polarimeter - Blog UB - Universitas Brawijaya

advertisement
LAPORAN ANALISIS MATERIAL
(POLARIMETER)
Oleh :
Nama
: Hikmatud Daroini
NIM
: 115090307111007
Kelompok
: A2
Tanggal
: 29 November 2013
LABORATORIUM FISIKA MATERIAL
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang terdiri dari getaran elektrik dan
getran magnetik yang saling tegak lurus. Sinar biasa secara umum dapat dikatakan gelombang
elektromagnit yang vektor-vektor medan listrik dan medan magnitnya bergetar ke semua arah
pada bidang tegak lurus arah rambatnya dan disebut sinar tak terpolarisasi. Interaksi cahaya
tak terpolarisasi dengan suatu bahan dapat diamati dengan polarimeter. Hal yang bisa diamati
dengan polarimeter ini antara lain adalah rotasi optik, konsentrasi, dan komposisi isomer
optis.
Polarisasi merupakan peristiwa penyerapan arah bidang getar dari gelombang. Gejala
polarisasi hanya dapat dialami oleh gelombang transversal saja, sedangkan gelombang
longitudinal tidak mengalami gejala polarisasi. Cahaya dinyatakan sebagai gelombang
elektromagnetik yang transversal (tegak lurus dengan arah rambatnya). Cahaya umumnya
mempunyai bermacam-macam panjang gelombang, tiap-tiap warna cahaya disebut sebagai
cahaya monokromatik. Cahaya monokromatik ini dapat dihasilkan oleh suatu alat yang
disebut polarimeter dengan menggunakan sodium lamp (lampu natrium) dimana gas natrium
pijar akan menghasilkan lampu warna kuning.
Pada polarimeter terdapat polarisator dan analisator. Polarimeter adalah polaroid yang
dapat mempolarisasi cahaya, sedangkan analisator adalah polaroid yang dapat menganalisa
atau mempolarisasikan cahaya.
Polarimeter dapat digunakan untuk mengukur berbagai sifat optis suatu material,
termasuk bias-ganda linier, bias-ganda lingkar (juga mengenal sebagai putar optis atau
dispersi putar berhubung dengan mata), dikroisme linier, dikroisme lingkar dan menyebar
(Anonimouse, 2011).
1.2 Tujuan
Tujuan dari percobaan polariimeter ini adalah menentuka sudut putar jenis (rotasi
spesifik) larutan optik aktif dengan menggunakan polarimeter.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Larutan Optik Aktif
Zat optik aktif adalah zat yang bersifat dapat memutar bidang polarisasi cahaya. Salah
satu zat optik aktif adalah larutan gula. Larutan gula dapat memutar bidang polarisasi cahaya
sehingga terjadi pergeseran sudut polarisasi. Semakin besar konsentrasi gula dalam larutan
semaikn besar sudut putar sumbu polarisasi. Larutan gula yang terkandung dalam darah
manusia juga merupakan zat optik aktif yang dapat memutar sumbu polarisasi (Nurafik et al,
2010).
Aktivitas optik adalah kemampuan zat tertentu untuk memutar bidang cahaya
terpolarisasi bidang pada saat cahaya melintas melalui kristal, zat cair atau larutan. Hal ini
terjadi bila molekul zat tidak simetris, sehingga molekul-molekul tersebut dapat memiliki dua
bentuk srtuktur yang berbeda, masing-masing merupakan pencerminan yang lain. Kedua
bentuk tadi adalah isomer optik (optical isomers) dan enansiomer (enantiomers). Keberadaan
bentuk ini juga dikenal sebagai enansiomorfisme (enantmorphism) bayangan pencerminan
merupakan enansiomorf (enantiomorphs). Salah satu bentuk akan memutar cahaya pada satu
arah, sedangkan bentuk yang lain memutar dengan jarak yang sama namun dengan arah yang
berlainan. Kedua bentuk yang mungkin ini diterangkan sebagai putar kanan dan putar kiri
menurut arah perputaran, dan akhiran –d dan –l masing-masing digunakan untuk
menunjukkan isomer, seperti pada asam tartar-d danasam tartar-l (Jenkins, 1957).
