BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka Kajian pustaka merupakan kajian secara luas mengenai konsep dan kajian hasil penelitian sebelumnya yang digunakan dalam mendukung penelitian yang dilakukan dengan pembahasan variabel-variabel yang dibahas dalam penelitian ini. 2.1.1 Manajemen Manajemen banyak dikatakan sebagai ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Peranan manajemen sangat besar terhadap keberhasilan suatu usaha perusahaan, dewasa ini manajemen tumbuh berkembang menjadi salah satu ilmu yang penting dan mutlak dibutuhkan oleh setiap perusahaan. Semakin besar perusahaan, akan semakin besar pula jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akibatnya peranan manajemen akan bertambah besar pula. Manajemen adalah suatu keistimewaan dalam dalam menangani masalah waktu dan hubungan manusia ketika hal tersebut muncul dalam organisasi atau perusahaan. Banyak sekali para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda, tetapi pada prinsipmya mempunyai maksud dan tujuan yang sama. Untuk lebih jelasnya berikut ini dikemukakan beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian manajemen, diantaranya adalah sebagai berikut : 16 17 Manulang (2002 : 15) definisi manajemen adalah : “Manajemen mengandung 3 (tiga) pengertian yaitu pertama manajemen sebagai proses, kedua manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen, dan yang ketiga adalah manajemen sebagai ilmu.” Stonner dalam Sindoro (2006 : 8) definisi manajemen adalah : “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.” Terry dalam Wren (2005:399) mendefinisikan manajemen sebagai berikut : “The activity which plans, organizias and the operation of the basic element of men, Material, machines, methods, money and markets, providing direction and coordination, and giving leadership to human efforts, so as to achieve the sought objectives of the enterprise.” Berdasarkan definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian 2. Manajemen adalah perpaduan antara ilmu pengetahuan dan seni 3. Manajemen selalu dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Bila dilihat dari definisi di atas jelaslah bawa manajemen adalah merupakan suatu proses pengarahan dari pemberian fasilitas-fasilitas pada pekerjaan orang orang yang diorganisasikan di dalam organisasi tersebut. Manajemen juga merupakan kegiatan yang dilandasi ilmu dan seni untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan bantuan orang lain di dalam pencapaian tujuan organisasi atau kelompok, dan juga merupakan suatu proses 18 rangkaian kegiatan agar pelaksanaan pekerjaan dapat dapat berlangsung secara efektif dan efisisen. 2.1.2 Manajemen Pemasaran Dalam menjalankan proses kegiatan perusahaan salah satu aspek terpenting adalah pemasaran. Manajemen pemasaran adalah suatu proses kegiatan oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan nya agar berkembang dan memperoleh laba. Proses pemasaran itu dimulai jauh sebelum barang-barang diproduksi, dan tidak berakhir dengan penjualan. Kegiatan pemasaran perusahaan harus juga memberikan kepuasan kepada konsumen jika menginginkan usahanya berjalan terus. Manajemen pemasaran menurut Kotler dan Keller (2012:11) sebagai berikut : “Marketing management is the analysis, planning, implementation, and control of pograms designed o create, build, and maintain beneficial exchanges with target buyer for purpose of achieving organizational objectivies”. Pendapat tersebut artinya : Manajemen pemasaran ialah kegiatan menganalisas, merencanakan, mengimplementasikan, dan mengawasi segala kegiatan (program), guna memperoleh tingkat pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Menurut Shultz (2004:160) memberikan definisi Manajemen pemasaran sebagai berikut : “Marketing management is the plaining, direction and control of the entire marketing activity of a firm or division of a firm”. Artinya , manajemen 19 marketing ialah merencanakan, pengarahan dan pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian dari perusahaan. Menurut Enis (2002:28) memberikan definisi sebagai berikut: “ Marketing management is the process of increasing the effectiveness and or efficiency by wich marketing activities are performed by individual or organization”. Artinya bahwa, Manajemen pemasaran ialah proses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan yang dilakukan oleh individu atau oleh perusahaan. Menurut Alma (2004:130), sebagai berikut: “ Manajemen Pemasaran adalah merencanakan, pengarahan, dan pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian dipemasaran.” Sementara itu menurut Lupiyo Adi (2006:6) dikatakan bahwa : “Manajemen pemasaran adalah suatu analisis, perencanaan, pelaksanaan serta kontrol program-program yang telah direncanakan dalam hubungannya dengan pertukaran-pertukaran yang diinginkan terhadap konsumen yang dituju untuk memperoleh keuntungan pribadi maupan bersama”. Pengertian manajemen pemasaran menurut Swastha (2006:5) adalah sebagai berikut : “Penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan”. Pengertian manajemen pemasaran menurut Sofyan Assauri (2004:21) adalah sebagai berikut : “Manajemen pemasaran merupakan kegiatan menganalisis, merencanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan semua kegiatan yang terkait dengan perancangan dan peluncuran produk, pengkomunikasian, promosi dan pendistribusian produk tersebut, menetapkan harga dan mentransaksikannya, dengan tujuan agar dapat memusakan konsumen dan sekaligus dapat mencapai tujuan organisasi perusahaan jangka panjang”. 20 Bertitik tolak dari berbagai pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran merupakan suatu proses analisis, perencanaan, pelaksanaan, pengkomunikasian, promosi dan pendistribusian produk dengan rnenetapkan harga dan mentransaksikannya, dengan tujuan agar dapat memuaskan konsumen dan sekaligus dapat mencapai tujuan organisasi perusahaan jangka panjang. 2.1.3 Jasa, Karakteristik Jasa dan Klasifikasi Jasa 2.1.3.1 Pengertian Jasa Perbedaan secara tegas antara barang dan jasa seringkali sukar dilakukan. Hal ini dikarenakan pembelian suatu barang seringkali disertai dengan jasa-jasa tertentu, dan sebaliknya pembelian suatu jasa seringkali melibatkan barang-barang yang melengkapinya. Berikut ini akan diuraikan tentang pengertian jasa yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Menurut Kotler dan Keller (2012:428) : “A Service is any act or performance that one party can offer to another that is essentially intangible and does not result in ownership of anything. It’s production may or may not be tied to a physical product”. Maksudnya adalah bahwa jasa merupakan tindakan / performance yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun. Produksinya bisa terkait dan juga tidak terkait pada suatu produk fisik. Sementara itu Lovelock (2002:6) mendefinisikan jasa yaitu : ”An act or performance that creates benefits for customers by bringing about a desired 21 change in or on be half of the recepient”. Payne (2000:6) mendefinisikan jasa sebagai berikut : “An activity which some elements of intangibility associated with it, which involves some interaction with customers or with property in their possession, and does not result in a transfer of ownership”. Menurut Payne bahwa jasa merupakan suatu kegiatan yang memiliki beberapa unsur ketakberwujudan (intangibility) yang berhubungan dengannya, yang melibatkan beberapa interaksi dengan konsumen atau dengan properti dalam kepemilikannya, dan tidak menghasilkan transfer kepemilikan. Perubahan kondisi mungkin saja terjadi dan produksi jasa bisa saja berhubungan dengan atau bisa pula tidak berkaitan dengan produk fisik. Selanjutnya Zeithaml dan Bitner dalam Tjiptono (2006:3) lebih meluaskan definisi jasa sebagai berikut jasa pada dasarnya adalah seluruh aktivitas ekonomi dengan output selain produk dalam pengertian fisik, dikonsumsi dan diproduksi pada saat yang bersamaan, memberikan nilai tambah dan secara prinsip tidak berwujud (intangible) bagi pembeli pertamanya. Jika barang merupakan objek, alat, atau benda, maka jasa adalah suatu perbuatan, kinerja (performance), atau usaha. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa jasa pada dasarnya merupakan suatu yang tidak berwujud, yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Untuk memproduksi suatu jasa dapat menggunakan bantuan suatu produk fisik tetapi bisa juga tidak. Di samping itu juga, jasa tidak mengakibatkan peralihan hak suatu barang secara fisik atau nyata. Jadi jika 22 seseorang pemberi jasa memberikan jasanya pada orang lain, maka tidak ada perpindahan hak milik secara fisik. 2.1.3.2 Karaktersitik Jasa Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2009:448) sebagai suatu yang tidak berwujud dan dikonsumsi serta diproduksi pada saat yang sama, jasa memiliki beberapa karateristik, jasa mempunyai empat karateristik utama yang sangat mempengaruhi rancangan program pemasaran, yaitu : intangible (tidak berwujud), inseparability (tidak dapat dipisahkan), perishability (tidak tahan lama) dan variability (beragam). 1. Intangibility (Tidak Berwujud) Jasa mempunyai sifat tidak berwujud sehingga hasil atau manfaatnya belum bisa dirasakan oleh konsumen sebelum dilakukan pembelian. Demikian juga bagi produsen, mereka tidak dapat melihat jasa yang telah dilakukannya sebelum jasa tersebut dilaksanakan. Maka salah satu tugas dari pemberi jasa adalah mengelola informasi untuk mengelola bukti atau menyatakan yang tidak nyata. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan perusahaan untuk menghadapi ketidakpastian dari pembeli mengenai manfaat dan kualitas yang akan diperolehnya, diantaranya : a. Tempat; dalam hal ini adalah penataan tempat yang rapih dan bersih, sehingga para konsumen akan merasa nyaman. b. Orang; misalnya para karyawan harus berpakaian rapih, sehingga tidak menimbulkan kesan jelek bagi karyawan itu sendiri maupun pelayanannya. 23 c. Peralatan; misalnya peralatan harus terlihat baik dan canggih, sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa pelayanan yang diberikan akan cepat dan efisien. d. Alat Komunikasi; yaitu memvisualisasikan jasa yang intangible menjadi tangible melalui foto, foster, ataupun katalog, dan lebih menekankan pada manfaat yang akan diperoleh pelanggan. e. Simbol; misalnya pemberian nama dan lambang yang mencerminkan pelayanannya. f. Harga; yaitu penetapan harga atas berbagai jasa harus sederhana dan jelas sepanjang waktu. 2. Inseparability (Tidak Dapat Dipisahkan) Jasa pada umumya diproduksi dan dikonsumsi pada saat yang sama karena jasa tidak dapat dipisahkan antara pembeli dengan sumber yang menghasilkannya. Bila jasa ini disumbangkan oleh seseorang, maka ia akan merupakan bagian dari jasa tersebut. Karena konsumen juga merupakan penerima jasa yang diberikan, interaksi pemberi jasa dan konsumen ini adalah ciri khusus pemasaran jasa. Baik pemberi jasa maupun konsumen saling membutuhkan jasa tersebut. 3. Variability (Bervariasi) Bidang jasa sangat mudah berubah-ubah karena sangat tergantung pada siapa yang menyajikan, kapan, dimana, dan bagaimana mereka menyajikan jasa tersebut. