pancasila dalam paradigma kehidupan

advertisement
MODUL PERKULIAHAN PENDIDIKAN PANCASILA
BAB 10 - PANCASILA DALAM PARADIGMA
KEHIDUPAN
Off Line
Fakultas
Program Studi
/Kuliah
12
A Abstract
Kode MK
Disusun Oleh
90037
Rina Kurniawati, SHI, MH
Kompetensi
Anda akan mempelajari mengenai
Agar mahasiswa dapat memahami
Pancasila sebagai paradigma
pengertian
kehidupan bermasyarakat berbangsa
sebagai paradigma pembangunan
dan bernegara.
dalam berbagai kehidupan
tentang
Pancasila
BAB 11
PANCASILA DALAM PARADIGMA KEHIDUPAN
Kompetensi (Kemampuan Akhir Yang Diharapkan)
Setelah mempelajari Bab ini mahasiswa dapat memahami Pancasila sebagai paradigma
kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Deskripsi
Dalam Bab ini Anda akan mempelajari pengertian tentang Pancasila sebagai paradigma
pembangunan dalam berbagai kehidupan
1. PENDAHULUAN
Paradigma secara sederhana dapat diartikan sebagai kerangka pikir untuk melihat suatu
permasalahan. Pengertian paradigma berkembang dari definisi paradigma pengetahuan
yang dikembangkan oleh Thomas Kuhn dalam rangka menjelaskan cara kerja dan
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya ilmu-ilmu alam. Paradigma pengetahuan
merupakan perspektif intelektual yang dalam kondisi normal memberikan pedoman kerja
terhadap ilmuwan yang membentuk ‘masyarakat ilmiah’ dalam disiplin tertentu.
Robert Winslow menambahkan pengertian paradigma ilmiah sebagai gambaran intelektual
yang daripadanya dapat ditentukan suatu subyek kajian. Perspektif intelektual inilah yang
kemudian akan membentuk ilmu pengetahuan normal (normal science) yang mendasari
pembentukan kerangka teoritis terhadap kajian-kajian ilmiah.
George Ritzer memberikan pengertian paradigma sebagai gambaran fundamental mengenai
subyek ilmu pengetahuan. Paradigma memberikan batasan mengenai apa yang harus dikaji,
pertanyaan yang harus diajukan, bagaimana harus dijawab dan aturan-aturan yang harus
diikuti dalam memahami jawaban yang diperoleh.
Paradigma ialah unit konsensus yang amat luas dalam ilmu pengetahuan dan dipakai untuk
melakukan pemilahan masyarakat ilmu pengetahuan (sub-masyarakat) yang satu dengan
masyarakat pengetahuan yang lain. Paradigma membantu para ilmuwan dan teoritisi
intelektual untuk memandu, mengintegrasikan dan menafsirkan karya mereka agar terhindar
dari penciptaan informasi yang acak dan tidak beraturan.
2015
2
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Menurut Kuhn, tidak ada sejarah kehidupan yang dapat diinterpretasikan tanpa sekurangkurangnya beberapa bentuk teori dan keyakinan metodologik implisit yang berkaitan satu
sama lain yang memungkinkan untuk melakukan seleksi, evaluasi dan bersikap kritis.
Meskipun terlihat terlalu bernuansa akademis, sebenarnya paradigma tidak menjadi bahan
kaji atau dominasi para kaum intelektual untuk mengembangkan ilmu pengetahuan,
paradigma juga mungkin diterapkan pada ranah-ranah kehidupan sosial yang lain.
Sebenarnya Kuhn mendapatkan gagasannya mengenai paradigma tersebut dari dunia
sejarah dan sastra yang kemudian diterapkannya ke dalam domain ilmu-ilmu alam yang
pada waktu itu dianggap sebagai satu-satunya ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah.
Sedangkan cabang ilmu pengetahuan yang sekarang telah dianggap sebagai ilmu, dulunya
hanya dianggap sebagai seni saja misalnya sejarah, sastra, dan politik.
2. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN
Untuk mencapai tujuan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, Indonesia
melaksanakan pembangunan nasional. Hal ini sebagai perwujudan praksis dalam
meningkatkan harkat dan martabatnya. Secara filosofis hakekat kedudukan Pancasila
sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam
segala aspek pembangunan nasional kita harus mendasarkan pada hakekat nilai-nilai pada
sila-sila Pancasila.
