120 analisis data magnetik untuk mengetahui posisi batuan

advertisement
ANALISIS DATA MAGNETIK UNTUK MENGETAHUI POSISI BATUAN
SEDIMEN TERHADAP BATUAN BEKU DAN BATUAN METAMORF
DI DAERAH WATUPERAHU PERBUKITAN
JIWO TIMUR BAYAT KLATEN
Desy Hanisa Putri
Program Studi Fisika FKIP Universitas Bengkulu, Jl Raya Kandang Limun
Bengkulu, Telp (0736) 21186, e-mail : [email protected]
Abstrak
Daerah Watuperahu Perbukitan Jiwo merupakan daerah yang relatif
sempit namun memiliki kondisi geologi yang kompleks. Semua jenis batuan yaitu
batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf dapat dijumpai di daerah ini.
Adanya kompleksitas batuan yang terdapat pada daerah penelitian mendorong
dilakukannya survei geofisika menggunakan metode magnetik. Penelitian ini
bertujuan Menggambarkan kondisi bawah permukaan dan menentukan posisi atau
kedudukan batuan sedimen terhadap batuan beku dan batuan metamorf
berdasarkan kontur anomali medan magnet. Pengambilan dilaksanakan selama 8
hari dengan luas area 0.2 km x 1.4 km dan bervariasi antara 5 m - 50 m.
Pemrosesan data dimulai dengan koreksi IGRF dan koreksi variasi harian
untuk mendapatkan anomali medan magnet. Kemudian dilakukan kontinuasi ke
atas sampai ketinggian 398 m. Hasilnya kemudian direduksi ke kutub dan
ditransformasi psedogravitasi serta dicari nilai mutlak dari gradien horisontal.
Interpretasi kualitatif dilakukan dengan menganalisa grafik gradien vertikal dan
anomali medan magnet perlintasan survei, kontur gradien vertikal medan magnet
total, kontur anomali medan magnet total yang telah direduksi ke kutub dan hasil
tranformasi pseudogravitasi serta kontur harga mutlak gradien horisontal.
Interpretasi kuantitatif dilakukan dengan pemodelan benda anomali menggunakan
program Mag2DC for Windows.
Hasil dari interpretasi kualitatif adalah posisi horisontal dari benda
penyebab anomali, yaitu batuan sedimen terhadap batuan beku diorit berkisar
antara 360 m – 430 m, batuan beku diorit terhadap batuan sedimen Watuperahu
berkisar antara 620 m- 660 m, batuan sedimen Watuperahu terhadap batuan
metamorf berkisar antara 730 m – 800 m.Hasil dari interpretasi kuantitatif adalah
model struktur geologi berupa batas dan penyebaran batuan berdasarkan harga
suseptibilitas. Batuan metamorf mempunyai suseptibilitas 0.0002 emu, batuan
sedimen Watuperahu dengan suseptibilitas 0.0005 emu, batuan beku diorit dengan
suseptibilitas 0.0011 emu dan batuan sedimen (lempung tuffan dan pasir kering)
dengan suseptibilitas 0.0016 emu. Arah strike batuan cenderung mengarah ke
timur – barat dan arah perbatasan litologi juga cenderung memanjang ke timur –
barat.
PENDAHULUAN
Daerah
Perbukitan
Jiwo
merupakan daerah yang relatif sempit
tetapi memiliki kondisi geologi yang
kompleks. Adanya kompleksitas dan
pencapaian yang mudah, menjadikan
daerah Perbukitan Jiwo merupakan
daerah yang tepat untuk melakukan
penelitian lapangan. Semua jenis
batuan yaitu batuan beku, batuan
sedimen, dan batuan metamorf dapat
Analisis Data …………. (Desi Hanisa Putri)
120
dijumpai di daerah ini pada tempattempat singkapan yang mudah dicapai.
Salah satu batuan yang tertua di
Jawa, berupa batuan metamorf dan
batuan
paleogen
yang
banyak
mengandung fosil tersingkap di daerah
ini. Secara tidak selaras di atas batuan
metamorf terdapat seri batuan klastikal
dan karbonat yang kaya akan
kandungan fosil foraminifera. Bothe
(1929) menyebutkan batuan ini sebagai
Wungkal Beds untuk bagian bawah dan
Gamping Beds di bagian atas.
