BAB II DASAR TEORI

advertisement
BAB II
DASAR TEORI
2.1
Sistem Suara
Sistem suara atau Tata suara merupakan suatu teknik pengaturan peralatan
suara atau bunyi pada suatu acara pertunjukan, pertemuan, rekaman dan lain lain.
Tata suara memainkan peranan penting dalam suatu pertunjukan langsung dan
menjadi satu bagian tak terpisahkan dari tata panggung dan bahkan acara
pertunjukan itu sendiri. Tata suara erat kaitannya dengan pengaturan penguatan
suara agar bisa terdengar keras tanpa mengabaikan kualitas suara-suara yang
dikuatkan. Pengaturan tersebut meliputi pengaturan mikropon-mikropon, kabelkabel, prosesor dan efek suara, serta pengaturan volume kontrol, juga audio power
amplifier dan speaker secara keseluruhan ditunjukkan pada gambar 2.1.
Gambar 2.1 Piranti Elektronika Sistem Tata Suara
7
8
Berdasarkan penggunaannya, maka sistem suara dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1.
Sistem PA Kecil (Small System)
Untuk sistem yang kecil, public address system digunakan secara sederhana,
misal di klinik, spa, small bar (kafe), small outlet, auditorium sekolah, tempat
ibadah. Untuk input suara biasanya ditambah dengan dvd, mp3, ipod player
untuk memutar musik sehingga bisa terdengar di seluruh area. Untuk
amplifier, memerlukan power yang
disesuaikan dengan kebutuhan
keseluruhan sistem speaker dan untuk speaker biasanya lebih sederhana,
karena tidak memerlukan zoning yang berbeda-beda.
2.
Sistem PA Besar (Large System)
Secara teori, penggunaan PA sistem pada sistem yang lebih luas akan lebih
rumit karena area yang lebih luas. Terdapat pengaturan zona dimana misalkan
area tertentu ingin terdengar sedangkan area lainnya tidak ingin terdengar
suaranya. Penggunaan power amplifier yang lebih besar karena banyaknya
loudspeaker. Beda area maka berbeda pula jenis loudspeaker yang digunakan
dan alur instalasi kabel yang lebih rumit. Contoh penggunaan large sistem
dalam Public Address System (PAS) yaitu kampus, mall, gedung perkantoran,
pabrik, area wisata, area olahraga dan bandara.
3.
PA Sistem dengan menggunakan IP
Jika dalam penerapannya, PA Sistem terkendala jarak atau ruang yang
berbeda dan jauh, PA Sistem dapat menggunakan IP. Misalkan dalam suatu
komplek perusahaan terdapat beberapa gedung yang berbeda, maka untuk
mengintegrasikan sistem tersebut dapat menggunakan IP, sehingga kontrol
9
sistem bisa dilakukan dalam satu ruang kontrol saja untuk memonitoring
beberapa sistem di beberapa gedung.
4.
Large Venue System
Merupakan penggunaan dari sound system untuk konser musik. Sistemnya
berbeda dengan PA Sistem.
Pada studi kasus ini, pembahasan hanya difokuskan pada salah satu jenis
sistem PA di atas yaitu PA Besar (Large System).
2.2
Public Address System
Public Address System (PAS) merupakan serangkaian sistem distribusi
suara melalui elektronik yang mencakup input (mikrofon), prosessor (amplifier)
dan output (loudspeaker). Biasanya public address system digunakan di area
publik yang luas untuk mengumumkan sesuatu, atau sebagai pemutar background
music dan sistem evakuasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Blok diagram Public Address System secara sederhana dapat dilihat pada
gambar 2.2.
MIKROPON
VOLUME
KONTROL
AMPLIFIER
SPEAKER
Gambar 2.2 Blok Diagram PAS Sederhana
TAPE
RECORDER
10
Gambar di atas menggambarkan blok diagram sederhana dari sebuah
public address system yang terdiri dari beberapa bagian yang berkaitan erat.
Bagian pertama adalah mikrofon yang berfungsi mengubah gelombang suara ke
dalam bentuk sinyal listrik. Pada mikrofon terdapat tombol mic chime sebagai
sumber bunyi yang difungsikan saat petugas informasi akan mengumumkan suatu
informasi dan sesudah informasi tersebut selesai diumumkan. Selain mikrofon
terdapat juga sumber suara yang lain yaitu tape recorder yang berfungsi sebagai
background music. Kemudian pada bagian kedua adalah pengatur volume yang
berfungsi mengatur terhadap amplitudo suara. Kedua sumber suara (mikrofon dan
tape recorder) diperkuat oleh amplifier dari suara yang berintensitas rendah
menjadi lebih keras dan terakhir output dari amplifier diumpan ke speaker
sehingga informasi dapat terdengar.
2.3
Prinsip Dasar Public Address System
Sesuai penjelasan jenis sistem suara di atas, bahwa salah satu contoh area
publik yang termasuk sistem PA Besar adalah bandara.
Untuk kelancaran informasi penerbangan baik kedatangan maupun
keberangkatan pesawat terbang di Bandara Soekarno – Hatta telah dilengkapi
dengan sistem informasi yaitu Public Address System (PAS) yang salah satunya
terdiri dari mic Announcer berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk
memberikan informasi penerbangan maupun umum kepada para pengguna jasa
penerbangan berupa audio (voice) baik di dalam (hall) dan di luar (lobby) terminal
keberangkatan dan kedatangan Terminal 1.