Hal ini sesuai dengan kenyataan obyektif bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia,
sedangkan negara merupakan organisasi atau persekutuan hidup manusia maka tidak
berlebihan apabila Pancasila menjadi landasan dan tolok ukur penyelenggaraan bernegara
termasuk dalam melaksanakan pembangunan.
Nilai-nilai dasar Pancasila itu dikembangkan atas dasar hakekat manusia. Hakekat manusia
menurut Pancasila adalah makhluk monopluralis. Kodrat manusia yang monopluralis
tersebut mempunyai ciri-ciri, antara lain:
a) susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga
b) sifat kodrat manusia sebagai individu sekaligus sosial
c) kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan.
Berdasarkan itu, pembangunan nasional diarahkan sebagai upaya meningkatkan harkat dan
martabat manusia yang meliputi aspek jiwa, raga, pribadi, sosial, dan aspek ketuhanan.
Secara singkat, pembangunan nasional sebagai upaya peningkatan manusia secara totalitas.
Pembangunan sosial harus mampu mengembangkan harkat dan martabat manusia secara
keseluruhan. Oleh karena itu, pembangunan dilaksanakan di berbagai bidang yang
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Pembangunan, meliputi bidang politik,ekonomi,
sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
2015
3
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
3. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN POLITIK
Manusia Indonesia selaku warga negara harus ditempatkan sebagai subyek atau pelaku
politik bukan sekadar obyek politik. Pancasila bertolak dari kodrat manusia maka
pembangunan politik harus dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia.
Sistem politik Indonesia yang bertolak dari manusia sebagai subyek harus mampu
menempatkan kekuasaan tertinggi pada rakyat. Kekuasaan adalah dari rakyat, oleh rakyat
dan untuk rakyat. Sistem politik Indonesia yang sesuai Pancasila sebagai paradigma adalah
sistem politik demokrasi bukan otoriter. Berdasar hal itu, sistem politik Indonesia harus
dikembangkan atas asas kerakyatan (sila keempat Pancasila).
Pengembangan selanjutnya adalah sistem politik didasarkan pada asas-asas moral
daripada sila-sila pada Pancasila. Oleh karena itu, secara berturut-turut sistem politik
Indonesia dikembangkan atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral persatuan, moral
kerakyatan, dan moral keadilan.
Perilaku politik, baik dari warga negara maupun penyelenggara negara dikembangkan atas
dasar moral tersebut sehingga menghasilkan perilaku politik yang santun dan bermoral.
Pancasila sebagai paradigma pengembangan sosial politik diartikan bahwa Pancasila
bersifat sosial-politik bangsa dalam cita-cita bersama yang ingin diwujudkan dengan
menggunakan nilai-nilai dalam Pancasila. Pemahaman untuk implementasinya dapat dilihat
secara berurutan-terbalik :

Penerapan
budaya,

dan
pelaksanaan
keadilan
sosial
mencakup
keadilan
politik,
agama, dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari;
Mementingkan kepentingan rakyat (demokrasi) bilamana dalam pengambilan
keputusan;

Melaksanakan keadilan sosial dan penentuan prioritas kerakyatan berdasarkan
konsep mempertahankan persatuan;

Dalam pencapaian tujuan keadilan menggunakan pendekatan kemanusiaan yang adil
dan beradab.
Di era globalisasi informasi seperti sekarang ini, implementasi tersebut perlu direkonstruksi
ke dalam perwujudan masyarakat-warga (civil society) yang mencakup masyarakat
tradisional (berbagai asal etnik, agama, dan golongan), masyarakat industrial, dan
masyarakat purna industrial. Dengan demikian, nilai-nilai sosial politik yang dijadikan
moral baru masyarakat informasi adalah :
1) Nilai toleransi;
2) Nilai transparansi hukum dan kelembagaan;
3) Nilai kejujuran dan komitmen (tindakan sesuai dengan kata);
2015
4
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
4) Bermoral berdasarkan konsensus (Fukuyama dalam Astrid: 2000:3)
Dapat disimpulkan bahwa pengembangan politik negara terutama dalam proses reformasi
dewasa ini harus mendasarkan pada moralitas sebagaimana tertuang dalam sila-sila
Pancasila, sehingga praktek-praktek yang menghalalkan segala cara dengan memfitnah,
memprovokasi, menghasut rakyat yang tidak berdosa untuk diadu domba harus segera
diakhiri.