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengendalian kualitas jasa agar menghasilkan jasa yang baik dan konsisten, yaitu : 24 a. Melakukan seleksi dan memberikan pelatihan bagi para karyawan. b. Melakukan standarisasi keseluruhan proses pemberian jasa perusahaan. c. Selalu mengikuti perkembangan tingkat kepuasan konsumen melalui sistem saran dan keluhan, survey pasar, dan saling membandingkan jasa yang dihasilkan sehingga pelayanan kurang baik dapat dihindari. 4. Perishability (Tidak Tahan Lama) Jasa tidak dapat disimpan dan tidak tahan lama. Sebenarnya daya tahan suatu jasa tidak akan menjadi masalah bila permintaan selalu ada dan mantap. Namun dalam kenyataannya permintaan tersebut selalu berubah-ubah. Sebagai contoh, pada penghasilan jasa penginapan, kamar yang tidak terpakai merupakan kapasitas yang hilang dan tidak dapat disimpan untuk dijual dimasa yang akan datang. Tidak digunakannya kapasitas yang ada akan mengakibatkan hilangnya pendapatan potensial yang tidak dapat diganti. Ada beberapa cara untuk mengatasi sifat tidak tahan lama dari jasa agar terdapat titik temu antara permintaan dan penawaran diantaranya dengan memakai sistem pemesanan tempat dan pelaksanaan harga diferensial melalui penurunan harga ketika permintaan berkurang. 2.1.4 Pemasaran Jasa Perkembangan usaha jasa yang begitu cepat membuat persaingan tidak dapat dihindari lagi, sehingga para pengelola usaha jasa harus menyadari bahwa pelayanan jasa yang dimilikinya harus berorientasi kepada apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Oleh karena itu perusahaan harus memiliki strategi pemasaran yang terpadu. 25 Menurut Rust, Zahorik, Keiningham dalam Tjiptono (2006:11) di dalam pemasaran barang, pendekatan 4P (product, price, place, promotion) sangat baik untuk digunakan. Tetapi dalam pemasaran jasa, dibutuhkan tambahan 3P lagi yaitu people, physical evidence, dan process . Karena bisnis jasa sangat komplek, Kotler dan Keller (2009:435) mengatakan bahwa pemasaran jasa tidak hanya membutuhkan pemasaran eksternal tetapi juga memerlukan pemasaran internal dan interaktif. 1. Pemasaran eksternal (external marketing), yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh perusahaan untuk menyiapkan, menetapkan harga, mendistribusikan dan mempromosikan jasa kepada konsumen. Bila ini bisa dilakukan dengan baik maka pelanggan akan terikat dengan perusahaan, sehingga laba jangka panjang bisa terjamin. Untuk dapat menetapkan bauran jasa (service mix) maka diperlukan konsep pemasaran jasa (service marketing concept), yaitu mengetahui keinginan konsumen, dan mengetahui keuntungan dari produk yang ditawarkan. 2. Pemasaran internal (internal marketing), yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh perusahaan untuk melatih dan memotivasi para karyawannya agar melayani konsumen dengan baik. Manajemen juga memberikan penghargaan pengakuan yang sepadan dan manusiawi. Aspek ini memberikan motivasi, moral kerja, rasa bangga, loyalitas dan rasa memilki dari setiap orang dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi besar bagi perusahaan dan juga bagi pelanggan yang dilayani. 26 3. Pemasaran interaktif (interactive marketing), yaitu keahlian karyawan dalam melayani pelanggan. pelanggan menilai jasa tidak hanya kualitas teknik tetapi juga kualitas fungsionalnya. Para profesional dan penyedia jasa lainnya harus memberikan ‘sentuhan tinggi’ dan juga ‘teknik tinggi’. Gambar ketiga segitiga pemasaran jasa tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut : COMPANY External Internal Marketing Marketing EMPLOYEES CUSTOMER Interactive Marketing Gambar 2.1 Three Types of Service Marketing in Services Industries (The Marketing Triangle) Sumber : Kotler dan Keller (2009:435) 2.1.4.1. Strategi Pemasaran Jasa Menurut Gronroos dalam Kotler dan Keller (2009 : 469) karena sifat jasa yang tidak berwujud, maka penilaian terhadap kualitas suatu jasa baru dapat dapat dilakukan setelah terjadi pembelian. Bahkan untuk beberapa jenis jasa tertentu, seorang pemakai jasa masih sulit melakukan penilaian terhadap mutu jasa meskipun telah dikonsumsi. Atas dasar karakteristik dan sifat-sifat khas produk jasa, maka dalam merancang strategi pemasarannya, perusahaan jasa tidak cukup 27 hanya mengandalkan pendekatan pemasaran tradisional. bahwa pemasaran jasa tidak hanya memerlukan bauran pemasaran eksternal tradisional yaitu 4P (Product, Price, Place, Promotion), melainkan memerlukan dua komponen pemasaran yang spesifik, yaitu pemasaran internal dan pemasaran interaktif. Dalam pemasaran internal suatu perusahaan jasa harus melatih dan memotivasi para karyawan yang berhubungan dengan pelanggan (customer contact personnel) dan karyawan pendukung jasa lainnya untuk bekerja sebagai suatu tim yang dapat memuaskan pelanggan. Setiap anggota perusahaan harus berorientasi kepada pemuasan pelanggan. Jika tidak, maka tingkat pelayanan yang bermutu tinggi dan konsisten tidak akan pernah terwujud. Dalam pemasaran interaktif dianut suatu sistem keyakinan bahwa kualitas pelayanan sangat tergantung kepada kualitas interaksi pembeli dan penjual. Ada perbedaan esensial antara pemasaran produk dengan pemasaran jasa. Dalam pemasaran produk, masalah kualitas produk tidak tergantung pada bagaimana cara memperolehnya. Sedangkan dalam pemasaran jasa, kualitas produk berkaitan erat dengan pemberi atau pengirim jasa tersebut. Jadi kualitas suatu pelayanan dalam pemasaran jasa ditentukan oleh yang melakukan pelayanan. Penilaian pelanggan terhadap mutu pelayanan tidak hanya melalui kualitas teknisnya tetapi juga melalui kualitas fungsionalnya. Dengan semakin meningkatnya persaingan di bidang perusahaan jasa, maka Kotler dan Keller (2009:471) mengemukakan tiga macam tugas perusahaan jasa yang sekaligus menjadi strategi perusahaan tersebut, yaitu : 28 1. Service Differentiation Strategy (Meningkatkan Perbedaan Kompetitif) Berusaha menciptakan perbedaan yang kompetitif dalam industri jasa namun lebih sulit dilakukan dibandingkan pemasaran produk fisik karena banyak inovasi jasa yang mudah untuk ditiru oleh pesaing, dilain pihak apabila nasabah menganggap jasa yang ditawarkan adalah homogen, maka mereka kurang memperhatikan siapa penyedia daripada harga jasa tersebut. Mereka mulai mempertimbangkan harga. Penyedia jasa berkualitas secara konsisten adalah differensiasi jasa terbaik yang dapat dilakukan oleh perusahaan dengan cara menyesuaikan atau melebihi harapan kualitas jasa nasabah. Perbedaan dapat diciptakan pada saat penyampaian jasa yaitu melalui people (orang) dengan memiliki orang yang lebih mampu dan lebih terpercaya daripada apa yang dimiliki pesaing, physical evidence (sarana fifik) membuat lingkungan fisik tempat penyampaian jasa menjadi lebih menarik serta process dirancang lebih unggul. 2. Service Quality Improvement Strategy (Meningkatkan Kualitas) Berusaha memberikan jasa dengan kualitas yang lebih tinggi dari pesaing secara konsisten melalui lima determinan kualitas jasa yang biasa digunakan yaitu fasilitas fisik (tangibles), keandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance) dan empati (empathy). Untuk meningkatkan kualitas secara konsisten, maka dalam program pemasaran harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Konsep strategis, mempunyai kejelasan pasar sasaran dan kebutuhan pelanggan yang ingin dipuaskan. 29 b. Komitmen manajemen terhadap kualitas, tidak hanya melakukan pengukuran kinerja keuangan, tetapi juga kinerja jasa dengan terus menerus melakukan pengukuran kualitas jasa dan nilai. c. Menetapkan standar yang tinggi. d. Memiliki sistem untuk memonitor kinerja jasa. e. Memiliki sistem untuk memuaskan pelanggan yang mengeluh. Memberikan respon yang cepat dan baik kepada nasabah. f. Memuaskan karyawan dan nasabah, perusahaan percaya bahwa hubungan baik antar karyawan akan tecermin pada hubungan baik dengan nasabah. Melaksanakan pemasaran internal dan kerap mengaudit kepuasan karyawan. 3. Service Productivity Improvement Strategy (Meningkatkan Produktivitas) Perusahaan jasa harus memiliki tenaga kerja yang terampil. Terdapat enam pendekatan yang dapat dilakukan oleh suatu perusahaan jasa dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas pelayanan, yaitu : a. Menghasilkan pekerja yang lebih giat bekerja dengan keahlian yang tinggi. b. Meningkatkan jumlah jasa, dengan melepaskan beberapa mutu. c. Mengindustrikan pelayanan dengan menambah peralatan dan melakukan pembakuan produksi. d. Mengurangi atau menghilangkan kebutuhan akan jasa dengan mencari atau menciptakan jalan keluar atas produksi tersebut. e. Membuat suatu rancangan jasa yang lebih efektif. 30 f. Menciptakan rangsangan bagi konsumen dengan insentif dengan tujuan untuk mengganti tenaga kerja yang berasal dari mereka sendiri. 2.1.5 Kualitas Layanan Dalam bisnis jasa, kualitas merupakan kunci keberhasilan usaha. Kualitas harus mulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini bahwa kualitas yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang atau persepsi pihak perusahaan atau penyedia jasa, melainkan berdasarkan sudut pandang atau persepsi pelanggan. Menurut Kotler dan Keller (2012:57), “Quality is the totally of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied need”. Jasa atau pelayanan yang diberikan kepada konsumen oleh perusahaan tentunya harus berkualitas, Gronroos yang dikutip Sutisna dan Suhartanto (2008:507) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai berikut : “The total service quality is perceived by the customer as a comparison between the expected service, which he or she expected to get, and perceived service, which the customer feels he in fact has received”. Adapun pengertian kualitas jasa menurut Wyckof dalam Tjiptono (2006:59) adalah: “Tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan”. Dari pengertian di atas kualitas jasa merupakan keseluruhan ciri serta sifat dari setiap tindakan atau kinerja yang ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain pada dasarnya tidak dapat dilihat yang berpengaruh pada kemampuanya untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan yang dinyatakan atau yang tersirat. 31 Parasuraman, Zeithaml, Berry dalam Tjiptono (2006:60) mengatakan ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expected service dan perceived service Apabila jasa yang diterima atau dirasakan (perceived service) sesuai dengan jasa yang diharapkan (expected service), maka kualitas jasa dipersepsikan baik. Jika jasa yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas jasa dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal. Sebaliknya jika yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan buruk. Dengan demikian baik tidaknya kualitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi pelanggannya secara konsisten. Jasa yang ditawarkan tidak selalu dapat memenuhi harapan pelanggan karena dalam proses jasa sering timbul berbagai kesenjangan (gap). Parasuraman, Zeithaml, Berry yang dikutip oleh Kotler dan Keller (2009:92) membuat model kesenjangan (gap model) dari kualitas jasa yang menyoroti syarat-syarat utama untuk memberikan kualitas jasa yang tinggi. Model kesenjangaan (gap model) dari kualitas jasa sebagaimana dikemukakan oleh Kotler dan Keller (2009:92) mengidentifikasi lima kesenjangan yang mengakibatkan kegagalan penyampaian jasa, yaitu : 1. Gap between consumer expectation and management perception, artinya kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi manajemen. Manajemen tidak selalu memahami scara tepat apa yang diinginkan pelanggan. 