11
Informasi atau berita penerbangan yang dimaksud adalah informasi untuk
memberitahukan
keberangkatan,
kedatangan,
keterlambatan,
penundaan,
pembatalan dan informasi lainnya termasuk keselamatan di bandar udara dan di
pesawat udara, pengumuman mengenai kehilangan, barang tertukar, larangan
merokok dan pengumuman lainnya sehingga semua pihak yang memerlukan
informasi tersebut dapat mengetahui keberadaan suatu pesawat udara dan dapat
melakukan kegiatan yang harus dilaksanakan.
Sistem PAS yang terpasang di Bandara Soekarno – Hatta Terminal 1
merupakan integrasi dari berbagai sistem, yaitu sebagai berikut :
1.
Input paging berasal dari PC Server AAS (Automatic Announcement System)
sebagai pengolah data soundbank dari data text FIS terintegrasi melalui
jaringan data, microphone (RM200S) dan background music (BGM).
2.
Sound Management System menggunakan Matrix Hardware SX-2000 series.
3.
Monitoring sistem menggunakan PC Monitor dengan software AAS sebagai
PC client.
4.
Automatic Volume Control menggunakan Digital Level Controller (DLC
9000).
5.
Amplifier menggunakan single channel 480 Watt (AW5548) dan single
channel 240 W (AW5524) untuk Local Announcer area Boarding Lounge.
6.
Speaker yang digunakan yaitu speaker box 6 Watt, speaker pendant 6 Watt,
speaker ceiling 6 Watt dan speaker coloumn 6 Watt.
12
Sebagai gambaran umum (overview) PAS Terminal 1 Bandara Soekarno – Hatta
diperlihatkan oleh gambar 2.3.
Gambar 2.3 Blok Diagram Public Address System Terminal 1 – BSH
2.4
Bagian – Bagian Public Address System Terminal 1
Adapun bagian – bagian Public Address System Terminal 1 Bandara
Soekarno – Hatta yaitu PC Server AAS, Sound Management System SX-2000
Series, Automatic Volume Control (AVC), sensor suara, mikrofon, amplifier dan
speaker.
13
2.4.1 PC Server AAS
Automatic Announcement System (AAS) adalah sistem pendukung dari
Public Address System berfungsi memberikan pengumuman yang diubah oleh
komputer berdasar pola kalimat yang sudah terprogram, ataupun langsung dari
masukan pengguna. PC Server AAS berupa server yang dilengkapi audio adapter,
memuat soundbank database dan akan menerima perintah announcement dari
program konektor, mengubahnya dan meneruskannya ke PAS.
Pengaturan AAS sangat diperlukan agar pengumuman yang dikehendaki
tepat sasaran. Dengan mengaplikasikan AAS dalam PAS Terminal 1 Bandara
Soekarno – Hatta, diharapkan membantu dan mempermudah proses penyampaian
informasi penerbangan. Berikut tampilan depan Automatic Announcement System
(AAS) ditunjukkan pada gambar 2.4.
Gambar 2.4 Tampilan Depan Automatic Announcement System (AAS)
14
Keterangan gambar :
1.
Status broadcast dan zona broadcast dari tiap terminal.
2.
Tipe suara soundbank yang sedang dipakai saat ini. Terdapat 4 tipe suara.
Terdapat fitur Auto Change Everyday jika diinginkan.
3.
Daftar antrian pekerjaan yang harus dikerjakan. Sekiranya dari daftar antrian
pekerjaan ada yang ingin dihapus, klik Delete Selected Item. Jika ingin
membersihkan seluruh daftar antrian, klik Clear Queue.
Terdapat tiga cara untuk melakukan pengumuman di Terminal 1 Bandara
Soekarno – Hatta, yaitu sebagai berikut :
1.
Otomatis, mengumumkan area keberangkatan dan kedatangan Terminal 1,
sesuai jadwal yang tersimpan dalam server Flight Information System. Bagian
auto FIS connector sebagai jembatan penerjemah dari notasi jadwal server
FIS menjadi perintah ke AAS. Karena berkaitan dengan server FIS, program
ini bertujuan untuk mengumumkan keberangkatan dan kedatangan. Berikut
tampilan otomatis PAS dapat ditunjukkan pada gambar 2.5.
Gambar 2.5 Tampilan Sistem Otomatis PAS
15
2.
Semi – otomatis, dimana operator akan memilih pola pengumuman yang akan
dipakai dan mengirimkan perintah ke AAS. Pengumuman dapat dibuat
dengan 2 (dua) cara yaitu klik pada pola kalimat yang sudah tersedia atau
langsung mengetik pengumuman pada tempat yang disediakan. Berikut
tampilan semi-otomatis PAS dapat ditunjukkan pada gambar 2.5.
1
4
2
3
6
5
Gambar 2.6 Tampilan Sistem Semi Otomatis PAS
3.
Manual, dimana operator akan berbicara langsung melalui mikrofon, sebagai
tahap fail safe operational ataupun untuk pengumuman yang bersifat nonreguler, ataupun yang sulit diimplementasikan dalam sisitem AAS.
2.4.2 Sound Management System SX-2000 Series
Sound Management System SX-2000 Series merupakan software PAS
untuk pengaturan audio input dan output, pembagian broadcast zona,
pengontrolan matrix hardware dan sistem integrasi jaringan kabel.