Molekul yang menunjukkan aktivitas optik tidak memiliki bidang simetri. Hal seperti
ini yang paling umum adalah dalam senyawa organik dengan sebuah atom karbon terhubung
pada empat kelompok yang berbeda. Atom jenis ini disebut pusat ulin (chiral centre). Molekul
tak simetri tetapi menunjukkan aktivitas optik dapat pula ditemukan dalam senyawa
anorganik. Misalnya, suatu senyawa kompleks oktahedral, dengan ion pusat berkoordinasi
dengan delapan ligan yang berbeda dapat bersifat optis aktif. Banyak senyawa ditemukan di
alam menunjukkan isomerisme optik dan umumnya hanya satu isomer yang ada di alam.
Misalnya, glukosa ditemukan dalam bentuk putar kanan (Issacs, 1994).
Beberapa zat kimia mempunyai sifat aktif secara optik (Optically Active) atau sering
disebut sebagai zat optik aktif. Ketika cahaya terpolarisasi melewati zat atau laruan optik
aktif, cahaya ini akan diputar ke kiri (berlawaan arah jarum jam) atau ke kanan (searah jarum
jam). Besarnya cahaya yang diputar ini disebut sebagai sudut putar (Anonimouse, 2013).
Salah satu zat atau larutan optik aktif adalah gula atau sukosa. Sukrosa tersusun dari
molekul glukosa dan fruktosa dengan rumus struktur sebagai berikut:
Gambar 2.1 Struktur Sukrosa (Lola, 2013).
Sifat-sifat sukrosa adalah:
1. Bersifat optis aktif putar kanan
2. Tidak dapat mereduksi larutan fehling dan tollens
3. Dapat mengalami hidrolisis menghasilkan glukosa dan fruktosa dengan enzim
invartase. Pada hidrolisis ini disertai inversi, yaitu perubahan arah putar bidang
polarisasi cahaya dari arah kanan ke kiri (sehingga sukrosa disebut gula invert)
4. Larut dalam air
5. Pada pemanasan yang kuat menghasilkan karamel.
2.2 Polarimeter
Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran optik
yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam larutan.
Polarimeter ini merupakan alat yang didesain khusus untuk mempolarisasi cahaya oleh suatu
senyawa optis aktif. Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang
polarisasi, sedangkan yang dimaksud dengan polarisasi adalah pembatasan arah getaran
(vibrasi) dalam sinar atau radiasi elektromagnetik yang lain (Anonimouse, 2010).
Polarimeter adalah dasar ilmiah alat yang digunakan untuk melakukan pengukuran ini,
walaupun ini istilah yang jarang digunakan untuk menjelaskan sebuah polarimetry proses
yang dilakukan oleh komputer, seperti dilakukan di polarimetric sintetis kecepatan rana radar.
Polarimetri film yang tipis dan permukaan yang umum dikenal sebagai ellipsometry
(Anonimouse, 2010).
Polarimeter menjadi penafsiran dan pengukuran dari
polarisasi gelombang
transversal, paling khususnya gelombang elektromagnetis, seperti gelombang cahaya atau
radio. secara khas Polarimeter dilaksanakan pada atas gelombang elektromagnetis yang sudah
menempuh perjalanan melalui/sampai atau telah dicerminkan, membelokkan, atau diffracted
oleh beberapa material dalam rangka menandai obyek itu (Anonimouse, 2010).
Dalam alat Polarimeter ini cahaya monokromatik dihasilkan dengan menggunakan
sodium lamp (lampu natrium) dimana gas natrium pijar akan menghasilkan lampu warna
kuning. Cahaya monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak sekali.
Bila dikhayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang datar. Bidang getar
yang banyak sekali ini secara mekanik dapat dipisahkan menjadi dua bidang getar yang saling
tegak lurus (Anonimouse, 2010).
Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran optik
yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam larutan. Suatu
senyawa optis aktif, dapat diketahui besarnya polarisasi cahaya maka besarnya perputaran
bergantung pada beberapa faktor yakni : struktur molekul, temperatur, panjang gelombang,
banyaknya molekul pada jalan cahaya, jenis zat, ketebalan, konsentrasi dan juga pelarut
(Anonimouse, 2010).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan polarimeter adalah timbangan digital, gelas
ukur, pengaduk larutan, tabung pengamat polarisasi, lampu D natrium 589,3 nm dan
polarimeter. Sedangkan bahan yang digunakan adalah gula halus dan aquades.
3.2 Tata Laksana Percobaan
Percobaan ini dilakukan dengan konsentrasi gula yang berbeda-beda, oleh karena itu
hal pertama yang dilakukan adalah sejumlah massa gula ditimbang sesuai yang diperlukan
yakni 3 gr, 6 gr, dan 9 gr. Selanjutnya gula tersebut dilarutkan dengan aquades sebanyak 50
ml untuk dibuat larutan gula. Laritan yang sudah jadi kemudian dimasukkan ke dalam tabung
pengamat. Diusahakan agar tidak terdapat gelembung udara dalam tabung tersebut. Tabung
ini kemudian diletakkan dalam polarimeter dan diamati pola gelap terang seperti pada gambar
3.1 (setengah gelap dan setengah terang) dengan keadaan lampu yang menyala pada ujung
polarisator. Sudut terbentuknya pola gelap terang diamati sebanyak dua kali, jadi setelah
menemukan pola pada sudut pertama pemutaran, analisator diteruskan dalam arah yang sama
sehingga diperoleh pola yang sama kembali. Sudut terbentuknya pola tersebut kemudian
dicatat. Hal yang sama dilakukan untuk sampel 6 gr dan 9gr.
3.3 Gambar Rangkaian Percobaan
Gambar 3.1 rangkaian alat polarimeter
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Percobaan
Panjang kolom larutan = l = 9,7 cm = 0,97 dm
[𝜶]𝒕𝝀
Sudut Terbentuk
Massa gula
Volume
Gelap Terang
`1
2
1
2
3 gr
50 ml
2,55°
180°
0,044° dm2 /gr
3,093° dm2 /gr
6 gr
50 ml
191°
12,36°
1,640° dm2 /gr
0,106° dm2 /gr
9 gr
50 ml
14,42°
195°
0,082° dm2 /gr
1,117° dm2 /gr
1 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 = 1𝑑𝑚3
1 𝑚𝑙 = 0,001 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 = 0,001 𝑑𝑚3
4.2 Perhitungan
a) Massa 3 gr Gula
Sudut 1
𝑚
𝑐=
𝑣
3 𝑔𝑟
𝑐=
50 𝑚𝑙
𝑔𝑟
𝑐 = 0,06
𝑚𝑙
𝑐 = 0,06
𝑔𝑟
0,001 𝑑𝑚3
𝑐 = 60 𝑔𝑟/𝑑𝑚3
[𝛼 ]𝑡𝜆 =
𝛼
𝑐𝑙
[𝛼]𝑡𝜆 =
2,55°
𝑔𝑟
60
× 0,97𝑑𝑚
𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 = 0,044° dm2 /gr
Sudut 2
𝑚
𝑐=
𝑣
3 𝑔𝑟
50 𝑚𝑙
𝑔𝑟
𝑐 = 0,06
𝑚𝑙
𝑐=
𝑐 = 0,06
𝑔𝑟
0,001 𝑑𝑚3
𝑐 = 60 𝑔𝑟/𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 =
[𝛼]𝑡𝜆 =
𝛼
𝑐𝑙
180°
60
𝑔𝑟
× 0,97𝑑𝑚
𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 = 3,093° dm2 /gr
b) Massa 6 gr Gula
Sudut 1
𝑚
𝑐=
𝑣
6 𝑔𝑟
𝑐=
50 𝑚𝑙
𝑔𝑟
𝑐 = 0,12
𝑚𝑙
𝑐 = 0,12
𝑔𝑟
0,001 𝑑𝑚3
𝑐 = 120 𝑔𝑟/𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 =
𝛼
𝑐𝑙
[𝛼]𝑡𝜆 =
191°
𝑔𝑟
120