2. Gap between management perception and service quality specification, adalah Kesenjangaan antara persepsi manajemen dengan spesifikasi kualitas jasa. 32 Manajemen mungkin memahami secara tepat keinginan pelanggan tetapi tidak menetapkan suatu set standar kinerja spesifik. 3. Gap between service quality specifications and service delivery, artinya Kesenjangan antara spesifikasi kualitas jasa dan penyampaian jasa. Para personil mungkin kurang terlatih atau tidak mampu atau tidak mau memenuhi standar. Atau mereka dihadapkan pada standar yang berlawanan, seperti menyediakan waktu untuk mendengarkan para pelanggan dan melayani mereka dengan cepat. 4. Gap between service delivery and external communications, artinya Kesenjangan antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal harapan konsumen dipengaruhi oleh pernyataan yang dibuat wakil perusahaan dan iklan perusahaan. 5. Gap between percieved service and expected service, adalah Kesenjangan antara jasa yang dialami dan jasa yang diharapkan. Kesenjangan ini terjadi bila persepsi yang keliru tentang kualitas jasa tersebut. 33 Word-of-mouth communications Personal needs Past experience Expected service Gap 5 Perceived service CUSTOMER PROVIDER Service delivery (including preand post-contacts Gap 4 External communications to customers Gap 3 Translation of perceptions into service-quality specifications Gap 1 Gap 2 Management perceptions of customer expectations Gambar 2.2 Model Kesenjangan (Gap Model) dari Kualitas Pelayanan Sumber : Parasuraman, Zeithaml dan Berry dalam Kotler dan Keller (2012:439) Pada umumnya pelanggan akan menilai kualitas pelayanan yang diberikan oleh perusahaan dalam banyak sekali dimensi penialaian yaitu tangibles, reliability, responsiveness, competence, courtesy, credibillity, security, access, communication, dan understanding the customer. Dari kesepuluh dimensi tersebut 34 dapat dikelompokan menjadi lima dimensi utama, yaitu dimensi reliability,tangibles, responsiveness, assurance, dan empathy. Parasuraman dan kawan-kawan dalam Fitzsimmons, Zeithaml, dan Bitner dalam Tjiptono (2011:70) mengemukakan bahwa pada dasarnya terdapat lima dimensi yang digunakan untuk menilai kualitas pelayanan, yaitu: 1. Bukti langsung (Tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi. 2. Kehandalan (Reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan. 3. Daya tanggap (Responsiveness), yaitu keinginan para staff untuk membantu para pasien dan memberikan pelayanan dengan tanggap. 4. Jaminan (Assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staff; bebas dari bahaya, risiko atau keragu-raguan. 5. Empati (Empathy), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan. Hermawan (2011:264), mengatakan reliability merupakan dimensi yang paling penting dalam pelayanan, karena dimensi ini merupakan arti service yang sebenarnya. Karena kita harus selalu menghindari kesalahan terhadap konsumen karena service sebenarnya adalah preventif. Oleh karena itulah beliau meletakannya di tengah, seperti yang terlihat pada gambar 2.3 berikut ini. 35 Assurance Emphaty Reliability Responsiveness Tangible Gambar 2.3 Lima Dimensi Kualitas Jasa Sumber : Hermawan (2011:264) Selain Parasuraman dan kawan-kawan, masih ada pakar lain yang mencoba merumuskan dimensi atau faktor yang dipergunakan konsumen dalam menilai kualitas jasa. Salah satu di antaranya adalah Gronroos (dalam Edvardsson, et al., dalam Tjiptono (2011:105) menyatakan bahwa ada tiga kriteria pokok, yaitu outcome-related, process-related dan image-related criteria. Ketiga kriteria tersebut masih dapat dijabarkan menjadi enam unsur, yaitu : 1. Professionalism and Skills Kriteria yang pertama ini merupakan outcome-related criteria, di mana pelanggan menyadari bahwa penyedia jasa (service provider), karyawan, sistem operasional dan sumber daya fisik memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah pelanggan secara profesional. 2. Attitudes and Behaviur Kriteria ini adalah process-related criteria. Pelanggan merasa bahwa karyawan perusahaan (contact personnel) menaruh perhatian terhadap mereka 36 dan berusaha membantu dalam memecahkan masalah mereka secara spontan dan senang hati. 3. Accessibility and Flexibility Kriteria ini termasuk dalam process-related criteria. Pelanggan merasa bahwa penyedia jasa, lokasi, jam kerja dan sistem operasionalnya, dirancang dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga pelanggan dapat melakukan akses dengan mudah. Selain itu juga dirancang dengan maksud agar dapat bersifat fleksibel dalam menyesuaikan permintaan dan keinginan pelanggan. 4. Reliability and Trustworthiness Kriteria ini juga termasuk dalam process-related criteria. Pelanggan memahami bahwa apapun yang terjadi, mereka bisa mempercayakan segala sesuatunya kepada penyedia jasa beserta karyawan dan sistemnya. 5. Recovery Recovery termasuk dalam process-related criteria. Pelanggan menyadari bahwa bila ada kesalahan atau bila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, maka penyedia jasa akan segera mengambil tindakan untuk mengendalikan situasi dan mencari pemecahan yang tepat. 6. Reputation and Credibility Kriteria ini merupakan image-related criteria. Pelanggan menyakini bahwa operasi dari penyedia jasa dapat dipercaya dan memberikan nilai atau imbalan yang sesuai dengan pengorbanannya. 37 Oleh karena itu maka perusahaan harus selalu memperhatikan unsur-unsur dari dimensi kualitas pelayanan tersebut dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan agar tercipta kepuasan bagi para pelangganya. 2.1.5.1 Mengelola Kualitas Pelayanan Menurut Kotler dan Keller (2012:103) dengan adanya kesenjangan atau gap (Gap-1 s.d. Gap-5) sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu, manajemen perusahaan harus mengupayakan agar kesenjangan yang terjadi dapat ditutup atau diminimalisir, sehingga pelayanan yang diterima oleh pelanggan (percieved service) akan sesuai atau mendekati dengan pelayanan yang diharapkan oleh pelanggan tersebut (expected service). Untuk mempermudah dalam pengelolaan kualitas jasa, maka berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi setiap jenis gap (gap-1 s.d. gap-5) kemudian dibuatlah model gap yang lebih lengkap agar dapat membantu analisis apa yang menyebabkan terjadinya gap dan bagaimana menutup atau meminimalisir gap tersebut. Zeithaml, Parasuraman, dan berry (2002) dalam Kotler dan Keller (2012:109) membuat konsep model kualitas jasa yang diperluas seperti gambar 2.4 berikut ini : 38 Marketing Research Orientation Upward Communication Gap-1 Level of Management Management Commitment to Service Quality Goal Setting Gap-2 Tangibles Task Standardization Reliability Perception of Feasibility Gap-5 (Service Quality) Responsiveness Teamwork Assurance Employee-Job Fit Technology-Job Fit Percieved Control Empathy Gap-3 Supervisory Control Systems Role Conflict Role Ambiguity Horizontal Communication Gap-4 Propensity to Overpromise Gambar 2.4 : Model Kualitas Pelayanan Yang Diperluas Sumber : Zeithhaml, Parasuraman, dan Berry dalam Kotler dan Keller (2012:92) 39 2.1.5.2 Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan Tjiptono (2011:95) menyatakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan tidaklah semudah membalikan telapak tangan atau menekan saklar lampu. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Upaya tersebut berdampak luas, yaitu terhadap budaya organisasi secara keseluruhan. Di antara berbagai faktor yang perlu mendapatkan perhatian adalah mengindentifikasikan determinan utama kualitas jasa, mengelola harapan pelanggan, mengelola bukti (evidence) kualitas jasa, mendidik konsumen tentang jasa, menegmbangkan budaya kualitas, menciptakan automating quality, menindaklanjuti jasa dan mengembangkan sistem informasi kualitas jasa. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi Determinan Utama Kualitas Jasa Setiap perusahaan jasa perlu berupaya memberikan kualitas yang terbaik kepada pelanggannya. Untuk itu dibutuhkan identifikasi determinan utama kualitas jasa dari sudut pandang pelanggan. Oleh karena itu langkah pertama yanf dilakukan adalah melakukan riset untuk mengidentifikasi determinan jasa yang paling penting bagi pasar sasaran. Langkah berikutnya adalah memperkirakan penilaian yang diberikan pasar sasaran terhadap perusahan dan pesaing berdasarkan determinan-determinan tersebut. Dengan demikian dapat diketahui posisi relatif perusahaan di mata pelanggan dibandingkan para pesaing, sehingga perusahaan dapat memfokuskan upaya peningkatan kualitasnya pada determinan-determinan tersebut. Namun perusahan perlu 40 memantau setiap determinan sepanjang waktu, karena sangat mungkin prioritas pasar mengalami perubahan. 2. Mengelola Harapan Pelanggan Tidak jarang suatu perusahaan berusaha melebih-lebihkan pesan komunikasinya kepada pelanggan dengan maksud agar mereka terpikat. Hal seprti ini dapat menjadi bumerang begi peusahaan. Semakin banyak janji yang diberikan, maka semakin besar pula harapan pelanggan (bahkan bisa menjurus menjadi tidak realistis) yang pada gilirannya akan menambah peluang tidak dapat terpenuhinya harapan pelanggan oleh perusahaan. Untuk itu ada satu hal yang dapat dijadikan pedoman, yaitu “Jangan janjikan apa yang tidak bisa diberikan, tetapi berikan lebih dari yang dijanjikan”. 3. Mengelola Bukti (Evidence) Kualitas Jasa Pengelolaan bukti kualitas jasa bertujuan untuk memperkuat persepsi pelanggan selama dan sesudah jasa diberikan. Oleh karena jasa merupakan kinerja dan tidak dapat dirasakan sebagaimana halnya barang, maka pelanggan cenderung memperhatikan fakta-fakta tangibles yang berkaitan dengan jasa sebagai bukti kualitas. Dari sudut pandang perusahaan jasa, bukti kualitas meliputi segala sesuatu yang diandang konsumen sebagai indikator ‘seperti apa jasa yang diberikan’ (pre-service expectation) dan ‘seperti apa jasa yang telah diterima’ (post-service evaluation). Bukti-bukti kualitas jasa bisa berupa fasilitas fisik jasa (seperti gedung, kendaraan dan lain sebagainya), penampilan pemberi jasa, perlengkapan dan peralatan yang digunakan untuk memberikan jasa, laporan keuangan dan logo perusahaan. 41 Selain itu berbagai faktor seperti musik, warna, aroma, temperatur, lokasi gedung, tata letak jasa dan atmosfir (situasi dan kondisi) dapat pula menciptakan persepsi tertentu terhadap perusahaan jsa misalnya keramahan, ketenangan, kecermataan, wibawa, asionalitas maupun fleksibilitas. 