
sesuatu
negara
adalah bersifat ad volarem, yaitu
pajak impor yang nilainya
ditentukan dalam persentasi
dari nilai barang yang diimpor.
Dengan mudah dapat dilihat,
bahwa tarif akan menaikkan
harga barang impor. Akibat ini
berbeda dengan akibat yang
ditimbulkan oleh quota. Apabila
ISSN 1411-1527
barang impor yang dihambat
pemasukannya
dengan
menggunakan
quota,
permintaannya tidak berlebihlebihan, quota impor tidak akan
menaikkan
harga
barang
tersebut.
Quota biasanya digunakan di
negara-negara yang mempunyai
valuta asing yang terbatas. Oleh
sebab itu, negara tersebut harus
menggunakannya
secara
berhemat. Tujuan ini antara lain
dapat
dicapai
dengan
menentukan
quota
untuk
mengimpor
barang-barang
tertentu. Di negara-negara maju,
quota adakalanya digunakan
sebagai tindakan tambahan,
apabila tarif tidak berhasil
membatasi impor barang-barang
tertentu. Apabila sesuatu barang
impor mempunyai mutu yang
jauh lebih baik daripada yang
dihasilkan di dalam negeri, tarif
yang tinggi belum tentu mampu
membatasi
pengimporannya.
Pembatasan
impor
dengan
menggunakan
quota
akan
mengatasi masalah tersebut.
(Sadono Sukirno, 1995).
NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
Perkembangan
neraca
pembayaran Indonesia sangat
dipengaruhi
oleh
besarnya
neraca
perdagangan,
yang
perubahannya dapat dilihat dari
Lisna Mariana, 68-80
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
peranan ekspor dan impor.
Ekspor non migas semakin
berperan dalam perekonomian
Indonesia menggantikan posisi
ekspor minyak dan gas, yang
secara
mengesankan
sangat
menguntungkan perekonomian
nasional.
Perkembangan
ini
mendorong
keberhasilan
perekonomian Indonesia dalam
mempertahankan pertumbuhan
ekonomi dalam beberapa tahun
terakhir,
dan
memberikan
pengaruh yang positif bagi
perkembangan
neraca
pembayaran Indonesia. Sampai
menjelang Pelita VII, ekspor
Indonesia
menunjukkan
perkembangan
yang tinggi,
namun dibarengi pula dengan
pengeluaran jasa-jasa yang lebih
tinggi, sehingga mengakibatkan
neraca
transaksi
berjalan
Indonesia mengalami defisit.
Perkembangan
neraca
perdagangan dan neraca jasajasa
neto
secara
langsung
mempengaruhi neraca transaksi
berjalan.
Untuk mengendalikan defisit
transaksi berjalan, diimbangi
dengan pinjaman luar negeri.
Dimana pinjaman luar negeri
terus diupayakan sesuai dengan
prioritas pembangunan guna
menjaga perekonomian Indonesia dan perdagangan luar
negeri.
Lisna Mariana, 68-80
75
Ekspor
Pemerintah terus berupaya
meningkatkan devisa negara
terutama melalui ekspor, untuk
itu
berbagai
kebijakan
deregulasi
telah
banyak
dilaksanakan. Pokok kebijakan
di bidang ekspor, diarahkan
untuk
terus
dapat
meningkatkan devisa dengan
cara memperluas hasil ekspor,
baik
dengan
meningkatkan
keragaman komoditi ekspor,
maupum memperluas negara
tujuan ekspor, dan yang lebih
penting, meningkatkan standar
mutu produk dalam negeri,
sehingga dapat bersaing di pasar
dunia.
Dari serangkaian kebijakan
yang telah dikeluarkan telah
mampu mendorong peningkatan
ekspor Indonesia. Pada tahun
1994/1995
total
ekspor
Indonesia telah mencapai US $
42.161 juta dan pada tahun
1995/1996 meningkat menjadi
US $ 47.754 juta atau naik
sebesar 13,27 persen. Begitu
pula pada tahun 1996/1997
meningkat hanya 8,97 persen
atau sebesar US $ 52.038 juta
dibandingkan dengan tahun
sebelumnya.