4. PANCASILA SEBAGAI PEMBANGUNAN EKONOMI
Sesuai dengan paradigma Pancasila dalam pembangunan ekonomi maka sistem dan
pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada Pancasila. Secara khusus, sistem
ekonomi harus mendasarkan pada dasar moralitas ketuhanan (sila kesatu Pancasila) dan
kemanusiaan ( sila kedua Pancasila). Sistem ekonomi yang mendasarkan pada moralitas
dan humanistis akan menghasilkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan. Sistem
ekonomi yang menghargai hakekat manusia, baik selaku makhluk individu, sosial,
makhluk pribadi maupun makhluk Tuhan.
Sistem ekonomi yang berdasar Pancasila berbeda dengan sistem ekonomi liberal yang
hanya menguntungkan individu-individu tanpa perhatian pada manusia lain. Sistem ekonomi
demikian juga berbeda dengan sistem ekonomi dalam sistem sosialis yang tidak mengakui
kepemilikan individu. Pancasila bertolak dari manusia sebagai totalitas dan manusia
sebagai subyek. Oleh karena itu, sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi sistem dan
pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.
Sistem ekonomi yang berdasar Pancasila adalah sistem ekonomi kerakyatan yang
berasaskan kekeluargaan. Sistem ekonomi Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari nilainilai moral kemanusiaan.
Pembangunan ekonomi harus mampu menghindarkan diri dari bentuk-bentuk persaingan
bebas, monopoli dan bentuk lainnya yang hanya akan menimbulkan penindasan,
ketidakadilan, penderitaan, dan kesengsaraan warga negara. Pancasila sebagai paradigma
pengembangan ekonomi lebih mengacu pada Sila Keempat Pancasila; sementara
pengembangan ekonomi lebih mengacu pada pembangunan Sistem Ekonomi Indonesia.
Dengan demikian sub judul ini menunjuk pada pembangunan Ekonomi Kerakyatan atau
pembangunan Demokrasi Ekonomi atau pembangunan Sistem Ekonomi Indonesia
atau Sistem Ekonomi Pancasila.
Dalam Ekonomi Kerakyatan, politik/kebijakan ekonomi harus untuk sebesar-besarnya
kemakmuran/kesejahteraan rakyat yang harus mampu mewujudkan perekonomian nasional
yang lebih berkeadilan bagi seluruh warga masyarakat (tidak lagi yang seperti selama Orde
Baru yang telah berpihak pada ekonomi besar/konglomerat). Politik Ekonomi Kerakyatan
2015
5
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
yang lebih memberikan kesempatan, dukungan, dan pengembangan ekonomi rakyat yang
mencakup koperasi, usaha kecil, dan usaha menengah sebagai pilar utama pembangunan
ekonomi nasional.
Oleh sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan ini ialah koperasi. Ekonomi
Kerakyatan akan mampu mengembangkan program-program kongkrit pemerintah daerah di
era otonomi daerah yang lebih mandiri dan lebih mampu mewujudkan keadilan dan
pemerataan pembangunan daerah.
Dengan demikian, Ekonomi Kerakyatan akan mampu memberdayakan daerah/rakyat dalam
berekonomi,
sehingga
lebih
adil,
demokratis,
transparan,
dan
partisipatif.
Dalam
Ekonomi Kerakyatan, Pemerintah Pusat (negara) yang demokratis berperanan memaksakan
pematuhan peraturan-peraturan yang bersifat melindungi warga atau meningkatkan
kepastian hukum.
5. PANCASILA SEBAGAI PEMBANGUNAN SOSIAL BUDAYA
Dalam pembangunan pengembangan aspek sosial budaya hendaknya didasarkan atas
sistem nilai yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat
tersebut. Pancasila mendasarkan pada nilai yang bersumber pada harkat dan martabat
manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Pancasila juga merupakan sumber normatif bagi
peningkatan humanisasi dalam bidang sosial budaya.