4. Mendidik Konsumen tentang Jasa Membantu pelanggan dalam memahami suatu jasa merupakan upaya yang sangat positif dalam rangka menyampaikan kualitas jasa. Pelanggan yang lebih terdidik akan dapat mengambil keputusn secara lebih baik. Oleh karenanya kepuasan mereka dapat tercipta lebih tinggi. Upaya mendidik konsumen dapat dilakukan dalam bentuk : a. Perusahaan mendidik pelanggannya untuk melakukan sendiri jasa/pelayanan tertentu, misalnya mengisi blanko/formulir pendaftaran, mengangkut barang belanjaan sendiri, dan lain-lain. b. Perusahaan membantu pelanggan mengetahui kapan menggunakan suatu jasa, yaitu sebisa mungkin menghindari periode puncak/sibuk dan memanfaatkan periode biasa (bukan puncak). c. Perusahaan mendidik pelanggannya mnegnai cara menggunakan jasa d. Perusahaan dapat pula meningkatkan persepsi terhadap kualitas dengan cara menjelaskan kepada pelanggan alasan-alasan yang mendasari suatu kebijaksanaan ang bisa mengecewakan mereka. 5. Mengembangkan Budaya Kualitas Budaya kualitas merupakan sistem nilai organisasi yang menghasilakn lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan penyempurnaan kualitas 42 secara terus-menerus. Budaya kualitas terdiri dari filosofi, keyakinan, siakp, norma, nilai, tradisi, prosedur dan harapan yang meningkatkan kualitas. Agar dapat tercipta budaya kualitas yang baik, dibutuhkan komitmen menyeluruh pada seluruh anggota organisasi. Ada beberapa faktor yang dapat mempelanar dan sekaligus dapat pula menghambat pengembangan jasa yang berkualitas, yaitu : a. Manusia, misalnya deskripsi kerja, seleksi, pelatihan, imbalan/gaji, jalur karir. b. Organisasi/struktur, meliputi integrasi/koordinasi fungsi-fungsi dan struktur pelaporan. c. Pengukuran, yaitu evaluasi kinerja dan pemantauan keluhan dan kepuasan pelanggan. d. Pendukung sistem, yakni faktor teknis, komputer, database. e. Pelayanan, meliputi nilai tambah, entang dan kualitas, standar kinerja, pemuasan kebutuhan dan harapan. f. Program, meliputi pengelolaan keluhan, alat-alat penjualan/promosi, alatalat manajemen. g. Komunikasi internal, terdiri atas prosedur dan kebijaksanaan, umpan balik dalam organisasi. h. Komunikasi eksternal, yakni pendidikan pelanggan (customer education), penciptaan harapan, citra (image) perusahaan. 6. Menciptakan Automating Quality : Adanya otomatisasi dapat mengatasi variabilitas kualitas jasa yang disebabkan kurangnya sumber daya manusia 43 yang dimilki. Meskipun demikian, sebelum memutuskan akan melakukan otomatisasi, perusahaan perlu melakukan penelitian secara seksama untuk menentukan bagian yang membutuhkan sentuhan manusia dan bagian yang memerlukan otomatisasi. Perlu dihindari adanya otomatisasi yang mencakup keseluruhan jasa. 7. Menindaklanjuti Jasa Menindaklanjuti jasa dapat membantu memisahkan aspek-aspek jasa yang perlu ditingkatkan. Perusahaan perlu mengambil inisiatif untuk menghubungi sebagian atau semua pelanggan untuk mengetahui tingkat kepuasan dan persepsi mereka terhadap jasa yang diberikan. Perusahaan dapat pula memberikan kemudahan bagi para pelanggan untuk berkomunikasi, baik menyangkut kebutuhan maupun keluhan mereka. 8. Mengembangkan Sistem Informasi Kualitas Jasa Sistem informasi kualitas jasa merupakan suatu sistem yang menggunakan berbagai macam pendekatan riset secara sistematis untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi kualitas jasa guna mendukung pengambilan keputusan. Informasi yang dibutuhkan mencakup segala aspek, yaitu data saat ini dan masa lalu, kuantitatif dan kualitatif, internal dan eksternal, serta informasi mengenai perusahaan dan pelanggan. Pengembangan suatu sistem informasi kualitas jasa tidak hanya terbatas pada perusahaan besar. Mendengarkan suara pelanggan merupakan hal yang mutlak harus dilakukan perusahaan apapun, tanpa terkecuali perusahaan kecil. Untuk memahami suara pelanggan tersebut diperlukan riset mengenai harapan dan persepsi, baik 44 pelanggan maupun non pelanggan. Melalui riset ini akan diperoleh informasi tentang kekuatan dan kelemahan jasa perusahaan dari sudut pandang pelanggan yang memanfaatkan atau menggunakan jasa. Secara umum sistem informasi kualitas jasa dapat memberikan beberapa manfaat, di antaranya : a. Memungkinkan pihak manajemen untuk memasukan suara pelanggan dalam pengambilan keputusan. b. Dapat mengetahui prioritas jasa pelanggan. c. Mempelancar proses identifikasi prioritas penyempurnaan jasa dan menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan alokasi sumber daya. d. Memungkinkan dipantaunya kinerja jasa perusahaan dan pesaing setiap waktu. e. Memberikan gambaran mengenai dampak inisiatif dan investasi kualitas jasa. f. Memberikan performance-based data untuk keperluan penilaian. 2.1.6 Pelayanan Publik Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. Rasyid (2008:106) mengatakan pemerintahan pada hakekatnya adalah pelayanan kepada masyarakat. Ia tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyaraakat mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama Karenanya birokrasi publik 45 berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan layanan baik dan profesional. Pelayanan publik (public services) oleh birokrasi publik tadi adalah merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur negara sebagai abdi masyarakat di samping sebagai abdi negara. Pelayanan publik (public services) oleh birokrasi publik dimaksudkan untuk mensejahterakan masyarakat (warga negara) dari suatu negara kesejahteraan (welfare state). Pelayanan umum oleh Lembaga Administrasi Negara (2008) diartikan sebagai segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah di Pusat, di Daerah dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa baik dalam rangka upaya kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelayanan publik dengan demikian dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. Pelayanan publik yang profesional, artinya pelayanan publik yang dicirikan oleh adanya akuntabilitas dan responsibilitas dari pemberi layanan (aparatur pemerintah). Dengan ciri sebagai berikut : 1. Efektif, lebih mengutamakan pada pencapaian apa yang menjadi tujuan dan sasaran; 2. Sederhana, mengandung arti prosedur/tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, cepat, tepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan; 46 3. Kejelasan dan kepastian (transparan), mengandung akan arti adanya kejelasan dan kepastian mengenai : a. Prosedur/tata cara pelayanan; b. Persyaratan pelayanan, baik persyaratan teknis maupun persyaratan administratif; c. Unit kerja dan atau pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan; 4. d. Rincian biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya; e. Jadwal waktu penyelesaian pelayanan. Keterbukaan, mengandung arti prosedur/tata cara persyaratan, satuan kerja/pejabat penanggungjawab pemberi pelayanan, waktu penyelesaian, rincian waktu/tarif serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak diminta; 5. Efisiensi, mengandung arti : a. Persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal-hal berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan yang berkaitan; b. Dicegah adanya pengulangan pemenuhan persyaratan, dalam hal proses pelayanan masyarakat yang bersangkutan mempersyaratkan adanya kelengkapan persyaratan dari satuan kerja/instansi pemerintah lain yang terkait. 47 6. Ketepatan waktu, kriteria ini mengandung arti pelaksanaan pelayanan masyarakat dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan; 7. Responsif, lebih mengarah pada daya tanggap dan cepat menanggapi apa yang menjadi masalah, kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang dilayani; 8. Adaptif, cepat menyesuaikan terhadap apa yang menjadi tuntutan, keinginan dan aspirasi masyarakat yang dilayani yang senantiasa mengalami tumbuh kembang. Secara teoritis sedikitnya ada tiga fungsi utama yang harus dijalankan oleh pemerintah tanpa memandang tingkatannya, yaitu fungsi pelayan masyarakat (public service function), fungsi pembangunan (development function) dan fungsi perlindungan (protection function). Hal yang terpenting kemudian adalah sejauh mana pemerintah dapat mengelola fungsi-fungsi tersebut agar dapat menghasilkan barang dan jasa (pelayanan) yang ekonomis, efektif, efisien dan akuntabel kepada seluruh masyarakat yang membutuhkannya. Selain itu, pemerintah dituntut untuk menerapkan prinsip equity dalam menjalankan fungsi-fungsi tadi. Artinya pelayanan pemerintah tidak boleh diberikan secara diskriminatif. Pelayanan diberikan tanpa memandang status, pangkat, golongan dari masyarakat dan semua warga masyarakat mempunyai hak yang sama atas pelayanan-pelayanan tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku. Meskipun pemerintah mempunyai fungsi-fungsi sebagaimana di atas, namun tidak berarti bahwa pemerintah harus berperan sebagai monopolist dalam pelaksanaan seluruh fungsi-fungsi tadi. Beberapa bagian dari fungsi tadi bisa 48 menjadi bidang tugas yang pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada pihak swasta ataupun dengan menggunakan pola kemitraan (partnership), antara pemerintah dengan swasta untuk mengadakannya. Pola kerjasama antara pemerintah dengan swasta dalam memberikan berbagai pelayanan kepada masyarakat tersebut sejalan dengan gagasan reinventing government yang dikembangkan Osborne dan Gaebler (2002:206). Namun dalam kaitannya dengan sifat barang privat dan barang publik murni, maka pemerintah adalah satu-satunya pihak yang berkewajiban menyediakan barang publik murni, khususnya barang publik yang bernama rules atau aturan (kebijakan publik). Barang publik murni yang berupa aturan tersebut tidak pernah dan tidak boleh diserahkan penyediaannya kepada swasta. Karena bila hal itu dilakukan maka di dalam aturan tersebut akan melekat kepentingankepentingan swasta yang membuat aturan, sehingga aturan menjadi penuh dengan vested interest dan menjadi tidak adil (unfair rule). Karena itu peran pemerintah yang akan tetap melekat di sepanjang keberadaannya adalah sebagai penyedia barang publik murni yang bernama aturan. Pemberian pelayanan publik oleh aparatur pemerintah kepada masyarakat sebenarnya merupakan implikasi dari fungsi aparat negara sebagai pelayan masyarakat. Karena itu, kedudukan aparatur pemerintah dalam pelayanan umum (public services) sangat strategis karena akan sangat menentukan sejauhmana pemerintah mampu memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi masyarakat, yang dengan demikian akan menentukan sejauhmana negara telah menjalankan perannya dengan baik sesuai dengan tujuan pendiriannya. 