Perbedaan diantara dua Beds tersebut
bukan atas dasar perbedaan litologinya,
melainkan lebih didasarkan pada
perbedaan
kandungan
fosilnya,
sehingga Wungkal Gamping pada
dasarnya adalah nama untuk satuan
biostratigafi. Batuan tersebut diterobos
oleh tubuh batuan beku terutama
mikrodiorit. Penerobosan ini diduga
terjadi pada Paleogen Akhir.
Walaupun batuan paleogen ini
tersingkap di beberapa tempat, namun
posisi stratigrafi satu terhadap yang
lain sangat sukar untuk ditetapkan.
Singkapan utama batuan ini berada di
daerah Watuprahu-Padasan, lereng
selatan G. Pendul, di dekat desa
Gamping Gede dan daerah Dowo.
Keempat daerah ini terletak di kawasan
Perbukitan Jiwo Timur. Dengan
adanya keragu-raguan tersebut maka
penelitian
ini
bertujuan
untuk
menentukan posisi atau kedudukan
batuan sedimen terhadap batuan beku
dan batuan metamorf di daerah
Watuperahu.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui posisi batuan sedimen
terhadap batuan beku dan batuan
metamorf di daerah Watuprahu
Perbukitan Jiwo Timur yang meliputi
area sekitar 1.4 x 0.2 km2, dapat dirinci
sebagai berikut :
Exacta, Vol. VI, No 1, Juni 2008 : 120-127
1. Mendapatkan peta sebaran anomali
medan
magnet
di
daerah
Watuperahu
Perbukitan
Jiwo
Timur.
2. Menggambarkan kondisi bawah
permukaan berdasarkan kontur
anomali medan magnet.
3. Menentukan posisi atau kedudukan
batuan sedimen terhadap batuan
beku dan batuan metamorf.
METODE PENELITIAN
Peralatan Penelitian
Peralatan
utama
yang
digunakan di dalam penelitian medan
magnetik di daerah Watuperahu
Perbukitan Jiwo Timur ini adalah :
1. Dua unit PPM (Proton Precission
Magnetometer) merk Geometrics
model G-856, dilengkapi sensor,
tongkat, dan batere kering.
2. Satu set Global Positioning System
(GPS) Trimble 4600TM LS
frekuensi tunggal yang terdiri dari:
a. Satu buah Trimble survey
controller 1 (TSC1).
b. Empat buah baterai eksternal
GPS Trimble.
c. Charger baterai dan controller
GPS.
d. Tripot base dan bipot rover.
Peralatan penunjang yang digunakan di
dalam penelitian ini, meliputi :
1. Kompas Geologi, digunakan
untuk mengetahui arah utara
sebagai orientasi sensor PPM.
2. Peta topografi daerah Perbukitan
Jiwo untuk menentukan lintasan
pengambilan data.
3. Peta geologi daerah Perbukitan
Jiwo untuk melihat penyebaran
jenis batuan daerah penelitian.
4. Buku kerja, digunakan untuk
mencatat nilai intensitas medan
magnetik total, hari, tanggal, jam,
kondisi cuaca dan lingkungan
saat pengambilan data.
5. Jam, untuk mengetahui waktu
pengambilan data.
121
6. Unit komputer yang dilengkapi
dengan
perangkat
lunak
Magmap2000, GPS Survey,
Surfer, Magpick dan Mag2DC,
digunakan untuk mengolah data
intensitas medan magnet total
dan data posisi dari GPS yang
diperoleh dari lapangan.
Prosedur Penelitian
Pengambilan data meliputi dua
macam yaitu pengambilan data medan
magnet total dengan menggunakan
PPM dan pengambilan data posisi titik
awal dan akhir lintasan dengan
menggunakan GPS. Studi pendahuluan
mengenai kondisi daerah penelitian
dilakukan terlebih dahulu yang
bertujuan untuk membuat perencanaan
survei yaitu jalur lintasan yang akan
ditempuh, lokasi titik ikat magnetik
(base station) dan posisi titik ikat.
Tahapan
selanjutnya
adalah
pengambilan
data
langsung
di
lapangan.