16
2.4.3 Automatic Volume Control (AVC)
Automatic Volume Control (AVC) adalah peralatan yang berfungsi
mengatur volume kontrol sesuai dengan besar kecilnya noise yang diterima mic
sensor. Apabila noise naik, akan dikuatkan oleh AVC untuk mentrigger atau
memerintahkan volume kontrol menaikkan inputannya agar output dari amplifier
menjadi naik dan sebaliknya apabila noise turun (mengecil), maka akan dikurangi
oleh AVC untuk menurunkan inputan volume kontrol agar output dari amplifier
menjadi turun (mengecil) secara otomatis. Intinya AVC dapat menaikkan atau
menurunkan tegangan atau power dari mic sensor.
AVC yang digunakan di Terminal 1 Bandara Soekarno – Hatta adalah
Digital Level Controller tipe DLC 9000, dapat ditunjukkan pada gambar 2.7.
Gambar 2.7 Digital Level Controller Passo DLC9000
Untuk mencapai performance output audio yang optimal, maka dalam
instalasi perangkat AVC harus dapat menyesuaikan antara range level minimum
dan maksimum output suara dengan tingkat kebisingan yang ada. Posisi AVC
berada di tengah – tengah antara preamp dan amplifier dan dihubungkan dengan
noise sensor sebagai inputan suara. Berikut skema koneksi instalasi AVC,
preamp, amplifier dan noise sensor. Instalasi yang benar akan menghasilkan
output suara yang optimal sesuai dengan kebutuhan.
17
Gambar 2.8 Skema Instalasi AVC
2.4.4 Sensor Suara
Sensor adalah alat untuk mendeteksi atau mengukur magnitude sesuatu
besaran. Sensor merupakan transduser yang digunakan untuk mengubah variasi
mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia menjadi tegangan dan arus listrik.
Kategori sensor biasanya melalui pengukuran. Salah satu contoh sensor adalah
sensor suara.
Sensor suara adalah sensor yang memiliki cara kerja mengubah energi
suara menjadi energi listrik.. Sensor ini bekerja berdasarkan besar kecilnya
kekuatan gelombang suara yang mengenai membran sensor menyebabkan
bergeraknya kumparan kecil di balik membran tersebut menjadi naik dan turun.
Kecepatan jarak kumparan tersebut menentukan kuat lemahnya gelombang listrik
yang dihasilkan. Salah satu komponen yang termasuk dalam sensor ini adalah
microphone atau mic.
18
2.4.5 Mikrofon
Mikrofon adalah suatu alat yang dapat mengubah energi suara menjadi
energi elektrik. Berikut skema sistem pengubahan mikrofon ditunjukkan pada
gambar 2.9.
Gambar 2.9 Sistem Pengubahan Mikrofon
Diafragma (membran) berfungsi sebagai penerima energi suara, bila
getaran suara telah mencapai membran. Maka sudah dimulai awal pergerakan
mekanikal, dimana gerakan getaran tersebut diteruskan menuju suatu sistem
mekanikal pada setiap mikrofon dan seterusnya gerakan ini diubah menjadi
getaran-getaran elektrik (sinyal listrik). Perubahan darai energi suara menjadi
energi elektrik ini disesuaikan dengan jenis / tipe mikrofon yang digunakan.
Karena setiap mikrofon mempunyai sistem perubahan yang berbeda. Output yang
dihasilkan pada sistem mekanikal adalah bentuk sinyal tegangan AC. Sinyal
output yang baik adalah sinyal yang bentuknya sama dengan sinyal getaran suara,
yang berbeda medianya saja.
Dalam sistem pengubahan mikrofon dari energi suara menjadi energi
elektrik, mikrofon dapat dibedakan atas :
a. Pengubahan pasif, contoh : mic dynamic, mic ribbon, mic kristal.
b. Pengubahan aktif, contoh : mic arang, mic condenser.
19
Selain sistem pengubahan, mikrofon masih dibedakan atas sistem kerjanya, yaitu:
a. Mikrofon tekanan suara, bekerja berdasarkan tekanan suara. Pada bagian
belakang mikrofon, membran mikrofon tertutup rapat, sehingga semua suara
dari segala arah menuju pada bagian depan membran tersebut. Artinya
membran mic hanya menerima getaran suara dari arah depan saja.
b. Mikrofon perbedaan tekanan suara, bekerja berdasarkan perbedaan tekanan
suara. Pada bagian belakang membran mikrofon terdapat celah udara
(terbuka), sehingga membran akan menerima getaran suara dari arah depan
dan belakang membran. Berikut gambar mikrofon tekanan suara dan
mikrofon perbedaan tekanan suara ditunjukkan pada gambar 2.10.
Gambar 2.10 Mikrofon Tekanan Suara (kiri) dan Mikrofon Perbedaan
Tekanan Suara (kanan)
2.4.5.1 Jenis – Jenis Mikrofon
Berdasarkan prinsip kerjanya, maka mikrofon dibedakan atas mikrofon
arang/carbon
(resistanse
transducer),
mikrofon
condenser
(electro
static/capacitive transducer), mikrofon dinamik (electro dynamic transducer),
mikrofon ribbon (electro dynamic transducer), dan mikrofon kristal (piezoelectric
transducer).
20
2.4.5.2 Cara Kerja Mikrofon
Telah disebutkan bahwa jenis-jenis mikrofon antara lain mikrofon karbon,
condenser, dinamik, ribbon, dan kristal. Berikut akan dijelaskan cara kerja
masing-masing mikrofon sebagai berikut :
 Mikrofon Arang / Carbon
Mikrofon arang / carbon adalah mikrofon yang menggunakan prinsip kerja
tahanan (resistenasi) yang berubah-ubah, biasanya adalah resistor arang.