49 Penilaian terhadap kualitas pelayanan tidak dapat lepas dari kemampuan pegawai dalam pemberian pelayanan serta penyediaan fasilitas fisik. Hal ini sesuai dengan teori “The triangle of balance in service quality: dari Morgan dan Murgatroyd (2004:105), bahwa perlu dipertahankan keseimbangan dari ketiga komponen (interpersonal component, procedures environment/process component, and technical/professional component) guna menghasilkan pelayanan yang berkualitas. Memang pada dasarnya ada 3 (tiga) ketentuan pokok dalam melihat tinggi rendahnya suatu kualitas pelayanan publik, yaitu sebagaimana dalam gambar 2.5 tersebut menjelaskan bahwa dalam melihat tinggi rendahnya kualitas pelayanan publik perlu diperhatikan adanya keseimbangan antara : 1. Bagian antar pribadi yang melaksanakan (Inter Personal Component); 2. Bagian proses dan lingkungan yang mempengaruhi (Process and Environment); 3. Bagian profesional dan teknik yang dipergunakan (Professional and Technical). Gambar 2.5 Segitiga Keseimbangan dalam Kualitas Pelayanan (The Triangle of Balance in Service Quality) Sumber : Warsito Utomo, (2007:110) 50 Model tersebut merupakan suatu segitiga sama sisi dimana puncaknya adalah interpersonal component dari suatu pelayanan, sedangkan pada sisi sebelah kiri dari segitiga tersebut didapati konteks fisik dan prosedur serta komponen proses. Pada sisi sebelah kanan didapatkan komponen teknik atau profesionalitas dalam menyampaikan pelayanan. Asumsi dari model ini adalah perlu dipertahankan keseimbangan antara ketiga komponen tersebut di dalam menyediakan suatu pelayanan yang baik. Apabila terlalu menekankan pada proses atau prosedur, akan memberikan kesan pelayanan yang berbelit-belit. Apabila terlalu menekankan pada komponen interpersonal akan menimbulkan impresi bahwa penyedia jasa pelayanan kurang memperhatikan profesional pelayanan, dan apabila terlalu menekankan pada aspek profesional dan teknis pelayanan akan memberikan kesan bahwa pelayanan dilakukan secara profesional namun tidak ada perhatian khusus secara individual. Di dalam Total Quality Service (TQS) dapat didefinisikan sebagai sistem manajerial strategik dan integrative yang melibatkan semua manajer dan karyawan, serta menggunakan metode-metode kualitatif dan kuantitatif untuk memperbaiki secara berkesinambungan proses-proses organisasi, agar dapat memenuhi dan melebihi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan (Ratminto, 2000 : 54). Strategi ini dapat digambarkan sebagai berikut : 51 Gambar 2.6 Model Manajemen Pelayanan Sumber : Ratminto (2000:54) Dalam gambar tersebut, manajemen pelayanan yang baik hanya akan dapat diwujudkan bila penguatan posisi tawar pengguna jasa pelayanan mendapatkan prioritas utama. Dengan demikian, pengguna jasa diletakkan dipusat yang mendapatkan dukungan dari (a) sistem pelayanan pelayanan yang mengutamakan kepentingan masyarakat pengguna jasa, (b) kultur pelayanan dalam organisasi penyelenggara pelayanan, dan (c) sumber daya manusia yang berorientasi pada kepentingan pengguna jasa. Penguatan posisi yang dimaksud untuk 52 menyeimbangkan hubungan antara penyelenggara pelayanan dan pengguna jasa pelayanan ini juga harus diimbangi dengan berfungsinya ’mekanisme voice’ yang diperankan oleh media, LSM, organisasi profesi dan ombudsman atau lembaga banding (Ratminto, 2005:55). 2.1.7 Nilai Pelanggan Pemasaran tidak hanya sekedar menyampaikan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen, tetapi pemasaran pun memperhatikan apakah kebutuhan dan keinginan konsumen terpenuhi, apakah konsumen puas terhadap produk tersebut, dan apakah konsumen akan melakukan pembelian ulang dan menjadi loyal terhadap produk atau merek tersebut. Kotler & Keller (2012:25) mengungkapkan bahwa: “Suatu perusahaan berhasil menawarkan produk/jasa kepada pelanggan apabila mampu memberikan nilai dan kepuasan (value and satisfaction).kepada pelanggannya” Nilai (value) adalah perkiraan konsumen atas seluruh kemampuan produk untuk memuaskan kebutuhannya.” Nilai pelanggan merupakan perbandingan antara benefit (manfaat) yang dirasakan terhadap suatu produk dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan produk tersebut. Untuk mendapatkan nilai pelanggan yang sesuai dengan persepsi pelanggan, maka suatu perusahaan harus selalu mengikutinya dengan menyediakan produk/jasa yang sesuai, karena nilai pelanggan selalu berubah sepanjang waktu. Pada kenyataannya, menciptakan pelanggan tidaklah mudah. Perusahaan harus menyampaikan produk yang memiliki nilai sesuai dengan persepsi 53 pelanggan yang berlaku. Selain itu perusahaan menghadapi tantangan tersendiri dalam menghadapi konsumennya, karena pada saat ini konsumen dapat lebih leluasa memilih produk, merek, dan produsen yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Untuk itu perusahaan akan saling berlomba menyampaikan nilai tertinggi bagi konsumen, karena konsumen menginginkan nilai yang maksimum untuk setiap biaya yang dikeluarkan, karena pelanggan memiliki keterbatasan dalam biaya, keterbatasan pengetahuan, mobilitas, dan penghasilan. Semakin besar manfaat yang diberikan dibandingkan dengan harganya, maka semakin besar nilai yang diperoleh pelanggan terhadap produk tersebut. Nilai superior yang diterima pelanggan diantaranya berasal dari kualitas superior produk tersebut. Artinya bahwa kualitas yang diberikan produk melebihi kualitas dari produk lain yang sejenis. Menurut pendapat Zeithalm dan Bitner (2010:441), konsumen mendefinisikan nilai ke dalam empat definisi yang digambarkan sebagai berikut: VALUE IS LOW PRICE VALUE IS EVERYTHING I WANT IN SERVICE VALUE IS THE QUALITY I GET FOR THE PRICE I PAY VALUE IS ALL THAT I WANT GET FOR ALL THAT I GIVE Sumber: Zeithalm dan Bitner (2010:441) Gambar 2.7 Four Customers Definition Of Value 54 Jadi menurut Zeithalm dan Bitner, bahwa konsumen mendefinisikan sendiri nilai produk sebagai harga yang rendah, nilai adalah apapun yang diinginkan konsumen dari pelayanannya, nilai adalah kualitas yang didapatkan sebagai ganti dari harga yang dibayarkan, dan nilai adalah semua yang ingin didapatkan konsumen sebagai balasan dari apa yang diberikannya. Barnes (2001:104) mengungkapkan bahwa, “Nilai bersifat pribadi dan unik.” Nilai dikatakan bersifat pribadi dan unik karena nilai terkait dengan manfaat yang mereka terima dari sebuah produk dan biaya yang harus dikeluarkan untuk dapat merasakan manfaat tersebut. Halbrook (2009:27) mengungkapkan bahwa, “Nilai adalah preferensi yang bersifat relatif (komperatif, personal, dan situasional) yang memberi ciri pada pengalaman seseorang dalam berinteraksi dengan beberapa objek.” Halbrook pun mengungkapkan bahwa: “Nilai berkaitan dengan pengalaman dan menyangkut bukan hanya pembelian suatu objek, melainkan juga konsumsi dan penggunaan suatu jasa.” Barnes (2001:104) mengatakan bahwa: “Nilai dipersepsikan berbeda oleh berbagai segmen pelanggan. Pelanggan mengkombinasikan berbagai elemen yang bervariasi.” Uraian Bernes di atas dapat menjelaskan mengapa proporsi nilai seorang pelanggan yang satu tidak sama dengan yang lainnya. Suatu produk bernilai maksimum yang dianggap oleh seorang konsumen belum tentu dianggap bernilai maksimum oleh konsumen lain. Uraian tersebut menggambarkan bahwa tantangan perusahaan dalam memenuhi nilai yang sesuai dengan persepsi pelanggan tidaklah mudah, salah 55 satunya dikarenakan segmen pelanggan yang berbeda-beda. Namun secara garis besar, nilai pelanggan adalah perbandingan benefit dengan cost, sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa formula nilai di bawah ini: Nilai Manfaat Fungsional Manfaat Emosional Manfaat Biaya Biaya Moneter Biaya Waktu Biaya Energi Biaya Fisik Kotler & Keller (2012:186) Menurut Kotler dan Armstrong (2010:38), “ Customer delivered value is the difference between total customer value and total customer cost. Total customer value is the bundle of benefits customers expect from a given product or service. Total customer cost is the bundle of costs customers expect to incur in evaluating, obtaining, using and disposing of product or service ”. PRODUCT VALUE SERVICES VALUE PERSONNEL VALUE TOTAL CUSTOMER VALUE IMAGE VALUE CUSTOMER DELIVERED VALUE MONETARY COST TIME COST TOTAL CUSTOMER COST ENERGY COST PSYCHIC COST Gambar 2.8 Determinants of Customer Delivered Value Sumber : Kotler & Armstrong (2010: 38) Nilai yang dipersepsikan pelanggan (CPV-Customer Perceived Value) adalah selisih antara penilaian pelanggan prospektif atas semua manfaat dan biaya dari suatu penawaran terhadap alternatifnya. Total manfaat pelanggan (total 56 customer benefit) adalah nilai moneter kumpulan manfaat ekonomi, fungsional, dan psikologis yang diharapkan pelanggan dari suatu penawaran pasar yang disebabkan oleh produk, jasa personel dan citra yang terlibat. Total biaya pelanggan (total customer cost) adalah kumpulan biaya yang dipersepsikan oleh pelanggan untuk dikeluarkan dalam mengevaluasi, mendapatkan, menggunakan dan menyingkirkan suatu penawaran pasar, termasuk biaya moneter, waktu, energi, dan psikologis (Kotler & Keller, 2009:136). Kurz and Clow dalam Rangkuti, (2002:31) menjelaskan bahwa Konsumen membeli barang atau jasa karena keinginan untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya. Alasan keterbatasan waktu dan finansial menyebabkan konsumen harus memilih dalam pengambilan keputusan pembelian. Tipe pemilihan pengambilan keputusan membeli konsumen menurut Freddy Rangkuti (2002:31) dipengaruhi oleh consumption value yang meliputi: 1. Functional value, perceived utility yang diterima dari penyediaan manfaat dari pemilihan possesses (kepemilikan) dan manfaat atribut yang disiapkan untuk konsumen. 2. Nilai Sosial : Manfaat suatu produk dikaitkan dengan kemampuan produk tersebut untuk mengidentikan penggunaannya dengan satu kelompok sosial tertentu. 3. Nilai Emosi : Manfaat suatu produk dikaitkan dengan kemampuan produk tersebut membangkitkan perasaan atau emosi penggunanya. 4. Nilai Epistem: Manfaat suatu produk dikaitkan dengan kemampuan produk tersebut untuk memenuhi keingintahuan pemakainnya. 57 5. Nilai Kondisi : Manfaat suatu produk dikatkan dengan kemamuan produk tersebut untuk memenuhi keperluan penggunaanya pada saat dan kondisi tertentu. Nilai menurut Freddy Rangkuti, (2002:31) didefinisikan sebagai pengkajian secara menyeluruh manfaat dari suatu produk, yang didasarkan pada persepsi pelanggan atas apa yang telah diterima oleh pelanggan dan yang telah diberikan oleh produk tersebut. Pengukuran Nilai Pelanggan Dalam pemasaran selalu diupayakan penciptaan dan delivery nilai (value) kepada konsumen. Nilai pelanggan (customer value) ditentukan oleh selisih antara manfaat total (total benefit) dan biaya total kosumen (customer cost). Total benefit terdiri atas manfaat ekonomi, fungsional dan emosional dari keempat sumber yaitu produk, jasa, personel dan citra. Sedangkan, total cost terdiri atas biaya ekonomis/moneter, yaitu biaya yang dibayarkan untuk memperoleh produk/jasa, biaya waktu, biaya energi yang dikeluarkan konsumen, dan biaya psikis. Lovelock dan Wright (2005:243-6) menyebutkan bahwa biaya konsumen juga termasuk biaya yang juga mengorbankan sesuatu yang berkaitan dengan rasa tidak menyenangkan yang mempengaruhi pancaindera akibat menerima jasa. Pada akhirnya yang disebut dengan nett value adalah jumlah seluruh manfaat yang diterima (gross value) dikurangi seluruh biaya atau nilai pengorbanan konsumen. Apabila persepsi konsumen dalam menerima nilai manfaat lebih besar daripada harga aktual yang dibayarkan konsumen disebut dengan surplus konsumen (consumer surplus). Upaya peningkatan nilai dilakukan dengan menambahkan 58 jasa pelengkap atau mengurangi biaya konsumen. Perusahaan dapat meningkatkan nilai dengan meminimalkan biaya nonkeuangan yang tidak diinginkan. Menurut Harjati dalam Usmara (2003:116) nilai pelanggan menguraikan hubungan produk dengan pelanggan sebagai berikut: Nilai pelanggan menguraikan hubungan antara produk dan pelanggan yaitu pemahaman pelanggan mengenai apa yang mereka inginkan dengan produk/jasa yang ditawarkan dalam memenuhi kebutuhannya, dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkannya. Menurut Kotler & Keller (2012:133), nilai yang diterima pelanggan adalah sebagai berikut: Nilai yang diterima pelanggan sebagai selisih antara jumlah nilai bagi pelanggan dan biaya total bagi pelanggan. Jumlah nilai bagi pelanggan adalah kumpulan manfaat yang diharapkan oleh pelanggan dari produk atau jasa tertentu. Biaya total pelanggan adalah kumpulan pengorbanan yang diperkirakan pelanggan akan terjadi dalam mengevaluasi, memperoleh, dan menggunakan produk atau jasa tersebut. Nilai pelanggan total menurut Hoffman dan Batteson (2007:154), terdiri dari: 1. Nilai Produk, suatu yang berharga dari produk menurut pelanggan. 