Pengambilan data dilakukan
selama 8 hari dengan spasi antar
lintasan 50 m dan spasi antar titik
pengukuran diterapkan berdasarkan
kondisi geologi di lapangan yaitu 5,
10, 20, 30, 50 meter. Hal ini dilakukan
berdasarkan target survei yaitu untuk
menentukan posisi dan batas kontak
antara batuan beku, batuan sedimen
dan batuan metamorf, maka spasi
pengukuran diperkecil apabila lintasan
mendekati batas kontak batuan
sedimen dengan batauan beku. Spasi
yang
lebih
kecil
diharapkan
memberikan anomali yang lebih jelas
saat melewati batas kontak batuan
tersebut. Pengukuran saat melewati
batas kontak ini dicatat dan diberi
tanda pada buku lapangan untuk
memudahkan dalam interpretasi.
Pengukuran intensitas medan
magnet total dilakukan menggunakan
peralatan PPM, merupakan portable
magnetometer yang dilengkapi dengan
alat perekam data. Data-data yang
terukur berupa intensitas medan
magnet total, waktu dan tanggal
pengukuran. Alat ini juga dilengkapi
dengan sensor noise yang akan
berbunyi jika banyak gangguan di
sekitar lokasi pengukuran seperti
pengukuran dekat pagar kawat,
jaringan listrik, rumah, mobil dan lainlain.
Pengukuran
dilakukan
menggunakan dua buah PPM. PPM
dengan satu sensor dipasang di
basecamp sebagai basestation dan
dioperasikan secara otomatis merekam
data medan magnet total dengan selang
waktu dua menit. Tujuannya adalah
untuk mendapatkan data variasi harian.
Sedangkan PPM dengan dua sensor
digunakan untuk pemetaan medan
magnet total dan variasi gradien
vertikal medan magnet di lapangan.
Pada setiap stasiun pengukuran
intensitas
medan
magnet
total
dilakukan pada 5 titik yang berbeda.
Jarak antara satu titik dengan titik yang
lain dibuat kira-kira 1 meter.
Data posisi titik awal dan akhir
lintasan diukur menggunakan GPS
Trimble 4600TM LS frekuensi tunggal,
berfungsi sebagai titik ikat lintasan.
Metode pengukuran menggunakan
metode Faststatik dengan waktu
pengamatan sekitar 15 sampai 20
menit. Pengukuran posisi dilakukan
oleh tim kerja praktek GPS yang
terpisah dari metode magnetik..
HASIL DAN PEMBAHASAN
Studi pendahuluan mengenai
kondisi daerah penelitian dilakukan
terlebih dahulu yang bertujuan untuk
membuat perencanaan survei yaitu
jalur lintasan yang akan ditempuh,
lokasi titik ikat magnetik (base station)
dan posisi titik ikat. Pengambilan data
dilakukan menggunakan spasi antar
lintasan 50 m dan spasi antar titik
pengukuran diterapkan berdasarkan
Analisis Data …………. (Desi Hanisa Putri)
122
kondisi geologi di lapangan yaitu 5,
10, 20, 30, 50 meter. Hal ini dilakukan
berdasarkan target survei yaitu untuk
menentukan posisi dan batas kontak
antara batuan beku, batuan sedimen
dan batuan metamorf, maka spasi
pengukuran diperkecil apabila lintasan
mendekati batas kontak batuan
sedimen dengan batauan beku.
14
0
00
100
200
300
400
600
550
500
12
450
00
400
350
10
300
00
250
200
80
150
0
100
50
60
0
0
-50
-100
-150
0
40
-200
20
0
0
10
0
20
0
0
Gambar peta kontur anomali medan
magnet pada sensor atas (a) dan
bawah (b).
Gambar diatas Merupakan
kontur penyebaran anomali medan
magnet yang terukur oleh sensor atas
dan sensor bawah di daerah
Watuperahu. Keduanya memiliki pola
penyebaran
yang
relatif
sama,
menunjukkan bahwa pola tersebut
merupakan nilai anomali medan
magnet terukur yang sebenarnya. Dari
perbandingan antara pola penyebaran
nilai anomali medan magnet dan
topografi daerah penelitian tidak
menunjukkan kesamaan sehingga
dapat dikatakan bahwa nilai anomali
medan magnet tersebut sangat kecil
terpengaruh oleh faktor ketinggian.