Realisasi
total
ekspor Indonesia pada tahun
1997/1998
diperkirakan
mencapai US $ 54.695 juta atau
naik 4,93 persen. Dalam tahun
ISSN 1411-1527
76
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
sangat berarti terhadap nilai
anggaran 1998/1999 diperkiraekspor. Selama dua periode
kan ekspor secara keseluruhan
GAMBAR total
1.
EKSPOR DAN
IMPOR US
INDONESIA,
1994/1995-1998/1999
yaitu
tahun 1995/1996 dan
akan meningkat
sebesar
$
(JUTA
DOLAR
AS)
1996/1997 besarnya peranan
59.484 juta atau naik 8,93
esektor non migas bagi ekspor
persen, meliputi ekspor migas
Indonesia
masing-masing
diperkirakan menurun menjadi
sebesar 75,50 persen dan 77,80
US1994/95
$ 10.232 juta atau turun
persen. Pada tahun anggaran
sebesar 7,14 persen dan non
1998/1999 ekspor non migas
migas diperkirakan meningkat
1995/96
diperkirakan kembali meningkat
menjadi US $ 49.252 juta atau
mencapai US $ 49.252 juta.
naik sebesar 13,00 persen.
Dengan
diberlakukannya
Walaupun
total
ekspor
1996/97
perdagangan
bebas
antar negara
Indonesia
setiap
tahun
di kawasan ASEAN (AFTA) tahun
meningkat,
namun
tidak
2003, maka ekspor non migas
1997/98 halnya dengan ekspor
demikian
Indonesia ke kawasan tersebut
migas,
yang
cenderung
akan meningkat. Oleh karena
menurun,
mulai
tahun
1998/99
itu untuk tahun anggaran
1996/1997.
Hal ini disebabkan
1998/1999 ekspor non migas
oleh
berkurangnya
ekspor
diperkirakan
meningkat
minyak bumi yang disebabkan 40000
44000 48000 52000 56000 60000
mencapai
Us
$
49.252
juta atau
oleh melemahnya harga minyak
naik sebesar 13,00 persen.
di pasar dunia, dan terbatasnya
Ekspor
(f.o.b)
produksi dalam negeri,
sehingga
mempengaruhi
nilai
ekspor
migas
secara
keseluruhan.
Sebaliknya, nilai ekspor non
migas setiap tahunnya terus
meningkat.
Perkembangan
ekspor non migas di Indonesia
dari tahun ke tahun makin
berperan dalam perekonomian,
menggantikan
posisi
ekspor
migas dan menjadi andalan
dalam
pemasukan
devisa
negara.
Impor (f.o.b)
Ditinjau
dari
besarnya
kontribusi antar sektor,maka
peranan sektor non migas
ISSN 1411-1527
Lisna Mariana, 68-80
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
Impor
Perkembangan
impor
Indonesia tidak terlepas dari
pengaruh kekuatan permintaan
dalam negeri atas barangbarang konsumsi dan impor
atas bahan baku/penolong, dan
barang-barnag
modal
yang
pasokannya
belum
dapat
dipenuhi
seluruhnya
oleh
industri dalam negeri. Impor ini
digunakan
untuk
proses
industri dalam negeri dan
industri barang-barang ekspor.
Kebijakan di bidang impor,
diarahkan untuk mendukung
dan mendorong pertumbuhan
industri di dalam negeri, dan
industri
yang
berorientasi
ekspor. Kebijakan ini selalu
disesuaikan dari tahun ke
tahun.
Kebijakan
pemerintah
di
bidang impor selama lima tahun
terakhir,
telah
memberikan
pengaruh
terhadap
perkembangan impor Indonesia.
Perkembangan impor Indonesia
menunjukkan pola yang tidak
jauh
berbeda
dengan
perkembangan ekspornya.