2. Nilai pelayanan, suatu yang berharga dari jasa menurut pelanggan. 3. Nilai Personil, suatu yang berharga yang diperolah dari kemampuan personil menurut pelanggan. 4. Nilai Citra, suatu yang berharga yang diperoleh dari citra dari penyedia jasa menurut pelanggan. 59 Sedangkan biaya pelanggan total masih menurut Hofman dan Batteson (2007:154), meliputi: 1. Harga moneter, adalah harga nyata yang dibayar oleh pelanggan untuk suatu produk. 2. Biaya waktu, adalah waktu yang dikorbankan pelanggan untuk mendapatkan layanan. 3. Biaya energi, adalah energi fisik yang dikorbankan oleh pelanggan dalam mendapatkan layanan. 4. Biaya Psikis, adalah energi mental yang dikorbankan oleh pelanggan untuk mendapatkan layanan. Hoffman dan Batteson mengidentifikasikan nilai pelanggan total ke dalam empat nilai yang diterima, yaitu nilai produk yang merupakan penilaian pelanggan terhadap produk. Kedua, nilai pelayanan yang merupakan penilaian yang diberikan pelanggan terhadap pelayanan. Ketiga, nilai karyawan yang diberikan berdasarkan penilaian terhadap pelayanan karyawan. Dan yang keempat adalah nilai citra, yang penilaiannya dilakukan oleh konsumen terhadap pelayanan atau penyedia jasa. Total biaya pelanggan yang diungkapkan Hoffman dan Batteson di atas, diidentifikasikan ke dalam empat jenis biaya yang dikeluarkan pelanggan, yaitu: Biaya moneter adalah harga aktual yang harus dibayar pelanggan untuk mendapatkan sebuah produk. Kedua, biaya waktu yang merupakan waktu yang dihabiskan untuk memperoleh produk. Ketiga, biaya energi adalah energi yang dikeluarkan untuk memperoleh produk tersebut. Dan yang keempat, biaya psiskis 60 yang merupakan energi mental yang dikeluarkan pelanggan untuk memperoleh produk tersebut. Menurut Brady (2009), sasaran konsumsi pelanggan biasanya adalah: Sasaran nilai pelanggan biasanya adalah untuk memperoleh benefit/ konsekuensi positif yaitu nilai penggunaan dan nilai kepemilikan. Nilai penggunaan meliputi fungsional benefit, setelah penggunaan produk mereka menerima benefit, misalnya efisiensi waktu, menghilangkan rasa haus, hiburan, mudah dibersihkan, awet, cepat saji, enak, dan lain-lain. Nilai kepemilikan adalah irasional benefit yang merupakan komponen yang menyebabkan kebanggaan jika memiliki, karena dalam produk terkandung simbolik penting harga diri, keindahan kualitas. Diungkapkan pula oleh Hoffman dan Betteson (2007:154) bahwa, persepsi pembeli terhadap nilai menggambarkan sebuah perbandingan antara manfaat dari pelayanan yang dibeli dengan pengorbanan yang dirasakan dalam hubungannya dengan biaya yang dikeluarkan. Kotler & Keller (2012:134) menyatakan bahwa pemasar dapat meningkatkan nilai tawaran pelanggan dengan beberapa cara, yaitu: 1. Meningkatkan manfaat; 2. Mengurangi biaya; 3. Meningkatkan manfaat dan mengurangi biaya; 4. Meningkatkan manfaat lebih besar daripada kenaikan biaya; 5. Mengurangi manfaat lebih kecil daripada pengurangan biaya. Karena umumnya pelanggan menginginkan : 1. Pembeli boleh jadi akan membeli pada harga yang paling rendah 61 2. Pembeli akan menunda bila menyadari bahwa produk yang akan dibeli lebih mahal dalam beroperasi 3. Pembeli menikmati suatu jalinan hubungan dalam jangka panjang dengan penjual produk. Maharsi (2006) mengelompokan nilai yang diciptakan melalui tiga belas bentuk nilai, yaitu: 1. Nilai berbasis harga. Dalam nilai ini, harga merupakan pemicu pelanggan untuk melakukan switcher (beralih kepada merek atau produk lain), apabila merek atau produk pesaing menawarkan harga yang lebih murah. 2. Nilai kemudahan dan akses yaitu produk dan merek perusahaan tersedia di banyak tempat penjualan, sehingga memudahkan pelanggan untuk membelinya. 3. Nilai berbasis pilihan, yaitu diciptakan melalui kesempatan yang diberikan kepada pelanggan untuk menyeleksi berbagai pilihan yang tersedia dari produk yang ditawarkan. 4. Nilai berbasis karyawan berkaitan dengan pelayanan yang diberikan oleh karyawan kepada pelanggan. 5. Nilai informasi adalah ditandai dengan mudahnya pelanggan untuk mendapatkan informasi mengenai produk atau merek yang ditawarkan perusahaan. Saat ini banyak perusahaan besar yang telah memberikan pelayanan informasi kepada pelanggan agar lebih mengenal produk mereka, yaitu melalui surat kabar, pelayanan informasi produk di toko-toko, internet, televisi, dan lain sebagainya. 62 6. Nilai asosiasi adalah nilai yang diperoleh pelanggan melalui perasaan atau kesan positif dari produk atau merek dikarenakan telah mendapatkan kepuasan dari mengkonsumsi produk atau merek tersebut. 7. Nilai yang memampukan, yang berarti pelanggan mampu melakukan sesuatu dengan produk tersebut. 8. Nilai hubungan, yaitu nilai yang diciptakan perusahaan dengan cara melakukan hubungan yang baik dengan pelanggan. 9. Nilai keunikan pelanggan, yaitu nilai yang diciptakan perusahaan dengan memperhatikan karakteristik pelanggan sebagai individu. Diantaranya diwakili dengan menciptakan produk yang beraneka ragam warna, bentuk, ukuran, rasa, dan lain sebagainya. 10. Nilai kejutan, yaitu nilai yang diberikan perusahaan kepada pelanggan dengan memberikan kejutan menarik bagi pelanggan. 11. Nilai komunitas adalah nilai yang diciptakan melalui komunitas pelanggan yang didirikan oleh perusahaan. 12. Nilai ingatan adalah nilai yang diciptakan pelanggan dikarenakan pelanggan ingat terhadap produk atau merek tersebut. 13. Nilai pengalaman adalah nilai yang diciptakan melalui pengalaman yang menarik, sehingga pengalaman tersebut tidak dilupakan dalam jangka waktu yang panjang. Sedangkan Kotler (2012:13) menganjurkan pemilihan salah satu dari lima “generic value strategis”, lima strategis nilai generik di atas dapat diuraikan sebagai berikut: 63 1. More for less artinya bahwa perusahaan memberikan manfaat (benefit) yang lebih kepada pelanggan yang disertai biaya (cost) yang lebih rendah, jika dibandingkan dengan manfaat dan biaya yang diberikan pesaing. 2. More fore same adalah perusahaan memberikan manfaat yang lebih kepada pelanggan jika dibandingkan dengan pesaing, namun biaya yang ditawarkan sama dengan pesaing. 3. Same for less adalah memberikan kemanfaatan yang sama dengan pihak pesaing kepada pelanggan dengan biaya yang lebih rendah. 4. More for more adalah strategi perusahaan dimana produk yang ditawarkan memberikan manfaat yang lebih, disertai juga biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk pesaing. 5. Less for less yaitu memberikan manfaat yang rendah dan biaya yang rendah, jika dibandingkan dengan pihak pesaing. Jadi bahwa nilai yang diberikan pelanggan melalui produk atau merek yang diciptakannya, tidaklah selalu berarti benefit yang tinggi dan biaya yang lebih rendah dibandingkan pesaingnya. Yang penting adalah bagaimana perusahaan memiliki suatu keunggulan dari pesaing, baik itu dari benefit yang diberikan ataupun biaya yang ditawarkan. 2.1.8 Kepuasan Pelanggan Menurut Tjiptono (2011:71) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan adalah inti dari pencapaian profitabilitas jangka panjang. Kepuasan adalah merupakan perbedaan antara harapan dan unjuk kerja (yang senyatanya diterima). Apabila harapan tinggi, sementara unjuk kerja rendah, kepuasan tidak akan 64 tercapai. Teori kepuasan pelanggan selalu didasarkan pada upaya peniadaan atau paling kurang menyempitkan gab antar harapan dan kinerja. Harapan dibentuk komunikasi getok tular, kebutuhan personal dan pengalaman masa lalu. Kepuasan pelanggan menurut Kotler dan Keller (2012:36) “Satisfaction is a person’s feelings of pleasure or disappointment resulting from company a product’s perceived performance (or Outcame) in relation to his or her expectations.” Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa, hasil dari membendingkan antara apa yang di harapkan dengan apa yang dirasakan dari suatu produk akan menghasilkan rasa puas atau kecewa pelanggan. Pendapat bahwa kepuasan pelanggan merupakan perbandingan antara apa yang diharapkan dan apa yang diperoleh juga dikemukakan oleh Soderlund (2003: 137) juga “A mental state which results from the customer's comparison of (expectation prior to a purchase performance perceptions after a purchase).” Definsi tersebut menjelaskan juga bahwa kepuasan pelanggan merupakan perbandingan antara apa yang diharapkan dari sebuah produk setelah di membeli atau mengkonsumsinya. Kepuasan sebagai suatu perbandingan antara harapan dan apa yang dirasakan juga dikemukakan oleh Fecikova (2004:57) yang menjelakan bahwa kepuasan pelanggan adalah “a feeling which results from a process of evaluating what was received agains that expected, the purchase decision itself and/or the fulfillment of need/want.” Pendapat tersebut menerangkan bahwa kepuasan merupakan perasaan yang dihasilkan dari dari mengevaluasi apa yang dirasakan 65 dibandingkan dengan harapannya, yang berkaitan dengan keinginan dan kebutuha dari pelanggan tersebut pada sebuah produk atau layanan. Lebih lanjut Shankar et.al (2003:154) menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan merupakan “The perception of pleasurable fulfillment of a service, and loyalty as deep commitment to the service provider.” Pengertian tersebut menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan lebih mengarah pada sikap dan perilaku loyal, atau ditunjukkan oleh komitmen yang tinggi terhadap perusahaan. Berdasarkan pendapat para pakar tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa yang dimiliki seseorang berdasarkan perbandingan antara kenyataan yang diperoleh dengan harapan yang diinginkan oleh pelanggan. Jika barang dan jasa yang dibeli cocok dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan, maka akan terdapat kepuasan atau sebaliknya. Bila kenikmatan yang diperoleh pelanggan melebihi harapannya, maka pelanggan akan betul-betul merasa puas dan sudah pasti mereka akan terus mengadakan pembelian ulang serta mengajak teman-teman sehingga itu dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Lebih lanjut Lovelock (2008:92) menyatakan bahwa “customer satisfaction is a short term emotional reaction to a specific service performance”. “Kepuasan konsumen merupakan luapan emosi jangka pendek dari konsumen dalam merespon kinerja jasa yang diberikan oleh penyedia jasa secara spesifik. Secara spesifik di sini dapat digarisbawahi yaitu kinerja bauran pemasaran non konvensional (personal, bukti fisik dan proses) dengan harapan konsumen, maka konsumen akan merasakan kepuasan atas jasa yang diberikan”. 