Pancasila pada hakekatnya bersifat humanistik karena memang Pancasila bertolak dari
hakekat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sila
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu, pembangunan sosial budaya harus
mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang
berbudaya dan beradab. Pembangunan sosial budaya yang menghasilkan manusiamanusia biadab, kejam, brutal dan bersifat anarkis jelas bertentangan dengan cita-cita
menjadi manusia adil dan beradab.
Manusia tidak cukup sebagai manusia secara fisik, tetapi harus mampu meningkatkan
derajat kemanusiaannya. Manusia harus dapat mengembangkan dirinya dari tingkat homo
menjadi human. Berdasarkan sila Persatuan Indonesia, pembangunan sosial budaya
dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya-budaya yang
beragam di seluruh wilayah Nusantara menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai
bangsa. Perlu ada pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan kehidupan sosial
berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka merasa dihargai dan diterima
sebagai warga bangsa. Dengan demikian, pembangunan sosial budaya tidak menciptakan
kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial. Paradigma-baru dalam
2015
6
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
pembangunan nasional berupa paradigma pembangunan berkelanjutan, yang dalam
perencanaan dan pelaksanaannya perlu diselenggarakan dengan menghormati hak budaya
komuniti-komuniti yang terlibat, di samping hak negara untuk mengatur kehidupan berbangsa
dan hak asasi individu secara berimbang (Sila Kedua). Hak budaya komuniti dapat sebagai
perantara/penghubung/penengah antara hak negara dan hak asasi individu. Paradigma ini
dapat mengatasi sistem perencanaan yang sentralistik dan yang mengabaikan kemajemukan
masyarakat dan keanekaragaman kebudayaan Indonesia.
Dengan demikian, era otonomi daerah tidak akan mengarah pada otonomi suku bangsa
tetapi justru akan memadukan pembangunan lokal/daerah dengan pembangunan regional
dan pembangunan nasional (Sila Keempat), sehingga ia akan menjamin keseimbangan dan
pemerataan (Sila Kelima) dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa yang
akan sanggup menegakkan kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI (Sila Ketiga).
Apabila dicermati, sesungguhnya nilai-nilai Pancasila itu memenuhi kriteria sebagai puncakpuncak kebudayaan, sebagai kerangka-acuan-bersama, bagi kebudayaan - kebudayaan di
daerah:
(1) Sila Pertama, menunjukkan tidak satupun suku bangsa ataupun golongan sosial
dan
komuniti setempat di Indonesia yang tidak mengenal kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa;
(2) Sila Kedua, merupakan nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh segenap warga negara
Indonesia tanpa membedakan asal-usul kesukubangsaan, kedaerahan, maupun
golongannya;
(3) Sila Ketiga, mencerminkan nilai budaya yang menjadi kebulatan tekad masyarakat
majemuk di kepulauan nusantara untuk mempersatukan diri sebagai satu bangsa yang
berdaulat;
(4) Sila Keempat, merupakan nilai budaya yang luas persebarannya di kalangan masyarakat
majemuk Indonesia untuk melakukan kesepakatan melalui musyawarah. Sila ini sangat
relevan untuk mengendalikan nilai-nilai budaya yang mendahulukan kepentingan
perorangan;
(5) Sila Kelima, betapa nilai-nilai keadilan sosial itu menjadi landasan yang membangkitkan
semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
6. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN HUKUM
Salah satu tujuan bernegara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia. Hal ini mengandung makna bahwa tugas dan tanggung
2015
7
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
jawab tidak hanya oleh penyelenggara negara saja, tetapi juga rakyat Indonesia secara
keseluruhan. Atas dasar tersebut, sistem pertahanan dan keamanan adalah mengikut
sertakan seluruh komponen bangsa. Sistem pembangunan pertahanan dan keamanan
Indonesia disebut sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
Sistem pertahanan yang bersifat semesta melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan
sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan
diselenggarakan secara total terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan
negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.
Penyelenggaraan sistem pertahanan semesta didasarkan pada kesadaran atas hak dan
kewajiban warga negara, serta keyakinan pada kekuatan sendiri.
Sistem ini pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, di mana pemerintahan dari
rakyat (individu) memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam masalah pertahanan negara
dan bela negara. Pancasila sebagai paradigma pembangunan pertahanan keamanan
telah diterima bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU No. 3 Tahun 2002
tentang Pertahanan Negara.
Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa pertahanan negara bertitik tolak pada
falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia untuk menjamin keutuhan dan tetap
tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Dengan ditetapkannya UUD 1945, NKRI telah memiliki
sebuah konstitusi, yang di dalamnya terdapat pengaturan tiga kelompok materi-muatan
konstitusi, yaitu:
(1) Adanya perlindungan terhadap HAM,
(2) Adanya susunan ketatanegaraan negara yang mendasar, dan
(3) Adanya pembagian dan pembatasan tugas-tugas ketatanegaraan yang juga mendasar.
Sesuai dengan UUD 1945, yang di dalamnya terdapat rumusan Pancasila, Pembukaan UUD
1945 merupakan bagian dari UUD 1945 atau merupakan bagian dari hukum positif. Dalam
kedudukkan yang demikian, ia mengandung segi positif dan segi negatif. Segi positifnya,
Pancasila dapat dipaksakan berlakunya (oleh negara); segi negatifnya, Pembukaan dapat
diubah oleh MPR sesuai dengan ketentuan Pasal 37 UUD 1945. Hukum tertulis seperti UUD
termasuk perubahannya, demikian juga UU dan peraturan perundang-undangan lainnya,
harus mengacu pada dasar negara (sila - sila Pancasila dasar negara).
Dalam kaitannya dengan “Pancasila sebagai paradigma pengembangan hukum”, hukum
(baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis) yang akan dibentuk tidak dapat dan tidak boleh
bertentangan dengan sila-sila:
1) Ketuhanan Yang Maha Esa,
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3) Persatuan Indonesia,
2015
8
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, substansi hukum yang dikembangkan harus merupakan perwujudan atau
penjabaran sila-sila yang terkandung dalam Pancasila.
Artinya, substansi produk hukum merupakan karakter produk hukum responsif (untuk
kepentingan rakyat dan merupakan perwujuan aspirasi rakyat).
Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Kehidupan Umat Beragama Bangsa Indonesia
sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah dan santun, bahkan predikat ini menjadi
cermin kepribadian bangsa kita di mata dunia internasional.
Indonesia adalah Negara yang majemuk, bhinneka dan plural. Indonesia terdiri dari
beberapa suku, etnis, bahasa dan agama namun terjalin kerja bersama guna meraih dan
mengisi kemerdekaan Republik Indonesia kita. Namun akhir-akhir ini keramahan kita mulai
dipertanyakan oleh banyak kalangan karena ada beberapa kasus kekerasan yang bernuansa
agama. Ketika bicara peristiwa yang terjadi di Indonesia hampir pasti semuanya
melibatkan umat muslim, hal ini karena mayoritas penduduk Indonesia beragama
Islam. Masyarakat muslim di Indonesia memang terdapat beberapa aliran yang tidak
terkoordinir, sehingga apapun yang diperbuat oleh umat Islam menurut sebagian umat non
muslim mereka seakan-seakan merepresentasikan umat muslim.
Paradigma toleransi antar umat beragama guna terciptanya kerukunan umat beragama
perspektif Piagam Madinah pada intinya adalah seperti berikut :
1) Semua umat Islam, meskipun terdiri dari banyak suku merupakan satu komunitas;
2) Hubungan antara sesama anggota komunitas Islam dan antara komunitas Islam dan
komunitas lain didasarkan atas prinsip-prinsip :
(a) Bertetangga yang baik;
(b) Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama;
(c) Membela mereka yang teraniaya;
(d) Saling menasehati;
(e) Menghormati kebebasan beragama.
Lima prinsip tersebut mengisyaratkan :
1) Persamaan hak dan kewajiban antara sesama warga negara tanpa diskriminasi yang
didasarkan atas suku dan agama;
2) Pemupukan semangat persahabatan dan saling berkonsultasi dalam menyelesaikan
masalah bersama serta saling membantu dalam menghadapi musuh bersama. Dalam
“Analisis dan Interpretasi Sosiologis dari Agama” (Ronald Robertson) misalnya,
mengatakan bahwa hubungan agama dan politik muncul sebagai masalah, hanya pada
bangsa-bangsa yang memiliki heterogenitas di bidang agama.