× 0,97𝑑𝑚
𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 = 1,640° dm2 /gr
Sudut 2
𝑚
𝑐=
𝑣
6 𝑔𝑟
𝑐=
50 𝑚𝑙
𝑔𝑟
𝑐 = 0,12
𝑚𝑙
𝑐 = 0,12
𝑔𝑟
0,001 𝑑𝑚3
𝑐 = 120 𝑔𝑟/𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 =
𝛼
𝑐𝑙
[𝛼]𝑡𝜆 =
12,36°
𝑔𝑟
120
× 0,97𝑑𝑚
𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 = 0,106° dm2 /gr
c) Massa 9 gr Gula
Sudut 1
𝑚
𝑐=
𝑣
9 𝑔𝑟
𝑐=
50 𝑚𝑙
𝑔𝑟
𝑐 = 0,18
𝑚𝑙
𝑐 = 0,018
𝑔𝑟
0,001 𝑑𝑚3
𝑐 = 180 𝑔𝑟/𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 =
𝛼
𝑐𝑙
[𝛼]𝑡𝜆 =
14,42°
𝑔𝑟
180
× 0,97𝑑𝑚
𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 = 0,082° dm2 /gr
Sudut 2
𝑚
𝑐=
𝑣
9 𝑔𝑟
𝑐=
50 𝑚𝑙
𝑔𝑟
𝑐 = 0,18
𝑚𝑙
𝑐 = 0,18
𝑔𝑟
0,001 𝑑𝑚3
𝑐 = 180 𝑔𝑟/𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 =
𝛼
𝑐𝑙
[𝛼]𝑡𝜆 =
195°
𝑔𝑟
180
× 0,97𝑑𝑚
𝑑𝑚3
[𝛼]𝑡𝜆 = 1,117° dm2 /gr
4.3 Pembahasan
4.3.1 Analisa Prosedur
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan polarimeter adalah timbangan digital, yang
berfungsi untuk menimbang massa gula dengan sangat teliti, gelas ukur digunakan untuk
mengukur volume air yang digunakan untuk melarutkan gula, pengaduk larutan digunakan
untuk mengaduk larutan gula agar menjadi larutan solud solution, tabung pengamat polarisasi
digunakan untuk mengamati pola gelap terang yang terjadi pada larutan gula, lampu D
natrium 589,3 nm dan polarimeter digunakan sebagai alat yang mengamati hasil pola gelap
terang dari larutan gula. Sedangkan bahan yang digunakan adalah gula halus sebagai larutan
optik aktif dan aquades sebagai pelarut.
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan konsentrasi gula yang berbeda-beda
hal, oleh karena itu hal pertama yang dilakukan adalah sejumlah massa gula ditimbang sesuai
yang diperlukan yakni 3 gr, 6 gr, dan 9 gr hal ini bertujuan untuk mendapatkan keakuratan
massa dengan menggunakan timbangan digital. Selanjutnya gula tersebut dilarutkan dengan
aquades sebanyak 50 ml untuk dibuat larutan gula. Larutan yang sudah jadi kemudian
dimasukkan ke dalam tabung pengamat hal agar pola gelap terang yang terjadi pada larutan
gula segera dapat diamati. Diusahakan agar tidak terdapat gelembung udara dalam tabung
tersebut, hal ini dikarenakan gelembung udara tersebut membentuk cekungan pada larutan
sehingga dapat mempengaruhi intensitas cahaya yang terpolarisasi, akibatnya berpengaruh
pada besarnya sudut putar suatu sampel. Tabung ini kemudian diletakkan dalam polarimeter
dan diamati pola gelap terang seperti pada gambar 3.1 (setengah gelap dan setengah terang)
dengan keadaan lampu yang menyala pada ujung polarisator. Sudut terbentuknya pola gelap
terang diamati sebanyak dua kali, jadi setelah menemukan pola pada sudut pertama
pemutaran, analisator diteruskan dalam arah yang sama sehingga diperoleh pola yang sama
kembali. Sudut terbentuknya pola tersebut kemudian dicatat. Hal yang sama dilakukan untuk
sampel 6 gr dan 9gr.