Kontinuasi ke atas
Pola anomali medan magnet
di daerah selatan banyak terdapat
klosur-klosur kecil dikarenakan adanya
Exacta, Vol. VI, No 1, Juni 2008 : 120-127
anomali lokal. Untuk mendapatkan
target
anomali
regional
maka
dilakukan operasi filter dengan cara
kontinuasi ke atas nilai anomali medan
magnet. Kontinuasi keatas dilakukan
dengan cara mengangkat nilai anomali
yang berada di suatu bidang datar
dengan ketinggian tertentu ke suatu
bidang datar dengan ketinggian yang
diinginkan. Dengan asumsi bahwa
nT
kondisi
topografi
pada
daerah
penelitian
relatif
datar
dengan
ketinggian berkisar 115 m – 195 m
sedangkan
ketinggian
daerah
Watuperahu 148
meter. Maka
kontinuasi ke atas dilakukan pada
ketinggian daerah tersebut.
Kontinuasi pada penelitian ini
dilakukan dari ketinggian daerah survei
yaitu 148 meter ke ketinggian 398
meter. Hal ini dilakukan dengan
pertimbangan pada ketinggian tersebut
pengaruh dari anomali lokal sudah
hilang. Sehingga kenampakan klosur
yang disebabkan oleh anomali regional
atau anomali utama terlihat dengan
jelas. Gambar dibawah adalah pola
anomali
medan
magnet
pada
ketinggian 398 meter, ditunjukkan
dengan adanya pola kontur yang
b
memperlihatkan suatu dwikutub
yaitu
klosur utama negatif dan positif yang
kemungkinan
merupakan
satu
pasangan dipole sebagai target
penelitian.
30
00
14
26
22
18
00
12
14
10
00
10
6
2
-2
0
80
-6
-10
-14
0
60
-18
-22
-26
400
200
0
20
0
50
100
150
0
10
200
0
0
Gambar Peta kontur anomali medan
magnet pada ketinggian 398 m.
Reduksi ke kutub
Kontinuasi ke atas anomali
medan magnet menghasilkan letak
benda utama penyebab anomali medan
123
magnet tersebut relatif diantara dua
klosur utama. Untuk melokalisasi
daerah dengan anomali maksimum
atau minimum tepat berada di atas
tubuh benda penyebab anomali
dilakukan reduksi ke kutub dengan
cara melokalisasi kenampakan dipole
menjadi
kenampakan
monopole
dimana posisi benda menjadi tepat di
bawah klosur utama.
Reduksi ke kutub dilakukan
dengan cara membawa posisi benda ke
kutub utara medan magnet bumi
sehingga kondisi medan magnet pada
daerah penelitian menjadi seperti
kondisi di kutub utara medan magnet.
Proses ini akan mengubah parameter
medan magnet bumi pada daerah
penelitian yang memiliki deklinasi 1.10
dan inklinasi -33.620 menjadi kondisi
di kutub yang memiliki deklinasi 00
dan inklinasi 900. Gambar dibawah
adalah hasil reduksi ke kutub dari
anomali medan magnet, dimana
terlihat dua klosur utama yang
dimungkinkan sebagai benda penyebab
anomali terletak tepat di bawah klosur
tersebut. Adanya kenampakan klosur
terlihat separuh disebabkan oleh lebar
daerah penelititan yang terlalu kecil.
Gambar . Peta kontur anomali medan
magnet hasil reduksi ke kutub.
Interpretasi kualitatif
Interpretasi kualitatif dilakukan
dengan menganalisa kontur kontinuasi
ke atas, kontur anomali medan magnet
yang telah direduksi ke kutub, kontur
pseudogravitasi,
kontur
gradien
horisontal dan gradien vertikal. Selain
itu juga dilakukan interpretasi pada
grafik gradien vertikal dan anomali
medan magnet perlintasan survei.
Analisa
juga
mempertimbangkan
informasi geologi terdapat pada daerah
tersebut.
Dari grafik anomali medan
magnet telihat bahwa adanya suatu
pola yang menunjukkan batas kontak
suatu batuan. Batas kontak terlihat
dengan jelas pada grafik gradien
vertikal anomali medan magnet yaitu
jika di bawah permukaan lintasan
survei mempunyai jenis batuan sama
maka
gradien
anomali
akan
menunjukkan nilai yang relatif sama,
akan tetapi jika terdapat perbedaan
jenis batuan maka grafik anomali akan
berubah naik atau turun tergantung dari
suseptibilitas diantara kedua batuan
tersebut.