66 Zeithaml et al (2009:104) menyatakan : “Satisfaction is the customer’s fulfillment response. It is a judgment that a product or service feature or the product or service itself, provides a pleasurable level of consumption related fulfillment. Jadi kepuasan adalah respons konsumen yang sudah terpenuhi keinginannya. Ada perkiraan terhadap features barang dan jasa yang telah memberikan tingkat kesenangan tertentu dan konsumen betul-betul puas. Dalam definisi diatas sangat berperan riel benefit yang diterima oleh konsumen dengan apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Jadi satisfaction adalah fungsi dari perceived performance dan expectation S = f (E,P) Dimana : S = Kepuasan (satisfaction) E = harapan (expectation) P = kualitas produk (product perceived performance). Tingkat kepuasan pelanggan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan pelanggan (konsumen) dengan harapan pelanggan yang memakai salah satu dari tingkat kinerja perusahaan. Pelanggan akan merasa kurang puas bila kinerja perusahaan berada dibawah harapan pelanggan. Dan pelanggan merasa puas bila tingkat kinerja sama atau melebihi harapan pelanggan. Harapan pelanggan ( expectation ) diperoleh dari pengalaman pelanggan dalam pembelian terdahulu, yaitu : komentar dari pelanggan lainnya, janji pemasar, dan saingan yang sejenis. Bila perusahaan menaikkan tingkat 67 harapan pelanggan terlalu tinggi dan dalam pembeliannya tidak sesuai maka pelanggan akan merasa tidak puas terhadap kinerja perusahaan. Tujuan dari perusahaan adalah mencapai kepuasan pelanggan sepenuhnya (total customer satisfaction) dengan meningkatkan kinerja perusahaan yang sesuai dengan harapan pelanggan agar mempunyai daya saing yang tinggi di pasar. Hal ini dapat dapat diperoleh dengan membangun suatu budaya perusahaan dimana seluruh bagian yang terkait di dalam perusahaan bekerjasama dalam melayani pelanggan. Apabila penilaian pelanggan merasa puas terhadap nilai jasa perusahaan, maka mereka (para konsumen) akan melakukan pemakaian jasa ulang, bahkan lebih jauh lagi, mereka akan melakukan promosi dari mulut ke mulut kepada rekan, saudara atau kenalan terdekatnya agar sama-sama menggunakan pelayanan jasa perusahaan tersebut untuk berbagai keperluan di perusahaan yang sama. 2.1.8.1 Konsep Kepuasan Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Pelanggan Dalam menguraikan teori tentang kepuasan nampaknya tidak terlepas dari pengaruh pelayan/people pada institusi dimaksud pada bagian ini disinggung sekilas tentang pelayanan yakni pelayanan prima ; dimana pelayanan yang prima sebagai usaha untuk mencapai kepuasan dan loyalitas pelanggan, pihak produsen jasa dapat berpedoman pada variable pelayanan prima (service excellence) yang dijelaskan oleh beberapa penulis. Menurut Barata (2004:31) pelayanan prima (Service excellence) terdiri dari 6 unsur pokok, antara lain : 1. Kemampuan (ability), 2. Sikap (atitude), 3. Penampilan (appearance), 4. 68 Perhatiaan (attention), 5. Tindakan (action) dan 6. Tanggung jawab (accounttability). Sedangkan menurut Tjiptono (2011:58), pelayanan prima (service excellence) terdiri dari 4 unsur pokok antara lain: 1. Kecepatan 2. Ketepatan dan 3. Keramahan.dan 4. Kenyamanan. Kotler mengemukakan bahwa jasa dapat diperingkat menurut Customer importence (Kepentingan pelanggan) dan Company performance (kinerja perusahaan) yang disebut sebagai Importence and Performance analysis Kotler, (2002:501). Analisis kepentingan dan kinerja ini dapat digunakan untuk meningkatkan berbagai elemen mengidentifikasi tindakan apa dari berbagai kumpulan jasa yang yang diperlukan. Pelanggan memberikan peringkatan elemen-elemen (attributes) jasa dari unit pelayanan berdasarkan kepentingan dan kinerja perusahaan. Kepentingan diperingkat dengan skala empat titik “sangat penting”, “penting”, “agak penting” dan “tidak penting”, “baik”, “cukup baik”, dan “buruk”. Peringkat elemen-elemen tersebut ditampilkan dalam pembagian empat kuadran yaitu: 1. Kuadran A menunjukkan elemen pelayanan penting yang tidak dilaksanakan pada tingkat yang diharapkan. Perusahaan harus berkonsentrasi untuk meningkatkan kinerja pelayanan pada elemen-elemen ini ; 2. Kuadran B menunjukkan elemen pelayanan penting yang dilaksanakan perusahaan dengan baik. Perusahaan harus dapat mempertahankan kinerja ini. 3. Kuadran C menunjukkan elemen pelayanan minor yang dilakukan dengan pas-pasan namun tidak memerlukan perhatian, karena tidak terlalu penting. 69 4. Kuadran D menunjukkan suatu elemen pelayanan minor, dilaksanakan dengan sangat baik, sesuatu yang mungkin dilakukan secara berlebihan. Mungkin perusahaan harus mengurangi mengeluarkan dan melakukan penghematan untuk digunakan memperbaiki kinerja perusahaan pada elemenelemen penting yang masih kurang. Analisis ini dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan memeriksa tingkat kinerja pesaing pada tiap elemen. Extremelly Fair Performance A. Concentrate Here B. Keep up the Good work C. Low Priority Excellent Performance D. Possible overskill Slightly Importance Gambar 2.9 Importence- Performance Analysis Sumber : Kotler dan Keller (2012:501) 2.1.8.2 Memuaskan Keluhan Pelanggan Beberapa perusahaan berpikir bahwa cara memperhatikan kepuasan pelanggan adalah dengan mencatat keluhan. Faktanya, sesempurna apapun rancangan dan implementasi sebuah program pemasaran, kesalahan akan terjadi. Hal terbaik yang dapat dilakukan perusahaan adalah mempermudah pelanggan menyampaikan keluhan. Formulir saran, nomor bebas pulsa, situs Web, dan alamat e-mail memungkinkan komunikasi dua arah yang cepat. Mengingat besarnya dampak buruk dari pelanggan yang tidak puas, penting bagi pemasar untuk menangani pengalaman negatif dengan tepat. Di luar 70 itu, prosedur berikut dapat membantu memulihkan itikad baik dari pelanggan Kotler dan Keller (2009:143) : 1. Membuka “hotline: gratis 7 hari, 24 jam (lewat telepon, faks, atau e-mail) untuk menerima dan menindaklanjuti keluhan pelanggan. 2. Menghubungi pelanggan yang menyampaikan keluhan secepat mungkin. Semakin lambat respons perusahaan, semakin besarlah ketidakpuasan yang akan menimbulkan berita negatif. 3. Menerima tanggung jawab atas kekecewaan pelanggan; jangan menyalahkan pelanggan. 4. Mempekerjakan orang layanan pelanggan yang memiliki empati. 5. Menyelesaikan keluhan dengan cepat dan mengusahakan kepuasan pelanggan. Sebagian pelanggan yang menyampaikan keluhan sesungguhnya tidak meminta kompensasi yang besar sebagai tanda bahwa perusahaan peduli. 2.1.8.3 Pengukuran Kepuasan Pelanggan Ada beberapa cara mengukur kepuasan pelanggan (Kotler dan Keller, 2009 : 140-2) : 1. Complaint and suggestion system (Sistem keluhan dan saran) Banyak perusahaan yang berhubungan dengan langganan membuka kotak saran dan menerima keluhan-keluhan yang dialami oleh langganan.Ada juga perusahaan yang memberi amplop yang telah ditulis alamat perusahaan untuk digunakan menyampaikan saran keluhan serta kritik setelah mereka sampai di 71 tempat tujuan. Saran-saran tersebut dapat juga disampaikan melalui kartu komentar, customer hotline. Informasi ini dapat memberikan ide-ide dan masukan kepada perusahaan yang memungkinkan perusahaan mengantisipasi dan cepat tanggap terhadap kritik dan saran tersebut. 2. Customer satisfaction surveys (Survey kepuasan pelanggan) Tingkat keluhan yang disampaikan oleh konsumen tidak bisa disimpulkan secara umum untuk mengukur kepuasan konsumen pada umumnya. Umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan melalui survey, melalui pos, telepon atau wawancara pribadi, atau ada perusahaan mengirimkan angket ke orang-orang tertentu. 3. Ghost Shopping (Pembeli bayangan) Dalam hal ini perusahaan menyuruh orang-orang tertentu sebagi pembeli ke perusahaan lain atau ke perusahaannya sendiri. Pembeli-pembeli misteri ini melaporkan keunggulan dan kelemahan pelayan-pelayan yang melayaninya. Juga melaporkan segala sesuatu yang bermanfaat sebagai bahan mengambil keputusan oleh manajemen. Bukan saja orang-orang lain yang disewa untuk menjadi pembeli bayangan tetapi juga manajer sendiri harus turun ke lapangan, belanja ke toko saingan dimana ia tidak dikenal. Pengalaman manajer ini sangat penting karena data dan informasi yang diperoleh langsung ia alami sendiri. 4. Lost customer analysis (Analisis pelanggan yang beralih) Perusahaan-perusahaan yang kelhilangan langganan mencoba menghubungi langgan tersebut. Mereka dibujuk untuk mengungkapkan mengapa mereka 72 berhenti, pindah ke perusahaan lain, adakah sesuatu masalah yang terjadi yang tidak bisa diatasi. Dari kontak semacam ini akan diperoleh informasi dan akan memperbaiki kinerja perusahaan sendiri agar tidak ada lagi langganan yang lari dengan cara meningkatkan kepuasan mereka. 2.1.9 Penelitian Terdahulu Untuk melihat perbedaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya melalui variabel-variabel penelitian yang digunakan, sehingga dapat memberikan gambaran atau originalitas temuan, maka disajikan secara lengkap pada Tabel.2.3 di bawah yang merangkum argumentasi penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan dibandingkan dengan metode maupun teknik analisis pada setiap variabel maupun dimensi yang digunakan sebagai parameter di dalam penelitian ini. Tabel 2.1 Perbedaan dan Persamaan Penelitian dengan Penelitian Sebelumnya Pengarang IMade Wardhana 2008 Gritel Griselda Tagor Muda Panjaitan2003 Judul Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap tingkat kepuasan Penggunaan Kartu Jaminan Kesehatan (JKJ) di Kabupaten Jembrana Analisis Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Konsumen Restoran Pulau Dua Persamaan Perbedaan Kualiatas Pelayanan sebagai variable independen Tidak ada variabel antara Kualitas Layanan Sebagai Variabel Independen Tidak ada variable antara Temuan Penelitian Dimensi Kualitas pelayanan secara simultan mempengaruhi tingkat kepuasan pengguna Kartu Jaminan Kesehatan Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan tangible,reliability,respo nsiveness,assurance, emphaty dan pengaruh dari kualitas layanan terhadap kepuasan konsumen 73 Daniwiyah, Dede-2012 Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Bauran Pemasaran Terhadap Kepuasan Pelanggan Kepuasan sebagai variable dependen Tidak ada variable antara Variabel independent yaitu variable pelayanan dan bauran pemasaran dapat mempengaruhi variable dependent yaitu kepuasan pelanggan Aris Bagus Permana2012 Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Keputusan Konsumen Dalam menggunakan jasa Penerbangan Garuda Indonesia Airlines Kualitas pelayanan sebagai variable independen Tidak ada variabel antara Variabel independen berpengaruh secara signifikan positif terhadap variable kepuasan konsumen Yanti Sudirman, Dewi-2012 Pengaruh Kualiatas Layanan Terhadap Keputusan Nasabah Produk Tabungan Britama pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang A Yani Makassar Kualitas Layanan sebagai variable independen Tidak ada variabel antara Kualitas Pelayanan memiliki pengaruh positif selain itu Kualitas Pelayanan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan Sari,Ratna Dwi Kartika and Sri,Rahayu Tri Astuti2012 Analisis Pengaruh Kualitas Produk, persepsi harga,dan word of mouth communication terhadap keputusan Pembelian mebel pada cv mega jaya mebel semarang Kualitas Tidak ada produk, variabel antara persepsi harga,dan word of mouth communication sebagai variable independen Variabel independent berpengaruh