4.3.2 Analisa Hasil
Dari data perhitungan yang didapatkan, diketahui bahwa ketika sudut rotasi optis yang
teramati besar, maka sudut putar jenis larutan optik aktif (rotasi spesifik) juga akan besar. Dan
diketahui bahwa sudut rotasi spesifik paling besar terjadi ketika sudut rotasi optik pada posisi
180°.
Besarnya konsentrasi yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 6%, 12% dan 18%.
Data yang didapatkan menunjukkan bahwa besar konsentrasi gula mempengaruhi sudut putar
sumbu polarisasi. Semakin besar konsentrasi gula, semakin besar pula sudut putar sumbu
polarisasinya. Hal ini menunjukkan bahwa besar konsentrasi gula sebanding dengan sudut
putar sumbu polarisasi.
Dalam percobaan polarimeter, didapatkan beberapa pola dari larutan gula dengan
perbedaan konsentrasi. Pola yang terjadi terdapat warna gelap kebanyakan di daerah kanan
pada beberapa kali pemutaran.
Aplikasi polarimeter seperti, Darah manusia mengandung zat gula terlarut dan
merupakan zat optis aktif yang mempunyai sifat dapat memutar memutar bidang getar cahaya
yang melewatinya. Dalam penelitian ini dilakukan penelitian tentang pengaruh kadar gula
dalam darah terhadap sudut putar sumbu polarisasi. Pengukuran kadar gula darah dilakukan
dengan menggunakan glucosemeter NESCO, sedangkan pengukuran sudut putar sumbu
polarisasi dilakukan dengan alat polarimeter non-invasive. Dalam pengukuran sudut putar
sumbu polarisasi, digunakan sumber cahaya laser dengan panjang gelombang 645 nm dan
daya 5 mW dan LDR sebagai sensor penerima gelombang cahaya.
Sudut putar jenis ialah besarnya perputaran oleh 1,00 gram zat dalam 1,00 mL larutan
yang barada dalam tabung dengan panjang jalan cahaya 1,00 dm, pada temperatur dan
panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang yang lazim digunakan ialah 589,3 nm,
dimana 1 nm = 10-9m.
Sudut putar jenis untuk suatu senyawa (misalnya pada 25o C) Macam macam
polarisasi antara lain, polarisasi dengan absorpsi selektif, polarisasi akibat pemantulan, dan
polarisasi akibat pembiasan ganda.
Prinsip kerja alat polarimeter adalah sebagai berikut: Sinar yang datang dari sumber
cahaya (misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui prisma terpolarisasi (polarizer),
kemudian diteruskan ke sel yang berisi larutan. Dan akhirnya menuju prisma terpolarisasi
kedua (analizer). Polarizer tidak dapat diputar-putar sedangkan analizer dapat diatur atau di
putar sesuai keinginan.
Bila polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang polarisasinya juga tega lurus),
maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui medium diantara prisma polarisasi. Pristiwa
ini disebut tidak optis aktif. Jika zat yang bersifat optis aktif ditempatkan pada sel dan
ditempatkan diantara prisma terpolarisasi maka sinar akan ditransmisikan.
Putaran optik adalah sudut yang dilalui analizer ketika diputar dari posisi silang ke
posisi baru yang intensitasnya semakin berkurang hingga nol.Untuk menentukan posisi yang
tepat sulit dilakukan, karena itu digunakan apa yang disebut “setengah bayangan” (bayangan
redup). Untuk mancapai kondisi ini, polarizer diatur sedemikian rupa, sehingga setengah
bidang polarisasi membentuk sudut sekecil mungkin dengan setengah bidang polarisasi
lainnya. Akibatnya memberikan pemadaman pada kedua sisi lain, sedangkan ditengah terang.