Titik-titik yang menunjukkan
adanya perbedaan jenis batuan
penyusun dibawa lintasan survei
adalah lintasan 1 terdapat pada titik
420 m, 640 m, 740 m, lintasan 2
terdapat pada titik 360 m, 640 m, 760
m, lintasan 3 terdapat pada titik 420 m,
620 m, 730 m, lintasan 4 terdapat pada
titik 410 m 630 m, 760
nT m, lintasan 5
terdapat pada titik 430 m, 660 m, 800
m. Titik-titik ini diinterpretasi
sebagai
m
batas kontak batuan dari utara ke
selatan yaitu batuan sedimen (pasir dan
lempung tufan), batuan beku (diorit),
batuan
sedimen
Watuperahu
(batugamping
nummulites
dan
batupasir), dan batuan metamorf
(sekis-mika). Batuan diorit dimulai
dari titik 360 m – 640 m, batuan
sedimen Watuperahu dimulai titik 620
m – 800 m. Kanampakan batuan
metamorf mempunyai berda setelah
titik 740 m – 800 m yang menunjukkan
nilai relatif yang konstan pada grafik
Analisis Data …………. (Desi Hanisa Putri)
124
00
14
0
100
200
300
205
200
195
190
185
180
175
170
165
160
155
150
145
140
135
130
125
120
115
110
105
400
00
12
00
10
0
80
0
60
0
40
0
20
0
20
0
0
10
0
gradien vertikal dan anomali medan
manget pada setiap lintasan.
Selain interpretasi setiap
lintasan juga dilakukan innterperaai
terhadap kontur yang dibuat dari
semua semua lintasan. Kontur anomali
medan magnet pada ketinggian 398
meter menunjukkan dua pola klosur
utama yang diperkirakan sebagai
anomali. Pada kontur anomali medan
magnet yang telah direduksi ke kutub
memiliki tiga klosur, yaitu dua pola
klosur utama di bagian tengah dan
utara daerah penelitian, dan di bagian
paling selatan terdapat potongan
bagian klosur ketiga. Pola ini
mengindikasikan bahwa penyebab
anomali pada daerah penelitian lebih
dari satu benda. Hal tersebut juga
didukung oleh pola pada kontur hasil
transformasi pseudogravitasi. Bentuk
dari benda anomali cenderung
bersejajar ke arah utara selatan dengan
arah strike cenderung mengarah ke
timur barat. Hal ini didukung dengan
pola
penyebaran
nilai
gradien
horisontal pseudogravitasi yang juga
cenderung memanjang ke arah timur
barat.
Informasi
geologi
memperlihatkan bahwa litologi paling
utara berupa batuan metamorf, ke arah
selatan berupa lapisan batuan sedimen
(batupasir
dan
batugamping
nummulites) yang bersentuhan dengan
batuan beku diorit di sebelah
selatannya, di bagian paling selatan
berupa batuan sedimen (lempung
tufan, batu pasir dan serpih) yang
kesemuanya
mempunyai
strike
cenderung mengarah ke timur barat.
Jika analisa kontur dikorelasikan
dengan informasi geologi tersebut
maka
anomali
medan
magnet
diperkirakan disebabkan oleh kontak
litologi batuan yang mengarah ke timur
barat.
Exacta, Vol. VI, No 1, Juni 2008 : 120-127
Interpretasi kuantitatif
Interpretasi kuantitaif dilakukan
dengan pemodelan benda anomali
menggunakan metode Talwani dkk
(1959) yang dibuat dalam suatu paket
program Mag2DC for Windows. Untuk
keperluan pemodelan dibuat sayatan
pada kontur anomali medan magnet di
ketinggian 398 m (gambar dibawah).
Pembuatan sayatan berdasarkan hasil
interpretasi kualitatif mengenai posisi
horisontal dari benda anomali, yaitu
berada di atas anomali utama yang
melewati puncak klosur utama.
30
0
140
26
22
18
0
120
14
10
0
100
6
2
-2
0
80
-6
-10
-14
0
60
-18
-22
0
40
-26
0
20
200
0
50
100
150
0
10
200
0
0
Gambar Sayatan A-A’ pada kontur
anomali medan magnet
pada ketinggian 398 m.