terhadap keputusan pembelian sebagai variable dependent Dwihapsari,B unga Caecaria and Santosa,Sury ono Budi 2012 Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Persepsi Harga terhadap Kepuasan Konsumen dalam menggunakan jasa pada Oryza Tour Kualitas Pelayanan dan Persepsi harga sebagai variable independen Semua variable independent berpengaruh positif terhadap variable dependent Tidak ada variabel antara 74 Hayati, Mardhiyah2012 Pengaruh Kualitas Layanan ,nilai pelanggan dan citra terhadap kepuasan serta loyalitas nasabah centratama nasional bank (Bank CNB) Cabang Malang Kualitas layanan,nilai pelanggan ,dan citra sebagai variable independen Tidak ada variabel antara Mustamsikin, Arif -2012 Analisa Pengaruh Produk, Kualitas Pelayanan dan nilai pelanggan terhadap kepuasan pelanggan Pada Matahari Departement Store Kudus Pengaruh Produk, Kualitas layanan dan nilai pelanggan sebagai sebagai variable independen Tidak ada variabel antara Kualitas Layanan,nilai pelanggan dan Citra berpengaruh langsung terhadap kepuasan dan loyalitas nasabah.Kepuasan Nasabah berpengaruh terhadap loyalitas nasabah.Kepuasan nasabah memediasi pengaruh kualitas layanan dan citra terhadap loyalitas nasabah Ada pengaruh Variabel Kualitas produk,kualitas pelayanan,dan nilai pelanggan secara berganda (bersamasama) terhadap Kepuasan Pelanggan 2.2. Kerangka Pemikiran Dalam suatu kerangka pemikiran suatu penelitian, digunakan model penelitian agar lebih mudah dalam menyelesaikan dan menjawab permasalahan yang menjadi rumusan masalah dari penelitian. Model dari penelitian ini dapat digambarkan pada gambar 2.6, dimana pada gambar tersebut dilukiskan hubungan antara dimensi kualitas layanan yang terdiri dari reliability, responsiveness, assurance, emphaty, tangibles terhadap nilai pelanggan serta implikasinya terhadap kepuasan pelanggan. Dalam model ini disertakan hipotesis-hipotesis. Dimana hipotesis ini sendiri berarti pernyataan tentative yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya (Nasution , 2006:39). 75 Penelitian ini juga menggunakan hipotesis nol, hal ini disebabkan karena seorang ilmuwan harus menyangsikan kebenaran setiap pertanyaan sebelum terbukti benar secara empiris (Nasution, 2006 :43). 2.2.1 Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Nilai Pelanggan Dijelaskan oleh Parasuraman at.al dalam Tjiptono (2011:85) menyatakan faktor utama yang mempengaruhi kualitas layanan adalah layanan yang diharapkan pelanggan (expected service) dan persepsi terhadap layanan (perceived service). Apabila perceived service sesuai dengan expected service, maka kualitas layanan yang bersangkutan akan dinilai baik atau positif. Jika perceived service melebihi expected service, maka kualitas layanan dipersepsikan sebagai kualitas ideal. Sebaliknya apabila perceived service lebih jelek dibanding expected service, maka kualitas layanan dipersepsikan negative. Oleh sebab itu, baik tidaknya kualitas layanan bergantung pada kemampuan perusahaan dan stafnya memenuhi harapan pelanggan secara konsisten. Apabila suatu pelayanan dapat memenuhi lebih dari harapan pelanggannya maka akan memuaskan pelanggannya dan pelanggan merasakan manfaat yang besar dari suatu pelayanan, dikatakan mempunyai nilai pelanggan yang tinggi. Kualitas layanan jasa yang baik dan konsisten akan mengakibatkan kepuasan pelanggan dan akan dapat memberikan manfaat yang banyak. Kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh persepsi kualitas layanan jasa, kualitas produk, nilai pelanggan dan faktor-faktor yang bersifat pribadi serta bersifat situasi sesaat. Suatu produk/jasa dapat memuaskan pelanggan apabila bila dapat memenuhi 76 ataupun dapat melebihi keinginan dan harapan pelanggan. Kualitas layanan jasa juga merupakan hal yang mendasar, dari kepuasan pelanggan dan kesuksesan dalam persaingan, kenyataan yang ada kualitas layanan mengembangkan praktek kualitas serta menunjukan ke konsumen bahwa mereka mampu menemukan harapan akan adanya kualitas yang semakin tinggi. Salah satu faktor lain yang menetukan kepuasan pelanggan adalah persepsi pelanggan mengenai kualitas pelayanan yang berfokus pada lima dimensi kualitas layanan jasa, yaitu bukti fisik (tangibles), keandalan (reliability), daya tanggap (responsifeness), jaminan (assurance), dan empati (emphaty). Dalam memberikan layanan jasa, pelanggan dan petugas pelayanannya akan berinteraksi dengan pelanggan untuk berkreasi dalam memberikan layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan secara simultan mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. Secara signifikan yang dimaksudkan dengan perhitungan , dengan tingkat signifikasi. 2.2.2 Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Pelanggan Tingkat kepuasan pelanggan dapat diklasifikan dalam lima kelompok karakteristik yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas suatu jasa dalam Tjiptono (2011:95) yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, emphaty, yang disesuaikan dengan harapan maupun pengalaman pelanggan. Kepuasan berkaitan erat dengan kualitas layanan, kualitas layanan adalah salah satu komponen untuk dapat menghasilkan suatu kepuasan pelanggan disamping kualitas produk dan harga. Kualitas layanan adalah refleksi dari suatu 77 layanan yaitu interaction quality, Physical environment quality, and Outcome quality. Kualitas layanan sebagai salah satu komponen yang diberikan oleh penyedia jasa yang mempengaruhi kepuasan pelanggan seperti halnya pengaruh dari Situasional factors dan personal factors . Servqual adalah suatu jurnal dari Valarie Zeithaml, Parrasuraman, dan Leonard Berry , 1988, dengan judul “ Servqual: A Multiple Item Scale for Measuring Consumer Peceptions of Service Quality”. Jurnal ini menjabarkan mengenai bagaimana mengukur kepuasan pelanggan. Riset ini mengidentifikasikan semua bentuk pelayanan yang berkualitas kedalam lima dimensi besar. Kepuasan pelanggan diprediksi akan tinggi apabila Kualitas Layanannya mempunyai kinerja yang tinggi, prinsip-prinsip pelayanan yang prima ditetapkan oleh pemerintah adalah kesederhanaan, kejelasan, kepastian waktu, akurasi, keamanan, tanggung jawab, kelengkapan sarana-prasarana, kemudahan akses, kedisiplinan, kesopanan, keramahan dan kenyamanan lingkungan pelayanan. Kualitas layanan dan Kepuasan pelanggan akan terbangun bila terjadi keunggulan kompetitif perusahaan dengan pesaing, disamping adanya argumen bahwa keunggulan dalam layanan atau produk yang ditawarkan akan terjalin hubungan yang sukses 2.2.3 Pengaruh Nilai Pelanggan terhadap Kepuasan Pelanggan Pelanggan dalam memilih suatu produk atau jasa tidak hanya bergantung pada kualitas pelayanan saja, tetapi juga bergantung pada nilai yang dirasakan oleh pelanggan, perusahaan harus menambahkan nilai yang dapat dirasakan oleh 78 pelanggan, mendapatkan apa yang pelanggan bayarkan atau mendapatkan lebih dari yang mereka harapkan, sehingga pelanggan tidak akan meninggalkannya. Ukuran nilai yang diperoleh adalah diantaranya dapat menghemat biaya. Produk atau penawaran jasa akan berhasil bila nilai dan kepuasan memenuhi harapan pelanggan. Pelanggan akan memilih perbedaan antara harapan dan nilai yang diperoleh. Dengan kata lain Nilai adalah perbandingan antara yang pelanggan dapatkan dengan apa yang ia berikan. Day dalam Tjiptono (2002:146) menyatakan kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi ketidakpuasan (disconfirmation) yang dirasakan antara apa yang jadi harapan dengan kinerja yang diberikan sesudah menggunakannya. Kepuasan merupakan fungsi dari kesan kinerja dan harapan, Jika kinerja tidak memenuhi apa yang menjadi harapan, maka pelanggan akan merasakan ketidakpuasan (dissatisfied). Sedangkan jika kinerjanya memenuhi apa yang menjadi harapannya maka pelanggan akan merasa puas (Satisfaction). Hal tersebut menggambarkan bahwa pelanggan memerlukan terjadinya keseimbangan antara apa yang dibutuhkan (need) dan yang diinginkan (want) dengan apa yang diberikan (given) oleh penyedia jasa. Oliver dalam Zeithaml Bitner, (2010:86) “Satisfaction is the consumer’s fulfillment response. It is a judgment that a product or service feature, or the product or service itself, provides a pleasurable level of consumtion-related fulfillment. Menyatakan bahwa kepuasan adalah respon terhadap kebutuhan konsumen. Hal tersebut menggambarkan yang melekat tentang produk atau 79 layanan yang diberikan, berisi tingkat kenyamanan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan konsumen akan mengakibatkan pembelian ulang (repeat buying) dan lebih jauh terjadi loyalitas terhadap jasa layanan yang diterima, loyal terhadap harga, dan juga merekomendasikan kepada teman-temannya atau dari mulut kemulut untuk menggunakan jasa tersebut, sehingga akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Menurut Rangkuti (2002:30), menyangkut kepuasan seseorang, bergantung pada persepsi, latar belakang, social ekonomi, norma, perilaku, bahkan kepribadian seseorang. Pelanggan akan mendapatkan keuntungan dan diasumsikan sebagai cost. Keuntungan termasuk keuntungan fungsional dan keuntungan emosional. Sedangkan costs termasuk monetary cost,time costs, energy costs, dan psychic costs. Hubungan tersebut berkontribusi pada sejumlah aspek krusial, seperti terciptanya loyalitas pelanggan, meningkatnya reputasi perusahaan, berkurangya elastisitas harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan meningkatnya efisiensi 2000). dan produktivitas karyawan (Edvardsson, et al, Kepuasan dan ketidakpuasan pelanggan merupakan bagian dari pengalaman pelanggan terhadap suatu produk yang ditawarkan. Berdasarkan pengalaman yang diperolehnya pelanggan memiliki kecenderungan untuk membangun nilai-nilai ekspektasi tertentu. Nilai ekspektasi tersebut akan memberikan dampak bagi pelanggan untuk melakukan perbandingan terhadap kompetitor dari produk yang pernah dirasakannya. Secara langsung penilaian tersebut akan mempengaruhi pandangan dan penilaian pelanggan terhadap 80 perusahaan kompetitor. Zeithaml bitner (2003:162) “ Relationship value of customers” Faktor yang mempengaruhi Hubungan Nilai Pelanggan. Hubungan Nilai pelanggan dipengaruhi oleh Jangka waktu rata-rata dari lifetime, revenue setiap perioda waktu life time, produk penjualan dan layanan yang diberikan terhadap waktu dan biaya yang dikeluarkan oleh pelanggan. Lifetime value terkadang menunjuk ke lifetime revenue, tetapi seringkali harga menjadikan pertimbangan, lifetime value berarti lifetime profitability. Berdasarkan kerangka pemikiran di atas dapat dibuat pengembangan model dengan paradigma penelitian sebagai berikut : Kualitas Layanan (X) Reliability Responsiveness Parasuraman at.al (1985) dalam Fandy Tjiptono (2008:93-95), Kotler dan Armstrong (2000:38) Zeithaml dan Bitner (2003:93-98) , Fitzsimmons ( 2011:116) NILAI PELANGGAN (Y) Assurance Emphaty Tangibles Gambar 2.10 Paradigma Penelitian KEPUASAN PELANGGAN (Z) 81 2.3 Hipotesis Penelitian Berdasarkan pokok kajian teoritis dan empiris serta tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah : 1. Terdapat pengaruh kualitas layanan terhadap nilai pelanggan baik secara parsial maupun simultan. 2. Terdapat pengaruh nilai pelanggan terhadap kepuasan pelanggan.