Berikut diagram rangkaian mic arang / carbon ditunjukkan pada gambar 2.11.
Gambar 2.11 Diagram Rangkaian Mic Arang / Carbon
Prinsip kerja dari mikrofon arang / carbon yaitu getaran suara yang
masuk menggetarkan membran. Getaran membran ini menyebabkan
kerenggangan dan kerapatan arang berubah-ubah. Hal ini menyebabkan
bervariasinya nilai resitansi arus listrik yang melewati kumparan primer. Arus
listrik pada kumparan primer akan terinduksi pada gulungan sekunder dan
besar kecilnya arus tergantung dari getaran membran yang disebabkan oleh
getaran suara yang diterima. Berikut contoh mic arang / carbon ditunjukkan
pada gambar 2.12.
21
Gambar 2.12 Jenis Mic Arang / Carbon
 Mikrofon Condenser / Kondensator
Berdasarkan tinggi rendah frekuensi, maka jenis mikrofon condenser ini
dibedakan 2 (dua) jenis yaitu :
1. Mikrofon Kondenser Low Frekuensi, contohnya adalah electret mic. Jenis
mikrofon ini digunakan di Terminal 1 Bandara Soekarno – Hatta sebagai
sensor suara dengan model MC-102 Electrect Condenser Microphone
HTE9767PC. (datasheet terlampir)Berikut diagram rangkaian dan susunan
mikrofon kondenser low frekuensi ditunjukkan pada gambar 2.13.
Gambar 2.13 Diagram Rangkaian & Susunan Mic Kondenser
Prinsip kerja mikrofon berdasarkan prinsip kondensator, dimana
membran dan plat belakang dari mikrofon berfungsi sebagai dua buah plat
yang sejajar. Jenis mikrofon ini harus diberikan tegangan DC (baterai)
agar dapat bekerja. Tegangan positif pada membran dan negatif pada plat
belakang. Bila membran mendapat tekanan dari sumber suara,
mengakibatkan jarak yang selalu berubah-ubah antara membran dengan
22
plat belakang, perubahan jarak tersebut menghasilkan perubahan
kapasitansi dan mengakibatkan arus tegangan dari baterai juga selalu
berubah sesuai dengan besar kecilnya kapasitansi yang dihasilkan. Maka
pada output mikrofon terjadi tegangan sinyal yang masih tercampur
dengan tegangan DC. Agar arus yang mengalir pada membran tidak
berlebih, maka diberikan sebuah resistor/tahanan yang nilai tahanan
sebesar 50M ohm. Tegangan sinyal yang masih tercampur dengan arus DC
difilter dengan menggunakan kondensator murni yang berfungsi
memblokir arus DC, selanjutnya sinyal audio tersebut diperkuat dengan
preamplifier agar tidak terjadi interferensi dari tegangan luar. Berikut
contoh electrect mic yang digunakan di Terminal 1 Bandara Soekarno –
Hatta ditunjukkan pada gambar 2.14.
Gambar 2.14 Electrect Mic MC102
2. Mikrofon Kondenser High Frekuensi, contohnya gun microphone.
Prinsip kerja mikrofon kondenser HF sama seperti mikrofon LF,
hanya saja pada membran di mic kondenser HF tidak langsung diberikan
power supply, tetapi sumber tegangan frekuensi tinggi berasal dari
pembangkit frekuensi (oscilator), sehingga output mikrofon terdiri dari
23
sinyal audio yang diposisikan dengan frekuensi tinggi. Melalui rangkaian
demodulator (dioda dan kondenser), maka frekuensi tinggi diblokir
sehingga output mikrofon hanya sinyal audio saja yang dilewatkan dan
selanjutnya sinyal tersebut akan diperkuat. Berikut proses frekuensi respon
mic condenser pada gambar 2.15.
Gambar 2.15 Frekuensi Respon Mic Condenser
 Mikrofon Dinamik
Mikrofon dinamik adalah mikrofon yang menggunakan prinsip kerja induksi
(mikrofon menjadi sumber listrik induksi). Berikut proses kerja mikrofon
dinamik pada gambar 2.16.
Gambar 2.16 Proses Kerja Mikrofon Dinamik
24
Prinsip kerja mikrofon dinamik yaitu getaran suara
yang masuk
menggerakkan membran, getaran membran menggerakkan moving coil .
Moving coil merupakan membran yang tersambung dengan coil yang
bergerak. Getaran moving coil yang berada dalam memnran magnet akan
menyebabkan timbulnya aliran listrik. Aliran listrik yang berupa gelombang
listrik seirama dengan getaran suara yang diterima dan akan dikuatkan oleh
amplifier.
 Mikrofon Ribbon
Mikrofon ribbon adalah mikrofon yang menggunakan sejenis pita metal yang
tipis. Cara kerja dan prinsipnya sama dengan mikrofon dinamik, namun
perbedaanya pada konstruksi dan bahan. Pada mikrofon ribbon lipatan pita
(ribbon) berfungsi sebagai membran / diafragma. Diafragma sangat tipis
sehingga memiliki respon frekuensi yang tinggi, tetapi tidak sesuai untuk
tekanan suara tinggi.
 Mikrofon Kristal
Mikrofon kristal atau piezoelektris terbuat dari bahan kristal aktif, mikrofon
ini memiliki cara kerja dengan memotong kristal, lalu membentuk irisan pada
bidang khusus yang dihubungkan dengan elektroda menghasilkan sifat
piezoelektris. Jika terjadi tekanan, kristal mengalami perpindahan sehingga di
antara plat lempengan terjadi perbedaan potensial. Kristal tersebut mampu
menerima getaran suara tanpa dibentuk menjadi diafragma yang membuat
respon frekuensi lebih maksimal.