Meskipun termasuk negara
penghasil minyak, Indonesia
masih
melakukan
impor
minyak, walaupun nilai impor
migas
cukup
kecil,
bila
dibandingkan dengan impor non
migas. Tingginya nilai impor non
Lisna Mariana, 68-80
77
migas berkaitan erat dengan
pesatnya pertumbuhan investasi
dan
kegiatan industri dalam
negeri yang berorientasi ekspor,
sehingga
mendorong
meningkatnya
impor
bahan
baku/penolong
dan
barang
modal. Pada tahun 1998/1999
diperkirakan pertumbuhan nilai
impor agak melambat dari tahun
sebelumnya.
Perkiraan
nilai
impor non migas diupayakan
agar dapat dipertahankan pada
pertumbuhan yang relatif kecil
dengan
melalui
kebijakan
pemerintah dalam pengendalian
impor bahan migas.
PERAN PARIWISATA
Sebagaimana
telah
disebutkan di atas, bahwa
neraca
pembayaran
sangat
ditentukan
oleh
posisi
perdagangan ekspor dan impor,
serta pengeluaran jasa-jasa.
Seperti telah diuraikan pula,
bahwa nilai ekspor ternyata
selalu cenderung berada di
bawah nilai impor. Demikian
pula halnya dengan jasa-jasa
neto Indonesia, setiap tahun
masih mengalami defisit, yang
berarti bahwa sisi pengeluaran
jasa-jasa masih lebih besar
daripada sisi penerimaannya.
Guna mengimbangi pengeluaran
jasa-jasa tersebut, diupayakan
meningkatkan
penerimaan
ISSN 1411-1527
78
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
devisa melalui berbagai sektor
jasa,
di
antaranya
sektor
pariwisata, yang terus didorong
pertumbuhannya.
Berkaitan
dengan itu, langkah-langkah
untuk mengembangkan sektor
pariwisata dan industri-industri
jasa
pendukungnya
terus
dilakukan.
Mengingat
potensinya yang sangat besar
dalam menghasilkan devisa dan
penyediaan
lapangan
kerja,
maka dikembangkan sarana dan
prasarana pariwisata di dalam
negeri, yang sasarannya adalah
meningkatkan
kunjungan
wisatawan
mancanegara
ke
Indonesia dan ekspor jasa non
migas melalui program-program
kepariwisataan, seperti halnya
melakukan promosi di luar
negeri, dan berpartisipasi dalam
acara
kepariwisataan
internasional.
Penerimaan devisa untuk
jasa
diharapkan
meningkat
pesat dari sektor pariwisata dan
penerimaan devisa dari transfer
pendapatan tenaga kerja di luar
negeri. Walaupun pemasukan
devisa dari sektor pariwisata
dan pengiriman tenaga kerja
Indonesia ke luar negeri terus
meningkat, namun pengeluaran
jasa-jasa masih menunjukkan
defisit. Hal tersebut karena
pengeluaran devisa jasa-jasa
masih sangat besar.
ISSN 1411-1527
Dengan demikian makin jelas
peranan dari pariwisata dalam
neraca pembayaran Indonesia.
Dan oleh karena itu, berbagai
upaya
dan
langkah-langkah
konkrit
dilaksanakan
untuk
meningkatkan sektor pariwisata.
Sebagai hasilnya, antara lain
tampak
adanya
jumlah
wisatawan
mancanegara
(wisman)
yang
datang
ke
Indonesia pada tahun 1997
sebanyak 5.185.243 orang atau
meningkat
2,99%
jika
dibandingkan dengan tahun
sebelumnya
yang
hanya
mencapai
5.034.472
orang.
Puncak kedatangan terjadi pada
bulan Agustus, yaitu sebanyak
486.334 orang atau 9,38% dari
jumlah kedatangan pada tahun
1997.