Bila analizer diputar terus setengah dari medan menjadi lebih terang dan yang lainnya
redup. Posisi putaran diantara terjadinya pemadaman dan terang tersebut, adalah posisi yang
tepat dimana pada saat itu intensitas kedua medan sama. Jika zat yang bersifat Optis aktif
ditempatkan diantara polarizer dan analizer maka bidang polarisasi akan berputar sehingga
posisi menjadi berubah. Untuk mengembalikan ke posisi semula, analizer dapat diputar
sebesar sudut putaran dari sampel.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV prinsip kerja Polarimeter adalah:
Tabung polarimeter harus diisi sedemikian agar tidak terbentuk atau meninggalkan
gelembung udara yang mengganggu berkas cahaya yang lewat. Gangguan dari gelembung
dapat dikurangi dengan tabung yang lubangnya diperbesar pada salah satu ujungnya. Pada
tabung dengan lubang yang seragam, misalnya tabung semi mikro, perlu hati-hati pada waktu
pengisian. Dianjurkan agar menggunakan tabung yang bukan logam pada pengujian zat yang
korosif atau larutan zat pada pelarut yang korosif.
Pada waktu menutup tabung yang mempunyai keeping ujung yang dapat dilepas serta
dilengkapi dengan cincin karet dan penutup, maka penutup ini harus dikencangkan
secukupnya saja, agar tidak ada kebocoran di keping ujung dan badan tabung. Tekanan
berlebihan pada keeping ujung dapat menimbulkan keregangan yang mengakibatkan
gangguan terhadap pengukuran. Pada penetapan rotasi jenis suatu zat dengan daya rotasi
lemah, sebaIknya tutup dilonggarkan dan dikencangkan kembali di antara pembacaan yang
berturut-turut, baik pada pengukuran rotasi maupun pada pembacaan titik nol. Perbedaan yang
ditimbulkan keregangan keping ujung umumnya akan tampak, serta dapat dilakukan
pengaturan yang tepat untuk menghilangkan penyebabnya (Lalelorang, 2012).
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Larutan gula memiliki sifat optis aktif sehingga dapat memutar arah bidang polarisasi.
Prinsip kerja polarimeter adalah meneruskan sinar yang mempunyai arah getar yang sama
dengan arah polarisator. Sudut putar jenis bergantung pada konsentrasi dan jenis larutannya.
Pada saat sudut rotasi optis yang teramati besar, maka sudut putar jenis larutan optik aktif
(rotasi spesifik) juga akan besar. Konsentrasi gula mempengaruhi sudut putar sumbu
polarisasi. Semakin besar konsentrasi gula, semakin besar pula sudut putar sumbu
polarisasinya.
5.2 SARAN
Sebaiknya praktikan menggunakan alat bantu melihat ketika tidak bisa membaca skala
pada polarimeter. Dan sebaiknya sebelum praktikum dimulai, praktikan harus sudah mengerti
jalannya percobaan yang akan dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimouse, 2010.
http://oerleebook.files.wordpress.com/2009/10/polarimeter-oerlee.pdf.
Diakses tanggal 4 Desenber 2013.
Anonimouse, 2013. Polarimeter. http://en.wikipedia.org/wiki/Polarimeter. Diakses tanggal 5
Desember 2013.
Issacs, A. 1994. Kamus Lengkap Fisika. Jakarta. Erlangga.
Jenkins, F.A. 1957.Fundamentals of Optics.USA.McGraw-Hill,Inc
Lalelorang,
Natalia.
2012.
POLARIMETER
2.
farmasi.blogspot.com/2012/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html.
http://polarimeterDiakses
tanggal
6
Desember 2013
Lola,
Noviani.
2013.
KIMIA
ORGANIK.
http://organiksmakma3b19.blogspot.com/2013/03/karbohidrat.html. Diakses tanggal 6
Desember 2013.
Nurafik et al. 2010. Pengaruh Kadar Gula Dalam Darah Manusia Terhadap Sudut Putar
Sumbu
Polarisasi
Menggunakan
Alat
Polarmeter
Non-Invasive.
http://jurnal-
online.um.ac.id/data/artikel/artikel152D020AC88E079B1DD9C1CC3ED1A020.pdf.
diakses tanggal 5 Desember 2013.
Download