Dari kelima jenis mikrofon yang ada saat ini paling banyak digunakan untuk
keperluan broadcasting adalah jenis mic condenser dan mic dinamik.
25
2.4.5.3 Impedansi Mikrofon
Impedansi mikrofon adalah suatu tahanan dalam dari mikrofon yang akan
memnetukan sensitifitas mikrofon itu sendiri. Impedansi mikrofon dapat
dibedakan atas :
a. Low Impedance, jenis mikrofon ini sangat sensitif digunakan untuk keperluan
broadcasting.
b. High Impedance, jenis mikrofon ini kurang sensitif, biasanya digunakan
untuk keperluan Public Address System, panggung (stage).
Dengan mengetahui impedansi setiap mikrofon yang digunakan akan menghindari
terjadinya efek feedback.
2.4.5.4 Efek Feedback
Rangkaian feedback adalah rangkaian umpan balik yang sebagian sinyal
keluarannya dikembalikan lagi ke masukan, hal ini salah satu sistem supaya
terjadinya tegangan dan phase yang sama antara input dan output. Pada umumnya
rangkaian feedback menggunakan komponen pasif resistor dan kapasitor. Sumber
feedback berasal dari bunyi yang dikeluarkan speaker ditangkap kembali oleh
mikrofon, lalu dikirimkan lagi ke speaker yang sama.
Berikut proses terjadinya suara feedback ditunjukkan pada gambar 2.17.
Gambar 2.17 Proses Suara Feedback
26
Suara feedback muncul berawal dari sumber bunyi yang ditangkap oleh mikrofon,
kemudian dikutakan oleh amplifier dan dikeluarkan speaker, kemudian oleh
mikrofon, suara yang dihasilkan oleh speaker ditangkap kembali oleh mikrofon
dan kembali dikuatkan oleh amplifier dan kembali lagi dikeluarkan oleh speaker.
Proses ini berulang terus, karena frekuensi yang ditangkap oleh mikrofon dan
yang dikeluarkan speaker adalah sama, sehingga terjadi penguatan yang berulangulang dan pada akhirnya terdengar suara mencuit yang melengking pada puncak
level suara yang tertinggi, dan jika dibiarkan dalam waktu lama, selain merusak
telinga manusia, juga dapat merusak speaker atau amplifier.
2.4.6
Speaker
Speaker atau pengeras suara adalah komponen elektronika yang terdiri dari
kumparan, membran dan magnet. Tanpa adanya membran, sebuah speaker tidak
akan mengeluarkan suara, berfungsi untuk mengubah suara dari energi elektris
menjadi energi suara. Sistem pengubahan speaker merupakan kebalikan dari
sistem pengubahan mikrofon. Berikut proses pengubahan speaker ditunjukkan
pada gambar 2.18.
Gambar 2.18 Proses Pengubahan Speaker
27
Proses pengubahan gelombang listrik (elektromagnet) menjadi gelombang suara
terjadi karena adanya aliran listrik arus AC audio dari amplifier ke dalam
kumparan yang menghasilkan gaya magnet sehingga menggerakkan membran.
Kuat lemahnya arus listrik yang diterima akan mempengaruhi getaran pada
membran. Membran yang bergetar menghasilkan gelombang suara yang dapat
didengar. Berikut bagian-bagian speaker ditunjukkan pada gambar 2.19.
Gambar 2.19 Bagian – Bagian Speaker
Bagian – bagian utama speaker adalah sebagai berikut :
1. Conus (sekat rongga), berfungsi menghasilkan gelombang tekanan akibat
gerakan udara di sekitarnya yang disebabkan oleh gerakan kumparan.
Gelombang inilah yang kita dengar sebagai bunyi.
2. Membran, berfungsi menerima induksi dari magnet sehingga menghasilkan
suara sebagai akibat dari getarannya.
3. Magnet, berfungsi untuk menginduksi membran dan menghasilkan medan
magnet.
4. Kumparan, berfungsi untuk mengalirkan energi gerak kepada conus. Perubahan
medan magnet di dalam speaker akan menyebabkan kumparan bergerak
sebagai akibat interaksi dengan medan konstan magnet.
28
2.4.6.1 Jenis – Jenis Speaker
Berdasarkan prinsip kerjanya, maka speaker dapat dibedakan atas :
a. Speaker Magnetic, berdasarkan perbedaan potensia dan kutub magnet
dengan elektromagnetik dari sinyal AC audio menuju kumparan.
b. Speaker Dinamik, terjadi interaksi tarik-menarik dan tolak-menolak antara
permanen magnet (ferrit) dengan magnet kumparan karena adanya arus
AC audio dari output amplifier yang mengakibatkan membran bergerak
keluar masuk sehingga menghasilkan getran energi suara.
c. Speaker Condenser, prinsip kerjanya hampir sama dengan mic condenser,
yaitu menggunakan sistem kapasitansi yang diberikan tegangan DC yang
besar, untuk menghindari short circuit pada peralatan, sinyal output audio
harus dilewatkan melalui transformator sebagi matching impedansi antara
power amplifier dengan speaker. Besar kecilnya getaran yang dihasilkan
tergantung besarnya sinyal audio input sehingga menghasilkan perbedaan
kapasitansi antara plat membran dengan plat speaker condenser.
d. Speaker Ribbon, bentuk lembaran membran zig-zag, jika dialiri arus listrik
(sinyal AC), maka pada membran menghasilkan elektromagnetik yang
akan berinteraksi dengan permanen magnet mengakibatkan membran
bergetar dan menghasilkan energi suara.
e. Speaker Piezo Electric (kristal), terdiri dari kumparan yang dililit sepasang
kabel spiral dan di ujung corong speaker dililit gulungan kawat. Pada saat
dialiri sinyal AC maka terjadi getaran suara yang diteruskan ke corong
speaker.