2015
9
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Hal ini didasarkan pada postulat bahwa homogenitas agama merupakan kondisi
kestabilan politik. Sebab bila kepercayaan yang berlawanan bicara mengenai nilai-nilai
tertinggi (ultimate value) dan masuk ke arena politik, maka pertikaian akan mulai dan
semakin jauh dari kompromi.
Dalam beberapa tahap dan kesempatan masyarakat Indonesia yang sejak semula bercirikan
majemuk banyak kita temukan upaya masyarakat yang mencoba untuk membina kerukunan
antar masayarakat. Lahirnya lembaga-lembaga kehidupan sosial budaya seperti “Pela” di
Maluku, “Mapalus” di Sulawesi Utara, “Rumah Bentang” di Kalimantan Tengah dan “Marga”
di Tapanuli, Sumatera Utara, merupakan bukti-bukti kerukunan umat beragama dalam
masyarakat. Ke depan, guna memperkokoh kerukunan hidup antar umat beragama di
Indonesia yang saat ini sedang diuji kiranya perlu membangun dialog horisontal dan
dialog vertikal. Dialog horisontal adalah interaksi antar manusia yang dilandasi dialog untuk
mencapai saling pengertian, pengakuan akan eksistensi manusia, dan pengakuan akan sifat
dasar manusia yang indeterminis dan interdependen. Identitas indeterminis adalah sikap
dasar manusia yang menyebutkan bahwa posisi manusia berada pada kemanusiaannya.
Artinya, posisi manusia yang bukan sebagai benda mekanik, melainkan sebagai manusia
yang berakal budi, yang kreatif, yang berbudaya.
7. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PEMBANGUNAN IPTEK
Pembangunan nasional adalah upaya bangsa untuk mencapai tujuan nasionalnya
sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945. Pada hakekatnya Pancasila
sebagai paradigma pembangunan nasional mengandung arti bahwa segala aspek
pembangunan harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Pembangunan nasional adalah
untuk manusia Indonesia, di mana manusia secara kodratnya memiliki kedudukan sebagai
makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia tidak hanya mengejar kepentingan pribadi,
tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat. Manusia tidak hanya mengutamakan
tercapainya kebutuhan material, tetapi juga kebahagiaan spritual. Manusia memiliki fungsi
monodualistis tidak hanya mengejar kepentingan dunia, tetapi mendapatkan kebahagiaan di
akherat kelak. Oleh karena itu, pembangunan nasional hendaklah mewujudkan tujuan
tersebut.
Keberhasilan manusia mencapai tujuan dan hakekat hidupnya untuk mewujudkan
kesejahteraan lahir dan batin, maka manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi
(Iptek) sebagai usaha kreativitas manusia melalui proses akal dan pikirannya. Berdasarkan
kreativitas akal dan pikiran manusia dalam mengembangkan Iptek manusia mampu
mengolah kekayaan alam yang disediakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk
kepentingan kesejahteraan manusia. Fungsi Iptek hanyalah sebagai pengolah kekayaan
2015
10
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
yang merupakan milik Tuhan Yang Maha Kuasa itu untuk kepentingan kesejahteraan
manusia, maka oleh karena itu usaha-usaha Iptek harus mengikuti nilai-nilai dan moral
Ketuhanan dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Pancasila merupakan satu kesatuan dari sila-silanya harus merupakan sumber nilai,
kerangka berpikir serta moralitas bagi pembangunan Iptek. Apabila kita melihat sila-sila demi
sila menunjukkan sistem etika dalam pembanguan Iptek (Kaelan 2000), yaitu sebagai
berikut.
1) Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, mengimplementasikan ilmu pengetahuan, mencipta,
perimbangan antara rasional, antara akal rasa, dan kehendak. Berdasarkan sila pertama
ini Iptek tidak memikirkan apa yang ditemukan, dibuktikan, dan diciptakan, tetapi juga
mempertimbangkan maksud dan akibatnya kepada kerugian dan keuntungan manusia
dan sekitarnya. Pengolahan diimbangi dengan pelestarian. Sila pertama menempatkan
manusia di alam semesta bukan sebagai sentral melainkan sebagai bagian yang
sistematika dari alam yang diolahnya.
2) Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, memberikan dasar-dasar moralitas bahwa
manusia dalam mengembangkan Iptek haruslah secara beradab. Iptek adalah bagian dari
proses budaya manusia yang beradab dan bermoral. Oleh karena itu, pembangunan Iptek
harus berdasarkan kepada usaha-usaha mencapai kesejahteraan umat manusia. Iptek
harus dapat diabadikan untk peningkatan harkat dan martabat manusia, bukan
menjadikan manusia sebagai makhluk yang angkuh dan sombong akibat dari
penggunaan Iptek.
3) Sila Persatuan Indonesia, memberikan kesadaran kepada bangsa Indonesia bahwa rasa
nasionalisme bangsa Indonesia akibat dari sumbangan Iptek, dengan Iptek persatuan dan
kesatuan bangsa dapat terwujud dan terpelihara, persaudaraan dan persahabatan antar
daerah di berbagai daerah terjalin karena tidak lepas dari faktor kemajuan Iptek. Oleh
karena itu, Iptek harus dikembangkan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan
bangsa dan selanjutnya dapat dikembangkan dalam hubungan manusia Indonesia
dengan masyarakat internasional.
4) Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan , prinsip demokrasi sebagai jiwa sila keempat ini dapat mendasari pemikiran
manusia secara bebas untuk mengkaji dan mengembangkan Iptek. Seorang ilmuwan
harus pula memiliki sikap menghormati terhadap hasil pemikiran orang lain dan terbuka,
dikritik dan dikaji ulang hasil dari pemikirannya. Penemuan Iptek yang telah teruji
kebenarannya harus dapat dipersembahkan kepada kepentingan rakyat banyak.
5) Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kemajuan Iptek harus dapat menjaga
keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan, yaitu keseimbangan hubungan
2015
11
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
antara manusia dengan sesamanya, hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai
penciptanya, hubungan manusia dengan lingkungan di mana mereka berada.
8. PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA PENGEMBANGAN HANKAM
Ketahanan nasional, pembangunan nasional tak terlepas dari ketahanan nasional, yaitu
perwujudan cita-cita bangsa dalam tingkat ketahanan nasional yang terjabar sebagai berikut:
1) Nilai-nilai fundamental yang menyangkut pribadi waga negara, yaitu pengembangan
pribadi
dalam
matra
horisontal
dan
vertikal,
pertumbuhan
sosial
ekonomi,
keanekaragaman, dan persamaan derajat;
2) Nilai-nilai fundamental yang menyangkut sistem/struktur kehidupan masyarakat, yaitu
pemerataan kesejahteraan, solidaritas masyarakat kemandirian, dan partisipasi seluruh
masyarakat;
3) Nilai-nilai fundamental yang menyangkut interaksi antara pribadi-pribadi warga negara
dan sistem/struktur kehidupan masyarakat, yaitu keadilan sosial, keamanan/stabilitas, dan
keseimbangan lingkungan.
Kondisi keamanan yang stabil sangat mendukung pelaksanaan pembangunan nasional, dan
sebaliknya keberhasilan pembangunan nasional juga harus dapat menunjang terciptanya
kondisi keamanan yang stabil. Hasil pembangunan yang tidak adil dan merata dapat
menimbulkan kesenjangan yang akhirnya akan berpengaruh terhadap stabilitas pertahanan
keamanan
negara.
Oleh
karena
itu,
sangat
diharapkan
keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan nasional.
2015
12
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sehingga
menghasilkan
Daftar Pustaka
Hamidy R. 2011. Implementasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari. Yogyakarta: Sekolah
Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer, AMIKOM.
Iriyanto,
Ws,
2009,
Bahan
Kuliah
Filsafat
Ilmu, Pasca Sarjana, Semarang
Latif, Yudi, 2011, Negara Paripurna (Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila), PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Pertahanan dan Keamanan,
:http://www.harypr.com/PSP UGM dan Yayasan TIFA, Pancasila Dasar Negara Kursus
Presiden Soekarno tentang Pancasila, Edisi ke 1, Cetakan ke 1, Aditya Media
bekerjasama dengan Pusat Studi Pancasila (PSP), Yogyakarta dan Yayasan TIFA
Jakarta
Syarbaini, Syahrial, 2012, Pendidikan Pancasila (Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa)
di Perguruan Tinggi, Ghalia Indonesia, Bogor.
Undang-Undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
2015
13
Pancasila
Rina Kurniawati, SHI, MH
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download