Hasil
dari
pemodelan
menggunakan program Mag2DC for
windows diperoleh 4 buah poligon
dengan kesalahan 10.80% (gambar
5.20). Harga suseptibilitas poligon
mulai dari kiri, poligon 1 (warna biru
muda) sebesar 0.0002 emu, poligon 2
(warna biru agak tua) sebesar 0.0005
emu, poligon 3 (warna biru tua)
sebesar 0.0011 emu dan poligon 4
(warna hijau) sebesar 0.0016 emu.
Informasi geologi memperlihatkan
bahwa litologi daerah penelitian terdiri
dari 3 macam batuan yaitu batuan
metamorf, batuan sedimen, dan batuan
beku diorit.
125
Gambar Penampang vertikal A-A’
dengan menggunakan Mag2DC for
windows.
Dari informasi geologi di atas
diperoleh kesimpulan bahwa poligon1
adalah batuan metamorf mempunyai
suseptibilitas 0.0002 emu, poligon 2
adalah batuan sedimen Watuperahu
dengan suseptibilitas 0.0005 emu,
poligon 3 adalah batuan beku diorit
dengan suseptibilitas 0.0011 emu dan
poligon 4 adalah batuan sedimen
(lempung tuffan dan pasir kering)
dengan suseptibilitas 0.0016 emu.
Batuan sedimen pada bagian selatan
dapat mencapai kedalaman sekitar 180
meter. Sementara itu batuan beku
mendominasi seluruh daerah pada
kedalaman di bawah 250 meter.
Lapisan metamorf terdapat sampai
pada kedalaman 250 meter, sedang
lapisan batuan sedimen yang kontak
langsung terhadap batuan beku
terdapat pada kedalaman 100 meter.
KESIMPULAN
1. Anomali
medan
magnet
disebabkan oleh kontak litologi yang
berbeda berupa batuan beku, batuan
sedimen, dan batuan metamorf.
2. Interpretasi perlintasan
didapat
bahwa batas antara batuan sedimen
Analisis Data …………. (Desi Hanisa Putri)
terhadapa batuan beku diorit berkisar
antara 360 m – 430 m, batuan beku
diorit
terhadap batuan sedimen
Watuperahu berkisar antara 620 m660 m, batuan sedimen Watuperahu
terhadap batuan metamorf berkisar
antara 730 m – 800 m.
3. Litologi daerah penelitian terdiri
dari 4 macam batuan pokok, yaitu
batuan
metamorf
dengan
suseptibilitas 0.0002 emu, batuan
sedimen dengan suseptibilitas 0.0005
emu,
batuan
beku
dengan
suseptibilitas 0.0011 emu, dan batuan
gamping
dengan
suseptibilitas
0.0016 emu.
4. Dari pemodelan menggunakan
software Mag2DC terdapat 3 buah
batas litologi yakni batas antara
batuan sedimen-batuan beku dititik
350 m, batuan beku – batuan
sedimen dititik 550 m dan batuan
sedimen – batuan metamorf pada
titik 700 m. Titik nol/awal lintasan
berada disebelah kanan.
5. Arah strike batuan cenderung
mengarah ke timur – barat dan arah
perbatasan litologi juga cenderung
memanjang ke timur – barat.
DAFTAR PUSTAKA
Blakely,R.J.,1995,Potential Theory in
Gravity
and
Magnetic
Aplication,
Cambridge
University Press, USA
Bothe, Ch. H., 1929, Djiwo Hills and
Southern Ranges; Field Trip
guide Book Prepoared for the
Fourth Pacific
Grant, F.S., and West, G.F., 1965,
Interpretation
Theory
in
Geophysics, Mc Graw Hill, New
York.
Katili, J.A., Marks, P., 1963 Geolog
Departemen
Urusan
Riset
Nasional, Jakarta
Kunaratman, K., 1981, Simplified
expressions for the magnetic
126
anomalies due to vertical
rectanguar prism, Geophysical
Prospecting, v 29, p. 883-890
Kurniawan, P., 1976, Penentuan Umur
Batu Gamping di Desa Padasan
Berdasarkan Kandungan Fosil
Forminifera
Besar;
Skripsi
jurusan T. Geologi Fak. Teknik,
Universitas Gadjah Mada (tak
diterbitkan)
Radhakrisna, I. V., Swamy, K. V. And
Rao, S. J., 2001 Aoutomatic
inversion of magnetic anomalies
of
fault,
Computer
&
Geosciences, 27,315-325
Exacta, Vol. VI, No 1, Juni 2008 : 120-127
127
Download