Sedangkan
jumlah
kedatangan yang terkecil terjadi
pada bulan Januari, yang hanya
mencapai 376.848 orang atau
7,27% dari jumlah kedatangan
pada tahun 1997. Sedangkan
untuk tahun 1998, jumlah
wisman
yang
datang
ke
Indonesia melalui 13 pintu
masuk-utama mencapai 3,76
juta orang atau turun sebesar
15,07 persen dibanding jumlah
wisman tahun 1997 sebesar
4,43 juta. Untuk seluruh pintu
masuk (tercatat 71 pintu masuk)
jumlah wisman tahun 1998
mencapai 4,61 juta orang atau
lebih rendah 11,16 persen
Lisna Mariana, 68-80
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
dibandingkan
tahun
1997
sebesar 5,185 juta orang. (BPS,
1999.b.).
Berdasarkan
kebangsaan
wisman paling banyak adalah
berkebangsaan Singapura, yaitu
sebanyak 26,12% dari seluruh
wisman, diikuti oleh bangsa
Jepang dan Malaysia, masingmasing sebesar 12,75% dan
10,53%.
Dengan
diberikannya
fasilitas
bebas
visa
untuk
beberapa negara, maka wisman
yang berkunjung ke Indonesia
lebih
banyak
menggunakan
fasilitas tersebut. Dari 5.185.243
orang wisman yang berkunjung
ke Indonesia, 87,2%-nya atau
4.521.583
orang,
tidak
menggunakan visa, yang terdiri
dari 2.149.966 orang pada
Semester I, dan 2.371.617 orang
pada Semester II.
Jenis
dokumen
yang
digunakan untuk memasuki
wilayah Indonesia yang paling
banyak adalah dengan Bebas
Visa Kunjungan Singkat, yaitu
4.448.508 orang. Sedangkan
yang menggunakan Visa saat
kunjungan sebanyak 71.180
orang.
Jenis
visa
yang
paling
banyak
diberikan
kepada
wisman adalah visa kunjungan
usaha. Dari 663.660 wisman
Lisna Mariana, 68-80
79
yang
datang
ke
Indonesia
dengan
visa
45,47%-nya
menggunakan visa kunjungan
usaha.
Sedangkan
yang
menggunakan
visa
transit
sebanyak 30,78% dari total
wisman.
Moda
angkutan
yang
digunakan oleh wisman untuk
mengunjungi Indonesia masih
didominasi
oleh
angkutan
udara, yaitu sebanyak 60,52%nya dari total. Sedangkan bila
dilihat menurut kebangsaan,
Jepang adalah yang paling
banyak menggunakan moda
angkutan ini, diikuti dengan
wisman yang berkebangsaan
Singapura
dan
Malaysia,
masing-masing 18,66%, 8,84%
dan
7,66%.
Wisatawan
mancanegara
yang
datang
dengan menggunakan angkutan
air
sebanyak
53,22%-nya
berkebangsaan Singapura.
Khusus untuk bulan Juni
1999,
jumlah
wisatawan
mancanegara (wisman) yang
tercatat melalui 13 pintu masuk
mencapai 308.348 orang, atau
naik 2,61 persen dibanding
jumlah wisman bulan Mei 1999
sebesar 300.511 orang. Kegiatan
kampanye
Pemilu
yang
dilanjutkan dengan pelaksanaan
Pemilu tanggal 7 Juni 1999,
ternyata tidak berpengaruh pada
jumlah wisman yang datang ke
ISSN 1411-1527
80
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
Indonesia. Pemilu yang ternyata
dapat berlangsung tertib, lancar
dan aman, telah menambah
keyakinan dan rasa aman
wisman
untuk
datang
ke
Indonesia. Secara kumulatif,
jumlah wisman untuk Semester
I, Januari-Juni 1999 mencapai
1.858,4 ribu orang yang berarti
naik sebesar 10,07 persen
dibanding jumlah wisman untuk
periode yang sama tahun 1998
sebesar 1.688,4 ribu orang.