29
2.4.6.2 Wideband Transmisi
Rentang frekuensi suara yang mampu dihasilkan sistem speaker adalah
diantara 20 Hz – 20 Khz sesuai dengan rentang fekuensi pada pendengaran
manusia. Berdasarkan respon frekuensi, speaker terbagi dalam beberapa jenis,
sebagai berikut :
1.
Subwoofer, speaker yang mempunyai tanggapan respon frekuensi sangat
rendah berkisar 30 Hz - 100 Hz, sesuai untuk aplikasi speaker sistem dengan
nada bass yang sangat rendah. Contoh pada home teater.
2.
Woofer, speaker yang mempunyai tanggapan respon frekuensi cukup rendah
berkisar 50 Hz - 800 Hz, sesuai untuk aplikasi speaker sistem suara bass
sedang. Contoh musik.
3.
Middle, speaker yang mempunyai tanggapan respon frekuensi sedang berkisar
330 Hz – 3,3 KHz, sesuai untuk aplikasi speaker sistem suara tengah saja.
Contoh pidato, masjid.
4.
Tweeter, speaker dengan ukuran kecil 0,5 inci, paling besar berukuran 4 inci,
mempunyai tanggapan respon pada frekuensi tinggi berkisar antara 8 KHz 20 KHz. Speaker ini tidak bisa berdiri sendiri, biasanya digabungkan dengan
speaker middle / woofer untuk nada tinggi (trebble).
5.
Fullrange, speaker yang mempunyai tanggapan respon sangat lebar, yaitu
dari 100 KHz - 15 KHz. Nada bass sampai dengan nada tinggi dapat
dihasilkan oleh speaker ini.
30
Berikut speaker yang ada di Terminal 1 Bandara Soekarno – Hatta ditunjukkan
pada gambar 2.20.
Gambar 2.20 Speaker Ceiling, Pendant, Coloumn, Box
2.4.6.3 Buffle Speaker
Berdasarkan sifat gelombang suara dari speaker, maka diperlukan plat
pembatas (buffle) speaker antara bagian depan dan belakang speaker untuk
menghasilkan suara yang arahnya menyebar ke depan dan menghindari short
circuit suara. Maksudnya, sebagian gelombang suara kembali menuju ke bagian
belakang membran speaker dan terjadi benturan mengakibatkan getaran membran
berkurang, sehingga daya speaker berkurang. Berikut proses pemancaran
gelombang suara pada buffle speaker pada gambar 2.21.
Gambar 2.21 Sifat Pemancaran Gelombang Suara Pada Buffle Speaker
Lebar plat pembatas (buffle) speaker sesuai dengan standar yang sudah
ditentukan minimal ¼ λ dari panjang gelombang suara yang terendah. Untuk
31
mengatasinya, maka digunakan sebuah kotak (box) speaker yang di dalamnya
diberikan material peredam getaran suara yang lunak, misal glass wool, serabut
kelapa dan lain-lain.
2.4.6.4 Cross Over
Cross over adalah rangkaian filter yang terdiri dari komponen pasif
resistor, kondensator dan coil / kumparan sebelum menuju ke speaker, bertujuan
untuk memisahkan sinyal suara yang difilter menurut frekuensi respon speaker.
Rangkaian filter tersebut adalah low pass filter, medium/band pass filter, high pass
filter. Berikut rangkaian filter speaker ditunjukkan pada gambar 2.22.
Gambar 2.22 Rangkaian Filter Speaker
2.4.6.5 Impedansi Speaker
Impedansi (Z) merupakan gabungan hasil reaksi hambatan (R) dan
kapasitas elektron (C). Impedansi memiliki konsep yang sama dengan resistansi,
namun aplikasinya pada rangkaian AC. Salah satu aplikasi dari impedansi
digunakan pada sound system yaitu pada speaker. Impedansi speaker merupakan
salah satu parameter peting dalam pemasangan speaker dengan amplifier.
32
Keduanya harus sesuai (matching), bila tidak sesuai maka akan berdampak buruk
terhadap speaker atau amplifier, sehingga salah satu bisa terjadi kerusakan.
Impedansi speaker dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu :
a.
Low impedance (impedansi rendah), adalah speaker tanpa matching trafo,
impedansi total speaker (Z) dalam instalasi diperhatikan.
b.
High impedansi (impedansi tinggi), adalah speaker dengan matching trafo,
impedansi speaker (Z) tidak perlu diperhatikan, cukup daya total (P) speaker
saja yang diperhatikan.
Untuk memperoleh impedansi total yang sesuai dengan impedansi
amplifier, maka bisa dilakukan dengan 3 (tiga) cara yaitu :
a.
Hubungan Seri, total impedansi dan daya dijumlahkan saja, secara matematis
dapat dirumuskan sebagai berikut :
b.
Hubungan Paralel, untuk total impedansi diparalel dan total daya dijumlahkan
saja, secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
c.
Hubungan Seri – Paralel, maka yang seri dijumlahkan dulu, kemudian
impedansi total diparalel, untuk total daya dijumlahkan saja.
Prinsip dasarnya adalah impedansi output amplifier lebih kecil atau sama
dengan impedansi speaker, artinya impedansi speaker tidak boleh lebih kecil dari
impedansi amplifier, minimal sama atau lebih besar.
Speaker yang terpasang di Terminal 1 Bandara Soekarno – Hatta, rata –
rata termasuk jenis high impedansi speaker sehingga dalam instalasi jumlah
33
speaker untuk satu amplifier hanya memperhatikan besar daya amplifier yang
secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
2.4.7 Amplifier
Amplifier dalam sistem tata suara memegang peranan penting. Amplifier
atau penguat adalah komponen elektronika yang digunakan untuk menguatkan
daya atau tenaga. Dalam dunia elektronika, amplifier berfungsi sebagai penguat
sinyal suara yaitu memperkuat sinyal arus I dan tegangan V listrik dari inputnya
sehingga menjadi arus listrik dan tegangan yang lebih besar dari outputnya.
Besarnya penguatan ini sering dikenal dengan istilah gain. Nilai dari gain
dinyatakan sebagai fungsi penguat frekuensi audio.
Besaran gain dalam power amplifier berkisar antara 20 kali sampai 100
kali dari sinyal output. Jadi, dapat disimpulkan bahwagain merupakan hasil bagi
dari daya di bagian output dengan daya di bagian inputnya dalam bentuk fungsi
frekuensi. Ukuran dari gain (G) biasanya menggunakan decibel (dB). Secara
matematis maka besar gain (G) dapat dirumuskan sebagai berikut :
dimana :
G
: Gain atau besar penguatan (dB)
Pout
: Power atau daya pada bagian ouput (Watt)
Pin
: Power atau daya pada bagian input (Watt)
34
Amplifier sendiri merupakan perangkat yang sebagian kecil banyak
menggunakan sejumlah energi untuk dapat mengendalikan jumlah energi yang
dihasilkan. Hubungan antara rangkaian elektronika dengan rangkaian amplifier
adalah masukan dan keluaran dalam yang biasanya dinyatakan sebagai fungsi
frekuensi input atau fungsi transfer penguat dan besar dari fungsi transfer yang
dapat ditunjukkan pada gambar 2.23.
Gambar 2.23 Skema Rangkaian Amplifier
Amplifier dapat diartikan sebagai penguat atau pengali, sedangkan power
amplifier yaitu sebagai penguat atau pengali daya dari sinyal suara. Diagram blok
power amplifier secara umum dapat ditunjukkan pada gambar 2.24.
Gambar 2.24 Diagram Blok Power Amplifier
35
Adapun bagian - bagian power amplifier terdiri dari :
1. Bagian input, berfungsi untuk menerima sinyal balans menjadi sinyal tak
balans. Sinyal balans adalah standard sinyal untuk koneksi sinyal dalam sound
system untuk meminimalkan terjadi noise, humming dan penurunan kwalitas
dan level sinyal. Input power amplifier mempunyai standard level line yaitu 0
dB hingga + 4dB atau sekitar 1 Vrms hingga 2,5 Vrms.
2. Pengatur Level / Volume, berfungsi untuk mengurangi level sinyal suara yang
masuk sedemikian hingga agar tidak menjadikan output power amplifier tidak
melebihi batas kemampuannya.
3. Penguat Tegangan (Av), adalah bagian untuk menguatkan tegangan sinyal
suara menjadi sekian kali lipat. Nilai penguatan tegangan ini biasanya adalah
tetap, misalnya 100 kali atau 40dB. Nilai penguatan ini telah ditentukan ketika
power amplifier itu dirancang, sehingga untuk mengubah nilai penguatan ini
harus mengganti komponen tertentu di bagian penguat tegangan ini.
4. Penguat Arus (Ai), adalah bagian yang menyediakan kebutuhan arus bagi
tegangan output yang harus dikeluarkan oleh power amplifier sehingga bisa
menggerakkan membran speaker. Penyediaan arus yang memadai sangat
penting bagi sebuah power amplifier.
5. Power Supply, adalah bagian yang menyediakan daya listrik yang cukup bagi
kebutuhan power amplifier terutama untuk bagian penguat arus dan penguat
tegangan. Power supply seharusnya bisa menyediakan listrik DC (searah) yang
sekecil mungkin mengandung ripple voltage karena sumber tenaga listrik
diambil dari listrik bolak-balik (AC).
36
6. Bagian indikator dan proteksi, berfungsi bagi pemakai power amplifier untuk
mengetahui kinerja dan keadaan power amplifier ketika sedang bekerja
sekaligus menyediakan perlindungan bagi power amplifier itu sendiri dan
speaker yang disambungkan ke power amplifier.
Berikut amplifier yang digunakan di Terminal 1 Bandara Soekarno – Hatta
ditunjukkan pada gambar 2.25.
Gambar 2.25 Tampak Depan & Belakang Amplifier 480 Watt AW5548
2.5
Noise, Bunyi dan Kebisingan
Noise adalah sinyal tidak dikehendaki yang secara alamiah terdapat pada
semua jenis sistem. Pada sistem audio, terdapat banyak sumber noise yang dapat
mengganggu output ideal dari sistem audio tersebut. Noise yang mungkin terjadi
pada sistem audio adalah noise akustik, noise audio dan noise elektrik.