Bila dilihat menurut masingmasing pintu masuk, persentase
kenaikan
jumlah
wisman
terbesar selama Semester I 1999
terjadi di Mataram 60,73 persen,
diikuti oleh Ngurah Rai-Bali
32,28 persen, dan Batam-Riau
17,00 persen. Naik-turunnya
jumlah wisman yang datang ke
Indonesia sangat terkait dengan
perkembangan sosial, politik
dan keamanan di dalam negeri
dalam arti suhu politik dan
gejolak sosial yang meningkat
dapat menjadi kontra produktif
bagi
jumlah
wisman
yang
berkunjung.
PENUTUP
Dalam rangka pembangunan
nasional, guna meningkatkan
kesejahteraan
rakyat,
pembangunan
kepariwisataan
dilanjutkan dan ditingkatkan
dengan mengembangkan dan
ISSN 1411-1527
mendayagunakan sumber dan
potensi kepariwisataan nasional
menjadi kegiatan ekonomi yang
dapat
diandalkan
untuk
memperbesar
penerimaan
devisa.
Kebijakan
tersebut
memberikan peran yang sangat
besar,
utamanya
dalam
mendukung
upaya
mengeliminasi defisit neraca
pembayaran Indonesia. Untuk
itu, kebijakan makro dalam
kepariwisataan harus sekaligus
dapat
memperluas
dan
meratakan
kesempatan
berusaha dan lapangan kerja,
terutama
bagi
masyarakat
setempat, mendorong pembangunan daerah, serta memperkenalkan alam, nilai dan budaya
bangsa. Dalam pembangunan
kepariwisataan,
tetap
dijaga
terpeliharanya
kepribadian
bangsa, dan kelestarian serta
mutu
lingkungan
hidup.
Pembangunan
kepariwisataan
dilakukan secara menyeluruh
dan terpadu dengan sektorsektor pembangunan lainnya,
serta antara berbagai usaha
kepariwisataan
yang
kecil,
menengah, dan besar agar
saling
menunjang.
Dengan
kebijakan tersebut, diharapkan
kontribusi
sektor
pariwisata
dalam
neraca
pembayaran
Indonesia, semakin besar.
Lisna Mariana, 68-80
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
81
TABEL 1.
PERKEMBANGAN JUMLAH WISMAN MENURUT PINTU MASUK
JANUARI - JUNI 1999
Tahun/Bulan
SoekarnoNgurah Rai
Hatta
1999/
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Jan-Jun 1999
Jan-Jun 1998
Jan-Des 1998
Batam
59.247
108.626
96.232
61.245
105.673
98.131
70.612
121.514
112.141
64.368
110.188
97.710
50.370
112.241
104.391
54.344
124.841
97.583
360.186
683.083
606.188
440.770
516.393
518.111
883.016 1.246.289 1.173.392
Sumber : Badan Pusat Statistik, 1999.b.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik, Statistik
Wisatawan International di
Indonesia 1997, Badan Pusat
Statistik, Jakarta, 1998.
10 Pintu
Masuk
Lainnya
Jumlah
32.706
296.811
41.145
306.194
36.451
340.718
33.548
305.814
33.509
300.511
31.580
308.348
208.939 1.858.396
213.535 1.688.809
461.973 3.764.670
Republik Indonesia, Ketetapan
Majelis
Permusyawaratan
Rakyat No. II/MPR/1998
tentang Garis-garis Besar
Haluan Negara, Jakarta,
1998.
________________,
Laporan
Perekonomian
Indonesia
1998, Badan Pusat Statistik,
Jakarta, 1999.a.
________________, Perkembangan
Ekspor,
Impor
dan
Pariwisata,
Badan
Pusat
Statistik, Jakarta, 1999.b.
Dornbusch,
Rudiger,
and
Stanley
Fischer,
Macro
Economics, Sixth Edition,
McGraw-Hill, Inc., New York,
1994.
Lisna Mariana, 68-80
ISSN 1411-1527
82
J. Ilm. Pariwisata, Vol. 4, No. 1. Agustus 1999
Sadono Sukirno, Pengantar Teori
Makroekonomi, Edisi Kedua,
RajaGrafindo
Persada,
Jakarta, 1995.
***ksm***
ISSN 1411-1527
Lisna Mariana, 68-80
Download