Noise akustik adalah suara yang berasal dari sumber lain di sekitar sistem,
seperti suara dering telepon atau suara deru kendaraan yang melintas. Noise audio
adalah suara residu, umumnya berupa dengung atau desis, yang terdengar pada
37
jeda diam dari suatu media penyimpan audio.sedangkan noise elektrik atau
thermal noise adalah suara yang dihasilkan karena naiknya suhu dari komponen
elektronik yang terdapat pada sistem.
Noise dapat memberikan efek gangguan pada sistem komunikasi dalam 3
(tiga) area yaitu :
a. Noise menyebabkan pendengar tidak mengerti sinyal asli yang disampaikan
atau bahkan tidak mengerti dengan seluruh sinyal.
b. Noise dapat menyebabkan kegagalan dalam sistem penerimaan sinyal.
c. Noise juga mengakibatkan sistem yang tidak efisien.
Suara atau bunyi adalah gelombang frekuensi yang dapat didengar.
Frekuensi adalah jumlah gelombang tekanan atau getaran per detik. Satuan
frekuensi adalah Hertz (Hz) atau cycle per second (cps). Rentang frekuensi
pendengaran manusia dengan fungsi pendengaran yang normal berkisar antara 20
– 20.000 Hz. Frekuensi juga berhubungan dengan panjang gelombang, semakin
tinggi frekuensi suatu suara atau bunyi, maka panjang gelombang akan semakin
pendek.
Ada beberapa suara atau bunyi yang mengganggu bila didengar. Gangguan
suara itu disebut kebisingan. Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak
dikehendaki dan dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan di sekitar kita 9JIS Z
8106 [IEC60050-801]). Bunyi yang menimbulkan kebisingan disebabkan oleh
sumber suara yang bergetar. Getaran sumber ini menyebabkan terjadinya
gelombang rambatan energi mekanis dalam medium udara menurut pola rambatan
longitudinal. Rambatan gelombang di udara ini dikenal sebagai suara atau bunyi.
38
Frekuensi suara bising biasanya terdiri dari campuran sejumlah gelombang suara
dengan berbagai frekuensi atau disebut juga spektrum frekuensi suara.
2.5.1 Jenis Kebisingan
Menurut Suma’mur, PK 1996:58, maka jenis kebisingan dapat dibedakan
atas, sebagai berikut :
1.
Bising yang kontinu dengan spektrum frekuensi yang luas. Bising ini relatif
tetap dalam batas kurang lebih 5 dB untuk periode 0,5 detik berturut-turut.
Misalnya mesin, kipas angin, dapur pijar.
2.
Bising yang kontinu dengan spektrum frekuensi yang sempit. Bising ini juga
ralatif tetap, akan tetapi ia hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (pada
frekuensi 500, 1000 dan 4000 Hz), misalnya gergaji sekuler, katup gas.
3.
Bising terputus-putus (intermittent). Bising disini tidak terjadi secara terusmenerus, melainkan ada periode relatif tenang. Misalnya suara lalu lintas,
kebisingan di bandara dan lapangan terbang.
4.
Bising implusif. Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara melebihi
40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya.
Misalnya tembakan, suara ledakan mecon, meriam.
5.
Bising implusif berulang. Sama dengan bising implusif, hanya saja disini
terjadi secara berulang – ulang. Misalnya mesin tempa.
39
2.5.2 Mengukur Tingkat Kebisingan
Sound Level Meter merupakan suatu alat uji untuk mengukur tingkat
kebisingan suara yang akan ditampilkan pada dBSPL. 0.0 dB-SPL adalah ambang
pendengaran, dan sama dengan 20 µPa (micropascal). Semua sound level meter
(SLM) memiliki fitur pengukuran kondensor mikrofon omnidirectional, preamp
mic, jaringan pembobotan frekuensi, rangkaian detektor RMS, layar pengukuran,
AC dan DC output yang digunakan untuk merekam, yang akan ditunjukkan pada
gambar 2.26.
Gambar 2.26 Sound Level Meter Lutron Model SL-4001
Sound Level Meter tipe Lutron Series SL-4001 bekerja di range antara 30130 dB dalam satuan dBA dari frekuensi antara 20-20.000 Hz. Kisaran SPL
tergantung pada keseimbangan antara mengurangi preamp noise level dan
mengukur berbagai tingkat tekanan suara. SLM diperlukan untuk mengetahui apa
yang terjadi. Pengukuran SLM juga dapat digunakan untuk memverifikasi persis
40
berapa banyak tingkat suara telah berubah. Siapapun yang terlibat dalam
pekerjaan sound system menyadari bahwa ada masalah yang sedang berlangsung
dan peningkatan masalah tingkat volume yang dihasilkan dalam performance
public address system.
2.6
Unit dan Level Suara
Unit dan level suara yang digunakan dalam perhitungan tingkat kebisingan
adalah decibel (dB), sound intensity level (Watt), sound power level (dBm) dan
sound pressure level (dBSPL). Biasanya dalam pengukuran kebisingan yang sering
digunakan adalah decibel (dB) dan sound pressure level (SPL).
2.6.1
Decibel
Dalam semua fasa teknologi audio, desibel digunakan sebagai ukuran
kebisingan untuk mengekpresikan tingkatan sinyal dan perbedaan tekanan suara,
daya, tegangan dan arus.
2.6.2
Sound Pressure Level (SPL)
Sound Pressure Level merupakan suatu ukuran level dari besar tekanan
kebisingan (tingkat suara) yang dikeluarkan oleh sumber bunyi dengan satuan
desibel (dBSPL).
Download